myDiary
Perkenalkan, namaku Adi setidaknya itu nama panggilanku. Aku seorang mahasiswa di
sebuah perguruan tinggi swasta yang cukup terkenal. Usiaku 25 tahun. Ceritaku ini
bermula pada saat aku berumur 21 tahun, disaat itu aku masih mempunyai seorang
pacar bernama Anyssa Pratiwi sebut saja Ani. Di adalah seorang gadis cantik dengan
kulit yang cukup putih. Dia terkenal sebagai bocah alim di fakultasnya. Tinggi 151
sentimeter dengan berat badan sekitar 42 kilogram, tidak tinggi tapi cukup
lumayanlah.
Singkatnya pada waktu itu aku dan pacarku sedang pergi kesebuah villa di kawasan
Jogja, tepatnya di wilayah Kaliurang. Tentu saja bersama dengan teman- temanku
yang semua berjumlah 4 orang, dua perempuan dan dua laki- laki. Sebut saja nama
mereka Doni, Wati, Yusak dan Wulan. Hubungan kami berlima cukup rumit tapi unik.
Wati misalnya, dulu bekas pacarku yang pernah kupacari selama setengah tahun.
Selama setengah tahun itu aku pernah bercinta dengannya bahkan berulang kali dan
jujur saja akulah yang merengut keperawanannya, tapi pacarnya yang sekarang si
Doni tidak tahu kalau pacarnya pernah ku kerjain. Wulan, dulu aku pernah naksir berat
padanya, dia gadis berkulit sawo matang dan tingginya sekitar 170an senti dengan
berat badan sekitar 50an lebih dikit. Proporsional menurut anggapan teman-temannku
termasuk pacarnya si Yusak. Yusak sendiri terkenal sebagai bocah yang agak nakal,
mengingat dia sering gonta-ganti cewek dan dalam beberapa kesempatan, dia sering
menunjukkan foto-foto cewek yang pernah dia tiduri, kalau tidak salah 4 orang sudah.
Dia juga terkenal sebagai bandar obat-obatan terlarang, tapi jangan salah sangka dulu
dia bukan pengguna narkotik ataupun pengedarnya tapi yang dia edarkan adalah
obat-obat perangsang.
Produk yang dia tawarkan benar-benar berkualitas super. Berkat obat itu pula aku jadi
pernah menggauli seorang cewek tetangga kost ku. Namanya Rani Suwito
panggilannya Ying-Ying, seorang WNI keturunan. Dia adik kelasku dengan tinggi 170
senti dan berat proporsional. Terkenal karena berani berdandan sexy saat di kost. Saat
dia main ketempatku dengan alasan ingin pinjam komputer untuk mengetik laporan,
aku berikan dia sebotol fanta yang sudah aku bubuhi obat perangsang. Hasilnya dalam
hitungan menit dia sudah mulai kegerahan dan hilang akal. Sekitar lima menit
kemudian, dia mulai melepaskan kancing baju atasnya dua buah.
Aku mulai iseng-iseng mendekatkan tubuhku padanya dengan taktik mengajarkan cara
membuat tabel di MS-Word. Alhasil aku dapat melihat buah dadanya yang masih
dibalut bra warna pink. Selang beberapa menit dia mulai melepas seluruh bajunya
dengan alasan sangat panas, dan akupun sudah cukup tanggap. Aku mendekatinya
dan mencium leher jenjangnya, dia tersentak tapi tidak dapat berbuat apa-apa.
Tanganku mulai menjelajahi celana pendeknya dah berhasil melucuti seluruh
pakaiannya kecuali bra yang masih tergantung dengan kaitan terlepas.
“Mas…..jangan….” lirihnya kacau, tapi aku tahu kalau dia juga menginginkan lebih, oleh
sebab itu aku mulai menjalarkan tanganku lebih dalam lagi dan kuremas buah dadanya
yang tak terbalut lagi. Kami bercumbu sekalipun hanya aku yang aktif.
“Mas…Adi…ja…..jangan lakuin massss………..Achh …..” suaranya terpatah patah saat
aku mencium putingnya dan menelusuri seluruh tubuhnya dengan lidahku. Akhirnya
dengan mantap aku mengulum mulutnya dan membuka semua pakaianku.
Dia terbelalak melihat penisku sudah mengacung, segera aku bimbing penis ini
kebagian mulutnya. Dia ragu, “Mas….jangan, jangan seperti ini…” selanya. “Tapi kamu
juga inginkan Ying? Nich penis gua, ntar gua kasih lebih.” Paksaku sambil menjejalkan
penisku kemulutnya yang setengah terbuka.
“Ochhhhh…..hangat Ying…” seruku saat penisku tertelan mulutnya. Selama sepuluh
menitan aku mengocok batang kejantananku di mulutnya sebelum akhirnya kucopot
dan aku beralih ke liang yang lain. Vagina……ini yang kutunggu. Penisku mencapai
mulut luar vaginanya. “Mas jangan, aku masih perawan….aku gak mau mas…”serunya
tapi tentu saja semua itu sudah bagai angin lalu saat aku mencumbunya lebih dahsyat,
sekarang dia tinggal pasrah.
Perlahan tapi pasti penisku mulai menerobos liang suci tersebut.
“Ahhhhhh….sakittt…..please hentiin mass..” Ying Ying merintih kesakitan tapi tetap saja
hal tersebut malah membuat aku semakin bernapsu untuk mengerjainya luar dalam.
Semakin kumantapkan posisi penisku dengan mengapit kedua paha gadis ini keatas
hingga lututnya menyentuh payudaranya sendiri. Dan….blessshhh…..akhirnya masuk
semua penisku. Batang kejantanan tersebut aku pompa dengan pelan sebelum
akhirnya aku mempercepat gerakanku. Sempat dia meronta tapi percuma karena
nafsunyapun tidak lebih kecil dari nafsuku. Dan setelah kurang lebih sepuluh menit aku
cabut kemaluanku dari liang vaginanya dan aku balik posisinya menjadi merangkak
dan mulai kugunakan tehnik doggy style yang selama itu baru aku lihat saja tanpa
praktek.
Sekali lagi roket sakti tersebut memasuki gua dalamnya dan sembari kuciumi
punggungnya, aku meremas payudaranya bergantian. Sensasi yang sungguh sangat
nikmat. “Ahhhh….achhhhh….ohhhh……ahhhh” rintihannya yang semula pelan semakin
lama semakin mengeras, untung tertutup suara bising musik yang kusetel keras dari
kamarku. Setelah kurang lebih 10 menit aku mengerjainya dengan posisi ini, aku mulai
merasakan adanya dorongan dalam batang kemaluanku. Akhirnya kusemprotkan juga
cairan sperma itu kedalam rahimnya. Usai sudah acara siang itu dari yang berawal
pinjam komputer berakhir dengan pinjam tubuh. Benar-benar kenikmatan yang tiada
tara, apalagi waktu itu aku belum pernah bercinta dengan gadis manapun.
Sekarang kembali ke keadaanku saat bersama teman-temanku di villa. Malamnya saat
kita berkumpul bersama untuk bercengkrama, tiba-tiba muncul Yusak dengan
senyum-senyum menawarkan beberapa vcd film. Karena temanku membawa televisi
LCD dan VCD player sendiri (kami membawa mobil ke villa jadi dapat mengangkut
beberapa barang penting). Kami sepakat untuk memilih film secara random. Saat di
putar, tak perlu sampai 1 menit kami melihat kami sudah tahu kalau itu adalah film
porno dan aku yakin itu film dengan rating XXX.
“Bagus khan? Itu koleksi gua yang paling bagus tuh…” seloroh Yusak bersemangat.
Entah karena apa tiba-tiba timbul pikiran nakal dibenakku. Karena kami menggelar
2
buah karpet kasur dilantai, maka kami bisa leluasa bergerak. Aku mulai bergerak
mundur dan aku sergap pacarku si Ani dari belakang. Aku mulai meremas dadanya
yang berukuran 34 B itu. Tak terlihat karena aku meremasnya dibalik baju baby doll
nya dan dia juga memakai selimut untuk mengatasi hawa dingin.
Sembari menciumi lehernya aku mulai semakin berani karena pas di film itu juga
sedang pas foreplay. Ternyata aku tak sendiri, Doni dan Wati pun ikut bermesraan
sendiri. Doni mulai mencium bukan hanya pipi tapi mulut Wati dengan ganasnya. Dan
lebih gila lagi Wati tanpa tameng langsung membuka baju dasternya dan meninggalkan
dirinya hanya menggunakan celana dalam tanpa bra. Doni semakin beringas
mencumbu Wati, rasanya seperti lagi nonton live show blue film. Luar biasa pikirku.
“Ochhhh….Don, ayo Don……..aku gak tahan nech.”racau Wati kepada Doni pacarnya.
Tak perlu menunggu lama, mereka berdua sudah hampir telanjang bulat, hanya Doni
yang masih memakai celana dalamnya.
Belum selesai aku terkejut, eh tiba-tiba dari belakang Wulan sudah merangkulku dan
menyeretku menjauhi Ani. Dia tak segan untuk menciumku lagi. Singkatnya kami
berciuman mulut dengan sangat dasyat. “Gimana Di……asyik khan mulut pacar gue?
Nikmatin aja, malam ini kita pesta, lagipula lo khan pernah naksir
dia…heheheheh…”tawa Yusak dari belakang. Ternyata saat itu kami semua sudah
diracuni dengan obat perangsang, dan yang paling banyak dosisnya diberikan pada Ani
yang terkenal alim itu.
Yusak kemudian mendekati dia dan mulai menciumi lehernya yang akhirnya merembet
kemulutnya. “Sialan ” pikirku tapi saat aku melihat Wulan yang sudah telanjang
bulat, aku sudah kehilangan rasio dan langsung menerkamnya sambil melucuti
pakaianku sendiri.
Belum juga lima menitan aku bergumul dengan Wulan, saat aku menengok kebelakang
ternyata Ani sudah telanjang bulat dan sedang mengoral penis milik Yusak sementara
Yusak sendiri memainkan lidahnya di liang vagina milik Wati. Saat aku beranjak akan
mendekati Ani, tanganku ditarik oleh Wulan dan saat itu juga peniskupun dilahapnya
dengan rakus. “Astaga…dia pasti sudah pernah di kerjain oleh Yusak…”pikirku dan
benarlah dugaanku.
Sekarang aku melihat Doni sedang mencopot cd nya dan mencuatlah penisnya yang
sepanjang kira-kira 14 senti tersebut. Di elus-eluskan penis itu di bibir vagina milik
Wati. Akhirnya …..bleshhh…tenggelam juga. Sementara Yusak pun sudah siap dengan
menempelkan penisnya di mulut vagina Ani. “Hoi…jangan…dia pacar gue.”sergahku,
tapi apa daya dia langsung main tancap dengan sedikit paksa. “Ahhh……….seret juga
memek pacar loe Di., dah pernah loe kerjain yah…tapi kok masih seret?….Enak
bener.” Senyuman menghiasi bibirnya sembari menggenjot tubuh kekasihku yang
herannya tidak memberikan perlawanan sama sekali malah terlihat seperti keenakan.
Memang ini bukan kali pertamanya dia berhubungan intim, karena aku pernah
mengerjainya setidaknya 6 kali.
“Achh…achhh…achhhh…ohhhhh…”rintih Ani sembari sesekali menggigit bibir bawahnya.
Semakin lama semakin cepat sodokan-sodokan Yusak dan semakin liar pula.
Sementara Ani masih dikerjai, aku mengambil inisiatif untuk membalasnya dengan
menggenjot pacar Yusak, si Wulan. Kurasakan sensasi tersendiri saat penisku
menghunjam liang vagina dara manis itu, nampaknya dia belum siap menerima penis
sebesar milikku. Maklum penisku ini memang sedikit diatas rata-rata, dengan panjang
18 sentimeter cukup membuat seorang Wulan menggelinjang menahan rasa nikmat,
geli plus rasa nyeri yang membuat ketiganya menjadi sensasional.
Tak selang sepuluh menit, karena obat perangsang yang ku minum secara tak sengaja
itu akhirnya aku memuntahkan cairan spermaku ke liang senggama milik Wulan tanpa
sisa. “Ohhhh….gue keluar Lan….”seruku sambil mengejang. Diapun tampak lunglai
karena aku tahu setidaknya dia telah orgasme dua kali, ini semua gara-gara obat
sialan itu sehingga Wulan pun menjadi super cepat puas.
Kemudian sambil berbaring memulihkan rasa lelah aku menengok kesamping. Tak jauh
dari tempat Wulan terbaring aku melihat Ani dengan liarnya dikerjai oleh Yusak dengan
posisi doggy style, dan kulihat Wati melepaskan vaginanya dari hunjaman batang
kemaluan Doni dan mendekatiku. “Masih ingat saat kamu ngentotin aku? Sekarang
gantian yah….biar si Doni ngerjain pacarmu.”katanya sambil senyum-senyum kecil dan
tanpa kuduga dia mulai menciumiku dan berakhir dengan mengoral penisku yang
kembali mengencang.
Doni yang belum terpuaskan menghampiri Ani yang liang kemaluannya sedang di hajar
habis oleh batang kejantanan Yusak. Kemudian Yusak mencabut penisnya dari dalam
vagina Ani dan menyuruh Ani untuk mengulumnya sementara vaginanya dipindah
tangankan kepemilikannya kepada Doni. Penis Doni langsung menyerbu masuk tanpa
permisi dan dengan posisi doggy style, vagina Ani dipompa oleh penis Doni sementara
penis milik Yusak mengerjai mulutnya.
Suasana yang se horny itu belum pernah aku temui sebelumnya. Benar-benar
menbuatku jadi sangat terangsang. Lalu kulentangkan tubuh Wati dan mulai aku
senggamai dia dengan cukup keras mengingat Doni juga mengerjai pacarku.
“Oh…..enak juga memek pacar loe Di….adu cepat aja kita…eheheh.”gelak Doni sambil
mempercepat genjotan penisnya di vagina pacarku. “Kayaknya gue mau keluar
neh……Sak…dikeluarin dimana nech.”serunya setelah kurang lebih 10 menit mengerjai
Ani dengan posisi berganti-ganti namun mulut Ani masih disumpal penis Yusak.
“Jangan dulu bos, ngapain cepet-cepet? Gantian aja kita.”seru Yusak.
Dan benar saja selang beberapa detik mereka berdua bertukar posisi. Penis Yusak
memompa liang senggama Ani sementara batang kemaluan Doni di oral oleh Ani.
Kulihat Ani semakin kepayahan dikerjai tanpa henti oleh mereka namun apadaya nafsu
telah mengalahkan logika. Peluh bermunculan dari badan Ani, bahkan diapun sudah
terlihat lemas. Entah sudah berapa kali dia mengalami kepuasan dengan kedua penis
tersebut. Bahkan setelah aku selesai dengan Wati pun, mereka belum berhenti
mengerjai Ani. Dengan berbagai gaya mereka menyodokkan penis-penis mereka ke
kedua liang kekasihku itu baik mulut maupun vagina.
Akhirnya setelah 20 menit lebih setelah aku memuntahkan air maniku kedalam vagina
Wati, mereka selesai juga. Doni mencabut penisnya dari dalam vagina dan
menyemprotkan cairan surganya di bibir vagina Ani sementara Yusak memuntahkan
air maninya di mulut Ani sekalipun Ani berusaha untuk memuntahkannya. Ini pertama
kalinya dia menelan sperma pria. Malam itu benar-benar malam dengan acara
pesta,….pesta seks.
Kunjungan Teman Lama
Sekitar sebulan setelah acara pesta di villa tersebut, aku kedatangan seorang teman
lama. Sebut saja namanya Sammy dan biasa kupanggil Sam dan dia membawa pacar
barunya yang bernama Riska. Temanku yang satu ini puna tubuh yang cukup tinggi,
setinggi aku kira-kira 168 sentimeter dan badan yang gempal, berkulit hitam dan
berambut cepak. Soal wajah, jujur saja dia jauh dari tampan tapi entah kenapa setiap
kali dapat pacar selalu yang cantik-cantik. Riska ini punya tubuh sensual dengan tinggi
dan berat badan yang seimbang. Wajah cukup manis dengan kulit kuning langsat dan
lesung pipi nya membuat penampilannya semakin enak dipandang.
“Hehhhh…mangsa baru yah?”godaku kepada Sam. Sam pun menimpali,” Yah lumayan
lah buat selingan, heheheheh….Eh gimana pacar lo, si Ani? Dimana dia sekarang?
Masih jadian gak nech?”tanyanya penuh selidik. Tak perlu kujawab nampaknya, karena
hanya selang 2 detik sebelum Ani keluar dari kamar kost ku dengan menggunakan
baby doll kesayangannya.
Melihat pemandangan itu sontak Sammy tertegun dan terpaku kearah Ani, maklum
mereka saling kenal sebelum aku berkenalan dengan Ani dan saat itu Ani terkenal
sebagai cewek alim yang tidak pernah macam-macam.
“Eh, lo dah apain tuh cewek?”bisiknya kepadaku tapi hanya kujawab dengan senyuman
kecil. Kamipun masuk kedalam kamar kost ku yang hanya berukuran 4×4 meter.
Kamar yang kecil tapi maklum namanya juga anak kost lagipula dengan lantainya
keramik sehingga sekalipun kecil tetapi masih terdapat sedikit kesan bagus.
Di ruangan itu hanya terdapat beberapa barang antaranya kasur tanpa dipan sehingga
membuatnya tampak lebih luas, bantal duduk buat lesehan, komputer dan almari
pakaian. Dengan barang sesedikit itu membuat ruangan tidak begitu sumpek. Sambil
mendengarkan musik dari PC ku kami bercerita panjang lebar mengenai pengalaman
kami, maklum sudah satu setengah tahun tak ketemu.
Riska ternyata seorang mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi ternama di kota
besar. Dilihat dari caranya bersandar dan gayanya yang mesra di depanku, aku sudah
dapat menebak kalau gadis manis ini pasti pernah di pakai oleh temanku.
“Wah, Ani sekarang sudah beda yah. Tambah cantik and seksi….heheh”ucap Sammy
sambil sesekali melirik kearah bagian payudaranya karena memang baby doll yang di
pakai Ani cukup transparan dan belahan kerahnya cukup lebar.
Saat itu aku mencoba menawarkan minuman kepada mereka, namun Sammy malah
mengajakku membeli minuman bareng. Di perjalanan ke arah warung dekat kost ku
dia berhenti dan mengajakku bicara beberapa hal. “Eh….bos, dia pernah maen sama
kamu yah? Keliatan kalau Ani dah beda.”ungkapnya tanpa ditutupi lagi. Aku senyum
saja dan balik berkata,”Lo sendiri dah ngapain si Riska? Gua jamin dia dah ga perawan
lagi khan?” Sammy hanya terkekeh, lalu menonjok pelan perutku lalu tanpa kuduga
dia menawarkan sesuatu. “Di, lo mau merasakan body cewekku gak? Kalau mau bisa
kuatur.”katanya.
Aku kaget dan tidak dapat berkata apa-apa, jujur saja bodynya seksi maklum menurut
pengakuannya dia ikut les renang seminggu 3 kali. “Lo serius mau kasih gw? Apa
kagak sayang ma cewekmu?”seruku kepada Sammy. Dia hanya menjawab ringan yang
intinya dia menganggap santai hubungan mereka toh hubungan kami juga sudah
seperti saudara sendiri. “Alasan yang ga masuk akal Sam. By the way, sebagai
imbalannya apaan?”tanyaku penuh selidik. Dia terdiam sesaat dan mulai jujur akan
keinginannya bahwa dia ingin tidur bareng dengan cewekku. “Apaaa??? Gila lo. Mana
dia mau?”seruku tapi sebenarnyapun aku tidak begitu keberatan karena toh Ani juga
pernah digarap rame-rame oleh Doni dan Yusak sebelumnya. “Soal itu mah santai aja.
Aku punya siasat jitu. Nich Wiskey, Ani pasti mabok toh dia kagak pernah minum khan
sebelumnya. Soal Riska gampang, ntar kalo aku dah nggarap Ani toh dia juga bakal
gak nolak balas perlakuanku.”katanya. Minuman itu rencananya akan di campur
dengan Coca Cola botol besar yang kami beli.
Setelah pulang kami membuat rencana seperti yang telah kami berdua rencanakan
yaitu bermain kartu. Siapa yang kalah harus minum. Berkat kerjasama kami akhirnya
kedua cewek itu terus yang kalah sekalipun adakalanya kami sesekali mengalah.
Setelah minuman habis akhirnya taruhan diganti dengan mencopot baju. Siapa yang
kalah harus mencopot bajunya satu lembar. Tak sampai sepuluh menit sekarang Riska
dan Ani hanya mengenakan bra dan celana dalam (cd). Sementara aku dan Sammy
hanya melepas baju saja. Kemudian sebabak berikutnya si Riska kalah dan mau tak
mau harus mencopot bra atau cd nya.
“Ah…ga mau ah. Ini aja dah kebanyakan apalagi harus copot bra. Ntar telanjang lah
aku. Gak mau.”serunya tapi berkat dorongan Sammy dan pengaruh alkohol akhirnya
dia juga melepas bra nya. Segera terpampang payudaranya yang mulus itu.
Hmmm…ukuran 36A batinku. Akhirnya giliran Ani yang harus mencopot pakaiannya di
dua babak berikutnya sehingga dia benar-benar telanjang bulat. Dengan perasaan risih
dia melanjutkan permainan ini dan saat kedua cewek itu sudah bugil, kami menaikkan
taruhan, siapa pemenang dalam babak selanjutnya boleh meng-apa-apain yang kalah.
Akhirnya Sammy menjadi pemenang dan Ani menjadi yang kalah berikutnya. Tanpa
panjang lebar Sammy langsung menerkam Ani mencumbunya sembari melepas
seluruh pakaiannya. “Jangan, aku nggak mau ginian! Di tolong aku…”pintanya
memelas. “Sorry An, tapi taruhan tetap taruhan, mau gak mau yah harus mau.”kata
Sammy sambil meremas payudara Ani yang mulai memerah dan putingnyapun
menegang.
“An, dah lama lho aku ingin ginian ma kamu, tapi dulu takut kamu tolak sech, jadi ga
jadi nembak kamu.”ungkap Sammy. Sementara itu Riska hanya diam saja sekalipun
dia juga shock melihat pacarnya mengerjai gadis lain. Tapi aku yakin dia juga
terangsang hanya tidak mau menunjukkannya.
Dalam sekejap Sammy dan Ani sudah bergumul, akhirnya Ani juga pasrah karena tak
sanggup menahan libidonya. Semakin ganas ciuman Sammy kearah bagian-bagian
sensitif Ani, semakin keras pula lenguhan pacarku itu.
“Oh….achhh….jangan Sammm…..achhh…..ahhhhh..”lenguh Ani panjang akhirnya dia
mengalami orgasme pertamanya. Dengan liar Sammy menjilati cairan cinta dari liang
senggama pacarku itu. “Enak yah An? Ini baru pembukaan, setelah ini aku bakal buat
kamu menggelinjang keenakan.” Dan betul saja setelah itu Sammy mengarahkan
batang kejantanannya kearah bibir vagina Ani yang sudah basah kuyup karena ludah
Sammy dan cairan cinta dari Ani sendiri. Dengan perlahan batang kejantanan yang
hitam besar itu menyeruak vagina pacarku dan tak perlu lama-lama sebelum akhirnya
semua masuk kedalam.
“Ahhhhhh…..ahhhhh….erghhhhhh….ohhhh….”seru Ani saat Sammy mulai menggenjot
vaginanya. Pemandangan luar biasa kontras karena tubuh besar hitam milik Sammy
menindih kekasihku yang bertubuh kecil tapi putih bersih. Setiap sodokan penisnya
kearah liang kewanitaan Ani menciptakan sensasi tersendiri bagi aku dan Riska dan
tentu saja bagi kedua orang yang bersetubuh itu.
Kemudian tak lama setelah itu, Sammy mulai membalik tubuh Ani dan melakukan gaya
doggy style. Dia dengan liar menunggangi kuda nya waktu itu yaitu kekasihku sendiri.
“Bos, kamu gak mau maen ma Riska?’seruannya menyadarkanku bahwa aku juga
dapat obyek pelampiasan.
Langsung kuterkam Riska dan diapun tak banyak perlawanan persis dengan dugaan
Sammy. Saat itu kami berempat benar-benar sudah menjadi sangat liar. Melihat Ani
kekasihku vaginanya dihajar keras dengan sodokan-sodokan batang kemaluan milik
Sammy membuatku semakin beringas dan semakin keras menyodokkan penisku ke
liang senggama Riska yang sudah basah itu. Seakan berlomba-lomba adu kecepatan
aku dan Sammy benar-benar menggunakan moment itu untuk mengerjai
habis-habisan kedua cewek ini.
Entah berapa gaya yang sudah kami praktekan. 30 menit sudah Ani dalam tindihan
Sammy, dan melihat spermanya mau keluar, segera Sammy mencabutnya dan
langsung menyodorkan kearah payudara Ani dan muncratlah cairan kental putih itu
yang takarannya banyak sekali. Mungkin nafsu yang sudah tertahan sekian lama
membuat semua stock spermanya keluar.
Sementara itu aku yang juga akan keluar langsung kucabut batang kemaluanku dari
vagina Riska dan dengan cepat aku benamkan lagi sedalam-dalamnya. Keluarlah air
maniku di liang vaginanya. Kulihat Ani sedang mengoral penis Sammy yang belepotan
sperma dan cairan vaginanya. Sejak kejadian di villa memang aku sering menyuruh
Ani untuk mengoral penisku dan mengeluarkan spermaku didalam mulutnya hingga dia
terbiasa dengan ini.
Tak puas dengan itu, Sammy masih menyodokkan penisnya berulang-ulang kemulut
Ani sehingga buah zakarnya yang menggelantung menjadi menabrak-nabrak dagu Ani.
Herannya, belum juga lima menit tapi Sammy sudah ejakulasi lagi kali ini di mulut Ani.
Mereka berdua akhirnya lemas terkulai di kasur sementara aku masih mengerjai ulang
Riska. Kali ini aku menggunakan kondom dengan pelumas untuk menembus lubang
duburnya. Ya..aku menyodominya tanpa ampun dan nampaknya itu adalah hal
pertama baginya. Tak lama kemudian aku melepas kondom dan menyuruh Riska untuk
menyulum penisku dan akhirnya spermaku kloter kedua muncrat dengan deras dan
kali ini bukan saja aku masukkan ke mulut Riska tapi juga kemulut Ani. Kami
berempatpun terkulai dan tertidur setidaknya 4-5 jam lamanya dengan saling
berangkulan, sementara aku merangkul Riska yang masih telanjang, Sammy
merangkul Ani yang juga masih bugil. Sambil sesekali mencoba memasuk-masukkan
penisnya yang sudah mulai mengecil ke vagina pacarku.
Setelah bangun dari tidur kami, Sammy dan Riska mohon diri dan berjanji bahwa
peristiwa ini hanyalah rahasia antara kami berempat. Sebelum pergi, Sammy
menyempatkan mencium mulut Ani dengan buas sementara aku balas dengan
meremas payudara Riska. Yah hari itu benar-benar hari yang melelahkan.
Aku punya teman kuliah sebut saja namanya Reza, sekalipun beda jurusan tetapi kami
sering banget jalan bareng walau hanya sekedar cari makan malam-malam. Reza
berkost di tempat yang agak dekat dari kampus, jauh dari kost ku.
Laki-laki berbadan sedikit kurus tapi tinggi ini mempunyai seorang cewek jurusan
Psikologi sebut saja namanya Veti. Veti ini cukup akrab denganku, mengingat kami
sering bertemu baik di kafe kampus maupun di kost Reza. Veti adalah seorang gadis
yang cukup periang dan aktif, diluar itu dia seorang gadis yang cukup menawan.
Dengan kulitnya yang putih dan rambut panjang lurusnya dipadukan dengan tinggi
badan dan bentuk body yang aduhai, dia bisa dikategorikan sebagai salah satu bintang
di fakultasnya. Soal umur sih dia masih berumur 20 tahun.
“Hai Vet!”sapaku saat bertemu dengannya di kost Reza. Maklum aku sering main
ketempat cowoknya pas malam. “Eh, hai Di! Lho Reza mana?”tanyanya. Saat itu
memang Reza sedang pergi untuk mencari sesuatu dan dia juga bilang butuh waktu
agak lama dan karena kostnya sepi hanya ada satu orang temannya saja yang tinggal,
maka dia memintaku untuk sekalian menjagain kamarnya.
“Oh.. pergi yah. Padahal aku mau ajak dia ke supermarket.”katanya lagi setelah
mendengan penjelasanku. “Oh gitu, mau beli apa sih memangnya? Penting kagak?
Kalau penting telepon aja atau kirim sms.”kataku pada Veti.
“Ga ah.. siapa tahu dia sedang ada urusan penting.”lanjutnya sambil merebahkan diri di
kasur. “Gila.. “pikirku saat aku melihat lekuk tubuhnya waktu rebah di kasur. Buah
dadanya mencuat keatas dan pusarnyapun terlihat. Gadis ini memang luar biasa betul.
Sembari mencari-cari buku aku sengaja melirik-lirik kearah dadanya dan benar saja
akhirnya aku melihat payudara berbalut bra warna kuning dari sela-sela kausnya.
“Ehm.. Reza beruntung yah bisa punya pacar kayak kamu.”kataku padanya. “Hah?
?
Beruntung gimana maksudmu?”tanyanya penuh selidik. “Yah beruntung, dapat cewek
cantik dan berbody aduhai kayak kamu.”lanjutku. Kata-kataku ternyata dapat
membuat telinganya merah padam juga wajahnya karena malu. “Ah.. kamu ini bisa
aja.. “Veti tersipu berusaha menutupi malunya tapi gagal.
“Memang wajahku ini cantik apa? Lagipula tubuhku juga gak bagus-bagus amat
kok.”sahutnya lagi. Aku hanya tertawa kecil dan mendekatinya, sambil berbaring
disampingnya aku berkata,”Siapa bilang tubuhmu nggak bagus? Jujur saja kalau aku
Reza aku tak akan biarin kamu meninggalkan kamar ini walau sedetik.”kataku lagi.
Mendengar semua itu wajahnya tambah merona karena malu. “Kamu ini muji atau apa
sich.. “tanyanya lagi. Langsung aku memandang Veti dan secara tak sengaja mata
kamipun bertautan. Entah setan mana yang membuat aku dan dia lupa diri karena
tahu-tahu bibir kami berdua sudah bersentuhan. Aku mencium bibirnya dengan lembut
dan penuh perasaan sedangkan Veti juga membalasnya dengan pagutan yang tak
kalah hebat. “Hebat cewek ini, ciumannya maut.. “kataku dalam hati. Selama ini
mungkin ciuman Veti lah yang paling hebat dari semua cewek yang pernah kucium.
Sambil terus melakukan French Kiss dengan Veti, tangankupun menjelajah tanpa batas
lagi. Kuremas buah dadanya yang masih berbalut kaus dan bra itu. Tak perlu
lama-lama akhirnya selruh baju Veti sudah aku preteli, sambil aku mencumbu leher
dan telinganya. Sekarang dia sudah telanjang bulat didepanku.
“Di.. ini salah Di. Aku sudah punya Reza, lagipula aku sama pacarku saja belum
pernah sampai beginian. Aku takut Di.”kata Veti lirih. “Semua ada kalanya yang
pertama Vet.”hiburku. lalu kulepas juga seluruh pakaianku dan mulailah pergumulan
kami di ranjang sahabatku itu.
“Ahhhh.. ochhhh.. “desahnya setiap kali aku meremas buah dadanya dan menciumi
puting payudaranya itu. Secara naluriah, tangannya menggapai batang kejantananku
yang sudah membesar dari tadi karena menahan nafsu. “Ini yah yang namanya penis
orang dewasa? Kok gede banget.”katanya polos.
Aku hanya tersenyum saja saat dia berkata itu dan dengan perlahan tapi pasti aku
membimbing penisku itu kearah bibir vagina Veti yang sudah sangat basah. “Baru juga
bentuknya Vet, belum kegunaannya. Ntar kalau sudah tau rasanya bakalan minta terus
lho.”selorohku. “Di jangan.. aku nggak mau mengkhianati Reza.”katanya dengan nada
pasrah memelas diselingi air mata.
Tapi apa daya, nafsu mengalahkan logika. Sekali dorong penisku sudah masuk
setengah bagian kedalam vagina Veti. “Ahhhhhh.. Diiiiii.. sakitt.. “rintihnya. Tak
kupedulikan lagi toh tinggal separuh jalan. Dan bleshhhh, masuk sudah semua penisku
kedalam vaginanya.
“Ahhhh.. Di.. aku.. ahhh, sudah masuk?”katanya terbata-bata. Aku mengangguk dan
tersenyum kecil. Kumulai goyangan pinggulku dengan gerakan maju mundur yang
semakin lama semakin cepat durasinya.
“Ohhh.. ahhh.. ohhh.. ahhh.. ahhh.. “desah Veti. Dengan bantuan cairan
kewanitaan dan darah perawannya, gerakanku terasa lebih leluasa dari tadi. “Vet,
memekmu bener-bener legit. Ternyata selain cantik kamu juga berpotensi besar dalam
urusan ranjang.”selaku. Dia hanya terdiam tersipu sambil menahan sejuta rasa nikmat
dan keperihan di liang kewanitaannya yang sekarang sedang dijarah batang
kejantananku.
Setelah kurang lebih lima belas menit berlangsung acara persetubuhan itu, akhirnya
aku merasakan akan segera keluar. “Vet.. aku keluar nih. Keluarin di dalam
yah.. ?”kataku lagi sambil mempercepat genjotanku. “Jangan Di, ntar aku
hamillll.. “pinta Veti tapi sudah terlambat, aku segera mengejang dan memeluk dia
sangat erat saat muntahan spermaku keluar dari ujung penisku dan membasahi
seluruh liang vagina Veti. “Ohh.. Vet.. ahhhhhh.. “desahku sementara Veti hanya
terpejam matanya sambil setengah menangis.
Usai pergulatan itu, Veti memakai pakaiannya lagi dan mohon diri. Tapi sebelumnya
dia minta padaku supaya tidak menceritakan hal ini pada siapapun. Aku sih setuju saja
asal dia tidak kapok melayaniku. Mendengar persyaratanku dia hanya tertunduk diam
dan pergi. Selang 20 menit kemudian Reza datang dan dia terkejut melihat sprei
kasurnya terdapat bercak merah. Aku hanya mengatakan padanya kalau itu bercak
obat merah yang tertumpah dari bifet atas karena aku tak sengaja tersandung dan
menabrak almari kecil itu. Diapun tak banyak curiga hanya sedikit ngomel-ngomel
padaku. Ternyata dia habis kena tilang karena tidak membawa STNK waktu membawa
motor dan butuh waktu lama untuk meyakinkan polisi bahwa dia bukan kriminal dan
itupun setelah dia kehilangan uang 50 ribu rupiah buat nyogok. Dalam hati aku
berkata,”Sebenarnya kamu telah kehilangan sesuatu yang lebih berharga dari 50 ribu
rupiahmu.” Dia hanya mengomel saat aku menertawainya tanpa dia tahu apa
sebabnya.
Osmaru Ceria
Seperti yang terjadi pada setiap perguruan tinggi, di universitasku setiap tahunnya
terdapat mahasiswa baru dan sudah menjadi tradisi kami bahwa akan ada acara
penggojlokan (pemloncoan) sebagai alat untuk para mahasiswa baru agar dapat
bersosialisasi dengan mahasiswa lainnya dan untuk pengakraban.
Kebetulan aku menjadi anggota panitia sekaligus koordinator bidang perlengkapan.
Acara pemloncoan berlangsung selama 2 minggu, satu minggu berada di lingkungan
kampus dan berikutnya selama 4 hari 3 malam berada di luar kampus tepatnya di
tempat perkemahan, kami biasa menyebutnya malam pengakraban (makrab).
Makrab kali ini benar-benar menyenangkan karena banyak mahasiswi baru cewek yang
cantik-cantik. Maklum karena semua fakultas makrabnya dilebur menjadi satu
sehingga fakultas-fakultas dengan mayoritas cewek seperti program sekretaris dan
bisnis juga psikologi ikut jadi satu bagian.
Singkatnya aku sudah mengincar setidaknya 5 cewek yang menurutku paling menarik
diantara semua mahasiswa baru. Salah satu dari cewek tersebut adalah Leony,
angkatan 2003 fakultas sekretary. Wajahnya putih bersih dan kulitnya mulus putih,
bahenol abis deh pokoknya. Makrab mengambil tempat di sebuah bumi perkemahan di
dekat lereng gunung, dan karena saat itu acara makrab kami sedikit lebih cepat
daripada acara-acara serupa milik universitas lain maka saat kami datang ke tempat
makrab, tempat itu sangat sepi dan nampaknya hanya kami saja yang menggunakan
tempat itu sekalipun kadang tampak beberapa anak pramuka SMP di beberapa spot
tertentu tapi jumlahnyapun sedikit.
Bagian utara adalah sebuah gunung dengan hutan yang sangat lebat dan sebelah timur
merupakan lereng yang didasarnya terdapat sungai yang hebatnya sungai itu masih
bersih, mungkin karena tidak adanya pemukiman penduduk didekat tempat ini.
Pemukiman penduduk terdekat kurang lebih satu kilometer selatan dari tempat kami
makrab.
Malamnya setelah semua tenda telah berdiri, kami para panitia dan koordinator
berkumpul untuk technical meeting dengan ketua koordinator dan setelah itu
dilanjutkan dengan makan malam. Karena aku koordinator perlengkapan yang
notabene punya banyak anak buah maka pekerjaanku sangatlah santai, aku sering
meluangkan waktu untuk berjalan dari satu tenda ke tenda yang lain hanya untuk
mengecek siapa tahu ada gadis cantik. Dan benar saja tidak sampai satu jam aku
berkeliling, aku sudah bertemu dengan seorang gadis cantik bernama Amanda, anak
psikologi. Kami mengobrol sebentar sambil berbasa basi aku goda-goda dia sedikit.
Entah karena aku panitia dan dia junior atau karena hal lain, nampaknya dia enjoy saja
aku godain.
Jam 10 malam sudah, saat untuk melakukan pembagian tugas malam, di tiap tenda
dipilih seorang ketua regu untuk mengambil tugas yang akan dikerjakan dan harus
dikumpulkan pada pagi harinya. Malam itu semua sibuk mengerjakan tugas
masing-masing. Saat itu aku sedang jalan-jalan menyusuri sungai yang juga
merupakan tempat kami mengambil air bersih. Samar-samar kudengar langkah
beberapa orang mendekat, iseng-iseng aku bersembunyi untuk mengagetkan mereka.
Ternyata itu adalah sekelompok anak SMP dan dilihat lebih lanjut sepertinya mereka
anak kelas 3 . Sementara itu dari sisi lain sungai dibalik bebatuan muncul 2 orang
gadis peserta makrab. Aku mengenal salah satunya, yup dia adalah Leony, salah satu
idola angkatan 2003.
Urung niatku untung mengagetkan mereka saat aku melihat ketiga anak SMP tersebut
mendekati Leony dan temannya, yang akhir-akhir ini baru kuketahui namanya adalah
Ratna. Dengan cepat anak SMP yang bertubuh jangkung segera mendekap Ratna
sementara dua yang lain yang berambut cepak dan yang berbadan kurus segera
mendekap Leony.
“Apa-apaan ini? Mau apa kalian?” seru Leony keras. “Lepaskan! Kalo nggak gua
teriak.” Ratna tak mau kalah meneriaki mereka. Dengan cepat si jangkung
membungkam mulut Ratna dengan kain setangan leher pramuka nya sementara Leony
ditindih tangan dan kakinya oleh kedua anak yang lain. “Maaf mbak, tapi kita-kita
sudah gak tahan. Mbaknya tadi pas mandi bodynya keren banget sih.” kata seorang
anak yang berambut cepak. Ternyata mereka sudah lama mengintip Leony dan Ratna
mandi. “Ugh.. ” Ratna berusaha untuk melepaskan diri namun sia-sia karena walaupun
si jangkung yang mendekapnya tidaklah gede-gede amat namun dia tetap cowok yang
bertenaga lebih dari cewek.
Aku tidak begitu jelas mendengar apa yang mereka bicarakan karena mataku terfokus
pada pemandangan luar biasa dimana Ratna dengan liarnya dugumuli oleh si jangkung
dan akhirnya lepas juga kausnya dan juga celana pendeknya. Sementara Leony sudah
tanggal celana pendeknya. Tak sampai beberapa menit kedua dara cantik ini sudah
bugil. Kupikir mereka akan segera memperkosa kedua gadis ini namun pemikiranku
benar-benar salah. Sementara si jangkung menindih Ratna dan si cepak menindih
Leony, si kurus yang akhirnya kutahu bernama Bambang hanya menduduki kaki Leony
dan melakukan mansturbasi sambil meremas-remas bagian tubuh Leony. Hal yang
sama dilakukan oleh kedua temannya.
“Sialan! Apa-apaan iani ?”pikirku. Aku segera keluar dari persembunyianku dan
membuat semua orang itu kaget. “Hah.. ampun mas.” kata si Bambang. Mereka
ketakutan karena aku muncul sambil membawa parang terhunus. Parang itu sengaja
aku gunakan terus untuk berjaga-jaga dan membabat ilalang dan nampaknya dapat
menciutkan nyali ketiga orang bocah ini. “Kak panitia, tolong saya.”isak Ratna. Leony
pun ikut menimpali,”Mereka mau memperkosa kita kak, tolong.. “rintihnya sambil
kedinginan.
“Ampun kak.”pinta si jangkung yang ternyata bernama Rudi. Sesaat aku memandang
tubuh kedua gadis ini. Jujur saja nafsuku saat itu sudah diujung ubun-ubun. “Kalian
goblok yah?”bentakku kepada ketiga anak SMP itu. “Ngapain ngerjain cewek kalo
cuman buat onani? Dasar goblok!”bentakku lagi. Mereka bertiga kaget melihat reaksiku
dan Leony dan Ratna lebih kaget lagi.
Aku segera menyingkirkan Bambang dari kaki Leony dan menyuruhnya membantu
Rudi memegangi Ratna. “Sana loe! Ini cewek dah lama gua taksir, enak aja lo maen
sembarangan.”seruku sambil menduduki paha Leony yang putih mulus itu. “Kak.. kakak
gimana sih? Kenapa nggak bantuin kita?”isak Leony. “Lah ini juga dah aku bantuin
non.”kataku sambil tersenyum.
Segera kusuruh ketiga bocah itu untuk melapas baju mereka semua,”Nanggung kalau
cuman onani, ga ada seninya dodol. Mending perkosa sekalian.”seruku pada mereka.
“Tapi mas, ntar kalau ketahuan bisa bahaya.”si cepak menjawab takut-takut. “Gua ada
kamera digital, kalau dah selesai tinggal jepret aja, dijamin ga bakalan ngadu
mereka.”kataku sambil meyeringai. Seolah tak percaya dengan apa yang baru saja
kuucapkan, Leony dan Ratna berteriak namun tak lama karena dengan setangan leher
pramuka segera kami bungkam mulut kedua dara ini.
“Montok juga kamu Ny.”kataku pelan sambil meremas buah dadanya. Sementara kami
semua sudah telanjang bulat segera mulai mengerjai kedua cewek ini. Aku
gesek-gesekkan penisku kemulut vagina Leony dan dia tak dapat berkata apa-apa
karena mulutnya tersumpal dan hanya dapat bergumam tak jelas. Segera kulesakkan
batang kejantananku kedalam liang senggamanya. Sesaat Leony mendongak tersentak
dan matanya membelalak menahan rasa sakit. “Gila, gede amat punya mas.”celetuk si
cepak yang bernama Bimo itu. “Heh.. kalian ngapain diem aja? Tuh ada cewek satu
lagi nganggur.”kataku. Dalam hati bangga juga aku dibilang berpenis gede karena aku
melihat kemaluan ketiga anak SMP itu jelas jauh dibawahku. Setidaknya hanya
separuh milikku panjang dan besarnya. “Oh.. enak nih.. kenyal. Aku masukin ya
mbak.”kata Bambang kepada Ratna sambil membimbing penisnya kearah vagina Ratna
yang bersih dari rambut itu, nampaknya dia rajin mencukurnya. Dan bleshhhh.. dalam
beberapa hunjaman saja penis milik si Bambang segera masuk semuanya kedalam
vagina Ratna.
“Hmmm.. achhh.. ohhhh.”racau Bambang sambil menggenjot Ratna. Darah
keperawananpun mengalir deras keluar dari liang kewanitaan Ratna seiring dengan
pompaan penis Bambang. Kulihat mereka masih canggung saat melakukan
persenggamaan dengan gadis.
Kulihat Leony sudah lemas karena sudah kuhajar liang senggamanya selama duapuluh
menitan. Darah segar perawan dan cairan-cairan kewanitaannya keluar luber bersama
dengan cairan dari penisku. “Memekmu dihajar darimanapun juga nikmat Ny.”kataku.
Air mata mulai membasahi pipinya. Kubalik posisinya menjadi doggy style dan semakin
kupercepat dorongan penisku masuk ke liang vaginanya yang putih bersih itu. Vagina
yang tadinya putih berubah kemerahan karena gesekan dan cipratan darah
perawannya tadi. “Clok.. clok.. clok.”suara benturan penisku dan bibir vaginanya
semakin jelas terdengar dan menarik perhatian ketiga anak yang lain. Mereka nampak
terpana melihat permainan panasku dengan Leony yang selalu berubah-ubah gaya.
Kulihat Bambang sudah tidak kuat menahan dirinya lagi dan sambil memeluk erat
Ratna, dia mempercepat sodokannya. “Mbak aku keluar nih.”serunya dan segera dia
cabut batang kemaluannya dan disodorkan penis itu keperut Ratna.
“Crottt.. ctottt!”entah berapa semburan sperma yang keluar dari ujung penis itu
menumpahi perut dan pusar Ratna.
Melihat temannya selesai, Rudi segera ambil posisi. Kali ini dia membalik tubuh Ratna,
nampaknya dia terinspirasi pada gaya permainan doggy style milikku. Sementara
batang kemaluankupun bergetar dahsyat. Segera kupercepat goyangan pinggulku dan
kubuka sumpalan mulut Leony dan kucium dia dalam-dalam sambil memperdalam
sodokan penisku didalam vaginanya dan selang beberapa detik keluarlah cairan cinta
itu memenuhi seluruh ruangan liang senggamanya. “Crott.. croottttt.. crottt
.. crottt!”keluar dengan sangat banyak, bahkan jauh lebih banyak daripada saat aku
berhubungan dengan pacarku.
Selama satu setengah jam kami berempat bergantian mengerjai kedua gadis ini. Ratna
aku kerjai dengan posisi berdiri dengan menyandarkan tubuhnya pada batu kali. Kami
bercinta didalam air sungai yang mengalir. Ini kali pertamanya aku bercinta didalam
air. Benar-benar sensasi yang luar biasa. Rasa dingin diluar namun hangat membara
didalam. Sementara aku mengerjai Ratna, Leony diperkosa tiga orang sekaligus. Baik
vagina, mulut dan anusnya di masuki penis secara bersamaan dan mereka mengocok
disaat bersamaan pula. Benar-benar pemandangan yang sangat hebat batinku. “Tuh,
temenmu di entotin tiga bocah langsung.”kataku ke Ratna yang menggigil kedinginan
dan terisak-isak.
“Neh.. kontol gue. Emut dong!”perintahku kepada Ratna secara paksa. Aku paksa dia
mengoral penisku yang menegang dari dalam air. Kontan dia gelagapan dan tersedak.
Lalu kubalik tubuhnya dan kuperkosa dia dari belakang. Sepuluh menit kemudian aku
merasa akan segera mencapai klimaks. “Aku dah mau keluar nih. Keluarin di muka lo
yah.”kataku. Kupercepat goyanganku dan kucabut dengan cepat lalu kuarahkan
kewajah Ratna dan muncratlah cairan putih kental itu membanjiri wajahnya yang
manis itu. Sementara itu kulihat ketiga bocah SMP itu sudah selesai mengerjai Leony.
Tubuh dara cantik itu belepotan sperma dimana-mana. Segera kuambil kamera digital
dan aku portet tubuh telanjang mereka. Sebagai pengaman agar mereka tidak lapor
kesiapapun mengenai hal ini atau bakal disebarkan semua foto-foto ini.
Begitulah malam pertama makrabku yang indah. Malam itu aku mendapat tubuh
2
dara cantik dari fakultas sekretary. Benar-benar malam yang indah.
Malam kedua makrab diisi dengan acara mencari jejak. Tentu saja tidak serius-serius
amat karena ini hanya untuk melatih kekompakan dan meningkatkan rasa
persaudaraan saja antar peserta. Rutenya tidak jauh-jauh banget hanya saja banyak
jalan memutar sehingga terasa jauh.
Singkatnya aku bertugas sebagai pengawas saja jika-jika ada anggota yang pingsan
atau mendapat masalah di jalan. Aku bersama seorang temanku bernama Joni, nama
lengkapnya Joni Everrat. Namanya sangat aneh menurutku, tapi maklum orang tuanya
yang pria adalah keturunan orang Amerika Latin sehingga menamai anaknyapun tidak
mau nama yang normal-normal saja.
Aku dan Joni menggunakan rute kecil yang berada dekat dengan rute makrab. “Dingin
nih Di. Bosen gua kalau sepi gini.”kata Joni padaku. “Beh! Kita tugas bro, lo mau ntar
dimaki-maki sama si Johan ketua panitia kalau sampai ada yang ilang?”sahutku pelan.
“Iye seh, tapi bosen abis neh bro. By the way ntar kalau ada yang nyasar kita kerjain
yuk biar seru. Biar tambah nyasar .. hahahahaha.. “tawanya, syukur lah dalam hatiku
berkata akhirnya dia sudah ga menggerutu lagi bosan aku mendengarnya.
Sekitar satu jam setelah kami nongkrong di tempat persembunyian, ada suara
beberapa anak mendekat. Ada 6 orang anak disitu, setelah habis makrab aku baru
tahu nama mereka adalah: Antony, Silvia, Rasti, Iman, Nugroho dan Ashanti.
“Gie!”panggil Antony kepada Nugroho yang panggilannya Nugie. “Apaan?”sahut Nugie.
“Gila neh. Lo yakin ini bener jalannya?”sahut Antony lagi. Nugie menyahut,”Lah, mana
gua tahu. Gua khan bukan panitia. Lagian semua tandanya bikin kepala gua puyeng
nih. Mana didepan ada perempatan pula. ** nih panitia-panitia, ngerjain kita
semua nih.”umpatnya berkepanjangan.
Silvia menengahi, “Sudah-sudah! Ga ada gunanya kalian semua nih cowok-cowok. Gini
aja, kita bagi regu menjadi 3. Trus kita lihat jalan didepan buntu atau kagak, kalau
sudah yakin dengan jalan didepan baru kita balik ke perempatan ini lagi. Gimana?
”
Iman yang dari tadi diam menjawab, “Masuk akal nih, gua setuju.” “Lah, ntar yang
cewek-cewek gimana dong? Aku ogah jalan sendirian ma cewek, ntar kalau
kenapa-kenapa bisa gawat.”kata Rasti. Silvia menyahut, “OK! Tiap regu terdiri dari
satu cewek dan satu cowok.” Lalu merekapun berpencar. Anthony bersama dengan
Ashanti, Silvia bersama Nugie, Iman bersama Rasti.
Dilihat dari arah yang mereka tuju, sudah jelas bagi aku dan Joni bahwa arah yang
dituju Nugroho dan Silvia adalah jalan menuju kepuncak gunung. Jelas mereka tak
akan sampai di tempat perkemahan sebelum sadar dan itu bakalan lama karena
lingkungan jalannya benar-benar menipu mata para pendaki pemula. Sementara itu
Antony dan Ashanti menempuh jalan yang nantinya akan buntu karena dibatasi sungai,
yang jalannya hanya bisa dilalui oleh orang-orang yang bisa berenang saja dan aku
yakin Ashanti tak akan pernah mau. Hanya Iman dan Rasti yang berhasil memilih
jalan.
“Bro! Lo denger gak tadi mereka ngomong apa?”kata Joni. “Emang napa seh?”sahutku.
“Belagu tuh anak-anak kemaren sore.”serunya dan kulihat dia benar-benar jengkel
dengan ucapan si Nugie. Aku tersenyum padanya, “Lah terus mau ngapain lagi? Kita
khan panitia, masak mau marahin mereka. Ga pada tempatnya.”sahutku lagi.
Joni lalu mengikuti Anthony dan Ashanti pergi. “Hoi, mau kemana loe?”tanyaku pada
Joni. “Udah ikut aja bro. Gua pengin tahu ngapain mereka pilih jalan buntu ini,
jelas-jelas arahnya melenceng keluar dari arah perkemahan.”ujarnya. benar juga
batinku, ngapain mereka mau pilih jalan itu.
Tak lama kemudian aku dan Joni sudah mencapai jalan buntu yang dilewati sungai itu.
Alirannya tidak deras-deras banget tapi kedalamnya hampir satu setengah meter, mau
tak mau buat orang jeri juga bagi mereka yang tidak bisa berenang.
“Ssssttt! Tuh denger!” Joni berbisik sambil membuat tanda diam dimulutnya. Dan
benar saja aku melihat Anthony dan Ashanti sedang bercumbu di atas sebuah batu kali
yang lebar dan lempeng. “Pas bener nyari tempatnya? Gua berani tebak, mereka pasti
sudah melihat kalau ada tempat asik disini pas waktu santai tadi siang. Gila tuh cewek,
pahanya mulus coi, toketnya juga gede putih dan mulus.”kata Joni sambil menelan
ludahnya. “Bah! Sialan, malam-malam gini malah bermesum ria.”gerutuku. “Kerjain
yuk?”kata Joni sambil senyum-senyum. “Ntar! Kita liat dulu aja mereka mau ngapain.
”
sahutku.
“Sssshhh .. achhh.. sshhh.. achhhhh Ton, kalau temen-temen liat gimana?”Ashanti
mencoba bicara ditengah gelora nafsunya. Anthony sambil terus menciumi lehernya
dan meremas buah dada gadis cantik itu hanya tersenyum dan mempreteli seluruh
pakaian gadis itu dan pakaiannya sendiri. Hanya dalam beberapa detik mereka sudah
bugil dan permainan bertambah panas karena Anthony dengan batang kemaluan yang
sudah membesar itu segera melakukan penetrasi ke liang vagina Ashanti.
“Say, aku masukin yah.”kata Anthony pada gadis itu yang ternyata merupakan
kekasihnya sejak di SMU kelas 3. “Iya deh honey. Kita main cepetan yah, takut kalau
ada yang tahu.”ucap Ashanti disela-sela desahan kenikmatannya.
“Achhh.. terus.. te.. te.. rus.. sayang.. honey.. ochhhh h!”racau Ashanti saat penis
Anthony menerobos liang senggamanya dan mulai digoyangkan pinggulnya naik turun.
Laksana lokomotif, dia menggenjot tubuh kekasihnya itu diatas batu kali.
“Ahhh.. ohhh.. ahhhhh.. “racau Ashanti semakin menjadi-jadi saat kekasihnya
semakin liar menyodokkan penisnya kedalam vaginanya. “Enak yah say?”canda
Anthony ditengah-tengah goyangannya yang semakin cepat.
“Achhhh.. ahhhhhhhhhhhhhhh“racauan Ashanti berubah menjadi sebuah suara
yang cukup keras. Nampaknya dia sudah mencapai orgasmenya yang pertama.
Sementara itu Anthoni hanya senyum-senyum saja, dilanjutkannya penetrasinya
dengan sodokan-sodokan yang mulai melemah lalu medadak menjadi liar kembali.
Penis berukuran kurang lebih 13-15 sentimeter itu benar-benar membuat lubang
vagina Ashanti yang putih bersih itu menjadi kemerah merahan karena efek gesekan
yang sangat cepat. “Clap, clap, clap, clap.”bunyi saat penis milik Anthony menjarah
liang kewanitaan Ashanti kekasihnya itu. Tak lama kemudian baru dia mencabut
batang kejantanannya dan mengocoknya diatas perut kekasihnya dan, “Crottt, crot,
crottt!” keluarlah semua spermanya dan membasahi perut gadis putih itu bahkan
pusarnyapun tertutup cairan mani yang putih kental itu.
“Say, kamu bener-bener lihai bercinta sekarang.” kata Anthony sambil mengecup bibir
gadisnya. Ashanti yang lemas hanya dapat tersenyum.
“Srakkkk.. “suara semak-semak terinjak oleh Joni yang keluar dari persembunyian.
Sepasang burung madu itupun kaget dan mencoba menutupi tubuh mereka dengan
pakaian, tapi apa daya karena Joni sudah merengut pakaian mereka yang berjatuhan
di bebatuan dan melemparkannya kesungai kecuali pakaian dalam sang cewek dan
beberapa barang seperti dompet dan handphone. Hilang sudah semua pakaian mereka
berdua.
“Mau apa lo?”bentak Anthony lantang menutupi kagetnya dan juga perasaan takut.
“Bah! Bocah kemaren sore belagu. Mau cari mati lo hah? Malam-malam makrab malah
dibuat *.”seru Joni lebih lantang. “Ton.. “Ashanti bersembunyi dibalik tubuh
kekasihnya guna menutupi tubuhnya yang telanjang bulat dan dia terisak-isak.
Akupun keluar dari semak-semak, “Heh kalian! Apa kalian gak tau aturan
disini?”seruku pada sepasang kekasih itu. “Disini kalau mau bersenang-senang kagak
boleh sendirian.”tambahku.
Anthony menjauh dan berusaha untuk mecari alat buat menutupi tubuhnya. “Mau apa
kalian?”serunya kali ini tidak selantang yang tadi. Aku tersenyum sambil melihat body
Ashanti yang telanjang itu, “Gua cuman mau cewek lo aja buat malam ini.”tandasku
padanya. “Hah! Apaaaa?” Anthony kaget namun aku yakin dia sudah memikirkan
kemungkinan itu sebelumnya. “Kalau kagak mau juga ga apa apa seh. Cuman cewek lo
bakalan jadi bulan-bulanan disini karena dia bakalan pulang telanjang bulat karena
celana dalam dan bra nya bakalan kami buang kesungai.”seruku.
Anthony berusaha menyerang Joni dengan harapan dapat merebut barang kekasihnya
namun aku juga sigap dengan segera aku memukul tengkuk pria itu hingga dia
pingsan. Lalu kami mengikat Anthony di sebuah pohon besar agak jauh dari tempat
kami bertemu mereka sambil membawa paksa Ashanti yang bugil dan kedinginan.
“Nah. Kalau disini ntar kalau temen-temen lo pada balik nyariin gak bakalan ada yang
nemuin lo.”kataku pada Ashanti “Lo kalau kedinginan ngapain pakai acara **
*
malem-malem dihutan?”lanjutku sambil mencium paksa bibirnya. Luar biasa lembut,
gadis cantik ini benar-benar membuatku terpesona. “Ampun kak. Saya minta pakaian
dalamnya lagi, saya nggak akan bilang siapa-siapa soal ini asal saya dilepasin
kak.”katanya padaku sambil berlinangan air mata. “Beh! Emang lo masih perawan
apa? Anggap aja ngelayanin kami sama aja ngelayanin cowok lo.”seru Joni sambil
mempreteli bajunya. Menurut undian aku lebih dulu yang dapat jatah.
Segera setelah aku melepaskan bajuku, aku segera menindih cewek bahenol ini dan
mulai melakukan penetrasi. Sambil kuciumi payudara dan leher juga bibirnya aku
berkata,” Gua jamin, pelayanan gua lebih memuaskan daripada cowokmu itu.
”
“Jangan kak. Ampun! Kak janga.. an.. achhhhhh.. achhhhhhhhh ” ucapannya
berubah menjadi rintihan saat penisku menerobos liang kemaluannya. Tak butuh
waktu lama hingga seluruh penisku yang panjangnya 18 senti itu masuk semua
kedalam vagina Ashanti. “Sekarang enak khan? Penis gua lebih gedean khan dari
punya cowok lo?” kataku pelan sambil memulai sodokan-sodokan penisku kearah
dalam vaginanya.
“Ach, ohhh, achhh, ochhh, jangan kak! Ahhhh.. ohhh” Ashanti mulai tak terkendali,
nampaknya walaupun dia ingin menolak tetapi dia tetap merasakan kenikmatannya.
Tak sampai sepuluh menit dia mencapai orgasme keduanya malam ini. “Achhhh,
kak.. ahhhh!” serunya diiringi tubuhnya yang mengejang kuat dan tanpa sadar
tangannya menekan bahuku. “Heheh! Ternyata menikmati juga yah?” ejek Joni pada
Ashanti.
Lalu kupercepat gerakan sodokanku, kali ini kurubah gaya menjadi woman on top
sehingga dia bisa bergoyang lebih bebas dan dengan gaya ini dia orgasme untuk ketiga
kalinya. Cairan cinta dari vaginanya bercampur dengan cairan pelumas yang keluar
dari batang kejantananku menimbulkan bunyi-bunyian yang berkesan becek saat
kedua kelamin kami berbenturan.
Kemudian kuakhiri petualanganku malam ini dengan doggy style dimana di kuposisikan
menghadap kekasihnya yang masih pingsan dan kusuruh dia mendesah seliar
mungkin. Tak lama kemudian aku merasakan spermaku akan keluar. “Say, aku
keluarin didalam yah.”kataku padanya namun tak ada jawaban. “Crot, crot, crot,
crottt!” spermaku menyemprot liang vaginanya setidaknya 4 sampai 5 kali.
Selang 2 menitan Ashanti langsung disuruh jongkok oleh Joni dan dimembersihkan
vagina cewek itu dengan air sungai. “Bah! Tercemar sudah.” serunya sambil terkekeh.
Lalu tanpa aba-aba lagi dia langsung menyodokkan penisnya kedalam vagina Ashanti
yang sudah lemas itu dengan posisi doggy style.
“Ach, ach, ohhh!” Ashanti kembali meracau tidak karuan. Saat itu kekasihnya bangun
dari pingsan dan melihat betapa liarnya Joni menggenjot kekasihnya. “Nih liat!
Cewekmu aduhai bener bodynya, goyangannya juga mantap.” kata Joni pada Anthony
sambil memperliar sodokannya sehingga kadang membuat Ashanti mengaduh
kesakitan. “Ahhh, yes, ohhh.. yessss!” kali ini giliran Joni yang meracau tak karuan.
Aku segera ambil posisi, “Kalau kamu mau pakaian dalam kamu balik, kamu harus
mengoral penis gua dulu. Nih!” kataku sambil menyodorkan batang kejantananku yang
mengeras lagi kedepan bibir mungilnya yang menurutku sangat seksi.
Dia lalu membuka bibirnya perlahan dan mulai memasukkan penisku kedalam
mulutnya. “Ahhh, gitu dong dari tadi.” seruku sambil memaju mundurkan pinggangku
mengerjai mulut Ashanti gadis manis ini. Tak lama kemudian Joni mempercepat
goyangannya dan langsung meremas buah dada Ashanti dengan keras hingga gadis ini
mengaduh keras. “Ahhh.. gua keluar nih. Memek lo emang legit abis Shan, kalau jadi
lonte dah bakalan laris lo.” Joni berkata sambil melakukan sodokan pamungkasnya
yang mendalam dan keluarlah seluruh cairan haram itu didalam vagina Ashanti. Gadis
ini hanya bisa menutup mata namun tak lama dia terpaksa harus membuka matanya
karena aku berejakulasi saat penisku dioral mulutnya. Dia mencoba melepaskan
penisku namun gagal dan akhirnya harus menerima sebagian besar maniku keluar
dimulutnya.
Setelah puas, aku dan Joni berpakaian dan memberikan pakaian dalam Ashanti tapi
sebelumnya aku kembali menggunakan kamera digitalku untuk memotret mereka
berdua dalam kondisi telanjang bulat. “Kalau lo pada buka mulut, foto-foto ini bakalan
gua kirimin kesemua relasi kalian and tentu saja keseluruh kampus dan keluarga
kalian. Ngerti!” bentakku. “Udah! Ayo pergi! Dah puas gua ngentotin tuh anak baru.
”
kata Joni sambil ngeloyor pergi. Sebelum aku pergi aku berbisik pada Ashanti, “Lain
kali kalau kamu butuh kepuasan, cari saja aku. OK?” bisikku.
Kejadian itu merupakan kejadian yang sangat berkesan, karena aku bisa memperoleh
tubuh cewek angkatan baru ketigaku. Lalu aku dan Joni segera pergi kearah Silvia dan
Nugie pergi. Ceritanya cukup seru juga.
Setelah menempuh setidaknya satu jam perjalanan, aku dan Joni memutuskan untuk
berhenti mencari Silvia dan Nugie. Tapi benar-benar takdir, aku dan Joni mendengar
ada suara ribut-ribut didekat kami dan kamipun mencari arah suara tersebut. “Hmmm,
tuh mereka berdua. Malah perang sendiri.” kata Joni padaku.
“Anak baru emang ga berguna semua, nyari jalan saja pakai berantem.” ucapku. Kami
berdua lalu mendekati kedua anak itu. Mereka kaget tapi lega dan senang melihat ada
panitia didekat mereka. “Untung ada kakak panitia.” kata Nugie pada Silvia. Silvia ini
tidak begitu cantik paras wajahnya, namun dia sangat modis cara berpakaiannya dan
body nya itu yang aduhai, jauh lebih seksi daripada Ashanti yang padahal menurutku
sudah cukup seksi.
Kami berencara untuk turun gunung namun ternyata jalan yang kami lalui tadi tertutup
kabut. “Bener-bener deh! Tadi waktu diatas ga ada kabutnya kok dibawah sekarang
ada.” gerutu Joni lagi. “Aneh juga, baru kali ini ada yang beginian. Kalian juga sih pake
acara naik gunung, dah tahu perkemahannya di kaki gunung.” kataku kesal. Seolah
mengakui kesalahan mereka, kedua bocah itu diam. Akhirnya kami berempat harus
menunggu sampai kabut hilang karena jalan yang dilalui ada beberapa bagian yang
curam dan jarak pandang hanya 2 meter didepan.
“Dah! Kita diam disini dulu saja sampai kabut ilang.” kataku sambil duduk disebuah
potongan ranting kayu yang besar yang nampaknya jatuh dari sebuah pohon. Joni
terdiam lalu angkat bicara, “Jangan! Gue kayaknya masih inget ada tempat
persinggahan disini, pos buat para pendaki.” Kami lalu mencari pos tersebut dan
ternyata Joni benar dan letaknya tidak jauh dari tempat kami berdiri tadi.
Pos berukuran 5×5 meter yang sederhana sekali, hanya terdapat sebuah tempat tidur
dari semen yang bisa digunakan buat tidur, duduk ataupun bersantai sambil menaruh
bawaan. Malam semakin larut dan kabut diluar pos semakin tebal saja. Karena hanya
membawa lampu senter multifungsi tanpa membawa oncor, obor atau sebagainya
maka hawa dingin semakin merajalela.
“Anjing! Dingin abis disini. Mana kaga ada perapian pula.” Nugie mulai menyumpah
serapahi keadaan. Aku melihat Silvia mulai mendekatiku dan berbagi jaket gunung
bersamaku. Maklum diantara kami berempat, akulah yang menggunakan jaket gunung
paling tebal, tapi jujur saja suasana dingin sudah biasa bagiku karena aku lahir
didaerah pegunungan juga. “Hih! Dingin, dingin banget.” Silvia kini mulai berani
memeluk tanganku. Kurasakan tonjolan menyentuh lengan atas tanganku. Dada Silvia
yang cukup besar, 36B setidaknya menurut tebakanku menyentuh tanganku.
Disuasana sedingin ini sebuah kehangatan merupakan surga.
“Hmm! Silvia.” panggilku padanya dan dia menoleh. Dia terkejut karena tanganku
sudah memasuki jaket dan baju kausnya bahkan sudah melewati himpitan branya dan
menyentuh buah dadanya yang montok itu. “Kakak! Kakak apa-apaan sih?” bentaknya
padaku namun tak berpengaruh bahkan aku semakin berani mereka payudaranya kali
ini menggunakan kedua tanganku. “Kamu tau nggak Silv, di cuaca sedingin ini
kehangatanlah yang penting. Dari pada aku mati beku mending kita bekrja sama.” aku
beralasan. Tanpa di komando lagi, Joni segera memegangi kedua tangan Silvia dari
belakang sementara aku membuka bra nya. Kali ini dada Silvia tidak tertutupi bra lagi
walaupun dia masih mengenakan jaket dan kaus. Tak hanya itu, aku langsung
memelorotkan celana jeansnya dan juga celana dalamnya. Setelah tubuh bawahnya
telanjang dia baru dapat berteriak. “Hentikan! Kalian sudah pada gila! Apa-apaan ini?
Jangan macam-macam.” serunya namun tak ada gunanya. Bahkan Nugie yang dari
tadi bengong jadi ikut bereaksi meremas-remas payudara Silvia. Sementara mulutku
mencumbu bibirnya dengan french kiss. Nampaknya mau tak mau dia pasrah juga
melihat dirinya dikerumuni tiga pria dan semuanya berebutan untuk merangsang diri
mereka dengan tubuhnya yang akhirnya berbalik merangsang diri Silvia sendiri.
Tak menunggu lama segera aku pasang posisi, “Jangan khawatir Silvi, yang penting
kenikmatannya kok dan kehangatan kita semua.”kataku sambil membuka resleting
celana jeansku dan segeralah batang kejantananku mengacung tegak seolah
menantang dinginnya malam berkabut itu. “Gila! Gede amat.” tanpa sadar Nugroho
berceletuk dan ditanggapi dingin oleh aku dan Joni.
Blessshhh. Segeralah batang penisku itu menerobos masuk kedalam vagina Silvia.
“Achh, sakit mas.” Silvia mulai terbata-bata. Kala itu baru kepala penisku yang bisa
masuk. “Kamu masih perawan yah Sil.” aku tersenyum melihat dia menahan rasa sakit
namun tak sanggup memberikan perlawanan. Dan dalam selang satu sampai dua
menit akhirnya seluruh batang kemaluanku berhasil sukses melesak masuk kedalam
liang kewanitaan Silvia.
“Ah, achhh, ahhh.” Silvia mulai mengejang menahan sensasi kenikmatan dan menahan
rasa perih di liang senggamanya. Ukuran vaginanya memang lebih kecil dari semua
cewek yang pernah kutiduri dan ditambah ukuran penisku yang cukup lumayan itu
membuat terasa sangat seret dan sulit saat akan penetrasi.
Benar-benar situasi yang luar biasa dimana Silvia yang hanya menggunakan atasan
dan diriku yang masih berpakaian lengkap ini bersenggama di sebuah ruangan yang
dingin berkabut. Karena kondisi maka aku memilih doggy style sehingga tidak perlu
terlalu ribet. Tiap sodokan demi sodokan dari penisku membuat kedua payudara sang
dara ini berguncang hebat. “Achhh, mas, ahhh, ahhhh.. hentikan mas.. achhh.
”
racaunya ditengah goyangan mautku. “Bener mau berhenti?” godaku padanya sambil
senyum-senyum. Sambil meremas-remas payudaranya dari belakang, aku benar-benar
mencapai kepuasan yang tiada tara. Gadis bertubuh molek ini akhirnya dapat aku
garap dengan seekstrim ini. Dua puluh menti kemudian aku mencapai klimaksku dan
ku semprotkan seluruh cairan kemaluanku didalam vaginanya. Saking banyaknya
hingga ada tetesan yang keluar.
Setelah diriku, Joni lalu kemudian Nugroho juga melampiaskan hasrat terpendam
mereka ketubuh Silvia dan sama sepertiku mereka menggunakan doggy style.
Sperma-sperma yang memenuhi liang kewanitaan Silvia seolah menjadii saksi
kebrutalan tiga pria dalam satu malam yang dingin. Banyak sekali pose saat Silvia
disodok yang terekam kameraku. “Enak yah Sil? Nyari kehangatan sambil nyari
kenikmatan.” kataku padanya. “Kalau kamu ntar mau * lagi, bisa ngomong ke
aku OK Sil.”aku manambahi.
Setelah kurang lebih pukul 4 pagi, kabut mulai hilang dan kami berempat berani untuk
turun. Malam itu selama kurang lebih 2 sampai 3 jam kami mengerjai Silvia dari segala
sisi. Setidaknya aku sudah berejakulasi dirahim, anus dan dadanya. Begitu juga
dengan dua orang yang lain, bahkan Nugie lebih rakus karena dia memaksa Silvia
melayaninya hingga 5 kali. Entah sudah berapa banyak sperma yang memasuki rahim
Silvia waktu itu. Malam itu selain mendapatkan servis dari Ashanti, aku juga
memperoleh servis dari Silvia plus keperawanannya. Rekorku sepertinya melebihi
rekor Yusak temanku dalam hal memerawani cewek.
Hari ketiga waktu sore hari tiba, banyak peserta makrab yang menyiapkan acara
mereka masing-masing karena tiap-tiap regu diharuskan menampilkan sebuah atraksi
hiburan yang akan digunakan pada malam api unggun. Malamnya saat acara api
unggun dimulai, suasana sangat meriah dan tidak ada lagi acara bentak-bentak dari
para senior. Semuanya membaur menjadi satu baik senior maupun junior. Aku, aku
memilih menyendiri di salah satu tenda panitia. Terus terang aku cukup lelah dengan
aktifitas pagi waktu itu dimana kelompok tugasku diberikan tugas untuk menyiapkan
keperluan dan perlengkapan untuk acara api unggun.
Saat aku mendekati salah satu tenda panitia dari bagian dokumentasi, aku mendengar
ada suara orang bercakap-cakap, setidaknya ada 3 orang disana. Kudengar
samar-samar dan aku mulai dapat memastikan kalau suara itu adalah suara Joni dan
Anwar temanku sementara suara satu lagi adalah suara perempuan yang aku tidak
kenal. Tapi itu bukan yang membuatku terkejut, karena yang membuatku sangat
terkejut adalah suara-suara yang muncul dari mulut ketiga orang itu.
“Jangan kak! Saya benar-benar nggak sengaja kok.”kata si cewek yang ternyata
bernama Ivone. “Gak sengaja gimana? Jelas-jelas kamu bawa benda ginian ditas
kamu, emangnya benda seperti ini isa masuk dewe?”bentak Anwar dengan logat
jawanya.
Terdengar suara tangis kecil dan sesenggukan dari sang cewek. Aku segera masuk
untuk mengetahui apa yang terjadi dan kudengar dari penuturan kedua rekanku itu
bahwa bocah yang bernama Ivone ini ternyata membawa minuman keras Jack Daniels
dan juga beberapa linting rokok berisi ganja.
“Sinting! Kamu pikir ini tempat apaan?”bentakku. Emosi juga kumelihat ada junior
yang berani bertingkah jauh diambang batas seperti gadis ini. Gadis berkulit putih ini
hanya bisa terdiam. Ivone adalah gadis keturunan cina, tinggi tubuhnya 165 an dan
berambut panjang lurus di cat warna merah dipinggirnya.
“Saya menyesal kak. Tolong jangan dilaporin.”pintanya setengah merayu walaupun
tangisnya masih juga keluar. “Heh, dia pake acara merayu pula.”ejek Anwar pada
Ivone sambil duduk yang lalu pergi keluar untuk mecari udara diluar tenda. Aku lihat
tubuh Ivone cukup bagus dan wajahnya juga lumayan karena didukung kulitnya yang
putih bersih. “Hng! Emangnya kamu mau ngerayu kami pake cara apaan?”kataku
padanya sambil melirik kearah buah dadanya. Saat itu dia memakai kaus lengan
pendek dengan lingkar leher cukup besar sehingga dari lingkar leher kausnya dapat
terlihat dadanya saat dia merunduk.
Nampaknya Ivone cukup tanggap akan hal tersebut dan dia segera membuka kausnya
hingga terlihat payudaranya yang dibalut bra berwana krem. “Kakak boleh lihat tubuh
Vony tapi jangan lapor tentang rokoknya sama minumannya. Please yah kak, ntar aku
bisa dikeluarin.”pintanya memelas. Joni menimpali,”Lo bukan cuman bakal dikeluarin
tapi juga dipenjara. Kita-kita bisa saja ngomong kalau lo mau mengedarkan ganja itu
di lingkungan kampus.”serunya pada dara tersebut.
Sambil meletakkan tas cangklongku aku perlahan mendekati dia,”Kamu, kalau cuman
bisa buka segini ga ada gunanya. Ga setimpal. Kalau mau buka semuanya!”seruku
padanya. Akhirnya walau dengan enggan akhirnya dia mau mencopot seluruh
pakaiannya didepan kami berdua. Payudara putihnya segera menjadi pemandangan
utama dan ukurannya cukup besar sekitar 36B, belum lagi pusarnya yang ditindik
membuat dia semakin seksi saja.
“Wah, kalau gini baru kita-kita bisa berpikir jernih tentang masalah lo.”Joni terkekeh
sambil menjulurkan tangannya memegang-megang payudara Ivone. Tapi dikebaskan
tangan Joni oleh tangan Ivone. “Sialan! Lo mau gua laporin apa?”bentak Joni tidak
terima. Namun suasana saat itu terhenti saat ada seseorang yang masuk yang
ternyata adalah Anwar.
Dia terkejut dan tak dapat melepaskan pandangannya dari tubuh bugil Ivone,”Gila,
apa-apaan neh? Kok jadi gini?” Anwar bingung. Selang beberapa detik kemudian ada
panggilan dari radio komunikasi kami dari HT salah satu teman kami diluar, isinya
adalah buat Joni untuk segera datang keacara api unggun karena dia kebagian tugas
mengabadikan acara tersebut dengan handycam panitia. Segera kusuruh Joni keluar
walalaupun enggan tapi hal tersebut agar tidak membuat kecurigaan dikubu panitia.
“Sekarang tinggal kita bertiga.”kataku pelan sambil membuka celanaku dan segera
terpampang penisku yang sudah lama ereksi karena melihat tubuh telanjang Ivone.
“Kak, jangan! Tadi khan katanya cuman mau lihat. Bukan yang lain kak.” kata Ivone
patah-patah karena gugup. Anwar masih bengong dari tadi baru bisa menguasai
dirinya, “Di! Kowe sudah edan yah? Ntar kalau yang lain kesini bisa mampus
kita.”katanya panik dengan logat lucunya itu. Aku hanya meringis sambil menyergap
Ivone yang mencoba berontak. Kupegang kedua tangan dara tersebut sementara
kedua pahanya kutekan dengan kakiku sehingga tak dapat bergerak lagi.
“Von, sekarang kamu harus buat aku senang kalau tidak aku laporin semua barang
bukti ini ke temen-temen panitia yang laen. Gak enak lho dipenjara bertahun-tahun
apalagi buat gadis muda kayak kamu. Dipenjara bisa jadi bulan-bulanan.” kataku
menakut-nakutinya dan berhasil, dia menjadi minder ketakutan akan akibat yang
mungkin terjadi jika aku melaporkan semuanya.
Kuciumi mulutnya yang tipis itu sambil kuremas-remas payudaranya yang putih mulus
itu. Kujilat dan kuhisap-hisap puting susunya sehingga mengeras dan sedikit demi
sedikit dia sudah mulai merasakan kenikmatan cumbuanku. Vaginanya mulai basah
dan saat inilah yang kutunggu. Kuarahkan penisku kearah bibir vaginanya dan segera
kudorong melewati labia minora tersebut.
“Ach, ahhh.. ” rintihnya pelan saat batang kejantananku melesak kedalam vaginanya.
“Ahhh, nikmat sekali.” kataku pelan sementara dia hanya membisu dan membuang
muka kesamping. Dari saat aku memasukkan penisku hingga saat aku mulai
memompa batang kemaluanku itu, aku dapat merasakan kalau dia sudah pernah
berhubungan dengan pria lain. Tak ada darah dan kesulitan memasukkannya tidak
sesusah saat bersama dengan gadis yang masih perawan.
Kugenjot semakin cepat sambil kuangkat kedua pahanya dan kusandarkan di
pundakku sementara dia berbaring pasrah menerima hunjaman-hunjaman penisku di
liang kemaluannya. “Ahhh, achh, ohhh.. ” rintihnya pelan. Selama sepuluh menit aku
hajar vaginanya dengan posisi itu dan karena tempat yang sempit aku enggan
berpindah posisi. “Ahh, aku mau keluar nih. Keluarin mana nih?” kataku padanya. Dia
hanya menjawab pasrah, “Terserah kakak mau dikeluarin dimana.
”
“Ahhh, ahhh.. ” aku mengerang cukup keras sebelum aku menegang dan penisku
menyemburkan cairan sperma yang cukup banyak didalam vaginanya. “Crot, crott,
crottt, crottt.. ” Sekarang liang vaginanya dipenuhi cairan putih kental yang akhirnya
sebagian besar mengalir keluar dari dalam liang senggama Ivone melalui bibir
vaginanya. Aku lalu memakai celanaku lagi dan duduk agak jauh dari Ivone.
“Kamu nggak mau nyobain nih cewek?” kataku pada Anwar yang dari tadi cuman
tertegun menonton permainan panasku dengan Ivone. Akhirnya dia juga ambil bagian.
Dengan sigap dia copot semua pakaiannya dan langsung mengarahkan penisnya yang
berwana coklat kehitaman itu kearah bibir vagina Ivone yang putih kemerahan yang
masih belepotan sperma itu, tapi nampaknya temanku itu tak peduli lagi.
“Ahhh, ahhh, akhirnya hilang juga perjakaku. Kentu ma cewek cina lagi. Ngimpi juga
gak pernah aku.” katanya padaku. Aku hanya tersenyum melihat kelakuan polos
temanku itu. Batang kemaluan yang berwarna gelap itu kontras sekali dengan liang
memek Ivone yang putih kemerahan. Setiap kali penis Anwar menyodok dalam vagina
Ivone, gadis itu bergetar keras sambil mendesah entah desahan sakit atau
kenikmatan.
“Ahhh, keluarin didalam yah non.” kata Anwar dan benar saja hanya dalam waktu lima
menit dia * dengan gadis itu dia langsung mencapai klimaksnya. Sekali lagi
cairan sperma milik seorang pria membanjiri liang senggama Ivone. Setelah itu kami
berdua menyuruhnya mengoral penis kami hingga kami berejakulasi diwajah dan
mulutnya.
Sekitar dua jam kemudian, Joni datang bersama tiga orang panitia yang lain.
Semuanya pria dan semuanya menjadi horny saat melihat tubuh telanjang Ivone yang
lemas karena melayani aku dan Anwar tanpa henti. Seakan kerasukan setan, keempat
rekanku itu mencopot celana mereka masing-masing dan menggagahi Ivone secara
bergantian. Kali ini bukan cuma vagina dan mulutnya yang dihajar dengan sumpalan
penis, tapi juga lubang anusnya yang disodomi oleh keempat temanku ini. Benar-benar
brutal sekali, karena sempat aku melihat saat vagina Ivone dijejali dua penis sekaligus.
Saat itu dia menangis keras namun segera dibungkam oleh salah seorang dari mereka.
Sekitar jam 12 malam tepat saat acara api unggun mendekati selesai, mereka
berempat selesai mengerjai Ivone dan meninggalkannya dengan tubuh belepotan
sperma baik dimulut, payudara, perut, paha, punggung bahkan anusnya, terlebih di
liang kewanitaannya dibanjiri oleh sperma dari 6 orang pria berbeda. Karena terlalu
banyak hingga meluber keluar. Malam itu Ivone lolos dari jerat hukum tetapi dia
masuk kedalam jerat kami para panitia. Benar-benar malam yang menyenangkan.


