kumpulan cerita dewasa dari berbagai sumber …

<?php wp_title('«', true, 'right'); ?> <?php bloginfo('name'); ?>





October 20, 2008

Bu VVIVIN

Filed under: cerita seru

Cerita ini bermula pada waktu itu aku lagi kuliah di semester VI di salah satu PTS di Bandung. Ceritanya saat itu aku lagi putus dengan pacarku dan memang dia tidak tahu diri, sudah dicintai malah bertingkah, akhirnya dari cerita cintaku cuma berumur 2 tahun saja. Waktu itu aku tinggal berlima dengan teman satu kuliah juga, kita tinggal serumah atau ngontrak satu rumah untuk berlima. Kebetulan di rumah itu hanya aku yang laki-laki. Mulanya aku bilang sama kakak perempuanku, “Sudah, aku pisah rumah saja atau kos di tempat”, tapi kakakku ini saking sayangnya padaku, ya saya tidak diperbolehkan pisah rumah. Kita pun tinggal serumah dengan tiga teman wanita kakakku.

Ada satu diantara mereka sudah jadi dosen tapi di Universitas lain, Ibu Vivin namanya. Kita semua memanggilnya Ibu maklum sudah umur 40 tahun tapi belum juga menikah. Ibu Vivin bertanya, “Eh, kamu akhir-akhir ini kok sering ngelamun sih, ngelamunin apa yok? Jangan-jangan ngelamunin yang itu..”
“Itu apanya Bu?” tanyaku.
Memang dalam kesehari-harianku, ibu Vivin tahu karena aku sering juga curhat sama dia karena dia sudah kuanggap lebih tua dan tahu banyak hal. Aku mulai cerita,
“Tahu nggak masalah yang kuhadapi? Sekarang aku baru putus sama pacarku”, kataku.
“Oh…. gitu ceritanya, pantesan aja dari minggu kemarin murung aja dan sering ngalamun sendiri”, kata Ibu Vivin.

Begitu dekatnya aku sama Ibu Vivin sampai suatu waktu aku mengalami kejadian ini. Entah kenapa aku tidak sengaja sudah mulai ada perhatian sama Ibu Vivin. Waktu itu tepatnya siang-siang semuanya pada kuliah, aku sedang sakit kepala jadinya aku bolos dari kuliah. Siang itu tepat jam 11:00 siang saaat aku bangun, eh agak sedikit heran kok masih ada orang di rumah, biasanya kalau siang-siang bolong begini sudah pada nggak ada orang di rumah tapi kok hari ini kayaknya ada teman di rumah nih. Aku pergi ke arah dapur.

“Eh Ibu Vivin, nggak ngajar Bu?” tanyaku.
“Kamu kok nggak kuliah?” tanya dia.
“Habis sakit Bu”, kataku.
“Sakit apa sakit?” goda Ibu Vivin.
“Ah… Ibu Vivin bisa aja”, kataku.
“Sudah makan belum?” tanyanya.
“Belum Bu”, kataku.
“Sudah Ibu Masakin aja sekalian sama kamu ya”, katanya.

Dengan cekatan Ibu Vivin memasak, kita pun langsung makan berdua sambil ngobrol ngalor ngidul sampai-sampai kita membahas cerita yang agak berbau seks. Kukira Ibu Vivin nggak suka yang namanya cerita seks, eh tau-taunya dia membalas dengan cerita yang lebih hot lagi. Kita pun sudah semakin jauh ngomongnya. Tepat saat itu aku ngomongin tentang perempuan yang sudah lama nggak merasakan hubungan dengan lain jenisnya.

“Apa masih ada gitu keinginannya untuk itu?” tanyaku.
“Enak aja, emangnya nafsu itu ngenal usia gitu”, katanya.
“Oh kalau gitu Ibu Vivin masih punya keinginan dong untuk ngerasain bagaimana hubungan dengan lain jenis”, kataku.
“So pasti dong”, katanya.
“Terus dengan siapa Ibu untuk itu, Ibu kan belum kawin”, dengan enaknya aku nyeletuk.
“Aku bersedia kok”, kataku lagi dengan sedikit agak cuek sambil kutatap wajahnya. Ibu Vivin agak merah pudar entah apa yang membawa keberanianku semakin membludak dan entah kapan mulainya aku mulai memegang tangannya. Dengan sedikit agak gugup Ibu Vivin kebingungan sambil menarik kembali tangannya, dengan sedikit usaha aku harus merayu terus sampai dia benar-benar bersedia melakukannya.

“Okey, sorry ya Bu, aku sudah terlalu lancang terhadap Ibu Vivin”, kataku.
“Nggak, aku kok yang salah memulainya dengan meladenimu bicara soal itu”, katanya.
Dengan sedikit kegirangan, dalam hatiku dengan lembut kupegang lagi tangannya sambil kudekatkan bibirku ke dahinya. Dengan lembut kukecup keningnya. Ibu Vivin terbawa dengan situasi yang kubuat, dia menutup matanya dengan lembut. Juga kukecup sedikit di bawah kupingnya dengan lembut sambil kubisikkan, “Aku sayang kamu, Ibu Vivin”, tapi dia tidak menjawab sedikitpun.

Dengan sedikit agak ragu juga kudekatkan bibirku mendekati bibirnya. Cup… dengan begitu lembutnya aku merasa kelembutan bibir itu. Aduh lembutnya, dengan cekatan aku sudah menarik tubuhnya ke rangkulanku, dengan sedikit agak bernafsu kukecup lagi bibirnya. Dengan sedikit terbuka bibirnya menyambut dengan lembut. Kukecup bibir bawahnya, eh… tanpa kuduga dia balas kecupanku. Kesempatan itu tidak kusia-siakan. Kutelusuri rongga mulutnya dengan sedikit kukulum lidahnya. Kukecup, “Aah… cup… cup… cup…” dia juga mulai dengan nafsunya yang membara membalas kecupanku, ada sekitar 10 menitan kami melakukannya, tapi kali ini dia sudah dengan mata terbuka. Dengan sedikit ngos-ngosan kayak habis kerja keras saja.

“Aah… jangan panggil Ibu, panggil Vivin aja ya!
Kubisikkan Ibu Vivin, “Vivin kita ke kamarku aja yuk!”.
Dengan sedikit agak kaget juga tapi tanpa perlawanan yang berarti kutuntun dia ke kamarku. Kuajak dia duduk di tepi tempat tidurku. Aku sudah tidak tahan lagi, ini saatnya yang kutunggu-tunggu. Dengan perlahan kubuka kacing bajunya satu persatu, dengan lahapnya kupandangi tubuhnya. Ala mak… indahnya tubuh ini, kok nggak ada sih laki-laki yang kepengin untuk mencicipinya. Dengan sedikit membungkuk kujilati dengan telaten. Pertama-tama belahan gunung kembarnya. “Ah… ssh… terus Ian”, Ibu Vivin tidak sabar lagi, BH-nya kubuka, terpampang sudah buah kembar yang montok ukuran 34 B. Kukecup ganti-gantian, “Aah… sssh…” dengan sedikit agak ke bawah kutelusuri karena saat itu dia tepat menggunakan celana pendek yang kainnya agak tipis dan celananya juga tipis, kuelus dengan lembut, “Aah… aku juga sudah mulai terangsang.

Kusikapkan celana pendeknya sampai terlepas sekaligus dengan celana dalamnya, hu… cantiknya gundukan yang mengembang. Dengan lembut kuelus-elus gundukan itu, “Aah… uh… sssh… Ian kamu kok pintar sih, aku juga sudah nggak tahan lagi”, sebenarnya memang ini adalah pemula bagi aku, eh rupanya Vivin juga sudah kepengin membuka celanaku dengan sekali tarik aja terlepas sudah celana pendek sekaligus celana dalamku. “Oh… besar amat”, katanya. Kira-kira 18 cm dengan diameter 2 cm, dengan lembut dia mengelus zakarku, “Uuh… uh… shhh..” dengan cermat aku berubah posisi 69, kupandangi sejenak gundukannya dengan pasti dan lembut. Aku mulai menciumi dari pusarnya terus turun ke bawah, kulumat kewanitaannya dengan lembut, aku berusaha memasukkan lidahku ke dalam lubang kemaluannya, “Aah… uh… ssh….. terus Ian”, Vivin mengerang. “Aku juga enak Vivin”, kataku. Dengan lembut di lumat habis kepala kemaluanku, di jilati dengan lembut, “Assh… oh… ah…. Vivin terus sayang”, dengan lahap juga kusapu semua dinding lubang kemaluannya, “Aahk… uh… ssh…..” sekitar 15 menit kami melakukan posisi 69, sudah kepengin mencoba yang namanya bersetubuh. Kurubah posisi, kembali memanggut bibirnya.

Sudah terasa kepala kemaluanku mencari sangkarnya. Dengan dibantu tangannya, diarahkan ke lubang kewanitaannya. Sedikit demi sedikit kudorong pinggulku, “Aakh… sshh… pelan-pelan ya Ian, aku masih perawan”, katanya. “Haaa…” aku kaget, benar rupa-rupanya dia masih suci. Dengan sekali dorong lagi sudah terasa licin. Blessst, “Aahk…” teriak Vivin, kudiamkan sebentar untuk menghilangkan rasa sakitnya, setelah 2 menitan lamanya kumulai menarik lagi batang kemaluanku dari dalam, terus kumaju mundurkan. Mungkin karena baru pertama kali hanya dengan waktu 7 menit Vivin… “Aakh… ushh… usssh… ahhhkk… aku mau keluar Ian”, katanya. “Tunggu, aku juga sudah mau keluar akh…” kataku. Tiba-tiba menegang sudah lubang kemaluannya menjepit batang kemaluanku dan terasa kepala batang kemaluanku disiram sama air surganya, membuatku tidak kuat lagi memuntahkan… “Crot… crot… cret…” banyak juga air maniku muncrat di dalam lubang kemaluannya. “Aakh…” aku lemas habis, aku tergeletak di sampingnya. Dengan lembut dia cium bibirku, “Kamu menyesal Ian?” tanyanya. “Ah nggak, kitakan sama-sama mau.” Kami cepat-cepat berberes-beres supaya tidak ada kecurigaan, dan sejak kejadian itu aku sering bermain cinta dengan Ibu Vivien hal ini tentu saja kami lakukan jika di rumah sedang sepi, atau di tempat penginapan apabila kami sudah sedang kebelet dan di rumah sedang ramai. sejak kejadian itu pada diri kami berdua mulai bersemi benih-benih cinta, dan kini Ibu Vivien menjadi pacar gelapku.

Jossie stories:babysitter

Filed under: DAUN MUDA

Namaku Jossy, usiaku 23 tahun, aku tinggal ikut kakakku Johnny usianya 2 tahun di atasku. Dia sudah menikah dengan orang Manado namanya Wenda, kakak iparku ini usianya 23 dan di rumah kakakku ini tinggal pula adik mBak Wenda namanya Winny usianya 21 tahun dia masih kuliah di Surabaya. Kakakku telah memiliki seorang anak berusia 3,5 bulan dan dirawat oleh seorang Baby Sitter, namanya Santi ( 18 th ) dari Bojonegoro ( Jawa Timur ).

Suatu sore saat itu Surabaya gerimis, waktu menunjukkan pukul 4 sore, seharian aku sedang males keluar, kebetulan hujan jadi makin asyik kalau dibuat tidur dan males-malesan pikirku. Aku masuk ke kamar ponakanku Deasy, rencananya mau sambil tiduran melukin dia, khan asyik meluk bayi, baunya khas, mumpung dia belum bangun dan tidak rewel kalau dipeluk. Masuk di kamar Deasy, tampak dia lagi tidur dengan nyenyaknya dan si baby Sitter sedang menyetrika baju Deasy di ruangan sebelah ( rencananya ruang main Deasy kalau sudah besar ). Segera aku rebahkan badanku agak miring dengan setengah memeluknya aku mulai untuk tidur, entah karena suasana lagi hujan atau karena sedang males, aku tertidur untuk beberapa saat mungkin 20 – 30 menit sebelum akhirnya aku terbangun karena Deasy kecil menangis, saat itu di antara kantuk aku merasakan sesuatu yang hangat2, yang belakangan aku tau bahwa itu adalah ompol si kecil. Dengan setengah malas aku berteriak ” San… Deasy pipis… !!” ternyata suaraku tidak cukup keras walaupun terdengar juga oleh Santi. Aku coba untuk bangun dan menggendong Deasy saat Santi mulai masuk kamar, lalu aku oper pada Santi, karena sebelumnya aku menggendong Deasy dalam keadaan dia terlentang, jadi ngopernya juga agak sulit, nah di sini terjadi tragedi, telapak tanganku menyentuh toket Santi yang 36 B itu, emang sich dia tidak terlalu menyadari tragedi itu, tapi buatku ini merupakan suatu trik baru yang segera dapat dipergunakan lagi suatu saat nanti ( tidak terlalu lama – kuharap segera ).

Singkat cerita aku kembali dengan tidurku dan sejurus kemudian Santi kembali membawa Deasy yang sudah dengan pakaian kering dan sudah bersih. ” Udah tidurin lagi aja San… ” kataku waktu itu. ” Taruh sini lagi aja. ” sambungku segera. Deasy diletakkan pas di sisiku dan Santi bialng ” Bang… saya buatkan susu dulu buat Non… ”
” Iya… tapi cepetan, soalnya aku mo tidur lagi ” kataku sebelum Santi keluar kamar. Deasy aku rebahkan di atas salah satu lenganku sambil lengan satunya memeluk Deasy. Santi datang membawa susu dan kemudian dia ikut rebah di samping Deasy, tanpa sengaja saat Santi merebahkan badannya, toket yang tadi kembali nempel persis di telapak tanganku dan akupun diam saja mendapat lotre seperti ini, dengan mata yang masih sengaja kupejamkan seolah ngantuk berat. Beberapa saat kemudian aku mulai memindahkan tangan yang sedari tadi memeluk Deasy, sedikit kegeser maju jadi memeluk Santi, pas di bagian pinggul.
Santi diam, aku diam Deasy asyik dengan botol susunya. Suasana hujan yang masih berlangsung ditambah dengan udara AC, menggiring Santi tertidur, saat menyadari itu sengaja kupindahkan lagi tanganku sedikit ke atas, pas di atas lengan Santi, tak lama kemudian Santi mengusap jidat Deasy, saat itulah tanganku jatuh, karena dia agak mundur saat mengusap tadi. Jatuhnya malah membawa berkah karena pas di tengah belahan toket Santi. 10 – 15 menit berlalu, waktu sudah sekitar jam 5 lewat ( mungkin ), seiring dengan bergeraknya senja, tangankupun kuusahakan tidak tinggal diam, walaupun belum tau reaksi apa yang terjadi, tapi batin ini mengatakan aman2 saja. Dengan bergaya mengeliat aku tekankan tanganku ke dalam belahan baju Santi, slup… masuk sudah dua ruas buku2 jariku dalam bajunya, jari tengah masuk 1 ruas jari dalam BH Santi, hangat menjalar terasa di tengkuk. Sampai sini usaha dihentikan sementara untuk tidak terlalu menyolok bila ternyata Santi tidak tidur dan hanya merem saja khan repot kalau tau ini usaha ilegal.
Ternyata 2 atau 3 saat kemudian, Santi bergerak dan berusaha memeluk Deasy, tapi usahanya itu menemukan harta karunku yang sudah setengah berdiri itu, pluk… nempel dech. Ku miringkan sedikit tidurku, terutama pinggulku karena tujuannya menindih telapak Santi dengan meriamku. Berhasil… Sekarang posisi tangan Santi yang terbuka telah tertimpa meriamku dan aku merasakan hanya telapak tangannya. Kutunggu sebentar, lalu mulai aku goyang pinggulku, supaya sentuhan tadi makin berasa, gara2 itu meriam makin memanjang, aku berhenti sejenak untuk emnanti reaksi arus bawah. Karena tidak ada reaksi penolakan atau penarikan ( re-call ) maka divisi lainpun menyusul aksi tersebut, divisi tersebut adalah si tangan kiriku, makin dalam aku masukkan dalam belahan dada Santi, sementara tangan kanan yang tadi di tindih toket 36 B mulai semutan ( atau keenakan, entahlah apa sebutan yang cocok ) kucoba gaya meremas… aman… lanjutkan dengan remasan kedua lebih keras… kugeser sedikit supaya gripnya lebih baik. Mendapat serangan seperti itu mungkin dia berasa, dan bereaksi dengan gaya menghindar, dia balikkan badan ( celentang ), tapi dia lupa tangan kiriku telah interaksi dalam management-nya, sehingga yang terjadi adalah terkoyaknya kancing baju dinas Santi, dua kancing bagian atas terbuka, tapi dia tidak terbangun ( ngantuk berat kali ). Dua kancing terbuka dan sisi baju terkuak sehingga tampak betul itu yang namanya toket hanya terbungkus BH, juga agak luber ke atas. Kutau saat kubukan sebelah mata dan wow… keren… dada putih telah floating… wow… ini dia pemandangan namanya. Mata dapat pemandangan begitu pinggul menindak lanjuti dengan goyangan, masih denagn gaya seperti tadi, sampai beberapa saat, terasa ada pergolakan arus bawah, det… det… ternyata tangan Santi terjadi traksi ( sentakan2 kecil semacam meremas ), makin gila aku kena begitu. Berhenti sejenak remasan berjalan lagi, kali ini lebih kuat dan benar2 nikmat, tanpa pikir panjang dengan gaya cuek tidak sadar, tangan kiri masuk lagi pada posisi semula di balik BH, slup… dapet lagi, tapi kali ini tidak diam langsung meremas, satu… dua… tiga… remasan berlanjut sampai Santi bangun dan bilang perlahan ” Bang maaf tangannya kok masuk sich ? ” Bergaya seperti baru sadar ” Soory nggak sengaja, abis tangan kamu remas2 saya punya ! ” Sampai di sini dia baru sadar kalau tangannya menggenggam meriamku. ” Maaf Bang… soalnya saya ketiduran, jadi nggak sengaja… kok bisa ya ?” katanya. ” Sudah nggak apa2 kok, enak kok, kalau kamu mau diterusin boleh.” kataku karena terlanjur basah ( kata pepatah terlanjur basah ya mandi sekalian ).

Aku lanjutkan kata2ku tadi ” Yang penting jangan bilang Kak John dan Kak Wenda.” Dai sahut ” Iya. ” Dari sini aku mulai pikir dia setuju ada rahasia seperti ini, berarti dia nggak keberatan berlanjut. Sambil celentang dan aku ambil tangannya yang tadi meremas ” Sudah taruh sini aja sambil gosok2, khan nggak apa2.” Dia diam aja aku buat begitu, 1 – 2 menit kemudian aku rubah posisi supaya bisa puas liat toket nganggur, mumpung dia belum sadar betul, eh aku pindah dia ngikut tangannya nguber meriamku, wah… sudah terpengaruh nih. Sekarang tangannya sudah bisa operasi sendiri, makin berani aku gerakkan tangan kiriku untuk pegang toketnya yang setengah terbuka. Diam juga. Kubuka kancing seanjutnya dan sekalian kusingkap BHnya, na… ini dia baru enak ( kaya’ kata2 Muchsin Alatas di iklan ).
” San… kamu sudah pinter ya beginian… ” kataku menyelidik. ” Nggak kok, saya baru belajar, kebetulan Abang baik jadi saya mau nurut, Abang suka ya diginikan ?” tanyanya sambil terus mengusap dan meremas meriam yang sedari tadi makin merekah. ” Gila enak sekali San… kamu pinter dech… coba kamu bangun.” kataku memerinta. Dia beranjak duduk dipinggi ranjang dan aku hampiri untuk menyingkap baju Baby Sitternya hingga keperutnya, lalu aku buka kancing pengait BHnya ” Dada bagus gini kok kamu kasih BH gini sich kasihan, nanti nggak bisa berkembang, kamu khan masih muda, jangan pakai BH terlalu ketat, nggak baik buat kesehatan dada kamu.” kataku sok menggurui. ” Trus mestinya gimana Bang ? ” tanyanya bego. ” Kamu baiknya kalau sehari-hari jangan sering pakai BH, biarkan dadamu berkembang dengan alami, khan baju dinasmu sudah tebal, jadi nggak kelihatan dari luar.” kataku makin ngaco, berusaha. Aku lalu jongkok didepannya, mulai coba menghisap putingnya yang masih rata denagn gumpalannya. Kujulurkan lidah dan mulai meutar lidah… dua jenak kemudian terdengar tarikan nafas panjang… ssshhhhhh……. Nah… naik dia… bisa deh lanjut ke sesi berikutnya. Kudorong dia rebah di lantai aku mulai menindih dia, mulutku tetap ditoketnya dan kulepas celana pendekku sekalian CDnya, supaya dia bebas pegang kendali meriamku. Mulai aksi isep toket dan pinggulku kugoyang seperti orang push up, meriam dipegang dengan tangan kanannya sedang tangan kirinya memeluk pinggangku. Aksi Esek2 ini terjadi kira2 5 menit sebelum kemudian aku lepas semua pakaian yang melekat di badannya dan badanku. Kini kita telanjang bulet… let… let tanpa satu unsurpun menghalangi, aku mulai menindihnya dan meriam yang tegang ini aku gesek2kan ke atas ke bawah seirama celah vertikalnya, basah mulai merambat, pelumasku dan pelumasnyapun mulai merebak keluar, makin mudah, smuth… ” Kamu sudah pernah main sama cowoc ? ” tanyaku sebelum melangkah lebih jauh. ” Belum pernah Bang, memangnya kenapa ?” tanyanya bego lagi… Ni anak memang masih bego dan lugu. Aku bilang ” Ndak cuma mau tau aja, sekedar nanya.” Karena medan pertempuran mulai siap goa vertikal mulai basah, aku coba serangan maju, mencoba menusuh dan menikamnya dengan meriam Jagurku.
Meleset… serang… meleset… serang… meleset… serang… meleset… beberapa kali sampai aku pikir, sebaiknya dengan bantuan pengarahan ( semacam bimbingan test lah – pikirku ).
Aku genggam meriamku dan aku arahkan… dek… dek… dapet kepalanya ( ujung jamur ) mulai melesak sedikit ke dalam, dorong lagi… serang… meleset… kemudian aku arahkan lebih hati2 dan masuk kepala semuanya, tinggal anggota badannya yang tertinggal. Tugas sudah mulai Komandan Batalion sudah menyerang, anak buah tinggal nyusul pikirku. Bener juga… sekali tekan full body contact… blesss….. dia menjerit ” Aduhh… sakit Bang… ” Lalu aku berhenti sejenak mengheningkan cipta. ” Coba kamu diam, lal kamu rasrakan sekarang.” kataku dan mulai menggerakkan batangku perlahan, centi demi centi aku lalui dengan penuh perasaan… ( maaf suara tidak aku sajikan )… semua ah… ih… uh… eh… oh… dan sebagainya kami lalui, meriam tetap melakukan aksi penikaman bagaikan aksi pembunuhan yang maha sadis… Aku mulai bergerak maju mundur dan naik turun. Semakin lama semakin cepat disertai erangan manjanya yang membuat aku tambah terangsang. Kubertumpu dengan kedua tanganku di sisi pinggangnya untuk membantu lancarnya gerak kemaluanku mengucek kemaluannya. Manuver2 politik sudah aku lancarkan… goyangan ke kanan… ke kiri… dan sebagainya termasuk tancat lalu putar, semua ilmu sudah aku kerahkan sampai pada detik2 proklamasi… dia menjerit kecil sambil mengejang ” Bang… saya gemetar… nggak kuat rasanya… achhh….. aduhhhhh…. achh…. gila…. enak sekali Bang…. ” Kedut-kedut aku lihat dia mulai kejang dan tersentak2 tubuhnya, karena posisiku yang bertumpu pada kedua lenganku memungkinkan aku melihat dadanya yang ranum besaar itu bergoyang manis sekali… gilaaaa…… ajik banget…. aku nggak tahan…. Berbareng dengan mata nggak tahan melihat guncangan hebat itu… aku mulai buang sauh… creet…. creeee….tt dan creee…ttt… kutekan habis semuanya biar dech mau bunting atau nggak aku nggak sempet mikir, yang penting enak… lalu aku ambruk… karena tanganku sudah mulai lemes juga nahan badanku yang 170 Cm dengan bobot tubuh 69 Kg.

Setelah beberapa saat aku rebahan dan mulai terhimpun tenaga, aku coba untuk bangun dan menarik meriam dari sarung nikmat… pluk… sedikit berjongkok sambil melihat medan pertempuran ( memek Santi ) di bawahnya ( di lantai ) aku lihat bercak merah darah segar perawan Santi membasahi lantai Essensa kamar Deasy… aku tengok keponakanku masih tidur terlelap, sementara Oomnya bikin dosa. Di ujung meriam aku lihat juga bercak darahnya menempel, aku berusaha berdiri walaupun agak capek… ambil celana dan CDku, langsung aku pakai, buru2 mau cuci karena kamar mandi ada di bagian belakang rumah. Pas aku buka pintu sedikit aku lihat kak Wenda sudah pulang dari kantornya, buru2 aku balik badan dan bilang ” Ibu sudah dateng lho !” Dengan CDnya dia seka bekas darah di lantaidan cepat2 bebenah bajunya, aku balik dan aku minta CDnya, aku masukkan ke kantong celana pendekku. Lalu bergegas keluar. ” Sore Kak… ” sapaku pada Kak Wenda, dia cuma tersenyum saja dan terus berlalu ke kamarnya.

Aku langsung masuk kamar mandi belakang, karena aku tau Kak Wenda pasti mau ganti baju, kebetulan di kamar mandi ada lobang angin yang menghubungkan kamar mandi belakang dengan kamar mandi Kak Wenda. Buru2 aku naik atas bak mandi dan mulai ngintip… nah… bener khan… biasanya memang gini, kalau sore aku ngintip Kak Wenda mandi kadang Winny kalau pas pakai kamar mandi Kakaknya, karena aku lama di kamar mandi, alasanku kok lama karena boker sekalian baca koran. Padahal sengaja nunggu mereka berdua mandi. Hari ini aksi pengintipan yang kesekian puluh kalinya aku lakukan, karena sudah sejak pengantin baru aku sering intip Kak Wenda kalau mandi kadang pernah waktu Bang John sedang main dengan Kak Wenda kalau pintu kamar mandinya nggak ditutup aku bila lihat ke ranjangnya dan melihat permainan seru mereka. Saat itu Kak Wenda sudah mulai menyiram tubuh bugilnya dengan air bak… byuu..rrr… wow toket itu lho kok ngga’ membosankan, aku jadi mulai konak lagi… perlahan aku buka celana plus CDku, mulai aku kocok meriamku ( padahal baru saja makan perawan ) mulailah lagu wajib… Hallo… Hallo… Bandung… Ibu kota Periangan… aku mulai nyanyi dalam hati dengan irama dua per dua ( kalau dalam gayanya dua per dua berarti naik dan turun saja – gaya ngocok donk ). Pas Kak Wenda membersihkan selangkangannya, aku mulai membayangkan seperti kejadian barusan aku dengan Santi… kubayangkan Kak Wenda yang kurajam kemaluannya, ble…sss… bleess…. blessss…. berkali-kali… sampai keluar lagi maniku… yang kedua kalinya sore ini…. Aku masih menikmati tubuh Kak Wenda terakhir kalinya sebelum aku mulai turun dari bak mandi dan mulai mandi beneran… Selesai mandi… ach… mendingan aku tulis pada cerita berikutnya ach… biar nggak kepanjangan… okay… setuju ?

Benih Ayah mertua

Filed under: Incest

ni berawal saat ibunya sakit dan harus masuk rumah sakit dan Paul harus terbang ke luar kota untuk urusan bisnis yang amat penting. Paul tadinya tak setuju saat Emma meminta papanya, Jack, agar menginap di rumah mereka untuk sementara untuk menemaninya pergi ke rumah sakit, mengatakan padanya bagaimana hal itu akan mengganggu pikirannya karena dia adalah titik penting dalam negosiasi kali ini.

Dan pikiran yang sangat mengganggunya itu adalah karena dia curiga sudah sejak dulu papanya ada ‘perasaan lain’ pada Emma istrinya. Emma merasa sangat marah pada Paul, karena sangat egois dan dengan perasaan cemburunya itu. Bukan hanya kali ini Paul meragukan kesetiaannya terhadap perkawinan mereka dan kali ini dia merasa telah berada dalam puncaknya.. Dan dia tahu dia akan membuat Paul membayar sikapnya yang menjengkelkan itu.

Ketika itu terjadi, Jack tiba pada hari sebelum Paul terbang ke luar kota untuk bertemu kliennya. Dia tidak membiarkan kedatangan Jack mengganggu jadwalnya, meskipun dia akan membiarkan papanya bersama Emma tanpa dia dapat mengawasinya selama beberapa hari kedepan. Ini adalah segala yang Emma harapkan dan lebih, ketika dia menyambut Jack dengan secangkir teh yang menyenangkan..

Dia bisa katakan dari perhatian Jack yang ditunjukkannya pada kunjungan itu. Mata Jack berbinar saat dia tahu Paul akan pergi besok pagi-pagi benar, dan dia mendapatkan Emma sendirian dalam beberapa hari bersamanya. Emma sangat menarik, yang sungguhpun dia tahu sudah tidak punya kesempatan terhadap Emma, dia masih berpegang pada harapannya, dan berbuat yang terbaik untuk mengesankannya, dan menggodanya.

Emma tersanjung oleh perhatiannya, dan menjawab dengan mengundang bahwa mereka berdua dapat mulai untuk membiarkan harapan dan pemikiran yang telah dia kubur sebelumnya untuk mulai kembali ke garis depan itu.

Sudah terlambat untuk jam kunjungan rumah sakit sore itu, sehingga mereka akan kembali lagi esok paginya sekitar jam sebelas. Emma menuangkan beberapa gelas wine untuk mereka berdua sekembalinya dari rumah sakit petang itu.

“Aku harus pergi dan mandi.. Aku kira aku tidak punya waktu pagi nanti”.

“Oh bisakah Papa membiarkan showernya tetap hidup? Aku juga mau mandi jika Papa tidak keberatan.”

Emma mau tak mau nanti akan menyentuh dirinya di dalam shower, bayangan tangan Jack pada tubuhnya terlalu menggoda dan rasa marah terhadap suaminya sangat sukar untuk dienyahkan dari pikirannya.

Dia belum terlalu sering mengenakan jubah mandi sutera itu sebelumnya, tetapi memutuskan untuk memakainya malam ini. Hasrat hatinya mendorongnya untuk melakukannya untuk Papa mertuanya, Paul bisa protes padanya jika dia ingin. Terlihat pas di pinggangnya dan dengan tali terikat, membuat dadanya tertekan sempurna. Itu nampak terlalu ‘intim’ saat dia menunjukkan kamar mandi di lantai atas. Emma meninggalkannya, dan kemudian kembali semenit kemudian.

“Aku menemukan salah satu jubah mandi Paul untuk Papa” dia berkata tanpa berpikir saat dia membukakan pintu untuknya. Di dalam cahaya yang remang-remang Emma dapat melihat pantatnya yang atletis.

Mereka duduk bersama di atas sofa, melihat TV. Dan setelah dua gelas wine lagi, Emma tahu dia akan mendorong ‘keinginan’ manapun yang Jack ingin lakukan. Dia sedikit lebih tinggi dari Paul, maka jubahnya hanya sampai setengah paha berototnya. Mau tak mau Emma meliriknya sekilas dan ingin melihat lebih jauh lagi. Dengan cara yang sama, Jack sulit percaya akan keberuntungannya untuk duduk disamping Emma yang berpakaian sangat menggoda dan benaknya mulai membayangkan lebih jauh lagi. Jack akan dikejutkan nantinya jika dia kemudian mengetahui hal sederhana apa yang akan membuat hasratnya semakin mengakar..

Besok adalah hari ulang tahun Emma, dan Paul lupa seperti biasanya, alasannya bahwa tidak ada waktu untuk lakukan apapun ketika dia sedang pergi, dan dia telah berjanji pada Emma kalau dia akan berusaha untuk mengajaknya untuk sebuah dinner yang manis ketika pulang. Kenyataannya bahwa Jack tidak hanya tidak melupakan, tetapi membawakannya sebuah hadiah yang menyenangkan seperti itu, menjadikan hatinya lebih hangat lagi. Dia seperti seorang anak perempuan kecil yang sedang membuka kotak, dan menarik sebuah kalung emas.

“Oh Papa.. Papa seharusnya tidak perlu.. Ini indah sekali”

“Tentu saja aku harus.. Tapi aku takut itu tidak bisa membuat kamu lebih cantik cintaku.. Sini biarku kupasangkan untukmu”

“Ohh Papa!”

Emma merasa ada semacam perasaan cinta untuknya saat dia berada di belakangnya. Dia harus lebih dulu mengendurkan jubah untuk membiarkan dia memasang kaitan di belakang, dan ketika dia berbalik ke arahnya, Jack tidak bisa menghindari tetapi matanya mengarah pada belahan dada Emma yang menyenangkan.

“Oh.. Apa rantainya kepanjangan?” ia berharap, menatap kalung yang melingkar di atas dada lezatnya.

“Tidak Pa.. Ini menyenangkan” dia tersenyum, menangkap dia memandang ke sana lebih banyak dari yang seharusnya diperlukan.

“Oh terima kasih banyak..”

Emma menciumnya dengan agak antusias dibanding yang perlu dilakukannya dan putus tiba-tiba dengan sebuah gairah dipermalukan. Kemudian Jack menangkap momen itu, menarik punggungnya seolah-olah meredakan kebingungannya dan menciumnya dengan perasaan jauh lebih dibandingkan perasaan seorang mertua.

“Selamat ulang tahun sayang” katanya, saat senyuman mereka berubah jadi lebih serius.

“Oh terimakasih Papa”

Emma menciumnya kembali, menyadari ini adalah titik yang tak bisa kembali lagi, dan kali ini membiarkan lidahnya ‘bermalas-malasan’ terhadapnya. Dia baru saja mempunyai waktu untuk merapatkan jubahnya kembali saat Paul meneleponnya untuk mengucapkan selamat malam dan sedikit investigasi. Paul ingin bicara pada papanya dan memintanya agar menyimpan cintanya untuk ibunya yang sudah meninggal. Mata Emma tertuju pada Jack saat dia menenteramkan hati putranya di telepon, mengetahui dia akan membiarkan pria ini melakukan apapun..

“Aku sangat suka ini Pa..” Emma tersenyum ketika telepon dari Paul berakhir. Dia menggunakan alasan memperhatikan kalungnya untuk membuka jubahnya lagi, kali ini sedikit lebih lebar.

“Apa kamu pikir ini cocok untukku?”

“Mm oh ya..” dia tersenyum, matanya menelusuri bagian atas gundukan lezatnya, dan untuk pertama kalinya membiarkan gairahnya tumbuh.

Emma secara terbuka mempresentasikan payudaranya untuk kekasihnya, membiarkan dia menatapnya ketika dia membusungkan dadanya jauh lebih lama dibandingkan hanya sekedar untuk memandangi kalung itu. Dia mengangkat tangannya dan memegang mainan kalung itu, mengelus diantara dadanya, menatap tajam ke dalam matanya.

“Kamu terlihat luar biasa dengan memakainya” dia tersenyum.

Nafas Emma yang memburu adalah nyata ketika tangan kekasihnya telah menyentuhnya di sana, dan pandangannya yang memikat saat kekasihnya menyelami matanya memberi dia tiap-tiap dorongan. Mereka berdua tahu apa yang akan terjadi kemudian, sudah terlalu jauh untuk menghentikannya sekarang. Dia akan bercinta dengan Papa mertuanya. Mereka berdua juga menyadari, bahwa tidak perlu terburu-buru kali ini, mereka harus lebih dulu membiarkan berjalan dengan sendirinya, dan walaupun kemudian itu akan menjadi resikonya nanti.

Emma bisa melihatnya sekarang kalau ‘pertunjukannya’ yang nakal telah memberi efek pada gairah kekasihnya. Gundukan yang terlihat nyata di dalam jubahnya menjadikan jantungnya berdebar kencang, dan kekasihnya menjadi bangga ketika melihatnya menatap itu, seperti halnya dia yang memandangi payudaranya.

“Kamu sudah cukup merayuku.. Kamu nakal!” Emma tersenyum pada kata-kata terakhirnya, memberi dia pelukan yang lain. Pelukan itu berubah menjadi sebuah ciuman, dan kali ini mereka berdua membiarkan perasaan mereka menunjukkannya, lidah mereka saling melilit dan memukul-mukul satu sama lain. Emma merasa tali jubahnya mengendur, dan Jack segera merasakan hal yang sama.

“Oh Jack.. Kita tidak boleh” dia menjauh dari kekasihnya sebentar, tidak mampu untuk hentikan dirinya dari pemandangan jubahnya yang terbuka cukup lebar untuk melihat ujung penisnya yang tak terukur membesar diantara pahanya yang kuat.

“Ohh Emma.. Aku tahu.. Tapi kita harus” dia menarik nafas panjang, memandang pada perutnya untuk melihat kewanitaannya yang sempurna, telah merekah dan mengeluarkan cairannya. Detak jantung Emma bahkan jadi lebih cepat saat dia lihat tonjolannya menghentak lebih tinggi ke udara saat kekasihnya memandang bagian paling intimnya.

“Oh Jack sayang..” desahnya pelan saat kekasihnya memeluknya, jubahnya tersingkap dan dia terpana akan tonjolannya yang sangat besar di bagian bawahnya. Itu sepertinya memuat dua prem ranum yang membengkak dengan benihnya yang berlimpah. Dia tidak bisa hentikan dirinya sekarang.. Dia membayangkan dirinya berenang di dalamnya.

“Emma cintaku.. Betapa lamanya aku menginginkanmu..” katanya saat ia menggapai paha Emma.

“Oh Jack.. Seandainya aku tahu.. Setiap kali Paul bercinta denganku aku membayangkan itu adalah kamu yang di dalamku.. Papa termanis.. Apakah aku terlalu jahat untuk katakan hal seperti itu?”

“Tidak kekasihku..” jawabnya, mencium lehernya dan turun pada dadanya, dan membuka jubahnya lebih lebar lagi untuk agar tangannya dapat memegang payudaranya. Mereka berdua ingin memanfaatkan momen itu..

“Apakah kamu ingin aku di sana sekarang?”

“Oh Jack.. Ya.. Papa” erangnya kemudian mengangkat jubahnya dan tangannya meraih penisnya.

“Aku sangat menginginkannya”

“Oh Emma.. Kekasihku, apakah ini yang kamu ingin?” dia mengerang, memegang jarinya di sekitar batang berdenyutnya yang sangat besar.

“Oh ya Papa.. Penismu.. Aku ingin penis Papa di dalamku”

“Sayangku yang manis.. Apa kamu menginginkannya di sini?” kekasihnya melenguh, menjalankan jemarinya yang pintar sepanjang celah itu, menggodanya, membuat matanya memejam dengan nikmat. Emma hampir merintih ketika dia menatap mata kekasihnya.

“Mm penis Papa di dalam vaginaku”

“Ahh anak manisku tercinta” Emma menjilat jarinya dan menggosoknya secara lembut di atas ujung kejantanannya yang terbakar, membuat kekasihnya merasa ngeri dengan kegembiraan.

“Kamu ingin jadi nakal kan Pa.. Kamu ingin orgasme di dalamku” Emma menggoda, meninggalkan pembesaran tonjolan yang bagus, dan mengalihkan perhatiannya kepada buah zakarnya yang membengkak.

Sekarang adalah giliran kekasihnya untuk menutup matanya dengan gairah yang mengagumkan.

“Kamu ingin meletakkan spermamu di dalam istri putramu.. Kamu ingin melakukan itu di dalam vagina gadis kecilmu”

Dia hampir menembakkannya bahkan waktu Emma menggodanya, tetapi entah bagaimana menahan ombak klimaksnya, dan mengembalikannya pada Emma, keduanya sekarang saling memegang pinggang satu sama lainnya.

“Dan kamu ingin benih Papa di dalam kandunganmu kan.. Dalam kandunganmu yang dahaga.. Membuat seorang bayi kecil di dalam kandungan suburmu” dia tidak bisa semakin dekat kepada tanda untuknya.. Emma telah memimpikan kekasihnya memberinya seorang anak, Emma gemetar dan menggigit bibirnya saat jari tangan kekasihnya diselipkan di dalam saluran basahnya.

“Papa.. Oh ya.. Ya.. Tolong.. Aku sangat menginginkannya..”

Paul belum pernah punya keinginan membicarakan tentang hal itu.. Emma tidak benar-benar mengetahui apakah dia ingin seorang anak, sekalipun begitu pemikiran itu menjadi sebuah gairah yang luar biasa. Bibirnya menemukannya lagi, dan tenggelam dalam gairahnya, lidah mereka melilit lagi dengan bebas tanpa kendali yang sedemikian manis.

Emma membiarkan jubahnya terbuka seluruhnya sekarang, menekankan payudaranya secara lembut melawan dada berototnya, perasaan geli membuat cairannya lebih berlimpah. Jantungnya terisi dengan kenikmatan dan antisipasi, pada pikiran bahwa dia menginginkan dirinya.. Bahwa seluruh gairah Emma akan terpenuhi dengan segera.

“Oh gadis manisku yang jahat” lenguhnya saat bibir Emma menggodanya.

“Aku akan pergi sebentar” dia tersenyum dengan mengundang saat dia menoleh ke belakang dari pintu.

“Jangan pergi” Emma melangkah ke lantai atas, jubahnya berkibar di sekitarnya lagi saat dia memandangnya.

Emma tidak perlu merasa cemas, suaminya sedang berada jauh di sana dengan segala egoisme kesibukannya, dan Emma mengenal bagaimana kebiasaanya. Jantung Emma dilanda kegembiraan lebih ketika dia melepaskan jubahnya dan berjalan menuju dia.. Pada Papa mertuanya.. Telanjang dan siap untuk menyerahkan dirinya seluruhnya kepada kekasihnya.

Ketika dia mendengar langkah kaki Emma pada tangga, dia lalu keluar dari jubahnya dan sekarang berlutut di atas permadani di depan perapian, menghadapinya ketika dia masuk, ereksinya semakin besar dalam posisi demikian. Emma berlutut di depannya, tangannya memegang obyek hasratnya, yang berdenyut sekilas, lembut dan demikian panas dalam sentuhannya. Matanya terpejam dalam kenikmatan murni saat Emma berlutut dan mencium ujung merah delima itu, matanya terbuka meresponnya, dan mengirim beberapa tetesan cairan lezat kepada lidah penggemarnya. Kekasihnya mengelus payudaranya dan menggoda puting susunya yang gemuk itu.

“Aku sudah siap Pa.. Malam ini seutuhnya milikmu”

“Emma sayang, kamu indah sekali..” kekasihnya memujinya dan dia tersenyum dengan bangga.

“Oh Papa.. Kumohon. Aku sangat menginginkannya.. Aku ingin benihmu di dalamku”

“Sepanjang malam cintaku..” kekasihnya tersenyum, rebah bertumpu pada sikunya lalu menyelipkan tangannya diantara paha Emma.

“Kita berbagi tiap momen”

Emma rebahan pada punggungnya, melebarkan lututnya membiarkan jari kekasihnya berada di dalam rendaman vulvanya.

“Ohh mm Papa sayang..” Emma melenguh saat jari kekasihnya merangsang tunas kesenangannya tanpa ampun.

“Mm betapa aku sangat memuja perempuan kecilku..” Kekasihnya menggodanya ketika wajahnya menggeliat di puncak kesenangan.

“Ohh Papa.. Rasakan bagaimana basahnya aku untukmu”

“Apa anakku yang manis sudah basah untuk penis Papa? Mm penis Papa di dalam vagina panas gadis kecilnya.. Penis besar Papa di dalam vagina gadisnya yang panas, vagina basah..” kata-katanya diiringi dengan tindakan saat dia bergerak di antara pahanya, tongkatnya berdenyut dengan bernafsu saat dia mempersiapkan lututnya.

“Setubuhi aku Pa.. Masukkan penismu ke dalamku”

“Sayang.. Emma yang nakal.. Buka vaginamu untuk penis Papa” tangan mereka memandu, kejantanannya membelah masuk kewanitaannya.

“Papa.. Yang besar.. Itu penuh untukku kan?”

“Ya putriku manis.. Sperma yang penuh untuk kandunganmu.. Apa kamu akan membuat Papa melakukan itu di dalam tubuhmu?”

“Ahh ya Papa.. Aku akan membuatmu menembakkannya semua ke dalam tubuhku.. Ahh ahh ahh”

Emma mulai menggerakkan pinggangnya.. Takkan menghentikan dirinya saat dia membayangkan itu. Mata mereka saling bertemu dalam sebuah kesenangan yang sempurna, mereka bergerak dengan satu tujuan, yang ditetapkan oleh kata-katanya.

“Papa akan menembakkan semuanya ke dalam kandunganmu yang subur.. Sperma Papa akan membuat bayi di dalam kandunganmu Emma sayang” tangan kekasihnya mengayun pantatnya sekarang saat dia mulai menusuk lebih dalam, matanya menatap kekasihnya ketika dia menarik pantatnya yang berotot, mendorong lebih lanjut ke dalam tubuhnya.. Memberinya hadiah yang sangat berharga.

Penis besarnya menekan dalam dan panjang, buah zakarnya yang berat menampar pantatnya saat dia mendorong ke dalam kandungannya. Dia tidak bisa menolong, hanya melihatnya, setiap gerakan mereka yang mendatangkan nikmat.. Membayangkan waktunya akan segera datang.. Memancar dari kekasihnya.. Berenang di dalam dirinya.. Membuatnya mengandung anaknya. Dia menggelinjang saat kekasihnya menyusu pada puting susunya yang diremas keras, tangan besarnya meremas payudaranya bersama-sama saat dia mengocoknya berulang-ulang.

“Ohh Papa.. Penis besarmu membuatku orgasme.. Oohh” dia berteriak, menaikkan lututnya setinggi yang dia bisa untuk memaksanya lebih dalam ke bagian terdalam vaginanya. Kekasihnya menghentak lebih cepat, meremas pantatnya untuk membuat sebuah lingkaran yang ketat pada vaginanya.. Momen yang sempurna mendekat dengan cepat saat dia menatap mata kekasihnya.

“Emma sayang.. Papa juga keluar..”

“Mm shh” Emma memperlambat gerakan kekasihnya, menenangkannya ketika waktunya datang..

“Aku ingin menahanmu saat kamu keluar.. Saat kamu memompa benihmu ke dalam tubuhku”

“Oh sayang.. Ya gadis manisku.. Tahan aku saat kukeluarkan spermaku ke dalam kandunganmu”

Dia merasa itu membesar di dalam cengkramannya, urat gemuk penisnya siap untuk berejakulasi, dan kemudian menghentak dengan liar, dan dengan masing-masing semburan yang dia rasa pancarannya yang kuat menghantam dinding kewanitaannya, membasahi hamparan ladangnya yang haus kekeringan. Bibir mereka bertemu dalam lilitan sempurna, tangisan Emma membanjiri kekasihnya kala kekasihnya menyembur dengan deras ke dalamnya. Punggung Emma melengkung, mencengkeram penisnya sangat erat saat ombak kesenangan menggulungnya. Dia ingin menahannya di sana untuk selamanya..

“Ohh Ohh aahh.. Papa melakukannya.. Isi aku.. Aahh” jantung mereka berdegup sangat keras ketika mereka berbaring bersama, terengah-engah, sampai mereka bisa berbicara.

“Oh Tuhan, Emma.. Aku sangat menginginkanmu..”

Dan untuk beberapa hari ke depan, tak ada sepatah katapun yang sanggup melukiskan momen itu..

Anakku sayang

Filed under: Incest

Marlina, 35 tahun, adalah seorang ibu rumah tangga dengan 2 orang anak. Penampilan Marlina sangat menarik. Sebagai wanita yang tinggal di kota besar, Bandung, cara berpakaiannya selalu sexy. Tidak sexy murahan tapi berkelas dan menarik. Dengan tubuh tinggi semampai, dada 36, dan kulit yang putih, walau sudah menikah dan punya anak yang sudah cukup dewasa, tapi masih banyak lelaki yang selalu menggodanya.

Anaknya yang paling besar, Jimmy, 16 tahun, seorang anak yang yang baik dan penurut pada orang tuanya. Anak kedua, Yenny, 14 tahun, seorang anak yang sudah mulai beranjak dewasa. Sedangkan suami Marlina, Herman, adalah seorang suami yang cukup baik dan perhatian pada keluarga. Bekerja sebagai seorang PNS di suatu instansi pemerintah.

Kehidupan sexual Marlina sebetulnya tidak ada masalah sama sekali dengan suaminya. Walau banyak lelaki yang menggoda, tak sedikitpun ada niat dia untuk mengkhianati Herman.

Tapi ada sesuatu yang berubah dalam diri Marlina ketika suatu hari dia secara tidak sengaja melihat anak lelakinya, Jimmy, sedang berpakaian setelah mandi. Dari balik pintu yang tidak tertutup rapat, Marlina dengan jelas melihat Jimmy telanjang. Matanya tertuju pada kontol Jimmy yang dihiasi dengan bulu-bulu yang tidak terlalu lebat.

Sejak saat itu Marlina pikirannya selalu teringat pada tubuh telanjang anak lelakinya itu. Bahkan seringkali Marlina memperhatikan Jimmy bila sedang makan, sedang duduk, atau sedang apapun bila ada kesempatan.

“Ada apa si Mam, kok liatin Jimmy terus?” tanya Jimmy ketika Marlina memperhatikannya di ruang tamu.

“Tidak ada apa-apa, Jim.. Hanya saja Mama jadi senang karena melihat kamu makin besar dan dewasa,” ujar Marlina sambil tersenyum.

“Kamu sudah punya pacar, Jim?” tanya Marlina.

“Pacar resmi sih belum ada, tapi kalau sekedar teman jalan sih ada beberapa. Memangnya kenapa, Mam?” tanya Jimmy.

“Ah, tidak. Mama hanya pengen tahu saja,” ujar Marlina.

“Kamu pernah kissing?” tanya Marlina.

“Ah, Mama.. Pertanyaannya bikin malu Jimmy ah…” ujar Jimmy sambil tersenyum.

“Yee.. Tidak apa-apa kok, Jim.. Jujur saja pada Mama. Mama juga pernah muda kok. Mama mengerti akan maunya anak muda kok…” ujar Marlina sambil menjewer pelan telinga Jimmy. Jimmy tertawa.

“Ya, Jimmy pernah ciuman dengan mereka,” ujar jimmy.

“ML?” tanya Marlina lagi.

“ML apa sih artinya, Mam?” tanya Jimmy tidak mengerti.

“Making LOve.. Bersetubuh…” ujar Marlina sambil mempraktekkan ibu jarinya diselipkan diantara telunjuk dan jari tengah.

“Wah kalau itu JImmy belum pernah, Mam.. Tidak berani. Takut hamil…” ujar Jimmy. Marlina tersenyum mendengarnya.

“Kenapa Mama tersenyum?” tanya Jimmy.

“Karena kamu masih sangat polos, sayang…” kata Marlina sambil mencubit pipi Jimmy, lalu bangkit untuk menyiapkan segala sesuatunya karena Herman akan segera pulang.

Malam harinya, Marlina, Jimmy, dan Yenny asyik menonton TV, sedangkan Herman sedang mengerjakan sesuatu di meja kerjanya.

“Ciuman rasanya gimana sih?” tanya Yenny ketika menyaksikan adegan ciuman di televisi.

“Ah, kamu.. Masih kecil! Tidak perlu tahu,” ujar Jimmy sambil mengucek-ngucek rambut Yenny.

“Tidak boleh begitu, Jim.. Adikmu harus tahu tentang apapun yang dia tidak mengerti. Biar tidak salah langkah nantinya…” ujar Marlina sambil menatap Jimmy.

“Begini, Yen…” ujar Marlina.

“Ciuman itu tidak ada rasa apa-apa.. Tidak manis, pahit atau asin. Hanya saja, kalau kamu sudah besar nanti dan sudah merasakannya, yang terasa hanya perasaan nyaman dan makin sayang kepada pacar atau suami kamu…” ujar Marlina lagi.

“Ah, nggak ngerti…” ujar yenny.

“Mendingan Yenny tidur saja, ah.. Sudah ngantuk…” ujar Yenny.

“Ya sudah, tidurlah sayang,” ujar Marlina. Yenny kemudian bangkit dan segera menuju kamar tidurnya.

Ketika menyaksikan adegan ranjang di televisi, Marlina bertanya kepada Jimmy, “Apakah kamu sudah itu dengan pacarmu?”.

“Jimmy belum punya pacar, Mam.. Mereka hanya sekedar teman saja,” jawab Jimmy.

“Tapi kok kamu bisa ciuman dengan mereka?” tanya Marlina lagi sambil tersenyum.

“Ya namanya juga saling suka…” jawab Jimmy sambil tersenyum juga.

“Sudah sejauh mana kamu melakukan sesuatu dengan mereka?” tanya Marlina.

“Tidak apa-apa kok, Jim.. Bicara terbuka saja dengan Mama,” ujarnya Marlina lagi. Jimmy menatap mata ibunya sambil tersenyum.

“Ya begitulah…” kata Jimmy.

“Ya begitulah apa?” tanya Marlina lagi.

“Ya begiutlah.. Ciuman, saling pegang, saling raba…” ujar Jimmy malu malu. Marlina tersenyum.

“Hanya itu?” tanya Marlina lagi.

Jimmy melirik ke arah ayahnya yang sedang sibuk mengerjakan sesuatu di meja kerjanya.

“Mama jangan bilang ke Papa ya?” ujar Jimmy.

Marlina tersenyum sambil mengangguk. Jimmy lalu beringsut mendekati Marlina.

“Jimmy pernah oral dengan beberapa teman wanita…” ujarnya sambil berbisik.

Marlina tersenyum sambil mencubit pipi Jimmy.

“Nakal juga ya kamu!” ujar Marlina sambil tersenyum.

“Rasanya bagaimana?” tanya Marlina sambil berbisik.

“Sangat enak, Mam…” ujar Jimmy.

“Tapi Jimmy dengar, katanya kalau punya Jimmy dimasukkan ke punya wanita rasanya lebih enak.. Benar tidak, Mam?” tanya Jimmy.

Marlina kembali tersenyum tapi tidak menjawab..

“Kamu mau tahu rasanya, Jim?” tanya Marlina sambil tetap tersenyum. Jimmy mengangguk.

“Sini ikut Mama…” ajak Marlina sambil bangkit lalu pergi ke ruang belakang. Jimmy mengikuti dari belakang.

Sesampai di ruang belakang, Marlina menarik tangan Jimmy agar mendekat.

“Ada apa sih, Mam?” tanya Jimmy.

“Karena kamu sudah dewasa, Mama anggap kamu sudah seharusnya tahu tentang hal tersebut,” ujar Marlina dengan nafas agak memburu menahan gejolak yang selama ini terpendam terhadap anaknya tersebut.

“Ciumlah Mama sayang…” kata Marlina sambil mengecup bibir Jimmy.

Jimmy diam karena tidak tahu harus berbuat apa. Marlina terus melumat bibir anaknya itu sambil tanggannya masuk ke dalam celana Hawaii Jimmy. Lalu dengan lembut diremas dan dikocoknya kontol anaknya. Karena tidak tahan merasakan rasa enak, Jimmy dengan segera membalas ciuman Marlina dengan hangat.

Sambil terus mengocok dan meremas kontol Jimmy, Marlina berkata, “Kamu ingin merasakan rasanya bersetubuh kan, sayang?”.

“Iya, Mam…” ujar Jimmy dengan nafas memburu.

“Mama juga sama, Jim.. Mama ingin merasakan hal itu dengan kamu,” ujar Marlina.

“Kapan, Ma?” tanya Jimmy sambil menggerakkan pinggulnya maju mundur karena enak dikocok kontol oleh Marlina.

“Jangan sekarang ya, sayang…” ujar Marlina sambil melepaskan genggaman tangannya pada kontol Jimmy.

“Yang penting kamu harus tahu bahwa Mama sangat sayang kamu…” kata Marlina sambil mengecup bibir Jimmy.

“Jimmy juga sangat sayang Mama,” ujar Jimmy.

“Sekarang Mama harus tidur karena sudah malam. Nanti Papamu curiga…” ujar Marlina sambil meninggalkan Jimmy.

Jimmy menarik nafas panjang menahan suatu rasa yang tak bisa diucapkan.. Tak lama Jimmy masuk ke kamar mandi.. Onani. Besok paginya, Herman sudah siap-siap pergi kerja sekalian mengantar Yenni ke sekolah karena masuk pagi. Sementara Jimmy masuk sekolah siang. Dia masih tidur di kamarnya.

Setelah Herman dan Yenni pergi, dengan segera Marlina mengetuk dan masuk ke kamar Jimmy. Jimmy masih tidur dengan hanya memakai celana Hawaii saja. Marlina tersenyum sambil duduk di sisi ranjang anaknya tersebut. Tangannya mengusap dada Jimmy. Dimainkannya puting susu Jimmy. Jimmy terbangun karena merasakan ada sesuatu yang membuat darahnya berdesir nikmat. Ketika matanya dibuka, terlihat mamanya sedang menatap dirinya sambil tersenyum.

“Bangun dong, sayang.. Sudah siang,” ujar Marlina sambil tangannya berpindah masuk ke dalam celana Hawaii Jimmy.

Diusap, dibelai, diremas, lalu dikocoknya kontol Jimmy sampai tegang dan tegak. Jimmy terus menatap mata MArlina sambil merasakan rasa nikmat pada kontolnya.

“Mau sekarang?” tanya Marlina sambil tetap tersenyum.

“Saya mau kencing dulu, Mam…” kata Jimmy sambil bangkit lalu bergegas ke kamar mandi. Setelah selesai, segera dia kembali ke kamarnya.

“Lama amat sih?” tanya Marlina.

“Jimmy kan sikat gigi dulu, Mam…” ujar Jimmy sambil duduk di pinggir ranjang berdampingan dengan Marlina.

“Kenapa Mama mau melakukan ini dengan Jimmy?” tanya Jimmy. Marlina tersenyum sambil mencium pipi anaknya itu.

“Karena Mama sangat sayang kamu. Juga Mama ingin mendapat kebahagiaan dari orang yang paling Mama sayangi.. Kamu,” ujar Marlina sambil kemudian melumat bibir Jimmy.

Jimmy membalasnya dengan hangat pula. Kemudian Marlina bangkit lalu melepas semua pakaian yang menempel di tubuhnya. Jimmy terus menatap tubuh ibunya dengan kagum dan nafsu.

“Buka celana kamu dong, sayang,” ujar Marlina.

“Iya, Mam…” ujar Jimmy sambil bangkit lalu melepas celana Hawaiinya.

“Sini, Jim…” ujar Marlina sambil berjongkok.

Tak lama mulut Marlina sudah mengulum kontol Jimmy. Jilatan dan hisapannya membuat Jimmy bergetar tubuhnya menahan nikmat yang amat sangat.

“Mmhh.. Enakk, Mamm…” desah Jimmy sambil agak menggerakkan pinggulnya maju mundur.

Marlina melepas kulumannya, sambil tersenyum menatap wajah Jimmy yang tengadah merasakan nikmat, tangannya terus mengocok kontol Jimmy.

“Gantian, Jim…” ujar Marlina.

“Iya, Mam…” ujar Jimmy.

Marlina lalu naik ke ranjang anaknya. Lalu segera dibukanya paha lebar-lebar.. Jimmy langsung mendekatkan wajahnya ke memek Marlina. Lalu segera dijilatinya seluruh permukaan memek Marlina. Marlina terpejam menahan nikmat. Apalagi ketika jilatan lidah Jimmy bermain di kelentitnya.. Mata Marlina terpejam, tubuhnya bergetar sambil menggoyangkan pinggulnya.

“Ohh.. Enakk.. Teruss, Jimm…” desah Marlina.

Setelah sekian menit Marlina dijilati memeknya, tiba-tiba tubuhnya bergetar makin keras, ditekannya kepala Jimmy ke memeknya, lalu segera dijepit dengan pahanya.. Tak lama…

“Ohh.. Mhh.. Ohh…” desah Marlina panjang. Marlina orgasme.

“Ohh, enak sekali sayang.. Naik sini!” ujar Marlina.

Jimmy naik ke tubuh Marlina. Dengan segera Marlina melumat bibir Jimmy walau masih belepotan dengan cairan dari memek Marlina sendiri.

“Masukkin sayang…” bisik Marlina sambil menggenggam kontol Jimmy dan diarahkan ke memeknya.

Setelah itu, Jimmy langsung memompa kontolnya di memek Marlina. Mata Jimmy terpejam sambil terus mengeluarmasukkan kontolnya.

“Bagaimana rasanya, Jim?” tanya Marlina sambil menggoyangkan pinggulnya mengimbangi gerakan Jimmy.

“Nikmat sekali, Mam…” ujar Jimmy.

Marlina tersenyum sambil terus menatap mata anaknya. Tak lama, tiba-tiba tubuh Jimmy mengejang, gerakannya makin cepat..

“Jimmy mau keluar, Mam,” bisik Jimmy.

“Mmhh.. Keluarkan sayang, puaskan dirimu…” bisik Marlina sambil memegang pantat Jimmy lalu menekankan ke memeknya keras-keras.

Tak lama.. Crott! Crott! Crott! Air mani Jimmy muncrat banyak di dalam memek Marlina. Jimmy mendesakkan kontolnya dalam-dalam ke memek Marlina..

“Bagaimana rasanya sayang?” tanya Marlina.

“Sangat nikmat, Mam.. Lebih nikmat daripada oral…” ujar Jimmy sambil mengecup bibir Marlina.

“Jimmy sangat sayang Mama,” ujar Jimmy.

“Mama juga sangat sayang kamu,” ujar Marlina.

Lalu mereka berpelukan telanjang.

TAMAT

Cerita Semasa SMP

Filed under: DAUN MUDA

Namaku Sonny, dulu sewaktu masih SMP ada beberapa teman wanita yang naksir denganku, maklumlah waktu itu aku bintang kelas di SMP tersebut, di antara perempuan-perempuan tersebut adalah Rere, Vinvin (nama samaran) yang ada hubungannya dengan ceritaku ini. Aku sekarang sudah bekerja di suatu perusahaan swasta di Jakarta yang kebetulan aku termasuk eksekutif muda. Nah, bulan mei 99 kemarin, aku ada meeting di Surabaya dan kebetulan hari itu ulang tahun Rere (Rere termasuk wanita yang lumayan tingginya 170, branya 36 dan bodinya itu tuch yang semok alias seksi montok). Sehabis meeting, aku iseng menelepon Rere dan dia mengundangku datang ke rumahnya.

Kemudian aku langsung saja cabut ke rumah Rere, eh nggak tahunya di situ ramai juga teman-temennya yang datang, termasuk Vinvin. Acara pesta tersebut berlangsung sampai jam 9 malam. Di pesta tersebut Rere cerita kepadaku kalau minggu depan dia mau menikah terus Vinvin minggu depannya lagi, lalu Rere cerita masa-masa dia naksir aku terus sampai sekarang dia masih kangen berat. Maklumlah sudah 2 tahunan nggak jumpa. Kebetulan waktu itu komputer dia lagi ngadat. Nah kesempatan buatku untuk tinggal lebih lama. Langsung saja kucoba membetulkan PC-nya. Sementara di rumahnya tinggal Vinvin saja yang belum pulang dan orang tuanya juga nggak ada

Pas sedang asyik mengutak-atik PC-nya, dia menungguku di sampingku dengan sekali-sekali melirikku, aku sendiri masih hati-hati mau menembak dia. Eh nggak tahunya si Vinvin main serobot saja. Dari belakang Vinvin langsung memelukku dan meng-kiss pipiku (Vinvin nggak beda jauh sama Rere, bedanya mata Rere kebiru-biruan sedikit dan lebih hitam dari Vinvin). Punggungku terasa ada benda kental yang bikin aku naik. Habis itu Vinvin membisikan kalau dia masih kepingin denganku, terus aku responin juga kalau aku kangen juga, terus kulumat saja bibirnya yang mungil kemerah-merahan itu. Vinvin langsung balas dengan penuh nafsu dan tetap memelukku dari belakang tapi tangannya sudah langsung menggerayangi penisku, dalam hati ini anak kepingin di embat nich. Aku lihat Rere disampingku bengong saja dan cemberut merasa kalah duluan. Terus Rere pergi sebentar, aku masa bodoh saja, kutarik si Vinvin ke pangkuanku dan bibirnya masih kulumat habis.

Gila! nafsunya besar sekali! Setelah itu kualihkan dari bibir, kukecup terus ke bawah sambil tanganku meraba buah dadanya yang besar dan kenyal. Pas kukecup di belahan buah dadanya, Vinvin berteriak, “Sstt aahh” dan semakin kencang remasan tangannya yang sudah masuk ke CD-ku, kubuka saja bajunya terus branya sekalian. Kelihatan buah dadanya menggantung siap diremas habis. Dengan gemasnya kulumat habis buah dadanya sampai dia menggelinjang keenakan dan suara yang “sstt sstt aahh…” Setelah itu tanganku pindah ke CD-nya yang sudah basah, langsung saja kulepas roknya. Dia pun kelihatan bugil tapi masih pakai CD.

Terus Rere datang dengan membisikanku bahwa kalau mau meneruskan di dalam kamarnya saja. Tanpa pikir lama-lama, langsung saja kugendong Vinvin sambil buah dadanya terus kuhisap ke dalam kamar Rere. Terus aku telentangi Vinvin di tempat tidur Rere, aku lihat Vinvin sudah pasrah menantang, langsung saja kubuka CD-nya, ehh ternyata bulu Vinvin rapi dan kecil-kecil, langsung saja kulepas celanaku sama CD-ku sampai aku bugil ria. Terdengar teriakan Rere kaget melihat penisku sepanjang 22 cm dan gede banget katanya sambil ngeloyor pergi meninggalkanku dan Vinvin.

Aku tidak peduli lagi sama dia, langsung saja penisku aku arahkan ke vagina Vinvin, uhh seret banget, dan kulihat Vinvin menggigit bibirnya dan berteriak, “Aakkhh eegghh…” Kepalanya menggeleng ke kiri dan ke kanan sambil tangannya meremas seprei. Rupanya dia masih Virgin sehingga seret sekali memasukannya. Baru kepalanya saja Vinvin sudah teriak. Aku tahan sebentar, terus tiba-tiba langsung saja kusodok lebih keras, Vinvin langsung saja teriak kencang sekali. Masa bodoh, aku teruskan saja sodokanku sampai mentok. Rasanya nikmat banget, penisku seperti diremas-remas dan hangat-hangat basah.

Sambil menarik napas, kulihat kalau Vinvin sudah agak tenang lagi, tapi rupanya dia meringis menahan sakit, kebesaran barangkali yach? Setelah itu aku tarik penisku pelan-pelan dan kelihatan sekali vagina Vinvin ikut ketarik terus kepalanya geleng-geleng ke kiri dan ke kanan sama matanya terpejam-pejam keenakan sambil teriak, “Sstt aahh sshh egghh…” Sampai penisku tinggal kepalanya saja, langsung saja aku sodok lagi ke vaginanya sekeras-kerasnya, “Bleesshh…” Vinvin berteriak, “aahh..” Kira-kira 5 menitan vagina Vinvin terasa seret. Setelah itu vaginanya baru terasa licin hingga semakin nikmat buat disodok, semakin lama sodokanku semakin kupercepat sampai Vinvin kelihatan cuma bisa menahan saja. Rupanya Vinvin kurang agresif. Terus kusuruh Vinvin menggerakan pantatnya ke kiri dan ke kanan sambil mengikuti gerakanku. Baru beberapa menit Vinvin sudah teriak nggak karuan, rupanya dia mau orgasme.

Makin kupercepat gerakanku, akhirnya Vinvin berteriak kencang sekali sembari memelukku kencang-kencang, lama sekali Vinvin memelukku sampai akhirnya dia telentang lagi kecapaian tapi penisku masih menancap di vaginanya. Sekilas kulihat kalau Rere melihatku sambil menggigit jarinya, terus Rere mendekati kami berdua kemudian bertanya “Bagaimana tadi?” Aku senyum saja sambil penisku masih kutancapkan di vagina Vinvin, terus Rere duduk di tepi ranjang dan ngobrol kepadaku. Aku iseng, kupegang tangan Rere terus aku remas-remas. Tapi dia tetap diam saja. Setelah itu kutarik dia lalu kucium bibirnya yang ranum dan tubuhnya kutelentangi di atas perut Vinvin tapi penisku masih tetap menancap di vagina Vinvin, tidak ketinggalan kuremas-remas buah dada Rere sambil matanya terpejam menikmati lumatan bibirku dan remasan tanganku.

Sementara si Vinvin mencabut penisku lalu pergi ke kamar kecil dan jalannya sempoyongan seperti vaginanya ada yang mengganjal. Terus kubuka saja baju Rere sementara tangannya sudah merangkul tengkukku. Setelah itu kujilati saja buah dadanya sambil sekali-kali kuhisap sampai dia menggelinjang kegelian. Terus kuraba CD-nya. Rupanya sudah basah, nggak ambil peduli langsung saja kulepas seluruh celananya sampai Rere benar-benar bugil. Terus aku suruh Rere pegang penisku sampai muka dia kelihatan kemerahan. Rupanya dia belum pernah merasakan begituan. Setelah itu aku perbaiki posisinya biar nikmat buat menyodok vaginanya. Kemudian Rere bertanya kalau dia mau diapakan.

Aku suruh Rere pegang penisku lalu kugesek kevaginanya. Dia tercengang mendengar kataku, tapi dia tetap melakukan juga. Sambil matanya terpejam, Rere mulai menggesek penisku kevaginanya, pas menyentuh vaginanya, dia kelihatan nyegir sambil mendesah-desah, “Aahh…”, sementara aku sibuk meremas-remas sambil menjilati buah dadanya yang semakin lama semakin mengeras dan kelihatan puting buah dadanya semakin munjung keatas.

Pelan-pelan kudorong pantatku sampai penisku menempel lebih kencang di mulut vaginanya. Rere diam saja malah semakin keras rintihannya, eh nggak tahunya Vinvin tiba-tiba saja mendorong pantatku sekeras-kerasnya secara langsung penisku kedorong masuk kedalam vagina Rere sedangkan Rere menjerit keras, “aakkh sakit Sonny, apa-apaan kamu”, sambil badan Rere menggeliat-geliat kesakitan sementara tangannya menahan pinggulku. Sedangkan Vinvin bilang ke Rere kalau sakitnya hanya sebentar saja, terus Vinvin malah mendorong lebih keras lagi sambil menarik tangan Rere biar tidak menahan gerakan pinggulku. Rere kelihatan menahan sakit sambil menggigit bibirnya. Sampai akhirnya masuk semua penisku. Rere kelihatan mulai mengatur nafasnya yang tersengal-sengal selama menahan tadi. Aku biarkan dulu beberapa menit sambil mencumbu Rere biar dia tambah naik sementara Vinvin yang masih bugil tadi melihat saja di samping tempat tidur sambil tertawa centil. Tidak lama Rere sudah mulai dapat naik lagi, malah semakin menggebu saja.

Mulai kutarik penisku pelan-pelan terus kusodok lalu masuk agak kencangan sedikit, seret sekali. Tiba-tiba bell pintu berbunyi lalu Vinvin mengintip lewat jendela kamar lalu pakai bajunya yang panjang sampai lutut terus Vinvin ngeloyor pergi sambil ngomong, “Nyantai saja, terusin biar aku yang nemuin”, tahu gitu aku teruskan saja kegiatanku yang sempat terhenti, aku lihat Rere masih nyengir sambil kepalanya geleng kekiri dan kekanan terus pinggulnya digerakan pula mengikuti irama gerakanku. Rupanya vaginanya cepat basah dan mampu menelan penisku sampai penuh.

Sementara tanganku sibuk meremas buah dada Rere, aku terus menggenjotnya semakin cepat sampai dia mendesah-desah lebih keras terus tangannya meraba-raba punggungku lalu tiba-tiba kakinya dilipat ke atas pantatku sambil memelukku dan berteriak “aagghh”, kencang sekali hingga gerakanku tertahan dan terasa ada cairan hangat keluar dari vaginanya hingga menambah rasa nikmat. Rupanya dia orgasme beruntun, setelah pelukan dia mulai kendor. Aku teruskan lagi genjotanku pelan-pelan sambil mulai mencumbu dia biar naik lagi. Tidak lama dia sudah naik lagi terus aku ambil posisi lebih tegak sambil tanganku pegang pinggulnya dan tangannya memuntir-muntir putingku sambil tersenyum manis. Makin lama gerakanku semakin kupercepat sodokanku, waktu kudorong ke vaginanya aku keras-kerasi lalu kulihat Rere sudah mulai memejamkan matanya dan kepalanya geleng-geleng ke kiri dan ke kanan mengikuti irama genjotanku.

Aku sendiri rupanya sudah mau orgasme, maka aku genjot lebih kencang lagi sampai vaginanya bunyi kencang banget, nggak lama aku mau keluar kutarik penisku biar ejakulasi di luar. Dia malah menahan pantatku biar nggak ditarik ke luar langsung saja kudorong lagi sembari kupeluk dia erat-erat sambil teriak, “Aargghh.. eegghh..”, kemudian Rere juga teriak lama sekali, aku ejakulasi di dalam vagina Rere sampai Rere gelagapan nggak bisa napas, kira-kira semenitan aku dekap Rere erat-erat sampai aku kehabisan tenaga, terus kucabut penisku dan kelihatan maniku sampai keluar dari vaginanya bareng darah perawannya yang sobek karena kerasnya serobotan penisku dibantu dorongan Vinvin yang keras dan tiba-tiba tadi.

Sementara itu Vinvin kedengarannya ngobrol sama seorang cewek, rupanya teman Rere itu ketinggalan dompet terus kebetulan Vinvin juga kenal sama dia, nggak lama kemudian Vinvin masuk ke kamar terus menanyakan aku, “Mau kenalan nggak sama temanku?” aku jawab, “Masa aku bugil begini mau dikenalin”, “Cuek saja, lagian tadi aku sama dia sudah ngintip lu waktu sama Rere tadi”, aku bengong saja terus Vinvin membisikan sesuatu ke Rere terus Rere mengangguk sambil tertawa cekikikan terus Rere membisikan kepadaku supaya aku nanti menurut saja, katanya asyik sich. Lalu Vinvin dan Rere yang cuma pakai selimut menemui temannya tadi terus diajak masuk sebentar ke kamar Rere sambil matanya ditutup pakai T-shirt Vinvin.

Setelah itu Vinvin kasih isyarat ke aku biar diam saja sambil menuntun Christ (nama temannya tadi) supaya rebahan dulu di tempat tidur. Tentu saja Christ bertanya kalau ada apa ini. Lalu Vinvin bilang kalau entar pasti nikmat dan nikmati saja. Christ mengangguk saja lalu Vinvin menyuruh Rere pegang tangan Christ yang diangkat di atas kepalanya dan Vinvin meraba-raba sekujur badan Christ di dalam bajunya, tentu saja Christ teriak kegelian sampai akhirnya mendesah-desah keasyikan lalu Vinvin pindah posisi dari duduk di atas paha Christ beralih ke samping sambil kasih kode ke aku biar aku duduk menggantikan dia sambil tangan Vinvin dimasukan ke dalam bra punya Christ, aku menurut saja sambil mulai mengikuti Vinvin meraba-raba tubuh seksi Christ, sementara Christ kaget dan mulai meronta-ronta nggak mau diteruskan, aku yang sudah tanggung begitu langsung saja turun lalu menarik kaki Christ supaya posisi pantatnya pas di sudut tempat tidur kelihatan Rere mengikuti dan tetap memegang tangan Christ yang sudah mulai meronta dan berteriak-teriak “Jangan”, lalu Vinvin menutup mulut Christ dan melumat bibirnya sembari kasih kode ke aku biar diteruskan saja, langsung kubuka ritsluiting celananya dan kelihatan pahanya yang putih dan bentuk kakinya yang seksi membuat aku cepat naik, waktu aku mau peloroti CD-nya, Christ malah meronta-ronta sambil kakinya menendang-nendang hingga aku kesulitan. Aku jepit kakinya dengan pahaku lalu CD-nya aku tarik paksa sampai di bawah lututnya terus aku berdiri sedikit buat melepas CD-nya tadi habis itu aku kangkangi pahanya sembari aku arahkan penisku yang sudah tegang berat ke vagina Christ yang ada di sudut tempat tidur itu.

Setelah kepala penisku menyentuh mulut vaginanya, aku pegangi pinggulnya biar Christ agak diam nggak meronta-ronta supaya aku bisa menyodok dengan mantap, gerakan pinggul Christ sudah dapat aku tahan lalu aku cepat-cepat menyodok penisku sekeras-kerasnya ke vaginanya, sesaat kelihatan gerakan Christ yang berontak tertahan selama aku dorong masuk penisku tadi sampai mentok, seret banget dan masih agak licin, aku lihat Vinvin masih melumat bibir Christ sementara Rere melihat penisku yang sudah menancap 3/4 saja di vagina Christ tadi, setelah aku diamkan beberapa saat, aku tarik lagi penisku lalu kudorong masuk lagi sementara Christ kembali meronta-ronta menambah nikmatnya goyangan liarnya, lama-lama Christ mulai melemah rontanya dan mulai kedengaran desahan Christ, nggak tahunya Vinvin sudah nggak melumat bibirnya tadi. Mendengar desahan dan rintihannya itu bikin aku semakin ganas, tanganku mulai meraba ke atas dibalik T-shirtnya sampai menyentuh buah dadanya yang masih terbungkus bra. Lalu aku singkap bajunya ke atas terus Vinvin membantu membukakan bra Christ tadi sementara Rere sudah melepaskan pegangan tangannya dan Rere mengambil guling lalu memeluk guling itu sambil menggigit bibirnya sambil terus melihatku yang lagi “ngerjain” Christ dengan ganas, lalu Vinvin ke kamar mandi sementara aku semakin percepat gerakanku yang semakin keras sambil kuremas-remas dan kujilati puting buah dadanya yang sudah merah merona serta desahan dan rintihan Christ yang menambah nafsuku.

Rupanya rontaan Christ yang liar membuatku semakin cepat keluar, baru 5 menitan aku sudah nggak tahan lagi, aku dorong keras-keras sambil kupeluk Christ sekencang-kencangnya sampai Christ nggak bisa nafas tapi masih tetap menggoyang pinggulnya, aku ejakulasi 30 detik lamanya kemudian Christ gantian mendekapku sambil menggigit telingaku sembari melenguh menahan kenikmatan yang baru dia rasakan, sementara penisku yang masih di dalam vagina Christ terasa hangat karena cairan yang keluar dari vaginanya tadi. Christ orgasme sampai 15 detik lalu aku terkulai lemas di samping tubuh Christ lalu Vinvin kembali ke tempat tidur lagi dan kami berempat pun terdiam tanpa ada yang berbicara sampai tertidur semuanya.

Diperkosa saat hamil

Filed under: PERKOSAAN

Namaku Ratih, umurku 18 tahun. Tinggiku hanya 158cm tidak begitu tinggi dan cukup langsing. Menurut orang-orang sekitarku aku memiliki paras yang cantik dan menarik, selain itu dadaku cukup padat dan montok dengan ukuran 36A. Setahun yang lalu aku menikah dengan Deden, seorang buruh tani yang belum memiliki pekerjaan tetap. Meski demikian, aku sangat menyayangi Deden apa adanya. Untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari, aku bekerja sebagai penjual jamu gendong keliling, di desa tempat tinggalku daerah Jawa Tengah. Aku tidak sampai hati memaksa Deden untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarga seorang diri, sehingga dari pagi hingga sore aku bekerja tanpa mengenal lelah. Belum lagi tanggunganku terhadap Ibuku yang sudah lanjut usia dan mulai sakit-sakitan. Tapi apa mau dikata, semua ini demi keadaan yang lebih baik.

Saat ini aku sudah hamil 4 bulan, perutku sudah mulai membesar meski belum begitu terlihat. Deden pun semakin perhatian, ia sering berangkat bekerja lebih siang untuk membantuku membuat jamu yang akan kujual. Aku senang, meski begitu aku tetap menyuruh Deden bekerja tepat waktu karena aku tidak mau upahnya dipotong hanya karena terlambat. Kami berdua sangat rukun meski keadaan ekonomi kami cukup sulit.

Seperti biasa, pagi-pagi aku berangkat ke pasar untuk membeli bahan-bahan daganganku. Semua tersusun rapi di dalam keranjang gendong di punggungku. Sampai rumah aku racik semua bahan-bahan tadi dalam sebuah kuali besar dan aku masukkan dalam botol-botol air mineral ukuran besar.“Wah, rajin sekali istriku.” Deden menyapaku dan memberikan sebuah kecupan hangat di keningku. Aku pun membalasnya dengan ciuman di pipinya sebelah kanan.“Sudah mau berangkat ke ladang Pak Karjo?” Tanyaku. “ Iya, mungkin sebentar lagi, hari ini ladangnya akan ditanam ulang setelah kemarin panen.” Mungkin nanti aku tidak bisa mengantarmu sampai ujung jalan karena Pak Karjo akan marah jika aku sampai terlambat.” Jawab suamiku.“ Tidak apa-apa, ini semua kan demi keluarga kita.” Aku meyakinkannya sambil mengelus pipinya.“Tapi nanti hati-hati Ratih, ingat kamu sedang hamil. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan anak kita.” Iya, suamiku.” Jawabku mengakhiri obrolan kami. Sebentar saja suamiku minta pamit padaku untuk segera berangkat ke ladang Pak Karjo. Tak lupa aku memberikan rantang berisi makanan yang tadi telah aku siapkan.

Setelah sedikit berbenah, akhirnya semua jamu sudah aku siapkan dan sudah aku masukkan ke keranjangku. Waktu juga sudah menunjuk pukul 09.00, berarti sudah saatnya aku mulai menjajakan jamu. Sebelumnya aku siap-siap dahulu dengan mengenakan kaos pendek warna putih dan rok selutut. Aku gendong keranjang berisi bermacam-macam jamu, aku kaitkan dengan selendang dengan tumpuan diantara dua payudaraku. Sehingga dadaku nampak menonjol sekali, belum lagi bawaan jamu yang cukup berat yang membuatku sedikit membusung hingga mencetak dengan jelas kedua dadaku. Setelah semuanya siap, aku segera berangkat berkeliling menjajakan jamu, tak lupa aku mengunci pintu depan dan belakang rumah warisan ayah Deden. Setiap hari rute perjalananku tidaklah sama, aku selalu mencari jalan baru sehingga orang-orang tidak akan bosan dengan jamu buatanku. Karena setiap hari aku bertemu dengan orang yang berbeda. Kali ini aku berjalan melewati bagian selatan desaku. “ Jamu, Jamuuu.” Begitu teriakku setiap kali aku melewati rumah penduduk. “ Mbakk, Mbakk, Jamunya satu.”Teriak seorang wanita.“Mau jamu apa mbak?” tanyaku. “ Kunir Asem satu gelas saja mbak.” Pintanya. Segera aku tuangkan segelas jamu kunir asem yang aku tambahkan sedikit gula merah. Setelah itu aku berkeliling menjajakan jamu kembali. Siang itu begitu terik, hingga kaosku basah oleh keringat. Tapi aku tak peduli, toh penjualan hari ini cukup lumayan. Paling tidak sudah balik modal dari bahan-bahan tadi yang kubeli.

Aku melangkah menyisir hamparan sawah dengan tanaman padi yang sudah mulai menguning. Memang mayoritas pekerjaan penduduk di Daerah tempatku tinggal adalah petani. Sehingga mulai dari anak-anak hingga dewasa sudah terbiasa dengan pekerjaan bercocok tanam. Aku melanjutkan perjalananku dan melewati sebuah gubuk sawah dimana para buruh tani sedang beristirahat karena sudah tengah hari. Belum sempat aku menawarkan mereka jamu, salah satu dari mereka sudah memanggil. ”Mbak, mbakk, jualan apa mbak?” tanya salah seorang dari mereka. “Anu, saya jualan jamu mas, ada jamu kunir asem, beras kencur, jamu pahitan, dan jamu pegel linu.” Jawabku sambil menunjukkan isi keranjangku.” Ohh, kalau begitu saya minta beras kencurnya satu mbak.” kata salah seorang dari mereka. Segera kuturunkan keranjang bawaanku dan memberikan pesanannya.Mereka semua ada bertiga, salah satu dari mereka sepertinya masih smp.

Aku duduk di pinggir gubuk tersebut. Sembari beristirahat dari teriknya siang hari. Mereka mengajakku berkenalan dan mengobrol sembari meminum jamu buatanku. “wahh, sudah berapa lama mbak jualan jamu?” Tanya Aji yang memiliki tubuh kekar dan hitam. “ kurang lebih setahun mass, ya sedikit-sedikit buat bantu orang tua.” jawabku sekenanya. “wah sama dengan dewo, dia juga rajin membantu orang tua.” Potong Abdul yang kurang lebih seumuran Aji, sedangkan dewo adalah yang paling muda diantara mereka. “Yaa, mau gimana lagi mas, kalau nggak begini nanti nggak bisa makan.” Jawabku lagi. “ Mbak tinggal di desa seberang ya?” tanya dewo. “Iya mas, tiap hari saya berkeliling sekitar desa jualan jamu.”Ooo, pantas kok saya belum pernah liat mbak.” Jawab dewo lagi. Lama kami mengobrol ternyata mereka hampir seumuran denganku, Aji dan Abdul mereka berumur sekitar 20-an tahun, sedangkan dewo masih 14-an tahun. Obrolan kami semakin lama hingga membuatku lupa waktu.“ wah, mbak kalo jamu kuda liar ada nggak ya?” Tanya Aji. “ wahh, mas ni ngaco, ya ndak ada to mas, adanya juga jamu pegel linu.” Jawabku sambil sedikit senyum. “Waduhh, kok nggak ada mbak? Padahal kan asik klo ada.” Jawab Abdul sambil terkekeh-kekeh. “Asik kenapa to mas?” Tanyaku heran. “Ya supaya saya jadi liar kayak kuda to mbak.” Jawab aji sembari meletakkan gelas di dekat keranjangku kemudian duduk di sampingku. Posisiku kini ada diantara Aji dan Abdul, sedangkan Dewo ada dibelakangku. Rupanya dewo diam-diam memperhatikan tubuhku dari belakang, memang BH ku saat itu terlihat karena kaosku yang sedikit basah oleh keringat dan celana dalamku yang sedikit mengecap karena posisi dudukku di pinggir gubuk. Tapi aku tidak tahu akan hal ini. “wah panasnya hari ini, bikin tambah lelah saja.” Abdul berkata sambil tiduran di lantai gubuk itu. Saking keenakan tiduran tanpa terasa ia menggaruk-garuk bagian kemaluannya. Aku pura-pura tidak melihat, dalam hati aku berpikir,”Dasar orang kampung tidak tahu malu.” Saat itu Panas semakin terik, sedangkan di gubuk sungguh sangat nyaman dengan angin yang semilir, tidak terasa aku pun mulai mengantuk. Mungkin karena tadi aku bangun pagi sekali sehingga aku belum sempat untuk beristirahat. Aji pun hanya bersandaran pada tiang kayu di sudut gubuk. Dewo juga sama seperti Abdul, tiduran di lantai dengan kepala menghadap ke arahku. Aku menghela nafas, mengeluh karena panas tak juga usai. Bukannya aku tidak mau berpanas-panasan berjualan, tapi mengingat kondisiku yang sedang hamil aku takut terjadi sesuatu dengan janinku.”Wah, kok ngelamun aja to mbak? Cantik-cantik kok suka ngelamun, memang ngelamunin apa to mbak?” Kata Abdul mengagetkanku.” A..anu mas saya cuma mikir kok panasnya tidak kunjung reda.” Jawabku.”Wah, memangnya kenapa to mbak… tinggal ditunggu saja kok nanti juga tidak terik lagi.” Kata dewo dari belakangku. “Ya gimana mas, kalau terus seperti ini nanti daganganku tidak laku, aku bisa rugi mas.” Jawabku sambil mengamati langit yang sangat terik. “ Sudah mbak, tenang saja, kalau rezeki nggak akan kemana kok.” Hibur mas Aji. Tidak terasa aku semakin mengantuk. Semilir angin yang ditambah dengan suasana ladang sawah memang sangat nyaman. Tak terasa aku pun mulai memejamkan mata sembari bersandaran pada keranjang dagangan yang aku letakkan disampingku. Cukup lama aku ketiduran, hingga aku terbangun karena ada sesuatu yang menyentuh pantatku. “aaaaw apa-apaan ini!!?” Aku terbangun dan kaget ketika mengetahui tangan dan kaki sudah diikat menggunakan tali tambang kecil dan aku berada di dalam ruangan yang sepertinya ada di ruang peralatan tepat disamping gubuk tadi. Ternyata tangan dewo yang menggerayangi pantatku dan meremas-remasnya dengan kasar. “Sudah diam! Nanti aku beli semua jamu milikmu dan sebagai bonusnya aku minta jamu milikmu yang indah itu.” Kata Aji sambil meremas payudara sebelah kiri milikku dan tertawa cenge-ngesan. Aku meronta-ronta minta tolong dan mencoba untuk melepaskan ikatan pada kaki dan tanganku. Tapi tenagaku tidak cukup untuk menolongku dari situasi ini.”Ampunn mass, saya sudah menikah, nanti suamiku bisa menceraikanku.” Aku memelas dengan harapan mereka dapat berubah pikiran.”Oh, ternyata kamu sudah tidak perawan toh, tapi tubuhmu masih sempurna.” Bisik abdul sambil meniup telingaku. Darahku serasa berdesir, dicampur rasa ketakutan yang mendalam. Dalam hati aku berpikir,”bagaimana dengan Deden, aku takut, bagaimana dengan janinku, bagaimana kalau aku diperkosa.” Berbagai pertanyaan terus menghantui pikiranku saat itu.“ JJangann mass, jangan, aku sedang haid, jadi tubuhku kotor.” Aku mencoba untuk mengelabui mereka. Setelah itu mereka bertiga berhenti menggerayangiku dan saling memandang satu sama lain. “Yang bener kamu sedang Haid? Wah Sial bener aku hari ini!” Jawab Abdul kesal. “ iiya mas, sudah dua hari ini aku haid, jadi sedang banyak-banyaknya, tolong biarkan aku pergi.” Aku memohon pada mereka.“ Ya.. ya sudahlah, mungkin kita sedang apes.” Kata Aji. Namun Dewo yang masih berumur 14 tahun ini tidak memperdulikan ucapanku, dia cukup senang meremas-remas pantatku. “ Sudah wo, dia lagi haid, kamu mau apa kena darah?” Kata Aji pada dewo. Dewo tetap tidak menghiraukannya. Justru ia semakin kencang meremas pantatku dan semakin kebawah menuju selangkanganku. Posisiku yang sambil tiduran membuat rok ku sedikit terangkat hingga celana dalam putihku terlihat. Dewo yang saat itu sedang meraba-raba pantatku rupanya tidak menyia-nyiakan hal ini, dibukanya rokku semakin keatas, “ Mana? Tidak ada darah kok.” Kata Dewo. Sontak ucapan dewo mendapat perhatian dari Aji dan Abdul. “ Mana woo, jangan bohong kamu.” Kata mereka serempak. Kemudian Aji mengangkat rok dan menyentuh celana dalamku. “Kamu bohong!” dan PLakkk! Sebuah tamparan tepat mengenai wajahku. “Aaa Ampun mass, ampunn, Aku sedang hamil mass.” Aku semakin memelas dan ketakutan. “Ahh, mau pake alasan apa lagi kamu!” Abdul membentakku dan merobek bajuku, hingga aku hanya mengenakan BH warna hitam dan rok putih selutut. Aji melepaskan ikatan pada tangan dan kakiku. “Sekarang mau lari kemana kamu?! Memangnya kamu sanggup melawan kami bertiga?” Dewo menantangku, dengan cepat ia membuka baju dan celana pendeknya hingga hanya tersisa celana dalam warna coklat. Aku tersentak dan kaget, juga kulihat penis dewo yang sudah membesar hingga sedikit mencuat ke atas celana dalamnya. Aku merangkak menuju sudut ruangan itu, aku menggedor-gedornya dengan harapan ada seseorang yang mendengar. Tapi tindakanku justru membuat mereka semakin bernafsu untuk segera menikmati tubuhku. “Mau kemana kamu, disini tidak ada orang lain kecuali kami bertiga hahaha.” Aji senang sekali melihatku hanya mengenakan BH dan Rok yang sedikit tersingkap. “ mass ampunn, aku sedang hamil, nanti suamiku bisa membunuhku.” Tubuhku merinding dan sesekali aku berteriak minta tolong. “wahaha, aku sudah tidak percaya lagi dengan ucapanmu! Kalau suamimu ingin membunuhmu, ceraikan saja! Setelah itu kamu bisa jadi WTS sepuasnya.” Kata abdul sambil mendekatiku. Diraihnya kedua tanganku dan membuatku sedikit berdiri. Srakk, Abdul merobek rok ku dan melemparnya ke arah Dewo. “Itu wo, buat kenang-kenangan.” Kata abdul. “ haha, iya mas, nanti aku pajang di rumah.” Kata dewo cengar-cengir. Kini tubuhku sudah setengah bugil. Tanganku secara naluri menutup dada dan selangkanganku. “Wah bener-bener, ini namanya rejeki nomplok.” Abdul menciumi leherku yang putih, dibuatnya tubuhku merinding dan aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku menghindari jilatan liar lidah Abdul. Ciuman Abdul semakin turun mengarah pada dua gunung kembar milikku. Aku tak dapat mengelak, tanganku di pegang abdul dan diangkatnya keatas. Abdul semakin liar menjilati dadaku yang masih terbungkus BH, ia berpindah-pindah dari kiri ke kanan dan sebaliknya. Hingga ia kemudian menjilati ketiakku. “ aaa, ampun mass, ampun, too.. tolong nghh.” Aku tidak dapat berbohong kalau kelakuan Abdul membuat birahiku naik dan tubuhku menjadi sedikit lemas. Dengan sedikit dorongan, Abdul menjatuhkanku di tengah ruangan dan kait BH ku terlepas. Aku sudah tidak bisa lari dari mereka, kini yang ada di dalam pikiranku hanya janin di dalam perutku, aku menyadari semakin aku melawan maka mereka juga akan semakin kasar terhadapku. Aku terdiam, tak melakukan perlawanan, bahkan berteriak pun tidak. Air mata mulai menetes membasahi pipiku. Isak tangisku beradu dengan tawa dari mereka bertiga. Tubuhku lemas, antara takut dan pasrah menjadi satu. Dengan kedua tangannya Abdul membalikkan badanku hingga kini terlentang memperlihatkan Paha dan Payudaraku yang sudah sedikit terbuka. Mereka bertiga berdiri diatasku sambil cengengesan, rupanya Aji juga sudah melepas celananya diikuti dengan Abdul. Aku sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi sebentar lagi. Dewo yang sudah siap dari tadi telungkup dari atasku, tangannya mulai bermain di telingaku sedangkan kepalanya terus memburu bibirku. “mmpff… mmpff.” Dewo menciumku dengan ganas, aku hampir tidak bisa bernapas dibuatnya. Sambil tetap berciuman dia menggapai tanganku dan mengarahkannya ke penisnya yang sudah membesar. Dituntunnya aku untuk meremas-remas buah pelirnya yang kini ia berganti posisi dengan sedikit nungging. Aku pun menurut saja, aku remas-remas bagian buah zakar sampai ke dekat bagian anus yang masih tertutup celana dalam yang sudah usang. Tidak berapa lama Aji sudah berada di paha bagian kananku. Ia sudah telanjang, kini ia menindih pahaku diantara selangkangannya, hingga dapat kurasakan penisnya yang besar dan berotot menggesek-gesek pada pahaku yang mulus. Tangan Aji mulai bermain di dadaku, sambil sesekali ia menjilat bagian perutku. “nggghhh uaa mppff.” desahanku membuat mereka berdua semakin liar memainkan lidahnya di tubuhku. “ngghh, ahhh, mmppff.” sambil tetap berciuman desahanku tak henti-hentinya keluar. Memang harus kuakui meski dari rohani aku menolak, tapi tubuhku tidak dapat menolaknya dan aku rasakan vaginaku mulai basah oleh lendir kewanitaanku. “Heh! Minggir-Minggir!” Biar aku yang pertama merasakan tubuhnya.” Teriak Abdul. “Aku kan yang mendapatkan ide ini, jadi aku yang berhak untuk memulainya, awas-awas.” Tambahnya. Aji dan Dewo segera menyingkir dari tubuhku. Bak seorang raja, Abdul menindihku, dan kini penisnya yang sudah tidak dilapisi apapun tepat berada ditengah-tengah selangkanganku. “Gimana nona manis, sepertinya kamu juga keenakan ya?” Kata Abdul di depan mukaku. “Yang tadi itu belum pemanasan, baru tahap uji coba.” Ia semakin mendekat di wajahku. Seketika itu agus melepas BH ku, dan dengan liar putingku dimainkan. “nggg ahhh, aah, ah.” nafasku semakin tidak teratur. Dewo yang tidak bisa diam meraih tanganku dan mengarahkan ke penisnya lagi, lalu menyuruhku untuk mengocok-ocoknya. Aji pun tidak mau kalah, dari sisi yang lain ia memintaku untuk melakukan seperti apa yang kulakukan pada dewo.

Wajah dewo menghilang dari hadapanku, rupanya ia turun dan kini ia tepat berada di atas daerah kemaluanku, dilebarkannya kakiku dan ia mulai menciumi vaginaku yang masih dilapisi celana dalam sambil tangannya memainkan putingku. Aku semakin bernafsu, tanpa kusadari aku mengangkat pinggulku agar ciuman Abdul pada vaginaku lebih terasa. Abdul tampaknya tahu kalau aku sudah sangat terangsang. Segera ia melepas celana dalamku yang sudah banjir oleh lendir dari vaginaku. Disibakkannya rambut kemaluanku dengan lidahnya. Kemudian Abdul mulai menjilati vaginaku dan sesekali menghisap klitorisku dan tangannya semakin liar bermain di kedua payudaraku. “ nggghhh, ahhh, aaaa mmmh mass.” Aku mengerang keenakan sambil menekuk kedua pahaku sehingga abdul lebih leluasa memainkan vaginaku. Aku benar-benar serasa melayang, dihadapanku kini ada 3 orang yang secara beringas memperkosaku. Aku sangat malu pada diriku, kenapa aku justru bisa menikmati keadaan ini, tapi tubuhku seolah-olah sudah menyatu dengan jiwa mereka. “mass ahhh, terus mass, enn enak.” Aku terus meracau tak karuan yang membuat mereka bertiga semakin bernafsu. Lidah Abdul Semakin liar menghisap-hisap vaginaku diiringi kocokanku pada batang kemaluan Dewo dan Aji. “ ahhhh ahhh, mass. lebih cepat mass.” aku mengerang dan ketika itu juga aku mengalami orgasme. Cairanku membasahi wajah Abdul namun ia terus menjilatinya hingga aku menggelinjang kekanan dan kekiri. Kini Abdul membangunkan tubuhku, dan memintaku untuk menjilati ketiga penis mereka. Aku seperti dicekoki, didepanku kini ada 3 rudal yang siap menjejali mulutku. Tanpa menunggu lama, aku masukkan penis mereka bergantian di mulutku, sambil tanganku memainkan batang kemaluan mereka. Mereka bertiga nampaknya merasa keenakan,”oohh.” Aji melenguh keenakan. Sekitar 15 menit aku memainkan penis mereka sambil terus mengocoknya.

Abdul yang sudah sangat terangsang mendorong tubuhku dan mulai memasukkan penisnya yang besar itu. “mmass.” aku menahan sakit saat penis Abdul menghujam vaginaku. Dengan sekejap seluruh batang milik Abdul masuk kedalam liang kewanitaanku. Tanpa basa-basi, Abdul mulai menggerakkan penisnya maju mundur. Sedangkan Aji dan Dewo menjilat-jilat dan menghisap payudaraku. Aku dikeroyok oleh 3 orang. Libidoku pun semakin meningkat setelah tadi aku mengalami orgasme. Aku memegangi kepala Aji dan Dewo sambil terus melenguh keenakan.“ Uhhh ahhh, umm. ahh.” Kata-kata itu yang terus muncul dari mulutku melihat perlakuan mereka terhadapku. Sekitar 10 menit kami melakukan posisi ini sambil bergantian Aji dan Dewo menciumi bibirku.

Abdul belum juga keluar, ia cukup kuat untuk ukuran lelaki seperti dia. Kini ia menyuruhku untuk nungging. Aku hanya menuruti perkataannya. “ Dul, gantian aku yang naikin dia.” Tanpa basa-basi Dewo mengarahkan penisnya ke arah vaginaku, kini posisiku berganti menjadi menungging sambil di genjot oleh penis Dewo. Penis Dewo tidak terlalu besar, bahkan hanya setengah milik Aji dan Abdul. Mungkin ini pertama kali baginya untuk merasakan liang vagina. Karena kulihat ia cukup lama sebelum seluruh batangnya masuk ke dalam vaginaku. “Uoogghh, uenakk tenann” Kata Dewo. Ia menggerakkan pinggulnya maju mundur mengikuti irama pantatku. Dewo cepat beradaptasi, Meski penisnya kecil, tapi gerakkannya sangat cepat, berbeda dengan Abdul yang menikmatiku dengan pelan. Aji berganti posisi, kini ia di depanku dan mengarahkan penisnya ke mulutku, kemudian ia memaju mundurkannya beriringan dengan genjotan Dewo. Abdul yang tadi menggenjotku kini asik bermain dengan putingku yang lumayan besar. Kami terus melakukan tarian kenikmatan ini, Dewo semakin cepat menggerakkan penisnya maju mundur,” Ahhh, masss, aaa, aku keluaaarr.” ummm, mmpfff.” Aku keluar untuk kedua kalinya. Begitu juga dengan Dewo, ia yang masih belum berpengalaman mengeluarkannya di dalam vaginaku, seketika itu juga ia langsung lemas. “ Wah, wo, parah kamu, masa kamu keluarin di dalem, kan jadi kotor,” kata Aji.” Aku saja belum sempat merasakannya sudah kotor sama peju kamu.” Tambahnya. “maaf mas Aji, aku kelepasan.” Ucap dewo. tampaknya dewo sudah lelah, ia kemudian berbaring dan sepertinya akan tidur. “Wah, dasar anak ini, habis enak langsung minggat.” Ucap Abdul.

Abdul kemudian menggantikan posisi Aji dengan memasukkan penisnya ke mulutku. Sedangkan Aji kini berada tepat dibelakangku dengan posisiku yang masih tetap menungging. “Tahan ya, sakit sedikit tapi enak kok..” Seringainya padaku. Aku tidak tahu apa yang akan ia lakukan padaku, tidak begitu lama ternyata ada sesuatu yang mencoba masuk melalui anusku. “ Nggghhh masss, sakitt, aa ampun mas.” Aku merasa kesakitan saat penis Aji yang besar mencoba menerobos anusku. “Ahhh, aaaw ashh, nnnhh.” Aku semakin tidak karuan merasakannya. Dengan sekuat tenaga meski sempat beberapa kali bengkok akhirnya penis Aji masuk ke dalam anusku,” nggg ahhh.” rasa sakitku pelan-pelan menjadi kenikmatan yang baru bagiku, karena baru kali ini anusku di jejali penis. “ hmmff Sempit banget , uahh.” Ucap aji keenakan, ia juga tidak kalah keenakan daripada aku. Aji sudah mulai terbiasa dengan ini, sesekali ia meludahi anusku agar lebih mudah menggerakkan penisnya. “Akkkkhh, uuahhhh.” Aji mendesah keenakan saat ia mencapai puncak kenikmatan, spermanya mengisi penuh seluruh isi anusku hingga meleleh keluar. Tidak berapa lama Abdul yang sudah dari tadi memaju mundurkan penisnya di mulutku juga merasakan hal yang sama, “ ouughhh teleennnn, sseeemuaa.” Ia meracau sambil tangannya menekan kepalaku pada penisnya. Seketika itu juga cairan spermanya menyemprot di dalam rongga mulutku dan mau tidak mau harus aku telan.

Harus kuakui mereka bertiga cukup hebat, namun tetap saja tidak bisa mengalahkan mas Deden, Mereka bertiga hanya sanggup membuatku keluar 2 kali, tapi mas Deden mungkin bisa lebih, bahkan Hingga aku tidak mampu lagi untuk berdiri.
Mereka bertiga duduk di dalam ruangan sambil beristirahat karena mereka sangat lelah. Aku pun masih terbaring di lantai tanpa sehelai benangpun. Abdul mengeluarkan 2 lembar lima puluh ribuan. “itu untuk ongkos jamu dan tubuh kamu.” Sekarang kamu pergi dari sini!” Ucapnya sedikit membentak. “bagaimana dengan pakaianku?” tanyaku. “ Pikir saja sendiri” Balas abdul ketus. Kemudian aku memakai BH dan celana dalamku. Aku gunakan selendang yang kupakai untuk mengangkat keranjang tadi, Aku lilitkan untuk menutupi tubuhku dan untunglah cukup. Aku bergegas meninggalkan mereka sambil membawa kerangjangku. Jam sudah menunjukkan pukul setengah 4 sore. “Mas Deden pasti sudah pulang ini.” Ucapku dalam hati sambil mengusap air mata di pipiku.

Sesampainya di rumah ternyata benar, Mas Deden sudah menungguku pulang. Aku ceritakan semua kejadian ini padanya bagaimanapun aku tetap mencoba untuk terbuka padanya karena dialah satu-satunya orang yang kumiliki. Reaksi Mas Deden sungguh membuatku kaget, Ia justru memelukku dengan erat, dan mengelus perutku memberikan kasih sayang pada si Jabang Bayi. Aku terharu dengan Mas Deden. Meski sempat ia akan bergerak mengumpulkan warga untuk memberi pelajaran pada orang-orang yang memperkosaku, namun aku dapat meyakinkannya bahwa aku tidak apa-apa, dan semoga saja janinnya juga tidak terjadi apa-apa. Aku bangga dengan Mas Deden, ia tidak panik saat mendapatiku mengalami kejadian seperti ini, Selamanya aku tetap mencintainya. Setelah kejadian ini aku sudah tidak berjualan jamu lagi. Kali ini aku menjadi pendamping setia Mas Deden, dengan menemaninya pergi ke ladang setiap hari. Meski keadaan ekonomi kami semakin sulit, tapi kebahagiaan kami seolah menutup dalam-dalam semua keadaan ini dan kejadian masa lalu. Kini anakku sudah besar, peristiwa itu tidak membuat kondisinya saat lahir menjadi cacat mental atau sejenisnya. Ia tumbuh menjadi putri yang cantik dan kami beri nama Mentari, yang tetap bersinar sesulit apapun keadaan yang kami alami saat ini, esok, dan seterusnya.

Akhirnya kunikmati pemerkosaan itu 1

Filed under: PERKOSAAN

Sebut saja namaku Ani, wanita berusia 30 tahun dengan wajah cantik dan kulit kuning langsat. Aku berani bilang aku cantik karena banyak lelaki tergila-gila padaku sewaktu masih kuliah dulu. Mereka bilang aku mirip artis sinetron Bella Saphira atau Jihan Fahira.

Tapi kini aku tak lagi lajang, sejak selesai kuliah 5 tahun lalu, aku menikah dengan Mas Rudi, kakak kuliahku yang aku cintai. Saat ini kami hidup di kota M, dan Mas Rudi bekerja sebagai wartawan pada sebuah media cetak lokal di kota itu.

Kehidupan kami berjalan mulus hingga tahun keempat pernikahan, walaupun kami belum juga dikaruniai buah hati hasil perkawinan kami. Aku sendiri lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, sambil menjaga kios serba ada yang setiap waktu semakin berkembang pesat. Intinya, kami sama-sama bahagia walaupun kadang merasa sepi juga tanpa hadirnya buah hati.

Tapi, sesuatu ternyata terjadi diluar perkiraan kami berdua. Profesi Mas Rudi sebagai wartawan mengharuskannya berhadapan dengan resiko yang rumit. Aku ingat betul saat itu suamiku berseteru dengan seorang pejabat yang kasus KKN nya dibongkar suamiku. Seminggu setelah berseteru, suamiku dianiaya belasan orang tak dikenal, beberapa saat setelah meninggalkan rumah.

Tak parah memang, tapi luka disekujur tubuh Mas Rudi ternyata berpengaruh pada kemampuan seksualnya. Ya, sejak penganiayaan itu, Mas Rudi selalu gagal melakukan tugasnya sebagai suami. Tadinya kami pikir itu akibat shok yang dialami karena penganiayaan, dan dokter yang menangani Mas Rudi pun berpikiran seperti itu. Tapi sudah hampir setahun berlalu, kondisi Mas Rudi tetap tak berubah, malah bisa dibilang semakin parah. Bahkan sekarang, Mas Rudi sudah mulai enggan mencoba melakukan tugasnya memberikan kebutuhan biologis padaku.

“Aku takut kamu malah kecewa sayang,” katanya dengan tatap sedih suatu malam.

Sebagai istri, meskipun tersiksa, aku mencoba untuk tetap setia dan bertahan dengan keadaan itu. Walau terkadang timbul juga ketakutan kalau aku tak bakalan punya anak sampai tua nanti. Lambat tapi pasti, akhirnya aku dan Mas Rudi bisa menepis semua ketakutan itu, dan mulai tenggelam dengan kesibukan kami masing-masing.

Untuk menghilangkan rasa sepi kami, aku dan Mas Rudi mempekerjakan empat orang pembantu dirumah kami. Dua wanita, Ijah berusia 22 tahun, dan Minah berusia 34 tahun, kupekerjakan sebagai pembantu rumah tangga dan penjaga kios serba ada. Sedangkan dua lelaki, Maman berusia 40 tahun, dan Jaka berusia 19 tahun, kupekerjakan sebagai tukang kebun dan penjaga kios serba ada pula. Untuk mereka pula, kami membuat dua buah kamar lagi, dan suasana rumah tak lagi sepi sejak mereka berempat turut tinggal di rumah kami sejak lima bulan lalu.

Malam itu entah apa yang ada dipikiran Mas Rudi. Yang pasti suamiku itu membawa belasan keping VCD porno dan mengajakku menikmati tontonan erotis itu bersama-sama. Waktu itu jam menunjuk angka 11.30 malam, dan kami berdua sudah berbaring di ranjang kamar, sementara adegan porno dilayar TV sudah mulai tayang.

Terlihat jelas bagaimana gadis Cina dalam VCD itu merintih dan mengerang ketika lidah lelaki cina pasangan mainnya menjilati bibir-bibir vaginanya, terlihat jelas juga bagaimana rintih kenikmatan keduanya ketika kelamin mereka bersatu dalam senggama. Tak bisa kupungkiri, aliran darahku cepat terpacu dan kehausanku akan kebutuhan itu semakin menjadi-jadi.

Mas Rudi masih terdiam di sampingku, namun mendadak tangannya mulai merayap dan meraba bagian tubuh sensitifku.

“Sayang, mungkin aku nggak bisa memberimu kepuasan seperti itu. Tapi aku akan berusaha membahagiakanmu,” katanya sambil mulai menciumi sekujur tubuhku. Satu persatu pakaian kami terbuka hingga akhirnya kami benar-benar bugil.

Astaga, penis suamiku tetap saja layu meski adegan di TV sudah membakar nafsu kami berdua. Sebagai istri aku berinisiatif mengulum dan menjilati penis Mas Rudi yang layu, tapi tak juga ada perubahan sampai aku lelah sendiri.

Akhirnya Mas Rudi bangkit dan mengambil sesuatu dari balik lemari kami, penis karet dengan vibrator elektrik. Alat itu baru dibelinya, karena selama ini aku selalu menolak menggunakan alat bantu semacam itu. Aku selalu berpikir jika pakai alat itu sama saja aku melakukannya dengan orang lain, bukan dengan suamiku.

Tapi entahlah, malam itu aku benar-benar tak kuasa menahan birahiku. Mungkin akibat tontonan porno yang kami nikmati bersama itu.

“Ohh Mass ngghhss,” aku mulai mendesis ketika Mas Rudi menyibak bibir vaginaku yang sudah banjir dengan penis buatan itu.

Aku tak lagi memperhatikan suamiku, dan mataku tertuju pada layar TV, sambil membayangkan akulah yang sedang disetubuhi pria di TV itu. Vibrator penis karet yang sudah sepenuhnya masuk keliang vaginaku dihidupkan Mas Rudi, getarannya mulai membuat menikmatan tersendiri di daerah klitorisku. Aku mengelinjang sambil merintih nikmat hingga akhirnya tiba pada puncak kenikmatan. Aku orgasme, orgasme semu oleh alat buatan pabrik. Malam itu aku bahagia, tetapi batinku menangis.

“Maafkan aku sayang,” hanya itu yang terucap dari bibir Mas Rudi.

“Nggak apa Mas, aku sudah sangat puas kok,” balasku sambil mengecupnya.

Sejak menikmati getaran asyik dari vibrator penis karet malam itu, sepertinya ada yang berubah pada diriku. Aku menjadi sangat agresif dan selalu ingin melakukan hubungan seksual dengan alat itu. Kadang kala, saat Mas Rudi sedang tak dirumah, aku melakukannya sendiri hingga mencapai puncak kenikmatanku. Aku tahu itu salah, tetapi aku tak bisa menolak keinginanku yang selalu menggebu untuk terpenuhi, sementara aku juga ingin tetap setia pada suamiku.

Siang itu pelanggan kios serba ada kami cukup banyak yang datang. Maklum tanggal muda biasanya pelanggan kios yang rata-rata pegawai negeri membeli kebutuhan sehari-hari di kios kami. Aku dan Ijah sibuk melayani pembeli, malah Minah yang seharusnya bekerja didapur ikut membantu kami. Jarak kios dan rumah kami hanya berselat tembok, tembok itu pun ada pintu khususnya yang menghubungkan kios dan rumah, jadi tidak sulit mondar-mandir kios-rumah atau sebaliknya rumah-kios.

“Si Jaka kemana Jah? kok nggak kelihatan dari tadi?,” tanyaku pada Ijah sambil menghitung bayaran pelanggan.

“Nggak tahu tuh bu, tadi sih katanya mules, dia lagi mencret bu, sakit perut,” jawab Ijah.

“Sakit kok nggak bilang?, ya sudah kamu jaga dulu kiosnya sama Minah ya, Ibu mau lihat Jaka,” setelah kios sepi, aku pun meninggalkan Ijah dan Minah untuk melihat Jaka.

Kamar pembantuku tepat di belakang kios, satu kamar Ijah dan Minah, satu lagi kamar Jaka dan Maman. Aku langsung menuju kamar Jaka, dan saat aku buka pintunya terlihat Jaka sedang terbaring dengan wajah pucat dan meringis-ringis sambil memegangi perutnya seperti menahan sakit.

“Kamu sakit Jaka?, ke Puskesmas saja ya mumpung masih buka,” kataku terus masuk kedalam kamar pembantuku.

“Eh.. ibu.., nggak apa kok bu, cuma sakit perut biasa. Tadi juga sudah minum obat diberi Ijah,” Jaka berkata sambil bangkit dan duduk diranjangnya.

Jaka adalah pemuda sopan dari kampung yang sama dengan tiga pembantuku lainnya. Mereka kuambil dari kampungku juga, kebetulan keluarga kami sudah saling mengenal dikampung. Aku juga sebenarnya sama seperti mereka, orang kampung. Hanya saja aku agak beruntung kawin dengan Mas Rudi, anak orang kaya yang juga berprofesi matang.

Aku lalu duduk ditepi ranjang Jaka sambil mengusap dahinya.

“Mana yang sakit Jak?” tanyaku seraya mengusap perutnya.

“Sudah baikan kok bu, cuma masih lemas,” jawabnya.

Rasa peduliku pada Jaka mungkin suatu kesalahan, soalnya begitu mengusap perut Jaka, aku justru menatap suatu bagian di bawah perut Jaka. Sebuah benda yang tersembul dibalik celana karet komprangnya, astaga milik Jaka yang kusadari tentu tak bermasalah seperti milik suamiku. Aku jadi jengah dan menarik tanganku, lalu meninggalkan Jaka sendirian di kamarnya.

Malamnya, sekitar jam 09.00 setelah makan malam, aku kembali ke kamar para pembantu untuk melihat keadaan Jaka. Terus terang aku sangat takut kalau pembantuku ada yang sakit, apalagi bagiku mereka sudah seperti kerabat sendiri.

Tapi malam itu aku jadi kaget dan tersentak. Aku mendapati bukan Minah dan Ijah atau Jaka dan Maman yang sekamar. Tetapi Jaka sekamar dengan Ijah dan Maman dengan Minah. Rupanya, mereka keblinger dan melanggar aturan yang kutetapkan.

Hal itu aku tahu ketika dekat kamar Minah, aku mendengar suara rintih dan desah khas orang yang sedang bersetubuh. Ketika kuintip ternyata Maman yang duda sedang menindih Minah yang janda.

Aku lalu beralih menintip kamar Jaka lewat celah jendela. Astaga, di kamar itu aku melihat Ijah sudah setengah telanjang dan Jaka sedang mengulum buah dada Ijah. Aku hendak marah dan menghardik mereka, tetapi tak tahu kenapa aku malah seperti terpaku dengan adegan yang kusaksikan itu.

“Iiihh gelii Jak.., nakal kamu ya,” ucapan genit Ijah terdengar jelas olehku saat Jaka mulai menjilati bagian perutnya.

“Geli dikit nggak apa kan, Kang Maman dan Bi Minah juga begitu kok caranya,” balas Jaka.

Keduanya pun mulai melepas pakaiannya hingga bugil. Sementara aku semakin terpaku melihat adegan mereka dari balik celah jendela. Jaka yang bertubuh kurus dan agak pendek rupanya memiliki penis yang lumayan besar, setidaknya lebih besar dari milik suamiku yang layu itu.

Bersambung…

Akhirnya kunikmati pemerkosaan itu 2

Filed under: PERKOSAAN

Ijah yang sudah telanjang bulat berbaring diranjang dengan posisi kaki menjuntai kelantai, sedangkan Jaka mengambil posisi berdiri. Jaka kemudian mengangkat dua kaki Ijah sehingga posisi Ijah mengangkang, lalu perlahan Jaka memasukan penisnya ke dalam vagina Ijah.

“Nghhss Jak.. ohh,” Ijah mulai mendesis dan mengerang ketika Jaka memompa tubuhnya.

Keduanya lalu tenggelam dalam nafsu birahi, sementara aku yang sudah tak kuat lagi segera berlari ke kamarku dan memuaskan diri dengan penis karet sialan itu. Sampai akhirnya Mas Rudi pulang larut malam dan kembali memuaskanku dengan alat sialan itu lagi.

Sejak kejadian itu, aku semakin tak habis pikir dengan kelakuan para pembantuku itu. Tapi lama-lama aku pikir wajar saja, karena Maman memang duda dan Minah janda, lalu Jaka dan Ijah mungkin saja sudah menjalin cinta sejak di kampung dulu. Apalagi pengawasan terhadap mereka di rumahku tak terlalu ketat. Namun tak bisa kupungkiri juga, sejak melihat kejadian itu, aku semakin merasakan haus untuk melakukan seks. Apa boleh buat keinginan itu harus kuredam dengan penis karet lagi, dan lagi.

Hari itu Mas Rudi pamit akan liputan luar kota selama tiga hari, dan tiga hari itu pula aku harus kesepian di rumahku. Hari pertama berjalan seperti biasa meski tanpa Mas Rudi. Tapi hari kedua sejak pagi aku merasa kurang enak badan, sehingga kios hanya dijaga para pembantuku.

“Bu.., kalau mau biar saya pijatin supaya enak badannya,” suara Ijah menawariku usai makan malam.

Malam itu sengaja kuajak empat pembantuku itu makan malam bersama di rumahku dan mereka juga bebas nonton TV dirumah majikannya ini.

“Iya deh Jah, pijitin aku dikamar ya..,” ujarku sambil berjalan menuju kamar.

Sementara Minah, Maman, dan Jaka masih nonton TV diruang tengah. Sampai di kamarku, Ijah langsung memijiti seluruh badanku dari kaki sampai kepala. Pijitan Ijah memang enak sampai-sampai aku terlelap dan tidur.

Aku tak tahu berapa lama aku sempat tertidur, tetapi saat bangun tubuhku rasanya sudah segar kembali. Hanya saja, astaga, aku dalam keadaan terikat. Kedua tangan dan kakiku terikat pada tiap sudut ranjang, dan mulutku tertutup erat plester lakban. Hanya mataku yang terbuka dan melihat kamar dalam keadaan terang, dan aku sendiri dalam keadaan bugil tanpa sehelai benang pun.

“Selamat malam nyonya sayang,” suara Maman tiba-tiba mengejutkanku.

Lelaki bertubuh gempal itu sudah berdiri tepat di depanku di ranjang bagian kakiku. Matanya berbinar liar menatap kearah tubuhku yang terikat, terlentang, dan telanjang. Sialan, apa mau Maman ini, aku mau berteriak tapi mulutku tertutup lakban.

“Tenang saja nyonya, malam ini akulah yang akan memuaskanmu. Tuankan sedang tidak ada,” Maman masih berdiri di hadapanku sambil melepaskan pakaiannya sendiri.

Tubuh Maman masih terlihat atletis di usia 40 tahun, dengan bidang dada dan otot perut kotak-kotak menandakan tenaga yang kuat, apalagi kulitnya yang agak hitam membuat kesan kuat jelas terlihat.

Maman kini tinggal pakai CD saja, dan perlahan bergerak kearahku yang terlentang diranjang. Aku tahu apa yang sebentar lagi akan terjadi, Maman akan menyetubuhiku, memperkosaku, tapi juga memberi kepuasan yang selam ini aku cari.

“Eemphh.. mmffhh,” aku berusaha bergerak berontak ketika Maman mulai menyentuh tubuhku.

Tapi percuma, ikatan tali jemuran pada kaki dan tanganku sangat kuat, Maman akhirnya leluasa meraba-raba tubuhku.

“Tenang nyonya, sabar ya.., wah mulus sekali nyonya ini,” Maman terus meraba-raba dan mempermainkan jari kasarnya di sekujur tubuhku.

Aku hanya bisa pasrah ketika Maman mulai berani menciumi puting susuku dan menghisap-isapnya. Kumis tebal dan mulut monyongnya seperti hendak melahap habis susu ukuran 36B milikku. Aku pun tak kuasa berontak ketika jeri-jari kasar Maman menyentuh bibir-bibir vaginaku, dan kurasakan gelora birahiku mulai menjalar ketika jari-jari itu mulai menelusup pada celah bibir vaginaku dan memainkan, menekan-nekan klitorisku.

“Mmffhh..,” meski aku mulai menikmati sentuhan nakal Maman, tetapi aku harus tunjukan kalau aku tak suka diperlakukan begitu, setidaknya untuk mempertahankan martabatku sebagai majikannya.

Aku mulai berontak lagi, tapi percuma. Kini Maman bukan hanya bermain jari, bibirnya mulai turun kearah perut dan terus keselangkanganku yang sudah basah. Oh.., tidak, bibir Maman mulai menyentuh bibir vaginaku. Kumisnya yang tebal sengaja digesek pada klotorisku, membuat aku menggelinjang. Setiap gerakan perlawananku membuat Maman semakin bernafsu menjilati vaginaku, dan hal itu membuat kenikmatan yang tercipta semakin tak bisa kuelakan. Akhirnya gerakan pinggulku semakin seirama dengan jilatan kasan lidah dan kumis Maman.

“Gimana nyonya? Enak nggak?,” tanya Maman sambil menatapku.

Aku tentu saja melotot kepadanya. Tetapi Maman nampaknya sudah mengerti ciri wanita dilanda birahi, sebab meski mataku melotot marah, vaginaku yang sudah basah tak bisa menyembunyikan ciri nafsuku. Maman melanjutkan aktifitasnya menjilati vaginaku. Desakan-desakan bibir Maman dibagian vital milikku membuat rasa nikmat tersendiri menjalar dan mengumpul dibagian vagina, pinggul, pantat, hingga ujung kaki dan ujun rambutku. Mamang semakin teratur menjilati klitorisku, sampai akhirnya aku tak bisa membendung desakan dari dalam vaginaku.

“Mmmffhhpp..,” kali ini aku jebol, aku orgasme dengan perlakuan Maman itu.

Maman menghentikan jilatannya, dan menatap wajahku, ia tahu aku sudah sampai puncak pertama. Maman berdiri lagi dan menanggalkan CD kusam miliknya. Kini dihadapanku berdiri seorang lelaki dengan penis yang normal dan ereksi total, hal yang sudah setahun lebih tak pernah kulihat. Penis milik pembantuku itu siap menghujani vaginaku dengan kepuasan.

“Nyonya.., sudah kepalang basah. Saya tahu nyonya juga senang kok, buktinya sampai keluar airnya. Jangan berteriak ya nyah,” ujar Maman sambil melepas plester lakban dari mulut.

Kini plester sudah terlepas dan mulutku bebas bersuara, tapi aku tak berkata-kata apalagi berteriak. Tubuhku lemas dan tiap jengkalnya merasa rindu sentuhan Maman seperti tadi.

“Ohh.., uhh.. adduuhh..,” hanya itu yang keluar dari mulutku ketika Maman kembali menjilati vaginaku.

Tangan Maman yang cekatan meremas-remas susuku, pinggulku, dan belahan pantatku diremas gemas. Terus terang saat itu aku sudah tak sabar menunggu hujaman penis Maman yang tegar ke vaginaku, aku rindu disetubuhi lelaki, bukan sekedar vibrator sialan itu.

Maman beralih posisi mengambil posisi berlutut tepat di selangkanganku. Dipegangnya penisnya dan diarahkan ke vaginaku yang sudah benar-benar kuyup. Maman menggesek-gesekkan penisnya dipermukaan vaginaku, oh.., aku benar-benar tak sabar menunggu senjata Maman itu.

“Uhh Man.. ampunhh.. aku nyerah.. mmffhh,” aku akhirnya mengucapkan itu dengan mata terpejam.

Kupikir mau menolak pun percuma karena posisiku sulit, lagipula aku ingin agar dosa itu segera berlalu dan selesai. Ucapanku membuat angin segar bagi Maman, sebelum menyetubuhiku penuh, Maman membuka ikatan tali di kaki dan tanganku.

“Ayo sayang, sekarang aku puaskan kamu cantik,” celoteh Maman sambil kembali menindih tubuh bebasku.

Dalam posisi itu Maman masih terus memancing nafsuku yang sudah sangat puncak, penisnya hanya digesek ujungnya saja pada vaginaku membuat aku yang mengejar dengan pinggul naik turun. Setelah tak mampu menahan nafsu yang sama, Maman akhirnya menghujamkan utuh penisnya kedalam vaginaku.

“Ouhhggff.. ah Kang Maman..,” bibirku mulai menceracau saat Maman memompakan penisnya maju mundur dalam vaginaku.

Tangan dan kakiku yang sudah lepas dari ikatan bukannya mendorong tubuh Maman menjauh dariku, tetapi justru memeluk dan meremas remas dada kekar Maman. Penis Maman terasa memenuhi liang senggamaku dan menciptakan rasa nikmat yang selama ini tak lagi kurasakan dari Mas Rudi.

“Ohh nyonya, uennaakk sekali vaginamu nyahh.. oh,” Maman menggenjot tubuhku dengan irama yang cepat dan tetap, dan aku mengimbangi gerakan Maman. Kini aku total melayani kebutuhan seks Maman sekaligus meraih kebutuhan seksku.

Sampai menit kedua puluh permainan kami, aku merasakan seluruh sarafku mengumpul disatu titik antara bibir vagina dengan klitorisku. Lalu beberapa detik kemudian seluruh otot dibagian itu terasa mengejang.

“Auuhhff.. mmffhh, enghh.. ohh,” kurasakan kontraksi yang sangat sensasional pada vaginaku.

“Iyyaahh.. nyaahh.. ohh nyaahh,” Maman menggeram hebat dengan tubuh kejang diatas tubuhku, kurasakan semburan spermanya masuk hingga kedinding rahimku.

Maman rebah diatas tubuhku. Keringat kami bercampur baur dan kedutan-kedutan lembut kelamin kami masih terasa sesekali, sampai akhirnya Maman rebah disisi kananku.

Bersambung…

Akhirnya kunikmati pemerkosaan itu 3

Filed under: PERKOSAAN

Ya Tuhan, aku sudah menodai kepercayaan Mas Rudi. Aku menitikan air mata usai meraih kepuasanku dari Maman.

“Maafkan saya nyonya, saya khilaf waktu lihat nyonya tidur dan pintu tak ditutup,” Maman membuka bicara.

Dari situ aku tahu, sehabis dipijat Ijah, aku tertidur dan Ijah tak menutup pintu kamarku. Setelah larut saat Ijah, Minah dan Jaka tidur, Maman hendak menguncikan pintu rumah tetapi batal karena melihat posisi tidurku dengan daster tersingkap. Maman jadi khilaf dan berniat memperkosaku.

“Kalau saya mau dipecat, saya hanya minta uang saku untuk pulang kampung nyah, saya nggak minta apa-apa lagi,” tutur Maman mengiba.

“Kamu nggak salah Man, aku yang salah aku juga khilaf. Ya sudah kamu pindah kamar sana dan jangan bilang siapa-siapa ya, anggap saja tadi itu hadiah dariku buat kamu,” kataku sambil menyuruh Maman pergi dari kamarku.

Hari ketiga saat Mas Rudi liputan luar kota, aku jadi termenung sendiri dalam kamar sejak pagi. Urusan kios aku percayakan sepenuhnya pada pembantuku, sementara aku hanya memikirkan kejadian malam kemarin dengan Maman. Kupikir aku diperkosa dan diinjak-injak harga diriku, tapi kupikir lagi aku pun menikmatinya, malah harus berterima kasih pada Maman yang telah mengobati rinduku selama ini untuk bersenggama dengan lelaki sebenarnya.

Sejak kejadian dengan Maman itu, aku seperti menemukan kehidupan baru. Jika aku butuh kepuasan semacam itu aku akan memanggil Maman melayaniku. Tentu saja semua tanpa sepengetahuan Mas Rudi, suamiku tercinta.

Tiga bulan sejak kerap melakukan hubungan gelap dengan Maman, tukang kebunku, aku merasa irama hidupku menjadi normal. Walau aku sadar telah menodai kepercayaan Mas Rudi suamiku, tapi aku juga kan wanita normal yang butuh kepuasan yang tak mungkin kudapat dari Mas Rudi lagi.

Sore itu hujan turun di kota M, sementara aku, Ijah, dan Jaka masih melayani pelanggan kios serba ada milikku. Mas Rudi belum pulang, biasanya pulang larut malam, Minah sibuk masak di dapur, dan Maman terakhir tadi kulihat membersihkan taman dibelakang rumahku.

“Aduh.. Jah, lanjutin dulu ya kerjaannya, saya mau lihat Minah di dapur. Tadi lupa bapak minta buatin telur asin,” aku mendadak ingat Mas Rudi memesan telur asin kesukaannya untuk makan malam.

Kutinggalkan Ijah dan Jaka melayani pelanggan kiosku, dan aku berlari kecil melalui pintu pembatas kios-rumah menuju dapurku.

“Minn.. Minaahh..,” sampai di dapur Minah yang kucari sudah tak ada, hanya ada sayur lodeh yang mendidih diatas kompor nyala.

“Astaga Minah kok ceroboh sih.., kemana lagi si Minah uhh,” segera kuangkat panci berisi lodeh, kompor kupadamkan dan selanjutnya mencari Minah.

Tadinya kupikir Minah lagi pipis atau buang air besar di WC belakang, jadi aku melangkah kesana. Tapi belum sampai ke WC pembantu itu, aku dengar suara rintihan khas orang sedang bersenggama. Ups.., langkah kuhentikan di tepi letukan tembok, kusaksikan pemandangan yang membuat darahku berdesir.

Maman sedang asyik menggenjot pantatnya dengan penis besar yang tertancap di vagina Minah, Maman berdiri, sedangkan Minah nungging berpegang pada pagar kayu di taman belakang rumahku. Mereka tampak buru-buru dan tidak telanjang, daster Minah diangkat naik dan CDnya diturunkan sebatas lutut, dan celana Maman merosot sebatas lutut pula, tapi baju mereka tetap terpasang. Meski hujan cukup deras mereka tidak basah karena di taman belakang rumahku Mas Rudi sengaja membuat tempat duduk teduh untuk menghabiskan jika ada waktu santai kami.

“Ohh Kaang.. enak.. aahhsst,” Minah menjerit tertahan, orgasme sampai pinggulnya bergetar hebat.

“Ouhh iyaahh Minnhh.. ssiip,” tubuh Maman pun mengejang menyusul orgasme Minah, tentu sperma Maman banyak menyiram vagina Minah, pikirku.

Sialan, rupanya mereka curi kesempatan karena hujan deras. Ehm, mungkin enak juga ya bersenggama saat hujan deras. Sebelum mereka merapikan pakaiannya, aku langsung kembali ke dapur dan duduk di kursi dapur.

“Ehh, Ibu kok disini?, ehh anu Bu.., saya habis pipis.., tapi sayurnya nggak hangus kan Bu?,” Minah gugup melihatku ada di dapur.

“Iya.. iya, tapi lain kali jangan ceroboh dong, untung saya ke dapur. Kalau nggak kan bisa kebakaran rumah ini,” kataku pada Minah, Minah manggut-manggut.

Malamnya, hujan masih lebat. Tiba tiba telepon berdering.

“Halo sayang, maaf ya.. aku nggak bisa pulang. Nginep di kantor ada kerjaan tambahan yang harus kelar malam ini,” begitu inti bicara Mas Rudi saat telepon kuangkat.

Aneh, harusnya sebagai istri aku kecewa suami nggak pulang. Tapi kok aku malah senang ya? Malah pikiranku ingin segera menemui Maman dan melampiaskan kerinduanku pada penisnya yang hitam besar itu.

Jam 10 malam, aku sengaja mengenakan daster tipis tanpa CD dan bra, menikmati acara hiburan TV di ruang tengah rumahku, sejuk segar rasanya. Hujan masih lebat.

“Permisi Bu, mau ikutan nonton,” suara Jaka membuatku sedikit terkejut.

“Eh.. kamu Jak, si Ijah mana?,” aku duduk diatas sofa, Jaka ambil duduk di lantai semeter di depanku.

“Anu Bu, sudah tidur, kecapean mungkin. Semua sudah tidur, saya aja belum ngantuk Bu”

“Wah.., padahal saya mau dipijitin, cape juga nih, pegel,” aku memijit-mijit sendiri kakiku, tubuhku merunduk.

Jaka memperhatikanku tak berkedip, dasterku terkuak dalam posisi itu, buah dadaku pasti terlihat Jaka.

“Kamu bisa mijitin Jak?,” pertanyaanku membuat Jaka kaget, tapi tetap menatapku.

“Ah Ibu, saya nggak berani Bu, nanti dikira usil,” Jaka malu, pemuda itu memang selalu pemalu, tapi aku tahu selama ini dia sering curi pandang menikmati indah tubuhku.

“Kok gitu? kalau bisa tolong saya dipijitin ya Jak. Disini aja disofa biar kamu nggak dibilang usil,” aku rebah dengan posisi menelungkup.

Jaka ragu-ragu tapi kemudian mendekatiku. Sofa ruang tengah agak lebar ukurannya, jadi Jaka kusuruh duduk di tepi sofa dan memijitku.

“Permisi loh Bu,” Jaka mulai memijiti betisku, tangannya dingin membuat pijitannya terasa asyik di betisku.

“Hmmh, enak juga tanganmu ya Jak, belajar mijit dimana sih,”

“Nggak kok Bu, cuma biasa mijitin Kang Maman aja kalau dia cape,”

“Agak naik dong Jak, pahanya agak pegel,” perintahku disambut Jaka semangat. Paha dan betisku dipijit naik turun, kanan kiri.

Hujan semakin lebat diluar, pijitan Jaka mulai asyik kurasakan. Kadang tangannya terasa mengelus dan membelai betis dan pahaku, bukan lagi memijit. Tapi kubiarkan saja aksinya itu, kunikmati saja tangan nakalnya itu.

“Badannya mau dipijit juga Bu?,”

“Iya dong Jak, sekarang punggungku pijitin gih,”

Jaka memijit punggungku masih terhalang daster, tapi Jaka tahu, aku tak pakai bra karena tali bra tak ada di punggungku.

“Sebentar Jak, biar gampang kamu mijit,” aku bangun dan menurunkan dasterku sebatas dada, menutupi susuku saja, lalu rebah lagi tengkurap. Kini tangan Jaka memijit punggungku dan menyentuh langsung kulit mulusku, kadang tangannya mengambil kesempatan ke sisi tubuh menyentuh samping pangkal susuku.

“Ohh di situ Jak, pegel tuh, ouhh asshh.. enak Jak,” suaraku sengaja mendesis, nampaknya Jaka sudah dibuai nafsu. Pijitannya sudah berubah elusan dan remasan dipunggungku, kini malah turun ke pinggang, menyentuh pantatku, aku yakin Jaka pun tahu aku tak pakai CD.

“Jak?,”

“Ehh.. saya Bu,” suara Jaka agak serak menahan nafsunya.

“Pijitin terus sampai saya tidur ya. Kalau saya ketiduran nanti kamu kunci pintu belakang kalau sudah nonton TV ya, biar saya tidur disini,” aku sengaja bicara sambil terpejam, Jaka mengiraku sudah ngantuk benar.

Beberapa menit setelah itu aku sengaja tak bersuara lagi dengan mata terpejam seperti tidur. Jaka masih mijitin aku, tapi sekarang sepenuhnya hanya meremas dan meraba-raba tubuhku. Sekejap aku balikkan badan dan masih pura-pura tertidur, posisiku jadi menghadap atas, daster bagian depanku turun sampai separuh susuku nampak jelas. Jaka kaget, kulihat dari sela mata pejamku, ia berhenti mijit tapi tetap duduk di sisi sofa dan memandangi tubuhku. Aku tahu Jaka tersangsang dengan posisi tubuhku yang menantang.

Sebentar saja Jaka mematung, setelah itu kurasakan tangannya mengelus-elus pangkal susuku yang tersibak. Pelan-pelan sekali, dia takut aku bangun tuh. Setelah yakin aku tidur Jaka lebih berani menyibak dasterku lebih terbuka sampai susuku bebas tak terhalang.

“Ohh.. cantik sekali kamu Bu..,” Jaka berbisik sendiri sambil mengelus-elus susuku.

“Ahhss Mas Rud..,” aku pura-pura ngigau.

“Iya sayang.. ini Mas Rudi,” Jaka konyol menjawab ngigauku, pasti ia mulai berpikir ini kesempatan emas.

Benar saja dugaanku, setelah igauan itu didengar, Jaka tak ragu lagi melancarkan serangannya. Tangannya yang kasar mulai meremas-remas susuku, bibirnya juga ikut terjun mencium dan menjilati puting susuku.

“Ouuhh Mass.., ngghh.. gelii Mas aahhff..,” masih pura pura tidur aku merangkul tubuh kurus Jaka, ia semakin semangat menciumi susuku. Kini tangan Jaka sudah merayap ke bawah, pahaku diusap-usapnya.

Bersambung…

Akhirnya kunikmati pemerkosaan itu 4

Filed under: PERKOSAAN

Vaginaku mulai membasah, sentuhan jemari Jaka sudah berani nakal membelai-belai bibir vaginaku. Udara dingin dan suara hujan membuat nafsuku melambung, Jaka pun kian girang menikmati tubuh mulus majikannya ini. Tiba-tiba Jaka menghentikan aktifitasnya, kulirik dari sela mataku, Jaka mempreteli pakaiannya sendiri sampai bugil. Wah walau bertubuh pendek dan kurus, tapi penis Jaka lumayan juga, lebih panjang dari punya Maman walau pun lebih langsing.

Aku masih pura-pura tidur, Jaka mengangkat dasterku dan bebas melototi vaginaku yang memang tak ber CD. Dielus lagi vaginaku dengan jemarinya, sambil dia naik ke sofa tempatku berbaring.

“Duhhss, Mass.. Rud, cepeetaan dong.. Annii nggak tahaan.. aahhmmpp,” belum selesai ceracauku, Jaka sudah menyumpal bibirku dengan mulutnya. Disedotnya seluruh bibirku dengan nafsu, dan penisnya yang tegang mulai amblas dalam vaginaku. Bleess.. jleepp.., Jaka mulai menggoyangku dengan sangat nafsunya.

“Eiihh.. huuss.. eenaakk sekallii Ani memekmu enaak..,” Jaka terus menggenjotku.

“Aahh.. ohh..,” aku mulai merasa nikmat yang sama menjalari tubuhku, pinggulku kubuat seirama kocokan penis Jaka.

Tapi rupanya gerakanku itu salah, karena membuat nafsu Jaka tak terkendali. Baru lima menit gerakan pinggul kulakukan, tubuh Jaka sudah mengejang kaku diatas tubuhku.

“Ahh.. uueennaakk.. sayaang,” crot.. crot.. Jaka orgasme karena nafsu yang sangat tinggi akibat goyangan dan suara erotisku. Terang saja aku kecewa, aku belum lagi apa-apa, lantas aku bangkit dan membuka mata melotot.

“Jaka.., apa-apaan kamu ini hah..,” sergahku pura-pura marah.

Belum sempat aku lanjutkan kata-kataku, Jaka mengeluarkan sebilah pisau dari bajunya di lantai.

“Jangan berteriak Bu,” pisau tajam itu ditodongkan ke arahku, aku takut.

“Sekarang diam, dan Ibu harus nungging.. ayo nungging. Disini Bu ceppaat,” teriak Jaka sambil menunjuk sisi sofa.

Hujan masih lebat, aku terpaksa nungging dengan dua tangan menekan pinggir Sofa, Jaka berdiri tepat dibelakangku.

“Nah.., akan kubuat Ibu lebih enak dari yang tadi. Anggap saja aku suamimu Bu,” Jaka membelai-belai bokongku, lalu jongkok tepat di belahan bokongku. Tangannya menyibak bongkahan bokongku sehingga vaginaku jelas terlihat olehnya, setelah itu, astaga, Jaka mulai menjilati vaginaku.

“Ahh.. sstt Jakk.. aouhh gelii Jak,” aku tak bisa lagi berpura-pura, jilatan Jaka dalam posisiku nungging begitu terasa nikmat sekali.

Mendengar desahku Jaka makin berani, kini pisau ditangannya sudah dilepas dan ia kembali menjilati vitalku itu. Cukup lama Jaka menciumi dan menjilati vaginaku, sampai kurasa sesuatu mulai mengumpul di paha, pantat dan bibir vaginaku itu. Aku hampir orgasme ketika Jaka menghentikan jilatannya. Tadinya aku mau marah lagi karena orgasmeku batal, tapi setelah jilatan itu lepas, ternyata penis Jaka sudah kembali tegang dan langsung menusuk ke liang nikmatku.

“Ahh, enaak ya Buu,” Jaka menggenjot tubuhku dari belakang, maju mundur.

Aku terbuai, posisiku hampir kalah, kedutan kecil mulai tercipta di dinding vaginaku. Jaka mempercepat goyangnya, hingga sepuluh menit kemudian aku semakin merasa mau jebol. Posisi nunggingku sudah utuh, tangan tak lagi menyangga tubuh. Kini aku seperti tiarap di Sofa dengan kaki berlutut di lantai, Jaka ikut jongkok, aku mirip betina yang sedang di setubuhi jantannya.

“Ouughh.. Jakk.., akuu.. ammpuun..,” pertahananku jebol, kurasakan semua sendiku ngilu, dan kedutan di dinding vaginaku menjepit-jepit penis Jaka yang masih aktif.

Tapi tak lama berselang, Jaka pun sampai puncaknya, dan tegang kaku di atas punggungku.

“Ahh Nyah.. ohh,” Jaka masih menidihku, dan posisi kami masih seperti pasangan jantan dan betina yang sedang senggama.

Kurasakan kedutan kelamin kami berpadu sampai akhirnya hilang perlahan, aku ngantuk dan terpejam, aku tertidur pulas dibuai kenikmatan dari penis pembantuku.

Paginya aku terbangun saat Minah menggoyang-goyang bahuku.

“Nyah bangun Nyah.., kok Nyonya telanjang di luar begini sih?,” suara Minah bercampur heran melihatku dalam kondisi bugil tertidur di sofa tengah.

“Ehh Min, oh.. aku ketiduran semalam nih,” aku segera bangkit dan beranjak ke kamarku sambil pakai daster kembali, Jaka sudah tak ada entah di mana dia.

Siangnya aku baru tahu dari Ijah kalau Jaka kabur. Dia cuma bilang ke Ijah kalau dia punya masalah sama preman di pasar tempat aku membeli barang dagangan untuk kios milikku. Aku tahu Jaka takut kejadian malam tadi sampai terdengar Mas Rudi, ia pikir ia telah memperkosaku. Kasihan juga Jaka, seharusnya aku jujur kalau aku pun ingin begituan, lagipula aku juga yang memancing birahinya. Tapi begitulah, aku juga gengsi sebagai majikan relah disetubuhi pembantu. Belum lagi selesai memikirkan Jaka yang kabur, sorenya Maman dan Minah menemuiku. Mas Rudi pulang cepat sore itu, dan mereka berdua, Maman dan Minah berbicara dengan kami di ruang tamu.

“Anu Pak Rudi, kami salah pak.., anu pak,” Maman gagap.

“Ada apa Pak Maman bicara saja,” dorong Mas Rudi.

Tadinya aku yang gugup jangan-jangan Maman mau bongkar rahasia seks kami selama ini, tapi setelah itu aku lega.

“Kami mau pulang kampung pak, si Minah hamil, kami harus nikah,” pengakuan Maman membuatku agak terkejut sekaligus kecewa, apalagi Jaka sudah pergi juga. Terbayang olehku hari-hari yang bakalan sepi di saat gairah seksku sedang tinggi-tingginya akhir-akhir ini.

Singkatnya sore itu Mas Rudi mengijinkan mereka pulang kampung sekaligus membayar pesangon kerja mereka. Sejak saat itu di rumah hanya ada aku, Ijah dan Mas Rudi yang selalu pulang larut malam. Meski dua pembantu lelaki itu sudah tiada tapi kenangan bersama mereka selalu kukenang, terutama saat aku birahi sendiri dalam sepi, bersama penis Mas Rudi yang tak bisa berdiri lagi.

Sejak kepergian Jaka, Maman serta Minah, tiga pembantuku, aku jadi kesepian dan hanya Ijah satu-satunya teman setiaku dirumah. Tapi kulalui saja kehidupan itu dengan sibukan diri mengurus kios kami, tentu saja dibantu Ijah.

Siang itu tak seperti biasanya Mas Rudi pulang ke rumah, tapi ia tidak sendiri. Bersama Mas Rudi turun dari mobil seorang lelaki bertampang bule.

“Ani.., kenalkan ini Bruce, teman kameraman TV Australia,” kata Mas Rudi menunjuk lelaki di sampingnya, kami pun bersalaman.

Setelah kubuatkan minuman dingin dan duduk bertiga diruang tamu, Mas Rudi mulai menceritakan siapa Bruce. Bruce adalah pria asal Australia berusia 28 tahun yang sudah tiga tahun ini tinggal di Jakarta. Bruce bekerja di sebuah stasiun TV Australia sebagai kameramen untuk reporter yang ada di Jakarta. Kebetulan Bruce sudah seminggu ini ada di kota M untuk meliput sebuah event internasional yang diselenggarakan di kota M.

“Bruce akan menginap disini beberapa hari, pingin lihat-lihat kota M, kasihan kalau harus nginap di hotel. Toh aku juga pernah liputan bareng dia di Jakarta,” Mas Rudi menjelaskan. Singkatnya untuk beberapa hari Bruce menginap di rumah kami di Kota M.

Sore itu, hari ketiga Bruce menginap di rumah kami. Ijah masih sibuk ngurus pelanggan kios, sedangkan Mas Rudi baru saja pergi ke redaksinya. Bruce bertubuh sangat atletis, tingginya mencapai 187 cm dengan postur yang ideal. Apalagi wajahnya yang mirip Antonio Banderas itu pasti membuat semua wanita tergila-gila padanya.

Bruce berolahraga ringan di taman belakang rumahku. Menggunakan kaos ketat dan celana pendek ketat pula, lekuk tubuh atletis Bruce makin mempesona dihiasi titik titik keringat yang membasahi.

“Istirahat dulu Bruce.., ini kubuatkan es limon untukmu,” aku meletakkan segelas es limon dimeja dan mengambil duduk di kursi taman. Bruce menatapku dan tersenyum, lalu menghampiriku duduk bersama.

“Kamu baik sekali Ani.., pasti Rudi bahagia punya istri sepertimu,” Bruce memujiku tulus.

“Makasih Bruce, kamu ini ada saja,”

“Aku juga punya istri, dan rindu juga karena dia di Australia,” Bruce bercerita.

Rupanya selama tiga tahun di Jakarta, Bruce hanya sesekali pulang ke Australia, atau istrinya yang ke Jakarta.

“Kamu bisa tahan ya Bruce,” aku keceplosan menanyakan itu, kesalahanku memang.

“Tahan apa Ani?,”

“Eh.. Maksudku tahan nggak ketemu istri,” aku tertunduk malu.

“Kalau maksudmu itu aku sih tahan, tapi kalau masalah seks.. Aku menghabiskan waktu olahraga saja,” katanya.

Kami pun terlibat obrolan seputar rumah tangga kami. Entah kenapa akhirnya kisahku bersama Mas Rudi kuceritakan pula, bagaimana kecelakaan itu, bagaimana Mas Rudi sudah tak mampu menjalani tugasnya sebagai suami, dan bagaimana sampai kini kami tak kunjung punya anak.

Malam mulai merayap, kami sudah selesai makan malam tapi Mas Rudi belum juga pulang. Sampai akhirnya jam 9 malam Mas Rudi mengirim SMS yang intinya ia nggak bisa pulang karena ada berita yang harus dikejar dan ditunggu sampai malam. Bruce sudah masuk ke kamar tidur yang kami siapkan untuknya, sedangkan aku sudah berbaring di kamar tidurku, dan siap untuk tidur.

Malam itu akhirnya Mas Rudi pulang juga, dan langsung berbaring disampingku. Seperti biasa kalau mau melampiaskan nafsunya, Mas Rudi mulai menciumiku. Aku membiarkan saja ketika suamiku melepaskan CD yang kupakai, Bra yang kukenakan pun ditanggalkan menyisakan daster merah muda yang masih melekat ditubuhku.

“Ahhmm.. Mas,” aku bersuara manja tetap terpejam.

Mas Rudi semakin aktif menciumiku. Dasterku dibuka bagian atas dan susuku mulai diisap-isap putingnya, sementara tangannya mulai aktif menjelajahi bagian bawahku.

Bersambung…

Akhirnya kunikmati pemerkosaan itu5

Filed under: PERKOSAAN

Sentuhan dan isapan Mas Rudi benar-benar lain malam ini, membuat birahiku seketika melonjak naik. Apalagi ketika bibirnya mulai turun dan menciumi bagian vitalku, aku sampai basah kuyup dibuat kenikmatan. Tiba-tiba Mas Rudi mengubah posisiku, dibuatnya aku menghadap kekanan dengan posisi membelakangi tubuhnya. Ia kemudian menjilati sekujur punggungku setelah menarik turun daster yang kupakai. Tangannya kemudian menyibak daster bawahku sehingga dasterku terkumpul diperut. Dari belakang, kurasakan tangan Mas Rudi menyerang vaginaku, bibir mungil bawahku dibelai dengan jari-jarinya, kadang jari tengah disisip dan digesekkan tepat dibelahan vaginaku.

“Ouhh..,” aku merintih kenikmatan saat jari tengah Mas Rudi mulai mengocok vaginaku dari belakang.

Sepuluh menit kocokan jari itu kurasakan, aku sudah melayang dan nyaris sampai puncak. Tapi mendadak jari itu berhenti dan dicabut dari liang senggamaku yang sudah monyong-monyong kenikmatan.

“Kok berhenti mas..,” aku tetap terpejam dan membelakangi Mas Rudi.

Mas Rudi diam dan kembali mencumbuiku, tapi tetap tak bersuara. Masih dengan tubuh mebelakangi Mas Rudi, aku mencoba meraih bagian celana suamiku. Tapi, astaga, punya Mas Rudi ternyata bangun malam ini, tegak dan terasa keras.

Karena bingung campur penasaran, kupicingkan mata dan segera berbalik kebelakang.

“Haahh, Bruuccee.., apa-apaan ini?” aku sangat terkejut karena ternyata yang sedang mencumbuiku ternyata Bruce, bukan Mas Rudi. Bruce juga terkejut, mungkin tak mengira kalau aku akan bangun. Tiba-tiba tangan kekar Bruce membekap mulutku dan ia pun segera menindih tubuhku.

“Ayo Anni, please.. Tolong aku, ini sudah tanggung.., jangan melawan kalau tak mau kukasari,” Bruce sedikit mengancamku.

Keadaan memang sudah tanggung, aku dan Bruce sudah sama bernafsunya. Tapi aku harus melawan, aku tak boleh begitu saja pasrah, aku gengsi dan malu dong. Namun aku tak berkutik ditindih berat tubuh Bruce.

“Jangan Bruce.., aku takut Rudi tahu,” pintaku, walau sebenarnya aku pun ingin menikmati cumbuan itu lagi.

“Hsstt.., Ani.. Tolong aku. Oke aku tak akan masukan penisku ke vaginamu, tapi tolong bantu aku sampai aku puas ya..,” Bruce merengek.

Bruce aktif lagi mencumbuiku. Sudah kepalang tanggung pikirku, sehingga akupun pasrah terbawa cumbuan Bruce. Dengan posisi menindihku, Bruce membuka celananya dan menempelkan penis panjangnya yang sudah tegap di vaginaku. Menepati janjinya, penis itu tidak dimasukan dalam liang vaginaku, tetapi hanya digesekkan saja dipermukaan vaginaku. Lima menit berlalu rupanya pertahananku hampir bobol. Meski tak masuk keliang nikmatku, namun gesekan penis Bruce ditambah bobot tubuhnya diatas tubuhku membuat vaginaku menerima rangsangan yang cukup dibagian klitorisnya.

“Emmhh.. Bruuccee..,” akhirnya erangan nikmatku keluar juga. Saat itu kurasakan klitorisku mulai membesar dan denyutan kecil mulai terasa mengitarinya, aku hampir orgasme.

“Ani..,” Bruce memanggilku dan menghentikan aktifitasnya. Setelah itu kurasa Bruce memindahkan posisi penisnya sehingga ujung penisnya tepat berada dibelahan bibir vaginaku yang sudah basah kuyup.

Bruce kini lebih berani, penis itu ditekan masuk ke vaginaku yang memang sudah resah menunggu. Akhirnya aku dan Bruce bersenggama, ya Bruce jadi pejantanku malam itu. Kuakui mungkin Bruce adalah pria pertama yang memberi kepuasan begitu dasyat padaku. Sore hingga malam itu, kami lakukan aktifitas seks sampai empat kali. Empat kali itu pula aku merasa puncak yang sangat fantastis.

Namun kenangan bersama Bruce tinggal kenangan saat esok paginya Bruce harus kembali ke Jakarta. Aku Ani, kembali kesepian. Terima kasih Bruce, untuk kenangan satu malam yang sangat berkesan.


Seminggu ini rumahku sering dapat telepon gelap yang intinya mengancam Mas Rudi suamiku, lantaran berita yang dibuat Mas Rudi menohok salah satu kepentingan pejabat di kota M. Malah belakangan yang ikut mengancam mengaku-ngaku dari aparat keamanan juga.

“Mas.., kita pindah rumah sementara yuk. Aku kok jadi takut diteror terus,” pintaku pada Mas Rudi malam itu. Kami sudah berbaring di kamar karena memang jam sudah menunjuk angka 10 malam.

“Heemm, kenapa sayang? Aku janji nggak akan ada apa-apa,” Mas Rudi menjawab sambil memeluk tubuhku.

Mas Rudi kemudian menjelaskan padaku tentang berita yang dibuatnya itu. Katanya masalah dengan pejabat itu sudah selesai dua hari lalu, damai. Tapi aku masih saja trauma dengan kejadian pertama yang berakibat fatal hingga penganiayaan yang membuat penis Mas Rudi mati total itu.

“Tapi Mas..,”

“Sudah sayang.., kamu nggak usah takut. Itu resiko kerja namanya,” katanya lagi.

Pembicaraan kami akhirnya berhenti, dan kami berdua terlelap tidur. Seharian tadi memang aku sangat capek mengurus kios hanya dibantu Ijah, dan Mas Rudi pun kelihatan letih seharian bekerja.

“Sayang.., bangun sayang..,” suara Mas Rudi membangunkan aku tengah malam.

“Tuh dengar.. Sepertinya ada yang masuk ke rumah,” kata Mas Rudi saat aku membuka mataku. Benar saja, di ruang tamu rumah kami terdengar banyak langkah kaki dan suara berisik. Mas Rudi segera bangkit dan membuka pintu kamar.

Braakk!! pintu kamar terbuka sebelum dibuka Mas Rudi, daun pintu yang terdorong kencang malah membentur wajah Mas Rudi hingga ia terpental ke lantai.

“Jangan berteriak..!!,” empat lelaki bersenjata api dan senjata tajam mendesak masuk ke kamar tidur kami sambil mengancam dan menodongkan senjata mereka. Aku sungguh takut malam itu, apalagi kulihat Mas Rudi pingsan akibat benturan pintu.

“Ha.. Ha.. Ha, sekarang kalian akan rasakan pembalasan bos kami ya..! Hei kamu pelacur, ayo kesini,” lelaki yang bertubuh paling besar memanggilku kasar dan menarik tubuhku turun dari kasur.

“Sssiapa kalian.., apa salah kami?” aku mengiba.

Muka mereka tertutup stoking mirip perampok, kupikir kami memang sedang dirampok. Tapi setelah mereka menjelaskan bahwa kedatangannya adalah untuk menghajar Mas Rudi karena berita pejabat itu, aku baru sadar, kami sedang dalam bahaya. Astaga, mereka juga rupanya sudah meringkus Ijah, dan dibawa serta kekamar kami.

“Nyaahh, toloong Nyah..” Ijah dipegang erat dua lelaki lainnya, sementara yang dua mulai mengikat tubuh Mas Rudi ke sebuah kursi di kamar. Singkatnya malam itu kami bertiga diikat kaki dan tangan, tapi aku dan Ijah dibiarkan terikat di kasur sedangkan Mas Rudi diikat dalam posisi duduk menghadap kami di kursi.

“Hai kopral.. Ambil air, biar nih wartawan sok jago sadar,” kata lelaki yang paling besar kepada yang lain.

“Oke komandan, segera laksanakan,” dua lelaki langsung mengambil air, begitu kembali seember air langsung diguyur ke Mas Rudi.

“Hhhaahh.. Siapa kalian bangsaat..,” Mas Rudi menghardik mereka ketika sadar. Tapi posisi yang terikat membuat Mas Rudi tak bisa berbuat banyak, apalagi setelah itu mulut Mas Rudi ditutup lakban. Mereka juga menutup mulutku dan Ijah dengan lakban pula.

“Heii sombong, kamu pikir bos kami begitu saja memaafkanmu dengan damai dua hari lalu? Tadinya kami ditugaskan gorok lehermu. Tapi.. (Lelaki itu memandang aku dan Ijah) Tidak. Kami akan lebih kejam dari itu.. Lihat saja bagaimana sebentar lagi kontol-kontol kami mengoyak-koyak pembantu dan istrimu yang cantik dan mulus itu,” tangannya menuju arahku dan Ijah.

Setelah mengatakan akan memperkosa aku dan Ijah, keempat orang itu lalu saling bagi. Yang paling besar dan satu lagi yang agak tambun meraihku dan mengikatku kembali dalam posisi terlentang. Tangan dan kakiku diikat diujung-ujung ranjang. Sedangkan dua lelaki lain, yang jangkung dan yang botak meraih Ijah dan mengikatnya seperti posisiku dilantai kamar.

“Hmmpp..,” Mas Rudi hanya bisa bersuara tersumbat dengan mata melotot ketika keempat lelaki itu membugili aku dan Ijah. Mata keempat lelaki itu memandangi tubuh polos kami berdua.

Aku sangat takut malam itu, sungguh aku takut. Kupikir aku dan Ijah akan jadi korban perkosaan brutal, terus terang aku jijik sekali melihat tampang mereka malam itu. Tapi dugaanku meleset. Si jangkung mendekat ke arah Ijah, sedangkan tiga lelaki lainnya duduk menonton dikursi dekat Mas Rudi berada.

“Tenang sayang.. Kamu pasti asyiik kubuat,” jangkung mulai meraba-raba Ijah. Aku bisa melihat semuanya karena posisi Ijah tak terlalu jauh dari dipan tempat aku diikat.

Bibir si jangkung langsung mengisap isap susu Ijah.

“Ehgghh.. Mmmppffhh,” ijah bersuara keras tersumbat, tapi nadanya protes.

Jangkung terus beraksi, malah hisapan dan rabaannya mulai turun dan akhirnya bermuara di vagina Ijah yang jelas terlihat karena diikat mengangkang. Awalnya Ijah terus mengeluarkan suara keras bernada protes. Tapi beberapa menit kemudian Ijah sepi, yang ada justru Ijah mendesis-desis menahan birahi.

“Mmmpphhff.. Eengghh..,” tubuh ijah mengelinjang menahan geli saat lidah jangkung menyapu klitorisnya.

“Ha.. Ha.. Kenapa sayang.. Hah? Mulai enak ya,” jangkung mengejek Ijah sambil melucuti pakaiannya sendiri sampai bugil juga.

Kini jangkung siap menyetubuhi pembantu kami itu. Penisnya yang lumayan besar sudah diletakkan persis dipintu masuk vagina Ijah. Ijah sudah birahi dengan mata sayu memandang jangkung, nafasnya pun terlihat memburu dari dadanya yang turun naik. Bleess.. Pleess.. Jlebb.. penis jangkung amblas total di vagina Ijah.

“Ngghh..,” Ijah menggelinjang menerima penis jangkung.

“Ouhh eennakk sekali tempikmu sayang,” jangkung nyerocos sambil menggenjot Ijah.

Bersambung…

Akhirnya kunikmati pemerkosaan itu 6

Filed under: PERKOSAAN

Tiga lelaki dikursi ternyata sudah mengeluarkan penis mereka dari balik celana sambil mengocoknya dengan tangan sendiri. Sementara Mas Rudi kulihat pun terpana dengan adegan jangkung dan Ijah.

“Aaahh.. Ommhh ammpuhhnn omhh.. Engghh,” Ijah mendadak mengeluarkan desis kenikmatan waktu jangkung membetot lakban di mulutnya.

“Ha.. Ha tuh kan akhirnya ennaak, makanya jangan ngelawan yah..,” jangkung bangga terus nggenjot Ijah. Saat itu terus terang aku mulai membayangkan betapa sebentar lagi aku pun akan merasakan kenikmatan seperti Ijah, dientot lelaki asing.

“Iyaahh Oom terusinn.., aku sudah lama nggakk ginian,” Ijah menceracau.

“Ohh sayanghh, omhh nggak tahaann aahhggkk,” si jangkung rupanya over nafsu. Ijah belum apa-apa jangkung sudah kejang diatas tubuh ijah.

“Wah.. Payah lo kopral,” si botak menghardik.

“Ayo sana biar Om botak yang selesaikan sayang,” botak mendekat tubuh Ijah yang pasrah, jangkung lunglai disamping Ijah.

“Ohh.. Omhh botak.. Cepethhaann puasiinn Ijahh..,” Ijah rupanya sudah dilanda birahi yang sangat.

Matanya merem melek dan pinggulnya bergoyang erotis meminta penis si botak segera masuk. Botak segera menindih tubuh Ijah setelah ia melucuti pakaiannya sendiri. Penisnya yang gemuk pendek mendesak masuk ke vagina Ijah yang sudah becek kena sperma jangkung.

“Duhh omhh.. Ennakhh Ijhaah omhhpff..,” bibir Ijah langsung dikulum sambil tubuh botak menggenjotnya kuat. Mereka bermain imbang, desahan dan gerakan tubuh mereka mulai mempengaruhi dua lelaki lain dan Mas Rudi yang terus melotot ke arah Ijah dan botak.

“Mpfhh.. Huhh sayanghh.. Enak sekali vaginamu sayanghh..,”

“Iyaahh omhh.., Ijaahh keluuaarrhh.. Ouhhgg omnhh nnaakkhh omhh..,” tubuh Ijah kaku dengan tangan memeluk keras tubuh botak.

“Ahhggkk.. Ayoo saynggh.. Omhh jugaa nihh,” Botak pun orgasme. Botak berbaring diatas tubuh Ijah tanpa mencabut penisnya, Ijah malah senang dan memeluk botak sambil menciumi pipinya.

Lelaki berbadan gemuk bangkit dari kursi dan melucuti pakaiannya. Penisnya yang tegang mengacung acung, dan ia bergerak ke arahku.

“Hei brengsek.. Lihat ya sebentar lagi istrimu ini akan merengek juga seperti pembantumu itu.. Ha.. Ha,” ia menghardik Mas Rudi. Mas Rudi terlihat pasrah, sementara aku sendiri bingung harus bagaimana dalam posisi terikat, terlentang, dan telanjang seperti itu.

Tanpa dikomando si gemuk langsung saja menggerayangi tubuh telanjangku. Hisapan demi hisapan, jilatan lidahnya menyapu bersih lekuk tubuhku. Aku berusaha berontak tapi percuma, aku terikat. Kutatap Mas Rudi meneteskan airmata saat itu. Aku mau marah pada si gemuk, tapi posisiku sulit. Apalagi terus terang aku pun mulai dijalari birahiku. Kenyataan harus terjadi, aku istri yang sudah berbulan bulan ini tak pernah menikmati permainan seks suamiku, tentu tak bisa menahan rangsangan yang sedang terjadi pada tubuhku.

“Mhhppmm,” aku merintih saat lidah si gemuk mulai menjilati bibir vaginaku.

“Woowww.. Mulus sekali pelacur yang satu ini.., gimana sayanghh marah ya? tapi kok vaginanya sudah banjir,” si gemuk mengejekku, aku terpejam tak mampu memandang Mas Rudi.

“Hmmpp,” Mas Rudi bersuara, tetapi si tubuh besar langsung menggamparnya.

Situasi sudah sulit, lidah si gemuk semakin liar dan membuat kenikmatan tersendiri padaku.

“Ehmmhh,” aku merintih tak bisa menahan kenikmatan itu, pinggulku mulai bergerak teratur seirama jilatan lidah si gemuk divaginaku, aku pasrah dan menikmati permainan gemuk itu. Malah saat ini aku mulai bernafsu agar penis si gemuk mengoyak vaginaku yang sudah gatal.

Tapi rupanya si gemuk sengaja menyiksaku, jilatan lidahnya sudah masuk kemenit lima belas menerjang vaginaku. Aku sudah bergerak tak karuan menerima kenikmatan darinya, tapi tak juga gemuk menyetubuhiku.

“Mhhppff.. Engghh..,” aku tak tahan lagi, seluruh rasa nikmat berkumpul diklitorisku membuat pertahananku akhirnya jebol. Aku orgasme dengan belasan kedutan kecil divaginaku. Aku malu sekali pada Mas Rudi yang terus menatapku, tapi apa daya, maafkan aku Mas, aku tak berdaya.

“Haa.. Haa, keluar juga airmu sayanghh. Tapi biar yang puaskan kau lagi si jendral ya. Aku akan lanjutkan dengan Ijah,” gemuk meninggalkanku dan menuju Ijah.

Disingkirkan tubuh botak yang masih lemas diatas tubuh Ijah, lalu gemuk menyetubuhi Ijah. Astaga, Ijah rupanya birahi lagi saat aku dikerjai lidah gemuk tadi, sehingga saat gemuk membenamkan penisnya ke vagina Ijah, dia malah menggebu gebu menerima. Aku sungguh iri dengan Ijah yang sudah klimaks pakai penis tapi dikasih lagi sama si gemuk. Huh apa aku kurang sexy, pikirku.

Belum habis pikir, mendadak kurasa tubuhku ada yang meraba-raba lagi. Rupanya si tubuh besar yang dipanggil jenderal itu sudah telanjang dan sudah berada disisiku sambil menciumiku. Ciumannya sungguh lembut tak seperti gemuk yang agak kasar dan terburu-buru.

“Aku akan memberimu kepuasan sayanghh, kamu cantik bidadariku,” tak kusangka Jenderal membisikan kalimat itu ke telingaku, tentu Mas Rudi tak mendengar karena bisikannya sangat pelan. Entahlah apa yang terjadi, yang jelas mendapat bisikan penuh kasih begitu gairahku naik lagi. Jenderal lalu membuka lakban dibibirku dan ikatan ditanganku, sedangkan kakiku tetap terikat diujung dipan bawah.

Kini tanganku sebenarnya bebas tapi kenapa aku tak melawan? Aku sengaja memukul dada bidang Jenderal hanya untuk menjaga perasaan Mas Rudi, dan Jenderal yang tahu maksudku kembali menangkap tanganku dan disekapnya dengan posisi menindihku. Saat itu kelamin kami sudah bertemu walau penis Jenderal yang tegak belum dimasukan ke vaginaku.

“Jangann.. Kumohonn jangann..,” aku merintih antara penolakan karena ada suamiku, dan harapan agar Jenderal segera menyetubuhiku karena birahiku sudah tinggi dan menggebu.

“Tenang sayang. Aku sudah tahu semua file rumah tanggamu dan si brengsek itu. Aku tahu kalau Rudi suamimu tak lagi mampu melayani kebutuhan sexmu,”

Aku tersentak mendengar ucapan jenderal, lalu aku memandang Mas Rudi, Mas Rudi tampak pasrah memandang tubuh istrinya yang sesaat lagi akan menyatu dengan tubuh lelaki lain. Jenderal kemudian mencium dan mengulum bibirku beberapa lama, tanpa sadar aku membalas lumatan bibirnya dengan nafsu pula. Kurasakan dia berusaha menepatkan posisi ujung penisnya dibelahan bibir vaginaku.

“Mhhppff.., aahh.. Enghh..,” aku merintih nikmat tak peduli lagi Mas rudi menatap kami, saat penis besar Jenderal mendesak masuk keliang nikmatku.

“Ouhh.., sudah kusangka vaginamu masih rapat sayanghh.., nikmati permainan kita ya manis,” jenderal berbisik lagi membuatku semakin melayang dipuji-puji.

Penis Jenderal keluar masuk secara teratur di vaginaku dan aku mengimbanginya dengan gerakan pinggul memutar.

“Hmm.., puaasshhkan aku sayangghh..,” tak sadar aku membalas bisikan Jenderal itu sambil memeluk tubuhnya untuk lebih rapat menindihku.

“Chhaantikhh kamu sayanghh.., cantik sekali wajahmu saat nikmat ini,”

“Aohh.. Iyaahh sayanghh.. Akhuu milikmuh saat ini..,”

Kuakui permainan lelaki yang dipanggil rekannya sebagai jenderal memang luar biasa, romantis, lembut, tapi sungguh memacu birahiku secepat genjotannya di tubuhku. Gerakan tubuh jenderal semakin cepat dan teratur diatas tubuhku. Erangan dan rintihanku sudah tak bisa membohongi Mas rudi kalau aku memang birahi saat itu. Tapi saat aku hampir klimaks, mendadak jenderal menghentikan aktifitasnya dan mencabut penisnya dari vaginaku. Ia lalu membuka ikatan di kedua kakiku.

“Ayo sayang kita berdiri,” jenderal menarik tubuhku berdiri, lalu mendorong punggungku ke arah kursi Mas Rudi.

Posisiku jadi tepat berhadapan wajah dengan Mas Rudi suamiku, dan jenderal dibelakangku kembali menghujamkan penisnya ke vaginaku. Aku malu sekali saat itu, aku harus sekuat tenaga menyembunyikan wajah terangsangku dihadapan Mas Rudi, tapi dilain sisi kenikmatan yang sangat dari penis jenderal menghujam di vaginaku dari belakang.

“Ahh.. Ouhh.. Maaffkhaann akuhh mass..,” hanya itu yang terucap di bibirku saat sodokan penis jenderal masuk ke menit ke sepuluh dalam posisi nungging itu.

“Ayohh sayang.. Lepas lakban suamimu,” jenderal memerintahku, dan kubuka lakban dimulut Mas Rudi. Aneh Mas Rudi tak lagi marah, ia terlihat sangat pasrah.

“Masshh,” kulumat bibir Mas Rudi dan Mas Rudi mengangguk lalu membalas lumatan bibirku.

Jenderal semakin keras mengocokku dari belakang, aku semakin tak terkendali kurasakan kenikmatan sudah puncak dan menjalar diseluruh tubuhku mengumpul dibagain pantat, paha, vagina dan klitorisku.

“Ahh sayyanngghh.. Ohh.. Mmffhhpp..,” aku tak kuasa lagi membendung kenikmatan itu, dinding vaginaku berkedut berkali-kali disodok penis jenderal. Bibir Mas Rudi kembali kuhisap kuat.

Belum habis orgasme yang kurasakan, Jenderal menarik tubuhku dari belakang dan menggendongku. Posisiku seperti anak kecil yang dibopong bapaknya yang bertubuh besar dari belakang.

“Ayo maniss.. Ini lebih nikmat sayanngg.., sekarang merengeklah sepuasmu honneyy,” dalam posisi itu penis jenderal masih mengocokku tangannya mengangkat tubuhku naik turun dengan posisi berdiri.

“Akhhss.. Sahhyaangghh..,” aku tuntas sudah, orgasmeku sempurna ditangan jenderal.

“Oghhkk.. Terima maniku sayanghh,” jenderal orgasme dengan posisi berdiri menopang tubuhku yang lunglai. Kurasakan seburan spermanya menembus dinding rahimku. Lalu jenderal menjatuhkan tubuh kami diatas ranjang kembali, kami berpelukan seperti pasangan kekasih.

“Terima kasih sayang.., kalau saja kau istriku aku pasti bahagia,” jenderal kembali melumat bibirku. Aku membalasnya dan dalam hatiku pun menjawab seandainya juga kau suamiku jenderal.

Aku tak peduli lagi malam itu, aku pun lemas dibuai nikmat hingga akhirnya tertidur lelap.


“Sayang.. Bangun sayang,” suara Mas Rudi membangunkanku.

Ternyata hari sudah pagi, dan empat lelaki itu sudah tak ada lagi. Aku masih telanjang dan hanya terbungkus selimut, Ijah masih tertidur telanjang juga dilantai. Sedangkan Mas Rudi terlihat lusuh.

“Oh.. Mas, maafkan aku semalam Mas.. Aku seharusnya melawan,” kupeluk suamiku, aku takut kehilangan Mas Rudi.

“Nggak sayang, aku yang salah.., Harusnya aku bisa melindungimu,” Mas Rudi memelukku erat.

Sejak kejadian itu, kami pindah rumah di wilayah yang agak jauh dari kota M, tempat Mas Rudi bekerja, tapi masih satu provinsi dengan kota M.

Tragedi Mei ,98

Filed under: PERKOSAAN

Ini kunjungan keduaku kembali ke Jakarta setelah lebih dari 15 tahun sejak aku menyelesaikan program pertukaran pelajar. Masih sama seperti dulu hanya sekarang nampak semakin maju disamping juga semakin macet dan semrawut.

Setelah hampir 3 jam perjalanan dan berkutat dengan kemacetan dari bandara, akhirnya aku tiba juga di sebuah rumah sakit jiwa dibilangan jakarta timur.

Aku disambut oleh seorang petugas yang berusia lebih kurang 50 tahunan. Sejujurnya sikapnya amat tidak ramah dan memandang curiga akan kehadiranku. Tetapi setelah aku memperkenalkan diri dari sebuah LSM dari luar negri yang berniat memberikan bantuan keuangan sikap petugas tersebut langsung berubah 180 derajat menjadi sangat ramah.

Aku sengaja menyembunyikan identitasku sebagai wartawan. Kantorku mendapat informasi bahwa keadaan rumah sakit jiwa yang ada di indonesia sangat buruk keadaannya dan aku ditugaskan untuk menyelidiki kebenaranya dan mendapatkan bukti-buktinya

“Maaf pak sebelumnya mohon untuk tidak membawa kamera ya pak”Petugas itu nampak keberatan ketika aku menenteng kamera SLR ku.

“Memangnya Kenapa pak?”Aku bertanya keheranan.

“Terus terang saya juga kurang tahu pak, tetapi pak kepala rumah sakit sudah berpesan agar pengunjung tidak diperkenankan untuk mengambil gambar.”Petugas itu nampak enggan mengucapkan hal tersebut padaku.

“Oh begitu, kalau begitu izinkan saya bertemu dengan beliau pak saya ingin membicarakan hal ini.”aku mencoba untuk bisa bertemu dengan pimpinannya.

“Wah pak sayang sekali beliau sedang cuti,tapi bapak tidak usah khawatir semua tanggung jawab beliau sudah dipercayakan kepada saya sebagai wakilnya.”Petugas tersebut menjelaskan kepada saya.

“Begini pak, kalau saya tidak bisa memfoto lokasi rumah sakit ini, bagaimana mungkin kami akan mengucurkan dananya? dan pada akhirnya jika dana itu tidak turun yang rugi juga bapak sendiri bersama seluruh rumah sakit jiwa ini.Saya sih tidak memaksa bapak sebaiknya saya permisi pulang saja pak kalau memang tidak diizinkan. Permisi pak .”Aku mencoba jual mahal begitu melihat raut mukanya berubah.

“E..e sebentar pak bukan maksud saya,maaf kalau saya menyinggung bapak tapi saya pikir kalau untuk bapak ada perkecualian mari silahkan masuk pak.”Akhirnya petugas tersebut mengizinkan saya masuk dengan membawa kamera.

“Oh ya perkenalkan nama saya Adrian.”aku memperkenalkan diriku.

“Saya Dahlan, senang bertemu anda, mari saya antar melihat-lihat rumah sakit kami.”Petugas itu memperkenalkan dirinya perawakannya gempal tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu pendek walaupun sikapnya ramah,tapi nampak seperti dibuat buat senyumnya juga lebih menyiratkan kesan melecehkan walaupun mungkin dia tidak bermaksud demikian.

Dengan bersemangat dia menunjukan lokasi-lokasi bangsal perawatan mulai dari yang mengidap penyakit jiwa ringan sampai yang berat yang harus diisolasi.

Meskipun dari depan nampak lumayan, tetapi begitu masuk kedalam,terutama dibagian bangsal isolasi nampak kotor dan kumuh bau tidak sedap sangat menyengat hidung

Pak Dahlan asyik berceloteh tentang segala kekurangan rumah sakit ini sehingga keadaannya nampak kumuh dan tidak terurus dia juga bercerita bahwa hanya sebagian kecil saja dari pasien penghuni RSJ ini yang masih ditengok oleh sanak familynya selebihnya tidak diketahui lagi asal usul keberadaannya.

Dia juga mengeluhkan minimnya subsidi dari pemerintah sehingga kesehjateraan karyawan terabaikan begitu juga dengan obat-obatannya.

“Apakah pasien-pasien ini bisa sembuh pak?”aku bertanya kepada pak dahlan.

“Sebenarnya bisa pak, tetapi ya kendalanya obatnya mahal. Lebih dari 50% orang sakit jiwa sebenarnya bisa disembuhkan hanya biaya obatnya tidaklah murah Rp 40 ribu per tablet – obat anti spikotik. Obat ini harus dikonsumsi setiap hari. Artinya sang pasien harus mengeluarkan untuk biaya obatnya saja Rp. 1,2 juta per bulan padahal sebagian besar pasien disini sudah tidak diketahui lagi keberadaanya siapa yang mau nanggung pak?.”Pak Dahlan menjelaskan kendala yang dihadapi rumah sakit ini.

Sepanjang ocehannya hanya berisi keluhan tentang minimnya biaya. Padahal dari tempat parkiran, mobil-2x keluaran terbaru nampak berjajar rapi terparkir.

Dugaanku sih ini mobil-2x pegawai sini dan kantor ruangan pak kepala rumah sakit nampak rapi dan tertata apik dengan fasilitas yang masih baru.

Tetapi begitu memasuki daerah dalam, keadaan sungguh berbeda bagai bumi dan langit tempat ini lebih mirip penjara, eh bukan malah lebih mirip kandang hewan dimana orang-orang yang tidak waras ini berkeliaran bebas tanpa didampingi pendamping.

Pria dan wanita bercampur aduk sebagian besar bahkan berkeliaran telanjang bulat suara riuh rendah dan celoteh-celoteh aneh sahut menyahut. Aku merasa lebih mirip berada di kebun binatang dari pada di rumah sakit jiwa.

Sebenarnya menggelikan juga keadaan seperti ini. Ada berbagai ekspresi yang nampak serius dikerjakan oleh orang-orang tidak waras ini.

Ada yang berfantasi sedang mengail ikan, ada juga yang ribut berorasi dengan nada berapi-api ngoceh tentang dan politik pokonya kocak sekali,sampai aku kesulitan menahan tawa.

Dan lebih gilanya lagi ada beberapa pasien yang sedang bersetubuh pemandangan ini membuatku merasa risih dan jengah

“Ga papa koq pak ketawa aja ngga usah ditahan atau risih. yang tadi itu adalah calon Walikota sayang dia kalah sewaktu pemilihan. Hutangnya sangat banyak sampai harta bendanya terkuras habis untuk biaya berkampanye akhirnya ya seperti itu”Pak Dahlan menceritakan sekilas riwayat pasiennya.

“Bapak tidak geli melihat mereka pak? dan kenapa pasien dibiarkan membaur antara pria dan wanita sehingga bisa terjadi seperti yang itu?”Tanyaku keheranan sambil menunjuk salah satu pasangan pasien sakit jiwa yang sedang asyik bersetubuh.

“Wah sudah tiap hari saya menghadapi mereka sampai bosan pak.”jawab Pak Dahlan. “Lagian tempat ini tidak cukup luas untuk memisahkan pasien pria dan wanita. Tetapi jangan khawatir,Kami sudah bekerja sama dengan dinas kesehatan seluruh pasien pria sudah divasektomi sehingga tidak akan menyebabkan kehamilan jika mereka bersetubuh.”

Setelah menghela nafas sesaat kembali pak Dahlan menerangkan keadaan yang nampak tidak bermoral menurutku.

“Saya mengerti apa yang dipikirkan bapak Adrian,Tapi kami punya alasan tersendiri untuk tetap membiarkan mereka seperti itu.Kebutuhan biologis adalah kebutuhan mahkluk hidup yang paling dasar dan primitif. Tidak peduli pria atau wanita apalagi pada tahap sudah kehilangan kewarasannya, mereka akan beringas jika kebutuhan biologisnya tidak tersalurkan. Maaf bukan saya bermaksud merendahkan mereka, intinya mereka sudah tidak ada bedanya lagi dengan binatang. Yang membedakan manusia dengan binatang hanyalah akal sehatnya sayangnya mereka semua itu sudah kehilangan kewarasannya jadi dari segi tehnikal pun tidak memungkinkan untuk tetap menerapkan norma-norma moral dan kesusilaan kepada orang yang sudah hilang kewarasanya.”Walaupun aku tidak setuju sepenuhnya tapi memang ada benarnya juga ucapan pak Dahlan tersebut.

Dalam hati aku berpikir kalau tiap hari bergaul dengan orang yang tidak waras begini salah salah bisa ikut ketularan sintingnya.

Rumah sakit jiwa ini memang tidak terlalu luas tempatnya dari data yang aku peroleh ada lebih dari 350 pasien yang menghuni tempat ini dimana kapasitas normalnya sebenarnya cuma untuk 200 pasien saja. Dengan keadaan seperti ini salah-salah bukannya sembuh tapi malah lebih parah penyakit gilanya.

“Nah yang ini adalah bangsal Isolasi pak Adrian.”Pak Dahlan menjelaskan kepadaku “Hati-hati pak jangan terlalu dekat sebagian pasien yang disini berprilaku buruk.

Aku menatap ke sekeliling memang ruangan ini nampak sunyi ada kira-2×15 kamar, atau lebih tepatnya disebut “kandang” berukuran 2×3meter bau tidak sedap sangat menyengat hidung.

Hanya ada tikar tipis dan sepotong kain selimut tipis yang sudah lusuh dan sangat kotor seember air dan fasilitas MCK yang menjadi satu dengan “Kandang”ini.

Aku asyik berkeliling dan memotret-motret, penghuni bangsal karantina ini. Kebanyakan laki-2x. Dari 15 pasien ada 14 pasien pria dan hanya ada 1 pasien wanita.

Aku tertegun saat menatap pasien wanita ini, wajahnya cantik luar biasa walaupun nampak tidak terurus, tetap saja tidak bisa menyembunyikan kecantikannya yang masih jelas tergambar di raut wajahnya.

Selain itu tidak seperti pasien yang lainnya,yang matanya menatap kosong aku masih bisa mengenali bahwa pasien perempuan ini sepertinya masih punya tanda-tanda kewarasan.

“Pak Dahlan, apa wanita ini benar-2x tidak waras?

“tentu saja pak Adrian, kami memanggilnya amoy.”jawab pak Dahlan.

Aku mengamati perempuan ini lebih lanjut matanya menatap dalam kearahku seakan-akan menjerit minta pertolongan.

Dihadapanku kini berdiri seorang pasien sakit jiwa yang luar biasa cantik. Nampak jelas ia seorang keturunan etnis tionghoa yang mengingatkan ku pada wajah artis mandarin Gong Li.

Rambutnya panjang riap-riapan tidak terlalu rapi tapi cukup terawat panjangnya sebahu.Aku memperkirakan, bahwa gadis ini mempunyai tinggi badan lebih kurang 165 cm dengan berat badan yang menurut perkiraanku kira-2×50Kg dengan ukuran dada 32C besar juga ukuran dadanya.

Kedua tangannya berusaha menutupi dada dan kemaluannya yang berbulu sangat lebat. Sayang tangannya tidak cukup lebar untuk menutupi kemontokan buah dadanya yang tegak membusung.

Sedangkan tangan yang satunya lagi berusaha keras menutupi area selangkangannya. Namun jemarinya juga tak cukup lebar sehingga bulu-bulu kemaluannya yang rimbun masih nampak terlihat jelas menyeruak lewat celah-celah jemari tangannya.

Nampak jelas dia berusaha menutupi ketelanjanganya dan nampak malu dilihat dalam keadaan telanjang bulat seperti itu.

Sebagai lelaki normal melihat pemandangan indah didepan mataku mau tidak mau nafsuku sedikit terusik juga. Meskipun demikian, aku masih bisa mengontrol diri.Mata gadis ini nampak mulai berkaca-kaca seperti berusaha menahan tangis.

“Apa kamu sakit?aku mencoba membuka komunikasi dengan gadis ini dia menggeleng pelan

“Kenapa kamu telanjang bulat apakah kamu tidak diberikan pakaian?aku kembali berusaha mengajak dia berbicara

“Ssst..jangan keras-2x bicara jangan sampai mereka mendengar pembicaraan ini nanti mereka akan membunuh kita ko.”Mulut mungilnya nampak meruncing dengan jari telunjuknya menunjuk kebibir mungilnya

Rupanya dia mengenali aku yang juga sesama etnis tionghoa. Aku berpaling ke pak Dahlan sambil menunjuknya.”Apakah bapak ini yang menyiksamu?”kembali aku menanyai gadis ini.

“Bukan, mereka lagi disana lagi sibuk menguras uang di brankas ko..ko cepat sembunyi jangan sampai terlihat mereka.Telunjuk gadis ini menunjuk ke sebuah ruangan kosong tak nampak apapun olehku.

“Pak Dahlan, apa yang terjadi pada gadis malang ini?”Aku mencoba mengorek informasi dari pak Dahlan.

“Saya sendiri kurang tahu pak tetapi dia selalu mengoceh tentang kebakaran mungkin saya kira yang dimaksudnya adalah kerusuhan mei pada 5 tahun yang lalu. Nampaknya dia korban perkosaan masal dan mengalami guncangan jiwa memang kadang-kadang dia nampak seperti orang waras dia mengaku bernama Susan dan bekerja di sebuah bank swasta ternama. Kami menemukannya 3 tahun yang lalu dalam keadaan hamil tua. berkeliaran seorang diri. Dia terjaring dalam razia ketertiban kota sehingga akhirnya ditampung disini.Kami sudah berusaha menyelidiki asal-usulnya namun sampai sekarang tidak berhasil. Kami memanggilnya amoy.”Pak Dahlan mengakhiri penjelasan singkatnya.

“Arrgh shh…..ampun tolong hentikaaan.”Teriakan gadis itu mengagetkanku. Aku terpelongo menyaksikan gadis itu menarik putingnya sendiri kuat-kuat. Sementara itu tangannya yang satunya lagi memainkan tangannya menggosoki kemaluannya sendiri dengan kencang dan berulang-ulang.

Rupanya dia sedang bermasturbasi tapi kenapa malah berteriak-teriak minta tolong?ah..bodo ah dasar orang sinting aku berusaha acuh sambil tetap menonton aktivitas cabulnya. Kami berdua tersenyum-2x melihat aksi mesum tersebut.

“Sssh aaah Ampunn pak tolong arghh…hentikan saya sudah tidak tahan lagi sshhahh.”Gadis itu menggelinjang hebat nampaknya ia sudah mencapai orgasme bahkan sampai terkencing-2x oleh stimulasi jari-jemarinya sendiri.

Bunyi air kencingnya terdengar jelas bergemericik diruangan sunyi ini.Sementara itu tangannya tetap tidak mau berhenti menstimulasi memainkan kelentitnya yang nampak sudah membengkak berwarna kemerahan akibat dipelintir-pelintir sendiri oleh tangannya.

Matanya nampak sayu menatap mataku seakan mengharapkan aku segera menolongnya.Dari cara menatapnya, aku menjadi iba. Nafsuku yang tadi sempat naik akhirnya surut oleh tatapan matanya yang nampak tak berdaya.

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suaranya yang keras.Sekarang gadis itu menggonggong seperti anjing sambil lidahnya menjulur-julur persis seperti anjing yang habis berlari jauh sambil merangkak mengelilingi biliknya. Berguling-guling kesana kemari, gerak tubuhnya menirukan gerak tubuh anjing yang sedang birahi.

“Hauk..hauk…grrgh….Ampunn Bang.. ampun kaing…kaing….saya malu sekali Bang hentikan Bang silahkan ambil seluruh harta saya tapi tolong hentikan Bang.”Sekilas dari pengamatanku, Nampaknya seperti ada yang memaksanya untuk melakukan perbuatan amoral yang memalukan itu. Seolah-olah dia sadar sepenuhnya sedang dipermalukan sedemikian rupa seperti itu.

“Bajingan…..mati kau bangsat apalagi yang kau mau dariku argh,,,,sshhh ampun egh….”Kini matanya liar menatap kami berdua dengan penuh kebencian. Aku sampai bergidik merinding sementara tubuhnya menggelinjang semakin liar menahan dorongan birahi.

Tubuhnya terguncang hebat saat tangan kanannya menarik ujung puting payudaranya sendiri kuat kuat sementara itu tangan yang satunya lagi bergerak liar tanpa kendali, mencabuti bulu-bulu kemaluannya yang menggumpal lebat. Nampak beberapa helai bulu kemaluannya tercecer ke lantai yang sudah berlumut tersebut.

Aku bergidik ngeri sekaligus iba akan keadaan gadis itu akhirnya kami berdua meninggalkannya.

Aku benar-benar tidak menyangka bahwa kenyataan yang aku saksikan ternyata lebih parah dari isyu yang aku dengar.

Sepanjang perjalanan, aku terus memikirkan Gadis cantik yang malang itu entah kenapa ada sesuatu yang menarik hatiku pada dirinya. Dalam Hati, aku ingin mengorek keterangan lebih lanjut lagi mengenai gadis malang itu.

Pak Dahlan begitu gembira ketika aku menjamunya makan disebuah restaurant mewah dibilangan Jakarta Timur sehingga dengan mudah aku sudah mengantungi izin untuk mewawancarai gadis malang ini.

Kejadian sepanjang hari ini benar-benar merupakan pengalaman yang tak terlupakan setelah melakukan pembicaraan dengan pak Dahlan,akhirnya aku sepakat untuk kembali lagi keesokan harinya.

Setiba dihotel, Aku terus merenung membayangkan kejadian sepanjang hari ini tubuhku terasa penat sambil berendam air hangat tanpa tersadar aku telah tertidur.

Dalam mimpiku, aku bermain cinta dengan dengan Susan yang berparas ayu.Dengan lembut aku menghisap puting payudaranya kumainkan lidahku secara bergantian menghisapi kedua putingnya. Payudaranya yang besar membekap wajahku sehingga aku susah untuk bernafas.

Dapat kurasakan kelembutan kulit payudaranya yang selembut busa sabun.Putingnya berwarna coklat kemerahan perlahan tapi pasti mulai mengacung akibat stimulasi lidahku menandakan gairah Susan sudah terpancing.

Payudaranya yang berukuran 32C menggelantung bebas tanpa penyangga. Nampak begitu sempurna indah dipandang mata, memancing nafsu birahi setiap pria yang memandangnya.

Begitu nyata rasanya saat kemaluannya mulai menghisapi dan memijit-mijit batang kemaluanku dadanya semakin membusung ketika aku semakin erat mendekapnya.

Erangan-erangan nikmat meluncur deras tak beraturan dari mulut mungilnya kepalanya menyandar lunglai didadaku tak kuasa menahan sensasi kenikmatan badani.

Dalam keadaan kelamin kami yang tetap menyatu,aku mengangkat tubuhnya batang kemaluanku kini telah masuk secara penuh pada liang kewanitaannya. Ujung penisku mulai berdenyut-denyut kencang memuntahkan cairan nikmat yang selama ini bertumpuk.

Kebahagiaan kami mendadak terenggut oleh segerombolan bayangan yang tidak begitu jelas siapa gerangannya. Menarik tubuh bugil Susan dari dekapanku.

Lolongan memilukan Susan, sayup-sayup lenyap ditelan kegelapan aku tersadar dari tidurku cairan sperma membanjiri selangkanganku.

Dalam hati aku merasa berdosa kenapa aku bisa mempunyai fantasi sexual kepada gadis yang seharusnya dikasihani. Tetapi sebagai lelaki normal harus diakui berat rasanya untuk memungkiri daya tarik sexuil dari Susan si gadis malang tersebut.

“Pagi pak,mari langsung saja. Tapi maaf saya tinggal ya pak masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan tapi bapak jangan khawatir Pasien ini sudah saya amankan dengan jaket pengaman dan kalau ada sesuatu pencet saja tombol bel ini.”Dalam hati Aku malah bersyukur karena dengan demikian aku bebas mewawancarai pasien cantik ini.

Kami duduk berhadapan. Untuk beberapa saat aku terdiam sejenak mengamati Susan.

Pagi ini rupanya dia telah dimandikan keadaannya lebih baik dari kemarin cuma yang membedakan sekarang tubuhnya dibalut ketat Jaket khusus pengaman untuk pengidap penyakit jiwa.

Bau sabun mandi murahan masih sempat tercium olehku dengan ekor rambutnya yang masih sedikit basah semakin menguatkan aura kecantikan yang terpancar diwajah orientalnya. Sulit dipercaya wanita cantik yang duduk dihadapanku ini adalah pengidap penyakit jiwa yang cukup parah.

Aku memajukan kursiku untuk lebih dekat duduk dihadapannya ditanganku kini juga tergenggam sebuah alat mirip pena yang berfungsi sebagai alarm darurat jika terjadi sesuatu.

Ruangan ini sebenarnya merupakan kamar tamu berukuran 3×4 kedap udara tidak ada jendela hanya ada satu pintu mungkin maksudnya supaya tidak terganggu oleh suara berisik dari luar.

“Hai..bagaimana khabarmu pagi ini?”akhirnya aku mulai mencoba memancingnya bersuara aku ragu apa dia bisa berkomunikasi denganku? Sejak kami masuk ruangan ini, matanya menatap tajam kepadaku entah apa yang ada dalam pikirannya.

“Menurutmu aku bagaimana sekarang?”Dia malah balik bertanya. Aku bersyukur ternyata dia mau meresponku.

“Perkenalkan, namaku Adrian..maaf kalau aku mengganggu apakah kamu keberatan aku disini?”Mata beningnya kembali menatapku beberapa saat seakan dia sedang menyelami maksud kedatanganku.

“Aku rasa koko orang baik…tolong saya ko saya sudah tidak tahan lagi seperti ini.”Matanya mulai berkaca-kaca sehingga aku yakin siapapun yang melihat akan jatuh iba kepadanya.

“Bagaimana aku bisa menolongmu?”aku berusaha untuk tidak terpancing emosiku. Aku tahu persis dihadapanku ini adalah pasien penyakit jiwa yang omongannya tidak bisa dipertanggung jawabkan jadi aku berusaha tetap rasional.

“Keluarkan saya dari sini ko…tolonglah saya percaya koko bisa menolongku.”Sulit dipercaya kalau orang dihadapanku ini ternyata sinting jawabannya begitu memelas dan tidak ngaco seperti orang yang terguncang jiwanya.

Seandainya kemarin aku tidak melihat dengan mata kepalaku sendiri akan segala aksi cabulnya kemarin yang sangat memalukan, aku tidak akan percaya bahwa wanita cantik didepanku ini adalah seorang pasien penyakit jiwa.

“Aku pasti akan menolongmu keluar dari tempat ini tapi sebelumnya aku mau tahu semuanya tentang dirimu. Aku harap kamu bisa bercerita secara jelas apa sebenarnya yang terjadi padamu sehingga kamu sampai berada di tempat sini. Apakah kamu bersedia?”dalam hati aku bertekad untuk menyelamatkan pasien sakit jiwa ini. Tetapi sebelumnya aku harus tahu seberapa parah tingkat kegilaanya. Hal ini akan bisa aku ketahui dari hasil wawancara ini.

“Percuma aku bercerita toh koko juga tidak akan percaya kepada orang gila sepertiku bukan?”setelah mengambil nafas dalam-dalam muncul jawaban yang sungguh mengejutkanku.

“kalau kamu tidak mau bercerita juga tidak apa-apa tapi maaf tanpa aku mendengar kisahmu aku tidak bisa menolongmu. Semua orang disini menyebutmu, maaf gila. Tetapi aku tengah mempertimbangkannya setelah pembicaraan singkat kita sampai saat ini. Sepertinya kamu tidak segila seperti yang disebut-sebut pak Dahlan. Maaf aku tidak bermaksud menghinamu ini murni pertanyaan dari dalam hatiku,Apakah kamu gila?”dengan hati-hati aku mencoba mengupasnya lebih dalam.

“kalau aku bilang bahwa aku tidak gila apakah koko akan percaya?”Dengan hati-hati dia mencoba bertanya kepadaku.

“Tergantung,….Ceritakanlah semuanya. Aku punya banyak waktu untuk mendengarkanya dan jangan khawatir aku sudah pernah mendengar hal-hal aneh. Memang adakalanya ada fenomena-fenomena yang tidak bisa dibuktikan tetapi nyata ada,sehingga bagi yang menceritakannya pun bisa dianggap gila.”Nafasnya terdengar berat matanya kini kosong seakan menerawang ke suatu tempat yang nun jauh disana.

“Namaku Susan, aku sebelumnya bekerja disebuah bank swasta ternama di bilangan jakarta barat. Aku masih ingat hari itu rabu 13 Mei 1998 pagi itu sebenarnya aku tidak mau berangkat bekerja.

Aksi kekerasan yang menewaskan mahasiswa kemarin semakin menambah panas kota Jakarta Tetapi ibu Hilda selaku kepala cabang bank kami sudah memberi ultimatum kepada kami semua agar tetap masuk kerja.

Bank kantor cabang kami mengalami selisih uang akibat di rush secara besar-besaran pekan kemarin jadi tugas kami selaku teller harus berkoordinasi dengan tim audit dan accounting untuk melacak aliran dana.

Pagi itu hari cerah. Sama sekali tidak terpikir olehku akan menjadi lembaran paling kelam dalam hidupku. Jalanan lenggang entah kenapa banyak orang-orang bergerombol disepanjang jalanan hanya sesekali kendaraan yang melintas jalan ini yang biasanya macet luar biasa.

Aku masih mencemaskan ayahku yang habis terkena serangan stroke ringan. Terus terang aku tidak begitu mempercayai adikku yang masih suka bermain-main dengan kawannya untuk menjaga papaku sendiri.

Aku berulang kali mengingatkan adikku agar jangan lupa memberikan obat kepada papa, keadaan papa kini cukup menyedihkan semenjak kematian mama 3 bulan yang lalu papa begitu terpukul dan merasa sangat bersalah atas kematian mamaku.

Papa menganggap dirinya yang paling bertanggung jawab atas kematian mama akibat kecanduannya bermain judi yang telah menghabiskan harta keluarga.

Semua anggota keluarga yang lain sangat membenci papaku yang kecanduan judi sehingga setelah kematian mamaku kami nyaris putus hubungan dengan family yang lain.

Dulu keluarga kami hidup berkecukupan aku bahkan bisa bersekolah sampai perguruan tinggi. Semua menjadi bencana sejak papa mulai ketagihan bermain judi 5 tahun terakhir ini.

Semua usaha yang telah puluhan tahun dirintis mamaku habis dalam sekejap Mama tidak bisa menerima kenyataan bahwa kini kami telah jatuh miskin akibat beban pikiran yang terus menumpuk akhirnya mama sakit keras dan meninggal.

Meskipun papa punya kebiasaan buruk berjudi tetapi sebenarnya dia sangat sayang kepada keluarga tiap kali mendapat kemenangan dalam berjudi dia tidak segan-2x menghamburkan uangnya untuk menyenangkan keluarga.

Hingga ajal menjemput mama, papaku menjadi shock dan kini terkena stroke ringan. Kini dia bicaranya pelo tapi untung masih bisa berjalan.

Menurut kepercayaan, jika sedang mengalami sial bisa akan beruntun sampai 7 kali baru selesai.Tetapi sebagai orang yang taat beribadah aku tidak lagi percaya akan cerita takhayul orang tua seperti itu lagi.

Kini kami sekeluarga telah pindah rumah dari rumah kami yang megah di daerah jakarta utara ke rumah kecil sederhana didalam gang di suatu wilayah di bilangan jakarta barat.

“Suit…..suit….,hey cici mau kemana pagi-pagi begini?Aku bener-bener kesal dengan mereka, segerombolan pemuda pengangguran yang biasa nongkrong dimulut gang rumah kami.

Seloroh-seloroh mesum yang tidak senonoh sering mereka ucapkan saat menggodaku. Kadang aku menangis sendiri menyesali nasib keluarga kami yang buruk tapi mau bagaimana lagi sudah begini keadaannya.

Aku cuma bisa diam tidak melayani mereka bagaimanapun juga aku takut sesuatu akan terjadi jika aku mendamprat segala kekurang ajaran mereka.

“Sial kenapa mobil angkutan kota tidak muncul-muncul?” dalam hati aku mengumpat karena harus lebih lama berdiri mendengarkan gurauan-gurauan jorok pemuda pengangguran tersebut.

Keadaan jalan tidak memungkinkan aku untuk mencari tempat yang agak jauh dari tempat mereka berkumpul.Dari rumahku ke tempatku bekerja sebenarnya tidak terlalu jauh tetapi untuk berjalan kaki menuju kesana tentu akan melelahkan.

“Hai..san ikut yuk.”Aku bersyukur ketika rekan kerjaku Merry kebetulan lewat dengan mobilnya. Tanpa banyak bicara lagi aku segera ikut dengannya.

Sepanjang perjalanan kami asyik membicarakan pekerjaan kami sesekali aku memperhatikan jalanan ketika massa yang berkumpul disepanjang jalan nampaknya mulai bertambah banyak sayang kami tidak terlalu mengacuhkanya ketakutanku akan kehilangan pekerjaan memaksaku untuk tetap masuk kerja hari ini.

“Anak-anak, langsung saja kita ke lantai atas untuk meeting. Hari ini Bank diliburkan mengingat keadaan yang tidak memungkinkan,ini bagus juga sehingga kita akan konsen melacak aliran kas uang pada kantor kita ini.”Ibu Hilda ternyata sudah lebih dulu tiba.

Hanya kami ber lima yang hadir semuanya wanita saat itu kantor bank hanya di jaga Pak Harjo, pensiunan polisi yang kini bertugas menjadi petugas keamanan di bank tempat kami bekerja.

“Gubrak…..brank….Prank..!!”Suara Gaduh dilantai bawah membuyarkan keasyikan kami berdiskusi ditambah lagi dengan tergopoh-gopoh pak Harjo lari menghambur ke ruangan tempat kami meeting.

Ibu Hilda….kalian sebaiknya cepat lari…sembunyi..”Kulihat muka pak Harjo pucat wajahnya seputih kertas dengan nafas memburu tak beraturan.

“Ada apa pak Harjo?”kami semua ikut panik melihat keadaan pak Harjo yang seperti ini.

“Cepat Kalian lari sembunyi massa sudah berhasil masuk kedalam kini mereka sedang menjarah uang yang tersimpan di brankas lantai dasar.”Pak Harjo terengah-engah berusaha berbicara dengan jelas.Sementara itu dari balik jendela dari ruangan kami rapat di lantai 3 nampak asap hitam sudah mengepul di berbagai penjuru ruko tempat kantor bank kami berada.

Kami semua kebingungan mau bersembunyi dimana lagi ruangan ini adalah ruangan meeting cuma ada meja lebar dan beberapa kursi tidak ada suatu bendapun yang bisa kami jadikan tempat bersembunyi.

“Braak…”Ketika akhirnya pintu ruangan berhasil didobrak masa.Puluhan orang yang bertampang bringas berlarian menghambur masuk.

“Hai…kalian Cina-cina rasakan pembalasan kami hari ini kalian sudah menyengsarakan negeri ini. Kini kalian harus membayar beserta bunga-bunganya”Kaki kami semua langsung lemas tak berdaya salah seorang dari mereka menatap beringas kepada kami.

“Sabar pak..saya minta kalian semua pergi dari tempat ini.Saya ini mantan aparat. Teman saya masih banyak yang berdinas aktif dikantor”Pak Harjo mencoba bersikap tegar menghalau mereka.

“Heeh tua bangka sudah bosan hidup ya sok jago mau melindungi cina temen-2x hajar dia..hari ini jakarta tidak ada aparat tidak ada hukum jangan takut kini saatnya kita berpesta.”dalam sekejap beberapa orang yang sudah beringas sejak tadi langsung mengeroyok pak Harjo suara erangan dan teriak kesakitan terdengar dari mulut tua pak Harjo

Meskipun dalam keadaan babak belur, akhirnya pak Harjo Bisa meloloskan diri dan segera lari terbirit-birit meninggalkan kami.

Beberapa orang yang tadi memukulinya sempat akan mengejar tetapi dicegah oleh kawan-kawannya.”Sudahlah biarkan saja dia masih saudara kita juga. Lebih baik kita kerjain saja ini amoy-amoy cina.

Puluhan pasang mata yang bersinar kejam memelototi kearah kami.Sehingga kami semua langsung gemetar mendengar ancaman gerombolan barbar ini.

Kami terpojok disudut ruangan tanpa bisa bergerak lagi ketika mereka semakin mendekat.”Buka baju kalian sekarang cepat”Suara parau mereka terdengar sangat mengerikan.

“Ampun pak jangan perkosa kami saya tahu kunci brankas penyimpanan uang bapak bisa ambil semaunya tetapi tolong lepaskan kami.”Bu Hilda berusaha bernegosiasi dengan salah seorang dari mereka.

“Banyak bacot lu cina dengerin ye..ente copotin baju ente sekarang, juga sampe ke dalemanya dan baru ente antar kami ke brankas itu cepet lakukan!”Suara salah seorang perusuh itu langsung menciutkan nyali kami semuanya.

“Ampun bang jangan bang…tolong..!”Tubuh ceking bu Hilda langsung tersungkur tak kuasa menerima gamparan tangan kekar si perusuh itu.Nampak darah segar langsung mengucur deras dari sudut bibirnya.

“Dengerin anak-anak kita kasih satu kesempatan lagi kalau tidak mau menurut,lemparkan mereka semua ke bawah biar mampuss semua!!Sinar kebencian nampak membara dikilatan matanya. Entah setan apa yang menghinggapi massa perusuh ini sehingga begitu brutal.

Dengan berat hati kami berlima akhirnya menuruti kemauan mereka badan kami mulai menggigil kedinginan ketika hanya menyisakan kutang dan celana dalam yang masih melekat di badan kami.Tak pernah terbayangkan oleh kami semua jika harus melepaskan seluruh busana kami dihadapan pria-pria kasar ini.

“Heh budek semuanya, ya daleman juga kudu dicopot ngarti kaga lu!! Jon Angkat cina tua ceking yang bawel ini lemparkan dia keluar dari jendela!!Tubuh bu hilda yang sudah lemas langsung diangkat beramai-ramai oleh mereka hendak dilempar keluar darijendela ruangan kami yang berada dilantai 3.

“Ampun bang….jangan!” buru-buru kami melepaskan sisa penutup terakhir pakaian yang masih melekat ditubuh kami. Kini kami berlima telah telanjang bulat dihadapan mereka. Aku mulai menangis belum pernah aku dipermalukan sedemikian rupa seperti saat ini dihadapan pria kasar seperti mereka. Bahkan dengan kekasihku sekalipun belum pernah aku berbuat asusila diluar batas kewajaran

“Heeh budeg lu ya?!…ente lepasin celana dalamnya atau ente mau mampus ya?!!”seorang pria bertato yang nampaknya pemimpin gerombolan itu matanya mendelik marah memandangku sambil mengumpat-umpat kasar.

“Sudah bang…sudah aku lepasin…semuanya”Aku sungguh ketakutan ketika matanya seakan-akan hendak menelanku bulat- bulat.

“Halaah….banyak bacot lu heh jono lempar keluar cina yang satu ini.

“ha…ha…Sabar boss mata ente jereng ya boss? ini jembut boss bukan cangcut. Cewek ini jembutnya naudzubilah lebat amir…”Aku terkejut ketika secara tiba-tiba si Jono ini mengobel dan menjambak secara kasar bulu-bulu kemaluanku.Tangan-tangan kokohnya dengan kasar meremas-remas payudaraku.

Aku samasekali tak kuasa untuk mencegah perbuatannya yang melecehkanku dihadapan kawan-kawannya. Semua gerombolan massa perusuh itu tertawa terbahak-bahak menyaksikan perbuatan Jono terhadapku.

Seorang dari mereka mengumpulkan baju-baju kami yang berceceran dilantai dan mulai membakarnya kami berlima digiring turun ke lantai bawah tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuh kami.

Sementara itu Bu Hilda dipaksa mereka untuk membuka brankas penyimpanan uang.Mereka begitu berang ketika mendapati uang yang tersimpan di brankas tidak sebanyak yang mereka bayangkan

Bank tempatku bekerja adalah kantor cabang pembantu. Dimana uang tunai yang terkumpul setiap sore akan dikirimkan kekantor pusat tetapi percuma memberi penjelasan seperti itu kepada mereka yang sudah kesetanan.

“Heh..lu berani menipu kami ya rasakan ini”Ibu Hilda langsung dihajar habis-habisan oleh mereka.

“Sekarang kalian semua naik kemeja ini hayoo cepat lalu jogedan(menari) yang hot..kalo ngga hot kalian akan langsung aku bunuh ngarti kaga!!”Dengan ragu kami naik ke meja tempat teller melayani nasabah,dan mulai mencoba bergoyang sebisa kami.Ibu Hilda yang sudah berdarah-darah berdiri terhuyung-huyung juga dipaksa ikut.

“He…lu yang udah kisut tokednya payah lu ngga pernah dientot ya?!! dari tampang lu gue yakin lo perawan tuwir!”Wajah bu Hilda langsung menjadi semakin merah harga dirinya hancur berkeping-keping dilecehkan seperti itu.

Mereka mulai bertepuk tangan menyoraki aksi kami. Siulan dan komentar-komentar cabul bersahut-sahutan.Mungkin karena sudah dihajar habis-habisan Ibu Hilda limbung dan terjatuh.

“Dasar perawan tua mampus aja lo…tapi gue cukup baik hati sebelum mampus,memek lo akan gue kasih enak dulu. Tapi sorry ye bukan pake kontol, lantaran kontol gue ngga bisa ngaceng..ngga nafsu liat tampang lo yang kaya nenek sihir.

Anak-anak angkat dia!!”lima orang meloncat maju mengangkat tubuh bu Hilda yang sudah tak berdaya salah seorang dari mereka segera mengangkangkan paha bu Hilda dan menghadapkannya pada pria beratato yang mungkin pemimpin gerombolan massa itu dan dengan kasar pria itu segera merabai kemaluan bu Hilda dan mulai mengocok-ngocoknya.

Bu Hilda nampak merintih-rintih dia mengigit bibirnya sendiri berusaha mati-matian untuk tidak terangsang tetapi sekuat apapun usahanya reaksi alami tubuhnya tidak bisa memungkirinya.

Secara otomatis pinggulnya ikut bergerak sendiri mengikuti irama jari-jari pemerkosanya yang tengah asyik memainkan klistorisnya.

“Hehh..gimana keenakan ya ?!”Gelak tawa riuh rendah pun bergema seakan memecahkan ruangan ini tanpa begitu lama,setelah bu Hilda selesai mereka kerjai,beramai-ramai mereka langsung melemparkan tubuh bugil bu Hilda keluar dari jendela lantai 2.

Kami semua menjerit histeris menyaksikan kejadian brutal tersebut serempak kami semakin kencang bergoyang.

“Apa-apaan nih..?Jogedan kalian ngga nafsuin sama sekali heeh..comot yang amoy gemuk itu mampusin aja dia.”kembali mereka akan mengeksekusi. Kali ini Merry menjadi korban tubuh gempalnya gemetaran. Tanpa sadar merry sampai terkencing-kencing.

“Dasar makin mirip babi aja lo..hayo maju kemari… sambil merangkak!! babi ngga bisa jalan pake 2 kaki Gue belum pernah ngentoot sama cina gemuk. Hari ini gue mau coba rasain!”Tanpa malu-malu lagi pria bertato itu melepakan celananya. Teman-temannya bersorak-sorai ramai menyemangatinya.

Batang Kemaluannya yang hitam legam segera mencuat nampak begitu besar dengan bulu-bulu kemaluan yang juga hitam keriting menghiasi pangkal kemaluannya.

Meskipun belum terlalu tegang,Kemaluan pria itu nampak bergoyang-goyang mencoba ereksi.Pantat Merry mulai diremas-remasnya. Sejenak kemudian dia meludah berulang kali tepat di belahan bongkahan pantat itu dan langsung menancapkan kemaluannya yang sudah separuh tegang.

“Lo harus bersyukur sebelum mampus lo sudah ngerasain kontol gue. Coba kalo gue ngga baik hati lo bakal mati penasaran jadi perawan tuwir kaya senior lo yang sudah mampus tadi.”Merry menangis meraung-raung tanpa dihiraukan sama sekali oleh mereka ketika akhirnya lelehan sperma bercampur darah keperawanannya nampak menetes-netes dari selangkangannya.

“Dasar cina. Cepet banget beceknya…perut gue jadi mules setelah ngentotin lo..”Sumpah serapah meluncur deras dari mulut kotor pria bertato tersebut

“Kadir…Jono…kalian pegangin die gue mau boker dan babi ini harus makan taik gue”Mereka berdua langsung menghambur ke arah merry tapi kali ini merry melawan sehingga mereka berdua kesulitan menjinakan merry sebelum akhirnya merry tergeletak pingsan setelah kepalanya dihajar tiang besi pembatas antrean.

Pria bertato itu langsung berjongkok diwajah merry tak begitu lama setelah mengejan kotorannya berceceran berhamburan diwajah merry segera tercium aroma tidak sedap bau kotoran manusia.

“Busyeet boss lo makan apaan anjriit bau banget taik loo..”para anak buahnya protes begitu bau menyengat menjejali hidung mereka.

“Begoo yang namanya taik dimane-mane ya bau tolol.”lalu dia menggunakan rambut merry untuk membersihkan pantatnya yang masih belepotan kotorannya.

Setelah itu ia memerintahkan anak buahnya mengangkat tubuh merry yang sudah pingsan dan melemparkannya keluar jendela seperti yang mereka lakukan kepada bu Hilda.

Kini Tinggal kami bertiga saja Tubuh sintal A ching diseret oleh gerombolan itu dan segera diperkosa beramai-ramai dia masih berusaha gigih mencoba melawan untuk mempertahankan kehormatannya.

Mungkin karena kesal, salah seorang pemerkosa itu tiba-2x memukul perut A ching tepat di ulu hati A ching langsung sesak napas..

”kalau lo nggak berhenti berontak saya bisa lebih keras..!. Sekarang mau menikmati apa menderita”Katanya, tapi A ching tidak bisa menjawab A ching sesak napas matanya berkunang-2x Aching mulai menangis tubuhnya lemas.

”Bagus.” Katanya dan dia pun mulai kembali mengulum dan mempermainkan pentilnya.”Heh lo pentilnya gede juga ya” lalu setelah dirasa A ching tidak banyak berontak dia mulai turun dan mempermainkan Kemaluannya.

Pertama di bukanya lebar-2x lalu diselipkanya lidahnya diantara liang vagina lalu seperti lidah ular, lidahnya bergetar cepat menjilat-2x itil Aching.

Saat itu benar-2x sensasi yang aneh. Belum pernah Aching merasakan itu sebelumnya. Bahkan Andy pacarnya sekalipun belum pernah berbuat amoral kepada dirinya seperti itu. Rasanya sulit dilukiskan

Auuggghhhh…ohhhhhh Aching mulai melenguh keenakan dan tampaknya para pemerkosanya tahu dan tanpa disadarinya, dari tadi para pemerkosanya tersenyum-senyum kurang ajar kegelian.

Seolah tersadar, Aching kembali berontak. Ada rasa malu di dalam dirinya, kenapa bisa-2xnya terangsang di oral pria yang bukan kekasihnya dan disaksikan serta dilecehkan pula oleh gerombolan massa yang beringas.

Aching kembali meronta. Tapi tiba-2x “Tarrrrrr…!!” Pria botak yang mengerjainya menampar keras di pipi Aching hingga terasa seolah-2x ada bekas telapak tangan dipipinya. Kemudian dia menjepit puting Aching, memelintir kemudian ditariknya keras-keras sehingga sedikit membengkok kebawah.

Aching rasanya benar-2x sangat kesakitan hingga hampir tak tertahankan dan cukup manjur kembali menghentikan perlawanannya.

“Terus ngelawan pentil kamu copot” katanya, kudengar pria botak itu tertawa terkekeh-2x terdengar suaranya menyeramkan sambil terus mengoyangkan pinggulnya.

”Sekarang mau anteng nggak?!!” mendengar itu Aching langsung terdiam tapi ternyata dia tidak puas “mau anteng tidaaaakkk” teriaknya sambil memelintir dan menarik putingnya keras keras. Dari Raut wajah Aching, tergambar rasa sakit yang luar biasa. Aching pun terpaksa menganggukkan kepalanya.

Pria botak itu mulai kembali memainkan itil Aching dengan jarinya sementara mulutnya mengenyot kedua puting susu Aching bergantian.

“Ehhhhhhh aghhhhhhh bang jangaaannnnnnnn kata Aching setengah meracau kenikmatan.

Kulihat Pria botak itu tahu Aching terangsang hebat sedang rekan-rekannya kembali terkekeh sambil terus menonton adegan cabul itu.

Akhirnya dengan rasa yang sangat malu,”Oeuuuuuhhhhhh abang sayaaaaaaaaaa hehhh keluarrrr..” Tanpa sadar kata-2x itu terucap dari mulut Aching memalukan. Tapi itu kenyataaan, bahkan setelah pingsan tak kuasa menyaksikan segala kengerian yang telah terjadi,tubuh polosnya yang sudah tiada daya masih terguncang-guncang hebat tanpa ampun masih dilumat gerombolan massa beringas yang mirip binatang buas.

Dengan bengis mereka menggantung tubuh bugil yang sudah tak berdaya itu. Puluhan kemaluan pria laksana tombak tumpul bergantian menjejali liang kemaluannya.

Sedangkan Yenni yang juga rekan sekantorku semakin menjerit-jerit histeris menyaksikan perkosaan brutal temanya.

Mereka pun tertawa-2x. Kulihat pria gondrong yang tadi membantu sibotak memperkosa Aching membuka celana dan bajunya, dan astaga penisnya besar sekali rasa-2xnya hampir sepanjang 20 cm dan diameternya itu jauh dari milik pria botak rekannya.

Yang menakutkan adalah urat-2xnya yang terlihat menonjol. Penis besarnya mengacung keatas benar-2x pemandangan yang luar biasa menakjubkan tanpa sadar mata Yenni terus memandang kesitu

”Hehehe suka ya. Sini duduk jangan ngeliat dari jauh terus” Katanya sambil menarik paksa Yenni duduk dan menyodorkan penisnya kemulutnya.

“Ayo dikenyot awas kegigit saya hajar kamu” Yenni begitu ketakutan belum pernah sekalipun dia telanjang bulat didepan pria apalagi yang minta di oral seperti ini .

Walaupun dulu Yenni dan saya sering melihat di film porno, tapi tidak menyangka harus melakukannya sendiri, terhadap pria yang bukan suami sendiri lagi.

Melihat Yenni ragu-2x pria gondrong dekil itu tiba-2x menjambak rambut Yenni dan memaksa memasukan penis besarnya kemulutnya, sehingga Yennipun terpaksa mengulumnya.

Suatu gairah aneh muncul didalam diri Yenni saya bisa merasakannya dari gerak tubuh Yenni ketika melakukannya.Sementara botak dan rekan-rekannya yang lain tetap menyaksikan dengan serius adegan itu.

Seolah-2x Yenni merasa diberi semangat oleh suporter,sehingga Yenni benar-2x mengulum dan menghisap penis itu sekuat kemampuannya dengan HOT.

“Eahhhhh terus bangsat terus pelacurrrrr” Mendengar kata terakhir, Yenni terkejut dan hampir berhenti. Tapi si gondrong kembali menjambak rambut Yenni kuat-2x dan menekan penisnya jauh ke dalam mulutnya. Hingga akhirnya Yenni terpaksa meneruskan dan tidak berapa lama tiba-2x tubuhnya mengejang dan kepala Yenni ditariknya kuat-2x, sehingga penis itu masuk lebih dalam dan dia memuntahkan maninya didalam mulut Yenni.

Rasa mual membayangkannya menyebabkan Yenni hampir memuntahkannya. Tapi seolah-2x si gondrong mengetahui niat Yenni.”berani muntahin saya hajar kamu.”

“Sekarang kumur-2x dulu lalu telan.cepat!!” Yenni dengan sedikit mual akhirnya mengumur-2x mani itu di mulutnya. Si Gondrong menyuruh botak mendekatkan wajahnya untuk mengawasi Yenni

”Tahan dulu jangan di telan coba buka mulut kamu saya mau liat” katanya Yenni melakukannya dan air mani itu mengalir sedikit keluar dari mulutnya.

”Cepat kumur-2x lagi.” Yenni pun mengumur-2x dan ”Oke cukup sekarang telan”Sekali lagi gairah aneh muncul apalagi sambil si botak mengawasinya dari jarak sangat dekat.

Kemudian si gondrong dekil ini, menyuruh Yenni berbalik dalam posisi merangkak. Tiba-2x dia memasukan penis besarnya kedalam kemaluan Yenni.

Yenni begitu terkejut dengan sensasinya. Penis itu begitu padat dan keras. Terasa sangat penuh

“Eh benar-2x serasa dilangit”. Dia mulai mengoyangkan pantatnya dengan cepat sehingga Yenni ikut bergoyang-2x tapi tanpa sadar, sebenarnya Yenni telah menyambut dengan antusias setiap sodokannya.

Ini terbukti beberapa kali si Gondrong sengaja berhenti bergoyang dan Yenni terlambat berhenti bergoyang sehinga setiap ini terjadi, gerombolan massa yang mengerumuninya tertawa keras.

”Sudah mulai menikmati ya.hahahah dasar pelacur murahan” Awalnya Yenni benar-2x merasa terpukul mendengar itu. Tetapi Yenni kembali dilingkupi perasaan aneh Yenni jadi lebih kencang bergoyang menyongsong kenikmatan.

Dan tanpa terasa si Gondrong sudah berdiam berhenti bergoyang, hanya Yenni yang bergoyang maju mundur penuh gairah.(memalukan).

Mereka tertawa-2x si Botak kembali mendekatkan wajahnya kewajah Yenni yang saya tahu pasti sedang terlihat sangat horny, terlihat dari reaksi Si botak yang tertawa-tawa cekikikan menyaksikan korbannya.

Tiba-2x si Gondrong menahan gerakan pinggulnya. Yenni seolah kesetanan masih berusaha bergoyang.

”Sabaarrr tahan dulu lonteee saya mau pakai cara lain aja” Lalu dia mencabut penisnya.

“Plok..!!” Suaranya terdengar keras karena vagina Yenni sudah basah oleh cairan vaginanya sendiri. Dengan napas tersengal-2x Yenni memperhatikan si gondrong bangkit dan kemudian duduk dengan santainya di sofa tempat duduk nasabah.

“Kesini…!!” dia memanggil Yenni sambil memberi isyarat agar Yenni menghampirinya dalam kadaan merangkak

Setelah dekat, dengan telunjuknya dia memberi isyarat kepada Yenni untuk berputar dan kemudian mengarahkan pantat Yenni yang sedikit menungging kearah penisnya dan “sleppp” Kembali penisnya masuk ke vagina Yenni.

Badan Yenni bergetar hebat ketika kepala kemaluan pria yang seperti jamur itu menghunjam dengan cepat ke dalam vaginanya. “Eughhhh…”. Yenni melenguh hampir-2x Yenni histeris karena menahan nikmatnya.

Setelah itu, sambil dengan santainya dia duduk. ”Sekarang goyangkan pinggul mu kaya tadi lonte…!!” Katanya sambil menampar keras-2x pantat Yenni.

Yenni demikian terkejut. Tapi tanpa disuruh dua kali dia segera bergoyang maju mundur. Sedangkan si Gondrong dekil ini, masih tetap duduk dengan santainya sambil terus berulang-2x menampar pantat Yenni

“Cetarrrr..cetar..!! Botak gue gemes banget sama ini pantat putih banget. Kalah pantat burik lonte langganan kita” Yang diajak bicara tetap diam sambil tetap serius menyaksikan si gondrong menyetubuhi korbannya

“Aughhhhhhh Bang jangaaaaan siiiiiigghhhhksaaaa sayaaaa” Yenni merasa tersiksa karena rangsangan yang hebat dan gairah aneh yang mengebu-2x sedang si Gondrong dengan santainya duduk membiarkan Yenni yang bekerja maju mundur menggoyangkan pantatnya sendiri.

”Hahahahaha, terus pelacurrrr” “dasar cewe gatellll ayooo kalo mau klimaks harus kamu sendiri yang raih .Ughhtttttttt uenaaaakkk dasar lonteeee” enaak setan” Yenni pun makin cepat memacu gerakannya sampai tiba-2x Yenni merasa tubuhnya bergetar hebat.

Belum pernah Yenni merasakan ini meskipun yenni sudah beberapa kali bercerita kepadaku tentang enaknya bermasturbasi.

Dan”Aughhhhhh Bang saya keluaaaarrrrrr” Yenni pun jatuh tersungkur dengan pantat menungging sementara penis Si gondrong masih menancap di dalam.

”Kurang ajar siapa yang suruh klimaks duluaaan..!!”kemudian dia membalik tubuh bugil Yenni hingga terlentang lalu kedua kaki Yenni diangkat keatas hingga lututnya menyentuh payudara, sehingga kemaluannya yang juga berbulu lebat terpampang lebar-2x

Yenni sudah tergolek lemas karena klimaks. Si Gondrong kemudian menancapkan kembali penisnya di vagina Yenni.

”Uuuggghhhhhhh Bang..” Sekali lagi rasa nikmat luar biasa menjalar ditubuh Yenni, membuatnya seperti mengambang di langit.

Saat itu wajahnya begitu horny sebab si Botak kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Yenni untuk menyaksikan dari jarak yang sangat dekat ekspresi keenakan korbannya.

Pinggul Yenni kembali terangkat tersentak-2x oleh goyangan si Gondrong. Beberapa menit kemudian.”Bang aku keluaaarrrrrrr” Dan sekali lagi ribuan volt listrik seolah menjalar memberikan nikmat tiada tara.

Melihat wajah Yenni, tampaknya si Gondrong juga tidak tahan. Wajahnya tiba-2x menegang kemudian dengan cepat dia mencabut penisnya dan kemudian tiba-2x “Crot..crot..crottt” Dia menembakannya ke wajah dan tubuh Yenni semua spermanya.

“Ahhhhh..” Suatu sensasi aneh yang luar biasa “kamu bener-2x enak” Katanya sambil meraih tubuh Yenni. Memangku dirinya seperti memangku anak kecil.

Dengan tubuh bugil Yenni yang miring menghadap kesamping. Tangan kirinya melingkar kepinggang Yenni. Sedangkan tangan kanannya mengelus-2x pipinya. Kemudian si Gondrong memaksa tangan kanan Yenni melingkar memeluk lehernya yang besar.

Yenni hanya tertunduk lemas. Matanya terlihat kosong sementara mulutnya mengoceh tidak karuan.Tubuh telanjangnyanya kini berdiri tegak mematung.

Kulit putih mulusnya kini penuh dengan bekas-bekas kemerahan bekas cupangan dari mulut-mulut jahanam tersebut.

Payudaranya yang berukuran sedang kini sudah tenggelam dibalik 2 kepala yang sedang asyik menghisap-hisap kedua belah payudaranya menggantikan posisi si gondrong yang sudah kelelahan.

Setiap inci bagian tubuhnya kembali sudah habis dilumat oleh lidah-lidah liar yang kasar.

“Aku akan membiarkan salah satu dari kalian hidup asal bisa menyenangkan hatiku.”Kini tinggal aku seorang yang belum mereka kerjai. Kembali pemimpin gerombolan itu mengancam akan membunuh kami jika tidak memenuhi keinginanya.

Saat itu sebenarnya aku ingin mati saja rasanya. Tetapi pikiranku kembali melayang kepada papaku jika aku mati siapa yang akan mengurusnya? meskipun adik perempuanku sudah SMP tetapi sifatnya masih sangat kekanak-kanakan.

Lagipula aku begitu takut mati pikiranku melayang kembali ketika menyaksikan mamaku meninggal wajahnya nampak sangat menderita kesakitan sebelum ajal menjemputnya.

Sedangkan aku begitu takut akan rasa sakit sampai jarum suntikpun aku tak berani melihatnya ketika dokter mengobati aku ketika aku sakit.Maka aku bertekad untukterus hidup otakku berpikir keras bagaimana bisa selamat.

Aku teringat dulu aku pernah nonton video blue milik temanku di kamar kostnya.saat itu kami bertiga, cewek semuanya.

Kami cekikikan menyaksikan aksi artis porno tersebut dimana ada adegan artis ceweknya sedang menari erotis mencoba merangsang pasangannya sebelum akhirnya cewek tersebut digauli oleh dua pria lawan mainnya.

Sang artis nampak sangat keenakan dan puas luar biasa digilir oleh 2 pria yang punya kemaluan besar.

“Heh lonte…Sekarang giliran lo kalo service lo lebih Hot dari dua rekan lo tadi lo selamat!!.” Kembali Sibotak membentak ku.

”Nih Kulum” katanya sambil menyodori penisnya, Akupun langsung menyambut dengan mulut terbuka.

”Kayanya musti kamu emut-2x dulu deh ha..ha..ha” Aku pun kembali mengoral penis Botak. tapi tiba-2x Aku lihat Si Gondrong yang dari tadi asyik mengamati kami,tiba-2x mendekat ditangannya membawa sesuatu

Aku kaget melihatnya dia membawa Binder penjepit file terbuat besi berwarna hitam… dan tanpa banyak ba bi bu,dia langsung menjepit puting susuku.

Aku yang sedang meng oral Botak kontan membeliak “Aughhhhh sakittttt…” belum berhenti aku melenguh tiba-2x sebuah lagi dijepitkan ke putingku yang satunya.”

“Wauuuuuggghhhh suakittttt…eghht” Aku baru mau mengerakan tangan saya untuk meraih penjepit tadi tapi tangan ku langsung ditangkap dan dipegang dengan erat oleh si Gondrong kemudian dengan sigap dia mengikat tanganku.

Pergelangan tanganku diikat dengan pangkal siku kiri sedang pergelangan kiri dengan pangkal siku kanan.

Penis yang tadi saya oral sudah terlepas. Tapi ku lihat si Botak tidak memaksakan untuk mengulum lagi.

Dia beringsut kemudian mengambil kemaluannya sendiri yang masih layu dan mengocok-ngocoknya sebentar.

Saat ini aku duduk dengan lutut dengan posisi tangan terlipat ke belakang. Seorang pria dengan bekas luka codet diwajahnya maju menggantikan posisi botak mengerjaiku.

Dia menciumi pipiku, lalu mengemut daun telingaku sambil tangannya mengelus-2x bongkahan pantatku.

Diperlakukan seperti itu Aku hanya bisa merasa merinding. si Codet wajahnya terlihat dingin dan pendiam.

Hanya seringai senyum jeleknya yang menampakan giginya yang sebagian besar telah ompong. Dia menatap lekat-lekat ekspresi wajahku yang ketakutan bercampur rasa terangsang.

Tiba tiba”Aughttt sakit Bang” aku berteriak kencang sebab codet mengigit telingaku kemudian tiba-2x dia mendorongku kedepan sehingga aku jatuh dengan kepala kelantai.

Saat ini posisiku menungging dengan bagian depanku bertumpu pada pipi kananku dengan kakinya kemudian dia menendang-2x kakiku memberi isyarat agar aku melebarkan kaki. Karena posisiku itu sedikit sulit Aku lakukan sehingga Aku jadi sedikit lambat

Tampaknya dia tidak sabar dan langsung melepas ikat pinggang kulitnya dan “ctarrrrrr…!!”Langsung digunakan menyabet pantat putihku.

”Aghhhhhh sakittttt Bang..!!.”Aku berteriak. Sekilas Aku lihat wajah si Botak tersenyum riang menyaksikan rekannya menyiksaku. Tapi si Codet tetap dingin.

Dengan jarinya, kemudian dia menusuk-2x lubang kemaluanku dan mencubit-2x bibir kemaluanku.

Tiba-2x ″Augggghhhhhh Bang sakittttt” Aku hampir pingsan ketika si Codet kembali mengunakan binder besi penjepit file untuk menjepit bibir kemaluanku dikanan dan dikiri.

Kembali Aku terkejut ketika sebuah lagi dia jepitkan di itilku dan kali ini, karena itu bagian yang paling sensitif, sakitnya jadi sangat tidak tertahan akupun berteriak sekuatnyaaa”Auuuuuughhhhtttttttt Bang saskiiiiitsssss” mataku berkunang-2x dan mulai menangis hampir aku pingsan.

”Sudah Bang sakittttt. Aku sudah tidak kuaaat hepppp” Belum selesai Aku berteriak mulutku telah disumpalnya dan tampaknya disumpal dengan celana dalam bekas miliknya sendiri.

Kemudian dia mengitariku dan memencet hidungku. Dengan mulut tersumpal dan hidung saya di pencet sedemikian rupa, hampir-2x Aku pingsan karena tidak dapat bernapas.

Tapi kemudian dia melepas jepitan tangannya di hidungku,lalu membalikan tubuhku sehingga tubuhku terlentang dengan tangan terikat di punggung buah dadaku nampak mengacung keatas seperti dua bongkah gunung yang indah dengan penjepit jemuran dimasing-2x puncaknya warnanya tidak lagi merah tetapi mulai keunguan.

Kemudian si Codet mulai mengambil tali dan dengan sedemikian rupa mengikat kakiku masing-2x sehingga betis dan pahaku menyatu dan tidak bisa di luruskan dan dibelakang lutut kedua kakiku, diselipkan sebuah batang kayu bekas gagang sapu yang telah dipatahkan, yang diatur posisinya sehingga kakiku mengangkang lebar dan terlipat kebelakang rasanya sakitt luar biasa.

Kemudian dengan tiba-2x “Cletik…!!.” dia mencabut penjepit di buah dada sebelah kiri begitu tiba-2x sehingga menyakitkan. Setelah itu dengan cepat dipasangnya kembali seolah-2x sedang mengetes kekuatan penjepit itu. Dan itu dilakukan ke semua penjepit yang terpasang, sehingga aku merasa sangat kesakitan.

Setelah semua selesai dia tiba-2x bangkit dan seperti mencari-2x sesuatu dan kembali dengan sebuah tali pembatas antraen yang besar denngan ujungnya yang terbuat dari besi bulat. Tali tersebut kemudian digesek-2xannya ke lubang kemaluanku.

Ujung tali yang terbuat dari logam itu terasa dingin dan tanpa peringatan tiba-2x “Sleppp , Aughttttttt….” Ujung tali itu itu dimasukannya dengan paksa ke lobang kemaluanku.

Lalu dia mengalihkan pandangannya ke lobang yang lain,lobang anus ku. Segera aku menggeleng-2x tapi dia malah tersenyum penuh arti diambilnya ujung besi tali yang satunya lagi dan dengan paksa dia menekannya masuk.

Kemudian dia duduk memandangi diriku. Semua gerombolan massa yang menonton, tertawa terkekeh-kekeh menyaksikan dua lobang vital tubuhku dijejali oleh ujung-ujung besi tali besar pembatas antrean.

Kemudiann “Cetarrrrrr..!!” Tiba-2x si Codet kembali menyabet kan sabuknya ke tubuh ku yang putih sehingga membekas merah. Dia mulai meraba-2x tubuhku dan meciumiku sedemikan rupa,sehingga entah bagaimana gairah aneh tadi kembali terjadi.

Lalu dia mengocok-2x besi ujung tali yang ada di lobang kemaluanku tadi sehingga ”Eghhhhhh eghhhhh ” Hanya itu yang keluar dari mulut ku karena tersumpal celana dalam si Codet.

Tiba-2x tubuhku mengejang karena orgasme. Sungguh perasaan yang aneh telah mendera diriku. Dalam keadaan sakit dan lemas aku melihat si Codet sedang mengocok-2x penisnya sendiri didekat ku dan “Crot crot..” rupanya dia terangsang hebat melihat keadaan diriku.

Semua air maninya ditumpahkan ke wajah dan tubuh ku,setelah itu dia pun melepaskan semuanya penjepit dan ikatannya.

Aku hanya bisa terbaring lemah. Aku lihat kini semuanya tertawa puas melihat keadaanku yang tersiksa.

Si codet yang bertubuh gempal besar mengendong tubuh lemahku ke atas tempat tidur. Dia kembali mulai menciumi diriku,mencoba kembali memacu gairah diriku.Dia mulai memainkan itilku dengan lidahnya. Itilku masih terasa sakit akibat perlakuannya tadi.

“Ughhhhhh nihkkmaaaahhhttt bang euanaaakkkk…ueghhhhhh” aku mulai mengelepar-2x ketika lidah si Codet mulai menari nari di itil ku, sambil kedua tangannya sesekali memilin-milin puting ku.

Kemudian di sergapnya mulutku dengan ciuman yang dasyat lidahnya mempermainkan lidah ku memaksa lidahku terus menari-2x

“Huahhh enak sekaliiii..”Kemudian dia mulai melepas baju bagian atasnya yang masih belum ditanggalkannya. Terlihat penisnya yang besar kembali mengacung ke atas membuat hati ku bergetar.

”Lonte kamu suka ini…”sukaaa bang sukaa” Hampir diluar sadar aku meracau kata-2x yang sangat memalukan itu.

“Baik lo harus memohon panggil aku tuan!!”

“Tolong tuannnn. Saya sudah tidak tahan.”.

“Tolong apa…?! Yang jelas…!.”

“Tolong masukan batang tuan ke memek saya tuannnn tolonggg”.

”Baik gue akan menolong mu lonte”dan “Sleppp “eughhhhhh.”Si Codet memasukan penisnya ke vaginaku.

Kembali gairah aneh menguasai diriku. Seolah liang kemaluanku ku terasa sangat penuh dan padat dengan benda besar yang keras dan kenyal.

“Ohhhh..!! ”Dia pun mulai memompa dengan cepatnya sehingga aku merasa itil dan bibir kemaluanku ikut keluar masuk karena padatnya kemaluan si Codet.

Akibat gesekan kedua kelamin kami, menimbulkan sensasi luar biasa. Kembali aku melihat gerombolan tersebut bersorak sorai menyemangati rekannya

Setelah beberapa menit, aku sudah tidak tahan lagi hingga tubuh ku terguncang-2x hebat dan “ohhhhhh tuaaannnn saya keluarrrrrrrr” namun nampaknya si codet belum mencapai klimaks dia tiba-2x memangku tubuhku dan dalam keadaan sambil di pangku berhadapan dengannya mulutnya bermain di buah dadaku dan terus memompaku naik turun.

”Ahhhhhh tuaaaannnnnnn” saya benar sudah tidak tahaaaan..!!”Dan kembali aku mengalami klimaks namun si Codet masih belum juga orgasme. Dia kemudian membalik tubuhku dan. dia menemukan ujung besi tali yang masih menancap dipantatku.

Kemudian kembali dia menembus kemaluanku dari belakang sambil tangannya pelan-2x menarik besi ujung tali pembatas antrean keluar dari liang anus ku. Sehingga menyebabkanku segera mencapai klimaks berikutnya “eghhhhhhttttt ” saya lihat si Codet tersenyum penuh arti dibalik gigi-giginya yang sudah ompong.

Tidak lama kemudian tiba-2x dengan kasar si Codet mencabut penis besarnya dari vagina ku dan membalik diriku sehingga terlentang. Dan “Crot crot..crottt..” Mani menyembur ke tubuh dan wajah ku.

Lalu dia memaksa diriku membersihkan penis miliknya dengan menggunakan mulut ku. Kepalaku terasa berdenyut-denyut pandangan nanarku masih bisa melihat sekelilingku.

Rupanya kini aku telah menjadi pusat perhatian gerombolan massa perusuh ini. Aku terduduk mengangkang diatas meja teller.

Kemaluanku yang berbulu lebat terumbar kemana-mana menjadi santapan empuk mata-mata liar yang cabul.

Aku memandang sekeliling ruangan. Kulihat tubuh Aching dan Yenni sudah tergeletak tak bergerak lagi. Tubuh bugil mereka nampak mengkilap dipenuhi lendir-lendir sperma.

“Kawan-kawan, akhirnya pemenangnya telah muncul, amoy cantik ini rupanya hoby ngentot atau nonton bokep.”Sekarang lo ikut kami turun. Yang lainnya bakar tempat ini jangan sampai tersisa.Dan mulai sekarang lo ini anjing betina ngarti dan seekor anjing berjalan dengan empat kaki hayo sekarang bertingkahlah seperti anjing cepat!!. Sebentar, rasanya masih ada yang kurang..hmm….”Mereka kemudian mengambil tali pembatas antrean nasabah yang tergantung di tiang pembatasnya tali besar berdiameter +/- 4Cm itu secara paksa kembali dijejalkan ke dalam anusku.

Sementara yang lainnya mengikat kan sebuah rantai bekas pengunci gerbang kantor keleherku.”Nah sekarang baru sempurna seekor anjing betina berekor panjang yang sudah ada rantai penjinaknya.”Gerombolan massa itu terkekeh-kekeh kegirangan melihat keadaanku. Kini mereka begitu menikmati permainan mereka yang menjadikanku obyek sex mereka.

“Hayo sekarang ikut kami turun atau lo akan terbakar disini bersama temen-temen lo itu!!”Aku tak berdaya mataku menatap kedua tubuh telanjang temanku yang sudah tidak bergerak lagi.

Asap hitam mengepul tebal mulai memenuhi ruangan mereka menggiringku keluar dari bangunan yang mulai rata termakan si jago merah.Aku dengan terpaksa aku mengikuti mereka sambil merangkak.

Rupanya itu saja belum cukup. Mereka mencubiti puting susuku dan menamparI pantatku.

“Busyet nih tokednya bener-bener napsuin banget!!” Nampaknya mereka begitu gemas melihat payudaraku yang besar menggelantung bebas berayun kekanan dan kekiri.

Dengan tidak bosan-bosannya mereka asyik menarik-narik puting susuku dan meremasnya kuat-kuat dadaku sampai serasa pedih sekali rasanya.

Mereka memaksaku untuk benar-benar menirukan anjing atau mereka akan lebih kuat lagi untuk menyakitiku.

Dengan bercucuran air mata aku menuruti kemauan mereka aku mengonggong-gonggong sambil menjulur-julurkan lidahku.

“Nah begitu dong…sekarang lo udah beneran jadi anjing.Tiba-tiba Aku merasa lobang anusku panas seperti terbakar api, ketika salah seorang dari mereka menekan lebih dalam tali besar yang nyaris lepas dari lobang anusku sepertinya lobang anusku menjadi lecet akibat tergesek-gesek-tali besar yang kini menjadi ekorku.

Dari atas jembatan fly over aku menyaksikan kantorku telah rata terjilat si jago merah asap hitam nampak tebal bergulung-gulung hampir merata di komplek pertokoan itu.

Entah sekarang sudah jam berapa, yang aku ingat siang itu matahari bersinar terik massa yang beringas nampak semakin banyak menyemuti jalanan.

Mungkin jumlah mereka sekarang sudah mencapai ratusan orang entah dari mana saja mereka muncul.

Telapak tanganku dan dengkul kakiku terasa panas terpanggang panasnya aspal jalanan sementara itu peluhku bercucuran deras mengalir melewati leher dan menetes dari ujung putingku jatuh ketanah.

“Ha…ha…ha…heh…lihat-lihat kemari ada anjing betina putih yang lepas!!”Massa itu kegirangan melihat tubuhku yang telanjang bulat merangkak seperti anjing tepat ditengah jalanan pada siang hari bolong yang terik.

Massa itu nampak lebih liar daripada yang merangsek menjebol kantorku sumpah serapah dan makian-2x kotor berhamburan meluncur dari mulu-mulut mereka yang bau. Air mataku sampai kering rasanya.

Rasa malu luar biasa menghinggapi diriku ingin rasanya aku masuk kedalam tanah bersembunyi kedalam lapisan bumi yang paling dalam.Harga diriku sebagai wanita benar-benar sudah hancur berkeping-keping.

Massa yang bergerombol mengerumuniku makin lama makin banyak mereka memaksaku untuk kembali menari bugil tepat ditengah jalanan yang penuh dengan massa yang beringas.

Salah seorang dari mereka rupanya bahkan sudah tak dapat mengendalikan dirinya lagi.

Tanpa malu-malu lagi dia segera melucuti bajunya sendiri sampai telanjang bulat. Kembali suara riuh rekan-rekannya terdengar menyoraki aksi cabulnya.

Yang aku ingat meskipun kemaluannya tidak sebesar pria bertato yang tadi memperkosaku, tetapi pria ini mempunyai biji pelir yang luar biasa besar menggelantung. Bunyi kecipak biji pelirnya sedang beradu dengan pantatku cukup terdengar jelas olehku.

Sementara itu salah seorang dari mereka maju kedepan sekilas aku bisa melihatnya masih belum cukup dewasa.

Dia berjongkok tepat didepan selangkanganku entah apa yang dia lakukan pada kemaluanku, aku merasakan sesuatu yang lengket menempel dibibir kemaluanku yang sebelah kiri.Dan secara tiba-tiba aku merasakan pedih. Bulu-bulu kemaluanku tercerabut sebagian.

Rupanya dia menempelkan sejenis selotip yang entah dari mana dia dapatkan dan digunakan untuk memwaxing paksa rambut kemaluanku.

“Heh…kunyuk lo apain ini cewek?!! biarin aja gue suka cewek yang banyak jembutnya lebih nafsuin tau gue kepret lo kalo berani lagi.Pria yang sedang menyetubuhiku berteriak kesal kepada bocah itu.

Anak itu langsung lari terbirit-birit kembali bergabung dengan gerombolan yang asyik duduk bergerombol mengelilingi kami.

“hu….hu….hayo hajar beh..entott terus sampe mampuss tuh cewek.”Mereka tertawa terbahak-bahak melihat aksi bocah tadi. Selain itu nampaknya mereka begitu geli melihat kemaluanku yang kini nyaris botak sebelah terbukti dari mata-mata cabul mereka yang semuanya terarah keselangkanganku.

Kini tidak lagi aku rasakan nikmatnya bersetubuh, walaupun pada awal-awalnya aku merasa keenakan tapi semakin lama selangkanganku semakin perih entah sudah berapa puluh batang kemaluan pria yang silih berganti menyetubuhiku.

Aku juga sudah tidak ingat lagi sudah berapa gerombolan perusuh itu yang mencicipi tubuhku. Panas matahari yang terik semakin menyiksaku seluruh tulang-tulangku serasa remuk.

Hanya suara-suara bentakan,ancaman dan makian mereka, terdengar bertalu-talu menjejali telingaku hingga akhirnya kurasakan kepalaku semakin berat dan pandanganku semakin kabur sebelum akhirnya menjadi gelap samasekali.

Entah sudah berapa lama aku pingsan tubuh bugilku masih tergeletak ditengah jalanan.

Jalanan yang tadi ramai oleh massa yang bergerombol kini sudah sunyi senyap sayup-sayup dapat aku dengar dari kejauhan suara sirine meraung-raung diikuti beberapa bunyi rentetan seperti suara tembakan dan beberapa letusan yang diikuti asap hitam pekat bergulung-gulung.

Hari nampaknya sudah menjelang malam. Dengan tertatih-tatih aku mencoba berdiri.

Aku mencoba mencari sesuatu untuk menutupi tubuhku yang telanjang tapi tak satupun aku menemukannya meskipun hanya secuil kain atau potongan kertas.Akhirnya aku tidak mempedulikan lagi keadaanku dalam kepalaku hanya ada suara yang menyuruhku agar cepat pulang.

Aku begitu mencemaskan keadaan ayahku. Selangkanganku masih juga terasa perih sepertinya masih ada kemaluan pria yang menjejalinya.

Sesekali ada mobil pemadam kebakaran yang melaju kencang tanpa mempedulikanku, meskipun aku mencoba untuk menghentikannya. Setelah beberapa lama berjalan,akhirnya aku tiba juga dimulut gang depan rumahku

Samar-samar ada cahaya berkelap-kelip digang tempat rumahku. Pada waktu itu keadaan nyaris gelap gulita. Aku hanya bisa
mendengar langkah-langkah yang hilir mudik didalam gang tempat rumahku diiringi suara tawa beberapa orang entah ada berapa, aku tidak bisa memastikannya

Kuperhatikan di sekeliling mulut gang ada beberapa gerobak sampah yang penuh terisi oleh barang-barang elektronika.

Salah satunya memuat lemari es yang baru sebulan lalu aku membelinya aku dapat dengan jelas mengenali barang-barangku sendiri. Aku menduga mungkin itu hasil jarahan.

Aku agak ragu sebenarnya untuk masuk kedalam aku masih trauma atas pelecehan sexual gila-gilaan yang mempermalukanku sepanjang siang tadi. Tapi setelah aku pikirkan lagi aku memberanikan diriku masuk. Aku hanya ingin segera bertemu papaku ya itu saja keinginanku saat itu meskipun tahu mungkin rumahku sudah diobrak abrik oleh gerombolan massa aku tetap berdoa agar papa dan adikku bisa selamat.

“hey..hey..hey, cici hendak kemana malam-malam begini?waduh habis bersenang-senang ya sampai lupa pake baju.”Suara parau yang sudah sering aku dengar mengagetkanku yang sedang mengendap-endap hendak menyelusup kerumah.Rupanya gerombolan pemuda pengangguran yang biasa mangkal dimulut gang itu yang menyapaku.

Firasatku mengatakan sesuatu yang buruk akan segera terjadi tanpa mempedulikannya lagi aku langsung berlari menghambur menuju rumahku.

“Heeh…bangsat,disapa baik-baik kaga menjawab dasar cina lo ngga tau sopan santun..hey jangan lari lo!”Suara parau yang bernada kurang ajar tadi mendadak berubah menjadi bentakan yang menggetarkan nyaliku.Aku tidakberani menoleh kebelakang aku terus berlari sekencang-kencangnya.

Sayup-sayup terdengar derap bunyi langkah para pengejarku entah darimana saja mereka muncul yang semula aku perkirakan sepi dalam sekejap digang yang tidak terlalu lebar ini bermunculan wajah-wajah beringas para pemuda pengangguran yang biasa nongkrong mabuk-mabukan dimulut gang rumahku.

“Heeh lonte sini lo…udah menyerah aja lo duduk diem dan ngangkang sana atau nungging terserah lo aku jamin nasib lo tidak akan seburuk bokap dan adik lo itu.”Aku terkejut, pintu rumahku sudah terbuka lebar aku menemukan tubuh bugil adikku yang sudah tergeletak tak bergerak.

Nampak sepotong bambu menancap di selangkangannya diikuti lelehan lendir bercampur darah segar selain itu darah segar juga nampak mengalir di kedua payudaranya.

Tubuhnya yang putih bersih nampak berkilat-kilat penuh lendir-lendir sisa sperma pria yang menjijikan. Segumpal daging kecil tergenggam ditangannya aku menghamburnya dan memeluknya, kubuka genggaman tangannya.

Aku begitu terkejut ternyata daging kecil itu adalah sepasang puting susu. Aku baru menyadarinya ternyata puting susunya sudah dipotong secara paksa.

Kembali mataku menyapu sekeliling ruangan aku mencoba menemukan papaku pandanganku berhenti di bawah tangga samar-samar aku melihat sesosok pria bugil sedang berjongkok meringkuk menghadap dinding sambil menangis terisak-isak.

Aku bersyukur lega meskipun dalam kondisi yang buruk paling tidak papaku masih selamat. Aku berlari menghampirinya kupeluk tubuh tuanya, tangiskupun akhirnya tak tertahankan lagi aku menangis sejadi-jadinya.

Kami berdua berpelukan sambil bertangis-tangisan. Entah apa yang hendak diucapkan papaku mulutnya yang sudah miring akibat serangan stroke mencoba mengatakan sesuatu tetapi sayang aku sama sekali tidak mengerti maksudnya.

“Waduh…waduh..ini amoy doyan banget ngentot ya sampe bapak sendiri masih mau diembat he lonte apakah lu masih kurang puas?”Mereka segera mengepung kami aku semakin erat memeluk papaku gumaman yang tak jelas muncul dari mulut papaku rupanya dia bermaksud menghalau mereka

“Heh tua bangka jangan maruk lo!!.. sono minggir tunggu giliran lo….bukannya lo tadi sudah puas ngentoti putri lo yang sudah mampus itu!!”Salah seorang dari mereka menendang tubuh bugil papaku sampai terjengkang.Aku mencoba menolong papaku tetapi dengan cepat dua orang sudah mencengkramku kuat-Kuat.

“Mm..mm..mbwa..ha..ha..ha…Tong lihat memeknya. Jembutnya sudah botak sebelah. Heh pacarmu ngga doyan jembut ya?koq cukur jembut cuma separuh.ha..ha…ha…he Tong pinjemin cukur jenggot lo biar gue rapiin ini jembut.”Pria botak itu akhirnya tak bisa menahan ketawanya ketika melihat kearah selangkanganku.

“Biarin aja dul biar aja botak sebelah lebih lucu kayak gitu aja..”Otong menghampiriku matanya menatap lekat-lekat kearah selangkanganku tangannya mengusap usap bibir kemaluanku. Jari jemarinya dengan giat memencet-mencet klitorisku.

” Lepaskan aku bajingan !! ” Aku meraung saat Otong memainkan pencukur jenggotnya di bibir itilku.

” Asyik kite dapet satu Amoy cina lagi , hebat sekali. Terima kasih ya non mau melayani kami, kita akan bersenang-senang kembali untuk beberapa jam, aku ingin tahu seberapa nikmatnya memek yang satu ini!! Dan kalian Jangan ganggu aku tunggu giliranmu”

“Jangan coba sentuh aku!, ”Emosi ku mulai terpancing sepanjang hari aku terus dilecehkan kini aku benar-2x merasa sangat marah.

“Tidak-tidak kami tak akan sekedar menyentuhmu, masih banyak lagi yang akan kami lakukan” mereka tertawa sambil beramai-ramai membekuk tubuh telanjangku.

Aku pun tersadar bahwa mereka ini akan segera memperkosaku kembali. Dan akupun mulai merengek.

”Tidak!!” Aku memohon untuk dilepaskan Otong menyeretku ke kamar, dan melemparkanku yang terus berteriak-teriak ke ranjang yang berukuran besar, dan mulai membuka baju yang dikenakannya

“Ya Tuhan Tidak” Aku menangis, dan berusaha melepaskan diri, namun dengan tangan terikat demikian kencang, sehingga tampaknya nyaris mustahil untuk melepaskan diri, Aku pun tercengang menatap Penis Otong yang demikian besarnya.

” Jangan !! Tolong jangan , itu terlalu besar !! “

”Aku tahu, tapi kau akan belajar menyukainya “

Aku tersadar, terkurung dalam kamarku sendiri, dengan tangan yang terbelenggu, akupun sadar, hanya tinggal menunggu waktu hingga Bajingan itu memperkosa diriku. Dan tahu bahwa tak ada satu pun yang dapat kulakukan untuk mencegah hal itu terjadi,.

Aku begitu ketakutan saat Otong tiba-tiba melompat kerahku, memelukku dan menindih tubuhku dari atas..

“AWW…MMMMPH!” Aku menjerit, namun Otong menghentikannya dengan memaksa mencium bibirku. Aku tak berdaya untuk menghentikan ciuman itu.

”MMMMMMPH…“Otong menekan Lidahnya masuk, memaksaku membalas permainan lidahnya, dan mengunci tubuhku agar tetap menciumnya, sementara tangannya mulai meremas salah satu payudaraku.

Air mataku mulai menetes. Terpaksa aku harus menerima ciuman dari bajingan itu.

Sementara tangannya semakin brutal meremasi payudaraku. Aku berusaha menghindari ciuman Otong. Mulutnya yang bau rokok murahan menyengat hidungku. Namun aku tak berdaya melepasakan diri dari keinginan penjahat itu.

“MMMMPH…!”Aku mendesah. Otong begitu menyukai, rasa dari bibirku, demikian juga dengan payudaraku yang begitu besar mengglantung bebas tanpa penyangga. Otong menggunakan Kakinya untuk mengangkangkan kakiku, dan sedikit menekan kemaluannya di bibir kemaluanku.

Tubuhku menggelinjang saat merasakan kemaluannya yang menekan dari balik celana dalam yang masih dikenakannya,..

Aku dapat merasakan bagaimana penis itu mulai mengeras dan menekan tubuhku,

Aku menjerit namun kembali tertahan oleh lidah Otong yang kembali menciumku. Sementara tangannya masih meremas-remas sambil memilin puting payudaraku. Payudaraku mulai memerah akibat perbuatannya.

Otong melepaskan ku sambil tertawa.

“Kau cantik sekali!”

“Bajingan kau

“Bagaimana dengan menghisap dadamu yang besar itu ?? “Otong menatap penuh nafsu kearah payudaraku, sebelum membenamkan wajahnya ke payudaraku yang besar.

“AWWW! jangan! AWWW!” Aku menjerit, saat merasakan lidahnya yang kasar memoles seluruh permukaan payudaraku.

Otong menggerakan lidahnya, menghisap payudaraku, sementara tangannya pun ikut meremas-remas sebelah payudaraku yang lain. Tubuhku bergetar-getar merasakan sensasi nikmat itu,..

”Ahhhh ” Aku meraung, saatku merasakan lidah Otong bergerak demikian cepatnya menstimulasi dirinya, Lidahnya menyelusur dengan cepat di putingku seperti bayi yang kelaparan,..

“AWWWWWW!” Aku menjerit saat otong mulai mengigit dan menghisapi dadaku

Wajahnya bergerak kesana-kemari, diserang oleh bajingan yang sudah demikian bernafsunya, menyedot di payudaraku, menghisapnya, sambil memainkan putingnya dengan lidahnya

Otong menjilatnya, menghisapnya menikmatinya diseluruh bagian tubuhnya, sebelum tangannya mulai turun merabai kemaluanku

“Jangan, jangann ” Aku memohon saatku merasakan jemarinya menempel di bibir kemaluanku.

Otong melepas celana dalamnya, matanya menatap kemaluanku yang kini telah botak.

“Memek terbaik yang pernah ku lihat. Begitu rapat dan kencang

” Aku bertaruh ini pasti semanis madu !! “

Aku menjerit saat jari-jari Otong mulai menelisir bibir kemaluanku, bermain dengan itilku sampai membuat tubuhku mengelinjang tanpa kusadari,

Sementara jari-jari Otong terus menstimulasinya, tangan Otong menarik betisku agar mengangkang lebih lebar, dan mengganti tangan dengan lidahnya,..

“AWWW! OH , jangan hentikan,.. ” Aku menjerit saat dia merasakan lidah tebal Otong memoles kemaluanku, menyelusup kedalam liangnya, sambil menghisapi itilnya, tubuhku mengejang menikmati sensasi ini.

Bajingan itu menghisapi itilku sambil menjilati permukaan kemaluanku yang kini telah botak, tubuhku bergetar, tanpa kusadari, mulutku mendesah keenakan, namun desahan itu hanya membuat penis Otong makin mengeras.

Aku mendesah tak karuan saat ku rasakan lidah Otong menyedot-nyedot bibir kemaluanku, Otong dengan mahir menghisapi Kemaluanku, memberikan kenikmatan yang tak diharapkan, seluruh tubuhku mulai bergairah, tanpa terasa kemaluanku mulai berdenyut-denyut mengeluarkan cairan”

“Ah, ah, ah, ah.” Aku mendesah ” Ya ampun, oh Tidaaak !! “

Aku ngeri menatap penis Otong yang telah menegang itu, Aku terbelalak tak percaya melihat ukuran penis itu, dan membayangkan betapa sakitnya bila penis sebesar itu sampai menyetubuhinya.

Otong tersenyum saat dia menyadari aku baru saja mencapai klimaks.

“Hey, hey lo mulai menyukainya ya?!”Senyumnya yang kurang ajar terulas diwajah jeleknya

“Tidak, bajingan kau..hentikan!”Aku memohon. Sementara aku terus berjuang mengalahkan nafsu birahi yang makin menguasai diriku..Sementara kemaluanku makin terasa hangat.

Otong menurunkan betisku, mencengkram pinggulku dan langsung menyentakkan penisnya dalam lobang kemaluanku.

Aku mulai kesakitan, sementara kepala penis Otong makin menekan masuk di mulut Kemaluanku, Aku berusaha keras untuk melepaskan diri, namun Otong mencengkramku dengan kuat.

“Apa kau pikir aku akan menikmatimu sekali, lalu membiarkanmu pergi ?? “Pada saatnya, aku akan menjadikanmu Budak seks pribadiku “

“Tidakkk!”Aku menjerit sejadinya, sementara penis Otong menancap masuk dalam Kemaluanku, mataku terbelalak menahan sakit sementara penis super itu makin terbenam dalam, merobek Kemaluanku.

“YA! kau sekarang milikku,, pelacur ” Otong menyentak sambil menyodok-kan penisnya dalam

“AH! AH! YA TUHAN !! YA TUHAN !! ” Aku menjerit lagi dan lagi

Otong mulai menggoyangkan penisnya maju mundur, keluar masuk dalam kemaluanku, membelah kemaluanku dengan kecepatan yang luar biasa,.

“AWWWWW!” Aku menjerit-jerit, menikmati bagaimana penis yang demikian besarnya itu menyetubuhiku, perlahan rasa sakit itu memudar, berganti kenikmatan yang sebenarnya tak aku inginkan.

Otong mendekap tubuh telanjangku, sambil meremas-remas payudaraku

Penis yang begitu besar menyetubuhi tubuhku yang baru saja kehilangan keperawananya, menghantamnya dengan deburan-deburan kenikmatan yang demikian hebatnya, tubuhku menggelinjang, setiap kali penis besar itu keluar masuk dalam lobang kemaluanku,

Perlahan dia makin dekat dengan Orgasmenya, sementara tangan dan mulut Otong terus menstimulasi Dadaku.

“OH, OH, OH NO! AHHH! MMMMM! TTOLONG JANGGANN! Akupun mulai kehilangan control diri…

“Ayolah cantik, berorgasme lah, ayo, aku ingin mendengar lo menjerit nikmat!!”

“Tidak akan…AWWWWWWW!” Aku menjerit sejadinya saat sebuah orgasme dahsyat akhirnya menerpa diriku.

Aku pernah merasakan perasaan semacam ini sebelumnya, seluruh tubuhku serasa terbakar, nikmat yang pernah kurasakan sebelumnya, tanpa sadar aku mulai menggerakan tubuhku mencari kenikmatan dan mulai mencari penis Otong.

“OH Tuhan!” Aku menjerit dan mendesah seluruh tubuhku menikmati setiap orgasme yang menghantamku, lagi dan lagi, bagaikan sebuah ledakan dalam kepalaku, sementara kemaluanku tak berhenti mengeluarkan cairan orgasme, Memberikan kenikmatan tak terkira pada diriku..

“Ahhhhhh!”Otong menangkap wajahku, mendorong mulutnya pada bibirku, menciumku, sambil mendekapku kuat-2x Aku kehilangan seluruh kontrol tubuhku, dan mulai membalas ciuman Otong tanpa kusadari

Tubuh bugil Kami saling berpelukan dan mulai menjatuhkan tubuh kami keatas ranjang, sebelum akhirnya Otong melepas dekapannya pada tubuhku.

Aku mulai tersadar kembali, air mataku mulai menetes.Otong menoleh, menatapku yang telah dikalahkan oleh nafsu birahiku sendiri.

Senyum kemenangan terukir melihatku menangis, sementara tangannya mulai kembali menempel di payudaraku, meremasnya dan memilin putingnya.

“Bajingan!!.” Aku menangis. “Aku tak akan pernah menjadi budakmu,”

“Hey, aku baru saja mulai pelacur, masih ada teman-temanku dan bokap lo kan??”Ejekannya yang terakhir sangat menghancurkan harga diriku, aku bahkan sudah kembali menyerah saat otong mulai bermain dengan payudaraku, Aku tahu bila Aku melawan hanya akan membuat dia mengerjaiku lebih brutal lagi.

Kembali aku menggeliat kegelian oleh stimulasi rangsangan jarinya. Tak beberapa lama kemudian lobang kemaluanku sudah basah kuyup.

“Huh..dasar payah cepet banget memek lo becek.”Aku sama sekali sudah tak berdaya lagi untuk melawan pelecehan mereka kemudian ada dua orang mengangkat tubuhku dan mengangkangkan kakiku.

Dalam keadaan diangkat dua orang, kembali aku disetubuhi. Nafas-nafas mereka yang tercium bau rokok murahan menyengat hidungku.dengan buas mereka melumat payudaraku seperti binatang kelaparan.

“Heh Dul cepetan dikit napa?. udah berat nih lo enak-enakan aja ngentot yang pegangin pegel tau!!”Si dul hanya cengar-cengir aja. Matanya merem-melek menahan nikmat.

Kemaluanku makin lama makin berdenyut kencang tanpa aku sadari pinggulku ikut bergoyang sendiri aku tak kuasa mencegah reaksi alami tubuhku. Rupanya mereka menyadari hal itu mereka saling pandang satu sama lain sambil menyeringai kurang ajar.

“Sh..h…hhh..ah..ah..shh..Gile ini memek gurih banget biarpun becek tapi sedotannya mantep abiiis.waduh ssh…shshh..kontol gue, kontol gue aku mau muncrat setan babi tahan sebentar lagi hekh..hmph..”Kini Giliran Boneng pria jelek kribo yang menjejalkan kemaluannya ke lobang kelaminku.

Lebih kurang ada sekitar 10 orang yang secara bergiliran mengerjaiku sampai pada akhirnya mereka semua duduk kelelahan entah sudah berapa lama kelaminku dipaksa menerima muntahan-muntahan lendir-lendir sperma yang lengket dan bau itu.

“Nah sekarang giliran lo bandot tengik”Tanpa belas kasihan mereka menyeret tubuh renta bugil papaku.

Mereka meletakan kami ditengah tengah sementara mereka duduk bergerombol membentuk lingkaran mengelilingi kami.

Sementara puluhan orang yang ikut masuk tadi sebagian telah keluar melanjutkan aksi penjarahan mereka dan sisanya ikut bergabung menyaksikan pemaksaan aksi cabul terhadap diri kami.

“Ngentot..Ngentot..hayo cepetan Ngentot..!!” dengan kompak mereka menyuarakan koor yel-yel menyoraki kami.

“Denger ya kalo lo mau bokap lo tetep idup lo musti bikin muncrat bokap lo dihadapan kami semua ngarti lo!!Salah seorang dari mereka menghardikku sambil menampar papaku kuat-kuat.Papaku langsung terjungkal dan menangis sesenggukan dia mencoba menjauhkan aku darinya ketika aku mendekatinya.

Sekilas aku melihat kemaluan papaku yang telah layu. Walaupun sudah layu ternyata kemaluan papaku lumayan besar dengan dihiasi bulu-bulu kemaluan yang sudah mulai beruban.

Aku segera menggenggam kemaluan papaku, dan perlahan lahan aku menundukan kepalaku. Aku mulai menghisap dan menjilat kepala kemaluannya dengan lembut.

Meskipun dalam keadaan tertekan, reaksi tubuhnya tetap tidak bisa dicegah. Perlahan tapi pasti batang kemaluannya mulai mengeras. Aku semakin giat mengulum-kulum batangnya kumainkan jemari lentikku di kedua biji pelirnya dan bergantian lidahku menyapunya kanan dan kiri.

Aku berjongkok diatas badannya kuraih batang kemaluanya dan mulai memasukan dengan hati-hati ke lubang kemaluanku. Badan papaku menggigil hebat bibirnya nampak berdarah.

Rupanya dia menggigit sendiri bibirnya berusaha mati-matian agar dirinya tidak terangsang. Tetapi semua usahanya sia-sia sekuat apapun usahanya, dia tetap tidak bisa menipu reaksi alami tubuhnya sendiri.

Dapat kurasakan ujung kepala kemaluan papaku semakin lama berdenyut semakin kencang bertanda sebentar lagi akan segera mencapai orgasme aku semakin memperkencang goyangan pinggulku aku berharap agar semuanya cepat berakhir

“Udah cukup minggir sono keenakan lo. Sekarang waktunya lo mampus menyusul anak lo yang satunya itu!!”Rupanya mereka memperhatikan secara cermat mimik muka papaku mereka sudah menduga papaku akan segera orgasme

“Aarrrgh….aduh…!!”Pemandangan ini tak akan aku lupakan barang sedetikpun dalam hidupku. Aku menyaksikan mereka memotong kemaluan papaku.

Dari pangkalnya darah segar bercampur sperma muncrat dengan deras dari selangkangannya. Segera lantai rumah kami berceceran darah kental sementara itu bau anyir darah langsung tercium

Aku menjerit-jerit histeris meraung-raung sekuatnya dua orang yang menahanku sampai kewalahan.Sampai lima orang akhirnya baru bisa membekukku. Dengan paksa mereka menunggingkanku entah jari siapa, dengan kasar mengorek-ngorek anusku meludahinya berkali kali. Dan dapat kulihat dia menggengam potongan kemaluan papa yang masih tegang dan memasukannya secara paksa ke anusku.

Bentakan dan caci maki kotor berhamburan deras dari mulut mereka. Aku merasakan kepalaku begitu berat. Ada suara-suara bentakan dan ancaman yang sepanjang siang aku telan, berklebatan silih berganti melintas dalam kepalaku.

Aku bisa merasakan kemaluan papaku kini sudah sempurna menjejali anusku. Mereka kini telah melepaskanku sambil tertawa riang. Suara tawa yang lebih mirip suara iblis dari dalam neraka yang paling jahanam.

Tubuhku menggigil hebat entah kenapa aku berdiri sendiri. Aku bahkan samasekali tidak punya maksud. Aku juga kaget dari mulutku meluncur kata-kata kotor yang tidak pernah aku ucapkan tanpa bisa aku tahan. Rasanya seluruh tubuhku sudah tidak sinkron lagi dengan yang aku pikirkan dan melakukan pemberontakan terhadap otakku.

Dapat aku lihat salah seorang dari mereka melangkah mendekatiku rupanya dia telah siap menghabisiku. Dengan sepotong pipa besi yang digenggamnya erat-erat.

Dengan tiba-tiba aku merangkak dan mulutku mengeluarkan suara menggonggong mirip suara anjing. Sementara tanganku yang satunya memakan onggokan bulu kemaluan yang ada digenggamanku.

Tiba-tiba aku merasakan perutku melilit-lilit. Dan dalam sekejap tanpa bisa aku cegah lagi,aku mengejan.Aku berak dihadapan mereka kotoranku teronggok menumpuk menimbulkan bau tidak sedap.

Aku berusaha memalingkan muka tapi entah kenapa tidak bisa aku gerakan. Bahkan dengan merangkak dan menggonggong-gonggong seperti anjing, aku menghampiri kotoranku sendiri dan mulai menyantapnya bulat-bulat sampai tak bersisa.

“hi….Wah cewek ini sudah menjadi gila…ha…ha….lihat dia makan taiknya sendiri ih…jorok amit-amit bau banget ayo kita pergi dari sini!!Orang yang hendak menghabisiku terkejut dia meloncat mundur dia begitu kaget melihat tingkah anehku.

Aku sendiripun tidak kalah kagetnya aku keheranan dan berpikir apa yang telah terjadi pada tubuhku ini sekuat apapun aku memerintahkan anggota badanku semuanya percuma sepertinya Tubuhku sudah dikuasai oleh kekuatan asing yang akupun tak kuasa menolaknya.

“Mampuss lo,puas gue sekarang lihat lo uda jadi sinting.Akhirnya gerombolan massa itu meninggalkanku sendiri sayup-sayup suara mereka semakin menghilang seiring dengan pandanganku yang juga semakin gelap.

Aku sempat dirawat disebuah penampungan entah sudah berapa hari aku berada disana, sejak peristiwa jahanam itu aku sering kehilangan kesadaran, dan walaupun sadarpun aku sudah tidak mampu lagi mengontrol diriku.

Entah apa saja yang dikerjakan tubuhku selama akal sehatku menghilang sejenak.Aku ditangani secara khusus selama beberapa minggu,Mereka mencoba menyadarkanku.Ingin rasanya aku memberitahukan mereka apa yang aku rasakan tapi aku samasekali tak berdaya terpenjara dalam tubuhku sendiri sampai akhirnya mereka memutuskan bahwa aku sudah tidak tertolong lagi.

Sikapku yang agresif dan memalukan mengakibatkan aku dikurung didalam suatu ruangan khusus.

Sampai pada suatu hari, ada seseorang yang datang menjemputku aku mengenalinya ternyata yang menjemputku adalah adik perempuan dari mamaku.

Aku melihat kesedihan yang begitu dalam terpancar dari matanya ketika melihat keadaanku,Segera aku dipindahkan kerumahnya.Dengan penuh kelembutan, dia berusaha merawatku meskipun dia tahu aku sudah gila, dia masih memperlakukanku seperti orang waras.

Dia bercerita bahwa family kami semuanya sudah pada mengungsi ke luar negeri dia sendiripun sudah menjadi warganegara singapore dan dia bermaksud mengajakku.

Saat ini dia sedang mengurus proses penjualan rumahnya yang masih belum laku dia juga bercerita tentang keadaan dirinya yang sudah bercerai dari suaminya.Dia berpesan kepada para pembantunya agar merawatku sebaik-baiknya karena untuk sementara waktu dia harus kembali ke Singapore beberapa minggu

Bibiku ini cukup pengertian. Sengaja dia mempekerjakan pembantu wanita,mengingat segala polah tingkahku yang memalukan.

Setiap kali aku dipakaikan busana, aku selalu memberontak aku mencabik-cabik setiap busana yang hendak dipakaikan padaku akhirnya mereka menyerah dan membiarkanku tetap berkeliaran telanjang bulat.

Parasku yang cantik dan tubuhku yang sintal dikhawatirkan akan memancing hal-hal yang tidak diinginkan jika mempekerjakan pembantu pria.

Aku samasekali tidak diizinkan untuk keluar rumah. Selama beberapa minggu dirawat membuatku sedikit lebih baik. Frewkwensiku bertingkah layaknya anjing sudah berkurang walaupun masih belum bisa dihilangkan 100% Bibiku tetap percaya suatu saat aku bisa disembuhkan.

Aku cukup beruntung pembantu-pembantu bibiku walaupun ditinggal berminggu-minggu cukup bisa diandalkan. Dengan cermat aku masih dirawat mereka berusaha mencegahku jika aku mulai bertingkah seperti anjing atau melakukan masturbasi.

Kebiasaanku bermasturbasi sendiri sungguh sangat menyiksaku aku tak bisa mencegah jari jariku menggosoki dan memilin-milin itil atau putingku sendiri meskipun aku telah orgasme berulang kali, sehingga menyebabkan organ intimku itu terasa perih.

Semua mulai berubah ketika satu persatu pembantu mulai berganti. Pembantu-pembantu yang baru ini tidak bisa diandalkan entah apa yang dilakukannya.

Sering aku ditinggal sendirian dirumah seharian tanpa makanan sementara itu bibiku mengira aku masih baik-baik saja lantaran pembantu-pembantunya yang baru ini pandai mengambil hati bibiku ketika beliau dirumah.

Nasibku kembali menjadi lebih buruk lagi ketika suatu pagi pembantu tersebut lupa mengunci pintu pagar tanpa bisa aku cegah lagi kakiku melenggang keluar dari rumah.

Aku hanya bisa menjerit-jerit dalam hati seberapa kuatnya aku berusaha tetap tidak berhasil kakiku terus melangkah semakin menjauh dari rumah tanpa tujuan.

“Orang gila..orang gila…orang gila…”Segerombolan anak-anak meneriakan yel-yel itu sambil mengikutiku dari belakang ditengah teriknya sinar matahari siang itu, tubuhku yang telanjang bulat melenggang santai menyusuri jalan.

Aku menjerit-jerit dalam hati aku berharap ada keajaiban yang datang untuk menyelamatkan rasa maluku yang luar biasa.

Harga diriku rasanya benar-benar hancur berkeping-keping tanpa sisa. Keringat dingin dapat aku rasakan meluncur deras dari segala pori-pori kulitku.

“Busyet…masa cantik-cantik ga waras pasti baru kabur tuh”Aku segera menjadi pusat perhatian dari warga sekitar. Sebagian ibu-ibu menarik anaknya dan menutupi matanya untuk tidak menyaksikan pemandangan yang tidak sepantasnya dilihat oleh anak dibawah umur.

Sedangkan aku sendiri untuk memejamkan mataku sendiripun tak mampu aku dipaksa menyaksikan bulat-bulat perbuatan tubuhku yang memalukan diriku sendiri.Mataku mulai nanar dan pandanganku mulai gelap aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya

“Hush..hayo bubar…bubar ketika akhirnya rombongan petugas mengamankanku. Aku tak tahu sudah berapa lama aku pingsan yang terakhir aku ingat adalah sewaktu aku berhasil lolos dari rumah bibiku dan menjadi olok-olokan anak-anak dikampung.

Yang aku rasakan sekarang seperti ada sesuatu yang bergerak dalam perutku.Ya tuhan apakah aku hamil? ternyata aku harus menerima kenyataan pahit itu.

Ketika aku sadar, kini perutku telah membuncit. Kemudian Aku secara paksa dinaikan ke mobil dan akhirnya aku tiba ditempat ini. Aku digelandang ke bangsal perawatan bercampur dengan ratusan orang yang tidak waras lainnya.

Pada prinsipnya manusia itu sebenarnya binatang yang membedakan adalah akal budi saja ketika manusia kehilangan akal budinya maka tidak ada bedanya dengan hewan.

Meskipun orang-orang disini, termasuk aku sudah disebut gila, tetapi naluri primitif bawaan setiap insan mahkluk hidup tetap ada yaitu naluri untuk bersetubuh.

Meskipun hatiku menjerit-jerit, tapi tubuhku seakan menemukan surganya ditempat ini kepuasan demi kepuasan hewani terus mengguyuri tubuhku yang telah kotor ternoda.”

Mendadak raut muka Susan berubah tubuhnya gemetar menggigil hebat. Aku berpikir jangan-jangan pikiran sadarnya kembali lenyap.”Apa kau baik-baik saja?”aku bergegas mendekatinya nampak keningnya dibanjiri peluh sebesar biji jagung yang mengalir deras.

“Mmmph…Sssh..argh….sssh…hah…hegh…”Hanya erangan-erangan pendek yang muncul dari mulutnya

“Ssh..sh…ko Tolong saya…tolong saya ko….”Tubuhnya kini menggelinjang tak keruan.”Apa yang bisa aku tolong?”Aku bertanya semakin kebingungan dengan keadaannya.

Nampaknya ada sesuatu yang hendak diucapkannya tapi begitu berat.Aku hanya melihat tatapan matanya yang seolah-olah penuh pengharapan kepadaku pipinya nampak semakin memerah seperti kepiting rebus.

“Aku panggil pak Dahlan sebentar ya?”Akhirnya aku memutuskan untuk menghubungi pak Dahlan. Aku takut terjadi sesuatu pada diri Susan.

“Egh..sh….ah.Jangan ko”Kepalanya nampak menggeleng aku tidak tahu apakah menggeleng tanda tidak setuju atau yang lain karena aku tahu dia tidak dapat mengontrol tubuhnya sendiri.

“Sssh…sgh..ah…ko tolong remasi tetekku, dan memeku ko”Aku terperanjat mendengarnya.

“Apakah kamu sadar Susan?Apakah kamu yakin pada yang kau ucapkan?” Aku tidak begitu yakin akan ucapan Susan bagaimanapun keadaannya sekarang masih sebagai penyandang penyakit kejiwaan.

Tangannya yang terikat kebelakang dengan Jaket pengaman memang membelenggunya tapi aku tidak berani untuk melepaskannya walaupun selama wawancara tadi dia samasekali tidak menampakan gejala kegilaan tetapi aku tetap tidak mau mengambil resiko dengan melepaskannya.

Sementara itu,Pinggulnya nampak semakin liar bergerak maju mundur seakan-akan mencari sesuatu yang bisa digesekan ke selangkangannya.

“Argh…sssh….cepat ko aku..sudah tak tahan lagi..cepat buka ada resleting khusus dibagian dada dan tepat diselangkanganku ssh…ugh…sssh..”Aku tidak begitu yakin jaket ini nampaknya tidak ada resleting lain selain kait pengaman kunci utama tetapi begitu aku perhatikan lebih teliti dan aku dekati, ternyata apa yang dikatakan Susan benar.Ada 3 resleting kecil 2 melingkar tepat di kedua belah payudaranya sementara yang satunya lagi tepat melingkar dibagian selangkangannya.

Aku memutuskan untuk menghubungi pak Dahlan aku tidak mau mengambil resiko dengan menuruti kemauan gilanya itu. Tapi Susan sepertinya mengetahui maksudku itu. Kembali dia memohon agar aku tidak menghubungi pak Dahlan.

Akhirnya aku beranikan diri untuk membuka ke 3 resleting itu setelah sebelumnya aku keluar ruangan sejenak untuk memastikan keadaan masih tetap sepi.

Dengan agak Canggung aku mulai meraba kemaluannya. Jariku terasa lembab basah berada diantara kerimbunan bulu kemaluannya.

Jemariku berusaha menjelajah lebatnya bulu kemaluan susan untuk menemukan secuil daging yang bisa memberikan kenikmatan ketika akhirnya aku berhasil menemukan klistorisnya dan mulai mengurutnya perlahan-lahan.

Kini keadaan Susan mulai sedikit tenang.”ehm..shh…ko sekarang hisap putingku ko tolong sgh..sh… “Terus terang sejak tadi mendengarkan kisah perkosaan Susan yang detail dan exsplisit, nafsu birahikupun sudah naik keubun-ubun.Kini dengan sentuhan fisik seperti ini akhirnya bobol juga pertahananku.

Segera aku kulum puting susunya tubuhnya bereaksi menggelinjang kegelian ketika aku gigit-gigit kecil kedua putingnya secara bergantian.

Sementara itu kemaluanku berdenyut-denyut minta jatah. Jujur saja aku takut perbuatanku terpergok oleh pak Dahlan tapi nafsuku yang sudah naik keubun-ubun membuatku nekat untuk tetap meneruskan perbuatanku.

Segera aku selipkan batang kemaluanku ke lobang kenikmatan yang siap tersaji didepannya. klistorisnya nampak telah membengkak mencapai ukuran maksimalnya nampak berkilat dan berdenyut-denyut kencang ingin segera dimasuki oleh kemaluan pria.

Tubuhku mengigigil meresapi kenikmatannya, ketika ujung kepala kemaluanku secara perlahan mulai terhisap masuk kedalam kemaluan Susan.

Semakin dalam kemaluanku masuk, semakin terasa nikmat sensasinya. Kemaluan kami berdenyut seirama bergantian dapat kurasakan kepala penisku seperti dihisap oleh mulut nikmatnya sampai ke sungsum.

“ergh..shs…aku ngga Tahan lagi san aku mau keluar….shh..oh..ah..”kemaluanku bergetar-getar hebat hendak memuntahkan cairan kenikmatan yang sekian lama hanya mengendap di kantung pelirku.

“Shh..sebentar ko…arghh…aku juga mau keluar srgh…ouh..”Rupanya Susan juga sudah hampir mencapai klimaksnya.

“Arrgh…ssh…ah….ough….aku keluar sh…..”Akhirnya aku tak kuasa lagi membendung cairan kenikmatanku bersamaan itu aku juga merasakan kemaluan Susan seakan menyedot habis seluruh cairan kenikmatanku.

Untuk beberapa saat kelamin kami masih menyatu rasa nikmat luar biasa kurasakan merata menjalar keseluruh pembuluh darahku

“Maafkan aku Susan, tidak sepantasnya aku berbuat seperti ini kepadamu.”Buru-buru aku kembali merapikan pakaianku dan Jaket pengamannya.

Apa yang kuucapkan benar-benar muncul dari dalam hatiku yang paling dalam,sebenarnya aku sangat menyesali perbuatanku tadi.

“Tidak apa-apa ko Susan justru berterimakasih koko mau menolong memuaskanku. Aku akan melanjutkan kisahku yang tadi. Kuharap koko bisa menolongku keluar dari tempat ini.”Susan menghirup nafas dalam-dalam matanya kembali menerawang menggali sisa-sisa memorynya yang masih ada.

“Sejak kejadian perkosaan yang menimpa diriku,dan akhirnya aku sadari diriku sudah tidak normal lagi, aku terpuruk menjadi budak nafsu birahi.

Sehari saja aku tidak bermasturbasi atau bersetubuh, rasanya seperti mau mati. Memang selama disini kebutuhan biologisku terpenuhi tapi terlalu berlebihan sehingga alat kelaminku lebih sering terasa perih dan kebas daripada nikmat sedangkan aku sendiri tak mampu untuk menghentikannya.”

“Selama disini, dalam keseharianku hanya bersetubuh entah berapa ratus kemaluan laki-laki yang silih berganti memasuki kelaminku termasuk Pak Dahlan dan Atasannya.

Jaket Pengaman inipun khusus dirancang untukku. Atasan Pak Dahlan sepertinya punya prilaku sex yang menyimpang. Dia merawat baik tubuhku.

Kadang aku dibawa bersama pasien pria secara sembunyi-sembunyi. Kami sengaja dilepaskan ditengah keramaian. Dengan keadaan kami yang mirip binatang maka begitu dilepaskan, kami langsung bersetubuh tanpa mempedulikan tempat. Sementara itu, anak buahnya mengabadikan persetubuhan kami dari berbagai sudut setelah Massa mulai berkerumun menyaksikan aksi cabul kami baru kemudian dia bersama anak buahnya seolah-olah mengamankan kami.

“Oh…dia mau datang..mau datang….ko…maafkan aku ko……argh…..hegh….Hauk-hauk..nguk-nguk heh…lepaskan aku aku harus menari bugil entotin aku cepat…..!!”Mendadak Tatapan mata Susan nampak kosong mulutnya mulai mengoceh sesuatu hal yang tidak jelas sebagian besar sumpah serapah dan maki-makian kotor atau suara-suara mirip anjing.

Aku sadar kegilaan Susan sudah kembali menguasai dirinya Aku Segera menghubungi pak Dahlan untuk kembali memasukan Susan di ruangannya. Aku begitu sedih menyaksikan keadaannya tekadku semakin kuat untuk mengeluarkanya dari tempat ini.

“Pak Dahlan apakah tidak sebaiknya kita pisahkan mereka.”Hatiku begitu pedih saat tubuh putih Susan sedang disetubuhi dalam posisi doggy style.

Sebelah pahanya terangkat tinggi-tinggi kemaluan pria dari indonesia timur itu nampak kontras menyatu dengan putihnya tubuh Susan.Dengus nafasnya terdengar seperti kereta api diselingi erang kenikmatan Susan.

Tubuh keduanya bergetar hebat bergoyang tak beraturan memacu sekencang-kencangnya nafsu hewani kedua insan yang kehilangan akalnya ini.

“Dik Adrian,ngga usah kaget justru dengan demikian keduanya akan tetap sehat.Dulu pernah kami terapis untuk mengendalikan nafsu birahinya tetapi malah berakibat fatal tekanan darahnya naik secara frontal jika ini dibiarkan dikhawatirkan akan memecahkan syaraf-syaraf motoriknya yang bisa menimbulkan kelumpuhan permanen atau lebih parah lagi bisa koma selamanya.

“Tapi apakah tidak berakibat buruk pada rahim dan alat kelaminnya dan bagaimana pula jika dia hamil. bukankah pihak rumah sakit akan lebih repot lagi?”Aku mencoba mempertahankan argumentasiku

“Dulu waktu Susan ditemukan dalam keadaan Hamil tua anaknya sudah diadopsi dan dirawat dengan baik. Dia ditemukan tersekap di sebuah bedeng bekas proyek pembangunan mall. 30 orang pelaku termasuk mandornya juga sudah kami amankan menurut pengakuan mereka, sudah 4 bulan mereka menyekapnya.

Susan dijadikan obyek pelampiasan nafsu birahi mereka. Selama disini juga Susan juga pernah hamil sampai 2 kali akibat prilaku sexualnya terhadap pasien-pasien pria. satu keguguran satunya juga sudah diadopsi dengan baik.

Sejak peristiwa yang terakhir kami bekerja sama dengan dinas kesehatan untuk memvasektomi pasien-pasien pria sehingga segala masalah kesehatan terjamin, karena tidak mungkin kami memisahkan mereka semua terkait dengan minimnya tempat penampungan dan subsidi dana atas rumah sakit ini. Makanya kami sangat berharap agar konsorsium yang diwakili bapak Adrian bisa segera mencairkan dana hibah agar kami bisa segera membenahi masalah kami.”Pak Dahlan dengan semangat menjelaskan masalahnya.

“Wah kebetulan semalam saya juga sudah ditelepon pimpinan saya menanyakan perkembangannya. Apakah boleh saya pinjam komputer sebentar agar data-data yang saya peroleh bisa segera saya e-mail kekantor?sebenarnya aku hendak menyelidiki lebih lanjut ketidak beresan yang terjadi di RSJ ini.

“Oh tentu saja pak Adrian mari silahkan ke ruangan pak kepala pake saja sendiri maaf saya tidak bisa menemani”Akal bulusku berhasil juga rupanya dengan segera pak Dahlan mempersilahkanku masuk ke kantor pimpinanya.

Ruangan ini cukup nyaman dan lega aku melihat sekeliling mempelajari keadaan ada sebuah komputer yang masih baru yang terhubung dengan internet.

Disampingnya ada lemari besar yang nampaknya berisi tumpukan koran dan map-map aku membukanya sebentar ternyata pak kepala suka membaca sebuah harian berita kriminal yang isinya lebih mirip cerita stensilan dengan bahasa jurnalistik yang norak

beberapa halaman nampak bekas digunting. Pandanganku beralih ke tumpukan Map yang ada disampingnya. Rupanya Tumpukan map itu berisi kliping dari koran-koran picisan itu.

Aku kaget membaca salah satunya yang berjudul “Aksi nekat pasangan Cabul bersetubuh di perempatan jalan padat lalu lintas”berita kali ini lengkap dimuat dengan foto yang nampak vulgar hanya di blur pada bagian mata dan alat kelamin masing-masing.

Tidak sepantasnya foto mesum seperti itu dipajang sebagai headline. Sementara di halaman belakang terjepit rapi kwitansi pembayaran entah untuk apa yang nilainya cukup besar.

Aku menduga rupanya pak kepala ada kerjasama dengan wartawan harian mesum ini. Aku langsung teringat cerita Susan yang bercerita sengaja dilepaskan ditengah jalan bersama pasien pria. Rupanya ini alasan semuanya.

Aku kemudian membuka komputer dan mulai memeriksa folder-folder yang ada rupanya pak kepala tidak cukup terampil dan hanya mengandalkan fasilitas folder option.

Sejak awal aku sudah curiga. Komputer ini sedikit sekali program dan file-filenya. Tapi kenapa hardisk seukuran 250Gb ini sudah nyaris penuh?.

Ternyata di salah satu folder Hiden, terdapat ribuan file movie dan picture yang mengabadikan aktivitas-aktivitas persetubuhan liar pasien-pasien sakit jiwa ini.hampir semuanya diperankan oleh Susan. Paras yang cantik ternyata berbalik menjadi sebuah kutukan yang mengerikan bagi dirinya.

Tak bisa kubayangkan sebelumnya, kebejadan moral oknum yang mengexsploitasi prilaku sexual orang sinting.

Sehingga aku bingung sendiri siapa yang sebenarnya sinting disini.Segera aku mengcopy data-data penting tersebut aku berniat untuk membongkar segala kebusukan yang telah terjadi di RSJ ini.

Beberapa bulan kemudian hasil laporanku telah dimuat di majalah terkenal. Kecaman keras baik pro dan kontra segera bermunculan.

Hasil bidikan-2x kameraku yang fenomenal langsung mengangkat drastis rating artikelku. Sedangkan Pihak pemerintah dengan keras menyangkal semuanya.

Akhirnya kasus ini lenyap dengan sendirinya oknum-oknum yang terlibat menurut info yang terakhir aku peroleh, telah dimutasikan walaupun tidak mendapatkan proses hukum. berdasarkan atas dasar demi kepentingan regional.

Sedangkan Susan berhasil aku selamatkan. Kesehatannya telah jauh membaik dan segala ingatan buruknya telah berhasil dihilangkan setelah menjalani terapi hipnotis dari seorang pakar psikolog ternama di singapura. Kini Susan telah membuka lembaran baru dalam hidupnya terlepas dari bayang-bayang kelam masa lalunya.

fist Time

Filed under: PERKOSAAN

“Ya silahkan saja perkenalkan dirimu!”Ryuji Watanabe menatap tajam penuh selidik gadis sintal yang duduk di depannya.

“Namaku Lee eun byong umurku 19 tahun aku berasal dari chosan korea utara.”Suara Lee eun byong terdengar sedikit gemetar, kepalanya tertunduk tak berani menatap langsung tuan Ryuji Watanabe.

Lee eun byong yang sebenarnya cantik, menjadi terlihat kurang cantik dan seksi dengan balutan kemeja dan rok longgar yang modenya sudah ketinggalan zaman beberapa tahun lalu.

Bajunya berwarna gelap, kontras dengan kulitnya yang putih mulus tanpa cacat. Gaya rambutnya yang panjang bekepang dua khas negeri komunis korea utara juga menjadikannya terkesan kuno dan norak.

Sedangkan rok yang dikenakan Lee eun byong cukup panjang di bagian bawah sehingga kakinya yang sebenarnya jenjang terlihat kurang menantang. Hanya pantatnya yang bulat terdorong ke atas yang masih tidak bisa disembunyikan oleh roknya, sangat menggiurkan mata yang memandang.

Tapi tentu saja dari semua keindahan tubuh memikat Lee eun byong, yang paling menarik adalah buah dadanya yang membusung dan ranum, sangat menggairahkan,

Sosok Ryuji Watanabe memang patut disegani sebagai salah satu tokoh Yakuza di daerah Shibuya sorot matanya yang tajam memang sangat berkharisma, ditambah lagi sekujur badannya yang penuh ornamen tatto klasik khas anggota yakuza. Nampak kelingking sebelah kirinya sudah buntung entah karena peristiwa apa.

“Hmm..lalu apa lagi..?! cepat jangan buang-buang waktuku”Suara serak bernada dingin menusuk Ryuji Watanabe memecah kesunyian diruangan itu. Meskipun sepintas penampilan Lee eun byong terlihat sangat kuno dan norak, tetapi sebagai seorang yang sudah lama berkecimpung didunia hitam, Ryuji Watanabe langsung dapat melihat dengan jelas kecantikan luar biasa yang tersembunyi dibalik penampilan Lee eun byong.Ia hanya berpura-pura sama sekali tidak tertarik untuk bisa mendapatkan kontrak kerja dengan harga yang sangat murah dari calon korbannya ini yang masih sangat naïf.

“Tinggiku 165 Cm beratku 52 Kg ukuran dadaku 34 C golongan darahku AB, aku pernah bermain di suatu pertunjukan drama sekolah di kampung halamanku.”Lee eun byong menarik dalam-dalam nafasnya. Entah pikiran gila dari mana yang akhirnya membawa dirinya ke tempat rumah produksi film porno ini.

“Hmm…kamu pendatang illegal dari korea utara. Walau kasus mu sepele, tapi jika sampai kamu dideportasi kembali ke negaramu kamu bisa dieksekusi dengan tuduhan mata-mata. Sebenarnya dari interview ini, aku rasa kamu tidak cocok kamu hanya akan buang-buang waktu dan uangku saja. Nah sekarang silahkan keluar. Taro antar nona ini keluar !”Ryuji Watanabe memerintahkan anak buahnya untuk mengantar Lee eun byong.

“Sebentar tuan, aku pernah mendapat peran utama dan aku suka bermain drama di sekolahku dulu. Lagi pula hanya ini saja harapanku tuan, tolong pertimbangankan lagi tuan.”Lee eun byong mencoba sekali lagi meyakinkan boss mafia itu.

“Gadis bodoh….kamu pikir peran amatir mu di negrimu itu berguna..?! Kamu sadar ngga..?!! Kamu ini akan main film porno! Ngerti kamu..?! Aku tidak pernah memaksa orang. Aku cuma butuh pemain yang profesional yang pantas di bayar tinggi. Gaya bicaramu saja masih canggung begitu hanya akan buang waktu saja. Kamu tahu tidak biaya produksi sebuah film porno? Untuk pemeran profesional saja yang aktingnya sempurna sudah menghabiskan biaya 500 ribu yen belum termasuk honor pemainnya. Sudahlah lebih baik urungkan niatmu lagi pula aku tidak mau terlibat perkara hukum dengan memperkerjakan pendatang illegal sepertimu.”Ryuji Watanabe tetap tidak mengubah keputusannya.

“Tolonglah tuan aku sangat membutuhkan banyak uang untuk biaya ibuku di kampung halaman. Aku bersedia menerima apa saja syarat tuan.”Lee eun byong masih berusaha sekuat tenaga kembali meyakinkan boss mafia itu.

“Dasar keras kepala, Oke aku pertimbangkan lagi. Kamu dengar baik-baik dulu syarat-syaratnya Taro, coba kamu jelaskan semuanya kepada nona ini.”Setelah terdiam beberapa saat akhirnya Ryuji watanabe angkat bicara.

“Baik nona, sebagai pemeran film porno, anda harus dituntut bersikap alami tanpa dibuat-buat ekspresimu dituntut harus benar-benar merangsang birahi penonton. Setiap salah dialog atau gerakanmu salah, adalah suatu pemborosan biaya produksi. Kamu juga harus kooperatif dengan sutradara dan lawan mainmu. Juga wajib menyanggupi apapun tema film kami. Adapun tema film rumah produksi kami adalah pemerkosaan, gangbang, enema, beastility, exhibitionist, dan bukkake. Kalo kamu tidak paham istilah istilah tadi nanti dapat kamu pelajari di surat kontraknya disana akan diuraikan satu persatu secara detail. Selain itu, yang terpenting kamu juga harus lulus test kesehatan untuk mencegah penularan penyakit HIV atau penyakit mematikan yang lainnya. Satu lagi karena kamu pendatang illegal, kami tidak menanggung akibatnya jika suatu saat kamu tertangkap pihak kepolisian pada saat syuting. Walaupun usaha film porno adalah legal di Jepang, tapi ada perkecualian jika syuting dilakukan di area publik khususnya pada film bergenre exhibitionist paham..?! kalo kamu keberatan dengan syarat-syarat kami silahkan mundur kami tidak pernah memaksa. Aku lihat kamu gadis baik-baik, apa alasanmu mau bergabung dengan kami..? Apa kamu pernah berhubungan sex dengan pria sebelumnya..?” Sebenarnya Taro merasa heran juga dengan kenekatan Lee eun byong

“Saya pernah berhubungan dan masih berhubungan dengan teman pria saya. Saya butuh uang banyak dalam sekejab karena ibu saya sedang butuh biaya berobat. Tapi saya juga tidak mau melacurkan diri karena takut kena penyakit lagi pula cukup untuk kali ini saja. Satu lagi, kalo boleh lawan main saya adalah teman pria saya bagaimana… bisa..?”Dengan penuh harap, Lee eun byong berharap Park Ji Sun kekasihnya bisa menjadi partnernya.

“Ha..ha..ha…berani-beraninya kamu tawar menawar. kamu pikir kamu siapa hah! Bermain film porno itu tidak semudah yang kamu bayangkan tahu..?! untuk tampil telanjang bulat didepan satu orang lain saja kamu akan merasa malu luar biasa. Sedangkan untuk main film porno paling sedikit kamu harus bugil dihadapan 5 orang disamping itu kamu juga harus ngesex didepan orang. Kalo kamu aku mungkin percaya karena kamu cewek memekmu cuma pasif menerima tapi kalo cowokmu aku tidak yakin tekanan psikologis rasa malu akan membuat kontol cowokmu ngga bakal bisa ngaceng. Tapi it’s Ok aku suka sikapmu kebetulan kami juga masih kekurangan pemain pria. Bawa teman priamu kemari sebelum kami putuskan untuk menerima atau menolaknya.”Taro tertawa tergelak-gelak mendengar penawaran Lee eun byong.

“Terimakasih tuan, saya rasa teman pria saya bisa kami sering bercinta. Dia tetanggaku dari kecil kami sama-sama dari korea utara.”Lee eun byong akhirnya bernafas lega.

“Nah sekarang kita coba mulai casting awal, Copot semua bajumu aku ingin melihat apakah tubuhmu memenuhi syarat.”Dengan ekspresi suara yang masih tetap datar dan dingin Ryuji Watanabe memerintahkan gadis didepannya itu untuk segera melucuti busananya sendiri.

“Ba..baik tu..an.”Meskipun dari awal Lee eun byong sudah menyadari resikonya, tapi tetap saja jantungnya berdegup lebih kencang. Baginya baru kali ini ia harus tampil tanpa busana didepan pria lain selain Park ji sun kekasihnya.

Dia pun pelan-pelan menurunkan bajunya sambil tetap menyilangkan tangannya didepan dada menutupi dadanya yang montok itu. Ryuji watanabe dan Taro tidak berkedip memelototi tubuh molek Lee eun byong yang pelan-pelan mulai tersingkap.

Pertama-tama bahunya yang terlihat dengan tali bh-nya yang juga berwarna merah, kemudian punggung dan selanjutnya perut mulusnya. Tetapi Lee eun byong sendiri tetap menyilangkan tangannya di depan dada

“Tuan.. sudah cukup yah..segini aja.”

Ryuji watanabe dan Taro sendiri sudah tidak tahan “Belum tadi kami bilang khan copot semuanya sampe telanjang bulat, nah ayo buka behanya. Kami mau lihat toked kamu”.Lee eun byong cuma tertunduk lesu

Lee eun byong menarik behanya dan memperlihatkan sepasang payudaranya yang montok sempurna. Lee eun byong memakai bh yang mempunya kaitan di depan sehingga dapat dibuka dengan cepat . Ryuji watanabe dan Taro tampak terkesima melihat pemandangan indah di hadapannya.

Payudara Lee eun byong nampak bulat kenyal dan mengacung kencang dengan puting berwarna pink kecoklatan yang menjulang. Ditambah dengan perutnya yang rata sehingga payudaranya kelihatan besar.

Itu semua sebab Lee eun byong rajin olahraga untuk menjaga tubuhnya. Nampak jemari Lee eun byong mulai sedikit bergetar ketika akhirnya tinggal bra berendra dan celana dalam berwarna merah saja yang tertinggal

“Hayo…jangan ragu-ragu waktu kami terbatas.”Suara Taro kembali memecahkan keheningan.

Meski suhu udara cukup dingin, Peluh sebesar biji jagung meluncur deras dari berbagai pori-pori tubuh Lee eun byong. Jemarinya semakin gemetar keras ketika meloloskan celana dalam sebagai kain terakhir penutup tubuhnya.

Tubuh Lee eun byong kini telah bugil total di depan Ryuji Watanabe dan anak buahnya. Lee eun byong merasa sangat risih. Tubuh telanjangnya kini dijelajahi secara detail inci demi inci oleh tatapan penuh selidik.

Meskipun sudah sering ia bertelanjang bulat di depan Park Ji sun kekasihnya, tetapi untuk berbugil didepan pria lain selain pacarnya cuma sekedar rencana sewaktu terpikir untuk bermain sebagai artis film porno dadakan.

Dan benar seperti yang Taro katakan tadi ternyata beban psikologis rasa malu yang sangat dahsyat menjadi hambatan yang rasanya mustahil untuk dilupakan.

“Hmm…lumayanlah, coba berputar..ya cukup tahan.”Lee eun byong terkesiap tubuhnya menggelinjang kegelian ketika secara tiba-tiba dari belakang tangan Taro menyelusup melewati belahan pantatnya dan merabai kemaluannya yang gundul seperti bayi.

Baru kemarin Lee eun byong mencukur habis bulu-bulu kemaluannya ia merasa risih dengan kelebatan bulu-bulu kelaminnya. Belum sempat beradaptasi dengan keadaan itu, kembali tubuhnya dipaksa menerima sensasi rasa geli yang lainnya, ketika dengan kasar jari-jari Taro memilin-milin puting susu Lee eun byong mencoba merangsang puting susunya untuk tetap tegang mengacung.

“Nanti Pentil lo harus tetap diusahakan tegang mengacung seperti ini mengerti..?!! Kata Taro sambil memilin-milin kedua pentil susu Lee eun byong sampai sedikit memanjang dari ukuran yang sebenarnya gadis itu menggeliat kegelian mendapat perlakuan seperti itu.

“OK.. cukup sekarang kamu boleh berpakaian kembali. Ini ada obat penumbuh rambut. Bulu-bulu jembutmu harus dibiarkan lebat sebab selera pasar film porno memang menghendaki demikian. Nanti kalo bulu jembutmu sudah tumbuh baru coba kau datang lagi kemari. Selera pasar konsumen film porno di Jepang berbeda dengan selera pasar bule. Ini memang salah satu ciri perindustrian film porno di Jepang. Dan ini surat referensi klinik laboratorium medis untuk chek kesehatan. Sementara cukup sampai disini, CV mu akan kami pelajari dulu. Ingat jangan coba-coba mempermainkan kami. Latar belakangmu akan kami periksa kalo ada yang disembunyikan lebih baik beritahukan dari sekarang mengerti..?! Walaupun nada bicara Taro terdengar datar tapi jelas mengandung arti penuh ancaman.

“Terima kasih tuan, saya permisi.”Akhirnya Lee eun byong bisa menghirup nafas lega setelah melewati interview beberapa jam yang menegangkan. Dengan hati lebih ringan Lee eun byong melangkahkan kakinya dari tempat itu.

Sementara itu, beberapa pasang mata nampak mengawasi kepergian gadis itu dari balik jendela.”Dasar bodoh, baru kali ini aku ketemu orang setolol dia.”Ryuji Watanabe tersenyum licik. Dari balik jendela, ekor matanya mengikuti kepergian gadis itu. “Kau Tau apa yang kupikirkan Taro?”Dengan penuh senyum licik dia bertanya kepada anak buahnya.

“Boss memang cerdas kita akan memanfaatkannya tanpa membayar sepeserpun. Tapi boss, terus terang apa aktingnya bisa sebagus Maria Ozawa? Dari wawancara aja, dia sepertinya belum ada pengalaman sama sekali.”kata Taro sambil menuangkan sedikit sake dan dengan perlahan menghirupnya dengan nikmat.

“Wah kau belum terlalu pintar Taro, kau masih harus banyak belajar lagi. Aku tidak peduli pada aktingnya. Aku akan menempatkannya pada film bergenre exhibitionist. Kau lihat Taro, ekspresi mukanya yang memerah menahan malu tadi benar-benar alami. Aku bisa merasakannya jika nanti dia harus bertelanjang bulat melenggang menyusur jalanan di shibuya yang padat. Ekspresinya pasti akan lebih sempurna dari saat ini. Aku dapat mencium bau uang yang sangat banyak pada dirinya dan filmnya akan menjadi film porno yang sempurna.”Asap rokok tipis perlahan keluar dari sudut bibir Ryuji Watanabe sang gembong Yakuza

“Tapi Boss bukankah sekarang Genre Exhibitionist sudah dilarang..? Belum lama Asahi miura tertangkap tangan ketika sedang syuting di truk sampah bahkan sampai sekarang Hamada bossnya masih belum bisa keluar meskipun sudah membayar pengacara mahal.”Dengan nada berhati-hati Taro berusaha mengingatkan bossnya.

“Cuih jangan samakan aku dengan Hamada dia cuma anak kemarin sore yang baru terjun di dunia hitam, Setelah si tua bangka Uzume bapaknya mampus klan pimpinannya semakin merosot saja reputasinya. Waktu dia merangkak aku sudah jadi penguasa di sini. Taro…, gadis itu dan kekasih bodohnya adalah imigran gelap dari korea utara. Kita tak perlu khawatir. Tidak akan ada resikonya sama sekali. Seandainya terjadi sesuatupun polisi tak akan berani menangkapku. Ingat aksi kita tahun lalu..? kalo bukan jasaku si tua bangka Hideki tidak akan menjabat kedudukan sebagai menteri.”Dengan dada membusung tangannya meraih kendi botol sake dan langsung menenggaknya dalam sekali telan.

“Wah akal boss memang cemerlang pantas menyandang julukan ular beracun dari Shibuya.”Walaupun sudah bertahun-tahun mengikuti Ryuji Watanabe, Taro masih belum sepenuhnya bisa menebak siasat-siasat licik bossnya.

Sementara itu…..

“Gila lo, aku sama sekali tidak mengizinkanmu.”Mencari uang adalah tugasku lagipula masih banyak cara lain.”Park Ji sun bagaikan tersengat listrik ribuan volt ketika mendengar ide kekasihnya untuk bermain dalam sebuah film porno. Dirinya sama sekali tidak menyangka kekasihnya bisa memiliki ide segila itu.

“Ji sun dengar aku..!! kita sudah hampir setahun di sini. Tapi kita masih belum punya apa-apa penagih hutang sudah mulai menagih hutang ayah untuk membiayai pelarian kita. Sedangkan kita belum sepeserpun mengirimkan uang. Bahkan kamu sudah berulah dengan meminjam uang dari para berandalan itu untuk berjudi. Belum lagi Ibuku sakit di kampung. Apa kamu pikir dengan menjadi buruh pabrik bisa mencukupinya..? Ingat kita sudah diberi waktu 1minggu untuk melunasi tagihan sewa apartemen atau kita akan segera menjadi gelandangan.”Lee eun byong terus terang bingung dengan tindakannya.

Disatu sisi sebenarnya hati nuraninya menjerit tetapi disisi lain keadaan memaksanya untuk menerima pekerjaan yang memalukan itu. Semua jalan rasanya sudah buntu. Sementara itu Park ji sun hanya tertunduk lesu menyadari ketidak berdayaannya.

“Brak…Brak…Brak… Park Ji sun keluar kau atau kami yang akan memaksa masuk!!”Pasangan itu terloncat kaget ketika tiba-tiba pintu apartemennya digedor-gedor oleh segerombolan orang

“Cepat sembunyi, biar aku yang menemuinya mereka tak akan memukul wanita.”Dengan cemas Lee eun byong menyuruh kekasihnya itu untuk segera bersembunyi. Setelah mengambil nafas dalam-dalam beberapa kali akhirnya ia memberanikan diri membuka pintu.

“Ada apa sih berisik sekali kalian….”Mata Lee eun byong mencoba melotot. Mulut mungilnya meruncing mencoba menghardik gerombolan berandal teri itu.

“Heh..cewek sialan mana cowok lo.?!! suruh keluar dia… cepat...”Pimpinan gerombolan itu dengan tidak kalah galaknya balas menghardik sambil menyeruak masuk.

Tenaga Lee eun byong tidak cukup kuat untuk menahan pintu. Gerombolan itu terdiri dari 5 orang. Semuanya pria dengan dandanan lusuh. Dengan santai mereka melenggang masuk dan duduk-duduk seenak hatinya sambil mencomot makanan kecil dan minuman didalam kulkas tanpa permisi kepada si empunya.

“Aku tahu, Park ji sun..!! Lo sedang bersembunyi di lemarikan.?!! Baik aku punya banyak waktu. Kita lihat siapa yang bertahan. Nampaknya cewek lo lumayan juga. Lo sudah menyiapkannya buat menemani kita ya..?!! Kita lihat dulu bagaimana servisnya. Aku akan pertimbangkan untuk tidak menghitung bunganya kalo servis cewek lo memuaskan kami ha….ha…ha…”Tangan-tangan mereka mulai usil mencolek-colek pantat dan payudara Lee eun byong

“Auuuwwwrg….bangsat..kurang ajar kalian!!”Gadis itu sangat terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka gerombolan itu nekat melakukan pelecehan sexual terhadap dirinya.

“Bwaha….ha….ha…..dia tidak pake beha aku dapat merasakan pentilnya sudah ngacung dibalik kemejanya.”Gerombolan preman itu tertawa-tawa kegirangan.

“Jangan-ia juga tidak memakai celana dalam. Ayo kita coba lihat.”Mereka mulai agresif merangsek maju memojokan Lee eun byong.

“Stop…hentikan!!”Park Ji Sun akhirnya tidak sanggup melihat perlakuan gerombolan itu terhadap kekasihnya.

“Hah…dasar kau pria kerdil masih punya nyali juga kau..?!! Aku kira kau sengaja memberikan cewek lo untuk nyenengin kami. Hajar dia kawan-kawan”Dalam sekejap puluhan bogem mentah menghujani tubuh Park ji sun.

“Stop cukup..hentikan.. Kalian masih mau uang kalian dibayar tidak?!! kalau masih mau cepat hentikan..!!”Dengan putus asa Lee eun byong berusaha mati-matian mencoba menghentikan tindakan brutal gerombolan itu.

“Kau beruntung kawan. Cewek lo masih mau menolongmu”Pipi park ji sun tampak membiru bekas hajaran gerombolan itu.

“OK aku mau dengar… apa penawaranmu?”Pimpinan gerombolan itu duduk menyilangkan kakinya diatas meja dengan santai dan menyuruh anak buahnya menghentikan aksinya matanya menatap dengan tatapan mesum pada gadis yang berdiri dihadapannya.

“Berapa hutangnya pada kalian?”Dengan suara tercekat Lee eun byong memberanikan diri berkomunikasi dengan pimpinan gerombolan itu.

“Ah sedikit cuma 150 ribu Yen saja, Kapan mau dilunasi..?”Dengan enteng pimpinan gerombolan itu menyebutkan jumlah hutang Park ji sun.

“Akhir Bulan depan…”Sebenarnya Lee eun byong tidak begitu yakin akan janjinya. Tapi sudah tidak ada jalan lain lagi untuk menyelamatkan kekasihnya itu.

“Ha…ha…apa Akhir bulan depan? Keparat ini sudah menunggak hutang selama 3 bulan tanpa berniat baik menyicilnya barang sepeserpun kepada kami. Apa masih belum cukup..?!! OK aku orangnya cukup berperasaan melihat kecantikanmu, aku akan mempertimbangkannya. Tapi kalo sampai bulan depan hutangnya menjadi 200 ribu Yen dan kalau kalian tidak sanggup membayarnya kau harus tidur denganku selama 1 minggu dan selanjutnya bekerja sebagai penari telanjang di klab malam bossku bagaimana?Pemimpin preman teri itu tertawa-tergelak-gelak mendengar penawaran Lee eun byong

“Baik 200 ribu Yen kita sepakat.”Lee eun byong menatap kosong. Pikirannya sangat kacau kata-kata persetujuannya meluncur begitu saja tanpa bisa dikontrolnya.

“Bagaimana keadaanmu?”Lee eun byong mendekati kekasihnya yang masih meringis kesakitan mereka berdua terdiam beberapa saat.

“Sebaiknya lo ngga usah ikut campur cepat kemasi barang-barangmu dan pergi dari sini!”Dengan tatapan kosong menerawang dan suara bergetar Park ji sun berbisik sambil memeluk kekasihnya.

“Pergi kemana? kau egois kita berdua sudah sejauh ini melangkah. Kita hadapi bersama pasti bisa. Aku mohon dengarkanlah aku sekali ini saja kita sudah tidak ada jalan lain lagi.”Lee eun byong akhirnya tak mampu lagi membendung derai air matanya yang mengalir bercucuran dengan deras dipelukan kekasihnya. Hatinya begitu risau dihadapkan pada segala masalahyang datang secara bertubi-tubi.

“Dengan menuruti ide gilamu? Apa kau tidak malu? Bagaimana kalo ada orang di desa kita sampai ada yang tahu? Bagaimana nanti perasaan anak-anak kita kelak? Apa kau tidak memikirkannya?!

“Peduli apa? Lagi pula tidak mungkin orang di desa kita sampai tahu. Tidak ada arus informasi apapun yang bisa masuk di negeri komunis sampah seperti itu. Kita seharusnya bersyukur bisa lolos dari negeri terkutuk itu. Kelak jika kita sudah mendapat bayarannya kita kabur lagi ke negara lain dan mulai hidup baru di sana percayalah padaku.Kembali Lee eun byong berusaha meyakinkan kekasihnya.

“Tidak..aku tidak sanggup harus melihatmu telanjang bulat di depan orang lain. Lebih baik aku tidak melihatmu sama sekali..!!”Nampak Park Ji sun berusaha keras menahan air matanya untuk turun.

“Kau Egois dan jahat apa kau tega melihatku digauli orang lain selain dirimu? Aku sudah bisa meyakinkan bossnya supaya lawan mainku adalah kamu. Tolonglah aku dan dirimu sendiri. Kita sudah tidak ada cara lain lagi. lagipula cukup kali ini saja. Bayarannya sebesar 5 juta Yen. Bayangkan dengan uang sebanyak itu. Kita bisa memulai usaha baru dan hidup baru di negara lain.

“Baiklah tapi cukup sekali ini saja. Dan ingat aku melakukannya supaya kamu tetap tidak disentuh oleh pria lain.”Dengan tertunduk lesu akhirnya Park Ji sun menyetujui ide kekasihnya itu.

Dengan lembut Lee eun byong mengecup kening kekasihnya. Belaian-belain lembut silih berganti menjelajahi seluruh lekuk tubuh masing-masing kedua insan manusia itu. Dan tak lama kemudian keduanya telah bergumul berpagutan mulut memancing birahi masing-masing.

Tangan Lee eun byong dengan nakal menjelajah masuk ke celana pendek yang dikenakan kekasihnya. Kemaluan Park ji sun masih lemas, tapi sentuhan lembut kekasihnya, membuatnya perlahan menegang, elusan-elusan Lee eun byong membuat Park ji sun terangsang.

“Cewek nakal.” Bisik Park ji sun mendengus sambil tersenyum lebar. Park ji sun melepas celana pendek yang ia kenakan sehingga pria itu kini telanjang bulat tepat di hadapan Lee eun byong. “Silahkan saja kalau begitu.”Park ji sun mengedip pada kekasihnya.

Jari jemari Lee eun byong melingkar di batang kemaluan kekasihnya, dengan lembut ia menyentuh dan mengelus lembut penis kekasihnya. Dengan mantap kemaluan Park Ji sun perlahan menegang seiring sentuhan mesra kekasihnya.

Penis Park ji sun bagaikan seekor ular yang tiba-tiba saja hidup dan bergerak sendiri, menegang dan membesar. Tak berhenti begitu saja, tangan Lee eun byong mencari-cari ke selangkangan kekasihnya dan meraih kantung biji kemaluannya.

“Aku selalu menyukai sentuhanmu yang nakal,”Park ji sun tersenyum mesra pada kekasihnya yang jelita. Jari jemari Lee eun byong bermain-main dan berputar di kantung kemaluan kekasihnya.

“Aku sendiri juga suka.” Bisik Lee eun byong menggoda, lidahnya keluar dan menjilat bibir sendiri dengan binal, matanya kembali tertuntun pada batang kemaluan kekasihnya yang menegang dengan cepat.

“Omong-omong, aku hanya mengenakan kemeja dan celana jeans tanpa pakaian dalam.”Lee eun byong berbisik dengan nada sangat menggoda

Park Ji sun tersenyum. “Dasar cewek nakal.”

Park ji sun membiarkan kekasihnya bermain-main dengan kantung biji pelirnya. Tiap sentuhan Lee eun byong terasa sampai ke tulang sungsum. Park ji sun mendengus penuh gairah.

Lee eun byong memainkan kantung biji pelir kekasihnya dengan penuh perasaan, ditimang dan dielus lembut, jemarinya yan lentik bergerak menyusuri bentuk bulat kantung itu dan meremasnya pelan.

Lalu jemari Lee eun byong kembali menyusur ke batang penis kekasihnya. Digenggamnya erat batang kemaluan Park ji sun bagaikan hendak memeras saripatinya sampai habis, genggaman jari-jari Lee eun byong bergerak naik turun menyentak-nyentak batang kemaluan kekasihnya sampai pria itu mengerang keenakan.

Tapi Park ji sun tak mau menyerah begitu saja, dengan sigap ia meraih kemeja longgar yang dikenakan oleh kekasihnya.

Perlahan, ia meloloskan satu persatu kancing baju yang terkait di bagian depan kemeja yang dipakai Kekasihnya lalu beralih ke celana yang dikenakannya, tak perlu waktu lama untuk melepaskannya.

Mata Park ji sun buas menatap keindahan tubuh kekasihnya yang kini juga sudah telanjang bulat di hadapannya.

Buah dada yang menakjubkan, besar, bulat dan kencang dengan pentil susu yang menonjol ke depan seakan menantang. Saat Lee eun byong bangkit gairahnya dan mulai menuntut rangsangan tangan-tangan nakal Park ji sun.

Payudara montok itu bergerak naik turun dan berguncang dengan indahnya. Puting payudara sudah membesar sebesar biji gundu berwarna merah muda yang dikelilingi oleh lingkaran berkarang lembut yang berada di puncak gundukan daging yang sangat menawan.

Saat pandangan mata Park ji sun tertuju pada buah dada kekasihnya, puting itu perlahan mengeras dan membesar, seakan pentil susu itu sudah bersiap akan dilumat oleh mulut Park ji sun.

“Montok banget….” Bisik Park ji sun.

Lee eun byong tersenyum menggoda, Park ji sun ambruk ke dalam pelukan kekasihnya. Jemari Park ji sun membelai lembut pipi dan rambut si cantik yang memeluknya erat. Pandangan mereka saling terkait dan akhirnya bibir mereka saling terpagut. Lidah saling bertautan, saling menggilas dan saling menjilat.

Ketika akhirnya mereka saling melepas bibir, Park ji sun segera menyerang telinga dan menjilat daun telinga kekasihnya. Tubuh bugil kekasihnya yang cantik menggelinjang keenakan dan merinding luar dalam.

Park ji sun meneruskan ciumannya dan menjelajah ke bawah menuju leher kekasihnya yang panjang. Tangan Park ji sun juga tak tinggal diam dan menjelajah ke seluruh tubuh kekasihnya. Jemari Park ji sun perlahan mengelus dan meremas pantat kekasihnya yang bulat dan kencang.

Akhirnya tangan Park ji sun mendarat di bulat buah dada kekasihnya, mengelusnya dan melingkarinya lembut. Tangan Lee eun byong yang masih berada di batang penis Ji sun kembali bergerak naik turun.

Tiba-tiba saja mulut Park ji sun turun ke bawah dan menyerang payudara kekasihnya, mencium dan menjilat sesuka hatinya. Si cantik itu langsung megap-megap tak berdaya dan merasakan nikmatnya rangsangan yang diberikan kekasihnya.

Bibir Park ji sun yang menghisap pentil susunya membuat tangan Lee eun byong yang masih berada di batang penisnya tersentak-sentak tak beraturan.

Mulut dan lidah Park ji sun bergerak lincah menikmati lezatnya puncak payudara kekasihnya yang kian menonjol. Tubuh wanita cantik itu melengkung dan menyuguhkan balon payudaranya tepat di mulut kekasihnya.

Lee eun byong terus saja merintih keenakan saat lidah Park ji sun kian menggila dan menjilat kesana kemari. Tubuh Lee eun byong makin merinding kala tangan kekasihnya yang nakal menelurusi buah dada dan turun ke perut lalu makin turun lagi hingga sampai di gundukan manis bukit gundul kemaluannya yang baru di cukur sampai botak kemarin.

Satu jari Park ji sun dengan mudah melesak masuk ke dalam kemaluan Lee eun byong yang sudah basah dan hangat. Wanita molek itu menggeliat tak terkendali dan memutar bibir vaginanya, mencoba menikmati tusukan jari kekasihnya yang menjelajah masuk ke dalam bagian terlarangnya.

Park ji sun mengocok kemaluan kekasihnya dengan jari jemarinya, cairan cintapun tak pelak lagi membanjir deras dan melumasi lobang kemaluannya.

Lee eun byong makin tak berdaya dan terus menggeliat karena serangan ganda yang merangsang liang cinta dan buah dadanya yang ranum. Jari jemari si molek itu kian kencang menuntut batang kemaluan kekasihnya agar terus membesar dan bisa segera dimasukkan ke dalam lobang kemaluannya.

“Sekarang!” desis Lee eun byong sambil memejamkan mata terbakar nafsu birahi. “Berikan padaku sekarang, sayang! Sekarang!”

Park ji sun melepaskan pagutannya dari buah dada kekasihnya, mulutnya sekali lagi mencumbu bibir kekasihnya dan lidahnya menjelajah masuk ke dalam rongga mulutnya.

Kaki Lee eun byong merenggang kian lebar, terbuka hanya untuk kekasihnya. Tangan Park ji sun meraih gundukan lembut di dada kekasihnya dan meremasnya dengan gemas.

Lee eun byong meringis kesakitan bercampur nikmat, dia menggeliat sambil membimbing batang kemaluan kekasihnya ke arah bibir kemaluannya yang kian terbuka.

Batang penis Park ji sun yang sudah tegang membuka bibir kemaluan kekasihnya dengan mudah, melesak masuk perlahan-lahan melebarkan liang yang tadinya rapat dan basah.

Lee eun byong melenguh keras, tubuhnya menggigil gemetar saat kekasihnya melesakkan penis ke dalam liang kenikmatannya. Penis kekasihnya itu terasa sangat tegang dan kenyal menyesaki liang kenikmatannya yang rapat dan mungil.

Park ji sun menyentak kemaluannya yang terasa sangat nyaman berada di dalam liang kemaluan kekasihnya. Jari jemari Lee eun byong berpindah dari selangkangan Park ji sun dan meremas pantat kekasihnya yang keras dan kencang.

“Terusss, sayang!” desah Lee eun byong setengah berbisik, “lebih dalam, lebih dalaaammm!!”

Park ji sun melepaskan remasannya pada payudara Lee eun byong, ia lalu bersangga pada siku tangannya sambil tersenyum penuh kepuasan pada kekasihnya yang berada di bawahnya melenguh manja.

Park ji sun masih bisa merasakan puting payudara kekasihnya semakin mengeras di bawah desakan dadanya sendiri, tubuh indah kekasihnya menggeliat erotis saat ia makin giat melesakkan penisnya dalam-dalam.

Melihat kekasihnya mulai panas, Park ji sun menarik pinggulnya ke belakang, batang kemaluan park ji sun tertarik hingga menyisakan ujung gundul kepala penisnya yang seperti topi baja yang masih terkunci di dalam hisapan kelamin kekasihnya.

Lalu dengan kecepatan penuh Park ji sun menghentakkan badan ke depan dan mendorong seluruh batangnya masuk kembali ke dalam liang kemaluan kekasihnya dengan sekuat tenaga.

Lee eun byong melenguh lagi dan menggerakkan kepalanya dengan liar saat penis milik kekasihnya mulai masuk dan melesak ke dalam kemaluannya.

Ketika Park ji sun menarik batang kemaluannya keluar, Lee eun byong hampir-hampir menjerit karena dinding kemaluannya yang didesak melebar oleh kepala penis yang berbentuk mirip topi baja.

Ujung kepala kemaluan park ji sun terjepit erat tak mau lepas. Park ji sun akhirnya kembali menusuk lobang kemaluan kekasihnya lagi dalam-dalam.

Invasi kenikmata perlahan kemaluan Park ji sun membuat Lee eun byong mengeluarkan pekikan nikmat yang lirih. Liang kemaluannya yang rapat meremas-remas kemaluan kekasihnya dengan giat yang membuat batang penis itu makin mengeras sempurna.

Pinggul Park ji sun disentakkan ke dalam, lalu ditarik keluar, kemudian dilesakkannya lagi batang kemaluannya ke dalam liang kemaluan kekasihnya yang sudah pasrah.

Begitu terus berulang-ulang. Tangan mungil Lee eun byong meremas pantat kekasihnya yang keras, ia menancapkan kukunya dengan liar karena terangsang hebat.

Tiap kali batang penis kekasihnya dipompa keluar masuk, jari jemari Le eun byong mendesaknya agar bergerak lebih cepat dan menusuk lebih dalam. Kaki wanita cantik yang jenjang itu mengunci pinggang Park ji sun dengan rapat seakan tak mau lepas dari persetubuhan yang membuatnya terangsang hebat.

Lee eun byong mengerang dan menggelinjang di bawah desakan bertubi-tubi batang kemaluan yang membuka dan menutup liang kemaluannya dengan penuh rangsangan yang nikmat.

Tanpa malu-malu wanita cantik itu menjepit pinggang kekasihnya dan meminta lagi. Penis Park ji sun menggali lebih dalam lagi ke dalam liang kemaluan kekasihnya.

Lee eun byong terus menggeliat dan menggigil di balik dekapan Park ji sun, buah dadanya yang mulus terus mengelus dada kekasihnya. Puting susunya yang tegang seakan ingin menancap ke atas.

Pantat Lee eun byong bergerak seirama dengan gerakan menusuk yang dilakukan oleh kekasihnya, tiap kali penis itu menancap ke bawah, pantat wanita cantik itu membumbung ke atas menyambut tiap lesakan agar masuk lebih dalam.

Lee eun byong tidak lagi merintih, ia kini melenguh nikmat tiap kali tubuh mereka bertumbukan, tubuh indahnya melejit-lejit dengan binal tiap kali kemaluan kekasihnya melesak ke dalam liang kenikmatannya.

Tiba-tiba saja Park ji sun ambruk menimpa tubuh kekasihnya, dadanya menumbuk payudara Lee eun byong dan menggepengkan balon buah dada kekasihnya itu.

Tangan Park ji sun bergerak ke bawah, menarik pantatnya agar naik dan meningkatkan gerakan penisnya di dalam liang kemaluan kekasihnya.

Lee eun byong melenguh semakin keras, tubuhnya makin liar seakan hendak menelan seluruh kemaluan kekasihnya berikut kantung biji pelirnya. Bersama-sama mereka menanjak ke arah kepuasan badani secara maksimal.

Akhirnya, Park ji sun tidak mampu lagi menahan siksaan kenikmatan di ujung gundul kemaluannya yang berbentuk topi baja.

Air mani yang kental menyembur deras dari ujung kemaluannya melejit masuk ke dalam liang rahim Lee eun byong.

Banjir sperma di dalam liang kemaluan lee eun byong menghangatkan suhu tubuh sepasang kekasih yang tengah dibakar nafsu hewani.

Lee eun byong memeluk erat kekasihnya seakan tak ingin melepaskannya, Park ji sun mencium bibir mungil kekasihnya dan kedua insan yang baru menuntaskan hasrat birahi ini terlelap karena kelelahan dalam keadaan telanjang bulat tanpa sehelai benang pun.

“Bagaimana hasil testnya?”Setelah 1,5 bulan menunggu akhirnya Lee eun byong dan Park ji sun mendapat panggilan dari perusahaan Ryuji Watanabe.

“Ini hasil testnya tuan?”Mereka berdua menyerahkan hasil rekap medis yang baru diambil pagi tadi.

“Itu teman priamu ya?”Tanya Taro

“Ya tuan.”Jawab gadis itu

“Lumayan tidak terlalu buruk juga tidak terlalu bagus sedang-sedang saja apa dia bisa mengendarai motor?

“Tentu bisa tuan”Dengan segera Park ji sun menjawabnya

“Nah sekarang coba kamu perkenalkan dirimu secara singkat!”Taro memerintahkan Park ji sun untuk menceritakan riwayatnya.

“Baik tuan, Namaku Park Ji sun aku juga berasal dari chosan korea utara kami berdua adalah tetangga. Kami berhasil meloloskan diri dari negeri kami. Setelah melewati perbatasan akhirnya kami sampai disini kebetulan ayah kami dulu adalah guru bahasa jepang jadi kami bisa lancar bicara jepang.”Dengan semangat Park ji sun menceritakan riwayatnya.

“Apa cewek lo sudah menjelaskan semuanya padamu tentang pekerjaan kalian nanti?”Taro kembali menanyakan hal itu kepada Park ji sun

“Sudah tuan.”Jawab Park ji sun dengan singkat

“Baik ini surat kontraknya baca baik-baik jika sudah paham tanda tangani dan serahkan pasport kalian sebagai jaminannya. Kami cukup fair dan tidak pernah memaksa orang. Sekali lagi aku tegaskan kalian boleh mundur sekarang dan anggap tidak pernah bertemu aku. Karena begitu kalian menandatangani kontrak, kalian sudah tidak bisa mundur lagi dan jika kalian coba macam-macam dengan ku kalian akan rasakan sendiri akibatnya Mengerti?”Taro untuk terakhir kalinya mengingatkan segala resiko yang ada sementara dengan tenang Ryuji Watanabe menyimak pembicaraan mereka sejak tadi sambil menikmati rokoknya.

“Baik tuan kami sudah memahami kontraknya”Akhirnya mereka berdua menandatangani kontrak kerja mereka.

“Oh ya…bagaimana jembutmu? apakah sudah tumbuh lebat?”Taro bertanya kepada Lee eun byong. Nadanya terdengar santai seakan menanyakan suatu hal yang biasa saja.

“Su..sudah pak berkat obat penumbuh bulu yang bapak berikan.”Lee eun byong tertunduk wajahnya menjadi semerah udang rebus menjawab pertanyaan Taro.

“Bagus….aku sudah yakin obat itu akan membuat bulu jembutmu menjadi sangat lebat.”Taro…tertawa terkekeh melihat rona wajah Lee eun byong yang tertunduk malu.

“Baik sekarang kalian ikut Taro untuk mulai berlatih dan berkenalan dengan kru kalian. Taro untuk selanjutnya aku serahkan mereka padamu.”Mata Ryuji Watanabe mengerling ke Taro memberikan tanda untuk segera meninggalkan ruangan seulas senyum culas tersungging disudut bibirnya.

“OK kalian berdua sekarang lepaskan seluruh pakaianmu dan ikuti aku kita akan segera mulai latihan.”Dengan nada datar Taro memerintahkan mereka berdua untuk segera melucuti busananya.

“Se…se…sekarang pak? Apa sebaiknya tidak diruang latihan saja..? Dengan gugup mereka berdua terkesiap mendengar perintah Taro.

Jantung mereka berdebar keras apalagi didepan ruangan Ryuji Watanabe cukup banyak staff kantor dan anak buahnya yang sibuk hilir mudik mengerjakan tugasnya masing-masing.

“Dimanapun tempatnya adalah tempat latihan kalian bagaimana sih tadi katanya sudah paham kontrakmu…?!! Sekarang cepat copot baju kalian..!!”Dengan terpaksa akhirnya mereka berdua melucuti bajunya sendiri sampai benar-benar telanjang bulat.

Mereka berdua berusaha menutup kemaluannya masing-masing dengan menggunakan kedua tangan mereka.

“Siapa suruh tutupi kelamin kalian pake tangan hah..?!! udah buka aja toh nanti juga bakal dilihatin orang banyak. Dari awal khan aku sudah bilang dan kalian menyanggupi. Jadi orang yang konsisten donk..!!”Taro pura-pura marah padahal dalam hatinya tertawa terbahak-bahak melihat muka kedua orang yang telanjang bulat didepannya memerah seperti kepiting rebus.

Taktiknya untuk menjatuhkan mental pasangan itu telah sempurna ia berhasil mempermalukan mereka sampai keambang batas yang diinginkannya.

Gedung markas kelompok Ryuji Watanabe ini menempati sebidang tanah dengan luas lebih kurang 1000 meter persegi.

Walaupun masih mempertahankan design klasik, bangunan 4 lantai ini tergolong mewah dan modern perlengkapannya. Nampaknya tuan Ryuji Watanabe mempunyai hobby mengkoleksi mobil antik.

Beberapa mobil antik dengan kondisi masih mulus berjejer rapi sementara itu di berbagai sudut ruangan bertebaran kamera-kamera pengawas.

Beberapa anjing penjaga jenis Pitbull dan rottweiler berdiri kokoh dengan gagahnya menatap dengan tajam gerak gerik setiap orang yang mencurigakan dan siap sedia untuk menyerangnya kapan saja.

2 ekor diantaranya lalu berjalan mengikuti Park Ji sun dan Lee eun byong yang berjalan mengendap-endap. Tiba-tiba Lee eun byong merasakan sesuatu benda kasap yang basah dan hangat di pantat telanjangnya dari arah belakang.

Sesuatu yang basah kemudian turun menyentuh paha bagian dalamnya, dekat selangkangan. Ketika jilatan hangat dari lidah yang basah menjalari selangkanganya, barulah ia sadar kalau ada seekor anjing. Anjing yang besar. Anjing yang besar dan cabul.

Lee eun byong tak habis pikir, mengapa mereka tak menempatkan hewan yang nakal seperti itu di luar. Ia berusaha untuk tak gelagapan dengan harapan Taro melihat apa yang terjadi dan membantu untuk mengusir anjing besar yang nampaknya sangat galak.

Sayangnya ia tampaknya malah sibuk menceritakan sejarah klan perkumpulan Ryuji Watanabe. Lee eun byong menggeserkan sedikit badannya sehingga seharusnya Taro dapat melihat di mana anjing penjaga miliknya meletakkan kepalanya. Akan tetapi ternyata ia bersikap seolah-olah tidak melihatnya, dan kenyataan itu benar-benar mengganggu Lee eun byong.

Sementara itu, tangan Lee eun byong mulai terasa pegal karena berusaha menepis kepala anjing itu dan lututnya juga terasa lemas. Si anjing kini pindah ke hadapannya dan mulai mengendus-endus ke selangkangannya.

Kali ini anjing penjaga itu menempelkan moncongnya tepat ke klitoris gadis malang itu, yang reaksinya serasa membara dan menjilatinya dengan lebih keras lagi.

Kali ini Eun byong benar-benar yakin, Kalau Taro sebenarnya mengetahui tingkah laku anjingnya, karena ia justru sengaja memberi ruang bagi si anjing untuk mengakses dirinya.

Setiap tangan gadis malang itu berusaha menghalau, anjing penjaga yang besar itu menggeram buas sehingga menciutkan nyalinya.

Akhirnya Lee eun byong hanya memejamkan matanya sementaranya tangannya memeluk erat tangan kekasihnya yang juga kewalahan berusaha menyingkirkan anjing besar satunya lagi yang asyik mengendus-endus dan menjilati alat kelaminnya.

Park ji sun juga tidak bisa berbuat apa-apa mereka berdua kini sepenuhnya berada di dalam kendali 2 anjing penjaga besar yang cabul.

Taro nampak jelas sengaja membiarkan itu terjadi. Kenyataan itu serasa menyiramkan aliran listrik yang menggetarkan seluruh urat syaraf pasangan itu.

Taro membiarkan mereka menyesuaikan diri dengan jilatan-jilatan cabul anjingnya dengan tidak menggubris sama sekali pasangan yang sedang kebingungan itu

Beberapa orang yang diajak ngobrol Taro berhenti sejenak. Mereka tersenyum-senyum menyadari Usaha Lee Eun byong dan Park Ji sun sia-sia. untuk mengenyahkan kepala anjing itu di selangkangannya masing-masing.

“Udah biarin saja anjing itu cuma ingin berkenalan dengan kalian dan itu juga bagian dari latihan.”Akhirnya Taro angkat bicara melihat pasangan itu semakin gelisah menghadapi serangan kedua anjing cabul itu di kemaluan mereka masing masing.

Mereka benar-benar merasa direndahkan serendah-rendahnya dan dipermalukan dengan berada dalam keadaan bugil berdiri di hadapan anjing-anjing penjaga cabul, yang sedang asyik menjilati alat kelamin mereka berdua masing-masing tanpa mampu mereka cegah sambil diperhatikan oleh Taro dan rekan-rekannya yang tersenyum senyum penuh arti.

Sepertinya mereka berdua benar-benar menghambakan diri kepada mereka dan anjingnya. Dan mereka secara tidak langsung diharuskan untuk menerimanya

Wajah kedua orang malang itu sudah seperti udang rebus, Tubuh bugil keduanya menggelinjang-gelinjang kegelian dan sesekali mengejan tak beraturan.

Mereka berdua sangat mengharapkan agar Taro menghentikan anjingnya yang sedang melakukan pelecehan sexual terhadap diri mereka. Namun pertolongan dari Taro dan kawan-kawannya tak kunjung datang.

Lee eun byong bahkan bisa melihat mata Taro dan rekan-rekannya terfokus ke araha selangkangannya dengan seringai gembira. Ketika tubuhnya mengejan-ngejan melengkung kebelakang menahan kegelian luar biasa di selangkangannya pada setiap sentakan lidah anjing cabul mereka.

Kedua orang itu tak tahu harus berbuat apa lagi. Perlahan, mereka berdua akhirnya berhenti melawan dan berusaha untuk menyesuaikan diri dengan jilatan-jilatan nakal kedua anjing cabul tersebut.

Semakin lama dibiarkan, lidah anjing itu makin membuat Lee eun byong seakan menjadi gila. Sentakan-sentakan dari daging lembut panjang yang basah dan hangat itu membawanya ke puncak kenikmatan.

Akhirnya malah gadis itu tak ingin jilatan-jilatan yang nikmat itu berhenti. Sesekali gadis itu menjerit tertahan berusaha menyembunyikan kenikmatan nafsu birahi yang sudah mulai menguasai dirinya.

Bulu kemaluannya yang hitam lebat kini telah basah kuyup oleh liur anjing cabul itu secara perlahan-lahan, lelehan liur anjing itu bercampur dengan cairan precum kenikmatannya meleleh mengalir dari selangkangan melewati pahanya.

Sementara itu Taro dan kawan-kawannya itu terus mengobrol seolah-olah tak ada sesuatu yang luar biasa yang terjadi. Mereka berdua pun tetap melayani segala pertanyaan dan pembicaraan Taro dengan suara terbata-bata.

Situasi ini menambah rangsangan pada diri Lee eun byong. Berbeda dengan Park ji sun yang merasa tersiksa beberapa kali ia meringis kesakitan ketika kulit penisnya tergigit kecil secara tidak sengaja oleh gigi-gigi tajam anjing itu ketika ia tetap berusaha berjalan mengikuti Taro.

Taro dan rekan-rekannya memainkan semacam permainan kepada kedua orang malang itu. Dan pasangan itu secara tidak langsung dipaksa untuk mulai menyukai permainan ini.

“Baik aku jelaskan sekali lagi kontrak kalian yang baru saja kalian setujui. Kita akan membuat film bergenre Exhibitionist bila kalian ngga tau bahasa inggris, biar aku perjelas. Exhibitionist maksudnya adalah melakukan aktifitas sexual di area publik. Atau bahasa gampangnya tugas kalian adalah ngentot di tempat-tempat fasilitas umum seperti di pinggir jalan, stasiun kereta, di taman umum, bahkan ditengah jalanan. Pendek kata di tempat yang punya aktifitas padat mengerti kalian..?! Mendengar penjelasan Taro mereka berdua merasa lemas.

Semula mereka hanya mengira paling hanya disaksikan oleh kru film saja dan melakukannya cuma di studio. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh mereka kalo harus bersetubuh di area publik bahkan di jalan raya yang penuh orang berlalu lalang.Sedangkan untuk bersetubuh didepan kamera dan disaksikan beberapa kru saja mereka masih belum terlalu yakin bisa melakukannya.

“Makanya kalian mulai sekarang sedang aku latih mentalnya terutama kau Park Ji sun. Sebagai pemain pria, kontolmu harus dituntut supaya tetap ngaceng apapun caranya..!! Sejak tadi aku perhatikan kontolmu letoy mulu seperti ayam sayur saja bahkan ukurannya seperti milik bayi ingusan.”Taro kembali mengetes secara psikologis ambang stress pasangan ini.

Muka dan Telinga Park Ji Sun langsung memerah mendengar komentar pedas Taro. Ia hanya bisa tersenyum kecut dan menunduk lesu menatap kemaluannya yang memang masih terkulai lemas.

Sejujurnya Park Ji Sun juga merasa heran biasanya dia mudah terangsang apalagi jika sudah melihat kekasihnya dalam keadaan telanjang bulat di depannya entah kenapa sekarang, sudah sejak tadi kemaluannya tidak bereaksi sama sekali.

“Tenang saja, Itu biasa terjadi apalagi untuk pemula. Makanya aku ajak kalian berdua berkeliling telanjang bulat seperti ini agar kalian terbiasa. Anggap saja tidak ada orang. Misalnya kontolmu tetap masih tidak bisa ngaceng nanti juga ada obatnya koq .Pokoknya asal kau tidak benar-benar impoten sejak awal. Sudahlah pokoknya santai saja. Nah perkenalkan ini Takuya stylist terbaik kita.”Kata Taro sambil memperkenalkan Takuya kepada Park ji sun dan Lee eun byong.

Takuya adalah seorang stylish dan ahli make up yang khusus mendandani artis-artis film porno. Dari penampilannya bisa ditebak Takuya adalah seorang gay.

“Takuya tolong dandani penampilan artis baru kita ini sebaik mungkin. Boss seperti biasa ingin penampilan terbaik untuk film barunya.”Taro segera memerintahkan Takuya untuk mendandani mereka berdua.

Aih…si boss, Beres boss santai saja. Nah kalian duduk di sebelah sana tata rambut kalian norak jelek sekali dan kampungan aku akan segera mengubah penampilan kalian.”Setelah beberapa lama, jemari lentik Takuya yang menari lincah di kepala Park ji sun dan Lee eun byong akhirnya selesai sudah.

“Nah bagaimana?! lebih baik bukan sekarang?”Park Ji sun terperanjat melihat wajahnya kini dicermin yang nampak berubah drastis. Ia juga terpelongo kagum luar biasa melihat kekasihnya.

Kini kecantikan Eun byong kekasihnya menjadi lebih sempurna dengan tata rambut yang baru meskipun belum disentuh oleh kosmetik sama sekali.

“Kau memang bisa diandalkan Takuya.”Taro memuji hasil kerja Takuya.

“Tentu dong boss. Nah coba kalian berdua berdiri yuk… dan berputar biar aku lihat sekali lagi apa masih ada yang kurang.”Takuya ingin memastikan lagi hasil kerjanya supaya benar-benar bisa sempurna.

“Hmm…sepertinya ada yang kurang…..ups nyaris saja eh lo siapa namamu..? Oh ya… Lee eun byong. Bulu jembutmu terlalu lebat dan tak beraturan harus sedikit dirapikan pada bagian lipatan selangkangan dan paha. Lo duduk ngangkang sebelah sini… agak kekanan sedikit dekat lampu…ya cukup kangkangin kaki lo sedikit lagi…ya…ya.. segitu aja.”Lee eun byong menggelinjang kegelian, ketika Takuya dengan sebatang pensil rias mulai menggaris sketsa disekitar kemaluan dan pahanya yang berbulu

“Aduuh….”Dengan sedikit meringis kesakitan, Lee eun byong menggigit bibirnya sendiri berusaha menahan nyeri.

“Tahan…masa begitu aja sakit sorry ini ga bisa cuma dicukur, harus di waxing supaya hasilnya lebih bersih dan rapi.”Kata Takuya sambil menempelkan selotip waxing disekitar paha Lee eun byong yang masih berbulu.

“Ok…sekarang sudah sempurna.”Taro nampak puas dengan kerja Takuya. Kini bulu kemaluan Lee eun byong yang lebat merimbun sudah lebih rapi dengan berbentuk V.

“Nah..sekarang giliranmu ganteng. Sana nungging bulu jembut lo juga harus dirapikan.”Dengan canggung Park ji sun menuruti perintah Takuya. Park ji sun menunggingkan pantatnya ke arah cahaya lampu.

Bulu-bulu kemaluannya nampak merimbun di bagian anus dan pangkal biji pelirnya tubuhnya mendadak merinding ketika Takuya tersenyum nakal sambil tangannya dengan liar memainkan batang penis dan biji pelirnya.

Sebelum akhirnya tiba-tiba Ji sun merasakan pantatnya disekitar lobang anusnya panas menyengat seperti kena setrum. Nampak selotip waxing di tangan Takuya melekat bulu-bulu kemaluannya.

“Sekarang kita ke lantai 2 tempat ruang Editing. Disana aku akan perkenalkan kalian kepada kru editing.

“Hey…kalian maaf mengganggu ini ada calon artis pendatang baru yang bergabung di perusahaan kita. Perkenalkan ini Yomiuri manager ruangan ini.

Ruang editing kira-kira seluas 250 meter persegi cukup luas. Perabotannya tertata apik dengan desain futuristik menjadikan siapapun yang bekerja diruangan ini terasa nyaman.

Sebagian besar ruangan ini berisi server-server komputer yang cukup besar. Dengan dihuni lebih kurang 30 orang sebagian staffnya laki-laki hanya ada 5 orang staff wanita.

Sebagian masih sibuk dengan pekerjaannya masing-masing tanpa menghiraukan kehadiran mereka.

Beberapa pasang mata yang jahil tidak menyia-nyiakan pemandangan indah yang melintas di ruangan mereka Lee eun byong dan Park Ji sun menjadi gugup dengan tatapan beberapa pasang mata yang menatap nakal tubuh polos mereka yang tanpa tertutup selembar benangpun.

“OK cukup. Sekarang kita ke lantai berikutnya yaitu tempat casting dan berlatih.”Diruangan ini ada 15 staff yang terbagi dari beberapa team

Sebagian dari mereka sedang mendekor ruangan. Nampak managernya sedang asyik mengkomando para anak buahnya. Beberapa orang yang lainnya sedang asyik dengan laptop dan kameranya.

“Maaf pak apakah pemanas ruangan bisa dinyalakan?”Tanya Park Ji sun dengan penuh harap kepada Taro. Dengan keadaan tubuh telanjang bulat tanpa tertutup sehelai benangpun mereka berdua merasa kedinginan suhu ruangan mencapai 10 derajat.

Walaupun mereka berdua di korea utara dulu terbiasa dengan cuaca dingin, namun dengan keadaan telanjang bulat seperti ini tak urung merekapun merasa kedinginan.

“Tidak bisa. Ruangan ini memang sengaja dibiarkan dingin gunanya untuk merangsang reaksi tubuh agar tetap tegang seperti ini.”Lee eun byong tersentak kaget ketika jari Taro secara tiba-tiba memencet puting susunya.

“Coba perhatikan, pentilmu sudah mengacung sejak tadi bukan..? Secara otomatis jika suhu rendah seharusnya tubuh akan menyesuaikan. Seperti misalnya susumu ini, menjadi lebih mengeras tanpa obat. Pentilmu juga bisa tegang lebih lama. Park Ji Sun kontolmu juga seharusnya sudah ngaceng aku curiga jangan-jangan sebenarnya kamu ini memang impoten ya? Memang pada sebagian pria faktor psikologis dominan mempengaruhi kejantanannya. Tapi para aktor pria kami yang lain rata-rata cepat menyesuaikan diri atau kalo lo memang impoten, kami ada koq penggantimu. Ngga usah khawatir boss ngga akan mendenda kalian nanti aku yang bilang sama boss.”Taro menjelaskan secara panjang lebar keadaan mereka.

“Ja..jangan..aku rasa aku bisa. Tolong beri waktu sedikit lagi.”Ji sun panik tak bisa dibayangkan kalo kekasihnya bakal digauli pria lain tepat didepan hidungnya.

“Ya udah…sekarang kalian berdua kesana. Hey kalian semua kemari. Nih ada aktor baru untuk pemeran film produksi boss yang baru. Aku butuh bantuan kalian untuk menilai akting mereka. Saito selanjutnya aku titipkan mereka berdua padamu. Tolong ajarin mereka berakting yang baik. Aku mau menghadap boss dulu.”Taro kemudian menitipkan Park ji sun dan Lee eun byong kepada sutradara Saito.

“Aku Saito sutradara di perusahaan JAV milik tuan Ryuji Watanabe. Ayo segera dimulai saja.”Tanpa banyak basa-basi Saito segera meminta mereka berdua untuk segera berlatih.

“Bagaimana kita mulainya pak?”Lee eun byong merasa kebingungan dan kikuk harus bagaimana. ketika tubuh telanjang mereka berdua dikelilingi kru film yang menunggu aksi mereka.

“Kalian ini bagaimana sih..? Bodoh atau pura-pura bodoh..?!…Ya sana cepetan kalian berdua ngentot..!! Memangnya kalian lagi mau main film apaan hah!! Apa musti dikasih contoh detail..?!!”Saito yang berdisiplin tinggi menjadi naik darah melihat kelambanan Park ji sun dan Lee eun byong.

“Maaf…pak…maaf. Baik kami segera mulai.”Dengan disaksikan oleh sekitar 10 orang lebih, Lee eun byong mulai berusaha mencumbu kekasihnya.

Perasaannya keduanya campur aduk tidak karuan. Pagutan lidah Lee eun byong yang biasanya langsung memicu birahi Park ji Sun sampai keubun-ubun, kini sama sekali tidak menimbulkan reaksi apapun. Kemaluan Park Ji sun masih tetap terkulai tak berdaya.

“Waduh celaka Eun byong kontolku samasekali tidak bisa berdiri bagaimana ini?”Coba lo hisap kontolku.”Dengan cemas Park Ji Sun membisiki kekasihnya.

Perlahan Lee eun byong mulai memindahkan serangan lidahnya. Tubuhnya kini berputar 180 derajat sehingga mereka kini membentuk posisi 69. Tanpa kesulitan berarti, kini kemaluan Park Ji sun sudah bersarang di mulut mungil kekasihnya.

Sambil memejamkan mata, Lee eun byong berusaha membuang semua perasaan malunya. Pikirannya menerawang melewati ruang dan waktu. Kembali membayangkan kenikmatan badani yang direguknya ketika berhubungan intim untuk pertama kalinya dengan Park Ji sun

“Shh…hh…”Lee eun byong mulai mengerang nikmat ketika lidah Park Ji Sun juga mulai aktif menggeseki itilnya. Sementara itu berlawanan dengan Lee eun byong, seberapa kuatnya Park Ji Sun berusaha meresapi kenikmatan lidah kekasihnya yang menari-nari di ujung kepala penisnya, ia berusaha keras membuang perasaan malunya, tetapi masih belum berhasil juga.

Walaupun lidah dan mulutnya sibuk menjilat-jilat kemaluan kekasihnya, namun pikiran Park Ji sun melayang-layang tak karuan. Harga dirinya sebagai pria rasanya telah hancur berkeping-keping tanpa sisa

“Ji sun berusahalah sedikit atau mereka akan menggantikanmu dengan pria lain aku tidak mau itu sampai terjadi.”Kembali Lee eun byong membisiki kekasihnya.

“Ia begitu cemas sampai sekarang kemaluan Ji sun masih lemah layu tak bereaksi sama sekali padahal ia sudah berusaha menjilat-jilat dan menghisap dengan kuat ujung kemaluan Ji sun.

“Ji Sun lo Impotent ya?!! kau benar-benar payah. Shiro coba kau gantikan Ji sun”Nampaknya Saito sudah tidak sabar lagi.

“Maaf pak aku akan berusaha lagi apakah ada obat? tadi pak Taro mengatakan boleh pake obat kuat.”Park ji sun berusaha keras mempertahankan posisinya.

“Masa sih? Coba aku tanya pak Taro dulu…”Dengan kesal Saito meraih interkom yang terletak disamping mejanya.

“Ji sun kau boleh pake obat kuat tapi honormu akan kami potong setuju?”Saito menunggu jawaban Park ji sun

“Terimakasih pak aku setuju.”Dengan segera Park ji sun menyetujuinya.

“Shiro berikan obatnya.”Saito segera memerintahkan Shiro asistennya untuk menyiapkan obat kuat.

“Minum pil ini tunggu sekitar 15 menit pasti langsung bereaksi”Segera Shiro memberikan pil obat kuat itu dan memberi petunjuk cara penggunaannya.

Hawa dingin yang menusuk tulang terasa sangat menyiksa Lee eun byong dan Park Ji Sun. Mereka berpelukan erat. Tubuh bugil mereka saling melingkar erat mencoba untuk mengusir serbuan hawa dingin yang makin menggigit.

Degup jantung mereka terasa nyaring berbunyi ditengah kesunyian ruangan. Sambil menunggu reaksi obat, mereka berdua saling mencumbu berusaha membangkitkan nafsu birahi pasangannya masing-masing.

Sebenarnya nafsu birahi Lee eun byong sudah naik dari tadi sejak selangkangannya dijilati oleh anjing penjaga di lantai bawah.

Kemaluannya yang berbulu lebat sudah basah lembab dan berdenyut-denyut kencang. Rasanya sudah tidak sabar lagi untuk segera dimasuki oleh kemaluan pria. Sementara belasan pasang mata dengan sorot penuh ejekan masih mengawasi mereka.

“Kau benar-benar impoten ya?! kenapa tidak bilang dari awal buang-buang waktu saja kalian. Sudahlah Shiro kau saja yang gantikan.”Nampaknya kesabaran Saito mulai semakin menipis

“Tolong pak, jangan aku mohon. Ada obat yang lain tidak. Yang lebih kuat efeknya aku mohon sekali ini saja.”Kali ini Park ji sun benar-benar panik ia sangat mengharapkan terjadi suatu mujizat yang dapat menyelamatkan mereka berdua.

“Bagaimana nih boss?apa mau disuntik saja pake steroid silikon aja?”Usul Shiro kepada Saito sang sutradara.

“Ji sun sebenarnya ada satu obat lagi. Tapi efek sampingnya sangat keras. Setelah 3 jam pemakaian, kepala kontolmu akan terasa ngilu dan panas seperti digigit semut. Lalu selama 3 minggu kontolmu bakalan ngaceng terus. Disamping itu, obatnya 5x lipat lebih mahal dari yang tadi. Sebenarnya obat ini racikan rahasia klan kami tapi sudah tidak dipakai lagi karena tidak ada orang yang tahan terhadap efek sampingnya. Tapi kalo lo berkeras cewek lo ga mau dipake sama shiro ya tiada jalan lain bagaimana?

“Baik berikan saja obatnya aku siap menanggung resikonya.”Tanpa pikir panjang lagi Park Ji Sun segera menyanggupinya.

“Aduu…h”Ji sun meringis menahan sakit ketika jarum suntik yang dingin itu menghunjam pangkal batang kemaluannya yang masih terkulai layu. Ia sama sekali tidak menyangka kalau pemakaiannya ternyata harus disuntikan langsung pada batang penisnya.

Selang beberapa menit, efek obat itu memang langsung nyata. Kemaluan Ji sun terasa hangat seperti ada air hangat yang mengalir. Kepala penisnya terasa membesar dengan cepat kini warnanya berubah menjadi kemerahan dan berdenyut-denyut kencang.

Dalam waktu tidak lebih dari 5 menit kini batang kemaluan Ji sun telah tegang tegak berdiri mengacung laksana tiang bendera. Ukurannya juga lebih besar dari ukuran normalnya.

Akhirnya mereka berdua bisa bernafas lega meskipun kemaluan Ji sun telah tegak berdiri, namun nafsu birahinya entah kenapa tidak ada reaksi sama sekali.

Berbeda dengan Lee eun byong, sejak merasakan kemaluannya dijilati dengan ganas oleh anjing penjaga cabul yang berada di lantai bawah, entah kenapa nafsunya kini menjadi mudah terbakar. Apalagi setelah melihat kemaluan Ji sun yang terasa digenggamannya kini lebih besar dari biasanya kini telah mencapai ukuran maksimalnya.

Tanpa membuang waktu lagi diraihnya kemaluan kekasihnya itu dan segera diselipkan ke belahan kemaluannya sendiri.”Shh…uh..ah….mulut mungil Lee eun byong sudah tidak mampu lagi menahan erangan kenikmatan badani.

Mulutnya meracau tidak keruan tanpa terkendali lagi. Kemaluannya yang sejak tadi ingin segera merasakan hunjaman kelamin pria, terasa berdenyut-denyut geli nikmat meresapi setiap sodokan kemaluan Ji Sun. Pikirannya kini sepenuhnya telah dikuasai nafsu birahi yang sudah berhasil mengalahkan rasa malunya.

“He..h..improsisasi donk dikit..!! Ganti posisi kek… kalian ngentot pake gaya kura-kura begitu mulu penontonnya bukannya terangsang malah akan tertidur. Film ini cuma akan menjadi sampah..!! Hayo keluarin suara kalian jangan cuma diem saja emangnya kita bikin film bisu apa..?!! Saito sibuk mengomel mengkomentari aksi mereka berdua.

“Ah…sayang masukin lebih dalam lagi donk memekku masih gatal nih…sh..h..ah..ah..hs..arghhh.”Kini Lee eun byong memberanikan diri untuk mengekspresikan perasaan dirinya lewat rintihan-rintihannya yang erotis.

“Aduh…duh…tititku rasanya seperti terbakar didalam memekmu sayang argh..ah..ah…”Ji Sun memang merasakan ujung kepala kemaluannya terasa panas menyengat akibat luka lecet akibat tergigit anjing penjaga yang cabul sewaktu dibawah tadi. Tapi rupanya Lee eun byong salah mengerti dan mengira Ji sun juga sedang keenakan.

“Mari..sini sayang aku hisap ya”Tanpa menunggu jawaban lagi, dengan rakus segera diraihnya kemaluan Ji sun yang sudah membesar melebihi ukuran biasanya.

Dengan lahap segera dihisap-hisapnya ujung penis yang sangat menggemaskan itu. Lee eun byong dapat merasakan kepala penis Ji sun bergetar hebat pertanda akan segera memuntahkan isinya.

Dengan segera ia melepaskan hisapannya dan membimbing kemaluan Ji Sun memasuki ke mulut kemaluannya sendiri.

“Ough..srgh..ah….Ji sun Yeah..oh…hamili aku Ji sun…srgh..ah…ah…”Dengan liar Lee eun byong menggoyangkan pinggulnya kencang-kencang.Isi rahimnya serasa diaduk-aduk oleh tongkat kejantanan Ji sun.

Baru kali ini Lee eun byong merasakan keperkasaan Ji Sun sepenuhnya. Segala fantasi liar untuk bersetubuh dengan Ji sun berklebatan didalam kepalanya.

Sementara itu Park Ji Sun meringis-ringis menahan ngilu di kemaluannya. Meskipun air maninya sudah habis tersembur keluar tetap saja kemaluannya tidak bisa mengendur sehingga mengakibatkan rasa ngilu.

Berbeda dengan Lee eun byong yang masih terbakar api birahi yang seakan tiada habis-habis rasa puasnya menikmati goyangan-goyangan erotis kemaluan Ji Sun yang masih tegak kokoh bersarang di Liang kemaluannya.

“Cukup…untuk hari ini lumayan juga akting kalian, besok kita sudah bisa mulai take yang pertama di gerai sex shop milik tuan Ryuji. Jangan terlambat datang. Sekarang kalian boleh pulang.”Pasangan itu hanya mengangguk lemah tubuh bugil mereka berdua masih tergolek lemas kelelahan.

“Kau baik-baik saja Ji Sun?”lee eun byong menatap cemas wajah Ji Sun yang sesekali meringis seperti menahan sakit.

Setelah kemaluannya di suntik Park ji sun memang merasakan kemaluannya panas pegal. Ujung kepala penisnya terasa mekar. Efek samping yang dikatakan Saito memang terbukti sudah 5 jam lewat kemaluannya masih belum menunjukan tanda-tanda akan mengendur.

“Ngga papa koq”Ji sun menjawab singkat sambil menyisir rambutnya setelah habis mandi.

“Lalu kenapa jalanmu aneh? sepertinya kamu tidak sehat?”Lee eun byong kembali berusaha memastikan keadaan diri Ji Sun.

“Ng…anu…Kontolku…,sampe sekarang koq belum bisa letoy.”Mimik muka Ji sun terlihat memelas.

“Oh..bagus dong…hi…hi…hi…aku kirain kenapa. Kau tadi siang benar-benar jantan sekali sayang..”Lee eun byong tersenyum nakal mendengar keluhan kekasihnya.

“Bagus apanya sakit tau…sh..rasanya panas seperti dirayapi semut kalo pake celana jadi sakit tergesek-gesek kainnya.”Sambil meringis Ji sun menarik ujung celananya agar tidak menempel di kemaluannya.

“Ya udah copot saja celana mu sini aku bantu.”Tanpa permisi lagi Lee eun byong langsung memelorotkan celana Ji Sun. Matanya terbelalak menyaksikan kemaluan Ji Sun yang masih tetap mengacung tegak berdiri.

“Sudahlah tidur besok kita masih harus bekerja lebih baik simpan tenaga.”Dengan masih menggunakan kaos tapi tanpa celana, Ji Sun merebahkan dirinya. Tubuh lelahnya sudah menuntut untuk segera direbahkan. Tangannya tak henti-hentinya mengelus-elus kemaluannya sendiri.

“Kamu masih kepingin..? atau Masih terasa sakit?”lee eun byong menatap prihatin kekasihnya

“Iya nih…masih sakit…ngilu bercampur panas.”Ji sun mengangguk lemas sementara itu matanya sudah hampir tidak kuat lagi menahan kantuk.

“Sluuurph…bagaimana sayang? Rada mendingan?”Lee eun byong bersimpuh disamping Ji Sun Dikulumnya kemaluan kekasihnya yang nampak membengkak kemerah-merahan.

“Iya lebih nyaman rasanya terimakasih ya.”Dengan tersenyum manis Ji sun mengelus kepala kekasihnya. Lidah kekasihnya yang menyapu lembut kemaluannya semakin memberikan rasa nyaman dan nikmat sehingga seakan membuai dirinya ke alam mimpi.

“Sluurp..h..h..Sudah tidur saja.”kata Lee eun byong sambil masih menghisap kemaluan Ji Sun. Setelah Ji Sun tertidur, ia meraih tangan kekasihnya dan meletakannya didadanya tak lama kemudian ia pun tertidur.

“Bagaimana Takuya? sudah siap make upnya?”Pagi itu semua anggota kru telah lengkap Lee eun byong dan Park Ji Sun juga telah selesai di make up.

“Ok ini adalah Take pertama. Sengaja kita mulai dari yang paling sederhana dan tidak berisiko. Kita akan syuting sekaligus mempromosikan gerai sex shop milik tuan Ryuji. Kalian siap..? kalian berdua lakukan seperti yang kemarin. Gerai sex shop ini terdiri dari 2 lantai. Kalian harus ngentot dengan gaya doggy style kontolmu harus tetap berada didalam memeknya ngga boleh lepas seolah-olah seperti anjing yang sedang bercinta dimana ketika kemaluannya sudah menyatu tidak akan bisa terlepas lagi paham..?!! Lakukan hal itu sambil berjalan keliling menyapa semua pengunjung yang ada dan kau Ji Sun, kami tahu Lee eun byong adalah cewek lo. Tapi kalian harus profesional mungkin ada beberapa pengunjung yang iseng mencolek-colek atau merabai kalian. Tapi kalian harus tetap tenang aja OK..?! aku jamin pengunjung tidak akan berbuat lebih dari itu mengerti..?! Nah kalo sudah jelas kita mulai sekarang.”Saito menjelaskan secara rinci tentang apa saja yang harus mereka lakukan.

“Shiro tolong simpan baju mereka!…Shimada lampu sudah OK?….baik Hatake siapkan kameramu and…3…2…1…action..!!Saito segera berlari menjauh.

“Se…se..elamat datang tuan, terimakasih atas kunjungan kalian.”Sungguh tak bisa dilukiskan lagi oleh kata-kata perasaan Lee eun byong dan Park Ji Sun saat itu.

Dengan tubuh telanjang bulat dan kemaluan masing masing yang saling melekat, mereka berjalan tertatih-tatih menyeiramakan gerak langkah kaki mereka berusaha menjaga agar kemaluannya tidak terlepas.

Mereka berdua berjalan menyusuri tiap inchi ruangan menyapa para pengunjung. bagian tersulit adalah ketika mereka berusaha menaiki tangga. Beberapa kali, terpaksa kemaluan Ji sun terlepas dari liang kemaluan Eun byong.

“Hey kawan-kawan lihat siapa mereka..!.”Ternyata gerombolan preman yang menagih hutang Park ji sun tempo hari juga berada disitu.

Park ji sun dan Lee eun byong langsung tertunduk malu muka mereka berdua langsung berubah merah padam. Mereka berdua sama sekali tidak menyangka akan menemui gerombolan preman itu disini.

“Aduuh…”Lee eun byong meringis kesakitan ketika salah seorang dari gerombolan itu mencubit pentil susunya dengan kencang.

“Auuuw….”Sekali lagi Lee eun byong terpekik ketika dirasakan ada sebuah tangan yang membetot dengan paksa bulu-bulu kemaluannya yang lebat.

“Bwa..ha..ha…ha…lihat…lihat…aku berhasil dapet jembutnya…!”Dengan kegirangan ditunjukannya beberapa helai bulu kemaluan Lee eun byong yang terselip di jari-jarinya. Kepada kawan-kawannya yang segera disambut gelak tawa yang riuh rendah.

Dengan perasaan hancur berderai, mereka berdua harus menerima perlakuan memalukan gerombolan preman yang sangat menghinakan harga diri mereka.

Muka mereka berdua sudah pucat seputih kertas. Apalagi pagi itu pengunjung sangat ramai, karena pembukaan perdana gerai sex shop itu langsung memasang harga super discount untuk segala bentuk alat bantu sex dan berbagai macam dvd film porno sehingga memancing kedatangan ratusan hidung belang mania di seluruh penjuru Shibuya.

Ternyata bertelanjang bulat didepan umum itu tidak semudah yang mereka pikir sebelumnya. Batin mereka menjerit-jerit tak terperi ketika ratusan pasang mata dengan tatapan cabul semuanya mengarah kepada mereka berdua.

Mereka berdua pun terpaksa juga harus merelakan setiap inci bagian tubuhnya di colek-colek oleh ratusan tangan jahil entah milik siapa.

ketika akhirnya gema sorak sorai dan tepuk tangan riuh rendah ratusan pengunjung yang datang berakhir, menyudahi sesi pertama adegan mereka berdua.

“Bagus.. sekali tepuk dua lalat kena…grand opening toko boss hari ini sukses besar dan proses pengambilan filmpun lancar..jika semua ini telah usai kita semua pasti akan dapat bonus besar kawan-kawan.”Taro kegirangan melihat suksesnya kerja tim mereka hari ini tanpa mempedulikan samasekali perasaan lee eun byong dan Park Ji Sun yang masih shock. Lee eun byong bahkan belum kering air matanya menangis sesenggukan dibahu kekasihnya.

Mereka berdua masih terduduk lemas dalam keadaan telanjang bulat. Tangan mereka berusaha semaksimal mungkin untuk menutupi organ vital aurat masing-masing.

“Boss..kami mau berhenti saja..kami sudah tidak tahan boss.”Akhirnya Park Ji Sun membuka suara.

“Sinting…kalian sudah lupa kontrak kalian?Aku sarankan Jangan main-main ya dengan tuan Ryuji kalian bahkan tidak akan sempat menyesal jika mempermainkan beliau. Hmm…aku tahu perasaan kalian,.. santai saja kalian cuma belum terbiasa..sudah..sudah…ngga usah dipikir lagi nih minum sake ini bersama kami. Kita rayakan kesuksesan hari ini.”Taro akhirnya berusaha meyakinkan Lee eun byong dan Park ji sun untuk melanjutkan menyelesaikan kontrak mereka.

Dengan senyum kecut mereka berduapun menenggak sake itu. Mungkin dengan mabuk dapat melupakan peristiwa memalukan mereka hari ini.

“Taro bagaimana hasilnya?Tuan Ryuji Watanabe menanyakan hasil kerja Tangan kanannya itu.

“Sukses Boss persis seperti rencana Boss. Dua orang dungu itu sudah masuk perangkap kita.”Taro dengan bangga menceritakan kesuksesannya menipu kedua orang malang itu.

“Bagus….sekarang kau tinggal atur untuk besok. apakah figuran polisi dan buruh-buruh bangunan yang orang india itu sudah siap?” Dengan tenang Ryuji Watanabe menanyakan kesiapan taktik selanjutnya sambil menghirup sakenya dengan nikmat.

“Belum Boss kurang truk polisinya saja. Tapi orang-orang india sewaan boss sudah siap mungkin lusa baru beres.”Taro menjelaskan keadaan rencana mereka.

“OK bagus..ga pa pa..kalo begitu take adegan yang lainnya saja dulu. Oh ya..jangan lupa kasi aja bayarannya tapi seperempatnya saja untuk biaya berobat kontol cowok dungu itu ha….ha…..ha…kasihan juga mereka kalo sampai tidak dapat sepeserpun. Selebihnya kau atur sebaik-baiknya OK.” Sambil asyik memainkan rokoknya Ryuji Watanabe memerintahkan Taro tangan kanannya itu untuk segera membereskan rencana busuk mereka.

Keesokan harinya…….

“Baik sudah lengkap semua?…aku jelaskan secara singkat Take kedua kita kali ini. Kali ini kalian harus ngentot sambil mengendarai sepeda motor. Kalian akan menyusur jalan raya di pinggiran shibuya ini. Jarak yang ditempuh lebih kurang cuma 15 kilometer saja. Nanti ada pompa bensin kalian turun sejenak untuk adegan pose isi bensin sehabis itu lanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan, kalian akan diawasi kami. Hati-hati, sekarang kita benar-benar di area publik jangan sampai terpergok polisi kalian bisa dipulangkan secara paksa ke negara kalian mengerti..?!! Kita ambil Take waktu makan siang dimana kemungkinan patroli polisi sangat kecil. Truk trailer ini akan menunggu kalian pas di tikungan pertama kilometer ke 20 jalan bebas hambatan mengerti? Motornya tetap dinyalakan saja sambil langsung dimasukan nanti kalian turun kalo sudah didalam trailer ini paham..?!! Kalian pake ini dulu. Mantel tipis ini nanti kalo sudah motor berjalan stabil baru dibuang OK..?!! Nah sekarang copot baju kalian.”Dalam sebuah Truk Trailer yang cukup besar Saito kembali menjelaskan apa yang harus dikerjakan.

“Bagaimana Obatnya Ji Sun? Mau di suntik lagi? Saito menanyakan perihal kemampuan kelamin Ji Sun.

“Tidak usah pak, yang ini saja masih belum habis efeknya padahal sudah 3 hari sampai ngilu rasanya kontol saya pak.”Ji Sun menjelaskan keadaan dirinya.

“Bagus kalo begitu. Kontolmu itu memang diwajibkan agar selalu tetap ngaceng. Nah kau naiki dulu motor ini..Lee eun byong kau duduk di depan, dipangku cowokmu…..bagus…nah shiro bantu pakaikan mantel ini.”Sebuah Honda Phantom warna hitam sudah disiapkan.

Lee eun byong sedikit mengejan menahan nafas ketika kemaluan Ji Sun Perlahan lahan amblas di telan bibir kemaluannya setelah mendapat posisi yang enak, Shiro membantu memakaikan sebuah mantel tipis berwarna kuning untuk menutupi tubuh bugil kedua pasangan itu.

Sebuah kamera wireless kecil dipasang dekat tangki bahan bakar untuk menshoting secara close up kemaluan kedua pasangan itu.

“Ya siap…3…2…1..action.”perlahan-lahan honda phantom hitam itu mulai meluncur ke jalanan motor sedikit oleng ketika lee eun byong melepaskan mantel penutup tubuh mereka yang dengan segera mantel tipis berwarna kuning itu sudah terbang disambar angin jalanan.

Motor kembali sedikit oleng ketika lee eun byong mulai mencoba menggoyangkan pinggulnya untuk mengaduk kemaluan Ji Sun yang sudah bersarang di dalamnya.

Untung cuaca saat itu panas sehingga mereka tidak sampai kedinginan motor mereka berguncang-guncang ketika ternyata jalan raya yang mereka lewati bergelombang. Tapi rupanya hal itu justru merupakan berkah karena dengan demikian Lee eun byong tak perlu cape-cape lagi menggoyangkan pinggulnya.

Tak berapa lama kemudian nampak Pompa bensin yang disebutkan Taro. Ada 2 mobil yang sedang mengisi bensin untung pompa bensin masih sepi.

Perasaan malu luar biasa kembali menyerang kedua pasangan itu ketika petugas pompa bensin terbengong-bengong menyaksikan ulah kedua pasangan itu. Mata petugas pengisi bensin itu terfokus pada selangkangan mereka.

“Isi 20 Liter saja pak.”Ucapan Ji Sun menyadarkan kembali petugas Pompa Bensin yang terpesona oleh aksi cabul mereka. Segera petugas itu membuka tutup tangki bahan bakar sementara itu Park ji sun dan Lee eun byong tidak turun untuk menjaga agar posisi kelamin mereka tetap bersatu.

Seorang wanita setengah baya pengemudi mobil yang juga ikut mengisi bensin mengumpat-umpat. Tangannya mencoba menutupi mata putranya yang kira-kira berusia 12 tahun.

Mulutnya mencibir kearah Lee eun byong dan Park Ji Sun yang masih duduk berpangkuan telanjang bulat diatas motor dengan kelamin yang masih menyatu.

Tak berapa lamapun mereka kembali melanjutkan perjalanan. Beberapa mobil yang berpapasan dengan mereka melambatkan laju kendaraannya sambil mengedipkan lampu mobil mereka. Walaupun cuma 15 kilometer perjalanan, tapi rasanya seperti berabad-abad.

Batin mereka berdua sungguh merasa tersiksa. Untungnya keadaan jalan pada umumnya relatif sepi sehingga mereka bisa menikmati sensasi aneh dari ritual cara bersetubuh yang tidak lazim ini.

Kenikmatan alamiah badani persetubuhan mereka yang tidak lazim ini sedikit menghibur persetubuhan mereka diatas motor yang sedang melaju dijalan raya yang padat lalu lintas.

Memicu gairah aneh dan adrenalin yang menyulut bara api birahi menjadi berkobar-kobar pada diri mereka berdua. Darah mereka berdesir hangat mengalir deras melewati setiap pembuluh darah yang ada pada tubuh mereka.

Akhirnya Truk trailer yang dijanjikan telah muncul Ji sun melajukan motornya memasuki truk trailer itu sementara kru yang lain buru-buru segera menutup pintunya dan trukpun mulai berjalan

“Ya sudah cukup kalian boleh turun”Saito bernafas lega semua berjalan mulus seperti rencana.

“Mph…ugh…ah..oh…sebentar..tuan lagi nanggung…mph…”Mulut Park ji sun tak mampu lagi melanjutkan ucapannya karena keburu dipagut oleh bibir Lee eun byong. Pemandangan erotis persetubuhan mereka begitu menggoda

Payudara Lee eun byong bergoyang indah kekanan dan kekiri terguncang-guncang bebas tanpa penyangga. Puting susunya yang berwarna pink kecoklatan sudah sangat tegang yang menandakan bahwa gadis itu sedang dikuasai nafsu birahi yang luar biasa.

Meskipun para kru ini sudah ribuan kali menyaksikan adegan persetubuhan, pemandangan kali ini merupakan yang terpanas. Melihat keasyikan pasangan yang sedang terbakar api birahi, mereka tak urung ikut terpancing Nafsunya.

Beberapa dari mereka mulai gerah dan tidak tahan mulai mengocok kemaluannya masing-masing. Sedangkan Park ji sun dan Lee eun byong, mereka berdua sudah tidak mempedulikan lagi pada keadaan sekitar.

Bara birahi yang berkobar-kobar hebat sudah mencapai ubun-ubun seakan membutakan segalanya. Nafsu birahi yang begitu alami yang hanya bisa timbul dari sepasang insan yang benar-benar saling mencintai.

Ketika akhirnya jerit orgasme Lee eun byong yang terakhir meluncur dari mulutnya, mereka berdua baru menyadari tingkah mereka yang begitu memalukan.

Wajah keduanya hanya bisa tertunduk bersemu merah, semerah kepiting rebus. Mereka berdua kemudian disambut tepuk tangan meriah dan suitan-suitan nakal para anggota kru.

“Nah begitu…baru hebat…bravo tetap semangat besok kita akan Take yang terakhir dan segera dapat uang dari boss bravo….sekali lagi bravo mari kawan-kawan tepuk tangan untuk Lee eun byong dan Park Ji Sun.”Saito begitu puas akan hasil pada hari ini senyum lepasnya tak henti-henti tersungging dari bibirnya.

“OK sekarang kita sudah memasuki babak terakhir bagaimana sudah siap? Setelah semua ini selesai kalian bisa melanjutkan kontrak kalo masih mau. Aku dengar tuan Ryuji Watanabe puas dengan kerja kalian.”Taro memberikan briefing kepada anak buahnya sebelum mulai pengambilan adegan.

“Maaf tuan Taro, kami berdua sama sekali tidak ingin lagi. Batin kami tersiksa sampai kapanpun kami tidak akan terbiasa jika harus bersetubuh di depan umum.”Dengan Halus Park Ji Sun menolak tawaran Taro

‘Ya sudah terserah kamu, uang kalian sudah kami transfer kemarin tapi baru seperempatnya saja nanti setelah selesai ini baru akan ditransfer secara full. OK sekarang aku jelaskan Take terakhir kita. Kalian kini harus ngentot di perempatan jalan raya dekat patung dewa anjing penjaga. Take Kali ini cukup beresiko karena perempatan ini begitu padatnya terutama oleh pejalan kaki tapi jangan khawatir sudah kami siapkan peta rute pelarian kalian kalo sampai terjadi sesuatu. Kalian lihat disana kira-kira 100 meter dari lokasi kalian ngentot ada gedung 60 lantai yang sedang dibangun. Kalian harus lari kearah sana. Jangan naik tapi langsung turun kearah basement. Disana ada saluran air yang mengarah kearah barat disana mobil van kita akan menunggu kalian. Kalian harus berpencar jika sampai terjadi sesuatu. Selama pengambilan gambar kalian akan dikawal 3 orang 2 orang kameramen 1 orang pengawas keadaan. Ini ada earphone silahkan dikenakan. Kalian berdua ingat jangan seperti kemarin tidak ada istilah lagi nanggung disini sekali tertangkap habislah kalian. Segera lari sekencang-kencangnya kearah gedung itu kalo mendapat peringatan paham!l”Lee eun byong dan Park Ji Sun langsung tertunduk muka keduanya langsung memerah teringat peristiwa panas kemarin. Taro kemudian mengakhiri penjelasannya.

“OK seperti biasa ini mantelnya. Kalian pake dulu supaya tidak mencolok begitu sampai lokasi langsung kalian copot mengerti..!! Nah sekarang copot baju kalian dan titipkan pada shiro.”Saito memberi briefing terakhir kepada anak buahnya menggantikan Taro yang telah pergi.

“Siap…3…2…1…Action.”Lee eun byong dan Park Ji Sun agak ragu sebentar mereka tak menyangka perempatan jalan itu begitu padat hari ini.

Ada ribuan orang yang berlalu lalang melewati mereka. Sesaat mereka berdua memandang Hatsume sang kameramen yang menganggukkan kepala tanda mereka harus segera melepaskan mantelnya dengan memejamkan mata akhirnya mereka berdua nekat membuang mantel mereka.

Tubuh bugil mereka langsung bergumul secara membabi buta. Tak begitu lama, kemaluan merekapun telah kembali bersatu dengan irama cepat Ji sun menggenjot tubuh pasangannya. Walaupun terasa ngilu Ji sun tetap memaksakan menggenjot kemaluannya keluar masuk ke bagian yang paling dalam di liang kewanitaan kekasihnya itu.

Sesaat Lee eun byong merasakan sensasi luar biasa dari denyutan batang kemaluan Ji Sun yang bergetar-getar hebat mengaduk-aduk liang rahimnya mata gadis itu merem melek keenakan tak kuasa menahan sensasi nikmat yang menjalari selangkangannya.

“Dasar bejat..!! Tak bermoral…terkutuk kau anjing. apa kau tak kasihan kepada ibumu?! masih ada cara lain untuk cari uang dasar tidak tahu malu kalian!!”Secara tiba-tiba, pantat telanjang Park Ji Sun terasa panas ketika sebuah kaleng minuman ringan dari salah seorang pejalan kaki yang marah menimpuknya.

Keduanya terlonjak kaget kemaluan Ji Sun langsung terlepas bergoyang-goyang naik turun. Nampak cairan precum kenikmatannya meleleh lepas terbawa angin. Menetes ke aspal jalanan.

Keduanya medadak tersadar oleh makian beberapa orang yang lewat dan geram kepada aksi cabul mereka. Entah kenapa, tiba-tiba bayangan wajah kedua orang tua mereka berdua berklebatan didalam kepala mereka masing-masing.

Rasa penyesalan mendalam seakan-akan menghunjam jantung mereka. Tiba-tiba keduanya dilanda rasa malu yang luar biasa dengan ketelanjangan mereka.

Tangan Ji Sun berusaha menutup kemaluannya tetapi kemaluannya yang sudah 4 hari ini tidak mau lemas, kepala penisnya masih menyeruak nongol dari sela-sela telapak tangannya.

Demikian pula dengan Lee eun byong telapak tangan mungilnya tidak cukup lebar untuk menutupi dadanya yang besar dan selangkangannya yang berbulu lebat merimbun. Sehingga tetap saja helai demi helai bulu kemaluannya yang hitam lebat masih menyeruak melewati sela-sela jarinya.

Matanya terasa berkaca-kaca sesaat kemudian Ia sudah tak kuasa lagi membendung derai air matanya lagi. Tangisnya langsung meledak.

Keduanya langsung kikuk berjongkok meringkuk berusaha menutupi ketelanjanganya sambil menangis tersedu-sedu.

“Waduh kacau nih….Apa..?!!…ada dimana?….Lari! ada Polisi….!”Suara Natsume di ear phone seakan memecah gendang telinga Park Ji sun mereka berduapun langsung kaget celingukan.

“Gawat ada polisi Eun byong. Kita harus lari kesana cepat..”Kedua pasangan itu langsung mengambil langkah seribu.

Dalam keadaan telanjang bulat, mereka berdua lari terbirit-birit menuju kearah gedung bangunan 60 lantai yang sedang dikerjakan. Beberapa kali Lee eun byong nyaris terjatuh hampir hilang keseimbangan karena tangannya sibuk berusaha menutupi kelaminnya.

Akhirnya ia tidak lagi mempedulikan ketelanjangannya tangannya kini berayun sempurna untuk mengimbangi tubuhnya.

Tanpa disadari mereka berdua, beberapa kamera yang terpasang di sudut jalanan masih tetap aktif bergerak menyorot pelarian mereka. Salah satu Lensa-lensa beresolusi tinggi yang tersebar di berbagai tempat secara aktif memfokuskan kepada dada besar Lee eun byong yang kini bergoyang bebas mengayun kencang kekanan kekiri dengan liar.

Lensa yang lain menyorot secara detail kelebatan rambut kemaluannya yang tersibak angin nakal. Merekam dengan detil belah tipis clistorisnya yang nampak samar dibalik kerimbunan bulu-bulu kemaluannya.

Dalam kepanikannya, Lee eun byong secara tidak sadar sampai terkencing-kencing. percikan air seni kekuningan itu memancar membuncah tanpa bisa terkontrol lagi membasahi aspal jalanan.

Sementara lensa lain yang juga beresolusi tinggi dengan cermat mengabadikan moment saat cairan-cairan bening kental yang secara tidak sengaja menyembur keluar dari ujung kepala penis Ji sun. Kantung biji pelirnya yang juga bergoyang kencang tak terkontrol dengan sempurna berhasil diabadikan.

“Eun byong kita berpencar kau lari dulu aku akan mencoba mengalihkan perhatian polisi-polisi itu.”Dengan panik Park ji sun menyuruh kekasihnya untuk kabur lebih dulu.

“Tapi….kau bagaimana..?!!”Dengan tak kalah paniknya Lee eun byong tetap masih ingin bersama kekasihnya.

“Jangan pedulikan aku, cepat nanti kita malah tertangkap semua cepat..!!”Dengan setengah berteriak Park ji sun berusaha keras meyakinkan kekasihnya itu.

“Baik lah janji kau harus selamat!”Akhirnya Lee eun byong meneruskan pelariannya. Mulutnya berkomat-kamit memohon keselamatan dari dewa-dewi beruntung akhirnya ia sudah berhasil masuk ke area gedung.

Dengan terburu-buru ia menuruni tangga yang belum sempurna dibangun untuk turun menuju ke lantai basement seperti yang direncanakan.

Beberapa kali tubuhnya terhuyung-huyung nyaris jatuh akibat kehabisan nafas ketika akhirnya langkahnya mendadak terhenti.

“Celaka nampaknya aku tersesat aduh bagaimana ini..?”Lee eun byong menjadi kebingungan ketika dirinya terperangkap di ruangan buntu.

Jantungnya semakin berdegup kencang saat menyadari bahwa dia tidak sendirian. Di ruangan itu ada sekitar 50 orang buruh bangunan. Mereka berbadan tinggi tegap dengan kulit gelap nampaknya mereka adalah buruh kontrak yang berasal dari India.

Para buruh bangunan itu sedang berkumpul nampaknya mereka sedang menikmati santap siang sejenak riuh canda mereka mendadak terhenti ketika mereka menatap tubuh bugil Lee eun byong yang tersaji indah didepan mata mereka.

“Wel…wel…wel…mimpi apa kita semua ada gadis cantik telanjang bulat dan datang kemari apakah pak mandor sengaja mengirimkannya untuk kita? Hoii….Pak Mandor Thanks ya lo tau aja sudah 5 bulan aku tidak menggauli wanita.”Gerombolan buruh bangunan itu bersorak sorai kegirangan.

Seloroh-seloroh kurang ajar terdengar bersahut-sahutan di lain pihak,Lee eun byong merasa lututnya menjadi lemas nasib yang sangat buruk sudah jelas tergambar didepan matanya dengan kebingungan ia berusaha menutupi payudara dan alat kelaminnya dengan tangannya

“Hei…cantik masih kelihatan tuh pentil lo..ha…ha…ha….”Lee eun byong langsung terkaget buru-buru ia berusaha merapikan posisi tangannya tapi untuk menutupi kedua pentil susunya ia malah lupa bahwa tangannya yang satu lagi sedang digunakan untuk menutupi kemaluannya.

“Idih…jembutnya lebat amat kelihatan tuh..!!bwaha..ha..ha…”Lee eun byong menjadi semakin panik kini ia kebingungan bagian mana yang harus ditutupi.

Dengan panik Lee eun byong mencoba berputar kesana kemari mencoba mencari celah untuk meloloskan diri tapi kepanikannya itu justru semakin memancing birahi kuli-kuli bangunan itu yang sudah sangat lapar akan belaian wanita

“Busyet itu susunya nafsuin banget hayo goyang yang kenceng biar lebih ngondoy..brur.”Beberapa dari mereka bahkan sudah telanjang bulat dan bersiap siap menerkam tubuh Lee eun byong.

Tiba-tiba sebuah tangan hitam kekar yang penuh bulu berhasil membekuknya, dalam sekejap mata 5 orang kuli bangunan itu sudah mengerubutinya.

Lee eun byong ketakutan saat salah seorang kuli bangunan tiba-tiba melompat kerahnya, memeluknya dan menindih tubuhnya dari atas..

“AWW…MMMMPH!” Gadis malang itu menjerit, namun kuli bangunan itu menghentikannya dengan memaksa menciumnya, Lee eun byong tak berdaya untuk menghentikan ciuman itu,… ” MMMMMMPH

Kuli bangunan itu menekan lidahnya masuk, memaksa gadis itu membalas permainan lidahnya, dan mengunci tubuh bugil gadis itu agar tetap menciumnya, sementara tangannya mulai meremas salah satu payudaranya.

Air mata Lee eun byong mulai menetes, terpaksa ia harus menerima ciuman dari kuli bangunan yang bau itu. Sementara tangan bajingan itu makin brutal meremasi payudaranya, ia berusaha menghindari ciuman pria hitam yang bau itu namun tak berdaya melepasakan diri dari keinginan hewani kuli bangunan yang sudah birahi itu.

“MMMMPH!” Lee eun byong mendesah hampir pingsan kehabisan nafas.

Kuli bangunan itu begitu menyukai, aroma dari bibir gadis itu, demikian juga dengan payudaranya yang begitu besar. Kuli itu menggunakan kakinya untuk mengangkangkan kaki gadis malang itu, dan mulai menekan penisnya di bibir vagina gadis itu.

Tubuh Lee eun byong menggelinjang saat ia merasakan penis Kuli bangunan itu yang menekan dan mencoba masuk dibibir kemaluannya yang masih kering.

Lee eun byong dapat merasakan bagaimana penis itu mulai mengeras dan menekan tubuhnya. Dia menjerit namun kembali tertahan oleh lidah kuli bangunan itu yang kembali menciumnya dengan liar.

Sementara tangan pria india itu masih meremas-remas sambil memilin puting susunya, payudara Lee eun byong mulai memerah akibat perbuatan kuli bangunan itu.

Pria India itu melepaskan Lee eun byong itu sambil tertawa terbahak-bahak.“Kau cantik sekali!”

“Tolong ….tolong lepaskan saya … !!”Lee eun byong mencoba memohon meskipun ia tahu akan sia-sia belaka.

“Hmmm, mungkin, tapi aku akan membuat kamu “ngecreet” lebih dahulu, bagaimana kalo aku menghisap dadamu yang besar itu ?? “

Kuli itu mencolek-colek memainkan payudara Lee eun byong yang mengayun-ayun indah, bebas tanpa penyangga sebelum membenamkan wajahnya ke payudara Lee eun byong yang besar itu

“AWWW! jangan! AWWW!”Lee eun byong menjerit, saat ia dapat merasakan lidah kasap pria hitam yang besar itu memoles seluruh permukaan payudaranya.

Pria hitam itu dengan lihay menggerakan lidahnya, menghisapi payudara montok itu, sementara tangannya pun ikut meremas-remas sebelah payudara yang lain. Tubuh Lee eun byong bergetar-getar merasakan sensasi nikmat itu.

” Ahhhh… ” Lee eun byong meraung, saat dia merasakan lidah kuli bangunan itu bergerak demikian cepatnya menstimulasi dirinya, Lidahnya menyelusur dengan cepat seperti mengurut-urut pentil susunya yang sudah mengacung tegang.

“MMMM…” Dengan nikmat pria itu tak bosan-bosannya menjilati payudara Lee eun byong , Mmmph..mmmph!”Suara dengus nafasnya terdengar bagaikan lokomotif kereta yang sedang melaju kencang.

Pria itu mencaplok salah satu payudara Lee eun byong, menjilatinya, menghisapinya, sambil meremas-remasnya, jemarinya tangannya memainkan puting kanan gadis malang itu, sementara bagaikan bayi kelaparan pria jelek itu menyusu diputing kirinya.

“AWWWWWW!” Lee eun byong kembali menjerit saat kuli bangunan itu semakin brutal mengigit dan menghisapi payudaranya

Wajah gadis malang itu bergerak kesana-kemari, diserang oleh kuli bangunan yang sudah demikian bernafsunya, menyedot secara bergantian di payudaranya, menghisapinya tanpa henti, sambil memainkan putingnya dengan lidahnya

Kuli bangunan itu terus menjilati gundukan daging kenyal yang membusung menantang. Tanpa bosan-bosannya menghisapinya dengan kuat, sebelum tangannya mulai turun menjelajahi hutan belantara yang tumbuh hitam lebat merimbun di selangkangan Lee eun byong.

“Jangan, jangann ”Lee eun byong memohon saat dia merasakan jari-jari kasar kuli bangunan itu menyibakan bulu-bulu kemaluannya, berusaha menemukan itilnya.

“Dengan nafas memburu kuli bangunan itu, menatap kemaluan Lee eun byong yang ditumbuhi bulu-bulu lebat berwarna hitam mengkilap. Kemaluan wanita terbaik yang pernah dilihatnya, terlihat begitu rapat dan kencang.

Lee eun byong menjerit saat jemari kasar kuli bangunan itu mulai menelisir bibir kemaluannya, bermain dengan itilnya sampai membuat tubuhnya mengelinjang tanpa disadarinya.

Sementara jemari kasar pria itu terus menstimulasi itilnya, tangan pria jelek itu menarik betis Lee eun byong agar mengangkang lebih lebar, dan lalu mengganti jari-jari tangannya yang kasar dengan lidahnya.

“AWWW! OH , jangan hentikan,.. ”Lee eun byong menjerit saat ia merasakan lidah tebal pria berkulit legam itu memoles kemaluannya, menyelusup kedalam liang kemaluannya, sambil menghisapi itilnya, tubuh gadis malang itu tanpa sadar mengejang menikmati sensasi ini.

Pria india kuli bangunan itu terus menerus menghisapi itilnya sambil menjilati permukaan kemaluannya. Tubuh Lee eun byong mengejan beberapa kali ketika secara tidak sengaja beberapa helai bulu kemaluannya tercerabut menyelip diantara gigi-gigi kuning pria kasar itu.

Tubuhnya bergetar, mulutnya mendesah tangannya berusaha menepis kepala yang membenam di tengah selangkangannya, namun desahan itu hanya membuat penis kuli bangunan itu makin mengeras saja.

Lee eun byong mendesah tak karuan saat ia merasakan lidah kuli bangunan itu menyapu kemaluannya, sesekali. Kuli bangunan itu dengan mahir menghisapi kemaluan Lee eun byong, memberikan kenikmatan yang tak diharapkan. Seluruh tubuh gadis itu mulai bergairah, tanpa terasa kemaluannya mulai basah lembab mengeluarkan cairan.

“Ah, ah, ah, ah.”Lee eun byong mendesah ” Ya ampun, oh Tidaaak !! “

Lee eun byong menatap penis hitam pria india itu yang telah menegang, ia terbelalak tak percaya melihat ukuran luar biasa penis itu, dan membayangkan betapa sakitnya bila penis itu sampai menyetubuhinya.

Pria India itu tersenyum mesum saat ia menyadari gadis cantik ini ketakutan melihat ukuran kemaluannya.

“Hey, hey lo suka dengan kontol besarku ya..?!”

“Tidak, bajingan kau..hentikan!”Lee eun byong memohon. Sementara ia terus berjuang mengalahkan nafsu birahi yang makin menguasai dirinya. Sementara vaginanya makin terasa hangat dan menjadi basah kuyup oleh cairan precum kenikmatan bercampur air liur kuli bangunan itu.

Pria itu lalu menurunkan betis Lee eun byong, mencengkram pinggulnya dan langsung menyentakkan penisnya dalam lobang kemaluannya.

Lee eun byong mulai kesakitan, sementara kepala penis kuli bangunan itu makin menekan masuk di mulut kelaminnya, Lee eun byong berusaha keras untuk melepaskan diri. Ia tidak ingin ada kemaluan pria lain selain Park ji sun yang berhak memasukinya, namun perlawanannya tiada artinya dibandingkan dengan ukuran tubuh kuli bangunan yang biasa bekerja kasar Pria itu tetap mencengkramnya kuat-kuat

”Tunggu, jangan aku mohon tidak akan muat.. “Lee eun byong terus menerus merengek mohon dikasihani

”Aku Tahu, dan itu akan membuat ini sempurna”Ia tertawa” Lihat sisi baiknya, penisku yang besar ini akan memuaskanmu.”

“Tidakkk!”Lee eun byong menjerit sejadinya, sementara penis pria itu sedikit demi sedikit mulai menancap masuk dalam liang kemaluannya. Mata gadis malang itu melotot menahan sakit. Sementara penis jumbo itu makin terbenam dalam, seakan merobek dinding kelaminnya.

“Ya kau sekarang milikku…manis ”Kuli bangunan itu menyentak sambil menyodokkan penisnya dalam-dalam.

“AH! AH! YA TUHAN !! YA TUHAN AMPUN..!! ”Gadis malang itu menjerit lagi dan lagi

Kuli Bangunan itu mulai menggoyangkan penisnya maju mundur, keluar masuk dalam liang kemaluan Lee eun byong, membelah kemaluan sempitnya dengan kesetanan.

“AWWWWW..!!”Lee eun byong menjerit-jerit, merasakan bagaimana penis yang demikian besarnya itu menyetubuhinya, perlahan rasa sakit itu memudar, berganti kenikmatan yang sebenarnya tak diinginkannya.

Tubuh pria India yang hitam legam itu mendekap tubuh putih bersih Lee eun byong yang begitu indah, sambil terus menerus meremas-remas payudaranya

Penis raksasa itu terus menerus menggenjot tubuhnya. Menghantamnya dengan deburan-deburan kenikmatan yang demikian hebatnya.

Tubuh bugil gadis itu menggelinjang, setiap kali penis raksasa itu keluar masuk dari lobang kemaluannya. Perlahan ia makin dekat dengan Orgasmenya, Sementara tangan dan mulut kuli bangunan itu terus menerus menstimulasi payudaranya.

“OH, OH, OH NO! AHHH! MMMMM! TTOLONG JANGGANN!”Tubuh bugil gadis malang itu pun mulai kehilangan kontrol dirinya.

“Ayolah cantik, berorgasmelah, ayo, aku ingin mendengar kau menjerit nikmat!!”Kuli bangunan itu terus membisikan bisikan-bisikan cabul.

“Tidak akan…AWWWWWWW..!!”Lee eun byong menjerit sejadinya ketika akhirnya pertahanan dirinya jebol saat sebuah orgasme dahsyat menerpa nya.

Lee eun byong belum pernah merasakan perasaan semacam ini sebelumnya. Seluruh tubuhnya serasa terbakar, nikmat yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

Tanpa sadar dia mulai menggerakan tubuhnya mencari kenikmatan mulai mencari penis kuli bangunan itu, Dalam keadaan terbakar api birahi yang sangat dahsyat sedikitpun dia tak menyesalinya.

“OH Tuhan….shhh…maafkan aku Ji sun..aku tak kuasa menolak rasa nikmat ini arg….egh….ah…ahh…oh..!”Lee eun byong Mendesah.

Lee eun byong menjerit dan mendesah seluruh syaraf tubuhnya mengejan menikmati setiap orgasme yang menghantamnya, lagi dan lagi, bagaikan sebuah ledakan nuklir dalam kepalanya.

Sementara kemaluannya telah basah kuyup tak henti-henti mengeluarkan cairan orgasme, memberikan kenikmatan tak terkira pada dirinya.

“Ahhhhhh!”Lee eun byong kembali terpekik

Kuli bangunan itu menangkap wajah Lee eun byong, mendorong mulutnya pada bibir gadis itu, menciumnya, sambil mendekapnya kuat-kuat.

Lee eun byong kehilangan seluruh kontrol tubuhnya, dan mulai membalas ciuman cabul kuli bangunan itu. Akibat nafsu birahi yang sudah mencapai ubun-ubun, ia secara tak sadar otomatis melakukannya sendiri.

Tubuh telanjang keduanya saling berpelukan dan mulai menjatuhkan tubuh mereka keatas tanah, sebelum akhirnya kuli bangunan itu melepas dekapannya pada tubuh gadis malang itu. Lee eun byong mulai tenang dan tersadar kembali, air matanya mulai menetes.

Kuli bangunan itu menyeringai penuh kemenangan kearah teman-temannya yang riuh rendah menyorakinya. Ia menatap Lee eun byong yang telah dikalahkannya itu.

Pria cabul itu tertawa terkekeh-kekeh melihat korbannya menangis, Tangannya mulai kembali menempel di payudara gadis itu, meremasnya dan memilin putingnya.

“Bajingan!!.” Lee eun byong menangis sambil memaki kuli cabul itu. “Keparat kau..!!,”

“Hey, aku baru saja mulai sayang, masih ada dua lubang lagi kan? dan teman-temanku nampaknya sudah tidak sabar lagi ingin bersenang-senang denganmu”Kuli bangunan itu tersenyum-senyum penuh kemenangan sambil memberi tanda ke pada kawan-kawannya untuk maju mendekat.

Lee eun byong bahkan sudah menyerah saat tangan-tangan kasar milik kuli-kuli bangunan yang lain bermain dengan payudaranya. Ia tahu bila ia melawan hanya akan membuat mereka mengerjainya lebih brutal lagi.

Bahkan kini kedua payudaranya masing masing sudah berhasil dihisap oleh dua mulut dari dua kepala yang berbeda jerit tangis histeris Lee eun byong sama sekali sudah tidak dipedulikan lagi.

Kini ia dapat merasakan sekujur badannya telah dijelajahi oleh gesekan-gesekan puluhan lidah kasap yang menyapu secara membabi buta.

Tubuhnya bahkan sampai melengkung bagaikan busur panah ketika merasakan suatu hisapan yang kuat luar biasa yang berpusat di selangkangannya.

“Aih gurih sekali memeknya..slurp…slurp.hh.h..sret..srett.cret…glek.. lezaat… mak..nyuss..tenan.”Tanpa merasa jijik sedikitpun salah seorang kuli itu menghirup cairan kewanitaan Lee eun byong. Lidah nakalnya dengan buas mengaduk-aduk selangkangannya.

Lee eun Byong mengejan sesaat ketika merasakan itilnya digigit-gigit kecil tanpa bisa dikontrol lagi, reaksi alami tubuhnya memerintahkan liang kewanitaanya untuk memancarkan suatu cairan.

Dengan deras entah air kencing atau cairan precum kenikmatan tiba-tiba meluncur begitu saja dari selangkangannya yang dengan gembira langsung disambut oleh mulut lapar seorang kuli berwajah jelek hitam dan berjenggot tebal.

Akibat organ sensitifnya itu terus-menerus dihujani rangsangan lidah yang begitu dahsyat, akhirnya Lee eun byong pun kembali mulai merintih-rintih keenakan perlahan tapi pasti rasa takut dan malu digantikan oleh nafsu birahi yang kembali meledak-ledak.

“Argh….aduh..duh…”Tiba-tiba Lee eun byong dapat merasakan lobang anusnya ada yang mengorek-ngorek dengan jari dan tak lama kemudian terdengar suara orang meludah. Bersamaan dengan itu dapat dirasakannya kini lobang anusnya terasa basah dan hangat disusul oleh desakan benda tumpul yang lunak tapi kenyal dan keras.

Perlahan penis besar itu menyentuh anusnya .

Lee eun byong merasakan ” ja..jangan ..jangan di situ tolong…”Kuli itu hanya tersenyum.

”AGHHHH …. SAKIT … Oh..tidak…jangan disitu argh….sakit….tolong…ampun Ji sun tolong aku…argh” jeritan Lee eun byong terdengar memilukan, liang anusnya seakan robek.

Penis Kuli bangunan itu dengan kasar mulai, menembus anusnya, dengan sekali tekan. Sakit, perih, itu yang di rasakan gadis itu.

Penis itu seakan mengoyak anusnya. Sakit yang di rasa anus Lee eun byong menjalar hingga ke perutnya. Perutnya menjadi terasa kejang dan mules oleh desakan kemaluan raksasa kuli-kuli bangunan itu.

Tapi sebaliknya kuli bangunan itu merem melek kenakan merasakan jepitan yang nikmat, dan rasa hangat, di seluruh batang kemaluannya yang sedang diremas-remas oleh dinding anus korbannya.

Lima menit berlalu , anusnya terus di sodok sodok penis besar Kuli bangunan itu. Tubuh Lee eun byong sudah tak kuat lagi meronta , suaranya pun hilang. Hanya bunyi nafasnya berdengus-dengus, seperti orang sesak nafas. Kuli bangunan itupun puas dengan tindakkannya , Penis besarnya telah memuncratkan sperma unutk yang ke dua kali .

Entah sudah berapa lama Lee eun byong digilir oleh puluhan kuli bangunan itu ketika akhirnya kilauan cahaya yang menyilaukan menyorot tubuh bugilnya yang sedang digauli oleh puluhan kuli bangunan

“Ini Polisi hey kalian bubar…bubar semuanya…”Terdengar beberapa kali raungan sirene yang disusul perintah membubarkan diri dari corong sebuah megaphones

“Hu….hu….Apa-apaan ini? bukan hadiah dari pak mandor?”Sumpah serapah dan makian-makian kotor riuh rendah bersahut-sahutan meluncur dari puluhan bibir jelek kuli bangunan tersebut.

“Hayo….bubar….atau kalian akan ikut kami tangkap bersama gadis ini.”Tubuh bugil Lee eun byong tersandar lesu di tiang pancang gedung.

Dalam hati dia sedikit bersyukur akhirnya siksaan sexual terhadap dirinya berhenti matanya nanar menatap kosong ke arah rombongan polisi itu.

Dari kejauhan dia dapat mengenali sesosok tubuh bugil kekasihnya Park ji sun yang rupanya sudah lebih dulu dibekuk.

“Kalian berdua kami Tahan dengan tuduhan berbuat cabul di area publik dan mengganggu ketentraman umum dan juga merusak moral anak-anak. Kalian berhak diam dan mendapatkan pengacara? mengerti? sekarang ikut kami kekantor.”Dengan kasar tubuh bugil Park ji sun dan Lee eun byong segera digelandang menuju truk tahanan polisi.

“Maafkan aku Lee eun byong aku tidak bisa melindungimu.”Park Ji sun berbisik lirih didekat kekasihnya. Ia begitu prihatin melihat keadaan tubuh bugil kekasihnya yang penuh berlumuran ceceran sperma. Bau cairan air mani bercampur keringat juga masih menyengat ditubuh telanjang kekasihnya itu.

“Tak apa-apa Ji Sun mungkin sudah takdir kita bernasib buruk”Dengan terbata-bata disela-sela derai air matanya Lee eun byong mencoba menghibur dirinya sendiri dan kekasihnya.

Jarinya mencoba memijit-mijit area sekitar lobang anusnya yang masih terasa perih rasanya masih seperti ada kemaluan pria yang menancap didalamnya sehingga Ia merasa agak sulit untuk berjalan dengan normal.

“Diam kalian jangan ribut dan jalan cepat sedikit kalian hanya merepotkan kami. Kalian memang pantas diberi pelajaran.” Kepala Komandan regu polisi yang telah berumur itu nampak bengis membentak mereka berdua.

Mereka berdua digiring ke sebuah truk tahanan polisi yang cukup besar mirip dengan truk pengangkut tentara yang bisa memuat sekitar 20 orang pada bagian belakangnya. Sekilas mereka berdua merasa sepertinya pernah melihat beberapa wajah para polisi itu tapi entah dimana.

Beberapa orang polisi itu juga mempunyai kamera yang nampaknya hampir sama dengan yang digunakan Hatake. Polisi itu dengan seksama mengarahkan kameranya ke tubuh bugil mereka berdua yang terhuyung-huyung digelandang menuju truk tahanan polisi.

Setibanya di truk mobil polisi, mereka jadi salah tingkah kali ini mereka benar-benar mati kutu dan kembali merasa malu luar biasa. Sepanjang perjalanan menuju kantor polisi, tubuh mereka berdua tetap dibiarkan telanjang bulat bugil tanpa tertutup secuil kain sama sekali.

Dengan muka merah padam menahan malu mereka berdua berusaha menutupi alat kelamin masing-masing dengan cara berpelukan erat memanfaatkan tubuh masing-masing untuk saling menutupi alat kelamin mereka.Tapi usaha mereka itu malah membuat mereka berdua nampak seperti sedang berusaha bersetubuh.

“Bangsat sudah tertangkap pun masih mau ngentot lagi benar-benar bejad kalian. Dan lo cewek sudah gatel ya? masih kurang tadi digilir sama kuli-kuli India yang berkontol besar? masih pengin nambah ?”Tak habis terpikirkan oleh mereka berdua bagaimana mungkin seorang aparat penegak hukum dapat mengucapkan kata-kata kasar dan kotor seperti itu.

“Ampun pak tidak pak..!!”Mereka berdua merasa benar-benar dilecehkan oleh para polisi itu.

“Lalu kenapa lu peluk-peluk cowok lu?”Dengan senyum mengejek kembali sang komandan menanyakan hal konyol yang seharusnya tidak perlu dipertanyakan.

“Saya malu pak telanjang bulat begini”Lee eun byong dengan lirih menjawabnya. Mukanya semakin merah padam mendengar ucapan-ucapan yang semakin menyudutkannya.

“Oh jadi lo masih punya malu?”Kembali sang komandan menghujani pertanyaan-pertanyaan yang meruntuhkan mental mereka berdua.

“Bener pak saya malu sekali sekarang”Deraian air mata Lee eun byong semakin deras mengalir mengiringi ucapannya.

“Kalo malu kenapa kalian berani ngentot di jalan umum?”Kini semakin jelas para polisi ini ingin sedemikian rupa menghancurkan harga diri mereka berdua.

“Kami butuh uang pak makanya kami main film porno”Lee eun byong mengatakan yang sejujurnya tentang motif mereka.

“Bohong kamu…. Bikin film porno di Jepang itu legal dan ada peraturannya. Produser bodoh mana yang mau berurusan dengan hukum dengan bikin jenis film porno yang sudah dilarang oleh pemerintah..?!! Kalian pasti punya kelainan seks ya..?!! udah ngaku saja..!!”Para polisi itu terus menerus menyerang secara psikologis.

“Bener pak kami tidak bohong. Tolong pinjami kami baju pak. Sungguh kami kapok dan malu sekali”Mereka berdua berharap agar dipinjamkan baju untuk sekadar menutupi ketelanjangannya.

“Bohong…pembohong…kampungan… Kalian itu sudah putus urat malunya kalo kalian punya malu tidak mungkin kalian ngentot di jalanan umum yang ramai dasar sinting. Kalian terus membohongi kami ya..??!! Kalian harus di kasi pelajaran.”Dengan bentakan keras komandan polisi itu tetap tidak mau percaya pada penjelasan mereka berdua.

“Ampun pak tidak berani pak”Mereka berdua menjadi sangat panik mereka begitu takut membayangkan akan kembali di deportasikan ke korea utara. Negri yang dengan susah payah sudah berhasil mereka tinggalkan.

“Ya udah jangan bohong cepat ngaku kalo kalian memang suka ngentot di jalanan sambil ditonton orang banyak nafsu kalian akan lebih bergairah dan baru bisa ngecrot.”Para polisi itu sengaja memaksa mereka berdua untuk membuat pengakuan seperti yang di maunya

“Tapi pak…”Mereka berdua mati-matian berusaha melunakan hati para polisi tersebut.

“Mau bantah lagi?Cepat ikuti ucapanku yang tadi dengan suara keras atau biji pelermu akan aku injak sampe pecah biar lo jadi impoten. Mau di kasari dulu atau mau sendiri?”Diluar dugaan ternyata para polisi itu bertindak sangat kasar.

“Baik pak… Sa…saya suka ngentot di jalanan sambil ditonton orang banyak saya akan lebih bergairah dan baru bisa ngecrot.”Menyadari posisinya sebagai imigran gelap yang tidak menguntungkan dengan terpaksa Park ji sun akhirnya menuruti memberikan pengakuan seperi kemauan mereka

“Heh…. lo yang cewek juga ngomong yang kenceng seperti cowokmu itu cepet….”Tak puas hanya dengan pengakuan Park ji sun, kini para polisi itu beralih ke Lee eun byong untuk memberikan pengakuan yang serupa.

Ba…ba..baik pak.. S..ss..saya suka ngentot di jalanan sambil ditonton orang banyak saya akan lebih bergairah dan baru bisa ngecrot.”Tak pernah terpikirkan oleh Lee eun byong ia harus mengucapkan pengakuan cabul seperti itu diluar kehendak dan kenyataan yang sebenarnya.

“Sekarang bersama-sama”Para polisi itu tersenyum-senyum penuh cibiran kepada mereka berdua. Sementara salah seorang polisi yang lain sengaja memfokuskan arah kameranya kearah selangkangan masing-masing silih berganti lalu kearah atas tepat memfokuskan ke wajah mereka berdua. Raut wajah yang penuh rasa malu dan panik berhasil dengan baik diabadikan oleh kamera polisi itu.

Sa….sa…ya suka nge…ngentot di jalanan sambil ditonton orang banyak saya akan lebih bergairah dan baru bisa ngecrot.”Dengan lesu mereka sekali lagi menuruti kemauan para polisi itu dan berharap semuanya agar cepat berakhir.

“Apa-apan nih kalian mau mempermainkan kami lagi ya..?!! Ga kedengeran tau ngomong yang kenceng…!!.”Rupanya tak begitu saja para polisi itu mengerjai mereka

Saya suka ngentot di jalanan sambil ditonton orang banyak saya akan lebih bergairah dan baru bisa ngecrot.”Hati mereka berdua semakin tidak karuan menerima terror mental dari para polisi itu.

“Lebih kenceng..lagi..!!.”Para polisi itu saling mengedipkan matanya satu sama lain sambil tersenyum-senyum mesum. Nampaknya ada sesuatu yang tidak beres pada mereka.

“SAYA SUKA NGENTOT DI JALANAN SAMBIL DITONTON ORANG BANYAK SAYA AKAN LEBIH BERGAIRAH DAN BARU BISA NGECROT..”Setengah berteriak mereka berdua akhirnya kembali menuruti keinginan konyol para polisi itu.

“Sekali lagi…!!”Kata Komandan itu kepada mereka berdua sambil melotot.

“SAYA SUKA NGENTOT DI JALANAN SAMBIL DITONTON ORANG BANYAK SAYA AKAN LEBIH BERGAIRAH DAN BARU BISA NGECROT…!!”Akhirnya dengan berteriak mereka berdua untuk terakhir kalinya menuruti keinginan gila polisi ini.

“Ha….ha…..nah begitu baru bagus..!!”Senyum penuh kemenangan tersungging di bibir para polisi itu

“Pak kami sudah menuruti kemauan bapak sekarang tolong pinjami kami baju pak”Dengan penuh harap mereka berdua ingin segera dipinjami baju.

“Kurang Ajar jadi maksudmu lo mencoba membuat aku ketularan penyakit sinting mu dan gantian aku yang bugil begitu ya?”Dengan suara mengglegar komandan polisi itu kembali membentak mereka.

“Tidak pak bukan begitu maksudnya”Park ji sun menjadi gelagapan di pojokan seperti itu.

“Jadi Maksudmu Apa…?…aku kasi tau kalian ya, hanya anjing yang bisa ngentot di sembarang tempat, dan kalian telah melakukan itu. Kalian tak lebih seekor anjing. Dan anjing tidak perlu memakai pakaian bukan..?”Melihat lawannya kebingungan polisi itu jadi semakin memojokan mereka dan menghinakannya sedemikian rupa.

Lee eun byong dan Park Ji sun hanya menunduk terdiam mereka benar-benar merasa dipermainkan oleh polisi-polisi ini. Akhirnya mereka memilih diam karena dengan banyak bicara malah akan lebih mempersulit keadaan.

“Nah kalian tadi sudah ngaku sendiri kalian punya kelainan seks dan suka mengganggu ketenangan publik. Dan kalian juga bermoral bejad penjahat kelamin maniak sex. Teman-temanku semua tadi mendengar pengakuan kalian. Kami juga punya bukti rekaman video pengakuan kalian.”Dengan nada sinis kembali para polisi itu mengejek keadaan mereka.

“Tapi pak tadi kami mengaku karena disuruh bapak”Kali ini Park ji sun sudah tidak bisa menyembunyikan kekesalannya lagi secara tidak sadar bantahan ketus itu meluncur begitu saja dari mulutnya.

“Kurang ajar…. Lagi lagi kalian menuduhku mengancam kalian. Kalian punya saksi tidak..!!? teman-teman apa aku memaksa demikian…!!?”Mendengar jawaban Park ji sun Polisi itu menjadi semakin emosi.“Aku punya hukuman yang pantas bagi orang yang punya kelainan seks seperti kalian. Nih Balsem gosok lo olesin sampe habis balsem gosok ini ke kontol cowok lo ngarti? habis itu lu kocok kontolnya tapi pake telapak kaki lo dan harus sampe ngecrot paham?kalo belom ngecrot belom boleh berhenti.”

“Ampun pak Kasihanilah kami”Mereka berdua kali ini benar-benar terkejut dengan ancaman hukuman yang sudah benar-benar kelewatan

“Cepaat..!!”Nampaknya komandan polisi itu tidak main-main dengan ancamannya

“Dengan terpaksa akhirnya Lee eun byong mengoleskan seluruh isi botol balsem gosok itu ke kemaluan Park Ji Sun yang sudah mulai meringis-ringis menahan pedih dikemaluannya.

Lee eun byong duduk dihadapan Park ji sun tubuhnya sedikit menengadah keatas kedua tangannya diturunkan sedikit kearah belakang untuk menyangga tubuhnya. Dan dengan perlahan Lee eun byong mulai mengocok kemaluan kekasihnya yang sudah penuh dilumuri balsem gosok dengan menggunakan telapak kakinya

Hawa panas dari balsem gosok itu secara perlahan mulai menggigit kemaluan Park ji sun. Kini mulai dari biji pelir sampai kepala penisnya telah berwarna merah keunguan dan membengkak

“Aduuhh…duh…aduh…argh….”Ji sun mulai merasa kesakitan mulutnya meringis-ringis berusaha menahan sakit yang luar biasa sementara itu Lee eun byong berhenti dan mulai menangis histeris.

“Jangan berhenti..!! Teruskan atau aku injak biji pelirnya dan kupotong pentil susumu untuk makanan anjing!”Dengan kejam komandan polisi itu tetap memerintahkan mereka untuk melanjutkan hukuman yang diberikan.

Ditengah-tengah rasa sakit yang luar biasa Park ji sun masih sempat mengangguk memberi tanda kepada kekasihnya agar menuruti kemauan mereka

“Wadauuwww….auww.auw…auw….arghhh…”Akhirnya rasa sakit yang hebat sudah tidak tertahankan oleh Park ji sun. Tubuhnya berjingkrak-jingkrak berguling-guling tak beraturan didasar bak truk polisi yang tak seberapa luas.Beberapa polisi itu lalu membekuk dan memborgol tangan Park ji sun di kaki kursi.

“Ha…ha….ha….Rasain lo biar mateng tuh kontol jadi kontol panggang bumbu balsem hayo terusin ngocoknya sampe ngecrot itulah upah bajingan kelamin maniak sex amoral seperti kalian..”Derai tawa para polisi itu sama sekali tidak mencerminkan sikap sebagai seorang abdi Negara yang seharusnya patut dicontoh

Setelah Lebih dari 20 menit dikocok kemaluan Park ji sun akhirnya memancar cairan mani lengket bening bercampur darah dan kemudian disusul oleh air kencing yang memancar deras tanpa tertahankan lagi

“Kurang ajar siapa yang suruh lo kencing truk ku jadi kotor tau kalian memang benar-benar menjengkelkan sekarang kalian berdua minum air kencing yang masih tercecer jilat sampai tak ada sisa lagi tau

Dengan tangis yang tiada henti akhirnya mereka berdua menjilati seluruh sisa air kencing yang berceceran dilantai truk. Beruntung sebagian besar air kencing itu sudah habis melewati sela-sela lantai

Park ji sun yang sudah kepayahan hanya dapat terkesiap saat komandan polisi yang sudah berumur itu tiba-tiba meremas-remas payudara montok kanan kekasihnya yang sedang menangis tersedu-sedu di bahunya sambil terkekeh-kekeh.

Melihat komandannya meremas-remas payudara montok kanan Lee eun byong, maka para anak buahnya juga tak kalah berani. Beberapa pasang tangan mereka pun segera ikut beraksi.

Tangan kanan salah seorang anak buah komandan polisi itu meremas-remas pantat
bahenol Lee eun byong. Dan dengan begitu beraninya tangan kirinya merabai selangkangannya. Tampak Lee eun byong menggelinjang sambil berusaha keras menepis tangan itu

Tapi tampaknya polisi muda itu marah karena tepisan Lee eun byong dan tangan polisi muda itu tiba-tiba mendorongnya sehingga Lee eun byong jatuh terduduk di pangkuan komandannya.

Seperti ketiban durian runtuh, Komandan polisi yang sudah tua itupun
dengan serta merta tangan kirinya memelintir keras-keras puting susu pink kecoklatan yang sebesar biji gundu itu. Dan tanpa menunggu waktu komandan polisi tua itupun meremas-remas kasar kedua payudara montok Lee eun byong

Dengan tangan terborgol di kaki kursi Park ji sun tak berdaya melihat kekasihnya meringis merasakan bagaimana komandan polisi tua itu meremas-remas kasar kedua payudara montok kekasihnya.

“Eeeeegggghhhh……ampun pak”didengarnya kekasihnya itu merintih saat sang komandan polisi tua itu memencet, memelintir sambil menarik narik kedua puting susu pink kecoklatan itu

“Aaampuuuun Tuaaaaan…s..saakiiiit Tuaaaan ….”rintih Lee eun byong menghiba. Kini entah mengapa, Park ji sun menjadi terbiasa melihat lelaki memperlakukan tubuh kekasihnya sesuka hatinya.

“Ampuuuuuuuuun paaak …….”Lee eun byong mengerang saat Komandan polisi itu begitu keras menarik kedua puting susunya hingga ia terpaksa tertunduk mengikuti tarikan komandan polisi itu sambil kedua tangannya memegang kedua payudara montok nya

“Kamu memalukan pelacur!!”Bentak komandan polisi itu

“Ampuuun pak …”rintih Lee eun byong dan komandan polisi yang mukanya memerah, melepas tarikan di kedua puting susunya

Park ji sun melihat kekasihnya mengeluarkan air mata, seakan batinnya dapat merasakan betapa sakitnya kedua puting susu kekasihnya karena tarikan jari-jari tangan komandan polisi itu.

Komandan polisi tua itu memangku Lee eun byong kemudian membelai dahinya
dan membersihkan air matanya dengan tissue.

“Hap” tiba-tiba komandan polisi tua itu kembali melahap sebelah kiri payudara montok Lee eun byong dan dengan cepat komandan polisi tua itu melepas kenyotannya dan segera berpindah ke payudara sebelahnya.

“Kamu berdiri..!”Katanya. Menyadari membantah hanya akan membuat para polisi itu akan menjadi semakin brutal, maka Lee eun byong hanya menurut saja ketika komandan polisi tua itu memposisikannya berdiri diantara dirinya dan beberapa anak buahnya.

Mereka lalu menarik bahu Lee eun byong membuat gadis itu berdiri merunduk sehingga kedua tangannya bertumpu pada pinggul pria dihadapannya dan kedua payudara montok gadis itu bergelantung bebas dengan indahnya.

Kemudian, mendekatlah dua kepala polisi muda yang lain itu ke kedua payudara montok Lee eun byong dan hampir bersamaan kedua mulut polisi muda itu dengan rakus seperti bayi kelaparan langsung melahap dan mengenyoti kedua payudara montoknya.

Kini Lee eun byong bagai menyusui kedua bayi raksasa yang kehausan yang membuat dirinya menggelinjang dan kepalanya merunduk kemudian mendongak dengan kedua bola mata yang terbalik berputar-putar.

Mulut gadis itu mendesis-desis merasakan kenyotan kedua mulut polisi muda itu di kedua belah payudaranya.

Park ji sun akhirnya hanya bisa pasrah merelakan tangan polisi muda itu turun dan mengelus-elus paha padat kekasihnya dan akhirnya menyelusup ke selangkangan kekasihnya dan mulai menggosok-gosok itilnya sehingga pantat bahenol kekasihnya itu menungging nunging berusaha menjauh dari usapan-usapan cabul polisi-polisi itu.

Lalu tangan polisi muda yang lain itu berhasil meraih pantat bahenol
Lee eun byong dan menariknya ke depan sehingga gadis itu mau tak mau menekuk lututnya setengah jongkok.

Dan karena kedua lutut Lee eun byong terganjal kaki salah seorang polisi muda yang lain yang masih asyik mengerjai bagian tubuhnya yang lain sehingga terkangkanglah paha sexy Lee eun byong

Rupanya Komandan polisi tua itu melihat posisi Lee eun byong yang setengah jongkok terkangkang maka dimainkannya jari-jemarinya di kerimbunan bulu kemaluan yang hitam lebat milik gadis malang itu.

Tanpa membuang waktu, komandan polisi tua itupun langsung menggosok-gosok selangkangan Lee eun byong menggantikan tangan anak buahnya yang kini kembali berpindah mengerjai puting payudaranya..

Hanya beberapa menit komandan polisi itu menggosok-gosok itil dan bibir kemaluan Lee eun byong, terdengarlah kecipak lendir kemaluan gadis itu dimana pantat bahenolnya bergetar, bergoyang, maju mundur, dan menggelinjang tak karuan.

“Ooouugggghhhhh …shh…”Park ji sun mendengar Lee eun byong mendesis-desis saat dilihatnya jari tengah tangan kanan komandan polisi itu yang sedang mengerjai kekasihnya itu menembus masuk liang kemaluan gadis malang itu yang sudah basah kuyup oleh lendir kemaluannya.

Lalu polisi muda itu mengangkat kaki kanan Lee eun byong dan diletakkan di kursi samping truk sehingga posisinya seperti anjing jantan yang sedang kencing.

Polisi muda itu kemudian memeluk perut Lee eun byong dan sedikit mengangkatnya dari arah belakang sehingga kini pantat bahenol gadis itu menungging dan kedua kakinya terkangkang lebar.

Ia menggosok-gosok kembali selangkangan Lee eun byong yang merunduk sehingga pantat bahenol gadis itu maju mundur tak karuan sedangkan kedua payudara montok gadis itu terus dihisap dan di kenyot-kenyot oleh mulut dua polisi muda itu secara bergantian

Hati Park ji sun semakin hancur berkeping-keping saat melihat kekasihnya menggeleng gelengkan kepalanya. Kedua mata kekasihnya itu nampak meredup kemudian terbelalak lalu kedua matanya terbalik karena serbuan gencar pada kedua payudara montoknya dan sapuan-sapuan lidah kasap di selangkangannya

Nafas Lee eun byong mendengus-dengus dan keringatnya semakin deras membasahi tubuhnya. Sementara rekan-rekan polisi cabul itu hanya terkekeh-kekeh melihat aksi mesum komandan dan rekan sekerjanya yang asyik mengeroyok Lee eun byong sambil mengocok batang kemaluannya masing-masing yang masih di dalam celananya

Polisi muda itu rupanya kurang puas dan kini dia berlutut di bawah tubuh Lee eun byong yang masih menungging. Kedua tangan pria itu langsung mengarah ke selangkangan gadis itu dan dengan kasarnya pria itu menguak lebar bibir kemaluan gadis itu dengan jari-jari tangannya yang hingga Lee eun byong melenguh.

Begitu lebarnya pria itu menguak bibir vagina Lee eun byong hingga nampak liang kemaluannya yang berwarna pink ikut ternganga lebar

“A..a…ampun pak..”Lee eun byong mengerang dan pantat montoknya tersentak menungging.

“Ha ha …. kau apakan dia koq sampe ia berteriak…??? Haa ..haa…ha…”Tanpa daya Park ji sun mendengar komandan polisi mesum itu terkekeh-kekeh

“Ia ga suka main halus boss, mintanya dikasari…he…he…he..”Polisi muda itu menjawab pertanyaan konyol komandannya sambil terkekeh-kekeh kegirangan.

Mata Park ji sun semakin nanar saat dua polisi cabul itu mulai mengeluarkan kemaluannya dari balik seragam celana dinasnya.Batang kemaluan komandan polisi itu tampak setengah menggantung belum berdiri demikian juga dengan anak buahnya

“Hayoo….isep …barang gue cepetan..Komandan itu dengan suara mengglegar membentak Lee eun byong

Tiba-tiba komandan polisi itu memegang kepala Lee eun byong yang masih menunduk berusaha memalingkan mukanya dari kemaluan polisi bejat yang tengah mengerjainya

Mengetahui korbannya berontak, dengan kasar polisi itu menjambak rambut panjang Lee eun byong sehingga kepala gadis malang itu terpaksa menengadah tak dapat bergerak bibirnya meringis menahan sakit.

Belum sempat Lee eun byong mengaduh, komandan polisi itu sudah memencet hidung korbannya hingga Lee eun byong gelagapan dan tak dapat bernafas.

Komandan polisi itu lalu mendekatkan selangkangan nya ke wajah Lee eun byong dan mengusap-usapkan batang kemaluannya ke wajahnya. Polisi itu kemudian memaksa masuk biji pelirnya ke mulutnya yang terbuka.

“Aduuuuggghhhh ….”Park ji sun mendengar polisi itu mengaduh. Rupanya Lee eun byong menggigit biji pelir polisi tua itu

“Kurang ajar kamu….”Rekan-rekan komandan itu langsung menghajar Lee eun byong sehingga biji pelir komandannya dapat terselamatkan. Dalam hati Park ji sun memuji keberanian kekasihnya untuk melakukan perlawanan.

Tetapi akibat dari perbuatannya itu hanya semakin memperparah siksaan gerombolan polisi bejat itu terhadap mereka berdua. Beramai-ramai mereka membalas perbuatan gadis itu dengan mengoleskan balsem gosok ke selangkangan gadis malang itu.

“Nah sekarang terimalah pembalasanku lonte.!!.Anget bukan memek lo…ha…ha…”Komandan polisi itu nampak puas sambil sesekali tangannya mengelusi biji pelirnya yang masih sedikit ngilu.

“Heh lo entotin cewek lo cepet..!! ngga usah pake protest lagi dan lo lonte… lo kan cewek gatel Heh lo ngentot yang kenceng cewek lo ga puas tau..”Setelah melepaskan borgol di tangannya, mereka memaksa Park ji sun untuk menjejalkan kemaluannya yang masih berlumuran balsam gosok ke lobang kemaluan kekasihnya.

Park Ji sun dengan terpaksa menyodok-nyodokan kemaluannya ke lobang kemaluan kekasihnya. Tapi akibat siksaan fisik yang dialaminya, setiap kali kulit penisnya bergesekan dengan dinding kemaluan Lee eun byong, itu berarti siksaan yang luar biasa menyakitkannya.

Sedangkan Lee eun byong pun dapat merasakan bibir kemaluannya lama kelamaan mulai panas mengigit akibat balsem gosok yang teroles secara merata di seluruh alat kelaminnya itu. Senyum licik puas tersungging di rombongan polisi itu.

“Yeah sudah cukup disini karena kami kasihan, kami sepakat untuk melepaskan kalian sudah sana pergi Dengan kasar polisi-polisi itu menendang pantat telanjang pasangan itu. Sehingga terjerembab di jalan

“Ahgh…!!”Dan mereka berduapun tersungkur di rerumputan dekat apartemen mereka

“Dagh….ha..ha..ha..ha..ha..ha selamat ya kalian sudah berhasil kami kerjai…… bwa ha…ha….ha…..”Rupanya seperti dugaan mereka berdua,para polisi itu adalah polisi gadungan bayaran tuan Ryuji Watanabe.

Dengan tubuh masih telanjang bulat dan berbau air mani bercampur kencing Lee eun byong dan Park Ji sun saling berpelukan dan bertangisan mereka meratapi nasib mereka yang sangat buruk.

“Astaga kalian kenapa?apa yang terjadi untung nona Mirai tetangga mereka berhasil menemukan kedua orang itu yang masih tergolek kepayahan dalam telanjang bulat tanpa sehelai benangpun di halaman apartemen mereka.

Kedua orang malang itu sudah tidak mampu berkata-kata lagi dengan beramai-ramai tubuh bugil mereka berdua digotong kembali ke flat apartemen mereka dan akhirnya hari yang menyeramkan inipun berakhir

Sleeping with enemy - part 5

Filed under: PERKOSAAN

Putih. Di mana-mana putih. Apa sekarang aku ada di surga? Eh, apa orang serusak diriku pantas masuk surga?

Kukejap-kejapkan mata dan menoleh ke kiri-kanan. Ternyata aku belum mati karena aku berada dalam kamar yang bernuansa putih minimalis. Sinar mentari yang menyusup dari ventilasi membuatku bisa melihat kamar ini. Ukurannya hampir tiga kali lipat lebih luas dari kamar tempat aku biasa dikurung. Perabotnya juga lengkap, selain ranjang besar dan seperangkat audio-video ada satu set sofa. Ada dua pintu di sisi kiri dan satu kanan. Salah satu dari ketiga pintu itu pasti mengarah ke kamar mandi. Yang satunya mungkin untuk lemari pakaian dan yang lainnya bisa jadi pintu penghubung ke kamar sebelah. Ah, sok tahu sekali aku ini, tapi layout kamar ini mengingatkanku pada kamarku dulu.

Hmm… kasur yang kutiduri ini lembut sekali, rasanya seperti berbaring di atas awan. Selimut tebal yang membungkus tubuh telanjangku juga lembut dan memberiku kehangatan sehingga membuatku ingin terus bergelung dibaliknya.

Kenapa aku bisa telanjang bulat begini? Ah, paling si gila itu menyuruh Aheng membawaku ke kamar ini setelah aku pingsan di kolam renang. Tapi tubuh dan rambutku tidak berbau kaporit, malah wangi lavender. Apa gorila itu memandikanku dulu? Lalu mengapa aku ada di kamar ini? Kamar siapa ini? Begitu banyak pertanyaan muncul di kepalaku, tapi tak semuanya bisa kujawab sendiri dengan memuaskan. Tak ada seorang pun yang bisa kutanyai karena aku hanya sendirian di kamar ini. Eh, jam berapa sekarang? Perutku sudah mulai meraung.

Aku duduk dan menggeliat. Aduh, tubuhku pegal-pegal. Anehnya selangkanganku sedikit basah. Apa karena semalam aku mimpi digumuli BL hingga aku mengerang, menggelinjang sementara dia terus berbisik ‘Kau milikku’? Apa perempuan juga bisa mimpi basah? Rasanya luar biasa, seperti nyata, tapi sepertinya tak mungkin aku tidak terbangun bila dia menindih dan menyetubuhiku seseru itu.

Setengah terhuyung, aku turun dan berjalan mendekati jendela. Kusibak gorden dan mengintip keluar. Aku hampir tak percaya bisa melihat matahari lagi, langit biru, awan putih, pepohonan hijau, taman bunga juga kolam renang tempat aku nyaris meregang nyawa… Segalanya begitu indah dan membuatku haru. Mengapa jahanam itu mendadak berbaik hati memindahkanku kemari? Apa dia menyesal karena sudah kelewatan mengerjaiku tadi malam?

Dengusan hangat di leher bagian belakangku membuatku terlonjak kaget. Jangan-jangan aku terjebak dalam kamar psikopat klemer itu lagi. Namun dengusan napas Bandi dingin lagipula aku mengenali wangi parfum Bvlgari biasa menempel di tubuh BL. Aku langsung berontak. Tapi tak mudah bergerak dalam belitan tangannya apalagi melepaskan diri.

“Apa kau nggak mau bilang terima kasih?” tukas BL sambil menggigit daun telinga kananku.

Kedua tangannya mulai memelintir putingku membuat mem*kku makin basah saja. Aku menggigit bibir untuk menahan desahan nikmat yang sudah hampir terlontar keluar.

“Apa kau nggak pernah diajari berterima kasih?”

Tangan kanannya melepas pentilku. Aku meronta, tapi malah terdiam dan merintih keenakan setelah tangannya mengusap klentitku yang basah. BL menggosok klitorisku sambil mendorongku maju. Tanpa sadar aku melepaskan cengkeraman tanganku pada kedua lengannya dan meremas gorden di hadapanku.

“Oooh…nghh…nghhh…Aaaa?”

Eranganku berhenti karena dia menarik tangannya. Tega sekali dia padahal dua gosok lagi aku akan orgasme. BL malah kembali menyibukkan diri dengan mengelus-elus pinggulku. Aku memutar pinggulku dengan harapan tangannya terpeleset ke kelaminku, tapi sia-sia. Dia lebih cerdik dariku.

“Kalaupun orang-tuamu nggak bisa mendidikmu dengan baik, tapi paling nggak gurumu pasti pernah mengajarimu untuk berterima kasih. Kau pernah sekolah kan?”

Aku menggertakkan gigiku. Sialan betul jahanam brengsek ini.

“Apa aku masih kurang baik? Coba, mana bisa kau makan bebek peking, lobster, kepiting soka, abalone, lidah angsa dan cakar beruang kalau kau masih jadi waitress di Sanctuary. Sekarang kau malah kuberi salah satu kamar terbaik di rumah ini. Belum lagi aku harus terus memuaskan birahimu yang nggak habis-habis. Apa susahnya sih bilang terima kasih?”

Kurang ajar! Bisa-bisanya dia membalikkan fakta seenak kont*lnya!

“Kau ini memang baj… aaah… oooh…”

Makianku terinterupsi oleh eranganku karena tangannya kembali bekerja di tempat yang kuinginkan. Tapi hanya lima detik, setelahnya mogok lagi.

“Kau ini nggak tahu berterima kasih,” keluhnya sambil melumat leherku ala drakula lapar hingga aku tersedak.

Tangan kirinya meremas-remas tetekku dan tangan kanannya sekarang mengusap anusku sembari meremas pantatku. Aku tak tahan lagi dan berbisik serak,

“Terima kasih.”

“Hah? Ngomong yang jelas dong.”

“Terima kasih,” ujarku lagi lebih keras.

“Buat apa?”

Astaga, aku sendiri tidak tahu mengapa aku mau berterima kasih pada pemerkosa sekaligus penculik dan penyiksaku selama ini.

“Kenapa sih kau nggak membiarkanku mati saja?” gerutuku sambil menginjak kakinya dengan gemas.

“Auch! Kau ini keterlaluan,” bisiknya.

Bisikannya diikuti jilatan di telingaku yang membuatku panas dingin.

“Kenapa?” tanyaku lagi sembari menggesek-gesekkan kedua pahaku.

Aku sudah tak bisa lagi menunggu untuk mencapai puncak kenikmatan, tapi dia malah meregangkan kedua kakiku dan menyelipkan kakinya untuk mengganjal pahaku.

“Karena belum waktunya kau mati.”

Aku merinding lagi. Kali ini bukan karena terangsang melainkan ngeri. Tapi ketakutanku cepat sirna oleh usapan sambil lewat pada klentitku yang lapar.

“Ooohh… Terima kasih… karena sudah membiarkanku hidup!” teriakku frustasi.

“Aku lebih suka diberi ucapan terima kasih karena sudah menyelamatkan nyawamu.”

“Menyelamatkanku?? Apa kau sudah gila??” seruku jengkel.

“Hitung-hitung aku sudah tiga kali menyelamatkan nyawamu. Pertama, dari Dibyo. Kau pikir dia akan membiarkanmu hanya jadi simpanannya? Karena kau kasar, dia akan menjualmu pada orang yang kasar juga. Kalau kau dijual ke orang macam Bandi, apa kau masih bisa hidup sampai sekarang?”

Aku bergidik ngeri.

“Kedua, aku menyelamatkanmu dari eksperimen Bandi. Terlambat lima menit saja, mungkin kau sudah jadi mayat kelinci percobaan.”

Tubuhku langsung lemas hingga nyaris menggelosor kalau saja tidak dipegangi olehnya.

“Ketiga, semalam kau pasti mati tenggelam kalau nggak ditolong aku. Jadi pantas kan kalau kau berterima kasih? Aku nggak minta bayaran uang kok soalnya aku tahu kau nggak punya duit. Cuma sekalimat ucapan terima kasih yang diucapkan dengan tulus tanpa nada terpaksa. Nggak susah kan?”

Aku menghela napas panjang. Duh, kenapa aku bisa jatuh ke tangan orang semenyebalkan ini? Aku masih diam sementara dia menarik dan menyandarkan tubuhku ke jendela agar bisa berdiri dengan lebih tegap. Setelahnya ganti dia yang menghela napas panjang. Hembusan napasnya menyibakkan rambut-rambut halus di kudukku.

“Lara, Lara. Kau ini benar-benar keras kepala.”

Tumben dia menyebut namaku. Selama ini kami tidak pernah saling memanggil nama masing-masing. Hanya ‘Kau’ atau ‘Eh’. Kadang dia menyebutku ‘Bitch’. Sedangkan aku biasa memanggilnya ‘Bajingan’, ‘Keparat’, ‘Jahanam’, ‘Orang gila’ dan sejenisnya itu.

Mendadak dia mencolokkan dua jarinya ke liang vaginaku dan mulai mengocoknya.

“Aaah… aaah… Aa?”

Lolonganku terhenti seiring berhentinya kocokan tangannya.

“Terima kasih karena sudah menyelamatkan nyawaku.”

Suaraku gemetar karena menahan amarah dan ledakan libido yang tertunda-tunda.

“Good girl.”

“Ooooh… Iiiiyaaaah…. Aaaaah…. Oaaaaaahhh!”

Aku kembali terkulai lemas sambil bergantung pada kain gorden, tapi dia malah menarik kedua tanganku dan memeganginya di atas kepalaku.

BZZZZ. Mendadak gorden di hadapanku terbuka lebar dengan sendirinya. Aku menoleh dan melihatnya melempar remote ke sofa. Rupanya gorden ini dibuka-tutup dengan remote seperti di kamar presidential suite di hotel-hotel bintang lima.

“Aaah! Tidaaak!! Jangaaaaan

Aku menjerit ngeri dan meronta sebisaku saat dia mendorongku ke jendela. Aku tidak ingin tubuhku yang telanjang menjadi tontonan seperti manekin di etalase toko-toko. Tapi tenagaku habis usai orgasme panjang. Padahal di bawah – kamar ini berada di lantai dua – ada dua tukang kebun yang sedang menyiangi rumput, satu tukang pembersih kolam renang yang sedang mengambili daun kering dari kolam dan lima pengawal yang sedang sarapan sambil bersenda gurau.

BRAK! BRAK! BRAK!

BL sengaja mendorong-dorong tubuhku ke kaca jendela hingga membuat bunyi berisik. Dia sengaja memancing perhatian anak buahnya dan usahanya berhasil. Semua menoleh ke atas dan melihat kami berdua. BL tertawa melihat cengiran di wajah anak buahnya. Tawanya terdengar makin puas setelah mendengar tawa dan applaus dari mereka. Dipepetnya tubuhku ke kaca hingga payudaraku tergencet. Aku terpaksa menoleh dan merelakan pipiku ikut tergencet daripada aku tak punya hidung lagi.

Tak ada yang bisa kulakukan selain diam pasrah. Kedua tanganku hanya bisa menahan di sisi kepalaku agar aku tidak makin gepeng. Tidak hanya mukaku yang merah, sekujur tubuhku pasti merah padam karena malu dan marah. Gilanya lagi, BL mulai menggerayangi tubuhku lagi.

“Nggak…aaaah… No… oooh….”

Aku menggeliat, mencoba mengelak dari sentuhan-sentuhannya, tapi dia malah makin bersemangat merangsangku. Klitorisku kembali diucek bersamaan dengan tusukan-tusukan jarinya ke liang vaginaku.

Clep. Clep. Clep.

“Becek banget. Kau ternyata suka ditonton,” bisiknya sambil menyelomot bibirku yang mencong.

Gocekan tangannya makin liar sampai-sampai aku menggelinjang bak ular kepanasan. Sesekali kulirik para penonton dari sisi kaca yang tak berembun terkena semburan napasku. Jumlah mereka bertambah karena mereka memanggil kawan-kawan mereka untuk ikut menonton. Sebagian dari mereka malah mulai membuka celana dan mengocok senjata masing-masing. Pemandangan itu membuat BL makin panas. Perasaan takut akan diserahkan BL pada serombongan anak buahnya bercampur dengan rasa nikmat menahan orgasme.

Tiba-tiba BL melepas kelaminku dan mengangkat kaki kananku.

HEK! Aaaaugh!!

tongkolnya menghunjam mem*kku dengan kuat, menyodok hingga menumbuk bibir rahimku. Dia terus merogolku dengan mantap dan cepat. Napasku tinggal satu-satu karena dadaku sesak tergencet antara kaca jendela dan tubuh liatnya. Belum lagi leherku yang hampir keplitek karena terus meleng.

“Oaaah!! Aaaaah!!”

Aku berteriak keras sambil memejamkan mata. Tak kupedulikan lagi payudaraku yang penyek dan pipiku yang pedas tergesek genjotan BL apalagi reaksi para pemirsa. Kudengar dengusan berat napasnya saat memkku meremas kontlnya dengan sekuat tenaga. Aku sama sekali tidak protes waktu dia melepaskan kont*lnya dan membalikkan tubuhku. Kali ini punggung dan pantatku yang menempel lekat di kaca jendela. Diangkatnya kedua kakiku.

“Ugghhh!”

Kami berdua melenguh saat kontlnya menembus memkku yang kuyup. Dipagutnya bibirku yang terbuka dengan lapar. Dadanya yang rata menekan dadaku yang kenyal. Kedua tanganku membelit lehernya dengan erat, takut kalau-kalau dia mendadak menjatuhkanku. Tapi tenaganya luar biasa padahal tubuhnya hanya setengah Ade Rai. Aku terus melenguh, mendesah dan mengerang tanpa bisa menggelinjang lepas karena terjepit. Dia menjilati wajah, telinga dan leherku, sesekali menggigitinya. Peluh sudah membasahi tubuh kami, membuat rambutku lepek menempel di leher. Cairan vagina juga mengalir membasahi pelirnya dan paha kami berdua.

“Aaaaaaah…”

Aku mendesah panjang saat mencapai puncak untuk ketiga kalinya. Kedua kakiku mengejang, menapak udara kosong dan kepalaku tengadah dengan mata terpejam. Aku lelah setengah mati. Rasanya ingin terlelap, tapi dia terus menggenjotku. Akhirnya dia menekan pantatnya dalam-dalam dan melenguh keras.

CROT.CROT.CROT.CROT.CROT.

Tembakan-tembakan spermanya yang hangat membangunkanku dari kondisi setengah sadar. Kubuka mataku dan kulihat dia sedang menatap mataku sambil terengah-engah. Dilumatnya bibirku dengan gemas sembari menurunkan kakiku satu persatu. Aku menggelinjang geli saat senjatanya yang menciut terlepas dengan sendirinya.

“Kenapa kau nggak pakai kondom lagi?” tanyaku tersengal.

“Bukannya kau benci kalau aku pakai kondom?”

Sejak kapan dia peduli pada pendapatku?

“Itu kan kalau kau pakai kondom yang aneh-aneh. Bagaimana kalau nanti aku…”

Aku terdiam. Aku tidak ingin hamil darinya, tapi aku takut bila kukatakan nanti dia malah sengaja menghamiliku.

“Kapan masa suburmu?”

“Aku nggak tahu,” jawabku polos.

“Bohong! Bagaimana bisa kau nggak tahu?”

“Periode menstruasiku kacau. Kadang bisa dua-tiga bulan aku nggak mens.”

BL terdiam sejenak.

“Ya sudah. Nanti kuberi kau pil KB.”

Aku mengangguk. Ternyata juragan pabrik kondom malas memakai kondom juga. Tiba-tiba aku tertawa. Lucu sekali. Tadi adalah percakapan normal pertama kami tanpa saling maki, saling tampar dan saling piting.

“Apa yang lucu?” tanya BL sambil menyipitkan matanya.

“Mau tahu saja,” cibirku.

Dia mendengus.

“Kau malu mengaku kalau kau mulai betah tinggal di sini?”

“Betah??” teriakku mendelik. “Amit-amit!”

“Jangan jual mahal. Buktinya kau nggak pernah minta aku membebaskanmu. Kau memang selalu memaki, meludahiku dan mengajakku berkelahi, tapi sebenarnya kau senang kan?”

Aku tercenung. Astaga! Aku ini goblok sekali! Mengapa tak pernah terpikirkan olehku untuk memintanya membebaskanku? Tapi bagaimana denganmisiku? Misi membalas dendam kematian papa yang terus tertunda? Kapan aku akan membunuh jahanam brengsek ini? Lihat, sekarang dia ganti mencibirku dan membalik badan, bersiap berlalu dariku.

“Hey, tunggu! Apa kau mau membebaskanku?”

Aku benci sekali dengan tatapan mengejek bajingan sialan itu.

“Menurutmu bagaimana?” tanyanya sengak.

Belum sempat aku menyahut, dia kembali melanjutkan,

“Kau pikir aku akan membebaskan orang yang berhutang banyak padaku? Bagaimana cara kau membayar seluruh hutang nyawa dan ongkos hidupmu selama ini?”

“Kau pikir memerkosaku pagi-siang-malam itu bukan bayaran atas semuanya?”

“Lho, jadi kau menyamakan dirimu sendiri sebagai pelacur?”

“Enak saja! Kau yang membuatku seperti ini!” bentakku sambil menudingnya.

Sekujur tubuhku bergetar menahan marah. Suaraku juga bergetar dan mataku mulai berair. Aku benci setengah mati dengan kondisiku sekarang dan bisa-bisanya dia malah menyalahkan dan menghinaku.

“Sudah. Sudah. Kau kan nggak perlu nangis,” ejeknya sambil menepuk-nepuk pipiku.

Kucoba menamparnya, tapi tanganku ditangkapnya. Ditariknya tubuhku mendekat dan didekapnya dengan erat. Dijilatnya wajahku dengan sekali sapuan. Kali ini aku tidak meludahinya lagi karena aku tidak mau menerima pembalasannya, semburan air maninya di wajahku. Cukup sudah penghinaan yang kuterima darinya pagi ini.

“Kau mau bilang apa? Aku benci kau?”

“Basi, tahu! Buat apa mengatakan sesuatu yang sudah kau tahu!” bantahku kesal. “Aku lebih senang bilang supaya kau cepat mati saja.”

BL tersenyum.

“Sayangnya nggak gampang membunuhku.”

Lalu dia melumat bibirku, lama sekali. Tak dipedulikannya pukulan dan cakaranku di dada, punggung dan wajahnya.

“Lepas…lepaskan aku!”

Akhirnya BL melepaskan bibirku.

“Bagaimana cara kau membayar hutang?”

Aku terdiam dengan jengkel karena aku tidak tahu harus menjawab apa.

“Apa kau tahu berapa jumlah hutangmu?”

“Lima juta.”

BL tertawa.

“Sepuluh kali lipatnya, neng.”

“Mana bisa begitu! Kau dulu membeliku dari babi tua sialan itu seharga lima juta.”

“Bukannya kau nggak mau dihargai semurah itu? Lima puluh juta juga masih kemurahan kan? Jujur saja, kau ingin bilang harga dirimu beratus-ratus kali lipat dari lima juta. Betul kan?”

Dia memang betul, tapi…

“Tapi kau nggak bisa memerasku begitu!”

BL menyeringai.

“Mana bisa aku jadi orang kaya kalau nggak ambil untung. Coba, ongkos hidupmu itu mahal. Jangan samakan ongkos ngekos di rumah segede ini dengan rumah kosmu yang mirip kandang ayam itu. Belum lagi kau hidup enak di sini. Nggak kerja, tapi bisa makan makanan restoran kelas satu. Hampir tiap malam orgasme lagi. Kalau kau bayar gigolo untuk melayanimu pagi-siang-malam harus keluar uang berapa hah?”

Kekesalanku memuncak hingga ke ubun-ubun. Tanpa pikir panjang kuserang dia hingga terjatuh. Kami berdua berguling-gulingan di lantai. Bergulat tanpa belas kasihan. Beberapa kali kujenggut rambutnya dan kubenturkan kepalanya ke lantai. Begitu pula dirinya. Sikuku linu, dengkulku ngilu. Tapi sekuat-kuatnya diriku, tetap saja kalah darinya. Kurasa orang-orang gila itu memiliki kekuatan lebih dari manusia normal lainnya.

BL tertawa puas setelah berhasil menindihku. Aku mengutuki diriku sendiri. Aku ini memang goblok, luar biasa goblok karena dengan mudah terpancing siasat liciknya. Mengapa aku tak ingat kalau perkelahian adalah foreplay yang paling disukainya. Sekarang kontlnya sudah mengeras dan menempel di bibir memkku.

“Kuberi kau kesempatan menawar,” ujarnya sembari menyodok mem*kku dengan kuat.

“Aaaaargh! Li… ma… ju…ta…”

Kata-kataku terputus seiring genjotannya.

“Kau ini curang atau pura-pura bodoh sih?”

“Aaaw!” jeritku mengaduh saat pentilku dipelintir dengan keras. “Se…pu…luh…ju…ta…”

“Empat… puluh… sembi…lan…juta…”

“Cu…rang…”

Begitulah kami terus tawar-menawar dengan dibumbui makian dan ejekan. Tapi lama-lama aku tak mampu lagi menawar. Aku hanya bisa berteriak-teriak keenakan sementara dia terus mengejekku. Sudah dua kali aku orgasme, tapi dia belum juga ejakulasi. Tubuhku rasanya remuk dan tenagaku habis. Aku hanya bisa pasrah dipompa tanpa melawan. Mendadak dia berhenti bergerak. Ditegakkannya tubuhnya hingga membentuk sudut sembilan puluh derajat dariku.

“Iiiiyaaah! Ooooaaah!!”

Aku kembali berteriak dan menggelinjang saat jari-jarinya meraba dan menggaruk klentitku sementara kont*lnya terus keluar-masuk vaginaku.

“Hhhgghhaaaaaaaah

Kami berdua menggeram keras saat akhirnya mencapai orgasme bersama-sama. Setelah membuat vaginaku yang becek makin becek, tubuh BL ambruk menimpaku. Sebelum tak sadarkan diri aku masih merasakan asinnya keringat yang menetes dari rambutnya dan mendengar napas kami yang memburu bersahutan.

Entah berapa lama aku tertidur, begitu bangun aku sudah kembali berbaring di atas ranjang selembut awan itu. Aheng duduk menungguiku di kursi di samping ranjang. Di atas nakas, sudah tersedia senampan makanan entah sarapan atau makan siang. Yang jelas perutku luar biasa lapar. Tanpa disuruh, aku langsung menyikat makanan yang tersaji hingga licin tandas.

Setelahnya Aheng memintaku ikut dengannya. Dia membuka pintu di samping pintu kamar mandi. Sesuai dugaanku, ruangan di balik pintu ini berisi lemari-lemari pakaian, sepatu dan tas. Semuanya untuk perempuan. Ada yang model lama, tapi banyak juga yang model terbaru.

“Semua ini punya siapa?” tanyaku sambil menyibak-nyibak lemari baju.

“Semua yang ada di rumah ini punya bos. Non boleh pakai yang mana saja.”

Bukannya senang, aku malah sebal. Jahanam sialan itu sengaja ingin membuat hutangku makin berlipat.

“Bos juga titip ini untuk Non.”

Aku melongo melihat kartu kredit platinum atas nama Lara Tan. Seingatku, aku tidak pernah menandatangani formulir aplikasi kartu kredit manapun dengan nama itu. Lagipula KTP-ku masih tertinggal di Sanctuary.

“Malam ini bos mau mengajak Non keluar. Jadi pilih gaun yang bagus. Soal dandan Non nggak usah khawatir. Ada Joy.”

Aku mendengus tak peduli. Aku tidak ingin tahu siapa Joy itu. Siang hingga sore aku menghabiskan waktu denga menonton tv. Aku ketinggalan begitu banyak berita. Aku baru tahu kalau BL sedang diselidiki kejaksaan karena diduga menyuap hakim yang menangani kasus penyuapan dalam tender proyek jalan tol di Surabaya. Aku heran juga mengapa BL tidak menyensor acara tv yang kutonton.

“Eh, apa-apaan ini?”

Mendadak Aheng masuk dan menyeretku turun dari ranjang. Dia tidak sendirian melainkan bersama seorang lelaki gemulai berbulu mata lentik, pasti ini yang bernama Joy. Aku dimandikan paksa oleh keduanya, lalu didandani oleh Joy. Aku meronta, tapi Aheng memegangiku dengan kuat. Sedangkan Joy tak bisa dibilang lemah meski gemulai, tenaganya mantap. Mulutnya juga kuat mengoceh.

“Paha dan pantatmu banyak selulit, pasti dulunya kau gemuk. Buktinya lenganmu lumayan gede dan nggak kencang. Model rambutmu jelek banget. Nggak pantas sama mukamu yang bulat. Kayaknya bos nggak keberatan kalau hidungmu dioperasi biar jadi mancung. Dagumu juga perlu ditambal silikon biar mukamu nggak bulat-bulat amat. Untungnya betismu bagus, langsing. Bentuk bibirmu juga seksi.”

Paling nggak dia masih memujiku sehingga kubatalkan niat untuk menghajar bibirnya yang jontor karena disuntik silikon.

“Belum beres juga?”

Aku makin cemberut mendengar suara BL.

“Gimana bos? Cakep kan?” tanya Joy manja.

“Ya lumayanlah. Jauh lebih mending dari biasanya,” tukas BL sebelum mengeloyor keluar.

Benar-benar menjengkelkan! Apalagi Aheng tiba-tiba membopongku. Dia tahu aku tak ingin berjalan sukarela mengikuti BL jadi harus dipaksa begini.

“Aku mau dibawa ke mana?” bentakku setelah dimasukkan dengan paksa ke dalam mobil Jaguar.

BL yang duduk di sebelahku sama sekali tak mengacuhkanku. Jadi kami duduk berjauhan sambil memandangi keluar jendela. Aku tertegun saat mobil tiba di depan gedung megah berpintu gagah yang dijaga dua patung unicorn. Sanctuary! Apa maksudnya ini?

Aku turun mengikuti BL karena tak ingin masuk dibopong Aheng. Aku diam saja sambil bertanya-tanya apa Pak Dibyo masih bisa mengenaliku. Aku terkesiap ketika baru menyadari Bandi ikut dalam iring-iringan kami. Seperti dulu, dia membawa dua ayam cantik yang masih belia. Namun mata Bandi terus tertuju kepadaku. Sesekali dia menjilati bibirnya sambil memandangiku dengan lapar. Aku jadi merinding ketakutan dan tanpa sadar menempel pada Aheng.

Déjà vu. Ya tidak persis begitu sih. Kalau dulu aku hanya menonton rombongan BL datang lalu terpaksa terlibat, sekarang sejak awal aku menjadi bagian dari mereka. Pak Dibyo mengenaliku dan terpana hingga ternganga-nganga. Apa penampilanku berubah begitu drastis?

Tak seperti dulu, BL langsung berjalan menuju meja bilyar di tengah ruangan. Aku didorong-dorong Aheng supaya mengikuti bosnya. Hasilnya aku menumbuk punggung BL dengan sukses. Jas kremnya terkena lipstick-ku. Aku masih terhuyung saat dia membalik badan dan menangkap tanganku.

“Aaaaah!”

Aku menjerit tertahan setelah tubuhku dilempar ke atas meja bilyar yang kosong. Kepalaku terbentur meja hingga mataku berkunang-kunang. Aku hanya sempat berteriak-teriak ‘Jangan! Tolong!’ saat dia menyibak gaun babydoll warna hijau pupus dan memelorotkan celana dalam yang kupakai. Tapi seperti dulu, tak ada yang berani ikut campur. Semuanya memilih menonton sembari kasak-kusuk.

Aku mencoba bangun namun yang kulihat membuatku terpaku. BL sedang nungging di depan selangkanganku. Wajahnya terbenam di antara kedua belah pahaku.

“Ngghh… Ooooh….Aaaaah…”

Yang kurasakan membuatku kembali berbaring. Baru kali ini aku dioral. Rasanya jauh lebih enak daripada masturbasi. Dia menjilati klentitku dan jarinya mengobok-obok G-spotku membuatku lupa kalau ini tempat umum. Aku mendesah, mengerang dan berteriak keras sembari terus menggelinjang. Bahkan aku ikut merangsang diriku sendiri dengan meremas-remas buah dadaku sendiri dari balik gaun. Kemudian saat jilatan lidaih dan tusukan jari-jari BL makin menggila, kugapai-gapai pinggir meja untuk mencari pegangaan. Tapi yang kudapat rambut BL.

“Iiiiiih…. Ooooh…. Ooooaaah… Aaaaah… Aaaaaaaaaaaaaaah

Kujambak rambutnya sembari berteriak dan melengkungkan punggungku ke atas. Kakiku bergetar keras dan menapak-napak liar ke atas. Tapi lidah BL masih terus bekerja sampai-sampai aku menggeliat-geliat lemah tanpa henti. Air mata mengalir di pipiku. Ketika akhirnya dia berhenti, aku langsung terkulai tanpa daya.

Senyum puas menghiasi wajah angkuh musuhku. Aku tak berdaya melawan saat dia merengkuh kepalaku dan mengulum bibir dan lidahku. Untuk pertama kalinya aku merasakan cairan vaginaku sendiri. Gurih. BL memeluk dan menarik tubuhku hingga terduduk. Kupandangi cairan vaginaku yang menetes ke atas meja.

“Happy birthday.”

Aku tertegun dan menatap BL dengan kosong.

“Apa kau lupa dengan hari ulang-tahunmu sendiri?” tanya BL geli.

Para penonton ikut tertawa malah ada yang bertepuk tangan. Lagu happy birthday mengalun mengiringi kue ulang tahun yang keluar.

Aku masih tertegun. Rasanya ingin tertawa, tapi tak bisa. Keinginan untuk menangis malah jauh lebih besar hingga hampir meluap dari hatiku. Bodoh sekali semua orang itu. Hari ini bukan hari ulang-tahunku. Tanggal lahir Lara Tan hanyalah karanganku. Hari ulang-tahunku sendiri masih enam bulan lagi. Tapi apa aku masih bisa merayakan hari ulang-tahunku?

“Jangan takut. Hadiah dariku nggak perlu kau ganti. Aku tulus kok.”

Aneh, sepasang mata dingin itu menatapku dengan lembut. Aku bergidik. Ini gila!

Lebih gila lagi saat BL menelanjangiku. Aku berusaha melawan, tapi sia-sia. Gaun babydoll yang indah itu malah robek. BL sendiri juga membuka jas dan kemejanya. Dipelorotkan celana dan celana panjangnya lalu dilemparkan ke arah Aheng. Dengan bangga dia memamerkan tubuh liatnya yang memar di mana-mana, hasil perkelahian kami pagi tadi. Dia mendorong tubuhku hingga terlentang di tengah-tengah meja dan mulai menggarapku di sana. Penonton mengerumuni dan menyoraki kami. Beberapa dari mereka mulai mabuk dan ingin menyentuhku. Ada juga yang menyodorkan kont*lnya ke mulutku untuk dioral atau ke tanganku untuk dikocok. Tapi BL mengusir mereka dengan bentakan keras dan Aheng beserta para pengawal menggiring mereka menjauh. Termasuk Bandi yang tangannya mendadak menyelonong membelai pipiku.

Dan tiba-tiba saja muncul pasangan-pasangan lain yang bercinta di tengah keramaian ini. Desahan, erangan dan teriakan erotis terdengar di mana-mana. Gila. Semuanya gila.
Aku sendiri mulai larut dalam gelora birahi yang terus memuncak. Aku mengimbangi permainan BL dengan menggoyang pantat dan pinggulku tanpa henti.

Usai orgasmeku yang pertama, BL membawaku pindah ke sofa. Di sana kami melanjutkan permainan dengan berbagai gaya. Aku baru sadar ada seseorang yang tidak ikut menyoraki kami dengan gembira. Bukan, bukan Pak Dibyo. Babi tua itu tertawa gembira meski aku bisa melihat tawanya hanya pura-pura. Dia pasti ngiri setengah mati apalagi tidak ada seorang anak buahnya yang berdiri di dekatnya. Semuanya kabur menjauh karena tak ingin dimangsa kont*l bunteknya yang bau.

Di sofa seberang, Bandi terus merengut sambil memandangiku. Tak ada rona puas di wajahnya meski sedang dioral dua ayam cantik yang dibawanya.

“Kau milikku,” bisik BL usai ejakulasi.

Pada saat yang sama, Bandi juga membisikkan kata-kata yang sama dari jauh.

cerita lainnya
Sleeping with enemy – part 1
Sleeping with enemy – part2
Sleeping with enemy – part 3
Sleeping with enemy – part 4
Sleeping with enemy – part 5
Sleeping with enemy – part 6
Sleeping with enemy – part 7

Older Posts