kumpulan cerita dewasa dari berbagai sumber …

<?php wp_title('«', true, 'right'); ?> <?php bloginfo('name'); ?>





July 17, 2008

eksebisi wanda

Filed under: RAMAI-RAMAI

Well, namaku Wanda, umurku 21 tahun. Kata orang aku cantik, dan aku mengetahui hal itu, haha..
Tinggiku 160 cm dan beratku 52 kg,Ukuran Braku 34 C dan celana jeansku 28. Bentuk tubuhku nyaris sempurna, kenapa aku bilang nyaris karena kan tidak ada orang yang sempurna
Yah dengan segala kelebihanku ini aku merasa harus membaginya dengan sesama, itu lah kenapa aku suka berpakaian minim dan memamerkan tubuhku.
Umm apa ya sebutannya, ah ga penting yang penting kalian tahu maksudku kan?

Aku mengetahui kelainanku ini ketika duduk di kls 1 sma, waktu itu di kelasku mayoritas cowok. Sehingga cewek-cewek di kelas diperlakukan bagai Putri.
Tetapi di kelasku itu hanya ada 3 orang cewe yang berwajah lumayan, aku, teman sebangkuku Achie dan satu lagi aku ga begitu kenal dekat tapi kalau
ga salah namanya Nadia. Jadilah kalau pelajaran kosong atau istirahat cowok-cowok di kelas cari muka dengan aku dan Achie teman sebangkuku.
Entah kenapa aku merasa senang skali jadi pusat perhatian, jadi mulailah sedikit demi sedikit baju seragamku mengetat, dan rok ku memendek
Achie yang sedikit tomboy dan sudah punya pacar terkadang kalau istirahat langsung ngeloyor ke kelas cowoknya, sedangkan aku diam di kelas meladeni cowok2
kesepian itu.Namun keberanianku cuma sampai disitu saja.

Hingga sewaktu aku naik kelas 2 aku ikut ekskul cheerleaders sehingga aku makin2 jadi pusat perhatian. Cheerleaders yang kalau tampil selalu pakai baju ketat
dan rok mini. Sehingga aku pun semakin berani menampilkan diri, terkadang sampai basah vaginaku bila cowok-cowok yang menonton melihat dengan pandangan
yang mupeng seakan-akan melihatku bagai tanpa busana.

Aku ingin menceritakan pengalaman beraniku sewaktu kelas 3 SMA, waktu itu hari sudah sore, anggota cheers baru selesai latihan, beberapa langsung pulang
dan beberapa lagi langsung mandi di ruang locker. Sedangkan aku memilih untuk bersantai di kelasku 3 IPS 3 yang berada di lantai 3 paling pojok.
Kelasku ini paling nyaman dibanding kelas-kelas lainnya, kelas ini satu-satunya yang memiliki 3 AC sekaligus, jadi lebih sejuk di kelas ini, selain AC
kelas ini juga paling besar dan punya fan juga. Pokoknya kelas paling enak deh, aku berlari dari aula lantai 2 tempatku berlatih ke lantai 3.
Sampai di kelas karena hari itu sudah hampir pukul 5, dan sepi banget, aku memutuskan untuk ganti baju disitu. Aku lepaskan celana pendek daleman rokku
dan juga kaosku yang sudah basah oleh keringat. Aku lupa tidak membawa baju ganti, jadi kuputuskan untuk memakai baju seragam putihku.
Tapi sebelum aku berganti baju aku tidur-tiduran di atas meja, tepat dibawah fan untuk meng”adem”kan badanku. Latihan cheers tadi menguras keringatku
jadi seluruh tubuhku basah. Aku hanya memakai rok cheers yang pendek dan celana dalam g-string warna hitam serta Bra hitam mini, aku tidur-tiduran di atas meja
sambil sesekali mengelap tubuhku dengan handuk kecil, tetapi ternyata aku kecapean hingga ketiduran. Tiba-tiba aku dengar pintu dibuka, aku tersentak kaget
dan kulihat si ganteng Evan anak IPA itu memasuki kelas, aku melirik jam ternyata aku ketiduran 20 menit. Bukannya aku mencoba menutupi tubuhku tapi malah
aku pasang posisi menggoda dan pura-pura tertidur. Evan si ketua osis itu melongo melihatku seperti itu. Namun perlahan tapi pasti Evan malah mendekatiku.

Evan mencoba memanggil namaku, nampaknya ingin membangunkan atau hanya ingin mengecek saja. “Wan..” seru Evan pelan. Aku pura-pura tertidur sambil mengganti posisi
lebih menggoda lagi, tanpa kusadari sudah basah vaginaku melihat evan melongo memandangiku. Evan menyentuh pelan tanganku untukmembangunkanku
namun aku diam saja. Evan pun memegang perutku namun aku masih pura-pura tertidur. Sampai Evan menyentuh payudaraku pelan, aku malah mendesah namun tetap tertidur
akhirnya evan memberanikan diri meremas payudaraku, lagi-lagi aku mendesah saja. Evan menurunkan tali Braku dan menarik Braku turun hingga ke perut.
Buah dadaku terpampang dengan jelas, dan putingnya yang mengeras sudah tegak berdiri. Evan meremasnya lagi, kini aku pura-pura agak tersadar.
Evan kaget dan sedikit mundur dari tempatnya berdiri, namun aku masih ingin menikmati permainan ini sehingga aku merubah posisi menjadi menyamping.
Rok cheersku yang pendek terangkat, sehingga pantatku terpampang di hadapan Evan. Aku mengenakan g-string jadi Evan bisa melihat jelas bongkahan pantatku
Evan meremasnya, aku sangat menikmatinya, aku yakin vaginaku sudah sangat basah. Evan lalu berpindah berdiri, sehingga ia berada di hadapan payudaraku.
Ia meremasnya lembut dan tangan satunya meremas pantatku. Aku masih pura-pura tertidur, nampaknya evan tahu aku pura-pura, karena aku terkadang mendesah pelan
tiap kali ia menyentuhku. Nampaknya Evan sudah tidak tahan, aku bisa melihat “adek”nya sudah sangat keras dibalik celana abu-abunya, karena berada tepat di depan wajahku.
Aku pura-pura mengganti posisi dan menyebabkan wajahku menempel pada “adek”nya, Evan menggesek-gesekan adeknya itu, dan tiba-tiba saja tanpa disangka-sangka
Evan menarik g-string miniku hingga putus. Dan ia memukul pantatku, ah diperlakukan seperti itu tidak mungkin aku pura-pura tertidur, jadi aku bangun dan dengan panik
aku tutupi dadaku. “Evan, mau ngapain lo!” bentakku, Evan hanya tersenyum saja dan dia berkata “Engga tadi laporan osis ketinggalan..” lalu ngeloyor pergi, aku terduduk di meja
membenahi Braku itu, namun Evan balik lagi, aku langsung panik menutupi payudaraku lagi Evan berkata “Umm btw, nice boobs u have..” lalu pergi lagi, aku hanya
tersenyum tersipu ketika Evan pergi, entah kenapa aku merasa horny sekali sewaktu dia memujiku. Ketika aku sedang tersenyum Evan balik lagi dan memergoki ku sedang
tersenyum tersipu..lalu dia berkata lagi “haha..lo seneng ya?, ah..nice butt too” lalu dia pergi lagi. Aku senang bercampur malu saat itu.

Aku melihat jam sudah menunjukan hampir pukul 6, karena ga ada celana dalam lagi, aku pulang hanya menggunakan rok cheers tanpa celana dalam.
Rupanya tanpa aku sadari kaos bekas cheers tadi yang basah aku letakkan di atas seragam putihku, sehingga seragam putihku
itu ikut-ikutan basah. “Wah kebetulan, its show time!” kataku dalam hati, aku lepaskan Bra hitam miniku, dan pulang mengenakan seragam sekolah putih
yang basah dan rok cheers yang mini tanpa pakaian dalam sama sekali. Aku menatap cermin yang ada di kelas itu, putingku yang masih mengeras
tercetak jelas di seragam putihku yang ketat dan rok cheers itu sangat pendek sekali, bila aku membungkuk sedikit saja, pasti orang-orang bisa melihat bokong indahku.
“Sempurna” bisikku pada diriku sendiri. Aku bergegas pulang, ketika aku melintasi lapangan masih ada anak-anak kelas 2 sedang bermain basket, dan bola itu
memantul dekat tmpku berjalan. Cowok-cowok itu meminta tolong aku mengambil bola basket itu, aku tersenyum manis, membelakangi mereka dan dengan pantat menghadap mereka
aku membungkuk mengambil bola itu, cowok-cowok kelas 2 itu langsung terdiam, mereka dapat melihat jelas pantat mulusku, bahkan vaginaku bila mereka
lebih teliti lagi. Tapi kejadian itu tak berlangsung lama, hanya sekitar 5 detik-an dan aku berbalik badan melempar bola basket itu. Mereka hanya tersenyum saja
ketika aku berbalik badan dengan wajah “tak tahu apa-apa”.

Aku pun pulang naik mikrolet, untung saja langsung kudapatkan begitu aku keluar sekolah. Di mikrolet itu hanya ada 1 anak kuliahan mungkin dan 2 orang bapak-bapak
aku sedikit menyesal karena di mikrolet itu tidak ada yang mukanya oke punya. Ketika memasuki Mikrolet aku agak membungkuk, pastilah pantatku itu terlihat jelas, pikirku
dalam hati. Aku duduk di pojok, di depanku 2 orang bapak-bapak itu, aku duduk agak menyamping, namun tmp duduk mikrolet itu terlalu pendek. Dudukku jadi seperti berjongkok
aku tutup kakiku rapat-rapat, tapi pasti pahaku bisa terlihat jelas oleh bapak-bapak itu. Aku pura-pura tidak tahu, anak kuliah itu pasti tadi sudah melihat pantatku waktu aku masuk tadi
karena ia duduk dekat pintu, sekarang bapak-bapak ini menatapku dari atas sampai bawah. Entah kenapa aku horny sekali ketka mereka memandangiku seperti itu, jadilah aku mulai berulah
aku memutir2 kancing kedua baju seragamku, lalu perlahan, dengan wajah tidak melihat bapak-bapak itu aku melepaskan kancing keduanya. tanpa melepas kancingpun mereka sudah bisa
melihat payudaraku secara jelas aku pikir, namun karena hari itu sudah gelap, dan lampu mikrolet remang-remang mungkin putingku tidak terlalu tercetak. Aku mendengar bapak-bapak itu
menahan nafas waktu aku melepaskan kancing nomor dua itu dengan seksi. Kini aku semakin berani, entah kenapa dorongan untuk berbuat lebih ada dalam diriku. Aku pun tidak lagi memiringkan
badanku, tapi menghadap lurus ke bapak-bapak itu, sehingga sekarang mereka bukan saja melihat payudaraku dari samping, tapi dengan jelas dapat melihat belahan dada dan separuh payudaraku
apalagi putingnya tercetak jelas disitu, aku tersenyum menggoda kepada mereka, dan mereka balas tersenyum.

Asal kalian tahu, kancing bajuku hanya ada 4, jika sudah terbuka 2, berarti sudah separuh dari bajuku terbuka. Aku memilin2 kancing nomor 3, aku melihat anak kuliahan itu begeser mendekat,
tak ingin ketinggalan pertunjukan rupanya. Aku memilin-milin kancing nomor 3 dan perlahan ku buka pahaku..aku yakin vaginaku yang basah dapat terlihat.
Aku membukanya sedikit saja, tanganku yang satu memilin-milin kancing baju nmor 3 dan satunya mengangkat rok-ku perlahan-lahan.
Ketika aku ingin melepaskan kancing nomor 3, aku mendengar seseorang memanggil. Aku menghentikan kegiatanku, nampaknya mereka kecewa. Aku menoleh ke belakang, rupanya Evan dalam mobil Jazznya
waktu itu Jazz baru saja keluar, wah pokoknya mewah banget, ia memberikan isyarat untuk turun dan naik mobilnya, memang waktu itu lampu merah. Namun tanpa kusangka-sangka bapak-bapak di depanku
membuka lebar pahaku, dan yang satunya menarik rokku naik, aku berteriak sedikit. Lalu aku mengetuk mikrolet tanda aku ingin turun. Sebelum turun aku tulis nomor tlpku di tangan salah satu bapak itu
entah apa maksudku, mungkin agar aku dibiarkan turun, mereka melepaskan pahaku. Aku menyiapkan uang receh lalu bergegas turun. Namun sewaktu turun aku sengaja membungkuk dengan belebihan
sehingga pantatku terlihat semua, lalu aku rasakan tangan-tangan mereka mencubit dan memegang pantatku, aku membayar mikrolet dan sempat berkata. “Udah dulu ya live shownya” sambil tersenyum menggoda
mereka hanya tertawa-tawa saja.

Aku berlari menuju mobil Evan, dan langsung duduk di depan. Rokku tertarik naik sewaktu aku duduk buru-buru. Evan tersenyum ia bilang “Da..body lo oke banget..di rawat ya”, eh agak canggung aku tp aku
pura-pura cuek dan menjawab “thx, iya emang gw care banget sama body gw”, suasana hening sejenak, “Da, mau makan dulu ga, lo pasti laper abis latihan cheers” suara Evan yang berat itu memecah keheningan
aku cuma mengangguks aja, “eh tapi bayarin yah, gw ga ada duit” kata ku tiba-tiba, “Beres, tapi ada imbalannya ya” jawab Evan sambil tangannya berpindah ke pahaku, dan membelainya. “Eh..iyaa..” jawabku
pelan menikmati sentuhannya, kami menuju ke Chitos, namun aku ingat kalau di Chitos ga boleh masuk pakai seragam. Maka aku sempatkan ganti baju di parkiran, dengan kaos bekas latihan tadi, sudah bau keringat
tapi gimana lagi, sewaktu aku ganti baju Evan menciumku dan meremas dadaku lembut, aku membalasnya tapi hanya sebentar saja karena aku blg “Van, makan dulu yu, macem-macemnya nanti aja de” kataku tersenyum
manja. Evan melongo waktu dia sadar baju apa yang kukenakan. “Lo yakin Da mau pakai baju itu?” kata Evan berusaha meyakinkan diri, “iya emangnya kenapa..” jawabku cuek. Haha..baju itu sudah tidak lagi menutupi
apa-apa, kaos itu berdada V rendah berwarna putih polos, bahannya sangat tipis karena itu kaos untuk latihan, sehingga tidak membuat badan panas. Dan kali ini ditambah dengan basah, lekuk tubuhku dan bayangan putingku
tercetak jelas. “Udah la van cuek aja..”kataku, Evan hanya mengangguk-angguk lalu memencet tombol kunci mobilnya. “Kecuali kalo lo malu..” sambungku, “ah gila kali lo ya, jalan sama cewe secantik lo, seseksi lo, bisa malu gw?”
jawab Evan spontan, aku hanya tersenyum geli saja. Kami makan di Izzi Pizza, sewaktu kami makan aku tak luput dari pandangan orang-orang, ya cewe ya cowok, dan pandangannya macem-macem, ada cewe yang jealous
ada yang jijik mungkin, ada yang kaget, tapi lebih banyak yang mupeng sih. Evan tidak makan banyak waktu itu, tangannya terus berada dibawah membelai-belai pahaku bahkan sampai terangkat rokku, terkadang aku membuka
pahaku, sehingga jari-jari Evan kadang menyentuh vaginaku, pemandangan itu tentu saja membuat orang-orang kaget. Tapi nampaknya Evan juga cuek saja, jadi ya aku cuek saja.

Waktu sampai di mobil, Evan langsung menyergapku, menurunkan kusiku hingga tiduran, mencium bibirku dengan nafsunya dan langsung menarik payudaraku keluar dari bajuku melalui kerah V yang rendah itu, ia langsung menghisapnya
keras-keras dan jarinya mulai mengelus-elus vaginaku, vaginaku sangat basah, daritadi aku merasa horny banget dengan segala kelakuan gilaku, aku membuka pahaku lebar-lebar sehingga jari-jarinya lebih leluasa membuaiku.
Evan makin liar, kini jari-jarinya mulai disodok-sodok ke vaginaku, aku benar-benar terbuai, sebenarnya kaca mobil Evan termasuk 95% gelap, namun tidak dengan kaca depannya. Kaca depannya bening sebening aquarium, sehingga siapapun yang melintas pasti bisa melihat perbuatan kami, namun kami parkir agak jauh dan hari itu hari sekolah, sehingga Chitos tidak begitu ramai. Aku naikkan kakiku ke atas dashboard, dan membukanya lebar-lebar, namun tiba-tiba aku melihat seorang satpam memergoki kami dari kaca depan, aku pura-pura tidak tau saja, malah membalas ciuman evan dengan ganas, Evan pun makin liar mengelus-elus klitorisku dan mulutnya masih tetap di buah dadaku yang montok itu.

Satpam itu disitu sekitar 4 Menit, menonton kami hingga akhirnya ia mengetok kaca sebelahku, Evan terlonjak kaget dan ingin segera tancap gas, karena daritadi mobilnya sudah menyala. Namun aku memegang tangannya dan malah
membuka kaca itu, payudaraku sebelah masih keluar dari kerahku, dan rokku masih terangkat memperlihatkan vaginaku dengan bulu-bulu halus yang rapih. Satpam itu nampaknya kaget, namun denga sigap aku pegang tangan satpam itu
dan menaruhnya di payudaraku, tangan itu begitu kasar, berbeda dengan tangan Evan, Satpam itu diam tak berkutik, “Bapak mau ini kan..” kataku sambil menuntunnya meremas-remas payudaraku. Aku merasakan sensasi luar biasa, hingga
mendesah-desah sendiri, Evan menonton kelakuanku hingga melotot. Satpam itu terlihat sangat menikmatinya, namun tiba-tiba aku berteriak “Van gas sekarang!!”, Evan dengan panik langsung menginjak gas dan pergi dari situ.
Lalu Evan dan aku tertawa-tawa heboh, “Gila ya lo da, gw ga nyangka lo seliar itu” kata Evan, aku tersenyum menggoda, merapatkan tubuhku yang payudaranya masih mencuat keluar, dan berkata “Mau yang lebih liar..”
Evan lalu mempercepat laju mobilnya, namun tiba-tiba di tengah perjalanan dia bertanya “Da, maaf nih ya, tp lo cewe bayaran?” katanya pelan. Aku cuma tertawa saja, “Da serius, kalau bener bisa dibayar…” evan menghentikan kalimatnya “Kenapa lo mau bayar gw?” kataku cepat..Evan tersenyum dan mengangguk, “Van..buat lo gratis..” jawabku cuek. “Eh da, jadi bener lo cewe bayaran?” tanyanya lagi. Aku menggeleng, dia terlihat kebingungan.
“Engga, percaya ato ga gw masih virgin kalee” jawabku lagi, Evan melotot, “Beneran?” tanyanya ga percaya, “Mau bukti..?” tantangku, Evan diam saja, “Ini kan sekarang kita mau buktiin” jawabku sambil tersenyum. Evan hanya terdiam kebingungan.

Akhirnya kami sampai di sebuah rumah besar banget dibilangan Cilandak, ga jauh dari Chitos. Waktu hampir sampai Evan memintaku membenarkan pakaianku. Dan memintaku mendoblekan bajuku dengan baju seragam tadi, supaya tidak terlihat
mencolok. Benar saja 2 satpam langsung membukakan pintu, Evan langsung memasukin garasi. Dan mematikan mobilnya, waktu itu sudah hampir pukul 9, aku pun turun dari mobil, dengan pakaian yang lebih rapih. Tersenyum pada satpam itu, satpam itu
bertanya pada Evan “pacar baru den?” Evan hanya menjawab “Yoi donk pak!” sambil menggandeng tanganku masuk. Rumah itu besaaar banget, tapi sepi ga ada orang, “Van pada kemana..” kataku pelan, “Nyokap udah meninggal waktu lahirin gw, bokap..
tinggal dirumah istri barunya, gw sendirian deh..” jawabnya singkat. “Ah udahlah yuk masuk..” kata Evan sambil menarik tanganku masuk ke kamarnya. Evan segera menutup pintunya dan menciumku dengan liarnya, tangannya segera menjelajah semua
tubuhku, dalam posisi berdiri dia angkatnya rokku dan diremasnya pantatku. Namun tiba-tiba Evan berhenti, “Da, lo nginep sini aja ya, blg sama nyokap lo gih” katanya sambil melemparkan hpnya. Lalu aku meminta Evan menyalakan CD playernya dengan
lagu-lagu hiphop “Ma..wanda ga bisa balik nih, masih latihan cheers” teriakku disela-sela musik yang kencang itu, “Oh iya-iya itu apa sih dibelakang berisik amat” kata mama balas teriak “Anak-anak lagi latihan ma, mungkin kalau kemaleman Wanda nginep
rumah temen ya ma” jawabku lagi, mama hanya bisa menyetujui saja.

Selesai menelepon aku melihat sekeliling, tidak ada Evan, tiba-tiba Evan keluar dengan baju handuk putih, dan menarikku masuk ke kamar mandi. “Mandi dulu, lo bau asem” katanya sambil cengengesan, aku hanya bisa menurut saja.
Di kamar mandinya ada whirlpool, seperti jacuzzi, sudah dituang shower bath sehingga berbusa-busa, Evan melepas seluruh bajuku dan menggendongku masuk ke jacuzzi itu. Evan memandikanku dengan sangat lembut. Ia membelai seluruh jengkal tubuhku
tapi dengan lembut sekali, berbeda dengan ketika di mobil tadi. Evan menarik tubuhku keluar dan menyuruhku berdiri dibawah shower, ia menyalakan air hangat dan membiarkanku membilas diri. Evan yang sudah tanpa busana itu memelukku dari belakang
“adek”nya menyentuh pantatku, ditekan-tekannya adeknya itu, lalu Evan meremas payudaraku dari belakang, sambil tetap ditekan-tekan penisnya ke pantatku. Nafsuku bangkit, dibawah guyuran air hangat dari shower, Evan menciumi pundakku, dan leherku
terkadang dijilatnya telingaku, membuatku bergetar-getar tersengat dengan birahiku. Aku membalikkan badan, dan mencium Evan, kami berciuman lama sekali, aku sudah horny sekali, ingin rasanya meminta Evan memasukkan penisnya, namun aku malu.
Lagi-lagi Evan menghentikan aksinya, ditariknya tubuhku lalu dikeringkan, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku diperlakukan bagai Putri. Evan lalu mengeringkan tubuhnya sendiri lalu menggendongku ke tempat tidur. Ia menindihku dan menciumku
lidah kami berpangutan, terkadang Evan menghisap bibirku, tangannya meremas lembut payudaraku, terus ke perutku dan lalu sampai di vaginaku. Di gesek-gesekkan perlahan jarinya di klitorisku, aku mendesah tidak karuan, Evan lalu menurunkan bibirnya
menjilati leherku, pundakku lalu ke payudaraku, di gigit-gigit lembut putingku, sambil tangannya terus bergerilya di vaginaku. Aku memeluk Evan lalu berguling. Aku cium Evan dari bibir, dada, perut sampai ke penisnya. Penisnya besar dengan panjang hampir 20 cm
dan diameter yang besar pula. Aku terbayang ngeri memasukkan benda itu ke vagina perawanku. Aku menjilati penis Evan, tiba-tiba Evan memegang kepalaku dan mendorongnya, sampai tersedak aku, benda itu tidak bisa masuk semua ke dalam mulutku
aku bermain dengan penis Evan sekitar 10 menit, ketika tiba-tiba Evan membalikkan badannya hingga posisi 69, aku diatas. Evan menjilat vaginaku pelan, aku langsung mengejang, ini pertama kali aku dijilat di vagina. Tangan evan sesekali menyodok-nyodok
vaginaku, sambil lidahnya disentil-sentilkan ke klitorisku. Aku benar-benar terbuai oleh nafsuku.

Aku sampai memohon pada Evan agar ia segera memasukkan penisnya, “Van, please van..”hampir nangis aku dibuatnya. Evan membuka pahaku lebar-lebar, dan mengarahkan penisnya ke vaginaku yang sangat basah itu.
“Aaashh..”desisku pelan, sakit tapi aku berusaha tak menunjukkannya, Evan kembali mendorongnya sedikit lagi, “Sshhshh..”Desahku antara sakit dan enak, “Ahhh..” Evan berteriak ketika seluruh penisnya masuk, aku meneteskan air mata, karena rasanya sakit
sekali, nampaknya Evan mengetahui hal itu ia tidak bergerak sedikitpun, memberi waktu vaginaku untuk menyesuaikan diri. Ketika aku sudah mulai terlihat tenang, Evan menggerakkan pinggulnya, menarik dan memasukkan penisnya dengan perlahan.
Tubuhku bergerak-gerak ga karuan, nikmatnya luar biasa. Makin lama Evan mempercepat gerakannya, aku pun berusaha menyeimbanginya, namun semakin aku bergerak semakin dekat aku menuju orgasme pertamaku. “Aaahh..terus van, oh yess..shitt..ahh” ceracauku
ga karuan, Evan nampaknya tau aku sudah hampir sampai, makin liar gerakannya, selain maju mundur, terkadang diputar-putar, membuatku melotot keenakan. Akhirnya tak berapa lama sampailah aku pada orgasmeku “Aaarrgh..aaaaaaaaaa….” teriakku melengking
Evan melotot, aku yakin dia menahan orgasmenya, karena pasti vaginaku mencengkram penisnya kuat-kuat saat itu.

“Ah gila van..enak banget” jawabku lemas dengan pandangan sayu. Evan hanya tersenyum, lalu dengan penis masih tertancap, ia menyedot-nyedot payudaraku, aku keenakan dibuatnya, sehingga horny lagi. Aku menggerakan pinggulku maju mundur, padahal Evan
masih diam saja, tersenyum penuh kemenangan “Van, sodok donk, asshh..van cmon” pintaku memelas pada Evan, Evan malah melepaskan penisnya, aku melotot mau marah, tapi, Evan segera membalikkan tubuhku dan menggangkat pinggulku. Aku segera pasang posisi
merangkak, bertumpu pada tangan. Evan memasuki vaginaku dari belakang, lalu memompanya dengan cepat, tangannya meremas-remas payudara 34 C ku yang bergoyang-goyang kesana kemari. “Ohhh..aahhh..Wandaa..mmk lo..aassshhh” ceracau Evan menikmati
posisi tersebut, aku hanya bisa mendesah-desah keenakan, karena orgasme keduaku hampir datang “Van, terus van, gw mau keluar lagi”, kataku ngos-ngosan. Tanpa diduga, Evan menjabak rambutku “Aaaaaww” teriakku kesakitan, namun ia tetap memompa vaginaku
jadi antara enak dan sakit, aku baru sadar ia mengangkat kepalaku agar melihat persetubuhan kami di cermin di samping tmp tidur itu, yang terletak di lemari, cermin seluruh badan. POsisi kami memang bukan di tengah tmp tidur, kaki Evan masih berada di lantai, Evan
berdiri sementara aku posisi merangkak, sekarang posisiku setangah jongkok karena Evan menjabak rambutku, di cermin aku bisa melihat payudaraku bergerak-gerak, dan aku bisa melihat expresiku setiap kali Evan menyodok vaginaku dari belakang. Ini membuatku semakin
bernafsu, dan makin dekat orgasme, “Van..gw mau keluar..assshhh” katalu terengah-engah, “Da, gw…juga..di da-lem..niihhh?” jawab Evan putus-putus karena sambil memompaku. “Iya di dalem aja, please, dikit lagi..aaashh..sshhh..”jawabku cepat-cepat.
Evan semakin mempercepat gerakannya. Tangan satunya masih menjambakku, dan satunya lagi meremas-remas payudaraku. “AAAAAAAAAARRRGGHHH” teriak kami berbarengan, saat kami ternyata orgasme bersamaan “aasshhh..aaa” sambungku lagi, orgasmeku
panjang sekali, aku bisa merasakan penis Evan menyemprot berkedut-kedut di dalam vaginaku.

Evan melepas jambakannya dan membiarka tubuhku terkulai. Evan menindihku dari belakang, membuatku ngos-ngosan, akhirnya penis yang masih tertancap itu ditarik oleh Evan, dan ia berguling ke samping. “Thx ya da..” katanya sambil mengelus-elus kepalaku.
Aku membalikkan badan dan merapatkan tubuhku, Evan memelukku. Namun tidak lama Evan berdiri dan menggendongku memandikanku lagi. Ketika kembali ke tmp tidur, Evan melihat bercak darah kevirginanku. Evan melotot dan melihat ke arahku kaget,
aku cengengesan dan berkata “bener kan gw masih perawan”, Evan merasa bersalah, dan sejak saat itu kami resmi berpacaran.

Evan sangat mendukung hobbyku pamer-pamer tubuh, bahkan ia tidak mengizinkanku memakai BH ke sekolah. Nampaknya ia juga horny kalau melihat laki-laki lain memandangi tubuhku sampai melotot.
Akibat tidak pakai BH dan pakaian kelewat tipis, serta kelewat pendek. Aku sampai dipanggil kepala sekolah. Lain kali aku ceritakan pengalamanku bersama Kepala Sekolah , dan pengalaman-pengalamanku yang lainnya.
Sekarang aku masih pacaran dengan Evan, kami berdua kuliah di Bandung, dan hobbyku ini masih tetap berlangsung.

Gadis vietnam

Filed under: RAMAI-RAMAI

Nama aku Man,umur 29 tahun,masih single bekerja sebagai penyelia pengeluaran di sebuah kilang pembuatan. Tugas aku menyelia sekumpulan pekerja pengeluaran dari Vietnam. Walaupun komunikasi aku banyak menggunakan bahasa isyarat dan pada masa yang sama aku juga belajar memahami bahasa Vietnam. Di kalangan ramai pekerja Vietnam itu ada dua pekerja wanita yang menjadi perhatian aku. Aku kenalkan sebagai Phim dan Yen. Susuk tubuh dan kejelitaan kedua-duanya membuat aku khayalan ku terbawa-bawa hingga dalam mimpi.

Yen paling menonjol antara dua gadis itu kerana kemontokan tubuh kulit putih melepak, buah dada yang agak berisi dan tundunnya yang menonjol. Khayalan aku sentiasa melayang jauh untuk menikmati tubuh montok kedua-dua gadis Vietnam ini terutamanya Yen yang agak montok itu. Secara tiba-tiba saja aku merancang plan aku dalam diam-diam.

Aku lebih ghairah citarasa aku lebih kepada gadis Cina, India, Serani dan lain-lain bangsa selain melayu la pendekata. Bukan tidak ada gadis Melayu, eksekutif HR tempat kerja aku, Wati yang anggun dan mempunyai tubuh yang mengiurkan cuba merapati aku tapi gadis ini tidak menyelerakan buat aku tika ini. Aku lebih tertarik kepada gadis Cina dan lain yang panjang kelentitnya yang sedap aku jilat dan hisap. Itu lebih mendatangkan rasa berahiku. Aku pernah membuat isteri pengurus Cina Danny, Melissa Tan dan adik iparnya May terkapar kepuasan, gadis India tunangan Ramesh, Kamala Devi merayu minta dipuaskan nafsu seksnya. Gadis Inggeris, Teresa kekasih Neil, teteknya menjadi belaian tanganku dan pantatnya tempat aku melepaskan pancutan air berahi nafsu seksku. Ini adalah pembalasan dendam aku. Dendam?

Ceritanya begini, aku dulunya esksekutif muda di sebuah syarikat pelaburan antarabangsa. Aku telah memiliki segalanya termasuk seorang kekasih Melayu bernama Rozita, segalanya telah kuberikan, wang,kasih termasuk seks, makna setiap inci tubuhnya telah aku terokai dengan hasrat untuk dijadikan isteriku tapi akhirnya dia berpaling tadah kerana kedudukan yang dikejar. Aku dan Rozita adalah eksekutif dari syarikat yang sama. Diatas heiraki kami, pengurus Jualan,Danny Tan dan Ramesh HR manager dan Managing Director dari US, Nell Green. Oleh kerana mengejar pangkat, Rozita sanggup mengangkang menyerah pantatnya kepada tiga manusia di atas dan akhirnya dinaikkan pangkat sebagai pengurus. Perlakuan Rozita dan tiga manusia diatas aku rakamkan dalam telefon bimbit aku, dan tragedi ini menyebabkan aku putuskan hubungan dengan Rozita dan meninggalkan dendam di hatiku. Kisah ini aku akan ceritakan pada episod yang mendatang. Jadi dalam seks aku sudah ada pengalaman memujuk/mengayat, mencumbu rayu dan sudah ramai yang terkulai kepuasan dan yang paling teruk sudah ketagihan seks dari aku.

Berbalik kepada Yen dan Phim, gadis Vietnam yang aku idamkan tubuhnya. Suatu Jumaat kebetulan ada kerja lebih masa untuk selesaikan tugasan di bahagian pengeluaran. Aku menugaskan Yen dan Phim untuk menolong aku menyelesaikan tugasan aku, sebenarnya aku cuba masuk jarum tanpa disedari dua gadis ini. Pekerja-pekerja yang lain sudah balik pada pukul 5 petang dengan bas kilang. Pada mulanya Yen dan Phim agak keberatan juga kerana tiada bas untuk pulang, tapi aku janji aku akan menghantar mereka berdua ke tempat tinggal, akhirnya mereka bersetuju.

Dalam sambil menghabiskan tugasan yang diberi, aku sempat berborak dengan keduanya sambil mata aku tidak lepas memerhatikan perlakuan dan tubuh mereka itu.Dari perbualan itu, aku mendapat tahu Yen sebenarnya pernah menyertai ratu cantik daerahnya tapi kandas di peringkat seterusnya manakala Phim merupakan graduan ekonomi dari Universiti Hanoi. Oleh kerana Phim boleh berbahasa Inggeris jadi tidak sukar untuk ku berkomunikasi. Apa pun aku ada juga belajar bahasa Vietnam walaupun kelamkabut tapi aku faham apa yang dikatakan oleh mereka. Kalau tidak aku takut aku diperbodohkan atau dipermainkankan mereka. Padan lah Yen agak menarik potongan badannya berbanding Phim kerana pernah menjadi ratu cantik. Sambil berbual fikiran aku menelanjangi kedua gadis ini tanpa seurat benang pun. Batang aku mula mencanak naik merekodkan fantasi seks aku. Alangkah bertuahnya aku jika kedua-dua gadis ini dapat aku ratah tubuhnya, kuramas buah dadanya, jilat kelentitnya hingga berair dan memasukkan batang aku yang padat kedalam pantatnya. Pendekata dari hujung rambut sampai hujung kaki akan aku terokai.

Biar kedua-duanya merasai keseronokan batang aku bermain di dalam pantatnya melahirkan bunyian yang menghairahkan dan merasai buah dadanya yang mekal diramas-ramas keenakan oleh tangan kekar aku. Biarlah mereka merayu-rayu minta diulangi kenikmatan seks yang diberikan dan pantatnya yang berair berdenyut-denyut kesedapan mengulung dan mengcengkam batang aku yang padat dan kepalanya kembang-kuncup dirasai menyentuh kedasar lubuk pantatnya.

Biarlah pantat yang air berahinya mengalir deras tiba kepenghujung yang hakiki dengan pancutan air berahi panas kedalam lubuk pantatnya menggumpal-gumpal, mengcengkam batang aku yang rasa berdenyut-denyut dan sama-sama sampai kepuncak berahi, lelah dan terkapar lesu kepuasan. Tiba-tiba fantasiku terhenti bila Phim memberitahuku tugasan sudah siap dan batangku yang mencanak dalam seluar diperhatikan oleh dua gadis yang tersipu senyum. Aku mengawal keadaan dengan menyuruh mereka berkemas kerana aku akan menghantar mereka pulang lagi 5 minit ke pukul 7 malam.

Sampai ketempat kereta aku menghidupkan enjin kereta Mitsubishi Stormku, sambil dalam itu aku malu pada kedua-dua gadis Vietnam kerana melihat batangku mencanak menungkat seluar aku tadi. Yen dan Phim masuk ke dalam kereta, Yen di depan disebelahku dan Phim di bahagian belakang, aku mengawal diriku dengan mengajak Yen dan Phim berborak sambil mataku liar memandang Yen disebelah.
Aku memberitahu Phim bahawa malam ini aku hendak belanja mereka berdua makan malam, mereka bersetuju dan aku melunjur keretaku kearah kedai masakan ala Thai tidak jauh dari situ. Setelah memesan makanan, kami pun berbual-bual,aku sempat mencari helah agar esok Sabtu aku dapat membawa mereka berdua keluar bersiar-siar. Lagipun hari Sabtu kilang ditutup dan aku cadangkan waktu paginya aku akan membawa mereka berdua ke pantai yang berdekatan dan malamnya aku akan membawa mereka menonton wayang.
Makanan dan minuman yang dipesan pun sampai, kami pun mula makan dan perhatian aku tertumpu kepada Yen menyedut minuman dengan bibirnya yang menghairahkan itu. Aku pun makan ala kadar saja tapi perhatian aku pada Yen tidak pernah pudar tapi aku kawal supaya tidak ketara sangat. Selesai membayar harga makanan dan minuman, aku bertanya sekali lagi rancangan esok hari dan mereka berdua setuju. Aku memberitahu bahawa pukul 9 pagi aku akan menjemput mereka berdua.

20 minit perjalanan ke tempat tinggal mereka sangat cepat tapi aku Phim sempat menceritakan sikit sebanyak tentang tempat nya di Vietnam. Jadi fantasi aku dapat aku kawal agar kejadian tadi tak berulang. Tapi sambil-sambil tu aku menjeling kearah Yen yang sentiasa tersenyum. Lantak la hang Yen hati aku berkata tapi ingat setiap inci tubuh hang pasti akan aku perincikan, tetek yang mekar itu pasti menjadi ramasan tanganku dan putingnya pasti jadi nyonyotan mulutku dan pantat dan kelentitmu pasti menjadi habuan batangku. Setibanya didepan tempat tinggal Yen aku memberhentikan kereta, mereka berdua turun dan aku mengucapkan selamat malam dan aku Nampak Yen masih tersenyum memandangku. Aku memandu pulang kerumahku dan terasa letih badan malam itu.

Setibanya di rumahku sekitar 9.30 malam, kunci kereta dan terus membersihkan diri dengan niat tidak mahu keluar lagi, perutku masih berasa kenyang dan dengan berkain pelikat tak berbaju, aku kedapur menyediakan kopi O dan kemudian keruang tamu aku merebahkan diriku kesofa. Selalunya waktu begini aku akan melayari intenet atau menonton tv kerana rumah aku hanya aku yang tinggal sendiri. Aku tidak suka berkongsi dengan orang lain kerana aku suka bebas dalam rumah aku sendiri. Rumah yang agak besar itu mengandungi 3 bilik dengan masterbedroom aku ubahsuai menjadi bilik yang lebih besar siap dengan tempat aku berendam, memang keadaannya agak mewah kelihatan. Di dalam tiub mandi itu aku merehatkan diri sehingga kadang-kadang sampai tertidur. Di situ juga tempat aku memantat Jenny dan Alice dua gadis Cina yang aku berkenalan di shopping kompleks. Masterbedroom bilik tunggal ditingkat atas itu menjadi saksi aku melempiaskan nafsu seks aku kepada gadis-gadis yang menjadi mangsaku. Rengekan ghairah.raungan kesedapan tatkala aku mengulit mencumbui buah dada, pantat dan setiap inci tubuh menjadi nostalgia di bilik itu.

Muzik instrumental beralun memenuhi suasana keheningan rumahku, kopi o tongkat ali aku hirup menikmati keenakannya sepertimana aku menghirup aroma air pantat yang keluar dari pantat gadis yang aku cumbui. Keenakannya mengalir keseluruhan urat sarafku, tiba-tiba handset aku berbunyi, Wati rupanya menelefonku….”Hello……wati….”,aku bersuara. “Hello Man….. Wati nak ajak Man keluar dinner malam ni…. Boleh?”. Selalu jugak Wati mengajak aku keluar makan malam di malam minggu. Tak tahu give up budak sorang ni..hatiku berkata. “Tapi Man dah kenyang..la..petang tadi dah makan”. aku menjawab.”Ala Man ni selalu mengelak bila Wati ajak keluar”…suara mengada Wati kedengaran.

Perawakan Wati seakan-akan Nasha Aziz kadang-kadang muncul juga dalam mimpiku. Memang Nasha Aziz adalah pelakon kegemaranku bukan kerana lakonannya tapi bentuk badannya…berpeluh aku bila tengok gambar bogelnya….biji kelentik yang menonjol apatah lagi itu kegemaranku menyedutnya dan buah dadanya yang pejal.” Man…..boleh lah ya”.. tiba-tiba lamunanku terhenti bila Wati menyeru namaku. Saat itu

Sampai di rumah aku mengajak Yen dan Phim masuk, pada mulanya mereka agak keberatan tapi bila aku memegang tangan Yen menariknya masuk, Phim mengikuti dari belakang. Kami ke ruang tamu dan aku menjemput mereka duduk di sofa yang tersedia, aku memasang tv tapi tiada apa yang menarik. Lalu aku memasukkan cd ke dvd player, cerita perang Vietnam. Aku meminta diri kedapor untuk menyediakan mereka minuman dan aku mencampurkan serbuk perangsang seks dalam 2 gelas minuman. Hati berkata bila umpan dah masuk perangkap dua tubuh mungil itu akan menjadi santapan.
Aku keluar ke ruang tamu membawa minuman sejuk dan aku letakkan diatas meja kopi di depan mereka. Phim dan Yen asyik melihat tayangan di tv dan aku menjemput mereka minum. Muzik sentimental dari hifiku aku hidupkan agar keadaan relaks dan lebih santai.
Kemudian aku berkata agar mereka selesa di rumahku dan menyaran mereka supaya mandi maklumlah seharian dari pantai ke shopping kompleks dan bermain kereta control denganku di padang tadi tentu badan rasa melekit. Tapi mereka menolak dan menumpu perhatian pada skrin tv. Phim dan Yen mula meneguk minuman yang ku sediakan tadi dan melihat keadaan rumah aku yang teratur Phim menyatakan bahawa aku mempunyai citarasa yang tinggi dalam menyusun atur rumahku. Aku hanya tersenyum dan berkata aku lebih selesa menyusun mengikut citarasa dan gaya yang kemas walaupun aku bujang tinggal sendirian.

Melihat kepada gelas minuman yang tinggal separuh, aku rasakan ubat peransang yang aku campurkan mula memberi kesan bila aku lihat kedua gadis tersebut sudah menunjukkan reaksi yang ghairah. Mata keduanya semakin kuyu dan bahasa badan yang lain dari biasa. Ini biasa aku lihat selepas pengalaman aku mengenakan Jenny dan Alice. Lalu aku menukarkan cd kepada cd blue. Seketika terpapar di skrin tv bagaimana seorang negro memimpin masuk kebilik seorang gadis Asia ke bilik. Bermula dan babak cium-mencium mulut, negro melucutkan pakaian gadis hingga bogel. Mataku dapat melihat keghairahan gadis di video dan kedua gadis di depanku. Negro itu kemudian mencumbui muka,telinga, leher turun kedada gadis tersebut.
Buah dada gadis yang mekar itu diramas-ramasnya dengan tangan kanan dan gadis itu menjerat menahan ghairah manakala tangan kiri meramas bontot gadis itu. Mulutnya kemudian menyonyot putting dan menyedut-menyedutnya, tangan kanan kanannya turun kebawah meneroka cipap yang mula beriar menandakan keghairahan. Aku melihat Yen dan Phim sudah tidak senang duduk melihat adegan tersebut.
Aku kemudian bangun dan duduk diantara Phim dan Yen, menyambung melihat adegan ditv dan adegan seperti itu akan berlangsung secara live sebentar lagi. Ciuman Negro turun ke pusat dan bahagian perut dengan jari-jarinya semakin melebarkan saypnya meneroka kedalam cipap yang berair. Gadis tersebut dibuai ghairah dengan mulutnya mengerang kesedapan. Mulut Negro mula menjilat kelentit yang pink dengan jari ghairah menjolok kedalam cipap yang mengemut. Kelentit yang panjang itu mula menonjol dengan aliran air ghairah yang sentiasa keluar dari cipap gadis itu, tangannya meramas-ramas buah dadanya sendiri.

Melihat kepada Phim dan Yen yang sudah keghairahan, aku meletakan tangan kananku kepaha Phim dan tangan kiri ku kepeha Yen. Belum ada bantahan dari keduanya bila tanganku merayau kepangkal paha kerana mata mereka lebih tertumpu pada adegan Negro dan gadis. Kesempatan ini aku gunakan untuk mencium bibir Yen dan dek kerana keghairahan Yen membalas kucupan aku,menghisap lidah Yen dan tangan mula meramas-ramas buah dada Yen dari luar branya. Batang aku mula keras menongkat seluar dan rasa mahu bebas dari kesempitan seluar.
Butang baju Yen ku lepaskan menampakkan bra hitamnya manakala mulutku dan hidungku bertubi-tubi melancarkan serangan ke muka, leher dan turun kebahagian dada yang terdedah setelah aku melepaskan kancing bra dibelakangnya. Nafas Yen turun naik dan cepat. Mata Phim sudah terpaku kepada aksi Negro memasukkan batangnya kedalam pantat gadis di tv dan hanya kedengaran suara rengekan manjanya apabila tangannya meramas buah dadanya sendiri. Aku membiarkannya dan meneruskan aksi bersama Yen, buah dadanya aku nyonyot dan tanganku mengeledah celah pahanya. Seluar dan seluar dalamnya yang berwarna pink telah kulucutkan. Tanganku mula meraba tundunnya dan jemari ku menyentuh kelentit.. Sambil mulut menghisap puting tetek, jari kumasukkan kedalam pantatnya yang telah mengeluarkan air, mengusap kelentit yang panjang. Yen merengek kesedapan sambil pantatnya memuntahkan air berahi. Aku melondehkan seluar dan seluar dalam, mencampakkan baju entah kemana. Sekarang aku dn Yen sudah berbogel sepenuhnya. Jilatan aku turun keperut dan turun lagi kepantat Yen yang becak berair, kujilat kelentitnya (aksi kegemaranku) yang panjang dan Yen menjerit kesedapan.

Jilatan turun kepaha hingga ke lutut dan tangan aku masih mengerjakan pantat Yen yang berair kemudian aku mengalih badan Yen meniarap dan menium bontot Yen yang padat berisi. Dalam keadaan menonggeng aku mencium belakang, tengkuk sambil meramas buah dada Yen yang pejal itu. Aku melancarkan jilatanku pada ponggong, alur anusnya dan terus kepantatnya yang semakin banyak air berahi. Jariku mengelus kelentitnya yang panjang dan Yen terus mengerang. Pengalaman aku meneroka pantat dara aku gunakan sepenuhnya. Kepala cendawanku kembang-kuncup berkilat menunggu untuk meneroka ke pantat dara Yen.

Bahasa yang keluar dari mulut Yen tidak difahamiku tapi aksinya aku tahu bahawa dia keghairahan dan menuju klimaks bila jilatan dari kelentit kebawah dan terus menikam lubang pantatnya. Jilatan pada pantat dan ramasan tangan pada buah dalam membuat Yen benar-benar kesedapan dan beberapa ketika klimaksnya muncul bila pahanya mengepit kepalaku dan air berahinya keluar dengan banyaknya. Badannya kelihatan kejang dan kedengaran suara Yen panjang ,”Arggggggggg….. nafasnya seolah-olah terhenti.Kemudian Yen terkapar keletihan,aku menjilat dan menyedut habis air yang keluar tidak bersisa kutelan kerana aromanya memang aku suka, rasa payau dan masin menambah ghairahku. Batangku rasa berdenyut-denyut dengan kepala cendawannya berkilat. Aku melihat Phim sudah meramas buah dadanya setelah kancing baju dan branya diturunkan sendiri. Bahagian dadanya berbogel, aku namapak buah dadanya juga tidak kurang seperti Yen dengan putingnya pink tegang.

Aku mahu Phim turun serta dalam pertempuran nanti, lalu aku mencium bibir Phim, menurunkan seluar dan seluar dalam yang berwarna merah kucampak ketepi. Phim pun berbogel sekarang. Ciumanku kusasarkan keleher dan bahagian dada Phim,putting buah dadanya ku nyonyot kedua-duanya saling berganti. Suara Phim tertahan-tahan keghairahan, segala keghairahan disalurkan dengan rengekan erangan yang tidak berhenti-henti. Adegan Negro dan gadis Asia di tv tidak diperdulikan lagi setelah vaginanya menjadi sasaran tanganku. Akan kupastikan malam ini akan menjadi pengalaman hebat Yen dan Phim dalam hidup mereka. Setiap inci tubuh mereka akan ku jelajahi dan yang pastinya lidahku telah menyentuh kelentit Phim dan jariku menjolokkedalam pantatnya. Jilatan dari atas kelentit dan kedalam lubang vaginanya menerbitkan air berahi dan erangan suara yang keghairahan. Tubuhnya mengeletar dan aku memaksimum jilatan aku kepantatnya. Batangku berdenyut kembali minta untuk dimasukkan kepantat yang berair itu.
Melihat Yen kembali ghairah melihat adegan aku dengan Phim, aku menyuruh Phim menjilat pantat Yen sambil aku menerukan jilatan kepantat Phim, aroma air berahinya yang keluar menambah kelazatan jilatan dan nyonyotan kekelentit yang merah dara itu. Satu ketika tubuh Phim menegang menandakan sudah sampai klimaks, kusedut habis air berahinyadan buah dadanya menjadi ramasan kasar jariku. Yen kulihat mula menampakkan peningkatan berahinya bila Phim terus menjilat pantatnya. Air pantatnya mula mengalir keluar dan aku meggandakan jilatan ku pada alur pantatnya dan kelentitnya sambil jariku menjolok perlahan-lahan kedalam pantatnya. Aku tidak mahu daranya pecah sebelum batang kerasku merasmikannya.Suara Phim kedengaran,”ah,ah,ah menandakan kesedapan jilatan lidahku ke pantatnya.
Lidahnya juga tidak kalah mengerjakan pantat Yen hingga sampai satu ketika Phim menjerit,”Ahrgggggggggg…I’m cumming …panjang bersama lelehan air berahi yang banyak, klimaks yang panjang. Aku menyedut semuanya dan menjilat-jilat pantatnya tak bersisa. Aku membiarkan Phim yang kelelahan berehat dan perhatian aku alihkan kepada Yen yang kembali menunjukkan ghairah semula. Aku menjilat pantatnya dan kugigit kelentitnya sambil tanganku meramas-ramas buah dada. Kemudian batangku aku gosokkan ke alur pantat Yen menyentuh kelentitnya. Kepala cendawannya ku main-mainkan dialur pantat yang berair itu. Lurah yen menjadi becak lagi bila aku memainkan kepala berkilatku keatas dan kebawah dialur pantatnya sambil menggesel kepala batangku kelentitnya yang kembang merah.
Perlahan kutekan batang ku kedalam lurah Yen sambil puting teteknya kunyonyot untuk menambah keghairahan. Seketika hanya kepala hingga ke takuk saja masuk ke dalam pantat Yen, aku tidak mahu terus menikam ke dalam pantat dara itu sehingga rasa ghairahnya melebihi rasa sakit kemasukan batangku. Aku mencium mulutnya dan memain lidahnya agar keghairahannya memuncak ketika aku melakukan rejaman yang akan memecah selaput daranya, dan buat seketika ada berlaku penolakan yang perlahan dari Yen. Kepala zakarku berdenyut-denyut di dalam pantat Yen yang merengek menahan zakarku daripada masuk. Aku memujuknya supaya tenang dan merelakskan dan aku mencium dan mengigit serta menyonyot buah dada supaya ghairahnya memuncak dan barulah kepala zakarku dapat kebenam lagi.

Tatkala Yen agak terlena keghairahan oleh cumbuanku, aku menikam batangku yang kekar itu ke dalam pantatnya dibantu oleh air berahi walaupun pantatnyasempit zup.. mendesak masuk batangku hingga santak ke dasar pantat Yen. Yen menjerit kesakitan bila kepala batangku menerobosi selaput daranya, tangannya menolak dadaku kebelakang dan cuba menarik bontotnya tapi aku terus memaut bontotnya denga tanganku agar tidak seinci pun batangku terkeluar dari pantatnya. Aku membiarkan batangku berendam didalam pantat Yen untuk seketika dan mencium buah adanya bertubi-tubi supaya kesakitannya dibayangi dengan keghairahan.
Setelah kurasa keghairahannya bangkit kembali, aku menarik sedikit batangku dan membenamnya kembali perlahan-lahan ke dalam pantatnya yang ketat itu. Setelah berulang kali ku lakukan begitu ghairah Yen mula apabila dia mengemut batangku dan air berahinya mula keluar lagi. Aku mula melajukan hujaman batangku, aku merasakan Yen turut menikmatinya, puting teteknya tegang bila aku meramas buah dadanya dan suara mengerangnya mula kedengaran, ah…ah..ah. Bunyi kockan batangku kedalam pantat Yen menaikkan berahiku lagi. Batangku rasa dikemut-kemut oleh dinding pantatnya dan setelah 20 minit keluar masuk batangku, sekujur tubuh Yen tiba-tiba kejang menandakan klimaks yang kedua, kepanasan air berahinya menyirami kepala batangku dan rasa kemutan pantatnya yang ketat membelai dan meramas kepala dan batangku. Ah…. Syahdunya bila klimaks Yen, pantatnya becak dan otot-otot pantatnya seolah-olah mengcengkam dan menyedut kepala batangku dan yang kurasa belakangku pedih kerana cakaran kuku Yen sewaktu puncak klimaks tadi.

Rasanya sekujur tubuh Yen kaku seketika menahan ghairah klimaks keduanya, matanya terpejam rapat dan batangku masih didalam pantatnya. Gelora klimaks Yen belum dapat memadam ghairahku, batangku masih terpacak keras dan aku cabut keluar bersama lender berahi Yen yang meleleh keluar pantatnya. Aromanya memang menghairahkan aku lagi. Yen seolah-olah pengsan, lesu dan tak berdaya dan memejam matanya kepuasan, aku kemudian mendukung gadis yang kepuasan itu ketingkat atas rumahku, aku lihat pantatnya mengemut-ngemut mengeluarkan air berahi perempuannya bersama sedikit darah merah, aku dapat merasa dara lagi lalu ku baringkan Yen diatas katil ku dalam keadaan bogel. Matanya masih terpejam dan aku rasa kemuncak kepuasaannya masih dirasai Yen. Aku mencium bibir dan pipinya yang gebu itu tapi tiada reaksi balas. Aku mengambil tilam lain lalu aku bentangkan di bawah katil dan aku cadarkan.

Aku kemudian turun mendapatkan Phim yang masih keghairahan, mungkin akibat kesan ubat perangsang dan aksiku bersama Yen tadi. Aku mencium bibirnya yang merkah itu dan pipinya. Batangku yang tegang masih belum kendur atau ada tanda untuk memuntahkan laharnya. Buah dadanya ku ramas dan Phim mula mengerang keenakan, pantatnya aku ulit, tembamnya, kelentitnya yang masih pink itu mula menonjolkan diri disebalik kulupnya. Mulutku mula menjilat dada, turun keperut dan seterusnya ke celah kangkangnya, pahanya ku jilat, kemudian lurah pantatnya kujilat dan kusedut air berahinya yang keluar, aromanya ahh…membuat batangku mencanak, berkilat dikepalanya. Phim mengeliat keenakan dan pantatnya mula mengeluarkan lebih air berahi lagi.

Bila kupasti keghairahannya mula memuncak dengan tanda-tanda aliran air cipapnya yang mengalir deras aku menjilat alur pantatnya dan meramas-ramas bontotnya yang pejal. Ha….ha…. malam ini aku menjamah tubuh dua dara, hatiku bersorak gembira bersama keghairahanku yang semakin memuncak. Lalu aku menghala kepala batangku yang berkilat ke alur cipap Phim yang berair, lalu ku acah-acah kekelentit Phim yang menegang itu. Phim mengeliat menahan kesedapan dan keghairahan. Kepala batangku aku sentuh dan tarik dari kelentit ke bahagian lurah pantat Phim beberapa kali dan pantatnya sekarang becak dengan air berahi bercampur air maziku. Perlahan-lahan kusorong kepala batangku memasuki kedalam lurah Phim, teteknya ku nyonyot dan bontotnya kuramas. Phim kekemuncak ghairah bila matanya pejam dan tubuhnya bergetar, lalu aku menarik nafas dan aku hujam batangku yang keras dan berkilat kepalanya oleh lelehan air nikmat Phim kedalam pantat Phim. Dia seolah-olah terkejut menerima kemasukan batangku yang keras dan besar itu. Air matanya kulihat mengalir keluar menahan kesakitan apabila selaput daranya pecah dirodok batangku.
Aku mendiamkan batangku didalam pantat Phim yang sempit itu, mulutnya kucium dan buah dadanya aku ramas. Pipi lembutnya kucium lagi turun ketengkuk dan kedadanya, puting teteknya kunyonyot agar keghairahan Phim kembali seperti tadi. Seketika kemudian ada reaksi ghairah bila otot pantatnya mengemut batangku. Aku mula menarik dan menyorong batangku perlahan-lahan dalam pantat Phim yang ketat itu supaya kesakitan tadi kurang dirasai. Tapi dibantu oleh air ghairah awal tadi tidak sukar aku menyorong tarik batangku walaupun rasa ketat. Air ghairahnya bertindak sebagi pelincir dan aku melajukan sikit keluarmasuk batangku dan sesekali ku hentak hingga kedasar pantat Phim. Apabila Phim kembali menikmati keenakan kemasukan batangku, aku menyuruh dia mengepit pinggangku dengan kedua kakinya lalu aku memeluknya dan mendokongnya ke tingkat atas dimana Yen berada. Suis tv dan pemain dvd serta hifi ku offkan. Dalam keadaan berpelukan begitu aku rasakan ghairah Phim lagi memuncak bila kelentitnya bertemu dan bergesel dengan batangku.

Sampai ditingkat atas ku lihat Yen masih terbaring lesu dan matanya terpejam. Dia tengah lena dan aku melutut dan dalam keadaan berpelukan aku baring diatas tilam disisi katil yang kubentangkan tadi. Aku memulakan aksi ku dengan membenam kemudian menarik keluar batangku secara perlahan dan kemudian menghentaknya kembali hingga kedasar pantat Phim. Phim mula menikmati permainan itu kembali bila aku menyonyot puting teteknya dan buah dadanya yang mekal itu. Air berahinya mula keluar kembali, menambah becak pantatnya dan aku melumat bibirnya yang mungil itu. Suara ah…ah….ah menambah berahiku, batangku tegang setegangnya di picit-picit dan dipilin di dalam pantatnya. “Darling give me a best that I never forget forever” aku bersuara di telinga Phim. Aku melajukan hayunan batangku menghentak dasar cipap Phim, bagiku walaupun Phim dan Yen melayari pengalaman seks yang pertama mereka, aku mesti memberi mereka kepuasaan yang mereka akan ingati sepanjang hidup mereka. Biar sekujur tubuh dari hujung rambut kehujung kaki merasai kenikmatan yang aku berikan. Nampak Phim akan klimaks bila pantatnya mengemut pantas batangku, aku melajukan dayungan dan nyonyotan pada buah dadanya.

Nikmat denyutan pantat Phim sudah sampai keubunku, kepala batangku juga sudah berdenyut tapi aku bertahan sebolehnya agar pancutan maniku akan bersatu dengan letusan mani Phim di dalam cipapnya. Tubuh Phim sudah bergetar menahan ghairah pada posisi aku memeluk tubuhnya sambil mulutnya sudah meracau….ah..ah.ah ketika aku mendayung santak ke lubuk cipapnya. Irama muzik sentimental tenggelam oleh suara ghairah Phim, clup….clup…clup irama ghairah keluar masuk batangku ke cipap Phim bila aku mendayung mempelbagaikan bunyi didalam bilik itu. Aku rasa aku tidak dapat bertahan lebih lama lagi apabila puncak ghairahku sedang menyelinap kesetiap salur darahku melarikannya kesetiap pelosok tubuhku. Kepala batangku dalam pantat Phim sudah berdenyut-denyut diulit cengkaman dinding vagina Phim menyampaikan pesan bahawa kemuncak berahi sudah hampir sampai. Tiba-tiba” I’m cumming ………arghhhhh ……arghhhhhh …… “suara Phim kedengaran dan serentak dengan itu rasa lelehan panas air berahi meledak dikepala batang dan batangku digrip erat pantat Phim. Aku mengumpul segala kekuatan, lalu satu ledakan mani terhambur kedalam pantat Phim dari batangku, sama-sama kami menikmati puncak ghairah apabila tubuh aku dipeluk erat oleh Phim yang kejang. Batangku dikemut-kemut oleh pantat Phim seolah-olah memerah segala isipati dari batangku……suasana hening seketika dan dengusan ahhhhhhhhhh…… yang panjang kedengaran.

Setelah keadaan reda aku mengucup mulut dan mencium hidung Phim yang terbaring kelesuan dihimpit tubuhku. Batangku ku biar berkubang didalam pantat Phim, dan ketika sedikit kekuatan menjelma kembali dalam keadaan batangku masih di dalam pantat Phim aku mengangkat Phim ke atas katil di sisi Yen yang masih terbaring lena. Walaupun kedinginan aircond di dalam bilik, peluh aku dan Phim membasahi tilam di sisi katil tempat aku bertempur dengan Phim. Aku memeluk Phim yang berada lesu di atas tubuhku. Terasa kekenyalan buah dada Phim bertemu dengan bulu dadaku. Batangku masih keras di dalam pantat Phim yang ku rasa masih mengemut tapi semain perlahan denyutannya. Jam di dinding menunjukan pukul 10.30 malam bererti sudah 2 jam aku mengerjakan Phim dan Yen. Yen masih terbaring lesu disebelah dan tubuh Phim masih menindih aku, dan aku rasa bertuah memiliki dua dara serentak malam itu. Kami terbaring bogel melepaskan lelah setelah 2 jam berjuang, Yen dan Phim terlena kepenatan. Aku mengalih tubuh Phim kesebelah Yen setelah batangku yang masih tegang ku cabut dari pantat Phim. Lendir nikmat melekat di batangku dan kulihat tompok darah dari pantat Phim yang sudah pudar bercampur mani melekat di cadar putih.

ani lubang tanduk

Filed under: MELAYU

Pada hari selasa tu genaplah seminggu aku tak dapat pantat anis. Oleh kerana kerja aku habis awal, jadi aku pun ke rumah Anis untuk bertanya kabar. Ketika itu jam dah pukul 5 petang. Maka aku pun singgah di gerai untuk menbeli goring pisang panas sebagai buah tangan. Setelah sampai di rumah Anis, aku tetuk pintu dan seorang perempuan muda yang membuka pintu rumah tersebut bukannya Anis.
” Encik cari siapa ?” Tanya perempuan muda tersebut pada aku. Ketika itulah aku meninjau susuk tubuh gadis melayu berkenaan. Dari loghat tutur katanya, ternyata dia anak Kelantan yang bernama Ani. Seperti yang di ceritakan oleh Anis. Cuma Aku tak berkesempatan untuk berjumpa dengannya.
Di dalam hati aku menjawab, “Aku perlukan tubuh mu sayang.” Tapi tak berani aku melamarnya secara terus terang. Maklumlah orang tak kenal. Nanti tak pasal pasal bertelur pulak kat dahi aku ni . Malu dapat sakit pun dapat.
Budak ni memang cantik. Kulitnya putih dan halus. Amat sedap kalau dapat aku peluk sampai pagi. Bibirnya pula merah merkah. Sesuai benar untuk kulum batang aku ni. Salutan kebaya sendat di tubuh si gadis itu cukup menyerlahkan kerampingannya. Dengan hiasan lesung pipit di pipi menambahkan jejelitaannya.
” Encik cari siapa ?” ulangnya lagi membuatkan aku sedar dari lamunan. “Anis” jawabku ringkas.
“ Anis belum balik lagi” jawab gadis tersebut.
“ Tak apalah kalau Anis belum balik lagi. Ambil goring pisang ini dan makanlah bersama, OK” Jawab aku. Gadis itu pun menbuka pintu. “Masuk lah dahulu sekejap lagi mungkin Anis sampai. Kemudian dia pun beredarlah untuk ke dapur sambil membawa gerong pisang tersebut.
Agak lama juga baru dia muncul semula di meja ruang tamu sembil menbawa goreng pisang dan air teh. Setelah di ajak minum, Aku pun minumlah sambil rilek rilek saja sambil menonton VCD.
“Saya Siti, Siti Rohani. Tapi kawan kawan panggil saya Ani.” Katanya lembut.
“Ummm… Ani. Manis nama tu. Macam orangnya juga. Berapa umur Ani sekarang ?” Tanya aku lagi.
“Tiga bulan lagi saya genaplah 20 tahun.” Jawabnya ringkas.
“Jadi Ani ni lebih muda dari Anis lah ni. Student Universiti mana? Mahal gak perbelanjaannya tu.” Aku kata pada Ani.
“Ye memang mahal. Itu pasal Ani nak cari kerja kat sini. Untuk tampung perbelanjaan tu nanti. Nak harapkan orang tua, memang tak ke manalah jawabnya. Tapi tak dapat lagi.” Terang Ani dengan lebih mendalam.
Aku turut berasa simpati mendengarkan masalah yang dihadapinya. Tapi semakin simpati, semakin keras pulak batang aku ni. Geram sungguh melihatkan kemontokkan tubuh Lina. Teringin sangat tangan aku ni nak gosok kat bawah perutnya itu.
Pantas aku bangun dan bergerak ke pintu. Selepas ianya dikunci, aku pun bersandar pada pintu tersebut. Sengaja aku bersandar di situ supaya dia tiada ruang untuk melarikan diri. Ketika itu aku memang dah bertekad nak kongkek pantat Ani. Apa jadi sekali pun dia mesti aku pujuk sampai cair. Kalau pujuk pun tak menjadi, memang kena rogol lah budak ni nanti. Macam mana sekali pun, air mani aku akan tetap juga tersiram ke dalam lubang pantat Ani.
“Ani dengar sini baik baik. Saya amat berminat nak tolong Ani. 3 ribu ni adalah kepunyaan Ani. Tapi terlebih dahulu Ani mestilah bantu penuhi keperluan saya.” Tersenyum meleret dia mendengarkan tawaran aku tu. RM 3 ribu ringgit terang benderang bercahaya di matanya. Separuh dari masalah kewangan Ani boleh selesai dengan wang yang sebanyak itu.
“Boleh……” Jawab Ani. “Tapi bantuan apa yang Encik Abang perlukan ? Ani mula tertanya tanya.
“Errrhh… Begini. Dah seminggu saya tidak dapat bersama Anis. So…. kalau boleh apa kata Ani tolong menggantikannya ?” Dengan bahasa yang berkias aku cuba menerangkan hajat terhadap Ani.
Anis nampak agak keliru dan tidak beberapa tangkap akan maksud aku tu. Maklumlah budak Kelate ni selalunya agak tebal dengan nilai ugama. Sebab itulah perkara perkara yang berbentuk lamaran maksiat agak lambat untuk Ani fahami.
Agak lama juga baru aku lihat wajah Ani mula berubah. Dia sudah mula dapat mentafsirkan hajat yang aku maksudkan. Mata Ani agak terbeliak sikit. Lirik senyumannya tadi telah bertukar menjadi separuh ternganga.
“Eh… Apa maksud Encik Abang ni ? Ani ni bukannya perempuan macam tu. Tak naklah. Lagi pun Ani masih dara bukannya macam Anis. Dan kekallah hendaknya sehingga Ani kawin nanti.” Dengan nada yang agak keciwa Ani cuba menegaskan penderiannya.
“Ani tolong saya dan balasanya saya tolong Ani Saya perlukan tubuh Ani dan Ani perlukan duit saya. Kita buat perlahan lahan. Saya jamin Ani mesti ok nanti ” Aku cuba memujuk Ani. Sambil itu dia nampaknya masih resah. Matanya melihat kearah pintu. Mungkin ia minta Anis segera sampai. Tapi apa jadi sekali pun Ani memang tak akan aku lepaskan. Air dah naik kepala apa nak jadi, jadilah.
Aku ni pulak memang rasa anak dara melayu yang fresh. Masa aku dapat Anis dah 2 hand peluang tu 3 bulan lalu. Itu pun taklah secantik si Anis. Tapi 3 ribu ringgit aku telah sanggup hanguskan ke arah keinginan tersebut. Kini peluang telah datang menggolek ke riba aku. Perawan melayu kelantan secantik Siti Rohani tu memang pasti akan aku pecahkan daranya sebentar lagi.
“Kenapa Ani gelisah ? Nanti dulu… Cubalah bawa bertenang. Errrr… Apa yang tak kena…. Ani ambil saja RM 3 ribu ini dahulu, RM 3 ribu tambahan akan saya beri Ani untuk dara Ani oleh itu Ani mesti tidur dengan saya.” Aku pantas memberikan tawaran yang berganda banyaknya.
Ani terkejut dengan tawaran aku tu.. “Ani tahu hubungan abang dengan Anis” katanya bercelaru di dalam usaha mempertimbangan tawaran aku tu. Dia tersepit di antara konsep harga diri, kawan dengan kejayaan masa depan. Begitulah bunyinya 3 alternatif yang terpaksa Ani pilih.
Tapi berdasarkan cita-cita Ani yang tinggi, aku sudah dapat mengagak akan arah perhitungannya. Bukannya konsep harga diri yang di pertahankan.Setelah lama termenung, dia pun memberikan jawapannya. “Ok lah…. Ani sanggup. Tapi 3 ribu lagi bila nak beri Ani.” Bukan main lega lagi aku mendengarkan kata kata Ani. Lamaran aku untuk memecah dara telah pun disambut. Nampaknya tak perlulah berkasar dengannya lagi. Persetujuan itu jelas membuktikan murahnya anak dara sekarang.
Aku berasa cukup seronok. Dengan hanya bermodalkan 6 ribu ringgit, si dara ku nikmati, seperti bakal jadi pengantin. Harum semerbak bauan yang dipakainya itu tambah menghidupkan lagi suasana tersebut.
“Ani tak akan menyesal. Itu janji iklas dari saya.” Sambil berkata kata aku mula membelai belai rambutnya. Dia nampak tenang saja. Segala apa yang aku lakukan terhadapnya tidak langsung mencetuskan penentangan. Dengan perkembangan yang sebegitu rupa, aku pun mula bertambah yakin dan berani.
“Bukan seluar dan baju saya dulu. Lepas tu Ani buka seluar dalam ani sahaje dan duduk di atas sofa.” Kata aku tersengeh. Terbogel le aku di depan mata Ani. Apa lagi, Ani meneguk air liur bila ternampak batang aku yang dah keras terpacak. “ 20cm je” kata ku padanya.
Tercegat sekejap dia mendengarkan tak berapa lama kemudian Ani pun mulalah tunduk untuk menyelak kain belah yang dipakai itu. Sambil meneliti gerak geri Ani, tangan aku menggosok gosok batang yang memang dah keras. Semasa kainnya terselak, aku dapat lihat bertapa putihnya peha Ani. Cukup jelas ia terbayang di ruangan mata aku. Itulah yang telah menbuat aku geram berahi aku terhadap Ani. Perlahan Ani melucutkan seluar dalamnya. Lepas tu Ani pun duduk di atas sofa seperti mana yang telah aku arahkan.
Setelah Ani melabuhkan tubuh, aku pun segera mengikuti jejaknya. Satu persatu aku tanggalkan butang baju Ani sehingga habis semuanya terlerai. Lepas tu aku selakkan branya ke atas. Maka tersembullah puting yang berwarna kemerah merahan. Segala galanya terlambak buat habuan aku. Dengan penuh berseni aku pun menjari puting tetek si remaja itu.
Beberapa ketika kemudian Ani mula mengeliat macam kegelian. Gentelan jari aku tu telah jelas menampakkan kesan. Dari reaksinya aku tahu bahawa belum ada lelaki yang pernah sentuh di situ. Mulut Ani ternganga-nganga. Dia bagaikan tak percaya akan denyutan kesedapan yang sebegitu rupa. Pada ketika itu aku yakin bahawa Ani sudah berkeinginan sangat untuk mendermakan daranya pada aku.
Aku pun mulalah menyelak kainnya. Kain yang berbelah sampai ke pangkal peha itu telah memudahkan lagi kerja aku. Sekejap saja pantat Ani sudah berjaya aku dedahkan. Perlahan lahan aku melebarkan kangkangnya. Pangkal peha Ani ternyata lembut dan gebu. Helaian bulu bulu halusnya boleh dikira. Ia begitu cantik menghiasi ketembaman pantat. Manakala di persekitaran lubang pantat pula betul betul licin tanpa sehelai bulu sekali pun. “Bertuah sungguh suami kamu nanti. Tapi aku yang yang untung dapat tebuk dulu.” Kata aku di dalam hati.
Jari aku mula meraba raba alur pantat Ani, kemerahan kulitnya halus di situ. Memang pantat beginilah yang menjanjikan kebahgiaan bagi lelaki. Sedap dilihat dan sedap jugak di jolok. Begitulah hakikat kenyataannya. Jari jemari aku pun melanjutkan lagi penjelajahan. Juntaian kelentik Ani pula yang jadi tumpuan. Ianya aku tarik-tarik dan aku usap-usap. Begitulah aku perlakukan berulang kali.
Macam perempuan nak bersalin Ani mengerang. Bahasa kelate pekat yang terpancul dari mulutnya aku sendiri pun tak faham. Kuat dan lantang gema suaranya itu. Kelakuan Ani tak ubah seperti Anis. Ani bagaikan sudah terlupa pada rakannya yang akan muncul bila-bila masa sahaja.
Tak putus putus dia menerbitkan isyarat kesedapan. Kadang kala Ani seperti tak mahu aku meneruskannya. Tapi kadang kala pula nampak macam ianya sengaja ditadah tadahkan. Begitulah bersileh ganti kesan tindak balas dari Ani. Tetapi yang nyata lebih banyak bertadah dari mengelak. Aku pun paham sangat akan signalnya itu. Maka aku pun pergiatkanlah lagi tumpuan usaha pada kelentik tersebut.
Aku ni pula ada pengalaman main kelentik Anis. Jadi ku gunakan sebaik mungkin pengalaman tu pada Ani. Hasilnya ani cair habis di tangan aku. Buktinya alur pantatnya memang sudah banjir kilat. Cukup seronok aku melihatkan pantat anak dara melayu bila dah mula mengebu dan berkilat.
“Pantat Ani ni dah cukup basah. Rasanya, tibalah masanya untuk upecara pecah dara Ani.” Perjelas aku padanya. Masa itu batang aku dah bukan main keras lagi. Bukan setakat keras saja, malahan berdenyut satu macam. Ia bagaikan dah tak sabar sabar lagi nak memecahkan dara seorang gadis melayu yang menawan.
Tiba-tiba pintu di buka, Anis melangkah masuk ke dalam rumah. Ani kelihatan agak keciwa bila permainan terhenti. Tanpa sedikit pun memperdulikan Ani, aku pun mula bercelapak di celah kangkang dia. Kemudian perlahan lahan aku merangkak ke atas tubuh Ani. Sambil itu jugalah kedua belah kakinya aku disangkutkan pada kedua belah bahu aku. Pengalaman bersama Anis cara ini berkesan untuk mematau pergerakkan si gadis, ia juga memudahkan laluan batang untuk memasuki lubang pantat.
“Sekarang marilah kita lakukan persetuhuhan.” Aku ucapkan padanya. Ani terdiam dan hanya menanti. Gerak matanya nampak kearah batangku. Aku tahu memang Ani ni takut belihat batang aku yang telah berjaya aku besar dan panjangkan dengan minyak lintah. Sebegitulah respond yang aku hajatkan. Aku nakkan dia berfikir batang sebesar dan panjang itu boleh masuk ke pantatnya yang kecil molek. Itu pasal lah sengaja aku tunjukan batangku padanya agak lama.
Anak dara melayu ni ngelabah bila aku katakan “ Tak koyak, rakap pantat gebu ni nanti. Perkataan buatkan Ani ingin menarik diri. Secara tiba tiba ia boleh menjejaskan rangsangan nafsu. Keperitan dan kesakitan terbayang di matanya.
Raut mukanya mula berkerut kerisauan. Kedua belah kaki yang terpaut pada bahu aku tu pun dah mula bertindak seperti menendang nendang. Tangan Ani pula cuba menolak nolak dada aku untuk menjauhkannya.
Sedikit sebanyak reaksi bantahan telah dapat aku kesan dari tindak tanduknya yang sedemikian rupa. Namun posisi Ani telah terkunci, tiada ruang baginya untuk melepaskan diri. Tambahan pula batang aku tu dah kemas terselit pada bibir pantat Ani. Ia hanya menunggu masa saja untuk dihenyakkan ke dalam.
Rontanya menyebabkan geselan yang menyebabkan batang aku bertambah ketara denyutannya. Itulah petanda untuk segera meragut Dara Pujaan. Maka batang aku pun bersedialah untuk memulakan upacara memecah dara. Sedikit demi sedikit ianya masuk ke dalam. Kepala batang aku tu perlahan lahan memasuki bibir pantat Ani.
“Ummmm…. Ani. Ishhh… Sempitnya pantaaaat…. Itu pun belum lagi sampai selaput dara….” Kata kata aku telah membuatkan Ani semakin ngalabah. Dia mengeleng gelengkan kepala bila aku mula terus menekan. Dia bertambah cemas apa bila perasan yang tersenyum melihatnya. Aku dengan rakusnya merodokkan batang jauh ke dalam pantat Lina.
Apa lagi, berceraplah kesan bunyi yang kedengaran. Dengan itu maka hilanglah kehormatan seorang lagi gadis melayu. Satu lagi lipatan sejarah hidupku. Batang aku telah berjaya meragut kehormatan tersebut.
“Arrhhhh…. Sakiiiiiiit……..Kak Anis….. Toloooong…” Begitulah berulang ulang jerit pekik yang terpancul dari mulut Ani. Ia berpunca dari kesakitan yang memenuhi lubang pantatnya. Aku tahu memang teruk si Ani bila daranya kena rempuh dengan batang aku. Lebih lebih lagi bila gerbang dara Ani aku redah secara ganas. Dalam sekelip mata, kepadatan 6 inci batang aku tu terbenam hingga ke dasar pantatnya terdapat baki 2 inci lagi.
Cukup derita Ani dengan penangan batang aku tu. Tak berapa lama kemudian dia mulalah menanggis teresak esak. Airmata berlinang membasahi pipinya. Aku pun tarik batangku darah merah jelas kelihatan di kulit batangku yang hitam. Anis yang pada mulanya jadi pemerhati hari jauh datang menghampiri aku dan Ani. “ emmm teruk akak tengok pantat Ani koyak rasanya ni” kata Anis. Bertambah laju air matanya mengalir. Aku pun bertanya pada Ani sama ada dia nak tarik diri atau pun nak teruskan. Kalau ia tarik diri RM3K tambahan yang dijanjikan akan lupus kerana kerjasama aku dan dia pun separuh Jalan sahaje. Ani minta aku teruskan kerana tiada apa-apa yang hendak di pertahankan. “Kota daranya telah pun robah abang jajahlah ikut kehendak abang” sambungnya. Mulalah membenamkan kembali batangku dan menghayunkan sorong tarik. Oleh kerana lubang Lina tu masih terlalu sempit, maka terpaksalah aku buat secara perlahan lahan.
Pantat budak Ani ni memang cukup ketat gila. Sepanjang pengalaman aku dengan pantat Anis aku dapat rasa dengan jelas malah setelah hamper 5 minit berlalu batang aku masih bersisa. Pantat Ani dikira paling sempit di bandingkan dengan Anis. Patutlah bagai nak gila dia meraung bila kena penangan batang aku tu. Memang sungguh naya pantat Ani pada masa tu.
Setelah agak lama, barulah Ani menampilkan sedikit reaksi sedap. Pantatnya pun dah melimpahkan airnya. Kini tibalah masanya untuk aku membenamkan batang sampai ke pangkal. Mula mulanya aku tidak faham kenapa boleh terjadi begitu. Memang untung aku petang tu, rasanya tak terkata nasib baik terpancut kalau tak rugi kerana tak dapat main lama.
Kini tangisan Ani mula reda. Lubang pantat Ani semakin berair. Sesekali aku membenamkan batang dalam masa yang agak lama. Sambil itu sesekali aku dapat rasa Ani mula menggelek gelekkan bontot. “Anis tengok ni Ani dah pandai main le macam dah ada pengalaman” kata aku pada Anis. “Abang tak tahan ke dengan kolam baru tu” peril Anis.
Mengeliat habis tubuh aku bila Ani buat macam tu. Amat ketara terbitan nikmat dari pantat Ani. Ianya terkemut kemut pada kepanjangan batang aku tu. Bukan main sedap rasanya bila pantat sempit mampu melakukan kemutan yang sedemikian rupa. Nak terpancut air mani aku dibuatnya. Pantas aku pun mengeluarkan batang aku tu. Dengan pantas aku menagkap Anis. Kainnya ku singkap ke atas kelihatan dia tidak memakai seluar dalam. “ oooo.. Anis yang tak tahan rupanya.” Kata aku.
Kesan rangsangan nafsu jelas terpalit di wajah Anis. Mulutnya mula mengerang kesedapan bila batangku jelajahi pantatnya. Isu perasaan malu jelas telah tiada antara Anis dan Ani. Anis tanpa segan silu dia mengoyang goyang bontot. Ia bertujuan untuk mengandakan sentimen kenikmatan. Dari himpunan tindak balas berkenaan, terbuktilah suasana berahi yang dialami oleh Anis.
Oleh kerana pantat Ani lebih ketat dan sedap aku tak merangcang untuk main lama dengan Anis. Gelagat nafsu Anis tu pulak memang dah cukup liar jadi mungkin aku terpancut dalam pantatnya nanti. Batang nak pancut dalam pantat Ani lebih-lebih lagi setelah upecara pemecah dara.
Apa lagi, aku pun cabutkan dari pantat Anis dan dengan pantas benamkanlah seluruh kepanjangan batang ke dalam pantat Ani. Dalam pada itu Ani yang ingat aku telah selesai dangannya hanya mampu menadah. Maka bersemburlah air mani aku kat dalam pantat Ani. Aku rasa hampir 7-8 das ledakkan padat telah terhasil. Hajat telah terlaksana setiap titisan air benih tersebut aku pastikan tercurah masuk ke dalam perut Ani.
Walaupun antara aku dengan Ani selesai tapi batang aku masih lagi terasa keras. Buat seketika aku biarkan ia terus berkubang di dalam pantat. Hati dan berat hati untuk di cabut.
Ani pula nampaknya masih menadah tetapi aku sian pulak kat Anis menanti. Aku tau memang belum baginya untuk mencapai kepuasan. Tapi sengaja aku tak mahu dia puas lagi. Sebab kalau dia dah puas sudah pasti dia tak nak kena lagi. Alamat melepaslah peluang aku untuk berseronok dengan Anis lagi pun dah niat aku nak pantatnya.
Sengaja aku buat macam tu. Aku mahu supaya Anis dan Ani masih terus berkeinginan pada batang aku ni. Setelah selesai pusingan pertama aku dengan Ani, aku pun memantat dengan Anis, tetapi sengaja aku bertahan dan hasilnya Anis menyerah dan minta Ani selesaikan tugasnya. Petang bawa ke malam hasilnya sekali lagi pantat Ani jadi tadahan maniku, hinggalah ke pagi besok, sebegitulah aturcara aktiviti seksual yang kami lakukan. Entah berapa pusingan aku melantak pantat Ani dan Anis, aku sendiri pun tak pasti, yang pasti semua maniku selamat dalam rahim Ani.
Aku cukup seronok bila dapat pantat dara si Ani. Tapi lagi seronok bila Ani dan Anis tidak menolak pemintaan batangku. Tapi pantat Ani lebih aku sukai sebab sentiasa ketat dan padat lubang tanduk le katakan. Aku lak macam bertanduk

tukang parkir

Filed under: RAMAI-RAMAI

Aku bernama Mitha, umurku 19 tahun, aku adalah seorang mahasiswi biasa tapi banyak yang menyaranku menjadi model karena aku mempunyai tinggi yang semampai, perut ramping, kulit putih mulus, wajah cantik, dan body yang bisa membuat para cewek yang lain iri sementara para cowok akan menelan ludah melihat bodyku karena bongkahan pantatku kencang dan padat, dan juga payudaraku berukuran 36C, tapi aku tidak mau karena aku malas menjadi model. Aku juga mempunyai saudara kembar yang identik denganku, namanya Meytha, umurnya juga 19 tahun. Meytha mempunyai hidung yang mancung, alis yang tipis, dan bibir tipisnya yang sering dihiasi oleh lipgloss rasa apel. Kami sama dalam segala hal mulai dari wajah, sifat, kepintaran, bentuk tubuh, bahkan sampai ukuran payudara kami juga sama yaitu 36C. Kami memang sengaja tidak membedakan penampilan kami karena aku sering bertukar posisi dengan Meytha dalam hal mata kuliah, aktifitas, pacar, mengerjai teman, dan bahkan dalam menghadapi pacar yang kadang-kadang menyebalkan. Kami juga sangat suka sex karena keperawanan kami dirampas oleh pacar kami masing-masing dan sejak itu kami jadi ketagihan dengan sex.

Meskipun aku dan Meytha mempunyai banyak teman cewek ataupun cowok, tapi kami lebih suka berjalan berdua saja karena terasa lebih nyaman untuk membicarakan hal-hal pribadi ke saudara kita sendiri daripada ke teman se gengku ditambah lagi Meytha adalah saudara kembarku, tentu saja dia lebih mengenalku daripada orang lain. Di geng, aku dan Meytha dianggap sebagai ketua karena kami paling cantik diantara yang lain, meskipun sangat terkenal di kampus kami tidak pernah membedakan teman bergaul, kalau orang itu baik dan ramah kepada aku maupun Meytha, pasti kami juga baik kepadanya meskipun orang itu tidak populer.

Aku berjalan berdua dengan Meytha ke tempat parkir karena mata kuliah kami untuk hari ini sudah selesai. Selama kami berjalan ke tempat parkir, banyak teman-teman cowok memperhatikan kami, mungkin mereka mengkhayal betapa beruntungnya jika mereka bisa berada di tengah-tengah kami dan menggandeng tangan kami.
“Mey, gimana kalau kita shopping dulu bentar?”.
“ah, gak ah, gue capek banget nih, gimana kalau kita ke cafe aja?”.
“yaudah, boleh juga, yuk”. Ketika aku dan Meytha membuka pintu mobil, ada seorang lelaki yang mendekati kami, dan itu adalah pacar Meytha, tapi Meytha sudah benci pada pacarnya itu karena Meytha pernah melihat pacarnya bermesraan dengan cewek lain.
“Mey sayang, tunggu !!”.
“ada apa lagi sih, aku udah bilang, aku gak mau ngomong lagi ama kamu!!”.
“Mey, tunggu, aku mau jelasin soal cewek yang kamu lihat waktu itu”.
“jangan ngomongin itu lagi,, pokoknya sekarang kita putus!! Mit, ayo kita tinggalin cowok berengsek ini”. Lalu aku dan Meytha masuk ke dalam mobil, kemudian aku langsung mengunci pintu mobil sementara si mantan pacar Meytha masih mencoba untuk membuka pintu.

Aku memundurkan mobil dan langsung mengendarai mobil keluar dari tempat parkir dan meninggalkan mantan pacar Meytha yang terjatuh karena tersenggol body mobil. Di perjalanan.
“Mey, lo gak apa-apa kan?”.
“gak,, emang kenapa?”.
“gue kirain lo sedih”.
“ya ilah, Mitha, udah lupa ya,,”.
“ya, aku tau, kalau kita udah putus pasti besoknya bakal banyak cowok yang pdkt ke kita, tapi gue cuma takut lo sedih”.
“gue gak apa-apa lagi, tenang aja Mit, ngomong-ngomong udah jam 3 nih, ngebut dong, lo kan jago bawa mobilnya, biar kita sampe rumah jam 6an”.
“ok, siap-siap ya, jangan ampe kencing di celana ya”. Lalu aku langsung menambah kecepatan dan mengeluarkan skill ku yaitu mengendarai mobil, apalagi mobil kami adalah mobil sedan yang sudah dimodif sehingga sangat cepat, dan makin cepat mobil yang aku kendarai, aku menjadi semakin bersemangat.

Dalam waktu 20 menit, kami sudah sampai di kafe tujuan kami, lalu aku menaruh tanganku di selangkangan Meytha.
“ngapain lo?”.
“gak, cuma mau ngecek aja,, kirain gue, lo ngencing di celana”.
“enak aja lo, emangnya gue anak kecil. Yaudah, masuk yu”.
“bentar dulu, gue mau ganti celana dulu”.
“nah,, jangan-jangan lo yang kencing di celana”.
“enak aja, gue cuma gerah pake celana, gue pengen pake rok”.
“pake rok? Bukannya lo lagi gak pake celana dalam? Terus ntar kalo keliatan orang, gimana?”.
“biarin, adem, lagian kalau bikin orang seneng kan dapet pahala”.
“dasar lo, udah cepet, ganti sana”. Kemudian aku mengganti celanaku dengan rokku, lalu kami berdua keluar mobil dan masuk ke dalam kafe. Kemudian kami duduk dan memesan minuman, banyak cowok yang melihat kami, bahkan ada yang mendekati kami dan mengajak mengobrol, tapi karena kami sedang malas, kami berlagak jutek. Karena kami terus bersikap jutek ke cowok yang datang ke meja kami, akhirnya tidak ada cowok yang menghampiri kami lagi.

“bosen gue Mey, kemana-mana digodain cowok mulu”.
“gue juga bosen, tapi mau gimana lagi”.
“Mey, ngomong-ngomong udah berapa ** yang udah lo tanganin?”.
“kayaknya sekitar 50an deh, lo berapa?”.
“kalo gue sekitar 55an”.
“emang ada apaan sih, tiba-tiba nanya kayak gitu?”.
“gak, gini, kan dari dulu kita cuma ngesex ama cowok-cowok ganteng doang, gimana kalau kita coba yang beda”.
“maksud lo gimana?”.
“maksud gue, gimana kalo kita ngesex ama cowok yang nggak ganteng”.
“maksud lo temen-temen kampus kita yang nggak ganteng?”.
“boleh juga, tapi gimana kalau kita coba ngerasain ngesex ama tukang parkir, satpam, ‘n yang lain-lain?”.
“menarik juga tuh, terus gimana mulainya?”.
“gimana kalau kita mulai dari tukang parkir yang tadi”.
“tukang parkir tadi kan udah bapak-bapak”.
“makanya, justru itu, biar ada variasinya gitu”.
“terus entar godanya gimana?”.
“itu urusan gue, Mey. Mendingan kita abisin nih minuman dulu”.
“ok deh, Mit”. Kemudian kami menghabiskan minuman kami dan keluar kafe.

Setelah ada di luar kafe, aku mencari tukang parkir, akhirnya kutemukan seorang tukang parkir yang sedang minum dengan temannya di warung. Lalu aku menghampirinya, sementara Meytha masuk ke dalam mobil.
“maaf, pak, mobil saya mau keluar”.
“oh, ya neng,,”. Kemudian, dia berdiri dan berjalan ke mobilku, tentunya bersamaku. Lalu, aku masuk dan mengeluarkan mobil dari tempat parkir, setelah mobilku sudah keluar dari tempat parkir.
“pak, saya mau nanya nih?”.
“nanya apa, neng?”.
“bapak mau gak ikut kami?”.
“kemana neng?”.
“pokoknya ikut deh, nanti kami bayar”.
“ya, pak, pasti bapak gak bakal nyesel deh”.
“gimana ya,, neng, saya juga lagi kerja”.
“masa gak mau ikut kami yang cantik kayak gini”.
“emm,, yaudah boleh neng”. Kemudian dia masuk ke mobil dan duduk di belakang, sementara aku dan Meytha duduk di depan.
“pak, nama bapak siapa?”.
“Parman neng, neng berdua namanya siapa?”.
“nama saya Meytha, terus ini saudara kembar saya”.
“kenalin, saya Mitha”.
“ngomong-ngomong, emangnya saya mau dibawa kemana sih, neng?”.

“ke rumah kami”.
“rumah neng? saya mau diapain”.
“gini pak, kami dapat tugas buat wawancara orang-orang yang penghasilannya minim, jadi kami milih tukang parkir”.
“oohh, gitu”. Kemudian kami membicarakan tentang diri masing-masing. Ternyata tukang parkir itu berumur 48 tahun, sudah mempunyai istri dan 2 orang anak, kulitnya hitam karena terbakar matahari, giginya berantakan, perutnya agak buncit. Sampai juga di rumah kami yang lumayan besar, kami berjalan ke dalam rumah kami sambil mengobrol.
“wah, rumah neng berdua bagus banget ya,,!!”.
“ah, gak biasa aja, lagian ini rumah orang tua kami”.
“rumah segede ini, yang jaga ada berapa orang?”.
“ada 2 orang satpam, tuh yang tadi ada di pintu gerbang”.
“terus, neng Mitha ama neng Meytha pake pembantu?”.
“gak, enakan kerja sendiri”.
“wah, berarti neng berdua mandiri”.
“yah, kami berdua emang udah di didik mandiri”.
“oh, terus sekarang ibu bapak kalian mana?”.
“lagi pergi ke luar kota”.

“bentar ya pak, saya ambilkin minuman. Mey, ajak pak Parman ngobrol dulu”. Lalu, aku ke kamarku dulu untuk ganti baju, dan kemudian aku menyiapkan minuman. Aku membawa minuman dalam nampan ke ruang tengah dengan memakai kaos yang longgar jadi jika badanku menunduk pasti payudaraku yang besar dan kencang terlihat karena aku sengaja tidak memakai bh, dan untuk bawahannya aku memakai celana hotpants sehingga pahaku yang putih mulus terlihat jelas. Meytha pergi ke kamar untuk ganti baju, sedangkan aku, menyajikan minuman ke Parman dan ketika aku menunduk payudaraku yang putih mulus, kencang, besar, dan menggelantung dengan bebas terlihat jelas di hadapan Parman. Aku sengaja berlama-lama menundukkan badanku di hadapan Parman agar Parman semakin bernafsu. Dugaanku benar, aku melihat tonjolan di sekitar selangkangannya.
“asik, rencana gue berhasil”, pikirku. Kemudian, aku duduk di sebelah kanannya dan berpura-pura bertanya seperti sedang mewancarai seseorang, lalu Meytha datang dan duduk di sebelah kiri Parman.

Sementara aku berpura-pura bertanya-tanya, Meytha berpura-pura mencatat jawaban yang diberikan Parman, aku melihat tonjolan di celana Parman semakin besar. Tidak ada seorang pria pun bisa menahan ereksinya jika duduk diantara 2 gadis muda yang cantik, seksi dan memakai pakaian yang minim. Lalu aku mengubah arah pembicaraan ke hal-hal yang lebih menggoda, seperti berapa kali dia tidur dengan istrinya, berapa ronde, dan lain-lain.
“istri saya payah, neng, gak bisa bikin saya puas”.
“kalau gitu bapak mau gak, kalau kami layanin?”.
“iya, pak, itung-itung terima kasih”, tambah Meytha.
“hah, yang bener neng, bapak boleh ngentotin neng berdua disini?”.
“boleh pak, kami akan melayani bapak sampai puas”. Kemudian, aku dan Meytha membuka pakaian kami masing-masing sehingga tubuh kami yang putih mulus dan montok mengapit Parman yang ada di tengah-tengah kami. Kemudian kami berdua duduk lagi di samping kanan dan kiri Parman, tanpa disuruh lagi Parman menggunakan tangan kanannya untuk meremas-remas dadaku bergantian, sementara tangan kirinya meremas dada saudara kembarku secara bergantian juga.

“aduh, mimpi apa ya bapak semalam, bisa * ama 2 cewek kuliahan yang bohai kayak kalian”.
“udah, pak, gak usah dipikirin, yang penting ini bukan mimpi, tapi kami bener-bener bakal muasin bapak sampai sepuas-puasnya”.
“asik, kalau gitu bapak bakal bikin kalian kelepek-lepek”.
“tapi, sebelum itu…”, kemudian Meytha menumpahkan jus orangenya ke dua buah payudaranya yang montok itu.
“nih pak, silakan minum”.
“kalau tempat minumnya kayak gini, bapak pasti nambah minumnya”. Kemudian, aku juga menumpahkan jus orange ke payudaraku.
“nah, kalau gini, bapak bisa nambah minumnya”, lalu aku dan Meytha menjepit kepala Parman dengan payudara kami, dengan lahap dan rakus Parman menjilati payudara kami secara bergantian. Akhirnya, semua jus orange yang ada di payudara kami habis diseruput oleh Parman.
“gimana, Pak, enak gak minumannya?”.
“enak banget, apalagi tempat minumnya kenyal”.
“yaudah pak, ke kamar yuk”.

Lalu, aku, Meytha, dan Parman pergi menuju kamar kami. Ketika sudah sampai di kamar kami, dan Parman ingin membuka celananya.
“udah pak, gak usah, biar kami yang bukain”. Meytha membuka baju Parman sambil memberikan bibir mungilnya yang merah merekah untuk dilumat oleh Parman, sementara aku membuka celana panjangnya. Sebelum membukanya, aku mengelus-elus penis Parman yang sudah berdiri di balik celananya itu.
“aduh, kasihan, udah pengen keluar dari sangkar ya”. Lalu, aku membuka resletingnya dan menurunkan celananya sehingga tinggal celana dalamnya yang menutupi penisnya yang sudah berdiri tegak itu, sementara Meytha sudah membuka baju Parman. Dengan rasa gotong royong dan juga kekeluargaan, aku dan Meytha menurunkan celana dalam Parman secara bersama-sama. Setelah celana dalamnya kami turunkan, penis Parman langsung menyembul keluar.
“wah, Mey, kayaknya * ini perkasa nih..”.
“iya Mit,
* kayak gini bisa kita garep sampai malem nih”.

“boleh aja, kok, buat neng-neng yang cantik ‘n seksi, ** bapak gak bakal bisa tidur”.
“bener ya, awas kalau bohong, nanti kami hukum”.
“emang hukumannya apa, nona-nona yang cantik?”.
“bapak harus nginep disini”.
“kita liat aja nanti”. Kemudian, aku dan Meytha mulai menjilati penis Parman yang berukuran 16 cm dan berdiameter 5 cm itu. Kalau aku sedang menjilati batangnya, Meytha mengemuti buah zakarnya begitu juga sebaliknya, dan kadang-kadang kami mengemuti kepala penisnya serta menjilati batang penisnya secara bersamaan sehingga pemiliknya merem melek dan mendesah pelan.
“aaahhh,,,,teeeruuusss noonn”. Aku melihat kaki Parman gemetaran.
“Mey, kasihan tuh, gara-gara kita, pak Parman jadi gemeteran”.
“oh ya, sory ya pak, kalau gitu bapak tiduran aja”. Lalu Parman tidur di atas ranjang, kami menaruh kedua kakinya di pinggiran tempat tidur sehingga kakinya agak sedikit terangkat, kami mengambil posisi 69 sehingga vaginaku ada di samping kiri Parman dan vagina Meytha ada di samping kanan Parman, sementara kepala kami berada di selangkangan Parman yang lebih hitam dari kulitnya.

Meskipun, selangkangan Parman bau tapi kami tetap melahap batang penisnya serta buah zakarnya dengan sangat rakus secara bergantian. Tak sesenti pun daerah selangkangan Parman yang luput dari jilatan kami berdua bahkan lubang anusnya juga kami jilat habis hingga daerah selangkangan Parman benar-benar basah karena jilatan-jilatan kami berdua.
“aaahh,, enak banget,,,baru kali ini diperkosa 2 cewek,,, dua-duanya cantik lagi”.
“makanya, bener kan, bapak gak bakal nyesel”. Sementara kami asyik menjilati selangkangannya, Parman juga sibuk mencucuk-cucukkan jarinya keluar masuk vagina kami. 4 menit kemudian, kami mengalami orgasme di saat yang bersamaan. Parman menjilati jari-jari kedua tangannya yang berlumuran cairan vagina kami.
“gimana, pak, cairan kami manis gak?”.
“wuiih,, manis ‘n legit neng”.
“yaudah, pak langsung yuk, udah gak tahan nih”. Kemudian Meytha langsung duduk di atas kepala Parman sehingga vaginanya benar-benar tepat berada di depan wajah Parman. Tanpa ragu-ragu lagi, Parman menarik pinggul Meytha ke bawah sehingga kini, wajahnya benar-benar terbenam di selangkangan Meytha, sedangkan aku sedang asyik menggerakkan tubuhku naik turun karena penis Parman sudah mengisi vaginaku. Setiap kali Meytha atau aku mengalami orgasme, kami bertukar tempat hingga akhirnya 30 menit kemudian, Parman sudah tak kuat menahan lagi sehingga akhirnya Parman menyemburkan spermanya di dalam vaginaku, Meytha langsung menjilati sperma Parman yang meleleh keluar dari vaginaku. Setelah selesai, penis Parman mulai mengecil.
“yah, pak, berarti bapak harus nginep”.
“gak papa, yang penting vagina kalian tersedia buat penis bapak”.
“ooh, tenang aja pak, vagina kami tersedia 24 jam buat bapak”.
“24 jam? Tapi kan bapak harus istirahat biar bisa ngentotin kalian lagi”.
“makanya, minum 2 butir viagra dulu, nih”. Kemudian, tanpa ragu-ragu lagi dia meminum 2 butir viagra yang Meytha berikan kepadanya.

Setelah 1 menit meminum obat itu, penisnya mulai berdiri lagi, dan akhirnya penis itu sudah berdiri lagi untuk menantang kami. Mulailah ronde ke 2 dengan Meytha sebagai target pembuangan sperma pak Parman, dan terus menerus kami ‘memperkosa’ Parman dan penisnya itu. Ranjang kami sudah dipenuhi keringat dan sperma Parman, ketika Parman lapar aku membuatkan makanan, sementara Meytha yang ‘mengendarai’ penis Parman. Kami terus menerus di setubuhi oleh Parman secara bergantian, dan kalau tubuh kami berdua sudah penuh keringat serta vagina kami sudah belepotan dengan sperma Parman, kami mandi, dan tentu saja kami mengajak Parman mandi bersama agar dia bisa menggarap tubuh putih dan mulus kami sepuasnya. Bahkan, aku dan Meytha tidak membiarkan Parman beristirahat meskipun cuma sedetik, karena kami berdua memang cewek hiperseks ditambah lagi kami sudah meminum obat kuat khusus cewek sehingga kami tetap fit terus, begitu halnya dengan Parman.

Setiap tempat di rumah kami menjadi tempat persetubuhan kami bertiga, mulai dari kamar, ruang tamu, kamar mandi, dapur, garasi, bahkan kolam renang yang ada di halaman belakang kami pun menjadi tempat pergumulan kami bertiga, mungkin ada yang mendengar desahan-desahan, memikirkan hal itu birahiku malah menjadi semakin tinggi. Akhirnya, pada sekitar jam 2 malam, khasiat obat kami bertiga hilang sehingga kami menjadi lemas. Lalu kami menuju kamar aku dan Meytha, karena spreinya sudah kotor terkena keringat dan noda sperma, Meytha mengganti sperma, sementara aku sedang digenjot oleh Parman. Dan semburan sperma Parman yang terakhir bersarang di mulutku, dan karena sesama saudara apalagi kembar, maka aku membagi sperma yang ada di mulutku dengan Meytha, caranya dengan melakukan french kiss, sementara Parman sudah tidur terlentang di atas ranjang yang sudah bersih. Setelah selesai berbagi sperma, kami pun menyusul tiduran di samping kiri dan kanan Parman, tapi kami sengaja tidur sedikit melebihi kepala Parman sehingga payudara kami tepat mengapit kepala Parman, dan kami berciuman agar payudara kami yang putih, montok, kencang, dan padat lebih menjepit kepala Parman.
“gimana pak, anget gak?”.
“anget ‘n kenyel, enak kalau bantal kayak gini”.
“yaudah, met bobo ya”, balas kami berdua secara bersamaan. Kemudian kami bertiga menutup mata karena sudah sangat lelah dan untuk menyongsong hari-hari berikutnya yang tentu lebih cerah, lebih indah, dan tentu saja mangsa baru.

sex party buruh

Filed under: RAMAI-RAMAI

Nama saya Erwin (23 tahun), WNI keturunan yang tinggal di Bandung dan kuliah ekonomi manajemen di Universitas Maranatha. Kuliahku agak tersendat karena keranjingan membantu orang tuaku menjalankan usaha percetakan keluarga kami, jadi SKS-nya kuambil sedikit-sedikit biar tidak semerawut. Dalam materi aku sama sekali tidak ada masalah, begitupun halnya dalam pergaulan, statusku membuat orang-orang mudah dekat denganku, terutama wanita, sudah beberapa kali aku gonta-ganti pacar dan hampir semua pernah ML denganku. Orang tuaku sudah mempercayai perusahaan ini sepenuhnya padaku sehingga mereka bisa menikmati hari tuanya dengan santai dengan bepergian ke luar negeri atau mengunjungi sanak saudara lainnya. Aku mempunyai seorang cici yang sudah menikah dan ikut suaminya, jadi sekarang aku tinggal sendirian di rumah yang megah ini mengurus bisnis sekaligus kuliah.

Kejadian gila ini terjadi pada bulan Agustus 2004 yang lalu. Waktu itu aku baru putus dengan pacarku, dalam kesepian itu kalau sudah tidak ada kerjaan aku menghibur diriku dengan nonton bokep, clubbing (tapi tidak sering karena besoknya harus bangun pagi-pagi, malu dong bos kesiangan), ataupun main internet berjam-jam. Suatu hari aku membaca cerita-cerita ah-uh.tk , disitu aku menemukan hiburan yang menggairahkan, aku sangat terkesan dengan cerita-cerita karya penulis wanita seperti Lily Panther, Citra Andani, Dania, Deknas, dll dimana wanita-wanita itu terlibat dalam seks liar, ternyata wanita jaman sekarang tidak kalah berani dari pria. Lalu aku sampai pada cerita berjudul “Kejutan Untuk Teman-temanku” yang memberiku inspirasi mengadakan acara gila ini. Terbayang-bayang dalam pikiranku dimana cewek putih cantik, sexy, dan imut dikerjai oleh cowok-cowok kasar, tua, hitam, dan jelek yang statusnya lebih rendah darinya, sungguh suatu kekontrasan seks yang menggairahkan.

Aku kemudian mulai memikirkan rencana untuk mewujudkan fantasi liarku, rencanaku mencari cewek-cewek dari kalangan teman-temanku untuk diadu dengan buruh-buruh bawahanku. Yang pertama harus kulakukan adalah mencari ceweknya dulu, karena cukup sulit dan perlu lobi-lobi yang jitu, kalau untuk prianya itu sih nanti saja, kemungkinan menolaknya pasti kecil, cuma satu banding sepuluh. Besoknya aku kuliah siang dan membicarakan hal ini dengan seorang teman wanita yang pernah ML denganku, hasilnya nol, ditolak mentah-mentah. Aku jadi malu dan hampir mengurungkan niatku, tapi bintangku mulai bersinar di waktu malam ketika ngedugem, di sana aku bertemu Santi (22) dan Sandra (22) yang juga sefakultas denganku, mereka akrab denganku maka aku tanpa tendeng aling-aling mengutarakan maksudku pada mereka. Mulanya mereka merasa risih dengan ideku, tapi setelah susah payah kurayu-rayu, akhirnya Santi bangkit juga gairahnya membayangkan hal itu, sedangkan Sandra, meskipun masih ragu-ragu, akhirnya mengiyakan juga karena kudesak terus (duh… kaya salesman aja nih !). Setelah puas ngedugem, aku mengantar Santi pulang (Sandra naik mobil sendiri), sambil menyetir Santi sempat mengoralku sampai keluar dan dihisapnya habis.

Berikutnya aku mencari seorang lagi untuk lebih meriah, kutelepon beberapa teman yang pernah kencan denganku dan mereka-mereka yang bispak (bisa pakai). Dari tiga orang yang kuhubungi akhirnya ada juga yang setuju yaitu Ivana (23), mahasiswi Sastra Inggris yang pernah pacaran singkat denganku, kebetulan waktu itu dia baru putus dengan pacarnya. Phew… akhirnya jerih payahku dengan menebalkan muka tidak sia-sia. Kini tinggal mencari cowoknya, aku keliling pabrikku untuk menyeleksi kandidat yang pas, lima orang saja kurasa cukup, kalau terlalu banyak takutnya berabe, bisa ada kasak-kusuk ga enak. Sebentar saja aku sudah mendapatkan lima kandidat itu, pilihanku jatuh pada : Pak Andang, seorang buruh tua berumur lima puluhan yang telah bekerja sejak usaha kami masih kecil-kecilan, kurasa pantas dia menerima hadiah ini mengingat pengabdiannya, meskipun berusia senja dan sudah mulai beruban, tubuhnya masih tetap fit karena terbiasa kerja keras; Pak Usep, usianya sebaya dengan Pak Andang, sudah menduda, jadi kupikir inilah saatnya sekali-sekali memberi upah biologis padanya; Mang Nurdin, berusia empat puluhan, badannya kekar dan berisi, inilah yang menjadi pertimbanganku memilih dia; Mang Obar, tiga puluhan, tampangnya mirip tikus dengan kumis tipis, kurus tinggi seperti pohon kelapa; Endang, paling muda dari kelimanya, baru dua puluh tiga tahun, bekerja disini baru setahun lebih, tapi rajin dan kerjanya bagus, patut mendapat hadiah ini.

Seusai jam kerja aku memanggil mereka untuk bertemu secara pribadi di kantorku. Awalnya mereka bingung kok dipanggil mendadak seperti ada salah saja. Namun setelah aku menjelaskan maksudku selama beberapa menit, mereka hampir terlompat, antara kaget dan senang, seperti tidak percaya apa yang baru kutawarkan. “Hah, serius nih tuan ?” Pak Andang dan Mang Obar bertanya hampir bersamaan “Iya, siapa yang main-main, pokoknya kalian tinggal datang dan nge-jos, apa-apanya saya yang atur, dan satu hal lagi jangan sampai ada yang tau lagi selain kita, atau tidak sama sekali” jawabku meyakinkan. Seperti yang kuduga, tak satupun dari mereka ragu atau menolak, tidak sesulit mengajak para ceweknya. Ya, sifat dasar pria lah, siapa sih yang bisa melewatkan kesempatan emas gini lalu begitu saja, apalagi kalau soal perempuan, bahkan Raja Daud yang bijak itu saja tidak bisa menghindar dari godaan seksual, ya kan !

Sebenarnya menurut rencana harusnya besok bisa mulai, tapi karena Santi meng-SMS bilang bahwa ada tugas kuliah yang harus diselesaikan, terpaksa acara ditunda besok lusa. Duh, aku jadi agak bete, tidak sabar menunggu hari esok, satu jam jadi terasa setahun karena sudah kebelet. Malamnya aku sampai masturbasi saking bergairahnya, tapi sisi positif dari tertundanya acara ini aku bisa mempersiapkan segalanya lebih baik. Ketiga pembantu wanitaku kubebastugaskan hari itu, yang kebetulan sehari sebelum hari kemerdekaan RI, kusuruh saja mereka berkunjung ke sanak saudaranya atau kemana kek, pokoknya tidak mengganggu acara gilaku. Kupompa kasur udaraku yang empuk (beli dari Dr. TV, hehe… promosi nih ceritanya?) dan kuletakkan di ruang tamu sebagai arena pertarungan nanti.

Akhirnya sampai juga hari-H itu, sekitar pukul dua siang aku sudah membereskan segala dokumen yang harus kutangani, sisanya, pekerjaan kecil lainnya kuserahkan pada staffku. Saat itu sudah ada SMS masuk dari Ivana yang mengatakan bahwa dia sudah datang dan sedang menunggu di depan kediamanku. “Pagi-pagi amat dia datang, baru juga jam segini” pikirku. Aku pun segera menuju ke rumahku yang terletak di samping pabrik, dibatasi dua buah gerbang kayu. Aku memasuki pekarangan rumahku, disana Ivana sedang jongkok mengelus-elus si Buster, kelinci peliharaanku. “Hoi, Na, cepat amat kesininya, kan gua bilang jam limaan sesudah bubar kerja” sapaku “Tanggung, kalo pulang, nanti harus bolak-balik jauh lagi” jawabnya “Naik apa kesini ?” “Tadi nebeng si Stephanie kan dia di Lingkar Selatan sana” Hari itu Ivana terlihat cantik sekali, kaos ketatnya tanpa lengan dan celana panjang sedengkulnya semua serba putih, rambutnya yang panjang diikat ekor kuda. Walaupun pernah putus denganku akibat ketidakcocokan sifat, namun kami masih berteman baik, bahkan terkadang kita melakukan hubungan badan. Secara fisik, dia termasuk perfect, buah dadanya sedang saja, standar cewek Asia, tubuhnya langsing bak biola, dia juga jago dancing dan piano.

Kuajak dia masuk ke rumah, disana kami menonton DVD Troy sambil ngobrol dan makan snack menunggu waktu bubaran pabrik. Ketika film lagi seru-serunya, tiba-tiba intercom berbunyi, ada urusan di pabrik yang memintaku datang. “Gimana sih nih orang-orang, masih butuh gua juga !” omelku dalam hati “Lu nonton sendiri dulu, gua ada perlu dulu nih, sori yah” Huh, ternyata cuma ada dokumen yang perlu kutandatangan, cuma itu saja, itulah kenapa aku tidak mengatur acaranya jam segini, ya banyak gangguan seperti ini loh. Aku memeriksa sejenak kegiatan di pabrik, setelah yakin tidak ada apa-apa lagi aku pun kembali ke samping. Waktu keluar dari sana, kulihat Vios hitamnya Santi sudah ada di halaman pabrik. Aku menengok arlojiku, wah… sudah mau jam setengah lima, ga kerasa ya, cepat amat, berarti sebentar lagi pesta gila-gilaan ala Kaisar Caligula akan segera dimulai hehehe… aku jadi ngeres.

“Lho, si Santi mana, tadi ada mobilnya di depan ?” tanyaku pada Ivana karena tidak melihat Santi di rumah “Tuh, lagi ke WC, masih lama ga nih acaranya Win, gua udah deg-degan nih ?” tanyanya “Bentar lagi kok, jam lima baru bubar, rileks aja Na, ga usah tegang gitu, ntar juga enjoy” kataku “Yo, San darimana aja, you are so hot today !” sapaku begitu keluar dari kamar mandi Waktu itu Santi memakai tank-top merah yang talinya diikat ke leher dan membiarkan setengah punggungnya terbuka. Bawahnya memakai rok yang mini dari bahan jeans ungu memamerkan pahanya yang putih mulus. Aku terpana beberapa detik menatap tubuh mulus Santi yang tinggi semampai (170cm), wajahnya cantik ala oriental namun ekspesinya agak dingin, sehingga sering terkesan jutek bagi yang belum kenal dekat dengannya, tapi kalau akrab dia enak diajak bicara, blak-blakan dan pendengar yang baik, setahuku dia ini orangnya pilih-pilih dalam memilih patner sex, tapi mau saja menerima tantanganku ini, entah dia yang kepingin atau diplomasiku yang hebat. “Dari rumahlah, masa dari kampus pake baju glamor gini, eh tinggal si Sandra ya yang belum ada ?” jawabnya “Iya belum tuh, ga ada berita lagi, tadi gua telepon HPnya ga dinyalain”

“Lu pake ginian bikin gua kepanasan nih San” kataku sambil memandangi dirinya, dibalik celanaku, adikku juga mulai bangun. Tak dapat menahan diri lagi, langsung kupeluk tubuh Santi, tanganku menggerayangi pahanya sambil menyingkap roknya, lalu telapak tanganku bergerak ke belakang meremas pantatnya yang montok. “Nngghh… buru-buru amat sih, ntar aja ah !” katanya antara menolak dan menerima “Sori San… dikit aja, lu bikin gua nafsu sih” sahutku seraya memagut lehernya Rambutnya yang pendek model Utada Hikaru memudahkan aku menjilati lehernya yang jenjang hingga ke tenguknya. Dari sana bibirku menjelajah secara erotis ke dagu, pipi, hingga mencaplok bibirnya yang tipis. Dengan kedua tangan meremas pantatnya, aku menciuminya dengan panas, nafas kami yang memburu terasa pada wajah masing-masing. Perhatian Ivana pada layar TV jadi tersita ke arah mantan pacarnya yang berciuman dengan penuh gairah dengan temannya. Dia menatapi kami tanpa berkedip dan terlihat gelisah, tangannya secara sembunyi-sembunyi meremas payudara sendiri. Aku yakin cintanya padaku masih tersisa sedikit walaupun cuma lima persen, dan hal itu tentu menimbulkan sensasi cemburu yang membuatnya horny.

Santi pun mulai merespon dengan meremas selangkanganku yang sudah menonjol. Lagi enak-enak ber-French kiss, tiba-tiba bel musikku berbunyi, kami melepaskan diri. Hhmm… siapa ya, Sandra atau para bawahanku ? Pintu kubuka, ternyata para buruhku, lima-limanya pula, aku memberitahukan bahwa cewek-ceweknya sudah datang tapi dari tiga baru dua yang datang, kuminta agar mereka bisa berbagi jatah dengan adil. “Ini beneran kan tuan ? kita ga usah keluar uang kan ?” si Endang seakan masih tak percaya, aku cuma mengangguk meyakinkannya “Udahlah ga usah banyak bacot, enjoy aja euy !” Pak Usep menepuk punggung pemuda itu Kubawa mereka ke ruang tengah dan kupertemukan dengan para cewek. Ivana terlihat nervous, dia tetap duduk di sofa dan memberi senyum dipaksa ketika kuperkenalkan buruh-buruhku satu persatu. Sedangkan Santi, meskipun agak gugup, namun lebih luwes, dia berdiri menyambut kedatangan mereka bahkan menyalami mereka waktu keperkenalkan. Ketika Mang Obar dengan nakal mencolek pantatnya pun, dia membalasnya dengan senyum menggoda……

Setelah saling kenal dan basa-basi sejenak kupersilakan mereka memilih sesuai selera mereka, dengan ini pesta resmi kubuka. Pak Usep dan Endang sepertinya lebih memilih Ivana, merekapun menghampirinya dan duduk disofa mengapit kanan dan kirinya. Sedangkan sisanya yang memilih Santi mulai berdiri mengerubunginya. Aku sendiri duduk di sebuah sudut yang strategis untuk menyaksikan the hottest live show ini. Nah, pembaca, dari sini aku sempat bingung bagaimana menguraikan kedua adegan ini secara lengkap dan detail, karena tidak seru kan kalau aku hanya menguraikannya sekilas-sekilas. Akhirnya setelah kupikir-pikir aku memutuskan menceritakannya per adegan plus berdasarkan penuturan mereka, supaya lebih fokus dan pembaca pun turut menghayati kenikmatan yang kurasakan waktu itu, semoga metode berceritaku ini memuaskan pembaca sekalian, aku akan memulainya dengan adegan Santi. (beberapa dialog disini, terutama yang diucapkan para buruhku adalah dalam Bahasa Sunda, sebenarnya aku lebih sreg menuliskan seperti aslinya, namun mengingat pembaca ah-uh.tk bukan cuma dari Jawa Barat, juga peraturan dari admin yang mengharuskan pemakaian Bahasa Indonesia yang baik dan benar, maka aku harus taat sama aturan mainnya)

Santi dikerubungi ketiga orang itu Santi nampak tegang, namun dia menutup-nutupi ketegangan itu dengan senyumannya dan juga menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, terkadang mereka mengajukannya pertanyaan nakal yang membuat wajahnya memerah tersipu-sipu. Pak Andang mulai berani mengelusi punggung Santi yang terbuka. “Eeemm… geli Pak !” desahnya menggoda. “Masa digituin aja geli sih Neng, gimana kalo diginiin ?” Mang Obar meremas payudaranya. Tangan-tangan kasar itu mulai menggerayanginya. Mang Nurdin juga mulai merayapi lekuk tubuh Santi sambil menyingkap rok mininya, paha mulus itu dia raba-raba, tangannya makin merayap ke atas hingga menyentuh selangkangan Santi yang masih tertutup celana dalam biru langit.

“Bapak buka bajunya ya Neng” Tanpa menunggu jawaban Santi, Pak Andang membuka tali leher yang menyangga pakaiannya. Santi tidak memakai bra karena tank top itu mempunyai cup dada didalamnya sehingga begitu melorot payudara montok dengan puting kemerahan itu langsung terekspos. Pak Andang dan Mang Obar mencaplok masing-masing kiri dan kanannya. Mang Nurdin kini berjongkok sedang mengagumi keindahan paha Santi yang jenjang dan mulus itu, tangannya tak henti-hentinya mengelusi paha itu. “Neng, pahanya mulus amat… putih lagi” puji Mang Nurdin sambil menjilatnya. Yang tak kalah menarik tentu bagian pangkalnya dan kini tangan Mang Nurdin telah sampai kesitu membelai kemaluannya dari luar, jari-jarinya lalu menyusup lewat tepi celana dalamnya. Mang Obar mengenyot payudara kanannya. Santi menengadah dengan mata terpejam, mulutnya mengap-mengap mengeluarkan desahan. Dia telah mabuk birahi, tubuhnya menggelinjang saat Mang Nurdin menggosok vaginanya dengan jari-jarinya sampai terlihat bercak cairan vaginanya di tengah celana dalamnya.

“Pak Andang, disana aja atuh, cape dong berdiri melulu ?” kataku menunjuk kasur pompa yang terletak tak jauh dari situ. Mereka pun menggiring dan merebahkan tubuh Santi di kasur empuk itu, lalu pakaiannya dilucuti satu persatu hingga tak tersisa apapun lagi di tubuhnya. Tampaklah tubuh mulus Santi yang berpayudara kencang, berperut rata, dan kemaluannya yang masih rapat ditumbuhi bulu-bulu yang tidak terlalu lebat dan tercukur rapi. Setelah menelanjanginya, mereka juga membuka baju masing-masing. Tiga batang kemaluan mengarah padanya bak meriam yang siap menembak, Santi sampai terpana menatap ketiga senjata yang akan segera ‘membantainya’ itu. Ketiganya kembali mengerubungi Santi yang terlihat nervous dengan menutupi kemaluan dan payudaranya dengan tangan. “Hehehe… si neng malu-malu gini bikin saya tambah nafsu aja ah !” kata Mang Nurdin mengangkat tangan kiri Santi yang menutup payudaranya. “Wah ternyata bodynya amoy bagus banget ya!” kata Mang Obar yang tangannya mulai menjelajahi tubuh mulus itu.

Pak Andang menciumi payudara kanannya sambil tangannya meraba-raba kemaluannya. Dijilatinya seluruh gunung itu sampai basah lalu dengan ujung lidahnya dia main-mainkan putingnya. Jantungku berdebar-debar dan mataku melotot menyaksikan adegan itu, ditambah lagi adegan pada sofa di hadapanku dimana tubuh telanjang Ivana sedang dijilati dan digerayangi. Aku membuka celana pendekku dan mengeluarkan penisku lewat pinggir celana dalam lalu mulai memijatnya, ini jauh lebih spektakuler dari film bokep dengan artis tercantik sekalipun. Mang Nurdin mencium dan menjilat leher jenjang Santi sambil mengusap-usap payudara satunya, lalu ciumannya bergerak ke atas menggelikitik kupingnya menyebabkan Santi menggeliat dan mendesah nikmat. Dari telinga mulut Mang Nurdin memagut bibir Santi, mulut lebar dengan bibir tebal itu seolah mau menelan bibir Santi yang mungil lagi tipis. Sekonyong-konyong terdengar kecipak ludah dari lidah mereka yang beradu. Santi nampak sudah tidak merasa risih lagi, yang dirasakannya sekarang adalah birahi yang menggebu-gebu akan pengalaman barunya ini, terlihat dari matanya yang terpejam menghayati permainan ini. Sikapnya yang semula pasif mulai berubah dengan meraih penis Mang Nurdin dalam genggamannya.

Mang Obar sedang berlutut diantara kedua paha Santi, tapi dia belum juga mencoblosnya. Agaknya dia masih belum puas bermain-main dengan tubuh mulus itu. Sekarang dia sedang membelai-belai tubuh bagian bawahnya, terutama pantat dan kemaluannya. Dia mengangkat paha kiri itu, lalu menciumi mulai dekat pangkalnya, terus turun ke betis, pergelangan, dan akhirnya dia emut jari kaki yang lentik itu. Lagi enak-enak nonton live-show sambil ngocok, tiba-tiba ada SMS masuk, kuraih HP-ku, oh… si Sandra, hampir lupa aku sama anak ini saking asyiknya, pesannya berbunyi demikian :

“Win, pstanya jd g? psti lg asyk y? sori nih tlat, td diajak tmn jln2 sih, kl stgh7 gw ksana msh bsa g?”

Brengsek bikin orang nunggu aja, mana datangnya telat banget lagi, tapi aha… terbesit sebuah cara untuk menghukumnya, hihihi… aku nyeringai sambil mereply SMS-nya “Gile tlat amt sih, y dah u dtg aja, mngkin msh kburu, kl g kta skalian mkn mlm aja, ok”

Wow, kini Santi sedang menjilati secara bergantian penis Pak Andang dan Mang Nurdin yang berlutut di sebelah kiri dan kanan kepalanya. Sementara itu Mang Obar menjilat serta menusuk-nusukkan lidahnya ke dalam vagina Santi, rangsangan itu membuatnya sering mengapitkan kedua paha mulusnya ke kepala Mang Obar. Kini Santi membuka mulut dan mendekatkan kepalanya pada penis Pak Andang, setelah masuk ke mulutnya, dia mulai mengulum benda itu dengan nikmatnya sambil tangan kanannya mengocok pelan penis Mang Nurdin. Tak lama kemudian Mang Obar menghentikan jilatannya dan merentangkan paha Santi lebih lebar, dia bersiap memasukkan penisnya. Santi juga menghentikan sejenak oral seksnya, menatap penis yang makin mendekati bibir vaginanya dengan deg-degan. “Pelan-pelan yah Mang, saya takut sakit abis kont*l Mang gede gitu !” ucap Santi memperingatkan “Tenang aja Neng, Mamang ga bakal kasar kok !” hiburnya sambil mengarahkan senjatanya ke liang senggamanya.

Nampaknya Mang Obar kesulitan memasukkan penisnya ke dalam vagina Santi karena ukurannya itu, maka dia lakukan itu dengan gerakan tarik-dorong. “Aakkhh… nggghhh… sakit !” rintih Santi menahan rasa nyeri, padahal penis itu belum juga masuk seluruhnya “Masa pelan gitu sakit sih Neng ?” kata Pak Andang yang memegangi tangannya sambil membelai payudaranya “Mungkin si Neng aja yang mem*knya kekecilan kali !” sahut Mang Nurdin cengengesan. “Aaaaahhh… ” jeritnya saat Mang Obar menghentakkan pinggulnya ke depan hingga penisnya terbenam seluruhnya ke dalam liang itu. Selanjutnya, tanpa ampun dia menggenjotnya dengan buas tanpa menghiraukan perbandingan ukurannya dengan vagina Santi. Sementara di kiri dan kanannya kedua orang itu tak pernah berhenti menggerayangi tubuhnya. Mang Nurdin dengan mulutnya yang lebar menelan seluruh susu kanannya yang disedot dan dikulum dengan rakus. Pak Andang menelusuri tubuh itu dengan lidahnya, bagian-bagian sensitif tubuh Santi tidak luput dari jilatannya. Santi mendesah-desah tak karuan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, tubuhnya menggelinjang hebat.

Sebentar saja Santi sudah mencapai klimaks, badannya menegang dan menekuk ke atas, desahannya makin hebat. Namun Mang Obar masih belum keluar, dia menaikkan kedua betis Santi ke bahunya dan memacu tubuhnya makin cepat sampai menimbulkan bunyi kecipak. Akhirnya dia menggeram dan menyemprotkan spermanya di dalam vagina Santi, cairan itu nampak menetes dari daerah itu bercampur dengan cairan kewanitaannya. Santi hanya sempat beristirahat kurang dari lima menit sebelum giliran Pak Andang mencicipi vaginanya. Mula-mula dia meminta Santi membasahi penisnya dulu, setelah dikulum sebentar, dia menindih Santi sambil memasukkan penisnya, pinggulnya mulai bergerak naik-turun diatas tubuhnya, Santi yang gairahnya mulai pulih juga ikut menyeimbangkan irama goyangannya. Pak Andang melumat bibir mungil Santi yang mengap-mengap itu meredam desahannya. Waktu itu aku sudah keluar sekali, kuambil tissue mengelap tanganku yang basah. Mang Obar mengambil aqua gelas yang kusiapkan dan meminumnya, dia duduk di sofa sebelahku. “Gimana Mang, sip ga ?” “Enak banget Bos, Mamang ga pernah mimpi bisa dapet kesempatan ini, sering-sering bikin yang kaya gini ya!” komentarnya dengan antusias “Tenang Mang, jangan boros tenaga dulu, ntar masih ada satu lagi loh !” nasehatku, kemudian aku menjelaskan apa yang harus dilakukan pada Sandra kalau dia datang nanti.

Pak Andang tiba-tiba menggulingkan tubuhnya sehingga Santi kini diatasnya. Dia lalu menegakkan badan sambil terus menaik-turunkan pinggulnya diatas penis yang mengacung bagai pasak itu. Terkadang dia memutar-mutar pinggulnya sehingga penis itu mengaduk-aduk vaginanya. Matanya merem-melek dan mulutnya mengeluarkan desahan nikmat. Keringat telah membasahi tubuhnya, menempel di dadanya seperti embun, juga menetes-netes dari mukanya. Mang Nurdin berdiri di sebelahnya lalu mendekatkan penisnya yang masih keras ke mulutnya. Santi mulai menjilatinya dimulai dari kepalanya yang disunat hingga seluruh permukaan batang itu, buah zakarnya yang besar dia emut beberapa saat. “Uuuhh… ayo Neng, enak gitu… mmm !” desah Mang Nurdin Semakin hanyut dalam lautan birahi, Santi tidak malu-malu lagi mengemut penis itu sambil mengocoknya dengan satu tangan. Payudaranya bergoyang-goyang naik-turun seirama gerak tubuhnya, dengan gemas Pak Andang menjulurkan kedua tangannya mencaplok gunung kembar itu serta meremasnya.

Saat itu Endang baru saja selesai dengan Ivana, setelah menyemprot perut Ivana dengan spermanya dia minum dulu dan langsung menuju Santi, sementara itu Mang Obar mulai mencicipi Ivana. Endang duduk di sebelah kanannya dan meminta ijin Pak Andang yang sedang menguasai kedua payudaranya untuk memberinya jatah satu saja. Sepertinya dia menggigit putingnya karena badan Santi mengejang dan mendesah tertahan di tengah aktivitasnya mengoral Mang Nurdin, dia mengenyot dan kadang menarik-narik puting itu dengan mulutnya. “Ooohh… isep Neng… iseepp !!” tiba-tiba Mang Nurdin mendesah panjang dan makin menekan kepala Santi ke selangkangannya. Spermanya menyembur di dalam mulut Santi, mungkin karena badannya berguncang-guncang hisapan Santi tidak sempurna, cairan itu meleleh sebagian di pinggir mulutnya. Mang Nurdin beranjak pergi meninggalkan Santi setelah di cleaning service, diambilnya segelas aqua dari meja untuk diminum.

Tiba-tiba goyangan Santi makin gencar lalu berhenti dengan tubuh mengejang, kepalanya menengadah sambil mendesah panjang, kedua tangannya memegang erat lengan Pak Andang. Dia telah mencapai klimaks, tapi Pak Andang belum, dia terus menghentakkan pinggulnya ke atas menusuk Santi. Tubuh Santi melemas kembali dan ambruk ke depan menindihnya. Saat itu Endang sudah pindah ke belakangnya, dia meremas pantat yang sekal itu sambil mengorek duburnya. Kemudian dia menindihnya dari belakang, tangannya menuntun penisnya memasuki liang dubur itu diiringi rintihan pemiliknya. Tubuh Santi kini dihimpit kedua buruh itu seperti sandwich, kedua penis itu menghujam-hujam kedua lubangnya dengan ganas. “Ooohh… …oooh… aakkhh !” gairah Santi mulai bangkit lagi, vaginanya berdenyut-denyut memijat penis Pak Andang yang sudah di ambang klimaks.Pak Andang lalu melenguh panjang menyemburkan maninya di dalam vagina Santi akhirnya dia terbaring lemas di kolong tubuh Santi dengan nafas terengah-engah…….

Setelah ditinggalkan Pak Andang, Santi cuma melayani Endang saja, namun pemuda ini lumayan brutal mengerjainya sehingga dia menjerit-jerit. Duburnya disodok-sodok sementara payudaranya yang menggantung di remas dengan kasar. Hal ini berlangsung sekitar sepuluh menit lamanya sampai keduanya klimaks, sperma Endang tertumpah di pantatnya sebelum keduanya ambruk tumpang tindih. Keadaan Santi sudah babak-belur, tubuhnya bersimbah peluh, bekas-bekas cupangan masih terlihat pada kulitnya yang mulus, sperma bercampur cairan kewanitaan meleleh dari selangkangannya. Aku jadi kasihan melihatnya, maka aku menghampirinya dengan membawa air dan tissue. Kuangkat tubuhnya dan kusandarkan pada lenganku, dengan tissue kuseka keringat di dahinya, minuman yang kuberikan langsung diteguknya habis. “Udah ya San, kalau dah ga kuat jangan dipaksain lagi, ntar pingsan lu!” saranku Namun dia cuma tersenyum sambil menggeleng, ga apa-apa katanya cuma perlu istirahat sedikit, dia juga bilang rasanya seperti diperkosa massal saja barusan itu. Waktu itu Pak Usep menghampiri kami bermaksud menikmati Santi, tapi kusuruh dia bersabar karena kondisinya belum fit.

Karena tubuh Santi yang sudah lengket-lengket itu, aku menyuruhnya mandi agar lebih segar. Setelah agak pulih, kubantu dia berdiri dan memapahnya ke kamar mandi, kunyalakan shower air hangat untuknya. Sebelum keluar kami berpelukan, kucium dia sambil mengorek vaginanya dengan dua jari, cairan sperma meluber keluar begitu kukeluarkan tanganku, sehingga aku harus cuci tangan. “Dah mandi dulu yang bersih, supaya nanti siap action !” kataku Dia cekikikan sambil menyeprotkan shower ke arah kakiku, aku melompat kecil dan keluar sambil tertawa-tawa. Begitu aku keluar, waw… gile, Ivana mantan pacarku itu sedang dikerjai kelima orang itu, dia sudah tidak di sofa lagi, melainkan sudah di lantai beralas karpet, the hottest gangbang i’ve ever seen ! Untuk lebih lengkapnya lebih baik kita ikuti kisah Ivana dari awal.

Ivana, Endang dan Pak Usep duduk mengapit Ivana masing-masing di kanan dan kirinya. Ivana terlihat tegang sekali beberapa kali dia memanggil-manggil namaku. “Kenapa Na, kok sekarang tegang gitu katanya mau ngebalas pacarlu itu!” kataku “Oh, jadi Neng udah punya pacar yah !” kata Pak Usep “Ngga, baru putus kok” jawabnya malu-malu “Putusnya kenapa Neng ?” tanya Endang Ivana cuma menggeleng tanpa menjawabnya. “Udah ah lu, kalau ga mau dijawab jangan maksa !” kata Pak Usep pada rekannya “Eh, Neng sama pacar yang dulu pernah ngent*tan ga ?” tanya Endang cengengesan Rona merah jelas sekali pada wajah Ivana yang putih mulus, dia hanya mengangguk pelan sebagai jawabnya sambil tersenyum malu-malu.

“Kalo gitu pernah diginiin dong Neng hehehe !” Pak Usep tertawa-tawa meremas buah dada Ivana. “Diginiin juga pernah !” Endang meraih selangkangannya dan meremasnya dari luar. Ivana menjerit kecil sambil tertawa geli karena kejahilan tangan mereka. Pak Usep makin gemas memijati payudaranya, si Endang sengaja meniupkan udara ke kupingnya untuk memambangkitkan birahinya perlahan-lahan sambil tangannya membantu Pak Usep meremas payudara yang satunya. Ivana hanya diam menikmatinya dengan mata terpejam. Keduanya mulai menyingkap kaosnya, Ivana sepertinya menurut saja, dia mengangkat lengannya membiarkan kaos itu dilolosi. Dia tinggal memakai bra warna krem dan celana panjang selututnya. “Ini dibuka aja ya Neng” pinta Endang Ivana mengangguk, maka Endang pun dengan cekatan membuka bra-nya sehingga dia telanjang dada. Endang langsung melumat yang kanan dengan rakus. “Pentilnya bagus ya Neng, kecil, merah lagi” komentar Pak Usep sambil memilin-milin putingnya

Pak Usep menjulurkan lidahnya, lalu menyapukannya telak pada leher jenjang Ivana membuatnya merinding dan mendesis. Dia meneruskan rangsangannya dengan mengecup lehernya membuat tanda kemerahan disitu, rambut Ivana yang terikat ke belakang memudahkannya menyerang daerah itu. Tangannya pun tak tinggal diam, terus bergerilya di dada kirinya dan pelosok tubuh lainnya. Mendadak Pak Usep menghentikan kegiatannya dan memanggil Endang yang lagi asyik nyusu dengan mencolek kepalanya. “Eh, Dang, kita taruhan yu, yang menang boleh ngent*t si Neng duluan !” tantangnya “Taruhan apaan Pak, saya mah ayu aja” “Coba tebak, si Neng ini jembutan ga ?” tanyanya dengan nyengir lebar Muka Ivana jadi tambah memerah karena kenakalan mereka ini, aku juga jadi terangsang dibuatnya. Suatu sensasi tersendiri menonton mantan pacarku ini dikerjai orang lain. “Hmmm… ada ga Neng ?” tanya Endang sambil menatapi selangkangan Ivana “Eee… nanya lagi, orang disuruh tebak !” omel Pak Usep menyentil kepalanya Ivana senyum mesem dan menjawab tidak tahu menjawab si Endang.

“Ada aja deh !” tebak si Endang “Yuk kita tes, bener ga !” kata Pak Usep dengan menyusupkan tangannya ke balik celana Ivana “Eemmhhh… ” desis Ivana saat merasakan tangan Pak Usep merabai kemaluannya “Weleh… sialan, bener juga lu Dang !” gerutunya karena ternyata kemaluan Ivana memangnya berbulu, lebat lagi. Endang tersenyum penuh kemenangan karena dapat giliran pertama merasakan tubuh Ivana. Merekapun kembali menggerayangi tubuhnya. Tangan Pak Usep tetap didalam celananya mengobok-obok kemaluannya sejak mengetes tadi. Endang mulai membuka sabuk yang dikenakan Ivana dan menurunkan resletingnya, sebelumnya dia menyuruh Pak Usep menyingkirkan tangannya dulu. Cairan vagina membasahi jari-jarinya begitu dia mengeluarkan tangannya dari sana. Endang turun dari sofa dan jongkok di lantai beralas permadani itu untuk menarik lepas celana Ivana. Tampak kemaluan Ivana dengan bulu-bulu yang tebal dari balik celana dalamnya yang semi transparan. Sesaat kemudian pakaian terakhir dari tubuhnya itu dilepaskannya pula. Jadilah Ivana telanjang bulat terduduk separuh berbaring di sofa.

Keduanya tertegun melihat tubuh putih mulus dan terawat di hadapan mereka. Si Endang masih berjongkok di antara kedua paha Ivana, tentu dia bisa melihat jelas selangkangan berambut lebat yang tampak menggunung dalam posisi demikian. “Duh, cantik banget sih Neng ini, bikin saya ga tahan aja !” kata Pak Usep sambil mendekap tubuhnya. Bibirnya mencium pipi Ivana, lalu lidahnya keluar menjilati pipi dan hidungnya, menikmati betapa licin dan mulusnya wajah mantan pacarku itu, belakangan bibirnya dilumat dengan ganas. Sementara kedua tangannya tidak tinggal diam, selalu berpindah-pindah mengelusi punggungnya atau meremas payudaranya. Wajah Endang makin mendekati vagina Ivana sambil kedua tangannya mengelusi paha mulus itu. Tubuh Ivana bergetar ketika jemari Endang mulai menyentuh bibir kemaluannya, pasti dia bisa merasakan nafas Endang menghembus bagian itu. Perlahan-lahan Endang membuka kedua bibir bawah itu dengan jarinya. Erangan tertahan terdengar dari mulut Ivana yang sedang dilumat Pak Usep, keringatnya mulai bercucuran. “Wah… asyik, saya baru pernah liat mem*knya amoy, dalemnya merah muda, seger euy !” komentar Endang mengamati vagina itu.

“Pak Usep, mau liat ga nih, bagus banget loh !” sahut Endang padanya “Hmmm… iya bagus ya, kamu aja dulu Dang, saya mau netek dulu !” kata Pak Usep sambil mencucukkan sejenak jari tengah dan telunjuk ke vaginanya, waktu dia keluarkan cairan lendirnya menempel dijari itu. Pak Usep mulai menjilati payudaranya mulai dari pangkal bawah lalu naik menuju putingnya, dia jilat puting itu lalu dihisapnya kuat-kuat, sementara tangannya memilin-milin putingnya yang lain. “Hhhnngghh… Mang, oohh !” Ivana mendesah menggigit bibir sambil memeluk erat kepala Pak Usep. Ivana makin menggelinjang saat wajah Endang makin mendekati selangkangannya dan “Aaaahh… !” desahnya lebih panjang, tubuhnya menggelinjang hebat, kedua pahanya mengapit kepala Endang. Pemuda itu telah menyapu bibir vaginanya, lalu lidah itu terus menyeruak masuk menjilati segenap penjuru bagian dalam vaginanya, klitorisnya tak luput dari lidah itu, sehingga tak heran kalau desahannya makin tak karuan saling bersahut-sahutan dengan desahan Santi yang saat itu baru ditusuk Mang Obar.

“Oi, kalian berdua kok belum buka baju sih, kasih liat dong kontlnya ke Neng Ivana pasti dah ga sabar dia !” kataku pada Endang dan Pak Usep. Pak Usep nyengir lalu dia membuka kaos berkerah dan celananya hingga bugil, dia menggenggam penisnya yang tebal dan hitam itu memamerkannya pada Ivana “Nih, Neng kontl Mamang gede ya, sama pacar Neng punya gede mana ?” tanyanya sambil menaruh tangan Ivana pada benda itu “Gede yah Mang… keras” jawab Ivana yang tangannya sudah mulai mengocoknya Ivana yang tadinya malu-malu hilang rasa malunya saking terangsangnya, sepertinya dia sudah tidak peduli keadaan sekitar, yang dipikirkannya hanya menyelesaikan gairah yang sudah membakar demikian hebat itu. Hampir sepuluh menit berlalu, tapi Endang masih seperti kelaparan, belum berhenti menjilati vaginanya sementara Ivana sudah mengapir dan menggesek-gesekkan pahanya pada kepala Endang menahan birahinya yang meninggi.

“Cepetan dong, kan kamu harusnya nusuk duluan, kalo ngga mau saya tusuk juga nih !” kata Pak Usep yang tidak sabar ingin segera menyetubuhi Ivana. “Iya sabar atuh Pak, ini udah mau nih” kata Endang yang mulai menanggalkan pakaiannya “Yuk Neng, basahin dulu nih… isep !” dia sodorkan penisnya ke mulut Ivana sambil memegangi kuncirnya. Ivana agak ragu memasukkan penis Endang, mungkin agak jijik kali belum pernah merasakan yang sehitam itu. Namun Endang terus mendesaknya, apalagi dengan kepala dipegangi seperti itu, akhirnya dengan terpaksa Ivana membuka mulutnya membiarkan penis itu masuk. Sebentar kemudian Endang mengeluarkan penisnya, diangkatnya kaki Ivana ke sofa sehingga dia kini terbaring di sofa dengan kepala bersandar pada perut tambun Pak Usep. Endang memegang miliknya dan mengarahkannya ke vagina Ivana. Pelan-pelan mulai memasukinya, tubuh Ivana menekuk ke atas.

“Aaakkhh… !” demikian keluar dari mulutnya hingga penis Endang mentok ke dalam vaginanya. Endang pun mulai menggoyangkan pinggulnya perlahan kemudian makin lama makin cepat. Endang melakukannya dalam posisi satu kaki naik sofa dan kaki lainnya berdiri menginjak lantai, kedia tangannya memegangi betis Ivana. “Ah-ah-ah… …uuhh… !!” desah Ivana dengan mata terpejam “Enak ya Neng ?” kata Pak Usep dekat telinganya Sejak Endang menggenjot Ivana, Pak Usep terus saja menyangga tubuhnya sambil menghujani leher, telinga, dan payudaranya dengan ciuman dan jilatan. Kini dia sedang mengulum daun telinga Ivana dan tangannya meremas kedua payudaranya. Tentu puting Ivana sudah sangat keras karena daritadi dimain-mainkan. Ivana sendiri tangannya menggenggam penis Pak Usep, dia mengocok-ngocok penis itu karena hornynya. Kedua kakinya menjepit pinggang Endang, seolah minta disodok lebih dalam lagi…….

Tanpa mencabut penisnya, Endang memiringkan tubuh Ivana sehingga posisinya berbaring menyamping, satu kakinya dinaikkan ke bahunya. Wow… seru sekali melihat paha Endang bergesekan dengan paha mulus Ivana dan penisnya keluar masuk dari samping. Pak Usep menempelkan penisnya ke wajah dan bibir Ivana, memintanya melakukan oral seks. Ivana masih sangat risih memasukkan benda itu dalam mulutnya, hanya berani mengocoknya dengan tangan, sepertinya dia masih merasa tidak nyaman dengan penis Endang di mulutnya tadi, belakangan dia bilang ke aku bahwa dia memang tidak terbiasa dengan penis hitam dan berbau tidak enak seperti itu, dan dia juga tidak suka dengan cara mereka yang suka maksa tidak tau diri, makannya dia tidak pernah mau ngeseks dengan orang-orang kaya gitu, cukup kali ini saja, pertama dan terakhir demikian tegasnya. “Jilatin dong Neng, jangan cuma main tangan aja !” pinta Pak Usep tidak sabar merasakan mulutnya “Ngga Mang… jijik… ga mau… ahh !” gelengnya dengan sedikit mendesah. “Lho, gimana sih si Neng ini, tadi kan dia dikasih, masa saya ngga ?”

“Ayo dong Neng, sebentar aja kok !” Pak Usep terus mendesak dengan menekan kepalanya dengan tangan kanannya ke penis yang dipegang dengan tangan kirinya. Penis itu pun akhirnya memasuki mulut Ivana, karena mulutnya mengap-mengap mendesah, kesempatan itulah yang dipakai Pak Usep menjejalkan penisnya. Sesudah penisnya dimulut, Pak Usep memaju-mundurkan kepalanya dengan menjambak kuncirnya. “Emmhh… eehmm… Mang… saya… mmm !” Ivana berusaha protes tapi malah tersendat-sendat karena terus dijejali penis. “Mmmm… gitu dong Neng baru namanya anak manis, udah lama Mamang ga diginiin uuh !” Pak Usep melenguh dan merem-melek keenakan dioral Ivana. Kalau saja ada orang berani berbuat seperti itu padanya setengah tahun lalu, pasti sudah kuhajar sampai masuk ICU, tapi sekarang berbeda, aku malah terangsang melihat bekas pacarku ini diperlakukan demikian sehingga aku makin cepat mengocok penisku, apalagi waktu itu Santi juga sedang main kuda-kudaan diatas penis Pak Andang sambil mengoral penis Mang Nurdin dengan bernafsu.

Akhirnya Ivana orgasme duluan, badannya berkelejotan dan mulutnya terdengar erangan tertahan. Pak Usep rupanya cukup pengertian, dia melepaskan dulu penisnya membiarkan Ivana menikmati orgasmenya secara utuh. Badannya menegang beberapa saat lamanya, Pak Usep menambah rangsangannya dengan meremasi payudaranya. Endang pun menyusul sekitar tiga menit kemudian, sodokannya makin dahsyat sampai akhirnya dia melepaskan penisnya dan menumpahkan cairan putih di perut yang rata itu. Sambil orgasme dia memegang erat-erat lengan kokoh Pak Usep yang mendekapnya hingga tubuhnya lemas dan terbaring dalam dekapan pria tambun itu. Si Endang cuma duduk sebentar, minum dan menyeka keringat, lalu dia langsung beralih ke Santi seperti yang telah kuceritakan di atas, posisinya segera digantikan Mang Obar yang baru recovery setelah istirahat. Pak Usep memberikan minum pada Ivana mengambilkan tissue mengelap keringatnya. “Euleuh… si Endang teh gimana, buang peju sembarangan aja !” gerutu Mang Obar yang baru tiba melihat ceceran sperma di perut Ivana. Pak Usep sambil tertawa meneteskan sedikit air dan mengelap ceceran sperma itu sampai bersih, Ivana juga ikut tertawa kecil. “Udah, gampang Mang, dibersihin aja kan beres !” hiburku padanya

Mang Obar langsung mencumbui payudara Ivana yang masih didekap Pak Usep, mulutnya berpindah-pindah antara payudara kiri dan kanan. “Ooohh… oohhh !!” desahnya ketika merasakan putingnya digigit dan ditarik-tarik dengan mulut oleh Mang Obar. Tangan satunya di bawah sedang meremasi bongkah pantatnya yang kenyal, diremasnya berulang kali sekaligus mengelusi paha mulusnya. Dari pantat tangannya merayap ke kemaluan, tubuh Ivana bergetar merasakan kenakalan jari Mang Obar yang mengusap-usap klitoris dan bibir kemaluannya. Di belakangnya, Pak Usep sangat getol mencupangi leher, tenguk dan bahunya. “Hehehe… liat nih udah basah gini !” sahut Mang Obar mengeluarkan jarinya dari vagina Ivana “Emm… enak pisan !” dijilatinya cairan yang blepotan di jari itu Kemudian Pak Usep menarik pinggang Ivana, mendudukkannya di pangkuannya dengan membelakanginya, satu tangannya meraih vaginanya dan membuka bibirnya

“Masukin Neng, pelan-pelan !” suruhnya Ivana tanpa malu-malu memegang penis itu dan mengarahkan ke vaginanya, lalu dia menekan badannya ke bawah sehingga penis itu terbenam dalam vaginanya. Namun kerena besar penis itu baru masuk kepalanya saja, itu sudah membuat Ivana merintih-rintih dan meringis menahan nyeri. “Duh… sakit nih Mang, udah ya !” rintihnya “Wah, kagok dong Neng kalo gini mah, ayo dong dikit-dikit pasti bisa kok !” kata Pak Usep “Nanti juga enak kok Neng, sakitnya bentar aja !” timpal Mang Obar Beberapa kali Pak Usep menekan tubuh Ivana juga menghentakkan pinggulnya, akhirnya masuk juga penis itu ke vaginanya, mata Ivana sampai berair menahan sakit. Pak Usep mulai menggoyangkan tubuhnya “Arrgghh… uuhhh… sempit amat… enak !” gumam Pak Usep di tengah kenikmatan penisnya dipijat vagina Ivana. Sementara Mang Obar meraih kepala Ivana, wajahnya mendekat dan hup… mulut mereka bertemu, lidahnya menerobos masuk mempermainkan lidah Ivana, dia hanya pasrah saja menerimanya, dengan mata terpejam dia coba menikmatinya lidahnya, entah secara sadar atau tidak turut beradu dengan lidah lawannya.

Limabelas menit lamanya batang Pak Usep yang perkasa menembus vagina Ivana, runtuhlah pertahanan Ivana, sekali lagi badannya mengejang dan mengeluarkan cairan kewanitaan membasahi penis Pak Usep dan sofa di bawahnya (untung sofanya bahan kulit jadi gampang dibersihkan). Ivana memeluk erat-erat kepala Mang Obar yang sedang mengenyot payudaranya. Sekonyong-konyong terlihat cairan putih meleleh dari selangkangan Ivana, rupanya Pak Usep juga telah orgasme. Desahan mereka mulai reda, keduanya melemas kembali. Nampak olehku ketika Pak Usep melepas penisnya, dari vagina Ivana menetes cairan sperma yang telah bercampur cairan cintanya. Waktu beristirahat baginya cuma sebentar karena Mang Obar langsung menyambar tubuhnya, menindihnya, dan mengarahkan senjatanya ke liang kenikmatan. Segera saja tubuhnya memacu naik-turun diatasnya. Ivana menggelinjang setiap kali dia menghentakkan tubuhnya. Saat itu Mang Nurdin dan Pak Andang mendekati keduanya untuk menonton lebih dekat adegan panas itu. Mereka menyoraki temannya yang sedang berpacu diatas tubuh mantan pacarku itu seperti menonton pertandingan olahraga saja.

Setelah itu aku kehilangan sedikit adegan karena sedang mengantar Santi ke kamar mandi, maka adegan yang hilang ini kuceritakan berdasarkan penuturan Mang Nurdin yang kuanggap paling akurat. Dari sofa, Mang Obar menurunkan Ivana ke karpet, dia berlutut di antara paha Ivana dan terus menyodoknya. Mang Nurdin membungkuk agar bisa mengemut payudara yang menggiurkan itu. Pak Andang berlutut di samping kepalanya dan menjejalkan penisnya ke mulutnya, sambil diemut dia memegangi payudara Ivana. Endang dan Pak Usep yang nganggur kembali mendatanginya, merekapun ikut bergabung mengerjai Ivana. Tangan-tangan hitam kasar menggerayangi tubuh mulus itu, ada yang mengelus pahanya, ada yang meremas payudaranya, ada yang memelintir putingnya, beberapa diantaranya sedang dikocok penisnya oleh Ivana. Ikat rambutnya sudah terbuka sehingga rambutnya tergerai sebahu lebih. Pemandangan itulah yang kulihat ketika keluar dari kamar mandi.

Lebih dari lima menit dia menjadi objek seks kelima buruhku. Mulanya aku sangat menikmati tontonan ini, terlebih ketika sperma mereka muncrat di tubuhnya, ada yang nyemprot di dada, perut, dan mukanya. Namun aku mulai merasa kasihan ketika mereka memaksanya membersihkan penis-penis mereka dengan mulutnya, beberapa bahkan menjejalkan paksa ke dalam mulutnya, aku terpaksa turun tangan menyudahinya ketika kulihat air matanya mulai menetes. Aku tahu semasa pacaran denganku dulu dia memang tidak terlalu suka oral seks dan menelan sperma, jijik katanya, apalagi sekarang dengan yang hitam-hitam gitu, tentu saja aku tidak tega melihatnya dipaksa-paksa sampai menangis. “Udah-udah Mang, cukup… jangan diterusin lagi, nangis nih dia !” kataku membubarkan mereka Kemudian aku sandarkan dia di kaki sofa dan memberinya minum, kulap sperma yang membasahi mukanya. Dia memelukku dan menangis sesegukan, aku balas memeluknya dan menenangkannya, tidak peduli lagi dengan tubuhnya yang masih lengket-lengket. “Duh… maaf banget Neng, abis tadi kita kirain Neng nikmatin, ga taunya nangis beneran !” kata Mang Obar “Iya, kalo tau Neng ga suka ngemut kont*l, kita juga ga maksa, tadi Neng reaksinya malu-malu sih, jadi kita juga tambah nafsu” tambah Pak Usep

“Sori, sori, Na gua lupa bilang tadi, abis mandi lu pulang aja yah !” hiburku mengelus-elus rambutnya “Ngga, ga papa kok Win, gua enjoy, cuma tadi gua kaget aja dipaksa-paksa gitu, gua kan ga suka oral” katanya setelah lebih tenang sambil membersihkan air mata. Legalah kami mendengar dia berkata begitu, kami kira dia bakal trauma atau shock. Aku lalu menyuruhnya mandi dan membantunya bangkit, dia pun berjalan sempoyongan ke kamar mandi. Aku dan para buruhku duduk-duduk di ruang tamu merenggangkan otot, kupersilakan mereka menyantap snack dan minuman sambil menunggu Sandra. Aku ngobrol-ngobrol tentang pendapat mereka sekalian memberi pengarahan apa yang harus dilakukan untuk menghukum Sandra yang terlambat nanti. Sandra memang bukan type yang malu-malu seperti Ivana, tapi aku tetap harus memperingatkan mereka agar tidak bertindak kelewatan, aku tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan gara-gara mewujudkan fantasi gilaku. “Win, Ivana diapain aja sampe nangis gitu ?” terdengar suara Santi bertanya dari belakang, dia berjalan ke arahku dengan handuk kuning terlilit di tubuhnya, rambutnya masih agak basah “Ga kok, cuma belum biasa dikeroyok aja, jadi sedikit… ya gitulah !” jawabku sambil meraih pinggangnya mengajak duduk di sebelahku…….
Mang Nurdin mengajak Santi duduk disebelahnya saja, tapi Santi menolaknya “Nggak ah Pak, mending simpen tenaga aja buat si Sandra !” tolaknya Ketika kami ngobrol-ngobrol ada yang misscall ke HP-ku, si Sandra, semenit kemudian disusul bunyi bel, nah pasti ini dia, pikirku. Aku menyuruh buruh-buruhku sembunyi di dapur dengan membawa pakaian masing-masing, aku berencana membuat surprise sekaligus hukuman baginya. Kupakai celana pendekku untuk menyambutnya (iya dong, kalau ternyata bukan Sandra, masa aku menyambutnya memakai celana dalam). “Hai, sori yah telat” katanya begitu pintu terbuka “gua jadi ga usah main sama buruh-buruhlu yah” “Udah malam gini, kita baru aja bubar, masuk !” ajakku “Ngapain aja seharian tadi ?” “Nge-bowling di BSM, pada minta nambah game melulu sih, kan ga enak kalo gua pulang dulu, sori banget” Sandra orangnya cantik, rambut panjang kemerahan direbound, tinggi kurang lebih 160cm, dadanya tegak membusung 34B, lebih montok daripada Ivana dan Santi, tampangnya sedikit mirip Vivian Chow, artis HK tahun 90an itu loh, dengan modal itu dia pantas bekerja paruh waktu sebagai SPG. Hari itu dia memakai baju putih lengan panjang dengan dada rendah dan rok selutut dari bahan jeans.

Sandra “Hi, baru lembur nih !” sapanya pada Santi Kubiarkan mereka berbasa-basi sebentar sampai aku menarik rambutnya dari belakang sehingga dia merintih kaget “Udah arisannya nanti lagi, kaya ga tau lu punya salah aja !” “Aww… aduh, ngapain sih sakit tau !” rintihnya Mohon pembaca jangan salah paham mengira aku ini psikopat atau apa, dalam bermain sex dengannya aku memang sering memakai cara kasar, karena dia juga menikmati dikasari, cuma sebatas main jambak dan tampar sih, tidak sampai masokisme dengan pecut, lilin, dan sejenisnya. Karena dia suka variasi seks kasar inilah aku mengajukan tantangan padanya.Aku mendekapnya dan menciumi bibir dan lehernya habis-habisan sampai nafasnya mulai memburu. Dia pun mulai meraba selangkanganku. Setelah memberi syarat dengan gerakan tangan ke arah dapur, mendadak aku melepas ciumanku dan menepis tangannya dari selangkanganku

“Heh, dasar gatel, datang-datang udah pengen kontl, kalo lu mau kontl gua kasih lu lima sekaligus !” makiku sambil mendorong tubuhnya hingga tersungkur di lantai Dia menjerit kecil dan begitu menengok ke belakang disana sudah berdiri para buruhku yang bugil yang senjatanya sudah di reload, mengacung tegak siap untuk pertempuran selanjutnya. Sebelum sempat bangun dia sudah diterkam kelima orang itu. “Heeaaa… sikat !” seru mereka sambil menyerbunya “Win… sialan lu, gila !!” jeritnya “Huehehehe… tenang San, gua masih nyisain buat lu kok, kan lu suka dikasarin, coba deh biar tau rasanya diperkosa, dijamin sensasional abis !” aku menyeringai padanya Sandra meronta-ronta, tapi dia tidak bisa menghindar karena kedua kaki dan tangannya dipegangi mereka, malah itu hanya menambah nafsu mereka. Mereka tertawa-tawa sambil mengeluarkan komentar jorok bagaikan gerombolan serigala melolong-lolong sebelum menyantap mangsanya.

Keributan disini memancing Ivana melongokkan kepalanya dari kamar mandi untuk melihat apa yang terjadi, kupanggil dia, tapi dia bilang nanti, mandinya belum selesai. Pak Usep meremasi payudaranya yang masih terbungkus pakaian “Waw… teteknya gede nih, asyik !” komentarnya Mang Obar dan Pak Andang yang memegangi kakinya juga tak mau kalah, mereka menyingkap roknya sehingga terlihatlah celana dalamnya yang warna hitam dan pahanya yang putih mulus, tangan-tangan mereka segera mengelus-elus pahanya dan terus naik ke pangkal pahanya, bukan cuma itu, jari-jari itu juga mulai menyelinap lewat pinggir celana dalam itu menggerayangi kemaluannya. Mang Nurdin menyusupkan tangannya lewat bawah kaosnya sehingga dada kirinya menggelembung dan ada yang bergerak-gerak. Si Endang meraih tangan Sandra dan menggenggamkannya pada penisnya. “Kocok Neng, kocokin yang saya !” suruhnya “Erwin… mhhpphh… Win… gua… mmm !” desahnya di tengah cecaran bibir Pak Usep yang akhirnya melumat bibirnya.

Aku menyaksikan adegan ini dari jarak satu meteran sambil duduk merangkul Santi. “Win, dasar kelainan seks lu, tega amat lu ngeliat kita digituin tiko!” katanya sambil mencubit pahaku “Tapi lu suka kan, gua liat tadi lu hot gitu goyangnya, ngaku lo !” sambil memencet payudaranya. “Buka ah handuknya ngehalangin aja !” kutarik lepas handuk yang melilit badannya “Lu juga dong buka, biar adil !” balasnya sambil melepasi pakaianku “Sepongin San, sambil nonton si Sandra dismack down nih !” suruhku Dengan posisi duduk di sebelahku, dia merunduk menservis penisku, jilatan dan kulumannya menyemarakkan acara yang sedang kusaksikan, seperti popcorn yang menemani nonton di bioskop. Sambil menikmati liveshow dan sepongan, tanganku memijati payudaranya dan menelusuri lekuk-lekuk tubuhnya.

Rontaan Sandra semakin lemah, dia sudah pasrah bahkan hanyut menikmati ulah mereka. Aku berasumsi dia sudah tenggelam dalam hasrat seksualnya, hasrat terliar dalam dirinya, dia menikmati pagutan bibir Mang Nurdin tanpa ada paksaan, mengocok penis Endang dengan sukarela, juga ketika Pak Usep menempelkan penisnya ke mulutnya, tanpa diminta dia sudah menjilat dan mencium penis itu. “Telanjangin euy, biar kita bisa ngeliat bodinya !” kata salah seorang dari mereka “Iya bugilin, bugilin, ewe… ewe !!” timpal yang lain Mereka bersorak-sorak dan mulai melucuti baju Sandra, pakaiannya beterbangan kesana-kemari hingga akhirnya tak satupun tersisa di tubuhnya yang indah selain arloji, cincin, dan gelang kakinya. Kelimanya memandangi tubuh telanjang Sandra tanpa berkedip. “Anjrit, kulitnya mulus banget, cantik lagi !” komentar seseorang “Wih, teteknya… jadi ga tahan pengen netek eemmm… !” sahut Mang Nurdin yang langsung melahap payudara kanannya

“Sebelah sini juga bagus” sahut Pak Andang membuka lebar kedua belah pahanya. Bersama Mang Obar dia memandangi daerah kemaluan Sandra yang berbulu lebat dengan tengahnya yang memerah. Keduanya menjilati vaginanya yang mulai becek. Tubuhnya menggelinjang hebat merasakan dua lidah menggelikitik vaginanya. Endang menciumi leher, bahu dan sekitar ketiak, sambil jarinya memilin-milin putingnya. Pak Usep menjilati bagian pinggir tubuhnya sambil tangannya menelusuri punggung dan pantatnya. Sandra hanya bisa menggeliat-geliat dikerubuti lima buruh kasar, mulutnya mengeluarkan suara desahan. Saat itu Ivana baru selesai mandi, dia menjatuhkan pantatnya di sebelahku, seperti Santi tadi dia juga memakai handuk melilit badannya, rambutnya masih agak basah. “Buka ah ! ngapain sih malu-malu gitu !” kataku menarik lepas handuknya Bekas cupangan memerah masih nampak pada kulit payudara dan lehernya yang putih, kurangkul tubuhnya yang mulus itu di sisi kiriku. Santi tidak terlalu menghiraukan kedatangan Ivana, dia terus saja menjilat penisku dengan gerakan perlahan sambil memijat lembut buah pelirnya

“Kasian ih, masa lu tega si Sandra dikeroyok gitu !” kata Ivana “Santai aja Na, Sandra kan ga kaya lu, dia sih enjoy aja dikasarin gitu, dah biasa” jawabku santai “Ooo… ga kaya gua yah !” sehabis berkata dia langsung menyambar putingku dan menggigitnya “Adawww… !!” jeritku refleks menepis kepalanya. “Jahat ih, keras gitu masa gigitnya, putus nanti” kataku mengelus-elus putingku yang nyut-nyutan digigitnya. Dia malah tertawa melihatku begitu, si Santi juga ikutan ketawa. “Lho, kan ke Sandra lu bilang suka main kasar, baru digituin aja dah kaya disembelih hihihi !” Santi mengejekku “Ini sih bukan kasar, tapi sadisme gila” gerutuku. “Dah ah, lu terusin aja sana, jangan ngeledek ah !” kutekan kepalanya ke bawah “Sini lo !” kusambar tubuh Ivana yang masih cekikikan ke pelukanku Dengan bernafsu kupaguti lehernya dan payudaranya kuremas-remas sehingga dia mendesah-desah kenikmatan.

Bukan cuma menjilat, Mang Obar juga memasukkan jarinya ke liang vagina Sandra, diputar-putar seperti mengaduknya sementara lidahnya terus menjilati bibir vaginanya. Setelah puas menjilat, Mang Obar menyuruh Pak Andang menyingkir, dia angkat sedikit pinggul Sandra dan menekankan penisnya pada belahan kemaluan itu, dia melenguh ketika kepala penisnya sudah mulai masuk, lalu ditekan lagi dan lagi. Sandra menahan nafas dan menggigit bibir merasakan benda sebesar itu menyeruak ke vaginanya. “Aaakkhh !” erangan panjang keluar dari mulut Sandra saat penis Mang Obar masuk seluruhnya dengan satu hentakan kuat. Penis itu keluar-masuk dengan cepatnya, suara desahan Sandra seirama dengan ayunan pinggul Mang Obar. Desahan itu sesekali teredam bila ada yang mencium atau memasukkan penis ke mulutnya. “Hehehe… liat tuh teteknya goyang-goyang, lucu ya !” sahut Pak Usep memperhatikan payudara yang ikut tergoncang karena tubuhnya terhentak-hentak “Mulutnya enak, hangat, terus Neng, mainin lidahnya !” kata Endang yang lagi keenakan penisnya diemut Sandra. “Uuuhh… uuhh… iyahh !” jerit klimaks Mang Obar, penisnya dihujamkan dalam-dalam dan menyemprotkan spermanya di dalam sana……
Posisi Mang Obar segera digantikan oleh Pak Andang, dia melakukannya dalam posisi sama dengan rekannya tadi sambil tangannya menggerayangi pahanya dengan liar. Sementara Endang mengerang lebih panjang, wajahnya mendongak ke atas dan meringis. Rupanya dia telah orgasme dan spermanya ditumpahkan ke mulut Sandra, dia menyedotnya, namun sebagian meleleh keluar bibirnya, dikeluarkannya sebentar untuk dikocok dan diperas, maka sperma itu pun nyiprat ke wajahnya. Kemudian dijilatnya lagi penis Endang yang mulai menyusut membersihkannya dari sisa-sisa sperma. Tugas Sandra menjadi sedikit lebih ringan setelah dua orang yang telah dibuatnya orgasme menyingkir, keduanya kini terduduk di pinggirnya, memulihkan tenaga sambil sesekali megang-megang tubuhnya. Tubuh Sandra menggelinjang merasakan sensasi yang selama ini belum dia rasakan, tangannya yang menggenggam penis Pak Usep nampak semakin gencar mengocoknya sehingga pemiliknya melenguh keenakan. “Aahhh… emm… gitu Neng, enak… oohhh !” sambil tangannya meremasi payudaranya. Mang Nurdin yang tadi menyusu sekarang mulai menciumi perut Sandra yang rata, tangan kirinya memainkan putingnya, tangan kanannya mengelus pantatnya.

Saat itu aku sedang menikmati penisku dipijati oleh cengkraman vagina Ivana yang duduk di pangkuanku dengan posisi membelakangi. Aku membiarkannya mengendarai penisku sementara aku menikmati Sandra digangbang, menonton sambil melakukan, suatu kenikmatan seks yang sejati. Kudekatkan wajahku ke lehernya dan kuhirup aroma tubuhnya, hhmm… wangi, habis mandi sih, di lehernya masih membekas cupangan mereka, tapi aku tak peduli, kulit lehernya yang mulus kuemut dan kugigiti pelan membuatnya semakin mendesah kesetanan. Tangan kiriku mendekap Santi sambil memutar-mutar putingnya, tapi kemudian Santi bangkit dan berdiri di hadapan kami, dia dekatkan kemaluannya pada Ivana, tanpa disuruh Ivana menjilatinya. Santi mendesah menikmatinya, dipeganginya kepala Ivana, seolah meminta dia tidak melepaskannya. Aneh si Ivana ini, kalau diminta mengoral punya cowok susah, harus dibujuk-bujuk baru terpaksa diiyakan, tapi ini ke sesama jenisnya tanpa disuruh kok mau, mungkin sih akibat terlalu horny, tapi peduli amat ah, yang penting enjoy aja (emang iklan LA Light ?). Kuminta Santi menepi sedikit karena sempat menghalangi pandanganku terhadap Sandra. Ruang tamuku jadi dipenuhi oleh desah birahi yang sahut menyahut.

Sandra kembali orgasme oleh genjotan Mang Obar, badannya lemas bercucuran keringat, namun mereka terus menggumulinya. Gerakan Mang Obar semakin cepat dan menggumam-gumam tak jelas, tapi sebelum spermanya keluar, dia mencabut penisnya dan langsung menaiki dadanya. “Misi, minggir dulu dong, tanggung nih, pengen ngent*t pake teteknya sebelum ngecret !” Segera dia jepitkan penisnya diantara dua gunung kembar itu lalu digesek-gesekkannya penisnya disana dengan lancar karena sudah licin oleh cairan cinta. Tak sampai tiga menit spermanya sudah muncrat, cipratannya berceceran di dada, leher, wajah dan sebagian rambut Sandra. Setelahnya dia menyuruh Sandra menjilati penisnya hingga bersih mengkilat. Dua orang lagi yang masih menggumulinya, Mang Nurdin dan Pak Usep, mengangkat tubuhnya dan membaringkannya ke kasur udara tempat Santi digarap. Mang Nurdin membalikkan tubuh Sandra hingga telungkup, pantatnya diangkat hingga menungging, dengan posisi ini dia memasukkan penisnya ke vagina Sandra dari belakang. Disodokkannya benda itu berkali-kali dengan keras, sehingga Sandra mengerang makin histeris.

Pak Usep tidak meneruskan aktivitasnya dengan Sandra, dia meninggalkannya berduaan dengan Mang Nurdin. Sementara dia sendiri menghampiri kami dan kedua tangan gemuknya melingkari perut Santi dari belakang, agaknya dia masih penasaran karena belum sempat menikmati Santi. Telapak tangannya bergerak ke atas membelai payudara Santi, sedangkan yang satunya ke bawah membelai kemaluannya, mulutnya mencupangi bahunya. Santi memejamkan mata menghayati setiap elusan tangan kasar itu pada bagian-bagian sensitifnya, desahan pelan keluar dari mulutnya. Tangannya lalu menarik wajah Santi ke belakang, begitu dia menoleh bibirnya langsung dipagut. Keduanya terlibat percumbuan yang panas, sedotan-sedotan kuat dan permainan lidah terlibat di dalamnya. Dengan terus berciuman tangan kanannya beraksi di kemaluan Santi, jari-jari itu menggosok-gosok belahan kemaluannya, kadang juga masuk dan berputar-putar di dalamnya. Permainan jari Pak Usep yang lihai membuat tubuh Santi bergetar dan vaginanya melelehkan cairan. Sedangkan tangan kirinya meraba-raba bagian tubuh lainnya, lengan, dada, perut, paha, pantat, dll. Setelah mencumbunya selama beberapa menit, lidah Pak Usep kini menjilati lehernya dan menggelikitik telinganya.

Di pihakku, Ivana menaik-turunkan tubuhnya dengan lebih kencang, diantara desahannya terdengar kata-kata tak jelas, tanganku juga diraih dan diremaskan ke payudaranya, gelagat ini menunjukkan dia sudah di ambang orgasme. “Aaahh… Win, dikit lagi nih… enak !” erangnya sambil meremas tanganku. Akupun merasa mau keluar juga saat itu, maka kupacu juga pinggulku sampai sofanya ikut goyang, penisku menusuk makin keras dan dalam padanya. Penisku serasa diperas oleh jepitan vaginanya, himpitannya makin lama makin kencang saja. Akhirnya cairan nikmat itu keluar dibarengi desahan yang panjang, aku pun mendapat orgasmeku lima detik setelahnya. Sperma bercampur lendirnya meleleh keluar dari sela-sela vaginanya membasahi selangkangan kami dan sofa di bawahnya. Kami saling berpelukan tersandar lemas di sofa, kubelai-belai lembut rambut dan wajahnya selama cooling down. “Goyangan lu tambah asyik nih say, bersihin dong pake mulut, boleh ya ?” pujiku sekaligus memintanya melakukan cleaning service. “Nggak mau, lu sendiri aja !” jawabnya sambil manyun “Ayo dong say, lu kan baik, please dikit aja, yah… !” mohonku lagi memencet putingnya

“Ok, tapi cuma bersihin aja yah, ga lebih” katanya sambil turun dari pangkuanku Dia berjongkok diantara kedua kakiku, dipegangnya penisku, kemudian mulai menjilati sisa-sisa cairan pada penisku hingga bersih. Di kasur sana, Mang Nurdin menyetubuhi Sandra dengan ganasnya dengan doggie style. Mata Sandra merem-melek dan mendesah tak karuan akibat sodokan-sodokan yang diberikan Mang Nurdin. Mang Obar menghampiri mereka lalu duduk mekangkang di depan Sandra. Tangannya menjenggut rambut Sandra dan menjejalkan penisnya ke dalam mulutnya, tentu saja benda sebesar dan berdiameter selebar itu tidak muat di mulut Sandra yang mungil. Susah payah Sandra berusaha menyesuaikan diri, pelan-pelan kepalanya mulai naik-turun mengisap benda itu. Desahan tertahan masih terdengar dari mulutnya, pada dinding pipinya kadang terlihat tonjolan dari penis Mang Obar yang bergerak maju-mundur. Mang Obar mengelus punggung dan dadanya sambil menikmati penisnya dikulum Sandra. Mang Nurdin hampir klimaks, genjotannya semakin cepat, tak lama kemudian dia mendesah panjang dengan mencengkram erat bongkahan pantatnya, spermanya menyemprot di dalam vaginanya, ketika dia cabut penisnya, nampak cairan kental itu masih menjuntai seperti benang laba-laba, sebagian meleleh di sekitar pangkal paha Sandra.

Melihat vagina Sandra nganggur, Mang Obar menyuruhnya menghentikan kulumannya dan naik ke pangkuannya. Sandra yang klimaksnya tertunda karena Mang Nurdin sudah keluar duluan segera menaiki penis Mang Obar. Sebelum mulai, pria kurus itu meminta tissue basah pada Endang untuk mengelap ceceran sperma di sekujur tubuh Sandra. Sandra menaik-turunkan pinggulnya dengan gencar di atas penis Mang Obar, payudaranya pun ikut terayun-ayun seiring gerak badan. Pemandangan itu membuat Mang Obar tidak tahan untuk tidak melumatnya, mulutnya menangkap payudara yang kanan dan mengenyot-ngeyotnya, sementara tangannya bergerilya menyusuri lekuk-lekuk tubuh yang indah itu. Keringat sudah bercucuran membasahi tubuh Sandra yang sudah bekerja keras melayani lima pria sekaligus, rambutnya sudah acak-acakan, namun itulah yang menambah pesonanya. Desahan nikmat Sandra memacu Mang Obar untuk terus melahap dada, leher, dan ketiaknya.

Setelah puas melakukan foreplay bersama Santi, Pak Usep menyuruhnya nungging, masih dalam posisi berdiri, Santi mencondongkan badan ke depan dengan tangan bertumpu pada kepala sofa. Santi yang sudah horny berat itu pun tanpa sungkan-sungkan mengulurkan tangan ke belakang membuka bibir vaginanya, gatel minta ditusuk. Mang Obar mengerti bahasa tubuh Santi, dia pun segera melesakkan penisnya masuk ke lubang itu. “Aarrghh… enak Mang, terus… terus !” jerit Santi Adegan ini berlangsung tepat di sebelahku sehingga aku dapat mengamati ekpresi wajah Santi yang sedang menikmati sodokan penis Mang Obar, dia merintih-rintih dan sesekali menggigit bibir bawah. dari belakangnya Mang Obar menggerayangi tubuhnya sambil terus menggenjotinya, payudaranya tampak berayun-ayun menggoda…..

pengalaman dengan om-om

Filed under: RAMAI-RAMAI

Suatu hari Winda mengajak aku untuk “berburu” oom-oom di cafe. Selama ini aku belum pernah kencan dengan oom-oom. Aku sih sudah sering ngentot tapi sama cowokku saja. Winda bilang, sensasinya beda kalo ngentot dengan lelaki yang jauh lebih tua dari kita. Dia sudah pengalaman berburu oom oom. Kebetulan cowokku ada tugas keluar daerah, sehingga aku terima ajakan Winda. Karena pinternya Winda mempengaruhi aku sehingga aku penasaran untuk mencobanya.

Di cafe itu Winda berhasil berkenalan dengan oom Edo, usia pertengahan tapi masih tegap dan atletis badannya dan ganteng. Winda saat itu memakai halter neck ketat dan rok mini, sehingga toketnya yang besar makin membusung. Aku memakai kaos ketat dengan belahan yang rendah sehingga toketku yang juga besar mengintip keluar, dan celana ketat. Beberapa pria tampak melihat dengan bernafsu kepada kami. Si oom mentraktir Winda dan aku makan, setelah itu dia mengajak jalan.

“Wow.., mobilnya keren banget oom. Sama kaya orangnya” kata Winda setelah kami sampai di mobilnya.

Windapun duduk di kursi depan disebelah si oom, sedang aku duduk di bangku belakang. Tak lama kamipun meluncur meninggalkan cafe tersebut. Si oom mengelus2 paha mulus Winda yang tersingkap karena rok mininya naik ke atas. Sesekali dia melirik lewat kaca spion ke aku yang sedang duduk dibelakang. Aku tau bahwa si oom memperhatikan aku, aku hanya tersenyum tersipu. Winda minta dibelikan pakaian, dan itu di OK kan saja sama si oom.

Aku hanya ikut saja dengan mereka, tetapi kebagian juga dibelikan celana jeans oleh si oom. Selesai belanja si oom ngajakin santai di apartmentnya. Winda meng OK kan saja ajakan si oom. Tak lama kami sudah sampai di apartment. Kita turun di basement dan menuju lift. Si oom langsung memijit lantai apartment dan lift meluncur ke atas. Apartmentnya type studio sehingga hanya ada satu ruang yang multi fungsi, kamar mandi dan pantri yang merangkap dapur. Si oom merebahkan diri di atas ranjang. Aku duduk di kursi di pojok ruang. Sementara Winda pergi ke kamar mandi. Ketika muncul kembali, Winda hanya berbalut handuk kemudian ikut rebahan diranjang bersama si oom. Si oom melingkarkan tangannya pada pundak Winda dan mengelus-elus nya. Tak lama si oom mulai menciumi bibir Winda sambil tangannya meraba-raba toket Winda.

“Nes.. Sini donk..” ajak Winda. Aku masih duduk termanggu saja di kursi melihat semua ini. Winda pun mencium si oom penuh napsu.

Si oom membuka belitan handuk sehingga Winda langsung bertelanjang bulat. Langsung dia menciumi dan menjilati toket Winda dengan rakus. Dia menghisap hisap pentil Winda. Aku yang mulai terangsang melihat Winda sedang digumuli si oom. Jarinya meraba bibir memek Winda yang dipenuhi dengan jembut yang lebat. Windapun melenguh nikmat ketika jari si oom menemukan itilnya. Sementara itu, toket Winda masih terus dijilati dan diemut pentilnya. Winda yang sudah sangat bernafsu kemudian berbalik menindih tubuh si oom. Dengan cepat dia melucuti kancing kemeja si oom. Dihisapnya pentil si oom, sementara tangannya melucuti celananya.

“Winda buka dulu ya oom” katanya sambil bangkit duduk dan membuka seluruh pakaiannya. Si oom tinggal berCD, dan tampak kontolnya mencuat keluar tak mampu tertampung didalam CDnya.

“Nes.. Sini deh.. Kontol si oom gede banget, panjang lagi” kata Winda sambil mengelus-elus kontol si oom dari balik CDnya. Windapun kemudian membuka CD si oom, dan kontol si oom yang sudah ngaceng keras tampak berdiri tegak dihadapannya.

“Gila.. Gede banget.. Bikin Winda nafsu..” kata Winda sambil menundukkan kepalanya mulai menjilati kontolnya kemudian mengulum kontolnya. Aku sudah terangsang melihat adegan ini dan kuraba-raba toketku sendiri.

“Nes.. Bantuin gue dong..” kata Winda sambil terus menghisap kontol si oom sementara si oom mengelus- elus rambut Winda yang panjang itu. Kadang tangan si oom berpindah ke toket Winda yang sekal dan mempermainkan pentilnya.

“Win.. Enak banget Win..” desah si oom, Winda terus menjilati kontol si oom.

Aku sudah tak bisa lagi menahan nafsuku melihat Winda sedang mengulum kontol si oom. Aku bangkit dari kursi dan berjalan kearah ranjang. aku merebahkan badanku di samping si oom. Langsung si oom merengkuh wajahku dan diciumi dengan penuh napsu. Tangannyapun bergerilya membuka halter neck ketatku. Kemudian dengan gemas meremas toketku.

“Iih oom.. Udah nggak sabar pengin nyusu ya?” godaku.

Dia tak menghiraukan perkataanku, langsung dia mengangkat cup BHku yang kekecilan untuk menampung toketku yang besar. Dihisapnya pentilku dengan gemas.

“Ahh.. Ahh” erangku ketika pentilku yang telah mengeras dijilati dan dihisap si oom.

“Enak oom.. Ahh” erangku.

“Emut pentilnya oom..” pintaku. Eranganku semakin menjadi.

“Sstt.. Hah.. Sstt.. Hah ” aku kembali mendesis.

Sementara itu Winda masih sibuk menjilati dan mengulum kontol si oom. Terkadang dihisapnya juga biji peler si oom. Sementara itu tangannya tampak sibuk meremas-remas toketnya sendiri. Setelah si oom puas menikmati toketku, aku didorongnya sedikit ke arah selangkangannya.

“Nih Nes… giliran kamu…” kata Winda sambil mengeluarkan kontol si oom dari mulutnya. Kupegang batang kontolnya, aku gemas melihatnya.

”Ih.. oom, gede banget..”. kuelus perlahan kontolnya.

“Memang kamu belum pernah liat yang besar begini?”

“Belum oom.. Punya cowok Ines nggak sebesar ini.” jawabku.

“Arghh.. Enak Nes…. hhssshhh” erangnya ketika aku mulai mengulum kepala kontolnya.

Kujilati lubang kencingnya dan kemudian kukulum kontolnya dengan bernafsu. Sementara itu batang kontolnya kukocok sambil sesekali kuremas perlahan biji pelernya. Si oom tampak keenakan ketika aku mengeluar masukkan kontolnya dengan mulutku. Dia mengusap-usap rambutku dengan gemas. Ruangan segera dipenuhi oleh erangannya. Saat aku menghisap kontolnya, kepalaku maju mundur, toketku pun bergoyang. Dengan gemas si oom meremas toketku.

“Nes.., jepit pakai toketmu ” pintanya.Aku langsung meletakkan kontolnya di belahan toketku, dan kemudian dia mengenjot kontolnya diantara toketku.

“Enak banget sshh..” si oom seperti tak kuasa menahan rasa nikmat itu.

Setelah beberapa lama, dia menyodorkan kembali kontolnya ke mulutku. Aku menyambutnya dengan penuh nafsu. Setelah beberapa lama, kuberikan kembali kontolnya pada Winda. Dengan sigap, Windapun kembali menghisapi kontol si oom lagi. Demikian berlangsung terus menerus. Secara bergantian aku dan Winda menghisap kontolnya.

Aku kemudian berdiri dan melepas sisa pakaianku. Si oom membelalak melihat memekku yang juga berjembut cukup lebat. Aku menaiki tubuhnya dan kuarahkan kontolnya ke memekku. Aku menurunkan tubuhku dan kontol si oom mulai menerobos memekku yang sempit.

“Ooh.. Besar banget nih kontolnya si oom.. Ahh..” desahku ketika kontolnya telah berhasil memasuki memek ku.

“Tapi enak khan..” tanya Winda menggoda

“Iya sih.. Aduh.. Oh.. Sstt.. Hah.. Hah..” erangku lagi ketika si oom mulai menggenjot memekku.

Tangannya memegang pinggangku sambil terus mengenjot memekku. Sementara Winda berpindah kesamping si oom dan menyodorkan toketnya ke mulut si oom. Si oom segera menjilati toket Winda.

“Oom.. Gimana oom.. Enak khan ngentotin Ines?” tanya Winda menggoda.

Aku masih meliuk-liukan tubuhku. Si oom pun terus menggenjot memekku dari bawah, sambil sesekali tangannya meremas toketku yang berayun-ayun menggemaskan. Setelah bosan dengan posisi itu, si oom membalikkan tubuhku sehingga dia berada diatas. Dia mengenjot kontolnya keluar masuk memekku sambil menciumi wajahku.

“Ehmm.. Sstt.. oom.. Enak.. Ohh. Kontol oom gede banget…., memek Ines sampe sesek rasanya oom, gesekan kontol oom terasa banget di memek Ines….. Mau deh Ines dientot oom tiap malam…..,” aku melenguh keenakkan.

“Ayo isap pentil oom” perintahnya.

Akupun kemudian menghisap pentilnya sementara si oom terus menggenjot memekku. Tak lama tubuhku mengejang, dan aku mengerang dan menggelinjang ketika nyampe. Terasa memekku berkedut2.

“Nes, enak banget, kontol oom seperti sedang diemut, nikmat banget rasanya, luar biasa empotan memek kamu”.

Karena masih ada Winda yang harus digarap, si oom menarik kontolnya dari memekku, dan dia segera menciumi Winda yang berada di sebelahnya. Winda disuruhnya menungging membelakanginya. Dengan gaya doggy style si oom mengentoti Winda dari belakang.

“Aduh.. oom.. Kuat banget.. Ohh..” erang Winda ketika si oom menggenjot memeknya. aku lemas berbaring di ranjang menyaksikan si oom ngentot dengan Winda.

“Gila.. Memekmu enak banget Win..” katanya.

Tangannya memegang pinggul Winda, terkadang meremas pantatnya yang membulat. Winda pun menjerit nikmat. Toketnya pun tampak bergoyang-goyang menggemaskan. Bosan dengan posisi ini, si oom kemudian duduk di kursi. Winda lalu duduk membelakangi si oom dan mengarahkan kontol si oom ke dalam memeknya. Si oom menyibakkan rambutnya yang panjang dan menciumi leher Winda. Sementara itu tubuh Winda bergerak naik turun. Tangan si oom sibuk meremas toketnya.

“Ahh.. Ahh.. Ahh..” erang Winda seirama dengan goyangan badannya diatas tubuh si oom.

Terkadang erangan itu terhenti saat si oom menyodorkan jemarinya untuk dihisap Winda. Beberapa saat kemudian, si oom menghentikan goyangan badannya dan dia mencondongkan tubuh Winda agak ke belakang, sehingga dapat menghisap toketnya. Dengan gemas si oom melahap bukit kembarnya dan sesekali pentil Winda dijilatinya. Erangan Winda semakin keras terdengar, membuat aku menjadi kembali bernapsu. Setelah si oom selesai menikmati toket ranumnya, kembali Winda mengenjot tubuhnya naik turun dengan liar. Binal banget kelihatannya.

Cukup lama si oom menikmati perngentotan dengan Winda di atas kursi. Lalu dia berdiri, dan kembali berciuman dengan Winda. sambil dengan gemas meremas dan menghisap toket Winda. Si oom ingin segera menuntaskan permainan ini. Lalu dia merebahkan Winda di atas ranjang. Si oom kemudian mengarahkan kontolnya kembali ke dalam memek Winda.

“Ahh..” erang Winda kembali ketika kontol si oom kembali menyesaki memeknya. Langsung Winda dienjot dengan ganas. Erangan nikmat mereka berdua memenuhi ruangan itu, ditambah dengan bunyi derit ranjang menambah panas suasana. Kulihat Winda menggelengkan kepalanya ke kanan kekiri menahan nikmat. Tangannya meremas-remas sprei ranjang.

“Oom.. Winda hampir sampai oom.. Terus.. Ahh.. Ahh” jeritnya sambil tubuhnya mengejang dalam dekapan si oom.

Tampak dia telah nyampe. Si oom menghentikan enjotannya sebentar, dan Winda pun kemudian lunglai di atas ranjang. Kulihat butir keringat mengalir di wajah Winda. Toketnya naik turun seirama dengan helaan nafasnya. Si oom kembali menggemasi toket Winda dengan bernafsu. Dia mulai lagi mengenjot memek Winda sambil sesekali meremas toketnya yang bergoyang seirama enjotan si oom. Si oom terus mengenjotkan kontolnya keluar masuk memek Winda sampai akhirnya ngecretlah pejunya di dalam memek Winda. Winda terkapar karena kenikmatan dan lemas.

Si oom menghampiri aku yang masih terkapar di ranjang. Dia mulai menciumiku sambil tangannya mengusap-usap pahaku, dan kemudian mengilik memekku dengan jemarinya.

”Ehmm..” erangku saat itilku diusap-usap dengan gemas. Eranganku terhenti si oom menciumku dengan penuh napsu. Tangannya meremas2 toketku yang besar menantang.

“Oom kuat banget sih , baru ngecret dengan Winda sudah mau ngentot lagi dengan Ines” ucapku lirih.

“Iya habis oom pengen diempot memek kamu sampe ngecret. Tadi kan belum ngecret, itu juga udah nikmat banget rasanya. Apalagi kalo sampe ngecret” bisiknya.

Desahku kembali terdengar ketika lidahnya mulai menari di atas pentilku yang sudah menonjol keras. Dihisapnya dengan gemas gunung kembar ku hingga membuat tubuhku menggelinjang nikmat.

“Gantian dong Nes….” bisiknya ketika dia sudah puas menikmati toketku yang ranum. Kami pun kembali berciuman sementara tanganku meremas kontolnya yang mulai membengkak. aku pun kemudian mendekatkan wajahku ke kontolnya, dan mulutku mulai mengulum kontolnya. Sambil menghisap kontolnya, aku mengocok perlahan batangnya, membuatnya tak tahan untuk menahan erangan nikmatnya.

“Ihh… Winda juga pengen dong..”, kata Winda sambil menggeser ke arahku

“Ya ayo..” kata si oom sambil mengelus-elus rambutku yang masih menghisap kontolnya. Winda pun langsung diciuminya. Lidah mereka saling bertaut, sementara aku masih sibuk menikmati kontolnya. Setelah puas berciuman, dia mencabut kontolnya dari mulutku.

“Ayo Win” kata si oom sambil sedikit menekan kepala Winda agar mendekat ke kontolnya.

“Iya..” kata Winda sambil dengan imutnya menyibakkan rambut yang menutupi telinganya.

“Acccchh.. Yes..” desah si oom saat Winda memasukkan kontol si oom ke dalam mulutnya. Winda menghisap kontol si oom seperti anak kecil sedang memakan permen lolipop. Si oom kelihatannya keenakan sekali. Cukup lama juga Winda menikmati kontol si oom. Sementara itu aku kembali menyodorkan toketku ke si oom. Setelah beberapa lama menghisap toketku, si oom kemudian mendekatkan wajahku ke arah kontolnya lagi. Kucium biji pelernya, sementara Winda masih sibuk mengulum kontolnya.

“Nih gantian Nes..” katanya sambil menyorongkan kontol si oom ke mulutku yang berada di dekatnya. Aku pun dengan sigap kembali mengemut kontolnya. Sementara itu, kali ini gantian Winda yang menjilati dan menciumi biji pelernya. Si oom mengelus-elus kepalaku dan Winda yang sedang mengemut kontolnya.

Si oom sudah ingin ngentot lagi dengan aku. Aku disuruhnya duduk membelakangi si oom di pangkuannya. Dia mengarahkan kontolnya kedalam memekku.

“Auuuhhhhh..” desahku ketika kontolnya kembali menyesaki memekku. Aku kemudian menaik-turunkan tubuhku di atas pangkuannya. Winda pun tak tinggal diam, diciuminya si oom ketika aku sedang mengenjot kontolnya dalam jepitan memekku. Sambil menciumi Winda, tangannya memainkan itilku.

“Ah.. Terus oom.. Ines mau nyampe..” desahku. Semakin cepat si oom mengusap itilku, sedangkan tubuhku pun semakin cepat menggenjot kontolnya.

“Ahh..” erangku nikmat saat aku nyampe. Tubuhku mengejang dan kemudian terkulai lemas diatas pangkuannya. Kembali terasa memekku berkedut2 dengan keras. Setelah reda kedutan memekku, kontol dicabutnya dari memekku, masih ngaceng keras dan berlumuran cairan memek ku. Aku ditelentangkan dan segera si oom menaiki tubuhku. Pahaku sudah mengangkang lebar. Si oom tidak langsung memasukkan kontolnya kedalam memekku, tetapi digesek-gesekkan dahulu di sekitar bibir memekku hingga menyentuh itilku.

“Oom.. Aduuhh.. Aduuhh oom! Sshh.. Mmppffhh.. Ayo oom.. Masukin aja.. Nggak tahann..” aku menjerit-jerit tanpa malu.

“Udah nggak tahan ya.. Nes, cepat banget sudah napsu lagi..” jawabnya.

Tiba-tiba si oom langsung menekan sekuat tenaga. Aku sama sekali tak menyangka akan hal itu, sehingga kontolnya langsung melesak ke dalam memekku. Kontolnya kembali menyesaki memekku yang sempit itu. Dia mulai mengenjotkan kontolnya naik turun dengan teratur sehingga menggesek seluruh lubang memekku. Aku turut mengimbanginya, pinggulku berputar penuh irama. Bergerak patah- patah, kemudian berputar lagi. Efeknya luar biasa, kedutan memekku kembali terasa.

“Nesss, hhhhh..nikmathhh banget deh empotan… memek kamu”, katanya terengah. Aku semakin bergairah, pinggulku terus bergoyang tanpa henti sambil mengedut-ngedutkan otot memekku.

“Akkhh.. Nes.. Eennaakkhh.., hebaathh.. Uugghh..” erangnya berulang-ulang.

Si oom semakin kuat meremas2 dan memilin2 pentilku dan bibirnya terus menyapu seluruh wajahku hingga ke leher, sambil semakin mempercepat irama enjotannya. Aku berusaha mengimbangi keluar masuknya kontolnya didalam memekku dengan goyangan pantatku. Si oom kelihatannya berusaha keras untuk bertahan, agar tidak ngecret sebelum aku nyampe lagi. Kontolnya terus mengaduk2 memekku semakin cepat lagi. Memekku terasa makin berkedut, kedua ujung pentilku semakin keras, mencuat berdiri tegak. Langsung pentilku disedot kuat-kuat kemudian dijilati dengan penuh nafsu.

“Oom..! Lebih cepat lagi doonng..!” teriakku sambil menekan pantatnya kuat-kuat agar kontolnya lebih masuk ke memekku.

Beberapa detik kemudian tubuhku bergetar hebat, diiringi dengan cairan hangat menyembur dari memekku. Bersamaan dengan itu, tubuh si oom pun bergetar keras yang diiringi semprotan pejunya ke dalam memekku. Aku pun mengerang tertahan. Aku langsung memeluk tubuhnya erat-erat, dengan penuh perasaan si oom membalas pelukanku sambil merasakan kenikmatan yang luar biasa. Kakiku melingkar di sekitar pinggangnya, sementara bibirnya terus menghujani sekujur wajah dan leherku dengan ciuman. Aku masih bisa merasakan kedutan memekku. Setelah beristirahat sejenak, kami segera membersihkan diri dengan di kamar mandi. Aku dan Winda belum pernah merasakan sedemikian nikmatnya dientot lelaki dan si oom katanya juga puas banget ngentot dengan kami..

ayu, evi ibu dan anak

Filed under: RAMAI-RAMAI

Didalam cerita pengalaman saya yang pertama yang saya beri judul “Masa kecil saya di Palembang”, saya menceritakan bagaimana saya diperkenalkan kepada kenikmatan senggama pada waktu saya masih berumur 13 tahun oleh Ayu, seorang wanita tetangga kami yang telah berumur jauh lebih tua. Saya dibesarkan didalam keluarga yang sangat taat dalam agama. Saya sebelumnya belum pernah terekspos terhadap hubungan laki-laki dan perempuan. Pengetahuan saya mengenai hal-hal persetubuhan hanyalah sebatas apa yang saya baca didalam cerita-cerita porno ketikan yang beredar di sekolah ketika saya duduk di bangku SMP.

Pada masa itu belum banyak kesempatan bagi anak lelaki seperti saya walaupun melihat tubuh wanita bugil sekalipun. Anak-anak lelaki masa ini mungkin susah membayangkan bahwa anak seperti saya cukup melihat gambar-gambar di buku mode-blad punya kakak saya seperti Lana Lobell, dimana terdapat gambar-gambar bintang film seperti Ginger Roberts, Jayne Mansfield, yang memperagakan pakaian dalam, ini saja sudah cukup membuat kita terangsang dan melakukan masturbasi beberapa kali.

Bisalah dibayangkan bagaimana menggebu-gebunya gairah dan nafsu saya ketika diberi kesempatan untuk secara nyata bukan saja hanya bisa melihat tubuh bugil wanita seperti Ayu, tetapi bisa mengalami kenikmatan bersanggama dengan wanita sungguhan, tanpa memperdulikan apakah wanita itu jauh lebih tua. Dengan hanya memandang tubuh Ayu yang begitu mulus dan putih saja sucah cukup sebetulnya untuk menjadi bahan imajinasi saya untuk bermasturbasi, apalagi dengan secara nyata-nyata bisa merasakan hangatnya dan mulusnya tubuhnya. Apalagi betul-betul melihat kemaluannya yang mulus tanpa jembut. Bisa mencium dan mengendus bau kemaluannya yang begitu menggairahkan yang kadang-kadang masih berbau sedikit amis kencing perempuan dan yang paling hebat lagi buat saya adalah bisanya saya menjilat dan mengemut kemaluannya dan kelentitnya yang seharusnyalah masih merupakan buah larangan yang penuh rahasia buat saya.

Mungkin pengalaman dini inilah yang membuat saya menjadi sangat menikmati apa yang disebut cunnilingus, atau mempermainkan kemaluan wanita dengan mulut. Sampai sekarangpun saya sangat menikmati mempermainkan kemaluan wanita, mulai dari memandang, lalu mencium aroma khasnya, lalu mempermainkan dan menggigit bibir luarnya (labia majora), lalu melumati bagian dalamnya dengan lidah saya, lalu mengemut clitorisnya sampai si wanita minta-minta ampun kewalahan. Yang terakhir barulah saya memasukkan batang kemaluan saya kedalam liang sanggamanya yang sudah banjir.

Setelah kesempatan saya dan Ayu untuk bermain cinta (saya tidak tahu apakah itu bisa disebut bermain cinta) yang pertama kali itu, maka kami menjadi semakin berani dan Ayu dengan bebasnya akan datang kerumah saya hampir setiap hari, paling sedikit 3 kali seminggu. Apabila dia datang, dia akan langsung masuk kedalam kamar tidur saya, dan tidak lama kemudian sayapun segera menyusul.

Biasanya dia selalu mengenakan daster yang longgar yang bisa ditanggalkan dengan sangat gampang, hanya tarik saja keatas melalui kepalanya, dan biasanya dia duduk dipinggiran tempat tidur saya. Saya biasanya langsung menerkam payudaranya yang sudah agak kendor tetapi sangat bersih dan mulus. Pentilnya dilingkari bundaran yang kemerah-merahan dan pentilnya sendiri agak besar menurut penilaian saya. Ayu sangat suka apabila saya mengemut pentil susunya yang menjadi tegang dan memerah, dan bisa dipastikan bahwa kemaluannya segera menjadi becek apabila saya sudah mulai ngenyot-ngenyot pentilnya.

Mungkin saking tegangnya saya didalam melakukan sesuatu yang terlarang, pada permulaannya kami mulai bersanggama, saya sangat cepat sekali mencapai klimaks. Untunglah Ayu selalu menyuruh saya untuk menjilat-jilat dan menyedot-nyedot kemaluannya lebih dulu sehingga biasanya dia sudah orgasme duluan sampai dua atau tiga kali sebelum saya memasukkan penis saya kedalam liang peranakannya, dan setelah saya pompa hanya beberapa kali saja maka saya seringkali langsung menyemprotkan mani saya kedalam vaginanya. Barulah untuk ronde kedua saya bisa menahan lebih lama untuk tidak ejakulasi dan Ayu bisa menyusul dengan orgasmenya sehingga saya bisa merasakan empot-empotan vaginanya yang seakan-akan menyedot penis saya lebih dalam kedalam sorga dunia.

Ayu juga sangat doyan mengemut-ngemut penis saya yang masih belum bertumbuh secara maksimum. Saya tidak disunat dan Ayu sangat sering menggoda saya dengan menertawakan “kulup” saya, dan setelah beberapa minggu Ayu kemudian berhasil menarik seluruh kulit kulup saya sehingga topi baja saya bisa muncul seluruhnya. Saya masih ingat bagaimana dia berusaha menarik-narik atau mengupas kulup saya sampai terasa sakit, lalu dia akan mengobatinya dengan mengemutnya dengan lembut sampai sakitnya hilang. Setelah itu dia seperti memperolah permainan baru dengan mempermainkan lidahnya disekeliling leher penis saya sampai saya merasa begitu kegelian dan kadang-kadang sampai saya tidak kuat menahannya dan mani saya tumpah dan muncrat ke hidung dan matanya.

Kadang-kadang Ayu juga minta “main” walaupun dia sedang mens. Walaupun dia berusaha mencuci vaginanya lebih dulu, saya tidak pernah mau mencium vaginanya karena saya perhatikan bau-nya tidak menyenangkan. Paling-paling saya hanya memasukkan penis saja kedalam vaginanya yang terasa banjir dan becek karena darah mensnya. Terus terang, saya tidak begitu menikmatinya dan biasanya saya cepat sekali ejakulasi. Apabila saya mencabut kemaluan saya dari vagina Ayu, saya bisa melihat cairan darah mensnya yang bercampur dengan mani saya. Kadang-kadang saya merasa jijik melihatnya.

Satu hari, kami sedang asyik-asyiknya menikmati sanggama, dimana kami berdua sedang telanjang bugil dan Ayu sedang berada didalam posisi diatas menunggangi saya. Dia menaruh tiga buah bantal untuk menopang kepala saya sehingga saya bisa mengisap-isap payudaranya sementara dia menggilas kemaluan saya dengan dengan kemaluannya. Pinggulnya naik turun dengan irama yang teratur. Kami rileks saja karena sudah begitu seringnya kami bersanggama. Dan pasangan suami isteri yang tadinya menyewa kamar dikamar sebelah, sudah pindah kerumah kontrakan mereka yang baru.

Saya sudah ejakulasi sekali dan air mani saya sudah bercampur dengan jus dari kemaluannya yang selalu membanjir. Lalu tiba-tiba, pada saat dia mengalami klimaks dan dia mengerang-erang sambil menekan saya dengan pinggulnya, anak perempuannya yang bernama Efi ternyata sedang berdiri dipintu kamar tidur saya dan berkata, “Ibu main kancitan, iya..?” (kancitan = ngentot, bahasa Palembang)

Saya sangat kaget dan tidak tahu harus berbuat bagaimana tetapi karena sedang dipuncak klimaksnya, Ayu diam saja terlentang diatas tubuh saya. Saya melirik dan melihat Efi datang mendekat ketempat tidur, matanya tertuju kebagian tubuh kami dimana penis saya sedang bersatu dengan dengan kemaluan ibunya. Lalu dia duduk di pinggiran tempat tidur dengan mata melotot.

“Hayo, ibu main kancitan,” katanya lagi.

Lalu pelan-pelan Ayu menggulingkan tubuhnya dan berbaring disamping saya tanpa berusaha menutupi kebugilannya. Saya mengambil satu bantal dan menutupi perut dan kemaluan saya .

“Efi, Efi. Kamu ngapain sih disini?” kata Ayu lemas.

“Efi pulang sekolah agak pagi dan Efi cari-cari Ibu dirumah, tahunya lagi kancitan sama Bang Johan,” kata Efi tanpa melepaskan matanya dari arah kemaluan saya. Saya merasa sangat malu tetapi juga heran melihat Ayu tenang-tenang saja.

“Efi juga mau kancitan,” kata Efi tiba-tiba.

“E-eh, Efi masih kecil..” kata ibunya sambil berusaha duduk dan mulai mengenakan dasternya.

“Efi mau kancitan, kalau nggak nanti Efi bilangin Abah.”

“Jangan Efi, jangan bilangin Abah.., kata Ayu membujuk.

“Efi mau kancitan,” Efi membandel. “Kalo nggak nanti Efi bilangin Abah..”

“Iya udah, diam. Sini, biar Johan ngancitin Efi.” Ayu berkata.

Saya hampir tidak percaya akan apa yang saya dengar. Jantung saya berdegup-degup seperti alu menumbuk. Saya sudah sering melihat Efi bermain-main di pekarangan rumahnya dan menurut saya dia hanyalah seorang anak yang masih begitu kecil. Dari mana dia mengerti tentang “main kancitan” segala?

Ayu mengambil bantal yang sedang menutupi kemaluan saya dan tangannya mengelus-ngelus penis saya yang masih basah dan sudah mulai berdiri kembali.

“Sini, biar Efi lihat.” Ayu mengupas kulit kulup saya untuk menunjukkan kepala penis saya kepada Efi. Efi datang mendekat dan tangannya ikut meremas-remas penis saya. Aduh maak, saya berteriak dalam hati. Bagaimana ini kejadiannya? Tetapi saya diam saja karena betul-betul bingung dan tidak tahu harus melakukan apa.

Tempat tidur saya cukup besar dan Ayu kemudian menyutuh Efi untuk membuka baju sekolahnya dan telentang di tempat tidur didekat saya. Saya duduk dikasur dan melihat tubuh Efi yang masih begitu remaja. Payudaranya masih belum berbentuk, hampir rata tetapi sudah agak membenjol. Putingnya masih belum keluar, malahan sepertinya masuk kedalam. Ayu kemudian merosot celana dalam Efi dan saya melihat kemaluan Efi yang sangat mulus, seperti kemaluan ibunya. Belum ada bibir luar, hanya garis lurus saja, dan diantara garis lurus itu saya melihat itilnya yang seperti mengintip dari sela-sela garis kemaluannya. Efi merapatkan pahanya dan matanya menatap kearah ibunya seperti menunggu apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Saya mengelus-elus bukit venus Efi yang agak menggembung lalu saya coba merenggangkan pahanya. Dengan agak enggan, Efi menurut, dan saya berlutut di antara kedua pahanya dan membungkuk untuk mencium selangkangan Efi.

“Ibu, Efi malu ah..” kata Efi sambil berusaha menutup kemaluannya dengan kedua tangannya.

“Ayo, Efi mau kancitan, ndak?” kata Ayu.

Saya mengendus kemaluan Efi dan baunya sangat tajam.

“Uh, mambu pesing.” Saya berkata dengan agak jijik. Saya juga melihat adanya “keju” yang keputih-putihan diantara celah-celah bibir kemaluan Efi.

“Tunggu sebentar,” kata Ayu yang lalu pergi keluar kamar tidur. Saya menunggu sambil mempermainkan bibir kemaluan Efi dengan jari-jari saya. Efi mulai membuka pahanya makin lebar.

Sebentar kemudian Ayu datang membawa satu baskom air dan satu handuk kecil. Dia pun mulai mencuci kemaluan Efi dengan handuk kecil itu dan saya perhatikan kemaluan Efi mulai memerah karena digosok-gosok Ayu dengan handuk tadi. Setelah selesai, saya kembali membongkok untuk mencium kemaluan Efi. Baunya tidak lagi setajam sebelumnya dan sayapun menghirup aroma kemaluan Efi yang hanya berbau amis sedikit saja. Saya mulai membuka celah-celah kemaluannya dengan menggunakan lidah saya dan Efi-pun merenggangkan pahanya semakin lebar. Saya sekarang bisa melihat bagian dalam kemaluannya dengan sangat jelas. Bagian samping kemaluan Efi kelihatan sangat lembut ketika saya membuka belahan bibirnya dengan jari-jari saya, kelihatanlah bagian dalamnya yang sangat merah.

Saya isap-isap kemaluannya dan terasa agak asin dan ketika saya mempermainkan kelentitnya dengan ujung lidah saya, Efi menggeliat-geliat sambil mengerang, “Ibu, aduuh geli, ibuu.., geli nian ibuu..”

Saya kemudian bangkit dan mengarahkan kepala penis saya kearah belahan bibir kemaluan Efi dan tanpa melihat kemana masuknya, saya dorong pelan-pelan.

“Aduh, sakit bu..,” Efi hampir menjerit.

“Johan, pelan-pelan masuknya.” Kata Ayu sambil mengelus-elus bukit Efi.

Saya coba lagi mendorong, dan Efi menggigit bibirnya kesakitan.

“Sakit, ibu.”

Ayu bangkit kembali dan berkata,”Johan tunggu sebentar,” lalu dia pergi keluar dari kamar.

Saya tidak tahu kemana Ayu perginya dan sambil menunggu dia kembali sayapun berlutut didepan kemaluan Efi dan sambil memegang batang penis, saya mempermainkan kepalanya di clitoris Efi. Efi memegang kedua tangan saya erat-erat dengan kedua tangannya dan saya mulai lagi mendorong.

Saya merasa kepala penis saya sudah mulai masuk tetapi rasanya sangat sempit. Saya sudah begitu terbiasa dengan lobang kemaluan Ayu yang longgar dan penis saya tidak pernah merasa kesulitan untuk masuk dengan mudah. Tetapi liang vagina Efi yang masih kecil itu terasa sangat ketat. Tiba-tiba Efi mendorong tubuh saya mundur sambil berteriak, “Aduuh..!” Rupanya tanpa saya sadari, saya sudah mendorong lebih dalam lagi dan Efi masih tetap kesakitan.

Sebentar lagi Ayu datang dan dia memegang satu cangkir kecil yang berisi minyak kelapa. Dia mengolesi kepala penis saya dengan minyak itu dan kemudian dia juga melumasi kemaluan Efi. Kemudian dia memegang batang kemaluan saya dan menuntunnya pelan-pelan untuk memasuki liang vagina Efi. Terasa licin memang dan saya-pun bisa masuk sedikit demi sedikit. Efi meremas tangan saya sambil menggigit bibir, apakah karena menahan sakit atau merasakan enak, saya tidak tahu pasti.

Saya melihat Efi menitikkan air mata tetapi saya meneruskan memasukkan batang penis saya pelan-pelan.

“Cabut dulu,” kata Ayu tiba-tiba.

Saya menarik penis saya keluar dari lobang kemaluan Efi. Saya bisa melihat lobangnya yang kecil dan merah seperti menganga. Ayu kembali melumasi penis saya dan kemaluan Efi dengan minyak kelapa, lalu menuntun penis saya lagi untuk masuk kedalam lobang Efi yang sedang menunggu. Saya dorong lagi dengan hati-hati, sampai semuanya terbenam didalam Efi. Aduh nikmatnya, karena lobang Efi betul-betul sangat hangat dan ketat, dan saya tidak bisa menahannya lalu saya tekan dalam-dalam dan air manikupun tumpah didalam liang kemaluan Efi. Efi yang masih kecil. Saya juga sebetulnya masih dibawah umur, tetapi pada saat itu kami berdua sedang merasakan bersanggama dengan disaksikan Ayu, ibunya sendiri.

Efi belum tahu bagaimana caranya mengimbangi gerakan bersanggama dengan baik, dan dia diam saja menerima tumpahan air mani saya. Saya juga tidak melihat reaksi dari Efi yang menunjukkan apakah dia menikmatinya atau tidak. Saya merebahkan tubuh saya diatas tubuh Efi yang masih kurus dan kecil itu. Dia diam saja.

Setelah beberapa menit, saya berguling kesamping dan merebahkan diri disamping Efi. Saya merasa sangat terkuras dan lemas. Tetapi rupanya Ayu sudah terangsang lagi setelah melihat saya menyetubuhi anaknya. Diapun menaiki wajah saya dan mendudukinya dan menggilingnya dengan vaginanya yang basah, dan didalam kami di posisi 69 itu diapun mengisap-ngisap penis saya yang sudah mulai lemas sehingga penis saya itu mulai menegang kembali.

Wajah saya begitu dekat dengan anusnya dan saya bisa mencium sedikit bau anus yang baru cebok dan entah kenapa itu membuat saya sangat bergairah. Nafsu kami memang begitu menggebu-gebu, dan saya sedot dan jilat kemaluan Ayu sepuas-puasnya, sementara Efi menonton kami berdua tanpa mengucapkan sepatah katapun. Saya sudah mengenal kebiasaan Ayu dimana dia sering kentut kalau betul-betul sedang klimaks berat, dan saat itupun Ayu kentut beberapa kali diatas wajah saya. Saya sempat melihat lobang anusnya ber-getar ketika dia kentut, dan sayapun melepaskan semburan air mani saya yang ketiga kalinya hari itu didalam mulut Ayu. “Alangkah lemaknyoo..!” saya berteriak dalam hati.

“Ugh, ibu kentut,” kata Efi tetapi Ayu hanya bisa mengeluarkan suara seperti seseorang yang sedang dicekik lehernya.

Hanya sekali itu saja saya pernah menyetubuhi Efi. Ternyata dia masih belum cukup dewasa untuk mengetahui nikmatnya bersanggama. Dia masih anak kecil, dan pikirannya sebetulnya belum sampai kepada hal-hal seperti itu. Tetapi saya dan Ayu terus menikmati indahnya permainan bersanggama sampai dua atau tiga kali seminggu. Saya masih ingat bagaimana saya selalu merasa sangat lapar setelah setiap kali kami selesai bersanggama. Tadinya saya belum mengerti bahwa tubuh saya menuntut banyak gizi untuk menggantikan tenaga saya yang dikuras untuk melayani Ayu, tetapi saya selalu saya merasa ingin makan telur banyak-banyak. Saya sangat beruntung karena kami kebetulan memelihara beberapa puluh ekor ayam, dan setiap pagi saya selalu menenggak 4 sampai 6 butir telur mentah. Saya juga memperhatikan dalam tempo setahun itu penis saya menjadi semakin besar dan bulu jembut saya mulai menjadi agak kasar. Saya tidak tahu apakah penis saya cukup besar dibandingkan suami Ayu ataupun lelaki lain. Yang saya tahu adalah bahwa saya sangat puas, dan kelihatannya Ayu juga cukup puas.

Saya tidak merasa seperti seorang yang bejat moral. Saya tidak pernah melacur dan ketika saya masih kawin dengan isteri saya yang orang bule, walaupun perkawinan kami itu berakhir dengan perceraian, saya tidak pernah menyeleweng. Tetapi saya akan selalu berterima kasih kepada Ayu (entah dimana dia sekarang) yang telah memberikan saya kenikmatan didalam umur yang sangat dini, dan pelajaran yang sangat berharga didalam bagaimana melayani seorang perempuan, terlepas dari apakah itu salah atau tidak.

pembantu seksi

Filed under: RAMAI-RAMAI

Di sebuah rumah di kota P, terdapat laki-laki muda yang masih single. Pria tersebut bernama Bonsa (samaran). Perawakannya ganteng dan berbody atletis, berkulit putih dan memiliki batang kemaluan yang besar dan panjang, dengan panjang 18 cm dan diameter 5 cm. Dia mempunyai libido sex yang tinggi, tidak jarang melakukan onani sampai setiap hari jika sedang bernafsu. Di rumahnya dia ditemani 3 orang pembatu yang masih muda dan seksi.

Pembantunya semua wanita, yang pertama (dari umur), Mirna asal Malang, umurnya 25 tahun, sudah menikah (suaminya tetap di Malang) dan mempunyai dua orang anak. Walau sudah menikah, tubuhnya masih bagus, body seksi dan kulitnya putih susu. Payudaranya masih kencang, berisi, dan montok dengan ukuran 36B. Lubang kemaluannya masih rapat walau sudah pernah melahirkan 2 anak. Kedua, Marni asal Lumajang, status janda tanpa anak (cerai), umur 19 tahun, tubuhnya tinggi sekitar 175 cm. Bodynya seksi, payudaranya berukuran 36B juga tapi sudah menggantung, alat vitalnya bagus dan sedikit sudah longgar, tapi masih enak, rapih karena bulu kemaluannya dicukur habis. Ketiga, Parni asal Jember, umur 16 tahun belum menikah tapi sudah tidak perawan lagi, tubuhnya biasa dibandingkan dengan yang lain, tetapi sangat menggairahkan. Payudaranya besar berukuran 39A, kulitnya putih dan liang senggamanya masih sempit (baru satu kali melakukan hubungan sex).

Hari kamis Bonsa pulang kerja lebih awal, tetapi dia sampai di rumahnya baru sore hari, karena dia tadi bersama temannya nonton film biru dulu di kantornya (ruangannya). Setelah sampai di rumah, Bonsa ingin langsung masuk kamar untuk melepaskan nafsunya yang terbendung dengan melakukan onani. Tetapi ketika hendak masuk kamar, Bonsa melihat pembantu-pembatunya bersenda gurau dengan menggenakan baju yang seksi, dengan hanya memakai rok mini dan atasannya “you can see”. Dia memperhatikan senda gurau pembantunya yang bercanda dengan memegang payudara temannya. Otak Bonsa cepat berpikir kotor, apalagi sudah dari tadi dia sedang bernafsu.

Bonsa berjalan mendekati pembantunya yang berada di taman belakang, dia mengendap-ngendap mendekati Marni yang paling dekat dan membelakangiinya. Setelah dekat, dipeluk tubuh Marni yang berdiri dan langsung bibirnya bergerilya di leher Marni.
“Tuannn.. lepaskan Tuan, saya pembantu Tuan..” katanya.
Tapi Bonsa tetap acuh saja dan terus menciumi leher bagian belakang milik Marni, sedangkan yang lain hanya diam saja ketakutan.
“Aug..!” desah Marni saat Bonsa mulai meremas payudara miliknya.
“Kamu semua harus melayaniku, aku sedang ingin bercinta..!” kata Bonsa seraya melepaskan pelukannya tapi tidak melepaskan genggamannya di tangan Marni.
“Tappiii… Tuuuan..” jawab mereka ketakutan.
“Tidak ada tapi-tapian..” jawab Bonsa sambil kembali memeluk Marni dan mulai menciumnya.
“Augghhh…” desah Marni saat tangan Bonsa menyelinap ke selangkangannya dengan mereka tetap berciuman, sementara Parni dan Mirna hanya melihatnya tanpa berkedip (mungkin sudah terangsang), tangannya pun mulai masuk ke dalam roknya masing-masing.

Ciuman Bonsa mulai turun ke arah payudara milik Marni, dikecupnya payudara Marni walau masih tebungkus BH dan kaosnya, sedangkan tangan Bonsa meremas-remas susunya yang kiri dan tangannya yang satunya sudah berhasil melewati CD-nya.
“Augh…” desah Marni.
Dibuka bajunya dan BH-nya, “Wau besar juga susumu Mar..” kata Bonsa sambil tangannya memainkan susu Marni dan memelintir puting susunya.
“Ah, Tuaaan bisaa aja, ayo dong nyusu duluuu.. augh..!” jawab Marni sambil mendorong kepala Bonsa higga susunya langsung tertelan mulut Bonsa.
“Augghhh….” desah Marni merintih kenikmatan, sedang tangannya Marni masuk ke celana Bonsa dan langsung mengocok batang kejantanan Bonsa.

Dijilat dan dihisap payudara Marni, tangannya meremas serta mempermainkan puting susunya, kadang digigit dan disedot payudara Marni.
“Auuughhh..!” Marni berteriak kencang saat susunya disedot habis dan tangan Bonsa masuk ke liang senggamanya.
Ciuman Bonsa turun setelah puas menyusu pada Marni, dijilatnya perut Marni dan membuka roknya. Setelah terbuka, terlihat paha putih dan liang senggamanya yang telah basah yang sangat membuat nasfu Bonsa bertambah. Sedangkan Mirna dan Parni sudah telanjang bulat dan melakukan masturbasi sendiri sambil melihat tuannya bercinta dengan temannya.

Diciuminya bibir kemaluan Marni yang masih terbungkus CD.
“Augghhh..” desah Marni tidak kuat.
Karena tidak kuat lagi, Marni mendorong kepala Bonsa dan langsung menurunkan CD-nya, setelah itu didorong masuk kepala Bonsa ke liang senggamanya.
“Auughhh.. ughhh…” desah Bonsa saat lidah Bonsa menjilati bibir kemaluannya.
Lidah Bonsa semakin liar saja, dimasukkan lidahnya ke liang itu dan dijilati semua dinding kemaluan itu tanpa ada sedikitpun yang terlewati. Klitorisnya pun tidak ketinggalan digigit dan dijilati.

“Aauuugghhh… aaggghhh..!” desah Marni.
Lidah Bonsa terus menjilati bagian dalam vagina Marni. Marni mulai mengejang bagai tersambar petir jilatan lidah Bonsa. Tangannya mulai menjabak rambut Bonsa, tapi Bonsa tidak marah dan sebaliknya malah mempercepat jilatan lidahnya.
“Aaggghhh… aku mau keeeluuu… uuaarrr… Tuua.. an…” rintih Marni.
Dijilati terus Marni dengan lidahnya, dan akhirnya, “Crooottt… crrrooottt..!” cairan kental, panas, dan asin keluar dengan deras di lidah Bonsa, dijilati cairan itu dan ditelan Bonsa.

Setelah itu Bonsa berjalan ke arah Parni yang sedang tiduran dan masturbasi. Ditidurinya langsung tubuh Marni, dicium payudaranya yang sudah mengeras. Dijilat dan digigit puting susu Parni dan Parni hanya mendesah saja, tapi tangannya masih di dalam liang kemaluannya. Sedangkan Marni masih menjilati tangannya yang habis membersihkan ciran yang keluar dari lubang senggamanya. Tangan Bonsa bergerak turun membelai semua sudut pahanya dan jilatannya mulai turun dari payudara Parni.

Setelah puas menjilati bagian bawah dari payudara Parni (perut dan sekitarnya), Bonsa mulai memasukkan lidahnya ke liang kemaluan Parni yang sudah banjir.
“Aaugghhh..!” desah Parni ketika lidah Bonsa menjilati dinding kemaluannya.
Tangan Parni meremas susunya sendiri menahan geli dan nikmat, dipelintir-pelintir sendiri puting susunya. Lidah Bonsa ditarik keluar dan digantikan tangannya, langsung masuk tiga jari sekaligus dan mulutnya beraksi lagi di susu Parni.
“Auugghhh… aaaggghh… ugghhh… ugh..!” desah Parni yang bergerak ke kanan ke kiri, menahan nikmat yang luar biasa.

“Aaggghhh… Parni.., mau… keeee.. luar Tuaa.. ann..!” teriak Parni sambil memasukkan tangannya ke liang senggamanya.
Dengan maksud membantu mempercepat keluar karena Bonsa mengetahui Parni mau keluar, tangan Bonsa diganti dengan lidahnya dan tangannya memelintir serta meremas payudara Parni.
“Aaaghhh… Parni… keluu… uarr..! Crooottt… ccrrooottt..!” cairan panas membasahi lagi lidah Bonsa dan langsung Bonsa bersihkan serta menelannya (prinsip Bonsa menelan cairan dari kemaluan wanita adalah dapat membuat awet muda). Parni lemas sekitika, dia hanya meremas pelan buah dadanya, dan Bonsa mengecup bibir Parni.

Kemudian Bonsa bergerak ke Mirna yang sedang berciuman dengan Marni temannya. Kaki Mirna sudah terbuka lebar dan terlihat lubang kemaluannya yang merah menyala, memperlihatkan banjir oleh cairan kental. Tangan Mirna terus meremas-remas payudara Marni dan demikian sebaliknya. Karena sudah terbuka kaki Mirna, maka Bonsa berlutut dan langsung menancapkan lidahnya ke liang milik Mirna.
“Aggghhh..!” desah Mirna saat lidah Bonsa sudah menjilati liangnya dan juga menghisap klitorisnya.
Mirna dan Marni terus berciuman, sedangkan Parni melakukan masturbasi lagi.

Bonsa terus menjilati dan memasukkan tanganya ke kemaluan Mirna, dijilat dan dihisap terus sampai Mirna berhenti berciuman dan mengejang. Tubuhnya bergerak ke kanan dan ke kiri. Tangan Marni meremas susu Mirna, dan mulutnya menjilati susunya yang sebelah lagi, sedangkan tangannya masuk ke kemaluannya sendiri sambil dimaju-mundurkan.
“Aagh… uugghh… saya mau… keluar Tuuu… annn..!” jerit Mirna, dan Bonsa masih terus menjilati dengan cepat dan terus bertambah cepat.
“Ccrrrottt… ccrroott..!” keluar cairan panas membasahi lidah dan wajah Bonsa lagi, dan seperti sebelumnya, dijilati dan ditelan cairan yang keluar dari kemaluan Mirna.

Setelah selesai menjilati kemaluan Mirna, Bonsa menarik tangan Marni dan menyuruhnya berposisi nungging atau doggy style. Dipukul pantat Marni dengan batang kejantanannya dan tangannya meremas susu Marni agar membangkitkan rangsangan lagi. Setelah terlihat merekah lubang kemaluan Marni, batang keperkasaan Bonsa pun langsung ditancapkan ke vagina Marni.
“Aaaggghhh..!” desah Marni saat batang kejantanan Bonsa masuk semua ke lubang senggamanya.
Bonsa pun mulai memompa secara teratur dan stabil, diselingi hentakan-hentakan yang tiba-tiba,”Aaagghhh..!” desah Marni.

Bonsa terus memompa dan sekarang mulai bertambah cepat, karena melihat Marni yang kepalanya mendangak ke atas dan berteriak semakin keras mengucapkan kata-kata kotor.
“Agghhh… Tuan, rudal Tuan ennnakk banget… Saya mau keluar Tuuu.. an..!” teriak Marni yang malah mempercepat sodokan Bonsa ke liang senggamanya.

“Aagh… saya keluu.. arrr..!” tubuh Marni mengejang dan cairan keluar membasahi batang kemaluan Bonsa, terasa panas cairan tersebut.
Dan setelah selesai, Bonsa mencium punggung Marni dan berkata, “Liang kamu juga enak, kapan-kapan layani tuan lagi ya..?”
Marni hanya diam berbaring di rumput dan tangannya meremas susunya sendiri.

Bonsa merangkak ke arah Parni yang duduk dan sedang masturbasi sendiri, sedangkan Mirna sedang menikmati jilatan lidah Marni yang bangun lagi ke kemaluannya. Diacungkan batang keperkasaan Bonsa ke arah Parni dan disuruh memasukkan ke mulutnya. Parni langsung menyambar batang kemaluan tuannya dan mulai menjilati serta memasukkan ke mulutnya.
“Aaggghhh..!” desah Bonsa, “Kamu hebat juga ya kalau ngemut beginian..!” kata Bonsa memuji hisapan pembantunya.
Parni memang ahli, dia menjilat dari ujung sampai ke buah zakar tuannya, kadang dimasukkan semua batang tuannya ke mulutnya dan disedot serta dimaju-mundurkan mulutnya. Setelah puas dengan kepunyaan tuannya, Parni meminta tuannya memasukkan keperkasaannya ke lubang kenikmatannya. Bonsa berbaring di rumput dan menyuruh Parni berada di atasnya. Parni menuntun batang kejantanan tuannya ke liangnya dalam posisi dia duduk di atas tuannya.

“Aggh..!” desah Bonsa dan Parni saat kejantanan Bonsa masuk ke liang Parni.
Bonsa mendorong pinggulnya untuk menekan kemaluannya masuk dan Parni menggoyangkan pinggangnya agar batang tuannya bisa maraba semua bagian dalam vaginanya. Naik turun dan bergoyang memutar Parni untuk mengimbangi sodokan liar tuannya. Tangan Bonsa pun meremas susu Parni yang bergoyang mengikuti gerakan Parni.
“Agghhh.. uuugggkkkhhh..!” desah Parni.

Parni pun terus berteriak mengeluarkan kata-kata kotor dan mendesah ketika dia merasa sudah mau keluar.
“Aaghh… ruuu.. dalll… Tuan.. enak, saya… mau.. keluarr..! Enakkk..!”
Bonsa mempercepat gerakannya dan demikian juga Parni.
“Croottt.. croottt…” keluar cairan panas yang kali ini lebih panas dari milik Marni ke batang kemaluan Bonsa.
“Kamu hebat Parni..” kata Bonsa sambil mengecup susu Parni.
“Aghh.. Tuan juga hebat, kontol Tuan enak..!”

Bonsa menarik Mirna yang menjilati bibir kemaluan Marni dan digantikan Parni. Setelah mengistirahatkan kemaluannya, Bonsa menyuruh Marni menjilati dan menyedot rudalnya agar berdiri kembali. Dan setelah berdiri, maka Bonsa memasukkan batang kejantanannya ke lubang kenikmatan Mirna dalam posisi tiduran (Mirna di bawah dan Bonsa di atas menindih).
“Aggghhh..!” desah Marni saat batang kemaluan tuannya baru masuk setengah.
“Rapet banget lubangmu Mir..!” kata Bonsa ketika agak kesulitan memasukkan seluruh batang kemaluannya.
Dihentakkan dan disodok rudal Bonsa ke pembatunya, dan secara spontan Mirna berteriak merintih kesakitan karena milik tuannya terlalu besar dan dimasukkan secara paksa.

“Aaghhh.. iiighhh..!” teriak Mirna.
Bonsa mendiamkan sebentar rudalnya yang telah masuk ke kemaluan Mirna. Setelah itu mulai dipompa pelan dan semakin lama semakin cepat.
“Aghhh… uugghhh.. koonnn… tooolll Tuaaannn… enakkk..!” teriak Mirna saat sodokan Bonsa mulai tambah cepat dan mulut tuannya menghisap susunya.
Bonsa terus menghisap dan memompa cepat rudalnya, dan Mirna mulai bergerak ke kiri ke kanan dan kemaluannya secara spontan mulai menjepit rudal tuannya yang berada di dalam sarangnya.

“Aaaghhh, sayaaa… keluarrr… uughhh… ughhh..!” Mirna menjerit kencang tidak beraturan karena nafasnya mulai kehabisan menahan kenikmatan sodokan batang rudal tuannya.
Akhirnya, “Crroottt.. ccrrooottt..!” keluarlah cairan panas ke kemaluan Bonsa, dan cairannya sangat banyak hingga keluar mengalir dari liang senggamanya.
“Boleh juga memek kamu dan susu kamu, nanti malam ke kamarku..!” kata Bonsa setelah mengecup bibir kemaluan Mirna yang sudah banjir dan masih mengeluarkan cairan.
“Ah Tuan bisa aja, memang saya hebat..? Nanti malam saya akan jadi pembatu sexxx tuan, dan saya berikan layanan super special dari memek saya ini, Tuan..”

Karena masih berdiri tegak dan masih belum ejakulasi, maka Bonsa menyuruh pembantunya bertiga untuk menghisap dan menjilat kemaluannya sampai mengeluarkan sperma. Marni, Parni dan Mirna berebutan menghisap dan memasukkan batang kemaluan tuannya ke mulut mereka. Bonsa sudah merasa mau keluar dan ditariknya kemaluannya sambil mulai mengocok dengan cepat di hadapan wajah pembantu-pembantunya.
“Aaaghhh..!” desah Bonsa saat dia mengeluarkan beban sex-nya yang ada di alat vitalnya.
Semburan sperma tadi mengenai wajah Mirna, Parni dan Marni. Karena sperma yang dikeluarkan sangat banyak, maka sampai mengalir ke susu mereka bertiga. Bonsa menyuruh Parni membersihkan sisa sperma di batang kejantanannya dengan mulut Parni, sedangkan Parni membersihkan kemaluan tuannya. Yang lainnya menjilati dan menelan sperma yang mengalir dan menempel di mulut, wajah, dan susu mereka masing-masing.

Setelah selesai, Bonsa berkata, “Kalian semua hebat dan terima kasih atas pelayanan kalian. Kalian akan mendapatkan bonusku setiap akhir minggu atau semau kalian atau saya. Dan Mirna, jangan lupa nanti malam..!”
Bonsa berrjalan mengambil pakaiannya dan masuk ke dalam untuk mandi.
“Terimah kasih Tuan telah memuaskan kami, dan kami akan mengambil bonus Tuan.” jawab pembantu Bonsa ketika melihat tuannya masuk ke rumah.
Mereka bertiga saling mencumbu, dan setelah itu masuk dan mandi bertiga.

Demikianlah pengalaman sex Bonsa dan pembantunya yang masih berlangsung sampai sekarang, walaupun Bonsa sekarang sudah mempunyai istri dan dua orang anak laki-laki. Mungkin anak laki-lakinya meneruskan perilaku ayahnya.

TAMAT

daun muda

Filed under: RAMAI-RAMAI, DAUN MUDA

Aku dan Hamzah memang suka pucuk muda………. kami berdua terus memburu gadis-gadis remaja, kerana sikap kami yang tidak menyombong……. kami perolehi dua orang adik angkat yang masih menuntut dalam tingkatan 1. Umur mereka berdua baru mencecah 13 tahun.
Aku dan Hamzah merancang sesuatu…….. Setiap hujung minggu kami membawa Nadia dan Liza bersiar-siar dengan kereta dan bot mewah. Aku dan Hamzah belum membuat sebarang tindakan keatas mereka berdua. Burung sudah di tangan….. buat apa nak gopoh-gopoh. Hubungan kami seperti adik dengan abang. Aku dan Hamzah merancang ingin meniduri dua gadis ini…… bila mendapat peluang yang sesuai nanti. Nadia kulitnya putih bersih….. manakala Liza pula kulit putih kuning……. kedua-duanya sama cantik dan comel. Kami berdua membuat cabutan undi…… aku memilih Nadia sebagai pasanganku………….. manakala Hamzah memilih Liza sebagai pasangannya. Seperti biasa kami belayar dengan bot mewah Hamzah, jika kami ingin meniduri mana-mana gadis. Hamzah banyak menyediakan filem blue untuk kami tonton nanti…….. aku memerhatikan Hamzah yang sedang memainkan filem blue dilayar TV……… leka menonton bersama liza.Aku menarik tangan Nadia…..mengajaknya menonton bersama Liza dan Hamzah.Aku meletakkan tangan aku keatas bahu Nadia sambil meramas-ramasnya perlahan-lahan…… Hamzah pula sedang mencium pipi Liza yang gebu. Hamzah merebahkan badan Liza di atas karpet yang berhadapan dengan kami……. aku dan Nadia melihat Hamzah sedang mengomoli Liza dengan begitu rakus……. Hamzah meramas-ramas puting gunung Liza yang sedang menegang….. sambil mulutnya menjilat leher Liza. Aku membisikkan di telinga Hamzah…….. “kenapa kau nak tiduri Liza…” umurnya baru mencecah 13 tahun.
“Ni yang best ni cukup rangup………” kata Hamzah kepadaku lagi.
Mataku tak berkedip melihat tindakkan Hamzah yang begitu ganas sekali… ke atas tubuh muda itu…. jari jemari tangannya meramas-ramas puting tetek Liza yang masih di tutupi baju T-Shirtnya. Nadia melihat dengan mulut terbuka… kawannya sedang di gomoli oleh Hamzah…… mungkin ia tak menduga sama sekali. Hamzah masih mengulum dan menghisap bibir mongel Liza…… sambil tangannya membuka baju T-Shirt dan seluar jeans Liza. Liza mencengkup kedua belah buah dadanya…. tetapi Hamzah lebih pantas menyembam mukanya ke gunung yang kecil dan pejal. Tangannya meramas-ramas kedua buah gunung kesayangan Liza.
Aku sudah tidak tehan melihat reaksinya…… kedua pelakon itu….. melihat aksi-aksi yang begitu menarik minatku. Aku meramas-ramas buah dada Nadia, sambil aku mengulum bibirnya. “Abang nak pinjam bibir Nadia….. boleh tak…..” aku menduga sambil meramas-ramas buah dadanya yang mengkal. Nadia mengigit bibirnya…. lebih manja bila ia berbuat begitu……. menyerlah lagi lesung pipitnya. Aku naik geram melihatnya…… senjata aku mula mengeras. Aku pasti dari tadi Nadia sudah merasakan sesuatu semasa ia melihat pertunjukkan diantara Hamzah dan Liza. Aku lebih galak dan ghairah…… namun debaran dadaku kencang. Nadia mengigil……… bila aku merebahkannya disamping Liza, lalu ku menindih tubuh Nadia….. sambil itu aku merapatkan bibirku. Nadia cuba mengelak….. aku memegangkan kepalanya sambil merapatkan bibirku kemulutnya, nafasnya mendesah-desah…… aku mengulum bibirnya kembali dan meramas-ramas gunungnya yang pejal. Hamzah sedang leka meramas-ramas buah dada Liza….. sambil tangannya meramas-ramas bukit cicap Liza….. ia mengeliat kiri dan kanan. Hamzah mengalihkan tangannya…… meramas-ramas gunung milik Nadia, sementara mulutnya melumat mulut Liza dengan asuk maksuk. Aku menyedut lagi dari pangkal teliga…. hingga ke leher….. semuanya aku cium dan jilat. Aku semakin berani……..Nadia mengeliat keseronokan, ketika tanganku merayap dan meramas dua buah gunung kecil miliknya.
Ini adalah pengalaman baru bagi Nadia dan Liza…… aku mengulum bibir Nadia….. sambil tangan Hamzah membantuku membuka kutang baju kemeja satu persatu….. hingga tiada seurat benang pun yang menutupi tubuhnya yang masih kecil dan pejal. Putingnya agak kemerahan sesuai dengan tubuhnya. Badan mereka bergerak-gerak……. aku dan Hamzah mengomol mereka dengan ganas……… membuatkan Nadia dan Liza tercungap-cungap merintih kesedapan. Tanpa membuang masa aku dan Hamzah membuat serangan seterusnya, kami menghisap puting dan mengulum lidah pasangan masing-masing. Tanganku dan tangan Hamzah mula merayap turun ke bawah dan menyingkap skirt mereka yang singkat. Sepantas kilat tanganku dan tangan Hamzah mencekup cicap mereka. Kami sama-sama menyembam muka kealur cicap mereka….. lidahku mencari-cari batu permata Nadia, sambil meramas ponggongnya….. begitu juga sebaliknya dengan Hamzah. Bulu nipis memenuhi ruang atas cicap Nadia dan Liza. Nadia dan Liza semakin diawang-awangan…. Aku dan Hamzah bangun serta membuka pakaian serta seluar panjang kami. Kini di hadapan kami dua tubuh gadis kecil……… mencecah usia 13 tahun yang belum kenal erti sex dan persetubuhan diantara lelaki dan perempuan. Dari atas sampai ke bawah sungguh indah…….. Nadia dan Liza terlentang menunggu tindakan seterusnya dari kami berdua. Hamzah meneroka diantara dua alur cicap Liza dengan lidahnya.
Tangan mereka menarik rambut kami “aaaaabbbangggggg………. ahhaahhhh…… oooohhhhohhhhh…… aaaaabbbbbbannggggggg… ggggeellliiiinnyyaaaa……. oohhhhhhfffffhhhhh….. bbbbbbanngggg……” Nadia dan Liza semakin lupa diri. Air mazi mereka banyak melimpah…….. bercampur air liur kami…… membuatkan taman sulit mereka makin licin. Aku mengajukan batang zakarku ke alur Nadia, sambil memegang ponggongnya dan aku tekan….. sementara Hamzah menyuakan batangnya kemulut rahim Liza. “BBBbbbbaannggg…. ttaakkk…. mmaaahhhuuu….. bbaannggggg…… ttttaaakkuutttttt…… jjjjaanngggaaaannnn……. bbbaaannggg….. tttaaakkkuuttt….” kata kedua-dua mereka. Kami tak mempedulikan rayuan Nadia dan Liza, batang kami memerlukannya.
Zakarku dan zakar Hamzah mencecah alur cicap mereka yang sempit… bbbbaaannggg…….. jjjjaannggaannn…… bbbbaanngggg…. NNnnnaaaddiiaaa ddaan nn LLLllizzaaaa ttaakkkk bbbbiiiaaassaaa……. Kami membujuk sambil menekan zakar kami kedalam cicap mereka… cccchhhhhhrrrrrreeeeessssss selaput dara Nadia dan Liza terkoyak. “AAAaaaaaaauuuuuuuuwwwwwwwwwwwww……..” Nadia dan Liza menangis teresak-esak…. menahan kepedihan dan kesakitan. Kami tak peduli kami terus tekan hingga sampai kedasarnya…. dan terus kemulut rahim. Aku kembali mengulum buah dada Nadia sambil meramas-ramas gunungnya yang pejal. Nadia memejamkan matanya kembali……. aku mula dengan acara tarik menarik batangku perlahan-lahan…. sambil mulut Hamzah mengulum bibir Liza sambil meramas teteknya. Kami menyorong tarik lebih dalam…. lubang cicap yang sempit dan nikmat. Bergilir-gilir mengikut rentak masing-masing….. lama kelamaan…. daripada sakit menjadi sedap.
“Ssssseeedddaaaapppp….bbbbaaaannggg……” erang Nadia dan Liza antara dengar dan tidak.
Aku dan Hamzah mengubah kedudukan kami….. kami membuat pertukaran diantara Nadia dan Liza. Aku menungang Liza….. manakala Hamzah menungang Nadia pula. Sungguh menyeronokkan….. bila membuat pertukaran begini. Aku menyerang Liza dengan ganas…… Hamzah menyua zakarnya untuk dikulum oleh Nadia. Jari jemari kami meramas buah dada mereka dengan puas sepuasnya…… dayungan kami semakin laju….. dan laju. Nadia dan Liza termengah-mengah menahan asakan kami yang bertalu-talu……………… Kami mendayung lagi…… sambil mulutku menjilat gunung susu Nadia, sementara Hamzah pula meramas-ramas serta mengulum mulut Liza. “AAaaahhhhhhhh…… Aaaaaaahhhhhhhhhhhh……… bbbbbaaanngggg…. bbbbaaanngggg…. qaaaaahhhhhaahh……. oohohhhhh….. ooooohhhoooooohhhh………. hhhhhoogggggghhhhhhhhh..” mereka tercungap-cungap kelazatan dengan pengalaman baru yang menyeronokkan.
Kami yakin Nadia dan Liza sudah klimaks…… bila kemutan cicap mereka begitu kuat. Dayungan batang zakar kami laju….. dan semakin laju. Kami membenamkan sepenuh perasaan di kolek yang kecil dan baru. Cengkaman cicap mereka begitu kuat…. membuat kami tak tertahan geli….. nikmat. Kami membenamkan batang zakar kami….. serapat-rapat yang boleh…. Hamzah memanjutkan air maninya dalam takungan Nadai, sambil aku memanjutkan air maniku dalam takungan Liza……. kami berpelukan erat sekali……

Ketiadaan Hamzah kerana urusan penting…………….. aku mengambil tugasnya dengan membawa Liza bersiar-siar dengan kami. Aku sudah tempahkan sebuah bilik hotel yang sederhana besar cukup untuk empat orang…………… hanya ada satu katil yang besar. Aku bawa Nadia dan Liza pergi berehat di Hotel tersebut……………… sambil menyedut udara nyaman. Aku memeluk Nadia dan mencium bibirnya dengan lembut………. sambil diperhatikan oleh Liza…………. ia kelihatan tergamam…………. melihat aku dan Nadia berkuluman lidah. Aku merebahkan Nadia diatas tilam empuk……………….. dan aku menelanjangkannya sekali gus saja.
Liza melabuhkan ponggongnya di tilam empuk………………. sambil memerhati perlakuan kami berdua. Kukulum mulut Nadia sambil kumeramas-ramaskan gunung pejalnya yang kecil…………. ku jilat putingnya berulang kali, tanganku meramas-ramas buah dadanya. Aku yakin mereka sungguh tak terduga sama sekali permainanku dengan mereka berdua………………….. aku mengambil tempat disebelah Liza………….. aku rapatkan diriku dan bersentuhan peha kami berdua………….. aku memeluk dan mencium Liza. Pandangan mereka bertembung………… mereka……………. mereka ketawa geli hati. Pipi Liza kucubit mesra……….. tanpa memperdulikan Liza…………. aku memeluk Nadia. Aku terlentangkan Nadia semula, sambil bibirku mengulum bibirnya. Jemari tanganku meramas buah dadanya……….. Nadia cuba meronta-ronta kecil………….. mungkin malu pada Liza yang duduk dihadapannya. Liza tunduk malu………… aku kembali membuat serangan bertubi-tubi…………… Nadia mengeliat keseronokkan. “AAaaahhhhhhh…………bbaanngggggggg…………….ssseeddaapppp bbbbaangggg……..” renggek Nadia manja.
Aku semakin ganas membaham Nadia…………….. kujilat seluruh badannya dan lidahku berhenti di alurnya yang masih sempit. Kumainkan lidahku di batu permatanya……………. sambil jari antuku masukan kedalam cicapnya……….. ia mengeluh keenakan. Lehernya kusedut perlahan-lahan, sambil mengulum bibirnya…………dengan ciuman yang begitu ghairah. Kerana seronok………… Nadia sudah hilang malunya pada Liza………. membuka mulutnya tanpa kupinta……….. kami bergilir mengulum lidah masing-masing.
Aku terasa tangan Nadia cuba membuka seluarku…………. aku membantu membukanya………… Liza berdebar menonton perlakuan kami…………… biarpun begitu Liza sedia menonton perlawanan tanpa pengadil. Aku tak peduli itu semua………. yang penting bagi ialah kenikmatan dan kepuasan. Aku meramas-ramas buah dada Nadia……….. sambil mulutku menjilat-jilat putting susunya yang nampak tegang. Nadia memegang batang zakarku yang besar lagi panjang sambil meramas-ramas dengan penuh nafsu. Lidahku menjilat semahu-mahunya cicap Nadia…………. dia merengek kegelian……………. terangsang. Lama aku menjilat cicapnya…………. aku menukar posisi yang menyeronokan bagi diriku. Aku terlentang dan merebahkan diriku ke bantal………… batangku menegak………. nampak megah kerana ia besar dan panjang. Suaranya manja……… sambil ku menoleh kemuka Liza, dari tadi merenong batang zakarku. Aku memaut leher Nadia mengadap batangku………….. terus menyuakan batangku ke dalam mulutnya……… wajahnya berkerut, mulutnya tidak dapat menerima batangku yang besar lagi panjang. Aku terus menekan batangku masuk kemulutnya………. Nadia mula mengulum zakar dan menjilatnya………. dengan kedua belah tangannya memegang batangku……….. sambil aku menyorong tarik batangku ke dalam mulutnya. Reaksi Liza nampak gelisah……………. matanya kuyu dan masih melekat dibatangku yang di hisap oleh Nadia.
“Liza…………mari sini, aku memanggilnya…” dia terperanjat.
Aku mengerakan badanku mendekatinya……………. sambil mulutku mengulum bibirnya dengan lembut. Jemari tanganku meramas buah dadanya……… sementara Nadia masih mengulum dan menjilat batangku. Aku merebahkan tubuh Liza kebadanku, Liza hanya diam saja biarpun aku meramas-ramas gunung susunya. Nadia masih enak mengulum batangku………… bahkan semakin laju. Aku menjilat leher Liza…………. dia tak keruan. Kedua tanganku meramas-ramas buah dadanya yang montok, sambil mulutku mengulum putingnya.Buah dada Liza yang kecil dan tajam sudah menegang….. aku terus membuka T-Shirtnya, colinya serta skirt dan seluar dalamnya sekali. Jemari tanganku mengusap ponggong Liza yang padat…….. aku merapatkan mulutku dan menjilat bibirnya dengan rakus sekali………. nafasnya mendesah desah tak keruan. Aku bangun sambil Nadia masih menghisap batangku……….. aku baringkan Liza yang tak ada seurat benang pun di tubuhnya.
Aku membaringkan Nadia……….. membuka kelangkangnya luas-luas, mungkin kerana masih malu………. ia memejamkam kedua belah matanya. Aku meramas-ramas buah dadanya. Nadia semakin ghairah………….. batang zakarku menyelinap masuk kedalam cicapnya yang sempit. Aku benamkan terus hingga kedasarnya. Nadia menjadi semakin rakus…….. ponggongnya digoyangkan mengikut rentak dayunganku. Liza menonton dengan pandangan mata yang cukup gairah. Aku terus berdayung dan berdayung dengan laju…………… sambil Nadia meronta menjerit kesedapan dan kelazatan. Batang aku masih bekerja menyorong tarik zakarku ke dalam cicapnya……… setiap kali hentakan yang aku buat Nadia akan menjerit kepuasan “AAAaaauuuwwww…..”. Hampir 1 1/2 jam aku berdayung………… Nadia mencapai klimaksnya. Aku membenamkan batang zakarku hingga kelubuk cicapnya………. senjataku memuntahkan air maniku ke dalam cicap Nadia……… kedua belah kakinya mengejang.
Aku mencabut batang zakarku yang masih menegang………….. ku membuat serangan kepada Liza pula. Anak gadis ini sudah tak tertahan lagi…………. desakan nafsu nalurinya begitu kuat…………. kedua belah gunungnya ku ramas dan ku hisap putingnya. Kawahannya sudah di limpahi air pekat…………… Aku memegang kepala zakarku……….. aku benamkan ke alur cicapnya yang masih sempit. Aku menekan dengan ganasnya zakarku………. hingga terangkat tubuh Liza. Liza terpejam mata menahan kepedihan………. nafas Liza makin sesak. Aku mula bergerak dan menolak batangku sampai ke liang cicapnya, tarik semula keatas…… aku membenamkan semula……………. sementara mengucup bibir Liza dan meramas buah dada Liza…………. Dengan dua pelakon yang sedang mengomol Liza……….. aku sedanag berdayung di cicapnya, manakala Nadia membuat serangan di tenguk,mulut dan meramas-ramas buah dada Liza…………. tiga serangan serentak………… aku membenamkan zakarku hingga kemulut rahimnya.
“AAAAArrrrrrrgggghhhh………..SSSeeeeddaaapppnnyyaaaaa……..bbbaanngggg………” sahut Liza perlahan. Liza merangkul tubuhku dengan kemas…………. aku terus menyorong tarik batang zakarku ke dalam cicapnya……….. Akhirnya aku membenamkan batangku ke dalam cicap Liza. Aku memuntahkan air maniku sebanyak-banyaknya………. matanya terpejam rapat……….. Liza

Bispak Smp

Filed under: RAMAI-RAMAI

Kisah ini terjadi saat aq masih duduk di kelas SMP. Di kelasku ada cewek namanya Susi, anak ini memang terkenal genit. Padahal sebenarnya orangnya biasa2 aja gak terlalu istimewa tapi karena sifatnya yang ramah dan gampangan itu yang membuat dia banyak dikerubutin teman2 cowok termasuk aq. Diantara sekian banyak cowok ada satu yang paling getol dekat2 ma Susi, namanya Rudi. Setiap kali aq melihat Rudi mendekati Susi maka tangannya gk jauh2 dari meraba pantat atau toked Susi.
Pernah suatu ketika saat pelajaran Kesenian, Susi yang duduk sendirian karena teman satu mejanya tidak datang pindah tempat duduk ke tempat Rudi yang memang duduk sendirian dibarisan paling belakang sudut, bersebelahan dengan mejaku.
Mulanya aq gk terlalu pedulian, paling juga si Rudi ngucek2 payudaranya si Susi. Tapi saat aq ngelirik, aq kaget setengah mati. Kontol si Rudi udah keluar dari celananya dan sedang dikocok2 ma Susi! Rudi menyeringai bangga melihat ke arahku. Sementara Susi hanya tersenyum2 genit aja melihat aq yang terpelongo.
Sambil menikmati kocokan Susi tangan kiri Rudi asik meremas2 payudara kanan Susi, untuk menutupi pandangan guru dari depan Rudi sengaja menaruh buku bacaan kesenian di depan Susi dengan cara di dirikan jadi seolah2 mereka berdua sedang membaca buku itu.
Beberapa menit kemudian kulihat peju Rudi menyembur keluar, Susi kemudian mengelap tangannya yg belepotan peju Rudi ke celana Rudi. Meilhat itu aq juga jadi kepingin. Aq segera memberi kode sama Rudi untuk gantian, kamipun berganti posisi.
“Si, aq juga donk..” pintaku setelah duduk di sampingnya,
“Paan?” tanyanya pura2 gk tau. “Kocokin kontol aq” ujarku, Susi mencibir kearahku, “Gak mau” tolaknya. Bangsatnya ni pikirku, gk tau orang dah konak juga. Sementara di meja sebelahku, si Rudi cekikikan melihatku, teman semejaku juga ngintip2 sambil tersenyum2 mupeng. Pasti mintak bagian juga tuh.
Karena udah gk tahan menahan birahi, sambil melihat kedepan pelan2 aq menurunkan resleting celanaku, tapi susah juga ngeluarin si kontol yang udah jegang dari tadi dalam posisi duduk gini. Ku longgarkan sedikit ikat pinggangku dan ku lepaskan kait kancing celanaku baru kurogoh kontolku mengeluarkannya, begitu kontolku keluar dari celana langsung keraih tangan kanan Susi, ku arahkan ke batang kontolku.
“kocokla cepat..” bisikku, tangan Susi yang lembut dan halus kemudian memegang batang kontolku dan mulai mengocok2nya membuat aq tertunduk keenakan.
“enak ya..?” bisik Susi, “anjeng, enak kali” balasku berbisik. Berkali2 aq mengeluarkan nafas keras saat kulit tangan Susi yang lembut menggesek2 kepala kontolku.
Sesekali aq melirik ke arah Rudi dan temanku yg tertawa2 kecil melihat aq lagi dikocokin ma Susi, teman semejaku berkali2 memberi kode mintak giliran yang dibalas dengan Susi leletan lidahnya. Asli mupeng dia, terlebih lagi saat aq dengan sengaja meremas2 payudara Susi sambil melirik mengejek ke temanku itu.
Beberapa menit kemudian pejuku akhirnya muncrat keluar disertai rasa nikmat tiada tara, sebisa mungkin aq menahan untuk tidak mengerang. Kututupi wajahku dengan kedua tanganku menahankan rasa nikmat di kontolku.
Susi mengangkat tangannya menunjukkan jari2 tangannya yang belepotan pejuku, wajahnya menunjukkan ekspresi jijik. Kemudian seperti tadi dia mengelapkan tangannya ke celanaku.
Karena merasa masih ada bau2 pejunya, Susi permisi ke wc. Gk lama teman sebangkuku ikut permisi keluar. Aq kembali pindah ke mejaku sementara Rudi duduk di bangku sebelahku.
Tapi ko lama kali ya..?? “jangan2 mereka maen di wc” terka Rudi. Aq manggut2 mengiyakan. Ampe pergantian jam pelajaran (kira2 15 menit lebih) baru mereka kembali, ku lihat teman aq itu tersenyum bahagia. Sementara Susi kembali ke bangkunya, bukan di tempat Rudi lagi.
Langsung kucecar teman ku dengan pertanyaan2, ngapain aja kalian? Temanku cerita begitu dikamar mandi, dia langsung meluk Susi. Sambil berciuman temanku meremas2 payudara Susi lalu dia meminta Susi untuk menghisap kontolnya, Susi ok-ok aja menghisap kontol temanku itu, lagi pula biasanya kamar mandi pas jam pelajaran masih berlangsung memang tergolong sepi kuadrat.
Eh pas lagi asik2an begitu tiba2 masuk cowok dari kelas sebelah, udah bisa ketebak cowok itupun mintak bagian. Terpaksa Susi ngelayani dua kontol sekaligus. Sepikan bukan berarti gk ada yang datang, beberapa menit kemudian datang dua orang cowok, anak kelas 2. melihat Susi yang lagi jongkok sambil ngisapin kontol kami, mereka pun dengan sabar ngantri mintak disepong juga.
Setelah semua ngecrot baru Susi dan teman aq itu kembali ke kelas. Aq jadi geleng2 mendengar cerita teman aq itu, jontor deh tuh bibir nyepong 4 batang sekaligus…

Lain waktu ada lagi cerita saat aq, Rudi dan Susi tergabung dalam satu tugas kelompok yg diberikan oleh guru bahasa inggris kami. Selain kami bertiga ada empat orang lagi, dua perempuan dua laki2. Jadi totalnya kami bertujuh. Kami memutuskan mengerjakan tugas kelompok tersebut pada hari minggu di rumah Susi.
Jadi begitulah pada hari minggu yang dijanjikan kami berkumpul di rumah Susi, kami mengerjakan tugas itu di ruang tamunya. Mulanya sih biasa2 aja, selain karena ada cewek lain juga karena orang tua Susi masih berada di rumah.
Suasana mulai berubah saat orang tua Susi keluar untuk menghadiri suatu pesta pernikahan, tangan Rudi mulai gatal meraba2 tubuh Susi membuat Susi sibuk menepis tangan jahil Rudi. Jadinya malah gk mengerjakan tugas kelompok lagi tapi mule cerita2 jorok yang membangkitkan gairah.
“Sil udah pernah liat kontol gk?” tanya Rudi ma Silvia salah satu teman cewek dalam kelompok kami. Nih anak emang gk ada otaknya. Silvia yang mendengar pertanyaan Rudi jadi merah padam mukanya, mulutnya langsung melancarkan cacian sama Rudi membuat kami tertawa2.
“gitu aja marah, Sil, Susi aja tenang2 aja klo liat kontol, ya kan Si” Amir ikut2 nimbrung sambil ngelirik genit sama Susi, Susi hanya mencibir menanggapi godaan Amir.
“ngomong2 kontol kelen, macam yg besar aja kontol kelen” Wita kali ini yang angkat bicara, nih anak mang rada berani dibandingin Silvia.
“eh, mo liat ko kontol aq…?” tanyak Rudi semangat sambil berdiri memamerkan celananya yang menggembung di bagian selangkangan. Tingkahnya membuat para cewek2 itu terpekik2 sambil cekikikan, Susi yang tepat berada di samping Rudi tiba2 meninju selangkangan Rudi membuat dia terpekik kesakitan yang disambut gelak tawa kami semua.
Gk sadar udah hampir tiga jam juga kami di rumah Susi, akhirnya kami memutuskan melanjutkan lagi pengerjaan tugas kelompok itu Senin besok. Wita dan Silvia pulang dengan diantar Amir dan Joko sementara aq dan Rudi tetap tinggal. Aq sudah menebak apa yang ada dalam pikiran Rudi, begitu mereka berempat meninggalkan rumah Susi, Rudi langsung melancarkan serangan2nnya.
Entah siapa yang bernafsu duluan keduanya udah bergumul saling peluk dan cium mengabaikan aq yang terbengong2 melihat aktivitas mereka berdua. Dengan ganas tangan Rudi meremas2 payudara Susi sementara tangan Susi meraba2 selangkangan Rudi. Gk mau ketinggalan aq langsung duduk disamping kiri Susi dan ikut2an meremas2 payudara kirinya. Susi melepaskan ciumannya dari Rudi gantian menciumi bibirku yang kubalas dengan penuh nafsu. Aq menggeliat nikmat saat jari2 Susi meremas selangkanganku sementara disamping kanan Susi Rudi memelorotkan celananya sekaligus celana dalamnya hingga kontolnya yang tegang terlihat menjulang.
Rudi segera meraih tangan Susi dan mengarahkannya ke kontolnya, Susi melepaskan ciumannya dariku dan melihat ke arah kontol Rudi kemudian mulai mengocok2nya membuat tubuh Rudi jadi kejang2. Aq ikut2an melepasi celanaku hingga kontolku dengan leluasa tegak dengan gagah.
Aq berdiri disamping Susi sambil meraih kepala Susi dan menariknya ke arah kontolku, mengerti kemauanku Susi langsung membuka mulutnya lebar2 membiarkan batang kontolku masuk ke dalam mulutnya, begitu kontolku masuk langsung dia menghisapnya membuat aq mendesis keenakan.
“kontol! Kau pulak yang duluan di sepong!” maki Rudi, “salah sendiri lah” jawabku penuh kemenangan. Kugerakkan pinggulku seolah2 sedang mengentoti mulut Susi sambil mendesah2 keras memanas2i Rudi sementara Susi makin aktip menghisap2 kontolku.
Panas melihat aq yang disepong Susi, tangan Rudi kelayapan menaikkan rok terusan Susi ke atas hingga pahanya yang mulus terbuka sampai terlihat pangkal paha Susi yang terbalut celana dalam warna pink.
Rudi menggesek2kan telunjuknya ke selangkangan Susi membuat Susi mengeluarkan suara2 mengeram sambil terus menghisap2 kontolku. Celana dalamnya terlihat basah oleh rembesan cairan vaginanya.
“Si buka sempak kau, si Martin mau liat pepek kau” kata Rudi sambil tangannya berusaha memelorotkan celana dalam Susi, Susi agak menaikkan pantatnya agar celana dalamnya dengan mudah dapat dipeloroti Rudi ke bawah.
Mataku tak lepas memandang pepek Susi yang ditumbuhi bulu2 halus, begitu pepek Susi terbuka jari2 Rudi langsung bermain di celah pepek Susi membuat Susi mendengus2 merasakan kenikmatan. Tubuhnya menggeliat2 merasakan gesekan2 jari Rudi di celah pepeknya.
Tanpa sadar aq makin dalam menyodokkan kontolku di dalam mulut Susi, berkali2 Susi mengeluarkan suara tersedak dan berusaha melepaskan kontolku dari dalam mulutnya tapi karena aq telah dikuasai nafsu birahi malah makin kasar menggoyang2kan pinggulku mengentoti mulut Susi sambil tanganku memegang kepala Susi menghindari dia melepaskan kontolku. Susi udah gk lagi menghisap kontolku hanya membiarkan saja kontolku memenuhi rongga mulutnya bergerak leluasa.
“ayo tin terus” ujar Rudi sambil memberi semangat sambil tangannya juga dengan cepat menggesek2 pepek Susi membuat Susi makin keras mengerang2.
“aq mo keluaaarrrr…” jeritku, dengan susah payah Susi menjauhkan kepalanya dari kontolku, tepat saat dia berhasil mengeluarkan kontolku dari dalam mulutnya, maniku muncrat keluar dengan perasaan nikmat tiada tara.
Susi memekik kecil saat maniku menyembur ke wajahnya, aq dengan sengaja mengarahkan ujung kontolku ke wajahnya hingga maniku muncrat di wajah Susi. Maniku yang kental dan berwarna putih itu menempel disekitar wajah Susi.
“martin jahat, maninya ditembakkan ke muka Susi” rungut Susi manja, dengan perasaan lelah aq duduk disamping Susi melihat dengan takjub maniku meleleh di sekitar wajah Susi sebagian menetes ke baju kaosnya.
“memang ni, gk usah kasih lagi Si” Rudi ngompor2in, pasti udah mupeng dia. “dah buka aja Si bajunya, udah kenak mani si martin gitu” ujar Rudi, “alah pengen aja bilang” cibir Susi tapi dia mau juga membuka bajunya.
Kini udah benar2 bugil , kontolku yang semula layu mulai bangkit kembali melihat tubuh telanjang Susi, “kelen juga la buka baju masak aq aja” ujar Susi, tanpa diminta dua kali Rudi segera menanggalkan pakaiannya diikuti oleh aq.
Kini kami bertiga udah bugi, aq dan Rudi segera mencaplok masing2 payudara Susi yang cukup besar itu membuat Susi tertawa geli menerima rangsangan dari kami. Ini pertama kalinya aq menghisap pentil perempuan.
Rudi kemudian merebahkan tubuh Susi di sofa dengan kepalanya berbantalkan pahaku hingga wajahnya tepat di depan kontolku yang mulai tegak lagi. Aq terbengong2 melihat Rudi mengambil posisi di tengah2 pangkal paha Susi, kontolnya yang tegang tepat berada di celah pepek Susi.
“ko mo ngentoti dia??” tanyaku terheran2, “memang kenapa?” tanya Rudi, sementara Susi memandangku dengan ekspresi heran, “nanti dia gk perawan lagi” ujarku lugu. Mereka berdua tertawa geli mendengar ucapanku.
“Martin tenang aja, nantik abis Rudi, Martin boleh ngentoti Susi” ujar Susi sambil menggesek2kan pipinya di batang kontolku. Sementara Rudi kembali melanjutkan maksudnya mengentoti Susi.
Terdengar pekik Susi saat batang kontol Rudi menerobos masuk kedalam pepeknya, entah karena udah dari tadi nahan nafsunya, Rudi dengan cepat menjurus kasar menyodok2kan batang kontolnya di dalam pepek Susi membuat Susi makin memekik2 menahankan serangan2 Rudi.
“enak kali pepek kauuu siii….”ceracau Rudi meningkahi pekikan Susi, sementara aq hanya bisa diam aja menonton mereka berdua ngentot dengan liarnya. Kontolku sekarang udah benar2 ngaceng lagi.
Tubuh Susi terguncang2 seiring hunjaman kontol Rudi di dalam pepeknya, teteknya yang bulat ikut bergoyang2 membuatku jadi gemas meremas2nya.
“Ahhh…..uunnnngghhhh…. pelaaaaaannnn… pelaaaaannnn diiiiiiiiii….”pekik Susi, tapi Rudi nggak merubah tempo genjotannya malah makin cepat menggoyang2kan tubuhnya. Tubuh mereka berdua mulai dibanjiri oleh keringat.
“ungh…ungh…”dengus Rudi, yang dibalas dengan pekikkan terputus2 Susi. Entah berapa lama tiba2 Rudi mencabut kontolnya dari dalam pepek Susi dan mengocok2kan batang kontolnya di depan perut Susi. Gk berapa lama kontolnya memuntahkan mani yang cukup banyak. Maninya muncrat diperut bahkan sampai ke payudara Susi.
“aduh enak kali..” desis Rudi, sementara Susi memejamkan matanya dengan dadanya yang turun naik seolah2 baru saja berlari jauh. Tubuhnya yang mungil terlihat mengkilat oleh keringatnya.
Begitu Rudi bangkit dari tubuh Susi, aq segera menggantikan posisinya. Dengan tidak sabar menusukkan batang kontolku ke celah pepek Susi tanpa memperdulikan mani Rudi di tubuh Susi.
Tapi berkali2 kutusukkan ko gk masuk2 ya??? Ini memang pertama kalinya aq mengentot dengan perempuan. Sadar ketidak tahuanku, sambil memegang batang kontolku dia mengarahkan arah tusukanku, “dibawah sini” bisiknya masih dengan nafas yang tersengal2.
Lobang pepknya mengalirkan cairan lendir yang membuat permukaan pepeknya terasa licin. Aq terpejam nikmat merasakan pertama kali kontolku masuk ke lobang pepek perempuan, aq berusaha mengocokkan batang kontolku di pepeknya tapi berkali2 kontolku keluar lagi dari pepek Susi. Melihat itu Rudi jadi tertawa2, “jangan panjang2 ko nareknya bodoh” ujar Rudi.
“baru pertama ya tin?” Susi ikut2an bersuara membuat jadi panas. Setelah agak lama akhirnya terbiasa juga aq menyodok2kan kontolku di dalam pepek Susi. Beda dengan Rudi dengan ku Susi hanya mengeluarkan suara mendesah2 kecil aja.
Walau tadi baru mengeluarkan tapi karena ini sensasi pertama ku mengentoti cewek, gk lama kurasakan maniku akan muncrat. Aq makin mempercepat goyanganku, berkali2 kontolku keluar dari pepek Susi tapi dengan cepat ku masukkan lagi dan ku kocok lagi.
“Tin klo mo nembak jangan di dalam” ujar Rudi mengingatkan, tubuh Susi sendiri terlihat makin kaku. Akhirnya dengan perasaan nikmat tiada tara kontolku untuk kedua kalinya mengeluarkan spermanya. Kalo ini di dalam pepek Susi, tubuh ku mengejang2 kaku mendapatkan orgasme kedua ku. Susi langsung terpekik kaget menyadari aq menembak di dalam vaginanya.
“wei kontol, jangan ko tembak didalamnya!” maki Rudi, tapi aq yang lagi dilanda kenikmatan gk peduli sama sekali. Aq makin menekankn dalam2 batang kontolku di dalam pepek Susi sementara tubuh Susi yang terhimpit tubuhku ikut mengejang. Kepalanya menggeleng2 kiri dan kanan, kurasakan daging otot pepek Susi mencengkram erat batang kontolku.
Ku rasa pepek Susi makin penuh dan sempit, oleh maniku, lendirnya juga karena kontraksi otot pepeknya.
Lima menit kemudian kami uda berpakaian kembali, sementara Susi ke kamar mandi. Baru kemudian kami berpamitan pulang. Selama sebulan aq cemas2 Susi akan hamil, apalagi tiap hari Rudi menakut2iku kalo Susi hamil dan mintak pertanggung jawabanku. Tapi ternyata apa yg ku khawatirkan tidak benar2 terjadi.

aku istri dan temanku

Filed under: RAMAI-RAMAI

Sebenarnya aku sudah kl 10 tahun berumah tangga dan kehidupan kami baik2 saja. Aku sendiri berusia 10 th lebih tua dr pd istriku yg saat ini berusia 30 th dan sudah beranak seorang berusia 7 th. Walaupun sudah beranak,tetapi istriku tetap mempunyai wajah yg cantik dan bentuk tubuh yg indah sebab sering senam dan merawat wajah, rambut ke salon dan juga karena anaknya dulu minum susu kaleng sehingga bentuk buah dadanya yg besar itu tetap indah dan masih kencang serta kenyal. Juga lubang memeknya saat habis melahirkan langsung dijahit sehingga lubangnya kembali seperti saat masih perawan. Jadi hubungan sex kami tetap indah. Suatu hari ditahun 1995, kami diajak sebelah tetangga untuk nonton blue film karena baru beli laser disc. Kami dan suami istri tetangga nonton film itu yg cukup seram karena ada seorang wanita bule disetubuhi oleh dua orang Negro, mereka bergantian memasukan kontolnya yg seorang kememeknya dan yg seorang kemulutnya utk diisap. Melihat adegan itu rupanya istriku jadi naik birahinya sehingga memegang tanganku erat2 dan berbisik :”Waah rupanya enak sekaligus lubang atas dan bawah kemasukkan penis” Kutanya pelan2:”Apakah kamu kepingin adegan begitu?”. Istriku dgn malu2 menganggukkan kepalanya. Setelah selesai memutar laser disc. kami segera pulang dan karena nafsu berahi kami sudah memuncak segera kami puaskan dgn bersetubuh malam itu. Sambil bersetubuh,aku ulangi tanya lagi pdnya: Mi, apakah kamu kepingin disetubuhi sekaligus dgn dua laki2?”. Istriku memandangiku sambil malu2 manggut2 kepalanya. Kutanya lagi:”Kalau lakinya dua, satunya kamu igin dgn siapa?”. Istriku menjawab:”Terserah sama papi aja”. Aku teringat punya dua teman baik sejak sekolah di SMA, yaitu Lud seorang anak turunan Ambon dgn Belanda dan Tono seorang Cina seperti kami. Lalu kutanya lagi:”Kalau Lud atau Tono mau ?”. Dia menggangguk juga. Lalu kujelaskan lagi:”Mami senang yg kontolnya besar, lebih besr dr aku punya atau yg kira2 sama?”
Istriku menjawab:”Enak yg besar saja,spt difilm tadi”. “Oh kalau gitu ya si Lud saja sebab dia punya panjang dan besar”. Memang kita dulu pernah mandi sama2 bertiga saat masih sekolah ternyata Lud punya kontol dlm keadaan mati saja besar dan panjang hanya warnanya agak hitam lalu bulu jembutnya juga banyak sampai nyambung kebawah pusar juga dadanya penuh dgn bulu maklum orang Ambon. Besok paginya segera kuinterlokal Lud yg ada di Jkt dan kuceritakan maksudku, ternyata Lud menyambut dgn antusias dan sanggup datang besok sore sebab hari Sabtu kantor di jkt tutup.Aku kemudian booking motel yg terdiri dr 2 kamar dan sebuah ruang tamu/TV. Hari Sabtu sore aku menjemput Lud diairport bersama istriku,setelah meitipkan anaknya pd pembantunya.Istriku sudah siap membawa tas dgn membawa perlengkapan baju tidur segala saat itu istriku memakai rok panjang warna coklat tapi bagian atas terbuka sampai dada hanya memekai ban tipis (modelnya Juni Sara) dgn bagian bawah ada belahananya agak tinggi didepannya sehingga kalau jalan atau duduk pahanya terlihat putih menggairahkan.Juga bagian atasnya terlihat sedikit belahan buah dadanya, karena istriku hanya memakai bra strepples tanpa tali, sehingga diairpot banyak mata laki2 curi pandang lihat belahan buah dadanya istriku, apalagi kalau tangannya didekapkan dibawah buah dadanya maka buah dadanya makin menyembul keatas. Makin syuur... Tepat pk. 17.15 pesawat Merpati dr Jkt mendarat, dr penumpang yg turun kulihat Lud menuruni tangga pesawat dgn menenteng tas kecil. Dia memakai T shirt dan celana jeans. Setelah keluar pintu airport segera kuslami dia, dia me-nepuk2 bahuku dan berkata:”Waah, nanti malam kita betul2 kenirwana” dgn logat Ambonnya. Kemudian dia memeluk istriku sambil mencium pipi kiri & kanan yg mulus dan putih dr istriku. “Apa kabar Hwa?” tanyanya pd istriku. Dia kalau panggil istriku dgn Hwa. Kita berjalan menuju parkir dan naik mobil, utk sementara dia duduk belakang sendirian dulu sambil kita cari makan. Istriku usul makan sate kambing saja biar hot katanya. Dan usul itu kita setuju semua. Saat makan sate kambing, istriku dan akau duduk bersebelahan dan Lud duduk depan istriku. Tak beda dgn laki2 lain, Kud juga memandangi terus bagian dada istriku, apalagi istriku tangannya didekapkan terus kedadanya hingga menopang buah dadanya yg montok itu menjadi mencuat keatas sehingga membuat panas dingin laki2 yg matanya melihat.Selesai makan kita naik mobil langsung menuju motel diatas Candi, kali ini aku dijadikan sopir sebab Lud minta agar Hwa menemaninya duduk dibelakang.
Baru semenit mobil berjalan dan karena suasana dibelakang sepi, maka coba lihat dr kaca spion, ee.eeeh ternyata tangan kanannya Lud sudah melingkar dileher istriku dan ujung jari2-nya meng-usap2 dada serta bagian atas buah dada sebelah kanan istriku yg terbuka itu sambil mulutnya terus menciumi pipi, telinga dan leher istriku.Tangan kirinya meng-raba2 paha kiri istriku yg terbuka karena rok belahannya sedang tangan kiri istriku menumpang dipaha serta me-mijit2 paha kanan Lud dgn wajah malu2 serta mesem2 terus. Aku jadi tersirap naik nafsuku lihat pandangan itu. Terdengar Lud berkata:” Hwa, kamu jauh berbeda dgn istriku yg kerempeng itu sedang kamu betul2 padat berisi, sebenarnya sudah lama aku ingin menikmati tubuhmu tapi akut ngomong sama suamimu, ternyata ada tawaran yg mengagetkan aku untuk ikut menikmati tubuhmu. Yaaah spt ada petir disiang hari bolong rasanya!” Mendengar ucapan itu aku lihat lagi kekaca spion, aku lihat Lud dgn gemas dan mesra memeluk erat2 dan mengecup bibir istriku serta kadang2 tangan kirinya me-raba2 buah dada dan turun kepinggang sampai kepaha istriku yg terbuka itu.Karena siyuasi lalu lintas ramai aku terpaksa konsentrasi kejalan lagi, hanya sebentar2 curi pandang lewat spion. Suatu saat aku buah dada istriku sebelah kanan bisa ber-gerak2 naik turun setelah aku menoleh kebelakang ternyata tangan kanannya temanku melingkar dipunggungnya istriku dan me-mijit2 buah dada kanan istriku naik turun. Setelah sampai motel kita segera check in, temanku sbg tamu kuberi kamar yg besar dgn twinbed sekaligus utk tempat bermain sex ria nanti. Baru saja aku selesai dr kamar kecil menuju ruang tv yg bersebelahan dgn kamarnya Lud yg masih terbuka pintunya, aku lihat Lud memeluk istriku dari belakang menghadap kaca rias sambil tangannya me-remas2 buah dada istriku sehingga kedua pentil buah dadanya yg coklat ke-merah2-an itu menyembul keluar sambil menciumi pipi istriku yg wajahnya menengadah kewajahnya Lud. Tangannya lud yg kanan kadang2 terus meraba turun keperut dan terus turun utk disusupkan kebelahan atas dr roknya istriku utk meraba pangkal paha serta memeknya istriku. Tampak istriku mulai mendesis kenikmatan serta menggeliat dgn tangan kanannya coba memijit kontolnya yg masih pakai jeans itu. Adegan ini masih berlangsung beberapa saat walaupun mereka tahu aku didekatnya. Ketika aku tanya pd istriku:” Mi, enak ya permainnya Lud?” Istriku menjawab:” Waaah, aku nggak tahan lagi pie, habis sejak dlm mobil tadi Lud terus mempermainkan dan meremas buah dadaku terus” Memang istriku kalau buah dadanya sudah dipermainkan lalu nafsunya meroket naik, mungkin ciri khas wanita2 yg punya buah dada besar. Karena Lud mau mandi dulu, maka aku dan istriku yg sudah mandi dr rumah duduk disofa menonton tv dulu.

Istriku berkata pdku:”Waaah pi, pertama aku dirangkul dan diciumi oleh Lud badanku rasanya mrinding dan panas dingin. Habis bulunya tangan dan kumisnya begitu geli rasanya waktu menggesek tubuh dan pipiku” “Tapi mami bisa nafsu ya dgn Lud?” tanyaku. Istriku dgn malu manggut2. Lalu dia bilang lagi:”Kalau nanti malam papi tidur sendirian bagaimana? Sebab katanya aku akan diajak tidur dgnnya semalam”. “Nggak apa2, yg penting mami bisa keturutan mendapat kepuaan” jawabku. memang entah kenapa perasaanku saat melihat Lud memeluk dan me-remas buah dada istriku aku tidak cemburu bahkan nafsuku menjadi berkobar, apa mungkin aku punya kelainan sex pikir dlm hatiku.
“Tadi Lud bilang kalau nanti malam air maninya akan di-semprotkan terus keseluruh tubuhku dan memekku smapai habis. Dan lendir santanku akan dikuras sampai kering dgn kontolnya dia” kata istriku. Aku pesan pd istriku agar satu hal yg jangan dilakukan adalah minum air maninya Lud walaupun nanti kalau nyemprot saat diisap. Jadi hrs diludahkan. Beberapa saat Lud selesai mandi dan dia keluar hanya pakai celana santai yg pendek sehingga dadanya yg penuh bulu telihat. “Cek..cek…cek”suara istriku sambil geleng2 kepala. Setelah menggantung handuknya dia ikut duduk dikursi sebelah sofa. Lud panggil pelayan utk pesan minuman dan makanan kecil, dia sendiri pesan wisky karena aku tak suka. Dia bilang :”Waaah ini untuk menikmati tubuh yg indah dari istrinya teman baikku, aku haru bersiap supaya benar2 bisa memberikan kenikmatan yg diharapkan.” Dia tanya pdku:”Kapan An kamu penghabisan main?”. “Oh, sudah seminggu lebih sejak istriku mens sebab kalau mens dia sampai 4 – 5 hari” sahutku. Dia lalu berkata:” Waaah betulan sekali nih, sebab sekarang pasti air santannya hwa lagi kental2nya dan banyak nanti aku yg akan menghabiskannya. Dan kebetulan juga tglnya tidak pas saat subur, nanti aku bisa semprotkan maniku sampai kedlm mulut rahimnya Hwa”. Istriku bilang:”Ach, kamu porno ngomongnya Lud”. Pelayan datang dgn membawa pesanannya Lud, lalu kita semua bersama makan mete goreng sambil minum air jeruk kecuali Lud minum wisky. Beberapa saat kemudian Lud tanya pd istriku:”Hwa, apakah kamu tak bawa pakaian tidur?, tapi kalau tak bawa ya tak apa2 sebab nanti malam kan tak ada pakaian yg boleh menempel ditubuhmu sebab akan kuselimuti dgn tubuhku”. “Macam2 kamu”sahut istriku. Lalu istriku masuk kekamar utk ganti pakaian dan sikat gigi, juga aku masuk kamar utk lepas pakaian dan hanya pakai CD saja. Sebentar istriku sudah selesai dan keluar dgn mengenakan pakaian tidur dr bahan tipis warna pink hingga terlihat CD mininya warna merah juga bra nya yg mini juga dari renda warna merah juga. Lihat istriku keluar dgn pakaian yg senssual sekali, Lud geleng2 dan bilang:”Waaah aku bisa langsung ngaceng lho” sambil pegang2 kontolnya. Lalu istriku duduk disofa sebelahku dan tangannya Lud ditarik juga utk diajak duduk disofa juga. Sekarang istriku diapit sebelah kiri aku dan kanan oleh Lud. Tangan istriku dipegang Lud dan digosokkan kebulunya dibawah pusar sampai nyambung kejembutnya.”Wuuuiiihhh…cek…cek…cek” gumam istriku sambil menarik tangannya. Sambil nonton TV tanganku dan tangannya Lud mulai bekerja. Lud menciumi pipi, telinga dan lehernya istriku sehingga kepalanya disandarkan kebahunya Lud dan menegadah utk terus menerima ciuman2 disertai permainan lidahnya Lud dan tangan kanannya terus mulai meraba dan meremas buah dada sebelah kanan dan naik turun kepahanya istriku. Aku sendiri segera melepas kancing atas baju tidurnya dan kurogoh buah dadanya sebelah kiri utk segera kuisap pentilnya serta tangan kiriku meraba paha kirinya dan memeknya bergantian dgn tangannya Lud. Istriku tak tahan terus menggeliat2 sambil tangan kirinya me-mijit kontolku dan tangan kanannya merogoh kedlm celana santai nya Lud utk memegang kontolnya. Adegan ini tak berlangsung lama hanya sekitar 5 menit, karena istriku tak tahan dan minta langsung ditancap dgn kontol memeknya. Lalu kita sama2 masuk kamar, aku lepas CD ku dan ternyata Lud hanya pakai celana santai saja tanpa CD sebab begitu dilorot celanya langsung nampak kontolnya . Walaupun belum hidup kontolnya cukup panjang kira2 ada 15 cm dan besar sekali dan kepalanya sudah nongol keluar karena dia disunat, tetapi kantong pelirnya agak kecil. Aku punya panjang dan besarnya hanya kira2 65 % nya saja. Istriku juga sudah bugil benar2 lalu dia ditarik Lud kehadapannya dan tubuhnya agak dirapatkan ketubuhnya istriku jadi buah dadanya istriku yg menempel agak ketat dgn dadanya yg penuh bulu. Lalu Lud berpegang pd kedua lengan Hwa dan badannya di-geser2kan naik turun, kekiri dan kanan sehinnga bulunya menggesek keseluruh tubuh depan Hwa juga jembutnya kulihat sempat menggesek memeknya istriku, hingga istriku kenikmatan sambil memejamkan mata. Aku jadi syuur melihatnya.”Addduuuh Lud, gila bener gesekan bulu atas bawahmu itu, tak tahan memek dan buah dadaku kena gesekannya” kata istriku. Selesai itu lalu Lud tidur dan istriku diminta menungging agak dibawahnya sehingga mulutnya pas depan kontolnya dan aku diminta mengerjakan memeknya dgn kontolku . Saat menungging kelihatan buah dadanya istriku menggantung bebas dan langsung saja ditangkap dgn kedua tangannya Lud dan terus di-remas2. Istriku tanpa komando langsung mencaplok kontolnya Lud yg mulai agak ngaceng dan mempermainkannya dgn mulut dan lidahnya. Lubang kontolnya di-buka2 dgn ujung lidahnya dan kadang2 dikocok naik turun dgn mulutnya sehingga Lud mengerang nikmat. Aku sendiri langsung ngaceng keras dan terus kuhujamkan maju mundur kememeknya. Mendapat dua kontol yg sekaligus mengisi lubang atas dan bawah apalagi yg satu gede buanget istriku tampak bernafsu sekali, nafasnya kelihat terus memburu sedang memeknya mulai keluar santannya dan kental sekali. Kulihat istriku kadang2 tak mengisap kontolnya Lud tapi memmepetkan buah dadanya kekontolnya Lud dan ditaruhnya dibelahan buah dadanya dan digosok2 dgn buah dadanya. Melihat itu lalu kupegang pantatnya istriku dan langsung kugoyangkan maju mundur sehingga sekaligus buahdadanya bisa menggosok2 kontolnya Lud dan memeknya mengocok kontolku. Praktis kami laki berdua diam hanya dgn goyangan pd pantatnya sudah sudah membuat nikamt kontol dua laki2 dan kulihat memeknya makin banyak dgn santan kental yg berwarna putih spt susu. Aku bilang:”Waduuuh Lud, santannya Hwa muali keluar dan kental sekali Lud”. Langsung dia bilang :”Aku juga ngaceng banget kontolku di-sedot2 dan dipermainkan lubangnya oleh Hwa, ayo kita ganti posisi”. Temanku usul supaya istriku jangan capai sebab masih terus akan dikerjakan semalam suntuk, maka istriku disuruh yg tidur tapi pantatnya diujung bawah kasur hingga kakikanya bisa menapak kelantai. Temanku nanti akan menancapkan memeknya dr bawah sambil memegang dan mementangkan kakinya istriku.Dan aku yg bertugas mengisi mulut atas dgn kontolku dgn jongkok tepat diatas buah dadanya sehingga kontolku tepat dihadapan mulutnya.
Kontolku juga langsung dicaplok oleh Hwa yg sudah memuncak nafsunya,baru beberapa saat Hwa melepas kontolku dan mengaduh :”Aaaachhh….Lud!” Aku melongok kebelakang ternyata Lud masih sibuk mau memasukkan kontolnya sebab belum bisa masuk, yaaah karena kelewat besar bendolan kepala kontolnya saat ngaceng banget itu kira2 ada 5 cm diameternya.”Sulit banget An masuknya coba kuberi minyak sedikit dulu” katanya.”Masak toch padahal sudah kemasukan kontolku dan sudah ada santannya lho” sahutku. Lalu temanku ambil batol kecil isi minyak dan diolesnya kepala kontolnya dgn minyak lalu dia mengambil semacam longsong dr karet dgn bagian dinding luarnya penuh bulu dr karet kira2 panjangnya 1 c. Longsong itu lebarnya kira2 10 cm. Kemudian dipakaikan kekontolnya hingga batang kontolnya sebagian tertutup dgn longsong berbulu itu.”Ini supaya Hwa mendapat kenikmata yg lebih hebat. Mau coba ya Hwa?” katanya sambil ditunjukkan ke istriku kontolnya yg sudah gede dan panjang lagi item itu dilonsongi dgn gelang karet putih berbulu itu sehingga benar2 menakjubkan kelihatannya.Istriku bilang:”Waaaah kaya apa rasanya nanti Lud, aku belum bisa membayangkan. Tapi pokoknya habisi ya Lud air mani dan santanku!”. “Oke” sahutnya. Lalu Lud mengangkat dan mementang lagi kaki istriku dan ujung kontolnya ditempelkan tepat dilubang memek istriku yg mulai mengganga itu dan disentakkan kedalam.”Aaaaaaacch ….Lud, masuk Lud kontolmu”kata istriku. memang kepala kontolnya Lud sudah masuk lalu di-goyang2-kan keluar masuk pelan2 kepala kontolnya supaya agak terbiasa. “Waduh Lud,Pi, rasanya seret sekali bibir memekku bisa meraskan bentuk kontolmu Lud” kata istriku sambil matanya terpejam dan menggigit bibir. Setelah itu baru dimasukkan seluruh batang kontolnya yg tertutup gelang bulu itu pelan2. Setealah terbenam semuanya, istriku mendesis lagi:”Aduh Pi, kontolnya Lud mentok sampai dlm kepalanya rasanya menyodok mulut rahimku. Enakaaaknya luar biasa dan gelinya juga hebat kena gelang bulu itu. Dgn kontol tetap terbenam penuh Lud mulai menggoyangkan pantatnya naik-turun bergantian dgn kiri-kanan, sehingga kontalnya menyapu seluruh dinding memek istriku. Tangan istriku mulai meremas kain sprei dan minta kontolku utk diisapnya. Kontolku juga dipermainkan dgn lidah, lubangnya di-buka2 dgn lidah enaknya luar biasa. Aku sambil melihat kebelakang, kulihat kontolnya Lud mulai digoyangkan keluar masuk sehingga bulu karetnya menyentuh clitnya juga dan terlihat bulunya banyak santan istriku yg nempel.Setelah gampang masuk keluar kontolnya, maka kaki istriku disuruh membuka dgn telapak kakinya manjat dipinggir kasur sehingga tangannya Lud langsung meremas buah dada yg ada dibawah pantatku. Baru 3 menit jalan adegan ini, istriku sudah mengaduh:” Aaah..aaah, aku mau klimaks, Lud,Pi!”. Benar2 juga sekejap lagi istriku tampak lemas sehingga mengisapnya kendor dan Lud berkata:”Gila An, pijitan memek istrimu kuat sekali dikontolku”. Memang kalau klimaks istriku memekny memijit kontol kuat dan enak rasanya. Setelah agak kuat, istriku bilang:”Pi,Lud tolong semprotkan semua manimu ya, aku sudah pengin hangatnya manimu sekalian” Aku tanya pd istriku:”Mi, gimana mami nikmat dan puas keinginan mami utk merasakan 2 kontol sekaligus terlaksana?”. “Ya pi, mami puas banget dan memang enaknya dan grengnya luar biasa sekaligus melihat, memegang dan menikmati 2 kontol, apalgai ada yg gede2. Mamie jadi kepingin terus” sahutnya. Lalu Lud sudah mulai menggenjot lagi memek Hwa dgn kontolnya dan kontolku diisap lagi sambil dibantu dikocok dgn tangan. Setelah 5 menit lagi, istriku mencapai klimaks lagi. Lalu temanku bilang:”Ayo An, sekarang kita puaskan Hwa dgn semprotan mani secara berbarengan”
Lud mulai menggerakan lagi keluar masuk dan kadang memutar sehingga istriku sering menggelinjang tubuhnya dan kontolku mulai diisap lagi sambil kadang2 dikocok dgn tangan, sedang buah dada istriku tetap menjadi bagian dr tangannya Lud yg tak bosan2 meremas-remasnya. Makin lama Lud makin cepat dan makin keras menghunjamkan kontolnya ke memeknya Hwa dan mulai men-dengus2 spt sapi. Melihat itu akan jadi memuncak nafsuku dgn kontol terus dikocok oleh istriku maka air maniku tak tertahan lagi….creet….creet….cret maniku nyemprot masuk kemulutnya istriku. Karena seminggu tak bersetubuh maka maniku banyak serta kental juga sehingga mulut istriku penuh dgn mani yg putih spt cendol itu. Lalu kontolku kukeluarkan dr mulutnya dan mani yg masih menetes dr lubang kontolku ku geser2 kan kebibirnya istriku dan langsung ditelan semua maniku baru saja habis menelan maniku terdengar suara mengaduh dr temanku:”UUUUuuuuh…….uuuuuhhh……uuuuuhhhh” sambil menekankan kuat2 kontolnya yg terbenam itu kememek istriku. Dan tiap kali Lud mengaduh istrikupun ikut mengaduh:”Aaah Lud…aaaahh Lud…aaah Lud”. Jadi rupanya tiap kali semprotan maninya Lud terasa sekali nikmatnya oleh istriku. Aku lalu rebah tidur sebelah istriku dan temanku juga langsang rebah menindihi tubuh istriku. Walaupun dgn napas yg masih memburu tanganya temanku tetap masih meremas buah dada nya Hwa. Kemudian tubuhnya Lud dipeluk erat oleh istruku dan kakinya pun dilipatkan erat2 kepantatnya Lud dgn maksud agar kontolnya jangan buru2 dicabut dr memeknya.Kira2 sampai 5 menit kita bertiga terdiam tanpa kata2 hanya dgn napas ter-sengal2, baru kemudian aku turun menuju kamar mandi utk cuci dan ternyata Lud dgn merangkul istriku juga ikut kekamar mandi utk cuci bersama. Utk mencuci kontol2 istriku yg bertugas karena kepunyaan Lud yg banyak berlepotan santan dan mani nya istriku naka kontolnya dia yg dicuci dulu. Kulihat dr memeknya Hwa meleleh sedikit mani yg keluar kepahanya dan kulihat bibir memeknya memerah. Istriku bilang:” Ya pi bibir memeku merah ?. Itu gara2 kontolnya temanmu itu toch yg seretnya bukan main mulai dr bibir memek sampai dinding dlm memek seret terus, sehingga memekku bisa meraskan lekuk2 kontolnya Lud”. “Tapi enak dan nikmat toch sayan ?” balas Lud. Istriku tertawa tanda setuju, sambil terus mencuci kontolnya Lud dan kemudian kontolku. Setelah itu giliran istriku memeknya mau dicuci oleh tamanku, istriku duduk dicloset dgn kaki terbuka lebar kemudian memeknya dicuci dan jari tengahnya dimasukkan pelan2 utk mengambil mani yg menempel didlm dan ternyata ada sedikit dan ditunjukkan keistriku. Istriku bilang:” Wah pi,maninya Lud ngendon dlm memekku nih sebab tadi semprotannya banyak dan sampai tiga kali tapi yg keluar sedikit sekali. Mungkin masuk kerahim sebab dlm perutku masih terasa hangat dan saat nyemprot ujung lobangnya benar2 disodokkan sampai rasanya masuk lubang rahimku. Gimana ya pi?”. “Biarin saja lama2 kan keluar sendiri, sekarang dikeluarkan percuma nanti malam kamu kan masih akan disemprot lagi”. “Bukan malam ini saja mungkin sampai besok pagi akan kusemprotkan sampai habis maniku kememekmu” sahut Lud. Istriku menjawab:”Betul Lud, kamu biar kembali kerumah dgn tempat yg kosong jadi manimu 2 hari ini harus dihabiskan sampai tuntas”. Setelah selesai cuci, kita bertiga dgn berbugil ria duduk disofa sambil makan mete nonton TV. Temanku berkata:”An kamu beruntung sekali punya istri dia, walaupun sudah setengah baya dan punya anak tapi buah dadanya masih berdiri menantang tidak jatuh, juga perut dan pahanya mulus sekali tidak keriput, siapa yg tak ngaceng terus lihat tubuh seindah ini. Apalagi isapannya juga yahut, kalau jadi istriku tiap hari bisa kusetubuhi minimum 2 kali! Istriku berbisik pdku:”Sudah kesampaian keinginanku utk melayani nafsu birahi 2 laki2 sekaligus dan ternyata memang tambah besar nafsunya serta nikmatnyapun tambah. Oya pi, malam ini aku tak tidur dgn Lud ya, aku akan melayani Lud utk menyalurkan nafsu sexnya sepuas puasnya supaya tak kecewa kalau balik ke Jkt” Aku jawab:” Boleh saja, Lud malam ini Hwa biar melayani kamu supaya kamu bisa melampiaskan semua nafsu binatangmu padanya”. “memang sejak aku makan disate kambing, aku sudahminta spy dia malam ini dan besok pagi melayani nafsu binatangku” kata Lud.
Kemudian istriku minta tiduran, kepalanya dipangkuan Lud sedang pahanya dipangkuanku sambil tangannya me-megang2 kontolnya Lud digosokan kepipinya dan diciuminya. Tangannya Lud diletakan dibuah dadanya istriku sambil mengusap, meremas dan kadang menunduk utk mengecup bibir istriku. Dia kalau mengecup sampai lama hingga istriku sampai sulit bernapas dan minta dilepas kecupannya. Sedang bagianku adalah mempermainkan clitnya dan memasukkan jari tengah ku kedlm lubangnya dan kontolku sambil di-gesek2 dgn betisnya. Lud kadang2 memeluk tubuh istriku dan kemudian menciumi pipi dan mengecup kening dan bibirnya istriku dan tangannya istrikupun meng-usap2 dadanya yg berbulu itu. Kemudian Lud berkata padaku:”An, sebenarnya aku sudah lama tiap kali bertemu dgn Hwa, aku kepingin menikmati tubuhnya dan malam jadi kenyataan. Untuk itu malam ini istrimu kupinjam utk menemani tidur sebab aku akan melampiaskan seluruh nafsu binatangku oada Hwa dan kontolku akan kusimpan dlm memeknya sepanjang malam. Aku akan memberikan kenikmatan dan kepuasan yang tak terkira pd Hwa “. ” Boleh Lud, malam ini istriku biar melayanimu agar kamu benar2 puas” sahutku. “Tapi kalau nanti malam papi butuh ya papi ikur masuk saja sebab mami tetap akan melayani papi juga malam ini, utk itu nanti pintu kamarnya biar terbuka saja jadi papi dpt lihat dan dpt masuk ikut juga” kata istriku. Setelah itu Lud tanya pd istriku:”Apakah kamu sudah fit lagi utk main?”. Istriku menjawab:”Aku selalu siap setiap saat utk melayani mu dan papie. Malam ini aku benar2 sehat makin mendapat semprotan mani makin sehat rasanya, sebab manimu tadi yg keluar hanya sedikit lainnya masih berada didlm rasanya masih hangat didlm perutku, Lud”. Setelah itu Lud berdiri sambil membopong istriku dibawa masuk kekamar dan ditidurkannya. Lud memanggilku utk menemani istriku dulu karena dia akan ketoilet dulu, kesempatan itu aku pakai utk mencium dan mengecup bibirnya dan mengulangi pesanku:”Mi jangan lupa kalau maninya lUd disemprotkan kedlm mulut hati2 jangan sampai tertelan dan jangan mau kalau kontolnya dimasukkan kdlm lubang anusmu !”. “Iya pi, akan aku ingat terus pesan papie” sahut istriku. “Selamat menikmati kontolnya Lud yg gede ya mi, nanti papi dikasih ceritanya ya” kataku saat itu Lud sudah balik masuk kamar dsn aku duduk lagi ruang tv sambil nonton juga mau nonton adegan permainan Lud dgn istriku karena pintu kamarnya terbuka.

Nina

Filed under: RAMAI-RAMAI

Sudah merupakan rutinitas jika dalam liburan panjang Aku
menginap dirumah Om Bagas dan Tante Rita di Jakarta. Karena
kebetulan juga, tempat kerjaku adalah di sebuah sekolah
terkenal di Manado. Jadi, kalau pas liburan panjang, otomatis
aku juga libur kerja. Tapi sudah sekitar 6 tahun Aku tak
pernah lagi liburan ke Jakarta karena sibuk mengurusi kerjaan
yang menumpuk. Baru pada tahun 2002 lalu Aku bisa merasakan
nikmatnya liburan panjang. Rumah Om Bagas bisa digolongkan
pada rumah mewah yang besar. Walaupun begitu, rumahnya sangat
nyaman. Itulah sebabnya aku senang sekali bisa liburan ke
sana.
Aku tiba di rumah Om Bagas pada pukul 22.00. karena kelelahan
aku langsung tidur pulas. Besok paginya, aku langsung disambut
oleh hangatnya nasi goreng untuk sarapan pagi. Dan yang bikin
aku kaget, heran bercampur kagum, ada sosok gadis yang dulunya
masih kelas 4 SD, tapi kini sudah tumbuh menjadi remaja yang
cantik jelita. Namanya Nina. Kulitnya yang putih, matanya yang
jernih, serta tubuhnya yang indah dan seksi, mengusik mataku
yang nakal.
“Hallo Kak..! Sorry, tadi malam Nina kecapean jadi tidak
menjemput kakak. Silahkan di makan nasi gorengnya, ini Nina
buat khusus dan spesial buat Kakak.” Katanya sembari
menebarkan senyumnya yang indah. Aku langsung terpana.
“Ini benar Nina yang dulu, yang masih ingusan?” Kataku sambil
ngeledek.
“Ia, Nina siapa lagi! Tapi udah enggak ingusan lagi, khan?”
katanya sambil mencibir.
“Wah..! Udah lama enggak ketemu, enggak taunya udah gede.
Tentu udah punya pacar, ya? sekarang kelas berapa?” tanyaku.
“Pacar? Masih belum dikasih pacaran sama Papa. Katanya masih
kecil. Tapi sekarang Nina udah naik kelas dua SMA, lho! Khan
udah gede?” jawabnya sambil bernada protes terhadap papanya.
“Emang Nina udah siap pacaran?” tanyaku.
Nina menjawab dengan enteng sambil melahap nasi goreng.
“Belum mau sih..! Eh ngomong-ngomong nasinya dimakan, dong.
Sayang, kan! Udah dibuat tapi hanya dipelototin.”
Aku langsung mengambil piring dan ber-sarapan pagi dengan
gadis cantik itu. Selama sarapan, mataku tak pernah lepas
memandangi gadis cantik yang duduk didepanku ini.
“Mama dan Papa kemana? koq enggak sarapan bareng?” tanyaku
sambil celingak-celinguk ke kiri dan ke nanan.
Nina langsung menjawab, “Oh iya, hampir lupa. Tadi Mama nitip
surat ini buat kakak. Katanya ada urusan mendadak”.
Nina langsung menyerahkan selembar kertas yang ditulis dengan
tangan. Aku langsung membaca surat itu. Isi surat itu
mengatakan bahwa Om Bagas dan Tante Rita ada urusan Kantor di
Surabaya selama seminggu. Jadi mereka menitipkan Nina
kepadaku. Dengan kata lain Aku kebagian jaga rumah dan menjaga
Nina selama seminggu.
“Emangnya kamu udah biasa ditinggal kayak gini, Nin?” tanyaku
setelah membaca surat itu.
“Wah, Kak! seminggu itu cepat. Pernah Nina ditinggal sebulan”
jawabnya.
“Oke deh! sekarang kakak yang jaga Nina selama seminggu.
Apapun yang Nina Mau bilang saja sama kakak. Oke?” kataku.
“Oke, deh! sekarang tugas kakak pertama, antarkan Nina
jalan-jalan ke Mall. Boleh, Kak?” Nina memohon kepadaku.
“Oh, boleh sekali. Sekarang aja kita berangkat!” setelah itu
kami beres-beres dan langsung menuju Mall.

Siang itu Nina kelihatan cantik sekali dengan celana Jeans
Ketat dan kaos oblong ketat berwarna merah muda. Semua serba
ketat. Seakan memamerkan tubuhnya yang seksi.
Pulang Jalan-jalan pukul 19. 00 malam, Nina kecapean. Dia
langsung pergi mandi dan bilang mau istirahat alias tidur. Aku
yang biasa tidur larut pergi ke ruang TV dan menonton acara
TV. Bosan menonton acara TV yang kurang menyenangkan, Aku
teringat akan VCD Porno yang Aku bawa dari Manado. Sambil
memastikan Nina kalau sudah tidur, Aku memutar Film Porno yang
Aku bawa itu. Lumayan, bisa menghilangkan ketegangan akibat
melihat bodinya Nina tadi siang.
Karena keasyikan nonton, Aku tak menyadari Nina udah sekitar
20 menit menyaksikan Aku Menonton Film itu.
Tiba-tiba, “Akh..! Nina memekik ketika di layar TV terlihat
adegan seorang laki-laki memasukkan penisnya ke vagina seorang
perempuan. Tentu saja Aku pucat mendengar suara Nina dari arah
belakang. Langsung aja Aku matikan VCD itu.
“Nin, kamu udah lama disitu?” tanyaku gugup.
“Kak, tadi Nina mau pipis tapi Nina dengar ada suara desahan
jadi Nina kemari” jawabnya polos.
“Kakak ndak usah takut, Nina enggak apa-apa koq. Kebetulan
Nina pernah dengar cerita dari teman kalo Film Porno itu
asyik. Dan ternyata benar juga. Cuma tadi Nina kaget ada tikus
lewat”. Jawab Nina. Aku langsung lega.
“Jadi Nina mau nonton juga?” pelan-pelan muncul juga otak
terorisku.
“Wah, mau sekali Kak!” Langsung aja ku ajak Nina menonton film
itu dari awal.
Selama menonton Nina terlihat meresapi setiap adegan itu.
Perlahan namun pasti Aku dekati Nina dan duduk tepat
disampingnya.
“Iseng-iseng kutanya padanya “Nina pernah melakukan adegan
begituan?” Nina langsung menjawab tapi tetap matanya tertuju
pada TV.
“Pacaran aja belum apalagi adegan begini.”
“Mau ndak kakak ajarin yang kayak begituan. Aysik, lho! Nina
akan rasakan kenikmatan surga. Lihat aja cewek yang di TV itu.
Dia kelihatannya sangat menikmati adegan itu. Mau ndak?”
Tanyaku spontan.
“Emang kakak pandai dalam hal begituan?” tanya Nina menantang.

“Ee..! nantang, nih?” Aku langsung memeluk Nina dari samping.
Eh, Nina diam aja. Terasa sekali nafasnya mulau memburu tanda
Dia mulai terangsang dengan Film itu.
Aku tak melepaskan dekapanku dan Sayup-sayup terdengar Nina
mendesah sambil membisikkan, “Kak, ajari Nina dong!”. Aku
seperti disambar petir.
“Yang benar, nih?” tanyaku memastikan. Mendengar itu Nina
langsung melumat bibirku dengan lembut. Aku membiarkan Dia
memainkan bibirku. Kemudian Nina melepas lumatannya.
“Nina serius Kak. Nina udah terangsang banget, nih!” Mendengar
itu, aku langsung tak menyia-nyiakan kesempatan. Aku langsung
melumat bibir indah milik Nina. Nina menyambut dengan lumatan
yang lembut.
Tiga menit kemudian entah siapa yag memulai, kami berdua telah
melepaskan pakaian kami satu persatu sampai tak ada sehelai
benangpun melilit tubuh kami. Ternyata Nina lebih cantik jika
dilihat dalam kondisi telanjang bulat. Aku mengamati setiap
lekuk tubuh Nina dengan mataku yang jelalatan dari ujung
rambut sampai ujung kaki. Sempurna. Nina memiliki tubuh yang
sempurna untuk gadis seumur dia. Susunya yang montok dan padat
berisi, belum pernah tersentuh oleh tangan pria manapun.
“Koq Cuma dilihat?” Lamunanku buyar oleh kata-kata Nina itu.
Merasa tertantang oleh kata-katanya, Aku langsung membaringkan
Nina di Sofa dan mulai melumat bibirnya kembali sambil
tanganku dengan lembutnya meremas-remas susunya Nina yang
montok itu. Nina mulai mendesah-desah tak karuan.
Tak puas hanya meremas, semenit kemudian sambil tetap
meremas-remas, Aku menghisap puting susu yang berwarna merah
muda kecoklatan itu, bergantian kiri dan kanan.
“Oh.. Kak.. Kak..! Enak se.. ka.. li.. oh..!” desah Nina yang
membakar gairahku. Jilatanku turun ke perut dan pusar, lalu
turun terus sampai ke gundukan kecil milik Nina yang ditumbuhi
bulu-bulu halus yang masih sedikit.
“Ah.. Geli sekali, Kak.. Oh.. nikmat..!” desah Nina waktu Aku
jilat Kelentitnya yang mulai mengeras karena rangsangan hebat
yang aku ciptakan. Tanganku tak pernah lepas dari Susu Nina
yang montok itu. Tiba-tiba, Nina memekik dan melenguh tertahan
sambil mengeluarkan cairan vagina yang banyak sekali.
“Akh.. ah.. oh.. e.. nak.. Kak.. oh..!” Itulah orgasme
pertamanya. Aku langsung menelan seluruh cairan itu. Rasanya
gurih dan nikmat.
“Gimana Enak, Nin?” tanyaku sambil mencubit putting susunya.
“Wah, Kak! Nikmat sekali. Rasanya Nina terbang ke surga.”
Jawabnya sambil meraih baju dalamnya. Melihat itu, Aku
langsung mencegahnya.
“Tunggu, Masih ada yang lebih nikmat lagi.” Kataku.
“Sekarang kakak mau ajarin Nina yang kayak begitu” sambil
menunjuk adegan di TV dimana serang perempuan yang sedang
menghisap penis laki-laki.
“Gimana, mau?” Tanyaku menantang.
“Oke deh!” Nina menjawab dan langsung meraih penisku yang
masih tertidur. Nina mengocok perlahan penisku itu seperti
yang ada di TV. Lalu dengan malu-malu Dia memasukkannya ke
mulutnya yang hangat sambil menyedot-nyedot dengan lembut.
Mendapat perlakuan demikian langsung aja penis ku bangun.
Terasa nikmat sekali diperlakukan demikian. Aku menahan Air
maniku yang mau keluar. Karena belum saatnya. Setelah kurang
lebih 15 menit diemut dan dibelai olah tangan halus Nina,
penisku udah siap tempur.
“Nah sekarang pelajaran yang terakhir” Kataku. Nina menurut
aja waktu Aku angkat Dia dan membaringkan di atas karpet. Nina
juga diam waktu Aku mengesek-gesek penisku di mulut vaginanya
yang masih perawan itu. Karena udah kering lagi, Aku kembali
menjilat kelentit Nina sampai Vaginanya banjir lagi dengan
cairan surga. Nina hanya pasrah saja ketika Aku memasukkan
penisku ke dalam vaginanya.
“Ah.. Sakit, Kak.. oh.. Kak..!” jerit Nina ketika kepala
penisku menerobos masuk. Dengan lembut Aku melumat bibirnya
supaya Nina tenang. Setelah itu kembali Aku menekan pinggulku.

“Oh.. Nina.. sempit sekali.. Kamu memang masih perawan, oh..!”
Nina hanya memejamkan mata sambil menahan rasa sakit di
vaginanya.
Setelah berjuang dengan susah payah, Bless..!
“Akh.. Kak.. sakit..!” Nina memekik tertahan ketika Aku
berhasil mencoblos keperawanannya dengan penisku. Terus saja
Aku tekan sampai mentok, lalu Aku memeluk erat Nina dan
berusaha menenangkan Dia dengan lumatan-lumatan serta
remasan-remasan yang lembut di payudaranya. Setelah tenang,
Aku langsung menggenjot Nina dengan seluruh kemampuanku.
“Oh.. e.. oo.. hh.., ss.. ah..!” Nina mendesah tanpa arti.
Kepalanya kekanan-kekiri menahan nikmat. Nafasnya mulai
memburu. Tanganku tak pernah lepas dari payudara yang sejak
tadi keremas-remas terus. Karena masih rapat sekali, penisku
terasa seperti di remas-remas oleh vaginanya Nina,
“Oh.. Nin, enak sekali vaginamu ini, oh..!” Aku mendesah
nikmat.
“Gimana, enak? nikmat?” tanyaku sambil terus menggenjot Nina.
“enak.. sekali, Kak.. oh.. nikmat. Te.. rus.. terus, Kak..
oh..!” Desah Nina.
Setelah kurang lebih 25 menit Aku menggenjot Nina, tiba-tiba
Nina mengejang.
“K.. Kak..! Nina udah enggak tahan. Nina mau pi.. piss..
oh..!” Kata Nina sambil tersengal-sengal.
“Sabar, Nin! Kita keluarkan Bersama-sama, yah! Satu..” Aku
semakin mempercepat gerakan pinggulku.
“Dua.., Ti.. nggak.. oh.. yess..!” Aku Menyemburkan Spermaku,
croot.. croot.. croott..! Dan bersamaan dengan itu Nina juga
mengalami orgasme.
“Akh.. oh.. yess..!” Nina menyiram kepala penisku dengan
cairan orgasmenya. Terasa hangat sekali dan nikmat. Kami
saling berpelukan menikmati indahnya orgasme. Setelah penisku
menciut di dalam vagina Nina, aku mencabutya. Dan langsung
terbaring di samping Nina. Kulihat Nina masih
tersengal-sengal. Sambil tersenyum puas, Aku mengecup dahi
Nina dan berkata
“Thank’s Nina! Kamu telah memberikan harta berhargamu kepada
kakak. Kamu menyesal?” Sambil tersenyum Nina menggelengkan
kepalanya dan berkata,
“Kakak hebat. Nina bisa belajar banyak tentang Sex malam ini.
Dan Nina Serahkan mahkota Nina karena Nina percaya kakak
menyayangi Nina. Kakak tak akan ninggalin Nina. Thank’s ya
Kak! Yang tadi itu nikmat sekali. Rasanya seperti di surga.”
Kemudian kami membenahi diri dan membersihkan darah perawan
Nina yang berceceran di karpet. Masih memakai BH dan celana
dalam, Nina minta Aku memandikan Dia seperti yang Aku lakukan
sekitar enam tahun yang lalu. Aku menuruti kemauannya. Dan
kamipun madi bareng malam itu. Sementara mandi, pikiran
ngereskupun muncul lagi ketika melihat payudara Nina yang
mengkilat kena air dari shower. Langsung aja kupeluk Nina dari
belakang sambil kuremas payudaranya.
“Mau lagi nih..!” Kata Nina menggoda. Birahiku langsung naik
digoda begitu.
“Tapi di tempat tidur aja, Kak. Nina capek berdiri” kata Nina
berbisik. Aku langsung menggendong Nina ke tempat tidurnya dan
menggenjot Nina di sana. Kembali kami merasakan nikmatnya
surga dunia malam itu. Setelah itu kami kelelahan dan langsung
tertidur pulas.
Pagi harinya, aku bangun dan Nina tak ada disampingku. Aku
mencari-cari tak tahunya ada di dapur sedang menyiapkan
sarapan pagi. Maklum tak ada pembantu. Kulihat Nina hanya
memakai kaos oblong dan celana dalam saja. Pantatnya yang
aduhai, sangat elok dilihat dari belakang. Aku langsung
menerjang Nina dari belakang sambil mengecup leher putihnya
yang indah. Nina kaget dan langsung memutar badannya. Aku
langsung mengecup bibir sensualnya.
“Wah.. orang ini enggak ada puasnya..!” kata Nina Menggoda.
Langsung saja kucumbu Nina di dapur. Kemudian Dia melorotkan
celana dalamku dan mulai menghisap penisku. Wah, ada kemajuan.
Hisapannya semakin sempurna dan hebat. Aku pun tak mau kalah.
Kuangkat Dia keatas meja dan menarik celana dalamnya dengan
gigiku sampai lepas. Tanganku menyusup ke dalam kaos
oblongnya. Dan ternyata Nina tak memakai BH. Langsung aja
kuremas-remas susunya sambil kujilat-jilat kelentitnya. Nina
minta-minta ampun dengan perlakuanku itu dan memohon supaya
Aku menuntaskan kerjaanku dengan cepat.
“Kak.. masukin, Kak.. cepat.. oh.. Nina udah enggak tahan,
nih!” Mendengar desahan itu, langsung aja kumasukkan penisku
kedalam lubang surganya yang telah banjir dengan cairan
pelumas. Penisku masuk dengan mulus karena Nina sudah tidak
perawan lagi kayak tadi malam. Dengan leluasa Aku menggenjot
Nina di atas meja makan.
Setelah sekitar 15 menit, Nina mengalami orgasme dan disusul
dengan Aku yang menyemburkan spermaku di dalam vagina Nina.
“Oh.. enak.. Kak.. akh..!” desah Nina. Aku melenguh dengan
keras
“Ah.. yes..! Nina, kamu memang hebat..”
Setelah itu kami sarapan dan mandi sama-sama. Lalu kami pergi
ke Mall. Jalan-jalan.
Begitulah setiap harinya kami berdua selama seminggu. Setelah
itu Om Bagas dan Tante Rita pulang tanpa curiga sedikitpun
kamipun merahasiakan semuanya itu. Kalau ada kesempatan, kami
sering melakukkannya di dalam kamarku selama sebulan kami
membina hubungan terlarang ini. Sampai Aku harus pulang ke
Manado. Nina menangis karena kepergianku. Tapi Aku berjanji
akan kembali lagi dan memberikan Nina Kenikmatan yang tiada
taranya.

MOntir perkasa

Filed under: RAMAI-RAMAI

Hari itu, sekitar jam tiga sore aku bersama sepupuku, Ellen baru saja sampai di rumahnya setelah jalan-jalan di mall. Setengah jam kami disana nonton VCD sampai pacarnya yang bernama Winston datang. Memang sih hari itu aku bermain ke sini agar bisa sekalian sorenya mengambil mobilku yang sedang di service rutin di sebuah bengkel di daerah Jakarta Timur yang kebetulan tidak terlalu jauh dari rumah Ellen. Pas sekali saat itu Winston datang untuk nge-date jadi aku bisa ikut menumpang diantar ke bengkel itu. Kamipun berangkat dari rumahnya dengan mobil BMW-nya Winston. Walaupun tidak terlalu jauh namun kami sedikit terjebak macet karena saat itu jam bubaran. Yang kukhawatirkan adalah takutnya bengkelnya keburu tutup, kalau begitu kan aku mau tidak mau harus tetap menumpang pada Winston padahal mereka mau pergi nonton dan aku tidak mau mengganggu kebersamaan mereka. Akhirnya tiba juga kami di bengkel itu tepat ketika akan tutup. “Wah.. Sudah mau tutup tuh Ci, mendingan cepetan lari turun, siapa tahu masih keburu,” kata Ellen. “Tanyain dulu Ci, kita tunggu kamu di sini, kalau ternyata belum bisa ambil, kamu ikut kita jalan aja,” Winston memberi saran. Akupun segera turun dan setengah berlari ke arah pegawai yang sedang mendorong pintu. “Mas.. Mas tunggu, jangan ditutup dulu, saya mau ngambil mobil saya yang Hyundai warna merah yang dititip kemarin Selasa itu loh!” kataku dengan terburu-buru. “Tapi kita sudah mau tutup non, kalau mau besok balik aja lagi,” katanya. “Ayo dong, Mas katanya di telepon tadi sudah bisa diambil, tolong dong bentar aja yah, saya sudah ke sini jauh-jauh nih!” desakku. “Ada apa nih, Kos, kok malah ngobrol,” kata seorang pria yang muncul dari samping belakangnya. Kebetulan sekali pria itu adalah montir yang menangani mobilku ketika aku membawa mobil itu ke sini, orangnya tinggi dan agak gemuk dengan rambut gaya tentara, usianya sekitar awal empat puluh, belakangan kuketahui bernama Fauzan, agaknya dia tergolong montir yang cukup senior di sini. Akupun lalu mengutarakan maksud kedatanganku ke sini untuk mengambil mobilku itu padanya. Awalnya sih dia juga menyuruhku kembali lagi besok karena bengkel sudah tutup, tapi karena terus kubujuk dan kujanjikan bonus uang rokok akhirnya dia menyerah juga dan mempersilakanku masuk menunggu di dalam. Sebenarnya sih kalau bengkelnya dekat dengan rumahku aku juga bisa saja kembali besok, tapi masalahnya letak tempat ini cukup jauh dari rumahku dan macet pula, kan BT banget kalau harus dua kali jalan. Aku melambaikan tangan ke arah Ellen dan Winston yang menunggu di mobil pertanda masalah sudah beres dan mereka boleh pergi, merekapun membalas lambaianku dan mobil itu berjalan meninggalkanku. Pak Fauzan menjelaskan padaku tentang kondisi mobilku, dia bilang bahwa semuanya ok-ok saja, kecuali ada sebuah onderdil di bagian bawah mobil yang sebentar lagi tidak layak pakai karena sudah banyak berkarat (sory.. Aku tidak mengerti otomotif selain menggunakannya, sampai lupa nama onderdil itu). Karena memikirkan kenyamanan jangka panjang, aku menanyakan kalau bagian itu diganti sekarang memakan waktu lama tidak, ongkos sih tidak masalah. Setelah berpikir sesaat dia pun mengiyakannya dan menyuruhku duduk menunggu. Sejumlah pegawai dan kasir wanita sudah berjalan ke pintu keluar meninggalkan tempat ini. Di ruangan yang cukup luas ini tinggallah aku dengan Pak Fauzan serta beberapa montir yang sedang menyelesaikan pekerjaan yang tanggung. Seluruhnya ada empat orang di ruangan ini termasuk aku yang satu-satunya wanita. “Masih banyak kerjaannya ya Mas?” tanyaku iseng-iseng pada montir brewok di dekatku yang sedang mengotak-atik mesin depan sebuah Kijang. “Dikit lagi kok Non, makanya mending diselesaikan sekarang biar besoknya lebih santai,” jawabnya sambil terus bekerja. Tidak jauh dari tempat dudukku Pak Fauzan sedang berjongkok di sebelah mobilku dan di sebelahnya seorang rekannya yang cuma kelihatan kakinya sedang berbaring mengerjakan perkerjaannya di kolong mobil. Ternyata pekerjaan itu lama juga selesainya, seperempat jam sudah aku menunggu. Melihat situasi seperti ini, timbullah pikiran isengku untuk menggoda mereka. Hari itu aku memakai kaos ketat oranye berlengan panjang yang dadanya agak rendah, lekuk tubuhku tercetak oleh pakaian seperti itu, bawahnya aku memakai rok hitam yang menggantung beberapa senti di atas lutut. Maka bukanlah hal yang aneh kalau para pria itu di tengah kesibukannya sering mencuri-curi pandang ke arahku, apalagi sesekali aku sengaja menyilangkan kakiku. Aku berjalan ke arah mobilku dan bertanya pada Pak Fauzan, “Masih lama ya Pak?” “Hampir Non, ini yang susah tuh melepas yang lamanya, habis sudah berkarat, sebenarnya sih pasangnya gampang saja, bentar lagi juga beres kok” “Perlu saya bantuin enggak? Bosen dari tadi nunggu terus,” tanyaku sambil dengan sengaja berjongkok di hadapannya dengan lutut kiri bertumpu di lantai sehingga otomatis paha putih mulusku tersingkap kemana-mana dan celana dalam merahku juga terlihat jelas olehnya. Dia terlihat gugup dan matanya tertumbuk ke bawah rokku yang kelihatan karena posisi jongkokku. Aku yakin burungnya pasti sudah terbangun dan memberontak ingin lepas dari sangkarnya. Namun aku bersikap biasa saja seolah tidak mengetahui sedang diintip. “Oohh.. Nggak.. Nggak kok Non,” jawabnya terbata-bata. “Hhoii.. Obeng kembang dong,” sahut montir yang dari dalam sambil mendorong kursi berbaringnya keluar dari kolong. Begitu keluar diapun ikut terperangah dengan pemandangan indah di atas wajahnya itu. Keduanya bengong menatapku tanpa berkedip. “Kenapa? Kok bengong? Liatin apa hayo..?” godaku dengan tersenyum nakal. Kemudian kuraih tangan si montir yang sedang berbaring itu dan kuletakkan di paha mulusku, memang sih tangannya kotor karena sedang bekerja tapi saat itu sudah tidak terpikir hal itu lagi. Tanpa harus disuruh lagi tangan kasar itu sudah bergerak dengan sendirinya mengelus pahaku hingga sampai di pangkalnya, disana dia tekankan dua jarinya di bagian tengah kemaluanku yang masih tertutup CD. “Ooohh.. ” desahku merasakan remasan pada kemaluanku. Pak Fauzan menyuruhku berdiri dan didekapnya tubuhku serta langsung menempelkan bibirnya yang tebal dan kasar pada bibir mungilku. Tangannya mengangkat rokku dan menyusup ke dalam celana dalamku. Temannya tidak mau ketinggalan, setelah dia mengelap tangannya dia dekap aku dari belakang dan mulai menciumi leher jenjangku, hembusan nafas dan lidahnya yang menggelikitik membuat birahiku semakin naik. Payudaraku yang masih tertutup baju diremasi dari belakang, tak lama kemudian kaos Mango-ku beserta bra-ku sudah disingkap ke atas. Kedua belah payudaraku digerayangi dengan gemas, putingnya terasa makin mengeras karena terus dipencet-pencet dan dipilin-pilin. “Hei, ngapain tuh, kok nggak ngajak-ngajak!” seru si montir brewok yang memergoki kami sedang berasyik-masyuk. Montir di belakangku melambai dan memanggil si brewok untuk ikut menikmati tubuhku. Si brewok pun dengan girang menghampiri kami sambil mempreteli kancing baju montirnya, kurang dari selangkah di dekatku dia membuka seluruh pakaiannya. Wow.. Bodynya padat berisi dengan dada bidang berbulu dan bulunya turun saling menyambung dengan bulu kemaluannya. Dan yang lebih membuatku terpesona adalah bagian yang mengacung tegak di bawah perutnya, pasti tak terlukiskan rasanya ditusuk benda sebesar pisang raja itu, warnanya hitam dengan kepala penis kemerahan. Dia berjongkok di depanku dan memelorotkan rok dan celana dalamku. “Wah, asyik jembutnya item lebat banget, gua paling suka vagina kaya gini,” si brewok mengomentari vaginaku. Pak Fauzan dan temannya pun mulai melepasi pakaiannya masing-masing hingga bugil. Terlihatlah batang-batang mereka yang sudah menegang, namun aku tetap lebih suka milik si brewok karena nampak lebih menggairahkan, milik Pak Fauzan juga besar dan berisi, namun tidak terlalu berurat dan sekeras si brewok, sedangkan punya temannya lumayan panjang, tapi biasa saja, standarnya pribumi Indonesialah. Aku sendiri tinggal memakai kaos ketat dan bra-ku yang sudah tersingkap. Kaki kiriku diangkat ke bahu si brewok yang berjongkok sambil melumat vaginaku. Teman Pak Fauzan yang dipanggil ‘Zul’ itu menopang tubuhku dengan mendekap dari belakang, tangannya terus beraktivitas meremas payudara dan pantatku sambil memainkan lidahnya di lubang telingaku. Pak Fauzan sendiri kini sedang menetek dari payudara kananku. Aku menggelinjang dahsyat dan mendesah tak karuan diserbu dari berbagai arah seperti itu. Tanganku menggenggam penis Pak Fauzan dan mengocoknya perlahan. “Oookkhh.. Jangan terlalu keras,” rintihku sambil meringis ketika Pak Fauzan dengan gemas menggigiti putingku dan menariknya dengan mulut, secara refleks tanganku menjambak pelan rambutnya. Sementara si brewok di bawah sana menyedoti dalam-dalam vaginaku seolah mau ditelan. Dia memasukkan lidahnya ke dalam vaginaku sehingga memberi sensasi geli yang luar biasa padaku, klitorisku juga dia gigit pelan dan digelikitik dengan lidahnya. Pokoknya sangat sulit dilukiskan dengan kata-kata betapa nikmatnya saat itu, jauh lebih nikmat dari mabuk anggur manis. Aku menengokkan wajah ke samping untuk menyambut Zul yang mau melumat mulutku. Lihai juga dia berciuman, lidahnya menjilati lidahku dan menelusuri rongga mulutku, nafasku seperti mau habis rasanya. Kemudian mereka membaringkanku di kursi untuk berbaring di kolong mobil itu (whateverlah namanya aku tidak tahu nama barang itu _;). Zul langsung mengambil posisi di selangkanganku, tapi segera dicegah oleh Pak Fauzan yang menginginkan jatah lubang lebih dulu. Setelah dibujuk-bujuk Zul pun akhirnya mengalah dari Pak Fauzan yang lebih senior itu. Sebagai gantinya dia mengambil posisi di dekat kepalaku dan menyodorkan penisnya padaku. Kumulai dengan menjilati batang itu hingga basah, lalu buah zakarnya kuemut-emut sambil mengocok batangnya. Walaupun agak bau tapi aku sangat menikmati oral seks itu, aku senang membuatnya mengerang nikmat ketika kujilati lubang kencing dan kepala penisnya. Pak Fauzan yang sudah selesai dengan pemanasan dengan menggesekkan penisnya pada bibir vaginaku kini sudah mengarahkan penisnya ke liang senggamaku. Aku menjerit kecit ketika benda itu menyeruak masuk dengan sedikit kasar, selanjutnya dia menggenjotku dengan gerakan buas. Aku meresapi setiap detil kenikmatan yang sedang menyelubungi tubuhku, semakin bersemangat pula aku mengemut penis si Zul, kumainkan lidahku di sekujur penis itu untuk menambah kenikmatan pemiliknya. Dia mengerang keenakan atas perlakuanku yang memanjakan ‘adik kecil’nya. Rambutku diremas-remas sambil berkata, “Oooh.. Terus Non, enak banget.. Yahh!” Tanganku yang lain tidak tinggal diam ikut mengocok punya si brewok yang pada saat yang sama sedang melumat payudaraku. Dia sangat menikmati setiap jengkal payudaraku, dia menghisapnya kuat-kuat diselingi gigitan-gigitan yang meninggalkan jejak merah di kulitnya yang putih. Sungguh kagum aku dengan penisnya dalam genggamanku, yang benar-benar keras dan perkasa membuatku tidak sabar ingin segera mencicipinya. Maka aku melepaskan emutanku pada penis Zul dan berkata pada si brewok, “Sini dong Mas, gua mau nyepong kontolnya!” Si brewok langsung menggantikan Zul dan menyodorkan penisnya padaku. Hmm.. Inilah yang kutunggu-tunggu, aku langsung membuka lebar-lebar mulutku untuk memasukkan benda itu. Tentu saja tidak muat seluruhnya di mulut mungilku malah terasa sesak. Si Zul menggosok-gosokkan penisnya yang basah ke wajahku. Sambil dioral, tangan si brewok yang kasar dan berbulu itu meremasi payudaraku dengan brutal. Di sisi lain, Pak Fauzan melepaskan sepatu bersol tinggi yang kupakai, lalu menaikkan kedua tungkaiku ke bahu kirinya, sambil menggenjot dia juga menjilati betisku yang mulus. Aku benar-benar terbuai oleh kenikmatan main keroyok seperti ini. Tiba-tiba kami terhenti sejenak karena terdengar suara pintu di buka dari dalam dan keluarlah seorang yang hanya memakai singlet dan celana pendek, tubuhnya agak kurus dan berusia sepantaran dengan Pak Fauzan dengan jenggot seperti kambing. Aku mencoba mengingat-ingat orang ini, sepertinya pernah lihat sebelumnya, oohh.. Iya itu kan montir yang mendengar dan mencatat masalah yang kuceritakan tentang mobilku ketika aku membawanya ke sini. Sepertinya dia baru mandi karena rambutnya masih basah dan acak-acakan. Sebelumnya dia agak terperanjat dengan apa yang dia lihat tapi kemudian dia mendekati kami. “Weleh-weleh.. Gua sibuk cuci baju di belakang, kamu-kamu malah pada enak-enakan ngentot,” katanya “Lho, ini kan si Non cantik yang mobilnya diservis itu!” “Sudah jangan banyak omong, mau ikutan nggak!” kata si brewok padanya. Buru-buru si montir yang bernama Joni itu melepaskan celananya dan kulihat penisnya bagus juga bentuknya, besar dengan otot yang melingkar-lingkar. Tiga saja belum selesai sudah datang satu lagi, tambah berat deh PR gua, demikian kataku dalam hati. Pak Joni mengambil posisi di sebelah kananku, tangannya menjelajah kemana-mana seakan takut tidak kebagian tempat. Payudara kananku dibetot dan dilumat olehnya sampai terasa nyeri. Aku mengerang sejadi-jadinya antara kesakitan dan kenikmatan, semakin lama semakin liar dan tak terkendali. Pak Fauzan dibawah sana makin mempercepat frekuensi genjotannya pada vaginaku. Lama-lama aku tidak sanggup lagi menahan cairan cintaku yang semakin membanjir. Di ambang puncak aku semakin berkelejotan dan tanganku semakin kencang mengocok dua batang penis di genggamanku yaitu milik Pak Joni dan Bang Zul. Zul juga menggeram makin keras dan Crot.. Crot.. Cairan putih kentalnya menyemprot dan berceceran di wajah dan rambutku. Sementara otot-otot kemaluanku berkontraksi makin cepat dan cairan cintaku pun tak terbendung lagi. Aku telah mencapai puncak, tubuhku mengejang hebat diiringi erangan panjang dari mulutku, tapi dia masih terus menggenjotku hingga tubuhku melemas kembali. Setelah dia cabut penisnya, diturunkannya juga kakiku. “Gantian tuh, siapa mau memek?” katanya. Si brewok langsung menggantikan posisinya, sebelumnya dia menjilati dan menyedot cairan vaginaku dengan rakus bagaikan menyantap semangka. Pak Fauzan menaiki dadaku dan menjepitkan penisnya yang sudah licin diantara payudaraku. Dia memaju-mundurkannya seperti yang dia lakukan terhadap vaginaku, tidak sampai lima menit, spermanya muncrat ke muka dan dadaku, kaosku yang tergulung juga ikut kecipratan cairan itu. Pak Fauzan mengelap spermanya yang berceceran di dadaku sampai merata sehingga payudaraku nampak mengkilap oleh cairan itu. Kujilati sperma di sekitar bibirku dengan memutar lidah. Si brewok minta ganti gaya, kali ini dia berbaring di kursi montir. Tanpa diperintah aku menurunkan tubuhnya sambil membuka lebar liang senggamaku dengan jari. Tanganku yang lain membimbing batang itu memasuki liang itu. Aku menggigit bibir dan mendesis saat penis itu mulai tertancap di vaginaku. Hingga akhirnya seluruh batang itu tertelan oleh liang surgaku, rasanya sangat sesak dan sedikit nyeri dijejali benda sekeras dan sebesar itu, aku dapat merasakan urat-uratnya yang menonjol itu bergesekan dengan dinding vaginaku. Aku belum sempat beradaptasi, dia sudah menyentakkan pinggulnya ke atas, secara refleks aku menjerit kecil. Sekali lagi dia sentakkan pinggulnya ke atas sampai akupun ikut menggoyangkan tubuhku naik-turun. Mataku merem-melek dan kadang-kadang tubuhku meliuk-liuk saking nikmatnya. Kuraih penis Pak Joni di sebelah kiriku dan kukulum dengan bernafsu, begitu juga dengan penis Pak Fauzan, batang yang sedang kelelahan itu kukocok-kocok agar bertenaga lagi, sisa-sisa spermanya kujilati hingga bersih. Kurasakan ada dua jari memasuki anusku, mengoreki lalu bergerak keluar-masuk di sana, aku menengok ke belakang ternyata pelakunya Bang Zul yang entah kapan sudah di belakangku. Mungkin karena ketagihan dikaraoke olehku, Pak Joni memegangi kepalaku dan menekannya pada selangkangannya, lalu dia maju-mundurkan pinggulnya seperti sedang bersenggama. Aku sempat gelagapan dibuatnya, kepala penis itu pernah menyentuh tekakku sampai hampir tersedak. Namun hal itu tidak mengurangi keaktifanku menggoyang tubuhku dan mengocok penis Pak Fauzan dengan tangan kiriku. Payudaraku yang ikut bergoyang naik-turun tidak pernah sepi dari jamahan tangan-tangan kasar mereka. Sepertinya Bang Zul mau main belakang karena dia melebarkan duburku dengan jarinya dan sejenak kemudian aku merasakan benda tumpul yang tak lain kepala penisnya melesak masuk ke dalamnya. Ketiga lubang senggamaku penuh sudah terisi oleh tiga penis. Penis Pak Joni dalam mulutku makin bergetar dan pemiliknya pun makin gencar menyodok-nyodokkannya pada mulutku hingga akhirnya menyemprotkan spermanya di mulutku. Belum habis semprotannya dia menarik keluar benda itu (thank god, akhirnya bisa menghirup udara segar lagi) sehingga sisanya menyemprot ke wajahku, wajahku yang sudah basah oleh sperma Bang Zul dan Pak Fauzan jadi tambah belepotan oleh spermanya yang lebih kental dari milik dua orang sebelumnya. “Aahh.. Aahh.. Dikit lagi Bang!” desahku karena sudah akan klimaks lagi. Cairan cinta terasa terus mengucur membasahi rongga-rongga kemaluanku bersamaan dengan penis si brewok yang terasa makin membengkak dan sodokannya yang makin gencar. Otot-ototku menegang dan desahan panjang keluar dari mulutku akibat orgasme panjang bersama si brewok. Cairan hangat dan kental menyemprot hampir semenit lamanya di dalam lubang vaginaku. Akhirnya tubuhku kembali melemas dan jatuh telungkup di atas dada yang bidang berbulu itu dengan penis masih menancap, sementara dari belakang Bang Zul masih getol menyodomiku tanpa mempedulikan kondisiku sampai dia menumpahkan spermanya di anusku lima menit kemudian. Setelah beristirahat lima menit, Pak Fauzan mengangkat tubuhku diatas kedua tangannya dan membawaku ke ruangan lain yang adalah tempat pencucian mobil bersama teman-temannya. “Eh, mau ngapain lagi kita nih Pak?” tanyaku heran. “Kita mau mencuci Non dulu soalnya sudah lengket dan bau peju sih,” jawabnya sambil nyengir, kemudian memerintah si brewok untuk menyiapkan selang air. Pelan-pelan dia turunkan aku, tapi aku masih belum sanggup berdiri karena masih lemas sekali, jadi aku hanya duduk bersimpuh saja di lantai marmer itu. “Bajunya dilepas aja Non biar nggak basah,” katanya sambil membantuku melepaskan kaosku yang tergulung. Aku kini telah telanjang bulat, hanya jam tangan, anting, dan seuntai kalung perak dengan leontin huruf C yang masih tersisa di tubuhku. Si brewok menyalakan krannya dan mengarahkan selang itu padaku. “Awww.. Dingin!” desahku manja merasakan dinginnya air yang menyemprot padaku. Pak Joni melepaskan singletnya dan bersama dua orang lainnya mendekati tubuhku yang masih disemprot si brewok, ketiganya mengerubungi tubuhku sambil tertawa-tawa. Aku lalu diberdirikan dan didekap mereka, tangan-tangan mereka menggosoki tubuhku untuk membasuh ceceran sperma yang lengket di sekujur tubuhku seperti sedang memolesi mobil dengan cairan pembersih. Beberapa menit lamanya si brewok menyirami kami dengan air dingin sehingga tubuh kami basah kuyup. Sesudah itu dia juga ikut bergabung menggerayangiku. Pak Joni mendekapku dari depan, setelah puas menciumi dan meremas payudaraku dia menaikkan kaki kananku ke pinggangnya dan memasukkan penisnya ke vaginaku, mereka mengerjaiku dalam posisi berdiri. Pak Fauzan merangkulku dari belakang dan tak henti-hentinya mencupangi pundak, leher dan tengukku. Bang Zul berjongkok meremasi dan menjilati pantat montokku yang terangkat dengan gemasnya. Si brewok menggerayangi payudaraku yang lain sambil menggelitik telingaku dengan lidahnya. Desahan nikmatku terdengar memenuhi ruangan itu. Beberapa menit kemudian Pak Joni klimaks dan menumpahkan spermanya di dalam vaginaku. Ini masih belum berakhir, karena setelahnya tubuhku mereka telentangkan di atas kap depan sebuah sedan berwarna silver metalik dan kembali aku disemprot dengan selang air hingga semakin basah. Bang Zul membentangkan pahaku dan menancapkan penisnya ke vaginaku. Mungkin karena sudah terisi penuh, maka ketika penis itu melesak ke dalamku, nampak sperma kental itu meluap keluar dari sela-sela bibir vaginaku. Aku kembali orgasme yang kesekian kalinya, tubuhku menggelinjang di atas kap mobil itu. Kemudian tak lama kemudian dia pun mencabut penisnya dan menumpahkan isinya di atas perut rataku. Akhirnya selesai juga mereka mengerjaiku, aku terbaring lemas diatas kap, rasanya pegal sekali dan sedikit kedinginan karena basah. Mereka juga sudah kecapean semua, ada yang duduk mengatur nafas, ada juga yang mengelap badannya yang basah. Pak Fauzan memberiku sebuah Aqua gelas dan handuk kering. Aku menggerakkan tangan menghanduki tubuhku yang basah. Setelah Pak Fauzan dan Bang Zul selesai memasang onderdil yang tertunda, selesai pula perbaikan mobilku. Aku membayarkan biayanya pada Pak Fauzan yang ternyata masih saudara dengan pemilik bengkel ini, pantas dari tadi montir lain tunduk padanya. Aku juga memberi tambahan sepuluh ribu rupiah sebagai uang rokok untuk dibagi antara mereka berempat. Sampai di rumah aku langsung tidur dengan tubuh pegal-pegal, janji ke kafe dengan teman-teman pun terpaksa kubatalkan dengan alasan tidak enak badan.

akal akalan

Filed under: RAMAI-RAMAI

Saya seorang pemain bola di kesebelasan tempat tinggal saya. Karena terjadi tabrakan dengan teman, kaki saya mengalami patah tulang ringan. Dan saya harus dirawat di rumah sakit. Saya berada di kamar kelas VIP. Jadi saya bebas untuk melakukan apa saja. Saya sebetulnya sudah sehat, tetapi masih belum boleh meninggalkan rumah sakit. Makanya saya bosan tinggal disitu.

Pada pagi hari ketika saya sedang tidur, saya terkejut pada saat dibangunkan oleh seorang suster. Gila..! Suster yang satu ini cantik sekali.
“Mas Sony udah bangun ya..? Gimana tadi malam, mimpi indah..?” katanya.
“Ya Sus, indah sekali. Saya lagi bercinta dengan cewek cantik berbaju putih Sus..? Dan mukanya mirip Suster lho..!” kata saya menggodanya.
“Ah.. Mas Sony ini bisa aja.., habis ini mas mandi ya..?” katanya lembut.
Lalu dia membawa handuk kecil, sabun, wash lap, dan ember kecil. Suster itu mulai menyingkap selimut yang saya pakai, serta melipatnya di dekat kaki saya. Terbuka sudah seluruh tubuh telanjang saya. Saya dengan sengaja tadi melepaskan semua baju dan celana saya. Ketika dia melihat daerah di sekitar kemalua saya, terkejut dia, karena ukuran kelamin saya serta kepalanya yang di luar normal. Sangat besar, mirip helm tentara NAZI dulu.

Lalu dia mengambil wash lap dan sabun.
“Sus… jangan pake wash lap.., geli… saya nggak biasa. Pakai tangan suster yang indah itu saja…” kata saya memancingnya.
Suster itu mulai dengan tanganku. Dibasuh dan disabuninya seluruh tangan saya. Usapannya lembut sekali. Sambil dimandikan, saya pandangi wajahnya, dadanya, cukup besar juga kalau saya lihat. Orangnya putih mulus, tangannya lembut. Selesai dengan yang kiri, sekarang ganti tangan kanan. Dan seterusnya ke leher dan dada. Terus diusapnya tubuh saya, sapuan telapak tangannya lembut sekali saya rasakan, dan tidak terasa saya memejamkan mata untuk lebih menikmati sentuhannya.

Sampai juga akhirnya pada batang kejantanan saya, dipegangnya dengan lembut ditambah sabun. Digosok batangnya, biji kembarnya, kembali ke batangnya. Saya merasa tidak kuat untuk menahan supaya tetap lemas. Akhirnya batang kemaluan saya berdiri juga. Pertama setengah tiang, lama-lama akhirnya penuh juga dia berdiri keras.
Dia bersihkan juga sekitar kepala meriam saya sambil berkata lirih, “Ini kepalanya besar sekali mas… baru kali ini saya lihat kaya gini besarnya. Dikasih makan apa sih koq bisa gini mas..?” katanya manja.

“Sus… enak dimandiin gini…” kata saya memancing.
Dia diam saja, tetapi yang jelas dia mulai mengocok dan memainkan batang kemaluan saya. Sepertinya dia suka dengan ukurannya yang menakjubkan.
“Enak Mas Sony… kalo diginikan..?” tanyanya dengan lirikan nakal.
“Ssshh… iya terusin ahhh… sus… sampai keluar…” kata saya sambil menahan rasa nikmat yang tidak terkira.
Tangan kirinya mengambil air dan membilas batang kejantanan saya yang sudah menegang itu, kemudian disekanya dengan tangan kanannya. Kenapa kok diseka pikir saya. Tetapi saya diam saja, mengikuti apa yang mau dia lakukan, pokoknya jangan berhenti sampai disini saja. Bisa-bisa saya pusing nantinya menahan nafsu yang tidak tersalurkan.

Lalu dia dekatkan kepalanya, dan dijulurkan lidahnya. Kepala batang kejantanan saya dijilatinya perlahan. Lidahnya mengitari kepala senjata meriam saya. Semilyard dollar… rasanya… wow… enak sekali. Lalu dikulumnya batang kejantanan saya. Saya melihat mulutnya sampai penuh rasanya, tetapi belum seluruhnya tenggelam di dalam mulutnya yang mungil. Bibirnya yang tipis terayun keluar masuk saat menghisap maju mundur.

Lama juga saya dikulumi suster jaga ini, sampai akhirnya saya sudah tidak tahan lagi, dan, “Crooott… crooott…” nikmat sekali.
Sperma saya tumpah di dalam rongga mulutnya dan ditelannya habis. Sisa pada ujung batang kemaluan pun dijilat serta dihisapnya habis.
“Sudah ya Mas, sekarang dilanjutkan mandinya ya..?” kata suster itu, dan dia melanjutkan memandikan kaki kiri saya setelah sebelumnya mencuci bersih batang kejantanan saya.
Badan saya dibalikkannya dan dimandikan pula sisi belakang badan terutama punggung saya.

Selesai acara mandi.
“Nanti malam saya ke sini lagi, boleh khan Mas..?” katanya sambil membereskan barang-barangnya.
Saya tidak bisa menjawab dan hanya tersenyum kepadanya. Saya serasa melayang dan tidak percaya hal ini bisa terjadi. Terakhir sebelum keluar kamar dia sempat mencium bibir saya. Hangat sekali.
“Nanti malam saya kasih yang lebih hebat.” begitu katanya seraya meninggalkan kamar saya.

Saya pun berusaha untuk tidur. Nikmat sekali apa yang telah saya alami sore ini. Sambil memikirkan apa yang akan saya dapatkan nanti malam, saya pun tertidur lelap sekali. Tiba-tiba saya dibangunkan oleh suster yang tadi lagi. Tetapi saya belum sempat menanyakan namanya. Baru setelah dia mau keluar kamar selesai meletakkan makanan dan membangunkan saya, dia memberitahukan namanya, rupanya Vina. Cara dia membangunkan saya cukup aneh. Rasanya suster dimanapun tidak akan melakukan dengan cara ini. Dia sempat meremas-remas batang kemaluan saya sambil digosoknya dengan lembut, dan hal itu membuat saya terbangun dari tidur. Langsung saya selesaikan makan saya dengan susah payah. Akhirnya selesai juga. Lalu saya tekan bel.

Tidak lama kemudian datang suster yang lain, saya meminta dia untuk menyalakan TV di atas dan mengangkat makanan saya. Saya nonton acara-acara TV yang membosankan dan juga semua berita yang ditayangkan tanpa konsentrasi sedikit pun.

Sekitar jam 9 malam, suster Vita datang untuk mengobati luka saya, dan dia harus membuka selimut saya lagi. Pada saat dia melihat alat kelamin saya, dia takjub.
“Ngga salah apa yang diomongkan temen-temen di ruang jaga..!” demikian komentarnya.
“Kenapa emangnya Sus..?” tanya saya keheranan.
“Oo… itu tadi teman-teman bilang kalau punya mas besar sekali kepalanya.” jawabnya.
Setelah selesai dengan mengobati luka saya, dan dia akan meninggalkan ruangan. Tetapi dia sempat membetulkan selimut saya, dia sempatkan mengelus kepala batang kejantanan saya.

“Hmmm… gimana ya rasanya..?” manjanya.
Dan saya hanya bisa tersenyum saja. Wah suster di sini gila semua ya pikirku. Jam 22:00, kira-kira saya baru mulai tertidur. Saya mimpi indah sekali di dalam tidur saya karena sebelum tidur tadi otak saya sempat berpikir hal-hal yang jorok. Saya merasakan hangat sekali pada bagian selangkangan, tepatnya pada bagian batang kemaluan saya, sampai saya jadi terbangun. Ternyata suster Vina sedang menghisap senjata saya. Dengan bermalas-malasan, saya menikmati terus hisapannya. Saya mulai ikut aktif dengan meraba dadanya. Suatu lokasi yang saya anggap paling dekat dengan jangkauan tangan saya.

Saya buka kancing atasnya, lalu meraba dadanya di balik BH hitamnya. Terus saya mendapati segumpal daging hangat yang kenyal. Saya menelusuri sambil meremas-remas kecil. Sampai juga pada putingnya. Saya memilin putingnya dengan lembut dan Suster Vina pun mendesah.
Entah berapa lama saya dihisap dan saya merabai Suster Vina, sampai dia akhirnya bilang, “Mas… boleh ya..?” katanya memelas.
“Mangga Sus, dilanjut..?” tanya saya bingung.
Dan tanpa menjawab dia pun meloloskan CD-nya, dilemparkan di sisi ranjang, lalu dia naik ke ranjang dan mulai mengangkangkan kakinya di atas batang kejantanan saya.

Dan, “Bless…” dia memasukkan kemaluan saya pada lubangnya yang hangat dan sudah basah sekali.
“Aduh.. Mas.., kontolnya hangat dan enak lho… ohhhh…”
Lalu dia pun mulai menggoyang perlahan. Pertama dengan gerakan naik turun, lalu disusul dengan gerakan memutar. Wah.., suster ini rupanya sudah profesional sekali. Lubang senggamanya saya rasakan masih sangat sempit, makanya dia juga hanya berani gerak perlahan. Mungkin juga karena saya masih sakit. Lama sekali permainan itu dan memang dia tidak mengganti posisi, karena posisi yang memungkinkan hanya satu posisi. Saya tidur di bawah dan dia di atas tubuh saya.

Sampai saat itu belum ada tanda-tanda saya akan keluar, tetapi kalau tidak salah, dia sempat mengejang sekali. Tadi di pertengahan dan lemas sebentar, lalu mulai menggoyang lagi. Sampai tiba-tiba pintu kamarku dibuka dari luar, dan seorang suster masuk dengan tiba-tiba. Kaget sekali kami berdua, karena tidak ada alasan lain, jelas sekali kami sedang main. Apalagi posisinya baju dinas Suster Vina terbuka sampai perutnya, dan BH-nya juga sudah terlepas dan tergeletak di lantai.
Ternyata yang masuk suster Vita, dia langsung menghampiri dan bilang, “Teruskan saja Vin… gue cuman mau ikutan… memek gue udah gatel nich..!” katanya dengan santai.

Suster Vita pun mengelus dada saya yang agak bidang, dia ciumi seluruh wajah saya dengan lembut. Saya membalasnya dengan meremas dadanya. Dia diam saja, lalu saya buka kancingnya, terus langsung saya loloskan pakaian dinasnya. Saya buka sekalian BH-nya yang berenda tipis dan merangsang. Dadanya terlihat masih sangat kencang. Tinggal CD minim yang digunakannya yang belum saya lepaskan.

Suster Vina masih saja dengan aksinya naik turun dan kadang berputar. Saya lihat dadanya yang terguncang akibat gerakannya yang mulai liar. Lidah Suster Vita mulai memasuki rongga mulut saya dan langsung saya hisap ujung lidahnya yang menjulur itu. Tangan kiri saya mulai meraba di sekitar selangkangan Suster Vita dari luar. Basah sudah CD-nya, dengan perlahan saya tarik ke samping dan saya mendapatkan permukaan bulu halus menyelimuti liang kewanitaannya. Saya elus perlahan, baru kemudian sedikit menekan. Ketemu sudah klit-nya. Agak ke belakang saya rasakan semakin menghangat. Tersentuh olehku kemudian liang nikmat tersebut. Saya raba sampai tiga kali sebelum akhirnya memasukkan jari saya ke dalamnya. Saya mencoba memasukkan sedalam mungkin jari telunjuk saya. Kemudian disusul oleh jari tengah. Saya putar jari-jari saya di dalamnya. Baru kemudian saya kocok keluar masuk sambil memainkan jempol saya di klit-nya.

Dia mendesah ringan, sementara Suster Vina rebahan karena lelah di dadaku dengan pinggulnya tiada hentinya menggoyang kanan dan kiri. Suster Vita menyibak rambut panjang Suster Vina dan mulai menciumi punggung terbuka itu. Suster Vina semakin mengerang, mengerang, dan mengerang, sampai pada erangan panjang yang menandakan dia akan orgasme, dan semakin keras goyangan pinggulnya. Sementara saya sendiri mencoba mengimbangi dengan gerakan yang lebih keras dari sebelumnya, karena dari tadi saya tidak dapat terlalu bergoyang, takut luka saya menjadi sakit.

Suster Vina mengerang panjang sekali seperti orang sedang kesakitan, tetapi juga mirip orang kepedasan. Mendesis di antara erangannya. Dia sudah sampai rupanya, dan dia tahan dulu sementara, baru dicabutnya perlahan. Sekarang giliran Suster Vita, dilapnya dulu batang kemaluan saya yang basah oleh cairan kenikmatan, dikeringkan, baru dia mulai menaiki tubuh saya.

Ketika Suster Vita telah menempati posisinya, saya melihat Suster Vina mengelap liang kemaluannya dengan tissue yang diambilnya dari meja kecil di sampingku. Suster Vita seakan menunggang kuda, dia menggoyang maju mundur, perlahan tapi penuh kepastian. Makin lama makin cepat iramanya. Sementara kedua tangan saya asyik meremas-remas dadanya yang mengembung indah. Kenyal sekali rasanya, cukup besar ukurannya dan lebih besar dari miliknya Suster Vina. Yang ini tidak kurang dari 36C.

Sesekali saya mainkan putingnya yang mulai mengeras. Dia mendesis, hanya itu jawaban yang keluar dari mulutnya. Desisan itu sungguh manja kurasakan, sementara Suster Vina telah selesai dengan membersihkan liang hangatnya. Kemudian dia mulai lagi mengelus-elus badan telanjang Suster Vita dan juga memainkan rambutku, mengusapnya. Kemudian karena sudah cukup pemanasannya, dia mulai menaiki ranjang lagi. Dikangkangkannya kakinya yang jenjang di atas kepala saya. Setengah berjongkok gayanya saat itu dengan menghadap tembok di atas kepala saya. Kedua tangannya berpegangan pada bagian kepala ranjang.

Mulai disorongkannya liang kenikmatannya yang telah kering ke mulut saya. Dengan cepat saya julurkan lidah, lalu saya colek sekali dan menarik nafas, “Hhhmmm…” bau khas kewanitaannya. Saya jilat liangnya dengan lidah saya yang memang terkenal panjang. Saya mainkan lidah saya, mereka berdua mengerang bersamaan, kadang bersahutan. Saya lihat lubang pantatnya yang merah agak terbuka, lalu saya masukkan jari jempol ke dalam lubang pantatnya.
Suster Vina merintih kecil, “Auuww… mas nakal deh..!”
Lalu saya jilati lubang pantatnya yang sudah mulai basah itu, tapi kemudian, “Tuuuttt..!”
Saya kaget, “Suster kentut ya..?” tanya saya.
Suster Vina tertawa kecil lalu minta maaf. Lalu kembali saya teruskan jilatan saya.

Lama sekali permainannya, sampai tiba-tiba Suster Vita mengerang besar dan panjang serta mengejang. Setelah Suster Vita selesai, dia mencabut batang kejantanan saya, sedang lidah saya tetap menghajar liang kenikmatan Suster Vina. Sesekali saya menjilati klit-nya. Dia menggelinjang setiap kali lidah saya menyentuh klit-nya. Mendengar desisan Suster Vina sudah lemas dan beranjak turun dari posisinya, saya menyudahi permainan ini. Saya lunglai rasanya menghabisi dua suster sekaligus.

“Kasihan Mas Sony, nanti sembuhnya jadi lama… soalnya ngga sempet istirahat..!” kata Suster Vina.
“Iya dan kayanya kita akan setiap malam rajin minta giliran kaya malem ini.” sahut suster Vita.
“Kalo itu dibuat system arisan saja.” kata Suster Vina sadis sekali kedengarannya.
“Emangnya gue piala bergilir apa..?” kata saya dalam hati.

Malam itu saya tidur lelap sekali dan saya sempat minta Suster Vina menemaniku tidur, saya berjanji tiap malam, mereka dapat giliran menemani saya tidur, tetapi setelah mendapat jatah batin tentunya. Malam itu kami tidur berdekapan mesra sekali seperti pengantin baru dan sama-sama polos. Sampai jam 4 pagi, dia minta jatah tambahan dan kami pun bermain one on one (satu lawan satu, tidak keroyokan seperti semalam). Hot sekali dia pagi itu, karena kami lebih bebas tetapi yang kacau adalah setelah selesai. Saya merasa sakit karena luka kaki saya menjadi berdarah lagi. Jadi terpaksa ketahuan dech sama Suster Vita kalau ada sesi tambahan, dan mereka berdua pun ramai-ramai mengobati luka saya, sambil masih ingin melihat kejantanan dasyat yang meluluh lantakkan tubuh mereka semalaman.

Setelah itu, sekitar jam 5:00, saya kembali tidur sampai pagi jam 7:20. Saya dibangunkan untuk mandi pagi. Mandi pagi dibantu oleh Suster Vita dan sempat dihisap sampai keluar dalam mulutnya.

Pada pagi harinya, Dokter Vivi melihat keadaan saya.
“Gimana Mas Sony, masih sakit kakinya..?” katanya.
“Sudah lumayan Dok..!” kata saya.
Lalu, “Sekarang coba kamu tarik nafas lalu hembuskan, begitu berulang-ulang ya..!”
Dengan stetoskopnya, Dokter Vivi memeriksa tubuh saya. Saat stetoskopnya yang dingin itu menyentuh dada saya, seketika itu juga suatu aliran aneh menjalar di tubuh saya. Tanpa saya sadari, saya rasakan batang kejantanan saya mulai menegang. Saya menjadi gugup, takut kalau Dokter Vivi tahu. Tapi untung dia tidak memperhatikan gerakan di balik selimut saya. Namun setiap sentuhan stetoskopnya, apalagi setelah tangannya menekan-nekan ulu hati, semakin membuat batang kejantanan saya bertambah tegak lagi, sehingga cukup menonjol di balik selimut.

“Wah, kenapa kamu ini..? Kok itu kamu berdiri..? Terangsang saya ya..?” katanya.
Mati deh! Ternyata Dokter Vivi mengetahui apa yang terjadi diselangkangan saya. Aduh!
Lalu dia dengan tiba-tiba membuka selimut sambil berkata, “Sekarang saya mau periksa kaki mas…” katanya.
Dan, “Opsss… i did it again..!” terpampanglah kemaluan saya yang besar dihadapannya.
Gila! Dokter Vivi tertawa melihat batang kejantanan saya yang besar dan mengeras itu.
“Uh, kontol mas besar ya..?” kata Dokter Vivi serasa mengelus kemaluan saya dengan tangannya yang halus.
Wajah saya menjadi bersemu merah dibuatnya, sementara tanpa dapat dicegah lagi, senjata saya semakin bertambah tegak tersentuh tangan Dokter Vivi. Dokter Vivi masih mengelus-elus dan mengusap-usap batang kejantanan saya itu dari pangkal hingga ujung, juga meremas-remas biji kembar saya.

“Mmm… mas pernah bermain..?” katanya manja.
Saya menggeleng. Saya pura-pura agar ya…ya…ya….
“Aahhh…” saya mendesah ketika mulut Dokter Vivi mulai mengulum kemaluan saya.
Lalu dengan lidahnya yang kelihatannya sudah mahir, digelitiknya ujung kemaluan saya itu, membuat saya menggerinjal-gerinjal. Seluruh kemaluan saya sudah hampir masuk ke dalam mulut Dokter Vivi yang cantik itu. Dengan bertubi-tubi disedot-sedotnya kemaluan saya. Terasa geli dan nikmat sekali.

Dokter Vivi segera melanjutkan permainannya. Ia memasukkan dan mengeluarkan kejantanan saya dari dalam mulutnya berulang-ulang, naik-turun. Gesekan-gesekan antara kemaluan saya dengan dinding mulutnya yang basah membangkitkan kenikmatan tersendiri bagi saya.
“Auuh… aahhh…” akhirnya saya sudah tidak tahan lagi.
Batang kemaluan saya menyemprotkan sperma kental berwarna putih ke dalam mulut Dokter Vivi. Bagai kehausan, Dokter Vivi meneguk semua cairan kental tersebut sampai habis.
“Duh, masa baru begitu saja mas udah keluar.” Dokter Vivi meledek saya yang baru bermain oral saja sudah mencapai klimaks.

“Dok.., saya… baru pertama kali… melakukan ini…” jawab saya terengah-engah (kena dia, tetapi memang saya akui hisapannya lebih hebat dari kedua suster tadi malam). Dokter Vivi tidak menjawab. Ia mencopot jas dokternya dan menyampirkannya di gantungan baju di dekat pintu. Kemudian ia menanggalkan kaos oblong yang dikenakannya, juga celana jeans-nya. Mata saya melotot memandangi payudara montoknya yang tampaknya seperti sudah tidak sabar ingin meloncat keluar dari balik BH-nya yang halus. Mata saya serasa mau meloncat keluar sewaktu Dokter Vivi mencopot BH-nya dan memelorotkan CD-nya. Astaga! Sungguh besar namun terpelihara dan kencang. Tidak ada tanda-tanda kendor atau lipatan-lipatan lemak di tubuhnya. Demikian pula pantatnya. Masih menggumpal bulat yang montok dan kenyal. Benar-benar tubuh paling sempurna yang pernah saya lihat selama hidup ini. Saya merasakan batang kejantanan saya mulai bangkit lebih tinggi menyaksikan pemandangan yang teramat indah ini.

Dokter Vivi kembali menghampiri saya. Ia menyodorkan payudaranya yang menggantung kenyal ke wajah saya. Tanpa mau membuang waktu, saya langsung menerima pemberiannya. Mulut saya langsung menyergap payudara nan indah ini. Sambil menyedot-nyedot puting susunya yang amat tinggi itu, mengingatkan saya ketika menyusu pada kedua suster tadi malam.
“Uuuhhh… Aaah…” Dokter Vivi mendesah-desah tatkala lidah saya menjilat-jilati ujung puting susunya yang begitu tinggi menantang.
Saya permainkan puting susu yang memang amat menggiurkan ini dengan bebasnya. Sekali-sekali saya gigit puting susunya itu. Tidak cukup keras memang, namun cukup membuat Dokter Vivi menggelinjang sambil meringis-ringis.

Tidak lama kemudian, saya menarik tangan Dokter Vivi agar ikut naik ke atas tempat tidur. Dokter Vivi memahami apa maksud saya. Ia langsung naik ke atas tubuh saya yang terbaring telentang di tempat tidur. Perlahan-lahan dengan tubuh sedikit menunduk, ia mengarahkan kemaluan saya ke lubang kewanitaannya yang di sekelilingnya ditumbuhi bulu-bulu lebat kehitaman. Lalu dengan cukup keras, setelah batang kejantanan saya sudah masuk 2 cm ke dalam liang senggamanya, ia menurunkan pantatnya, membuat senjata saya hampir tertelan seluruhnya di dalam lubang surganya. Saya melenguh keras dan menggerinjal-gerinjal cukup kencang waktu ujung kepala kemaluan saya menyentuh pangkal rahim Dokter Vivi. Menyadari bahwa saya mulai terangsang, Dokter Vivi menambah kualitas permainannya. Ia menggerak-gerakkan pantatnya, berputar-putar ke kiri ke kanan dan naik turun ke atas ke bawah. Begitu seterusnya berulang-ulang dengan tempo yang semakin lama semakin tinggi. Membuat tubuh saya menjadi meregang merasakan nikmat yang bukan main.

Saya merasa sudah hampir tidak tahan lagi. Batang keperkasaan saya sudah nyaris menyemprotkan cairan kenikmatan lagi. Namun saya mencoba menahannya sekuat tenaga dan mencoba mengimbangi permainan Dokter Vivi yang liar itu.
Akhirnya, “Aaahh…” jerit saya.
“Ouuhhh..!” desah Dokter Vivi.
Dokter Vivi dan saya menjerit keras. Kami berdua mencapai klimaks hampir bersamaan. Saya menyemprotkan air mani saya di dalam liang rahim Dokter Vivi yang masih berdenyut-denyut menjepit keperkasaan saya yang masih kelihatan tegang itu.

Lalu, wajah, mata, dahi, hidung saya habis diciumi oleh Dokter Vivi sambil berkata, “Terima kasih Mas Sony, ohhh… endanggg..!”
Kami tidak lama kemudian tertidur dalam posisi yang sama, yaitu kakinya melingkar di pinggang saya sambil memeluk tubuh saya dengan hangat. Nah itulah cerita saya.

eve dan Emely

Filed under: RAMAI-RAMAI

Kuparkirkan mobil keluaran tahun ‘94 ku didepan rumahku, baru saja aku membuka pintu pagar kecil rumahku setelah kuaktifkan alarm mobilku, ada suara kukenal memanggil namaku. Aku menoleh, ternyata Khira yang berlari kecil kearahku dengan tangan kanannya menggenggam minuman dengan gelas kertas bermerek”M” perusahaan paman Sam yang terkenal itu. Aku menunggu dengan senyumku yang terkenal nakal oleh teman teman cewek kerjaku.
“Jack, sudah satu jam lebih aku menunggu” Katanya dengan nafas yang memburu.
“Aku baru saja sampai” Kataku sambil mempersilahkan Khira masuk duluan kepekarangan rumahku.
“Memangnya kamu tidak tahu aku kerja pagi?” Lanjutku lagi.
Sambil membuang gelas kertas kosong ketempat sampah disudut pekaranganku Khira membalas “Aku kira kamu masih libur?!”
Kupersilahkan lagi Khira untuk masuk duluan kedalam rumahku, Khira langsung keruang tamu dan aku seperti biasanya meletakan tas peralatan kerjaku dan langsung periksa mesin penjawabku. (Aku bekerja sebagai tukang masak di Hotel) Ternyata ada dua pesan, langsung kudengarkan pesan itu.
“Jack, ini mama. tolong balas secepatnya. Kami tunggu!” Suara mamaku sampai disitu.
“Aku bingung dengan kata “kami” itu. Pesan keduapun mulai “Hi Jack, ini………” Baru sampai disitu kustop mesinku, karena aku tahu itu suara Eve.
“Siapa Jack?” Khira bertanya dari ruang tamuku tanpa menoleh kearahku.
“Dari keluargaku” Jawabku singkat sambil berkata dalam hati “Khira belum apa apa sudah mau tahu aja urusan orang”
Aku menuju ke lemari es ku sambil menawarkan Khira “Mau minum apa kamu?”
Tak ada jawaban, dan ketika aku sedang membungkuk untuk memeriksa keadaan lemari es ku, aku merasa ada tangan yang merangkulku dan punggungku terasa dibebani wajahnya. Aku menegakan badanku perlahan dan berbalik tanpa berusaha melepaskan rangkulannya. Kini kami berhadapan, wajah manis…..sangat manis itu memandangku. Ada rasa aneh dalam hatiku, rasa aneh yang indah. Indah sekali. Kepalaku meremang. Lalu ku kecup bibir merah muda yang sedang tersenyum itu. Kami berpautan. Lidahku berusaha untuk memasuki rongga mulutnya tapi terhalang oleh lidahnya yang juga bersikeras untuk memasuki rongga mulutku. Nafas kami memburu. Nafsu kami memuncak. Nafsuku membimbing tangan kiriku untuk meremas bongkahan pinggulnya yang tak terlalu besar itu. Sedangkan tangan kananku berusaha menekan kepalanya agar bibirnya semakin ketat dengan bibirku. Khira mendesah tersumbat. Kedua tangan Khira meremas kepalaku, remasannya semakin kuat, semakin kuat…………… Kemudian kedua tangannya berusaha melepaskan ikat pinggangku, mulutnya terlepas dari mulutku, tapi belum sempat Khira menarik nafas kutarik lagi wajahnya dengan kedua tanganku untuk kembali keposisi semula. Khira bernafas dalam mulutku. Oh nikmatnya saat itu. Ku bantu Khira untuk melepaskan celanaku, kubantu Khira untuk membuka bajuku. Belum sempat bajuku menyentuh lantai dapurku, kurasakan jilatan lidah Khira pada pentil didadaku. Aku merasakan nikmat dan sedikit geli tapi hal itu tak lama berlalu, rasa nikmat lebih menguasai ku ketika kerasakan tangan Khira berhasil masuk kedalam celana dalamku dan meremas remas kepala barangku yang sedikit licin karena cairan yang keluar tanpa kurasa itu. Kami tak mampu mengucapkan apa apa, hanya suara lenguh yang keluar dari mulut kami. Dengan terpaksa lidah Khira terlepas dari dadaku dan tangan Khira terangkat keatas ketika kubuka kaosnya. Rambut Khira menjadi acak acakan karena kubuka kaos itu dengan kasar. Tapi semua itu membuat wajah Khira semakin membangkitkan nafsuku. Bagaimana tidak! Wajah manis, dengan rambut yang acak acakan dan sebagian rambutnya menempel diwajahnya karena keringat nafsunya.
Kemudian Khira membimbingku untuk berbaring dilantai, aku merasa dingin karena lantai dapurku tidak dilapisi apa-apa. Kututup pintu lemari es ku dengan kaki kiriku. Setelah Khira melepaskan roknya, dia segera berlutut, wajah menuju kearahku. Ternyata wajah nya bukan menuju kearah wajahku, melainkan kearah barangku. Ku stop dia “Jangan Khira, masih kotor” Kataku. Tapi Khira tak perduli. Kurasakan kepala barangku memasuki mulutnya, makin masuk …. masuk lagi … Oooooooohhhhhhhhhhh …………. ssssssshhhhhhhhh …….. erangku nikmat …. Barangku telah masuk setengahnya kedalam mulut Khira, dan kurasakan nikmat yang benar benar nikmat, setelah ada sapuan dikepala barangku yang berada dimulut Khira. Rupanya dengan mulut yang melahap barangku, lidahnya melingkar lingkar dikepala barangku. Ku sibakan rambutnya untuk melihat wajahnya, nampak mulut kecil itu terpaksa harus dibuka lebar untuk bisa melakukan tugasnya.
Kepala Khira naik turun lembut dengan menimbulkan bunyi kecipak yang mengundang nikmat bagi yang mendengar dan merasakannya. Aku merasa kedua kakiku gemetar mataku tak mampu kubuka sambil mendesah lirih menahan nikmat yang tak terkira, aku merasa sesuatu akan keluar dari barangku ………. oohhh …….. ssssssshhhhhhhh ……. aaaahhhhh ….. nikmat sekali. Tiba tiba mulut Khira tercabut, aku kaget karena hampir saja aku sampai kepuncak nikmat……
“Lututku sakit Jack?!” Katanya memohon sambil membasuh mulutnya yang belepotan air liur dengan kaos yang tadi dipakainya.
“Kita kekamar saja!” Kataku setengah memerintah sambil berusaha berdiri dan menuntun Khira kearah kamarku.
Sampai dikamar kusarankan agar Khira terlentang dengan tubuh seluruhnya berada diatas kasur akupun ingin membagi kenikmatan padanya, maka kuarahkan wajahku kebarangnya dan barangku tepat diatas wajahnya. Tapi baru saja lidahku menguak barang nya, lutut Khira terhentak sambil memekik … aaakkhhh kuteruskan kegiatanku, kusapu sapu barangnya dengan lidahku Khira merintih lagi sambil menyebut namaku .. oooohhhhhh …… Jack ……. tteeruuusss …… Jack ……… Jack ……… ooohhhhhhh Aku semakin nafsu, kukuakkan barangnya dan kuarahkan lidahku untuk memasuki lobang nikmatnya. Sedikit asin dan licin, aku tak perduli. Kujulurkan lidahku kumasukan lagi kelobang nikmat Khira, setelah masuk kumainkan lidahku didalam lobang nikmat itu. Khira berteriak sambil menekan kepalaku dengan kedua tangannya agar semakin terbenam di barangnya. Tubuh Khira menghentak hentak keras sekali rambutku dijambaknya sambil menekan kebawah, aku tahu Khira telah mencapai tujuannya kepalanya menggelepar gelepar , sehingga barangku yang sudah sangat tegang itu seperti ditempeleng oleh pipi kiri dan kanan Khira. Maka untuk menambah nikmat baginya kuarahkan kedua tanganku untuk menggapai telapak kaki kiri dan kanannya sedangkan wajahku masih menetap di lobang yang berdenyut denyut itu. Setelah berhasil kugapai kedua telapak kakinya, kugelitik lembut telapak kaki itu, kusapu sapu barangnya dengan lidahku, semakin menegang tubuh Khitra “Jaaaaaaaaaaaack ….. aku …. aku …… keluar lagi …… ooooooooooooohhhhhhhhhhhhhhhhhhh” Tubuh itu melemas. Wajahku banjir. Akupun merobah posisiku, kali ini kutempatkan tubuhku diantara kedua pahanya dengan tergesa karena nafsu yang tak tertahan lagi kuarahkan barangku kebarang Khira yang masih berdenyut dan banjir itu. Tapi belum sempat terlaksana maksudku tangan Khira merampas barangku
“Jack, aku bukan perawan lagi, tapi pelan pelan yah? Karena barangnya tidak sebesar barangmu” Katanya setengah berharap agar aku dapat mengerti. Akupun tersenyum nafsu. Kemudian kutekan kepala barangku kelobang yang sudah becek itu, nikmat sekali ketika kurasakan gesekan barang Khira menelan kepala barangku, kutekan lagi, Khira merintih sambil berusaha memindahkan posisi barangnya agar menjauh dari rudalku. Aku penasaran kutekan lagi seperempat barangku terbenam sudah ada rasa ngilu nikmat dikepala barangku karena gesekan barang Khira, dan karena Khira yang berusaha menghindar, malah menambah kenikmatan bagiku. Khira merintih …….ssssshhhhhhhhhhh …………………….. sssssshhhhhh ……………. sssssshhhhhhhh Kuhentikan niatku untuk menekan lagi barangku, karena kulihat butir bening hampir tergulir jatuh kepipinya.
“Kenapa Khira?” Tanyaku heran sedangkan barangku masih terbenam.
“Tidak apa apa Jack, teruskan saja!?” Balasnya sambil melontarkan senyum yang dipaksakan sambil kedua tangannya membelai pipiku.
Gairahku hilang, sambil mengumpat dalam hati aku bangkit dari tubuhnya dan duduk ditepi kasur.
“Kenapa tidak diteruskan Jack?!” katanya sambil membuka kedua tangannya mengundangku untuk kembali kedekapannya. Kupaksakan selembut mungkin pertanyaanku padanya “Khira, kenapa kamu menangis?”
Sambil bangkit dan duduk tepat disisiku Khira menjawab “Barangku ngilu dan sedikit sakit Jack”
“Kenapa kamu tidak bilang?” Suaraku lembut tanpa kupaksakan.
“Aku takut kamu tidak percaya dan malah marah” Lanjutnya lagi sambil dipeluknya aku dari samping dan direbahkan kepalanya dibahuku. Ada rasa iba dihatiku terhadapnya. Kuajak Khira untuk sama sama berdiri, kamipun berhadapan. Mata yang masih agak memerah itu kukecup selembut mungkin. Kudekap erat tubuhnya Khira membalas, barangku yang tepat berhadapan dengan barangnya, terasa geli karena barangku manggut manggut tersentuh bulu halus barang Khira. Khira melepaskan pelukannya, dan menatapku sambil tersenyum (Manis sekali)
“Kuhisap lagi yah biar kamu puas” Tawarnya padaku sambil menggenggam barangku.
“Lain kali saja Khira, sungguh aku tidak marah” Kataku tersenyum padanya. Aku bangga pada diriku, karena aku tidak egois pada saat itu.
“Jack, kamu belum menjawab ucapanku saat kita pertama bertemu? Katanya tanpa menoleh.
“Menjawab apa?” Tanyaku coba menghindar.
“Ah, nggak” Suaranya lagi. Aku bersyukur karena terputus pokok pembicaraan “I love you”
“Khira aku mandi dulu yah” Tanyaku tanpa mengharapkan jawabannya.
Belum sempat kututup pintu kaca didalam kamar mandiku Khira yang bugil menyeruak masuk
“Sama sama yah” Katanya setelah kami berdua didalam.
Didalam kamar mandi kami saling menyabuni, barangku tegang lagi, tapi tidak terjadi adengan merangsang dalam acara mandi kami. Setelah selesai kami berpakaian, Khira meminjam kaosku
karena kaosnya belepotan setelah dipakai untuk mengelap mulut nya didapur tadi.
“Jack, sudah hampir jam 7 (pm), aku pulang yah, soalnya pamanku hari ini datang” Katanya.
“Pamanmu yang mana?” Tanyaku sok tahu, padahal aku tidak pernah tahu keluarga Khira.
“Kakaknya ayahku, dia mau buka usaha disini, dia sudah tak betah berusaha di Jepang lagi” Kata Khira. “Tapi pamanku masih belum pastikan di Melbourne atau di Sydney untuk buka usahanya” Kata Khira lagi sambil menghampiriku.
Akupun langsung memeluknya, dan kami saling berpagutan singkat. Khira menatapku, akupun menatapnya. (Heran aku, setiap kali kutatap wajah Khira ada rasa indah dalam hatiku)
“Jack,….ah nanti sajalah” Katanya sambil melepaskan rangkulannya dan menuju arah pintu keluar.
“Mau kuantar?” Tawarku tapi Khira menolak dengan halus. Kebetulan kataku dalam hati.
Sesampainya diluar pintu pekaranganku. Khira memanggilku lagi “Jack!” Lalu bibirnya bergerak tanpa suara, tapi aku tahu huruf huruf yang dibentuk oleh bibir mungil dan indah itu
“I Love You” Khirapun melangkah seperti layaknya anak anak yang mendapat uang jajan kelebihan. Aku hanya manggut saja sambil tersenyum dan melambaikan tanganku padanya.
Setelah yakin Khira tidak lagi dalam pandangan, aku berlari masuk dan mendengarkan lagi mesin penjawabku. Pertama kuliwatkan saja, karena itu dari mamaku. Yang kedua berbunyi “ Hi Jack, Eve dan Emily nih. Kami sekarang ada dirumah teman, acara perpisahan, kalau sempat tolong jemput kami sebelum Jam 7.30 (pm). Alamatnya ?? Commercial Rd. Prahran. Sempatkan yah Jack!” Pesan Eve diakhiri dengan PIP PIP PIP Mesinku. Kulihat jam dindingku waktu menunjukan pukul 7.04pm, aku segera bangkit ganti celana pendekku dengan celana Jeans hitam dan tancap gas.

Older Posts