Jossie stories:babysitter
Namaku Jossy, usiaku 23 tahun, aku tinggal ikut kakakku Johnny usianya 2 tahun di atasku. Dia sudah menikah dengan orang Manado namanya Wenda, kakak iparku ini usianya 23 dan di rumah kakakku ini tinggal pula adik mBak Wenda namanya Winny usianya 21 tahun dia masih kuliah di Surabaya. Kakakku telah memiliki seorang anak berusia 3,5 bulan dan dirawat oleh seorang Baby Sitter, namanya Santi ( 18 th ) dari Bojonegoro ( Jawa Timur ).
Suatu sore saat itu Surabaya gerimis, waktu menunjukkan pukul 4 sore, seharian aku sedang males keluar, kebetulan hujan jadi makin asyik kalau dibuat tidur dan males-malesan pikirku. Aku masuk ke kamar ponakanku Deasy, rencananya mau sambil tiduran melukin dia, khan asyik meluk bayi, baunya khas, mumpung dia belum bangun dan tidak rewel kalau dipeluk. Masuk di kamar Deasy, tampak dia lagi tidur dengan nyenyaknya dan si baby Sitter sedang menyetrika baju Deasy di ruangan sebelah ( rencananya ruang main Deasy kalau sudah besar ). Segera aku rebahkan badanku agak miring dengan setengah memeluknya aku mulai untuk tidur, entah karena suasana lagi hujan atau karena sedang males, aku tertidur untuk beberapa saat mungkin 20 – 30 menit sebelum akhirnya aku terbangun karena Deasy kecil menangis, saat itu di antara kantuk aku merasakan sesuatu yang hangat2, yang belakangan aku tau bahwa itu adalah ompol si kecil. Dengan setengah malas aku berteriak ” San… Deasy pipis… !!” ternyata suaraku tidak cukup keras walaupun terdengar juga oleh Santi. Aku coba untuk bangun dan menggendong Deasy saat Santi mulai masuk kamar, lalu aku oper pada Santi, karena sebelumnya aku menggendong Deasy dalam keadaan dia terlentang, jadi ngopernya juga agak sulit, nah di sini terjadi tragedi, telapak tanganku menyentuh toket Santi yang 36 B itu, emang sich dia tidak terlalu menyadari tragedi itu, tapi buatku ini merupakan suatu trik baru yang segera dapat dipergunakan lagi suatu saat nanti ( tidak terlalu lama – kuharap segera ).
Singkat cerita aku kembali dengan tidurku dan sejurus kemudian Santi kembali membawa Deasy yang sudah dengan pakaian kering dan sudah bersih. ” Udah tidurin lagi aja San… ” kataku waktu itu. ” Taruh sini lagi aja. ” sambungku segera. Deasy diletakkan pas di sisiku dan Santi bialng ” Bang… saya buatkan susu dulu buat Non… ”
” Iya… tapi cepetan, soalnya aku mo tidur lagi ” kataku sebelum Santi keluar kamar. Deasy aku rebahkan di atas salah satu lenganku sambil lengan satunya memeluk Deasy. Santi datang membawa susu dan kemudian dia ikut rebah di samping Deasy, tanpa sengaja saat Santi merebahkan badannya, toket yang tadi kembali nempel persis di telapak tanganku dan akupun diam saja mendapat lotre seperti ini, dengan mata yang masih sengaja kupejamkan seolah ngantuk berat. Beberapa saat kemudian aku mulai memindahkan tangan yang sedari tadi memeluk Deasy, sedikit kegeser maju jadi memeluk Santi, pas di bagian pinggul.
Santi diam, aku diam Deasy asyik dengan botol susunya. Suasana hujan yang masih berlangsung ditambah dengan udara AC, menggiring Santi tertidur, saat menyadari itu sengaja kupindahkan lagi tanganku sedikit ke atas, pas di atas lengan Santi, tak lama kemudian Santi mengusap jidat Deasy, saat itulah tanganku jatuh, karena dia agak mundur saat mengusap tadi. Jatuhnya malah membawa berkah karena pas di tengah belahan toket Santi. 10 – 15 menit berlalu, waktu sudah sekitar jam 5 lewat ( mungkin ), seiring dengan bergeraknya senja, tangankupun kuusahakan tidak tinggal diam, walaupun belum tau reaksi apa yang terjadi, tapi batin ini mengatakan aman2 saja. Dengan bergaya mengeliat aku tekankan tanganku ke dalam belahan baju Santi, slup… masuk sudah dua ruas buku2 jariku dalam bajunya, jari tengah masuk 1 ruas jari dalam BH Santi, hangat menjalar terasa di tengkuk. Sampai sini usaha dihentikan sementara untuk tidak terlalu menyolok bila ternyata Santi tidak tidur dan hanya merem saja khan repot kalau tau ini usaha ilegal.
Ternyata 2 atau 3 saat kemudian, Santi bergerak dan berusaha memeluk Deasy, tapi usahanya itu menemukan harta karunku yang sudah setengah berdiri itu, pluk… nempel dech. Ku miringkan sedikit tidurku, terutama pinggulku karena tujuannya menindih telapak Santi dengan meriamku. Berhasil… Sekarang posisi tangan Santi yang terbuka telah tertimpa meriamku dan aku merasakan hanya telapak tangannya. Kutunggu sebentar, lalu mulai aku goyang pinggulku, supaya sentuhan tadi makin berasa, gara2 itu meriam makin memanjang, aku berhenti sejenak untuk emnanti reaksi arus bawah. Karena tidak ada reaksi penolakan atau penarikan ( re-call ) maka divisi lainpun menyusul aksi tersebut, divisi tersebut adalah si tangan kiriku, makin dalam aku masukkan dalam belahan dada Santi, sementara tangan kanan yang tadi di tindih toket 36 B mulai semutan ( atau keenakan, entahlah apa sebutan yang cocok ) kucoba gaya meremas… aman… lanjutkan dengan remasan kedua lebih keras… kugeser sedikit supaya gripnya lebih baik. Mendapat serangan seperti itu mungkin dia berasa, dan bereaksi dengan gaya menghindar, dia balikkan badan ( celentang ), tapi dia lupa tangan kiriku telah interaksi dalam management-nya, sehingga yang terjadi adalah terkoyaknya kancing baju dinas Santi, dua kancing bagian atas terbuka, tapi dia tidak terbangun ( ngantuk berat kali ). Dua kancing terbuka dan sisi baju terkuak sehingga tampak betul itu yang namanya toket hanya terbungkus BH, juga agak luber ke atas. Kutau saat kubukan sebelah mata dan wow… keren… dada putih telah floating… wow… ini dia pemandangan namanya. Mata dapat pemandangan begitu pinggul menindak lanjuti dengan goyangan, masih denagn gaya seperti tadi, sampai beberapa saat, terasa ada pergolakan arus bawah, det… det… ternyata tangan Santi terjadi traksi ( sentakan2 kecil semacam meremas ), makin gila aku kena begitu. Berhenti sejenak remasan berjalan lagi, kali ini lebih kuat dan benar2 nikmat, tanpa pikir panjang dengan gaya cuek tidak sadar, tangan kiri masuk lagi pada posisi semula di balik BH, slup… dapet lagi, tapi kali ini tidak diam langsung meremas, satu… dua… tiga… remasan berlanjut sampai Santi bangun dan bilang perlahan ” Bang maaf tangannya kok masuk sich ? ” Bergaya seperti baru sadar ” Soory nggak sengaja, abis tangan kamu remas2 saya punya ! ” Sampai di sini dia baru sadar kalau tangannya menggenggam meriamku. ” Maaf Bang… soalnya saya ketiduran, jadi nggak sengaja… kok bisa ya ?” katanya. ” Sudah nggak apa2 kok, enak kok, kalau kamu mau diterusin boleh.” kataku karena terlanjur basah ( kata pepatah terlanjur basah ya mandi sekalian ).
Aku lanjutkan kata2ku tadi ” Yang penting jangan bilang Kak John dan Kak Wenda.” Dai sahut ” Iya. ” Dari sini aku mulai pikir dia setuju ada rahasia seperti ini, berarti dia nggak keberatan berlanjut. Sambil celentang dan aku ambil tangannya yang tadi meremas ” Sudah taruh sini aja sambil gosok2, khan nggak apa2.” Dia diam aja aku buat begitu, 1 – 2 menit kemudian aku rubah posisi supaya bisa puas liat toket nganggur, mumpung dia belum sadar betul, eh aku pindah dia ngikut tangannya nguber meriamku, wah… sudah terpengaruh nih. Sekarang tangannya sudah bisa operasi sendiri, makin berani aku gerakkan tangan kiriku untuk pegang toketnya yang setengah terbuka. Diam juga. Kubuka kancing seanjutnya dan sekalian kusingkap BHnya, na… ini dia baru enak ( kaya’ kata2 Muchsin Alatas di iklan ).
” San… kamu sudah pinter ya beginian… ” kataku menyelidik. ” Nggak kok, saya baru belajar, kebetulan Abang baik jadi saya mau nurut, Abang suka ya diginikan ?” tanyanya sambil terus mengusap dan meremas meriam yang sedari tadi makin merekah. ” Gila enak sekali San… kamu pinter dech… coba kamu bangun.” kataku memerinta. Dia beranjak duduk dipinggi ranjang dan aku hampiri untuk menyingkap baju Baby Sitternya hingga keperutnya, lalu aku buka kancing pengait BHnya ” Dada bagus gini kok kamu kasih BH gini sich kasihan, nanti nggak bisa berkembang, kamu khan masih muda, jangan pakai BH terlalu ketat, nggak baik buat kesehatan dada kamu.” kataku sok menggurui. ” Trus mestinya gimana Bang ? ” tanyanya bego. ” Kamu baiknya kalau sehari-hari jangan sering pakai BH, biarkan dadamu berkembang dengan alami, khan baju dinasmu sudah tebal, jadi nggak kelihatan dari luar.” kataku makin ngaco, berusaha. Aku lalu jongkok didepannya, mulai coba menghisap putingnya yang masih rata denagn gumpalannya. Kujulurkan lidah dan mulai meutar lidah… dua jenak kemudian terdengar tarikan nafas panjang… ssshhhhhh……. Nah… naik dia… bisa deh lanjut ke sesi berikutnya. Kudorong dia rebah di lantai aku mulai menindih dia, mulutku tetap ditoketnya dan kulepas celana pendekku sekalian CDnya, supaya dia bebas pegang kendali meriamku. Mulai aksi isep toket dan pinggulku kugoyang seperti orang push up, meriam dipegang dengan tangan kanannya sedang tangan kirinya memeluk pinggangku. Aksi Esek2 ini terjadi kira2 5 menit sebelum kemudian aku lepas semua pakaian yang melekat di badannya dan badanku. Kini kita telanjang bulet… let… let tanpa satu unsurpun menghalangi, aku mulai menindihnya dan meriam yang tegang ini aku gesek2kan ke atas ke bawah seirama celah vertikalnya, basah mulai merambat, pelumasku dan pelumasnyapun mulai merebak keluar, makin mudah, smuth… ” Kamu sudah pernah main sama cowoc ? ” tanyaku sebelum melangkah lebih jauh. ” Belum pernah Bang, memangnya kenapa ?” tanyanya bego lagi… Ni anak memang masih bego dan lugu. Aku bilang ” Ndak cuma mau tau aja, sekedar nanya.” Karena medan pertempuran mulai siap goa vertikal mulai basah, aku coba serangan maju, mencoba menusuh dan menikamnya dengan meriam Jagurku.
Meleset… serang… meleset… serang… meleset… serang… meleset… beberapa kali sampai aku pikir, sebaiknya dengan bantuan pengarahan ( semacam bimbingan test lah – pikirku ).
Aku genggam meriamku dan aku arahkan… dek… dek… dapet kepalanya ( ujung jamur ) mulai melesak sedikit ke dalam, dorong lagi… serang… meleset… kemudian aku arahkan lebih hati2 dan masuk kepala semuanya, tinggal anggota badannya yang tertinggal. Tugas sudah mulai Komandan Batalion sudah menyerang, anak buah tinggal nyusul pikirku. Bener juga… sekali tekan full body contact… blesss….. dia menjerit ” Aduhh… sakit Bang… ” Lalu aku berhenti sejenak mengheningkan cipta. ” Coba kamu diam, lal kamu rasrakan sekarang.” kataku dan mulai menggerakkan batangku perlahan, centi demi centi aku lalui dengan penuh perasaan… ( maaf suara tidak aku sajikan )… semua ah… ih… uh… eh… oh… dan sebagainya kami lalui, meriam tetap melakukan aksi penikaman bagaikan aksi pembunuhan yang maha sadis… Aku mulai bergerak maju mundur dan naik turun. Semakin lama semakin cepat disertai erangan manjanya yang membuat aku tambah terangsang. Kubertumpu dengan kedua tanganku di sisi pinggangnya untuk membantu lancarnya gerak kemaluanku mengucek kemaluannya. Manuver2 politik sudah aku lancarkan… goyangan ke kanan… ke kiri… dan sebagainya termasuk tancat lalu putar, semua ilmu sudah aku kerahkan sampai pada detik2 proklamasi… dia menjerit kecil sambil mengejang ” Bang… saya gemetar… nggak kuat rasanya… achhh….. aduhhhhh…. achh…. gila…. enak sekali Bang…. ” Kedut-kedut aku lihat dia mulai kejang dan tersentak2 tubuhnya, karena posisiku yang bertumpu pada kedua lenganku memungkinkan aku melihat dadanya yang ranum besaar itu bergoyang manis sekali… gilaaaa…… ajik banget…. aku nggak tahan…. Berbareng dengan mata nggak tahan melihat guncangan hebat itu… aku mulai buang sauh… creet…. creeee….tt dan creee…ttt… kutekan habis semuanya biar dech mau bunting atau nggak aku nggak sempet mikir, yang penting enak… lalu aku ambruk… karena tanganku sudah mulai lemes juga nahan badanku yang 170 Cm dengan bobot tubuh 69 Kg.
Setelah beberapa saat aku rebahan dan mulai terhimpun tenaga, aku coba untuk bangun dan menarik meriam dari sarung nikmat… pluk… sedikit berjongkok sambil melihat medan pertempuran ( memek Santi ) di bawahnya ( di lantai ) aku lihat bercak merah darah segar perawan Santi membasahi lantai Essensa kamar Deasy… aku tengok keponakanku masih tidur terlelap, sementara Oomnya bikin dosa. Di ujung meriam aku lihat juga bercak darahnya menempel, aku berusaha berdiri walaupun agak capek… ambil celana dan CDku, langsung aku pakai, buru2 mau cuci karena kamar mandi ada di bagian belakang rumah. Pas aku buka pintu sedikit aku lihat kak Wenda sudah pulang dari kantornya, buru2 aku balik badan dan bilang ” Ibu sudah dateng lho !” Dengan CDnya dia seka bekas darah di lantaidan cepat2 bebenah bajunya, aku balik dan aku minta CDnya, aku masukkan ke kantong celana pendekku. Lalu bergegas keluar. ” Sore Kak… ” sapaku pada Kak Wenda, dia cuma tersenyum saja dan terus berlalu ke kamarnya.
Aku langsung masuk kamar mandi belakang, karena aku tau Kak Wenda pasti mau ganti baju, kebetulan di kamar mandi ada lobang angin yang menghubungkan kamar mandi belakang dengan kamar mandi Kak Wenda. Buru2 aku naik atas bak mandi dan mulai ngintip… nah… bener khan… biasanya memang gini, kalau sore aku ngintip Kak Wenda mandi kadang Winny kalau pas pakai kamar mandi Kakaknya, karena aku lama di kamar mandi, alasanku kok lama karena boker sekalian baca koran. Padahal sengaja nunggu mereka berdua mandi. Hari ini aksi pengintipan yang kesekian puluh kalinya aku lakukan, karena sudah sejak pengantin baru aku sering intip Kak Wenda kalau mandi kadang pernah waktu Bang John sedang main dengan Kak Wenda kalau pintu kamar mandinya nggak ditutup aku bila lihat ke ranjangnya dan melihat permainan seru mereka. Saat itu Kak Wenda sudah mulai menyiram tubuh bugilnya dengan air bak… byuu..rrr… wow toket itu lho kok ngga’ membosankan, aku jadi mulai konak lagi… perlahan aku buka celana plus CDku, mulai aku kocok meriamku ( padahal baru saja makan perawan ) mulailah lagu wajib… Hallo… Hallo… Bandung… Ibu kota Periangan… aku mulai nyanyi dalam hati dengan irama dua per dua ( kalau dalam gayanya dua per dua berarti naik dan turun saja – gaya ngocok donk ). Pas Kak Wenda membersihkan selangkangannya, aku mulai membayangkan seperti kejadian barusan aku dengan Santi… kubayangkan Kak Wenda yang kurajam kemaluannya, ble…sss… bleess…. blessss…. berkali-kali… sampai keluar lagi maniku… yang kedua kalinya sore ini…. Aku masih menikmati tubuh Kak Wenda terakhir kalinya sebelum aku mulai turun dari bak mandi dan mulai mandi beneran… Selesai mandi… ach… mendingan aku tulis pada cerita berikutnya ach… biar nggak kepanjangan… okay… setuju ?


