kumpulan cerita dewasa dari berbagai sumber …

<?php wp_title('«', true, 'right'); ?> <?php bloginfo('name'); ?>





July 10, 2008

PEngaruh Pelet

Filed under: DAUN MUDA

Yeni ditugaskan sebagai pimpinan unit sebuah bank BUMD di sebuah kabupaten. untuk itu maka ia harus berpisah dengan suaminya yang bekerja sebagai dosen dan pengusaha di kota. Yeni menyewa sebuah kamar paviliun yang dihuni oleh seorang wanita tua yang anak-anaknya pada ke kota semua.

Pada hari pertama ia bertugas, banyak sekali kesan yang dapat di terimanya dari para bawahannya di kantor. Yeni pulang pergi ke kantor selalu menumpang bendi (delman) yang dimiliki oleh tetangganya yang bernama Udin, kebetulan Udin telah kenal baik dengan Mak Minah pemilik rumah yang ditempati Yeni. Udin seorang duda yang berumur kurang lebih 45 tahun, cerai dan tidak memiliki anak. Jarak rumah Udin dan Yeni memang jauh sebab di desa itu antara rumah dibatasi oleh kebun kelapa. Karena terlalu sering mengantar jemput Yeni, maka secara lambat laun ada perasaan suka Udin terhadap Yeni namun segala keinginan itu di buang jauh-jauh oleh Udin karena ia tahu Yeni telah mempunyai suami dan setiap minggu suami Yeni selalu datang, tingkah suami istri itu selalu membuat Udin tidak enak hati, namun ia harus pasrah bagaimanapun sebagai suami istri layaklah mereka berkumpul dan bermesraan untuk mengisi saat kebersamaan.

Udin setiap hari selalu melihat sosok keelokan tubuh Yeni tapi bagaimana caranya menaklukannya, sedang birahinya selalu minta dituntaskan saat bersama Yeni diatas bendinya. Kemudian timbullah pikiran licik Udin dengan meminta pertolongan seorang dukun, ia berkeinginan agar Yeni mau dengannya. Atas bantuan dukun itu, Udin merasa puas dan mulailah ia mencoba pelet pemberian dukunnya.

Siang saat Yeni menumpang bendi, Udin melihat paha Yeni yang putih mulus itu, kejadian itu membuat birahi Udin naik dan kejantanannya berdiri saat itu ia mengenakan celana katun yang longgar sehingga kejantanannya yang menonjol terlihat oleh Yeni, Udin malu dan berusaha membuang muka, sedang Yeni merasa tidak enak hati dan menutupkan pahanya, wajahnya bersemu merah ia merasakan bahwa batang kemaluan Udin itu memang besar dan panjang tidak seperti milik suaminya. Ia tahu pasti kalau bercinta dengan Udin akan dapat memberikan anak baginya serta kepuasan yang jauh berbeda saat bercinta dengan suaminya, memang saat akhir-akhir ini frekwensi hubungan seks dengan suaminya agak berkurang dan suaminya cepat selesai, telah 2 tahun menikah belum ada tanda-tanda ia hamil ini semakin membuat ia uring-uringan dan kepuasan yang dia harapkan dari suaminya tidak dapat Yeni nikmati. Sedang kalau ia melihat sosok Udin tidaklah sebanding dengannya karena status sosial dan intelektualnya jauh dibawah suaminya ditambah face-nya yang tidak masuk katagorinya di tambah lagi kehidupan Udin yang bergelimang dengan kuda kadang membuatnya jijik, namun semua itu dibiarkannya karena Yeni butuh bantuan Udin mengantar jemput, ditambah Udin memang baik terhadapnya.

Kalau dilihat sosok Yeni, ia seorang wanita karier berusia 27 tahun dan ia telah bekerja di bank itu kurang lebih 4 tahun, ia menikah dengan Beni, belun dikaruniai anak, tingginya 161 cm, rambut sebahu dicat agak pirang, kulit putih bersih dan memiliki dada 34B sehingga membuat para lelaki ingin dekat dengannya dan menjamah payudaranya yang montok dan seksi.

Dengan berbekal pelet yang diberikan gurunya, Udin mendatangi rumah Yeni. Malam itu gerimis dan Udin mengetuk pintu rumah Yeni. Kebetulan yang membukakan pintu adalah Yeni yang saat itu sedang membaca majalah.
“Eee.. Bang Udin tumben ada apa Bang?” tanya Yeni.
“Ooo.. saya ingin nonton acara bola sebab saya tidak punya televisi apa boleh Bu Yeni?” jawab Udin.
“Ooo.. boleh.. masuklah.. Bang.. langsung aja ke ruang tengah, televisi disitu..” Yeni menerangkan sambil ia menutup pintu. Diluar hujan mulai lebat.
“Sebentar ya Bang?” Yeni ke belakang, membuatkan minum untuk Udin. Udin duduk diruangan itu sambil melihat televisi.

Tidak berapa lama Yeni keluar membawa nampan berisi segelas air dan makanan kecil, sambil jongkok ia menyilakan Udin minum. Saat itu Udin sempat terlihat belahan dada Yeni yang mulus sehingga Udin berdesir dadanya karena kemulusan kulit dada Yeni. Sambil minum Udin menanyakan, “Mak Minah mana Bu, kok sepi aja?”
“Ooo Mak Minah sudah tidur,” jawab Yeni.
“Bagaimana kabarnya Bang?” Yeni membuka pembicaraan. “Baik-baik saja,” jawab Udin sambil melafalkan mantera peletnya. Sambil menonton Udin berulang-ulang mencoba manteranya, saat itu Yeni sedang asyik membaca majalah. Merasa manteranya telah mengenai sasaran, Udin berusaha mengajak Yeni bicara tentang rumah tangga Yeni dan suaminya, diselingi ngomong jorok untuk membuat Yeni terangsang.

Bu, sudah berapa lama Ibu kawin dan kenapa belum hamil?” tanya Udin.
“Lho malu saya Bang, soalnya suami saya sibuk dan saya juga sibuk bekerja bagaimana kami mau berhubungan dan suami saya selalu egois dalam bercinta.” jawab Yeni menjelaskan.
“Oh begitu? bagaimana kalau suami ibu jarang datang dan ibu butuh keintiman?” tanya Udin.
“Jangan ngomong itu dong Bang, saya malu masa rahasia kamar mau saya omongin ama Abang?” jawab Yeni.
“Bu Yeni, saya tau Ibu pasti kesepian dan butuh kehangatan lebih-lebih saat hujan dan dingin saat ini apa Ibu nggak mau mencobanya?” Udin berkata dengan nada terangsang.
“Haa.. dengan siapa?” jawab Yeni, “Sedang Beni suamiku di kota,” timpalnya.
“Dengan saya..” jawab Udin.
“Haa gila! masa saya selingkuh?” Yeni menerangkan sambil mengeser duduknya. Udin merasa yakin Yeni tidak menolak jika ia memegang tangannya.

“Jangan lah Bang, nanti dilihat Mak Minah.” Yeni mengeser duduknya.
“Oooh.. Mak Minah udah tidur tapi..?” jawab Udin memegang tangan Yeni dan mencoba memeluk tubuh mulus itu. Sambil mencoba melepaskan diri dari Udin Yeni beranjak ke kamar, ia memang berusaha menolak namun pengaruh dari pelet Udin tadi telah mengundang birahinya. Ia biarkan Udin ikut ke kamarnya. Saat berada di kamar, Yeni hanya duduk di pingir ranjangnya dan Udin berusaha membangkitkan nafsu Yeni dengan meraba dada dan menciumi bibir Yeni dengan rakus sebagaimana ia telah lama tidak merasakan kehangatan tubuh wanita. Udin berusaha meremas dada Yeni dan membuka blous tidur itu dengan tergesa-gesa, ia tidak sabar ingin menuntaskan birahinya selama ini. Sementara mulutnya tidak puas-puasnya terus menjelajahi leher jenjang Yeni turun ke dada yang masih ditutupi BH pink itu. Sementara Yeni hanya pasrah terhadap perbuatan Udin, ia hanya menikmati saat birahinya ingin dituntaskan.

Kemudian tangan Udin membuka tali pengikat BH itu dari belakang dan terlihatlah sepasang gunung kembar mulus yang putingnya telah memerah karena remasan tangan Udin. Dengan mulutnya, Udin menjilat dan mengigit puting susu itu sementara tangan Udin berusaha membuka CD Yeni dan mengorek isi goa terlarang itu. Udinpun telah telanjang bulat lalu ia meminta Yeni untuk mengulum batang kemaluannya, Yeni menolak karena batang kejantanan Udin panjang, besar dan baunya membuat Yeni jijik. Dengan paksa Udin memasukan batang kejantanannya ke mulut Yeni dengan terpaksa batang kejantanan itu masuk dan Yeni menjilatnya sambil memainkan lidah di ujung meriam Udin. Udinpun tidak ketinggalan dengan caranya ia memainkan lidahnya di liang kewanitaan Yeni, lebih-lebih saat ia menemukan daging kecil di belahan liang kewanitaan itu dan dijilatinya dengan telaten sampai akhirnaya setelah berualng-ulang Yeni klimaks dan menyemburkan air maninya ke mulut Udin. Saat lebih kurang 20 menit Udinpun memuncratkan maninya ke mulut Yeni dan sempat tertelan oleh Yeni.

Kemudian Udin mengganti posisi berhadap-hadapan, Yeni ditelentangkannya di ranjang dan di pinggulnya diletakkan bantal lalu ia buka paha Yeni dengan menekuk tungkai Yeni ke bahunya. Sambil tangannya merangsang Yeni kedua kalinya Udinpun meremas payudara Yeni dan mengorek isi liang kewanitaan Yeni yang telah memerah itu, lalu Yeni kembali dapat dinaikkan nafsunya sehingga mudah untuk melakukan penetrasi. Bagi Udin inilah saat-saat yang di tunggu-tunggunya, paha yang telah terbuka itu ia masukkan batang kejantanannya dengan hati-hati takut akan menyakiti liang kewanitaan Yeni yang kecil itu. Berulang kali ia gagal dan setelah sedikit dipaksakan akhirnya batang kejantanannya dapat masuk dengan pelan dan ini sempat membuat Yeni kesakitan. “Ouu.. jangan keras-keras Bang, ntar berdarah,” kata Yeni. “Sebentar ya.. Yen sedikit lagi,” kata Udin sambil mendorong masuk batang kejantanannya ke dalam liang kewanitaan sempit itu. Dengan kesakitan Yeni hanya membiarkan aksi Udin itu dan mulutnya telah disumbat oleh bibir Udin supaya Yeni tidak kesakitan. “Ooouu.. ahh.. ahh.. aahh..” hanya itu yang terdengar dari mulut Yeni dan itu berlangsung lebih kurang 17 menit dan akhirnya Udin menyemburkan air kenikmatannya dalam liang kewanitaan Yeni sebanyak-banyaknya dan ia lalu rebah di samping Yeni hingga pagi.

Permainan mesum itu berlangsung tiga kali dan membuat Yeni serasa dilolosi tulang benulang hingga ia merasa harus libur ke kantor karena ia tidak kuat dan energinya terkuras oleh Udin malam itu.

Sejak kejadian itu hampir setiap kesempatan mereka selalu melakukan hubungan gelap itu, karena Yeni telah berada dibawah pengaruh pelet Udin dan saat suaminya datang Yeni pandai mengatur jadwal kencannya sehingga tidak membuat curiga suami dan masyarakat di desa itu, mereka kadang-kadang melakukan hubungan seks di gubuk Udin yang memang agak jauh dari rumah penduduk lainnya. Yenipun rajin menggunakan pil KB karena ia juga takut hamil karena hubungan gelapnya itu dan suatu hari ia terlupa dan ia positif hamil, ia amat gusar dan karena pintarnya Yeni memasang jadwal dengan suaminya maka suaminya amat suka cita dan padahal Udin tahu benih itu adalah anaknya karena hampir tiap ada kesempatan ia melakukanya dengan Yeni sedang dengan suaminya Yeni hanya sekali 20 hari dan tidak rutin. Akhirnya anak Yeni lahir di kota karena saat akhir kehamilannya, Yeni pindah ke kota sesuai permintaan suaminya, tidak ada kemiripan anaknya denagn Beni yang ada hanya mirip Udin. Sejak Yeni berada di kota, secara sembunyi-sembunyi Udin menyempatkan diri untuk berkencan dengan Yeni karena Yeni sudah tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh pelet Udin.

memperbesar GSPOT

Filed under: artikel

Para spesialis dari AS dan Inggris mengembangkan sebuah teknik untuk mempermudah penampakkan G-Spot sekaligus membuatnya lebih sensitif dan menghasilkan orgasme luar biasa pada kaum hawa.

G-Shot merupakan sebuah teknik penyuntikan kolagen ke bagian dalam vagina untuk memperbesar G-Spot. Teknik ini kabarnya mulai menjadi tren di kalangan wanita Negeri Paman Sam. Mereka hanya cukup datang ke dokter spesialis kandungan dan merogoh kocek 1.850 dollar AS atau sekitar Rp17 juta. Prosedurnya pun tidak rumit karena pasien hanya perlu dibius lokal dan prosesnya berlangsung sekitar setengah jam saja.

Setelah G-Shot dilakukan, G-Spot dikabarkan akan membesar dengan ukuran diameter mencapai beberapa inci dan tinggi hingga seperempat inci. Dengan ukuran yang besar ini, G-Spot tentu akan lebih mudah ditemukan, selain juga lebih sensitif dan meningkatkan kemampuan orgasme.

Meskipun mulai ramai diperbincangkan, banyak dokter yang meragukan keampuhan teknik G-Shot. Mereka menyatakan tidak ada cukup bukti teknik tersebut efektif.

Perbaiki kualitas seks
Walau diragukan sebagian ahli, BBC pernah mengungkap pengakuan pasien akan manfaat G-Shot dalam memperbaiki kualits seks. Seorang polisi wanita bernama Robin asal New York menjalani prosedur ini untuk mengatasi problem orgasme saat berhubungan intim dengan kekasihnya.

Pada saat berhubungan seks, Robin tak nyaman dengan perilaku kekasihnya yang selalu asyik sendiri. Alhasil, Robin merasa hubungan menjadi hambar dan kurang bergairah. Setelah memperoleh info lengkap dan riset kecil di internet, Robin lalu memutuskan untuk melakukan prosedur G-Shot di sebuah klinik di Fifth Avenue, Manhattan. Ia ditangani oleh dr Kevin Jovanovich, yang telah mendapatkan kursus pelatihan dari penemu G-Shot, David Matlock. Dr Kevin menegaskan, teknik ini tidak dapat diaplikasikan pada wanita yang tidak pernah mengalami orgasme.

“Ini hanya untuk wanita yang merasa nyaman dengan dirinya dan ingin orgasme yang lebih baik lagi. Jika Anda tidak bisa klimaks, Anda tidak bisa melakukan suntik G-Shot karena Anda harus mengetahui di mana letak G-spot Anda,” terangnya.

Dalam proses itu, pasien diberi waktu di sebuah ruangan khusus untuk menemukan G-Spot miliknya. Setelah itu, dokter akan memberi bius lokal di sekitar G-Spot dan menyuntikkan kolagen dalam waktu delapan detik.Untuk menghentikan pendarahan ringan akibat penyuntikan, dokter akan memberikan kapas kecil.

Sekitar empat jam kemudian, Robin langsung dapat merasakan efek suntikan ini. Ia merasa sangat riang dan tak kuasa membayangkan kekasihnya ketika sedang menyiapkan malam malam. “Saya sedang di dapur dan saya bisa klimaks. Ini sungguh aneh. Ini seperti wow sungguh luar biasa,” ungkapnya.

Ketika kekasihnya datang, Robin mengaku benar-benar terpuaskan. Ia menggambarkan orgasmenya bisa berulang-ulang, mendebarkan, membuat panas dingin, dan menakjubkan.

Suntik G-Shot yang bisa bertahan selama empat bulan ini dilaporkan lebih populer di AS ketimbang di Inggris. Di Los Angeles saja, ada sekitar 40 wanita yang menjalani prosedur ini setiap bulannya.

Efek samping
Sementara itu, Linda Cardozo, Profesor Ginekolog dari King’s College Hospital di London, menyarankan wanita agar berhati-hati dengan teknik ini. Linda sendiri bahkan tidak yakin kalau G-spot memang nyata dalam organ wanita. “Jika memang ada G-spot, wanita yang pernah menjalani operasi pada dinding vaginal berarti tidak akan bisa mengalami orgasme dan kami tahu bahwa G-Spot tidaklah benar.

“Saran saya untuk setiap wanita yang memikirkan suntik G-shot adalah berliburlah karena itu akan menjadi cara terbaik memakai uang dan mungkin dapat memperbaiki kehidupan seksual Anda,” ujarnya.

Efek samping yang membahayakan dari teknik ini adalah pendarahan akibat suntikan, pendarahan pada saluran urine, sakit pada kandung kemih, dan sensasi yang selalu membuat terangsang secara seksual.

Anda ingin tahu berapa biayanya ? Cuman Rp. 17 juta-an !!

Adikpun tahu

Filed under: MELAYU

Senja semakin merangkak menuju malam. Abah masih lagi termenung di atas pangkin di bawah pokok cenderai di hadapan rumah. Matanya sayup-sayup merenung jalan kampung yang hanya sesekali dilalui kenderaan. Adik tahu Abah belum makan sejak tengahari, tapi adik tak mahu mengganggu Abah. Biarlah Abah bersendirian dulu melayan perasaanya. Abang Ngah, Abang De dan Abang Teh masing-masing telah pulang ke bandar selepas Asar tadi. Kak Long pula telah di bawa suaminya pulang bersama pagi tadi.

Adik tahu sangat kenapa Abah bersedih hati. Bagi orang lain tentulah hairan dengan sikap Abah. Sepatutnya Abah gembira kerana Kak Long, anak perempuanya yang sulung telah pun selamat mendirikan rumahtangga. Umur Kak Long sudah menjangkau 27 tahun hinggakan sebelum ini gelaran andartu sudah di kaitkan orang kampung dengan dirinya. Semua ibu bapa lain pastinya gembira kalau anak perempuan mereka akhirnya disunting orang. Suami Kak Long pun bukannya calang-calang orang, tauke restoren yang mempunyai tiga empat cawangan di bandar, walaupun berketurunan mamak. Tapi adik tahu kenapa Abah tetap bersedih dengan ketiadaan Kak Long.

Kak Long memang rapat dengan Abah. Sejak zaman remajanya, Kak Long selalu membantu Abah menoreh getah di kebun. Subuh-subuh lagi mereka telah keluar menoreh, tengahari baru balik.Sebelah petang pula Abah akan membawa Kak Long ke dusun yang terletak di hujung kampung. Walaupun pelajaran Kak Long bagus, tetapi selepas sahaja peperiksaan SRP, Kak Long tidak mahu bersekolah lagi. Abah pun tidak membantah, malah macam suka pula Kak Long berhenti sekolah. Walaupun arwah mak berusaha memujuk Kak Long supaya menyambung pelajaran, tetapi Kak Long tetap berkeras.

Apabila arwah mak meninggal dunia kira-kira tujuh tahun lepas, Kak Long terus mengambil alih tugas mak sepenuh masa. Kak Longlah yang memasak, membasuh dan mengemas rumah. Disamping itu Kak Long masih rajin membantu Abah menoreh dan ke dusun. Adik tahu Abah dan Kak Long seolah-olah tidak boleh di pisahkan. Sepanjang Kak Long menjaga rumah tangga, Adik nampak Kak Long seolah-olah bahagia dan seronok sahaja. Kalau gadis lain tentu sudah memberontak dan ingin bebas. Tapi Kak Long lain, jarang sekali keluar rumah tanpa di temani Abah dan jauh sekali untuk bersiar-siar atau mempunyai teman lelaki.

Kak Long tekun dengan tugasnya menjaga Abah dan kami adik beradik. Pagi-pagi lagi Kak Long dah bangun menyediakan sarapan. Namun Adik perasaan dalam seminggu, selang dua atau tiga hari Kak Long akan bangun lewat dengan rambutnya kusut masai dan wajah keletihan, seolah berjaga semalaman. Pada hari-hari seperti ini, Abah pula dengan sukarela akan menyediakan sarapan untuk kami adik beradik sebelum ke sekolah. Abah tidak pernah menegur, dan hanya membiarkan Kak Long tidur sepanjang pagi, seolah-olah Abah faham atau tahu kenapa Kak Long keletihan.

Adik tahu kenapa Kak Long begitu, dan kenapa pula Abah begitu memahami masalah Kak Long. Adik dah lama tahu. Masa tu rumah Abah Cuma mempunyai tiga bilik, dan Adik berkongsi bilik dengan Kak Long yang bersebelahan dengan bilik Abah. Abang-abang yang lelaki pula tidur di bilik di bahagian dapur. Beberapa bulan selepas arwah mak meninggal, barulah Adik perasan pada malam-malam tertentu, selepas makan malam, Kak Long akan menyediakan kopi pekat bercampur dengan ginseng tongkat Ali serta madu lebah dan beberapa butir makjun penguat tenaga batin untuk Abah.

Selalunya Kak Long akan tidur dengan hanya berkain batik dan baju t, tapi pada malam-malam tersebut Kak Long akan memakai baju tidur peninggalan arwah emak yang nipis dan seksi. Pada suatu malam Adik terjaga dari tidur apabila terdengar bunyi ketukan di dinding beberapa kali dari dalam bilik Abah. Sebaik Adik membuka mata, Adik nampak Kak Long bangun perlahan-lahan menuju ke pintu. Sesekali dia menjeling ka arah Adik. Adik lalu pura-pura kembali tidur. Selepas keluar Kak Long merapatkan pintu dengan perlahan mungkin takut kalau-kalau Adik terjaga. Beberapa ketika selepas Kak Long keluar, Adik terdengar pintu bilik Abah dibuka dan ditutup kembali.

Adik merasa sangat hairan, apa yang Kak Long nak buat masuk ke dalam bilik Abah di tengah malam buta ni. Perasaan ingin tahu, membuatkan Adik tidak dapat melelapkan mata. Adik cuba merapatkan telinga kedinding, tetapi tidak dapat mendengar apa-apa. Lalu Adik bangun dan keluar dari bilik menuju ke bilik Abah. Dari luar Adik dapat mendengar Kak Long dan Abah sedang bercakap-cakap dengan nada yang perlahan. Sesekali Adik dengar suara Kak Long ketawa kecil. Perasaan ingin tahu Adik kian bertambah, lalu Adik melangkah ke sebelah dinding bilik Abah yang bersebelahan dengan dapur. Dari tingkap yang salah satu cerminnya telah pecah dan hanya ditutupi dengan kertas suratkhabar, Adik dapat melihat apa yang berlaku dalam bilik itu.

Adik nampak Kak Long sedang berbaring di atas katil Abah dengan hanya memakai seluar dan baju dalam berwarna biru muda. Abah pula sedang berdiri disisi katil tanpa sebarang pakaian ditubuhnya. Adik nampak dengan jelas batang pelir Abah yang sudah menegang. Kak Long memang cantik orangnya. Kulitnya hitam manis dan memiliki senyuman yang menawan. Adik tahu ramai pemuda kampung yang minat dengan Kak Long, tapi Kak Long saja yang tidak mahu melayan mereka. Abah masih berdiri sambil memerhati tubuh seksi Kak Long. Tangan Abah menggosok-gosok batang pelirnya sendiri. Kak Long mula mengangkangkan kakinya. Dia tersenyum memandang Abah. Sambil itu Kak Long memainkan jarinya pada tundun pantatnya sendiri.

Sesekali Kak Long menggigit bibir kesedapan. Senyuman tidak lekang dari bibirnya sambil matanya galak merenung batang pelir Abah. Semakin kuat Abah mengocok pelirnya, semakin galak pula jari Kak Long menggosok alur pantatnya. Kak Long mengerakan punggungnya ke kiri dan kanan. Mata Abah juga tidak berkelip memerhati ke arah tundun pantat Kak Long yang tembam itu. Adik nampak sebahagian seluar dalam Kak Long mulai basah.

Abah melangkah merapati katil, dan duduk disisi Kak Long. Sambil mengusap rambut Kak Long, Abah menggeselkan hidungnya pada dahi dan pipi Kak Long. Sesekali lidah Abah menyentuh cuping telinga Kak Long membuatkan Kak Long mengeliat kegelian. Abah mengucup kelopak mata dan dagu Kak Long sebelum kedua-dua bibir mereka bertaup rapat. Kak Long segera mendongakan mukanya dan membalas kucupan Abah. Sambil berkucupan tangan Abah menggosok lembut betis dan peha Kak Long. Kak Long juga tidak duduk diam, sebaliknya terus merangkul leher Abah. Agak lama juga mereka saling berbalas kucupan.

Seketika kemudian Abah melepaskan bibir Kak Long dan mula mencium dan menjilat-jilat leher Kak Long pula. Sambil merengek kegelian, Adik nampak tangan Kak Long merayap dan memegang batang pelir Abah. Kak long mengurut batang pelir Abah dari atas ke bawah perlahan-lahan. Abah mengerang kesedapan. Kemudian Abah menyelak baju dalam Kak Long hingga tetek Kak Long terdedah. Abah menatap kedua-dua tetek Kak Long seketika sebelum menjilat puting dan menghisapnya dengan lembut. Rengekan Kak Long semakin kuat.

Abah memutarkan lidahnya pada puting tetek Kak Long silih berganti. Kak Long memegang tangan Abah dan meletakan pada mukanya. Adik nampak Kak Long menghisap jari telunjuk abah dengan penuh nafsu. Sebelah lagi tangan Abah meramas-ramas tundun pantat Kak Long. Sesekali Abah menyonyot tetek Kak Long sambil tangan Kak Long semakin kuat mengocok batang pelir Abah. Abah menolak lembut peha Kak Long sehingga terkangkang sebelum memasukan tangannya ke dalam seluar dalam Kak Long. Adik nampak tangan abah bergerak-gerak seolah sedang mengorek sesuatu pada pantat Kak Long.

Semakin kuat Abah mengorek pantat Kak long, semakin kuatlah Kak Long mengerang. Adik nampak Kak Long kian tambah gelisah. Tubuhnya bergerak ke kiri dan kanan megeliat kegelian. Sesekali Kak Long mencakar-cakar belakang Abah dengan jarinya. Namun Abah nampak relek aje sambil terus mennyonyot tetek dan mengorek-ngorek pantat Kak Long. Tiba-tiba Kak Long menarik tangan Abah menyuruh Abah berhenti dari terus mengorek pantatnya. Riak wajah Kak Long seolah sedang menahan kencing. Kak Long terus merengek sambil mengepit pahanya.

Abah pula seakan faham keadaan Kak Long lalu berhenti dari megorek pantat dan menyonyot tetek Kak Long. Abah menarik perlahan seluar dalam Kak Long sehingga tertanggal. Kemudian Abah menanggalkan pula baju dalam Kak Long. Kak Long hanya menurut sahaja. Kini Kak Long dan Abah sama-sama berbogel. Abah menarik Kak Long supaya duduk di hadapanya. Selepas itu Adik nampak Abah melutut berhadapan Kak Long. Tanpa di suruh, Kak Long lalu memegang batang pelir Abah lalu megurutnya ke atas dan ke bawah. Seketika kemudian Kak Long mula menjilat-jilat kepala pelir Abah dengan lidahnya.

Selepas kepala pelir, Kak Long turut menjilat batang dan batu pelir Abah. Kepala Abah terdongak sambil mulutnya bersiut-siut menahan kesedapan. Setelah puas menjilat-jilat, Adik nampak Kak Long mula memasukan batang pelir Abah ke dalam mulutnya. Kak Long mula menghisap dan menyonyot batang pelir Abah perlahan-lahan. Pipi Kak Long kelihatan kembang kempis .

Abah mula tak senang duduk apabila batang pelirnya di perlakukan sebegitu oleh Kak Long. Abah memegang kepala Kak Long dan meramas-ramas rambut Kak Long. Kak Long semakin bersemangat, lalu semakin kuat menyonyot batang pelir Abah. Pada satu-satu ketika Adik nampak Kak Long memasukan batang pelir Abah ke dalam mulutnya hampir sampai ke pangkal membuatkan Abah mengeluh panjang. Kak Long semakin ghairah menghisap batang pelir Abah sementara tangannya bermain-main pada celah pantatnya sendiri. Abah turut membantu dengan meramas dan mengentel-gentel tetek Kak Long. Hampir sepuluh minit juga Kak Long menghisap pelir Abah.

Seketika kemudian Kak Long berhenti lalu bangun mencapai patung beruang panda yang arwah emak belikan untuknya semasa kecil dahulu. Kak Long memang sayangkan patung beruang itu. Patung itu sentiasa dijaganya dengan cermat. Kak Long menonggeng di hadapan Abah sambil memeluk patung beruang kesayangannya. Abah merapati Kak Long dari belakang sambil memegang batang pelirnya. Abah menggeselkan kepala pelirnnya pada celah pantat Kak Long. Kak Long pula menggelek-gelekan punggungnya seperti penyanyi dangdut. Perlahan- lahan Abah menekan batang pelirnya masuk kedalam lubang pantat Kak Long sehingga rapat ke pangkalnya. Kak Long memeluk erat patung beruang sambil mulutnya ternganga dan matanya terpejam menerima tusukan batang pelir Abah dalam lubang pantatnya.

Kak Long dan Abah serentak mengeluh kesedapan. Abah membiarkan seketika batang pelirnya terbenam rapat didalam lubang pantat Kak Long sambil Kak Long menggelek-gelekan punggungnya perlahan-lahan. Adik nampak Kak Long sempat menjeling dan melemparkan senyuman manja ke arah Abah sebelum mula mengerakan punggungnya kehadapan dan kebelakang. Abah pula membalas senyuman Kak Long itu. Adik nampak batang pelir Abah kelar masuk dalam pantat Kak Long yang semakin berair. Beberapa titik air dari pantat Kak Long jatuh menitik di atas tilam.

Kak Long terus mengerakan punggungnya mengasak batang pelir Abah. Mata Kak Long semakin kuyu menahan kesedapan. Sesekali hanya mata putihnya sahaja yang kelihatan. Mulutnya tidak berhenti-henti mengerang dan merengek-rengek.Abah pula kelihatan tenang bertahan. Tangannya meramas-ramas daging punggung Kak Long yang tonggek itu. Sekali sekala Abah menepuk-nepuk punggung Kak Long membuatkan Kak Long menjerit kecil. Semakin lama Adik nampak semakin kuat Kak Long menggerakan punggungnya. Wajah Kak Long kelihatan begitu ghairah sekali. Erangan Kak Long juga semakin kerap dan bertambah kuat Patung beruang kesayangannya tetap di peluknya dengan erat. Abah terus membiarkan Kak Long beraksi.

Adik nampak Abah masih setia menahan serangan pantat Kak Long yang semakin becak berair. Batang pelir Abah yang besar itu nampak berkilat diselaputi lendir dari pantat Kak Long. Bulu pelir Abah dan bulu pantat Kak Long kelihatan kuyup kebasahan. Namun sesekali Abah turut mengerang terutama apabila Kak Long menekan perlahan pantatnya hingga batang pelir abah masuk hingga ke pangkal, dan kemudian Kak Long akan menarik dengan cepat. Abah nampaknya cukup seronok apabila Kak Long melakukan sebegitu berulang-ulang kali. Adik dapat mendengar Abah mengeluh kesedapan dan memuji Kak Long kerana Kak Long pandai beraksi di atas katil. Kak Long hanya tersenyum kepuasan mendengar pujian Abah itu.

Hayunan punggung Kak Long semakin kuat dan bertenaga. Adik dengar Kak Long mengeluh mengatakan dia sudah nak keluar kepada Abah. Abah segera mencekak pinggang Kak Long untuk membantu Kak Long menolak dan menarik punggung Kak Long dengan lebih cepat lagi. Kak Long mula mengerang dengan agak kuat. Giginya menggigit bibir bawahnya. Patung beruangnya di peluk sekuat-kuat hati. Seketika kemudian Kak Long menekan rapat pantatnya pada batang pelir Abah. Mulutnya ternganga sambil matanya terpejam. Satu keluhan yang panjang terpacul dari mulut Kak Long sambil tangannya mencengkam kain cadar. Tubuhnya kelihatan bergetar-getar dan menggigil.

Selepas beberapa ketika mengejang, tubuh Kak Long akhirnya terkulai layu. Abah membiarkan sahaja Kak Long melayan perasaanya walaupun batang pelirnya masih lagi terbenam rapat dalam lubang pantat Kak Long. Kak Long kelihatan tercungap-cungap dengan nafasnya kencang turun naik. Abah menarik batang pelirnya dai dalam lubang pantat Kak Long. Kemudian Adik nampak Abah menjilat pantat Kak Long dari belakang dengan penuh nafsu. Lelehan air dari pantat Kak Long Abah kaut dengan lidah dan menelannya. Kak Long pula memasukan ibu jarinya ke dalam mulut dan menghisapnya seperti bayi.

Selepas puas menjilat, Abah menekan pinggang Kak Long kebawah hingga punggung Kak Long tertonggek ke atas. Dengan agak kasar Abah menusuk kembali batang pelirnya ke dalam lubang pantat Kak Long. Tanpa berlengah lagi Abah terus mendayung. Kali ini tindakan Abah begitu agresif dengan tujahan yang keras dan laju. Kak Long bertahan dengan memaut kepala katil menyebabkab katil itu mula bergoyang dengan agak kuat. Gabungan bunyi goyangan katil dan decupan keluar masuk batang pelir Abah memecah keheningan malam itu. Semakin lama adik nampak semakin kuat Abah menghentak lubang pantat Kak Long.

Kak Long kelihatan cuba sedaya upaya menahan asakan Abah yang semakin ganas dan bertubi-tubi itu. Kangkangannya di buka seluas mungkin bagi memudahkan Abah meneruskan agendanya. Tubuh Kak Long bergoyang kuat seiring dengan goyangan katil itu. Kak Long kembali tercungap-cungap, namun patung beruang pemberian arwah emak tetap kemas dalam dakapannya. Adik nampak sepanjang Kak long disetubuhi Abah memang sedetik pun Kak Long tidak melepaskan patung beruang itu. Wajah Abah kelihatan berkerut-kerut kesedapan, namun tujahannya batang pelirnya meneroka lubang pantat Kak Long tetap berterusan.

Hentakan batang pelir Abah semakin mengganas membuatkan punggung Kak Long terangkat-angkat. Adik nampak tangan Abah mencengkam kuat pinggang Kak Long. Kak Long terjerit-jerit kecil, namun Abah kelihatan langsung tidak menghiraukan jeritan Kak long itu sebaliknya terus menggandakan serangan batang pelirnya pada lubang pantat Kak Long. Sesekali Abah menepuk-nepuk daging punggung Kak Long yang bulat berisi itu membuatkan Kak Long semakin kerap menjerit, tapi nampaknya Abah makin bertambah ghairah.

Sambil terus bertahan dari tujahan batang pelir Abah, Adik nampak Kak Long meraup air pantatnya dengan tangan lalu menyapukan pada mulutnya. Dengan ghairahnya Kak long menjilat jarinya itu sambil melemparkan senyuman ke arah Abah. Abah membalas senyuman Kak Long sambil melajukan lagi tujahan batang pelirnya. Kak Long terus menghisap lagi ibu jarinya sendiri seperti bayi yang sedang kehausan.

Adik merasakan hampir 20 minit juga lamanya Abah membalun pantat Kak Long, sebelum tiba-tiba Abah mula mendengus dengan agak kuat. Muka Abah berkerut-kerut menahan sesuatu. Abah berhenti menghayun, sebaliknya menekan masuk batang pelirnya serapat-rapatnya kedalam pantat Kak Long. Adik dapat mendengar Abah menyuruh Kak Long mengemut kuat-kuat. Abah memaut pinggang Kak Long dan melentikan badannya ke belakang. Kak Long turut menolak punggung ke belakang supaya batang pelir Abah terbenam rapat ke dalam pantatnya. Serentak itu Abah melepaskan satu keluhan yang panjang sambil tubuhnya tergigil-gigil.

Adik nampak punggung Kak Long bergerak-gerak mengemut batang pelir Abah. Selepas beberapa minit, Abah menarik batang pelirnya yang masih agak keras dari dalam lubang pantat Kak Long. Kedua-duanya berbalas-balas senyuman kepuasan. Abah terus berbaring di sebelah Kak Long. Kak Long pula meniarap sambil meletakan kepalanya di atas dada Abah. Dengan nafas yang masih lagi turun-naik Abah mengusap manja rambut Kak Long, sementara tangan Kak Long mencuit-cuit batang pelir Abah yang separuh terlentok dengan jarinya. Perlahan-lahan Adik beredar dan masuk semula ke dalam bilik.

Bila mengenangkan peristiwa tersebut, Adik tidak merasa hairan jika Kak Long beria-ia tidak mahu berkahwin dan Abah begitu berat untuk melepaskan Kak Long. Kalau tidak kerana Mak Ngah dan Pak Ngah yang beria-ia memaksa, Adik pasti Kak Long akan terus mahu bersama dengan Abah.

Jam didinding sudah menunjukan pukul sebelas malam. Suasana kampung sudahpun sunyi sepi. Hanya yang kedengaran adalah bunyi burung pungguk memanggil-manggil bulan idamannya. Adik melangkah keluar dari bilik. Bilik Abah masih terang, tentu Abah masih belum tidur. Adik ke dapur, dan melihat kopi pekat dengan madu lebah serta tiga biji makjun penguat tenaga yang Adik buat selepas makan tadi sudah licin Abah minum. Adik tersenyum sendirian. Selepas mencuci cawan kopi tersebut, Adik kembali ke bilik. Semasa Adik melintasi bilik Abah, senyap sunyi sahaja.

Adik menanggalkan baju dan kain batik yang Adik pakai. Cuma tinggal seluar dalam dan coli berwarna biru air. Adik membuka almari Kak Long dan mengeluarkan baju tidur nipis peninggalan arwah emak lalu memakainya. Adik menyembur minyak wangi dan memakai bedak dan gincu berwarna merah pekat. Selepas itu Adik mencapai patung beruang panda kesayangan Kak Long dan memeluknya. Dengan debaran di dada, Adik melangkah menuju bilik Abah. Adik cuba membuka pintu namun berkunci dari dalam.

Adik mengetuk pintu beberapa kali. Selepas beberapa ketika pintu di buka. Abah yang hanya berkain pelikat yang tidak di ikat kelihatan terkejut. Abah terpaku di muka pintu melihatkan adik yang berdiri dengan pakaian dan patung beruang seperti kebiasaan Kak Long. Adik membaiarkan Abah yang masih terpana, lalu Adik menanggalkan baju tidur dan naik ke atas katil. Adik membuka kangkang lalu memainkan jari pada belahan pantat Adik. Adik menjeling Abah sambil tersenyum menggoda. Tanpa disedari, tangan Abah terlepas pegangan pada kain pelikatnya dan kain itu terburai di lantai.

Mata Adik secara automatik terus tertumpu pada batang pelir Abah yang sedang beransur-ansur mengeras. Mata Abah bulat merenung celahan kangkang Adik. Abah mula tersenyum. Riak-riak kegembiraan mula terpamer jelas di wajahnya. Abah mengurut-urut batang pelirnya yang semakin keras memacak, tanpa mengalihkan pandangan matanya dari pantat Adik. Perlahan-lahan Abah melangkah ke arah Adik. Tanpa di duga, tiba-tiba Abah menerkam dan terus memeluk serta menggomol Adik bertalu-talu. Adik hanya membiarkan Abah mengerjakan tubuh Adik.

Dengan rakusnya seperti orang yang sudah lama kemaruk pantat, Abah menanggalkan coli dan seluar dalam Adik. Tanpa berlengah Abah mencium dan menjilat tubuh Adik bertalu-talu. Adik hanya pasrah menyerah. Adik rela di perlakukan apa saja oleh Abah malam ini. Lagi pun tiada apa yang hendak Adik kesalkan. Adik pun bukannya ‘dara’ lagi. Hmm…Adik pun manusia biasa, mana mampu menahan nafsu setelah kerap kali menyaksikan kenikmatan Kak Long disetubuhi Abah.

Dengan siapa Adik buat??…Err…kena cerita ke?..Ok lah..first time Adik kena balun dengan Pak Mat, jaga kat sekolah Adik dalam Guard Room masa Adik tingkatan dua lagi. Lepas tu Adik kena dengan Cikgu Ripin, guru penolong kanan kat sekolah, lepas tu dengan Pak Ali, pemandu bas sekolah Adik, lepas tu dengan Uncle Tan, tauke kedai runcit kat kepala simpang, lepas tu dengan Pak Hussin, siak masjid, lepas tu dengan Abang Hasmin, pekerja Indon kat ladang sawit hujung kampung, lepas tu dengan Atuk Ngah, atuk sedara Adik, lepas tu dengan Pakcik Daud, bapa kawan sekolah Adik,…..lepas tu……lepas tu……ish…ramai lagi lah, Adik pun tak berapa nak ingat…

Disuburi dokter

Filed under: MELAYU

Hari itu aku mempunyai temujanji dengan Dr. Edi. Kandungan ku sudah menjangkau usia 5 bulan. Walaupun 5 bulan, kerana badanku yang genit dan kandunganku yang kecil, aku masih lagi mampu berpakaian normal, cuma sedikit membusung yang jelas hampir sama saiznya dengan kedua payudaraku.
Suamiku yang selalunya turut serta tidak dapat hadir kerana terpaksa keluar Negara sejak 3 bulan yang lalu. Aku sering kesepian dan sering menagih batang suami ku yang panjangnya 5 inci. Itu satu-satunya batang yang beraja di vaginaku. Sering juga kawan-kawanku bercerita tentang batang lelaki lain yang sampai 12 inci, susah untuk aku membayangkannya. Setelah 3 bulan kekeringan, kadang kala terbayang pula bagaimana rasanya untuk melakukan seks dengan lelaki yang berbatang besar.
“Puan Aina, sila masuk ke bilik no. 2”, lamunan ku mati dengan suara nurse yang mengarahkan aku untuk masuk ke bilik pemeriksaan. Aku melangkah takut lalu mencapai tombol pintu. Terasa seram sejuk bila terpaksa berdepan dengan seorang lelaki dalam keadaan berdua-duaan tanpa kehadiran suamiku. Bila kubuka sahaja pintu, kelihatan wajah Dr. Edi yang lembut menyimpulkan senyuman manisnya kepadaku. “Silakan duduk Puan Aina”, pelawanya lembut dengan suara yang garau dan macho. Aku melabuhkan punggungku di atas kerusi menghadap Dr. Edi. “Bukan di situ Puan Aina, di sini”, kata Dr. Edi sambil menunjukkan ke arah katil pemeriksaan. Aku tersenyum malu lalu berpindah ke arah katil pemeriksaan. Dr. Edi memegang tanganku lembut mencari nadi lalu memerhatikan jamnya mengira denyutan nadi di tanganku. Selepas seminit dia berhenti lalu menulis sesuatu ke dalam kertas catatannya. “Jadi sekarang sudah 5 bulan ye, masih nampak cantik tak macam orang mengandung”, puji Dr. Edi. “Puan Aina jangan risau, saya bukan nak makan Puan. Semuanya akan selesai sekejap sahaja”, ujar Dr. Edi yang seakan mengerti perasaanku. “Puan Aina sila baring di atas katil, ya”. “Nurse, tolong divertkan semua pesakit lain ke Dr yang lain. Nanti setelah selesai dengan Puan Aina, saya akan beritahu”, mesej Dr. Edi sampaikan melalui intercom.
“Puan Aina, kalau tidak keberatan, sila tanggalkan baju dan salin ke baju ini”. Aku
bagaikan dicucuk hidung terus bangun lalu menanggalkan bajuku di depan Dr. Edi. “Pantynya sekali k”, ujar Dr. Edi berbaur nakal. Aku akur. “Sekarang saya nak Puan Aina baring sambil mengangkangkan kaki Puan Aina, saya nak buat pemeriksaan pada vagina”. Aku yang agak kemaluan baring sambil membuka sedikit kalangkangku. “Besar sikit macam Puan tengah buat dengan suami Puan”, bisik Dr. Edi. Aku dengan malu-malu mengangkangkan lagi kakiku memberi laluan pada mata Dr. Edi untuk menatap vaginaku. “Cantik vagina Puan, nampak sempit. Dah lama ke x make love dengan suami?” Tanya Dr. Edi. Aku hanya terdiam. Tangan Dr. Edi pantas menyelinap masuk ke dalam kain gaun pesakit lalu memegang vaginaku. “Saya mainkan sikit ya supaya berair. Senang sikit saya nak masukkan jari saya nanti”. Aku hanya mengangguk perlahan. Dr. Edi mula mengusap kemaluanku sekali sekala mengenakan jarinya ke kelentitku. Kerana sudah kemarau lama, airku banyak mengalir membasahi tangan Dr. Edi. Dr. Edi melajukan gerakan tangannya membuatkan mataku terpejam dan mulutku ternganga.
Tiba-tiba gerakan tangannya terhenti dan bila aku buka mata, Dr. Edi berdiri di sebelahku dengan koneknya yang kukira sepanjang 15 inci menerjah hamper ke mulut ku. Keinginan seks ku menaik dan bila Dr. Edi memainkan semula vaginaku mulutku yang menganga terus sahaja menerima kedatangan batang yang besar di dalam. Dengan hayunan yang perlahan dan kemas, Dr. Edi memainkan batangnya dalam mulutku.
Selepas 5 minit begitu, Dr. Edi terus bercelapak di kelangkang ku lalu menekankan batangnya ke dalam vaginaku. “Arghhhhh…..”, terpacul perkataan nikmat dari mulutku. Ingatan pada suamiku semua sudah hilang. Dayungan yang mantap Dr. Edi membuatkan aku alpa pada halal haram, yang ada hanya kenikmatan.
Dr. Edi mampu melakukan apa juga gaya seks yang dia mahu kerana saiz batangnya. Setelah 1 jam berjuang, Dr. Edi mengerang kuat lalu memancutkan air mani yang banyak ke dalam buritku. Aku juga dah cum dekat 5 kali, terasa puas sangat. Selepas selesai, aku kembali berpakaian lalu meninggalkan Dr. Edi. Bila keluar aku sempat melihat nurse di kaunter melirik sinis padaku.

Hubungan SEx Bikin Cerdas ??

Filed under: artikel

INI BARU berita menyenangkan. Seks yang teratur, ternyata membuat pasangan yang melakukannya menjadi makin pintar. Bukan pintar bercinta saja, tapi bisa mesntimulasi otak untuk bekerja lebih baik. Tida percaya? Cobain aja…

Seks yang sehat dan berkualitas ternyata tak hanya membawa kebahagiaan dan membuat rumah tangga Anda dan pasangan menjadi semakin romantis. Selain dua hal itu, seks yang berkualitas mempunyai manfaat luar biasa lainnya yang menguntungkan untuk Anda.

Jika Anda pernah mendengar kabar bahwa seks dapat membuat Anda lebih muda, itu adalah benar adanya. Hal ini sudah dibuktikan oleh Neuropsikolog, Dr David Weeks dengan menguji 3500 orang, ia menyimpulkan bahwa pasangan yang melakukan seks yang memuaskan tiga kali dalam seminggu akan tampak lebih muda daripada pasangan yang melakukannya kurang dari itu.

Ternyata ada yang lebih mengejutkan lagi, hubungan seks yang teratur, menyenangkan dan sehat secara fisik dan psikis akan menstimulasi otak bekerja lebih baik. Ini bukanlah isapan jempol karena diungkapkan oleh Werner Habermehl dari Hamburg Medical Research Institut.

“Seks akan membuat intelektual Anda lebih baik akibat meningkatnya adrenalin dan hormon kortisol yang menstimulasi daerah abu-abu di otak,” ujar Werner.

Ditambah lagi naiknya hormon endorphin dan serotonin saat mengalami orgasme, akan membuat Anda merasa lebih percaya diri. Hal ini baik untuk kesehatan fisik dan mental.

Tunggu apalagi? Siapkan rencana untuk memberi kejutan pada pasangan demi mencapai seks yang memuaskan untuk kedua belah pihak. Usahakan untuk melakukannya dengan teratur, maka kemudaan dan kebahagiaan selalu melekat pada Anda berdua.

antara Indah, adiknya, Inem pembantunya, kakaknya dan Mamanya3

Filed under: RAMAI-RAMAI

“Aku sedang inginnnya” DEWA 19 mengalun dari MP.3 9500 membuktikan Indah yang menelponku.

“ya sayang” sahutku

“Aku nggak biasa ketemuan hari ini, lagi jalan nyari buku sama Sheila. Jangan nakal nakal ya say…blab la bla…. Dan diakhiri dengan muacchhhh” sahut Indah mesra lewat 9300 nya

“Iya, aku juga ke bandara nganter bibi yang mau pulang ke Jogja. Aku naik taksi, soalnya capek sekali nih. Besok siang aku jemput di kampus ya. Byee..” sahutku sambil mematikan handphone.

Setelah menunggu 2 jam, pukul 13.00 WIB akhirnya bibi boarding dan aku take off dengan taxi lagi. Aku keluar tol Kelapa Gading, dan bermaksud makan di sekitaran Kelapa Gading. Namun sayang, jalanan macet sekali, hingga akhirnya kubatalkan saja dan meminta taxi langsung meluncur ke bilangan selatan Jakarta. Melihat kondisi tol yang juga macet, akhirnya aku meminta supir taxi lewat non tol saja. Diperempatan ex Coca cola kulihat 300 E merah milik Indah melintas. Dibalik kaca beningnya, kulihat 3 orang didalam mobil. Rambut panjang Indah yang khas serta memperlihatkan gaya menyupirnya yang seperti orang bingung, dan disampingnya ada Sheila kawannya yang khas dengan rambut cepaknya. Satunya lagi pasti pacar Sheila, si Andi yang khas dengan gundul gothicnya itu. Aku meminta supir taxi mengejarnya, namun lampu lalulintas telah merah. Untung lampu hijau, hingga aku meminta supir taxi mengejarnya. Lumayan kalau diantar Indah pikirku, karena ongkos taxi sudah menunjukkan angka Rp. 100.000. Kami pun berusaha mengikuti mobil Indah yang berbelok ke bilangan Pulo Mas. Kira kira 100 meter dari jalan raya, aku melihat mobil Indah belok kekanan dan masuk ke suatu wilayah. Kamipun mengejarnya, dan sampai di depan wilayah itu aku membaca sebuah papan bertuliskan “HOTEL”. Mau ngapain nih si Indah. Beli buku kok di hotel? Pikirku kebingungan. Akupun meminta supir taxi menjauhi mobilnya, hingga dari kejauhan kulihat mobil tersebut masuk ke suatu garasi, lalu garasi tersebut langsung ditutup. Aku mencium gelagat kurang beres, hingga akhirnya aku meminta supir taxi menunggu 10 menit, hingga akhirnya aku membayar taxi dan turun menghampiri kamar tersebut.

“Maaf mas, mau kemana?” tanya seorang room boy padaku.

“Oh, saya sudah janjian sama kawan saya yang didalam sini pak” sahutku kalem.

“Silahkan mas” jawabnya kalem juga.

Aku masuk perlahan lahan melalui pintu kecil yang tidak berisik seperti roling door disampingnya yang berisik jika dibuka. Kemudian aku membuka pintu kamar, dan melihat Indah sedang membelai belai kepala Andi gundul yang sedang menjilati memek Indah. Sheila pun sedang asik menjilati tetek kanan Indah sambil tangan kirinya berusaha mengocokkan kontol Andi gundul.
Mereka bertiga kaget, dan satu persatu langsung duduk di sisi tempat tidur. Aku memberikan bogem mentah tepat di mata kanan Andi, kemudian menampar Sheila dan Indah.

“Kamu kok gitu sih N’dah” kataku dengan suara sedikit keras.

“Maaf ya sayanggg….” jawab Indah memelas dan berusaha memelukku.

“”Kita main berempat aja. Elu silahkan deh make Sheila” kata Andi bersemangat.

Tanpa basa basi, sekali lagi aku menendang Andi tepat di kepalanya hingga ia terjatuh ke lantai. Ketika berusaha melawan, sekali lagi kutendang kepalanya. Andi terkapar di lantai, dan akupun bergegas keluar dan menendang mobil Indah hingga penyok.
Aku berlari mencari taxi kedepan, dan setelah dapat taxi akupun melaju ke selatan Jakarta. Inikah karma, karena berselingku dengan Evi adiknya, pikirku bingung? Aku hanya terdiam hingga satu jam, hingga kemudian sampai di rumah. Setelah menenggak segelas Chivas milik ayah, mulai pukul 17.00 WIB sampai 20.00 WIB aku tertidur pulas di kamar. Sekitar pukul 21.00 WIB aku merasakan elusan lembut dibagian kontolku. Aku sedikit terbangun, dan melihat Indah sedang berusaha membuka retsletingku. Aku menampiknya dan berdiri. Akupun marah marah terhadapnya dengan berbagai makian, dan Indah hanya bisa tersedu sedu menangis sambil terus meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Hampir satu jam kami ribut, dan tiba tiba mamaku masuk menanyakan masalah kami.

“Semuanya baik baik saja kok mah” sahutku

“Ya sudah, nanti ke bawah ambil platinum card mama, kalian jalan jalan ya” sahut Mama

Akupun merasa tidak enak ribut dirumah, hingga akhirnya aku pergi keluar dengan Indah.

Setelah berputar putar hingga akhirnya sampai ke daerah menteng, kamipun tetap tidak menemukan titik temu, akupun memarkirkan mobil. Tiba tiba Indah bertanya : “Untuk nebus perbuatan aku. Kamu mau apa? Aku tetap diam sampai 10 menitan. Ketika melamun, tiba tiba aku terbayang bayang untuk berselingkuh dengan mbak Fani. Otakku mulai nakal dan berkata dalam hati: “Ah, alangkah nikmatnya jika bisa meremas tetek mbak Fani yang 36C, kontolku dihisap dan dijepit bibirnya yang sexy, menggoyang pantatnya yang sexy, ….”. Ketika aku bengong membayangkan keseksian mbak Fani, tiba tiba sekali lagi Indah bertanya sekali lagi: “biar impas, kamu mau selingkuh dengan siapa. Aku rela kok?
Tanpa dikomando, akupun langsung mengucapkan: “mbak Fani”!
Nampak nampak wajah kaget di muka Indah. Kamipun berdebat, hingga akhirnya Indah terdiam, lalu mengatakan: “Ya sudahlah, nanti aku usahain. Tapi kamu jangan tinggalin aku ya sayang” sahut Indah manja sambil memelukku. Aku rada heran juga dengan anak ini dan keluarganya, namun kunikmati sajalah, bahkan saat ini ia sudah mulai menjilati kontolku diatas mobil. Setelah maniku mau keluar karena dijilati Indah, aku menarik mukanya dan menyemprotkjan maniku di bajunya hingga belepotan. Herannya, Indah hanya mesem mesem sambil mengambil tissue untuk memgelap baju.
Pukul 23.00 WIB aku mengantar Indah sampai di gerbang, sambil berpesan: “Pokoknya, kalau perjanjian kita belum terlaksana, aku nggak mau ketemu”. Setelah Indah masuk, aku segera menancap Wranglerku.
Ini sudah hari ketiga, dan Indah belum juga menghubungiku. Pukul 12.00 WIB Indah menghubungiku via telepon rumah.

“Kamu nanti malam jam 8 an datang aja ke rumah ketemu mbak Fani tuh. Kami semua ke puncak untuk refreshing”. Sahut Indah di telepon

“Mbak Faninya marah nggak? Kamu bilang apa? Dan berbagai pertanyaan cemas lain kutanyakan pada Indah

“Aku tuh pernah nangkep basah mbak Fani selingkuh sama si Ivan supir papa, jadi nggak usah takut. Kayaknya dia juga kesenengan tuh. Nggak usah hot hot ya mainnya” sahut Indah dengan nada ngambeknya.

“Ya udah. Byeee” sahutku.

Waktu menunjukkan pukul 19.00 WIB. Sekarang waktunya kerumah Indah pikirku. Pukul 19.30 WIB aku sampai lebih dulu di rumah Indah. Ternyata si Inem nggak ikut, malah ialah yang membukan pintu untukku.

“Loh, neng Indah kan ke puncak den. Mau gituin saya lagi ya den? Tapi ada neng Fani lo den” kata Inem dengan gaya menggodanya.

“Inemmmm, persilahkan masuk dong kalau ada tamu” teriak mbak Fani lantang

Akupun masuk, duduk, dan baca majalah, namun aku tidak melihat mbak Fani disitu. 15 menit aku menunggu sambil membaca majalah, hingga akhirnya Inem mengantarkan minum dan berbisik: “dipanggil mbak Fani di perpustakaan sebelah tuh den”.

Akupun menyapa mbak Fani, dan ia mempersilahkan aku duduk. Saat itu ia masih mengenakan pakaian kantor berikut sepatu hak tingginya. Mbak Fani ngobrol seputar mobil denganku, hingga akhirnya memintaku mengambilkan catalog mobil yang terletak di bagian atas lemari perpustakaan mereka.
Saat mengambil kursi untuk membantuku mengambil buku itu, mbak Fani membuka lemari dan mengambil sebotol air mineral, 2 buah kapsul berwarna biru dan satu botol kecil.
Ketika aku menaiki kursi dan berusaha meraih buku tersebut, mbak Fani menghampiriku dengan membawa 2 buah pil biru dan air mineral tersebut. Mbak Fani memintaku meminum 2 buah pil tersebut. Akupun meminumnya, dan aku paham, kalau itu adalah Viagra. Setelah aku minum, mbak Fani langsung membuka retseling celanaku saat aku berdiri diatas kursi. Mukanya persis di depan kontolku yang mulai mengeras dan mengacung didepan hidungnya. Mbak Fani tidak memegangnya dengan tangan, tidak mengocoknya, tidak menjilatinya namun langsung menghisap kontolku dalam dalam hingga pipinya yang cubi itu kempot.

“Ahhhhh…..mbak geliiiiiiiiii” sahutku kegelian.

Mbak Fani terus saja menghisap, melepaskannya, menghisap, melepaskannya, hingga akhirnya ia menjilati biji pelerku dengan rakusnya. Kali ini mbak Fani mengocokkan kontolku dari samping dengan bibirnya yang seksi. Keahliannya mengocokkan kontol dengan bibir perlu diacungi jempol. Mbak Fani membuka celanaku sepenuhnya, dan langsung menghampiri pantatku, menjilatinya, dan saat ini tangan kanannya mengocok kontolku dengan lembut dari belakang.

“Mmmmmmm………….enakkkkkk mbakkkk………”sahutku sampai gemetaran

Mbak Fani masih berpakaian lengkap dengan sepatu kantornya, namun sesekali berusaha membuka celana dalamnya, bahkan hingga melorot hanya sampai di bagian paha. Mbak Fani kembali menghisap kontolku dari depan. Aduh, baru kali ini ada hisapan kontol yang membuat tubuhku seperti tersedot semua ke mulutnya.

“Ahhhhhh…..mbakkkkkkk, aku kok keluarnya cepet nih” sahutku sambil gemetar

“Kalau mau keluar, bilang ya” sahut mbak Fani mendesah

“Sekarang mbak” sahutku lagi

“Tahan yaaaaa, sampai mbak bilang semprot” sahutnya terbata bata

Mbak Fani mengeluarkan kontolku dari mulutnya, mengocoknya dengan tangan kirinya dan ia pun naik keatas kursi tempatku berdiri, menarik roknya keatas dengan tangan kanannya, mengangkat kaki kanannya dan meletakkannya di pinggiran lemari, kemudian mengarahkan kontolku ke memeknya.

“sempyyyyyyootttttt……….” Kata mbak fani mendesah

Akupun menyemprotkan maniku di memeknya hingga basah. Herannya, baru kali ini kontolku langsung mengecil saat keluar. Walaupun telah mengecil, mbak Fani tetap menggesek gesekkan kontolku di memeknya.
Mbak Fani memintaku turun, menggandengku ke sofa, mempersilahkanku duduk sementara ia tetap berdiri, memberikanku minuman, dan membelai rambutku seperti anak anak.
Mba Fani memintaku membukakan jasnya, bajunya dan BH nya, dan iapun membuka seluruh pakaianku. Mbak Fani mengambil botol kecil tadi, dan mengoleskan cairan di botol itu mulai dari lutut hingga pangkal pahaku.

“Aduh mbak, sakittttt” jeritku kesakitan karena urutan mbak Fani yang keras itu

“Sabar ya sayang. Biar kita bisa sampai pagi” kata mbak Fani.

Kemudian mbak Fani memintaku beristirahat sejenak dan kemudian ia memanggil Inem.

“Inemmmmmmmmmm…………” teriak mbak fani dengan keras.

Inem pun datang menghampiri mbak Fani. Aku sedikit bingung dengan sandiwara yang akan dimainkan mbak Fani, namun aku tetap saja mengangkang sambil terkaget kaget melihat ukuran kontolku yang menjadi lebih besar dan panjang dari biasanya. Apalagi saat itu melihat Inem dengan kaos pinknya yang memperlihatkan tetek dibalik BH hitamnya serta rok mini dari bahan kaos serta penampilan mbak Fani yang hanya memakai rok, sepatu hak tinggi dan tetek 36 C nya yang montok itu. Ahhhh, nikmatnya hidup ini pikirku.

“Inem, bersihin memek mbak nih” sambil mengarahkan memeknya yang masih setengah tertutup rok kearah bibir Inem.

Inem pun menjilati memek mbak Fani, sambil mbak Fani membelai rambut Inem. 5 menit memperhatikan mereka, tiba tiba maniku muncrat dengan keras hingga berbunyi “creeeeeeetttttt”.
Mbak Fani dan Inem tersenyum bersamaan, sedangkan aku nampak malu malu. Herannya, kali ini kontolku tidak menciut, melainkan tetap seperti tadi.. Sekarang mbak Fani meminta Inem berdiri diatas meja, membuka rok Inem dan menarik jemput Inem tercabut beberapa helai.

“Aduh mbak, ojo dicabutin lagi donggggg” sahut Inem memelas.

“Diem kamu Nem, nanti nggak mbak ajak lagi lo” ancam mbak Fani sambil menjilati memek Inem dengan rakusnya. Tiba tiba mbak Fani berhenti dan kembali membuka laci kembali. Mbak Fani mengambil beberapa sex toys koleksinya. Ia memilih kontol kontolan berwarna merah. Tanpa basa basi, Mbak Fani memasukkan benda itu ke pantat Inem, hingga membuat Inem meringis.

“Ayo Nem” ujar mbak Fani sambil mengocokkan kontol kontolan itu dengan cepat di pantat Inem.

“Ssssshhhhhh….mbak nikmat nikmmmmmmmm……aaahhhh” sahut Inem menanggapi jilatan dan hujaman kontol kontolan mbak Fani.

Adegan mereka berdua membuatku mengeluarkan mani sekali lagi. “creeeeettt…” namun kali ini sudah mulai sedikit yang keluar. Melihat aku telah keluar dua kali, mbak fani dan Inem menghampiriku, lalu menjilati kontolku secara bergantian.

“Ahhhh….mbak….Nem…..mbak……ennnnnn…..mmmmm……akkkk” ujarku

“Nem, bukain rok mbak pake mulut” kata mbak Fani terbata bata sambil menghisap kontolku.

Aku melihat Inem bersusah payah membukanya dengan mulut, hingga akhirnya terbuka juga. Inem langsung mencabut kontol kontolan yang ditancapkan mbak Fani di pantatnya, kemudian Inem pun langsung menancapkan kontol kontolan itu di pantat mbak Fani.

“Kurang ajarrrrrr kamu Nem” kata mbak Fani berteriak.

Namun Inem tetap saja mengeluar masukkan benda itu di pantat mbak Fani, hingga akhirnya mbak Fani menarik tangan Inem kedepan dan menyuruh saya menjilati tetek Inem yang masih terbungkus kaos pink dan BH itemnya

“Ayo den, jilatnya kerasan dikit dong” mohon Inem dengan nada memelas

Mbak Fani menarik badan Inem dan meletakkannya di kontolku. Mbak Fani membantu Inem dengan menaik turunkan tubuh Inem diatas kontolku.
Mbak Fani mengarahkan memeknya kemulutku dan memintaku menjilatinya. Tak sampai 5 menit, maniku muncrat lagi di memek Inem, kemudian Inem menarik memeknya dan memintaku menjilati memeknya, dan sekarang mbak Fani yang memasukkan kontolku ke memeknya. 5 menit kemudian, akupun memuncratkan maniku kembali di memek mbak Fani, hingga kemudian mbak Fani turut minta dijilati memeknya. 2 buah memek ada di depan mulutku saat ini. Mbak Fani dan Inem berebutan untuk dijilati, sambil mereka berdua berciuman dengan mesra diatas kepalaku.
Mbak Fani berbisik dengan Inem, dan kemudian mereka berpelukan, lalu memasukkan kontolku yang masih tetap tegak berdiri di celah celah tetek mereka yang sedang berpelukan. Sambil berpelukan, mereka menaik turunkan badan mereka yang menjepi kontolku. Sesekali mbak Fani meludahi kontolku. Aku tak bisa menahan sensasi yang baru kualami ini, hingga akhirnya maniku munrat kembali. Mbak Fani dan Inem kembali berebutan menjilati kontolku hingga bersih. Kamipun istirahat, kemudian mbak Fani membuka kaos dan BH Inem, lalu menjilati dan menghisap tetek Inem. Hampir 10 menit aku memperhatikan Inem dan mbak Fani saling menjilat dan menghisap.

“AArrrrrrrrrgggggghhhhh…..creeeeet” aku memuntahkan maniku untuk yang kesekian kali karena melihat ulah mereka. Kali ini mbak Fani meminta Inem menjilati pantatnya, dan kemudian mbak Fani memasukkan kontolku ke memeknya. Mbak Fani memacu tubuhnya naik turun dengan cepat di kontolku. Kali ini dengkulku serasa mau copot.

“Mbakkkkk…….ampppp……unnnnnn…..ssshhhhh ahhhh a……..” sahutku terbata bata

“ayo sayaaanggg puaskan mbbbaaa…….kkkk……”sahut mbak Fani terputus putus

Mbak Fani memacu lebih cepat lagi, hingga akhirnya berusaha menarik kepalaku, menjambakku, menciumiku dengan buas, dan kemudian menghantamkan tubuhnya dengan keras di kontolku.
“Ahhhhhhhhhhhhh…………..” sahut mbak Fani sambil memelukku erat erat hingga akhirnya terkulai lemas diatas tubuhku.

“kamu hebat saying” ujar mbak Fani sambil mencium mata kananku, lalu ia berbalik menuju kursi dan duduk. Heran, kenapa kontolku masih saja terus berdiri, padahal sudah berkali kali memuntahkan mani.

“Sekarang jatah kamu Nem” kata mbak Fani pada Inem

Tanpa basa basi, Inem pun memacu tubuhnya seperti mbak Fani tadi, namun tak sampai 5 menit Inem telah terkulai di tubuhku. Mbak Fani berdiri menghampiri pantat Inem dan kontolku yang masih menyatu, lalu menjilatinya. Inem mulai menaik turunkan tubuhnya kembali diatas kontolku. Perlahan lahan Inem menaik turunkan tubuhnya dikontolku, sambil sesekali memutarnya, hingga akhirnya iramanya semakin cepat seperti tadi. Sudah 10 menit aku digoyang Inem, dan dijilati mbak Fani, namun mereka belum juga berhenti.

“ayo den, akhhhhhhhhhhhhhhh….saya wes keluar den” ujar Inem sambil berdiri dan mencabut memeknya dari kontolku.

Mbak Fani dan Inem menjilati kontolku yang masih tetap mengacung dan besar. Aku benar benar lemas, namun kontolku tak mau mengecil. Mbak Fani dan Inem pun akhirnya memahamiku.

“Aku capek mbakkkk” kataku pada mbak Fani.

Kamipun beristirahat selama 30 menit, dan mbak Fani meminta Inem mempersipkan makan malam. Dengan jalan yang malas malasan, Inem pun berlalu mempersiapkan makanan. Mbak Fani mengurutku dengan lembut.

“Mbak pijit ya sayang” ujar mbak Fani dengan lembut di telingaku sambil menjilati kupingku.

Aku dan mbak Fani tertidur di atas sofa selama 1 jam, dan terbangun saat Inem sedang melap badan kami dengan handuk hangat. Herannya, kontolku masih saja mengacung dan keras. Inem mempersilahkan kami makan. Dalam keadaan bugil, kami menuju meja makan. Mbak Fani tersenyum memperhatikan kontolku yang masih terus mengacung di bawah menja makan kaca milik mereka. Sesekali mbak Fani yang duduk diseberangku memainkan kakinya di kontolku. Dan yang paling kurang ajar adalah tingkah Inem yang masuk ke kolong meja makan dan menjilati kontolku. Buat apa marah, justru nikmat sekali kurasakan. Bahkan sesekali mbak Fani memasukkan jempol kakinya ke pantat Inem.
Selesai makan, kami beristirahat dan menonton CNN selama 1 jam di ruang keluarga. Mbak Fani meletakkan kepalanya dipangkuanku, dan Inem masih terus menjilati biji pelerku dan mengelus elus pahaku sambil menonton TV. Kali ini, mbak Fani hanya meminta Inem duduk diam disofa untuk masturbasi. Kemudian mbak Fani memintaku terlentang di karpet. Seluruh tubuhku dijilati mbak Fani hingga basah, bahkan sesekali ia meludahi tubuhku dan menjilatnya kembali. Aku sungguh terpana melihatnya. Wanita secantik dia, tetek sebesar itu, kulit yang putih seperti ini, rambutnya yang sering melambai lamai saat mengentotiku, bibir sexy, namun mau melayaniku dengan luar biasa seperti ini.

“Mbak masukin lagi ya sayang” ujar mbak Fani sambil mengelus pipiku.

Dengan hati hati, mbak Fani berjongkok diatas kontolku. Ia memasukkan kontolku dengan perlahan ke memeknya. Setelah beberapa kali naik turun, mbak Fani mencabutnya, dan pergi ke arah perpustakaan. Aku tetap tergeletak di karpet, sedangkan Inem masih asyik mendesah desah sendirian sambil memainkan memeknya di sofa.
Mbak Fani kembali membawa benda kecil. Mbak Fani memakaikan ring plastik berduri di kontolku. Mbak Fani kembali jongkok, kakinya tak menyentuh pinggulku, dan dengan hati hati ia memaksa kontolku masuk. Mbak Fani menaik turunkan tubuhnya diatas kontolku, memutar mutar memeknya di tubuhku dengan cepat.

“aaahhhhhh mbakkkk ennnn….aaaa……kkkkk” sahutku meringis.

Mungkin inilah goyangan madura itu pikirku. Selama 20 menit aku telah keluar 3 kali dengan goyangan mbak Fani itu. Akhirnya mbak Fani pun lemas, terkulai dan menciumi bibirku.

“Ma kasih saying. Mbak puas sekali. Kamu hebat” kata mbak Fani

“Iya mbak, aku juga puas. Ma kasi ya mbak” sahutku hingga kemudia aku tertidur.

Kami dibangunkan, dan aku sungguh kaget karena yang membangunkanku adalah Mamanya Indah, Evi dan mbak fani. Aku melihat mbak Fani tertidur pulas di depan kontolku, dan Inem diatas paha mbak Fani. Aku melihat ada yang terganjal di pantatku. Rupanya Inem memasukan kontol kontolan mbak Fani di pantatku. Mama mencabutnya dengan keras, dan melemparkannya ke Inem. Inem pun kaget, demikian halnya dengan mbak Fani. Berhubung baju kami ada di perpustakaan, akhirnya kamipun disidang dalam keadaan bugil di ruang tamu. Herannya, kontolku masih saja menacing dan keras. Entah obat apa yang diberikan mbak Fani padaku.
Setelah menginterogasi kami, akhirnya terbongkarlah semua skandal. Mbk Fani membongkar aksiku di puncak dengan Evi, Mbak Fani membongkar paksaan Indah terhadapnya, dan aku membongkar kelakuan Indah dengan Andy gundul dan Sheila.
Mama terdiam, hingga akhirnya ia mengambil handphonenya.

“Indah, kamu dan Evi pulang ya ke Jakarta. Papa suruh tunggu aja di puncak, nanti mama yang jemput” ujar mama di handphone dan kemudian menutupnya

Bersambung PART IV ….

antara Indah, adiknya, Inem pembantunya, kakaknya dan Mamanya4

Filed under: RAMAI-RAMAI

“Mah, papa ikut anak anak balik ya. Bali baru saja nelpon papa dan minta rapat mendadak” ujar Papa lewat handphone.

“Iya Pah, bye” sahut mama sambil mematikan speaker phone 9300 nya, lalu mematikan handphone.

Akhirnya Mama meminta kami mengenakan pakaian. Kamipun segera berhamburan ke perpustakaan di sebelah rumah.

“Aduh mbak, gimana nih. Kontolku masih tegang dan retsleting celana nggak bisa ditutup” sahutku memelas pada mbak Fani.

Mbak Fani berusaha membetulkan posisi kontolku yang tidak bisa ditutup oleh celana tersebut, namun tetap saja tak bisa ditutupi oleh celana ataupun kaosku. Mbak Fani pun keluar perpustakaan, dan tak lama kemudian kembali menghampiriku.

“kata mama, pas papa pulang kamu ngumpet aja di kamar Inem. Kamu disuruh nunggu, sampai papa berangkat ke bali. Mama mau ngomong sama kita semua. Tenang aja, papa nggak pernah keruang belakang tempat kamarnya Inem kok.” ujar mbak Fani sambil sesekali mengocokkan kontolku dengan tangan kanannya.

Tepat pukul 20.00 WIB papa dan semua sampai dirumah, namun sejak jam 19.00 WIB aku telah diminta menunggu di kamar Inem. Aku sendirian di kamar Inem yang berukuran 3×3 m itu. Kunyalakan radionya Inem, dan tanpa sadar aku tertidur. Tepat pukul 23.00 WIB aku dibangunkan oleh Inem.

“Den, dipanggil ibu di ruang tengah tuh” sapa Inem ketakutan.

Kulihat kontolku, masih saja mengacung dan keras. Aku kebingungan dengan hal yang satu ini. Sambil berusaha membetulkan kontolku, tiba tiba Inem mesem mesem dan berkata: “Aduh Den, jangan harap jadi kecil sebelum 2 hari. Dulu aja mas Ivan supir bapak sampai cuti 2 hari karena kontolnya dibuat keras seperti ini sama mbak Fani ”.

“Ya sudahlah Nem, ditutup sama kaos saja” sahutku kebingungan.

Kamipun menuju ruang tamu. Semua tertunduk malu, sedangkan mama hanya termenung melihat semua anak gadisnya. Aku dan Inem dipersilahkan duduk oleh mama, namun semua anak gadisnya masih saja tertunduk. Kamipun diinterogasi oleh mama. Satu persatu menangis, termasuk mama. Karena tak bisa lagi menahan amarah, akhirnya mama berteriak dengan keras: “SUNDALLLLL……………”
Suasana ruangan menjadi semakin hening dan mencekam. Mama memandangi kontolku yang masih menonjol namun setengah tertutup kaos.

“itu kamu kenapa”? Tanya mama sinis sambil menunjuk kontolku

Aku hanya terdiam tak bisa menjawab, hingga akhirnya mbak Fani angkat bicara, diikuti lirikan Indah dan Evi. Mendengar penjelasan mbak Fani, Indah berusaha menutup mulutnya karena tertawa.

“kamu jangan cengengesan Ndah” ujar mama marah kepada Indah.

Mama pun meminta satu persatu anak gadisnya menjelaskan semua yang terjadi. Mulai dari Evi, Indah, Mbak fani, bahkan Inem. Mama nampak kaget mendengar penjelasan mereka yang lebih spesifik itu.

“Jadi, kalian ini benar benar maniak seks ya. Mama sedih sekali mendengar dan melihat ini semua” ujar mama sambil meneteskan air mata sekali lagi.

“Baiklah kalau demikian. Mama mau keluar sebentar, dan jangan ada diantara kalian yang melakukan itu lagi. Semuanya tidur dikamar masing masing”. Ujar mama sambil menarik tanganku ke ruangan belakang, lalu memintaku masuk dikamar Inem, kemudian mama keluar sambil mengunci pintu kamar dari luar.

Tepat jam 01.00 pagi mama membangunkan aku yang tertidur pulas di kamar Inem. Lagi lagi aku melirik kontolku yang masih mengacung dan keras.
Mama mengajakku ke ruang makan, dan mempersilahkanku menikmati makanan yang telah disajikan di meja. Mama pun memanggil semua anak gadisnya. Selesai makan, kami kembali diminta ke ruang tamu. Mama meminta kami semua duduk di karpet, sedangkan mama duduk diatas sofa. Kami semua kaget, karena saat itu mama melepaskan jilbabnya. Ah, cantik sekali mama jika tanpa jilbab. Terpampang tulang pipinya yang sexy, kulit putihnya, dan payudaranya yang seperti pepaya. Biasanya tetek itu tertutup jilbab, namun akhirnya dapat terlihat dengan jelas dibalik bajunya yang ketat. Mama pun melepaskan kacamatanya, jam tangannya, lalu menyilangkan kakinya dan kemudian menepukkan tangannya dengan keras beberapa kali. Tiba tiba dari teras depan masuk seorang laki laki dan perempuan yang telah telanjang bulat dihadapan kami.

“Saya meminta kalian menari dan bermesraan dihadapan kami, namun jangan sekali kali menjamah satu orangpun dari kami. Silahkan dimulai” ujar mama ketus kepada kedua orang tersebut.

Kami semua tertunduk malu. Tiba tiba dengan suara lantang mama meminta kami memperhatikan sepasang kekasih yang meliuk liukan tubuhnya sambil sesekali berciuman mesra. Setelah 30 menit berlalu, aku melihat posisi duduk masing masing kami yang mulai berubah ubah karena memperhatikan kedua orang yang bermesraan di depan kami. Tanpa sadar, Indah terlebih dulu memberanikan diri memegang payudara kanannya. Memutarnya, meremasnya, dan sesekali berganti ke payudara kirinya yang masih terbungkus kaos, namun tak memakai BH. Evi hanya bengong, sambil sesekali menatap kami satu persatu. Lain halnya dengan mbak Fani, ia hanya menatapi mama dengan muka penuh kebingungan.

“Kenapa kamu Fani. Nggak usah pura pura alim lah. Perhatikan saja mereka, dan lakukan seperti yang kamu biasa lakukan” tantang mama dengan nada sinis kepada Fani.

Tidak tau karena kesal dengan amarah mama, atau karena sudah horny, namun tiba tiba saja mbak Fani meraih kontolku,mengocoknya perlahan lahan sambil melirik takut ke mama. Evi memperhatikan aku dan mbak Fani, sedangkan Inem dan Indah masih terus memperhatikan kedua orang yang menari dan bermesraan dihadapan kami. Aku mulai melihat Indah mulai memasukkan tangannya lewat bawah kaos untuk memegang teteknya.

“Ayo, kok kalian hanya segini aja? Katanya maniak seks”? ujar mama ketus

“Sekarang buka baju kalian semua” tambah mama dengan suara lantang

Kami bingung mendengar ucapan mama. Kami pun saling pandang menandakan kebingungan dengan perintah mama tersebut.

“Ayo buka bajunya semua” kata mama dengan tegas sekali lagi.

Kamipun mulai melepaskan pakaian kami satu persatu, hingga akhirnya semua berbugil ria. Yang membuatku bingung adalah 2 buah bekas kecupan di payudara Evi. Seingatku, aku tidak pernah membuat “duatanda mata” itu di payudaranya. Ah, sudahlah pikirku. Tiba tiba penari lelaki bertanya pada mama: “kok tante nggak ikutan bugil”

“Kurang ajar kamu. Kamu saya bayar untuk menari, bukan nasehati saya” ujar mama marah sambil kembali memerintahkan kami untuk saling pegang pegangan.

Karena Evi dan Inem masih saja bengong, akhirnya mama minta Inem meraba raba Evi. Evi pun kaget, namun nampak menikmatinya. Mama memanggilku sambil membuka plastik yang ada di meja. Mama mengeluarkan salep, obat obatan dan air mineral. Mama mengolesi ujung pahaku dengan salep, dan mengurutnya lembut. Sesekali kuperhatikan pandangan liar mama ke kontolku, namun ketika aku memperhatikan, mama segera membuang muka. Aku disuruh duduk di sofa oleh mama, dan Inem dan semua anak gadisnya meminum pil yang diberikannya. 20 menitan kami disuruh duduk terdiam di sofa, dan mama memberikan segepok uang kepada pasangan penari tersebut dan mempersilahkan mereka berpakain dan pulang. Setelah menerima uang, dengan nakalnya penari pria meremas tetek mama dan kemudian berlalu bersama pasangannya.

“bangsat” kata mama berteriak diikuti gelak tawa kami semuanya.

Aku terheran, karena kontolku tiba tiba berubah warnanya menjadi kemerahan, dan aku seperti merasakan kekuatan baru di tubuhku. Disisi lain, aku melihat duduk Inem dan para anak mama yang seperti orang gatel.

“Sebentar lagi ya” kata mama misterius sambil mesem mesem.

“Mah, aku pengen ke toilet nih” ujar mbak Fani, diikuti Inem, Indah dan Evi. Semua anak perempuan mama berhamburan ke toilet.

“Kalau lihat saya, kamu terangsang nggak” Tanya mama padaku ketika ditinggalkan oleh semua putrinya dan pembantunya.

Aku hanya bisa terdiam dan tertunduk. Saat tertunduk, aku seperti kaget melihat urat kontolku yang membesar di sekitar batangnya.

“Kenapa, bingung ya lihat itu kamu jadi seperti itu”? Tanya mama dengan nada sinis, sambil menunjuk kontolku.

“Sini ditambahin, biar semakin besar lagi” sahut mama.

“kesini kata saya” teriak mama sekali lagi.

Mama mengambil salep itu lagi, kemudian mengoleskannya di kepala kontolku. Kepala kontolku terasa dingin setelah diolesi salep itu. Kemudian mama memintaku meminum kapsul. kapsul itu berwarna coklat dan putih. Setelah itu mama mempersilahkanku duduk. 5 menit kemudian, aku terasa ingin pipis juga, hingga akhirnya aku pamit ke toilet. Mama hanya mengangguk mempersilahkan.
Sesampainya di toilet, aku kaget juga melihat Inem yang sedang dijilati, dikobel kobel memeknya, dihisap putingnya, diraba raba perutnya secara berebutan oleh Indah, mbak Fani dan Evi. Karena mereka tidak melihatku, akhirnya aku memutuskan pipis di kamar mandi belakang. Di kamar mandi aku memperhatikan kontolku yang sangat keras dan berurat urat, berwarna merah padam, dan bagian kepalanya menjadi lebih besar dari biasanya. Apa ini, pikirku bingung? Akupun seperti merasakan dorongan seksual yang hebat sekali, dan tanpa sadar mengocokkan kontolku sendiri secara perlahan.

“Kenapa pipis disini” kata mama lembut, namun membuatku kaget.

Mama memegang kontolku erat erat, dan menariknya seperti menarik belalai gajah. Karena tak bisa mengendalikan diri, aku memberanikan diri meremas pantat mama yang mulai turun itu.

“Kamu jangan kurang ajar ya” ujar mama sambil melepas kontolku dan menamparku.

Kali ini mama menarik tanganku, namun lagi lagi aku tak bisa mengendalikan dorongan seksual yang begitu luar biasa, hingga kali ini aku memberanikan diri meremas payudara kiri mama dari samping.

“Kamu ini memang bandel ya” sahut mama sambil menamparku sekali lagi.

Mama pun memintaku mengikutinya. Rupanya mama telah meminta semua putrinya dan Inem ke kolam renang di samping rumah. Alangkah kagetnya aku kali ini, karena kali ini aku melihat mbak Fani telah menjilati memek Evi dengan buasnya. Indah menghisap tetek Inem sambil meraba raba memek Inem.

“Lihat buasnya mereka semua. Saya tidak menyalahkan kamu karena telah menggauli mereka semuanya. Ini memang salah saya” kata mama sambil meneteskan air mata

“Ini kali terakhir kamu main dengan tiga putriku, karena saya akan bawa mereka ke Sydney dengan saya untuk menetap disana. Saya juga telah memberitahukan ini dengan mereka. Jadi, kali ini nikmati saja sepuasnya” ujar mama tegas.

“Kalau gitu, aku boleh dong gituan juga dengan mama” sahutku memberanikan diri.

Aku memang tergiur untuk menikmatinya, sejak ia membuka jilbabnya dan memperlihatkan tetek pepayanya yang sampai saat ini masih tertutup baju ketatnya. 10 menitan aku tidak mendapatkan jawaban. Akupun tak berani lagi meremas atau memegang mama, karena takut ditampar lagi.

“Saya tetap tidak mau. Kenapa sih nafsu lihat saya? Sana, main saja dengan mereka semua” ujar mama.

Tiba tiba semua putrinya dan Inem menghampiri aku dan mama. Tanpa malu malu, mbak Fani langsung memegang kontolku. Indah meraba raba pantat mbak Fani, dan Evi berciuman sangat mesra sambil mengadu lidahnya dengan Inem. Aku melupakan mama, dan menikmati sensansi yang sangat baru dan luar biasa ini.

“Den, Inem mau dong dimasukin” sahut Inem memelas.

“Enak aja kamu Nem, aku dulu ya sayang” sahut Indah sambil memasukkan memeknya di kontolku

“Auuuwwww….kok jadi besar begini sih say” kata Indah sambil terus berusaha memasukkan kontolku kememeknya.

Mbak Fani berdiri dibelakangku, kemudia meminta Evi mendorong tubuh Indah supaya terdorong kuat. Sedangkan Inem jongkok di antara kontolku dan memek Indah sambil berusaha menjilatinya.

“Ahhhhhh…. Dorongnya pelan pelan dong Vi” ujar Indah kepada Evi yang mendorongnya dari belakang.

Karena merasa terlalu lama, mbak Fani membalikkan badanku kehadapannya dengan kasar. Mbak Fani menggenggam kontolku dengan keras, mendorongku ke tembok dekat pintu, lalu mendorong tubuhnya dengan kuat untuk memaksa kontolku yang besar masuk ke memeknya.

“akkkkhhhhhh…….besar amat sayang” teriak mbak Fani sambil terus memutarkan pantatnya, mendorong, memutarnya, mengangkat kaki kanannya sedikit, hingga akhirnya kontolku terbenam sepenuhnya di memeknya. Mbak Fani menarik tubuhnya perlahan lahan, mendorongnya, menariknya, hingga membuat kami merasakan kenikmatan.

“Terusss mbbb….akkkk…..” sahutku lembut

“mmmm…..ayo sayang…..” seru Evi menjilati kontolku dari bawah.

“creeettttttt….” Kontolku membasahi memek mbak Fani dan mulut Evi. Aku langsung berjalan menuju Indah, kuhujamkan kontolku dengan kasar di memek Indah.

“Ahhhh sayang….ennna kkkkk ….ennnakkk ….”ujar Indah terbata bata

“Ayo sayang ….mmmm” sahutku pada Indah sambil memutar mutar kontolku dengan cepat.

“Akhhhhhh……….enakkkk” kata Indah sambil terkulai lemas dipundakku.

Akupun mencabut kontolku dari memek Indah, dan meminta Evi menungging. Kuludahi pantat Evi, kucolok pantatnya dengan perlahan, lalu kusodokkan kontolku dipantatnya.

“Ahhhhhhh kakakkakakkk..kkkk…kakkk….sakitttttt” teriak Evi.

Aku tak memperdulikannya lagi. 3 menit aku bermain di pantat Evi dengan buas, hingga akhirnya kumuncratkan maniku di pantatnya. Maniku menetes keluar bercampur darah dari pantatnya. Lalu kucabut kontolku dan duduk di kursi. Evi nampak kesakitan dengan pantatnya, hingga mbak Evi melap pantat Evi, kemudian menjilatinya dengan rakus. Inem menghampiriku, dan tanpa permisi memasukkan kekontolku ke memeknya. Inem menggoyangkan memeknya dikontolku. Inem memutarnya, menaikkan, menurunkan hingga gerakannya semakin cepat. 5 menit Inem menggoyangku, lalu berkata: “kalau mau keluar, bilang ya den”

Aku tidak mempertanyakan alasan Inem yang memintaku memberitahukannya jika ingin keluar, hingga akhirnya aku mulai merasa ingin memuntahkan maniku.

“sekarang mau keluar Nem” sahutku cepat, dan Inem memperlambat gerakannya.

“Mbak Indah sini” panggil Inem kepada Indah yang sedang asyik menjilati memek Evi dan mbak Fani secara bergantian.

Tangan kiri Inem menuntun Indah jongkok bersamanya didepan kontolku sambil tangan kanannya mengocok kontolku dengan cepat.

“cretttt…..” berceceranlah maniku dimuka Indah dan Inem.

Indah dan Inem menarikku dan menghampiri mbak Fani dan Evi yang sedang asyik memainkan lidah mereka sambil saling meremas tetek. Setelah menghampiri mereka, Indah berbisik pada mbak Fani, Evi dan Inem, hingga akhirnya mereka berempat duduk berderet dan mengangkang membuka memek mereka. Indah memberikan komando, agar aku mengentoti kami satu persatu secara bergantian mulai dari yang paling kiri.
Aku mulai memasukkan kontolku di memek Evi. Tangan kanan Evi merangkul pantatku, seakan memaksaku menghujamkan kontol dalam dalam

“ayo kakak, lebih cepat lagi” ujar Evi bernafsu

Kuayun kontolku dengan cepat dimemek Evi, namun tiba tiba Indah menarik tanganku, meraih kontolku, memasukkannya ke memeknya, namun kali ini indahlah yang menaik turunkan memeknya.

“Ahhhhh…..sayang, kamu sodok juga dong” ujar Indah memelas.

Aku mengeluarkan mani dimemek Indah di menit kelima, lalu mbak Fani menarikku dan ia membalikkan badannya, menungging, lalu memintaku memasukkan kontolku ke pantatnya. Kepala mbak Fani tertempel ke tanah, sedangkan kedua tangannya mengempit pantatnya yang telah menjepit kontolku. Kusodok pantat mbak Fani dengan kasar hingga membuatnya meraung raung.

“aduh…. Aduhhhh…. aduh …..” jerit mbak Fani lantang

Aku tak memperdulikannya, namun kontolku semakin dijepit lebih hingga akhirnya kumuntahkan maniku di pantatnya. Mbak Fani langsung membalikkan tubuhnya, dan mengangkang kembali, lalu memintaku menghujamkan kontolku di memeknya. Namun di luar dugaan, Inem menarik lenganku dan memaksa kontolku masuk di memeknya. Inem menggoyangku dengan lembut selama 5 menit, hingga akhirnya aku mencabut kontolku, dan memuntahkan maniku ke arah mbak Fani.
Sekarang Evi berdiri dan menarik tanganku, kemudian memintaku kembali mengentotinya. Kali ini Evi mengikuti gaya Indah. Evi memajukan tubuhnya, bahkan memutarnya hingga membuatku kegelian.

“Ahhhh Eviiiii eeenn….aaaaakkkkkkkkkk sayang” ujarku terbata bata

Indah, Inem dan mbak Fani mengelilingi aku dan Evi. Sekarang aku memacu kontolku dengan cepat di memek Evi. Mbak Fani menjilati tetek kiri Evi. Indah meremas remas tetek kanan Evi, dan Inem menjilati pantatku dari belakang.

“Ahhhhhhhhh……aku mau keluar sayang” ujar Evi berteriak

Evi terkulai lemas menandakan ia telah keluar, namun aku terus memacu kontolku dengan cepat sambil sesekali menggoyangnya. Evi terkulai tak berdaya sambil mendesis seperti ular.

“Kalau mau keluar, bilang ya sayang” bisik mbak Fani lembut ditelingaku.

“Aku udah mau keluar mbak” sahutku

Mbak Fani pun meminta Indah dan Inem jongkok bersama sambil mengatakan: “semprot muka kami sayang”.

Kutarik kontolku dari memek Evi, dan kusemprotkan di muka Inem dan Indah. Ketika ingin menyemprotkan mbak Fani, kontolku sudah tak bisa mengeluarkan mani lagi. Akhirnya mbak Fani menjepitkan bibirnya dari samping kekontolku. Ia mengocok kontolku dengan gaya khasnya.

“Akkkhhhhh….gelllllllllliiiiiii mbak” sahutku sambil merinding

Mbak Fani melepaskan bibirnya dari kontolku, lalu mengocoknya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya meremas remas pantatku.

“Ayo sayang, semprot mbak dong” ujar mbak Fani terbata bata.

Aku melepaskan tangan mbak Fani yang sedang mengocok kontolku, dan meminta Indah yang mengocokkannya, dan meminta mbak Fani memejamkan matanya. Sambil mengocok kontolku, Indah menghisapi putting tetekku. Semakin lama, Indah semakin kencang dan kasar mengocok kontolku, hingga akhirnya kumuntahkan maniku di mata mbak Fani. Kali ini kuminta Inem menjilati maniku di mata mbak Fani. Inem pun menurutinya, dan menjilati mata mbak Fani yang berlumuran maniku. Aku nampak kelelahan, demikian halnya dengan Indah dan Evi yang telah terkulai lemas. Akhirnya kami memutuskan untuk masuk kedalam kolam berenang bersamaan.
5 menit didalam kolam renang membuat badan kami segar kembali. Indah mulai naik dari kolam berenang, diikuti Inem, lalu Evi. Ketika mbak Fani ingin turut naik, aku menarik tangannya, lalu menyenderkan tubuhnya di tangga kolam. Aku mengangkat kaki kanan mbak Fani, lalu meletakkannya di tangga, dan memasukkan kontolku ke memeknya. Aku berciuman sangat mesra hingga mempermainkan lidah kami, bahkan sesekali mbak Fani menggigit lidahku.

“Ayo sayang, goyang mbak Fani” ujar mbak Fani dengan manja.

Kumasukkan kontolku perlahan, hingga akhirnya kupacu dengan cepat. Mbak Fani mendesah desah seperti orang kesurupan, hingga akhirnya kuciumi bibirnya. Mbak Fani mendorong tubuhku, hingga kontolku terlepas dari memeknya, namun ia menarik tanganku kembali, dan sekarang mbak Fanilah yang mendorongku ke tangga kolam. Mbak Fani mengangkat kaki kirinya, memasukkan memeknya ke kontolku, lalu memutar tubuhnya hingga memacu tubuhnya dengan cepat. 10 menit kami bergumul di tangga kolam, hingga akhirnya aku menjambak rambut mbak Fani, merangkulnya erat erat hingga memelukku rapat dan kumuntahkan maniku di memeknya. Aku dan mbak Fani berpelukan, lalu kukecup bibirnya dengan lembut.
Indah memberikan handuk padaku dan mbak Fani. Kami berjalan ke arah Evi dan Inem yang terkulai di kursi panjang. Mbak Fani dan Indah duduk berpangkuan. Tiba tiba kulihat mama yang masih duduk sambil melipatkan tangannya dan menyilakan kakinya.
Melihat mama, aku memberanikan diri untuk bertanya pada mbak Fani.

“Mbak, boleh nggak aku ngentot sama mama?” ujarku pelan dan penuh rasa cemas.

Mbak Fani tidak menjawab, namun Indah berkata: “kalau berani, coba aja”

Akupun berlalu menuju mama sambil mengocokkan kontolku dengan cepat, sambil diiringi lirikan mata mbak Fani dan tatapan tajam Indah. Aku tiba dihadapan Mama, dan mama melepaskan tangannya yang berlipat sambil nampak kebingungan menghadapi aku yang datang menghampirinya sambil mengocok kontolku . Kali ini aku tidak memegang, namun aku terus mengocokkan kontolku dan mengarahkannya ke baju ketat mama.

“Eh…eh…eh… kamu mau ngapain” ujar mama kebingungan melihat ulahku

Mama berusaha berdiri, namun aku mendorongnya lembut hingga ia duduk kembali di kursi. Mama meronta ronta sambil teriak memanggil nama nama anaknya serta Inem. Indah, mbak Fani, Evi disusul Inem berlarian menghampiriku dan mama.

“Fani, tolong mama mau diperkosa nih” teriak mama lantang.

“Indah, tolong mama dong. Evi, Nemmmmmm” teriak mama lagi dengan nada yang lebih keras.

Rumah besar mereka memang membuat tetangga tidak bisa mendengar kami. Mama terus berteriak, namun aku terus mengocokkan kontolku dengan lembut, hingga akhirnya kumuncratkan maniku di baju ketat mama.

“aduhhh, gimana sih ini…. Kamu tuh…..” ujar mama sambil melap maniku dari bajunya.

Indah, Evi dan Inem hanya terdiam, dan tiba tiba mbak Fani mengeluarkan suaranya dengan lembut: “kalau mama mau, nggak apa apa kok mah. Kami nggak ngadu deh ke papa. Lagian, tadi aku lihat mama meremas remas payudara mama kok”

“ngaco kamu Fani” ujar mama sedikit geram

Aku membelai belai kontolku, dan kali ini kuberanikan untuk mengarahkannya ke memek mama yang masih terbungkus rok. Mama mendorongku, lalu kembali melipatkan tangannya. Kali ini Indah yang mengocokkan kontolku dengan lembut sambil mengarahkannya ke baju ketat mama, dan mbak Fani membisikan sesuatu di telinga mama. Aku tidak mendengar bisikan mbak fani, namun akhirnya mbak Fani menarik tanganku, kemudian membimbingnya ke arah mama, namun mereka semua mundur 2 meter dari kursi mama. Aku terdiam 5 menit dihadapan mama sambil mengocokkan kontolku dengan lembut.

“Kok ngocoknya pelan, yang cepat dong. Muntahkan lagi di baju mama” ujarnya sinis sambil melepaskan lipatan tangannya.

Ahhh, luar biasa sekali pikirku. Aku tak tau apa yang dibisikkan mbak Fani pada mama. Aku hanya mengocokkan kontolku lebih cepat, hingga sekali lagi kumuntahkan maniku di baju mama. Aku mengurut kontolku dengan keras, hingga mengeluarkan tetes mani terakhir, setelah itu aku terdiam 5 menit memperhatikan kontolku yang masih saja mengacung dan keras. Aku memandang mama, demikian sebaliknya.

“Kok, cuma dibaju” kata mama nakal

Akupun segera meremas tetek pepayanya yang masih terbungkus BH dan baju ketatnya itu, lalu mama membisiki telingaku: “saya nggak suka yang kasar kasar. Yang lembut ya”

Akupun menarik lembut kepala mama kearah kontolku, kemudian memintanya menjilatinya. Mama mengocokkan kontolku terlebih dahulu, lalu menjilatinya, menghisapnya, hingga mengocokkannya kembali. Aku mencabut kontolku dari mulutnya, kemudian memuncratkan maniku sekali lagi di bajunya.

“Aduh, kamu kok suka muncratin disini sih” kata mama menggoda

Akupun membuka bajunya dengan lembut sambil meletakkan tangan kanannya dikontolku, lalu ia mengocokknya. Aku sungguh kaget melihat tetek mama yang indah. Bentuknya memang seperti papaya, jatuh kebawah bergelayutan, namun puttingnya masih berwarna kemerahan. Aku meremas teteknya dengan lembut, hingga akhirnya aku melepaskan kontolku dari tangannya, dan mengarahkannya ke tetek kanan mama. Kumainkan kontolku di putingnya, lalu kuminta mama meludahi belahan teteknya. Aku meminta mama maju sedikit kedepan, lalu kuletakkan kontolku dibelahan dadanya, kemudian kujepit dengan tetekanya yang kurapatkan dengan tangan kiri dan kananku. Aku mengentoti teteknya saat ini. 5 menit kuentoti tetek mama, hingga akhirnya aku memuncratkan mani didagunya. Mama memintaku membersihkan mani didagunya dengan lidahku. Aku menunjukkan keberatan, namun mama memaksaku. Akhirnya aku kembali meletakkan kontolku di belahan teteknya, menjepitnya, lalu kukocokkan lagi seperti tadi. Mama melepaskan kontolku dari jepitan teteknya, dan memintaku menuruti kemauannya. Dengan berat hati, kujilati maniku didagu mama, hingga kemudian ia menjambakku dan meghisap mulutku hingga menyedot semua maniku yang tercecer di lidahku. Mama memintaku menjulurkan lidah, dan ia menghisapnya seperti kontol.

“Sekarang, hisap putting mama, lalu buka rok dan celana mama ya” kata mama lembut.

Kuhisap putingnya kirinya, kuangkat tetek kanannya hingga menggelantung lalu kuremas remas. Mama mendesis seperti ular sambil berusaha meraih kontolku.

“Ayo say, sekarang ke sini mama” ujar mama sambil mengelus elus memeknya yang masih terbungkus rok dan celana dalam.

Akupun jongkok dihadapan perutnya, kujilati pusarnya sambil memintanya mengangkat tubuhnya agar aku bisa menaikkan roknya. Kuangkat roknya hingga menutupi perutnya, kemudian kubuka kakinya dan kugigit memeknya yang masih terbungkus celana dalam putih bersihnya.

“kamu heeee….bat sayangggggg” sahut mama terbata bata

“Ayo dong, lepas celananya” sahutnya lagi sambil membelai rambutku seperti anak kecil.

Kubuka celana dalam mama hanya sampai di betis, lalu kuraba pahanya hingga pangkalnya. Mama nampak merinding dan mendesis keenakan. Sekarang kuraba memeknya yang telah basah. Kurentangkan kakinya dengan kasar hingga celana dalamnya yang di betis robek. Kubuka seluruh celana dalamnya yang telah robek itu lalu kuciumi.

“Sayang, sudah nggak tahan nih. Ayo dong jilatin” ujar mama sambil menggoyang goyangkan tetek kanan dan kirinya.

Kujilati memek mama yang sudah sedikit lebar itu. Mama memintaku memasukkan lidahku kememeknya, hingga akhirnya tangan kanannya menempelkan kepalaku ke memeknya hingga membuatku tak bisa bernafas.

“Kita ke kolam ya” ujar mama lembut sambil menggandeng tangan kananku

Sesampainya di kolam, mama memegang besi tangga kolam, lalu menungging. Mama mengarahkan kontolku di pantatnya. Kuhujamkan kontolku hingga terbenam, dan mama meringis. Mama memintaku untuk membenamkan kontolku dipantatnya lalu menyuruhku diam saja. Tiba tiba ia memberikan kedua tangannya padaku untuk dipegang. Dalam posisi menungging, kontolku terbenam di pantatnya dan tangan kami berpegangan, tiba tiba mama memutar pantatnya perlahan lahan, hingga akhirnya berputar dengan cepat sekali. 2 menit pertama aku menyemprotkan maniku di pantatnya. Menit ke 5 aku memuntahkan mani yang kedua. Menit ke 10 kumuntahkan yang ketiga hingga maniku menetes di lantai.

“Mahhhh…..ampuuuuuunnnnn……..nikkkmaattt….beett…..t tuuullll” kataku sambil meringis

“ahhh….ahhhhh….ouuuuhhhhhhhhhggggghhhhh….” sahut mama sambil melepaskan tanganku dan mencabut kontolku dari pantatnya.

Mama langsung menghisap kontolku, mengocoknya dan sekarang ia menyenderkan pantatnya dibesi kolam, lalu memasukkan kontolku di memeknya sambil berkata: “tadi kan mama yang kerja dan puaskan kamu, sekarang puaskan mama ya”.

Karena tak mau dianggap egois, akupun meminta mama berbaring dilantai, kemudian aku mulai memainkan jariku dimemek mama. Satu jari kumasukkan, namun mama belum bereaksi apapun. Dua jaripun demikian. Akhirnya kumasukkan tiga jariku, namun mama baru bereaksi sedikit. Memek mama memang sudah lebar. Kontolku yang sebesar nampaknya masih longgar jika menembus memeknya. Aku sedikit kebingungan, hingga akhirnya aku melepaskan jam tangan dan cincinku. Aku meludahi tangan kananku, lalu mulai menggesek gesekkannya di memek mama. Mama mulai mendesis desis, saat bulu tanganku menggesek memeknya. Selanjutnya kumasukkan tiga jariku kememeknya, lalu empat jari, hingga akhirnya kumasukkan kepalan tanganku secara perlahan

“Ahhhhhhh…..sakiiiiitttttttt…..” teriak mama

Aku tak memperdulikannya, hingga akhirnya kepalan tanganku menembus memek lebarnya. Kuludahi tanganku 5 kali sambil kumasukan dan kukeluarkan di memek mama.

“Ahhhh nikkkkkmatttt…terusss….terussss….akkkkhhhh … ohhhhh ……lebihhh ceeeeeppp……aattttttttt sayanggg” teriak mama

Tangan kiriku kupuaskan untuk meremas remas tetek pepayanya, dan tangan kananku kukeluarkan dan kumasukkan dengan cepat dimemeknya. Aku merasakan mama telah keluar, namun aku terus memacu tanganku lebih cepat hingga akhirnya mama keluar kali yang kedua. Setelah melihat tetesan darah, aku mencabut tanganku perlahan, diikuti teriakan mama: “auwwwww”

“jilatin dong say” ujar mama lirih

Kujilati cairan bercampur darah dimemek mama sambil sesekali meremas lipatan perutnya yang putih dan menggoda. Mama menjambak rambutku, dan menariknya kemukanya sambil berkata: “terima kasih sayang, mama puas sekali”

“aku juga ma” sahutku sambil mengangkatnya berdiri.

Mama memanggil semua putrinya dan Inem. Setelah mereka datang, mama meminta mereka semua jongkok dihadapan kontolku, diiringi dengan mama. Mama meminta semua menjilati kontolku secara bersamaan. 10 menit mereka menjilati, menghisap sampai menggigit biji pelerku hingga aku memuntahkan mani selama 5 kali di muka mereka masing masing.

Aku mengambil jamku dilantai, dan waktu menunjukkan pukul 06.00 WIB. Akhirnya kami masuk satu persatu kedalam rumah. Evi memelukku dari depan, mengangkat kaki kanannya, memasukkan kontolku ke mememknya, lalu dengan perlahan mengambil posisi di gendong olehku.

“Ayo kak, kita mandi air hangat didalam, tapi kakak gendong aku ya” bisik Evi sambil terus memaju mundurkan dan memutarkan memeknya yang tertancap kontolku. Akupun berjalan menuju kamar mandi dengan jalan perlahan, karena kedua kaki Evi menjepit erat pantatku.

Di kamar mandi, aku dimandikan oleh mereka semua. Setelah mbak Fani menghandukiku, mama mengoleskan salep yang lain dengan yang tadi, lalu ia memintaku berpakaian.
Mereka pun berpencar ke kamar masing masing, dan aku memakai kaos dan celanaku. Aku melirik kontolku, dan kali ini kulihat telah kembali seperti semula. Setelah berpakaian, aku menuju ruang tengah. Mama memangil semua putrinya serta Inem. Semuanya telah mengenakan pakaian. Mama berbicara serius sehubungan dengan keputusannya memisahkan kami. Akupun menyetujui keputusan tersebut, dan akhirnya mama memintaku membuka retsleting celana ku dan mengeluarkan kontolku sekali lagi. Mama meminta semua yang disitu menghisap kontolku untuk terakhir kalinya. Mulai dari Evi, mbak Fani dan Inem kusemprot dengan mani di mulut mereka. Sampai di Indah pacarku, aku berhenti sejenak, memintanya berdiri, memeluknya sambil meneteskan airmata.

“Maaf kalau aku punya salah ya Ndah” bisikku di telinga Indah

Tanpa berkata apapun, Indah mengocokkan kontolku dengan tangannya, lalu mengisapnya hingga kusemprotkan maniku yang tidak banyak lagi dimukanya. Akhirnya aku bergeser ke arah mama, dan membiarkan kontolku dihadapnnya. Mama membuka kancing dasternya hingga tetek pepayanya menyembul. Mama meletakkan kontolku dibelahan dadanya, kemudian menjepit kontolku dengan teteknya, meludahi belahan dadanya, hingga akhirnya ia mengocokkan kontolku dengan tetek pepayanya. Mama mengeluarkan maniku sebanyak 2 kali, hingga yang ketiga kontolku tak mengelurkan setetes mani pun. Mama mencabut kontolku dari teteknya, menghisapnya dengan buas, lalu mengurut kontolku seperti memeras jeruk. Kontolku benar benar mengecil sekarang, lalu mama memasukannya kedalam celana dalamku, menciumnya, lalu menutup retsletingku. Aku pun berpamitan pada mereka semua, hingga akhirnya tak bertemu mereka hingga saat ini.

TAMAT

antara Indah, adiknya, Inem pembantunya, kakaknya dan Mamanya

Filed under: RAMAI-RAMAI

ujilati memeknya, kuremas tetek kanannnya, kemudian aku meminta Indah berdiri dan menungging, lalu kusodok memeknya dari belakang sambil membelai perutnya yang putih mulus. Ketika sedang menikmati tubuh Indah, aku melihat Inem pembantu Indah yang berusia sekitar 20 tahunan sedang memperhatikan kami dari sudut jendela kamar yang menghadap Taman. Aku berlagak acuh seperti tak memperhatikannya, Inem pun nampak asyik meremas payudaranya dengan tangan kanan, dan mengelus elus roknya dengan tangan kirinya sambil merem melek.

“Aku keluar sayang, ujar Indah”.

Saat itu Indah terkulai lemas dan duduk bersila dihadapanku. Karena melihat batang kontolku yang masih mengacung, Indah pun hanya bisa mengocokkan kontolku dengan tangan kanannya sambil berkata: “sabar ya sayang, aku akan keluarin punya kamu kok”!

Sambil tersenyum, aku menggesek gesekkan kontolku di kepala Indah, kemudian memasukkan kontolku di mulutnya, Indah kemudian mengelus elus bulu disekitar perutku. Hampir 5 menit Indah menjilati, menghisap, sampai meludahi kontolku, namun aku belum mengeluarkan sperma.

Akhirnya Indah bertanya: “kamu maunya apa sayang, supaya kamu juga keluar”?

Hmmm, boleh nggak aku masukin pantat kamu sayang”, sahutku!

“Tapi kan sakit sayang” balas Indah.

Aku langsung memintanya nungging dan berkata : “iya deh, aku pelan pelan ya masukinnya”.

“Aduhhhhhhh”, teriak Indah!

“sabar sayang, kamu kan mau aku keluar, sahutku!

Akupun terus menyodokkan kontolku hingga amblas di pantat Indah, dan nampaknya Indah menangis, namun aku tetap mengeluarkan dan memasukkan kontolku secara perlahan lahan sambil meraba raba pinggangnya yang sexy, hingga akhirnya kontolku amblas di pantatnya.

“Wow, rasanya luar biasa sayang”, ujarku bersemangat!

Tak sampai 7 menit, aku pun rasanya ingin mengeluarkan sperma karena jepitan pantat indah itu. Lalu kucabut kontolku dari pantat Indah dengan cepat, dan menyemprotkan spermaku di teteknya. Indah memukul dadaku dengan tangan kanannya, kemudian menciumku dan mengucapkan terima kasih. Akhirnya kami mandi bersama, dan setelah itu aku berkemas pulang, karena sebentar lagi keluarganya akan pulang dari Puncak. Ketika Indah ke dapur untuk mengambilkanku sekaleng bir, tiba tiba aku melihat Inem yang sedang mencolokkan jarinya ke memeknya. Dengan acuh, aku keluar dari kamar dan bergegas balik setelah menenggak sekaleng bir pemberian Indah.

Halo sayang, kamu ke rumahku aja duluan ya. Mama, Papa, dan Kakak lagi ke Bandung liat Nenek yang sakit. Aku ada praktikum, dan nanti jam 5 sore aku dah pulang kok, kasian Evi (Adik Indah yang masih kelas 1 SMA) ketakutan kalau sendirian dirumah, sahut Indah lewat handphonenya. Iya Sahutku. Siang itu aku memang bermaksud mengerjakan paper di rumahku, namun berhubung Indah telah berpesan, akhirnya aku segera berangkat ke rumah Indah. Bukan apa apa, biasanya jika keinginannya tidak dipenuhi, maka Indah sering ngambek dan tidak memberiku jatah biologis.
Sesampainya di rumah Indah, aku disambut Evi dengan manja. Setelah makan siang, kamipun memutar DVD. Sampai pertengahan film terdapat adegan hot yang membuatku tidak enak hati menontonnya bersama Evi.

“Matiin aja ya Vi”, ujarku.

“Biarin aja kak” cuma sebentar kok, sahut Evi.

Hampir 10 menit, adegan hot itu berulang ulang beberapa kali, hingga akhirnya kumatikan. Evi pun ngambek, dan lari ke kamar tidurnya diatas, lalu kudengar ia mengunci pintu.
30 menit aku terdiam sendirian membaca makalahku. Tiba tiba Inem datang membawakanku segelas es teh manis. Inem memang seorang pembantu, namun mukanya mirip Dian Sas* (walau Inem sedikit lebih hitam, namun panta dan teteknya lebih besar milik Inem), apalagi hari itu ia mengantarkan minuman dengan rambut kuncir kudanya dan kaos putih ketatnya yang menyembulkan teteknya yang besar. Inem pun kembali ke dapur setelah mengantarkan minuman untukku. Dari belakang kuperhatikan garis celana dalam Inem yang nampak di rok yang dikenakannya. Jalannya pun menggodaku! Aku jadi teringat peristiwa waktu itu, saat Inem memperhatikan aku dan indah yang sedang bercinta.
Kulihat jam, waktu telah menunjukkan jam 2.30 Wib. Otakku benar benar sudah dipenuhi nafsu ketika melihat DVD tadi, ditambah memandangi Inem yang sexy. Akupun segera ke belakang untuk pura pura ke kamar mandi. Sengaja aku tidak menyalakan lampu kamar mandi dan membuka pintunya. Dari kaca kamar mandi kuperhatikan Inem mencuri curi pandang ke arah pantatku yang terbuka sedikit. Sambil memainkan kontolku yang baru kucuci, kemudian aku keluar kamar mandi tanpa menutup celana, lalu ku arahkan ke pandangan Inem.

Kemudian aku berjalan kearah Inem, kemudian meletakkan tangannya ke kontolku, sambil berkata: “kamu mau Nem, ayo isep deh”.

“Takut ah den”, kata Inem.

“Nggak apa apa Nem, ayo dimasukin mulut kamu”, sahutku menggoda!

Inem pun menjilati dan menghisap kontolku.

“Ahhhh, kamu hebat banget jilatnya Nem”, ujar saya.

Inem memang hebat memainkan lidahnya dipinggiran kepala kontolku. Lebih nikmat dari yang dilakukan Indah.

“Den, ini Inem kok nggak dipegang, sahutnya sambil menunjukkan memeknya.

Inem pun memberanikan diri untuk minta dijilati seperti mbak Indah waktu itu. Hmmm, memek Inem harum sekali. Ketika asyik menjilati memek Inem dan meremasi teteknya, tiba tiba Evi dating dan mengagetkan kami. Inem nangis dibawah kaki Evi, dan saya pun hanya bisa terdiam membisu.

“Kakak munafik, nonton nggak mau, tapi Inem digituin”, ujar Evi lantang.

“Pokoknya Evi aduin sama mbak Indah”, sahutnya lagi.

Akupun menarik tangan Evi, dan memohonnya untuk tidak melaporkan pada Indah. Ketika memegang tangannya, tiba tiba Evi meremas kontolku yang masih terbuka tak terbalut sehelai benangpun, dan kemudian Ei berkata: “ya sudah, kalau nggak mau dilaporin, ajak Evi juga”.

Aku kaget juga mendengarnya. Evi beranjak ke ruang tamu sambil menarik tanganku, mengunci pintu, kemudian membuka celana pendek dan celana dalamnya berwarna putih bergambar hello kitty.

“Inemmmmmmmm………” teriak Evi memanggil Inem.

Ayo, pokoknya kakak dan Inem harus menjilati ini Evi juga, ujarnya sambil menunjuk memeknya.

Sambil mengangkang, Evi membenamkan kepala saya dan Inem di memeknya yang mini dan berjembut tebal seperti hutan rimba.

“Ahhhh, enak kak, enak kak ahhhh”, ujar Evi mendesah desah.

Kemudian ia menjambak Inem, dan menyuruh Inem turut menjilati teteknya yang masih terbungkus kaos. Inem pun menjilatinya dengan buas sambil mengarahkan pantatnya ke arahku untuk minta dipegang juga. Aku pun meremas remas pantat inem yang sexy itu.
Waktu telah menunjukkan jam 4.15 WIB, dan aku memberitahukan Evi, kalau mbak Indah akan pulang jam 5 sore ini. Akhirnya, Evi menendang badanku hingga jatuh di karpet, dan menampar Inem hingga pipinya merah.

Kemudian Evi berkata: “pokoknya besok pagi kakak harus bolos kuliah dan jemput Evi di depan sekolah. Besok kita ke puncak berdua ya. Awas kalau bohong, Evi laporin ke mbak Indah”, ujarnya dengan marah sambil mengacung acungkan jarinya.

Entah apa yang dikerjakannya terhadap Inem, namun ia menarik tangan Inem dan menyeretnya kekamarnya diatas.
Tepat jam 5 Indah datang. Setelah menciumku, Indah pun berlalu kekamarnya untuk mandi. 30 menit kemudian, Indah keluar memakai daster dan menanyakan Evi dan Inem. Kemudian kukatakan mereka diatas sejak aku datang tadi. Tanpa basa basi, Indah menarikku ke kamar. Sesampainya dikamar, ia mengangkat bagian bawah dasternya, memelukku dari depan, dan meletakkan tanganku di pantatnya sambil membisikkan: “aku mau dong dijilatin pantatku”. Aku menjilati tubuh indah mulai dari pantat hingga basah. 30 menit aku bergumul dengan Indah, dan lagi lagi kulihat Inem di sudut jendela kamar yang sedang mengamati kami. Saat itu Indah memintaku untuk kembali memasukkan kontolku ke pantatnya, namun alangkah kagetnya aku saat berganti posisi menungging menyodok pantat Indah, kulihat Evi yang sedang menjilati pantat Inem diluar sana. Akupun semakin terangsang, hingga 1 jam berlalu, dan kami pun selesai dengan permainan ini. Setelah mandi, aku pamit pulang dengan alasan nanti Evi bangun.

INEM (pembantu yang nakal)
[img=http://img61.imageshack.us/img61/5769/inemao2.th.jpg]
[img=http://img125.imageshack.us/img125/3131/inem1uw3.th.jpg]

INDAH (pacarku yang cantik)
[img=http://img162.imageshack.us/img162/3904/indahby7.th.jpg]
[img=http://img516.imageshack.us/img516/8569/indah1si8.th.jpg]

EVI (adik pacarku yang hiper)
[img=http://img59.imageshack.us/img59/1632/evial8.th.jpg]
[img=http://img125.imageshack.us/img125/6462/evi1li9.th.jpg]

FANI (kakak pacarku yang binal)
[img=http://img227.imageshack.us/img227/4373/fanisb2.th.jpg]
[img=http://img113.imageshack.us/img113/1607/fani1ru8.th.jpg]

PART.II (antara Indah, adiknya, Inem pembantunya, kakaknya dan Mamanya)

Pagi ini aku tidak bisa memakai mobil, karena adikku meminjam untuk acara sekolahnya. Aku jadi kalang kabut, mengingat janjiku sama Evi kemarin. Mana mungkin ke puncak dengannya naik bis? Kalau tak ditepati, Evi pasti melapor pada Indah. Aku pusing tujuh keliling. Aku mampir ke warung di depan rumah untuk membeli rokok. Aku terdiam sambil merokok di depan warung. Tak berapa lama, Randy kawan adikku datang menghampiriku dengan motor ninja RR nya, dan menanyakan adikku. Aku mengatakan ia telah pergi dari jam 6 pagi tadi.

“Kak, aku titip motor di rumah boleh ya. Biar aku susul Randy ke sekolah naik taxi. Soalnya kalau motor ditinggal di sekolah nggak ada yang jaga, hari ini kan semuanya study tour ke Bandung”, sahut Randy kalem.

Mendengar itu, akupun mendapat ide cemerlang. Namun, apakah enak ke puncak dengan Evi naik motor? Daripada nggak jadi samasekali dan Evi ngadu dengan Indah, kayaknya ide ini perlu dicoba. Akhirnya aku memberanikan diri untuk meminjam motor dari Randy.

“Ya udah kak, pake aja motorku, aku ambilnya besok siang aja ya”, sahut Randy

Setelah menghubungi Evi via handphone, akhirnya aku berangkat ke sekolahan Evi di sekitaran melawai.

“kok naik motor kak”, sahut Evi.

Akupun menjelaskan semuanya, dan Evi memahaminya. Namun Evi minta dibelikan jaket terlebih dahulu, hingga akhirnya kami mengendarai motor kea rah Plaza Senayan. Jam menunjukkan pukul 8.30 WIB, dan Plaza Senayan belum dibuka. Akhirnya kami memarkir motor dan Evi pun menelpon mamanya untuk memberitahukan ia akan pulang malam untuk mengerjakan tugas sekolah di rumah Sheila kawannya. Setelah itu kami mengobrol layaknya sepasang suami istri yang kasmaran. Bahkan sesekali Evi mengelus elus kontolku. Tak terasa, jam sudah menunjukkan jam 10.00 WIB, akhirnya kami segera masuk ke Metro dept. store di lantai tiga .

“Kak, yang ini aja ya. Harganya juga nggak terlalu mahal kok” ujar Evi. Kemudian ia membawanya kekamar ganti.

“Kak, liat sini dong”, teriaknya memanggilku kekamar ganti. Evipun menarikku masuk ke kamar ganti, lalu memaksaku meremas teteknya, dan tangan kanannya meremas kontolku yang telah mengeras dibalik jelana jeansku. Evi menciumiku seperti orang kesetanan. Mulai bibirku, pipiku, kupingku terus sampai ke leherku diciumi oleh Evi dengan membabi buta. Aku pasrah saja melihatnya, namun aku menikmatinya.

“maaf, disini dilarang melakukan hal asusila” ujar SPG sambil menyibakkan tirai kamar ganti. Kamipun bergegas ke kasir untuk membayar diiringi dengan senyuman mesem para SPG.

“Aku ke toilet dulu ya kak, mau ganti celana jeans dan pakai jaket. Oh ya, celana dalam kakak dilepas dong”, bisik Evi di telingaku.

Aku menjadi heran sendiri dengan Evi. Kenapa ia memintaku melepaskan celana dalam? Mengapa ia sebuas ini? Inikah Evi kecil itu? Apa yang merasukinya? Ahhh pusing, pikirku. Akupun ke toilet untuk melepaskan celana dalamku, kemudian bergegas keluar menunggu Evi. 10 menit kemudian Evi keluar dari toilet. Aku terpana melihat penampilan Evi siang itu. Pantatnya yang menyembul dibalik celana jeansnya. Teteknya yang mini dibiarkan menyembul tanpa BH dan memperlihatkan putingnya yang tertarik kaos ketatnya. Evi menggandeng tanganku dan kamipun berjalan ke parkiran dan melajukan motor ke arah Bogor lewat Depok.
Ketika melintasi jalur parung yang sepi, Evi mulai membelai belai kontolku yang masih terbungkus celana jeans. Evi membuka retsletingku, menutupi tangannya yang sedang memegang kontolku dengan tas sekolahnya, kemudian mengocok ngocokkan kontolku dengan lembut dan membisikkan suaranya yang mendesah desah di telingaku.

“kak, keluarin dong yang pertama diatas motor untuk Evi. Evi kan lebih hebat dari kak Indah dan Inem. Mmmmm ….ayo dong kakkk……” ujar Evi terbata bata.

Akupun membagi konsentrasi antara menikmati kocokan lembut Evi dan mengendarai motor yang kupacu 50 km/jam saja.

“ayo dong sayang, keluarin untuk Evi”, sahutnya lagi mendesah berulangkali seperti orang yang kesurupan.

“Ahhh ….. enak sayangg…..”, sahutku! Crooottttt……Pejuku keluar hingga tumpah membasahi speedometer. Lalu Evi memintaku menepi sejenak di tepi jalan yang sepi dan berbatasan dengan hijaunya persawahan. Evi turun dari motor, tanpa malu dan takut takut, ia pun memintaku langsung turun dari motor kemudian menarik tanganku kebelakang pohon besar di tepi jalan itu. Kemudian ia langsung jongkok, dan menghisap kontolku yang basah. Walau hanya 2 menit, sensani yang dibuat Evi membuat kenikmatan yang terkira untukku. Aku mencium keningnya sebagai ucapan terima kasih, lalu beranjak kemotor sambil melap maniku di speedo meter dengan jariku. Ketika aku ingin membuangnya, Evi menarik tanganku dan menjilati jariku tersebut. Ah, gila bener anak ini pikirku, namun aku senang sekali.
Pukul 15.00 WIB kami tiba di vila keluarga Evi di Megamendung. Setelah berbasa basi, menyogok dan mengencam mang Danu penjaga vila supaya tidak memberitahukan kedatangan kami, akhirnya kami masuk ke vila. Sesampainya di dalam, Evi langsung mengajakku mandi air hangat. Setelah mandi, kamipun beristirahat di kamar Evi hingga tertidur selama 1 jam.

“ahhhh…..ahhh …mmmmm” kudengar suara itu samar samar.

Dan aku merasakan geli dibagian kontolku. Rupanya Evi sedang menjilati sambil mengocoki kontolku. Yang lebih hebat, Evi melumuri kontolku dengan coklat. Aku hanya bisa terdiam dan menikmati ulah adik pacarku ini. Kontolku yang semakin mengeras dan mengacung langsung ditidurkan oleh Evi yang menindih tubuhku sambil menggesek gesekan memeknya di kontolku.

“kak, Evi sudah keluar 2 kali nih. Evi masih mau terus kak” ujar Evi sambil menciumi tetekku yang berbulu.

Akupun mulai terbangun sepenuhnya, dan mendorong tubuh Evi hingga berdiri. Aku menjilati pantat Evi dari belakang, hingga kemudian kumasukkan tanganku ke lubang pantatnya.

“Aduh, sakit kakak” jerit Evi.

“Aku kan masih perawan kak, masukin aja burungnya kakak disini”, sambil menunjuk memeknya yang mini itu,

“Hah, jadi kamu belum pernah ya Vi” tanyaku kaget.

“Udah deh kak, ayo dong”, sahut Evi manja sambil menjilati tetekku.

Aku pun mencium Evi dengan lembut mulai dari mata, hidung, telinga, hingga kami berciuman dengan hebatnya sambil tanganku meremas remas pantatnya.

“Kak, masukin Evi dong. Evi udah nggak kuat nih” rintihnya memohon.

Kutidurkan tubuh Evi dengan lembut. Kucium bibirnya yang ranum. Kujilati teteknya bergantian dan sesekali kusedot hingga membuatnya meringis kegelian. Lalu kujilati pusernya, hingga akhirnya memeknya yang masih mini itu kujilati.

“Ayo kak, masukin dong” sahut Evi memelas sekali lagi.

Akupun mengarahkan kontolku kemukanya, lalu memintanya menjilatinya sejenak. Kemudia kugesek gesekkan kontolku di memeknya dan mulai memasukkannya dengan perlahan.

“aduh kak, sakittttt….” Jerit Evi!

“Sabar sayang, kakak masukinnya pelan pelan ya” sahutku sambil memaksa masuk kontolku di lobang memeknya yang sangat sempit itu. Ah, sungguh menggemaskan memek adik pacarku ini. Tubuhnya yang putih, mukanyanya yang imut, rambutnya yang panjang dan lurus terurai, bibirnya yang berwarna pink, tetek mungilnya yang mancung, kakinya yang jenjang, gayanya yang manja, nafsunya yang membara….dan sekarang aku mendapatkan keperawanannya pula. Ahhhhh ….. Evi, aku sayang kamu dik.

“Aaaakkkkhhhhh……” teriak Evi kesakitan.

“Arrrrrggghhhhh …..” teriakku kenikmatan.

Kontolku telah masuk 1/2 di memek Evi. Dengan perlahan lahan aku terus menembusnya dengan mendorongnya secara perlahan lahan. Darahpun mengalir dari memek Evi ketika kontolku masuk ¾ dimemeknya. Aku terkagum kagum memandangi darah perawan Evi yang mengalir.

“Terima kasih Evi. Aku sayang kamu”, kataku lembut sambil terus mengeluar masukkan kontolku hingga amblas sepenuhnya di memek Evi.

“Sekarang udah enak kak. Ayo lagi kak. Yang lembut sayang” ujar Evi terbata bata sambil menetekan airmata.

“Iya sayang” sahutku sambil terus mendulang kenikmatan dengannya. Tangan kananku terus meraba raba perutnya yang langsing terawat.

“ahhhh …. Aku sudah mau keluar kak, sedikit lebih cepat dong kak” ujar Evi memohon.

Evi pun menarik tangannku, menjambak rambutku, menciumiku membabi buta, lalu berteriak kenikmatan.

“ahhhhh kak……enaaakkkkk…….jangan dicabut dulu sayang” sahut Evi.

Akupun terus memutar mutar kontolku, mendorongnya, menariknya hingga membuat Evi menarik selimut di tempat tidur. Evi terkulai lemas, kemudian kucabut kontolku dengan perlahan. Kontolku masih keras dan mengacung, karena aku belum keluar.

Evi melirik kontolku, lalu menarik tanganku dan mengucapkan terima kasih sambil berbisik: “sabar sebentar ya kak, Evi masih capek” katanya dengan nada lemah.

Aku masih mengocok kontolku dengan lembut. Akupun heran, kenapa aku belum keluar di lobang perawan senikmat ini? Mungkin karena aku telah keluar pertama kali saat diatas motor tadi, dan biasanya keluar yang kedua ini menjadi lebih lama. Aku tetap terangsang saat memandangi darah yang tertumpah di sprei tempat tidur. Evi berdiri menghampiriku, mengangkat kaki kanannya ke sisi tempat tidur, menarik kontolku yang masih mengacung, dan kembali memasukkannya dalam posisi berdiri.

“Ayo kak, masukin lagi” kata Evi

Akupun menggendong Evi dengan perlahan kearah lemari yang berdempetan dengan tempat tidur, namun tak kulepaskan kontolku yang telah menancap setengah di memeknya.
Kudorong Evi, kuciumi bibirnya, kumasukkan kontolku sepenuhnya, mengeluarkannya setengah, memasukkannya kembali, memutarnya, hingga akhirnya kupacu dengan cepat hingga membuat Evi mendesah desah kenikmatan sepertiku.

“kak…ayo terus kak…..enak…..enak ahhhhh…kakak hebatttt……ahhhhh” ujar Evi setengah berteriak.

Aku terus memacu kontolku keluar masuk hingga merasakan memeknya Evi yang telah basah sekali. Kuremas teteknya, kucupang lehernya kiri dan kanan, kujambak rambutnya lalu kucium, bahkan kugigit bibir pinknya dengan lembut hingga membuat Evi menjerit.
“ahhhhh……Evi…..aku mau keluar sayang……” sahutku lantang.

Walaupun dalam kenikmatan yang luar biasa, aku masih ingat bahayanya jika kumuntahkan maniku didalam, hingga akhirnya kucabut kontolku, kemudian kuminta Evi menungging membelakangiku, dan tanpa permisi langsung kuludahi pantat Evi, dan kuhujamkan kontolku dipantatnya yang juga masih perawan. Evi menjerit kesakitan sampai menangis dan berusaha meronta ronta, namun aku terus memegangi tubuhnya dan menghujamkan kontolku hingga masuk sepenuhnya di pantat Evi.

“kakakkkkkkk….sakitttttt” teriak Evi sambil menangis!

Namun aku tetap memasukkannya, mengeluarkannya dan sesekali meremas pantas Evi yang montok. Tak sampai 3 menit aku memuntahkan maniku di pantat Evi, hingga keluar membasahi pantatnya. Setelah kucabut, aku meminta Evi menjilati dan menghisapnya. Evi pun menurutinya sambil melirikku dengan mata nakalnya. Setelah membersihkan kontolku dengan mulutnya yang imut itu, Evi balas menggigit perutku hingga terluka sedikit.

“biar tau rasa” sahut Evi sambil berdiri dan menciumiku.

Wah, untunglah Evi tak marah pikirku. Luar biasa sekali hari ini. Akhirnya kami berdua tertidur pulas tanpa membersihkan badan terlebih dahulu.
Tiba tiba aku terbangun dan langsung melihat jam yang telah menunjukkan pukul 19.30 WIB. Aku segera membangunkan Evi. Herannya, Evi bukan bergegas mandi, namun justru meraih kontolku dan menghisapnya. Kali ini Evi memintaku diam saja di tempat tidur. Evi menjilati dan menghisap kontolku sesukanya, bahkan sesekali menciumi tetekku. Evi terus melakukan aksinya, hingga akhirnya air maniku keluar sedikit membasahi kontolku. Evi menggesek gesekkan kontolku di pipinya, kemudian mengajakku mandi.
Ketika menyabuni tubuhnya, Evi pun kembali mengocokkan kontolku dengan sabun. Kali ini Evi tidak memintaku memasukkan kontolku dimemeknya, namun ia segera duduk di toilet, membuka memeknya, dan memintaku menjilatinya dari ujung jempol kakinya.
Mengingat semua yang telah diberikan kepadaku, akhirnya kuturuti kemauannya. Bahkan ketika ingin beranjak menjilati betisnya, Evi memintaku untuk kembali menghisap jari jari kakinya.

“kak, sekarang jilat betis sampai ini Evi ya” sambil menunjuk memeknya.

20 menit kujilati mulai paha hingga memeknya sampai membuat Evi kembali mengalami puncak kenikmatan. Setelah itu ia kembali meraih kontolku, menjilati, mengocok, dan melumatnya hingga 5 menitan. Sekali lagi aku keluar, dan Evi memandikan aku dengan air hangat. Hingga akhirnya kami berpakaian kembali setelah mandi, dan Evi mengecupku lembut serta memasukkan sprei tempat tidurnya kedalam tasku. Untuk kenang kenangan, katanya.
Tak terasa, waktu telah menunjukkan jam 20.50 WIB. Aku merasa lelah sekali, dan merasa tak sanggup untuk pulang ke Jakarta dengan motor. Akhirnya aku menghubungi pak Jaya penjaga vila keluargaku yang terletak tak jauh dari vila Evi. Aku meminta pak Jaya menyewa mobil angkot untuk mengantar kami ke Jakarta. Pukul 21.20 WIB pak Jaya datang menjemputku di vila Evi. Setelah motor dimasukkan kedalam angkot, kamipun pamitan ke pada mang Danu dan pak Jaya. Namun mang Danu memintaku untuk membawa hasil panen melon di kebun belakang. Aku tak mau, namun mang Danu memaksaku mengambilnya dibelakang vila. Sesampainya di belakang, mang Danu mengajakku berbicara serius mengenai kedatangan neng Fani tadi sore ketika kami tertidur.
Neng Fani yang dimaksudkan oleh mang Danu adalah kakak dari Indah pacarku dan Evi.
Neng Fani tidak mau mengganggu kalian, karena neng Fani juga datang dengan cowok gelapnya. Fani adalah kakak tertua dari Indah dan Evi. Fani yang berusia 30 tahun, dan telah menikah. Namun Fani sering berselingkuh dengan brondong, karena suaminya berlayar di Eropa. Walaupun 30 tahun, Fani memiliki tubuh yang sangat sempurna. Teteknya yang 36C, pantatnya yang montok, tubuhnya yang langsing, kulitnya yang putih bersih, parasnya yang cantik, bibirnya yang tebal, bicaranya yang rada cadel, rambutnya yang hitam lurus terurai, matanya yang tajam sampai kebiasaannya pipis di lantai dikamar mandi yang tak pernah dikuncinya itu memang sering membuatku mencuri curi pandang terhadapnya.

“Neng Fani sih orangnya bebas teuingg den. Soklah jangan takut dimarahin. Mamang juga sering melihat neng Fani begituan dengan berganti ganti lalaki di vila ini kok” ujar mang Danu.

Wah, penjelasan mang Danu tersebut membuatku tenang dan terangsang juga untuk mencicipi mbak Fani. Setelah selesai menjelaskan semuanya, akhirnya aku memberikan uang damai kepada mang danu untuk informasinya, lalu kami membawa melon ke angkot dan segera pulang ke Jakarta. Selama dalam perjalanan, Evi bercerita mengenai kebiasaannya mencuri blue film milik mbak Fani dan mbak Indah. Dari sanalah ia mempelajari semua yang dipraktekkan tadi denganku. Aku berlagak tenang dan acuh saja mendengarnya.
Pukul 00.30 WIB kami sampai di rumah Evi. Aku tak mengantarnya ke rumah, karena orang rumah mengira Evi dari rumah temannya untuk belajar. Setelah Evi pulang, kamipun berlalu ke rumahku.

FANTASI LIAR

Filed under: Incest

Kenalkan namaku Sapto, Ceritanya ini tentang pengalamanku semasa sekolah,
hidup dan menumpang di rumah ayah angkatku Pak Rochim, Pegawai Dinas
Pertanian di ibukota kabupaten tempat aku lahir di pulau Sumatera. Di
rumah itulah aku mulai mengalami fantasi fantasi liar tentang dunia
sexualku.

Pak Rochim dan ibu sangat baik kepadaku. Saat itu aku mulai numpang
tinggal dan hidup di rumah Pak Rochim semenjak kelas satu SMP, dan aku
tidur di sebuah kamar kecil dengan pembantunya, seorang perempuan berusia
sekitar 21 tahun. Namanya Tina, gadis Bali berkulit hitam manis. Dia sudah
lama tinggal dengan Pak Rochim. Orangnya tidaklah cantik, tapi tubuhnya
bagus. Aku memanggilnya Kak Tina. Dia baik dan suka membantuku. Ternyata
dia pernah bersekolah sampai tamat SMP. Kerjanya membersihkan dan
membereskan rumah Pak Rochim yang tidak terlalu besar, mencuci pakaian,
dan memasak. Hanya itu. Sehingga waktunya cukup banyak untuk membaca. Dia
suka membaca. Terkadang novel-novelnya Freddy S, Abdullah Harahap, dan
Motinggo Busye. Juga Nick Carter.

Aku tidak diijinkannya membaca novel-novel stensilan itu. Dia hanya
memberikan Kho Ping Hoo untukku. Aku tak protes. Mulai saat itu aku
menyukai Pendekar Mata Keranjang dan sejenisnya. Setiap siang sepulang
sekolah, sambil mengembalakan tiga ekor sapi milik Pak Rochim, aku membaca
Kho Ping Hoo. Sesekali aku ingin juga membaca novel lainnya, tapi Kak Tina
tak pernah mengijinkan aku menyentuh apa lagi membaca novel-novel itu.
Rasa penasaranku makin bertambah.

Suatu siang sepulang sekolah, rumah tampak sepi. Kak Tina tidak ada di
rumah. Sedang disuruh mengobras kain, kata Bu Rochim. Akupun makan.
Setelah makan, aku beristirahat di dalam kamar. Saat mataku melihat lemari
Kak Tina yang terbuka (biasanya selalu dikunci), aku tergerak untuk
mencari novel yang disembunyikannya. Beberapa buah novel ada di situ.
Kuambil Nick Carter. Kubaca bagian depannya, aku memutuskan untuk tidak
tertarik membacanya. Kubolak-balik halamannya, ada bagian yang ditandai.
Aku tergerak untuk membacanya.

Degh! Jantungku berdebar kencang. Membaca halaman itu. Tertulis di sana
cerita tentang Nick Carter yang sedang menyetubuhi seorang wanita Rusia
(sayangnya aku lupa judulnya). Aku terus membacanya, jakunku yang mulai
tumbuh bergerak-gerak menelan ludah. Aku yang masih bocah terus
membacanya. Muka dan kepalaku memanas. Tanpa sadar tanganku menggosok
bagian kelaminku. Mengelus-elus si kecil yang telah bangun. Aku mulai
merasakan kenikmatan.

Tiba-tiba terdengar suara sepeda yang disandarkan ke dinding.
Kak Tina! Aku segera menyudahi keasyikanku. Kumasukkan kembali novel-novel
itu. Aku tertarik untuk membacanya lagi nanti. Pantas, Kak Tina tak
mengijinkanku membacanya, pikirku. Jahat, masak cuma dia yang boleh tahu
hal-hal semacam itu. Akupun keluar kamar, menyongsong dirinya. Kak Tina
tampak kepanasan. Keringatnya mengucur, bau badannya tercium begitu
menyengat. Bau yang membuat kejantananku langsung bertambah kencang. Bau
tubuh Kak Tina memang aneh, agak-agak sangit. Tapi entah kenapa, sangat
mengundang gairah lelakiku saat itu. Besok-besoknya aku tak pernah
memiliki kesempatan untuk menggerayangi lemarinya. Kak Tina tak pernah
lupa mengunci lemarinya. Aku tak punya keberanian untuk membongkar paksa.

Suatu malam, setelah aku kelas tiga, setelah hampir dua tahun di rumah Pak
Rochim, aku sedang tidur dengan Kak Tina di sebelahku. Aku saat itu
berusia hampir 15 tahun. Saat tidur aku merasa ingin pipis. Aku terbangun,
tak tahunya tanganku ada di atas dada Kak Tina, sedang tangannya menimpa
tanganku itu. Gadis itu sedang tidur dengan nyenyaknya. Pasti dia tak
sadar kalau tanganku tanpa sengaja telah terlempar ke tubuhnya. Dapat
kurasakan kehangatan dada perawannya. Jantungku berdebar-debar.
Kejantananku yang semakin matang terasa mengeras, apalagi karena aku
memang ingin pipis.

Ingat kalau aku ingin pipis, maka aku dengan perlahan mengangkat tangan
Kak Tina dan menarik tanganku. Saat itulah kurasakan puting susu Kak Tina
mengelus punggung tanganku. Ternyata Kak Tina tidak mengenakan bra.
Seeerrr, darahku semakin berdesir. Segera saja aku berlalu ke kamar mandi
untuk pipis.

Waktu kembali ke kamar, posisi tidur Kak Tina telah berubah. Kakinya
terbuka lebar, sedang kain yang dikenakannya tersingkap. Pahanya, yang
walaupun sedikit gelap namun mulus itu terpampang jelas di mataku.
Samar-samar, dari sinar lampu templok dapat kulihat pangkal pahanya yang
tertutup celana dalam putih. Samar-samar kuamati ada sekumpulan rambut di
sana. Aku baru kali ini melihat hal seperti ini. Jantungku berdebar
kencang. Lama kupandangi selangkangan Kak Tina sampai dia mengubah
posisinya. Aku naik kembali ke tempat tidur.

Tapi aku sudah telanjur tidak dapat tidur. Bolak-balik saja aku di samping
Kak Tina. Memandanginya. Dadanya yang membusung turun naik ketika dia
menarik nafas. Sepasang putingnya melesak di balik daster tipisnya. Entah
ide dari mana, pelan-pelan tanganku menyentuh dadanya. Mataku kupejamkan,
berpura-pura seperti orang tidur. Ternyata Kak Tina tidak terpengaruh. Dia
tetap tenang. Perlahan kutekan dadanya, tetap tidak ada reaksi. Aku
semakin berani. Kusentuh lagi dadanya yang satu lagi. Benda lembut sebesar
apel itu terasa lebih hangat.

Kejantananku menegang. Kuingat cerita Nick Carter yang kubaca beberapa
waktu yang lalu. aah, aku semakin deg-degkan. Suatu sensasi yang aneh.
Antara rasa takut akan ketahuan dan kenikmatan meletakkan tanganku di atas
dada seorang dara. Inilah pertama kali aku menyentuh dada seorang gadis,
sepanjang umurku. Aku tetap memegang dadanya, sampai aku tertidur dengan
damai. Dalam tidur aku bermimpi. Aku dan Kak Tina berpelukan telanjang
bulat di atas ranjang kami.

“Bangun! Sapto! Sudah pagi”, Guncangan di bahuku membuat aku
terbangun.Memang aku harus bangun pagi. Mengeluarkan sapi dan
menambatkannya di kebun belakang rumah, lalu kemudian mengisi bak mandi.
Karena selalu mengisi bak mandi, badanku jadi berisi.

Kak Tina selalu membangunkan aku setelah dia memasak air. Aku memicingkan
mata, menguceknya dengan tanganku.
“Huuuaah” Aku menguap panjang, mengeluarkan bau naga.
“Bau, tahu?! Sana urus sapi”, Kak Tina menepuk bahuku sebelum dia bilang,
“Astaga…, kamu ngompol ya, Sapto?”.
Aku kaget! nggak mungkin, nggak mungkin aku ngompol! Aku memegang celana
pendekku di daerah depan. Astaga, memang basah! Aku ngompol? Aku tak
percaya. Tapi memang celanaku basah sekali. Hanya saja, rasanya lengket.
Baunyapun beda, seperti bau akasia.

“Udah besar ngompol. Bikin malu saja”, Kata Kak Tina. Aku bersemu merah.
“Atau…”, Kak Tina memandangku, lalu tersenyum lebar, “Kamu mimpi basah
ya, Sapto?”.
“Mimpi basah?”.
“Iya. Tanda kamu sudah dewasa”. Dengan tangannya Kak Tina merasakan kain
celanaku. Aku agak risih saat tangannya menyentuh kejantananku.
“Benar. Ini memang mani” Kata Kak Tina. Lalu hidungnya mencium tangannya,
aku agak heran.
“Mimpi apa kamu, Sapto?”.
“Mimpi…” Aku ingat mimpiku, tapi lalu ingat bahwa aku mimpi dengannya,
“Gak mimpi apa-apa”.
“Ya sudah. Yang pasti ini menandakan kamu sudah besar. Sudah bisa dapat
anak”.
“Emangnya..?” tanyaku heran.
“Sudahlah, Nanti juga kamu tahu sendiri”.

Aku berlalu menuju kamar mandi, membersihkan diri. Saat aku kembali ke
kamar, Kak Tina menggodaku.
“Mulai sekarang, hati-hati bergaul” Katanya. Aku tersipu malu.
Dan, kamu tak boleh lagi tidur denganku”, Katanya lagi.
“Iya Kak”, Jawabku pasrah.
“Cuma bercanda. Masih boleh kok. Kak Tina percaya. Kamu masih kecil dan
polos”, Katanya.

Siang itu aku pulang cepat dari sekolah, karena guru sedang rapat. Aku
segera pulang. Sesampainya di rumah keadaan memang sangat sepi. Aku baru
ingat, kalau Bu Rochim ada acara di Dinas Pertanian. Anak-anaknya dibawa
semua. Aku menuju kamar. Saat menyimpan sepatu di samping kamar, aku
mendengar suara perempuan mengerang, mendesah-desah, yang keluar dari
dalam kamarku. Aku mengintip dari kaca nako.

Ya ampun! Yang kulihat di sana sungguh luar biasa, dan tak akan pernah
kulupakan. Di atas tempat tidur, Kak Tina sedang mengenakan baju kaos
warna jingga. Hanya itu saja. Tanpa apa-apa. Baju kaos itupun tersingkap
bagian atasnya, menampakkan dadanya yang kemarin malam aku sentuh.
Langsung saja kemaluanku membesar, meradang di balik celana seragamku. Aku
melihat Kak Tina memegang novel dengan tangan kanannya, sedang tangan
kirinya menggosok-gosok bagian rahasia tubuhnya. Dapat kulihat bulu-bulu
yang tumbuh lebat di sana. Mata Kak Tina mendelik-delik, nafasnya
terengah-engah. Aku melihat judul novel yang dibacanya. Sampai saat ini
masih kuingat. Judulnya Marisa, pengarangnya Freddy S.

Kak Tina masih terus menggosok kemaluannya. Saat tangannya beralih meremas
payudaranya, terbukalah kewanitaannya. Saat itulah aku pertama kali
melihat vagina wanita dewasa. Seeerrr, kejantananku sakit sekali rasanya.
Reflek kuelus sendiri kemaluanku. Rasanya nikmat, nikmat sekali. Suatu
rasa yang tak pernah aku rasakan sebelumnya.

Aku masih terus mengintip, sampai akhirnya Kak Tina tampak
terlonjak-lonjak dari tempat tidur. Erangannya berubah menjadi jerit
tertahan. Aku semakin takjub. Saat gerakan liarnya selesai, aku merasakan
sesuatu keluar dari kemaluanku. oooh, cairan berwarna putih kental keluar
dari kepala kejantananku. Banyak sekali, mengotori celanaku. Aku
menyumpah-nyumpah. Saat itu sikuku menyenggol rak sepatu. Sepatu-sepatu
terjatuh menimbulkan suara berisik. Tempat tidurku terdengar berderak. Kak
Tina pasti sedang merapikan dirinya. Aku terdiam terpaku.

“Siapa itu?”, Tak lama kemudian terdengar suaranya.
“Aku, Kak.., Aku”, Jawabku.
“Kau sudah pulang, Sapto?”.
“Ya, Kak…, Guru-guru rapat”
Kak Tina keluar dari kamar. Telah memakai kain sarung. Aku menutup bagian
depan celanaku yang basah dengan tas sekolahku.
“Barusan ya?”.
“Iya Kak”.
Tampak raut wajah Kak Tina berubah. Kelihatannya dia lega aku tak
memergokinya.
“Ya sudah, ganti pakaian dan makan…, Aku siapkan dulu”
Aku masuk kamar, lalu mengambil celanaku. Sedang Kak Tina ke dapur.
Kulihat novel itu ada di atas meja. Kak Tina lupa menyembunyikannya.
Setelah aku mengganti celana, aku meraih novel itu. Membolak-baliknya.
Saat kudengar langkah Kak Tina, segera kuletakkan di tempatnya. Celana
seragamku aku rendam di kamar mandi.

Aku menuju dapur, lalu makan bersama Kak Tina. Setelah makan, seperti
biasa aku dan Kak Tina menuju kamar kami. Kak Tina mengambil novelnya,
hendak menyimpannya di dalam lemari.
“Kak, Saya bisa pinjam nggak?”.
“Ini? Ini bacaan orang besar”.
“Tapi kan saya ingin tahu. Kelihatannya bagus. Saya belum pernah Kak Tina
ijinkan membacanya”.
Kak Tina menatapku. Lalu berkata, “Baiklah. Kita baca sama-sama”.
Aku nyaris tak percaya. Kamipun duduk di pinggir tempat tidur. Mulai
membaca.Ceritanya mengenai seorang wanita bernama Marisa, yang liar dan
haus seks. Ceritanya benar-benar vulgar. Kak Tina nafasnya tak teratur
saat membaca bagian yang menceritakan permainan cinta Marisa dengan
beberapa laki-laki. Aku memandangnya. Mukanya yang sedikit hitam bertambah
gelap. Nafsunya kurasa.
“Sapto. Sulit ya membacanya?”
Memang kami duduk berdampingan, dengan buku dipegang Kak Tina.
“Ya”
“Kalau begitu, duduklah di pangkuanku”

Aku kaget, tapi tanpa berkomentar aku lalu duduk di atas pahanya. Badanku
belumlah terlalu besar. Beratkupun saat itu belum sampai 40 kilo. Walau
sedikit kesulitan, Kak Tina terus membaca. Aku? Otakku sudah tak mampu
lagi membaca. Pikiranku mendadak kosong, ketika punggungku menyentuh
dadanya. Dapat kurasakan kehangatan yang dihantarkannya.

Kak Tinapun kurasakan menggosokkan tubuhnya ke tubuhku, saat halamannya
sudah sampai ke bagian seru. Aku menikmati saja. Kejantananku meronta di
balik celanaku, yang saat itu belum terbiasa memakai underwear. Tangan Kak
Tina yang kanan mencengkeram pahaku. Terkadang mengelusnya, terkadang
mengusap sampai ke pangkal pahaku. Aku membiarkan saja. Kurasakan detakan
jantung Kak Tina kencang, seirama dengan detak jantungku.
“Berdiri sebentar, Sapto”. Aku pun berdiri. Kak Tina membuka lebar
pahanya.
“Capek, Kamu makin lama tambah berat. Duduk di sini saja”. Dia menunjuk
tepi tempat tidur, di antara pahanya yang terkangkang.

Kami terus membaca. Kali ini sensasi yang kurasakan tidak hanya dada Kak
Tina yang menekan punggungku, juga sebentuk gundukan hangat di pangkal
pahanya menyentuh pantatku. Otakku terbakar! Tangan Kak Tinapun tetap
meraba pahaku. Dengan ragu-ragu, kuletakkan pula kedua tanganku di
pahanya. Dia tidak melarang. Aku coba mengusapnya, seiring dengan
usapannya di pahaku. Dia tidak melarang. Naluriku menyuruhku untuk menekan
punggungku ke dadanya. Dia tak melarang. Malah tangannya mulai menyentuh
kejantananku, memegang batangnya. Aku menahan nafas.

Tangan kak Tina tetap mengelus dan meremas kejantananku dari balik celana.
Tanganku pun bereaksi lebih berani, meremas pahanya yang kiri dan kanan.
Tekanan dada Kak Tina, beradu dengan tekanan punggungku. Saat ini aku
merasakan puber yang sebenarnya.Saat tangan Kak Tina mencoba meraih
ritsluiting celanaku, terdengar suara motor bebek memasuki halaman rumah.
Bu Rochim pulang.

Serentak kami berdiri. Berpandangan. Aku salah tingkah. Kak Tina merapikan
bajunya.
“Sana, Urus sapi”, Usirnya kepadaku.
Aku pun menurut. Waktu mengambil rumput sapi aku memikirkan semua yang
terjadi, segalanya begitu fantastis. Pengalaman yang tak pernah kudapat
sebelumnya. Aku mengharapkan segalanya akan terulang kembali. Tapi Kak
Tina tak pernah mengajakku membaca bersama lagi. Aku tak berani bertanya
kepadanya. Malu.

Namun pengalamanku hari itu dengan Kak Tina membuat aku tambah penasaran
mengenai seks. Aku ketagihan. Malam-malam, kalau Kak Tina tidur, aku
menjelajahi tubuhnya. Dan untungnya, Kak Tina itu kalau tidur seperti
orang pingsan. Sulit sadarnya. Jadi aku bisa bebas menyentuh dada dan
kewanitaannya. Walaupun masih terhalang oleh pakaiannya. Tapi aku cukup
puas.

Sekali waktu, dengan berpura mengigau, aku merangkak di atas tubuhnya.
Hati-hati sekali aku tiarap di atasnya. Mukaku tepat di antara bukit
kembarnya, sedang kejantananku tepat di kewanitaannya. Aku menikmati saat
itu. Sensasi yang kurasakan bertambah dengan rasa takut ketahuan.
Kejantananku menekan kemaluannya, tergadang kugosok-gosokkan. Kak Tina
tetap tak sadar. Setelah belasan menit melakukan itu, kejantananku
menyemburkan spermaku. Membasahi celanaku, juga sedikit membekas di daster
Kak Tina.

Paginya aku takut-takut, kalau Kak Tina tahu ada sisa sperma di dasternya.
Untung sisanya telah mengering. Sejak malam itu, setiap malam aku
melakukan hal itu. Terkadang kupikir Kak Tina tahu, tapi dia membiarkan
saja. Masalahnya aku pernah merasa bagian bawah tubuhnya berdenyut-denyut
saat kutimpa, dan tangannya merangkulku, dan detak jantungnya keras dan
cepat. Karena dia tidak pernah menyinggung hal itu, aku biarkan saja.

Sampai satu hari kudapati Kak Tina muntah-muntah di kamar mandi. Bu Rochim
mencemaskan keadaannya. Dengan segera Bu Rochim membawanya ke dokter.
Kabar yang dibawanya dari dokter membuat seisi rumah tersentak. Kak Tina
hamil dua bulan. Bukan, bukan aku yang melakukannya. Mana bisa. Kami tak
pernah bersetubuh. Lalu siapa? Pak Rochim? Bukan, beliau orang baik
(sampai sekarang aku selalu mengingatnya, ayah angkatku itu). Jadi siapa?
Ternyata yang melakukannya pacar Kak Tina, seorang tukang becak yang
sering mengantarnya kalau pergi pasar. Rupanya, kalau Pak Rochim bekerja
dan Bu Rochim ada acara Dharma Wanita, si Otong itu selalu datang.

Dan akhirnya Kak Tina pun menikah, lalu berhenti kerja. Tinggallah aku
sendiri. Pak Rochim tak pernah mengambil pembantu lagi. Tiada lagi teman
tidurku. Hanya aku dapat warisan dari Kak Tina. Apalagi kalau novel-novel
erotiknya.

KORBAN HILANG TITANIC MASIH HIDUP

Filed under: artikel

DUA orang korban musibah Kapal Titanic pada tahun 1912, tiba-tiba muncul dalam keadaan masih hidup. Secara fisik mereka tidak berubah persis seperti semula. Teori lorong waktu telah menjawabnya. Misteri peristiwa yang terjadi beberapa tahun yang lalu, dan yang membuat gempar adalah nasib mujur kemunculan kembali korban Kapal Laut Titanic yang masih hidup. Di antara kedua korban yang beruntung ini, yang satu adalah seorang penumpang wanita yang ditemukan pada tahun 1990, dan lainnya lagi adalah seorang kapten kapal Titanic yang ditemukan pada tahun 1991. Kapten kapal Smith ditemukan pada tanggal 9 Agustus 1991, setahun setelah ditemukannya seorang korban yang beruntung bernama Wenny Kathe, dia diselamatkan dari atas gunung es. Selama berpuluh-puluh tahun hanyut terapung-apung di atas lautan, namun tidak membuatnya kelihatan tua dan lemah, Kapten Smith yang meskipun telah berusia 139 tahun, namun masih tampak seperti orang yang berusia 60 tahun lebih, dan bahkan dia masih menganggap bahwa saat itu adalah masa-masa sekitar tenggelamnya Kapal Titanic pada tanggal 15 April 1912. Melalui identifikasi sidik jari yang masih tersimpan dalam catatan pelayaran laut, maka bisa dipastikan identitas Kapten Smith. Seorang lagi korban musibah Kapal Titanic, Wenny Kathe yang berusia 29 tahun diselamatkan di atas gumpalan es Samudera Atlantik Utara pada tanggal 24 September 1990. Namun yang membuat orang terkejut adalah sejak dia hilang pada tahun 1912 hingga sekarang, tidak terlihat tanda-tanda tua sedikitpun juga. Dia ditemukan dan diselamatkan di atas gumpalan es 363 km barat daya Islandia. Kantor pelayaran telah menemukan daftar nama penumpang Kapal Titanic dan menegaskan keaslian identitas dirinya. Smith, kapten kapal Titanic dan penumpangnya Wenny Kathe adalah saksi hidup orang hilang yang muncul kembali melalui lintasan lorong waktu. Oleh karena mereka menghilang dan muncul kembali secara misterius, maka hal ini sangat menarik perhatian orang banyak. Ilmuwan Amerika Ado Snandick berpendapat, mata manusia tidak bisa melihat keberadaan suatu benda dalam ruang lain, itulah obyektifitas keberadaan lorong waktu. Dalam sejarah, orang, kapal-kapal, pesawat terbang dan lain-lain sebagainya yang hilang secara misterius seperti yang sering kita dengar di perairan Segitiga Bermuda, sebenarnya adalah masuk ke dalam lorong waktu yang misterius ini. Dalam penyelidikannya terhadap lorong waktu, John Buckally mengemukakan teori hipotesanya sebagai berikut. Pertama, obyektifitas keberadaan lorong waktu adalah bersifat kematerialan, tidak terlihat, tidak dapat disentuh, tertutup untuk dunia fana kehidupan umat manusia, namun tidak mutlak, karena terkadang ia akan membukanya. Kedua, lorong waktu dengan dunia manusia bukanlah suatu sistem waktu, setelah memasuki seperangkat sistem waktu, ada kemungkinan kembali ke masa lalu yang sangat jauh, atau memasuki masa depan, karena di dalam lorong waktu tersebut, waktu dapat bersifat searah maupun berlawanan arah, bisa bergerak lurus juga bisa berbalik, dan bahkan bisa diam membeku. Ketiga, terhadap dunia fana (ruang fisik kita) di bumi, jika memasuki lorong waktu, berarti hilang secara misterius, dan jika keluar dari lorong waktu itu, maka artinya adalah muncul lagi secara misterius. Disebabkan lorong waktu dan bumi bukan merupakan sebuah sistem waktu, dan karena waktu bisa diam membeku, maka meskipun telah hilang selama 3 tahun, 5 tahun, bahkan 30 atau 50 tahun, waktunya sama seperti dengan satu atau setengah hari. Dalam ajaran Buddha terdapat satu bait penuturan: “Bagaikan sehari di kahyangan, tapi rasanya sudah ribuan tahun lamanya di bumi,” tampaknya memiliki makna kebenaran yang sangat dalam.

PERPUSTAKAAN

Filed under: PERKOSAAN

dodon tidak sedikitpun berniat untuk belajar atau membaca buku waktu dia ke perpustakaan kampus , kuliah aja dia jarang masuk. dia bermaksud untuk tidur, krn biasanya perpustakaan kampus , jam jam segini sepi , paling satu dua orang yg datang.

dodon kemudian mengambil bebrapa buku yg besar dan tebal dan mengambil tempat di meja paling ujung.
tapi baru saja ia hendak memejamkan mata, pandangannya terganggu oleh sebuah pemandangan. di meja depannya , duduk seorang gadis cantik dengan kaki indah yg terbalut jeans ketat , pantatnya terlihat padat , rambutnya yg panjang terikat ke belakang , kulit putih , bibir sexy, dan sweater pink yg dia pakai membuat dia tampak manis , apalagi buah dadanya terlihat cukup menonjol di balik sweater pink tsb.

kont*l dodon langsung menegang melihat perempuan di depannya, klo tidak salah gadis ini adalah mahsiswi tingkat pertama. gadis ini begitu asyik dengan bacaan dan catatannya, sehingga tak sadar sedari tadi dodon menatapnya penuh nafsu.

kurang lebih setngah jam kemudian gadis itu beranjak menuju kamar mandi , dodon memperhatikan sekitar, lalu kemudian mengikuti gadis itu ke kamr mandi. perlahan dia buka pintu kamar mandi , ia melihat gadis itu sedang di depa cermin , sambil membasuh muka.

tanpa buang waktu lagi , dodon lsg menerkam gadis itu, menutup mulutnya dengan seblah tangan dan menarik gadis itu ke salah satu ruang wc disitu. ia kunci pintunya , mendorong si gadis ke dinding,dan dengan tenaga dan badannya yg besar si gadis tak bisa bergerak tertahan.

si gadis mencoba bicara, namun mulutnya tertutup tangan dodon
“jangan teriak. klo berani kamu bakal menyesal” bisik dodon di telinga si gadis
perlahan dodon melepas bekapannya, si gadis kelihatan takut dan terpaku,
tangan dodon perlahan meremas pantat si gadis yg padat.
si gadis hendak menjerit namun krn takut ancaman dodon ,ia kembali terdiam.

si gadis mulai menangis, tapi tangisan itu membuat kecantikan gadis itu makin terlihat ,ia tidak melawan saat pantatnya diremas remas dodon.
namun saat dodon hendak menarik lepas sweaternya , ia berontak , walaupun akhirnya dodon berhasil melepas sweater pink itu. ternyata si gadis dibalik sweater pink itu hanya memakai kaos putih ketat, buah dadanya terlihat menonjol sempurna, apalagi ternyata ia tidak memakai bra, sehingga putingnya mencuat menggairahkan di balik kaos. pemandangan yg membuat dodon tersenyum, what a sexy body.

si gadis menyilangkan tangannya di dada , sadar jika buah dadanya terlihat.
“tolong..jangan…saya masih perawan…”si gadis memohon
“siapa nama kamu …cantik.?”
“diana…tolong lepasin saya…saya kasih apa aja..asal lepasin saya….”

“nama yang indah” kata dodon sambil meremas buah dada diana, sempat berontak kemudian dodon mengancam diana,
“diam…atau gue harus iket tangan elo, ato gue bakal panggil temen temen gue…
jangan melawan, loe cuman layaninn gue doang.”

perlawanannya perlahan melemah, membuat dodon bebas meremas dan memainkan puting diana yg masih terbalut kaus ketat. sambil tetap meremas buah dada diana , satu tangan dodon membuka kancing jeans diana,menurunkan seletingnya,dan menurunkan perlahan jeans tsb. ia lihat kebawah , ia lihat diana memakai celana dalam putih yg sangat sexy. ia dengan segera melucuti kaos ketat diana, dan menarik lepas celana dalam diana.

ia memandangi tubuh diana yg indah tanpa selembar benangpun, ikat rambutnya dodon buka sehingga rambutnya hitam teruarai menambah kesexyan diana.
dodon lantas menyuruh diana membuka satu persatu pakaian dodon.
begitu celana terakhri dodon terlepas, ia menyuruh diana berlutut dan mengulum kont*lnya yg besar.

diana menolak, meski kontl dodon terus dipaksakan masuk , diana tetap tak mau mebuka mulut , sehingga dodon harus memijit hidung diana dengan keras ,sehingga mulutnya terbuka, sekejap pula ia memasukan kontlnya ke dalam mulut diana.

dengan paksa dodon mengerak gerkan kepala diana maju mundur, awalnya diana tidak melakukan apapun, namun akhirnya ia mulai memainkan lidahnya , kont*l dodon ia jilati , dan kadang ia sedot dng kuat, membuat dodon mendesisi keenakan.
sampai akirnya ketika dodon keluar, diana terpaksa menelen sperma dodon.

ketika giliran dodon menyentuh vagina diana ia merasakan vagina tsb sudah basah.
“oohhmm..kamu suka juga kan ternyata…dasar muna loo..”
muka diana terlihat memerah menahan malu.
kini giliran dodon yang berlutut di depan diana dan menjilati vagina diana.
permainan lidah dodon di vaginanya membuat diana merintih, mendesah , dan mengerang, apalagi buah dadanya kembali di remas dodon.

setelah dirasa cukup basah, dodon mebaringkan diana di lantai wc yg dingin, tanpa basa basi langsung menusukkan kontlnya ke vagina diana, ternyata masih sempit dan memang diana masih virgin.
butuh usaha keras bagi kont
l dodon untuk menembusnya , hingga akhirnya seiring jeritan diana, darah perawan mengalir.
dodon terus mendorong , cepat dan makin cepat , teriakan tangangisan , erangan dan rintihan diana menjadi stimulus untuknya.
hingga akhirnya diana menjerit tanda orgasme, membuat dodon makin semangat, buah dada diana bergoyang seirama dengan gerakan maju mundur dodon.
begitu orgasme , dodon sambil pual meremas keras buah dada ranum diana, sehingga diana menjerit kesakitan.

dodon tertawa puas, siapa bilang ke perpustakaan tak ada gunanya……

RIDA

Filed under: RAMAI-RAMAI, PERKOSAAN

Rida adalah seorang gadis 20 tahunan yang bekerja di sebuah bank negeri di kota Bkl. Ia tinggal di rumah kos bersama seorang rekan wanitanya, Ita, yang juga bekerja di bank yang sama walaupun pada cabang yang berbeda. Ia memiliki tubuh yang kencang. Wajahnya cukup manis dengan bibir yang penuh, yang selalu dipoles dengan lipstik warna terang. Tentu saja sebagai seorang teller di bank penampilannya harus selalu dijaga. Ia selalu tampil manis dan harum.

Suatu hari di sore hari Rida terkejut melihat kantornya telah gelap. Berarti pintu telah dikunci oleh Pak Warto dan Diman, satpam mereka. Dia tadi pergi ke WC terlebih dulu sebelum akan pulang. Mungkin mereka mengira ia sudah pulang. Baru saja ia akan menggedor pintu, biasanya para satpam duduk di pintu luar. Ada kabar para satpam di kantor bank tersebut akan diberhentikan karena pengurangan karyawan, Rida merasa kasihan tapi tak bisa berbuat apa-apa. Seingatnya ada kurang lebih 6 orang satpam disana. Berarti banyak juga korban PHK kali ini.

“Mau kemana Rida?”, tiba-tiba seseorang menegurnya dari kegelapan meja teller.
Rida terkejut, ada Warto dan Diman. Mereka menyeringai.
“Eh Pak, kok sudah dikunci? Aku mau pulang dulu..”, Rida menyapa mereka berdua yang mendekatinya.
“Rida, kami bakal diberhentikan besok..”, Warto berkata.
“Iya Pak, aku juga nggak bisa apa apa..”, Rida menjawab.
Di luar hujan mulai turun.
“Kalau begitu.. kami minta kenang-kenangan saja Mbak”, tiba-tiba Diman yang lebih muda menjawab sambil menatapnya tajam.
“I.., iya.., besok aku belikan kenang-kenangan..”, Rida menjawab.

Tiba-tiba ia merasa gugup dan cemas. Warto mencekal lengan Rida. Sebelum Rida tersadar, kedua tangannya telah dicekal ke belakang oleh mereka.
“Aah! Jangan Pak!”.
Diman menarik blus warna ungu milik Rida. Gadis itu terkejut dan tersentak ketika kancing blusnya berhamburan. “Sekarang aja Rida. Kenang-kenangan untuk seumur hidup!”.
Warto menyeringai melihat Diman merobek kaos dalam katun Rida yang berwarna putih berenda. Rida berusaha meronta. Namun tak berdaya, dadanya yang kencang yang terbungkus bra hitam berendanya mencuat keluar.
“Jangannnn! Lepaskannn!”, Rida berusaha meronta.

Hujan turun dengan derasnya. Diman sekarang berusaha menurunkan celana panjang ungu Rida. Kedua lelaki itu sudah sejak lama memperhatikan Rida. Gadis yang mereka tahu tubuhnya sangat kencang dan sintal. Diam-diam mereka sering mengintipnya ketika ke kamar mandi. Saat ini mereka sudah tak tahan lagi. Rida menyepak Diman dengan keras.
“Eit, melawan juga si Mbak ini..”, Diman hanya menyeringai.
Rida di seret ke meja Head Teller. Dengan sekali kibas semua peralatan di meja itu berhamburan bersih.
“Aahh! Jangan Pak! Jangannn!”, Rida mulai menangis ketika ia ditelungkupkan di atas meja itu.
Sementara kedua tangannya terus dicekal Warto, Diman sekarang lebih leluasa menurunkan celana panjang ungu Rida. Sepatunya terlepas.

Diperlakukan seperti itu, Rida juga mulai merasa terangsang. Ia dapat merasakan angin dingin menerpa kulit pahanya. Menunjukkan celananya telah terlepas jatuh. Rida lemas. Hal ini menguntungkan kedua penyiksanya. Dengan mudah mereka menanggalkan blus dan celana panjang ungu Rida. Rida mengenakan setelan pakaian dalam berenda warna hitam yang mini dan sexy. Mulailah pemerkosaan itu. Pantat Rida yang kencang mulai ditepuk oleh Warto bertubi-tubi, “Plak! Plak!”.

Tubuh Rida memang kencang menggairahkan. Payudaranya besar dan kencang. Seluruh tubuhnya pejal kenyal. Dalam keadaan menungging di meja seperti ini ia tampak sangat menggairahkan. Diman menjambak rambut Rida sehingga dapat melihat wajahnya. Bibirnya yang penuh berlipstik merah menyala membentuk huruf O. Matanya basah, air mata mengalir di pipinya.
“Sret!”, Rida tersentak ketika celana dalamnya telah ditarik robek.
Menyusul branya ditarik dengan kasar. Rida benar-benar merasa terhina. Ia dibiarkan hanya dengan mengenakan stocking sewarna dengan kulitnya. Sementara penis Warto yang besar dan keras mulai melesak di vaginanya.
“Ouuhh! Adduhh..!”, Rida merintih.
Seperti anjing, Warto mulai menyodok nyodok Rida dari belakang. Sementara tangannya meremas-remas dadanya yang kencang. Rida hanya mampu menangis tak berdaya.

Tiba-tiba Diman mengangkat wajahnya, kemudian menyodorkan penisnya yang keras panjang. Memaksa Rida membuka mulutnya. Rida memegang pinggiran meja menahan rasa ngilu di selangkangannya sementara Diman memperkosa mulutnya. Meja itu berderit derit mengikuti sentakan-sentakan tubuh mereka. Warto mendesak dari belakang, Diman menyodok dari depan. Bibir Rida yang penuh itu terbuka lebar-lebar menampung kemaluan Diman yang terus keluar masuk di mulutnya. Tiba-tiba Warto mencabut kemaluannya dan menarik Rida.
“Ampuunnn…, hentikan Pak..”, Rida menangis tersengal-sengal.
Warto duduk di atas sofa tamu. Kemudian dengan dibantu Diman, Rida dinaikkan ke pangkuannya, berhadapan dengan pahanya yang terbuka.

“Slebb!”, kemaluan Warto kembali masuk ke vagina Rida yang sudah basah.
Rida menggelinjang ngilu, melenguh dan merintih. Warto kembali memeluk Rida sambil memaksa melumat bibirnya. Kemudian mulai mengaduk aduk vagina gadis itu. Rida masih tersengal-sengal melayani serangan mulut Warto ketika dirasakannya sesuatu yang keras dan basah memaksa masuk ke lubang anusnya yang sempit. Diman mulai memaksa menyodominya.
“Nghhmmm..! Nghh! Jahannaammm…!”, Rida berusaha meronta, tapi tak berdaya.

Warto terus melumat mulutnya. Sementara Diman memperkosa anusnya. Rida lemas tak berdaya sementara kedua lubang di tubuhnya disodok bergantian. Payudaranya diremas dari depan maupun belakang. Tubuhnya yang basah oleh peluh semakin membuat dirinya tampak erotis dan merangsang. Juga rintihannya. Tiba-tiba gerakan kedua pemerkosanya yang semakin cepat dan dalam mendadak berhenti. Rida ditelentangkan dengan tergesa kemudian Warto menyodokkan kemaluannya ke mulut gadis itu. Rida gelagapan ketika Warto mengocok mulutnya kemudian mendadak kepala Rida dipegang erat dan
“Crrrt! Crrrt!”, cairan sperma Warto muncrat ke dalam mulutnya, bertubi-tubi.
Rida merasa akan muntah. Tapi Warto terus menekan hidung Rida hingga ia terpaksa menelan cairan kental itu. Warto terus memainkan batang kemaluannya di mulut Rida hingga bersih. Rida tersengal sengal berusaha menelan semua cairan lengket yang masih tersisa di langit-langit mulutnya.

Mendadak Diman ikut memasukkan batang kemaluannya ke mulut Rida. Kembali mulut gadis itu diperkosa. Rida terlalu lemah untuk berontak. Ia pasrah hingga kembali cairan sperma mengisi mulutnya. Masuk ke tenggorokannya. Rida menangis sesengggukan. Diman memakai celana dalam Rida untuk membersihkan sisa spermanya.
“Wah.. bener-bener kenangan indah, Yuk..”, ujar Warto sambil membuka pintu belakang.
Tak lama kemudian 3 orang satpam lain masuk.
“Ayo, sekarang giliran kalian!”, Rida terkejut melihat ke-3 satpam bertubuh kekar itu.
Ia akan diperkosa bergiliran semalaman. Celakanya, ia sudah pamit dengan teman sekamarnya Ita, bahwa ia tak pulang malam ini karena harus ke rumah saudaranya hingga tentu tak akan ada yang mencarinya.

Rida ditarik ke tengah lobby bank itu. Dikelilingi 6 orang lelaki kekar yang sudah membuka pakaiannya masing-masing hingga Rida dapat melihat batang kemaluan mereka yang telah mengeras.
“Ayo Rida, kulum punyaku!”, Rida yang hanya mengenakan stocking itu dipaksa mengoral mereka bergiliran.
Tubuhnya tiba-tiba di buat dalam keadaan seperti merangkak. Dan sesuatu yang keras mulai melesak paksa di lubang anusnya.
“Akhh…, mmmhhh.., mhhh…”, Rida menangis tak berdaya.
Sementara mulutnya dijejali batang kemaluan, anusnya disodok-sodok dengan kasar. Pinggulnya yang kencang dicengkeram.
“Akkkghhh! Isep teruss…!, Ayooo”.
Satpam yang tengah menyetubuhi mulutnya mengerang ketika cairan spermanya muncrat mengisi mulut Rida. Gadis itu gelagapan menelannya hingga habis. Kepalanya dipegangi dengan sangat erat. Dan lelaki lain langsung menyodokkan batang kemaluannya menggantikan rekannya. Rida dipaksa menelan sperma semua satpam itu bergiliran. Mereka juga bergiliran menyodomi dan memperkosa semua lubang di tubuh Rida bergiliran.

Tubuh Rida yang sintal itu basah berbanjir peluh dan sperma. Stockingnya telah penuh noda-noda sperma kering. Akhirnya Rida ditelentangkan di sofa, kemudian para satpam itu bergiliran mengocok kemaluan mereka di wajahnya, sesekali mereka memasukkannya ke mulut Rida dan mengocoknya disana, hingga secara bergiliran sperma mereka muncrat di seluruh wajah Rida.

Ketika telah selesai Rida telentang dan tersengal-sengal lemas. Tubuh dan wajahnya belepotan cairan sperma, keringat dan air matanya sendiri. Rida pingsan. Tapi para satpam itu ternyata belum puas.
“Belum pagi nih”, ujar salah seorang dari satpam itu.
“Iya, aku masih belum puas…”.
Akhirnya muncul ide mereka yang lain.

Tubuh telanjang Rida diikat erat. Kemudian mereka membawanya ke belakang kantornya. Bagian belakang bank itu memang masih sepi dan banyak semak belukar. Rida yang masih dalam keadaan lemas diletakkan begitu saja di sebuah pondok tua tempat para pemuda berkumpul saat malam. Hujan telah berhenti tetapi udara masih begitu dinginnya. Mulut Rida disumpal dengan celana dalamnya. Ketika malam semakin larut baru Rida tersadar. Ia tersentak menyadari tubuhnya masih dalam keadaan telanjang bulat dan terikat tak berdaya. Ia benar-benar merasa dilecehkan karena stockingnya masih terpasang.

Tiba-tiba saja terdengar suara beberapa laki-laki. Dan mereka terkejut ketika masuk.
“Wah! Ada hadiah nih!”, aroma alkohol kental keluar dari mulut mereka.
Rida berusaha meronta ketika mereka mulai menggerayangi tubuh sintal telanjangnya. Tapi ia tak berdaya. Ada 8 orang yang datang. Mereka segera menyalakan lampu listrik yang remang-remang. Tubuh Rida mulai dijadikan bulan-bulanan. Rida hanya bisa menangis pasrah dan merintih tertahan.

Ia ditunggingkan di atas lantai bambu kemudian para lelaki itu bergiliran memperkosanya. Semua lubang di tubuhnya secara bergiliran dan bersamaan disodok-sodok dengan sangat kasar. Kembali Rida bermandi sperma. Mereka menyemprotkannya di punggung, di pantat, dada dan wajahnya. Setiap kali akan pingsan, seseorang akan menampar wajahnya hingga ia kembali tersadar.
“Ini kan teller di bank depan?”

Mereka tertawa-tawa sambil terus memperkosa Rida dengan berbagai posisi. Rida yang masih terikat dan terbungkam hanya dapat pasrah menuruti perlakuan mereka. Cairan berwarna putih dan merah kekuningan mengalir dari lubang pantat dan vaginanya yang telah memerah akibat dipaksa menerima begitu banyak batang penis. Ketika seseorang sedang sibuk menyodominya, Rida tak tahan lagi dan akhirnya pingsan. Entah sudah berapa kali para pemabuk itu menyemprotkan sperma mereka ke seluruh tubuh Rida sebelum akhirnya meninggalkannya begitu saja setelah mereka puas.

TAMAT

Anak IMUT

Filed under: DAUN MUDA

Tommy, sepupuku, baru duduk di kelas empat SD. Baru saja ia tiba di rumah. Tommy nongkrong di lantai teras depan rumah. Rumahnya kosong. Ayah dan ibunya pergi bekerja, sedangkan ia anak tunggal. Tommy asyik membaca sebuah novel yang seharusnya hanya boleh dibaca oleh orang dewasa.

“Halo, Tommy. Lagi asyik baca nih. Mama udah pulang belum?”, Datang seorang wanita cantik berusia sekitar tiga puluh tahunan.
“Eh, Tante Tika. Mama belum pulang tuh!” jawab Tommy sambil menyembunyikan novel yang dibacanya ke belakang tubuhnya. Tante Tika, adik ayah Tommy, baru saja bercerai dengan suaminya.
“Eh, Tommy baca apa sih? Kok pake di umpet-umpetin segala? Tante boleh lihat nggak?” Setelah dibujuk-bujuk, Tommu mau menyerahkan novel itu kepada Tante Tika.

“Astaga, Tommy. Masih kecil bacaannya ginian!”, seru Tante Tika setelah melihat sampul buku yang bergambarkan seorang gadis muda dengan busana yang sangat minim dan pose yang menggiurkan. Tante Tika lalu membolak-balik halaman novel itu. Saat membaca bagian di mana terdapat adegan yang merangsang dalam buku itu, sekilas terjadi perubahan pada wajahnya.
“Tom, daripada kamu sendirian di sini, lebih baik ke rumah Tante yuk!”, ajak Tante Tika.
“Tapi, Tante, Tonny disuruh Mama jaga rumah”.
“Alaa, tinggal kunci pintu saja sudah”, kata Tante Tika sambil mengunci pintu rumah lalu ia menarik tangan Tommu ke mobilnya.

Mobil Tante Tika sudah meluncur di jalan raya menuju rumahnya. Sebentar-sebentar ia menoleh ke arah Tommy yang duduk di sampingnya.
“Masih kecil sudah ganteng begini”, gumam Tante Tika dalam hati. Ia menggerakkan tangannya meremas-remas kemaluan bocah yang masih hijau itu.
“Aduh, Tante. Geli ah”, kata Tommy. Tante Tika tersenyum penuh arti. Ia menarik tangannya ketika mobil sudah tiba di depan rumahnya yang megah bak istana di seberang danau Sunter.

Tante Tika usianya sudah mencapai tiga puluh dua tahun, tapi penampilannya masih seperti gadis berusia dua puluh tahunan berkat giatnya ia mengikuti senam aerobik di sebuah klub kebugaran beken di Jakarta. Wajahnya yang cantik ditambah dengan tubuhnya yang bahenol serta seksi. Payudaranya yang besar memang amat menawan, apalagi dia sekarang seorang janda. Sudah banyak lelaki yang mencoba merebut hatinya, tapi semua itu ditolaknya mentah-mentah. Menurutnya mereka hanya menginginkan hartanya saja. Tante Tika memang kaya raya, mobil mewahnya ada beberapa buah dari model yang mutakhir lagi. Rumahnya mentereng, di kawasan perumahan elite lagi. Itu semua berkat kerja kerasnya sebagai direktris sebuah perusahaan asuransi papan atas.

Oh ya, Tante Tika mempunyai seorang anak gadis bernama Andriana, putri satu-satunya, tapi biasa dipanggil Andri saja. Gadis manis ini duduk di kelas dua sebuah SMP swasta top di daerah Kelapa Gading. Pada usianya yang baru menginjak empat belas tahun ini, tubuh Andri sedang mekar-mekarnya. Payudara remajanya sudah ranum sekali, berukuran lebih besar daripada gadis-gadis sebayanya, laksana payudara gadis berusia tujuh belas tahun. Mungkin kemontokannya ini warisan dari ibunya. Tapi Andri memang anak yang agak kurang pergaulan alias kuper karena kebebasannya dibatasi dengan ketat oleh ibunya, yang kuatir ada pihak-pihak yang memanfaatkan kemolekan tubuh anaknya tersebut. Sama sekali Andri belum pernah merasakan apa artinya itu cinta. Padahal banyak sudah cowok yang naksir dia. Namun Andri belum sadar akan cinta.

“Tom, badan Tante pegal nih. Tolong pijatin ya”, kata Tante Tika sambil mengajak Tommy ke kamar tidurnya. Tante Tika membuka busananya. Lalu ia membaringkan tubuhnya yang telanjang bulat tengkurap di ranjang. Tommy masih lugu sekali. Ia belum tahu apa-apa tentang keindahan tubuh wanita.

“Tante kok buka baju? Kepanasan ya?”, tanya Tommy dengan polosnya. Tante Tika mengangguk. Lalu Tommy memijati tubuh Tante Tika. Mula-mula punggungnya. Lalu turun ke bawah. Tante Tika mendesah sewaktu tangan mungil Tommy memijati gumpalan pantatnya yang montok.

“Tante, kenapa? Sakit ya?”, tanya Tommy lugu. Mula Tante Tika memerah. Dia duduk di atas ranjang. Tangannya menarik tangan Tommy ke payudaranya.
“Tante, ini apaan? Kok empuk amat sih?”, tanya Tommy ketika tangannya menjamah payudara tantenya. Tante Tika mulai bangkit nafsu birahinya.
“Ini namanya payudara, Tom”.
“Kok Tante punya sih? Tommy nggak ada?”.
“Tommy, Tommy. Kamu bukan cewek. Semua cewek kalau udah gede pasti akan punya payudara. Payudara adalah lambang keindahan tubuh wanita”, Tante Tika menjelaskan dengan bahasa yang terlalu tinggi bagi anak seusia Tommy.
“Lalu pentilan ini apa namanya?”, tanya Tommy sambil memijit puting susu tantenya. Tante Tika sedikit menggelinjang terangsang.
“Ah…, Ini namanya puting susu. Semua wanita juga mempunyai puting susu. Mamamu juga punya. Dulu waktu kamu masih bayi, kamu minum susu dari sini”.
“Masa sih Tante. Biasanya kan susu dari sapi?”
“Mau nyobain nih kalo kamu nggak percaya. Sini deh kamu isap puting susu Tante!”.

Tommy kecil mendekatkan mulutnya pada payudara Tante Tika lalu diisapnya puting susunya.
“Ih, Tante bohong. Kok nggak keluar apa-apa?”, kata Tommy sambil terus menyedoti puting susu Tante Tika yang tinggi menegang itu. Tapi tantenya nampaknya tidak mempedulikan perkataan keponakannya itu.
“Teruskan…, Tom…, Sedot terus…, Ouuuhh..”, kata Tante Tika bernafsu. Karena merasa mendapat mainan baru, Tommypun menurut. Dengan ganasnya ia menyedot-nyedot puting susunya. Tante Tika menggerinjal-gerinjal. Tak sengaja tangannya menyenggol gelas yang ada di meja di dekatnya, sehingga isinya tumpah membasahi bahu dan celana pendek Tommy.
“Ya, Tante. Pakaian Tommy basah deh!”, kata Tommy sambil melepaskan isapannya pada puting susu Tante Tika.
“Ya, Tommy. Kamu buka baju dulu deh. Nanti Tante ambilkan baju ganti. Siapa tahu ada yang pas buat kamu”, kata Tante Tika sambil beranjak ke luar kamar tidur. Sempat dilihatnya tubuh telanjang Tommy. Dikenalkannya pakaiannya lagi. Tante Tika pergi ke kamar anaknya, Andri, yang baru saja pulang dari sekolah.

“Dri”.
“Apa, Ma?”, tanya Andri yang masih memakai baju seragam. Blus putih dan rok berwarna biru.
“Kamu punya baju yang sudah nggak kamu pakai lagi nggak?”.
“Nggg…, Ada Ma. Tunggu sebentar”, Andri mengeluarkan daster yang sudah kekecilan buat tubuhnya dari dalam lemari pakaiannya.
“Buat apa sih, Ma?”, kata Andri seraya menyerahkan dasternya kepada ibunya.
“Itu, buat si Tommy. Tadi pakaiannya basah ketumpahan air minum”.
“Tommy datang ke sini, Ma? Sekarang dia di mana?”.
“Sudah! Kamu belajar dulu. Nanti Tommy akan Mama suruh ke sini!”.
“Ya…, Mama!” Gerutu Andri kesal. Ibunya tak mengindahkannya. Andri senang pada Tommy karena ia sering saling menukar permainan komputer dengannya. Tapi Andri keras kepala. Setelah jarak ibunya cukup jauh, diam-diam ia membuntuti dari belakang tanpa ketahuan. Sampai di depan kamar ibunya, Andri mengintip ke dalam melalui pintu yang sedikit terbuka. Dilihatnya ibunya sedang berbicara dengan Tommy.

“Tommy, coba kamu pake baju ini dulu. Bajunya Andri, sambil nunggu pakaian kamu kering”, kata Tante Tika sambil memberikan daster milik Andri kepada Tommy.
“Ya, Tante. Tommy nggak mau pake baju ini. Ini kan baju perempuan! Nanti Tommy jadi punya payudara kayak perempuan. Tommy nggak mau!”.
“Nggak mau ya sudah!”, kata Tante Tika sambil tersenyum penuh arti. Kebetulan, batinnya. Kemudian ia menanggalkan busananya kembali.
“Kalo yang ini apa namanya, Tom?”, tanya Tante Tika sambil menunjuk batang kemaluan Tommy yang masih kecil.
“Kata Papa, ini namanya burung”, jawab Tommy polos.
“Tommy tahu nggak, burung Tommy itu gunanya buat apa?”.
“Buat pipis, Tante”.
“Bener, tapi bukan buat itu aja. Kamu bisa menggunakannya untuk yang lain lagi. Tapi itu nanti kalo kamu sudah gede”.

Andri heran melihat ibunya telanjang bulat di depan Tommy. Semakin heran lagi melihat mulut ibunya mengulum batang kemaluannya. Rasanya dulu ibunya pernah melakukan hal yang sama pada kemaluan ayahnya. Semua itu dilihatnya ketika kebetulan ia mengintip dari lubang kunci pintu kamar ibunya. Kenapa ya burung si Tommy itu, pikir Andri.
“Enak kan, Tom, begini?”, tanya Tante Tika sembari menjilati ujung batang kemaluan Tommy.
“Enak, Tante, tapi geli!”, jawab Tommy meringis kegelian.
“Kamu mau yang lebih nikmat nggak?”.
“Mau! Mau, Tante!”.
“Kalau mau, ini di pantat Tante ada gua. Coba kamu masukkan burung kamu ke dalamnya. Terus sodok keras-keras. Pasti nikmat deh”, kata Tante Tika menunjuk selangkangannya.

“Cobain dong, Tante”, Tante Tika menyodokkan pantatnya ke depan Tommy. Tommy dengan takut-takut memasukkan “burung”nya ke dalam liang vagina Tante Tika. Kemudian disodoknya dengan keras. Tante Tika menjerit kecil ketika dinding “gua”nya bergesekkan dengan “burung” Tommy. Andri yang masih mengintip bertambah heran. Ia tidak mengerti apa yang dilakukan ibunya sampai menjerit begitu. Tapi Andri segera berlari kembali ke kamarnya ketika ia melihat ibunya bangkit dan berjalan ke arah pintu, diikuti oleh Tommy yang hanya memakai celana dalam ibunya. Sampai di kamarnya, Andri berbaring di ranjang membaca buku fisikanya. Tommy muncul di pintu kamar.

“Mbak Andri. Kata Tante tadi Mbak mau cari Tommy ya?”.
“Iya, kamu bawa game baru nggak?”, tanya Andri. Tommy menggeleng.
“Eh, Tom. Ngomong-ngomong tadi kamu ngapain sama mamaku?”.
“Nah ya, Mbak tadi ngintip ya? Pokoknya tadi nikmat deh, Mbak!”, kata Tommy berapi-api sambil mengacungkan jempolnya.
“Enak gimana?”, Andri bertanya penasaran.
“Mbak mau ngerasain?”.
“Mau, Tom”.
“Kalo begitu, Mbak buka baju juga kayak Tante tadi”, kata Tommy.
“Buka baju?”, tanya Andri, “Malu dong!”.

Akhirnya dengan malu-malu, gadis manis itu mau membuka blus, rok, BH, dan celana dalamnya hingga telanjang bulat. Tommy tidak terangsang melihat tubuh mulus yang membentang di depannya. Payudara ranum yang putih dan masih kencang dengan puting susu kemerahan, paha yang putih dan mulut, pantat yang montok. Masih kecil sih Tommy!

“Bener kata Tante. Mbak Andri juga punya payudara. Tapi punyanya Tante lebih gede dari punya Mbak. Pentilnya Mbak juga nggak tinggi kayak Tante”, Tommy menyamakan payudara dan puting susu Andri dengan milik ibunya.
“Pentil Mbak keluar susu, nggak?”.
“Nggak tahu tuh, Tom. Nggak pernah ngerasain sih!”, kata Andri lugu.
“Pentilnya Tante nggak bisa ngeluarin apa-apa, payah!”.
“Masak sih bisa keluar susu dari pentilku?”, kata Andri tidak percaya sambil memandangi puting susunya yang sudah meninggi meskipun belum setinggi milik ibunya.
“Mbak nggak percaya? Mau dibuktiin?”.
“Boleh!”, kata Andri sambil menyodorkan payudaranya yang ranum.

Mulut Tommy langsung menyambarnya. Diisap-isapnya puting susu Andri, membuat gadis itu menggerinjal-gerinjal kegelian.
“Ya, kok nggak ada susunya sih, Mbak?”.
“Coba kamu isap lebih keras lagi!”, kata Andri. Tommy segera menyedoti puting susu Andri. Tapi lagi-lagi ia kecewa karena puting susu itu tidak mengeluarkan air susu. Tapi Tommy belum puas. Diisapnya puting susu Andri semakin keras, membuat gadis manis itu membelalak menahan geli.
“Nggak keluar juga ya, Tom”, tanya Andri penasaran.
“Kali kayak sapi. Harus diperas dulu baru bisa keluar susunya”, kata Tommy.
“Mungkin juga. Ayo deh coba!”, kata Andri seraya meremas-remas payudaranya sendiri seperti orang sedang memerah susu sapi. Sementara itu Tommy masih terus mengisapi puting susunya. Akhirnya mereka berdua putus asa.

“Kok nggak bisa keluar sih. Coba yang lain aja yuk!”, kata Tommy membuka celana dalamnya.
“Apaan tuh yang nonjol-nonjol, Tom?”, tanya Andri ingin tahu.
“Kata Papa, itu namanya burung. Cuma laki-laki yang punya. Tapi kata Tante namanya kemaluan. Tau yang bener yang mana!”.
“Aku nggak punya kok, Tom?”, kata Andri sambil memperhatikan daerah di bawah pusarnya. Tidak ada tonjolan apa-apa”.
“Mbak kan perempuan, jadi nggak punya. Kata Tante, anak perempuan punya…, apa tuh namanya…, va…, vagina. Katanya di pantat tempatnya.
“Di pantat? Yang mana? Yang ini? Ini kan tempat ‘eek, Tom?!”, kata Andri sambil menunjuk duburnya.
“Bukan, lubang di sebelahnya”, kata Tommy yakin.
“Yang ini?”, tanya Andri sembari membuka bibir liang vaginanya.
“Kali!”.
“Jadi ini namanya vagina. Namanya kayak nama mamanya Hanny ya?”, kata Andri. Ia menyamakan kata vagina dengan Tante Gina, ibuku.
“Tadi mamaku ngisep-ngisep burung kamu. Emangnya kenapa sih?”, lanjut Andri.
“Tommy juga nggak tahu, Mbak”.
“Enak kali ya?”.
“Kali, tapi Tommy sih keenakan tadi”.

Tanpa rasa risih, Andri memasukkan batang kemaluan Tommy ke dalam mulutnya, lalu diisap-isapnya.
“Ah, nggak enak kok Tom. Bau!”, kata Andri sambil meludah.
“Tapi kok kudengar mamaku menjerit-jerit. Ada apaan?”, tanya Andri kemudian.
“Gara-gara Tommy masukin burung Tommy ke dalam guanya. Nggak tahu tuh, kok tahu-tahu Tante menjerit”.
“Gua yang mana?”, Andri penasaran.
“Yang tadi tuh, Mbak. Yang namanya vagina”.
“Apa nggak sakit tuh, Tom?”.
“Sakit sih sedikit. Tapi nikmat kok. Mbak!”.
“Bener nih?”.
“Bener, Mbak Andri. Tommy berani sumpah deh!”.
“Coba deh”, Andri akhirnya percaya juga.

Tommy memasukkan batang kemaluannya ke dalam liang vagina Andri yang masih sempit. Andri menyeringai.
“Sakit dikit, Tom”.
Tommy menyodok-nyodokkan “burung”nya berulang kali dengan keras ke “gua” Andri. Andri mulai menjerit-jerit kesakitan. Tapi Tommy tidak peduli karena merasa nikmat. Andri tambah menjerit dengan keras. Mendengar lengkingan Andri, Tante Tika berlari tergopoh-gopoh ke kamar putrinya itu.
“Dri, Andri. Kenapa kami?”, tanya Tante Tika. Ia terkejut melihat Andri yang meronta-ronta kesakitan disetubuhi oleh Tommy kecil.
“Ya ampun, Tommy! Berhenti! Gila kamu!” teriaknya naik darah. Apalagi setelah ia melihat darah yang mengalir dari selangkangan Andri melalui pahanya yang mulus.

Astaga! Andri telah ternoda oleh anak kecil berusia sepuluh tahun, sepupunya lagi?! Putrinya yang baru berumur empat belas tahun itu sudah tidak perawan lagi?!
“Nanti aja, Tante! Enak!”.
“Anak jahanam!”, teriak Tante Tika marah. Ia menempeleng Tommy, sehingga bocah itu hampir mental. Sementara itu, Andri langsung ambruk tak sadarkan diri.
Sejak kejadian itu hubungan keluarga Tommy dengan Tante Tika menjadi tegang.

TAMAT

Gadis `12 tahun

Filed under: DAUN MUDA

Lia adalah yang tergolong imut dan manis untuk gadis seusianya. Entah kenapa, aku ingin sekali bersetubuh dengan Lia, aku ingin menikmati rasanya lubang kelamin Lia, yang kubayangkan pastilah masih sangat sempit. Ahhh.. nafsuku kian membara karena memikirkan hal itu. Aku mencoba mencari akal, bagaimana caranya agar keperawanan Lia bisa kudapatkan dan kurasakan. Kutunggu saja waktu tepatnya dengan sabar. Tidak terasa, selesailah film panas yang sedang kami tonton. Suara Lia akhirnya memecahkan keheningan.

“Oom, tuh tititnya berdiri lagi.” kata Lia sambil menunjuk ke arah batang kemaluanku yang memang sedang tegang.
“Iya nih Lia, tapi biarin saja deh, gimana dengan filmnya?” jawabku santai.
“Bagus kok Oom, persis seperti apa yang papa dan mama lakukan, dan Lia ada beberapa pertanyaan buat Oom nih.” Lia sepertinya ingin menanyakan sesuatu.
“Pertanyaannya apa?” tanyaku.
“Kenapa sih, kalo olahraga gituan harus masukin titit ke… apa tuh, Lia ngga ngerti?” tanya Lia.
“Oh itu.., itu namanya titit dimasukkan ke lubang kencing atau disebut juga lubang memek, pasti papa Lia juga melakukan hal itu ke mama kan?” jawabku menerangkan.
“Iya benar Oom, papa pasti masukin tititnya ke lubang yang ada pada memek mama.” Lia membenarkan jawabanku.
“Itulah seninya olahraga beginian Lia, bisa dilakukan sendiri, bisa juga dilakukan berdua, olahraga ini khusus untuk dewasa.” kataku memberi penjelasan ke Lia.
“Lia sudah boleh ngga Oom.. melakukan olahraga seperti itu?” tanya Lia lagi.

Ouw.. inilah yang aku tunggu.. dasar rejeki.. selalu saja datang sendiri.
“Boleh sih, dengan satu syarat jangan bilang sama mama dan papa.” jelasku.
Terang saja aku membolehkan, sebab itulah yang kuharapkan.
“Lia harus tahu, jika Lia melakukan olahraga beginian akan merasa lelah sekali tetapi juga akan merasakan enak.” tambahku.
“Masa sih Oom? Tapi kayaknya ada benarnya juga sih, Lia lihat sendiri mama juga sepertinya merasa lelah tapi juga merasa keenakan, sampai menjerit-jerit lho Oom, malahan kadang seperti mau nangis.” Lia yang polos rupanya sudah mulai tertarik dan sepertinya ingin tahu bagaimana rasanya.
“Emang gitu kok. Ee…, mumpung masih siang nich, mama Lia juga masih lama pulangnya, kalo Lia memang ingin olahraga beginian, sekarang saja gimana?” aku sudah tidak sabar ingin melihat pesona kemaluannya Lia, pastilah luar biasa.

“Ayolah!” Lia mengiyakan.
Memang rasa ingin tahu anak gadis seusia Lia sangatlah besar. Ini adalah hal baru bagi Lia. Segera saja kusiapkan segala sesuatunya di otakku. Aku ingin Lia merasakan apa yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Kaos singlet yang menempel di tubuhku telah kulepas. Aku sudah telanjang bulat dengan batang kejantananku mengacung-ngacung keras dan tegang. Baru pernah seumur hidupku, aku telanjang di hadapan seorang gadis belia berumur 12 tahun. Lia hanya tersenyum-senyum memandangi batang kemaluanku yang berdiri dengan megahnya. Mungkin karena kebiasaan melihat papa dan mamanya telanjang bulat, sehingga melihatku telanjang bulat merupakan hal yang tidak aneh lagi bagi Lia.

Kusuruh Lia untuk membuka seluruh pakaiannya. Awalnya Lia protes, tetapi setelah kuberitahu dan kucontohkan kenapa mama Lia telanjang bulat, dan kenapa ceweknya Tarzan juga telanjang bulat, sebab memang sudah begitu seharusnya. Akhirnya Lia mau melepas pakaiannya satu persatu. Aku melihat Lia melepaskan pakaiannya dengan mata tidak berkedip. Pertama sekali, lepaslah pakaian sekolah yang dikenakannya, lalu rok biru dilepaskan juga. Sekarang Lia tinggal mengenakan kaos dalam dan celana dalam saja.
Di balik kaos dalamnya yang cukup tebal itu, aku sudah melihat dua benjolan kecil yang mencuat, pastilah puting susunya Lia yang baru tumbuh. Baru saja aku berpikiran seperti itu, Lia sudah membuka kaos dalamnya itu dan seperti apa yang kubayangkan, puting susu Lia yang masih kuncup, membenjol terlihat dengan jelas di kedua mataku. Puting susu itu begitu indahnya. Lain sekali dengan yang biasa kulihat dan kurasakan dari wanita malam langgananku, rata-rata puting susu mereka sudah merekah dan matang, sedangkan ini, aku hanya bisa menelan ludah.

Payudara Lia memang belum nampak, sebab karena faktor usia. Akan tetapi puting susunya sudah mulai menampakkan hasilnya. Membenjol cukup besar dan mencuat menantang untuk dinikmati. Warna puting susu Lia coklat kemerahan, aku melihat puting susu itu menegang tanpa Lia menyadarinya. Lalu Lia melepaskan juga celana dalamnya. Kembali aku dibuatnya sangat bernafsu, kemaluan Lia masih berupa garis lurus, seperti kebanyakan milik anak-anak gadis yang sering kulihat mandi di sungai. Vagina yang belum ditumbuhi bulu rambut satu pun, masih gundul. Aku sungguh-sungguh melihat pemandangan yang menakjubkan ini. Terbengong-bengong aku dibuatnya.

“Oom, udah semua nih, udah siap nih Oom.”
Aku tersentak dari lamunan begitu mendengar Lia berbicara.
“Oke, sekarang dimulai yaaa…?”
Kuberi tanda ke Lia supaya tiduran di sofa. Pertama sekali aku meminta ijin ke Lia untuk menciuminya, Lia mengijinkan, rupanya karena sangat ingin atau karena Lia memang sudah mulai menuruti nafsunya sendiri, aku kurang tahu. Yang penting bagiku, aku merasakan liang perawannya dan menyetubuhinya siang ini.

Aku ciumi kening, pipi, hidung, bibir dan lehernya. Kupagut dengan mesra sekali. Kubuat seromantis mungkin. Lia hanya diam seribu bahasa, menikmati sekali apa yang kulakukan kepadanya.
Setelah puas aku menciuminya, “Lia, boleh ngga Oom netek ke Lia?” tanyaku meminta.
“Tapi Oom, tetek Lia kan belon sebesar seperti punya mama.” kata Lia sedikit protes.
“Ngga apa-apa kok Lia, tetek segini malahan lebih enak.” kilahku meyakinkan Lia.
“Ya deh, terserah Oom saja, asalkan ngga sakit aja.” jawab Lia akhirnya memperbolehkan.
“Dijamin deh ngga sakit, malahan Lia akan merasakan enak dan nikmat yang tiada tara.” jawabku lagi.

Segera saja kuciumi puting susu Lia yang kiri, Lia merasa geli dan menggelinjang-gelinjang keenakan, aku merasakan puting susu Lia mulai mengalami penegangan total. Selanjutnya, aku hisap kedua puting susu tersebut bergantian. Lia melenguh menahan geli dan nikmat, aku terus menyusu dengan rakusnya, kusedot sekuat-kuatnya, kutarik-tarik, sedangkan puting susu yang satunya lagi kupelintir-pelintir.
“Oom, kok enak banget nihhh… oohhh… enakkk…” desah Lia keenakan.
Lia terus merancau keenakan, aku sangat senang sekali. Setelah sekian lama aku menyusu, aku lepaskan puting susu tersebut. Puting susu itu sudah memerah dan sangat tegangnya. Lia sudah merasa mabuk oleh kenikmatan. Aku bimbing tangannya ke batang kemaluanku.

“Lia, kocok dong tititnya Oom Agus.” aku meminta Lia untuk mengocok batang kemaluanku.
Lia mematuhi apa yang kuminta, mengocok-ngocok dengan tidak beraturan. Aku memakluminya, karena Lia masih amatir, sampai akhirnya aku justru merasa sakit sendiri dengan kocokan Lia tersebut, maka kuminta Lia untuk menghentikannya. Selanjutnya, kuminta Lia untuk mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar, tanpa bertanya Lia langsung saja mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar, aku terpana sesaat melihat vagina Lia yang merekah. Tadinya kemaluan itu hanya semacam garis lurus, sekarang di hadapanku terlihat dengan jelas, buah klitoris kecil Lia yang sebesar kacang kedelai, vaginanya merah tanpa ditumbuhi rambut sedikit pun, dan yang terutama, lubang kemaluan Lia yang masih sangat sempitnya. Jika kuukur, hanya seukuran jari kelingking lubangnya.

Aku lakukan sex dengan mulut, kuciumi dan hisap kemaluan Lia dengan lembut, Lia kembali melenguh. Lenguhan yang sangat erotis. Meram melek kulihat mata Lia menahan enaknya hisapanku di kemaluannya. Kusedot klitorisnya. Lia menjerit kecil keenakan, sampai tidak berapa lama.
“Oom, enak banget sih, Lia senang sekali, terussinnn…” pinta Lia.
Aku meneruskan menghisap-hisap vagina Lia, dan Lia semakin mendesah tidak karuan. Aku yakin Lia hampir mencapai puncak orgasme pertamanya selama hidup.
“Oommm… ssshhh… Lia mau pipis nich..”
Lia merasakan ada sesuatu yang mendesak ingin keluar, seperti ingin kencing.
“Tahan dikit Lia… tahan yaaa…” sambil aku terus menjilati, dan menghisap-hisap kemaluannya.
“Udah ngga tahan nich Oommm… aahhh…”
Tubuh Lia mengejang, tangan Lia berpegangan ke sofa dengan erat sekali, kakinya menjepit kepalaku yang masih berada di antara selangkangannya.

Lia ternyata sudah sampai pada klimaks orgasme pertamanya. Aku senang sekali, kulihat dari bibir lubang perawannya merembes keluar cairan cukup banyak. Itulah cairan mani nikmatnya Lia.
“Oohhh… Oom Agus… Lia merasa lemes dan enak sekali… apa sih yang barusan Lia alami, Oom…?” tanya Lia antara sadar dan tidak.
“Itulah puncaknya Lia.., Lia telah mencapainya, pingin lagi ngga?” tanyaku.
“Iya.. iya.. pingin Oom…” jawabnya langsung.
Aku merasakan kalau Lia ingin merasakannya lagi. Aku tidak langsung mengiyakan, kusuruh Lia istirahat sebentar, kuambilkan semacam obat dari dompetku, obat dopping dan kusuruh Lia untuk meminumnya. Karena sebentar lagi, aku akan menembus lubang perwannya yang sempit itu, jadi aku ingin Lia dalam keadaan segar bugar.

Tidak berapa lama, Lia kulihat telah kembali fit.
“Lia… tadi Lia sudah mencapai puncak pertama, dan masih ada satu puncak lagi, Lia ingin mencapainya lagi kan..?” bujukku.
“Iya Oom, mau dong…” Lia mengiyakan sambil manggut-manggut.
“Ini nanti bukan puncak Lia saja, tetapi juga puncak Oom Agus, ini finalnya Lia” kataku lagi menjelaskan.
“Final?” Lia mengernyitkan dahinya karena tidak paham maksudku.
“Iya, final.., Oom ingin memasukan titit Oom ke lubang memek Lia, Oom jamin Lia akan merasakan sesuatu yang lebih enak lagi dibandingkan yang tadi.” akhirnya aku katakan final yang aku maksudkan.
“Ooh ya, tapi.. Oom.. apa titit Oom bisa masuk tuh? Lubang memek Lia kan sempit begini sedangkan tititnya Oom.. gede banget gitu…” Lia sambil menunjuk lubang nikmatnya.
“Pelan-pelan dong, ntar pasti bisa masuk kok.. cobain ya..?” pintaku lagi.
“Iya deh Oom…” Lia secara otomatis telah mengangkangkan kakinya selebar-lebarnya.

Kuarahkan kepala kemaluanku ke lubang vagina Lia yang masih super sempit tersebut. Begitu menyentuh lubang nikmatnya, aku merasa seperti ada yang menggigit dan menyedot kepala kemaluanku, memang sangat sulit untuk memasukkannya. Sebenarnya bisa saja kupaksakan, tetapi aku tidak ingin Lia merasakan kesakitan. Kutekan sedikit demi sedikit, kepala kemaluanku bisa masuk, Lia mengaduh dan menjerit karena merasa perih. Aku menyuruhnya menahan. Efek dari obat dopping itu tadi adalah untuk sedikit meredam rasa perih, selanjutnya kutekan kuat-kuat.
“Blusss…”
Lia menjerit cukup keras, “Ooommm… tititnya sudaaahhh masuk… kkaahhh?”
“Udah sayang… tahan ya…” kataku sambil mengelus-ngelus rambut Lia.

Aku mundurkan batang kemaluanku. Karena sangat sempitnya, ternyata bibir kemaluan Lia ikut menggembung karena tertarik. Kumajukan lagi, kemudian mundur lagi perlahan tetapi pasti. Beberapa waktu, Lia pun sepertinya sudah merasakan enak. Setelah cairan mani Lia yang ada di lubang perawannya semakin membanjir, maka lubang kenikmatan itu sudah sedikit merekah. Aku menggenjot maju mundur dengan cepat. Ahhh.. inikah kemaluan perawan gadis imut. Enak sekali ternyata. Hisapannya memang tiada duanya. Aku merasa keringat telah membasahi tubuhku, kulihat juga keringat Lia pun sudah sedemikian banyaknya.

Sambil kuterus berpacu, puting susu Lia kumainkan, kupelintir-pelintir dengan gemas, bibir Lia aku pagut, kumainkan lidahku dengan lidahnya. Aku merasakan Lia sudah keluar beberapa kali, sebab aku merasa kepala batang kemaluanku seperti tersiram oleh cairan hangat beberapa kali dari dalam lubang surga Lia. Aku ganti posisi. Jika tadi aku yang di atas dan Lia yang di bawah, sekarang berbalik, aku yang di bawah dan Lia yang di atas. Lia seperti kesetanan, bagaikan cowboy menunggang kuda, oh enak sekali rasanya di batang kemaluanku. Naik turun di dalam lubang surga Lia.

Sekian lama waktu berlalu, aku merasa puncak orgasmeku sudah dekat. Kubalik lagi posisinya, aku di atas dan Lia di bawah, kupercepat gerakan maju mundurku. Lalu aku peluk erat sekali tubuh kecil dalam dekapanku, kubenamkan seluruh batang kemaluanku. Aku menegang hebat.
“Crruttt… crruttt…”
Cairan maniku keluar banyak sekali di dalam lubang kemaluan Lia, sedangkan Lia sudah merasakan kelelahan yang amat sangat. Aku cabut batang kemaluanku yang masih tegang dari lubang kemaluan Lia. Lia kubiarkan terbaring di sofa. Tanpa terasa, Lia langsung tertidur, aku bersihkan lubang kelaminnya dari cairan mani yang perlahan merembes keluar, kukenakan kembali semua pakaiannya, lalu kubopong gadis kecilku itu ke kamarnya. Aku rebahkan tubuh mungil yang terkulai lelah dan sedang tertidur di tempat tidurnya sendiri, kemudian kucium keningnya. Terima kasih Lia atas kenikmatannya tadi. Malam pun tiba.

Keesokan harinya, Lia mengeluh karena masih merasa perih di vaginanya, untungnya Tante Linda tidak tahu. Hari berlalu terus. Sering kali aku melakukan olahraga senggama dengan Lia, tentunya tanpa sepengetahuan Oom Joko dan Tante Linda.

SEX pertam a dengan saudara

Filed under: DAUN MUDA, Incest

Saya punya kebiasaan onani sama seperti cowok teman-teman saya. Tapi sebagai perangsang, saya nggak hanya memakai buku atau film BF tapi juga orang. Soalnya saudara saya banyak yang cewek plus cakep-cakep masih SMP, bodinya jadi. Karena rumah saya yang besar, saudara saya (terutama yang perempuan) sering menginap, nah waktu itu yang saya suka. Biasanya malam-malam saya naik ke kamar tamu, dan mengendap-ngendap. Saya naik ke atas ranjang dan mulai aksi saya dengan pegang-pegang bodi saudara saya sambil ngocok. Nggak jarang saudara saya tidur nyenyak banget sehingga saya bisa ngobel-ngobel vaginanya.

Nah, kebetulan minggu lalu pas libur Sidang Umum saudara saya menginap. Ada satu saudara perempuan saya yang asli cantik namanya Joyce. Saya kepingin benar ngobel vaginanya tapi nggak dapat, soalnya dia baru kepegang paha saja sudah sadar. Tapi ini malam lain, saya memulai petualangan saya lagi. Saya naik ke kamar atas, terlihat si Joyce tidur dengan posisi nafsuin. Menghadap ke atas (telentang) kaki rada mengangkang. Darah saya sudah berdesir saja. Saya mulai naik ke atas ranjang, ternyata dia memakai celana longgar. perlahan-lahan saya mulai tarik celananya ke bawah dan mengintip ke dalam. Kelihatan CD-nya. Saya sudah mau masukan tangan saja. Tapi saya takut dia bangun. Tapi, lama-lama saya nggak tahan juga. Saya masukan tangan saya, wah dia diam saja. Saya masuk lebih dalam lagi. Nyentuh CD-nya, saya mulai mau tarik CD-nya. Tangan saya satu lagi ngocok-ngocok penis saya. Tahu-tahu dia bagun dan melihat saya lagi pegang penis saya. Wah, saya kaget dan buru-buru kabur sambil berharap dia melupakan dan dikira mimpi. Saya mau tidur lagi, “Sialan”, dalam hati saya. Saya belum klimaks nih. Akhirnya saya tidur juga. Eh, malamnya saya merasa ada yang memegang tubuh saya. Saya bangun, ternyata si Joyce lagi memegang penis saya sambil tangannya masuk ke dalam CD-nya. Astaga, dia kaget juga, tapi terus berbicara.
“Dengan ini kita seri ya?” terus dia mau pergi. Menyadari gelagat asyik ini saya langsung berkata, “Eh jangan pergi. ”
Terus dia bertanya “Emang kenapa loe marah?”
“Nggak kok, loe demen pegangin barang gua, gue kepenget liat barang loe gimana kalau kita tukeran?”
Dia diam sebentar terus bicara, “Yang benar?”
“Iya”,
“Ya sudah dech, tapi loe duluan ya?”
Terus saya pun tarik celana saya yang longgar (maklum piyama) dan terlihatlah penis saya yang asli tegang (Penis saya 12 cm diameter 4 cm). Lumayan buat anak 16 tahun. Dia kelihatan senang ditambah horny.
“Boleh gue pegang?”
“Loe mau apain juga boleh asal jangan disakitin.”
Tangannya bergerak perlahan gemeteran, dia pegang penis saya. Darah saya berdesir waktu tangannya menyentuh penis saya. Baru sekali penis saya dipegang, dielus sama perempuan. Tangan yang satunya memegang celananya sendiri sambil sesekali menggesek. Saya lihat tambah horny.
“Eh, Joyce cukup donk, giliran lu.”
“Nggak ah malu”,
“Eh, loe sudah janji, lagian cuma kita berdua kok.”
“Ya sudah.”
Dia pun mulai memegang celananya.
“Eh, tunggu, boleh nggak saya yang buka?”
Dia berpikir terus bilang, “Boleh dech”,

Tangan saya mulai memegang celananya. Terus saya gesek bagian vaginanya dia diam saja. Terus perlahan-lahan saya tarik celananya turun, kelihatan CD-nya putih. Terlihat di bagian vagina agak basah, perlahan dari samping saya tarik CD-nya. Tangan saya gemetar. Dia juga terlihat agak malu. Saya tarik ke samping, terlihat vaginanya, bulu kemaluannya paling baru 5 lembar (maklum baru 13). Saya buka sedikit, bau amis campur pesing mulai menyebar.
“Boleh saya elus?”
“Boleh”,
Saya mulai mengelus vaginanya, pas saya buka sedikit, kelihatan ada daging kecil di bagian atas, saya heran.
“Ahh, nikmat Di! Lagi donk”,
Tiba-tiba dia teriak, saya kaget. Terus saya dapet ide,
“Gimana kalau vagina lu gue gesek pakai penis saya?”
“Hah, jangan saya masih mau perawan”,
“Tenang cuma luarnya doang gua jamin perawan lu nggak hilang”,
“Benar?”
“Benar”,
“Ya sudah.”
Terus CD-nya saya tarik ke bawah dan CD saya saya turuni sendiri. Saya suruh dia tiduran, terus saya letakan penis saya di atas vaginanya (waktu itu saya sudah takut ketahuan bokap) terus saya gesek naik turun.
“Ahh nikmat Di, nikmat banget cepetan dikit Di.”
Wah saya semakin nafsu saja saya gesek lagi, sementara vaginanya semakin banjir.
“Ahh terus Di, clit gua donk diutamain”,
“Hah, apaan tuh clit?”
“Itu daging kecil yang tadi loe pegang”,
“Oohh.”
Terus saya mulai mencari “clit” tersebut dan saya gesek pakai kepala penis saya. “Ahh nikmat Di terus Di.”
Saya semakin nafsu saja, terus dia bercanda bicara begini,
“Ahh, uhh, ini mah dimasukin lebih nikmat kali ya?”
Saya yang nafsu senang benar dengar begitu. Saya ambil koran terus saya alaskan pantatnya.
“Ngapain Di?”
Saya diam saja terus saya pelan-pelan cari lubang vaginanya dan saya sodok masuk penis saya.
“Ahh, jangan Di, adduuh sakit Di, please jangan ahh!”Saya kasihan juga saya tarik sedikit. Terus saya sodok sekuat tenaga”Ahh sakit banget Di, aduhh…”
Saya cuek terus saya sodok sedikit. Sambil memegang payudaranya saya bisa melihat dia menangis. Tapi saya cuek, saya kayuh saja terus.
“Ahh Di sakit Di, loe tega loe Di, pokoknya perawan gue lu yang ambil.”Tapi lama-lama dia diam juga, dia malah mulai menikmati.
“Ahh, Ahh, ohh, terus nikmat juga, teruss.”

Mungkin karena sama-sama baru, nggak lebih dari 15 menit kita sama-sama klimaks, saya keluarkan sperma saya di dalam, asli nikmat banget. Setelah selesai, kita duduk senderan, koran tatakan tadi ada noda darah, darah perawan dia. Saya lihat dia menangis sambil nmenyandarkan kepalanya ke dada saya.
“Ah, Di, loe ngambil perawan gue, gue nyesel, tapi nikmat kok, gue tapi nggak ngarep loe mau tanggung jawab, asal loe mau begini terus sama gue, lagian gue juga kok yang mulai.”
“Nggak, apapun yang terjadi saya tanggung, setelah cukup umur loe bakal gue nikahin apapun resikonya.”
“Benar?”
“Suer!”
“Asyikk, loe baik deh, lain kali gue mau lagi deh.”

Sekian pengalaman saya dahh!

TAMAT

Older Posts