kumpulan cerita dewasa dari berbagai sumber …

<?php wp_title('«', true, 'right'); ?> <?php bloginfo('name'); ?>





August 21, 2009

New ptc site

Filed under: berburu uang

Buat yang suka nyari duit dari internet dengan mengklik iklan di ptc site ini ada PTC Baru yg gak scam. Khusus buat WARUNGE yang posting payout d forumnya sebelum 31 agustus dapet bonus $ 0.05 

Silahkan gabung jadi downlineku Dari pada gabung tanpa referal yg ntar lu di sewain jadi ref. Orang dan memberi keuntumgan sama adminnya Mending jadi downline Gw aja payout bonus PAYOUT 2

 

PTC YANG LAIN

July 17, 2009

DIAH

Filed under: Vidio Movie

western Girl

Filed under: Vidio Movie

 

 MORE

 

 

anak SMU

Filed under: Vidio Movie

 

 ANOTHER PIC

 

 

June 13, 2009

Tante Susan

Filed under: cerita seru

Aku masih duduk di bangku SLTP saat itu. Di saat aku dengan teman-teman yang lain biasa pulang sekolah bersama-sama. Usiaku masih terbilang hijau, sekitar tiga belas tahun. Aku tidak terlalu tahu banyak tentang wanita saat itu. Di kelas aku tergolong anak yang pendiam walaupun sering juga mataku ini melirik pada keindahan wajah teman-teman wanita dikelasku waktu itu.
Aku memang tidak seperti David, salah satu temanku yang biasa pulang bersama-sama selepas sekolah usai. Walaupun kulitnya terbilang gelap, hidung besar dan pesek tapi pengetahuannya tentang wanita terbilang banyak. Terlebih mengingat usianya yang hanya terpaut tiga bulan lebih muda dariku.

Temanku yang satu ini tergolong pria playboy. Pacarnya banyak, sering gonta-ganti. Hampir tiap minggu selalu tampil cewek dengan wajah baru disampingnya. Gila memang, walaupun secara jujur buatku seleranya sangat berbeda. Aku senang dengan cewek yang kalem, seperti putrid solo layaknya dengan wajah manis bersahaja. Biasa-biasa saja. Sementara David senang dengan cewek yang agresif dan periang, wajah rupawan bak-Tamara Blezinsky layaknya.

Hal ini jugalah yang membawa aku dan teman-teman yang lain kedalam sebuah pengalaman yang tak terlupakan bagi kami saat duduk dibangku SLTP dulu.
Semuanya bermula dari selera siplayboy David terhadap perempuan. Kebiasaannya untuk tak melewatkan barang sedetikpun perhatiannya terhadap keindahan wanita membawa aku, Syarif dan Bagong kesebuah rumah di komplek pemukiman Griya Permai. Komplek perumahan yang biasa kami lewati saat pulang menuju kerumah masing-masing.
Mulanya aku dan Bagong sedang asyik bercanda, tertawa cekikikan seperti biasa sementara Syarif mendengarkan dengan wajah dingin membeku. Secara tiba-tiba David menepuk pundakku dengan keras. Matanya tertuju kesatu rumah dengan tajamnya. Ternyata disana kulihat ada seorang wanita dengan mengenakan rok mini baru saja keluar meninggalkan mobilnya untuk membuka pintu pagar rumah.

“Heh, vid. Kenapa sih elu tiap lihat perempuan mata elu langsung melotot kayak begitu?” tegurku.
“Elu itu buta ya, mam. Elu kagak lihat bagaimana bongsornya bodi tuh wanita??” balasnya cepat.
“David, david.. bisa-bisanya elu nilai perempuan dari jarak jauh begini-ini” sambung Bagong “Itu mata.. apa teropong”
“Wah, kalau untuk urusan wanita kita nggak pake mata lagi, men. Nih, pake yang disini nih.. dibawah sini” jawab David sambil menunjuk-nunjuk kearah kemaluannya.
“Kalau gua udah ngaceng, perempuan diseberang planet juga bisa gua lihat” kata David dengan senyum penuh nafsu.
“Jadi sekarang elu lagi ngaceng, nih?!” tanya Syarif yang sedari tadi hanya bisa tenggelam dengan pikiran-pikirannya.
“So pasti, men. Nih kontol udah kayak radar buat gua. Makanya gua tahu disana ada mangsa” jawab David dengan lagi-lagi menunjuk ke arah kemaluannya.
“Gila lu, vid” kataku.
“Ha-alah, enggak usak munafik deh mam, elu juga ngaceng kan, waktu melihat roknya siDina kebuka di kelas. Gua kan tau.. elu juga kan gong?” balas David cepat.
“yah, itu kan kebetulan. Bukannya dicari, ya kan mam?” tanya Bagong kepadaku.

Aku sendiri hanya bisa tersipu malu mendengarnya. Didalam hati aku memang mengaukui kalau saat itu paha Dina yang panjang dan mulus telah membuat tongkat kemaluanku berdiri tegak tanpa bosan. Aku memang sering mengamati paha siDina teman kelasku dulu secara sembunyi-sembunyi.
“Sekarang begini aja” ujar David kemudian “Elu pada berani taruhan berapa, kalau gua bisa masuk kerumah tuh wanita?”
“Elu itu udah gila kali ya, vid. Elu mau masuk kerumah itu perempuan??” jawabku cepat.
“Udah deh.. berapa? Goceng??”tantangnya kepada kami. Sejenak aku, Bagong dan Syarif hanyut dalam kebingungan. Teman kami yang satu ini memang sedikit nekat untuk urursan wanita.
“Boleh” jawabku pendek.
“Goceng??”potong Bagong cepat “Wah gua udah bisa beli mensen tuh”
“Ha-alah, bilang aja kalau elu takut jatuh miskin. Iya kan, gong?” balas David dengan sedikit menekan.
“Siapa bilang, kalau perlu, ceban juga hayo” jawab Bagong tak mau kalah.
“Oke, oke.. heh, heh, heh. Sekarang tinggal elu nih, rif. Kalau melihat tampang elu sih, kayaknya gua ragu”
“Heit tunggu dulu” ujar Syarif. Dia langsung cepat-cepat merogoh kantong celananya. Selembar uang kertas lima ribuan langsung dikibas-kibaskan didepan kedua mata David.
“Gua langsung buktikan aja sama elu.. nih”
“Oke. Sekarang elu pada buka tuh mata lebar-lebar” kata David kemudian.

David langsung berjalan menuju kerumah yang dimaksud. Tampak disana sang pemilik rumah telah memasukkan mobilnya. Saat ia hendak menutup pagar, aku lihat David berlari kecil menghampirinya. Disana kulihat mereka sepertinya sedang berbicara dengan penuh keakraban. Aneh memang temanku ini. Baru saja bertemu muka dia sudah bisa membuat wanita itu berbicara ramah dengannya, penuh senyum dan tawa.

Dan yang lebih aneh lagi kemudian, beberapa saat setelah itu David melambaikan tangannya kearah kami bertiga. Dia mengajak kami untuk segera datang mendekatinya. Setelah beberapa langkah aku berjalan, kulihat David bahkan telah masuk ke pekarangan rumah menuju ke pintu depan rumah dimana wanita itu berjalan didepannya. David memang memenangkan taruhannya hari itu. Di dalam rumah kami duduk dengan gelisah, khususnya aku. Bagaimana mungkin teman kami yang gila perempuan ini bisa dengan mudah menaklukkan wanita yang setidaknya dua puluh tahun lebih tua usianya dari usia kami. Sesaat setelah David selesai dengan uang-uang kami ditangannya, akupun menanyakan hal tersebut.

“Gila lu, vid. Elu kasih sihir apa tuh wanita, sampai bisa jinak kayak merpati gitu??” tanyaku penasaran.
“Heh, heh, heh.. kayaknya gua harus buka rahasianya nih sama elu-elu pada” jawabnya.
“Jelas dong, vid. Goceng itu sudah cukup buat gua ngebo’at. Elu kan tahu itu” tambah Bagong lagi.
“Begini. Kuncinya itu karena elu-elu semua pada blo’on” jelas David serius.
“Apa maksudnya tuh!” tanya Syarif cepat.
“Iya, elu-elu pada blo’on semua karena elu-elu kagak tahu kalau perempuan itu sebenarnya tante teman gua.. Ferdi” tambahnya lagi.
“Ferdi, anak kelas satu A” tanyaku pensaran.
“Ketua OSIS kita, vid??” tambah Bagong lagi.
“Betul. Nah dia itu punya ibu, ibunya punya abang.. nah perempuan ini adalah istrinya”
“Wah, sialan kita sudah dikadalin nih sama.. playboy cap kampak” kata Bagong.
“Itu kagak sah, vid. Itu berarti penipuan”sambung Syarif.
“Itu bukan penipuan. Kalau elu tanya apa gua kenal kagak sama tuh perempuan, lalu gua jawab enggak.. itu baru penipuan” jelas David.

Aku mencium bau pertengkaran diantara teman-temanku saat itu sehingga akupun tidak ingin menambahinya lagi. Terlebih, tidak lama kemudian wanita yang kemudian kami tahu bernama Susan itu, datang dengan membawa minuman segar buat kami.
“Ada apa kok ribut-ribut. Kelamaan ya minumannya?” tanya tante Susan. Suaranya terdengar renyah ditelinga kami dan senyumannya yang lepas membuat kami berempat langsung terhenyak dengan kedatangannya yang tiba-tiba.
“Ah, nggak apa-apa tante” jawab Bagong.
David yang duduk disebelahnya terlihat serius dengan pikirannya sendiri. Baju t-shirt yang dikenakan tante Susan memiliki belahan dada yang rendah sehingga disaat beliau membungkuk menyajikan gelas kepada kami satu-persatu, David terlihat melongok-longokkan kepalanya untuk dapat melihat isi yang tersembunyi dibalik pakaian beliau saat itu. Aku sendiri bisa menyaksikannya, kedua payudara beliau yang besar, penuh berisi. Menggelantung dan bergoncangan berulangkali disetiap ia menggerakkan badannya.

“Ini tante buatkan sirup jeruk dingin untuk kalian, supaya segaran” jelas tante Susan “Hari ini panasnya, sih”
Saat tante Susan selesai dengan gelas-gelasnya, iapun kembali berdiri tegak. Keringat yang mengucur deras dari kedua dahinya memanggil untuk diseka, maka beliaupun menyekanya. Tangan beliau terangkat tinggi, tanpa sengaja, ketiak yang putih, padat berisi terlihat oleh kami. Beberapa helai bulunya yang halus begitu menarik terlihat. Jantungku terasa mulai cepat berdetak. Karena saat itu juga aku tersadarkan kalau dibalik pakaian yang dikenakan tante Susan telah basah oleh keringat. Lebih memikat perhatian kami lagi, disaat kami tahu bahwa tante Susan tidak mengenakan BH saat itu.

Kedua buah puting susunya terlihat besar menggoda. Mungkin karena basah keringatnya atau tiupan angin disiang hari yang panas, membuat keduanya terlihat begitu jelas dimataku. Aku sendiri tidak ambil pusing dengan lingkungan disekitarku karena tongkat kemaluanku telah berdiri keras tanpa bosan. Rasanya aku ingin sekali melakukan onani bahkan, kalau mungkin, mengulum kedua puting susu beliau yang menantang dengan berani.
“Tante habis mengantar om kalian ke bandara hari ini. Jadi tante belum sempat beres-beres ngurus rumah” katanya lagi.
Ditengah pesona buah dada yang menggoda nafsu birahiku, perhatianku terpecah oleh tangisan suara bayi. Aku baru tahu kemudian, bahwa itu adalah anak tante Susan yang pertama. Beliaupun terpanggil untuk menemuinya dengan segera.

“Kalian minum dulu, ya. Tante kebelakang dulu.. oh, iya David. Mungkin Ferdi datang agak terlambat karena dia sedang ada rapat OSIS
“Iya tante. Nggak apa-apa. Kami tunggu aja deh” kata David.
Hanya selang beberapa menit kemudian, tante Susan sudah menemui kami kembali di ruang tamu. Namun satu hal yang membuat kami terkejut kegirangan menyambut kedatangannya dikarenakan beliau terlihat asyik menyusui bayinya saat itu. Bayi yang lucu tetapi buah dada yang menjulur keluar lebih menyilaukan pandangan jiwa muda kami berempat.

Tante Susan terlihat tidak acuh dengan mata-mata liar yang menatapi buah dada segar dimulut bayinya yang mungil. Ia bahkan terlihat sibuk mengatur posisi agar terasa nyaman duduk diantara David dan Bagong saat itu.
“Bagaiman sirup jeruknya, sudah diminum?” tanya tante Susan cepat.
“Sudah, tante” jawab David pendek. Matanya menatap tajam kearah samping dimana payudara tante Susan yang besar dan montok terlihat tegas dimatanya.
“Ini namanya Bobby” jelas tante Susan lagi sambil menatap anak bayinya yang imut itu “Usianya baru sembilan bulan”
“Wah, masih kecil banget dong tante” balas David.
“Iya, makanya baru boleh dikasih susu aja”
“ASI ya, tante?” tanya David polos.
“Oh, iya. Harus ASI, nggak boleh yang lain” jelas beliau dengan serius.
“Kalau orang bilang susu yang terbaik itu ASI, tante?”
“Betul, David. Dibandingkan dengan susu sapi misalnya. Ya, susu ibu itu jauh lebih bergizi.. heh, heh, heh” tambah tante Susan penuh yakin.
“Ibu saya juga suka bikinkan saya susu setiap pagi, tante” kata David menjelaskan.
“Oh, iya.. bagus itu”

Tante Susan diam sejenak. Beliau memperhatikan bayinya yang sudah mulai terlihat tidur. Namun David terlihat mulai berharap sesuatu yang lain dari payudara beliau yang besar menggoda.
“Tapi susu yang saya minum setiap hari.. ya, susu sapi tante” sambung David lagi penasaran. Sementara tante Susan masih terlihat sibuk dengan bayinya. Namun beberapa saat setelah itu beliau mengatakan sesuatu yang mengejutkan kami.
“Susu ibu tetap lebih bagus. Bahkan di India ada yang bisa menyusui anaknya hingga berusia sepuluh tahun”
“Wah, asyik juga tuh” sela Bagong cepat.
Tante Susan, dengan sekonyong-konyong, menarik bagian sisi bajunya dimana buah dadanya yang masih tertutup, tersingkap lebar. Buah dada beliaupun melejit keluar dengan cepat. Kami berempat dibuat terkesima olehnya. Ini adalah pengalaman yang paling heboh dalam sepanjang sejarah hidup kami saat itu.

“Tuh, kamu bisa mencobanya” kata tante Susan kepada Bagong yang duduk disamping beliau. Puting susu berwarna merah delima terlihat menonjol kearahnya. Bagongpun tanpa berfikir panjang menyentuh payudara beliau dengan perlahan.
“Ayo! jangan lama-lama, tante nggak punya banyak waktu” tegur beliau mengingatkan.
Bagongpun meremas buah dada beliau serta mulai berani memainkan puting susunya dengan beberapa gerakan memelintir.
“Pentilnya nggak usah dipencet-pencet lagi. Udah keluar kok. Kamu coba langsung menghisapnya kayak anak tante ini” jelas beliau lagi.
“”Iya, gong. Elu ‘ngerti kagak caranya netek?! Kayak gini nih..” sela David cepat dan langsung mengatupkan mulutnya ke puting susu beliau yang merah merona itu.
“Akh, David.. aduh, pelan-pelan yah” kata tante Susan kaget.

Saat itu, hari yang sesungguhnya telah dimulai. Tante Susan menggilir kami satu persatu untuk disusui olehnya. Anaknya yang masih orok bahkan dibaringkan diatas sofa yang kosong untuk lebih mempermudah beliau menyusui anak angkatnya saat itu. Aku si-pengintip, David si-gila dan Syarif yang berdarah dingin serta tentu saja Bagong si-pemabuk, memulai hari pertama pendidikan ekstra kurikuler kami saat itu. Karena semenjak hari baik itu, pada setiap hari-hari tertentu dalam seminggu kami pasti berkunjung kerumah tante Susan.

Dirumah tante Susan, beliau senantiasa menyambut kami dengan ramah dan penuh perhatian. Beliau tidak pernah mengecewakan kami. Menyusui kami dengan sabar satu persatu. Himgga kami tamat menyelesaikan pendidikan kami ditingkat SLTP, tante Susan meyakinkan kami bahwa kami sudah saatnya untuk mandiri. Dan memang kamipun merasa demikian. Setamat SLTP kami berempat berpisah dibanyak SLTA. Namun persahabatan kami tetap ada walau dibatasi oleh banyak kesibukan masing-masing. Sekarang, David telah menjadi seorang pengacara dari salah satu koruptor kelas wahid di negeri kita ini. Syarif menjadi salah seorang penceramah kondang yang keluar masuk televisi tetapi yang paling mengesankan menurutku adalah Bagong. Sekarang Bagong telah menjadi ketua partai terkenal yang sangat anti-KKN. Aku sendiri sekarang bekerja sebagai salah satu reporter berita dari sebuah stasiun televisi swasta terkemuka di Indonesia.

Itu semua, kami yakini berkat “susu” tante Susan yang telah kami terima disaat duduk dibangku SLTP dulu.
Terima kasi tante Susan.

Tamat

3WANITA 1

Filed under: cerita seru

Namaku Rudy, berasal dari kawasan Indonesia Timur. Usiaku 23 tahun. Sejak tahun 1998 aku hijrah ke Surabaya untuk meneruskan studi di sebuah PTN terkenal. Dari daerahku yang agak terkebelakang aku beralih ke pergaulan metropolis. Teman-teman mahasiswi yang cantik manis ternyata mudah diajak bergaul. Namun, aku menyimpan obsesi. Apa itu? Ingin kurasakan seperti apa nikmatnya bersetubuh dengan wanita dari berbagai daerah. Siapa kira obsesiku itu agak dengan mudah terpenuhi? Berikut kisahku dengan tiga wanita dari 3 daerah berbeda.
Hari Sabtu, kira-kira pukul delapan pagi. Aku masih di tempat tidur ketika teleponku berdering. Dengan agak malas kuangkat.
“Haloo.. Rudy di sini”, kataku.
“Hi, Rud!”, suara wanita. “Ini Warsih. Gimana khabarnya?”
Mataku sepenuhnya terbuka sekarang. Di pelupuk mataku segera terbayang wajah manis wanita Jawa berusia tiga puluh tiga tahun tersebut.
“Hi..” aku jadi bersemangat. “Baik-baik. Ada apa?”
“Mau nggak, sore ini nemenin aku ke Pacet?” tanyanya.
Hatiku bersorak. Tentu saja aku mau.
“Aku menjemputmu sekitar jam empat di Jl. Darmo, seperti biasa. Suamiku lagi ke Solo menghantar Dodi dan Novi ke kakek neneknya. Pulang Senin siang. Aku jadi punya waktu untuk bersantai. OK?”
Aku hanya tertawa. Bersantai? Tentu saja di ranjang Villa keluarganya di Pacet sana. Lelaki normal mana yang mau menolak undangan seperti ini?

Sejak diperkenalkan Ibu Shirley kepadaku, sudah belasan kali ia merasakan kejantananku. Kesempatan itu datang lagi. Terbayang di mataku pergumulan hangat yang akan terjadi. Akan kugeluti tubuh montok itu, akan kusetubuhi dia sampai puas. Ibu Suwarsih sangat menarik walau sudah beranak dua. Tubuhnya sintal, tinggi dengan rambut lurus sedikit dibawah pundak. Buah dadanya besar menantang, putih dan ranum dengan putingnya yang berwarna merah jambu menonjol ke depan dengan seksinya seakan-akan belum diteteki seorang anakpun. Perutnya masih rata dan mulus dengan pinggang yang cukup langsing, digantungi oleh bongkahan pantatnya yang besar. Paha dan betisnya serasi dengan pantatnya. Dan terutama, kemaluannya yang berbulu hitam lebat berwarna kemerah-merahan, sudah sering kugenjot sampai ia menjerit-jerit. Aku tersenyum membayangkan kenikmatan yang akan kureguk.

Kurang lima menit pukul empat sore, aku berdiri di pinggir Jl. Darmo. Sebuah mobil kijang biru berkaca raiban berhenti. Pintu terbuka dan aku pun masuk. Ia tersenym dengan bibirnya yang merah merekah, menatapku tanpa berkata apa-apa namun dengan sorot mata penuh birahi yang perlu dipuaskan. Kututup pintu dan segera kulumat bibirnya yang basah menggairahkan.

“Ayo kita berangkat”, kataku melepaskan bibirnya.
Ia mengangguk dan melarikan mobil. Selama di perjalanan, tanganku tak henti-hentinya menari-nari di lekak lekuk tubuhnya. Ia tidak menolak sedikitpun malahan bergerak-gerak memberiku keleluasaan menjarah rayah tubuhnya. Di lereng sebuah bukit kuminta ia menghentikan mobil. Walau agak heran ia berhenti juga. Tanganku mulai beraksi mencopoti pakaiannya. Dadanya terbuka. Sebuah BH kecil berwarna cream menutupi seperempat buah dadanya. Segera mulutku menerkam kedua gunung kembar yang mulus itu. Ia mengerang-ngerang. Tanganku sibuk mencopoti rok pendek yang dikenakannya. CD cream kecil menutupi kemaluannya. Kugeluti dia di atas jok mobil itu. Ia melenguh semakin hebat dan mencari-cari reseluiting celanaku. Ditariknya ke bawah dan jemarinya yang halus menyusupi CD-ku dan meremas batang kemaluanku. Ia sudah siap untuk disetubuhi tetapi kutahan diri.

“Ayo kita berangkat lagi”, kataku.
“Kok tidak diteruskan”, katanya dengan nafas panjang. Sorot matanya menerawang penuh nafsu.
“Belum saatnya”, sahutku menggoda. “Nanti di villa saja.”

Maka sambil tersenyum ia kembali menyetir. Tembok pagar villa yang tinggi menjadi pelindung yang aman. Sambil berpelukan kami memasuki villa dan terus melangkah ke kamar tidur karena pertarungan ronde pertama akan segera dimulai. Kupelorot setiap helai kain yang melekat di tubuhnya sehingga ia berdiri di hadapanku telanjang bulat. Kucopot pakaianku dalam hitungan detik dan langsung menerkam tubuhnya yang bahenol. Kami berjatuhan ke atas ranjang yang empuk dengan nafas memburu, sepenuhnya dikuasai nafsu birahi yang minta dipuaskan.

Bibirku beradu dengan bibirnya. Mulutku terbuka membiarkan lidahnya menjulur masuk mempermainkan lidahku, sementara kedua tanganku asyik bermain di kedua payudaranya. Puas mempermainkan bibirnya, kurayapi pipi dan dagunya. Di bawah sana, tangannya yang lembut mengelus dan meremas-remas kemaluanku. Aku mengerang nikmat. Mulutku beralih ke kedua payudaranya yang mengeras. Kurasakan denyut jantungnya yang semakin cepat dan nafasnya yang memburu.

Mulutku terus turun merayapi perutnya. Tubuhnya menggelinjang menahan nafsu birahi yang semakin memuncak. Bibirku semakin mendekati kemaluannya yang berbulu lebat dan mulai meneteskan cairan bening. Pahanya membuka seiring dengan mulutku yang lincah bermain mendekati lubang surgawinya. Pantatnya mulai berguncang-guncang hebat. Ia sudah kehilangan pegangan sama sekali. Kuisap pangkal pahanya dan sesekali mendengus di bulu-bulu lebat kemaluannya. Ia semakin keras mengerang. Akhirnya kubenamkan mulutku di lubang kemaluannya. Lidahku menjulur masuk. Ia tersentak dan menekan kepalaku lebih dalam menyusupi selangkangnya. Kuisap klitorisnya. Erangan itu berubah menjadi jeritan. Kupikir inilah saat yang tepat.

Kurebahkan dia ke atas kasur dan dengan cepat menindih tubuh molek itu. Kemaluanku yang sudah keras tegak itu dengan menggebu mencari sasarannya. Kugenjot sekali, salah. Kugenjot kedua kali. Kurasakan kemaluanku menyusup masuk membelah lubang kemaluannya yang hangat berlendir. Ia membuka paha lebar-lebar sehingga dengan gampang aku menyuruk masuk lebih dalam.
“Aaachh..”, ia menjerit panjang.

Kugerakan pantatku naik turun untuk memberikan rasa nikmat kepadanya. Dia menjerit-jerit tanpa arah. Nafasku memburu. Mulutku sibuk melumat kedua buah dadanya. Tiba-tiba tubuhnya mengejang. Ia menghentakkan pantatnya ke atas dan menelah penuh kejantananku. Aku tahu, dia sudah mencapai orgasme. Suara jeritannya keras membelah dinginnya malam. Pahanya ketat membelit pinggangku. Tubuhnya menggeletar menahan rasa nikmat. Tapi aku tak mau menyerah. Setelah beberapa menit diam membatu membiarkannya mereguk kenikmatan itu, aku mulai menggerakkan pantatku lagi. Kembali ia menggeliat-geliat. Terpikir olehku untuk memberikan satu sensasi baru baginya.

Kucabut kemaluanku yang masih tegang itu. Kutarik tubuhnya turun dari ranjang. Dengan tubuh yang gemetaran karena menahan rasa nikmat ia menuruti kemauanku. Dalam posisi berdiri kubuka pahanya dan berusaha memasuki lubang kemaluannya. Ia melengkungkan pantatnya ke belakang menekan birahinya yang menggila. Kuraih pundaknya dengan tangan kiriku dan menekannya ke arah dadaku, sementara tangan kananku menjangkau pantatnya yang besar itu. Kusentakkan pantat yang lembut itu ke arah kemaluanku. Meluncurlah batang kemaluanku membelah lubang kemaluannya, lancar seperti jalan tol.
“Aaachh..”, sekali lagi terdengar jeritannya panjang membelah malam.

Mengangkang lebar ia membiarkan aku dengan leluasa menggenjot kemaluannya. Keringatku mulai bercucuran menyatu dengan keringatnya. Matanya terpejam. Rasa nikmat mulai menjalari seluruh tubuhku mendesakku untuk mengakhiri pertarungan ronde pertama ini. Kukencangkan otot perutku. Kemaluanku semakin mengeras dan memanjang. Ia mengerang keras. Bobot badannya merosot tak sanggup ditopang sendi lututnya yang goyah karena rasa nikmat yang tak terkira. Aku terus menggerak-gerakkan pantatku maju mundur sambil mendengar suara kecipak lendir yang membanjiri kemaluannya. Cairan itu sudah mulai turun dan membasahi pahaku. Akhirnya dengan mengerahkan sisa tenagaku kusentakkan pantatku keras ke depan untuk membenamkan kemaluanku sedalam-dalamnya di lubang kemaluannya. Ia menjerit keras dan sejalan dengan itu tubuh kami yang menyatu bergulingan ke lantai berkarpet itu. Pahanya ketat membelit pinggangku. Pantatnya yang besar itu berguncang-guncang hebat. Tangannya ketat memelukku. Giginya terbenam di bahuku sehingga jeritan kenikmatannya tersekat di sana. Kurasakan gelombang kenikmatan orgasme merayapi tubuhku. Tubuh kami yang menyatu diam membatu mereguk sisa-sisa kenikmatan. Sekitar dua puluh menit berlalu.
“Terima kasih, jantanku”, kata dia sambil membelai wajahku. “Aku puas sekali!”
“Aku juga puas sekali”, sahutku. “Kamu luar biasa malam ini.”

Kami beralih ke kamar mandi. Acara mandi air hangat di bathtub dipenuhi dengan elusan, remasan dan rabaan. Dengan leluasa aku merayapi semua lekuk liku tubuhnya, demikian pun sebaliknya. Ketika rabaan dan usapan itu semakin memanas, ketika gejolak nafsu semakin tak terkendali, kembali aku bersatu dengan tubuh bahenol nan sexy itu. Kecipak air yang tertumpah ke lantai kamar mandi tak lagi dihiraukan. Yang ada hanyalah pertarungan seru dua jenis manusia, pertarungan tanpa senjata. Pertarungan untuk mencari kenikmatan badaniah. Ia mendesah-desah nikmat dengan mulut terbuka seperti ikan yang kehabisan air. Tangannya ketat merangkulku sementara pahanya mengangkang lebar sehingga aku leluasa memainkan kemaluanku di lubang kemaluannya.

Tanpa merasa perlu berpakaian kami menikmati makan malam. Sementara mulutku menikmati hidangan least itu, mataku dapat terus menikmati kemolekan kedua payudaranya atau kemulusan pahanya. Rasanya sangat nikmat ketika sebelah tangan menyuapkan makanan ke mulut sementara tangan yang lain bergerilya di sekitar lekukan buah dadanya. Demikian pun sebaliknya. Tangan dia pun tak henti-hentinya mempermainkan batang kejantananku sehingga senjata kebangganku itu dengan cepat berdiri kembali, siap untuk memberikan kenikmatan yang lebih hebat lagi kepadanya.

Selesai makan ia beranjak ke ruang tengah. Aku mengikutinya dari belakang, menikmati goyangan pantatnya yang menawan. Kuperhatikan kedua pinggulnya yang bulat dan padat namun lembut, bergoyang-goyang naik turun bergantian, indah sekali. Tak sanggup menahan diri, kuterkam ia dari belakang. Ia menjerit kecil lalu dia diam, membiarkan diriku menikmati setiap jengkal tubuhnya. Kuremas sejenak kedua belah pantatnya yang besar itu lalu kupeluk dia dari belakang. Kedua tanganku melekat erat di kedua buah dadanya sementara kemaluanku yang sudah menegang menusuk-nusuk pantatnya yang bergetar-getar lembut.
“Nonton video, yuk”, ajak dia.

Aku duduk di sofa sementara ia menyetel videonya sementara aku duduk di sofa. Adegan-adegan hot pun mulai muncul dari BF yang dipilihnya. Sepasang manusia dengan penuh gairah bersetubuh nampak di layar televisi. Dia menghampiriku, membuka pahaku dan duduk di lantai di antara kedua kakiku. Lehernya yang jenjang disandarkannya tepat di atas kemaluanku. Kemaluanku yang sudah tegang itu bergetar-getar. Ia tertawa kegelian. Di layar TV adegan persetubuhan itu semakin panas. Si lelaki berbaring lurus dan sang wanita yang berpantat besar itu merebahkan diri di atasnya. Pantatnya diangkat dan diturunkan perlahan-lahan. Matanya membeliak menikmati masuknya kemaluan si lelaki itu ke kemaluannya.
“Ayo, Rud”, kata dia. “Mau tunggu apa lagi!”

Serentak dengan itu ia memutar kepalanya dan melahap batang kejantananku. Aku tersentak dan mengeram nikmat. Direbahkannya tubuhku di atas lantai berkarpet. dia menidih tubuhku dengan tubuhknya yang montok bahenol. Kedua tanganku dibawa ke kedua payudara montok itu. Aku pun meremasnya sehingga ia mengerang. Tangannya yang halus menangkap kemaluanku dan diremas-remasnya sejenak. Ia mengangkang di atasku. Tangannya menuntun kemaluanku ke lubang kemaluannya. Di mulut kemaluannya ia berhenti sejenak lalu dengan perlahan-lahan diturunkannya pantatnya. Batang kemaluanku yang sudah keras itu dengan lancar membelah lubang kemaluannya yang sudah basah.
“Aaahh..”, erangnya.

Dia mulai menggerakkan pantatnya naik turun. Semakin lama semakin cepat gerakan itu, semakin keras pula lenguhannya. Buah dadanya berguncang-guncang di telapak tanganku. Kepalanya terdongak ke atas dengan mata terpejam dan mulut terbuka. Aku merasakan satu sensansi yang luar biasa di kemaluanku yang semakin mengeras dan membesar. Tiba-tiba ia menghentakkan pantatnya ke bawa. Matanya membeliak dan tubuhnya menggelepar di atasku. Jeritannya tertahan di leherku. Aku tahu ia mencapai puncak orgasmenya. Kubiarkan ia berbaring diam membatu di atasku sampai sekitar sepuluh menit, lalu aku mulai beraksi lagi.

Aku mendorong tubuhnya ke samping. Ia menelentang lemas. Mataku melirik ke layar TV. Adegan doggy sedang berlangsung. Si lelaki itu sedang menyetubuhi si wanita bahenol itu dari belakang. Aku ingin menirunya. Kutarik tubuhnya sehingga ia menungging. Aku memutar ke belakangnya dan mulai menyerang. Mula-mula aku agak kesulitan mencapai mulut kemaluannya karena pantatnya yang teramat besar itu. Tetapi aku tidak berputus asa. Kulengkungkan pantatku ke bawah sambil mengangkat pahanya sedikit ke atas. Tanganku lalu beralih menjangkau kedua buah dadanya. Dan dengan satu gerakan yang manis, kemaluanku menerobos kemaluannya yang sudah terbuka lebar dan basah oleh lendir. Kepalanya mendongak sejenak dan terdengar erangan kecil. Lalu mulailah aku menggerakkan pantatku maju mundur. Ia semakin keras mengerang dan menggeliat-geliat menahan rasa nikmat yang tak terkira. Pantatnya bergetar-getar dan berguncang hebat. Dunia sekitar sudah sama sekali dilupakan.

Mendekati puncak aku ingin menikmatinya dengan tubuh lemas. Kulepaskan pantatnya dan kubalik tubuhnya. dia menelentang dengan paha yang terbuka lebar, siap untuk digenjot lagi. Kukencangkan otot perutku, kemaluanku mengacung ke depan tegak lurus, besar dan berlendir. Aku menurunkan pantatku. dia memejamkan matanya siap menikmati penetrasi kemaluanku. Ketika kemaluanku meluncur memasuki lubang kemaluannya, ia mendesah kecil. Dengan segera desahan itu berubah menjadi erangan dan jeritan ketika aku mempercepat gerakan pantatku. Tangannya bergerak-gerak tak tentu arah, demikian pula kakinya yang terkangkang lebar itu.
“Aaahh.. Ooouu.. aauu..!” jeritnya membelah dinginnya udara malam.

Aku tak mempedulikan erangannya itu. Pantatku terus beraksi, kemaluanku menerobos lorong kemaluannya, keluar masuk dengan ganasnya. Kurasakan lahar di kemaluanku akan meledak. Maka kurangkul pundaknya. Mulutku kutanamkan di lehernya. Dengan satu hentakan pantat yang keras, kutanamkan kemaluanku sedalam-dalamnya di lubang kemaluannya. Pantatnya bergetar-getar hebat menahan rasa nikmat yang menjalari tubuhnya. Pahanya ketat membelit pinggangku. Dan gelombang orgasme melanda seluruh tubuhku.
“Crot.. crot.. crot..”, spermaku memancar deras masuk ke liang kemaluannya mengiringi jeritan keras dari mulutnya.

Tubuh kami yang menyatu bergetar-getar kejang menahan rasa nikmat yang tak terkira. Kami terus berpelukan dengan kemaluan yang menyatu. Nafasku memburu bersatu dengan nafasnya. Tak ada kata yang dapat menggambarkan rasa nikmat saat itu. Ketika itulah terdengar ayam jago berkokok.
“Sudah pagi, jantanku”, kata dia sambil membelai wajahku. Ia tersenyum. “Terima kasih. Aku puas sekali. Belum pernah aku sepuas malam ini.”
“Kamu juga wanita luar biasa”, sahutku. “Aku tak akan pernah melupakanmu. Maaf kalau aku agak kasar.”
“Nggak.. nggak kasar, tapi jantan”, sahutnya. “Lelaki macam kamu yang kucari.”

Kukecup bibirnya lembut. Kini saatnya untuk beristirahat. Kubopong tubuh bahenol itu ke kamar tidur dan membaringkannya di atas ranjang lembut. Kuangkat selimut dan menutupi tubuh kami berdua. Tak lama kemudian kamipun hanyut dalam mimpi. Tak ada kecemasan, tak ada hal lain yang dipikirkan. Yang ada hanyalah gairah nafsu, gelora cinta dan keinginan untuk saling memuaskan. Dunia di luar sana boleh berteriak-teriak, tetapi di ranjang vila ini yang ada hanyalah hentakan-hentakan birahi dua manusia berbeda jenis yang mencari kepuasan badaniah.

Jam sembilan pagi aku terjaga. Kupandangi tubuh molek dia di sebelahku. Mulutnya masih menyunggingkan senyum. Pahanya terbuka. Kupandangi bulu kemaluannya yang menggumpal dibasahi oleh cairan kemaluannya dan spermaku. Kemaluannya terbuka sehingga nampak dinding dalamnya yang berwarna kemerah-merahan. Kedua buah dadanya yang sepanjang malam menjadi santapanku mencuat ke atas dengan indahnya. Kubiarkan ia menikmati tidurnya, biar menimba tenaga untuk persetubuhan selanjutnya di hari ini.

Demikianlah hari itu terlewatkan dengan pergumulan penuh birahi. Aku menyetubuhi dia di mana saja. Di dapur, di meja makan, di ruang tengah, di teras, di kebun, di kamar mandi, di sofa, di ranjang, dll. Hari itu sepenuhnya milik kami berdua. Perjalanan pulang sore itu menjadi lebih santai. Nafsu birahi yang menyala-nyala telah terpuaskan. Aku tahu pasti, ranjang birahi dia telah menjadi milikku.

“Aku tetap membutuhkan kejantananmu di lain hari”, katanya ketika menurunkanku di Jl. Darmo.
Aku hanya tersenyum. Masih akan ada waktu untuk kembali menyetubuhi si bahenol seksi yang berbuah dada dan berpantat teramat besar itu. Dia milik suaminya, tetapi jelas tubuhnya itu telah menjadi milikku.

Bersambung . . .

3WANITA 1

Filed under: cerita seru

Namaku Rudy, berasal dari kawasan Indonesia Timur. Usiaku 23 tahun. Sejak tahun 1998 aku hijrah ke Surabaya untuk meneruskan studi di sebuah PTN terkenal. Dari daerahku yang agak terkebelakang aku beralih ke pergaulan metropolis. Teman-teman mahasiswi yang cantik manis ternyata mudah diajak bergaul. Namun, aku menyimpan obsesi. Apa itu? Ingin kurasakan seperti apa nikmatnya bersetubuh dengan wanita dari berbagai daerah. Siapa kira obsesiku itu agak dengan mudah terpenuhi? Berikut kisahku dengan tiga wanita dari 3 daerah berbeda.
Hari Sabtu, kira-kira pukul delapan pagi. Aku masih di tempat tidur ketika teleponku berdering. Dengan agak malas kuangkat.
“Haloo.. Rudy di sini”, kataku.
“Hi, Rud!”, suara wanita. “Ini Warsih. Gimana khabarnya?”
Mataku sepenuhnya terbuka sekarang. Di pelupuk mataku segera terbayang wajah manis wanita Jawa berusia tiga puluh tiga tahun tersebut.
“Hi..” aku jadi bersemangat. “Baik-baik. Ada apa?”
“Mau nggak, sore ini nemenin aku ke Pacet?” tanyanya.
Hatiku bersorak. Tentu saja aku mau.
“Aku menjemputmu sekitar jam empat di Jl. Darmo, seperti biasa. Suamiku lagi ke Solo menghantar Dodi dan Novi ke kakek neneknya. Pulang Senin siang. Aku jadi punya waktu untuk bersantai. OK?”
Aku hanya tertawa. Bersantai? Tentu saja di ranjang Villa keluarganya di Pacet sana. Lelaki normal mana yang mau menolak undangan seperti ini?

Sejak diperkenalkan Ibu Shirley kepadaku, sudah belasan kali ia merasakan kejantananku. Kesempatan itu datang lagi. Terbayang di mataku pergumulan hangat yang akan terjadi. Akan kugeluti tubuh montok itu, akan kusetubuhi dia sampai puas. Ibu Suwarsih sangat menarik walau sudah beranak dua. Tubuhnya sintal, tinggi dengan rambut lurus sedikit dibawah pundak. Buah dadanya besar menantang, putih dan ranum dengan putingnya yang berwarna merah jambu menonjol ke depan dengan seksinya seakan-akan belum diteteki seorang anakpun. Perutnya masih rata dan mulus dengan pinggang yang cukup langsing, digantungi oleh bongkahan pantatnya yang besar. Paha dan betisnya serasi dengan pantatnya. Dan terutama, kemaluannya yang berbulu hitam lebat berwarna kemerah-merahan, sudah sering kugenjot sampai ia menjerit-jerit. Aku tersenyum membayangkan kenikmatan yang akan kureguk.

Kurang lima menit pukul empat sore, aku berdiri di pinggir Jl. Darmo. Sebuah mobil kijang biru berkaca raiban berhenti. Pintu terbuka dan aku pun masuk. Ia tersenym dengan bibirnya yang merah merekah, menatapku tanpa berkata apa-apa namun dengan sorot mata penuh birahi yang perlu dipuaskan. Kututup pintu dan segera kulumat bibirnya yang basah menggairahkan.

“Ayo kita berangkat”, kataku melepaskan bibirnya.
Ia mengangguk dan melarikan mobil. Selama di perjalanan, tanganku tak henti-hentinya menari-nari di lekak lekuk tubuhnya. Ia tidak menolak sedikitpun malahan bergerak-gerak memberiku keleluasaan menjarah rayah tubuhnya. Di lereng sebuah bukit kuminta ia menghentikan mobil. Walau agak heran ia berhenti juga. Tanganku mulai beraksi mencopoti pakaiannya. Dadanya terbuka. Sebuah BH kecil berwarna cream menutupi seperempat buah dadanya. Segera mulutku menerkam kedua gunung kembar yang mulus itu. Ia mengerang-ngerang. Tanganku sibuk mencopoti rok pendek yang dikenakannya. CD cream kecil menutupi kemaluannya. Kugeluti dia di atas jok mobil itu. Ia melenguh semakin hebat dan mencari-cari reseluiting celanaku. Ditariknya ke bawah dan jemarinya yang halus menyusupi CD-ku dan meremas batang kemaluanku. Ia sudah siap untuk disetubuhi tetapi kutahan diri.

“Ayo kita berangkat lagi”, kataku.
“Kok tidak diteruskan”, katanya dengan nafas panjang. Sorot matanya menerawang penuh nafsu.
“Belum saatnya”, sahutku menggoda. “Nanti di villa saja.”

Maka sambil tersenyum ia kembali menyetir. Tembok pagar villa yang tinggi menjadi pelindung yang aman. Sambil berpelukan kami memasuki villa dan terus melangkah ke kamar tidur karena pertarungan ronde pertama akan segera dimulai. Kupelorot setiap helai kain yang melekat di tubuhnya sehingga ia berdiri di hadapanku telanjang bulat. Kucopot pakaianku dalam hitungan detik dan langsung menerkam tubuhnya yang bahenol. Kami berjatuhan ke atas ranjang yang empuk dengan nafas memburu, sepenuhnya dikuasai nafsu birahi yang minta dipuaskan.

Bibirku beradu dengan bibirnya. Mulutku terbuka membiarkan lidahnya menjulur masuk mempermainkan lidahku, sementara kedua tanganku asyik bermain di kedua payudaranya. Puas mempermainkan bibirnya, kurayapi pipi dan dagunya. Di bawah sana, tangannya yang lembut mengelus dan meremas-remas kemaluanku. Aku mengerang nikmat. Mulutku beralih ke kedua payudaranya yang mengeras. Kurasakan denyut jantungnya yang semakin cepat dan nafasnya yang memburu.

Mulutku terus turun merayapi perutnya. Tubuhnya menggelinjang menahan nafsu birahi yang semakin memuncak. Bibirku semakin mendekati kemaluannya yang berbulu lebat dan mulai meneteskan cairan bening. Pahanya membuka seiring dengan mulutku yang lincah bermain mendekati lubang surgawinya. Pantatnya mulai berguncang-guncang hebat. Ia sudah kehilangan pegangan sama sekali. Kuisap pangkal pahanya dan sesekali mendengus di bulu-bulu lebat kemaluannya. Ia semakin keras mengerang. Akhirnya kubenamkan mulutku di lubang kemaluannya. Lidahku menjulur masuk. Ia tersentak dan menekan kepalaku lebih dalam menyusupi selangkangnya. Kuisap klitorisnya. Erangan itu berubah menjadi jeritan. Kupikir inilah saat yang tepat.

Kurebahkan dia ke atas kasur dan dengan cepat menindih tubuh molek itu. Kemaluanku yang sudah keras tegak itu dengan menggebu mencari sasarannya. Kugenjot sekali, salah. Kugenjot kedua kali. Kurasakan kemaluanku menyusup masuk membelah lubang kemaluannya yang hangat berlendir. Ia membuka paha lebar-lebar sehingga dengan gampang aku menyuruk masuk lebih dalam.
“Aaachh..”, ia menjerit panjang.

Kugerakan pantatku naik turun untuk memberikan rasa nikmat kepadanya. Dia menjerit-jerit tanpa arah. Nafasku memburu. Mulutku sibuk melumat kedua buah dadanya. Tiba-tiba tubuhnya mengejang. Ia menghentakkan pantatnya ke atas dan menelah penuh kejantananku. Aku tahu, dia sudah mencapai orgasme. Suara jeritannya keras membelah dinginnya malam. Pahanya ketat membelit pinggangku. Tubuhnya menggeletar menahan rasa nikmat. Tapi aku tak mau menyerah. Setelah beberapa menit diam membatu membiarkannya mereguk kenikmatan itu, aku mulai menggerakkan pantatku lagi. Kembali ia menggeliat-geliat. Terpikir olehku untuk memberikan satu sensasi baru baginya.

Kucabut kemaluanku yang masih tegang itu. Kutarik tubuhnya turun dari ranjang. Dengan tubuh yang gemetaran karena menahan rasa nikmat ia menuruti kemauanku. Dalam posisi berdiri kubuka pahanya dan berusaha memasuki lubang kemaluannya. Ia melengkungkan pantatnya ke belakang menekan birahinya yang menggila. Kuraih pundaknya dengan tangan kiriku dan menekannya ke arah dadaku, sementara tangan kananku menjangkau pantatnya yang besar itu. Kusentakkan pantat yang lembut itu ke arah kemaluanku. Meluncurlah batang kemaluanku membelah lubang kemaluannya, lancar seperti jalan tol.
“Aaachh..”, sekali lagi terdengar jeritannya panjang membelah malam.

Mengangkang lebar ia membiarkan aku dengan leluasa menggenjot kemaluannya. Keringatku mulai bercucuran menyatu dengan keringatnya. Matanya terpejam. Rasa nikmat mulai menjalari seluruh tubuhku mendesakku untuk mengakhiri pertarungan ronde pertama ini. Kukencangkan otot perutku. Kemaluanku semakin mengeras dan memanjang. Ia mengerang keras. Bobot badannya merosot tak sanggup ditopang sendi lututnya yang goyah karena rasa nikmat yang tak terkira. Aku terus menggerak-gerakkan pantatku maju mundur sambil mendengar suara kecipak lendir yang membanjiri kemaluannya. Cairan itu sudah mulai turun dan membasahi pahaku. Akhirnya dengan mengerahkan sisa tenagaku kusentakkan pantatku keras ke depan untuk membenamkan kemaluanku sedalam-dalamnya di lubang kemaluannya. Ia menjerit keras dan sejalan dengan itu tubuh kami yang menyatu bergulingan ke lantai berkarpet itu. Pahanya ketat membelit pinggangku. Pantatnya yang besar itu berguncang-guncang hebat. Tangannya ketat memelukku. Giginya terbenam di bahuku sehingga jeritan kenikmatannya tersekat di sana. Kurasakan gelombang kenikmatan orgasme merayapi tubuhku. Tubuh kami yang menyatu diam membatu mereguk sisa-sisa kenikmatan. Sekitar dua puluh menit berlalu.
“Terima kasih, jantanku”, kata dia sambil membelai wajahku. “Aku puas sekali!”
“Aku juga puas sekali”, sahutku. “Kamu luar biasa malam ini.”

Kami beralih ke kamar mandi. Acara mandi air hangat di bathtub dipenuhi dengan elusan, remasan dan rabaan. Dengan leluasa aku merayapi semua lekuk liku tubuhnya, demikian pun sebaliknya. Ketika rabaan dan usapan itu semakin memanas, ketika gejolak nafsu semakin tak terkendali, kembali aku bersatu dengan tubuh bahenol nan sexy itu. Kecipak air yang tertumpah ke lantai kamar mandi tak lagi dihiraukan. Yang ada hanyalah pertarungan seru dua jenis manusia, pertarungan tanpa senjata. Pertarungan untuk mencari kenikmatan badaniah. Ia mendesah-desah nikmat dengan mulut terbuka seperti ikan yang kehabisan air. Tangannya ketat merangkulku sementara pahanya mengangkang lebar sehingga aku leluasa memainkan kemaluanku di lubang kemaluannya.

Tanpa merasa perlu berpakaian kami menikmati makan malam. Sementara mulutku menikmati hidangan least itu, mataku dapat terus menikmati kemolekan kedua payudaranya atau kemulusan pahanya. Rasanya sangat nikmat ketika sebelah tangan menyuapkan makanan ke mulut sementara tangan yang lain bergerilya di sekitar lekukan buah dadanya. Demikian pun sebaliknya. Tangan dia pun tak henti-hentinya mempermainkan batang kejantananku sehingga senjata kebangganku itu dengan cepat berdiri kembali, siap untuk memberikan kenikmatan yang lebih hebat lagi kepadanya.

Selesai makan ia beranjak ke ruang tengah. Aku mengikutinya dari belakang, menikmati goyangan pantatnya yang menawan. Kuperhatikan kedua pinggulnya yang bulat dan padat namun lembut, bergoyang-goyang naik turun bergantian, indah sekali. Tak sanggup menahan diri, kuterkam ia dari belakang. Ia menjerit kecil lalu dia diam, membiarkan diriku menikmati setiap jengkal tubuhnya. Kuremas sejenak kedua belah pantatnya yang besar itu lalu kupeluk dia dari belakang. Kedua tanganku melekat erat di kedua buah dadanya sementara kemaluanku yang sudah menegang menusuk-nusuk pantatnya yang bergetar-getar lembut.
“Nonton video, yuk”, ajak dia.

Aku duduk di sofa sementara ia menyetel videonya sementara aku duduk di sofa. Adegan-adegan hot pun mulai muncul dari BF yang dipilihnya. Sepasang manusia dengan penuh gairah bersetubuh nampak di layar televisi. Dia menghampiriku, membuka pahaku dan duduk di lantai di antara kedua kakiku. Lehernya yang jenjang disandarkannya tepat di atas kemaluanku. Kemaluanku yang sudah tegang itu bergetar-getar. Ia tertawa kegelian. Di layar TV adegan persetubuhan itu semakin panas. Si lelaki berbaring lurus dan sang wanita yang berpantat besar itu merebahkan diri di atasnya. Pantatnya diangkat dan diturunkan perlahan-lahan. Matanya membeliak menikmati masuknya kemaluan si lelaki itu ke kemaluannya.
“Ayo, Rud”, kata dia. “Mau tunggu apa lagi!”

Serentak dengan itu ia memutar kepalanya dan melahap batang kejantananku. Aku tersentak dan mengeram nikmat. Direbahkannya tubuhku di atas lantai berkarpet. dia menidih tubuhku dengan tubuhknya yang montok bahenol. Kedua tanganku dibawa ke kedua payudara montok itu. Aku pun meremasnya sehingga ia mengerang. Tangannya yang halus menangkap kemaluanku dan diremas-remasnya sejenak. Ia mengangkang di atasku. Tangannya menuntun kemaluanku ke lubang kemaluannya. Di mulut kemaluannya ia berhenti sejenak lalu dengan perlahan-lahan diturunkannya pantatnya. Batang kemaluanku yang sudah keras itu dengan lancar membelah lubang kemaluannya yang sudah basah.
“Aaahh..”, erangnya.

Dia mulai menggerakkan pantatnya naik turun. Semakin lama semakin cepat gerakan itu, semakin keras pula lenguhannya. Buah dadanya berguncang-guncang di telapak tanganku. Kepalanya terdongak ke atas dengan mata terpejam dan mulut terbuka. Aku merasakan satu sensansi yang luar biasa di kemaluanku yang semakin mengeras dan membesar. Tiba-tiba ia menghentakkan pantatnya ke bawa. Matanya membeliak dan tubuhnya menggelepar di atasku. Jeritannya tertahan di leherku. Aku tahu ia mencapai puncak orgasmenya. Kubiarkan ia berbaring diam membatu di atasku sampai sekitar sepuluh menit, lalu aku mulai beraksi lagi.

Aku mendorong tubuhnya ke samping. Ia menelentang lemas. Mataku melirik ke layar TV. Adegan doggy sedang berlangsung. Si lelaki itu sedang menyetubuhi si wanita bahenol itu dari belakang. Aku ingin menirunya. Kutarik tubuhnya sehingga ia menungging. Aku memutar ke belakangnya dan mulai menyerang. Mula-mula aku agak kesulitan mencapai mulut kemaluannya karena pantatnya yang teramat besar itu. Tetapi aku tidak berputus asa. Kulengkungkan pantatku ke bawah sambil mengangkat pahanya sedikit ke atas. Tanganku lalu beralih menjangkau kedua buah dadanya. Dan dengan satu gerakan yang manis, kemaluanku menerobos kemaluannya yang sudah terbuka lebar dan basah oleh lendir. Kepalanya mendongak sejenak dan terdengar erangan kecil. Lalu mulailah aku menggerakkan pantatku maju mundur. Ia semakin keras mengerang dan menggeliat-geliat menahan rasa nikmat yang tak terkira. Pantatnya bergetar-getar dan berguncang hebat. Dunia sekitar sudah sama sekali dilupakan.

Mendekati puncak aku ingin menikmatinya dengan tubuh lemas. Kulepaskan pantatnya dan kubalik tubuhnya. dia menelentang dengan paha yang terbuka lebar, siap untuk digenjot lagi. Kukencangkan otot perutku, kemaluanku mengacung ke depan tegak lurus, besar dan berlendir. Aku menurunkan pantatku. dia memejamkan matanya siap menikmati penetrasi kemaluanku. Ketika kemaluanku meluncur memasuki lubang kemaluannya, ia mendesah kecil. Dengan segera desahan itu berubah menjadi erangan dan jeritan ketika aku mempercepat gerakan pantatku. Tangannya bergerak-gerak tak tentu arah, demikian pula kakinya yang terkangkang lebar itu.
“Aaahh.. Ooouu.. aauu..!” jeritnya membelah dinginnya udara malam.

Aku tak mempedulikan erangannya itu. Pantatku terus beraksi, kemaluanku menerobos lorong kemaluannya, keluar masuk dengan ganasnya. Kurasakan lahar di kemaluanku akan meledak. Maka kurangkul pundaknya. Mulutku kutanamkan di lehernya. Dengan satu hentakan pantat yang keras, kutanamkan kemaluanku sedalam-dalamnya di lubang kemaluannya. Pantatnya bergetar-getar hebat menahan rasa nikmat yang menjalari tubuhnya. Pahanya ketat membelit pinggangku. Dan gelombang orgasme melanda seluruh tubuhku.
“Crot.. crot.. crot..”, spermaku memancar deras masuk ke liang kemaluannya mengiringi jeritan keras dari mulutnya.

Tubuh kami yang menyatu bergetar-getar kejang menahan rasa nikmat yang tak terkira. Kami terus berpelukan dengan kemaluan yang menyatu. Nafasku memburu bersatu dengan nafasnya. Tak ada kata yang dapat menggambarkan rasa nikmat saat itu. Ketika itulah terdengar ayam jago berkokok.
“Sudah pagi, jantanku”, kata dia sambil membelai wajahku. Ia tersenyum. “Terima kasih. Aku puas sekali. Belum pernah aku sepuas malam ini.”
“Kamu juga wanita luar biasa”, sahutku. “Aku tak akan pernah melupakanmu. Maaf kalau aku agak kasar.”
“Nggak.. nggak kasar, tapi jantan”, sahutnya. “Lelaki macam kamu yang kucari.”

Kukecup bibirnya lembut. Kini saatnya untuk beristirahat. Kubopong tubuh bahenol itu ke kamar tidur dan membaringkannya di atas ranjang lembut. Kuangkat selimut dan menutupi tubuh kami berdua. Tak lama kemudian kamipun hanyut dalam mimpi. Tak ada kecemasan, tak ada hal lain yang dipikirkan. Yang ada hanyalah gairah nafsu, gelora cinta dan keinginan untuk saling memuaskan. Dunia di luar sana boleh berteriak-teriak, tetapi di ranjang vila ini yang ada hanyalah hentakan-hentakan birahi dua manusia berbeda jenis yang mencari kepuasan badaniah.

Jam sembilan pagi aku terjaga. Kupandangi tubuh molek dia di sebelahku. Mulutnya masih menyunggingkan senyum. Pahanya terbuka. Kupandangi bulu kemaluannya yang menggumpal dibasahi oleh cairan kemaluannya dan spermaku. Kemaluannya terbuka sehingga nampak dinding dalamnya yang berwarna kemerah-merahan. Kedua buah dadanya yang sepanjang malam menjadi santapanku mencuat ke atas dengan indahnya. Kubiarkan ia menikmati tidurnya, biar menimba tenaga untuk persetubuhan selanjutnya di hari ini.

Demikianlah hari itu terlewatkan dengan pergumulan penuh birahi. Aku menyetubuhi dia di mana saja. Di dapur, di meja makan, di ruang tengah, di teras, di kebun, di kamar mandi, di sofa, di ranjang, dll. Hari itu sepenuhnya milik kami berdua. Perjalanan pulang sore itu menjadi lebih santai. Nafsu birahi yang menyala-nyala telah terpuaskan. Aku tahu pasti, ranjang birahi dia telah menjadi milikku.

“Aku tetap membutuhkan kejantananmu di lain hari”, katanya ketika menurunkanku di Jl. Darmo.
Aku hanya tersenyum. Masih akan ada waktu untuk kembali menyetubuhi si bahenol seksi yang berbuah dada dan berpantat teramat besar itu. Dia milik suaminya, tetapi jelas tubuhnya itu telah menjadi milikku.

Bersambung . . .

3 wANITA 2

Filed under: cerita seru

Label: Setengah Baya
Pagi ini aku bangun dari tidur dengan badan yang terasa pegal. Bisa dimaklumi, karena sejak Sabtu hingga Minggu soreh kemarin, aku telah melewatkan hari yang penuh pemuasan nafsu birahi dengan Suwarsih di Villa Pacet. Aku tersenyum sendiri membayangkan pertarunganku yang dramatis dan mendebarkan dengan Suwarsih yang berbuah dada besar dan berpantat teramat besar yang selalu bergoyang-goyang indah, dihiasi oleh kemaluan yang hangat, basah dan berbulu lebat. Sambil bersiul-siul kecil aku melangkah ke kamar mandi. Badanku pun beralih segar setelah mandi, hilanglah segala kepenatan karena pertarungan dengan Suwarsih kemarin. Kuputuskan line telepon karena ingin kulewatkan hari itu sepenuhnya untuk beristirahat.

Hari berikutnya aku bangun dengan tenaga baru. Sekitar jam 11 pagi aku kembali ke rumah kost yang dekat dengan kampus. Baru saja aku masuk telepon berdering.
“Hallo”, sahutku. “Ini Rudy.”
“Hai kuda liar”, sahut suara kenes seorang wanita. “Ini Sherlly.”
Terdengar suara lembut, berbisik seksi penuh gairah nafsu birahi.
Aku tersenyum. Sherlly, saudara mantan ibu kostku yang berasal dari Manado, yang sekarang ini berumah di Darmo Permai. Ibu Sherlly, yang memperkenalkan diriku kepada Ibu Suwarsih, yang juga telah puluhan kali merasakan kejantananku.
“Malam Minggunya ada di mana, hayo”, katanya mengikik.
“Nggak kemana-mana kok, Bu”, sahutku nakal.
“Alaa.. sok aksi kamu ya”, sahutnya. “Siapa yang menggeluti Suwarsih di Pacet sana, hayo.”
“Kok tahu, Bu”, sahutku pura-pura terkejut.
“Yah, tahu dong”, katanya seksi, diiringi desah nafas yang menandakan nafsu birahinya sudah perlu dipuaskan. “Sore itu kutelepon Suwarsih, katanya lagi ke Pacet. Nah, ketika kutelepon kamu, juga nggak ada. Kesimpulan jelas, kamu sedang asyik menggumuli si montok itu. Ngaku aja deh. Emangnya kenapa?”
“Iri nih ye..”, kataku tertawa.
“Idiih.. mentang-mentang jantan. Sok sombong kamu, yah”, sahutnya. “Oh ya.. Aku mau mengundangmu ke rumah. Mumpung suamiku lagi ke Jakarta selama seminggu. Lagian anak-anak kan semua di Malang. Akhir-akhir ini kamu kok maunya ‘tempur’ sama Suwarsih doang. Bisa nggak nemenin aku?”
“Yah, kalau hanya menemani saja sih nggak mau aku”, sahutku nakal. “Kecuali kalau mau ‘tempur’nya. Hahaa..”
“Iddiih.. genit kamu yah”, katanya. “Udah.. udah, aku nunggu di TP, sekarang juga.”

Telepon diputuskannya. Aku tersenyum sendiri. Ibu Sherlly! Telah puluhan kali kusetubuhi wanita ini. Entah keuntungan dari mana yang menimpaku. Aku mengenalnya ketika kost di rumah saudaranya di dekat kampusku. Aku sering membayang-bayangkan seperti apa nikmatnya menggumuli wanita cantik itu. Keberuntunganku datang tiga bulan kemudian. Aku masih ingat. Malam itu hujan lebat. Suaminya pergi ke Jakarta, urusan bisnis. Dua anaknya yang masih kecil sudah tidur. Aku tertahan di rumah itu karena banjir melanda kota Surabaya. Aku disuruh ibu kostku mengantar satu barang ke rumahnya. Karena tak bisa pulang ia menelpon ibu kostku mengabarkan kalau malam itu aku nginap di rumahnya. Aku lagi berbaring di kamar tamu ketika terdengar pintu diketuk. Kubuka, dan Ibu Sherlly berdiri di hadapanku dengan tubuh yang hanya dibelit selembar kain batik.
“Ada apa, Bu”, kataku dengan dada berdebaran melihat tubuh montoknya yang hanya dibelit sehelai kain batik. “Apakah hasratku menjadi kenyataan?” tanyaku.
“Tolong, yah”, katanya. “Punggungku sangat pegal. Tolong dipijit.”

Ia melangkah ke kamarnya tanpa menunggu persetujuanku. Aku mengikutinya. Di kamarnya ia berbaring tengkurap di atas tempat tidurnya. Kainnya tersingkap dan punggungnya yang padat berisi dan mulus itu segera kuremas-kuremas. Dan kelihatannya Ibu Sherlly sengaja mengangkat tubuhnya dengan bertopang pada kedua lengannya, sehingga tersingkap sedikit kedua buah dada yang bergantungan indah itu. Melihat itu, aku mulai sedikit meningkatkan aksiku. Ketika kupijit dekat lengannya, sengaja tanganku tergelincir, dan dengan itu menyentuh kedua buah dadanya. Sentuhanku semakin berani. Dari sekedar menyenggol, menjadi menggelus, akhirnya mencolek. Ia tertawa kesenangan.

Sementara itu, karena badannya terus menerus bergerak, kainnya semakin melorot. Dan tanganku semakin menyingkapkan kain itu ke arah pantatnya. Tanganku memijit dekat pantatnya, dan kugeser semakin ke bawah. Sadarlah aku, bahwa Ibu Sherlly ternyata tidak mengenakan celana dalam. Maka tanganku semakin nakal mendekati pantatnya. Sementara itu di atas sana, tangan kiriku semakin sering tergelincir. Ia mengerang nikmat. Pantatnya semakin terbuka. Ia rupanya memberiku kesempatan.

Sementara itu hujan di luar sana semakin lebat. Sejalan dengan itu, pantatnya semakin terbuka. Maka aku menjadi nekad, apapun yang terjadi. Pada saat yang bersamaan, tangan kiriku menyuruk ke bawah dadanya menangkap buah dada kirinya, sementara tangan kananku menyuruk ke balik pahanya. Serta merta kubalikkan tubuhnya. Ia terpekik, tetapi aku telah menyerang dan menindih tubuhnya yang montok dan mulus itu.
“Oh, Rudy.. aahh.. jangaann..” pekiknya, tetapi ternyata tangannya malah merangkulku. Aku tahu, itu hanya sandiwara penolakan.

Mulutku segera mencari mulutnya dan membekapnya. Ia terdiam. Lidahnya mulai beraksi menjulur ke dalam mulutku dan mempermainkan lidahku. Sementara itu, tanganku telah dengan leluasa menjarah tubuhnya yang sudah tidak tertutup sehelai benangpun. Mulut kami bermain dengan lincahnya. Puas kunikmati bibirnya, mulutku mulai beralih ke seluruh wajahnya. Tidak terdengar lagi erangan penolakan. Yang ada hanya erangan birahi yang semakin memuncak. Tangannya kini aktif bermain, meraba dan mengelus tubuhku, berusaha membangkitkan gairah yang lebih besar lagi. Tidak ada lagi gerakan penolakan seperti sebelumnya. Yang ada cuma nafsu menggila yang perlu pemuasan.

Akhirnya, kuputuskan untuk menyetubuhinya. Kulepaskan tubuhnya sambil mencopot celanaku. Dan sambil terus mendesis, aku menerkam tubuhnya yang montok. Di luar sana, hujan turun semakin deras seakan menjadi tirai yang melindungi kami. Malam semakin larut, tetapi kami semakin bersemangat. Tangannya yang halus terulur dan menangkap kemaluanku yang besar dan panjang, yang tegang dan keras seperti senapan mesin. Lalu perlahan dibimbingnya ke lubang kemaluannya. Aku mengikuti irama yang diciptakannya itu. Mulutku terus mempermainkan bibirnya. Dan sesampainya batang kejantananku di mulut lubang kemaluaannya yang berbulu lebat itu, tiba-tiba ia menghentakkan pantatnya. Bersatulah kami sepenuhnya. Kemaluanku dengan ganasnya meluncur, membelah bulu-bulu lebat dan hitam di seputar mulut lubang kemaluannya, meluncur tidak terkendali ke dalam lubang kemaluannya yang licin serta hangat itu.
“Aaahh.. aauu.., jeritnya tidak keruan.

Pantatnya berguncang hebat, menahan rasa nikmat yang tidak terkendali. Pahanya terangkat membuka lebar kemaluannya, sehingga kemaluanku dengan leluasa menyuruk masuk sedalam-dalamnya, menikmati setiap remasan dinding lubang kemaluannya.

Hujan tercurah dengan lebatnya. Sesekali guntur menggelegar mengiringi kilat yang menyambar. Tetapi semua itu sama sekali tidak mempengaruhi pergumulan kami. Kurasakan kuku-kukunya membenam di daging punggungku, sementara giginya menancap di bahuku. Jeritan nikmatnya tersekat di sana. Kuangkat pantatku dan menggenjoti kemaluannya, naik turun, naik turun, membuat dirinya merasa seperti terangkat ke langit-langit yang tinggi. Maka oleh satu hentakan keras, kusentakkan kemaluanku ke bawah, dan memancarlah spermaku ke dalam lubang kemaluannya. Aku menggeram menahan rasa nikmat mengiringi jeritan orgasmenya membelah dinginnya malam. Malam itu kami masih mengulanginya beberapa kali lagi.

Ternyata Ibu Sherly mempunyai teman senasib. Aku diperkenalkannya kepada dua temannya, Suwarsih (baca kisah 1) dan Mei (baca kisah 3). Bergantian aku menggeluti tubuh mereka untuk memberikan kepuasan sex yang sudah tidak mereka temukan lagi dari suami mereka. Kalau aku lagi butuh sex, aku dapat meminta salah satu dari ketiganya melayaniku. Dan sekarang ini Ibu Sherly mengundangku.

Cepat aku berpakaian yang rapih. Di depan Tunjungan Plaza aku turun dan menanti. Sebuah Toyota twin-cam hitam berhenti dan pintu kiri depan dibuka. Aku segera masuk. Setelah kututup pintunya, segera kuraih tubuhnya ke dalam pelukanku dan melumat bibirnya yang merah merekah. Ia melarikan mobilnya dan tidak lama kemudian kami tiba di Darmo Permai. Sambil bergandengan tangan kami melangkah memasuki rumahnya. Pintu dikunci dan kami segera beralih ke lantai atas. Kuangkat tubuh bahenolnya itu ke dalam gendonganku. Ia tertawa. Pahanya yang mulus bergoyang-goyang, sementara pantatnya yang teramat besar itu terasa hangat di tanganku. Tanpa basa-basi aku membawanya ke kamar tidur. Sambil berpelukan kami masuk ke kamar yang besar dan harum itu. Di tempat ini, di atas ranjang inilah pertama kali aku menyetubuhinya. Persetubuhan yang memberikan pengalaman indah bagiku, pertama kali menidurinya.

Kulemparkan tubuhnya yang indah itu ke atas ranjang. Ia tersenyum menatapku, menantikan aksi kejantananku. Segera kuterkam dia dan kamipun mulai bergelut. Mulut kami bersatu dan saling menyedot untuk membangkitkan nafsu yang lebih besar. Tangan kami masing-masing menjalar ke segala lekuk liku tubuh lawan masing-masing. Dengan leluasa kucopoti setiap lembar pakaian yang menempel di badannya. Kutarik rok pendek yang dikenakannya, lalu mencopot blousenya. Sambil terus menikmati buah dadanya dengan mulutku, kedua tanganku melingkar dan melepaskan kancing BH-nya. Buah dadanya mencuat keluar dengan indahnya, sementara perutnya yang rata dan putih mulus itu menggeletar-geletar menahan rasa birahi yang semakin meningkat. Akhirnya, tanganku meluncur ke bawah dan melepaskan celana dalam tipis yang dikenakannya. Kini ia terbaring telanjang tanpa sehelai benangpun. Kubiarkan dia berbaring telanjang bulat. Tenang-tenang tanpa terburu kulepaskan pakaianku. Dengan tubuh telanjang bulat aku menghampirinya. Matanya tertutup, tetapi ia pasti menyadari kehadiranku di dekat ranjangnya itu. Kulihat bulu badannya meremang, menahankan gairah birahi yang menggila.

Aku tersenyum mengamati tubuhnya yang indah dan montok itu. Wajahnya yang oval, kulitnya yang putih halus, alisnya yang cukup tebal, bibirnya yang sensual, pipinya yang bulat, dagunya yang mungil, lehernya yang jenjang, bahunya yang berisi, dadanya yang mulus dihiasi dua payudara yang besar dan mencuat ke atas seperti gunung kembar, dengan puting susu yang merah kecoklatan, perutnya yang rata dengan pusar yang menawan, pahanya yang putih mulus dan merangsang menggeletar, betisnya yang bulat, pantatnya yang teramat besar dan bulat yang suka berguncang dengan hebatnya kalau lagi menahan birahi, serta lubang kemaluannya yang kemerah-merahan, basah, licin dan dihiasi dengan bulu hitam lebat yang menutupi bukit kemaluannya. Pendek kata ia tampil sebagai seorang wanita yang sempurna dalam segi biologisnya yang sangat menyenangkan lelaki yang bersetubuh dengannya. Dan sekarang saatnya bagiku untuk membuktikan semua itu.
“Ngapain sih, nggak dimulai”, protesnya. Mungkin karena terlalu lama menunggu, ia menjadi penasaran. “Aku udah nggak tahan nih.”
“Nggak jadi deh”, kataku memancingnya.
“Apa-apaan ini”, katanya tersentak bangun. ” Itu nggak fair namanya. Memangnya hanya Warsih yang menggairahkan. Cepetan dong, aku udah nafsu nih.”

Aku tertawa. Serentak dengan itu kuterkam tubuhnya yang bahenol itu. Tubuh kami terguling ke atas ranjang yang empuk, yang telah puluhan kali menjadi arena penuh dendam birahi yang membara mencari kepuasan. Nafsu birahiku menggelegak. Kutindih tubuhnya dengan gairah yang menggila. Mulutku beraksi di sekujur wajahnya, sementara tanganku mempermainkan kedua payudaranya sepuas hatiku. Sementara itu, tangannya yang halus pun asyik mempermainkan kemaluanku yang mulai mengeras tegak seperti tank baja, siap menggenjot kemaluannya. Diremasnya, dielusnya, diusapnya, dipermainkannya dengan penuh gairah. Aku menggeram menahankan rasa nikmat yang semakin menghebat.

Mulutku mulai menikmati buah dadanya. Dengan penuh nafsu kukerkah kedua payudara itu. Ia membusungkan dadanya, agar mulutku dengan leluasa bisa menjelajahi setiap jengkal payudaranya. Mulutku mengerkah dan mengisap, diselingi dengan gigitan halus membuatnya mengerang tidak keruan. Ia menggeliat-geliat tanpa daya, lemas menikmati semuanya itu.
“Ooohh.. aahcchh..” erangnya.
“Auu.. ach..oouu..” lenguhnya kehilangan pegangan sama sekali.

Sejalan dengan itu kutingkatkan seranganku. Mulutku mulai memutari perutnya, sementara kedua tanganku melingkar ke pantatnya yang teramat montok dan mulus halus itu. Kuremas dengan penuh nafsu. Mulutku semakin mendekati kemaluannya. Ia semakin lebar mengangkangkan paha-nya, menanti intervensi mulutku ke kemaluannya itu. Kuisapi setiap jengkal perutnya untuk membangkitkan gairah nafsu birahinya. Semakin mendekati lubang kemaluannya, lenguhannya semakin keras.
“Aaauu.. Rudy.. lakukan.. sekarang.. sekarang.. aku tidak bisa tahan lagi.. aahh.. aacchh..” lenguhnya tidak keruan.

Aku tidak menghiraukannya. Aku masih ingin bermain, walau kemaluanku sendiri telah tegak seperti meriam, sudah ingin membelah lubang kemaluannya. Mulutku semakin mendekati kemaluannya. Kusapu sejenak lubang kemaluannya dan hinggap di pahanya. Kudengar desah nafas panjang menandakan kekecewaannya. Pasti ia menginginkan agar kubenamkan mulutku di kemaluannya. Tetapi tidak, aku malah merayapi pahanya semakin ke bawah untuk menikmati betisnya. Kuelus betisnya dengan tanganku, sementara mulutku terus mengisapi pahanya, semakin naik mendekati sentrum persetubuhan kami ini. Pahanya tergeser semakin melebar, seirama dengan gerakan mulutku yang semakin mendekati bagian terlembut dari tubuhnya. Akhirnya, setelah ia semakin tidak terkendali lagi, kubenamkan mulutku ke kemaluannya dan menjilatinya dengan penuh gairah. Ia tersentak bangun dan menekan kepalaku lebih dalam ke selangkangnya. Beberapa saat kubiarkan ia berbuat begitu untuk memberikan nikmat yang lebih besar.
“Aaahh.. aduuhh..”, erangnya.

Tiba-tiba ia menolak tubuhku sehingga telentang di atas ranjang. Belum lagi hilang kagetku, mulutnya yang mungil telah melahap kemaluanku yang besar dan tegang itu. Aku terkesiap, membeliak menahankan kenikmatan yang tidak terkira. Ia mengisap dan mengulum dengan lincahnya. Lidahnya begitu pandai mempermainkan ujung kemaluanku, membuatku seakan berada di surga yang ke tujuh. Tetapi aku tak ingin dikuasai wanita itu. Maka cepat kusentakkan kepalanya ke atas. Mulutnya terbuka dengan mata yang nanar karena nafsu yang semakin menggila. Kurasa sudah saatnya menggenjot kemaluannya.

Kutolak dia ke atas ranjang. Ia tertelentang dengan paha yang terbuka lebar. Maka segera aku merebahkan diriku ke atas tubuhnya yang montok itu. Kedua tanganku merangkuli pundaknya sementara mulutku menjelajahi wajahnya. Dan di bawah sana, kemaluanku dengan ganasnya mencari jalan masuk. Sengaja beberapa kali kubuat meleset untuk membuat hilang kesabarannya. Dan memang, tidak lama kemudian tangannya yang mencengkam punggungku beralih ke sana. Tangan halus itu menangkap kemaluanku, meremasnya sesaat dan membimbingnya untuk masuk ke dalam lubang kemaluannya yang sudah membanjir dengan lendir licin itu. Dan kurasakan kemaluanku meluncur ke dalam dengan lancarnya membuat ia menjerit tertahan, menahan rasa nikmat yang tidak terkira. Kurasakan jepitan nikmat dan lembut yang dilakukan otot kemaluannya atas kelaminku. Aku menggeram menahan rasa nikmat. Ia terus menjerit-jerit tanpa arah.
“Aaah..” jeritnya panjang tanpa ampun.

Aku membiarkan ia meluapkan seruan kenikmatannya itu sesukanya. Dan di bawah sana, kemaluanku beraksi dengan ganasnya, mempermainkan kemaluannya sepuas hatiku. Kugenjot kemaluannya dengan gerakan maju mundur yang berirama, membuat ia seperti cacing kepanasan. Pahanya terangkat dan bergerak ke sana kemari tanpa arah. Kurasakan ia pun memutar-mutar pantatnya yang besar dan berguncang-guncang untuk memperbesar rasa nikmat birahi. Pantatnya yang besar itu menjadi andil yang memberikan kenikmatan yang hebat, bukan saja untuk dia tetapi untuk saya juga.

Aku semakin hebat mengamuk. Pantatnya semakin berguncang hebat. Pahanya terus bergetaran sementara tubuhnya menjadi licin dilumuri keringat. Mulutku terus menjarah rayah mulut dan pipinya yang montok dan merangsang. Kurasakan getar tubuhnya yang menahan rasa nikmat yang luar biasa. Sementara itu tangannya yang halus semakin kuat mencengkam punggungku. Aku semakin bersemangat mempermainkan kemaluannya. Kugerakan pantatku semakin cepat dan keras. Terkadang aku menekan dengan sangat halus, terkadang aku mendesak dengan agak kasar, membuat ia selalu ingin aku meningkatkan permainanku ini.
“Aaah..” jeritnya panjang.

Aku pun mulai merasakan kelelahan merayapi tubuhku. Sudah lebih dari sejam pertarungan ini. Kurasa perlu diakhiri. Maka dengan gerakan yang manis tetapi pasti kuhentakkan pantatku, kubenamkan kemaluanku dalam-dalam di lubang kemaluannya. Ia berteriak keras menandakan kenikmatan puncaknya.
“Aaauu..”, serunya tertahan di bahuku.

Aku menggeram menahan rasa nikmat, mengiringi pancaran spermaku masuk ke dalam lubang kemaluannya. Kurasakan cairan kemaluannya pun mengucur deras membasahi pahaku. Pahanya naik membelit pinggangku. Tanganku mencengkam kuat bahunya. Kurasakan buah dadanya mengeras di dadaku. Sementara kuku-kukunya membenam di dagingku. Nafasku memburu, tubuhku dan tubuhnya basah bersimbah keringat, panas tetapi teramat nikmat.

Setengah jam lamanya tubuh kami terbaring kaku, menggeletar nikmat, membiarkan tubuh ini menikmati sisa-sisa kenikmatan birahi yang ada. Badanku dan badannya melemas. Setengah jam berlalu, kuangkat wajahku. Ia membuka matanya dan tersenyum. Kucabut kemaluanku keluar dari kemaluannya, meneteskan sisa cairan vagina yang ada di sana. Kupandangi sejenak kemaluannya yang terbuka berwarna kemerah-merahan itu, seakan-akan tersenyum kepadaku. Bulu-bulunya yang hitam lebat itu basah kuyup dan menggumpal lekat pada sisi kemaluannya. Aku tersenyum dan memandangnya. Ia meraih tubuhku ke dalam pelukannya dan dan dengan halus mesrah mengecup bibirku sebagai ucapan selamat dan tanda terima kasih.

“Terima kasih jantanku”, katanya sambil membelai wajahku. “Aku sangat puas dengan kejantananmu. Aku kagum. Kamu lelaki idaman setiap wanita di atas tempat tidur.”
Kami saling berpandangan dan tersenyum, membayangkan masih banyak kali kami akan bertemu untuk memuaskan nafsu birahi masing-masing.

Bersambung . . .

3 WANITA

Filed under: cerita seru

Kalau di tempat asalku sangat sukar untuk bergaul dengan orang Cina, maka di Surabaya hal itu bukan hal yang aneh. Aku bergaul akrab, bisa bermain-main,
berkunjung dan berjalan-jalan dengan mereka. Keinginanku sejak menginjak
Surabaya ialah merasakan nikmatnya tubuh wanita Cina. Itu memang menjadi
obsesiku. Seorang wanita Cina atau kalau boleh lebih harus menjadi sasaran
birahiku. Tak kusangka, semuanya berjalan lancar. Wanita itu ialah Mei Lan.

Kisahnya bermula dari Ibu Sherlly. Sesudah beberapa kali bersetubuh memuaskan
wanita yang gede nafsu ini, aku menyatakan keinginanku untuk bersetubuh
dengan seorang wanita Cina. Kupikir Bu Sherlly tak akan keberatan mencarikan
wanita-wanita idamanku tersebut. Bukankah ia juga yang memperkenalkanku kepada
Ibu Suwarsih?

“Bu Sher”, kataku satu malam, setelah melewati beberapa kali orgasme.

“Ada apa, jantanku”, sahutnya sayu.

“Bu Sher jangan marah ya”, sahutku sambil mengelus-elus kedua payudaranya yang
bulat dan montok itu.

“Nggak, kok”, sahutnya sambil mengelus kemaluanku yang mulai mengeras lagi.

“Sudah berkali-kali saya bersetubuh dengan Ibu dan Ibu Suwarsih. Kalian berdua
selalu puas dengan kejantananku. Hanya aku belum puas. Aku punya obsesi,
menyetubuhi seorang wanita Cina. Kalau lebih dari satu itu lebih baik”, kataku.

Hahahaha..”, Ibu Sherlly tertawa. “Ngapain pingin wanita Cina?”

“Di tempat asalku, sangat sukar bergaul dengan wanita Cina, apalagi bersetubuh
dengan mereka. Ini jelas sangat menantangku. Ingin kurasakan, seperti apa
nikmatnya bersetubuh dengan wanita Cina itu”, kataku

“Kalau itu sih gampang”, sahut Ibu Sherlly. “Tapi kamu mesti kuat lho! Wanita
Cina nafsunya gede-gede, kuat-kuat, sangat lama puasnya.”

“Kalau soal kuat, jangan khawatir”, sahutku. “Ibu khan sudah pernah merasakannya. Yah khan.”

“Tentu jantanku. Itu kuakui”, sahut Ibu Sherlly. “Mudah kok, ada Mei Lan.
Suaminya sudah nggak kuat. Selalu ejakulasi dini. Mana bisa Mei puas.
Sebentar, kutelepon Mei. Biar esok jadi hari pertamamu menikmati tubuh wanita
Cina impianmu.”

Tangannya menjangkau telepon di atas meja kecil di samping tempat tidur.
Diputarnya angka-angka itu, sementara tanganku sendiri terus sibuk
memutar-mutar kedua payudaranya.

“Halloo, Mei”, kata Ibu Sherlly. “Nih ada khabar gembira untukmu. Ada
penodong yang galak, mungkin bisa bantu kamu. Kan udah lama puasa. Gimana?
Setuju? Besok siang? Okay! Dijamin deh, orangnya kuat. Malah Mei yang akan
kewalahan. Pokoknya, Mei akan menjadi seperti pengantin baru. Nah, siap-siap
yah? Gimana? Namanya Rudy. Agak hitam. Tapi itu khan bukan soal. Yang perlu
kan burungnya. Hahaa.. Gimana? Oh ya, itu sih gampang. Aku akan keluar dan
kembali sore harinya. Jadi jangan khawatir. Kalian bisa menggunakan ruangan
tamu di depan. Pokoknya buat seperti rumah sendiri deh! Tentu! Mau ngomong
sendiri?”

Gagang telepon diopernya kepadaku. Terdengar desah suara lembut dan sexy seorang wanita.

“Halloo, Bu Mei”, kataku sopan.

“Rudy yah”, katanya. “Ini Mei. Belum kenal yah? Kata Sherlly kamu sangat kuat.
Mau nemanin Ibu besok? Soalnya Ibu udah lama puasa nih. Ibu mau
bersenang-senang sedikit besok. Gimana? Bisa?”

“Untuk Ibu aku selalu bersedia “, sahutku nakal. “Pokoknya, pasti memuaskan.”

“Gimana? Puas dengan Bu Sherlly”, katanya.

“Wah, gawat. Nafsunya gede, kayaknya nggak pernah puas, tuh. Nih, lagi rebahan
telanjang bulat di sampingku”, sahutku. “Sudah beberapa jam, tapi katanya
belum puas dia. Maunya ditambah.”

“Beruntung deh Sherlly “, sahutnya. ” Tapi ngomong-ngomong, hemat-hemat
tenaga, yah. Besok Ibu mau sepuas-puasnya. Hihihihii..”

“Siap deh, Bu”, sahutku.

Telepon diputus. Aku menoleh, tersenyum kepada Ibu Sherlly, sambil terus
mengelus tubuhnya yang mulus. Sebentar lagi tubuh indah itu akan kugumuli
lagi, bukan saja karena aku suka, tetapi itu juga kerinduannya.

“Nah, mana komisinya”, kata Bu Sherlly.

“Komisi?”, sahutku pura-pura tak mengerti.

“Yah, tentu dong”, katanya. “Kan sudah dicarikan wanita Cinanya. Jadinya,
komisi itu wajib hukumnya.” Ia tersenyum nakal. Cepat aku bergerak menerkamnya.

“Ini komisinya”, sahutku sambil menerkam tubuhnya. Aku menyerangnya diiringi
tawa cekikikannya yang membangkitkan birahi.

“Jangan sekarang”, sahutnya genit. “Ibu lapar, pengen makan.”

Walau nafsuku telah menggelegak, aku terpaksa bersabar dan menurutinya ke
ruang makan, tanpa merasa perlu berpakaian. Ia pun tidak berpakaian, sehingga
buah dada dan pantatnya yang motok, putih mulus itu bergoyang-goyang naik
turun dengan indahnya. Aku menelan ludah sembari tersenyum penuh kemenangan.
Pantat dan buah dada yang montok dan indah itu memang telah menjadi milikku.
Bu Sherlly memang milik suaminya, tetapi tubuhnya itu milikku. Sesudah makan
kembali kami bergumul di ranjangnya. Dan kembali kami tenggelam dalam
pertarungan birahi yang panas dan menegangkan. Kuhabiskan dua jam lagi untuk
menggumuli tubuh montok itu, menyetubuhinya dan memuaskan nafsu birahinya.
Dalam kepuasan yang luar biasa itu, aku tertidur di lekukan payudaranya,
menanti hari pertama pertarunganku dengan seorang wanita Cina.

Ibu Mei Lan adalah seorang wanita berusia tiga puluh tiga tahun. Suaminya
sering keluar. Kalaupun di rumah dan bersetubuh dengannya, Ibu Mei tidak
pernah puas. Setelah sekian lama tak pernah orgasme dan sekian sering harus
puasa sex, kini ia sungguh membutuhkan seorang lelaki jantan di ranjangnya.
Penyampaian Ibu Sherly tepat waktunya. Aku tersenyum penuh kemenangan. Tidak
kusangka, begitu mudah menjangkau tubuh seorang wanita Cina di sini.

Hari masih cukup pagi, sekitar jam sembilan. Hawanya cukup sejuk, mendung dan
kelihatannya akan hujan. Bagus, karena seakan menjadi pelindung baru. Aku baru
saja bangun dari tidur dan mandi, setelah melewatkan malam menikmati hubungan
kelamin yang panas dengan Ibu Sherlly. Aku berdiri di depan cermin memandang
tubuhku yang telanjang bulat. Kupandangi kemaluanku yang panjang dihiasi bulu
yang hitam lebat. Kemaluan yang sudah sekian banyak kali memasuki dan menyatu
dengan tubuh Ibu Sherlly dan Suwarsih. Dan sekarang kemaluan yang kubanggakan
ini akan memasuki babak baru pengalamannya, memuaskan birahi seorang wanita
Cina.

Pada saat itu kudengar derum lembut suara mobil. Sebuah mobil merah hati masuk
ke halaman rumah Ibu Sherlly. Dari balik kaca jendela kamarku, kulihat sesosok
wanita turun. Wanita Cina cantik itu mengenakan baju merah muda berleher
rendah dan celana panjang jeans biru. Rambutnya hitam legam, lebat panjang
sampai hampir menyentuh pinggulnya, dibiarkan tergerai. Dari postur tubuhnya
dan caranya berjalan, langsung dapat kulihat besar dan montok buah dada dan
pantatnya. Nafsu birahiku langsung menggelegak, ingin rasanya aku segera
merengkuh tubuh montok itu dan menyetubuhinya. Tapi aku harus menahan diri.
Aku harus menciptakan kesan baik, sehingga saatnya nanti dia akan mencariku
untuk memuaskan nafsu birahinya. Kalau sudah demikian, seperti Ibu Sherly, dia
pun akan dapat kusetubuhi kapan saja aku mau.

“Bu Mei sudah datang”, kata Ibu Sherlly sambil membuka pintu kamarku,
memandang tubuhku yang telanjang bulat.

“Pakai saja kamar tamu. Telepon sudah ku blok. Tak akan ada yang mengganggu. Selamat memuaskan birahi si montok itu.
Aku akan keluar rumah, biar kalian leluasa ‘tempur’. Tetapi jangan lupa, malam nanti giliranku.”

Tangannya terjulur menangkap kemaluanku, diusap-usapnya sejenak dan lantas
diremasnya. Aku mengerang nikmat dan balas menggerayangi buah dadanya. Ia
berbalik dan meninggalkanku. Kupandangi tubuhnya yang indah padat dibalut
celana ketat. Tubuh yang sudah sekian sering menyatu denganku tetapi seakan
selalu memiliki daya tarik yang baru, sehingga aku pun selalu rindu untuk
menikmatinya. Dari balik jendela kulihat kedua wanita itu bertemu di teras,
berpelukan, berbisik, saling menepuk bahu, lalu tertawa cekikikan. Kulihat Ibu
Sherlly masuk ke dalam mobil sambil mengepalkan tangannya. Ibu Mei tertawa.
Tak lama kemudian, mobil itu menderum meninggalkan rumah. Ibu Mei melambaikan
tangannya dan berbalik memasuki ruang depan.

Aku tersenyum dan berpakaian. Sekarang tidak ada lagi yang menghalangi
hasratku. Rumah ini segera menjadi arena pemuasan nafsu birahi Ibu Mei, dan
sejalan dengan itu pemenuhan obsesiku, menikmati tubuh seorang wanita Cina.
Betapa beruntungnya aku, wanita Cina pertama ini sungguh menawan. Tubuhnya
begitu padat, pantatnya bulat besar, menggantung dan berayun lembut naik
turun, dibalut ketat celananya. Payudaranya menonjol ke depan dengan jujurnya,
dapat kubayangkan betapa nikmatnya meremas, mengisap dan berbaring di atas
kedua bola montok itu.

Aku turun menyambut Ibu Mei. Ia tersenyum manis sekali. Walau baru kali ini
bertemu, langsung saja ia merangkulku lembut. Sudah terasa getar birahinya
yang menggelegar. Kupeluk tubuh montoknya itu dan membimbingnya masuk. Tanpa
membuang waktu, segera mulutku mencari bibirnya. Bibir-bibir kami saling
mengulum, berusaha menimbulkan hasrat birahi yang lebih besar. Dari bibirnya
kurayapi pipi, telinga, leher dan mulai menuruni dadanya yang terbuka.
Sementara itu tanganku dengan leluasa bermain di pantatnya yang besar
tergantung lembut berayun-ayun itu.

“Mau minum?”, tanyaku. Ia mengangguk. “Wiski? Anggur? Coke? Orange Juice?”

“Anggur “, sahutnya. “Udara agak dingin, biar badanku menjadi panas.

“Oh, kalau untuk itu Ibu Mei tak perlu kuatir”, sahutku tersenyum. “Ibu akan
minum anggur yang lezat, dan menghangatkan badan”, sambungku nakal.

Ia tersenyum mencubit pinggangku, paham sepenuhnya akan maksudku. Kutuangkan
anggur merah di gelas berkaki tinggi, satu untuknya, satu untukku. Kuangkat ke
depannya membuat toast. Ia pun tersenyum sambil mengangkat gelasnya.

Kuulurkan tanganku menjamah payudaranya, sementara tangannya terulur menangkap
kemaluanku. Kami beradu gelas, meneguk sekali dan sama-sama meletakkan gelas
di meja. Tangan saling mengulur, dan kami telah bertemu dalam pelukan hangat.
Mulut kami bertemu dan bibir saling mengulum dengan penuh gairah. Kurasakan
tubuhnya menggeletarkan nafsu birahi yang semakin tinggi. Dan gelas-gelas
minuman itu sama sekali terlupakan. Aku merengkuh tubuhnya dan perlahan
membimbingnya ke kamar tamu. Kudorong pintu itu dan tak lama kemudian kami
telah berbaring di tempat tidur. Mulutku beralih menjarah lehernya. Ia
menelentang sambil terus mendesah menahan gairah nafsu birahinya. Ia
merentangkan tangannya lebar-lebar, bergerak-gerak agar mulut dan tanganku
leluasa menjarah-rayah seluruh tubuhnya.

Ketika nafsunya yang menggila itu semakin memuncak, tanganku beralih membuka
setiap lembar kain yang menutupi tubuhnya. Kulepaskan baju dan celananya.
Tubuh bahenolnya itu dengan segera sangat merangsang kejantananku. Akupun
melepaskan pakaianku. Dengan kemaluan yang tegak sekeras laras senapan aku
memandangi tubuhnya terbaring lurus di atas tempat tidur. BH kecil merah muda
yang dikenakannya hanya menutup seperempat buah dadanya. Celana nilon tipis
berwarna sama itu juga sama sekali tidak dapat menyembunyikan kemaluannya yang
telah dipenuhi cairan. Dengan tenang tapi penuh gairah kulingkarkan tanganku
kebalik punggungnya untuk membuka kancing BH-nya. Kugeserkan kemaluanku yang
tegak itu ke pahanya yang putih, besar, halus dan merangsang. Ia mendesah.
Terlepasnya BH mencuatkan kedua buah dadanya, laksana dua buah gunung kembar.
Tanganku menerkamnya dan dengan halus meremasnya. Ia mendesah-desah nikmat dan
terus menggeliat-geliat dengan mata tertutup.

Perlahan ku susupkan tanganku ke balik celana dalamnya. Ia menjerit kecil dan
membiarkan diriku menelanjanginya. Kini ia terbaring dengan tubuh telanjang
bulat tanpa sehelai benang pun melekat di tubuh mulusnya. Kulepaskan tubuh
mulus itu, mataku jalang menikmati semuanya. Matanya terpejam menikmati semua
ini dengan mulut sedikit terbuka dan terus mendesah. Tanganku beralih merayapi
segala lekuk tubuhnya, merasakan halus kulitnya dan padat tubuhnya. Kubuka
kedua pahanya dan nampaklah lubang kemaluannya yang telah basah itu. Tanganku
menekan pinggirnya, sehingga terbukalah mulut kemaluannya menampakkan bagian
dalamnya yang berwarna merah muda segar. Tanpa membuang waktu kudaratkan
mulutku ke sana. Kujilat klitorisnya.

“Auu..”, jeritnya tertahan dan tersentak bangun.

Ditekannya kepalaku untuk lebih menyatu dengan selangkangnya. Lidahku menyelusup masuk
dan dengan lincah mempermainkan klitorisnya. Ia menggeliat tak tentu arah,
kehilangan pegangan sama sekali.

Menyadari kalau ia telah berada di bawah kekuasaanku, aku tidak ingin membuang
waktu lebih lama. Kurebahkan ia ke atas ranjang. Pahanya sudah membuka lebar,
dengan bibir kemaluannya yang merekah siap menerima diriku. Kurasakan
kemaluanku pun sudah mengeras ingin segera bersatu dengannya. Perlahan-lahan
kuturunkan pantatku. Di bibir kemaluannya aku berhenti sejenak sekedar
mengungkit nafsunya. Ia menggeliat-geliat. Mendadak ia menghentakkan pantatnya
ke atas, maka meluncurlah kemaluanku ke dalam kemaluannya tanpa kendali. Aku
sepenuhnya bersatu dengannya. Kurasakan ia menjepit kemaluanku lembut.
Kenikmatanku adalah kenikmatan sempurna. Jadi beginikah enaknya tubuh seorang
wanita Cina?

Perlahan tapi pasti aku menggerakkan pantatku naik turun. Ia menggeliat-geliat
semakin tak tentu arah. Paha mulusnya menggeletar diiringi desah suaranya yang
bergumam tak jelas. Gerakan pantatku semakin cepat dan keras, menciptakan
sensasi yang tak tertanggungkan. Ia pun aktif memutar-mutar pantatnya yang
montok memperbesar rasa nikmat yang semakin menggila. Jari-jarinya mencengkam
seprei seakan mencari pegangan, namun ia telah mengapung seperti kapas kering
tanpa sandaran sama sekali.

“Aauu..”, erangnya. “Lebih keras! Lebih keras! Lebih keras lagi!”

Aku tak perlu menunggu perintahnya. Kukencangkan otot perutku dan menaikkan
irama gerakan pantatku. Kugenjot kemaluannya dengan kemaluanku yang semakin
membesar, memanjang dan bertenaga. Melihat geliat tubuhnya dan desah
nikmatnya, nafsuku pun semakin membara. Kemaluannya yang lembut basah
berlendir itu semakin menantang. Ia sudah tak sanggup lagi menjepit batang
kemaluanku. Jari-jariku erat mencengkeram kedua buah dadanya yang semakin
mengeras. Putingnya sudah sekeras lada menusuk-nusuk telapak tanganku.
Remasanku semakin kuat dan ia mengaduh-ngaduh dengan nikmatnya.

“Ooouu..” desahnya. “Teruskan! Teruskan! Achh.. Achh..”

Kutingkatkan kecepatan goyangan pantatku. Bunyi irama keluar masuknya
kemaluanku berkecipak karena kemaluannya telah dipenuhi lendir licin. Ia
menjerit keras dan meraih tubuhku ke dalam pelukannya. Kujatuhkan diriku dan
kurasakan empuk buah dadanya. Aku tahu ia mengalami orgasme saat itu. Tetapi
aku belum. Aku berbaring tenang di atas tubuhnya, sementara kedua kakinya
ketat membelit pinggangku. Kemaluanku masih tetap sekeras laras senapan. Aku
melonggarkan sedikit belitan pahanya di pinggangku dan mulai bergerak lagi
dengan cepat.

“Ooohh..”, jeritnya. “Oh.. teruskan! Lebih keras! Lebih keras! Aaa..”

Gerakanku telah menciptakan sensasi yang belum pernah dirasakannya. Ia betul
menikmatinya. Dengan satu gerakan yang teramat manis, kusentakkan pantatku dan
membenamkan kemaluanku dalam-dalam. Ia menggelepar dan meninju-ninju
punggungku. Jeritannya tersekat dibahuku. Aku merasakan spermaku memancar
dengan derasnya, memasuki liang kemaluannya yang juga sudah basah kuyup.
Hangat kunikmati geletar tubuhnya menahankan kenikmatan yang tak ada duanya.
Lama kami diam membatu dengan kelamin yang terus berhubungan. Setengah jam
lewat tanpa satu kata. Hanya desah napas yang menandai masih adanya kehidupan.

Aku mengangkat tubuhku. Ia memandangku dan tersenyum manis sambil
membelai-belai wajahku. Aku mengecup bibirnya yang merah merekah itu dengan
penuh gairah. Kucabut keluar kemaluanku, meneteskan sisa-sisa cairan maniku
yang bercampur dengan lendir kemaluannya ke atas perutnya.

“Ternyata lebih jantan dari dugaanku”, sahutnya. “Sherly pasti menjerit
kepuasan setiap malam. Wah, iri hati aku”, katanya.

“Kalau itu tak perlu khawatir”, kataku. “Tinggal merancang bersama Bu Sherly,
kapan membagi waktunya. Aku juga perlu tubuh yang montok menawan ini”,
lanjutku sambil mengelus-elus kedua payudara bulat dan montok.

Kami pun beralih ke kamar mandi. Aku lebih dulu kembali ke kamar. Ia muncul
dari sana dengan handuk yang menutupi bahunya tetapi terbuka dada hingga mata
kakinya. Aku berdiri menikmati keindahan tubuhnya itu dengan gairah
bernyala-nyala. Ia mendekatiku dengan gerakan nan gemulai, meggairahkan
kelelakianku. Goyangan lembutnya itu terus menggodaku, sehingga kemaluanku
kembali tegak. Tak sanggup menanti lebih lama, aku menerkam tubuhnya itu
dan menggumulinya di atas tempat tidur. Ia menjerit-jerit dan tertawa
keriangan. Ia pun menggeliat-geliat menyiapkan diri untuk persetubuhan
gelombang kedua.

Aku membalik tubuhnya. Dengan diam-diam ia menungging. Pantatnya ditinggikan
sehingga aku dengan mudah dapat menyetubuhinya dari belakang. Pantatnya yang
bulat besar itu merangsang sungguh kelelakianku, namun pada mulanya
menyulitkan aku ketika aku berusaha menggenjot lubang kemaluannya. Tetapi
tentu saja aku tak akan menyerah, malah itu menantangku untuk beraksi dengan
lebih lihai. Kemaluanku kugosok-gosokan ke pantatnya yang putih mulus. Ia
mendesah, sementara itu kulihat kemaluannya telah bergerak-gerak, minta segera
dikawini. Aku membiarkan ia penasaran menanti.

“Masukkan sekarang!”serunya. “Masukkan sekarang juga! Aku tak tahan lagi! Oh,
cepat! Cepat!”

Kuturunkan pantatku dan mengamati kemaluanku yang tegak ke atas. Kugerakkan
perlahan-lahan ke atas. Di depan pintu kemaluannya aku menggerakkan sejenak,
membuat ia semakin menggeliat minta disetubuhi. Mendadak aku menerobos ke atas
dengan gerakan cepat dan keras.

“Aaa..!” jeritnya. “Aaacchh..!”

Kepalanya mendongak ke atas, meneriakkan kenikmatan yang tak terkira. Untung
rumah sudah tertutup rapat sehingga tak ada yang tahu apa yang terjadi. Ia
mengerang-ngerang dengan tubuh yang menggeletar hebat menahankan rasa nikmat
yang tak terhingga. Aku terus menggenjot dengan cepat dan keras. Ia semakin
tidak berdaya seperti kapas kering yang terapung. Akhirnya, dengan satu
hentakan keras spermaku memancar dengan deras ke dalam lubang kemaluannya.
Tangan dan lututnya melemas sehingga ia terjatuh ke bawah. Tubuhku pun melemas
dan terjatuh menindihnya. Kemaluanku yang masih memancarkan sperma tercabut
dari lubang kemaluannya sehingga pantatnya basah tersiram spermaku. Aku jatuh
menindihnya, tanpa peduli dunia sekitar.

Lima belas menit kami terbaring saling menindih tanpa kata-kata. Yang ada
hanya geletar tubuh menahankan sisa-sisa kenikmatan. Ia bergerak sejenak dan
berputar menghadapku. Lelehan spermaku membasahi perutnya. Ia tersenyum
menatapku dengan mata berbinar menandakan kepuasan seksual. Dibelainya wajahku
dan dikecupnya bibirku. Dadanya terasa hangat dan empuk di dadaku.

“Terima kasih!” bisiknya. “Aku belum pernah sepuas ini.”

Makan siang itu terasa lebih nikmat karena diselingi dengan gesekan-gesekan
tubuh. Ketika rangsangan itu tak tertahankan lagi, aku pun menyetubuhinya
langsung di meja makan itu. Sekali lagi ia menjerit-jerit nikmat karena
sensasi sex. Mendengar erangan dan melihat geliat tubuhnya itu, nafsuku justru
semakin menggila. Aku menyetubuhinya dari segala posisi. Dari depan, dari
belakang, dari atas atau dari bawah. Semuanya itu pengalaman baru baginya.

Sore itu Ibu Sherly pulang dan mendapati kami masih asyik bergulat di ruang
tengah. Kami sama sekali tidak memperhatikan kalau Ibu Sherly melihat
segalanya dari balik kaca pintu. Ketika Mei menjerit-jerit karena orgasme yang
kesekian kalinya, Ibu Sherly masuk dan bertepuk tangan. Ibu Mei memerah
wajahnya tertangkap sedang bersetubuh.

Tamat

Mbak Dewi

Filed under: DAUN MUDA

Cerita ini merupakan pengalaman pribadi yang sangat berkesan sekali bagi saya. Kisah ini terjadi beberapa tahun yang lalu. Awalnya bermula pada pertengahan masa-masa kuliah saya di sebuah Perguruan Tinggi ternama di Jakarta. Bukan apa, selama ini entah kenapa selalu timbul rasa penasaran dalam diri saya untuk ingin mengungkapkan semua yang pernah terjadi pada diri saya. Secara kebetulan saya bertemu dengan seorang teman sekerja dan menyarankan untuk menceritakan kembali pengalaman saya ini. Terus terang saya baru tahu ada site semacam ini di Internet.

Saya sangat tertarik dan ingin membagi cerita pada seluruh pembaca. Tentang kenyataan yang ada dan mungkin sering terjadi disekeliling kita. Kelebihan dan kekurangan dari isi cerita ini adalah menurut yang saya alami. Terserah apapun tanggapan dari para pembaca. Dan ucapan terima kasih saya kepada 17tahun bila cerita sederhana ini dimuat. Sebutlah nama saya Fandy tetapi teman-teman biasa memanggil saya Andy saja.

Saya mengenal sex bisa dikatakan belum terlalu lama juga. Baru mulai semester 3 semasa duduk dibangku kuliah dulu (saat itu usia saya baru 20 tahun). Kali pertama keperjakaan saya terenggut oleh Mbak Dewi (salah seorang karyawati XX di kampus yang sempat menjadi kekasih saya selama kurang lebih 2 tahun). Semenjak itu sex bagi saya seolah sudah menjadi salah satu kebutuhan utama sehari-hari. Saya seolah terjebak dengan keindahan fantasi kenikmatan surgawi yang Mbak Dewi berikan dan ajarkan kepada saya.

Hubungan saya dengan Mbak Dewi bisa dibilang lumayan lama juga, dan malahan sampai beberapa kali membuahkan kehamilan. Meski begitu Mbak Dewi selalu saja menggugurkannya. Hal ini terjadi berulang sampai lima kali. Gila memang, tetapi entah kenapa Mbak Dewi justru sangat menikmati hasil perbuatan saya selama hampir kurang lebih 2 tahun hubungan asmara kami itu berlangsung. Saya tidak tahu apakah itu termasuk suatu penyimpangan perilaku atau bukan. Yang jelas setiap kali terjadi kehamilan dengan bangga ia memberitahukannya kepada saya dan mengatakan bahwa saya adalah pria paling hebat yang pernah dikenalnya.

Bagi saya sendiripun Mbak Dewi adalah segala-galanya. Meski secara fisik ia lebih tua hampir 5 tahun dibanding usiaku, namun itu tidak menjadi beban dan halangan bagi saya untuk mengasihi dan menyayanginya sebagai layaknya seorang kekasih. Kuakui saya bukanlah pria pertama dalam kehidupan cintanya, tetapi itu bukan masalah karena saya sangat mencintainya. Memang meski secara resmi kami belum menikah namun untuk masalah sex kami sudah melakukannya sebulan semenjak pertama kali saling berkenalan. Bercinta dengannya seakan tak pernah bosan.

Sex menurutnya adalah suatu keindahan yang setiap saat harus bisa dinikmati. Ibarat nasi, 2 atau 3 hari saja rutinitas intim itu tertunda pasti keesokan harinya Mbak Dewi langsung uring-uringan tanpa alasan yang jelas. Kalau sudah demikian hanya ada satu obat paling manjur untuk mengatasinya. Meredamnya dengan buaian-buaian kenikmatan surgawi. Menurutnya saya adalah pria yang paling berharga dan paling menggairahkan dalam hidupnya. Saat itu sudah begitu besar keyakinan dan perasaan cinta saya terhadapnya dan kukira begitu pula sebaliknya. Dan tak pernah terlintas sekalipun di benak saya hubungan indah ini akan berakhir begitu saja.

Sampai suatu ketika, kebetulan saya ada suatu keperluan mendadak yang sangat penting dan harus ke Bandung selama hampir 2 minggu. Mbak Dewi melepas kepergianku dengan berat hati. Ia tak akan sanggup bila terlalu lama berpisah denganku. Saya sendiri sangat memaklumi perasaannya. Bagaimanapun selama ini tiada hari tanpa kami lewati bersama-sama. Saya ingin mengajaknya turut serta namun itu berarti ia harus bolos kerja. Aku tak menginginkan itu jika ia sampai kena teguran lagipula saat itu saya tak meragukan kesetiaannya.

Namun kenyataannya tanpa pernah kuduga sama sekali Mbak Dewi melakukan kesalahan besar dan membuat geger karena tertangkap basah sedang melakukan hubungan intim dengan salah seorang dosen senior. Hanya sehari sebelum kedatanganku pulang. Fatalnya mereka melakukannya justru disalah satu ruang kantor ketika pegawai yang lain sedang mengikuti rapat rutin mingguan. Memalukannya lagi kejadian tersebut sempat menjadi tontonan gratis beberapa orang mahasiswa yang kebetulan mengetahui kejadian mesum tersebut.

Terus terang saya sangat kecewa, malu dan sakit hati dengan perbuatannya tersebut. Saya benar-benar tidak menyangka Mbak Dewi tega menghianati saya dan berselingkuh dengan orang lain. Saya merasa benar-benar telah tertipu dengan perasaan saya sendiri. Padahal saya sangat menyayangi Mbak Dewi sebagaimana layaknya seorang kekasih bahkan calon istri. Saya tidak pernah menghianati cinta saya kepadanya, karenanya ini benar-benar sangat menusuk perasaan. Akhirnya karena terlanjur malu mereka berdua menikah hanya kurang dari 1 minggu semenjak kejadian memalukan tersebut. Mbak Dewi setengah mati berusaha meminta maaf kepadaku atas segala perbuatannya. Dia mengaku khilaf dan meminta pengertianku.

Meski dengan berat hati apapun alasannya saya berusaha memaafkan dan mengikhlaskan semuanya. Saya berusaha untuk tak menemuinya lagi. Hal ini terasa terlalu sangat menyakitkan. Namun anehnya, hanya 2 hari menjelang pernikahannya entah kenapa aku merasa begitu cemburu dan ingin sekali berjumpa dengannya. Seolah tahu akan perasaan dan keinginanku, Mbak Dewi ternyata memang telah menunggu kedatanganku. Tidak perlu saya ceritakan detilnya, yang jelas saat itu kembali terulang kemesraan yang biasa kami lakukan sebelum kejadian tak mengenakkan tersebut. Bahkan saking rindunya saya sampai menyebadaninya berulang-ulang kali tanpa henti selama beberapa jam. Apalagi bila melihat kemolekan dan kemulusan kulit tubuhnya yang tergeletak pasrah telanjang bulat diatas ranjang begitu mempesona penglihatanku. Membuat gairah birahiku terus bergelora seakan tak pernah padam.

Kenikmatan demi kenikmatan kami raih dan entah sudah berapa kali kami berdua saling menyemburkan cairan kenikmatan. Rintihan dan erangan kepuasan berulang kali terdengar lembut dari mulut mungilnya yang indah. Kedua bibir merahnya selalu digigitnya gemas setiap kali kuberhasil memberinya seteguk demi seteguk anggur kenikmatan. Seakan pengantin baru hampir sepanjang siang sampai sore kami berdua menikmati indahnya surga dunia meskipun hanya sesaat itu saja. Kusadari sepenuhnya bahwa kemungkinan ini adalah terakhir kalinya kami dapat tidur bersama. Satu yang tak bisa kulupakan hingga detik ini dan sampai kapanpun juga, hasil perbuatan kami tersebut ternyata kembali membuahkan kehamilan. Hanya saja kali ini Mbak Dewi sama sekali tidak menggugurkannya sebagai bukti rasa kasihnya kepadaku.

Beruntung suaminya tidak pernah curiga dengan kehadiran anak laki-laki pertama mereka yang mukanya sangat mirip sekali denganku. Saat ini usianya hampir menginjak 4,5 tahun. Hampir 3 minggu kemudian setelah pernikahan mereka kami mulai jarang bertemu apalagi bertatap muka. Di kampus pun Mbak Dewi seakan berusaha menghindar bila melihat kedatanganku. Aku berusaha mengerti atas semua sikapnya karena bagaimanapun juga ia sekarang telah menjadi milik orang lain. Aib yang ia alami dulu seolah menjadi trauma yang memalukan baginya. Hari-hari yang biasanya selalu indah ceria seakan berubah dan berbalik 180 derajat. Saya sering melamun dan dilanda rasa cemburu yang berlebihan. Ingin marah tetapi entah kepada siapa.

Pada dasarnya saya bukanlah orang pendendam, sehingga sedikitpun tidak ada keinginanku untuk membalas semua perbuatannya. Hanya saja rutinitas sex yang biasanya saya lakukan hampir setiap hari bersama Mbak Dewi seakan terhenti total. Hal ini ternyata sangat mengganggu pikiran dan baru saya sadari setelah sekitar 3 minggu kebiasaan rutin tersebut terhenti. Bagaimanapun saya adalah laki-laki normal yang sebelumnya sudah terbiasa melakukan rutinitas sexual. Saya kira pembaca pasti mengerti apa yang saya maksudkan.

Itulah kenyataannya, pada mulanya saya sering merasa pusing tanpa sebab, sering sampai tidak bisa tidur dan yang paling menyiksa bila alat kelelakian saya hampir setiap saat sering tegang sendiri. Kalo sudah begitu bisa sehari semalam saya tidak bisa tidur sama sekali. Saya sendiri bukanlah pria yang senang bermasturbasi atau onani. Sejak dulu bisa dikatakan hanya sekali atau dua kali saja saya melakukannya sebelum mengenal Mbak Dewi. Setelah itu paling sering justru Mbak Dewi sendiri yang melakukannya bila ia sudah tak sanggup lagi melayaniku atau kalau kebetulan dia sedang kepingin melakukan oral sex.

Aku hanya tersenyum geli dan mengiyakan permintaannya yang sedikit diluar kebiasaan. Karena terus terang saya lebih senang mengeluarkan air mani saya didalam liang vaginanya. Mungkin karena saat itu saya merasa hanya Mbak Dewi saja satu-satunya wanita didalam hidup ini yang paling kucintai, saya mengira hanya Mbak Dewi sajalah yang memiliki (maaf) liang vagina paling nikmat di dunia. Lucu memang. Dan setiap kali bahkan sampai kapanpun saya akan selalu teringat atas segala keindahan dan pesona sexual yang dimilikinya.

Bercinta dan bersetubuh dengannya membuatku benar-benar merasa sangat berharga dilahirkan sebagai seorang laki-laki. Saya merasa bangga dan bahagia bisa melihatnya merintih merasakan kenikmatan yang kuberikan dan membuatnya orgasme hingga berkali-kali. Mbak Dewi sangat menyukai perlakuanku setiap kali aku memuasinya. Mungkin saja dia termasuk golongan wanita yang hiperaktif, karena apapun bentuk kenikmatan yang sedang dirasakannya ketika orgasme selalu diekspresikan seketika itu juga. Menjerit, memekik, menggeliat bahkan kadang sampai menendang-nendang. Bila sedang mencapai puncak Mbak Dewi seakan seperti terkencing-kencing dan begitu hebat tubuhnya menggeliat sambil menyemprotkan cairan kemaluannya.

Terkadang saya nggak pernah habis pikir bila Mbak Dewi sedang berada di puncak gejolak birahinya. Bila sedang orgasme cairan yang disemburkannya relatif sangat banyak untuk ukuran wanita seperti dia. Mungkin jauh lebih banyak dibanding semburan air mani pria manapun juga. Dan uniknya Mbak Dewi sanggup melakukannya berkali-kali. Bila sedang terangsang paling tidak saya harus mengulang menyetubuhinya maksimal sebanyak 7-8 kali dalam setiap permainan. Mbak Dewi selalu memuntahkan cairan orgasmenya sampai menyembur keluar dari liang vaginanya. Persis seperti air mancur kecil. Waktu itu saya tidak tahu apa setiap wanita memang begitu adanya bila sedang orgasme. Bila sudah demikian dengan sabar terpaksa saya harus mencabut keluar batang penis saya dari jepitan liang vaginanya agar cairan kewanitaannya bisa tumpah keluar. Kalau tidak, rasanya seperti sedang berada di dalam kolam renang air panas.

Dengan manja Mbak Dewi mencium bibir saya mesra lalu segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan kemaluan dan selangkangannya yang basah. “Mmm ..cupp .. kau hebat sekali Andy .. mm ..sebentar sayang .. aku ke kamar mandi dulu yaa .. cupp ..”, bisiknya penuh kemesraan setelah orgasme pertamanya selesai. Ia tertawa kecil melihat alat kelelakianku yang basah berlendir terkena semburannya. Sementara diatas sprei juga tampak mulai basah tersiram cairan orgasmenya yang luar biasa banyaknya. “Oooh .. kau luar biasa sekali Dewi .. benar-benar membuatku terangsang ..”, ujarku takjub. “O yaa .. mm ..sabar sayang .. tunggu saja giliranmu ..mm ..cupp .. aku juga menginginkan semburanmu Andy ..hh .. aku ingin benih kita benar-benar menyatu sayang ..mm ..”, bisiknya genit. Dua menit kemudian ia kembali lagi keatas ranjang dan menyuruhku langsung menyetubuhinya seperti semula. Demikian berulang-ulang saya selalu melakukannya sampai sebanyak 4-5 kali dan begitu pula ia selalu membersihkan diri ke kamar mandi setiap kali selesai orgasme. Selebihnya biasanya Mbak Dewi hanya bisa terbaring lemas kelelahan diatas kasur.

Ia memang sangat sensitif dan mudah sekali orgasme. Setiap kali alat vitalku menekan kedalam dan merangsang dinding vaginanya, paling tidak selama kurang lebih 2-3 menit Mbak Dewi sudah mencapai klimak dan cairan orgasmenya langsung menyemprot keluar mengguyur batang kelelakianku. Karena itu, setiap kali menyetubuhinya harus saya lakukan secara perlahan-lahan. Jangan sampai penis saya menggesek liang vaginanya terlalu cepat.

Waktu sudah menjelang sore ketika ia kembali mencapai klimak, .. kucabut keluar alat kejantananku yang liat dan panjang dari dalam jepitan liang vaginanya. Mbak Dewi sontak menggeliat dan mengejan sambil mengangkat pinggulnya keatas. Aku segera bergeser sedikit ke sisi kanan tubuhnya. Dan .. Pyuurr .. untuk kelima kalinya cairan orgasmenya menyemprot keluar dari sela-sela celah vaginanya membasahi selangkangannya sendiri dan sebagian sprei tempat tidur. “Fuuhh .. kau keluar lagi Dewi .. nikmat ya sayang ..”. “Aaahh ..Andy ..nngghh ..uuwwhh ..oohh ..”, pekiknya keras setengah tertahan sebelum akhirnya pinggulnya terhempas kembali keatas ranjang.. Sejenak kuusap seluruh batang kejantananku yang basah kuyub dengan selimut, lalu dengan bernafsu kuarahkan kembali kepala penisku yang semakin mengkilat ke liang vagina Mbak Dewi yang mulai menutup rapat lagi.

“Aaww ..uuhh .. Andy ..”, rintihnya nikmat sambil memelukku lagi. Aku kembali mengayuh naik turun menggoyang tubuhnya. Memberikannya kenikmatan. Mbak Dewi hanya menatapku pasrah melihatku kembali menyetubuhinya seakan ingin membuat dirinya orgasme berulang-ulang kali tanpa henti. ” Su ..sudah Andy .. a ..aku lemas sekali .. aku bisa keluar lagi ..oohh .. ja ..jangan .. jangan sekarang Andy .. ooww .. ooww ..uuhh .. yaahh .. “, rintihnya lemas menahan nikmat ketika hanya dalam 2 menit cairan orgasmenya yang panas kembali menyembur dan seolah mendorong kepala penisku keluar.

Untuk kesekian kali kembali kucabut batang kelelakianku dari jepitan rapat liang vaginanya. Dan .. pyuur .. cairan orgasme Mbak Dewi langsung tumpah keluar membasahi bibir kemaluan dan selangkangannya lagi. Sebagian besar langsung meresap kedalam sprei tempat tidurnya yang semakin basah lembab berair. “Wooww .. kau luar biasa sekali Dewi .. mm .. kau cepat sekali keluar sayang ..”, ujarku takjub. “Nngg ..hh ..su ..sudah Andy .. aku lemas sekali .. oohh .. ayo dong Andy sekarang giliranmu .. beri aku semburanmu sayang ..”, rintihnya lemas. “Mmm .. sebentar lagi sayang .. kau menggairahkan sekali Dewi .. hh ..aku ingin melihatmu orgasme sekali lagi ..”, ujarku gemas sambil kubenamkan kembali batang penisku yang besar dan panjang ke dalam liang vaginanya. “Nngghh .. ja ..jangan Andy ..a..aaku lemas sekali ..aaww ..”, rintihnya kecil ketika batang kelelakianku kembali menembus dan membelah liang vaginanya sampai menekan peranakannya. ” Ooohh Dewi .. ahh .. nikmat sekali sayang ..”, erangku keenakan merasakan gesekan lembut dinding vaginanya yang basah dan rapat. ” A.. ahh ..Andy .. a..aku bisa pingsan sayang .. nngghh .. ja ..jangan teruskan Andy ..aaww .. oohh .. duh gusti .. uuhh .. ooww .. ooww yaahh ..”, pekiknya nikmat ketika begitu singkat ia kembali orgasme entah untuk kesekian kalinya. “Wooww .. Dewii .. kau luar biasa sekali sayang .. mm .. oohh .. vaginamu mudah sekali terangsang sayang..”, ujarku gemas melihatnya kembali mereguk anggur kenikmatan.

Kurasakan cairan kewanitaannya yang menyembur hebat berusaha mendorong batang kelelakianku keluar. ” Aahh .. A..andy .. su ..sudah ..sudah sayang .. aku sudah lemas sekali ..”, rintihnya semakin lemah. Kupandangi wajah cantiknya yang berkeringat. Terlihat rona-rona kenikmatan yang amat sangat terbayang di wajahnya. Bibir merahnya yang mungil sedikit megap-megap mengatur napas. Aku tersenyum bahagia melihatnya. Kukecup lembut bibirnya yang hangat dan mengajaknya bercumbu untuk sesaat. “Andy .. kenapa kau belum juga keluar sayang .. oohh ..berapa lama lagi aku harus menunggumu sayang .. a ..aku sudah lemas sekali Andy ..”, bisiknya masih kelelahan. “Fuuhh .. nanti saja sayang .. kita istirahat dulu ..”, ujarku penuh kasih sayang. Aku jadi tak tega melihatnya. “Andy .. jangan begitu sayang .. lakukanlah .. aku juga ingin melihatmu puas ..ayo dong sayang .. jangan bersikap begitu ..”, bisiknya mesra. “Tapi kau masih letih Dewi .. kau bisa keluar lagi nanti ..”, ujarku khawatir. “Hehh .. lakukanlah Andy .. aku tak peduli sayang .. atau ..atau aku akan meng-onani alat vitalmu ..”, ujarnya nakal. “Wooww ..kau nakal sekali Dewi .. tadi kau minta berhenti .. mm ternyata kau masih kurang puas juga sayang .. mm cupp ..ok .. kau ingin melihatku puas juga sayang ..”, bisikku penuh gairah. Mbak Dewi tersenyum gemas lalu mencubit pinggulku mesra. “He-eh .. Andy .. kau tahu aku sangat menyukainya sayang .. semburan hangatmu yang mm ..”, bisiknya lembut penuh gairah.

Selama kurang lebih 3 menit aku kembali menggoyang pinggul turun naik menyetubuhinya. Dinding vaginanya yang hangat dan lembut seakan meremat-remat hebat pertanda Mbak Dewi akan segera orgasme kembali. “Andy ..ooh ..Andy ..duh gusti .. aku mau keluar lagi .. ooh .. oohh ja ..jangan terlalu cepat sayang .. a..a ..aku.. ooww ..oww ..uuww ..”, pekiknya kuat menahan rasa nikmat. ” Keluarkanlah Dewi .. yaahh .. aku ingin merasakan semburanmu ..sshh ..” “A..andy .. sekaraang ..sekarang .. aakkhh .. oowwhgk “, teriaknya tertahan. Secepat kilat kucabut batang kelelakianku dari jepitan dinding vaginanya yang rapat lalu kugeser tubuhku kebawah sehingga mukaku kini persis berada diatas selangkangannya. Jemari tangan kananku secepat kilat meraih dan memlintir daging clitorisnya. Dan .. Pyuurr .. Kembali Mbak Dewi memuntahkan keluar cairan orgasmenya yang bening. Begitu kuat semprotannya hingga sebagian besar sampai mengenai dan menyiram mukaku. Dengan cepat mulutku menangkap cairan kenikmatannya dan langsung kutelan nikmat. Terasa hangat dan encer. Mmm .. tiada yang lebih nikmat dan indah kecuali merasakan seutuhnya air surgawinya. Kerongkonganku yang tadinya agak kering kini sedikit terasa lebih segar dan basah. Kukecup dan kukulum gemas pentil daging clitorisnya yang kemerahan. Sementara ujung lidahku menggapai masuk kedalam liang kemaluannya sembari menyedot sisa-sisa cairan orgasmenya yang masih merembes keluar.

Kali ini Mbak Dewi benar-benar lemas tak berdaya. Napasnya semakin megap-megap karena nikmat luar biasa yang dirasakannya. Selangkangannya benar-benar basah kuyub oleh cairan orgasme yang berulangkali ia semburkan. “Mmm .. aku menyukai rasanya sayang .. aah .. kau menikmatinya Dewiku sayang ..”, ujarku puas melihatnya tak berdaya. “A..andy .. a..a..aku su..sudah tak kuat lagi sayang .. oohh ..a..aku seperti terkuras Andy ..”, rintihnya lemas. ” Aku tahu sayang .. sekarang tidurlah .. kau kelihatan capek sekali ..”, ujarku mesra. “Ka ..kau bagaimana sa..sayang ..”, bisiknya setengah bingung melihatku masih belum terpuaskan. ” Sudahlah Dewi .. tidak apa-apa ..tidurlah ..”, kataku pelan.

Kupeluk mesra tubuh telanjangnya yang basah berkeringat dan menina bobokkannya. Kubelai dan kuremas lembut kedua buah payudaranya secara bergantian. ” Oohh ..Andy ..aku akan memuasimu setelah ini sayang .. mmhh ..hh ..hh..”, rintihnya perlahan sambil mengatur napas. ” Sudahlah Dewi .. tidurlah dulu .. nanti setelah segar kau boleh memuasi aku ..Ok ..!”, bisikku penuh kasih sayang. Dewi mencium bibirku sampai lama sekali sebelum akhirnya kemudian ia jatuh terlelap saking lelahnya. Wajahnya yang cantik terlihat sedikit pucat, namun tampak rona kepuasan yang tak terhingga terbayang disitu. Mulutnya yang indah merekah terlihat tersenyum. Senyum kepuasan.

Demikianlah tentang kisah yang kualami, suatu kenikmatan yang tak bisa kulupakan. Apabila anda seorang wanita yang sedang membutuhkan seseorang dan ingin merasakan sesuatu yang lain atau senang berfantasi sex melaui telepon, boleh berkenalan dengan saya dan ditunggu emailnya. Mungkin kita bisa saling berbagi pengalaman. Thanks.

Tamat

April 11, 2009

mIyabi lagi

Filed under: Vidio Movie

MIYABI galery yang lain di http://u-ob0lth366v.urlcash.net

miyabi galery

Filed under: Vidio Movie

March 15, 2009

Koleksi photo chika

Filed under: Vidio Movie

LiHAT KOLEKSI PHOtOyang LAIN

PHOTO CHIKA 2

KUMPULAN PHOTO

February 24, 2009

Pemerkosaan yang fantastis - 1

Filed under: PERKOSAAN

Suatu saat suamiku harus meneruskan S2nya ke luar negeri untuk tugas perusahaan. Aku mengantar kepergian suamiku sampai di bandara. Demikian sejak itu, aku harus membiasakan hidupnya dengan jadwal tugas suamiku, suatu hari menjelang sore hari, setelah menyediakan makan malam di atas meja, yang pada saat ini harus disiapkan sendiri, sebab pembantuku sedang pulang kampung, karena mendadak ada keluarga dekatnya di kampung yang sakit berat.

John, teman suamiku yang orang Italy pada waktu mereka sekolah di Inggris bersama, sedang mendapat tugas di Indonesia sementara ini tinggal dirumah. Telah hampir satu bulan John tinggal bersama kami, istrinya tetap berada di Italy. Seperti biasanya setelah selesai makan bersama, aku kembali kekamar dan karena udara diluar terasa panas aku ingin mengambil shower lalu aku mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi untuk berpancur.

Letak kamar mandi menyambung dengan kamar tidurnya. Setelah selesai mandi, aku mengeringkan tubuhku dan dengan hanya membungkus tubuhku dengan handuk mandi, aku membuka pintu kamar mandi dan masuk ke dalam kamar tidurku. Disudut seberang kamar tidur yang tidak tertutup pintunya terlihat John sedang santai dikamarnya, rupanya dia telah selesai makan dan masuk ke kamarnya untuk nonton TV memang dia lebih senang di dalam kamar yang lantainya dilapisi karpet tebal dan udaranya dingin oleh AC.

Dengan masih dililit handuk, aku duduk di depan meja rias untuk mengeringkan dan bersisir rambut. Pada saat itu John kulihat dari cerminku mendadak bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mondar mandir di dalam ruangan kamarnya, terlihat malam ini John agak gelisah, tidak seperti biasa yang selalu menutup pintu kamarnya, malam ini dia mondar mandir dan sekali-sekali matanya yang biru kecoklatan melihat ke arahku yang sedang duduk menyisir rambutku.

Melihat John seperti itu, aku bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu untuk menutup pintu kamarku, aku sempat melihat John tersenyum padaku sambil berkata, "Hai Hesty kau cantik sekali malam ini..!".
Tiba tiba John langsung berdiri melintas kamarnya, tanpa aba-aba salah satu kakinya menahan pintu kamarku lalu tangannya yang kekar mencoba menggapai pinggangku, tercium olehku bau alkohol dari mulutnya rupanya John baru saja minum whisky, "..John, sadar.. aku Hesty istri temanmu..!"

John bisa bicara dalam bahasa Indonesia, aku mencoba berbalik dan karena eratnya pegangannya di pinggangku, aku terhuyung-huyung dan aku jatuh telentang di lantai yang dilapisi karpet tebal. Kedua kakiku terpentang lebar, sehingga handuk yang tadinya menutupi bagian bawahku tersingkap, yang mengakibatkan bagian bawahku terbuka polos terlihat bagian pahaku yang putih mulus masih agak basah karena belum sempat kering dengan betul.

Rupanya minuman keras sangat mempengaruhi pikiran John yang sudah begitu lama tidak kencan dengan wanita, John dengan cepat berjalan ke arahku yang sedang telentang di lantai dan sekarang jongkok diantara kedua kakiku yang terbuka lebar itu. Dengan cepat kepalanya telah berada diantara pangkal pahaku dan tiba-tiba terasa lidahnya yang kasar dan basah itu mulai menjilati pahaku, hal ini menimbulkan perasaan yang sangat geli. Aku mencoba menarik badannya ke atas untuk menghindari serbuannya pada pahaku, akan tetapi tangannya begitu kekar tubuhnya terlihat besar dan atletis menahan tubuhku.

John menunjukan matanya yang jalang, yang membuat aku ketakutan sehingga badanku terdiam dengan kaku. Kedua matanya melotot dengan buas melihat ke arah selangkanganku, kepalanya berada diantara kedua pahaku. Jilatannya makin naik ke atas dan tiba-tiba badanku menjadi kejang ketika bibir John itu terasa menyentuh pinggir dari belahan bibir kemaluanku dari bawah terus naik ke atas dan akhirnya badanku terasa meriang ketika lidah John yang besar basah dan kasar itu menyentuh klitorisku dan menggesek dengan suatu jilatan yang panjang, yang membuat aku terasa terbang melayang-layang bagaikan layang-layang putus ditiup angin.

"..Aaarrgghh..!" tak terasa keluar keluhan panjang dari mulutku.
Tubuhku terus bergetar-getar seperti orang kena setrum dan mataku terbeliak melihat kearah lidah John yang bolak balik menyapu belahan bibir kemaluanku dan dengan tanpa kusadari kedua pahaku makin kubuka lebar, memberikan peluang yang makin besar pada lidah John bermain-main pada belahan kemaluanku. Dengan tak dapat ditahan lagi, cairan pelumas mulai membanjiri keluar dari dalam kemaluanku dan dari cairan ini makin membuat John makin giat memainkan lidahnya terus menyapu dari bawah ke atas, mulai dari permukaan lubang anusku naik terus menyapu belahan bibir vaginaku sampai pada puncaknya yaitu pada klitorisku.

Ohh.. sshh.. gilaa.. aku dibuat melayang..! dengan cepat vaginaku menjadi basah kuyup oleh cairan birahi yang keluar terus menerus dari dalam vaginaku. Sejenak aku seakan-akan lupa diri, terbawa oleh nafsu birahi yang melanda..! akan tetapi pada saat berikut aku baru sadar akan situasi yang menimpaku.
"Aduuhh benar-benar gila ini, aku terbuai oleh nafsu karena sentuhan seorang laki laki bule.. aahh.. tidak.. tidak bisa ini terjadi!", dengan cepat aku menarik tubuhku dan mencoba bergulir membalik badan untuk bisa meloloskan diri dari John.

Dengan membalik badan, sekarang aku merangkak dengan kedua tangan dan lutut dan rupanya ini suatu gerakan yang salah yang berakibat sangat sangat fatal bagiku karena dengan tiba-tiba terasa sesuatu tenaga yang besar menahan pinggangku dan ketika masih dalam keadaan merangkak itu aku menoleh kepalaku ke belakang, terlihat John dengan kedua tangannya merangkul pinggangku dan kepalanya mendekap punggungku tangannya mencoba menarik handuk yang hanya tinggal separoh melilit badanku, badannya yang berat itu menekan tubuhku.

Aku mencoba merangkak maju dan berpegang pada tepi tempat tidur untuk mencoba berdiri, akan tetapi tiba-tiba John menekan badannya yang beratnya hampir 80 Kg itu sehingga posisiku yang sudah setengah berlutut, karena beratnya badan John, akhirnya aku tersungkur ke tempat tidur dengan posisi berlutut di pinggir tempat tidur dan separuh badan tertelungkup di atas tempat tidur, di mana badan John menindih badanku. Kedua kaki John berlutut sambil bertumpu di lantai diantara kedua pahaku yang agak terkangkang dan karena posisi badanku yang tertelungkup itu, akhirnya handuk yang setengah melilit dan menutupi badanku lepas, sehingga seluruh tubuhku terbuka telanjang dengan lebar. Terdengar John mendesah melihat pinggangku yang ramping serta bongkahan pantatku yang bulat menonjol.
"..Oh..Hesty tak kusangka kau begitu sexy..!" Tubuh John makin dirapatkan ketubuhku, sehingga terasa pantatku tergesek oleh kedua pahanya yang besar dan berbulu.

Dalam usaha merenggangkan kedua kakiku, tangan John bergerak-gerak di selangkanganku dan tanpa dapat dihindari bagian bawah vaginaku tergesek-gesek oleh jari jarinya yang besar besar itu. Bagai terkena aliran listrik aku menjerit, "Ouch..! ..Joohn.. jaangaan..!"

Aku mencoba melawannya, tetapi kedua tanganku tidak dapat digerakkan karena terhimpit diantara badanku sendiri. Tiba-tiba aku merasakan ada suatu benda kenyal, bulat panas terhimpit pada belahan pantatku dan tiba-tiba aku menyadari akan bahaya yang akan menimpaku, John rupanya sudah mulai beraksi dengan menggesek-gesekan batang kemaluannya pada belahan kenyal pantatku.

"Auoohh.. John.. stopp..! pleasee.. aach..!" dengan panik aku mencoba menyuruhnya berhenti melakukan aksinya, akan tetapi seruan itu tidak dipedulikan oleh John malahan sekarang terasa gerakan-gerakan menusuk nusuk benda tersebut pada belahan bongkahanku mula-mula perlahan dan semakin lama semakin gencar saja. Aku menoleh ke kanan, ke arah kaca besar lemari yang persis berada di samping kanan tempat tidur, terlihat batang kemaluan orang asing tersebut telah tegang dan ya ampun.. besaar sekali..! dan terlihat batang kemaluannya yang merah berurat bagai sosis besar dengan ujungnya berbentuk agak bulat sedang menggesek gesek bagian pantatku. Rupanya Orang asing ini sudah sangat terangsang dan sekarang dia sedang berusaha memperkosaku. Aku benar-benar menjadi panik, bagaimana tidak.. aku akan diperkosa oleh teman suamiku yang tampak sedang kesetanan oleh nafsu birahinya.

Tanpa kusadari sodokan-sodokan batang kemaluan John semakin gencar saja, sehingga aku yang melihat melalui cermin gerakan pantat bule yang bahenol pahanya yang kekar benar-benar membuatku terpana karena gerakan tekanan-tekanan ke depan pantatnya benar-benar sangat cepat dan gencar, terasa sekarang serangan-serangan kepala batang kemaluannya tersebut mulai menimbulkan perasaan geli pada belahan pantatku dan kadang-kadang ujung batang kemaluannya menyentuh dengan cepat lubang anusku, menimbulkan perasaan geli yang amat sangat.

Terlihat kedua kakinya melangkah ke depan, sehingga sekarang kedua pahanya yang berbulu memepeti kedua pahaku dan gerakan tekanan dan cocolan-cocolan kepala batang kemaluannya mulai terarah menyentuh bibir kemaluanku, aku menjadi bertambah panik, disamping perasaan yang mulai terasa tidak menentu, karena sodokan-sodokan kepala batang kemaluan John menimbulkan perasaan geli dan mulai membangkitkan nafsu birahiku yang sama sekali aku tidak kehendaki.

Akhirnya dengan suatu gerakan dan tekanan yang cepat, John mendorong pantatnya ke depan dengan kuat, sehingga kemaluannya yang telah terjepit diantara bibir kemaluanku yang memang telah basah kuyup dan licin itu, akhirnya terdorong masuk dengan kuat dan terbenam ujung kemaluannya kedalam vaginaku, diikuti dengan jeritan panjang kepedihan yang keluar dari mulutku.

"Aduuhh..!" kepalaku tertengadah ke atas dengan mata yang melotot serta mulut yang terbuka megap-megap kehabisan udara serta kedua tangan mencengkeram dengan kuat pada kasur. Akan tetapi John, tanpa memberikan kesempatan padaku untuk berpikir dan menyadari keadaan yang sedang terjadi, dengan cepat mulai memompa batang kemaluannya dengan gerakan-gerakan yang beringas, tanpa mengenal kasihan pada istri temannya yang baru pertama kali ini menerima batang kemaluan yang sedemikian besarnya dalam vaginaku.

"Aaahh..!" tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang besar, benar-benar besar sedang mulai memaksa masuk ke dalam vaginaku, memaksa bibir vaginaku membuka sebesar-besarnya, rasanya sampai sebatas kemampuan yang bisa kutolerir. Aku menoleh ke arah cermin untuk melihat apa yang sedang memaksa masuk ke dalam vaginaku itu dan.., "Aaaduuhh.. gila.. benar-benar fantastis besarnya batang penis bule ini" keluhku, terlihat bagian pangkal belakang batang kemaluan John sepanjang kurang lebih 5 cm membengkak, membentuk seperti bonggol, dan dari bagian tersebut sedang mulai dipaksakan masuk, menekan bibir-bibir kemaluanku dan secara perlahan-lahan menerobos masuk ke dalam lubang vaginaku .

"Ooohh.. aampun.. jangan John.. aku tidak sanggup kalau engkau memaksakan benda itu masuk ke dalam vaginaku!" aku memelas tak berdaya mengharapkan John akan mengerti, akan tetapi sia-sia saja, dengan mata melotot aku melihat benda tersebut mulai menghilang ke dalam liang kemaluanku, "Hesty.. nanti kalau sudah masuk semuanya dan licin kau akan merasakan kenikmatan yang kamu belum pernah rasakan sebelumnya..!"

John mencoba menenangkanku, kepalaku tertengadah ke atas dan mataku terbalik ke belakang sehingga bagian putihnya saja yang kelihatan, dan sekujur badanku mengejang, bongkahan tersebut terus menerobos masuk ke dalam lubang vaginaku, sampai akhirnya seluruh lubang kenikmatanku dipenuhi oleh kepala, batang kemaluan dan bongkahan pada pangkal batang kemaluan bule tersebut.

Oh.. benar-benar terasa sesak dan penuh rongga vaginaku dijelali oleh keseluruhan batang kemaluan bule tsb. Dalam keadaan itu John terus melanjutkan menekan-nekan pantatnya dengan cepat, membuat badanku ikut bergerak-gerak karena belakang batang kemaluannya telah terganjal di dalam lubang kemaluanku akibat bongkahan pada pangkal batang kemaluannya yang besar itu.

Pantat John tersebut terus bergerak-gerak dengan liarnya, sambil bibirnya menciumi pundakku yang sudah tidak ditutupi handuk, terengah-engah dan mendengus-dengus, hal ini mengakibatkan batang kemaluannya dan bongkahan tersebut mengesek-gesek pada dinding-dinding vaginaku yang sudah sangat sangat kencang dan sensitif mencengkeram, yang menimbulkan perasaan geli dan nikmat yang amat sangat.. aku mulai menyadari betapa hebatnya kenikmatan yang sedang menyelubungi seluruh sudut-sudut yang paling dalam di relung tubuhku akibat sodokan-sodokan batang kemaluan bule dalam rongga vaginaku yang menjepit erat sehingga kepalaku tergeleng-geleng ke kiri dan ke kanan dengan tak terkendali dan dengan histeris pantatku kutekan ke belakang merespon perasaan nikmat yang diberikan oleh John, yang tak pernah kualami selama ini.

"Ooohh.. tidaak..!" pikirku, "Aku tak pantas mengalami ini.. aku bukan seorang maniak seks! Aku selama ini tidak pernah nyeleweng dengan siapa pun.. ta. taapii.. sekarang.. oohh seorang bule? Adduuhh! Tapii.. oohh.. enaaknya.. aghh.. akuu.. tak dapat menahan ini.. agghh.. aku tak menyadari betapa nikmaatnya.. penis besar dari seorang bule yang perkasa ini..! sshh.. aaqhh..! Ooohh.. benar juga katanya belum pernah aku merasakan begini dahsyat rasa nikmaatnyaa..!" "..Ssshh.. aachh.. apa yang harus kulakukan..??

Bersambung

Pemerkosaan yang fantastis - 2

Filed under: PERKOSAAN

Batang kemaluannya yang luar biasa besar itu dengan cepat keluar masuk melicinkan lubang kemaluanku tanpa mempedulikan betapa besar batang kemaluannya yang akan dimasukkan itu dibandingkan dengan daya tampung vaginaku. Akhirnya seluruh batang kemaluan bule itu masuk, dari setiap gerakan menyebabkan keseluruhan bibir vaginaku mengembang dan mencengkeram batangnya dan klitorisku yang sudah keluar semuanya dan mengeras ikut tertekan masuk ke dalam, di mana klitorisku terjepit dan tergesek dengan batang kemaluannya yang besar dan berurat itu, walaupun terasa penuh sesak tetapi lubang vaginaku sudah semakin licin dan lancar, "..Ooohh..mengapa aku jadi keenakan.? ini tak mungkin terjadi..!" pikirku setengah sadar.

"Aku mulai menikmati diperkosa oleh teman suamiku, bule lagi? gilaa..!" sementara perkosaan itu terus berlangsung, desiran darahku terasa mengalir semakin cepat secepat masuknya batang kemaluannya yang luar biasa besar itu, pikiran warasku perlahan-lahan menghilang kalah oleh permainan kenikmatan yang sedang diberikan oleh keperkasaan batang kemaluannya yang sedang ‘menghajar’ liang kenikmatanku, perasaanku seakan-akan terasa melayang-layang di awan-awan dan dari bagian vaginaku yang dijejali batang kemaluannya yang super besar itu terasa mengalir suatu perasaan mengelitik yang menjalar ke seluruh bagian tubuh, membuat perasaan nikmat yang terasa sangat fantastis yang belum pernah aku rasakan sedemikian dahsyat, membuat mataku terbeliak dan terputar-putar akibat pengaruh batang kemaluan John yang begitu besar dan begitu dahsyat mengaduk-aduk seluruh bagian yang sensitif di dalam vaginaku tanpa ada yang tersisa satu milipun.

Keseluruhan syaraf syaraf yang bisa menimbulkan kenikmatan dari dinding dalam vaginaku tak lolos dari sentuhan, tekanan, gesekan dan sodokan kepala dan batang kemaluan John yang benar-benar besar itu, rasanya paling tidak tiga kali besarnya dari batang kemaluan suamiku tapi seratus kali lebih nikmaat..! dan cara gerakan pantat bule perkasa ini bergerak memompakan batang kemaluannya keluar masuk ke dalam vaginaku, benar-benar fantastis sangat cepat, membuatku tak sempat mengambil nafas ataupun menyadari apa yang terjadi, hanya rasa nikmat yang menyelubungi seluruh perasaanku, pandanganku benar benar gelap membuat secara total aku tidak dapat mengendalikan diri lagi.

Akhirnya aku tidak dapat mengendalikan diriku lagi, rasa bersalah kalah oleh kenikmatan yang sedang melanda seluruh tubuhku dari perasaan yang begitu nikmat yang diberikan John padaku, dengan tidak kusadari lagi aku mulai mendesah menggumam bahkan mengerang kenikmatan, pikiranku benar benar melambung tinggi.. Tanpa malu aku mulai mengoceh merespons gelora kenikmatan yang menggulung diriku, "Ooohh.. John you’re cock is so biig.. so fuull.. so good..!! enaakk.. sekaalii..!! aaggh..! teruuss.. Fuuck mee Joohn.."

Aku benar-benar sekarang telah berubah menjadi seekor kuda binal, aku betinanya sedang ia kuda jantannya. Pemerkosaan sudah tidak ada lagi di benakku, pada saat ini yang yang kuinginkan adalah disetubuhi oleh John senikmat dan selama mungkin, suatu kenikmatan yang tak pernah kualami dengan suamiku selama ini.

"Ooohh.. yess mmhh.. puasin aku John sshh.. gaaghh..! pen.. niishh.. mu.. begitu besaar dan perkasaa..! ..aarrgghh..!" terasa cairan hangat terus keluar dari dalam vaginaku, membasahi rongga-rongga di dalam lubang kemaluanku. "Aaagghh.. oohh.. tak kusangka benar-benar nikmaat.. dientot kontol bule.." keluhku tak percaya, terasa badanku terus melayang-layang, suatu kenikmatan yang tak terlukiskan.

"Aaagghh.. Joohhn.. yess.. pushh.. and.. pull.. your big fat cock..!" gerakanku yang semakin liar itu agaknya membuat John merasa nikmat juga, disebabkan otot-otot kemaluanku berdenyut-denyut dengan kuat mengempot batang kemaluannya, mungkin pikirnya ini adalah kuda betina terhebat yang pernah dinikmatinya, hangat.. sempit dan sangat liar.

Tiba tiba ia mencabut seluruh batang kemaluannya dari lubang vaginaku dan anehnya aku merasakan suatu kehampaan yang luar biasa..! Dengan tegas ia menyuruhku merangkak keatas kasur dan memintaku merenggangkan kakiku lebar lebar serta menunggingkan pantatku tinggi tinggi, oh benar benar kacau pikiranku, sekarang aku harus melayani seluruh permintaannya dan sejujurnya aku masih menginginkan ‘pemerkosaan’ yang fantastis ini, merasakan batang kemaluan John yang besar itu menggesek seluruh alur syaraf kenikmatan yang ada diseluruh sudut lubang vaginaku yang paling dalam yang belum pernah tersentuh oleh batang kemaluan suamiku.

Sementara otakku masih berpikir keras, tubuhku dengan cepat mematuhi keinginannya tanpa kusadari aku sudah dalam posisi yang sangat merangsang menungging sambil kuangkat pantatku tinggi tinggi kakiku kubuka lebar dan yang paling menggiurkan orang bule ini adalah liang vaginaku yang menantang merekah basah pasrah diantara bongkahan pantatku lalu, kubuat gerakan erotik sedemikian rupa untuk mengundang batang kemaluannya menghidupkan kembali gairah rangsangan yang barusan kurasakan.

Rupanya John baru menyadari betapa sexynya posisi tubuh istri temannya ini yang memiliki buahdada yang ranum pinggangnya yang ramping serta bongkahan pantatnya yang bulat, dan barusan merasakan betapa nikmatnya lubang vaginanya yang hangat dan sempit mencengkeram erat batang penisnya itu, "..Ooohh Hesty tak kusangka tubuhmu begitu menggairahkan vaginamu begitu ketat begitu nikmaat..!" aah aku begitu tersanjung belum pernah kurasakan gelora birahiku begitu meletup meletup, suamiku sendiri jarang menyanjungku, entah kenapa aku ingin lebih bergairah lagi lalu kuangkat kepalaku kulemparkan rambut panjangku kebelakang dengan gerakan yang sangat erotik.

Dengan perlahan ia tujukan ‘monster cock’ nya itu keliang vaginaku, aku begitu penasaran ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana caranya ia memasukkan ‘benda’ itu kevaginaku lalu kutengok kecermin yang ada disampingku dan apa yang kulihat benar benar luar biasaa..! jantungku berdegup kencang napasku mulai tidak beraturan dan yang pasti gelora birahiku meluap deras sekaalii..! betapa tidak tubuh john yang besar kekar bulunya yang menghias didadanya sungguh pemandangan yang luar biasa sexy buatku.! belum lagi melihat batang kemaluannya yang belum pernah kulihat dengan mata kepalaku sendiri begitu besaar, kekaar dan panjaang..!

Dan sekarang akan kembali dimasukkan kedalam liang vaginaku..! Secara perlahan kulihat benda besar dan hangat itu menembus liang kenikmatanku, bibir vaginaku memekar mencengkeram batang penisnya ketat sekali..! rongga vaginaku tersumpal penuh oleh ‘big fat cock’ John.
"..Ssshh.. Aaargghh..!" Aku mendesah bagai orang kepedesan ketika batang kemaluannya mulai digeserkan keluar masuk liang kenikmatanku..! nikmatnya bukan kepalang..! belum pernah kurasakan sebegini nikmaat..! besaar.. padaat.. keraas.. panjaang..! oogghh.. entah masih banyak lagi kedahsyatan batang kemaluan John ini. Dan ketika John mulai memasukkan dan mengeluarkan secara berirama maka hilanglah seluruh kesadaranku, pikiranku terasa melayang layang diawang awang, tubuhku terasa ringan hanyut didalam arus laut kenikmatan yang maha luas. Setengah jam john memompa batang kemaluannya yang besar dengan gerakan berirama, setengah jam aku mendesah merintih dan mengerang diombang ambingkan perasaan kenikmatan yang luar biasa, tiba tiba dengan gaya "doggy style’ ini aku ingin merasakan lebih liar, aku ingin John lebih beringas lagi
"Yess.. John.. harder.. John.. faster.. aargh.. fuck me.. WILDER..!"

Giliran John yang terhipnotis oleh teriakanku, kurasakan tangannya mencengkeram erat pinggangku dengusan napasnya makin cepat bagai banteng terluka gerakan-gerakan tekanannya makin cepat saja, gerakan-gerakan yang liar dari batang penisnya yang besar itu menimbulkan perasaan ngilu dibarengi dengan perasaan nikmat yang luar biasa pada bagian dalam vaginaku, membuatku kehilangan kontrol dan menimbulkan perasaan gila dalam diriku, pantatku kugerak-gerakkan ke kiri dan ke kanan dengan liar mengimbangi gerakan sodokan John yang makin menggila cepatnya, tiba tiba pemandanganku menjadi gelap seluruh badanku bergetar..! Ada sesuatu yang ingin meletup begitu dahsyat didalam diriku.

"Ooohh.. fuck me hard..! aaduuh.. aaghh! Joohn..! I can’t hold any longerr..! terlalu eenaakk..! tuntaassin Johnn..! Aaarrghh..! I’m cummiing.. Joohn.." lenguhan panjang keluar dari mulutku dibarengi dengan glinjangan yang liar dari tubuhku ketika gelombang orgasme begitu panjaang dan dahsyaat menggulung sekujur tubuhku.

Badanku mengejang dan bergetar dengan hebat kedua kakiku kurapatkan erat sekali menjepit batang penis John seolah olah aku ingin memeras kenikmatan tetes demi tetes yang dihasilkan oleh batang kejantanannya, kepalaku tertengadah ke atas dengan mulut terbuka dan kedua tanganku mencengkeram kasur dengan kuat sedangkan kedua otot-otot pahaku mengejang dengan hebat dan kedua mataku terbeliak dengan bagian putihnya yang kelihatan sementara otot-otot dalam kemaluanku terus berdenyut-denyut dan hal ini juga menimbulkan perasaan nikmat yang luar biasa pada John karena batang kemaluannya terasa dikempot kempot oleh lobang vaginaku yang mengakibatkan sebentar lagi dia juga akan mengalami orgasme.

"..Aaarghh.. Hesty your cunt is soo tiight..! I’ve never crossed in my mind that your cunt so delicious..! aargh ..!" John mendengus dengus bagai kuda liar tubuhku dipeluk erat dari belakang, bibirnya menciumi tengkukku belakang telingaku dan tangannya meraih payudaraku, puting susuku yang sudah mengeras dan gatal lalu dipuntir puntirnya.. oohh sungguh luar biasaa..! kepalaku terasa kembali berputar putar, tiba tiba John mengerang keras.. tiba tiba kurasakan semburan hebat dilorong vaginaku cairan hangat dan kental yang menyembur keluar dari batang kejantanannya, rasanya lebih hangat dan lebih kental dan banyak dari punya suamiku, air mani John serasa dipompakan, tak henti-hentinya ke dalam lobang vaginaku, rasanya langsung ke dalam rahimku banyak sekali.

Aku dapat merasakan semburan-semburan cairan kental hangat yang kuat, tak putus-putusnya dari penisnya memompakan benihnya ke dalam kandunganku terus menerus hampir selama 1 menit, mengosongkan air maninya yang tersimpan cukup lama, karena selama ini dia tidak pernah bersetubuh dengan istrinya yang berada jauh di negaranya.

John terus menekan batang kemaluannya sehingga clitorisku ikut tertekan dan hal ini makin memberikan perasaan nikmat yang hebat, "..Aaarrgghh..!" tak kusangka, tubuhku bergetar lagi merasakan rangsangan dahsyat kembali menggulung sekujur tubuhku sampai akhirnya aku mengalami orgasme yang kedua dengan eranganku yang cukup panjaang, Tubuhku bagai layang layang putus ambruk dikasur.

Aku tertelungkup terengah engah, sisa sisa kenikmatan masih berdenyut denyut di vaginaku merembet keseluruh tubuhku. John membaringkan dirinya disampingku sambil mengelus punggungku dengan mesra. Seluruh tubuhku terasa tidak ada tenaga yang tersisa, ringan seenteng kapas pikiranku melayang jauh entah menyesali kejadian ini atau malah mensyukuri pengalaman yang luar biasa ini. Akhirnya aku tertidur dengan nyenyaknya karena letih.

Keesokan harinya aku terbangun dengan tubuh yang masih terasa lemas dan terasa tulang-tulangku seakan-akan lepas dari sendi-sendinya. Aku agak terkejut melihat sesosok tubuh tidur lelap disampingku, pikiranku menerawang mengingat kejadian tadi malam sambil menatap ke arah sosok tubuh tersebut, kupandangi tubuhnya yang telanjang kekar besar terlihat bulu bulu halus kecoklat-coklatan menghias dadanya yang bidang lalu bulu bulu tersebut turun kebawah semakin lebat dan memutari sebuah benda yang tadi malam ‘menghajar’ vaginaku, benda itu masih tertidur tetapi ukurannya bukan main.., jauh lebih besar daripada penis suamiku yang sudah tegang maksimum. Tiba tiba darahku berdesir, vaginaku terasa berdenyut, "..Oh.. apa yang terjadi pada diriku..?"

TAMAT

Older Posts