Aku tidak suka melihat gadis di hadapanku. Dia bukan gadis yang menarik apalagi cantik. Dia mirip gembel biarpun tidak dekil. Rambutnya yang pendek mencuat ke segala arah seperti rumput ilalang yang tumbuh bebas. Beberapa bekas luka gores meramaikan wajahnya yang tirus. Ada codet kecil di sudut bibir kirinya. Dua lingkar hitam masing-masing membingkai kedua matanya yang cekung. Sorot matanya dingin meski bisa kulihat kelelahan membayang di sana. Sejak tadi dia memandangiku tanpa ekspresi.
Satu-satunya hal yang kukagumi dari wajahnya adalah hidungnya yang mancung. Tidak terlalu mencuat dan sempit, pas, sesuai dengan bentuk wajahnya yang berdagu pendek. Dari dulu aku ingin punya hidung seperti itu, tapi papa tidak pernah mengijinkanku menjalani operasi plastik. Katanya, hidungku yang ujungnya membulat itu hidung hoki. Kenyataannya, nasibku apes begini.
Dan sepertinya gadis jelek itu tahu kalau aku mengagumi hidungnya, tangannya yang kurus menjulur ke atas untuk mengelus ujung hidungnya dengan hati-hati. Elusan itu hanya sebentar karena sekejap kemudian tangannya kembali turun, menggantung sejajar tubuh kurusnya yang telanjang dan basah. Dia memang baru keluar dari kamar mandi. Tulang-tulang torsonya yang menonjol. Untung saja sepasang payudaranya yang menyembul subur dan pinggul yang membulat menyegarkan mata dari pemandangan gersang. Namun sekujur tubuhnya mirip jalan rusak. Di mana-mana ada alur-alur bekas luka. Ada yang membujur, mendatar, menyilang. Koreng mengering juga banyak.
Dua tangan berjari-jari lentik berseliweran mengeringkan tubuh rusak itu dengan handuk lebar. Bukan jari-hari si jelek, tapi milik seorang gadis cantik berseragam perawat yang membungkuk di sebelahnya. Joyce, nama si perawat telaten bermata indah, berbulu mata lentik dan bertubuh sintal itu. Wajahnya mengingatkanku pada seseorang, tapi aku tidak ingat siapa persisnya. Mungkin salah satu dari ayam-ayam piaraan papa yang semuanya cantik dan sexy.
Mulutnya terus menyerocos sementara tangannya sibuk bekerja. Kadang ocehannya melantur ke model fashion terakhir atau mantan pacarnya yang tidak habis-habis. Memang menyebalkan, tapi aku masih lebih senang mendengar omong kosong daripada kata-kata penghiburan basi seperti ‘Yang penting kau masih hidup.’ atau ‘Bersyukurlah karena kau masih hidup.’ Penting bagi siapa dan kenapa aku harus bersyukur? Seharusnya setelah melihat kondisiku yang mengenaskan, orang-orang sok tahu itu bilang, ‘Mendingan kau mati saja.’
Ya, si jelek itu adalah bayanganku di depan cermin. Beginilah rupaku sejak sadar dari koma yang menyekapku selama lima hari hampir empat bulan yang lalu. Kondisiku ini sudah jauh lebih baik karena aku sudah bisa duduk tegak, bisa berjalan tanpa bantuan orang lain atau tongkat dan bisa berbicara tanpa serak. Orang-orang yang merawatku bilang aku perempuan kuat. Kalau saja mereka tahu aku sudah sering bersinggungan dengan maut dan tidak juga mati-mati, bisa-bisa mereka menggelariku superhero dengan sembilan nyawa.
Padahal aku tidak punya niat lagi untuk hidup. Untuk apa aku bisa hidup? Aku tidak punya apa-apa dan siapa-siapa lagi. Hartaku yang tersisa sebenarnya masih cukup banyak. Tercecer secara tersembunyi di Swiss, Lichtenstein dan Solomon Island. Susahnya, secara hukum Pamela Rachel Tanuseja sudah mati dan untuk menghidupkannya kembali dibutuhkan uang yang banyak dan waktu yang lama. Itu pun belum tentu berhasil.
Namun kesepian ternyata jauh lebih menyakitkan daripada harus kehilangan seluruh hartaku. Aku tidak bisa mengerti mengapa aku harus diselamatkan. Tidak seorang pun yang peduli padaku. Buktinya tidak ada yang mengunjungiku selama aku dirawat. Kata Joyce (dia mengatakan dengan sangat hati-hati), sanak keluargaku sendiri tidak mau mengakui kalau aku masih hidup. Aku sama sekali tidak heran. Aku juga tidak menyalahkan mereka. Karena kalau aku jadi mereka, aku pun tidak akan percaya kalau si karung beras manja bisa menciut hingga separuhnya dan nekat menyamar menjadi waitress agar bisa membalas dendam pada pembunuh papanya. Aku juga tidak begitu kecewa saat polisi yang datang menginterogasiku dengan detail ternyata tidak mau melakukan apa-apa dengan alasan kurangnya bukti. Mereka pasti enggan mengusut keluarga kaya yang dibekingi orang-orang kuat. Mau bagaimana lagi? Aku pasrah meski tak rela. Aku sadar benar kalau aku memang sudah kehilangan segalanya.
Aku ingin mati, tapi takut. Keringat dingin selalu membanjiri tubuhku tiap kali teringat pada kegelapan total yang menyekapku. Biarpun tidak seseram api neraka yang diceritakan guru-guru agama jaman sekolah dulu, tetap saja aku tidak punya nyali untuk kembali ke sana sendirian. Jadilah aku hidup tanpa semangat. Mungkin separuh nyawaku tertinggal dalam kegelapan absolut itu.
“Mel! Kau dengar nggak sih aku ngomong apa? Awas ya kalau kau minta aku mengulangi semuanya. Emang enak dicuekin? Eh, jangan melamun terus dong. Nanti kau jadi linglung beneran. Kau harus bisa sembuh. Kau masih muda dan penyakitmu kan nggak parah-parah amat. Dokter bilang cuma apatis kronis.”
Apatis kronis. Huh, jelek sekali. Mengapa diagnosanya bukan sesuatu yang terdengar ilmiah dan mengerikan seperti schizophrenia? Aku menghela napas tanpa suara. Aku tidak tahu bagaimana cara membayar seluruh biaya perawatanku. Aku tidak bisa tenang walau Joyce sudah berulangkali menenangkanku. Dia selalu bilang, yang penting aku sembuh dulu lalu aku bisa membayarnya dengan cara bekerja di tempat ini. Aku ingin sekali mempercayainya, tapi bagaimana bisa? Joyce kan bukan pemilik klinik ini.
Seraphic bukan klinik sekelas poliklinik puskesmas melainkan klinik spesialis rehabilitasi akibat kekerasan fisik dan mental. Tiap pasien mendiami kamar sendiri yang lengkap dengan kamar mandi. Lucunya, aku baru tahu keberadaan klinik ini setelah menjadi pasiennya. Kebetulan Bandi membuangku di kebun singkong sekitar dua kilometer dari sini. Aku jadi curiga jangan-jangan psikopat klemer itu sudah sering membuang mayat-mayat korbannya ke mari.
Setelah sebulan menghuni klinik yang bentuknya mirip wisma peristirahatan sederhana yang dipagari tembok putih setinggi tiga meter ini, aku baru sadar kalau tempat ini lebih pantas disebut klinik mesum. Keakraban antara para pasien dan awak Seraphic melampaui batas normal. Saling colek, menggelitik, berpelukan, meremas, merogoh sampai berciuman ala French kiss bukan hal yang tabu. Dan yang mereka lakukan tidak hanya sebatas itu.
Awalnya aku hanya mendengar suara-suara yang dulu sering keluar dari mulutku sendiri seperti desahan nikmat dari kolong meja, erangan tertahan dari balik pintu kamar mandi hingga jeritan orgasme melengking dari dinding sebelah. Akhirnya aku melihat sumber suaranya. Kadang mereka melakukannya dengan terang-terangan, kadang sembunyi-sembunyi. Kadang dengan lawan jenis, lain kali bisa dengan sesama jenis. Pemandangan tukang cuci menyodomi koki di depan meja seterika atau tukang kebun menggumuli pasien di bawah pohon kamboja atau dokter mengoral perawat dari kolong meja praktek sudah biasa kulihat.
Sakit. Semuanya sakit. Sepertinya urat malu mereka sudah putus. Ajaibnya, aku merasa iri karena kecuali Joyce, tidak ada yang berminat untuk menyentuhku. Melirikku saja ogah. Kejijikkan mereka terhadapku membuatku tidak betah. Aku ingin sekali pergi dari sini, tapi ke mana?
“Mel, kau kok kelihatan pucat. Jangan-jangan perutmu sakit lagi ya?”
Goblok. Mengapa aku terlalu tergantung pada orang gila itu? Coba Mel, pikirkan dirimu sendiri dong. Bagaimana dengan masa depanmu? Bagaimana kau bisa punya anak lagi? Yang benar saja, mana ada lelaki waras yang mau bercinta denganku dengan sukarela? Penghuni Seraphic saja tidak sudi. Kehidupan normal bagiku bagai mimpi di siang bolong.
“Kalau bukan gara-gara Sonia Marbella, kandunganmu pasti baik-baik saja. Kau sih terlalu memendam perasaan. Makanya kalau mau marah ya marah saja. Siapa yang nggak marah kalau suaminya direbut orang? Nggak ada yang salah kalau kau cemburu. Jangan sok jaim. Ngapain sih?”
Kata-kata terakhir Joyce terus terngiang di telingaku walau malam telah menjelang. Gadis bawel itu memang sinting. Dia satu-satunya orang yang mau mendengarkan keluh kesahku, tapi daya tangkapnya parah. Sampai berbusa-busa aku mencoba menjelaskan statusku yang masih lajang dan kebencianku yang tak berujung pada BL, tapi semuanya sia-sia. Dia benar-benar idiot inside.
Tapi apa benar bintang sinetron indo Jerman-Lebanon-Jepang itu yang membuatku keguguran? Lebih masuk akal bila Joyce menyalahkan Bandi. Selain sudah menyiksaku sampai setengah mati, psikopat klemer itu juga membuat mentalku hancur berantakan. Dalam bulan pertama aku sempat menderita insomnia akut. Meski sudah diberi obat penenang, aku tetap susah terlelap. Mimpi buruk terus menerorku. Aku ketakutan melihat pembunuhku mendatangiku dalam kegelapan, membelai kepalaku seraya berbisik, ‘Kau milikku.’ Ya mungkin juga itu bayangan saudaranya, aku tidak peduli yang mana yang jelas aku tidak ingin melihat wajah keduanya lagi.
Sebegitu takut dan bencinya pada Bandi membuatku terhenyak dan tak bisa berkata apa-apa selama dua hari penuh setelah mendengar berita tewasnya jahanam keji itu dalam kecelakaan kapal pesiar. Kira-kira tiga bulan yang lalu semua media massa memberitakan musibah yang dialami sebuah kapal pesiar bernama Archangel. Ini adalah kapal pesiar kebanggaan BL yang sering digunakannya untuk memancing. Kapal pesiar itu terbakar dan meledak di perairan pulau seribu. Tepatnya tak jauh dari dermaga Pulau Kacang, pulau milik keluarga orang gila itu. Aku sangat terpukul karena tidak bisa menerima kenyataan kalau orang sebejat dan sekeji dirinya mati segampang itu. Dia harus menerima perlakuan yang sama yang diberikannya pada semua korbannya.
Bagaimanapun kematiannya membuatku lega. Pembunuh berantai itu tidak akan bisa beraksi lagi. Kematiannya menyelamatkan ratusan nyawa ayam. Biarpun mereka pelacur, tapi mereka juga manusia. Kalau begitu bukan Bandi yang membuatku keguguran. Mungkin saja ini memang salah Sonia sejak gosip panas tentang pertunangannya dengan salah satu bujangan terkaya Indonesia meramaikan infotainment sekitar dua minggu kemudian. Aku masih ingat bagaimana kagetnya begitu melihat wajah si bejat itu terpampang di layar kaca. Siapa lagi kalau bukan Budi Lukman!!
Apa-apaan ini??? Bukankah BL sudah mati? Kalau dia masih hidup kenapa dia tidak menolongku? Apa dia sudah melupakanku? Bukankah aku pacarnya? Apa aku yang sudah hancur binasa ini tidak pantas menjadi miliknya lagi? Walah, kok aku bisa lupa kalau selama ini aku tidak pernah rela disebut miliknya?
Atau jangan-jangan Bandi sebenarnya masih hidup. Dia memakai identitas BL dan membuat skenario kecelakaan kapal pesiar untuk membuang mayat kembarannya. Tapi kenapa dia tidak mencariku untuk menuntaskan eksperimen gilanya? Tidak mungkin dia tidak tahu kalau aku masih hidup karena polisi pasti sudah meminta keterangan darinya.
Aku takut kalau aku jadi gila karena bisa-bisanya aku cemburu pada Sonia. Tak kupedulikan sanggahan dari pihak BL yang diwakili pengacaranya. Pengacara tambun berambut kribo yang dikenal sebagai family man tapi diam-diam adalah pelanggan setia Sanctuary itu buru-buru menggelar jumpa pers untuk membantah semua gosip dan mengatakan kalau orang kaya gila itu sedang berobat di Singapura untuk menyembuhkan luka-luka akibat kecelakaan kapal pesiar yang menewaskan kembarannya. Katanya, kaki BL patah saat melompat dari kapal dan menderita beberapa luka bakar yang tidak fatal. Namun dalam kesempatan lainnya, di bawah siraman hujan lampu blitz, sembari tersenyum genit Sonia mengatakan tidak menutup kemungkinan hubungan cinta yang lebih jauh dengan BL.
Bodohnya aku, menenggelamkan diri dalam ribuan prasangka yang makin membuatku ragu dengan kewarasanku. Untuk apa sih aku repot-repot memikirkan biang kerok segala penderitaan hidupku? Brengsek. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri kalau aku merindukannya sekaligus membencinya. Aku benar-benar tidak mengerti bagaimana bisa dia yang hampir tiap hari menggauliku sampai beronde-ronde masih punya tenaga untuk meniduri perempuan lain? Jangan-jangan affair mereka berlangsung setelah insiden aku dikawin paksa dengan ular oleh Bandi. Sejak musibah itu gairah seksku menurun drastis sehingga BL mengurangi frekuensi pemerkosaan terhadapku. Sudah jelas dia tidak akan menolak menyalurkan nafsu binatangnya pada gadis yang yang jauh lebih cantik, eksotik dan seksi dariku dengan sukarela menawarkan diri padanya.
Kugelengkan kepala dan menghembuskan napas panjang. Tidak ada gunanya menyiksa diri sendiri. Semua hal buruk itu hanya membuatku makin depresi saja. Tanpa sadar tanganku mengelus-elus tubuhku untuk menenangkan hatiku yang galau dan berakhir di klentit. Orgasme yang tadi tertahan mendadak muncul kembali. Kedua tanganku langsung berbagi tugas. Yang kiri membukakan jalan dengan menyibakkan labia mayora sedang yang kanan sibuk mengelus klitoris sekaligus mengobok-ngobok liang vaginaku. Tak sampai lima menit, perutku sudah mengejang. Gerakan tanganku langsung memelan, mencoba menunda ledakan orgasme agar klimaks yang lebih dahsyat bisa kudapat. Sepuluh menit kemudian, dengan klitoris merah membengkak, baru aku menggeliat-geliat liar dengan kaki terentang lebar dan punggung melengkung ke atas.
Sejak malam itu, aku seperti kembali ke masa perbudakan seks dulu. Mengisi kekosongan hari dengan masturbasi. Libido yang selama ini mati suri jadi hidup kembali. Aku gampang sekali terangsang apalagi senantiasa disuguhi pemandangan penuh birahi. Lenguhan pelan dari tetangga sebelah bilik toilet yang sedang dikerjai janitor saja mampu membuatku yang sedang mulas kontan menggosok klentit pada saat itu juga.
Joyce kelihatan senang melihat perubahan pada diriku, tapi mengapa dia malah menjauh dan tidak menggarapku lagi? Dengan berbagai alasan, dia menolak menyentuhku lagi. Aku kecewa, tapi tidak kunjung protes juga. Aku masih belum mampu membuang topeng mati rasa yang membungkus wajahku. Aku sengaja membentengi hati dan jiwaku yang retak dengan kekosongan agar tidak hancur berkeping-keping. Tapi bukan berarti aku diam saja. Kucari gadis itu. Aku benar-benar penasaran. Siapa sih yang sudah membuat Joyce mencampakkanku?
Aku terperangah setelah menemukan orang yang kucari. Dia ada di ruang makan, persisnya tergeletak di atas meja makan seperti ikan asin yang dirubung sekawanan kucing garong. Joyce telentang mekangkang di tengah-tengah meja makan besar. Empat manusia berkelamin panjang dari berbagai latar belakang mengerumuninya. Pak Sugeng, pengusaha karet yang berstatus pasien karena patah tangan akibat jatuh dari moge Ducatti miliknya sedang mendesis-desis menikmati blowjob dari Joyce. Dokter Bimo yang berpredikat spesialis bedah tulang sedang berbaring di bawah gadis itu. Tangannya memegangi pinggang ramping si bawel dan menyodok-nyodokkan pantatnya ke lubang dubur mangsanya. Mas Kresna, satpam bertubuh kekar yang memiliki mata jelalatan berlutut di depan sepasang kaki Joyce yang terentang lebar. Keringat di wajah perseginya menetes tiap kali pantatnya menggoyang mem*k di hadapannya. Ical sang terapis wicara yang masih belia menduduki perut perawat cantik itu dan asyik menggosok-gosok penisnya yang terjepit gunung kembar padat itu.
Melihat adegan yang rasanya tidak tepat bila dilabeli perkosaan mengingat Joyce terlihat begitu menikmatinya, selangkanganku langsung becek. Detak jantungku melonjak dua kali lipat membuat napasku menderu. Busyet, baru kali ini kulihat dengan mata kepalaku sendiri gangbang yang begitu liar. Aku jadi iri pada Joyce yang mengerang sensual. Apa rasanya begitu nikmat? Selama ini aku belum pernah dikeroyok seperti itu karena BL tidak pernah mengijinkan orang lain menyentuhku. Aku sendiri juga takut digarap beramai-ramai, tapi kali ini sungguh mati aku berharap aku yang berada di atas meja itu, bukan dia.
Tanpa disuruh, tanganku sudah turun menghibur mem*kku yang kesepian. Tangan satunya memerah kedua payudara bergantian. Aku ikut mengejang dan mengerang tertahan seperti lima pelaku adegan yang kutonton. Kakiku makin melebar, meluangkan tempat bagi jari-jariku agar lebih leluasa mengorek-ngorek g-spot.
Klontang!! PRANG!
Aku terpaku. Rasanya jantungku berhenti berdetak saat mendengar bunyi nyaring yang mengagetkan itu. Aku tidak tahu apa yang terjatuh, mungkin tutup panci dan gelas mengingat aku bersembunyi di balik pintu yang menghubungkan ruang makan dengan dapur. Pastinya bunyi itu berasal dari belakangku.
“Hey! Siapa di luar? Jangan malu-malu! Ayo masuk! Join aja!” seru Pak Sugeng sambil nyengir setengah meringis.
Tapi aku yang haus untuk dipuaskan malah tidak berani bersuara. Aku takut mereka akan menolak dan menghinaku bila aku berani menampakkan diri. Aku sedang berpikir apa yang sebaiknya kulakukan saat terdengar suara,
“Ini aku.”
Aku kembali membeku. Bukan hanya karena mendengar suara serak yang terdengar persis di balik punggungku namun karena sebuah lengan kekar berotot membelit tubuhku hingga aku tak mampu bergerak. Aku juga membisu karena mulutku dibekap sang empunya lengan.
“Oh, kau. Tunggu apa lagi?” balas Ical.
Si lengan kekar terdiam sejenak. Napasnya berhembus panas di kudukku membuatku merinding. Astaga, apa aku akan menjadi santapan mereka berikutnya atau dia akan menyantapku sendirian karena rasanya tak mungkin dia melepaskanku begitu saja.
Di luar dugaan, dia melepaskan belitan tangannya dan berujar, “Kau boleh bergabung dengan mereka kalau kau mau.”
Aku tetap mematung. Aku memang masih ragu untuk bergabung dengan Joyce, tapi bukan itu yang membuatku terpaku di tempat. Suara serak itu mengingatkanku pada seseorang yang seharusnya sudah mati. Aheng. Tapi ukuran lengan gorila itu dua kali lipat lebih besar dari lengan cecunguk ini.
“Lain kali saja deh!” sahut si serak tiba-tiba.
Mungkin dia tidak sabar menungguku berpikir. Mendadak mataku ditutup kain hitam. Aku meronta dalam kepanikan karena aku phobia pada kegelapan total namun si serak malah menancapkan sesuatu ke dalam kedua lubang telingaku. Earphone? Bukan, tapi earplug. Jadilah aku membabi-buta mencoba membebaskan kedua inderaku dalam kegelapan, tapi kedua tanganku malah diikat di belakang punggungku.
Kurasakan tubuhku didorong ke depan. Aku berjalan terhuyung sambil memaki dalam desisan. Reaksi yang kudapatkan adalah remasan pada payudaraku. Pekikan tertahanku terputus begitu saja setelah dia menyelipkan kain di antara mulutku yang sedang terbuka dan mengikatnya di belakang kepalaku. Tinggal kakiku yang bebas melakukan perlawanan. Tapi lagi-lagi perlawananku lumpuh setelah dia menangkap kakiku dan dengan cekatan mengikatnya jadi satu di pergelangan kaki hingga aku terjerembab
Namun belum sampai dengkulku menabrak lantai, tubuhku seperti disentak ke atas dan berayun bebas. Rupanya dia memanggulku seperti yang pernah Aheng lakukan saat membawaku ke rumah dari Sanctuary. Aku terpaksa berhenti berontak dan berteriak protes karena merasa mual dan takut terjatuh.
Aku tidak tahu dia membawaku ke mana, tapi letaknya pasti tidak jauh dan bukan ke ruang makan karena tubuhku dihempaskan ke ranjang bukan meja. Aku terkesiap saat pakaianku digunting dan dirobek. Aku terpaksa tidak bergerak karena tidak ingin ujung gunting yang dingin menambah goresan luka di kulitku. Kurasakan subalan yang mengganjal mulutku yang tak tertutup rapat sudah basah kuyup oleh liurku sendiri.
Dia membolak-balik tubuhku untuk menarik potongan pakaian yang terjepit di sela-sela lipatan tubuhku. Lalu dia membiarkanku terbaring miring. Aku menunggu dengan cemas. Aku tidak suka berada dalam situasi di mana aku benar-benar tidak berdaya. Aku tidak mengerti, kalau dia ingin memerkosaku kenapa harus repot-repot begini? Aku tidak akan bisa menang melawannya dan seisi Seraphic pasti lebih membelanya daripada aku. Dan mengapa setelah berhasil meringkus dan menelanjangiku dia malah mendiamkanku? Apa dia hanya senang menontonku telanjang terikat? Jangan-jangan dia meninggalkanku sendirian. Kuberanikan diri untuk bergerak sedikit. Karena tidak ada respon darinya, aku beringsut bangun. Tapi gagal karena dia langsung mendorongku hingga aku terjengkang dengan kaki terangkat.
“Nnnrrrhhh!”
Aku menjerit setengah mengerang saat jari-jarinya melebarkan paha dalamku dan lidahnya menyerbu klentitku dengan lapar. Aku menggelinjang ketika dua jarinya menerobos masuk liang vaginaku dan membuat gerakan memutar di dalam. Pada saat yang sama kurasakan payudaraku diremas-remas dan putingku dipelintir dan digigiti.
Rasa takut, nikmat dan penasaran beradu dalam hatiku. Ada berapa orang yang mengerumuniku? Apa aku akan di-gangbang seperti yang Joyce alami? Tapi mengapa dia tidak juga membuka ikatanku dan sumbatanku?
“Nnnn….Erggghh….Nnnnnhhh
”
Aku mengejang liar sebisaku begitu orgasme pertama kuraih. Serangan membabi-buta membuatku tak mampu menahan klimaks yang begitu cepat datang. Dia berhenti menyerang mem*kku dan meninggalkan kakiku. Tiba-tiba seseorang mengulum kedua sisi bibirku yang terpisah oleh sumbat kain dengan bergantian. Bau liurnya khas. Ya ampun ini kan bau cairan vaginaku. Seakan khawatir aku tidak bisa mencicipi cairan vaginaku sendiri, dia menyelipkan dua jarinya ke sela-sela kain penyumbat mulutku. Hmmm… gurih.
Setelah puas mengobok-obok mulutku, dia pergi. Seseorang mengangkat kakiku yang masih terangkat dan menekuknya hingga dengkulku menyentuh payudaraku.
“Hhhhh….”
Aku mendesah ketika merasakan ujung kontl digosok-gosok ke bibir memkku yang basah.
“RRRggghhhh!!”
Aku menggeram dan mengejan begitu kontl berukuran besar memaksa masuk. Kebecekan memkku ternyata belum bisa meniadakan rasa perih. Seperti perawan yang baru pertama kali disanggama, aku mengerang-erang kesakitan. Aku lupa bagaimana enaknya dient*ti apalagi punggungku terasa tidak nyaman, terganjal tanganku sendiri. Untungnya, peserta lain menyangga leherku dengan bantal dan melumat bibirku bergantian sehingga rasa sakit itu pelan-pelan menghilang tergantikan rasa nikmat.
Sodokannya makin kuat dan cepat, sedang lumatan di bibirku makin getol membuatku yang sudah sangat terengah-engah sulit bernapas. Rupanya mereka tahu dan melepaskan sumbat di mulutku. Aku langsung membunyikan suara-suara yang sudah lama tertahan sejak tadi. Awalnya desahan pelan lama-lama menjadi jeritan mantap.
“Ooooh…. Aaah…. Oooh… Yes…. Teeeerrruusss….”
Aku tidak peduli bila mereka menertawakan dan menghinaku asal aku dipuaskan. Aku berusaha meregangkan pahaku supaya dia tidak kesulitan memerkosaku, tapi dia malah menekanku hingga tubuhku terlipat. Ada yang mencium dan mengulum bibirku dengan kasar. Sepertinya itu bibir pemerkosaku. Apa dia si bersuara serak itu? Aku memberanikan diri menyodorkan lidahku yang langsung disedot dengan penuh nafsu.
Gencetan tubuhnya membuat punggung dan tanganku makin sakit sakit, tapi tak seberapa dibandingkan enaknya kont*l itu menggesek g-spotku.
“Mmmmwwaaah….Aaaaah… Iiiiyaaah…Yaaaaaahhhh
”
Aku melolong begitu keras hingga bibir yang menyekap bibirku terlepas. Aku mencapai klimaks lagi dan terkulai ngos-ngosan. Meski lelah, tapi aku belum rela dilepas begitu saja. Lenguhan kecewa sempat keluar dari mulutku saat kont*l membesi itu dicabut dari liang vaginaku. Sudah jelas ini bukan perkosaan karena aku sangat menikmatinya sampai berharap perbuatan bejat ini tidak berakhir dengan cepat. Aku menurut dengan pasrah ketika dia membalikkan tubuhku dan menunggingkan pantatku.
“Ergh?”
Aku terkejut saat bibirku mendarat di sebuah onggokan daging lembut basah berbau khas. Astaga! Ini kan bau peju campur cairan vagina!
“Joyce?”
Tapi tak kudengar jawaban karena telingaku masih tuli. Kucoba menghindar, tapi mem*k itu terus mengejar bibirku. Malah kepalaku dijepit paha agar tidak lari lagi.
“Mmphhh! Mmm…lllrpp”
Karena sodokan dari belakang, mulutku yang terbuka dengan telak menabrak bibir bawah itu dengan telak. Haduh, kocokan kontl itu benar-benar luar biasa hingga membuat sekujur tubuhku menggeletar. Aku ingin menjerit, tapi mulutku tersumbat. Aku belum pernah menijlati memk, tapi kali ini aku tidak punya pilihan. Jadilah aku melampiaskan kenikmatan dengan mengemut bibir itu dengan gemas.
Kucoba mempraktekkan ilmu oraljob yang BL sering lakukan padaku. Kujilati sisi-sisi klentitnya, kuhisap dan kugigit pelan benjolan kecil itu. Kemudian lidahku menyapu dari atas ke bawah bergantian. Aku tidak tahu peju siapa saja yang sudah kutelan. Baunya agak beda dari bau peju BL. Rasanya juga lebih masam. Tapi tak apa, ada rasa bangga bisa membuat orang lain berkelojotan. Maka kugulung sisi lidahku hingga membentuk corong dan mengebor lubang becek dihadapanku. Gadis yang sedang kuoral pasti hampir orgasme karena kedua pahanya gemetar dan rambutku dijambaki. Aku kembali sulit bernapas karena kedua luban hidungku tertutup gundukan daging basah berbulu. Aku juga nyaris mencapai puncak ketiga kalinya apalagi setelah pemerkosaku membuat gerakan melingkar membuat mem*kku serasa diaduk-aduk.
“Mmm…Mrrr…Mrrrrggghhh
”
Aku ambruk. Sementara gadis di hadapanku juga melonggarkan jepitan pahanya. Wajahku basah-kuyup oleh cairan vaginanya. Tapi pemerkosaku masih belum ejakulasi juga. Dia terus mengayun tubuhku dengan gencar hingga aku terguling ke samping. Mendadak dia berhenti saat menekan senjatanya dalam-dalam. Aku merinti dan mengempot kont*lnya untuk membantunya ejakulasi. Tapi ternyata bukan semburan sperma yang kudapat, melainkan pembebasan pada pergelangan kakiku.
“Aaaarghh…”
Aku terlonjak sambil mengernyit ketika kaki kananku diangkat dan disampirkan ke pundak pejantanku. Sodokan kont*l itu terasa makin dalam dan menumbuk bibir rahimku dengan sukses. Dia terus menggoyangku dengan keras sampai pundak kiriku pegal karena harus menahan beban seluruh tubuhku. Leherku juga nyaris tengleng.
“Oooh…,” erangku pasrah sambil berharap dia segera mencapai klimaks, memberiku waktu istirahat selama setengah jam dan mengganti posisi yang tidak nyaman ini baru merogolku lagi hingga serial klimaks berikutnya.
Aku ingin bilang begitu, tapi malu. Untung saja harapanku terkabul. Tak lama kemudian payudaraku dicengkeram dengan keras dan klentitku dicubit hingga aku menjerit kesakitan sembari mengempot benda keras yang mengganjal mem*kku dengan seluruh sisa kekuatanku. Benda keras itu berkedut dan kurasakan semburan-semburan hangat mengisi vaginaku. Dalam kelelahan aku menghela napas lega. Betapa aku merindukan saat-saat seperti ini. Saat-saat di mana libido meledak dan kepuasan meruap di sekujur tubuhku.
Saking lelahnya, aku tertidur. Paginya aku terbangun di ranjangku sendiri. Semuanya terasa seperti mimpi, tapi aku tahu yang kualami nyata karena tubuhku telanjang dan berlumuran air mani. Joyce tidak mau membicarakan apa yang kualami. Dia hanya bilang agar aku menikmatinya saja. Sejak malam itu aku digagahi tiap malam. Biasanya mereka menangkapku saat aku mengintip orang lain menunaikan nafsu, mataku pasti langsung ditutup kain hitam, telingaku disumbat, kaki dan tanganku diikat kemudian aku digelandang ke suatu tempat. Tapi lebih sering mereka memangsaku di kamarku sendiri, saat tengah malam tiba. Kadang aku sengaja pura-pura tidur agar bisa mengenali para penyantapku, namun mereka lebih cerdik dariku. Dalam kegelapan, mataku masih ditutup pula. Lama-lama aku terbiasa dan menantikan kedatangan mereka dengan penuh harap.
Aku sering bertanya-tanya dalam hati, mengapa mereka selalu menutup mataku? Mengapa mereka tidak ingin aku melihatnya? Apa karena wajah mereka jelek? Setahuku wajahku paling jelek di Seraphic. Setelah sepuluh hari berlalu, kuberanikan diri menanyakan tiga hal itu pada mereka.
Jawaban yang kudapat belaian di rambutku yang lepek. Lalu tangan itu turun ke wajahku, membasuh sisa cairan lengket yang mulai mengering dengan keringatku sendiri. Aku tertegun saat menyadari kecupan pada tiap bekas luka di wajahku. Bibirnya terus bergerak turun ke leher, payudara, perut, terus ke bawah sampai ke kaki lalu membalikkan tubuhku dan mengabsen semua bekas luka dengan ciuman.
Aku terharu sampai berkaca-kaca. Aku tidak tahu siapa dia, tapi dia tidak jijik padaku. Sekarang dia malah sudah merangsangku lagi. Sebelah tangannya mulai mengucek-ngucek mem*kku yang kuyup dan bibirnya merambah payudaraku bergantian. Aku benar-benar penasaran. Penghuni Seraphic mana yang diam-diam menaruh belas kasihan padaku sedemikian rupa.
“Nghh… ssss…si…siapaaaahh… kaa…aaah… kaauuuuughhh…”
Jawaban yang kudapat hanyalah pencopotan earplug. Tapi tetap tiada jawaban dalam bentuk kata-kata. Yang kudengar hanyalah kecipak memkku dan eranganku yang membuat diriku sendiri terangsang. Dia juga terangsang karena kontlnya yang menempel di pahaku makin mengeras.
“Uuuuh…. Mmmhhh… Doooon’t…ssssstoooop….”
Lho kok dia malah menarik tangannya dari kelaminku dan menjauh dari tubuhku? Aku benar-benar kecewa dan hampir meneriakkan protes saat bau khas merajai rongga hidungku. Ini kan bau… Eh! Sesuatu benda empuk berbulu menyentuh bibirku disusul benda keras yang licin. Dengan nekat kujulurkan lidahku. Kudengan erangan nikmat saat kujilati benda licin yang berkepala bulat.
“Hiyaaah!!”
Aku terpekik kaget saat sepotong lidah menyapu kelaminku dan sepasang tangan meremas-remas payudaraku. Namun aku tetap menjulurkan lidahku seperti orang kehausan. Penis besar itu akhirnya kudapat. Perlahan mendorong masuk lidahku. Kujilati seluruh batangnya dan kuhisap kepalanya yang belah dua itu dengan penuh semangat. Sang empunya kont*l memegangi kepalaku dan menarik-mundur kelaminnya seakan mulutku adalah vagina.
“Mmrrghh!”
Klimaks yang kesekian kalinya menghampiriku. Aku menggelinjang dan membusungkan dadaku sembari mengenyot kelamin dalam mulutku dengan kuat hingga pipiku kempot. Lalu aku terkulai lemas sambil berusaha terus mengoral pejantanku yang kesekian. Namun dia malah menarik alat vitalnya. Aku menyesal, apa karena kekuatan kenyotanku berkurang setelah orgasme tadi. Waduh, penjilat klentitku juga beranjak pergi. Apa permainan ini sudah usai?
Tapi rupanya aku tidak perlu khawatir karena seseorang mengambil posisi di selangkanganku. Aku menjulurkan lidahku saat orang lainnya merengkuh leherku. Namun aku salah duga. Dia bukan hendak mencium bibirku melainkan ingin mengambil bantal dari bawah kepalaku. Aku malu setengah mati dan diam saja saat bantal itu diselipkan di bawah pantatku.
“Uuuughh!”
Tanpa basa-basi, kont*l itu langsung melesak masuk dengan kekuatan penuh hingga mentok. Aku yang masih terhenyak makin kaget setelah tubuh pejantanku menindihku. Rupanya kali ini dia menginginkan menguasai diriku sepenuhnya. Kedua tangannya meremas payudara dan pinggulku bergantian. Aku mengimbanginya dengan membelitkan kakiku ke pinggangnya dan menggoyang pinggulku. Dia memagut bibirku yang seperuh terbuka dengan rakus.
“Aauw! Tang…aaaahn….kuuuuuhh…. ssss…sss…ssaa…aaaah…kiiiit….ooooh…”
Tanganku memang sakit karena tertindih dua tubuh, tapi tidak sesakit tadi. Aku hanya ingin mencoba memintanya membuka ikatan tanganku agar lebih bebas bergerak dan membuka penutup mataku. Dia berhenti bergerak dan menarikku bangun tanpa menghentikan hunjaman kont*lnya. Seseorang membuka ikatan tanganku. Namun begitu tanganku bebas, dia langsung menahan kedua pergelangan tanganku dengan tangannya.
Aku tidak protes lagi karena sudah sibuk melolong nikmat. Astaga, kalau diperkosa rasanya seperti surga dunia begini, aku tidak keberatan diperkosa tiap hari. Aku merintih tiap kali dada bidangnya menggesek payudaraku dan puting kami saling beradu. Gerakannya makin bertenaga hingga tubuhku bergeser meninggalkan bantal yang mengganjal. Mendadak sebelah tangannya meninggalkan tangan kiriku dan…
Duk.
Luar biasa. Dia menggunakan tangannya untuk melindungi kepalaku saat menghantam headboard ranjang. Dulu BL tidak pernah berbuat hal semulia ini. Dia malah senang menontonku terjitak-jitak sambil nyengir puas. Ah, sudahlah. Jangan pikirkan dia lagi. Meski begitu, gaya dan tenaga lelaki yang menyetubuhiku ini ada miripnya dengan orang gila itu. Jangan-jangan… Tidak mungkin. Bau badan mereka tidak sama. Parfum Bvlgari yang sudah akrab di setiap helai bulu hidungku tidak terdeteksi sama sekali.
Tangan kiriku yang bebas berusaha menyingkap penutup mataku, tapi terhalang tangannya yang menangkup di atas ubun-ubunku. Yang kubisa lakukan hanyalah meraba punggung, lengan dan sebagian perutnya. Ya ampun, perutnya rata dan berotot. Six pack-kah? Jari-jariku meraba tiap lekukan otot di lengannya yang kekar. Jauh beda dengan perut BL yang kempes dan lengannya yang kurus liat. Apa penggagahiku ini si serak yang menangkapku?
Kujepit kont*lnya sekeras mungkin membuat g-spotku makin tergesek dengan mantap. Kami berdua mendesah lalu saling memagut. Sekitar lima menit kemudian aku berteriak panjang sambil meremas lengannya dengan kuat. Dia berhenti mengayun pantatnya. Lalu melepas cekalan tangannya pada pergelangan tangan kananku yang sudah kesemutan dan memelukku erat. Digigitinya daun telinga dan leherku dengan lapar. Lalu turun ke payudaraku. Gigitannya membuatku meringis menahan sakit, tapi aku menikmatinya sampai…
“Kau milikku.”
Bisikan serak itu membuatku membeku. Mengapa dia mengatakan hal seperti itu? Bikin rusak suasana saja. Kutarik penutup mataku hingga terlepas. Sialan, lampu kamar menyilaukan mataku. Aku berusaha berkonsentrasi pada kepala yang menyuruk di antara kedua gunung kembarku.
“Kau milikku,” bisiknya lagi sambil melumat kedua putingku bergantian.
“Kau siapa?” tanyaku parau.
Dia mengangkat kepalanya. Seraut wajah asing yang tampak. Aku menahan napas. Sepintas dia mirip Takeshi Kaneshiro, aktor pujaanku. Alisnya, hidungnya hingga bentuk bibirnya mirip yang terpasang pada aktor peranakan Jepang-Taiwan itu. Tapi sepasang matanya…
“Kau siapa?” tanyaku gemetar.
Dia tersenyum. Busyet! Senyumnya membuatnya makin tampan sampai hatiku cekot-cekot, tapi sepasang matanya…
Aku menjerit dan mendorongnya jauh-jauh. Pelukannya terlepas dan kutendang tubuhnya lalu melompat turun dari ranjang. Sayang, tendanganku meleset dan lompatanku kurang gesit. Maklum, kekuatan kakiku memang belum pulih. Dengan mudah dia menangkap dan menyeretku kembali ke tengah ranjang. Aku menjerit minta tolong, tapi tak seorang pun mau menolongku. Dan ternyata hanya ada satu orang lain dalam kamar besar ini.
Joyce. Gadis itu malah membujukku supaya tidak melawan. Jahanam itu tertawa puas, tapi menyuruh suporternya meninggalkan tempat ini. Aku memohon-mohon agar Joyce tidak pergi dan menolongku. Gadis itu tampak ragu. Ada rasa iba memancar dari matanya.
“Jangan kasar-kasar. Dia masih lemah,” bujuk Joyce.
“Dia lebih kuat dari yang kau kira. Keluar! Eh, keluar kau, Joy!!”
Mendengar bentakan keras yang membuat telinga kiriku tuli sejenak, wajah Joyce merah padam. Dia tampak malu dan kesal. Tanpa menoleh dia membuka pintu dan menghilang. Aku begitu tertegun hingga tidak menjerit kesakitan saat bajingan itu menjambak rambutku.
“Kau nggak mengenalinya lagi, ya?” tanyanya mengejek. “Bencong itu sekarang sudah jadi cewek cantik. Jauh lebih cantik daripada kau.”
Astaga! Betapa butanya aku! Bagaimana bisa aku tidak mengenali Joy? Bukankah aku sudah merasa pernah melihat wajahnya sebelumnya? Kebawelannya juga sebuah petunjuk jelas. Apalagi namanya, begitu gamblang! Tolol sekali aku ini. Tapi yang lebih parah, bagaimana aku tidak menyadari yang menggagahiku sejak tadi adalah musuh bebuyutanku ternyata masih hidup?
Pantas saja aku masih melihat wajahnya meski dia sudah ‘mati’. Semua itu bukan mimpi buruk, tapi kenyataan karena dia masih hidup. Bagaimana bisa dia masih hidup? Mengapa dia merubah wajahnya? Apa karena kecelakaan itu? Lalu apakah Bandi juga masih hidup? Pertanyaan-pertanyaan ini memenuhi kepalaku sementara beberapa penemuan membuat mataku makin terbuka. Aku jadi sadar mengapa penghuni Seraphic tidak ada yang mau menyentuhku. Bukan karena mereka tidak sudi, tapi karena tidak berani. Hanya orang yang sangat dipercaya dan diyakini tidak tertarik padaku seperti Joy yang diberi ijin khusus mengerjaiku seperti yang dulu diberikannya pada Aheng.
Tapi aku tidak mau menyerah. Aku tidak rela harus berada di bawah cengkeraman kekuasaannya lagi. Dan seperti dulu, kami bergulat saling melumpuhkan. Bedanya aku menggunakan seluruh sisa tenaga yang kumiliki sedangkan dia hanya main-main. Dia bahkan tertawa riang saat aku berhasil menduduki perutnya, mencakari dan menampari wajahnya. Tapi dengan sekali gerakan, dia berhasil mengangkat pinggangku dan….
“Aaaauuughh!!”
Jeritanku menyuarakan kekagetanku karena dalam sekali hentakan, kont*l BL yang keras itu sudah memasak vaginaku. Lalu dia memegangi pinggangku dengan kuat dan menaik-turunkannya sementara dia juga menghentak-hentakkan pinggulnya ke atas.
Aku terombang-ambing dalam kenikmatan dan kemarahan. Namun belum juga berhenti memukulinya. Lalu dorongan kemarahan membuatku mencekik lehernya kuat-kuat. Mukanya memerah, matanya melotot dan otot-otot di lehernya timbul. Tapi gilanya, tongkolnya malah makin mekar dan mengeras. Aku sampai mengernyit dan menggigit bibir kuat-kuat saat kelamin kekar itu menggesek seluruh dinding liang vaginaku.
“Meeelll…,” erangnya dengan suara tercekik.
Aku jadi takut melihat wajah tampan itu merah keunguan. Aku langsung mengendorkan cekikanku. Di luar dugaanku, tangannya segera menarik punggungku sehingga wajah kami hampir beradu. Aku meludahinya dan dibalas dengan ciuman lapar. Kucoba melepaskan diri, tapi belitan lengannya pada punggungku membuatku sulit bergerak dan bernapas.
“Kau suka muka baruku kan? Bagaimana dengan bodiku?” tanyanya sambil menonton aku ngos-ngosan berusaha mengusir klimaks yang terus mendekat. “Aku rajin latihan sembari menungguimu di sini. Keren kan?”
Aku kesal sekali. Kuhantam dadanya, tepat pada bekas luka melingkar. Ini pasti luka bekas peluru yang ditembakkan kembarannya. BL tersedak dan untuk sesaat lengannya mengendor. Aku memanfaatkan kesempatan ini dengan meninju hidungnya kuat-kuat dan melepaskan diri. Sayangnya dia tidak juga mau melepaskankku. Dengan hidung berdarah dia mendekapku erat dan menggulingkanku hingga ganti aku yang tertindih.
Darah mengucur dari dua lubang hidungnya menghujani wajahku. Tapi dia terus menggenjotku. Aku yang lelah melawan memutuskan untuk menyerah. Siapa tahu dia akan bosan dan meninggalkanku. Sayangnya aku salah. Butuh dua puluh menit lagi baru cairan hangat menyembur dari kelaminnya.
Dia menyibakkan rambut yang menutupi kepalaku dengan kedua tangannya seakan sedang membayangkan seandainya aku botak. Aku tak bisa melengos jadi kupejamkan mata saja agar tidak melihat sinar kemenangan memancar dari sepasang mata dingin itu.
Karena aku diam saja, dia bertanya,
“Apa kau nggak kepingin tahu, bagaimana caranya aku bisa tetap hidup?”
Aku berlagak tak peduli walau sebenarnya penasaran setengah mati. Jadi biarpun ogah membuka mata, kubuka daun telingaku selebar mungkin. BL sepertinya tidak peduli dengan ketidakacuhanku. Dia bercerita dengan suara yang jelas dan pelan, mengingatkanku pada papaku yang suka mendongengkanku semasa aku kecil.
Intinya, waktu aku disiksa oleh Bandi, BL belum mati. Dia pingsan dan diselamatkan oleh Joy. Joy juga yang menyelamatkanku dari Bandi dengan cara memukul kepala kembaran tuannya saat sedang memasang speculum di anusku. Dalam kondisi sekarat, aku langsung dibawa ke sebuah rumah sakit di Singapura, tapi begitu sadar segera dipindahkan ke Seraphic. Seraphic sendiri adalah klinik palsu. Tempat ini sesungguhnya villa lawas milik kakek BL di daerah Mega Mendung.
Sejenak nada suaranya memelan saat menyebut kembarannya.
“Kau nggak usah takut lagi. Bandi sudah pergi untuk selamanya. Dia nggak akan bisa mengganggumu lagi.”
Lha, bagaimana dia mati? Benarkan Bandi sudah mati? Tapi BL sudah melanjutkan dongengnya. Dan dengan bangga orang kaya gila itu menutup ceritanya dengan berkata kalau dia memantau pergerakan bisnisnya dari tempat maksiat ini demi terus mendampingiku. Aku sebal mendengar nada suaranya yang penuh kesombongan jadi aku diam saja.
“Jadi kau sama sekali nggak mau berterimakasih?”
Kubuka mata dan menatapnya dengan dingin. Sedingin yang kubisa. Sulit karena aku berdarah panas. Aku lebih suka meledakkan kemarahan yang membuncah di dadaku dengan berteriak-teriak atau mengamuk. Tapi kali ini aku harus menunjukkan padanya kalau aku tidak lagi seperti dulu. Aku tidak mau dia memanfaatkan luapan emosiku sebagai jalan untuk foreplay perkosaan ronde berikutnya.
“Apa kau mau aku berterimakasih padamu karena sudah menyelamatkan hidupku hanya untuk memperbudakku lagi atau karena sudah berhasil menipuku atau karena sudah berhasil membuatku kembali seperti pelacur atau karena sudah berhasil merebut semua hartaku atau karena sudah membunuh papaku atau karena sudah berhasil menghancurkan hidupku?”
Dia terdiam sejenak mendengarku bicara datar.
“Hutangku sudah lunas dan kau nggak punya alasan lain untuk menahanku di sini,” ujarku dengan nada menantang.
Di luar dugaan, BL marah. Belum pernah aku melihatnya begitu menakutkan. Wajahnya merah dan matanya melotot. Hampir seseram saat kucekik tadi. Ditariknya wajahku dg kasar. Aku menggeleng, tapi tak bisa. Jadi aku hanya diam menonton dia membentak-bentakku, memuncrati mukaku dengan ludahnya.
“Kau pikir aku senang melihatmu sekarat?? Kau pikir aku merasa bangga sudah membunuh saudaraku sendiri?? Kau pikir aku suka melihatmu ketakutan tiap kali melihat mukaku tiap malam?? Kau pikir aku bersyukur melihatmu keguguran?? Dia anakku dan aku menginginkannya! Jadi jangan kira aku akan melepaskanmu begitu saja setelah semua kekacauan ini!!”
Aku menelan ludah untuk menambah dosis nyaliku. Segagah mungkin aku berujar,
“Jadi kau menyelamatkan nyawaku demi anak itu? Sekarang dia sudah nggak ada. Jadi bebaskan aku. Biarkan aku pergi.”
Tapi BL seperti tidak mendengar kata-kataku. Mungkin juga karena volume suaraku terlalu pelan.
“Aku yang salah. Seharusnya aku menendang Bandi keluar dari rumah sejak kasus ular itu, tapi dokter bilang kandunganmu baik-baik saja dan aku sudah janji pada papa-mama akan terus menjaganya sampai mati,” tukasnya sedih. “Sampai mati,” ujarnya lagi disertai dengusan pelan. “Kubunuh dia dengan cara yang sama seperti yang dilakukannya padamu.”
Aku merinding melihat kilat keji di matanya. Aku tidak berani membayangkan seperti apa pembalasan dendam ala S&M. Seharusnya aku senang mendengar keinginanku terkabul, Bandi mati dengan cara yang kuinginkan. Tapi aku sama sekali tidak gembira.
“Akhirnya aku malah kehilangan keduanya,” lanjut BL dengan wajah berduka.
Aku terbengong melihat matanya berkaca-kaca. Aku tidak tahu kematian siapa yang membuatnya lebih sedih, adiknya atau anaknya.
“Kenapa kau nggak pernah bilang kalau aku hamil?” tanyaku terbata.
“Karena aku tidak mau kau menggugurkannya,” sahutnya sembari menatapku tajam.
Aku melongo. Hanya sedetik lalu….
“Goblok! Kau pikir bisa menyembunyikan kehamilanku itu sampai berapa lama hah? Sampai sembilan bulan? Kau pikir aku manusia macam apa??”
Giliranku yang marah dan membentak-bentaknya.
“Aku memang benci kau! Benci setengah mati! Tapi anak itu nggak salah! Dia anakku! Dia anakku! Dia anakku. Dia an…”
Aku tak bisa menyelesaikan ledakan kemarahanku karena sudah tertelan isak tangis. Akhirnya aku menangisi kepergian anakku. Anak kami. Dia memelukku. Aku meronta, tapi dekapannya begitu kuat. Kurasakan dadanya ikut berguncang dan ubun-ubun dan telinga kiriku tiba-tiba basah.
Sejak itu dia makin posesif, tidak mau meninggalkanku sendirian. Dia terus menempelku seperti bayang-bayang. Aku tahu, dia takut kalau aku nekat meninggalkannya dengan cara bunuh diri. Dia masih seganas dulu, menyantap tubuhku kapan saja dan di mana saja dia mau. Dia juga masih suka mengejekku, tapi tidak lagi menghina kedua orang-tuaku.
Anehnya, aku tidak merasa sesak napas lagi bila terus-terusan berada di sisinya. Dan hal yang paling kutakutkan terjadi juga. Aku merasa nyaman bersamanya dan bahkan simpati padanya. Di kala dia memelukku dengan erat hingga tulang-tulangku linu, aku tidak marah atau meronta karena aku tahu dia ingin mengatakan kalau kesepian itu begitu menyakitkan dan dia tahu aku bisa memahaminya karena aku juga merasakan hal yang sama.
Dia mengembalikan nama dan hak-hakku sebagai Pamela Rachel Tanuseja termasuk apa yang sudah dicaploknya daripadaku. Dia bahkan ikut mengajakku meeting dengan para bos, membuatku malu saja. Aku harus berjuang keras memeras sel-sel otakku yang sudah lama tak terpakai.
Dia juga memberi sebuah hadiah yang tak terlupakan. Rekaman video yang menyajikan persetubuhan sepasang manusia yang wujudnya bagai langit dan bumi. Aku terperangah melihat Pak Dibyo meniduri Sonia Marbella dalam berbagai posisi. Sonia sendiri terlihat begitu bernafsu. Tak heran puluhan pil narkoba berserakan di meja samping ranjang tempat mereka mengadu kelamin. Keesokan harinya rekaman itu tersebar di mana-mana. Karir Sonia hancur, Pak Dibyo kehilangan Sanctuary dan keduanya berurusan dengan polisi hingga masuk penjara.
“Aku sudah membalas dendam kita berdua. Mulai saat ini, kau pemilik tempat ini. Terserah kau, mau diapakan tempat ini,” ujar BL saat memberiku akta kepemilikan klub eksklusif itu.
Aku tidak mengerti mengapa dia bermurah hati padaku. Mungkin rasa bersalah telah membuatnya jatuh iba padaku karena tidak pernah ada kata cinta yang terucap dari mulutnya. Dari mulutku juga tidak. Tapi semakin lama semakin susah untuk tidak membencinya, namun nyatanya rasa benci itu terancam lenyap. Dengan susah-payah aku memelihara rasa benci padanya dengan cara mengingatkan diriku tiap pagi kalau lelaki yang tidur di sampingku, yang merawat di saat aku sakit dan merubah diriku menjadi cantik adalah pembunuh papaku. Tapi tidak ada lagi niat untuk kabur darinya apalagi membunuhnya.
Tapi bukan berarti hidup kami damai. Kami masih sering bertengkar dan berkelahi baik. Ada saat-saat tertentu di mana dia menyakitiku, seperti memerkosaku dengan brutal di hadapan foto Bandi sambil berteriak-teriak ‘Dia milikku! Dia milikku!”.
“Sudah… Aaaw… Sak…it… Dia su…sudah… tahu…,” ujarku terputus-putus.
Bibir memkku seperti sobek dan memar karena terus disodok dan dikobok oleh kontl dan jari-jarinya secara bergantian tanpa henti. Pantatku merah dan linu karena digigiti dengan gemas. Begitu pula punggung, pundak, leher dan payudaraku.
“Lalu kau sendiri? Apa kau sendiri juga tahu itu?” bentaknya.
Aku mengangguk-angguk sehingga air mata yang menggenang itu tumpah membanjiri wajahku yang berkeringat. Kemudian dia mengencingi seluruh tubuhku dari ujung kepala sampai ujung kaki seperti seekor anjing yang menandai teritorinya. Lalu setelah gelombang kegilaan itu pergi, dia memandikanku. Semalaman mengelus-elus sekujur tubuhku, menciumi semua memar dan luka yang dibuatnya. Kemudian menghujaniku dengan hadiah-hadiah mewah.
Dan keesokan harinya kehidupan berjalan normal. Kami bertengkar, berkelahi dan kont*lnya seperti biasa menghajarku sampai klimaks.
“Aaaaaah! Aaaaargghhh!!”
Usai teriakan panjang yang membahana, aku terkulai lemas dengan tubuh basah kuyup bermandikan keringat. Kupejamkan mata sambil mengatur napasku yang tersengal-sengal. Aku lelah sekali dan ingin tertidur lelap, tapi kuluman pada bibirku menyadarkanku. Kubuka mata dan kulihat BL sedang melumat bibirku.
Begitu dia melepaskan bibirku, aku langsung bertanya,
“Bagaima…”
Dia memotong pertanyaanku dengan hujan ciuman di seluruh wajahku. Seperti biasa dia sama sekali tidak memedulikan orang-orang yang berada di sekeliling kami. Lagi seru-serunya kami saling memagut bibir, Joyce datang dan tangannya nekat menyelonong membuka kancing bajuku tanpa ijin majikannya.
“Minggir! Eh, kubilang minggir, Joy!” bentak BL sambil menepis tangan Joyce.
“Joyce,” ralatku melihat Joyce tampak gondok.
BL menyelesaikan tugas Joyce dan membuka bajuku lebar-lebar. Membuat sepasang payudaraku terekspos.
“Mereka tambah besar saja. Bikin aku horny.”
Kalau dulu aku marah, sekarang aku malah tertawa geli. BL ikut tertawa sampai Joyce menggamit dan mengajaknya menjauh.
“Boen Liaaangg!! Kau ke mana?? Jangan tinggalkan aku sendirian!!” bentakku.
BL yang minta aku memanggilnya dengan nama Cinanya. Dia kembali muncul dengan wajah berseri-seri. Dia tidak sendirian. Joyce bersamanya.
“Hati-hati,” ujarku was-was melihat keduanya masing-masing meletakkan sesuatu di atas dadaku.
“Lihat, Mel. Amanda gesit sekali. Wah, dia sudah hampir sampai. Ayo, James jangan mau kalah,” tukas BL setengah bersorak.
Konsentrasiku dalam menyaksikan sepasang bayi kembarku dengan penuh kekaguman langsung buyar.
“James dan Amanda? Benarkah?” tanyaku sambil menarik kerah kaus polo BL.
Dia menyeringai sambil mengangguk. Matanya menatapku dengan lembut. Tangannya menggenggam tanganku dengan mesra. Dua cincin kembar dari platina bermata berlian lima masing-masing melingkar di jari manis kami.
“Kau milikku! Kau milikku!”
Bukan BL yang berteriak-teriak girang begitu melainkan aku. Saat itu juga kebencianku padanya musnah sudah. Dia pasti sangat mencintaiku karena mau menamai kedua anaknya dengan nama mendiang kedua orang-tuaku.
“Aduh, bos! Hati-hati dong! Kalau mereka sampai jatuh, bagaimana?” gerutu Joyce sambil memegangi kedua bayi itu sementara kami berdua berciuman dengan hot.
“Mmmmhh… Eh, Mel!”
“Aku haus,” ujarku manja.
BL tertawa. Tak sampai lima detik kemudian aku mengoralnya. Tanpa memedulikan sepasukan perawat dan dokter kandungan yang terbengong-bengong melihat ulah kami berdua.
“Gila!”
Ya, memang cuma Joyce yang berani mengatai kami gila.
TAMAT
cerita lainnya
Sleeping with enemy – part 1
Sleeping with enemy – part2
Sleeping with enemy – part 3
Sleeping with enemy – part 4
Sleeping with enemy – part 5
Sleeping with enemy – part 6
Sleeping with enemy – part 7