kumpulan cerita dewasa dari berbagai sumber …

<?php wp_title('«', true, 'right'); ?> <?php bloginfo('name'); ?>





July 17, 2008

eve dan Emely

Filed under: RAMAI-RAMAI

Kuparkirkan mobil keluaran tahun ‘94 ku didepan rumahku, baru saja aku membuka pintu pagar kecil rumahku setelah kuaktifkan alarm mobilku, ada suara kukenal memanggil namaku. Aku menoleh, ternyata Khira yang berlari kecil kearahku dengan tangan kanannya menggenggam minuman dengan gelas kertas bermerek”M” perusahaan paman Sam yang terkenal itu. Aku menunggu dengan senyumku yang terkenal nakal oleh teman teman cewek kerjaku.
“Jack, sudah satu jam lebih aku menunggu” Katanya dengan nafas yang memburu.
“Aku baru saja sampai” Kataku sambil mempersilahkan Khira masuk duluan kepekarangan rumahku.
“Memangnya kamu tidak tahu aku kerja pagi?” Lanjutku lagi.
Sambil membuang gelas kertas kosong ketempat sampah disudut pekaranganku Khira membalas “Aku kira kamu masih libur?!”
Kupersilahkan lagi Khira untuk masuk duluan kedalam rumahku, Khira langsung keruang tamu dan aku seperti biasanya meletakan tas peralatan kerjaku dan langsung periksa mesin penjawabku. (Aku bekerja sebagai tukang masak di Hotel) Ternyata ada dua pesan, langsung kudengarkan pesan itu.
“Jack, ini mama. tolong balas secepatnya. Kami tunggu!” Suara mamaku sampai disitu.
“Aku bingung dengan kata “kami” itu. Pesan keduapun mulai “Hi Jack, ini………” Baru sampai disitu kustop mesinku, karena aku tahu itu suara Eve.
“Siapa Jack?” Khira bertanya dari ruang tamuku tanpa menoleh kearahku.
“Dari keluargaku” Jawabku singkat sambil berkata dalam hati “Khira belum apa apa sudah mau tahu aja urusan orang”
Aku menuju ke lemari es ku sambil menawarkan Khira “Mau minum apa kamu?”
Tak ada jawaban, dan ketika aku sedang membungkuk untuk memeriksa keadaan lemari es ku, aku merasa ada tangan yang merangkulku dan punggungku terasa dibebani wajahnya. Aku menegakan badanku perlahan dan berbalik tanpa berusaha melepaskan rangkulannya. Kini kami berhadapan, wajah manis…..sangat manis itu memandangku. Ada rasa aneh dalam hatiku, rasa aneh yang indah. Indah sekali. Kepalaku meremang. Lalu ku kecup bibir merah muda yang sedang tersenyum itu. Kami berpautan. Lidahku berusaha untuk memasuki rongga mulutnya tapi terhalang oleh lidahnya yang juga bersikeras untuk memasuki rongga mulutku. Nafas kami memburu. Nafsu kami memuncak. Nafsuku membimbing tangan kiriku untuk meremas bongkahan pinggulnya yang tak terlalu besar itu. Sedangkan tangan kananku berusaha menekan kepalanya agar bibirnya semakin ketat dengan bibirku. Khira mendesah tersumbat. Kedua tangan Khira meremas kepalaku, remasannya semakin kuat, semakin kuat…………… Kemudian kedua tangannya berusaha melepaskan ikat pinggangku, mulutnya terlepas dari mulutku, tapi belum sempat Khira menarik nafas kutarik lagi wajahnya dengan kedua tanganku untuk kembali keposisi semula. Khira bernafas dalam mulutku. Oh nikmatnya saat itu. Ku bantu Khira untuk melepaskan celanaku, kubantu Khira untuk membuka bajuku. Belum sempat bajuku menyentuh lantai dapurku, kurasakan jilatan lidah Khira pada pentil didadaku. Aku merasakan nikmat dan sedikit geli tapi hal itu tak lama berlalu, rasa nikmat lebih menguasai ku ketika kerasakan tangan Khira berhasil masuk kedalam celana dalamku dan meremas remas kepala barangku yang sedikit licin karena cairan yang keluar tanpa kurasa itu. Kami tak mampu mengucapkan apa apa, hanya suara lenguh yang keluar dari mulut kami. Dengan terpaksa lidah Khira terlepas dari dadaku dan tangan Khira terangkat keatas ketika kubuka kaosnya. Rambut Khira menjadi acak acakan karena kubuka kaos itu dengan kasar. Tapi semua itu membuat wajah Khira semakin membangkitkan nafsuku. Bagaimana tidak! Wajah manis, dengan rambut yang acak acakan dan sebagian rambutnya menempel diwajahnya karena keringat nafsunya.
Kemudian Khira membimbingku untuk berbaring dilantai, aku merasa dingin karena lantai dapurku tidak dilapisi apa-apa. Kututup pintu lemari es ku dengan kaki kiriku. Setelah Khira melepaskan roknya, dia segera berlutut, wajah menuju kearahku. Ternyata wajah nya bukan menuju kearah wajahku, melainkan kearah barangku. Ku stop dia “Jangan Khira, masih kotor” Kataku. Tapi Khira tak perduli. Kurasakan kepala barangku memasuki mulutnya, makin masuk …. masuk lagi … Oooooooohhhhhhhhhhh …………. ssssssshhhhhhhhh …….. erangku nikmat …. Barangku telah masuk setengahnya kedalam mulut Khira, dan kurasakan nikmat yang benar benar nikmat, setelah ada sapuan dikepala barangku yang berada dimulut Khira. Rupanya dengan mulut yang melahap barangku, lidahnya melingkar lingkar dikepala barangku. Ku sibakan rambutnya untuk melihat wajahnya, nampak mulut kecil itu terpaksa harus dibuka lebar untuk bisa melakukan tugasnya.
Kepala Khira naik turun lembut dengan menimbulkan bunyi kecipak yang mengundang nikmat bagi yang mendengar dan merasakannya. Aku merasa kedua kakiku gemetar mataku tak mampu kubuka sambil mendesah lirih menahan nikmat yang tak terkira, aku merasa sesuatu akan keluar dari barangku ………. oohhh …….. ssssssshhhhhhhh ……. aaaahhhhh ….. nikmat sekali. Tiba tiba mulut Khira tercabut, aku kaget karena hampir saja aku sampai kepuncak nikmat……
“Lututku sakit Jack?!” Katanya memohon sambil membasuh mulutnya yang belepotan air liur dengan kaos yang tadi dipakainya.
“Kita kekamar saja!” Kataku setengah memerintah sambil berusaha berdiri dan menuntun Khira kearah kamarku.
Sampai dikamar kusarankan agar Khira terlentang dengan tubuh seluruhnya berada diatas kasur akupun ingin membagi kenikmatan padanya, maka kuarahkan wajahku kebarangnya dan barangku tepat diatas wajahnya. Tapi baru saja lidahku menguak barang nya, lutut Khira terhentak sambil memekik … aaakkhhh kuteruskan kegiatanku, kusapu sapu barangnya dengan lidahku Khira merintih lagi sambil menyebut namaku .. oooohhhhhh …… Jack ……. tteeruuusss …… Jack ……… Jack ……… ooohhhhhhh Aku semakin nafsu, kukuakkan barangnya dan kuarahkan lidahku untuk memasuki lobang nikmatnya. Sedikit asin dan licin, aku tak perduli. Kujulurkan lidahku kumasukan lagi kelobang nikmat Khira, setelah masuk kumainkan lidahku didalam lobang nikmat itu. Khira berteriak sambil menekan kepalaku dengan kedua tangannya agar semakin terbenam di barangnya. Tubuh Khira menghentak hentak keras sekali rambutku dijambaknya sambil menekan kebawah, aku tahu Khira telah mencapai tujuannya kepalanya menggelepar gelepar , sehingga barangku yang sudah sangat tegang itu seperti ditempeleng oleh pipi kiri dan kanan Khira. Maka untuk menambah nikmat baginya kuarahkan kedua tanganku untuk menggapai telapak kaki kiri dan kanannya sedangkan wajahku masih menetap di lobang yang berdenyut denyut itu. Setelah berhasil kugapai kedua telapak kakinya, kugelitik lembut telapak kaki itu, kusapu sapu barangnya dengan lidahku, semakin menegang tubuh Khitra “Jaaaaaaaaaaaack ….. aku …. aku …… keluar lagi …… ooooooooooooohhhhhhhhhhhhhhhhhhh” Tubuh itu melemas. Wajahku banjir. Akupun merobah posisiku, kali ini kutempatkan tubuhku diantara kedua pahanya dengan tergesa karena nafsu yang tak tertahan lagi kuarahkan barangku kebarang Khira yang masih berdenyut dan banjir itu. Tapi belum sempat terlaksana maksudku tangan Khira merampas barangku
“Jack, aku bukan perawan lagi, tapi pelan pelan yah? Karena barangnya tidak sebesar barangmu” Katanya setengah berharap agar aku dapat mengerti. Akupun tersenyum nafsu. Kemudian kutekan kepala barangku kelobang yang sudah becek itu, nikmat sekali ketika kurasakan gesekan barang Khira menelan kepala barangku, kutekan lagi, Khira merintih sambil berusaha memindahkan posisi barangnya agar menjauh dari rudalku. Aku penasaran kutekan lagi seperempat barangku terbenam sudah ada rasa ngilu nikmat dikepala barangku karena gesekan barang Khira, dan karena Khira yang berusaha menghindar, malah menambah kenikmatan bagiku. Khira merintih …….ssssshhhhhhhhhhh …………………….. sssssshhhhhh ……………. sssssshhhhhhhh Kuhentikan niatku untuk menekan lagi barangku, karena kulihat butir bening hampir tergulir jatuh kepipinya.
“Kenapa Khira?” Tanyaku heran sedangkan barangku masih terbenam.
“Tidak apa apa Jack, teruskan saja!?” Balasnya sambil melontarkan senyum yang dipaksakan sambil kedua tangannya membelai pipiku.
Gairahku hilang, sambil mengumpat dalam hati aku bangkit dari tubuhnya dan duduk ditepi kasur.
“Kenapa tidak diteruskan Jack?!” katanya sambil membuka kedua tangannya mengundangku untuk kembali kedekapannya. Kupaksakan selembut mungkin pertanyaanku padanya “Khira, kenapa kamu menangis?”
Sambil bangkit dan duduk tepat disisiku Khira menjawab “Barangku ngilu dan sedikit sakit Jack”
“Kenapa kamu tidak bilang?” Suaraku lembut tanpa kupaksakan.
“Aku takut kamu tidak percaya dan malah marah” Lanjutnya lagi sambil dipeluknya aku dari samping dan direbahkan kepalanya dibahuku. Ada rasa iba dihatiku terhadapnya. Kuajak Khira untuk sama sama berdiri, kamipun berhadapan. Mata yang masih agak memerah itu kukecup selembut mungkin. Kudekap erat tubuhnya Khira membalas, barangku yang tepat berhadapan dengan barangnya, terasa geli karena barangku manggut manggut tersentuh bulu halus barang Khira. Khira melepaskan pelukannya, dan menatapku sambil tersenyum (Manis sekali)
“Kuhisap lagi yah biar kamu puas” Tawarnya padaku sambil menggenggam barangku.
“Lain kali saja Khira, sungguh aku tidak marah” Kataku tersenyum padanya. Aku bangga pada diriku, karena aku tidak egois pada saat itu.
“Jack, kamu belum menjawab ucapanku saat kita pertama bertemu? Katanya tanpa menoleh.
“Menjawab apa?” Tanyaku coba menghindar.
“Ah, nggak” Suaranya lagi. Aku bersyukur karena terputus pokok pembicaraan “I love you”
“Khira aku mandi dulu yah” Tanyaku tanpa mengharapkan jawabannya.
Belum sempat kututup pintu kaca didalam kamar mandiku Khira yang bugil menyeruak masuk
“Sama sama yah” Katanya setelah kami berdua didalam.
Didalam kamar mandi kami saling menyabuni, barangku tegang lagi, tapi tidak terjadi adengan merangsang dalam acara mandi kami. Setelah selesai kami berpakaian, Khira meminjam kaosku
karena kaosnya belepotan setelah dipakai untuk mengelap mulut nya didapur tadi.
“Jack, sudah hampir jam 7 (pm), aku pulang yah, soalnya pamanku hari ini datang” Katanya.
“Pamanmu yang mana?” Tanyaku sok tahu, padahal aku tidak pernah tahu keluarga Khira.
“Kakaknya ayahku, dia mau buka usaha disini, dia sudah tak betah berusaha di Jepang lagi” Kata Khira. “Tapi pamanku masih belum pastikan di Melbourne atau di Sydney untuk buka usahanya” Kata Khira lagi sambil menghampiriku.
Akupun langsung memeluknya, dan kami saling berpagutan singkat. Khira menatapku, akupun menatapnya. (Heran aku, setiap kali kutatap wajah Khira ada rasa indah dalam hatiku)
“Jack,….ah nanti sajalah” Katanya sambil melepaskan rangkulannya dan menuju arah pintu keluar.
“Mau kuantar?” Tawarku tapi Khira menolak dengan halus. Kebetulan kataku dalam hati.
Sesampainya diluar pintu pekaranganku. Khira memanggilku lagi “Jack!” Lalu bibirnya bergerak tanpa suara, tapi aku tahu huruf huruf yang dibentuk oleh bibir mungil dan indah itu
“I Love You” Khirapun melangkah seperti layaknya anak anak yang mendapat uang jajan kelebihan. Aku hanya manggut saja sambil tersenyum dan melambaikan tanganku padanya.
Setelah yakin Khira tidak lagi dalam pandangan, aku berlari masuk dan mendengarkan lagi mesin penjawabku. Pertama kuliwatkan saja, karena itu dari mamaku. Yang kedua berbunyi “ Hi Jack, Eve dan Emily nih. Kami sekarang ada dirumah teman, acara perpisahan, kalau sempat tolong jemput kami sebelum Jam 7.30 (pm). Alamatnya ?? Commercial Rd. Prahran. Sempatkan yah Jack!” Pesan Eve diakhiri dengan PIP PIP PIP Mesinku. Kulihat jam dindingku waktu menunjukan pukul 7.04pm, aku segera bangkit ganti celana pendekku dengan celana Jeans hitam dan tancap gas.

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://nainggo.blogsome.com/2008/07/17/eve-dan-emely/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.