kumpulan cerita dewasa dari berbagai sumber …

<?php wp_title('«', true, 'right'); ?> <?php bloginfo('name'); ?>





February 24, 2009

Pemerkosaan yang fantastis - 1

Filed under: PERKOSAAN

Suatu saat suamiku harus meneruskan S2nya ke luar negeri untuk tugas perusahaan. Aku mengantar kepergian suamiku sampai di bandara. Demikian sejak itu, aku harus membiasakan hidupnya dengan jadwal tugas suamiku, suatu hari menjelang sore hari, setelah menyediakan makan malam di atas meja, yang pada saat ini harus disiapkan sendiri, sebab pembantuku sedang pulang kampung, karena mendadak ada keluarga dekatnya di kampung yang sakit berat.

John, teman suamiku yang orang Italy pada waktu mereka sekolah di Inggris bersama, sedang mendapat tugas di Indonesia sementara ini tinggal dirumah. Telah hampir satu bulan John tinggal bersama kami, istrinya tetap berada di Italy. Seperti biasanya setelah selesai makan bersama, aku kembali kekamar dan karena udara diluar terasa panas aku ingin mengambil shower lalu aku mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi untuk berpancur.

Letak kamar mandi menyambung dengan kamar tidurnya. Setelah selesai mandi, aku mengeringkan tubuhku dan dengan hanya membungkus tubuhku dengan handuk mandi, aku membuka pintu kamar mandi dan masuk ke dalam kamar tidurku. Disudut seberang kamar tidur yang tidak tertutup pintunya terlihat John sedang santai dikamarnya, rupanya dia telah selesai makan dan masuk ke kamarnya untuk nonton TV memang dia lebih senang di dalam kamar yang lantainya dilapisi karpet tebal dan udaranya dingin oleh AC.

Dengan masih dililit handuk, aku duduk di depan meja rias untuk mengeringkan dan bersisir rambut. Pada saat itu John kulihat dari cerminku mendadak bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mondar mandir di dalam ruangan kamarnya, terlihat malam ini John agak gelisah, tidak seperti biasa yang selalu menutup pintu kamarnya, malam ini dia mondar mandir dan sekali-sekali matanya yang biru kecoklatan melihat ke arahku yang sedang duduk menyisir rambutku.

Melihat John seperti itu, aku bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu untuk menutup pintu kamarku, aku sempat melihat John tersenyum padaku sambil berkata, "Hai Hesty kau cantik sekali malam ini..!".
Tiba tiba John langsung berdiri melintas kamarnya, tanpa aba-aba salah satu kakinya menahan pintu kamarku lalu tangannya yang kekar mencoba menggapai pinggangku, tercium olehku bau alkohol dari mulutnya rupanya John baru saja minum whisky, "..John, sadar.. aku Hesty istri temanmu..!"

John bisa bicara dalam bahasa Indonesia, aku mencoba berbalik dan karena eratnya pegangannya di pinggangku, aku terhuyung-huyung dan aku jatuh telentang di lantai yang dilapisi karpet tebal. Kedua kakiku terpentang lebar, sehingga handuk yang tadinya menutupi bagian bawahku tersingkap, yang mengakibatkan bagian bawahku terbuka polos terlihat bagian pahaku yang putih mulus masih agak basah karena belum sempat kering dengan betul.

Rupanya minuman keras sangat mempengaruhi pikiran John yang sudah begitu lama tidak kencan dengan wanita, John dengan cepat berjalan ke arahku yang sedang telentang di lantai dan sekarang jongkok diantara kedua kakiku yang terbuka lebar itu. Dengan cepat kepalanya telah berada diantara pangkal pahaku dan tiba-tiba terasa lidahnya yang kasar dan basah itu mulai menjilati pahaku, hal ini menimbulkan perasaan yang sangat geli. Aku mencoba menarik badannya ke atas untuk menghindari serbuannya pada pahaku, akan tetapi tangannya begitu kekar tubuhnya terlihat besar dan atletis menahan tubuhku.

John menunjukan matanya yang jalang, yang membuat aku ketakutan sehingga badanku terdiam dengan kaku. Kedua matanya melotot dengan buas melihat ke arah selangkanganku, kepalanya berada diantara kedua pahaku. Jilatannya makin naik ke atas dan tiba-tiba badanku menjadi kejang ketika bibir John itu terasa menyentuh pinggir dari belahan bibir kemaluanku dari bawah terus naik ke atas dan akhirnya badanku terasa meriang ketika lidah John yang besar basah dan kasar itu menyentuh klitorisku dan menggesek dengan suatu jilatan yang panjang, yang membuat aku terasa terbang melayang-layang bagaikan layang-layang putus ditiup angin.

"..Aaarrgghh..!" tak terasa keluar keluhan panjang dari mulutku.
Tubuhku terus bergetar-getar seperti orang kena setrum dan mataku terbeliak melihat kearah lidah John yang bolak balik menyapu belahan bibir kemaluanku dan dengan tanpa kusadari kedua pahaku makin kubuka lebar, memberikan peluang yang makin besar pada lidah John bermain-main pada belahan kemaluanku. Dengan tak dapat ditahan lagi, cairan pelumas mulai membanjiri keluar dari dalam kemaluanku dan dari cairan ini makin membuat John makin giat memainkan lidahnya terus menyapu dari bawah ke atas, mulai dari permukaan lubang anusku naik terus menyapu belahan bibir vaginaku sampai pada puncaknya yaitu pada klitorisku.

Ohh.. sshh.. gilaa.. aku dibuat melayang..! dengan cepat vaginaku menjadi basah kuyup oleh cairan birahi yang keluar terus menerus dari dalam vaginaku. Sejenak aku seakan-akan lupa diri, terbawa oleh nafsu birahi yang melanda..! akan tetapi pada saat berikut aku baru sadar akan situasi yang menimpaku.
"Aduuhh benar-benar gila ini, aku terbuai oleh nafsu karena sentuhan seorang laki laki bule.. aahh.. tidak.. tidak bisa ini terjadi!", dengan cepat aku menarik tubuhku dan mencoba bergulir membalik badan untuk bisa meloloskan diri dari John.

Dengan membalik badan, sekarang aku merangkak dengan kedua tangan dan lutut dan rupanya ini suatu gerakan yang salah yang berakibat sangat sangat fatal bagiku karena dengan tiba-tiba terasa sesuatu tenaga yang besar menahan pinggangku dan ketika masih dalam keadaan merangkak itu aku menoleh kepalaku ke belakang, terlihat John dengan kedua tangannya merangkul pinggangku dan kepalanya mendekap punggungku tangannya mencoba menarik handuk yang hanya tinggal separoh melilit badanku, badannya yang berat itu menekan tubuhku.

Aku mencoba merangkak maju dan berpegang pada tepi tempat tidur untuk mencoba berdiri, akan tetapi tiba-tiba John menekan badannya yang beratnya hampir 80 Kg itu sehingga posisiku yang sudah setengah berlutut, karena beratnya badan John, akhirnya aku tersungkur ke tempat tidur dengan posisi berlutut di pinggir tempat tidur dan separuh badan tertelungkup di atas tempat tidur, di mana badan John menindih badanku. Kedua kaki John berlutut sambil bertumpu di lantai diantara kedua pahaku yang agak terkangkang dan karena posisi badanku yang tertelungkup itu, akhirnya handuk yang setengah melilit dan menutupi badanku lepas, sehingga seluruh tubuhku terbuka telanjang dengan lebar. Terdengar John mendesah melihat pinggangku yang ramping serta bongkahan pantatku yang bulat menonjol.
"..Oh..Hesty tak kusangka kau begitu sexy..!" Tubuh John makin dirapatkan ketubuhku, sehingga terasa pantatku tergesek oleh kedua pahanya yang besar dan berbulu.

Dalam usaha merenggangkan kedua kakiku, tangan John bergerak-gerak di selangkanganku dan tanpa dapat dihindari bagian bawah vaginaku tergesek-gesek oleh jari jarinya yang besar besar itu. Bagai terkena aliran listrik aku menjerit, "Ouch..! ..Joohn.. jaangaan..!"

Aku mencoba melawannya, tetapi kedua tanganku tidak dapat digerakkan karena terhimpit diantara badanku sendiri. Tiba-tiba aku merasakan ada suatu benda kenyal, bulat panas terhimpit pada belahan pantatku dan tiba-tiba aku menyadari akan bahaya yang akan menimpaku, John rupanya sudah mulai beraksi dengan menggesek-gesekan batang kemaluannya pada belahan kenyal pantatku.

"Auoohh.. John.. stopp..! pleasee.. aach..!" dengan panik aku mencoba menyuruhnya berhenti melakukan aksinya, akan tetapi seruan itu tidak dipedulikan oleh John malahan sekarang terasa gerakan-gerakan menusuk nusuk benda tersebut pada belahan bongkahanku mula-mula perlahan dan semakin lama semakin gencar saja. Aku menoleh ke kanan, ke arah kaca besar lemari yang persis berada di samping kanan tempat tidur, terlihat batang kemaluan orang asing tersebut telah tegang dan ya ampun.. besaar sekali..! dan terlihat batang kemaluannya yang merah berurat bagai sosis besar dengan ujungnya berbentuk agak bulat sedang menggesek gesek bagian pantatku. Rupanya Orang asing ini sudah sangat terangsang dan sekarang dia sedang berusaha memperkosaku. Aku benar-benar menjadi panik, bagaimana tidak.. aku akan diperkosa oleh teman suamiku yang tampak sedang kesetanan oleh nafsu birahinya.

Tanpa kusadari sodokan-sodokan batang kemaluan John semakin gencar saja, sehingga aku yang melihat melalui cermin gerakan pantat bule yang bahenol pahanya yang kekar benar-benar membuatku terpana karena gerakan tekanan-tekanan ke depan pantatnya benar-benar sangat cepat dan gencar, terasa sekarang serangan-serangan kepala batang kemaluannya tersebut mulai menimbulkan perasaan geli pada belahan pantatku dan kadang-kadang ujung batang kemaluannya menyentuh dengan cepat lubang anusku, menimbulkan perasaan geli yang amat sangat.

Terlihat kedua kakinya melangkah ke depan, sehingga sekarang kedua pahanya yang berbulu memepeti kedua pahaku dan gerakan tekanan dan cocolan-cocolan kepala batang kemaluannya mulai terarah menyentuh bibir kemaluanku, aku menjadi bertambah panik, disamping perasaan yang mulai terasa tidak menentu, karena sodokan-sodokan kepala batang kemaluan John menimbulkan perasaan geli dan mulai membangkitkan nafsu birahiku yang sama sekali aku tidak kehendaki.

Akhirnya dengan suatu gerakan dan tekanan yang cepat, John mendorong pantatnya ke depan dengan kuat, sehingga kemaluannya yang telah terjepit diantara bibir kemaluanku yang memang telah basah kuyup dan licin itu, akhirnya terdorong masuk dengan kuat dan terbenam ujung kemaluannya kedalam vaginaku, diikuti dengan jeritan panjang kepedihan yang keluar dari mulutku.

"Aduuhh..!" kepalaku tertengadah ke atas dengan mata yang melotot serta mulut yang terbuka megap-megap kehabisan udara serta kedua tangan mencengkeram dengan kuat pada kasur. Akan tetapi John, tanpa memberikan kesempatan padaku untuk berpikir dan menyadari keadaan yang sedang terjadi, dengan cepat mulai memompa batang kemaluannya dengan gerakan-gerakan yang beringas, tanpa mengenal kasihan pada istri temannya yang baru pertama kali ini menerima batang kemaluan yang sedemikian besarnya dalam vaginaku.

"Aaahh..!" tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang besar, benar-benar besar sedang mulai memaksa masuk ke dalam vaginaku, memaksa bibir vaginaku membuka sebesar-besarnya, rasanya sampai sebatas kemampuan yang bisa kutolerir. Aku menoleh ke arah cermin untuk melihat apa yang sedang memaksa masuk ke dalam vaginaku itu dan.., "Aaaduuhh.. gila.. benar-benar fantastis besarnya batang penis bule ini" keluhku, terlihat bagian pangkal belakang batang kemaluan John sepanjang kurang lebih 5 cm membengkak, membentuk seperti bonggol, dan dari bagian tersebut sedang mulai dipaksakan masuk, menekan bibir-bibir kemaluanku dan secara perlahan-lahan menerobos masuk ke dalam lubang vaginaku .

"Ooohh.. aampun.. jangan John.. aku tidak sanggup kalau engkau memaksakan benda itu masuk ke dalam vaginaku!" aku memelas tak berdaya mengharapkan John akan mengerti, akan tetapi sia-sia saja, dengan mata melotot aku melihat benda tersebut mulai menghilang ke dalam liang kemaluanku, "Hesty.. nanti kalau sudah masuk semuanya dan licin kau akan merasakan kenikmatan yang kamu belum pernah rasakan sebelumnya..!"

John mencoba menenangkanku, kepalaku tertengadah ke atas dan mataku terbalik ke belakang sehingga bagian putihnya saja yang kelihatan, dan sekujur badanku mengejang, bongkahan tersebut terus menerobos masuk ke dalam lubang vaginaku, sampai akhirnya seluruh lubang kenikmatanku dipenuhi oleh kepala, batang kemaluan dan bongkahan pada pangkal batang kemaluan bule tersebut.

Oh.. benar-benar terasa sesak dan penuh rongga vaginaku dijelali oleh keseluruhan batang kemaluan bule tsb. Dalam keadaan itu John terus melanjutkan menekan-nekan pantatnya dengan cepat, membuat badanku ikut bergerak-gerak karena belakang batang kemaluannya telah terganjal di dalam lubang kemaluanku akibat bongkahan pada pangkal batang kemaluannya yang besar itu.

Pantat John tersebut terus bergerak-gerak dengan liarnya, sambil bibirnya menciumi pundakku yang sudah tidak ditutupi handuk, terengah-engah dan mendengus-dengus, hal ini mengakibatkan batang kemaluannya dan bongkahan tersebut mengesek-gesek pada dinding-dinding vaginaku yang sudah sangat sangat kencang dan sensitif mencengkeram, yang menimbulkan perasaan geli dan nikmat yang amat sangat.. aku mulai menyadari betapa hebatnya kenikmatan yang sedang menyelubungi seluruh sudut-sudut yang paling dalam di relung tubuhku akibat sodokan-sodokan batang kemaluan bule dalam rongga vaginaku yang menjepit erat sehingga kepalaku tergeleng-geleng ke kiri dan ke kanan dengan tak terkendali dan dengan histeris pantatku kutekan ke belakang merespon perasaan nikmat yang diberikan oleh John, yang tak pernah kualami selama ini.

"Ooohh.. tidaak..!" pikirku, "Aku tak pantas mengalami ini.. aku bukan seorang maniak seks! Aku selama ini tidak pernah nyeleweng dengan siapa pun.. ta. taapii.. sekarang.. oohh seorang bule? Adduuhh! Tapii.. oohh.. enaaknya.. aghh.. akuu.. tak dapat menahan ini.. agghh.. aku tak menyadari betapa nikmaatnya.. penis besar dari seorang bule yang perkasa ini..! sshh.. aaqhh..! Ooohh.. benar juga katanya belum pernah aku merasakan begini dahsyat rasa nikmaatnyaa..!" "..Ssshh.. aachh.. apa yang harus kulakukan..??

Bersambung

Pemerkosaan yang fantastis - 2

Filed under: PERKOSAAN

Batang kemaluannya yang luar biasa besar itu dengan cepat keluar masuk melicinkan lubang kemaluanku tanpa mempedulikan betapa besar batang kemaluannya yang akan dimasukkan itu dibandingkan dengan daya tampung vaginaku. Akhirnya seluruh batang kemaluan bule itu masuk, dari setiap gerakan menyebabkan keseluruhan bibir vaginaku mengembang dan mencengkeram batangnya dan klitorisku yang sudah keluar semuanya dan mengeras ikut tertekan masuk ke dalam, di mana klitorisku terjepit dan tergesek dengan batang kemaluannya yang besar dan berurat itu, walaupun terasa penuh sesak tetapi lubang vaginaku sudah semakin licin dan lancar, "..Ooohh..mengapa aku jadi keenakan.? ini tak mungkin terjadi..!" pikirku setengah sadar.

"Aku mulai menikmati diperkosa oleh teman suamiku, bule lagi? gilaa..!" sementara perkosaan itu terus berlangsung, desiran darahku terasa mengalir semakin cepat secepat masuknya batang kemaluannya yang luar biasa besar itu, pikiran warasku perlahan-lahan menghilang kalah oleh permainan kenikmatan yang sedang diberikan oleh keperkasaan batang kemaluannya yang sedang ‘menghajar’ liang kenikmatanku, perasaanku seakan-akan terasa melayang-layang di awan-awan dan dari bagian vaginaku yang dijejali batang kemaluannya yang super besar itu terasa mengalir suatu perasaan mengelitik yang menjalar ke seluruh bagian tubuh, membuat perasaan nikmat yang terasa sangat fantastis yang belum pernah aku rasakan sedemikian dahsyat, membuat mataku terbeliak dan terputar-putar akibat pengaruh batang kemaluan John yang begitu besar dan begitu dahsyat mengaduk-aduk seluruh bagian yang sensitif di dalam vaginaku tanpa ada yang tersisa satu milipun.

Keseluruhan syaraf syaraf yang bisa menimbulkan kenikmatan dari dinding dalam vaginaku tak lolos dari sentuhan, tekanan, gesekan dan sodokan kepala dan batang kemaluan John yang benar-benar besar itu, rasanya paling tidak tiga kali besarnya dari batang kemaluan suamiku tapi seratus kali lebih nikmaat..! dan cara gerakan pantat bule perkasa ini bergerak memompakan batang kemaluannya keluar masuk ke dalam vaginaku, benar-benar fantastis sangat cepat, membuatku tak sempat mengambil nafas ataupun menyadari apa yang terjadi, hanya rasa nikmat yang menyelubungi seluruh perasaanku, pandanganku benar benar gelap membuat secara total aku tidak dapat mengendalikan diri lagi.

Akhirnya aku tidak dapat mengendalikan diriku lagi, rasa bersalah kalah oleh kenikmatan yang sedang melanda seluruh tubuhku dari perasaan yang begitu nikmat yang diberikan John padaku, dengan tidak kusadari lagi aku mulai mendesah menggumam bahkan mengerang kenikmatan, pikiranku benar benar melambung tinggi.. Tanpa malu aku mulai mengoceh merespons gelora kenikmatan yang menggulung diriku, "Ooohh.. John you’re cock is so biig.. so fuull.. so good..!! enaakk.. sekaalii..!! aaggh..! teruuss.. Fuuck mee Joohn.."

Aku benar-benar sekarang telah berubah menjadi seekor kuda binal, aku betinanya sedang ia kuda jantannya. Pemerkosaan sudah tidak ada lagi di benakku, pada saat ini yang yang kuinginkan adalah disetubuhi oleh John senikmat dan selama mungkin, suatu kenikmatan yang tak pernah kualami dengan suamiku selama ini.

"Ooohh.. yess mmhh.. puasin aku John sshh.. gaaghh..! pen.. niishh.. mu.. begitu besaar dan perkasaa..! ..aarrgghh..!" terasa cairan hangat terus keluar dari dalam vaginaku, membasahi rongga-rongga di dalam lubang kemaluanku. "Aaagghh.. oohh.. tak kusangka benar-benar nikmaat.. dientot kontol bule.." keluhku tak percaya, terasa badanku terus melayang-layang, suatu kenikmatan yang tak terlukiskan.

"Aaagghh.. Joohhn.. yess.. pushh.. and.. pull.. your big fat cock..!" gerakanku yang semakin liar itu agaknya membuat John merasa nikmat juga, disebabkan otot-otot kemaluanku berdenyut-denyut dengan kuat mengempot batang kemaluannya, mungkin pikirnya ini adalah kuda betina terhebat yang pernah dinikmatinya, hangat.. sempit dan sangat liar.

Tiba tiba ia mencabut seluruh batang kemaluannya dari lubang vaginaku dan anehnya aku merasakan suatu kehampaan yang luar biasa..! Dengan tegas ia menyuruhku merangkak keatas kasur dan memintaku merenggangkan kakiku lebar lebar serta menunggingkan pantatku tinggi tinggi, oh benar benar kacau pikiranku, sekarang aku harus melayani seluruh permintaannya dan sejujurnya aku masih menginginkan ‘pemerkosaan’ yang fantastis ini, merasakan batang kemaluan John yang besar itu menggesek seluruh alur syaraf kenikmatan yang ada diseluruh sudut lubang vaginaku yang paling dalam yang belum pernah tersentuh oleh batang kemaluan suamiku.

Sementara otakku masih berpikir keras, tubuhku dengan cepat mematuhi keinginannya tanpa kusadari aku sudah dalam posisi yang sangat merangsang menungging sambil kuangkat pantatku tinggi tinggi kakiku kubuka lebar dan yang paling menggiurkan orang bule ini adalah liang vaginaku yang menantang merekah basah pasrah diantara bongkahan pantatku lalu, kubuat gerakan erotik sedemikian rupa untuk mengundang batang kemaluannya menghidupkan kembali gairah rangsangan yang barusan kurasakan.

Rupanya John baru menyadari betapa sexynya posisi tubuh istri temannya ini yang memiliki buahdada yang ranum pinggangnya yang ramping serta bongkahan pantatnya yang bulat, dan barusan merasakan betapa nikmatnya lubang vaginanya yang hangat dan sempit mencengkeram erat batang penisnya itu, "..Ooohh Hesty tak kusangka tubuhmu begitu menggairahkan vaginamu begitu ketat begitu nikmaat..!" aah aku begitu tersanjung belum pernah kurasakan gelora birahiku begitu meletup meletup, suamiku sendiri jarang menyanjungku, entah kenapa aku ingin lebih bergairah lagi lalu kuangkat kepalaku kulemparkan rambut panjangku kebelakang dengan gerakan yang sangat erotik.

Dengan perlahan ia tujukan ‘monster cock’ nya itu keliang vaginaku, aku begitu penasaran ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana caranya ia memasukkan ‘benda’ itu kevaginaku lalu kutengok kecermin yang ada disampingku dan apa yang kulihat benar benar luar biasaa..! jantungku berdegup kencang napasku mulai tidak beraturan dan yang pasti gelora birahiku meluap deras sekaalii..! betapa tidak tubuh john yang besar kekar bulunya yang menghias didadanya sungguh pemandangan yang luar biasa sexy buatku.! belum lagi melihat batang kemaluannya yang belum pernah kulihat dengan mata kepalaku sendiri begitu besaar, kekaar dan panjaang..!

Dan sekarang akan kembali dimasukkan kedalam liang vaginaku..! Secara perlahan kulihat benda besar dan hangat itu menembus liang kenikmatanku, bibir vaginaku memekar mencengkeram batang penisnya ketat sekali..! rongga vaginaku tersumpal penuh oleh ‘big fat cock’ John.
"..Ssshh.. Aaargghh..!" Aku mendesah bagai orang kepedesan ketika batang kemaluannya mulai digeserkan keluar masuk liang kenikmatanku..! nikmatnya bukan kepalang..! belum pernah kurasakan sebegini nikmaat..! besaar.. padaat.. keraas.. panjaang..! oogghh.. entah masih banyak lagi kedahsyatan batang kemaluan John ini. Dan ketika John mulai memasukkan dan mengeluarkan secara berirama maka hilanglah seluruh kesadaranku, pikiranku terasa melayang layang diawang awang, tubuhku terasa ringan hanyut didalam arus laut kenikmatan yang maha luas. Setengah jam john memompa batang kemaluannya yang besar dengan gerakan berirama, setengah jam aku mendesah merintih dan mengerang diombang ambingkan perasaan kenikmatan yang luar biasa, tiba tiba dengan gaya "doggy style’ ini aku ingin merasakan lebih liar, aku ingin John lebih beringas lagi
"Yess.. John.. harder.. John.. faster.. aargh.. fuck me.. WILDER..!"

Giliran John yang terhipnotis oleh teriakanku, kurasakan tangannya mencengkeram erat pinggangku dengusan napasnya makin cepat bagai banteng terluka gerakan-gerakan tekanannya makin cepat saja, gerakan-gerakan yang liar dari batang penisnya yang besar itu menimbulkan perasaan ngilu dibarengi dengan perasaan nikmat yang luar biasa pada bagian dalam vaginaku, membuatku kehilangan kontrol dan menimbulkan perasaan gila dalam diriku, pantatku kugerak-gerakkan ke kiri dan ke kanan dengan liar mengimbangi gerakan sodokan John yang makin menggila cepatnya, tiba tiba pemandanganku menjadi gelap seluruh badanku bergetar..! Ada sesuatu yang ingin meletup begitu dahsyat didalam diriku.

"Ooohh.. fuck me hard..! aaduuh.. aaghh! Joohn..! I can’t hold any longerr..! terlalu eenaakk..! tuntaassin Johnn..! Aaarrghh..! I’m cummiing.. Joohn.." lenguhan panjang keluar dari mulutku dibarengi dengan glinjangan yang liar dari tubuhku ketika gelombang orgasme begitu panjaang dan dahsyaat menggulung sekujur tubuhku.

Badanku mengejang dan bergetar dengan hebat kedua kakiku kurapatkan erat sekali menjepit batang penis John seolah olah aku ingin memeras kenikmatan tetes demi tetes yang dihasilkan oleh batang kejantanannya, kepalaku tertengadah ke atas dengan mulut terbuka dan kedua tanganku mencengkeram kasur dengan kuat sedangkan kedua otot-otot pahaku mengejang dengan hebat dan kedua mataku terbeliak dengan bagian putihnya yang kelihatan sementara otot-otot dalam kemaluanku terus berdenyut-denyut dan hal ini juga menimbulkan perasaan nikmat yang luar biasa pada John karena batang kemaluannya terasa dikempot kempot oleh lobang vaginaku yang mengakibatkan sebentar lagi dia juga akan mengalami orgasme.

"..Aaarghh.. Hesty your cunt is soo tiight..! I’ve never crossed in my mind that your cunt so delicious..! aargh ..!" John mendengus dengus bagai kuda liar tubuhku dipeluk erat dari belakang, bibirnya menciumi tengkukku belakang telingaku dan tangannya meraih payudaraku, puting susuku yang sudah mengeras dan gatal lalu dipuntir puntirnya.. oohh sungguh luar biasaa..! kepalaku terasa kembali berputar putar, tiba tiba John mengerang keras.. tiba tiba kurasakan semburan hebat dilorong vaginaku cairan hangat dan kental yang menyembur keluar dari batang kejantanannya, rasanya lebih hangat dan lebih kental dan banyak dari punya suamiku, air mani John serasa dipompakan, tak henti-hentinya ke dalam lobang vaginaku, rasanya langsung ke dalam rahimku banyak sekali.

Aku dapat merasakan semburan-semburan cairan kental hangat yang kuat, tak putus-putusnya dari penisnya memompakan benihnya ke dalam kandunganku terus menerus hampir selama 1 menit, mengosongkan air maninya yang tersimpan cukup lama, karena selama ini dia tidak pernah bersetubuh dengan istrinya yang berada jauh di negaranya.

John terus menekan batang kemaluannya sehingga clitorisku ikut tertekan dan hal ini makin memberikan perasaan nikmat yang hebat, "..Aaarrgghh..!" tak kusangka, tubuhku bergetar lagi merasakan rangsangan dahsyat kembali menggulung sekujur tubuhku sampai akhirnya aku mengalami orgasme yang kedua dengan eranganku yang cukup panjaang, Tubuhku bagai layang layang putus ambruk dikasur.

Aku tertelungkup terengah engah, sisa sisa kenikmatan masih berdenyut denyut di vaginaku merembet keseluruh tubuhku. John membaringkan dirinya disampingku sambil mengelus punggungku dengan mesra. Seluruh tubuhku terasa tidak ada tenaga yang tersisa, ringan seenteng kapas pikiranku melayang jauh entah menyesali kejadian ini atau malah mensyukuri pengalaman yang luar biasa ini. Akhirnya aku tertidur dengan nyenyaknya karena letih.

Keesokan harinya aku terbangun dengan tubuh yang masih terasa lemas dan terasa tulang-tulangku seakan-akan lepas dari sendi-sendinya. Aku agak terkejut melihat sesosok tubuh tidur lelap disampingku, pikiranku menerawang mengingat kejadian tadi malam sambil menatap ke arah sosok tubuh tersebut, kupandangi tubuhnya yang telanjang kekar besar terlihat bulu bulu halus kecoklat-coklatan menghias dadanya yang bidang lalu bulu bulu tersebut turun kebawah semakin lebat dan memutari sebuah benda yang tadi malam ‘menghajar’ vaginaku, benda itu masih tertidur tetapi ukurannya bukan main.., jauh lebih besar daripada penis suamiku yang sudah tegang maksimum. Tiba tiba darahku berdesir, vaginaku terasa berdenyut, "..Oh.. apa yang terjadi pada diriku..?"

TAMAT

October 22, 2008

Aske: Bidadari yang terluka1

Filed under: PERKOSAAN

Nama saya Lia, Cecilia Lengkapnya, mungkin para pembaca sudah banyak yang familiar dengan saya melalui kisah “Aske Yang Perawan” dan “Aske Dan Pegawai Baru” cerita ini merupakan episode terakhir dari kisah perjalanan hidupku dan Aske.


Waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi saat aku terbangun dari tidurku yang lelap, aku masih enggan untuk bangkit dari tempat tidurku meskipun dering jam weker terus mengganggu telingaku.

“Uhh..!!” akhirnya aku bangkit juga dari tempat tidur, mengumpulkan tenagaku dan berjalan menuju kamar mandi. Hari ini adalah hari Sabtu, aku belum mempunyai rencana untuk menikmati Weekend ini.
“Enaknya ngapain yach hari ini” pikirku mencari ide sambil menggosok gigi, usai gosok gigi dan mencuci muka aku berjalan ke meja riasku, masih belum menemukan ide.

Kutatap wajahku dari cermin riasku.

“Lia.. Lia.. Kenapa kamu belum punya kekasih?” gumamku sambil termenung di depan cermin, kubuka kancing gaun tidurku satu persatu sampai terbuka seluruhnya, kupandangi buah dadaku sendiri yang tersembul dengan puting yang coklat kemerahan, aku memang punya kebiasaan tidak pernah memakai bra saat tidur. Kuremas dua gunung kembarku itu dengan ke dua tanganku, sambil mataku tetap memandangi cermin.

” Hmm.. Lumayan besar dan sekal” gumamku.

Buah dadaku memang berukuran lumayan besar hingga aku harus selalu mengenakan bra ukuran 36 B, aku berdiri sambil terus mengagumi diriku sendiri dari cermin riasku, aku cukup tinggi untuk ukuran wanita indonesia, sekitar 167 cm dan berat badan 45 kg, akupun memiliki kulit yang putih mulus, tubuh yang seksi dan wajah yang cantik, tapi kenapa sampai saat ini aku masih takut untuk punya pasangan hidup, harus ku akui, aku masih sangat trauma dengan kejadian pemerkosaan yang aku alami beberapa waktu yang silam.

“Huh.. Masa bodo amat” pikirku.

Cukup lama aku mematut diriku di depan cermin, kuraba perutku yang mulus dan ramping, lalu kuturunkan tanganku ke bagian selangkangan, Kuelus vaginaku yang ditumbuhi bulu bulu halus..

“Ohh..” Hasrat birahiku melonjak menjalari seluruh tubuhku, kumain mainkan dengan jariku hingga cairan kewanitaanku membasahi bibir vaginaku.

Aku sudah tidak bisa mengontrol tanganku lagi saat itu, dengan posisi masih tetap berdiri, kunaikkan sebelah kakiku ke atas meja rias, lalu aku mulai memasukan salah satu jariku ke dalam lubang kemaluanku sendiri dengan perlahan.. Sangat pelan.. Sambil tetap memandangi tubuh telanjangku dari cermin di depanku, aku mulai memaju mundurkan jariku, ku kocok di dalam lubang vaginaku dengan lembut, makin lama makin cepat dan lebih cepat lagi.. Cairan kewanitaanku makin membanjiri seluruh dinding liang vaginaku.

“Sshh.. Oughh.. Nikmat sekali..” tubuhku menggeletar hebat.
“Sshh.. Ohh..” aku mendesah panjang, mataku terpejam, merasakan getaran kenikmatan yang menjalari sekujur tubuhku, 10 menit aku melakukan masturbasi sebelum akhirnya tubuhku menegang.
“Ahh..” aku melenguh pelan saat telah mencapai orgasme, aku puas, gumamku menatap cermin.

Kubuka laci meja riasku, mencari tissue untuk menyeka keringat yang membasahi wajahku, tiba tiba selembar foto terjatuh, kuambil foto itu, aku tertegun sesaat sambil memandangi foto itu, foto saat aku dan Aske sedang merayakan ulang tahunnya di perusahaan tempat kami bekerja dulu.

“Aske.. Bagaimana hidupmu sekarang..?” tanyaku dalam hati, aku jadi teringat kejadian 8 bulan yang lalu, saat kami di perkosa dan di gagahi oleh Alex dan Paul, setelah kejadian itu Aske langsung mengundurkan diri dari perusahaan, sepertinya dia mengalami trauma berat, dia tidak mau di hubungi oleh siapapun, termasuk olehku, berkali kali aku mencoba menelepon dan mendatangi rumahnya, tapi dia selalu mengelak dan berusaha untuk tidak menemuiku, kami kehilangan komunikasi sampai dengan saat ini.

Tiba tiba aku merasa sangat kangen kepada sahabatku itu, aku meraih handphoneku dan mencoba menghubunginya, berharap Aske tidak mengganti nomor HP-nya.

“Hallo..!!” terdengar suara riang dan renyah dari ujung sana.
“Hai Aske apa kabar?” seruku gembira, karena dia belum mengganti nomor HPnya, satu jam kami mengobrol dan saling melepas kangen, akhirnya kami sepakat untuk bertemu sore hari ini di sebuah restoran di kawasan Jakarta Selatan.

Hampir jam 6 sore dan kami sudah ngobrol cukup lama saat Aske memohon aku untuk ikut dengannya menghadiri acara pesta seorang rekanan kerjanya.

“Kak Lia.. Ikut yaa.. Aske mohon please..” pinta Aske dengan gaya kekanakannya, akhirnya aku mengangguk mengiyakan.
“Ya sudahlah.. Aku juga tidak punya acara hari ini” jawabku yang langsung di sambut dengan sorak riang Aske.

Acara itu sendiri diselenggarakan di sebuah hotel berbintang di kawasan Jakarta Pusat, Aske saat itu mengenakan gaun pesta panjang warna hitam dengan motif ukiran cina, Aske terlihat makin cantik dengan gaun itu, apalagi gaun itu lumayan ketat sehingga memperlihatkan bentuk tubuhnya yang seksi, sementara akupun mengenakan gaun biru panjang tanpa lengan dengan selendang biru muda transparan yang aku lingkarkan di pundakku.

“Haii.. Gimana, sudah beres semua?” tanya Aske ke beberapa orang laki-laki yang ada di depan lobi hotel.
“Beres Bu.. Semuanya lancar” jawab seorang dari mereka.

Terus terang aku tidak mengerti dengan pembicaraan mereka, tapi pasti berkaitan dengan acara pesta, kan Aske event organizernya.. pikirku, sebelumnya Aske memang bercerita bahwa saat ini kegiatannya adalah menjadi event organizer untuk acara para konglomerat.

Kami sudah berada di dalam hall hotel tersebut, dan kami ikut hanyut dalam suasana pesta yang berkesan aristokrat, ada sekitar kurang lebih 60 orang laki laki dan perempuan yang berada di ruangan besar ini, mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing, makan, minum, ngobrol dan lain lain sambil diiringi alunan musik yang lembut, maklum, rata-rata mereka sudah berusia kurang lebih 40 tahunan.

Kusapukan pandanganku ke sekitar ruangan besar itu, sambil meminum segelas wine, Aske memang pintar mengemas acara pesta, semuanya tampak sangat mewah dan terorganisir pikirku. Lalu Aske menyempatkan diri mengenalkanku ke beberapa orang yang kebetulan lewat di depan kami.

“Selamat malam nona Aske..” tegur seorang laki-laki paruh baya.
“Eh Pak Yos.. Maaf saya datang agak telat.. Kenalkan ini teman kepercayaan saya.” jawab Aske sambil tersenyum ramah kepada laki laki itu yang ternyata adalah si empunya acara pesta tersebut.
“Lia..” ujarku mengenalkan diri sambil mengulurkan tangan.
“Kamu cantik sekali Lia..” jawab Pak Yos memujiku sambil tersenyum ramah, aku langsung mengucapkan terima kasih atas pujiannya tersebut.

Saat itu seorang laki-laki datang ke arah kami.

“Hallo, selamat malam semua, acara utamanya sudah akan di mulai, silahkan ambil tempat masing masing..” sapa orang itu sambil tersenyum.
“Ini Pak Pri.. Dia penanggung jawab acara ini”, ujar Pak Yos sambil mempersilakan kami mengikutinya.

Kami duduk di salah satu meja dan menyaksikan dan mendengarkan lagu lagu yang dinyanyikan oleh beberapa penyanyi yang cukup terkenal. Aku masih duduk sambil memegang gelas wine, kepalaku sudah terasa agak berat dan pusing akibat terlalu banyak menenggak minuman tersebut, tak lama kemudian aku pun permisi untuk ke toilet.

“Ke.. Aku ke toilet dulu yach..” ujarku sambil berdiri.
“Aske temenin deh..” jawab Aske menawarkan diri.

Aske sibuk merapikan gaunnya, sementara aku masih memperhatikan wajahku di depan cermin toilet, kepalaku terasa makin berat akibat pengaruh wine tersebut.

“Aduh.. Kayaknya aku kebanyakan minum wine nih Ke..”, ujarku setengah menyesal kepada Aske.

Kami sudah akan ke luar dari toilet saat tiba tiba muncul dua orang laki-laki dan langsung masuk ke dalam ruangan toilet, kebetulan saat itu memang hanya kami berdua yang berada di toilet tersebut.

“Eh.. Bapak-Bapak salah masuk..” ujarku bingung, karena yang masuk itu Pak Pri dan Pak Yos, sementara Aske hanya diam saja sambil tersenyum ke arah mereka.
“Tenang Lia.. Kita cuma mau mencicipi tubuh kamu yang seksi itu kok” ujar Pak Pri sambil mendekatiku dan berusaha meraih tubuhku, sementara Pak Yos mengunci pintu toilet dari dalam, seketika itu juga aku tersurut mundur berusaha mengelak dari terkaman Pak Pri. Hingga akhirnya tubuhku tertahan oleh washtafel yang berada di belakangku.

“Apa apaan ini.. Aske.. Hentikan mereka..!!” jeritku sambil berusaha mendorong tubuh Pak Pri yang saat itu sudah mendekap dan menggumuli tubuhku, sementara tangannya sibuk berusaha menyingkapkan belahan gaunku, saat itu aku memang mengenakan gaun panjang yang belahannya sampai ke pangkal pahaku. Tak lama setelah itu, Pak Yos dan Aske mendekatiku, mereka membalikan tubuhku dengan paksa hingga posisiku tengkurap di atas washtafel.

“Hentikan.. Aske.. Mau apa kalian..!!” jeritku sambil berusaha meronta dari himpitan tubuh Pak Pri yang menindihku dari atas, sementara Pak Yos memegangi kedua tanganku dengan erat sambil berusaha menciumi bibirku.
“Mmh.. Jangann.. Mmhh.. Hentikan.. Aske..!!” jeritku di sela sela mulut Pak Yos yang sedang mengulum bibirku, saat kurasakan jari Aske mulai membuka resleting gaunku, lidah Pak Yos masih bermain-main di dalam mulutku saat Aske yang di bantu Pak Pri berusaha melepaskan gaunku, mereka menariknya dengan paksa melewati kedua tanganku, sehingga gaun bagian atasku merosot hingga sebatas perut.

bersambung

Aske: Bidadari yang terluka2

Filed under: Vidio Movie, PERKOSAAN

“Bajingan kalian.. Brengsek..!!” teriakku sambil terus berontak dari himpitan ke tiga orang itu, tapi sepertinya mereka sudah tidak peduli dengan jeritanku, Aske malah sudah melepaskan braku yang tanpa tali, sehingga kini buah dadaku terbuka dan menggantung tanpa penutup apapun, aku melenguh pelan, menahan sakit saat Pak Yos mulai meremas remas buah dadaku dengan kasar, mulutnya mulai mengulum bibirku kembali sambil sesekali menggigit bibirku yang mungil, sementara Aske menjambak rambutku dan menariknya ke atas sehingga kepalaku menjadi terdongak dan tidak dapat mengelak dari mulut Pak Yos yang sedang mengulum bibirku dengan beringas.

“Jangann.. Jangann.. Lakukan itu.. Lepaskan saya.. Biadab kamu Aske..” jeritku panik saat Pak Pri mulai melolosi celana dalamku, aku berusaha menendangkan kakiku saat kurasakan celana dalamku ditarik paksa melewati lututku, betisku dan akhirnya lepas dari ke dua kakiku, kemudian Pak Pri mulai memposisikan tubuhnya tepat di belakang tubuhku, aku tidak dapat melihatnya karena posisi tubuhku masih menelungkup sementara Pak Yos memegangiku dengan erat, tapi aku bisa mendengar Pak Pri menurunkan resleting celananya, dan mulai memain-mainkan ujung kemaluannya di bibir vaginaku.

“Jangan.. Perkosa saya.. Saya mohon..” keluhku lemah sambil memejamkan mataku, aku mulai menangis saat itu, sementara Pak Yos masih saja menciumi seluruh wajah dan leherku sambil satu tangannya meremas remas buah dadaku, dia sepertinya sama sekali tidak merasa iba melihatku menangis. Aku mendengar Pak Pri mulai mendesah sambil sesekali melenguh panjang, tapi aku tidak merasakan sesuatu menyentuh bagian selangkanganku, merasa penasaran, kupaksakan kepalaku menoleh ke arah samping.

“Astaga.. Aske kamu sudah gila..!!” seruku saat kulihat Aske sedang mengoral batang penis Pak Pri sambil sesekali mengocoknya dengan tangannya yang mungil itu, Aske hanya menoleh dan tersenyum ke arahku, sepertinya dia sangat menikmati permainan itu, rambutnya yang panjang sampai tersibak saat Aske menaikturunkan kepalanya dengan cepat, mengocok kemaluan Pak Pri di dalam mulutnya, aku makin terperangah saat kulihat Aske berjongkok membelakangi tubuh Pak Pri yang duduk di atas lantai, lalu Aske menyibakkan belahan gaun hitamnya dan menyingkapkan celana dalamnya, kemudian tangannya memegang batang penis Pak Pri dan membimbingnya masuk ke dalam liang vaginannya, sementara Pak Pri memegang pinggang Aske yang saat itu sedang menurunkan tubuhnya dengan perlahan di atas pangkuan Pak Pri.

“Ahh.. Sshh..” Aske mendesah panjang saat batang penis Pak Pri amblas seluruhnya ke dalam liang kemaluannya, Aske sempat menaik turunkan tubuhnya beberapa kali, lalu tiba tiba dia berdiri dan menghampiriku.
“Kak Lia nggak perlu takut.. Enak kok..” ujar Aske sambil tertawa kecil dan membelai rambutku, ingin rasanya kutampar wajah Aske saat itu juga, tapi tanganku masih di pegangi dengan erat oleh Pak Yos.

“Jangan.. Jangan.. Dimasukin.. Sakitt..!! Hentikan..!!” jeritku saat kurasakan liang vaginaku mulai dijejali oleh batang kemaluan Pak Pri, rupanya saat itu Pak Pri sudah berada di belakangku, dia menyingkapkan gaunku dan mulai berusaha memasukkan kemaluannya ke dalam lubang vaginaku.

“Sakitt.. Lepaskan..!!” jeritku parau, aku mencoba menggerakkan pantatku ke kiri dan ke kanan saat batang kemaluannya mulai menyeruak masuk, aku berusaha mengelakkan batang penisnya dari vaginaku, tapi gerakanku tertahan karena dengan sigap Pak Pri memegang dan menahan pinggulku, sementara Aske membimbing batang penis Pak Pri dengan tangannya dan mengarahkannya masuk ke dalam liang kemaluanku.

“Arghh.. Sakitt.. Ouhh..!!” aku melenguh lemah menahan sakit saat kemaluan Pak Pri menghunjam masuk menggesek seluruh dinding liang vaginaku, dan aku kembali menjerit saat Pak Pri mendorongkan tubuhnya membuat seluruh batang penisnya tertanam di dalam lubang kemaluanku.

“Lepaskan.. Perihh..!!” gumamku lirih saat Pak Pri mulai memompa vaginaku, makin lama gerakannya semakin cepat, sehingga tubuhku pun ikut terguncang guncang mengikuti gerakan tubuh Pak Pri yang bergerak maju mundur. Aku merasakan batang penisnya seperti menggerus gerus dinding vaginaku saat kemaluannya bergerak maju mundur, sehingga menimbulkan rasa perih dan sakit di seluruh liang kemaluanku.

“Benar kan Aske bilang.. Walaupun sudah tidak perawan lagi tapi dia masih sempit kan Pak..!!” ujar Aske kepada Pak Pri, Pak Pri hanya melenguh, tidak menjawab komentar Aske.

Aku memang sudah tidak perawan lagi akibat pemerkosaan yang aku alami dulu, tapi sejak kejadian itu aku tidak pernah lagi berhubungan badan dengan siapapun, paling paling aku hanya melakukan masturbasi, sehingga vaginaku masih tetap sempit dan terasa sakit saat batang penis Pak Pri menerobos masuk ke dalam lubang kemaluanku.

Pak Pri masih terus memompa vaginaku, sementara aku hanya bisa pasrah dan menangis merasakan sakit dan perih saat kemaluanku di obrak abrik oleh batang penis Pak Pri, tubuhku sudah sangat lemah saat Pak Yos mulai melepaskan pegangan tangannya dari ke dua tanganku dan mulai menggumuli tubuh Aske, ku lihat Pak Yos sudah melepaskan gaun yang di kenakan Aske, menelanjanginya lalu meremas remas buah dadanya sambil menciumi bibir Aske, Aske pun langsung membalasnya dengan sangat bernafsu, akhirnya mereka pun bersetubuh di samping tubuhku yang sedang di perkosa oleh Pak Pri

“Keparat Aske.. Dia sengaja menyerahkanku ke orang orang biadab ini” pikirku.

Tiba tiba kudengar Pak Pri mendengus keras sambil menghentakkan pantatnya dengan keras ke arah depan sambil tangannya mencengkeram pinggangku dengan erat, aku sudah tidak dapat meronta lagi saat itu, aku hanya bisa menangis dan memejamkan mata saat Pak Pri mengeluarkan seluruh cairan spermanya di dalam lubang vaginaku, kurasakan cairan hangat menyembur, mengisi dan membanjiri liang kewanitaanku.

“Terima kasih Lia.. Rasanya nikmat sekali menggagahi kamu..” ujar Pak Pri sambil tertawa penuh kemenangan, bersamaan dengan itu kulihat Aske tiba tiba menghentikan aktivitasnya, dia melepaskan batang penis Pak Yos dari liang vaginanya dan menyuruh Pak Yos mengambil posisi di belakang tubuhku, lalu Aske mengoral dan mengocok kemaluan Pak Yos, kemudian Aske mengarahkan batang penis Pak Yos ke liang vaginaku sambil tetap mengocoknya dengan cepat sampai Pak Yos mencapai orgasme, membuat seluruh cairan spermanya menyembur keluar dan membasahi bibir kemaluanku.

Aku merasa malu dan amat terhina di perlakukan seperti itu oleh mereka, aku memandang Aske dengan perasaan sangat marah.

“Kejam sekali kamu Ke..!! Kamu sengaja mau membuat Kak Lia hamil..?” seruku geram.
“Saya memang dendam sama kamu.. Kak Lia..!! dulu.. Waktu saya di perkosa, Kak Lia tidak berusaha menolong saya” ujar Aske ketus.
“Tapi.. Aske.. Saat itu Kak Lia juga di perkosa..!!” jawabku bingung sambil berusaha berdiri, tapi tiba tiba Pak Yos menyergapku dari belakang, dia memelukku dan membalikan tubuhku sehingga posisiku menjadi terlentang menghadap tubuhnya.

Pak Yos dengan sigap langsung menindihku sambil tangannya berusaha memasukan batang penisnya ke dalam liang vaginaku yang telah basah oleh cairan sperma Pak Pri dan spermanya.

“Jangann..!!” jeritku, saat liang kemaluanku kembali di terobos dengan paksa..

Sementara itu Aske tampak tertawa puas melihat aku kembali di perkosa oleh mereka, sudah beberapa kali Pak Pri dan Pak Yos bergantian menggarap tubuhku, sampai akhirnya mereka puas dan meninggalkanku sambil tertawa penuh kemenangan karena berhasil mengerjai tubuhku, Aske sempat melirik dan tersenyum ke arahku sebelum akhirnya dia pun ke luar mengikuti kedua orang itu.

Aku masih tergolek lemas di atas washtafel toilet, seluruh tubuhku terasa pegal dan sakit, tapi aku tetap mencoba untuk berdiri walaupun rasa perih dan ngilu masih mendera di sekitar selangkanganku, kuraih braku yang teronggok di samping washtafel dan mengenakannya sambil membetulkan gaun bagian atasku yang tadi dilolosi oleh mereka.

Aku telah membersihkan cairan sperma Pak Pri dan Pak Yos yang melekat di sekitar selangkanganku, lalu mengenakan celana dalamku kembali saat tiba tiba seorang office boy masuk dan kemudian memaksaku untuk melayani nafsu bejatnya, aku sudah tidak punya kekuatan lagi untuk menolaknya, aku hanya bisa diam dan pasrah saat office boy itu menghunjamkan batang penisnya dan mulai memompa liang vaginaku dengan kasar.

Hari itu aku di perkosa oleh tiga orang termasuk oleh office boy itu yang ternyata mengaku kalau dia di suruh oleh mereka.

Semua perlakuan keji itu memang telah di rencanakan oleh Aske, tapi aku masih tidak mengerti kenapa Aske tega menjebakku seperti itu, dan tentu saja aku sangat tidak terima dengan semua perbuatannya.

Itulah mengapa saat kutulis cerita ini, aku menggunakan nama email “Aske Pecun”. Suatu saat nanti, akan kubalas semua perbuatannya terhadapku..!

Kegilaan dilift Kampus 1

Filed under: PERKOSAAN

Pengalamanku yang satu ini terjadi ketika masih kuliah semester empat, kira-kira empat tahun yang lalu. Waktu itu aku harus mengambil sebuah mata kuliah umum yang belum kuambil, yaitu kewiraan. Kebetulan waktu itu aku kebagian kelas dengan fakultas sipil, agak jauh dari gedung fakultasku, di sana mahasiswanya mayoritas cowok pribumi, ceweknya cuma enam orang termasuk aku. Tak heran aku sering menjadi pusat perhatian cowok-cowok di sana, beberapa bahkan sering curi-curi pandang mengintip tubuhku kalau aku sedang memakai pakaian yang menggoda, aku sih sudah terbiasa dengan tatapan-tatapan liar seperti ini, terlebih lagi aku juga cenderung eksibisionis, jadi aku sih cuek-cuek aja.

Hari itu mata kuliah yang bersangkutan ada kuliah tambahan karena dosennya beberapa kali tidak masuk akibat sibuk dengan kuliah S3-nya. Kuliah diadakan pada jam lima sore. Seperti biasa kalau kuliah tambahan pada jam-jam seperti ini waktunya lebih cepat, satu jam saja sudah bubar. Namun bagaimanapun saat itu langit sudah gelap hingga di kampus hampir tidak ada lagi mahasiswa yang nongkrong.

Keluar dari kelas aku terlebih dulu ke toilet yang hanya berjarak empat ruangan dari kelas ini untuk buang air kecil sejenak, serem juga nih sendirian di WC kampus malam-malam begini, tapi aku segera menepis segala bayangan menakutkan itu. Setelah cuci tangan aku buru-buru keluar menuju lift (di tingkat lima). Ketika menunggu lift aku terkejut karena ada yang menyapa dari belakang. Ternyata mereka adalah tiga orang mahasiswa yang juga sekelas denganku tadi, yang tadi menyapaku aku tahu orangnya karena pernah duduk di sebelahku dan mengobrol sewaktu kuliah, namanya Adi, tubuhnya kurus tinggi dan berambut jabrik, mukanya jauh dari tampan dengan bibir tebal dan mata besar. Sedangkan yang dua lagi aku tidak ingat namanya, cuma tahu tampang, belakangan aku tahu yang rambutnya gondrong dikuncir itu namanya Syaiful dan satunya lagi yang mukanya mirip Arab itu namanya Rois, tubuhnya lebih berisi dan kekar dibandingkan Adi dan Syaiful yang lebih mirip pemakai narkoba.

“Kok baru turun sekarang Ci?” sapa Adi berbasa-basi.
“Abis dari WC, lu orang juga ngapain dulu?” jawabku.
“Biasalah, ngerokok dulu bentar” jawabnya.

Lift terbuka dan kami masuk bersama, mereka berdiri mengelilingiku seperti mengepungku hingga jantungku jadi deg-degan merasakan mata mereka memperhatikan tubuhku yang terbungkus rok putih dari bahan katun yang menggantung di atas lutut serta kaos pink dengan aksen putih tanpa lengan. Walau demikian, terus terang gairahku terpicu juga dengan suasana di ruangan kecil dan dengan dikelilingi para pria seperti ini hingga rasa panas mulai menjalari tubuhku.

“Langsung pulang Ci?” tanya Syaiful yang berdiri di sebelah kiriku.
“Hemm” jawabku singkat dengan anggukan kepala.
“Jadi udah gak ada kegiatan apa-apa lagi dong setelah ini?” si Adi menimpali.
“Ya gitulah, paling nonton di rumah” jawabku lagi.
“Wah kebetulan.. Kalo gitu lu ada waktu sebentar buat kita dong!” sahut Syaiful.
“Eh.. Buat apa?” tanyaku lagi.

Sebelum ada jawaban, aku telah dikagetkan oleh sepasang tangan yang memelukku dari belakang dan seperti sudah diberi aba-aba, Rois yang berdiri dekat tombol lift menekan sebuah tombol sehingga lift yang sedang menuju tingkat dua itu terhenti. Tas jinjingku sampai terlepas dari tanganku karena terkejut.

“Heh.. Ngapain lu orang?” ujarku panik dengan sedikit rontaan.
“Hehehe.. Ayolah Ci, having fun dikit kenapa? Stress kan, kuliah seharian gini!” ucap Adi yang mendekapku dengan nafas menderu.
“Iya Ci, di sipil kan gersang cewek nih, jarang ada cewek kaya lo gini, lu bantu hibur kita dong” timpal Rois.

Srr.. Sesosok tangan menggerayang masuk ke dalam rok miniku. Aku tersentak ketika tangan itu menjamah pangkal pahaku lalu mulai menggosok-gosoknya dari luar.

“Eengghh.. Kurang ajar!” ujarku lemah. Aku sendiri sebenarnya menginginkannya, namun aku tetap berpura-pura jual mahal untuk menaikkan derajatku di depan mereka.

Mereka menyeringai mesum menikmati ekpresi wajahku yang telah terangsang. Rambutku yang dikuncir memudahkan Adi menciumi leher, telinga dan tengkukku dengan ganas sehingga birahiku naik dengan cepat. Rois yang tadinya cuma meremasi dadaku dari luar kini mulai menyingkap kaosku lalu cup bra-ku yang kanan dia turunkan, maka menyembullah payudara kananku yang nampak lebih mencuat karena masih disangga bra. Diletakkannya telapak tangannya di sana dan meremasnya pelan, kemudian kepalanya mulai merunduk dan lidahnya kurasakan menyentuh putingku.

Sambil menyusu, tangannya aktif mengelusi paha mulusku. Tanpa kusadari, celana dalamku kini telah merosot hingga ke lutut, pantat dan kemaluanku terbuka sudah. Jari-jari Syaiful sudah memasuki vaginaku dan menggelitik bagian dalamnya. Tubuhku menggelinjang dan mendesah saat jarinya menemukan klitorisku dan menggesek-gesekkan jarinya pada daging kecil itu.

Aku merasakan sensasi geli yang luar biasa sehingga pahaku merapat mengapit tangan Syaiful. Rasa geli itu juga kurasakan pada telingaku yang sedang dijilati Adi, hembusan nafasnya membuat bulu kudukku merinding. Tangannya menjalar ke dadaku dan mengeluarkan payudaraku yang satu lagi. Diremasinya payudara itu dan putingnya dipilin-pilin, kadang dipencet atau digesek-gesekkan dengan jarinya hingga menyebabkan benda itu semakin membengkak. Tubuhku serasa lemas tak berdaya, pasrah membiarkan mereka menjarah tubuhku.

Melihatku semakin pasrah, mereka semakin menjadi-jadi. Kini Rois memagut bibirku, bibir tebal itu menyedot-nyedot bibirku yang mungil, lidahnya masuk ke mulutku dan menjilati rongga di dalamnya, kubalas dengan menggerakkan lidahku sehingga lidah kami saling jilat, saling hisap, sementara tangannya sudah meremas bongkahan pantatku, kadang jari-jarinya menekan anusku. Tonjolan keras di balik celana Adi terasa menekan pantatku. Secara refleks aku menggerakkan tanganku ke belakang dan meraba-raba tonjolan yang masih terbungkus celana itu.

Payudara kananku yang sudah ditinggalkan Rois jadi basah dan meninggalkan bekas gigitan kini beralih ke tangan Adi, dia kelihatan senang sekali memainkan putingku yang sensitif, setiap kali dia pencet benda itu dengan agak keras tubuhku menggelinjang disertai desahan. Si Syaiful malah sudah membuka celananya dan mengeluarkan penisnya yang sudah tegang. Masih sambil berciuman, kugerakkan mataku memperhatikan miliknya yang panjang dan berwarna gelap tapi diameternya tidak besar, ya sesuailah dengan badannya yang kerempeng itu.

Diraihnya tanganku yang sedang meraba selangkangan Adi ke penisnya, kugenggam benda itu dan kurasakan getarannya, satu genggamanku tidak cukup menyelubungi benda itu, jadi ukurannya kira-kira dua genggaman tanganku.

“Ini aja Ci, burung gua kedinginan nih, tolong hangatin dong!” pintanya.
“Ahh.. Eemmhh!” desahku sambil mengambil udara begitu Rois melepas cumbuannya.
“Gua juga mau dong, udah gak tahan nih!” ujar Rois sambil membuka celananya.

Wow, sepertinya dia memang ada darah Arab, soalnya ukurannya bisa dibilang menakjubkan, panjang sih tidak beda jauh dari Syaiful tapi yang ini lebih berurat dan lebar, dengan ujungnya yang disunat hingga menyerupai helm tentara. Jantungku jadi tambah berdegup membayangkan akan ditusuk olehnya, berani taruhan punya si Adi juga pasti kalah darinya.

Adi melepaskan dekapannya padaku untuk membuka celana, saat itu Rois menekan bahuku dan memintaku berlutut. Aku pun berlutut karena kakiku memang sudah lemas, kedua penis tersebut bagaikan pistol yang ditodongkan padaku, tidak.. bukan dua, sekarang malah tiga, karena Adi juga sudah mengeluarkan miliknya. Benar kan, milik Rois memang paling besar di antara ketiganya, disusul Adi yang lebih berisi daripada Syaiful. Mereka bertiga berdiri mengelilingiku dengan senjata yang mengarah ke wajahku.

“Ayo Ci, jilat, siapa dulu yang mau lu servis”
“Yang gua aja dulu Ci, dijamin gue banget!”
“Ini aja dulu Ci, gua punya lebih gede, pasti puas deh!”

Demikian mereka saling menawarkan penisnya untuk mendapat servis dariku seperti sedang kampanye saja, mereka menepuk-nepuk miliknya pada wajah, hidung, dan bibirku sampai aku kewalahan menentukan pilihan.

“Aduh.. Iya-iya sabar dong, semua pasti kebagian.. Kalo gini terus gua juga bingung dong!” kataku sewot sambil menepis senjata mereka dari mukaku.
“Wah.. Marah nih, ya udah kita biarin Citra yang milih aja, demokratis kan?” kata Syaiful.

Setelah kutimbang-timbang, tangan kiriku meraih penis Syaiful dan yang kanan meraih milik Rois lalu memasukkannya pelan-pelan ke mulut.

“Weh.. Sialan lu, gua cuma kebagian tangannya aja!” gerutu Syaiful pada Rois yang hanya ditanggapinya dengan nyengir tanda kemenangan.
“Wah gua kok gak diservis Ci, gimana sih!” Adi protes karena merasa diabaikan olehku.

Sebenarnya bukan mengabaikan, tapi aku harus memakai tangan kananku untuk menuntun penis Rois ke mulutku, setelah itu barulah kugerakkan tanganku meraih penis Adi untuk menenangkannya. Kini tiga penis kukocok sekaligus, dua dengan tangan, satu dengan mulut.

Lima belas menit lewat sudah, aku ganti mengoral Adi dan Rois kini menerima tanganku. Tak lama kemudian, Syaiful yang ingin mendapat kenikmatan lebih dalam melepaskan kocokanku dan pindah berlutut di belakangku. Kaitan bra-ku dibukanya sehingga bra tanpa tali pundak itu terlepas, begitu juga celana dalam hitamku yang masih tersangkut di kaki ditariknya lepas. Lima menit kemudian tangannya menggerayangi payudara dan vaginaku sambil menjilati leherku dengan lidahnya yang panas dan kasar. Pantatku dia angkat sedikit sampai agak menungging.

Kemudian aku menggeliat ketika kurasakan hangat pada liang vaginaku. Penis Syaiful telah menyentuh vaginaku yang basah, dia tidak memasukkan semuanya, cuma sebagian dari kepalanya saja yang digeseknya pada bibir vaginaku sehingga menimbulkan sensasi geli saat kepalanya menyentuh klitorisku.

“Uhh.. Nakal yah lu!” kataku sambil menengok ke belakang.
“Aahh..!” jeritku kecil karena selesai berkata demikian Syaiful mendorong pinggulnya ke depan sampai penis itu amblas dalam vaginaku.

Dengan tangan mencengkeram payudaraku, dia mulai menggenjot tubuhku, penisnya bergesekan dengan dinding vaginaku yang bergerinjal-gerinjal. Aku tidak bisa tidak mengerang setiap kali dia menyodokku.

“Hei Ci, yang gua jangan ditinggalin nih” sahut Adi seraya menjejalkan penisnya ke mulutku sekaligus meredam eranganku.

Aku semakin bersemangat mengoral penis Adi sambil menikmati sodokan-sodokan Syaiful, penis itu kuhisap kuat, sesekali lidahku menjilati ‘helm’nya. Jurusku ini membuat Adi blingsatan tak karuan sampai dia menekan-nekan kepalaku ke selangkangannya. Kocokanku terhadap Rois juga semakin dahsyat hingga desahan ketiga pria ini memenuhi ruangan lift.

Teknik oralku dengan cepat mengirim Adi ke puncak, penisnya seperti membengkak dan berdenyut-denyut, dia mengerang dan meremas rambutku..

“Oohh.. Anjing.. Ngecret nih gua!!”

Muncratlah cairan kental itu di mulutku yang langsung kujilati dengan rakusnya. Keluarnya banyak sekali sehingga aku harus buru-buru menelannya agar tidak tumpah. Setelah lepas dari mulutku pun aku masih menjilati sisa sperma pada batangnya. Rois memintaku agar menurunkan frekuensi kocokanku.

“Gak usah buru-buru..” demikian katanya.

Ke Bagian 2

Yani Poppy dan Umi

Filed under: PERKOSAAN

Tiap pagi, gue lewat depan rumah itu. Makanya, gue tahu penghuninya keluarga muda dengan anak balita satu. Nyonya rumah namanya Yani. Doi lulusan IKIP Seni Tari. Udah lama juga sih gue perhatiin doi. Tapi gue baru kenal ama perempuan Klaten itu lewat lakinya yang pelukis.
Doi orangnya nggak cakep-cakep banget.

Tapi tampangnya yang khas Jawa, lembut dan pasrah itu bikin gue betah ngelihatin mukanya kalo pas bertamu ke rumahnya. Apalagi dia enak juga diajak ngomong, suaranya itu senada dengan wajah pasrahnya. Gue jadi suka bayangin dia merintih-rintih di bawah siksaan gue.
Nah, suatu hari lakinya jadi kaya mendadak karena ada order lukisan dalam jumlah besar. Terus, dia ngontrak rumah sebelah buat Yani sama anaknya. Rumah yang sekarang dijadiin galeri lukis.

Doi yang sebelumnya sering cerita kalo lakinya sibuk banget, sekarang cerita repotnya ngurus rumah dan anaknya yang umur 3 tahun sendirian. Itu sebabnya dia ngajak adiknya Poppy dan ponakannya Umi untuk tinggal serumah. Tampang dua cewek itu mirip banget sama Yani, cuma dua-duanya lebih seger dan imut-imut. Akhirnya gue tahu juga kalo di rumah itu, sering cuma ada tiga cewek tadi sama satu anak balita.
Nafsu juga gue waktu temen gue ngasih usul yang menarik. Langsung saja gue telepon Yani malem itu. Gue rubah suara gue biar nggak dikenal.
“Choirun ada?”
“Nggak ada, lagi mancing. Ini siapa ya?”
Huh bego, pikirku. Dia kagak tahu kalo lakinya lagi maen sama Linda, tante Chinese yang gatal !
“Mbak Yani sendiri ya?”
“Nggak, sama Poppy dan Umi,”
“Ya sudah, besok saja,”
Tiga temen gue langsung bersorak begitu pasti malam itu lakinya Yani nggak di rumah. Kami berempat pun segera berjalan ke rumah dekat gerbang perumahan itu. Tiga temen gue sudah siap dengan ‘peralatan’nya, lalu mengetuk pintu.
Seorang perempuan mengintip dari balik korden.
“Siapa ya?”
“Kami dari Polres bu, ada yang ingin kami sampaikan,” sahut teman gue yang badannya memang mirip polisi.
Tak lama kemudian pintu terbuka, tiga temen gue masuk. Dari jauh gue lihat Poppy dan Umi ikut menemui mereka.
“Maaf bu, suami ibu kami tangkap satu jam lalu,”
“Lho, kenapa?” Yani terlonjak.
“Ia kedapatan menghisap ganja…”
“Nggak mungkin!” perempuan itu memiawik.
“Tapi begitulah kenyataannya. Kami juga dapat perintah menggeledah rumah ini. Ini suratnya,”
Yani tak dapat menolak, dibiarkannya ketiga ‘polisi’ itu menggeledah rumahnya. Dasar nakal, seorang temen gue sudah menyiapkan seplastik ganja dan kemudian ia teriak, “Ada di bawah kasur sini, komandan!”
Temenku yang paling besar memandang Yani dengan tajam. “Sekarang kalian bertiga ikut ke kantor polisi!” tegasnya.
“Tapi…tapi…saya nggak tahu bagaimana barang itu ada di situ…” kata Yani terbata-bata.
“Sekarang ibu bantu kami, ikut saja ke kantor polisi, juga dua adik ini,”
Akhirnya ketiga cewek itu mau juga ikut, setelah sebelumnya Yani menitipkan anaknya ke Bu Tukiran. Temen gue pinter juga, dia pinjam mobil Feroza Yani dengan alasan mereka cuma bawa motor. Lewat handphone, salah satu temen gue ngasih tahu.
“Beres Dan, siap cabut,” katanya. Gue segera pakai topeng ski, ambil kunci mobil dan duduk di belakang stir.
Sebelum masuk, kaget juga tiga cewek itu karena tangan mereka diborgol di belakang punggung. “Kami nggak ingin repot nantinya,” alasan temen gue.
Hanya beberapa saat saja, mobil pun berjalan. Yani duduk di tengah dengan satu temen gue menjaga pintu. Sedang Poppy dan Umi di belakang dijaga dua lagi temen gue.
Baru jalan 100 meteran di jalan menurun ke arah Kasongan, tiga temen gue itu ketawa ngakak. “Gampang banget…” kata mereka. Tentu saja tiga cewek itu bingung. Apalagi Yani kini terpaksa duduk merapat jendela karena dipepet lelaki besar di sebelahnya.
“Kalian tidak akan kami bawa ke kantor polisi, seneng kan nggak perlu lihat pistol? Tapi jangan khawatir, nanti kita tunjukin pistol yang lain,” desisnya.
“Eh…eh…apa-apaan ini?” Yani ketakutan. “Eiiiiii….awwwhhhh…kurangajj…awwwhhhh…” Yani menjerit dan meronta, sebab tiba-tiba kedua payudaranya ditangkap dua telapak tangan yang besar, lalu diremas-remas keras seenaknya. Dua gadis di belakang juga menjerit-jerit ketika payudara mereka pun diperlakukan sama.
Lelaki itu lalu menyingkapkan jilbab Yani dan dengan nafsu kembali mencengkeram payudara montok itu. Yani makin keras menjerit. Lalu tiba-tiba…breetttt….bagian muka jubah tipisnya koyak sehingga memperlihatkan tonjolan buah dadanya yang berbungkus BH coklat muda.
“Wah, susu yang segar,” kata temen gue.
“Jangannn…tolong…jangaann…” Yani menangis.
“Jangan cerewet, kalian bertiga tidak usah bawel, nurut saja atau tempik kalian kuculek pake belati ini!” kali ini temen gue mulai mengancam dengan menyentuhkan ujung belati ke permukaan payudara Yani yang menyembul dari BH-nya.
Di belakang, Poppy dan Umi terisak-isak. Blus keduanya sudah lepas, tinggal rok yang menutupi bagian bawah tubuh muda dan mulus itu. Keduanya pun memiawik berbarengan ketika penutup dada mereka direnggut hingga putus.
“Wah…wah…ini susu yang indah…” kata kedua temen gue di belakang. “Coba lihat punya Nyonya ini…” lanjut mereka.
Temen gue di depan pun bertindak cepat, memutus tali antara dua cup BH Yani. Yani terisak, buah dadanya kini telanjang dan…..”Awwwwww….” ia menjerit agak keras ketika kedua putingnya dijepit dan ditarik serta diguncang-guncangkan. Kedua temen gue di belakang ketawa dan ikut-ikutan melakukan hal yang sama pada puting Umi dan Poppy.
Yani meronta-ronta tapi sia-sia saja ketika tubuhnya dibaringkan di jok mobil, lalu temen gue duduk di atas perutnya, memunggungi dan menyingkapkan bagian bawah jubahnya. Kedua kaki telanjangnya menendang-nendang, tapi ia kesakitan juga waktu kedua bagian dalam paha mulusnya dicengkeram keras. Ia menjerit lagi waktu selangkangannya yang ditutupi celana dalam putih digebuk sampai bunyi berdebuk. Dengan kasar, jari-jari temen gue menyingkapkan kain segitiga itu hingga memiawnya yang berjembut agak lebat terbuka. Tanpa ba bi bu, ditusukkannya telunjuknya ke lubang memiaw Yani.
“Aaaaakhhhh….” Yani menjerit kesakitan. memiawnya yang kering membuat tusukan itu jadi amat menyakitkan. Tapi temen gue itu nekad terus nyodok-nyodok memiaw yang legit itu. Malah waktu telunjuknya sudah terasa agak licin, dia tambah jari tengah. Lagi-lagi Yani menjerit kesakitan. Tapi nggak kapok juga temen gue itu. Sebentar saja sudah tiga jari yang nyodok-nyodok memiaw perempuan manja itu.
Di belakang, Poppy dan Umi juga merintih-rintih, sebab dua lelaki yang bersama mereka kini mengisap-isap pentil susu mereka sambil terus meremas-remas teteknya yang kenyal. Poppy pertama kali memiawik waktu tangan temen gue menelusup sampai ke balik celdamnya dan meremas-remas memiawnya sambil sesekali mencabuti jembutnya. Umi akhirnya juga mendapat penghinaan yang sama, bahkan ia merasa klentitnya lecet karena terus diuyel-uyel dengan kasar.

Mobil akhirnya sampai ke rumah besar punya temen gue yang asyik ngobok-obok memiaw Yani. Gue buka pintu belakang mobil. Di dalam, gue liat Poppy dan Umi yang topless, cuman pake rok doank! Dan yang lebih bikin gue kaget lagi, ternyata tongkol dua temen gue lagi dijilatin ama dua perawan itu. Toket kedua anak itu kelihatan mulai memerah karena terus diremet-remet. Terang aja gue tersentak, tapi gue sendiri gak bisa berbuat apa-apa lagi! Soalnya gue sendiri nggak tahan, terus ikut mencet pentil kanan Poppy dan pentil kiri Umi.
“Nggghhhhh….” dua cewek itu cuma bisa mengerang karena dua tongkol ada di mulut mereka.
Terus gue buka pintu tengah. Buset, di dalam, temen gue masih asyik menjilati memiaw Yani dan menyodok-nyodok lubangnya dengan tiga jari. Yani sudah tidak menjerit-jerit lagi. Yang terdengar sekarang cuma rintihannya, persis seperti bayangan gue.
Nggak tahan, gue naik, terus gue pegangin kepala perempuan berjilbab itu.
“Emut tongkol gue, kalau nggak, gue potong tetek lu!” kata gue sambil nyodorin tongkol yang udah ngaceng sejak tadi. Tangan kiri gue mencengkeram tetek kanan Yani yang montok sampai ke pangkalnya. Tangan kanan gue menahan kepala Yani biar tetep menghadap tongkol.
Yani nyerah, dia buka mulutnya. Cepet gue masukin tongkol gue sampe ke pangkalnya.
“Diemut!” bentak gue sambil menambah tenaga remasan di buah dadanya.
Gue ngerasain kenikmatan yang luar bisa banget waktu tongkol gue diemut-emutnya sambil merintih-rintih.
Biar gampang, sama temen gue tadi, gue gotong cewek itu dan gue lempar ke lantai garasi. Yani menjerit kesakitan dan makin keras jeritannya waktu jubahnya gue lucuti, begitu juga rok dalam dan celdamnya. Terlihatlah memiawnya yang terpelihara rapi, dengan bulu-bulu halus yang diatur dengan indahnya. Gue mainkan itilnya yang ada di dalam bibir memiawnya sampai dia berkelojotan ke kanan-ke kiri.
Sekarang temen gue yang jongkok di depan muka cewek itu dan memaksanya berkaraoke. Dari belakangnya, tanpa banyak bicara, gue langsung ngentt cewek itu.
“Aunghhhhhh…” Yani mengerang panjang waktu tongkol gue nyodok memiawnya sampai mentok. memiawnya lumayan rapet dan legit biarpun dia sudah punya anak satu.
Ada seperempat jam gue kocok memiawnya pake tongkol, terus gue suruh dia nungging. Dari depan, temen gue masih ngent
t mulutnya sambil memegangi kepala cewek berjilbab itu.
Dari belakang, pemandangan itu bikin gue makin nafsu. Gue remet keras-keras memiawnya pake tangan kiri, terus telunjuk kanan gue tusukin ke pantatnya. Yani mengerang lagi waktu gue gerakin telunjuk gue berputar-putar supaya lobang kecil itu jadi lebar. Begitu mulai lebar, gue masukin tongkol ke dalamnya.
Tubuh Yani mengejang hebat, erangannya juga terdengar amat heboh. Tapi tetep gue paksa tongkol gue biar susahnya bukan main. Sampe akhirnya tongkol gue masuk sampai ke pangkal, gue tarik lagi sampai tinggal kepalanya yang kejepit. Terus dengan tiba-tiba gue dorong sekuat tenaga.
“Aaaaaakhhhhh…..” Yani melepas tongkol temen gue dan menjerit keras. Tapi rupanya pas temen gue sampai puncak kenikmatannya. Akibatnya air maninya nyemprot muka Yani sampai belepotan.
Cuek, gue genjot terus pantat perempuan montok itu biar dia menangis-nangis kesakitan. Malah sekarang gue peluk dia sambil kedua teteknya gue remes-remes. Temen gue yang barusan nyemprot sekarang malah masukin dua jarinya ke lubang memiaw Yani dan diputar-putar. Ini bikin Yani makin kesakitan.
Gue ngerasa tongkol gue udah peka banget. Jadi makin cepet gue genjot dan langsung gue banting cewek itu. Yani nggak sempet mengelak, waktu tongkol gue tempelkan ke mulutnya dan gue paksa dia mengulumnya.
“Crooottt…crottt…crottt…” air mani gue nyemprot sampai tiga kali ke dalam mulutnya. Yani sudah mau menumpahkannya, jadi gue pencet pentilnya dan gue tarik ke atas.
“Telen!” bentak gue. Sambil merem, Yani menelannya semua, lalu menekuk tubuhnya sambil menangis. Dengan ujung jilbabnya gue dan temen gue mengelap tongkol yang berlendir. Dari celah pantat bundar Yani gue lihat ada darah keluar.
Lagi asyik ngelihatin tubuh bugil Yani, gue dengar ketawa ngakak dua temen gue. Lalu terlihat Poppy dan Umi turun dari mobil dan jalan sempoyongan. Gue melotot. Dua cewek itu nyaris bugil. Jilbab mereka disampirkan ke belakang sehingga teteknya yang kemerahan bekas diremas-remas bebas terlihat, dengan pentilnya yang kecoklat-coklatan. Dua-duanya terisak-isak, di sekitar bibir dua cewek hitam manis itu belepotan lendir putih.
Yang menarik, rok mereka sudah lepas, tinggal celdam putih milik Poppy dan kuning muda Umi. Malah celdam Poppy dibikin temen gue terangkat tinggi sampai nyelip di bibir memiawnya. Akibatnya, bibir memiawnya kanan dan kiri kelihatan gemuk dan jembutnya menyembul ke kanan dan kiri. Nggak tahan, gue pepet anak itu ke mobil, terus tangan gue mulai merayapi selangkangannya. Tangan gue mulai bermain-main di bibir vaginanya yang njepit celananya.
“Jangaann…ampun oommm…” rintihnya. “Adduhhhh…” pekik mahasiswi UAD itu, karena gue cabut beberapa helai jembutnya.
Dari bawah gue cengkeram tetek kanan Poppy yang nggak seberapa gede tapi kenyal itu, terus gue dorong ke atas sampai putingnya ngacung, lalu gue sedot kuat-kuat. Poppy meronta kesakitan, apalagi kemudian gue tarik celdamnya ke atas. Poppy memiawik waktu celdamnya akhirnya putus.
Gue terus melorot dan gue paksa cewek itu nyodorin memiawnya buat gue hisap. Gue mainin itilnya dengan lidah gue, bahkan sampai gue sedot pakai mulut gue! Poppy makin kelojotan dan mendesah. Sementara itu, gue lihat Umi lagi dipaksa menyepong tongkol temen gue. Sedang Yani sudah mulai disodomi lagi. Malah, dia dipaksa telentang dengan tongkol menusuk pantatnya, lalu memiawnya disodok dari depan. Kedengeran Yani menjerit-jerit kesakitan.
“Aihhh…” Poppy memiawik waktu telunjuk gue masuk satu ruas ke lubang pantatnya, terus gue dorong ke depan sampai lubang memiawnya merekah dan kelihatan lorong yang merah dan basah, gue jilatin sampai cewek 21 tahun itu menggeliat-geliat.
“Aduhh…jangaann…” Poppy menjerit waktu gue tiba-tiba berdiri sambil mengangkat kaki kirinya.
Tapi gue nggak peduli, tongkol gue pas banget nunjuk memiawnya. Terus gue kucek-kucek memiaw anak itu, sampai mulai terasa basah. Terus gue pegang tongkol gue dan gue paksa masuk kepalanya ke celah bibir memiawnya. Kepala tongkol gue terasa seperti direndam di air hangat. Poppy menjerit makin nggak karuan waktu tangan kiri gue mencengkeram tetek kanannya sampai ke pangkalnya sekuat tenaga. Malah, daging kenyal itu sampai terasa seperti remuk.
“Aaaakkhh….auhhhhh….ouchhh…aiiiii….sakkkiiittt….adduhhhhh….” Poppy menjerit histeris waktu gue dorong pinggang ke depan dengan tiba-tiba dan sekuat tenaga. tongkol gue masuk sampai ke pangkalnya. Malah kerasa kepalanya sampai mentok ke dasar memiawnya. Begitu mentok gue berhenti sebentar. Gadis itu sesenggukan, nafasnya tersengal-sengal. Tapi yang paling asyik, gue merasa tongkol gue di dalam memiawnya seperti dibasahi cairan hangat. Belakangan gue tahu yang hangat itu darah keperawanannya.
Dengan gerakan kasar dan tiba-tiba, gue kocok tongkol gue di dalam memiaw Poppy. Terasa sempit banget dan kering. Gue sih enak, tapi akibatnya Poppy menjerit-jerit kesakitan dan minta ampun. Poppy masih merintih-rintih waktu tongkol gue tarik keluar, terus gue jongkok di depan selangkangannya. Langsung gue masukin empat jari ke dalam lubang memiawnya yang masih menganga.
“Aucchhhhh…sakkkiiittt…aaahhhh…” Poppy menjerit lagi waktu empat jari gue puter-puter di dalam memiawnya. Waktu gue tarik keluar empat jari gue yang basah lendir dan darah, cewek itu jatuh melorot sambil terus menangis.
“Hey, bawa sini perawan satu itu, lu ambil memiaw yang ini. Pantatnya buat gue ya!” teriak gue ke teman yang lagi asyik ngucek-ngucek memiaw Umi.
Temen gue cepat bangun lalu menyeret kedua kaki Umi dan menggeletakkan cewek imut-imut itu di dekat kaki gue. Tanpa banyak bicara, dia terus mendorong Poppy yang menangis sambil duduk bersimpuh sehingga jatuh terlentang.
Gue tarik Umi sampai kepalanya berbantalkan paha gue, menghadap Poppy yang lagi digarap ulang. Gue remas-remas pelan kedua payudaranya yang kenyal. Cewek itu menangis.
“Kamu paling muda, jadi memiawmu pasti paling enak. Kamu mau tongkolku masuk memiawmu?” kata gue sambil memilin-milin putingnya yang hitam dan mungil tetapi tebal.
“Huuu…jangaaannn…huuu…” ABG itu menangis lagi.
“Lihat Bu Lik Yani dan Bu Lik Poppy itu…memiawnya sudah jebol…kalau kamu nggak mau seperti mereka, kamu harus nurutin apa kata gue, ngerti? Sekarang lihat ini,”
Gue lalu menghampiri Yani yang sedang dient*t dan disodomi berbarengan. Gue pegang kepala Yani yang lagi menjerit-jerit kesakitan. Lalu gue paksa dia mengulum tongkol gue lagi sampai tongkol gue basah. Terus gue suruh temen gue yang lagi nyodok memiaw Yani bangun, gantian dia memasukkan tongkolnya ke mulut Yani. Terus gue suruh pindah tongkol temen gue satunya dari pantat ke memiaw.
Badan Yani kelojotan dan gemeteran waktu gue paksa tongkol gue ikut masuk memiawnya. Temen gue yang dari tadi menyodomi dia rupanya nggak tahan lama lagi. Dia cepat-cepat menggerakkan tongkolnya maju mundur. Yani menjerit histeris, sebab dua tongkol di dalam memiawnya bikin memiawnya seperti mau sobek.
Temen gue rupanya nggak tahan. Nggak lama dia ngecrot di dalam memiaw Yani. Yang di atas juga gitu, dia ngecrot lumayan banyak di dalam mulut Yani. Yani ambruk, lemes di lantai.
Sekarang gue balik ke Poppy yang lagi menjerit-jerit karena dipaksa duduk di atas tongkol temen gue. Kedua teteknya dicengkeram sehingga dia terpaksa bergerak-gerak naik turun. Dari belakang, gue dorong punggung Poppy yang mulus sampai dia ambruk di atas dada temen gue.
“Kamu nggak mau disodomi juga kan. Lihat nih,” kata gue lagi kepada Umi yang makin kenceng nangisnya.
Poppy menjerit melengking waktu telunjuk gue paksa masuk ke lubang anusnya. Rapet banget, jadi gue paksa satu telunjuk lagi masuk dan gue gerak-gerakin, bikin lubangnya makin lebar. Sampai cukupan buat masuknya kepala tongkol, gue sodok aja.
Kepala tongkol gue sekarang kejepit pantat Poppy. Gue dorong dua senti, Poppy menjerit lagi. Mundur satu senti lalu maju tiga senti. Poppy makin keras menjerit. Lalu mundur lagi satu senti dan dengan tenaga penuh….
“Aaaaaachhhhh…aauuhhhhh….saakkkiiitt….nggghhhhh….” Poppy menjerit histeris. tongkol gue masuk sampai pangkalnya ke dalam lubang pantatnya. Sempit banget, sampai kerasa tongkol gue seperti remuk di dalam. Tapi terus gue genjot agak lama.
Lima menitan, gue lepas dan dua temen gue yang tadi ngerjain Yani udah siap di belakang Poppy, mau gantiin. Gue balik ke Umi, sementara Poppy mulai menjerit lagi waktu pantatnya disodomi lagi. Tapi jeritannya hilang waktu mulutnya juga diperkosa.
“Gimana? Kamu mau nurut?” kata gue sambil jongkok di sebelah Umi dan mengucek-ucek memiawnya yang berjembut tipis.
“I…iya…iya…” katanya terbata-bata.
“Bagus, sekarang bersihin tongkolku,” kata gue sambil berdiri, menyodorkan tongkol gue yang basah air mani temen gue dan darah dari pantat Poppy. Umi menelan ludahnya, tampangnya tampak jijik. Tapi karena takut, dia jilat juga tongkol gue.
Gila, gue kayak di awang-awang, apalagi dia terus mulai menyedot-nyedot tongkol gue. Setelah lama dia nyepong gue, gue liat tiga temen gue udah selesai. Poppy kayaknya pingsan. memiaw, pantat dan mulutnya belepotan air mani.
“Gue juga bersihin dong,” kata temen-temen gue berbarengan.
Umi nggak punya pilihan lain. Akhirnya gadis imut-imut itu berjongkok di depan empat lelaki, menjilati dan menyepong tongkol-tongkol berlendir. Tidak cuma itu, dia juga gue suruh jilat seluruh air mani di badan Yani dan Poppy. Malah, dari memiaw Yani gue sendokin air mani dan gue suapin ke mulut Umi yang berbibir mungil itu.
“Huuu…huuu…sudahh…saya mau pulang…” Umi terisak sambil duduk bersimpuh.
“Boleh, tapi kamu harus joget dulu,” kata gue sambil melepas ikatan di tangannya.
Umi seperti kebingungan. Tapi tiba-tiba ia menjerit karena temen gue tahu-tahu menyabetkan ikat pinggangnya, kena payudara kirinya. “Ayo cepet joget!” bentaknya.
Takut-takut Umi berdiri, tapi kali ini temen gue yang lain menampar pantatnya dari belakang. “Joget yang hot!” bentaknya.
Akhirnya Umi mulai meliuk-liukkan tubuhnya. Merangsang banget, gadis berjilbab tapi bugil, joget di depan gue. Gue tunjuk selangkangannya. “Ayo, gerakin pinggulmu maju mundur sampai memiawmu kena telunjukku ini,” kata gue.
Umi nurut. Pinggulnya maju mundur sampai memiawnya yang berjembut tipis nyenggol telunjuk gue. Pas mau nyenggol kelima kalinya, sengaja gue sodok agak kenceng sampai seperti menusuk klentitnya. Umi menjerit kesakitan.
Sekarang dia malah ketakutan waktu tiga temen gue ikut joget di sekelilingnya sambil memegang-megang buah dada, pantat dan memiawnya.
“Jogetmu bikin aku ngaceng nih!” kata gue sambil mengacungkan tongkol gue yang emang udah tegang banget.
Temen-temen gue ketawa ngakak lalu memegangi kedua tangan Umi dan menelentangkannya di lantai.
“Aaahhh….janngaaaannnn….kalian jahaaaattt…aaahhhh…” Umi menjerit dan meronta-ronta. Satu kakinya dipegangi temen gue, satu lagi gue pegangin, ngangkang lebar banget.
Umi nangis lagi, waktu ngerasa memiawnya mulai kesenggol kepala tongkol gue. Cewek mungil ini menjerit keras waktu jari gue dan temen gue menarik bibir memiawnya ke kanan dan kiri. Terus, tongkol gue mulai masuk 4 senti dan tarikan langsung dilepas. Sekarang tongkol gue kejepit memiaw perawan yang sempit.
Gue ambil posisi, pegangan dua buah dadanya yang mulus sambil jempol dan telunjuk gue menjepit pentilnya.
“Aku harus adil dong, masak saudaramu dapat tongkol, kamu nggak?” kata gue sambil dengan tiba-tiba mendorong tongkol gue maju dengan kekuatan penuh. Akibatnya luar biasa. Umi menjerit sangat keras. Gue sendiri merasa tongkol gue merobek sesuatu yang sangat liat. Begitu tongkol gue mentok ke dasar memiawnya, gue berhenti sebentar. Kerasa memiawnya berdenyut-denyut meremas-remas tongkol gue. Pelan-pelan gue merasa ada cairan hangat membasahi tongkol gue. Itu pasti darah perawannya.
Akhirnya, ABG imut-imut itu menjerit-jerit tak berhenti waktu tongkol gue kocok dengan gerak cepat di dalam memiawnya. Apalagi temen-temen gue asyik meremas-remas teteknya. Malah, kerasa ada yang mulai nusuk pantatnya pakai jari. Ada lagi yang memaksanya ngemut tongkolnya.
Nggak lama, gue pindah tongkol ke pantatnya setelah Umi dibikin nungging. Lagi-lagi Umi menjerit histeris, sebab pantatnya yang lebih sempit dari memiawnya itu tetap bisa gue jebol pakai tongkol gue. Seperti dua cewek lainnya, sekarang Umi telentang di atas dada gue, terus memiawnya yang berdarah disodok tongkol temen gue dari depan. Mulutnya sekarang malah dipaksa ngemut dua tongkol sekaligus.
Sekarang Umi gue paksa nungging di atas dada temen gue sambil tongkolnya tetap di dalam memiaw cewek yang baru lulus SMU itu. Dua tongkol masih berebut masuk mulutnya. Dari belakang, sekarang gue coba masukin tongkol gue, bareng tongkol temen gue yang sudah masuk duluan.
Umi merintih kesakitan, waktu tongkol gue bisa masuk. Pas tongkol temen gue masuk sampai pangkalnya, gue sodok keras-keras sampai tongkol gue juga masuk sampai pangkal. Umi memiawik keras, sebab terasa ada yang ‘krekk’ di dalam memiawnya. Selaput daranya mungkin sobek lebih lebar lagi.
Gue ambil tongkol karet punya temen gue, terus gue tusukin jauh-jauh ke dalam anusnya. memiawnya jadi terasa tambah sempit aja. Umi mengerang panjang waktu gue nggak tahan lagi, ngocokkan tongkol beneran dan tongkol karet makin cepat.
“Minggir…minggir…” kata gue ke dua temen gue yang lagi memperkosa mulut Umi. Cepet gue masukin tongkol gue ke dalam mulut berbibir mungil itu dan, sedetik kemudian, air mani gue tumpah banyak banget di dalam mulutnya.
Umi sudah lemas waktu dia ditelentangin dan tiga temen gue antri ngocok cepat-cepat lalu nembak di dalam mulutnya.
Cewek itu betul-betul tak berdaya. Saat temen gue yang terakhir nyemprot ke dalam mulutnya, dia malah sudah pingsan. Mulutnya yang terbuka betul-betul putih, penuh air mani. Malah, wajah imut-imutnya juga ikut basah.


Tiga cewek itu sekarang sudah di mobil lagi. Mulut-mulut mereka yang penuh air mani sudah dilakban, sedang tangan diikat di belakang punggung. Tiga cewek bugil itu digeletakkan begitu saja di lantai tengah mobil. Yani yang pertama siuman, merintih dan menggeliat. Dua temen gue yang jaga di jok tengah lalu mengangkatnya hingga duduk di tengah-tengah. Lagi-lagi payudara montoknya diremas-remas dan putingnya disedot-sedot. Yani cuma bisa merintih.
Tapi ia mengerang kesakitan waktu dua ujung gagang kuas lukis yang runcing didorong di atas dua putingnya sampai tak bisa maju lagi.
“Ini bagus dan menarik,” kata temen gue lalu mengikat empat kuas dengan karet gelang di dua ujung gagang kuas, masing-masing dua kuas. Ia lalu merenggangkan kedua kuas dan menyelipkan payudara Yani di antaranya. Selanjutnya, tarikan dilepas sehingga kuas kembali merapat dan menjepit erat gumpalan daging montok itu di pangkalnya. Dua buah dada Yani diperlakukan seperti itu, sehingga menggelembung dan makin lama makin terlihat merah kehitaman. Yani merintih dan menggeliat-geliat kesakitan.
Lalu Poppy yang menyusul siuman juga diperlakukan sama. Terakhir, begitu sampai Kasongan, Umi siuman. Perlakuan yang diterimanya nyaris sama. Bedanya, cuma dua kuas yang menjepit di payudaranya. Tapi, pasti sakit sekali karena yang dijepit adalah dua putingnya sekaligus.
Rumah Yani dini hari itu sepi sekali. Maka mobil langsung masuk garasi yang memiliki pintu tembus ke kamar Yani. Tiga pigura besar langsung disiapkan temen-temen gue. Lalu cewek-cewek yang masih menggeliat kesakitan itu, kita ‘pigura’ dengan tangan terikat di frame atas, kaki di frame bawah.
“Ini pasti lucu,” kata temen gue sambil bawa masuk dongkrak mobil. Diputarnya dongkrak sehingga bagian pengangkat turun merapat dan ulirnya yang berdiameter tiga senti menonjol tiga senti. Lalu dibuatnya Umi duduk di atas dongkrak. Otomatis besi berulir menusuk memiawnya. Lalu diputarnya lagi dongkrak sehingga turun dan besi berulir naik. Umi mengerang kesakitan, sebab begitu besi pengangkat rapat, besi berulir itu mencuat ke dalam memiawnya sedalam 10 senti lebih. Darah perawannya bercampur air manipun menetes ke dongkrak dan lantai keramik putih.
Sedang Yani dan Poppy dipigura pada posisi berdiri. Dua puting Yani dan Poppy lalu disentuh dengan raket nyamuk. Sekejap tapi dua cewek itu langsung melonjak dan mengerang kesakitan. Lalu gagang raket ditusukkan ke dalam memiaw Poppy. Lubang pantatnya dimasuki lima kuas dengan bulu di dalam. Di memiaw Yani gue masukin dua baterai besar dan satu di pantatnya.
Tiga buah pancing lalu gue ikat di pigura Yani. Lalu, tiga kail gue tancapkan di pentil dan klitorisnya. Yani mengerang hebat waktu tali pancing gue gulung sampai menarik tiga titik peka itu. Sampai akhirnya, Yani pingsan lagi.
“Kamu berdua harus pingsan lagi ya?” kata gue kepada Poppy dan Umi yang ketakutan waktu ngelihat enam tusuk gigi lancip di tangan gue.
Pertama-tama Poppy yang mengerang hebat waktu dua tusuk gigi gue tancepin di dua pentilnya sampai lima senti. Darah lalu mengalir dan menetes lewat ujung tusuk gigi. Waktu klentitnya yang gue tusuk dari bawah sampai tembus ke atas, Poppy mengerang lagi dan tubuhnya kejang sampai akhirnya lemas, pingsan.
Sekarang Umi yang ketakutan. Gue tarik satu persatu putingnya, gue tusuk tembus melintang sehingga nyangkut di gagang kuas. Darah juga menitik lewat ujung tusuk gigi. Seperti Poppy, dia juga pingsan waktu klentitnya juga gue tusuk tembus melintang.


Keadaan sepi, gue dan temen-temen membuka lebar korden ruang tamu, lalu menyalakan lampu. Cepat kami cabut dari situ sambil melihat pemandangan indah di ruang tamu…


Seminggu kemudian, gue mampir ke rumahnya. Berlagak nggak tahu, toh Yani, Poppy dan Umi juga nggak tahu kalo gue yang merkosa mereka. Tapi gue kaget juga waktu yang membuka pintu bukan mereka, tapi seorang gadis berjilbab putih panjang dan jubah ungu.
“Saya Kantuningsih. Saya kos di sini,” kata gadis berwajah khas Jawa itu.
“Bu Yani kemana?”
“Bu Yani sekarang tinggal di Klaten…” sahutnya.
Ow… ow… gue kecewa. Tapi entar dulu, kapan-kapan si Kantun ini perlu disodok juga memiawnya. Temen-temen gue harus dikasih tau !
Betapa mempesonanya wanita ini. dibalik kesopanan pakaian tersembunyi pesona liar.

Ita anak asuhku

Filed under: PERKOSAAN

Sudah satu bulan aku pulang pergi ke rumah sakit karena istriku sedang sakit lever yang cukup akut. Aku tinggal di rumah bersama satu pembantu dan Ita anak asuhku yang baru saja menginjak kelas satu SMA.

Sore itu aku baru pulang kantor dan hendak ke rumah sakit pukul 18.00 WIB, aku sedang duduk di teras depan sambil membaca koran harian sore.

“Sore pak… ini Ita buatkan teh buat bapak..” sambil Ita memberikan secangkir teh kepadaku.

“Makasih Ta…! ” jawabku padanya.

“Bibi kemana Ta..?” tanyaku padanya, karena dari tadi pembantuku tidak kelihatan.

“Tadi katanya mau nengok saudaranya di Pulo Gadung..!” jawabnya.

Sore itu Ita kelihatan nampak sexy sekali, mengenakan bawahan pendek putih dan kaos tipis, sehingga tampak lekuk tubuhnya membuat libidoku menjadi bangun apalagi aku sudah lama tidak mendapatkan kenikmatan dari istriku.

Pak kelihatannya tampak lelah sekali ya pak… ?”

“Iya Ta” jawabku.

“Ita pijitin ya pak…”

Lalu Ita tanpa dikomando sudah memijit kepalaku.

“Oh pijitan kamu enak sekali Ta… !”

“Iya dong pak… ! ” jawabnya.

Aku dipijit Ita dari belakang dan jemari tangannya membuat aku semakin ingin menerkamnya. Dan tiba-tiba posisi Ita berganti memijatku dari depan sehingga dua gundukan susu Ita tampak jelas terlihat. Sesekali tubuh Ita menempel ke tubuhku dan kontolku pun semakin keras mengacung ke depan.

Aku mencoba untuk tenang dan memejamkan mata, tapi ketika tangan Ita mulai memijat punggungku dan tubuhnya sangat rapat sekali dengan tubuhku, sehingga dengan sengaja aku majukan pinggulku.

“Ah… burung bapak nyenggol lutut Ita nih……” candannya padaku.

“Kalau nyenggol memangnya kenapa Ta…?”

“Ah bapak… Ita hentiin nih mijitnya..?!”

“Jangan dong sayang… Ita enggak kasihan sama bapak… ?”

Lalu aku tarik pinggul Ita dan langsung Ita tertarik tubuhnya di pangkuanku. Ita mencoba untuk bangkit tapi aku malah mendekapnya.

“Pak… ah… pak… jangan… dong…!!”

Tapi apa boleh buat posisi Ita sudah dalam pangkuanku, dengan kondisi berhadapan dan kedua kakinya tepat berada dalam sanggahan pahaku. Sementara bawahan pendeknya sudah agak sedikit tersingkap dan kontolku sudah menempel tepat di memeknya. Lalu aku tekan pinggul Ita dan pinggulku aku gesek-gesekkan ke arah pinggulnya dan terasa gundukan daging memek Ita terkena benggolan kontolku yang besar.

“Pak ah… pak… ja… jangan… pak…!!” Ita mencoba meronta tapi sesekali dia tampak sedikit menikmati karena di balik rontaannya terkadang ada satu gerakan pinggulnya yang mencoba mengimbangi irama gerakanku.

Ita mulai mengurangi gerakannya dan akupun semakin menggila. Aku keluarkan seluruh kontolku dari balik celanaku, sehingga makin menyembul keluar, lalu aku kulum mulut Ita dengan mesra. Awalnya dia agak kaku tapi lama-kelamaan mengikuti juga irama ciumanku.

Sleep… ah… sleeep ah… Ita mendengus ketika lehernya mulai kena oleh serangan bibirku.

“Ah… pak .. enak… pak… Ita belum merasakan seperti ini” rintihnya.

Lalu tangan kiriku mulai menelusup ke dalam bawahannya dan aku langsung merangsek ke bagian depan celana dalamnya. Terasa mulut memek Ita sudah basah. Jari-jariku menyisir bagian pinggir celana dalamnya dan aku singkapkan sedikit, sehingga aku merasakan lubang memek Ita sudah bebas tidak tertutup lagi oleh celana dalamnya. Lalu aku arahkan kontolku mencari lubang kemaluan Ita. Dan ketika aku tekan aku merasakan ujung kontolku sudah tepat di lubang memeknya dan ketika aku tekan.

“Ah… pak… sakit… pak… ” Mata Ita tampak terbelalak.

“Bentar sayang bapak masukin ya…” dan napasku makin mendengus.

“Tapi… pak… ah… ah… sa… sakit… pak….

Ketika seluruh kontolku masuk merangsek memeknya yang masih sempit itu, kontolku merangsek masuk dan rasanya begitu sempitnya memek Ita.

“Bapak… aduh… bapak… aduh… pak… ah… ah….

Ita mulai menjambak rambutku, ketika kontolku menghujami memeknya berkali-kali.

Sleep… slepp… sleep… plok… plokkk… antara pahaku dengan paha Ita saling berbenturan.

“Ahhh… aaah… aaaah… bapak sudah pak….. memek Ita ngilu..!”

“Bentar sayang… uh…. uhhh… bapak lagi enak…..

Aku terus merojok-rojokkan kontolku pada Ita, sehingga Ita terkadang meringis menahan sakit tusukan kontolku. Tubuh Ita sudah mulai agak sedikit lunglai dan tersandar pada tubuhku, sedangkan pinggulku masih dengan perkasa menggoyang naik-turun sehingga seluruh kontolku keluar masuk ke memek Ita yang masih perawan itu.

“Bapak… bapak…. sudah… pak… ah…. ah… pak… kenapa jadi begini… pak…”

Tubuh Ita nampak sudah basah kuyup oleh keringatnya yang keluar deras dari pori-pori kulitnya.

“Oooh sayang… oh… punya kamu enak sekali… ooohh….!”

Lalu aku hentak keras ke atas ketika ujung kontolku sudah terasa akan mengeluarkan spermaku. Crooot…. crooot… croot…. ah… ah… aku dekap Ita dengan pelukanku begitu erat. Pinggulku aku tekan kuat-kuat ke arah memeknya. Seluruh spermaku masuk ke dalam memeknya dan Itapun menjerit histeris.

“Ah… paaaaak…. ah…..”

Aku biarkan kontolku menancap di memek Ita. Aku merasakan denyutan rongga-rongga memek Ita. Kami terdiam sejenak, sementara Ita masih dalam dekapanku dengan rambut yang masih acak-acakan.

“Hmmm… pak… hmmm” Ita mulai sedikit merajuk.

“Kenapa sayang… enak enggak punya bapak ?”

“Ah… bapak… punya Ita sobek nih pak… ah… bapak jahat” sambil tangan Ita memukul-mukul ke arah tubuhku.

Lalu Ita merebahkan tubuhnya ke tubuhku dengan manjanya sambil jari-jari manisnya memainkan ujung rambut panjangnya.

“Pak… bapak puas engga ngentotin Ita ?” tanyanya padaku.

“Bapak puas sayang… punya Ita enak sekali… mandi bareng yuuk sayang… nanti kita jenguk ibu di rumah sakit”

Ita mengangguk kecil dan kami akhirnya untuk pertama kali mandi bersama. Setelah mandi aku dan Ita pergi menuju rumah sakit.

Sleeping with enemy - part 7 (TAMAT)

Filed under: PERKOSAAN

Aku tidak suka melihat gadis di hadapanku. Dia bukan gadis yang menarik apalagi cantik. Dia mirip gembel biarpun tidak dekil. Rambutnya yang pendek mencuat ke segala arah seperti rumput ilalang yang tumbuh bebas. Beberapa bekas luka gores meramaikan wajahnya yang tirus. Ada codet kecil di sudut bibir kirinya. Dua lingkar hitam masing-masing membingkai kedua matanya yang cekung. Sorot matanya dingin meski bisa kulihat kelelahan membayang di sana. Sejak tadi dia memandangiku tanpa ekspresi.

Satu-satunya hal yang kukagumi dari wajahnya adalah hidungnya yang mancung. Tidak terlalu mencuat dan sempit, pas, sesuai dengan bentuk wajahnya yang berdagu pendek. Dari dulu aku ingin punya hidung seperti itu, tapi papa tidak pernah mengijinkanku menjalani operasi plastik. Katanya, hidungku yang ujungnya membulat itu hidung hoki. Kenyataannya, nasibku apes begini.

Dan sepertinya gadis jelek itu tahu kalau aku mengagumi hidungnya, tangannya yang kurus menjulur ke atas untuk mengelus ujung hidungnya dengan hati-hati. Elusan itu hanya sebentar karena sekejap kemudian tangannya kembali turun, menggantung sejajar tubuh kurusnya yang telanjang dan basah. Dia memang baru keluar dari kamar mandi. Tulang-tulang torsonya yang menonjol. Untung saja sepasang payudaranya yang menyembul subur dan pinggul yang membulat menyegarkan mata dari pemandangan gersang. Namun sekujur tubuhnya mirip jalan rusak. Di mana-mana ada alur-alur bekas luka. Ada yang membujur, mendatar, menyilang. Koreng mengering juga banyak.

Dua tangan berjari-jari lentik berseliweran mengeringkan tubuh rusak itu dengan handuk lebar. Bukan jari-hari si jelek, tapi milik seorang gadis cantik berseragam perawat yang membungkuk di sebelahnya. Joyce, nama si perawat telaten bermata indah, berbulu mata lentik dan bertubuh sintal itu. Wajahnya mengingatkanku pada seseorang, tapi aku tidak ingat siapa persisnya. Mungkin salah satu dari ayam-ayam piaraan papa yang semuanya cantik dan sexy.

Mulutnya terus menyerocos sementara tangannya sibuk bekerja. Kadang ocehannya melantur ke model fashion terakhir atau mantan pacarnya yang tidak habis-habis. Memang menyebalkan, tapi aku masih lebih senang mendengar omong kosong daripada kata-kata penghiburan basi seperti ‘Yang penting kau masih hidup.’ atau ‘Bersyukurlah karena kau masih hidup.’ Penting bagi siapa dan kenapa aku harus bersyukur? Seharusnya setelah melihat kondisiku yang mengenaskan, orang-orang sok tahu itu bilang, ‘Mendingan kau mati saja.’

Ya, si jelek itu adalah bayanganku di depan cermin. Beginilah rupaku sejak sadar dari koma yang menyekapku selama lima hari hampir empat bulan yang lalu. Kondisiku ini sudah jauh lebih baik karena aku sudah bisa duduk tegak, bisa berjalan tanpa bantuan orang lain atau tongkat dan bisa berbicara tanpa serak. Orang-orang yang merawatku bilang aku perempuan kuat. Kalau saja mereka tahu aku sudah sering bersinggungan dengan maut dan tidak juga mati-mati, bisa-bisa mereka menggelariku superhero dengan sembilan nyawa.

Padahal aku tidak punya niat lagi untuk hidup. Untuk apa aku bisa hidup? Aku tidak punya apa-apa dan siapa-siapa lagi. Hartaku yang tersisa sebenarnya masih cukup banyak. Tercecer secara tersembunyi di Swiss, Lichtenstein dan Solomon Island. Susahnya, secara hukum Pamela Rachel Tanuseja sudah mati dan untuk menghidupkannya kembali dibutuhkan uang yang banyak dan waktu yang lama. Itu pun belum tentu berhasil.

Namun kesepian ternyata jauh lebih menyakitkan daripada harus kehilangan seluruh hartaku. Aku tidak bisa mengerti mengapa aku harus diselamatkan. Tidak seorang pun yang peduli padaku. Buktinya tidak ada yang mengunjungiku selama aku dirawat. Kata Joyce (dia mengatakan dengan sangat hati-hati), sanak keluargaku sendiri tidak mau mengakui kalau aku masih hidup. Aku sama sekali tidak heran. Aku juga tidak menyalahkan mereka. Karena kalau aku jadi mereka, aku pun tidak akan percaya kalau si karung beras manja bisa menciut hingga separuhnya dan nekat menyamar menjadi waitress agar bisa membalas dendam pada pembunuh papanya. Aku juga tidak begitu kecewa saat polisi yang datang menginterogasiku dengan detail ternyata tidak mau melakukan apa-apa dengan alasan kurangnya bukti. Mereka pasti enggan mengusut keluarga kaya yang dibekingi orang-orang kuat. Mau bagaimana lagi? Aku pasrah meski tak rela. Aku sadar benar kalau aku memang sudah kehilangan segalanya.

Aku ingin mati, tapi takut. Keringat dingin selalu membanjiri tubuhku tiap kali teringat pada kegelapan total yang menyekapku. Biarpun tidak seseram api neraka yang diceritakan guru-guru agama jaman sekolah dulu, tetap saja aku tidak punya nyali untuk kembali ke sana sendirian. Jadilah aku hidup tanpa semangat. Mungkin separuh nyawaku tertinggal dalam kegelapan absolut itu.

“Mel! Kau dengar nggak sih aku ngomong apa? Awas ya kalau kau minta aku mengulangi semuanya. Emang enak dicuekin? Eh, jangan melamun terus dong. Nanti kau jadi linglung beneran. Kau harus bisa sembuh. Kau masih muda dan penyakitmu kan nggak parah-parah amat. Dokter bilang cuma apatis kronis.”

Apatis kronis. Huh, jelek sekali. Mengapa diagnosanya bukan sesuatu yang terdengar ilmiah dan mengerikan seperti schizophrenia? Aku menghela napas tanpa suara. Aku tidak tahu bagaimana cara membayar seluruh biaya perawatanku. Aku tidak bisa tenang walau Joyce sudah berulangkali menenangkanku. Dia selalu bilang, yang penting aku sembuh dulu lalu aku bisa membayarnya dengan cara bekerja di tempat ini. Aku ingin sekali mempercayainya, tapi bagaimana bisa? Joyce kan bukan pemilik klinik ini.

Seraphic bukan klinik sekelas poliklinik puskesmas melainkan klinik spesialis rehabilitasi akibat kekerasan fisik dan mental. Tiap pasien mendiami kamar sendiri yang lengkap dengan kamar mandi. Lucunya, aku baru tahu keberadaan klinik ini setelah menjadi pasiennya. Kebetulan Bandi membuangku di kebun singkong sekitar dua kilometer dari sini. Aku jadi curiga jangan-jangan psikopat klemer itu sudah sering membuang mayat-mayat korbannya ke mari.

Setelah sebulan menghuni klinik yang bentuknya mirip wisma peristirahatan sederhana yang dipagari tembok putih setinggi tiga meter ini, aku baru sadar kalau tempat ini lebih pantas disebut klinik mesum. Keakraban antara para pasien dan awak Seraphic melampaui batas normal. Saling colek, menggelitik, berpelukan, meremas, merogoh sampai berciuman ala French kiss bukan hal yang tabu. Dan yang mereka lakukan tidak hanya sebatas itu.

Awalnya aku hanya mendengar suara-suara yang dulu sering keluar dari mulutku sendiri seperti desahan nikmat dari kolong meja, erangan tertahan dari balik pintu kamar mandi hingga jeritan orgasme melengking dari dinding sebelah. Akhirnya aku melihat sumber suaranya. Kadang mereka melakukannya dengan terang-terangan, kadang sembunyi-sembunyi. Kadang dengan lawan jenis, lain kali bisa dengan sesama jenis. Pemandangan tukang cuci menyodomi koki di depan meja seterika atau tukang kebun menggumuli pasien di bawah pohon kamboja atau dokter mengoral perawat dari kolong meja praktek sudah biasa kulihat.

Sakit. Semuanya sakit. Sepertinya urat malu mereka sudah putus. Ajaibnya, aku merasa iri karena kecuali Joyce, tidak ada yang berminat untuk menyentuhku. Melirikku saja ogah. Kejijikkan mereka terhadapku membuatku tidak betah. Aku ingin sekali pergi dari sini, tapi ke mana?

“Mel, kau kok kelihatan pucat. Jangan-jangan perutmu sakit lagi ya?”

Goblok. Mengapa aku terlalu tergantung pada orang gila itu? Coba Mel, pikirkan dirimu sendiri dong. Bagaimana dengan masa depanmu? Bagaimana kau bisa punya anak lagi? Yang benar saja, mana ada lelaki waras yang mau bercinta denganku dengan sukarela? Penghuni Seraphic saja tidak sudi. Kehidupan normal bagiku bagai mimpi di siang bolong.

“Kalau bukan gara-gara Sonia Marbella, kandunganmu pasti baik-baik saja. Kau sih terlalu memendam perasaan. Makanya kalau mau marah ya marah saja. Siapa yang nggak marah kalau suaminya direbut orang? Nggak ada yang salah kalau kau cemburu. Jangan sok jaim. Ngapain sih?”

Kata-kata terakhir Joyce terus terngiang di telingaku walau malam telah menjelang. Gadis bawel itu memang sinting. Dia satu-satunya orang yang mau mendengarkan keluh kesahku, tapi daya tangkapnya parah. Sampai berbusa-busa aku mencoba menjelaskan statusku yang masih lajang dan kebencianku yang tak berujung pada BL, tapi semuanya sia-sia. Dia benar-benar idiot inside.

Tapi apa benar bintang sinetron indo Jerman-Lebanon-Jepang itu yang membuatku keguguran? Lebih masuk akal bila Joyce menyalahkan Bandi. Selain sudah menyiksaku sampai setengah mati, psikopat klemer itu juga membuat mentalku hancur berantakan. Dalam bulan pertama aku sempat menderita insomnia akut. Meski sudah diberi obat penenang, aku tetap susah terlelap. Mimpi buruk terus menerorku. Aku ketakutan melihat pembunuhku mendatangiku dalam kegelapan, membelai kepalaku seraya berbisik, ‘Kau milikku.’ Ya mungkin juga itu bayangan saudaranya, aku tidak peduli yang mana yang jelas aku tidak ingin melihat wajah keduanya lagi.

Sebegitu takut dan bencinya pada Bandi membuatku terhenyak dan tak bisa berkata apa-apa selama dua hari penuh setelah mendengar berita tewasnya jahanam keji itu dalam kecelakaan kapal pesiar. Kira-kira tiga bulan yang lalu semua media massa memberitakan musibah yang dialami sebuah kapal pesiar bernama Archangel. Ini adalah kapal pesiar kebanggaan BL yang sering digunakannya untuk memancing. Kapal pesiar itu terbakar dan meledak di perairan pulau seribu. Tepatnya tak jauh dari dermaga Pulau Kacang, pulau milik keluarga orang gila itu. Aku sangat terpukul karena tidak bisa menerima kenyataan kalau orang sebejat dan sekeji dirinya mati segampang itu. Dia harus menerima perlakuan yang sama yang diberikannya pada semua korbannya.

Bagaimanapun kematiannya membuatku lega. Pembunuh berantai itu tidak akan bisa beraksi lagi. Kematiannya menyelamatkan ratusan nyawa ayam. Biarpun mereka pelacur, tapi mereka juga manusia. Kalau begitu bukan Bandi yang membuatku keguguran. Mungkin saja ini memang salah Sonia sejak gosip panas tentang pertunangannya dengan salah satu bujangan terkaya Indonesia meramaikan infotainment sekitar dua minggu kemudian. Aku masih ingat bagaimana kagetnya begitu melihat wajah si bejat itu terpampang di layar kaca. Siapa lagi kalau bukan Budi Lukman!!

Apa-apaan ini??? Bukankah BL sudah mati? Kalau dia masih hidup kenapa dia tidak menolongku? Apa dia sudah melupakanku? Bukankah aku pacarnya? Apa aku yang sudah hancur binasa ini tidak pantas menjadi miliknya lagi? Walah, kok aku bisa lupa kalau selama ini aku tidak pernah rela disebut miliknya?

Atau jangan-jangan Bandi sebenarnya masih hidup. Dia memakai identitas BL dan membuat skenario kecelakaan kapal pesiar untuk membuang mayat kembarannya. Tapi kenapa dia tidak mencariku untuk menuntaskan eksperimen gilanya? Tidak mungkin dia tidak tahu kalau aku masih hidup karena polisi pasti sudah meminta keterangan darinya.

Aku takut kalau aku jadi gila karena bisa-bisanya aku cemburu pada Sonia. Tak kupedulikan sanggahan dari pihak BL yang diwakili pengacaranya. Pengacara tambun berambut kribo yang dikenal sebagai family man tapi diam-diam adalah pelanggan setia Sanctuary itu buru-buru menggelar jumpa pers untuk membantah semua gosip dan mengatakan kalau orang kaya gila itu sedang berobat di Singapura untuk menyembuhkan luka-luka akibat kecelakaan kapal pesiar yang menewaskan kembarannya. Katanya, kaki BL patah saat melompat dari kapal dan menderita beberapa luka bakar yang tidak fatal. Namun dalam kesempatan lainnya, di bawah siraman hujan lampu blitz, sembari tersenyum genit Sonia mengatakan tidak menutup kemungkinan hubungan cinta yang lebih jauh dengan BL.

Bodohnya aku, menenggelamkan diri dalam ribuan prasangka yang makin membuatku ragu dengan kewarasanku. Untuk apa sih aku repot-repot memikirkan biang kerok segala penderitaan hidupku? Brengsek. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri kalau aku merindukannya sekaligus membencinya. Aku benar-benar tidak mengerti bagaimana bisa dia yang hampir tiap hari menggauliku sampai beronde-ronde masih punya tenaga untuk meniduri perempuan lain? Jangan-jangan affair mereka berlangsung setelah insiden aku dikawin paksa dengan ular oleh Bandi. Sejak musibah itu gairah seksku menurun drastis sehingga BL mengurangi frekuensi pemerkosaan terhadapku. Sudah jelas dia tidak akan menolak menyalurkan nafsu binatangnya pada gadis yang yang jauh lebih cantik, eksotik dan seksi dariku dengan sukarela menawarkan diri padanya.

Kugelengkan kepala dan menghembuskan napas panjang. Tidak ada gunanya menyiksa diri sendiri. Semua hal buruk itu hanya membuatku makin depresi saja. Tanpa sadar tanganku mengelus-elus tubuhku untuk menenangkan hatiku yang galau dan berakhir di klentit. Orgasme yang tadi tertahan mendadak muncul kembali. Kedua tanganku langsung berbagi tugas. Yang kiri membukakan jalan dengan menyibakkan labia mayora sedang yang kanan sibuk mengelus klitoris sekaligus mengobok-ngobok liang vaginaku. Tak sampai lima menit, perutku sudah mengejang. Gerakan tanganku langsung memelan, mencoba menunda ledakan orgasme agar klimaks yang lebih dahsyat bisa kudapat. Sepuluh menit kemudian, dengan klitoris merah membengkak, baru aku menggeliat-geliat liar dengan kaki terentang lebar dan punggung melengkung ke atas.

Sejak malam itu, aku seperti kembali ke masa perbudakan seks dulu. Mengisi kekosongan hari dengan masturbasi. Libido yang selama ini mati suri jadi hidup kembali. Aku gampang sekali terangsang apalagi senantiasa disuguhi pemandangan penuh birahi. Lenguhan pelan dari tetangga sebelah bilik toilet yang sedang dikerjai janitor saja mampu membuatku yang sedang mulas kontan menggosok klentit pada saat itu juga.

Joyce kelihatan senang melihat perubahan pada diriku, tapi mengapa dia malah menjauh dan tidak menggarapku lagi? Dengan berbagai alasan, dia menolak menyentuhku lagi. Aku kecewa, tapi tidak kunjung protes juga. Aku masih belum mampu membuang topeng mati rasa yang membungkus wajahku. Aku sengaja membentengi hati dan jiwaku yang retak dengan kekosongan agar tidak hancur berkeping-keping. Tapi bukan berarti aku diam saja. Kucari gadis itu. Aku benar-benar penasaran. Siapa sih yang sudah membuat Joyce mencampakkanku?

Aku terperangah setelah menemukan orang yang kucari. Dia ada di ruang makan, persisnya tergeletak di atas meja makan seperti ikan asin yang dirubung sekawanan kucing garong. Joyce telentang mekangkang di tengah-tengah meja makan besar. Empat manusia berkelamin panjang dari berbagai latar belakang mengerumuninya. Pak Sugeng, pengusaha karet yang berstatus pasien karena patah tangan akibat jatuh dari moge Ducatti miliknya sedang mendesis-desis menikmati blowjob dari Joyce. Dokter Bimo yang berpredikat spesialis bedah tulang sedang berbaring di bawah gadis itu. Tangannya memegangi pinggang ramping si bawel dan menyodok-nyodokkan pantatnya ke lubang dubur mangsanya. Mas Kresna, satpam bertubuh kekar yang memiliki mata jelalatan berlutut di depan sepasang kaki Joyce yang terentang lebar. Keringat di wajah perseginya menetes tiap kali pantatnya menggoyang mem*k di hadapannya. Ical sang terapis wicara yang masih belia menduduki perut perawat cantik itu dan asyik menggosok-gosok penisnya yang terjepit gunung kembar padat itu.

Melihat adegan yang rasanya tidak tepat bila dilabeli perkosaan mengingat Joyce terlihat begitu menikmatinya, selangkanganku langsung becek. Detak jantungku melonjak dua kali lipat membuat napasku menderu. Busyet, baru kali ini kulihat dengan mata kepalaku sendiri gangbang yang begitu liar. Aku jadi iri pada Joyce yang mengerang sensual. Apa rasanya begitu nikmat? Selama ini aku belum pernah dikeroyok seperti itu karena BL tidak pernah mengijinkan orang lain menyentuhku. Aku sendiri juga takut digarap beramai-ramai, tapi kali ini sungguh mati aku berharap aku yang berada di atas meja itu, bukan dia.

Tanpa disuruh, tanganku sudah turun menghibur mem*kku yang kesepian. Tangan satunya memerah kedua payudara bergantian. Aku ikut mengejang dan mengerang tertahan seperti lima pelaku adegan yang kutonton. Kakiku makin melebar, meluangkan tempat bagi jari-jariku agar lebih leluasa mengorek-ngorek g-spot.

Klontang!! PRANG!

Aku terpaku. Rasanya jantungku berhenti berdetak saat mendengar bunyi nyaring yang mengagetkan itu. Aku tidak tahu apa yang terjatuh, mungkin tutup panci dan gelas mengingat aku bersembunyi di balik pintu yang menghubungkan ruang makan dengan dapur. Pastinya bunyi itu berasal dari belakangku.

“Hey! Siapa di luar? Jangan malu-malu! Ayo masuk! Join aja!” seru Pak Sugeng sambil nyengir setengah meringis.

Tapi aku yang haus untuk dipuaskan malah tidak berani bersuara. Aku takut mereka akan menolak dan menghinaku bila aku berani menampakkan diri. Aku sedang berpikir apa yang sebaiknya kulakukan saat terdengar suara,

“Ini aku.”

Aku kembali membeku. Bukan hanya karena mendengar suara serak yang terdengar persis di balik punggungku namun karena sebuah lengan kekar berotot membelit tubuhku hingga aku tak mampu bergerak. Aku juga membisu karena mulutku dibekap sang empunya lengan.

“Oh, kau. Tunggu apa lagi?” balas Ical.

Si lengan kekar terdiam sejenak. Napasnya berhembus panas di kudukku membuatku merinding. Astaga, apa aku akan menjadi santapan mereka berikutnya atau dia akan menyantapku sendirian karena rasanya tak mungkin dia melepaskanku begitu saja.

Di luar dugaan, dia melepaskan belitan tangannya dan berujar, “Kau boleh bergabung dengan mereka kalau kau mau.”

Aku tetap mematung. Aku memang masih ragu untuk bergabung dengan Joyce, tapi bukan itu yang membuatku terpaku di tempat. Suara serak itu mengingatkanku pada seseorang yang seharusnya sudah mati. Aheng. Tapi ukuran lengan gorila itu dua kali lipat lebih besar dari lengan cecunguk ini.

“Lain kali saja deh!” sahut si serak tiba-tiba.

Mungkin dia tidak sabar menungguku berpikir. Mendadak mataku ditutup kain hitam. Aku meronta dalam kepanikan karena aku phobia pada kegelapan total namun si serak malah menancapkan sesuatu ke dalam kedua lubang telingaku. Earphone? Bukan, tapi earplug. Jadilah aku membabi-buta mencoba membebaskan kedua inderaku dalam kegelapan, tapi kedua tanganku malah diikat di belakang punggungku.

Kurasakan tubuhku didorong ke depan. Aku berjalan terhuyung sambil memaki dalam desisan. Reaksi yang kudapatkan adalah remasan pada payudaraku. Pekikan tertahanku terputus begitu saja setelah dia menyelipkan kain di antara mulutku yang sedang terbuka dan mengikatnya di belakang kepalaku. Tinggal kakiku yang bebas melakukan perlawanan. Tapi lagi-lagi perlawananku lumpuh setelah dia menangkap kakiku dan dengan cekatan mengikatnya jadi satu di pergelangan kaki hingga aku terjerembab

Namun belum sampai dengkulku menabrak lantai, tubuhku seperti disentak ke atas dan berayun bebas. Rupanya dia memanggulku seperti yang pernah Aheng lakukan saat membawaku ke rumah dari Sanctuary. Aku terpaksa berhenti berontak dan berteriak protes karena merasa mual dan takut terjatuh.

Aku tidak tahu dia membawaku ke mana, tapi letaknya pasti tidak jauh dan bukan ke ruang makan karena tubuhku dihempaskan ke ranjang bukan meja. Aku terkesiap saat pakaianku digunting dan dirobek. Aku terpaksa tidak bergerak karena tidak ingin ujung gunting yang dingin menambah goresan luka di kulitku. Kurasakan subalan yang mengganjal mulutku yang tak tertutup rapat sudah basah kuyup oleh liurku sendiri.

Dia membolak-balik tubuhku untuk menarik potongan pakaian yang terjepit di sela-sela lipatan tubuhku. Lalu dia membiarkanku terbaring miring. Aku menunggu dengan cemas. Aku tidak suka berada dalam situasi di mana aku benar-benar tidak berdaya. Aku tidak mengerti, kalau dia ingin memerkosaku kenapa harus repot-repot begini? Aku tidak akan bisa menang melawannya dan seisi Seraphic pasti lebih membelanya daripada aku. Dan mengapa setelah berhasil meringkus dan menelanjangiku dia malah mendiamkanku? Apa dia hanya senang menontonku telanjang terikat? Jangan-jangan dia meninggalkanku sendirian. Kuberanikan diri untuk bergerak sedikit. Karena tidak ada respon darinya, aku beringsut bangun. Tapi gagal karena dia langsung mendorongku hingga aku terjengkang dengan kaki terangkat.

“Nnnrrrhhh!”

Aku menjerit setengah mengerang saat jari-jarinya melebarkan paha dalamku dan lidahnya menyerbu klentitku dengan lapar. Aku menggelinjang ketika dua jarinya menerobos masuk liang vaginaku dan membuat gerakan memutar di dalam. Pada saat yang sama kurasakan payudaraku diremas-remas dan putingku dipelintir dan digigiti.

Rasa takut, nikmat dan penasaran beradu dalam hatiku. Ada berapa orang yang mengerumuniku? Apa aku akan di-gangbang seperti yang Joyce alami? Tapi mengapa dia tidak juga membuka ikatanku dan sumbatanku?

“Nnnn….Erggghh….Nnnnnhhh

Aku mengejang liar sebisaku begitu orgasme pertama kuraih. Serangan membabi-buta membuatku tak mampu menahan klimaks yang begitu cepat datang. Dia berhenti menyerang mem*kku dan meninggalkan kakiku. Tiba-tiba seseorang mengulum kedua sisi bibirku yang terpisah oleh sumbat kain dengan bergantian. Bau liurnya khas. Ya ampun ini kan bau cairan vaginaku. Seakan khawatir aku tidak bisa mencicipi cairan vaginaku sendiri, dia menyelipkan dua jarinya ke sela-sela kain penyumbat mulutku. Hmmm… gurih.

Setelah puas mengobok-obok mulutku, dia pergi. Seseorang mengangkat kakiku yang masih terangkat dan menekuknya hingga dengkulku menyentuh payudaraku.

“Hhhhh….”

Aku mendesah ketika merasakan ujung kontl digosok-gosok ke bibir memkku yang basah.

“RRRggghhhh!!”

Aku menggeram dan mengejan begitu kontl berukuran besar memaksa masuk. Kebecekan memkku ternyata belum bisa meniadakan rasa perih. Seperti perawan yang baru pertama kali disanggama, aku mengerang-erang kesakitan. Aku lupa bagaimana enaknya dient*ti apalagi punggungku terasa tidak nyaman, terganjal tanganku sendiri. Untungnya, peserta lain menyangga leherku dengan bantal dan melumat bibirku bergantian sehingga rasa sakit itu pelan-pelan menghilang tergantikan rasa nikmat.

Sodokannya makin kuat dan cepat, sedang lumatan di bibirku makin getol membuatku yang sudah sangat terengah-engah sulit bernapas. Rupanya mereka tahu dan melepaskan sumbat di mulutku. Aku langsung membunyikan suara-suara yang sudah lama tertahan sejak tadi. Awalnya desahan pelan lama-lama menjadi jeritan mantap.

“Ooooh…. Aaah…. Oooh… Yes…. Teeeerrruusss….”

Aku tidak peduli bila mereka menertawakan dan menghinaku asal aku dipuaskan. Aku berusaha meregangkan pahaku supaya dia tidak kesulitan memerkosaku, tapi dia malah menekanku hingga tubuhku terlipat. Ada yang mencium dan mengulum bibirku dengan kasar. Sepertinya itu bibir pemerkosaku. Apa dia si bersuara serak itu? Aku memberanikan diri menyodorkan lidahku yang langsung disedot dengan penuh nafsu.

Gencetan tubuhnya membuat punggung dan tanganku makin sakit sakit, tapi tak seberapa dibandingkan enaknya kont*l itu menggesek g-spotku.

“Mmmmwwaaah….Aaaaah… Iiiiyaaah…Yaaaaaahhhh

Aku melolong begitu keras hingga bibir yang menyekap bibirku terlepas. Aku mencapai klimaks lagi dan terkulai ngos-ngosan. Meski lelah, tapi aku belum rela dilepas begitu saja. Lenguhan kecewa sempat keluar dari mulutku saat kont*l membesi itu dicabut dari liang vaginaku. Sudah jelas ini bukan perkosaan karena aku sangat menikmatinya sampai berharap perbuatan bejat ini tidak berakhir dengan cepat. Aku menurut dengan pasrah ketika dia membalikkan tubuhku dan menunggingkan pantatku.

“Ergh?”

Aku terkejut saat bibirku mendarat di sebuah onggokan daging lembut basah berbau khas. Astaga! Ini kan bau peju campur cairan vagina!

“Joyce?”

Tapi tak kudengar jawaban karena telingaku masih tuli. Kucoba menghindar, tapi mem*k itu terus mengejar bibirku. Malah kepalaku dijepit paha agar tidak lari lagi.

“Mmphhh! Mmm…lllrpp”

Karena sodokan dari belakang, mulutku yang terbuka dengan telak menabrak bibir bawah itu dengan telak. Haduh, kocokan kontl itu benar-benar luar biasa hingga membuat sekujur tubuhku menggeletar. Aku ingin menjerit, tapi mulutku tersumbat. Aku belum pernah menijlati memk, tapi kali ini aku tidak punya pilihan. Jadilah aku melampiaskan kenikmatan dengan mengemut bibir itu dengan gemas.

Kucoba mempraktekkan ilmu oraljob yang BL sering lakukan padaku. Kujilati sisi-sisi klentitnya, kuhisap dan kugigit pelan benjolan kecil itu. Kemudian lidahku menyapu dari atas ke bawah bergantian. Aku tidak tahu peju siapa saja yang sudah kutelan. Baunya agak beda dari bau peju BL. Rasanya juga lebih masam. Tapi tak apa, ada rasa bangga bisa membuat orang lain berkelojotan. Maka kugulung sisi lidahku hingga membentuk corong dan mengebor lubang becek dihadapanku. Gadis yang sedang kuoral pasti hampir orgasme karena kedua pahanya gemetar dan rambutku dijambaki. Aku kembali sulit bernapas karena kedua luban hidungku tertutup gundukan daging basah berbulu. Aku juga nyaris mencapai puncak ketiga kalinya apalagi setelah pemerkosaku membuat gerakan melingkar membuat mem*kku serasa diaduk-aduk.

“Mmm…Mrrr…Mrrrrggghhh

Aku ambruk. Sementara gadis di hadapanku juga melonggarkan jepitan pahanya. Wajahku basah-kuyup oleh cairan vaginanya. Tapi pemerkosaku masih belum ejakulasi juga. Dia terus mengayun tubuhku dengan gencar hingga aku terguling ke samping. Mendadak dia berhenti saat menekan senjatanya dalam-dalam. Aku merinti dan mengempot kont*lnya untuk membantunya ejakulasi. Tapi ternyata bukan semburan sperma yang kudapat, melainkan pembebasan pada pergelangan kakiku.

“Aaaarghh…”

Aku terlonjak sambil mengernyit ketika kaki kananku diangkat dan disampirkan ke pundak pejantanku. Sodokan kont*l itu terasa makin dalam dan menumbuk bibir rahimku dengan sukses. Dia terus menggoyangku dengan keras sampai pundak kiriku pegal karena harus menahan beban seluruh tubuhku. Leherku juga nyaris tengleng.

“Oooh…,” erangku pasrah sambil berharap dia segera mencapai klimaks, memberiku waktu istirahat selama setengah jam dan mengganti posisi yang tidak nyaman ini baru merogolku lagi hingga serial klimaks berikutnya.

Aku ingin bilang begitu, tapi malu. Untung saja harapanku terkabul. Tak lama kemudian payudaraku dicengkeram dengan keras dan klentitku dicubit hingga aku menjerit kesakitan sembari mengempot benda keras yang mengganjal mem*kku dengan seluruh sisa kekuatanku. Benda keras itu berkedut dan kurasakan semburan-semburan hangat mengisi vaginaku. Dalam kelelahan aku menghela napas lega. Betapa aku merindukan saat-saat seperti ini. Saat-saat di mana libido meledak dan kepuasan meruap di sekujur tubuhku.

Saking lelahnya, aku tertidur. Paginya aku terbangun di ranjangku sendiri. Semuanya terasa seperti mimpi, tapi aku tahu yang kualami nyata karena tubuhku telanjang dan berlumuran air mani. Joyce tidak mau membicarakan apa yang kualami. Dia hanya bilang agar aku menikmatinya saja. Sejak malam itu aku digagahi tiap malam. Biasanya mereka menangkapku saat aku mengintip orang lain menunaikan nafsu, mataku pasti langsung ditutup kain hitam, telingaku disumbat, kaki dan tanganku diikat kemudian aku digelandang ke suatu tempat. Tapi lebih sering mereka memangsaku di kamarku sendiri, saat tengah malam tiba. Kadang aku sengaja pura-pura tidur agar bisa mengenali para penyantapku, namun mereka lebih cerdik dariku. Dalam kegelapan, mataku masih ditutup pula. Lama-lama aku terbiasa dan menantikan kedatangan mereka dengan penuh harap.

Aku sering bertanya-tanya dalam hati, mengapa mereka selalu menutup mataku? Mengapa mereka tidak ingin aku melihatnya? Apa karena wajah mereka jelek? Setahuku wajahku paling jelek di Seraphic. Setelah sepuluh hari berlalu, kuberanikan diri menanyakan tiga hal itu pada mereka.

Jawaban yang kudapat belaian di rambutku yang lepek. Lalu tangan itu turun ke wajahku, membasuh sisa cairan lengket yang mulai mengering dengan keringatku sendiri. Aku tertegun saat menyadari kecupan pada tiap bekas luka di wajahku. Bibirnya terus bergerak turun ke leher, payudara, perut, terus ke bawah sampai ke kaki lalu membalikkan tubuhku dan mengabsen semua bekas luka dengan ciuman.

Aku terharu sampai berkaca-kaca. Aku tidak tahu siapa dia, tapi dia tidak jijik padaku. Sekarang dia malah sudah merangsangku lagi. Sebelah tangannya mulai mengucek-ngucek mem*kku yang kuyup dan bibirnya merambah payudaraku bergantian. Aku benar-benar penasaran. Penghuni Seraphic mana yang diam-diam menaruh belas kasihan padaku sedemikian rupa.

“Nghh… ssss…si…siapaaaahh… kaa…aaah… kaauuuuughhh…”

Jawaban yang kudapat hanyalah pencopotan earplug. Tapi tetap tiada jawaban dalam bentuk kata-kata. Yang kudengar hanyalah kecipak memkku dan eranganku yang membuat diriku sendiri terangsang. Dia juga terangsang karena kontlnya yang menempel di pahaku makin mengeras.

“Uuuuh…. Mmmhhh… Doooon’t…ssssstoooop….”

Lho kok dia malah menarik tangannya dari kelaminku dan menjauh dari tubuhku? Aku benar-benar kecewa dan hampir meneriakkan protes saat bau khas merajai rongga hidungku. Ini kan bau… Eh! Sesuatu benda empuk berbulu menyentuh bibirku disusul benda keras yang licin. Dengan nekat kujulurkan lidahku. Kudengan erangan nikmat saat kujilati benda licin yang berkepala bulat.

“Hiyaaah!!”

Aku terpekik kaget saat sepotong lidah menyapu kelaminku dan sepasang tangan meremas-remas payudaraku. Namun aku tetap menjulurkan lidahku seperti orang kehausan. Penis besar itu akhirnya kudapat. Perlahan mendorong masuk lidahku. Kujilati seluruh batangnya dan kuhisap kepalanya yang belah dua itu dengan penuh semangat. Sang empunya kont*l memegangi kepalaku dan menarik-mundur kelaminnya seakan mulutku adalah vagina.

“Mmrrghh!”

Klimaks yang kesekian kalinya menghampiriku. Aku menggelinjang dan membusungkan dadaku sembari mengenyot kelamin dalam mulutku dengan kuat hingga pipiku kempot. Lalu aku terkulai lemas sambil berusaha terus mengoral pejantanku yang kesekian. Namun dia malah menarik alat vitalnya. Aku menyesal, apa karena kekuatan kenyotanku berkurang setelah orgasme tadi. Waduh, penjilat klentitku juga beranjak pergi. Apa permainan ini sudah usai?

Tapi rupanya aku tidak perlu khawatir karena seseorang mengambil posisi di selangkanganku. Aku menjulurkan lidahku saat orang lainnya merengkuh leherku. Namun aku salah duga. Dia bukan hendak mencium bibirku melainkan ingin mengambil bantal dari bawah kepalaku. Aku malu setengah mati dan diam saja saat bantal itu diselipkan di bawah pantatku.

“Uuuughh!”

Tanpa basa-basi, kont*l itu langsung melesak masuk dengan kekuatan penuh hingga mentok. Aku yang masih terhenyak makin kaget setelah tubuh pejantanku menindihku. Rupanya kali ini dia menginginkan menguasai diriku sepenuhnya. Kedua tangannya meremas payudara dan pinggulku bergantian. Aku mengimbanginya dengan membelitkan kakiku ke pinggangnya dan menggoyang pinggulku. Dia memagut bibirku yang seperuh terbuka dengan rakus.

“Aauw! Tang…aaaahn….kuuuuuhh…. ssss…sss…ssaa…aaaah…kiiiit….ooooh…”

Tanganku memang sakit karena tertindih dua tubuh, tapi tidak sesakit tadi. Aku hanya ingin mencoba memintanya membuka ikatan tanganku agar lebih bebas bergerak dan membuka penutup mataku. Dia berhenti bergerak dan menarikku bangun tanpa menghentikan hunjaman kont*lnya. Seseorang membuka ikatan tanganku. Namun begitu tanganku bebas, dia langsung menahan kedua pergelangan tanganku dengan tangannya.

Aku tidak protes lagi karena sudah sibuk melolong nikmat. Astaga, kalau diperkosa rasanya seperti surga dunia begini, aku tidak keberatan diperkosa tiap hari. Aku merintih tiap kali dada bidangnya menggesek payudaraku dan puting kami saling beradu. Gerakannya makin bertenaga hingga tubuhku bergeser meninggalkan bantal yang mengganjal. Mendadak sebelah tangannya meninggalkan tangan kiriku dan…

Duk.

Luar biasa. Dia menggunakan tangannya untuk melindungi kepalaku saat menghantam headboard ranjang. Dulu BL tidak pernah berbuat hal semulia ini. Dia malah senang menontonku terjitak-jitak sambil nyengir puas. Ah, sudahlah. Jangan pikirkan dia lagi. Meski begitu, gaya dan tenaga lelaki yang menyetubuhiku ini ada miripnya dengan orang gila itu. Jangan-jangan… Tidak mungkin. Bau badan mereka tidak sama. Parfum Bvlgari yang sudah akrab di setiap helai bulu hidungku tidak terdeteksi sama sekali.

Tangan kiriku yang bebas berusaha menyingkap penutup mataku, tapi terhalang tangannya yang menangkup di atas ubun-ubunku. Yang kubisa lakukan hanyalah meraba punggung, lengan dan sebagian perutnya. Ya ampun, perutnya rata dan berotot. Six pack-kah? Jari-jariku meraba tiap lekukan otot di lengannya yang kekar. Jauh beda dengan perut BL yang kempes dan lengannya yang kurus liat. Apa penggagahiku ini si serak yang menangkapku?
Kujepit kont*lnya sekeras mungkin membuat g-spotku makin tergesek dengan mantap. Kami berdua mendesah lalu saling memagut. Sekitar lima menit kemudian aku berteriak panjang sambil meremas lengannya dengan kuat. Dia berhenti mengayun pantatnya. Lalu melepas cekalan tangannya pada pergelangan tangan kananku yang sudah kesemutan dan memelukku erat. Digigitinya daun telinga dan leherku dengan lapar. Lalu turun ke payudaraku. Gigitannya membuatku meringis menahan sakit, tapi aku menikmatinya sampai…

“Kau milikku.”

Bisikan serak itu membuatku membeku. Mengapa dia mengatakan hal seperti itu? Bikin rusak suasana saja. Kutarik penutup mataku hingga terlepas. Sialan, lampu kamar menyilaukan mataku. Aku berusaha berkonsentrasi pada kepala yang menyuruk di antara kedua gunung kembarku.

“Kau milikku,” bisiknya lagi sambil melumat kedua putingku bergantian.

“Kau siapa?” tanyaku parau.

Dia mengangkat kepalanya. Seraut wajah asing yang tampak. Aku menahan napas. Sepintas dia mirip Takeshi Kaneshiro, aktor pujaanku. Alisnya, hidungnya hingga bentuk bibirnya mirip yang terpasang pada aktor peranakan Jepang-Taiwan itu. Tapi sepasang matanya…

“Kau siapa?” tanyaku gemetar.

Dia tersenyum. Busyet! Senyumnya membuatnya makin tampan sampai hatiku cekot-cekot, tapi sepasang matanya…

Aku menjerit dan mendorongnya jauh-jauh. Pelukannya terlepas dan kutendang tubuhnya lalu melompat turun dari ranjang. Sayang, tendanganku meleset dan lompatanku kurang gesit. Maklum, kekuatan kakiku memang belum pulih. Dengan mudah dia menangkap dan menyeretku kembali ke tengah ranjang. Aku menjerit minta tolong, tapi tak seorang pun mau menolongku. Dan ternyata hanya ada satu orang lain dalam kamar besar ini.

Joyce. Gadis itu malah membujukku supaya tidak melawan. Jahanam itu tertawa puas, tapi menyuruh suporternya meninggalkan tempat ini. Aku memohon-mohon agar Joyce tidak pergi dan menolongku. Gadis itu tampak ragu. Ada rasa iba memancar dari matanya.

“Jangan kasar-kasar. Dia masih lemah,” bujuk Joyce.

“Dia lebih kuat dari yang kau kira. Keluar! Eh, keluar kau, Joy!!”

Mendengar bentakan keras yang membuat telinga kiriku tuli sejenak, wajah Joyce merah padam. Dia tampak malu dan kesal. Tanpa menoleh dia membuka pintu dan menghilang. Aku begitu tertegun hingga tidak menjerit kesakitan saat bajingan itu menjambak rambutku.

“Kau nggak mengenalinya lagi, ya?” tanyanya mengejek. “Bencong itu sekarang sudah jadi cewek cantik. Jauh lebih cantik daripada kau.”

Astaga! Betapa butanya aku! Bagaimana bisa aku tidak mengenali Joy? Bukankah aku sudah merasa pernah melihat wajahnya sebelumnya? Kebawelannya juga sebuah petunjuk jelas. Apalagi namanya, begitu gamblang! Tolol sekali aku ini. Tapi yang lebih parah, bagaimana aku tidak menyadari yang menggagahiku sejak tadi adalah musuh bebuyutanku ternyata masih hidup?

Pantas saja aku masih melihat wajahnya meski dia sudah ‘mati’. Semua itu bukan mimpi buruk, tapi kenyataan karena dia masih hidup. Bagaimana bisa dia masih hidup? Mengapa dia merubah wajahnya? Apa karena kecelakaan itu? Lalu apakah Bandi juga masih hidup? Pertanyaan-pertanyaan ini memenuhi kepalaku sementara beberapa penemuan membuat mataku makin terbuka. Aku jadi sadar mengapa penghuni Seraphic tidak ada yang mau menyentuhku. Bukan karena mereka tidak sudi, tapi karena tidak berani. Hanya orang yang sangat dipercaya dan diyakini tidak tertarik padaku seperti Joy yang diberi ijin khusus mengerjaiku seperti yang dulu diberikannya pada Aheng.

Tapi aku tidak mau menyerah. Aku tidak rela harus berada di bawah cengkeraman kekuasaannya lagi. Dan seperti dulu, kami bergulat saling melumpuhkan. Bedanya aku menggunakan seluruh sisa tenaga yang kumiliki sedangkan dia hanya main-main. Dia bahkan tertawa riang saat aku berhasil menduduki perutnya, mencakari dan menampari wajahnya. Tapi dengan sekali gerakan, dia berhasil mengangkat pinggangku dan….

“Aaaauuughh!!”

Jeritanku menyuarakan kekagetanku karena dalam sekali hentakan, kont*l BL yang keras itu sudah memasak vaginaku. Lalu dia memegangi pinggangku dengan kuat dan menaik-turunkannya sementara dia juga menghentak-hentakkan pinggulnya ke atas.

Aku terombang-ambing dalam kenikmatan dan kemarahan. Namun belum juga berhenti memukulinya. Lalu dorongan kemarahan membuatku mencekik lehernya kuat-kuat. Mukanya memerah, matanya melotot dan otot-otot di lehernya timbul. Tapi gilanya, tongkolnya malah makin mekar dan mengeras. Aku sampai mengernyit dan menggigit bibir kuat-kuat saat kelamin kekar itu menggesek seluruh dinding liang vaginaku.

“Meeelll…,” erangnya dengan suara tercekik.

Aku jadi takut melihat wajah tampan itu merah keunguan. Aku langsung mengendorkan cekikanku. Di luar dugaanku, tangannya segera menarik punggungku sehingga wajah kami hampir beradu. Aku meludahinya dan dibalas dengan ciuman lapar. Kucoba melepaskan diri, tapi belitan lengannya pada punggungku membuatku sulit bergerak dan bernapas.

“Kau suka muka baruku kan? Bagaimana dengan bodiku?” tanyanya sambil menonton aku ngos-ngosan berusaha mengusir klimaks yang terus mendekat. “Aku rajin latihan sembari menungguimu di sini. Keren kan?”

Aku kesal sekali. Kuhantam dadanya, tepat pada bekas luka melingkar. Ini pasti luka bekas peluru yang ditembakkan kembarannya. BL tersedak dan untuk sesaat lengannya mengendor. Aku memanfaatkan kesempatan ini dengan meninju hidungnya kuat-kuat dan melepaskan diri. Sayangnya dia tidak juga mau melepaskankku. Dengan hidung berdarah dia mendekapku erat dan menggulingkanku hingga ganti aku yang tertindih.

Darah mengucur dari dua lubang hidungnya menghujani wajahku. Tapi dia terus menggenjotku. Aku yang lelah melawan memutuskan untuk menyerah. Siapa tahu dia akan bosan dan meninggalkanku. Sayangnya aku salah. Butuh dua puluh menit lagi baru cairan hangat menyembur dari kelaminnya.

Dia menyibakkan rambut yang menutupi kepalaku dengan kedua tangannya seakan sedang membayangkan seandainya aku botak. Aku tak bisa melengos jadi kupejamkan mata saja agar tidak melihat sinar kemenangan memancar dari sepasang mata dingin itu.

Karena aku diam saja, dia bertanya,

“Apa kau nggak kepingin tahu, bagaimana caranya aku bisa tetap hidup?”

Aku berlagak tak peduli walau sebenarnya penasaran setengah mati. Jadi biarpun ogah membuka mata, kubuka daun telingaku selebar mungkin. BL sepertinya tidak peduli dengan ketidakacuhanku. Dia bercerita dengan suara yang jelas dan pelan, mengingatkanku pada papaku yang suka mendongengkanku semasa aku kecil.

Intinya, waktu aku disiksa oleh Bandi, BL belum mati. Dia pingsan dan diselamatkan oleh Joy. Joy juga yang menyelamatkanku dari Bandi dengan cara memukul kepala kembaran tuannya saat sedang memasang speculum di anusku. Dalam kondisi sekarat, aku langsung dibawa ke sebuah rumah sakit di Singapura, tapi begitu sadar segera dipindahkan ke Seraphic. Seraphic sendiri adalah klinik palsu. Tempat ini sesungguhnya villa lawas milik kakek BL di daerah Mega Mendung.

Sejenak nada suaranya memelan saat menyebut kembarannya.

“Kau nggak usah takut lagi. Bandi sudah pergi untuk selamanya. Dia nggak akan bisa mengganggumu lagi.”

Lha, bagaimana dia mati? Benarkan Bandi sudah mati? Tapi BL sudah melanjutkan dongengnya. Dan dengan bangga orang kaya gila itu menutup ceritanya dengan berkata kalau dia memantau pergerakan bisnisnya dari tempat maksiat ini demi terus mendampingiku. Aku sebal mendengar nada suaranya yang penuh kesombongan jadi aku diam saja.

“Jadi kau sama sekali nggak mau berterimakasih?”

Kubuka mata dan menatapnya dengan dingin. Sedingin yang kubisa. Sulit karena aku berdarah panas. Aku lebih suka meledakkan kemarahan yang membuncah di dadaku dengan berteriak-teriak atau mengamuk. Tapi kali ini aku harus menunjukkan padanya kalau aku tidak lagi seperti dulu. Aku tidak mau dia memanfaatkan luapan emosiku sebagai jalan untuk foreplay perkosaan ronde berikutnya.

“Apa kau mau aku berterimakasih padamu karena sudah menyelamatkan hidupku hanya untuk memperbudakku lagi atau karena sudah berhasil menipuku atau karena sudah berhasil membuatku kembali seperti pelacur atau karena sudah berhasil merebut semua hartaku atau karena sudah membunuh papaku atau karena sudah berhasil menghancurkan hidupku?”

Dia terdiam sejenak mendengarku bicara datar.

“Hutangku sudah lunas dan kau nggak punya alasan lain untuk menahanku di sini,” ujarku dengan nada menantang.

Di luar dugaan, BL marah. Belum pernah aku melihatnya begitu menakutkan. Wajahnya merah dan matanya melotot. Hampir seseram saat kucekik tadi. Ditariknya wajahku dg kasar. Aku menggeleng, tapi tak bisa. Jadi aku hanya diam menonton dia membentak-bentakku, memuncrati mukaku dengan ludahnya.

“Kau pikir aku senang melihatmu sekarat?? Kau pikir aku merasa bangga sudah membunuh saudaraku sendiri?? Kau pikir aku suka melihatmu ketakutan tiap kali melihat mukaku tiap malam?? Kau pikir aku bersyukur melihatmu keguguran?? Dia anakku dan aku menginginkannya! Jadi jangan kira aku akan melepaskanmu begitu saja setelah semua kekacauan ini!!”

Aku menelan ludah untuk menambah dosis nyaliku. Segagah mungkin aku berujar,

“Jadi kau menyelamatkan nyawaku demi anak itu? Sekarang dia sudah nggak ada. Jadi bebaskan aku. Biarkan aku pergi.”

Tapi BL seperti tidak mendengar kata-kataku. Mungkin juga karena volume suaraku terlalu pelan.

“Aku yang salah. Seharusnya aku menendang Bandi keluar dari rumah sejak kasus ular itu, tapi dokter bilang kandunganmu baik-baik saja dan aku sudah janji pada papa-mama akan terus menjaganya sampai mati,” tukasnya sedih. “Sampai mati,” ujarnya lagi disertai dengusan pelan. “Kubunuh dia dengan cara yang sama seperti yang dilakukannya padamu.”

Aku merinding melihat kilat keji di matanya. Aku tidak berani membayangkan seperti apa pembalasan dendam ala S&M. Seharusnya aku senang mendengar keinginanku terkabul, Bandi mati dengan cara yang kuinginkan. Tapi aku sama sekali tidak gembira.

“Akhirnya aku malah kehilangan keduanya,” lanjut BL dengan wajah berduka.

Aku terbengong melihat matanya berkaca-kaca. Aku tidak tahu kematian siapa yang membuatnya lebih sedih, adiknya atau anaknya.

“Kenapa kau nggak pernah bilang kalau aku hamil?” tanyaku terbata.

“Karena aku tidak mau kau menggugurkannya,” sahutnya sembari menatapku tajam.

Aku melongo. Hanya sedetik lalu….

“Goblok! Kau pikir bisa menyembunyikan kehamilanku itu sampai berapa lama hah? Sampai sembilan bulan? Kau pikir aku manusia macam apa??”

Giliranku yang marah dan membentak-bentaknya.

“Aku memang benci kau! Benci setengah mati! Tapi anak itu nggak salah! Dia anakku! Dia anakku! Dia anakku. Dia an…”

Aku tak bisa menyelesaikan ledakan kemarahanku karena sudah tertelan isak tangis. Akhirnya aku menangisi kepergian anakku. Anak kami. Dia memelukku. Aku meronta, tapi dekapannya begitu kuat. Kurasakan dadanya ikut berguncang dan ubun-ubun dan telinga kiriku tiba-tiba basah.

Sejak itu dia makin posesif, tidak mau meninggalkanku sendirian. Dia terus menempelku seperti bayang-bayang. Aku tahu, dia takut kalau aku nekat meninggalkannya dengan cara bunuh diri. Dia masih seganas dulu, menyantap tubuhku kapan saja dan di mana saja dia mau. Dia juga masih suka mengejekku, tapi tidak lagi menghina kedua orang-tuaku.

Anehnya, aku tidak merasa sesak napas lagi bila terus-terusan berada di sisinya. Dan hal yang paling kutakutkan terjadi juga. Aku merasa nyaman bersamanya dan bahkan simpati padanya. Di kala dia memelukku dengan erat hingga tulang-tulangku linu, aku tidak marah atau meronta karena aku tahu dia ingin mengatakan kalau kesepian itu begitu menyakitkan dan dia tahu aku bisa memahaminya karena aku juga merasakan hal yang sama.

Dia mengembalikan nama dan hak-hakku sebagai Pamela Rachel Tanuseja termasuk apa yang sudah dicaploknya daripadaku. Dia bahkan ikut mengajakku meeting dengan para bos, membuatku malu saja. Aku harus berjuang keras memeras sel-sel otakku yang sudah lama tak terpakai.

Dia juga memberi sebuah hadiah yang tak terlupakan. Rekaman video yang menyajikan persetubuhan sepasang manusia yang wujudnya bagai langit dan bumi. Aku terperangah melihat Pak Dibyo meniduri Sonia Marbella dalam berbagai posisi. Sonia sendiri terlihat begitu bernafsu. Tak heran puluhan pil narkoba berserakan di meja samping ranjang tempat mereka mengadu kelamin. Keesokan harinya rekaman itu tersebar di mana-mana. Karir Sonia hancur, Pak Dibyo kehilangan Sanctuary dan keduanya berurusan dengan polisi hingga masuk penjara.

“Aku sudah membalas dendam kita berdua. Mulai saat ini, kau pemilik tempat ini. Terserah kau, mau diapakan tempat ini,” ujar BL saat memberiku akta kepemilikan klub eksklusif itu.

Aku tidak mengerti mengapa dia bermurah hati padaku. Mungkin rasa bersalah telah membuatnya jatuh iba padaku karena tidak pernah ada kata cinta yang terucap dari mulutnya. Dari mulutku juga tidak. Tapi semakin lama semakin susah untuk tidak membencinya, namun nyatanya rasa benci itu terancam lenyap. Dengan susah-payah aku memelihara rasa benci padanya dengan cara mengingatkan diriku tiap pagi kalau lelaki yang tidur di sampingku, yang merawat di saat aku sakit dan merubah diriku menjadi cantik adalah pembunuh papaku. Tapi tidak ada lagi niat untuk kabur darinya apalagi membunuhnya.

Tapi bukan berarti hidup kami damai. Kami masih sering bertengkar dan berkelahi baik. Ada saat-saat tertentu di mana dia menyakitiku, seperti memerkosaku dengan brutal di hadapan foto Bandi sambil berteriak-teriak ‘Dia milikku! Dia milikku!”.

“Sudah… Aaaw… Sak…it… Dia su…sudah… tahu…,” ujarku terputus-putus.

Bibir memkku seperti sobek dan memar karena terus disodok dan dikobok oleh kontl dan jari-jarinya secara bergantian tanpa henti. Pantatku merah dan linu karena digigiti dengan gemas. Begitu pula punggung, pundak, leher dan payudaraku.

“Lalu kau sendiri? Apa kau sendiri juga tahu itu?” bentaknya.

Aku mengangguk-angguk sehingga air mata yang menggenang itu tumpah membanjiri wajahku yang berkeringat. Kemudian dia mengencingi seluruh tubuhku dari ujung kepala sampai ujung kaki seperti seekor anjing yang menandai teritorinya. Lalu setelah gelombang kegilaan itu pergi, dia memandikanku. Semalaman mengelus-elus sekujur tubuhku, menciumi semua memar dan luka yang dibuatnya. Kemudian menghujaniku dengan hadiah-hadiah mewah.

Dan keesokan harinya kehidupan berjalan normal. Kami bertengkar, berkelahi dan kont*lnya seperti biasa menghajarku sampai klimaks.

“Aaaaaah! Aaaaargghhh!!”

Usai teriakan panjang yang membahana, aku terkulai lemas dengan tubuh basah kuyup bermandikan keringat. Kupejamkan mata sambil mengatur napasku yang tersengal-sengal. Aku lelah sekali dan ingin tertidur lelap, tapi kuluman pada bibirku menyadarkanku. Kubuka mata dan kulihat BL sedang melumat bibirku.

Begitu dia melepaskan bibirku, aku langsung bertanya,

“Bagaima…”

Dia memotong pertanyaanku dengan hujan ciuman di seluruh wajahku. Seperti biasa dia sama sekali tidak memedulikan orang-orang yang berada di sekeliling kami. Lagi seru-serunya kami saling memagut bibir, Joyce datang dan tangannya nekat menyelonong membuka kancing bajuku tanpa ijin majikannya.

“Minggir! Eh, kubilang minggir, Joy!” bentak BL sambil menepis tangan Joyce.

“Joyce,” ralatku melihat Joyce tampak gondok.

BL menyelesaikan tugas Joyce dan membuka bajuku lebar-lebar. Membuat sepasang payudaraku terekspos.

“Mereka tambah besar saja. Bikin aku horny.”

Kalau dulu aku marah, sekarang aku malah tertawa geli. BL ikut tertawa sampai Joyce menggamit dan mengajaknya menjauh.

“Boen Liaaangg!! Kau ke mana?? Jangan tinggalkan aku sendirian!!” bentakku.

BL yang minta aku memanggilnya dengan nama Cinanya. Dia kembali muncul dengan wajah berseri-seri. Dia tidak sendirian. Joyce bersamanya.

“Hati-hati,” ujarku was-was melihat keduanya masing-masing meletakkan sesuatu di atas dadaku.

“Lihat, Mel. Amanda gesit sekali. Wah, dia sudah hampir sampai. Ayo, James jangan mau kalah,” tukas BL setengah bersorak.

Konsentrasiku dalam menyaksikan sepasang bayi kembarku dengan penuh kekaguman langsung buyar.

“James dan Amanda? Benarkah?” tanyaku sambil menarik kerah kaus polo BL.

Dia menyeringai sambil mengangguk. Matanya menatapku dengan lembut. Tangannya menggenggam tanganku dengan mesra. Dua cincin kembar dari platina bermata berlian lima masing-masing melingkar di jari manis kami.

“Kau milikku! Kau milikku!”

Bukan BL yang berteriak-teriak girang begitu melainkan aku. Saat itu juga kebencianku padanya musnah sudah. Dia pasti sangat mencintaiku karena mau menamai kedua anaknya dengan nama mendiang kedua orang-tuaku.

“Aduh, bos! Hati-hati dong! Kalau mereka sampai jatuh, bagaimana?” gerutu Joyce sambil memegangi kedua bayi itu sementara kami berdua berciuman dengan hot.

“Mmmmhh… Eh, Mel!”

“Aku haus,” ujarku manja.

BL tertawa. Tak sampai lima detik kemudian aku mengoralnya. Tanpa memedulikan sepasukan perawat dan dokter kandungan yang terbengong-bengong melihat ulah kami berdua.

“Gila!”

Ya, memang cuma Joyce yang berani mengatai kami gila.

TAMAT
cerita lainnya
Sleeping with enemy – part 1
Sleeping with enemy – part2
Sleeping with enemy – part 3
Sleeping with enemy – part 4
Sleeping with enemy – part 5
Sleeping with enemy – part 6
Sleeping with enemy – part 7

Sleeping with the enemy part 6, Terjepit di antara si posesif dan si obsesif

Filed under: PERKOSAAN

Pacar BL, itu predikat yang kusandang setelah pesta ‘ultahku’ yang menghebohkan hampir dua bulan yang lalu. Orang-orang bilang begitu karena konglomerat hipersex sadomasokis eksibisionis itu tidak pernah tampil di depan umum dengan cewek yang sama lebih dari dua kali.

Meski begitu aku sama sekali tidak bangga. Aku malah makin benci padanya. Memang, kelihatannya dia lebih baik dari dulu, menghujaniku dengan barang-barang mewah, mengajakku bepergian hingga keluar negeri – entah bagaimana caranya dia mengurus pasporku – tapi sebenarnya perlakuannya semakin buruk. Aku harus melayani nafsu seksnya yang tidak kenal waktu dan tempat.

Aku pernah digauli di dalam mobil di halaman parkir mal mewah di kawasan Senayan. Pasukan pengawalnya berdiri mengitari mobil Jaguar goyangnya. Mereka merokok sambil sesekali melirik kami. Pernah juga aku disodomi di atas meja ruang meeting kantornya yang sepuluh menit lagi akan dipakai untuk rapat dengan rombongan pejabat dari departemen pajak. Menggumuliku di balik semak-semak lapangan golf di sebuah country club di pinggiran London juga pernah dilakukannya. Petugas sekuriti yang ingin menegur kami dihadang Aheng dan anak buahnya.

BL selalu bisa memaksaku menuruti kemauannya. Kadang aku dibuatnya mabuk hingga tak sadarkan diri, kadang dia mencumbuku dengan ganas sampai aku ikut panas. Tapi lebih sering dia sengaja memancing amarahku hingga aku mengamuk, ujung-ujungnya kami bergulat dan diakhiri dengan luberan cairan hangat dari selangkangan masing-masing.

Dari semua pengalaman gila itu, yang paling kubenci saat aku harus mengoralnya di kolong meja restoran di sebuah hotel miliknya di kawasan Mangga Dua. Restoran itu sedang ramai-ramainya dan di meja sebelah duduk rombongan keluarga teman baik papa lengkap beserta cucunya yang masih balita yang juga putri baptisku. Tapi BL terus memaksaku. Dia mengancam saat itu juga akan menjadikanku sashimi girl di depan semua tamu bila aku menolak permintaannya. Dan bila aku nekat menggigit penisnya, dia akan menindik klentitku. Aku malu sekali saat mendengar putri baptisku yang cerdas terus bertanya pada semua orang, ke mana perginya tante yang tadi duduk di meja sebelah.

Aku tahu BL tidak main-main dengan ancamannya. Di perutku bagian bawah, persisnya di atas klentitku ada tato penis ngaceng seukuran tiga sentimeter yang dibuat di Belanda sebagai hukuman karena aku menolak melayaninya di bangku taman umum. Aku tak akan pernah bisa melupakan rasa sakit dan malu waktu ditato. Aku yang tak rela kulitku dinodai terus meronta sampai kedua tangan kakiku terpaksa diikat kuat. Untung jarum yang digunakan masih baru jadi aku tidak takut tertular penyakit berbahaya. BL yang membelinya khusus untuk mentatoku.

Aku jadi was-was tiap kali BL membawaku keluar rumah. Berdiam di dalam rumah juga tidak menyenangkan. Aku bosan berdiam dalam kamar mewah bernuansa putih itu, tapi bila keluar kamar aku pasti bertemu Bandi. Mata psikopat klemer itu selalu memandangku lapar, tapi dia tak pernah bisa mendekatiku karena Aheng menjagaku dengan ketat.

Dan sekarang aku duduk sendirian menghadapi meja bundar besar yang muat untuk delapan orang. Aheng berdiri di belakangku seperti anjing penjaga. Di depanku terbentang panggung dengan podium di sisi kiri dan layar lebar di belakangnya. Di belakangku berjajar meja-meja bundar lainnya. Malam ini adalah acara puncak ulang-tahun holding company milik BL. Acara hampir dimulai. Suasana ramai, riuh ocehan dan tawa, tapi aku kesepian. Aku menunduk dan mempermainkan jari-jari di atas pangkuanku.

Tak ada yang datang ke mejaku untuk menyapa dan mengajakku berbincang. Aku memang tidak punya teman. Para taipan teman papaku tak sudi memandangku. Di mata mereka aku tak ubahnya ayam kampung yang mendapat durian runtuh. Padahal yang kudapat cuma duri-durinya yang melukaiku. Istri-istri mereka juga ogah bergaul denganku. Paling banter melirikku dengan tatapan menghina. Mereka pikir aku ini cewek pemorot yang dipungut dari got oleh BL.

Aku tertawa getir dalam hati. Apa reaksi mereka kalau tahu ternyata darahku sama ‘birunya’ bahkan mungkin lebih ‘biru’ dari mereka? Papa-mamaku adalah generasi ketiga dari keluarga konglomerat terpandang. Aku menghela napas dengan sedih. Kenangan akan kejayaan keluargaku membuatku berduka. Kini semuanya sudah habis. Mungkin benar pepatah yang mengatakan kejayaan bisnis dirintis generasi pertama, dibesarkan generasi kedua dan dihancurkan generasi ketiga. Lalu apa yang diperbuat generasi keempat? Jangankan merebut kembali harta dan memulihkan nama besar keluarga apalagi menuntaskan misi balas dendam. Yang bisa kulakukan hanyalah bertahan hidup dan berjuang keras mempertahankan kewarasanku dengan susah-payah.

Aku makin terperosok dalam jurang libido. Tiada hari tanpa seks bersama orang yang paling kubenci sedunia, tapi dari dialah aku mendapat kenikmatan yang membuatku ketagihan. Aku tak ingin hidupku berakhir seperti para simpanan gelap, antara ada dan tiada. Kalau beruntung, bisa dinikahi resmi, kalau tidak ya harus mencari mangsa lain. Aku jauh lebih baik dari ayam yang mendapat promosi menjadi istri kesekian, tapi coba lihat mereka. Mereka memandangku sinis dan iri. Mereka mengecapku cewek sombong yang tidak sadar diri. Tak mau bergaul dengan ayam senasib.

Acara akhirnya dimulai dan BL diminta naik ke atas podium. Semua orang berdiri memberi applaus. Aku tetap duduk tak peduli, menatap ke depan pun tidak. Lalu acara dimulai dengan pidato dari orang gila itu. Lampu dimatikan dan diputar film tentang perjalanan hidup Luna Group, kerajaan bisnis keluarga Lukman.

Mendadak ada benda dingin menyentuh pergelangan kakiku. Secara reflek aku langsung menendang, tapi kakiku terikat pada kaki kursi. Aku langsung panik apalagi kakiku ditusuk. Sepertinya bukan dengan pisau, tapi jarum. Aku tersentak dan memiawik tertahan. Tapi tak ada yang mendengar jeritanku karena meja yang kutempati agak terpisah dari tamu lainnya selain itu semua mata dan telinga para undangan tertuju pada film yang diputar di layar di atas panggung.

Sekujur tubuhku gemetar, panas-dingin. Aku takut setengah mati. Aku tak berani menyingkap taplak meja yang menjuntai ke bawah. Kalau pun berani, aku tak bisa melihat apa-apa karena gelap. Ingin memanggil Aheng, tapi gorila itu tidak berdiri di belakangku lagi. Dia menyingkir ke samping panggung karena tidak ingin menghalangi pandangan undangan lainnya. Sedangkan BL masih berdiri di atas panggung sambil memandangi film tentang profil keluarga dan dirinya dengan sorot mata bangga.

Dalam waktu singkat tubuhku sekaku kayu. Sekarang aku malah tak bisa bersuara sama sekali. Lidahku kelu. Hanya bola mataku yang masih bisa bergerak ke sana-kemari. Aku pasti diracun. Aku makin ngeri setelah benda dingin itu kembali menyentuhku. Mulanya dari betis dan merambat ke atas, terus ke atas hingga ke selangkanganku. Sepertinya tangan seseorang karena tak lama kemudian celana dalamku tersingkap. Oh my God! Siapa lagi kalau bukan Bandi!

Seingatku Bandi masih berada di rumah saat kami pergi. BL memang tak mengijinkan kembarannya yang psikopat itu pergi ke acara-acara resmi seperti ini. Lalu bagaimana si klemer gila itu bisa berada di kolong mejaku? Apa ini rencana BL juga? Kalau tidak, bagaimana kalau kenekatan Bandi ketahuan? Apa kata para tamu?

Nafasku memburu saat jari-jari dingin itu menggosok klentitku, sesekali mengucek kedua bibir mulut bawahku. Sensasi yang ditimbulkan rasa ngeri bercampur tegang membuat mem*kku becek. Aku menahan napas ketika jari-jari dingin itu menerobos masuk liang vaginaku. Belum lagi gigitan-gigitan kecil yang menyerang paha dalam dan klentitku. Gawat, klimaks itu terasa makin dekat!

Celaka, film sudah selesai dan lampu kembali dinyalakan. BL menatapku sekilas lalu kembali berpidato. Aku tak bisa mendengar dengan jelas apa yang diucapkannya sehingga membuat orang lain tertawa. Pandangan mataku bahkan mulai buram. Konsentrasiku tertuju pada alat vitalku yang dihujani serangan-serangan membabibuta. Yang kulakukan hanyalah terengah-engah menahan orgasme yang ingin meledak.

Hhhgghh! Tubuhku menggeletar perlahan seiring cairan vagina yang meluber keluar yang langsung diseruput Bandi. Aku bisa merasakan lidah dan bibir Bandi menyeruput cairan vaginaku dengan buas. Akhirnya dilepaskannya juga mem*kku. Belum sempat bernapas lega, serangan mulai kembali. Kali ini sesuatu yang menggeliat-geliat dingin berlendir menyentuh kakiku. Aku langsung merinding ketakutan. Ular?

Pada saat yang sama para hadirin bertepuk tangan dan BL turun dari panggung menghampiri mejaku. Air mata sudah mengembeng di mataku. Benda yang kuyakin bukan jari manusia itu terus bergerak-gerak liar dan kini sudah menempel di mulut vaginaku dan terus mengebor masuk.

“Kau ini memang keras kepala deh. Apa kau nggak bisa menghormatiku sedikit? Ayo bangun dan salami aku,” bisik BL.

Untuk apa? Tapi suaraku tidak keluar. Kepala atau ekor ular itu kini sudah masuk ke dalam kelaminku, mengucek-ngucek G-spotku. Aku lebih ngeri dan jijik daripada nikmat. Tanpa bisa kutahan, aku ngompol. Kucoba memberitahu BL dengan tatapan mata. Tapi sepertinya dia tidak tahu atau pura-pura tidak tahu kalau aku begitu tersiksa.

“Sudahlah, nangisnya nanti saja. Aktingmu terlalu berlebihan,” tukas BL sambil menarik tanganku.

Dia baru sadar kalau ada yang tak beres padaku setelah menggenggam tanganku yang kaku. Dia menatapku dengan seksama. Aku melirik ke bawah meja. Dengan sekali singkap dia membuka taplak dan terlihatlah pemandangan yang mengerikan. Bandi dengan senter terikat di kepalanya, duduk di lantai menghadap kakiku yang terbuka. Gaun miniku tersingkap memamerkan pahaku dan di sela-sela kakiku ada ular hitam kecil yang bergerak-gerak. Kepala ular yang mendesis-desis ada dalam genggaman tangan Bandi.

“Surprise,” ujar Bandi cekikikan.

Air mataku bercucuran tak bisa kutahan lagi membuatku tak bisa melihat seperti apa ekspresi di wajah BL. Yang jelas dia langsung mencabut ekor ular itu dan menarikku berdiri.

GUBRAK!

Bukannya berdiri aku malah oleng terjatuh. Ternyata kedua pergelangan kakiku terborgol pada kaki kursi. Akibatnya meja terbalik. Kegaduhan pun terjadi.

“Ular!! Ada ularrr!! Tolong!!”

Yang berteriak bukan aku, karena aku masih sekaku mayat. Tapi perempuan lain yang dilempar ular oleh Bandi. Terjadi kekacauan yang superrusuh. Para hadirin berlarian ke sana-kemari. Ada yang naik ke atas meja atau kursi. Yang lainnya berebut keluar ruangan. Tapi ada juga yang berusaha memamerkan keberanian dengan berusaha membunuh dan menangkap ular malang itu dengan cara menimpuki ular malang itu dengan gelas.

Aku ini sinting. Masih sempat-sempatnya bersimpati pada ular yang sudah menyetubuhiku. Tapi aku yakin ular itu juga menderita karena dipaksa oleh Bandi. Aku yang sudah lemas hanya bisa pasrah. Rasanya ingin mati atau lebih baik tidak usah dilahirkan saja. Mereka semua pasti membicarakan dan menertawakanku. Benar-benar memalukan. Dikawinkan dengan ular oleh orang gila sampai mengompol.

Aku terus menangis tanpa suara. Sampai tak sadar bagaimana tiba-tiba aku bisa berada dalam gendongan Aheng. Ke mana BL? Menangkap kembarannya? Yang membuatku sedikit terhibur, gorila itu terus meminta maaf padaku. Dia merasa bersalah karena tidak memeriksa kolong meja terlebih dulu. Aku menangis sampai tertidur. Aku baru terbangun setelah beberapa gadis berseragam putih memintaku berganti pakaian. Ternyata aku dibawa ke rumah sakit. Sekitar dua jam kemudian tubuhku sudah kembali normal. Aku menjalani berbagai tes dan dianjurkan menginap semalam di sana.

Aheng yang terus menemaniku dan BL baru muncul malam harinya. Aku yang duduk di atas ranjang sembari melamunkan nasibku yang malang, tidak sadar kalau dia sudah datang. Tiba-tiba saja dia memelukku. Otomatis aku histeris. Aku meronta dan berteriak minta tolong sekuat tenaga. Suster dan dokter berhamburan datang bersama Aheng, tapi BL mengusir mereka semua. Dia berusaha menyadarkanku namun aku tak juga berhenti meronta dan berteriak. Tak kupedulikan penjelasannya kalau dia adalah BL bukan Bandi. Meski wajah mereka sama, aku tahu dia BL bukan setan mengerikan itu, tapi aku yang begitu trauma tak bisa lagi mengendalikan diriku.

PLAK!

Kepalaku terayun ke belakang dengan kuat hingga telingaku berdenging dan mataku berkunang-kunang. Sontak aku terdiam. Aku begitu terkejut karena selama ini BL tidak pernah sekalipun memukulku. Tapi aku beringsut menjauh saat kedua tangannya menangkap wajahku.

“Ini aku.”

Aku kembali gemetar ketakutan melihat seraut wajah tirus dengan sepasang mata berjauhan dan hidung mencuat. Karisma memancar dari wajah angkuh di hadapanku, tapi bayang-bayang cengiran sinting kembarannya tak juga bisa terhapus dari ingatanku. Aku pun ngompol lagi.

BL menunduk melihat selimut dan gaunku yang basah berbau pesing. Keningnya sedikit berkerut lalu dia memandangku dengan tatapan yang sulit dijelaskan.

“Heng!!”

Lagi-lagi Aheng yang disuruh kerja kotor. Tapi aku malah senang melihat gorila itu datang. Berduaan bersama BL membuatku takut. Di luar dugaan BL tiba-tiba menggendongku sambil memintaku jangan panik supaya aku tidak jatuh. Aheng tanpa disuruh langsung melepas seprai dan mencopot kasur. Ternyata si ceking ini kuat juga. Dia bisa membawaku ke kamar mandi dengan langkah mantap.

Kamar mandi pasien VVIP ini dilengkapi bathtub. Sementara bathtub diisi dengan air hangat, dia menelanjangiku dan mendudukkanku di kloset.

“Jangan takut. Aku nggak marah.”

Astaga! Bisa-bisanya dia bilang begitu? Bagaimana dengan perasaanku? Seharusnya aku yang marah setelah selama ini menerima siksaan darinya dan juga kembarannya yang gila itu. Dia sendiri juga gila. Buktinya sekarang dia ikut telanjang dan jongkok di depanku. Tapi aku tak bisa marah karena perasaanku kacau-balau dan aku terlalu lelah. Jadi aku hanya bertanya lirih,

“Lalu apa? Apa kau mau memukulku lagi?”

“Aku kan sudah bilang kalau aku nggak marah,” jawabnya sambil meregangkan pahaku.

“Seharusnya sejak dulu kau bunuh aku saja,” sahutku sambil mengatupkan pahaku.

“Kenapa begitu?”

“Karena aku ingin membunuhmu.”

“Ah, akhirnya kau mengaku juga.”

Lalu meluncurlah kisah Pamela Rachel Tanuseja yang datang ke Sanctuary dengan nama samaran Lara Tan. Misinya hanya satu, membunuh Budi Lukman yang sudah membunuh papanya dengan cara membakarnya. Ngerinya, cerita ini keluar dari mulut BL bukan mulutku yang ternganga lebar. Bahkan dia bisa menggambarkan dengan rinci rencanaku membunuhnya dengan senjata Flamming Ferarris dan geretan. Jantungku serasa tenggelam ke dasar perut. Tubuhku lemas sampai hampir terguling jatuh dari kloset kalau tidak dipegangi olehnya.

“Kau pikir aku membiarkan orang yang tak jelas asal-usulnya tinggal di rumahku selama itu? Tadinya aku mau membunuhmu, tapi…”

“Menyiksaku lebih menyenangkan?” tukasku serak dengan nada mengambang.

BL tersenyum sambil meremas-remas payudaraku.

“Kadang kau pintar, tapi lebih sering goblok. Kau nggak akan berhasil membunuhku dengan cara bodoh seperti itu.”

“Kalau kau sudah tahu semuanya, kenapa nggak bunuh aku saja?” tanyaku gemetar.

BL tidak langsung menjawab. Dibenamkannya wajahnya ke belahan dadaku. Dikulum dan digigitnya kedua putingku dengan gemas hingga aku meringis kesakitan.

“Karena kau membuatku ketagihan untuk terus mengent*timu.”

Aku terbengong. Jawaban macam apa itu? Aku memang tidak berharap dia menjawab kalau dia jatuh cinta padaku. Orang seperti dia hanya mencintai dirinya sendiri dan aku pun tak mau dicintainya. Tapi… Aku berjengit saat tangannya melebarkan pahaku dengan paksa dan menyentuh kelaminku.

“Jangan,” larangku sembari berusaha mengelak.

“Aku mau lihat apa mem*kmu baik-baik saja.”

“Nggak usah pura-pura peduli. Kau cuma kepingin mengent*tiku la…gi…Aaaah… Su…sudah… jang…aaaaah….”

Bl tidak menjawab, melainkan mencebokiku. Aku mencobanya memintanya berhenti karena kucekan jari-jarinya mengingatkanku pada kucekan jari-jari Bandi beberapa jam yang lalu. Tapi dia tidak mendengarkanku malah mulai menjilati klentitku. Kugigit bibirku sembari memejamkan mata. Déjà vu. Rasanya aneh, dijilati sepasang kembar dalam hari yang sama. Dan seperti tadi, napasku kembali memburu menandakan nafsuku mulai bangkit. Padahal hatiku menolak rangsangan ini.

Sebelum aku mencapai klimaks, BL menarikku berdiri dan pindah ke bathtub. Di sana dia menyanggamaku dalam posisi memangkuku. Awalnya aku meronta. Rasa takut karena diperkosa ular kembali menyerangku. Aku meringis, mengernyit, menunjukkan rasa tak nyaman. Dia berhenti bergerak.

“Yang mana yang sakit?”

Semuanya. Hatiku, jiwaku, tubuhku. Seharusnya aku bilang begitu, tapi lidahku kelu. Karena aku diam, BL kembali menggenjotku. Rasa tak nyaman tadi perlahan mulai menghilang, tergantikan rasa nikmat.

“Lihat aku,” tukasnya sambil menepuk pipiku.

Aku yang sejak tadi memejamkan mata karena tak ingin melihat wajahnya, menggeleng. Dia mengulang permintaannya sembari memelintir putingku dan menjambak rambutku. Sakit, tapi aku bergeming.

“Mel, lihat aku!” bentaknya lagi.

Kali ini kubuka mata dengan lebar. Aku terkejut mendengarnya memanggilku dengan nama kecilku.

“Kau milikku,” ujarnya tegas.

Matanya menatap mataku dalam-dalam seperti sedang mencari mutiara jatuh di dasar kolam. Aku menggeleng. Tapi dia terus bilang begitu sambil menghentak-hentakkan pantatnya. Gelenganku berubah menjadi anggukan seiring guncangan tubuhku.

“Ngghhhh…. Aaaaaaahhh!!”

Aku berteriak lepas. Lupa kalau sekarang aku berada di rumah sakit. Bukannya membekap mulutku, BL malah terus menggenjotku sambil melumat dua gunung kembarku bergantian. Tangannya meremas pantatku dan satu jarinya menyelip masuk anusku. Dirangsang bertubi-tubi seperti itu, aku makin panas.

“Ooooh….Ooooh… Yeeess…. Ngaaaaaaaaaaaah

Pada saat yang sama, BL menggeram panjang. Semburan-semburan hangat mengisi rahimku membuatku sedikit terlonjak. Rasanya enak, tapi aku malah menangis. Tidak sampai tersedu, hanya terisak tanpa suara. Aku sedih memikirkan segala pengorbanan besar yang kulakukan demi kesia-siaan.

Aku menunduk menyembunyikan wajahku namun BL mengangkat daguku. Saat kuberpaling, dia meluruskan wajahku. Dipandanginya mataku yang membanjir dengan penuh minat.

“Senang melihatku begini?” semburku kesal setengah sesenggukan.

Dia diam saja. Tangannya mengelus-elus pantatku. Omelanku lama-lama berubah menjadi permohonan memelas.

“Kalau kau nggak mau membunuhku, bebaskan aku saja. Biarkan aku pergi. Aku nggak akan mengadu ke polisi atau ke wartawan atau ke siapapun. Kau sendiri selalu bilang aku jelek. Kau bisa mencari cewek yang lebih cantik, lebih muda dan lebih penurut dariku.”

Dia tetap diam.

“Akan kubayar hutangku. Di luar aku masih punya tabungan. Aku janji. Please, kumohon jangan diam saja. Aku nggak mau menghabiskan sisa hidupku begini. Aku ini manusia, bukan barang koleksi yang nantinya kau buang karena kau sudah bosan.”

Lama-lama aku mengemis-ngemis minta belas kasihannya bahkan merendahkan diriku dengan memanggilnya Tuan, tapi wajahnya tetap menunjukkan ekspresi yang sama. Tangannya malah mulai merambah payudaraku lagi. Dia memang tidak punya hati. Akhirnya aku diam, menyerah dalam keputusasaan. Tiap kali tanganku ingin mengusap mataku yang basah atau hidungku yang ingusan, ditahannya. Dia terus memandangiku sampai aku berhenti menangis baru memandikanku. Kami saling diam.

Malam itu juga kami pulang ke rumahnya. Aku tahu dia sengaja membawaku pulang tengah malam agar tidak dirubung wartawan. Memang, ada wartawan yang mencegat kami di halaman parkir, tapi jumlahnya hanya empat-lima orang. Tak sebanding dengan pengawal BL yang dua puluhan orang.

Aku ingin sekali berteriak minta tolong atau selamatkan aku atau bawa aku pergi. Aku tidak sanggup harus tinggal serumah dengan dua orang gila, tapi aku terlalu lelah dan sudah setengah tertidur. Aku bahkan tidak tahu kapan aku tiba di rumah BL.

Aku kembali menjalani rutinitas sebagai pemuas nafsu BL. Tapi nafsuku sendiri makin menurun. Bukan cuma nafsu seks yang menyurut, tapi juga nafsu makan dan nafsu marah. Aku makin kurus dan murung. Tak mau keluar kamar karena takut bertemu Bandi dan hanya meringkuk di atas ranjang. Untungnya BL tidak memaksaku keluar rumah untuk membuat sex show di mana-mana lagi. Mungkin dia malu terlihat denganku di depan umum.

“Baiklah. Kau menang. Aku akan minta Bandi keluar dari sini,” ujarnya setelah hampir gagal membuatku orgasme padahal dia sudah ejakulasi.

Dia sangat bangga bila berhasil membuatku kelojotan sampai melolong-lolong.

“Kenapa bukan aku saja yang keluar dari sini? Aku kan bukan apa-apamu,” sahutku lelah.

Tapi sejak kapan dia mendengarkanku? Saat itu juga dia bicara dengan kembarannya. Bandi marah sekali. Dia pasti tidak terima diusir keluar dari rumah demi aku. Aku bisa mendengar dua saudara itu ribut bertengkar. Aheng yang menemaniku dalam kamar sampai menggeleng-geleng. Mendadak terdengar letusan pistol. Lima kali. Lalu hening. Aku dan Aheng saling pandang dengan cemas. Gorila itu bersiaga saat pintu kamar dibuka.

“Ayo keluar, Mel. Jangan takut. Dia sudah pergi.”

Aku dan Aheng terpaku melihat Bandi yang berdiri di depan pintu dengan pistol teracung ke arah kami. Tubuhku gemetar dan celanaku kembali basah. Aheng bergeser perlahan untuk menutupiku dari pandangan Bandi.

DOR!

Aku menjerit histeris melihat gorila bopeng itu tumbang di depan mataku dengan dahi bolong. Biarpun selama ini Aheng sering membantu majikannya menyiksaku, tapi dia teman yang cukup baik. Tahu kapan harus bicara atau membiarkanku menangis sendirian dalam gelap. Bandi mendekat. Cengiran gembira terukir di bibirnya.

“Kau milikku, Sayang.”

Aku melompat turun dari ranjang dan berlari ke kamar mandi, tapi dia lebih cepat. Tiba-tiba dia sudah menangkap tanganku dan menariknya ke dalam pelukannya. Aku menangis ketakutan sambil meronta-ronta.

“Ssssh, tenang dong, Sayang.”

PLAK. PLAK. DUK. Dua gamparan keras di pipi dan tonjokan di hidung membuat tangis dan rontaanku mereda. Namun aku nyaris tak bisa bernapas karena rongga hidungku dipenuhi darah segar. Kepalaku berkunang-kunang. Aku tak bisa melawan saat dia menyeretku keluar kamar.

Aku terkesiap melihat empat pengawal BL mati bergelimpangan dan BL sendiri terduduk bersandarkan dinding. Tubuhnya bersimbah darah. Wajahnya pucat. Darah mengalir deras dari dadanya. Tapi dia masih bisa mendelik melihatku jatuh ke tangan kembarannya.

“Dari dulu kau benci dia sampai ingin membunuhnya kan, Mel?” tukas Bandi sebelum melumat bibirku.

Kudengar BL menggeram marah dan mencoba bangun, tapi sebuah tendangan Bandi di kepalanya membuatnya roboh.

Untuk pertama kalinya aku berharap BL tidak mati. Dia seperti malaikat bila dibandingkan Bandi. Si klemer itu sekarang memukuliku sembari menelanjangiku di depan kembarannya.

“Jangan… Tolong…,” teriakku lemah.

Tapi tidak ada yang berani menolongku. Anak buah yang tersisa tak berani mengganggu kegilaan Bandi apalagi BL sudah mati.

“Aaah….sakit…,” erangku saat Bandi merentangkan kakiku selebar mungkin hingga membentuk huruf V.

Dicengkeram dan ditekannya kedua pergelangan kakiku hingga menempel lantai dan dia mulai menggenjotku. Dia memerkosa mem*k dan anusku bergantian. Tiap lima sodok dia berpindah tempat. Aku hanya bisa menangis sambil menggeleng-geleng untuk meredakan rasa sakit di sekujur tubuhku. Aku juga jijik. Tidak seperti BL yang selalu memakai kondom bila ingin menyodomiku, Bandi tidak memakai apa-apa.

“Kau miliku. Kau milikku,” begitu ujarnya tiap kali menyodokku.

Tiba-tiba Bandi mencabut kont*lnya dan menaiki tubuhku yang masih terlipat.

“Buka mulut, Sayang,” ujarnya mesra sembari menampari pipiku.

Karena mulutku tetap terkatup, dia menjepit hidungku yang patah dengan kuat. Belum sempat aku menjerit kesakitan, kont*lnya pun masuk. Bandi memaju-mundurkan pantatnya seakan mulutku itu liang vagina atau anus. Aku hampir mati lemas karena kehabisan oksigen.

CROT.CROT.CROT.

Bandi tertawa puas melihatku memuntahkan sperma dan isi perutku. Kemudian dia menjambak rambutku dan menyeretnya ke kamarnya. Aku sudah setengah tak sadar saat dia mengangkat dan membaringkan tubuhku di atas ranjang keras atau mungkin juga meja. Kedua tangan dan kakiku terentang lebar dan diikat. Aku tersentak saat dia menyuntikku dengan obat misterius. Jangan-jangan tubuhku kaku lagi, tapi belum lima menit aku sudah merasa panas dan berdebar-debar.

Bandi menggunduli rambutku dengan pisau cukur. Kemudian dia mengeluarkan tali panjang dan mulai mengikatnya di seluruh tubuhku. Melihat bondage di majalah sudah ngeri apalagi mengalaminya sendiri. Gilanya, tiap kali Bandi menyentuh, membalik dan memutar tubuhku, aku malah mengerang nikmat bukannya mengerang kesakitan. Rupanya yang disuntiknya tadi obat perangsang.

“Ah, akhirnya selesai juga. Waduh, kau sudah banjir, Sayang,” ujar Bandi sambil mencolek mem*kku yang basah kuyup.

Aku mengerang makin keras saat lima jarinya mengocok mem*kku sekaligus. Pada saat aku berteriak, sebuah benda dicokokkan ke mulutku dengan paksa hingga bibirku berdarah. Aku terkejut saat menyadari ring gag sudah terpasang sehingga aku tidak bisa mengatupkan mulut. Bandi mengikat sabuk ring gag di belakang kepalaku dengan erat.

Dia masih mengeluarkan beberapa alat lagi yang membuatku merinding. Dua dildo besar yang kemudian dihujamkan ke dalam mem*k dan anusku yang becek.

“Aaah…,” erangku nikmat saat Bandi mendorong kedua alat itu sedalam mungkin.

“Rrrrrrr.”

Bandi langsung menyetel dua dildo itu dengan kecepatan maksimum. Dia bertepuk tangan melihatku menggelinjang liar. Rasa nikmat mengalahkan rasa pedih akibat kulitku teriris tali tambang. Lalu dia mengambil posisi di atas kepalaku. Dia menarik kepalaku yang gundul hingga tergantung lepas dan mulai memerkosa mulutku hingga ke pangkal tenggorokan. Aku tersedak, terbatuk, tapi dia terus menghentak-hentakkan pantatnya.

Saat dia ejakulasi, aku sudah mengalami belasan orgasme, tapi tak kunjung lemas juga. Dia melepaskan ikatan pada kedua tangan dan kakiku lalu memakaikan rantai anjing di leherku. Aku hampir terjungkal jatuh saat dia menarik rantai. Dia menyuruhku merangkak seperti anjing. Sesekali dia menaikiku dan menyuruhku terus berjalan sembari memukuli pantatku dan mencubiti pentilku.

Kemudian dia mengambil dua buah lilin panjang. Dinyalakannya dan ditusukkan dasar dicolokkannya kedua batang lilin itu ke anus dan vaginaku. Untung saja bukan ujung yang menyala. Dia tertawa tergelak-gelak melihat dua batang lilin menyala begerak naik turun sementara aku merangkak mengitari ruangan. Gilanya, kont*lnya dengan cepat mengembang lagi.

Aku merasa lega bercampur was-was saat kedua batang lilin itu dicabut. Aku takut dia akan memutar balik ujung lilin dan kembali menusukkannya ke dalam alat vital dan liiang duburku. Ternyata dia memilih menyodomiku.

“Aaaaah! Aaaaah!”

Aku berteriak seiring tetes-tetes lilin panas yang menghujani punggungku. Tiap kali aku merunduk karena menahan sakit, dia menarik rantai di leherku hingga aku tercekik. Rupanya efek obat perangsang mulai habis karena aku merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhku. Kulitku terasa panas dan perih. Mulutku seperti sobek dan selangkanganku linu. Begitu pula lututku. Tapi dia belum berhenti mengerjaiku. Kali ini disuruhnya aku mengejar bola sembari merangkak seperti anjing. Bila kurang gesit dia melecutku dengan pecut bercabang tiga.

Akhirnya aku ambruk. Tak mampu bergerak lagi meski dia melecutku dan menarik rantai yang terikat di leherku dengan keras. Lebih baik aku mati saja daripada terus disiksa seperti ini.

“Kenapa, Sayang? Haus? Mau minum?”

Dia memasukkan kont*lnya ke dalam mulutku yang terbuka.

“Aarr! Aaaghh!”

Aku kelabakan merasakan air seninya mengisi rongga mulutku. Bandi sendiri tertawa-tawa. Setelah puas mengencingiku, dia menggigiti payudaraku yang menonjol karena di-bondage dengan keras hingga aku menangis kesakitan.

“Kau lebih seksi kalau sedang nangis.”

Aku tak kuat lagi untuk membuka mata. Tubuhku seperti boneka rusak yang terus dipermainkan Bandi. Aku hanya bisa pasrah saat dia menyodok mem*kku dengan suatu benda dingin yang keras. Aku merintih tanpa suara ketika benda itu membenggangkan liang vaginaku dengan paksa. Pasti speculum.

Aku tak tahu dan tidak mau tahu apa yang diperbuat Bandi terhadap tubuhku. Gelombang rasa sakit yang mendera tak bisa kuterima lagi. Aku merasa dingin. Dimulai dari ujung kakiku dan merambat naik. Sekarang kedua tanganku juga dingin. Mungkin maut sudah menjemputku.

Aku bisa merasakan rasa sakit itu mulai menjauh. Astaga! Aku bisa melihat tubuhku sendiri. Bandi masih berkutat dengan selangkanganku yang mengalirkan darah. Aku sedih melihat tubuhku, tapi senang karena sudah terbebas dari segala siksaan.

Sekarang aku menunggu. Siapa yang akan menjemputku dan ke mana aku pergi? Surga atau neraka? Apa papa yang akan datang? Atau mama? Jangan-jangan malah Aheng atau BL. Aduh, aku tidak mau bertemu mereka lagi. Aku menunggu, tapi tak ada yang datang. Malah semuanya kini gelap. Aku ketakutan. Aku tidak mau ditinggal sendirian dalam kegelapan tak berujung. Aku berdoa dan memanggil semua kerabat yang sudah mendahuluiku. Tapi aku tetap sendirian.

Akhirnya aku melihat cahaya. Tapi pada saat yang bersamaan rasa sakit itu kembali lagi.

“Huwaaaagghh

Dadaku terasa sakit setengah mati. Samar-samar kudengar teriakan yang makin lama makin jelas.

“Dia hidup! Dia masih hidup!”

cerita lainnya
Sleeping with enemy – part 1
Sleeping with enemy – part2
Sleeping with enemy – part 3
Sleeping with enemy – part 4
Sleeping with enemy – part 5
Sleeping with enemy – part 6
Sleeping with enemy – part 7

October 20, 2008

Diperkosa saat hamil

Filed under: PERKOSAAN

Namaku Ratih, umurku 18 tahun. Tinggiku hanya 158cm tidak begitu tinggi dan cukup langsing. Menurut orang-orang sekitarku aku memiliki paras yang cantik dan menarik, selain itu dadaku cukup padat dan montok dengan ukuran 36A. Setahun yang lalu aku menikah dengan Deden, seorang buruh tani yang belum memiliki pekerjaan tetap. Meski demikian, aku sangat menyayangi Deden apa adanya. Untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari, aku bekerja sebagai penjual jamu gendong keliling, di desa tempat tinggalku daerah Jawa Tengah. Aku tidak sampai hati memaksa Deden untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarga seorang diri, sehingga dari pagi hingga sore aku bekerja tanpa mengenal lelah. Belum lagi tanggunganku terhadap Ibuku yang sudah lanjut usia dan mulai sakit-sakitan. Tapi apa mau dikata, semua ini demi keadaan yang lebih baik.

Saat ini aku sudah hamil 4 bulan, perutku sudah mulai membesar meski belum begitu terlihat. Deden pun semakin perhatian, ia sering berangkat bekerja lebih siang untuk membantuku membuat jamu yang akan kujual. Aku senang, meski begitu aku tetap menyuruh Deden bekerja tepat waktu karena aku tidak mau upahnya dipotong hanya karena terlambat. Kami berdua sangat rukun meski keadaan ekonomi kami cukup sulit.

Seperti biasa, pagi-pagi aku berangkat ke pasar untuk membeli bahan-bahan daganganku. Semua tersusun rapi di dalam keranjang gendong di punggungku. Sampai rumah aku racik semua bahan-bahan tadi dalam sebuah kuali besar dan aku masukkan dalam botol-botol air mineral ukuran besar.“Wah, rajin sekali istriku.” Deden menyapaku dan memberikan sebuah kecupan hangat di keningku. Aku pun membalasnya dengan ciuman di pipinya sebelah kanan.“Sudah mau berangkat ke ladang Pak Karjo?” Tanyaku. “ Iya, mungkin sebentar lagi, hari ini ladangnya akan ditanam ulang setelah kemarin panen.” Mungkin nanti aku tidak bisa mengantarmu sampai ujung jalan karena Pak Karjo akan marah jika aku sampai terlambat.” Jawab suamiku.“ Tidak apa-apa, ini semua kan demi keluarga kita.” Aku meyakinkannya sambil mengelus pipinya.“Tapi nanti hati-hati Ratih, ingat kamu sedang hamil. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan anak kita.” Iya, suamiku.” Jawabku mengakhiri obrolan kami. Sebentar saja suamiku minta pamit padaku untuk segera berangkat ke ladang Pak Karjo. Tak lupa aku memberikan rantang berisi makanan yang tadi telah aku siapkan.

Setelah sedikit berbenah, akhirnya semua jamu sudah aku siapkan dan sudah aku masukkan ke keranjangku. Waktu juga sudah menunjuk pukul 09.00, berarti sudah saatnya aku mulai menjajakan jamu. Sebelumnya aku siap-siap dahulu dengan mengenakan kaos pendek warna putih dan rok selutut. Aku gendong keranjang berisi bermacam-macam jamu, aku kaitkan dengan selendang dengan tumpuan diantara dua payudaraku. Sehingga dadaku nampak menonjol sekali, belum lagi bawaan jamu yang cukup berat yang membuatku sedikit membusung hingga mencetak dengan jelas kedua dadaku. Setelah semuanya siap, aku segera berangkat berkeliling menjajakan jamu, tak lupa aku mengunci pintu depan dan belakang rumah warisan ayah Deden. Setiap hari rute perjalananku tidaklah sama, aku selalu mencari jalan baru sehingga orang-orang tidak akan bosan dengan jamu buatanku. Karena setiap hari aku bertemu dengan orang yang berbeda. Kali ini aku berjalan melewati bagian selatan desaku. “ Jamu, Jamuuu.” Begitu teriakku setiap kali aku melewati rumah penduduk. “ Mbakk, Mbakk, Jamunya satu.”Teriak seorang wanita.“Mau jamu apa mbak?” tanyaku. “ Kunir Asem satu gelas saja mbak.” Pintanya. Segera aku tuangkan segelas jamu kunir asem yang aku tambahkan sedikit gula merah. Setelah itu aku berkeliling menjajakan jamu kembali. Siang itu begitu terik, hingga kaosku basah oleh keringat. Tapi aku tak peduli, toh penjualan hari ini cukup lumayan. Paling tidak sudah balik modal dari bahan-bahan tadi yang kubeli.

Aku melangkah menyisir hamparan sawah dengan tanaman padi yang sudah mulai menguning. Memang mayoritas pekerjaan penduduk di Daerah tempatku tinggal adalah petani. Sehingga mulai dari anak-anak hingga dewasa sudah terbiasa dengan pekerjaan bercocok tanam. Aku melanjutkan perjalananku dan melewati sebuah gubuk sawah dimana para buruh tani sedang beristirahat karena sudah tengah hari. Belum sempat aku menawarkan mereka jamu, salah satu dari mereka sudah memanggil. ”Mbak, mbakk, jualan apa mbak?” tanya salah seorang dari mereka. “Anu, saya jualan jamu mas, ada jamu kunir asem, beras kencur, jamu pahitan, dan jamu pegel linu.” Jawabku sambil menunjukkan isi keranjangku.” Ohh, kalau begitu saya minta beras kencurnya satu mbak.” kata salah seorang dari mereka. Segera kuturunkan keranjang bawaanku dan memberikan pesanannya.Mereka semua ada bertiga, salah satu dari mereka sepertinya masih smp.

Aku duduk di pinggir gubuk tersebut. Sembari beristirahat dari teriknya siang hari. Mereka mengajakku berkenalan dan mengobrol sembari meminum jamu buatanku. “wahh, sudah berapa lama mbak jualan jamu?” Tanya Aji yang memiliki tubuh kekar dan hitam. “ kurang lebih setahun mass, ya sedikit-sedikit buat bantu orang tua.” jawabku sekenanya. “wah sama dengan dewo, dia juga rajin membantu orang tua.” Potong Abdul yang kurang lebih seumuran Aji, sedangkan dewo adalah yang paling muda diantara mereka. “Yaa, mau gimana lagi mas, kalau nggak begini nanti nggak bisa makan.” Jawabku lagi. “ Mbak tinggal di desa seberang ya?” tanya dewo. “Iya mas, tiap hari saya berkeliling sekitar desa jualan jamu.”Ooo, pantas kok saya belum pernah liat mbak.” Jawab dewo lagi. Lama kami mengobrol ternyata mereka hampir seumuran denganku, Aji dan Abdul mereka berumur sekitar 20-an tahun, sedangkan dewo masih 14-an tahun. Obrolan kami semakin lama hingga membuatku lupa waktu.“ wah, mbak kalo jamu kuda liar ada nggak ya?” Tanya Aji. “ wahh, mas ni ngaco, ya ndak ada to mas, adanya juga jamu pegel linu.” Jawabku sambil sedikit senyum. “Waduhh, kok nggak ada mbak? Padahal kan asik klo ada.” Jawab Abdul sambil terkekeh-kekeh. “Asik kenapa to mas?” Tanyaku heran. “Ya supaya saya jadi liar kayak kuda to mbak.” Jawab aji sembari meletakkan gelas di dekat keranjangku kemudian duduk di sampingku. Posisiku kini ada diantara Aji dan Abdul, sedangkan Dewo ada dibelakangku. Rupanya dewo diam-diam memperhatikan tubuhku dari belakang, memang BH ku saat itu terlihat karena kaosku yang sedikit basah oleh keringat dan celana dalamku yang sedikit mengecap karena posisi dudukku di pinggir gubuk. Tapi aku tidak tahu akan hal ini. “wah panasnya hari ini, bikin tambah lelah saja.” Abdul berkata sambil tiduran di lantai gubuk itu. Saking keenakan tiduran tanpa terasa ia menggaruk-garuk bagian kemaluannya. Aku pura-pura tidak melihat, dalam hati aku berpikir,”Dasar orang kampung tidak tahu malu.” Saat itu Panas semakin terik, sedangkan di gubuk sungguh sangat nyaman dengan angin yang semilir, tidak terasa aku pun mulai mengantuk. Mungkin karena tadi aku bangun pagi sekali sehingga aku belum sempat untuk beristirahat. Aji pun hanya bersandaran pada tiang kayu di sudut gubuk. Dewo juga sama seperti Abdul, tiduran di lantai dengan kepala menghadap ke arahku. Aku menghela nafas, mengeluh karena panas tak juga usai. Bukannya aku tidak mau berpanas-panasan berjualan, tapi mengingat kondisiku yang sedang hamil aku takut terjadi sesuatu dengan janinku.”Wah, kok ngelamun aja to mbak? Cantik-cantik kok suka ngelamun, memang ngelamunin apa to mbak?” Kata Abdul mengagetkanku.” A..anu mas saya cuma mikir kok panasnya tidak kunjung reda.” Jawabku.”Wah, memangnya kenapa to mbak… tinggal ditunggu saja kok nanti juga tidak terik lagi.” Kata dewo dari belakangku. “Ya gimana mas, kalau terus seperti ini nanti daganganku tidak laku, aku bisa rugi mas.” Jawabku sambil mengamati langit yang sangat terik. “ Sudah mbak, tenang saja, kalau rezeki nggak akan kemana kok.” Hibur mas Aji. Tidak terasa aku semakin mengantuk. Semilir angin yang ditambah dengan suasana ladang sawah memang sangat nyaman. Tak terasa aku pun mulai memejamkan mata sembari bersandaran pada keranjang dagangan yang aku letakkan disampingku. Cukup lama aku ketiduran, hingga aku terbangun karena ada sesuatu yang menyentuh pantatku. “aaaaw apa-apaan ini!!?” Aku terbangun dan kaget ketika mengetahui tangan dan kaki sudah diikat menggunakan tali tambang kecil dan aku berada di dalam ruangan yang sepertinya ada di ruang peralatan tepat disamping gubuk tadi. Ternyata tangan dewo yang menggerayangi pantatku dan meremas-remasnya dengan kasar. “Sudah diam! Nanti aku beli semua jamu milikmu dan sebagai bonusnya aku minta jamu milikmu yang indah itu.” Kata Aji sambil meremas payudara sebelah kiri milikku dan tertawa cenge-ngesan. Aku meronta-ronta minta tolong dan mencoba untuk melepaskan ikatan pada kaki dan tanganku. Tapi tenagaku tidak cukup untuk menolongku dari situasi ini.”Ampunn mass, saya sudah menikah, nanti suamiku bisa menceraikanku.” Aku memelas dengan harapan mereka dapat berubah pikiran.”Oh, ternyata kamu sudah tidak perawan toh, tapi tubuhmu masih sempurna.” Bisik abdul sambil meniup telingaku. Darahku serasa berdesir, dicampur rasa ketakutan yang mendalam. Dalam hati aku berpikir,”bagaimana dengan Deden, aku takut, bagaimana dengan janinku, bagaimana kalau aku diperkosa.” Berbagai pertanyaan terus menghantui pikiranku saat itu.“ JJangann mass, jangan, aku sedang haid, jadi tubuhku kotor.” Aku mencoba untuk mengelabui mereka. Setelah itu mereka bertiga berhenti menggerayangiku dan saling memandang satu sama lain. “Yang bener kamu sedang Haid? Wah Sial bener aku hari ini!” Jawab Abdul kesal. “ iiya mas, sudah dua hari ini aku haid, jadi sedang banyak-banyaknya, tolong biarkan aku pergi.” Aku memohon pada mereka.“ Ya.. ya sudahlah, mungkin kita sedang apes.” Kata Aji. Namun Dewo yang masih berumur 14 tahun ini tidak memperdulikan ucapanku, dia cukup senang meremas-remas pantatku. “ Sudah wo, dia lagi haid, kamu mau apa kena darah?” Kata Aji pada dewo. Dewo tetap tidak menghiraukannya. Justru ia semakin kencang meremas pantatku dan semakin kebawah menuju selangkanganku. Posisiku yang sambil tiduran membuat rok ku sedikit terangkat hingga celana dalam putihku terlihat. Dewo yang saat itu sedang meraba-raba pantatku rupanya tidak menyia-nyiakan hal ini, dibukanya rokku semakin keatas, “ Mana? Tidak ada darah kok.” Kata Dewo. Sontak ucapan dewo mendapat perhatian dari Aji dan Abdul. “ Mana woo, jangan bohong kamu.” Kata mereka serempak. Kemudian Aji mengangkat rok dan menyentuh celana dalamku. “Kamu bohong!” dan PLakkk! Sebuah tamparan tepat mengenai wajahku. “Aaa Ampun mass, ampunn, Aku sedang hamil mass.” Aku semakin memelas dan ketakutan. “Ahh, mau pake alasan apa lagi kamu!” Abdul membentakku dan merobek bajuku, hingga aku hanya mengenakan BH warna hitam dan rok putih selutut. Aji melepaskan ikatan pada tangan dan kakiku. “Sekarang mau lari kemana kamu?! Memangnya kamu sanggup melawan kami bertiga?” Dewo menantangku, dengan cepat ia membuka baju dan celana pendeknya hingga hanya tersisa celana dalam warna coklat. Aku tersentak dan kaget, juga kulihat penis dewo yang sudah membesar hingga sedikit mencuat ke atas celana dalamnya. Aku merangkak menuju sudut ruangan itu, aku menggedor-gedornya dengan harapan ada seseorang yang mendengar. Tapi tindakanku justru membuat mereka semakin bernafsu untuk segera menikmati tubuhku. “Mau kemana kamu, disini tidak ada orang lain kecuali kami bertiga hahaha.” Aji senang sekali melihatku hanya mengenakan BH dan Rok yang sedikit tersingkap. “ mass ampunn, aku sedang hamil, nanti suamiku bisa membunuhku.” Tubuhku merinding dan sesekali aku berteriak minta tolong. “wahaha, aku sudah tidak percaya lagi dengan ucapanmu! Kalau suamimu ingin membunuhmu, ceraikan saja! Setelah itu kamu bisa jadi WTS sepuasnya.” Kata abdul sambil mendekatiku. Diraihnya kedua tanganku dan membuatku sedikit berdiri. Srakk, Abdul merobek rok ku dan melemparnya ke arah Dewo. “Itu wo, buat kenang-kenangan.” Kata abdul. “ haha, iya mas, nanti aku pajang di rumah.” Kata dewo cengar-cengir. Kini tubuhku sudah setengah bugil. Tanganku secara naluri menutup dada dan selangkanganku. “Wah bener-bener, ini namanya rejeki nomplok.” Abdul menciumi leherku yang putih, dibuatnya tubuhku merinding dan aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku menghindari jilatan liar lidah Abdul. Ciuman Abdul semakin turun mengarah pada dua gunung kembar milikku. Aku tak dapat mengelak, tanganku di pegang abdul dan diangkatnya keatas. Abdul semakin liar menjilati dadaku yang masih terbungkus BH, ia berpindah-pindah dari kiri ke kanan dan sebaliknya. Hingga ia kemudian menjilati ketiakku. “ aaa, ampun mass, ampun, too.. tolong nghh.” Aku tidak dapat berbohong kalau kelakuan Abdul membuat birahiku naik dan tubuhku menjadi sedikit lemas. Dengan sedikit dorongan, Abdul menjatuhkanku di tengah ruangan dan kait BH ku terlepas. Aku sudah tidak bisa lari dari mereka, kini yang ada di dalam pikiranku hanya janin di dalam perutku, aku menyadari semakin aku melawan maka mereka juga akan semakin kasar terhadapku. Aku terdiam, tak melakukan perlawanan, bahkan berteriak pun tidak. Air mata mulai menetes membasahi pipiku. Isak tangisku beradu dengan tawa dari mereka bertiga. Tubuhku lemas, antara takut dan pasrah menjadi satu. Dengan kedua tangannya Abdul membalikkan badanku hingga kini terlentang memperlihatkan Paha dan Payudaraku yang sudah sedikit terbuka. Mereka bertiga berdiri diatasku sambil cengengesan, rupanya Aji juga sudah melepas celananya diikuti dengan Abdul. Aku sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi sebentar lagi. Dewo yang sudah siap dari tadi telungkup dari atasku, tangannya mulai bermain di telingaku sedangkan kepalanya terus memburu bibirku. “mmpff… mmpff.” Dewo menciumku dengan ganas, aku hampir tidak bisa bernapas dibuatnya. Sambil tetap berciuman dia menggapai tanganku dan mengarahkannya ke penisnya yang sudah membesar. Dituntunnya aku untuk meremas-remas buah pelirnya yang kini ia berganti posisi dengan sedikit nungging. Aku pun menurut saja, aku remas-remas bagian buah zakar sampai ke dekat bagian anus yang masih tertutup celana dalam yang sudah usang. Tidak berapa lama Aji sudah berada di paha bagian kananku. Ia sudah telanjang, kini ia menindih pahaku diantara selangkangannya, hingga dapat kurasakan penisnya yang besar dan berotot menggesek-gesek pada pahaku yang mulus. Tangan Aji mulai bermain di dadaku, sambil sesekali ia menjilat bagian perutku. “nggghhh uaa mppff.” desahanku membuat mereka berdua semakin liar memainkan lidahnya di tubuhku. “ngghh, ahhh, mmppff.” sambil tetap berciuman desahanku tak henti-hentinya keluar. Memang harus kuakui meski dari rohani aku menolak, tapi tubuhku tidak dapat menolaknya dan aku rasakan vaginaku mulai basah oleh lendir kewanitaanku. “Heh! Minggir-Minggir!” Biar aku yang pertama merasakan tubuhnya.” Teriak Abdul. “Aku kan yang mendapatkan ide ini, jadi aku yang berhak untuk memulainya, awas-awas.” Tambahnya. Aji dan Dewo segera menyingkir dari tubuhku. Bak seorang raja, Abdul menindihku, dan kini penisnya yang sudah tidak dilapisi apapun tepat berada ditengah-tengah selangkanganku. “Gimana nona manis, sepertinya kamu juga keenakan ya?” Kata Abdul di depan mukaku. “Yang tadi itu belum pemanasan, baru tahap uji coba.” Ia semakin mendekat di wajahku. Seketika itu agus melepas BH ku, dan dengan liar putingku dimainkan. “nggg ahhh, aah, ah.” nafasku semakin tidak teratur. Dewo yang tidak bisa diam meraih tanganku dan mengarahkan ke penisnya lagi, lalu menyuruhku untuk mengocok-ocoknya. Aji pun tidak mau kalah, dari sisi yang lain ia memintaku untuk melakukan seperti apa yang kulakukan pada dewo.

Wajah dewo menghilang dari hadapanku, rupanya ia turun dan kini ia tepat berada di atas daerah kemaluanku, dilebarkannya kakiku dan ia mulai menciumi vaginaku yang masih dilapisi celana dalam sambil tangannya memainkan putingku. Aku semakin bernafsu, tanpa kusadari aku mengangkat pinggulku agar ciuman Abdul pada vaginaku lebih terasa. Abdul tampaknya tahu kalau aku sudah sangat terangsang. Segera ia melepas celana dalamku yang sudah banjir oleh lendir dari vaginaku. Disibakkannya rambut kemaluanku dengan lidahnya. Kemudian Abdul mulai menjilati vaginaku dan sesekali menghisap klitorisku dan tangannya semakin liar bermain di kedua payudaraku. “ nggghhh, ahhh, aaaa mmmh mass.” Aku mengerang keenakan sambil menekuk kedua pahaku sehingga abdul lebih leluasa memainkan vaginaku. Aku benar-benar serasa melayang, dihadapanku kini ada 3 orang yang secara beringas memperkosaku. Aku sangat malu pada diriku, kenapa aku justru bisa menikmati keadaan ini, tapi tubuhku seolah-olah sudah menyatu dengan jiwa mereka. “mass ahhh, terus mass, enn enak.” Aku terus meracau tak karuan yang membuat mereka bertiga semakin bernafsu. Lidah Abdul Semakin liar menghisap-hisap vaginaku diiringi kocokanku pada batang kemaluan Dewo dan Aji. “ ahhhh ahhh, mass. lebih cepat mass.” aku mengerang dan ketika itu juga aku mengalami orgasme. Cairanku membasahi wajah Abdul namun ia terus menjilatinya hingga aku menggelinjang kekanan dan kekiri. Kini Abdul membangunkan tubuhku, dan memintaku untuk menjilati ketiga penis mereka. Aku seperti dicekoki, didepanku kini ada 3 rudal yang siap menjejali mulutku. Tanpa menunggu lama, aku masukkan penis mereka bergantian di mulutku, sambil tanganku memainkan batang kemaluan mereka. Mereka bertiga nampaknya merasa keenakan,”oohh.” Aji melenguh keenakan. Sekitar 15 menit aku memainkan penis mereka sambil terus mengocoknya.

Abdul yang sudah sangat terangsang mendorong tubuhku dan mulai memasukkan penisnya yang besar itu. “mmass.” aku menahan sakit saat penis Abdul menghujam vaginaku. Dengan sekejap seluruh batang milik Abdul masuk kedalam liang kewanitaanku. Tanpa basa-basi, Abdul mulai menggerakkan penisnya maju mundur. Sedangkan Aji dan Dewo menjilat-jilat dan menghisap payudaraku. Aku dikeroyok oleh 3 orang. Libidoku pun semakin meningkat setelah tadi aku mengalami orgasme. Aku memegangi kepala Aji dan Dewo sambil terus melenguh keenakan.“ Uhhh ahhh, umm. ahh.” Kata-kata itu yang terus muncul dari mulutku melihat perlakuan mereka terhadapku. Sekitar 10 menit kami melakukan posisi ini sambil bergantian Aji dan Dewo menciumi bibirku.

Abdul belum juga keluar, ia cukup kuat untuk ukuran lelaki seperti dia. Kini ia menyuruhku untuk nungging. Aku hanya menuruti perkataannya. “ Dul, gantian aku yang naikin dia.” Tanpa basa-basi Dewo mengarahkan penisnya ke arah vaginaku, kini posisiku berganti menjadi menungging sambil di genjot oleh penis Dewo. Penis Dewo tidak terlalu besar, bahkan hanya setengah milik Aji dan Abdul. Mungkin ini pertama kali baginya untuk merasakan liang vagina. Karena kulihat ia cukup lama sebelum seluruh batangnya masuk ke dalam vaginaku. “Uoogghh, uenakk tenann” Kata Dewo. Ia menggerakkan pinggulnya maju mundur mengikuti irama pantatku. Dewo cepat beradaptasi, Meski penisnya kecil, tapi gerakkannya sangat cepat, berbeda dengan Abdul yang menikmatiku dengan pelan. Aji berganti posisi, kini ia di depanku dan mengarahkan penisnya ke mulutku, kemudian ia memaju mundurkannya beriringan dengan genjotan Dewo. Abdul yang tadi menggenjotku kini asik bermain dengan putingku yang lumayan besar. Kami terus melakukan tarian kenikmatan ini, Dewo semakin cepat menggerakkan penisnya maju mundur,” Ahhh, masss, aaa, aku keluaaarr.” ummm, mmpfff.” Aku keluar untuk kedua kalinya. Begitu juga dengan Dewo, ia yang masih belum berpengalaman mengeluarkannya di dalam vaginaku, seketika itu juga ia langsung lemas. “ Wah, wo, parah kamu, masa kamu keluarin di dalem, kan jadi kotor,” kata Aji.” Aku saja belum sempat merasakannya sudah kotor sama peju kamu.” Tambahnya. “maaf mas Aji, aku kelepasan.” Ucap dewo. tampaknya dewo sudah lelah, ia kemudian berbaring dan sepertinya akan tidur. “Wah, dasar anak ini, habis enak langsung minggat.” Ucap Abdul.

Abdul kemudian menggantikan posisi Aji dengan memasukkan penisnya ke mulutku. Sedangkan Aji kini berada tepat dibelakangku dengan posisiku yang masih tetap menungging. “Tahan ya, sakit sedikit tapi enak kok..” Seringainya padaku. Aku tidak tahu apa yang akan ia lakukan padaku, tidak begitu lama ternyata ada sesuatu yang mencoba masuk melalui anusku. “ Nggghhh masss, sakitt, aa ampun mas.” Aku merasa kesakitan saat penis Aji yang besar mencoba menerobos anusku. “Ahhh, aaaw ashh, nnnhh.” Aku semakin tidak karuan merasakannya. Dengan sekuat tenaga meski sempat beberapa kali bengkok akhirnya penis Aji masuk ke dalam anusku,” nggg ahhh.” rasa sakitku pelan-pelan menjadi kenikmatan yang baru bagiku, karena baru kali ini anusku di jejali penis. “ hmmff Sempit banget , uahh.” Ucap aji keenakan, ia juga tidak kalah keenakan daripada aku. Aji sudah mulai terbiasa dengan ini, sesekali ia meludahi anusku agar lebih mudah menggerakkan penisnya. “Akkkkhh, uuahhhh.” Aji mendesah keenakan saat ia mencapai puncak kenikmatan, spermanya mengisi penuh seluruh isi anusku hingga meleleh keluar. Tidak berapa lama Abdul yang sudah dari tadi memaju mundurkan penisnya di mulutku juga merasakan hal yang sama, “ ouughhh teleennnn, sseeemuaa.” Ia meracau sambil tangannya menekan kepalaku pada penisnya. Seketika itu juga cairan spermanya menyemprot di dalam rongga mulutku dan mau tidak mau harus aku telan.

Harus kuakui mereka bertiga cukup hebat, namun tetap saja tidak bisa mengalahkan mas Deden, Mereka bertiga hanya sanggup membuatku keluar 2 kali, tapi mas Deden mungkin bisa lebih, bahkan Hingga aku tidak mampu lagi untuk berdiri.
Mereka bertiga duduk di dalam ruangan sambil beristirahat karena mereka sangat lelah. Aku pun masih terbaring di lantai tanpa sehelai benangpun. Abdul mengeluarkan 2 lembar lima puluh ribuan. “itu untuk ongkos jamu dan tubuh kamu.” Sekarang kamu pergi dari sini!” Ucapnya sedikit membentak. “bagaimana dengan pakaianku?” tanyaku. “ Pikir saja sendiri” Balas abdul ketus. Kemudian aku memakai BH dan celana dalamku. Aku gunakan selendang yang kupakai untuk mengangkat keranjang tadi, Aku lilitkan untuk menutupi tubuhku dan untunglah cukup. Aku bergegas meninggalkan mereka sambil membawa kerangjangku. Jam sudah menunjukkan pukul setengah 4 sore. “Mas Deden pasti sudah pulang ini.” Ucapku dalam hati sambil mengusap air mata di pipiku.

Sesampainya di rumah ternyata benar, Mas Deden sudah menungguku pulang. Aku ceritakan semua kejadian ini padanya bagaimanapun aku tetap mencoba untuk terbuka padanya karena dialah satu-satunya orang yang kumiliki. Reaksi Mas Deden sungguh membuatku kaget, Ia justru memelukku dengan erat, dan mengelus perutku memberikan kasih sayang pada si Jabang Bayi. Aku terharu dengan Mas Deden. Meski sempat ia akan bergerak mengumpulkan warga untuk memberi pelajaran pada orang-orang yang memperkosaku, namun aku dapat meyakinkannya bahwa aku tidak apa-apa, dan semoga saja janinnya juga tidak terjadi apa-apa. Aku bangga dengan Mas Deden, ia tidak panik saat mendapatiku mengalami kejadian seperti ini, Selamanya aku tetap mencintainya. Setelah kejadian ini aku sudah tidak berjualan jamu lagi. Kali ini aku menjadi pendamping setia Mas Deden, dengan menemaninya pergi ke ladang setiap hari. Meski keadaan ekonomi kami semakin sulit, tapi kebahagiaan kami seolah menutup dalam-dalam semua keadaan ini dan kejadian masa lalu. Kini anakku sudah besar, peristiwa itu tidak membuat kondisinya saat lahir menjadi cacat mental atau sejenisnya. Ia tumbuh menjadi putri yang cantik dan kami beri nama Mentari, yang tetap bersinar sesulit apapun keadaan yang kami alami saat ini, esok, dan seterusnya.

Akhirnya kunikmati pemerkosaan itu 1

Filed under: PERKOSAAN

Sebut saja namaku Ani, wanita berusia 30 tahun dengan wajah cantik dan kulit kuning langsat. Aku berani bilang aku cantik karena banyak lelaki tergila-gila padaku sewaktu masih kuliah dulu. Mereka bilang aku mirip artis sinetron Bella Saphira atau Jihan Fahira.

Tapi kini aku tak lagi lajang, sejak selesai kuliah 5 tahun lalu, aku menikah dengan Mas Rudi, kakak kuliahku yang aku cintai. Saat ini kami hidup di kota M, dan Mas Rudi bekerja sebagai wartawan pada sebuah media cetak lokal di kota itu.

Kehidupan kami berjalan mulus hingga tahun keempat pernikahan, walaupun kami belum juga dikaruniai buah hati hasil perkawinan kami. Aku sendiri lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, sambil menjaga kios serba ada yang setiap waktu semakin berkembang pesat. Intinya, kami sama-sama bahagia walaupun kadang merasa sepi juga tanpa hadirnya buah hati.

Tapi, sesuatu ternyata terjadi diluar perkiraan kami berdua. Profesi Mas Rudi sebagai wartawan mengharuskannya berhadapan dengan resiko yang rumit. Aku ingat betul saat itu suamiku berseteru dengan seorang pejabat yang kasus KKN nya dibongkar suamiku. Seminggu setelah berseteru, suamiku dianiaya belasan orang tak dikenal, beberapa saat setelah meninggalkan rumah.

Tak parah memang, tapi luka disekujur tubuh Mas Rudi ternyata berpengaruh pada kemampuan seksualnya. Ya, sejak penganiayaan itu, Mas Rudi selalu gagal melakukan tugasnya sebagai suami. Tadinya kami pikir itu akibat shok yang dialami karena penganiayaan, dan dokter yang menangani Mas Rudi pun berpikiran seperti itu. Tapi sudah hampir setahun berlalu, kondisi Mas Rudi tetap tak berubah, malah bisa dibilang semakin parah. Bahkan sekarang, Mas Rudi sudah mulai enggan mencoba melakukan tugasnya memberikan kebutuhan biologis padaku.

“Aku takut kamu malah kecewa sayang,” katanya dengan tatap sedih suatu malam.

Sebagai istri, meskipun tersiksa, aku mencoba untuk tetap setia dan bertahan dengan keadaan itu. Walau terkadang timbul juga ketakutan kalau aku tak bakalan punya anak sampai tua nanti. Lambat tapi pasti, akhirnya aku dan Mas Rudi bisa menepis semua ketakutan itu, dan mulai tenggelam dengan kesibukan kami masing-masing.

Untuk menghilangkan rasa sepi kami, aku dan Mas Rudi mempekerjakan empat orang pembantu dirumah kami. Dua wanita, Ijah berusia 22 tahun, dan Minah berusia 34 tahun, kupekerjakan sebagai pembantu rumah tangga dan penjaga kios serba ada. Sedangkan dua lelaki, Maman berusia 40 tahun, dan Jaka berusia 19 tahun, kupekerjakan sebagai tukang kebun dan penjaga kios serba ada pula. Untuk mereka pula, kami membuat dua buah kamar lagi, dan suasana rumah tak lagi sepi sejak mereka berempat turut tinggal di rumah kami sejak lima bulan lalu.

Malam itu entah apa yang ada dipikiran Mas Rudi. Yang pasti suamiku itu membawa belasan keping VCD porno dan mengajakku menikmati tontonan erotis itu bersama-sama. Waktu itu jam menunjuk angka 11.30 malam, dan kami berdua sudah berbaring di ranjang kamar, sementara adegan porno dilayar TV sudah mulai tayang.

Terlihat jelas bagaimana gadis Cina dalam VCD itu merintih dan mengerang ketika lidah lelaki cina pasangan mainnya menjilati bibir-bibir vaginanya, terlihat jelas juga bagaimana rintih kenikmatan keduanya ketika kelamin mereka bersatu dalam senggama. Tak bisa kupungkiri, aliran darahku cepat terpacu dan kehausanku akan kebutuhan itu semakin menjadi-jadi.

Mas Rudi masih terdiam di sampingku, namun mendadak tangannya mulai merayap dan meraba bagian tubuh sensitifku.

“Sayang, mungkin aku nggak bisa memberimu kepuasan seperti itu. Tapi aku akan berusaha membahagiakanmu,” katanya sambil mulai menciumi sekujur tubuhku. Satu persatu pakaian kami terbuka hingga akhirnya kami benar-benar bugil.

Astaga, penis suamiku tetap saja layu meski adegan di TV sudah membakar nafsu kami berdua. Sebagai istri aku berinisiatif mengulum dan menjilati penis Mas Rudi yang layu, tapi tak juga ada perubahan sampai aku lelah sendiri.

Akhirnya Mas Rudi bangkit dan mengambil sesuatu dari balik lemari kami, penis karet dengan vibrator elektrik. Alat itu baru dibelinya, karena selama ini aku selalu menolak menggunakan alat bantu semacam itu. Aku selalu berpikir jika pakai alat itu sama saja aku melakukannya dengan orang lain, bukan dengan suamiku.

Tapi entahlah, malam itu aku benar-benar tak kuasa menahan birahiku. Mungkin akibat tontonan porno yang kami nikmati bersama itu.

“Ohh Mass ngghhss,” aku mulai mendesis ketika Mas Rudi menyibak bibir vaginaku yang sudah banjir dengan penis buatan itu.

Aku tak lagi memperhatikan suamiku, dan mataku tertuju pada layar TV, sambil membayangkan akulah yang sedang disetubuhi pria di TV itu. Vibrator penis karet yang sudah sepenuhnya masuk keliang vaginaku dihidupkan Mas Rudi, getarannya mulai membuat menikmatan tersendiri di daerah klitorisku. Aku mengelinjang sambil merintih nikmat hingga akhirnya tiba pada puncak kenikmatan. Aku orgasme, orgasme semu oleh alat buatan pabrik. Malam itu aku bahagia, tetapi batinku menangis.

“Maafkan aku sayang,” hanya itu yang terucap dari bibir Mas Rudi.

“Nggak apa Mas, aku sudah sangat puas kok,” balasku sambil mengecupnya.

Sejak menikmati getaran asyik dari vibrator penis karet malam itu, sepertinya ada yang berubah pada diriku. Aku menjadi sangat agresif dan selalu ingin melakukan hubungan seksual dengan alat itu. Kadang kala, saat Mas Rudi sedang tak dirumah, aku melakukannya sendiri hingga mencapai puncak kenikmatanku. Aku tahu itu salah, tetapi aku tak bisa menolak keinginanku yang selalu menggebu untuk terpenuhi, sementara aku juga ingin tetap setia pada suamiku.

Siang itu pelanggan kios serba ada kami cukup banyak yang datang. Maklum tanggal muda biasanya pelanggan kios yang rata-rata pegawai negeri membeli kebutuhan sehari-hari di kios kami. Aku dan Ijah sibuk melayani pembeli, malah Minah yang seharusnya bekerja didapur ikut membantu kami. Jarak kios dan rumah kami hanya berselat tembok, tembok itu pun ada pintu khususnya yang menghubungkan kios dan rumah, jadi tidak sulit mondar-mandir kios-rumah atau sebaliknya rumah-kios.

“Si Jaka kemana Jah? kok nggak kelihatan dari tadi?,” tanyaku pada Ijah sambil menghitung bayaran pelanggan.

“Nggak tahu tuh bu, tadi sih katanya mules, dia lagi mencret bu, sakit perut,” jawab Ijah.

“Sakit kok nggak bilang?, ya sudah kamu jaga dulu kiosnya sama Minah ya, Ibu mau lihat Jaka,” setelah kios sepi, aku pun meninggalkan Ijah dan Minah untuk melihat Jaka.

Kamar pembantuku tepat di belakang kios, satu kamar Ijah dan Minah, satu lagi kamar Jaka dan Maman. Aku langsung menuju kamar Jaka, dan saat aku buka pintunya terlihat Jaka sedang terbaring dengan wajah pucat dan meringis-ringis sambil memegangi perutnya seperti menahan sakit.

“Kamu sakit Jaka?, ke Puskesmas saja ya mumpung masih buka,” kataku terus masuk kedalam kamar pembantuku.

“Eh.. ibu.., nggak apa kok bu, cuma sakit perut biasa. Tadi juga sudah minum obat diberi Ijah,” Jaka berkata sambil bangkit dan duduk diranjangnya.

Jaka adalah pemuda sopan dari kampung yang sama dengan tiga pembantuku lainnya. Mereka kuambil dari kampungku juga, kebetulan keluarga kami sudah saling mengenal dikampung. Aku juga sebenarnya sama seperti mereka, orang kampung. Hanya saja aku agak beruntung kawin dengan Mas Rudi, anak orang kaya yang juga berprofesi matang.

Aku lalu duduk ditepi ranjang Jaka sambil mengusap dahinya.

“Mana yang sakit Jak?” tanyaku seraya mengusap perutnya.

“Sudah baikan kok bu, cuma masih lemas,” jawabnya.

Rasa peduliku pada Jaka mungkin suatu kesalahan, soalnya begitu mengusap perut Jaka, aku justru menatap suatu bagian di bawah perut Jaka. Sebuah benda yang tersembul dibalik celana karet komprangnya, astaga milik Jaka yang kusadari tentu tak bermasalah seperti milik suamiku. Aku jadi jengah dan menarik tanganku, lalu meninggalkan Jaka sendirian di kamarnya.

Malamnya, sekitar jam 09.00 setelah makan malam, aku kembali ke kamar para pembantu untuk melihat keadaan Jaka. Terus terang aku sangat takut kalau pembantuku ada yang sakit, apalagi bagiku mereka sudah seperti kerabat sendiri.

Tapi malam itu aku jadi kaget dan tersentak. Aku mendapati bukan Minah dan Ijah atau Jaka dan Maman yang sekamar. Tetapi Jaka sekamar dengan Ijah dan Maman dengan Minah. Rupanya, mereka keblinger dan melanggar aturan yang kutetapkan.

Hal itu aku tahu ketika dekat kamar Minah, aku mendengar suara rintih dan desah khas orang yang sedang bersetubuh. Ketika kuintip ternyata Maman yang duda sedang menindih Minah yang janda.

Aku lalu beralih menintip kamar Jaka lewat celah jendela. Astaga, di kamar itu aku melihat Ijah sudah setengah telanjang dan Jaka sedang mengulum buah dada Ijah. Aku hendak marah dan menghardik mereka, tetapi tak tahu kenapa aku malah seperti terpaku dengan adegan yang kusaksikan itu.

“Iiihh gelii Jak.., nakal kamu ya,” ucapan genit Ijah terdengar jelas olehku saat Jaka mulai menjilati bagian perutnya.

“Geli dikit nggak apa kan, Kang Maman dan Bi Minah juga begitu kok caranya,” balas Jaka.

Keduanya pun mulai melepas pakaiannya hingga bugil. Sementara aku semakin terpaku melihat adegan mereka dari balik celah jendela. Jaka yang bertubuh kurus dan agak pendek rupanya memiliki penis yang lumayan besar, setidaknya lebih besar dari milik suamiku yang layu itu.

Bersambung…

Akhirnya kunikmati pemerkosaan itu 2

Filed under: PERKOSAAN

Ijah yang sudah telanjang bulat berbaring diranjang dengan posisi kaki menjuntai kelantai, sedangkan Jaka mengambil posisi berdiri. Jaka kemudian mengangkat dua kaki Ijah sehingga posisi Ijah mengangkang, lalu perlahan Jaka memasukan penisnya ke dalam vagina Ijah.

“Nghhss Jak.. ohh,” Ijah mulai mendesis dan mengerang ketika Jaka memompa tubuhnya.

Keduanya lalu tenggelam dalam nafsu birahi, sementara aku yang sudah tak kuat lagi segera berlari ke kamarku dan memuaskan diri dengan penis karet sialan itu. Sampai akhirnya Mas Rudi pulang larut malam dan kembali memuaskanku dengan alat sialan itu lagi.

Sejak kejadian itu, aku semakin tak habis pikir dengan kelakuan para pembantuku itu. Tapi lama-lama aku pikir wajar saja, karena Maman memang duda dan Minah janda, lalu Jaka dan Ijah mungkin saja sudah menjalin cinta sejak di kampung dulu. Apalagi pengawasan terhadap mereka di rumahku tak terlalu ketat. Namun tak bisa kupungkiri juga, sejak melihat kejadian itu, aku semakin merasakan haus untuk melakukan seks. Apa boleh buat keinginan itu harus kuredam dengan penis karet lagi, dan lagi.

Hari itu Mas Rudi pamit akan liputan luar kota selama tiga hari, dan tiga hari itu pula aku harus kesepian di rumahku. Hari pertama berjalan seperti biasa meski tanpa Mas Rudi. Tapi hari kedua sejak pagi aku merasa kurang enak badan, sehingga kios hanya dijaga para pembantuku.

“Bu.., kalau mau biar saya pijatin supaya enak badannya,” suara Ijah menawariku usai makan malam.

Malam itu sengaja kuajak empat pembantuku itu makan malam bersama di rumahku dan mereka juga bebas nonton TV dirumah majikannya ini.

“Iya deh Jah, pijitin aku dikamar ya..,” ujarku sambil berjalan menuju kamar.

Sementara Minah, Maman, dan Jaka masih nonton TV diruang tengah. Sampai di kamarku, Ijah langsung memijiti seluruh badanku dari kaki sampai kepala. Pijitan Ijah memang enak sampai-sampai aku terlelap dan tidur.

Aku tak tahu berapa lama aku sempat tertidur, tetapi saat bangun tubuhku rasanya sudah segar kembali. Hanya saja, astaga, aku dalam keadaan terikat. Kedua tangan dan kakiku terikat pada tiap sudut ranjang, dan mulutku tertutup erat plester lakban. Hanya mataku yang terbuka dan melihat kamar dalam keadaan terang, dan aku sendiri dalam keadaan bugil tanpa sehelai benang pun.

“Selamat malam nyonya sayang,” suara Maman tiba-tiba mengejutkanku.

Lelaki bertubuh gempal itu sudah berdiri tepat di depanku di ranjang bagian kakiku. Matanya berbinar liar menatap kearah tubuhku yang terikat, terlentang, dan telanjang. Sialan, apa mau Maman ini, aku mau berteriak tapi mulutku tertutup lakban.

“Tenang saja nyonya, malam ini akulah yang akan memuaskanmu. Tuankan sedang tidak ada,” Maman masih berdiri di hadapanku sambil melepaskan pakaiannya sendiri.

Tubuh Maman masih terlihat atletis di usia 40 tahun, dengan bidang dada dan otot perut kotak-kotak menandakan tenaga yang kuat, apalagi kulitnya yang agak hitam membuat kesan kuat jelas terlihat.

Maman kini tinggal pakai CD saja, dan perlahan bergerak kearahku yang terlentang diranjang. Aku tahu apa yang sebentar lagi akan terjadi, Maman akan menyetubuhiku, memperkosaku, tapi juga memberi kepuasan yang selam ini aku cari.

“Eemphh.. mmffhh,” aku berusaha bergerak berontak ketika Maman mulai menyentuh tubuhku.

Tapi percuma, ikatan tali jemuran pada kaki dan tanganku sangat kuat, Maman akhirnya leluasa meraba-raba tubuhku.

“Tenang nyonya, sabar ya.., wah mulus sekali nyonya ini,” Maman terus meraba-raba dan mempermainkan jari kasarnya di sekujur tubuhku.

Aku hanya bisa pasrah ketika Maman mulai berani menciumi puting susuku dan menghisap-isapnya. Kumis tebal dan mulut monyongnya seperti hendak melahap habis susu ukuran 36B milikku. Aku pun tak kuasa berontak ketika jeri-jari kasar Maman menyentuh bibir-bibir vaginaku, dan kurasakan gelora birahiku mulai menjalar ketika jari-jari itu mulai menelusup pada celah bibir vaginaku dan memainkan, menekan-nekan klitorisku.

“Mmffhh..,” meski aku mulai menikmati sentuhan nakal Maman, tetapi aku harus tunjukan kalau aku tak suka diperlakukan begitu, setidaknya untuk mempertahankan martabatku sebagai majikannya.

Aku mulai berontak lagi, tapi percuma. Kini Maman bukan hanya bermain jari, bibirnya mulai turun kearah perut dan terus keselangkanganku yang sudah basah. Oh.., tidak, bibir Maman mulai menyentuh bibir vaginaku. Kumisnya yang tebal sengaja digesek pada klotorisku, membuat aku menggelinjang. Setiap gerakan perlawananku membuat Maman semakin bernafsu menjilati vaginaku, dan hal itu membuat kenikmatan yang tercipta semakin tak bisa kuelakan. Akhirnya gerakan pinggulku semakin seirama dengan jilatan kasan lidah dan kumis Maman.

“Gimana nyonya? Enak nggak?,” tanya Maman sambil menatapku.

Aku tentu saja melotot kepadanya. Tetapi Maman nampaknya sudah mengerti ciri wanita dilanda birahi, sebab meski mataku melotot marah, vaginaku yang sudah basah tak bisa menyembunyikan ciri nafsuku. Maman melanjutkan aktifitasnya menjilati vaginaku. Desakan-desakan bibir Maman dibagian vital milikku membuat rasa nikmat tersendiri menjalar dan mengumpul dibagian vagina, pinggul, pantat, hingga ujung kaki dan ujun rambutku. Mamang semakin teratur menjilati klitorisku, sampai akhirnya aku tak bisa membendung desakan dari dalam vaginaku.

“Mmmffhhpp..,” kali ini aku jebol, aku orgasme dengan perlakuan Maman itu.

Maman menghentikan jilatannya, dan menatap wajahku, ia tahu aku sudah sampai puncak pertama. Maman berdiri lagi dan menanggalkan CD kusam miliknya. Kini dihadapanku berdiri seorang lelaki dengan penis yang normal dan ereksi total, hal yang sudah setahun lebih tak pernah kulihat. Penis milik pembantuku itu siap menghujani vaginaku dengan kepuasan.

“Nyonya.., sudah kepalang basah. Saya tahu nyonya juga senang kok, buktinya sampai keluar airnya. Jangan berteriak ya nyah,” ujar Maman sambil melepas plester lakban dari mulut.

Kini plester sudah terlepas dan mulutku bebas bersuara, tapi aku tak berkata-kata apalagi berteriak. Tubuhku lemas dan tiap jengkalnya merasa rindu sentuhan Maman seperti tadi.

“Ohh.., uhh.. adduuhh..,” hanya itu yang keluar dari mulutku ketika Maman kembali menjilati vaginaku.

Tangan Maman yang cekatan meremas-remas susuku, pinggulku, dan belahan pantatku diremas gemas. Terus terang saat itu aku sudah tak sabar menunggu hujaman penis Maman yang tegar ke vaginaku, aku rindu disetubuhi lelaki, bukan sekedar vibrator sialan itu.

Maman beralih posisi mengambil posisi berlutut tepat di selangkanganku. Dipegangnya penisnya dan diarahkan ke vaginaku yang sudah benar-benar kuyup. Maman menggesek-gesekkan penisnya dipermukaan vaginaku, oh.., aku benar-benar tak sabar menunggu senjata Maman itu.

“Uhh Man.. ampunhh.. aku nyerah.. mmffhh,” aku akhirnya mengucapkan itu dengan mata terpejam.

Kupikir mau menolak pun percuma karena posisiku sulit, lagipula aku ingin agar dosa itu segera berlalu dan selesai. Ucapanku membuat angin segar bagi Maman, sebelum menyetubuhiku penuh, Maman membuka ikatan tali di kaki dan tanganku.

“Ayo sayang, sekarang aku puaskan kamu cantik,” celoteh Maman sambil kembali menindih tubuh bebasku.

Dalam posisi itu Maman masih terus memancing nafsuku yang sudah sangat puncak, penisnya hanya digesek ujungnya saja pada vaginaku membuat aku yang mengejar dengan pinggul naik turun. Setelah tak mampu menahan nafsu yang sama, Maman akhirnya menghujamkan utuh penisnya kedalam vaginaku.

“Ouhhggff.. ah Kang Maman..,” bibirku mulai menceracau saat Maman memompakan penisnya maju mundur dalam vaginaku.

Tangan dan kakiku yang sudah lepas dari ikatan bukannya mendorong tubuh Maman menjauh dariku, tetapi justru memeluk dan meremas remas dada kekar Maman. Penis Maman terasa memenuhi liang senggamaku dan menciptakan rasa nikmat yang selama ini tak lagi kurasakan dari Mas Rudi.

“Ohh nyonya, uennaakk sekali vaginamu nyahh.. oh,” Maman menggenjot tubuhku dengan irama yang cepat dan tetap, dan aku mengimbangi gerakan Maman. Kini aku total melayani kebutuhan seks Maman sekaligus meraih kebutuhan seksku.

Sampai menit kedua puluh permainan kami, aku merasakan seluruh sarafku mengumpul disatu titik antara bibir vagina dengan klitorisku. Lalu beberapa detik kemudian seluruh otot dibagian itu terasa mengejang.

“Auuhhff.. mmffhh, enghh.. ohh,” kurasakan kontraksi yang sangat sensasional pada vaginaku.

“Iyyaahh.. nyaahh.. ohh nyaahh,” Maman menggeram hebat dengan tubuh kejang diatas tubuhku, kurasakan semburan spermanya masuk hingga kedinding rahimku.

Maman rebah diatas tubuhku. Keringat kami bercampur baur dan kedutan-kedutan lembut kelamin kami masih terasa sesekali, sampai akhirnya Maman rebah disisi kananku.

Bersambung…

Akhirnya kunikmati pemerkosaan itu 3

Filed under: PERKOSAAN

Ya Tuhan, aku sudah menodai kepercayaan Mas Rudi. Aku menitikan air mata usai meraih kepuasanku dari Maman.

“Maafkan saya nyonya, saya khilaf waktu lihat nyonya tidur dan pintu tak ditutup,” Maman membuka bicara.

Dari situ aku tahu, sehabis dipijat Ijah, aku tertidur dan Ijah tak menutup pintu kamarku. Setelah larut saat Ijah, Minah dan Jaka tidur, Maman hendak menguncikan pintu rumah tetapi batal karena melihat posisi tidurku dengan daster tersingkap. Maman jadi khilaf dan berniat memperkosaku.

“Kalau saya mau dipecat, saya hanya minta uang saku untuk pulang kampung nyah, saya nggak minta apa-apa lagi,” tutur Maman mengiba.

“Kamu nggak salah Man, aku yang salah aku juga khilaf. Ya sudah kamu pindah kamar sana dan jangan bilang siapa-siapa ya, anggap saja tadi itu hadiah dariku buat kamu,” kataku sambil menyuruh Maman pergi dari kamarku.

Hari ketiga saat Mas Rudi liputan luar kota, aku jadi termenung sendiri dalam kamar sejak pagi. Urusan kios aku percayakan sepenuhnya pada pembantuku, sementara aku hanya memikirkan kejadian malam kemarin dengan Maman. Kupikir aku diperkosa dan diinjak-injak harga diriku, tapi kupikir lagi aku pun menikmatinya, malah harus berterima kasih pada Maman yang telah mengobati rinduku selama ini untuk bersenggama dengan lelaki sebenarnya.

Sejak kejadian dengan Maman itu, aku seperti menemukan kehidupan baru. Jika aku butuh kepuasan semacam itu aku akan memanggil Maman melayaniku. Tentu saja semua tanpa sepengetahuan Mas Rudi, suamiku tercinta.

Tiga bulan sejak kerap melakukan hubungan gelap dengan Maman, tukang kebunku, aku merasa irama hidupku menjadi normal. Walau aku sadar telah menodai kepercayaan Mas Rudi suamiku, tapi aku juga kan wanita normal yang butuh kepuasan yang tak mungkin kudapat dari Mas Rudi lagi.

Sore itu hujan turun di kota M, sementara aku, Ijah, dan Jaka masih melayani pelanggan kios serba ada milikku. Mas Rudi belum pulang, biasanya pulang larut malam, Minah sibuk masak di dapur, dan Maman terakhir tadi kulihat membersihkan taman dibelakang rumahku.

“Aduh.. Jah, lanjutin dulu ya kerjaannya, saya mau lihat Minah di dapur. Tadi lupa bapak minta buatin telur asin,” aku mendadak ingat Mas Rudi memesan telur asin kesukaannya untuk makan malam.

Kutinggalkan Ijah dan Jaka melayani pelanggan kiosku, dan aku berlari kecil melalui pintu pembatas kios-rumah menuju dapurku.

“Minn.. Minaahh..,” sampai di dapur Minah yang kucari sudah tak ada, hanya ada sayur lodeh yang mendidih diatas kompor nyala.

“Astaga Minah kok ceroboh sih.., kemana lagi si Minah uhh,” segera kuangkat panci berisi lodeh, kompor kupadamkan dan selanjutnya mencari Minah.

Tadinya kupikir Minah lagi pipis atau buang air besar di WC belakang, jadi aku melangkah kesana. Tapi belum sampai ke WC pembantu itu, aku dengar suara rintihan khas orang sedang bersenggama. Ups.., langkah kuhentikan di tepi letukan tembok, kusaksikan pemandangan yang membuat darahku berdesir.

Maman sedang asyik menggenjot pantatnya dengan penis besar yang tertancap di vagina Minah, Maman berdiri, sedangkan Minah nungging berpegang pada pagar kayu di taman belakang rumahku. Mereka tampak buru-buru dan tidak telanjang, daster Minah diangkat naik dan CDnya diturunkan sebatas lutut, dan celana Maman merosot sebatas lutut pula, tapi baju mereka tetap terpasang. Meski hujan cukup deras mereka tidak basah karena di taman belakang rumahku Mas Rudi sengaja membuat tempat duduk teduh untuk menghabiskan jika ada waktu santai kami.

“Ohh Kaang.. enak.. aahhsst,” Minah menjerit tertahan, orgasme sampai pinggulnya bergetar hebat.

“Ouhh iyaahh Minnhh.. ssiip,” tubuh Maman pun mengejang menyusul orgasme Minah, tentu sperma Maman banyak menyiram vagina Minah, pikirku.

Sialan, rupanya mereka curi kesempatan karena hujan deras. Ehm, mungkin enak juga ya bersenggama saat hujan deras. Sebelum mereka merapikan pakaiannya, aku langsung kembali ke dapur dan duduk di kursi dapur.

“Ehh, Ibu kok disini?, ehh anu Bu.., saya habis pipis.., tapi sayurnya nggak hangus kan Bu?,” Minah gugup melihatku ada di dapur.

“Iya.. iya, tapi lain kali jangan ceroboh dong, untung saya ke dapur. Kalau nggak kan bisa kebakaran rumah ini,” kataku pada Minah, Minah manggut-manggut.

Malamnya, hujan masih lebat. Tiba tiba telepon berdering.

“Halo sayang, maaf ya.. aku nggak bisa pulang. Nginep di kantor ada kerjaan tambahan yang harus kelar malam ini,” begitu inti bicara Mas Rudi saat telepon kuangkat.

Aneh, harusnya sebagai istri aku kecewa suami nggak pulang. Tapi kok aku malah senang ya? Malah pikiranku ingin segera menemui Maman dan melampiaskan kerinduanku pada penisnya yang hitam besar itu.

Jam 10 malam, aku sengaja mengenakan daster tipis tanpa CD dan bra, menikmati acara hiburan TV di ruang tengah rumahku, sejuk segar rasanya. Hujan masih lebat.

“Permisi Bu, mau ikutan nonton,” suara Jaka membuatku sedikit terkejut.

“Eh.. kamu Jak, si Ijah mana?,” aku duduk diatas sofa, Jaka ambil duduk di lantai semeter di depanku.

“Anu Bu, sudah tidur, kecapean mungkin. Semua sudah tidur, saya aja belum ngantuk Bu”

“Wah.., padahal saya mau dipijitin, cape juga nih, pegel,” aku memijit-mijit sendiri kakiku, tubuhku merunduk.

Jaka memperhatikanku tak berkedip, dasterku terkuak dalam posisi itu, buah dadaku pasti terlihat Jaka.

“Kamu bisa mijitin Jak?,” pertanyaanku membuat Jaka kaget, tapi tetap menatapku.

“Ah Ibu, saya nggak berani Bu, nanti dikira usil,” Jaka malu, pemuda itu memang selalu pemalu, tapi aku tahu selama ini dia sering curi pandang menikmati indah tubuhku.

“Kok gitu? kalau bisa tolong saya dipijitin ya Jak. Disini aja disofa biar kamu nggak dibilang usil,” aku rebah dengan posisi menelungkup.

Jaka ragu-ragu tapi kemudian mendekatiku. Sofa ruang tengah agak lebar ukurannya, jadi Jaka kusuruh duduk di tepi sofa dan memijitku.

“Permisi loh Bu,” Jaka mulai memijiti betisku, tangannya dingin membuat pijitannya terasa asyik di betisku.

“Hmmh, enak juga tanganmu ya Jak, belajar mijit dimana sih,”

“Nggak kok Bu, cuma biasa mijitin Kang Maman aja kalau dia cape,”

“Agak naik dong Jak, pahanya agak pegel,” perintahku disambut Jaka semangat. Paha dan betisku dipijit naik turun, kanan kiri.

Hujan semakin lebat diluar, pijitan Jaka mulai asyik kurasakan. Kadang tangannya terasa mengelus dan membelai betis dan pahaku, bukan lagi memijit. Tapi kubiarkan saja aksinya itu, kunikmati saja tangan nakalnya itu.

“Badannya mau dipijit juga Bu?,”

“Iya dong Jak, sekarang punggungku pijitin gih,”

Jaka memijit punggungku masih terhalang daster, tapi Jaka tahu, aku tak pakai bra karena tali bra tak ada di punggungku.

“Sebentar Jak, biar gampang kamu mijit,” aku bangun dan menurunkan dasterku sebatas dada, menutupi susuku saja, lalu rebah lagi tengkurap. Kini tangan Jaka memijit punggungku dan menyentuh langsung kulit mulusku, kadang tangannya mengambil kesempatan ke sisi tubuh menyentuh samping pangkal susuku.

“Ohh di situ Jak, pegel tuh, ouhh asshh.. enak Jak,” suaraku sengaja mendesis, nampaknya Jaka sudah dibuai nafsu. Pijitannya sudah berubah elusan dan remasan dipunggungku, kini malah turun ke pinggang, menyentuh pantatku, aku yakin Jaka pun tahu aku tak pakai CD.

“Jak?,”

“Ehh.. saya Bu,” suara Jaka agak serak menahan nafsunya.

“Pijitin terus sampai saya tidur ya. Kalau saya ketiduran nanti kamu kunci pintu belakang kalau sudah nonton TV ya, biar saya tidur disini,” aku sengaja bicara sambil terpejam, Jaka mengiraku sudah ngantuk benar.

Beberapa menit setelah itu aku sengaja tak bersuara lagi dengan mata terpejam seperti tidur. Jaka masih mijitin aku, tapi sekarang sepenuhnya hanya meremas dan meraba-raba tubuhku. Sekejap aku balikkan badan dan masih pura-pura tertidur, posisiku jadi menghadap atas, daster bagian depanku turun sampai separuh susuku nampak jelas. Jaka kaget, kulihat dari sela mata pejamku, ia berhenti mijit tapi tetap duduk di sisi sofa dan memandangi tubuhku. Aku tahu Jaka tersangsang dengan posisi tubuhku yang menantang.

Sebentar saja Jaka mematung, setelah itu kurasakan tangannya mengelus-elus pangkal susuku yang tersibak. Pelan-pelan sekali, dia takut aku bangun tuh. Setelah yakin aku tidur Jaka lebih berani menyibak dasterku lebih terbuka sampai susuku bebas tak terhalang.

“Ohh.. cantik sekali kamu Bu..,” Jaka berbisik sendiri sambil mengelus-elus susuku.

“Ahhss Mas Rud..,” aku pura-pura ngigau.

“Iya sayang.. ini Mas Rudi,” Jaka konyol menjawab ngigauku, pasti ia mulai berpikir ini kesempatan emas.

Benar saja dugaanku, setelah igauan itu didengar, Jaka tak ragu lagi melancarkan serangannya. Tangannya yang kasar mulai meremas-remas susuku, bibirnya juga ikut terjun mencium dan menjilati puting susuku.

“Ouuhh Mass.., ngghh.. gelii Mas aahhff..,” masih pura pura tidur aku merangkul tubuh kurus Jaka, ia semakin semangat menciumi susuku. Kini tangan Jaka sudah merayap ke bawah, pahaku diusap-usapnya.

Bersambung…

Akhirnya kunikmati pemerkosaan itu 4

Filed under: PERKOSAAN

Vaginaku mulai membasah, sentuhan jemari Jaka sudah berani nakal membelai-belai bibir vaginaku. Udara dingin dan suara hujan membuat nafsuku melambung, Jaka pun kian girang menikmati tubuh mulus majikannya ini. Tiba-tiba Jaka menghentikan aktifitasnya, kulirik dari sela mataku, Jaka mempreteli pakaiannya sendiri sampai bugil. Wah walau bertubuh pendek dan kurus, tapi penis Jaka lumayan juga, lebih panjang dari punya Maman walau pun lebih langsing.

Aku masih pura-pura tidur, Jaka mengangkat dasterku dan bebas melototi vaginaku yang memang tak ber CD. Dielus lagi vaginaku dengan jemarinya, sambil dia naik ke sofa tempatku berbaring.

“Duhhss, Mass.. Rud, cepeetaan dong.. Annii nggak tahaan.. aahhmmpp,” belum selesai ceracauku, Jaka sudah menyumpal bibirku dengan mulutnya. Disedotnya seluruh bibirku dengan nafsu, dan penisnya yang tegang mulai amblas dalam vaginaku. Bleess.. jleepp.., Jaka mulai menggoyangku dengan sangat nafsunya.

“Eiihh.. huuss.. eenaakk sekallii Ani memekmu enaak..,” Jaka terus menggenjotku.

“Aahh.. ohh..,” aku mulai merasa nikmat yang sama menjalari tubuhku, pinggulku kubuat seirama kocokan penis Jaka.

Tapi rupanya gerakanku itu salah, karena membuat nafsu Jaka tak terkendali. Baru lima menit gerakan pinggul kulakukan, tubuh Jaka sudah mengejang kaku diatas tubuhku.

“Ahh.. uueennaakk.. sayaang,” crot.. crot.. Jaka orgasme karena nafsu yang sangat tinggi akibat goyangan dan suara erotisku. Terang saja aku kecewa, aku belum lagi apa-apa, lantas aku bangkit dan membuka mata melotot.

“Jaka.., apa-apaan kamu ini hah..,” sergahku pura-pura marah.

Belum sempat aku lanjutkan kata-kataku, Jaka mengeluarkan sebilah pisau dari bajunya di lantai.

“Jangan berteriak Bu,” pisau tajam itu ditodongkan ke arahku, aku takut.

“Sekarang diam, dan Ibu harus nungging.. ayo nungging. Disini Bu ceppaat,” teriak Jaka sambil menunjuk sisi sofa.

Hujan masih lebat, aku terpaksa nungging dengan dua tangan menekan pinggir Sofa, Jaka berdiri tepat dibelakangku.

“Nah.., akan kubuat Ibu lebih enak dari yang tadi. Anggap saja aku suamimu Bu,” Jaka membelai-belai bokongku, lalu jongkok tepat di belahan bokongku. Tangannya menyibak bongkahan bokongku sehingga vaginaku jelas terlihat olehnya, setelah itu, astaga, Jaka mulai menjilati vaginaku.

“Ahh.. sstt Jakk.. aouhh gelii Jak,” aku tak bisa lagi berpura-pura, jilatan Jaka dalam posisiku nungging begitu terasa nikmat sekali.

Mendengar desahku Jaka makin berani, kini pisau ditangannya sudah dilepas dan ia kembali menjilati vitalku itu. Cukup lama Jaka menciumi dan menjilati vaginaku, sampai kurasa sesuatu mulai mengumpul di paha, pantat dan bibir vaginaku itu. Aku hampir orgasme ketika Jaka menghentikan jilatannya. Tadinya aku mau marah lagi karena orgasmeku batal, tapi setelah jilatan itu lepas, ternyata penis Jaka sudah kembali tegang dan langsung menusuk ke liang nikmatku.

“Ahh, enaak ya Buu,” Jaka menggenjot tubuhku dari belakang, maju mundur.

Aku terbuai, posisiku hampir kalah, kedutan kecil mulai tercipta di dinding vaginaku. Jaka mempercepat goyangnya, hingga sepuluh menit kemudian aku semakin merasa mau jebol. Posisi nunggingku sudah utuh, tangan tak lagi menyangga tubuh. Kini aku seperti tiarap di Sofa dengan kaki berlutut di lantai, Jaka ikut jongkok, aku mirip betina yang sedang di setubuhi jantannya.

“Ouughh.. Jakk.., akuu.. ammpuun..,” pertahananku jebol, kurasakan semua sendiku ngilu, dan kedutan di dinding vaginaku menjepit-jepit penis Jaka yang masih aktif.

Tapi tak lama berselang, Jaka pun sampai puncaknya, dan tegang kaku di atas punggungku.

“Ahh Nyah.. ohh,” Jaka masih menidihku, dan posisi kami masih seperti pasangan jantan dan betina yang sedang senggama.

Kurasakan kedutan kelamin kami berpadu sampai akhirnya hilang perlahan, aku ngantuk dan terpejam, aku tertidur pulas dibuai kenikmatan dari penis pembantuku.

Paginya aku terbangun saat Minah menggoyang-goyang bahuku.

“Nyah bangun Nyah.., kok Nyonya telanjang di luar begini sih?,” suara Minah bercampur heran melihatku dalam kondisi bugil tertidur di sofa tengah.

“Ehh Min, oh.. aku ketiduran semalam nih,” aku segera bangkit dan beranjak ke kamarku sambil pakai daster kembali, Jaka sudah tak ada entah di mana dia.

Siangnya aku baru tahu dari Ijah kalau Jaka kabur. Dia cuma bilang ke Ijah kalau dia punya masalah sama preman di pasar tempat aku membeli barang dagangan untuk kios milikku. Aku tahu Jaka takut kejadian malam tadi sampai terdengar Mas Rudi, ia pikir ia telah memperkosaku. Kasihan juga Jaka, seharusnya aku jujur kalau aku pun ingin begituan, lagipula aku juga yang memancing birahinya. Tapi begitulah, aku juga gengsi sebagai majikan relah disetubuhi pembantu. Belum lagi selesai memikirkan Jaka yang kabur, sorenya Maman dan Minah menemuiku. Mas Rudi pulang cepat sore itu, dan mereka berdua, Maman dan Minah berbicara dengan kami di ruang tamu.

“Anu Pak Rudi, kami salah pak.., anu pak,” Maman gagap.

“Ada apa Pak Maman bicara saja,” dorong Mas Rudi.

Tadinya aku yang gugup jangan-jangan Maman mau bongkar rahasia seks kami selama ini, tapi setelah itu aku lega.

“Kami mau pulang kampung pak, si Minah hamil, kami harus nikah,” pengakuan Maman membuatku agak terkejut sekaligus kecewa, apalagi Jaka sudah pergi juga. Terbayang olehku hari-hari yang bakalan sepi di saat gairah seksku sedang tinggi-tingginya akhir-akhir ini.

Singkatnya sore itu Mas Rudi mengijinkan mereka pulang kampung sekaligus membayar pesangon kerja mereka. Sejak saat itu di rumah hanya ada aku, Ijah dan Mas Rudi yang selalu pulang larut malam. Meski dua pembantu lelaki itu sudah tiada tapi kenangan bersama mereka selalu kukenang, terutama saat aku birahi sendiri dalam sepi, bersama penis Mas Rudi yang tak bisa berdiri lagi.

Sejak kepergian Jaka, Maman serta Minah, tiga pembantuku, aku jadi kesepian dan hanya Ijah satu-satunya teman setiaku dirumah. Tapi kulalui saja kehidupan itu dengan sibukan diri mengurus kios kami, tentu saja dibantu Ijah.

Siang itu tak seperti biasanya Mas Rudi pulang ke rumah, tapi ia tidak sendiri. Bersama Mas Rudi turun dari mobil seorang lelaki bertampang bule.

“Ani.., kenalkan ini Bruce, teman kameraman TV Australia,” kata Mas Rudi menunjuk lelaki di sampingnya, kami pun bersalaman.

Setelah kubuatkan minuman dingin dan duduk bertiga diruang tamu, Mas Rudi mulai menceritakan siapa Bruce. Bruce adalah pria asal Australia berusia 28 tahun yang sudah tiga tahun ini tinggal di Jakarta. Bruce bekerja di sebuah stasiun TV Australia sebagai kameramen untuk reporter yang ada di Jakarta. Kebetulan Bruce sudah seminggu ini ada di kota M untuk meliput sebuah event internasional yang diselenggarakan di kota M.

“Bruce akan menginap disini beberapa hari, pingin lihat-lihat kota M, kasihan kalau harus nginap di hotel. Toh aku juga pernah liputan bareng dia di Jakarta,” Mas Rudi menjelaskan. Singkatnya untuk beberapa hari Bruce menginap di rumah kami di Kota M.

Sore itu, hari ketiga Bruce menginap di rumah kami. Ijah masih sibuk ngurus pelanggan kios, sedangkan Mas Rudi baru saja pergi ke redaksinya. Bruce bertubuh sangat atletis, tingginya mencapai 187 cm dengan postur yang ideal. Apalagi wajahnya yang mirip Antonio Banderas itu pasti membuat semua wanita tergila-gila padanya.

Bruce berolahraga ringan di taman belakang rumahku. Menggunakan kaos ketat dan celana pendek ketat pula, lekuk tubuh atletis Bruce makin mempesona dihiasi titik titik keringat yang membasahi.

“Istirahat dulu Bruce.., ini kubuatkan es limon untukmu,” aku meletakkan segelas es limon dimeja dan mengambil duduk di kursi taman. Bruce menatapku dan tersenyum, lalu menghampiriku duduk bersama.

“Kamu baik sekali Ani.., pasti Rudi bahagia punya istri sepertimu,” Bruce memujiku tulus.

“Makasih Bruce, kamu ini ada saja,”

“Aku juga punya istri, dan rindu juga karena dia di Australia,” Bruce bercerita.

Rupanya selama tiga tahun di Jakarta, Bruce hanya sesekali pulang ke Australia, atau istrinya yang ke Jakarta.

“Kamu bisa tahan ya Bruce,” aku keceplosan menanyakan itu, kesalahanku memang.

“Tahan apa Ani?,”

“Eh.. Maksudku tahan nggak ketemu istri,” aku tertunduk malu.

“Kalau maksudmu itu aku sih tahan, tapi kalau masalah seks.. Aku menghabiskan waktu olahraga saja,” katanya.

Kami pun terlibat obrolan seputar rumah tangga kami. Entah kenapa akhirnya kisahku bersama Mas Rudi kuceritakan pula, bagaimana kecelakaan itu, bagaimana Mas Rudi sudah tak mampu menjalani tugasnya sebagai suami, dan bagaimana sampai kini kami tak kunjung punya anak.

Malam mulai merayap, kami sudah selesai makan malam tapi Mas Rudi belum juga pulang. Sampai akhirnya jam 9 malam Mas Rudi mengirim SMS yang intinya ia nggak bisa pulang karena ada berita yang harus dikejar dan ditunggu sampai malam. Bruce sudah masuk ke kamar tidur yang kami siapkan untuknya, sedangkan aku sudah berbaring di kamar tidurku, dan siap untuk tidur.

Malam itu akhirnya Mas Rudi pulang juga, dan langsung berbaring disampingku. Seperti biasa kalau mau melampiaskan nafsunya, Mas Rudi mulai menciumiku. Aku membiarkan saja ketika suamiku melepaskan CD yang kupakai, Bra yang kukenakan pun ditanggalkan menyisakan daster merah muda yang masih melekat ditubuhku.

“Ahhmm.. Mas,” aku bersuara manja tetap terpejam.

Mas Rudi semakin aktif menciumiku. Dasterku dibuka bagian atas dan susuku mulai diisap-isap putingnya, sementara tangannya mulai aktif menjelajahi bagian bawahku.

Bersambung…

Akhirnya kunikmati pemerkosaan itu5

Filed under: PERKOSAAN

Sentuhan dan isapan Mas Rudi benar-benar lain malam ini, membuat birahiku seketika melonjak naik. Apalagi ketika bibirnya mulai turun dan menciumi bagian vitalku, aku sampai basah kuyup dibuat kenikmatan. Tiba-tiba Mas Rudi mengubah posisiku, dibuatnya aku menghadap kekanan dengan posisi membelakangi tubuhnya. Ia kemudian menjilati sekujur punggungku setelah menarik turun daster yang kupakai. Tangannya kemudian menyibak daster bawahku sehingga dasterku terkumpul diperut. Dari belakang, kurasakan tangan Mas Rudi menyerang vaginaku, bibir mungil bawahku dibelai dengan jari-jarinya, kadang jari tengah disisip dan digesekkan tepat dibelahan vaginaku.

“Ouhh..,” aku merintih kenikmatan saat jari tengah Mas Rudi mulai mengocok vaginaku dari belakang.

Sepuluh menit kocokan jari itu kurasakan, aku sudah melayang dan nyaris sampai puncak. Tapi mendadak jari itu berhenti dan dicabut dari liang senggamaku yang sudah monyong-monyong kenikmatan.

“Kok berhenti mas..,” aku tetap terpejam dan membelakangi Mas Rudi.

Mas Rudi diam dan kembali mencumbuiku, tapi tetap tak bersuara. Masih dengan tubuh mebelakangi Mas Rudi, aku mencoba meraih bagian celana suamiku. Tapi, astaga, punya Mas Rudi ternyata bangun malam ini, tegak dan terasa keras.

Karena bingung campur penasaran, kupicingkan mata dan segera berbalik kebelakang.

“Haahh, Bruuccee.., apa-apaan ini?” aku sangat terkejut karena ternyata yang sedang mencumbuiku ternyata Bruce, bukan Mas Rudi. Bruce juga terkejut, mungkin tak mengira kalau aku akan bangun. Tiba-tiba tangan kekar Bruce membekap mulutku dan ia pun segera menindih tubuhku.

“Ayo Anni, please.. Tolong aku, ini sudah tanggung.., jangan melawan kalau tak mau kukasari,” Bruce sedikit mengancamku.

Keadaan memang sudah tanggung, aku dan Bruce sudah sama bernafsunya. Tapi aku harus melawan, aku tak boleh begitu saja pasrah, aku gengsi dan malu dong. Namun aku tak berkutik ditindih berat tubuh Bruce.

“Jangan Bruce.., aku takut Rudi tahu,” pintaku, walau sebenarnya aku pun ingin menikmati cumbuan itu lagi.

“Hsstt.., Ani.. Tolong aku. Oke aku tak akan masukan penisku ke vaginamu, tapi tolong bantu aku sampai aku puas ya..,” Bruce merengek.

Bruce aktif lagi mencumbuiku. Sudah kepalang tanggung pikirku, sehingga akupun pasrah terbawa cumbuan Bruce. Dengan posisi menindihku, Bruce membuka celananya dan menempelkan penis panjangnya yang sudah tegap di vaginaku. Menepati janjinya, penis itu tidak dimasukan dalam liang vaginaku, tetapi hanya digesekkan saja dipermukaan vaginaku. Lima menit berlalu rupanya pertahananku hampir bobol. Meski tak masuk keliang nikmatku, namun gesekan penis Bruce ditambah bobot tubuhnya diatas tubuhku membuat vaginaku menerima rangsangan yang cukup dibagian klitorisnya.

“Emmhh.. Bruuccee..,” akhirnya erangan nikmatku keluar juga. Saat itu kurasakan klitorisku mulai membesar dan denyutan kecil mulai terasa mengitarinya, aku hampir orgasme.

“Ani..,” Bruce memanggilku dan menghentikan aktifitasnya. Setelah itu kurasa Bruce memindahkan posisi penisnya sehingga ujung penisnya tepat berada dibelahan bibir vaginaku yang sudah basah kuyup.

Bruce kini lebih berani, penis itu ditekan masuk ke vaginaku yang memang sudah resah menunggu. Akhirnya aku dan Bruce bersenggama, ya Bruce jadi pejantanku malam itu. Kuakui mungkin Bruce adalah pria pertama yang memberi kepuasan begitu dasyat padaku. Sore hingga malam itu, kami lakukan aktifitas seks sampai empat kali. Empat kali itu pula aku merasa puncak yang sangat fantastis.

Namun kenangan bersama Bruce tinggal kenangan saat esok paginya Bruce harus kembali ke Jakarta. Aku Ani, kembali kesepian. Terima kasih Bruce, untuk kenangan satu malam yang sangat berkesan.


Seminggu ini rumahku sering dapat telepon gelap yang intinya mengancam Mas Rudi suamiku, lantaran berita yang dibuat Mas Rudi menohok salah satu kepentingan pejabat di kota M. Malah belakangan yang ikut mengancam mengaku-ngaku dari aparat keamanan juga.

“Mas.., kita pindah rumah sementara yuk. Aku kok jadi takut diteror terus,” pintaku pada Mas Rudi malam itu. Kami sudah berbaring di kamar karena memang jam sudah menunjuk angka 10 malam.

“Heemm, kenapa sayang? Aku janji nggak akan ada apa-apa,” Mas Rudi menjawab sambil memeluk tubuhku.

Mas Rudi kemudian menjelaskan padaku tentang berita yang dibuatnya itu. Katanya masalah dengan pejabat itu sudah selesai dua hari lalu, damai. Tapi aku masih saja trauma dengan kejadian pertama yang berakibat fatal hingga penganiayaan yang membuat penis Mas Rudi mati total itu.

“Tapi Mas..,”

“Sudah sayang.., kamu nggak usah takut. Itu resiko kerja namanya,” katanya lagi.

Pembicaraan kami akhirnya berhenti, dan kami berdua terlelap tidur. Seharian tadi memang aku sangat capek mengurus kios hanya dibantu Ijah, dan Mas Rudi pun kelihatan letih seharian bekerja.

“Sayang.., bangun sayang..,” suara Mas Rudi membangunkan aku tengah malam.

“Tuh dengar.. Sepertinya ada yang masuk ke rumah,” kata Mas Rudi saat aku membuka mataku. Benar saja, di ruang tamu rumah kami terdengar banyak langkah kaki dan suara berisik. Mas Rudi segera bangkit dan membuka pintu kamar.

Braakk!! pintu kamar terbuka sebelum dibuka Mas Rudi, daun pintu yang terdorong kencang malah membentur wajah Mas Rudi hingga ia terpental ke lantai.

“Jangan berteriak..!!,” empat lelaki bersenjata api dan senjata tajam mendesak masuk ke kamar tidur kami sambil mengancam dan menodongkan senjata mereka. Aku sungguh takut malam itu, apalagi kulihat Mas Rudi pingsan akibat benturan pintu.

“Ha.. Ha.. Ha, sekarang kalian akan rasakan pembalasan bos kami ya..! Hei kamu pelacur, ayo kesini,” lelaki yang bertubuh paling besar memanggilku kasar dan menarik tubuhku turun dari kasur.

“Sssiapa kalian.., apa salah kami?” aku mengiba.

Muka mereka tertutup stoking mirip perampok, kupikir kami memang sedang dirampok. Tapi setelah mereka menjelaskan bahwa kedatangannya adalah untuk menghajar Mas Rudi karena berita pejabat itu, aku baru sadar, kami sedang dalam bahaya. Astaga, mereka juga rupanya sudah meringkus Ijah, dan dibawa serta kekamar kami.

“Nyaahh, toloong Nyah..” Ijah dipegang erat dua lelaki lainnya, sementara yang dua mulai mengikat tubuh Mas Rudi ke sebuah kursi di kamar. Singkatnya malam itu kami bertiga diikat kaki dan tangan, tapi aku dan Ijah dibiarkan terikat di kasur sedangkan Mas Rudi diikat dalam posisi duduk menghadap kami di kursi.

“Hai kopral.. Ambil air, biar nih wartawan sok jago sadar,” kata lelaki yang paling besar kepada yang lain.

“Oke komandan, segera laksanakan,” dua lelaki langsung mengambil air, begitu kembali seember air langsung diguyur ke Mas Rudi.

“Hhhaahh.. Siapa kalian bangsaat..,” Mas Rudi menghardik mereka ketika sadar. Tapi posisi yang terikat membuat Mas Rudi tak bisa berbuat banyak, apalagi setelah itu mulut Mas Rudi ditutup lakban. Mereka juga menutup mulutku dan Ijah dengan lakban pula.

“Heii sombong, kamu pikir bos kami begitu saja memaafkanmu dengan damai dua hari lalu? Tadinya kami ditugaskan gorok lehermu. Tapi.. (Lelaki itu memandang aku dan Ijah) Tidak. Kami akan lebih kejam dari itu.. Lihat saja bagaimana sebentar lagi kontol-kontol kami mengoyak-koyak pembantu dan istrimu yang cantik dan mulus itu,” tangannya menuju arahku dan Ijah.

Setelah mengatakan akan memperkosa aku dan Ijah, keempat orang itu lalu saling bagi. Yang paling besar dan satu lagi yang agak tambun meraihku dan mengikatku kembali dalam posisi terlentang. Tangan dan kakiku diikat diujung-ujung ranjang. Sedangkan dua lelaki lain, yang jangkung dan yang botak meraih Ijah dan mengikatnya seperti posisiku dilantai kamar.

“Hmmpp..,” Mas Rudi hanya bisa bersuara tersumbat dengan mata melotot ketika keempat lelaki itu membugili aku dan Ijah. Mata keempat lelaki itu memandangi tubuh polos kami berdua.

Aku sangat takut malam itu, sungguh aku takut. Kupikir aku dan Ijah akan jadi korban perkosaan brutal, terus terang aku jijik sekali melihat tampang mereka malam itu. Tapi dugaanku meleset. Si jangkung mendekat ke arah Ijah, sedangkan tiga lelaki lainnya duduk menonton dikursi dekat Mas Rudi berada.

“Tenang sayang.. Kamu pasti asyiik kubuat,” jangkung mulai meraba-raba Ijah. Aku bisa melihat semuanya karena posisi Ijah tak terlalu jauh dari dipan tempat aku diikat.

Bibir si jangkung langsung mengisap isap susu Ijah.

“Ehgghh.. Mmmppffhh,” ijah bersuara keras tersumbat, tapi nadanya protes.

Jangkung terus beraksi, malah hisapan dan rabaannya mulai turun dan akhirnya bermuara di vagina Ijah yang jelas terlihat karena diikat mengangkang. Awalnya Ijah terus mengeluarkan suara keras bernada protes. Tapi beberapa menit kemudian Ijah sepi, yang ada justru Ijah mendesis-desis menahan birahi.

“Mmmpphhff.. Eengghh..,” tubuh ijah mengelinjang menahan geli saat lidah jangkung menyapu klitorisnya.

“Ha.. Ha.. Kenapa sayang.. Hah? Mulai enak ya,” jangkung mengejek Ijah sambil melucuti pakaiannya sendiri sampai bugil juga.

Kini jangkung siap menyetubuhi pembantu kami itu. Penisnya yang lumayan besar sudah diletakkan persis dipintu masuk vagina Ijah. Ijah sudah birahi dengan mata sayu memandang jangkung, nafasnya pun terlihat memburu dari dadanya yang turun naik. Bleess.. Pleess.. Jlebb.. penis jangkung amblas total di vagina Ijah.

“Ngghh..,” Ijah menggelinjang menerima penis jangkung.

“Ouhh eennakk sekali tempikmu sayang,” jangkung nyerocos sambil menggenjot Ijah.

Bersambung…

Older Posts