kumpulan cerita dewasa dari berbagai sumber …

<?php wp_title('«', true, 'right'); ?> <?php bloginfo('name'); ?>





February 24, 2009

Sakit Perut

Filed under: Incest

Cerita ini berawal saat saya sedang menunggu tante saya yang dirawat di rumah sakit. Tangannya harus digips, akibat kecelakaan yang menimpanya. Tante saya terlibat kecelakaan saat dia mengendarai mobilnya. Tangannya yang kiri luka robek akibat terkena pecahan kaca.

Yang saya rasakan ketika menunggu tante saya ini ada enaknya juga ada tidak enaknya. Saya ambil contoh saja yang enaknya dulu, saat tante mau pipis, saya pasti disuruh mengantar ke WC. Karena tangan tante sakit, dia menyuruh saya untuk membukakan CD-nya dan saya bisa lihat dengan jelas kemaluannya yang tertutup bulunya yang agak lebat. Dan yang tidak enaknya ketika dia mau buang air besar, sudah deh jangan diteruskan, anda semua pasti tahu apa yang saya maksudkan.. OK.

Malam itu, saya sendirian menjaga tante di rumah sakit.
Tiba-tiba tante memanggil saya, "Sony.., cepet kemari..! Tolong tante ya..?" katanya.
"Ada apa tante..?" kata saya.
"Perut tante sakit nich.., tolong gosokin perut tante pake minyak gosok, ya..?" katanya sambil membuka selimutnya.
Dan terlihatlah tubuh tante yang molek itu, meskipun dia masih memakai BH dan CD. Tapi samar-samar puting buah dadanya dan bulu kemaluan tante terlihat agak jelas. Melihat pemandangan itu, batang kemaluan saya menjadi naik. Agar tidak terlihat oleh tante, saya mencoba merapatkan tubuh bagian bawah saya ke tepi ranjang.

"Lho Son.., apa yang kamu tunggu..? Ayo cepet ambil obat gosok di meja itu. Lalu gosok perut tante, awas jangan keras-keras ya..!" katanya.
"Ya tante.." kata saya sambil mengambil obat gosok di meja yang ditunjuknya.
Setelah saya mengambil obat gosok yang ada di meja, "Yang digosok bagian mana tante..?" tanyaku.
"Ya perut tante dong, masak memek tante.. khan nanti.. memek tante jadi sakit kepanasan." katanya tanpa merasa risih.
"Akh.. tante bisa aja deh.. benci aku.. uhh..!" kata saya.
"Ayo dong cepet, tante udah nggak tahan sakitnya nich..!" katanya sambil meringis.

Lalu saya gosok bagian perutnya yang putih mulus dan berbulu itu. Saya menggosok dengan lemah-lembut seperti ketika saya sedang menggosok tubuh cewek saya.
"Ya gitu dong, huu.. enak juga gosokanmu Son. Belajar dimana kamu..?" katanya sambil mendesis.
"Nggak kok tante, biasa aja." saya jawab dengan pura-pura.
"Udahlah jangan bohong kamu.. Pasti kamu sering gosokin tubuh cewek kamu ya khan..?" tanyanya mendesak saya.
"Kan Sony belum pernah gosokin cewek Sony, tante..!" kata saya pura-pura lagi.
"Sekalian ya Son, pijitin kaki tante, bisa khan..?" katanya manja.
Saya hanya mengangguk dan mulai memijat kakinya yang membuat naik lagi batang kemaluan saya. Kakinya begitu dingin, mulus dan merangsang saya.

Lalu, "Sudah tante, capek nich..!" kata saya.
"Lhoo.., yang di atas belum khan..?" katanya.
"Ah.., tante becanda ah.., Sony jadi malu..," kata saya.
"Ayo cepet dong, kamu nggak bakalan capek lagi. Coba deh pijit disini, di paha tante ini. Ayo dong, kamu nggak usah malu-malu, Sony khan keponakan tante sendiri, ayo cepet gih..!" katanya manja sambil menarik tangan saya dengan tangan kanannya.

Sekarang saya dapat melihat gundukan bukit kemaluanya yang menerawang dari balik kain tipis CD-nya itu. Wajah saya langsung berubah merah menyala dengan pemandangan yang indah ini. Tante seperti tidak mengerti apa yang saya rasakan, dia menyuruh mendekat masuk ke tengah-tengah selangkangannya dan mengambil kedua tangan saya, meletakkan di masing-masing paha atasnya persis di tepi gundukan bukit kemaluannya.

"Iya di situ Son..," katanya sambil mencoba melebarkan kakinya lebih lebar lagi.
Saya disuruh memijat lebih ke dalam lagi. Pikiran saya mulai terganggu, karena bagaimanapun meremas-remas ‘zone eksklusif’ yang sedang terbuka menganga ini mau tidak mau membuat batang kejantanan saya menjadi naik lagi.

Lalu, "Son, kamu udah punya cewek..?" katanya.
"Ya tante..," kata saya berterus terang.
"Ngomong-ngomong Sony udah pernah ngeseks sama cewek kamu, belum..?"
"Apa itu ngeseks tante..?" kata saya pura-pura tidak mengerti.
"Maksudnya tidur sama cewek.." katanya.
"Ngmm.. belum pernah tante.." jawab saya berbohong.
"Ah masak sih, coba tante lihat dan pegang punyamu itu..?" katanya sambil menarik tubuh saya agar lebih dekat lagi, lalu dengan tangan kanannya dia meraba gundukan di celana saya.
"Tante pengen tau kalo anumu bangunnya cepet berarti betul belum pernah.." katanya sambil meraba-raba batang kemaluan saya lagi.

Entah artinya yang sengaja dibolak-balik atau memang ini bagian dari kelihaiannya membujuk saya. Mungkin karena saya masih berdarah muda, biarpun sudah terbiasa menghadapi perempuan tetapi kalau dirangsang dalam suasana begini tentu saja cepat batang kemaluan saya naik mengeras. Kalau sudah sampai di sini sudah lebih mudah lagi buat dia.

"Wihh, besar sekali gundukanmu Son.. boleh lihat dalamnya punyamu..? Ayo bantu tante untuk membuka celanamu..!" katanya tanpa menunggu persetujuan dari saya, dia sudah langsung bekerja membuka celana saya dan membebaskan burung kaku saya.
Memang, waktu batang kejantanan saya terbuka bebas, matanya setengah heran setengah kagum melihat ukurannya. Terutama kepalanya yang menyerupai helm tentara "NAZI".

"Bukan main kontolmu Sony.. besar dan keras banget punyamu.." katanya memuji kagum tapi justru melihat yang begini makin memburu nafsunya.
"Tapi masak sih Son, benda seindah begini belum pernah dipake ke memeknya cewek. Kalo gitu sini tante boleh nggak ngerasain sedikit lagi biar bisa tante tempelin di sini." lanjutnya, lagi-lagi tanpa menunggu komentar saya, dia dengan sebelah tangan bekerja cepat melepaskan CD-nya.
Terlihatlah hutan kemaluannya yang menggoda itu, lalu dia menyuruh saya untuk naik ke ranjang dan menyuruh saya untuk menempelkan kepala kemalua saya di mulut lubang senggamanya. Di situ Saya disuruh menggosok-gosokkan ujung kemaluan saya di celah liang senggamanya.

Lalu dengan menggosok-gosokkan sendiri ujung kepala batang kejantanan saya di mulut lubang senggamanya yang sudah terbuka lebar itu, menambah semakin tegang dalam nafsu diri saya.
"Ahh.. aduh.., Son.. nikmatnya..," katanya menjerit geli.
"Udah Son, tante nggak tahan. Sekarang giliran tante bikin nikmat kamu.., ok Sayang..?" katanya menyuruh saya berdiri.
Lalu dia dengan satu tangannya langsung memegang batang kemaluan saya dan mulai menjilati seputar batangnya, sambil sesekali mengulum kepalanya.

Beberapa saat kemudian, dia menarik saya lagi, tubuh saya berlutut di atas ranjangnya, dan kembali liang senggamanya memperlihatkan celah kenikmatan yang siap untuk saya masuki. Dalam keadaan seperti itu, saya betul-betul sudah lupa bahwa dia adalah tante saya sendiri. Lalu, ujung batang kejantanan saya mulai saya tusukkan di lubang kenikmatannya yang segera saya ikuti dengan gerakan maju-mundur, putar kanan-kiri untuk menusuk lebih dalam. Tante sendiri ikut membantu saya dengan jari-jari tangan kanannya. Dia memperlebar bibir kemaluannya agar semakin lebih terbuka untuk lebih mempermudah masuknya batang kemaluan saya.

Terus saya genjot batang kemaluan saya ke dalam liang kenikmatannya yang indah itu.
Dan akhirnya, "Hghh.., oo.. Sonn.. yeess.., oohh..!" dengan erangannya, dia membuka orgasmenya yang juga disusul oleh saya hanya berselang beberapa detik kemudian.
"Gimana Son rasanya barusan..?" katanya menguji saya sambil tangannya mengusap, menyeka-nyeka keringat di dada saya.
"Aduh tante enak sekali, belum pernah Sony ngerasain yang seperti ini. Tapi tante sendiri, gimana rasanya..?" kata saya balik bertanya.
"Tante baru sekarang lho ngerasain digituin cowok dengan kelembutan, tapi juga tidak meninggalkan kejantanannya yang perkasa, seperti punyamu ini, ‘Si Buta Dari Gua Memek’, tante jadi melayang ke langit yang ke-7. Ohh.. endangg..?" katanya.

Begitu selesai, saya diajak tante ke kamar mandi. Dan waktu itu saya bantu tante membersihkan kemaluannya. Sambil menyiram kemaluan tante, saya mendekap dia dari belakang, dan tante yang sedang berdiri menjadi kegelian karena batang kejantanan saya menyentuh bukit pantatnya. Seketika batang kejantanan saya naik lagi karena yang saya lihat sekarang lebih terlihat montoknya. Dan seketika itu, tangan lembut tante memegang batang kemaluan saya. Saya gemetar karena pengalaman seperti ini luar biasa buat cowok perjaka seperti saya ini. Buah dada tante menjulang, menantang dan tegar, kelihatan pori-porinya meremang karena udara sangat dingin di kamar mandi, apalagi ini sudah tengah malam. Dan bukit kemaluannya agak merekah merah terbuka bekas perbuatan yang tadi.

Saya tidak tahu harus berbuat apa selain meraba buah dadanya lagi yang kali ini dari depan. Tante menarik saya dan mencium bibir saya, saya menurut saja. Tubuh kami saling merapat. Tangannya terus mengurut-urut batang kejantanan saya. Dan saya meraba pantatnya yang bulat dan sintal kencang. Buah kejantanan saya pun diremas-remasnya pelan-pelan. Kemudian, tante mulai menaikkan kakinya yang sebelah ke atas bak dan dimasukkannya lagi kemaluan saya ke liang senggamanya. Ngilu dan agak panas terasa di batang kejantanan saya.

Tante mulai bergoyang maju mundur dan pantat saya juga ditekannya dengan tangan kanannya agar saya bisa mengikuti irama. Saya ikut saja menggoyangkan sambil memeluk, mengisap putingnya, mencium bibirnya. Beberapa saat kami bergoyang sama-sama, tapi paha tante mulai pegal rupanya, dan dicabutnya batang kemaluan saya. Kemudian dia berbalik dan menungging sambil berpegangan dengan tangan kanannya ke bibir bak mandi. Saya gosokkan batang kejantanan saya ke bibir kemaluannya. Benar-benar terasa panas bibir kemaluannya itu.

Kemudian saya mendesak maju dan, "Bless.." kepala ‘NAZI’ milik saya masuk bergesek-gesek dengan dinding lubang senggamanya.
Tante juga bereaksi dan pinggulnya berputar seperti penari ular. Aduh luar biasa sekali, saya merasa keenakan dan tidak bisa berpikir jernih lagi. Pantat saya maju mundur, rudal panjang saya menggaruk-garuk lubang kenikmatannya. Dari posisi ini, saya bisa melihat dengan jelas batang kejantanan saya basah kuyup dan bibir kemaluan tante tertarik keluar masuk. Tangan saya menjangkau ke depan, meremas buah dadanya yang menggantung besar dan bergoyang menggeletar, nafas tante mendengus desah.
"Ohh.. yess..!"
Akhirnya saya meledak-ledak lagi dan tante rupanya sudah lebih dulu mengalami orgasme.

Setelah itu saya mandikan tante saya tersayang. Mulai detik itu, saya punya tugas tambahan baru.

TAMAT

Aku dan ayah tiriku

Filed under: Incest

Namaku Roby. Saat itu tahun 1982, dan aku baru berumur 14 tahun. Sebagai anak tunggal yang mulai punya rasa ingin tahu terhadap dirinya sendiri, dalam usia itu aku mulai sering memperhatikan alat kelaminku sendiri, memain-mainkannya dan larut dalam kebingungan, untuk apa semua itu ada. Di rumah, aku lebih sering tidur dengan pembantu rumahku. Keadaan itu berubah waktu tanteku (adiknya ibuku) yang bernama Lina, ikut menumpang tinggal dengan orang tuaku. Ia waktu itu berusia belasan (masih SMA), dan bakat tubuhnya yang sintal mulai terbentuk. Tante Lina sangat menyayangiku, karena aku adalah cucu pertama di keluarga besar kami.

Mulai saat itu aku lebih sering tidur sekamar dengan tanteku. Mulai tumbuh perasaan nyaman tidur bersama orang dekat, dan mulai terbiasa dengan pelukan dan sentuhan yang hangat diantara kami. Tentu saja walaupun saat itu aku sudah bisa ereksi, tapi usia segitu belum memungkinkan aku untuk memahami persoalan seks. Tanteku punya kebiasaan yang unik, setiap tidur dia menanggalkan pakaiannya, menyisakan bra dan CD, kemudian membungkus kami berdua dalam selimut yang hangat, dan mulai memelukku sampai pagi. Kebiasaan ini berlangsung berbulan-bulan.

Suatu malam, karena kegerahan, aku terbangun. Aku terkejut karena tanteku tidak dalam posisi biasanya yang selalu memelukku dari belakang. Saat mataku membuka, aku melihat pemandangan baru, yaitu bongkahan pantat tanteku yang sedang tidur menyamping, terpampang jelas di depan mataku. Dengan berdebar dan gemetaran, naluriku mulai bertindak. Aku mendekatkan wajahku, menghirup bau tubuh yang terasa aneh namun menggairahkan, dan meraba-raba bongkahan pantat tanteku sehati-hati mungkin. Kebiasaan ini berlangsung terus, dan di hari-hari berikutnya keberanianku tumbuh perlahan-lahan, untuk melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar itu. Kadangkala aku meraba pantatnya, sembari tanganku yang lain memain-mainkan penis kecilku. Pernah pula beberapa kali tanganku mencoba menyusup ke dalam CD-nya, namun belum pernah mencapai hasil yang memuaskan, karena biasanya tanteku mulai menggeliat. Dan akhirnya semua kesenangan ini mesti terputus karena setelah genap setahun, tanteku kembali tinggal bersama orang tuanya untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi.

Suatu kali di tahun 1985 (usiaku 17 tahun), aku sekeluarga berlibur ke rumah nenekku, yang terpisah pulau dari rumah tempat aku dan orang tuaku tinggal. Aku senang sekali berjumpa kembali dengan Tante Lina, dan masa-masa liburan itu dia sering mengajakku jalan-jalan, membelikanku mainan dan sebagainya. Suatu siang, sepulang dari bermain-main di sekitar rumah, aku menemukan rumah dalam keadaan sepi. Semuanya sedang tidur. Iseng-iseng aku masuk ke kamarnya Tante Lina, dan ternyata dia sedang tertidur pulas. Saat itu tadinya aku mau bermain kembali dengan anak-anak tetangga, tapi melihat Tante Lina yang tidur telentang dengan roknya dalam keadaan tersingkap, membuatku teringat kembali mainanku beberapa tahun yang lalu.

Aku naik ke pinggiran ranjang, dag-dig-dug, ragu, wajahku memerah, tapi tidak ada waktu untuk kembali. Telapak tanganku mulai menyusuri kaki Tante Lina dari bawah, dan dia tetap tertidur. Sambil meneguk ludah dan susah bernafas, kusadari telapak tanganku sudah berada di pangkal pahanya. Aku naikkan rok tanteku, dan terpampanglah didepan mataku, CD berenda yang berwarna krem, dengan latar beberapa helai bulu kemaluan yang keluar dari orbit, dan cetakan bibir kemaluan yang tebal dan indah, dalam keadaan yang basah dan hangat. Aku makin susah menelan ludah, tapi semuanya sudah dalam keadaan tanggung. Kuteruskan aksiku, dengan tanganku perlahan-lahan mulai masuk ke CD tanteku dari samping. Tiba-tiba tanteku terbangun seperti kaget, dan sebelum sempat mengucapkan apa-apa, aku tarik tanganku keluar, dan kabur secepatnya ke ruang keluarga. Entah kenapa, aku merasa berdosa sekali. Walaupun aku belum tahu apa-apa soal itu, aku merasa bersalah, dan takut tanteku marah. Ternyata tanteku tidak marah, ia menghampiriku, dan mengajakku tidur bareng. Akhirnya akupun mengikutinya tidur, dan tidak melakukan apapun.

Keesokan harinya adalah salah satu hari yang bersejarah bagiku. Saat terbangun, orang tuaku bersama kakek nenekku sedang mengunjungi kerabat yang lain. Tinggal aku dan Tante Lina ku saja dirumah. Belum sempat aku turun ke kamar mandi, aku melihat tanteku melewati kamarku, hanya dengan lilitan handuk di tubuhnya. Aku pun segera beranjak, dan mencoba menengok ke kamarnya yang pintunya tidak ditutup. Ya ampun, di kamarnya, aku melihat tanteku yang membelakangiku, mulai menurunkan handuk dari tubuhnya. Pantatnya yang besar itu bergoyang-goyang sementara dia memilih-milih pakaiannya dalam lemari. Pandanganku nanar, tidak tahu harus berbuat apa. Dan ketika dia berbalik, aku yang hanya berjarak beberapa meter darinya, dengan terpaksa harus menerima pemandangan bugil tubuh depannya yang montok itu. Aku tidak tahu tanteku sedang apa, dan mengapa ia tidak bereaksi dengan kehadiranku. Mungkin ia tidak melihatku yang sedang duduk dari luar kamarnya, atau mungkin ia berpura-pura tidak melihatku, entah dengan motif apa. Tampak bagiku ia seperti sedang memessage dirinya sendiri, melakukan gerakan-gerakan relaksasi, dengan payudara bulat kencang besarnya tengah berayun-ayun, perutnya yang meliuk-liuk, dan.. ya tuhan! Aku tidak tahan melihat kakinya yang perlahan meregang-regang, dengan belahan vaginanya yang indah itu terbuka seperti mengajakku untuk bermain. Aku langsung pergi ke kamarku, merasa pusing dengan kejadian barusan, merasa terundang untuk melakukan sesuatu, tapi aku tidak tahu apa dan harus bagaimana.

Sepulang dari liburan, dan selama masa pertumbuhanku berikutnya, bayangan tentang tanteku sulit sekali disingkirkan dari kepala, dan berperan banyak waktu fantasi seks-ku mulai terbentuk. Ketika mulai mengenal masturbasi dan ejakulasi, aku selalu membayangkan belahan vaginanya yang menerima semburan spermaku. Bebeberapa tahun kemudian ia menikah dengan seorang polisi, mengikuti suaminya pindah ke kota lain, dan dari kabar yang aku terima ia sekarang menjadi ibu rumah tangga yang baik. Aku pun mulai melupakannya, sampai kemudian, suatu kesempatan yang tidak terduga tiba-tiba datang.

Tahun 1993. Saat itu aku berumur 25, tumbuh menjadi seorang remaja yang berlibido tinggi, masturbasi tiap hari, rajin mengkonsumsi segala material porno yang sedang in saat itu, seperti enny arrow, playboy, video blue film dan lain-lain. Dan aku sudah tahu, apa yang harus aku lakukan apabila ada kontak fisik dengan seorang wanita, walaupun tentu saja, belum pernah melakukannya. Saat itu, tanteku yang bungsu, Lia, yang berumur sebaya denganku, mengajakku untuk berlibur ke rumah kakaknya, Lina. Tentu saja aku pun mau, dan kami berdua berangkat kesana.

Saat itu, Tante Lina yang sebenarnya masih muda (sekitar 26-27 an) semakin montok saja, dan belum dikaruniai anak. Suaminya yang polisi, sedang mendapat piket malam. Otomatis kami bertiga merasa bebas tidur dimana saja. Malam itu, sehabis nonton acara TV, aku yang tadinya berniat untuk tidur dengan Tante Lina, tapi karena kecapean aku tertidur di kasur yang digelar darurat di ruang tengah. Jam 3 pagi aku terbangun, dan terkejut karena tiba-tiba Tante Lina tertidur di sebelahku, sementara adeknya, Tante Lia, entah tidur dimana. Semua kenangan bersamanya terbawa kembali saat itu ke ingatanku, dan aku merasa, inilah saatnya aku merespon apa-apa yang pernah dia tunjukkan padaku.

Tanteku tidur menyamping, daster yang ia kenakan tampak membuatnya semakin terlihat semakin seksi saja. Saat itu keberanianku sudah penuh, dan aku yakin, apa-apa yang pernah dia tunjukkan padaku adalah cermin dari keadaan dirinya yang berlibido tinggi. Aku langsung melucuti pakaianku sendiri sampai bugil, kemudian perlahan-lahan mengangkat dasternya sampai di perutnya. Aku mulai mengocok-ngocokkan penisku yang sudah tegang, dan tanganku yang lain meraba-raba kemaluannya dari balik CD-nya. Kemudian kusingkapkan CD-nya, dan pemandangan bibir vaginanya membuatku membuatku makin bernafsu. Aku naikkan lagi dasternya sampai diatas dadanya, kemudian aku angkat bra-nya, dan buah dadanya pun tersembul manis. Tiba-tiba Tante Lina mendesah pelan, mengubah posisinya menjadi telentang, dan terlihat pulas kembali. Aku sudah tidak peduli apakah ia akan bangun atau tidak. Apabila ia terbangun, aku sudah siap dengan seribu penjelasan. Kemudian aku lucuti CD-nya, dan inilah akhirnya buah penantianku.. Tanteku yang bugil, telentang, siap disetubuhi.

Kudekatkan wajahku pada vagina Tante Lina, baunya yang menggoda membuatku langsung saja menjilati bibir kemaluannya, sambil kedua tanganku menyorong keatas, memainkan puting buah dadanya. Aku terus melakukan itu, dan lama kelamaan, pinggul tanteku mulai bergoyang, mengimbangi gerakan lidahku di seputar klitorisnya. Aku mulai memindahkan nafasku lewat mulut, dan mencoba mendorong lidahku berkali-kali ke lubang vaginanya. Makin kesetanan tanteku bergoyang, dan tangannya seketika menjambak rambutku, menghimpitkan selangkangannya ke wajahku, di saat bersamaan dengan lidahku yang terus menerobos lubangnya, merasakan dindingnya yang hangat dan gurih. Peduli setan dengan nafasku yang sesak, aku hanya ingin melakukan itu sampai aku gila sendiri. Tiba-tiba, tanteku menggelinjang, pantatnya terangkat keatas, meregang-regang, dan akhirnya terkulai kembali kekasur. Satu tangannya menutupi vaginanya, namun antara jadi telunjuk dan jari tengah terbuka, menyisakan lubang itu untuk kumasuki. Aku sudah mafhum, tanteku sebenarnya telah terbangun tapi masih berpura-pura tidur dan tidak ingin membuka percakapan.

Aku langsung berinisiatif, kudekatkan penisku pada vaginanya, dan mencoba untuk memasukkannya. Namun tiba-tiba, tangan tanteku memegang erat penisku, dan kemudian ia mendorong tubuh telentangnya ke depan, sampai mulutnya berada di depan penisku. Aku jengkel sekali, ia melakukan semua itu dengan terpejam. Namun karena nafsuku sudah di ubun-ubun, kuikuti saja kemauannya.

Tiba-tiba tanteku mendekatkan mulutnya ke penisku, dan mulai mengisap kepala kemaluanku perlahan-lahan. Nikmat yang kurasakan membuatku secara naluriah mendorong kemaluanku ke dalam mulutnya, dan iapun mulai mengulum batang penisku, dengan bantuan tangannya mengocok dengan cepat. Ah, nikmat sekali rasanya saat itu, melihat mulut dan tangan tanteku sendiri yang sedang sibuk membuat keponakannya senang. Tak lama kemudian, saat aku mulai mengejang, ia menarik mulutnya dari penisku, namun tetap menganga, dan tumpahan spermaku pun membanjiri rongga mulutnya. Akupun terkulai dengan lemas, dan tanpa canggung lagi mulai berbaring sambil memeluknya, teringat kenangan dengannya semasa aku kecil. Malam itu aku tertidur dengan harapan bahwa hari-hari berikutnya penuh dengan pengejaran dan pemuasan kenikmatan tubuh.

Namun hal itu tidak pernah terjadi lagi, karena di hari-hari berikutnya ada saja gangguan. Kadang-kadang, Lia, tanteku yang bungsu, begadang semalaman. Hari yang lain terkadang Tante Lina tidur duluan. Sampai akhirnya liburan habis, aku pulang dengan kenangan yang memabukkan libidoku, sekaligus sangat penasaran untuk bisa benar-benar menyetubuhi Tante Lina.

Bersambung…

Aku dan Tanteku 1

Filed under: Incest

Namaku Roby. Saat itu tahun 1982, dan aku baru berumur 14 tahun. Sebagai anak tunggal yang mulai punya rasa ingin tahu terhadap dirinya sendiri, dalam usia itu aku mulai sering memperhatikan alat kelaminku sendiri, memain-mainkannya dan larut dalam kebingungan, untuk apa semua itu ada. Di rumah, aku lebih sering tidur dengan pembantu rumahku. Keadaan itu berubah waktu tanteku (adiknya ibuku) yang bernama Lina, ikut menumpang tinggal dengan orang tuaku. Ia waktu itu berusia belasan (masih SMA), dan bakat tubuhnya yang sintal mulai terbentuk. Tante Lina sangat menyayangiku, karena aku adalah cucu pertama di keluarga besar kami.

Mulai saat itu aku lebih sering tidur sekamar dengan tanteku. Mulai tumbuh perasaan nyaman tidur bersama orang dekat, dan mulai terbiasa dengan pelukan dan sentuhan yang hangat diantara kami. Tentu saja walaupun saat itu aku sudah bisa ereksi, tapi usia segitu belum memungkinkan aku untuk memahami persoalan seks. Tanteku punya kebiasaan yang unik, setiap tidur dia menanggalkan pakaiannya, menyisakan bra dan CD, kemudian membungkus kami berdua dalam selimut yang hangat, dan mulai memelukku sampai pagi. Kebiasaan ini berlangsung berbulan-bulan.

Suatu malam, karena kegerahan, aku terbangun. Aku terkejut karena tanteku tidak dalam posisi biasanya yang selalu memelukku dari belakang. Saat mataku membuka, aku melihat pemandangan baru, yaitu bongkahan pantat tanteku yang sedang tidur menyamping, terpampang jelas di depan mataku. Dengan berdebar dan gemetaran, naluriku mulai bertindak. Aku mendekatkan wajahku, menghirup bau tubuh yang terasa aneh namun menggairahkan, dan meraba-raba bongkahan pantat tanteku sehati-hati mungkin. Kebiasaan ini berlangsung terus, dan di hari-hari berikutnya keberanianku tumbuh perlahan-lahan, untuk melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar itu. Kadangkala aku meraba pantatnya, sembari tanganku yang lain memain-mainkan penis kecilku. Pernah pula beberapa kali tanganku mencoba menyusup ke dalam CD-nya, namun belum pernah mencapai hasil yang memuaskan, karena biasanya tanteku mulai menggeliat. Dan akhirnya semua kesenangan ini mesti terputus karena setelah genap setahun, tanteku kembali tinggal bersama orang tuanya untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi.

Suatu kali di tahun 1985 (usiaku 17 tahun), aku sekeluarga berlibur ke rumah nenekku, yang terpisah pulau dari rumah tempat aku dan orang tuaku tinggal. Aku senang sekali berjumpa kembali dengan Tante Lina, dan masa-masa liburan itu dia sering mengajakku jalan-jalan, membelikanku mainan dan sebagainya. Suatu siang, sepulang dari bermain-main di sekitar rumah, aku menemukan rumah dalam keadaan sepi. Semuanya sedang tidur. Iseng-iseng aku masuk ke kamarnya Tante Lina, dan ternyata dia sedang tertidur pulas. Saat itu tadinya aku mau bermain kembali dengan anak-anak tetangga, tapi melihat Tante Lina yang tidur telentang dengan roknya dalam keadaan tersingkap, membuatku teringat kembali mainanku beberapa tahun yang lalu.

Aku naik ke pinggiran ranjang, dag-dig-dug, ragu, wajahku memerah, tapi tidak ada waktu untuk kembali. Telapak tanganku mulai menyusuri kaki Tante Lina dari bawah, dan dia tetap tertidur. Sambil meneguk ludah dan susah bernafas, kusadari telapak tanganku sudah berada di pangkal pahanya. Aku naikkan rok tanteku, dan terpampanglah didepan mataku, CD berenda yang berwarna krem, dengan latar beberapa helai bulu kemaluan yang keluar dari orbit, dan cetakan bibir kemaluan yang tebal dan indah, dalam keadaan yang basah dan hangat. Aku makin susah menelan ludah, tapi semuanya sudah dalam keadaan tanggung. Kuteruskan aksiku, dengan tanganku perlahan-lahan mulai masuk ke CD tanteku dari samping. Tiba-tiba tanteku terbangun seperti kaget, dan sebelum sempat mengucapkan apa-apa, aku tarik tanganku keluar, dan kabur secepatnya ke ruang keluarga. Entah kenapa, aku merasa berdosa sekali. Walaupun aku belum tahu apa-apa soal itu, aku merasa bersalah, dan takut tanteku marah. Ternyata tanteku tidak marah, ia menghampiriku, dan mengajakku tidur bareng. Akhirnya akupun mengikutinya tidur, dan tidak melakukan apapun.

Keesokan harinya adalah salah satu hari yang bersejarah bagiku. Saat terbangun, orang tuaku bersama kakek nenekku sedang mengunjungi kerabat yang lain. Tinggal aku dan Tante Lina ku saja dirumah. Belum sempat aku turun ke kamar mandi, aku melihat tanteku melewati kamarku, hanya dengan lilitan handuk di tubuhnya. Aku pun segera beranjak, dan mencoba menengok ke kamarnya yang pintunya tidak ditutup. Ya ampun, di kamarnya, aku melihat tanteku yang membelakangiku, mulai menurunkan handuk dari tubuhnya. Pantatnya yang besar itu bergoyang-goyang sementara dia memilih-milih pakaiannya dalam lemari. Pandanganku nanar, tidak tahu harus berbuat apa. Dan ketika dia berbalik, aku yang hanya berjarak beberapa meter darinya, dengan terpaksa harus menerima pemandangan bugil tubuh depannya yang montok itu. Aku tidak tahu tanteku sedang apa, dan mengapa ia tidak bereaksi dengan kehadiranku. Mungkin ia tidak melihatku yang sedang duduk dari luar kamarnya, atau mungkin ia berpura-pura tidak melihatku, entah dengan motif apa. Tampak bagiku ia seperti sedang memessage dirinya sendiri, melakukan gerakan-gerakan relaksasi, dengan payudara bulat kencang besarnya tengah berayun-ayun, perutnya yang meliuk-liuk, dan.. ya tuhan! Aku tidak tahan melihat kakinya yang perlahan meregang-regang, dengan belahan vaginanya yang indah itu terbuka seperti mengajakku untuk bermain. Aku langsung pergi ke kamarku, merasa pusing dengan kejadian barusan, merasa terundang untuk melakukan sesuatu, tapi aku tidak tahu apa dan harus bagaimana.

Sepulang dari liburan, dan selama masa pertumbuhanku berikutnya, bayangan tentang tanteku sulit sekali disingkirkan dari kepala, dan berperan banyak waktu fantasi seks-ku mulai terbentuk. Ketika mulai mengenal masturbasi dan ejakulasi, aku selalu membayangkan belahan vaginanya yang menerima semburan spermaku. Bebeberapa tahun kemudian ia menikah dengan seorang polisi, mengikuti suaminya pindah ke kota lain, dan dari kabar yang aku terima ia sekarang menjadi ibu rumah tangga yang baik. Aku pun mulai melupakannya, sampai kemudian, suatu kesempatan yang tidak terduga tiba-tiba datang.

Tahun 1993. Saat itu aku berumur 25, tumbuh menjadi seorang remaja yang berlibido tinggi, masturbasi tiap hari, rajin mengkonsumsi segala material porno yang sedang in saat itu, seperti enny arrow, playboy, video blue film dan lain-lain. Dan aku sudah tahu, apa yang harus aku lakukan apabila ada kontak fisik dengan seorang wanita, walaupun tentu saja, belum pernah melakukannya. Saat itu, tanteku yang bungsu, Lia, yang berumur sebaya denganku, mengajakku untuk berlibur ke rumah kakaknya, Lina. Tentu saja aku pun mau, dan kami berdua berangkat kesana.

Saat itu, Tante Lina yang sebenarnya masih muda (sekitar 26-27 an) semakin montok saja, dan belum dikaruniai anak. Suaminya yang polisi, sedang mendapat piket malam. Otomatis kami bertiga merasa bebas tidur dimana saja. Malam itu, sehabis nonton acara TV, aku yang tadinya berniat untuk tidur dengan Tante Lina, tapi karena kecapean aku tertidur di kasur yang digelar darurat di ruang tengah. Jam 3 pagi aku terbangun, dan terkejut karena tiba-tiba Tante Lina tertidur di sebelahku, sementara adeknya, Tante Lia, entah tidur dimana. Semua kenangan bersamanya terbawa kembali saat itu ke ingatanku, dan aku merasa, inilah saatnya aku merespon apa-apa yang pernah dia tunjukkan padaku.

Tanteku tidur menyamping, daster yang ia kenakan tampak membuatnya semakin terlihat semakin seksi saja. Saat itu keberanianku sudah penuh, dan aku yakin, apa-apa yang pernah dia tunjukkan padaku adalah cermin dari keadaan dirinya yang berlibido tinggi. Aku langsung melucuti pakaianku sendiri sampai bugil, kemudian perlahan-lahan mengangkat dasternya sampai di perutnya. Aku mulai mengocok-ngocokkan penisku yang sudah tegang, dan tanganku yang lain meraba-raba kemaluannya dari balik CD-nya. Kemudian kusingkapkan CD-nya, dan pemandangan bibir vaginanya membuatku membuatku makin bernafsu. Aku naikkan lagi dasternya sampai diatas dadanya, kemudian aku angkat bra-nya, dan buah dadanya pun tersembul manis. Tiba-tiba Tante Lina mendesah pelan, mengubah posisinya menjadi telentang, dan terlihat pulas kembali. Aku sudah tidak peduli apakah ia akan bangun atau tidak. Apabila ia terbangun, aku sudah siap dengan seribu penjelasan. Kemudian aku lucuti CD-nya, dan inilah akhirnya buah penantianku.. Tanteku yang bugil, telentang, siap disetubuhi.

Kudekatkan wajahku pada vagina Tante Lina, baunya yang menggoda membuatku langsung saja menjilati bibir kemaluannya, sambil kedua tanganku menyorong keatas, memainkan puting buah dadanya. Aku terus melakukan itu, dan lama kelamaan, pinggul tanteku mulai bergoyang, mengimbangi gerakan lidahku di seputar klitorisnya. Aku mulai memindahkan nafasku lewat mulut, dan mencoba mendorong lidahku berkali-kali ke lubang vaginanya. Makin kesetanan tanteku bergoyang, dan tangannya seketika menjambak rambutku, menghimpitkan selangkangannya ke wajahku, di saat bersamaan dengan lidahku yang terus menerobos lubangnya, merasakan dindingnya yang hangat dan gurih. Peduli setan dengan nafasku yang sesak, aku hanya ingin melakukan itu sampai aku gila sendiri. Tiba-tiba, tanteku menggelinjang, pantatnya terangkat keatas, meregang-regang, dan akhirnya terkulai kembali kekasur. Satu tangannya menutupi vaginanya, namun antara jadi telunjuk dan jari tengah terbuka, menyisakan lubang itu untuk kumasuki. Aku sudah mafhum, tanteku sebenarnya telah terbangun tapi masih berpura-pura tidur dan tidak ingin membuka percakapan.

Aku langsung berinisiatif, kudekatkan penisku pada vaginanya, dan mencoba untuk memasukkannya. Namun tiba-tiba, tangan tanteku memegang erat penisku, dan kemudian ia mendorong tubuh telentangnya ke depan, sampai mulutnya berada di depan penisku. Aku jengkel sekali, ia melakukan semua itu dengan terpejam. Namun karena nafsuku sudah di ubun-ubun, kuikuti saja kemauannya.

Tiba-tiba tanteku mendekatkan mulutnya ke penisku, dan mulai mengisap kepala kemaluanku perlahan-lahan. Nikmat yang kurasakan membuatku secara naluriah mendorong kemaluanku ke dalam mulutnya, dan iapun mulai mengulum batang penisku, dengan bantuan tangannya mengocok dengan cepat. Ah, nikmat sekali rasanya saat itu, melihat mulut dan tangan tanteku sendiri yang sedang sibuk membuat keponakannya senang. Tak lama kemudian, saat aku mulai mengejang, ia menarik mulutnya dari penisku, namun tetap menganga, dan tumpahan spermaku pun membanjiri rongga mulutnya. Akupun terkulai dengan lemas, dan tanpa canggung lagi mulai berbaring sambil memeluknya, teringat kenangan dengannya semasa aku kecil. Malam itu aku tertidur dengan harapan bahwa hari-hari berikutnya penuh dengan pengejaran dan pemuasan kenikmatan tubuh.

Namun hal itu tidak pernah terjadi lagi, karena di hari-hari berikutnya ada saja gangguan. Kadang-kadang, Lia, tanteku yang bungsu, begadang semalaman. Hari yang lain terkadang Tante Lina tidur duluan. Sampai akhirnya liburan habis, aku pulang dengan kenangan yang memabukkan libidoku, sekaligus sangat penasaran untuk bisa benar-benar menyetubuhi Tante Lina.

Bersambung…

Aku dan Tanteku 2

Filed under: Incest

Tahun berikutnya aku masuk SMA, dan karena kecapean, aku terpaksa di opname karena sakit thypus. Seminggu dirawat di rumah sakit tanpa melakukan apa-apa membuatku jenuh tidak kepalang. Beberapa kali aku minta pulang, namun dokter belum mengizinkanku, pedahal rasanya aku sudah cukup sehat. Keluargaku giliran menjagaku di rumah sakit, sampai akhirnya, Tante Lina datang, dan mengatakan bahwa esok hari ia akan menjagaku seharian. Aku senang sekali dengan kedatangannya, dan seribu rencana pun mulai kususun sebagai pengisi kebosanan. Ruang rawatku yang luas, memiliki 2 ranjang dan kamar mandi didalam. Aku mulai merasakan keintiman tertentu saat melihat Tante Lina mulai tidur di ranjang sebelah.

Paginya, aku terbangun jam 6. Saat itu suster mulai datang, memeriksa jarum infus, menyiapkan makan dan melakukan tetek bengek lainnya yang tidak terlalu kuperhatikan. Suster mulai memandikan aku, mengelap tubuhku dengan air hangat dari kepala ke kaki. Saat itu Tante Lina sedang di kamar mandi. Di pagi yang dingin itu penisku mulai tegang, dan saat sang suster sedang mengelap kakiku, tubuhnya yang sedikit membungkuk membuatku tidak tahan melihat belahan dadanya yang membusung. pelan-pelan kubuka CD-ku, dan kemaluanku yang saat itu berukuran 15 cm mulai meronta, kukeluarkan dari kandangnya lalu kukocok pelan-pelan. Tatkala suster melihatku, terlihat ia sedikit kaget, namun cepat menguasai dirinya.

"Nakal yah..", serunya sambil tersenyum manis.

"Bersihin dong Mbak", sahutku sambil menunjuk kemaluanku. Terlihat sekilah ia melihat ke arah kamar mandi, mungkin sudah tahu ada yang sedang menjagaku, dan ia pun hanya tersenyum kembali.

"Besok lagi deh", jawabnya sambil kembali menyelimutiku, kemudian mendekatkan nampan makanan, dan berlalu dari kamarku. Wah, inilah saatnya. Aku tinggal berdua dengan Tante Lina, dan rencanaku pun mulai mengalir. Aku kembali mengocok-ngocokkan penisku agar selalu dalam keadaan tegang, dan aku harus tetap terlihat belum terlalu sehat untuk bisa ke WC sendiri.

Tanteku keluar dari kamar mandi, saat itu aku mulai bisa mendeskripsikan dirinya. Berkulit kuning langsat, rambut keriting dengan tinggi sekitar 165 cm dan berat 60-an membuatku sangat mabuk, karena aku suka dengan perempuan yang montok. Sementara saat itu tinggiku 170 cm dengan berat 60 kg. Ia hanya mengenakan t-shirt dan rok pendek.

"Bagaimana Bayu, agak baikan?", tanyanya sambil mengeringkan rambutnya.

"Iya Tante, apalagi Tante yang jaga, pasti besok bisa pulang, he.. he.. Tapi masih agak pusing nih kalau berdiri", jawabku beralasan.

"Ya sudah tiduran saja enggak apa-apa, kalau ada apa-apa biar sama Tante saja", sahutnya sambil mulai menyuapiku.

"Tante, saya jenuh nih. Beliin majalah atau koran dong", kataku.

"Iya nanti Tante beliin, tapi sekarang makan dulu yah", jawabnya singkat.

Selesai menyuapiku ia langsung keluar untuk membelikanku koran. Dengan tangan kiri terpancang pada tiang infus, aku cepat-cepat membuka piyamaku dengan tangan kanan, melucuti seluruh pakaianku, membuang pakaianku kebawah ranjang, lalu menyelimuti kembali tubuh bugilku. Aku terus mengocok penisku agar tetap tegang.

Sekembalinya dari luar, Tanteku memberiku beberapa koran dan majalah, dan iapun mulai membaca salah satunya. Sambil membaca koran aku mulai dag-dig-dug. Beberapa kali aku berpikir ulang, sampai akhirnya tekadku sudah bulat.

"Tante, pengen pipis nih", kataku.

"Oh, mau ke WC apa di pispot?" sahutnya.

"Di pispot aja deh, belum kuat berdiri nih", jawabku berbohong.

Tanteku mulai mengambil pispot, dan perlahan-lahan membuka selimutku. Terasa berdesir dan ada gairah yang sulit diungkapkan, waktu tubuh bugilku beserta penisku yang mengacung itu mulai terbuka untuk kedua bola mata Tanteku.

"Lho, pakaianmu ke mana Bayu?", kata Tanteku menyembunyikan keterkejutannya, sambil melihat batang penisku.

"Nggak tahu Tante, tadi abis dimandiin suster nggak dipakein lagi. Di bawah ranjang kali", sahutku ngasal. Tanteku mulai mendekatkan pispot ke sisi ranjang, dan aku mulai memiringkan tubuhku, kemudian Tanteku memegang penisku, dan mengarahkan ke pispot. Tampak ia agak khawatir dengan sesuatu.

"Kapan suster ke sini lagi?", tanyanya.

"Masih lama Tante, paling entar, pas makan siang. Emang kenapa?", tanyaku balik.

"Nggak apa-apa sih.. Eh, udah punya cewek belum Bayu?", sambil tetap memegangi penisku yang belum pipis juga.

"Lagi kosong Tante. Belum pernah lagi, semenjak waktu liburan di rumah Tante", sahutku sambil memancing tanggapan dia atas kejadian yang pernah kami lakukan. Tampak dia terpaku, mungkin tidak begitu suka dengan pendekatan seksku seperti itu, namun tetap memegangi batang penisku, yang terasa hangat di genggaman tangannya.

"Mana nih pipisnya?", katanya sambil tersenyum.

"Enggak tahu Tante, tadi pengen pipis. Mungkin pengen pipis seperti waktu dirumah Tante", kataku blak-blakan, sudah enggak peduli apa-apa lagi. Tiba-tiba ia mendesah, melepaskan tangannya dari penisku, menyimpan pispot, mulai menutupi tirai dan mengunci kamar kami. Aku agak terkejut karena tiba-tiba, keintiman masa lalu itu datang kembali dengan cara yang lebih vulgar. Sambil menangis, ia membuka seluruh pakaiannya, berjongkok di sisi ranjang, dan dengan buas mulai mengulumi testisku.

"Oh Tante, nikmat banget.. terus Tante..", kataku mulai mengerang.

"Maafin Tante waktu itu ya Bayu.. Tante khilaf", serunya sambil tersedu-sedu namun terus memainkan penisku. Aku tidak mengerti apa yang dia maksud, aku tidak tahu kehidupan rumah tangganya, yang ada bagiku saat itu hanyalah pertalian emosi dan nafsu yang ada antara aku dan dia, sejak aku kecil. Dan aku akan menikmatinya, tanpa alasan apapun. Aku hanya ingin menikmatinya. Setelah puas dengan penisku, ia mulai naik ke ranjang. Menciumi dan menjilati seluruh tubuhku. Nikmat yang sukar kulukiskan, sapuan lidahnya meliuk-liuk ganas di telingaku, diwajahku. Turun ke puting dadaku, perutku, dan kembali ke selangkanganku. Tanteku bagai hewan seks yang lapar.

"Naikin pantatnya Bayu, Tante mau jilatin lubang pantat kamu", seronoknya.

Aku mulai menaikkan pantatku, dan lidahnya tiba-tiba bersarang di sana. Geli, malu, nikmat semuanya campur jadi satu. Ia memutar-mutarkan lidahnya tepat dilubang pantatku dan menyodok lubangnya dengan perlahan-lahan tapi mantap. Tiba-tiba ia membalikkan wajahnya, dan begitu saja menyuguhkan bongkahan pantatnya diatas tubuhku yang telentang, sambil terus menjilati penis dan testisku. Belahan vagina dan lubang pantatnya tampak membuka seiring regangan kakinya. Aku sudah kehilangan rasa jijikku saat itu, kedua lubang nikmatnya yang tampak sedang meledekku langsung saja kujilati tanpa ampun. Dan ia mulai menceracau dan mencaci tidak keruan.

"Oh Bayu, penis..Bayu, aduh, vaginaku jadi enak. Enak enggak sayang? Hanget yah? Jilat yang, terus jilatin yah.. euuh". Aku enggak tahan mendengar omongan joroknya. Ia terus menyodokkan pantatnya kebelakang sambil lidah dan tangannya mengocok penisku dengan cepat. Aku enggak tahan.

"Enak enggak sayang? Harus cepet goyangnya kalau pengen enak yang. Uhh, vagina Tante suka lidah kamu Bayu.. hangat, oughh..".

"Pelan-pelan dong Tante, nanti saya enggak kuat nih", aku mencoba bertahan.

"Iya yang, muncratin sini penisnya di mulut Tante yang.. sini muntahin", sahutnya sambil mengerang dan mengocok penisku dengan gila.

"Arrgghh.. ampun Tante, aduh enak.. aduuh!"

"Iya sayang, penis enak, nanti Tante kasih vagina yah". Seiring dengan ucapannya pada kata vagina, aku enggak tahan lagi, muntahan spermaku memancur keluar ke atas. Tante gilaku mulai mengulumi penisku yang sudah belepotan dengan sperma. Aku terkulai, dan ia membalikkan tubuhnya, memelukku erat. Sebagian muntahan sperma susulan terus ia perah dengan tangannya dari penisku. Ia mulai beranjak ke kamar mandi, dan aku tertidur ayam sebentar.

Terbangun beberapa menit kemudian, terpampang kembali kenangan masa silam. Tanteku berdiri membelakangiku di depan kamar mandi, dengan satu kakinya berpijak diatas wastafel, menunggingkan pantatnya, dan kedua jari tangannya maju mundur keluar masuk di lubang vaginanya. Penisku mulai tegang kembali, dan aku mulai masturbasi sambil menikmati bokong indah Tanteku. Tanteku kumat lagi, dan mulai memutar mutarkan pantatnya.

"Tante, ngentot yuk", rayuku. Sambil tersenyum nakal dan mata yang menantang, ia terus memutar
mutarkan pantatnya. Aku enggak tahan. Aku langsung beranjak dari ranjang, berdiri sambil tangan kiriku menyeret tiang infus yang beroda, dan mendekati Tanteku dari belakang. Ia terkejut melihat aku bisa berdiri, tapi kemudian dengan bahasa tubuh aku yakinkan dia agar tetap disitu. Tangannya mulai ia lepas dari lubang vaginanya, dan kemudian ia angkat lagi pantatnya dengan bantuan kedua telapak tangannya yang membukakan lubang vaginanya.

"Uh, ayo colok Tante Bayu, pake penis..", erang Tanteku manja.

"Oughh..", enggak tahan aku dengan gelinya kepala penisku waktu mulai bergesekkan dengan bibir kemaluannya.

"Ayo yang, colok yang dalem, gatel..", seringainya sambil menekan pantatnya ke belakang. Dan waktu penisku memasuki vaginanya sepenuhnya, kami berdua kesetanan dan mulai berpacu mengejar puncak kenikmatan.

"Oooh, Bayu..enak, oh, kontol kamu enak bangeet siih", menggeram Tanteku dengan tubuh yang terhentak-hentak.

"Pengen pipis di dalem, oohh.. Tante, aku enggak kuuat". Lama kelamaan berdiri membuatku berkeringat. Dengan tangan kiri memegang tiang infus dan tangan kanan bersandar pada tembok, membuat pinggulku dalam posisi bebas untuk menyodok kemaluannya sedalam mungkin. Kedua tangan Tanteku mulai memegang wastafel, dan ia makin tak terkendali. Tubuhnya yang terguncang-guncang, pantatnya binal menghentak-hentak dan basah vaginanya membuatku lupa daratan.

"Ooh Tantee, buka vaginanya doong, pengen lihat", kataku lirih dalam guncangan goyangannya. Ia
menarik satu tangannya ke belakang, dan membuka belahan pantatnya. Pemandangan yang makin membuatku mabuk terguncang guncang, dan ia makin seronok.

"Oh anjing kamu Bayu, ngentotiin Tantee kaya babi..oh, anjing ngentot!", ceracau Tanteku enggak keruan. Aku enggak tahan lagi.

"Arrggh, Tante.. ooh, nikmaathh!!", aku pun kelojotan di dalam vaginanya, dengan sigap ia pegang erat pantatku dan mendorongnya makin dalam sambil memutar mutarkan pantatnya. Nikmat, serasa terbang dan rasa ngilu karena goyangan pantatnya enggak berhenti membuat mataku berkunang kunang. Persetubuhan singkat itu membuat kondisi tubuhku ngedrop, dan aku terjatuh, tidak ingat apa apa lagi. Hal terakhir yang aku sadari adalah lepasnya jarum infus dari tanganku.

Terbangun di sore hari, Tanteku sedang duduk di kursi sambil membaca majalah. Suster sedang memeriksa kondisiku, memastikan segalanya baik-baik saja. Aku tiba-tiba sadar, dibalik selimutku, Tanteku belum mengenakanku pakaian. Sebelum keluar dari ruangan, suster itu mengernyitkan dahi sambil memandangi sebentar cetakan penisku yang membayang di balik selimut. Mungkin ia bingung dengan apa yang terjadi, akhirnya ia tersenyum, mencubit kecil penisku dari luar selimut dan berlalu dari kamar. Tanteku memelukku dan berjanji tidak akan mengizinkan aku menikmati tubuhnya lagi sambil berdiri. Hari itu adalah hari yang paling aneh, namun sekaligus paling menyenangkan.

Aku tidak pernah berhenti berpikir tentang Tanteku sampai saat ini. Setidaknya, tidak bisa melupakan hasratku yang terus menerus menggangguku, yaitu hasrat seks pada wanita-wanita berumur. Dan sampai sekarang, orientasi seksku yang terbesar adalah berhubungan dengan wanita-wanita paruh baya.

TAMAT

Aku dan Tante Mina

Filed under: Incest

Namaku John. Umur aku sekarang 23 tahun. Sekarang kuliah disalah satu universitas swasta di surabaya. Tinggi aku 175 cm berat 60 kg. Aku termasuk cowok yang mudah terangsang, tiap kali melihat cewek dengan dada besar, kontolku langsung berontak.. Aku sering melekukan onani paling tidak 1 kali sehari.. Kejadian ini terjadi ketika aku masih duduk di kelas 2 SMU.

Waktu itu bulan Juli, lagi liburan sekolah. Waktu itu ortu dan adik perempuanku jalan-jalan ke jakarta, jadi rumahku tinggal aku sendiri akhirnya aku dititipkan dirumah tanteku (adik Mamaku). Mina, nama tanteku. Kalau nggak salah umur tanteku waktu itu 28, tanteku belum punya anak walaupun sudah kawin 1 tahun lebih. Jadi ketika aku ke sana dia senang sekali. Om-ku seorang pegawai swasta di Surabaya, tapi sering keluar kota untuk kerja proyek di sana.

"John, tolong jaga rumah dan tantemu ya, tantemu lagi sakit. Om besok ke jakarta, ada proyek penting yang harus dikerjakan"kata om-ku.
"Ya, om. Beres, tapi mana duitnya, hehe"Terus aku dikasih 100 ribu sama om-ku.

Keesokan harinya..

"John, ingat ya pesan om".

Pesan om-ku dan akhirnya dia berangkat menuju Jakarta. Sorenya aku nonton TV dengan tanteku. Waktu itu tanteku pake piyama yang tipis. Dada tanteku kutaksir 34B, jadi lumayan besar..

"Tante kan lagi sakit, kenapa nggak istirahat saja? Biar cepat sembuh".
"Nggak apa-apa. Kalau di kamar terus juga sama aja. Mendingan nonton TV bareng kamu disini"

Hehe, aku lihati terus tubuh tanteku yang sexy itu.. Dan pikiranku mulai ngeras, begitu juga adikku, sudah mulai bangun.. Aku langsung membayangkan kalau lagi bersetubuh dengan tanteku itu.. Tiba-tiba..

"Oi, lagi mikirin apa John, sampai bengong kayak gitu. Lagi lihat TV kok lihat-lihat tante terus".
"Habis tante cantik banget, terus sexy lagi, hehe"
"Bisa aja kamu. Nakal ya."
"benar kok. Tante memang cantik."Terus kami nonton TV lagi..
"Eh, sudah jam 7 lho, ayo makan malam. Sudah dibeliin ayam goreng. Tadi pesan di warung"
"Ayo tante.."aduh pikirku.. Padahal sedikit lagi..

Akhirnya kami makan malam bersaman.. Aku melihat tubuh tanteku terus.. Tidak konsentrasi untuk makan..

"Ayo, John. Dimakan ayamnya. Kok bengong. Minta disuapin ya?"
"Ah nggak tante bisa sendiri kok. Tapi kalau disuapin sih mau aja"
"Ayo cepat makan, dasar nakal"
"Atau tante mau disuapin sama John, tante kan lagi sakit"
"Ayo makan, jangan ngomong terus!" tanteku sepertinya marah..

Malamnya sekitar pukul 22.00.. Dari kamar tante terdengar suara panggilan.

"John. John.. Kesini sebentar"
"Ya tante, sebantar ya aku lagi telepon"
"Cepatan, John." habis telepon aku langsung menuju kamar tante.
"Tante, aku masuk ya?"
"Ya, pintunya tidak dikunci kok, masuk aja"

Aku langsung masuk kekamar tante. Kamrnya harum, bau parfum..

"Kamarnya harum tante. Pake apa?"
"Sini John. Dekat kesini."
"Tante. Ada apa? Tante sakit lagi ya?"
"Ya John. Kepela tante rasanya seperti mau pecah.."
"Saya ambilin obat ya tante? Tante nggak apa-apa kan? Atau mau ke dokter?".
"Nggak perlu John. Kamu kesini John".

Aku lalu mendekat ke tubuh tante yang berbaring di ranjang.

"Sini" Tante lalu memegang tanganku dan di taruhnya di kepalanya.
"Tolong John, urut kepalaku ya. Biar sakitnya berkurang.." kata tante dengan suara yang menggoda..

Dan tentu saja langsung kupenuhi permintaannya.. Pikiranku mulai berpikiran lagi untuk bersetubuh dengan tanteku. Aku duduk diranjang di bagian atas kepala tanteku dan mengurut kepalanya. Aku bisa melihat dada tanteku yang menyembul karena saat itu dia memakai piyama warna putih yang tipis..

Sambil mengurut kepalanya aku juga mengelus-elus rambut tanteku. Mataku tertuju ke dadanya yang sepertinya mulai mengeras karena terlihat puting susunya dari luar. Sepertinya tanteku tidak memakai BH.. Pikiranku sepertinya tidak bisa diajak berkompromi lagi..

"Tante, tante cantik banget".
"John tolong pijat kaki tante juga ya. Kok rasanya pegal"
"Ya tante" dan langsung kupijat betis tanteku..
"Kulit tante putih dan mulus ya" kataku.
"Hehe, ayo pijat terus John. Ayo lebih ke atas lagi, pijat paha tante."

Kupijat paha tante yang mulus dan putih itu. Mata tanteku terpejam, sepertinya kepalanya sudah tidak sakit lagi. Pikiran kotor ku muncul lagi. Ingin rasanya menikmati tubuh tanteku ini. Pijatan yang tadinya kulakukan sekarang berubah menjadi elusan pada paha tanteku.. Dan sepertinya tanteku sangat menikmati karena tanteku diam saja.

"Tante, gimana rasanya sekarang. Sudah baikan?"
"Terusin. Jangan hentikan pijatanmu.. Ayo John.."

Aku tahu tanteku pasti juga sudah mulai terangsang dilihat dari bahasa tubuhnya.. Aku tidak lagi memijat tapi kuelus terus pahanya.. Dan pelan-pelan kunaikkan tanganku dan kuselipkan ke celana tanteku.. Tidak ada reaksi sama sekali dari tanteku.
Inilah saatnya aku melakukannya.. pikirku dalam hati.. Kuelus-elus dengan lembut tubuh tanteku itu. Dan akhirnya kuberanikan diri untuk menyentuh celana dalam tenteku.. Dan ternyata celana dalamnya sudah basah.. Langsung saja kuelus vagina tanteku yang masih ditutupi CD itu.

"Ehmm, John, ayo teruskan.."

Aku coba untuk menyelipkan jariku ke dalam CD tanteku.. Dan kugesekkan jariku disana..

"Enakk John, ayo terus,"
"Tante, saya buka celana tante ya, biar lebih asyik.."
"Terserah kamu John, ayo cepat.."

Langsung saja kubuka celana tante.. Dan sekarang aku elus perut tante..

"Ya John, ouh.."

Kuremas dada tante yang masih memakai baju piyama..

"John, buka saja bajuku. Ayo lakukan sesukamu.."

Dan kubuka baju tante.. Dan langsung menyembullah 2 bukit indah yang belum pernah kulihat.. Kuremas payudara tante dengan kedua tanganku..

"Ouhh, enak John, teruskan.." desah tanteku..

Kuremas-remas terus dada tante yang putih halus itu..

"Ayo John lakukan sesukamu dengan dadaku.. Hisap John. Hisap susu tante.."

Kuturunkan wajahku ke dada tante dan kuhisap susu kirinya.. Dada yang kanannya kuremas terus.. Kugigit halus puting susunya..

"Ouhh," teriak tanteku, "Enak John, ayo hisap yang dalam"

Kuhisap susu tante sampai keluar cairan susunya..

"Susu tante enak. Aku suka susu tante.."

Kedua susu tante kuhisap dan kuremas-remas.. Kubuka seluruh pakaianku hingga kontolku keluar..

"Ohh.. Kontolmu gede John.. punya om-mu aja kalah. Diapain kontolmu".

Kontolku yang sudah nongol langgsung dielus sama tanteku..

"Adik manisku" kata tanteku sambil mengocok kontolku..
"Enak kan?"
"Oh enak banget tante.."

Kontolku dikocok terus oleh tanteku.. Aku tidak mau kalah langsung kubuka CD tanteku..

"Tante, vagina tante merah muda, aku suka sekali"

Akhirnya kami bermain dalam posisi 69. Vagina tante yang sudah basah langsung saja kujilat.. Sllrrpp.. ssllrrpp.. bunyi suara lidahku ketika menjilat vagina tanteku.. Tanteku juga tidak kalah gesitnya.. Kontolku yang sudah menegang itu dimasukin ke mulutnya.. Dan sejurus kemudian langsung dimainkan dengan lidahnya dan dihisap-hisap juga..

Kubuka vagina tanteku dengan jari telunjuk dan jempolku.. Lalu kutusuk-tusukkan lidahku di lubang memeknya.. Sambil sekali-kali kuhisap vagina tante yang baunya harum.. Sampai lebih kurang 10 menit kami dalam possisi 69, tiba-tiba kepalaku dijepit oleh kedua paha tante..

Aku tahu kalau tanteku sudah mencapai orgasme yang pertamanya.. Dari vagina tante keluar cairan warna putih dan langsung kujilat sampai bersih.. Tanteku masih sibuk dengan kontolku walaupun sudah mencapai orgasme..

Lalu..

"Tante, aku juga mau keluar"

Mendengar ucapanku hisapan tanteku pada kontolku semakin dipercepat. Dan.. Crroott.. croott.. Kumuncratkan 6 kali spermaku di mulut tanteku..

"Tante, jangan ditelan dulu spermanya.." pintaku..

Lalu kupegang kepala tante dan kulumat bibirnya yang masih penuh dengan cairan spermaku.. Dan tanteku bereaksi dengan cepat, akhirnya kami berbagi sperma. Kumainkan lidahku dalam mulut tante yang penuh sperma dan kuhisap spermanya, lalu kumuntahkan lagi ke mulut tanteku.. Tanteku juga melakukannya.. Sampai lebih kurang 5 menit. Kami lalu menelan sperma tersebut..

"Ayo John, masukin kontolmu ke vagina tante" pinta tanteku..

Kontolku memang masih tegang walaupun sudah sempat mengeluarkan sperma.. Kubuka paha tante lebar-lebar.. Sampai terlihat lubang memeknya yang masih basah itu.. Lalu kupegang kontolku dan kugesekkan kepala kontolku di mulut memeknya..

"Oh, John ayo masukan kontolmu.. Tubuhku ini milikmu John.. Ayo. Lakukan sesukamu.. Memekku ini milikmu John.. Ayo masukin.." racau tanteku..

Kudorong kontolku ke vagina tanteku yang sudah basah sekali.. Agak susah masuknya..

"Oughh.. Masukin yang dalam John.. Sampai kontolmu amblas.. Ayo John.."

Kutekan lagi kontolku. Sekarang kontolku sudah masuk 1/2 ke dalam vagina tanteku.. Kutarik sedikit kontolku dan aku menarik napasku.. Dan.. Bless.

"Aughh, John sakit.. Kontolmu gede banget" teriak tanteku..

Kontolku seperti dimakan oleh memeknya tante, amblas.. Kutarik pelan-pelan kontolku..

"John, aauugghh. Sakit. Pelen-pelan ya.."

Kutarik dan dorong dengan pelan kontolku yang berada dalam lubang kenikmatan tanteku..

"Tante, memeknya masih sakit?"
"Nggak John. Ughh. Nikmat. Ayo John lakukan sesukamu".

Kupercepat gerakan kontolku.. Tarikk dorongg.. Tarik.. Dorong..

"Oughh.. Shh.. John.. Oughh shh.." desah tanteku karena nikmat yang kuberikan. Kugenjot terus vagina tante yang semakin becek itu..
"Ouugghh enakk Johnn ayo genjot vagina tante.. Lagi John.. Ssshh"

Ku percepat gerakan maju mundur pantatku.. Payudara tante yang bergoyang turun naik seiring dengan genjotanku kuremas-remas.. Dan sekali-kali kupelintir putingnya..

"Auhgghh enak John.. Ayo genjot.. Terusshh"

Kontolku yang berada dalam vagina tante.. Kutarik sampai hampir keluar.. Lalu.. Kudorong pantatku kedepan sekuat tenaga..

"Aaaugghh enak John, ayo lakukan lagi.. Aku suka kontol kamu Johnsshshh"

Kulakukan terus dan kupercepat genjotanku. Sepertinya tanteku sudah hampir klimaks..

"Ayo John pompa memek tante secepat dan sekeras mungkin dengan kontolmu itu.. Ougghh"

Tanteku juga menggoyangkan pantatnya maju mundur sehingga terasa sekali denyut memeknya.

"John, tante mau keluar.. Ougghh shh tante nggak tahan lagi.."
"Kita sama-sama aja tante.."

Kupercepat genjotanku. Kupompa terus vagina tanteku ini.. Dann.. Tanteku memelukku dengan erat dan terasa semburan cairan kenikmatan bibi dalam memeknya..

Croott ccrroott ccrroott..

Aku juga menyemburkan spermaku dalam vagina tanteku.. Akhirnya kami lemass.. Kontolku yang masih berada dalam vagina tante.. Seperti dijepit.. Enek sekali denyutannya.. Aku juga membalas dengan membuat kontolku berdenyut..

"Hehe nakal ya kamu.."
"Tante juga"

Lalu kami berdua berciuman dan memainkan lidah.. Dan kucabut kontolku.. Terlihat cairan spermaku dan tanteku mengalir keluar dari memeknya.. Tanpa perintah langsung kujilati cairan yang membasahi vagina tanteku sampai bersih.. Dan kugigit halus bibir memeknya..

"Auhghh, kamu kok nakal banget sih.."
"Habis vagina tante enak sekali"

Kami lalu tertawa.. Tidak terasa kami main hampir 2 jam.

Malam itu kami tidur tanpa membersihkan diri lagi.. Bau cairan kenikmatan kami seperti memenuhi kamar tanteku.. Dan kami tidur tanpa busana.. Semalaman kami hampir tidak tidur karena kami terus saling mengelus-elus bagian tubuh kami..

"Aku cinta tante"
"Tante juga"..

TAMAT

Aku dan Agnes

Filed under: Incest

Waktu itu hari jumat, aku pulang dari rumah teman SMA. Biasa, habis nonton film porno. Soalnya temanku kost sendiri, jadi amanlah buat nonton-nonton. Sampai di rumah, suasananya sepi. Aku kira keluargaku pergi semua. Baru saja aku mau mencari kunci pintu, kakak perempuanku Lia, 20 tahun, membukakan pintu.
"Ngga kuliah to Mbak?" tanyaku.
"Ngga, ada temenku tuh yang datang." jawab Kak Lia santai.

Waktu aku masuk ke ruang tamu, kulihat teman kakakku, Agnes, sedang nonton TV. Aku nggak tahu film apa itu. Aku masuk kamar buat ganti baju. Saat itu aku ngga bayangin yang ngeres-ngeres. Pada saat aku keluar dari kamarku, Agnes menyapaku.
"Eh, Ro, filmmu ini bagus lho!"
"Eh, film apa emang?" tanyaku kaget.
"Ini, masa sama punya sendiri ngga tahu."
Karena memang bingung, aku dekati Agnes, mau tahu film yang dia maksud.
"Eh.. ini ya?" jawabku kaget setengah mati. Soalnya film yang sedang dia tonton adalah film porno yang kupinjam dari temanku seminggu yang lalu. Astaga, pikirku, aku lupa mengembalikan.
"Kak.. kok bisa tahu, darimana ya?" jawabku agak malu.
"Tadi kakakmu ngambil dari kamarmu, emang kalian belum pernah nonton bareng ya?" jawab Agnes.
"Ya.. belum sih, aku cuma pinjem bentar dari temen?" kataku.

Tiba-tiba kakakku muncul. Agnes bertanya kepada kakakku, "Dari mana, Li?"
"Ini beli jus di warung."
Agnes terus bertanya kepada kakakku, "LI, adikmu ini mbok diajak nonton sekalian, biar bisa dipraktekin.. haha.."
Aku kaget mendengar pertanyaan Agnes. Langsung pikiranku mulai ngeres.
"Wah, ini sih kesempatan gue," pikirku.
"Ngapain Ro? Nyengir-nyengir sendiri, mulai ngeres tuh pikiranmu, ngga apa ding. Kan udah gede. Kamu sudah pernah ngeseks kan Ro?" tanya Agnes menggoda.
"Wah, jangan sampai hilang nih kesempatan," pikirku.
"Eh, belum sih, tapi emang pingin, he..he."
"Kalo gitu sini Ro, mumpung ada kita berdua." goda Agnes.
Kakakku hanya senyum-senyum melihat aku. Wah, Mbak Lia ternyata nafsu juga nih.
"Ya deh, tapi entar Mbak, jadi kebelet kencing nih."
"Wah, udah ngaceng tuh punyamu, Ro. Eh, Mbak Agnes ikut ya? Kita mulai di kamar mandi aja ya?"
"Eh Lia, entar ya, gue pinjem adikmu." kata Agnes yang sudah bernafsu.
"Ha.. ayo deh," jawabku.

Begitu aku mau kencing, Agnes langsung mengelus burungku dari belakang. Wah asyik nih pikirku. Agnes hanya diam sambil mengelus burungku yang sudah keluar air kencing.
"Sini aku bersihin."
Aku sih mau aja. Agnes langsung jongkok di depanku dan menjilat kepala burungku sekalian dikulum-kulum sampai masuk ke mulutnya. Kupegangi kepala Agnes dan kugerakkan kepalanya ke kanan-kiri. Kemudian dia berdiri dan langsung mencium bibirku dengan semangat. Lidahnya dimainkan di mulutku, aku pun mengikuti permainannya saja. Tanganku mulai kugerakkan ke buah dadanya yang montok. Aku putar-putar tanganku dan kudorong-dorong susunya.
Agnes mendesih pelan, "Ahh.."

Kubuka bajunya sampai lepas dan kelihatan susunya yang dibungkus BH putih. Kualihkan mulutku ke sekitar susunya. Kucium-cium dan kemudian kulepas BH-nya.
"Wah, putingnya besar nih pikirku."
Aku langsung mengulum putingnya dengan lembut dan tangan kiriku menggosok-gosok susunya yang satu lagi.
"Ah.. Teruss.. Ro," rintih Agnes sambil tangannya terus memainkan burungku. Setelah agak lama kumainkan susunya, aku berjongkok mau membuka celana jeansnya.
Tiba-tiba Mbak Lia muncul dan ngomong, "Eh, diterusin di kamarku yok, TV-nya udah kupindah ke sana. Masak aku cuma liat doank."
"I..ya deh, yuk Ro kita pindah.. Aaah.." jawab Agnes dengan gelinya karena tanganku mengenai lubang kemaluannya.

Setelah selesai kulepas celana Agnes dan tentu saja aku sudah telanjang, kugendong Agnes di depanku dengan lidahku memainkan putingnya.
Agnes mendesah, "Ahh..ah..ehh."
Kubaringkan di ranjang kakakku dan kulihat kakakku sudah melepas bajunya. Kudatangi Mbak Lia. Agnes hanya diam saja dengan tangannya menggosok-gosok lubang kemaluannya sendiri. Langsung kucium mulut Mbak Lia dan kumainkan susunya dengan gerakkan memutar dan meremas.
"Ehh.. Srrp," suara kakakku dengan mulut kami masih berciuman.
Tangan kakakku yang satu memegang pantatku dan yang satunya memegang burungku yang semakin besar saja rasanya. Lalu kuangkat kedua kaki kakakku dan kubaringkan pelan di ranjang. Dengan posisi aku di atas, kedua kaki kakakku melingkar di pinggangku, dan kugoyangkan pinggulku biar burungku bergesekkan dengan lubang kemaluannya. Lalu kuarahkan mulutku ke lubang kemaluan kakakku dan kujilat-jilat, kemudian kumasukkan lidahku ke dalam lubang kemaluannya. Sementara itu tanganku bergerilya di atas susunya, kuremas-remas.
"Ah.. Ayo teruss.. shh.." rintih kakakku.

Kemudian Agnes berdiri dengan lubang kemaluannya mengarah di mulut Mbak Lia dan menggoyangkan pantatnya di kepala Kak Lia. Kakakku pun langsung menjilat-jilat lubang kemaluan Agnes dengan semangat. Suara rintihan mereka membuatku semakin nafsu. Dan langsung kuarahkan burungku ke dalam lubang kemaluan kakak. Kaki kirinya kuangkat dan ku desak burungku untuk masuk ke lubang kemaluannya. Kugerakkan maju mundur dan kadang memutar sampai burungku basah oleh lendir dari lubang kemaluan kakakku.
"Crp.. crep.. slokk.." suara gesekan burungku dengan lembut.
"Emm.. ahh.. Terus Ro..o."
Semakin cepat ku dorong pantat dan tiba-tiba kurasakan burungku menegang keras dan kurasakan air maniku keluar deras di dalam lubang lubang kemaluan kakakku.
"Ahh.. ahh.. uhh!" desahku.
"Uhh.. ehha.." jerit kakakku yang juga mencapai orgasme.

Selama orgasme kutekan pantatku sampai burungku paling dalam dan kugerakkan maju mundur dan memutar. Kudiamkan beberapa saat di dalam karena burungku berkurang ketegangannya. Setelah kembali tegak kukeluarkan dan aku berdiri menuju ke Agnes yang masih mengerang keasyikan karena lubang kemaluannya masih dikulum mulut kakakku. Dengan posisi kakakku telentang, Agnes tetap menggerakkan pantatnya di kepala Mbak Lia, aku pegang kepala Agnes dan kuarahkan mulutnya ke burungku yang masih basah. Agnes langsung mengocok burungku dengan tangannya dan mengulum kepala burungku. Aku merasakan tegangan yang tinggi saat kugerakkan burungku maju mundur ke mulut Agnes, sampai Agnes kadang-kadang agak tersendak karena burungku masuk sangat dalam. Begitu aku merasa mau orgasme, kupegangi kepala Agnes, kugerakkan dengan agak cepat dan tangan Agnespun mendorong pantatku ke depan.
"Creet.. creett.. cprott," suara air maniku yang memuncrat ke dalam mulut Agnes. Aku mendesah dengan agak keras. Dan kulihat Agnes dengan susah payah berusaha menelan seluruh pejuhku agar jangan sampai tumpah ke ranjang.
"Hukk..uhuk." kudengar Agnes terbatuk-batuk karena kesulitan menelan pejuhku.
"Haa.haa.haa, Enak ya Mbak rasanya?" tanyaku menggoda.
"Seperti ..emm" jawabnya.
Kemudian dia memegangi burungku yang kembali melemah agar tegak kembali sambil di kocok-kocok.

Ah..enak sekali rasanya pikirku dan aku melirik ke arah film porno yang sampai ke adegan di mana si cewek menungging dan yang cowok memasukkan burungnya dari belakang. "Eh.. Mbak seperti itu ya posisinya?" pintaku.
"Oke deh," jawab Agnes.
Nah sekarang giliran kamu, Nes, pikirku. Saat aku berusaha memasukkan burungku ke lubang kemaluannya lewat bawah, Mbak Lia berdiri dengan kedua kakinya di antara punggung Agnes. Aku dan Mbak Lia berciuman dengan memainkan lidah di mulutku, kadang menjilat bibirku, sementara tanganku masih memegangi pinggang Agnes untuk mendorong burungku. Agnes dengan gerakan maju mundurnya membuat aku keenakkan. Agnes mendesah cepat dan keringat kami bertiga semakin banyak. Kemudian kuarahkan tanganku ke buah dada Agnes yang menggantung karena posisinya yang nungging. Kuremas-remas dan kugerakkan ke banyak arah. Sementara pinggangku terus memompa agar burungku terus keluar masuk ke lubang kemaluannya. Ciumanku dengan Mbak Lia semakin seru dan penuh nafsu. Sesekali kuarahkan tanganku ke buah dada kakakku yang ukurannya hampir sama besarnya dengan punya Agnes. Tibalah saatnya aku orgasme ketiga kalinya. Dengan segera tanganku memegang pinggang Agnes dan kudorong pantatku dengan cepat.

"Crepp..creep.." suara selangkanganku berbenturan dengan pinggiran lubang kemaluannya.
Dan, "Crut.." air maniku memuncrat derasnya di dalam lubang kemaluan Agnes.
Kami berdua mendesah keras karena Agnes pun mencapai orgasme. Cukup lama aku merasa orgasme sehingga kutekan pantatku ke depan dan kugerakkan burungku yang ada di dalam lubang kemaluannya. Setelah beberapa saat kukeluarkan burungku yang basah dan Mbak Lia pun dengan spontan memegang burungku dan menjilati bekas air maniku yang bercampur dengan lendir lubang kemaluan Agnes.

Kami pun beristirahat dengan tiduran telanjang tanpa satu helai pakaian. Aku di tengah dan mereka di sampingku. Tanganku masing-masing memegang buah dada Mbak Lia dan Agnes sementara entah tangan siapa memegangi burungku yang mulai bergerak-gerak lagi.

TAMAT

KOrban napsu adik ipar

Filed under: Incest

Sejak Bapak meninggal tujuh tahun lalu dan Ibu meninggal enam tahun yang lalu, aku tinggal bersama kakak sulungku, Mbak Mira. Rumah orang tuaku di Madiun terpaksa dijual. Uangnya kami bagi bertiga, Mbak Mira, Mbak Mona, dan aku, Mila.

Rumah waris itu hanya laku Rp. 6,5 juta. Waktu itu aku masih duduk dibangku kelas tiga SMA. Masing-masing kebagian Rp. 2 juta, sisa Rp.500 ribu dimasukkan ke bank untuk memperbaiki makam kedua orang tua dan biaya keselamatan.

Ketika menerima uang waris Rp. 2 juta, aku sengaja menyimpan Rp. 1 juta sebagai deposito ke sebuah bank, sedangkan sisanya kubelikan sebuah TV. Sebab aku ingin punya TV sendiri dikamar tidurku.

Begitu lulus, aku pergi berduaan ke Sarangan bersama Anton, pacarku yang sekelas denganku. Ditempat rekreasi yang sejuk itulah aku memadu kasih dengan Anton. Entah bagaimana mulanya, setelah aku dicium dan diremas-remas payudaraku, aku seperti terhipnotis dan terbuai dengan segala rayuannya, sehingga aku menuruti saja ketika Anton mengajakku memasuki kamar hotel di Sarangan, aku tidak menolaknya.

Bahkan ketika di dalam kamar tidur, Anton mulai kembali dengan cumbuannya dan remasan-remasan hangatnya yang benar-benar membuatku tak berdaya dan diam saja saat Anton mulai melepas satu demi satu seluruh pakaian yang menempel ditubuhku, aku hanya bisa merasakan desah nafasku yang semakin tidak beraturan dan seluruh tubuhku benar-benar di luar kendaliku. Saat tangan Anton semakin bergerak leluasa ke bagian-bagian sensitif tubuhku, aku semakin pasrah dan menikmati seluruh kecupan hangat, remasan-remasan yang luar biasa nikmatnya, hingga akhirnya seluruh pertahananku jebol setelah penis Anton dengan cepatnya masuk dan merenggut keperawananku dengan sekali hentakan saja. Namun semuanya tak kupikirkan terlalu lama karena aku benar-benar sangat menikmatinya saat penis Anton mulai bergerak maju-mundur, turun-naik, sehingga membuat liang vaginaku mengeluarkan cairan kenikmatan yang terasa hangat saat tubuhku terhempas ke ranjang karena puncak orgasme yang kurasakan saat itu. Lemas, mataku berat, dan akhirnya aku tertidur di dalam pelukan dada Anton kekasihku itu.

Noktah merah yang seharusnya kupersembahkan buat suamiku, akhirnya keberikan lebih awal kepada Anton, pacarku sekaligus calon suamiku kelak. Aku ingat persis Anton kembali melakukan persetubuhan denganku hingga lebih dari tiga kali pada hari itu, aku benar-benar dibuat takluk dengan keperkasaan seksualnya.
"Tak udah memikirkan keperawanan. Jaman sudah maju, manusia tidak membutuhkan keperawanan, melainkan kesetiaan", kata Anton setelah berhasil mengambil keperawananku. Aku juga masih ingat persis ketika Anton memberiku uang Rp.10 ribu.
"Ini untuk beli jamu", katanya singkat. Hampir saja aku melempar uang itu ke wajahnya. Tetapi Anton keburu mencium pipiku, keningku dan tengkukku sehingga aku tidak bisa marah atas sikapnya tadi.

Benar dugaanku. Setelah peristiwa itu Anton tidak muncul-muncul. Hampir dua minggu aku menunggu, tak kelihatan juga batang hidungnya. Akhirnya aku memaksakan untuk datang ke rumahnya di jalan Borobudur. Betapa terkejutnya aku, ketika ibunya bilang Anton sudah berangkat ke Jakarta, untuk mengadu nasib di sana. Niat hati ingin menyampaikan masalah ini kepada ibunya bahwa aku dan Anton telah berbuat hal layaknya suami istri. Tetapi mulutku tidak bisa bersuara. Aku hanya menahan nafas dan mengehembuskannya dalam-dalam.

Saat paling membuatku berdebar-debar adalah saat aku tidak mengalami menstruasi. Aku kalut, Beberapa macam pil yang disebut orang-orang bisa untuk menggugurkan kandungan, kuminum. Tetapi, aku tetap terlambat datang bulan. Aku makin kalut. Apalagi aku harus hengkang dari rumah, karena rumah kami sudah laku dijual. Aku harus ke Surabaya, tidak ada jalan lain.

Bulan kedua aku lewati dengan mengurung diri di kamar di ruman Mbak Mira, kakak sulungku. D rumah ini tinggal juga suaminya, Mas Sancaka, dan anak tunggalnya Sarma, yang masih balita. Selain itu pula ada pula Mas Sudrajat, adik Mas Sancaka, yang hingga kini masih hidup membujang.

Sebulan dirumah Mbak Mira, aku sudah tidak bisa menyembunyikan diri lagi. Ketika Mbak Mira tidur aku mengutarakan permasalahanku ini kepada Mas Sancaka, dan berharap dia bisa memeberikan jalan keluar terbaik bagi diriku.
"Besok kamu ikut aku. Kita harus menggugurkan anak haram itu", kata Mas Sancaka, "Dan Mbak Mira tidak perlu tahu musibah ini", tambahnya. "Kamu masih punya uang simpanan?", katanya.
"Satu juta", jawabku singkat.
"Besok pagi kita ambil, kekurangan uangnya biar aku yang tanggung", kata Mas Sancaka.

Keesokan pagi harinya aku dibawa ke dokter yang ada dikawasan lokalisasi di Surabaya. Di tempat yang tidak terlalu luas itu, kandunganku digugurkan. "Biayanya Rp. 1,6 juta, itu belum termasuk biaya kamar, biaya perawatan, dan obat-obatan. Siapkan saja uang sekitar Rp. 2 juta", kata dokter yang merawatku kepada Mas Sancaka.

Aku memandangi Mas Sancaka untuk meminta reaksi atas ucapannya tadi malam. "Ya, Dok. Ini kami membawa uang Rp. 1 juta, nanti saya akan ambil uang di ATM untuk melengkapi seluruh biayanya", kata Mas Sancaka kepada dokter yang akan menggugurkan kandunganku, sembari melirikku. Lega rasanya aku dibantu kakak iparku. Dibenakku aku punya harapan untuk kuliah kembali, agar jadi ‘orang’. Uang Rp. 1 juta kuserahkan, dan dalam waktu sepuluh menit aku sudah tidak sadarkan diri. Ketika aku bangun, aku telah berada di ruangan yang sama sekali tidak aku kenal. Ada seorang perawat disini. "Jangan banyak bergerak dahulu ya jeng", kata perawat itu yang kira-kira berusia 40 tahun. dia kemudian menyeka keringatku dan meneyelimuti tubuhku dengan baju putih.

Tak lama kemudian Mas Sancaka datang dan membawa buah-buahan untukku. Aku tersenyum kepadanya. Diapun membalas senyumku. Diusapnya rambutku, dan diciumnya keningku.
"Sus, meski kami menggugurkan kandungannya, tetapi kami ingin tetap menikah. Kami hanya merasa belum siap saja. Saya ingin Mila menjadi istri kedua", kata Mas Sancaka kepada perawat itu, tanpa meminta persetujuanku kalau aku pura-pura jadi WIL-nya.
Sehari kemudian aku pulang. Tetapi aku tidak diijinkan untuk pulang ke rumah Mbak Mira oleh Mas Sancaka, Aku justru dibawanya kesebuah hotel. "Kenapa disini, Mas?" tanyaku.
"Kamu masih kelihatan pucat. Jangan pulang dulu, kamu tidur disini sekitar 3 sampai 4 hari dulu, nanti baru pulang. Lagian Mas Sancaka sudah bilang ke Mbak Mira, bahwa kamu balik sementara ke Bandung untuk keperluan menjenguk saudara", katanya. Aku mengikuti saja sarannya tersebut.

Hari-hari pertama Mas Sancaka bersikap sopan kepadaku, Dia tampak mengasihiku. Tetapi, pada hari kedua, Mas Sancaka mulai berubah, setelah berbaringan di sebelah tubuhku, Mas Sancaka secara mengejutkan memintaku untuk memegang ‘senjatanya’.
"Aku nggak kuat, Mila. Tolong kamu pegang-pegang penisku sampai ‘keluar’, agar kepalaku tidak pusing. Mbakyumu sedang mestruasi. Jadi aku tidak melakukan hubungan badan selama dua hari ini, biasanya kami melakukannya setiap hari", begitu kata Mas Sancaka beralasan kepadaku.

Ingin rasanya aku menolak, tetapi bagaimana lagi? Mas Sancaka telah begitu berbaik hati kepadaku. Kupikir tidak ada salahnya aku melakukannya sekali ini untuk membalas kebaikan-kebaikan Mas Sancaku kepadaku selama ini, khususnya saat-saat seperti ini. Dengan malu-malu aku melakukan apa yang dimintanya, Kulihat penis Mas Sancaka masih tertidur, panjangnya lumayanlah, aku mulai mengusap-usap batang penis Mas Sancaka secara lembut. Sedikit demi sedikit aku mulai melihat reaksinya, Penis Mas Sancaka sedikit demi sedikit mulai mengembang dan membesar, tanganku merasakan penisnya yang bergerak-gerak hingga akhirnya tidak bisa bergerak lagi, karena seluruh batang penisnya telah tegang dengan sangat kerasnya.

Mas Sancaka kulihat memejamkan matanya menikmati permainan ini, aku semakin berani untuk memain-mainkan penisnya, kuusap, kugosok-gosok dengan jariku dan terakhir aku mulai mengocok-ngocok penis Mas Sancaka secara turun naik, kulihat tubuh Mas Sancaka kadang-kadang menggeliat merasakan kenikamatan ini, sampai akhirnya tiba-tiba tubuh Mas Sancaka tiba-tiba mengejang, penisnya terasa panas sekali, kulihat kepala penisnya kini berubah warnanya menjadi sangat merah sekali dan berdenyut-denyut.

Tiba-tiba Mas Sancaka memejamkan matanya sangat erat, bibirnya seperti menggigit menahan sesuatu yang amat luar biasa, tidak lebih dalam hitungan dua detik, tiba-tiba aku melihat cairan kental menyemprot deras keluar dari batang penisnya Mas Sancaka, cairan spermanya muncrat banyak sekali seiring dengan itu tubuhnya berkelejat-kelejat sampai pada akhirnya spermanya habis, tubuhnya jatuh lunglai dan kulihat wajah Mas Sancaka tersenyum puas. Perlahan-lahan aku membersihkan tubuh Mas Sancaka yang belepotan spermanya, kubersihkan dengan perlahan-lahan sambil memijat-mijat tubuh Mas Sancaka, hingga akhirnya Mas Sancaka tertidur di ranjangku.

Di hari kedua aku benar-benar tidak mampu menolak permintaannya, saat aku sedang mandi tiba-tiba pintu kamar mandiku diketok oleh Mas Sancaka, ketika kubukakan, tiba-tiba Mas Sancaka menerkamku dengan buasnya. "Kalau kamu tidak melayaniku, maka kasus pengguguran ini akan kuberitahukan kepada Mbak Mira", ancamnya.
Maka, aku tidak mampu menolak keinginannya ini, Semalaman itu aku harus melayani Mas Sancaka ronde demi ronde. Sejak saat itu aku semakin tidak punya keberanian untuk menolak keinginan Mas Sancaka untuk mencicipi kehangatan tubuhku yang masih sintal, dan rapatnya liang vaginaku, karena aku memang belum pernah melahirkan. Perbuatannya ini tidak hanya dilakukan di hotel saja, tetapi sudah mulai berani dilakukan di rumah Mbak Mira, Hampir Setiap tengah malam menjelang pukul 3 pagi, Mas Sancaka selalu mengendap-endap menuju kamarku dan mengetuk kamar tidurku untuk meminta jatahnya, karena aku takut suatu waktu akan ketahuan akibat Mas Sancaka mengetuk pintuku maka aku setiap tidur tidak pernah mengunci kamar tidurku.

Yang membuatku semakin tertekan adalah tiba-tiba pada suatu hari tubuhku serasa terindih sesuatu, ketika aku membuka mataku alangkah kagetnya aku, karena yang menindih tubuhku adalah Mas Sudrajat, adik Mas Sancaka, aku ingin berteriak, tetapi Mas Sudrajat menutup mulutku sambil mengancamku. "Awas, kamu tidak perlu berteriak, Jika tidak saya akan melaporkan perselingkuhan kamu dengan Mas Sancaka kepada Mbak Mira. Aku telah mengetahui kejadian ini sejak minggu lalu, lalu apa salahnya jika kamu melakukannya kepadaku juga", ancamnya.
Sejak saat itu aku menilai Mas Sudrajat sama bejatnya dengan Mas Sancaka. Hingga mulai saat itu hampir setiap hari aku melayani dua pria. Antara pukul 12 malam sampai denga pukul 1.30 pagi aku melayani Mas Sudrajat, dan Antara pukul 3 pagi sampai dengan pukup 4 pagi aku harus kembali bergumul dengan Mas Sancaka. Tubuhku benar-benar sebagai pelampiasan nafsu kedua saudara-saudara iparku.

Bahkan menurutku Mas Sudrajat adalah orang paling bejat didunia ini, ia bahkan menceritakan perselingkuhan kami kepada Mas Suwono yang tinggal di jakarta. Ketika suatu saat Mas Suwono menginap di rumah Mbak Mira berkaitan dengan tugas kantornya. Dia tidak tidak sungkan-sungkan masuk kekamar tidurku malam hari bersama dengan Mas Sudrajat untuk kembali merasakan kehangatan tubuhku, malah pernah suatu kali ketiganya tiba-tiba berkumpul di kamarku dan benar-benar menguras seluruh tenagaku, hingga aku pernah pingsan menahan kenikmatan yang datang bertubi-tubi tanpa hentinya dari ketiga saudara iparku yang menggilir aku secara bergantian. Hingga akhirnya puncak dari seluruh kenikmatan tersebut adalah kelelahan yang luar biasa, aku knock out alias KO!

Lebih celaka lagi ketika suatu saat Mbak Mira pada siang hari datang ke kamarku dan menemukan celana dalam suaminya ada di kamarku. Aku sangat yakin Mbak Mira mengetahui kalu suaminya sering masuk ke kamarku. Mbak Mira hanya diam saja. Dia hanya melemparkan celana dalam suaminya itu kewajahku. Dan, sejak itulah Mbak Mira jarang mengajakku bicara. Ketika kuceritakan kejadian ini kepada Mas Sancaka, Diluar dugaan di berkata, "Mila, Mbak Mira sudah tidak kuat lagi melayani nafsuku, pernah kusampaikan aku punya pacar seorang janda muda, dia diam-diam saja", kata Mas Sancaka.

Aku tercenung. Napasku terasa berhenti di tenggorokan. Kasihan Mbak Mira. Tetapi siapa yang menaruh rasa belas kasihan kepadaku? Aku telah melayani nafsu biadab ketiga saudara iparku. Ingin rasanya aku lari minggat dari rumah Mbak Mira, Tetapi kemana aku harus menetap? aku tidak ingin menjadi seorang Wanita Tuna Susila, dan aku sudah tidak memiliki uang pula untuk menyambung hidup jika aku minggat.
Sampai akhirnya sedikit demi sedikit keberanianku benar-benar hilang sama-sekali, dan hingga sampai ini aku masih harus tetap melayani nafsu binatang ketiga lelaki iparku.

TAMAT

Aku dan sepupu ku 1

Filed under: Incest

Waktu itu tahun 1996, bulan September, aku baru saja pulang dari KKN di desa, di daerah Kabupaten Blora (sekarang masuk Kabupaten Cepu), dua hari setelah sampai di rumah, ada telepon dari salah satu sepupuku, katanya dia sedang Study Tour ke kotaku. Sepupuku ini masih sekolah di SMUK di daerah Madiun, sebenarnya aku belum pernah bertemu langsung dengan dia, jangan heran ya, sebab dia sepupu jauh sekali. Sepupuku ini baru sempat bertemu dengan orang tuaku dan kakakku saja sewaktu mereka pergi ke daerah asal sepupuku di Jawa Timur. Nah, ketika dia Study Tour ke kotaku, dia ingin mampir dan menginap di rumahku, terus dia minta dijemput di depan salah satu bank di dekat Jalan yang jadi trade marknya kotaku. Maka, aku bersama kakakku menjemput dia.

Jam 4:25 sore, aku sampai di depan bank tersebut. Mobil kuparkir, lalu aku bersama kakakku sambil membawa dua payung menghampiri bis-bis yang diparkir di depan bank, agak lama juga aku mencari sepupuku ini, maklum aku belum pernah bertemu dia dan kakakku sendiri agak lupa dengan wajahnya. Setelah kurang lebih 5 menit, akhirnya bertemu juga. Kemudian kami pulang ke rumahku, dia senang sekali bisa bertemu denganku. Awalnya dia berencana mau menginap 1 hari tetapi kemudian dirubah jadi 2 hari. Sepupuku ini tidak punya saudara laki-laki, jadi ketika kami bertemu, dia senang sekali dan menganggap aku seperti kakak kandungnya. Selama dia menginap di rumah, dia selalu ingin dekat denganku terus. Aku menganggap biasa-biasa saja dan tidak ada pikiran lain.

Ketika dia mau pulang, dia mau pulang sendirian, orang tuaku sepertinya tidak tega melepas dia pulang sendirian, akhirnya aku disuruh mengantar dia pulang ke Jawa Timur, padahal waktu itu aku sedang berobat jalan karena aku mengidap alergi serpihan kulit manusia (aneh ya..? aku saja dulu tidak percaya). Aku harus datang ke dokter pribadiku setiap hari Selasa dan Jum’at buat disuntik. Tetapi, menurutku tidak apa-apa karena kupikir nanti jika sudah sampai di sana, aku langsung pulang saja pikirku. Jadilah aku mengantar dia pulang ke Jawa Timur. O.. iya, sebelum terlalu jauh aku bercerita, kuperkenalkan dahulu diriku, namaku Padi dan nama sepupuku Ana. Di jalan kami bercerita tentang daerah asalnya yang ternyata ada di kawasan pantai utara Jawa Timur.

Kami mampir ke Madiun dulu, karena katanya dia mau mengambil baju-bajunya yang mau dibawa sekalian dicuci di rumah. Sampai di Madiun, kira-kira pukul 5:00 sore, kami menuju tempat kosnya yang sederhana di komplek Akabri. Setelah selesai dengan urusan di Madiun, kami langsung pergi lagi meneruskan perjalanan. Di perjalanan, aku bertanya dengan dia.
"Eh, An.. dari sini sampai ke kotamu berapa lama sih..?" tanyaku.
"Ya.. mungkin kira-kira 8 jam Mas.." katanya.
Dalam hati aku berpikir, "Wah, bakalan capek di jalan nih.. sialan.."

Waktu berlalu, kira-kira pukul 9 malam, kami masih ada di atas bis jurusan ke kotanya. Malam itu kurasakan sangat dingin, apalagi ditambah tiupan angin yang sangat kencang. Di dalam bis yang lumayan penuh itu, aku duduk di kursi kedua dari belakang sejajar dengan Ana. Pintu bis yang ada di sebelah kananku ternyata tidak bisa ditutup, karena kuncinya rusak kata kernetnya. Ana yang merasa kedinginan terkena tiupan angin, bingung mau bagaimana sebab dia tidak membawa jaket atau sweater buat penghangat, sedangkan aku sendiri tidak masalah. Kemudian kutawarkan dia untuk pindah tempat duduk di sebelah kananku, yah.. lumayan dia terlindung dari angin oleh badanku.

Sekitar 10 menit setelah itu, dia bilang katanya dia merasa mengantuk, aku tawarkan dia untuk tidur saja di pangkuanku. Dia mau dan langsung dia rebahkan kepalanya di pahaku, waktu itu aku sebenarnya agak kawatir dengan penumpang lainnya. Jangan-jangan ada yang berpikiran macam-macam tentang kami, meskipun begitu aku akhirnya memutuskan untuk santai saja. Si Ana dengan cepat tertidur dengan pulasnya, tanganku kutaruh di atas punggungnya biar dia merasa lebih hangat. Tawaranku untuk tidur di pahaku ternyata berbekas sekali di hati sepupuku ini, sepertinya dia merasa ada sesuatu yang lain yang dirasakannya setelah dia merebahkan kepalanya di pahaku. Mungkin karena dia masih anak SMU yang belum pernah merasakan kasih sayang dari seorang cowok, tetapi kok ya kebetulan justru dengan kakak sepupunya sendiri.

Tidak terasa, bis telah memasuki terminal di kotanya. Waktu itu jam 1 pagi. Kami langsung mencari becak untuk pulang ke rumahnya. Sampai di rumahnya yang sederhana (bapaknya bekerja sebagai sipir penjara dan ibunya guru SD), aku langsung disambut oleh Omku. Kami berbincang-bincang sejenak sambil nonton MTV. Tidak lama kemudian, Omku minta diri untuk tidur. Aku mempersilakan Omku untuk tidur. Aku sendirian yang belum merasa mengantuk dan meneruskan melihat TV. Si Ana sendiri ada di kamarnya sedang bicara dengan adiknya. Kira-kira 5 menit kemudian, kudengar ada orang datang masuk ke ruang TV dimana aku berada, yang Ternyata Ana.

Aku bertanya pada dia, "Lho.. An, kamu ngga tidur? Kan udah malem, bahkan pagi nih!"
"Lah.. Mas sendiri gimana? Kok ngga tidur juga?" dia balik bertanya.
"Mas kan udah biasa melek sampai pagi, lagian acaranya bagus nih, MTV music Awards."
"Iya deh.. tapi Ana boleh nemenin Mas ngga?"
"Boleh aja, asal bikinin Mas kopi panas dong.."
"Ih.. Mas curang.. Oke deh Ana buatin."
Kemudian dia beranjak pergi ke dapur untuk membuatkan kopi untukku. Sewaktu dia jalan ke dapur, dia melewati ruangan makan yang gelap, sedangkan ruang dapurnya sendiri dibiarkan terang, sebab Omku orangnya suka makan, jadi kalau malam dia sering ke dapur untuk cari makanan.

Sewaktu dia melewati kamar makan yang kebetulan bisa terlihat dari tempat dudukku, aku agak kaget karena kulihat dasternya kelihatan menerawang terkena cahaya dari dapur. Si Ana ini sebenarnya tidak hanya manis tetapi juga cantik, tubuhnya agak gemuk, tinggi sekitar 158 cm, ukuran dadanya berapa ya? Tidak tahu.. Kulitnya sawo matang dan yang paling menarik adalah matanya yang khas cewek Jawa, tidak besar juga tidak kecil. Sekilas kulihat bentuk tubuhnya sewaktu dia melewati ruang makan. Jantungku merasa agak berdebar karena aku kan laki-laki, jadi lihat yang seperti itu kan, ya gimana gitu. Selesai dia membuat kopi, segera dia menuju ke arahku, terus dia bergabung nonton MTV. Sejenak aku lupa akan kejadian yang mendebarkan tadi (menurutku lumayan mendebar kan lho).

Kami berbincang-bincang sambil mengomentari pemenang-pemenang yang sedang diumumkan di TV.
Tiba-tiba dia nyeletuk, "Mas.. tadi enak lho tiduran di pangkuannya Mas.."
"Kenapa emangnya? Mau lagi ya, sini deket-deket Mas..?" kataku.
"Oke deh!"
Kemudian dia mendekat ke arahku dan merebahkan kepalanya di pahaku lagi. Nah, sekarang aku mulai berpikiran macam-macam nih, karena kan dia hanya memakai daster dan di dalam dasternya hanya ada CD dan BH saja. Mau tidak mau batangku mulai bereaksi pelan-pelan, tetapi dia tidak tahu. Masih sekitar 10 menit kami berbincang-bincang, tanganku kutaruh di atas pinggulnya, dan kurasa dia tidak keberatan. Lama-lama sepertinya dia mengantuk dan mulai sembarangan kalau menjawab pertanyaan atau komentarku.

"An.. geser dikit dong, soalnya pahaku kesemutan nih! Sebentar, ganti pake bantal aja yah..?"
Kemudian kuangkat kepalanya, kupindahkan dia ke bantal yang ada di sofa, sedangkan kakinya kuangkat ke atas pahaku. Singkat cerita, dia sudah tertidur dengan pulas. Pikiranku mulai keluar pikiran iseng, tanganku aku rabakan di kakinya. Sambil pura-pura memijat, dari bawah pelan-pelan naik ke atas, terus turun lagi, naik lagi.. lama-lama aku memijatnya terlalu naik sampai hampir menyentuh pangkal pahanya. Rupanya dia terbangun.
"Ngapain Mas..?"
"Eh.. ngga kok cuman mijitin, kan kamu capek barusan abis naik bis jarak jauh?"
"Mmm.., boleh juga.. tapi mijitnya jangan keras-keras ya Mas.."
"Oke An.."

Nah, aku teruskan kembali memijatnya, tetapi kali ini mijatnya lain, aku kan sedikit-sedikit pernah baca tentang pijatan erotis, maka aku mencoba untuk mempraktekkannya sekarang. Pertama kuletakkan tanganku di telapak kakinya, terus kucari simpul yang bisa membangkitkan gairah seksnya.
"Nah, ketemu nih.." batinku.
Pelan-pelan kupijat bagian itu sambil tanganku yang satunya juga memijat-mijat paha kanannya.

Setengah sadar dia bertanya, "Mas, kok enak banget sih pijitannya?"
"Tenang aja deh, yang ini belum apa-apa, entar ada yang lebih hebat." jawabku.
Lama kelamaan dia jadi tidak merasa ngantuk, tetapi menikmati pijatan-pijatan tanganku sambil mengeluarkan suara lenguhan yang sangat merangsang, "Nnggh.. ngghh.. enak loh Mas.. agak naik dikit Mas.. yang ini lho di atas dengkul.., ya.. di situ.. terus.. terus.."

Aku tahu dia tidak sadar kalau sedang aku kerjain. Lama-lama kulihat dia sepertinya mau bangkit dari tidurnya. Kemudian waktu kubiarkan, ternyata dia tiba-tiba memelukku dan berusaha mencium bibirku. Aku sendiri menyambut ciumannya dengan bersemangat.
"Wah, lha ini nih yang kunanti," batinku.
Ciumannya lumayan dahsyat, sampai lidahnya masuk ke mulutku seperti ular. Lidahku sendiri jadi tidak mau kalah menyambut lidahnya yang masuk ke mulutku (heran juga anak ini kok bisa senekat ini pikirku). Dan ternyata, kok luar biasa ciummannya untuk ukuran anak SMU yang belum pernah pacaran, tangannya melingkar di punggungku dan berusaha masuk ke dalam t-shirtku.

Gerakan tubuhnya terlihat sekali terbakar oleh rangsangan yang kuberikan melalui pijatan tadi, tubuhnya naik turun sambil sesekali bergoyang ke kiri dan ke kanan. Lama-lama daster yang dia kenakan tertarik ke atas oleh karena gerakannya tersebut, dan tanganku pun bisa leluasa untuk memegang pantatnya. Dia memakai celana dalam yang tipis berenda. Pelan-pelan kumasukkan tanganku ke dalam CD-nya dari atas. Aku berhasil memegang pantatnya, wah.. seketika aku merasakan suatu gelora dalam diriku, sepertinya aku sendiri mulai terserang rangsangan yang sangat kuat. Aku pijat-pijat pantatnya, sementara kami masih saling berpagut, dia sendiri terlihat sangat menikmati pijatan tanganku pada pantatnya. Lalu aku mulai menaikkan tanganku, berusaha untuk membuka dasternya. Tanpa hambatan, aku berhasil menaikkan dasternya sampai ke bagian leher, kudorong dia pelan-pelan ke belakang, dia berusaha untuk tetap memelukku.

Aku berbisik padanya, "An.. tolong kamu mundur sebentar, aku tolong kamu nglepasin dastermu."
Dia mengangguk pelan, lalu kubuka dasternya. Kulihat tubuhnya yang mulus hanya ditutupi BH dan CD saja.
"An.. gimana kalo semuanya aku buka..?" tanyaku.
Ternyata ia mengangguk mengiyakan, "Silakan Mas.."
Kubuka pelan-pelan BH-nya sambil kubelai dua bukit di dadanya dengan lembut.
"Ehm.. Mas.., Ana sayang sama Mas.." katanya.
Aku tidak menjawab perkataannya. Kemudian kudekatkan wajahku ke buah dadanya dan mulai mengulum-ngulum pucuk bukitnya. Dia terlihat sangat menikmati perlakuanku tersebut, matanya terlihat sayu dan sepertinya mengharap yang lebih dari sekedar dikulum pucuk bukitnya.

Aku menengok ke arah jam dinding yang terletak di atas pintu, jarum menunjukkan pukul 12:08 malam. Aku sempat berpikir, sebenarnya bahaya kalau tiba-tiba Om atau Tanteku memergoki kami yang sedang asik di sini. Sekejap aku memutar otak, aku lalu berbisik ketelinga Ana.
"An.. kita pindah ke kamarku aja yah?"
Dia tersentak mendengar bisikanku. Aku sendiri kaget, "Apaan nih? Kok jadi medadak berubah?"
Aku rasakan ternyata Ana sepertinya tersadar atas apa yang sedang diperbuatnya. Dengan terburu-buru, dia menyambar pakaiannya dan berusaha lari menuju kamarnya. Cepat sekali kejadian itu berlalu, aku sendiri tidak sempat melakukan apa-apa, aku hanya melongo seperti Mandra diputus Munaroh. Gila, pembaca tahu sendiri kan? Lagi enak-enak bercumbu, tidak tahunya putus di tengah jalan. Tetapi aku sendiri maklum, sebenarnya Ana adalah anak yang taat beribadah. Dan kuyakin yang barus saja kualami, sebenarnya dia melakukannya di bawah sadar.

Paginya, aku bangun sekitar pukul 9:00, ternyata aku semalam ketiduran di depan TV. Aku ngucek-ucek mataku sambil mencari dimana kacamataku, agak lama kucari, tetapi tidak ada.
"Mana ya?" aku bergumam pelan.
Kebetulan Tante yang berjalan melewati ruang TV menuju dapur mendengar gumamanku.
"Cari apa Di?" tanya Tanteku.
"Tante liat kacamata Padi ngga?"
"Ngga tuh.. mungkin jatuh di bawah meja, coba cari lagi," sambil dia berjalan menuju ke arahku ingin membantu mencari.
Dicari-cari sudah lama, tetap tidak ketemu, "Yep.. nanti dicari lagi deh Tante.. biar Padi mandi dulu." kataku.
"Oke lah, nanti Tante bantu lagi carinya."
"Oke Tante.." sahutku.
Aku bergegas menuju ke kamarku, mengambil peralatan mandiku.

Kamarku terletak di sebelah kamar Ana, sempat kulihat dari celah kamar yang tidak tertutup semua. Ana masih kelihatan pulas tidurnya. Mungkin dia tidak bisa tidur setelah kejadian tadi malam. Habis mandi aku menuju ke ruang TV lagi untuk mencari kacamataku yang masih sembunyi. Ternyata tante sudah ada di sana sedang nonton TV.
Aku tanya ke tante, "Ketemu ngga kacamatanya Tante?"
"Ngga tuh Di.. udah tante cari dimana-mana ngga ada, sampai-sampai sekalian Tante ngebersihin ruang ini deh."
"Waduh.. gimana nih.. susah deh. Aku kan ngga bisa baca kalo ngga pake kacamata," pikirku, "Ya apa mau dikata, kalo lagi apes, gini deh jadinya."

Pukul 9:30, kulihat kamar Ana sudah terbuka, beberapa menit kemudian Reni (ini nama adiknya) bergabung dengan kami di ruang TV sambil membawa nampan berisi 4 gelas teh.
Aku tanya dia, "Kok cuman empat gelasnya Ren?"
"Ooo, Papa kan udah berangkat kerja Mas.., jadi Reni bikinnya cuman 4." jawabnya.
"Gitu ya?" sahutku.
Kami lalu berkumpul membicarakan keadaan Kota Tuban, tiba-tiba si Reni bertanya ke Tante.
"Ma.. kacamata yang di kamar Reni itu punya siapa sih?" tanyanya.
"Eit! lha ini dia nih si kacamata.. ternyata ngumpet di sana," spontan aku menyahut, "Heh! Itu pasti kacamataku."
"Betul.. itu pasti kacamatanya Mas Padi, Ren!" sahut Tante, "Sana cepet ambilin!"
Reni lalu berdiri dan mesuk kamar untuk mengambil kacamataku. Aku berpikir, mungkin kacamataku semalam kesangkut di bajunya Ana. Sesaat kemudian Reni kembali membawa kacamataku, aku sempat was-was, moga-moga Tante tidak curiga kenapa kok kacamataku sampai bisa mampir kesana. Memang ternyata dia tidak curiga sama sekali.

Pukul 10:00, Tante pamit mau berangkat ke pasar yang tidak terlalu jauh jaraknya dari rumahnya, si Reni ikut. Aku ditinggal sendirian. 5 menit waktu berlalu, aku mulai bosan, terus aku menuju teras depan ingin merokok. Di teras ternyata ada koran edisi hari itu, aku tertarik untuk membacanya. Kubolak-balik halamannya, tidak ada yang menarik. Bosan lagi deh, ngelamun jadinya. Aku teringat kejadian tadi malam.
Dalam hati aku berpikir, "Sekarang di rumah cuman ada aku berdua sama Ana. Wuih! kalo.. hehehe kalo.. misalnya aku iseng gimana ya?"
Akhirnya, ternyata aku nekat juga.

Bersambung…

Aku, sepupuku dan adiknya 2

Filed under: Incest

Aku bangkit dari tempat dudukku, masuk ke dalam. Sampai di depan pintu kamarku, aku punya ide. "Mmm harusnya pintu depan kututup ya, terus aku pasangkan kaleng krupuk di bagian dalam, biar kalo kebuka dari luar kalengnya kegeser dan bikin suara brisik." pikirku.
Cepat-cepat kukembali ke ruang tamu dan melakukan rencanaku. Setelah itu, aku kembali lagi ke kamar, hati-hati kuintip ke dalam kamarnya Ana, ternyata dia masih pulas tertidur. Aku berjingkat masuk ke kamarnya, perlahan aku duduk di samping tidurnya. Dia tidurnya mengorok hingga aku mau tertawa waktu itu, tetapi kutahan karena takut dia terbangun. Dengan hanya diterangi lampu baca (kamarnya tidak ada jendelanya), kupandangi wajahnya lama. 5 menit lebih kupandangi dia, semakin lama semakin manis.
"Gila ya, dengan adik sepupu kok seperti itu?" tapi pikirku, "Biarin aja lah, iseng-iseng berhadiah."

Kemudian aku mulai mencoba membelai rambutnya, pelan tetapi pasti. Dia tidak bereaksi, dia tidurnya brukut (memakai selimutnya sampai menutupi leher). Aku berusaha membuka selimutnya perlahan, kutarik ke bawah dan dia tetap tidak bereaksi. Kumasukkan tanganku ke dalam selimutnya sambil berusaha mencari payudaranya. Dengan tanpa kesulitan, tanganku sudah memegang payudaranya, tetapi masih terhalang dasternya.
"Eit.. nanti dulu.. ternyata dia ngga pake BH! Berarti semalam dia ngga pake BH-nya lagi dong, wah asik nih.." pikirku.
Lalu kumasukkan tanganku melalui lubang di antara kancing dasternya. Tidak susah juga, tanganku sudah memegang daging empuk dengan tonjolan di puncaknya.

Ana menggeliat, agak keras menggeliatnya, dia terbangun.
"Mampus gua," pikirku.
Dia melotot sambil teriak, "Lepasin dong Mas.. apa-apaan nih Mas?"
Aku gelagapan berusaha mencari alasan, "An.. kamu ngga inget semalem ya?"
"Lupain aja Mas! Ana ngga mau lagi, ngga boleh, entar dosa Mas!"
"Tapi Ana semalem udah ngelakuin dosa lho.. kenapa ngga sekalian aja?" rayuku.
Kali ini dia benar-benar marah. Ana teriak-teriak menyuruhku keluar dari kamarnya. Aku turut saja, untung letak rumahnya berjauhan dengan tetangga, jadi aku tidak takut teriakannya terdengar tetangganya.

Wah.. gagal nih ceritanya.., aku akhirnya hanya meraba-taba batang kemaluanku yang menganggur karena tidak jadi dipakai. Aku duduk di ruang TV lagi. Melihat acara tarian Bangkok, lumayan lah buat obat, melihat penyanyi Thailand yang cantik-cantik. Sebentar kemudian Ana keluar dari kamarnya, dia menuju ke arahku. Aku berusaha tidak peduli, dia lalu duduk di dekatku.
Katanya, "Mas maapin Ana ya? Ana udah bentak-bentak Mas.."
"Ngga papa An.., Mas yang salah." balasku.
"Sebenarnya Ana sayang sama Mas, tapi kita kan masih bersaudara, apalagi nanti kalo ketahuan ama Papa-Mama kan bisa berabe Mas!" jelasnya.
"Ya sudah.. lupain aja An, toh kamu masih muda. Nanti juga pasti ada cowok lain yang lebih pantas buat kamu." lanjutku.
"Iya Mas, Mas.. Ana mau ngasih sesuatu buat Mas."
"Apa An?" tanyaku.
"Liat sini deh Mas.." (dia mulai tidak kaku lagi)

Aku menoleh ke arahnya, tiba-tiba dia mendekatkan bibirnya ke arah bibirku.
"Mmpphh.."
"Plas!" jantungku spontan berdegup keras, "Kok tau-tau nyium sih?" pikirku, tetapi kunikmati saja, enak sih.
Pertamanya dia hanya mau mengecup saja, tetapi kulingkarkan tanganku di lehernya, dan kudekap dia. Dengan lembut kukecup bibirnya, dia tidak berontak ternyata, aku pererat dekapanku, dada kami sudah saling menempel. Aku merasakan kalau dia masih belum memakai BH-nya. Dengan perlahan kubelai punggungnya, dasternya yang terbuat dari sutera terasa halus sekali, sensasinya justru membuatku jadi semakin ON saja. Coba saja pasangan anda disuruh pakai lingerie yang bahannya sutera, ditanggung kalau diraba pasti enak sekali. Lama kami berciuman dengan posisi itu, akhirnya capai juga aku. Kulepas pelukanku dan mengakhiri ciuman.

Aku berkata pada Ana, "Sini An.. Mas pangku.."
"Ngga ah Mas.. nanti kayak tadi malem deh jadinya..!"
"Percaya deh sama Mas.. ngga sampe ngelakuin yang ngga-ngga kok, okey?"
Dia akhirnya mengalah, mungkin dia masih ada rasa ingin juga, dia juga tahu kalau sekarang kami hanya berdua saja di rumah, So? Why not?. Dia duduk di pangkuanku menghadap TV, tanganku bergerak dengan bebas di dadanya.
Kuraba dadanya sambil berkata, "An.. Ana ngga marah-marah lagi nih?"
"Biarin lah Mas.. udah terlanjur nih, tapi janji ya jangan kebablasen.." pintanya.
"Okey An!"
Dari belakang, sambil tanganku membelai payudaranya, kulihat dia memejamkan matanya menikmati belaian tanganku. Tanganku meraba payudaranya dengan hati-hati, penuh perasaan aku membelainya, aku sendiri memejamkan mataku jadinya. Pelan tapi pasti, tanganku bergerak turun menuju perutnya. Agak dekat dengan V-nya kugunakan kuku jariku yang agak panjang untuk membangkitkan rangsangan di perutnya. Kulirik dia, terlihat dia menahan perutnya dengan membuat kaku daerah itu.

Dia menikmati perbuatanku, perlahan dasternya kutarik ke atas, dia diam saja, ujung dasternya sudah sampai ke pahanya. Sedikit lagi pasti aku bisa meraih celana dalamnya. Akhirnya sampai juga, CD-nya sudah tidak tertutup lagi, sekilas kulihat bercak basah di ujung V-nya. Tanpa berpikir lama, kupindahkan tanganku ke sana, tanganku merasakan memang di daerah itu sudah basah. Kusimpulkan pasti dia sudah terangsang berat. Lalu kuselipkan tanganku ke dalam CD-nya, tetapi dia kali ini menahan tanganku supaya tidak masuk ke sana. Aku urungkan niatku untuk itu, tanganku hanya menggosok-gosok dari luar saja. Kemudian terlihat dia mengeluarkan lenguhan dan badannya menegang, seperti menahan sesuatu. Orgasme rupanya. Lalu badannya melemas lunglai di pelukanku.

Tanganku yang masih berada di selangkangannya merasakan kalau CD-nya bertambah basah. Kemudian Ana memandangiku. Lama kami berpandangan.
Ana kemudian bicara, "Mas, kita lakukan yuk. Ana udah ngga tahan.."
Wah, benar-benar kejutan..! Ana tiba-tiba berubah pikiran. Hal ini tidak akan kusia-siakan. Tanpa bicara lagi, langsung kucium dan kuremas dadanya yang masih tertutup daster. Ana melenguh keenakan karena remasan itu. Kemudian aku melepas remasannya. Kupandangi dadanya di balik dasternya, kupandangi seluruh tubuhnya, kulitnya yang sawo matang. Kemudian aku melepas dasternya karena akan merepotkan saja.

Kini ia polos tanpa satu benang pun menutupi tubuhnya. Kemudian aku membopongnya ke kamar tidurku dan kubaringkan ia di tempat tidur, lalu kuciumi seluruh tubuhnya. Tubuh Ana bergetar hebat, menandakan bahwa dia baru pertama kali ini melakukan hubungan seks dengan lawan jenisnya. Kemudian aku mencium dan menjilat bagian perutnya dan mulai ke bawah dan mulai meraba serta membuka kedua pahanya degan kedua tanganku. Tangan kananku membuka belahan vaginanya sedangkan seluruh bagian mulutku mulai mengolah bibir-bibir vaginanya. Tangan kiriku masih meremas buah dadanya yang sebelah kanan. Aku merasakan adanya cairan yang mulai membasahi permukaan bibir vaginanya. Aku terus menyedot dan menggigit-gigit perlahan labia mayoranya dengan asyik, sedangkan tangan kiriku sekarang meraba-raba klitorisnya dengan cairan pelumas dari lubangnya.

Asyik sekali, karena terlalu keasyikannya, secara tidak sadar, ada dua tangan menjambak rambutku, aku tidak menghentikan aktivitasku. Mulanya kupikir hanya gerakan kenikmatan yang diterimanya secara erotis. Eh, kok tambah lama terasa ada goyangan perlahan di bagian selangkangannya. Begitu pula tanpa kusadari, ada suara-suara nafas tertahan dan jambakan di rambutku bukan lagi jambakan pasif, tetapi mulai membelai dan memegang kupingku. Aku tiba-tiba sadar. Dia benar-benar menikmatinya. Aku termanggu duduk di antara selangkangannya dan melihat ke arah wajahnya.
"Kok.., berhenti Mas..?" suaranya berat perlahan dengan tatapan wajah yang sayu.
"Ehh.. terusin Mas.. hh.. kurang dikit lagi..!" suaranya tertahan.

Aku masih terduduk bingung dan memandangnya dengan pandangan bodoh. Dan yang menjengkelkan, batang kejantananku tidak berkompromi. Dia tegak mengacung, sehingga mencuat di antara kaosku. Kepalanya tampak licin karena cairan bening yang keluar. Sebenarnya batang kejantananku lumayan besar dan panjang, sehingga tampak mencuat tinggi. Tiba-tiba Ana bangun, dan duduk di hadapanku, memandangku dengan sayu. Tiba-tiba tangannya mulai bergerak ke arah batangku, dan memegang lama sambil tersengal-sengal sehabis melumatnya. Kemudian memandangku perlahan dan meletakkan dirinya telentang di ranjang. Ana berdiri di atas tempat tidur dan berjongkok di depanku. Kemudian dia membuka kedua pahanya dan mengangkat lututnya ke atas sehingga lubangnya terlihat.

Ia meraba permukaan vaginanya sambil perlahan memandangku dan berkata, "Ayo Mas.. masukin..!"
Aku seperti tersihir, antara bingung dan nafsu, menggerakkan diri untuk berlutut di antara kedua pahanya dan memegang kepala batangku yang licin terkena ludahnya dan mengarahkannya ke lubang merah mengkilat itu. Sejenak aku lupa bahwa dia masih belasan tahun, yang kurasakan secara reflek setelah dikenyot habis-habisan olehnya, ialah bahwa ia sudah tidak perawan lagi.
Dan, "Ssleepp.." ketat tetapi tidak begitu menjepit dan tanpa hambatan sama sekali (benar dugaanku). Aku menusukkan seluruh panjang batangku ke dalam lubang itu, dan hebatnya seluruh panjangnya batang kejantananku itu masuk total ke dalamnya serta membiarkannya sejenak merasakan denyutan hangatnya. Ana melenguh agak keras. Aku khawatir juga karena dia akan merasakan sakit di bagian dalam vaginanya. Tetapi karena malaikat nafsu lebih berkuasa, ya sudah aku santai saja dan mulai menarik batangku itu dari dalam lubangnya dan memasukkannya lagi seluruhnya.

Entah karena apa, aku tidak begitu merasakan rasa nikmat yang cepat naik. Memang terasa basah, licin dan enak tetapi, ya lebih karena ini memang sedang bersetubuh. Aku mulai berpraktek dengan berbagai macam cara menusuk dan arah tusukan ke dalam lubang vaginanya. Yang mulai mencemaskanku, Ana sama sekali tidak berusaha menahan suaranya. Ia mulai melenguh dan mengerang keras-keras ketika aku mulai mempercepat gerakanku. Aku antara cemas dan mulai nikmat, tidak peduli lagi. Lagi pula suaranya mulai merangsangku dan ini membuatku menusuk-nusuk dengan gerakan yang cepat dan keras.
"Aaahh.. aayoo Mass.. aaduhh.. cepat Mass..!" pintanya dengan nafsu.
Dia mengangkat kedua tangannya ke atas kepalanya. Bunyi beradunya kemaluan kami mulai terdengar keras, berkecepak-kecepak dan aku mulai merasakan lereng gunung telah kucapai. Tinggal mendaki cepat dan sampai di puncak.

Tiba-tiba Ana menghentikan gerakanku, dan menutup kedua pahanya sehingga terasa ada jepitan yang luar biasa di sekujur batangku. Kemudian dia memandangku sayu. Aku tahu apa yang dimaksudkannya dan mulai menggenjot lagi. Aku menjepitkan kedua betisnya di antara leherku dan bertumpu pada kedua tangan, sedang aku membentuk busur dengan tubuhku, merapatkan kedua pahaku sehingga terasa batangku membesar dan mulai menusuk-nusuknya cepat.
"Aaahh.. ss.." terdengar bunyi-bunyian antara suaranya yang merangsang dan bunyi kecepakan kemaluan kami yang beradu, sedangkan aku sendiri mengeluarkan suara helaan nafas yang cepat.
Beberapa menit kemudian, aku merasakan aliran yang semakin cepat memenuhi pinggul dan seluruh tubuhku. Keringatku telah mengucur deras.

Dan, "Ann.. Annaa.. aadduuhh.. ss.. Ann..!" spermaku menyemprot deras ke arah perutnya. Aku mengerang keras dan terus mengocok batang kemaluanku. Kemudian tanganku yang mulai begerak ke arah vaginanya segera menusuk-nusukannya. Lama aku terus menusuk-nusuk lubangnya karena rasa nikmatnya terus mengalir hingga tidak berapa lama kemudian Anna berkata, "Mass.. aa.. Maass.. sshh.. aadduuhh..!"
Ana menaikkan pelvisnya dan menerima tusukan-tusukan terakhirku dengan denyutan dinding vagina yang terasa cepat dan kenyal. Aku menindih tubuhnya yang kecil dan merasakan detak jantung yang cepat di dadanya dan dengusan nafas hangat di ubun-ubunku. Jariku masih menancap dalam di dalam vaginanya dan merasakan denyutan yang tidak kunjung reda.

Kemudian aku tergeletak di sampingnya, aku berkata kepada Ana, "An.. kamu sekarang mandi saja ya..? Kayaknya kamu bau deh.."
"Sialan.. iya deh, Ana mandi, makasih ya Mas.. Ana udah dikasih pelajaran sama Mas."
"Sama-sama An.."
Aku tidak merasa menyesal karena tidak dapat seperti yang kubayangkan (gadis yang benar-benar perawan). Yah, lumayanlah bisa meraba-raba kan? Ana lalu berdiri hendak menuju ke kamar mandi, sebelum dia pergi dia menoleh ke arahku lalu menunduk dan menciumku sebentar. Aku belaikan tanganku ke dadanya dan V-nya. Dia tersenyum memandangku, lalu bergegas menuju kamar mandi. Saat dia menutup kamar mandi, aku sempat dengar langkah kaki berlari menjauh dari arah pintu ruang tamu. Aku cepat-cepat menuju ruang tamu ingin mengetahui siapa yang baru saja dari sana. Sempat kulihat warna bajunya, biru seperti yang dipakai Reni. "Mungkinkah..?" batinku.

Aku kembali ke ruang TV, sambil menebak-nebak, "Apa iya.. tadi itu si Reni, terus kalau benar, berarti dia tahu dong kita lagi ngapain..? Waduh, terlalu serius sih tadi.. jadinya begini deh."
Kurang lebih 20 menit, Tante dan Reni datang dari pasar, Tante katanya mau masak Sop buntut dan membuat Rujak cingur. Siang jam 12:30, Ana mengajakku untuk makan. Saat makan, Reni kelihatan agak canggung melihatku, pikiranku lalu menghubungkan dengan peristiwa yang tadi kualami.
"Berarti tadi memang benar Reni.." pikirku.
Kami tidak bicara banyak saat di meja makan. Akhirnya sore pun tiba, Omku sudah datang sejak jam 3:00 tadi. Aku lewatkan seharian dengan bermain playstation dengan Ana, sedangkan Reni dari tadi berada di dalam kamarnya. Tidak tahu sedang berbuat apa dia, betah-betahnya di dalam kamar terus. Tante sendiri ke rumah tetangga untuk membantu masak, kebetulan tetangga ada yang sedang punya hajat.

Jam 8:00 malam, aku membaca-baca majalah di ruang tamu. Ana dan Reni di ruang TV sedang nonton HBO, tidak tahu apa film-nya. Tante sudah tidur di kamar belakang, lelah sehabis membantu tetangga. Si Om malam ini mendapat tugas jaga malam. Jam 9:00, Ana ke ruang tamu, dia bicara padaku kalau mau tidur duluan, Reni masih mau nonton TV menunggu opera sabun kegemarannya di HBO kata Ana. Ana suruh aku menemani Reni di ruang TV, soalnya si Reni anaknya sedikit penakut katanya. Jadi aku pindah ke ruang TV, kubawa majalah yang sedang kubaca. Aku rebahkan badanku di sofa panjang di depan TV. Reni sendiri duduk di kursi favoritnya, tanpa sekali pun menengok ke arahku. Aku teruskan baca artikel yang sempat terputus tadi, sambil sekali-sekali aku melihat ke arah televisi. Aku lihat ke arah jam tanganku, ternyata sudah jam 11:13.

Aku berkata kepada Reni, "Ren.. kamu ngga ngantuk?"
Dia tidak menjawab, kuulangi lagi dua kali baru dia menjawab, "Belum ngantuk kok Mas, lagian film-nya barusan mulai nih."
"Oke.. kalau gitu Mas pergi tidur dulu ya..?"
"Ntar dulu dong Mas, tunggu film-nya abis.. kan Reni takut nonton sendirian, film-nya agak horor nih!" pintanya.
"Sofanya dibuka aja.. jadiin tempat tidur, Mas tidur di situ aja." katanya lagi.
"Emang bisa Ren..? Oke deh Mas coba."
Aku coba deh usul Reni, dan aku akhirnya tidur di sofa yang sudah diubah menjadi tempat tidur itu. Tidak tahu berapa lama aku tertidur di situ, tiba-tiba aku terbangun merasakan tanganku ada yang memegang. Aku buka mataku sedikit-sedikit, terlihat olehku Reni memegang tanganku, digosok-gosokkannya tanganku ke selangkangannya. Terasa olehku bulu-bulu halus di ujung jariku. Kulirik mukanya, dia mendesah amat pelan. Wajahnya menghadap ke arah televisi, aku jadi curiga, jangan-jangan?

Bersambung…



Aku dan sepupu ku 2

Filed under: Incest

Aku lalu mencoba melihat ke layar televisi, ternyata di sana terlihat film-nya sudah bukan HBO lagi. Kesimpulanku, si Reni ternyata suka nonton sampai malam berarti hanya untuk menyetel VCD porno. Wow! berarti kakaknya kalah dong sama adiknya. Perlu diketahui, jarak umur antara Ana dengan Reni hanya 1 tahun lebih sedikit, apalagi Reni anaknya agak bongsor, tingginya sepundakku, tidak begitu gemuk tetapi cukup berisi. Singkat kata, aku beruntung kali ini, karena mendapat daun muda nih. Perlahan, tanganku yang masih bebas berusaha melorotkan celana dalamku ke bawah. Sementara Reni masih asyik dengan kegiatannya yang semakin lama semakin menjadi, dia seperti terobsesi dengan film dari VCD tersebut. Lenguhannya kadang-kadang terdengar keras.

Lalu perlahan-lahan tanganku yang dia pegang kutarik ke arah kemaluanku. Setelah dekat, tanganku yang satunya dengan cepat kurangkulkan ke pinggangnya dan menariknya ke atas tubuhku. Dia kaget sekali, hampir dia berontak, tetapi selanjutnya dia justru memegang batang kejantananku dan mulai mengocok-ngocok dengan lembut. Aku pun lalu mengimbanginya, kuubah posisiku agar lebih enak dengan bersandar ke belakang, ke sandaran sofa. Dia menoleh ke arahku, terlihat wajahnya yang khas ABG, mengingatkanku kepada cewek-cewek yang suka nongkrong di mall-mall. Posisi tubuh kami akhirnya saling berhadapan, dia menggesekkan tubuhnya naik turun. Payudaranya ditempelkan ke dadaku. Nafasnya terdengar keras, khas orang yang sedang terangsang berat, "Sshhsshhsshhss.." seperti itu deh kalau tidak salah.

T-shirtnya yang gombrong mulai basah terkena keringatnya, memang malam itu udara terasa sangat panas, aku sendiri juga merasa kepanasan. Aku peluk dia, tanganku kutelusupkan ke dalam t-shirtnya dari belakang, sedangkan bibirku tidak tinggal diam begitu saja, kucium belakang kupingnya dengan pelan, kuhembuskan nafas secara perlahan ke daun telinganya. Terasa olehku Reni semakin menggila, terasa dari gerakan tubuhnya yang turun naik dengan cepat, digesekkannya dadanya ke dadaku, juga selangkangannya dia gesek-gesekkan ke kemaluanku dengan bernafsu. Tanganku yang berada di punggungnya, akhirnya kugeser ke pantatnya, dari atas punggung kugerakkan ke bawah, masuk ke celananya sebelum sampai ke pantat. Kuputar ke samping dengan agak cepat, lalu kuteruskan ke pinggang mencari celana dalamnya, kuraba dari luar celana dalamnya, pantatnya yang empuk kuremas dengan gemas. Aku menyesuaikan dengan irama gerakannya yang maju mundur. Kontan dia makin menggila, tangannya naik ke atas, rambutnya menyuguhkan gerakan yang erotis sekali. Dia berusaha menanggalkan t-shirtnya.

Setelah t-shirtnya lepas, dia pegang kepalaku, menariknya ke arahnya dan melumat bibirku dengan sangat bernafsu. Reni tidak memakai BH, payudaranya yang berukuran lumayan besar terlihat mengkilat karena basah oleh keringat. Aku menjilat-jilat payudaranya, kukulum putingnya yang kecil dan tidak begitu menonjol.
Dia berteriak pelan, "Mas..!"
Aku lalu berpindah ke bibirnya yang mungil, kulumat dengan bernafsu bibirnya itu. Dia mendesah keenakan, akhirnya dia tidak tahan lagi.
"Ayo Mas, kayak yang di VCD itu lho Mas.." pintanya.
Kujawab, "Yang gimana Ren..?"
"Cepetan dong Mas.. Reni udah ngga tahan nih.."
"Emang Reni udah pernah..?"
"Belum Mas.. makanya Reni pengen coba, cepetan dong Mas.."

Kami lalu berdiri berhadapan, aku melepas pakaian yang melekat di tubuhku, dia begitu juga melepas semua pakaian di tubuhnya. Dengan bernafsu dia pegang batang kemaluanku untuk dikocok-kocok, sensasinya, wuah! Tidak tergambarkan. Dipegang oleh anak baru umur 18 tahun! Lalu sebentar kemudian, dia melepas batang kemaluanku dan membalikkan tubuhnya, berpegangan pada lemari buku. Posisinya sekarang agak menungging membelakangiku, pantatnya yang belum begitu besar terlihat kenyal. Dari belakang, aku melihat kemaluannya sudah merekah, ada daging yang keluar dari kemaluannya, entah apa itu namanya. Mungkin itu kli yang dinamakan clitoris. Tetapi pemandangan itu menjadikan batang kejantananku menjadi berdenyut-denyut ingin merasakannya.

Kudekati dia, kugesek-gesekkan kepala senjataku ke daging yang menyembul keluar itu. Tangan Reni dengan tergesa-gesa menarik batang kejantananku untuk segera dimasukkan ke dalam liang kemaluannya. Terasa agak sulit untuk memasukinya, kutusukkan dengan keras karena aku sudah sangat bernafsu. Aku melihat ke arah wajahnya. Pandangannya ternyata ke arah layar televisi, sambil sesekali bibirnya mengeluarkan desahan-desahan merangsang.
"Gila!" pikirku, "Dia ternyata maniak sama VCD porno."
Aku tingkatkan kecepatanku dalam menggoyang. Lama-lama aku merasa pinggangku capek, dan aku coba mengarahkan dia untuk mengganti posisi classic, aku tiduran dan dia yang di atasku. Dia menurut. Sambil memegang pantatnya, aku tiduran dan menikmati goyangannya. Badannya terlihat mungil bila dibandingkan dengan tubuhku, suara desahannya terdengar melengking lirih di telingaku.

Pada puncak kenikmatannya, dia melengkungkan tubuhnya ke belakang, tangannya menahan berat badan tubuhnya dengan gemetar. Rasa hangat yang terasa oleh batang kejantananku menjadi bertambah seiring dengan tercapainya puncak kenikmatannya. Sedangkan aku sendiri belum merasakan puncak. Reni merangkulku dengan lemas. Setelah itu, dia berbisik ke kupingku.
"Makasih ya Mas, Mas telah memberi Reni melebihi dari Mbak Ana.."
"Jreng! Terkuaklah kebenaran peristiwa siang tadi, ternyata memang benar. Reni telah melihatku bermesraan dengan kakaknya." daliam hatiku.
"Loh, jadi tadi Reni ngelihat Mas padi gituan sama Mbak Ana to?"
"Heeh Mas.. Reni kepingin, lagian Reni sering ngeliat di VCD. Kayaknya enak banget deh Mas.. dan ternyata memang bener."
"Oke deh, tapi Mas Padi belom sampai puncak nih.. gimana dong? Kan kasihan Reni udah capek."

"Begini aja Mas.. dari tadi siang emang Reni udah merencanakan ini, gini rencana Reni, tadi waktu Reni ngeliat Mas sama Mbak Ana gituan, sebenarnya Reni mo ngambil Dompet Mama yang ketinggalan. Trus Reni punya rencana, Reni beli CTM (obat tidur) buat dikasih ke minuman Mama ama Mbak Ana, nah.. tadi Mbak Ana sama Mama udah minum obatnya (dicampur sama teh) masing-masing 3 butir.. hehehe."
"Terus gimana dong?" sahutku.
"Sekarang Mbak Ana kan pasti pules banget tidurnya, diapa-apain pasti ngga bangun deh. Kan tempat tidur sebelahnya lagi kosong.."
"Heh!" aku spontan tahu apa yang dimaksudkannya, "Sip deh! Oke Ren! Sekarang kita pindah aja ke kamarmu.."
"Ayo..!"

Kemudian kami berdua berdiri dan menuju ke arah kamar Ana. Memang benar Ana tertidur lelap. Hanya iseng saja, aku membuka dasternya dan menyentuh kewanitaannya Ana dan memasukkan jari telunjuk dan tengah. Ternyata memang tidak bangun! Hanya saja dia mengeluarkan sedikit lenguhan-lenguhan nikmat yang dia rasakan. Kemudian aku mulai memainkan vaginanya sampai basah. Tetap saja Ana tidak bangun sama sekali.
"Mas, udah dong. Kok malah Mbak Ana yang dimaenin. Giliran Reni doong.." keluh Reni karena sudah terbalut nafsu yang tinggi.
Padahal tadi sudah puas. Lagipula aku juga sudah bernafsu karena tadi dalam permainan pertama belum selesai.

Kemudian aku melepaskan jilatan pada vagina Ana dan berpaling ke Reni ysng sudah mulai memuncak nafsunya. Kemudian aku mulai naik ke atas ranjang dan menidurkan Reni. Secara intense, kami pun mulai pagutan. Tetapi ketika kami berciuman, beda sekali dengan yang pertama. Seperti disirap, kucium pipinya, mulutnya, berhenti lama di situ. Mulut kami berpagut seperti memecah ribuan rindu. Lidah kami bermain di sana. Tidak lama kemudian, kuturunkan lidahku ke arah lehernya, dia menggelinjang, matanya terpejam, tangannya bergidik seperti menahan gelombang perasaannya sendiri. Ketika putingnya kuraba, dia mulai melenguh. Dengan gerakan halus, aku mulai meremas-remas sehingga Reni merasa keenakan. Sementara bibirku sudah beralih, tidak lagi di bibirnya tetapi sudah menjilati telinga, dan lehernya.

Karena buah dadanya sudah terbuka, mulutku pun bergeser ke puting susunya yang sudah menegang. Ketika kumainkan dengan lidahku, lenguhannya semakin panjang. Tangan kananku pindah ke arah vaginanya dan mulai meremasnya. Sambil memainkan klitorisnya, aku terus menjilati kedua payudaranya. Ketika aku merasakan kemaluannya sudah sangat basah, aku mulai bernafsu untuk melakukan foreplay yang lebih lama. Tidak lama kemudian, mulutku menjilat ke arah perut, pinggang dan sasaran terakhir adalah klitorisnya yang merah. Karena tidak tahan, Reni berontak dan ingin merubah posisi.
"Ren, duduk di depan mukaku.." pintaku sambil menolongnya berpindah posisi.
Dia pun kemudian duduk dan menempatkan liang kenikmatannya tepat di wajahku. Lidah dan mulutku kembali memberikan kenikmatan baginya. Responnya mengejutnya.
"Aughh.." setengah berteriak dan kedua tangannya meremas buah dadanya. Kuhisap dan kujilati terus, semakin basah liang kenikmatannya.

Tiba-tiba Reni berteriak, keras sekali, "Aahh.. ahh," matanya terpejam dan pinggulnya bergerak-gerak di wajahku.
"Aku.. keluar," sambil terus menggoyangkan pinggulnya dan tubuhnya seperti tersentak-sentak.
Mungkin inilah orgasme wanita yang paling jelas kulihat. Dan tiba-tiba, keluar cairan membanjir dari liang kenikmatannya. Ini bisa kurasakan dengan jelas, karena mulutku masih menciumi dan menjilatinya.

"Aduh.. Mass.. enak banget. Lemes deh." katanya. Dia terkulai menindihku.
"Enak?", tanyaku.
"Enak banget, kamu pinter yah. Ngga pernah lho aku klimaks kayak tadi."
"Akh, yang bener..? Kamu kan tadi udah ngerasain." kataku mengingatkan pada permainan pertama kami."
"Tapi, uuhh.. lebih enak yang ini.."
Ternyata Reni masih menikmati sisa-sisa klimaksnya. Tetapi karena belum puas, langsung saja kujilat kembali liang kemaluannya. Semakin lama semakin asyik dan sangat enak, dan dia pun merintih-rintih kecil.
"Mass.. nakal ahh.. kok.. akkhh.. dimaenin lagi.. ouuchh.. siich.. uwuuhh oo.. sstt akhs.. akhs.. akhs.. oohh aahh.. sstth," sambil tubuhnya agak bergerak tidak karuan, mungkin jilatanku tidak seberapa tetapi kulihat dia sedang keasyikan menikmati jilatanku.

Lalu dia berdiri dan menarik tubuhku ke lantai. Di situ kami berciuman lagi, entah kenapa aku merasakan sesuatu yang hangat di sekitar liang kemaluannya, kuingin batang kemaluanku dimasukkannya ke lubang kemaluannya. Soalnya aku masih ragu. Walaupun tadi sih berani. Tetapi takut si Ana bangun. Kemudian aku memberanikan untuk bicara.
"Ren, aku masukin lagi yaa.. Tadi kan belum puass.."
Reni tidak menjawab. Dia hanya merintih keenakan. Karena malas bermain sambil berdiri, aku mendorong Reni hingga tertindih oleh badanku. Reni mengerang keras karena vagina tertindih oleh adikku yang sudah menegang tinggi. Kemudian mulai lagi kugerakkan tanganku mencakar halus pinggangnya sampai ke payudaranya. Reni meremas kedua tanganku, menahan geli yang ditimbulkannya.

"Ssshh.. sshh!" Reni mendesis berkali-kali menahan kenikmatan itu.
Kembali aku memainkan klitorisnya dengan tanganku, sementara kujilati kedua pahanya.
"Aaahh.. sshh," Reni mengerang lirih.
Aku menikmati aroma kewanitaannya yang semerbak bersamaan keluarnya cairan dari liang kemaluannya. Kubenamkan wajahku ke liang kemaluannya sambil menjilati bibir kemaluannya. Klitorisnya yang berwarna merah jambu kukulum sambil kumainkan dengan lidahku. Tubuh Reni menggelinjang bergetar.
"Uuuhffss.. aahh!" Reni menjerit menahan kenikmatan sambil tangannya menggenggam tepi ranjang.
Kurasakan cairan kemaluannya deras mengalir dan kuhisap dengan penuh kepuasan.

"Mass.. masukin sekarang.. aku ngga tahan nih.." Reni lirih memohonku untuk segera memasuki tubuhnya.
Aku segera menempatkan tubuhku di atas tubuhnya yang ramping, seksi serta kencang itu. Berdesir darahku melihat Reni terbaring polos telanjang. Ini bukan kesekian kalinya aku mengaguminya. Badan Reni kurus tetapi kencang dan atletis seperti pelari sprinter tetapi untungnya tidak sampai berotot.
"Maass.. cepat doong.. aakkhh.. ngga tahan nih.."
"Ok, tenang aja.."

Sejenak sempat kudengar Reni mendesis saat meraih kemaluanku.
"Uuu.. besar dan kuat.." ujarnya setengah berbisik seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Begitu ujung kepala batang kejantananku menempel di bibir kewanitaannya, kurasakan getaran listrik yang mulai menjalar di seluruh tubuhku. Lalu perlahan kudorongkan ke dalam liang kemaluannya.
"Uuhhss.. yess, Mass.. uuffssh," Reni mengerang sambil mendongakkan kepalanya.
Dengan satu dorongan berikutnya, batang kemaluanku sudah masuk secara penuh ke dalam liang kenikmatan Reni yang hangat dan tebal. Reni mengalungkan kedua tangannya di leherku dan kedua kakinya melingkar di pinggangku.

Aku mulai gerakan memompa liang kemaluannya.
"Yess.. uff Maas.." Reni menjerit halus sambil memejamkan matanya.
Gerakanku semakin lama semakin cepat dengan tekanan yang semakin kuat menerobos kedalaman liang kemaluan Reni yang merespon dengan berdenyut-denyut seperti memijit batang kemaluanku.
Tiba-tiba Reni membuka matanya dan berbisik lirih, "Mas ganti posisi.. aku mau nih keluar nih.."
Kami segera ganti posisi, badan Reni membalik dalam posisi menungging (doggy style). Katanya dia biasa orgasme dalam posisi ini.

Aku menuruti permintaan Reni yang jelas dalam posisi ini aku jadi bisa melihat postur Reni lebih lengkap. Biarpun Reni ramping, tetapi dia memiliki pantat yang padat dan berisi sehingga dengan pinggangnya yang ramping makin membuat pantatnya montok. Aku segera mengarahkan batang kemaluanku kembali, kali ini penetrasi dari belakang.
"Srrt.." makin lancar penetrasiku kali ini soalnya bagian luar liang kemaluan Reni makin basah.
Reni menggenggam pegangan ranjang degan kedua tangannya. Aku menciumi lehernya dari belakang sambil kadang-kadang menggigit pundaknya. Ternyata Reni sangat aktif dalam posisi ini. Dia semakin aktif bergerak, selain mengikuti gerakan maju mundurku, pinggulnya pun bergoyang mengocok batang kemaluanku.

"Reni.. pinggul kamu hebat banget," aku berbisik terengah-engah.
Reni menjawabnya dengan erangan-erangan, dia menoleh kepadaku sambil menggigit bibir bawahnya. Terlihat peluh membasahi wajahnya yang makin memerah.
Sesaat kemudian dia berbisik kepadaku, "Ouuchh.. sayang.. lebih cepat!" suaranya diikuti deru nafas yang memburu. Rupanya dia sudah semakin mendekati klimaks.
Aku pun meresponnya dengan gerakan yang lebih cepat dan keras. Kutusukkan batang kemaluanku makin dalam ke liang kemaluannya seiring perasaan klimaks yang sudah di ambang.
"Aaahh Uuuh Sssh.. teruus Mas.. ahh.." Reni menjerit sambil bergerak makin liar sampai ranjangnya berderik-derik.

Kuteruskan gerakanku dengan mengerahkan sekuat tenaga mengimbangi gerakan liar Reni.
Ana masih tidur ketika Reni tiba-tiba menjerit, "Aaah.. uuhhffsshh.. Mass.." kepalanya mendongak, tubuhnya bergetar hebat dan kurasakan semburan hangat dari liang kewanitaannya merembes sampai ke buah kemaluanku.
Aku pun melepaskan jutaan spermaku menyemprot kencang memenuhi karet kondom yang kupakai.
"Uuu.. yess.." Reni mengakhiri gelombang kenikmatan dan mengerang sambil menikmati sisa-sisa orgasmenya.
"Ouuhh.. Mass, kamu hebat sekali.. aahh.."
Mungkin bisa dibilang ini adalah permainan terbaikku dibandingkan dengan Ana. Kemudian kami pun sempat tertidur berpelukan di kamar Ana.

Jam 5 pagi Reni balik ke kamarnya dan aku pun tidur di kamarku sendiri. Pukul 10:00, aku bangun dan mempersiapkan diri untuk kembali pulang ke kotaku. Aku diantar Om ke terminal bus, aku tidak sempat pamit dengan Ana dan Reni karena mereka belum bangun. Reni kelelahan karena habis bertempur denganku sepanjang malam, sedang Ana masih terpengaruh CTM. Tante sendiri belum bangun juga. Si Reni memang gila seks. Hari itu hari Kamis, jadwalku adalah harus berobat ke dokter spesialisku. Tetapi sial, di jalan perutku terasa sakit, sepertinya diare. Aku terpaksa turun di jalan dan mencari restoran terdekat untuk buang hajat. Sampai di rumahku pukul 8 malam dan itu berarti aku tidak jadi ke dokter. Tetapi aku tetap tersenyum simpul, kalau mengingat baru saja aku mendapatkan dua perawan ting-ting.

TAMAT

Aku dan Tante Lina

Filed under: Incest

Kejadian ini terjadi sekitar 6 tahun yang lalu, waktu itu aku masih berusia 24 tahun. Aku mempunyai seorang tante bernama Lina yang umurnya waktu itu 36 tahun. Tante Lina adalah adik dari Mamaku. Tante Lina sudah menjanda selama lima tahun. Dari perkawinan dia dengan almarhum suaminya tidak di karunia anak. Tante Lina sendiri melanjutkan usaha peninggalan dari almarhum suaminya. Dia tinggal di salah satu perumahan yang tidak jauh dari rumahku. Dia tinggal dengan seorang pembantunya, Mbak Sumi. Tante Lina ini orangnya menurutku seksi sekali. Payudaranya besar bulat dengan ukuran 36C, sedangkan tingginya sekitar 175 cm dengan kaki langsing seperti peragawati dan perutnya rata soalnya dia belum punya anak. Hal ini membuatku sering ke rumahnya dan betah berlama-lama kalau sedang ada waktu.

Dan sehari-harinya aku cuma mengobrol dengan tante Lina yang seksi ini dan dia itu orangnya supel benar tidak canggung cerita-cerita denganku. Dari cerita tante Lina bisa aku tebak bahwa dia itu orangnya kesepian sekali semenjak suaminya meninggal. Maka aku berupaya menemaninya dan sekalian ingin melihat tubuhnya yang seksi. Setiap kali aku melihat tubuhnya yang seksi, aku selalu terangsang dan aku lampiaskan dengan onani sambil membayangkan tubuhnya. Kadangkala timbul pikiran kotorku ingin bersetubuh dengannya tapi aku tidak berani berbuat macam-macam terhadap dia, aku takut nanti dia akan marah dan melaporkan ke orang tuaku.

Hari demi hari keinginanku untuk bisa mendapatkan tante Lina semakin kuat saja. Kadang-kadang kupergoki tante Lina saat nabis mandi, dia hanya memakai lilitan handuk saja. Melihatnya jantungku deg-degan rasanya, ingin segera membuka handuknya dan melahap habis tubuh seksinya itu. Kadang-kadang juga dia sering memanggilku ke kamarnya untuk mengancingkan bajunya dari belakang. Benar-benar memancing gairahku.

Sampai pada hari itu tepatnya malam minggu, aku sedang malas keluar bersama teman-teman dan aku pun pergi ke rumah Tante Lina. Sesampai di rumahnya, tante Lina baru akan bersiap makan dan sedang duduk di ruang tamu sambil membaca majalah. Kami pun saling bercerita, tiba-tiba hujan turun deras sekali dan Tante Lina memintaku menginap saja di rumahnya malam ini dan memintaku memberitahu orang tuaku bahwa aku akan menginap di rumahnya berhubung hujan deras sekali.

"Di, tante mau tidur dulu ya, udah ngantuk, kamu udah ngantuk belum?", katanya sambil menguap.
"Belum tante", jawabku.
"Oh ya tante, Andi boleh pakai komputernya nggak, mau cek email bentar", tanyaku.
"Boleh, pakai aja" jawabnya lalu dia menuju ke kamarnya.

Lalu aku memakai komputer di ruang kerjanya dan mengakses situs porno. Dan terus terang tanpa sadar kukeluarkan kemaluanku yang sudah tegang sambil melihat gambar wanita setengah baya bugil. Kemudian kuelus-elus batang kemaluanku sampai tegang sekali berukuran sekitar 15 cm karena aku sudah terangsang sekali. Tanpa kusadari, tahu-tahu tante Lina masuk menyelonong begitu saja tanpa mengetuk pintu. Saking kagetnya aku tidak sempat lagi menutup batang kemaluanku yang sedang tegang itu. Tante Lina sempat terbelalak melihat batang kemaluanku yang sedang tegang hingga langsung saja dia bertanya sambil tersenyum manis.

"Hayyoo lagi ngapain kamu, Di?" tanyanya.
"Aah, nggak apa-apa tante lagi cek email" jawabku sekenanya. Tapi tante Lina sepertinya sadar kalau aku saat itu sedang mengelus-elus batang kemaluanku.
"Ada apa sih tante?" tanyaku.
"Aah nggak, tante cuma pengen ajak kamu temenin tante nonton di kamar" jawabnya.
"Oh ya sudah, nanti saya nyusul ya tante" jawabku.
"Tapi jangan lama-lama yah" kata Tante Lina lagi.

Setelah itu aku berupaya meredam ketegangan batang kemaluanku, lalu aku beranjak menuju ke kamar tante dan menemani tante Lina nonton film horor yang kebetulan juga banyak mengumbar adegan-adegan syur.

Melihat film itu langsung saja aku menjadi salah tingkah, soalnya batang kemaluanku langsung saja bangkit lagi. Malah Tante Lina sudah memakai baju tidur yang tipis dan gilanya dia tidak memakai bra karena aku bisa melihat puting susunya yang agak mancung ke depan. Gairahku memuncak melihat pemandangan seperti itu, tapi apa boleh buat aku tidak berani berbuat macam-macam. Batang kemaluanku semakin tegang saja sehingga aku terpaksa bergerak-gerak sedikit guna membetulkan posisinya yang miring. Melihat gerakan-gerakan itu tante Lina rupanya langsung menyadari sambil tersenyum ke arahku.

"Lagi ngapain sih kamu, Di?" tanyanya sambil tersenyum.
"Ah nggak apa-apa kok, tante" jawabku malu. Sementara itu tante Lina mendekatiku sehingga jarak kami semakin dekat di atas ranjang.
"Kamu terangsang yah, Di, lihat film ini?"
"Ah nggak tante, biasa aja" jawabku mencoba mengendalikan diri.

Bisa kulihat payudaranya yang besar menantang di sisiku, ingin rasanya kuhisap-hisap sambil kugigit putingnya. Tapi rupanya hal ini tidak dirasakan olehku saja, Tante Lina pun rupanya sudah agak terangsang sehingga dia mencoba mengambil serangan terlebih dahulu.

"Menurut kamu tante seksi nggak, Di?" tanyanya.
"Wah seksi sekali tante" kataku.
"Seksi mana sama yang di film itu?" tanyanya lagi sambil membusungkan payudaranya sehingga terlihat semakin membesar.
"Wah seksi tante dong, abis bodynya tante bagus sih" kataku.
"Ah masa sih?" tanyanya.
"Iya benar tante, swear.." kataku.

Jarak kami semakin merapat karena tante Lina terus mendekatkan tubuhnya padaku, lalu dia bertanya lagi padaku..

"Kamu mau nggak kalo diajak begituan sama tante".
"Mmaauu tante.." Ah, seperti ketiban durian runtuh, kesempatan ini tidak tentu aku sia-siakan, langsung saja aku memberanikan diri untuk mencoba mendekatkan diri pada tante Lina.
"Wahh barang kamu lumayan juga, Di" katanya.
"Ah tante bisa aja.. Tante kok kelihatannya makin lama makin seksi aja sih.. Sampe saya gemes deh ngeliatnya.." kataku.
"Ah nakal kamu yah, Di" jawabnya sambil meletakkan tangannya di atas kemaluanku.
"Waahh jangan dipegangin terus tante, ntar bisa tambah gede loh" kataku.
"Ah yang benar nih?" tanyanya.
"Iya tante.. Ehh.. Ehh aku boleh pegang itu nggak tante?" kataku sambil menunjuk ke arah payudaranya yang besar itu.
"Ah boleh aja kalo kamu mau" jawabnya.

Wah kesempatan besar, tapi aku agak sedikit takut, takut dia marah tapi tangan si tante sekarang malah sudah mengelus-elus kemaluanku sehingga aku memberanikan diri untuk mengelus payudaranya.

"Ahh.. Arghh enak Di.. Kamu nakal ya" kata tante sembari tersenyum manis ke arahku, spontan saja kulepas tanganku.
"Loh kok dilepas sih Di?" tanyanya.
"Ah takut tante marah" kataku.
"Oohh nggak lah, Di.. Kemari deh".

Tanganku digenggam tante Lina, kemudian diletakkan kembali di payudaranya sehingga aku pun semakin berani meremas-remas payudaranya.

"Aarrhh.. Sshh" rintihnya hingga semakin membuatku penasaran.

Lalu aku pun mencoba mencium tante Lina, sungguh di luar dugaanku, Tante Lina menyambut ciumanku dengan beringas. Kami pun lalu berciuman dengan nafsu sekali sambil tanganku bergerilya di payudaranya yang sekal sekali itu.

"Ahh kamu memang hebat Di.. Terusin Dii.. Malam ini kamu mesti memberikan kepuasan sama tante yah.. Arhh.. Arrhh".
"Tante, aku boleh buka baju tante nggak?" tanyaku.
"Oohh silakan Di", sambutnya.

Dengan cepat kubuka bajunya sehingga payudaranya yang besar dengan puting yang kecoklatan sudah berada di depan mataku, langsung saja aku menjilat-jilat payudaranya yang memang aku kagumi itu.

"Arrgghh.. Arrgghh.." lagi-lagi tante mengerang-erang keenakan.
"Teruuss.. Teerruuss Di.. Ahh enak sekali.."

Lama aku menjilati putingnya sehingga tanpa kusadari batang kemaluanku juga sudah mulai mengeluarkan cairan bening pelumas di atas kepalanya. Lalu sekilas kulihat tangan Tante Lina sedang mengelus-elus bagian klitorisnya sehingga tanganku pun kuarahkan ke arah bagian celananya untuk kulepaskan.

"Aahh buka saja Di.. Ahh"

Nafas Tante Lina terengah-engah menahan nafsu. Seperti kesetanan aku langsung membuka CD-nya dan lalu kuciumi. Sekarang Tante Lina sudah bugil total. Kulihat liang kemaluannya yang penuh dengan bulu. Lalu dengan pelan-pelan kumasukkan jariku untuk menerobos liang kemaluannya yang sudah basah itu.

"Arrhh.. Sshh.. Enak Di.. Enak sekali" jeritnya.

Setelah puas jariku bergerilya lalu kudekatkan mukaku ke liang kemaluannya untuk menjilati bibir kemaluannya yang licin dan mengkilap itu. Lalu dengan nafsu kujilati liang kemaluannya dengan lidahku turun naik seperti mengecat saja. Tante Lina semakin kelabakan hingga dia menggoyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sambil meremas payudaranya.

"Aah.. Sshh tante udaahh nggaakk tahaann laaggii.. Tante udaahh maauu kkeeluuaarr.. Ohh", dengan semakin cepat kujilati klitorisnya dan jariku kucobloskan ke liang kemaluannya yang semakin basah.

Beberapa saat kemudian tubuhnya bergerak dengan liar sepertinya akan orgasme. Lalu kupercepat jilatanku dan tusukan jariku sehingga dia merasa keenakkan sekali lalu dia menjerit..

"Oohh.. Aarrhh.. Tante udah keeluuaarr Dii.. Ahh" sambil menjerit kecil pantatnya digoyang-goyangkan dan lidahku masih terus menjilati bagian bibir kemaluannya sehingga cairan orgasmenya kujilati sampai habis. Kemudian tubuhnya tenang seperti lemas sekali.

"Wah ternyata kamu hebat sekali, tante sudah lama tidak merasakan kepuasan ini loh.." ujarnya sambil mencium bibirku sehingga cairan liang kemaluannya di bibirku ikut belepotan ke bibir Tante Lina. Sementara itu batang kemaluanku yang masih tegang di elus-elus oleh tante Lina dan aku pun masih memilin-milin puting tante yang sudah semakin keras itu.

"Aahh.." desahnya sambil terus mencumbu bibirku.
"Sekarang giliran tante.. Tante akan buat kamu merasakan nikmatnya tubuh tante".

Tangan tante Lina segera menggerayangi batang kemaluanku lalu digenggamnnya batang kemaluanku dengan erat sehingga agak terasa sakit tapi kudiamkan saja karena terasa enak juga diremas-remas oleh tangan tante Lina. Lalu aku juga tidak mau kalah, tanganku juga terus meremas-remas payudaranya yang indah itu. Rupanya tante Lina mulai terangsang kembali ketika tanganku meremas-remas payudaranya dengan sesekali kujilati putingnya yang sudah tegang itu, seakan-akan seperti orang kelaparan, kukulum terus puting susunya sehingga tante Lina menjadi semakin blingsatan.

"Aahh kamu suka sekali sama dada tante yah, Di?"
"Iya Tante abis tetek tante bentuknya sangat merangsang sih.. Terus besar tapi masih tetap kencang.."
"Aahh kamu memang pandai muji orang, Di.."

Sementara itu tangannya masih terus membelai batang kemaluanku yang kepalanya sudah berwarna kemerahan tetapi tidak dikocok hanya dielus-elus. Lalu tante Lina mulai menciumi dadaku terus turun ke arah selangkanganku sehingga aku pun mulai merasakan kenikmatan yang luar biasa sampai akhirnya Tante Lina berjongok di bawah ranjang dengan kepala mendekati batang kemaluanku. Sedetik kemudian dia mulai mengecup kepala batang kemaluanku yang telah mengeluarkan cairan bening pelumas dan merata tersebut ke seluruh kepala batang kemaluanku dengan lidahnya.

Aku benar-benar merasakan nikmatnya service yang diberikan oleh Tante Lina. Lalu dia mulai membuka mulutnya dan lalu memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya sambil menghisap-hisap dan menjilati seluruh bagian batang kemaluanku sehingga basah oleh ludahnya. Selang beberapa menit setelah tante melakukan hisapannya, aku mulai merasakan desiran-desiran kenikmatan menjalar di seluruh batang kemaluanku lalu kuangkat Tante Lina kemudian kudorong perlahan sehingga dia telentang di atas ranjang. Dengan penuh nafsu kuangkat kakinya sehingga dia mengangkang tepat di depanku.

"Aahh Di, ayolah masukin batang kemaluan kamu ke tante yah.. Tante udah nggak sabar mau ngerasain memek tante disodok-sodok sama batangan kamu itu".
"Iiyaa tante" kataku.

Lalu aku mulai membimbing batang kemaluanku ke arah lubang kemaluannya tapi aku tidak langsung memasukkannya tapi aku gesek-gesekan terlebih dulu ke bibir kemaluannya sehingga tante Lina lagi-lagi menjerit keenakan..

"Aahh.. Aahh.. Ayolah Di, jangan tanggung-tanggung masukiinn.."

Lalu aku mendorong masuk batang kemaluanku. Uh, agak sempit rupanya lubang kemaluannya sehingga agak sulit memasukkan batang kemaluanku yang sudah tegang sekali itu.

"Aahh.. Sshh.. Oohh pelan-pelan Di.. Teruss-teruuss.. Aahh"

Aku mulai mendorong kepala batang kemaluanku ke dalam liang kemaluan Tante Lina sehingga dia merasakan kenikmatan yang luar biasa ketika batang kemaluanku sudah masuk semuanya. Kemudian batang kemaluanku mulai kupompakan dengan perlahan tapi dengan gerakan memutar sehingga pantat Tante Lina juga ikut-ikutan bergoyang. Rasanya nikmat sekali karena goyangan pantat tante Lina menjadikan batang kemaluanku seperti dipilin-pilin oleh dinding liang kemaluannya yang seret itu dan rasanya seperti empotan ayam. Sementara itu aku terus menjilati puting dan menjilati leher yang dibasahi keringatnya. Sementara itu tangan Tante Lina mendekap pantatku keras-keras sehingga kocokan yang kuberikan semakin cepat lagi.

"Oohh.. Sshh.. Di.. Enak sekali.. Oohh.. Ohh.." mendengar rintihannya aku semakin bernafsu untuk segera menyelesaikan permainan ini.
"Aahh.. Cepat Di, tante mau keluuaarr.. Aahh"

Tubuh tante Lina kembali bergerak liar sehingga pantatnya ikut-ikutan naik. Rupanya dia kembali orgasme, bisa kurasakan cairan hangat menyiram kepala batang kemaluanku yang sedang merojok-rojok liang kemaluannya.

"Aahh.. Sshh.. Sshh", desahnya, lalu tubuhnya kembali tenang menikmati sisa-sisa orgasmenya.
"Wahh kamu memang hebaat Di.. Tante sampe keok dua kali sedangkan kamu masih tegar"
"Iiyaa tante.. Bentar lagi juga Andi keluar nih.." ujarku sambil terus menyodok liang kemaluannya yang berdenyut-denyut itu.
"Aahh enak sekali tante.. Aahh.."
"Terusin Di.. Terus.. Aahh.. Sshh" erangan tante Lina membuatku semakin kuat merojok-rojok batang kemaluanku dalam liang kemaluannya.
"Aauuhh pelan-pelan Di, aahh.. Sshh"
"Aduh tante bentar lagi aku udah mau keluar nih.." kataku.
"Aahh.. Di.. Keluarin di dalam aja yah.. Aahh.. Tante mau ngerasain.. Ahh.. Shh.. Mau rasain siraman hangat peju kamu.."
"Iiyyaa.. Tante.."

Lalu aku mengangkat kaki kanan tante sehingga posisi liang kemaluannya lebih menjepit batang kemaluanku.

"Aahh.. Oohh.. Aahh.. Sshh.. Tante, Andi mau keluar nih.. Ahh" lalu aku memeluk tante Lina sambil meremas-remas payudaranya. Sementara itu, tante Lina memelukku kuat-kuat sambil menggoyang-goyangkan pantatnya.
"Aahh tante juga mau keluar lagi aahh.. Sshh.." lalu dengan sekuat tenaga kurojok liang kemaluannya sehingga kumpulan air maniku yang sudah tertahan menyembur dengan dahsyat. Seerr.. Seerr.. Croott.. Croott..
"Aahh enak sekali tante.. Aahh.. Ahh.." Selama dua menitan aku masih menggumuli tubuh Tante Lina untuk menuntaskan semprotan maniku itu. Lalu Tante Lina menbelai-belai rambutku.
"Ah kamu ternyata seorang jagoan, Di.."

Setelah itu dia mencabut batang kemaluanku dari liang kemaluannya kemudian dimasukkan kembali ke dalam mulutnya untuk dijilati oleh lidahnya. Ah, ngilu rasanya batang kemaluanku dihisap olehnya. Dan kemudian kami berdua pun tidur saling berpelukan. Malam itu kami melakukannya sampai tiga kali.

Setelah kejadian itu kami sering melakukan hubungan seks yang kadang-kadang meniru gaya-gaya dari film porno. Hubungan kami pun berjalan selama dua tahun dan akhirnya diketahui oleh orang tuaku. Karena merasa malu, Tante Lina pun pindah ke Jakarta dan menjalankan usahanya di sana. Aku benar-benar sangat kehilangan Tante Lina dan semenjak kepindahannya, tante Lina tidak pernah menghubungiku lagi.

TAMAT

Aku Wanita penggoda 1

Filed under: Incest

Saat ini aku baru lulus SMA sedang cari tempat kuliah, tapi sudah 3 kota kujelajahi tidak satupun yang aku rasa cocok, akhirnya aku kembali ke kotaku. Sebut saja namaku Novita, saat ini usiaku 19 tahun, kata orang yang mengenalku aku dianggap sebagai wanita penggoda ini disebabkan bentuk tubuhku yang yahud dengan bodi montok dan seksi serta bibir tipis dan kulit putih bersih bak mutiara. Orang bilang aku kayak bintang sinetron, CK.

Awalnya aku dicap sebagai gadis penggoda yaitu ketika aku duduk di kelas II SMA, aku mempunyai teman akrab, sebut saja Anggie. Dia pindahan dari sekolah lain, selain sebagai siswa sekolah yang kutahu dia sebagai pelacur jika di luar lingkungan sekolah. Di sekolah hanya aku yang mengetahuinya, karena seringnya aku bergaul dengan Anggie, aku jadi sedikit ketularan gaya pelacurnya, sehingga sekolah tahu kalau aku yang menjadi pelacur. Karena Anggie-lah, aku sering menonton film porno miliknya. Jadi kalau ada seorang lelaki yang kulihat ganteng ada di sekolah pasti kuganggu dengan suitan-suitan.

Lelaki yang pertama kali kugoda adalah kepala sekolahku sendiri, sebut saja Pak Lubis. Aku dan Anggie sedang ada di lorong sekolah, 1 minggu lagi aku mau Ebtanas jadi pelajaran sudah berkurang, tapi banyak guru-guru dari sekolah lain yang meninjau sekolahku karena mereka akan jaga Ebta di sekolahku. Ada seorang guru dari sekolah lain sedang melintas di depanku dan Anggie, orangnya sih imut jadi kugoda. "Suit.. suit.. Bapak, boleh dong kenalan sama Novita.." kataku ketika dia melintas di depanku. Orang itu hanya tersenyum-senyum melihat ke arahku, tapi aku tidak tahu kalau kepala sekolahku saat itu ada di belakangku. Tiba-tiba telingaku dijewernya.

"Hayo.. kamu Novi.. ganggu orang aja yach.."
"Aduh.. sakit Pak.."
"Kamu ke kantor Bapak ya.. kamu ini.."
"Iya.. iya.. Pak.."
Dengan langkah terpaksa kuikuti kepala sekolahku ke kantornya. Pak lubis ini memang terkenal galaknya. Ketika sampai di kantornya disuruhnya duduk berhadapan terhalang meja kerjanya yang banyak sekali surat-surat di atasnya.
"Tutup pintunya.. terus kamu duduk sini.."
"Iya.. Pak.."
Kututup pintu kantor Pak Lubis lalu duduk di hadapannya.
"Nov.. kamu ini.. ganggu orang.. aja.. kamu khan seminggu lagi ujian.. apa kamu nggak mau lulus?"
"Iya.. mau Pak.."
"Iya.. kamu belajar dong.. bukannya gangguin orang terus.. kalau kamu begitu terus saya nggak bisa beri kamu lulus.."
"Iya.. jangan dong Pak.. Novi.. pingin lulus Pak.. tapi Novi punya syarat deh.."
"Syarat apa.. pakai syarat-syarat segala.."

Aku tidak mengatakan apa-apa syaratnya, aku berdiri dan berjalan ke arah pintu kantor Pak Lubis.
"Hei.. kamu mau kemana? saya belum selesai."
Pintu kantor Pak Lubis kukunci lalu aku kembali ke arahnya, tapi aku tidak duduk di kursi lagi, aku duduk di atas meja kerja Pak Lubis yang Pak Lubis sedang duduk di kursinya melongo melihat tingkah lakuku. Arsip di atas meja kusingkirkan. Aku berhadapan dengan Pak Lubis, kancing bajuku kubuka satu persatu dan bajuku kusingkapkan sehingga BH-ku warna pink dan perutku yang mulus dan putih telah terlihat oleh Pak Lubis, lalu tanganku menggapai tangan Pak lubis yang berotot, tangan itu kutuntun ke arah rok abu-abuku, lalu kusingkap rokku dan dengan bantuan tangan Pak Lubis kuraih celana dalamku warna krem lalu kutarik hingga betis, dan terpampanglah dengan jelas vaginaku dengan bulu-bulu halus di depan mata Pak Lubis.

"Pak.. inilah syaratnya.. sekarang selesaikan yang ingin Bapak selesaikan.."
Pak Lubis hanya terbengong melihat tubuhku yang sudah kubuka untuknya matanya terus menatap ke arah vaginaku. Nafasnya berubah menjadi semakin liar.
"Nov.. ka.. kamu.. hgeehh.. vaginamu bagus sekali.. harum.. lagi.. ka.. kamu.. mau.. ya.."
"Iya.. Pak.. selesaikan aja sekarang."
Tiba-tiba tangan Pak Lubis meregangkan kakiku, sehingga semakin jelas vaginaku terlihatnya. Pak Lubis setengah berdiri lalu lidahnya mulai menyapu bibir vaginaku dengan lembutnya, yang membuat diriku jadi menggelinjang karena baru pertama kali ini vaginaku dijilat seseorang, yang mana sebelumnya hal ini hanya kulihat di film porno milik Anggie, tapi sekarang aku merasakannya. Keringatku mulai keluar membasahi bajuku, perutku juga mulai basah oleh keringat.

"Aaahh.. sshh.. Pak.. ee.. enak.. sshh.."
"Nov.. kamu baru pertama kali yach.. diginiin.."
"Iy.. iyahh.. Pak.. aahh.."
Vaginaku terus dijilat oleh lidahnya dengan rakus. Pada saat biji klitorisku terjilat, aku melenguh.
"Aaahh.. aarghh.. iya.. Pak.. di situ.. Pak.. enak.. sekali.. argh.. argh.."
"Iyah.. Nov.. Bapak.. juga suka.. rasanya manis sekali.. hheehh.."

Kepala Pak lubis kupegang dan kuelus lalu kujepit dengan pahaku, rasanya aku tidak ingin kalau Pak lubis melepaskan lidahnya dari vaginaku. Dan itu yang membuat Pak Lubis makin menggila menjilati vaginaku. Lima menit setelah vaginaku mulai basah entah oleh cairan atau ludah Pak Lubis. Pak Lubis menurunkan celana panjangnya dan di balik itu batang kemaluannya yang sudah mengeras dan tegang seakan mendesak keluar dari celana dalamnya yang membuat Pak Lubis merasa tidak enak sehingga dia pun langsung melepaskan celana dalamnya dan muncullah batang kemaluannya yang agak panjang kira-kira 15 cm dengan diameter kira-kira 3 cm dan berurat menggelantung di tengah pahanya. Dipegangnya batang kemaluannya lalu ditempelkan tepat di bibir vaginaku. Rasa batang itu agak hangat menyentuh vaginaku.

"Nov.. masukkin.. sekarang yach.."
"Iya.. Pak.. punya Bapak kepalanya hangat deh.. batangnya pasti lebih hangat lagi.."
Tanganku merangkul lehernya, sedangkan tangan Pak lubis memegang kedua pantatku yang bersandar di atas meja, lalu batang kemaluannya mulai disodokkan ke vaginaku. Aku hanya bisa terpejam menahan sodokan batangnya, karena memang vaginaku belum pernah ditembus apapun sehingga batang itu meletot ke kiri dan ke kanan vaginaku.

"Nov.. vaginamu sempit sekali, kamu masih perawan yach.."
"Iya.. Pak, memang belum pernah ditusuk kok Pak.. baru pertama kali ini, coba jari Bapak dulu aja.."
Pak Lubis tersenyum seakan senang bisa membobol vaginaku untuk yang pertama kalinya. Jarinya mulai mencoba dikorek-korekkan ke vaginaku, hal ini membuatku menggelinjang. Sekitar lima menit jari itu menguak bibir vaginaku agar makin lebar. Setelah itu dicobanya lagi batang kemaluannya menusuk vaginaku, dihentaknya berkali-kali hingga baru yang kesepuluh kalinya akhirnya batang kemaluan itu masuk ke dalam vaginaku walau hanya setengah. Batang itu membuat aku terasa sesak nafas menahan hentakan di dalam vaginaku. Selama batang itu dihentak aku hanya bisa memejamkan mata menahan sakit yang sangat pada dinding vaginaku tapi ketika sudah masuk setengah rasanya berubah menjadi nikmat yang sangat luar biasa.

"Arrgghh.. arrgghh.. mmgghh.. Pak.. enak.. Pak.. terus sodoknya.."
"Iya.. Nov.. heh.. heh.. vaginamu enak sekali, rasanya batangku diperas dalam vaginamu.. heh.. heh.. oh.. ohh.. oohh.."
Tangannya mulai mengusap perutku lalu BH-ku ditariknya sehingga payudaraku yang montok nan mancung berselimut kulit yang putih mulus dihiasi puting kemerah-merahan terpampang jelas. Payudaraku diremasnya, lalu mulutnya mulai melahap payudaraku, dihisap, dikenyot dan digigit. Mulutku yang seksi dengan bibir merekah sekarang dikecup bibirnya sesekali lidahnya memainkan lidahku hingga aku makin menggelinjang.

Tidak puas dengan gaya menyodok dari depan, badanku di atas meja kerjanya diputarnya sementara batang kemaluannya masih terbenam dalam vaginaku, jadi gaya sekarang doggie style, aku berpegangan pada sisi meja kerjanya, vaginaku disodoknya dari belakang, hal ini membuatku meronta-ronta ketika batangnya berputar di dalam vaginaku.
"Aaahh.. aahh.. Pak enak sekali.."
"Nov.. enakan gaya doggie style daripada gaya yang tadi.."
Sodokan batang kemaluan Pak Lubis seakan akan merobek vaginaku, hingga hampir 25 menit kemudian tiba-tiba badanku kejang dan keluarlah cairan dari dalam vaginaku dengan derasnya membasahi batang Pak Lubis yang masih tenggelam di dalam vaginaku, saking derasnya sebagian menetes pada meja kerjanya, cairan yang banyak sekali keluar dari vaginaku membuatku lemas tak berdaya.

"Aaahh.. aarrgghh.. mmgghh.. Pak.. saya mau.. keluar.. nih.. Paakk.."
Sementara Pak Lubis makin mempercepat sodokan batangnya ke vaginaku yang becek, pantatku yang putih mulus nan montok lagi dihisap dan digigit mulutnya, dan 5 menit kemudian Pak Lubis akhirnya mencabut batangnya dari vaginaku dan langsung muncrat cairan dari dalam batangnya dengan deras membasahi pantat dan punggungku. "Argh.. argh.. argh.. Nov.. vaginamu memang enak sekali deh.. argh.. argh.. sshh.. sshh.." Terduduklah Pak lubis di kursi kerjanya dengan lemas, sementara aku masih tergeletak di atas meja kerja.

Tak lama kemudian ada suara ketukan di pintu, Pak Lubis sontak membersihkan batangnya yang masih banyak cairan dengan celana dalamnya sendiri, aku dibangunkan, vaginaku yang masih ada sisa cairan dibersihkan dengan kertas kertas arsip yang ditemukan olehnya dan menyuruhku pakai bajuku. Sisa cairanku yang tumpah di meja kerjanya dibersihkan dengan sapu tangannya. Setelah aku dan Pak Lubis telah berpakaian, dia menyuruhku keluar dari ruang kerjanya dan mempersilakan tamu yang mengetuk masuk ruangan, rupanya yang mengetuk adalah wakil kepala sekolah, Ibu Linda. Dengan langkah gontai kutinggalkan Pak Lubis dengan Bu Linda. Aku pun pulang.

Bersambung…

Aku Wanita penggoda 2

Filed under: Incest

Hampir 5 hari aku tidak masuk sekolah, karena selangkanganku rasanya sakit setelah disodok Pak Lubis untuk pertama kalinya. Aku masuk sekolah hanya untuk mengetahui lokasi ujian Ebta, yang rupanya aku mendapat lokasi di sebuah SMEA yang jauhnya 10 km dari sekolahku dan setelah masuk ujian Ebta, hanya aku yang ada di SMEA itu tidak ada temanku dari sekolah SMA-ku. Ujian Ebta berlangsung selama 5 hari, ketika hari Jum’at, hari terakhir seusai ujian di saat aku jalan menuju halte, aku dicegat oleh mobil Mercy, yang rupanya di dalamnya Pak Lubis.

"Nov.. sudah selesai ujiannya, mau saya antar?"
"Bolehlah Pak.."
Aku lalu masuk ke dalam mobil Pak Lubis dan kami pergi dari SMEA itu.
"Nov.. maaf yach kejadian di ruang kerja saya.."
"Ah.. nggak apa-apa koq Pak.."
"Terus terang sejak kejadian itu.. saya jadi kangen sama kamu.. kita tidak bertemu hampir 2 minggu. Maaf yach.. Nov.. saya pingin kehangatan dirimu lagi.. apa kamu mau melakukannya lagi..?"
"Nov.. juga kangen sama Bapak.. terserah Bapak lah saya mah ikut Bapak aja.."
"Terima kasih.. yach.. Nov.. kalau kamu bersedia."

Kulihat Pak Lubis tersenyum karena ajakannya tidak kutolak, kucium pipinya sewaktu dia menyupir. Hari itu Pak Lubis mengajakku ke Ancol, sampai di sana kami makan siang lalu sekitar jam 14.00, aku dan Pak Lubis memesan sebuah kamar di Pondok Putri Duyung, begitu masuk kamar dengan nafsu membara Pak Lubis dan aku langsung bugil, ditempelkan badanku di dinding lalu Pak Lubis langsung menyodokkan batangnya ke vaginaku dalam posisi berdiri, seakan aku digendongnya, hampir 1 jam lamanya kami melakukan dengan posisi berdiri lalu dia memindahkan tubuhku ke tempat tidur dengan posisi aku menggantungkan kakiku di sisi tempat tidur dan disodoknya sementara batangnya masih terbenam di vaginaku sejak posisi berdiri. Satu Jam kemudian ketika aku akhirnya mengeluarkan cairan dan darah dari vaginaku dengan derasnya yang membuatku lemas tak berdaya, kami ganti posisi lagi, sekarang kakiku diletakkan di pundak Pak Lubis sehingga hujaman batangnya serasa lebih masuk lagi ke vaginaku dan pada posisi yang ketiga ini kami lakukan sampai 1 jam kemudian dan Pak Lubis pun mengeluarkan cairannya di dalam vaginaku hingga aku merasakan kehangatan air maninya dalam vaginaku.

Tapi tenaga Pak Lubis sangat luar biasa, walau dia telah menyirami air mani dalam vaginaku. Pak Lubis membalikan badanku yang lemas-lemasnya untuk ganti posisi lagi dimana sekarang aku jongkok di badannya sedangkan Pak Lubis tidur terlentang. Badanku dipegangi kedua tangannya sedangkan vaginaku yang tertusuk batang kemaluannya, lalu badanku dihentakkan naik-turun, gaya posisi ini kami lakukan selama 1 jam, lalu setelah itu dia memegangi tubuhku lalu diputarnya badanku sehingga posisi kami berubah lagi, badanku membelakanginya dan dikocoknya badanku naik-turun, posisi inipun kami lakukan dalam 1 jam berikutnya hingga aku mengeluarkan cairan lagi untuk kedua kalinya hingga aku agak tak sadarkan diri karena kali ini cairanku keluar dengan darah yang agak banyak. Dalam keadaan tubuhku yang sangat lemas, batang itu masih di dalam vaginaku.

Pak Lubis merubah posisi lagi hingga ke-6 kalinya, kali ini aku nungging di tempat tidur dan dia menyodok dengan keras sekali, posisi inipun kami lakukan selama 1 jam hingga aku mengeluarkan cairan lagi yang ketiga kalinya dan Pak Lubis juga kembali mengeluarkan cairan di dalam vaginaku secara hampir bersamaan. Akhirnya setelah 6 jam vaginaku dihujam habis-habisan oleh batang Pak Lubis dengan 6 posisi pula, aku pun langsung pingsan diikuti Pak Lubis yang ambruk di tubuhku sambil memelukku.

Aku terbangun dari pingsanku ketika aku sudah tiba di depan rumahku kira-kira jam 23.00 malam. Sebelum aku turun dari mobil Pak Lubis aku mencium bibir Pak Lubis.
"Pak.. makasih ya.. Nov.. benar-benar puas deh.."
"Nov.. Bapak yang harus terima kasih karena kamu bisa memuaskan saya hampir 6 jam lamanya, kamu hebat.. Nov.. dan terima kasih kalau kamu mau menerima air mani saya.. di vaginamu.."
"Nggak.. Nov.. yang terima kasih karena Bapak memberikan air mani Bapak.. buat Nov.."
Setelah itu aku turun dari mobilnya dan Pak Lubis langsung meninggalkanku. Dengan langkah gontai aku masuk rumah dan langsung tidur. Berhari-hari aku tidak turun dari tempat tidur karena selangkanganku rasanya sakit sekali.

Pengumuman Ujian Ebta berlangsung 3 minggu kemudian, yang jatuh hari Sabtu, aku ke sekolah untuk lihat hasil ujian sekaligus untuk bertemu dengan Pak Lubis karena rasa kangenku, tapi Pak Lubis sedang rapat di kopertis. Aku pulang dari sekolah kira-kira jam 04.30 sore dengan langkah gontai aku tiba di rumah, di saat itu mamaku mau pergi dengan temannya.
"Nov.. jaga rumah ya.. Mama mau arisan, pulangnya jam 09.00, kedua adikmu juga baru pergi ke Mal."
"Iya.. Ma, jangan lupa oleh-oleh buat Nov.."
Mama pun pergi, dengan agak malas aku masuk ke dalam rumah, karena aku berharap di malam Minggu ini aku bisa bersama Pak Lubis. Setelah menutup pintu aku ke kamarku dan mandi. Selesai Mandi ketika aku sedang memandangi dan memijat-mijat kedua payudaraku karena 3 minggu tidak tersentuh oleh tangan laki-laki, tiba-tiba pintu kamarku dibuka, rupanya ayahku baru pulang dari bengkel, ayahku memang pemilik sebuah bengkel di kota Jakarta ini. "Eh.. Ayah.." aku langsung mengambil handuk untuk menutupi payudaraku. Ayah yang juga kaget lalu menutup pintu kamar dan bertanya padaku dari luar kamar.

"Mamamu sama adik-adikmu kemana..?"
"Pergi.. yah, Mama ada arisan, Adik-adik ke Mal."
"Ooohh, eh.. iya gimana kamu lulus, nggak.."
"Lulus.. Yah.."
"Ya.. sudah.. Ayah mau istirahat.."

Suara ayah lalu menghilang. Aku yang masih agak kaget atas kejadian yang baru terjadi, tiba-tiba perasaanku berubah. Ada perasaan untuk menggoda ayahku karena sudah 3 minggu aku horny, ingin sekali merasakan kehangatan laki-laki, akhirnya aku memilih baju sackdress berwarna hitam dengan hanya menggunakan celana dalam tanpa memakai BH, jadi bentuk payudaraku agak terbayang.

Aku keluar kamar dan kulihat ayah sedang nonton TV di ruang keluarga, kuhampiri ayahku, salah satu tangan ayah memegang gelas berisi kopi dan yang satunya memegang remote TV. Aku membayangi jika tangan ayah yang kekar menjamah tubuhku. Lalu aku duduk di sofa sebelah ayah. Tiba-tiba ayah mencium pipiku.
"Selamat.. ya.. Nov.. kamu ada rencana kuliah dimana..?"
"Wah.. belum.. tau Yah.. Nov.. binggung."
Ciuman ayahku membuatku agak terangsang, lalu aku menyadarkan kepalaku pada bahu ayah.
"Yah.. minumnya hanya kopi.."
"Ayah.. sudah cari yang lain.. tapi di dapur nggak ada.."
"Ayah.. mau tambah.. susu?"
"Emangnya ada.. koq Ayah.. nggak lihat.. di kulkas yach.."

Ayah lalu berusaha bangkit menuju ke arah kulkas, tapi buru-buru kucegah. Sehingga ayah duduk lagi.
"Susunya.. di sini koq.. Yah.."
"Mana..?"
Aku tidak menjawab, lalu aku bangkit dari dudukku dan berdiri tepat di depan Ayahku. Tali baju saCDress aku turunkan sampai hampir ke perut dan terpampanglah payudaraku yang mancung diselimuti kulit yang halus di depan muka ayahku. Ayahku agak terkaget melihatku.
"Nov.. ka.. kamu.. ngapain.."
Ayah terbata-bata sementara matanya tidak berpaling terus menatap payudaraku.
"Ini susunya.. Yah.. buat Ayah.."
"Ka.. ka.. kamu.. gila.. Nov.. mau godain.. Ayah.."
"Mumpung.. Mama dan adik-adik pergi.. Yah.."

Kugapai tangan ayahku yang masih terbengong lalu kutempelkan tangannya di payudaraku. Tangannya yang kekar tepat memenuhi payudaraku. Tangannya agak basah berkeringat. Tapi tiba-tiba tangan itu meremas payudaraku dengan lembut.
"Aaahh.. terus.. Yah.."
"Nov.. payudaramu indah sekali.. bening banget.. kenyal lagi.."
Ayah yang sudah terangsang mulai mencium payudaraku, dicium, dijilat, dikenyot, dihisap dan digigit putingku yang berwarna kemerahan.
"Yah.. aahh.. aahh en.. enak.. Yah.."
"Iya.. sayang.. putingmu.. manis.."
Sementara payudaraku sedang dimakan oleh mulut ayahku, tangannya mulai merambah ke pahaku, rok sackdres-ku diangkatnya lalu diraihnya celana dalamku dan ditarik ke bawah hingga kaki, otomatis vaginaku yang ranum terpampang jelas dan menyerbakkan aroma harum ke ruang keluarga.
"Nov.. bau apa ini.. harum sekali.."
"Bau vagina Nov.. Ayah.. khan.. Nov.. baru mandi."
"Waawww.. pasti rasanya.. enak.. juga.. ya.."
"Kalau Ayah mau.. mencoba.. boleh.. kok.. sodok aja sama batang.. Ayah.. yang mulai nonjol.."

Kulihat batang kemaluan ayah sudah mulai mendesak dari balik celana yang dikenakannya. Tubuhku lalu digendong ayah dan dibaringkan di sofa, lalu ayah jongkok persis di pahaku dimana vaginaku sudah terpampang dengan jelas. Dengan lembut ayah menjilati bibir vagina lidah ayah sangat lembut sehingga aku menggelinjang.
"Aahh.. aahh.. Ayah.. eennaakk.. sekali.."
Phaku kutekan sehingga kepala ayahku terjepit ini kulakukan karena aku tidak ingin ayahku melepaskan jilatan lidahnya pada vaginaku.
"Nov.. vaginamu.. segar.. sekali.. Ayah.. suka.."
Lidah ayah semakin ke dalam dan ketika klitorisku terjilat aku berontak keenakan.
"Iyah.. iyah.. itu.. Yah.. enak.. sekali.. heehh.."
"Nov.. Ayah.. juga.. suka.. rasanya manis.. deh.."

Klitorisku dijilat ayah sampai 15 menit kemudian dan akhirnya meledaklah vaginaku dengan menyemburkan cairan yang banyak sekali membasahi vaginaku dan lidah ayah, tapi dengan tangkas ayah langsung menelan cairan kental milikku sehingga sedikit sekali yang membasahi pahaku. "Aaargghh.. arrghh.. Aayaahh.. nikmat.. sekali.. aahh.. aahh.." Lemaslah tubuhku di sofa, sementara ayah mempersiapkan diri untuk menyodokku. Ayah melepaskan semua pakaiannya hingga bugil dan kulihat batang kemaluan ayah yang besar sekali melebihi punya Pak Lubis karena aku perkirakan panjangnya 20 cm dengan diameter 4 cm, aku tersenyum melihat ayahku karena aku yakin pasti aku bisa dibuat puas oleh ayahku.

Ayah berdiri di depan mukaku, batang ayah diarahkan ke mulutku, ayah menginginkan batangnya dijilat olehku. Tanganku mencoba meraih batang ayah, tetapi saking besarnya tanganku tidak bisa menggenggamnya. Lidahku kujulurkan menjilati batang ayah yang berurat, kujilat, kuhisap, kuemut dan kugigit layaknya anak kecil makan es loli. Kulirik ayah hanya merem-melek menikmatinya serbuan mulutku pada batangnya. Hampir 15 menit lamanya ketika batang ayahku basah oleh ludahku, ayah memindahkan dari mulutku dan langsung ditempelkan tepat di bibir vaginaku. Kakiku dibukanya hingga vaginaku terbuka lebar. Kedua tangan ayah memegangi telapak kakiku lalu batangnya mulai menyodok vaginaku, tapi karena batang ayah yang super gede dan tidak dipeganginya maka meletot batang ayah di luar vaginaku.

Aku Wanita penggoda 3

Filed under: Incest

Ayah lalu memegang batangnya dan tepat ditempelkan pada vaginaku dan kembali menyodokkan batangnya pada vaginaku, walaupun vaginaku pernah terbongkar oleh batangnya Pak Lubis, kepala sekolahku, dan batang ayah yang super gede maka tidak bisa sekali sodok untuk memasukkan batangnya ke vaginaku. Akhirnya setelah 15 kali ayah berusaha menyodokkan batangnya, masuklah hingga setengahnya ke dalam vaginaku. "Heekh.. heekh.. Yah.. punya Ayah.. gede.. banget.. masuknya sampe.. vagina.. Nov.. robek.. nih.. aahh.. aah.. sshh.. sshh.. terus.. yah.. terus.. e.. e.. enak.. deh.." Hantaman batang ayah yang besar di dalam vaginaku membuatku sesak nafas untuk menahannya tapi rasanya sangat nikmat. Ayah terus menghentakkan batangnya ke vaginaku dengan genjotannya secara terus menerus sampai hampir satu jam lamanya setelah keringat deras mengucur dari tubuhku dan tubuh ayah dan aku mulai kejang-kejang seakan ingin memuntahkan cairan dari vaginaku yang pada akhirnya keluarlah dengan deras cairan dari vaginaku membasahi batang ayah yang masih terdiam di dalam vagina milikku disertai eranganku.

"Aarrgghh.. aarrgghh.. Ayah.. Nov.. keluar.. nih.. Yah.. sshh.. sshh.. aagghh.. agghh.. eennaakk.. deh.. aahh.. aahh.." Lemaslah dengan lunglai tubuhku di sofa, sedang kulihat ayah belum merasakan apa-apa. Tiba-tiba ayah memegang kedua tanganku lalu mengangkat tubuhku dimana batang ayah masih tertancap di vaginaku, sehingga posisi kami sekarang ayah seakan menggendongku, tanganku memeluk leher ayah. Dengan posisi berdiri ayah menggoyangkan tubuhku, digendongannya naik-turun menggerakkan batangnya menembus vaginaku sehingga aku loncat-loncat. Aku sangat menyukai yang dilakukan ayahku karena sudah pasti rasanya batang itu lebih ke dalam lagi memasuki vaginaku. Walaupun tubuhku yang sudah lemas tapi aku berusaha mengimbangi gaya ayahku, payudaraku yang ranum, padat, kenyal sudah diserbu mulut ayah baik digigit, dikenyot, dihisap putingnya. Aku membalas dengan mengecup dahinya sambil mengelus rambutnya.

Posisi ini dilakukan ayahku selama 15 menit yang lalu mengubah posisi lagi dimana batang ayah yang masih menancap di vaginaku dan tubuhku diputar lalu diletakkanlah tubuhku kembali di atas sofa jadi posisi yang sekarang, aku menungging disodok ayah. Posisi inilah yang rupanya disenangi ayahku, karena dia merasakan bahwa batangnya lebih menyodok ke dalam lagi. "Heeh.. heeh.. heeh.. Nov.. vaginamu.. luar.. biasa.. sekali.. batang.. Ayah.. kayak.. dipelintir.. Ayah.. suka.. sekali.. heehh.. hhgghh.. hhgghh.." Selama satu jam Ayah menyodokku dengan posisi nungging dan tiba-tiba tubuh ayah mengejang dan batangnya dicabut dari vaginaku dan batangnya diarahkan ke mulutku yang tertutup dan secara otomatis langsung kubuka mulutku menyambut batang ayah yang langsung menumpahkan cairan yang banyak sekali dan hangat sehingga cairan ayah otomatis tertelan di mulutku tapi saking banyaknya cairan itu akhirnya meleleh sampai mukaku.

"Aaarghh.. argghh.. Nov.. isap.. Nov.. telan.. nih.. cairan.. Ayah.. aarghh.. arghh.. sshh.. nikmatnya.."
"Mmbbmm.. mmbmm.. ssllrupp.. ssllruupp.. ahh.. Yah.. cairan.. Ayah.. nikmat.. sekali.."
Ambruklah tubuh ayah meniban tubuhku di sofa dan kami pun tertidur. Jam 08.00 malam aku terbangun dari tidurku di saat ayah menggendong tubuhku yang bugil menuju kamarku.
"Yah.. terima kasih.. Yah.. Nov.. merasakan.. kenikmatan.. yang.. tiada tara.. tapi lain kali cairan.. Ayah.. masukin aja.. di dalam. vagina Nov.."
"Iya.. sayang.. nanti.. Ayah.. kasih.. Ayah.. juga.. terima kasih.. atas.. kenikmatan vaginamu.. sekarang kamu.. tidur.. di kamar ya.. nanti ibumu.. pulang."
Tubuhku diletakkan ayah di tempat tidurku dalam kamarku, setelah mengecupku ayah meninggalkanku yang terbaring bugil keluar kamarku dan tidak lama kemudian kudengar ayahku mandi sedangkan aku tertidur lagi.

Hubunganku dengan ayah berlanjut terutama jika ibu dan kedua adikku tidak di rumah. Kami pun sering melakukan di motel. Tapi sebaik-baiknya perbuatan, kalau yang busuk pasti terbongkar. Terbongkarnya perbuatanku dengan ayah ketika sudah hampir 1 bulan berjalan. Malam itu sekitar setengah satu ketika aku sedang tidur "ayam" di kamarku dan sudah tiga hari aku dan ayah berhubungan, ayah masuk ke kamarku untuk melakukan hubungan badan, setelah 1 jam lamanya kami berhubungan di saat posisiku sedang di atas tubuh ayah, vaginaku tertusuk batang ayah. Pintu kamar terbuka dan di luar kamar ibuku melihat apa yang kami lakukan. Rupanya ibu terbangun dan mencari ayah dan tidak mengira kalau suaminya atau ayahku sedang berhubungan dengan diriku. Ibuku langsung menjerit dan meninggalkan aku dan ayah dengan terbengong. Ibuku lari ke kamarnya sambil menangis. Kami pun langsung berdiri dan berpakaian lalu ke kamar ibuku. Malam itu ibuku marah besar kepadaku dan ayah. Aku dan ayah akhirnya tidak tidur dan hanya duduk menyesali perbuatan kami di ruang tidur.

Paginya, ibuku tidak berkata satu katapun kepadaku dan ayah. Akhirnya setelah siang permintaan maaf kami diterima oleh ibuku dengan suatu perjanjian bahwa mulai malam aku harus meninggalkan rumah untuk pergi ke Yogya dimana aku dititipkan ke adik ibuku yang paling kecil, sebut saja Bibi Nani, sedang ibu dan ayah harus pisah ranjang. Malamnya dengan perasaan berat aku meninggalkan rumah untuk ke Yogya, tapi sebenarnya yang memberatkan perasaanku bahwa aku harus berpisah dengan ayahku yang dimana tumbuh perasaan cinta terhadap ayahku sendiri.

Di kereta menuju Yogya, pikiranku hanya tercenung ke ayahku. Sampai di Yogya pada pagi harinya, Bibi Nani menjemputku di stasiun KA. Ibuku mengirimku ke Yogya dengan tujuan kalau aku bisa berubah dan kuliah di Yogya, ini disebabkan Bibi Nani adalah seorang kepala sekolah agama, beliau terpaut dengan ibuku 15 tahun, Bibi Nani usianya 30 tahun, ibuku usianya 45 tahun, sedangkan Ayah usianya 47 tahun.

Bibi Nani adalah seorang yang taat agamanya, selain sebagai kepala sekolah Aliyah, malam harinya pasti bersama-sama ibu-ibu tetangganya melakukan pengajian, inilah yang ibuku pikirkan kalau aku ikut bersama Bibi Nani, aku bisa belajar ngaji lebih banyak, tetapi pikiran ibuku sangat berbeda dengan pikiranku, makanya suami Bibi Nani, yaitu Paman Hendi tergoda juga olehku. Paman Hendi usianya 2 tahun lebih muda dari Bibi Nani, dia seorang guru olahraga di sebuah SMP Negeri di kota Jogja. Bibi dan Paman sudah dua tahun menikah tapi kehadiran seorang anak belum didapatkannya.

Satu Minggu sudah aku tinggal di Jogja, rasa kangenku atas sentuhan ayah tiba-tiba bangkit. Hari itu adalah hari Jumat, kira-kira jam 01.00 siang aku pulang dari kampus-kampus untuk mendaftar kuliah, ketika aku masuk rumah kulihat ada sarung dan sejadah di atas meja tamu, aku agak takut karena biasanya paman dan bibi baru pulang dari sekolah pada sore hari, tiba-tiba di ruang dapur ada suara lemari es terbuka. Dengan agak takut aku menuju dapur, begitu sampai di dapur rupanya Paman Hendi sedang mempersiapkan makan siang.

"Eh.. Paman.. sudah sampai.. biasanya pulang sore.. Paman..?"
"Iya.. Paman pulang agak cepat, rasanya Paman sakit perut, kamu baru pulang dari mana?"
"Nov.. muter-muter Yogya, habis cari tempat kuliah.."
"Ooohh.. Kamu sudah makan belum.. biar sekalian Paman siapkan.."
"Eh.. Paman istirahat saja.. biar Nov yang siapkan makan siangnya.."
"Kamu bisa.. kalau begitu terima kasih deh.. Paman di kamar yach.. nanti kalau sudah siap tolong bangunin Paman!"
"Baik Paman.. biar Nov.. aja.."

Paman lalu meninggalkanku di dapur menuju kamar tidurnya, aku pun ke kamarku untuk ganti baju lalu mempersiapkan makan siang. 15 menit kemudian setelah makan siang kusiapkan di atas meja makan, aku ke kamar tidur paman untuk membangunkannya. Kubuka pintu kamar tidur paman, kulihat paman sedang tidur di tempat tidurnya, paman hanya mengenakan kaus dan celana pendek. Perlahan-lahan aku dekati paman yang sedang tidur. Begitu dekat dengan paman, pandanganku terpaku pada batang kemaluan paman yang agak menonjol dari balik celana pendeknya, rasa kangenku terhadap lelaki muncul, aku lalu duduk di sebelah paman, tanganku mengusap batang kemaluannya yang ada di balik celananya dengan perlahan, karena nafsuku tiba-tiba melonjak, batang kemaluannya mulai kuremas-remas. Tiba-tiba paman terbangun.

"Hah.. kamu ngapain Nov, astaga.. kamu ini.."
"Maaf Paman, nafsu birahi saya lagi memuncak nih."
"Tapi.. kamu.. Nov.. kamu ini.. gila.."
"Tidak.. Paman.. saya tidak gila.. saya ingin Paman bisa memuaskan nafsu saya.. karena sudah 1 minggu saya tidak tersentuh lagi dari ayah.."
"Jad.. jadi.. kamu sama ayahmu..?"

Paman tidak meneruskan kata-katanya lagi selain melongo melihatku mulai melepaskan baju daster, BH sehingga celana dalamku dimana aku langsung bugil. Paman tidak berkedip melihatku yang bugil berdiri di hadapan paman. Payudaraku yang putih mancung dan vaginaku yang merekah seakan menantang pamanku. Aku lalu duduk disamping paman yang duduk terbengong di tempat tidur, tanganku mulai meremas lagi batang kemaluannya, sedangkan tanganku yang satu memegang tangannya lalu kutuntun ke arah vaginaku. Bibirnya yang tipis mulai kuciumi, Paman hanya mengikuti keinginanku saja. Paman mulai membalas ciumanku pada bibirnya, lidahnya dikeluarkan dan dipautkan dengan lidahku. Paman mulai meningkat nafsunya, tangannya terus mengorek vaginaku lebih ke dalam lagi, jarinya ditusukkan masuk ke liang vaginaku hingga menyentuh biji klitorisku.

Setelah cukup puas memainkan tangan dan jarinya di vaginaku. Paman lalu menarik celana pendeknya hingga ke dengkulnya, rupanya paman tidak mengenakan celana dalam sehingga otomatis batang kemaluannya yang sudah tegang setelah kuremas-remas kini terpampang jelas di hadapanku. Batang kemaluan paman ukurannya agak kecil dari punya ayahku, tapi urat-urat pada batangnya lebih keluar.
"Paman, batang Paman uratnya gede-gede yach, sampai menonjol, rasanya sakit nggak sih?"
"Tidak sayangku, tapi Paman yakin Novi pasti lebih puas deh selesai mencoba daripada punya ayahmu."
"Ah, Paman bisa aja nih, mana mungkin?"
"Coba aja buktikan."

Tanpa banyak bicara lagi batang kemaluan paman langsung kupegang dan mulai kuciumi perlahan-lahan. Bau khas batang paman membuatku makin bernafsu maka cepat-cepat kukulum, kujilat dan kugigit batang kemaluan paman. Aku layaknya seorang anak kecil menikmati coklat batangan, rasanya aku tidak ingin melepaskan mulutku dari batang paman. Paman mulai gelisah menggelinjang kenikmatan menikmati serbuanku pada batangnya. Kepalaku diusap-usap kedua tangannya. Hampir 30 menit lamanya batang paman kuhisap dan mulai basah oleh ludahku sendiri, sementara vaginaku mulai kembang kempis. Aku lalu berdiri di atas badan pamanku, lalu batangnya paman kuarahkan ke vaginaku, sementara tangan paman melingkari tubuhku.

Bersambung…

Aku Wanita penggoda 4

Filed under: Incest

Setelah posisi batang kemaluan paman sudah tepat di bibir vaginaku, aku menekan ke bawah sehingga tertusuklah vaginaku dengan batang paman walau hanya kepalanya saja yang baru bisa masuk. 10 kali aku memberikan hentakan dengan bantuan paman, akhirnya masuklah seluruh batang paman ke dalam vaginaku. Batang paman kerasnya luar biasa, seperti pentungan polisi menghentak liang vaginaku, kerasnya batang paman mungkin disebabkan paman sering berolahraga. Hentakan batang paman ke vaginaku dilakukan berkali-kali.
"Aaahh.. aarrgghh.. aarrghh.. sshh.. Paman.. batang Paman keras sekali.. enak.. deh.. nyodok.. vagina Nov.. rasanya vagina Nov.. melebar nich.."
"Nov.. heegh.. heeghh.. vaginamu juga.. nikmat.. sekali.. rasanya.. lebih.. nikmat.. dari punya.. Bibimu.. wah.. Ppaman jadi ketagihan nih.."

Satu jam lamanya batang paman yang keras sekali menembus vaginaku, bobol-lah pertahananku dimana vaginaku banyak sekali mengeluarkan cairan putih dan hangat membasahi batang paman yang masih tertancap dalam vaginaku. Saking banyaknya cairan yang keluar dari vaginaku hingga meleleh ke paha kami berdua. "Aaah.. aahh.. Paman.. enak sekali.. aahh hh.. arrghh.. sshh.. sshh.. Nov.. ke.. keluar.. nih.."

Lemaslah tubuhku menimpa paman yang sedang asyik melumatkan payudaraku yang putih, montok dan kenyal yang lagi dihisap-hisap oleh pamanku. Paman lalu memutarkan badanku dimana batang paman masih tertancap di vaginaku hingga sekarang posisiku sekarang duduk di atas membelakangi pamanku, kemudian tubuhku diangkat dan dijatuhkan di tempat tidurnya, jadi posisi kami sekarang aku menungging dan paman berdiri dengan dengkulnya. Batang paman yang masih menancap lalu ditekannya berkali-kali ke vaginaku, kedua tangannya memegangi pantatku sedangkan aku terbaring lemas. "Agh.. agh.. aghh.. Nov.. vaginamu.. memang enak sekali.. rasanya.. agh.. agh.. agh.. sshh.. sshh.."

Batang paman yang keras menghujam lagi ke vaginaku berkali-kali sampai kira-kira satu jam kemudian aku mengeluarkan cairan dari vaginaku untuk kedua kalinya dan paman pun mengeluarkan cairan yang banyak sekali dimana paman menumpahkannya cairan paman yang hangat di punggungku karena paman terlebih dulu menarik batangnya dari vaginaku sebelum mengeluarkan cairan. "Aaahh.. aahh.. sshh.. sshh.. Nov.. vaginamu.. luar biasa deh.. baru kali ini paman mengeluarkan cairan segini banyaknya.. lain kali lagi yach.. aahh.."

Lemaslah tubuh paman sambil memeluk tubuhku dimana batang paman yang masih keras walau mengeluarkan cairan yang banyak menyundul pantatku. Sementara aku pun sedang terbaring lemas dimana vaginaku basah oleh cairanku sendiri dan punggungku basah oleh cairan pamanku. Kami pun tertidur selama kurang lebih 1/2 jam ketika jam berdentang pukul 04.00 sore.

"Nov.. vaginamu enak sekali deh.. boleh paman coba lagi lain waktu."
"Boleh dong.. Paman.. tapi lain kali cairan Paman dibuangnya di dalam vagina Nov aja.. yach!"
"Iya.. deh.. sayang.. makasih.. ya.."
"Iya.. Paman."

Kukecup bibir pamanku lalu kutinggalkan pamanku yang terbaring bugil, aku pergi ke kamarku lalu mandi. Selesai mandi ketika aku mau makan makanan yang dari siang tadi sudah kusiapkan sementara paman juga sudah selesai dari mandi dan akan makan bersamaku. Pulanglah bibiku dari kerjanya.

"Loh.. Ayah sudah pulang?"
"Kok cepet Yah?"
"Badanku agak sakit jadi jam 2 tadi aku sudah pulang, untung keponakanmu Novi, bisa masak jadi baru sekarang aku bisa makan setelah tidur."
"Wah.. Nov.. hebat yach.. bisa masak juga, kamu pulang jam berapa dari daftar ke kampus?"
"E.. e.. jam 04.00 sore.. Bi.."

Kujawab pertanyaan bibiku sambil tersenyum ke arah pamanku yang juga tersenyum kepadaku dimana sebenarnya aku telah membohongi bibiku sendiri. Bibiku lalu meninggalkan aku dengan suaminya di meja makan untuk berganti baju. Aku lalu berbisik pada pamanku.
"Paman, ma’afin Nov yach, sudah membohongin Bibi, Paman jangan ngadu yach..!"
"Enggak.. Nov.. Paman nggak akan ngadu.. malah Paman terima kasih kamu telah berbohong pada bibimu, soalnya Paman juga takut sama Bibimu, pokoknya kejadian tadi siang jadi rahasia kita berdua.. yach?"
"Oke.. Paman!"

Hari berganti hari membuat hubunganku dengan Paman Hendi semakin intim layaknya suami istri dan tentu saja kami lakukan jika Bibi Nani tidak di rumah. Selain di rumah, kami juga sering melakukan di Parang Tritis. Hubungan kami berlangsung selama 1,5 bulan di saat aku pun sudah terdaftar jadi mahasiswi di sebuah akademi di Jogja dan mulai tercium oleh Bibi Nani. Hari itu hari Jum"at, seperti biasa Paman pulang dari sekolahan dan setelah lepas sembayang Jum’at kami pasti janjian di rumah untuk melakukan hubungan suami istri, di saat Paman sedang telanjang di atas tubuhku yang juga telanjang, Bibi Nani langsung masuk kamarnya. Dia langsung menjerit dan pingsan melihat kami. Aku dan paman pun lalu menghentikan perbuatan kami dan merasakan keheranan atas kepulangan Bibi yang lebih awal dari biasanya.

Setelah siuman Bibi Nani menyidangi aku dan suaminya, dengan perasaan menyesal dan minta maaf akhirnya kuputuskan untuk meninggalkan kota Jogja dan statusku sebagai mahasiswi untuk kembali ke Jakarta. Tetapi setelah Bibi Nani dan Ibuku bicara melalui telepon malam itu, akhirnya ibuku yang masih marah kepadaku memutuskan untuk tidak kembali ke Jakarta tapi aku disuruh ke Surabaya untuk tinggal dengan Pakde Gatot yang merupakan kakak tertua ibuku.

Pagi harinya dengan menaiki bis, kutinggalkan Jogja dengan sejuta kenangan bersama Pamanku menuju Surabaya. Siang harinya aku tiba di rumah Pakdeku di Surabaya. Pakde Gatot adalah kakak ibuku yang tertua, usianya 50 tahun. Pakde seorang pengusaha yang sangat sibuk sekali sehingga dia jarang sekali di rumah. Di rumah paling-paling dalam setahun dia hanya 1 bulan, selebihnya mengurusi bisnisnya yang banyak di luar negeri. Mungkin inilah pertimbangan ibuku aku ikut Pakde pasti tidak akan menggoda lagi, memang betul sih pendapat ibuku, tapi pada akhirnya yang tergoda bukannya Pakde tapi Ayah dari Budeku. Budeku seorang yang masih muda, usianya baru 30 tahun, dia merupakan sekretaris Pakdeku yang dinikahi oleh Pakdeku. Saking sibuknya Pakde, otomatis Bude sering ikut bisnis dengan Bude pergi ke luar negeri, Bude pun jarang di rumah.

Sudah dua bulan aku di Surabaya, di rumah Pakde yang besar dengan 6 kamar tidur. Aku tinggal beserta 3 pembantu wanita dan 2 orang penjaga malam. Sejak aku datang dari Jogja, 2 hari kemudian Pakde dan Bude pergi ke Singapura menjalankan bisnisnya dan menemani kedua sepupuku yang masih SMP di Singapura sampai 2 bulan lebih tidak kembali ke Surabaya. Rasa bosanpun timbul pada diriku, aku malas untuk mendaftarkan diri untuk kuliah. Akhirnya hari-hariku aku lewatkan hanya berenang di rumah Pakde, Nonton film dan jalan-jalan di Surabaya, sesekali kuhubungi ayahku di jakarta yang rupanya sejak aku tinggal di Jogja, ayah tidak tinggal lagi di rumah tapi tinggal di bengkel miliknya, jadi ayah dan ibuku sudah pisah rumah. Terus terang, kuhubungi ayahku untuk melepaskan rinduku atas belaian pria yang sudah 2 bulan tidak menyentuhku.

Suatu siang aku sedang berenang tiba-tiba suara pembantu rumah Pakde mengejutkanku.
"Mbak, di ruang tamu ada Tuan Iwan lagi nunggu."
"Siapa itu Mbok?"
"Tuan Iwan khan bapaknya Nyonya, Mbak Nov belum kenal yach..? Wah.. waktu Mbak belum di sini Pak Iwan sering ke sini, orangnya baik loh Mbak tapi suka ngodain pembantu di sini."
"Hush, Mbok ini nggak boleh bicara begitu!"
"Wah, Mbak ini nggak tau sih, wong 6 bulan lalu ditinggal mati sama istrinya."
"Mbok, sudahlah nanti saya adukan ke Bude loh."
"Eh, jangan Mbak, tapi hati-hati loh Mbak!"

Kulilitkan baju handuk dan kutinggalkan sang pembantu itu di kolam renang, aku menuju masuk ke dalam rumah menuju ruang tamu. Di ruang tamu kulihat orang yang bernama Iwan lagi duduk di kursi tamu, dan kuhampiri yang lagi asyik menyeruput minuman jeruk.
"Maaf, saya Novita, saya keponakannya Pakde Gatot, Bapak siapa?"
"Eh, saya Iwan, saya Bapaknya Budemu. Pada kemana mereka, apa lagi keluar negeri?"
"Oh iya Pak, Pakde dan Bude sudah dua bulan ada di Singapura."
"Oh, pasti lagi nemuin kedua cucuku yach, Ivan dan Maya."
"Oh iya betul, Pak."

Keraguanku terhadap orang ini terjawab setelah dia menyebutkan kedua sepupuku, tapi yang aku rasakan tidak enak adalah tatapan matanya yang tajam ke arahku dimana dia seakan terangsang melihat tubuhku yang basah oleh air kolam hanya terbungkus bikini dan baju handuk. Pikiranku langsung tertuju kepada perkataan pembantu tadi.

"Kamu, Nov, keponakan Gatot dari mana?"
"Saya dari Jakarta, tujuan saya mau kuliah di sini, kalau Eyang Iwan dari mana?"
"Saya dari Banyuwangi, Budemu khan asalnya sana, tapi tolong jangan panggil saya Eyang yach, panggil saja Pak Iwan, Saya biasa nginap di sini kalau ke Surabaya, yach kalau lagi kangen dengan Budemu."
"Oh, iya Pak, ya sudah silahkan Pak, nanti kamar Bapak biar disiapkan, sekarang saya mau ganti baju dulu sehabis berenang."

Kutinggalkan bapaknya budeku di ruang tamu, sementara aku berjalan menuju kamarku yang ada di lantai atas untuk ganti baju seusai berenang. Kumasuki kamar tidur lalu kulepaskan jubah mandi yang agak basah dan masuk kamar mandi. Setiap kamar tidur dilengkapi kamar mandi. Kutanggalkan bikini lalu kuputar tombol kran shower dan kubasuh badanku yang bugil dengan air. Seperti biasanya aku mandi tidak pernah kututup pintu kamar mandi yang kututup hanya pintu kamar dan kukunci, tapi mungkin aku lupa menguncinya karena aku tidak sadar kalau Pak Iwan (bapaknya budeku) mengikutiku dan sekarang ada di kamar sedang memperhatikan aku mengguyur badanku di bawah shower. Sepuluh menit sesudah aku mandi, ketika aku keluar dari kamar mandi dan akan mengambil handuk di dalam lemari untuk membasuh tubuhku tiba-tiba aku dipeluk oleh Bapak Iwan yang muncul dari balik pintu kamar mandi yang terbuka. Aku pun kaget setengah mati dan berusaha berontak untuk melepaskan dekapan Bapak Iwan.

"Nov, tubuhmu indah sekali sudah 10 menit aku menikmati tubuh bugilmu terguyur air, sekarang layanilah aku!"
"Ah, jangan paksa saya Pak, Bapak kok bisa masuk kamar saya, tolong lepaskan Pak.."
"Kamu khan sengaja tidak mengunci kamarmu khan, biar aku bisa masuk."
"Ah.. jangan.. lepaskan saya, Pak..!"
Tenagaku yang lebih kuat dari dekapan Pak Iwan akhirnya terlepas juga.
"Nov, maafin saya yach, tolong jangan kasih tau kepada budemu yach kalau saya berbuat tidak baik padamu tolong yach..!"

Pak Iwan lalu berbalik dan akan menuju keluar dari kamarku tapi kucegah karena tiba-tiba rasa kangen atas sentuhan laki-laki timbul dari diriku.
"Pak.. maafin Nov juga yach, kalau Bapak minta baik-baik pasti saya kasih kok Pak.."
"Ah, yang benar nih, kamu nggak marah dan kamu nggak akan ngadu ke Pakde dan Budemu.."
"Enggak Pak, dijamin kerahasiaannya deh, sini Pak!"

Bersambung…

Older Posts