kumpulan cerita dewasa dari berbagai sumber …

<?php wp_title('«', true, 'right'); ?> <?php bloginfo('name'); ?>





July 17, 2008

gila ML

Filed under: RAMAI-RAMAI

Hai, aku adalah Reno (bukan nama sebenarnya). Seorang murid SMU top di Surabaya. Sekarang aku menginjak kelas tiga. Aku adalah anak sulung dari tiga bersaudara. Walaupun ayah dan ibuku masih “ada”, namun sejak kecil aku biasa hidup seorang diri. Ibu dan kedua adikku hidup di Jakarta. Ayah, apalagi, beliau selalu sibuk dengan bisnisnya di luar negri. Aku terpaksa tinggal di Surabaya, karena study, pekerjaan, teman-teman, dan berbagai macam alasan yang tidak dapat kuucapkan satu persatu. Tentunya aku tidak hidup seorang diri… Aku hidup dengan dua pembantu dan satu satpam. Tempat tinggalku, yah, lumayan besar lah.
Terus terang saja, sejak SMP aku sudah mengenal berbagai macam hal yang berbau seks… Mulai dari gambar-gambar porno, film blue, sampai onani/coli. Aku melakukan hubungan seks pertama kali dengan sepupuku sendiri… Setelah kejadian tersebut, aku semakin gila seks… Hampir tiap minggu aku melakukannya dengan teman cewekku… Aku benar-benar “Gila Gituan”!
Cukup untuk perkenalanku… Sekarang aku akan menceritakan pengalaman seks terbaikku. Kejadiannya terjadi beberapa minggu yang lalu. Pada saat itu aku sedang bersama teman-teman sekelasku untuk perpisahan di Malang. Seluruh murid-murid kelas II F (kelasku waktu itu) ikut serta dalam kegiatan itu. Tidak hanya itu, wali kelas dan beberapa guru juga ikut. Ceweqku, Yenny, tentunya juga ikut. Perlu saya jelaskan kalau Yenny ini adalah gadis yang sangat gaul. Dia sangat supel, menyenangkan, dan menganut kebebasan. Keadaan fisiknya sangat bagus. Wajah putih bersih, keturunan Indonesia-Cina, rambutnya cukup panjang… Kira-kira sepunggung, bentuk body-nya terbilang oke… Nggak terlalu tinggi, nggak terlalu pendek, nggak gemuk, juga nggak kurus. Beratnya sekitar 47-48 an. Bentuk buah dadanya nggak terlalu mengecewakan untuk ukuran anak SMU. Aku sendiri sering melakukan hubungan seks dengannya… Dia sangat asyik dan menggairahkan, agresif. Yang paling aku sukai dari tingkah lakunya saat nge-seks adalah teriakannya… Dia biasa teriak-teriak bebas tanpa ada yang disembunyikan… Hal inilah yang selalu menambah nafsu birahiku…
Kembali ke cerita. Si Yenny ini nggak bisa menginap di Malang, karena ada urusan keluarga. Jadi dia terpaksa pulang pada hari pertama. Aku sangat merasa kesepian saat dia pulang… Aku harus tinggal selama 3 hari tanpa Yenny. Padahal aku sudah merencanakan untuk nge-seks habis-habisan dengannya di Malang. Aku sangat iri sekali melihat kemesraan pasangan teman-temanku. Yang paling “hot” adalah pasangan Arie + Nanda dan Rexy + Sari.
Pada hari kedua, Arie dan Rexy mendatangiku. Mereka berdua mempunyai rencana “gila”… Sangat GILA! Mereka berdua mengajakku melakukan pesta sex. Yang dimaksud dengan pesta sex ini adalah melakukan hubungan sex rame-rame dan berganti-ganti pasangan dengan dibumbui obat-obat perangsang, minuman, dan musik-musik yang memusingkan kepala. Mereka berdua bahkan sudah memesan kamar disalah satu hotel di Malang. “Udah no, ikut aja… kamu boleh gasak Sari, nanti!” ucap Rexy pada saat itu. Ucapannya serasa membakar kupingku… Panas sekali. Sari adalah cewek yang sangat cantik… Aku sendiri sering membayangkan nge-sex dengannya. “Iya no, ikut aja… Nanda juga online” tambah Arie yang semakin membakar telingaku. Terus terang, aku tidak bisa mundur karena “tertantang”… Namun aku sangat malas melakukan hubungan sexs semacam itu… Ganti-gantinya itu lho, jijik ah… “Eh… Tapi Yenny nggak ada… Aku sama siapa dong?” tanyaku untuk mengelak. Mereka serentak menjawab gampang… “Kamu sama Dhita aja!” kata Arie. “Iya…. Dia kan ngebet banget sama kamu, no!” balas Rexy… Uhhh…
Untuk yang satu ini aku nggak bisa mengelak. Dhita, Anindhita, adalah sahabat karib Yenny. Katanya… Katanya, lho… Dia itu suka sama aku. Tapi gimana, aku kan pacar Yenny… Kita akhirnya temenan aja. Biarpun begitu, aku sering curi-curi kesempatan untuk nge-date sama dia, walaupun nggak sampe nge-sex. Dhita ini nggak kalah kecenya sama Yenny. Terus terang, wajah Yenny lebih unggul. Kulitnya juga putih, maklum, sama-sama keturunan Cina. Rambutnya dipotong sebahu, sedikit lebih pendek dari Yenny. Namun untuk masalah body, Yenny kalah telak. Anindhita punya postur tubuh yang sangat sensual. Mirip Cornellia Agatha lah… Sejujurnya, aku nggak mungkin ngajak Dhita untuk pesta-sex. Namun karena dorongan kedua temanku itu, maka, dengan serta-merta, aku mengajaknya kencan di Bar Hotel, dimana Rexy dan Arie sudah memesan kamar untuk battle-field.
Kejadian itu terjadi pada malam harinya. Dhita langsung setuju
menyambut ajakanku. Maka kami berdua segera berada di Bar hotel, mendengarkan live-music, sambil minum. Aku sengaja memasukkan obat perangsang, yang diberi oleh Arie, kedalam minumannya. Alhasil, reaksi obat tersebut mulai terlihat sekitar seperempat jam setelah Dhita meminumnya. “Aduh, no, perasaanku kok aneh banget ya…” kata Dhita saat itu. “Ah, mungkin kamu kebanyakan minum…” jawabku singkat. “Gimana kalo kamu tiduran dulu sebentar…” kataku polos. Dia segera mengiyakan ajakanku. Akupun segera mengandengnya kekamar yang sudah dipesan Arie dan Rexy… Dhita tidak banyak tanya dan komentar. Ia hanya mendesah-desah pelan bersamaan dengan nafasnya yang semakin memburu. Hal ini sangat mengundang nafsu birahiku. Aku merangkul pundaknya dengan erat sambil jalan, diapun membalas dengan merangkulkan tangannya ke perutku. Kena nih! Kataku dalam hati…
Aku sangat kaget melihat suasana kamar X itu. Ruangannya cukup
besar, ada dua spring bed ukuran double plus satu extra-bed ukuran double dilantai… Cukup besar untuk pesta-sex bertiga. Aroma alkohol dan suara house musik mulai terasa ketika Rexy membukakan pintu untukku. Rexy sendiri sudah “telanjang” bulat saat aku masuk. Aku sempat melihat Arie dan Nanda sedang “main” di salah satu spring bed. Arie sedang berlutut di antara kedua belah paha Nanda. Tangan kirinya menekan perut Nanda, tangan kanannya membimbing kontolnya menuju kemaluan Nanda. Nanda menggelenjing-gelenjing keenakan sambil mengaduh sesekali. Rupanya pesta gila ini sudah dimulai pikirku. Setelah membukakan pintu, Rexy segera menuju kearah Sari yang sedang terlentang disofa. Rexy segera membuka paha Sari, menjilat tempik Sari dengan lahapnya. Sari hanya tertawa geli sambil mengigau. Rupanya Sari telah di”obat” oleh Rexy.
Melihat pemandangan seperti itu ditambah erangan-erangan Dhita, aku menjadi tidak tahan lagi. Seperti kesetanan, kugendong Dhita di extra-bed. Dhita tidak banyak protes, malah semakin mendesah-desah saat aku menidurkannya, rupanya dia benar-benar terangsang oleh pengaruh obat tersebut. Aku segera melepas ikat pinggang Dhita, dan memelorot Jeansnya. Aku sangat bernafsu melihat gundukan kecil ditengah-tengah celana dalamnya. Tanpa pikir panjang, akupun melepas celana dalam Dhita. Terlihat belahan vagina Dhita yang berwarna cokelat kemerah-merahan, jembutnya sedikit dan terlihat baru dicukur. Rupanya dia sangat merawat kemaluannya, sama seperti Yenny. Kubelai kemaluannya, Dhita hanya menggelinjing. “Auh, geli no…” katanya pasrah. Karena tak kuat lagi, aku segera menjilat belahan vaginanya dari bawah keatas. Lalu aku mulai menjilati pahanya yang putih dan sekitar lubang vagina Dhita yang merah dan lembut. Cairan nya mulai mengalir keluar keselangkangannya. Aku segera menjilatnya. Rasanya rada keasinan dan berbau sangat khas, mirip seperti punya Yenny. Dhita hanya tertawa-tawa kecil, sambil berkata “Stop! Stop!”. Mendadak Dhita menjerit kecil ketika lidahku menyentuh klitorisnya. Ia mengerang karena keenakan.
Setelah beberapa saat, aku merasakan kalau badan Dhita mulai mengejang. Vaginanya terasa bercenut-cenut. Tangan Dhita segera menjambak rambutku dan mengacak-acaknya. Tak berapa lama kemudian, mengalirlah cairan putih-kental dari vaginanya. Aku menghisapnya sampai habis. Dhita teriak keras sekali, ia membenamkan wajahku kedalam kemaluannhya, pantatnya diangkat keatas, setinggi mungkin. Beberapa menit kemudian, ia mulai tenang. Dengan nafas tersengal-sengal, ia mencoba untuk duduk. Aku sangat terkejut dan kaget… Takut kalau dia sadar dan marah akan perbuatanku. “No… Fuck me, please…” katanya terbata-bata. Aku lega sekali. Iapun mencopot kaos ketatnya. Kemudian BH-nya. Kedua buah dada Dhita yang sangat indah menyembul keluar saat ia membuka BH-nya. Mataku sampai hampir copot melihat kemolekan tubuhnya… Luar biasa… Pasti ia sering nge-sex. Nggak mungkin ceweq SMU punya bentuk tubuh sebagus ini, kalo nggak sering dirempon.
Aku pun segera melucuti pakaianku. Tak berapa lama kemudian bibir Dhita sudah aku kulum. Ia membalas dengan sangat ganasnya. Tangan Dhita gak tinggal diam. Digenggamnya kontolku sambil diusap dan dikocok perlahan dengan tangan kirinya. Tangan kanannya pegangin pantatku. Aku juga nggak mau kalah, tangan kiriku menyangga beban tubuhku, sementara tangan yang kanan kuajak buat mendaki dada Dhita. Aku pun segera masukin kontolku yang udah 100 % tegang kedalam tempiknya. Nggak terlalu sulit, mungkin karena cairan dari vagina Dhita yang masih terus mengalir dan kelenturan vaginanya yang kelihatannya emang udah sering dijebol orang. Aku goyang naik turun. Dhita hanya mengerang, mengaduh, dan mendesah. Beberapa saat kemudian, aku merasa kalo peju-ku mau keluar. Aku segera mencopot kontolku dari tempiknya. Lalu kusemprotkan cairan hangat itu keseluruh wajah Dhita. Dhita hanya menjilatinya. Ahhh…. Puas banget!
Akupun merebahkan badanku disebelah Dhita. Badanku lemas… Lalu kurasakan badan Dhita diangkat keatas. Aku segera bangkit untuk melihat apa yang terjadi. Rupanya Arie dan Rexy. Mereka menggotong tubuh Dhita ke atas spring bed. Mereka membalik tubuh Dhita. Dhita mencoba untuk berontak, namun usahanya sia-sia karena ditahan oleh tangan Arie dan Rexy. Sebenarnya aku kasihan banget sama Dhita. Aku tahu dia masih sangat capek. Tapi rupanya Arie dan Rexy udah kerasukan setan. Ari membuka pantat Dhita, dan memasukkan kontolnya lewat anus… Sungguh sadis! Sementara Rexy mencoba memasukkan kontolnya kedalam mulut Dhita… Dhita yang sudah pasrah, tidak mampu berbuat apa-apa, terpaksa menerima perlakuan “kasar” Arie dan Rexy. “Akhhh… Enak sekali!” teriak Arie saat kontolnya masuk kedalam anus Dhita. Dhita tidak mampu mengaduh, karena mulutnya tersumpal kontol Rexy yang sekarang sudah maju-mundur. Aku hanya bisa melihat air mata Dhita yang mulai menetes. Aku merasa kasihan, namun tidak mampu melarang temanku.
Perlakuan Arie dan Rexy terhadap Dhita ini rupanya membangkitkan nafsu sex-ku lagi. Kontolku yang tadi offline, sekarang on dan semakin keras dan kuat. Aku melihat sekeliling, aku melihat Sari sedang terlentang diatas karpet. Dia masih terengah-engah… Aku tidak tahu apa yang sudah dilakukan Rexy terhadapnya. Bagaikan terasuki setan, akupun mendekatinya. Dia terlihat sangat sensual tanpa busana. Kakinya terbuka lebar, tangan kanannya memegang dada, sedangkan tangan kirinya terlentang didekat kepala. Kepala Sari sendiri menghadap kiri, matanya tertutup, mulutnya sedikit terbuka, rambut ikalnya tergerai tidak karuan. Berbeda dengan Dhita, kemaluan sari sangat kecil dan masih terlihat rapat, jembutnya banyak lagi. Body Sari juga nggak sebagus Dhita, dadanya kecil sekali, kaya punya Estella-nya Great Expetation. Walaupun badannya dipenuhi keringat, namun aku masih bisa melihat kecantikannya. Dia jauh lebih cantik dari Dhita, mirip seperti wajah Vonny-nya Bening Bisa kamu bayangkan betapa cantiknya keturunan Manado + Jawa. Akupun mulai jongkok didekatnya. Kubelaikan tanganku dari pahanya sampai pipi. Ia hanya mengerang. Aku semakin bernafsu.
Segera kududukkan dia. Gila, tubuhnya lemas dan basah sekali. Kukulum bibirnya dengan penuh nafsu. Tampaknya ia sangat kecapaian, sehingga tak bisa membalas kecupanku. Bibirnya hangat dan basah. Oh aku benar-benar bergairah. Kembali kutidurkan dia terlentang, kubuka selangkangannya selebar mungkin. Ia mulai mengaduh. “Rex… Sakiit!” katanya. Rupanya Sari mengira aku Rexy… Aku semakin benafsu. Kubuka selangkangannya lebih lebar, ia menjerit. Lalu kumasukkan kontolku kedalam tempiknya. Ia mengaduh keras sekali. Memang sempit… Kepala kontolku aja belum masuk semuanya. Tapi aku nggak ambil pusing lagi. Dengan “kasar” aku masukin aja kontolku… Sulit sekali rasanya… Sari berusaha berontak dengan menendang-nendang, dan memukulkan tangannya kebadanku… Aku semakin bergairah, serasa memperkosa ceweq “Oh… Shit… Fuck” kata-kata itu terus muncul dari mulutnya yang mungil. Karena gemas kukulum mulutnya… Ia pun membalas dengan bernafsu. Badanku kugerakkan maju-mundur dengan pelan. Kubiarkan batang kontolku keluar, lalu kutekan keras kedalam. Sari sepertinya juga sudah menikmati rythmenya. Ia bisa mengimbangi gerakan kontolku dengan memaju-mundurkan tempiknya. Tak berapa lama, ia pun organsme seperti Dhita. Aku terus memompanya… Saat aku tidak tahan, aku mengeluarkan kontolku dan memasukkannya kedalam mulut Sari. Sari hanya mengulum separo dari kontolku. Akupun menembakkan pejuku didalam mulutnya…. Setelah itu aku manjatuhkan diri dan terlentang pasrah sambil narik napas panjang disebelah Sari. Sari sendiri masih terengah-engah. Pandangan matanya menerawang ke langit-langit kamar. Ia menoleh kearahku. “Reno, Trims ya” katanya manis. Aku memeluknya… Samar-samar terdengar jeritan Dhita. Aku dan Sari mencoba untuk melihatnya, rupanya duet sadis Rexy dan Arie berakhir. Tinggal Arie aja yang masih mengenjot Dhita dari atas. Mungkin karena kecapaian, tak terasa kami berdua pun tertidur lelap.
Aku terbangun karena merasakan sesuatu yang menggelikan di kontolku.
Aku mencoba membuka mata, eh, rupanya Nanda sedang asyik menghisap-hisap kontolku yang lagi berdiri dengan gagahnya. Aku melihat sekeliling, rupanya Sari tidur membelakangiku. Dhita dan Arie tidur berpelukan di spring bed. Rexy, mungkin terjatuh, tidur di extra bed. Aku kembali melihat Nanda… Ia tampak asyik sekali mengemut kontolku. Perlu aku jelaskan tentang spesifikasi fisik Nanda. Rambut Nanda cukup panjang, kira-kira sepanjang rambut Yenny. Wajahnya cukup manis, mirip seperti pemeran Cher-nya Clueless yang lagi diputer di SCTV. Bodynya nggak sebagus Dhita, tapi nggak sestandart Sari. Kulitnya kuning langsat, orang Jawa asli… Aku sangat terangsang oleh perbuatan Nanda. Tanpa sadar akupun menggerakkan kontolku maju-mundur. Nanda kaget dan segera menghentikan emutannya. “Eh, udah bangun ya…” katanya kaget. Aku segera duduk dan melihat wajahnya seksama… Manisss sekaleee “Kalo mau gitu, bangunin aku dulu dong.” protesku. “Wah, aku nggak tega… kamu kan habis bertempur sama Sari!” katanya.
Aku hanya tersenyum spontan… Kubelai rambutnya… “Gimana, mau dikerjain?” tanyaku. Ia mengangguk sambil tersenyum.
Kali ini posisi kita lain dengan yang lainnya. Nanda minta agar dia
yang diatas, aku menyanggupinya. Aku tidur terlentang di salah satu spring bed, sementara Nanda mengemut kontolku. Ia tidur tengkurap diatasku, berlawanan arah denganku… Posisi 69. Jadi aku mendapat kesempatan untuk menghisap tempiknya. Tempik nanda sangat indah, warnanya mirip dengan kulitnya, namun agak gelap. Jembutnya pendek-pendek dan tidak selebat Sari… Rupanya ia juga rajin merawat tempiknya. Ia menghisap dan mengemut kontolku dengan ganas, jika aku gamas dalam menghisap tempiknya. Aku menghisap-hisap cairan dari tempiknya, sambil menggigit-gigit klitorisnya. Nanda pun melakukan hal yang nggak kalah serunya. Ia mengulum kontolku penuh, lalu menarik mulutnya, sampai tinggal kepala kontolku saja yang terendam dalam mulutnya, lalu mengulumnya penuh lagi… Mirip nege-sex cuman dilakukan dengan mulut.
Kami organsme hampir bersamaan. Aku menghisap semua cairannya, demikian juga dengan dia. Kira-kira seperempat jam kemudian kami bertempur seru. Aku tidur terlentang, sementara dia yang berada diatasku dengan duduk dan berusaha membenamkan kontolku kedalam memeknya secepat mungkin. Tanganku dan tangannya bergandengan. Suara-suara desahan dan erangan kami berdua mengisi ruangan itu. Nanda adalah ceweq yang terkuat diantara ketiga ceweq lainnya. Dia bisa main sampai tiga ronde. Aku benar-benar kualahan menghadapinya.
Untunglah malam melelahkan itu segera berakhir. kami berenam mandi bersama, aku mandi bareng sama Dhita, Arie dengan Nanda, dan Rexy dengan Sari. Setelah itu kami segera kembali ke Villa tempat perpisahan kami. Siang harinya kam i pulang ke Surabaya… Pesta Sex itu adalah pengalaman saya yang paling hebat dan sensual… Saya tidak pernah membayangkan nge-sex bersama sebelumnya… Saya malah jadi ketagihan. Rencananya, liburan Agustus nanti kami berenam mau melakukannya lagi

pengalamanku

Filed under: RAMAI-RAMAI

Waktu aku masih sekolah di sebuah SMU di Bantul aku mempunyai seorang teman. Bisa dikatakan teman dekat. Namanya Evi. Usianya 17 tahun. Dia keturunan Cina sehingga kulitnya kuning langsat. Tingginya sekitar 156 cm dan beratnya sekitar 48 kg. Rambutnya lurus panjang dan berwarna kecoklatan. Dia pindahan dari kota lain waktu permulaan kelas tiga. Aku dan dia saling menyukai. Meskipun ada perbedaan warna kulit. Kulitku sendiri sawo matang.

Suatu hari menjelang EBTA lokal dia minta sesuatu yang juga ada dipikiranku. Dia minta dicium. Akhirnya kami berdua sepakat melakukannya setelah pulang sekolah. Di salah satu kamar mandi sekolah. Setelah keadaan sekolah sepi kami berdua segera masuk ke kamar mandi. Kebetulan kamar mandi di sekolahku tidak membedakan antara cowok dan cewek.

Kami berdua berhadap-hadapan. Kami sama-sama ragu untuk memulai. Entah siapa yang memulai, tahu-tahu kami berdua sudah berciuman. Lidah kami berdua saling menjilat. Matanya terpejam.

Tanganku mencoba meremas payudaranya yang berukuran 38 yang masih tertutup pakaian seragam sekolah. Kuremas payudara kanannya. Ciuman kami terlepas.
“Ooohhh…” Desah Evi.
Tangannya turun ke bawah mau membuka retsluiting celanaku. Kami berdua tersenyum. Tiba-tiba.
“Apa-apaan kalian.” Bentak seseorang.
Kami berdua terkejut. Di pintu yang terbuka terdapat salah seorang guru BP yang sangat ditakuti. Namanya Bu Heydi. Tanganku menghentikan remasan pada payudara kanan Evi. Sementara tangan Evi masih di celanaku.
“Kalian berdua ikut aku ke kantor.” Kata bu Heydi sambil berjalan keluar kamar mandi.
Kami berdua mengikutinya. Tangan Evi memegang tanganku. Dia kelihatan ketakutan. Aku sendiri juga takut. Takut hal ini akan disebarluaskan.

Kami bertiga telah sampai di ruang BP. Dikuncinya pintu ruangan itu. Kami berdua disuruh duduk di kursi sofa. Begitu duduk Evi dengan setengah menangis berkata.
“Tolong bu. Jangan bilang siapa-siapa.”
“Baiklah. Kamu jangan menangis. Aku akan tutup mulut. Tapi ada syaratnya.” Kata bu Heydi yang duduk di depan meja kerjanya.
“Apa syaratnya, bu ?” tanyaku.
“Saya bersedia memberi uang kepada ibu.” Kata Evi sebelum bu Heydi menjawab pertanyaanku.
“Aku nggak butuh uang.”
Bu Heydi diam sejenak. Kemudian lanjutnya.
“Aku butuh kamu.” Katanya sambil menunjukku. Kali ini suaranya agak lembut.
“Apa yang bisa saya bantu ?”
“Aku butuh tubuhmu.”
“Maksudnya ?”
“Aku minta dilayani.”

Aku dan juga Evi setengah kaget. Aku tidak mengira bu Heydi mengajukan syarat yang sangat tidak mungkin kulakukan. Aku hanya diam. Aku tahu bu Heydi yang berusia 47 tahun adalah seorang janda. Jadi wajar saja dia minta dilayani.

“Bagaimana ?” Kata bu Heydi sambil melepas kemejanya. Sehingga dia tinggal memakai baju dalam yang putih tipis memperlihatkan branya yang berwarna hitam. Tampak juga sebagian kulit sawo matangnya pada tubuh dengan tinggi sekitar 156 cm dan berat sekitar 53 kg.
“Jangan, bu. Syarat yang lain saja.” Tolakku sambil tetap memegang tangan Evi.
“Ibu nggak punya syarat lain selain itu.”
“Jangan, bu.” Tolakku sekali lagi.
“Kalau begitu, ibu akan umumkan perbuatan kalian besok.” Kata bu Heydi agak marah.

Aku dan Evi berpandangan. Kembali bu Heydi berkata.
“Daripada bercinta dengan orang yang lain warna kulitnya, lebih baik dengan…”
Belum selesai bu Heydi selesai bicara sudah disela oleh Evi.
“Tolong, bu. Jangan sebut-sebut warna kulit. Aku rela. Terserah ibu mau lakukan apa terhadapnya. Tapi. Sekali lagi. Jangan sebut-sebut warna kulit.” Kata Evi dengan nada keras dan melepaskan pegangan tanganku.

Bu Heydi tertawa sambil berdiri menghampiriku. Dia jongkok di depan tempat aku duduk. Dia meremas penisku yang masih tidur. Remasan itu membuat penisku setengah tegang. Sementara Evi berdiri. Dia berjalan mau keluar dari ruangan itu.
“Eh. Jangan pergi dulu.” Cegah bu Heydi sambil tetap memegang penisku. Kemudian sambungnya lagi.
“Setelah aku menikmati tubuh pacarmu ini, kamu boleh melakukannya sepuasnya.”
Kelihatannya Evi setuju. Dia kembali duduk. Tetapi duduk di kursi sofa yang berada di depanku yang dibatasi oleh meja. Sementara meja itu telah digeser bu Heydi untuk berjongkok.

Setelah melihat Evi duduk, kembali bu Heydi meremas penisku. Kali ini penisku sudah hampir tegang. Dibukanya celanaku. Diturunkan ke bawah sedikit termasuk celana dalamku. Penisku sudah muncul dihadapan bu Heydi dengan keadaan tegang sepenuhnya. Dipegangnya penisku dan langsung dimasukkan ke mulutnya. Dikeluarmasukkan penisku yang panjangnya 15 cm. Tanganku hanya memegang rambut hitamnya yang lurus potong pendek sebahu ciri khas BP. Mataku setengah terpejam menikmati kuluman bu Heydi terhadap penisku.

Sekarang kepala penisku dijilatinya sambil melepas baju dalam yang masih dipakainya. Kemudian dipegangnya lagi penisku dan dimasukkan kembali ke mulutnya. Tangannya juga membelai buah pelirku. Penisku dikeluarkan dari mulutnya dan disentuhkan ke lehernya sementara lidahnya menjilati pinggangku. Aku beranikan membuka ikatan bra yang dipakai bu Heydi. Perlahan-lahan kulepas bra itu. Sedangkan bu Heydi menjilati buah pelirku.
Beberapa saat kemudian digesek-gesekkan diantara kedua payudara bu Heydi yang berukuran 34. Pada saat itu kulihat Evi sedang melakukan masturbasi. Baju seragam sekolahnya setengah terbuka dan dia meremas payudara kanannya yang masih ditutupi kaos dalam dan bra. Bu Heydi kembali menjilati kepala penisku. Kudorong kepalanya supaya penisku masuk ke mulutnya. Kembali penisku keluarmasuk masuk mulut bu Heydi. Sambil kedua tangannya membelai-belai buah pelirku.

Setelah puas menikmati penisku, dia berdiri menyorongkan payudara kirinya ke mulutku. Kujilati payudara kirinya itu. Bu Heydi rupanya juga melihat Evi bermasturbasi. Dia meninggalkanku dan menghampiri Evi yang masih asyik dengan remasan pada payudara kanannya.
“Boleh ibu bantu.” Tawar bu Heydi.
Evi menghentikan remasannya dan hanya diam. Dan tanpa persetujuan Evi dibukanya dengan cepat seluruh pakaian seragam sekolah yang dipakai Evi termasuk kaos dalam dan bra. Mereka berdua sama-sama setengah telanjang.
Dibimbingnya Evi untuk berdiri untuk menempelkan kedua payudaranya ke kedua payudara Evi.

“Ooouhhh…” Mereka berdua sama-sama mendesah.
Bu Heydi lalu memegang kedua payudara Evi sedangkan Evi mendorong tubuh Bu Heydi pada kedua lengannya. Aku kira Evi yang mempunyai tato bergambar bunga mawar kecil di atas pusarnya akan menolak ajakan bu Heydi. Ternyata tidak. Evi bahkan melepas semua pakaian yang tersisa di tubuhnya yang diikuti oleh bu Heydi yang juga dengan cepat melepas semua pakaiannya. Keduanya berdiri berhadap-hadapan dan saling tersenyum. Aku sendiri ketika mereka melepaskan semua pakaian juga ikut melepas semua pakaianku sambil duduk. Aku ingin menghampiri mereka yang kemudian dihalang-halangi oleh bu Heydi.
“Biarkan aku menikmati tubuhnya sendirian.” Kata bu Heydi sambil berjalan ke belakang Evi.

Dari belakang diciumnya bibir Evi yang tangan kanannya memegang leher belakang bu Heydi. Tangan kiri bu Heydi dari belakang meremas payudara kiri Evi. Tangan kiri Evi menjepit tangan kiri bu Heydi di bawah ketiaknya sambil memegang tangan kanan bu Heydi yang membelai vaginanya.
Lalu Evi membalik badannya dan dengan membungkuk dihisapnya kedua payudara bu Heydi bergantian.

“Uuughhh…” Desah bu Heydi.
Kedua tangannya memegang pinggang bu Heydi. Ditariknya tubuh Evi ke atas sambil dia sendiri berjongkok di hadapan Evi. Langsung saja dibukanya vagina Evi dengan kedua tangannya. Evi meletakkan kaki kirinya ke atas kursi sofa untuk mempermudah terbukanya vaginanya. Bu Heydi lalu menjilat vagina Evi dan menghisapnya.
“Aaaghhh…ooohhh…” Desah Evi.
Bu Heydi lalu membimbing Evi untuk duduk di kursi sofa. Gantian dia membungkuk dan menghisap kedua payudara Evi bergantian.
“Uuughhh…” Desah Evi.
Mulutnya turun ke bawah dan dihisapnya kembali vagina Evi dengan lidahnya. Evi meremas rambut bu Heydi yang semakin bernafsu dalam menghisap vagina Evi.
“Aaaghhh…ooohhh…” Desah Evi.

Bu Heydi kemudian menghentikan permainannya. Dia lalu duduk di kursi sofa dengan kaki kanannya tetap dibawah. Dengan isyarat tangan dipanggilnya Evi yang masih duduk sambil tangannya memegang vaginanya yang sudah basah. Dihampirinya bu Heydi. Jempolnya basah karena cairan yang keluar dari vaginanya. Diarahkannya ke mulut bu Heydi yang kemudian menghisap jempol itu.

Lalu Evi duduk di antara kedua kaki bu Heydi. Dari belakang bu Heydi memeluk Evi sambil mencium bibir Evi. Tangan kanannya membelai vagina Evi dan jari tengah dan telunjuknya dimasukkan ke vagina Evi. Kepala Evi otomatis mendongak ke atas yang membuat bu Heydi menjilati leher Evi. Tangan kirinya meremas kedua payudara Evi bergantian. Sedangkan tangan kanan Evi memegang tangan kanan bu Heydi untuk mempercepat kocokan pada vaginanya.

“Ooohhh…aaahhh…ooouhhh…” Desah Evi.
Aku tetap duduk melihat permainan bu Heydi dengan Evi yang memanas. Aku hanya bisa meremas-remas penisku sendiri yang tegang. Kelihatannya Evi sudah mencapai orgasme. Bu Heydi mengeluarkan kedua jarinya dari vagina Evi dan memeluknya. Aku ingin menghampiri mereka lagi. Tapi.

“Aku ingin lagi, bu.” Kata Evi pelan.
Aku urungkan menghampiri mereka yang telah memulai kembali permainannya yang semakin memanas. Kulihat Evi dalam posisi kayang sedang dihisap vaginanya oleh bu Heydi. Evi tidak kuat dalam kayangnya sehingga dia terjatuh ke lantai. Tetapi bu Heydi tetap saja menghisap vagina Evi dengan lidahnya sambil tangan kirinya membelai paha kiri Evi.
“Aaaghhh…ooohhh…eeehmmm…” Desah Evi.
Setelah beberapa lama Evi mencapai orgasme. Tampak dia kelelahan. Tetapi oleh bu Heydi dirangsang kembali. Dengan cara bu Heydi membuka vaginanya dan menempelkan kelentitnya ke puting payudara kanan Evi.
“Aaahhh…” Mereka berdua sama-sama mendesah.
Gairah Evi kembali lagi. Tangan kirinya meremas payudara kanannya sendiri sementara tangan kirinya membelai paha kanan bu Heydi. Bu Heydi melanjutkan dengan berdiri dan meletakkan kaki kirinya ke kursi sofa. Evi yang berada tepat di bawahnya lalu memegang paha kanan bu Heydi dan menjilatinya.
“Eeehmmm…” Desah bu Heydi.
Mulutnya naik ke atas dan dibukanya vagina bu Heydi untuk menghisap dengan lidahnya.
“Aaaghhh…ooohhh…” Desah bu Heydi.

Akhirnya bu Heydi mencapai orgasme dan dia terjatuh tertelungkup di sofa dengan kaki tetap di bawah. Tetapi Evi belum puas. Puting payudara kirinya di tempelkan di lubang pantat bu Heydi. Kemudian dari belakang dihisapnya lagi vagina bu Heydi dengan lidahnya.
“Aaahhh…aaaghhh…ooohhh…” Desah bu Heydi.
Sebagai puncak permainan mereka, Evi membalikkan tubuh bu Heydi dan mengangkat kakinya ke atas kursi sofa. Mereka bermain dalam posisi 69 selama beberapa menit.
Aku semakin asyik saja dengan penisku. Tidak saja meremas-remas penisku. Juga kukocok penisku. Aku tidak tahu ketika mereka berdua telah mendatangi aku yang bersandar ke meja. Bu Heydi mengambil kursi kayu. Sambil duduk dia memegang penisku dan memasukkan ke mulutnya. Evi ingin menciumku. Tetapi kudaratkan bibirku ke payudara kanannya.

“Oooughhh…”
Kulepaskan hisapan pada payudara kanannya. Dia merangkulkan tangan kirinya ke pundakku. Tangan kanannya ikut memegang penisku yang keluar masuk mulut bu Heydi. Tangan kananku meremas pantat kirinya yang membuat kepalanya mendongak ke atas. Aku dapat dengan leluasa menjilati lehernya dan kedua payudaranya.
“Eeehmmm…eeehmmm…” Desah Evi.
Kutambah dengan remasan tangan kiriku yang meremas pantat kanannya. Penisku sudah tidak lagi dikeluarmasukkan. Kulepaskan diriku dari rangkulan Evi. Evi kemudian duduk di kursi kayu. Bu Heydi mendekati Evi. Mereka berdua berciuman kembali. Setelah kukangkangkan kaki bu Heydi, dari bawah kuhisap vagina bu Heydi dengan lidahku sementara mereka tetap berciuman.
“Aaaghhh…ooohhh…” Desah bu Heydi disela-sela ciumannya.
Mereka berciuman sambil tangan kanan bu Heydi memasukkan jari tengah dan telunjuknya ke vagina Evi.
Kuremas-remas juga pantat bu Heydi. Bu Heydi melepaskan ciumannya dan berkata.
“Masukkan.” Katanya sambil mencium Evi kembali.
Dari belakang kumasukkan pelan-pelan penisku ke vagina bu Heydi.

Kulihat tangan kanan Evi memegang paha kiri Bu Heydi. Evi juga telah berdiri dari kursinya. Bu Heydi menjilati leher Evi sampai ke kedua payudara Evi. Tangan kirinya memegang erat tangan kanan Evi. Penisku keluarmasuk vagina bu Heydi dari belakang sementara bu Heydi dan Evi tetap berciuman sambil menempelkan kedua payudara mereka. Kedua tangan mereka saling meremas kedua paha. Kurasakan maniku mau keluar.
“Maaf, bu. Mau keluar.” Kataku pelan.
“Keluarkan saja di dalam.” Jawab bu Heydi sambil mendesah disela-sela ciumannya.
Akhirnya kukeluarkan maniku di vagina bu Heydi yang juga basah. Bu Heydi kemudian mendorong tubuhku. Kukeluarkan penisku dari vagina bu Heydi dan aku langsung jatuh terduduk. Aku duduk bersandar ke tembok dengan kakiku kuluruskan. Bu Heydi juga melepaskan ciumannya pada Evi. Dia duduk di kursi sofa.

Evi menghampiriku. Aku berjalan dengan dua lututku juga maju mendekatinya. Kuhisap payudara kiri Evi. Sedangkan payudara kanan Evi kuremas.
“Oooughhh…ooohhh…” Desah Evi.
Bu Heydi juga berdiri dan menggesekkan kedua payudaranya ke punggungku sambil kedua tangannya membelai bagian depan tubuhku.

Kubalikkan tubuhku sambil berdiri. Kubimbing bu Heydi untuk duduk di kursi sofa. Ingin sekali kumasukkan penisku dari depan. Tapi Evi menarikku ke belakang. Dia langsung menghisap vagina bu Heydi dengan lidahnya dengan bertumpu pada kedua tangannya dan lututnya. Dia juga berkata kepadaku.
“Masuki aku.” Kata Evi yang menghentikan hisapan pada vagina Bu Heydi dengan lidahnya.
Dari belakang pelan-pelan kumasukkan penisku.
“Aaaghhh…” Desah Evi.
Evi melanjutkan lagi menghisap vagina bu Heydi dengan lidahnya. Tapi baru sebentar, Evi berkata lagi.
“Keluarkan. Nggak enak.”
Terpaksa kukeluarkan lagi penisku. Evi membalikkan tubuhnya dan mendorongku untuk duduk di kursi kayu. Aku duduk di kursi kayu. Evi kemudian mencoba duduk di pangkuanku. Dia meraba-raba ke belakang mencari penisku. Aku tahu maksudnya. Pelan-pelan kumasukkan penisku ke vagina Evi. Kurasakan vagina Evi yang basah.
“Aaaghhh…” Desah Evi.

Bu Heydi juga bangkit dari kursi sofa. Dari samping tangan kanannya membelai vagina Evi. Payudara kirinya menempel pada payudara kanan Evi. lalu dipegangnya payudara kiri Evi dan ditempelkan ke payudara kanannya. Kedua payudara mereka menempel dan bergesekan seiring dengan Evi yang menaikturunkan pantatnya supaya penisku keluar masuk. Kuangkat paha kanan bu Heydi. Evi menyambutnya dengan belaian tangan kiri pada paha kanan bu Heydi.
“Ooouhhh…aaahhh…ooouhhh…” Desah Evi.
“Ooouhhh…” Desah bu Heydi.
Kemudian bu Heydi turun ke bawah. Dihisapnya vagina Evi yang masih dimasuki penisku. Kuangkat pantat Evi dan akupun mencoba berdiri. Aku berhasil berdiri dan kulihat kaki kiri Evi diangkat ke atas meja kecil. Penisku dipegang oleh bu Heydi sementara kepala penisku masih berada di vagina Evi. Dikeluarkannya penisku sambil bu Heydi menjilati cairan yang keluar dari vagina Evi.
Aku masih berdiri sambil membersihkan penisku. Kulihat bu Heydi terlentang di lantai dan tangannya menarik Evi untuk melakukan posisi 69. Ketika mereka melakukan posisi itu kukeluarmasukkan penisku ke vagina Evi.
“Aaahhh…ooouhhh…Jangan. Jangan.” Teriak Evi berulang-ulang.

Kukeluarkan penisku sambil berdiri. Evi juga berdiri. Evi menghampiriku dan dibimbingnya aku untuk telentang dilantai disamping bu Heydi yang sudah duduk juga dilantai. Evi tengkurap di atas tubuhku sambil mencoba supaya penisku masuk vaginanya. Bu Heydi membantu dari belakang. Dimasukkannya penisku ke vagina Evi sambil lidahnya menjilati pantat Evi. Kuangkat kepalaku untuk menghisap kedua payudara Evi yang bergoyang seiring dengan pantatnya yang dinaikturunkan. Aku hisap payudara kanannya. Bu Heydi dari belakang menempelkan kedua payudaranya ke punggung Evi. Tubuhnya ikut membantu mendorong tubuh Evi yang dinaikturunkan supaya penisku keluarmasuk vagina Evi. Tangan kirinya meremas payudara kiri Evi.

“Aaahhh…ooouhhh…ooohhh…aaahhh…ooouhhh…” Desah Evi.
“Aku mau keluar.” Kataku sambil berteriak kenikmatan.
“Jangan keluarkan di dalam.” Kata Evi sambil memundurkan tubuhnya ke belakang.
Bu Heydi yang tahu hal itu langsung berdiri. Evi langsung melentangkan tubuhnya di lantai sambil berkata kepadaku.
“Keluarkan di sini.” Kata Evi sambil memegang kedua payudaranya.
Kukangkangkan kakiku yang setengah berdiri bertumpu dengan kedua lututku tepat di atas kepala Evi. Kutumpahkan maniku di kedua payudara Evi yang langsung dijilati bu Heydi.
“Eeehmmm…” Desah Evi.

Bu Heydi juga menjilati kepala penisku. Sedangkan buah pelirku dijilati oleh Evi. Aku lalu pindah ke samping kanan Evi. Kugesek-gesekkan penisku yang masih keluar mani ke kedua payudara Evi bergantian. Juga ke belahan kedua payudara Evi. Akhirnya kujatuhkan tubuhku di samping kanan Evi. Bu Heydi masih menjilati kedua payudara Evi bergantian sambil sesekali membagi maniku dengan lidahnya ke bibir Evi. Akhirnya bu Heydi juga menjatuhkan tubuhnya di samping kiri Evi.
Setelah beristirahat sebentar dan membersihkan tubuh di kamar mandi yang ada di dalam ruang BP, kami bertiga pulang ke rumah masing-masing.

pHK di Kantor

Filed under: RAMAI-RAMAI

Aku ingin menceritakan pengalamanku sewaktu aku ditempatkan oleh perusahaan untuk bekerja di kantor cabang di daerah Indramayu. Pengalaman ini terjadi sekitar beberapa bulan yang lalu.
Aku bekerja di perusahaan kontraktor swasta di daerah Indramayu yang mempunyai sekitar 20 pegawai dan 3 orang diantaranya adalah wanita. Pada umumnya pegawai2 itu datang dari desa sekitar perusahaan ini berada dan rata2 pegawai prianya sudah bekerja di perusahaan ini sekitar 15 tahunan lebih, sedangkan aku diperbantukan dari kantor pusat di Jakarta dan baru sekitar 1 tahun di kantor cabang ini sebagai kepala personalia merangkap kepala keuangan. Karena pindahan dari kantor pusat, maka aku dapat tinggal dirumah yang disewa oleh perusahaan. Istriku tidak ikut tinggal disini, karena dia juga kerja di Jakarta, jadi kalau tidak aku yang ke Jakarta setiap Jum’at sore dan kembali hari Minggu sore atau istriku yang datang. Hubungan antar para pekerja begitu akrab, sehingga beberapa diantara mereka ada yang sudah menganggap aku sebagai saudara atau anaknya saja.
Dalam situasi seperti sekarang ini, perusahaan dimana aku bekerja juga mengalami krisis yang cukup serius dan jasa pekerjaan yang kami terima dari perusahaan kilang minyak dan perusahaan lainnya juga semakin berkurang. Hal ini mengakibatkan pimpinanku memerintahkan untuk mengurangi beberapa orang pegawainya dan ini harus kulaksanakan dalam waktu sebulan ini. Setelah kupilah pilah dari 20 orang pegawai itu, lalu aku mengambil 5 orang pegawai yang paling tua dan yang dalam 1 atau 2 tahun ini akan mencapai usia 55 tahun, lalu aku menyuruh sekretaris kantor yang bernama Sri (samaran) dan juga dari penduduk di sekitar perusahaan untuk mengetik draft surat2 yang sudah kupersiapkan dan rencanaku dalam 2 minggu ini masing2 pegawai akan kupanggil satu persatu untuk keberikan penjelasan sekaligus memberikan golden sake hand pesangon yang cukup besar. Sri adalah salah satu diantara 3 pekerja wanita disini dan umur mereka bertiga sekitar 30 tahunan. Sri, menurut teman2 kerjanya adalah seorang pegawai yang agak sombong, entah apa yang disombongkan atau mungkin karena merasa yang paling cantik diantara ke 2 wanita lainnya. Padahal kalau aku bandingkan dengan pekerja wanita dikantor pusat Jakarta, belum ada apa2nya. Suaminya Sri menurut mereka2 itu sudah setahun ini bekerja di Arab sebagai TKI.
Di hari Jum’at sore, sewaktu aku besiap siap akan pulang, tiba2 muncul salah seorang pegawai yang biasa kupanggil Pak Tus datang menghadap ke ruangan kantorku. Ada apa Pak Tus….. tanyaku. Ini… Pak….. kalau Bapak ada waktu, besok saya ingin mengajak Bapak untuk melihat kebun buah2an di daerah pegunungan sekitar Kuningan dan peninggalan orang tua saya, siapa tahu Bapak tertarik untuk membelinya. Setelah kipikir sejenak dan sekaligus untuk menyenangkan hatinya karena Pak Tus ini adalah salah satu dari pegawai yang akan terkena PHK, segera saja permintaannya kusetujui. Oke…. Pak Tus, boleh deh, kebetulan saya tidak punya acara di hari Sabtu dan Minggu ini…. kita pulang hari atau nginap Pak…… ?? Kalau Bapak nggak keberatan….. kita nginap semalam di gubuk kami…. Pak… dan kalau Bapak tidak berkeberatan, saya akan membawa Istri, anak dan cucu saya…. Biar agak ramai sekaligus untuk masak…. karena tempatnya agak jauh dari warung2…. jawab Pak Tus dengan wajah berseri, tapi.. Pak….. saya tidak punya kendaraan… lanjut Pak Tus dengan wajah agak sedih. Pak… Tus….. soal kendaraan jangan terlalu di pikir, kita pakai Kijang saya saja…. dan Pak Tus boleh membawa semua keluarganya, asal mau berdesak desakan di Kijang dan besok jam 10 pagi akan saya jemput kerumah Pak Tus… sahutku dan Pak Tus dengan wajah berseri kembali lalu mengucapkan terima kasih dan pamit untuk pulang.
Besok paginya sekitar jam 10 pagi aku menjemput ke rumah Pak Tus yang boleh dibilang rumah sangat sederhana. Didepan rumahnya aku disambut oleh Pak Tus dan Istrinya. Aku agak terkejut, karena Isrinya kelihatan jauh lebih muda dari yang kuduga. Dia kutaksir berumur sekitar 35 tahunan dan walau tinggal di kampung tapi sepertinya tidak ketinggalan jaman. Istri Pak Tus mengenakan rok dan baju agak ketat tanpa lengan serta ukuran dadanya sekitar 36. Silahkan masuk.. Pak…., katanya hampir serentak, ma’af Pak…. rumahnya… jelek, sambung Pak Tus.
Ah…. Bapak dan Ibu… bisa saja, Oh iya….. anak dan cucu nya apa jadi ikut ?, sahutku sambil bertanya karena aku tidak melihat mereka. Oh… si Aminah (mana disamarkan) sedang dibelakang menyiapkan barang2 bawaannya dan cucu saya tidak mau pisah dari ibunya, sahut Pak Tus.
Tidak lama kemudian dari belakang muncul wanita muda yang tidak bisa dibilang jelek dengan tinggi sekitar 160 Cm serta memakai T shirt ketat sedang menggendong anak laki2 dan tangan satunya menjinjing tas agak besar, mungkin berisi pakaian.
Pak….. kata Pak Tus, yang membuatku agak kaget karena aku sempat terpesona dengan body Aminah yang yang aduhai serta berjalan dengan dada yang menantang walau ukuran dada nya boleh dibilang tidak besar. Paaak…. ini kenalkan anak perempuan saya… Aminah dan ini cucu saya Dodi. Kusambut uluran tangan Aminah serta kujabat tangannya yang terasa agak dingin dan setelah itu kucubit pipi Dodi.
Ayo.. Pak…., ajak Pak Tus…. kita semua sudah siap dan bisa berangkat sekarang. Lho… apa bapaknya Dodi tidak ikut… Pak ?, tanyaku dan kulihat Pak Tus saling berpandangan dengan Istrinya, tapi yang menyahut malah Aminah…. enggak kok… Pak…. dia lagi pergi jauh.
Ayo…. lah kalau begitu…. kita bisa berangkat sekarang.. Pak, kataku walau aku masih ada tanda tanya besar dalam hatiku soal suami Aminah.
Sesampainya tempat yang dituju, aku jadi terkagum kagum dengan kebun yang dimiliki Pak Tus yang cukup luas dan tertata rapi serta seluruhnya ditanami pohon buah2an, bahkan banyak yang sedang berbuah. Rumah yang boleh dibilang tidak besar, terletak dibagian belakang kebun itu. Ayo…. Pak, kita beristirahat dulu di gubuk, nanti setelah itu kita bisa keliling kebun melihat pohon2 yang ada, kata bu Tus dan disambut dengan sahutan Pak Tus… Iyaaa… Pak…. silahkan istirahat ke rumah dulu, biar Istri saya menyiapkan minum buat Bapak, sedang saya mau ketemu dengan yang menjaga kebun ini.
Lalu aku dan Bu Tus berjalan beriringan menuju rumahnya dan sepanjang perjalanan menuju rumah kupuji kalau kebunnya cukup luas serta terawat sangat baik. Aahhh.. Bapak…. jangan terlalu memuji…. kebun begini.. kok dibilang bagus…. tapi inilah kekayaan kami satu2nya dan peninggalan mertua, kata bu Tus yang selalu murah senyum itu. Ketika mendekati rumah, Bu Tus lalu berkata… silahkan Pak…. masuk, dan aku segera katakan ….. silahkan…., sambil bergeser sedikit untuk memberi jalan pada bu Tus. Entah mengapa, kami berdua berjalan bersama masuk pintu rumah sehingga secara tidak sengaja tangan kiriku telah menyenggol bagian dada bu Tus yang menonjol dan kurasakan empuk sekali. Sambil kupandangi wajah bu Tus yang kelihatan memerah, segera kukatakan… maa’f…. bu…. saya tidak sengaja…….. Bu Tus tidak segera menjawab permintaan ma’afku, aku jadi agak nggak enak dan takut dia marah, sehingga kuulangi lagi…. benar… buuuuu… saya tidak sengaja…. Aahhhh….. Pak Pur (namaku sudah kusamarkan)…. saya nggak apa apa kok….. hanya.. agak kaget saja, lupakan…. Pak….. cuma gitu saja…. kok…., kata bu Tus sambil tersenyum, Oh iya…. Bapak mau minum apa…., tanya bu Tus. Terserah Ibu saja deh….., Lhoooo…. kok terserah saya… ? Air putih juga boleh kok bu….
Setelah bu Tus kebelakang, aku lalu duduk di ruang tamu sambil memperhatikan ruangan nya model rumah kuno tetapi terawat dengan baik. Tidak terlalu lama, kulihat bu Tus yang telah mengganti bajunya dengan baju terusan seperti baju untuk tidur yang longgar berjalan dari belakang sambil membawa baki berisi segelas teh dan sesampainya di meja tamu dimana aku duduk, bu Tus meletakkan gelas minuman untukku sambil sedikit membungkuk, sehingga dengan jelas terlihat dua gundukan besar yang menggantung didadanya yang tertutup Bh dan bagian dalam badannya, membuat mataku sedikit melotot memperhatikannya.
Iihhhh….. matanya Pak Puuur….. kok…. nakal.. yaaaaaa, katanya sambil menyapukan tangannya dimukaku serta tersenyum. Aku jadi agak malu dikatakan begitu dan untuk menutupi rasa maluku, aku jawab saja sambil agak bergurau….. Habiiiis…. bu Tus berdirinya begitu…. sih. Aahhh…. bapak ini…. kok sepertinya…. belum pernah melihat seperti itu saja….., sahut bu Tus yang masih berdiri didekatku dan mencubit tanganku.
Betul kok.. buuuu… , saya belum pernah melihat yang seperti itu…., jadi boleh kan buuuuu….. saya lihat… lagi…..? Aaahh.. bapak… , kembali mencubitku tetapi sekarang di pipiku sambil terus berjalan kebelakang.
Setelah minuman kuhabiskan, aku lalu balik keluar menuju ke kebun dan ngobrol dengan pak Tus yang sedang membersihkan daun2 yang berserakan.
Selang berapa lama, kulihat bu Tus datang dari dalam rumah sambil membawa gulungan tikar dan setelah dekat lalu menggelar tikarnya di kebun sambil berkata kepada suaminya, paaak…. kita ajak Pak Pur makan siang disini saja…. yaa….. dan pak Tus tidak menjawab pertanyaan istrinya tetapi bertanya kepadaku….. nggak… apa apa… kan.. paaak… makan di kebun… ? Biar tambah nikmat……. Nggak apa apa kok.. paaaak… jawabku. Tidak lama kemudian dari arah rumah tetangganya, kulihat Aminah yang sudah mengganti bajunya dengan baju terusan yang longgar seperti ibunya datang membawa makanan dan sambil membungkuk meletakkan makanan itu di tikar dan aku yang sedang duduk ditikar itu kembali melihat buah yang menggantung di dada, dan sekarang dada nya Aminah. Kelihatan sekali kalau Aminah tidak mengenakan Bh dan ukurannya tidak besar. Aminah tidak sadar kalau aku sedang memperhatikan buah dadanya dari celah bajunya pada saat menaruh dan menyusun makanan di tikar. Setelah Aminah pergi, sekarang datang Ibunya sambil membawa makanan lainnya dan ketika dia membungkuk menaruh makanan, kembali aku disungguhi pemandangan yang sama dan sekarang agak lama karena makanan yang disusun oleh Aminah, disusun kembali oleh bu Tus. Tidak kuduga, tiba2 bu Tus sambil tetap menyusun makanan lalu berkata agak berbisik, mungkin takut didengar oleh suaminya yang tetap masih bekerja membersihkan daun2 tidak jauh dari tempatku duduk, paaaaak…. sudah puas melihatnyaaaaa….? Lalu kudekatkan wajahku sambil membantu menyusun makanan dan kukatakan pelan….. beluuuum…. buuu….. saya kepingin memegangnya dan menghisapnyaaa….. Bu Tus langsung mencubitkan tangannya di pahaku sambil berkata pelan…. Awas….. yaaa…. nanti saya gigit punya bapak…. baru tahu….., sambil terus berjalan. Sekarang muncul lagi Aminah dan kembali meletakkan makana sambil membungkuk dan kembali terlihat buah dadanya dan kepingin rasanya kupegang. Rupanya Aminah tahu kalau aku sedang memperhatikan dadanya, lalu dia berbisik.. Paaaakk…. matanya kok… nakal.. yaaaaa… tapi tanpa menutupnya dan langsung saja kujawab…. Aaaam….. habis bagus siiiiih…… pingin pegang…… boleh apa enggak….?
Aminah hanya tersenyum sambil mencubit tanganku lalu pergi.
Setelah itu kami ber empat makan di tikar dan nikmat sekali rasanya makan dikebun dan setelah selesai makan, Aminah pamit untuk memberi makan anaknya di rumah bibinya.
Ketika kutanyakan ke Pak Tus, kemana suaminya Aminah segera Pak Tus menceritakan keluarganya. Untuk singkatnya sebaiknya kuceritakan saja kepada pembaca situs CCS, bahwa Istri Pak Tus ini adalah adik kandung dari Istri pertamanya yang sudah meninggal dan Aminah adalah anak satu2nya dari istri pertamanya. Sedang Aminah sudah bercerai dari suaminya pada saat Aminah hamil, suaminya meninggalkan begitu saja karena kawin dengan wanita lain.
Tidak terasa kami ngobrol di kebun cukup lama dan mungkin karena hawanya agak dingin dan anginnya agak keras, aku merasa seperti sedang masuk angin. Sementara Pak Tus dan istrinya membereskan sisa makan siang, aku memukul mukul perutku untuk membuktikan apa benar aku sedang masuk angin dan ternyata benar. Perbuatanku memukul perut rupanya diketahui oleh Pak Tus dan istrinya. Kenapa paaaaak…. tanya mereka hampir serentak. Nggak apa apa kok….. cuman masuk angin sedikit. Paaak…. masuk angin kok… dibilang nggak apa apa…., jawab Pak Tus… apa bapak biasa dikerokin…., lanjutnya. Suka juga sih paaak, jawabku. Buuuu…., biar saya yang beresin ini semua… , itu tolong kerokin dan pijetin Pak Puur, biar masuk anginnya hilang, kata Pak Tus. Oh.. iya… buuu, lanjut Pak Tus, habis ini saya mau mancing ikan di kali belakang, siapa tahu dapat ikan untuk makan malam nanti…. Pak Tuuus…. nanti kalau masuk angin saya hilang, saya mau ikut mancing juga, kataku. Ayooo… pak Puurr… kita kerumah.. biar saya kerokin disana… kalau disini nanti malah bisa sakit beneran.
Sesampainya di dalam rumah lalu bu Tus berkata.. Paaak…. silahkan bapak kekamar sini saja, sambil menunjuk salah satu kamar, dan saya kebelakang sebentar untuk mengambil uang untuk kerokannya. Tidak lama kemudian bu Tus muncul kedalam kamar dan menutup pintunya dan menguncinya. Paaak… kerokannya di tempat tidur saja yaaaa…. dan tolong buka kaosnya. Setelah beberapa tempat di punggungku dikerokin, bu Tus berkomentar Paaaakkk… rupanya bapak masuk angin beneran… sampai merah semua badan bapak. Setelah hampir seluruh punggungku dikerokin dan dipijitin, lalu bu Tus memintaku untuk tidur terlentang…. Paaaak… sekarang tiduran terlentang…. deh… , biar bisa saya pijitin agar angin yang didada dan perut bisa keluar juga. Kuturuti permintaannya dan bu Tus naik ketempat tidur disamping kiriku dan mulai memijit kedua bahuku. Dengan posisi memijit seperti ini, tentu saja kedua tetek bu Tus terlihat sangat jelas dan bahkan seringkali menyentuh wajahku sehingga mau tak mau membuat penisku menjadi tegang. Karena sudah nggak kuat menahan diri, kuberanikan untuk memegang kedua teteknya dan bu Tus hanya berkata pelan….. jangaaaan…. paaaaak…., sambil tetap memijit bahuku. Kenapa buuuu…… , tanyaku sambil melepas pegangan di teteknya. Nggak….. apa apa kok…. paaaaak, jawabnya pelan sambil tersenyum. Karena tidak ada kata2 lainnya, maka kuberanikan lagi untuk menyelusupkan tangan kiriku kedalam bajunya bagian bawah serta kupegang memeknya dan kembali terdengar suara bu Tus…. Paaaaakk….. sssssssshhhhhh ……. jangaaaaaaan ….. aaaaaahhh…. dan badannya dijatuhkan ke badanku serta bibirnya bertemu dengan bibirku. Dengan tidak sabar, lalu kuangkat rok terusannya keatas dan kulepaskan dari kepalanya sehingga badannya telanjang hanya tertutup oleh Bh dan Cd saja, lalu segera badannya kubalik sehingga aku sekarang ada diatas badannya dan segera kaitan Bhnya kulepas sehingga tersembul buah dadanya yang besar. Kujilati dan kuhisap kedua teteknya bergantian dan bu Tus hanya berdesah pelan2…. ssssssshhhhh…… aaaaahh …. paaaaak …. sssssssssshhh… dan tangan kiriku kugunakan untuk melepas Cdnya dan kumasukkan jariku diantara belahan memeknya yang sudah basah dan ini mungkin membuat bu Tus semakin keenakan dan terus mendesah sssssssshhh… aaaaaahhh… aduuuuuhh…. paaaakk….. sssssssshhh…. aaaaaahh. Sambil tetap kujilati teteknya, sekarang kugunakan tanganku untuk melepas celana panjang dan Cdku dan setelah berhasil, kembali kugunakan jari tanganku untuk mempermainkan memeknya dan kembali kudengar desahannya sssshh…. Aaaahhhh.. paaaaak…. sssshhh…. ayoooooooo… paaaaaak ….. sssssssssshhh dan kurasakan bu Tus telah membukakan kedua kakinya agak lebar. Walau tidak bilang kurasa bu Tus sudah nggak tahan lagi, maka segera saja kuarahkan penisku ke arah memeknya dan kedua tangan nya telah melingkar erat di punggungku. Belum sempat aku siap2, bleeeeeeeeesssss… penisku masuk kedalam memeknya akibat bu Tus menekan kuat2 punggungku dan bu Tus berteriak agak keras… aaaaaaaaaaaahhhhh …… , sehingga terpaksa mulutnya segera kusumpal dengan bibirku agar teriakannya tidak terdengar sampai keluar kamar. Sambil kujilati teteknya, aku menggerakkan pantatku naik turun sehingga penisku keluar masuk memeknya dan menimbulkan bunyi…. cccrrreettt….. ccrreeettt… cccrreeetttt dan dari mulut bu Tus terdengar desahan yang agak keras aaaaaaaahhhh …… sssssshhhh…. paaaaak ….. aaaaahhh… dan tidak lama kemudian bu Tus semakin cepat menggerakkan pinggulnya dan tiba2 kedua kakinya dilingkarkan kuat2 dipunggungku sehingga mempersulit gerakan keluar masuk penisku dan terdengar suaranya yang agak keras…. aaaaduuuuhh….. ssssssshhhh…. aaaaahhhh…. aaaduuhh….. paaaaaakkk…. aaaaaaaaaaaaaacccrrrhhhhh…., sambil menekan kuat2 badanku… lalu bu Tus terdiam…. dengan nafas yang cepat.
Untuk sementara, kudiamkan dulu sambil menunggu nafas bu Tus agak normal kembali dan tidak lama kemudian, sambil menciumi wajahku, bu Tus berkata… Paaaakk…. sudah lamaaa…. saya… tidak pernah seperti ini….. terima kasih… paaaaak. Setelah nafasnya kembali normal dan penisku masih tetap didalam memeknya, lalu kuminta bu Tus untuk nungging. Paaaak….. saya belum pernah seperti itu, katanya pelan. Nggak apa apa kok buuuu….. nanti juga bisa, kataku sambil mencabut penisku dari memeknya yang sangat basah. Kubalik badannya dan kuatur kakinya sehingga posisi nya nungging, bu Tus hanya mengikuti kemauanku dan menaruh kepalanya di bantal. Lalu kudekatkan wajahku di dekat memeknya dan kujulurkan lidahku kedalam lobang vaginanya dan kupermainkan, sambil kupegang kedua bibir memeknya, bu Tus hanya menggerakkan pantatnya pelan2. Tetapi setelah bu Tus memalingkan kepalanya dan menengok kearah bawah serta tahu apa yang kuperbuat, tiba2 bu Tus menjatuhkan badannya serta berkata agak keras… Paaaaakk ….. jangaaaaaaaaaan sambil berusaha menarik badanku keatas. Terpaksa kudekati dia dan sambil kucium bibirnya yang mula2 ditolaknya, lalu kutanya…. kenapa….. buuuuuu… ? Paaaakk….. jangaaaaan…. itu kan… kotoooor….. Sambil agak berbisik, segera kutanyakan buuuuu…. apa ibu belum pernah…. dijilati seperti tadi… ? Beluuuum… pernah… paaaak.., katanya. Buuuu….. nggak apa apa….. kok…… coba deh…… pasti nanti ibu akan enak…., sambil kutelentangkan dan kutelisuri badannya dengan jilatan lidahku. Sesampainya di memeknya, kulihat tangan bu Tus digunakan untuk menutupi memeknya, tapi dengan pelan2 berhasil kupindahkan tangannya dan segera kuhisap kelentitnya yang membuat bu Tus menggelinjang dan mendesah…. Paaaaaakk… jangaaaaann…. aaaaaaahhhh….. aduuhhh….., tapi kedua tangannya malah diremaskan dikepalaku dan menekannya ke memeknya. Kelihatannya bu Tus sudah tahu enak memeknya dihisap dan dijilati, sehingga sekarang semakin sering kepalaku ditekan ke memeknya disertai desahan2 halus….. aaaahh ….. sssssshhhh…. aaaaaahh….. aaaaaaacccrrrhhhhhh, seraya menggerak gerakkan pinggulnya. Jilatan serta hisapan ku keseluruh memek bu Tus membuat gerakan pinggulnya semakin cepat dan remasan tangannya di rambutku semakin kuat dan tidak lama kemudian, lagi2 kedua kakinya dilingkarkan ke bahuku dan menjepitnya kuat2 disertai dengan desahan yang cukup keras…. aaaaaaaahhhh….. aaaaduuuuuuh… ssssshhh.. aaaaaccrrrhhh…. paaaaaaaakk… adduuuuuuuuuhhhh….. aaaaaaaaaaccccrrhhhhhhhhh.
Kulihat bu Tus terdiam lagi dengan nafasnya yang terengah engah sambil mencoba menarik badanku keatas dan kuikuti tarikannya itu, sesampainya kepalaku didekat kepalanya, bu Tus sambil masih terengah engah mengatakan… paaaaakk… enaaaak.. sekaliiiiiiii.. paaaak….. terima kasiiiiih….. Pernyataannya itu tidak kutangapi tetapi aku berusaha memasukkan penisku ke dalam memeknya, dan karena kakinya masih terbuka, maka penisku yang masih sangat tegang itu dapat masuk dengan mudah. Karena nafas bu Tus masih belum normal kembali, aku hanya menciumi wajahnya dan diam menunggu tanpa menggerakkan pinggulku, tetapi dalam keadaan diam seperti ini, terasa sekali penisku terhisap keras oleh memeknya dan terasa sangat enak dan kubilang… buuuuuu …. ituuu …… buuuu….. enaaaaaakkk…. laggiiiiiiii.. buuuuuuuuu dan mungkin ingin membuatku keenakan, kurasakan sedotan emkenya semakin keras saja dan buuuuu…… teruuuusss.. buuuuuuuu… enaaaaaaaakkkkk….. aaaaduuuuuuh. Setelah nafasnya kembali normal, lalu kuangkat kedua kaki bu Tus dan kutempatkan diatas bahuku dan bu Tus hanya diam saja mengikuti kemauanku.
Dengan posisi begini, terasa penisku semakin dalam menusuk ke memeknya dan ketika penisku kuhentakkan keluar masuk memeknya, bu Tus kembali berdesah aaaaaahhh.. paaaaakk….. enaaaakkkk… paaaaaakk…. aaaaahhhhh….. sssssshhhhhh dan akupun yang sudah hampir mendekati klimax ikut berdesah aaaaaaaahhhh….. ssssssshhhhh… aaaaacc rrrhhhh….. buuuuuu…… aaaaaaaahhhhhh, sambil mempercepat gerakan penisku keluar masuk memeknya dan ketika aku sudah tidak dapat menahan air maniku segera saja kukatakan buuuu……… buuuuu….. saaayaaa…. sudah mau keluar… aaaahhh…. taahaaan.. yaaaaa… buuuuuu….. dan bu Tus sambil memelukku kuat2, menganggapinya dengan mengatakan… paaaaakk…. ayooooo….. cepaaaatttt… paaaaakk…. dan kutekan penisku kuat2 menusuk memeknya sambil berteriak agak keras…… aaaaaaaaaahhhhhhhh….. aaaaacrrrhhhhhh…. bbuuuuuuu….. aaaaaaahhhhhhhh………. Aku sudah tidak memperhatikan lagi apa yang diteriakkan bu Tus dan yang aku dengar dengan nafasnya yang terengah-engah bu Tus menciumi wajahku sambil berkata teriiiimaaa…. kasiiiiih… paaaaaakkkk….. saaayyaaaa…. capeeeek….. sekali… paaaaakk.
Setelah istirahat sebentar dan nafas kami kembali agak normal, bu Tus mengambil Cdnya dan dibersihkan nya penisku hati2. Aku segera mengenakan pakaianku dan keluar menuju sungai untuk menemani pak Tus memancing.
Sudah dapat berapa Paaaak ikannya….., tanyaku setelah dekat. Oooh… bapaaaak….. sudah tidak masuk angin lagi…… paaaaak..? dan lanjutnya… lumayan paaak… sudah dapat beberapa ekor dan bisa kita bakar nanti malam.
Malam harinya setelah makan dengan ikan bakar hasil pancingannya pak Tus, kami berempat hanya ngobrol didalam rumah dan suasananya betul2 sepi karena tidak ada TV ataupun radio, yang terdengar hanyalah suara binatang2 kecil dan walaupun sudah didalam rumah tetapi hawanya terasa dingin sekali, maklum saja karena kebun pak Tus berada dikaki bukit. Sambil ngobrol kutanyakan pada Aminah.. Aam… kemana anaknya… ? Kok dari tadi tidak kelihatan…… Oooohh…. sudah tidur paaaaak… , katanya.
Karena suasana yang sepi ini, membuat orang jadi cepat ngantuk dan benar saja tidak lama kemudian Aminah pamit mau tidur duluan. Sebetulnya aku juga sudah mengantuk demikian juga kulihat mata bu Tus sudah layu, tetapi karena pak Tus masih bersemangat untuk ngobrol maka obrolan kami lanjutkan bertiga. Tidak lama kemudian, bu Tus juga pamit untuk tidur duluan dan mungkin pak Tus melihatku menguap beberapa kali, lalu pak Tus berkata padaku… paaaaak…. lebih baik kita juga nyusul tidur. Betul.. paaaaak, karena hawanya dingin membuat orang cepat mengantuk, jawabku. Oooh.. iyaaaaa…. paaaak… , silahkan bapak tidur dikamar yang sebelah depan, kata pak Tus sambil menunjuk arah kamar dan lanjutnya lagi.. ma’aaaf.. yaaaa…. paaakkk…. rumahnya kecil dan kotor lagi……. Aaaahhh…. pak Tus… ini selalu begitu…… jawabku. Aku segera bangkit dari dudukku dan berjalan menuju kamar depan yang ditunjuk oleh pak Tus. Tetapi setelah masuk kekamar yang ditunjuk oleh pak Tus, aku jadi sangat terkejut karena di kamar itu telah ada penghuninya yang telah tidur terlebih dahulu yaitu Aminah dan anaknya. Karena takut salah kamar, aku segera keluar kembali untuk menanyakan kepada pak Tus yang kebetulan baru datang dari arah belakang rumah, lalu segera kutanyakan.. ma’aaaaf…. paaak… apa saya tidak masuk kamar yang salah….?, kataku sambil menunjuk kamar dan pak Tus langsung saja menjawab… betuuuul… paaaak… dan ma’af kalau Aminah dan anaknya tidur disitu….. habis kamarnya hanya dua….. mudah2an mereka tidak mengganggu tidur bapak…., kata pak Tus. Ooooh….. ya sudah kalau begitu paaak… saya hanya takut salah masuk kamar… oke kalau begitu paaak…. selamat malaaaaam. Aku segera kembali masuk ke kamar dan menguncinya. Dapat kuceritakan kepada para penggemar situs CCS, kamar ini mempunyai hanya satu tempat tidur yang lebar dan Aminah serta anaknya tidur disalah satu sisi, tetapi anaknya ditaruh di sebelah pinggir tempat tidur dan dijaga dengan sebuah bantal agar supaya tidak jatuh. Setelah aku ganti pakaianku dengan sarung dan kaos oblong, pelan2 aku menaiki tempat tidur agar keduanya tidak terganggu dan aku mencoba memejamkan mataku agar cepat tidur dan tidak mempunyai pikiran macam2, apalagi badanku terasa lelah sekali. Baru saja aku akan terlelap, aku terjaga dan kaget karena dadaku tertimpa tangan Aminah yang merubah posisi tidurnya menjadi terlentang. Aku jadi penasaran, ini sengaja apa kebetulan tetapi setelah kulirik ternyata nafas Aminah sangat teratur sehingga aku yakin kalau Aminah memang telah tidur lelap, tetapi kantukku menjadi hilang melihat cara Aminah tidur. Mungkin sewaktu tidur tadi dia lupa mengancingkan rok atasnya sehingga agak tersingkap dan belahan dada yang putih terlihat jelas dan rok bawahnya tersingkap sebagian, hingga pahanya yang mulus itu terlihat jelas. Hal ini membuat kantukku hilang sama sekali dan membuat penisku menjadi tegang. Kepingin rasanya memegang badannya, tetapi aku takut kalau dia berteriak dan akan membangunkan seluruh rumah. Setelah kuperhatikan sejenak lalu kugeser tubuhku menjauh sehingga tangannya yang berada di dadaku terjatuh disamping badannya dan kudengar Aminah menarik nafas panjang seperti terjaga. Setelah kudiamkan sejenak, seolah mengganti posisi tidur lalu kumiringkan tidurku menghadap kearahnya dan kujatuhkan tangan kiriku pelan2 tepat diatas buah dadanya. Aminah tidak bereaksi jadi aku mempunyai kesimpulan kalau dia memang telah tidur nyenyak sekali. Perasaanku semakin tidak menentu apalagi tangan kiriku berada di badannya yang paling empuk, tetapi aku tidak berani berbuat lebih jauh, takut Aminah jadi kaget dan berteriak. Aku berpikir harus bagaimana agar Aminah tidak kaget, tetapi belum sempat aku menemukan apa yang akan kulakukan, Aminah bergerak lagi mengganti posisi tidurnya dan sekarang menghadap kearahku dan tangan kanannya dipelukkan di pinggangku. Dengan posisi ini, wajahnya sudah sangat dekat dengan wajahku, sehingga nafasnya terasa menyembur kearahku. Dengan posisi wajahnya yang sudah sangat dekat ini, perasaanku sudah semakin kacau dan penisku juga sudah semakin tegang, lalu tanpa kupikir panjang ku lekatkan bibirku pelan2 dibibirnya, tetapi tanpa kuduga Aminah langsung memelukku erat sambil berbisik Paaaaaaaaaaaaaakkk…….. dan langsung saja dengan sangat bernafsu mencium bibirku dan tentu saja kesempatan ini tidak kusia siakan. Sambil berciuman, kupergunakan tangan kiriku untuk mengusap usap dahi dan rambutnya dan aminah sangat aktif dan bernafsu serta melepaskan ciuman dibibir dan mengalihkan ciuman nya keseluruh wajahku dan ketika menciumi didekat telingaku, dia membisikkan paaaaaak…… ssssshhhh …. cepaaaatt… paaaaaakk…. toloooong….. puasiiiiinnn…. Am… paaaakkk… sssssshhh, setelah itu dia mengulum telingaku. Setelah aku ada kesempatan mencium telinganya… aku segera mengatakan… Aaaaamm…… kita pindahkan Dody dibawah.. yaaaaaa…. dan Aminah langsung saja menjawab yaaaa…. paaaaak dan segera saja aku melepaskan diri dan bangun menyusun batal dibawah dan ku tidurkan dody dibawah. Selagi aku sibuk memindahkan Dody, kulihat Aminah membuka pakaian dan Bhnya dan hanya tinggal memakai Cd berwarna merah muda dan kulihat buah dadanya yang boleh dibilang kecil dan masih tegang, sehingga sulit dipercaya kalau dia sudah pernah kawin dan mempunyai anak. Aku langsung saja melepaskan semua pakaian termasuk Cdku dan baru saja aku melepas Cdku, langsung saja aku diterkam oleh Aminah dan kembali kami berciuman sambil kubimbing dia ke tempat tidur dan kutidurkan telentang. Ayooooo… paaaaaaak….., kembali Aminah berbisik ditelingaku……. Am…. sudah…. tidak tahaaaaaaan.. paaaaaak. Aminah sepertinya sudah tidak sabar saja , ini barangkali karena dia sudah lama cerai dan tidak ada laki2 yang menyentuhnya, tetapi permintaannya itu tidak aku turuti. Pelan2 kualihkan ciumanku di bibirnya ke teteknya dan ketika kusentuh teteknya dengan lidahku, terasa badannya menggelinjang dan terus saja kuhisap hisap puting susunya yang kecil, sehingga Aminah secara tidak sadar mendesah ssssssshhhh…. aaaaaaaahhh.. paaaaaaakk…. aduuuuh …. sssssshhh… dan seluruh badannya yang berada dibawahku bergerak secara liar. Sambil tetap kijilati dan kuhisap teteknya, kuturunkan Cdnya dan kupermainkan memeknya yang sudah basah sekali dan desahannya kembali terdengar ssssssshh… aaaaaaahh… ayooo ….. paaaaak… aduuuuh…. paaaaak, seperti menyuruhku untuk segera memasukkan penisku ke memeknya. Aku tidak segera memenuhi permintaannya, karena aku lebih tertarik untuk menghisap memeknya yang kembung menonjol dan tidak berbulu sama sekali. Segera saja kulepaskan hisapanku di teteknya dan aku pindahkan badanku diantara kedua kakinya yang telah ku lebarkan dahulu dan ketika lidahku kujilatkan di sepanjang belahan bibir memeknya yang basah dan terasa agak asin, Aminah tergelinjang dengan keras dan mengangkap angkat pantatnya dan kedua tangannya mencengkeram keras di kasur sambil mendesah agak keras aaaaahhh …. Paaaaaaakk…. adduuuuhhh…… paaaaak.
Aku teruskan jilatan dan hisapan di seluruh memek Aminah sambil kedua bibir memeknya kupegangi dan kupermainkan, sehingga gerakan badan Aminah semakin menggila dan tangannya sekarang sudah tidak meremas kasur lagi melainkan meremas rambut di kepalaku dan menekan ke memeknya dan tidak lama kemudian terdengar Aminah mengucap aaaduuuuuuhh… adduuuuuh… paaaaaak…. aaaaahhhh…… aduuuuuuh…. aaaahhh…. paaaaaaaaak…. dan badannya menggelepar gelepar tidak karuan, lalu terdiam dengan nafas terengah engah, tetapi dengan masih tetap meremasi rambutku. Aku hentikan jilatanku di memeknya dan merayap keatas lalu kucium dahinya, sedangkan Aminah dengan nafasnya yang masih terengah engah menciumi seluruh wajahku sambil memanggilku paaaaaaakkk….. paaaaaak, entah untuk apa. Ketika nafas Aminah sudah mulai agak teratur, lalu kutanya… Aaaam….. boleh kumasukkan sekarang…. Aaam.., Aminah tidak segera menjawab hanya terus menciumi wajahku, tetapi tak lama kemudian terdengar suara pelan ditelingaku… paaaaaaaak,…… pelaaaan… pelaaaan… yaaaaa…. Paaak dan dengan tidak sabar lalu kupegang batang penisku dan kugesek gesekan pada belahan memeknya dengan sedikit kutekan dan ketika kuanggap pas di lobang vaginanya, segera kutekan pelan2 dan Aminah sedikit mengeluh Paaaaaaaak….. sakiiiiiiiit… paaaak. Mendengar keluhannya ini, segera kuhentikan tusukan penisku ke memeknya. Sambil kucium dahinya, kembali ketekan penisku pelan2 dan terasa kepala penisku masuk sedikit demi sedikit ke lobang vaginanya dan lagi lagi terpaksa gerakan penisku kuhentikan, ketika Aminah mengeluh adduuuuuuh….. paaaaaaaak…. Setelah kudiamkan sebentar dan Aminah tidak mengeluh lagi, ku angkat penisku keluar dari memeknya dan kembali kutusukkan pelan2, ketika penisku terasa masuk, kulihat wajah Aminah hanya mengerenyit sedikit tetapi tidak ada keluhan, sehingga kembali kutusukkan penisku lebih dalam dan bleeeeeeeeesss……. masuk disertai dengan teriakan Aminah aduuuuuuuuuh……. paaaaak dan tangannya mencengkeram pantatku, terpaksa penisku yang sudah masuk sebagian kutahan dan kudiamkan ditempatnya. Tidak lama kemudian, terasa tangan Aminah menekan pantatku pelan2 dan kembali kutekan penisku sehingga sekarang sudah masuk semua dengan tanpa ada keluhan dari Aminah. Aaaam…… masih… sakiiitt… ? Tanyaku dan Aminah hanya mengglengkan kepalanya pelan. Karena Aminah sudah tidak merasakan kesakitan lagi, segera saja aku mulai menggerakkan penisku pelan2 keluar masuk memeknya, sedangkan Aminah hanya mengelus eluskan tangannya di punggungku. Makin lama gerakan penisku kupercepat dan Aminah mulai ikut menggerakkan pinggulnya sambil bersuara aaaaaahhh……. sssshhhhh… aaaaaahhh… aaaaaahh…. sssshhhh….. teruuuuus…. Paaaaaaak. Aku tidak menuruti permintaannya dan segera kuhentikan gerakan penisku dan kucabut keluar dari memeknya dan Aminah kelihatannya memprotes kelakuanku Paaaak… kenapaaaaaa……. Aku tidak menjawab protesnya tetapi kubilang… Aaaam….. coba sekarang Aminah berbalik dan nungging. Aminah menuruti permintaanku tanpa protes dan setelah kuatur kakinya, secara pelan2 kutusukkan penisku kedalam memeknya dari belakang dan kutekan agak kuat sehingga membuat Aminah berteriak kecil Aaaaaaaaaaahhhhh…., dan segera kugerakkan penisku keluar masuk memeknya dan Aminah bersuara aaaaaahh……. oooooohhh…. aaaaaaaah….. oooooooh….. aaaaahhh seirama dengan kocokan penisku keluar masuk. Tidak lama kemudian kudengar keluhan Aminah…. paaaaaaak….. Aaaaam…. capeeek… paaaaaak….., sambil terus menjatuhkan badannya tengkurap, sehingga penisku jadi copot dari memeknya. Langsung badan Aminah kubalik terlentang dan kembali kutancapkan penisku dengan mudah kedalam memeknya yang masih tetap basah dan kuayun keluar masuk, sehingga membuat Aminah merasa keenakan dan mendesah aaaaahhhh…. oooooohh…. sssssshhhh… aaaaahh… ssssh, demikian juga aku. Setelah beberapa saat, lalu kuhentikan gerakan penisku dan kubalik badanku sehingga posisi Aminah sekarang berada diatas. Aaam….. sekarang Aminah yang maiiin…. yaaa…. biar aku juga enaaaak.., kataku. Mula2 Aminah hanya diam saja, mungkin malu tetapi lama2 mulai mau menggerakkan pinggulnya keatas dan kebawah sehingga memeknya menelan penisku sampai habis dan gerakannya semakin lama semakin cepat yang membuatku semakin keenakan aaaaahhhh…… ssssshhh…… Aaaamm…. truuuus… Aaaaam…… enaaaaak…… Aaaaaam dan Aminah hanya mendesah aaaahhhh… oooooohh ….. aaaaahhh….. Karena gerakan Aminah semakin cepat, membuatku semakin mendekati klimax dan segera saja kukatakan… Aaaaam…… ssssshhh…. ayooooo…. Aaaam….. sayaa … sudah mau keluaaaar….. cepaaaat… Aaaaaam. Paaaaaak….. ayoooo… kita… sama samaaa, katanya sambil mempercepat gerakan pinggulnya keatas dan kebawah dan akhir nya aku sudah nggak kuat menahan airmaniku supaya tidak keluar dan Aaaaaaaaaaam…. Sekaraaaaaaaaaaaaaaaaaaang, kataku cepat sambil kutekan pinggulnya kuat2 dan Aminah hanya berteriak aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhh dan terus terus sama2 terdiam dengan nafas terengah engah. Kami berdua lalu tidur dengan penisku tetap masih berada di dalam memeknya.
Pagi harinya, ketika aku makan pagi ditemani oleh bu Tus sendiri dan Pak Tus katanya sedang ke kebun dan Aminah sedang menyuapi anaknya di depan, bu Tus bertanya … Paaaak….. apa benar.. sami saya… akan di PHK…….? Aku jadi sangat terkejut dengan pertanyaan itu, karena setahuku belum ada orang lain yang keberitahu, kecuali pimpinanku dan secretaris yang kusuruh menyiapkan surat2. Buuu….. lebih baik kita bicarakan dengan Bapak sekalian agar bisa tuntas. Ayoooo.. kita temui Bapak di kebun ajakku.
Karena Pak Tus sudah tahu dan mungkin dari secretaris kantor, lalu aku terangkan semuanya dan apa yang menjadi pertimbanganku dan yang lebih penting soal pesangonnya yang spesial dan cukup besar. Pada mulanya, diwajah Pak Tus kulihat ada perasaan kurang senang, tetapi setelah ku berikan penjelasan dan kuberitahu besar uang pesangonnya, Pak Tus dengan wajah berseri malah berbalik bertanya…. Paaak…. kapan uang pesangonnya bisa diambil…… saya mau gunakan untuk kebun saya ini dan ditabung. Aku jadi lega bisa menyelesaikan masalah ini dan sekaligus dapat memeknya bu Tus dan Aminah.
Siangnya kami kembali ke Indramayu dan sesampainya di rumah mereka, Pak Tus mengatakan.. Paaaak…. jangan kapok…. ya… paaak… dan kujawab Paaaak…. pokoknya kalau Pak Tus ajak lagi…. saya akan ikut, sambil aku melihat bu Tus yang tersenyum penuh arti.
Pada hari Senen pagi kupanggil si Sri sekretaris kantor yang pernah kusuruh mempersiapkan surat berhenti untuk pegawai2 yang telah kupilih. Setelah Sri menghadap dikantorku, kumarahi dan kudamprat dia habis2an karena tidak bisa menjaga rahasia. Kuperhatikan wajah Sri yang ketakutan sambil menangis, tetapi apa peduliku dan saking kesalku, kusuruh dia untuk pulang dan memikirkan apa yang telah dilakukannya. Aku lalu meneruskan pekerjaanku tanpa memikirkan hal tadi.
Malam harinya, dengan hanya mengenakan kaos singlet dan sarung , aku duduk di ruang tamu sambil melihat acara sinetron di salah satu stasion TV, tiba2 kudengar ada orang mengetuk pintu rumahku yang sudah kukunci. Aneh juga, selama ini belum ada tamu yang datang kerumahku malam2, aku jadi sedikit curiga siapa tahu ada orang yang kurang baik, maklum saja di masa krisis seperti sekarang ini, tetapi ketika kuintip ternyata yang di depan adalah Sri. Hatiku yang tadinya sudah melupakan kejadian tadi siang, mendadak jadi dongkol kembali dan sambil kubukakan pintu, kutanya dia dengan nada dongkol…. ngapain malam2 kesini. Sri tidak menjawab tapi malah bertanya… paaaaaak…. boleh saya masuk…..?
Yaaa…… , sana duduk… , kataku dengan dongkol, sambil menutup pintu rumah. Penggemar CCS dan Mas Wiro pun pasti akan berlaku sepertiku apabila mengalami sekretarisnya tukang obral rahasia.
Sri segera duduk di sofa panjang dan terus menangis tanpa mengeluarkan kata2 apapun. Aku diamkan saja dia menangis dan aku segera duduk disampingnya tanpa perduli. Lama juga aku menunggu dia menangis dan ketika tangisnya agak mereda, dengan tanpa melihat kearahku dan diantara suara senggukan tangisnya, Sri akhirnya berkata dengan nada penuh iba… paaaaaaaak……. ma’afkan Sriiiii…… paaaaaaak, saya mengaku salah… paaaaaaak dan tidak akan mengulangi lagi…… dan terus menangis lagi, mungkin karena tidak ada jawaban dariku. Lama sekali si Sri menangis sambil menutup mukanya dengan saputangan yang sudah terlihat basah oleh air matanya, lama lama aku menjadi tidak tega mendengar tangisannya yang belum juga mereda, lalu kugeser dudukku mendekati Sri dan kuraih kepalanya dengan tangan kiriku dan kusandarkan di bahuku. Ketika kuusap usap kepalanya sambil kukatakan Sriiii…… sudaaaaah…. jangan menangis lagi….. Sriiii… , Si Sri bukannya berhenti menangis, tetapi tangisnya semakin keras dan memeluk pinggangku serta menjatuhkan kepalanya tepat diantara kedua pahaku. Dengan keadaan seperti ini dan apalagi kepala si Sri tepat ada di dekat penisku yang tertutup dengan sarung, tentu saja membuat penisku pelan2 menjadi berdiri dan sambil kuusap punggungnya dengan tangan kiriku dan kepala nya dengan tangan kananku lalu kukatakan…… Sriiiiii….. sudah.. laaah …. jangan menangis lagi… Setelah tangisnya mereda, perlahan lahan Sri menengadahkan kepala nya seraya berkata dengan isaknya paaaaaaaak……… ma’afkan….. sriiiiiii…. yaaaaa …., sambil kucium keningnya lalu kukatakan Sriiiii…. sudah.. laaaah….. saya ma’afkan… dan mudah2an tidak akan terulang lagi…….. Mendengar jawabanku itu, Sri seperti kesenangan langsung memelukku dan menciumi wajahku berulangkali serta mengatakan dengan riang walaupun dengan matanya yang masih basah…. terima… kasiiiiih… paaaaak… terima kasiiiiih ….. lalu memelukku erat2 sampai aku sulit bernafas. Sudah.. laaah… Sri, kataku sambil mencoba melepaskan pelukannya dan kulanjutkan kata2ku…. gara2 kamu nangis tadi….. aku jadi susah…….. Ada apa paaaak…., tanyanya sambil memandangku dengan wajah yang penuh kekuatiran. Sambil kurangkul lalu kukatakan pelan didekat telinganya….. Sriiii….. itu lhoooo…. gara2 kamu nangis di pangkuanku tadi…… adikku yang tadi tidur…. sekarang jadi banguuuuun, kataku memancing dan mendengar jawabanku itu, Sri mencubit pinggangku dan berguman ….. iiiiiiiiiiihh…. bapaaaaaaaak dan sambil mencium pipiku kudengar Sri agak berbisik didekat telingaku… paaaaaaak….. sri… suruh…… tiduuuuuur….. yaaaaaaa… ? seraya tangannya menyingkap sarungku keatas dan menurunkan Cd. ku sedikit sehingga penisku yang sudah tegang dari tadi tersembul keluar dan dengan dorongan tanganku sedikit, kepala nya Sri menunduk mendekati penisku serta huuuuuuub…….. penisku hilang setengahnya tertelan oleh mulutnya. Sri segera menggerakkan kelapanya naik turun serta terasa lidahnya dipermainkan di kepala penisku sehingga membuatku seperti terbang di awang2 sssssssshhhh…….. aaaaaaaaaahh….. oooooohhh… sriiiiiiiiiii…….. sssssssssssshhhh aahhhhh…… desahku keenakan tanpa sadar.
Sriiiiii…… lepas sebentaaaaaar….. sriiiii…… saya mau lepas sarung dan Cd. ku dulu.., kataku sambil sedikit menarik kepalanya dan setelah keduanya terlepas, kembali Sri melahap penisku sambil tangannya sekarang mempermainkan buahku dan aku gunakan tanganku untuk meremas remas teteknya Sri dan sekaligus mencari serta membuka kancing bajunya. Setelah baju atas Sri berhasil kulepas dari tubuhnya, maka sambil kuciumi punggungnya yang bersih dan mulus, aku juga melepas kaitan Bhnya dan kulepas juga dari tubuhnya. Sementara Sri masih menggerakkan kepalanya naik turun, aku segera meremas remas teteknya serta kucium dan kujilati punggungnya, sehingga badan Sri bergerak gerak entah menahan geli atau keenakan, tetapi dari mulutnya yang masih tersumpal oleh penisku terdengar suara hhhhhhhmmm……. hhhhhmm… hhhhmmmm.
Dalam posisi seperti ini, aku tidak bisa berbuat banyak untuk membuat enak si Sri, segera saja kukatakan Sriiiiii…… sudah duluuuuu…., sambil menarik kepalanya dan Sri lalu kupeluk serta berciuman, sedang nafasnya Sri sudah menjadi lebih cepat. Srii…. kita pindah kekamar… yaaaaa…., kataku sambil mengangkat Sri berdiri tanpa menunggu persetujuannya dan Sri mengikuti saja tarikanku dan sambil kurangkul kuajak dia menuju kamarku lalu langsung saja kutidurkan terlentang ditempat tidurku. Segera kulepas singletku sehingga aku sudah telanjang bulat dan kunaiki badannya serta langsung kucium dan kujilati teteknya yang terasa sudah lembek. Tapi… ah.. cuek saja. Sambil terus kujilati kedua tetek Sri bergantian yang makin lama sepertinya membuat Sri semakin naik nafsunya, aku juga sedang berusaha melepas kaitan dan resleting yang ada di rok nya Sri. Sementara aku menarik roknya turun lalu menarik turun Cdnya juga, Sri sepertinya sudah tidak sabar lagi dan terus mendesah paaaaaaak…… paaaaak… ayoooo….. paaaaak…. cepaaaaat…. paaaaaak….. masukiiiiiin…… ssssssshhhh…., dan setelah aku berhasil melepas Cd dari tubuhnya, segera saja Sri melebarkan kakinya serta berusaha menarik tubuhku keatas seraya masih tetap berguman… paaaaak…. ayoooooo…. cepaaaaaat…. sriii… aaaaah …. sudah nggak tahaaaaan… paaaaaak. Aku turuti tarikannya dan Sri seperti sudah tidak sabar lagi, segera bibirku dilumatnya dan tangan kirinya berhasil memegang penisku dan dibimbingnya ke aah memeknya. Sriiii…… aku masukin sekarang… yaaaaa, tanyaku minta izin dan Sri cepat menjawab.. paaaaaaak….. cepaaaaaat…. paaaak…. dan segera saja kutekan penisku serta bleeeeeeeeeeeeees…. disertai teriakan ringan Sri.. aaaaaaaaaaahhh.., masuk sudah penisku dengan mudah kedalam memeknya Sri. Sri yang sepertinya sudah tidak bisa menahan dirinya lagi, mendekap diriku kuat2 dan menggerakkan pinggulnya dengan cepat dan kuimbangi dengan menggerakkan penisku keluar masuk memeknya disertai bunyi cccccrrrreeet…. creeet… crrreeeet…. dari memeknya mungkin sudah sangat basah dan dari mulutnya terdengar ooooohh….. aaaaaaahh… sssssshh.. paaaaak… aaaaah. Gerakan penisku kupercepat sehingga tak lama kemudian gerakan badan Sri semakin liar saja dan berteriak adduuuuuuh…… paaaaak… aaaahh…… ooooohh…. aduuuuhh… paaaak …….. aduuuuuuuhh…. paaaaaaaaaaaaaaaak, sambil mempererat dekapannya ditubuhku dan merangkumkan kedua kakinya kuat2 dipunggungku sehingga aku kesulitan untuk bergerak dan tak lama kemudian terkapar dan melepas pelukannya dan rangkuman kakinya dengan nafasnya yang memburu. Aku agak sedikit kecewa dengan sudahnya Sri, padahal aku juga sebetulnya sudah mendekati puncak, hal ini membuat nafsuku sedikit surut dan kuhentikan gerakan penisku kemuar masuk, Sriiiii……. kenapa… nggaaak bilang2… kalau mau keluar… , tanyaku sedikit kecewa. Paaaaaaakk….., jawab Sri dengan masih terengah engah…. Sri… sudah nggak… tahaaan… paaaaaak…. Agar Sri tidak mengetahui kekecewaanku dan untuk menaikkan kembali nafsuku, aku ciumi seluruh wajahnya, sedangkan penisku tetap kudiamkan didalam memeknya…. eeeh…. tidak terlalu lama terasa penisku seperti terhisap dan tersedot sedot didalam memeknya. Sriiiii….. teruuuuus… sriii…. enaaaaaak….. teruuusss… sriiii dan membuatku secara tidak sadar mulai menggerakkan penisku kembali keluar masuk, dan Sri pun mulai menggerakkan pinggulnya kembali. Aku semakin cepat mengerakkan penisku keluar masuk sehingga kembali terdengar bunyi ccrroooot….. crrrreeet….. ccccrrrroooooot…. creeeet dari arah memeknya. Sriiiii…… sriiiiii…. ayoooooo….. cepaaat…. sriiiii… dan seruanku ditanggapi oleh Sri.. Paaaaak….. iyaaaa… paaaak… ayoooooo, sambil mempercepat gerakan pinggulnya. Aaaaaahh…. ssssssshh…….. ssrriiiiiiii…… ayooooo.. srrrrriiiiiii….. saya… sudah dekaaaat sriiiiii…… , Ayooooo… paaaaaaak…… cepaaaatt…. ssssssshhhh…. paaaaaak…
Aku sudah tidak bisa menahan lagi dan sambil mempercepat gerakanku aku berteriak Srriii……. ayooooooo… srriiiii…. sekaraaaaaaaaang sambil kutusukan penisku kuat2 kedalam memeknya Sri dan ditanggapi oleh Sri… paaaaaak …….. ayooooooo… aduuuuuuh……. aaaaaah…… paaaaaaaaaaaak sambil kembali melingkarkan kedua kakinya di punggungku kuat2.
Setelah beristirahat cukup lama sambil tetap berpelukan dan penisku tetap didalam memeknya, segera aku ajak Sri untuk mandi, lalu kuantar dia pulang dengan kendaraanku.
Minggu depannya, aku berhasil melaksanakan PHK tanpa ada masalah, tetapi beberapa hari kemudian setelah pegawai2 yang tersisa mengetahui besarnya uang pesangon yang diberikan kepada 5 orang ter PHK, mereka mendatangiku untuk minta di PHK juga. Tentu saja permintaan ini tidak dapat dipenuhi oleh pimpinanku.

korban persembahan

Filed under: RAMAI-RAMAI

Fanny adalah gadis yang paling cantik dari seluruh gadis yang ikut dalam rombongan KKN itu. Tubuhnya tinggi semampai dan padat berisi, tinggi badannya yang hampir 170 cm membuatnya tampak begitu jangkung diantara rekan-rekannya, masih ditambah bentuk tubuhnya yang begitu indah dan sekal, apalagi kalau dia sedang memakai busana ketat seperti yang biasa dipakainya, membuat bagian-bagian tubuhnya yang vital seperti dada dan pantat terlihat menonjol. Wajahnya bulat dan hidungnya mancung khas orang bule tapi berkulit kuning langsat seperti orang Asia. Hal itu bisa dimengerti karena Fanny berdarah campuran Indonesia dan Italia, sebuah perpaduan Euro Asia yang sangat menarik menghasilkan wajah yang sangat khas. Ditambah lagi rambutnya yang kecoklatan lurus sepunggung dibiarkannya tergerai. Yang paling menarik dari Fanny adalah matanya yang kehijauan. Mata itu begitu bercahaya seperti batu zamrut berkilau. Pagi itu pondokan tempat Fanny tinggal terlihat begitu sepi, seluruh rekannya sudah berangkat untuk melakukan aktifitas, hanya Fanny yang tinggal di pondokan. Fanny yang hari itu memang tidak ada kegiatan menyibukkan dirinya dengan membaca buku novel yang sengaja dibawanya dari rumah. Baru saja Fanny membaca bebeapa halaman ketika didengarnya ketukan di pintu depan. Fanny yang pagi itu memakai blous putih dengan rambutnya yang berkilau lurus tergerai bebas terlihat lebih cantik dari biasanya. Dia tempak sedikit heran, siapa yang sepagi ini sudah bertandang ke pondokannya. Fanny segera menuju ke depan. Tanpa disangak-sangak, di ruangan depan sudah berkumpul tujuh orang pria setengah baya. Mereka adalah Pak Kades Wirya, Sarta Sekretaris desa, Pak Jamal tuan tanah yang paling kaya di seluruh desa, Pak Hasan jawara kampung, Pak Arman Mantri hutan dan dua orang lagi, yang satu sudah tua, kurus dengan wajah pucat seperti orang sakit dikenalnya sebagai Amar, salah satu sesepuh desa. Yang duduk di sebelah Amar badannya kurus dan jangkung dengan janggut kambing. Fanny tidak tahu nama aslinya, orang desa lebih dering menyebutnya Ki Wongso, orangnya sudah tua sekali, mungkin sudah lebih dari 70 tahun, terlihat dari rambut dan janggutnya yang sudah putih semua dan giginya yang hanya tinggal beberapa gelintir. Untuk sesaat Fanny merasa ngeri melihat ketujuh orang tua yang duduk di hadapannya itu. Tatapan mata mereka membuat Fanny merasa mereka bisa melihat menembus pakaiannya. Sorot mata mereka seperti sorot mata srigala lapar yang siap menerkam mangsanya. “Maaf Bapak-bapak.. ada perlu apa ya..?” tanya Fanny berusaha ramah, meskipun tubuhnya mulai gelisah. “Eh.. begini Neng.. kami ada perlu dengan Neng Fanny..” kata Pak Kades dangan nada canggung. “Dengan saya..?” Fanny heran. “Ada yang bisa saya bantu?” “Eh.. begini Neng Fanny..” Pak Kades Wirya berujar canggung, dia terlihat gelisah, terlihat dari gerakan-gerakan tangannya yang tidak teratur. “Sebelumnya saya minta maaf karena mengganggu Neng Fanny.” “Ada apa ya Pak..?” Agak canggung Fanny menanyakan maksud kedatangan mereka. Mereka tidak langsung menjawab melainkan saling tatap satu sama lain. “Saya datang ke sini sebetulnya ingin membicarakan masalah desa ini pada Neng Fanny..” Kata Pak Kades. “Kalau saya bisa Bantu, saya akan Bantu.” Fanny menjawab cepat. “Oh.. ya.. dan memang hanya Neng Fanny saja yang bisa membantu masalah desa ini,” kata Pak Kades dengan mata menatap liar ke arah Fanny, membuat Fanny merasa grogi dan takut. “Begini Neng, Neng Fanny tentu tahu kan, kalau desa ini memuja Dewi Kesuburan?” Tanya Pak Kades. Fanny hanya mengangguk saja, dia sudah tahu riwayat pemujaan dewi kesuburan ini sejak pertama kali menginjakkan kaki di desa ini. “Dan apakah Neng Fanny juga tahu kalau setahun sekali Dewi Kesuburan akan turun ke desa ini dalam wujudnya sebagai seorang wanita?” “Ya.. saya tahu,” kata Fanny sedikit jengkel. ”Tapi apa hubungannya semua itu dengan saya?” “Yah..” Pak Kades menghela nafas sesaat. “Perlu Neng Fanny tahu, berdasarkan perhitungan dan ramalan Dukun Desa, Dewi Kesuburan Desa ntuk tahun ini adalah.. Neng Fanny sendiri.” “Apa?” Fanny terkejut sesaat. “Tapi itu tidak mungkin..” dia tidak tahu maksud ucapan Pak Kades. Dia bahkan yakin Pak Kades baru saja bergurau. “Betul Neng,” Amar menyela “Neng Fanny lahir tanggal 8 Mei kan..? Dan Neng punya tahi lalat di paha kiri kan? Persis seperti yang sudah diramalkan.” “Dari mana Bapak tahu?” Fanny spontan bertanya. “Itu tidak penting, yang jelas sekarang Neng Fanny telah terpilih sebagai Dewi kesuburan.” tandasnya lagi. Fanny terdiam sesaat mencoba menerka maksud pembicaraan Pak Kades dan temannya, tapi dia sama sekali tidak menemukan apa-apa di kepalanya tentang dewi kesuburan ini. Baik..” Fanny mengalah. “Katakan saya bersedia, lalu apa yang harus saya lakukan sebagai Dewi Kesuburan ini?” Ketujuh orang itu langsung berubah ekspresi dari yang semula sopan mendadak berubah menyeringai memuakkan dan tertawa-tawa aneh begitu mendengar ucapan Fanny barusan. “Tugas anda.. yah.. Dewi Kesuburan bertugas untuk membagikan kesuburannya pada para penduduk desa. Dewi Kesuburan adalah lambang dari lahan yang siap ditanami oleh petani. Neng Fanny sebagai lahannya dan kami petaninya.” Seketika Fanny terperanjat mendengar tamsil yang diutarakan barusan. Kesuburan, lahan, petani, menanam benih, semuanya mendadak menjadi begitu jelas bagi Fanny. “Ma.. maksudnya saya akan dijadikan sebagi persembahan? Begitu?” Fanny tiba-tiba berteriak. Wajahnya seketika memerah karena marah dan malu. “Intinya, Neng Fanny harus merelakan kami menanamkan benih ke dalam tubuh Neng Fanny “ kata Pak Kades, datar. Seketika itu pula emosi Fanny, didorong oleh rasa malu dan muak, langsung meledak. “Tidak.. aku tidak mau!” Fanny membentak marah sambil menuding. “Dasar tua bangka tidak tahu diri! Keluar kalian! Busuk kalian semua!” Anehnya dibentak-bentak dan dicaci maki seperti itu tidak membuat ketujuh orang tua itu marah. Reaksi mereka justru berkebalikan. Mereka malah tertawa, seolah baru saja melihat sebuah pertunjukan lawak yang sangat lucu. “Kalau Neng Fanny tidak mau ya tidak apa-apa,” Pak Kades tersenyum sinis. “Tapi saya tidak menjamin keselamatan Neng Fanny dan rekan-rekan Neng Fanny kalau nantinya warga menjadi marah dan berbuat kekerasan pada Neng Fanny.” Fanny terperanjat mendengar ucapan Pak Kades. Kata-kata itu seperti vonis mati baginya yang langsung merontokkan ketegarannya. Seketika Fanny langsung terduduk lemas seolah tubuhnya tidak bertulang lagi. “Jadi bagaimana Neng Fanny?” Tanya Pak Kades.”Semuanya terserah Neng Fanny lho..” ujar Pak Kades datar, nyaris tanpa ekspresi. Fanny terdiam mendengar ucapan itu, rasa marah, malu dan jijik bercampur menjadi satu. Fanny tidak bisa membayangkan wanita yang terhormat seperti dirinya dijebak dan disudutkan dalam nasib yang sangat mengerikan bagi wanita. Dirinya tidak rela dicemari oleh orang-orang seperti mereka, tapi pada saat yang sama Fanny tahu dirinya tidak berdaya sama sekali. Dia sendirian di tempat ini, tidak ada satupun yang bisa menolongnya sekarang karena seluruh penduduk berada dalam satu pihak dengan ketujuh pemuka desa. Fanny berpikir keras mencari jalan keluar, tapi tampaknya semua buntu. Dia bisa saja melarikan diri, tapi mau lari kemana? Dia juga tidak tahu apa-apa tentang lingkungan di sekeliling desa yang sangat terisolir itu. Dan akhirnya Fanny mengambil keputusan. “Baiklah Pak.. saya bersedia..” Fanny menjawab lirih. Tanpa sadar sebutir air mata mengalir membasahi pipinya yang putih mulus. Ketujuh pemuka desa itu bergumam puas penuh kemenangan seolah baru saja memenangkan hadiah yang sangat besar nilainya. “Kalau begitu Mulai hari ini sampai nanti bulan purnama penuh Neng Fanny akan tinggal di tempat yang sudah kami sediakan.” Kata Pak Kades dengan nada suara yang ditekan, berusaha terdengar wajar untuk menyembunyikan kegembiraannya. Kemudian Fanny dibawa oleh ketujuh pemuka desa ke sebuah rumah adat di tepi hutan pinggiran desa,. Di rumah yang cukup mewah itu sudah disediakan berbagai fasilitas lengkap. Fanny diperlakukan bagai seorang ratu.sampai malam purnama penuh tiba. Dan pada malam yang sudah ditunggu-tunggu itu, Fanny dimandikan dengan air kembang yang sangat harum, tubuhnya dilulur sempurna sehingga kulitnya makin terlihat putih. Fanny juga didandani dengan bermacam perhiasan. Pergelangan tangannya dihiasi gelang emas sementara lehernya juga dilingkari kalung emas, pada dahinya terjuntai tiara emas yang dihiasi permata berwarna-warni. Akan tetapi pakaian yang dipakai Fanny sangat tidak masuk akal. Dia hanya memakai sehelai kain merah dan tipis yang diikat melingkari dadanya untuk menutupi payudaranya. Kain itu terlalu kecil dan terlalu tipis untuk bisa disebut penutup dada sehingga payudaranya yang putih terlihat menonjol sementara puting payudaranya terbayang dengan sangat jelas. Di pinggangnya terlilit kain yang dikencangkan dengan ikat pinggang emas, tapi meskipun kain itu menjuntai sampai mata kaki, kain itu terbuat Dari bahan yang sangat tipis dan tembus pandang sehingga memperlihatkan pinggul dan selangkangan Fanny yang hanya ditutupi oleh celana dalam model g-string berwarna merah. Dengan begitu pantatnya yang padat seperti tidak tertutup oleh apapun. Fanny kemudian dibawa menuju ke sebuah pendopo besar, sebuah ruangan yang hanya terdiri dari atap dan tiang-tiang besar penyangga tanpa dinding. Pendopo itu cukup besar, hampir mirip dengan aula. Tidak ada apa-apa di pendopo itu, kecuali sebuah ranjang besar berlapis kain ungu terang dengan keharuman yang luar biasa memabukkan asap berbau kemenyan wangi yang berasal dari anglo tanah yang dipasang di keempat penjuru ranjang. Ketujuh pemuka desa yang menjemput Fanny sekarang sudah berada di situ, mereka berdiri mengelilingi ranjang dengan masing masing memakai pakaian seperti jubah berwarna putih putih. Fanny terkesiap saat melihat ketujuh pemuka desa itu, tapi dia lebih kaget saat melihat ke arah luar pendopo, di situ sudah berkumpul hampir seluruh penduduk desa, dan kesemuanya adalah pria, semuanya bertelanjang dada, hanya memakai celana kolor panjang diikat oleh sabuk kulit besar. Fanny baru sadar kalau upacara Dewi Kesuburan hanya dihadiri oleh kaum pria. Sesaat Fanny merasakan tubuhnya menjadi kebas, membayangkan kejadian yang akan menimpanya. Fanny memejamkan mata dan menggeleng mencoba untuk mengusir ketakutannya, tapi dia tidak bisa. Kengerian luar biasa begitu kuat mencengkeramnya laksana tangan iblis yang menari-nari menghimpit seluruh tubuhnya. Belum lagi sadar dari cengkeraman kengerian, salah satu pemuka desa menuntun Fanny untuk maju menghadapi seluruh penduduk yang hadir. Wajah-wajah mereka menampakkan gairah yang ganjil ditimpa cahaya purnama. Penerangan obor dan lampu minyak di sekelilingnya membuat siluet mengerikan, seolah sepasukan hantu yang bergerak merayap mendekati dirinya. Smentara itu Ki Wongso yang Fanny kemudian tahu adalah dukun desa mulai beranjak berdiri di sampingnya. “Wahai penduduk desa,” Ki Wongso berteriak lantang, membuat penduduk desa serentak menatap ke arahnya. “Malam ini adalah malam purnama ke lima, dimana malam ini adalah saat Dewi Kesuburan turun ke bumi.” Kata Ki Wongso masih dengan lantang. “Karena itulah malam ini, kupersembahkan gadis ini bagi Sang Dewi.” Serentak penduduk desa berteriak lantang. “Terimalah persembahan kami.” Teriakan itu diucapkan berulang berkali-kali dan menggema di segala penjuru. Suaranya bersahutan dan terdengar mengerikan. Fanny seperti mendengar lagu kematian yang dinyanyikan untuknya. Sementara itu Ki Wongso terlihat berkomat-kamit sambil menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. Suaranya seperti lebah berdengung.Sementara terlihat Amar yang dikenal sebagai tangan kanan sang dukun maju sambil membawa sebuah bokor tembaga. “Di dalam bokor itu terdapat perlambang dari apa yang harus kami tanam tahun ini.” kata Ki Wongso. “Setiap perlambang juga melambangkan salah satu dari kami. Dan sekarang tugas Neng Fanny untuk menentukan perlambang apa yang keluar tahun ini.” Fanny yang sudah dicekam kengerian hanya berdiri di tempatnya. Kengerian yang menyelimutinya membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa. Ki Wongso yang tidak sabar mendorong punggung Fanny dan memaksa tangan Fanny untuk mengambil benda di dalam bokor. Fanny dengan keterpaksaan yang luar biasa, mengambil benda yang terbuat dari kepinga tembaga dari dalam bokor. Fanny tidak tahu apa artinya benda itu, dia bahkan tidak berani melihatnya. Ki Wongso kemudian mengambil perlambang itu dari tangan Fanny. “Tujuh..” Ki Wongso mendesis sambil menyeringai. “Sebuah pertanda yang sangat baik.” katanya, disambut tawa seluruh pemuka desa. “Neng Fanny telah memilih tujuh, itu berarti ketujuh pemimpin desalah yang akan menanamkan benih di tubuh sang dewi.” Fanny terkesiap pucat mendengar ucapan Ki Wongso. “Tidak Pak.. tidak mungkin..” Fanny mulai menangis, ucapan itu berarti dirinya harus merelakan dirinya disetubuhi oleh ketujuh pemuka desa itu secara sekaligus. “Jangan Pak.. saya tidak mau..” Fanny tersedak sambil terisak tubuhnya serasa mati dengan vonis yang baru saja diterimanya, dia merasa diperlakukan lebih rendah dari pelacur yang paling hina. Dan entah mendapat keberanian dari mana, tiba-tiba Fanny berontak dan berusaha lari. “Tangkap dia!” perintah Ki Wongso. Amar yang paling dekat dengan Fanny, dengan kesigapan seperti seekor harimau, merendahkan badannya sambil kakinya terjulur mengait pergelangan kaki Fanny. Fanny langsung terjungkal dan tertelungkup di lantai tanah. Serentak tiga orang langsung menagkapnya dan menelikung tangannya kec belakang. “Lepaskan!” Fanny berteriak-teriak sambil meronta-ronta mencoba membebaskan diri, tapi dia hanya seorang wanita, menghadapi tiga orang pria yang menangkapnya jelas dirinya tidak mampu berbuat banyak. “Percuma Neng lari. Kami pasti dengan mudah bisa menangkap Neng Fanny lagi.” kata Ki Wongso kalem dengan wajah menyeringai di hadapan Fanny. Fanny dengan wajah basah oleh air mata hanya menggeleng ketakutan.Ki Wongso kemudian menjulurkan tangannya dan menekan bagian belakang lehernya dengan satu pijatan kuat. Seperti ada satu aliran listrik mengalir dari tangan Ki Wongso menyengat lehernya. Sesaat kemudian Fanny merasa tubuhnya seperti lemas tanpa daya. Karena itulah dia tidak berontak lagi saat dirinya ditarik dan dibawa ke atas ranjang. Di atas ranjang Fanny merasakan tubuhnya seolah begitu ringan seperti melayang. apakah itu pengaruh pijatan Ki Wongso di lehernya ataukah karena bau kemenyan yang begitu kental, Fanny tidak tahu, yang jelas Fanny sekarang seperti tidak punya daya apa-apa. Seolah dirinya sudah siap diperlakukan apa saja oleh siapa saja. “Upacara segera dimulai..” kata Ki Wongso ada para penduduk. Serentak semua yang hadir di situ berdiri mendekat dan membentuk lingkaran besar yang berpusat pada ranjang tempat Fanny terbaring, sehingga apapun yang dilakukan di atas ranjang itu, semua penduduk akan bisa menyaksikannya dengan jelas. Mereka lantas melihat Ki Wongso berdiri di samping ranjang. Direbahkannya tubuh Fanny dengan posisi terlentang di atas ranjang lalu diaturnya posisi tangan dan kaki Fanny sehingga membuka ke samping seperti burung yang merentangkan sayapnya. Lalu perlahan dilepaskannya kain tipis yang melilit di pinggang Fanny sehingga hanya tersisa penutup dada dan celana dalem merah yang melekat di tubuh Fanny. Kemudian tangan Ki Wongso mulai menari-nari di atas tubuh Fanny yang mulus itu, dan dengan satu kali sentakan, kain yang menutupi payudara Fanny langsung terlepas, membuat payudara Fanny yang liat, putih dan mulus langsung mencuat telanjang, diiringai suara tertahan para penduduk yang menyaksikannya. Kemudian tangan Ki Wongso mulai menari di bagian pinggul Fanny. Perlahan ditariknya pinggiran celana dalam Fanny, lalu celana dalam itu ditariknya sampai lepas dari selangkangan Fanny dan akhirnya terlepas dari tubuhnya. Fanny sekarang terbaring dalam keadaaan telanjang bulat di atas ranjang, menjadi bahan tontonan penduduk dan pemuka desa. Kemudian Ki Wongso menyuruh empat orang memegangi kaki dan tangan Fanny dan merentangkannya ke samping sehingga tubuh bugil Fanny membentuk huruf X. Melihat tubuh mulus dan telanjang itu terentang tanpa daya, Ki Wongso mulai melepaskan jubah putihnya, hingga hanya tersisa celana kolor saja. Dia lalu menaiki ranjang dan berlutut di depan Fanny. “Ck-ck-ck…benar-benar tubuh yang sempurna, putih mulus tanpa cacat,” ujar Ki Wongso, kemudian Ki Wongso mulai mendekatkan tubuhnya pada tubuh Fanny. Semakin pria itu mendekat semakin kencang pula jantung Fanny berdebar, wajahnya memerah menahan malu sambil menggigit bibir bawah. “Ohh.. ini payudara terindah yang pernah Bapak lihat, Bapak pegang dikit ya.” Pinta Ki Wongso sambil menaruh tangannya di payudaranya. “Ahh….” Fanny mendesis merasakan perasaan aneh karena belaian pada payudaranya, jari-jari pria itu juga memencet putingnya sehingga seperti bulu kuduknya berdiri semua. “Eengghh..!” desisnya lebih keras ketika tangan Ki Wongso mulai meremas payudaranya. Ditekan-tekannya sepasang payudara mulus itu sambil sesekali membetot payudara itu dengan lembut. Hal itu membuat Fanny emndesah kecil, tubuhnya mendadak menegang, seperti ada sengatan listrik dari tangan Ki Wongso setiap kali tangan itu menyentuh payudaranya. Ki Wongso kemudian mulai menjilati puting payudara Fanny dengan lidahnya. Ujung lidahnya kadang menyentil-nyentil ujung puting payudara itu, sesekali Ki Wongso mengulum dan mengenyot payudara Fanny, sehingga orang tua itu terlihat seperti bayi yang sedang disusui oeh ibunya. Fanny merasakan sentuhan tangan itu seperti membangkitkan monster birahi yang tidur di dalam tubuhnya. Seketika Fanny merasa tubuhnya seperti meremang, dia bergerak dengan gelisah dam neggelinjang tak terkendali. Sesekali kakinya menggeliat kecil seperti menahan sesuatu yang akan keluar dari dalam tubuhnya. “Ahhhh….. Ohhhhh……….” Fanny mulai mengeluarkan desahan-desahan tertahan, dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak terhanyut dalam dorongan birahinya, tapi pada saat yang bersamaan, dorongan itu begitu kuat membetot setiap simpul syarafnya membuatnya terlena. Ki Wongso tahu Fanny sudah mulai terangsang karena itu dia makin gencar melakukan serangan di setiap jengkal kemulusan tubuh Fanny. Kemudian lidah Ki Wongso menyusuri perut Fanny yang rata, terus ke bawah dan ketika sampai di daerah selangkangan Fanny Ki Wongso lalu merangkul pinggang ramping itu membawa tubuhnya lebih mendekat. Paha mulus itu lalu dia ciumi inci demi inci sementara tangannya mengelusi paha yang lain. Fanny merinding merasakan sapuan lidah dan dengusan nafas pria itu pada kulit pahanya membuat gejolak birahinya makin naik. “Ssshhh…!” sebuah desisan keluar dari mulutnya ketika jari Ki Wongso menyentuh bagian vaginanya. “Aahhh… aahhh… jangan !” Fanny mendesah antara menolak dan menikmati saat lidah Ki Wongso menelusuri gundukan bukit kemaluannya. Tanpa disadari kakinya melebar sehingga memberi ruang lebih luas bagi Ki Wongso untuk menjilatinya. Tubuh Fanny seperti kesetrum ketika lidah Ki Wongso yang hangat membelah bibir kemaluannya memasuki liangnya serta menari-nari di dalamnya. Fanny semakin tak kuasa menahan kenikmatan itu, dia bergerak tak karuan akibat jilatan Ki Wongso sehingga Ki Wongso harus memegangi tubuhnya. “Ahhhh…ahhh…oohh !” desahnya dengan tubuh bergetar merasakan lidah Ki Wongso memainkan klitorisnya. Sementara semua mata yang menyaksikan permainan tersebut menahan nafas dan gejolak birahi mereka menyaksikan betapa tubuh yang begitu putih, mulus dan sexy milik Fanny dalam keadaan telanjang bulat sedang digeluti oleh seorang tua renta seperti Ki Wongso. Beberapa diantara mereka yang tidak tahan bahkan mulai melakukan masturbasi dengan mengocok penisnya sendiri. Fanny sendiri semula merasa malu tubuhnya yang bugil dijadikan tontonan begitu banyak orang, sekali-kalinya dia pernah telanjang dihadapan pria adalah saat bersama pacarnya, tapi pengaruh yang ditanamkan oleh Ki wongso terlanjur mencengkeram tubuhnya sangat kuat, membuat otaknya menjadi buntu, Fanny sekarang hanya bertindak berdasarkan naluri seksualnya semata. Tidak tahan dengan serangan-serangan Ki Wongso pada daerah sensitifnya, tubuh Fanny mendadak meregang kuat, membuat empat orang yang memegangi tangan dan kakinya harus menarik kedua belah tangan dan kaki Fanny lebih kuat. Desakan dari dalam tubuhnya ditambah tarikan pada kaki dan tangannya membuat tubuh Fanny menghentak kuat di ranjang, tubuh Fanny kemudian melengkung ke atas seperti busur yang ditarik membuat payudaranya yang membukit itu makin tegak menantang. “Ohhhkkhhhhhhhhhhhhh…. Aaaaaahhhhhh….” fanny mengejang dan mengerang keras dengan tangan dan kaki menggelepar. Dari vaginanya mengucur cairan bening, Rangsangan Ki Wongso rupanya berhasil membuat tubuh Fanny orgasme dengan begitu kuat. Tubuh Fanny menegang sesaat sebelum kembali melemas. Fanny terkapar dambil terengah-engah. Orgasme yang dialaminya begitu kuat membuat sekujur tubuhnya bermandi keringat. Ki Wongso yang sudah bangkit pula birahinya melepaskan celana kolrnya sampai bugil. Dipermainkannya penisnya di hadapan Fanny. Dia menyuruh keempat orang yang memegangi tangan dan kaki Fany untuk melepaskannya. Keempat orang itu mundur selangkah. Ki Wongso perlahan mulai menempatkan tubuhnya di atas tubuh mulus Fanny.Tangan Ki Wongso bergerak menggenggam jari-jari lentik Fanny sehingga jari-jari mereka saling menyatu dan saling mencengkeram. “Nah,sekarang kita mulai ya Neng..” kata Ki Wongso sambil bendaratkan sebuah ciuman di bibir Fanny dan melumat bibir lembut itu berulang-ulang. Fanny hanya menggeleng lemah sambil menangis, tapi Ki Wongso yang sudah terangsang berat tidak mempedulikan penolakan Fanny. Perlahan ditindihnya tubuh bugil Fanny yang putih mulus itu. Lalu pelan-pelan Ki Wongso menekan penisnya ke liang vagina Fanny. “Sshhh…sakit, aahhh…!!” Fanny mengerang lirih ketika penis Ki Wongso yang besar itu menerobos vaginanya. Fanny meringis dan merintih menahan rasa sakit pada vaginanya, meskipun sudah tidak perawan lagi karena sudah beberapa kali melakukan hubungan seks dengan pacarnya, tapi kemaluannya masih sempit. Ki Wongso harus berusaha keras untuk bisa memasukkan penisnya sambil melenguh-lenguh, vagina Fanny melawan dengan liat membuat Ki Wongso makin bernafsu mendorongkan penisnya. Setelah beberapa saat menarik dan mendorong akhirnya masuklah seluruh penis itu ke vaginanya, saat itu airmata Fanny meleleh lagi merasakan sakit pada vaginanya. “Huhh…masuk juga akhirnya, tempiknya Neng seret banget.” katanya dekat telinga Fanny. Fanny hanya menangis ketika merasakan penis Ki Wongso dirasakan memenuhi vaginanya. Sesaat kemudian, Ki Wongso sudah menggoyangkan pinggulnya, mula-mula gerakannya perlahan, tapi makin lama kecepatannya makin meningkat. Fanny yang sebelumnya sudah mengalami orgasme benar-benar tidak kuasa menahan erangan setiap kali Ki Wongso penis Ki Wongso menghujam vaginanya. Gesekan demi gesekan yang timbul dari gesekan alat kelamin mereka menimbulkan rasa nikmat yang menjalari seluruh tubuh Fanny . “Ohhh… aahhh… oohhh… aahhh..” Fanny mendesah-desah penuh kenikmatan setiap kali penis Ki Wongso menghentak vaginanya, gerakan Ki Wongso sendiri tidak teratur dalam menggenjot vagina Fanny, kadang pelan dan lembut, kadang begitu kasar dan cepat, tapi gerakan-gerakan liar dan tidak teratur itu justru membuat Fanny merasa makin cepat merasakan orgasmenya mendekat. Ki Wongso meningkatkan tempo goyangannya, penis yang besar dan berurat itu menggesek dan menekan klitoris Fanny ke dalam setiap kali menghujam vaginanya. Kedua payudaranya yang membusung tegak itu ikut berguncang hebat seirama guncangan badannya. Ki Wongso meraih kedua payudara Fanny dan meremasnya dengan gemas. Sementara Fanny sekarang sudah sepenuhnya dikuasai oleh dorongan seksualnya, setiap genjotan penis Ki Wongso pada vaginanya membuatnya tersentak dan mengeluarkan desahan penuh kenikmatan, dia merasakan kenikmatan yang berbeda dari yang pernah didapatkan dari pacarnya, tanpa disadari dia juga ikut menggoyangkan pinggulnya seolah merespon gerakan Ki Wongso. Hebatnya meskipun sudah sangat tua, tapi kemampuan Ki Wongso dalam melakukan persetubuhan ternyata sangat hebat, mungkin sebelumnya Ki Wongso sudah meminum jamu khusus sehingga membuat tahan lama, selama lebih dari limabelas menit Ki Wongso menggenjot tubuh Fanny, tapi belum ada tanda-tanda kalau dia akan selesai. Fanny yang sudah sedemikian terangsang hanya bisa melenguh dan mendesah-desah merasakan sensasinya yang setiap saat siap meledak. Dan beberapa saat kemudian tubuh Fanny kembali mengejang, tangannya yang menggengam tangan Ki Wongso menekan jari-jari keriput itu dengan kuat. “Ohhhhkkhhhhh… Aahhhhhhhhh..” Fanny mengerang keras, wajahnya merah padam, tubuhnya mengejang dan bergetar dengan kuat seolah akan melemparkan Ki Wongso dari atas tubuhnya. Sekali lagi Fanny mengalami orgasme. Ki Wongso berusaha menahan agar tidak buru-buru ejakulasi, dia menghentikan gerakannya dan membiarkan Fanny bergerak liar. Seluruh tubuh Ki Wongso juga menegang, bedanya, Ki Wongso sedang berusaha menahan ejakulasinya agar spermanya tidak buru-buru dimuntahkan. Ki Wongso pelan-pelan merasakan tubuh Fanny kembali melemas, kemudian dia mendekap tubuh mulus itu dankembali melanjutkan genjotannya di vagina Fanny. Kali ini gerakannya lebih cepat dari sebelumnya bahkan cenderung kasar. Fanny merasakan tubuhnya sampai terbanting-banting menahan hentakan demi hentakan pada bagian bawah tubuhnya. Erangan-erangan Fanny semakin keras, badan dan kepala semakin bergoyang-goyang tidak beraturan menahan nikmat di dalam vaginanya. Kadang kala Fanny dan Ki Wongso terlibat dalam ciuman-ciuman lembut, beberapa kali bibir Fanny yang lembut itu dikulum oleh bibir Ki Wongso seolah dilekatkan oleh lem yang sangat kuat, Mata Fanny sudah sayu dan merem melek menerima kenikmatan yang rasanya tidak ada akhirnya. Badannya bergoyang erotis mengikuti setiap genjotan penis Ki Wongso pada vaginanya. Terlihat sekali Fanny sedang menikmati permainan tersebut, Fanny menjadi tidak peduli dengan sekelilingnya. Fanny sudah tidak mempedulikan lagi persetubuhannya dijadikan tontonan begitu banyak orang. Fanny sudah tidak mempedulikan lagi sorak-sorak para penduduk yang ikut menikmati adegan persetubuhannya dengan Ki Wongso. Fanny sudah sepenuhnya dikuasai oleh nafsu birahinya yang kian lama kian memuncak. Fanny menggelinjang liar dan erotis, tubuhnya dibiarkan mengikuti apa mau laki-laki tua yang sedang menyetubuhinya. Desahan dan erangannya makin liar dan meracau. Namun sekali ini laki-laki tua yang sudah sangat pengalaman itu tidak membiarkan Fanny untuk orgasme. “Ammmpunn..egggghhh…….” erang Fanny keras mengharap orgasmenya segera datang, namun harapannya tinggal harapan, karena Ki Wongso masih ingin mempermainkan Fanny dalam waktu yang lama. Tubuh Fanny sampai mengejang-ngejang setiap kali gagal mengalami orgasme. Baru setelah lebih dari satu jam, Ki Wongso melepaskan Fanny. Seketika orgasmenya meledak dengan begitu kuat membuat tubuh Fanny melengkung mengangkat tubuh Ki Wongso yang menindihnya, kakinya menyepak-nyepak ke segala arah. Erangan yang begitu keras meluncur dari bibirnya. “AAAAAAAHHHHHKKKKHHHH… OOOHHHHH!!” Fanny menumpahkan segenap tenaganya untuk meledakkan orgasmenya yang seolah menghancurkan tubuhnya dari dalam. Vaginanya sedemikian kuat mencengkeram penis Ki Wongso membuatnya seperti dibetot oleh tangan yang begitu kuat. Ki Wongso akhirnya tidak tahan lagi. Dengan satu dorongan keras, dilesakkannya penisnya dalam-dalam ke vagina Fanny. “Ahhkk…” Ki Wongso mengejang tertahan, seketika spermanya menyembur membanjiri rahim Fanny. Setelah itu keduanya kembali lemas dan saling bertumpuk. Fanny membiarkan saja tubuh Ki Wongso menindih tubuhnya. Ki Wongso untuk terakhir kalinya meresapi kenikmatan tubuh Fanny dengan memeluk tubuh lembut itu, merasakan kehangatannya saat tubuh putih mulus itu menyatu dengan tubuhnya sambil sesekali mencium bibir Fanny. Setalah Ki Wongso selesai melepaskan hasrat seksualnya, sekarang giliran Pak Kades Wirya yang akan menyetubuhi Fanny. Pak Kades yang telah telanjang bulat itu lalu menarik pinggang Fanny dan membalikkan tubuhnya, kemudian ditariknya pinggang Fanny sehingga posisi pinggang Fanny lebih tinggi dari kepalanya yang menyentuh ranjang sehingga payudara Fanny menekan ranjang dan Fanny dalam posisi menungging, kemudian Pak kades mulai melesakkan penisnya ke dalam vagina Fanny dan mulai menggenjotnya dengan kuat. Pak Kades sudah terangsang saat menyaksikan adegan persetubuhan Fanny dengan Ki Wongso merasa tidak perlu lagi pemanasan, gerakan penis Pak Kades pada vagina Fanny makin lama makin kasar sehingga Fanny menjerit-jerit dan melolong histeris, batang kemaluan Pak Kades yang berukuran besar itu mengaduk-aduk liang kemaluan Fanny yang semakin lama semakin lemas. Fanny Tidak puas dengan gaya anjing, pak Kades membimbing Fanny untuk melakuakn gaya lain, dia duduk di atas ranjang sementara Fanny di atas pangkuannya dengan paha mengangkang dan posisi berhadapan. Dengan posisi duduk, buah dada Fanny tampak sangat menggairahkan, apalagi dengan tubuhnya yang ramping, tampak buah dadanya tergantung indah, padat dan berisi. Sambil menyetubuhi Fanny Pak Kades juga meremas-remas kedua belah payudara Fanny dengan bernafsu, kadang ia mendempetkan kedua buah dada itu lekat-lekat sehingga belahan payudara Fanny terbentuk indah di hadapannya. Semantara Fanny hanya dapat merintih-rintih dalam keadaan antara sadar dan tidak. Sambil terus memompa Fanny, ia tertawa-tawa disaksikan teman-temannya yang tidak sabar menanti giliran, sesekali Pak Kades juga mengulum bibir Fanny dengan gemas seolah ingin menggigit bibir mungil itu kuat-kuat. Fanny benar-benar tidak berdaya, dia hanya mengikuti naluri seksualnya tanpa mempedulikan apapun lagi, karena itu ketika Pak Kades berhenti memompa Fanny, secara refleks Fanny melenguh dan mulai menggerak-gerakan pantatnya sendiri agar tetap dikocok oleh kemaluan pak Kades yang terasa sesak di vaginanya. “Ehh.. Neng Fanny seneng ngentot juga rupanya,” Pak Kades tertawa mengejek di tengah lenguhannya. Pak kades tertawa sambil memeluk tubuh Fanny, tangannya mengelus-ngelus punggung putih mulus Fanny sementara buah dada Fanny yang kenyal terjepit di dadanya yang berbulu. Rupanya Fanny mendengar perkataan itu, wajah Fanny tampak memerah karena malu dan marah, lalu tubuhnya diam tak bereaksi, Tapi Pak Kades tidak tinggal diam, dia terus-menerus merangsang Fanny agar tetap berada dalam kendalinya. Pak Kades mencengkeram kuat-kuat kedua buah dada Fanny. Lalu dengan gerakan memutar, diremasnya payudara mulus itu dengan keras sehingga Fanny merintih-rintih antara sakit dan nikmat, sesekali pak Kades kembali menghentikan pompaannya, dan secara refleks kembali Fanny ganti menggoyangkan pantatnya maju mundur, selama beberapa saat hingga Fanny sadar dan dapat mengendalikan tubuhnya. Hal itu terjadi berkali-kali, bahkan saat pemuda itu mendorong tubuh Fanny hingga batang kemaluannya keluar dari liang kemaluan Fanny. Secara refleks diluar kemauan Fanny sendiri tubuh Fanny kembali merapat sehingga batang kemaluan itu kembali terbenam ke dalam liang vaginanya sambil kaki Fanny melipat erat seolah-olah takut lepas. Pak Kades semakin lama tampak semakin ganas memperkosa Fanny, hingga selang beberapa saat tampak tubuh Fanny berkelonjotan dan menegang, kedua kakinya mengacung lurus dengan otot paha dan betisnya mengejang, jari-jari kakinya menutup, dan nafas Fanny tak teratur sambil terus merintih keras dan panjang. Pak Kades semakin mempercepat gerakannya hingga akhirnya membuat Fanny merintih panjang. “Oooooohhhkkkkhh… ” seluruh tubuh Fanny menegang dan menggelinjang selama beberapa detik dan aku sadar bahwa Fanny sedang mengalami orgasme dahsyat dan kenikmatan luar biasa. Setelah berkelonjotan sesaat, tubuh Fanny tumbang dengan lemas di pelukan Pak Kades yang masih terus memompa Fanny yang telah lemas sambil tertawa senang. “Gimana rasanya Neng? Ngomong dong..” kata Pak Kades sambil terus menydok-nyodokkan penisnya di vagina Fanny. “Nikmaaatt eegg… .nikmaatt… … ennaaakkk… .” jawab Fanny sambil membiarkan kedua puting payudaranya dijilat dan digigit kecil oleh Pak Kades. “Neng Fanny nggak apa-apa kan kalau Bapak menghamili Neng Fanny..?” sebuah pertanyaan aneh meluncur dari mulut pak Kades. Dalam keadaan normal Fanny tantu akan marah mendengarnya, tapi dalam keadaan seperti sekarang ini, otaknya sudah tidak mampu berpikir dengan jernih. Fanny mengangguk-anggukkan kepalanya begitu saja. “Mau Paak..! Silakan bikin Fanny hamil.. Fanny mau dihamili sama Bapakk.. eeeggghhhhh… .aagghhhhh….” jawab Fanny. Pak kades tersenyum puas mendengar hal itu, dia membayangkan bagaimana mendapat anak dari seorang wanita cantik dan terpelajar seperti Fanny, hal itu membuatnya makin bersemangat menyetubuhi Fanny. Sampai setengah jam kemudian, setelah Fanny mengalami orgasme untuk kelima kalinya, Pak Kades melenguh dan menyemburkan spermanya ke dalam rahim Fanny. Giliran ketiga adalah Pak Jamal. Tuan tanah yang gemuk itu sudah sedri tadi bertelanjang bulat sambil mengocok-ngocok penisnya sendiri. Begitu sampai gilirannya, dia menarik Fanny yang terbaring memaksa Fanny untuk meneggakkan badan. Kemudian dia menyodorkan penisnya ke wajah Fanny. “Ayo Neng, sekarang Neng harus ngocokin punya Bapak.” Katanya sambil menyorongkan penisnya. “Neng doyan ngocok kan..?” Fanny hanya diam saja, tubhnya masih belum sepenhuhnya pulih dari orgasme, karena itu dia hanya menurut saja perintah Pak Jamal, segera dilingkarkannya jeri-jari tangannya yang lentik ke penis Pak Jamal, penis itu terasa penuh dalam genggaman Fanny. Kemudian dengan gerakan lembut, fanny mulai mengocok penis itu naik turun, semula gerakannya pelan, tapi lama lama makin cepat. Pak Jamal merasakan sensasi yang berbeda pada kocokan tangan Fanny yang lembut dibandingkan dengan tangannya sendiri. “Ohh.. emhh… yeahh… ohhh.. teruss neng.. Kocokannya Neng memang mantap.. ahhh..” Pak Jamal mulai mengerang-erang menikmati permainan jari lentik Fanny pada penisnya. “Kocokan gadis cantik memang beda..” kata Pak Jamal sambil membelai-belai rambut Fanny. Perlahan tangannya menyusur turun menyentuh payudara Fanny dan mulai meremasinya penuh nafsu. Sentuhan dan remasan tangan Pak Jamal pada payudaranya membuat Fanny kembali terangsang gairahnya, dia makin bersemangat mengocok-ngocok penis besar dan hitam itu. “Sekarang masukin ke mulutnya Neng Fanny..” perintah Pak Jamal. Fanny yang sudah mulai terbangkitkan gairahnya tidak malu-malu lagi. Diapun mulai memasukkan kepala penis itu ke mulutnya. Pak Jamal mendesah merasakan kehangatan mulut Fanny, sentuhan lidahnya memberi sensasi nikmat padanya. “Eeenngghh…aahh…aahh !” terdengar desahan Pak Jamal saat penisnya sedang dikenyot-kenyot oleh Fanny. Sesekali Fanny mengeluarkan penis itu dari mulutnya untuk dikocoknya pelan, kemudian dikulumnya lagi. Penis itu semakin mengeras dan berkedut-kedut di dalam mulut Fanny. Penis yang besar mengerikan itu tidak muat seluruhnya ke dalam mulutnya yang mungil, maka sesekali Pak Jamal menekan kepalanya agar bisa masuk lebih dalam lagi. “Lagi Neng, kurang masuk… aahhh…” demikian katanya sambil mulai mendorong-dorongkan pantatnya sehingga penisnya makin menekan mulut Fanny. “Aggh..aggh… .” suara Fanny terdengar tersedak oleh penis Pak Jamal. Tangan Fanny berusaha menahan pinggul Pak Jamal agar Pak Jamal tidak bisa memompa penisnya ke dalam mulut Fanny. Melihat itu, Pak Hasan yang rupanya sudah tidak tahan lagi dengan sigap bangkit dari tempatnya dan berlutut di belakang punggung Fanny. “Sini Pak.. saya bantuin biar Neng cantik ini cepat menurut..” ujar Pak Hasan kepada Pak Jamal, yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Pak Jamal. Pak Hasan yang ada di belakang Fanny mulai menuyusupkan tangannnya ke bawah ketiak Fanny, tangan itu kemudian meraba-raba payudara Fanny dengan lembut, kemudian payudra Fanny mulai diremas-remas dan diputar-putar oleh Pak Hasan, sesakali Pak Hasan juga mencubiti kedua puting susunya dan menarik-narik puting payudara Fanny dengan jari-jari kasarnya. Diperlakukan seperti itu, dimana Pak Jamal memompa paksa penisnya yang besar ke dalam mulut Fanny dan jari-jari Pak Hasan dengan lihainya mempermainkan kedua belah payudaranya, terlihat reaksi Fanny mulai berubah, dari yang tadinya tegang dan meronta-ronta, sekarang mulai rileks dan merima perlakuan Pak Jamal dan Pak Hasan terhadap tubuhnya yang mulus itu. Fanny mulai membuka mulutnya menyesuaikan dengan lingkar penis Pak Jamal yang sangat besar itu. Rupanya diperlakukan kasar oleh Pak Jamal dan Pak Hasan memberikan rangsangan tersendiri buat Fanny. Yang dirasakan oleh Fanny sekarang hanyalah rangsangan hebat pada sekujur tubuhnya, rasa nikmat pada vaginanya dan rasa ingin bersetubuh lagi. Tubuh Fanny mulai mengikuti gerakan Pak Jamal dan Pak Hasan, dan kepalanya tidak lagi harus dipaksa dan dipegangi oleh Pak Jamal. Sekarang malah Fanny dengan sukarela mengulum penis Pak Jamal yang besar dan menggerakkan kepalanya maju mundur melahap penis Pak Jamal. Beberapa menit kemudian Pak Jamal menghentikan pompaan penisnya pada mulut Fanny, Pak Hasan yang ada di belakang Fanny menarik tubuh Fanny dan membaringkannya terlentang di ranjang, Pak Jamal kemudian membuka kaki Fanny lebar-lebar, sehingga posisi Fanny telentang di atas karpet dengan kaki mengangkang lebar. Semua yang hadir terkagum-kagum melihat Fanny yang sangat cantik siap untuk disetubuhi. Pak Jamal kemudian langsung menindih tubuh Fanny sambil mengarahkan penisnya yang besar itu ke vagina Fanny. “Aagghh… ” erang Fanny ketika penis besar Pak Jamal mulai memasuki vaginanya. Pak Jamal dengan kasar langsung memasukkan penisnya sampai mentok ke dalam vagina Fanny yang sudah basah itu. Karena besarnya diameter penis Pak Jamal, vagina Fanny terlihat tertarik dan penuh dan menjadi berbentuk bulat melingkar ketat di penis Pak Jamal. Pak Jamal mulai memompa penisnya dengan cepat keluar masuk vagina Fanny. Fanny yang belum pernah vaginanya dipompa oleh penis sebesar penis Pak Jamal hanya bisa mengerang-erang dengan mata tertutup dan mulut sedikit terbuka. “Aaahhhh… ooohhhh… aaahhh… oohhhh…” Fanny mendesah-desah setiap kali Pak Jamal menggenjot vaginanya sambil menggelinjang-gelinjang dan kedua tangganya meremas-remas kain seprei. Pak Jamal semakin cepat memompa vagina Fanny dengan penisnya. Fanny tanpa sadar mengakkat kedua kakinya dan melingkarkannya di pinggang Pak Jamal memberikan kesempatan kepada Pak Jamal untuk terus memompa vaginanya dengan lebih cepat lagi. “Aaahh…… oohhh… .” Fanny mulai meracau dengan mata tertutup dan tangannya semakin keras meremas-remas kain seprei. Semua mata yang menonton setiap adegan persetubuhan antara Fanny dan Pak Jamal melotot dan terangsang hebat melihat bagaimana seorang pria setengah baya dengan perut buncit sedang menyetubuhi seorang wanita muda yang sangat cantik. Setelah 10 menit disetubuhi Pak Jamal, tiba-tiba badan Fanny mengejang, kedua kakinya dirapatkan menjepit pinggang Pak Jamal, tangannya memeluk erat leher Pak Jamal dan badannya terangkat cukup tinggi. “AAAAGGHHH… … .” erang Fanny mencapai orgasme yang sangat tinggi. Kemudian badan Fanny melemah, pelukan tangannya lepas dari leher Pak Jamal, kakinya yang tadinya memeluk pinggang Pak Jamal jatuh ke karpet, vagina Fanny yang tersumpal rapat oleh penis Pak Jamal terlihat mengeluarkan cairan sampai membasahi kain seprei. Tapi Pak Jamal belum mau cepat-cepat menyelesaikan kesenangannya. Masih dengan tubuhnya menyatu dengan tubuh mulus Fanny, Pak Jamal mendekap tubuh mulus itu dan berguling sehingga posisinya sekarang bertukar, tubuh putih Fanny sekarang berada di atas tubuh Pak Jamal dengan posisi agak melengukng karena perut Fanny tertekan oleh perut Pak Jamal yang buncit. Dengan posisi seperti itu, Pak Jamal memegang pinggang Fanny dengan kedua tangannya, lalu memaksa Fanny untuk bergerak sehingga penisnya yang masih membenam di dalam vagina Fanny kembali terkocok. Semula Fanny hanya mengikuti tarikan dan dorongan tangan Pak Jamal, tapi lama-lama, Fanny yang sudah terangsang hebat mulai menggerakkan tubuhnya sendiri sehingga saat Pak Jamal menghentikan gerakannya, secara refleks Fanny melenguh dan mulai menggerak-gerakan pantatnya sendiri agar vaginanya tetap dikocok oleh kemaluan Pak Jamal. “Hehehehe…Neng memang gadis pintar..” Pak Jamal tertawa sambil memeluk tubuh Fanny, tangannya mengelus-ngelus punggung putih mulus Fanny. Fanny tidak mempedulikan ejekan Pak Jamal. Dia terus menggerkakan pantatnya naik turun memompa penis Pak Jamal pada vaginanya. Mendadak Pak Hasan maju mendekat. Dipegangnya pantat Fanny sambil sesekali diremasnya bongkahan pantat yang mulus itu. “Nggak keberatan kan Pak Jamal kalau saya ikutan?” tanya Pak Hasan sambil sibuk meremasi pantat sekal Fanny. “Ohh.. tentu tidak Pak Hasan..” kata Pak Jamal di tengah usahanya menggagahi Fanny. Fanny terkejut ketika tangan kasar Pak Hasan membuka celah pantatnya. Sesaat kesadarannya pulih. “jangan paakk.. ampuun.. jangan di situ..” Fanny menggeliat mencoba berontak, tapi tangan Pak Jamal segera mendekapnya dengan erat membuatnya tidak bisa bergerak dalam pelukan Pak Jamal. “Nah… sekarang Bapak mau nyobain lubang pantatnya gadis kota..” sahut Pak Hasan sambil terkekeh-kekeh. “Jangan Paak……” tangis Fanny mulai pecah lagi, dia tersedu-sedu merasakan tangan Pak Hasan pada pantatnya. Pak Jamal tidak membiarkan Fanny berontak, dekapannya makin erat membuat Fanny terhimpit oleh dua pria sekaligus. Pak Jamal merentangkan kedua paha Fanny sampai terbuka lebar-lebar, “Jangan… jangan… .” tangis Fanny semakin keras. Seakan-akan tidak mendengarkan tangisan Fanny, kemudian Pak Hasan memegang kedua bongkahan pantat Fanny dan menguakkannya ke hadapan Pak Hasan. Tarikan Pak Hasan pada pantat Fanny itu mengakibatkan lubang pantat Fanny menjadi terlihat dan sedikit terbuka seakan-akan siap menerima penis Pak Hasan yang besar. “AAAHHHKKHHH….” Tiba-tiba terdengar jeritan Fanny. Rupanya Pak Hasan mulai memasukkan penisnya yang besar ke dalam lubang pantat Fanny. “Jangaaan… ampuun… saaaakiiittt..” teriak Fanny ketika secara perlahan tapi pasti penis Pak Hasan masuk ke dalam lubang pantatnya. “Uhhh… masih seret dan sempit nih..” kata Pak Hasan ketika seluruh penisnya sudah masuk ke dalam lubang pantat Fanny. Pak Hasan kemudian mengangkat pantat Fanny sedikitsehingga sekarang posisi Fanny makin menungging, di lubang pantatnya terbenam seluruh penis Pak Hasan yang besar. Untuk sesaat tidak ada pergerakan baik dari Pak Hasan, Fanny maupun Pak Jamal, mereka seakan-akan sedang berpose dalam posisi seperti itu. Rupanya Pak Hasan sedang memberikan waktu supaya Fanny terbiasa dengan keadaan dimana penis Pak Hasan yang besar didalam lubang pantat Fanny dan penis Pak Jamal berada di vaginanya. “Aaagg… aaggghhh… ” jerit pelan Fanny ketika Pak Hasan mulai menarik penisnya secara perlahan dari lubang pantat Fanny sampai tinggal kepala penis Pak Hasan yang masih terbenam dalam lubang pantat Fanny. “AAAAGGGHHHHHHH… ..” jerit Fanny dengan keras ketika secara tiba-tiba dan kasar Pak Hasan memasukkan kembali seluruh penisnya ke dalam lubang pantat Fanny. Sementara Pak Jamal juga mulai menggerakkan pantatnya sehingga penisnya kembali menyodok vagina Fanny. Kemudian Pak Hasan dan Pak Jamal mulai secara kompak memompa penisnya masing keluar masuk vagina dan lubang pantat Fanny. Pompaan mereka semakin lama semakin cepat, membuat tubuh Fanny tergoncang-goncang. Kepala Fanny bergoyang tidak beraturan karena nikmat yang dirasakannya. Kedua payudara Fanny dijilati oleh Pak Jamal dari bawah. Kedua tangan Pak Jamal memainkan puting Fanny seperti orang mencari sinyal radio. Selama hampir limabelas menit Kedua laki-laki gemuk itu menghimpit tubuh Fanny, tubuh putih mulus itu seperti daging dalam jepitan roti hamburger. Semua mata menayksikan tanpa berkedip bagaimana tubuh putih mulus Fanny terhentak-hentak di tengah jepitan Pak Jamal dan Pak Hasan. Perlahan Pak Hasan menyusupkan tangannya di ketiak Fanny, lalu dengan sebuah sentakan, dia dan Fanny bangun dan duduk dengan punggung Fanny melekat di dadanya sementara tangan kekarnya mengunci kedua lengan Fanny, posisi ini membuat jepitan vagina Fanny pada penis Pak Jamal terlepas. Kemudian dengan gerakan pelan, Pak Hasan merebahkan dirinya terlentang, masih dengan punggung Fanny menempel di dadanya, sehingga keduanya saling bertindihan dengan posisi tubuh Fanny terlentang di atas tubuh Pak Hasan, perut gendut Pak Hasan menekan punggung Fanny sehingga dada Fanny melengkung ke depan, membuat payudaranya mencuat menggemaskan sementara penis Pak Hasan mesih membenam di anus Fanny. Dengan posisi demikian, Pak Jamal jadi lebih leluasa, dia kemudian memegangi pergelangan kaki Fanny, lalu kedua belah kaki Fanny diangkatnya tinggi tinggi ke udara dan dibentangkannya ke samping, sehingga membentuk huruf V. Posisi itu membuat liang vaginanya membuka. Tanpa menunggu lebih lama, Pak Jamal kembali melesakkan penisnya ke dalam liang vagian Fanny. Dan kembali tubuh mulus Fanny digenjot oleh kedua laki-laki gendut itu dari dua arah. Genjotan demi genjotan penis kedua laki-laki itu pada anus dan vagiinanya benar-benar memaksa Fanny untuk kembali mengalami orgasme, tubuhnya mengejang-ngejang kuat, kedua tangan dan kakinya kembali meronta-ronta liar. Tapi kedua laki-laki itu tidak ingin Fanny terlalu cepat mencapai klimaksnya, sedapat mungkin mereka menahan agar Fanny tidak buru-buru mencapai orgasme. Selama hampir satu jam mereka menyetubuhi Fanny, tubuh mulus itu benar-benar sudah kepayahan, berulangkali orgasmenya tertahan membuat wajah Fanny memerah seolah akan meledak. Fanny berusaha sekuat tenaga untuk bisa kembali orgasme tapi selalu bisa dicegah. ‘Ohhgghhh… amm.. puunn. Paakk… oohh.. amm.. puuunnn.. sudaaah… oohh.. nggak tahaaaannn… ahhh.. mau sampai… ahh.. mau sampai…” Fanny merintih-rintih putus asa di tengah usahanya untuk bisa orgasme. Pak Jamal dan Pak Hasan tertawa-tawa mendengar rintihan Fanny yang tidak ubahnya seperti pelacur saja. “Mau konak ya Neng.. tunggu bentar lagi.. Bapak belum puas..” kata Pak Jamal di telinga Fanny, keduanya terus-menerus menggenjot Fanny yang sudah lemas. Tubuh fanny sekarang tidak ubahnya sebuah boneka kain yang terhentak-hentak dalam himpitan dua laki-laki tua yang sedang menyetubuhinya. Mata Fanny sudah sayu dan merem melek menerima kenikmatan yang rasanya tidak ada akhirnya. Badannya bergoyang erotis mengikuti sodokan penis kedua laki-laki tua itu pada vagina dan pantatnya. Terlihat sekali Fanny sedang menikmati permainan tersebut, Fanny menjadi tidak peduli dengan sekelilingnya. Fanny sudah tidak mempedulikan lagi suara-suara desahan tertahan dari penonton yang ikut terangsang menyaksikan adegan persetubuhannya dengan dua laki-laki sekaligus. Fanny berada di dunianya sendiri, tubuhnya sudah sepenuhnya dikuasai dorongan seksual. Fanny menggelinjang liar dan erotis, tubuhnya dibiarkan mengikuti apa maunya kedua laki-laki tua itu. Banyak dari penonton yang beronani sampai menyemburkan spermanya di tempat karena tidak tahan menyaksikan tubuh yang begitu putih, mulus dan sexy itu dihimpit dua tubuh laki-laki tua berbadan gemuk dan hitam. Setelah lebih dari satu jam dikerjai sedemikian rupa, akhirnya ketiganya tidak tahan lagi. Fanny lah yang pertama kali mencapai puncak orgasmenya. Tubuhnya mengejang luar biasa keras sambil kakinya menyentak-nyentak ke samping seperti kuda liar, tubuhnya melengkung seperti mendorong tubuh Pak Jamal yang berada di atasnya. “Aaaahhhhhkkhhhh… Oohhhhhhhh…” Fanny mengerang keras sambil tubuhnya menegang keras bagaikan patung batu, tangannya mengepal kuat-kuat, kepalanya sampai terdongak menengadah. Dari vaginanya kembali mengucur deras cairan kewanitaannya. Pada saat yang bersamaan Pak jamal dan pak Hasan juga mengejang. Keduanya menekan keras penis mereka kuat-kuat ke dalam vagina dan lubang pantat Fanny. “Ohhhhkk… Ahhh…” Diiringi desa penuh kenikmatan, Pak Jamal dan Pak Hasan menyemburkan sperma mereka ke dalam vagina dan anus Fanny, ketiganya mencapai puncak orgasme mereka secara hampir bersamaan. Tubuh fanny tergolek lemas di atas ranjang, setelah disetubuhi oleh tiga orang, tenaganya benar-benar habis. Fanny merasa seluruh tulang di tubuhnya seperti rontok dari sendinya, badannya terasa sakit skali, seolah baru saja dilindas oleh rombongan gajah. Pada saat itu, Ki Wongso, yang sekarang memakai kembali celana kolornya, mendekati Fanny yang terkapar leas sambil membawa sebuah piala perak berisi cairan hijau kental. Ki Wongso menegakkan tubuh Fanny dan menyodorkan piala itu ke bibir Fanny. Fanny dipaksa menelan cairan hijau aneh tersebut. Tenggorokan Fanny seperti terbakar oleh rasa pahit yang begitu pekat. Dia ingin memuntahkan kembali cairan itu, tapi Ki Wongso memaksanya menelan cairan itu. Dan entah apa isi piala itu, tapi pengaruhnya sangat besar pada diri Fanny. Tubuh Fanny seolah dialiri sebuah tenaga tambahan yang begitu menggelora, seperti ada yang baru saja menyalakan mesin pendorong dalam tubuhnya, tubuh Fanny langsung segar dan bersemangat. Matanya yang tadi begitu sayu sekarang kembali bersinar. Fanny juga merasakan detak jantungnya bertambah cepat dan tubuhnya kembali menghangat seperti ada api yang menyala di dalam tubuhnya. Perlahan nafasnya mulai tersengal-sengal dan wajahnya mulai memerah. Fanny merasakan vaginanya kembali berdenyut-denyut, desakan seksualnya secara mendadak meledak lagi, dibangkitkan oleh cairan yang baru saja diminumnya. Seketika Fanny mulai mendesah-desah dan berkeringat, gerakannya mendadak menjadi gelisah, Fanny perlahan mulai meremasi payudaranya sendiri dengan gerakan lembut. “Ohh… ohh… ahh…” Fanny mengerang-erang lirih sambil terus meremasi payudaranya sendiri, kemudian dia juga mengelus-elus vaginanya, jari-jari tangannya dimasukan ke liang vaginanya sendiri dan mengaduk-aduk liang vagina itu sambil seskali mendesah dan mengerang. Melihat hal itu, Amar yang sudah terangsang berat naik ke atas ranjang. “Ohh.. daripada Neng main sendirian, Neng main sama kita-kita yuk..” kata Amar sambil melepaskan celana kolornya. Seketika penisnya yang sudah sejak tadi tegang langsung menjulur keluar. Fanny yang terangsang berat tanpa ragu-ragu memegang penis itu dan mengocoknya dengan lembut. Sesekali penis Amar yang juga besar itu dijilatinya seperti sedang menjilati es krim, kemudian Fanny membuka mulutnya dan mengulum penis Amar yang berurat itu. Fanny menggoyangkan kepalanya maju mundur membuat penis Amar terkocok di dalam mulutnya. “Ohh.. yeahh… ahhh.. teruss Neng.. ahhh… oohh..” Amar mengerang merasakan kenikmatan kuluman dan kenyotan bibir Fanny pada penisnya. Serentak, Pak Sarta Sekretaris Desa dan Pak Arman si mantri hutan ikut naik ke atas ranjang, masing-masing membuka celananya dan menyorongkan penisnya ke wajah Fanny tiga batang penis besar dan legam menjulur di wajah Fanny seperti senapan yang siap ditembakkan. Fanny yang sangat trangsang akibat pengaruh cairan hijau yang diminumnya segera meraih penis-penis itu. Penis Amar ada di dalam mulutnya, penis Pak Sarta dalam genggaman dan kocokan tangan kanan sedangkan penis Pak Arman dikocoknya dengan tangan kiri. Fanny sekarang benar-benar sibuk melayani ketiga batang penis dengan mulut dan tangannya, secara bergantian dikulumnya penis-penis itu dengan mulut mungilnya sambil tangannya tetap mengocok ketiga penis itu bersamaan. Pak Sarta, Amar dan Pak Arman melenguh-lenguh penuh kenikmatan mendapatkan pelayanan tangan dan bibir Fanny. Kemudian Pak Arman yang penisnya paling besar diantara mereka bertiga mundur, dia menempatkan diri di belakang Fanny. Dia menyuruh Fanny untuk menunggingkan pantatnya sementara tangan dan mulutnya tetap sibuk mengocok dan mengulum penis Amar dan Pak Sarta. Posisi Fanny sekarang seperti merangkak dengan bertumpu pada lutut dan sebelah tangannya sedangkan tangan satunya lagi sibuk mengocok penis Pak Sarta dan bibirnya sibuk mengulum dan mengenyot penis Amar. Sambil mengocok dan mengngulum penis Pak Sarta dan Amar, Fanny merasa ada sesuatu yang basah di bawah sana, ternyata Pak arman sedang menjilati bongkahan pantatnya yang putih dan montok. Tubuh Fanny menggelinjang, apalagi waktu jari-jari tanagn Pak Arman bermain dengan vaginanya, setiap sentuhan jari pak Arman pada vagina Fanny membuatnya semakin terangsang. Tiba-tiba Fanny menghentikan kuluman dan kocokannya pada penis Amar dan Pak Sarta sambil mengerang tertahan, dia lepaskan sejenak penis Pak Sarta dari mulutnya. Wajahnya meringis karena di belakang sana Pak Arman mendorongkan penisnya yang besar dan legam ke vaginanya. “Aaahhh… oooohhh… oohh…!!” rintihnya dengan menengok ke belakang melihat penis itu pelan-pelan memasuki vaginanya. Fanny merasakan vaginanya penuh sesak oleh penis itu, benda itu bahkan menyentuh dinding rahimnya. Setalah diam beberapa saat, Pak Arman mulai menggenjot penisnya dengan cepat keluar masuk vagina Fanny. Fanny yang belum pernah vaginanya digenjot oleh penis sebesar penis Pak Arman hanya bisa mengerang-erang dengan mata tertutup dan mulut sedikit terbuka. “Aaahhhh… Oohhhhhhh…. Ahhhh…..” Fanny mendesah-desah penuh nikmat sambil menggelinjang-gelinjang dan kedua tangganya meremas-remas kain seprei. Pak Arman semakin cepat memompa vagina Fanny dengan penisnya. Sementra Pak Sarta dan Amar kmbali menyodorkan penisnya untuk dikocok dan dikenyot lagi oleh fanny. Dari belakang Pak Arman menggenjot vaginanya, sedangkan dari depan, sepasang penis besar mendesak-desak di dalam mulutnya secara bergantian. Setelah sepuluh menit pak Arman menggenjot vagina Fanny, dia memberikan isyarat untuk berganti posisi. Sekarang gliran Pak Sarta yang menyodok-nyodok vagina Fanny dengan penisnya. Pak Arman memompa vagina Fanny dengan kasar dan dalam tempo yang cepat. “Aaaaghh… egghhhh……” teriak Fanny mendapat perlakuan kasar dari Pak Sarta, tapi Amar dan Pak arman segera menyumbat mulut Fanny dengan penis mereka, membuat desahan dan rintihan Fanny hanya berupa gumaman-gumaman tidak jelas. Mendengar Fanny merintih-rintih seperti itu justru membuat Pak Sarta malah semakin bersemangat dan semakin keras menggenjot vagina Fanny dengan penisnya dari belakang. Tangan Pak sarta memegang pinggang Fanny dan mulai menarik maju mundur badan Fanny, sehingga pompaan penisnya dalam vagina Fanny semakin keras dan cepat. Badan Fanny maju mundur mengikuti pompaan keras penis Pak Arman. Setiap kali Pak Arman memasukkan penisnya sampai mentok ke vagina Fanny, terdengar teriakan Fanny yang teredam oleh sumpalan penis Pak Arman dan Amar. “MHGHH… ..MMHHHH… .OGHHH… ” suara erangan Fanny teredam oleh penis yang memenuhi mulutnya. Semakin cepat Pak Sarta memompa penisnya semakin cepat dan keras erangan Fanny. Sepuluh menit kemudian mereka kembali bertukar posisi, kali ini Amar yang kebagian jatah menggenjot vagina Fanny. Amar menggenjot tubuh Fanny dengan tidak kalah brutalnya membuat tubuh mulus itu terhentak-hentak ke depan. Dan begitu seterusnya setiap sepuluh menit sekali meeka berganti posisi. Karena terus menerus berganti-ganti posisi, maka mereka bertiga bisa bertahan sangat lama, entah berapa kali Fanny mengelepar-gelepar merasakan orgasmenya yang meledak berulang-ulang, tapi ketiga laki-laki tua itu seolah tidak akan berhenti menggenjot tubuhnya dari depan maupun belakang. Fanny merasa seperti sedang diperkosa oleh satu kompi tentara yang tidak pernah berhenti menggilir tubuhnya. Tiga jam lebih Pak Arman, Pak sarta dan Amar menyetubuhi Fanny, membuat tubuh Fanny tidak kuasa lagi bergerak, dia hanya mengikuti irama setiap genjotan pada tubuhnya tanpa daya, sementara orgasmenya entah sudah berapa kali terjadi. Perkosaan itu baru berakhir setelah keiga pria itu merasa benar-benar puas, mereka lalu menyemprotkan spermanya di dalam rahim Fanny secara bergantian. Tidak terasa hampir enam jam lamanya Fanny disetubuhi secara non stop oleh tujuh orang sekaligus. Tubuhnya serasa sudah mati, hanya rintihan lirih yang keluar dari bibir Fanny sementara dia hanya bisa terbaring di ranjang dengan lemas. Fanny pun tidak mampu berbuat apa-apa ketika Ki Wongso mengumumkan, bagi siapapun yang tidak bisa menahan nafsunya dibolehkan untuk menyemprotkan spermanya ke tubuh Fanny ang terbaring telanjang. Maka berbondong-bondong, ratusan warga desa yag memang sejak tadi tidak kuat menahan ejakulasinya secara bergantian mengocok-ngocok penis mereka di atas tubuh Fanny, lalu mereka menyemprotkan spermanya ke sekujur tubuh Fanny, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Setelah selesai acara persembahan itu, tubuh Fany sudah benar-benar tidak berdaya, sekujur tubuhnya yang putih mulus dan telanjang itu penuh berlumuran sperma, seolah Fanny baru saja mandi sperma. Upacara baru benar-benar selesai mejelang matahari terbit. Fanny hanya bisa menangis setelah kesadaranya kebali pulih. Penderitaan yang dialaminya semalam telah menghancurkan dirinya luar dalam, dia merasa benar-benar hina, lebih hina dari pelacur yang pling rendah, apalagi ketika teringat berapa banyak sperma yang disemprotkan ke dalam rahimnya, Fanny merinding dengan kemungkinan dirinya akan hamil mengingat malam itu adalah masa suburnya. Kalau dirinya hamil, dia tidak pernah tahu siapa yang menghamilinya diantara ketujuh pemuka desa itu. THE END

suka duka liburan

Filed under: RAMAI-RAMAI

Di hari Jumat ini, ketika sudah waktunya pulang sekolah, aku sudah akan berdiri dari kursi ketika Jenny memintaku menunggu sebentar. “El, jangan pulang dulu dong, bentar bentar! Kamu lagi mikirin apa sih El? Gini aku jelaskan lagi ya, besok Senin, Selasa dan Rabu kita kan libur.. yaaa aku tahu memang ada bazar, tapi kita bisa berlibur dulu kan, jadi baru datang hari Selasa dan Rabunya gitu”, Jenny berkata panjang lebar. Aku terbawa oleh sikapnya yang selalu riang itu, dan mendengarkannya sambil tersenyum.

“Gini nih Eliza, aku pinginnya, kita berlibur ke Tretes, tiga hari dua malam saja. Jadi besok sore kita berangkat, terus senin sore baru balik lagi ke Surabaya. Gimana El?”, tanya Jenny. “Memangnya kita mau pergi sendiri berdua Jen?”, aku bertanya heran. “Ya nggak lah El, kamu sih dari tadi nggak dengerin kita ngomong, ngelamun aja.. Lha ini Siany, Bella dan Rini ngumpul sama kita di sini buat apa?”, gerutu Jenny, dan ketiga temanku yang lain itu memandangku dengan cemberut.

Aku baru sadar kalau ada mereka bertiga ini yang sejak tadi ngobrol dengan kami berdua. “Aduh.. sori ya.. jadi, kita berlima ya Jen?”, tanyaku lagi. Jenny mencubit kedua pipiku dengan gemas, “Nih anak memang minta dijitaaak… Sherly juga ikut Eeel!”. Aku mengeluh manja, “Aduh Jen.. iya ampun…”. Kami semua tertawa dalam suasana yang riang. “Hei.. sori telat nih, aku tadi ada perlu bentar di kelas”, Sherly mendadak muncul mendekati kami yang masih duduk duduk di dalam kelas dan menyapa kami semua.

“Sudah lengkap ya semua… Jadi gimana nih? Kita tidur di mana nanti di Tretes? Sudah ada yang membooking vila? Atau kita tidur di hotel Surya?”, tanya Sherly setelah duduk bersama kami. Rini yang pada kelas 1 SMA sekelas denganku, langsung bertanya padaku, “El, langsung aja nggak pakai basa basi, kalau vila kamu dipakai nggak? Kalau nggak dipakai, bisa nggak kita menginap di vilamu?”. Aku agak terkejut mendengar kata kata Rini. “Vilaku…?”, aku mengguman dengan ragu.

“Iya El, kalau di vilamu gimana? Selain Rini, nggak ada yang pernah ke sana lho.. please yaa?”, Sherly menambahkan. “Iya nih El.. itu ide yang bagus kan. Kalau di vila Sherly, kayaknya bakal gak cukup..”, seru Jenny dengan bersemangat, tapi terhenti karena diam diam di bawah meja aku menendang kakinya. Jenny rupanya sadar juga, mengapa aku menendang kakinya. Jenny pasti baru ingat, aku pernah menceritakan padanya kalau aku pernah dikerjain oleh penjaga vilaku, pak Basyir itu.

Rini yang jelas tak tahu apa apa, menceritakan kalau pada perpisahan kelas 1 SMA dulu, semua siswi di kelasku menginap di vilaku, sedangkan yang siswa menginap di vila Andi. Oh.. teringat kepada Andi, aku jadi merenung. Orang yang telah menjatuhkan hatiku sejak di kelas 1 dulu, tapi kini aku berlumuran dosa. Aku tahu, Andi sendiri sebenarnya menaruh hati padaku. Sekarang kami sudah nggak sekelas, tapi Andi sering mencariku, dengan alasan untuk pinjam buku catatanku.

Aku yakin itu cuma alasan, karena aku tahu Andi sendiri adalah anak yang rajin, tak mungkin dia perlu pinjam buku catatanku. Hal ini memang yang membuat aku tadi melamunkan Andi, yang baru saja meminjam buku catatan pelajaran Fisika dariku. Selain itu, Andi sering salah tingkah kalau ada di dekatku, ia tak pernah mampu menatapku lama lama. Oh seandainya saja Andi tau, aku juga suka padanya… tapi kini, aku sudah berlumuran dosa.

“Gimana El?”, pertanyaan Sherly membuyarkan lamunanku. “Oh… itu ya”, aku tergagap, dan memandang sekelilingku. Selain Jenny, mereka semua terlihat berharap untuk menginap di vilaku, dan ini membuatku tak enak untuk menolak. “Ya sudah, aku telepon penjaga vilaku dulu yah, aku suruh siapkan dua kamar untuk kita. Kita tidurnya bertiga bertiga ya?”, kataku sambil mengambil handphoneku dari dalam tas sekolahku, walaupun sebenarnya perasaanku tak karuan. Ini kan sama saja seperti aku menyerahkan diriku kepada pak Basyir?

“Asyiik..”, seru ketiga temanku, sedangkan Jenny tersenyum ragu, sementara Sherly duduk di kursi sebelahku, ia memelukku dan berkata, “Thanks ya Eliza”. Aku agak tersengat, karena aku merasakan payudara Sherly menekan payudaraku, membuat mukaku rasanya panas. “Mmm…”, aku memejamkan mataku, tapi aku langsung sadar aku tak boleh larut oleh perbuatan Sherly ini. “Iya nggak apa apa kok Sher, bentar aku telepon dulu nih”, kataku sambil mencoba melepaskan pelukan Sherly dengan agak panik, masa Sherly memelukku dengan semesra ini di depan teman teman?

Sherly melepaskanku, mungkin sungkan juga karena di sini ada teman teman kami yang lain. Kemudian aku segera menelepon penjaga vilaku, pak Basyir. “Halo, pak Baysir ya… Pak, ini Eliza, besok aku dan teman temanku mau menginap di vila, tolong siapkan kamarku dan kamar di seberangnya ya, yang lain nggak usah.”. Pak Basyir menjawab, “Beres non Liza, aduh, senangnya bapak bisa lihat non Liza lagi…”. Aku segera memotong kata kata pak Baysir yang mulai melantur ini, “Ya sudah, terima kasih pak”.

Aku cepat cepat memutus pembicaraan ini dengan gelisah, membayangkan besok saat aku menginap di vila keluargaku, berarti aku mau tak mau pasti bertemu dengan pak Basyir. Jujur saja aku bahkan masih merasa panas dingin kalau teringat aku dipermainkan oleh pak Basyir sampai aku tak kuat dan memohon mohon untuk diantar menuju orgasme, dan aku masih teringat jelas, di hari terakhir sebelum pulang aku malah membuang harga diriku dan menyerahkan tubuhku pada penjaga vilaku yang sudah tua itu.

Tapi aku tak mau memperlihatkan kegelisahanku kepada mereka. Aku berusaha tersenyum pada mereka. “Ya udah, besok kita berangkat. Tapi mobilku kan nggak cukup kalau diisi kita semua, bagaimana ini?”, tanyaku pada mereka. “Tenang aja, Eliza. Aku bisa bawa mobilku, jadi kita bawa dua mobil ke sana. Rumah Rini kan dekat Jenny, jadi kamu jemputin Jenny dan Rini aja El. Nanti aku jemput Siany dan Bella, terus kita ketemuan di hotel Surya dulu ya, vilamu kan dekat sana El”, kata Sherly panjang lebar.

“Iya boleh”, aku mengangguk setuju. Rini bertanya, “Besok kan kita pulang lebih awal, jadinya kita berangkat jam berapa?”. Siany langsung menyambung, “Sebaiknya nanti malam kita sudah bersiap siap, besok jam satu siang kita langsung berangkat, jadi kita nggak kemalaman waktu sampai di vila nanti”. Bella yang kutu buku itu bertanya juga, “Kita nggak perlu bawa bantal guling tambahan?”. Aku langsung melarangnya, “Nggak usah Bel, di sana ada cukup bantal guling juga selimut buat kita semua”.

Maka semua sudah diputuskan, besok kami akan berangkat setelah makan siang. Rini, Siany dan Bella berpamitan pulang duluan pada kami. Jenny sendiri sudah menelepon sopirnya, “Pak Hari, aku nggak usah ditunggu, aku nanti pulang sekolah ikut temanku saja, soalnya ada perlu nih… … ya sudah, makasih pak”. Lalu dengan riang Jenny berkata padaku, “El, abis ini temani aku beli camilan buat besok ya”. Aku sudah kembali terbawa oleh sikap Jenny yang riang ini, dan aku mengangguk senang.

Ketika aku berdiri, Sherly juga berdiri dan menggandeng tangan kananku, sedangkan Jenny juga sudah menggandeng tangan kiriku, dan kami semua berjalan keluar dari kelas ini. Selain Jenny, kini Sherly juga sudah menjadi teman akrabku sejak tiga minggu yang lalu ketika aku mengantarkan buku titipan Jenny, dimana Sherly waktu itu bahkan sudah akan menelanjangiku. Hal ini sempat membuatku teringat akan perkosaan yang brutal terhadap diriku setelahnya di hari itu juga, oleh selusin siswa STM kelas 3 itu.

Tapi kedua temanku ini tentu tak pernah mengetahui kalau aku sejak tadi selain gelisah membayangkan nasibku besok malam di vila, aku juga gelisah melihat Girno, satpam sekolah kami yang mondar mandir di lorong depan kelasku ini, dan sesekali ia menatapku dari sana. Maka ketika kami berpapasan dengan Girno yang menatapku dengan pandangan lapar, aku hanya menundukan kepalaku dengan tegang mengikuti gandengan Jenny dan Sherly, aku sungguh takut Girno akan berbuat macam macam.

Untung saja tak terjadi apa apa sampai kami semua tiba di luar sekolah. Aku akhirnya sudah tiba di depan mobilku. “Ya sudah El, aku pulang dulu ya”, kata Sherly sambil mencium pipiku. “Iya Sher, see you”, jawabku dengan muka yang terasa panas. Apalagi ketika di dalam mobil, Jenny menggodaku, “Cieee.. mesra amat Sherly dengan kamu, El?”. Aku menunduk malu, dan menjawab, “Mana aku tahu Jen?”. Jenny tertawa sambil menggodaku, “Sherly jatuh cinta sama kamu kali, El”.

Aku segera mengalihkan topik yang gawat ini, “Ah kamu ada ada aja Jen. Udah ah, kita kemana nih?”. “Kita ke Bonnet aja Jen, beli camilan yang banyaaak sekali, jadi kita nggak bakal mati kelaparan di vila besok”, kata Jenny dengan lucu, membuatku tertawa geli. “Ya nggak sampai mati kelaparan lah Jen, paling juga kita cuma mati kebosanan”, godaku. Jenny tertawa dan menyambung, “Tapi kan jadinya nanti kita tetap mati di vila? Nggak deh. Ya udah ayo kita berangkat El”.

Aku segera menjalankan mobilku ke Bonnet, menemani Jenny memborong banyak sekali makanan dan minuman ringan, dan setelah kami membayar semua belanjaan yang sampai harus dibungkus dalam 4 plastik besar ini, aku mengantar Jenny pulang ke rumahnya. “Ya udah, see you Eliza”, pamit Jenny padaku. “See you Jenny”, aku juga pamit padanya dan menjalankan mobilku ke rumah. Aku harus segera menyiapkan perlengkapan untuk berlibur ke vila besok.

Sampai di rumah, semua belanjaan itu tidak kuturunkan, karena toh besok harus kubawa juga. Aku turun dari mobil, dan aku menggeleng gelengkan kepalaku saat melihat Wawan dan Suwito yang sudah mendekatiku dan menyergapku di garasi ini. Perbuatan mereka menunjukkan kalau tak ada siapa siapa di rumah, dan aku hanya pasrah mengikuti kemaua mereka saat aku digiring ke kamar mereka berdua. “Kalian ini, nggak bisa kali ya melihat aku menganggur?”, aku mengomel pada kedua pembantuku ini.

“Habis, siapa suruh nona kok cantik begini”, Wawan menggombal. “Kurang ajar!, Terus memangnya kalau aku cantik itu berarti salahku? Dan kalian jadi boleh berbuat begini padaku mmpph…”, omelanku yang kulontarkan dengan pura pura ini terputus ketika Suwito sudah melumat bibirku dengan gemas. Tak lama kemudian baju dan rok seragam sekolahku, berikut bra dan celana dalamku sudah berserakan di lantai, dan Dan begitu aku terbaring di kasur, Wawan dengan tak sabar sudah berada dalam posisi siap tempur.

Kedua pahaku diangkat ke atas dan dipeluk oleh Wawan, lalu dengan cepat ia membenamkan penisnya dalam liang vaginaku, membuatku melenguh pelan menahan rasa nikmat ini. “Non Eliza sendiri… yang membuat kami tambah bernafsu gini… pakai pura pura ngomel segala… nih…”, kata Wawan di antara dengusannya, ia menatapku dengan gemas penuh nafsu saat menghunjamkan batang penisnya kuat kuat.

“Annnnghhhh…”, aku mengerang keenakan dengan manja, sedikit rasa sakit yang yang bercampur dengan kenikmatan yang melanda selangkanganku ini memaksa tubuhku menggeliat. Suwito memanfaatkan terbukanya mulutku saat aku mengerang tadi, ia langsung menjejalkan penisnya ke dalam mulutku. Dengan erangan dan lenguhan tertahan, aku kembali harus menjadi budak seks mereka berdua, hal yang sudah biasa terjadi kalau aku pulang saat tak ada papa, mama ataupun kokoku di rumah.

“Mmmppphh…”, aku merintih keenakan saat Wawan makin kencang memompa liang vaginaku. Tubuhku mulai bergetar, sementara Suwito sendiri sudah melenguh lenguh, “Onnnggghhhh.. non Elizaaa….”, penisnya berkedut dan menyemburkan spermanya dalam mulutku. Aku menelan semuanya, menjilati dan menyedot penis itu sampai Suwito mengejang ngejang dan melolong lolong minta ampun, dan begitu aku menghentikan seruputanku pada penis itu, Suwito ambruk lemas ke lantai.

Dan kini Wawan menggenjotku dengan bebas, membuatku terus dihajar badai kenikmatan, dan ketika akhirnya Wawan menyemprotkan spermanya dalam liang vaginaku, aku sudah dibuatnya orgasme sampai dua kali. Dengan lemas, aku membuka mulutku dan mengulum penis Wawan. Setelah kubersihkan penisnya pembantuku yang keranjingan ini, aku berdiri meskipun betisku rasanya pegal, lalu kupungut baju seragamku dan kukenakan di depan mereka. Aku mengancingkan bajuku dengan gerakan perlahan.

Sesekali aku melihat mereka berdua, dan aku tahu mereka meskipun masih lemas karena baru ejakulasi, nafsu mereka sudah kembali menggelora melihat amoy cantik yang telanjang di depan mereka sedang mulai berpakaian. Setelah semua kancing bajuku terpasang, aku mengenakan rok seragamku, sengaja aku berlama lama saat menarik rok itu ke atas pinggang, membiarkan mereka melotot melihat paha mulusku yang perlahan tertutup oleh rok abu abu ini.

“Sudah, aku naik dulu.. dasar kalian ini..”, aku menggerutu dengan suara manja, dan aku sengaja menatap mereka berdua dengan pandangan menggoda, hingga mereka berdua melihatku dengan makin bernafsu. Sengaja aku tak mengenakan bra dan celana dalamku, yang kini baru kupungut dari lantai, lalu aku sengaja memutar tubuhku ke arah luar kamar hingga rambutku berkibar mengikuti gerakan kepalaku, yang aku tahu hal ini merupakan pemandangan yang terlalu indah dan sexy buat mereka berdua.

“Wan.. nona kita itu kok bisa cantik kayak gitu ya?”, kudengar suara Suwito, lalu kudengar Wawan menambahkan, “Sudah cantik, sexy, wangi lagi… memeknya itu lho, ngangenin…”. Lalu kudengar Suwito berkata lagi, “Non Eliza itu badannya kecil, tapi kuat sekali ya, bisa tahan kita ajak main berlama lama”. Duh, memang kalo orang dapat pujian, harusnya bangga. Tapi kalau pujian yang macam begini ini, kalau sampai terdengar ke telinga orang luar, mau ditaruh di mana mukaku ini?

Aku mempercepat langkahku, mukaku rasanya panas, dan aku menggigit bibir sambil tersenyum malu mendengar percakapan mereka. Sampai di kamar mandi, aku keramas dan membersihkan seluruh tubuhku, dan yang pasti juga liang vaginaku. Setelah mengeringkan rambutku dan juga tubuhku, aku memakai baju santai dan menyalakan AC kamarku karena rasanya panas. Lalu aku mengepak bajuku secukupnya dan keperluanku ke dalam tas, dan tas ini kusembunyikan di dalam lemariku.

Hal itu kulakukan karena aku takut kalau sampai kedua pembantuku yang keranjingan ini tahu aku akan pergi menginap selama 3 hari 2 malam di tretes, aku bisa diperkosa mereka sampai pagi. Aku lalu berbaring di ranjangku, rasanya malas untuk turun makan siang. Dan mungkin karena aku baru saja disuapi sperma Suwito yang berejakulasi di dalam mulutku saat kuoral tadi, juga tambahan sedikit sisa sperma di penis Wawan yang berejakulasi dalam liang vaginaku, jadi aku tak merasa begitu lapar.

Maka aku memilih tidur siang, mengistirahatkan tubuhku yang baru dipakai oleh kedua pembantuku untuk memuaskan hasrat mereka. Mungkin salahku juga tadi telah menggoda mereka dengan keterlaluan, dan aku harus membayar perbuatanku tadi karena aku lupa mengunci pintu kamarku. Rasa nikmat pada selangkanganku perlahan menyadarkanku dari tidur. Kurasakan liang vaginaku terbelah oleh sebatang penis yang amat keras, dan penis itu terus melesak masuk, membuatku menggeliat perlahan.

“Ngghh.. Wan… kamu itu memang kurang ajar kok… oooh…”, aku mulai mengomel di antara lenguhan dan desahanku, ketika aku sudah benar benar terbangun dan melihat Wawan yang sedang asyik memompa liang vaginaku. Kulihat jam di kamarku, sekarang sudah setengah lima sore. Oh.. lama juga tadi tidur siangku. “Habis enak sih non Eliza”, jawab Wawan dengan penuh nafsu. Suwito yang baru datang, seperti biasa mendekatiku dan meminta servis oralku. Aku hanya bisa pasrah melayani mereka berdua yang baru berhenti menggumuliku ketika mendengar deru mesin mobil orang tuaku di garasi.

Keduanya meninggalkanku yang masih tergolek lemas di atas ranjangku. Dengan malas aku bangkit dan kembali masuk ke kamar mandi untuk mandi keramas, juga membersihkan liang vaginaku. Setelah aku mengeringkan rambutku dan tubuhku, aku memakai baju tidur dan turun untuk menyapa papa mama dan kokoku, sekaligus makan bersama. Di sela sela saat makan, aku menyampaikan maksudku untuk berlibur bersama teman temanku ke vila besok selama tiga hari. Papaku menanda-tangani surat permohonan yang aku buat untuk meminta ijin tidak masuk pada hari Senin besok ini.

Setelah selesai makan, mamaku memanggilku sebentar. “Iya ma?”, aku bertanya ketika aku sudah berada di depan mamaku. “Eliza, ini buat kamu liburan besok”, kata mamaku sambil memberikan sejumlah uang padaku. “Duh, terima kasih maa… Eliza tidur dulu ya ma”, aku memeluk mamaku yang tersenyum melihatku begitu senang, dan aku mencium kedua pipinya dengan rasa terima kasih. Lalu aku kembali ke kamarku. Aku belum begitu capai ataupun mengantuk, tapi aku tahu aku harus menyimpan tenaga, karena besok aku pasti akan jatuh ke dalam cengkeraman penjaga vilaku itu

Aku sedang saling mengganggu dengan Jenny di kantin sekolah ketika bel tanda berakhirnya jam istirahat yang kedua ini berbunyi. Kami masuk ke dalam kelas dengan riang, karena hari ini sekolahku memberlakukan jam pendek, 30 menit saja untuk setiap jam pelajaran. Setelah jam istirahat yang ke dua ini, tinggal dua jam pelajaran saja, yang artinya kami akan pulang satu jam lagi. Dan kelas kami makin kacau ketika guru yang mengajar kimia menyuruh kami belajar sendiri.

Aku, Jenny, Rini, Siany dan Bella mengobrol tentang rencana kami nanti sore. Selagi kami mengobrol, tiba tiba pak Edy, wali kelas kami yang sekaligus guru geografi itu masuk ke dalam kelas. Kami semua langsung diam, karena wali kelas kami ini termasuk galak. “Anak anak, jangan terlalu ribut, nanti kalian mengganggu kelas lain! Jam pelajaran saya yang berikut ini, kalian belajar sendiri”. Maka kembali semua teman temanku bersorak senang, hanya aku yang bersikap cuek, aku memang muak pada wali kelasku ini.

“Eliza, saya minta kamu segera menuju ke ruangan saya. Ada beberapa hal tentang bazar yang diadakan mulai besok Senin ini, yang bapak ingin bahas dengan kamu selaku bendahara kelas!”, kata pak Edy kepadaku. Jantungku berdegup kencang, dan aku menjawab, “Iya pak”. Aku berdiri mengikuti Pak Edy, entah kenapa aku punya firasat buruk. Sampai di ruangan pak Edy mempersilakanku untuk duduk. Aku menurut saja walaupun jantungku terus berdegup kencang.

“Pak, apa apaan ini?”, tanyaku panik ketika pak Edy mengunci pintu ruangannya, lalu duduk di kursinya. Ia menatapku dan bertanya, “Eliza! Kamu tahu salahmu?”. Aku menggeleng perlahan. “Tidak tahu pak… Apa saya pak? Saya sungguh tidak mengerti”, jawabku dengan bingung. Pak Edy berkata, “Saya tahu dari temanmu Siska yang juga wakil bendahara di kelas, bahwa kamu besok Senin hendak membolos”.

Aku amat terkejut, “Lho pak, Senin besok itu kan cuma bazar, dan bazar itu tiga hari lamanya. Harusnya tidak apa apa kan pak, jika saya tidak datang sehari saja?”. Tapi pak Edy terus menekanku, “Tidak apa apa Eliza, kalau kamu bukan staff kelas. Kamu ini ketua bendahara kelas! Kalau hari itu kelas membutuhkan dana untuk keperluan bazar, siapa yang bertanggung jawab?”.

Aku merasa alasan itu terlalu dibuat buat oleh wali kelasku ini. “Pak, justru itu kan saya sudah menitipkan buku dan kas kelas pada Siska selaku wakil bendahara. Lagipula, Selasa saya kan sudah masuk”, aku coba menjelaskan. “Tidak sesederhana itu Eliza. Kalau saya memberikan ijin, nanti itu akan jadi perseden buruk buat yang lain. Bisa saja nanti ketua koordinator yang mengatur stan kelas kita seenaknya minta ijin seperti kamu, dan menyerahkan pada wakilnya! Mau jadi apa stan kita di acara bazar nanti?”.

“Pak, itu kan lain. Keberadaan ketua koordinator itu memang penting, karena dia yang mengerti apa saja kebutuhan untuk mengatur keberadaan stan. Kalau saya kan cuma bendahara, yang jelas sekali tak ada kaitannya dengan bazar besok. Kalaupun memang ada dana yang diperlukan, saya kira juga tidak segawat itu kalau saya tidak ada. Lalu perlu apa ada wakil bendahara kalau saya harus selalu ada? Lagipula pak, saya keberatan jika bapak bilang saya membolos, itu kan surat permohonan saya yang sudah ditanda tangani orang tua saya?”, aku mulai terbawa emosi dan berkata dengan nada keras.

“Tidak bisa! Saya sudah memutuskan, kalau kamu harus hadir besok Senin. Saya punya hak untuk menolak surat permohonan kamu, dan orang tuamu akan saya telepon sekarang juga, supaya mereka bisa membantu saya memastikan kamu datang besok Senin!”, kata pak Edy, dan ia sudah mengangkat telepon di mejanya. Aku mulai panik, terbayang acara liburan yang berantakan gara gara wali kelas sialan ini. “Pak Edy, saya mohon, biarkan saya minta ijin untuk satu kali ini saja pak”, kataku dengan memelas.

Pak Edy meletakkan gagang telepon, lalu menatapku dalam dalam. “Kenapa saya harus menuruti keinginan kamu Eliza? Apa untungnya buat saya”, tanya pak Edy. Pertanyaan ini membuatku tersudut. “Apa yang bapak inginkan?”, tanyaku dengan suara pelan, aku sudah bisa menebak apa yang diinginkan wali kelasku yang bejat ini. “Eliza, saya cuma memberikan kamu satu kesempatan untuk memberikan tawaran yang sekiranya bisa menyenangkan saya..”, tanya pak Edy sambil menyeringai mesum.

Jantungku berdegup kencang, aku tahu aku harus memberikan penawaran terbaikku. “Baiklah pak…”, aku memejamkan mata sesaat untuk menguatkan hatiku, lalu aku berdiri, dan mulai melepas kancing baju seragamku satu per satu. Kulepaskan baju seragamku dan juga bra yang membungkus payudaraku. Lalu saat aku melanjutkan melepas rok seragamku, pak Edy berdiri, rupanya ia sudah tak sabar lagi dan mendekatiku. Kedua payudaraku yang sudah tak terlindung bra ini diremas dengan kasar oleh pak Edy.

Aku menggigit bibir dan memejamkan mata menahan sakit, sambil terus melepas rok seragamku. Ketika aku sudah membungkuk untuk melorotkan celana dalamku, keadaan menjadi lebih buruk. Tiba tiba aku melihat sebatang penis sudah mengacung tegak ke arah mulutku, dan aku tahu siapa pemilik penis berukuran raksasa itu, Girno, satpam sekolahku yang akhir tahun lalu merenggut keperawananku di UKS. Dengan marah aku menoleh ke pak Edy yang masih asyik meremasi kedua payudaraku dari belakang.

“Apa apaan ini pak Edy? Aah… Mmpphh…”. Kata kataku tersumbat ketika Girno sudah menolehkan kepalaku menghadap selangkangannya, lalu menahan kepalaku dan menjejalkan penisnya ke dalam mulutku. Aku hanya bisa mengerang tak jelas ketika penis raksasa itu mulai menyodok sampai ke tenggorokanku. Girno mengerang keenakan, sedangkan aku amat menderita. Dalam hati aku mengutuk pak Edy, dasar guru biadab, masa sampai hati menjebakku dan memperkosaku bersama satpam sekolah?

Pak Edy menghentikan remasannya pada kedua payudaraku, aku tahu ia pasti sedang melepas celananya, untuk memamerkan keimpotenannya itu. Aku yang sekarang dalam keadaan menungging, tak perduli ketika merasakan penis pak Edy yang tentu saja masih tetap kecil dan agak lembek itu kesulitan untuk menembus liang vaginaku. Mungkin karena tak cukup keras, jadi pak Edy kesulitan menerjangkan penisnya, tapi ia terus berusaha sambil mengeluh, “Kok nggak bisa masuk ya?”.

Mungkin jika aku tidak sedang sangat kesal oleh kebiadaban pak Edy, dan juga menderita oleh sodokan penis Girno yang memompa tenggorokanku, aku bisa tertawa geli karena ulah pak Edy yang konyol ini. Setelah beberapa menit berusaha, akhirnya penisnya yang sedikit lebih tegang daripada waktu pertama berusaha tadi berhasil membuka bibir vaginaku. Perlahan penis yang pendek itu masuk membelah liang vaginaku, dan pak Edy mengerang keenakan.

Mungkin karena pendek, kecil dan sedikit empuk, genjotan yang dilakukan pak Edy ini tak begitu mempengaruhiku. Dan untung saja, pak Edy masih tetap pak Edy, tak sampai tiga menit, ia sudah mengerang panjang, “Oooohh…”. Penisnya yang baru berkedut itu langsung menyemburkan sperma membasahi liang vaginaku. Lalu wali kelasku yang tak bermoral ini menarik lepas penisnya.

Aku tak tahu apa yang dia lakukan, karena mataku sudah mulai berkunang kunang, sulit sekali bernafas dalam keadaan tenggorokanku dipenuhi penis raksasa ini. Untungnya, melihat vaginaku sudah menganggur, Girno menarik penisnya dari mulutku. Aku jatuh berlutut dan terbatuk batuk sambil memegangi leherku, sakit sekali rasanya tenggorokanku. Tapi aku tak bisa beristirahat, Girno segera membalikkan tubuhku hingga aku terbaring telentang, dan ia berkata, “Giliranku, non Eliza!”.

Lalu dengan tanpa belas kasihan sama sekali, penis berukuran raksasa itu diterjangkan Girno ke dalam liang vaginaku. Aku mengerang panjang kesakitan. Meskipun sudah ada cairan sperma pak Edy yang seharusnya sudah cukup membantu melumasi liang vaginaku, tapi tetap saja penis sebesar milik Girno ini amat menyiksaku, rasanya tubuhku seperti dirobek jadi dua bagian, kepalaku seperti mau pecah saja.

“Paaak… tolong pelan pelan pak…”, keluhku, dan Girno melambatkan irama sodokannya, hingga aku perlahan mulai bisa beradaptasi. Setelah rasa sakit di liang vaginaku mulai berkurang dan mulai timbul rasa nikmat, tanpa sadar aku mulai melenguh. “Ngggh.. aduuh…”, aku melenguh ketika merasakan berulang kali dinding rahimku terkena ujung penis Girno yang mentok sampai ke dalam. Aku mulai menggeliat keenakan, walaupun aku mulai ngeri melihat Girno menatapku dengan amat bernafsu.

“Dari kemarin…”, kata Girno sambil menghunjamkan penisnya dengan gemas. “Ngghh…”, aku melenguh. “Melihat kamu… di kelas…”, sambung Girno sambil menarik penisnya sampai tinggal kepala penisnya yang terjepit liang vaginaku hingga aku menggeliat. “Menunggu kamu sampai lama…”, kata Girno dengan gemas dan penisnya kembali menghunjam dalam dalam. “Aduuuuh…”, aku merintih antara keenakan dan kesakitan, dan aku teringat kalau kemarin memang Girno sempat memandangiku dari luar kelas.

“Kamu tahu kan…”, Girno terus menyiksa diriku, ia menarik penisnya sampai sebatas kepala penisnya. Dan tanpa memperdulikan aku yang hanya bisa merintih, lagi lagi penis itu menghunjam begitu dalam saat Girno berkata, “Kalau aku sudah sangat kepingin memek kamu?”. Aku menggeliat hebat dan melenguh, “Ngghh… ampun paak…”. Aku mulai kehilangan kesadaran dan sudah tak bisa mendengar dengan jelas lagi, aku hanya bisa melenguh saat Girno entah meracau tentang apa sambil terus membuat tubuhku tersentak sentak mengikuti irama hunjaman demi hunjaman penisnya ke dalam liang vaginaku

Entah berapa lama Girno menyiksaku seperti ini, sampai aku merasakan otot vaginaku mengejang dengan hebat, dan tanpa ampun lagi akhirnya aku berkelojotan, kedua betisku melejang lejang. “Ngggghhh… nggghhhh…”, lenguhanku entah mungkin bisa terdengar sampai ke luar ruangan ini, tapi aku sudah tak mampu menahan kenikmatan yang melanda vaginaku, rasanya cairan cintaku di dalam sana membanjir tak karuan mengiringi orgasme ini. Nafasku hampir putus rasanya, dan aku merasa amat lelah.

Orgasme yang baru saja melandaku ini membuatku lemas, dan untungnya Girno langsung orgasme beberapa detik kemudian. Penisnya berkedut keras, dan siraman spermanya dalam rahimku seperti meringankan rasa pedih yang sempat melanda vaginaku ini. “Oooh.. enaknya… kesampaian juga akhirnya sejak kemarin kepingin menikmati memek kamu, Eliza..”, kata Girno dengan nafas tersengal sengal. Aku tak menanggapinya, dan mengumpulkan segenap kekuatanku lalu berdiri.

“Pak Edy, sekarang tolong jangan persulit saya pak. Bapak tadi sudah berjanji”, kataku dengan memohon. Dengan senyum yang menjijikkan, pak Edy berkata, “Cium bapak dulu Eliza, dan kamu boleh pergi”. Aku yang sudah kepalang tanggung, menuruti permintaan guru bejat ini, kucium bibirnya dan bau mulutnya yang tak enak segera menyerangku, juga payudaraku diremasnya dengan kuat. Tapi aku bertahan sekuat tenaga supaya tidak muntah. Dan setelah dia puas, selesailah penderitaanku di ruang kerja pak Edy ini.

Aku mengambil tissue, dan melap cairan sperma yang belepotan di selangkanganku. Sebenarnya ingin kulemparkan tissue yang baru kupakai itu ke muka pak Edy, tapi aku tak ingin mendatangkan masalah. Dengan sebal kubuang tissue itu ke tong sampah, lalu aku mengenakan bra dan celana dalamku, juga baju dan rok seragamku. “Terima kasih pak, saya keluar dulu”, aku berpamitan, terpaksa sopan. “Terima kasih kembali Eliza, terutama buat servisnya”, kata pak Edy dengan gaya mesumnya, diiringi tawa Girno.

Aku melangkah keluar dari ruangan wali kelasku, dengan langkah yang kuusahakan sewajar mungkin. Rasa sakit pada selangkanganku belum terlalu reda, dan masih cukup mengganggu saat aku harus melangkahkan kedua kakiku ini. Aku tahu penampilanku pasti berantakan setelah perkosaan tadi, dan aku tak boleh membiarkan hal ini memancing pertanyaan dari teman temanku. Untung saja semua orang masih ada di dalam kelas, jadi aku bisa segera ke toilet tanpa ada yang melihat keadaanku.

Aku merapikan diriku sebentar lalu melihat jam tanganku. Tinggal sepuluh menit lagi, bel pulang sekolah akan berbunyi. Berarti aku tadi diperkosa lebih dari setengah jam. Entah apa dosaku harus menerima semua ini. Hampir saja aku menangis, tapi aku cepat cepat menenangkan diri, lalu kembali ke kelasku. Aku melihat Jenny dan yang lain masih asyik ngobrol dengan seru, tapi kini aku tak begitu tertarik untuk ikut mengobrol lagi.

“Hai.. lama amat kamu El?”, tanya Rini ketika melihatku berjalan ke arah mereka. Dengan senyum yang kupaksakan, aku cepat mencari alasan, “Iya tuh, tadi sekalian membahas tentang perlu tidaknya menarik kas lebih dari kita kita, buat jaga jaga seandainya ada dana yang diperlukan stan kelas kita saat bazar nanti”. “Dasar mata duitan. Iuran bulanan untuk kas kelas kita itu sudah yang paling besar di antara semua kelas. Bukannya dana di sana pasti sudah banyak?”, omel Siany.

Rini dan Bella hanya geleng geleng kepala, sedangkan Jenny diam diam menggenggam tanganku di bawah meja, dan ia memandangku iba. Aku teringat kalau aku pernah menceritakan perkosaan yang menimpaku di UKS dulu pada Jenny, jadi mungkin Jenny tahu apa kira kira yang baru saja terjadi padaku. Lalu ia berusaha mengalihkan pembicaraan, “Sudalah, ngapain juga kita bicarain hal ini.. Oh iya, kalian nggak ada yang lupa bawa pakaian renang kan?”.

Rini menjerit kecil, “Aduh iya Jen. Duh, untung kamu bilang”. Baru saja kami sudah terlibat obrolan seru, yang mana membantuku melupakan kejadian buruk yang baru saja menimpaku, bel pulang sekolah sudah berbunyi. Setelah pembacaan doa dari interkom selesai, kami segera meninggalkan kelas. Bahkan saat ini pun, rasa sakit masih mendera selangkanganku saat aku berjalan. Maka aku berjalan agak pelan, dan Jenny yang menemaniku tiba tiba menggandeng tangan kiriku, seakan ingin menguatkan diriku.

Aku tersenyum penuh terima kasih pada Jenny, dan kami berjalan beriringan ke tempat parkir. Kebetulan tadi sopirnya Jenny memarkirkan mobilnya Jenny di sebelah mobilku. Saat akan melepaskan gandengan tangannya, Jenny berbisik lembut padaku, “Eliza, nanti di vila kamu jangan jauh jauh dari aku ya.. aku akan jagain kamu dari penjaga vilamu”. Aku memeluk Jenny, “Thanks ya Jen.. kamu baik sekali”. Setelah itu kami saling berpamitan, dan masuk ke mobil masing masing.

Ketika mobil Jenny sudah jauh dari sini, aku masih diam, memikirkan apa aku sebaiknya langsung pergi saja daripada pulang ke rumah, toh tasku sudah ada di belakang sini, jadi aku sudah bisa berangkat sekarang kalau mau. Hampir bisa dipastikan, aku akan seperti menyerahkan diriku untuk digangbang di rumah oleh kedua pembantuku jika aku pulang sekarang, dan aku sedang sangat tidak mood setelah tadi terpaksa memilih diperkosa oleh wali kelasku.

Sedangkan pergi ke rumah Jenny juga bukan pilihan yang bagus, bisa saja nanti buruh buruh di rumah Jenny beraksi, dan aku akhirnya memutuskan untuk jalan jalan ke Tunjungan Plaza, sekalian makan siang di sana. Di sana aku hanya berjalan tak tentu arah sampai akhirnya aku makan siang, baru aku pergi menuju ke rumah Jenny. Sampai di sana, aku melihat jam, sudah jam satu kurang sedikit, dan aku belum melihat tanda tanda Jenny. Maka aku turun, hendak memencet bel pintu rumah Jenny.

Tiba tiba kudengar klakson mobil, yang ternyata mobil papa mamanya Jenny. Maka aku tak jadi memencet bel pintu, dan menyapa kedua orang tua Jenny. “Suk, Ai..”, aku menyapa sambil mengangguk sopan, dan mereka juga menyapaku dengan ramah, “Halo Eliza…”. Aku melanjutkan berbasa basi sebentar, “Eliza mau ajakin Jenny pergi, apa Jenny udah bilang sama Suk Suk atau Ai?”.

Mamanya Jenny menjawab, “Oh sudah kok, Eliza. Kalau sama kamu, Ai sih pasti boleh, tapi nanti kalian di sana jangan tidur terlalu malam ya, jaga kesehatan, nanti pulang pulang malah sakit”. “Iya Ai, makasih ya Ai”, kataku sambil tersenyum. Beberapa saat kemudian Jenny keluar membawa tasnya, dan menyapa papa mamanya sekalian pamitan, “Pa.. Ma.. pergi dulu ya..”. Aku juga sekalian pamitan pada mereka berdua. “Hati hati ya kalian. Jenny, kamu jangan gangguin Eliza kalo sedang nyetir!”, kata papanya Jenny.

Jenny terus masuk ke mobilku sambil menjawab, “Iyaaa beres paaaa…”. Aku tersenyum geli dan setelah melambaikan tangan pada kedua orang tua Jenny, aku masuk ke dalam mobil. “Yuk berangkat”, kata Jenny. Aku segera menjalankan mobilku ke rumah Rini, yang kira kira sekitar tiga kilometer dari sini. Jenny tiba tiba mengeluh dan memegangi payudaranya yang sebelah kanan, “Aduh El.. sakit nih…”. Ia memandangku dengan memelas.

Aku sempat bingung, tapi aku segera bisa mengira apa yang baru saja terjadi pada temanku ini. “Mereka lagi ya Jen?”, tanyaku dengan iba. Aku tahu buruh buruh Jenny itu “Iya lah El.. siapa lagi.. liat nih..”, gerutu Jenny sambil membuka dua kancing bajunya, lalu menyingkap bajunya di bagian payudaranya yang kanan. Aku melihat memang banyak merah merah bekas cupangan di sana sini, dan aku menggigit bibir membayangkan tadi itu sakitnya seperti apa.

“Untung tadi kedengaran klakson mobil papaku, jadi mereka berhenti sebelum makin menyakitiku. Lihat nih El.. puting susuku digigiti mereka.. sakit nih…”, kata Jenny dengan manja, ia kini menyingkapkan branya dan memperlihatkan semua payudaranya kanannya. Aku melihat payudara Jenny yang sebelah kanan ini, dan sempat memperhatikan bentuk puting payudara yang mungil dan lucu itu.. tapi…

“Ya ampun Jen?? Kok kamu buka di sini sih??”, aku baru sadar apa yang sedang dilakukan Jenny, dan aku cepat cepat melihat ke depan. Untung saja tak ada siapa siapa, karena kami memang sudah memasuki kompleks perumahan dimana Rini tinggal. “Iya nih, aku lupa El, abisnya aku cuma mau nunjukin ke kamu aja, nanti kalo ada Rini kan nggak enak..”, kata Jenny dengan manja sambil menutupkan bra dan bajunya kembali. Entah kenapa, jantungku berdegup kencang dan mukaku terasa panas.

Aku tak yakin, hal ini apa karena aku baru saja melihat payudara Jenny, atau karena kata kata Jenny yang manja tadi itu. Tapi aku berusaha tak memikirkannya lagi, apalagi kami sudah sampai di rumahnya Rini yang sudah menunggu dengan sebuah tas besar di depan pintu. Setelah ia masuk ke dalam mobil dan saling menyapa dengan aku dan Jenny, aku segera melajukan mobilku, menuju ke hotel Surya di Tretes.

Perjalanan ke Tretes yang hampir dua jam ini sama sekali tak terasa, karena dengan ikutnya Jenny yang memang selalu pandai membawa keceriaan ini di mobilku, kami bertiga selalu terlibat obrolan lucu maupun gossip. Akhirnya kami sampai di hotel Surya, dan ketika kami berputar putar di parkiran, Sherly yang sudah menunggu kami segera membunyikan klakson mobilnya, dan turun dari mobilnya. Aku mendekatkan mobilku ke sana, lalu kami semua turun dari mobil.

“Gimana, kalian mau langsung ke vila, atau mau bersenang senang di sini dulu?”, aku bertanya pada teman temanku. “Kita langsung ke vilamu saja El. Nanti kalau mau ke sini agak sorean juga bisa”, kata Sherly. “Ya udah, kalo gitu ikutin aku ya Sher, kita ke arah Tretes Raya, dan terus ke bawah dikit, vilaku di sebelah kanan jalan”, kataku. “Sip deh bos”, Sherly mengedipkan matanya padaku sambil tersenyum, dan diam diam aku mengakui Sherly ini cantik sekali, dan aku balas tersenyum padanya.

Kami semua masuk ke dalam mobil, dan Sherly mengikutiku dari belakang ketika aku menjalankan mobilku ke arah vilaku. Ketika sampai, aku tak perlu menekan klakson, karena penjaga vilaku sudah menanti di pintu gerbang yang dia buka lebar lebar. Aku terus melaju memarkirkan mobilku di tempat yang biasa, dan Sherly juga memarkirkan mobilnya di sebelah mobilku. Begitu kami semua turun dari mobil, celoteh riang yang amat ribut dari mereka semua segera terdengar.

Aku tersenyum geli, membayangkan kalau sampai kami berenam sekelas, entah bakal ribut seperti apa kelas kami saat jam kosong. Aku segera membuka pintu utama, dan mereka semua masuk sambil membawa barang barang mereka. “Gimana nih, yang semobil tetap sekamar, atau diseling biar nggak bosan? Atau… kita undi saja!”, usul Jenny. Ada ada saja ini anak, tapi ide Jenny memang selalu menarik, dan semua setuju untuk mengundi di kamar mana mereka nanti akan tidur.

Jenny mengambil pensil dan kertas dari tasnya, dan kertas itu dibaginya menjadi enam potongan kecil, dan tiga potong di antaranya ditulisi huruf A dan tiga potong sisanya ditulisi huruf B. Lalu semua potongan kertas itu digulung oleh Jenny, dan dimasukkan ke dalam kantung baju seragamku. Aku jadi teringat, aku memang masih pakai baju seragam sekolah, karena tadi aku tidak pulang dulu.

“Nah, sekarang semua ambil sepotong, kalau dapat A, tidur di kamar yang di sebelah kiri”, kata Jenny sambil menunjuk kamar yang biasa kupakai. “Dan yang dapat B tidur di teras, hahahaha..”, celetuk Sherly dan kami semua tertawa. “Aku duluan ya”, kata Jenny. Ia memasukkan tangannya, mengaduk aduk gulungan kertas pada bajuku. Tentu saja tangannya berkali kali menyenggol payudaraku yang kiri ini, hingga aku menggigit bibir menahan diri supaya tidak mendesah, nafasku menjadi lebih berat.

“Aku dapat B nih”, kata Jenny saat membuka gulungan kertas yang dia ambil dari kantung bajuku. Berikutnya Siany dan Bella yang merogoh kantung bajuku, mereka tidak sampai mengaduk aduk gulungan kertas ini seperti Jenny, namun tetap saja aku merasa gesekan tangan mereka pada payudaraku yang kiri ini, dan ini membuat jantungku makin berdegup kencang. Aku menahan tangan Sherly dan mencoba melepaskan remasannya dari payudaraku, tapi aku tak mampu, rasanya lemas sekali.

Dan keadaanku jadi makin kacau ketika Sherly yang merogoh kantung bajuku. Dengan nakal Sherly meremas payudaraku. “Auwww.. Sheer…?”, aku mengeluh malu sekaligus terangsang, entah sudah merah seperti apa mukaku yang rasanya panas ini. Teman temanku tertawa geli, entah apa yang mereka tertawakan, perbuatan Sherly, atau aku yang dibuat tak berdaya oleh Sherly ini. “Udah dong Sheer…”, aku memohon pada Sherly untuk menghentikan perbuatannya, karena makin lama aku makin terangsang.

Entah setelah beberapa kali aku memohon, baru Sherly akhirnya menghentikan remasannya pada payudaraku, lalu ia mengambil satu dari dua gulungan yang masih tersisa di kantung bajuku. Aku terduduk lemas di lantai, dan Jenny ikut duduk di sebelahku lalu ia merangkulku. “Sher, kamu jahat ah. Masa Eliza mau kamu perkosa?”, Jenny menggerutu pada Sherly dengan nada bercanda, dan mereka semua tertawa, kecuali aku yang semakin malu.

“Jen… kamu ini..”, aku mulai mengomel, tapi aku terdiam saat Jenny malah membelai dan menggeraikan rambutku ke belakang, lalu menyandarkan kepalanya di pundak kananku. “Tapi bukan salah Sherly sepenuhnya… salah kamu juga sih El, kok kamu bisa secantik ini… sudah cantik… kalem… baik… mm.. rambut ini halus dan wangi..”, Jenny mengguman sambil menghirup rambutku, lalu ia menatapku dengan pandangan mata yang sayu, sementara aku hanya bisa diam tertunduk malu dipuji Jenny seperti ini.

“Lho Jen, kok jadi kamu yang lesbi sama Eliza sih? Hayo.. iri ya sama Sherly?”, goda Rini. Lagi lagi semuanya tertawa sementara aku hanya bisa tersenyum malu. Kemudian Jenny berdiri dan bertanya, “Jadi gimana, siapa yang hari ini tidur sekamar denganku?”. Maka kami semua membuka gulungan kertas milik kami, dan hasilnya hari ini Jenny sekamar dengan Siany dan Rini, sedangkan aku sekamar dengan Bella dan Sherly! Oh, aku kuatir, jangan jangan nanti Sherly lupa diri dan menggumuliku di depan Bella.

Tapi… yah bagaimana nanti saja lah, selagi mereka semua masuk ke kamar yang sudah ditentukan sekaligus menaruh tas mereka, aku teringat tasku masih ada di mobil, dan aku keluar menuju mobiku yang bagasinya masih terbuka. Ketika aku mengambil tasku, kurasakan pantatku diremas oleh seseorang. Gaya meremas yang kurang ajar seperti ini, aku sudah tahu siapa pemiliknya..

“Pak Basyir…”, kataku dengan suara pelan sambil menoleh ke arahnya. “Tolong jangan menyusahkan Liza, ini kan ada teman teman, kalau kelihatan mereka gimana? Nggak lucu kan?”, sambungku dengan ketus walaupun masih dengan suara yang pelan. “Tapi non, bapak sudah kangen memeknya non.. sudah lama nih”, pak Basyir masih terus asyik meremas pantatku. “Elizaa…”, aku mendengar Jenny berseru dari dalam vila. “Iya Jeen?”, aku langsung menjawab sambil mencoba menepis tangan pak Basyir.

“Kamu di manaa?”, Jenny berseru lagi. “Aku di taman Jen, di bagasi mobil”, lagi lagi aku berseru menjawab sambil menepis tangan pak Basyir yang masih saja menggerayangi pantatku. “Kamu lagi ngapain El? Toiletnya di mana sih, temani aku dong, antarkan ke sana sebentar…”, seru Jenny yang dari suaranya aku tahu kini ia sudah ada di teras. Tentu saja hal ini menyelamatkanku walaupun untuk sementara, dan pak Basyir segera melepaskan remasan tangannya dari pantatku.

“Pak, tolong bantuin aku nih”, kataku sekalian menggunakan kesempatan ini untuk meminta bantuan pak Basyir. “Tolong bawakan tasku dan empat tas plastik ini ke kamarku ya pak, aku antar Jenny ke kamar mandi dulu”, kataku sambil meninggalkan pak Basyir, yang mau tak mau harus menuruti permintaanku. “Iya, ayo aku antar Jen”, kataku sambil berjalan mendekati Jenny. Aku tersenyum lega dan menggandeng tangan teman terbaikku ini, menunjukkan toilet utama di vilaku.

“Kamu nggak diapa apain kan sama penjaga vilamu itu El?”, bisik Jenny padaku. Aku menggeleng, “Nggak Jen, tapi nggak tahu lagi kalau kamu nggak manggil aku tadi, mungkin lama lama dia bisa ngisengin aku”. Jenny tersenyum lega, dan aku berkata dalam hati, kalau nggak terlalu parah, mungkin lebih baik aku sembunyikan dari Jenny saja. Setelah menunjukkan toilet utama pada Jenny dan Jenny melihat lihat dalamnya, kami langsung kembali ke ruang tengah, memang Jenny cuma pura pura saja mau ke toilet.

Dan saat kami sudah ada di ruang tengah, kebetulan pak Basyir baru saja menaruh plastik yang berisi makanan kecil yang kemarin dibeli oleh Jenny. “Pak, sekalian tolong tutupkan bagasi mobilku ya, terima kasih”, aku sekalian minta tolong pak Basyir supaya menutupkan bagasi mobilku, jadi aku nggak perlu keluar lagi untuk melakukan hal itu, yang mana mungkin beresiko aku akan mengalami pelecehan oleh pak Basyir seperti tadi.

Lalu tanpa memperdulikan penjaga vilaku yang sudah keluar melakukan permintaanku,, aku memasukkan tasku ke dalam kamar, aku mulai bersenang senang dengan teman temanku setelah kami mengatur semua yang diperlukan, seperti memasukkan bahan untuk memasak ke dalam kulkas dan menaruh makan ringan di meja. Aku menyempatkan diri berganti baju santai, rasanya risih juga menjadi satu satunya yang memakai baju seragam sekolah di antara kami semua.

Kami semua berkumpul di ruang tengah ini, membicarakan rencana kegiatan kami hari ini. Dan sore ini kami berjalan jalan ke atas, menikmati beberapa makanan kecil di sekitar hotel Surya dan sekitarnya. Setelah matahari benar benar tenggelam, kami membeli sate dan bakso agak banyak untuk dibawa pulang ke vila. Sampai di vila, teman temanku segera berkumpul di meja makan, sedangkan aku ke belakang sebentar untuk mengambil piring dan sendok garpu yang diperlukan.

Saat aku menumpuk piring ke enam, pak Basyir sudah ada di sebelahku. “Non Liza, jangan lupa ya non, nanti malam temani bapak”, kata penjaga vilaku ini, dan lagi lagi ia meremasi pantatku. “Apa apaan sih pak? Kenapa aku harus menemani bapak?”, aku bertanya dengan ketus. “Daripada bapak yang menemani non Liza nanti malam, kan nggak enak sama teman teman non yang lain?”, kata pak Basyir dengan nada yang penuh kemenangan.

Aku tahu memang aku tak akan bisa lolos, tapi aku tak pernah menduga pak Basyir akan mengancamku seperti ini. Aku hanya bisa menahan kesal ketika ia menyambung, “Bapak tunggu non Liza sampai jam dua malam, kalau non Liza nggak datang untuk menemani saya, terpaksa saya yang akan menemani non ke kamar”. Lalu pak Basyir meninggalkanku, ia bahkan tak membantuku mengangkat piring piring dan sendok garpu ini ke dalam.

Aku sedikit menggigil, nanti malam aku harus menyerahkan diriku pada pak Basyir. Aku menenangkan diri sebentar, lalu masuk membawa semua yang sudah kusiapkan ini. Aku tak perlu membawa gelas karena semua gelas disimpan di lemari yang ada di sebelah kulkas. Setelah semuanya siap, kami semua segera makan malam, dan celoteh riang dari teman temanku membuatku ikut larut dalam suasana ceria ini. Setelah makan dan membawa semua piring kotor ke belakang, kami bergantian mandi membersihkan diri.

Setelah kami semua selesai mandi dan berganti baju tidur, kami beristirahat di ruang tengah dan menonton DVD yang dibawa oleh Sherly. Kini sudah jam delapan malam, berarti enam jam lagi sebelum aku harus melayani bandot tua di belakang itu. Sedangkan aku sendiri sudah mengantuk, mungkin aku kecapaian setelah diperkosa oleh wali kelasku dan satpam sekolahku tadi siang, hingga tanpa sadar aku tertidur ketika teman temanku sedang asyik nonton DVD.

“Eliza… bangun El”, sayup sayup aku mendengar suara Sherly. Kurasakan rambutku dibelai lembut oleh Sherly, hingga aku makin malas bangun, malah menyandarkan kepalaku di pundak Sherly. “El, pindah kamar yuk, masa kamu tidur di sini?”, Sherly mencoba membangunkanku. “Mmm…”, aku masih belum bangun benar dan menjawab sekenanya. Setelah terdiam beberapa saat, tiba tiba kurasakan tangan Sherly merayapi tubuhku, dan kemudian tangan itu sudah meremasi payudaraku dengan lembut.

“Oh.. Sheer..”, keluhku dengan suara pelan. Perlahan aku membuka mataku, dan begitu aku mengangkat kepalaku, Sherly segera memagut bibirku. Aku hanya pasrah saja mengikuti kemauan Sherly, tapi itu karena aku belum sadar benar dari tidurku. Begitu aku mulai sadar, aku terkejut dan mencoba melepaskan pagutan bibir Sherly dengan panik. Sherly yang mungkin terkejut dengan perubahan reaksiku yang tiba tiba ini, melepaskan pagutannya dan memandangku dengan penuh pertanyaan.

“Kenapa El?”, tanya Sherly. “Nanti ketahuan teman teman Sher”, jawabku pelan, walaupun nafasku mulai memburu. “Sher, nanti di kamar kan ada Bella, tolong kamu jangan begini ya Sher. Nanti kalau dia sampai tahu kita seperti ini, kan nggak enak, juga nanti kan bisa bisa dia cerita sama teman sekelasku yang lain”, aku mencoba memberikan pengertian pada Sherly. Untungnya Sherly mengangguk sambil tersenyum, dan berkata, “Iya nona cantik, tapi sekarang aku cium kamu satu kali dulu yah”.

Dan Sherly mencium bibirku dengan mesra sekali, membuatku lemas dan hanyut dalam ciumannya. Tak hanya mencium bibirku, Sherly kembali meremas kedua payudaraku, dan aku hanya bisa pasrah, tak ada lagi perlawanan dariku karena aku sudah amat terangsang. Perlahan aku mulai membalas ciuman Sherly, dan aku juga meremas payudaranya, ini adalah pertama kalinya aku meremas payudara seorang wanita. Sherly menatapku sayu, kelihatan sekali ia juga terangsang, pasrah saja ketika aku terus meremasi payudaranya yang rasanya begitu empuk tapi kenyal ini.

Yang terjadi kemudian, kami malah bergumul, saling memeluk dengan erat, dan yang pasti ciuman kami makin memanas. Tapi aku cepat menghentikan Sherly yang sudah menyusupkan tangannya di balik celana dalamku. “Sher.. jangan, nanti kita bisa ketahuan teman teman”, aku mencoba membujuk Sherly. Aku tahu aku pasti tak tahan untuk tidak melenguh jika Sherly mengaduk aduk liang vaginaku. Dan untungnya Sherly bisa mengerti, ia menarik keluar tangannya dari balik celana dalamku. “El.. tapi kapan kapan, aku boleh ya”, kata Sherly yang terus memandangku dengan sayu, hingga aku merasa jengah.

Aku mengangguk dengan tak yakin. Sherly kembali menciumi wajahku, bahkan berlanjut ke leherku. Aku harus menahan sekuat tenaga untuk tidak merintih. Entah berapa lama kami berdua larut dalam kemesraan yang seharusnya tak boleh terjadi ini. Kami terus saling memeluk, diam diam aku melihat jam dinding. kini sudah jam satu pagi, satu jam lagi sebelum aku harus ke tempat pak Basyir. Maka aku tahu aku harus segera mengajak Sherly untuk tidur sekarang juga, jadi nanti aku bisa mengendap keluar tanpa ketahuan olehnya saat aku harus ke kamar penjaga vilaku di luar sana.

“Sher, udahan yuk, kita tidur sekarang ya”, kataku pada Sherly, yang mengangguk sambil tersenyum, dan kami berdua segera melepaskan pelukan kami, lalu masuk ke dalam kamar. Bella sudah tertidur pulas di ranjangku, dan karena memang di tiap kamar ranjangnya cuma ada satu, maka kami berdua naik ke ranjang ini dengan pelan, karena tak enak kalau sampai membangunkan Bella. Bella sendiri tidur di pinggir. Sherly membaringkan tubuhnya di tengah ranjang, dan aku berbaring di sebelahnya.

Melihat Bella sudah tidur, Sherly memelukku, meremasi payudaraku dan menciumi rambutku. Aku hanya pasrah dan menggigit bibir menahan nikmat, tapi untungnya tak lama kemudian Sherly sudah tertidur. Aku lalu melihat jam, setengah jam lagi paling lambat, aku sudah harus ada di kamar pak Basyir, maka aku memutuskan untuk ke sana sekarang saja. Aku memindahkan tangan Sherly yang menindih payudaraku, dan pelan pelan aku akhirnya bisa melepaskan diriku dari pelukan Sherly.

Perlahan aku turun dari ranjang, dan dengan langkah yang kuatur perlahan sekali, aku membuka pintu kamarku dan setelah aku keluar kamar, kututup kembali pintu kamarku, dan semua itu kulakukan nyaris tanpa suara. Lalu aku keluar dari bangunan utama vilaku ini, menuju kamar penjaga vilaku yang mesum itu. Tanpa mengetuk pintu, aku langsung masuk ke dalam kamar pak Basyir. Buat apa juga bersopan sopan pada orang yang tak tahu diri seperti dia ini?

“Wah akhirnya non Liza datang juga, bapak sudah nggak sabar nih”, seru pak Basyir girang. Aku hanya diam, malas menanggapinya. Karena aku ingin semua ini cepat selesai, aku segera melepaskan semua pakaianku hingga aku telanjang bulat. Pak Basyir juga melakukan hal yang sama, dan sesaat kemudian aku sudah berbaring di tempat tidur pak Basyir, yang segera ikut naik dan menindih tubuhku. Ia menyibakkan rambutku sambil berkata, “Non Liza.. non cantik sekali”. Aku hanya diam saja tak perduli.

Lalu pak Basyir mulai mengecup bibirku, lalu berlanjut ke leherku dan kedua puting payudaraku. Aku tetap diam saja, menekan semua perasaanku supaya aku bisa menerima cumbuan dari orang yang umurnya sangat tua dibandingkan diriku ini. Dengan demikian aku sama sekali tak merasa terpaksa atau sedang diperkosa, bahkan perlahan aku bisa menikmati semua cumbuan ini. Setelah puas mencumbuiku, pak Basyir mempersiapkan diri untuk menyetubuhiku, kepala penisnya sudah menempel di bibir vaginaku. Perlahan, liang vaginaku terbelah oleh penis pak Basyir yang terus membenamkan penisnya dalam dalam.

“Ngghh..”, aku melenguh pelan, dan tubuhku sedikit menggeliat saat liang vaginaku menerima tusukan penis pak Basyir. Bandot tua ini terus memompa liang vaginaku dengan senyum kemenangan, sedangkan aku hanya bisa membuang muka, malu rasanya melihat penjaga vilaku sedang melecehkanku seperti sekarang ini. Tapi aku tak ada keinginan untuk melawan ataupun berontak, karena kini otot liang vaginaku mulai mengejang setelah diaduk aduk oleh penis pak Basyir, rasanya nikmat sekali.

“Oh… non Liza… memekmu memang enaak..”, erang pak Basyir yang makin cepat menggenjotku. Aku heran melihatnya seperti akan segera orgasme, tapi ini kesempatan buatku. Dari hanya pasrah, aku mulai menggerakkan pinggulku, menyambut tiap hunjaman penis pak Basyir pada liang vaginaku. “Nnggghh…”, aku melenguh keenakan, karena kurasakan liang vaginaku tertusuk sangat dalam oleh penis pak Basyir, sedangkan pak Basyir sendiri tak kuat lagi, tubuhnya mulai berkelojotan.

“Ohh… non Lizaaa…”, erang pak Basyir panjang, dan penisnya yang berkedut keras menyemprotkan cairan spermanya membasahi liang vaginaku, dan ia langsung ambruk menindihku. Aku belum orgasme, tapi aku memang sedang tak ingin. Kudorong tubuh pak Basyir yang masih menindihku hingga penisnya yang sudah loyo itu terlepas dari jepitan liang vaginaku. Ia terguling di sampingku, nafasnya tersengal sengal dan senyuman penuh kepuasan terukir di wajahnya yang sudah mulai penuh dengan keriput itu.

Aku beranjak duduk, sambil mengatur nafasku yang memburu. “Udah puas kan pak.. Liza kembali dulu”, kataku pada pak Basyir. “Non, masa cuma satu ronde? Bapak kan kangen sama memek non..”, protes pak Basyir, hingga aku yang sudah turun dari ranjang untuk memakai baju, terpaksa kembali duduk di ranjang. “Pak, jangan lama lama, satu ronde lagi saja ya.. Liza juga mau tidur”, aku mengingatkan pak Basyir agar jangan keterusan memperkosaku sampai pagi. “Iya non”, kata pak Basyir sambil mendekapku.

Aku membaringkan tubuhku di sebelah pak Basyir, dan membiarkan pak Basyir menyusu sepuasnya pada kedua payudaraku dengan bergantian. Aku memejamkan mataku, entah kenapa aku sudah mengantuk, padahal tadi aku sempat tertidur agak lama waktu bersama teman temanku menonton DVD di ruang tengah. Pak Basyir menindihku, menciumi wajahku, mataku, pipiku, dan melumat bibirku dengan begitu bernafsu. Aku agak heran, orang setua pak Basyir ini bagaimana masih memiliki gairah setinggi ini…

Kurasakan perlahan penis pak Basyir yang menempel di bawah perutku perlahan mulai membesar, kelihatannya pak Basyir sebentar lagi akan memulai ronde ke dua. Aku menggeliat sebentar supaya lebih nyaman sebelum tubuhku harus tersentak sentak lagi oleh tusukan penis pak Basyir pada liang vaginaku sebentar lagi. “Non Liza… memeknya non Liza bapak masukin lagi ya”, kata pak Basyir. Dengan ketus aku menjawab, “Biar Liza jawab jangan juga, tetep bapak masukin kan? Buat apa sih pak Basyir pakai nanya? Cepat masukin sana!”. Jengkel juga aku melihat penjaga vilaku yang pura pura lugu itu.

“Jangan marah non Liza, bapak kan permisi dulu supaya non Liza nggak kaget”, kata pak Basyir dengan cengengesan. Aku membuang mukaku mengarahkan pandanganku ke jendela, dan sesaat aku sempat agak panik ketika aku melihat bayangan berkelebat, dan aku tak bisa yakin apakah tadi itu bayangan seseorang yang berkelebat, atau hanya karena ada daun jatuh yang menutupi sinar lampu di halaman yang mengarah ke kamar ini. Tapi aku tak bisa berlama lama memikirkan hal itu, karena sesaat kemudian kurasakan liang vaginaku kembali terbelah oleh penis penjaga vilaku ini.

“Anngghh..”, aku melenguh pelan menahan nikmat, sekali ini pak Basyir dengan tepat mengaduk liang vaginaku di satu titik yang memberiku perasaan nikmat yang luar biasa. “Oooh..”, aku merintih keenakan, dan pak Basyir makin bersemangat memompa liang vaginaku. “Heghh.. Non Liza… enak yaa?”, lagi lagi pak Basyir melecehkanku saat aku menggeliat hebat, dan aku hanya bisa melenguh dan merintih, “Ngghhh… mmhhh.. iyah paak…”. Tubuhku terus tersentak sentak mengikuti irama genjotan pak Basyir, sampai akhirnya aku merasa selangkanganku seakan hendak meledak.

“Aaaaahhh… paaak… akuu… ouughh.. ngggghhhh…”, aku melenguh lenguh keenakan tak kuasa menahan terjangan badai orgasme yang melandaku, tubuhku menggeliat hebat, kedua betisku melejang lejang sementara kedua tanganku meremas sprei dengan kuat, yang merupakan ekspresiku untuk menahan nikmat, dan celakanya genjotan pak Basyir sama sekali tidak mereda. “Aaduuh paaak.. ampuuun…”, aku mengerang tak kuat menahan nikmat ini, tubuhku mengejang hebat sebelum perlahan aku mulai melemas tak berdaya di bawah keperkasaan penjaga vilaku ini setelah cairan cintaku membanjir.

“Non Liza.. enak ya?”, ledek pak Basyir. Aku sudah tak mampu menjawab, hanya mengangguk lemah. Tulangku rasanya copot semua, dan aku hanya bisa pasrah ketika pak Basyir terus melecehkanku. Betisku dijilatinya hingga aku kegelian, sementara penisnya yang masih keras itu tetap bersarang di dalam liang vaginaku dengan gerakan memompa yang perlahan. Entah mengapa di ronde ke dua ini pak Basyir malah makin perkasa, padahal di ronde pertama tadi ia sudah ejakulasi tanpa sempat membuat aku orgasme.

Aku merasa seolah olah sebuah batangan kayu atau besi sedang keluar masuk di liang vaginaku, yang membuatku tak bisa bergerak bebas. “Pak.. kok masih.. belum keluar sih? Liza capek nih..”, keluhku. “Bentar lagi non.. sabar ya…”, kata pak Basyir. Aku diam saja, dan pak Basyir terus melanjutkan memompa liang vaginaku. Ia terus memandangi wajahku, hingga aku menjadi jengah dan membuang muka, walaupun aku tak bisa kemana mana karena tubuhku masih berada di bawah tindihan pak Basyir.

Tak lama kemudian, kurasakan penis pak Basyir mulai berkedut di dalam sana, dan ia mengerang panjang menyebut namaku, “Non Lizaaaa… oooooh”. Semprotan sperma yang cukup banyak kembali membasahi rahimku. Aku menggeliat menahan nikmat, dan kemudian terkulai seiring ambruknya pak Basyir menindih tubuhku. Masih belum puas, pak Basyir melumat bibirku dan melesakkan lidahnya ke dalam mulutku, membuat aku kembali harus menelan air ludah pemerkosaku.

Setelah pak Basyir melepaskanku karena kehabisan nafas, ia ambruk terguling di sebelah kananku. Aku menarik lepas tanganku yang tertindih badannya yang penuh keringat. “Non Liza.. teman teman non Liza itu mau nggak main sama bapak?”, tanya pak Basyir. Aku langsung meradang dan membentak penjaga vilaku ini, “Pak, jangan macam macam ya! Belum cukup apa bapak memperkosa Liza seorang saja?”.

“Sabar non Liza, bapak kan cuma berandai andai. Misalnya, teman non Liza yang tadi siang ngeremasin susunya non”, kata pak Basyir sambil meremas payudaraku. Aku terkejut, ternyata tadi pak Basyir sempat mengintip kami, dan aku tahu yang ia bicarakan adalah Sherly. “Anaknya cakep, rambutnya indah, badannya seksi, bapak jadi pingin tahu apa dia juga sehebat non Liza kalau main sama bapak”, sambung pak Basyir.

Dadaku rasanya sesak, ingin rasanya aku menampar pak Basyir karena kata katanya yang amat merendahkanku itu. Tapi belum lagi aku berbuat apapun, pak Basyir sudah melanjutkan, “Yang tadi manggil manggil non di teras itu juga cakep, rambutnya panjang seperti punya non Liza, badannya juga kecil seperti non Liza. Mungkin memeknya juga enak seperti non Liza”, kata pak Basyir sambil menerawang, tapi tangannya tak berhenti meremasi payudaraku.

Yang barusan ia impikan adalah Jenny, dan aku semakin jengkel. “Pak Basyir, sebaiknya bapak bisa menjaga kelakuan bapak. Kalau sampai bapak berulah dan teman teman Liza tahu tentang hal ini, berarti nggak ada gunanya rahasia ini Liza jaga, toh Liza nanti akhirnya malu juga karena rahasia ini pasti tersebar ke mana mana. Dan karena sudah nggak ada bedanya lagi, saya pasti akan meminta papa untuk memecat bapak!”, aku mengancam dengan keras.

Mendengar ancamanku, pak Basyir keder juga, dan berkata, “Iya non Liza, bapak janji nggak akan mendekati kedua teman non Liza itu. Kalau yang tiga itu sih.. bapak nggak berminat, mereka kurang menarik buat bapak . Tapi kalau kedua teman non Liza sendiri yang mendekati bapak, non Liza jangan menyalahkan bapak lho..”. Mendengar kata kata pak Basyir, aku sedikit lega, walaupun agak muak juga.

“Pokoknya bapak jangan berani berani mendekati kedua teman Liza itu! Besok Liza mungkin agak terlambat datang ke sini!”. Aku lalu menepis tangan pak Basyir yang masih meremasi payudaraku, dan aku berdiri lalu mengenakan bra dan celana dalamku juga baju tidurku, dan aku keluar dari kamar tidur penjaga vilaku itu menuju kamarku sendiri. Aku tak langsung tidur, tapi aku mengambil baju tidur, bra dan celana dalamku yang baru, dan juga handuk kecilku, kemudian aku menuju ke dalam kamar mandi.

Di dalam kamar mandi, aku kembali menelanjangi diriku, dan aku membersihkan liang vaginaku dari sperma penjaga vilaku itu. Sambil kusemprot dengan air shower, liang vaginaku kukorek sebisanya sambil menggigit bibir menahan nikmat, lalu kuberi cairan pembersih vagina hingga vaginaku terasa nyaman dan pasti berbau wangi

Lalu tubuhku kuseka dengan handuk kecilku yang sudah kubasahi dengan air dan sedikit sabun. Aku membersihkan seluruh tubuhku dari keringat hasil persetubuhanku dengan pak Basyir tadi, dan tubuhku mulai terasa nyaman. Setelah aku mengeringkan tubuhku dan memakai bra, celana dalam dan baju tidurku yang baru, aku menyimpan semua pakaian kotorku dalam kantung plastik. Lalu aku segera masuk ke dalam kamar, dan aku berhasil membuka dan menutup pintu kamarku dengan nyaris tanpa suara.

Aku melihat Bella dan Sherly sudah tertidur lelap, dan dengan hati hati aku naik ke ranjang dan membaringkan diri di sebelah Sherly. Aku masuk ke dalam selimut untuk menghangatkan diri. Tiba tiba, seperti tadi, Sherly memelukku, erat sekali, hingga nafasku rasanya sesak. Dan herannya, nafas Sherly terasa berat, seperti orang yang sedang terangsang. Tapi aku tak berani banyak bergerak, dan akhirnya aku tertidur dengan nyaman dalam pelukan Sherly yang mungkin sedang bermimpi sesuatu ini…

Aku masih amat mengantuk ketika tiba tiba aku mulai merasakan remasan lembut pada payudaraku yang kiri. “Eliza…”, aku mendengar bisikan Sherly. “Mmm…”, aku menjawab dengan mata terpejam dan masih ingin menikmati tidurku. “Kamu cantik…”, bisik Sherly mesra, kurasakan hembusan nafasnya yang hangat menerpa pipiku. Walaupun aku masih memejamkan mata, aku tersenyum malu. “Mmm… Thanks Sher..”, jawabku manja dan membenamkan mukaku di dada Sherly hingga menempel di tengah payudaranya.

“Bella sedang ke toilet kok El.. kamu tenang aja, Bella itu kalau ke toilet, lama..”, bisik Sherly sambil terus membelai rambutku. Aku sempat agak terkejut saat teringat di sini ada Bella. Tapi mendengar kata kata Sherly, aku terus memejamkan mata dan menggerak gerakkan kepalaku menikmati empuknya payudara Sherly. Ia tak mengenakan bra hingga aku bisa merasakan tonjolan puting payudaranya.

“Eliza.. kamu nakal.. auuw..”, keluh Sherly dengan manja ketika aku sengaja mencium tonjolan itu yang ada di balik baju tidur ini. “Biarin..”, jawabku dengan masih terkantuk kantuk. Ini memang sekalian untuk membalas perbuatan Sherly kemarin padaku. Aku kembali membenamkan mukaku di tengah payudara Sherly, rasanya begitu nyaman. Sherly mendekapku, dan kudengar detak jantungnya kencang sekali.

Tapi ketika kudengar suara pintu kamar mandi di belakang terbuka, aku tahu kalau aku dan Sherly harus segera menghentikan semua ini. “Sher.. Bella..”, kataku, yang langsung dijawab Sherly, “Iya, kita udahan dulu deh”. Sherly melepaskan pelukannya padaku, dan aku segera menaruh kepalaku di atas bantal. Aku membuka mata dan melihat jam, ternyata sudah jam setengah enam pagi. Masih sempat kudengar bisikan Sherly sebelum Bella masuk, “Nanti kita lanjutin ya Elizaku”. Aku tersenyum geli mendengarnya.

Pintu kamarku terbuka, dan Bella yang sudah memakai baju trainingnya, masuk sambil menyapa kami berdua, “Hai.. kalian udah bangun ya? Met pagi”. Kami berdua membalas sapaan Bella, dan beberapa menit kemudian aku membuka selimutku dan duduk sebentar sementara Sherly masih tiduran di dalam selimut. “Oh iya, yang di kamar sebelah udah pada bangun semua nggak ya? Kalau pagi pagi gini kita jalan jalan di luar, udaranya segar lho”, kataku.

Baru saja aku berkata begitu, pintu kamarku sudah terbuka dan Jenny, Rini dan Siany masuk bergabung bersama kami. Jenny langsung memegang tanganku dan menarikku berdiri, “Ayo El, katanya kemarin mau jalan jalan pagi ini?”. Aku tersenyum dan menjawab, “Baru saja aku mau ngecek kamu udah bangun belum Jen”. Jenny mencibir, “Yang baru bangun siapa coba? Aku Rini dan Siany sudah pakai baju training, Bella juga.. kamu dan Sherly ini aja yang.. hayooo… jangan jangan kalian…”.

Aku mencubit lengan Jenny, “Jangan jangan apa Jen?”. Jenny mengaduh dan minta ampun, “Ampun El.. nggak.. nggak kok”. Kami semua tertawa kecuali Jenny yang mengeluh manja, “El.. sakit nih.. kamu jahat”. Jenny mengusap usap lengannya yang tadi aku cubit, dan aku hanya mencibir, “Biarin”. Lalu aku segera ngambil pakaian olah ragaku dan aku sudah hendak pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian ketika Sherly berkata, “Mau ke mana El? Kalau ganti baju, di sini aja, kita kan sama sama cewek?”

Aku agak ragu, dan selagi aku tak tahu harus bagaimana, aku yang sudah hampir keluar pintu ini ditarik oleh Rini kembali ke tengah. “Iya El, ganti di sini juga kenapa?”, tanya Rini. Dengan ragu aku melepas baju tidurku, dan untungnya semuanya termasuk Sherly dan Jenny bersikap wajar saja sampai aku selesai memakai baju trainingku, bahkan Sherly juga langsung berganti pakaian. Dan akhirnya kami semua sudah siap, lalu keluar bersama sama, berjalan jalan di pagi hari menikmati udara segar di Tretes.

Kami sudah berjalan jalan lebih dari setengah jam ketika aku melihat ada seorang wanita yang sedang berjongkok dan memijit mijit pergelangan kakinya. Kebetulan kami berjalan mendekati wanita itu, dan aku bermaksud menanyakan keadaannya. “Emm.. Eh? Cie.. ”, aku menyapanya dengan ragu ragu, aku yakin pernah melihat wanita ini. “Hai.. Eliza kan? Lupa yaa.. aku Liana, pegawai di kantor pak Alan”, sapa wanita yang ternyata Cie Liana, pegawai papiku ini.

“Oh iyaa.. hai Cie Liana… oh ya, kenapa kaki Cie Liana?”, aku bertanya pada Cie Liana. “Oh nggak apa apa kok Eliza, cuma capai aja kok, thanks ya”, kata Cie Liana. “Oh iya Cie, kenalkan ini teman temanku”, aku memperkenalkan semua temanku satu per satu. “Wah senang ya bisa kompak gini, iri deh Cie Cie sama kalian”, kata Cie Liana setelah selesai berkenalan dengan semua teman temanku.

Sherly memandang Cie Liana dengan kagum. Cie Liana, seorang wanita yang kira kira sudah berumur 26 tahun, wajahnya manis dan terutama matanya indah, pasti membuat pria tak akan bosan memandangi Cie Liana yang mengenakan baju training yang lumayan ketat hingga menonjolkan lekuk tubuhnya yang indah. Rambutnya yang panjang sampai ke siku tangannya itu diikat dengan model ekor kuda, membuat Cie Liana tampak semakin manis.

“Memangnya Cie Cie sendirian aja ke sini?”, tanya Sherly. “Iya nih, akhir minggu, refreshing dua hari satu malam, jadi Cie Cie nggak kepikiran untuk bawa teman”, kata Cie Liana.Kami sempat mengobrol sebentar, dan kemudian kami bersama Cie Liana melanjutkan jalan jalan pagi ini. Cie Liana cepat sekali akrab dengan kami semua, dan pada saat pulang, kami melewati vila yang ternyata tempat Cie Liana menginap, yang mana kebetulan ada di dekat vilaku.

“Ini vila tempat Cie Cie menginap, kalau kalian nggak buru buru, mampir sebentar ya?”, kata Cie Liana. “Nanti siang aja Cie, sekalian kami mau buat pudding siang nanti. Cie Cie mau kan?”, tanya Sherly. “Aduh makasih lho. Kalian menginap di mana?”, tanya Cie Liana. “Itu cie, dari sini kelihatan yang pintunya putih”, kataku sambil menunjuk ke pintu vilaku yang kelihatan dari sini. “Oh dekat ya.. ya udah deh, Cie Cie tunggu ya puddingnya”, kata Cie Liana sambil tersenyum manis sekali dan melambaikan tangannya.

Kami membalas lambaian tangannya dan kami segera kembali ke vila. kini matahari masih belum menyengat, dan terbayang betapa senangnya jika kami menceburkan diri ke kolam renang di vilaku. Begitu sampai, aku segera mengambil beras secukupnya dan melakukan semua yang diperlukan untuk memasak nasi pada rice cooker. Setelah semua beres, aku mengetuk pintu kamar, “Haloo, aku mau masuk”. Dan terdengar jawaban dari dalam, “Masuk aja El, nggak dikunci kok”.

Dan ketika aku masuk ke dalam kamar, aku terpukau melihat Sherly yang memakai pakaian renang minim, yang hanya menutup payudara dan selangkangannya saja. Kulihat tubuhnya yang putih mulus, begitu indah dan menggairahkan, perutnya yang begitu rata dan pinggangnya yang ramping, benar benar sempurna. Aku dikejutkan oleh Bella yang menggodaku, “El, kamu kok ngeliatin Sherly kayak gitu sih? Hayo naksir ya?”. Aku gelagapan dan mencoba membantah, “Nggak, aku.. aku..”.

Bella tertawa dan makin menggodaku, “Ya udah, aku keluar dulu deh El, jadi kamu bisa bermesraan sebentar dengan Sherly”. Ya ampun, aku tak tahu harus menjawab apa. Dan setelah Bella keluar dari kamar, aku langsung berganti pakaian renang. Begitu aku selesai memakai pakaian renangku, Sherly mendekatiku, lalu memelukku dengan erotis, dan ia berbisik mesra padaku, “Eliza.. hari ini kamu harus ma jadi milikku.. aku pasti dapatin kamu…”.

Aku tak bisa bereaksi apapun, dan aku makin lemas ketika Sherly memagut bibirku sambil mempererat pelukannya, dan kurasakan payudara itu menekan payudaraku dengan tepat, hingga aku merasa tersengat, aku hanya bisa pasrah dalam pelukan Sherly. Cumbuan bertubi tubi dari Sherly membuatku hampir tak bisa berpikir jernih, tapi aku sadar kalau ini terus berlanjut, kami bisa ketahuan oleh yang lain. Aku nggak tahu dengan Sherly, tapi aku tak bisa membiarkan teman temanku mengetahui kemesraan kami berdua yang tidak wajar ini.

“Sher… jangan sekarang Sher…”, aku mulai meronta perlahan dari dekapan Sherly. “Nanti ketahuan yang lain…”, keluhku tanpa daya ketika Sherly meremas kedua payudaraku begitu aku lepas dari dekapannya. Tepat ketika Sherly melepaskan remasannya pada payudaraku, pintu kamarku terbuka dan Jenny masuk dan memanggil kami berdua, “Ayo dong, kalian jangan pacaran melulu dong, nanti aja pacarannya kalo udah selesai renang”.

“Kamu ini Jen, awas ya kalau ketangkap”, aku langsung pura pura marah dan mengejar Jenny yang lari keluar sambil tertawa, dan aku terus mengejarnya sampai kami berdua mencebur ke kolam renang. Aku sudah tak berminat mengejar Jenny, air yang dingin ini sungguh menyegarkan dan aku berenang sepuasnya. Mereka berenang santai sambil terus berceloteh, hanya aku sendiri yang sibuk menyelam dan berenang sampai aku agak lelah.

“Eh bentar nih, aku mau minum dulu.. haus juga nih. Kalian juga mau kan? Aku bawain lima Aqua botol buat kalian ya”, kataku ketika aku merasa agak haus. “Iyaa. Thanks ya El”, kata mereka hampir berbarengan. Aku tersenyum, lalu naik dan masuk ke dalam ruang tengah untuk mengambil minuman, dan aku minum sampai hausku terpuaskan, aku langsung menghabiskan setengah botol air minum.

Aku mengambil lima botol air minum Aqua dari kulkas dan kutaruh di meja sebentar. Tepat ketika aku menutup pintu kulkas, tiba tiba sebuah tangan menerobos dari belakang melewati celah pahaku, kemudian dengan cepat tangan itu sudah mencengkeram selangkanganku. Aku baru akan bereaksi ketika mulutku sudah dibekap oleh tangan yang satunya lagi. Aku tahu ini pasti ulah pak Basyir, yang mengambil kesempatan dalam kesempitan.

Aku tak berani banyak bergerak dengan lima botol Aqua yang kudekap dengan kedua tanganku, dan pak Basyir dengan leluasa meremasi daerah selangkanganku, dan menggunakan jarinya mencari cari dan menekan bibir vaginaku, sementara kurasakan hembusan nafas pak Basyir yang hangat menerpa leherku ketika ia sedang menciumi rambutku yang basah ini.

“Emmphh…”, aku menggeleng gelengkan kepalaku menahan nikmat yang melanda selangakanganku ketika jari tangan pak Basyir dengan tepat menusuk sebagian liang vaginaku. Tubuhku mengejang kaku, merespon tusukan tusukan kecil yang dilakukan pak Basyir. “Empph.. ahhh.. pak.. jangan sekarang…”, aku merintih dan memohon pak Basyir untuk menghentikan semua ini. “Non Liza…”, desah pak Basyir dengan nafas memburu dari belakangku. “Bapak kangen..”, sambung penjaga vilaku ini.

“Jangan gila pak, apa apaan sih, udah lepaskan Liza!”, bentakku pelan. Aku makin panik karena pak Basyir tak juga melepaskanku, ia malah membalikkan tubuhku menghadap ke arahnya, lalu tiba tiba ia berjongkok dan menjilati vaginaku yang tertutup oleh baju renangku ini. “Ohhh.. pak… jangan…”, keluhku tak berdaya, aku tak bisa berbuat apa apa karena aku harus mendekap botol botol Aqua ini, daripada nanti terjatuh dan mengundang perhatian yang lain.

“Oooohh…”, aku mendesah menahan nikmat ketika pak Basyir di bawah sana dengan rakus melumat vaginaku, untungnya baju renangku memang basah, jadi tak akan mencolok kalau bagian yang itu basah oleh ludah penjaga vilaku. Sesekali tubuhku tersentak, aku tak bisa berjalan mundur karena kedua pahaku dipeluk oleh pak Basyir. Aku benar benar tak berdaya dan sudah dalam kekuasaan penjaga vilaku ini, ketika tiba tiba kudengar Jenny memanggil manggilku.

“Elizaaa… kamu kok lama kenapaa? Aku bantuin deh ambil botolnya”, kata Jenny dengan suara yang cukup keras untuk terdengar sampai ke dalam sini. Aku seperti tersadar dan seolah mendapat kekuatan untuk melepaskan diri dari pak Basyir. Aku meronta sekuatnya, dan dekapan pak Basyir pada kedua pahaku terlepas, demikian juga dengan lumatan pak Basyir pada vaginaku. Tubuhku masih bergetar menahan nikmat, sementara pak Basyir tak menunjukkan tanda tanda akan berhenti.

Dalam keadaan tersengal sengal, dengan kesal aku berkata pada pak Basyir dengan penuh ancaman, “Bapak jangan nggak tau aturan ya! Bisa nggak nunggu sampai nanti malam? Tolong pak Basyir jaga kelakuan bapak, jangan lupa diri pak, Liza ini masih anak majikan bapak! Kalau bapak sampai tega mempermalukan Liza di depan teman teman Liza, maka bagi Liza nggak ada yang perlu Liza pertimbangkan lagi dan jangan salahkan Liza kalo Liza minta papa untuk memecat pak Basyir!”

Pak Basyir keder juga, “Iya non.. saya ke belakang dulu.. maaf non, abis non ngangenin sih”. Wajahku panas mendengar kata kata pak Basyir. Untung ia sudah keluar ketika Jenny sampai ke dalam ruangan ini dan aku sendiri sudah berhasil mengatur nafasku dan bersikap sewajarnya. “El.. kamu digangguin bapak itu lagi?”, tanya Jenny dengan berbisik bisik. Aku mengangguk dan berkata, “Iya Jen, untung kamu tadi panggil panggil.. thanks ya Jen”.

Jenny memelukku dan berkata, “Tenang El, aku pasti jagain kamu”. Aku merasa nyaman dipeluk seperti ini, dan ketika Jenny melepaskan pelukannya aku memandangnya dengan penuh rasa terima kasih. Kami berbagi lima botol Aqua ini dan bersama sama membawa semuanya ke tempat kolam renang. Dan sebelum sinar matahari mulai menyengat, kami semua sudah puas berenang, dan kami bergantian mandi pagi sebelum melanjutkan acara kami hari ini.

Tentu saja kami makan pagi dulu, dan kali ini aku mengajak Jenny membantuku di dapur menghangatkan makanan kaleng yang kami bawa kemarin. Sebenarnya untuk menghangatkan makanan kaleng itu tak begitu repotnya, tapi aku meminta Jenny menemaniku daripada aku nanti harus pasrah dilecehkan pak Basyir. Sementara itu teman temanku yang lain menyiapkan piring dan sendok garpu di meja makan, dan kami makan pagi dalam suasana yang santai.

Setelah makan pagi selesai dan piring piring kotor sudah kami letakkan di belakang, kami melewatkan pagi ini dengan melakukan berbagai kegiatan yang menyenangkan, seperti main kartu, tebak tebakan, menyanyi bersama dan yang paling seru, menggosip dan tak terasa sekarang ini sudah jam dua belas siang. “Gimana, jadi bikin pudding?”, aku bertanya pada teman temanku. “Jadi dong!”, seru Jenny, dan Sherly langsung beranjak dari duduknya sambil berkata, “Jangan lupa, kita buat agak banyak, kan udah janji dengan Cie Liana tadi”.

“Iya, aku ingat kok Sher”, kataku padanya, dan kami semua segera sibuk. Selagi mereka mempersiapkan bahan bahan untuk membuat pudding, aku ditemani Jenny menyiapkan nasi dan makan siang kami. Setelah rice cooker menyala, aku dan Jenny bergabung membantu menyiapkan bahan bahan untuk membuat pudding, dan setelah semuanya siap, kami semua makan siang dulu, baru kemudian kegiatan pembuatan pudding itu kami lanjutkan.

Kami membuat banyak sekali, selain untuk diberikan pada Cie Liana, juga untuk kami makan malam nanti. Kami pasti begadang di malam terakhir liburan di vilaku, yang juga malam terakhir bagi pak Basyir untuk menikmati tubuhku dalam acara liburan ini. Aku mencoba tak mengingat ngingat keadaanku yang nanti harus melayani pak Basyir, kini aku hanya ingin bersenang senang dengan teman temanku.

Akhirnya beberapa cetakan pudding selesai, dan sambil menunggu pudding pudding itu mengeras, kami semua beristirahat sambil menonton DVD. Entah film drama apa yang ditonton mereka, aku tak berkonsentrasi dan lebih banyak melamun. Aku merenungi keadaan diriku. Terbersit perasaan sedih, mengapa aku bisa tertimpa berbagai perkosaan yang tak habis habisnya. Dan yang paling membuatku merasa kotor dan terhina, adalah gangbang sekaligus bukake yang menimpaku tiga minggu yang lalu.

Masih teringat jelas olehku, betapa sakitnya liang vaginaku, betapa lemasnya kedua kakiku hingga aku bahkan sempat tak punya tenaga hanya untuk berdiri saja. Bagaimanapun aku masih bersyukur, mereka tak menyekapku untuk dijadikan budak seks mereka. Kembali terngiang di telingaku suara suara melecehkan dari siswa STM kelas 3 yang menggagahiku waktu itu. Tak terasa air mataku menitik, sakit sekali hatiku rasanya jika teringat itu semua.

Aku terkejut sendiri, dan cepat cepat kuhapus air mataku yang sudah mengalir di pipi ini. Tapi lagi lagi aku terkejut, teman temanku semua juga sedang menangis. Ternyata film dari DVD yang sedang ditonton mereka ini adalah jenis cerita sedih, dan ini benar benar menyelamatkanku. Apa jadinya jika sekarang ini mereka sedang menonton film komedi dan aku malah menangis seperti ini?

Aku hanya mengarahkan pandanganku ke TV, tapi pikiranku terus melayang layang. Aku teringat saat terenggutnya keperawananku di ruang UKS, perkosaan yang akhirnya membuatku larut dan menyerahkan diri. Demikian juga halnya di rumah, berawal dari perkosaan, akhirnya aku memilih memberikan para pembantu dan sopirku kesempatan untuk menikmati tubuhku selagi situasi memungkinkan, dan yang terjadi akhir akhir ini aku malah amat menikmati persetubuhan dengan mereka bertiga.

Lalu buruh buruh Jenny yang juga pernah mendapat kesempatan untuk menikmati tubuhku, lalu penjaga vilaku ini yang berhasil membuatku memohon mohon untuk diantar menuju orgasme. Di sekolah baletku, aku harus memuaskan seorang tukang sapu, lalu aku merasakan berciuman dengan sesama wanita bersama Cie Elvira dan Sherly, lalu selusin siswa STM kelas 3 yang membuatku menderita sengsara itu, dan kini aku kembali jatuh ke tangan pak Basyir. Lamunanku terhenti ketika Sherly mematikan DVD, dan aku tak perlu terlalu berusaha untuk tidak terlihat terkejut, karena semuanya masih sibuk menangis sedih.

“Sedih ya film ini…”, komentar Rini sambil menghapus air matanya. “Eh udah dong, masa kalian mau nangis terus? Gimana, ayo kita lihat pudingnya”, aku mencoba mencairkan suasana. “Iya nih”, kata Sherly sambil tersenyum, dan kami semua ke meja untuk melihat pudding kami. Ternyata sudah siap untuk dimakan walaupun agak hangat. “Ayo, aku temani kamu antar pudding itu El”, kata Sherly. “Iya boleh. Tapi kita cicipin dulu nih, ntar kuatirnya rasanya nggak enak”, kataku pada mereka.

“Waah.. enaknyaa”, kata Jenny, dan ia menyambung lagi, “Udah kasih aja, pasti Cie Cie itu senang. Aku tambahin dulu es buahnya ya”. Jenny menambahkan es buah dari kaleng yang sudah dingin sekali karena dimasukkan ke dalam kulkas sejak kemarin, dan setelah pudding buah ini siap, aku dan Sherly pergi ke vila tempat Cie Liana menginap tadi, meninggalkan Jenny dan yang lain yang memamerkan saat saat mereka menikmati es pudding itu. Entah apa yang mereka lakukan setelah ini sambil menunggu kami kembali, mungkin beristirahat, mungkin tidur siang atau sekedar tidur tiduran sambil mengobrol.

“El, Cie Liana itu cakep abis ya”, kata Sherly. “Iya Sher..”, aku menjawab sambil tersenyum. “Tapi kamu masih lebih cakep kok El”, goda Sherly sambil tersenyum nakal. “Ih.. apaan sih Sher.. udah ah, ini kita udah sampai”, kataku agak malu. Kami mencari cari bel, tapi tak menemukan. Dan ketika aku akan mengetuk, Sherly mendorong pintu vila ini dan ternyata terbuka, tak dikunci. “Gimana ini Sher?”, tanyaku pada Sherly, yang menjawab, “Ya kita masuk aja, toh maksud kita kan baik, mau ngasih pudding ini”.

Aku berpikir, benar juga kata Sherly. Maka aku dan Sherly masuk sekalian melihat lihat. Sempat aku memperhatikan jam tanganku, sudah jam tiga sore. Tiba tiba, aku menangkap suara desahan dan rintihan wanita, juga geraman dari pria, yang mungkin lebih dari satu. Aku tercekat, tanpa sadar aku hanya ikut ketika Sherly sudah menarik tanganku dan ia berhenti di pojok tembok. Sherly mulai mengintip halaman belakang vila ini. Aku mau tak mau mendengar suara desahan wanita yang makin jelas itu, dan aku berbisik, “Siapa Sher?”. Sherly menjawab dengan nada suara yang tak percaya, “Cie Liana.. El..!?”.

Jawaban Sherly itu amat mengejutkanku, dan aku memaksa diri untuk ikut mengintip. Aku tercekat ketika melihat Cie Liana sedang tiduran di kursi panjang, tubuhnya telanjang bulat dengan pakaian yang berserakan di teras belakang ini dengan vagina yang tertancap penis seorang laki laki yang penampilannya terlihat seperti penjaga vila di sini, sementara satu tangan Cie Liana sedang sibuk mengocok penis seorang laki laki yang aku rasa pernah melihatnya. Ya, laki laki itu adalah sopir Cie Liana.

Aku tertegun melihat pemandangan yang harusnya tak asing buatku, karena keadaanku memang tak berbeda dengan Cie Liana, menjadi pemuas nafsu seks penjaga vila, sopir, malah aku masih harus rela menjadi pemuas nafsu dari beberapa orang yang tidak sedikit jumlahnya. Cie Liana kelihatan seperti menderita ketika penis itu melesak dalam dalam pada liang vaginanya, tapi ketika penis itu ditarik sampai hampir keluar, aku merasa sepertinya kedua kaki Cie Liana menjepit pinggang laki laki itu seolah Cie Liana tak rela penis itu sampai keluar dari liang vaginanya.

“Ngghhh.. Aaaduuuh…”, kudengar lenguhan dan erangan Cie Liana ketika liang vaginanya diaduk aduk sampai pinggang Cie Liana terangkat angkat, dan aku bisa membayangkan bagaimana rasanya, karena aku sendiri sudah pernah mengalami yang seperti itu. Wajah Cie Liana yang mengekspresikan kesakitan saat liang vaginanya disodok dalam dalam membuatku kuatir. “Sher.. menurutmu, apa Cie Liana.. diperkosa?”, tanyaku dengan tak yakin.

“Ya nggak lah El, mana ada orang diperkosa tapi kakinya malah disilangkan melingkari pinggang pemerkosanya? Itu sih persetubuhan namanya”, jawab Sherly sambil terus melihat ke arah Cie Liana yang sedang tersentak sentak digenjot oleh laki laki itu. Mukaku rasanya panas, teringat aku sendiri sudah beberapa kali terlibat persetubuhan, yang pada awalnya selalu dimulai dari perkosaan, dan akhirnya aku harus larut dalam kenikmatan, malah kadang aku sampai mencari kenikmatanku sendiri.

Aku melihat Cie Liana yang sedang digenjot habis habisan tiba tiba menarik penis dari sopirnya yang sedang dikocok oleh tangan Cie Liana, kemudian Cie Liana melahap penis itu dan mengoralnya. Kini aku jadi yakin, kalaupun tadinya awalnya Cie Liana memang diperkosa, sejak Sherly dan aku melihat kejadian ini, keadaan Cie Liana pasti sudah mulai menikmati adukan pada liang vaginanya. Wajah Cie Liana yang mengekspresikan penderitaan itu besar kemungkinan karena penis dari laki laki yang mengaduk liang vagina Cie Liana itu begitu besar dan panjang.

“Ooooh… Bu Lianaaaa…”, erang sopirnya Liana itu, dan Cie Liana melepaskan kulumannya pada penis sopirnya yang langsung mengocok penisnya sendiri dan sesaat kemudian, spermanya berhamburan menyemprot wajah Cie Liana, sebagian semprotan itu mengenai rambutnya juga. Dan kini ganti Cie Liana yang melenguh lenguh, “Nggghh… ngghhh… aduuhhh…”. Tubuh Cie Liana berkelojotan, untung sopirnya menahan dan menjaga gerakan tubuh Cie Liana yang mungkin sekali sedang mengalami orgasmenya itu, hingga tak sampai terjatuh dari kursi yang menopang tubuh Cie Liana itu.

Tak lama kemudian Cie Liana melemas bersamaan dengan suara geraman dari laki laki yang beruntung menikmati liang vagina dari Cie Liana itu. Laki laki itu lalu mencabut penisnya, lalu ia cepat cepat beranjak dan mengarahkan penisnya ke payudara Cie Liana sambil terus mengocok penisnya sendiri. “Aaah…”, erang laki laki itu saat spermanya tersemprotkan keluar membasahi kedua payudara Cie Liana.

Kini kedua pejantan yang menggagahi Cie Liana sudah terpuaskan, dan Cie Liana sendiri kelihatan lemas, wajah dan payudaranya belepotan sperma dan nafasnya tersengal sengal. Nampak laki laki yang baru menyetubuhi Cie Liana itu mengelus-elus kedua payudara Cie Liana sehingga cipratan spermanya merata. Sesaat kemudian bibir Cie Liana dipagut dengan buas oleh sopirnya. “Mmmphhh… mmmm…”, Cie Liana membalas pagutan itu dan melingkarkan kedua tangannya di leher sopirnya, mesra sekali kelihatannya.

Sungguh pemandangan yang indah dan sexy, juga kontras sekali. Cie Liana yang begitu cantik dan berkulit putih mulus bak pualam, saling berpagut begitu ganas dengan sopirnya yang berwajah amburadul dengan kulitnya yang hitam tak terawat, dan kulit dari kedua insan yang berasal dari strata sosial yang amat berbeda itu, bergesekan dan menyatu dengan indahnya. Pemandangan ini membuatku jantungku berdegup kencang dan aku mati matian berusaha menekan gairahku yang meninggi ini.

Tanpa kusadari tiba tiba Sherly sudah mendekapku dari belakang dan menarikku ke arah tembok. Sherly dengan kejam merangsangku habis habisan di saat aku sendiri sudah terangsang melihat live show persetubuhan tadi. Aku tak berani bersuara, hanya bisa diam tak tahu harus berbuat apa selain mati matian menahan diriku untuk tidak mendesah. Aku menggigit bibir dan menggeliat menahan nikmat ketika tangan Sherly yang kiri sudah menyusup pada bagian depan celana dalamku, dan jari tangannya dengan cepat menemukan liang vaginaku, lalu menusuk dan mengaduk aduk liang vaginaku.

Tangan kanan Sherly sendiri bergantian meremasi kedua payudaraku, dan aku mulai mengejang akibat terangsang begitu hebat. “Nggh.. Sheer..”, aku melenguh perlahan dan mencoba melepaskan diriku dari dekapan Sherly. Setelah berhasil, dengan nafas yang memburu aku cepat ke arah pintu masuk vila ini, dan Sherly mengikutiku ke sana. “Kenapa El?”, tanya Sherly dengan senyum menggoda. Aku tersenyum malu tak kuat membalas tatapan Sherly yang sayu dan penuh hasrat padaku.

“Sher… kita jangan begini di sini, nanti kalau ketahuan Cie Liana kan nggak enak”, aku berbisik lembut, mencoba memberi pengertian pada Sherly. “Ya udah, kamu sendiri yang bilang kita jangan begini di sini, artinya nanti ditempat lain yang memungkinkan, kamu harus mau. Pokoknya hari ini kamu harus jadi milikku, Eliza”, jawab Sherly dengan mesra. Aku tak tahu harus menjawab apa, malu sekali rasanya, dan aku hanya bisa menunduk malu seperti ada seseorang yang mengajakku untuk menikah saja.

“Gimana ini El, masa kita mau menunggu Cie Liana dan mereka itu bermain satu ronde lagi?”, tanya Sherly. Aku sendiri juga bingung, dan tiba tiba Sherly sudah berseru dengan suara keras, “Permisii.. Cie Liana, aku Sherly yang tadi Cie, lagi sama Eliza nih..”. Dan terdengan suara Cie Liana dari halaman belakang tadi, “Iyaaa.. tunggu bentar di sana ya, Cie Cie bentar lagi keluar”. Aku dan Sherly saling berpandangan, seolah bersepakat untuk pura pura tak terjadi apa apa.

Tak lama kemudian Cie Liana menemui kami, dengan pakaian yang terpasang lengkap dan cukup rapi, hanya saja agak kusut di sana sini. Wajah Cie Liana merah sekali dan tubuhnya berkeringat cukup banyak seperti orang yang baru berolahraga cukup berat. Rambutnya yang tadi diikat itu kini dibiarkan bebas tergerai, indah sekali rambut Cie Liana itu dengan highlight di beberapa bagian, hingga Cie Liana terlihat semakin cantik, dan aku terus memandangi Cie Liana dengan terpukau.

Tapi aku agak terkejut ketika aku melihat sedikit bekas sperma pada bagian atas rambut Cie Liana, yang tadi disemprotkan oleh sopirnya itu. Dan sekilas aku juga bisa melihat beberapa warna merah bekas cupangan di bagian leher Cie Liana dari sela sela rambutnya, membuatku menahan nafas dan berusaha seolah olah aku tak melihat apapun. Aku juga berharap Sherly tak membahas apa yang kami lihat tadi saat kami sempat mengintip tadi, dan tampaknya Sherly memang belum cukup gila untuk melakukan itu.

“Hai.. kalian…?”, tanya Cie Liana dengan ragu. “Ya Cie Liana, lupa ya? Tadi kami kan janji mau bawain Cie Liana pudding?”, goda Sherly. “Oh iya yaa.. ayo masuk”, kata Cie Liana mengajak kami mampir sebentar. “Aduh, sorry ya Cie, aku dan Eliza udah ditungguin yang lain, kami lagi akan mengadakan game nih.. Cie Cie mau ikut?”, kata Sherly.

“Oh, jangan deh Sherly, nanti Cie Cie malah menggangu saja. Lagipula Cie Cie mau istirahat nih”, tolak Cie Liana dengan halus. Aku agak heran tentang game yang Sherly maksud, tapi aku tahu aku tak boleh membuat suasana menjadi canggung, maka aku mengikuti kemauan Sherly dan tersenyum pada Cie Liana.

“Ini Cie, puddingnya”, aku memberikan pudding buatan kami ini. “Ya udah kalo gitu, thanks ya puddingnya. Mmm, Eliza, tempatnya pudding ini, Cie Cie pindah sekarang, atau besok Cie Cie titipkan ke pak Alan?”, tanya Cie Liana. “Oh nggak usah repot repot Cie, besok aja titipkan papiku”, jawabku. Cie Liana mengangguk dan berkata, “Thanks ya pudingnya.. aduh ngerepotin deh… dan aduh.. kelihatannya enak nih, kalian buat sendiri ya? Wah kapan kapan Cie Cie mesti belajar sama kalian nih!”.

Aku dan Sherly tersenyum mendengar pujian Cie Liana. “Ya Cie Liana, belum dicoba kok udah bilang keliatannya enak… ntar nyesel lho udah berharap harap, nggak tahunya puddingnya kurang enak”, kata Sherly dan Cie Liana tertawa, sungguh cantik sekali Cie Liana waktu tertawa seperti ini. “Ah kamu itu ada ada aja, Cie Cie ini udah senang sekali dikasih pudding gini”, kata Cie Liana. Kami semua tersenyum, dan Sherly berpamitan pada Cie Liana, “Ya udah, kami pamit dulu Cie, sampai ketemu lagi ya”. Setelah aku juga berpamitan, kami segera keluar dari vila tempat Cie Liana ini dan kembali ke vilaku.

Di tengah perjalanan, aku merasa seperti disambar petir ketika aku mendengar bisikan Sherly, “El, kamu kok sampai seperti orang bingung gitu sih waktu tadi lihat Cie Liana digituin sama penjaga vilanya? Bukannya, tadi malam kamu sendiri juga bersenang senang dengan penjaga vilamu? Dan dari percakapan kalian, aku yakin sekali kalau tadi malam itu bukan pertama kalinya kamu menyerahkan dirimu kepada penjaga vilamu, El”.

“Hah? Kamu ngomong apa sih Sher?”, aku tergagap dan mencoba mengelak. “El, aku tahu kok, penjaga vilamu itu nyebutin aku waktu dia berkata, seperti teman non Liza yang tadi siang ngeremasin susunya non”, kata Sherly dengan senyuman yang bukan merupakan senyuman kemenangan, sinis ataupun dingin, tapi senyuman itu begitu penuh hasrat. Dan aku langsung lemas, tak tahu apa yang harus kulakukan. Rahasia ini sudah terbongkar, bukan karena kesalahan pak Basyir, melainkan karena Sherly sendiri yang tahu. Rupanya bayangan yang kemarin kulihat sekelebat itu memang bayangan orang, yaitu Sherly.

“Sher.. siapa lagi yang tahu tentang ini?”, aku bertanya dengan panik. “Jangan kuatir nona cantik, aku nggak ngasih tahu siapa siapa kok, dan waktu itu yang mengintip cuma aku sendiri. Yah sebenarnya kemarin, aku ingin dapatin kamu El. Waktu kamu keluar dari kamar, aku kira kamu ke toilet, dan aku kira aku bisa dapatin kamu di sana. Tapi tak tahunya, kamu bukannya ke toilet, malah ke kamar penjaga vilamu. Ya aku jadi ingin tahu, apa yang kamu lakukan di dalam sana”, kata Sherly panjang lebar.

Aku makin terpojok. Masih untung, setidaknya cuma Sherly sendiri yang tahu sekarang ini. “Sher.. jangan bilang yang lain ya, please..”, aku memohon pada Sherly. Dengan tersenyum geli, Sherly berkata, “Aduh Eliza.. ngapain juga aku ngomongin ke yang lain.. kita ini sama sama udah nggak suci, buat apa aku harus merusak nama baikmu… kalau kamu mau pun, kamu harusnya juga udah cerita cerita tentang keadaan kosku yang rusak, yang kamu pasti bisa menduga duga dari kunjunganmu yang terakhir itu. Nah, meskipun sama sama nggak suci, tapi aku yakin kita sama sama nggak ember, jadi kamu tenang aja ya”.

Aku sedikit lega. Sherly kemudian mendekat dan berbisik di telingaku dengan mesra, “Tapi nanti, kamu mandi sama aku ya El.. aku ingin kamu…”. Aku mengangguk lemah dan menggigit bibir dengan senyum menahan malu. Sesampai di vila, aku masuk ke dalam kamar diikuti Sherly, dan aku tak menemukan Bella. Tapi aku mendengar suara ribut yang amat riang dari kamar seberang, dan ketika aku melihat toilet, ternyata kosong. Dan terdengar tawa dari Bella dari kamar seberang, menandakan ia sedang ada di dalam sana.

“El, kalo gitu, kita mandi sekarang aja..”, kata Sherly senang. Dengan perasaan tak karuan, aku mengambil baju ganti dan handuk, dan Sherly juga melakukan yang sama. Lalu kami berdua masuk bersama ke dalam kamar mandi, dan setelah pintu tertutup dan terkunci rapat, juga baju ganti dah handuk kami tergantung di tembok, dengan sangat bernafsu Sherly menyergapku, dan mencumbuiku. Aku memejamkan mata berusaha membiasakan diri, karena aku tahu pasti, ini bukan untuk yang terakhir kalinya aku harus bercumbu dengan Sherly.

Perlahan aku membalas cumbuan Sherly, yang makin membakar nafsu temanku ini. Tak lama kemudian Sherly sudah melucuti bajuku, dan aku sendiri mencoba melakukan yang sama walaupun agak canggung. Setelah kami berdua telanjang bulat, kami kembali berpelukan dan saling memagut bibir dengan ganas. Aku sendiri sudah mulai dalam keadaan terbakar nafsu, lidahku kulesakkan ke dalam mulut Sherly dan saling bertaut dengan lidahnya di dalam sana sampai kami saling melepaskan diri karena kehabisan nafas.

“El, aku tahu kok, penjaga vilamu itu bilang kalau aku dan Jenny yang mau sama dia, kamu nggak boleh menyalahkan dia”, kata Sherly. Aku teringat betul, pak Basyir memang sempat berkata seperti itu. “Dan penjaga vilamu itu benar El, kamu nggak boleh nyalahin dia, kalau aku yang deketin dia”, kata Sherly, membuatku tak percaya dengan pendengaranku sendiri. “Hah? Kamu gila ya Sher? Kamu…?”, aku memandangi Sherly mencoba memastikan temanku ini sedang bercanda atau tidak.

“Abisnya, waktu itu aku lihat walaupun penjaga vilamu itu sudah tua, tapi kemarin dia begitu perkasa dan bisa membuat kamu orgasme sampai kamu kelihatan nggak kuat nggak kuat gitu El. Aku jadi kepingin ngerasain kenikmatan yang sampai seperti itu”, kata Sherly, membuatku ternganga. “Tenang aja Sher, kita udah sama sama nggak virgin kok”, bisik Sherly sambil menusukkan satu jarinya pada liang vaginaku dan menggerak gerakkan jari itu dengan lembut, namun seperti mengorek seluruh dinding vaginaku.

“Nggghhh..”, aku melenguh dan menggeliat, perasaanku sangat tersengat, baik oleh rangsangan fisik yang baru saja dilakukan Sherly dengan menusuk liang vaginaku menggunakan jarinya, juga oleh perkataan Sherly tadi tentang keadaanku kemarin ketika aku tak berdaya di bawah keperkasaan pak Basyir, juga masalah kami berdua sudah sama sama sudah nggak virgin. Dan aku jadi membayangkan bagaimana beruntungnya pak Basyir yang akan mendapatkan Sherly dan aku di malam nanti, yang entah kenapa membuatku makin bergairah.

Aku balas menusuk liang vagina Sherly dengan jariku, dan sesaat berikutnya bibir kami kembali saling berpagut. Puting payudara kami saling menempel, dan perlahan kami menurunkan badan dan tiduran di lantai kamar mandi sambil terus bergumul. Aku membiarkan Sherly berbuat sesuka hatinya padaku. Pagutan bibir kami terlepas, dan aku hanya bisa menggigit bibir dan menggeliat pelan menahan nikmat ketika Sherly mulai mencucup puting payudaraku.

Rambutku basah oleh air yang membasahi lantai kamar mandi ini. Sherly memandangku dengan penuh nafsu sambil berbisik, “Kamu sexy abis El kalau rambutmu basah gini”. Lalu dengan sangat bernafsu Sherly menciumi seluruh wajahku sementara kedua pergelangan tanganku yang sudah direntangkan lebar lebar ini dicengkeram erat oleh Sherly seolah olah ia sedang memperkosaku. Perasaan tak berdaya karena aku tak bisa menggerakkan kedua tanganku sementara ada Sherly yang terus mencumbuiku, membuatku dalam keadaan terangsang hebat.

“Sher…”, keluhku. “Iya.. El..?”, tanya Sherly dengan suara yang menggigil layaknya orang terbakar nafsu. “Masukin… Sher..”, aku memohon. “Iya..”, kata Sherly sambil memagut bibirku, dan tangan kanannya melepas cengkeramannya pada pergelangan tangan kiriku, lalu Sherly mengarahkan tangannya ke selangkanganku. Awalnya Sherly mengaduk aduk liang vaginaku hanya menggunakan satu jari, dan itu sudah cukup untuk membuatku terbeliak dan mengerang menahan nikmat. Kini satu lagi jari Sherly melesak masuk menguak liang vaginaku, hingga tubuhku yang tertindih tubuh Sherly ini mengejang hebat.

“Aaaangghh..”, aku mengerang ketika Sherly memainkan dua jari tangannya di dalam liang vaginaku. Aku merasa seolah olah liang vaginaku sedang diserang dua penis kecil, yang mengaduk aduk dinding liang vaginaku kesana kemari, dan aku terus menggeliat keenakan. “Sheer… am..puuun…”, aku orgasme dengan hebat, rasanya cairan cintaku keluar dengan sangat banyak. Sherly tiba tiba beranjak melepaskan tindihannya pada tubuhku, dan ia segera mencari liang vaginaku.

“Auuuughh.. Sheeer… aaaahhh… nggghhhh”, aku melenguh sejadi jadinya ketika Sherly mencucup bibir vaginaku, ia menyedot semua cairan cintaku. Sedangkan tubuhku terus mengejang dan menggeliat sampai akhirnya melemas. Aku benar benar kelelahan, kini aku sudah tak berdaya, nafasku tinggal satu satu. “Sher… udah dulu.. nggak kuat Sher..”, aku memohon. “Mmmm…”, guman Sherly, tapi sepertinya ia mengabulkan permohonanku, dan berbaring di sampingku sambil memelukku.

“El.. kapan kapan kamu ke kosku.. nginap yah… kita lanjutin sampai puas…”, kata Sherly. Aku hanya mengangguk pasrah sambil beringsut, aku meletakkan kepalaku di atas payudaranya Sherly, menikmati keempukannya. Sherly membelai rambutku, dan aku terbuai dalam kenikmatan ini, rasanya aku ingin sekali tidur dalam keadaan seperti ini. Gesekan antara pipiku dan puting payudara Sherly membuat gairahku bangkit, aku mencium dan mencucup puting payudaranya Sherly walau dengan agak canggung.

Sherly menggeliat dan mengeluh, “Auuw.. El.. kamu nakal…”. Aku tersenyum geli dan terus mencucup puting payudara itu sepuasnya. Kini ganti Sherly yang terus menggeliat seperti cacing kepanasan. “Ngghhh.. aduh Eel..”, keluh Sherly. Aku tak perduli, tenagaku sudah mulai kembali dan kini saatnya aku yang bersenang senang. Perlahan kumasukkan jari telunjukku dari tanganku yang kanan ke dalam liang vagina Sherly sambil menatap wajahnya untuk melihat reaksinya.

Sherly menatapku sayu dan penuh penyerahan, membuatku sedikit merasa canggung dan jantungku berdegup kencang. aku belum terlalu terbiasa dengan semua ini, dimana aku sampai seintim ini dengan sesame wanita. Jariku benar benar terbenam dalam liang vagina seorang wanita, dan kurasakan denyutan yang begitu sexy, aku membayangkan bagaimana perasaan para laki laki yang pernah membenamkan penis mereka pada liang vaginaku. Ia mengejang perlahan selama jari tanganku terus melesak ke dalam liang vaginanya yang terasa begitu hangat dan basah oleh cairan cintanya.

Perlahan, jari tengahku kulesakkan ke dalam liang vagina Sherly, membuat ia terbeliak menahan nikmat selama proses tenggelamnya jariku yang kedua ini ke dalam liang vaginanya. “El… aduuuuh…”, keluh Sherly, tubuhnya menggeliat kaku, sementara tangan kirinya mencoba menyingkirkan tanganku yang sedang mengantarnya menunju kenikmatan, dan tak berhasil sama sekali karena tenaga Sherly sudah tidak ada, tubuhnya sudah di luar kuasanya sendiri.

Aku mengerti sekali keadaan Sherly, sekarang ini ia dalam situasi yang sama seperti aku jika liang vaginaku sedang diaduk aduk hingga aku kehilangan semua tenaga untuk meronta, hanya bisa menggeliat mengikuti adukan pada liang vaginaku.. Tangan kanan Sherly tak bisa terlalu ia gerakkan karena tertindih badanku. Dan tangan kiri Sherly terlalu lemah untuk menyingkirkan tanganku. Aku sudah berkuasa atas tubuh Sherly sepenuhnya, kini tinggal aku ingin memaksanya segera orgasme atau tidak. Tapi aku malah ingin mencoba untuk mempermainkan nafsu birahi Sherly.

Aku mempercepat adukan jariku pada liang vagina Sherly, dan ketika kurasakan Sherly hampir orgasme, aku cepat menghentikan adukan jariku. “Ngghh.. Eel.. kamu jahat..”, keluh Sherly manja. Aku menciumi wajahnya seperti yang dilakukan Sherly tadi padaku, kemudian liang vaginanya kembali kuaduk aduk dengan cepat. Saat Sherly hampir orgasme, lagi lagi aku menghentikan adukan jariku. “Eeel.. ayo dooong.. kamu tega ya…”, keluh Sherly dengan memelas, membuatku tak tahan lagi dan ingin segera melihat temanku ini orgasme dengan hebat.

Aku mempercepat adukan jariku hingga Sherly orgasme. “Ngggh… Elizaaa… aaauh…”, Sherly melenguh sambil memelukku saat ia dalam keadaan orgasme hingga aku merasakan sentakan tubuhnya, rasanya jariku seperti diremas di dalam liang vaginanya. Kukeluarkan jariku dan kujilat di depan Sherly dengan pandangan menggoda. Sherly terlalu lemas, ia hanya bisa tersenyum gemas padaku. Kini aku berniat membalas perbuatan Sherly yang terakhir.

“Aaaah…. ampun Eeeeel…”, erang Sherly ketika aku mencucup bibir vaginanya. Tubuh Sherly mengejang dan berkelojotan, tangannya berusaha mendorong kepalaku agar cucupanku terlepas, tapi Sherly terlalu lemah untuk melakukan itu. Akhirnya kurasakan Sherly melemas, ia pasrah saat aku menyedot habis cairan cintanya. Dan rasa cairan cinta Sherly ternyata begitu nikmat, sesekali kulesakkan lidahku ke dalam liang vagina Sherly untuk mendapatkan semua cairan cinta Sherly yang masih ada di dalamnya.

Sherly terus mengerang keenakan.Setelah puas, barulah aku melepaskan cucupanku, lalu membaringkan diriku di sebelah Sherly yang masih tersengal sengal. “Aduh… El.. kamu nakal juga ya…”, kata Sherly di sela nafasnya yang memburu. Aku tersenyum geli, mengingat perlakuan beberapa orang yang pernah menikmati tubuhku kuterapkan pada Sherly sekarang ini.

“Udah Sher, kita mandi beneran yuk. Nanti ketahuan yang lain lagi”, aku mengajak Sherly untuk mengakhiri aksi lesbian kami ini. “Bentar ah.. aku masih capai tau!”, omel Sherly manja. Aku hanya tertawa geli, dan aku sudah bisa berdiri dengan benar, lalu aku mulai mandi di depan Sherly yang masih tiduran dan menatapku. Kusabuni seluruh tubuhku dengan gaya yang menggoda, sesekali payudaraku dan vaginaku kututupi dengan tangan, membuat Sherly memandangku dengan gemas.

“Awas kamu El…”, Sherly berusaha berdiri dan aku menyiramnya dengan air dingin. “Aduh.. ampuun Eeel…”, Sherly memohon mohon dan berusaha menghindar, aku melihat tubuhnya menggigil kedinginan. Aku tertawa senang dan mendekatinya, lalu menyabuni seluruh tubuhnya dengan lembut. Sherly memandangku dengan mesra, ia menyandarkan kepalanya di pundak kiriku. “Thanks ya El”, bisiknya. Aku tersenyum dan mencium pipinya, dan ketika aku memeluknya dengan perasaan sayang, Sherly tiba tiba menangis terisak perlahan.

“Sher.. kamu kenapa?”, tanyaku cemas. “Nggak apa apa El, aku cuma senang dan terharu, kamu baik sekali sama aku. Aku sudah takut kamu akan memandang rendah aku setelah kamu tahu kelainanku dan juga setelah apa yang sudah kulakukan padamu, tapi.. kamu..”, Sherly tak meneruskan kata katanya, ia memelukku dengan erat sambil menangis. Aku terharu juga hingga menitikkan air mata. “Sher…”, gumanku dan aku balas memeluknya.

Tak ada lagi nafsu birahi yang melandaku untuk saat ini. Aku menenangkan Sherly yang menangis makin mengguguk. Setelah Sherly mulai tenang, kami melanjutkan mandi ini, dan setelah saling mengeringkan tubuh kami dan berganti baju, kami keluar dari kamar mandi sambil bergandengan tangan. Ternyata Jenny dan yang lain tak ada yang menyadari kedatanganku dan Sherly. Mereka masih di dalam kamar seberang entah asyik menggosip apa. Aku melihat jam, kini sudah jam lima sore.

Aku mengetuk pintu dan berseru, “Halooo, kita makan malamnya apa niih?”. Terdengar jeritan senang dari dalam, “Kalian udah kembali yaaa…”. Dan beberapa saat kemudian Jenny sudah keluar dari kamar lalu berkata, “El, sesuai rencana kita waktu di kelas, kita adain barbeque yuk nanti malam, nanti kan malam terakhir di sini…”.

Sherly segera bersorak senang, “Iya ya.. asyik juga tuh!”. Rini berkata. “Udah kalo gitu kita beli bakso dan sate seperti kemarin aja deh. El, minta tolong penjaga vilamu untuk cegatin bakso dan sate sekarang dong!”. Aku mengangguk dan memanggil pak Basyir. “Pak Basyiiir…”, aku berseru ke arah kamarnya, kamar yang menjadi saksi perbuatan mesumku dengan penjaga vilaku ini. Tak lama kemudian dengan tergopoh gopoh pak Basyir datang ke ruangan ini, dan bertanya, “Ada apa non Liza?”.

“Tolong pak, kalau ada tukang sate dan tukang bakso, cegatin satu dan minta untuk masuk ke sini yah. Nanti bapak juga saya belikan kalau bapak mau”, kataku yang segera disambut dengan senang oleh pak Basyir, “Baik non Liza, terima kasih”. Ia segera keluar, dan tepat setelah keempat temanku selesai mandi, pak Basyir sudah kembali ditemani seorang tukang sate dan seorang tukang bakso. Kami segera menyerbu dan makan secukupnya, tak lupa aku menyuruh pak Basyir memesan sesuka hatinya.

Setelah selesai, aku memberikan sejumlah uang lebih pada pak Basyir dan berkata, “Pak, ini tolong bayarkan, sisanya bapak simpan aja”. Pak Basyir menerima uang itu dan mengucap terima kasih, lalu kami istirahat sebentar sambil mengobrol ke sana kemari. Tiba tiba kami melihat Cie Liana diantar pak Basyir masuk ke ruangan tengah ini. “Hai..”, sapa Cie Liana.

“Hai juga Cie…”, kami semua menyapa Cie Liana, yang kali ini berpenampilan santai, dengan rambut yang tergerai . “Eliza, ini tempat pudding tadi, udah Cie Cie cuci bersih kok”, kata Cie Liana. “Aduh Cie, ngapain repot repot? Mestinya biarin aja.. gimana Cie, enak nggak puddingnya tadi?”, tanyaku pada Cie Liana. “Aduh, enak lho. Kamu harus ajarin Cie Cie, Eliza! Nanti kalau ke kantor papamu, jangan lupa ajarin Cie Cie ya”, kata Cie Liana samil tersenyum manis. “Aduh, Eliza bukan yang ahli gitu Cie, ini juga bikinnya bersama teman teman semua kok”, kataku sambil tertawa senang.

Kami terlibat obrolan yang tak ada habisnya sampai jam delapan malam, dan sudah tiba saatnya kami menggelar barbeque. “Cie, kita kita mau barbeque nih. Cie Liana ikutan ya?”, tanyaku. “Aduh, Cie Cie harus pulang sekarang nih, ntar kemalaman, besok dimarahin papamu kalo telat El”, tolak Cie Liana. “Aduh.. sayang deh, biar aku yang bilang sama papa aja, supaya Cie Liana libur sehari”, aku setengah merajuk. “Hei.. jangan El, hahaha kamu lucu deh. Lain kali aja El, Cie Cie pasti ikut ya”, kata Cie Liana.

Maka aku dan yang lain mengantar Cie Liana keluar ke mobilnya yang sudah diparkir di halaman vilaku. Aku sempat melihat pak Basyir sedang bercakap cakap dengan sopirnya Cie Liana, dan aku sempat melihat mereka tertawa tawa sambil memandangi Cie Liana. Aku kesal sekali melihat sopirnya Cie Liana itu, pasti ia sedang bercerita tentang perbuatannya di atas sana saat menggagahi Cie Liana. Ingin sekali aku menampar sopir yang kurang ajar ini, tapi aku tahu aku harus menahan diri.

“Pak Sardi, ayo antar aku pulang sekarang”, kata Cie Liana pada sopirnya yang masih tertawa tawa dengan pak Basyir itu. “Baik bu Liana”, kata pak Sardi itu dan ia segera duduk di belakang setir mobil Cie Liana. “Ya udah, Cie Cie pamit dulu ya”, kata Cie Liana yang masuk ke dalam mobilnya. Cie Liana duduk di belakang dan melambaikan tangan ke arah kami, dan kami balas melambaikan tangan pada Cie Liana, lalu mobil itu melaju keluar dari halaman vilaku.

“Ya udah, kita mulai barbeque sekarang?”, tanyaku. “Iya, masa tahun depan?”, goda Jenny, dan kami semua tertawa. Sesaat kemudian aku dibantu oleh mereka semua, mengeluarkan semua perlengkapan yang biasa digunakan keluargaku kalau mengadakan barbeque ke halaman belakang. Celoteh riang dan canda tawa mengiringi acara barbeque kami ini, dan kami memanggang berbagai macam bahan barbeque sesuka hati mulai daging sampai marshmallow.

Lama juga kami mengadakan barbeque ini, dan aku sempat melihat pak Basyir memperhatikan aku, Jenny dan Sherly. Pak Basyir pasti tak tahu betapa beruntungnya dia nanti, Sherly akan menyerahkan diri padanya. Aku sempat teringat tadi ia entah berbicara apa dengan pak Sardi. Panas juga aku mengingat mereka berdua tertawa tawa seperti itu. Tapi aku tak boleh larut dalam emosi ini, sekarang ini waktunya bersenang senang.

Maka aku mencoba tak memikirkan hal itu, dan acara ini kami lanjutkan sampai kami semua puas sekali. “Aduh.. kenyangnyaa..”, kata Bella dengan senyum puas. Aku pun sudah merasa amat kenyang, dan teman temanku yang lain pasti tak jauh beda, karena semua sudah berhenti memanggang. Rasanya jadi mengantuk, dan kami menghentikan acara barbeque ini. “Udah ah, kita istirahat di dalam yuk, sambil nonton DVD terakhir”, ajak Sherly mengakhiri malam terakhir liburan ini.

Kami semua masuk ke dalam, meninggalkan peralatan barbeque yang besok akan dibersihkan oleh pak Basyir. DVD itu dinyalakan setelah kami semua ada di ruang tengah. Aku hanya menonton sambil lalu, dan ternyata itu adalah film komedi. Selagi teman temanku tertawa geli, aku yang memang tak begitu memperhatikan karena terlalu lelah dan mengantuk, dan akhirnya lagi lagi aku tertidur.

“El.. bangun El”, aku mendengar suara yang aku tak yakin suara siapa. “Mmmm…?”, aku membuka mata dan ternyata Jenny yang membangunkanku. “Ayo tidur di kamar dong.. kamu kecapaian ya kok ketiduran di sini lagi?”, katanya lagi. “Iya..”, jawabku dengan masih mengantuk, dan aku memaksakan diriku untuk bangun. Jenny membantuku berdiri lalu mengantarku ke kamar. Tanpa sengaja payudaraku tertekan oleh tubuhnya Jenny dan mendatangkan rasa nikmat, tapi aku hanya diam saja, walaupun sebenarnya aku ingin memeluk Jenny untuk merasakan kehangatan darinya.

“Sherly mana Jen?”, tanyaku ketika aku tak mendapati Sherly di kamarku. “Lagi di kamar mandi El”, jawab Jenny. Lalu setelah saling pamitan untuk tidur, Jenny menuju kamar seberang dan aku merebahkan diriku ke ranjang. Bella sudah tidur, sedangkan Sherly entah kapan kembali. Aku melihat jam, sudah jam 12 malam. Masih ada waktu satu jam lebih sebelum aku harus kembali menyerahkan diriku pada penjaga vilaku, dan aku memutuskan untuk bermain game di handphoneku sebentar setelah berganti baju tidur, sekalian menunggu Sherly kembali dari kamar mandi.

Setelah satu jam berlalu aku baru sadar, Sherly benar benar tak kembali. Aku memutuskan untuk menyusulnya ke kamar pak Basyir. Aku tahu tak mungkin Sherly berada di kamar mandi sampai selama ini. Dengan perlahan aku turun dari ranjang supaya Bella tak terbangun, lalu aku membuka dan menutup pintu kamarku dengan nyaris tanpa suara. Lalu aku segera keluar dan melihat pintu kamar mandi yang terbuka, aku segera menuju ke kamar pak Basyir dengan perasaan tak karuan, membayangkan Sherly sedang melayani penjaga vilaku.

Sempat aku menoleh ke belakang untuk memastikan tak ada yang melihatku, dan kini aku sudah berada di pintu kamar pak Basyir. “Ngghh… aaduuh paaak…”, kudengar erangan Sherly. Entah mereka sudah memulai sejak kapan, yang jelas kini rasanya Sherly sedang orgasme. Jantungku berdegup kencang. Aku memutuskan tak segera masuk, aku ingin mendengarkan sebentar apa yang terjadi selanjutnya, atau apa yang akan mereka bicarakan.

“Enak nggak non Sherly?”, aku mendengar ejekan pak Baysir. “Iya.. pak..”, jawab Sherly dengan lemah. Nafas mereka berdua tersengal sengal hingga terdengar ke sini. “Pantas Eliza kemarin sampai nggak kuat nggak kuat dan minta ampun..”, sambung Sherly ketika nafasnya sudah mulai teratur, membuat wajahku terasa panas. Pak Basyir hanya tertawa. “Tapi pak Basyir curang, pakai obat kuat sih”, protes Sherly.

“Lho non Sherly, bapak kan udah tua, kalau mau begini, ya harus pakai obat kuat dong. Kalau bapak nggak pakai, nggak sampai lama bapak sudah keluar. Lalu loyo dong, dan non Sherly pasti nggak bisa puas seperti barusan”, kata pak Basyir menanggapi protesnya Sherly. “Eeeh… Auuww…”, keluh Sherly, mungkin pak Basyir sudah mulai mencumbui atau menyetubuhinya lagi. Aku memutuskan untuk masuk dan tanpa mengetuk pintu, toh mereka sudah tahu aku akan datang.

“Auuww… oh… Eliza”, Sherly menyapaku di sela keluhannya. Sherly memandangku dengan sayu di bawah tindihan pak Basyir, tangannya menggapai seolah hendak meraihku selagi tubuhnya tersentak sentak ketika penis pak Basyir menghunjam dengan kuat ke dalam liang vaginanya. Tubuh Sherly mengkilap basah oleh keringat, hingga terlihat makin sexy dan menggairahkan, apalagi tangan satunya meremas sprei kuat kuat, membuat aku mulai terbakar nafsuku sendiri.

“Ngghh.. aduh paaak…”, Sherly melenguh tak kuasa menahan nikmat ketika pak Basyir mempercepat genjotannya. Kurasakan liang vaginaku mulai basah, mau tak mau, aku terangsang juga melihat live show di depan mataku ini. Nafasku mulai tak teratur dan aku menatap mereka berdua dengan jantung berdegup. Tanpa sadar, setelah menutup pintu kamar pak Basyir ini, aku mendekati Sherly yang masih terus menggapaikan tangan kanannya ke arahku, entah apa saja yang ada di pikiranku saat ini.

Aku menggenggam tangan itu dengan tangan kiriku, lalu entah siapa yang memulai, yang terjadi sekarang adalah aku dan Sherly saling berpagut dengan sangat bernafsu. Aku merasakan pak Basyir membelai rambutku dari belakang, namun aku tak memperdulikannya. Kini aku hanya ingin mencumbui Sherly habis habisan seperti kemarin siang. Kedua payudara Sherly kuremasi bergantian dengan tangan kananku. Sherly hanya bisa menggeliat lemah di bawah tindihanku dan memandangku dengan sayu.

Cukup lama aku mencumbui Sherly selagi liang vaginanya terus digenjot oleh pak Basyir. Rupanya rangsangan yang Sherly terima sudah di luar batas ketahanannya. “Mmmphh…”, Sherly merintih dan aku menduga mungkin ia kehabisan nafas, maka aku melepaskan pagutanku pada bibir Sherly ini. Dan Sherly langsung melenguh sejadi jadinya, “Aaanghhh.. ouhhh.. ngghhh…”. Sherly menggeleng gelengkan kepalanya kuat kuat, matanya terpejam dan mulutnya ternganga, dan akhirnya ia mengalami orgasme.

Aku merasakan tubuhnya berkelojotan dan mengejang hebat sampai pinggangnya terangkat angkat, oh… pasti Sherly sexy sekali dalam keadaan seperti ini. Kini Sherly sudah ambruk tak berdaya, ia kelihatan sangat lemas dan lelah. Aku memandangi wajah Sherly yang terlihat begitu menggairahkan saat ini, matanya setengah terpejam dan kedua bibirnya seperti pasrah namun menantang, hingga aku tak tahan lagi dan memagut bibir Sherly dengan sangat bernafsu.

Aku baru melepaskan pagutanku setelah aku sendiri kehabisan nafas. Sherly sudah tak berdaya, ia diam saja dan tak bergerak sedikitpun, hanya dadanya yang naik turun mengikuti nafas Sherly yang memburu. “Oooh…”, Sherly mengeluh lemah, dan aku menoleh ke Pak Basyir. Kulihat ia menarik penisnya dari jepitan liang vagina Sherly, dan penis itu masih mengacung dengan gagah, dengan cairan cinta Sherly yang melumuri seluruh permukaan batang penis itu.

Mukaku terasa panas ketika aku menyadari tadi aku memperhatikan penis pak Basyir, yang membuat pak Basyir mendapat kesempatan untuk melecehkanku. “Non Liza, sudah kangen ya sama punya bapak ini?”, tanya pak Basyir dengan senyumnya yang sangat merendahkanku, tapi perasaanku malah tersengat dihina seperti ini. Aku mengalihkan pandanganku ke Sherly, malu rasanya melihat pandangan pak Basyir yang seperti ingin menelanjangiku.

“El..”, guman Sherly lemah. “Iya Sher?”, tanyaku pada temanku yang kini tergolek lemas di ranjang pak Basyir ini. “Buka baju dong… sekarang… aku jadi milikmu… kamu boleh lakuin… apa aja…”, kata Sherly sambil memejamkan matanya. Kini perasaanku benar benar tersengat, aku sudah dikuasai oleh nafsuku sepenuhnya, dan perlahan aku menanggalkan baju tidurku, berikut bra dan celana dalamku. Lalu aku naik ke atas tubuh Sherly dan menindihnya, hingga kedua puting payudara kami bersentuhan.

Rambutku yang tergerai jatuh menyentuh kedua pipi Sherly, dan Sherly dengan lembut mencium rambutku. Ketika aku sedang memandangi wajah Sherly yang cantik ini, tiba tiba Sherly melingkarkan kakinya ke pinggangku, dan kurasakan bibir vagina Sherly menyentuh daerah bawah perutku. Belum cukup dengan itu, tiba tiba Sherly memelukku erat dan memagut bibirku, dan aku hanya bisa pasrah menyerahkan diriku pada temanku ini.

Aku memejamkan mata menikmati perlakuan Sherly ini, walaupun sekarang aku tak bisa bergerak ketika kedua pahaku sudah dilebarkan oleh pak Basyir yang sudah berlutut di belakangku. Dan sesaat kemudian tubuhku menggeliat ketika liang vaginaku harus menelan penis pak Basyir. “Ooohh…”, aku merintih perlahan dan membuka mataku, dan kulihat Sherly tersenyum mesra padaku. Pak Basyir diam sebentar, membiarkan penisnya terbenam di dalam liang vaginaku.

“Non Liza, bukan bapak yang memaksa non Sherly, tapi tadi non Sherly sendiri lho yang masuk ke kamar bapak ini. Bapak tidak pernah bilang apa apa lho non Liza”, kata pak Basyir. “Iya pak.. Liza tahu”, kataku pelan sambil menyingkap sebagian rambutku yang jatuh terurai hingga menutupi wajah Sherly. Sherly menatapku dengan mesra, dan aku kembali menurunkan kepalaku, lalu aku mulai menciumi Sherly dengan mesra, dan Sherly menerima semua itu dengan penuh penyerahan.

“El.. pak Basyir iri tuh”, kata Sherly sambil melihat ke arah pak Basyir. “Biar aja Sher.. nggghhh…”, aku melenguh sampai badanku tertekuk ke atas ketika pak Basyir mulai memompa liang vaginaku. Sherly tertawa geli, pasti karena ia melihat ekspresi kenikmatan yang tergambar jelas di wajahku. “Sheer.. nggghhh… jangan ketawa dong…”, keluhku, aku malu sekali. “Iya sayang…”, kata Sherly sambil meremas kedua payudaraku dengan lembut, membuatku merasakan sensasi yang luar biasa kali ini.

“Pak, enak mana, Sherly dibanding Eliza?”, pertanyaan Sherly benar benar membuatku malu, namun aku jadi ingin tahu apa jawaban penjaga vilaku ini. “Kalian berdua, sama sama enaak… Bapak mau kok punya istri seperti kalian berdua..”, jawab pak Basyir, yang segera ditanggapi Sherly. “Huu.. enaknya.. bapak umur berapa mau memperistri Eliza dan aku? Jangan mimpi ah!”, kata Sherly sambil mencibir. Aku hanya bisa tertegun melihat Sherly bisa sesantai ini.

“Sini sayang”, kata Sherly sambil menarikku ke dalam dekapannya. Aku hanya pasrah merasakan gelombang kenikmatan yang menghantamku dengan bertubi tubi ini. Liang vaginaku rasanya seakan mau meledak saja karena dipompa pak Basyir habis habisan, sedangkan kedua payudaraku tertekan oleh kedua payudara Sherly hingga memberikan rasa nikmat yang luar biasa saat puting puting payudara kami bergesekan. Dan untuk menambah derita kenikmatan ini, Sherly memagut bibirku dengan ganas.

“Mmmpphh… mmm…”, aku merintih tak jelas saat tubuhku mulai berkelojotan, dan Sherly rupanya tahu kalau aku akan segera orgasme, maka ia melepaskan pagutannya pada bibirku. “Oooohh… nggghhhh… aduuuuuh….”, aku melenguh sejadi jadinya, kurasakan cairan cintaku membanjir tak karuan di bawah sana. Tubuhku mengejang hebat, lalu melemas menindih Sherly. “Auuw…”, aku hanya bisa mengeluh lemah ketika pak Basyir mencabut penisnya yang masih amat keras itu.

Kurasakan tubuhku didorong oleh pak Basyir hingga payudaraku ada di atas wajah Sherly. Aku harus menopang tubuhku dengan kedua tanganku kalau tak ingin wajah Sherly terbenam dalam belahan dadaku sampai kehabisan nafas. Celakanya, Sherly memanfaatkan kesempatan ini untuk mencucup puting payudaraku, hingga aku yang sudah tak bisa kemana mana hanya bisa menggeliat menahan nikmat, apalagi tak lama kemudian kurasakan satu lagi jari tangan pak Basyir melesak masuk ke dalam liang vaginaku, membuat aku makin tenggelam dalam kenikmatan.

“Ngghhh.. nggghhh…”, aku dan Sherly melenguh bersahut sahutan. Aku agak heran mengapa Sherly ikut melenguh, dan ketika aku bisa menguasai diri, aku melihat Sherly yang ada di bawahku tersentak sentak, rupanya pak Basyir kini sedang memompa vagina Sherly. “Aduuuh…”, keluh Sherly ketika pak Basyir mempercepat genjotannya, sedangkan aku menggigit bibir menahan nikmat ketika kurasakan adukan jari tangan pak Basyir bertambah cepat, apalagi Sherly yang sedang sibuk menggeliat di bawahku dengan nakalnya beberapa kali mencucup puting payudaraku.

Beberapa lama aku dan Sherly dipermainkan oleh pak Basyir. Aku dan Sherly mulai menggeliat tak karuan dan nafas kami sudah tak beraturan. Tubuhku rasanya mengejang dan lagi lagi vaginaku serasa akan meledak. “Ngghh… aaah…”, aku melenguh sejadi jadinya saat aku harus kembali orgasme. Dan penderitaanku tak segera berakhir, karena tubuhku bergetar hebat ketika pak Basyir terus mengaduk aduk liang vaginaku dengan jarinya. Beberapa detik kemudian baru aku merasa sedikit lega setelah pak Basyir menarik lepas jarinya dari jepitan liang vaginaku.

“Eeel… kesinikan dong…”, kata Sherly sambil memegang pantatku dan menarik tubuhku ke arah atas badannya, hingga vaginaku yang masih berlumuran cairan cintaku yang baru membanjir ini kini tersaji di depan wajahnya. Aku tahu apa yang akan Sherly lakukan, dan aku mulai panik, “Sher.. jangan…. Aaduuuuh… nggghhh… amppuuun Sheeer….”, aku melenguh tak karuan dan tubuhku menggeliat tak tentu arah, rasanya seluruh cairan cintaku tersedot habis oleh Sherly yang mencucup bibir vaginaku dengan sangat bernafsu.

Beberapa saat lamanya aku harus berpegangan pada tembok kamar pak Basyir, dan akhirnya aku ambruk ke samping dengan nafas tersengal sengal, rasanya lemas sekali. Selagi aku masih harus mengatur nafasku, tiba tiba kudengar Sherly melenguh, “Ngghh… aduuuh…”. Kulihat Sherly sedang menggeliat dan mengejang, rupanya Sherly sudah tak tahan ketika pak Basyir makin mempercepat genjotannya. “Aduh El… aku… nggak kuat… lagii..”, erang Sherly sambil menggeleng gelengkan kepalanya kuat kuat dan kedua tangannya meremas sprei dengan kuat.

Dan kini kudengar pak Basyir mulai menggeram, dan Sherly sendiri sudah melemas. “Ooooohhhh..”, pak Basyir mengerang panjang, rupanya pak Basyir orgasme juga akhirnya setelah sekian lama menggagahi kami berdua. Pak Basyir tak menarik lepas penisnya, malah dari gerakannya pak Baysir membenamkan penisnya kuat kuat ke dalam liang vagina Sherly yang sudah tergeletak tanpa daya di ranjang penjaga vilaku ini, dan aku yakin Sherly sudah rutin minum obat anti hamil sepertiku karena ia tak panik sama sekali saat rahimnya dibasahi oleh sperma pak Basyir seperti sekarang ini.

Sesaat kemudian, pak Basyir sudah ambruk dengan nafas tersengal sengal. Aku tak memperdulikan pak Basyir, kini aku memperhatikan Sherly, yang sorot matanya sudah meredup, terlihat sekali Sherly sudah kehabisan tenaga. Aku beranjak menindih tubuh Sherly dengan lembut, dan aku mencium bibir Sherly yang ternganga sexy. Kemudian aku beranjak mundur supaya aku tidak berlama lama menindih tubuh Sherly dan memberinya kesempatan untuk bernafas.

Tapi ketika aku melihat bibir di vagina Sherly terdapat ceceran sisa sperma pak Basyir, aku memandang Sherly dengan penuh nafsu. Sherly tak mampu bergerak, tapi ia kelihatannya tahu aku akan membalas perbuatannya tadi. “El… jangan… aku aangghhhh…”, Sherly melenguh tanpa daya ketika aku mencucup bibir vaginanya, dan dengan pelan kusedot semua cairan sperma pak Basyir yang bercampur cairan cinta Sherly sendiri.

“Udah Eeel… ampuuun…”, erang Sherly lemah. Tapi aku terus menyedot semua cairan itu sampai habis. Sherly mengejang sampai pinggangnya terangkat, lalu ia roboh lemas ketika aku melepaskan cucupanku pada bibir vaginanya. Kutelan semua cairan yang ada di mulutku, dan aku berbaring di sebelah Sherly dan memeluknya dengan lembut. “Auw… El… kamu nakal…”, guman Sherly yang kini rambutnya kuciumi, wangi juga baunya, dan rasanya nyaman juga ketika pipiku bersentuhan dengan rambutnya Sherly ini.

“Sher… udahan yuk…”, kataku pelan. “Iya El… tapi bentar ya… aku masih lemas nih…”, jawab Sherly sambil mengangguk lemah. Keringat membasahi tubuh kami berdua, dan rasanya capai juga. Pak Basyir merangkak mendekati kami lalu membaringkan tubuhnya di antara aku dan Sherly. Kini penjaga vilaku ini pasti sedang sangat berbahagia, berbaring diapit dua bidadari cantik yang telanjang bulat, yang baru saja disetubuhinya. “Kalian tidur di sini saja sekarang, temani pak Basyir tidur ya”, kata pak Basyir.

Sherly langsung beranjak duduk dan berkata, “Nggak mau, pak Basyir bau. Sherly bisa nggak tidur sampai pagi. Ayo El, kita masuk”. Aku ikut bangkit duduk dan mencari pakaian tidur dan pakaian dalamku yang tadi kugeletakkan di lantai. Selagi aku mengenakan semua pakaianku, aku mendengar kata kata pak Basyir, “Biar bau tapi tadi non Sherly sama non Liza puas kan?”. Ingin rasanya aku mendamprat penjaga vilaku yang kurang ajar ini, tapi aku memutuskan untuk tak memperdulikannya.

Ketika aku selesai mengenakan semua pakaianku, ternyata Sherly juga sudah berpakaian, dan aku menggandeng tangan Sherly keluar dari kamar pak Basyir. “Non Liza, non Sherly, selamat tidur”, kata pak Basyir. “Mmm…”, aku malas menjawab dan Sherly hanya mengangguk. Aku terus menggandeng Sherly yang langkahnya tak beraturan, kelihatannya Sherly memang amat kelelahan.

Di tengah halaman ketika kami sedang menuju ke ruang utama, Sherly berkata, “Aduh El… capai juga nih aku, kuat juga ya penjaga vilamu itu. Rasanya seperti mau copot saja semua tulang tulangku sekarang ini…”. Aku tertawa geli. “Habisnya, kamu sih, belum juga jam dua belas malam udah ke sana duluan, udah berapa ronde tuh sebelum aku datang?”, godaku.

Sherly cemberut dan mencubit lenganku. “Iya Sheerr.. ampun…”, aku mengaduh kesakitan. “Abisnya, aku pingin tahu, seperti apa rasanya kok kamu waktu itu sampai nggak kuat gitu kelihatannya”, kata Sherly sambil melepaskan cubitannya, lalu ia mengusap lengan kiriku yang baru saja dicubitnya. Entah mengapa, rasa sakitnya langsung mereda, dan aku memandang Sherly sambil tersenyum.

“Ya sekarang kamu udah ngerasain sendiri kan? Tapi, itu cuma keperkasaan palsu sih, pak Basyir mampu seperti itu kan soalnya minum obat kuat”, aku berkomentar panjang lebar. “Iya tuh… dia minum dua bungkus lagi. Ngomong ngomong, memangnya kamu pernah ngerasain yang asli El? Maksudku asli perkasa gitu?”, tanya Sherly antusias, matanya bersinar sinar seperti anak kecil yang mengharapkan mainan baru.

Aku mengangguk malu. “Di rumahku Sher, ada pembantuku yang namanya Wawan… tanpa obat pun dia bisa sampai satu jam lamanya mengerjai aku”, kataku pelan, mukaku rasanya panas sekali waktu mengatakan hal ini, entah mengapa aku mengatakan semua itu begitu saja. Sherly tertawa geli dan menyandarkan kepalanya di bahu kiriku, dan kami tidak berbicara lagi sampai kami masuk ke dalam kamar. Kulihat Bella masih tidur dengan nyenyak, dan aku merasa lega.

Perlahan aku dan Sherly mengambil baju ganti, dan kami bersama sama ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh kami yang berkeringat ini. Tak ada niatan untuk berlesbi ria saat ini, kami berdua sama sama terlalu capai. Aku dan Sherly hanya saling menyeka dengan lap yang dibasahi dengan air sabun, dan memang sesekali kami iseng berbuat nakal dengan saling meremas payudara masing masing, dan kami sengaja saling mengaduk vagina masing masing saat membersihkan bagian itu dengan cairan pembersih vagina kami.

“Nggh… udah Sher…”, keluhku sambil menarik lepas jariku dari liang vagina Sherly. Dan Sherly sendiri menggigit bibir sambil melepaskan jarinya dari jepitan liang vaginaku. Setelah itu kami saling menghanduki tubuh kami berdua sampai kering, dan kemudian setelah selesai mengenakan pakaian dan menyimpan baju kotor kami dalam kantung plastik, aku dan Sherly saling pandang sambil tersenyum geli mengingat kegilaan kami berdua tadi.

“Yuk, kita tidur sayang”, kata Sherly. Aku mengangguk dan kami sempat berciuman dengan mesra sebelum masuk ke dalam kamar. Sherly masuk ke dalam selimut dengan perlahan dan ia berbaring di tengah. Aku ikut masuk ke dalam selimut dan berbaring di sebelah Sherly. Kami saling berpandangan, kemudian aku memejamkan mataku dan memeluk Sherly yang juga memelukku. Sesekali kami saling meremas lembut pada payudara kami, dan tak lama kemudian aku sudah tertidur pulas di dalam pelukan Sherly seperti kemarin.

“Heii.. kalian mau tidur sampai kapaan? Pakai peluk pelukan lagi, kalian ini pacaran ya?”, aku terbangun mendengar suara Jenny yang sewot. “Aduh Jen.. kamu ngagetin aja.. masih ngantuk nih”, kata Sherly yang juga terbangun, lalu dengan sengaja Sherly mendekapku di depan Jenny. Aku dan Sherly melihat Jenny dengan pandangan seperti menggoda anak kecil, tapi Jenny balik menggoda kami, “Ya ampun… Eliza, Sherly, sadar dong… emang udah nggak ada cowok ya di dunia ini? Duh, bisa mati berdiri nih cowok cowok di sekolah kita kalau tau dua bidadari di sekolah mereka ini ternyata pasangan lesbian”.

Kami semua tertawa geli, dan Sherly melepaskan aku dari dekapannya. Aku melihat jam, ternyata sudah jam sepuluh pagi. “Eh, kita kesiangan amat nih Sher”, kataku yang dijawab Sherly dengan senyuman penuh arti. “Ayo nih, cepat sikat gigi sana, yang lain udah nungguin kalian makan pagi nih!”, kata Jenny sambil keluar dari kamar. Duh, tak enak juga nih, maka aku dan Sherly cepat cepat ke belakang dan sikat gigi, lalu kami kembali ke ruang tengah dan duduk di meja makan bersama Jenny dan yang lainnya.

“Kalian ini… kalau nggak dibangunkan Jenny, bisa bisa kita semua yang di sini tadi mati kelaparan nungguin kalian bangun”, gerutu Bella sambil menggeleng gelengkan kepala dengan gaya yang lucu. “Iya nih, sori ya”, kataku. “Abisnya kamu sih Bel, gordennya nggak kamu buka, kan gelap gelap di kamar, jadi enak aja tidurnya gitu”, Sherly membela diri. “Udah gitu pakai dekap dekapan lagi”, Jenny menyambung dengan nada prihatin, membuat kami semua tertawa geli.

Sambil makan, seperti biasa di meja makan kami berceloteh tentang apa saja. Setelah selesai makan dan membawa semua peralatan makan yang kotor ke dapur, kami bersantai sejenak di ruang tengah. “Sekarang di sekolah pasti sedang ramai nih…”, kata Rini. “Tapi lebih asyik di sini kali”, kata Sianny. Aku teringat, untuk hari ini, aku harus membayar dengan penawaran yang terbaik dariku, yaitu menyerahkan tubuhku pada wali kelasku yang bejat itu, dan juga satpam sekolahku yang memiliki penis raksasa itu.

“El, kamu kenapa?”, tanya Jenny. “Nggak, nggak apa apa kok Jen. Yuk, kita beres beres, siang ini kita pulang kan”, aku mengalihkan pembicaraan. Mereka semua setuju, dan kami segera membereskan barang bawaan kami. “Aku buka bagasi mobil dulu El, jadi Siany dan Bella bisa naruh barang barang mereka dulu sekarang, aku mau mandi dulu nih”, kata Sherly. “Iya Sher, aku juga ikut”, kataku. “Liat deh, mesra amat kalian ini, sampai yang satu buka bagasi mobil, yang satunya nggak mau lepas”, goda Jenny.

“Ya ampun Jen, aku kan…”, aku tak meneruskan kata kataku ketika Jenny dan yang lainnya tertawa geli. “Udah ah, kalian ini ada ada saja kok… aku buka bagasi mobilku dulu”, aku menggerutu dan mengikuti Sherly keluar. Sempat kudengar Rini dan Sianny menimpali, “Hayo, mau membuka bagasi mobil, atau mencari Sherly?”. Aku hanya bisa menahan senyum, mukaku rasanya panas. Sampai di mobil aku agak merajuk pada Sherly yang sedang membuka bagasi mobilnya, “Sher, liat tuh, mereka…”. Sherly hanya tertawa pelan dan berkata, “Biarin lah sayang, mereka sirik kali”.

Aku hanya bisa diam sambil tersenyum jengah. “Udah El, aku mandi dulu ya, atau kamu yang mau mandi dulu?”, tanya Sherly. “Nggak, kamu dulu aja Sher”, jawabku, dan aku membiarkan Sherly masuk ke dalam dulu, beberapa saat kemudian setelah aku baru aku menyusul masuk ke dalam, untungnya teman temanku sudah ada di dalam kamar, mungkin sedang memeriksa apa ada yang ketinggalan. Aku masuk ke dalam kamar dan melihat Bella yang melihatku sambil menahan tawa.

Aku hanya bisa tersenyum malu, dan aku mengambil satu set baju yang akan kupakai nanti setelah mandi nanti. “Bel, kalau kamu mau naruh barang barang duluan, bagasi mobil udah aku buka kok”, kataku. “Iya El, thanks ya”, kata Bella. Aku diam sebentar, lalu aku keluar menuju ke kamar mandi dengan maksud menunggu Sherly selesai mandi. Ternyata kamar mandi sudah kosong, maka aku masuk saja dan mandi keramas sepuasnya.

Setelah mengeringkan rambut dan tubuhku, aku mulai mengenakan bra dan celana dalamku.Saat aku sedang mengenakan celana dalamku, aku teringat dulu saat aku memutuskan tak mengenakan celana dalam, karena aku memang memberikan kesempatan pada pak Basyir untuk menikmati liang vaginaku sebelum pulang. Aku tersenyum malu sendiri, dan aku terus mengenakan celana dalamku lalu kaos santai dan hot pants.

Lalu aku keluar dari kamar mandi dan baru sekarang aku memperhatikan kalau di lantai luar kamar mandi ini ada sisa air di jejak sandal, yang mengarah ke gudang di ujung lorong yang menuju ke halaman depan. Aku sedikit tercekat, dan jantungku berdegup kencang memikirkan kemungkinan ini adalah jejak sandal Sherly. Ceroboh sekali Sherly ini, bagaimana kalau sampai ada teman lain yang melihat? Aku mengambil segayung air dan menyiramkan ke arah jejak sandal itu untuk menyamarkan semuanya.

Lalu aku melihat ke dalam untuk memastikan tak ada temanku yang berada di ruang tengah, dan aku berjalan perlahan ke arah gudang itu. Ketika sudah dekat, sayup sayup kudengar desahan Sherly. Kubuka perlahan pintu gudang ini, dan aku tak terlalu terkejut melihat Sherly sedang disetubuhi oleh pak Basyir. Tapi aku agak panik karena mungkin saja ada temanku yang ke dekat sini dan tertarik mendengar suara suara dari dalam gudang ini.

“Sher… kamu gila yah? Nanti kalau ketahuan teman teman gimana?”, tanyaku dengan suara pelan. “Biar aja El… habis enak sih…”, kata Sherly di antara desahannya. Sherly terbaring pasrah di atas meja dengan baju lengkap dengan rok yang terangkat sampai ke pinggang. Entah Sherly mengenakan bra atau tidak, tapi yang jelas Sherly tak mengenakan celana dalam. Aku cuma bisa menggeleng gelengkan kepala melihat kegilaan temanku ini.

Dan aku melihat tubuh Sherly tersentak sentak ketika pak Basyir yang memeluk kedua paha Sherly itu memompa selangkangan temanku ini. “Kamu… nggak ikutan… El…?”, tanya Sherly terputus putus sambil melihatku dengan pandangan mata yang sayu. Aku menggigit bibir menahan gejolak nafsuku sendiri, lalu aku menggeleng mantap dan memutuskan meninggalkan mereka. “Nggak Sher, aku lebih baik menjaga supaya kalian nggak ketahuan teman teman”, kataku sambil menutup pintu gudang ini.

Kutambah lagi siraman satu gayung air penuh pada lantai di sekitar kamar mandi ini, dan aku masuk ke dalam kamarku. Aku tak melihat Bella, dan tasnya juga sudah tidak ada, kelihatannya Bella sudah menaruh tasnya di dalam bagasi mobil Sherly. Lalu aku keluar dari kamar dan bertemu Bella, dan aku mengajaknya masuk ke kamar Jenny.

“Bel, ayo ke kamar Jenny, mereka kelihatannya lagi asyik tuh”, kataku sambil menggandeng tangan Bella yang menurut saja ketika aku membawanya masuk ke kamar Jenny. Ternyata Jenny, Rinny dan Siany sedang main ular tangga, maka aku dan Bella ikut menonton. Tak lama kemudian, Jenny bersorak senang setelah mencapai finish duluan, sedangkan Rini menggerutu, “Nih anak…”. Siany menimpali, “Iya nih, beruntung melulu”. Jenny tertawa geli, lalu duduk di sampingku sambil merangkulku.

“Kekasihmu mana El?”, tanya Jenny padaku. Reflek aku menjawab, “Tadi aku sempat ketemu Sherly sebelum mandi, katanya dia mau ke atas bentar, ketemu temannya di hotel Surya…”. Meledak tawa teman temanku, dan aku langsung tersadar. “Jeeeen… kamu ini”, aku langsung mencubit Jenny sampai ia memohon mohon, “Aduh Eel… ampun…”.

Aku melepaskan cubitanku, dan wajahku rasanya panas sekali. Tapi aku sebenarnya memang tak bisa membantah dengan tegas, karena kenyataanya memang sekarang ini aku dan Sherly sudah seperti sepasang kekasih saja. “Jen… awas ya kalau kamu bilang gitu lagi”, aku mengomel dengan cemberut. Jenny merangkulku dengan lembut dan berkata, “Iya deh El, ayo kita main ular tangga”.

Aku mengangguk dan ikut bermain, demikian juga Bella. Kebetulan, dengan begini aku bisa menjauhkan mereka semua dari Sherly yang kini sedang asyik bersama penjaga vilaku. Kami semua bermain dalam suasana yang riang dan saling menggoda kalau ada yang harus turun mengikuti ular. Ternyata lagi lagi Jenny yang menang, dan Jenny tertawa senang sambil menggoda kami semua hingga akhirnya kami semua seperti sepakat kalau Jenny harus menerima hukuman.

“Hih.. ini anak. Yuk, kita kasih hukuman”, ajak Rini. Kami semua setuju dan menangkap Jenny dan menggelitik pinggangnya. “Iya… ampuuuun… hahahahaha.. aduuuuhhh… aku hahahahaha… nggak akan… hahahahaha”, Jenny memohon mohon ampun dan matanya sampai berair karena tertawa kegelian. Aku nggak tega juga dan setelah aku berhenti menyerang Jenny, teman temanku juga menghentikan serangan mereka.

“Kalian jahat… hahahaha…”, Jenny mengomel dan tertawa karena masih merasakan geli pada pinggangnya, hingga mau tak mau kami juga tertawa. “Udah ah, tinggal aku yang belum menaikkan tasku ke mobil”, kata Jenny sambil menyimpan set permainan ular tangga miliknya ke dalam tasnya. “Aku mau naruh tasku ke bagasi mobil El”, kata Jenny. “Bentar, aku ke kamar mandi dulu, nanti aku bantuin kamu bawa tasmu yang satunya Jen”, kataku. Jenny tersenyum manis padaku dan berkata, “Makasih ya El, kamu memang baik deh”.

Aku tersenyum padanya lalu meninggalkan mereka semua ke belakang, cepat cepat aku ke gudang dan membuka pintu. Aku melihat mereka sedang dalam posisi dogie di lantai dan pakaian Sherly sudah lebih terbuka sehingga payudaranya tersembul keluar dan tentu saja kedua payudaranya itu tak mungkin menganggur begitu saja. Pak Basyir meremasi kedua payudara itu dan aku bisa melihat remasan itu begitu keras, sehingga Sherly menggeliat dan mulutnya ternganga menahan sakit. Gilanya, ia tak memperdulikan kedatanganku ataupun pintu gudang yang sedang kubuka ini

“Sher, kamu gila yah? Cepetan nih, kita kita udah mau pulang!”, seruku sambil melihat ke arah ruang tengah dengan kuatir. Sesaat kemudian, pak Basyir mulai menggeram, dan kulihat tubuh pak Basyir bergetar ketika ia menghunjamkan penisnya ke selangkangan Sherly dengan kuat. Sherly memandangku sambil tersenyum dan menjawab, “Iya El, ini penjaga vilamu baru keluar”. sedangkan pak Basyir yang baru saja menarik penisnya langsung ambruk dengan nafas tersengal sengal.

“Selamat tinggal… non Sherly… dan non Liza… sampai kita ketemu lagi ya”, kata pak Basyir. Aku malas menjawab dan hanya diam saja. Sherly beranjak bangun dengan lemas, ujung roknya yang ada di pinggang jatuh ke bawah menutupi setengah pahanya. “Sampai ketemu lagi pak Basyir”, kata Sherly sambil melangkah ke arahku, dan kami meninggalkan gudang ini. “Sher, kamu ke kamar mandi dulu deh, awut awutan tuh, nanti ditanyain teman teman nih”, kataku perlahan sambil membelai rambut Sherly yang agak kusut. “Iya El, bentar ya”, kata Sherly sambil masuk ke kamar mandi

Aku teringat hal yang sangat penting, dan aku menghentikan Sherly sebentar lalu berbisik, “Sher, nanti kalau teman teman tanya, kamu bilang abis dari hotel Surya nemuin teman ya. Tadi teman teman cari kamu soalnya”. Sherly mengangguk dan memelukku, “Thanks ya El”. Lalu Sherly masuk ke kamar mandi sesuai saranku untuk merapikan penampiannya. Aku sendiri harus menekan gairahku karena aku tahu Sherly tidak mengenakan celana dalam, aku berusaha tidak memikirkannya.

Aku kembali ke dalam kamar dengan lega. “Yuk, kita keluar, Sherly udah datang tuh, lagi di kamar mandi”, kataku sambil membawa salah satu tas Jenny. “Iya El”, kata Jenny sambil membawa tasnya yang satunya, lalu kami semua keluar ke arah mobilku. Setelah kedua tas Jenny sudah ada di dalam bagasi, aku berkata, “Tinggal tasku nih, bentar ya aku ambil dulu”.

Aku melangkah masuk ke dalam kamarku dan menemukan Sherly yang ada di dalam. Kami berpandangan sejenak sambil tersenyum penuh arti, lalu bersama sama aku dan Sherly keluar membawa tas kami masing masing, dan aku mengunci pintu utama dari vilaku. “Sher, kamu kok keringatan gitu?”, tanya Siany. “Iya nih, tadi abis lari dari hotel Surya sana, capek juga nih”, kata Sherly.

Aku tersenyum geli, untung saja aku sudah memberi tahu Sherly. Maka setelah semua tas ada di dalam bagasi, dan tentu saja setelah semua peserta liburan ini sudah ada di dalam mobil dengan susunan separti pada waktu kami berangkat, aku dan Sherly segera menyalakan mobil, dan kami semua akan segera pulang ke Surabaya.

Setelah kami semua saling berpamitan dengan ributnya, aku dan Sherly segera menjalankan mobil. Pak Basyir membuka pintu gerbang sambil tersenyum, mungkin cuma aku dan Sherly yang mengerti arti senyuman pak Basyir ini. Tapi aku hanya menganggukkan kepala pada pak Basyir ketika melalui pintu gerbang vilaku. Di depan teman temanku aku tak boleh terlihat terlalu akrab dengan penjaga vilaku ini, daripada nanti mereka bertanya yang tidak tidak.

Seperti pada waktu berangkat, kini perjalanan pulang yang hampir dua jam ini terasa begitu cepat dengan celoteh Jenny yang seperti tak pernah kehabisan topik pembicaraan. Akhirnya kami sampai ke rumah Rini, dan setelah aku membantu Rini mengambil tasnya dari bagasi mobilku, Rini saling melambaikan tangan padaku dan Jenny, lalu aku segera melanjutkan perjalanan ke rumah Jenny. Sekali ini aku merasa agak heran, karena Jenny diam saja sampai akhirnya kami tiba di rumahnya.

“Jen?”, aku bertanya heran ketika Jenny tak segera turun dari mobilku, malah memandangku dengan tatapan aneh. Tiba tiba Jenny mendekat ke arahku, rambutku yang tergerai menutupi sebagian pipiku disibakkannya ke belakang leherku, dan di luar dugaanku sama sekali, Jenny langsung melumat bibirku. “Mmmpph…?”, aku mendesah tertahan, masih terlalu terkejut untuk bereaksi, sampai akhirnya Jenny melepaskan pagutannya dan ia menyandarkan kepalanya di pundak kiriku, membuatku semakin bingung.

Jenny menatapku sayu sambil berkata dengan manja, “Kamu nakal ya El, percuma aku bela belain jagain kamu capek capek… tapi kamu sendiri malah asyik sama penjaga vilamu…”. Aku amat terkejut, tak kusangka Jenny tahu semuanya. Mungkin Jenny juga sedang mengintip waktu aku dan Sherly lagi di dalam kamar pak Basyir. Berarti Jenny juga melihat waktu aku dan Sherly bercumbu dengan begitu panas.

“Udah gitu, aku iri sama Sherly tau! Aku… aku juga ingin kamu El”, kata Jenny dengan penuh nafsu. “Tapi Jen, kemarin itu..”, aku semakin gugup ketika Jenny menarik panel di kursi yang aku duduki ini hingga punggung kursi ini turun mendatar dan aku terbaring di bawah tindihan Jenny, lalu Jenny melingkarkan tangan kirinya ke leherku, sedangkan tangan kanan Jenny meremas payudaraku yang sebelah kiri dengan lembut. Aku sudah tak berdaya dalam pelukan Jenny.

“Nggak bisa.. pokoknya… ini.. hukuman buat kamu Eliza…”, kata Jenny di sela nafasnya yang memburu sambil kembali memagut bibirku. Aku tak bisa menghindar lagi, bahkan kalaupun aku bisa, aku tak akan menghindar. Perasaanku yang sudah tersengat sejak tadi, membuat aku membalas pagutan bibir Jenny dengan sepenuh hati sampai kami berdua sama sama kehabisan nafas, dan Jenny masih sempat mencium kedua mataku dengan mesra sebelum ia melepaskanku.

Kami terdiam beberapa saat, lalu Jenny turun dari mobilku dan menatapku dengan senyum yang penuh arti, dan aku juga melakukan hal yang sama. Aku turun membantu Jenny mengeluarkan kedua tasnya dari bagasi mobil. “Thanks ya sayang”, kata Jenny sambil mencium bibirku dengan mesra. Aku membalas ciumannya walaupun agak kuatir kemesraan kami yang diluar batas ini terlihat oleh orang lain. “Thanks juga Jen… aku pulang dulu ya”, kataku berpamitan padanya. Jenny melambaikan tangannya dan aku segera menjalankan mobilku menuju ke rumah.

Tak sampai setengah jam, aku sudah berada di depan rumahku. Kupencet remote pagar lalu mobilku kuparkirkan di garasi. Ketika aku akan turun dari mobil, aku melihat Suwito mendekati mobilku, dan dari spion kanan mobilku kulihat Wawan juga mendekat. Aku hanya bisa menggeleng geleng, kulihat jam di mobilku menunjukkan jam setengah tiga sore. Melihat kelakuan mereka, pasti tak ada siapapun di rumah saat ini, dan di hari Senin seperti ini, biasanya mereka baru akan pulang waktu makan malam nanti.

Untung saja aku tadi menghindari persetubuhan dengan pak Basyir di vilaku, jadi kini aku masih punya banyak tenaga untuk melayani mereka berdua, dan aku tahu mereka berdua akan membantaiku hingga mereka puas. Aku bisa merasakan padangan mereka yang penuh nafsu, dan dengan pasrah aku turun dari mobil, menyerahkan diriku untuk mereka perkosa sesuka hati. Begitu aku ada di dalam jangkauan mereka berdua, Suwito langsung memagut bibirku, sedangkan Wawan dari belakang meremasi kedua payudaraku dengan bernafsu.

“Emmphh… mmmmhh…”, aku hanya bisa merintih, dan tak lama kemudian aku hanya bisa melangkah menuruti mereka yang menggiringku ke kamar tidur mereka berdua. “Aduh…”, keluhku ketika aku dibaringkan di ranjang mereka dengan kasar. “Apa mau kalian?”, tanyaku dengan pura pura ketakutan, dan kedua tanganku kusilangkan menutupi kedua payudaraku yang memang masih terlindung di balik bra dan bajuku.

Aku memang sengaja menggoda mereka, dan tak tahan melihat apa yang kulakukan, dengan buas mereka melucuti pakaianku dan melempar lemparkan tiap helai penutup tubuhku ini dengan sembarangan hingga berserakan di lantai kamar ini, sementara aku hanya bisa membiarkan mereka menelanjangiku. Kemudian aku membaringkan diriku sendiri di tempat tidur sambil menutupi kedua payudaraku dengan kedua telapak tanganku.

“Non Eliza, hari ini non Eliza harus melayani kami sampai kami puas… sudah sejak sabtu pagi kami merindukan non Eliza…”, kata Wawan yang menyingkirkan kedua tanganku dari kedua payudaraku, lalu memelukku dengan gemas. “Auuw… toloong… aku diperkosa mmmmpph”, teriakanku terputus ketika Suwito memagut bibirku dengan gemas. Aku menggoda Wawan sambil pura pura hendak mendorong badannya yang menindihku, dan kakiku kugerakkan seolah olah aku meronta.

Dan seperti yang kuperkirakan dan kuharapkan, Wawan semakin bernafsu menggumuliku, dan tak lama kemudian aku terbeliak ketika kurasakan liang vaginaku menelan penisnya Wawan. “Ngghhhh…”, aku melenguh keenakan ketika Suwito melepaskan pagutannya pada bibirku, dan sesaat kemudian aku tak bisa bersuara dengan bebas karena Suwito sudah menjejalkan penisnya ke mulutku.

Kedua tanganku digenggam oleh Wawan yang terus memompaku, dan tak lama kemudian aku mengejang hebat, lagi lagi aku dipaksa orgasme oleh pembantu pembantuku ini.Setelah beberapa kali aku harus orgasme, hampir bersamaan akhirnya Suwito dan Wawan ejakulasi menyemprotkan spermanya ke dalam tubuhku , Suwito di dalam mulutku, dan Wawan di dalam liang vaginaku. Mereka duduk dengan lemas, namun memandangiku dengan nafsu yang terbakar hebat.

Aku sampai geli melihat mereka yang sampai sebegitunya, padahal baru aku tinggal tiga hari dua malam. Setelah hampir sepuluh menit, aku beranjak bangun, lalu turun dari ranjang mereka dengan gerakan yang sengaja aku buat perlahan. Mata mereka melotot seakan hendak keluar ketika aku menusukkan jari telunjuk kiriku ke liang vaginaku dan mengeluarkan cairan sperma Wawan yang kutadahi dengan telapak tangan kananku. Kuseruput cairan sperma Wawan yang bercampur dengan cairan cintaku sampai habis.

“Dasar kalian… nggak bisa ya sehari aja membiarkan aku istirahat meskipun nggak ada orang di rumah?”, aku menggerutu dengan mimik muka pura pura marah setelah menghabiskan cairan di telapak tanganku ini. Tapi tentu saja itu tak mempan terhadap kedua pembantuku yang keranjingan ini. Mereka hanya menatapku dengan penuh nafsu, sementara aku kembali menggoda mereka dengan perlahan mengenakan celana dalamku.

Lalu aku sengaja tak mengenakan bra, hanya mengenakan kausku saja. Kemudian perlahan aku mengenakan hot pants milikku, seperti Jumat kemarin, aku sengaja berlama lama ketika menarik hot pantsku ke atas, dan mereka kelihatan meneguk ludah ketika hot pants itu terpasang menutupi celana dalamku.

Setelah aku selesai berpakaian, aku mengambil braku dari lantai dengan dua jari tanganku dan kemudian aku melangkah menuju pintu keluar kamar ini dengan pandangan menggoda kea rah mereka. Aku tahu gerakan ini teramat sexy buat mereka. Akibatnya Suwito yang nafsunya sudah terbakar dengan hebat tak membiarkanku pergi, ia langsung menyergap dan menyeretku kembali ke dalam kamar.

Bra yang masih kupegang dirampas oleh Suwito, dan dibuang olehnya ke pojok kamar ini. Lalu aku dibaringkan Suwito ke atas ranjang, dan ia menindihku dengan pandangan yang seolah ingin menelanku bulat bulat. “Kenapa sih kamu ini? Masih belum puas memperkosaku ya?”, tanyaku dengan suara manja, dan dengan pandangan menggoda aku pura pura menahan badan Suwito yang sudah akan menindihku.

Suwito sudah tak kuat lagi, ia langsung mencumbuiku sepuas puasnya. Mungkin sekarang ini Suwito ingin sekali menelanku bulat bulat. Sesekali Suwito menghentikan cumbuannya, membelai rambutku dengan lembut, menciumi rambutku, entah aku tak tahu apa yang dia suka dari rambutku ini. Mungkin baunya yang wangi karena aku memang selalu keramas tiap hari, atau mungkin ia menyukai halusnya rambutku.

Tanpa melucuti kausku, tiba tiba Suwito menciumi payudaraku yang sebelah kiri, bahkan kini ia mulai menjilati bagian itu. Tentu saja bagian kausku yang membungkus payudaraku itu jadi basah oleh air ludahnya, mendatangkan sensasi yang lain dari sebelumnya, Karena aku tak mengenakan bra, jilatan dari Suwito sangat terasa pada puting payudaraku. “Ohh.. kamu…”, aku merintih dan menggeliat perlahan menahan nikmat.

“Aahhh…”, aku mendesah hebat ketika Suwito memaksakan mengulum puting payudaraku yang ada di balik kausku ini. Wawan sendiri mengikuti ulah Suwito, ia menciumi dan menjilati payudaraku yang sebelah kanan sampai akhirnya ia juga ikut menyusu, membuatku menggeliat hebat digumuli oleh kedua pembantuku ini.

“Oh.. kalian…”, aku mengeluh pasrah dan memejamkan mataku, menikmati segala perlakuan mereka. Sementara mereka berdua menikmati tubuhku, aku memikirkan hubunganku dengan mereka yang sudah berubah sejak aku merasa berterima kasih pada mereka karena apa yang sudah mereka lakukan padaku tiga minggu yang lalu ketika aku baru saja digangbang selusin berandalan siswa STM kelas 3 dengan kejam. Aku sudah rela menyerahkan tubuhku pada mereka.

Kemudian aku teringat Sherly, bidadari pertama yang mencumbuiku dan aku tak bisa menolak bahkan aku menginginkan cumbuan Sherly. Ya, hubunganku dengan Sherly sudah berubah seperti itu, dan aku memikirkan tentang Jenny. Entah akan berubah menjadi seperti apa hubunganku dan Jenny, tapi aku sudah siap menjalaninya. Dan kini aku tak bisa memikirkan apa apa lagi, karena aku kembali ditenggelamkan ke dalam lautan kenikmatan oleh Wawan dan Suwito…

Tamat

Gara gara ngintip

Filed under: RAMAI-RAMAI

Hari ini hari Kamis, pelajaran berlangsung normal setelah pelajaran sempat libur tiga hari lamanya karena ada penyelenggaraan bazar di sekolahku. Pagi ini semua berlangsung seperti biasa, hanya aku dan Jenny saling tersenyum penuh arti kalau tanpa sengaja kami beradu pandang ataupun bersenggolan tangan. Hal ini sering terjadi karena kami memang duduk bersebelahan. Bahkan kadang diam diam aku dan Jenny mencuri curi saling menggenggam tangan di bawah meja. Ya, kejadian di depan rumah Jenny pada akhir liburan kemarin memang mengubah total hubunganku dengan Jenny.

Istirahat pertama tadi kulewatkan bersama Jenny di kantin. Sherly juga ikut nimbrung, dan kami bertiga sudah saling tahu semuanya, hingga tak ada rasa canggung sedikitpun di antara kami bertiga. Kini aku dan Jenny sedan ada di dalam kelas, dan setengah jam lagi adalah waktunya istirahat ke dua. kebetulan aku merasa ingin ke toilet. “Jen, aku ke toilet dulu nih”, bisikku. “Aku ikut sayang”, kata Jenny, membuatku tersenyum geli. “Gila kamu yah? Ya.. terserah kamu sih”, kataku. Lalu aku berdiri dan melangkah ke depan diikuti oleh Jenny.

Hampir bersamaan kami berkata, “Pak, kami ijin ke belakang dulu”. Setelah mendapat ijin dari pak Gatot, aku dan Jenny segera keluar dari kelas, menuju ke toilet, toilet putri tentunya. Tepat sebelum masuk ke toilet, aku menghentikan langkah. “Jen, kamu dengar nggak? Itu…”, aku berbisik agak ragu, sambil menunjuk ke gudang di sebelah toilet ini. Jenny memandangku heran, lalu ia melangkah ke arah pintu gudang itu. “Jennn”, aku berbisik kaget sambil menarik Jenny, karena pintu itu memang agak terbuka, kuatirnya Jenny akan terlihat oleh orang yang ada di dalamnya.

“Apa sih El?”, tanya Jenny heran. “Jen, hati hati dong… kamu kan bisa kelihatan oleh mereka yang di dalam? Sebaiknya kita dengarkan diam diam deh”, bisikku lagi. Kemudian kami berdua menajamkan pendengaran, dan tak lama kemudian aku mendengar suara lenguhan perempuan. Lenguhan perempuan yang mungkin sekali sedang keenaan karena disetubuhi oleh laki laki. Aku dan Jenny saling pandang, kulihat muka Jenny memerah. Sedangkan keadaanku sendiri kelihatannya tak jauh beda, karena mukaku rasanya panas, jantungku juga berdegup kencang.

“El, siapa ya yang lagi asyik nih siang siang gini?”, tanya Jenny dengan bingung. Aku mengangkat bahu, dan Jenny dengan hati hati mengintip melalui pintu. Aku juga cukup penasaran dan ikut mengintip. Beberapa saat kemudian aku cukup shock. Aku melihat Vera yang telanjang bulat, sedang bergumul dengan dua siswa laki laki yang tak aku kenal, yang masih memakai seragam sekolah, tapi sudah tak memakai celana panjang abu abunya. Apakah dua siswa itu teman sekelasnya?

Dengan cepat aku menahan nafas. Aku mulai mencoba memperhatikan Vera. Ia sedang meliuk liukkan tubuhnya di atas tubuh temannya yang rebahan di atas meja yang sudah ditata itu, mungkin sekali Vera sedang mengendarai penis temannya itu. Benar benar pemandangan yang kontras, Vera yang begitu putih menggeliat di atas tubuh temannya yang jadi terlihat begitu hitam. Aku makin tertegun melihat Vera juga terlihat asyik mengoral penis dari seorang lagi yang berdiri di sampingnya. Pemandangan ini membuat gairahku naik, melihat Vera dengan pipinya yang begitu putih, menggembung karena mulutnya menampung penis temannya yang pasti amat hitam itu.

Lenguhan tertahan dari Vera, membuat aku makin merasa lemas, dan aku memutuskan berhenti mengintip dan menarik tangan Jenny. Selain itu aku juga takut ketahuan kalau berlama lama mengintip. Jenny mengikutiku masuk ke WC. Aku mencoba mengatur nafasku yang memburu. Kemudian aku masuk ke dalam salah satu dari tiga kamar di WC ini. Tapi ketika aku akan menutup pintu, aku terkejut melihat Jenny sudah menerobos masuk, dan mengunci pintu kamar WC ini. Dan Jenny memandangku dengan tatapan yang membuat aku bergidik.

“Jen… kamu mmph…”, kata kataku tertahan karena Jenny sudah melumat bibirku dengan sangat bernafsu. Tak butuh waktu lama, aku terlarut dan memejamkan mataku. Aku memeluk Jenny, membalas lumatan bibirnya dengan sepenuh hati. Entah sejak kapan, aku sudah tinggal mengenakan bra, seragam sekolahku sudah dibuang Jenny ke pojok kamar WC ini. Aku balas membuka kancing bajunya, dan beberapa saat kemudian kami berdua sudah telanjang dada dan saling meremasi payudara kami berdua.

“Eliza…”, desah Jenny. Aku tersipu malu ketika Jenny menatapku dengan sayu. “Eliza… aku juga ingin kamu…”, guman Jenny. Kemudian dengan bernafsu Jenny melucuti sabuk yang mengikat rok seragamku di pinggangku, dan dengan cekatan ia sudah melorotkan rok seragamku. Untung lantai WC ini kering, jadi aku tak perlu mengkuatirkan rok seragamku akan basah. Tapi aku sudah harus mendesah hebat, karena celana dalamku sudah dilorotkan oleh Jenny, dan tanpa berkata apa apa Jenny langsung melumat bibir vaginaku.

“Ohh… Jeeeen… ssshhh…”, aku merintih dan mendesah, tanganku sampai harus kutekankan pada dinding karena aku melemas tanpa daya. Jenny dengan kejam terus mengoralku. Kini lidahnya sudah melesak memenuhi liang vaginaku, dan lidah itu bergerak seakan mengorek dinding liang vaginaku. Tentu saja aku makin menggelinjang, tapi Jenny memeluk kedua pahaku dengan kuat, jadi aku tak bisa kemana mana, hanya bisa pasrah sampai Jenny puas mencumbui liang vaginaku.

“Jeeen…”, aku mengeluh ketika kurasakan cairan cintaku membanjir. Aku orgasme hebat dan tubuhku mengejang tak karuan. Jenny terus menyeruput semua cairan cintaku sampai habis, baru kemudian ia melepaskan dekapannya pada kedua pahaku. Aku langsung ambruk ke depan dan tertahan oleh Jenny. “Eliza…”, Jenny mendesah, dan ia membelai rambutku dengan mesra. Nafasku masih tersengal sengal dengan kepalaku yang kurebahkan di pundak Jenny.

“Kamu gila Jen…”, gerutuku ketika aku sudah mulai bisa mengatur nafasku. Jenny tersenyum manis sekali, membuatku ikut tersenyum pada temanku yang cantik ini. Dengan lembut Jenny menyeka vaginaku dengan tissue yang ia ambil dari baju seragamnya. Aku menggigit bibir, ketika usapan lembut dari tissue yang dilakukan Jenny pada bibir vaginaku, membuatku kembali terangsang. Tubuhku rasanya bergetar.

“Udah dong Jen…”, keluhku ketika Jenny dengan nakal melesakkan tissue itu sedikit ke dalam liang vaginaku. “Iya deh El”, kata Jenny sambil tersenyum menggoda. Aku duduk di WC duduk ini, dan menuntaskan keinginanku buang air kecil. Setelah itu aku mengambil tissue yang kubasahi, dan menyeka liang vaginaku. Jenny dengan nakal menaikkan celana dalamku dan membelai pahaku. Aku cuma bisa menggeleng gelengkan kepala, dan aku mencari baju seragam sekolahku dan memakainya. Lalu kuangkat rok seragam sekolahku, dan kupasang ikat pinggangku.

“Jen.. kita kembali ke kelas yuk”, aku mengajak Jenny, yang mengangguk saja. Kami keluar dari WC ini dan kembali ke kelas. “Lama sekali kalian”, tegur pak Gatot. “Maaf pak, tadi saya sakit perut”, aku mencoba mencari alasan. “Saya juga pak”, Jenny ikut memberikan alasan. “Ya sudah, sana duduk”, kata pak Gatot. Kami segera duduk, dan diam diam aku tersenyum geli. Ketika aku melihat Jenny, ternyata ia juga sedang menahan senyum.

Akhirnya bel istirahat kedua berbunyi. Aku dan Jenny sudah akan keluar menuju ke kantin, ketika tiba tiba aku melihat pak Edy masuk. “Eliza, selesai istirahat, temui saya di ruangan saya. Ada yang perlu saya tanyakan berkaitan dengan bazar kemarin”, kata pak Edy. “Iya pak”, jawabku dengan malas, tapi aku berusaha tetap terdengar sopan. Sebal sekali aku melihat senyuman liciknya, dan aku segera menuju ke kantin, dan memang aku jadi kehilangan mood untuk bercanda dengan Jenny ataupun Sherly, tapi aku berusaha untuk tetap menanggapi obrolan maupun canda tawa mereka.

Ketika bel tanda istirahat berakhir berbunyi, aku segera berpamitan, “Sherly, Jenny, aku tinggal dulu ya. Jen, titip pesan sama pak Warno, aku mesti menemui pak Edy nih”. Mereka mengangguk dan aku segera naik ke atas, bersiap menerima nasib buruk. Aku memasuki ruangan pak Edy dengan perasaan kalut. “Silakan duduk Eliza”, kata pak Edy sok ramah. Aku hanya mengangguk, malas menjawab wali kelasku yang bejat ini. Ia beranjak ke arah pintu ruangan ini, melihat keluar sebentar, lalu masuk dan mengunci pintu itu. Aku tahu aku sudah kembali berada dalam kekuasaannya.

Aku hanya diam ketika pak Edy yang sudah duduk di hadapanku memandangiku. Risih sekali rasanya dipandangi seperti ini, seakan aku sedang ditelanjangi dan ditaksir berapa nilai tubuhku ini. Benar benar merendahkan sekali. Aku hanya bisa berharap, nasib sialku hari ini cepat berlalu. Pak Edy yang dari tadi memandangiku tiba tiba berkata, “Eliza.. kamu cantik sekali”.

Aku tercekat, dan menunduk. Aku merinding mendengar pujian yang tak sepantasnya dilakukan oleh seorang wali kelas terhadap muridnya. “Pak, apa tidak ada perlu penting? Kalau tidak ada, biarkan saya kembali ke kelas, saya kan harus mengikuti pelajaran”, kataku pelan. Pak Edy terkekeh dan menjawab, “Tentu saja saya ada perlu sama kamu Eliza”. Berkata begitu, ia berdiri dan mendekatiku. Aku tahu, aku akan segera mengalami pelecehan oleh wali kelasku ini.

Aku diam saja ketika pak Edy mulai meremasi payudaraku. Ia melanjutkan mencumbuiku, menyibakkan rambutku yang hari ini aku ikat, dan mencium belakang leherku. Bagaimanapun jijiknya, rasa terangsang mulai merambati tubuhku. Aku menggigit bibir mencoba bertahan untuk tidak mendesah. Tapi cumbuan yang kuterima makin bertubi tubi. Kurasakan jilatan pada bagian belakang telingaku kanan dan kiri, sementara tangan pak Edy makin nakal, membuka kancing baju seragam sekolahku dan menyusup ke dalam meremasi payudaraku yang masih terbungkus bra ini.

Akhirnya aku tak tahan lagi dan mendesah perlahan ketika jari tangan pak Edy berhasil menemukan puting payudaraku. Tekanan yang dilakukan pak Edy pada puting payudaraku ditambah kecupannya pada leherku, membuatku menggelinjang. Aku mencoba mengalihkan tangan pak Edy, tapi aku segera menghentikan niatku karena ancaman pak Edy. “Eliza, jangan coba coba melawan, atau bapak panggil pak Girno dan yang lain untuk menemani bapak”, bisik pak Edy di telingaku. Aku langsung lemas dan pasrah, kubiarkan guru bejat ini menikmati diriku.

Tak lama kemudian baju seragam sekolahku sudah tergeletak di lantai, demikian juga bra dan ikat rambutku. “Eliza, kamu lebih cantik kalau rambutmu dibiarkan tergerai seperti ini”, kata pak Edy dengan bernafsu. Ia mengangkatku berdiri, lalu membuka sabukku, melucuti rok dan celana dalamku. Kini aku sudah polos, tinggal mengenakan sepatu sekolah ini. Dengan nafas memburu pak Edy mendekap tubuhku dan membawaku ke sofa. Setelah aku terbaring di sana, pak Edy segera melebarkan pahaku, dan mulai mencoba memasukkan penisnya ke dalam liang vaginaku. Tapi yang terjadi kemudian sungguh membuat aku hampir tak kuat menahan tawa.

Pak Edy tak mampu melesakkan penisnya ke dalam liang vaginaku. Aku sempat merasakan terjangan penis yang terlalu lunak, rupanya pak Edy belum ereksi sempurna. Padahal terlihat jelas ia sudah sangat bernafsu melumat tubuhku. Aku mencoba memikirkan hal lain supaya tak sampai tertawa di depan wali kelasku ini. Kurang lebih dua kali pak Edy mencoba lagi, dan akhirnya… sleb…

Dengan wajah puas pak Edy kini mulai memaju mundurkan pinggulnya. Aku tak begitu merasakan sedang disetubuhi, karena penis ini lunak, dan pendek. Tapi aku mencoba berpura pura terpengaruh, dan aku sengaja menggigit bibirku. “Oh… enak ya Eliza”, ejek pak Edy dengan percaya diri. Aku terpaksa pura pura mengangguk, sambil tetap menggigit bibir. Belum lagi aku merasakan apa apa, tiba tiba penis pak Edy sudah berkedut, dan menyemburkan spermanya dalam liang vaginaku.

Setelah pak Edy puas dan menarik penisnya dari liang vaginaku, aku memejamkan mataku, sekalian mengistirahatkan tubuhku. Aku tak bergerak sama sekali dari posisi tubuhku terakhir saat pak Edy menarik lepas penisnya tadi. Kalau ada laki laki yang melihat cewek yang putih mulus seperti aku, sedang mengkangkang dalam keadaan telanjang seperti ini, pasti aku akan diperkosanya habis habisan. Aku tenang saja, toh tak ada orang di sini, setidaknya itu menurutku. Juga sekalian untuk membiarkan sperma pak Edy keluar mengalir dari liang vaginaku.

Tapi tiba tiba kurasakan vaginaku tertempel sesuatu, yang tak mungkin jari tangan pak Edy, karena kurasakan begitu hangat, dan besar juga. Itu kepala penis! Aku langsung membuka mataku lebar lebar, dan jantungku serasa berhenti. Ya ampun, dia ini kan laki laki yang tadi dioral Vera di gudang? Dan aku makin terkejut ketika di sebelahku sudah berdiri seorang laki laki seumurku, dengan penisnya yang sudah berdiri tegak sekali mengacung ke arah mulutku. Kemungkinan besar dia juga laki laki yang tadi rebahan di gudang dan ditindih oleh Vera .

Belum sempat aku berbuat sesuatu, liang vaginaku sudah terbelah oleh penis laki laki di depanku. “Aaammpphhh…”, aku merintih, tapi segera disumbat oleh penis laki laki yang memang sudah jelas menginginkan servis oralku. Kedua pergelangan tanganku dicengkeram erat, aku sempat berhasil melihat pelakunya, yang ternyata adalah pak Edy! Benar benar biadab, ia memberikan aku pada dua siswa yang sama sekali tak aku kenal ini. Entah apa yang ada di pikiran wali kelasku yang bejat ini.

Kini aku merasakan liang vaginaku begitu penuh, dan aku menggeliat perlahan ketika kurasakan liang vaginaku diaduk aduk oleh penis pemerkosaku ini. Aku tak berani terlalu banyak bergerak, karena liang vaginaku terasa begitu penuh, apalagi penis itu terasa panjang sekali dan menancap begitu dalam. Aku merasa sedikit menderita dengan keluar masuknya penis itu di liang vaginaku ini. Sedangkan mulutku harus terbuka lebar, dan akhirnya aku pasrah, menjepitkan bibirku pada penis yang sedang maju mundur menikmati sempitnya rongga mulutku.

Penis yang sedang kuoral ini panjang juga, berulang kali kepala penis ini seakan ingin melesak masuk kedalam tenggorokanku, bahkan sebelum bibirku mengulum sampai ke pangkal penis ini. Entah kenapa, aku menginginkan penis ini mengaduk tenggorokanku, dan aku sedikit mendongak, memberikan jalan pada penis ini untuk menembus rongga tenggorokanku. Keringat mulai membasahi tubuhku, karena gairahku sudah mulai naik. Aku berulang kali mendesah dan merintih tertahan.

Rasa sakit yang tadi sempat sedikit melanda liang vaginaku, sudah berubah menjadi rasa yang teramat nikmat. Aku mulai menggeliat keenakan. Dengan liang vaginaku yang teraduk aduk sedemikian rupa oleh sebuah penis yang besar dan panjang, sementara tenggorokanku juga teraduk aduk tak karuan, dan ketidak berdayaan dari aku untuk menggerakkan tanganku yang dicengkeram pak Edy, aku tahu sebentar lagi aku harus pasrah dilanda orgasme yang dahsyat.

Kini vaginaku sudah berdenyut hebat. Aku pun makin menggeliat, mengerang dan melenguh tertahan, penuh kenikmatan. Dan penis itu masih mengaduk liang vaginaku dengan liar tanpa ampun. Akhirnya aku melenguh, “Nggmm…”. Lenguhanku tersumbat ketika tenggorokanku terbuntu oleh kepala penis yang melesak seenaknya, membuat aku tak tahan lagi dan mengejang tak karuan, kedua betisku melejang sejadi jadinya. Aku merasa cairan cintaku membanjir tak karuan, entah sudah sebasah liang vaginaku.

Pinggangku sudah tertekuk ke atas karena aku tak kuasa menerima nikmatnya orgasme ini, dan dengan pose seperti ini tubuhku pasti terlihat sexy sekali oleh pemerkosaku yang beruntung mendapatkan liang vaginaku ini. Melihat aku orgasme, bukannya berhenti, pemerkosaku ini makin bersemangat mengaduk liang vaginaku. Bahkan ia memajukan tubuhnya hingga tusukan penisnya makin terasa saja. Ternyata ia menginginkan kedua payudaraku. Kedua tangannya meraih sepasang payudaraku ini, dan ia meremas payudaraku dengan sepuas puasnya. Tentu saja aku yang masih dilanda orgasme makin keenakan.

Aku akhirnya mengalami multi orgasme, tubuhku terus mengejang hebat sampai aku kelelahan, orgasme yang susul menyusul terus melandaku. Aku sudah tak bisa merintih lagi, hanya membiarkan tubuhku bergerak diluar kontrolku. Sudah lebih dari satu menit tubuhku tersentak sentak diterjang badai orgasme, dan belum ada tanda tanda pemerkosa liang vaginaku itu akan berejakulasi. Aku mulai menderita dalam kenikmatan yang amat sangat ini, keringatku makin bercucuran membasahi sekujur tubuhku. Aku menatap pemerkosa vaginaku dengan sayu, berharap ia mengerti dan mau memberiku kesempatan istirahat, karea aku tak bisa berkata apapun dengan penis yang sedang memperkosa mulutku ini.

“Break dulu, nanti dia bisa pingsan”, kata pak Edy tiba tiba, dan mereka berdua berhenti memompa tubuhku. Semua penis yang memompa tubuhku berhenti bergerak, demikian juga payudaraku terbebas dari remasan yang sangat membuatku menderita keenakan ini. Tapi penis yang besar itu masih berada dalam liang vaginaku, dan kurasakan denyutan denyutan yang begitu merangsangku. Cuma setidaknya keadaan ini sudah lebih baik buatku, karena multi orgasme yang membuat vaginaku begitu ngilu ini mulai mereda, hingga rasa tersiksa karena kejangnya otot otot di vaginaku dan sekitarnya, termasuk betisku, otomatis juga berkurang.

Juga dengan berhentinya gerakan penis di dalam mulutku tepat saat kepala penis itu tidak sedang menerjang rongga tenggorokanku, memberiku kesempatan untuk mengambil nafas. Pak Edy juga sudah melepaskan cengkeraman pada kedua pergelangan tanganku, hingga aku bisa mengistirahatkan tanganku yang pegal karena tertarik kencang ke belakang selama beberapa menit. Selagi aku mencoba memulihkan tenaga yang rasanya terkuras habis ini, wali kelas sialan ini memperkenalkan pemerkosaku satu per satu, hal yang harusnya sama sekali tidak penting untuk kudengarkan, tapi toh aku tak bisa berbuat apa apa selain terpaksa mendengarkan pak Edy.

“Eliza, kenalkan, ini Dedi, kelas 2G, sebelah kelas kamu”, kata pak Edy sambil menepuk pundak pemerkosa mulutku. Aku melihat Dedi, ia benar benar tidak tampan, bahkan cenderung mengerikan dengan bekas luka di hidungnya. Wajahnya sama sekali tidak ramah. Ya ampun, orang seperti ini ada di kelas sebelahku? Aku memang penghuni kelas 2H. Dan pak Edy bergerak ke arah pemerkosa vaginaku. “Kalau ini Pandu, kelas 2G juga”, kata pak Edy. Aku hanya bisa mengarahkan pandanganku ke arah Pandu karena mulutku tertahan oleh penis Dedi yang kokoh ini.

Pandu juga sama sekali tidak tampan, malah sedikit tongos. Orang orang seperti ini harusnya membuatku jijik atau sedikitnya aku malas berdekatan dengan mereka. Tapi kini mereka sudah mendapatkan tubuhku berkat bantuan wali kelasku yang bejat ini. Ingin aku berteriak pada pak Edy, aku ini kan anak murid kelasnya, mengapa dia tega memberikan aku pada anak murid kelas sebelah seperti ini?

Kini pak Edy bertanya pada Pandu, “Gimana Pandu? Eliza ini lebih enak dari Vera kan?”. Pandu cengengesan menjijikkan dan menjawab, “Pak Edy memang hebat, bisa memberikan kami amoy secantik Eliza ini. Dan memang benar, Eliza ini memeknya lebih rapat jauh dari Vera!”. Dedi menyambung, “Ndu, nanti loe cepetan ngecrot, gua juga mau coba memek amoy cantik ini!”. Aku memejamkan mata, rasanya terhina sekali mendengar pujian yang sebenarnya amat melecehkanku ini.

Dan beberapa saat kemudian, ronde kedua pemerkosaan terhadap diriku dimulai. Pandu mulai menggenjot liang vaginaku lagi. Dedi tak mau kalah, ia menerjangkan penisnya melesak ke dalam rongga tenggorokanku. Kembali aku harus melayani kedua pemerkosaku ini, siswa sekolah ini, yang seangkatan denganku. Kini liang vaginaku sudah begitu basah, dan hunjaman penis itu sudah tak begitu menyiksaku lagi sejak awal. Sedangkan tenggorokanku juga basah oleh air liurku sendiri dan cairan pelumas penis Dedi.

Aku merasakan Pandu menjejalkan penisnya dalam dalam di tiap hunjaman yang dilakukannya, kelihatannya ia sedang mencari kenikmatannya sendiri untuk segera berejakulasi. Tapi aku cukup menderita juga atas apa yang dilakukannya, karena sesekali kurasakan dinding rahimku seperti tersodok kepala penis Pandu. Aku mengerang tertahan menahan sakit yang bercampur nikmat ini. Entah apa bedanya dengan ronde pertama tadi, kali ini baru beberapa menit, Pandu mulai mengerang, dan penisnya kurasakan berkedut hebat di dalam liang vaginaku.

“Oh.. Elizaaa…”, erang Pandu, tubuhnya bergetar hebat, dan kurasakan liang vaginaku disirami spermanya yang amat hangat, dan banyak. Aku hanya diam, memang aku terangsang, tapi aku belum sampai orgasme. Mendadak dengan cepat Dedi menarik lepas penisnya yang sejak tadi bersarang di dalam mulutku, dan begitu Pandu menarik lepas penisnya dari liang vaginaku, Dedi segera mengambil posisi untuk mendapatkan servis liang vaginaku. Aku benar benar merasa seperti pelacur di dalam ruangan ini.

“Ngghhh…”, aku melenguh perlahan ketika liang vaginaku yang sempat merasa sedikit lega setelah Pandu menarik lepas penisnya tadi, kini kembali terisi penis Dedi yang sempat kuperhatikan tadi, kira kira berukuran 16 cm, dengan diameter sekitar 4 cm. Dan selagi Dedi mulai memompa liang vaginaku, Pandu berjalan ke arah kepalaku, dan kuperhatikan penisnya yang masih belum begitu layu. Ternyata sesuai dugaanku, penis itu panjang dan besar. Kira kira panjangnya hampir 20 cm, dan diameternya mungkin nyaris 5 cm. Pantas saja tadi aku sampai tak kuasa menahan nikmat yang melanda selangkanganku.

Kini penis itu sudah ada di depan mulutku. Terbiasa menghadapi gangbang ataupun perkosaan yang menimpa diriku, dengan tanpa sadar aku membuka mulutku, membiarkan penis yang masih belepotan sperma Pandu dan cairan cintaku sendiri itu melesak masuk, dan aku seakan tahu tugasku untuk membersihkan penis itu. Selagi Dedi terus memompa liang vaginaku dengan bersemangat, aku mengulum penis Pandu, menjilat seluruh permukaan kulit penis yang sudah mulai mengecil perlahan ini, dan menyeruput semua sisa sperma yang masih belepotan di sana. Kutelan campuran semua cairan itu, dan aku sengaja menjepit penis itu dengan bibirku, kujepit dengan agak kuat. Sampai ke kepala penisnya, aku mencucup dengan kuat, membuat Pandu melolong keenakan. Tapi aku tak mau melepaskannya.

“Aaargghh… sudah Elizaaa…”, erang Pandu. Ia menggigil keenakan, dan setelah ia mengeluarkan suara seperti sedang disembelih, baru aku melepaskan cucupanku pada kepala penisnya. Pandu langsung roboh ke lantai, ia merintih dan mengerang keenakan. Kini aku tinggal berkonsentrasi pada Dedi. Tapi rupanya pak Edy ingin servis oralku juga, ia sudah menyodorkan penisnya di depan mulutku. Maka aku terpaksa membuka mulutku, menerima penis pak Edy yang mini ini, yang memang masih belepotan sperma.

Aku melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan pada penis Pandu tadi, dan pak Edy juga melolong keenakan sampai akhirnya ketika aku melepaskan kulumanku, pak Edy juga roboh tak berdaya di sebelah Pandu. Tapi kini aku sudah terangsang hebat, sodokan demi sodokan yang sejak tadi kuterima membuat vaginaku terasa begitu ngilu. Memang penis Dedi tak sebesar penis Pandu, tapi cukup untuk memaksaku menderita dalam kenikmatan ini.

Aku mulai menggeliat dilanda kenikmatan ini, dan perlahan aku mendesah. “Sssh… oooh”, aku makin keras mendesah. Vaginaku serasa akan meledak dipompa habis habisan oleh Dedi, dan akhirnya aku orgasme di ronde kedua ini. “Nggghhhh.. nggghhhh…”, kini aku melenguh sejadi jadinya karena mulutku bebas tak tersumbat oleh penis seperti tadi. Pinggangku kembali tertekuk ke atas, tubuhku tersentak sentak tak karuan dan mengejang hebat, kedua betisku melejang tak karuan. Untungnya Dedi sendiri juga sedang mengerang, ia akan segera orgasme.

“Ooooh… Elizaaa… memekmu… enaaaak…”, erang Dedi. Tubuhnya tersentak beberapa kali saat penisnya menyemprotkan sperma ke dalam liang vaginaku. Ia menarik lepas penisnya dari jepitan liang vaginaku, dan dengan gontai ia berjalan, hendak mendapatkan servis oral dariku. Orgasmeku sudah mereda, dan aku membuka mulutku begitu penis itu sudah ada di depan mulutku. kuberikan perlakuan yang sama kepada penis Dedi seperti tadi aku memperlakukan penis Pandu dan pak Edy.

Dedi pun tak kuasa bertahan, ia mengerang dan melolong tak kuasa menahan nikmat. Begitu aku melepaskan kulumanku, Dedi juga roboh di sebelah pak Edy. Aku sendiri terbaring lemas dan keadaanku tak lebih baik dari mereka. Entah dosa apa aku harus melayani tiga lelaki bejat ini di sekolah. Entah apa lagi yang kelak terjadi, mungkin Pandu dan Dedi akan mencari kesempatan untuk memperkosaku lagi.

Aku mencoba bangkit dari sofa ini, dan mengambil tissue di atas meja. Aku menyeka bibir liang vaginaku dan sekitarnya yang belepotan sperma dan cairan cintaku. Aku kembali mengambil tissue agak banyak, dan menyeka keringat yang membasahi sekujur tubuhku. Tanpa berkata apa apa aku mengambil celana dalamku dan mengenakan di tubuhku menutup liang vaginaku. Juga aku mengenakan bra, baju dan rok seragam sekolahku. Dengan pandangan benci aku menatap pak Edy. “Sekarang biarkan saya kembali ke kelas pak!”, kataku ketus.

“Tunggu Eliza”, kata pak Edy dengan buru buru. Ia berdiri dan memakai celana yang tadi ia lepas untuk memperkosaku. Demikian juga dengan Pandu dan Dedi juga sudah mengenakan celana mereka semua. Lalu Pandu dan Dedi duduk di kedua ujung sofa, sedangkan pak Edy membimbing aku untuk duduk di tengah mereka. Kedua lenganku didekap oleh satu lengan mereka, sedangkan tangan mereka yang menganggur mulai meremasi payudaraku.

“Eliza, Pandu dan Dedi ini adalah anak teman bapak. Tadi bapak melihat kamu mengintip ke gudang saat Pandu dan Dedi sedang bermain dengan Vera. Karena bapak takut kamu menyebarkan ke teman lain, bapak terpaksa membungkam mulut kamu dengan mengatur kejadian ini”, kata pak Edy tanpa merasa bersalah. Aku makin muak pada wali kelasku ini. Perlu apa juga aku menyebarkan kepada teman teman tentang aib yan dilakukan Vera? Toh aku sendiri juga sudah bukan gadis yang suci.

“Oh iya Eliza. Tadi kamu mengintip dengan Jenny kan”, tanya pak Edy sambil tersenyum menjijikkan. Kata katanya membuat aku serasa disambar petir. “Apa maksud bapak?”, dengan panik aku bertanya setengah membentak. Kedua siswa bejat yang masih asyik meremasi payudaraku ini tertawa mengerikan. “Sederhana Eliza, Jenny juga harus dibungkam. Kalau kamu tak ingin bapak menyeret kamu ke rumah kosong di sebelah mess untuk melayani seluruh penghuni mess sekolah ini, kamu harus bisa bawa Jenny ke UKS, sabtu malam besok ini. Tempat kamu pertama kali bermain cinta di sekolah ini”, kata pak Edy.

Aku langsung lemas, diiringi tawa mereka. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Setelah beberapa remasan keras pada kedua payudaraku hingga aku menggeliat, dua siswa bejat itu melepaskanku. Aku segera berdiri, dan menuju ke pintu keluar setelah membenahi baju seragamku yang sedikit awut awutan. Tepat ketika aku membuka kunci pintu ruangan ini, pak Edy kembali mengingatkan, “Eliza, ingat, besok Sabtu jam delapan malam, bapak tunggu kamu dan Jenny di ruang UKS”.

Aku tak menjawab, dan keluar dari ruangan laknat ini. Dalam perjalanan menuju ke kelas, aku berpikir keras, apa yang harus aku lakukan. Aku belum bisa mengambil keputusan sampai akhirnya aku masuk ke kelas. Aku mengetuk pintu kelas dahulu. “Permisi pak Warno, maaf saya tadi dipanggil pak Edy”, aku memberikan keterangan. Pak Warno tersenyum dan menyilakan aku masuk, “Ya Eliza, saya sudah diberitahu Jenny. Silakan duduk”. Aku berjalan ke tempat duduk sambil melamun. Ketika aku sudah duduk di sebelah Jenny, aku dikagetkan oleh cubitan Jenny. “Eliza.. kamu cantik deh kalau rambutmu dibiarin tergerai gini. Tadi kok nggak digerai gini sih?”, goda Jenny. Aku hanya tersenyum malu. Tapi aku juga dalam kegundahan yang amat sangat, entah Jenny tahu atau tidak.

Aku harus memutuskan, apakah aku menyerahkan Jenny kepada orang orang bejat itu, atau aku yang menyerahkan diri untuk dibantai di rumah kosong oleh sekitar 60 orang. Entah apa kalaupun kemudian aku yang menyerahkan diriku, apakah Jenny tetap dibiarkan lolos? Tapi jika aku menyerahkan Jenny pada mereka, apakah nanti Jenny akan membenciku? Keduanya adalah pilihan yang sangat sulit bagiku. Dan aku jadi melamun sampai akhirnya bel pulang sekolah berbunyi.

selingkuh di usa

Filed under: RAMAI-RAMAI

Cerita ini memang saya persembahkan untuk sesama penggemar CCS-nya mas Wiro, dan cerita ini dimulai dari kota Hollywood di Los Angeles County beberapa tahun yang silam.
Nama saya Coki, tapi saya adalah orang Jawa asli. Saya seorang mahasiswa S2 tingkat akhir di sebuah perguruan tinggi di LA pada waktu itu. Saya tinggal seorang diri di apartment di bilangan Hollywood hills, dan seperti layaknya seorang mahasiswa Indonesia yang berada di LA, saya juga berteman dengan sebagian besar mahasiswa2 yang bersekolah di kota ini. Memang banyak orang yang bila mendengar kota Los Angeles langsung berasumsi bahwa anak2 Indonesia yang ke LA adalah anak2 yang manja dan borjuis. Mungkin memang harus diakui hal ini adalah benar adanya, karena dari sekian banyak anak2 yang bersekolah di LA memang putera atau puteri dari orang2 terkenal dari negara kita tercinta, Indonesia.
LA memang mempunyai nama yang kurang harum, karena banyak anak2 Indonesia yang bersekolah di kota ini pada akhirnya tidak dapat menyelesaikan sekolahnya. Tapi bukan berarti tidak ada anak2 Indonesia yang berprestasi di sini. Karena banyak juga anak2 Indonesia yang menjadi dokter top, ahli2 ekonomi dan business, baik di Indonesia maupun yang tetap tinggal di Amerika.

Suatu hari saya sedang makan siang bersama kawan2 di sebuah restoran Indonesia di daerah WestWood, namanya Ramayani. Disini biasanya banyak mahasiswa2 Indonesia, dan juga turis2 Indonesia yang kangen dgn masakan Indonesia. Saya pergi ber-tiga cowok semua, dan kita duduk dimeja disudut ruangan. Berhubung saya duduk membelakangi pintu masuk restoran, saya tidak tahu apa dan siapa yang masuk, hanya saja kaki saya tiba2 diinjak oleh salah satu teman saya. Seketika saya teriak “dammn you…”. Dia hanya bilang “ssssttt”. Wah saya yang nggak tau apa maksudnya , jadi hanya bisa ngomel ke Toto temen saya itu. Dia bilang dengan perlahan “elu entar pelan-pelan liat kebelakang, pasti elu bakal pusing deh”. Saya lanjutkan makan siang saya “nasi pecel” yang saya nikmati sepuas-puasnya karena harganya cukup mahal bagi seorang mahasiswa seperti saya. Sambil terus menyantap saya usahakan untuk menengok mencuri pandang, karena menurut pendengaran saya orang2 yang dimaksud Toto itu duduknya persis di belakang kursi saya. Dan pada kesempatan pertama saya bisa mencuri pandang, saya lihat seorang wanita yang bikin saya “deg-degan”. Jantung saya berdenyut cepat dan kayaknya bila dokter pakai stetoscope bisa pekak kupingnya. Wanita itu terlihat sangat manis, wajahnya ayu, kulit mukanya begitu halus dan putih, bibirnya terlihat tebal dan seksi. Dia mengenakan t-shirt ketat berwarna putih dengan gambar di daerah dadanya yang terlihat membusung.

Saya langsung tanya ke Toto, “siapa tuh To’, biasanya kan elu tau semua anak Indonesia”. Dia cuma geleng kepala saja tanda tidak tahu. Sambil menyelesaikan makanan saya nguping apa yang diperbincangkan anak2 dibelakang saya itu. Ternyata si cewek ini adalah seorang turis Indonesia yang melancong ke LA, pantes si Toto nggak tau. Setelah membayar kita langsung aja dengan pura2 cuwek ngeloyor ke luar restoran, dan tiba-tiba ada sebuah suara memanggil nama saya. “Coki, tunggu Cok”. Wah gue udah ge-er aja karena suara itu adalah suara perempuan, dan waktu saya tengok, eh ternyata dia adalah Ita, tetangga saya di Menteng, Jakarta. Rupa-rupanya Ita duduk membelakangi saya, dia pergi sama temennya yang ternyata seorang celebrities manis itu yang bernama Elisa. Mereka akan mengadakan suatu pengambilan gambar untuk film yang sedang dibuat oleh seorang sutradara ternama dari Indonesia, dan Ita adalah perias dari Elisa, saya ingat kalau memang Ita belajar ttg salon dan makeup di Perancis!

Tanpa buang waktu, saya langsung hampiri meja mereka. “hallo apa kabar kamu Ta’, gimana kabar mama dan bokap” basa-basi langsung saya mainkan sebagai strategi saya, agar teman2nya tau bahwa saya sudah akrab dengan Ita. “Semua baik aja Cok, elu sendiri gimana kabarnya kok nggak pernah mampir di rumah”. Saya jawab “iya nih gue udah lama banget nggak pulang ke Indonesia, abisnya nyokap bokap gue nggak pernah ngasih uang lebih untuk gue bisa pulang”. Dengan monyong Ita bilang “Aduh, aduh, kalo elu bilang nggak dikasih uang lebih begimana bisa mobil bererot di garasi elu”. “Ssstt, sembarangan aja lu ngomong” langsung saya potong omongannya. Karena saya takut nanti disangka sombong pamer macem2. Saya memang terlahir dari keluarga yang berada, tapi ortu saya sangatlah strict dalam masalah budget keuangan. Kata mereka itu semua demi kebaikan saya sendiri di kemudian hari.

Pendek kata saya dan Toto beserta teman saya satunya dikenalkan dengan rombongan Ita. Dan karena diantara mereka tidak ada yang familiar dgn kota LA, maka belum sempat saya menawarkan diri, Ita sudah langsung meminta saya dan kawan2 untuk mengantar mereka sight seeing, karena ternyata rombongan mereka cukup banyak dan yang lainnya tidak ikut makan di Ramayani tapi menunggu di hotel di bilangan Universal City. Kebetulan saya bertiga tidak punya acara lagi, setelah mereka selesai makan kita langsung pergi bareng dengan mereka ke hotelnya.
Di hotel saya baru tahu bahwa ternyata hotel yang mereka tinggali sangat jelek untuk ukuran LA, karena terletak di daerah yang kurang nyaman dan jauh dari mana2. Saya heran kok ada bintang2 ternama yang ikut di rombongan mereka mau aja tinggal di hotel kayak gini.
Malam itu saya, Toto, dan teman saya, masing2 mengendarai mobil pergi bareng rombongan orang2 film dari Jakarta itu. Tapi tentunya Ita dan Elisa yang aduhai itu ikut dalam mobil saya. Padahal mobil saya termasuk mobil butut (baik ukuran LA maupun Indonesia), tapi mungkin karena Ita dan saya sudah sangat kenal makanya Elisa lebih comfort bila ikut semobil dengan saya.

Malam itu kita pergi ke Hollywood Blvd. untuk liat2 tapak2 kaki para bintang Hollywood di sekitar bioskop Mann-Chinese. “Jadi sekarang udah ngetop nih ya Ta’, udah mulai ngerias bintang2 top ibukota” kata saya. “Yah sekarang sih udah sampe ke tahap enaknya, dulu2 gue cuma asisten melulu”. “Eh Cok, nanti kalo udah dari Mann-Chinese kita makan terus jalan yuk, gue kan pengen juga tau night life-nya LA”. “Ya boleh2 aja pergi, tapi jangan terlalu rame2 ya, takutnya susah masuk, kan sekarang hari Jum’at jadi pasti rame banget”. Tiba-tiba si manis nyeletuk “Ya emang jangan rame2 entar rombongan sirkus itu pada resek”. Wah manis-manis kok omongannya judes ya, dalam hati saya bergumam. Setelah capek mondar-mandir di Hollywood Blvd. ngeliatin tapak kaki dan tangan para celebrities dan beli souvenir akhirnya bersama-sama rombongan kita makan masakan chinese di downtown. Tapi untuk kali ini saya berinisiatif tidak pergi ke Wong-Kok (restoran chinese murah dan enak yang amat sangat dikenal bagi orang Indonesia di Amerika), melainkan ke Full House didekatnya. Ada masakan favorite saya disini yaitu “cumi goreng kering”, kayaknya udah keliling jagad nggak ada cumi yang seenak Full House. Setelah kenyang dan capek muter2 di Hollywood Blvd, pak Sutradara ngajak rombongannya untuk pulang aja ke hotel karena besok kan mau shooting pagi2. Ini dia durian runtuh saya pikir, karena semua rombongan diajak pulang ke hotel, jadi nggak perlu basa-basi ngajak orang2 itu.

Di hotel, saya dan Toto menunggu Ita dan Elisa berganti pakaian, katanya biar keren jadi nggak malu2in orang Indonesia. Saya dan Toto juga dari pagi belum berganti pakaian, tapi untung kita bawa jacket (jas), jadi biar nggak buang waktu saya pikir lebih baik cuek aja walaupun belum salin pakaian, kan nggak bau keringet karena humidity di LA rendah, asal disemprot minyak si-nyong2 pasti semua teratasi. Sambil menunggu saya membayangkan indahnya Elisa, tingginya sekitar 164 dengan muka yang baby face tapi terlihat sangat menawan, dadanya juga bukan main, terlihat besar dan kencang, saya pikir mungkin ukurannya 36, memang besar tapi terlihat sangat proporsional dengan postur tubuhnya yang tinggi, juga pantatnya terlihat menonjol kebelakang.
Setelah mereka siap, kita berempat langsung naik satu mobil, mobil Toto. Nyaman sekali mobilnya, sound systemnya full custom, dengan sub woofer yang mantap dan cover speaker yang satu warna dengan warna kulit kursi dan interior mobil.
Kita pergi ke disco di daerah Downtown namanya Vertigo, namanya emang kayak nama penyakit orang yang sering pusing, dan saya memang sering pusing kalau ke Vertigo, karena kaki2 indah dan dada2 busung nan menantang selalu terlihat dimana-mana di Vertigo.
Kalau dipikir-pikir Amerika itu emang berengsek, masak mau masuk disco bayar aja masih dipilih-pilih orangnya. Kalau rombongannya laki semua siap2 aja ditolak, kecuali kenal sama securitynya, tapi kalau rombongannya banyak ceweq dan OK2 langsung diaksih masuk untuk beli ticket. Tapi berhubung saya dan Toto merupakan good customer Vertigo, kita semua langsung masuk sambil dipelototin sama bule2 yang ngantri dengan panjangnya. Nah kalau seperti ini baru saya dan kawan2 suka bangga, tuh rasain bule geblek, jangan ngeremehin orang Asia ya. Karena kita2 ini orang Asia memang masih dianggap nomer dua sama kebanyakan bule di Amerika.

Di dalem ternyata sudah sangat padat, Ita langsung aja saja peluk di pinggangnya supaya kita jangan terpisah berdesakan diantara orang2. Tapi si Toto nggak berani meluk si Elisa, jadi dia nguntit aja dibelakangnya. “Ta’, elu kok seksi juga sih gue pikir2, cuman elu tuh demen cowok nggak sih” kata saya. “Sialan lu, gue mah lempeng2 aja cuman gue emang nggak terlalu demen dandan feminin”. Dalam hati saya jelas2 nggak nolak kalo entar malem bisa ngajak Ita pulang ke apartment-ku yang nyaman. Si Ita ini tingginya sekitar 167, dan kulitnya agak gelap karena dia hobinya berenang dan diving. Badannya kencang dan kenyal, pundaknya tegap dan berdada aduhai, dan karena tinggi, betisnya terlihat indah. Sayangnya Ita ini kurang berdandan, padahal dia kan tukang make-up, tapi bagaimanapun Ita terlihat tetap menarik dengan rambutnya yang sangat pendek.

Di bar kita memesan minuman, dan karena Elisa terlihat masih muda, bartender menanyakan ID nya, padahal Elisa ini sudah berumur sekitar 26, seumur dengan saya, dan ternyata dari penuturan Ita, Elisa itu juga sudah menikah. Namun wajahnya yang sedikit kebule-bulean, dengan wajah mirip bintang film tenar Sophie Marceau, Elisa terlihat jauh lebih muda daripada umurnya.
Elisa pesan margaritha coctail, Toto pesan black label, Ita pesan long-island, dan saya sendiri pesan gin-tonic double. Karena cari2 meja nggak dapet kita titipkan aja minuman kita di bar dan langsung menuju dance-floor. Tentunya saya turun dengan Ita, dan Toto dengan Elisa. Sambil berjoget ria di dance floor saya tanya sama Ita tentang Elisa. “Ta’, kok dia elu bilang udah nikah masih kayak gitu sih”. Ita jawab “emangnya kenapa, kan dia nggak melakukan hal yang macem2, terus Elisa itu orangnya sebenarnya baik banget lho, nggak seperti keliatannya, sombong dan judes”. Dalam hati saya sebenernya sangat tertarik dengan Elisa, tapi masih penasaran kalo ada orang yang udah nikah kok masih doyan jalan begini, mungkin gara2 Elisa itu celebrities. Karena walaupun saya termasuk anak bandel, tapi sampai saat itu saya masih mencoba untuk tidak pernah salah langkah untuk berselingkuh dgn istri orang.
Cape turun, kita balik ke bar untuk minum lagi. “Pesen aja lagi minumnya, hari ini saya yang bayar”, langsung si Toto nyosor pesen minum. Ita dan Elisa juga pesen lagi, tapi saya agak takut mau pesen lagi, karena takut pulangnya siapa yang nyetir, karena kalo kena pemeriksaan kita bisa masuk penjara bila minum kebanyakan. Tapi karena pengen saya pesen aja satu lagi gin tonic double, saya pikir apa yang akan terjadi terjadilah.

Tiba-tiba lampu dance-floor meredup dan diputar lagu slow. Saya langsung nyeletuk “eh tumben nih ada lagu slow, kayak di Music room di Jakarta aja”. Tanpa sadar ternyata pergelangan tangan saya dipegang Elisa dan ditarik ke dance floor. “Mau kan turun sama saya” kata Elisa. Busyet siapa yang bisa nolak diajak sama ceweq seprti dia pikir saya. Kita turun di dance floor dan sangat menikmati lagu2 yang diputar, tidak terasa waktu sudah berjalan lebih dari 20 menit tapi belum ada tanda2 lagu slow mau stop. Saya dan Elisa sambil ber slow-dance ngobrol tentang macem2, sampe dia bilang “Coki, saya perhatikan kamu itu kok cuwek ya orangnya, dari tadi siang saya sudah memperhatikan kamu lho”. Saya hanya senyum dan berkata “ah nggak kok saya bukan cuwek tapi agak pemalu, dan lagi saya pikir kamu kan bintang film, jadi saya takut kamu pasti kan nggak nganggep saya”. “Tuh kan jangan ngomong gitu ah, Elisa nggak seneng dengernya”. “Iya, bukan gitu maksudnya, tapi kan saya cuma mahasiswa bukan orang ngetop”. “Ah udah lah nggak usah ngomong2 lagi deh”. Sambil menutup pembicaraannya Elisa memperketat pelukannya di punggungku. Akibatnya konsentrasi gue hilang, karena terasa tonjolan keras menempel di dadaku dan bau parfum Elisa yang sangat merangsang dari lehernya yang jenjang dan putih.

Ketika saya dan Elisa kembali ke bar, ternyata si Toto dan Ita sudah semakin teler kebanyakan minum, dan ngomongnya juga udah ngelantur kemana-mana. Keliatannya sih udah nggak bisa terlalu lama nih disini, takutnya mereka ambruk. Langsung aja saya bayar bonnya, dan mengajak mereka pulang, di gang menuju keluar aja saya sudah merangkul Toto yang badannya besar dan berat supaya tetap bisa jalan teratur, dan Ita juga dirangkul oleh Elisa menuju mobil. Toto dan Ita duduk di belakang, saya mengemudikan di samping Elisa. Musik pun saya setel agak keras supaya yang dibelakang nggak bisa denger kalau saya dan Elisa berbicara, tapi toh mereka memang teler berat. Di dalam perjalanan Elisa diam saja, dan saya tanya “Elisa kok kamu diam aja sepanjang jalan dari Vertigo tadi”, “iya saya lagi agak pusing nih, habis saya udah nggak ngapa-ngapain masih juga dicurigain sama yang di Jakarta”, oh pasti sama suaminya pikir saya. “Ya udah nggak usah dibuat susah” hibur saya dengan sok tenang. “Yah gimana dong kamu pikir aja Cok, saya nggak bikin affair sama siapa-siapa dia nuduh melulu, kan kesel and I am really fed up with him”. Setelah hening beberapa saat tiba2 Elisa melontarkan pertanayaan, “what if I ask, may I stay at your apartment ?” kata Elisa. Ugh, gue gelagepan mau jawabnya “Yes please you may so, but my apartment is only a studio, so you know how it would look like, kinda small you know”. Tapi setelah menanyakan hal tersebut, Elisa hanya diam seribu bahasa dan memandang jauh kedepan.
Akhirnya kita sampai di hotel tempat rombongan menginap, saya bangunkan Toto dan Ita yang ternyata memang sudah tertidur di perjalanan. “Cok, gue tidur di hotel ini aja deh, pala gue udah puyeng banget nih dan kalo naik mobil lagi gue taku jackpot” kata Toto. Sedangkan Ita sempoyongan menuju ke dalam hotel cuma bilang “malem ya semuanya and thanks berat”. “Eh Ita tungguin gue dong, dan boleh ya gue tidur di kamar elu” kata Toto. “Up to you it’s ok for me”. Tanpa ngomong ba’ bu’ langsung aja mereka berdua berjalan oleng menuju kamar Ita. Tinggal saya dan Elisa di samping mobil, “Coki, how about us”, saya denga dikuat-kuatkan mencoba untuk bisa mempertahankan untuk tidak mengajak Elisa pulang ke apartment saya, “Elisa, it’s better for you to stay at the hotel, and don’t you have to prepare for tomorrow’s shooting?’ tanya saya. Tapi Elisa tidak berkata apa2 dan langsung membuka pintu mobil Toto dan membanting pintunya. Yah, apa boleh buat saya pikir, sekilas segera terpikir hal2 yang akan terjadi, tapi mudah2an saya masih bisa mempertahankan prinsip saya untuk tidak berselingkuh dengan istriorang.

Saya bawa mobil Toto pulang ke apartment saya, daripada Mercedes Benz Toto hilang tak berbekas besok pagi, jadi lebih baik meninggalkan mobil saya yang jelek di hotel yang kurang aman itu. Apartment saya ini berlokasi di Hollywood hills, menjorok di tepi tebing dan memiliki pemandangan yang indah sekali mengarah ke downtown LA.
Saya gandeng Elisa menuju ke kamar saya, dan pada waktu saya membuka pintu dan mau menyalakan lampu kamar, tangan saya ditahan oleh Elisa dan dia meminta saya untuk tidak menyalakan lampu utama. Karena memang dari kegelapan kamar saya bisa terlihat melalui kaca jendela, berjuta lampu tampak berkedip-kedip dikejauhan kota LA. “Wow you have such a lovely and romantic room up here Coki”, saya hanya mengiyakan saja dan dengan gelisah saya membereskan buku2 yang berserakan dilantai. Elisa langsung duduk di depan kaca jendela melihat pemandangan yang ternyata memang sangat indah. Rupanya selama ini saya tidak terlalu memperhatikan pemandangan dari kamar saya ini, tapi malam ini ada sesuatu yang sangat istimewa.

“Coki come over here” kata Elisa, bagai kerbau dicocok hidung saya mendekat di belakangnya. Dengan lembut ditariknya tangan saya dan saya menurut saja, dirangkulnya pundak saya dan dengan lembut diciumnya bibir saya. Terasa hangat dan merangsang, dan dengan pasti dilumatnya bibir saya. Tercium lagi oleh saya bau parfum yang dipakainya, yang membangkitkan gairah saya yang selama ini tertidur dan tak tersalurkan. Sekali lagi terlintas di kepala saya prinsip ttg istri orang, namun rupanya saya sudah tidak bisa menahannya lagi. Maka dengan pelahan dan pasti saya bimbing Elisa menuju tempat tidur saya, Elisa diatas saya menciumi bibir, muka dan leher saya, tangannya dengan cepat membuka kancing2 baju saya dan terdengar napasnya terengah-engah. Diciuminya dada saya dan dihisapnya putting saya secara mengejutkan, mengakibatkan rangsangan yang sulit dijelaskan. Saya terlentangkan badannya diatas kasur, dan langsung saya lumat dadanya yang masih terbungkus BH dan baju, terasa sangat padat dan bulat. Saya tarik kebawah ritsleting bajunya dan terlihat lingkaran padat menonjol indah terbungkus oleh bra hitam yang dikenakannya. Tanpa mencopot pengait bra saya turunkan cup yang menutupi buah dada nan indah itu, langsung saya hisap dan dengan lidah saya permainkan putingnya yang masih merah muda dan kecil. Tidak saya sangka bahwa ternyata putting Elisa masih demikian indah, seperti nampaknya anak muda belasan tahun. Tentunya saya tidak akan berhenti di kedua tonjolan indah nan kenyal milik Elisa itu, saya terus turun ke daerah pusar, sambil tangan saya mencoba untuk membuka celana kain yang dikenakannya. Lidah saya bermain disekitar pusarnya, dan Elisa terlihat menghentakkan perutnya ke atas karena terangsang. Dari luar celana dalamnya yang juga berwarna hitam berenda, terlihat dari bahan yang menerawang, rambut kemaluannya yang teratur rapih. Dengan jari tengah tangan kiriku, kuusap belahan kemaluannya dengan pelahan dan dengan pasti kuselipkan jari2 tanganku melalui samping celana dalamnya yang mulai basah. Kupermainkan daging2 clitoris yang tertutup bulu kemaluannya, perlahan-lahan kuselipkan jari manisku memasuki lubang vaginanya yang terasa hangat dan ketat. Agak sedikit kubengkokkan ujung jari manisku mengusap bagian dalam lubang vaginanya yang terletak di belakang clitorisnya. Elisa menggelinjang hebat ketika dengan tepat ujung jari manisku mengenai pusat-pusat simpul saraf di dalamnya. Beberapa saat kugerak-gerakkan ujung jari manisku disekitar simpul2 saraf tersebut, dan terlihat pinggulnya berguncang hebat keatas dan kebawah mengikuti gerakan keluar masuknya jariku di dalam lubang vaginanya. Berselingan kupermainkan antara lidahku disekitar pusar dan jari manisku. “Aaaahhhh .. auww .. please Coki come inside me” kata Elisa.

Tapi karena saya berusaha untuk menenangkan diri dari nafsuku yang juga membara, maka kutahan untuk tidak segera memulainya. Saya sudah telanjang bulat dan juga Elisa, ternyata semakin terlihat badannya yang putih mulus dan tidak ada cacatnya, perutnya yang rata dan terlihat sedikit berbuku-buku dan betapa menariknya rambut2 kemaluan dan daging clitorisnya yang begitu rapih bagaikan di buat oleh dokter bedah plastik. Langsung kutancapkan lidahku diantara lubang vagina elisa, dan kuhisap serta kupermaikan disekitar clitorisnya, terdengar desisan “heeehhhh … hhehhhh.. ssssshhh” dari mulut Elisa. Dengan cekatan Elisa juga mulai meraih batang kemaluanku yang memang sudah menegang dari tadi, dihisapnya batangku dan terasa sangat menggairahkan, tak tertahankan sayapun mengerang “hhmmmmgh ….heeehh”. Tidak mau kalah, kuselipkan jari tengah tanganku ke dalam lubang vagina Elisa sambil kuhisap clitorisnya, kusentuh dengan ujung jari tanganku bagian simpul saraf yang terasa seperti benjolan-benjolan kecil, terasa pinggul Elisa menegang dan menggeliat, dan dengan keras dia menjerit “Aaaahhh I am cumingehhhhh… “ ternyata Elisa mencapai klimaksnya.

Kulepaskan hisapanku di sekitar kemaluan Elisa dan perlahan-lahan kuraba buah dadanya yang sudah mengencang, dengan putting merah muda yang mancung mengeras. Mulai lagi kuhisap puting merah muda itu, kujilat di sekelilingnya, sambil sesekali kuhisap dan kugigit perlahan ujung putingnya. Terasa pahaku menyentuh bulu-bulu kemaluan Elisa, dan dengan kakinya melingkari kakiku, mulai digerakkan digosokkan kemaluannya di pahaku. Rupanya Elisa dengan cepat mulai bergairah lagi dan dia berkata “Ayo sayang, saya masih ingin lagi dan lagi”. Kuarahkan batang kemaluanku menuju lubang vaginanya yang masih basah, dengan sedikit tekanan, terasa secara perlahan batangku memasuki lubang vaginanya yang hangat dan ketat. Terasa batangku teremas-remas oleh otot-otot lubangnya. Kuayun maju mundur dan diikuti gerakan pinggul Elisa yang juga mengayun-ngayun, kucium bibirnya yang indah, gerakanku dan Elisa semakin menggebu. Kita berdua saling menindih dan berguling tanpa terlepaskan lagi, gerakan demi gerakan antara pinggul Elisa dan pinggul saya, dan akhirnya terasa ujung batang kemaluanku mulai berdenyut-denyut tak tertahankan, “eeeuchh… “ kuteriakkan perasaanku yang tertahan selam ini, bersamaan teriakan klimaks Elisa yang semakin membuatku terangsang, kurasakan cairan spermaku memancar keluar dengan kerasnya, dan terasa jepitan yang mengeras disekitar batangku, serta getaran mengejang dari badan Elisa. Akhirnya kita berdua terkulai lemas, kuakhiri permainan cinta ini bersamanya, dan tertidur pulas sambil berpelukan di bawah selimutku yang hangat itu.

Paginya Elisa terlihat semakin akrab dengan saya, kita bercerita tentang hobby, kebiasaan, dan hal-hal kecil lain yang tidak penting, namun semuanya terasa sangat indah. Aduh, jangan2 saya jatuh cinta dengan somebody else’s wife. Karena sepertinya saya yang sudah lebih dari 4 tahun tidak memiliki pacar, tiba2 muncul Elisa dan saya langsung merasa pas serta cocok dengannya.
Setelah kita makan pagi, saya telpon ke hotel ke kamar Ita. Ternyata yang mengankat si Toto, “hallo, eeeehh.. siapa nihh ganggu tidur aja”, “gue ni Coki, mana Ita”. “Ita siapa ya” kata Toto, “wah elu gila kali ya To, kan elu tidur dikamar hotel orang, buka tuh matalu”. Ternyata Toto masih tidur dan sudah ditinggal pergi oleh Ita, karena Ita harus merias para bintang yang pergi shooting pagi ini. Sedangkan Elisa tidak mempunyai jadwal untuk hari ini.

“Cok, kita ke hotel dulu ya untuk ganti terus nanti antar aku putar-putar cari baju”, “ok aja, kan sekarang hari Sabtu jadi I am free and I am all yours”. Sambil berjalan menuju kamar mandi kulihat Elisa sedang bermain dengan remote tv kabelku untuk mencari program. Kuatur supaya air hangat mengalir melalui shower sekeras-kerasnya agar pegal-pegal hilang dari badanku. Tiba-tiba pintu kaca ruang shower terbuka, dan badan tinggi semampai putih mulus milik Elisa sudah terpampang di depan pintu tanpa busana. Dia langsung lompat ikut masuk ke bawah pancuran shower yang hangat. Tanpa menunggu aba-aba, langsung kita berciuman dan berpagutan bagaikan anak SMA yang kasmaran. Elisa menciumi leher, turun ke dadaku, dan langsung menyambar batang kemaluanku yang sudah menegang menuju arah pukul 11. Dihisapnya, dilumat, dan dijilati batangku, dari ujung sampai ke pangkal. Terasa berdenyut-denyut batangku, Elisa sambil menghisap ujung batangku tangannya meraba-raba sekitar bola kemaluanku, yang membuat seakan-akan aku ingin menggerakkan maju dan mudur pinggulku. Sesekali dengan tangannya dipegangnya batang kemaluanku dan digerakkannya keatas dan kebawah dengan memperkeras hisapan diujung batangku. Bukan main rasanya, kutarik napas dalam-dalam agar keteganganku mengendur. Lalu kupegang pinggulnya dan kuputar badannya, dan terlihat dari belakang pantatnya yang menonjol dan bersih. Kuarahkan batangku menuju vaginanya yang terlihat menantang dari belakang. Kumasuki vagina Elisa dengan pasti, masih terasa seperti tadi malam, hangat dan sangat ketat. Dibawah pancuran air hangat yang keras Elisa dan saya dimabuk cinta dan nafsu birahi yang membara. Sambil kugerakkan maju mundur dan semakin cepat kuayunkan pinggulku, kubelai dari belakang buah dada Elisa yang menonjol kencang, agak kuremas-remas dan kucubit putingnya. Erangan-erangan Elisa membuat aku semakin memuncak, rasanya tidak dapat aku menahannya. Namun tiba-tiba Elisa melepaskan batangku dari vaginanya dan secepat kilat dia membalik dan menghisap batangku, sambil tidak henti-hentinya dia mengocok batangku, mulutnya menghisap dan mempermaikan ujung kemaluanku dengan lidahnya. Tidaklah tertahankan lagi, aku mencapai klimaks lagi pagi ini. Dengan tanpa risih, tetap dihisapnya kemaluanku sampai habis cairan dari dalamnya. “Honey I really like you”, hanya itu yang diucapkan Elisa. Dan kita berdua saling menyabuni dan membelai menyelesaikan mandi untuk menuju ke hotel.

Sesampainya di Hotel, kita langsung menuju kamar Ita, dan ternyata Toto masih tergeletak dengan nyenyaknya. Dengan sedikit air di gelas, kutuangkan diatas perutnya yang agak buncit. “Ah .ah . ah apaan nih kok dingin-dingin ?”, ha ha ha ha, saya dan Elisa tertawa ngakak. “Wah elu kok pada jail sih sama gue, kan pala gue masih nyut-nyutan sekarang”. Segera saja kubilang “udah deh bangun aja terus pulang ke apartment elu, istirahat dulu, nanti malem kita jalan lagi, dan lagi itu tuh bawa mobil lu, sebab gue was-was nyetir mobil elu”, “ah Coki, coki, elu nih memang suka kebanyakan ngerendahin diri meninggikan mutu, udah nggak jamannya lagi tuh, kan mobil elu juga ada yang elu kandangin melulu di store, keluarin dong dan pake, kan tamu kita ini istimewa, jauh2 dari Jakarta masak cuma elu suruh naik mobil butut lo”. “Hush jangan ngaco ah, butut2 juga nggak pernah mogok, daripada MB elu, dulu sampe gue musti jemput gara2 mogok.” Eh namanya juga Toto yang pantang mudur, dia malah ngoceh ke Elisa “Elisa, jangan percaya sama Coki, dia ini busuk banget lho, kelihatannya sih kalem-kalem aja, tapi sebenarnya bertanduk dan berbuntut dengan mata panah diujungnya, hi .. hi .. hi Coki ini memang keluarga dedemit hi..hi..hi, dan oh iya jangan mau diajak muter2 pake mobi bututnya itu, suruh dia keluarin mobilnya yang disimpen terus di garasi”. Elisa hanya senyum-senyum saja mendengar celotehan Toto, karena tentunya Elisa tidaklah terlalu memusingkan urusan mobil setelah apa yang terjadi diantara kita tadi malam dan pagi ini.

Tapi setelah akhirnya saya dan Elisa keluar hotel diikuti oleh Toto yang mau pulang ke apartmentnya, tiba-tiba ada juga keinginan saya untuk memanaskan mobil saya yang sudah agak lama tidak saya pakai. “Elisa, kalo kita ke gudang dulu sebentar untuk ambil mobil saya untuk dipanasin kamu ok2 aja kan”, seperti biasa Elisa hanya mengangguk tanpa protes. Mobil langsung saya belokkan untuk mengarah ke tempat penyimpanan mobil saya di sekitar daerah West LA. Setelah menunjukkan pass di depan pintu gerbang yang dijaga oleh seorang satpam, saya dan Elisa menyusur diantara barisan rolling door tempat penyimpanan barang2. Di pintu nomer 600 saya berhenti dan turun untuk membuka dua buah gembok yang mengunci rolling door tersebut. Begitu terbuka, tercium bau minyak dan bensin, wah rupanya kasihan nih mobil saya kelamaan nggak dipakai. Saya cek dulu oli mesin dan air radiator, lalu saya sambung kabel accunya, dan saya start mesinnya. Terdengar deruman mesin boxer 6 cilinder yang khas dari Porsche Carrera 2 warna hitam dengan transmisi Tiptronic. Mobil butut kesayangan kuparkir kedalam menggantikan mobil dua pintuku yang masih terlihat baru sekali, akibat sangat jarang saya pakai.

Terasa benar bedanya, sehabis menyetir mobil bututku terus berganti mengendarai Porsche dengan transmisi Tiptronic, mobil Porsche ini terasa selalu mau mengikuti kemauan pengemudinya, transmisi full electronic otomatis generasi terakhir ini memang benar2 hebat, bahkan patent dari Porsche juga dipakai oleh Mercedes dan mobil lainnya. Mesinnya juga seolah-olah tidak pernah kekurangan tenaga, kapanpun diinjak pedal gasnya, mobil akan melesat bagaikan busur panah. Tapi mengendarai di Amerika tidak seperti di Jerman, karena speed limit di Amerika paling tinggi hanya 65 mil per jam, jadi saya juga tidak terlalu puas mengendarai mobil kencang ini. Paling2 untuk pamer atau kredibilitas saja, atau bila kadang kala saya harus mewakili orang tua saya untuk menjenguk kantor partnernya di daerah Pasadenna yang bergerak di bidang komunikasi dan telemetri.
“El, kamu mau cari baju yang seperti apa, mau yang keren tapi nggak perlu merek atau perlunya yang merek, karena tempatnya beda”. “Terserah kamu deh” kata Elisa. “Kita ke Beverly Connection aja ya, nanti bisa nyebrang ke Beverly Center” kataku. Memang lebih baik parkir di Beverly Connection kalau Sabtu begini, krn biasanya lebih mudah dapet tempat parkir yang enak.

Sesampainya di Beverly Connection ternyata ada film bagus yang belum saya tonton, sayapun punya ide untuk nonton, “Elisa, selesai belanja kamu mau nggak saya ajak nonton sore nanti, itung2 ngisi waktu dan nunggu sampe malem, biar Ita juga udah selesai shooting”. “Ok, tapi sekarang laper lagi nih, kita makan apa ya”. Elisa langsung saya tawari untuk makan di California Pizza Kitchen yang asli (bukan bikinannya grup Texas Fried chicken seperti di Jakarta), di California Pizza ini ada pizza dengan variasi berbagai macam potongan daging, kambing yang rasanya syuur sekali, ayam, sapi, dll. Juga ada toping ikan asin dan seribu satu macam lainnya. Tapi saya pesankan yang topingnya daging kambing. Ternyata Elisa berkomentar bahwa memang pizza ini enak, dan rasanya tidak seperti pizza2 lainnya. Selesai makan dia belanja di shopping mall diatas di gedung Beverly Center, eh ternyata kita ketemu banyak anak Indonesia yang lagi pada belanja dan ngeceng di mall ini. Tapi saya cuwek saja, karena rata-rata mereka adalah junior saya, karena saya sudah termasuk yang bangkotan di LA ini. Setelah belanja baju2 yang kebetulan satu selera dengan saya, yaitu baju2 yang tidak terlalu formal tapi rapih, Elisa menaruh belanjaan di mobil dan kita pergi ke General Cinema di Beverly Connection. Filmnya dimulai sekitar pukul 16.00 dan kita datang tepat pada waktunya.

Di dalam gedung bioskop, ternyata hampir tidak ada yang menonton. Mungkin karena kita nonton sore hari dan hari itu adalah hari Sabtu, atau mungkin juga karena filmnya sudah 1 minggu lebih. Elisa dan saya duduk sambil berpegangan tangan, dan kepala kita satu dengan lainnya saling berdekatan, dan filmpun dimulai. Sambil tetap berpegangan tangan, mulai lagi tercium bau parfum Elisa yang merangsang, yang membuat birahiku meninggi lagi, dengan perlahan kusentuh buah dadanya yang kencang dan menonjol dengan jari2ku, dan rupanya Elisa menunjukkan reaksi yang spontan, sehingga Elisa mulai meraba-raba pangkal pahaku. Kitapun berciuman bak anak puber dimabuk cinta, kuraba dadanya dari antara kancing bajunya yang sudah kubuka sebagian, bisa saya rasakan putingnya mulai mengencang dibalik bra yang dikenakannya. Diantara letusan senjata dari adegan film yang seru di layar bioskop, Elisa juga semakin brutal memegangi dan mulai menurunkan ritsleting celana saya. Dengan beraninya dia jongkok dan mulai menghisap batangku yang sudah mulai menegang. Oh bukan main rasanya, dan ini adalah pengalaman yang belum pernah kualami sebelumnya, dihisap seorang cewek di bisokop, “eehhh, eehhh” kutahan eranganku seirama dengan meningginya gerakan tangan Elisa mengocok batangku sambil menghisapnya. “El, stop … stop, udah deh jangan disini” kataku, “aahhh biar deh kan nggak ada yang liat”, eh gila juga nih cewek pikirku. “Ayo deh kita keluar aja”, sambil agak kupaksa kutarik tangan Elisa keluar ruang bioskop. Sesampainya di luar tidak terlihat orang satupun, mungkin karena memang di General Cinema ini penontonnya tidak terlalu banyak. Sambil kulihat ke kiri dan ke kanan serta melihat kalau2 ada kamera cctv utk monitor security, kutarik tangan Elisa menuju toilet. Setelah saya yakin tidak ada cctv langsung kuajak Elisa memasuki toilet wanita. Kebetulan di dalam toilet benar-benar kosong, dan pintu segera saya kunci dari dalam, dan dengan tidak sabar kita segera saling berciuman dan berusaha saling membuka kancing baju. Kuhisap putting Elisa yang sudah menegang, kuraba dan kuremas mengelilingi buah dadanya, “aaahhhh .. aaahhh…” erang Elisa.
Sambil terhuyung kuangkat badan Elisa dan kududukkan dia diatas meja wastafel, tanganku dengan liar segera menuju ke kemaluannya dan dengan hanya menaikkan roknya, kuraba vaginanya melalui sela-sela celana dalamnya. Erangan Elisa semakin menjadi-jadi, dan tanpa tunggu aba2 segera kutarik celana dalamnya dan kumasukkan batangku yang sudah kukeluarkan dari celanaku. Dengan sedikit dorongan yang agak keras, bisa kumasukkan semua batangku kedalam vaginanya yang menjepit. “auww .. pelan dikit dong, kayaknya punya kamu kok tambah besar sih Cok”, tapi aku sudah tidak bisa berpikir jernih, karena nafsuku sudah memuncak. Maka makin kupercepat gerakanku keluar masuk vaginanya. Kaki Elisa yang putih mulus itu dilingkarkan olehnya ke belakang punggungku, mengakibatkan batangku masuk sedalam-dalamnya dan terasa olehku mentok di uterusnya, yang mengakibatkan Elisa merintih-rintih tanda nikmat. Denyutan demi denyutan di ujung batangku semakin memuncak dan tiba-tiba erangan Elisa yang keras dan pinggulnya yang mengejang menandakan klimaksnya, terasa cengkeraman otot-otot vagina Elisa di sekitar batangku, dan tidak bisa kutahan lagi, kumuntahkan semua spermaku di dalam vagina Elisa. Ternyata Elisa terus menghentakkan pinggulnya ke badanku tanpa henti, dan cengkeraman kukunya di pundakku membua klimaksku terasa begitu ngilu tapi enak dan berkali-kali. Setelah segalanya berlalu kita hanya saling berpelukan dan kudiamkan batangku beberapa saat di dalam vagina Elisa, terasa ada cairan keluar dari Elisa dan batangku mengendur. Lalu kita cepat2 beres2 untuk keluar dari toilet wanita itu karena takut ada orang yang masuk, tapi ternyata diluar tetap sepi2 saja. Kita berdua hanya tersenyum nakal, dan kita memutuskan untuk langsung ke mobil tanpa meneruskan menonton film tadi. Dalam perjalanan ke hotel Elisa, teringat lagi bahwa akhirnya aku melanggar prinsipku sendiri untuk jangan berselingkuh dengan istri orang, namun apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur.

Sabtu sore itu ternyata jalanan agak macet, untung mobilku tidak manual. Sehingga sambil dengan santai mengemudikan mobil, kuceritakan tempat2 favorit celebrities Hollywood suka nongkrong di sekitar Sunset boulevard, seperti restoran Spago, dan lain-lain. Sesampai di hotel Elisa ternyata rombongan crew film dan bintang2 tenar negriku sudah pada santai di hotel. Elisa segera masuk ke kamarnya, dan saya mengetuk pintu kamar Ita. “Ita, Ta …, ini gue Coki”, “iya tunggu dulu gue baru abis mandi”. Setelah beberapa saat pintupun terbuka, kulihat Ita hanya mengenakan handuk yang dililitkan sebatas dadanya. Rambutnya yang cepak masih basah dan awut-awutan, terlihat betis dan pahanya yang mulus karena handuknya hanya menutup sampai sebatas di bawah belahan pahanya sedikit saja. “Eh kemana aja elu sama Elisa, udah belanja baju belom dienya”. Langsung saja saya jawab “Oh tadi udah belanja di Beverly Center, dan gue ajak dia makan California Pizza Kitchen” tapi dalam hati saya bertanya, “kok Ita nggak nembak gue langsung ttg tadi malam Elisa nggak tidur di hotel ? ah tapi mungkin karena Ita kan cuwek”.
Sambil berjalan menuju lemari pakaian, Ita denga cuweknya melepas handuknya membelakangiku untuk berpakaian. Walah maaak itu pinggang dan pantat, nggak nahan deeeh ! Maklum cowok kayaknya kok nggak puas-puas juga yach.
Tidak berapa lama ternyata Toto dan temannya sudah datang juga di hotel, dan kita beramai-ramai dengan rombongan orang film pergi ke Melrose Ave untuk berjalan-jalan dan makan malam.

Marina del Rey

Selesai jalan2 dan makan malam, acara selanjutnya dari rombongan film adalah acara bebas, karena hari Minggu mereka semua istirahat. Sehingga ada sebagian rombongan yang pergi denga teman mereka, ada sebagian yang pulang, dan saya, Toto, Ita, Eliza dan teman saya satu lagi memutuskan untuk pergi ke jazz club. Lalu kita sepakat pergi ke Warehouse yang terletak di 4499 Admiralty Way, Marina del Rey.
Club restaurant Warehouse ini tempatnya romantic dan musiknya biasanya oke banget, banyak menampilkan pemain musik berirama jazz popular yang enak didengar. Para Waitressnya pun mengenakan seragam putih celana pendek atau rok tennis, sehingga terlihat sexy dan menarik, dan sepertinya sih mereka semua pilihan, karena hampir semuanya enak dilihat dari atas sampai bawah.
“Toto, malam ini jangan minum kebanyakan ya, entar kayak kemarin lagi elu musti nginep di kamar gue” kata Ita. “Oke gue nggak bakal teler deh kayak kemarin” balas Toto. Sambil makan snack dan minum minuman masing2, Ita berbisik kekuping saya “Cok, elu kok berani sih jalan sama Elisa, sampe2 nggak elu pulangin ke hotel lagi”. Deg hati gue kaget nggak nyangka ditanya sama Elisa. “Habis gimana ya Ta, semua sih kayak banjir ngalir aja, nggak direncanaain dan nggak tertahankan. Kayaknya sih terus terang gue suka sama Elisa, tapi please jangan bilang siapa2”. Ita bilang “Nggak apa2 kok, gue nggak suka ngegosip, tapi tolong elu ati2 aja, dan kalo bisa udah jangan diulangin, kan gue kadang2 suka ditanayain sama lakinya di Jakarta, karena gue tukang riasnya yang dipercaya”. “Iya deh kalo gitu, gue akan usahain untuk tidak terulang lagi” jawab saya pendek.
Sambil terus menikmati lagu ternyata kita semua sudah menghabiskan banyak sekali minuman beralkohol, sehingga kita berlima ketawa-ketawa dan lupa akan segala kesusahan, yang juga mengakibatkan kontrol diri kita menurun drastis.
Seperti biasa saya yang nomer satu sadar duluan untuk mengakhiri malam yang terlalu gembira ini, walaupun malam ini saya termasuk yang paling banyak minum, yang mengakibatkan saya sendiri sudah sangat terlalu mabuk untuk bisa sadar seperti biasanya. Akhirnya saya pulang bertiga denga Elisa dan Ita, sedangkan Toto dan teman saya pulang berdua.

Di mobil kita bertiga ketawa dan bercanda terus, “wah lagunya tadi enak2 dan suara penyanyinya bukan main bagusnya” kata Elisa. Sambil mengemudikan dan kepala yang terasa berputar-putar, saya nyeletuk aja “emang sih enak banget, tapi gimana nih sekarang gue kok kayaknya nyetirnya udah kayak kapal oleng ? gue takut kalo nyetir ke hotel kalian suka ada polisi iseng mereksain orang mabok”. “Nah jadi gimana dong” kata Ita. Saya jawab tanpa maksud apa2 “gimana kalo kalian tidur aja di apartment gue, kan tempat tidur gue besar, jadi kita nggak berebutan kasur, dan juga jalan ke apartment biasanya nggak ada polisi jadi kita lebih aman”. Ternyata semua setuju saja, dan dengan sangat hati2 saya kemudikan kendaraan supaya tidak terlihat oleng oleh orang lain.
Sesampainya di Apartment langsung kita semua tergeletak di tempat tidurku tak sadarkan diri, sampai suatu saat di pagi buta tiba-tiba saya dengar suara-suara yang aneh. Kresek, kresek, kresek, cup, cup, cup, krecek, krecek, crek, crek, hhheeehhh, heeeehhhh. Dengan mata yang masih sangat berat dan kepala yang masih sangat bertalu-talu dan pusing, saya mencoba memicingkan mata dan mencari asal bunyi itu. Ternyata tanpa saya duga2, Ita dan Elisa sedang saling mencium berlawanan arah alias 69. Nampaknya mereka berdua sangat menikmati kegiatan yang mereka lakukan tanpa mengetahui bahwa saya sudah mulai memperhatikan dengan mata yang saya coba belalakkan tapi pedih.
Tapi tiba-tiba tangan Elisa menarik tungkai saya dan dia bekata “ayo sayang kesini dong cium saya”, saya masih terkaget melihat adegan mereka. Belum juga saya sempat berpikir atau menjawab, langsung tangan Ita menarik dan menurunkan celana tranining saya. Selanjutnya Ita mengalihkan kepalanya menuju ke kemaluan saya, Ita segera melahap batang kemaluan saya yang baru perlahan-lahan terangsang setelah saya melihat adegan yang mereka lakukan. Elisa pun langsung mencium mulut saya tanpa saya dapat bereaksi untuk mengelak atau menyambutnya.
Mendapatkan rangsangan dan hisapan yang mengejutkan di batang kemaluan saya, serta ciuman bertubi-tubi di mulut saya, ditambah kepala yang masih bertalu-talu; membuat saya menyerah dan menikmati serta mengikuti irama kedua cewek yang sudah membabi buta itu.
Hisapan demi hisapan kurasakan di batangku, dan jilatan serta gigitan kecil di daerah dadaku pada saat yang bersamaan, membuat suatu rangsangan yang memabukkan dan sukar untuk dijelaskan ataupun dilupakan. Kudongakkan kepalaku membenam ke bantal, kumengejang dan mengerang kenikmatan, sambil dengan perlahan berusaha untuk lebih sadar dari rasa pusing dan kunang2 akibat alkohol. Kuraih kepala Elisa dari daerah dadaku, kutarik badannya keatas, dan kujilat serta kucium buah dadanya yang sudah sangat keras. Dengan mataku yang terpejamm kuhisap dan kuremas dengan jari2ku buah dada Elisa yang memang sangat menggemaskan itu. “oohhhh, emmmm, auuhhh” erang Elisa. Tapi tiba-tiba Elisa melepaskan diri dan mengarahkan kepalanya ke batang kemaluanku. Kurasakan Ita melepaskan mulutnya dari batangku, dan terasa kembali hisapan dengan rangsangan yang lain dari yang tadi. Oh tentunya ini adalah Elisa yang sedang menghisap batangku, terasa benar-benar luar biasa, lebih lembut tapi terasa seperti semua otot2 ku mengejang akibat hisapan Elisa di batangku. Kemudian kurasakan pantatku terdorong keatas oleh dua buah tangan dan tanpa kuduga ada sebuah benda halus dan hangat serta basah yang mulai menjilati daerah disekitar buah kemaluanku. Hisapan dan belaian tangan elisa di batangku serta jilatan Ita disekitar buah kemaluanku membuatku semakin meronta-ronta.
Blaarrrr, kurasakan bagaikan sebuah bom yang menggetarkan seluruh otot dan badanku, ketika ujung lidah Ita mulai menjilati disekitar lubang duburku, ditambah rangsangan oleh Elisa di batangku. Lemas sudah badanku terasa, namun kenikmatan yang tak teruraikan itu belum juga mencapai puncaknya, mungkin akibat alkohol yang terlalu banyak membuat klimaksku belum tercapai juga.
Kekuatanku dan kesadaranku tampaknya mulai pulih akibat rangsangan yang menggema bagaikan ledakan bom itu, maka segera kutarik badan Elisa dan segera kumasukkan batangku ke dalam vaginanya yang sudah basah terangsang. Dengan posisi merangkak, kumasuki vagina Elisa dari belakang, kupompa dan kugoyang dengan cepat. “ah .. ah .. ah .. ah.. “ teriak Elisa, “please harder, oh harder”. Bagaikan banteng melihat kain merah kupercepat gerakanku memasuki lubang vagina Elisa. “Auuuuuuuhhhhh,…” erang Elisa, badannya mengejang dan bergetar kemudian terkulai lemas didepanku.
Kucabut batangku yang segera disambut oleh Ita yang dari tadi hanya mengamati dari sampingku. Dituntunnya batangku menuju vagina Ita yang tertutup oleh rambut kemaluan yang sedemikian lebatnya. Dengan posisi aku dibawah dan Ita diatas, Ita langsung memulai gerakan secepatnya begitu seluruh batangku terbenam di dalam vaginanya. Ita mulai menggoyangkan pinggulnya bagaikan menunggangi kuda rodeo. “Ehhhhh, ohhhh, ahhhh, “ gumam Ita sambil terus menggoyangkan pinggulnya diatasku. Terasa lubangnya yang sangat basah dan licin melingkari batangku keluar dan masuk, maju dan mudur. Rasa geli dan ngilu terasa sangat nikmat olehku, kugerakkan pinggulku mengikuti gerakan Ita yang menggila itu. Kurasakan kejangan dan kudengar desahannya yang meninggi, pada saat bersamaan kurasakan pula denyutan dibatangku yang semakin mengejang. “Uuuhhhhh, ah, ah, ooooohhhhh” teriakku bersamaan dengan jeritan Ita yang melengking tinggi, “aaaiiiiiichhhhhhm, oh, oh , oh , oh…..”

Hari itu di pagi buta kita bertiga terkulai lemas di apartmentku. Terlihat dikejauhan melalui jendela kamarku, sebagian lampu-lampu yang berkedip-kedip sudah padam, dan kota LA sudah memulai kegiatannya kembali.

gangbang smu

Filed under: RAMAI-RAMAI

Setelah selesai ujian matematika semua murid sudah pulang saat itu kepalaku terasa pusaing lalu aku masuk ke ruang UKS, menyalakan lampunya dan menaruh tas sekolahku di meja yang ada di sana, lalu mencari cari minyak putih di kotak obat. Setelah ketemu, aku membuka kancing baju seragamku di bagian perut ke bawah, dan mulai mengoleskan minyak putih itu untuk meredakan rasa sakit perutku. Aku amat terkejut ketika tiba tiba tukang sapu di sekolahku yang bernama Hadi membuka pintu ruang UKS ini. Aku yang sedang mengolesi perutku dengan minyak putih, terkesiap melihat dia menyeringai, tanpa menyadari 3 kancing baju seragamku dari bawah yang terbuka dan memperlihatkan perutku yang rata dan putih mulus ini. dan belum sempat aku sadar apa yang harus aku lakukan, ia sudah mendekatiku, menyergapku, menelikung tangan kananku ke belakang dengan tangan kanannya, dan membekap mulutku erat erat dengan tangan kirinya. Aku meronta ronta, dan berusaha menjerit, tapi yang terdengar cuma “eeemph… eeemph…”. Dengan panik aku berusaha melepaskan bekapan pada mulutku dengan tangan kiriku yang masih bebas. Namun apa arti tenaga seorang gadis yang mungil sepertiku menghadapi seorang lelaki yang tinggi besar seperti Hadi ini? Aku sungguh merasa tak berdaya.

“Halo non Eliza… kok masih ada di sekolah malam malam begini?” tanya Hadi dengan menjemukan. Mataku terbelalak ketika masuk lagi tukang sapu yang lain yang bernama bernama Yoyok. “Girnooo”, ia melongok keluar pintu dan berteriak memanggil satpam di sekolahku. Aku sempat merasa lega, kukira aku akan selamat dari cengkeraman Hadi, tapi ternyata Yoyok yang mendekati kami bukannya menolongku, malah memegang pergelangan tangan kiriku dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya mulai meremasi payudaraku. “Wah baru kali ini ada kesempatan pegang susu amoy.. ini non Eliza yang sering kamu bilang itu kan Had?” tanya Yoyok pada Hadi, yang menjawab “iya Yok, amoy tercantik di sekolah ini. Betul gak?” tanya Hadi. Sambil tertawa Yoyok meremas payudaraku makin keras. Aku menggeliat kesakitan dan terus meronta berusaha melepaskan diri sambil berharap semoga Girno yang sering kuberi tips untuk mengantrikan aku bakso kesukaanku tiap istirahat sekolah, tidak setega mereka berdua yang sudah seperti kerasukan iblis ini. Tapi aku langsung sadar aku dalam bahaya besar. Yang memanggil Girno tadi itu kan Yoyok. Jadi sungguh bodoh bila aku berharap banyak pada Girno yang kalau tidak salah memang pernah aku temukan sedang mencuri pandang padaku. Ataukah… ?

Beberapa saat kemudian Girno datang, dan melihatku diperlakukan seperti itu, Girno menyeringai dan berkata, “Dengar! Kalian jangan gegabah.. non Eliza ini kita ikat dulu di ranjang UKS ini. Setelah jam 8 malam, gedung sekolah ini pasti sudah kosong, dan itu saatnya kita berpesta kawan kawan!”. Maka lemaslah tubuhku setelah dugaanku terbukti, dan dengan mudah mereka membaringkan tubuhku di atas ranjang UKS. Kedua tangan dan kakiku diikat erat pada sudut sudut ranjang itu, dan dua kancing bajuku yang belum lepas dilepaskan oleh Hadi, hingga terlihat kulit tubuhku yang putih mulus, serta bra warna pink yang menutupi payudaraku. Aku mulai putus asa dan memohon “Pak Girno.. tolong jangan begini pak..”. Ratapanku ini dibalas ciuman Girno pada bibirku. Ia melumat bibirku dengan penuh nafsu, sampai aku megap megap kehabisan nafas, lalu ia menyumpal mulutku supaya aku tak bisa berteriak minta tolong. “Non Eliza, tenang saja. Nanti juga non bakalan merasakan surga dunia kok”, kata Girno sambil tersenyum memuakkan. Kemudian Girno memerintahkan mereka semua untuk kembali melanjutkan pekerjaannya, dan mereka meninggalkanku sendirian di ruang UKS sialan ini. Girno kembali ke posnya, Hadi dan Yoyok meneruskan pekerjaannya menyapu beberapa ruangan kelas yang belum disapu. Dan aku kini hanya bisa pasrah menunggu nasib.

Aku bergidik membayangkan apa yang akan mereka lakukan terhadapku. Dari berbagai macam cerita kejahatan yang aku dengar, aku mengerti mereka pasti akan memperkosaku ramai ramai. Sakit perutku sudah hilang berkat khasiat minyak putih tadi. Detik demi detik berlalu begitu cepat, tak terasa setengah jam sudah berlalu. Jam di ruang UKS sudah menunjukkan pukul 20:00. tibalah saatnya aku dibantai oleh mereka. Hadi masuk, diikuti Yoyok, Girno, dan celakanya ternyata mereka mengajak 2 satpam yang lain, Urip dan Soleh. “Hai amoy cantik.. sudah nggak sabar menunggu kami ya?”, kata Hadi. Dengan mulut yang tersumpal sementara tangan dan kakiku terikat, aku hanya bisa menggeleng nggelengkan kepala, dengan air mata yang mengalir deras aku memandang mereka memohon belas kasihan, walaupun aku tahu pasti hal ini tak ada gunanya. Mereka hanya tertawa dan dengan santai melepaskan baju seragam sekolahku, hingga aku tinggal mengenakan bra dan celana dalam yang warnanya pink. Mereka bersorak gembira, mengerubutiku dan mulai menggerayangi tubuhku, tanpa aku bisa melawan sama sekali. Aku masih sempat memperhatikan, betapa kulit mereka itu hitam legam dan kasar dibandingkan kulitku yang putih mulus, membuatku sedikit banyak merasa jijik juga ketika memikirkan tubuhku dikerubuti mereka, untuk kemudian digangbang tanpa ampun..
Aku terus meronta, tapi tiba tiba perasaanku tersengat ketika jari-jari Girno menyentuh selangkanganku, menekan nekan klitorisku yang masih terbungkus celana dalam. Aku tak tau sejak kapan, tapi bra yang aku pakai sudah lenyap entah kemana, dan payudaraku diremas remas dengan brutal oleh Hadi dan Yoyok, membuat tubuhku panas dingin tak karuan. Selagi aku masih kebingungan merasakan sensasi aneh yang melanda tubuhku, Urip mendekatiku, melepas sumpalan pada mulutku, dan melumat bibirku habis habisan. Ya ampun.. aku semakin gelagapan, apalagi kemudian Soleh meraba dan membelai kedua pahaku. Dikerubuti dan dirangsang sedemikan rupa oleh 5 orang sekaligus, aku merasakan gejolak luar biasa melanda tubuhku yang tanpa bisa kukendalikan, berkelojotan dan mengejang hebat, berulang kali aku terlonjak lonjak, ada beberapa saat lamanya tubuhku tersentak sentak, kakiku melejang lejang, rasanya seluruh tubuhku bergetar. “oh.. oh… augh.. ngggg.. aaaaaaagh…” aku mengerang dan menjerit keenakan dan keringatku membanjir deras. Lalu aku merasa kelelahan dan lemas sekali, dan mereka menertawakanku yang sedang dilanda orgasme hebat. “Enak ya non? Hahaha… nanti Non pasti minta tambah”. Aku tak melihat siapa yang bicara, tapi aku tahu itu suara Yoyok, dan aku malas menanggapi ucapan yang amat kurang ajar dan merendahkanku itu.

Kemudian Girno berkata padaku, “Non Eliza, kami akan melepaskan ikatanmu. Jika nona tidak macam macam, kami akan melepaskan nona setelah kami puas. Tapi jika nona macam macam, nona akan kami bawa ke rumah kosong di sebelah mess kami. Dan nona tahu kan apa akibatnya? Di situ nona tidak hanya harus melayani kami berlima, tapi seluruh penghuni mess kami. Mengerti ya non?”. Mendengar hal itu, aku hanya bisa mengangguk pasrah, dan berharap aku cukup kuat untuk melalui ini semu. “Iya pak. Jangan bawa saya ke sana pak. Saya akan menuruti kemauan bapak bapak. Tapi tolong, jangan lukai saya dan jangan hamili saya. Dan lagi, saya masih perawan pak. Tolong jangan kasar. Tolong jangan keluarkan di dalam ya?” pintaku sungguh sungguh, dan merasa ngeri jika aku harus dibawa ke mess mereka. Aku tahu penghuni mess itu ada sekitar 60 orang, yang merupakan gabungan satpam, tukang sapu dan tukang kebun dari SMA tempat aku sekolah ini, ditambah dari SMP dan SD yang memang masih sekomplek, maklum satu yayasan. Daripada aku lebih menderita digangbang oleh 60 orang, lebih baik aku menuruti apa mau mereka yang ‘cuma’ berlima ini. Dan aku benar benar berharap agar tak ada yang melukaiku, berharap mereka tidak segila itu untuk menindik tubuhku, trend yang kudengar sering dilakukan oleh pemerkosanya… menindik puting susu korbannya. Aku benar benar takut.

“Hahaha, non Eliza, sudah kami duga non memang masih perawan. Nona masih polos, dan tidak mengerti kalo kami suka memandangi tubuh nona yang sexy, dan selalu memimpikan memperawani non Eliza yang cantik ini sejak non masih kelas 1 SMA. Minggu lalu, ketika non ulang tahun ke 17 dan merayakannya di kelas, bahkan memberi kami makanan, kami sepakat untuk menghadiahi non kenikmatan surga dunia. Tenang saja non. Kami memang menginginkan tubuh non, tapi kami tak sekejam itu untuk melukai tubuh non yang indah ini. Dan kalo tentang itu tenang non, kami sudah mempersiapkan semua itu. Seminggu terakhir ini, aqua botol yang non titip ke saya, saya campurin obat anti hamil. Sedangkan yang tadi, saya campurin obat anti hamil sekaligus obat cuci perut. Non Eliza tadi sakit perut kan? Hahaha…” jelas Girno sambil tertawa, tertawa yang memuakkan. Jadi ini semua sudah direncanakannya! Kurang ajar betul mereka ini. Aku memberi mereka makanan hanya karena ingin berbagi, tanpa memandang status mereka. Tapi kini balasannya aku harus melayani mereka berlima. Aku akan digangbang mereka, dan mereka akan mengeluarkan sperma mereka di dalam rahimku sepuasnya tanpa kuatir menghamiliku. Lebih tepatnya, tanpa aku kuatir harus hamil oleh mereka. Membayangkan hal ini, entah kenapa tiba tiba aku terangsang hebat, dan birahiku naik tak terkendali.

Mereka semua mulai melepas semua pakaian mereka, dan ternyata penis penis mereka sudah ereksi dengan gagahnya, membuat jantungku berdegup semakin kencang melihat penis penis itu begitu besar. Girno mengambil posisi di tengah selangkanganku, sementara yang lain melepaskan ikatan pada kedua pergelangan tangan dan kakiku. Girno menarik lepas celana dalamku, kini aku sudah telanjang bulat. Tubuhku yang putih mulus terpampang di depan mereka yang terlihat semakin bernafsu. “Indah sekali non Eliza, mem*knya non. Rambutnya jarang, halus, tapi indah sekali”, puji Girno. Memang rambut yang tumbuh di atas vaginaku amat jarang dan halus. Semakin jelas aku melihat penis Girno, yang ternyata paling besar di antara mereka semua, dengan diameter sekitar 6 cm dan panjang yang sekitar 25 cm. Aku menatap sayu pada Girno. “Pak, pelan pelan pak ya..” aku mencoba mengingatkan Girno, yang hanya menganguk sambil tersenyum. Kini kepala penis Girno sudah dalam posisi siap tempur, dan Girno menggesek gesekkannya ke mulut vaginaku. Aku semakin terangsang, dan mereka tanpa memegangi pergelangan tangan dan kakiku yang sudah tidak terikat, mungkin karena sudah yakin aku yang telah mereka taklukkan ini tak akan melawan atau mencoba melarikan diri, mulai mengerubutiku kembali.

Kedua payudaraku kembali diremas remas oleh Hadi dan Yoyok, sementara Urip dan Soleh bergantian melumat bibirku. Rangsangan demi rangsangan yang kuterima ini, membuat aku orgasme yang ke dua kalinya. Kembali tubuhku berkelojotan dan kakiku melejang lejang, bahkan kali ini cairan cintaku muncrat menyembur membasahi penis Girno yang memang sedang berada persis di depan mulut vaginaku. “Eh.. non Eliza ini.. belum apa apa sudah keluar 2 kali, pake muncrat lagi. Sabar non, kenikmatan yang sesungguhnya akan segera non rasakan. Tapi ada bagusnya juga lho, mem*k non pasti jadi lebih licin, nanti pasti lebih gampang ditembus ya”, ejeknya sambil mulai melesakkan penisnya ke vaginaku. “Aduh.. sakit pak” erangku, dan Girno berkata “Tenang non, nanti juga enak”. Kemudian ia menarik penisnya sedikit, dan melesakkannya sedikit lebih dalam dari yang tadi. Rasa pedih yang amat sangat melanda vaginaku yang sudah begitu licin, tapi tetap saja karena penis itu terlalu besar, Girno kesulitan untuk menancapkan penisnya ke vaginaku, namun dengan penuh kesabaran, Girno terus memompa dengan lembut hingga tak terlalu menyakitiku.
Lambat laun, ternyata memang rasa sakit di vaginaku mulai bercampur rasa nikmat yang luar biasa. Dan Girno terus melakukannya, menarik sedikit, dan menusukkan lebih dalam lagi, sementara yang lain terus melanjutkan aktivitasnya sambil menikmati tontonan proses penetrasi penis Girno ke dalam vaginaku. Hadi dan Yoyok mulai menyusu pada kedua puting payudaraku yang sudah mengeras karena terus menerus dirangsang sejak tadi. Tak lama kemudian, aku merasakan selangkanganku sakit sekali, rupanya akhirnya selaput daraku robek. “Ooooooh… aaaauuuugggh… hngggkk aaaaaaagh… “Aku menjerit kesakitan, seluruh tubuhku mengejang, dan air mataku mengalir, dan kembali aku merasakan keringatku mengucur deras. Aku ingin meronta, tapi rasa sesak di vaginaku membatalkan niatku. Aku hanya bisa mengerang, dan gairahku pun padam dihempas rasa sakit yang nyaris tak tertahankan ini. “Aduh.. sakit pak Girno.. ampun”, erangku, namun Girno hanya tertawa tawa puas karena berhasil memperawaniku, dan yang lain malah bersorak, “terus.. terus..”. Aku menggeleng gelengkan kepalaku ke kanan dan ke kiri menahan sakit, sementara bagian bawah tubuhku mengejang hebat, tapi aku tak berani terlalu banyak bergerak, dan berusaha menahan lejangan tubuhku supaya vaginaku penuh sesak itu tak semakin terasa sakit. Namun lumatan penuh nafsu pada bibirku oleh Urip ditambah belaian pada rambutku serta dua orang tukang sapu yang menyusu seperti anak kecil di payudaraku ini membuat gairahku yang sempat padam kembali menyala.

Tanpa sadar, dalam kepasrahan aku mulai membalas lumatan itu. Girno terus memperdalam tusukannya penisnya yang sudah menancap setengahnya pada vaginaku. Dan Girno memang pandai memainkan vaginaku, kini rasa sakit itu sudah tak begitu kurasakan lagi, yang lebih kurasakan adalah nikmat yang melanda selangkanganku. Penis itu begitu sesaknya walaupun baru menancap setengahnya, dan urat urat yang berdenyut di penis itu menambah sensasi yang luar biasa. Sementara itu Girno mulai meracau, “Oh sempitnya non. Enaknya.. ah.. “ sambil terus memompa penisnya sampai akhirnya amblas sepenuhnya, terasa menyodok bagian terdalam dari vaginaku, mungkin itu rahimku. Aku hanya bisa mengerang tanpa berani menggeliat, walaupun aku merasakan sakit yang bercampur nikmat. Mulutku ternganga, kedua tanganku mencengkeram sprei berusaha mencari sesuatu yang bisa kupegang, sementara kakiku terasa mengejang tapi kutahan. Aku benar benar tak berani banyak bergerak dengan penis raksasa yang sedang menancap begitu dalam di vaginaku.

Dan setelah diam untuk memberiku kesempatan beradaptasi, akhirnya Girno memulai pompaanya. Aku mengerang dan mengerang, mengikuti irama pompaan si Girno. Dan erangangku kembali tertahan ketika kali ini dengan gemas Urip memasukkan penisnya ke dalam mulutku yang sedang ternganga ini. Aku gelagapan, dan Urip berkata “Isep non. Awas, jangan digigit ya!” Aku hanya pasrah, dan mulai mengulum penis yang baunya tidak enak ini, tapi lama kelamaan aku jadi terbiasa juga dengan bau itu. Penis itu panjang juga, tapi diameternya tak terlalu besar disbanding dengan penisnya Girno. Tapi mulutku terasa penuh, dan ketika aku mengulum ngulum penis itu, Urip memompa penisnya dalam mulutku, sampai berulang kali melesak ke dalam tenggorokanku. Aku berusaha supaya tidak muntah, meskupun berulang kali aku tersedak. Selagi aku bejruang beradaptasi terhadap sodokan penis si Urip ini, Soleh meraih tangan kananku, menggengamkan tanganku ke penisnya. “Non, ayo dikocok!”, perintahnya. Penis itu tak hampir tak muat di genggaman telapak tanganku yang mungil, dan aku tak sempat memperhatikan seberapa panjang penis itu, walaupun dari kocokan tanganku, aku sadar penis itu panjang. Aku menuruti semuanya dengan pasrah, ketika tiba tiba pintu terbuka, dan pak Edy, guru wali kelasku masuk, dan semua yang mengerubutiku menghentikan aktivitasnya, tentu saja penis Girno masih tetap bersemayam dalam vaginaku.

Melihat semuanya ini, pak Edy membentak, “Apa apaan ini? Apa yang kalian lakukan pada Eliza?”. Aku merasa ada harapan, segera melepaskan kulumanku pada penis Urip, dan sedikit berteriak “Pak Edy, tolong saya pak. Lepaskan saya dari mereka”. Pak Edy seolah tak mendengarku, dan berkata pada Girno, “Kalian ini.. ada pesta kok tidak ngajak saya? Untung saya mau mencari bon pembelian kotak P3K tadi. Kalo begini sih, itu bon gak ketemu juga tidak apa apa… hahaha…”. Aku yang sempat kembali merasa ada harapan untuk keluar dari acara gangbang ini, dengan kesal melanjutkan kocokan tanganku pada penis Soleh juga kulumanku pada penis Urip. Memang aku harus mengakui, aku menikmati perlakuan mereka, tapi kalau bisa aku juga ingin semua ini berakhir. Setelah sadar bahwa pak Edy juga sebejat mereka, semuanya tertawa lega, dan sambil mulai melanjutkan pompaan penisnya pada vaginaku, Girno berkata, “Pak Edy tenang saja, masih kebagian kok. Itu tangan kiri non Eliza masih nganggur, kan bisa buat ngocok punya pak Edy dulu. Tapi kalo soal mem*knya, ngantri yo pak. Abisnya, salome sih”. Pak Edy tertawa. “Yah gak masalah lah. Ini kan malam minggu, pulang malam juga wajar kan?” katanya mengiyakan sambil melepas pakaiannya dan ternyata (untungnya) penisnya tidak terlalu besar, bahkan ternyata paling pendek di antara mereka.

Tapi aku sudah tak perduli lagi. Vaginaku yang serasa diaduk aduk mengantarku orgasme yang ke tiga kalinya. “aaaaagh.. paaak… sayaaa… keluaaaar….”, erangku yang tanpa sadar mulai menggenggam penis pak Edy yang disodorkan di dekat tangan kiriku yang memang menganggur. Pinggangku terangkat sedikit ke atas, kembali tubuhku terlonjak lonjak, entah ada berapa lamanya tersentak sentak, namun kini cairanku tak keluar karena vaginaku yang masih sangat sempit ini seolah dibuntu oleh penis Girno yang berukuran raksasa. Dalam kelelahan ini, aku harus melayani 6 orang sekaligus. Sodokan sodokan yang dilakukan Girno membuat gairahku cepat naik walaupun aku baru saja orgasme hebat. Tapi aku tak tahu, kapan Girno akan orgasme, ia begitu perkasa. Sudah 15 menit berlalu, dan ia masih memompaku dengan garangnya. Desahan kami bersahut sahutan memenuhi ruangan yang kecil ini. Kedua tanganku mengocok penis dari Soleh dan pak Edy, wali kelasku yang ternyata bejat, membuatku bingung memikirkan apa yang harus kulakukan jika bertemu dengannya mulai senin besok dan seterusnya saat dia mengajar.
Urip mengingatkanku untuk kembali mengulum penisnya yang kembali disodokkannya ke kerongkonganku, membuat aku tak sempat terlalu lama memikirkan hal itu.. Kini aku sudah mulai terbiasa, bahkan sejujurnya mulai menikmati saat saat tenggorokanku diterjang penis si Urip ini. Kepasrahanku ini membuat mereka semua semakin bernafsu. Tiba tiba Girno menarikku hingga aku terduduk, lalu dia tiduran di ranjang, hingga sekarang aku berada dalam posisi woman on top, dan penis itu terasa semakin dalam menancap dalam vaginaku. Aku masih tak tahu apa yang ia inginkan, tiba tiba aku ditariknya lagi hingga rebah dan payudaraku menindih tubuhnya. Urat penisnya terasa mengorek ngorek dinding vaginaku. “Eh, daripada satu lubang rame rame, kan lebih nikmat kalo dua, eh, tiga sekalian, tiga lubang rame rame?” tanya Girno pada yang lain, yang segera menyetujui sambil tertawa. “Akuuur… “, seru mereka, dan Urip segera ke belakangku, kemudian meludahi anusku. “Oh Tuhan… aku akan disandwich.. bagaimana ini..”, kataku dalam hati. “Jangaaaan…. Jangan di situuu…!!” teriakku ketakutan. Namun seperti yang aku duga, Urip sama sekali tidak perduli. Aku memejamkan mata ketika Urip menempelkan kepala penisnya ke anusku, dan yang lain bersorak kegirangan, memuji ide Girno. “aaaaaagh…” erangku ketika penis Urip mulai melesak ke liang anusku. Mataku terbeliak, tanganku menggenggam erat sprei kasur tempat aku aku dibantai ramai ramai, tubuhku terutama pahaku bergetar hebat menahan sakit yang luar biasa.

Ludah Urip yang bercampur dengan air liurku di penis Urip yang baru kukulum tadi, tak membantu sama sekali. Rasa pedih yang menjadi jadi mendera anusku, dan aku kembali mengerang panjang. “aaaaaaaaaaaaagh…. sakiiiiiit…. Jangaaaaan…..”, erangku tanpa daya ketika akhirnya penis itu amblas seluruhnya dalam anusku. Selagi aku mengerang dan mulutku ternganga, Soleh mengambil kesempatan itu untuk membenamkan penisnya dalam mulutku, hingga eranganku teredam. Sial, ternyata penis Soleh ini agak mirip punya Urip yang sedang menyodomiku. Begitu panjang, walaupun diameternya tidak terlalu besar, tapi penis itu cukup panjang untuk menyodok nyodok tenggorokanku. Kini tubuhku benar benar bukan milikku lagi. Rasa sakit yang hampir tak tertahankan melandaku saat Urip mulai memompa anusku. Setiap ia mendorongkan penisnya, penis Soleh menancap semakin dalam ke tenggorokanku, sementara penis Girno sedikit tertarik keluar, tapi sebaliknya, saat Urip memundurkan penisnya, penis Soleh juga sedikit tertarik keluar dari kerongkonganku, tapi akibatnya tubuhku yang turun membuat penis Girno kembali menancap dalam dalam di vaginaku, ditambah lagi Girno sedikit menambah tenaga tusukannnya, hingga rasanya penisnya seperti menggedor rahimku. Sedikit sakit memang, tapi perlahan rasa sakit pada anusku sudah berkurang banyak, dan ketika rasa sakit itu reda, aku sudah melayang dalam kenikmatan. Hanya 2 menit dalam posisi ini, aku sudah orgasme hebat, namun aku hanya bisa pasrah. Tubuhku hanya bisa bergetar, aku tak bisa bergerak banyak karena semuanya seolah olah terkunci. Dalam keadaan orgasme, mereka tanpa ampun terus bergantian memompaku, membuat orgasmeku tak kunjung reda bahkan akhirnya aku mengalami multi orgasme!

Tanpa terkendali lagi, aku mengejang hebat susul menyusul, dan cairan cintaku keluar berulang ulang, sangat banyak mengiringi multi orgasmeku yang sampai lebih dari 3 menit. namun semua cairan cintaku yang aku yakin sudah bercampur darah perawanku tak bisa mengalir keluar, terhambat oleh penis Girno. Tanganku yang menumpu pada genggaman tangan Girno bergetar getar. Sementara Soleh membelai rambutku dan Urip meremas remas payudaraku dari belakang. Sungguh, aku tak kuasa menyangkal. Kenikmatan yang aku alami sekarang ini benar benar dahsyat, belum pernah sebelumnya aku merasakan yang seperti ini. Aku memang pernah bermasturbasi, namun yang ini benar benar membuatku melayang. Mereka terus menggenjot tubuhku. Desahan yang terdengar hanya desahan mereka, karena aku tak mampu mengeluarkan suara selama penis Soleh mengorek ngorek tenggorokanku. Entah sudah berapa kali aku mengalami orgasme, sampai akhirnya, “hegh.. hu… huoooooooh..”, Girno melenguh, penisnya berkedut, kemudian spermanya yang hangat menyemprot berulang ulang dalam liang vaginaku, diiringi dengan keluarnya cairan cintaku untuk yang ke sekian kalinya. Akhirnya Girno orgasme juga bersamaan denganku, dan penisnya sedikit melembek, dan terus melembek sampai akhirnya cukup untuk membuat cairan merah muda meluber keluar dengan deras dari sela sela mulut vaginaku, yang merupakan campuran darah perawanku, cairan cintaku dan sperma Girno.

“Oh.. enake rek, mem*k amoy seng sek perawan…” kata Girno, yang tampak amat puas. Nafasku sudah tersengal sengal. Untungnya, Urip dan Soleh cukup pengertian. Urip mencabut penisnya dari anusku, dan Soleh tak memaksaku mengulum penisnya yang terlepas ketika aku yang sudah begitu lemas karena kelelahan, ambruk menindih Girno yang masih belum juga melepaskan penisnya yang masih terasa begitu besar untukku. Kini aku mulai sadar dari gairah nafsu birahi yang menghantamku selama hampir satu jam ini. Namun aku tidak menangis. Tak ada keinginan untuk itu, karena sejujurnya aku tadi amat menikmati perlakuan mereka, bahkan gilanya, aku menginginkan diriku digangbang lagi seperti tadi. Apalagi mereka cukup lembut dan pengertian, tidak sekasar yang aku bayangkan. Mereka benar benar menepati janji untuk tidak melukaiku dan menyakitiku seperti menampar ataupun menjambak rambutku. Bahkan Girno memelukku dan membelai rambutku dengan mesra dan penuh kasih saying, setidaknya menurut perasaanku, sehingga membuatku semakin pasrah dan hanyut dalam pelukannya. Apalagi yang lain kembali mengerubutiku, membelai sekujur tubuhku seolah ingin menikmati tiap senti kulit tubuhku yang putih mulis ini. Entah kenapa aku merasa aku rela melayani mereka berenam ini untuk seterusnya, membuatku terkejut dalam hati. “Hah? Apa yang baru saja aku pikirkan? Aku ini kan diperkosa, kok aku malah berpikir seperti itu?” pikirku dalam hati. Tapi tak bisa kupungkiri, tadi itu benar benar nikmat, belum pernah aku merasakan yang seperti itu ketika aku bermasturbasi. Lagian, apakah ini masih bisa disebut perkosaan? Selain aku pasrah melayani apa mau mereka, aku juga menikmatinya, bahkan sampai orgasme berkali kali.

Lamunanku terputus saat Girno mengangkat tubuhku hingga penisnya yang sudah mengecil terlepas dari vaginaku. “Non, kita lanjutin ya”, kata Soleh yang sudah tiduran di bawahku yang sedikit mengkangkang. Aku hanya menurut saja dan mengarahkan vaginaku ke penisnya yang tegak mengacung. Aku memegang dan membimbing penis itu untuk menembus vaginaku yang sudah tidak perawan lagi ini. “Ooh… aaah….”, erang Soleh ketika penisnya mulai melesak ke dalam vaginaku. Lebih mudah dari punya Girno tadi, karena diameter penis si Soleh memang lebih kecil. Namun tetap saja, panjangnya membuat aku sedikit banyak kelabakan. “Ooh.. aduuuuh… “, erangku panjang seiring makin menancapnya penis Soleh hingga amblas sepenuhnya dalam vaginaku. Penisnya terasa hangat, lebih hangat dari punya si Girno yang kini duduk di kursi tengah ruang ini sambil merokok. Mereka memberiku kesempatan untuk bernafas sejenak, kemudian Urip mendorongku hingga aku kembali telungkup, kali ini menindih Soleh yang langsung mengambil kesempatan itu untuk melumat bibirku. Baru aku sadar, Soleh ini pasti tinggi sekali. Dan rupanya si Urip belum puas dan ingin melanjutkan anal seks denganku. Kembali aku disandwich seperti tadi. Namun kali ini aku lebih siap. Aku melebarkan kakiku hingga semakin mengkangkang seperti kodok, dan… perlahan tapi pasti, anusku kembali ditembus penis Urip yang amat keras ini, membuat bagian bawah tubuhku kembali terasa sesak. Walaupun memang tidak sesesak tadi, namun cukup untuk membuatku merintih mengerang antara pedih dan nikmat.

Kini Hadi dan Yoyok ikut mengepungku. Mereka masing masing memegang tangan kiri dan kananku, mengarahkanku untuk menggenggam penis mereka dan mengocoknya. Selagi aku mulai mengocok dua buah penis itu, wali kelasku yang ternyata bejat ini mengambil posisi di depanku, memintaku mengoral penisnya. “Dioral sekalian El, daripada nganggur nih”, katanya dengan senyum yang memuakkan. Tapi aku terpaksa menurutinya daripada nanti ia berbuat atau mengancam yang macam macam. Kubuka mulutku walaupun dengan setengah hati, membiarkan penis pak Edy yang berukuran kecil ini masuk dalam kulumanku. Jadi kini aku digempur 5 orang sekaligus, yang mana justru membuat gairahku naik tak karuan. Apalagi Soleh dan Urip makin bersemangat menggenjot selangkanganku, benar benar dengan cepat membawaku orgasme lagi. “eeeeeemmmmph….”, erangku keenakan. Tubuhku mengejang, dan kurasakan cairan cintaku keluar, melumasi vaginaku yang terus dipompa Soleh yang juga merem melek keenakan. Tiba tiba penis pak Edy berkedut dalam mulutku, dan tanpa ampun spermanya muncrat membasahi kerongkonganku. Baru kali ini aku merasakan sperma dalam mulutku, rasanya aneh, asin dan asam. Mungkin karena sudah beberapa kali melihat film bokep, tanpa disuruh aku sudah tahu tugasku. Kubersihkan penis pak Edy dengan kukulum, kujilati, dan kusedot sedot sampai tidak ada sperma yang tertinggal di penis yang kecil itu.

Soleh mengejek pak Edy, “Lho pak, kok sudah keluar? Masa kalah sama sepongannya non Eliza? Bagaimana nanti sama mem*knya? Seret banget lho pak”, kata Soleh, yang disambung tawa yang lain. Pak Edy terlihat tersenyum malu, dan tak berkata apa apa, hanya duduk di sebelah si Girno. Aku tertawa dalam hati, namun ada bagusnya juga, kini tugasku menjadi sedikit lebih ringan. Hadi yang juga ingin merasakan penisnya kuoral, pindah posisi ke depanku, dan mengarahkan penisnya ke mulutku. Aku mengulum penis itu tanpa penolakan, dan kocokan tangan kananku pada penis Yoyok kupercepat, mengimbangi cepatnya sodokan demi sodokan penis Soleh dan Urip yang semakin gencar menghajar vagina dan anusku. Urip tiba tiba mendengus dengus dan melolong panjang “oooooooouuuuggghh…. “, seiring berkedutnya penisnya dalam anusku, dan menyemprotkan maninya berulang ulang. Terasa hangat sekali anusku di bagian terdalam. Kini aku tinggal melayani 3 orang saja, namun entah aku sudah orgasme berapa kali. Aku amat lelah untuk menghitungnya. Dan Yoyok menggantikan Urip membobol anusku. Baru aku sadar, dari genggaman tanganku tadi pada penis Yoyok, aku tahu penis Yoyok tidak panjang, tapi… diameternya itu.. rasanya seimbang dengan punya si Girno. Oh celaka… penis itu akan segera menghajar anusku. “ooooh… oooooogh… sakiiiit…”, erangku ketika Yoyok memaksakan penisnya sampai akhirnya masuk. Namun seperti yang tadi tadi, rasa sakit yang menderaku hanya berlangsung sebentar, dan berganti rasa nikmat luar biasa yang tak bisa dilukiskan dengan kata kata. Aku semakin tersengat birahi ketika Soleh yang ada di bawahku meremas remas payudaraku yang tergantung di depan matanya, sementara Hadi menekan nekankan kepalaku untuk lebih melesakkan penisnya ke kerongkonganku. Di sini aku juga sadar, ternyata penis si Hadi ini setipe dengan punya Urip atau Soleh.

Dengan pasrah aku terus melayani mereka satu per satu sampai akhirnya mereka orgasme bersamaan. Dimulai dari kedutan penis Soleh dalam vaginaku, tapi tiba tiba penis Hadi berkedut lebih keras dan langsung menyemburkan spermanya yang amat banyak dalam rongga mulutku. Aku gelagapan dan nyaris tersedak, namun aku usahakan semuanya tertelan masuk dalam kerongkonganku. Selagi aku berusaha menelan semuanya, tiba tiba dari belakang Yoyok menggeram, penisnya juga berkedut, kemudian menyemprotkan sperma berulang ulang dalam anusku, diikuti Soleh yang menghunjamkan penisnya dalam dalam sambil berteriak penuh kenikmatan. “Oooooooohh… aaaaaaargh”, seolah tak mau kalah, aku juga mengerang panjang. Bersamaan dengan berulang kali menyemprotnya sperma Soleh di dalam vaginaku, aku juga mengalami orgasme hebat. Hadi jatuh terduduk lemas setelah penisnya kubersihkan tuntas seperti punya pak Edy tadi. Lalu Soleh yang penisnya masih menancap di dalam vaginaku memeluk dan lembali melumat bibirku dengan ganas, sampai aku tersengal sengal kehabisan nafas. Yoyok yang penisnya tak terlalu panjang hingga sudah terlepas dari anusku, juga duduk bersandar di dinding. Kini tinggal aku dan Soleh yang ada di atas ranjang, dan kami bergumul dengan panas. Soleh membalik posisi kami hingga aku telentang di ranjang ditindihnya, dan penisnya tetap masih menancap dalam vaginaku meskipun mulai lembek, mungkin dikarenakan penis Soleh yang panjang. Tanpa sadar, kakiku melingkari pinggangnya Soleh, seakan tak ingin penisnya terlepas, dan aku balas melumat bibir si Soleh ini.

Pergumulan kami yang panas, menyebabkan Girno terbakar birahi. Tenaganya yang sudah pulih seolah ditandai dengan mengacungnya penisnya, yang tadi sudah berejakulasi. Namun ia dengan sabar membiarkan aku dan Soleh yang bergumul dengan penuh nafsu. Namun penis Soleh yang semakin mengecil itu akhirnya tidak lagi tertahan erat dalam vaginaku, dan Soleh pun tampaknya tahu diri untuk memberikanku kepada yang lain yang sudah siap kembali untuk menggenjotku. Girno segera menyergap dan menindihku, tanpa memberiku kesempatan bernafas, dengan penuh nafsu Girno segera menjejalkan penisnya yang amat besar itu ke dalam vaginaku. Aku terbeliak, merasakan kembali sesaknya vaginaku. Girno yang sudah terbakar nafsu ini mulai memompa vaginaku dengan ganas, membuat tubuhku kembali bergetar getar sementara aku mendesah dan merintih merasakan nikmat berkepanjangan ini. Gilanya, aku mulai berani mencoba lebih merangsang Girno dengan pura pura ingin menahan sodokan penisnya dengan cara menahan bagian bawah tubuhnya. Benar saja, dengan tatapan garang ia mencengkram kedua pergelangan tanganku dan menelentangkannya, membuatku tak berdaya. Dan sodokan dem sodokan yang menghajar vaginaku terasa semakin keras. Aku menatap Girno dengan pandangan sayu memelas untuk lebih merangsangnya lagi, dan berhasil. Dengan nafas memburu, Girno melumat bibirku sambil terus memompa vaginaku. Kini aku yang gelagapan. Orgasme yang menderaku membuat tubuhku bergetar hebat, tapi aku tak berdaya melepaskannya karena seluruh gerakan tubuhku terkunci, hingga akhirnya Girno menggeram nggeram, semprotan sperma yang cukup banyak kembali membasahi liang vaginaku.

Girno melepaskan cengkramannya pada kedua pergelangan tanganku, namun aku sudah terlalu lelah dan lemas untuk menggerakkannya. Ia turun dari ranjang, setelah melumat bibirku dengan ganas, lalu memberi kesempatan pada pak Edy yang sudah ereksi kembali. Kali ini, ia terlihat lebih gembira, karena mendapatkan jatah liang vaginaku, yang kelihatannya sudah ditunggunya sejak tadi. Dengan tersenyum senang, yang bagiku memuakkan, ia mulai menggesekkan kepala penisnya ke vaginaku yang sudah banjir cairan sperma bercampur cairan cintaku. Tanpa kesulitan yang berarti, ia sudah melesakkan penisnya seluruhnya. Aku sedikit mendesah ketika ia mulai memompa vaginaku. Namun lagi lagi seperti tadi, belum ada 3 menit, pak Edy sudah mulai menggeram, kemudian tanpa mampu menahan lagi ia menyemprotkan spermanya ke dalam liang vaginaku. Yang lain kembali tertawa, sedangkan aku yang belum terpuaskan dalam ‘sesi’ ini, memandang yang lain, terutama Hadi yang belum sempat merasakan selangkanganku. Hadi yang seolah mengerti, segera mendekatiku. Terlebih dulu ia mencium bibirku dengan dimesra mesrakan, membuatku sedikit geli namun cukup terangsang juga. Tak lama kemudian, Hadi sudah siap dengan kepala penis yang menempel di vaginaku, lalu mulai melesakkan penisnya dalam dalam. Ia terlihat menikmati hal ini, sementara aku sedikit mengejang menahan sakit karena Hadi cukup terburu buru dalam proses penetrasi ini. Selagi kami dalam proses menyatu, yang lain sedang mengejek pak Edy yang terlalu cepat keluar. Ingin aku menambahkan, penisnya agak sedikit lembek. Tapi aku menahan diri dan diam saja, karena aku tak ingin terlihat murahan di depan mereka.

Hadi mulai memompa vaginaku. Rasa nikmat kembali menjalari tubuhku. Pinggangku bergerak gerak dan pantatku sedikit terangkat, seolah menggambarkan aku yang sedang mencari kenikmatan. Selagi aku dan Hadi sudah mulai menemukan ritme yang pas, aku melihat yang lain yaitu Yoyok dan Urip akan pergi ke wc, katanya untuk mencuci penis mereka yang tadi sempat terbenam dalam anusku. Sambil keluar Urip berkata, “nanti kasihan non Eliza, kalo memknya yang bersih jadi kotor kalo kontlku tidak aku cuci”. “iya, juga, kan kasihan, amoy cakep cakep gini harus ngemut ** yang kotor seperti ini”, sambung Yoyok. Oh.. ternyata mereka begitu pengertian padaku. Aku jadi semakin senang, dan menyerahkan tubuhku ini seutuhnya pada mereka. Kulayani Hadi dengan sepenuh hati, setiap tusukan penisnya kusambut dengan menaikkan pantatku hingga penis itu bersarang semakin dalam. Tanpa ampun lagi, tak 5 menit kemudian aku orgasme disusul Hadi yang menembakkan spermanya dalam liang vaginaku, bersamaan dengan kembalinya Yoyok dan Urip. Namun mereka berdua ini tak langsung menggarapku. Setelah Hadi kembali terduduk lemas di bawah, mereka berdua mengerubutiku, tapi hanya membelai sekujur tubuhku, memberiku kesempatan untuk beristirahat setelah orgasme barusan. Mereka berdua menyusu pada payudaraku, sambil meremas kecil, membuatku mendesah tak karuan. Kini jam sudah menunjukkan pukul 21:00 malam. Tak terasa sudah satu jam aku melayani mereka semua.

Dalam keadaan lelah, aku minta waktu sebentar pada Urip dan Yoyok untuk minum. Keringat yang mengucur deras sejak tadi membuatku haus. “Sebentar bapak bapak, saya mau minum dulu ya”, kataku. Kebetulan di tasku ada sekitar setengah botol air Aqua, sisa minuman yang tadi sore, tapi aku langsung teringat, minuman itu dicampur obat cuci perut yang mengantarku ke horor di ruang UKS ini. “Pak Girno. Itu air sudah bapak campurin obat cuci perut kan? Tolong pak, belikan saya minuman dulu. Tapi jangan dicampurin apa apa lagi ya pak”, kataku sambil akan turun dari ranjang untuk mencari uang dalam dompet yang ada di dalam tas sekolahku. Tapi Girno berkata, “Gak usah non. Saya belikan saja”. Girno pergi ke wc sebentar untuk mencuci penisnya, kemudian kembali dan mengenakan celana dalam dan celana panjangnya saja. Lalu ia keluar untuk membeli air minum untukku. Sambil menunggu, yang lain menggodaku, merayuku betapa cantiknya aku, betapa putih mulusnya kulit tiubuhku yang indah dan sebagainya. Aku hanya tersenyum kecil menanggapi itu semua. Tak lama kemudian, Girno kembali sambil membawa sebotol Aqua, yang segelnya sudah terbuka. Aku menatapnya curiga, dan bertanya dengan ketus. “Pak, masa bapak tega mencampuri air minum ini lagi? Nanti kan saya mulas mulas lagi?”. Girno dengan tersenyum menjawab, “nggak non. Masa lagi enak enak gini saya pingin non bolak balik ke WC lagi. Ini cuma supaya non Eliza gak terlalu capek. Buat tambah tenaga non”. Yah.. pokoknya bukan obat cuci perut, aku akhirnya meminumnya sampai setengahnya, karena aku sudah semakin kehausan. Tak lupa aku mengambil botol sisa air minum yang tadi di dalam tasku, dan membuangnya ke tong sampah.

Kemudian aku kembali ke ranjang, menuntaskan tugasku melayani Urip dan Yoyok. Tiba tiba aku merasa aneh, tubuhku terasa panas terutama wajahku, keringat kembali bercucuran di sekujur tubuhku. Padahal mereka belum menyentuhku. Aku langsung mengerti, ini pasti ada obat perangsang yang dicampurkan dalam minuman tadi. Sialan deh, aku kini semakin terperangkap dalam cengkeraman mereka. Urip dan Yoyok bergantian memompa vagina dan mulutku. Awalnya Urip melesakkan penisnya dalam vaginaku, sementara Yoyok memintaku mengoral penisnya. Karena obat perangsang itu, sebentar sebentar aku mengalami orgasme, dan tiap aku orgasme mereka bertukar posisi. Rasa sperma dari banyak orang, bercampur cairan cintaku kurasakan ketika mengoral penis mereka, dan membuatku semakin bergairah. Mereka akhirnya berorgasme bersamaan, Yoyok di vaginaku dan Urip di tenggorokanku. Sedangkan aku sendiri sampai pada titik dimana aku kembali mengalami multi orgasme. Ada 3 sampai 4 menit lamanya, tubuhku terlonjak lonjak hingga pantatku terangkat angkat, kakiku melejang lejang sementara tanganku menggengam sprei yang sudah semakin basah dan awut awutan. Aku melenguh panjang, kemudian roboh telentang pasrah, dalam keadaan masih terbakar nafsu birahi, tapi kelelahan dan nafasku yang tersengal sengal membuatku hanya bisa memejamkan mata menikmati sisa getaran pada sekujur tubuhku. Kemudian bergantian mereka terus menikmati tubuhku. Aku sudah setengah tak sadar kerena terbakar nafsu birahi yang amat hebat, melayani dan melayani mereka semua tanpa bisa mengontrol diriku.

Akhirnya mereka sudah selesai menikmati tubuhku ketika jam menunjukan pukul 21:45. Mereka membiarkanku istirahat hingga staminaku sedikit pulih. Aku bangkit berdiri lalu melap tubuhku yang basah kuyup oleh keringat dengan handuk dan membersihkan selangkangan dan pahaku yang belepotan sperma. Dan dengan nakal Girno melesakkan roti hot dog ke dalam vaginaku. Aku mendesah dan memandangnya penuh tanda tanya, tapi Girno hanya cengengesan sambil memakaikan celana dalamku, hingga roti itu semakin tertekan oleh celana dalamku yang cukup ketat. Aku melenguh nikmat, dan mereka berebut memakaikan braku. Tanganku direntangkan, dan mereka menutup kedua payudaraku dengan cup bra-ku, memasang kaitannya di belakang punggungku. Lalu setelah memakaikan seragam sekolah dan rokku, mereka melingkariku yang duduk di atas ranjang dan sedang mengenakan kaus kaki dan sepatu sekolahku. Kemudian aku menatap mereka semua, siap mendengarkan ancaman kalo tidak boleh bilang siapa siapa lah.. ah, kalo itu sih nggak usah mereka mengancam, memangnya aku sampai tak punya malu sehingga menceritakan bagaimana aku yang asalnya diperkosa kemudian melayani mereka sepenuh hati seperti yang tadi aku lakukan?? Dan tentang kalo mereka ingin memperkosaku lagi di lain waktu, aku juga sudah pasrah.

“Non Eliza, kami puas dengan pelayanan non barusan. Tapi tentu saja kami masih menginginkan non melayani kami untuk berikut berikutnya”, kata Girno. Aku tak terlalu terkejut mendengar hal ini, tapi aku berpura pura tidak mengerti dan bertanya, “maksud bapak?”. “Non tentu sudah mengerti, kami masih inginkan servis non di lain hari. Kebetulan, minggu depan hari kamis tu kan hari terima rapor semester 3. Dua hari sebelum hari Natal. Tanggal 24 kan libur, kami ingin non Eliza datang ke sini jam 7 malam untuk melayani kami lagi. Seperti hari ini, non cukup melayani kami 2 jam saja. Soal pertemuan berikutnya, kita bisa atur lagi nanti tanggal 24 itu. Non harus datang, karena kalo tidak wali kelas non bisa memberikan sanksi tegas. Iya kan pak Edy?” jelas Girno panjang lebar. Pak Edy mengiyakan dan berkata, “benar Eliza. Saya bisa membuatmu tidak naik kelas, dengan alasan yang bisa saya cari cari. Jadi sebaiknya kamu jangan macam macam, apalagi sampai melaporkan hal ini ke orang lain. Lagipula, saya yakin kamu cukup cerdas untuk tidak melakukan hal bodoh seperti itu”. Mendengar semuanya ini, aku hanya bisa mengangguk pasrah. Oh Tuhan.. di malam Natal minggu depan, aku harus bermain sex dengan enam laki laki yang ada di sekitarku ini… Dan aku tak bisa menolak sama sekali.. Setelah semua beres, aku diijinkan pulang. Dalam keadaan loyo, aku berjalan tertatih tatih ke mobilku, selain sakit yang mendera selangkanganku akibat baru saja diperawani dan disetubuhi ramai ramai, roti yang menancap pada vaginaku sekarang ini membuat aku tak bisa berjalan dengan normal dan lancar. Untungnya tak ada yang melihatku dan menghadangku, akhirnya aku sampai ke dalam mobil, dan menyetir sampai ke rumah dengan selamat.

Sampai di rumah, sekitar pukul 22:30, aku memencet remote pintu pagar untuk membuka, lalu aku memasukkan mobilku halaman rumah. Setelah memencet remote untuk menutup pintu pagar, aku masuk ke dalam rumah, langsung menuju kamarku. Roti ini benar benar mengganggu sejak aku menyetir tadi. Rasa nikmat terus mendera vaginaku tak henti hentinya, karena setiap kaki kiriku menginjak kopling, roti ini rasanya tertanam makin dalam. Kini hal yang sama juga terjadi setiap aku melangkahkan kakiku agak lebar. Rasanya kamarku begitu jauh, apalagi aku harus naik tangga, kamarku memang ada di lantai 2. Akhirnya aku sampai ke kamarku. Di sana aku buka semua bajuku, lalu pergi ke kamar mandi yang ada di dalam kamarku, mencabut roti yang sudah sedikit hancur terkena campuran sperma dan cairan cintaku. Aku menyemprotkan air shower ke vaginaku untuk membersihkan sisa roti yang tertinggal di dalamnya, sambil sedikit mengorek ngorek vaginaku untuk lebih cepat membersihkan semuanya. Rasa nikmat kembali menjalari tubuhku, namun aku tahu aku harus segera beristirahat. Maka aku segera mandi keramas sebersih bersihnya, kemudian setelah mengeringkan tubuhku aku memakai daster tidur satin yang nyaman, dan merebahkan tubuhku yang sudah amat kelelahan ini di ranjangku yang empuk. Tak lama kemudian aku sudah tertidur pulas, setelah berhasil mengusir bayangan wajah puas orang orang yang tadi menggangbang aku

horor di uks

Filed under: RAMAI-RAMAI

Namaku Eliza. Cerita ini terjadi saat usiaku masih 17 tahun. Waktu
itu, aku duduk di kelas 2 SMA swasta yang amat terkenal di Surabaya.
Aku seorang Chinese, tinggi 157 cm, berat 45 kg, rambutku hitam
panjang sepunggung. Kata orang orang, wajahku cantik dan tubuhku
sangat ideal. Namun karena inilah aku mengalami malapetaka di hari
Sabtu, tanggal 18 Desember. Seminggu setelah perayaan ultahku yang ke
17 ini, dimana aku akhirnya mendapatkan SIM karena sudah cukup umur,
maka aku ke sekolah dengan mengendarai mobilku sendiri, mobil hadiah
ultahku. Sepulang sekolah, jam menunjukkan waktu 18:30 (aku sekolah
siang, jadi pulangnya begitu malam), aku merasa perutku sakit, jadi
aku ke WC dulu. Karena aku bawa mobil sendiri, jadi dengan santai aku
buang air di WC, tanpa harus kuatir merasa sungkan dengan sopir yang
menungguku. Tapi yang mengherankan dan sekaligus menjengkelkan, aku
harus bolak balik ke wc sampai 5 kali, mungkin setelah tak ada lagi
yang bisa dikeluarkan, baru akhirnya aku berhenti buang air. Namun
perutku masih terasa mulas. Maka aku memutuskan untuk mampir ke UKS
sebentar dan mencari minyak putih. Sebuah keputusan fatal yang harus
kubayar dengan kesucianku.

Aku masuk ke ruang UKS, menyalakan lampunya dan menaruh tas sekolahku
di meja yang ada di sana, lalu mencari cari minyak putih di kotak
obat. Setelah ketemu, aku membuka kancing baju seragamku di bagian
perut ke bawah, dan mulai mengoleskan minyak putih itu untuk meredakan
rasa sakit perutku. Aku amat terkejut ketika tiba tiba tukang sapu di
sekolahku yang bernama Hadi membuka pintu ruang UKS ini. Aku yang
sedang mengolesi perutku dengan minyak putih, terkesiap melihat dia
menyeringai, tanpa menyadari 3 kancing baju seragamku dari bawah yang
terbuka dan memperlihatkan perutku yang rata dan putih mulus ini. dan
belum sempat aku sadar apa yang harus aku lakukan, ia sudah
mendekatiku, menyergapku, menelikung tangan kananku ke belakang dengan
tangan kanannya, dan membekap mulutku erat erat dengan tangan kirinya.
Aku meronta ronta, dan berusaha menjerit, tapi yang terdengar cuma
“eeemph… eeemph…”. Dengan panik aku berusaha melepaskan bekapan pada
mulutku dengan tangan kiriku yang masih bebas. Namun apa arti tenaga
seorang gadis yang mungil sepertiku menghadapi seorang lelaki yang
tinggi besar seperti Hadi ini? Aku sungguh merasa tak berdaya.

“Halo non Eliza… kok masih ada di sekolah malam malam begini?” tanya
Hadi dengan menjemukan. Mataku terbelalak ketika masuk lagi tukang
sapu yang lain yang bernama bernama Yoyok. “Girnooo”, ia melongok
keluar pintu dan berteriak memanggil satpam di sekolahku. Aku sempat
merasa lega, kukira aku akan selamat dari cengkeraman Hadi, tapi
ternyata Yoyok yang mendekati kami bukannya menolongku, malah memegang
pergelangan tangan kiriku dengan tangan kanannya, sementara tangan
kirinya mulai meremasi payudaraku. “Wah baru kali ini ada kesempatan
pegang susu amoy.. ini non Eliza yang sering kamu bilang itu kan Had?”
tanya Yoyok pada Hadi, yang menjawab “iya Yok, amoy tercantik di
sekolah ini. Betul gak?” tanya Hadi. Sambil tertawa Yoyok meremas
payudaraku makin keras. Aku menggeliat kesakitan dan terus meronta
berusaha melepaskan diri sambil berharap semoga Girno yang sering
kuberi tips untuk mengantrikan aku bakso kesukaanku tiap istirahat
sekolah, tidak setega mereka berdua yang sudah seperti kerasukan iblis
ini. Tapi aku langsung sadar aku dalam bahaya besar. Yang memanggil
Girno tadi itu kan Yoyok. Jadi sungguh bodoh bila aku berharap banyak
pada Girno yang kalau tidak salah memang pernah aku temukan sedang
mencuri pandang padaku. Ataukah… ?

Beberapa saat kemudian Girno datang, dan melihatku diperlakukan
seperti itu, Girno menyeringai dan berkata, “Dengar! Kalian jangan
gegabah.. non Eliza ini kita ikat dulu di ranjang UKS ini. Setelah jam
8 malam, gedung sekolah ini pasti sudah kosong, dan itu saatnya kita
berpesta kawan kawan!”. Maka lemaslah tubuhku setelah dugaanku
terbukti, dan dengan mudah mereka membaringkan tubuhku di atas ranjang
UKS. Kedua tangan dan kakiku diikat erat pada sudut sudut ranjang itu,
dan dua kancing bajuku yang belum lepas dilepaskan oleh Hadi, hingga
terlihat kulit tubuhku yang putih mulus, serta bra warna pink yang
menutupi payudaraku. Aku mulai putus asa dan memohon “Pak Girno..
tolong jangan begini pak..”. Ratapanku ini dibalas ciuman Girno pada
bibirku. Ia melumat bibirku dengan penuh nafsu, sampai aku megap megap
kehabisan nafas, lalu ia menyumpal mulutku supaya aku tak bisa
berteriak minta tolong. “Non Eliza, tenang saja. Nanti juga non
bakalan merasakan surga dunia kok”, kata Girno sambil tersenyum
memuakkan. Kemudian Girno memerintahkan mereka semua untuk kembali
melanjutkan pekerjaannya, dan mereka meninggalkanku sendirian di ruang
UKS sialan ini. Girno kembali ke posnya, Hadi dan Yoyok meneruskan
pekerjaannya menyapu beberapa ruangan kelas yang belum disapu. Dan aku
kini hanya bisa pasrah menunggu nasib.

Aku bergidik membayangkan apa yang akan mereka lakukan terhadapku.
Dari berbagai macam cerita kejahatan yang aku dengar, aku mengerti
mereka pasti akan memperkosaku ramai ramai. Sakit perutku sudah hilang
berkat khasiat minyak putih tadi. Detik demi detik berlalu begitu
cepat, tak terasa setengah jam sudah berlalu. Jam di ruang UKS sudah
menunjukkan pukul 20:00. tibalah saatnya aku dibantai oleh mereka.
Hadi masuk, diikuti Yoyok, Girno, dan celakanya ternyata mereka
mengajak 2 satpam yang lain, Urip dan Soleh. “Hai amoy cantik.. sudah
nggak sabar menunggu kami ya?”, kata Hadi. Dengan mulut yang tersumpal
sementara tangan dan kakiku terikat, aku hanya bisa menggeleng
nggelengkan kepala, dengan air mata yang mengalir deras aku memandang
mereka memohon belas kasihan, walaupun aku tahu pasti hal ini tak ada
gunanya. Mereka hanya tertawa dan dengan santai melepaskan baju
seragam sekolahku, hingga aku tinggal mengenakan bra dan celana dalam
yang warnanya pink. Mereka bersorak gembira, mengerubutiku dan mulai
menggerayangi tubuhku, tanpa aku bisa melawan sama sekali. Aku masih
sempat memperhatikan, betapa kulit mereka itu hitam legam dan kasar
dibandingkan kulitku yang putih mulus, membuatku sedikit banyak merasa
jijik juga ketika memikirkan tubuhku dikerubuti mereka, untuk kemudian
digangbang tanpa ampun..

Aku terus meronta, tapi tiba tiba perasaanku tersengat ketika
jari-jari Girno menyentuh selangkanganku, menekan nekan klitorisku
yang masih terbungkus celana dalam. Aku tak tau sejak kapan, tapi bra
yang aku pakai sudah lenyap entah kemana, dan payudaraku diremas remas
dengan brutal oleh Hadi dan Yoyok, membuat tubuhku panas dingin tak
karuan. Selagi aku masih kebingungan merasakan sensasi aneh yang
melanda tubuhku, Urip mendekatiku, melepas sumpalan pada mulutku, dan
melumat bibirku habis habisan. Ya ampun.. aku semakin gelagapan,
apalagi kemudian Soleh meraba dan membelai kedua pahaku. Dikerubuti
dan dirangsang sedemikan rupa oleh 5 orang sekaligus, aku merasakan
gejolak luar biasa melanda tubuhku yang tanpa bisa kukendalikan,
berkelojotan dan mengejang hebat, berulang kali aku terlonjak lonjak,
ada beberapa saat lamanya tubuhku tersentak sentak, kakiku melejang
lejang, rasanya seluruh tubuhku bergetar. “oh.. oh… augh.. ngggg..
aaaaaaagh…” aku mengerang dan menjerit keenakan dan keringatku
membanjir deras. Lalu aku merasa kelelahan dan lemas sekali, dan
mereka menertawakanku yang sedang dilanda orgasme hebat. “Enak ya non?
Hahaha… nanti Non pasti minta tambah”. Aku tak melihat siapa yang
bicara, tapi aku tahu itu suara Yoyok, dan aku malas menanggapi ucapan
yang amat kurang ajar dan merendahkanku itu.

Kemudian Girno berkata padaku, “Non Eliza, kami akan melepaskan
ikatanmu. Jika nona tidak macam macam, kami akan melepaskan nona
setelah kami puas. Tapi jika nona macam macam, nona akan kami bawa ke
rumah kosong di sebelah mess kami. Dan nona tahu kan apa akibatnya? Di
situ nona tidak hanya harus melayani kami berlima, tapi seluruh
penghuni mess kami. Mengerti ya non?”. Mendengar hal itu, aku hanya
bisa mengangguk pasrah, dan berharap aku cukup kuat untuk melalui ini
semu. “Iya pak. Jangan bawa saya ke sana pak. Saya akan menuruti
kemauan bapak bapak. Tapi tolong, jangan lukai saya dan jangan hamili
saya. Dan lagi, saya masih perawan pak. Tolong jangan kasar. Tolong
jangan keluarkan di dalam ya?” pintaku sungguh sungguh, dan merasa
ngeri jika aku harus dibawa ke mess mereka. Aku tahu penghuni mess itu
ada sekitar 60 orang, yang merupakan gabungan satpam, tukang sapu dan
tukang kebun dari SMA tempat aku sekolah ini, ditambah dari SMP dan SD
yang memang masih sekomplek, maklum satu yayasan. Daripada aku lebih
menderita digangbang oleh 60 orang, lebih baik aku menuruti apa mau
mereka yang `cuma’ berlima ini. Dan aku benar benar berharap agar tak
ada yang melukaiku, berharap mereka tidak segila itu untuk menindik
tubuhku, trend yang kudengar sering dilakukan oleh pemerkosanya…
menindik puting susu korbannya. Aku benar benar takut.

“Hahaha, non Eliza, sudah kami duga non memang masih perawan. Nona
masih polos, dan tidak mengerti kalo kami suka memandangi tubuh nona
yang sexy, dan selalu memimpikan memperawani non Eliza yang cantik ini
sejak non masih kelas 1 SMA. Minggu lalu, ketika non ulang tahun ke 17
dan merayakannya di kelas, bahkan memberi kami makanan, kami sepakat
untuk menghadiahi non kenikmatan surga dunia. Tenang saja non. Kami
memang menginginkan tubuh non, tapi kami tak sekejam itu untuk melukai
tubuh non yang indah ini. Dan kalo tentang itu tenang non, kami sudah
mempersiapkan semua itu. Seminggu terakhir ini, aqua botol yang non
titip ke saya, saya campurin obat anti hamil. Sedangkan yang tadi,
saya campurin obat anti hamil sekaligus obat cuci perut. Non Eliza
tadi sakit perut kan? Hahaha…” jelas Girno sambil tertawa, tertawa
yang memuakkan. Jadi ini semua sudah direncanakannya! Kurang ajar
betul mereka ini. Aku memberi mereka makanan hanya karena ingin
berbagi, tanpa memandang status mereka. Tapi kini balasannya aku harus
melayani mereka berlima. Aku akan digangbang mereka, dan mereka akan
mengeluarkan sperma mereka di dalam rahimku sepuasnya tanpa kuatir
menghamiliku. Lebih tepatnya, tanpa aku kuatir harus hamil oleh
mereka. Membayangkan hal ini, entah kenapa tiba tiba aku terangsang
hebat, dan birahiku naik tak terkendali.

Mereka semua mulai melepas semua pakaian mereka, dan ternyata penis
penis mereka sudah ereksi dengan gagahnya, membuat jantungku berdegup
semakin kencang melihat penis penis itu begitu besar. Girno mengambil
posisi di tengah selangkanganku, sementara yang lain melepaskan ikatan
pada kedua pergelangan tangan dan kakiku. Girno menarik lepas celana
dalamku, kini aku sudah telanjang bulat. Tubuhku yang putih mulus
terpampang di depan mereka yang terlihat semakin bernafsu. “Indah
sekali non Eliza, memeknya non. Rambutnya jarang, halus, tapi indah
sekali”, puji Girno. Memang rambut yang tumbuh di atas vaginaku amat
jarang dan halus. Semakin jelas aku melihat penis Girno, yang ternyata
paling besar di antara mereka semua, dengan diameter sekitar 6 cm dan
panjang yang sekitar 25 cm. Aku menatap sayu pada Girno. “Pak, pelan
pelan pak ya..” aku mencoba mengingatkan Girno, yang hanya menganguk
sambil tersenyum. Kini kepala penis Girno sudah dalam posisi siap
tempur, dan Girno menggesek gesekkannya ke mulut vaginaku. Aku semakin
terangsang, dan mereka tanpa memegangi pergelangan tangan dan kakiku
yang sudah tidak terikat, mungkin karena sudah yakin aku yang telah
mereka taklukkan ini tak akan melawan atau mencoba melarikan diri,
mulai mengerubutiku kembali.

Kedua payudaraku kembali diremas remas oleh Hadi dan Yoyok, sementara
Urip dan Soleh bergantian melumat bibirku. Rangsangan demi rangsangan
yang kuterima ini, membuat aku orgasme yang ke dua kalinya. Kembali
tubuhku berkelojotan dan kakiku melejang lejang, bahkan kali ini
cairan cintaku muncrat menyembur membasahi penis Girno yang memang
sedang berada persis di depan mulut vaginaku. “Eh.. non Eliza ini..
belum apa apa sudah keluar 2 kali, pake muncrat lagi. Sabar non,
kenikmatan yang sesungguhnya akan segera non rasakan. Tapi ada
bagusnya juga lho, memek non pasti jadi lebih licin, nanti pasti lebih
gampang ditembus ya”, ejeknya sambil mulai melesakkan penisnya ke
vaginaku. “Aduh.. sakit pak” erangku, dan Girno berkata “Tenang non,
nanti juga enak”. Kemudian ia menarik penisnya sedikit, dan
melesakkannya sedikit lebih dalam dari yang tadi. Rasa pedih yang amat
sangat melanda vaginaku yang sudah begitu licin, tapi tetap saja
karena penis itu terlalu besar, Girno kesulitan untuk menancapkan
penisnya ke vaginaku, namun dengan penuh kesabaran, Girno terus
memompa dengan lembut hingga tak terlalu menyakitiku.

Lambat laun, ternyata memang rasa sakit di vaginaku mulai bercampur
rasa nikmat yang luar biasa. Dan Girno terus melakukannya, menarik
sedikit, dan menusukkan lebih dalam lagi, sementara yang lain terus
melanjutkan aktivitasnya sambil menikmati tontonan proses penetrasi
penis Girno ke dalam vaginaku. Hadi dan Yoyok mulai menyusu pada kedua
puting payudaraku yang sudah mengeras karena terus menerus dirangsang
sejak tadi. Tak lama kemudian, aku merasakan selangkanganku sakit
sekali, rupanya akhirnya selaput daraku robek. “Ooooooh… aaaauuuugggh…
hngggkk aaaaaaagh… “Aku menjerit kesakitan, seluruh tubuhku mengejang,
dan air mataku mengalir, dan kembali aku merasakan keringatku mengucur
deras. Aku ingin meronta, tapi rasa sesak di vaginaku membatalkan
niatku. Aku hanya bisa mengerang, dan gairahku pun padam dihempas rasa
sakit yang nyaris tak tertahankan ini. “Aduh.. sakit pak Girno..
ampun”, erangku, namun Girno hanya tertawa tawa puas karena berhasil
memperawaniku, dan yang lain malah bersorak, “terus.. terus..”. Aku
menggeleng gelengkan kepalaku kuat kuat ke kanan dan ke kiri menahan
sakit, sementara bagian bawah tubuhku mengejang hebat, tapi aku tak
berani terlalu banyak bergerak, dan berusaha menahan lejangan tubuhku
supaya vaginaku penuh sesak itu tak semakin terasa sakit. Namun
lumatan penuh nafsu pada bibirku oleh Urip ditambah belaian pada
rambutku serta dua orang tukang sapu yang menyusu seperti anak kecil
di payudaraku ini membuat gairahku yang sempat padam kembali menyala.

Tanpa sadar, dalam kepasrahan aku mulai membalas lumatan itu. Girno
terus memperdalam tusukannya penisnya yang sudah menancap setengahnya
pada vaginaku. Dan Girno memang pandai memainkan vaginaku, kini rasa
sakit itu sudah tak begitu kurasakan lagi, yang lebih kurasakan adalah
nikmat yang melanda selangkanganku. Penis itu begitu sesaknya walaupun
baru menancap setengahnya, dan urat urat yang berdenyut di penis itu
menambah sensasi yang luar biasa. Sementara itu Girno mulai meracau,
“Oh sempitnya non. Enaknya.. ah.. ” sambil terus memompa penisnya
sampai akhirnya amblas sepenuhnya, terasa menyodok bagian terdalam
dari vaginaku, mungkin itu rahimku. Aku hanya bisa mengerang tanpa
berani menggeliat, walaupun aku merasakan sakit yang bercampur nikmat.
Mulutku ternganga, kedua tanganku mencengkeram sprei berusaha mencari
sesuatu yang bisa kupegang, sementara kakiku terasa mengejang tapi
kutahan. Aku benar benar tak berani banyak bergerak dengan penis
raksasa yang sedang menancap begitu dalam di vaginaku.

Dan setelah diam untuk memberiku kesempatan beradaptasi, akhirnya
Girno memulai pompaanya. Aku mengerang dan mengerang, mengikuti irama
pompaan si Girno. Dan erangangku kembali tertahan ketika kali ini
dengan gemas Urip memasukkan penisnya ke dalam mulutku yang sedang
ternganga ini. Aku gelagapan, dan Urip berkata “Isep non. Awas, jangan
digigit ya!” Aku hanya pasrah, dan mulai mengulum penis yang baunya
tidak enak ini, tapi lama kelamaan aku jadi terbiasa juga dengan bau
itu. Penis itu panjang juga, tapi diameternya tak terlalu besar
disbanding dengan penisnya Girno. Tapi mulutku terasa penuh, dan
ketika aku mengulum ngulum penis itu, Urip memompa penisnya dalam
mulutku, sampai berulang kali melesak ke dalam tenggorokanku. Aku
berusaha supaya tidak muntah, meskupun berulang kali aku tersedak.
Selagi aku bejruang beradaptasi terhadap sodokan penis si Urip ini,
Soleh meraih tangan kananku, menggengamkan tanganku ke penisnya. “Non,
ayo dikocok!”, perintahnya. Penis itu tak hampir tak muat di genggaman
telapak tanganku yang mungil, dan aku tak sempat memperhatikan
seberapa panjang penis itu, walaupun dari kocokan tanganku, aku sadar
penis itu panjang. Aku menuruti semuanya dengan pasrah, ketika tiba
tiba pintu terbuka, dan pak Edy, guru wali kelasku masuk, dan semua
yang mengerubutiku menghentikan aktivitasnya, tentu saja penis Girno
masih tetap bersemayam dalam vaginaku.

Melihat semuanya ini, pak Edy membentak, “Apa apaan ini? Apa yang
kalian lakukan pada Eliza?”. Aku merasa ada harapan, segera melepaskan
kulumanku pada penis Urip, dan sedikit berteriak “Pak Edy, tolong saya
pak. Lepaskan saya dari mereka”. Pak Edy seolah tak mendengarku, dan
berkata pada Girno, “Kalian ini.. ada pesta kok tidak ngajak saya?
Untung saya mau mencari bon pembelian kotak P3K tadi. Kalo begini sih,
itu bon gak ketemu juga tidak apa apa… hahaha…”. Aku yang sempat
kembali merasa ada harapan untuk keluar dari acara gangbang ini,
dengan kesal melanjutkan kocokan tanganku pada penis Soleh juga
kulumanku pada penis Urip. Memang aku harus mengakui, aku menikmati
perlakuan mereka, tapi kalau bisa aku juga ingin semua ini berakhir.
Setelah sadar bahwa pak Edy juga sebejat mereka, semuanya tertawa
lega, dan sambil mulai melanjutkan pompaan penisnya pada vaginaku,
Girno berkata, “Pak Edy tenang saja, masih kebagian kok. Itu tangan
kiri non Eliza masih nganggur, kan bisa buat ngocok punya pak Edy
dulu. Tapi kalo soal memeknya, ngantri yo pak. Abisnya, salome sih”.
Pak Edy tertawa. “Yah gak masalah lah. Ini kan malam minggu, pulang
malam juga wajar kan?” katanya mengiyakan sambil melepas pakaiannya
dan ternyata (untungnya) penisnya tidak terlalu besar, bahkan ternyata
paling pendek di antara mereka.

Tapi aku sudah tak perduli lagi. Vaginaku yang serasa diaduk aduk
mengantarku orgasme yang ke tiga kalinya. “aaaaagh.. paaak… sayaaa…
keluaaaar….”, erangku yang tanpa sadar mulai menggenggam penis pak Edy
yang disodorkan di dekat tangan kiriku yang memang menganggur.
Pinggangku terangkat sedikit ke atas, kembali tubuhku terlonjak
lonjak, entah ada berapa lamanya tersentak sentak, namun kini cairanku
tak keluar karena vaginaku yang masih sangat sempit ini seolah dibuntu
oleh penis Girno yang berukuran raksasa. Dalam kelelahan ini, aku
harus melayani 6 orang sekaligus. Sodokan sodokan yang dilakukan Girno
membuat gairahku cepat naik walaupun aku baru saja orgasme hebat. Tapi
aku tak tahu, kapan Girno akan orgasme, ia begitu perkasa. Sudah 15
menit berlalu, dan ia masih memompaku dengan garangnya. Desahan kami
bersahut sahutan memenuhi ruangan yang kecil ini. Kedua tanganku
mengocok penis dari Soleh dan pak Edy, wali kelasku yang ternyata
bejat, membuatku bingung memikirkan apa yang harus kulakukan jika
bertemu dengannya mulai senin besok dan seterusnya saat dia mengajar.

Urip mengingatkanku untuk kembali mengulum penisnya yang kembali
disodokkannya ke kerongkonganku, membuat aku tak sempat terlalu lama
memikirkan hal itu.. Kini aku sudah mulai terbiasa, bahkan sejujurnya
mulai menikmati saat saat tenggorokanku diterjang penis si Urip ini.
Kepasrahanku ini membuat mereka semua semakin bernafsu. Tiba tiba
Girno menarikku hingga aku terduduk, lalu dia tiduran di ranjang,
hingga sekarang aku berada dalam posisi woman on top, dan penis itu
terasa semakin dalam menancap dalam vaginaku. Aku masih tak tahu apa
yang ia inginkan, tiba tiba aku ditariknya lagi hingga rebah dan
payudaraku menindih tubuhnya. Urat penisnya terasa mengorek ngorek
dinding vaginaku. “Eh, daripada satu lubang rame rame, kan lebih
nikmat kalo dua, eh, tiga sekalian, tiga lubang rame rame?” tanya
Girno pada yang lain, yang segera menyetujui sambil tertawa. “Akuuur…
“, seru mereka, dan Urip segera ke belakangku, kemudian meludahi
anusku. “Oh Tuhan… aku akan disandwich.. bagaimana ini..”, kataku
dalam hati. “Jangaaaan…. Jangan di situuu…!!” teriakku ketakutan.
Namun seperti yang aku duga, Urip sama sekali tidak perduli. Aku
memejamkan mata ketika Urip menempelkan kepala penisnya ke anusku, dan
yang lain bersorak kegirangan, memuji ide Girno. “aaaaaagh…” erangku
ketika penis Urip mulai melesak ke liang anusku. Mataku terbeliak,
tanganku menggenggam erat sprei kasur tempat aku aku dibantai ramai
ramai, tubuhku terutama pahaku bergetar hebat menahan sakit yang luar
biasa.

Ludah Urip yang bercampur dengan air liurku di penis Urip yang baru
kukulum tadi, tak membantu sama sekali. Rasa pedih yang menjadi jadi
mendera anusku, dan aku kembali mengerang panjang. “aaaaaaaaaaaaagh… .
sakiiiiiit”, erangku tanpa daya ketika akhirnya penis itu amblas
seluruhnya dalam anusku. Selagi aku mengerang dan mulutku ternganga,
Soleh mengambil kesempatan itu untuk membenanmkan penisnya dalam
mulutku, hingga eranganku teredam. Sial, ternyata penis Soleh ini agak
mirip punya Urip yang sedang menyodomiku, begitu panjang, walaupun
diameternya tidak terlalu besar. Tapi penis itu cukup panjang untuk
menyodok nyodok tenggorokanku. Kini tubuhku benar benar bukan milikku
lagi. Urip mulai memompa anusku. Setiap ia mendorongkan penisnya,
penis Soleh menancap semakin dalam ke tenggorokanku, sementara penis
Girno sedikit tertarik keluar, tapi sebaliknya, saat Urip memundurkan
penisnya, penis Soleh juga sedikit tertarik keluar dari
kerongkonganku, tapi akibatnya tubuhku yang turun membuat penis Girno
kembali menancap dalam dalam di vaginaku, ditambah lagi Girno sedikit
menambah tenaga tusukannnya, membuat aku benar benar melayang dalam
kenikmatan. Hanya 2 menit dalam posisi ini, aku sudah orgasme hebat,
namun aku hanya bisa pasrah. Tubuhku hanya bisa bergetar, aku tak bisa
bergerak banyak karena semuanya seolah olah terkunci. Dalam keadaan
orgasme, mereka tanpa ampun terus bergantian memompaku, membuat
orgasmeku tak kunjung reda bahkan akhirnya aku mengalami multi orgasme!

Tanpa terkendali lagi, aku mengejang hebat susul menyusul, dan cairan
cintaku keluar berulang ulang, sangat banyak mengiringi multi
orgasmeku yang sampai lebih dari 3 menit. namun semua cairan cintaku
yang aku yakin sudah bercampur darah perawanku tak bisa mengalir
keluar, terhambat oleh penis Girno. Tanganku yang menumpu pada
genggaman tangan Girno bergetar getar. Sementara Soleh membelai
rambutku dan Urip meremas remas payudaraku dari belakang. Sungguh, aku
tak kuasa menyangkal. Kenikmatan yang aku alami sekarang ini benar
benar dahsyat, belum pernah sebelumnya aku merasakan yang seperti ini.
Aku memang pernah bermasturbasi, namun yang ini benar benar membuatku
melayang. Mereka terus menggenjot tubuhku. Desahan yang terdengar
hanya desahan mereka, karena aku tak mampu mengeluarkan suara selama
penis Soleh mengorek ngorek tenggorokanku. Entah sudah berapa kali aku
mengalami orgasme, sampai akhirnya, “hegh.. hu… huoooooooh.. “, Girno
melenguh, penisnya berkedut, kemudian spermanya yang hangat menyemprot
berulang ulang dalam liang vaginaku, diiringi dengan keluarnya cairan
cintaku untuk yang ke sekian kalinya. Akhirnya Girno orgasme juga
bersamaan denganku, dan penisnya sedikit melembek, dan terus melembek
sampai akhirnya cukup untuk membuat cairan merah muda meluber keluar
dengan deras dari sela sela mulut vaginaku, yang merupakan campuran
darah perawanku, cairan cintaku dan sperma Girno.

“Oh.. enake rek, memek amoy seng sek perawan…” kata Girno, yang tampak
amat puas. Nafasku sudah tersengal sengal. Untungnya, Urip dan Soleh
cukup pengertian. Urip mencabut penisnya dari anusku, dan Soleh tak
memaksaku mengulum penisnya yang terlepas ketika aku yang sudah begitu
lemas karena kelelahan, ambruk menindih Girno yang masih belum juga
melepaskan penisnya yang masih terasa begitu besar untukku. Kini aku
mulai sadar dari gairah nafsu birahi yang menghantamku selama hampir
satu jam ini. Namun aku tidak menangis. Tak ada keinginan untuk itu,
karena sejujurnya aku tadi amat menikmati perlakuan mereka, bahkan
gilanya, aku menginginkan diriku digangbang lagi seperti tadi. Apalagi
mereka cukup lembut dan pengertian, tidak sekasar yang aku bayangkan.
Mereka benar benar menepati janji untuk tidak melukaiku dan
menyakitiku seperti menampar ataupun menjambak rambutku. Bahkan Girno
memelukku dan membelai rambutku dengan mesra dan penuh kasih saying,
setidaknya menurut perasaanku, sehingga membuatku semakin pasrah dan
hanyut dalam pelukannya. Apalagi yang lain kembali mengerubutiku,
membelai sekujur tubuhku seolah ingin menikmati tiap senti kulit
tubuhku yang putih mulis ini. Entah kenapa aku merasa aku rela
melayani mereka berenam ini untuk seterusnya, membuatku terkejut dalam
hati. “Hah? Apa yang baru saja aku pikirkan? Aku ini kan diperkosa,
kok aku malah berpikir seperti itu?” pikirku dalam hati.

Penderitaanku di hari sabtu

Filed under: RAMAI-RAMAI

“Wah gile Rud, loe beneran bisa dapet amoy abu abu nih, hebat juga
loe!”, kata salah seorang dari mereka. Sialan, aku dikatakan amoy abu
abu. Mereka ini benar benar kurang ajar. Tapi aku hanya bisa menahan
rasa jengkel meskipun dilecehkan seperti ini, toh apa yang bisa
kulakukan? Pujian bahwa diriku cantik tadi sama sekali tak membuatku
senang, malah membuatku mengutuki nasibku yang malang ini. yang entah
disebabkan wajahku yang cantik atau karena tadi aku menolong Johan itu.

“Iya dong Sul, bukan Rudi namanya kalo gak bisa”, kata anak SMP yang
masih saja menggerayangiku ini dengan nada bangga. “Tapi loe tadi
gagal gara gara amoy cakep ini Rud hahaha…”, salah seorang dari mereka
tertawa keras, dan tiba tiba kurasakan remasan yang amat kasar pada
kedua payudaraku oleh Rudi ini, membuatku menggeliat dah mengaduh.
“Aduh.. sakit…”, aku mengeluh.

“Eh gila.. memang bener loe Rud, cakep abis nih amoy! Seleramu tinggi
juga Rud”, kata seorang lagi yang memandangiku seolah ingin
menelanjangiku. “Iya bener Har, asli cakep”… “Bening lagi”… “Ayo cepet
bawa ke tengah sini”.. “Balas dendam Rud”.. “Nggak sia sia juga kita
kita menunggu dari tadi”.. Demikian seruan seruan yang kudengar,
selain itu tentu saja tawa kegirangan dan tawa yang melecehkan.

“Turun!”, bentak pengendara sepeda motor itu setelah membuka helmnya.
Begitu aku turun, anak SMP yang ternyata namanya Rudi ini segera
menyeretku ke arah teman temannya yang tertawa tawa. Aku hanya bisa
mempercepat langkahku supaya tak jatuh terseret oleh Rudi ini, dan
berikutnya aku sudah berada di tengah kerumunan mereka, sembilan anak
SMP yang melihatku dengan pandangan penuh nafsu.

“Jangan… tolong lepaskan aku”, aku mulai mencoba memohon pada mereka.
“Kalian mau uang kan? Kalian boleh ambil uangku, kalian boleh minta
berapa saja, tapi tolong lepaskan aku”, kataku lagi, mencoba
menawarkan kompensasi pada mereka supaya aku dibebaskan. Aku berharap
semoga saja mereka bisa berubah pikiran.

“Jangan mimpi loe!”, bentak Rudi. “Gue gak butuh duit. Berani
beraninya gangguin acara gue tadi, loe nurunin harga diri gue. Gue
diketawain sama mereka ini karena gak berhasil dapetin duit dari anak
tadi. Sekarang gue mau loe bayar pake tubuh loe! Pake harga diri loe!
Loe harus puasin kami semua!”, Rudi berkata sambil memandangiku, entah
dengan penuh kemarahan atau penuh nafsu birahi, yang jelas
pandangannya itu amat menakutkanku.

Aku bergidik menyadari keadaanku sekarang ini. Mereka makin mendekat,
dan aku hanya pasrah ketika tiba tiba tanganku sudah terentang, kedua
pergelangan tanganku dipegangi oleh orang di kanan kiriku. Seseorang
dari mereka mendekapku dari belakang, menghirupi rambutku yang
tergerai bebas dengan nafasnya memburu, kurasakan sekali kalau ia
begitu bernafsu. Dua dari mereka, yang tadi sekilas kutahu namanya Sul
dan Har itu, mendekat dan meremasi kedua payudaraku.

Mendapat perlakuan seperti ini, aku semakin lemas, tubuhku rasanya
panas dingin. Apalagi ketika orang yang mendekapku dari belakang itu
menyibakkan rambutku, dan menciumi leherku dengan nafas memburu. Kini
keadaanku sudah tak jauh beda dengan waktu aku dipermainkan Sherly
tadi. Aku memejamkan mata dan menyerah pasrah, membiarkan sembilan
anak SMP ini berbuat apa saja yang mereka inginkan terhadap tubuhku.

“Siapa namamu, amoy cantik?”, tanya salah seorang dari mereka. “Aku..
aku Eliza..”, jawabku lemah. “Kelas berapa sekarang di sekolah, amoy
sayang?”, aku mendapat pertanyaan lagi. “Aku… kelas dua…sss”, jawabku
sambil mendesis, ketika kurasakan banyak sekali telapak tangan yang
merabai pahaku. “Kami juga kelas dua non amoy, tapi dua SMP..
hahaha”, ejek salah seorang lagi.

“Enak ya non? Suka ya main rame rame gini?”, entah siapa lagi yang
bertanya, aku tak tahu karena aku sedang memejamkan mataku, dan dera
kenikmatan yang melanda tubuhku ini makin bertambah ketika kurasakan
kedua payudaraku kembali diremas lembut entah oleh siapa, dan
mendatangkan perasaan nikmat yang amat sangat yang menjalari sekujur
tubuhku.

“Aku… aku… nngghhh…”, aku tak tahu harus menjawab apa, dan malah
melenguh menahan nikmat ketika kurasakan sebuah tangan menyusup masuk
ke celana dalamku dan dengan cepat vaginaku sudah ditusuk dan diaduk
aduk oleh jari tangan itu, membuat kakiku mengejang, jelas sekali aku
sedang dilanda kenikmatan. Kudengar sorakan norak dan beberapa dari
mereka menirukan lenguhanku, bersahut sahutan. Mukaku rasanya panas
dilecehkan seperti ini, tapi aku tahu penderitaanku baru akan dimulai.

“Lho, non Eliza, ternyata celdam punya loe ini sudah basah dari tadi”,
kudengar suara Rudi. Aku membuka mataku, dan memang ternyata Rudi yang
sedang mengaduk aduk vaginaku. “Wah kita keduluan nih, amoy kita yang
cakep ini di dalam kos kosan tadi sudah ada yang nggarap.. basah amat
nih memeknya”, kata Rudi pada teman temannya. Kembali kudengar sorakan
bernada melecehkan dari teman temannya.

Selagi jarinya mengaduk makin dalam, seolah hendak mengorek seluruh
cairan cintaku, Rudi kembali melecehkanku, “Sama berapa orang tadi di
sana, amoy cantik?”. Aku diam saja, sekali ini aku amat malu. “Ditanya
kok diam saja? Jawab!!”, bentak Rudi, membuatku amat terkejut dan
ketakutan, sehingga aku terpaksa menjawab, “Satu.. orang”. Terdengar
tawa melecehkan di sekelilingku.

Aku hanya bisa menahan malu ini, sementara Rudi terus mengaduk aduk
vaginaku dengan kejam. Rasanya amat sakit walaupun memang bercampur
sedikit nikmat. “Loe baru lawan satu orang sudah basah gini, gue kok
jadi pingin liat, loe lawan kami bersembilan nanti bakal basah kayak
gimana”, kata Rudi dengan nada yang melecehkanku juga. Membayangkan
diriku akan digangbang mereka bersembilan yang baru kelas dua SMP ini,
entah kenapa, perasaanku seperti tersengat listrik.

Dipermalukan seperti itu, entah kenapa kurasakan adukan Rudi pada
vaginaku tak terasa begitu sakit lagi, dan nikmatnya makin menjadi
jadi. Walaupun aku berusaha bertahan supaya tak terlihat murahan di
depan mereka, tapi lama kelamaan nikmat yang menderaku membuat aku tak
bisa menahan diri lagi, tubuhku menggeliat hebat dan aku terus
melenguh tanpa bisa kutahan, “Nggghhh.. ooohh… nggghhh….”

Kalau saja mereka tidak menahan tubuhku, aku yang sedang orgasme waktu
sedang berdiri seperti ini, pasti sudah terjatuh. Sekarang ini aku
merasa amat lemas, dan tak ada perlawanan apapun dariku ketika Rudi
merenggut robek celana dalamku, juga ketika Sul dan Har merenggut baju
seragamku hingga semua kancingnya putus dan terjatuh semua ke lantai,
dan mereka tertawa tawa melihat kepanikanku.

Untungnya baju seragamku tak sampai robek. Baju seragamku lalu ditarik
mereka ke atas hingga kedua tangankku terangkat. Akhirnya baju
seragamku terlepas seluruhnya dari tubuhku. Tak lama kemudian braku
juga direnggut putus, hingga kini aku tinggal mengenakan rok
seragamku. Aku reflek menutup kedua payudaraku dengan kedua telapak
tanganku, tapi aku malah makin dilecehkan mereka.

“Gak usah ditutup non, nanti semua pasti kebagian nyusu”, ejek Sul.
“Tarik roknya. Kalo masih sok sokan nutupin teteknya, robek saja
sekalian roknya”, perintah Rudi pada teman temannya.Aku terpaksa
menurunkan tanganku, membiarkan payudaraku jadi tontonan sembilan
orang ini. Tanpa perlawanan aku membiarkan rok seragamku dilucuti
hingga jatuh ke bawah, dan aku melangkahkan kakiku ke belakang hingga
mereka bisa mengambil rok seragamku itu.

Maka prosesi penelanjangan terhadap diriku sudah selesai, kini tinggal
kaus kaki dan sepatu yang masih melekat di kakiku, sedangkan tubuhku
dari lutut ke atas sudah tersaji polos di depan mereka. Mereka
melempar lemparkan semua bagian pakaianku ke pojok ruangan ini, juga
tas sekolahku. Tiba tiba aku teringat, tadi aku dibawa ke sini oleh
anak SMA yang bersama Rudi tadi. Sekilas aku mencoba mencari dengan
melayangkan pandanganku ke arah tadi pertama aku dibawa ke sini.

Setelah aku tak menemukan anak SMA itu, juga sepeda motornya, aku jadi
berpikir, kemana dia, kok tidak ikut dengan sembilan anak SMP yang
sedang asyik mempermainkanku ini? Ketika aku tersadar dari lamunanku,
kesembilan anak SMP ini sudah telanjang semuanya. “Ok Rud, silakan loe
yang pertama”, kata Sul. Rudi segera mendekatiku, dan aku sempat
melihat penisnya yang ternyata sudah ereksi itu.

Tak terlalu panjang, mungkin hanya 12 cm. Diameternya pun cuma di
kisaran 3 cm. Penis itu sudah tegak mengacung ke atas. Rudi ini
tingginya sekitar 160 cm, sedikit lebih tinggi dariku yang memakai
sepatu ini. Wajahnya hancur hancuran, agak bopeng, dan bau badannya
agak tak enak. Aku harus bersiap, karena penderitaanku akan segera
dimulai. Aku berusaha membiasakan diri dengan bau itu.

“Kalau sama amoy yang kayak gini, kita kita gak perlu pakai kondom
seperti kalo lagi di Dolly. Gak perlu kuatir ketularan apa apa, dan
pasti lebih enak tanpa kondom kan teman teman?”, kata Rudi sambil
membelai rambutku. “Akuuur…”, mereka menjawab dengan senangnya. Sial
deh, aku harus menyiapkan vaginaku untuk menampung semprotan sperma
mereka semua. Aku tahu pasti, perkosaan ini tak akan hanya berjalan
satu ronde saja.

Tapi aku berpikir, oh.. untung juga. Paling tidak meskipun selama ini
mereka sudah pernah main di tempat pelacuran itu, tapi ternyata mereka
menggunakan kondom waktu bersetubuh dengan PSK. Jadi paling tidak aku
tak perlu kuatir dengan kemungkinan tertular penyakit kelamin, dan ini
membuatku sedikit tenang. Tapi ada yang membuatku heran. Rudi yang
sejak tadi bersikap kasar dan bengis, entah kenapa sekarang berubah
lembut.

Rudi terus membelai rambutku dengan lembut, dan melihatku dengan
tatapan aneh. Perlahan ia memelukku, dan kemudian mengecup bibirku
dengan lembut. Aku diam saja, tak tahu harus bagaimana. Rudi terus
mencumbuiku, menciumi bibirku, dan akhirnya ia melesakkan lidahnya ke
dalam mulutku dan bibirku dipagutnya dengan ganas. Aku gelagapan, air
liur Rudi terus membanjir masuk ke dalam mulutku, hingga mau tak mau
aku terpaksa mengesampingkan rasa jijik dan menelannya kalau tak mau
tersedak.

Lidahku dan lidah Rudi bersentuhan sesaat, dan Rudi ini, entah belajar
dari mana, ia benar benar menaklukan aku sekarang ini, membuatku
bereaksi di luar kesadaranku. Aku melingkarkan tanganku di lehernya,
dan membalas permainan lidahnya. Kami seperti sepasang kekasih saja,
hingga semuanya menggerutu dengan nada iri, “Rud, jangan lama lama!”.
“Kami juga mau”. “Kapan giliran kami semua?”.

Rudi menghentikan cumbuannya padaku, hingga aku membuka mataku. “Oh..
kamu cantik banget..”, guman Rudi, membuatku tesipu malu dan
memalingkan wajahku. “Sul, Har, Bantu aku”, Rudi memanggil mereka.
Setelah mereka mendekat, Rudi menyuruh mereka berdiri di kedua sisiku,
kemudian Rudi mulai mengatur, tangan kananku dilingkarkan di leher
Sul, sedangkan tangan kiriku dilingkarkan di leher Har.

“Sekarang, angkat pahanya amoy ini, bikin yang lebar!”, kembali Rudi
memerintah mereka. Tampaknya Rudi ini ketua gerombolan anak SMP yang
bejat ini. Kini aku sudah dalam posisi yang tak berdaya, dimana kedua
tanganku yang melingkar di leher Sul dan Har itu tak mungkin kulepas
kalau aku tak ingin jatuh. Sedangkan kedua pahaku sudah terangkat
dalam posisi melebar, hingga vaginaku sekarang sudah tersaji sempurna
untuk Rudi, dan wajahku yang panas ini sama sekali tak bisa kusembunyikan.

Sul dan Har yang memegangi kedua pahaku dengan satu tangannya,
menggunakan tangan mereka yang satunya, meremasi payudaraku. Selagi
aku menggeliat lemah, Rudi mendekatiku. Aku agak tenang, mereka
ternyata tak sekasar yang kuduga. Saat aku mempersiapkan vaginaku
untuk menelan penis si Rudi ini, tak kuduga, Rudi berjongkok, dan
kepalanya didekatkan ke vaginaku. Rudi mulai menjilati vaginaku yang
pasti masih berlumur cairan cintaku.

“Ssshh.. ooooh…”, aku mendesah dan mengerang, kurasakan nikmat yang
luar biasa saat cairan cintaku diseruput habis dan vaginaku disedot
sedot oleh Rudi. Nafasku mulai tak beraturan, dan aku memandang Rudi
dengan sayu, penuh harap ia akan segera memulai semua ini. Tapi dasar
anak SMP, mana dia tahu aku sudah amat terangsang seperti ini? Aku
juga tak bisa memintanya, bagiamanapun juga, aku tak ingin terlihat
murahan di depan mereka.

Rudi masih terus mempermainkan vaginaku, kali ini dengan lidahnya. Aku
memejamkan mataku, nyaris tak kuasa menahan gairahku ketika lidah itu
melesak lesak ke bagian luar dari liang vaginaku. Tubuhku bergetar
kecil, dan nafasku makin tersengal sengal. Sul dan Har tertawa
mengejek melihat keadaanku, tapi aku sudah tak mampu mengontrol
diriku, bahkan aku mencoba menggerak gerakkan pinggulku, mencoba
mencari kepuasanku sendiri saat lidah Rudi terus mengaduk liang vaginaku.

Selagi aku dalam keadaan terangsang hebat seperti ini, tiba tiba
kurasakan rambutku disibakkan dari belakang, dan kembali aku merasakan
leherku dicium dengan lembut. Oh, kini aku sudah di ambang batas
orgasme, dan aku mati matian bertahan supaya tidak cepat cepat
orgasme. Setiap kali aku orgasme, itu berarti menguras staminaku,
sementara aku kan masih harus melayani delapan orang lagi, dan juga
entah berapa ronde lagi yang harus kulalui untuk memuaskan mereka
bersembilan ini…

Tapi apa daya, dirangsang di beberapa tempat sekaligus, mulai dari
ciuman pada leherku, belaian pada rambutku, remasan lembut pada
payudaraku, dan adukan lidah Rudi pada vaginaku, akhirnya aku bobol
juga. “Ngghhh.. nggghhh… auuugghh…”, aku melenguh dan mengerang, dan
kudengar kembali suara menyeruput, kini memang cairan cintaku yang
membanjir itu sedang diseruput habis oleh Rudi. Terdengar suara
seperti orang yang menyeruput minuman yang hampir habis, dan ini amat
membangkitkan gairahku.

Setelah beberapa detik tubuhku mengejang ngejang, akhirnya aku
terkulai lemas. Kembali aku memandang Rudi dengan sayu, berharap ia
mengerti keinginanku sekarang ini. Aku menjadi sedikit senang
sekaligus tegang, saat Rudi tiba tiba berdiri, dan mengocok penisnya
sebentar. Oh akhirnya ia akan memulai semua ini. Benar saja, sesaat
kemudian, ia menggesek gesekkan kepala penisnya pada bibir vaginaku,
dan ia mentatapku dengan pandangan yang aneh, kurasakan ia sedang amat
bernafsu.

“Eliza… aku masukin sekarang ya”, ia bahkan sudah tak memanggilku non
atau amoy, ia memanggil namaku begitu saja. Apakah ia jatuh cinta
padaku? Yang benar saja, dia kan masih kelas dua SMP? Apa yang dia
tahu soal cinta? Lagipula, mimpi kali dia. Mana mungkin aku mau
membalas cintanya? Sekarang ini aku hanya terbakar nafsu dalam
kepasrahanku, bukan karena yang lain. Tapi aku tak mengubah sikapku,
aku hanya menatap sayu dan berbisik lemah, “Terserah kamu..”.

Perlahan Rudi melesakkan penisnya yang mulai membelah liang vaginaku.
Sorakan dan ejekan teman teman Rudi sudah tak terdengar lagi, semua
memperhatikan prosesi menyatunya tubuh kami berdua ini. Walaupun penis
itu kecil, tetap saja ada sensasi tersendiri yang kurasakan ketika
penis itu sudah tertelan seluruhnya di vaginaku. “Ngghh..”, aku
melenguh pelan. “Enak ya, Eliza?’, tanya Rudi padaku, tapi sudah tak
ada nada yang melecehkan seperti sebelum sebelumnya.

Aku mengangguk lemah, dan memejamkan mataku dan menunduk, rasanya malu
juga tadi aku mengangguk begitu saja. Rudi mengangkat daguku, kemudian
mencium bibirku, kurasakan kemesraan dalam ciuman itu. Aku mulai
melayaninya, membalas ciumannya. Rudi pun juga mulai menggerakkan
tubuhnya perlahan, hingga penisnya mulai menggesek gesek liang
vaginaku. Rasanya nikmat sekali, sedangkan sakit yang kurasakan sangat
sedikit, bahkan bisa dikatakan nyaris tak ada.

Hal ini mungkin karena aku sudah terbiasa dengan rasa sakit yang
terjadi saat vaginaku menelan penis yang jauh lebih besar dan panjang
dari penis anak SMP ini, walaupun harus kuakui penis Rudi ini amat
keras, nyaris sekeras milik Wawan, pembantu di rumahku. Sementara itu,
bagian tubuhku yang lain mulai menerima rangsangan kembali, membuat
aku semakin tenggelam dalam nafsu birahi. “Oh.. seretnya memekmu..
Elizaaa…”, erang Rudi. “Oooh… enaknyaa..”, Rudi mulai meracau.

Aku cuma bisa mendesah dan mengerang lemah saat penis Rudi makin cepat
mengaduk aduk vaginaku. Kudengar Rudi sendiri terus mengerang, dan
erangannya itu makin keras. Tampaknya ia akan orgasme sebentar lagi.
Benar saja, beberapa saat kemudian, penisnya berkedut dalam vaginaku,
dan ia mengerang keras, “Oooh.. Elizaaa… aku keluarkaan.. di dalam
yaaah…”. Berkata begitu, ia menyodokkan penisnya dalam dalam, dan
sekali lagi ia mengerang panjang, mengiringi semburan spermanya ke
dalam vaginaku.

Dasar, perlu apa dia tadi seolah minta ijin untuk mengeluarkan
benihnya di dalam rahimku? Toh baru saja dia selesai bicara, spermanya
sudah menyemprot deras membasahi relung vaginaku. Untung saja, tadi
pagi aku sudah minum obat anti hamil, kalau tidak, amit amit deh harus
hamil oleh benih anak SMP yang mukanya agak parah ini. Memang sejak
aku jadi budak seks pak Arifin, Wawan dan Suwito di rumah, aku jadi
rutin minum obat anti hamil di masa suburku, karena aku tak mau
dihamili oleh mereka.

Rudi yang sudah mendapat jatahnya menikmati tubuhku, kini menarik
lepas penisnya dari vaginaku. Aku tidak mengalami orgasme kali ini,
tadi Rudi hanya menggenjotku tak sampai 5 menit. Mungkin karena ia
sudah terangsang sejak dari awal ia meremasi payudaraku di sepeda
motor tadi. Sul dan Har meletakkanku di atas selembar tikar butut, dan
mereka bersama 6 rekannya itu berunding, pastinya menentukan siapa
yang beruntung mendapat giliran selanjutnya untuk menikmati tubuhku ini.

Kini aku berbaring telentang di atas tikar butut ini. Selagi mereka
berunding, Rudi mendekatkan penisnya ke mulutku. Aku tahu apa
keinginannya, dan aku segera mengulum penis itu, memainkan lidahku
menyapu seluruh lingkar penisnya, membuat Rudi mengerang ngerang
keenakan. Kubersihkan seluruh sisa sperma yang bercampur cairan
cintaku dari penis itu, sampai penis itu benar benar mengecil.

Rudi bergerak sedikit menjauh dariku, dan kini ia hanya diam saja,
memandangiku dengan tatapan aneh. Dia sama sekali tak menyinggung
tentang keperawananku. Aku makin yakin, Rudi ini tiba tiba sudah jatuh
hati padaku. Aku berpikir untuk mempermainkannya, toh dia juga
menyakitiku dengan membuatku menjadi budak seks dirinya dan teman
temannya ini. Aku balas menatapnya dengan sayu, seolah aku amat
menginginkannya, sampai ia mengalihkan tatapan matanya dariku, kulihat
jelas ia tersenyum jengah. Dalam hati aku menertawakannya, mimpi kali
aku bakal jatuh cinta sama orang seperti dia?

Tiba tiba kudengar suara, “Permisi Eliza, aku Darso. Aku mau nyobain
memekmu ya”. Aku menoleh, dan kulihat Darso sudah berancang ancang
menerjangkan penisnya ke dalam vaginaku. Dasar, mau memperkosaku saja
pakai permisi segala. Biar aku nggak mengijinkan pun dia pasti tetap
akan memaksaku melayaninya juga. Aku sempat memperhatikan penis itu,
ternyata nyaris serupa ukurannya dengan milik Rudi. “Ssssh…”, aku
mendesah ketika lagi lagi liang vaginaku harus menelan sebatang penis.

Perlahan Darso menggenjotku, dan makin lama makin cepat. Aku pasrah
saja, membiarkan ia menikmati remasan otot liang vaginaku pada batang
penisnya, dan aku merasa tak ada salahnya kalau aku menikmati saat
saat vaginaku diaduk aduk seperti ini, toh percuma juga aku melakukan
perlawanan. Daripada aku merasa menderita, lebih baik aku menerima
semua ini dan kalau perlu menikmatinya.

Aku mulai memperhatikan wajah Darso ini, dan menurutku termasuk tak
penting untuk dilihat. Memang ia tak bopeng, tapi udah deh, benar
benar jelek. Untungnya Darso melakukan ini dengan terburu buru, ia tak
mencumbuku sama sekali, keliatannya ia hanya sekedar ingin memuaskan
dirinya saja. Baru beberapa menit, Darso sudah mulai mendengus dengus,
dan kurasakan penis Darso sudah berkedut kedut. “Oooh… enaaak”,
erangnya saat penisnya menyemburkan sperma berulang ulang membasahi
vaginaku.

Darso langsung mencabut penisnya dari vaginaku, dan aku belum sempat
berbuat apa apa ketika Sul mengambil gilirannya, tanpa ba bi bu ia
langsung menerjangkan penisnya ke liang vaginaku. Aku sedikit
terhenyak, kurasakan penis Sul ini agak panjang. Tak tahu berapa
panjangnya, tapi pasti lebih panjang dari Rudi ataupun Darso. Aku
menggeliat lemah, dan Sul tersenyum bangga melihatku bereaksi atas
sodokannya, berbeda dengan serangan Darso tadi yang menurutku termasuk
ringan ringan saja.

Sul merendahkan badannya, hingga ia bisa mengecup bibirku sambil
menyetubuhiku. Aku memejamkan mataku, mencoba menikmatinya. “Eliza..
namaku Syamsul…”, bisiknya. Aku tak bereaksi, hanya sesekali
menggeliat ketika tusukan penis Syamsul ini membuatku keenakan. “Enak
ya.. Eliza?”, bisiknya lagi. Aku membuka mataku, mengangguk lemah.
Kini kenikmatan sudah menderaku, membuatku tak bisa berpikir jernih
lagi. Ketika ia mengecup bibirku, aku membalas ciumannya tanpa diminta.

Syamsul terus menyetubuhiku, sekali ini aku merasakan persetubuhan
yang cukup lama. Mungkin sudah lebih dari 10 menit. Selama itu Syamsul
tak henti hentinya mencumbuiku, kurasakan ia begitu mesra. Meskipun
aku merasa hal ini aneh dan lucu, tapi aku pikir ada untungnya juga.
Setidaknya kalau mereka semua begini, aku mungkin tak akan mendapatkan
perlakuan kasar dari mereka, padahal tadi waktu pertama aku dikerumuni
dan dibentak bentak serta dilecehkan oleh mereka, aku merasa amat takut.

Mungkin karena sudah cukup lama digenjot, kini kurasakan vaginaku
mulai berdenyut denyut, jantungku mulai berdetak lebih cepat, dan
nafasku juga mulai memburu. Remasan lembut pada payudaraku yang
dilakukan Syamsul membuatku makin merasa melayang ke awang awang, dan
aku merintih perlahan, “Oooh…”. Syamsul berbisik di telingaku, “Sakit
ya Eliza?”. Aku spontan menggeleng lemah, mataku kembali kupejamkan
erat erat, aku berusaha menikmati semua ini.

Kini ganti leherku yang diserang Syamsul dengan kecupannya, sedangkan
genjotannya pada vaginaku tidak kendur sama sekali, membuatku
menggelinjang tak karuan. Ketika Syamsul menarikku duduk di
pangkuannya, penisnya menancap makin dalam ke liang vaginaku. Tanpa
ampun lagi aku melenguh lenguh, “Ngghhhh… oooooh…. Ampuuuun”. Tubuhku
berkelojotan, kakiku melejang lejang, sungguh aku nyaris tak kuat
menahan kenikmatan ini, tubuhku rasanya hampir meledak oleh nafsu
birahi ini.

Tapi Syamsul belum selesai. Selagi aku melingkarkan tanganku memeluk
lehernya, ia terus menggenjot vaginaku. Gejolak orgasmeku belum
selesai ketika Syamsul kembali mengecup bibirku, dan mendadak aku
balas memagutnya dengan ganas, hingga Syamsul kewalahan dan roboh.
Kini aku yang menindihnya, dan aku menaik turunkan tubuhku sendiri
supaya liang vaginaku terus diaduk oleh penisnya Syamsul.

Membayangkan aku masih harus melayani lima orang lagi, aku malah makin
liar meliuk liukkan tubuhku, mengendarai penisnya Syamsul yang kini
mulai mengerang keenakan. Rupanya ia tak tahan juga, tak lama kemudian
kurasakan penisnya berkedut kedut, tubuhnya bergetar getar dan seiring
dengan erangan panjang dari Syamsul, kurasakan semprotan sperma dari
penis Syamsul yang bertubi tubi, membuat vaginaku terasa hangat dan
nyaman.

“Plop…”, demikian bunyi yang kudengar ketika aku mengangkat tubuhku
sampai penis Syamsul terlepas dari vaginaku. Begitu aku tiduran, sudah
ada teman Rudi yang mengambil posisi di selangkanganku, dan aku hanya
bisa membuka pahaku lebar lebar, bersiap menerima sodokan pada liang
vaginaku. “Hai Eliza, aku Rangga..”, katanya sambil membenamkan
penisnya ke dalam liang vaginaku. Aku tak bereaksi, dan Rangga ini
mulai menggenjot liang vaginaku dengan cepat.

Aku diam saja, mencoba menghemat tenagaku, kurasakan penis yang sedang
menerjang vaginaku ini ukurannya termasuk kecil, harusnya lebih kecil
dari punya Rudi. Masuk akal, karena memang Rangga ini tubuhnya pendek,
lebih pendek dariku. Kini baru aku merasa disetubuhi oleh anak kecil,
membuatku geli juga. Rangga terlihat keenakan selagi menggenjot
vaginaku, matanya merem melek dan ia mulai meracau penuh kenikmatan,
“Ohhh.. Elizaa… memekmu kok bisa enaak ginii…”.

Aku tak memperdulikannya. Memang aku merasakan penisnya lagi menyodok
vaginaku dengan cepat, tapi mungkin karena ukurannya kecil, aku tak
begitu terpengaruh. Kini aku kembali mencoba menggoda Rudi. Aku
menatapnya sayu, seolah aku sedang menginginkannya. Dalam hati aku
kembali tertawa melihat Rudi salah tingkah, ia tak kuat membalas
tatapanku. Tiba tiba kudengar Rangga mengerang dan begitu penisnya
berkedut, kurasakan kembali vaginaku harus menelan sperma, yang kali
ini dari Rangga.

Ketika Rangga mencabut penisnya, kulihat memang termasuk pendek, kira
kira tak sampai 10 cm, diameternya juga kecil, mungkin 2 cm lebih
sedikit. Geli juga aku melihatnya, pantas saja aku tak terlalu
merasakan rangsangan pada vaginaku tadi sewaktu aku disetubuhinya.
Lagi lagi tanpa memberiku kesempatan untuk beristirahat, sudah ada
lagi yang mengantri vaginaku. “Eliza.. aku Hendra”, seperti mereka
yang sebelumnya menyetubuhiku, Hendra memperkenalkan dirinya.

Kali ini aku sempat melihat penisnya, dan aku kembali harus menahan
geli. Hendra ini tubuhnya kecil, penisnya juga kecil. Mungkin cuma
sekitar 9 cm panjangnya, dan diameternya pun tak lebih besar dari
punya Rangga. Kembali aku hanya pura pura bereaksi ketika penisnya
tertelan seluruhnya dalam liang vaginaku. Tapi kemudian aku hanya
diam, kubiarkan Hendra mencari kepuasannya sendiri. Dan memang
sebenarnya Hendra sedang menggenjotku dengan sangat bernafsu, tapi aku
tak begitu terpengaruh.

Aku berpikir, enak saja mereka stirahat. Kalau satu satu begini,
memangnya mereka mau memperkosaku sampai berapa lama? “Rud, sini
dong”, aku memanggilnya dengan suara yang kumanja manjakan. Rudi
dengan disoraki temannya, berdiri dan berjalan medekat ke arahku. “Ada
apa?”, tanyanya dengan ragu. “Aku mau oralin kamu… boleh ya?”,
kataku sambil mencoba meraih penisnya. Rudi tertegun sejenak, tapi ia
berlutut di sebelah kanan kepalaku, memberikan kesempatan padaku untuk
mulai mengulumi penisnya.

Aku memperhatikan teman temannya yang lain, kulihat mereka memandang
kami dengan tatapan iri. “Eliza, aku juga mau”. “Aku juga”. Mereka
semua seperti anak kecil yang berebut es krim saja. Dengan suara yang
lagi lagi kumanja manjakan, aku berkata, “Iya, tapi antri satu satu
yah”. Lalu penis Rudi segera kulahap, aku mulai melakukan kuluman dan
sedotan, selain itu aku juga memberikan gigitan kecil pada penis itu,
membuat Rudi mengerang keenakan dan penisnya langsung ereksi sempurna.

Aku melakukan oral ini dengan bersemangat, berharap Rudi cepat
ejakulasi, kemudian yang lainnya, jadi aku bisa memotong satu ronde
dari rencana mereka. Kalau semua berejakulasi di vaginaku satu per
satu, entah masih berapa lama lagi baru perkosaan ini selesai. Dan
rupanya Hendra menjadi amat terangsang melihat adegan di depan
matanya, dimana seorang gadis cantik dengan kulit yang putih mulus
terawat, kini sedang mengoral penis temannya yang kulitnya hitam dan
kasar.

Pemandangan kontras ini memaksa Hendra segera berejakulasi, Hendra
melenguh dan menyemprotkan spermanya ke dalam liang vaginaku. Entah
sudah berapa banyak sperma yang mengisi rahimku, tapi aku tetap
tenang, toh aku sudah minum obat anti hamil. Aku tak bereaksi ketika
orang berikutnya mengambil gilirannya menyetubuhiku. “Eliza, aku Reza
nih”, kudengar yang namanya Reza ini berkata. “Mmm…”, aku dengan malas
menanggapinya, aku cuma ingin cepat mengeluarkan sperma si Rudi ini.

Kurasakan Reza mengangkat salah satu kakiku hingga lurus ke atas,
membuatku berbaring menyamping ke kanan. Yah, ini akan membuatku lebih
mudah untuk mengoral penis penis mereka sih. Dan kemudian Reza segera
menerjangkan penisnya ke liang vaginaku yang sudah penuh sperma ini.
“Mmmhh…”, kurasakan cukup nikmat juga ketika vaginaku menelan penis
Reza ini, dan tepat saat itu juga, Rudi yang sudah sejak tadi
mengejang dan mengerang, menyemburkan spermanya ke dalam mulutku.

“Oooughh…”, erang Rudi keenakan. Aku menelan sperma itu, menjilati dan
menyeruput sisa sperma pada penis Rudi. Rudi mengerang ngerang karena
perbuatanku pada penisnya, dan begitu aku melepaskan kulumanku, ia
terduduk lemas. Memang inilah tujuanku, dan sesuai rencanaku, aku
segera memangggil salah satu dari mereka. Aku mengingat ingat, yang
kedua tadi menyetubuhiku adalah Darso.

Maka aku memanggilnya dengan nada suara yang sama seperti aku
memanggil Rudi tadi. “Darso… “, begitu aku menyebut namanya, Darso
sudah berdiri dengan penuh semangat, ia setengah berlari ke arahku.
Saat ini aku merasa selangkanganku makin nikmat saja, aku sempat
menoleh memperhatikan Reza ini. Ow.. dia lumayan juga, bodynya
atletis, wajahnya juga nggak terlalu jelek, cuman sayangnya kulitnya
begitu hitam. Aku tersenyum padanya, dan membiarkannya memainkan
vaginaku sepuas hatinya.

Kini Darso sudah menyodorkan penisnya di dekat mulutku, bahkan hampir
menempel ke bibirku. Aku segera membuka mulutku, dan aku memberikan
servis pada Darso, sama seperti yang kuberikan pada Rudi tadi. Darso
segera melenguh dan meracau tak karuan, “Ooooh… enaaak…”. Sedangkan
Reza terus memanjakan vaginaku dengan genjotannya yang kadang lembut,
kadang menyentak, membuatku mulai menggeliat keenakan.

Aku sudah tak perduli jika karena ini aku dianggap murahan. Aku hanya
berpikir supaya semua ini cepat selesai. Kuberikan vaginaku dan
mulutku untuk melayani nafsu bejat mereka semua ini. Aku tak
menawarkan anusku, karena bagaimanapun aku tak terbiasa dengan
terjangan batang penis pada liang anusku. Lagipula sebenarnya rasanya
tak terlalu nikmat, juga tak sebanding dengan pedih yang akan kudapat.
Toh dengan mulut dan vaginaku, aku sudah dapat melayani dua orang
sekaligus.

“Nggghhh… mmmphhh”, aku melenguh namun suaraku segera tersumbat penis
Darso yang sedang kuoral. Tubuhku mengejang orgasme bersamaan dengan
ledakan sperma Reza pada liang vaginaku hingga aku agak kurang bisa
berkonsentrasi mengoral penis Darso. Reza pun mengerang keenakan, dan
mencabut penisnya dari liang vaginaku. Tubuhku masih bergetar
merasakan kenikmatan ini, dan kurasakan vaginaku sudah diterjang oleh
penis yang lain, dengan posisi kakiku yang sama seperti tadi.

“Eliza.. aku Wahyu..”, kata pemilik penis yang sudah tertelan
seluruhnya dalam liang vaginaku ini. “Mmmhh.. mmmhh…”, aku mencoba
melihatnya sambil melanjutkan mengoral penis Darso. Wahyu menggantikan
Reza memegang pergelangan kakiku yang terangkat ini, dan ia mulai
memompa vaginaku. Tak sehebat Reza memang, tapi ia juga mampu
membuatku kembali melayang dalam kenikmatan, walaupun sebenarnya dalam
hati kecilku aku tak rela tubuhku dinikmati banyak orang seperti ini.

Wahyu ini sebenarnya tampangnya lumayan, tapi rambutnya gondrong dan
ia agak dekil, selain itu tubuhnya biasa saja, tak atletis seperti
Reza. Dan kulitnya tentu saja hitam legam. Tiba tiba, semprotan sperma
Darso di dalam rongga mulutku cukup mengagetkanku, aku hampir saja
tersedak oleh cairan putih kental yang sudah mampir di tenggorokanku
ini. Setelah kutelan semuanya, dan membersihkan penis Darso dengan
lidahku, aku melepaskan penis Darso dari kuluman mulutku.

Ternyata Syamsul sudah mengantri di belakang Darso yang kini sudah
terduduk lemas. Tanpa basa basi Syamsul segera menyodorkan penisnya,
dan aku pun tak berkata apa apa, langsung mengulum penisnya. Syamsul
mendesah dan mengerang keenakan ketika aku mulai menyedot dan
menggigit kecil penisnya. Aku terus mempermainkan penisnya dalam
mulutku sambil merasakan penis Wahyu yang terus mengaduk liang
vaginaku dengan gencar.

Tiba tiba kurasakan remasan lembut pada payudaraku, aku mencoba
melihat siapa pelakunya, ternyata si Rudi, yang menatapku lagi lagi
dengan pandangan anehnya itu. Tapi aku memilih untuk berkonsentrasi
mengoral penis Syamsul. Kubiarkan saja Rudi melakukannya, meskipun ini
sebenarnya merugikanku. Dengan bertambahnya jumlah rangsangan pada
tubuhku, mungkin aku akan lebih mudah diantar ke orgasme oleh mereka,
dan ini berarti staminaku akan makin cepat terkuras.

Makin lama Rudi makin gencar merangsangku. Payudara kiriku diremasnya
lembut dengan tangan kirinya, sementara rambutku dibelai mesra dengan
tangan kanannya, seolah aku ini kekasihnya saja. Ia bahkan menciumi
telinga kiriku, leherku, dan yang paling membuatku kelabakan adalah
ketika Rudi mengulum puting payudaraku. Ini salah satu daerah yang
paling sensitif untukku. Syamsul yang sedang kuoral, juga ikut
membelai pipiku, mungkin karena ia juga ingin merasakan kemulusan
kulit pipiku.

Tubuhku bergetar menerima rangsangan dari 3 orang sekaligus seperti
ini. Aku mulai merintih, apalagi Hendra mulai merabai pahaku yang
terangkat tegak ini. Aku mulai menderita, kenikmatan terus mendera
tubuhku yang tak bisa banyak kugerakkan, hingga aku tak bisa
menggeliat bebas melepaskan hasratku untuk menggeliat keenakan. Dengan
mata yang serasa berkunang kunang aku hanya bisa pasrah melayani
mereka bertiga ini.

Tak lama kemudian, tanpa bisa kutahan lagi, aku kembali merasakan otot
vaginaku berkontraksi, dan tubuhku mulai mengejang ngejang. “Nggghhh…
ngggghhh…”, aku melenguh panjang, tubuhku tersentak sentak dalam
gumulan mereka bertiga ini. Apa yang kutakutkan terjadi juga, dengan
mudah mereka bertiga mengantarku menuju orgasme. Aku mulai kelelahan,
dan mereka tentu saja tak tahu, atau kalaupun mereka tahu, tentu saja
mereka tak akan perduli dengan keadaanku ini.

Wahyu makin gencar menyodok vaginaku sambil mengerang, rupanya ia juga
akan berejakulasi. Bersamaan dengan menyemburnya sperma Wahyu ke dalam
liang vaginaku, aku juga harus menelan sperma Syamsul yang juga
berejakulasi di dalam mulutku. Aku masih sedikit tersengal sengal
ketika aku menelan sperma ini, dan menyeruput sisa sperma yang
tertinggal pada penis Syamsul sampai penis itu benar benar bersih.
Kulepaskan kulumanku dari penis si Syamsul yang kulihat tersenyum
penuh kepuasan.

Wahyu juga melepaskan penisnya dari liang vaginaku. Kini kakiku
dibiarkan tergeletak di lantai, dan hal ini membantuku mengurangi rasa
pegal pada kakiku ini, walaupun kedua betisku rasanya capai sekali
setelah orgasme beberapa kali tadi. Selangkanganku rasanya sudah basah
tak karuan oleh lelehan sperma yang tertelan vaginaku, yang bercampur
dengan cairan cintaku. Kenikmatan ini sulit kulukiskan dengan kata
kata, yang jelas sekarang ini aku merasa seolah olah berada di awang
awang…

Aku mengingat ingat, Rudi, Darso, Syamsul, Rangga, Hendra, Reza,
Wahyu… sudah tujuh dari sembilan anak SMP ini yang mendapat jatah
menikmati vaginaku. Tinggal dua orang lagi, dan memang salah seorang
dari mereka sudah membuka pahaku lebar lebar, dan menerjangkan
penisnya ke liang vaginaku. Aku merasa nyaman dengan adukan penis yang
berukuran tanggung ini, juga Rudi yang masih menyusu pada payudara
kiriku, membuatku kembali tenggelam dalam kenikmatan ini.

“Aku Anton, Eliza”, kudengar suara pemilik penis tanggung ini. “Mmm…”,
aku masih malas membuka mata. Anton menggerakkan penisnya perlahan
seolah ingin menikmati sempitnya liang vaginaku. “Oh.. hangatnya
vaginamu, Eliza…”, bisik Anton. Aku hanya diam, sebenarnya aku tak
begitu terpengaruh oleh adukan penis Anton ini, aku lebih merasa
keenakan pada puting payudaraku yang kiri, yang terus dikulum dan
disedot oleh Rudi.

Seolah membalasku, Rudi juga memberikan gigitan kecil pada putingku,
membuatku mendesis merasakan kenikmatan ini. Tiba tiba kepalaku
sedikit terangkat, dan saat aku membuka mata, kepalaku sudah ada di
pangkuan Rangga. Ia membimbing dan mengarahkan kepalaku hingga
penisnya yang sudah menegang itu melesak masuk ke dalam mulutku. Aku
pasrah saja dan mengoralnya, dan tiba tiba aku terbeliak ketika
kurasakan puting payudara kananku juga dikulum oleh salah satu dari
mereka.

Aku mengarahkan mataku ke pelakunya, ternyata Syamsul. Maka kini aku
dikeroyok oleh empat orang sekaligus, dan mungkin karena ingin
menambah sensasi yang kurasakan ini, tiba tiba kedua tanganku
direntangkan dan kedua pergelangan tanganku dicengkeram oleh Rudi dan
Syamsul, hingga aku tak bisa bergerak lagi. Dan memang sensasi yang
kurasakan makin menghebat, aku mengerang dan merintih tak kuasa
menerima siksaan kenikmatan yang menderaku habis habisan.

Kini nafasku sudah mulai tersengal sengal ketika Anton mempercepat
genjotannya pada liang vaginaku sambil mengerang penuh kenikmatan.
Kurasakan kedutan penisnya, dan beberapa saat kemudian kurasakan
vaginaku kembali dibasahi sperma hangat. Anton mengerang panjang
sambil menarik lepas penisnya dari jepitan liang vaginaku. Aku tak
bisa istirahat, karena aku harus terus mengoral penis Rangga yang
masih belum mendapat jatah berejakulasi dalam mulutku.

Dan untuk lebih membuat diriku makin tenggelam dalam kenikmatan ini,
Har yang mendapat giliran terakhir menerjangkan penisnya senti demi
senti membelah liang vaginaku. “Mmmhhh…”, eranganku tersumbat oleh
penis Rangga yang terbenam dalam mulutku. “Ohh.. akhirnya Kahar dapat
giliraan…”, Kahar meracau keenakan ketika penisnya sudah tertelan
seluruhnya dalam liang vaginaku. Aku tak bisa bergerak sedikitpun,
apalagi menggeliat untuk melampiaskan kenikmatan yang melandaku ini.

Kurasakan penis Kahar ini panjang dan besar, dan ketika aku sudah
menyelesaikan tugasku mengoral Rangga sampai ia ejakulasi di dalam
mulutku, dan tentu saja setelah aku menelan spermanya, aku
menyempatkan diri melihat Kahar ini. Baru kusadari, Kahar ini tinggi
juga, dan badannya cukup besar, walaupun tak atletis. Selain itu
wajahnya juga sangat mengecewakan, tapi aku tak perduli dengan hal itu.

Kini aku tak bisa memikirkan apapun selain merasakan kenikmatan yang
amat sangat yang melanda vaginaku. Setiap genjotan Kahar memaksaku
merintih keenakan, apalagi kadang ia menyodok dalam dalam, membuatku
melayang didera kenikmatan yang luar biasa. Sensasi ini masih ditambah
dengan datangnya Hendra yang meminta jatahnya, dan dengan kepalaku
yang masih dipangku oleh Rangga, aku membuka mulutku dan Hendra segera
melesakkan penisnya untuk mendapatkan servis oral dariku.

Aku mulai mengejang perlahan, dan makin lama makin hebat. “Mmmmphh..
Nggghhhh… ooooghhh.. aduuuuhh…”, aku melepaskan kulumanku dengan mudah
dari penis Hendra yang berukuran kecil ini, dan aku memejamkan mataku
erat erat, kepalaku kugeleng gelengkan kuat kuat dan aku melenguh
lenguh tak tahan diterjang badai orgasme ini. Tubuhku terus mengejang
susul menyusul, vaginaku rasanya akan meledak saja. Dan mereka bertiga
ini tak sedikitpun mengendorkan aktifitas mereka

Perbuatan mereka membuat orgasme yang melandaku ini terus meningkat,
dan akhirnya mereka berhasil mengantarku menuju multi orgasme. Ada
beberapa menit tubuhku terus tersentak sentak, keringatku terus
membanjir deras, dan mereka seolah tak rela membiarkan orgasmeku ini
reda. Kakiku terus melejang tanpa henti, dan ketika aku sudah mulai
bisa mengontrol diri, Hendra kembali membimbing kepalaku seperti yang
dilakukan Rangga tadi, dan mulutku kembali sudah dijejali penisnya
Hendra ini.

Dengan lemas aku mengoral penis itu, dan kudengar Kahar melolong
panjang, rupanya pijatan liang vaginaku pada batang penisnya ketika
aku tadi mengalami multi orgasme, mempercepat Kahar mencapai puncak.
Semburan penis Kahar dalam liang vaginaku mengakhiri ronde pertama
ini, dan Rudi yang sejak tadi menglum dan menyedot payudaraku, sudah
akan memulai ronde kedua. Ia sudah memposisikan dirinya di depan
selangkanganku, dan aku agak panik juga.

Aku melepaskan kulumanku pada penis Hendra, dan dengan lemah aku
memohon, “Rud, jangan sekarang Rud, aku capai… nggghhh…”. Rudi
terlihat agak kecewa, tapi ia memenuhi permohonanku dan meletakkan
pahaku yang tadi sudah dilebarkannya. Tapi tanpa kuduga sama sekali,
Rudi tiba tiba merangsekkan kepalanya ke selangkanganku, dan mataku
terbeliak ketika kurasakan ia mencucup bibir vaginaku. Cairan cintaku
yang bercampur cairan sperma para pemerkosaku dalam liang vaginaku ini
disedot oleh Rudi.

Hal ini membuatku menggeliat hebat. “Aaaaakh… Oooohhh…”, aku merintih
dan mengerang, aku merasa seolah olah seluruh organ dalam tubuhku
hendak disedot semuanya oleh Rudi. Pinggangku sampai terangkat angkat
dan melengkung, aku memejamkan mataku dan menikmati semua ini sepuas
puasnya. Tiba tiba Rudi menghentikan sedotannya. Aku mengeluh dan
membuka mataku, dan aku melihat Rudi dengan mulut yang terlihat penuh,
sudah akan mencium mulutku.

Aku melepaskan kulumanku pada penis Hendra. Rudi memagut bibirku, dan
cairan cairan dari liang vaginaku yang tertampung dalam mulut Rudi
segera berpindah ke mulutku. Aku menikmati rasa cairan itu, rasanya
seluruh rongga mulutku dan lidahku sudah terlumuri cairan itu, yang
tentu saja bercampur juga dengan air ludah dari Rudi. Tapi aku tak
perduli, karena bagiku rasanya benar benar nikmat. Selagi aku
menikmati semua ini, kurasakan telapak tangan kiriku digenggamkan pada
sebatang penis.

Ternyata Hendra ingin aku mengocok penisnya. Perlahan kugerakkan
tanganku mengocok penis dari Hendra ini, dan pemiliknya mulai
mengerang keenakan. Dan sesaat kemudian kedua puting payudaraku sudah
ada yang mengulum, ternyata Reza dan Wahyu yang sekarang ganti menyusu
pada kedua payudaraku. Rudi yang sudah selesai melolohi aku dengan
segala macam cairan dari mulutnya, kembali bergerak menuju
selangkanganku, dan sekali lagi ia mencucup bibir vaginaku.

Untung saja aku sudah menelan semua cairan dalam mulutku, karena aku
pasti sudah tersedak kalau mulutku masih terisi cairan tadi ketika aku
kembali terlonjak lonjak keenakan seperti sekarang ini . Telapak
tangan kananku digenggam lembut oleh Rangga yang masih memangku
kepalaku ini. Ia juga membelai rambutku dengan mesra. Aku memandangnya
dengan sayu, kini aku hanya bisa pasrah, aku sudah terlalu lelah untuk
bergerak meskipun kenikmatan terus melanda selangkanganku.

Tiba tiba aku mendengar erangan Hendra dan aku menoleh. Aku melihat
Hendra berkelojotan, dan ketika erangannya makin keras, ia buru buru
menarik penisnya dari genggamanku dan aku hanya bisa membuka mulutku
dengan pasrah dan membiarkan mulutku dijejali penis Hendra. Sambil
mengerang panjang, Hendra langsung menyemburkan sperma hangatnya ke
dalam mulutku.

Aku mengulum dan membersikan penis itu dan menelan semua sperma yang
menggenangi mulutku. Akhirnya erangan Hendra berhenti, dan dengan
lemas ia menarik penisnya lepas dari mulutku, kemudian ia roboh
kehabisan tenaga. Nafasnya tersengal sengal, tapi ia tersenyum puas
kepadaku. Aku memalingkan wajahku ke Rudi yang baru saja menghentikan
sedotannya. Aku merasa vaginaku sudah bersih dari cairan cairan tadi.
Rudi kembali mendekatkan mulutnya ke wajahku.

Aku membuka mulutku dan kembali aku dilolohi seperti tadi, cuma kini
cairan yang mengalir ke mulutku tak sebanyak yang sebelumnya. Setelah
selesai, tanpa memberiku kesempatan menelan cairan itu, Rudi langsung
memagut bibirku dengan ganas. Aku kelabakan, dan cepat cepat berusaha
menelan semua cairan dalam mulutku ini supaya aku tak sampai tidak
tersedak. Setelah aku menghabiskan sperma yang bercampur cairan
cintaku itu, kubalas pagutan Rudi sampai kami berdua sama sama
kehabisan nafas.

Aku dan Rudi saling melepaskan pagutan kami. Kini aku mendapat
kesempatan mengistirahatkan tubuhku. Kubiarkan Reza dan Wayhu terus
menyusu pada kedua payudaraku sepuas hati mereka. Aku berusaha
mengatur nafasku yang tersengal sengal, juga kubiarkan kepalaku
tergeletak di pangkuan Rangga, yang terus membelai rambutku dengan
lembut. Aku merasa nyaman dengan posisi ini, dan kubiarkan saja Rangga
melakukan apa saja yang dia suka terhadapku.

“Capai ya Eliza?”, Rangga berbisik padaku. Aku mengangguk lemah. Aku
hanya sempat beristirahat kurang lebih lima menit saja, dan kini aku
kembali dikerubuti oleh mereka semua. Mereka mengajakku ngobrol, yang
tak kutanggapi dengan lemas karena aku masih kelelahan. Walaupun
begitu aku berusaha menjawab setiap pertanyaan mereka dengan sopan,
karena aku tak mau mereka berubah menjadi kasar padaku nanti pada saat
mereka menggilirku di ronde berikutnya.

Aku sempat memperhatikan, sinar matahari sudah mulai redup, entah jam
berapa sekarang ini. Entah sudah berapa lama aku melayani mereka
semua. Selagi mereka terus berbicara, kurasakan rabaan pada sekujur
tubuhku oleh anak anak SMP ini. Kedua tanganku sudah terentang dan tak
luput dari rabaan juga. Jantungku mulai berdegup kencang merasakan
rangsangan yang bertubi tubi ini, apalagi ketika Rudi dengan nakal
menjilati bibir vaginaku.

“Nggghh…”, aku melenguh dan tubuhku kembali bergetar, Rasanya vaginaku
sekarang ini dalam keadaan sangat sensitif, dan sedikit sentuhan saja
sudah amat merangsangku hingga gairahku langsung bergejolak. “Enak ya
Eliza?”, tanya Rudi. Aku diam saja, mukaku terasa panas. “Kalau diam,
itu berarti memang enak”, kata Rudi lagi. Ia lalu melanjutkan
jilatannya, membuat tubuhku perlahan terasa makin panas.

“Oohh… tolong hentikan Rud… aku masih capai…”, keluhku. Tapi Rudi tak
perduli, dan meneruskan jilatan itu. Sesekali lidahnya menusuk nakal,
sedikit membelah liang vaginaku. Aku menggigit bibir dan memejamkan
mataku erat erat. Lama kelamaan aku tak kuat lagi. Tubuhku sudah
terlanjur merespon setiap rangsangan ini, dan perlahan aku menggeliat
diikuti tawa mereka, tapi aku tak bisa menghentikan gerakan tubuhku
yang sudah di luar kontrolku.

“Tadi minta berhenti… sekarang gimana Eliza? Yakin nih mau berhenti?”,
tanya salah seorang dari mereka. Aku tak bisa menjawab, rasanya mukaku
makin panas saja. Mereka tertawa tawa dan terus merabai setiap centi
dari tubuhku. Akhirnya aku larut juga oleh sentuhan sentuhan itu, dan
ketika Syamsul memagut bibirku, aku reflek balas memagutnya. Diiringi
sorakan mereka, kami berdua berciuman dengan panasnya.

Akhirnya Syamsul melepas pagutannya dariku dengan nafas tersengal
sengal. Aku bukannya baik baik saja, irama nafasku pun sudah tak
karuan dan mataku sudah berkunang kunang. Sesaat kemudian, Kahar
mendekat, rupanya ingin merasakan bibirku juga. Benar saja, Kahar
segera memagut bibirku, membuatku kelabakan, dan aku merasakan
tanganku yang terentang ini kembali dicengkeram di bagian pergelangan
tanganku, ketika aku menggapai gapai berusaha mendorong wajah Kahar
untuk melepaskan pagutannya.

Kedua pergelangan kakiku yang juga dalam keadaan terpentang ini juga
dicengkeram entah oleh siapa. Maka aku hanya bisa menyerah pasrah
membiarkan Kahar memuas muaskan dirinya memagut bibirku. “Mmmphh..”,
aku hanya bisa merintih tak jelas, dadaku makin lama makin terasa
sesak. Ketika Kahar melapaskan pagutannya, aku megap megap kehabisan
nafas. “Oooh… sebentar… aku…”, aku mengeluh dan berusaha mengatur nafasku.

Tapi aku kembali harus tersengat oleh ulah Rudi yang kini malah
mencucup bibir vaginaku. “Ngggh… Ruuud.. janganhhh.. ooooh”, aku
melenguh lenguh. Anton mendekatkan bibirnya padaku, membuatku meronta
panik. “Jangan… tunggu… oooh… mmpphh…”, kata kataku tersumbat ketika
bibirku dipagut Anton dengan ganas. Aku terus meronta, tapi semuanya
tak ada artinya. Setelah Anton puas memagut bibirku, kini ganti Darso
yang menginginkan bibirku.

“Aggh.. tolong tunggu sebentaar…. Aku mmmppph….”, aku tak bisa
meneruskan kata kataku karena Darso sudah melumat bibirku. Aku mulai
lemas dan menderita karena tak bisa bernafas. Setelah Darso selesai
melumat bibirku, aku langsung memalingkan wajahku ke perut Rangga, dan
aku terbatuk batuk kehabisan nafas. Aku mulai menangis dan memohon,
“Tolong jangan beginii.. biarkan aku bernafas dulu… aku udah nggak
kuat lagi…”.

Aku benar benar berharap mereka mengasihani aku, dan untungnya
kelihatannya mereka iba melihatku menangis, dan aku dibiarkan
istirahat beberapa detik, bahkan Rudi pun menghentikan ulahnya yang
sangat merangsangku, hingga aku mendapat kesempatan memulihkan nafas
yang sudah sangat tersengal sengal ini. Dan setelah aku terlihat agak
enakan, Hendra segera menyerbu dan melumat bibirku habis habisan

Rudi pun kembali melanjutkan ulahnya menjilati dan mencucup bibir
vaginaku, Setelah Hendra puas melumat bibirku, Reza melepaskan
cucupannya pada puting payudaraku yang kanan, lalu ia sempat menunggu
beberapa saat sebelum memagut bibirku. “Mmmmh…”, aku memejamkan mataku
menikmati pagutan Reza, lidah kami saling bertautan hingga air ludah
Reza mengalir cukup banyak ke dalam mulutku.

Setelah Reza puas, kami saling melepaskan pagutan kami, dan nafasku
kembali tersengal sengal dan aku harus cepat cepat menelan air ludah
Reza yang menggenangi rongga mulutku, juga mengatur nafasku. Kini
ganti Wahyu yang melepaskan cucupannya pada putting payudaraku yang
kiri, dan setelah aku kelihatan bisa bernafas, Wahyu segera memagut
bibirku dengan ganas. Aku agak kelabakan, karena Wahyu cukup lama
memagut bibirku dan keadaan ini kembali membuatku menderita.

Aku mulai meronta, tapi aku sama sekali tak bisa bergerak. Untungnya
hal ini agaknya menyadarkan Wahyu, dan ia pun melepaskan pagutannya
dari bibirku. Aku terbatuk batuk dan dan megap megap berusaha
menghirup udara yang sama sekali tidak segar ini, tapi aku tak punya
pilihan lain. Setelah keadaanku terlihat lebih baik, Rangga mengangkat
kepalaku yang sejak tadi terbaring di pangkuannya, dan ia memagut
bibirku sepuas puasnya.

Kini setelah semua mendapatkan kesempatan melumat bibirku, aku tahu
ronde kedua sudah akan dimulai ketika kedua pahaku dilebarkan oleh
Rudi. Mereka mengatur posisi mereka untuk bersama sama menikmati
tubuhku. Rangga tetap memangku kepalaku dari sebelah kanan, dan ia
terlihat senang sekali membelai kedua pipiku, mungkin karena kulit
pipiku yang putih mulus ini. Darso kini mencucup puting payudaraku
yang sebelah kiri, sedangkan Syamsul mendapatkan puting payudaraku
yang sebelah kanan.

Dan untuk membuatku tak berdaya, pergelangan tangan kiriku dicengkeram
oleh Hendra, dan pergelangan tangan kananku dicengkeram oleh Reza.
Juga pergelangan kaki kiriku dicengkeram oleh Anton, dan pergelangan
kaki kananku dicengkeram oleh Kahar. Wahyu menghirupi rambutku yang
terurai ke sebelah kiriku, aku tidak mengerti apa asyiknya, tapi Wahyu
kelihatan amat senang. “Eliza.. kita lanjutin ya…”, kata Rudi
perlahan, ia menatapku penuh nafsu. Aku mengangguk perlahan dan
menatap sayu pada Rudi.

Dengan perlahan Rudi membenamkan penisnya ke dalam liang vaginaku, dan
aku kembali memejamkan mata, berusaha menikmati saat saat terbelahnya
liang vaginaku ini. Setelah penisnya tertelan seluruhnya dalam liang
vaginaku, Rudi mulai memompa vaginaku, membuatku melenguh lenguh
keenakan, “Ngghhh.. ohhh Ruuud… aaah…”. Rudi tertawa puas dan
terdengar sekali kebanggaan dalam tawanya itu karena dia bisa
membuatku keenakan seperti ini. Cairan cintaku sudah mulai keluar,
melumasi liang vaginaku ini.

Sensasi yang kudapat kali ini bertambah dahsyat karena aku merasa
sangat tak berdaya dengan kedua pergelangan tangan dan kakiku yang
tercengkeram erat, hingga aku tak bisa menggeliat dengan enak dan
bebas, hanya kepalaku yang terbaring di pangkuan Rangga yang bisa
sedikit kugerakkan. Kurasakan remasan lembut oleh Darso dan Syamsul
yang sedang asyik menyusu di kedua payudaraku, membuatku menggelinjang
keenakan.

Selain itu, belaian tangan Rangga pada kedua pipiku dan ulah Wahyu
yang menghirup hirup rambutku, semua itu makin dalam menengggelamkanku
dalam kenikmatan. “Nggghhh… aduuuh….”, aku terus melenguh keenakan
merasakan rangsangan bertubi tubi pada sekujur tubuhku ini. Gairahku
terus naik, dan aku makin tak bisa mengontrol gerakan tubuhku, yang
mulai mengejang tak karuan menahan siksaan kenikmatan birahi yang
nyaris tak tertahankan ini.

Tapi sayangnya, Rudi tak butuh waktu lama untuk berejakulasi dalam
liang vaginaku, ia menghunjamkan penisnya sekuatnya dan tubuhnya
bergetar getar . “Ooohh… Elizaaa”, ia mengerang panjang meneriakkan
namaku dan menembakkan spermanya, dan rasanya hanya sedikit sperma
yang dikeluarkannya. Aku mengeluh pendek dan membuka mataku,
menatapnya dengan pandangan kecewa. Sebenarnya kalau Rudi mampu
menggenjotku beberapa lama lagi, mungkin saja aku juga akan menggapai
orgasmeku.

Tapi aku tak berkata apa apa, dan begitu Rudi melepaskan penisnya dari
jepitan liang vaginaku, Darso langsung mengambil posisinya di
selangkanganku menggantikan Rudi. Puting payudaraku yang sebelah kiri
ini tak menganggur lama. Mereka bekerja sama dengan kompak untuk
membuatku terus menerus dalam keadaaan terangsang hebat dan tak
berdaya untuk bergerak bebas.

Hendra langsung melahap puting payudaraku yang sebelah kiri. “Yu,
minggir Yu. Mau ngerasain sepongan Eliza aku!”, Rudi menyuruh Wahyu
memberikan tempatnya. Wahyu menghirup rambutku dalam dalam, kemudian
beranjak memberikan tempatnya pada Wahyu dan menggantikan Hendra
mencengkeram pergelangan tangan kiriku.

Darso sendiri mulai memompa vaginaku, dan aku terus mengeliat walaupun
tertahan oleh mereka. Rudi menempelkan penisnya di bibirku, dan aku
langsung melahap penis itu. Aku mengulum dan menjilati sisa sperma
dari penis yang sudah melembek ini. “Aduh… enaaaaak…”, Rudi mengerang
erang keenakan ketika aku menyeruput semua sisa sperma itu sampai
bersih, dan ia ambruk di sebelahku. Tepat ketika ia tergeletak di
lantai, Darso juga sudah berejakulasi. “Oooohh…. enaknya memekmu
Elizaa…”, erang Darso.

Aku agak sebal dan kecewa karena tadi juga gairahku yang belum terlalu
turun, sesungguhnya sudah naik cepat ketika Darso memompa vaginaku.
Tapi lagi lagi aku tak sempat menggapai orgasmeku sedangkan
pemerkosaku sudah orgasme duluan saat vaginaku baru mulai berdenyut
denyut. Rasanya menjengkelkan sekali deh. Tapi aku cuma bisa diam
saja. Yah, mau bagaimana lagi? Aku hanya bisa pasrah dan diam saja
memendam kekecewaanku.

Syamsul beranjak mendekati selangkanganku dengan langkah gontai.
Meskipun kelihatan lemas dan lelah, tapi penis yang panjangnya kira
kira 15 cm dan sudah ereksi dengan gagah itu tetap diterjangkan
pemiliknya, mengoyak dan mengaduk aduk liang vaginaku, mendatangkan
rasa nikmat yang luar biasa pada vaginaku. Dan Reza sudah menggantikan
Syamsul mencucup puting payudaraku yang sebelah kanan ini, sedangkan
Kahar menggantikan Reza mencengkeram pergelangan tangan kananku.

Rudi yang sedang tergolek lemas itu merayap mendekati pergelangan kaki
kananku, dan mencengkeram ala kadarnya, tapi sudah cukup untuk kembali
membuatku tak mampu bergerak bebas. Sementara itu, Hendra dan Reza
makin bersemangat mencucup dan menyedot kedua puting payudaraku. Darso
menagih jatahnya, memintaku mengoral penisnya yang masih belepotan
sperma itu, dan aku segera melahap penis si Darso ini.

Keadaanku sudah benar benar tak karuan digangbang oleh anak anak SMP
ini. Kesembilan anak SMP ini menguasai tubuhku sepenuhnya. Empat dari
mereka mencengkeram kedua pergelangan tangan dan kakiku, yang satu
memangku kepalaku, satu menyusu di payudaraku yang kiri dan satu lagi
menyusu di payudaraku yang kanan. Dan yang pasti, satu lagi memompa
liang vaginaku, dan satu lagi menikmati servis oral dariku.

Aku sendiri merasakan sensasi yang luar biasa diperlakukan seperti ini
dan aku pasrah saja mengikuti kemauan mereka semua. Dan sekarang,
seperti Rudi, Darso juga mengerang keenakan ketika aku membersihkan
penisnya yang belepotan sperma. Tubuhnya sampai mengejang ngejang
ketika aku mencucup dan menyedot penisnya, dan begitu kuluman itu
kulepaskan, Darso langsung roboh, terlihat jelas selain keenakan ia
juga kelelahan.

Ketika kulihat Rudi dan Darso yang sudah ambruk itu kelihatan malas
bangun lagi, aku jadi punya harapan, ronde ke dua ini merupakan ronde
terakhir dan aku segera bebas dari mereka. Kini perhatianku kembali
terfokus pada Syamsul yang dengan menggebu gebu memompa vaginaku.
“Ngghhh… Suull…”, aku melenguh dan menggeliat keenakan, apalagi
ditambah gigitan kecil pada kedua puting payudaraku, membuat aku
menggeleng gelengkan kepalaku kuat kuat, tak kuasa menerima segala
rangsangan ini.

Tapi sayangnya, bahkan Syamsul yang tadi di ronde pertama cukup
perkasa, kali ini hanya sekitar 5 menit saja ia sanggup memompaku, dan
ia sudah berejakulasi. Kembali aku tenggelam dalam kekecewaan. Lagi
lagi aku hampir menggapai orgasmeku, tapi gagal lagi karena Syamsul
terlalu cepat berejakulasi. Kini Rudi menggantikan Rangga untuk
memangku kepalaku, sedangkan Darso menggantikan Rudi mencengkeram
pergelangan kaki kananku. Rangga sendiri beranjak ke selangkanganku.

Rupanya mereka sudah mengatur urutan mereka untuk menikmati liang
vaginaku di ronde ini supaya sama persis dengan di ronde pertama tadi.
Tak lama kemudian liang vaginaku segera terbelah oleh penis Rangga.
“Ssshhh…”, aku mendesis, dan Rangga segera menggenjotku habis habisan.
Sementara itu, Rudi yang sudah memangku kepalaku membelai rambutku
dengan lembut dan mesra, membuatku sedikit merasa nyaman.

Dan di selangkanganku, setelah liang vaginaku beradaptasi dengan penis
Syamsul yang lebih panjang dan lebih besar, sodokan penis Rangga yang
lebih kecil dan lebih pendek dari milik Syamsul ini tak terlalu
mempengaruhiku. Walaupun begitu aku sama sekali tak bisa beristirahat,
karena sejak tadi Hendra dan Reza terus mempermainkan kedua
payudaraku. Tak hanya menyusu, mereka berdua juga meremasi payudaraku
dengan lembut, sehingga aku terus menerus berada dalam keadaan
terangsang hebat.

Namun aku tak pernah mencapai orgasme, sejak tadi para pemerkosaku tak
ada yang sanggup untuk cukup lama memompa vaginaku. Hal ini sebenarnya
sangat menyiksaku. Baik dengan Rudi, Darso dan Syamsul tadi,
sebenarnya vaginaku sudah berdenyut denyut, tapi sebelum aku mencapai
orgasme, mereka sudah berhenti memompaku. Aku tahu mereka bukannya
sengaja mempermainkanku seperti yang dilakukan pak Basyir penjaga
vilaku dulu.

Mereka berhenti memompaku karena mereka memang sudah berejakulasi.
Selain itu mereka pasti sudah sangat terangsang , karena sejak tadi
mereka melihat tubuh indah seorang amoy cantik yang tersaji polos
untuk mereka, yang kini sudah sama sekali tak berdaya dengan kedua
pergelangan tangan dan kakiku yang dicengkeram erat oleh mereka,
membuat mereka tak mungkin bisa bertahan untuk berlama lama memompa
vaginaku.

Dan sekarang ini paling tidak sudah lebih dari 5 menit Rangga
menggenjot vaginaku. Rangga tampaknya begitu menikmati jepitan liang
vaginaku pada penisnya. Aku hanya menyandarkan kepalaku di pangkuan
Rudi, membiarkan Rangga terus menggenjotku sampai ia mulai mengejang
hebat.”Ohhh… Elizaa… enaaknyaaa….” , erang Rangga, dan ia menyemprotkan
spermanya bertubi tubi, sedangkan aku hanya merasa nyaman dengan
hangatnya sperma Rangga yang melumuri liang vaginaku.

Rangga menarik lepas penisnya dari vaginaku, dan segera memintaku
mengoral penisnya. Mulutku kembali dijejali sebatang penis, yang kali
ini cukup kecil dan memudahkanku untuk melakukan kuluman pada seluruh
permukaan penis ini, dan Rangga mulai menggeliat keenakan dan sedikit
menggerak gerakkan penisnya dalam rongga mulutku yang kini belepotan
oleh sisa sperma yang masih melekat di penis Rangga.

Baru saja aku mulai mengulum penis Rangga, vaginaku sudah harus
menelan sebatang penis. Aku sempat melihat, kali ini Hendra yang
mengaduk aduk liang vaginaku. Seperti Rangga, Hendra sama sekali tak
bisa membuatku tenggelam dalam kenikmatan. Penis mereka ini berukuran
kecil. Sambil terus mengulum dan menyedot penis Rangga, diam diam aku
merasa geli, tak pernah terbayangkan olehku aku akan diperkosa anak
SMP, dan baru hari ini aku beberapa kali merasakan vaginaku diaduk
oleh penis berukuran pendek.

“Ssshh..”, aku mendesah pasrah ketika Wahyu mencucup puting
payudaraku yang kiri. Sedang Anton menggantikan Wahyu mencengkeram
pergelangan tangan kiriku dan Syamsul mencengkeram pergelangan kaki
kiriku. Sementara itu, Rangga terus mengerang keenakan, dan tiba tiba
ia berkata setengah menjerit, “Sudaah.. sudah Elizaaa… ooooohh….”. Aku
melepaskan kulumanku, dan Rangga langsung ambruk tak berdaya, ia
terlihat sangat lemas.

Selagi Hendra masih menggenjotku, aku menggunakan kesempatan ini untuk
mengistirahatkan mulutku, yang rasanya pegal juga karena sejak tadi
kupakai untuk mengoral penis penis dari berbagai ukuran ini. Tapi aku
tak bisa berlama lama, karena beberapa saat kemudian Hendra sudah
mengerang panjang dan menembakkan spermanya di dalam liang vaginaku.
Beberapa saat tubuhnya berkelojotan, kelihatan sekali ia merasakan
kenikmatan yang amat sangat. (*)

Hendra mencabut penisnya dari jepitan liang vaginaku, dan ini berarti
sudah ada tugas lagi untuk mulutku. Aku segera melahap penis Hendra,
dan aku mulai mengulum dan menyedot penis itu kuat kuat hingga Hendra
melolong lolong, “Oooohh.. Elizaaaa… huuuunnngggghhhh. .” Selagi aku
mengulum penis Hendra, kurasakan liang vaginaku diterjang sebatang
penis, dan pemiliknya menyodokkan penisnya yang panjang itu dengan
kuat, membuatku melenguh di antara kegiatanku mengulum penis milik Hendra.

“Nggghhh.. mmmm… mmmhh…”, aku melenguh keenakan sambil terus mengulum
dan menyedot penis di mulutku ini, dan Hendra menggeliat hebat.
“Ooooonggghhhh. . ampun Elizaaa…”, Hendra melolong keenakan ketika aku
menyedot penisnya kuat kuat. Aku melepaskan kulumanku, dan Hendra
segera ambruk, ia terlihat begitu malas untuk bangun. Dan kini, ketika
kurasakan vaginaku dimanjakan sodokan yang kadang lembut dan kadang
menyentak, aku sudah tahu, sekarang ini pasti Reza yang sedang
menyetubuhiku.

“Oh.. Rezaa.. nggghh.. enaak…”, aku kembali melenguh. Reza
memperlambat genjotannya, dan tubuhku bergetar hebat menahan nikmat
ini. “Oooh.. terus Rezaa..”, nafsu birahi yang sudah menguasai diriku
sepenuhnya ini membuat aku tak lagi malu malu untuk meminta dipuaskan
oleh Reza. “Enak ya Eliza?”, bisik Reza yang sudah menindihku. “Iyaa..
oooh… aku… mmmppphh….”, Reza memagut bibirku dan aku balas memagut
bibirnya sepenuh hati.

Memang di antara mereka ini, seandainya aku harus memilih, aku pasti
akan memilih Reza. Walaupun kulitnya hitam, tapi ia tampan juga,
selain itu tubuhnya atletis menggairahkan. Reza menyetubuhiku sambil
terus mencumbuiku, membuat aku makin tenggelam dalam kenikmatan. Kahar
sudah mencucup puting payudaraku yang kanan, sedangkan Darso
mencengkeram pergelangan tanganku yang sebelah kanan. Rangga juga
sudah mencengkeram pergelangan kakiku yang sebelah kanan.

Terangsang hebat dan rasa tak berdaya ini benar benar membuatku
melayang dalam kenikmatan. Akhirnya orgasme yang sudah kunanti sejak
tadi kudapatkan juga. Tubuhku mengejang hebat, kedua kakiku melejang
lejang, pinggangku melengkung dan aku melenguh lenguh keenakan,
“Ngggghhhh…. Nggghhh… aduuuuh Rezaaa.. ooooohhh….”. Cairan cintaku
membanjir, membuat selangkanganku terasa amat nikmat. Aku ingin
memeluk Reza, tapi kedua pergelangan tanganku yang terentang ini tak
bisa kugerakkan, kedua pergelangan tanganku tertahan dengan erat.

Walaupun agak sebal, tapi perasaan tak berdaya ini malah menambah
nikmat yang kurasakan. Beberapa kali tubuhku tersentak sentak.
“Oohhh.. Elizaa… memekmu ini enaaaaak…..”, Reza mengerang panjang.
Nikmat ini makin hebat rasanya ketika penis Reza berkedut keras dan
spermanya yang hangat itu menyembur dengan deras membasahi liang
vaginaku. “Ngghhhh… oooohhh…”, aku sendiri kembali melenguh keenakan,
vaginaku berdenyut denyut dan kini aku terkulai lemas. Tenagaku sudah
hampir habis rasanya, entah apa aku kuat melalui semua ini.

Nafasku tersengal sengal serasa hampir putus. Keadaan Reza sendiri tak
lebih baik, keringat di tubuhnya membanjir deras dan bercampur dengan
keringatku membasahi tubuhku. Nafas Reza masih terdengar memburu, tapi
Reza masih ingin mencumbuiku, ia kembali memagut bibirku dengan mesra.
Aku memejamkan mataku dan dengan penuh penyerahan kubiarkan Reza
mencumbuiku sepuas hatinya. Air ludah Reza terus mengalir ke mulutku,
dan aku tanpa merasa jijik terus menelannya supaya aku tidak tersedak.

“Gantian Rez!”, gerutu Wahyu yang sudah kelihatan tak sabar menanti
gilirannya. Reza yang baru sadar kalau masih ada Wahyu, Anton dan
Kahar yang menanti gilirannya, mencabut penisnya dari jepitan liang
vaginaku, tapi ia menyempatkan diri untuk merangsekkan kepalanya ke
selangkanganku. Dan aku segera dibuat Reza terbeliak dan melenguh
keenakan ketika Reza mencucup bibir vaginaku kuat kuat. “Ngghhh.. aduh
Reeezz….”, aku terus melenguh dan menggeliat sampai akhirnya Reza
berhenti menyedot vaginaku.

Reza lalu dengan mulut yang agak menggembung, mendekati wajahku. Aku
tahu apa maunya, kuterima ciuman Reza dengan senang hati, dan campuran
segala macam cairan yang mengalir dari mulut Reza itu kutelan
semuanya. Setelah cairan itu habis, aku masih saja memagut bibir Reza.
“Mppphh…”, aku merintih tertahan ketika Wahyu melesakkan penisnya ke
dalam liang vaginaku. “Ooohh.. memang enaaak…”, Wahyu meracau penuh
kenikmatan merasakan jepitan otot vaginaku pada batang penisnya.

Anton sudah mencucup putting payudaraku yang kiri, sedangkan
pergelangan tangan kiriku dicengkeram oleh Syamsul. Hendra
menggantikan Syamsul untuk mencengkeram pergelangan kaki kiriku. Kini
Wahyu mulai memompa liang vaginaku, dan aku merintih keenakan. Batang
penis Wahyu ini hampir sama ukurannya dengan milik Reza, dan
mendatangkan kenikmatan yang hampir sama pula. Aku terus menikmati
sodokan penis Wahyu dalam liang vaginaku, sambil terus berpagut mesra
dengan Reza.

Kedua payudaraku masih terus dipermainkan Anton dan Kahar. Perasaan
terangsang hebat yang melanda sekujur tubuhku ini membuatku ingin
menggeliat sekuatnya. Tapi tentu saja hal itu tak bisa kulakukan
karena kedua pergelangan tangan dan kakiku dalam keadaan tercengkeram
erat, dan aku hanya bisa memejamkan mataku menikmati semua ini. Kini
perasaan tak berdaya yang kurasakan ini makin menambah sensasi
kenikmatan yang menderaku.

Reza melepaskan pagutannya pada bibirku, dan ketika aku membuka mata,
kulihat penis Reza yang masih belepotan sperma itu sudah berada di
depan mulutku. Langsung saja aku melahap penis itu, dan aku mengulum
dengan sepenuh hati. Kubersihkan seluruh batang penis itu dari sisa
sperma, kujilati memutar dan kusedot sampai bersih. Pemiliknya sudah
melenguh lenguh keenakan, “Sudah Elizaaa.. ampuuun…. enaknyaaaa….” .
Aku melepaskan kulumanku ketika Reza menjerit minta ampun dan Reza
langsung ambruk, tubuhnya bergetar getar merasakan sisa kenikmatan tadi.

Aku kembali tersenyum geli, dan kini aku menikmati genjotan Wahyu yang
amat gencar ini. Tiba tiba aku mendapati Kahar menempelkan penisnya ke
mulutku. Aku memandangnya heran, dan Kahar berkata, “Sekalian
pemanasan, Eliza. Dioral ya..”. Gayanya itu seperti memerintah
budaknya saja, membuatku sedikit sebal. Tapi aku membuka mulutku juga,
dan Kahar langsung menjejalkan penisnya yang hanya basah oleh cairan
bening.

Hal ini menunjukkan ia sudah amat terangsang hingga tubuhnya secara
alami mengeluarkan cairan yang melumuri penisnya. Aku kini menjilati
dan menyedot cairan yang tak terlalu banyak itu, sekaligus mencoba
ketahanan Kahar ini. “Oooohh…. Oooooh….”, Kahar melenguh keenakan,
bahkan ia menggerak gerakkan pinggulnya hingga penisnya menyapu
seluruh rongga mulutku. Aku terus mengoralnya, dan vaginaku rasanya
berdenyut kembali setelah cukup lama dipompa Wahyu.

Darso mencucup puting payudaraku yang kanan, sedangkan Rangga
mencengkeram pergelangan tangan kananku. Reza yang baru saja ambruk
merayap dan menggantikan Rangga mencengkeram pergelangan kaki kananku.
Sementara itu Wahyu sudah mengerang ngerang. “Aaaah… Elizaaaa..”,
erang Wahyu dengan penuh kenikmatan, ia menyodokkan penisnya dalam
dalam, seolah ingin menyemprot bagian terdalam dari liang vaginaku
dengan spermanya.

Mungkin denyutan otot vaginaku membuat Wahyu terangsang hebat dan tak
kuat berlama lama menggagahiku. Kahar menarik penisnya dari kuluman
mulutku, mempersilakan Wahyu untuk mendapatkan servis oral dariku.
Bersamaan ketika Wahyu menjejalkan penisnya ke dalam mulutku, Kahar
juga mengoyak liang vaginaku dengan penisnya. “Nggghhh..”, aku
terhenyak dan melenguh, dan yang menguatirkanku, kini aku mulai
merasakan sedikit sakit pada liang vaginaku.

Aku cepat cepat membersihkan sisa sperma dari penis Wahyu, yang
kemudian langsung ambruk dan bertukar tempat dengan Anton. Untungnya
Anton yang langsung menjejalkan penisnya ke dalam mulutku ini berkata,
“Eliza, aku keluarin di mulutmu ya.. sudah gak nahan nih dari tadi
liat pemandangan di selangkanganmu sana..”. Aku segera mengoral penis
Anton dengan sisa sisa tenagaku, sementara kurasakan selangkanganku
didera rasa sakit yang bercampur nikmat.

Beberapa menit aku melayani dua penis ini, akhirnya mereka berdua
mulai berkelojotan. Aku berharap mereka segera ejakulasi, karena
mulutku sudah sangat capai rasanya, dan vaginaku entah kenapa mulai
terasa pedih. “Huuuungghhh… huoooooohhh” , beberapa saat kemudian baik
Anton maupun Kahar melolong lolong, dan dengan bersamaan mereka berdua
menyemprotkan spemma mereka berdua diiringi erangan panjang yang
merupakan ekspresi kenikmatan mereka.

Tiba tiba Kahar mencucup bibir liang vaginaku, hingga aku terlonjak
lonjak antara geli dan terangsang hebat. Cairan yang menggenangi liang
vaginaku rasanya disedot habis oleh Kahar, dan Anton dengan penisnya
yang sudah kubersihkan itu sudah terkulai lemas. Aku sudah sangat
lemas, dan ketika Kahar memagut bibirku aku hampir saja terlambat
menelan semua cairan itu, dan hampir saja aku tersedak.

Setelah Kahar selesai melolohiku dengan campuran sperma, cairan
cintaku dan air ludahnya dia sendiri, ia tergeletak lemas, mereka
semua juga melepaskan semua cengkeraman mereka padaku, dan kedua
puting payudaraku yang basah tak karuan oleh air ludah mereka semua
juga terbebas. Kami semua tergeletak lemas, tenaga sudah terkuras
habis. Aku berusaha memulihkan nafasku yang tersengal sengal ini.

Melihat mereka kondisinya sudah kelelahan semua, aku makin yakin ronde
ke dua ini sudah berakhir. Tapi rupanya aku terlalu cepat senang. Tiba
tiba kudengar deru sepeda motor, dan ketika aku menoleh ke arah suara
itu, bukan hanya satu, aku melihat tiga sepeda motor sekaligus, yang
memasuki rumah kosong ini. Ketiga pengendaranya masih mengenakan
seragam putih abu abu, seragam SMA. Satu di antara mereka adalah yang
tadi siang bersama dengan Rudi saat membawaku ke sini.

Aku tak tahu sekarang ini jam berapa, tapi yang jelas sinar matahari
sudah tak kelihatan lagi. Sembilan anak SMP yang tadi itu agak menjauh
dariku, seolah olah hendak mempertontonkan tubuhku pada ketiga anak
SMA yang kelihatannya senior mereka itu. “Wow.. amoy ini memang
special Man”, kata salah seorang dari mereka, disambung yang satu
lagi, “Gila Maman, hebat juga lu bisa dapat amoy kayak gini! Gak
nyesel gue ke sini ikut elo Man! “.

“Boleh lah kita menikmati dia sebentar sebelum nanti malam beraksi di
lapangan! Toh sepeda motor kita sudah selesai distel, tinggal tarik
pedal gas saja”, kata yang dipanggil Maman itu, yang tadi bersama Rudi
itu. Aku menggeleng gelengkan kepalaku kuat kuat, “Jangan.. aku sudah
sangat capai, ampun…”. Aku memohon mohon, dan melihat mereka terus
saja melepaskan baju mereka, aku makin panik, air mataku mulai
membasahi mataku. Aku tahu ini hal yang tak mungkin, tapi aku terus
mencoba memohon supaya mereka tak jadi ikut memperkosaku.

“Tolonglah, Maman, kita sama sama SMA, kalian jangan begini”, aku
mengeluh. “Nggak, kita nggak sama. Kami anak STM… hahahaha”, jawab
Maman sambil tertawa terbahak bahak. “Oh iya, ini Joko, dan ini
Dimas”, Maman mengenalkan kedua rekannya, dan aku tak bisa berkata apa
apa lagi, toh para bajingan ini sudah sangat menginginkan tubuhku.
Mereka bertiga mendekatiku dengan pandangan bak serigala yang melihat
daging mentah, mereka sudah seperti kerasukan.

Aku tercekat melihat ukuran penis mereka ini. Ketiga penis itu nyaris
sama panjang, dan paling tidak 18 cm. sedangkan diameternya tak ada
yang lebih kecil dari 4 cm. Aku menangis ngeri, dan kembali aku
mencoba memohon pada mereka, “Tolong, aku sudah..”. Man langsung
memotong, “Sudah kepingin main sama kami bertiga? Tenang saja, amoy
cantik. Hahahaha, kami akan memuaskanmu sampai kamu nggak bisa bangun
lagi”.

Aku berusaha bangkit untuk menjauh dari mereka, tapi aku makin
ketakutan ketika aku mendapati kenyataan bahwa aku tak mampu berdiri.
Rupanya gangbang tadi itu benar benar menghancurkanku, selain rasa
sakit pada vaginaku, kedua kakiku juga serasa tak bertenaga sama
sekali. Maka tanpa perlawanan sedikitpun, Maman sudah berhasil memeluk
tubuhku, dan beberapa saat kemudian penisnya sudah membelah liang
vaginaku.

“Ooooh… sakiiiit…”, aku mengerang kesakitan, tubuhku mengejang didera
rasa sakit yang amat sangat ini. Tak ada rasa nikmat sedikitpun. Aku
sudah berusaha untuk tak merasa diperkosa, paling tidak aku tak akan
menderita luka batin. Tapi ketika Maman mulai memompa liang vaginaku,
aku terus mengerang bahkan akhirnya aku menjerit kesakitan. Air mataku
mengalir karena aku tak kuat menahan siksaan ini.

Bukannya kasihan, Maman malah menggenjotku dengan gencar. Ia hanya
memandangku sebagai pemuas nafsunya saja, dan ini membuatku sakit
hati. Lalu Maman sempat berhenti sejenak, dan pelukannya pada tubuhku
makin erat. Ia membawaku berdiri dengan penisnya yang masih tertancap
di liang vaginaku, dan walaupun rasanya sakit sekali karena penis itu
makin dalam membelah liang vaginaku, aku terpaksa harus memeluk
lehernya karena aku tak ingin jatuh terbanting ke lantai yang cuma
beralas tikar ini.

Sekitar lima menit Maman menggenjotku dalam posisi ini, rupanya Maman
sendiri kelelahan dan ia menurunkan tubuhku, penisnya sempat terlepas
dari liang vaginaku. Aku sudah kesakitan sampai kepalaku rasanya mau
pecah. Keadaanku sudah setengah sadar ketika kurasakan liang vaginaku
kembali menelan penis Maman, dan beberapa genjotan keras diiringi
erangan Maman, mengakhiri perkosaan Maman terhadap diriku.

Sperma Maman menyemprot liang vaginaku dengan deras, dan Maman
langsung menarik penisnya. Aku sudah tak bisa mengerang lagi, tubuhku
rasanya lumpuh, tak ada tenaga untuk menggeliat ataupun mengejang,
walaupun kurasakan sakit yang amat sangat ketika lagi lagi liang
vaginaku harus menelan sebatang penis, entah milik Joko atau milik
Dimas. Tubuhku tersentak sentak mengikuti irama pemilik penis yang
menggagahiku tanpa perlawanan sedikitpun.

Beberapa menit kemudian, aku kembali merasakan semburan sperma hangat
di liang vaginaku. Ini sedikit mengurangi rasa sakitku, tapi
penderitaanku kembali datang ketika penis yang ketiga ganti membelah
liang vaginaku. Tapi bahkan aku tak sanggup menggenggamkan tanganku,
padahal aku didera rasa sakit yang amat sangat. Tubuhku terus
tersentak mengikuti irama sodokan pemerkosaku, sampai akhirnya
semburan cairan sperma yang hangat kembali membasahi liang vaginaku.

Aku tak tahu harus berapa lama lagi aku menerima siksaan ini, liang
vaginaku serasa jebol setelah menelan 20 batang penis secara marathon.
Setelah jeda sekitar setengah jam, aku melihat sembilan anak SMP yang
tadi tergeletak lemas semua itu kini sudah mengerumuniku. Aku menangis
ketakutan, tak berani membayangkan aku harus melayani mereka
bersembilan itu lagi.

Tapi tak ada yang mendekati selangkanganku, semua hanya megerumuniku
sampai ke pinggang. Dan, mereka semua beronani bersama sama, mengocok
penis mereka sendiri. Aku merasa udara di sini semakin pengap karena
bau keringat mereka semua. Dan mereka terus beronani sambil tertawa
tawa, sedangkan aku tahu aku akan segera menerima bukake. Setelah
sekitar 5 menit, kulihat ketiga anak STM itu juga ikut berdiri dan
beronani.

Tiba tiba aku mulai merasakan semprotan sperma mereka mulai menghujani
tubuhku. Kedua mataku terkena semprotan juga hingga aku terpaksa
menutup mataku. Beberapa saat kemudian, kedua telingaku, rambutku,
kedua pipiku, leherku, kedua payudaraku dan perutku, kurasakan
semuanya tersemprot cairan sperma. Aku seperti sedang mandi sperma
saja. Lengkap sudah, 12 semprotan sperma pada tubuhku.

Entah siapa yang melakukan, tapi gumpalan sperma yang tadi menghujani
tubuhku ini diratakan ke permukaan kulitku. Kemudian kurasakan pahaku
diolesi sperma, mungkin yang menempel di telapak tangan yang meratakan
cairan itu. Wajahku benar benar basah rata oleh sperma, demikian juga
leherku, payudaraku, dan perutku. Pahaku sendiri terasa agak lengket
di bagian depan, dan aku tak tahu keadaan rambutku, tapi pasti juga
menyedihkan. Aku benar benar merasa terhina, dan aku menangis tanpa suara.

“Eliza.. kapan kapan kalo kangen kami, temui saja kami di sini. Kami
juga senang kok main sama kamu… Hahahaha.. “, kudengar suara Maman,
dan deru sepeda motor yang baru dinyalakan membuatku sedikit banyak
merasa lega, gangbang ini sudah berakhir, dan mereka telah
melepaskanku. Setelah mereka semua pergi, aku membuang genangan sperma
yang membasahi mataku, aku mengelap dengan jari tanganku, maka aku
bisa membuka mataku.

Air mataku masih mengalir, selain merasa sakit secara fisik, aku juga
merasa sangat terhina dengan semprotan sperma pada sekujur tubuhku
ini. Perlahan aku mencoba bangkit dari tikar yang menjadi saksi
penderitaanku ini, tapi ketika aku berdiri, kedua kakiku terasa
gemetaran, vaginaku pun terasa amat sakit, membuatku langsung roboh.
Aku harus beristirahat barang sebentar untuk memulihkan kondisiku.

Tiba tiba aku mendengar suara hujan, makin lama makin deras. Aku tahu
aku tak boleh beristirahat di tengah ruangan ini dalam keadaan
telanjang bulat dan tubuh penuh sperma seperti ini, karena bisa saja
ada orang yang masuk ke rumah kosong ini untuk berteduh. Aku
memaksakan diri untuk merangkak ke sudut ruangan rumah kosong ini, di
mana mereka tadi melempar lemparkan bajuku. Tubuhku rasanya remuk
semua, tapi aku harus segera menutupi tubuhku.

Akhirnya aku sampai ke tempat itu, dan kulihat bajuku masih lengkap.
Aku tak perduli dengan keadaan tubuhku yang basah oleh sperma ini,
kupakai baju dan rok seragamku. Kancing baju seragamku sudah tak ada
semua, tapi aku tak terlalu panik, karena aku masih bisa menutupi
tubuhku dengan tas sekolahku. Sedangkan bra dan celana dalamku yang
sudah tak bisa kupakai lagi karena sudah robek dan putus, kumasukkan
ke dalam tas sekolahku.

Setelah kurang lebih satu jam aku berdiam diri sambil menangis, aku
menguatkan diriku untuk berdiri. Masih terasa sekali sakit pada
vaginaku, kedua kakiku juga masih gemetar, tapi kini aku sudah mampu
berjalan walaupun tertatih tatih. Aku perlahan terus melangkahkan kaki
keluar, dan untungnya aku tahu kemana aku harus mencari mobilku.
Setelah aku terus berusaha berjalan kurang lebih 5 menit di bawah
guyuran hujan barulah aku sampai ke mobilku.

Untung saja tak ada yang melihatku selama aku mengarah ke mobilku ini.
Aku cepat cepat mengeluarkan kunci mobil dari tas sekolahku, memencet
tombol pembuka, dan aku segera masuk ke mobilku. Bajuku sudah basah
kuyup tak karuan, untungnya jok tempat duduk mobilku ini terlapis
kulit, jadi aku tak kuatir merusak bagian dalamnya. Tepat ketika aku
menutup pintu, kudengar handphoneku berbunyi menunjukkan SMS yang masuk.

Aku mengunci pintu mobilku dan kuambil handphone yang tadi kuletakkan
di jok sebelah itu. ada 9 missed call dari 2 nomer, mamaku dan Jenny.
2 SMS yang masuk juga satu dari mamaku, satu lagi dari Jenny. Aku
masih terus menangis ketika aku membaca SMS yang dari mamaku, “Eliza,
kamu ada di mana? Ini mama, papa dan koko harus pergi ke vila, soalnya
koko mau pakai vila buat liburan minggu depan. Besok malam baru
pulang, kamu kalau mau makan di luar, mama titipin uang di meja kamu ya”.

Kemudian kulanjutkan membaca SMS dari Jenny, “El, thanks ya udah
nolongin aku balikin buku itu ke Sherly. Besok senin aku traktir kamu
yah waktu istirahat “. Aku membayangkan, rasa sakit yang kudapat
hari ini sama sekali tak sepadan dengan traktiran dari Jenny. Tapi aku
tahu, ini sama sekali bukan kesalahan Jenny. Aku masih tak tahu, apa
ini gara gara kecantikanku atau karena kebodohanku tadi yang menolong
Johan itu. Apakah ini yang harus kudapat setelah berbuat baik?

Aku menangis dengan kesal, dan kunyalakan mesin mobilku. Aku melihat
jam di mobilku, sudah jam 21:30. Entah sudah berapa lama tadi aku
digangbang di rumah kosong itu. Ketika aku baru menjalankan mobil
melewati rumah Sherly, kulihat Vera dan cie Monika yang tadi diseret
ke kamar mandi oleh orang yang kira kira pembantu di kosnya Sherly
itu, berjalan menyeberang dengan om omAku menghentikan mobilku
memberikan mereka kesempatan menyeberang, dan aku tertegun sejenak
melihat om om Chinese itu membimbing Vera dan cie Monika masuk ke
pintu belakang dengan mendorong pantatnya.
Ketika mereka semua sudah masuk ke mobil, aku segera menjalankan
mobilku, aku ingin cepat cepat pulang. Dalam hati aku membayangkan,
kehidupan seks dari Vera, cie Monika dan aku sendiri benar benar tak
karuan. Tapi mungkin perbedaannya terletak pada situasinya. Vera
ataupun cie Monika terlihat enjoy saat tadi masuk ke mobil. Aku tak
tahu apa mereka memang suka, tapi tadi jelas sekali mereka tak
terlihat terpaksa.

Sedangkan aku, setiap aku terlibat hubungan seks, semuanya berawal
dari pemerkosaan terhadap diriku. Aku makin kesal, tapi aku tahu
sebaiknya aku berkonsentrasi mengendarai mobilku. Setengah jam aku
menyetir, air mataku sudah berhenti membasahi pipiku ketika aku sampai
di depan rumah. Aku memencet remote pagar, lalu aku memarkirkan
mobilku ke garasi. Setelah diam sejenak, aku memasukkan handphoneku ke
dalam tas sekolahku, lalu kubawa tas itu turun.

Begitu aku turun dari mobil, dari belakang kurasakan dua tangan
merayap ke payudaraku, yang ternyata tangan Wawan, lalu ia meremasi
kedua payudaraku dengan lembut. Aku tak bisa memberikan perlawanan,
aku terlalu lemas untuk itu. Dan kepasrahanku diartikan lain oleh
Wawan yang terus membimbingku ke kamarnya. “Hmmm.. non Eliza habis
pesta ya? Sekarang pesta sama saya ya”, kata Wawan yang menghirup
rambutku yang pasti bau sperma itu.

Suwito yang sedang tidur tiduran langsung berdiri dan ikut
mencumbuiku. Tak lama kemudian aku sudah dibaringkan ke ranjang
mereka, mereka tak memperdulikan keadaanku yang basah kuyup. Baju
seragamku yang tak berkancing sama sekali ini dengan mudah sudah
dilepas oleh Suwito, sedangkan rok seragamku dilucuti oleh Wawan.
“Wow.. nona kita sudah siap nih!”, seru Wawan yang amat bernafsu
melihat tubuhku sudah tersaji polos. “Banyak pejunya nih, abis pesta
sama berapa orang non Eliza?”, tanya Suwito. Wawan sudah mulai
menjilati vaginaku, sedangkan Suwito mulai melumat bibirku.

Aku hanya diam saja, tapi perlahan air mataku mengalir, dan aku mulai
menangis sesenggukan. Mereka berdua tertegun dan menghentikan aksi
mereka. “Non.. kenapa non”, tanya Suwito dengan kuatir. Aku makin
sesenggukan, dan mereka membiarkanku sampai aku lebih tenang. “Tolong
biarkan aku istirahat… aku sudah capai…”, kataku pelan di sela isak
tangisku. Aku beruntung, mereka ini masih memandangku sebagai majikan
mereka, dan tak memandangku sebagai sekedar budak seks mereka belaka.

“Non, kami antar non ke atas ya”, kata Wawan. Kemudian Wawan
menggendong tubuhku menuju kamarku, dan aku hanya pasrah, tanganku
terjuntai ke bawah, tak ada kekuatan untuk sekadar melingkarkan
tanganku ke leher Wawan, sungguhpun ini membuatku sedikit tersiksa
karena kepalaku juga terjuntai dan mendatangkan sedikit rasa sakit di
leherku. Tapi aku diam saja, dan kini aku sudah sampai di kamarku.

Wawan terus membawaku ke kamar mandi, kemudian ia mendudukkanku di
pangkuannya. Suwito yang mengikuti kami menyalakan shower di kamar
mandiku, kemudian setelah ia merasakan air shower sudah pas hangatnya,
Suwito mulai memandikanku. Ia menyiram tubuhku perlahan, hingga aku
mulai merasa nyaman. Dengan lembut Suwito berkata, “Non Eliza, tahan
nafas ya, mukanya non mau saya bersihkan”. Aku berkata lemah, “Pakai
sabun itu ya..”, kataku sambil menunjuk sabun cuci mukaku di wastafel.

Suwito membilas mukaku dengan sabun itu sampai bersih dari sperma yang
lengket lengket di sekujur wajahku dan telingaku. “Non Eliza, saya
keramasin sekalian ya”, kata Suwito. Aku mengangguk perlahan, dan
Suwito segera membasahi rambutku, kemudian mengeramasi rambutku dengan
kelembutan yang tak pernah aku bayangkan bisa dilakukan oleh orang
seperti dia. Aku merasa seakan tubuhku kembali segar, tapi aku tak
beranjak dari pangkuan Wawan. Aku merasa senang dimanja seperti ini.

Setelah Suwito selesai mengeramasiku dan membersihkan seluruh bagian
kepala dan leherku dari bekas lumuran sperma itu, ia segera
mengeringkan rambutku dengan handukku. Ia menyeka rambutku dengan
lembut sambil berkata, “Non, ini gimana saya nggak ngerti, takutnya
ngerusak rambut non Eliza yang indah ini”. Aku tersenyum kecil,
kemudian meraih handuk itu dan mengeringkan rambutku sendiri.

Wawan dan Suwito menungguku dengan sabar. Setelah aku selesai, Suwito
menggantungkan handukku di gantungan pintu, kemudian ia melanjutkan
memandikanku. Kali ini Wawan mengangkatku berdiri, dan merentangkan
kedua tanganku. Aku diam saja dengan senang, membiarkan mereka
memanjakanku. Suwito membilas kedua payudaraku dengan sabun mandiku,
ia melakukan dengan lembut. Tak ada rangsangan yang dilakukannya, dan
aku merasa sangat nyaman.

Lalu Suwito melanjutkan ke punggung, kedua tanganku, perut, pinggang,
kedua pantat, paha dan betisku. Kini aku sudah merasa tubuhku sudah
bersih semuanya kecuali bagian vaginaku. Tiba tiba Suwito berjongkok
dan mencucup bibir vaginaku, dan menyedot sekuat kuatnya. “Ngghhh..
aduuuh…”, aku melenguh, kali ini aku merasa keenakan dan sedikit
menggeliat.

Beberapa kali Suwito menyedot vaginaku kuat kuat, seolah ingin
mengeluarkan semua sisa sperma dan cairan cintaku yang masih ada di
dalam liang vaginaku. Nafasku sedikit tersengal sengal ketika Suwito
selesai menyedot vaginaku. Kemudian ia mengorek liang vaginaku dan
menyemprot dengan air hangat, hingga aku mendesah keenakan. Ketika
Suwito hendak menyabuni liang vaginaku, aku langsung menghentikannya.
“Pakai sabun di botol kuning itu saja, Suwito”, kataku.

“Baik non”, kata Suwito, dan ia mengambil botol itu, mengeluarkan
isinya di telapak tangannya, lalu membasuh liang vaginaku dengan
cairan itu. Memang aku merasa sakit, mungkin karena vaginaku terlalu
banyak menelan penis waktu aku digangbang tadi, tapi aku juga merasa
sangat nyaman dan keenakan, entah apa aku masih bisa orgasme.
Untungnya Suwito cepat juga membersihkan liang vaginaku, dan kini aku
sudah merasa sangat nyaman.

Wawan melepaskan kedua pergelangan tanganku yang terentang sejak tadi,
dan Suwito mematikan air shower, lalu menghanduki tubuhku sampai cukup
kering. Lalu mereka membimbingku ke ranjang, dan membaringkanku dengan
perlahan, menggeraikan rambutku ke belakang bantalku. Aku sungguh
merasa nyaman dengan perlakuan mereka ini, ingin aku membayar mereka
dengan memperbolehkan mereka menggumuliku sepuas puasnya, tapi aku
tahu aku sudah terlalu capai untuk melakukan hal itu.

Lalu mereka menyelimuti tubuhku, menyalakan AC kamarku dan mematikan
lampu. “Selamat tidur non Eliza”, kata Suwito, diikuti Wawan yang juga
mengucapkan kata kata yang sama. “Terima kasih.. kalian baik
sekali..”, kataku dengan terharu. Mereka keluar dari kamarku. Aku
menutup mataku, berusaha memejamkan mataku. Ketika aku sudah hampir
tertidur, Wawan dan Suwito masuk lagi ke kamarku, membuatku bertanya
tanya. “Kalian kenapa?”, tanyaku mulai was was.

“Oh, non, kami sudah mandi, dan ingin menemani non tidur. Tapi kami
nggak akan macam macam kok, kami cuma mau mijitin non. Non
kelihatannya capai sekali”, kata Wawan. Suwito sendiri sudah membuka
laci bajuku, mengambil bra dan celana dalam. Aku tersenyum dan
mengangguk senang, kemudian membiarkan mereka memakaikan bra dan
celana dalam untukku. Wawan membuka lemari bajuku, dan bertanya, “Non
Eliza mau pakai baju tidur yang ini?”. Ia menunjukkan baju tidur satin
kesukaanku, dan lagi lagi aku mengangguk senang sambil tersenyum.

Kini aku sudah memakai baju tidurku, tentu saja mereka yang
memakaikan. Mereka sendiri sudah mandi dan masih berbau sabun mandi,
maka aku membiarkan mereka naik ke ranjangku. Kini aku sudah terbaring
lagi di ranjangku, dan Suwito kembali menggeraikan rambutku ke
belakang bantal, hingga aku berbaring dengan nyaman. Wawan duduk di
sebelah kananku, dan Suwito duduk di sebelah kiriku.

Lisa dan mba siska

Filed under: RAMAI-RAMAI

Keluargaku pergi berlibur kedaerah. Di rumahku hanya ada Mbak Siska dan Lisa yang ikut orangtuaku dari daerah dan pembantuku sri. Wajah dan tubuh Mbak Siska danLisa seperti pemandangan yang indah, mereka sangat mmmm. Terkadangkawan atau kenalanku yang datang suka memuji wajah dan tubuh mereka.Beberapa temanku ingin berpacaran dengan mereka tapi tak dapat.Sering mereka dikira saudaraku. Pacarku kadang cemburu dengan mereka.Memang banyak kelebihan mereka dibanding pacarku.Waktu itu aku pulang kuliah dan pulang ke rumah bersama pacarku. Yatentu saja peluang ini kumanfaatkan. Kunikmati tubuh pacarku. Tapiada yang kurang. Milikku tak ia ijinkan menikmati tubuhnya. Kunikmatitubuh polos pacarku berjam-jam. Tapi kurasa aku kecewa. Sebenarnyaaku ingin merasakan bersengsama. Aku berharap pacarku dapatmemberikannya. Tapi apa boleh buat, karena hari sudah sore kuantardia pulang.Setiba di rumah lagi, sekilas aku lihat Mbak Siska baru selesaimandi. Ia terkaget karena tak menyangka aku ada di rumah. Cepat-cepatdia masuk ke kamar. Birahiku terangsang melihat tubuhnya yang hanyatertutup handuk, rasanya kuingin menikmati tubuhnya. Kulihat pintukamarnya tertutup. Karena hasratku menginginkannya. Maka kucoba masukke kamarnya. Ternyata pintunya tidak terkunci dan segera kumasuk.Melihat kehadiranku, Mbak Siska terkaget. Lalu ia bertanyapadaku,”Ada apa Mas Geri, Mas Geri nyari apa?” dengan canggung karenahanya mengenakan handuk.Kulihat tubuhnya dari ujung rambut sampaiujung kaki. Wajahnya cantik, dewasa dan lembut. Kulitnya bersih,putih mulus dan terlihat lembut. Lipatan dadanya sangat dalam. Keduabuah dadanya yang terhimpit handuk memang besar dan kelihatan benar-benar mulus, baru kulihat seperti ini. Pinggulnya membentuk danlingkaran perutnya terlihat lebih kecil. Pahanya terlihat semua danhampir selangkangannya terlihat tapi sayang tertutup handuk. Betisnyabagus.Aku tak tahan melihat tubuh Mbak Siska. Perlahan kuhampiri. Lalutanganku meraih handuk Mbak Siska dan sesaat handuknya kulepaskan.Mbak Siska benar-benar kaget. “Geri kamu kenapa?” jawab Mbak Siskadengan takut. Lalu kedua tangannya menutupi kemaluan dandadanya. “Tubuh Mbak bagus,” sahutku. Terlihat tadi keindahantubuhnya yang polos. Kupeluk Mbak Siska. Mbak Siska berusahamenghindar. Tapi kurasakan cara menolak Mbak Siska halus. Tanpa pikirkudekap pantat Mbak Siska dengan tanganku. Dada Mbak Siska yangtertutup tangannya segera kuraih, kuremas dan kadang putingnyakupelintir-pelintir sedikit. Kurasakan padat dan kenyal di keduatanganku. “Jangan Ger!” ucap Mbak Siska dengan lembut. Tak kuindahkanucapannya. Segera bibirku mengecup bibirnya yang kulitnya terlihattipis dan lembut. Kulahap bibir Mbak Siska. Terkadang Mbak Siskamenolaknya tapi terkadang ia malah membalasnya.Kugiring tubuhnya ke tempat tidur. Rasanya kuingin merasakanbersetubuh. Kemudian salah satu tanganku melepaskan resleting danmengeluarkan milikku. Segera kudorong tubuhnya dengan tubuhku ketempat tidur. Akhirnya tubuhnya terbaring dan kutindih. Kutempelkanmilikku di bibir vagina Mbak Siska. Sesaat Mbak Siska melepaskanbibirnya dari bibirku. “Jangan Ger!” ucapnya sesaat.Tanpa pikir lagikulahap bibirnya lagi. Rasanya inilah kesempatanku merasakankenikmatan tubuh wanita. Dan milikku sesaat mencoba menerobos masuk.Mbak Siska melepaskan bibirku lagi.”Jangan Ger!” ucapnyamengingatkanku. Kutakperdulikan ucapan Mbak Siska. Sesaat kurasakanpenisku berhasil masuk dan tertelan di liang vagina MbakSiska. “Oouuhhh,” ucap Mbak Siska sekeras-kerasnya. Akhirnyakurasakan kenikmatan tubuh wanita. Rasa liang vagina Mbak Siska tidakterlalu licin. Tapi kurasakan lembutnya liang vagina Mbak Siska.Kunikmati dan perlahan kukeluar masukkan. “Geri… kamu…” ucap MbakSiska sesaat. Beberapa lama kemudian kurasakan liang vagina MbakSiska licin dan membuat penisku agak basah sampai ke buluku. Akhirnyakukeluar-masukkan milikku di liang vagina Mbak Siska. Kulihat dagudan dada Mbak Siska terangkat tinggi. Desahan demi desahan iakeluarkan. Terkadang kulihat wajah Mbak Siska menghadap ke kanan dankiri.Aku menyukai kejadian ini, sampai-sampai milikku memuncratkan cairandi dalam tubuh Mbak Siska. “Aahh… ooouuhhh…” sambil Mbak Siskaucapkan seiring semburanku. Rasanya benar-benar nikmat. Kuterdiamkarena nikmat. Selang berapa saat kemudian kurasakan liang vaginaMbak Siska mendekap rapat milikku. Seakan-akan milikku digigit.Kurasakan kedua tangan Mbak Siska menarik punggungku dan segeramemelukku rapat. Kurasakan badannya benar-benar menegang. Setelah ituia terdiam lemas dan pasrah. Kurasakan aku masih pingin dan masihkuat. Tanpa basa-basi aku nikmati lagi liangnya. Matanya menatapmataku dengan lembut. Desahan pun ia keluarkan lagi. Dan akhirnyakusemburkan cairan lagi. Kusengaja di dalam, karena aku tahu MbakSiska pernah nikah dan ia bercerai karena mandul.Akhirnya kuselesai dan membungkus kembali milikku. Dan kududuk dipinggir tempat tidur. Kulihat Mbak Siska perlahan duduk. Sesaat diaterdiam. Kali ini kebanggaannya tidak ia tutupi dari mataku tampaknyaia sudah tidak canggung denganku. Rambut panjangnya yang agakmenutupi dada ia uraikan dan rapikan ke belakang sehingga buahdadanya terlihat jelas. Tanganku memegang lagi salah satu buahdadanya. “Geri…” sahut Mbak Siska dengan raut wajah yang sudah agakmemucat dari tadi. “Nggak apa-apa kan Mbak Siska?” ucapku sambilkuraba-raba dadanya dan kadang kuremas dan kumainkan putingnya. Kaliini Mbak Siska tidak menolak. Kukecup bibirnya dan kurasakan caraMbak Lisa berciuman dan perlahan kupelajari dan akhirnya kumengerti.Kami kali ini kami saling membalas bibir, lidah dan berebutanmenghisap liur. Setelah berapa lama aku keluar dari kamar Mbak Siska.Beberapa saat kumenuju ke kamarku. Aku bersapa dengan Lisa. Lalu akuajak ia mengobrol dan menonton di ruang TV. Kami duduk berdekatan.Terkadang kuperhatikan wajah Lisa dan memang ia manis. Kuperhatikansosoknya dan kurasa tubuhnya bagus. Wajahnya sangat menarik. Lisamengenakan kaos tanpa lengan dan celana pendek. Kuperhatikan satupersatu. lehernya putih bersih dan mulus memang merangsang.Pundaknya, lengannya, putih bersih dan mulus juga merangsang. Dadanyaberbentuk juga berukuran. Pinggangnya yang ramping seakan enak untukdirangkul. Pinggulnya yang berbentuk. Celana pendeknya membuat pahayang bersih dan putih mulus merangsang mata. Betisnya bagus.Tingginya lumayan.Kudekati tubuhnya saat duduk bersamaan. Kurangkul, kupeluk. Tampaknyaia tidak menolak. Kubuai rambutnya. “Mas… aku jadi merinding,” ucapLisa dengan agak manja. “Kenapa…? nggak apa-apa kan?” sahutku.Kurasa kehangatan dirinya melebihi pacarku. Tampaknya aku terangsang.Salah satu tanganku yang membuai rambutnya kemudian mengeluspundaknya. Satu tanganku lagi menyentuh pahanya yang merangsang.Rupanya Lisa tak menolak. Perlahan kuelus dan meraba-raba pahanya.Kulitnya halus dan lembut. Perlahan tanganku menuju keselangkangannya dan perlahan mengelus belahannya yang tertutupcelana. Kulihat Lisa membiarkanku dan wajahnya agak menegang dangrogi. Bibir bawahnya terkadang ia gigit dengan lembut. Tangankukemudian merangkul pundaknya. Pelan-pelan tanganku berjalan ke arahdadanya. Kurasakan ia hanya diam. Lalu perlahan kudekap buah dadanyayang cukup besar dan kuraba-raba.”Mas…” ucap Lisa pelan. Kulihat bibirnya yang mengucap. Terlihatlembut dan merangsang. Rasanya bibirku bergerak otomatis menghampiribibir Lisa. Lalu kukecup, rasanya memang lembut. Nikmat rasanya danlangsung kulahap bibirnya dengan nafsuku. Lisa diam tak bergerak. Diaterdiam pasrah melayaniku. Lalu kupeluk Lisa secara berhadapan.Kurasakan empuk buah dadanya di dadaku. Kuraba-raba punggungnya.Perlahan tanganku turun ke pinggang Lisa lalu menyusup di dalamkaosnya. Kurasakan kulit yang lembut dan halus. Kuraih tali BH Lisa,kubuka kaitannya. Akhirnya kuelus-elus dengan leluasa punggungnyakarena tak terhalang tali BH-nya. Kurasakan Lisa mengikutikeinginanku. Tanganku bergerak ke arah ketiaknya. Terasa tubuhnyagoyang dan perlahan kuhampiri dadanya. Kurasakan bulatan yang besar.Tanganku tak cukup mendekap buah dadanya. Masih ada bagian yangtersisa. Akhirnya aku dapat merasakan tubuh wanita yang selama inihanya gambar khayalan.Lisa terdiam seakan sedang melayaniku. Perlahan kedua tanganku turunke pinggangnya lalu kuangkat kaos dan BH-nya. Kulihat kedua buahdadanya. Akhirnya mataku dapat melihat ukuran dada yang selama inihanya dapat kulihat di gambar-gambar. Kutatap dengan kedua mataku dantanganku meraba-raba dan menikmati bentuknya. Kulihat Lisa hanya diamdan tegang. Wajahnya agak memucat. Kulahap bibirnya dan kuremasdadanya. Kurasakan Lisa diam pasrah. Tanganku turun dari dadanya danturun menusup celananya. Kurasakan “hutan” Lisa di dalam celanadalamnya. Kurasakan belahan dan kumainkan tonjolan Lisa. Secarabertahap kurasakan tanganku basah dan licin. Kemudian Lisa melepaskankecupan bibirku. “Mas Geri, jangan yang itu Mas, aku masih…” ucapLisa. Ternyata ucapan Lisa malah merangsangku. Perlahan tangankumenyusup di liang vagina Lisa. “Aaahhh… Mas Geri,” rintih Lisaseiring jariku yang tertelan di liangnya.Secara bertahap kukeluar-masukkan jariku di liangnya sampai cepat.Kulihat dagu Lisa terangkat. Matanya terpejam. Mulutnya perlahanterbuka dan kemudian bibir bawahnya ia gigit halus. Melihat iniwajahku menghampiri salah satu buah dadanya. Kubuka mulutku. Lalukutelan dan kuhisap putingnya. Sesaat ia membusungkan dadanya. Serasaaku diberikan menu pilihan oleh Lisa. Kemudian kuberhenti dan kamiberhenti sesaat.Kurasakan birahiku menginginkan senggama. Kuajak Lisa ke kamarku.Kami duduk di pinggir tempat tidur. Kami berpelukan berciuman dankedua tanganku menggerayangi tubuhnya. Sesaat satu persatu kain yangmenyeliuti tubuh kami terlepas. Bibir, leher, telinga, pundak,punggung, buah dada, perut, pinggang, belahan selangkangannya,pahanya kunikmati dengan mulut dan tanganku. Sesaat posisinyaterlentang. Kedua pahanya kubuat mengangkang lebar. Terlihat denganjelas bagian demi bagian kenikmatan di belahan Lisa. Milikkukuhunuskan di bibir vagina Lisa. Perlahan kumasukkan milikku.Kurasakan kepala milikku agak tertelan. Sesaat Lisa menahan nafasmerasakan milikku menyusup sesaat. Dagunya terangkat dan dadanyamengusung. Kudiamkan milikku tertahan. Kupeluk tubuhnya. Kuciumidagunya yang terangkat kemudian seluruh lehernya. Kurasakan bibirvagina Lisa basah dan licin. Perlahan kumasukkan penisku ke dalamliang Lisa yang lebih mendekap ke rahim Mbak Siska. Kurasakankelembutan liang Lisa. Sesaat kumerasakan kenikmatan wanita yangmemiliki ciri khas masing-masing.Kulihat mulut Lisa terbuka. Bibir dan mulutnya bergetar. Seakanmendesah tanpa suara. Matanya setengah terpejam. Wajahnya terkadangberpindah-pindah hadapan. Kurasakan ganjalan buah dada Lisa di saataku memeluknya. Desahan demi desahan akhirnya terdengar jelas daribibir Lisa. Kurasakan puncakku tiba. Kucabut milikku dan sesaatbagian perut sampai wajah Lisa terkena semburanku.Sesaat kulihat Lisa menjilat cairanku yang menepel di bibirnya.Tampaknya ia menyukainya dan kemudian ia telan. Melihat ini kuhampiriwajah Lisa dan milikku kutempelkan ke bibirnya. Awalnya ia canggung.Kemudian ia buka mulutnya. Kemudian kumasukkan milikku ke mulutnya.Ia pun melahapnya juga. Sesaat kurasakan milikku di dalam mulut Lisayang lembut. Kurasakan milik dan cairanku ditelan habis. Tampaknyaaku masih sanggup menyetubuhinya. Tanpa pikir lagi kubuat posisibersetubuh. Kutancapkan milikku lagi di liang vagina Lisa. Sesaat iamenegang lagi. Kunikmati lagi liang Lisa. Dan kurasakan liang Lisa,kemudian mendekap dan seakan menggigit milikku. Tangannya meremaspantatku dengan kuat. Ah, tanpa bisa terkontrol aku melepaskan cairanku di dalam tubuh Lisa.

cerita di sekolah 2

Filed under: RAMAI-RAMAI

Melihat hal ini aku tidak dapat menahan emosiku lagi. Langsung saja aku berlari menghampiri Anthony. Baru saja meraih bahunya, tiba-tiba aku merasa benda keras menghantam kepalaku. Kepalaku serasa berputar lalu aku roboh.
Pada saat tersadar, aku mendapati Narto sedang mengikat kaki kananku ke kursi dengan tali. Kepalaku masih berputar dan pandanganku sedikit kabur. Badan beserta kedua kaki tanganku diikat dengan erat ke kursi.
Ketika pandanganku berangsur-angsur kembali jelas, pendengaranku diusik oleh jeritan Melyana.
“Tidakkkk Jangan Anthony! Jangan…”
Mereka berdua sudah berbaring di lantai dengan Anthony menindihnya. Kedua tangan Anthony menahan tangan Melyana agar tidak melakukan perlawanan.
Anthony sedang berusaha keras untuk memperkosa pacarku dan aku tidak dapat berbuat apa-apa. Kedua kaki Melyana terus menerus ditendang-tendangkannya sehingga menghalangi usaha Anthony tersebut. Namun hal itu tidak bertahan lama karena Narto datang membantu dengan menahan kedua kaki Melyana.
Setelah mendapat kesempatan, Anthony segera mengarahkan penisnya ke mulut bibir vagina Melyana yang mengkilap karena basah oleh cairan sexnya.
Lalu dengan satu gerakan perlahan namun bertenaga, Anthony menghujamkan penisnya masuk ke dalam liang keperawanan Melyana.
“AAAAAARGHHHH…!” Melyana berteriak kesakitan.
Nafas Melyana menjadi sangat cepat dan terputus-putus. Wajahnya masih meringis kesakitan. Kemaluannya menitikkan darah segar tanda keperawanannya telah habis direnggut oleh Anthony.
“TIDAAAAAK” aku berteriak dari tempat dudukku.
Namun mulutku tersumpal oleh kain sehingga yang terdengar hanyalah teriakan tanpa arti di telinga mereka. Melihat semuanya itu hatiku menjadi pilu seperti teriris-iris.
Walau sudah begitu banyak cairan yang keluar dari vaginanya untuk melumasi penis Anthony namun tetap saja ia merasa kesakitan pada saat penis Anthony yang besar itu menggesek dinding vaginanya yang masih perawan.
Anthony tidak menggerakkan tubuhnya selama hampir setengah menit. Ia hanya terbaring menindih tubuh Melyana yang terengah-engah menahan sakit.
Vagina adalah bagian tubuh yang sangat fleksibel sehingga dapat membesar menyesuaikan diri dengan penis yang masuk. Vagina Melyana secara perlahan mengakomodasi besarnya penis Anthony. Lama kelamaan rasa sakit itu hilang.
Melyana merasakan penis Anthony berdenyut-denyut di dalam liang kewanitaannya. Rasa sakit yang hilang dengan cepat berganti dengan rasa nikmat. Tangan dan kakinya tidak lagi meronta-ronta.
Melyana segera mengingatkan tubuhnya untuk tidak mengkhianati dirinya dengan menikmati semuanya ini. Namun sayang ia terlambat.
Anthony mulai menggoyang pinggulnya dengan gerakan-gerakan kecil sehingga penisnya terasa seperti bergetar-getar dengan kecepatan lambat di dalam vagina Melyana.
Melyana memandang diriku yang tak berdaya sambil memelas, “(…hhh…) Markus, tolong (…hhh…) gue, Kus…”
Aku tidak dapat berbuat apa-apa selain duduk dan melihat semuanya ini terjadi di depan mataku.
Goyangan pinggul Anthony mulai diperbesar sehingga penisnya bergerak seakan hendak keluar sepenuhnya dari bibir kemaluan Melyana namun setelah itu dihujamkannya kembali masuk. Tiap hujaman semakin mendalam.
Melyana melenguh panjang tiap kali Anthony menghujamkan penis besarnya ke dalam tubuhnya. Dengan menggunakan tangan kirinya, Anthony meremas-remas payudara Melyana. Sedang tangan kanannya diselusupkan ke selangkangannya dan mengusap-usap klitoris Melyana.
Suara lenguhan Melyana lama kelamaan terdengar berubah menjadi suara rintihan dan erangan. Aku tidak merasakan adanya kesakitan dalam rintihan dan erangannya tersebut melainkan kenikmatan.
Namun pada kenyataannya, di sela-sela erangan dan rintihannya, Melyana terus memelas agar Anthony menghentikan perbuatannya itu.
“(…hhh…) Anthony…, (…mhhh…) stophh… (…ohhhh…) Janganhh Anthony… (…aahhh…)” suara Melyana sudah berubah menjadi bisikan lirih.
Protes yang keluar dari mulut Melyana terkesan diucapkannya dengan setengah hati. Bahkan aku pun dapat melihat kenikmatan yang terselubung dalam raut wajah Melyana. Aku tak dapat mempercayai akan apa yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Pacarku sedang diperkosa dan ia menikmati tiap detiknya.
Pernah suatu waktu, aku dan Melyana menonton sebuah film mandarin. Di dalam film itu seorang wanita diperkosa oleh 2 orang pria. Namun di saat-saat akhir pemerkosaannya, wanita tersebut malah menjadi sangat terangsang. Melyana mencemooh adegan tersebut dengan mengatakan bahwa tidak mungkin seorang wanita berlaku seperti di film itu.
Melyana seakan dipaksa untuk menjilat ludahnya sendiri. Ia berusaha sangat keras untuk tidak menikmati tiap hentakan pinggul Anthony. Ia mencoba memikirkan hal-hal yang tidak membangkitkan nafsunya namun tetap saja gesekan demi gesekan membuatnya semakin masuk ke dalam jurang kenikmatan.
Terlebih pada saat Anthony mulai menghisap puting susunya seperti bayi yang menyedot sari-sari kewanitaan dari dalam dirinya, Melyana mulai lepas kontrol. Ia meletakkan kedua tangannya di bahu Anthony tanpa melakukan perlawanan. Namun tetap saja dari mulutnya keluar kata-kata itu.
“(…mhhh…) Jangan Anthony… (…ohh…) aku tidak mau… (…shhh…)”
Narto menghampiriku dan berkata, “Gile! Cewe elu perlu dikasih servis tingkat tinggi tuh. Die tipe cewe yang ga doyan sex. Istilah bekennya frigid. Lu tau ga?”
“Udah dikasih full servis kaya gitu aja die masih bisa nolak. Dasar cewe! Laen di mulut, laen di hati,” lanjutnya lagi.
Aku tidak dapat berbuat apa-apa melihat kejadian ini. Air mata mulai mengalir dari mataku. Sedih hatiku melihat pacarku dipaksa untuk menikmati sex yang tidak diinginkannya. Pikiran manusia lebih sering kalah dengan keinginan tubuhnya. Ini yang terjadi pada pacarku.
Anthony mempercepat dan memperkuat genjotannya. Untuk menahan serangan ini, Melyana memejamkan matanya kuat-kuat dan menggigit bibir bawahnya. Pikirannya berusaha terus untuk melawan nafsu birahi dalam dirinya yang sudah terdorong melampaui batas normalnya.
Tiga kocokan setelah itu, seluruh tubuh Anthony mengejang-ngejang lalu ia mengeluarkan erangan seperti suara hewan menggeram. Beberapa detik kemudian tubuh Anthony terkulai lemas menindih tubuh pacarku.
Aku tahu benar apa yang baru saja terjadi. Anthony sudah mencapai klimaks. Ia berorgasme. Berjuta-juta sperma panas sudah dimuncratkannya ke dalam liang surga pacarku. Anthony baru saja menanamkan benihnya ke dalam rahim pacarku.
Melyana masih memejamkan matanya namun kali ini terlihat raut wajah yang jauh lebih rileks. Seluruh tubuhnya berkeringat. Dadanya naik turun seperti kehabisan nafas. Mulutnya terbuka untuk membantunya menghisap udara sebanyak-banyaknya.
Di keheningan sesaat itu terdengar bisikan Anthony di telinga Melyana, “Sorry ya, Mel… Gue udah ga tahan…”
Melyana tidak menjawab apa-apa. Ia masih saja terengah-engah dan berkeringat. Anthony tidak mengeluarkan penisnya yang sudah mulai mengecil dari dalam vagina Melyana. Sekitar 2 menit mereka tergeletak bertindihan di lantai tanpa melakukan apa-apa.
Tanpa kusadari, Narto sudah melepaskan seluruh pakaiannya. Penisnya berwarna lebih gelap dari penisku dan penis Anthony. Dan menurut perkiraanku, panjangnya tidak berbeda dengan panjang penisku namun diameternya jauh lebih besar dari penis kami berdua.
Ia menghampiri Anthony dan menariknya hingga kemaluannya tercabut dari dalam vagina Melyana. Dari dalam vaginanya meleleh keluar cairan sperma bercampur dengan cairan miliknya dan sedikit berwarna merah karena terdapat juga darah keperawanan yang sudah direnggut oleh Anthony.
Anthony yang sudah tidak bertenaga tergeletak di lantai tak berdaya setelah dicampakkan oleh Narto. Narto meraih payudara Melyana dan mulai bekerja pada kedua bukit lembut itu.
Melyana yang masih terpejam terkejut tiba-tiba kedua dadanya diremas-remas. Ia membuka matanya dan bertambah keterkejutannya karena mendapati Narto dengan keadaan telanjang bulat sudah berada di atasnya sambil memain-mainkan buah dadanya.
Birahi Melyana masih tinggi karena Anthony lebih dahulu mencapai puncak. Namun kali ini seperti sudah mendapat kekuatan baru, Melyana melakukan perlawanan. Ia memukuli dada Narto. Kedua kakinya pun ikut meronta-ronta dengan liar.
Merasa kewalahan atas perlawanan Melyana tersebut, Narto tiba-tiba mengibaskan tangan kanannya dengan sekuat tenaga.
PLAK!!
Mereka berdua terdiam. Pipi kanan Melyana memerah karena baru saja punggung tangan Narto menghantamnya. Dari ujung bibirnya keluar sedikit darah segar.
“Diam Jangan bergerak!” bentaknya dengan galak.
Narto bangkit berdiri dan sambil bergumam kesal ia menghampiri aku. Ditariknya kursi tempat aku diikat mendekati Melyana yang terbaring tanpa busana sedikit pun.
Tanpa kuduga, Narto meraih ikat pinggangku lalu membukanya. Setelah itu ia membuka celanaku sampai penisku dapat dikeluarkannya dengan mudah.
Apa yang dilakukan Narto berikutnya, jauh membuatku lebih terkejut lagi. Dengan perlahan ia mulai mengocok penisku yang sudah setengah berdiri. Gilanya, semakin dikocok kemaluanku semakin keras dan tegang.
Anthony yang sudah agak pulih kekuatannya, duduk dan terbelalak melihat pemandangan menjijikkan itu. Aku sedang dimasturbasi oleh Narto di depan pacarku dan dirinya.
Jantungku berdegup kencang. Kepala dan wajahku semakin panas. Nafasku mulai tidak teratur. Dari ujung penisku keluar cairan bening sebagai tanda rangsangan yang kuterima mulai menguasai tubuhku.
“Nah,… sekarang kita coba yang satu ini,” kata Narto setelah meninggalkanku.
Narto menghampiri Melyana yang masih terbujur lemas tak berdaya. Ia menyuruh pacarku untuk menghampiri aku.
Dengan sisa kekuatan yang ada, Melyana menghampiri aku. Penisku berdenyut-denyut seperti kegirangan pada saat pandangan matanya menghujani kemaluanku.
“Jongkok! Terus, hisap ** cowo elu!” seru Narto.
Melyana tidak bergeming. Namun setelah beberapa saat, ia berjongkok di antara kedua kakiku dan mulai mendekatkan wajahnya ke penisku.
Pada saat bibirnya yang hangat itu menyentuh kepala penisku, kepalaku langsung berputar-putar. Darah dalam diriku sudah mendidih dan mengalir deras di kemaluanku yang berubah warnanya menjadi lebih gelap.
Dengan gerakan yang sangat amat lembut, Melyana mendorong kepala penisku sedikit demi sedikit masuk ke dalam mulutnya.

Melyana tidak menjawab apa-apa. Ia masih saja terengah-engah dan berkeringat. Anthony tidak mengeluarkan penisnya yang sudah mulai mengecil dari dalam vagina Melyana. Sekitar 2 menit mereka tergeletak bertindihan di lantai tanpa melakukan apa-apa.
Tanpa kusadari, Narto sudah melepaskan seluruh pakaiannya. Penisnya berwarna lebih gelap dari penisku dan penis Anthony. Dan menurut perkiraanku, panjangnya tidak berbeda dengan panjang penisku namun diameternya jauh lebih besar dari penis kami berdua.
Ia menghampiri Anthony dan menariknya hingga kemaluannya tercabut dari dalam vagina Melyana. Dari dalam vaginanya meleleh keluar cairan sperma bercampur dengan cairan miliknya dan sedikit berwarna merah karena terdapat juga darah keperawanan yang sudah direnggut oleh Anthony.
Anthony yang sudah tidak bertenaga tergeletak di lantai tak berdaya setelah dicampakkan oleh Narto. Narto meraih payudara Melyana dan mulai bekerja pada kedua bukit lembut itu.
Melyana yang masih terpejam terkejut tiba-tiba kedua dadanya diremas-remas. Ia membuka matanya dan bertambah keterkejutannya karena mendapati Narto dengan keadaan telanjang bulat sudah berada di atasnya sambil memain-mainkan buah dadanya.
Birahi Melyana masih tinggi karena Anthony lebih dahulu mencapai puncak. Namun kali ini seperti sudah mendapat kekuatan baru, Melyana melakukan perlawanan. Ia memukuli dada Narto. Kedua kakinya pun ikut meronta-ronta dengan liar.
Merasa kewalahan atas perlawanan Melyana tersebut, Narto tiba-tiba mengibaskan tangan kanannya dengan sekuat tenaga.
PLAK!!
Mereka berdua terdiam. Pipi kanan Melyana memerah karena baru saja punggung tangan Narto menghantamnya. Dari ujung bibirnya keluar sedikit darah segar.
“Diam Jangan bergerak!” bentaknya dengan galak.
Narto bangkit berdiri dan sambil bergumam kesal ia menghampiri aku. Ditariknya kursi tempat aku diikat mendekati Melyana yang terbaring tanpa busana sedikit pun.
Tanpa kuduga, Narto meraih ikat pinggangku lalu membukanya. Setelah itu ia membuka celanaku sampai penisku dapat dikeluarkannya dengan mudah.
Apa yang dilakukan Narto berikutnya, jauh membuatku lebih terkejut lagi. Dengan perlahan ia mulai mengocok penisku yang sudah setengah berdiri. Gilanya, semakin dikocok kemaluanku semakin keras dan tegang.
Anthony yang sudah agak pulih kekuatannya, duduk dan terbelalak melihat pemandangan menjijikkan itu. Aku sedang dimasturbasi oleh Narto di depan pacarku dan dirinya.
Jantungku berdegup kencang. Kepala dan wajahku semakin panas. Nafasku mulai tidak teratur. Dari ujung penisku keluar cairan bening sebagai tanda rangsangan yang kuterima mulai menguasai tubuhku.
“Nah,… sekarang kita coba yang satu ini,” kata Narto setelah meninggalkanku.
Narto menghampiri Melyana yang masih terbujur lemas tak berdaya. Ia menyuruh pacarku untuk menghampiri aku.
Dengan sisa kekuatan yang ada, Melyana menghampiri aku. Penisku berdenyut-denyut seperti kegirangan pada saat pandangan matanya menghujani kemaluanku.
“Jongkok! Terus, hisap ** cowo elu!” seru Narto.
Melyana tidak bergeming. Namun setelah beberapa saat, ia berjongkok di antara kedua kakiku dan mulai mendekatkan wajahnya ke penisku.
Pada saat bibirnya yang hangat itu menyentuh kepala penisku, kepalaku langsung berputar-putar. Darah dalam diriku sudah mendidih dan mengalir deras di kemaluanku yang berubah warnanya menjadi lebih gelap.
Dengan gerakan yang sangat amat lembut, Melyana mendorong kepala penisku sedikit demi sedikit masuk ke dalam mulutnya.
Aku tidak tahu kalau pacarku dapat melakukannya sehebat ini. Setahuku aku adalah pacarnya yang pertama selama ini. Dan jika mengingat norma-norma yang dipegangnya selama berpacaran denganku, aku tidak habis pikir jika ia pernah melakukannya dengan pria lain selain diriku sebelum ini. Namun kemahirannya memainkan penisku dengan mulut, bibir, dan lidahnya membuatku bertanya-tanya dalam hati: dari mana ia tahu cara melakukan ini semua?
Pertanyaan-pertanyaan di kepalaku langsung lenyap tatkala Narto menekan kepala Melyana lalu menarik pinggulnya ke belakang sehingga Melyana berada dalam posisi seperti sedang merangkak.
Mulut Melyana masih membalut penisku ketika Narto mengoles-oleskan penisnya ke sepanjang bibir vagina Melyana yang masih basah itu. Sesekali ia menggesek-gesekkan kepala penisnya pada klitorisnya.
Hal ini membuat birahi Melyana kembali menanjak. Mungkin karena merasa bersalah sudah menjadi terangsang oleh laki-laki lain, Melyana menghadiahkan aku servis hisapan yang tidak ada duanya.
Tiba-tiba penis Narto menerobos masuk ke dalam liang peranakan pacarku. Bersamaan dengan itu, Melyana membelalak dan menghembuskan nafas dari hidung dan mulutnya karena kaget.
Kemudian Narto mengocok penisnya di dalam vagina pacarku yang sudah becek karena cairan cintanya yang bercampur dengan sperma Anthony yang masih tersisa. Kocokannya semakin lama semakin cepat. Lalu dengan segera dilambatkannya lagi. Hal ini diulang-ulang terus hingga membuat Melyana seperti hilang kesadarannya. Ia tidak dapat menguasai tubuhnya yang sudah di bawah pengaruh birahi.
Selama ini ia tidak pernah memberikan dirinya untuk ‘dipakai’ olehku, namun hari ini tubuhnya dipakai oleh Anthony dan Narto untuk kepuasan sex mereka. Ia pasti merasa sangat bersalah dan menyesal. Selama ini aku sebagai pacarnya tidak pernah mengecap kenikmatan sexual dari tubuhnya namun hari ini 2 laki-laki lain menikmati sex bersamanya. Ya, benar: BERSAMA-nya.
Semua pertahanan Melyana seakan sudah runtuh. Ia seperti bertekad ingin memuaskan sepenuhnya nafsu birahiku yang semakin naik itu. Dengan penis pacarnya dimulutnya dan penis laki-laki lain mengocok vaginanya, membuat birahinya semakin menuju puncak.
Tiba-tiba tanpa adanya tanda sedikitpun, Melyana melepaskan mulutnya dari penisku. Lalu tubuhnya bergetar cepat dan kejang-kejang seperti tersengat listrik. Bola matanya berputar ke atas. Dari mulutnya keluar suara menderit yang tertahan dan dahinya berkerut. Ia terlihat seperti kesakitan. Kedua tangannya mencengkram pahaku dengan erat.
“Oh! Bagus! Ayo rasain! Rasain tiap ledakan dalam badan elu! Enak kan ? Ayo terus!” seru Narto dengan lebih bersemangat menghujamkan penisnya ke dalam tubuh pacarku.
Menurut perkiraanku, Melyana sedang berorgasme. Orgasmenya memakan waktu yang cukup lama menurutku. Hampir mencapai setengah menit. Selama itu tubuhnya bergetar dengan cepat dengan ritme yang tidak menentu. Sudah pasti Narto tahu bahwa Melyana sedang menggapai klimaks.
Aku tahu (dan berharap benar) bahwa ini adalah orgasmenya yang pertama kali sepanjang hidupnya. Sebab selama ini ia hanya bersama denganku.
Narto menyuruh Melyana untuk terus mengulum penisku yang semakin tegang dan keras seperti logam itu. Bagaimana tidak, seorang perempuan yang sedang berorgasme adalah pemandangan yang sangat merangsang. Apalagi jika perempuan itu tak lain adalah pacar sendiri.
Melyana semakin ahli dalam memilin dan membalut penisku dengan lidahnya. Aku pun merasakan sudah hampir mencapai puncak. Oh, tidak pernah aku merasakan kenikmatan sex yang seperti ini.
Narto masih terus menggenjot pinggulnya dengan kecepatan tetap. Tangan-tangannya mulai bergerilya di tubuh pacarku. Tangan kirinya meraih salah satu payudara dan tangan kanannya memilin klitoris Melyana.
Erangan-erangan kenikmatan keluar dari mulutnya yang masih dipenuhi oleh penisku. Aku belum pernah melihat dirinya terangsang seperti ini. Lirihan dan erangannya seperti menambahi minyak pada api birahiku.
Akhirnya pada satu jilatan panjang, seluruh tubuhku mengejang. Kemudian sperma panas dari buah zakarku tersembur dengan tenaga penuh keluar memenuhi mulut dan tenggorokan pacarku. Melyana sampai tersedak dan kontan ia menarik mulutnya sehingga sisa semburan sperma itu muncrat mengenai kening dan mata kanannya.
Dari ujung bibirnya meleleh cairan putih dan rupanya sebagian spermaku menyemprot masuk ke dalam tenggorokannya. Hal ini membuatnya batuk-batuk seperti tersedak.
Aku terkulai lemas setelah muatan sperma dalam diriku tersedot habis oleh Melyana.
Sambil mengumpulkan kembali tenagaku, aku hanya menonton pertunjukan sex yang dilakoni oleh Narto dan pacarku. Aku baru sadar bahwa selama ini kami tidak memperhatikan Anthony yang duduk di lantai tak jauh dari kami. Ia hanya diam dan memperhatikan pertunjukan itu.
“Huh, payah anak jaman sekaranghh… Cepet banget keluarnyahhh..h…,” kata-kata itu keluar dari mulut Narto yang aku tahu ditujukan kepada diriku.
“Melyana, eluhhh… siap-siap ye untukhhh… gue kasih servis yang memuaskhanhhh… Akan gue buktiin kalo cuman guehhh… yang bisahh… muasinhhh… cewe frigiddhhh…kaya elu…,” katanya sambil terengah-engah.
Selepas mengucapkan kalimat itu, Narto memegang pantat Melyana dan tangan kanannya masih terus memilin-milin klitoris Melyana yang sudah menegak itu. Kemudian Narto mengocok penisnya dengan sangat cepat. Benar-benar cepat dan bertenaga.
Melyana memejamkan matanya setengah. Bola matanya sedikit berputar ke atas. Tangannya masih ditopangkan di atas pahaku. Ia bernafas bukan melalui hidungnya lagi melainkan melalui mulutnya yang terbuka lebar. Suara deru nafasnya begitu jelas terdengar oleh aku dan Anthony.
Tiba-tiba Melyana berseru, “Tidaaakkhh (…ahhh…) Aku tidak mau (…ahhh…) Ini tidak benar… (…nahhh…)… Jangannhhh!”
Setelah itu suaranya berubah menjadi teriakan panjang dengan nada tinggi yang aneh, “AAAAAAAAAAAAAAAAAAAKHHHH!”
Teriakannya terdengar naik turun dengan cepat sesuai dengan gelombang orgasme besar yang datang. Gelombang demi gelombang besar itu menghantam tubuhnya yang bergetar dengan keras dan cepat. Melyana lebih seperti orang yang sedang kesurupan saat ini.
Dan oleh kontraksi-kontraksi yang kuat dari otot-otot vagina Melyana, Narto pun sukses mencapai klimaksnya yang meledak-ledak itu.
Bak lahar panas yang keluar dari gunung meletus, cairan spermanya membanjiri permukaan vagina Melyana yang terus menerus berkontraksi dengan cepat.
Narto harus memegangi tubuh Melyana agar tidak terjatuh walau sudah berpegangan pada kedua pahaku karena lututnya sudah sangat lemas.
Akhirnya mereka berdua terkulai lemas di lantai. Melyana tergeletak di dekat kakiku sedangkan Narto duduk dengan lemasnya tak jauh dari Melyana.
Suara desah nafas Melyana masih terdengar dengan jelas. Sesekali tubuhnya masih bergetar-getar pada saat ia mengingat kepuasan sex yang baru saja dirasakannya.
Anthony datang menghampiriku dan berkata, “Sorry ya, Kus. Gue ga bermaksud berbuat yang tadi.”
Sambil membuka ikatan-ikatan pada diriku, ia mengatakannya dengan nada yang tulus dan jujur. Aku hanya mengangguk pelan.

cerita di sekolah 1

Filed under: RAMAI-RAMAI

“Elu! Ke sini!” perintah laki-laki itu kepada Anthony. Dengan ragu-ragu Anthony melangkah mendekati pria tersebut. “Elu juga!”
Melyana terkejut setengah mati mendengar perintah itu ditujukan kepadanya. Ia takut sekali. Lagipula siapa yang tidak takut menghadapi pria yang memegang senjata api.
Dengan enggan Melyana mendekati pria itu dan berjalan menuju ke tempat Anthony berdiri.
“Elu pacarnya die, kan ?” tanyanya kepada mereka berdua.
“Bukan, pak. Dia pacar teman saya yang itu, “ kata Anthony sambil menunjukku.
Jantungku berdebar kencang melihat tatapan bengis mata pria ini. Lalu tiba-tiba tatapan bengisnya berubah. Aku tak tahu apa isi tatapannya itu.
“Siapa nama elu?”
“Melyana,… ”
Pria itu kemudian mengisyaratkan Anthony untuk menjawab pertanyaan yang sama. “Anthony, “ jawabnya singkat.
Kemudian kepadaku, yang kujawab “Markus.”
“Bagus. Sekarang,” katanya sambil berjalan meninggalkan Melyana dan Anthony pria itu menghampiriku dan lanjutnya, “Anthony, buka semua baju elu!”
Anthony hanya bengong seakan tak percaya perintah pria ini. Setelah pria itu mengacungkan senapannya ke wajah Anthony, ia mulai menanggalkan baju, kemudian celana panjang. Sesaat Anthony ragu untuk melepaskan celana dalamnya, mengingat Melyana ada di sebelahnya, namun setelah mendapat ancaman dari pria itu Anthony mulai melepaskan celana dalamnya.
Aku terkesima melihat tubuh Anthony yang atletis. Dan tak kusangka Melyana, pacarku sendiri, pun terlihat melirik sesekali untuk melihat tubuh Anthony yang kini telanjang.
“Elu suka Melyana??” tanyanya kepada Anthony.
“Ya. Tidak. Eh.. maksud saya ya, dia teman saya.”
“Iye gue juga tau die teman lu, goblok! Maksud gue apa elu suka secara sexual sama die?”
Beberapa detik setelah itu hening tidak ada jawaban dari Anthony, namun akhirnya ia menjawab ragu, “Tidak.”
“Hahahaha! Jawaban macam apa tuh?!? Mana ada lelaki yang ga suka main sex sama perempuan muda? Elu ga lihat teman elu, si Melyana ini begitu manis dan bodynya sexy?”
“Melyana teman saya dan lagipula dia sudah punya pacar.”
“Terus kenapa? Apakah dengan begitu elu ga boleh suka die secara sexual??”
“Itu tidak baik, pak.”
“Kurang ajar lu Berani bohong sama gue??!? Gue, si Narto, paling ga suka kalo dibohongin!! Udah gue bilang mana mungkin ada lelaki yang ga suka main sex sama perempuan kaya si Melyana ini?”
Wajah Melyana menjadi merah mendengar semua percakapan ini. Jantungnya berdebar karena merasa tidak enak menjadi bahan perdebatan.
“Maaf, pak. Saya sungguh tidak dapat melakukannya.”
“Melakukan apa? Emangnya gue suruh elu ngapain?!? Baik, kalau elu bersikeras ngebohongin gue, elu akan merasakan akibatnya.”
“Sekarang elu, Anthony, buka baju si Melyana!”
Perintah itu bagai halilintar di siang hari bolong bagi kami semua. Mata Melyana terbelalak sedangkan Anthony hanya terdiam.
Wajahnya menghadap ke tanah. Ia tidak berani memalingkan wajahnya kepadaku atau ke pria yang memanggil dirinya Narto itu, apalagi kepada Melyana.
“OK! Gue hitung sampai 3. Kalau elu masih ga mau membukanya, makan saja peluru dari pistol gue ini!”
“Satu!!”
Anthony menjadi gelisah. Sedangkan Melyana menjadi semakin tidak enak. Ia berada di posisi yang terjepit. Di satu sisi ia tak ingin Anthony ditembak, namun di sini lain ia pun tak mengijinkan orang lain terutama lelaki yang bukan suaminya melucuti pakaiannya.
“Dua
“Masih keras kepala, he??” katanya sambil mengokang senjatanya.
Anthony akhirnya membalik badannya menghadap kepadaku dan berkata, “Sorry, Kus. Gue ga ada pilihan lain.”
Kemudian dia berhadap-hadapan dengan Melyana. “Sorry, yah. Gue ga berniat melakukan ini semua.”
Melyana tidak tahu harus menjawab apa, namun ia pun terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari mulutnya, “Ga apa-apa kok.”
Tangan Anthony mulai melepaskan kancing baju Melyana satu persatu. Tangannya gemetar sehingga membuat proses pembukaan ini berjalan begitu lama.
“Nahhh, gitu! Kalo disuruh mending nurut aja!” seru Narto girang.
Dalam proses membuka kancing baju Melyana itu, aku lega mendapati Anthony berusaha berlaku sesopan mungkin. Ia menjaga agar jari-jarinya tidak menyentuh tubuh Melyana, terutama bukit dadanya. Namun demikian hal ini tidak dapat membuat keadaan menjadi lebih baik buat Melyana.
Setelah semua kancing sudah terbuka, Anthony melepaskan kemeja tersebut dari tubuh Melyana. Payudara Melyana yang masih tertutup BH kini terekspos kepada kami semua.
Melyana menutupi dadanya dengan kedua tangannya.
“Melyana!! Siapa yang suruh elu nutupin tetek elu?!?”
Kata-kata itu cukup untuk membuat Melyana mengurungkan niatnya tersebut lalu menaruh kedua tangannya di samping tubuhnya.
“Anthony, sekarang elu cium bibir Melyana.”
Merasa percuma saja melawan perintah pria ini, Anthony mendekatkan wajahnya ke wajah Melyana. Melyana menarik nafas dalam sebelum bibir Anthony menyentuh lembut bibirnya. Melyana tidak memejamkan matanya melainkan melirik ke lantai sebelah kirinya pada saat bibir Anthony menyentuh dengan lembut bibirnya. Anthony menahan posisinya selama beberapa detik sebelum pria ini protes.
“Mana ada ciuman kaya begitu?!? Nih liat gue contohin!”
Sedetik kemudian Narto sudah berada di hadapan Melyana dan langsung tangan kirinya merangkul pinggang Melyana dan menariknya sehingga buah dada Melyana menekan dadanya. Tiba-tiba bibir Narto sudah melumat bibir Melyana penuh birahi sehingga membuat Melyana megap-megap.
Ingin sekali kutendang Narto dari belakang. Namun melihat tangan kanannya yang memegang pistol dan terlihat selalu siaga sehingga dapat menembak kapan pun ia mau, aku mengurungkan niat nekadku itu.
Sekitar 1 menit berciuman, barulah Narto melepaskan bibir Melyana dari bibirnya sehingga mulut bibir Melyana terlihat merah-merah karena ciumannya yang ‘keras’ itu.
“Nah begitu kalo cium perempuan! Ayo ulang cium lagi!”
Anthony maju mendekati Melyana dan berhenti sejenak karena ragu untuk melakukannya.
“Masih belom ngerti!!?? Peluk pinggangnya, terus tarik bodynya erat-erat, abis itu cium tuh bibir sexy! Ayo cepat!”
Anthony melingkarkan tangan kirinya di pinggang Melyana. Lalu dengan lembut ia menarik tubuh Melyana mendekat ke tubuhnya. Payudaranya yang masih tertutup BH warna krem itu kini bersentuhan dengan dadanya yang bidang. Kemudian ia mencium bibir Melyana dengan lembut sekali.
Semenit hampir berlalu, namun Narto berkata, “Huuuu, payah! Ngga hot! Goblok nih! Kenapa sih lu? Impoten atau homo sih? Coba,… Melyana elu buka rok elu. Siapa tau si Anthony bisa lebih terangsang, kali?”
“Ha?” Melyana bingung tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Ayo cepat, lepas rok elu!”
Karena takut, Melyana melepaskan rok seragam dari katun itu.
“Nah, sekarang ulang ‘adegan’ tadi! Dan gue mau liat adegan yang HOT!”
Semua gerakan tadi diulang lagi oleh Anthony persis sama. Tapi kali ini bedanya pada saat tangannya menarik tubuh Melyana merapat ke tubuhnya, penisnya menempel pada paha Melyana yang kini tidak terlapisi kain rok. Kulit paha Melyana begitu halus menggesek penisnya.
Hanya setelah kira-kira 10 detik Anthony mencium bibir Melyana, penisnya mulai setengah membesar. Melyana pun merasakan perubahan besar dan kerasnya penis Anthony yang menekan pahanya.
Melyana mengatur tubuhnya agar penis Anthony tidak bersentuhan dengan pahanya. Namun usahanya sia-sia. Bahkan semakin Melyana berusaha, semakin Anthony merasakan penisnya berdenyut-denyut.
Melyana merasa semakin risih. Bukan hanya karena penis Anthony yang setengah mengeras yang menekan pahanya, namun ciuman Anthony terasa semakin mendalam dan gairah yang terkandung dalam ciuman tersebut semakin meningkat. Wajah dan leher Melyana terasa panas.
“Ahaaa!! Kan udah gue bilang, lelaki mana yang bisa tahan sama sex?” seru Narto.
Kata-kata itu menghentikan semua yang Anthony lakukan saat itu, meninggalkan Melyana dengan nafas yang tak beraturan.
“Sekarang elu ngaku kan kalo elu suka Melyana?!”
“Erhhh…,” Anthony ragu-ragu memilih jawaban yang tepat. Matanya tidak berani memandang kami semua.
“Ayo cepat! Ngaku aja!”
Masih tak ada jawaban.
“Jangan liatin tanah melulu!! Ayo liatin si Melyana yang sexy ini!”
Mata Anthony bergeser ke tempat Melyana berdiri, lalu pandangannya bergerak naik dari kaki, ke pahanya yang mulus, pinggul lalu ke payudaranya.
“Gimana sekarang? Oooh mungkin elu lupa sama pertanyaannya ye? OK gue ulang: Elu suka sama Melyana ga?”
“Mmmm, biasa saja…” akhirnya Anthony menjawab.
“Hohoho! Ayo jawab sekali lagi, tapi kali ini elu musti jawab itu sambil pandangin si Melyana.”
“Saya suka Melyana sebagai teman biasa,” jawabnya sekali lagi.
“Hey hey hey! Markus, liat ga ** si Anthony sekarang semakin membesar?”
Memang benar seperti yang dikatakan pria tersebut, tanpa berhenti berdenyut-denyut, penis Anthony semakin membesar sejak berhenti berciuman dengan Melyana. Aku dan Melyana termasuk Anthony pun menyadarinya
“Masa elu percaya kalo si Anthony ga nafsu sama cewe elu, Kus? Cuma ngeliatin body sexynya aja udah bikin die ereksi!”
Jangankan Anthony, penisku sendiri juga mulai membesar (walau tidak sebesar penis Anthony). Menjadi terangsang setelah berciuman dengan seorang perempuan cantik dalam kondisi telanjang bulat sebenarnya membuktikan bahwa ia masih laki-laki normal. Aku memaklumi keadaan Anthony saat ini. Jika aku berada dalam posisinya pasti tubuhku juga akan memberi respon yang sama.
Tanpa sadar Melyana terus menerus memandangi penis Anthony yang sudah membesar dan terus berdenyut. Tiba-tiba ia tersadar bahwa orang lain dalam ruangan itu mungkin mendapatinya sedang memandangi kelamin seorang lelaki. Secepat gerak refleks ia mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Ia mengarahkan pandangannya ke wajah Anthony. Dan mereka bertemu pandang.
Anthony malu sekali mendapati kami semua melihat dirinya terangsang seperti itu. Anthony yang melihat wajah Melyana yang bersemu merah menjadi semakin salah tingkah. Akhirnya Melyana memalingkan wajahnya ke bawah memandangi lantai yang gelap.

“Naaaahh, … sekarang gantian. Pertanyaannya kita kasih ke Melyana. Melyana, apakah elu suka Anthony?”
Melyana tersentak kaget. Melyana pernah mengaku kepadaku kalau ia pernah naksir Anthony. Memang kadang aku merasa Anthony lebih ganteng dariku. Saat itu Melyana masih duduk di bangku SMP dan kini ia sudah berpacaran denganku selama lebih dari satu tahun. Seharusnya ia menjawab tidak.
“Mmm saya pernah suka. Tapi itu dulu. Sekarang saya cuma menganggap dia teman biasa.”
“Wah wah wah, emang payah anak-anak sekarang. Susah diajak berterus terang. Jelas-jelas si Anthony keren, ganteng. Apa lagi yang kurang?” ejek Narto.
“Dulu elu pernah suka die ye? Elu yakin sekarang udah ga suka lagi sama die?” tambahnya lagi.
“Yaaahhh…, suka sebagai teman sih iya,” jawab Melyana sedikit bimbang.
“Kalo suka secara sexual?”
Untuk sesaat Melyana tidak menjawab. Dan akhirnya ia menjawab, “Tidak.”
Narto cuma mencibir dan berdiam. Suasana begitu tegang. Lalu ia mengambil gunting di salah satu meja dan mendatangi Melyana. Kemudian dengan cepat ia menggunting celana dalam Melyana di sisi kiri dan kanan. Dari depan ia menarik celana dalam yang telah digunting itu sehingga terlepas dari tubuh Melyana. Kini tubuhnya telanjang dan yang tertinggal di tubuh Melyana hanyalah BH yang menutupi buah dadanya.
Melyana serta merta menutupi kemaluannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu dengan kedua tangannya. Tapi karena lagi-lagi Narto memberi isyarat agar Melyana tidak melakukan hal tersebut, ia membatalkannya.
“Anthony, peluk Melyana. Cepat
Mendengar seruan Narto, Anthony dengan segera menghampiri Melyana dan memeluknya dengan setengah hati. Penis Anthony yang masih mengeras menekan perut bagian bawah Melyana.
“Markus, elu bantu Anthony supaya kontolnya bisa berada diantara memek cewe elu.”
Aku sama sekali tidak percaya akan apa yang baru kudengar. Aku hanya terdiam tidak dapat bergerak.
“Gue cuma ulang perintah gue sekali lagi dan kalo elu masih ga kerjain perintah gue,… elu tau siapa yang pegang pistol kan ?”
“Ayo, bantu Anthony supaya kontolnya bisa berada di antara memek Melyana!”
Aku menghampiri mereka berdua yang sedang berpelukan dan berdiri di samping mereka. Aku meraih penis Anthony dan kupegang batang kemaluannya yang sudah sangat mengeras. Aneh rasanya memegang kemaluan laki-laki lain yang sedang ereksi. Ini yang pertama kali bagiku. Terlebih lagi ini dilakukan dihadapan pacarku.
Kemudian penis Anthony kutekan ke bawah agar masuk di antara selangkangan pacarku. Tidak ada satupun dari kami yang berani saling berpandangan. Dan kini penis Anthony mengacung tegak di antara selangkangan pacarku.
“Melyana, renggangin kaki elu sedikit.”
Melyana menurut dan melakukan seperti yang diperintahkan. Begitu kakinya direnggangkan, Melyana seakan tersentak. Matanya membelalak dengan raut muka yang terkejut. Aku tidak tahu apa yang menyebabkan ia terperanjat seperti itu.
“Hahahaha! Kaget ye? Itu artinya si Anthony nafsu sama elu. Kontolnya pasti berdenyut minta masuk di depan mulut memek elu, kan ? Gimana? Enak ga?”
Melyana semakin resah. Raut wajahnya seperti orang yang sedang mencari jawaban untuk pertanyaan yang membingungkan. Nafas Anthony menjadi kian tak teratur dan ia berusaha keras agar tidak berereksi. Namun usahanya tidak menemui hasil.
Hampir lima menit berlalu sebelum Narto memberi perintah kepadaku, “Markus, elu coba cek memek cewe elu. Masih kering ato udah… ha ha ha ha!”
Beberapa detik aku terdiam. Lagi-lagi ia membentak supaya aku melakukan apa yang diperintahkannya. Akhirnya dari arah belakang aku mengulurkan tangan kananku dan kuselusupkan ke antara paha Melyana. Melyana memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam melalui mulutnya.
Aku yakin sekali bahwa pacarku sangat malu saat itu. Belum pernah kewanitaannya disentuh oleh pria mana pun, termasuk olehku. Oleh karena itu aku berusaha melakukannya selembut mungkin. Begitu jari-jariku menyentuh sedikit bagian bibir vaginanya aku berniat untuk menarik tanganku. Namun rasa ingin tahu menguasai diriku sehingga aku meraba-raba sepanjang bibir vaginanya.
Betapa leganya aku begitu mendapati vagina Melyana tidak basah. Ia sama sekali tidak terpengaruh oleh semuanya ini. Lalu aku memberi tahu hal tersebut kepada Narto.
Narto tampak marah. “Nggak mungkin Mana? Coba liat tangan elu!!”
Ia meraih tanganku dengan kasar lalu memperhatikan jari-jariku. Kering.
“Coba gue cek sendiri! Awas kalo elu bohong.”
Narto merogoh dengan kasar kemaluan Melyana. Dengan masih memejamkan matanya, Melyana menggigit bibir bawahnya sambil menahan nafas. Raut wajah Melyana seperti sedang menahan sakit. Setelah beberapa saat tangannya merogoh-rogoh kemaluan Melyana, Narto tidak mendapatinya basah. Karena itu ia tampak semakin marah. Serta merta ia menggunting BH Melyana dan menariknya sampai terlepas dari tubuh Melyana.
Melyana terbelalak dan terdiam. Mulutnya terkatup rapat karena kaget dan takut yang dirasakannya. Ia merasa tenggorokannya kering sekali.
Kini payudara Melyana bersentuhan langsung dengan dada Anthony tanpa sehelai benangpun diantaranya.
Aku tak dapat mempercayai apa yang kulihat. Pacarku yang telanjang bulat dipeluk oleh temanku, Anthony (yang juga telanjang), dengan penisnya menggesek-gesek vagina pacarku di depan mataku sendiri. Aku begitu marah dan kesal karena tak dapat berbuat apa-apa atas keadaan ini.
Nafas Anthony semakin berat dan semakin cepat. Anthony sangat grogi sehingga ia memeluk Melyana dengan lebih erat dan menaruh wajahnya ke samping wajah Melyana dengan harapan Melyana tidak melihat wajahnya. Namun ini membuat keadaan semakin buruk.
Kini Anthony malah semakin merasakan lembut dan empuknya payudara Melyana yang tertekan di dadanya. Melyana sendiri pun mulai grogi dan salah tingkah.
Nafas Anthony terdengar begitu jelas bahkan hembusan nafasnya yang hangat terasa di telinga Melyana. Wajah Melyana menjadi bertambah merah.
Narto terus memperhatikan Melyana lalu ia tersenyum, “Markus,… liat tuh. Cewe elu mulai terangsang. Tuh mukanya jadi tambah merah.”
Itu pasti karena malu, pikirku. Lalu Narto menyusupkan tangannya ke antara tubuh dua insan manusia tersebut untuk meraba payudara Melyana. Kelihatannya ia ingin memeriksa apakah puting payudaranya sudah menegak dan mengeras.
Jika dilihat dari perubahan air muka Narto, aku menebak ia mendapati puting Melyana masih lembek. Hal tersebut semakin membuatku yakin karena setelah itu Narto mulai meremas payudara Melyana secara perlahan namun bertenaga. Ia memaksa agar puting Melyana mengeras. Sambil terus dipeluk oleh Anthony, Melyana memejamkan matanya. Aku tidak dapat memastikan apa yang dipikirkannya saat itu. Aku rasa ia sangat ketakutan.
Setelah beberapa kali meremas dan memilin payudara juga puting susunya, akhirnya Narto kembali tersenyum dan berkata, “Markus, sini lu! Coba elu cek puting cewe elu.”
Dengan enggan aku mendekat lalu menyusupkan tangan kananku dan meraba payudara Melyana. Tanpa kesulitan sedikitpun aku dapat menemukan putingnya yang sudah menegak dan SANGAT keras.
Begitu malu tubuhnya didapati merespon terhadap jamahan Narto, Melyana tidak berani menatap wajahku. Semakin kupegang, puting itu semakin mengeras. Anthony tidak berani memandang kami berdua karena ia dapat merasakan puting Melyana seperti menancap pada dadanya.
Rupanya birahi Melyana mulai terpengaruh oleh semuanya ini. Nafasnya mulai memberat dan bertambah cepat. Pipi dan bagian lehernya mulai memerah karena darah mengalir cepat ke seluruh tubuhnya terutama ke bagian-bagian erotisnya seperti payudara dan kemaluannya.
Aku tidak dapat menyalahkannya, namun aku tidak percaya pacarku akan jatuh secepat ini.
“Udah, elu jangan keenakan pegang-pegang puting cewe elu. Kaya belom pernah pegang aje lu!” bentak Narto.
Aku menarik tanganku dengan gugup. Melihat gelagatku yang agak tidak wajar, Narto merasa curiga.
“Eh?! Bener ye elu belom pernah pegang tetek cewe elu? Berarti… berarti elu juga ga pernah pegang memeknya dong?” Narto bertanya dengan tampang yang riang.
“Hahahahaha!! Berarti elu kudu berterima kasih sama gue yang udah kasih elu kesempatan untuk pegang tadi,” sambungnya lagi.
“Hm… tunggu dulu,” wajah Narto tiba-tiba berubah menjadi serius, “berarti elu belom pernah ngentotin cewe elu dong?? Jangan-jangan elu masih perawan, Melyana??!!” lanjut Narto dengan lebih bersemangat.
Kami berdua hanya menunduk tidak memberi jawaban.
“Woy!! Kalo ditanya jawab, bego!” bentaknya kepada Melyana.
“I-iya, Pak,” jawab Melyana dengan gugup.
“Apanya yang iya?!!” bentaknya lagi.
“Iya… saya masih perawan,” jawab Melyana perlahan.
“Hebat, hebat, hebat! Bisa juga elu nahan nafsu elu ye!”
Narto diam dan berdiri sambil memandangi Melyana dengan pandangan kagum lalu berkata kepada Anthony, “Gue mau kasih hadiah buat elu nih, Ton!” katanya sambil menepuk pundak Anthony.
“Hari ini elu gue kasih kesempatan untuk melahap keperawanan cewe temen elu ini. Gimana? Asik kan ?” serunya dengan bersemangat.
Tidak seorang pun di antara kami yang tidak terkejut mendengar kata-kata itu.
Terutama aku dan Melyana. Selama 4 tahun pacaran aku menunggu untuk diperbolehkan mencumbunya seperti menjamah buah dadanya atau bahkan kemaluannya. Aku tidak berani berharap untuk diberi ijin bersetubuh dengannya. Selama ini aku hanya diberi ijin untuk mencium bibirnya. Tanganku hanya diberi ijin untuk meremas jemarinya saja. Aku juga belum pernah melihat tubuhnya hanya mengenakan pakaian dalamnya apalagi sampai telanjang bulat. Ironisnya kini berdiri dihadapanku Anthony yang bertelanjang bulat sambil memeluk pacarku yang juga bertelanjang bulat. Penisnya bergesekan dengan vagina pacarku. Puting dan payudara Melyana menempel pada dadanya. Dan kini Anthony diberi ijin untuk menyetubuhi pacarku. Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi, pikirku.
“Ayo cepat dilaksanakan!” serunya untuk mengingatkan Anthony agar merenggut keperawanan Melyana.
Tubuh Anthony tidak bergerak sama sekali selain gerakan naik turun pada dadanya mengimbangi nafasnya yang berat dan tidak teratur. Penisnya berdenyut-denyut di antara paha pacarku. Ini menunjukkan bahwa birahi Anthony sudah sangat tinggi.
Melyana mulai gelisah dalam pelukan Anthony. Rupanya kepala penis Anthony sedikit demi sedikit mulai memaksa menyeruak masuk liang kewanitaannya. Narto berputar ke belakang Melyana kemudian berjongkok dihadapan pantatnya. Kemudian ia memasukkan kedua tangannya untuk ‘memeriksa’ selangkangan Melyana.
Beruntunglah vagina Melyana tidak basah. Sedikit cairan yang ada di mulut vaginanya itu tak lain berasal dari ujung penis Anthony yang mengeluarkan lendir pelumas.
Dengan tangan kirinya Narto meraih penis Anthony yang sudah sangat keras dan tegang itu, sedangkan tangan kanannya mengusap-usap bibir vagina Melyana.
Diusap-usap kemaluannya dalam kondisi seperti itu membuat Melyana merasa tidak nyaman sehingga ia sering beringsut dari posisi berdirinya itu. Bahkan beberapa kali ketika Narto memilin klitorisnya, ia terlonjak sehingga badannya seperti hendak terjatuh ke depan yang membuat payudaranya terhimpit kuat ke dada bidang Anthony.
Beberapa menit kemudian, tangan kiri Narto terlihat mulai bergerak-gerak. Narto menggesek-gesekkan kepala penis Anthony di sepanjang bibir kemaluan Melyana. Erangan penuh nikmat sesekali keluar dari mulut Anthony. Sedangkan dada Melyana sudah kembang kempis menahan gejolak dalam tubuhnya.
Tak lama setelah itu Narto beranjak dari tempat itu lalu menghampiriku. Ia mengusap jari-jari tangan kanannya ke wajahku dan meninggalkan diriku berdiri terpaku. Aku merasakan pipi kiriku basah oleh lendir dan tercium sedikit aroma cairan wanita olehku. Sekilas aku melihat jari-jari Narto sangat basah sehingga terlihat berkilat dari kejauhan. Akhirnya pacarku benar-benar sudah terangsang, pikirku. Apa yang akan terjadi berikutnya, batinku lagi.
Setelah itu, tanpa sadar Anthony mulai menggerak-gerakkan tubuh bagian bawahnya sedemikian sehingga kepala penisnya menggesek-gesek mulut bibir vagina Melyana yang sudah semakin basah itu.
“(…hhh…) Anthony…, elu lagi ngapainhh??” protes Melyana panik dengan suara setengah berbisik.
Aku juga tidak habis pikir dengan apa yang diperbuat Anthony terhadap pacarku. “Apa yang hendak dilakukannya?” pikirku lagi.
Anthony tidak menjawab Melyana. Sebaliknya ia bertambah gencar menggerak-gerakkan pinggulnya berusaha agar penisnya dapat masuk ke dalam tubuh Melyana. Anthony seperti tidak dapat menguasai dirinya sendiri. Berdekapan dalam posisi yang erotis dengan pacarku seperti ini membuatnya hilang akal dan dikuasai oleh setan birahi.
“Hahahahaha! Bagus, Ton! Ayo terusin! Buat si Melyana mengemis minta dientot!! Hahaha!!” Narto tertawa sambil memberi semangat.
Melyana semakin gelisah, “Anthony, (…hhh…) janganh Anthony!”
Alih-alih menjawabnya, Anthony tiba-tiba memagut bibir Melyana dan mengulumnya dengan liar. Melyana dibuatnya gelagapan. Sementara itu, penis Anthony bergerak sedemikian rupa bak ular kepanasan yang mencari-cari jalan masuk ke lubangnya.

myDiary

Filed under: RAMAI-RAMAI

Perkenalkan, namaku Adi setidaknya itu nama panggilanku. Aku seorang mahasiswa di
sebuah perguruan tinggi swasta yang cukup terkenal. Usiaku 25 tahun. Ceritaku ini
bermula pada saat aku berumur 21 tahun, disaat itu aku masih mempunyai seorang
pacar bernama Anyssa Pratiwi sebut saja Ani. Di adalah seorang gadis cantik dengan
kulit yang cukup putih. Dia terkenal sebagai bocah alim di fakultasnya. Tinggi 151
sentimeter dengan berat badan sekitar 42 kilogram, tidak tinggi tapi cukup
lumayanlah.
Singkatnya pada waktu itu aku dan pacarku sedang pergi kesebuah villa di kawasan
Jogja, tepatnya di wilayah Kaliurang. Tentu saja bersama dengan teman- temanku
yang semua berjumlah 4 orang, dua perempuan dan dua laki- laki. Sebut saja nama
mereka Doni, Wati, Yusak dan Wulan. Hubungan kami berlima cukup rumit tapi unik.
Wati misalnya, dulu bekas pacarku yang pernah kupacari selama setengah tahun.
Selama setengah tahun itu aku pernah bercinta dengannya bahkan berulang kali dan
jujur saja akulah yang merengut keperawanannya, tapi pacarnya yang sekarang si
Doni tidak tahu kalau pacarnya pernah ku kerjain. Wulan, dulu aku pernah naksir berat
padanya, dia gadis berkulit sawo matang dan tingginya sekitar 170an senti dengan
berat badan sekitar 50an lebih dikit. Proporsional menurut anggapan teman-temannku
termasuk pacarnya si Yusak. Yusak sendiri terkenal sebagai bocah yang agak nakal,
mengingat dia sering gonta-ganti cewek dan dalam beberapa kesempatan, dia sering
menunjukkan foto-foto cewek yang pernah dia tiduri, kalau tidak salah 4 orang sudah.
Dia juga terkenal sebagai bandar obat-obatan terlarang, tapi jangan salah sangka dulu
dia bukan pengguna narkotik ataupun pengedarnya tapi yang dia edarkan adalah
obat-obat perangsang.
Produk yang dia tawarkan benar-benar berkualitas super. Berkat obat itu pula aku jadi
pernah menggauli seorang cewek tetangga kost ku. Namanya Rani Suwito
panggilannya Ying-Ying, seorang WNI keturunan. Dia adik kelasku dengan tinggi 170
senti dan berat proporsional. Terkenal karena berani berdandan sexy saat di kost. Saat
dia main ketempatku dengan alasan ingin pinjam komputer untuk mengetik laporan,
aku berikan dia sebotol fanta yang sudah aku bubuhi obat perangsang. Hasilnya dalam
hitungan menit dia sudah mulai kegerahan dan hilang akal. Sekitar lima menit
kemudian, dia mulai melepaskan kancing baju atasnya dua buah.
Aku mulai iseng-iseng mendekatkan tubuhku padanya dengan taktik mengajarkan cara
membuat tabel di MS-Word. Alhasil aku dapat melihat buah dadanya yang masih
dibalut bra warna pink. Selang beberapa menit dia mulai melepas seluruh bajunya
dengan alasan sangat panas, dan akupun sudah cukup tanggap. Aku mendekatinya
dan mencium leher jenjangnya, dia tersentak tapi tidak dapat berbuat apa-apa.
Tanganku mulai menjelajahi celana pendeknya dah berhasil melucuti seluruh
pakaiannya kecuali bra yang masih tergantung dengan kaitan terlepas.
“Mas…..jangan….” lirihnya kacau, tapi aku tahu kalau dia juga menginginkan lebih, oleh
sebab itu aku mulai menjalarkan tanganku lebih dalam lagi dan kuremas buah dadanya
yang tak terbalut lagi. Kami bercumbu sekalipun hanya aku yang aktif.
“Mas…Adi…ja…..jangan lakuin massss………..Achh …..” suaranya terpatah patah saat
aku mencium putingnya dan menelusuri seluruh tubuhnya dengan lidahku. Akhirnya
dengan mantap aku mengulum mulutnya dan membuka semua pakaianku.
Dia terbelalak melihat penisku sudah mengacung, segera aku bimbing penis ini
kebagian mulutnya. Dia ragu, “Mas….jangan, jangan seperti ini…” selanya. “Tapi kamu
juga inginkan Ying? Nich penis gua, ntar gua kasih lebih.” Paksaku sambil menjejalkan
penisku kemulutnya yang setengah terbuka.
“Ochhhhh…..hangat Ying…” seruku saat penisku tertelan mulutnya. Selama sepuluh
menitan aku mengocok batang kejantananku di mulutnya sebelum akhirnya kucopot
dan aku beralih ke liang yang lain. Vagina……ini yang kutunggu. Penisku mencapai
mulut luar vaginanya. “Mas jangan, aku masih perawan….aku gak mau mas…”serunya
tapi tentu saja semua itu sudah bagai angin lalu saat aku mencumbunya lebih dahsyat,
sekarang dia tinggal pasrah.
Perlahan tapi pasti penisku mulai menerobos liang suci tersebut.
“Ahhhhhh….sakittt…..please hentiin mass..” Ying Ying merintih kesakitan tapi tetap saja
hal tersebut malah membuat aku semakin bernapsu untuk mengerjainya luar dalam.
Semakin kumantapkan posisi penisku dengan mengapit kedua paha gadis ini keatas
hingga lututnya menyentuh payudaranya sendiri. Dan….blessshhh…..akhirnya masuk
semua penisku. Batang kejantanan tersebut aku pompa dengan pelan sebelum
akhirnya aku mempercepat gerakanku. Sempat dia meronta tapi percuma karena
nafsunyapun tidak lebih kecil dari nafsuku. Dan setelah kurang lebih sepuluh menit aku
cabut kemaluanku dari liang vaginanya dan aku balik posisinya menjadi merangkak
dan mulai kugunakan tehnik doggy style yang selama itu baru aku lihat saja tanpa
praktek.
Sekali lagi roket sakti tersebut memasuki gua dalamnya dan sembari kuciumi
punggungnya, aku meremas payudaranya bergantian. Sensasi yang sungguh sangat
nikmat. “Ahhhh….achhhhh….ohhhh……ahhhh” rintihannya yang semula pelan semakin
lama semakin mengeras, untung tertutup suara bising musik yang kusetel keras dari
kamarku. Setelah kurang lebih 10 menit aku mengerjainya dengan posisi ini, aku mulai

merasakan adanya dorongan dalam batang kemaluanku. Akhirnya kusemprotkan juga
cairan sperma itu kedalam rahimnya. Usai sudah acara siang itu dari yang berawal
pinjam komputer berakhir dengan pinjam tubuh. Benar-benar kenikmatan yang tiada
tara, apalagi waktu itu aku belum pernah bercinta dengan gadis manapun.

Sekarang kembali ke keadaanku saat bersama teman-temanku di villa. Malamnya saat
kita berkumpul bersama untuk bercengkrama, tiba-tiba muncul Yusak dengan
senyum-senyum menawarkan beberapa vcd film. Karena temanku membawa televisi
LCD dan VCD player sendiri (kami membawa mobil ke villa jadi dapat mengangkut
beberapa barang penting). Kami sepakat untuk memilih film secara random. Saat di
putar, tak perlu sampai 1 menit kami melihat kami sudah tahu kalau itu adalah film
porno dan aku yakin itu film dengan rating XXX.
“Bagus khan? Itu koleksi gua yang paling bagus tuh…” seloroh Yusak bersemangat.
Entah karena apa tiba-tiba timbul pikiran nakal dibenakku. Karena kami menggelar
2

buah karpet kasur dilantai, maka kami bisa leluasa bergerak. Aku mulai bergerak
mundur dan aku sergap pacarku si Ani dari belakang. Aku mulai meremas dadanya
yang berukuran 34 B itu. Tak terlihat karena aku meremasnya dibalik baju baby doll
nya dan dia juga memakai selimut untuk mengatasi hawa dingin.
Sembari menciumi lehernya aku mulai semakin berani karena pas di film itu juga
sedang pas foreplay. Ternyata aku tak sendiri, Doni dan Wati pun ikut bermesraan
sendiri. Doni mulai mencium bukan hanya pipi tapi mulut Wati dengan ganasnya. Dan
lebih gila lagi Wati tanpa tameng langsung membuka baju dasternya dan meninggalkan
dirinya hanya menggunakan celana dalam tanpa bra. Doni semakin beringas
mencumbu Wati, rasanya seperti lagi nonton live show blue film. Luar biasa pikirku.
“Ochhhh….Don, ayo Don……..aku gak tahan nech.”racau Wati kepada Doni pacarnya.
Tak perlu menunggu lama, mereka berdua sudah hampir telanjang bulat, hanya Doni
yang masih memakai celana dalamnya.
Belum selesai aku terkejut, eh tiba-tiba dari belakang Wulan sudah merangkulku dan
menyeretku menjauhi Ani. Dia tak segan untuk menciumku lagi. Singkatnya kami
berciuman mulut dengan sangat dasyat. “Gimana Di……asyik khan mulut pacar gue?
Nikmatin aja, malam ini kita pesta, lagipula lo khan pernah naksir
dia…heheheheh…”tawa Yusak dari belakang. Ternyata saat itu kami semua sudah
diracuni dengan obat perangsang, dan yang paling banyak dosisnya diberikan pada Ani
yang terkenal alim itu.
Yusak kemudian mendekati dia dan mulai menciumi lehernya yang akhirnya merembet
kemulutnya. “Sialan ” pikirku tapi saat aku melihat Wulan yang sudah telanjang
bulat, aku sudah kehilangan rasio dan langsung menerkamnya sambil melucuti
pakaianku sendiri.
Belum juga lima menitan aku bergumul dengan Wulan, saat aku menengok kebelakang
ternyata Ani sudah telanjang bulat dan sedang mengoral penis milik Yusak sementara
Yusak sendiri memainkan lidahnya di liang vagina milik Wati. Saat aku beranjak akan
mendekati Ani, tanganku ditarik oleh Wulan dan saat itu juga peniskupun dilahapnya
dengan rakus. “Astaga…dia pasti sudah pernah di kerjain oleh Yusak…”pikirku dan
benarlah dugaanku.
Sekarang aku melihat Doni sedang mencopot cd nya dan mencuatlah penisnya yang
sepanjang kira-kira 14 senti tersebut. Di elus-eluskan penis itu di bibir vagina milik
Wati. Akhirnya …..bleshhh…tenggelam juga. Sementara Yusak pun sudah siap dengan
menempelkan penisnya di mulut vagina Ani. “Hoi…jangan…dia pacar gue.”sergahku,
tapi apa daya dia langsung main tancap dengan sedikit paksa. “Ahhh……….seret juga
memek pacar loe Di., dah pernah loe kerjain yah…tapi kok masih seret?….Enak
bener.” Senyuman menghiasi bibirnya sembari menggenjot tubuh kekasihku yang
herannya tidak memberikan perlawanan sama sekali malah terlihat seperti keenakan.
Memang ini bukan kali pertamanya dia berhubungan intim, karena aku pernah
mengerjainya setidaknya 6 kali.
“Achh…achhh…achhhh…ohhhhh…”rintih Ani sembari sesekali menggigit bibir bawahnya.
Semakin lama semakin cepat sodokan-sodokan Yusak dan semakin liar pula.
Sementara Ani masih dikerjai, aku mengambil inisiatif untuk membalasnya dengan
menggenjot pacar Yusak, si Wulan. Kurasakan sensasi tersendiri saat penisku
menghunjam liang vagina dara manis itu, nampaknya dia belum siap menerima penis
sebesar milikku. Maklum penisku ini memang sedikit diatas rata-rata, dengan panjang
18 sentimeter cukup membuat seorang Wulan menggelinjang menahan rasa nikmat,
geli plus rasa nyeri yang membuat ketiganya menjadi sensasional.
Tak selang sepuluh menit, karena obat perangsang yang ku minum secara tak sengaja
itu akhirnya aku memuntahkan cairan spermaku ke liang senggama milik Wulan tanpa
sisa. “Ohhhh….gue keluar Lan….”seruku sambil mengejang. Diapun tampak lunglai
karena aku tahu setidaknya dia telah orgasme dua kali, ini semua gara-gara obat
sialan itu sehingga Wulan pun menjadi super cepat puas.
Kemudian sambil berbaring memulihkan rasa lelah aku menengok kesamping. Tak jauh
dari tempat Wulan terbaring aku melihat Ani dengan liarnya dikerjai oleh Yusak dengan
posisi doggy style, dan kulihat Wati melepaskan vaginanya dari hunjaman batang
kemaluan Doni dan mendekatiku. “Masih ingat saat kamu ngentotin aku? Sekarang
gantian yah….biar si Doni ngerjain pacarmu.”katanya sambil senyum-senyum kecil dan
tanpa kuduga dia mulai menciumiku dan berakhir dengan mengoral penisku yang
kembali mengencang.
Doni yang belum terpuaskan menghampiri Ani yang liang kemaluannya sedang di hajar

habis oleh batang kejantanan Yusak. Kemudian Yusak mencabut penisnya dari dalam
vagina Ani dan menyuruh Ani untuk mengulumnya sementara vaginanya dipindah
tangankan kepemilikannya kepada Doni. Penis Doni langsung menyerbu masuk tanpa
permisi dan dengan posisi doggy style, vagina Ani dipompa oleh penis Doni sementara
penis milik Yusak mengerjai mulutnya.
Suasana yang se horny itu belum pernah aku temui sebelumnya. Benar-benar
menbuatku jadi sangat terangsang. Lalu kulentangkan tubuh Wati dan mulai aku
senggamai dia dengan cukup keras mengingat Doni juga mengerjai pacarku.
“Oh…..enak juga memek pacar loe Di….adu cepat aja kita…eheheh.”gelak Doni sambil
mempercepat genjotan penisnya di vagina pacarku. “Kayaknya gue mau keluar
neh……Sak…dikeluarin dimana nech.”serunya setelah kurang lebih 10 menit mengerjai
Ani dengan posisi berganti-ganti namun mulut Ani masih disumpal penis Yusak.
“Jangan dulu bos, ngapain cepet-cepet? Gantian aja kita.”seru Yusak.
Dan benar saja selang beberapa detik mereka berdua bertukar posisi. Penis Yusak
memompa liang senggama Ani sementara batang kemaluan Doni di oral oleh Ani.
Kulihat Ani semakin kepayahan dikerjai tanpa henti oleh mereka namun apadaya nafsu
telah mengalahkan logika. Peluh bermunculan dari badan Ani, bahkan diapun sudah
terlihat lemas. Entah sudah berapa kali dia mengalami kepuasan dengan kedua penis
tersebut. Bahkan setelah aku selesai dengan Wati pun, mereka belum berhenti
mengerjai Ani. Dengan berbagai gaya mereka menyodokkan penis-penis mereka ke
kedua liang kekasihku itu baik mulut maupun vagina.
Akhirnya setelah 20 menit lebih setelah aku memuntahkan air maniku kedalam vagina
Wati, mereka selesai juga. Doni mencabut penisnya dari dalam vagina dan
menyemprotkan cairan surganya di bibir vagina Ani sementara Yusak memuntahkan
air maninya di mulut Ani sekalipun Ani berusaha untuk memuntahkannya. Ini pertama
kalinya dia menelan sperma pria. Malam itu benar-benar malam dengan acara
pesta,….pesta seks.
Kunjungan Teman Lama

Sekitar sebulan setelah acara pesta di villa tersebut, aku kedatangan seorang teman
lama. Sebut saja namanya Sammy dan biasa kupanggil Sam dan dia membawa pacar
barunya yang bernama Riska. Temanku yang satu ini puna tubuh yang cukup tinggi,
setinggi aku kira-kira 168 sentimeter dan badan yang gempal, berkulit hitam dan
berambut cepak. Soal wajah, jujur saja dia jauh dari tampan tapi entah kenapa setiap
kali dapat pacar selalu yang cantik-cantik. Riska ini punya tubuh sensual dengan tinggi
dan berat badan yang seimbang. Wajah cukup manis dengan kulit kuning langsat dan
lesung pipi nya membuat penampilannya semakin enak dipandang.
“Hehhhh…mangsa baru yah?”godaku kepada Sam. Sam pun menimpali,” Yah lumayan
lah buat selingan, heheheheh….Eh gimana pacar lo, si Ani? Dimana dia sekarang?
Masih jadian gak nech?”tanyanya penuh selidik. Tak perlu kujawab nampaknya, karena
hanya selang 2 detik sebelum Ani keluar dari kamar kost ku dengan menggunakan
baby doll kesayangannya.
Melihat pemandangan itu sontak Sammy tertegun dan terpaku kearah Ani, maklum
mereka saling kenal sebelum aku berkenalan dengan Ani dan saat itu Ani terkenal
sebagai cewek alim yang tidak pernah macam-macam.
“Eh, lo dah apain tuh cewek?”bisiknya kepadaku tapi hanya kujawab dengan senyuman
kecil. Kamipun masuk kedalam kamar kost ku yang hanya berukuran 4×4 meter.
Kamar yang kecil tapi maklum namanya juga anak kost lagipula dengan lantainya
keramik sehingga sekalipun kecil tetapi masih terdapat sedikit kesan bagus.
Di ruangan itu hanya terdapat beberapa barang antaranya kasur tanpa dipan sehingga
membuatnya tampak lebih luas, bantal duduk buat lesehan, komputer dan almari
pakaian. Dengan barang sesedikit itu membuat ruangan tidak begitu sumpek. Sambil
mendengarkan musik dari PC ku kami bercerita panjang lebar mengenai pengalaman
kami, maklum sudah satu setengah tahun tak ketemu.
Riska ternyata seorang mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi ternama di kota
besar. Dilihat dari caranya bersandar dan gayanya yang mesra di depanku, aku sudah
dapat menebak kalau gadis manis ini pasti pernah di pakai oleh temanku.
“Wah, Ani sekarang sudah beda yah. Tambah cantik and seksi….heheh”ucap Sammy
sambil sesekali melirik kearah bagian payudaranya karena memang baby doll yang di
pakai Ani cukup transparan dan belahan kerahnya cukup lebar.
Saat itu aku mencoba menawarkan minuman kepada mereka, namun Sammy malah
mengajakku membeli minuman bareng. Di perjalanan ke arah warung dekat kost ku
dia berhenti dan mengajakku bicara beberapa hal. “Eh….bos, dia pernah maen sama
kamu yah? Keliatan kalau Ani dah beda.”ungkapnya tanpa ditutupi lagi. Aku senyum
saja dan balik berkata,”Lo sendiri dah ngapain si Riska? Gua jamin dia dah ga perawan
lagi khan?” Sammy hanya terkekeh, lalu menonjok pelan perutku lalu tanpa kuduga
dia menawarkan sesuatu. “Di, lo mau merasakan body cewekku gak? Kalau mau bisa
kuatur.”katanya.
Aku kaget dan tidak dapat berkata apa-apa, jujur saja bodynya seksi maklum menurut
pengakuannya dia ikut les renang seminggu 3 kali. “Lo serius mau kasih gw? Apa
kagak sayang ma cewekmu?”seruku kepada Sammy. Dia hanya menjawab ringan yang
intinya dia menganggap santai hubungan mereka toh hubungan kami juga sudah
seperti saudara sendiri. “Alasan yang ga masuk akal Sam. By the way, sebagai
imbalannya apaan?”tanyaku penuh selidik. Dia terdiam sesaat dan mulai jujur akan
keinginannya bahwa dia ingin tidur bareng dengan cewekku. “Apaaa??? Gila lo. Mana

dia mau?”seruku tapi sebenarnyapun aku tidak begitu keberatan karena toh Ani juga
pernah digarap rame-rame oleh Doni dan Yusak sebelumnya. “Soal itu mah santai aja.
Aku punya siasat jitu. Nich Wiskey, Ani pasti mabok toh dia kagak pernah minum khan
sebelumnya. Soal Riska gampang, ntar kalo aku dah nggarap Ani toh dia juga bakal
gak nolak balas perlakuanku.”katanya. Minuman itu rencananya akan di campur
dengan Coca Cola botol besar yang kami beli.
Setelah pulang kami membuat rencana seperti yang telah kami berdua rencanakan
yaitu bermain kartu. Siapa yang kalah harus minum. Berkat kerjasama kami akhirnya
kedua cewek itu terus yang kalah sekalipun adakalanya kami sesekali mengalah.
Setelah minuman habis akhirnya taruhan diganti dengan mencopot baju. Siapa yang
kalah harus mencopot bajunya satu lembar. Tak sampai sepuluh menit sekarang Riska
dan Ani hanya mengenakan bra dan celana dalam (cd). Sementara aku dan Sammy
hanya melepas baju saja. Kemudian sebabak berikutnya si Riska kalah dan mau tak
mau harus mencopot bra atau cd nya.
“Ah…ga mau ah. Ini aja dah kebanyakan apalagi harus copot bra. Ntar telanjang lah
aku. Gak mau.”serunya tapi berkat dorongan Sammy dan pengaruh alkohol akhirnya
dia juga melepas bra nya. Segera terpampang payudaranya yang mulus itu.
Hmmm…ukuran 36A batinku. Akhirnya giliran Ani yang harus mencopot pakaiannya di
dua babak berikutnya sehingga dia benar-benar telanjang bulat. Dengan perasaan risih
dia melanjutkan permainan ini dan saat kedua cewek itu sudah bugil, kami menaikkan
taruhan, siapa pemenang dalam babak selanjutnya boleh meng-apa-apain yang kalah.
Akhirnya Sammy menjadi pemenang dan Ani menjadi yang kalah berikutnya. Tanpa
panjang lebar Sammy langsung menerkam Ani mencumbunya sembari melepas
seluruh pakaiannya. “Jangan, aku nggak mau ginian! Di tolong aku…”pintanya
memelas. “Sorry An, tapi taruhan tetap taruhan, mau gak mau yah harus mau.”kata
Sammy sambil meremas payudara Ani yang mulai memerah dan putingnyapun
menegang.
“An, dah lama lho aku ingin ginian ma kamu, tapi dulu takut kamu tolak sech, jadi ga
jadi nembak kamu.”ungkap Sammy. Sementara itu Riska hanya diam saja sekalipun
dia juga shock melihat pacarnya mengerjai gadis lain. Tapi aku yakin dia juga
terangsang hanya tidak mau menunjukkannya.
Dalam sekejap Sammy dan Ani sudah bergumul, akhirnya Ani juga pasrah karena tak
sanggup menahan libidonya. Semakin ganas ciuman Sammy kearah bagian-bagian
sensitif Ani, semakin keras pula lenguhan pacarku itu.
“Oh….achhh….jangan Sammm…..achhh…..ahhhhh..”lenguh Ani panjang akhirnya dia
mengalami orgasme pertamanya. Dengan liar Sammy menjilati cairan cinta dari liang
senggama pacarku itu. “Enak yah An? Ini baru pembukaan, setelah ini aku bakal buat
kamu menggelinjang keenakan.” Dan betul saja setelah itu Sammy mengarahkan
batang kejantanannya kearah bibir vagina Ani yang sudah basah kuyup karena ludah
Sammy dan cairan cinta dari Ani sendiri. Dengan perlahan batang kejantanan yang
hitam besar itu menyeruak vagina pacarku dan tak perlu lama-lama sebelum akhirnya
semua masuk kedalam.
“Ahhhhhh…..ahhhhh….erghhhhhh….ohhhh….”seru Ani saat Sammy mulai menggenjot
vaginanya. Pemandangan luar biasa kontras karena tubuh besar hitam milik Sammy
menindih kekasihku yang bertubuh kecil tapi putih bersih. Setiap sodokan penisnya
kearah liang kewanitaan Ani menciptakan sensasi tersendiri bagi aku dan Riska dan
tentu saja bagi kedua orang yang bersetubuh itu.
Kemudian tak lama setelah itu, Sammy mulai membalik tubuh Ani dan melakukan gaya
doggy style. Dia dengan liar menunggangi kuda nya waktu itu yaitu kekasihku sendiri.
“Bos, kamu gak mau maen ma Riska?’seruannya menyadarkanku bahwa aku juga
dapat obyek pelampiasan.
Langsung kuterkam Riska dan diapun tak banyak perlawanan persis dengan dugaan
Sammy. Saat itu kami berempat benar-benar sudah menjadi sangat liar. Melihat Ani
kekasihku vaginanya dihajar keras dengan sodokan-sodokan batang kemaluan milik
Sammy membuatku semakin beringas dan semakin keras menyodokkan penisku ke
liang senggama Riska yang sudah basah itu. Seakan berlomba-lomba adu kecepatan
aku dan Sammy benar-benar menggunakan moment itu untuk mengerjai
habis-habisan kedua cewek ini.
Entah berapa gaya yang sudah kami praktekan. 30 menit sudah Ani dalam tindihan
Sammy, dan melihat spermanya mau keluar, segera Sammy mencabutnya dan
langsung menyodorkan kearah payudara Ani dan muncratlah cairan kental putih itu
yang takarannya banyak sekali. Mungkin nafsu yang sudah tertahan sekian lama
membuat semua stock spermanya keluar.
Sementara itu aku yang juga akan keluar langsung kucabut batang kemaluanku dari
vagina Riska dan dengan cepat aku benamkan lagi sedalam-dalamnya. Keluarlah air
maniku di liang vaginanya. Kulihat Ani sedang mengoral penis Sammy yang belepotan
sperma dan cairan vaginanya. Sejak kejadian di villa memang aku sering menyuruh
Ani untuk mengoral penisku dan mengeluarkan spermaku didalam mulutnya hingga dia
terbiasa dengan ini.
Tak puas dengan itu, Sammy masih menyodokkan penisnya berulang-ulang kemulut
Ani sehingga buah zakarnya yang menggelantung menjadi menabrak-nabrak dagu Ani.
Herannya, belum juga lima menit tapi Sammy sudah ejakulasi lagi kali ini di mulut Ani.
Mereka berdua akhirnya lemas terkulai di kasur sementara aku masih mengerjai ulang
Riska. Kali ini aku menggunakan kondom dengan pelumas untuk menembus lubang
duburnya. Ya..aku menyodominya tanpa ampun dan nampaknya itu adalah hal

pertama baginya. Tak lama kemudian aku melepas kondom dan menyuruh Riska untuk
menyulum penisku dan akhirnya spermaku kloter kedua muncrat dengan deras dan
kali ini bukan saja aku masukkan ke mulut Riska tapi juga kemulut Ani. Kami
berempatpun terkulai dan tertidur setidaknya 4-5 jam lamanya dengan saling
berangkulan, sementara aku merangkul Riska yang masih telanjang, Sammy
merangkul Ani yang juga masih bugil. Sambil sesekali mencoba memasuk-masukkan
penisnya yang sudah mulai mengecil ke vagina pacarku.

Setelah bangun dari tidur kami, Sammy dan Riska mohon diri dan berjanji bahwa
peristiwa ini hanyalah rahasia antara kami berempat. Sebelum pergi, Sammy
menyempatkan mencium mulut Ani dengan buas sementara aku balas dengan
meremas payudara Riska. Yah hari itu benar-benar hari yang melelahkan.

Aku punya teman kuliah sebut saja namanya Reza, sekalipun beda jurusan tetapi kami
sering banget jalan bareng walau hanya sekedar cari makan malam-malam. Reza
berkost di tempat yang agak dekat dari kampus, jauh dari kost ku.
Laki-laki berbadan sedikit kurus tapi tinggi ini mempunyai seorang cewek jurusan
Psikologi sebut saja namanya Veti. Veti ini cukup akrab denganku, mengingat kami
sering bertemu baik di kafe kampus maupun di kost Reza. Veti adalah seorang gadis
yang cukup periang dan aktif, diluar itu dia seorang gadis yang cukup menawan.
Dengan kulitnya yang putih dan rambut panjang lurusnya dipadukan dengan tinggi
badan dan bentuk body yang aduhai, dia bisa dikategorikan sebagai salah satu bintang
di fakultasnya. Soal umur sih dia masih berumur 20 tahun.
“Hai Vet!”sapaku saat bertemu dengannya di kost Reza. Maklum aku sering main
ketempat cowoknya pas malam. “Eh, hai Di! Lho Reza mana?”tanyanya. Saat itu
memang Reza sedang pergi untuk mencari sesuatu dan dia juga bilang butuh waktu
agak lama dan karena kostnya sepi hanya ada satu orang temannya saja yang tinggal,
maka dia memintaku untuk sekalian menjagain kamarnya.
“Oh.. pergi yah. Padahal aku mau ajak dia ke supermarket.”katanya lagi setelah
mendengan penjelasanku. “Oh gitu, mau beli apa sih memangnya? Penting kagak?
Kalau penting telepon aja atau kirim sms.”kataku pada Veti.
“Ga ah.. siapa tahu dia sedang ada urusan penting.”lanjutnya sambil merebahkan diri di
kasur. “Gila.. “pikirku saat aku melihat lekuk tubuhnya waktu rebah di kasur. Buah
dadanya mencuat keatas dan pusarnyapun terlihat. Gadis ini memang luar biasa betul.
Sembari mencari-cari buku aku sengaja melirik-lirik kearah dadanya dan benar saja
akhirnya aku melihat payudara berbalut bra warna kuning dari sela-sela kausnya.
“Ehm.. Reza beruntung yah bisa punya pacar kayak kamu.”kataku padanya. “Hah?
?

Beruntung gimana maksudmu?”tanyanya penuh selidik. “Yah beruntung, dapat cewek
cantik dan berbody aduhai kayak kamu.”lanjutku. Kata-kataku ternyata dapat
membuat telinganya merah padam juga wajahnya karena malu. “Ah.. kamu ini bisa
aja.. “Veti tersipu berusaha menutupi malunya tapi gagal.
“Memang wajahku ini cantik apa? Lagipula tubuhku juga gak bagus-bagus amat
kok.”sahutnya lagi. Aku hanya tertawa kecil dan mendekatinya, sambil berbaring
disampingnya aku berkata,”Siapa bilang tubuhmu nggak bagus? Jujur saja kalau aku
Reza aku tak akan biarin kamu meninggalkan kamar ini walau sedetik.”kataku lagi.
Mendengar semua itu wajahnya tambah merona karena malu. “Kamu ini muji atau apa
sich.. “tanyanya lagi. Langsung aku memandang Veti dan secara tak sengaja mata
kamipun bertautan. Entah setan mana yang membuat aku dan dia lupa diri karena
tahu-tahu bibir kami berdua sudah bersentuhan. Aku mencium bibirnya dengan lembut
dan penuh perasaan sedangkan Veti juga membalasnya dengan pagutan yang tak
kalah hebat. “Hebat cewek ini, ciumannya maut.. “kataku dalam hati. Selama ini
mungkin ciuman Veti lah yang paling hebat dari semua cewek yang pernah kucium.
Sambil terus melakukan French Kiss dengan Veti, tangankupun menjelajah tanpa batas
lagi. Kuremas buah dadanya yang masih berbalut kaus dan bra itu. Tak perlu
lama-lama akhirnya selruh baju Veti sudah aku preteli, sambil aku mencumbu leher
dan telinganya. Sekarang dia sudah telanjang bulat didepanku.
“Di.. ini salah Di. Aku sudah punya Reza, lagipula aku sama pacarku saja belum
pernah sampai beginian. Aku takut Di.”kata Veti lirih. “Semua ada kalanya yang
pertama Vet.”hiburku. lalu kulepas juga seluruh pakaianku dan mulailah pergumulan
kami di ranjang sahabatku itu.
“Ahhhh.. ochhhh.. “desahnya setiap kali aku meremas buah dadanya dan menciumi
puting payudaranya itu. Secara naluriah, tangannya menggapai batang kejantananku
yang sudah membesar dari tadi karena menahan nafsu. “Ini yah yang namanya penis
orang dewasa? Kok gede banget.”katanya polos.
Aku hanya tersenyum saja saat dia berkata itu dan dengan perlahan tapi pasti aku
membimbing penisku itu kearah bibir vagina Veti yang sudah sangat basah. “Baru juga
bentuknya Vet, belum kegunaannya. Ntar kalau sudah tau rasanya bakalan minta terus
lho.”selorohku. “Di jangan.. aku nggak mau mengkhianati Reza.”katanya dengan nada
pasrah memelas diselingi air mata.
Tapi apa daya, nafsu mengalahkan logika. Sekali dorong penisku sudah masuk
setengah bagian kedalam vagina Veti. “Ahhhhhh.. Diiiiii.. sakitt.. “rintihnya. Tak
kupedulikan lagi toh tinggal separuh jalan. Dan bleshhhh, masuk sudah semua penisku
kedalam vaginanya.
“Ahhhh.. Di.. aku.. ahhh, sudah masuk?”katanya terbata-bata. Aku mengangguk dan
tersenyum kecil. Kumulai goyangan pinggulku dengan gerakan maju mundur yang
semakin lama semakin cepat durasinya.
“Ohhh.. ahhh.. ohhh.. ahhh.. ahhh.. “desah Veti. Dengan bantuan cairan
kewanitaan dan darah perawannya, gerakanku terasa lebih leluasa dari tadi. “Vet,
memekmu bener-bener legit. Ternyata selain cantik kamu juga berpotensi besar dalam
urusan ranjang.”selaku. Dia hanya terdiam tersipu sambil menahan sejuta rasa nikmat
dan keperihan di liang kewanitaannya yang sekarang sedang dijarah batang
kejantananku.
Setelah kurang lebih lima belas menit berlangsung acara persetubuhan itu, akhirnya
aku merasakan akan segera keluar. “Vet.. aku keluar nih. Keluarin di dalam

yah.. ?”kataku lagi sambil mempercepat genjotanku. “Jangan Di, ntar aku
hamillll.. “pinta Veti tapi sudah terlambat, aku segera mengejang dan memeluk dia
sangat erat saat muntahan spermaku keluar dari ujung penisku dan membasahi
seluruh liang vagina Veti. “Ohh.. Vet.. ahhhhhh.. “desahku sementara Veti hanya
terpejam matanya sambil setengah menangis.
Usai pergulatan itu, Veti memakai pakaiannya lagi dan mohon diri. Tapi sebelumnya
dia minta padaku supaya tidak menceritakan hal ini pada siapapun. Aku sih setuju saja
asal dia tidak kapok melayaniku. Mendengar persyaratanku dia hanya tertunduk diam
dan pergi. Selang 20 menit kemudian Reza datang dan dia terkejut melihat sprei
kasurnya terdapat bercak merah. Aku hanya mengatakan padanya kalau itu bercak
obat merah yang tertumpah dari bifet atas karena aku tak sengaja tersandung dan
menabrak almari kecil itu. Diapun tak banyak curiga hanya sedikit ngomel-ngomel
padaku. Ternyata dia habis kena tilang karena tidak membawa STNK waktu membawa
motor dan butuh waktu lama untuk meyakinkan polisi bahwa dia bukan kriminal dan
itupun setelah dia kehilangan uang 50 ribu rupiah buat nyogok. Dalam hati aku
berkata,”Sebenarnya kamu telah kehilangan sesuatu yang lebih berharga dari 50 ribu
rupiahmu.” Dia hanya mengomel saat aku menertawainya tanpa dia tahu apa
sebabnya.

Osmaru Ceria

Seperti yang terjadi pada setiap perguruan tinggi, di universitasku setiap tahunnya
terdapat mahasiswa baru dan sudah menjadi tradisi kami bahwa akan ada acara
penggojlokan (pemloncoan) sebagai alat untuk para mahasiswa baru agar dapat
bersosialisasi dengan mahasiswa lainnya dan untuk pengakraban.
Kebetulan aku menjadi anggota panitia sekaligus koordinator bidang perlengkapan.
Acara pemloncoan berlangsung selama 2 minggu, satu minggu berada di lingkungan
kampus dan berikutnya selama 4 hari 3 malam berada di luar kampus tepatnya di
tempat perkemahan, kami biasa menyebutnya malam pengakraban (makrab).
Makrab kali ini benar-benar menyenangkan karena banyak mahasiswi baru cewek yang
cantik-cantik. Maklum karena semua fakultas makrabnya dilebur menjadi satu
sehingga fakultas-fakultas dengan mayoritas cewek seperti program sekretaris dan
bisnis juga psikologi ikut jadi satu bagian.
Singkatnya aku sudah mengincar setidaknya 5 cewek yang menurutku paling menarik
diantara semua mahasiswa baru. Salah satu dari cewek tersebut adalah Leony,
angkatan 2003 fakultas sekretary. Wajahnya putih bersih dan kulitnya mulus putih,
bahenol abis deh pokoknya. Makrab mengambil tempat di sebuah bumi perkemahan di
dekat lereng gunung, dan karena saat itu acara makrab kami sedikit lebih cepat
daripada acara-acara serupa milik universitas lain maka saat kami datang ke tempat
makrab, tempat itu sangat sepi dan nampaknya hanya kami saja yang menggunakan
tempat itu sekalipun kadang tampak beberapa anak pramuka SMP di beberapa spot
tertentu tapi jumlahnyapun sedikit.
Bagian utara adalah sebuah gunung dengan hutan yang sangat lebat dan sebelah timur
merupakan lereng yang didasarnya terdapat sungai yang hebatnya sungai itu masih
bersih, mungkin karena tidak adanya pemukiman penduduk didekat tempat ini.
Pemukiman penduduk terdekat kurang lebih satu kilometer selatan dari tempat kami
makrab.
Malamnya setelah semua tenda telah berdiri, kami para panitia dan koordinator
berkumpul untuk technical meeting dengan ketua koordinator dan setelah itu
dilanjutkan dengan makan malam. Karena aku koordinator perlengkapan yang
notabene punya banyak anak buah maka pekerjaanku sangatlah santai, aku sering
meluangkan waktu untuk berjalan dari satu tenda ke tenda yang lain hanya untuk
mengecek siapa tahu ada gadis cantik. Dan benar saja tidak sampai satu jam aku
berkeliling, aku sudah bertemu dengan seorang gadis cantik bernama Amanda, anak
psikologi. Kami mengobrol sebentar sambil berbasa basi aku goda-goda dia sedikit.
Entah karena aku panitia dan dia junior atau karena hal lain, nampaknya dia enjoy saja
aku godain.
Jam 10 malam sudah, saat untuk melakukan pembagian tugas malam, di tiap tenda
dipilih seorang ketua regu untuk mengambil tugas yang akan dikerjakan dan harus
dikumpulkan pada pagi harinya. Malam itu semua sibuk mengerjakan tugas
masing-masing. Saat itu aku sedang jalan-jalan menyusuri sungai yang juga
merupakan tempat kami mengambil air bersih. Samar-samar kudengar langkah
beberapa orang mendekat, iseng-iseng aku bersembunyi untuk mengagetkan mereka.
Ternyata itu adalah sekelompok anak SMP dan dilihat lebih lanjut sepertinya mereka
anak kelas 3 . Sementara itu dari sisi lain sungai dibalik bebatuan muncul 2 orang
gadis peserta makrab. Aku mengenal salah satunya, yup dia adalah Leony, salah satu
idola angkatan 2003.
Urung niatku untung mengagetkan mereka saat aku melihat ketiga anak SMP tersebut
mendekati Leony dan temannya, yang akhir-akhir ini baru kuketahui namanya adalah
Ratna. Dengan cepat anak SMP yang bertubuh jangkung segera mendekap Ratna
sementara dua yang lain yang berambut cepak dan yang berbadan kurus segera
mendekap Leony.
“Apa-apaan ini? Mau apa kalian?” seru Leony keras. “Lepaskan! Kalo nggak gua
teriak.” Ratna tak mau kalah meneriaki mereka. Dengan cepat si jangkung

membungkam mulut Ratna dengan kain setangan leher pramuka nya sementara Leony
ditindih tangan dan kakinya oleh kedua anak yang lain. “Maaf mbak, tapi kita-kita
sudah gak tahan. Mbaknya tadi pas mandi bodynya keren banget sih.” kata seorang
anak yang berambut cepak. Ternyata mereka sudah lama mengintip Leony dan Ratna
mandi. “Ugh.. ” Ratna berusaha untuk melepaskan diri namun sia-sia karena walaupun
si jangkung yang mendekapnya tidaklah gede-gede amat namun dia tetap cowok yang
bertenaga lebih dari cewek.
Aku tidak begitu jelas mendengar apa yang mereka bicarakan karena mataku terfokus
pada pemandangan luar biasa dimana Ratna dengan liarnya dugumuli oleh si jangkung
dan akhirnya lepas juga kausnya dan juga celana pendeknya. Sementara Leony sudah
tanggal celana pendeknya. Tak sampai beberapa menit kedua dara cantik ini sudah
bugil. Kupikir mereka akan segera memperkosa kedua gadis ini namun pemikiranku
benar-benar salah. Sementara si jangkung menindih Ratna dan si cepak menindih
Leony, si kurus yang akhirnya kutahu bernama Bambang hanya menduduki kaki Leony
dan melakukan mansturbasi sambil meremas-remas bagian tubuh Leony. Hal yang
sama dilakukan oleh kedua temannya.
“Sialan! Apa-apaan iani ?”pikirku. Aku segera keluar dari persembunyianku dan
membuat semua orang itu kaget. “Hah.. ampun mas.” kata si Bambang. Mereka
ketakutan karena aku muncul sambil membawa parang terhunus. Parang itu sengaja
aku gunakan terus untuk berjaga-jaga dan membabat ilalang dan nampaknya dapat
menciutkan nyali ketiga orang bocah ini. “Kak panitia, tolong saya.”isak Ratna. Leony
pun ikut menimpali,”Mereka mau memperkosa kita kak, tolong.. “rintihnya sambil
kedinginan.
“Ampun kak.”pinta si jangkung yang ternyata bernama Rudi. Sesaat aku memandang
tubuh kedua gadis ini. Jujur saja nafsuku saat itu sudah diujung ubun-ubun. “Kalian
goblok yah?”bentakku kepada ketiga anak SMP itu. “Ngapain ngerjain cewek kalo
cuman buat onani? Dasar goblok!”bentakku lagi. Mereka bertiga kaget melihat reaksiku
dan Leony dan Ratna lebih kaget lagi.
Aku segera menyingkirkan Bambang dari kaki Leony dan menyuruhnya membantu
Rudi memegangi Ratna. “Sana loe! Ini cewek dah lama gua taksir, enak aja lo maen
sembarangan.”seruku sambil menduduki paha Leony yang putih mulus itu. “Kak.. kakak
gimana sih? Kenapa nggak bantuin kita?”isak Leony. “Lah ini juga dah aku bantuin
non.”kataku sambil tersenyum.
Segera kusuruh ketiga bocah itu untuk melapas baju mereka semua,”Nanggung kalau
cuman onani, ga ada seninya dodol. Mending perkosa sekalian.”seruku pada mereka.
“Tapi mas, ntar kalau ketahuan bisa bahaya.”si cepak menjawab takut-takut. “Gua ada
kamera digital, kalau dah selesai tinggal jepret aja, dijamin ga bakalan ngadu
mereka.”kataku sambil meyeringai. Seolah tak percaya dengan apa yang baru saja
kuucapkan, Leony dan Ratna berteriak namun tak lama karena dengan setangan leher
pramuka segera kami bungkam mulut kedua dara ini.
“Montok juga kamu Ny.”kataku pelan sambil meremas buah dadanya. Sementara kami
semua sudah telanjang bulat segera mulai mengerjai kedua cewek ini. Aku
gesek-gesekkan penisku kemulut vagina Leony dan dia tak dapat berkata apa-apa
karena mulutnya tersumpal dan hanya dapat bergumam tak jelas. Segera kulesakkan
batang kejantananku kedalam liang senggamanya. Sesaat Leony mendongak tersentak
dan matanya membelalak menahan rasa sakit. “Gila, gede amat punya mas.”celetuk si
cepak yang bernama Bimo itu. “Heh.. kalian ngapain diem aja? Tuh ada cewek satu
lagi nganggur.”kataku. Dalam hati bangga juga aku dibilang berpenis gede karena aku
melihat kemaluan ketiga anak SMP itu jelas jauh dibawahku. Setidaknya hanya
separuh milikku panjang dan besarnya. “Oh.. enak nih.. kenyal. Aku masukin ya
mbak.”kata Bambang kepada Ratna sambil membimbing penisnya kearah vagina Ratna
yang bersih dari rambut itu, nampaknya dia rajin mencukurnya. Dan bleshhhh.. dalam
beberapa hunjaman saja penis milik si Bambang segera masuk semuanya kedalam
vagina Ratna.
“Hmmm.. achhh.. ohhhh.”racau Bambang sambil menggenjot Ratna. Darah
keperawananpun mengalir deras keluar dari liang kewanitaan Ratna seiring dengan
pompaan penis Bambang. Kulihat mereka masih canggung saat melakukan
persenggamaan dengan gadis.
Kulihat Leony sudah lemas karena sudah kuhajar liang senggamanya selama duapuluh
menitan. Darah segar perawan dan cairan-cairan kewanitaannya keluar luber bersama
dengan cairan dari penisku. “Memekmu dihajar darimanapun juga nikmat Ny.”kataku.
Air mata mulai membasahi pipinya. Kubalik posisinya menjadi doggy style dan semakin
kupercepat dorongan penisku masuk ke liang vaginanya yang putih bersih itu. Vagina
yang tadinya putih berubah kemerahan karena gesekan dan cipratan darah
perawannya tadi. “Clok.. clok.. clok.”suara benturan penisku dan bibir vaginanya
semakin jelas terdengar dan menarik perhatian ketiga anak yang lain. Mereka nampak
terpana melihat permainan panasku dengan Leony yang selalu berubah-ubah gaya.
Kulihat Bambang sudah tidak kuat menahan dirinya lagi dan sambil memeluk erat
Ratna, dia mempercepat sodokannya. “Mbak aku keluar nih.”serunya dan segera dia
cabut batang kemaluannya dan disodorkan penis itu keperut Ratna.
“Crottt.. ctottt!”entah berapa semburan sperma yang keluar dari ujung penis itu
menumpahi perut dan pusar Ratna.
Melihat temannya selesai, Rudi segera ambil posisi. Kali ini dia membalik tubuh Ratna,
nampaknya dia terinspirasi pada gaya permainan doggy style milikku. Sementara
batang kemaluankupun bergetar dahsyat. Segera kupercepat goyangan pinggulku dan

kubuka sumpalan mulut Leony dan kucium dia dalam-dalam sambil memperdalam
sodokan penisku didalam vaginanya dan selang beberapa detik keluarlah cairan cinta
itu memenuhi seluruh ruangan liang senggamanya. “Crott.. croottttt.. crottt
.. crottt!”keluar dengan sangat banyak, bahkan jauh lebih banyak daripada saat aku
berhubungan dengan pacarku.
Selama satu setengah jam kami berempat bergantian mengerjai kedua gadis ini. Ratna
aku kerjai dengan posisi berdiri dengan menyandarkan tubuhnya pada batu kali. Kami
bercinta didalam air sungai yang mengalir. Ini kali pertamanya aku bercinta didalam
air. Benar-benar sensasi yang luar biasa. Rasa dingin diluar namun hangat membara
didalam. Sementara aku mengerjai Ratna, Leony diperkosa tiga orang sekaligus. Baik
vagina, mulut dan anusnya di masuki penis secara bersamaan dan mereka mengocok
disaat bersamaan pula. Benar-benar pemandangan yang sangat hebat batinku. “Tuh,
temenmu di entotin tiga bocah langsung.”kataku ke Ratna yang menggigil kedinginan
dan terisak-isak.
“Neh.. kontol gue. Emut dong!”perintahku kepada Ratna secara paksa. Aku paksa dia
mengoral penisku yang menegang dari dalam air. Kontan dia gelagapan dan tersedak.
Lalu kubalik tubuhnya dan kuperkosa dia dari belakang. Sepuluh menit kemudian aku
merasa akan segera mencapai klimaks. “Aku dah mau keluar nih. Keluarin di muka lo
yah.”kataku. Kupercepat goyanganku dan kucabut dengan cepat lalu kuarahkan
kewajah Ratna dan muncratlah cairan putih kental itu membanjiri wajahnya yang
manis itu. Sementara itu kulihat ketiga bocah SMP itu sudah selesai mengerjai Leony.
Tubuh dara cantik itu belepotan sperma dimana-mana. Segera kuambil kamera digital
dan aku portet tubuh telanjang mereka. Sebagai pengaman agar mereka tidak lapor
kesiapapun mengenai hal ini atau bakal disebarkan semua foto-foto ini.
Begitulah malam pertama makrabku yang indah. Malam itu aku mendapat tubuh
2

dara cantik dari fakultas sekretary. Benar-benar malam yang indah.

Malam kedua makrab diisi dengan acara mencari jejak. Tentu saja tidak serius-serius
amat karena ini hanya untuk melatih kekompakan dan meningkatkan rasa
persaudaraan saja antar peserta. Rutenya tidak jauh-jauh banget hanya saja banyak
jalan memutar sehingga terasa jauh.
Singkatnya aku bertugas sebagai pengawas saja jika-jika ada anggota yang pingsan
atau mendapat masalah di jalan. Aku bersama seorang temanku bernama Joni, nama
lengkapnya Joni Everrat. Namanya sangat aneh menurutku, tapi maklum orang tuanya
yang pria adalah keturunan orang Amerika Latin sehingga menamai anaknyapun tidak
mau nama yang normal-normal saja.
Aku dan Joni menggunakan rute kecil yang berada dekat dengan rute makrab. “Dingin
nih Di. Bosen gua kalau sepi gini.”kata Joni padaku. “Beh! Kita tugas bro, lo mau ntar
dimaki-maki sama si Johan ketua panitia kalau sampai ada yang ilang?”sahutku pelan.
“Iye seh, tapi bosen abis neh bro. By the way ntar kalau ada yang nyasar kita kerjain
yuk biar seru. Biar tambah nyasar .. hahahahaha.. “tawanya, syukur lah dalam hatiku
berkata akhirnya dia sudah ga menggerutu lagi bosan aku mendengarnya.
Sekitar satu jam setelah kami nongkrong di tempat persembunyian, ada suara
beberapa anak mendekat. Ada 6 orang anak disitu, setelah habis makrab aku baru
tahu nama mereka adalah: Antony, Silvia, Rasti, Iman, Nugroho dan Ashanti.
“Gie!”panggil Antony kepada Nugroho yang panggilannya Nugie. “Apaan?”sahut Nugie.
“Gila neh. Lo yakin ini bener jalannya?”sahut Antony lagi. Nugie menyahut,”Lah, mana
gua tahu. Gua khan bukan panitia. Lagian semua tandanya bikin kepala gua puyeng
nih. Mana didepan ada perempatan pula. ** nih panitia-panitia, ngerjain kita
semua nih.”umpatnya berkepanjangan.
Silvia menengahi, “Sudah-sudah! Ga ada gunanya kalian semua nih cowok-cowok. Gini
aja, kita bagi regu menjadi 3. Trus kita lihat jalan didepan buntu atau kagak, kalau
sudah yakin dengan jalan didepan baru kita balik ke perempatan ini lagi. Gimana?

Iman yang dari tadi diam menjawab, “Masuk akal nih, gua setuju.” “Lah, ntar yang
cewek-cewek gimana dong? Aku ogah jalan sendirian ma cewek, ntar kalau
kenapa-kenapa bisa gawat.”kata Rasti. Silvia menyahut, “OK! Tiap regu terdiri dari
satu cewek dan satu cowok.” Lalu merekapun berpencar. Anthony bersama dengan
Ashanti, Silvia bersama Nugie, Iman bersama Rasti.
Dilihat dari arah yang mereka tuju, sudah jelas bagi aku dan Joni bahwa arah yang
dituju Nugroho dan Silvia adalah jalan menuju kepuncak gunung. Jelas mereka tak
akan sampai di tempat perkemahan sebelum sadar dan itu bakalan lama karena
lingkungan jalannya benar-benar menipu mata para pendaki pemula. Sementara itu
Antony dan Ashanti menempuh jalan yang nantinya akan buntu karena dibatasi sungai,
yang jalannya hanya bisa dilalui oleh orang-orang yang bisa berenang saja dan aku
yakin Ashanti tak akan pernah mau. Hanya Iman dan Rasti yang berhasil memilih
jalan.
“Bro! Lo denger gak tadi mereka ngomong apa?”kata Joni. “Emang napa seh?”sahutku.
“Belagu tuh anak-anak kemaren sore.”serunya dan kulihat dia benar-benar jengkel
dengan ucapan si Nugie. Aku tersenyum padanya, “Lah terus mau ngapain lagi? Kita
khan panitia, masak mau marahin mereka. Ga pada tempatnya.”sahutku lagi.
Joni lalu mengikuti Anthony dan Ashanti pergi. “Hoi, mau kemana loe?”tanyaku pada
Joni. “Udah ikut aja bro. Gua pengin tahu ngapain mereka pilih jalan buntu ini,
jelas-jelas arahnya melenceng keluar dari arah perkemahan.”ujarnya. benar juga
batinku, ngapain mereka mau pilih jalan itu.
Tak lama kemudian aku dan Joni sudah mencapai jalan buntu yang dilewati sungai itu.

Alirannya tidak deras-deras banget tapi kedalamnya hampir satu setengah meter, mau
tak mau buat orang jeri juga bagi mereka yang tidak bisa berenang.
“Ssssttt! Tuh denger!” Joni berbisik sambil membuat tanda diam dimulutnya. Dan
benar saja aku melihat Anthony dan Ashanti sedang bercumbu di atas sebuah batu kali
yang lebar dan lempeng. “Pas bener nyari tempatnya? Gua berani tebak, mereka pasti
sudah melihat kalau ada tempat asik disini pas waktu santai tadi siang. Gila tuh cewek,
pahanya mulus coi, toketnya juga gede putih dan mulus.”kata Joni sambil menelan
ludahnya. “Bah! Sialan, malam-malam gini malah bermesum ria.”gerutuku. “Kerjain
yuk?”kata Joni sambil senyum-senyum. “Ntar! Kita liat dulu aja mereka mau ngapain.

sahutku.
“Sssshhh .. achhh.. sshhh.. achhhhh Ton, kalau temen-temen liat gimana?”Ashanti
mencoba bicara ditengah gelora nafsunya. Anthony sambil terus menciumi lehernya
dan meremas buah dada gadis cantik itu hanya tersenyum dan mempreteli seluruh
pakaian gadis itu dan pakaiannya sendiri. Hanya dalam beberapa detik mereka sudah
bugil dan permainan bertambah panas karena Anthony dengan batang kemaluan yang
sudah membesar itu segera melakukan penetrasi ke liang vagina Ashanti.
“Say, aku masukin yah.”kata Anthony pada gadis itu yang ternyata merupakan
kekasihnya sejak di SMU kelas 3. “Iya deh honey. Kita main cepetan yah, takut kalau
ada yang tahu.”ucap Ashanti disela-sela desahan kenikmatannya.
“Achhh.. terus.. te.. te.. rus.. sayang.. honey.. ochhhh h!”racau Ashanti saat penis
Anthony menerobos liang senggamanya dan mulai digoyangkan pinggulnya naik turun.
Laksana lokomotif, dia menggenjot tubuh kekasihnya itu diatas batu kali.
“Ahhh.. ohhh.. ahhhhh.. “racau Ashanti semakin menjadi-jadi saat kekasihnya
semakin liar menyodokkan penisnya kedalam vaginanya. “Enak yah say?”canda
Anthony ditengah-tengah goyangannya yang semakin cepat.
“Achhhh.. ahhhhhhhhhhhhhhh“racauan Ashanti berubah menjadi sebuah suara
yang cukup keras. Nampaknya dia sudah mencapai orgasmenya yang pertama.
Sementara itu Anthoni hanya senyum-senyum saja, dilanjutkannya penetrasinya
dengan sodokan-sodokan yang mulai melemah lalu medadak menjadi liar kembali.
Penis berukuran kurang lebih 13-15 sentimeter itu benar-benar membuat lubang
vagina Ashanti yang putih bersih itu menjadi kemerah merahan karena efek gesekan
yang sangat cepat. “Clap, clap, clap, clap.”bunyi saat penis milik Anthony menjarah
liang kewanitaan Ashanti kekasihnya itu. Tak lama kemudian baru dia mencabut
batang kejantanannya dan mengocoknya diatas perut kekasihnya dan, “Crottt, crot,
crottt!” keluarlah semua spermanya dan membasahi perut gadis putih itu bahkan
pusarnyapun tertutup cairan mani yang putih kental itu.
“Say, kamu bener-bener lihai bercinta sekarang.” kata Anthony sambil mengecup bibir
gadisnya. Ashanti yang lemas hanya dapat tersenyum.
“Srakkkk.. “suara semak-semak terinjak oleh Joni yang keluar dari persembunyian.
Sepasang burung madu itupun kaget dan mencoba menutupi tubuh mereka dengan
pakaian, tapi apa daya karena Joni sudah merengut pakaian mereka yang berjatuhan
di bebatuan dan melemparkannya kesungai kecuali pakaian dalam sang cewek dan
beberapa barang seperti dompet dan handphone. Hilang sudah semua pakaian mereka
berdua.
“Mau apa lo?”bentak Anthony lantang menutupi kagetnya dan juga perasaan takut.
“Bah! Bocah kemaren sore belagu. Mau cari mati lo hah? Malam-malam makrab malah
dibuat *.”seru Joni lebih lantang. “Ton.. “Ashanti bersembunyi dibalik tubuh
kekasihnya guna menutupi tubuhnya yang telanjang bulat dan dia terisak-isak.
Akupun keluar dari semak-semak, “Heh kalian! Apa kalian gak tau aturan
disini?”seruku pada sepasang kekasih itu. “Disini kalau mau bersenang-senang kagak
boleh sendirian.”tambahku.
Anthony menjauh dan berusaha untuk mecari alat buat menutupi tubuhnya. “Mau apa
kalian?”serunya kali ini tidak selantang yang tadi. Aku tersenyum sambil melihat body
Ashanti yang telanjang itu, “Gua cuman mau cewek lo aja buat malam ini.”tandasku
padanya. “Hah! Apaaaa?” Anthony kaget namun aku yakin dia sudah memikirkan
kemungkinan itu sebelumnya. “Kalau kagak mau juga ga apa apa seh. Cuman cewek lo
bakalan jadi bulan-bulanan disini karena dia bakalan pulang telanjang bulat karena
celana dalam dan bra nya bakalan kami buang kesungai.”seruku.
Anthony berusaha menyerang Joni dengan harapan dapat merebut barang kekasihnya
namun aku juga sigap dengan segera aku memukul tengkuk pria itu hingga dia
pingsan. Lalu kami mengikat Anthony di sebuah pohon besar agak jauh dari tempat
kami bertemu mereka sambil membawa paksa Ashanti yang bugil dan kedinginan.
“Nah. Kalau disini ntar kalau temen-temen lo pada balik nyariin gak bakalan ada yang
nemuin lo.”kataku pada Ashanti “Lo kalau kedinginan ngapain pakai acara **

*
malem-malem dihutan?”lanjutku sambil mencium paksa bibirnya. Luar biasa lembut,
gadis cantik ini benar-benar membuatku terpesona. “Ampun kak. Saya minta pakaian
dalamnya lagi, saya nggak akan bilang siapa-siapa soal ini asal saya dilepasin
kak.”katanya padaku sambil berlinangan air mata. “Beh! Emang lo masih perawan
apa? Anggap aja ngelayanin kami sama aja ngelayanin cowok lo.”seru Joni sambil
mempreteli bajunya. Menurut undian aku lebih dulu yang dapat jatah.
Segera setelah aku melepaskan bajuku, aku segera menindih cewek bahenol ini dan
mulai melakukan penetrasi. Sambil kuciumi payudara dan leher juga bibirnya aku
berkata,” Gua jamin, pelayanan gua lebih memuaskan daripada cowokmu itu.

“Jangan kak. Ampun! Kak janga.. an.. achhhhhh.. achhhhhhhhh ” ucapannya
berubah menjadi rintihan saat penisku menerobos liang kemaluannya. Tak butuh

waktu lama hingga seluruh penisku yang panjangnya 18 senti itu masuk semua
kedalam vagina Ashanti. “Sekarang enak khan? Penis gua lebih gedean khan dari
punya cowok lo?” kataku pelan sambil memulai sodokan-sodokan penisku kearah
dalam vaginanya.
“Ach, ohhh, achhh, ochhh, jangan kak! Ahhhh.. ohhh” Ashanti mulai tak terkendali,
nampaknya walaupun dia ingin menolak tetapi dia tetap merasakan kenikmatannya.
Tak sampai sepuluh menit dia mencapai orgasme keduanya malam ini. “Achhhh,
kak.. ahhhh!” serunya diiringi tubuhnya yang mengejang kuat dan tanpa sadar
tangannya menekan bahuku. “Heheh! Ternyata menikmati juga yah?” ejek Joni pada
Ashanti.
Lalu kupercepat gerakan sodokanku, kali ini kurubah gaya menjadi woman on top
sehingga dia bisa bergoyang lebih bebas dan dengan gaya ini dia orgasme untuk ketiga
kalinya. Cairan cinta dari vaginanya bercampur dengan cairan pelumas yang keluar
dari batang kejantananku menimbulkan bunyi-bunyian yang berkesan becek saat
kedua kelamin kami berbenturan.
Kemudian kuakhiri petualanganku malam ini dengan doggy style dimana di kuposisikan
menghadap kekasihnya yang masih pingsan dan kusuruh dia mendesah seliar
mungkin. Tak lama kemudian aku merasakan spermaku akan keluar. “Say, aku
keluarin didalam yah.”kataku padanya namun tak ada jawaban. “Crot, crot, crot,
crottt!” spermaku menyemprot liang vaginanya setidaknya 4 sampai 5 kali.
Selang 2 menitan Ashanti langsung disuruh jongkok oleh Joni dan dimembersihkan
vagina cewek itu dengan air sungai. “Bah! Tercemar sudah.” serunya sambil terkekeh.
Lalu tanpa aba-aba lagi dia langsung menyodokkan penisnya kedalam vagina Ashanti
yang sudah lemas itu dengan posisi doggy style.
“Ach, ach, ohhh!” Ashanti kembali meracau tidak karuan. Saat itu kekasihnya bangun
dari pingsan dan melihat betapa liarnya Joni menggenjot kekasihnya. “Nih liat!
Cewekmu aduhai bener bodynya, goyangannya juga mantap.” kata Joni pada Anthony
sambil memperliar sodokannya sehingga kadang membuat Ashanti mengaduh
kesakitan. “Ahhh, yes, ohhh.. yessss!” kali ini giliran Joni yang meracau tak karuan.
Aku segera ambil posisi, “Kalau kamu mau pakaian dalam kamu balik, kamu harus
mengoral penis gua dulu. Nih!” kataku sambil menyodorkan batang kejantananku yang
mengeras lagi kedepan bibir mungilnya yang menurutku sangat seksi.
Dia lalu membuka bibirnya perlahan dan mulai memasukkan penisku kedalam
mulutnya. “Ahhh, gitu dong dari tadi.” seruku sambil memaju mundurkan pinggangku
mengerjai mulut Ashanti gadis manis ini. Tak lama kemudian Joni mempercepat
goyangannya dan langsung meremas buah dada Ashanti dengan keras hingga gadis ini
mengaduh keras. “Ahhh.. gua keluar nih. Memek lo emang legit abis Shan, kalau jadi
lonte dah bakalan laris lo.” Joni berkata sambil melakukan sodokan pamungkasnya
yang mendalam dan keluarlah seluruh cairan haram itu didalam vagina Ashanti. Gadis
ini hanya bisa menutup mata namun tak lama dia terpaksa harus membuka matanya
karena aku berejakulasi saat penisku dioral mulutnya. Dia mencoba melepaskan
penisku namun gagal dan akhirnya harus menerima sebagian besar maniku keluar
dimulutnya.
Setelah puas, aku dan Joni berpakaian dan memberikan pakaian dalam Ashanti tapi
sebelumnya aku kembali menggunakan kamera digitalku untuk memotret mereka
berdua dalam kondisi telanjang bulat. “Kalau lo pada buka mulut, foto-foto ini bakalan
gua kirimin kesemua relasi kalian and tentu saja keseluruh kampus dan keluarga
kalian. Ngerti!” bentakku. “Udah! Ayo pergi! Dah puas gua ngentotin tuh anak baru.

kata Joni sambil ngeloyor pergi. Sebelum aku pergi aku berbisik pada Ashanti, “Lain
kali kalau kamu butuh kepuasan, cari saja aku. OK?” bisikku.
Kejadian itu merupakan kejadian yang sangat berkesan, karena aku bisa memperoleh
tubuh cewek angkatan baru ketigaku. Lalu aku dan Joni segera pergi kearah Silvia dan
Nugie pergi. Ceritanya cukup seru juga.

Setelah menempuh setidaknya satu jam perjalanan, aku dan Joni memutuskan untuk
berhenti mencari Silvia dan Nugie. Tapi benar-benar takdir, aku dan Joni mendengar
ada suara ribut-ribut didekat kami dan kamipun mencari arah suara tersebut. “Hmmm,
tuh mereka berdua. Malah perang sendiri.” kata Joni padaku.
“Anak baru emang ga berguna semua, nyari jalan saja pakai berantem.” ucapku. Kami
berdua lalu mendekati kedua anak itu. Mereka kaget tapi lega dan senang melihat ada
panitia didekat mereka. “Untung ada kakak panitia.” kata Nugie pada Silvia. Silvia ini
tidak begitu cantik paras wajahnya, namun dia sangat modis cara berpakaiannya dan
body nya itu yang aduhai, jauh lebih seksi daripada Ashanti yang padahal menurutku
sudah cukup seksi.
Kami berencara untuk turun gunung namun ternyata jalan yang kami lalui tadi tertutup
kabut. “Bener-bener deh! Tadi waktu diatas ga ada kabutnya kok dibawah sekarang
ada.” gerutu Joni lagi. “Aneh juga, baru kali ini ada yang beginian. Kalian juga sih pake
acara naik gunung, dah tahu perkemahannya di kaki gunung.” kataku kesal. Seolah
mengakui kesalahan mereka, kedua bocah itu diam. Akhirnya kami berempat harus
menunggu sampai kabut hilang karena jalan yang dilalui ada beberapa bagian yang
curam dan jarak pandang hanya 2 meter didepan.
“Dah! Kita diam disini dulu saja sampai kabut ilang.” kataku sambil duduk disebuah
potongan ranting kayu yang besar yang nampaknya jatuh dari sebuah pohon. Joni
terdiam lalu angkat bicara, “Jangan! Gue kayaknya masih inget ada tempat
persinggahan disini, pos buat para pendaki.” Kami lalu mencari pos tersebut dan

ternyata Joni benar dan letaknya tidak jauh dari tempat kami berdiri tadi.
Pos berukuran 5×5 meter yang sederhana sekali, hanya terdapat sebuah tempat tidur
dari semen yang bisa digunakan buat tidur, duduk ataupun bersantai sambil menaruh
bawaan. Malam semakin larut dan kabut diluar pos semakin tebal saja. Karena hanya
membawa lampu senter multifungsi tanpa membawa oncor, obor atau sebagainya
maka hawa dingin semakin merajalela.
“Anjing! Dingin abis disini. Mana kaga ada perapian pula.” Nugie mulai menyumpah
serapahi keadaan. Aku melihat Silvia mulai mendekatiku dan berbagi jaket gunung
bersamaku. Maklum diantara kami berempat, akulah yang menggunakan jaket gunung
paling tebal, tapi jujur saja suasana dingin sudah biasa bagiku karena aku lahir
didaerah pegunungan juga. “Hih! Dingin, dingin banget.” Silvia kini mulai berani
memeluk tanganku. Kurasakan tonjolan menyentuh lengan atas tanganku. Dada Silvia
yang cukup besar, 36B setidaknya menurut tebakanku menyentuh tanganku.
Disuasana sedingin ini sebuah kehangatan merupakan surga.
“Hmm! Silvia.” panggilku padanya dan dia menoleh. Dia terkejut karena tanganku
sudah memasuki jaket dan baju kausnya bahkan sudah melewati himpitan branya dan
menyentuh buah dadanya yang montok itu. “Kakak! Kakak apa-apaan sih?” bentaknya
padaku namun tak berpengaruh bahkan aku semakin berani mereka payudaranya kali
ini menggunakan kedua tanganku. “Kamu tau nggak Silv, di cuaca sedingin ini
kehangatanlah yang penting. Dari pada aku mati beku mending kita bekrja sama.” aku
beralasan. Tanpa di komando lagi, Joni segera memegangi kedua tangan Silvia dari
belakang sementara aku membuka bra nya. Kali ini dada Silvia tidak tertutupi bra lagi
walaupun dia masih mengenakan jaket dan kaus. Tak hanya itu, aku langsung
memelorotkan celana jeansnya dan juga celana dalamnya. Setelah tubuh bawahnya
telanjang dia baru dapat berteriak. “Hentikan! Kalian sudah pada gila! Apa-apaan ini?
Jangan macam-macam.” serunya namun tak ada gunanya. Bahkan Nugie yang dari
tadi bengong jadi ikut bereaksi meremas-remas payudara Silvia. Sementara mulutku
mencumbu bibirnya dengan french kiss. Nampaknya mau tak mau dia pasrah juga
melihat dirinya dikerumuni tiga pria dan semuanya berebutan untuk merangsang diri
mereka dengan tubuhnya yang akhirnya berbalik merangsang diri Silvia sendiri.
Tak menunggu lama segera aku pasang posisi, “Jangan khawatir Silvi, yang penting
kenikmatannya kok dan kehangatan kita semua.”kataku sambil membuka resleting
celana jeansku dan segeralah batang kejantananku mengacung tegak seolah
menantang dinginnya malam berkabut itu. “Gila! Gede amat.” tanpa sadar Nugroho
berceletuk dan ditanggapi dingin oleh aku dan Joni.
Blessshhh. Segeralah batang penisku itu menerobos masuk kedalam vagina Silvia.
“Achh, sakit mas.” Silvia mulai terbata-bata. Kala itu baru kepala penisku yang bisa
masuk. “Kamu masih perawan yah Sil.” aku tersenyum melihat dia menahan rasa sakit
namun tak sanggup memberikan perlawanan. Dan dalam selang satu sampai dua
menit akhirnya seluruh batang kemaluanku berhasil sukses melesak masuk kedalam
liang kewanitaan Silvia.
“Ah, achhh, ahhh.” Silvia mulai mengejang menahan sensasi kenikmatan dan menahan
rasa perih di liang senggamanya. Ukuran vaginanya memang lebih kecil dari semua
cewek yang pernah kutiduri dan ditambah ukuran penisku yang cukup lumayan itu
membuat terasa sangat seret dan sulit saat akan penetrasi.
Benar-benar situasi yang luar biasa dimana Silvia yang hanya menggunakan atasan
dan diriku yang masih berpakaian lengkap ini bersenggama di sebuah ruangan yang
dingin berkabut. Karena kondisi maka aku memilih doggy style sehingga tidak perlu
terlalu ribet. Tiap sodokan demi sodokan dari penisku membuat kedua payudara sang
dara ini berguncang hebat. “Achhh, mas, ahhh, ahhhh.. hentikan mas.. achhh.

racaunya ditengah goyangan mautku. “Bener mau berhenti?” godaku padanya sambil
senyum-senyum. Sambil meremas-remas payudaranya dari belakang, aku benar-benar
mencapai kepuasan yang tiada tara. Gadis bertubuh molek ini akhirnya dapat aku
garap dengan seekstrim ini. Dua puluh menti kemudian aku mencapai klimaksku dan
ku semprotkan seluruh cairan kemaluanku didalam vaginanya. Saking banyaknya
hingga ada tetesan yang keluar.
Setelah diriku, Joni lalu kemudian Nugroho juga melampiaskan hasrat terpendam
mereka ketubuh Silvia dan sama sepertiku mereka menggunakan doggy style.
Sperma-sperma yang memenuhi liang kewanitaan Silvia seolah menjadii saksi
kebrutalan tiga pria dalam satu malam yang dingin. Banyak sekali pose saat Silvia
disodok yang terekam kameraku. “Enak yah Sil? Nyari kehangatan sambil nyari
kenikmatan.” kataku padanya. “Kalau kamu ntar mau * lagi, bisa ngomong ke
aku OK Sil.”aku manambahi.
Setelah kurang lebih pukul 4 pagi, kabut mulai hilang dan kami berempat berani untuk
turun. Malam itu selama kurang lebih 2 sampai 3 jam kami mengerjai Silvia dari segala
sisi. Setidaknya aku sudah berejakulasi dirahim, anus dan dadanya. Begitu juga
dengan dua orang yang lain, bahkan Nugie lebih rakus karena dia memaksa Silvia
melayaninya hingga 5 kali. Entah sudah berapa banyak sperma yang memasuki rahim
Silvia waktu itu. Malam itu selain mendapatkan servis dari Ashanti, aku juga
memperoleh servis dari Silvia plus keperawanannya. Rekorku sepertinya melebihi
rekor Yusak temanku dalam hal memerawani cewek.

Hari ketiga waktu sore hari tiba, banyak peserta makrab yang menyiapkan acara
mereka masing-masing karena tiap-tiap regu diharuskan menampilkan sebuah atraksi
hiburan yang akan digunakan pada malam api unggun. Malamnya saat acara api

unggun dimulai, suasana sangat meriah dan tidak ada lagi acara bentak-bentak dari
para senior. Semuanya membaur menjadi satu baik senior maupun junior. Aku, aku
memilih menyendiri di salah satu tenda panitia. Terus terang aku cukup lelah dengan
aktifitas pagi waktu itu dimana kelompok tugasku diberikan tugas untuk menyiapkan
keperluan dan perlengkapan untuk acara api unggun.
Saat aku mendekati salah satu tenda panitia dari bagian dokumentasi, aku mendengar
ada suara orang bercakap-cakap, setidaknya ada 3 orang disana. Kudengar
samar-samar dan aku mulai dapat memastikan kalau suara itu adalah suara Joni dan
Anwar temanku sementara suara satu lagi adalah suara perempuan yang aku tidak
kenal. Tapi itu bukan yang membuatku terkejut, karena yang membuatku sangat
terkejut adalah suara-suara yang muncul dari mulut ketiga orang itu.
“Jangan kak! Saya benar-benar nggak sengaja kok.”kata si cewek yang ternyata
bernama Ivone. “Gak sengaja gimana? Jelas-jelas kamu bawa benda ginian ditas
kamu, emangnya benda seperti ini isa masuk dewe?”bentak Anwar dengan logat
jawanya.
Terdengar suara tangis kecil dan sesenggukan dari sang cewek. Aku segera masuk
untuk mengetahui apa yang terjadi dan kudengar dari penuturan kedua rekanku itu
bahwa bocah yang bernama Ivone ini ternyata membawa minuman keras Jack Daniels
dan juga beberapa linting rokok berisi ganja.
“Sinting! Kamu pikir ini tempat apaan?”bentakku. Emosi juga kumelihat ada junior
yang berani bertingkah jauh diambang batas seperti gadis ini. Gadis berkulit putih ini
hanya bisa terdiam. Ivone adalah gadis keturunan cina, tinggi tubuhnya 165 an dan
berambut panjang lurus di cat warna merah dipinggirnya.
“Saya menyesal kak. Tolong jangan dilaporin.”pintanya setengah merayu walaupun
tangisnya masih juga keluar. “Heh, dia pake acara merayu pula.”ejek Anwar pada
Ivone sambil duduk yang lalu pergi keluar untuk mecari udara diluar tenda. Aku lihat
tubuh Ivone cukup bagus dan wajahnya juga lumayan karena didukung kulitnya yang
putih bersih. “Hng! Emangnya kamu mau ngerayu kami pake cara apaan?”kataku
padanya sambil melirik kearah buah dadanya. Saat itu dia memakai kaus lengan
pendek dengan lingkar leher cukup besar sehingga dari lingkar leher kausnya dapat
terlihat dadanya saat dia merunduk.
Nampaknya Ivone cukup tanggap akan hal tersebut dan dia segera membuka kausnya
hingga terlihat payudaranya yang dibalut bra berwana krem. “Kakak boleh lihat tubuh
Vony tapi jangan lapor tentang rokoknya sama minumannya. Please yah kak, ntar aku
bisa dikeluarin.”pintanya memelas. Joni menimpali,”Lo bukan cuman bakal dikeluarin
tapi juga dipenjara. Kita-kita bisa saja ngomong kalau lo mau mengedarkan ganja itu
di lingkungan kampus.”serunya pada dara tersebut.
Sambil meletakkan tas cangklongku aku perlahan mendekati dia,”Kamu, kalau cuman
bisa buka segini ga ada gunanya. Ga setimpal. Kalau mau buka semuanya!”seruku
padanya. Akhirnya walau dengan enggan akhirnya dia mau mencopot seluruh
pakaiannya didepan kami berdua. Payudara putihnya segera menjadi pemandangan
utama dan ukurannya cukup besar sekitar 36B, belum lagi pusarnya yang ditindik
membuat dia semakin seksi saja.
“Wah, kalau gini baru kita-kita bisa berpikir jernih tentang masalah lo.”Joni terkekeh
sambil menjulurkan tangannya memegang-megang payudara Ivone. Tapi dikebaskan
tangan Joni oleh tangan Ivone. “Sialan! Lo mau gua laporin apa?”bentak Joni tidak
terima. Namun suasana saat itu terhenti saat ada seseorang yang masuk yang
ternyata adalah Anwar.
Dia terkejut dan tak dapat melepaskan pandangannya dari tubuh bugil Ivone,”Gila,
apa-apaan neh? Kok jadi gini?” Anwar bingung. Selang beberapa detik kemudian ada
panggilan dari radio komunikasi kami dari HT salah satu teman kami diluar, isinya
adalah buat Joni untuk segera datang keacara api unggun karena dia kebagian tugas
mengabadikan acara tersebut dengan handycam panitia. Segera kusuruh Joni keluar
walalaupun enggan tapi hal tersebut agar tidak membuat kecurigaan dikubu panitia.
“Sekarang tinggal kita bertiga.”kataku pelan sambil membuka celanaku dan segera
terpampang penisku yang sudah lama ereksi karena melihat tubuh telanjang Ivone.
“Kak, jangan! Tadi khan katanya cuman mau lihat. Bukan yang lain kak.” kata Ivone
patah-patah karena gugup. Anwar masih bengong dari tadi baru bisa menguasai
dirinya, “Di! Kowe sudah edan yah? Ntar kalau yang lain kesini bisa mampus
kita.”katanya panik dengan logat lucunya itu. Aku hanya meringis sambil menyergap
Ivone yang mencoba berontak. Kupegang kedua tangan dara tersebut sementara
kedua pahanya kutekan dengan kakiku sehingga tak dapat bergerak lagi.
“Von, sekarang kamu harus buat aku senang kalau tidak aku laporin semua barang
bukti ini ke temen-temen panitia yang laen. Gak enak lho dipenjara bertahun-tahun
apalagi buat gadis muda kayak kamu. Dipenjara bisa jadi bulan-bulanan.” kataku
menakut-nakutinya dan berhasil, dia menjadi minder ketakutan akan akibat yang
mungkin terjadi jika aku melaporkan semuanya.
Kuciumi mulutnya yang tipis itu sambil kuremas-remas payudaranya yang putih mulus
itu. Kujilat dan kuhisap-hisap puting susunya sehingga mengeras dan sedikit demi
sedikit dia sudah mulai merasakan kenikmatan cumbuanku. Vaginanya mulai basah
dan saat inilah yang kutunggu. Kuarahkan penisku kearah bibir vaginanya dan segera
kudorong melewati labia minora tersebut.
“Ach, ahhh.. ” rintihnya pelan saat batang kejantananku melesak kedalam vaginanya.
“Ahhh, nikmat sekali.” kataku pelan sementara dia hanya membisu dan membuang
muka kesamping. Dari saat aku memasukkan penisku hingga saat aku mulai

memompa batang kemaluanku itu, aku dapat merasakan kalau dia sudah pernah
berhubungan dengan pria lain. Tak ada darah dan kesulitan memasukkannya tidak
sesusah saat bersama dengan gadis yang masih perawan.
Kugenjot semakin cepat sambil kuangkat kedua pahanya dan kusandarkan di
pundakku sementara dia berbaring pasrah menerima hunjaman-hunjaman penisku di
liang kemaluannya. “Ahhh, achh, ohhh.. ” rintihnya pelan. Selama sepuluh menit aku
hajar vaginanya dengan posisi itu dan karena tempat yang sempit aku enggan
berpindah posisi. “Ahh, aku mau keluar nih. Keluarin mana nih?” kataku padanya. Dia
hanya menjawab pasrah, “Terserah kakak mau dikeluarin dimana.

“Ahhh, ahhh.. ” aku mengerang cukup keras sebelum aku menegang dan penisku
menyemburkan cairan sperma yang cukup banyak didalam vaginanya. “Crot, crott,
crottt, crottt.. ” Sekarang liang vaginanya dipenuhi cairan putih kental yang akhirnya
sebagian besar mengalir keluar dari dalam liang senggama Ivone melalui bibir
vaginanya. Aku lalu memakai celanaku lagi dan duduk agak jauh dari Ivone.
“Kamu nggak mau nyobain nih cewek?” kataku pada Anwar yang dari tadi cuman
tertegun menonton permainan panasku dengan Ivone. Akhirnya dia juga ambil bagian.
Dengan sigap dia copot semua pakaiannya dan langsung mengarahkan penisnya yang
berwana coklat kehitaman itu kearah bibir vagina Ivone yang putih kemerahan yang
masih belepotan sperma itu, tapi nampaknya temanku itu tak peduli lagi.
“Ahhh, ahhh, akhirnya hilang juga perjakaku. Kentu ma cewek cina lagi. Ngimpi juga
gak pernah aku.” katanya padaku. Aku hanya tersenyum melihat kelakuan polos
temanku itu. Batang kemaluan yang berwarna gelap itu kontras sekali dengan liang
memek Ivone yang putih kemerahan. Setiap kali penis Anwar menyodok dalam vagina
Ivone, gadis itu bergetar keras sambil mendesah entah desahan sakit atau
kenikmatan.
“Ahhh, keluarin didalam yah non.” kata Anwar dan benar saja hanya dalam waktu lima
menit dia * dengan gadis itu dia langsung mencapai klimaksnya. Sekali lagi
cairan sperma milik seorang pria membanjiri liang senggama Ivone. Setelah itu kami
berdua menyuruhnya mengoral penis kami hingga kami berejakulasi diwajah dan
mulutnya.
Sekitar dua jam kemudian, Joni datang bersama tiga orang panitia yang lain.
Semuanya pria dan semuanya menjadi horny saat melihat tubuh telanjang Ivone yang
lemas karena melayani aku dan Anwar tanpa henti. Seakan kerasukan setan, keempat
rekanku itu mencopot celana mereka masing-masing dan menggagahi Ivone secara
bergantian. Kali ini bukan cuma vagina dan mulutnya yang dihajar dengan sumpalan
penis, tapi juga lubang anusnya yang disodomi oleh keempat temanku ini. Benar-benar
brutal sekali, karena sempat aku melihat saat vagina Ivone dijejali dua penis sekaligus.
Saat itu dia menangis keras namun segera dibungkam oleh salah seorang dari mereka.
Sekitar jam 12 malam tepat saat acara api unggun mendekati selesai, mereka
berempat selesai mengerjai Ivone dan meninggalkannya dengan tubuh belepotan
sperma baik dimulut, payudara, perut, paha, punggung bahkan anusnya, terlebih di
liang kewanitaannya dibanjiri oleh sperma dari 6 orang pria berbeda. Karena terlalu
banyak hingga meluber keluar. Malam itu Ivone lolos dari jerat hukum tetapi dia
masuk kedalam jerat kami para panitia. Benar-benar malam yang menyenangkan.

Andani Citra: The other side of me

Filed under: sejenis

Ini adalah pengalamanku yang agak beda dari yang biasa kuceritakan pada pembaca. Karena kali ini aku akan membuka sisi lesbianku, seperti yang dikatakan ilmu psikologi bahwa setiap manusia itu tidak 100% homoseks, juga tidak 100% heteroseks. Pernah diceritakan pada kisah-kisahku sebelumnya bahwa aku juga pernah melakukan aktivitas seksual dengan sesama jenisku walau bersamaan dengan lawan jenisku. Namun kecenderunganku pada wanita paling cuma 25%, cuma buat variasi atau iseng saja. Pada kesempatan ini aku akan menceritakan aktivitas seksku dengan sesama jenis secara khusus.


Diantara empat sekawan geng-ku mungkin yang belum banyak diketahui pembaca adalah Ratna, aku memang belum sempat menuliskan pengalaman-pengalaman kami bersamanya. Ratna ini orangnya paling kalem diantara kami, juga paling pintar dalam pelajaran. Dibanding kami bertiga yang masih sendiri atau sering gonta-ganti pacar, perjalanan cintanya adalah yang paling mulus, cowoknya seorang liberal sehingga sehingga membiarkannya bebas bertualang dengan cowok lain, asalkan hatinya tetap untuknya, begitu kata cowoknya yang juga pernah terlibat ML denganku itu.

Dia mempunyai tubuh langsing dengan payudara sedang, berambut hitam sebahu. Wajahnya bersih serta bermata bening dan berbibir indah, membuat setiap pria terkesima oleh pesonanya. Karena lebih banyak menghabiskan waktu dengan pacarnya, kebersamaannya denganku lebih sedikit dibanding dua temanku lainnya.

Hari itu kami rencananya akan clubbing, sebelumnya aku harus menjemput Ratna dulu di rumahnya baru ke rumah Verna yang tidak terlalu jauh dari sana, barulah berangkat bareng dengan mobilnya Verna. Aku sampai ke rumah Ratna terlalu pagi agaknya, baru jam setengah delapan malam. Setiba di sana aku disambut mamanya yang mengatakan kalau Ratna sedang mandi, beliau mempersilakanku langsung saja ke kamarnya di lantai tiga.

“Hai, Ci, masuk aja dulu, gua belum beres nih!” ajaknya saat membuka pintu.

Jelas sekali dia baru mandi karena rambutnya basah dan cuma memakai handuk hijau yang melilit di tubuhnya.

“Walah, lu baru mandi lu malam gini!” kataku.
“Hehehe.. Tadi ketiduran lama abis nonton film, ya sekalian isi tenaga buat nanti lah!” jawabnya.

Dia duduk di ranjang dan mengoleskan body lotion pada pahanya, dipersilahkannya aku duduk di sebelahnya. Kuperhatikan tubuh montoknya yang cuma terbalut handuk dengan kulit putih mulus, kaki kanannya yang sedang diolesi lotion ditekuk sehingga memancarkan keindahannya.

“Ikutan Amway (salah satu usaha MLM) lu Na? Bukannya biasa lu pake Bodyshop?” tanyaku merujuk pada body lotion itu.
“Nggak, itu saudara gua nawar-nawarin terus sih, jadi aja gua beli deh, lumayan mahal loh!”
“Bagus nggak tapi?”
“Ya gitulah, kata gua sih nggak beda jauh, cuma bantuin saudara gua nambah poin aja sih,” jawabnya, “Nih.. Coba aja sama lu sini!” seraya menawarkannya padaku

Aku menjulurkan telapak tangan menerima sedikit cairan itu, lantas kuoleskan pada lengan dan betisku yang terbuka karena saat itu memakai celana jeans ketat sepanjang lutut.

“Ci, bisa tolong gosokin ke punggung sekalian nggak?” pintanya sambil melepas handuk yang membelit tubuhnya sehingga terlihatlah tubuh telanjang dibaliknya.

Ratna merebahkan tubuhnya tengkurap dan menaruh kepalanya pada kedua lengannya yang dilipat. Mulailah aku menggosok punggungnya, perlahan sambil memijat. Dia senyum-senyum kecil sambil dan memuji pijatanku yang katanya enak dan lembut.

“Eemmhh.. Enak Ci, kaya di salon aja, lu emang bakat mijat deh!”
“Enak aja.. Gua disamain tukang pijat, iihh!” kataku sambil menepuk pelan pantat montoknya.
“Aw.. Genit ah lu, tepuk-tepuk pantat segala” sambil tertawa cekikikan.

Mumpung tanganku sudah mendarat di pantatnya dan cairan itu masih tersisa sedikit ditanganku, akupun sekalian memijati pantatnya.

“Disini sekalian dioles juga yah, tanggung nih dikit lagi, sayang kan mahal-mahal mubazir” saranku yang lalu diiyakannya.

Ketika mengurut bongkahan pantatnya terdengar olehku dia mendesis pelan dan tubuhnya sedikit bergetar. Melihat reaksinya, iseng-iseng aku menyusupkan tanganku ke paha dalam lalu merambat perlahan ke pangkalnya.

“Oohh.. Ci!!” desisnya makin jelas begitu daerah sensitif itu kusentuh.

Entah secara disadari atau tidak, dia merenggangkan kedua pahanya seolah minta lebih. Karena dia menikmati yang kulakukan, akupun mulai horny dan terdorong meneruskan lebih jauh lagi.

Pinggiran vaginanya kuusapi dan sedikit demi sedikit jari tengah dan telunjukku mulai masuk ke lubang kemaluannya. Jempolku kususupi ke anusnya diiringi desahannya, oohh..! Baik aku maupun dia makin terangsang saja dengan suasana seperti ini. Tanganku yang sudah basah oleh body lotion jadi tambah basah bercampur dengan air kewanitaan Ratna. Sekitar sepuluh menit jari-jariku bermain pada anus dan vaginanya hingga akhirnya dia menggelinjang dan mendesah mencapai orgasmenya. Dua menit kemudian dia bangkit duduk di ranjang dan menatapku dengan senyum manis.

“Ok, sekarang giliran lu Ci” katanya.

Akupun mulai melepas tank-top dan BH-ku sehingga aku topless sekarang.

“Wah, tambah seksi aja lu Ci” sahutnya sambil memencet payudaraku.
“Sama lu juga, pantesan si Samuel betah sama lu” jawabku sambil balas mencubit putingnya.

Kami saling meraba payudara, pelan-pelan wajah kami semakin dekat, hidungku bertemu hidungnya. Hembusan nafas Ratna yang sudah memburu terasa di wajahku. Kulingkarkan tanganku pada lehernya dan bibir kami mulai saling mendekat hingga bertemu.

Aku mengeluarkan lidah menjilati bibirnya, dia juga ikut mengeluarkan lidahnya membalas perbuatanku. Lidah kami menari-nari dalam mulut pasangan masing-masing. Tangannya yang lembut membelai punggungku menimbulkan sensasi geli yang nikmat. Demikian pula halnya tanganku turut mengelus punggungnya, sementara tangan kananku meremas payudaranya sambil memilin-milin putingnya, puting itu makin mengeras karena terus kumain-mainkan. Tanpa melepas ciuman, kudorong tubuhku de depan sehingga menindihnya. Ciuman kami semakin hot seiring dengan gairah yang makin membara dalam diri kami. Suara-suara kecupan bercampur dengan erangan tertahan dan nafas kami yang makin menderu.

Tiba-tiba Ratna mendorong tubuhku dan berguling ke samping, kini posisi kami bertukar menjadi dia yang menindihku. Tangannya dengan sigap membuka sabukku dan memerosotkan celanaku berserta celana dalam dibaliknya. Aku turut menggerakkan kakiku membantu celana itu lepas dari tubuhku. Ratna melemparkan celana dan celana dalamku ke kursi rias yang tak jauh dari sini. Kembali dia menindihku hingga payudara kami saling menghimpit. Setengah menit kami berpelukan erat dengan mata saling tatap, kemudian kurasakan suatu gesekan pada bibir vaginaku yang membuatku mendesah secara refleks.

Ternyata Ratna mengelus vaginaku dengan pahanya. Aku membuka pahaku lebih lebar agar klitorisku juga merasakan belaian lembut itu. Gesekan itu membuatku menggelinjang, belum lagi sekarang Ratna sudah mulai menciumi telingaku. Hembusan nafas ditambah permainan lidahnya pada lubang dan daun telingaku menghanyutkanku lebih dalam.

“Eemmhh.. Nana.. Mm!” desahku dengan mata terpejam.
“Servis gua ok kan” katanya berbisik di telingaku.

Ciumannya merambat turun ke leherku, ssrr.. Lidahnya menyapu telak leher jenjangku disusul gigitan pelan dan cupangan yang dilakukannya dengan lembut dan mesra. Tangan kirinya menangkap payudaraku dan meremasnya lembut, jari-jarinya yang lentik menyentil-nyentil putingku hingga membuatnya makin tegang. Dari leher mulutnya turun lagi ke dadaku, lidahnya menjilati putingku yang kanan sementara tangan kirinya tetap memijat payudara kiriku.

“Terus Na.. Give me more!” kataku sambil menekan kepalanya karena tidak puas hanya dengan dijilati saja.

Tubuhku bergetar hebat merasakan payudaraku dikenyot dan diremas olehnya.

Tangan kanannya kini bercokol di kemaluanku menggantikan pahanya, jarinya membelai lembut diantara kerimbunan bulu-bulu kemaluanku. Dua jari lainnya masuk ke dalam dan mengelus-elus dinding vaginaku sekaligus mencari klitorisku. Ketika menemukan titik rangsangan itu, semakin gencarlah dia memainkan benda itu sehingga tubuhku makin tak terkendali dengan mendesah dan menggeliat-geliat. Butir-butir keringat seperti embun sudah membasahi dahiku dan wajahku makin merah menandakan betapa terangsangnya aku. Kugerakkan tanganku ke bawah meraih payudaranya dan meremasinya sebagai respon perbuatannya.

Jilatan Ratna turun lagi ke pusar yang dia jilati sebentar membuatku tertawa kecil karena geli, kemudian turun lagi mencapai vaginaku. Diperhatikannya sejenak kemaluanku sambil mengelus bulunya yang lebat. Kedua jarinya membuka bibir vaginaku sehingga udara dingin dari AC menerpanya. Darahku makin bergolak ketika dia mulai membenamkan wajahnya ke daerah itu. Aahh.. Desisku begitu lidahnya menyentuh bibir vaginaku.

“Na.. Eenngghh.. Di situ.. Terus!” aku menggeliat merasakan lidah Ratna bergerak liar seperti ular merangsang setiap titik peka pada vaginaku. Sebagai seorang wanita, dia tahu betul bagaimana memanjakan tubuh wanita secara seksual.

Aku sungguh menikmati permainan oralnya. Kedua pahaku merapat mengapit kepalanya menahan rasa geli. Otomatis pinggulku ikut bergoyang akibat rangsangan itu, Ratna memegangi pinggulku untuk menahan guncangan agar tak terlalu keras. Birahiku pun makin memuncak yang berakibat tubuhku menggelinjang hebat. Akhirnya sebuah erangan panjang menandai orgasmeku, tubuhku mengejang dengan tangan kiri meremas payudaraku sendiri dan tangan kananku menekan kepalanya lebih terbenam lagi di selangkanganku. Aku merasakan vaginaku dihisap-hisap kuat olehnya, melahap setiap tetes cairan yang terus mengalir dari sana.

“Oohh.. Nana.. Bitch.. Aahh.. Akh!” erangku dengan mata merem-melek sambil meremas rambutnya.

Lalu Ratna pun mengangkat wajahnya dan kembali naik ke tubuhku, pada mulutnya yang belepotan cairan kewanitaanku itu tersungging sebuah senyum.

“Love it?” tanyanya dekat wajahku.

Aku cuma mengangguk dengan nafas masih kacau. Diciumnya bibirku dan kubalas dengan tak kalah bernafsu. Aroma vaginaku masih terasa tajam pada mulutnya, kami ber-French kiss sambil menikmati sisa-sisa cairan kemaluanku.

Setelah tenagaku terkumpul aku mencoba membalikkan tubuhnya hingga dia telentang di sebelahku. Kubelai rambut dan wajahnya sambil mendekatkan wajahku padanya. Putingnya yang terjepit diantara jariku kupencet dan kuplintir menyebabkan dia mendesah, saat itulah aku mencium bibirnya yang terbuka. Lidahnya kukulum dalam mulutku sambil menggerayangi payudaranya. Ratna menggeliat-geliat saat lehernya merasakan jilatan dan cupanganku, di saat yang sama tanganku sibuk memilin-milin kedua putingnya yang sudah keras. Dalam keadaan birahi tinggi seperti itu secara tidak sengaja, tangannya yang tadinya cuma mengelus punggung, tiba-tiba mencakarku.

“Aduh-duh.. Hati-hati dong Na, sakit tau, udah tau kuku panjang gitu!” protesku.
“Eehh.. Sory Ci, sory banget, habis lagi tegangan tinggi sih, cuma lecet dikit kan nggak akan berbekas!”
“Awas ya, gua bales nih!” puting kanannya kugigit agak keras sambil meremas payudaranya.
“Aakkhh.. Ci.. Pelan-pelan!” erangnya dengan tubuh mengejang.

Erangannya justru membuatku makin bergairah mengenyot kedua payudaranya secara bergantian. Selanjutnya aku mulai melakukan mandi kucing terhadapnya. Leher dan pundaknya kusapu dengan lidah, kedua tangannya kurentangkan ke atas sehingga aku bisa menjilati ketiaknya yang bebas bulu.

“Oohh.. Ampun Ci.. Geli..!” desahnya bercampur tawa kegelian, tubuhnya pun terhentak-hentak.

Aku terus menjilati ke bagian dada, perut, hingga sampai pada kemaluannya. Bulu-bulunya agak jarang, tidak selebat milikku, serta bentuknya dicukur rapih. Tanpa buang waktu lagi aku langsung menjilati belahannya dan menggesek-gesek klitorisnya dengan jariku, perbuatanku ini spontan membuatnya menggelinjang hebat.

“Aahh.. Gila.. Uuhh.. Uhh.. Disitu enak Ci!” demikian desah Ratna.

Lidahku menyusup lebih dalam menjilati dinding kemaluan dan klitorisnya, semakin kujilat semakin basah daerah itu. Klitorisnya kutangkap dengan mulut dan kuhisap sehingga pemiliknya makin berkelejotan tak karuan.

“Ci.. Citra, udah.. Gua keluar!” erangnya lebih panjang seiring dengan mengejangnya tubuhnya.

Cairan yang keluar dari kemaluannya semakin banyak serta merta kujilati dengan nikmat.

Ratna kembali melemas sementara aku masih saja menjilati tubuhnya sampai 2-3 menit ke depan. Akhirnya kamipun tergolek bersebelahan, beristirahat sejenak dengan obrolan dan canda ringan. Tiba-tiba HP Ratna berbunyi.

“Iya-iya, ntar lagi kita berangkat kok.. Udah Citra dah datang dari tadi, tunggu ya!” kata Ratna menjawab HP-nya.
“Verna tuh, udah ngomel-ngomel, yuk siap-siap!” katanya lagi setelah menutup HP.

Kamipun bangun menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh dengan handuk basah. Ratna berdandan dengan terburu-buru sampai hampir lupa meresleting bajunya.

“Ya ampun Na, dari tadi pintu nggak dikunci yah, gimana kalo ada yang kesini?” seruku ketika mau membuka pintu.
“Ups, lupa.. Heheh.. Rasanya sih nggak, cuma ada nyokap di bawah, untung si Vina (adiknya) lagi keluar, yuk let’s go!” dia menarik lenganku dan melangkah ke bawah dengan cepat.

Setelah pamitan pada mamanya, kamipun berangkat untuk menikmati hiburan malam.

Newer Posts Older Posts