kumpulan cerita dewasa dari berbagai sumber …

<?php wp_title('«', true, 'right'); ?> <?php bloginfo('name'); ?>





October 20, 2008

Akhirnya kunikmati pemerkosaan itu 6

Filed under: PERKOSAAN

Tiga lelaki dikursi ternyata sudah mengeluarkan penis mereka dari balik celana sambil mengocoknya dengan tangan sendiri. Sementara Mas Rudi kulihat pun terpana dengan adegan jangkung dan Ijah.

“Aaahh.. Ommhh ammpuhhnn omhh.. Engghh,” Ijah mendadak mengeluarkan desis kenikmatan waktu jangkung membetot lakban di mulutnya.

“Ha.. Ha tuh kan akhirnya ennaak, makanya jangan ngelawan yah..,” jangkung bangga terus nggenjot Ijah. Saat itu terus terang aku mulai membayangkan betapa sebentar lagi aku pun akan merasakan kenikmatan seperti Ijah, dientot lelaki asing.

“Iyaahh Oom terusinn.., aku sudah lama nggakk ginian,” Ijah menceracau.

“Ohh sayanghh, omhh nggak tahaann aahhggkk,” si jangkung rupanya over nafsu. Ijah belum apa-apa jangkung sudah kejang diatas tubuh ijah.

“Wah.. Payah lo kopral,” si botak menghardik.

“Ayo sana biar Om botak yang selesaikan sayang,” botak mendekat tubuh Ijah yang pasrah, jangkung lunglai disamping Ijah.

“Ohh.. Omhh botak.. Cepethhaann puasiinn Ijahh..,” Ijah rupanya sudah dilanda birahi yang sangat.

Matanya merem melek dan pinggulnya bergoyang erotis meminta penis si botak segera masuk. Botak segera menindih tubuh Ijah setelah ia melucuti pakaiannya sendiri. Penisnya yang gemuk pendek mendesak masuk ke vagina Ijah yang sudah becek kena sperma jangkung.

“Duhh omhh.. Ennakhh Ijhaah omhhpff..,” bibir Ijah langsung dikulum sambil tubuh botak menggenjotnya kuat. Mereka bermain imbang, desahan dan gerakan tubuh mereka mulai mempengaruhi dua lelaki lain dan Mas Rudi yang terus melotot ke arah Ijah dan botak.

“Mpfhh.. Huhh sayanghh.. Enak sekali vaginamu sayanghh..,”

“Iyaahh omhh.., Ijaahh keluuaarrhh.. Ouhhgg omnhh nnaakkhh omhh..,” tubuh Ijah kaku dengan tangan memeluk keras tubuh botak.

“Ahhggkk.. Ayoo saynggh.. Omhh jugaa nihh,” Botak pun orgasme. Botak berbaring diatas tubuh Ijah tanpa mencabut penisnya, Ijah malah senang dan memeluk botak sambil menciumi pipinya.

Lelaki berbadan gemuk bangkit dari kursi dan melucuti pakaiannya. Penisnya yang tegang mengacung acung, dan ia bergerak ke arahku.

“Hei brengsek.. Lihat ya sebentar lagi istrimu ini akan merengek juga seperti pembantumu itu.. Ha.. Ha,” ia menghardik Mas Rudi. Mas Rudi terlihat pasrah, sementara aku sendiri bingung harus bagaimana dalam posisi terikat, terlentang, dan telanjang seperti itu.

Tanpa dikomando si gemuk langsung saja menggerayangi tubuh telanjangku. Hisapan demi hisapan, jilatan lidahnya menyapu bersih lekuk tubuhku. Aku berusaha berontak tapi percuma, aku terikat. Kutatap Mas Rudi meneteskan airmata saat itu. Aku mau marah pada si gemuk, tapi posisiku sulit. Apalagi terus terang aku pun mulai dijalari birahiku. Kenyataan harus terjadi, aku istri yang sudah berbulan bulan ini tak pernah menikmati permainan seks suamiku, tentu tak bisa menahan rangsangan yang sedang terjadi pada tubuhku.

“Mhhppmm,” aku merintih saat lidah si gemuk mulai menjilati bibir vaginaku.

“Woowww.. Mulus sekali pelacur yang satu ini.., gimana sayanghh marah ya? tapi kok vaginanya sudah banjir,” si gemuk mengejekku, aku terpejam tak mampu memandang Mas Rudi.

“Hmmpp,” Mas Rudi bersuara, tetapi si tubuh besar langsung menggamparnya.

Situasi sudah sulit, lidah si gemuk semakin liar dan membuat kenikmatan tersendiri padaku.

“Ehmmhh,” aku merintih tak bisa menahan kenikmatan itu, pinggulku mulai bergerak teratur seirama jilatan lidah si gemuk divaginaku, aku pasrah dan menikmati permainan gemuk itu. Malah saat ini aku mulai bernafsu agar penis si gemuk mengoyak vaginaku yang sudah gatal.

Tapi rupanya si gemuk sengaja menyiksaku, jilatan lidahnya sudah masuk kemenit lima belas menerjang vaginaku. Aku sudah bergerak tak karuan menerima kenikmatan darinya, tapi tak juga gemuk menyetubuhiku.

“Mhhppff.. Engghh..,” aku tak tahan lagi, seluruh rasa nikmat berkumpul diklitorisku membuat pertahananku akhirnya jebol. Aku orgasme dengan belasan kedutan kecil divaginaku. Aku malu sekali pada Mas Rudi yang terus menatapku, tapi apa daya, maafkan aku Mas, aku tak berdaya.

“Haa.. Haa, keluar juga airmu sayanghh. Tapi biar yang puaskan kau lagi si jendral ya. Aku akan lanjutkan dengan Ijah,” gemuk meninggalkanku dan menuju Ijah.

Disingkirkan tubuh botak yang masih lemas diatas tubuh Ijah, lalu gemuk menyetubuhi Ijah. Astaga, Ijah rupanya birahi lagi saat aku dikerjai lidah gemuk tadi, sehingga saat gemuk membenamkan penisnya ke vagina Ijah, dia malah menggebu gebu menerima. Aku sungguh iri dengan Ijah yang sudah klimaks pakai penis tapi dikasih lagi sama si gemuk. Huh apa aku kurang sexy, pikirku.

Belum habis pikir, mendadak kurasa tubuhku ada yang meraba-raba lagi. Rupanya si tubuh besar yang dipanggil jenderal itu sudah telanjang dan sudah berada disisiku sambil menciumiku. Ciumannya sungguh lembut tak seperti gemuk yang agak kasar dan terburu-buru.

“Aku akan memberimu kepuasan sayanghh, kamu cantik bidadariku,” tak kusangka Jenderal membisikan kalimat itu ke telingaku, tentu Mas Rudi tak mendengar karena bisikannya sangat pelan. Entahlah apa yang terjadi, yang jelas mendapat bisikan penuh kasih begitu gairahku naik lagi. Jenderal lalu membuka lakban dibibirku dan ikatan ditanganku, sedangkan kakiku tetap terikat diujung dipan bawah.

Kini tanganku sebenarnya bebas tapi kenapa aku tak melawan? Aku sengaja memukul dada bidang Jenderal hanya untuk menjaga perasaan Mas Rudi, dan Jenderal yang tahu maksudku kembali menangkap tanganku dan disekapnya dengan posisi menindihku. Saat itu kelamin kami sudah bertemu walau penis Jenderal yang tegak belum dimasukan ke vaginaku.

“Jangann.. Kumohonn jangann..,” aku merintih antara penolakan karena ada suamiku, dan harapan agar Jenderal segera menyetubuhiku karena birahiku sudah tinggi dan menggebu.

“Tenang sayang. Aku sudah tahu semua file rumah tanggamu dan si brengsek itu. Aku tahu kalau Rudi suamimu tak lagi mampu melayani kebutuhan sexmu,”

Aku tersentak mendengar ucapan jenderal, lalu aku memandang Mas Rudi, Mas Rudi tampak pasrah memandang tubuh istrinya yang sesaat lagi akan menyatu dengan tubuh lelaki lain. Jenderal kemudian mencium dan mengulum bibirku beberapa lama, tanpa sadar aku membalas lumatan bibirnya dengan nafsu pula. Kurasakan dia berusaha menepatkan posisi ujung penisnya dibelahan bibir vaginaku.

“Mhhppff.., aahh.. Enghh..,” aku merintih nikmat tak peduli lagi Mas rudi menatap kami, saat penis besar Jenderal mendesak masuk keliang nikmatku.

“Ouhh.., sudah kusangka vaginamu masih rapat sayanghh.., nikmati permainan kita ya manis,” jenderal berbisik lagi membuatku semakin melayang dipuji-puji.

Penis Jenderal keluar masuk secara teratur di vaginaku dan aku mengimbanginya dengan gerakan pinggul memutar.

“Hmm.., puaasshhkan aku sayangghh..,” tak sadar aku membalas bisikan Jenderal itu sambil memeluk tubuhnya untuk lebih rapat menindihku.

“Chhaantikhh kamu sayanghh.., cantik sekali wajahmu saat nikmat ini,”

“Aohh.. Iyaahh sayanghh.. Akhuu milikmuh saat ini..,”

Kuakui permainan lelaki yang dipanggil rekannya sebagai jenderal memang luar biasa, romantis, lembut, tapi sungguh memacu birahiku secepat genjotannya di tubuhku. Gerakan tubuh jenderal semakin cepat dan teratur diatas tubuhku. Erangan dan rintihanku sudah tak bisa membohongi Mas rudi kalau aku memang birahi saat itu. Tapi saat aku hampir klimaks, mendadak jenderal menghentikan aktifitasnya dan mencabut penisnya dari vaginaku. Ia lalu membuka ikatan di kedua kakiku.

“Ayo sayang kita berdiri,” jenderal menarik tubuhku berdiri, lalu mendorong punggungku ke arah kursi Mas Rudi.

Posisiku jadi tepat berhadapan wajah dengan Mas Rudi suamiku, dan jenderal dibelakangku kembali menghujamkan penisnya ke vaginaku. Aku malu sekali saat itu, aku harus sekuat tenaga menyembunyikan wajah terangsangku dihadapan Mas Rudi, tapi dilain sisi kenikmatan yang sangat dari penis jenderal menghujam di vaginaku dari belakang.

“Ahh.. Ouhh.. Maaffkhaann akuhh mass..,” hanya itu yang terucap di bibirku saat sodokan penis jenderal masuk ke menit ke sepuluh dalam posisi nungging itu.

“Ayohh sayang.. Lepas lakban suamimu,” jenderal memerintahku, dan kubuka lakban dimulut Mas Rudi. Aneh Mas Rudi tak lagi marah, ia terlihat sangat pasrah.

“Masshh,” kulumat bibir Mas Rudi dan Mas Rudi mengangguk lalu membalas lumatan bibirku.

Jenderal semakin keras mengocokku dari belakang, aku semakin tak terkendali kurasakan kenikmatan sudah puncak dan menjalar diseluruh tubuhku mengumpul dibagain pantat, paha, vagina dan klitorisku.

“Ahh sayyanngghh.. Ohh.. Mmffhhpp..,” aku tak kuasa lagi membendung kenikmatan itu, dinding vaginaku berkedut berkali-kali disodok penis jenderal. Bibir Mas Rudi kembali kuhisap kuat.

Belum habis orgasme yang kurasakan, Jenderal menarik tubuhku dari belakang dan menggendongku. Posisiku seperti anak kecil yang dibopong bapaknya yang bertubuh besar dari belakang.

“Ayo maniss.. Ini lebih nikmat sayanngg.., sekarang merengeklah sepuasmu honneyy,” dalam posisi itu penis jenderal masih mengocokku tangannya mengangkat tubuhku naik turun dengan posisi berdiri.

“Akhhss.. Sahhyaangghh..,” aku tuntas sudah, orgasmeku sempurna ditangan jenderal.

“Oghhkk.. Terima maniku sayanghh,” jenderal orgasme dengan posisi berdiri menopang tubuhku yang lunglai. Kurasakan seburan spermanya menembus dinding rahimku. Lalu jenderal menjatuhkan tubuh kami diatas ranjang kembali, kami berpelukan seperti pasangan kekasih.

“Terima kasih sayang.., kalau saja kau istriku aku pasti bahagia,” jenderal kembali melumat bibirku. Aku membalasnya dan dalam hatiku pun menjawab seandainya juga kau suamiku jenderal.

Aku tak peduli lagi malam itu, aku pun lemas dibuai nikmat hingga akhirnya tertidur lelap.


“Sayang.. Bangun sayang,” suara Mas Rudi membangunkanku.

Ternyata hari sudah pagi, dan empat lelaki itu sudah tak ada lagi. Aku masih telanjang dan hanya terbungkus selimut, Ijah masih tertidur telanjang juga dilantai. Sedangkan Mas Rudi terlihat lusuh.

“Oh.. Mas, maafkan aku semalam Mas.. Aku seharusnya melawan,” kupeluk suamiku, aku takut kehilangan Mas Rudi.

“Nggak sayang, aku yang salah.., Harusnya aku bisa melindungimu,” Mas Rudi memelukku erat.

Sejak kejadian itu, kami pindah rumah di wilayah yang agak jauh dari kota M, tempat Mas Rudi bekerja, tapi masih satu provinsi dengan kota M.

Tragedi Mei ,98

Filed under: PERKOSAAN

Ini kunjungan keduaku kembali ke Jakarta setelah lebih dari 15 tahun sejak aku menyelesaikan program pertukaran pelajar. Masih sama seperti dulu hanya sekarang nampak semakin maju disamping juga semakin macet dan semrawut.

Setelah hampir 3 jam perjalanan dan berkutat dengan kemacetan dari bandara, akhirnya aku tiba juga di sebuah rumah sakit jiwa dibilangan jakarta timur.

Aku disambut oleh seorang petugas yang berusia lebih kurang 50 tahunan. Sejujurnya sikapnya amat tidak ramah dan memandang curiga akan kehadiranku. Tetapi setelah aku memperkenalkan diri dari sebuah LSM dari luar negri yang berniat memberikan bantuan keuangan sikap petugas tersebut langsung berubah 180 derajat menjadi sangat ramah.

Aku sengaja menyembunyikan identitasku sebagai wartawan. Kantorku mendapat informasi bahwa keadaan rumah sakit jiwa yang ada di indonesia sangat buruk keadaannya dan aku ditugaskan untuk menyelidiki kebenaranya dan mendapatkan bukti-buktinya

“Maaf pak sebelumnya mohon untuk tidak membawa kamera ya pak”Petugas itu nampak keberatan ketika aku menenteng kamera SLR ku.

“Memangnya Kenapa pak?”Aku bertanya keheranan.

“Terus terang saya juga kurang tahu pak, tetapi pak kepala rumah sakit sudah berpesan agar pengunjung tidak diperkenankan untuk mengambil gambar.”Petugas itu nampak enggan mengucapkan hal tersebut padaku.

“Oh begitu, kalau begitu izinkan saya bertemu dengan beliau pak saya ingin membicarakan hal ini.”aku mencoba untuk bisa bertemu dengan pimpinannya.

“Wah pak sayang sekali beliau sedang cuti,tapi bapak tidak usah khawatir semua tanggung jawab beliau sudah dipercayakan kepada saya sebagai wakilnya.”Petugas tersebut menjelaskan kepada saya.

“Begini pak, kalau saya tidak bisa memfoto lokasi rumah sakit ini, bagaimana mungkin kami akan mengucurkan dananya? dan pada akhirnya jika dana itu tidak turun yang rugi juga bapak sendiri bersama seluruh rumah sakit jiwa ini.Saya sih tidak memaksa bapak sebaiknya saya permisi pulang saja pak kalau memang tidak diizinkan. Permisi pak .”Aku mencoba jual mahal begitu melihat raut mukanya berubah.

“E..e sebentar pak bukan maksud saya,maaf kalau saya menyinggung bapak tapi saya pikir kalau untuk bapak ada perkecualian mari silahkan masuk pak.”Akhirnya petugas tersebut mengizinkan saya masuk dengan membawa kamera.

“Oh ya perkenalkan nama saya Adrian.”aku memperkenalkan diriku.

“Saya Dahlan, senang bertemu anda, mari saya antar melihat-lihat rumah sakit kami.”Petugas itu memperkenalkan dirinya perawakannya gempal tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu pendek walaupun sikapnya ramah,tapi nampak seperti dibuat buat senyumnya juga lebih menyiratkan kesan melecehkan walaupun mungkin dia tidak bermaksud demikian.

Dengan bersemangat dia menunjukan lokasi-lokasi bangsal perawatan mulai dari yang mengidap penyakit jiwa ringan sampai yang berat yang harus diisolasi.

Meskipun dari depan nampak lumayan, tetapi begitu masuk kedalam,terutama dibagian bangsal isolasi nampak kotor dan kumuh bau tidak sedap sangat menyengat hidung

Pak Dahlan asyik berceloteh tentang segala kekurangan rumah sakit ini sehingga keadaannya nampak kumuh dan tidak terurus dia juga bercerita bahwa hanya sebagian kecil saja dari pasien penghuni RSJ ini yang masih ditengok oleh sanak familynya selebihnya tidak diketahui lagi asal usul keberadaannya.

Dia juga mengeluhkan minimnya subsidi dari pemerintah sehingga kesehjateraan karyawan terabaikan begitu juga dengan obat-obatannya.

“Apakah pasien-pasien ini bisa sembuh pak?”aku bertanya kepada pak dahlan.

“Sebenarnya bisa pak, tetapi ya kendalanya obatnya mahal. Lebih dari 50% orang sakit jiwa sebenarnya bisa disembuhkan hanya biaya obatnya tidaklah murah Rp 40 ribu per tablet – obat anti spikotik. Obat ini harus dikonsumsi setiap hari. Artinya sang pasien harus mengeluarkan untuk biaya obatnya saja Rp. 1,2 juta per bulan padahal sebagian besar pasien disini sudah tidak diketahui lagi keberadaanya siapa yang mau nanggung pak?.”Pak Dahlan menjelaskan kendala yang dihadapi rumah sakit ini.

Sepanjang ocehannya hanya berisi keluhan tentang minimnya biaya. Padahal dari tempat parkiran, mobil-2x keluaran terbaru nampak berjajar rapi terparkir.

Dugaanku sih ini mobil-2x pegawai sini dan kantor ruangan pak kepala rumah sakit nampak rapi dan tertata apik dengan fasilitas yang masih baru.

Tetapi begitu memasuki daerah dalam, keadaan sungguh berbeda bagai bumi dan langit tempat ini lebih mirip penjara, eh bukan malah lebih mirip kandang hewan dimana orang-orang yang tidak waras ini berkeliaran bebas tanpa didampingi pendamping.

Pria dan wanita bercampur aduk sebagian besar bahkan berkeliaran telanjang bulat suara riuh rendah dan celoteh-celoteh aneh sahut menyahut. Aku merasa lebih mirip berada di kebun binatang dari pada di rumah sakit jiwa.

Sebenarnya menggelikan juga keadaan seperti ini. Ada berbagai ekspresi yang nampak serius dikerjakan oleh orang-orang tidak waras ini.

Ada yang berfantasi sedang mengail ikan, ada juga yang ribut berorasi dengan nada berapi-api ngoceh tentang dan politik pokonya kocak sekali,sampai aku kesulitan menahan tawa.

Dan lebih gilanya lagi ada beberapa pasien yang sedang bersetubuh pemandangan ini membuatku merasa risih dan jengah

“Ga papa koq pak ketawa aja ngga usah ditahan atau risih. yang tadi itu adalah calon Walikota sayang dia kalah sewaktu pemilihan. Hutangnya sangat banyak sampai harta bendanya terkuras habis untuk biaya berkampanye akhirnya ya seperti itu”Pak Dahlan menceritakan sekilas riwayat pasiennya.

“Bapak tidak geli melihat mereka pak? dan kenapa pasien dibiarkan membaur antara pria dan wanita sehingga bisa terjadi seperti yang itu?”Tanyaku keheranan sambil menunjuk salah satu pasangan pasien sakit jiwa yang sedang asyik bersetubuh.

“Wah sudah tiap hari saya menghadapi mereka sampai bosan pak.”jawab Pak Dahlan. “Lagian tempat ini tidak cukup luas untuk memisahkan pasien pria dan wanita. Tetapi jangan khawatir,Kami sudah bekerja sama dengan dinas kesehatan seluruh pasien pria sudah divasektomi sehingga tidak akan menyebabkan kehamilan jika mereka bersetubuh.”

Setelah menghela nafas sesaat kembali pak Dahlan menerangkan keadaan yang nampak tidak bermoral menurutku.

“Saya mengerti apa yang dipikirkan bapak Adrian,Tapi kami punya alasan tersendiri untuk tetap membiarkan mereka seperti itu.Kebutuhan biologis adalah kebutuhan mahkluk hidup yang paling dasar dan primitif. Tidak peduli pria atau wanita apalagi pada tahap sudah kehilangan kewarasannya, mereka akan beringas jika kebutuhan biologisnya tidak tersalurkan. Maaf bukan saya bermaksud merendahkan mereka, intinya mereka sudah tidak ada bedanya lagi dengan binatang. Yang membedakan manusia dengan binatang hanyalah akal sehatnya sayangnya mereka semua itu sudah kehilangan kewarasannya jadi dari segi tehnikal pun tidak memungkinkan untuk tetap menerapkan norma-norma moral dan kesusilaan kepada orang yang sudah hilang kewarasanya.”Walaupun aku tidak setuju sepenuhnya tapi memang ada benarnya juga ucapan pak Dahlan tersebut.

Dalam hati aku berpikir kalau tiap hari bergaul dengan orang yang tidak waras begini salah salah bisa ikut ketularan sintingnya.

Rumah sakit jiwa ini memang tidak terlalu luas tempatnya dari data yang aku peroleh ada lebih dari 350 pasien yang menghuni tempat ini dimana kapasitas normalnya sebenarnya cuma untuk 200 pasien saja. Dengan keadaan seperti ini salah-salah bukannya sembuh tapi malah lebih parah penyakit gilanya.

“Nah yang ini adalah bangsal Isolasi pak Adrian.”Pak Dahlan menjelaskan kepadaku “Hati-hati pak jangan terlalu dekat sebagian pasien yang disini berprilaku buruk.

Aku menatap ke sekeliling memang ruangan ini nampak sunyi ada kira-2×15 kamar, atau lebih tepatnya disebut “kandang” berukuran 2×3meter bau tidak sedap sangat menyengat hidung.

Hanya ada tikar tipis dan sepotong kain selimut tipis yang sudah lusuh dan sangat kotor seember air dan fasilitas MCK yang menjadi satu dengan “Kandang”ini.

Aku asyik berkeliling dan memotret-motret, penghuni bangsal karantina ini. Kebanyakan laki-2x. Dari 15 pasien ada 14 pasien pria dan hanya ada 1 pasien wanita.

Aku tertegun saat menatap pasien wanita ini, wajahnya cantik luar biasa walaupun nampak tidak terurus, tetap saja tidak bisa menyembunyikan kecantikannya yang masih jelas tergambar di raut wajahnya.

Selain itu tidak seperti pasien yang lainnya,yang matanya menatap kosong aku masih bisa mengenali bahwa pasien perempuan ini sepertinya masih punya tanda-tanda kewarasan.

“Pak Dahlan, apa wanita ini benar-2x tidak waras?

“tentu saja pak Adrian, kami memanggilnya amoy.”jawab pak Dahlan.

Aku mengamati perempuan ini lebih lanjut matanya menatap dalam kearahku seakan-akan menjerit minta pertolongan.

Dihadapanku kini berdiri seorang pasien sakit jiwa yang luar biasa cantik. Nampak jelas ia seorang keturunan etnis tionghoa yang mengingatkan ku pada wajah artis mandarin Gong Li.

Rambutnya panjang riap-riapan tidak terlalu rapi tapi cukup terawat panjangnya sebahu.Aku memperkirakan, bahwa gadis ini mempunyai tinggi badan lebih kurang 165 cm dengan berat badan yang menurut perkiraanku kira-2×50Kg dengan ukuran dada 32C besar juga ukuran dadanya.

Kedua tangannya berusaha menutupi dada dan kemaluannya yang berbulu sangat lebat. Sayang tangannya tidak cukup lebar untuk menutupi kemontokan buah dadanya yang tegak membusung.

Sedangkan tangan yang satunya lagi berusaha keras menutupi area selangkangannya. Namun jemarinya juga tak cukup lebar sehingga bulu-bulu kemaluannya yang rimbun masih nampak terlihat jelas menyeruak lewat celah-celah jemari tangannya.

Nampak jelas dia berusaha menutupi ketelanjanganya dan nampak malu dilihat dalam keadaan telanjang bulat seperti itu.

Sebagai lelaki normal melihat pemandangan indah didepan mataku mau tidak mau nafsuku sedikit terusik juga. Meskipun demikian, aku masih bisa mengontrol diri.Mata gadis ini nampak mulai berkaca-kaca seperti berusaha menahan tangis.

“Apa kamu sakit?aku mencoba membuka komunikasi dengan gadis ini dia menggeleng pelan

“Kenapa kamu telanjang bulat apakah kamu tidak diberikan pakaian?aku kembali berusaha mengajak dia berbicara

“Ssst..jangan keras-2x bicara jangan sampai mereka mendengar pembicaraan ini nanti mereka akan membunuh kita ko.”Mulut mungilnya nampak meruncing dengan jari telunjuknya menunjuk kebibir mungilnya

Rupanya dia mengenali aku yang juga sesama etnis tionghoa. Aku berpaling ke pak Dahlan sambil menunjuknya.”Apakah bapak ini yang menyiksamu?”kembali aku menanyai gadis ini.

“Bukan, mereka lagi disana lagi sibuk menguras uang di brankas ko..ko cepat sembunyi jangan sampai terlihat mereka.Telunjuk gadis ini menunjuk ke sebuah ruangan kosong tak nampak apapun olehku.

“Pak Dahlan, apa yang terjadi pada gadis malang ini?”Aku mencoba mengorek informasi dari pak Dahlan.

“Saya sendiri kurang tahu pak tetapi dia selalu mengoceh tentang kebakaran mungkin saya kira yang dimaksudnya adalah kerusuhan mei pada 5 tahun yang lalu. Nampaknya dia korban perkosaan masal dan mengalami guncangan jiwa memang kadang-kadang dia nampak seperti orang waras dia mengaku bernama Susan dan bekerja di sebuah bank swasta ternama. Kami menemukannya 3 tahun yang lalu dalam keadaan hamil tua. berkeliaran seorang diri. Dia terjaring dalam razia ketertiban kota sehingga akhirnya ditampung disini.Kami sudah berusaha menyelidiki asal-usulnya namun sampai sekarang tidak berhasil. Kami memanggilnya amoy.”Pak Dahlan mengakhiri penjelasan singkatnya.

“Arrgh shh…..ampun tolong hentikaaan.”Teriakan gadis itu mengagetkanku. Aku terpelongo menyaksikan gadis itu menarik putingnya sendiri kuat-kuat. Sementara itu tangannya yang satunya lagi memainkan tangannya menggosoki kemaluannya sendiri dengan kencang dan berulang-ulang.

Rupanya dia sedang bermasturbasi tapi kenapa malah berteriak-teriak minta tolong?ah..bodo ah dasar orang sinting aku berusaha acuh sambil tetap menonton aktivitas cabulnya. Kami berdua tersenyum-2x melihat aksi mesum tersebut.

“Sssh aaah Ampunn pak tolong arghh…hentikan saya sudah tidak tahan lagi sshhahh.”Gadis itu menggelinjang hebat nampaknya ia sudah mencapai orgasme bahkan sampai terkencing-2x oleh stimulasi jari-jemarinya sendiri.

Bunyi air kencingnya terdengar jelas bergemericik diruangan sunyi ini.Sementara itu tangannya tetap tidak mau berhenti menstimulasi memainkan kelentitnya yang nampak sudah membengkak berwarna kemerahan akibat dipelintir-pelintir sendiri oleh tangannya.

Matanya nampak sayu menatap mataku seakan mengharapkan aku segera menolongnya.Dari cara menatapnya, aku menjadi iba. Nafsuku yang tadi sempat naik akhirnya surut oleh tatapan matanya yang nampak tak berdaya.

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suaranya yang keras.Sekarang gadis itu menggonggong seperti anjing sambil lidahnya menjulur-julur persis seperti anjing yang habis berlari jauh sambil merangkak mengelilingi biliknya. Berguling-guling kesana kemari, gerak tubuhnya menirukan gerak tubuh anjing yang sedang birahi.

“Hauk..hauk…grrgh….Ampunn Bang.. ampun kaing…kaing….saya malu sekali Bang hentikan Bang silahkan ambil seluruh harta saya tapi tolong hentikan Bang.”Sekilas dari pengamatanku, Nampaknya seperti ada yang memaksanya untuk melakukan perbuatan amoral yang memalukan itu. Seolah-olah dia sadar sepenuhnya sedang dipermalukan sedemikian rupa seperti itu.

“Bajingan…..mati kau bangsat apalagi yang kau mau dariku argh,,,,sshhh ampun egh….”Kini matanya liar menatap kami berdua dengan penuh kebencian. Aku sampai bergidik merinding sementara tubuhnya menggelinjang semakin liar menahan dorongan birahi.

Tubuhnya terguncang hebat saat tangan kanannya menarik ujung puting payudaranya sendiri kuat kuat sementara itu tangan yang satunya lagi bergerak liar tanpa kendali, mencabuti bulu-bulu kemaluannya yang menggumpal lebat. Nampak beberapa helai bulu kemaluannya tercecer ke lantai yang sudah berlumut tersebut.

Aku bergidik ngeri sekaligus iba akan keadaan gadis itu akhirnya kami berdua meninggalkannya.

Aku benar-benar tidak menyangka bahwa kenyataan yang aku saksikan ternyata lebih parah dari isyu yang aku dengar.

Sepanjang perjalanan, aku terus memikirkan Gadis cantik yang malang itu entah kenapa ada sesuatu yang menarik hatiku pada dirinya. Dalam Hati, aku ingin mengorek keterangan lebih lanjut lagi mengenai gadis malang itu.

Pak Dahlan begitu gembira ketika aku menjamunya makan disebuah restaurant mewah dibilangan Jakarta Timur sehingga dengan mudah aku sudah mengantungi izin untuk mewawancarai gadis malang ini.

Kejadian sepanjang hari ini benar-benar merupakan pengalaman yang tak terlupakan setelah melakukan pembicaraan dengan pak Dahlan,akhirnya aku sepakat untuk kembali lagi keesokan harinya.

Setiba dihotel, Aku terus merenung membayangkan kejadian sepanjang hari ini tubuhku terasa penat sambil berendam air hangat tanpa tersadar aku telah tertidur.

Dalam mimpiku, aku bermain cinta dengan dengan Susan yang berparas ayu.Dengan lembut aku menghisap puting payudaranya kumainkan lidahku secara bergantian menghisapi kedua putingnya. Payudaranya yang besar membekap wajahku sehingga aku susah untuk bernafas.

Dapat kurasakan kelembutan kulit payudaranya yang selembut busa sabun.Putingnya berwarna coklat kemerahan perlahan tapi pasti mulai mengacung akibat stimulasi lidahku menandakan gairah Susan sudah terpancing.

Payudaranya yang berukuran 32C menggelantung bebas tanpa penyangga. Nampak begitu sempurna indah dipandang mata, memancing nafsu birahi setiap pria yang memandangnya.

Begitu nyata rasanya saat kemaluannya mulai menghisapi dan memijit-mijit batang kemaluanku dadanya semakin membusung ketika aku semakin erat mendekapnya.

Erangan-erangan nikmat meluncur deras tak beraturan dari mulut mungilnya kepalanya menyandar lunglai didadaku tak kuasa menahan sensasi kenikmatan badani.

Dalam keadaan kelamin kami yang tetap menyatu,aku mengangkat tubuhnya batang kemaluanku kini telah masuk secara penuh pada liang kewanitaannya. Ujung penisku mulai berdenyut-denyut kencang memuntahkan cairan nikmat yang selama ini bertumpuk.

Kebahagiaan kami mendadak terenggut oleh segerombolan bayangan yang tidak begitu jelas siapa gerangannya. Menarik tubuh bugil Susan dari dekapanku.

Lolongan memilukan Susan, sayup-sayup lenyap ditelan kegelapan aku tersadar dari tidurku cairan sperma membanjiri selangkanganku.

Dalam hati aku merasa berdosa kenapa aku bisa mempunyai fantasi sexual kepada gadis yang seharusnya dikasihani. Tetapi sebagai lelaki normal harus diakui berat rasanya untuk memungkiri daya tarik sexuil dari Susan si gadis malang tersebut.

“Pagi pak,mari langsung saja. Tapi maaf saya tinggal ya pak masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan tapi bapak jangan khawatir Pasien ini sudah saya amankan dengan jaket pengaman dan kalau ada sesuatu pencet saja tombol bel ini.”Dalam hati Aku malah bersyukur karena dengan demikian aku bebas mewawancarai pasien cantik ini.

Kami duduk berhadapan. Untuk beberapa saat aku terdiam sejenak mengamati Susan.

Pagi ini rupanya dia telah dimandikan keadaannya lebih baik dari kemarin cuma yang membedakan sekarang tubuhnya dibalut ketat Jaket khusus pengaman untuk pengidap penyakit jiwa.

Bau sabun mandi murahan masih sempat tercium olehku dengan ekor rambutnya yang masih sedikit basah semakin menguatkan aura kecantikan yang terpancar diwajah orientalnya. Sulit dipercaya wanita cantik yang duduk dihadapanku ini adalah pengidap penyakit jiwa yang cukup parah.

Aku memajukan kursiku untuk lebih dekat duduk dihadapannya ditanganku kini juga tergenggam sebuah alat mirip pena yang berfungsi sebagai alarm darurat jika terjadi sesuatu.

Ruangan ini sebenarnya merupakan kamar tamu berukuran 3×4 kedap udara tidak ada jendela hanya ada satu pintu mungkin maksudnya supaya tidak terganggu oleh suara berisik dari luar.

“Hai..bagaimana khabarmu pagi ini?”akhirnya aku mulai mencoba memancingnya bersuara aku ragu apa dia bisa berkomunikasi denganku? Sejak kami masuk ruangan ini, matanya menatap tajam kepadaku entah apa yang ada dalam pikirannya.

“Menurutmu aku bagaimana sekarang?”Dia malah balik bertanya. Aku bersyukur ternyata dia mau meresponku.

“Perkenalkan, namaku Adrian..maaf kalau aku mengganggu apakah kamu keberatan aku disini?”Mata beningnya kembali menatapku beberapa saat seakan dia sedang menyelami maksud kedatanganku.

“Aku rasa koko orang baik…tolong saya ko saya sudah tidak tahan lagi seperti ini.”Matanya mulai berkaca-kaca sehingga aku yakin siapapun yang melihat akan jatuh iba kepadanya.

“Bagaimana aku bisa menolongmu?”aku berusaha untuk tidak terpancing emosiku. Aku tahu persis dihadapanku ini adalah pasien penyakit jiwa yang omongannya tidak bisa dipertanggung jawabkan jadi aku berusaha tetap rasional.

“Keluarkan saya dari sini ko…tolonglah saya percaya koko bisa menolongku.”Sulit dipercaya kalau orang dihadapanku ini ternyata sinting jawabannya begitu memelas dan tidak ngaco seperti orang yang terguncang jiwanya.

Seandainya kemarin aku tidak melihat dengan mata kepalaku sendiri akan segala aksi cabulnya kemarin yang sangat memalukan, aku tidak akan percaya bahwa wanita cantik didepanku ini adalah seorang pasien penyakit jiwa.

“Aku pasti akan menolongmu keluar dari tempat ini tapi sebelumnya aku mau tahu semuanya tentang dirimu. Aku harap kamu bisa bercerita secara jelas apa sebenarnya yang terjadi padamu sehingga kamu sampai berada di tempat sini. Apakah kamu bersedia?”dalam hati aku bertekad untuk menyelamatkan pasien sakit jiwa ini. Tetapi sebelumnya aku harus tahu seberapa parah tingkat kegilaanya. Hal ini akan bisa aku ketahui dari hasil wawancara ini.

“Percuma aku bercerita toh koko juga tidak akan percaya kepada orang gila sepertiku bukan?”setelah mengambil nafas dalam-dalam muncul jawaban yang sungguh mengejutkanku.

“kalau kamu tidak mau bercerita juga tidak apa-apa tapi maaf tanpa aku mendengar kisahmu aku tidak bisa menolongmu. Semua orang disini menyebutmu, maaf gila. Tetapi aku tengah mempertimbangkannya setelah pembicaraan singkat kita sampai saat ini. Sepertinya kamu tidak segila seperti yang disebut-sebut pak Dahlan. Maaf aku tidak bermaksud menghinamu ini murni pertanyaan dari dalam hatiku,Apakah kamu gila?”dengan hati-hati aku mencoba mengupasnya lebih dalam.

“kalau aku bilang bahwa aku tidak gila apakah koko akan percaya?”Dengan hati-hati dia mencoba bertanya kepadaku.

“Tergantung,….Ceritakanlah semuanya. Aku punya banyak waktu untuk mendengarkanya dan jangan khawatir aku sudah pernah mendengar hal-hal aneh. Memang adakalanya ada fenomena-fenomena yang tidak bisa dibuktikan tetapi nyata ada,sehingga bagi yang menceritakannya pun bisa dianggap gila.”Nafasnya terdengar berat matanya kini kosong seakan menerawang ke suatu tempat yang nun jauh disana.

“Namaku Susan, aku sebelumnya bekerja disebuah bank swasta ternama di bilangan jakarta barat. Aku masih ingat hari itu rabu 13 Mei 1998 pagi itu sebenarnya aku tidak mau berangkat bekerja.

Aksi kekerasan yang menewaskan mahasiswa kemarin semakin menambah panas kota Jakarta Tetapi ibu Hilda selaku kepala cabang bank kami sudah memberi ultimatum kepada kami semua agar tetap masuk kerja.

Bank kantor cabang kami mengalami selisih uang akibat di rush secara besar-besaran pekan kemarin jadi tugas kami selaku teller harus berkoordinasi dengan tim audit dan accounting untuk melacak aliran dana.

Pagi itu hari cerah. Sama sekali tidak terpikir olehku akan menjadi lembaran paling kelam dalam hidupku. Jalanan lenggang entah kenapa banyak orang-orang bergerombol disepanjang jalanan hanya sesekali kendaraan yang melintas jalan ini yang biasanya macet luar biasa.

Aku masih mencemaskan ayahku yang habis terkena serangan stroke ringan. Terus terang aku tidak begitu mempercayai adikku yang masih suka bermain-main dengan kawannya untuk menjaga papaku sendiri.

Aku berulang kali mengingatkan adikku agar jangan lupa memberikan obat kepada papa, keadaan papa kini cukup menyedihkan semenjak kematian mama 3 bulan yang lalu papa begitu terpukul dan merasa sangat bersalah atas kematian mamaku.

Papa menganggap dirinya yang paling bertanggung jawab atas kematian mama akibat kecanduannya bermain judi yang telah menghabiskan harta keluarga.

Semua anggota keluarga yang lain sangat membenci papaku yang kecanduan judi sehingga setelah kematian mamaku kami nyaris putus hubungan dengan family yang lain.

Dulu keluarga kami hidup berkecukupan aku bahkan bisa bersekolah sampai perguruan tinggi. Semua menjadi bencana sejak papa mulai ketagihan bermain judi 5 tahun terakhir ini.

Semua usaha yang telah puluhan tahun dirintis mamaku habis dalam sekejap Mama tidak bisa menerima kenyataan bahwa kini kami telah jatuh miskin akibat beban pikiran yang terus menumpuk akhirnya mama sakit keras dan meninggal.

Meskipun papa punya kebiasaan buruk berjudi tetapi sebenarnya dia sangat sayang kepada keluarga tiap kali mendapat kemenangan dalam berjudi dia tidak segan-2x menghamburkan uangnya untuk menyenangkan keluarga.

Hingga ajal menjemput mama, papaku menjadi shock dan kini terkena stroke ringan. Kini dia bicaranya pelo tapi untung masih bisa berjalan.

Menurut kepercayaan, jika sedang mengalami sial bisa akan beruntun sampai 7 kali baru selesai.Tetapi sebagai orang yang taat beribadah aku tidak lagi percaya akan cerita takhayul orang tua seperti itu lagi.

Kini kami sekeluarga telah pindah rumah dari rumah kami yang megah di daerah jakarta utara ke rumah kecil sederhana didalam gang di suatu wilayah di bilangan jakarta barat.

“Suit…..suit….,hey cici mau kemana pagi-pagi begini?Aku bener-bener kesal dengan mereka, segerombolan pemuda pengangguran yang biasa nongkrong dimulut gang rumah kami.

Seloroh-seloroh mesum yang tidak senonoh sering mereka ucapkan saat menggodaku. Kadang aku menangis sendiri menyesali nasib keluarga kami yang buruk tapi mau bagaimana lagi sudah begini keadaannya.

Aku cuma bisa diam tidak melayani mereka bagaimanapun juga aku takut sesuatu akan terjadi jika aku mendamprat segala kekurang ajaran mereka.

“Sial kenapa mobil angkutan kota tidak muncul-muncul?” dalam hati aku mengumpat karena harus lebih lama berdiri mendengarkan gurauan-gurauan jorok pemuda pengangguran tersebut.

Keadaan jalan tidak memungkinkan aku untuk mencari tempat yang agak jauh dari tempat mereka berkumpul.Dari rumahku ke tempatku bekerja sebenarnya tidak terlalu jauh tetapi untuk berjalan kaki menuju kesana tentu akan melelahkan.

“Hai..san ikut yuk.”Aku bersyukur ketika rekan kerjaku Merry kebetulan lewat dengan mobilnya. Tanpa banyak bicara lagi aku segera ikut dengannya.

Sepanjang perjalanan kami asyik membicarakan pekerjaan kami sesekali aku memperhatikan jalanan ketika massa yang berkumpul disepanjang jalan nampaknya mulai bertambah banyak sayang kami tidak terlalu mengacuhkanya ketakutanku akan kehilangan pekerjaan memaksaku untuk tetap masuk kerja hari ini.

“Anak-anak, langsung saja kita ke lantai atas untuk meeting. Hari ini Bank diliburkan mengingat keadaan yang tidak memungkinkan,ini bagus juga sehingga kita akan konsen melacak aliran kas uang pada kantor kita ini.”Ibu Hilda ternyata sudah lebih dulu tiba.

Hanya kami ber lima yang hadir semuanya wanita saat itu kantor bank hanya di jaga Pak Harjo, pensiunan polisi yang kini bertugas menjadi petugas keamanan di bank tempat kami bekerja.

“Gubrak…..brank….Prank..!!”Suara Gaduh dilantai bawah membuyarkan keasyikan kami berdiskusi ditambah lagi dengan tergopoh-gopoh pak Harjo lari menghambur ke ruangan tempat kami meeting.

“Ibu Hilda….kalian sebaiknya cepat lari…sembunyi..”Kulihat muka pak Harjo pucat wajahnya seputih kertas dengan nafas memburu tak beraturan.

“Ada apa pak Harjo?”kami semua ikut panik melihat keadaan pak Harjo yang seperti ini.

“Cepat Kalian lari sembunyi massa sudah berhasil masuk kedalam kini mereka sedang menjarah uang yang tersimpan di brankas lantai dasar.”Pak Harjo terengah-engah berusaha berbicara dengan jelas.Sementara itu dari balik jendela dari ruangan kami rapat di lantai 3 nampak asap hitam sudah mengepul di berbagai penjuru ruko tempat kantor bank kami berada.

Kami semua kebingungan mau bersembunyi dimana lagi ruangan ini adalah ruangan meeting cuma ada meja lebar dan beberapa kursi tidak ada suatu bendapun yang bisa kami jadikan tempat bersembunyi.

“Braak…”Ketika akhirnya pintu ruangan berhasil didobrak masa.Puluhan orang yang bertampang bringas berlarian menghambur masuk.

“Hai…kalian Cina-cina rasakan pembalasan kami hari ini kalian sudah menyengsarakan negeri ini. Kini kalian harus membayar beserta bunga-bunganya”Kaki kami semua langsung lemas tak berdaya salah seorang dari mereka menatap beringas kepada kami.

“Sabar pak..saya minta kalian semua pergi dari tempat ini.Saya ini mantan aparat. Teman saya masih banyak yang berdinas aktif dikantor”Pak Harjo mencoba bersikap tegar menghalau mereka.

“Heeh tua bangka sudah bosan hidup ya sok jago mau melindungi cina temen-2x hajar dia..hari ini jakarta tidak ada aparat tidak ada hukum jangan takut kini saatnya kita berpesta.”dalam sekejap beberapa orang yang sudah beringas sejak tadi langsung mengeroyok pak Harjo suara erangan dan teriak kesakitan terdengar dari mulut tua pak Harjo

Meskipun dalam keadaan babak belur, akhirnya pak Harjo Bisa meloloskan diri dan segera lari terbirit-birit meninggalkan kami.

Beberapa orang yang tadi memukulinya sempat akan mengejar tetapi dicegah oleh kawan-kawannya.”Sudahlah biarkan saja dia masih saudara kita juga. Lebih baik kita kerjain saja ini amoy-amoy cina.

Puluhan pasang mata yang bersinar kejam memelototi kearah kami.Sehingga kami semua langsung gemetar mendengar ancaman gerombolan barbar ini.

Kami terpojok disudut ruangan tanpa bisa bergerak lagi ketika mereka semakin mendekat.”Buka baju kalian sekarang cepat”Suara parau mereka terdengar sangat mengerikan.

“Ampun pak jangan perkosa kami saya tahu kunci brankas penyimpanan uang bapak bisa ambil semaunya tetapi tolong lepaskan kami.”Bu Hilda berusaha bernegosiasi dengan salah seorang dari mereka.

“Banyak bacot lu cina dengerin ye..ente copotin baju ente sekarang, juga sampe ke dalemanya dan baru ente antar kami ke brankas itu cepet lakukan!”Suara salah seorang perusuh itu langsung menciutkan nyali kami semuanya.

“Ampun bang jangan bang…tolong..!”Tubuh ceking bu Hilda langsung tersungkur tak kuasa menerima gamparan tangan kekar si perusuh itu.Nampak darah segar langsung mengucur deras dari sudut bibirnya.

“Dengerin anak-anak kita kasih satu kesempatan lagi kalau tidak mau menurut,lemparkan mereka semua ke bawah biar mampuss semua!!Sinar kebencian nampak membara dikilatan matanya. Entah setan apa yang menghinggapi massa perusuh ini sehingga begitu brutal.

Dengan berat hati kami berlima akhirnya menuruti kemauan mereka badan kami mulai menggigil kedinginan ketika hanya menyisakan kutang dan celana dalam yang masih melekat di badan kami.Tak pernah terbayangkan oleh kami semua jika harus melepaskan seluruh busana kami dihadapan pria-pria kasar ini.

“Heh budek semuanya, ya daleman juga kudu dicopot ngarti kaga lu!! Jon Angkat cina tua ceking yang bawel ini lemparkan dia keluar dari jendela!!Tubuh bu hilda yang sudah lemas langsung diangkat beramai-ramai oleh mereka hendak dilempar keluar darijendela ruangan kami yang berada dilantai 3.

“Ampun bang….jangan!” buru-buru kami melepaskan sisa penutup terakhir pakaian yang masih melekat ditubuh kami. Kini kami berlima telah telanjang bulat dihadapan mereka. Aku mulai menangis belum pernah aku dipermalukan sedemikian rupa seperti saat ini dihadapan pria kasar seperti mereka. Bahkan dengan kekasihku sekalipun belum pernah aku berbuat asusila diluar batas kewajaran

“Heeh budeg lu ya?!…ente lepasin celana dalamnya atau ente mau mampus ya?!!”seorang pria bertato yang nampaknya pemimpin gerombolan itu matanya mendelik marah memandangku sambil mengumpat-umpat kasar.

“Sudah bang…sudah aku lepasin…semuanya”Aku sungguh ketakutan ketika matanya seakan-akan hendak menelanku bulat- bulat.

“Halaah….banyak bacot lu heh jono lempar keluar cina yang satu ini.

“ha…ha…Sabar boss mata ente jereng ya boss? ini jembut boss bukan cangcut. Cewek ini jembutnya naudzubilah lebat amir…”Aku terkejut ketika secara tiba-tiba si Jono ini mengobel dan menjambak secara kasar bulu-bulu kemaluanku.Tangan-tangan kokohnya dengan kasar meremas-remas payudaraku.

Aku samasekali tak kuasa untuk mencegah perbuatannya yang melecehkanku dihadapan kawan-kawannya. Semua gerombolan massa perusuh itu tertawa terbahak-bahak menyaksikan perbuatan Jono terhadapku.

Seorang dari mereka mengumpulkan baju-baju kami yang berceceran dilantai dan mulai membakarnya kami berlima digiring turun ke lantai bawah tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuh kami.

Sementara itu Bu Hilda dipaksa mereka untuk membuka brankas penyimpanan uang.Mereka begitu berang ketika mendapati uang yang tersimpan di brankas tidak sebanyak yang mereka bayangkan

Bank tempatku bekerja adalah kantor cabang pembantu. Dimana uang tunai yang terkumpul setiap sore akan dikirimkan kekantor pusat tetapi percuma memberi penjelasan seperti itu kepada mereka yang sudah kesetanan.

“Heh..lu berani menipu kami ya rasakan ini”Ibu Hilda langsung dihajar habis-habisan oleh mereka.

“Sekarang kalian semua naik kemeja ini hayoo cepat lalu jogedan(menari) yang hot..kalo ngga hot kalian akan langsung aku bunuh ngarti kaga!!”Dengan ragu kami naik ke meja tempat teller melayani nasabah,dan mulai mencoba bergoyang sebisa kami.Ibu Hilda yang sudah berdarah-darah berdiri terhuyung-huyung juga dipaksa ikut.

“He…lu yang udah kisut tokednya payah lu ngga pernah dientot ya?!! dari tampang lu gue yakin lo perawan tuwir!”Wajah bu Hilda langsung menjadi semakin merah harga dirinya hancur berkeping-keping dilecehkan seperti itu.

Mereka mulai bertepuk tangan menyoraki aksi kami. Siulan dan komentar-komentar cabul bersahut-sahutan.Mungkin karena sudah dihajar habis-habisan Ibu Hilda limbung dan terjatuh.

“Dasar perawan tua mampus aja lo…tapi gue cukup baik hati sebelum mampus,memek lo akan gue kasih enak dulu. Tapi sorry ye bukan pake kontol, lantaran kontol gue ngga bisa ngaceng..ngga nafsu liat tampang lo yang kaya nenek sihir.

Anak-anak angkat dia!!”lima orang meloncat maju mengangkat tubuh bu Hilda yang sudah tak berdaya salah seorang dari mereka segera mengangkangkan paha bu Hilda dan menghadapkannya pada pria beratato yang mungkin pemimpin gerombolan massa itu dan dengan kasar pria itu segera merabai kemaluan bu Hilda dan mulai mengocok-ngocoknya.

Bu Hilda nampak merintih-rintih dia mengigit bibirnya sendiri berusaha mati-matian untuk tidak terangsang tetapi sekuat apapun usahanya reaksi alami tubuhnya tidak bisa memungkirinya.

Secara otomatis pinggulnya ikut bergerak sendiri mengikuti irama jari-jari pemerkosanya yang tengah asyik memainkan klistorisnya.

“Hehh..gimana keenakan ya ?!”Gelak tawa riuh rendah pun bergema seakan memecahkan ruangan ini tanpa begitu lama,setelah bu Hilda selesai mereka kerjai,beramai-ramai mereka langsung melemparkan tubuh bugil bu Hilda keluar dari jendela lantai 2.

Kami semua menjerit histeris menyaksikan kejadian brutal tersebut serempak kami semakin kencang bergoyang.

“Apa-apaan nih..?Jogedan kalian ngga nafsuin sama sekali heeh..comot yang amoy gemuk itu mampusin aja dia.”kembali mereka akan mengeksekusi. Kali ini Merry menjadi korban tubuh gempalnya gemetaran. Tanpa sadar merry sampai terkencing-kencing.

“Dasar makin mirip babi aja lo..hayo maju kemari… sambil merangkak!! babi ngga bisa jalan pake 2 kaki Gue belum pernah ngentoot sama cina gemuk. Hari ini gue mau coba rasain!”Tanpa malu-malu lagi pria bertato itu melepakan celananya. Teman-temannya bersorak-sorai ramai menyemangatinya.

Batang Kemaluannya yang hitam legam segera mencuat nampak begitu besar dengan bulu-bulu kemaluan yang juga hitam keriting menghiasi pangkal kemaluannya.

Meskipun belum terlalu tegang,Kemaluan pria itu nampak bergoyang-goyang mencoba ereksi.Pantat Merry mulai diremas-remasnya. Sejenak kemudian dia meludah berulang kali tepat di belahan bongkahan pantat itu dan langsung menancapkan kemaluannya yang sudah separuh tegang.

“Lo harus bersyukur sebelum mampus lo sudah ngerasain kontol gue. Coba kalo gue ngga baik hati lo bakal mati penasaran jadi perawan tuwir kaya senior lo yang sudah mampus tadi.”Merry menangis meraung-raung tanpa dihiraukan sama sekali oleh mereka ketika akhirnya lelehan sperma bercampur darah keperawanannya nampak menetes-netes dari selangkangannya.

“Dasar cina. Cepet banget beceknya…perut gue jadi mules setelah ngentotin lo..”Sumpah serapah meluncur deras dari mulut kotor pria bertato tersebut

“Kadir…Jono…kalian pegangin die gue mau boker dan babi ini harus makan taik gue”Mereka berdua langsung menghambur ke arah merry tapi kali ini merry melawan sehingga mereka berdua kesulitan menjinakan merry sebelum akhirnya merry tergeletak pingsan setelah kepalanya dihajar tiang besi pembatas antrean.

Pria bertato itu langsung berjongkok diwajah merry tak begitu lama setelah mengejan kotorannya berceceran berhamburan diwajah merry segera tercium aroma tidak sedap bau kotoran manusia.

“Busyeet boss lo makan apaan anjriit bau banget taik loo..”para anak buahnya protes begitu bau menyengat menjejali hidung mereka.

“Begoo yang namanya taik dimane-mane ya bau tolol.”lalu dia menggunakan rambut merry untuk membersihkan pantatnya yang masih belepotan kotorannya.

Setelah itu ia memerintahkan anak buahnya mengangkat tubuh merry yang sudah pingsan dan melemparkannya keluar jendela seperti yang mereka lakukan kepada bu Hilda.

Kini Tinggal kami bertiga saja Tubuh sintal A ching diseret oleh gerombolan itu dan segera diperkosa beramai-ramai dia masih berusaha gigih mencoba melawan untuk mempertahankan kehormatannya.

Mungkin karena kesal, salah seorang pemerkosa itu tiba-2x memukul perut A ching tepat di ulu hati A ching langsung sesak napas..

”kalau lo nggak berhenti berontak saya bisa lebih keras..!. Sekarang mau menikmati apa menderita”Katanya, tapi A ching tidak bisa menjawab A ching sesak napas matanya berkunang-2x Aching mulai menangis tubuhnya lemas.

”Bagus.” Katanya dan dia pun mulai kembali mengulum dan mempermainkan pentilnya.”Heh lo pentilnya gede juga ya” lalu setelah dirasa A ching tidak banyak berontak dia mulai turun dan mempermainkan Kemaluannya.

Pertama di bukanya lebar-2x lalu diselipkanya lidahnya diantara liang vagina lalu seperti lidah ular, lidahnya bergetar cepat menjilat-2x itil Aching.

Saat itu benar-2x sensasi yang aneh. Belum pernah Aching merasakan itu sebelumnya. Bahkan Andy pacarnya sekalipun belum pernah berbuat amoral kepada dirinya seperti itu. Rasanya sulit dilukiskan

Auuggghhhh…ohhhhhh Aching mulai melenguh keenakan dan tampaknya para pemerkosanya tahu dan tanpa disadarinya, dari tadi para pemerkosanya tersenyum-senyum kurang ajar kegelian.

Seolah tersadar, Aching kembali berontak. Ada rasa malu di dalam dirinya, kenapa bisa-2xnya terangsang di oral pria yang bukan kekasihnya dan disaksikan serta dilecehkan pula oleh gerombolan massa yang beringas.

Aching kembali meronta. Tapi tiba-2x “Tarrrrrr…!!” Pria botak yang mengerjainya menampar keras di pipi Aching hingga terasa seolah-2x ada bekas telapak tangan dipipinya. Kemudian dia menjepit puting Aching, memelintir kemudian ditariknya keras-keras sehingga sedikit membengkok kebawah.

Aching rasanya benar-2x sangat kesakitan hingga hampir tak tertahankan dan cukup manjur kembali menghentikan perlawanannya.

“Terus ngelawan pentil kamu copot” katanya, kudengar pria botak itu tertawa terkekeh-2x terdengar suaranya menyeramkan sambil terus mengoyangkan pinggulnya.

”Sekarang mau anteng nggak?!!” mendengar itu Aching langsung terdiam tapi ternyata dia tidak puas “mau anteng tidaaaakkk” teriaknya sambil memelintir dan menarik putingnya keras keras. Dari Raut wajah Aching, tergambar rasa sakit yang luar biasa. Aching pun terpaksa menganggukkan kepalanya.

Pria botak itu mulai kembali memainkan itil Aching dengan jarinya sementara mulutnya mengenyot kedua puting susu Aching bergantian.

“Ehhhhhhh aghhhhhhh bang jangaaannnnnnnn kata Aching setengah meracau kenikmatan.

Kulihat Pria botak itu tahu Aching terangsang hebat sedang rekan-rekannya kembali terkekeh sambil terus menonton adegan cabul itu.

Akhirnya dengan rasa yang sangat malu,”Oeuuuuuhhhhhh abang sayaaaaaaaaaa hehhh keluarrrr..” Tanpa sadar kata-2x itu terucap dari mulut Aching memalukan. Tapi itu kenyataaan, bahkan setelah pingsan tak kuasa menyaksikan segala kengerian yang telah terjadi,tubuh polosnya yang sudah tiada daya masih terguncang-guncang hebat tanpa ampun masih dilumat gerombolan massa beringas yang mirip binatang buas.

Dengan bengis mereka menggantung tubuh bugil yang sudah tak berdaya itu. Puluhan kemaluan pria laksana tombak tumpul bergantian menjejali liang kemaluannya.

Sedangkan Yenni yang juga rekan sekantorku semakin menjerit-jerit histeris menyaksikan perkosaan brutal temanya.

Mereka pun tertawa-2x. Kulihat pria gondrong yang tadi membantu sibotak memperkosa Aching membuka celana dan bajunya, dan astaga penisnya besar sekali rasa-2xnya hampir sepanjang 20 cm dan diameternya itu jauh dari milik pria botak rekannya.

Yang menakutkan adalah urat-2xnya yang terlihat menonjol. Penis besarnya mengacung keatas benar-2x pemandangan yang luar biasa menakjubkan tanpa sadar mata Yenni terus memandang kesitu

”Hehehe suka ya. Sini duduk jangan ngeliat dari jauh terus” Katanya sambil menarik paksa Yenni duduk dan menyodorkan penisnya kemulutnya.

“Ayo dikenyot awas kegigit saya hajar kamu” Yenni begitu ketakutan belum pernah sekalipun dia telanjang bulat didepan pria apalagi yang minta di oral seperti ini .

Walaupun dulu Yenni dan saya sering melihat di film porno, tapi tidak menyangka harus melakukannya sendiri, terhadap pria yang bukan suami sendiri lagi.

Melihat Yenni ragu-2x pria gondrong dekil itu tiba-2x menjambak rambut Yenni dan memaksa memasukan penis besarnya kemulutnya, sehingga Yennipun terpaksa mengulumnya.

Suatu gairah aneh muncul didalam diri Yenni saya bisa merasakannya dari gerak tubuh Yenni ketika melakukannya.Sementara botak dan rekan-rekannya yang lain tetap menyaksikan dengan serius adegan itu.

Seolah-2x Yenni merasa diberi semangat oleh suporter,sehingga Yenni benar-2x mengulum dan menghisap penis itu sekuat kemampuannya dengan HOT.

“Eahhhhh terus bangsat terus pelacurrrrr” Mendengar kata terakhir, Yenni terkejut dan hampir berhenti. Tapi si gondrong kembali menjambak rambut Yenni kuat-2x dan menekan penisnya jauh ke dalam mulutnya. Hingga akhirnya Yenni terpaksa meneruskan dan tidak berapa lama tiba-2x tubuhnya mengejang dan kepala Yenni ditariknya kuat-2x, sehingga penis itu masuk lebih dalam dan dia memuntahkan maninya didalam mulut Yenni.

Rasa mual membayangkannya menyebabkan Yenni hampir memuntahkannya. Tapi seolah-2x si gondrong mengetahui niat Yenni.”berani muntahin saya hajar kamu.”

“Sekarang kumur-2x dulu lalu telan.cepat!!” Yenni dengan sedikit mual akhirnya mengumur-2x mani itu di mulutnya. Si Gondrong menyuruh botak mendekatkan wajahnya untuk mengawasi Yenni

”Tahan dulu jangan di telan coba buka mulut kamu saya mau liat” katanya Yenni melakukannya dan air mani itu mengalir sedikit keluar dari mulutnya.

”Cepat kumur-2x lagi.” Yenni pun mengumur-2x dan ”Oke cukup sekarang telan”Sekali lagi gairah aneh muncul apalagi sambil si botak mengawasinya dari jarak sangat dekat.

Kemudian si gondrong dekil ini, menyuruh Yenni berbalik dalam posisi merangkak. Tiba-2x dia memasukan penis besarnya kedalam kemaluan Yenni.

Yenni begitu terkejut dengan sensasinya. Penis itu begitu padat dan keras. Terasa sangat penuh

“Eh benar-2x serasa dilangit”. Dia mulai mengoyangkan pantatnya dengan cepat sehingga Yenni ikut bergoyang-2x tapi tanpa sadar, sebenarnya Yenni telah menyambut dengan antusias setiap sodokannya.

Ini terbukti beberapa kali si Gondrong sengaja berhenti bergoyang dan Yenni terlambat berhenti bergoyang sehinga setiap ini terjadi, gerombolan massa yang mengerumuninya tertawa keras.

”Sudah mulai menikmati ya.hahahah dasar pelacur murahan” Awalnya Yenni benar-2x merasa terpukul mendengar itu. Tetapi Yenni kembali dilingkupi perasaan aneh Yenni jadi lebih kencang bergoyang menyongsong kenikmatan.

Dan tanpa terasa si Gondrong sudah berdiam berhenti bergoyang, hanya Yenni yang bergoyang maju mundur penuh gairah.(memalukan).

Mereka tertawa-2x si Botak kembali mendekatkan wajahnya kewajah Yenni yang saya tahu pasti sedang terlihat sangat horny, terlihat dari reaksi Si botak yang tertawa-tawa cekikikan menyaksikan korbannya.

Tiba-2x si Gondrong menahan gerakan pinggulnya. Yenni seolah kesetanan masih berusaha bergoyang.

”Sabaarrr tahan dulu lonteee saya mau pakai cara lain aja” Lalu dia mencabut penisnya.

“Plok..!!” Suaranya terdengar keras karena vagina Yenni sudah basah oleh cairan vaginanya sendiri. Dengan napas tersengal-2x Yenni memperhatikan si gondrong bangkit dan kemudian duduk dengan santainya di sofa tempat duduk nasabah.

“Kesini…!!” dia memanggil Yenni sambil memberi isyarat agar Yenni menghampirinya dalam kadaan merangkak

Setelah dekat, dengan telunjuknya dia memberi isyarat kepada Yenni untuk berputar dan kemudian mengarahkan pantat Yenni yang sedikit menungging kearah penisnya dan “sleppp” Kembali penisnya masuk ke vagina Yenni.

Badan Yenni bergetar hebat ketika kepala kemaluan pria yang seperti jamur itu menghunjam dengan cepat ke dalam vaginanya. “Eughhhh…”. Yenni melenguh hampir-2x Yenni histeris karena menahan nikmatnya.

Setelah itu, sambil dengan santainya dia duduk. ”Sekarang goyangkan pinggul mu kaya tadi lonte…!!” Katanya sambil menampar keras-2x pantat Yenni.

Yenni demikian terkejut. Tapi tanpa disuruh dua kali dia segera bergoyang maju mundur. Sedangkan si Gondrong dekil ini, masih tetap duduk dengan santainya sambil terus berulang-2x menampar pantat Yenni

“Cetarrrr..cetar..!! Botak gue gemes banget sama ini pantat putih banget. Kalah pantat burik lonte langganan kita” Yang diajak bicara tetap diam sambil tetap serius menyaksikan si gondrong menyetubuhi korbannya

“Aughhhhhhh Bang jangaaaaan siiiiiigghhhhksaaaa sayaaaa” Yenni merasa tersiksa karena rangsangan yang hebat dan gairah aneh yang mengebu-2x sedang si Gondrong dengan santainya duduk membiarkan Yenni yang bekerja maju mundur menggoyangkan pantatnya sendiri.

”Hahahahaha, terus pelacurrrr” “dasar cewe gatellll ayooo kalo mau klimaks harus kamu sendiri yang raih .Ughhtttttttt uenaaaakkk dasar lonteeee” enaak setan” Yenni pun makin cepat memacu gerakannya sampai tiba-2x Yenni merasa tubuhnya bergetar hebat.

Belum pernah Yenni merasakan ini meskipun yenni sudah beberapa kali bercerita kepadaku tentang enaknya bermasturbasi.

Dan”Aughhhhhh Bang saya keluaaaarrrrrr” Yenni pun jatuh tersungkur dengan pantat menungging sementara penis Si gondrong masih menancap di dalam.

”Kurang ajar siapa yang suruh klimaks duluaaan..!!”kemudian dia membalik tubuh bugil Yenni hingga terlentang lalu kedua kaki Yenni diangkat keatas hingga lututnya menyentuh payudara, sehingga kemaluannya yang juga berbulu lebat terpampang lebar-2x

Yenni sudah tergolek lemas karena klimaks. Si Gondrong kemudian menancapkan kembali penisnya di vagina Yenni.

”Uuuggghhhhhhh Bang..” Sekali lagi rasa nikmat luar biasa menjalar ditubuh Yenni, membuatnya seperti mengambang di langit.

Saat itu wajahnya begitu horny sebab si Botak kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Yenni untuk menyaksikan dari jarak yang sangat dekat ekspresi keenakan korbannya.

Pinggul Yenni kembali terangkat tersentak-2x oleh goyangan si Gondrong. Beberapa menit kemudian.”Bang aku keluaaarrrrrrr” Dan sekali lagi ribuan volt listrik seolah menjalar memberikan nikmat tiada tara.

Melihat wajah Yenni, tampaknya si Gondrong juga tidak tahan. Wajahnya tiba-2x menegang kemudian dengan cepat dia mencabut penisnya dan kemudian tiba-2x “Crot..crot..crottt” Dia menembakannya ke wajah dan tubuh Yenni semua spermanya.

“Ahhhhh..” Suatu sensasi aneh yang luar biasa “kamu bener-2x enak” Katanya sambil meraih tubuh Yenni. Memangku dirinya seperti memangku anak kecil.

Dengan tubuh bugil Yenni yang miring menghadap kesamping. Tangan kirinya melingkar kepinggang Yenni. Sedangkan tangan kanannya mengelus-2x pipinya. Kemudian si Gondrong memaksa tangan kanan Yenni melingkar memeluk lehernya yang besar.

Yenni hanya tertunduk lemas. Matanya terlihat kosong sementara mulutnya mengoceh tidak karuan.Tubuh telanjangnyanya kini berdiri tegak mematung.

Kulit putih mulusnya kini penuh dengan bekas-bekas kemerahan bekas cupangan dari mulut-mulut jahanam tersebut.

Payudaranya yang berukuran sedang kini sudah tenggelam dibalik 2 kepala yang sedang asyik menghisap-hisap kedua belah payudaranya menggantikan posisi si gondrong yang sudah kelelahan.

Setiap inci bagian tubuhnya kembali sudah habis dilumat oleh lidah-lidah liar yang kasar.

“Aku akan membiarkan salah satu dari kalian hidup asal bisa menyenangkan hatiku.”Kini tinggal aku seorang yang belum mereka kerjai. Kembali pemimpin gerombolan itu mengancam akan membunuh kami jika tidak memenuhi keinginanya.

Saat itu sebenarnya aku ingin mati saja rasanya. Tetapi pikiranku kembali melayang kepada papaku jika aku mati siapa yang akan mengurusnya? meskipun adik perempuanku sudah SMP tetapi sifatnya masih sangat kekanak-kanakan.

Lagipula aku begitu takut mati pikiranku melayang kembali ketika menyaksikan mamaku meninggal wajahnya nampak sangat menderita kesakitan sebelum ajal menjemputnya.

Sedangkan aku begitu takut akan rasa sakit sampai jarum suntikpun aku tak berani melihatnya ketika dokter mengobati aku ketika aku sakit.Maka aku bertekad untukterus hidup otakku berpikir keras bagaimana bisa selamat.

Aku teringat dulu aku pernah nonton video blue milik temanku di kamar kostnya.saat itu kami bertiga, cewek semuanya.

Kami cekikikan menyaksikan aksi artis porno tersebut dimana ada adegan artis ceweknya sedang menari erotis mencoba merangsang pasangannya sebelum akhirnya cewek tersebut digauli oleh dua pria lawan mainnya.

Sang artis nampak sangat keenakan dan puas luar biasa digilir oleh 2 pria yang punya kemaluan besar.

“Heh lonte…Sekarang giliran lo kalo service lo lebih Hot dari dua rekan lo tadi lo selamat!!.” Kembali Sibotak membentak ku.

”Nih Kulum” katanya sambil menyodori penisnya, Akupun langsung menyambut dengan mulut terbuka.

”Kayanya musti kamu emut-2x dulu deh ha..ha..ha” Aku pun kembali mengoral penis Botak. tapi tiba-2x Aku lihat Si Gondrong yang dari tadi asyik mengamati kami,tiba-2x mendekat ditangannya membawa sesuatu

Aku kaget melihatnya dia membawa Binder penjepit file terbuat besi berwarna hitam… dan tanpa banyak ba bi bu,dia langsung menjepit puting susuku.

Aku yang sedang meng oral Botak kontan membeliak “Aughhhhh sakittttt…” belum berhenti aku melenguh tiba-2x sebuah lagi dijepitkan ke putingku yang satunya.”

“Wauuuuuggghhhh suakittttt…eghht” Aku baru mau mengerakan tangan saya untuk meraih penjepit tadi tapi tangan ku langsung ditangkap dan dipegang dengan erat oleh si Gondrong kemudian dengan sigap dia mengikat tanganku.

Pergelangan tanganku diikat dengan pangkal siku kiri sedang pergelangan kiri dengan pangkal siku kanan.

Penis yang tadi saya oral sudah terlepas. Tapi ku lihat si Botak tidak memaksakan untuk mengulum lagi.

Dia beringsut kemudian mengambil kemaluannya sendiri yang masih layu dan mengocok-ngocoknya sebentar.

Saat ini aku duduk dengan lutut dengan posisi tangan terlipat ke belakang. Seorang pria dengan bekas luka codet diwajahnya maju menggantikan posisi botak mengerjaiku.

Dia menciumi pipiku, lalu mengemut daun telingaku sambil tangannya mengelus-2x bongkahan pantatku.

Diperlakukan seperti itu Aku hanya bisa merasa merinding. si Codet wajahnya terlihat dingin dan pendiam.

Hanya seringai senyum jeleknya yang menampakan giginya yang sebagian besar telah ompong. Dia menatap lekat-lekat ekspresi wajahku yang ketakutan bercampur rasa terangsang.

Tiba tiba”Aughttt sakit Bang” aku berteriak kencang sebab codet mengigit telingaku kemudian tiba-2x dia mendorongku kedepan sehingga aku jatuh dengan kepala kelantai.

Saat ini posisiku menungging dengan bagian depanku bertumpu pada pipi kananku dengan kakinya kemudian dia menendang-2x kakiku memberi isyarat agar aku melebarkan kaki. Karena posisiku itu sedikit sulit Aku lakukan sehingga Aku jadi sedikit lambat

Tampaknya dia tidak sabar dan langsung melepas ikat pinggang kulitnya dan “ctarrrrrr…!!”Langsung digunakan menyabet pantat putihku.

”Aghhhhhh sakittttt Bang..!!.”Aku berteriak. Sekilas Aku lihat wajah si Botak tersenyum riang menyaksikan rekannya menyiksaku. Tapi si Codet tetap dingin.

Dengan jarinya, kemudian dia menusuk-2x lubang kemaluanku dan mencubit-2x bibir kemaluanku.

Tiba-2x ″Augggghhhhhh Bang sakittttt” Aku hampir pingsan ketika si Codet kembali mengunakan binder besi penjepit file untuk menjepit bibir kemaluanku dikanan dan dikiri.

Kembali Aku terkejut ketika sebuah lagi dia jepitkan di itilku dan kali ini, karena itu bagian yang paling sensitif, sakitnya jadi sangat tidak tertahan akupun berteriak sekuatnyaaa”Auuuuuughhhhtttttttt Bang saskiiiiitsssss” mataku berkunang-2x dan mulai menangis hampir aku pingsan.

”Sudah Bang sakittttt. Aku sudah tidak kuaaat hepppp” Belum selesai Aku berteriak mulutku telah disumpalnya dan tampaknya disumpal dengan celana dalam bekas miliknya sendiri.

Kemudian dia mengitariku dan memencet hidungku. Dengan mulut tersumpal dan hidung saya di pencet sedemikian rupa, hampir-2x Aku pingsan karena tidak dapat bernapas.

Tapi kemudian dia melepas jepitan tangannya di hidungku,lalu membalikan tubuhku sehingga tubuhku terlentang dengan tangan terikat di punggung buah dadaku nampak mengacung keatas seperti dua bongkah gunung yang indah dengan penjepit jemuran dimasing-2x puncaknya warnanya tidak lagi merah tetapi mulai keunguan.

Kemudian si Codet mulai mengambil tali dan dengan sedemikian rupa mengikat kakiku masing-2x sehingga betis dan pahaku menyatu dan tidak bisa di luruskan dan dibelakang lutut kedua kakiku, diselipkan sebuah batang kayu bekas gagang sapu yang telah dipatahkan, yang diatur posisinya sehingga kakiku mengangkang lebar dan terlipat kebelakang rasanya sakitt luar biasa.

Kemudian dengan tiba-2x “Cletik…!!.” dia mencabut penjepit di buah dada sebelah kiri begitu tiba-2x sehingga menyakitkan. Setelah itu dengan cepat dipasangnya kembali seolah-2x sedang mengetes kekuatan penjepit itu. Dan itu dilakukan ke semua penjepit yang terpasang, sehingga aku merasa sangat kesakitan.

Setelah semua selesai dia tiba-2x bangkit dan seperti mencari-2x sesuatu dan kembali dengan sebuah tali pembatas antraen yang besar denngan ujungnya yang terbuat dari besi bulat. Tali tersebut kemudian digesek-2xannya ke lubang kemaluanku.

Ujung tali yang terbuat dari logam itu terasa dingin dan tanpa peringatan tiba-2x “Sleppp , Aughttttttt….” Ujung tali itu itu dimasukannya dengan paksa ke lobang kemaluanku.

Lalu dia mengalihkan pandangannya ke lobang yang lain,lobang anus ku. Segera aku menggeleng-2x tapi dia malah tersenyum penuh arti diambilnya ujung besi tali yang satunya lagi dan dengan paksa dia menekannya masuk.

Kemudian dia duduk memandangi diriku. Semua gerombolan massa yang menonton, tertawa terkekeh-kekeh menyaksikan dua lobang vital tubuhku dijejali oleh ujung-ujung besi tali besar pembatas antrean.

Kemudiann “Cetarrrrrr..!!” Tiba-2x si Codet kembali menyabet kan sabuknya ke tubuh ku yang putih sehingga membekas merah. Dia mulai meraba-2x tubuhku dan meciumiku sedemikan rupa,sehingga entah bagaimana gairah aneh tadi kembali terjadi.

Lalu dia mengocok-2x besi ujung tali yang ada di lobang kemaluanku tadi sehingga ”Eghhhhhh eghhhhh ” Hanya itu yang keluar dari mulut ku karena tersumpal celana dalam si Codet.

Tiba-2x tubuhku mengejang karena orgasme. Sungguh perasaan yang aneh telah mendera diriku. Dalam keadaan sakit dan lemas aku melihat si Codet sedang mengocok-2x penisnya sendiri didekat ku dan “Crot crot..” rupanya dia terangsang hebat melihat keadaan diriku.

Semua air maninya ditumpahkan ke wajah dan tubuh ku,setelah itu dia pun melepaskan semuanya penjepit dan ikatannya.

Aku hanya bisa terbaring lemah. Aku lihat kini semuanya tertawa puas melihat keadaanku yang tersiksa.

Si codet yang bertubuh gempal besar mengendong tubuh lemahku ke atas tempat tidur. Dia kembali mulai menciumi diriku,mencoba kembali memacu gairah diriku.Dia mulai memainkan itilku dengan lidahnya. Itilku masih terasa sakit akibat perlakuannya tadi.

“Ughhhhhh nihkkmaaaahhhttt bang euanaaakkkk…ueghhhhhh” aku mulai mengelepar-2x ketika lidah si Codet mulai menari nari di itil ku, sambil kedua tangannya sesekali memilin-milin puting ku.

Kemudian di sergapnya mulutku dengan ciuman yang dasyat lidahnya mempermainkan lidah ku memaksa lidahku terus menari-2x

“Huahhh enak sekaliiii..”Kemudian dia mulai melepas baju bagian atasnya yang masih belum ditanggalkannya. Terlihat penisnya yang besar kembali mengacung ke atas membuat hati ku bergetar.

”Lonte kamu suka ini…”sukaaa bang sukaa” Hampir diluar sadar aku meracau kata-2x yang sangat memalukan itu.

“Baik lo harus memohon panggil aku tuan!!”

“Tolong tuannnn. Saya sudah tidak tahan.”.

“Tolong apa…?! Yang jelas…!.”

“Tolong masukan batang tuan ke memek saya tuannnn tolonggg”.

”Baik gue akan menolong mu lonte”dan “Sleppp “eughhhhhh.”Si Codet memasukan penisnya ke vaginaku.

Kembali gairah aneh menguasai diriku. Seolah liang kemaluanku ku terasa sangat penuh dan padat dengan benda besar yang keras dan kenyal.

“Ohhhh..!! ”Dia pun mulai memompa dengan cepatnya sehingga aku merasa itil dan bibir kemaluanku ikut keluar masuk karena padatnya kemaluan si Codet.

Akibat gesekan kedua kelamin kami, menimbulkan sensasi luar biasa. Kembali aku melihat gerombolan tersebut bersorak sorai menyemangati rekannya

Setelah beberapa menit, aku sudah tidak tahan lagi hingga tubuh ku terguncang-2x hebat dan “ohhhhhh tuaaannnn saya keluarrrrrrrr” namun nampaknya si codet belum mencapai klimaks dia tiba-2x memangku tubuhku dan dalam keadaan sambil di pangku berhadapan dengannya mulutnya bermain di buah dadaku dan terus memompaku naik turun.

”Ahhhhhh tuaaaannnnnnn” saya benar sudah tidak tahaaaan..!!”Dan kembali aku mengalami klimaks namun si Codet masih belum juga orgasme. Dia kemudian membalik tubuhku dan. dia menemukan ujung besi tali yang masih menancap dipantatku.

Kemudian kembali dia menembus kemaluanku dari belakang sambil tangannya pelan-2x menarik besi ujung tali pembatas antrean keluar dari liang anus ku. Sehingga menyebabkanku segera mencapai klimaks berikutnya “eghhhhhhttttt ” saya lihat si Codet tersenyum penuh arti dibalik gigi-giginya yang sudah ompong.

Tidak lama kemudian tiba-2x dengan kasar si Codet mencabut penis besarnya dari vagina ku dan membalik diriku sehingga terlentang. Dan “Crot crot..crottt..” Mani menyembur ke tubuh dan wajah ku.

Lalu dia memaksa diriku membersihkan penis miliknya dengan menggunakan mulut ku. Kepalaku terasa berdenyut-denyut pandangan nanarku masih bisa melihat sekelilingku.

Rupanya kini aku telah menjadi pusat perhatian gerombolan massa perusuh ini. Aku terduduk mengangkang diatas meja teller.

Kemaluanku yang berbulu lebat terumbar kemana-mana menjadi santapan empuk mata-mata liar yang cabul.

Aku memandang sekeliling ruangan. Kulihat tubuh Aching dan Yenni sudah tergeletak tak bergerak lagi. Tubuh bugil mereka nampak mengkilap dipenuhi lendir-lendir sperma.

“Kawan-kawan, akhirnya pemenangnya telah muncul, amoy cantik ini rupanya hoby ngentot atau nonton bokep.”Sekarang lo ikut kami turun. Yang lainnya bakar tempat ini jangan sampai tersisa.Dan mulai sekarang lo ini anjing betina ngarti dan seekor anjing berjalan dengan empat kaki hayo sekarang bertingkahlah seperti anjing cepat!!. Sebentar, rasanya masih ada yang kurang..hmm….”Mereka kemudian mengambil tali pembatas antrean nasabah yang tergantung di tiang pembatasnya tali besar berdiameter +/- 4Cm itu secara paksa kembali dijejalkan ke dalam anusku.

Sementara yang lainnya mengikat kan sebuah rantai bekas pengunci gerbang kantor keleherku.”Nah sekarang baru sempurna seekor anjing betina berekor panjang yang sudah ada rantai penjinaknya.”Gerombolan massa itu terkekeh-kekeh kegirangan melihat keadaanku. Kini mereka begitu menikmati permainan mereka yang menjadikanku obyek sex mereka.

“Hayo sekarang ikut kami turun atau lo akan terbakar disini bersama temen-temen lo itu!!”Aku tak berdaya mataku menatap kedua tubuh telanjang temanku yang sudah tidak bergerak lagi.

Asap hitam mengepul tebal mulai memenuhi ruangan mereka menggiringku keluar dari bangunan yang mulai rata termakan si jago merah.Aku dengan terpaksa aku mengikuti mereka sambil merangkak.

Rupanya itu saja belum cukup. Mereka mencubiti puting susuku dan menamparI pantatku.

“Busyet nih tokednya bener-bener napsuin banget!!” Nampaknya mereka begitu gemas melihat payudaraku yang besar menggelantung bebas berayun kekanan dan kekiri.

Dengan tidak bosan-bosannya mereka asyik menarik-narik puting susuku dan meremasnya kuat-kuat dadaku sampai serasa pedih sekali rasanya.

Mereka memaksaku untuk benar-benar menirukan anjing atau mereka akan lebih kuat lagi untuk menyakitiku.

Dengan bercucuran air mata aku menuruti kemauan mereka aku mengonggong-gonggong sambil menjulur-julurkan lidahku.

“Nah begitu dong…sekarang lo udah beneran jadi anjing.Tiba-tiba Aku merasa lobang anusku panas seperti terbakar api, ketika salah seorang dari mereka menekan lebih dalam tali besar yang nyaris lepas dari lobang anusku sepertinya lobang anusku menjadi lecet akibat tergesek-gesek-tali besar yang kini menjadi ekorku.

Dari atas jembatan fly over aku menyaksikan kantorku telah rata terjilat si jago merah asap hitam nampak tebal bergulung-gulung hampir merata di komplek pertokoan itu.

Entah sekarang sudah jam berapa, yang aku ingat siang itu matahari bersinar terik massa yang beringas nampak semakin banyak menyemuti jalanan.

Mungkin jumlah mereka sekarang sudah mencapai ratusan orang entah dari mana saja mereka muncul.

Telapak tanganku dan dengkul kakiku terasa panas terpanggang panasnya aspal jalanan sementara itu peluhku bercucuran deras mengalir melewati leher dan menetes dari ujung putingku jatuh ketanah.

“Ha…ha…ha…heh…lihat-lihat kemari ada anjing betina putih yang lepas!!”Massa itu kegirangan melihat tubuhku yang telanjang bulat merangkak seperti anjing tepat ditengah jalanan pada siang hari bolong yang terik.

Massa itu nampak lebih liar daripada yang merangsek menjebol kantorku sumpah serapah dan makian-2x kotor berhamburan meluncur dari mulu-mulut mereka yang bau. Air mataku sampai kering rasanya.

Rasa malu luar biasa menghinggapi diriku ingin rasanya aku masuk kedalam tanah bersembunyi kedalam lapisan bumi yang paling dalam.Harga diriku sebagai wanita benar-benar sudah hancur berkeping-keping.

Massa yang bergerombol mengerumuniku makin lama makin banyak mereka memaksaku untuk kembali menari bugil tepat ditengah jalanan yang penuh dengan massa yang beringas.

Salah seorang dari mereka rupanya bahkan sudah tak dapat mengendalikan dirinya lagi.

Tanpa malu-malu lagi dia segera melucuti bajunya sendiri sampai telanjang bulat. Kembali suara riuh rekan-rekannya terdengar menyoraki aksi cabulnya.

Yang aku ingat meskipun kemaluannya tidak sebesar pria bertato yang tadi memperkosaku, tetapi pria ini mempunyai biji pelir yang luar biasa besar menggelantung. Bunyi kecipak biji pelirnya sedang beradu dengan pantatku cukup terdengar jelas olehku.

Sementara itu salah seorang dari mereka maju kedepan sekilas aku bisa melihatnya masih belum cukup dewasa.

Dia berjongkok tepat didepan selangkanganku entah apa yang dia lakukan pada kemaluanku, aku merasakan sesuatu yang lengket menempel dibibir kemaluanku yang sebelah kiri.Dan secara tiba-tiba aku merasakan pedih. Bulu-bulu kemaluanku tercerabut sebagian.

Rupanya dia menempelkan sejenis selotip yang entah dari mana dia dapatkan dan digunakan untuk memwaxing paksa rambut kemaluanku.

“Heh…kunyuk lo apain ini cewek?!! biarin aja gue suka cewek yang banyak jembutnya lebih nafsuin tau gue kepret lo kalo berani lagi.Pria yang sedang menyetubuhiku berteriak kesal kepada bocah itu.

Anak itu langsung lari terbirit-birit kembali bergabung dengan gerombolan yang asyik duduk bergerombol mengelilingi kami.

“hu….hu….hayo hajar beh..entott terus sampe mampuss tuh cewek.”Mereka tertawa terbahak-bahak melihat aksi bocah tadi. Selain itu nampaknya mereka begitu geli melihat kemaluanku yang kini nyaris botak sebelah terbukti dari mata-mata cabul mereka yang semuanya terarah keselangkanganku.

Kini tidak lagi aku rasakan nikmatnya bersetubuh, walaupun pada awal-awalnya aku merasa keenakan tapi semakin lama selangkanganku semakin perih entah sudah berapa puluh batang kemaluan pria yang silih berganti menyetubuhiku.

Aku juga sudah tidak ingat lagi sudah berapa gerombolan perusuh itu yang mencicipi tubuhku. Panas matahari yang terik semakin menyiksaku seluruh tulang-tulangku serasa remuk.

Hanya suara-suara bentakan,ancaman dan makian mereka, terdengar bertalu-talu menjejali telingaku hingga akhirnya kurasakan kepalaku semakin berat dan pandanganku semakin kabur sebelum akhirnya menjadi gelap samasekali.

Entah sudah berapa lama aku pingsan tubuh bugilku masih tergeletak ditengah jalanan.

Jalanan yang tadi ramai oleh massa yang bergerombol kini sudah sunyi senyap sayup-sayup dapat aku dengar dari kejauhan suara sirine meraung-raung diikuti beberapa bunyi rentetan seperti suara tembakan dan beberapa letusan yang diikuti asap hitam pekat bergulung-gulung.

Hari nampaknya sudah menjelang malam. Dengan tertatih-tatih aku mencoba berdiri.

Aku mencoba mencari sesuatu untuk menutupi tubuhku yang telanjang tapi tak satupun aku menemukannya meskipun hanya secuil kain atau potongan kertas.Akhirnya aku tidak mempedulikan lagi keadaanku dalam kepalaku hanya ada suara yang menyuruhku agar cepat pulang.

Aku begitu mencemaskan keadaan ayahku. Selangkanganku masih juga terasa perih sepertinya masih ada kemaluan pria yang menjejalinya.

Sesekali ada mobil pemadam kebakaran yang melaju kencang tanpa mempedulikanku, meskipun aku mencoba untuk menghentikannya. Setelah beberapa lama berjalan,akhirnya aku tiba juga dimulut gang depan rumahku

Samar-samar ada cahaya berkelap-kelip digang tempat rumahku. Pada waktu itu keadaan nyaris gelap gulita. Aku hanya bisa
mendengar langkah-langkah yang hilir mudik didalam gang tempat rumahku diiringi suara tawa beberapa orang entah ada berapa, aku tidak bisa memastikannya

Kuperhatikan di sekeliling mulut gang ada beberapa gerobak sampah yang penuh terisi oleh barang-barang elektronika.

Salah satunya memuat lemari es yang baru sebulan lalu aku membelinya aku dapat dengan jelas mengenali barang-barangku sendiri. Aku menduga mungkin itu hasil jarahan.

Aku agak ragu sebenarnya untuk masuk kedalam aku masih trauma atas pelecehan sexual gila-gilaan yang mempermalukanku sepanjang siang tadi. Tapi setelah aku pikirkan lagi aku memberanikan diriku masuk. Aku hanya ingin segera bertemu papaku ya itu saja keinginanku saat itu meskipun tahu mungkin rumahku sudah diobrak abrik oleh gerombolan massa aku tetap berdoa agar papa dan adikku bisa selamat.

“hey..hey..hey, cici hendak kemana malam-malam begini?waduh habis bersenang-senang ya sampai lupa pake baju.”Suara parau yang sudah sering aku dengar mengagetkanku yang sedang mengendap-endap hendak menyelusup kerumah.Rupanya gerombolan pemuda pengangguran yang biasa mangkal dimulut gang itu yang menyapaku.

Firasatku mengatakan sesuatu yang buruk akan segera terjadi tanpa mempedulikannya lagi aku langsung berlari menghambur menuju rumahku.

“Heeh…bangsat,disapa baik-baik kaga menjawab dasar cina lo ngga tau sopan santun..hey jangan lari lo!”Suara parau yang bernada kurang ajar tadi mendadak berubah menjadi bentakan yang menggetarkan nyaliku.Aku tidakberani menoleh kebelakang aku terus berlari sekencang-kencangnya.

Sayup-sayup terdengar derap bunyi langkah para pengejarku entah darimana saja mereka muncul yang semula aku perkirakan sepi dalam sekejap digang yang tidak terlalu lebar ini bermunculan wajah-wajah beringas para pemuda pengangguran yang biasa nongkrong mabuk-mabukan dimulut gang rumahku.

“Heeh lonte sini lo…udah menyerah aja lo duduk diem dan ngangkang sana atau nungging terserah lo aku jamin nasib lo tidak akan seburuk bokap dan adik lo itu.”Aku terkejut, pintu rumahku sudah terbuka lebar aku menemukan tubuh bugil adikku yang sudah tergeletak tak bergerak.

Nampak sepotong bambu menancap di selangkangannya diikuti lelehan lendir bercampur darah segar selain itu darah segar juga nampak mengalir di kedua payudaranya.

Tubuhnya yang putih bersih nampak berkilat-kilat penuh lendir-lendir sisa sperma pria yang menjijikan. Segumpal daging kecil tergenggam ditangannya aku menghamburnya dan memeluknya, kubuka genggaman tangannya.

Aku begitu terkejut ternyata daging kecil itu adalah sepasang puting susu. Aku baru menyadarinya ternyata puting susunya sudah dipotong secara paksa.

Kembali mataku menyapu sekeliling ruangan aku mencoba menemukan papaku pandanganku berhenti di bawah tangga samar-samar aku melihat sesosok pria bugil sedang berjongkok meringkuk menghadap dinding sambil menangis terisak-isak.

Aku bersyukur lega meskipun dalam kondisi yang buruk paling tidak papaku masih selamat. Aku berlari menghampirinya kupeluk tubuh tuanya, tangiskupun akhirnya tak tertahankan lagi aku menangis sejadi-jadinya.

Kami berdua berpelukan sambil bertangis-tangisan. Entah apa yang hendak diucapkan papaku mulutnya yang sudah miring akibat serangan stroke mencoba mengatakan sesuatu tetapi sayang aku sama sekali tidak mengerti maksudnya.

“Waduh…waduh..ini amoy doyan banget ngentot ya sampe bapak sendiri masih mau diembat he lonte apakah lu masih kurang puas?”Mereka segera mengepung kami aku semakin erat memeluk papaku gumaman yang tak jelas muncul dari mulut papaku rupanya dia bermaksud menghalau mereka

“Heh tua bangka jangan maruk lo!!.. sono minggir tunggu giliran lo….bukannya lo tadi sudah puas ngentoti putri lo yang sudah mampus itu!!”Salah seorang dari mereka menendang tubuh bugil papaku sampai terjengkang.Aku mencoba menolong papaku tetapi dengan cepat dua orang sudah mencengkramku kuat-Kuat.

“Mm..mm..mbwa..ha..ha..ha…Tong lihat memeknya. Jembutnya sudah botak sebelah. Heh pacarmu ngga doyan jembut ya?koq cukur jembut cuma separuh.ha..ha…ha…he Tong pinjemin cukur jenggot lo biar gue rapiin ini jembut.”Pria botak itu akhirnya tak bisa menahan ketawanya ketika melihat kearah selangkanganku.

“Biarin aja dul biar aja botak sebelah lebih lucu kayak gitu aja..”Otong menghampiriku matanya menatap lekat-lekat kearah selangkanganku tangannya mengusap usap bibir kemaluanku. Jari jemarinya dengan giat memencet-mencet klitorisku.

” Lepaskan aku bajingan !! ” Aku meraung saat Otong memainkan pencukur jenggotnya di bibir itilku.

” Asyik kite dapet satu Amoy cina lagi , hebat sekali. Terima kasih ya non mau melayani kami, kita akan bersenang-senang kembali untuk beberapa jam, aku ingin tahu seberapa nikmatnya memek yang satu ini!! Dan kalian Jangan ganggu aku tunggu giliranmu”

“Jangan coba sentuh aku!, ”Emosi ku mulai terpancing sepanjang hari aku terus dilecehkan kini aku benar-2x merasa sangat marah.

“Tidak-tidak kami tak akan sekedar menyentuhmu, masih banyak lagi yang akan kami lakukan” mereka tertawa sambil beramai-ramai membekuk tubuh telanjangku.

Aku pun tersadar bahwa mereka ini akan segera memperkosaku kembali. Dan akupun mulai merengek.

”Tidak!!” Aku memohon untuk dilepaskan Otong menyeretku ke kamar, dan melemparkanku yang terus berteriak-teriak ke ranjang yang berukuran besar, dan mulai membuka baju yang dikenakannya

“Ya Tuhan Tidak” Aku menangis, dan berusaha melepaskan diri, namun dengan tangan terikat demikian kencang, sehingga tampaknya nyaris mustahil untuk melepaskan diri, Aku pun tercengang menatap Penis Otong yang demikian besarnya.

” Jangan !! Tolong jangan , itu terlalu besar !! “

”Aku tahu, tapi kau akan belajar menyukainya “

Aku tersadar, terkurung dalam kamarku sendiri, dengan tangan yang terbelenggu, akupun sadar, hanya tinggal menunggu waktu hingga Bajingan itu memperkosa diriku. Dan tahu bahwa tak ada satu pun yang dapat kulakukan untuk mencegah hal itu terjadi,.

Aku begitu ketakutan saat Otong tiba-tiba melompat kerahku, memelukku dan menindih tubuhku dari atas..

“AWW…MMMMPH!” Aku menjerit, namun Otong menghentikannya dengan memaksa mencium bibirku. Aku tak berdaya untuk menghentikan ciuman itu.

”MMMMMMPH…“Otong menekan Lidahnya masuk, memaksaku membalas permainan lidahnya, dan mengunci tubuhku agar tetap menciumnya, sementara tangannya mulai meremas salah satu payudaraku.

Air mataku mulai menetes. Terpaksa aku harus menerima ciuman dari bajingan itu.

Sementara tangannya semakin brutal meremasi payudaraku. Aku berusaha menghindari ciuman Otong. Mulutnya yang bau rokok murahan menyengat hidungku. Namun aku tak berdaya melepasakan diri dari keinginan penjahat itu.

“MMMMPH…!”Aku mendesah. Otong begitu menyukai, rasa dari bibirku, demikian juga dengan payudaraku yang begitu besar mengglantung bebas tanpa penyangga. Otong menggunakan Kakinya untuk mengangkangkan kakiku, dan sedikit menekan kemaluannya di bibir kemaluanku.

Tubuhku menggelinjang saat merasakan kemaluannya yang menekan dari balik celana dalam yang masih dikenakannya,..

Aku dapat merasakan bagaimana penis itu mulai mengeras dan menekan tubuhku,

Aku menjerit namun kembali tertahan oleh lidah Otong yang kembali menciumku. Sementara tangannya masih meremas-remas sambil memilin puting payudaraku. Payudaraku mulai memerah akibat perbuatannya.

Otong melepaskan ku sambil tertawa.

“Kau cantik sekali!”

“Bajingan kau

“Bagaimana dengan menghisap dadamu yang besar itu ?? “Otong menatap penuh nafsu kearah payudaraku, sebelum membenamkan wajahnya ke payudaraku yang besar.

“AWWW! jangan! AWWW!” Aku menjerit, saat merasakan lidahnya yang kasar memoles seluruh permukaan payudaraku.

Otong menggerakan lidahnya, menghisap payudaraku, sementara tangannya pun ikut meremas-remas sebelah payudaraku yang lain. Tubuhku bergetar-getar merasakan sensasi nikmat itu,..

”Ahhhh ” Aku meraung, saatku merasakan lidah Otong bergerak demikian cepatnya menstimulasi dirinya, Lidahnya menyelusur dengan cepat di putingku seperti bayi yang kelaparan,..

“AWWWWWW!” Aku menjerit saat otong mulai mengigit dan menghisapi dadaku

Wajahnya bergerak kesana-kemari, diserang oleh bajingan yang sudah demikian bernafsunya, menyedot di payudaraku, menghisapnya, sambil memainkan putingnya dengan lidahnya

Otong menjilatnya, menghisapnya menikmatinya diseluruh bagian tubuhnya, sebelum tangannya mulai turun merabai kemaluanku

“Jangan, jangann ” Aku memohon saatku merasakan jemarinya menempel di bibir kemaluanku.

Otong melepas celana dalamnya, matanya menatap kemaluanku yang kini telah botak.

“Memek terbaik yang pernah ku lihat. Begitu rapat dan kencang

” Aku bertaruh ini pasti semanis madu !! “

Aku menjerit saat jari-jari Otong mulai menelisir bibir kemaluanku, bermain dengan itilku sampai membuat tubuhku mengelinjang tanpa kusadari,

Sementara jari-jari Otong terus menstimulasinya, tangan Otong menarik betisku agar mengangkang lebih lebar, dan mengganti tangan dengan lidahnya,..

“AWWW! OH , jangan hentikan,.. ” Aku menjerit saat dia merasakan lidah tebal Otong memoles kemaluanku, menyelusup kedalam liangnya, sambil menghisapi itilnya, tubuhku mengejang menikmati sensasi ini.

Bajingan itu menghisapi itilku sambil menjilati permukaan kemaluanku yang kini telah botak, tubuhku bergetar, tanpa kusadari, mulutku mendesah keenakan, namun desahan itu hanya membuat penis Otong makin mengeras.

Aku mendesah tak karuan saat ku rasakan lidah Otong menyedot-nyedot bibir kemaluanku, Otong dengan mahir menghisapi Kemaluanku, memberikan kenikmatan yang tak diharapkan, seluruh tubuhku mulai bergairah, tanpa terasa kemaluanku mulai berdenyut-denyut mengeluarkan cairan”

“Ah, ah, ah, ah.” Aku mendesah ” Ya ampun, oh Tidaaak !! “

Aku ngeri menatap penis Otong yang telah menegang itu, Aku terbelalak tak percaya melihat ukuran penis itu, dan membayangkan betapa sakitnya bila penis sebesar itu sampai menyetubuhinya.

Otong tersenyum saat dia menyadari aku baru saja mencapai klimaks.

“Hey, hey lo mulai menyukainya ya?!”Senyumnya yang kurang ajar terulas diwajah jeleknya

“Tidak, bajingan kau..hentikan!”Aku memohon. Sementara aku terus berjuang mengalahkan nafsu birahi yang makin menguasai diriku..Sementara kemaluanku makin terasa hangat.

Otong menurunkan betisku, mencengkram pinggulku dan langsung menyentakkan penisnya dalam lobang kemaluanku.

Aku mulai kesakitan, sementara kepala penis Otong makin menekan masuk di mulut Kemaluanku, Aku berusaha keras untuk melepaskan diri, namun Otong mencengkramku dengan kuat.

“Apa kau pikir aku akan menikmatimu sekali, lalu membiarkanmu pergi ?? “Pada saatnya, aku akan menjadikanmu Budak seks pribadiku “

“Tidakkk!”Aku menjerit sejadinya, sementara penis Otong menancap masuk dalam Kemaluanku, mataku terbelalak menahan sakit sementara penis super itu makin terbenam dalam, merobek Kemaluanku.

“YA! kau sekarang milikku,, pelacur ” Otong menyentak sambil menyodok-kan penisnya dalam

“AH! AH! YA TUHAN !! YA TUHAN !! ” Aku menjerit lagi dan lagi

Otong mulai menggoyangkan penisnya maju mundur, keluar masuk dalam kemaluanku, membelah kemaluanku dengan kecepatan yang luar biasa,.

“AWWWWW!” Aku menjerit-jerit, menikmati bagaimana penis yang demikian besarnya itu menyetubuhiku, perlahan rasa sakit itu memudar, berganti kenikmatan yang sebenarnya tak aku inginkan.

Otong mendekap tubuh telanjangku, sambil meremas-remas payudaraku

Penis yang begitu besar menyetubuhi tubuhku yang baru saja kehilangan keperawananya, menghantamnya dengan deburan-deburan kenikmatan yang demikian hebatnya, tubuhku menggelinjang, setiap kali penis besar itu keluar masuk dalam lobang kemaluanku,

Perlahan dia makin dekat dengan Orgasmenya, sementara tangan dan mulut Otong terus menstimulasi Dadaku.

“OH, OH, OH NO! AHHH! MMMMM! TTOLONG JANGGANN! Akupun mulai kehilangan control diri…

“Ayolah cantik, berorgasme lah, ayo, aku ingin mendengar lo menjerit nikmat!!”

“Tidak akan…AWWWWWWW!” Aku menjerit sejadinya saat sebuah orgasme dahsyat akhirnya menerpa diriku.

Aku pernah merasakan perasaan semacam ini sebelumnya, seluruh tubuhku serasa terbakar, nikmat yang pernah kurasakan sebelumnya, tanpa sadar aku mulai menggerakan tubuhku mencari kenikmatan dan mulai mencari penis Otong.

“OH Tuhan!” Aku menjerit dan mendesah seluruh tubuhku menikmati setiap orgasme yang menghantamku, lagi dan lagi, bagaikan sebuah ledakan dalam kepalaku, sementara kemaluanku tak berhenti mengeluarkan cairan orgasme, Memberikan kenikmatan tak terkira pada diriku..

“Ahhhhhh!”Otong menangkap wajahku, mendorong mulutnya pada bibirku, menciumku, sambil mendekapku kuat-2x Aku kehilangan seluruh kontrol tubuhku, dan mulai membalas ciuman Otong tanpa kusadari

Tubuh bugil Kami saling berpelukan dan mulai menjatuhkan tubuh kami keatas ranjang, sebelum akhirnya Otong melepas dekapannya pada tubuhku.

Aku mulai tersadar kembali, air mataku mulai menetes.Otong menoleh, menatapku yang telah dikalahkan oleh nafsu birahiku sendiri.

Senyum kemenangan terukir melihatku menangis, sementara tangannya mulai kembali menempel di payudaraku, meremasnya dan memilin putingnya.

“Bajingan!!.” Aku menangis. “Aku tak akan pernah menjadi budakmu,”

“Hey, aku baru saja mulai pelacur, masih ada teman-temanku dan bokap lo kan??”Ejekannya yang terakhir sangat menghancurkan harga diriku, aku bahkan sudah kembali menyerah saat otong mulai bermain dengan payudaraku, Aku tahu bila Aku melawan hanya akan membuat dia mengerjaiku lebih brutal lagi.

Kembali aku menggeliat kegelian oleh stimulasi rangsangan jarinya. Tak beberapa lama kemudian lobang kemaluanku sudah basah kuyup.

“Huh..dasar payah cepet banget memek lo becek.”Aku sama sekali sudah tak berdaya lagi untuk melawan pelecehan mereka kemudian ada dua orang mengangkat tubuhku dan mengangkangkan kakiku.

Dalam keadaan diangkat dua orang, kembali aku disetubuhi. Nafas-nafas mereka yang tercium bau rokok murahan menyengat hidungku.dengan buas mereka melumat payudaraku seperti binatang kelaparan.

“Heh Dul cepetan dikit napa?. udah berat nih lo enak-enakan aja ngentot yang pegangin pegel tau!!”Si dul hanya cengar-cengir aja. Matanya merem-melek menahan nikmat.

Kemaluanku makin lama makin berdenyut kencang tanpa aku sadari pinggulku ikut bergoyang sendiri aku tak kuasa mencegah reaksi alami tubuhku. Rupanya mereka menyadari hal itu mereka saling pandang satu sama lain sambil menyeringai kurang ajar.

“Sh..h…hhh..ah..ah..shh..Gile ini memek gurih banget biarpun becek tapi sedotannya mantep abiiis.waduh ssh…shshh..kontol gue, kontol gue aku mau muncrat setan babi tahan sebentar lagi hekh..hmph..”Kini Giliran Boneng pria jelek kribo yang menjejalkan kemaluannya ke lobang kelaminku.

Lebih kurang ada sekitar 10 orang yang secara bergiliran mengerjaiku sampai pada akhirnya mereka semua duduk kelelahan entah sudah berapa lama kelaminku dipaksa menerima muntahan-muntahan lendir-lendir sperma yang lengket dan bau itu.

“Nah sekarang giliran lo bandot tengik”Tanpa belas kasihan mereka menyeret tubuh renta bugil papaku.

Mereka meletakan kami ditengah tengah sementara mereka duduk bergerombol membentuk lingkaran mengelilingi kami.

Sementara puluhan orang yang ikut masuk tadi sebagian telah keluar melanjutkan aksi penjarahan mereka dan sisanya ikut bergabung menyaksikan pemaksaan aksi cabul terhadap diri kami.

“Ngentot..Ngentot..hayo cepetan Ngentot..!!” dengan kompak mereka menyuarakan koor yel-yel menyoraki kami.

“Denger ya kalo lo mau bokap lo tetep idup lo musti bikin muncrat bokap lo dihadapan kami semua ngarti lo!!Salah seorang dari mereka menghardikku sambil menampar papaku kuat-kuat.Papaku langsung terjungkal dan menangis sesenggukan dia mencoba menjauhkan aku darinya ketika aku mendekatinya.

Sekilas aku melihat kemaluan papaku yang telah layu. Walaupun sudah layu ternyata kemaluan papaku lumayan besar dengan dihiasi bulu-bulu kemaluan yang sudah mulai beruban.

Aku segera menggenggam kemaluan papaku, dan perlahan lahan aku menundukan kepalaku. Aku mulai menghisap dan menjilat kepala kemaluannya dengan lembut.

Meskipun dalam keadaan tertekan, reaksi tubuhnya tetap tidak bisa dicegah. Perlahan tapi pasti batang kemaluannya mulai mengeras. Aku semakin giat mengulum-kulum batangnya kumainkan jemari lentikku di kedua biji pelirnya dan bergantian lidahku menyapunya kanan dan kiri.

Aku berjongkok diatas badannya kuraih batang kemaluanya dan mulai memasukan dengan hati-hati ke lubang kemaluanku. Badan papaku menggigil hebat bibirnya nampak berdarah.

Rupanya dia menggigit sendiri bibirnya berusaha mati-matian agar dirinya tidak terangsang. Tetapi semua usahanya sia-sia sekuat apapun usahanya, dia tetap tidak bisa menipu reaksi alami tubuhnya sendiri.

Dapat kurasakan ujung kepala kemaluan papaku semakin lama berdenyut semakin kencang bertanda sebentar lagi akan segera mencapai orgasme aku semakin memperkencang goyangan pinggulku aku berharap agar semuanya cepat berakhir

“Udah cukup minggir sono keenakan lo. Sekarang waktunya lo mampus menyusul anak lo yang satunya itu!!”Rupanya mereka memperhatikan secara cermat mimik muka papaku mereka sudah menduga papaku akan segera orgasme

“Aarrrgh….aduh…!!”Pemandangan ini tak akan aku lupakan barang sedetikpun dalam hidupku. Aku menyaksikan mereka memotong kemaluan papaku.

Dari pangkalnya darah segar bercampur sperma muncrat dengan deras dari selangkangannya. Segera lantai rumah kami berceceran darah kental sementara itu bau anyir darah langsung tercium

Aku menjerit-jerit histeris meraung-raung sekuatnya dua orang yang menahanku sampai kewalahan.Sampai lima orang akhirnya baru bisa membekukku. Dengan paksa mereka menunggingkanku entah jari siapa, dengan kasar mengorek-ngorek anusku meludahinya berkali kali. Dan dapat kulihat dia menggengam potongan kemaluan papa yang masih tegang dan memasukannya secara paksa ke anusku.

Bentakan dan caci maki kotor berhamburan deras dari mulut mereka. Aku merasakan kepalaku begitu berat. Ada suara-suara bentakan dan ancaman yang sepanjang siang aku telan, berklebatan silih berganti melintas dalam kepalaku.

Aku bisa merasakan kemaluan papaku kini sudah sempurna menjejali anusku. Mereka kini telah melepaskanku sambil tertawa riang. Suara tawa yang lebih mirip suara iblis dari dalam neraka yang paling jahanam.

Tubuhku menggigil hebat entah kenapa aku berdiri sendiri. Aku bahkan samasekali tidak punya maksud. Aku juga kaget dari mulutku meluncur kata-kata kotor yang tidak pernah aku ucapkan tanpa bisa aku tahan. Rasanya seluruh tubuhku sudah tidak sinkron lagi dengan yang aku pikirkan dan melakukan pemberontakan terhadap otakku.

Dapat aku lihat salah seorang dari mereka melangkah mendekatiku rupanya dia telah siap menghabisiku. Dengan sepotong pipa besi yang digenggamnya erat-erat.

Dengan tiba-tiba aku merangkak dan mulutku mengeluarkan suara menggonggong mirip suara anjing. Sementara tanganku yang satunya memakan onggokan bulu kemaluan yang ada digenggamanku.

Tiba-tiba aku merasakan perutku melilit-lilit. Dan dalam sekejap tanpa bisa aku cegah lagi,aku mengejan.Aku berak dihadapan mereka kotoranku teronggok menumpuk menimbulkan bau tidak sedap.

Aku berusaha memalingkan muka tapi entah kenapa tidak bisa aku gerakan. Bahkan dengan merangkak dan menggonggong-gonggong seperti anjing, aku menghampiri kotoranku sendiri dan mulai menyantapnya bulat-bulat sampai tak bersisa.

“hi….Wah cewek ini sudah menjadi gila…ha…ha….lihat dia makan taiknya sendiri ih…jorok amit-amit bau banget ayo kita pergi dari sini!!Orang yang hendak menghabisiku terkejut dia meloncat mundur dia begitu kaget melihat tingkah anehku.

Aku sendiripun tidak kalah kagetnya aku keheranan dan berpikir apa yang telah terjadi pada tubuhku ini sekuat apapun aku memerintahkan anggota badanku semuanya percuma sepertinya Tubuhku sudah dikuasai oleh kekuatan asing yang akupun tak kuasa menolaknya.

“Mampuss lo,puas gue sekarang lihat lo uda jadi sinting.Akhirnya gerombolan massa itu meninggalkanku sendiri sayup-sayup suara mereka semakin menghilang seiring dengan pandanganku yang juga semakin gelap.

Aku sempat dirawat disebuah penampungan entah sudah berapa hari aku berada disana, sejak peristiwa jahanam itu aku sering kehilangan kesadaran, dan walaupun sadarpun aku sudah tidak mampu lagi mengontrol diriku.

Entah apa saja yang dikerjakan tubuhku selama akal sehatku menghilang sejenak.Aku ditangani secara khusus selama beberapa minggu,Mereka mencoba menyadarkanku.Ingin rasanya aku memberitahukan mereka apa yang aku rasakan tapi aku samasekali tak berdaya terpenjara dalam tubuhku sendiri sampai akhirnya mereka memutuskan bahwa aku sudah tidak tertolong lagi.

Sikapku yang agresif dan memalukan mengakibatkan aku dikurung didalam suatu ruangan khusus.

Sampai pada suatu hari, ada seseorang yang datang menjemputku aku mengenalinya ternyata yang menjemputku adalah adik perempuan dari mamaku.

Aku melihat kesedihan yang begitu dalam terpancar dari matanya ketika melihat keadaanku,Segera aku dipindahkan kerumahnya.Dengan penuh kelembutan, dia berusaha merawatku meskipun dia tahu aku sudah gila, dia masih memperlakukanku seperti orang waras.

Dia bercerita bahwa family kami semuanya sudah pada mengungsi ke luar negeri dia sendiripun sudah menjadi warganegara singapore dan dia bermaksud mengajakku.

Saat ini dia sedang mengurus proses penjualan rumahnya yang masih belum laku dia juga bercerita tentang keadaan dirinya yang sudah bercerai dari suaminya.Dia berpesan kepada para pembantunya agar merawatku sebaik-baiknya karena untuk sementara waktu dia harus kembali ke Singapore beberapa minggu

Bibiku ini cukup pengertian. Sengaja dia mempekerjakan pembantu wanita,mengingat segala polah tingkahku yang memalukan.

Setiap kali aku dipakaikan busana, aku selalu memberontak aku mencabik-cabik setiap busana yang hendak dipakaikan padaku akhirnya mereka menyerah dan membiarkanku tetap berkeliaran telanjang bulat.

Parasku yang cantik dan tubuhku yang sintal dikhawatirkan akan memancing hal-hal yang tidak diinginkan jika mempekerjakan pembantu pria.

Aku samasekali tidak diizinkan untuk keluar rumah. Selama beberapa minggu dirawat membuatku sedikit lebih baik. Frewkwensiku bertingkah layaknya anjing sudah berkurang walaupun masih belum bisa dihilangkan 100% Bibiku tetap percaya suatu saat aku bisa disembuhkan.

Aku cukup beruntung pembantu-pembantu bibiku walaupun ditinggal berminggu-minggu cukup bisa diandalkan. Dengan cermat aku masih dirawat mereka berusaha mencegahku jika aku mulai bertingkah seperti anjing atau melakukan masturbasi.

Kebiasaanku bermasturbasi sendiri sungguh sangat menyiksaku aku tak bisa mencegah jari jariku menggosoki dan memilin-milin itil atau putingku sendiri meskipun aku telah orgasme berulang kali, sehingga menyebabkan organ intimku itu terasa perih.

Semua mulai berubah ketika satu persatu pembantu mulai berganti. Pembantu-pembantu yang baru ini tidak bisa diandalkan entah apa yang dilakukannya.

Sering aku ditinggal sendirian dirumah seharian tanpa makanan sementara itu bibiku mengira aku masih baik-baik saja lantaran pembantu-pembantunya yang baru ini pandai mengambil hati bibiku ketika beliau dirumah.

Nasibku kembali menjadi lebih buruk lagi ketika suatu pagi pembantu tersebut lupa mengunci pintu pagar tanpa bisa aku cegah lagi kakiku melenggang keluar dari rumah.

Aku hanya bisa menjerit-jerit dalam hati seberapa kuatnya aku berusaha tetap tidak berhasil kakiku terus melangkah semakin menjauh dari rumah tanpa tujuan.

“Orang gila..orang gila…orang gila…”Segerombolan anak-anak meneriakan yel-yel itu sambil mengikutiku dari belakang ditengah teriknya sinar matahari siang itu, tubuhku yang telanjang bulat melenggang santai menyusuri jalan.

Aku menjerit-jerit dalam hati aku berharap ada keajaiban yang datang untuk menyelamatkan rasa maluku yang luar biasa.

Harga diriku rasanya benar-benar hancur berkeping-keping tanpa sisa. Keringat dingin dapat aku rasakan meluncur deras dari segala pori-pori kulitku.

“Busyet…masa cantik-cantik ga waras pasti baru kabur tuh”Aku segera menjadi pusat perhatian dari warga sekitar. Sebagian ibu-ibu menarik anaknya dan menutupi matanya untuk tidak menyaksikan pemandangan yang tidak sepantasnya dilihat oleh anak dibawah umur.

Sedangkan aku sendiri untuk memejamkan mataku sendiripun tak mampu aku dipaksa menyaksikan bulat-bulat perbuatan tubuhku yang memalukan diriku sendiri.Mataku mulai nanar dan pandanganku mulai gelap aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya

“Hush..hayo bubar…bubar ketika akhirnya rombongan petugas mengamankanku. Aku tak tahu sudah berapa lama aku pingsan yang terakhir aku ingat adalah sewaktu aku berhasil lolos dari rumah bibiku dan menjadi olok-olokan anak-anak dikampung.

Yang aku rasakan sekarang seperti ada sesuatu yang bergerak dalam perutku.Ya tuhan apakah aku hamil? ternyata aku harus menerima kenyataan pahit itu.

Ketika aku sadar, kini perutku telah membuncit. Kemudian Aku secara paksa dinaikan ke mobil dan akhirnya aku tiba ditempat ini. Aku digelandang ke bangsal perawatan bercampur dengan ratusan orang yang tidak waras lainnya.

Pada prinsipnya manusia itu sebenarnya binatang yang membedakan adalah akal budi saja ketika manusia kehilangan akal budinya maka tidak ada bedanya dengan hewan.

Meskipun orang-orang disini, termasuk aku sudah disebut gila, tetapi naluri primitif bawaan setiap insan mahkluk hidup tetap ada yaitu naluri untuk bersetubuh.

Meskipun hatiku menjerit-jerit, tapi tubuhku seakan menemukan surganya ditempat ini kepuasan demi kepuasan hewani terus mengguyuri tubuhku yang telah kotor ternoda.”

Mendadak raut muka Susan berubah tubuhnya gemetar menggigil hebat. Aku berpikir jangan-jangan pikiran sadarnya kembali lenyap.”Apa kau baik-baik saja?”aku bergegas mendekatinya nampak keningnya dibanjiri peluh sebesar biji jagung yang mengalir deras.

“Mmmph…Sssh..argh….sssh…hah…hegh…”Hanya erangan-erangan pendek yang muncul dari mulutnya

“Ssh..sh…ko Tolong saya…tolong saya ko….”Tubuhnya kini menggelinjang tak keruan.”Apa yang bisa aku tolong?”Aku bertanya semakin kebingungan dengan keadaannya.

Nampaknya ada sesuatu yang hendak diucapkannya tapi begitu berat.Aku hanya melihat tatapan matanya yang seolah-olah penuh pengharapan kepadaku pipinya nampak semakin memerah seperti kepiting rebus.

“Aku panggil pak Dahlan sebentar ya?”Akhirnya aku memutuskan untuk menghubungi pak Dahlan. Aku takut terjadi sesuatu pada diri Susan.

“Egh..sh….ah.Jangan ko”Kepalanya nampak menggeleng aku tidak tahu apakah menggeleng tanda tidak setuju atau yang lain karena aku tahu dia tidak dapat mengontrol tubuhnya sendiri.

“Sssh…sgh..ah…ko tolong remasi tetekku, dan memeku ko”Aku terperanjat mendengarnya.

“Apakah kamu sadar Susan?Apakah kamu yakin pada yang kau ucapkan?” Aku tidak begitu yakin akan ucapan Susan bagaimanapun keadaannya sekarang masih sebagai penyandang penyakit kejiwaan.

Tangannya yang terikat kebelakang dengan Jaket pengaman memang membelenggunya tapi aku tidak berani untuk melepaskannya walaupun selama wawancara tadi dia samasekali tidak menampakan gejala kegilaan tetapi aku tetap tidak mau mengambil resiko dengan melepaskannya.

Sementara itu,Pinggulnya nampak semakin liar bergerak maju mundur seakan-akan mencari sesuatu yang bisa digesekan ke selangkangannya.

“Argh…sssh….cepat ko aku..sudah tak tahan lagi..cepat buka ada resleting khusus dibagian dada dan tepat diselangkanganku ssh…ugh…sssh..”Aku tidak begitu yakin jaket ini nampaknya tidak ada resleting lain selain kait pengaman kunci utama tetapi begitu aku perhatikan lebih teliti dan aku dekati, ternyata apa yang dikatakan Susan benar.Ada 3 resleting kecil 2 melingkar tepat di kedua belah payudaranya sementara yang satunya lagi tepat melingkar dibagian selangkangannya.

Aku memutuskan untuk menghubungi pak Dahlan aku tidak mau mengambil resiko dengan menuruti kemauan gilanya itu. Tapi Susan sepertinya mengetahui maksudku itu. Kembali dia memohon agar aku tidak menghubungi pak Dahlan.

Akhirnya aku beranikan diri untuk membuka ke 3 resleting itu setelah sebelumnya aku keluar ruangan sejenak untuk memastikan keadaan masih tetap sepi.

Dengan agak Canggung aku mulai meraba kemaluannya. Jariku terasa lembab basah berada diantara kerimbunan bulu kemaluannya.

Jemariku berusaha menjelajah lebatnya bulu kemaluan susan untuk menemukan secuil daging yang bisa memberikan kenikmatan ketika akhirnya aku berhasil menemukan klistorisnya dan mulai mengurutnya perlahan-lahan.

Kini keadaan Susan mulai sedikit tenang.”ehm..shh…ko sekarang hisap putingku ko tolong sgh..sh… “Terus terang sejak tadi mendengarkan kisah perkosaan Susan yang detail dan exsplisit, nafsu birahikupun sudah naik keubun-ubun.Kini dengan sentuhan fisik seperti ini akhirnya bobol juga pertahananku.

Segera aku kulum puting susunya tubuhnya bereaksi menggelinjang kegelian ketika aku gigit-gigit kecil kedua putingnya secara bergantian.

Sementara itu kemaluanku berdenyut-denyut minta jatah. Jujur saja aku takut perbuatanku terpergok oleh pak Dahlan tapi nafsuku yang sudah naik keubun-ubun membuatku nekat untuk tetap meneruskan perbuatanku.

Segera aku selipkan batang kemaluanku ke lobang kenikmatan yang siap tersaji didepannya. klistorisnya nampak telah membengkak mencapai ukuran maksimalnya nampak berkilat dan berdenyut-denyut kencang ingin segera dimasuki oleh kemaluan pria.

Tubuhku mengigigil meresapi kenikmatannya, ketika ujung kepala kemaluanku secara perlahan mulai terhisap masuk kedalam kemaluan Susan.

Semakin dalam kemaluanku masuk, semakin terasa nikmat sensasinya. Kemaluan kami berdenyut seirama bergantian dapat kurasakan kepala penisku seperti dihisap oleh mulut nikmatnya sampai ke sungsum.

“ergh..shs…aku ngga Tahan lagi san aku mau keluar….shh..oh..ah..”kemaluanku bergetar-getar hebat hendak memuntahkan cairan kenikmatan yang sekian lama hanya mengendap di kantung pelirku.

“Shh..sebentar ko…arghh…aku juga mau keluar srgh…ouh..”Rupanya Susan juga sudah hampir mencapai klimaksnya.

“Arrgh…ssh…ah….ough….aku keluar sh…..”Akhirnya aku tak kuasa lagi membendung cairan kenikmatanku bersamaan itu aku juga merasakan kemaluan Susan seakan menyedot habis seluruh cairan kenikmatanku.

Untuk beberapa saat kelamin kami masih menyatu rasa nikmat luar biasa kurasakan merata menjalar keseluruh pembuluh darahku

“Maafkan aku Susan, tidak sepantasnya aku berbuat seperti ini kepadamu.”Buru-buru aku kembali merapikan pakaianku dan Jaket pengamannya.

Apa yang kuucapkan benar-benar muncul dari dalam hatiku yang paling dalam,sebenarnya aku sangat menyesali perbuatanku tadi.

“Tidak apa-apa ko Susan justru berterimakasih koko mau menolong memuaskanku. Aku akan melanjutkan kisahku yang tadi. Kuharap koko bisa menolongku keluar dari tempat ini.”Susan menghirup nafas dalam-dalam matanya kembali menerawang menggali sisa-sisa memorynya yang masih ada.

“Sejak kejadian perkosaan yang menimpa diriku,dan akhirnya aku sadari diriku sudah tidak normal lagi, aku terpuruk menjadi budak nafsu birahi.

Sehari saja aku tidak bermasturbasi atau bersetubuh, rasanya seperti mau mati. Memang selama disini kebutuhan biologisku terpenuhi tapi terlalu berlebihan sehingga alat kelaminku lebih sering terasa perih dan kebas daripada nikmat sedangkan aku sendiri tak mampu untuk menghentikannya.”

“Selama disini, dalam keseharianku hanya bersetubuh entah berapa ratus kemaluan laki-laki yang silih berganti memasuki kelaminku termasuk Pak Dahlan dan Atasannya.

Jaket Pengaman inipun khusus dirancang untukku. Atasan Pak Dahlan sepertinya punya prilaku sex yang menyimpang. Dia merawat baik tubuhku.

Kadang aku dibawa bersama pasien pria secara sembunyi-sembunyi. Kami sengaja dilepaskan ditengah keramaian. Dengan keadaan kami yang mirip binatang maka begitu dilepaskan, kami langsung bersetubuh tanpa mempedulikan tempat. Sementara itu, anak buahnya mengabadikan persetubuhan kami dari berbagai sudut setelah Massa mulai berkerumun menyaksikan aksi cabul kami baru kemudian dia bersama anak buahnya seolah-olah mengamankan kami.

“Oh…dia mau datang..mau datang….ko…maafkan aku ko……argh…..hegh….Hauk-hauk..nguk-nguk heh…lepaskan aku aku harus menari bugil entotin aku cepat…..!!”Mendadak Tatapan mata Susan nampak kosong mulutnya mulai mengoceh sesuatu hal yang tidak jelas sebagian besar sumpah serapah dan maki-makian kotor atau suara-suara mirip anjing.

Aku sadar kegilaan Susan sudah kembali menguasai dirinya Aku Segera menghubungi pak Dahlan untuk kembali memasukan Susan di ruangannya. Aku begitu sedih menyaksikan keadaannya tekadku semakin kuat untuk mengeluarkanya dari tempat ini.

“Pak Dahlan apakah tidak sebaiknya kita pisahkan mereka.”Hatiku begitu pedih saat tubuh putih Susan sedang disetubuhi dalam posisi doggy style.

Sebelah pahanya terangkat tinggi-tinggi kemaluan pria dari indonesia timur itu nampak kontras menyatu dengan putihnya tubuh Susan.Dengus nafasnya terdengar seperti kereta api diselingi erang kenikmatan Susan.

Tubuh keduanya bergetar hebat bergoyang tak beraturan memacu sekencang-kencangnya nafsu hewani kedua insan yang kehilangan akalnya ini.

“Dik Adrian,ngga usah kaget justru dengan demikian keduanya akan tetap sehat.Dulu pernah kami terapis untuk mengendalikan nafsu birahinya tetapi malah berakibat fatal tekanan darahnya naik secara frontal jika ini dibiarkan dikhawatirkan akan memecahkan syaraf-syaraf motoriknya yang bisa menimbulkan kelumpuhan permanen atau lebih parah lagi bisa koma selamanya.

“Tapi apakah tidak berakibat buruk pada rahim dan alat kelaminnya dan bagaimana pula jika dia hamil. bukankah pihak rumah sakit akan lebih repot lagi?”Aku mencoba mempertahankan argumentasiku

“Dulu waktu Susan ditemukan dalam keadaan Hamil tua anaknya sudah diadopsi dan dirawat dengan baik. Dia ditemukan tersekap di sebuah bedeng bekas proyek pembangunan mall. 30 orang pelaku termasuk mandornya juga sudah kami amankan menurut pengakuan mereka, sudah 4 bulan mereka menyekapnya.

Susan dijadikan obyek pelampiasan nafsu birahi mereka. Selama disini juga Susan juga pernah hamil sampai 2 kali akibat prilaku sexualnya terhadap pasien-pasien pria. satu keguguran satunya juga sudah diadopsi dengan baik.

Sejak peristiwa yang terakhir kami bekerja sama dengan dinas kesehatan untuk memvasektomi pasien-pasien pria sehingga segala masalah kesehatan terjamin, karena tidak mungkin kami memisahkan mereka semua terkait dengan minimnya tempat penampungan dan subsidi dana atas rumah sakit ini. Makanya kami sangat berharap agar konsorsium yang diwakili bapak Adrian bisa segera mencairkan dana hibah agar kami bisa segera membenahi masalah kami.”Pak Dahlan dengan semangat menjelaskan masalahnya.

“Wah kebetulan semalam saya juga sudah ditelepon pimpinan saya menanyakan perkembangannya. Apakah boleh saya pinjam komputer sebentar agar data-data yang saya peroleh bisa segera saya e-mail kekantor?sebenarnya aku hendak menyelidiki lebih lanjut ketidak beresan yang terjadi di RSJ ini.

“Oh tentu saja pak Adrian mari silahkan ke ruangan pak kepala pake saja sendiri maaf saya tidak bisa menemani”Akal bulusku berhasil juga rupanya dengan segera pak Dahlan mempersilahkanku masuk ke kantor pimpinanya.

Ruangan ini cukup nyaman dan lega aku melihat sekeliling mempelajari keadaan ada sebuah komputer yang masih baru yang terhubung dengan internet.

Disampingnya ada lemari besar yang nampaknya berisi tumpukan koran dan map-map aku membukanya sebentar ternyata pak kepala suka membaca sebuah harian berita kriminal yang isinya lebih mirip cerita stensilan dengan bahasa jurnalistik yang norak

beberapa halaman nampak bekas digunting. Pandanganku beralih ke tumpukan Map yang ada disampingnya. Rupanya Tumpukan map itu berisi kliping dari koran-koran picisan itu.

Aku kaget membaca salah satunya yang berjudul “Aksi nekat pasangan Cabul bersetubuh di perempatan jalan padat lalu lintas”berita kali ini lengkap dimuat dengan foto yang nampak vulgar hanya di blur pada bagian mata dan alat kelamin masing-masing.

Tidak sepantasnya foto mesum seperti itu dipajang sebagai headline. Sementara di halaman belakang terjepit rapi kwitansi pembayaran entah untuk apa yang nilainya cukup besar.

Aku menduga rupanya pak kepala ada kerjasama dengan wartawan harian mesum ini. Aku langsung teringat cerita Susan yang bercerita sengaja dilepaskan ditengah jalan bersama pasien pria. Rupanya ini alasan semuanya.

Aku kemudian membuka komputer dan mulai memeriksa folder-folder yang ada rupanya pak kepala tidak cukup terampil dan hanya mengandalkan fasilitas folder option.

Sejak awal aku sudah curiga. Komputer ini sedikit sekali program dan file-filenya. Tapi kenapa hardisk seukuran 250Gb ini sudah nyaris penuh?.

Ternyata di salah satu folder Hiden, terdapat ribuan file movie dan picture yang mengabadikan aktivitas-aktivitas persetubuhan liar pasien-pasien sakit jiwa ini.hampir semuanya diperankan oleh Susan. Paras yang cantik ternyata berbalik menjadi sebuah kutukan yang mengerikan bagi dirinya.

Tak bisa kubayangkan sebelumnya, kebejadan moral oknum yang mengexsploitasi prilaku sexual orang sinting.

Sehingga aku bingung sendiri siapa yang sebenarnya sinting disini.Segera aku mengcopy data-data penting tersebut aku berniat untuk membongkar segala kebusukan yang telah terjadi di RSJ ini.

Beberapa bulan kemudian hasil laporanku telah dimuat di majalah terkenal. Kecaman keras baik pro dan kontra segera bermunculan.

Hasil bidikan-2x kameraku yang fenomenal langsung mengangkat drastis rating artikelku. Sedangkan Pihak pemerintah dengan keras menyangkal semuanya.

Akhirnya kasus ini lenyap dengan sendirinya oknum-oknum yang terlibat menurut info yang terakhir aku peroleh, telah dimutasikan walaupun tidak mendapatkan proses hukum. berdasarkan atas dasar demi kepentingan regional.

Sedangkan Susan berhasil aku selamatkan. Kesehatannya telah jauh membaik dan segala ingatan buruknya telah berhasil dihilangkan setelah menjalani terapi hipnotis dari seorang pakar psikolog ternama di singapura. Kini Susan telah membuka lembaran baru dalam hidupnya terlepas dari bayang-bayang kelam masa lalunya.

fist Time

Filed under: PERKOSAAN

“Ya silahkan saja perkenalkan dirimu!”Ryuji Watanabe menatap tajam penuh selidik gadis sintal yang duduk di depannya.

“Namaku Lee eun byong umurku 19 tahun aku berasal dari chosan korea utara.”Suara Lee eun byong terdengar sedikit gemetar, kepalanya tertunduk tak berani menatap langsung tuan Ryuji Watanabe.

Lee eun byong yang sebenarnya cantik, menjadi terlihat kurang cantik dan seksi dengan balutan kemeja dan rok longgar yang modenya sudah ketinggalan zaman beberapa tahun lalu.

Bajunya berwarna gelap, kontras dengan kulitnya yang putih mulus tanpa cacat. Gaya rambutnya yang panjang bekepang dua khas negeri komunis korea utara juga menjadikannya terkesan kuno dan norak.

Sedangkan rok yang dikenakan Lee eun byong cukup panjang di bagian bawah sehingga kakinya yang sebenarnya jenjang terlihat kurang menantang. Hanya pantatnya yang bulat terdorong ke atas yang masih tidak bisa disembunyikan oleh roknya, sangat menggiurkan mata yang memandang.

Tapi tentu saja dari semua keindahan tubuh memikat Lee eun byong, yang paling menarik adalah buah dadanya yang membusung dan ranum, sangat menggairahkan,

Sosok Ryuji Watanabe memang patut disegani sebagai salah satu tokoh Yakuza di daerah Shibuya sorot matanya yang tajam memang sangat berkharisma, ditambah lagi sekujur badannya yang penuh ornamen tatto klasik khas anggota yakuza. Nampak kelingking sebelah kirinya sudah buntung entah karena peristiwa apa.

“Hmm..lalu apa lagi..?! cepat jangan buang-buang waktuku”Suara serak bernada dingin menusuk Ryuji Watanabe memecah kesunyian diruangan itu. Meskipun sepintas penampilan Lee eun byong terlihat sangat kuno dan norak, tetapi sebagai seorang yang sudah lama berkecimpung didunia hitam, Ryuji Watanabe langsung dapat melihat dengan jelas kecantikan luar biasa yang tersembunyi dibalik penampilan Lee eun byong.Ia hanya berpura-pura sama sekali tidak tertarik untuk bisa mendapatkan kontrak kerja dengan harga yang sangat murah dari calon korbannya ini yang masih sangat naïf.

“Tinggiku 165 Cm beratku 52 Kg ukuran dadaku 34 C golongan darahku AB, aku pernah bermain di suatu pertunjukan drama sekolah di kampung halamanku.”Lee eun byong menarik dalam-dalam nafasnya. Entah pikiran gila dari mana yang akhirnya membawa dirinya ke tempat rumah produksi film porno ini.

“Hmm…kamu pendatang illegal dari korea utara. Walau kasus mu sepele, tapi jika sampai kamu dideportasi kembali ke negaramu kamu bisa dieksekusi dengan tuduhan mata-mata. Sebenarnya dari interview ini, aku rasa kamu tidak cocok kamu hanya akan buang-buang waktu dan uangku saja. Nah sekarang silahkan keluar. Taro antar nona ini keluar !”Ryuji Watanabe memerintahkan anak buahnya untuk mengantar Lee eun byong.

“Sebentar tuan, aku pernah mendapat peran utama dan aku suka bermain drama di sekolahku dulu. Lagi pula hanya ini saja harapanku tuan, tolong pertimbangankan lagi tuan.”Lee eun byong mencoba sekali lagi meyakinkan boss mafia itu.

“Gadis bodoh….kamu pikir peran amatir mu di negrimu itu berguna..?! Kamu sadar ngga..?!! Kamu ini akan main film porno! Ngerti kamu..?! Aku tidak pernah memaksa orang. Aku cuma butuh pemain yang profesional yang pantas di bayar tinggi. Gaya bicaramu saja masih canggung begitu hanya akan buang waktu saja. Kamu tahu tidak biaya produksi sebuah film porno? Untuk pemeran profesional saja yang aktingnya sempurna sudah menghabiskan biaya 500 ribu yen belum termasuk honor pemainnya. Sudahlah lebih baik urungkan niatmu lagi pula aku tidak mau terlibat perkara hukum dengan memperkerjakan pendatang illegal sepertimu.”Ryuji Watanabe tetap tidak mengubah keputusannya.

“Tolonglah tuan aku sangat membutuhkan banyak uang untuk biaya ibuku di kampung halaman. Aku bersedia menerima apa saja syarat tuan.”Lee eun byong masih berusaha sekuat tenaga kembali meyakinkan boss mafia itu.

“Dasar keras kepala, Oke aku pertimbangkan lagi. Kamu dengar baik-baik dulu syarat-syaratnya Taro, coba kamu jelaskan semuanya kepada nona ini.”Setelah terdiam beberapa saat akhirnya Ryuji watanabe angkat bicara.

“Baik nona, sebagai pemeran film porno, anda harus dituntut bersikap alami tanpa dibuat-buat ekspresimu dituntut harus benar-benar merangsang birahi penonton. Setiap salah dialog atau gerakanmu salah, adalah suatu pemborosan biaya produksi. Kamu juga harus kooperatif dengan sutradara dan lawan mainmu. Juga wajib menyanggupi apapun tema film kami. Adapun tema film rumah produksi kami adalah pemerkosaan, gangbang, enema, beastility, exhibitionist, dan bukkake. Kalo kamu tidak paham istilah istilah tadi nanti dapat kamu pelajari di surat kontraknya disana akan diuraikan satu persatu secara detail. Selain itu, yang terpenting kamu juga harus lulus test kesehatan untuk mencegah penularan penyakit HIV atau penyakit mematikan yang lainnya. Satu lagi karena kamu pendatang illegal, kami tidak menanggung akibatnya jika suatu saat kamu tertangkap pihak kepolisian pada saat syuting. Walaupun usaha film porno adalah legal di Jepang, tapi ada perkecualian jika syuting dilakukan di area publik khususnya pada film bergenre exhibitionist paham..?! kalo kamu keberatan dengan syarat-syarat kami silahkan mundur kami tidak pernah memaksa. Aku lihat kamu gadis baik-baik, apa alasanmu mau bergabung dengan kami..? Apa kamu pernah berhubungan sex dengan pria sebelumnya..?” Sebenarnya Taro merasa heran juga dengan kenekatan Lee eun byong

“Saya pernah berhubungan dan masih berhubungan dengan teman pria saya. Saya butuh uang banyak dalam sekejab karena ibu saya sedang butuh biaya berobat. Tapi saya juga tidak mau melacurkan diri karena takut kena penyakit lagi pula cukup untuk kali ini saja. Satu lagi, kalo boleh lawan main saya adalah teman pria saya bagaimana… bisa..?”Dengan penuh harap, Lee eun byong berharap Park Ji Sun kekasihnya bisa menjadi partnernya.

“Ha..ha..ha…berani-beraninya kamu tawar menawar. kamu pikir kamu siapa hah! Bermain film porno itu tidak semudah yang kamu bayangkan tahu..?! untuk tampil telanjang bulat didepan satu orang lain saja kamu akan merasa malu luar biasa. Sedangkan untuk main film porno paling sedikit kamu harus bugil dihadapan 5 orang disamping itu kamu juga harus ngesex didepan orang. Kalo kamu aku mungkin percaya karena kamu cewek memekmu cuma pasif menerima tapi kalo cowokmu aku tidak yakin tekanan psikologis rasa malu akan membuat kontol cowokmu ngga bakal bisa ngaceng. Tapi it’s Ok aku suka sikapmu kebetulan kami juga masih kekurangan pemain pria. Bawa teman priamu kemari sebelum kami putuskan untuk menerima atau menolaknya.”Taro tertawa tergelak-gelak mendengar penawaran Lee eun byong.

“Terimakasih tuan, saya rasa teman pria saya bisa kami sering bercinta. Dia tetanggaku dari kecil kami sama-sama dari korea utara.”Lee eun byong akhirnya bernafas lega.

“Nah sekarang kita coba mulai casting awal, Copot semua bajumu aku ingin melihat apakah tubuhmu memenuhi syarat.”Dengan ekspresi suara yang masih tetap datar dan dingin Ryuji Watanabe memerintahkan gadis didepannya itu untuk segera melucuti busananya sendiri.

“Ba..baik tu..an.”Meskipun dari awal Lee eun byong sudah menyadari resikonya, tapi tetap saja jantungnya berdegup lebih kencang. Baginya baru kali ini ia harus tampil tanpa busana didepan pria lain selain Park ji sun kekasihnya.

Dia pun pelan-pelan menurunkan bajunya sambil tetap menyilangkan tangannya didepan dada menutupi dadanya yang montok itu. Ryuji watanabe dan Taro tidak berkedip memelototi tubuh molek Lee eun byong yang pelan-pelan mulai tersingkap.

Pertama-tama bahunya yang terlihat dengan tali bh-nya yang juga berwarna merah, kemudian punggung dan selanjutnya perut mulusnya. Tetapi Lee eun byong sendiri tetap menyilangkan tangannya di depan dada

“Tuan.. sudah cukup yah..segini aja.”

Ryuji watanabe dan Taro sendiri sudah tidak tahan “Belum tadi kami bilang khan copot semuanya sampe telanjang bulat, nah ayo buka behanya. Kami mau lihat toked kamu”.Lee eun byong cuma tertunduk lesu

Lee eun byong menarik behanya dan memperlihatkan sepasang payudaranya yang montok sempurna. Lee eun byong memakai bh yang mempunya kaitan di depan sehingga dapat dibuka dengan cepat . Ryuji watanabe dan Taro tampak terkesima melihat pemandangan indah di hadapannya.

Payudara Lee eun byong nampak bulat kenyal dan mengacung kencang dengan puting berwarna pink kecoklatan yang menjulang. Ditambah dengan perutnya yang rata sehingga payudaranya kelihatan besar.

Itu semua sebab Lee eun byong rajin olahraga untuk menjaga tubuhnya. Nampak jemari Lee eun byong mulai sedikit bergetar ketika akhirnya tinggal bra berendra dan celana dalam berwarna merah saja yang tertinggal

“Hayo…jangan ragu-ragu waktu kami terbatas.”Suara Taro kembali memecahkan keheningan.

Meski suhu udara cukup dingin, Peluh sebesar biji jagung meluncur deras dari berbagai pori-pori tubuh Lee eun byong. Jemarinya semakin gemetar keras ketika meloloskan celana dalam sebagai kain terakhir penutup tubuhnya.

Tubuh Lee eun byong kini telah bugil total di depan Ryuji Watanabe dan anak buahnya. Lee eun byong merasa sangat risih. Tubuh telanjangnya kini dijelajahi secara detail inci demi inci oleh tatapan penuh selidik.

Meskipun sudah sering ia bertelanjang bulat di depan Park Ji sun kekasihnya, tetapi untuk berbugil didepan pria lain selain pacarnya cuma sekedar rencana sewaktu terpikir untuk bermain sebagai artis film porno dadakan.

Dan benar seperti yang Taro katakan tadi ternyata beban psikologis rasa malu yang sangat dahsyat menjadi hambatan yang rasanya mustahil untuk dilupakan.

“Hmm…lumayanlah, coba berputar..ya cukup tahan.”Lee eun byong terkesiap tubuhnya menggelinjang kegelian ketika secara tiba-tiba dari belakang tangan Taro menyelusup melewati belahan pantatnya dan merabai kemaluannya yang gundul seperti bayi.

Baru kemarin Lee eun byong mencukur habis bulu-bulu kemaluannya ia merasa risih dengan kelebatan bulu-bulu kelaminnya. Belum sempat beradaptasi dengan keadaan itu, kembali tubuhnya dipaksa menerima sensasi rasa geli yang lainnya, ketika dengan kasar jari-jari Taro memilin-milin puting susu Lee eun byong mencoba merangsang puting susunya untuk tetap tegang mengacung.

“Nanti Pentil lo harus tetap diusahakan tegang mengacung seperti ini mengerti..?!! Kata Taro sambil memilin-milin kedua pentil susu Lee eun byong sampai sedikit memanjang dari ukuran yang sebenarnya gadis itu menggeliat kegelian mendapat perlakuan seperti itu.

“OK.. cukup sekarang kamu boleh berpakaian kembali. Ini ada obat penumbuh rambut. Bulu-bulu jembutmu harus dibiarkan lebat sebab selera pasar film porno memang menghendaki demikian. Nanti kalo bulu jembutmu sudah tumbuh baru coba kau datang lagi kemari. Selera pasar konsumen film porno di Jepang berbeda dengan selera pasar bule. Ini memang salah satu ciri perindustrian film porno di Jepang. Dan ini surat referensi klinik laboratorium medis untuk chek kesehatan. Sementara cukup sampai disini, CV mu akan kami pelajari dulu. Ingat jangan coba-coba mempermainkan kami. Latar belakangmu akan kami periksa kalo ada yang disembunyikan lebih baik beritahukan dari sekarang mengerti..?! Walaupun nada bicara Taro terdengar datar tapi jelas mengandung arti penuh ancaman.

“Terima kasih tuan, saya permisi.”Akhirnya Lee eun byong bisa menghirup nafas lega setelah melewati interview beberapa jam yang menegangkan. Dengan hati lebih ringan Lee eun byong melangkahkan kakinya dari tempat itu.

Sementara itu, beberapa pasang mata nampak mengawasi kepergian gadis itu dari balik jendela.”Dasar bodoh, baru kali ini aku ketemu orang setolol dia.”Ryuji Watanabe tersenyum licik. Dari balik jendela, ekor matanya mengikuti kepergian gadis itu. “Kau Tau apa yang kupikirkan Taro?”Dengan penuh senyum licik dia bertanya kepada anak buahnya.

“Boss memang cerdas kita akan memanfaatkannya tanpa membayar sepeserpun. Tapi boss, terus terang apa aktingnya bisa sebagus Maria Ozawa? Dari wawancara aja, dia sepertinya belum ada pengalaman sama sekali.”kata Taro sambil menuangkan sedikit sake dan dengan perlahan menghirupnya dengan nikmat.

“Wah kau belum terlalu pintar Taro, kau masih harus banyak belajar lagi. Aku tidak peduli pada aktingnya. Aku akan menempatkannya pada film bergenre exhibitionist. Kau lihat Taro, ekspresi mukanya yang memerah menahan malu tadi benar-benar alami. Aku bisa merasakannya jika nanti dia harus bertelanjang bulat melenggang menyusur jalanan di shibuya yang padat. Ekspresinya pasti akan lebih sempurna dari saat ini. Aku dapat mencium bau uang yang sangat banyak pada dirinya dan filmnya akan menjadi film porno yang sempurna.”Asap rokok tipis perlahan keluar dari sudut bibir Ryuji Watanabe sang gembong Yakuza

“Tapi Boss bukankah sekarang Genre Exhibitionist sudah dilarang..? Belum lama Asahi miura tertangkap tangan ketika sedang syuting di truk sampah bahkan sampai sekarang Hamada bossnya masih belum bisa keluar meskipun sudah membayar pengacara mahal.”Dengan nada berhati-hati Taro berusaha mengingatkan bossnya.

“Cuih jangan samakan aku dengan Hamada dia cuma anak kemarin sore yang baru terjun di dunia hitam, Setelah si tua bangka Uzume bapaknya mampus klan pimpinannya semakin merosot saja reputasinya. Waktu dia merangkak aku sudah jadi penguasa di sini. Taro…, gadis itu dan kekasih bodohnya adalah imigran gelap dari korea utara. Kita tak perlu khawatir. Tidak akan ada resikonya sama sekali. Seandainya terjadi sesuatupun polisi tak akan berani menangkapku. Ingat aksi kita tahun lalu..? kalo bukan jasaku si tua bangka Hideki tidak akan menjabat kedudukan sebagai menteri.”Dengan dada membusung tangannya meraih kendi botol sake dan langsung menenggaknya dalam sekali telan.

“Wah akal boss memang cemerlang pantas menyandang julukan ular beracun dari Shibuya.”Walaupun sudah bertahun-tahun mengikuti Ryuji Watanabe, Taro masih belum sepenuhnya bisa menebak siasat-siasat licik bossnya.

Sementara itu…..

“Gila lo, aku sama sekali tidak mengizinkanmu.”Mencari uang adalah tugasku lagipula masih banyak cara lain.”Park Ji sun bagaikan tersengat listrik ribuan volt ketika mendengar ide kekasihnya untuk bermain dalam sebuah film porno. Dirinya sama sekali tidak menyangka kekasihnya bisa memiliki ide segila itu.

“Ji sun dengar aku..!! kita sudah hampir setahun di sini. Tapi kita masih belum punya apa-apa penagih hutang sudah mulai menagih hutang ayah untuk membiayai pelarian kita. Sedangkan kita belum sepeserpun mengirimkan uang. Bahkan kamu sudah berulah dengan meminjam uang dari para berandalan itu untuk berjudi. Belum lagi Ibuku sakit di kampung. Apa kamu pikir dengan menjadi buruh pabrik bisa mencukupinya..? Ingat kita sudah diberi waktu 1minggu untuk melunasi tagihan sewa apartemen atau kita akan segera menjadi gelandangan.”Lee eun byong terus terang bingung dengan tindakannya.

Disatu sisi sebenarnya hati nuraninya menjerit tetapi disisi lain keadaan memaksanya untuk menerima pekerjaan yang memalukan itu. Semua jalan rasanya sudah buntu. Sementara itu Park ji sun hanya tertunduk lesu menyadari ketidak berdayaannya.

“Brak…Brak…Brak… Park Ji sun keluar kau atau kami yang akan memaksa masuk!!”Pasangan itu terloncat kaget ketika tiba-tiba pintu apartemennya digedor-gedor oleh segerombolan orang

“Cepat sembunyi, biar aku yang menemuinya mereka tak akan memukul wanita.”Dengan cemas Lee eun byong menyuruh kekasihnya itu untuk segera bersembunyi. Setelah mengambil nafas dalam-dalam beberapa kali akhirnya ia memberanikan diri membuka pintu.

“Ada apa sih berisik sekali kalian….”Mata Lee eun byong mencoba melotot. Mulut mungilnya meruncing mencoba menghardik gerombolan berandal teri itu.

“Heh..cewek sialan mana cowok lo.?!! suruh keluar dia… cepat...”Pimpinan gerombolan itu dengan tidak kalah galaknya balas menghardik sambil menyeruak masuk.

Tenaga Lee eun byong tidak cukup kuat untuk menahan pintu. Gerombolan itu terdiri dari 5 orang. Semuanya pria dengan dandanan lusuh. Dengan santai mereka melenggang masuk dan duduk-duduk seenak hatinya sambil mencomot makanan kecil dan minuman didalam kulkas tanpa permisi kepada si empunya.

“Aku tahu, Park ji sun..!! Lo sedang bersembunyi di lemarikan.?!! Baik aku punya banyak waktu. Kita lihat siapa yang bertahan. Nampaknya cewek lo lumayan juga. Lo sudah menyiapkannya buat menemani kita ya..?!! Kita lihat dulu bagaimana servisnya. Aku akan pertimbangkan untuk tidak menghitung bunganya kalo servis cewek lo memuaskan kami ha….ha…ha…”Tangan-tangan mereka mulai usil mencolek-colek pantat dan payudara Lee eun byong

“Auuuwwwrg….bangsat..kurang ajar kalian!!”Gadis itu sangat terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka gerombolan itu nekat melakukan pelecehan sexual terhadap dirinya.

“Bwaha….ha….ha…..dia tidak pake beha aku dapat merasakan pentilnya sudah ngacung dibalik kemejanya.”Gerombolan preman itu tertawa-tawa kegirangan.

“Jangan-ia juga tidak memakai celana dalam. Ayo kita coba lihat.”Mereka mulai agresif merangsek maju memojokan Lee eun byong.

“Stop…hentikan!!”Park Ji Sun akhirnya tidak sanggup melihat perlakuan gerombolan itu terhadap kekasihnya.

“Hah…dasar kau pria kerdil masih punya nyali juga kau..?!! Aku kira kau sengaja memberikan cewek lo untuk nyenengin kami. Hajar dia kawan-kawan”Dalam sekejap puluhan bogem mentah menghujani tubuh Park ji sun.

“Stop cukup..hentikan.. Kalian masih mau uang kalian dibayar tidak?!! kalau masih mau cepat hentikan..!!”Dengan putus asa Lee eun byong berusaha mati-matian mencoba menghentikan tindakan brutal gerombolan itu.

“Kau beruntung kawan. Cewek lo masih mau menolongmu”Pipi park ji sun tampak membiru bekas hajaran gerombolan itu.

“OK aku mau dengar… apa penawaranmu?”Pimpinan gerombolan itu duduk menyilangkan kakinya diatas meja dengan santai dan menyuruh anak buahnya menghentikan aksinya matanya menatap dengan tatapan mesum pada gadis yang berdiri dihadapannya.

“Berapa hutangnya pada kalian?”Dengan suara tercekat Lee eun byong memberanikan diri berkomunikasi dengan pimpinan gerombolan itu.

“Ah sedikit cuma 150 ribu Yen saja, Kapan mau dilunasi..?”Dengan enteng pimpinan gerombolan itu menyebutkan jumlah hutang Park ji sun.

“Akhir Bulan depan…”Sebenarnya Lee eun byong tidak begitu yakin akan janjinya. Tapi sudah tidak ada jalan lain lagi untuk menyelamatkan kekasihnya itu.

“Ha…ha…apa Akhir bulan depan? Keparat ini sudah menunggak hutang selama 3 bulan tanpa berniat baik menyicilnya barang sepeserpun kepada kami. Apa masih belum cukup..?!! OK aku orangnya cukup berperasaan melihat kecantikanmu, aku akan mempertimbangkannya. Tapi kalo sampai bulan depan hutangnya menjadi 200 ribu Yen dan kalau kalian tidak sanggup membayarnya kau harus tidur denganku selama 1 minggu dan selanjutnya bekerja sebagai penari telanjang di klab malam bossku bagaimana?Pemimpin preman teri itu tertawa-tergelak-gelak mendengar penawaran Lee eun byong

“Baik 200 ribu Yen kita sepakat.”Lee eun byong menatap kosong. Pikirannya sangat kacau kata-kata persetujuannya meluncur begitu saja tanpa bisa dikontrolnya.

“Bagaimana keadaanmu?”Lee eun byong mendekati kekasihnya yang masih meringis kesakitan mereka berdua terdiam beberapa saat.

“Sebaiknya lo ngga usah ikut campur cepat kemasi barang-barangmu dan pergi dari sini!”Dengan tatapan kosong menerawang dan suara bergetar Park ji sun berbisik sambil memeluk kekasihnya.

“Pergi kemana? kau egois kita berdua sudah sejauh ini melangkah. Kita hadapi bersama pasti bisa. Aku mohon dengarkanlah aku sekali ini saja kita sudah tidak ada jalan lain lagi.”Lee eun byong akhirnya tak mampu lagi membendung derai air matanya yang mengalir bercucuran dengan deras dipelukan kekasihnya. Hatinya begitu risau dihadapkan pada segala masalahyang datang secara bertubi-tubi.

“Dengan menuruti ide gilamu? Apa kau tidak malu? Bagaimana kalo ada orang di desa kita sampai ada yang tahu? Bagaimana nanti perasaan anak-anak kita kelak? Apa kau tidak memikirkannya?!

“Peduli apa? Lagi pula tidak mungkin orang di desa kita sampai tahu. Tidak ada arus informasi apapun yang bisa masuk di negeri komunis sampah seperti itu. Kita seharusnya bersyukur bisa lolos dari negeri terkutuk itu. Kelak jika kita sudah mendapat bayarannya kita kabur lagi ke negara lain dan mulai hidup baru di sana percayalah padaku.Kembali Lee eun byong berusaha meyakinkan kekasihnya.

“Tidak..aku tidak sanggup harus melihatmu telanjang bulat di depan orang lain. Lebih baik aku tidak melihatmu sama sekali..!!”Nampak Park Ji sun berusaha keras menahan air matanya untuk turun.

“Kau Egois dan jahat apa kau tega melihatku digauli orang lain selain dirimu? Aku sudah bisa meyakinkan bossnya supaya lawan mainku adalah kamu. Tolonglah aku dan dirimu sendiri. Kita sudah tidak ada cara lain lagi. lagipula cukup kali ini saja. Bayarannya sebesar 5 juta Yen. Bayangkan dengan uang sebanyak itu. Kita bisa memulai usaha baru dan hidup baru di negara lain.

“Baiklah tapi cukup sekali ini saja. Dan ingat aku melakukannya supaya kamu tetap tidak disentuh oleh pria lain.”Dengan tertunduk lesu akhirnya Park Ji sun menyetujui ide kekasihnya itu.

Dengan lembut Lee eun byong mengecup kening kekasihnya. Belaian-belain lembut silih berganti menjelajahi seluruh lekuk tubuh masing-masing kedua insan manusia itu. Dan tak lama kemudian keduanya telah bergumul berpagutan mulut memancing birahi masing-masing.

Tangan Lee eun byong dengan nakal menjelajah masuk ke celana pendek yang dikenakan kekasihnya. Kemaluan Park ji sun masih lemas, tapi sentuhan lembut kekasihnya, membuatnya perlahan menegang, elusan-elusan Lee eun byong membuat Park ji sun terangsang.

“Cewek nakal.” Bisik Park ji sun mendengus sambil tersenyum lebar. Park ji sun melepas celana pendek yang ia kenakan sehingga pria itu kini telanjang bulat tepat di hadapan Lee eun byong. “Silahkan saja kalau begitu.”Park ji sun mengedip pada kekasihnya.

Jari jemari Lee eun byong melingkar di batang kemaluan kekasihnya, dengan lembut ia menyentuh dan mengelus lembut penis kekasihnya. Dengan mantap kemaluan Park Ji sun perlahan menegang seiring sentuhan mesra kekasihnya.

Penis Park ji sun bagaikan seekor ular yang tiba-tiba saja hidup dan bergerak sendiri, menegang dan membesar. Tak berhenti begitu saja, tangan Lee eun byong mencari-cari ke selangkangan kekasihnya dan meraih kantung biji kemaluannya.

“Aku selalu menyukai sentuhanmu yang nakal,”Park ji sun tersenyum mesra pada kekasihnya yang jelita. Jari jemari Lee eun byong bermain-main dan berputar di kantung kemaluan kekasihnya.

“Aku sendiri juga suka.” Bisik Lee eun byong menggoda, lidahnya keluar dan menjilat bibir sendiri dengan binal, matanya kembali tertuntun pada batang kemaluan kekasihnya yang menegang dengan cepat.

“Omong-omong, aku hanya mengenakan kemeja dan celana jeans tanpa pakaian dalam.”Lee eun byong berbisik dengan nada sangat menggoda

Park Ji sun tersenyum. “Dasar cewek nakal.”

Park ji sun membiarkan kekasihnya bermain-main dengan kantung biji pelirnya. Tiap sentuhan Lee eun byong terasa sampai ke tulang sungsum. Park ji sun mendengus penuh gairah.

Lee eun byong memainkan kantung biji pelir kekasihnya dengan penuh perasaan, ditimang dan dielus lembut, jemarinya yan lentik bergerak menyusuri bentuk bulat kantung itu dan meremasnya pelan.

Lalu jemari Lee eun byong kembali menyusur ke batang penis kekasihnya. Digenggamnya erat batang kemaluan Park ji sun bagaikan hendak memeras saripatinya sampai habis, genggaman jari-jari Lee eun byong bergerak naik turun menyentak-nyentak batang kemaluan kekasihnya sampai pria itu mengerang keenakan.

Tapi Park ji sun tak mau menyerah begitu saja, dengan sigap ia meraih kemeja longgar yang dikenakan oleh kekasihnya.

Perlahan, ia meloloskan satu persatu kancing baju yang terkait di bagian depan kemeja yang dipakai Kekasihnya lalu beralih ke celana yang dikenakannya, tak perlu waktu lama untuk melepaskannya.

Mata Park ji sun buas menatap keindahan tubuh kekasihnya yang kini juga sudah telanjang bulat di hadapannya.

Buah dada yang menakjubkan, besar, bulat dan kencang dengan pentil susu yang menonjol ke depan seakan menantang. Saat Lee eun byong bangkit gairahnya dan mulai menuntut rangsangan tangan-tangan nakal Park ji sun.

Payudara montok itu bergerak naik turun dan berguncang dengan indahnya. Puting payudara sudah membesar sebesar biji gundu berwarna merah muda yang dikelilingi oleh lingkaran berkarang lembut yang berada di puncak gundukan daging yang sangat menawan.

Saat pandangan mata Park ji sun tertuju pada buah dada kekasihnya, puting itu perlahan mengeras dan membesar, seakan pentil susu itu sudah bersiap akan dilumat oleh mulut Park ji sun.

“Montok banget….” Bisik Park ji sun.

Lee eun byong tersenyum menggoda, Park ji sun ambruk ke dalam pelukan kekasihnya. Jemari Park ji sun membelai lembut pipi dan rambut si cantik yang memeluknya erat. Pandangan mereka saling terkait dan akhirnya bibir mereka saling terpagut. Lidah saling bertautan, saling menggilas dan saling menjilat.

Ketika akhirnya mereka saling melepas bibir, Park ji sun segera menyerang telinga dan menjilat daun telinga kekasihnya. Tubuh bugil kekasihnya yang cantik menggelinjang keenakan dan merinding luar dalam.

Park ji sun meneruskan ciumannya dan menjelajah ke bawah menuju leher kekasihnya yang panjang. Tangan Park ji sun juga tak tinggal diam dan menjelajah ke seluruh tubuh kekasihnya. Jemari Park ji sun perlahan mengelus dan meremas pantat kekasihnya yang bulat dan kencang.

Akhirnya tangan Park ji sun mendarat di bulat buah dada kekasihnya, mengelusnya dan melingkarinya lembut. Tangan Lee eun byong yang masih berada di batang penis Ji sun kembali bergerak naik turun.

Tiba-tiba saja mulut Park ji sun turun ke bawah dan menyerang payudara kekasihnya, mencium dan menjilat sesuka hatinya. Si cantik itu langsung megap-megap tak berdaya dan merasakan nikmatnya rangsangan yang diberikan kekasihnya.

Bibir Park ji sun yang menghisap pentil susunya membuat tangan Lee eun byong yang masih berada di batang penisnya tersentak-sentak tak beraturan.

Mulut dan lidah Park ji sun bergerak lincah menikmati lezatnya puncak payudara kekasihnya yang kian menonjol. Tubuh wanita cantik itu melengkung dan menyuguhkan balon payudaranya tepat di mulut kekasihnya.

Lee eun byong terus saja merintih keenakan saat lidah Park ji sun kian menggila dan menjilat kesana kemari. Tubuh Lee eun byong makin merinding kala tangan kekasihnya yang nakal menelurusi buah dada dan turun ke perut lalu makin turun lagi hingga sampai di gundukan manis bukit gundul kemaluannya yang baru di cukur sampai botak kemarin.

Satu jari Park ji sun dengan mudah melesak masuk ke dalam kemaluan Lee eun byong yang sudah basah dan hangat. Wanita molek itu menggeliat tak terkendali dan memutar bibir vaginanya, mencoba menikmati tusukan jari kekasihnya yang menjelajah masuk ke dalam bagian terlarangnya.

Park ji sun mengocok kemaluan kekasihnya dengan jari jemarinya, cairan cintapun tak pelak lagi membanjir deras dan melumasi lobang kemaluannya.

Lee eun byong makin tak berdaya dan terus menggeliat karena serangan ganda yang merangsang liang cinta dan buah dadanya yang ranum. Jari jemari si molek itu kian kencang menuntut batang kemaluan kekasihnya agar terus membesar dan bisa segera dimasukkan ke dalam lobang kemaluannya.

“Sekarang!” desis Lee eun byong sambil memejamkan mata terbakar nafsu birahi. “Berikan padaku sekarang, sayang! Sekarang!”

Park ji sun melepaskan pagutannya dari buah dada kekasihnya, mulutnya sekali lagi mencumbu bibir kekasihnya dan lidahnya menjelajah masuk ke dalam rongga mulutnya.

Kaki Lee eun byong merenggang kian lebar, terbuka hanya untuk kekasihnya. Tangan Park ji sun meraih gundukan lembut di dada kekasihnya dan meremasnya dengan gemas.

Lee eun byong meringis kesakitan bercampur nikmat, dia menggeliat sambil membimbing batang kemaluan kekasihnya ke arah bibir kemaluannya yang kian terbuka.

Batang penis Park ji sun yang sudah tegang membuka bibir kemaluan kekasihnya dengan mudah, melesak masuk perlahan-lahan melebarkan liang yang tadinya rapat dan basah.

Lee eun byong melenguh keras, tubuhnya menggigil gemetar saat kekasihnya melesakkan penis ke dalam liang kenikmatannya. Penis kekasihnya itu terasa sangat tegang dan kenyal menyesaki liang kenikmatannya yang rapat dan mungil.

Park ji sun menyentak kemaluannya yang terasa sangat nyaman berada di dalam liang kemaluan kekasihnya. Jari jemari Lee eun byong berpindah dari selangkangan Park ji sun dan meremas pantat kekasihnya yang keras dan kencang.

“Terusss, sayang!” desah Lee eun byong setengah berbisik, “lebih dalam, lebih dalaaammm!!”

Park ji sun melepaskan remasannya pada payudara Lee eun byong, ia lalu bersangga pada siku tangannya sambil tersenyum penuh kepuasan pada kekasihnya yang berada di bawahnya melenguh manja.

Park ji sun masih bisa merasakan puting payudara kekasihnya semakin mengeras di bawah desakan dadanya sendiri, tubuh indah kekasihnya menggeliat erotis saat ia makin giat melesakkan penisnya dalam-dalam.

Melihat kekasihnya mulai panas, Park ji sun menarik pinggulnya ke belakang, batang kemaluan park ji sun tertarik hingga menyisakan ujung gundul kepala penisnya yang seperti topi baja yang masih terkunci di dalam hisapan kelamin kekasihnya.

Lalu dengan kecepatan penuh Park ji sun menghentakkan badan ke depan dan mendorong seluruh batangnya masuk kembali ke dalam liang kemaluan kekasihnya dengan sekuat tenaga.

Lee eun byong melenguh lagi dan menggerakkan kepalanya dengan liar saat penis milik kekasihnya mulai masuk dan melesak ke dalam kemaluannya.

Ketika Park ji sun menarik batang kemaluannya keluar, Lee eun byong hampir-hampir menjerit karena dinding kemaluannya yang didesak melebar oleh kepala penis yang berbentuk mirip topi baja.

Ujung kepala kemaluan park ji sun terjepit erat tak mau lepas. Park ji sun akhirnya kembali menusuk lobang kemaluan kekasihnya lagi dalam-dalam.

Invasi kenikmata perlahan kemaluan Park ji sun membuat Lee eun byong mengeluarkan pekikan nikmat yang lirih. Liang kemaluannya yang rapat meremas-remas kemaluan kekasihnya dengan giat yang membuat batang penis itu makin mengeras sempurna.

Pinggul Park ji sun disentakkan ke dalam, lalu ditarik keluar, kemudian dilesakkannya lagi batang kemaluannya ke dalam liang kemaluan kekasihnya yang sudah pasrah.

Begitu terus berulang-ulang. Tangan mungil Lee eun byong meremas pantat kekasihnya yang keras, ia menancapkan kukunya dengan liar karena terangsang hebat.

Tiap kali batang penis kekasihnya dipompa keluar masuk, jari jemari Le eun byong mendesaknya agar bergerak lebih cepat dan menusuk lebih dalam. Kaki wanita cantik yang jenjang itu mengunci pinggang Park ji sun dengan rapat seakan tak mau lepas dari persetubuhan yang membuatnya terangsang hebat.

Lee eun byong mengerang dan menggelinjang di bawah desakan bertubi-tubi batang kemaluan yang membuka dan menutup liang kemaluannya dengan penuh rangsangan yang nikmat.

Tanpa malu-malu wanita cantik itu menjepit pinggang kekasihnya dan meminta lagi. Penis Park ji sun menggali lebih dalam lagi ke dalam liang kemaluan kekasihnya.

Lee eun byong terus menggeliat dan menggigil di balik dekapan Park ji sun, buah dadanya yang mulus terus mengelus dada kekasihnya. Puting susunya yang tegang seakan ingin menancap ke atas.

Pantat Lee eun byong bergerak seirama dengan gerakan menusuk yang dilakukan oleh kekasihnya, tiap kali penis itu menancap ke bawah, pantat wanita cantik itu membumbung ke atas menyambut tiap lesakan agar masuk lebih dalam.

Lee eun byong tidak lagi merintih, ia kini melenguh nikmat tiap kali tubuh mereka bertumbukan, tubuh indahnya melejit-lejit dengan binal tiap kali kemaluan kekasihnya melesak ke dalam liang kenikmatannya.

Tiba-tiba saja Park ji sun ambruk menimpa tubuh kekasihnya, dadanya menumbuk payudara Lee eun byong dan menggepengkan balon buah dada kekasihnya itu.

Tangan Park ji sun bergerak ke bawah, menarik pantatnya agar naik dan meningkatkan gerakan penisnya di dalam liang kemaluan kekasihnya.

Lee eun byong melenguh semakin keras, tubuhnya makin liar seakan hendak menelan seluruh kemaluan kekasihnya berikut kantung biji pelirnya. Bersama-sama mereka menanjak ke arah kepuasan badani secara maksimal.

Akhirnya, Park ji sun tidak mampu lagi menahan siksaan kenikmatan di ujung gundul kemaluannya yang berbentuk topi baja.

Air mani yang kental menyembur deras dari ujung kemaluannya melejit masuk ke dalam liang rahim Lee eun byong.

Banjir sperma di dalam liang kemaluan lee eun byong menghangatkan suhu tubuh sepasang kekasih yang tengah dibakar nafsu hewani.

Lee eun byong memeluk erat kekasihnya seakan tak ingin melepaskannya, Park ji sun mencium bibir mungil kekasihnya dan kedua insan yang baru menuntaskan hasrat birahi ini terlelap karena kelelahan dalam keadaan telanjang bulat tanpa sehelai benang pun.

“Bagaimana hasil testnya?”Setelah 1,5 bulan menunggu akhirnya Lee eun byong dan Park ji sun mendapat panggilan dari perusahaan Ryuji Watanabe.

“Ini hasil testnya tuan?”Mereka berdua menyerahkan hasil rekap medis yang baru diambil pagi tadi.

“Itu teman priamu ya?”Tanya Taro

“Ya tuan.”Jawab gadis itu

“Lumayan tidak terlalu buruk juga tidak terlalu bagus sedang-sedang saja apa dia bisa mengendarai motor?

“Tentu bisa tuan”Dengan segera Park ji sun menjawabnya

“Nah sekarang coba kamu perkenalkan dirimu secara singkat!”Taro memerintahkan Park ji sun untuk menceritakan riwayatnya.

“Baik tuan, Namaku Park Ji sun aku juga berasal dari chosan korea utara kami berdua adalah tetangga. Kami berhasil meloloskan diri dari negeri kami. Setelah melewati perbatasan akhirnya kami sampai disini kebetulan ayah kami dulu adalah guru bahasa jepang jadi kami bisa lancar bicara jepang.”Dengan semangat Park ji sun menceritakan riwayatnya.

“Apa cewek lo sudah menjelaskan semuanya padamu tentang pekerjaan kalian nanti?”Taro kembali menanyakan hal itu kepada Park ji sun

“Sudah tuan.”Jawab Park ji sun dengan singkat

“Baik ini surat kontraknya baca baik-baik jika sudah paham tanda tangani dan serahkan pasport kalian sebagai jaminannya. Kami cukup fair dan tidak pernah memaksa orang. Sekali lagi aku tegaskan kalian boleh mundur sekarang dan anggap tidak pernah bertemu aku. Karena begitu kalian menandatangani kontrak, kalian sudah tidak bisa mundur lagi dan jika kalian coba macam-macam dengan ku kalian akan rasakan sendiri akibatnya Mengerti?”Taro untuk terakhir kalinya mengingatkan segala resiko yang ada sementara dengan tenang Ryuji Watanabe menyimak pembicaraan mereka sejak tadi sambil menikmati rokoknya.

“Baik tuan kami sudah memahami kontraknya”Akhirnya mereka berdua menandatangani kontrak kerja mereka.

“Oh ya…bagaimana jembutmu? apakah sudah tumbuh lebat?”Taro bertanya kepada Lee eun byong. Nadanya terdengar santai seakan menanyakan suatu hal yang biasa saja.

“Su..sudah pak berkat obat penumbuh bulu yang bapak berikan.”Lee eun byong tertunduk wajahnya menjadi semerah udang rebus menjawab pertanyaan Taro.

“Bagus….aku sudah yakin obat itu akan membuat bulu jembutmu menjadi sangat lebat.”Taro…tertawa terkekeh melihat rona wajah Lee eun byong yang tertunduk malu.

“Baik sekarang kalian ikut Taro untuk mulai berlatih dan berkenalan dengan kru kalian. Taro untuk selanjutnya aku serahkan mereka padamu.”Mata Ryuji Watanabe mengerling ke Taro memberikan tanda untuk segera meninggalkan ruangan seulas senyum culas tersungging disudut bibirnya.

“OK kalian berdua sekarang lepaskan seluruh pakaianmu dan ikuti aku kita akan segera mulai latihan.”Dengan nada datar Taro memerintahkan mereka berdua untuk segera melucuti busananya.

“Se…se…sekarang pak? Apa sebaiknya tidak diruang latihan saja..? Dengan gugup mereka berdua terkesiap mendengar perintah Taro.

Jantung mereka berdebar keras apalagi didepan ruangan Ryuji Watanabe cukup banyak staff kantor dan anak buahnya yang sibuk hilir mudik mengerjakan tugasnya masing-masing.

“Dimanapun tempatnya adalah tempat latihan kalian bagaimana sih tadi katanya sudah paham kontrakmu…?!! Sekarang cepat copot baju kalian..!!”Dengan terpaksa akhirnya mereka berdua melucuti bajunya sendiri sampai benar-benar telanjang bulat.

Mereka berdua berusaha menutup kemaluannya masing-masing dengan menggunakan kedua tangan mereka.

“Siapa suruh tutupi kelamin kalian pake tangan hah..?!! udah buka aja toh nanti juga bakal dilihatin orang banyak. Dari awal khan aku sudah bilang dan kalian menyanggupi. Jadi orang yang konsisten donk..!!”Taro pura-pura marah padahal dalam hatinya tertawa terbahak-bahak melihat muka kedua orang yang telanjang bulat didepannya memerah seperti kepiting rebus.

Taktiknya untuk menjatuhkan mental pasangan itu telah sempurna ia berhasil mempermalukan mereka sampai keambang batas yang diinginkannya.

Gedung markas kelompok Ryuji Watanabe ini menempati sebidang tanah dengan luas lebih kurang 1000 meter persegi.

Walaupun masih mempertahankan design klasik, bangunan 4 lantai ini tergolong mewah dan modern perlengkapannya. Nampaknya tuan Ryuji Watanabe mempunyai hobby mengkoleksi mobil antik.

Beberapa mobil antik dengan kondisi masih mulus berjejer rapi sementara itu di berbagai sudut ruangan bertebaran kamera-kamera pengawas.

Beberapa anjing penjaga jenis Pitbull dan rottweiler berdiri kokoh dengan gagahnya menatap dengan tajam gerak gerik setiap orang yang mencurigakan dan siap sedia untuk menyerangnya kapan saja.

2 ekor diantaranya lalu berjalan mengikuti Park Ji sun dan Lee eun byong yang berjalan mengendap-endap. Tiba-tiba Lee eun byong merasakan sesuatu benda kasap yang basah dan hangat di pantat telanjangnya dari arah belakang.

Sesuatu yang basah kemudian turun menyentuh paha bagian dalamnya, dekat selangkangan. Ketika jilatan hangat dari lidah yang basah menjalari selangkanganya, barulah ia sadar kalau ada seekor anjing. Anjing yang besar. Anjing yang besar dan cabul.

Lee eun byong tak habis pikir, mengapa mereka tak menempatkan hewan yang nakal seperti itu di luar. Ia berusaha untuk tak gelagapan dengan harapan Taro melihat apa yang terjadi dan membantu untuk mengusir anjing besar yang nampaknya sangat galak.

Sayangnya ia tampaknya malah sibuk menceritakan sejarah klan perkumpulan Ryuji Watanabe. Lee eun byong menggeserkan sedikit badannya sehingga seharusnya Taro dapat melihat di mana anjing penjaga miliknya meletakkan kepalanya. Akan tetapi ternyata ia bersikap seolah-olah tidak melihatnya, dan kenyataan itu benar-benar mengganggu Lee eun byong.

Sementara itu, tangan Lee eun byong mulai terasa pegal karena berusaha menepis kepala anjing itu dan lututnya juga terasa lemas. Si anjing kini pindah ke hadapannya dan mulai mengendus-endus ke selangkangannya.

Kali ini anjing penjaga itu menempelkan moncongnya tepat ke klitoris gadis malang itu, yang reaksinya serasa membara dan menjilatinya dengan lebih keras lagi.

Kali ini Eun byong benar-benar yakin, Kalau Taro sebenarnya mengetahui tingkah laku anjingnya, karena ia justru sengaja memberi ruang bagi si anjing untuk mengakses dirinya.

Setiap tangan gadis malang itu berusaha menghalau, anjing penjaga yang besar itu menggeram buas sehingga menciutkan nyalinya.

Akhirnya Lee eun byong hanya memejamkan matanya sementaranya tangannya memeluk erat tangan kekasihnya yang juga kewalahan berusaha menyingkirkan anjing besar satunya lagi yang asyik mengendus-endus dan menjilati alat kelaminnya.

Park ji sun juga tidak bisa berbuat apa-apa mereka berdua kini sepenuhnya berada di dalam kendali 2 anjing penjaga besar yang cabul.

Taro nampak jelas sengaja membiarkan itu terjadi. Kenyataan itu serasa menyiramkan aliran listrik yang menggetarkan seluruh urat syaraf pasangan itu.

Taro membiarkan mereka menyesuaikan diri dengan jilatan-jilatan cabul anjingnya dengan tidak menggubris sama sekali pasangan yang sedang kebingungan itu

Beberapa orang yang diajak ngobrol Taro berhenti sejenak. Mereka tersenyum-senyum menyadari Usaha Lee Eun byong dan Park Ji sun sia-sia. untuk mengenyahkan kepala anjing itu di selangkangannya masing-masing.

“Udah biarin saja anjing itu cuma ingin berkenalan dengan kalian dan itu juga bagian dari latihan.”Akhirnya Taro angkat bicara melihat pasangan itu semakin gelisah menghadapi serangan kedua anjing cabul itu di kemaluan mereka masing masing.

Mereka benar-benar merasa direndahkan serendah-rendahnya dan dipermalukan dengan berada dalam keadaan bugil berdiri di hadapan anjing-anjing penjaga cabul, yang sedang asyik menjilati alat kelamin mereka berdua masing-masing tanpa mampu mereka cegah sambil diperhatikan oleh Taro dan rekan-rekannya yang tersenyum senyum penuh arti.

Sepertinya mereka berdua benar-benar menghambakan diri kepada mereka dan anjingnya. Dan mereka secara tidak langsung diharuskan untuk menerimanya

Wajah kedua orang malang itu sudah seperti udang rebus, Tubuh bugil keduanya menggelinjang-gelinjang kegelian dan sesekali mengejan tak beraturan.

Mereka berdua sangat mengharapkan agar Taro menghentikan anjingnya yang sedang melakukan pelecehan sexual terhadap diri mereka. Namun pertolongan dari Taro dan kawan-kawannya tak kunjung datang.

Lee eun byong bahkan bisa melihat mata Taro dan rekan-rekannya terfokus ke araha selangkangannya dengan seringai gembira. Ketika tubuhnya mengejan-ngejan melengkung kebelakang menahan kegelian luar biasa di selangkangannya pada setiap sentakan lidah anjing cabul mereka.

Kedua orang itu tak tahu harus berbuat apa lagi. Perlahan, mereka berdua akhirnya berhenti melawan dan berusaha untuk menyesuaikan diri dengan jilatan-jilatan nakal kedua anjing cabul tersebut.

Semakin lama dibiarkan, lidah anjing itu makin membuat Lee eun byong seakan menjadi gila. Sentakan-sentakan dari daging lembut panjang yang basah dan hangat itu membawanya ke puncak kenikmatan.

Akhirnya malah gadis itu tak ingin jilatan-jilatan yang nikmat itu berhenti. Sesekali gadis itu menjerit tertahan berusaha menyembunyikan kenikmatan nafsu birahi yang sudah mulai menguasai dirinya.

Bulu kemaluannya yang hitam lebat kini telah basah kuyup oleh liur anjing cabul itu secara perlahan-lahan, lelehan liur anjing itu bercampur dengan cairan precum kenikmatannya meleleh mengalir dari selangkangan melewati pahanya.

Sementara itu Taro dan kawan-kawannya itu terus mengobrol seolah-olah tak ada sesuatu yang luar biasa yang terjadi. Mereka berdua pun tetap melayani segala pertanyaan dan pembicaraan Taro dengan suara terbata-bata.

Situasi ini menambah rangsangan pada diri Lee eun byong. Berbeda dengan Park ji sun yang merasa tersiksa beberapa kali ia meringis kesakitan ketika kulit penisnya tergigit kecil secara tidak sengaja oleh gigi-gigi tajam anjing itu ketika ia tetap berusaha berjalan mengikuti Taro.

Taro dan rekan-rekannya memainkan semacam permainan kepada kedua orang malang itu. Dan pasangan itu secara tidak langsung dipaksa untuk mulai menyukai permainan ini.

“Baik aku jelaskan sekali lagi kontrak kalian yang baru saja kalian setujui. Kita akan membuat film bergenre Exhibitionist bila kalian ngga tau bahasa inggris, biar aku perjelas. Exhibitionist maksudnya adalah melakukan aktifitas sexual di area publik. Atau bahasa gampangnya tugas kalian adalah ngentot di tempat-tempat fasilitas umum seperti di pinggir jalan, stasiun kereta, di taman umum, bahkan ditengah jalanan. Pendek kata di tempat yang punya aktifitas padat mengerti kalian..?! Mendengar penjelasan Taro mereka berdua merasa lemas.

Semula mereka hanya mengira paling hanya disaksikan oleh kru film saja dan melakukannya cuma di studio. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh mereka kalo harus bersetubuh di area publik bahkan di jalan raya yang penuh orang berlalu lalang.Sedangkan untuk bersetubuh didepan kamera dan disaksikan beberapa kru saja mereka masih belum terlalu yakin bisa melakukannya.

“Makanya kalian mulai sekarang sedang aku latih mentalnya terutama kau Park Ji sun. Sebagai pemain pria, kontolmu harus dituntut supaya tetap ngaceng apapun caranya..!! Sejak tadi aku perhatikan kontolmu letoy mulu seperti ayam sayur saja bahkan ukurannya seperti milik bayi ingusan.”Taro kembali mengetes secara psikologis ambang stress pasangan ini.

Muka dan Telinga Park Ji Sun langsung memerah mendengar komentar pedas Taro. Ia hanya bisa tersenyum kecut dan menunduk lesu menatap kemaluannya yang memang masih terkulai lemas.

Sejujurnya Park Ji Sun juga merasa heran biasanya dia mudah terangsang apalagi jika sudah melihat kekasihnya dalam keadaan telanjang bulat di depannya entah kenapa sekarang, sudah sejak tadi kemaluannya tidak bereaksi sama sekali.

“Tenang saja, Itu biasa terjadi apalagi untuk pemula. Makanya aku ajak kalian berdua berkeliling telanjang bulat seperti ini agar kalian terbiasa. Anggap saja tidak ada orang. Misalnya kontolmu tetap masih tidak bisa ngaceng nanti juga ada obatnya koq .Pokoknya asal kau tidak benar-benar impoten sejak awal. Sudahlah pokoknya santai saja. Nah perkenalkan ini Takuya stylist terbaik kita.”Kata Taro sambil memperkenalkan Takuya kepada Park ji sun dan Lee eun byong.

Takuya adalah seorang stylish dan ahli make up yang khusus mendandani artis-artis film porno. Dari penampilannya bisa ditebak Takuya adalah seorang gay.

“Takuya tolong dandani penampilan artis baru kita ini sebaik mungkin. Boss seperti biasa ingin penampilan terbaik untuk film barunya.”Taro segera memerintahkan Takuya untuk mendandani mereka berdua.

Aih…si boss, Beres boss santai saja. Nah kalian duduk di sebelah sana tata rambut kalian norak jelek sekali dan kampungan aku akan segera mengubah penampilan kalian.”Setelah beberapa lama, jemari lentik Takuya yang menari lincah di kepala Park ji sun dan Lee eun byong akhirnya selesai sudah.

“Nah bagaimana?! lebih baik bukan sekarang?”Park Ji sun terperanjat melihat wajahnya kini dicermin yang nampak berubah drastis. Ia juga terpelongo kagum luar biasa melihat kekasihnya.

Kini kecantikan Eun byong kekasihnya menjadi lebih sempurna dengan tata rambut yang baru meskipun belum disentuh oleh kosmetik sama sekali.

“Kau memang bisa diandalkan Takuya.”Taro memuji hasil kerja Takuya.

“Tentu dong boss. Nah coba kalian berdua berdiri yuk… dan berputar biar aku lihat sekali lagi apa masih ada yang kurang.”Takuya ingin memastikan lagi hasil kerjanya supaya benar-benar bisa sempurna.

“Hmm…sepertinya ada yang kurang…..ups nyaris saja eh lo siapa namamu..? Oh ya… Lee eun byong. Bulu jembutmu terlalu lebat dan tak beraturan harus sedikit dirapikan pada bagian lipatan selangkangan dan paha. Lo duduk ngangkang sebelah sini… agak kekanan sedikit dekat lampu…ya cukup kangkangin kaki lo sedikit lagi…ya…ya.. segitu aja.”Lee eun byong menggelinjang kegelian, ketika Takuya dengan sebatang pensil rias mulai menggaris sketsa disekitar kemaluan dan pahanya yang berbulu

“Aduuh….”Dengan sedikit meringis kesakitan, Lee eun byong menggigit bibirnya sendiri berusaha menahan nyeri.

“Tahan…masa begitu aja sakit sorry ini ga bisa cuma dicukur, harus di waxing supaya hasilnya lebih bersih dan rapi.”Kata Takuya sambil menempelkan selotip waxing disekitar paha Lee eun byong yang masih berbulu.

“Ok…sekarang sudah sempurna.”Taro nampak puas dengan kerja Takuya. Kini bulu kemaluan Lee eun byong yang lebat merimbun sudah lebih rapi dengan berbentuk V.

“Nah..sekarang giliranmu ganteng. Sana nungging bulu jembut lo juga harus dirapikan.”Dengan canggung Park ji sun menuruti perintah Takuya. Park ji sun menunggingkan pantatnya ke arah cahaya lampu.

Bulu-bulu kemaluannya nampak merimbun di bagian anus dan pangkal biji pelirnya tubuhnya mendadak merinding ketika Takuya tersenyum nakal sambil tangannya dengan liar memainkan batang penis dan biji pelirnya.

Sebelum akhirnya tiba-tiba Ji sun merasakan pantatnya disekitar lobang anusnya panas menyengat seperti kena setrum. Nampak selotip waxing di tangan Takuya melekat bulu-bulu kemaluannya.

“Sekarang kita ke lantai 2 tempat ruang Editing. Disana aku akan perkenalkan kalian kepada kru editing.

“Hey…kalian maaf mengganggu ini ada calon artis pendatang baru yang bergabung di perusahaan kita. Perkenalkan ini Yomiuri manager ruangan ini.

Ruang editing kira-kira seluas 250 meter persegi cukup luas. Perabotannya tertata apik dengan desain futuristik menjadikan siapapun yang bekerja diruangan ini terasa nyaman.

Sebagian besar ruangan ini berisi server-server komputer yang cukup besar. Dengan dihuni lebih kurang 30 orang sebagian staffnya laki-laki hanya ada 5 orang staff wanita.

Sebagian masih sibuk dengan pekerjaannya masing-masing tanpa menghiraukan kehadiran mereka.

Beberapa pasang mata yang jahil tidak menyia-nyiakan pemandangan indah yang melintas di ruangan mereka Lee eun byong dan Park Ji sun menjadi gugup dengan tatapan beberapa pasang mata yang menatap nakal tubuh polos mereka yang tanpa tertutup selembar benangpun.

“OK cukup. Sekarang kita ke lantai berikutnya yaitu tempat casting dan berlatih.”Diruangan ini ada 15 staff yang terbagi dari beberapa team

Sebagian dari mereka sedang mendekor ruangan. Nampak managernya sedang asyik mengkomando para anak buahnya. Beberapa orang yang lainnya sedang asyik dengan laptop dan kameranya.

“Maaf pak apakah pemanas ruangan bisa dinyalakan?”Tanya Park Ji sun dengan penuh harap kepada Taro. Dengan keadaan tubuh telanjang bulat tanpa tertutup sehelai benangpun mereka berdua merasa kedinginan suhu ruangan mencapai 10 derajat.

Walaupun mereka berdua di korea utara dulu terbiasa dengan cuaca dingin, namun dengan keadaan telanjang bulat seperti ini tak urung merekapun merasa kedinginan.

“Tidak bisa. Ruangan ini memang sengaja dibiarkan dingin gunanya untuk merangsang reaksi tubuh agar tetap tegang seperti ini.”Lee eun byong tersentak kaget ketika jari Taro secara tiba-tiba memencet puting susunya.

“Coba perhatikan, pentilmu sudah mengacung sejak tadi bukan..? Secara otomatis jika suhu rendah seharusnya tubuh akan menyesuaikan. Seperti misalnya susumu ini, menjadi lebih mengeras tanpa obat. Pentilmu juga bisa tegang lebih lama. Park Ji Sun kontolmu juga seharusnya sudah ngaceng aku curiga jangan-jangan sebenarnya kamu ini memang impoten ya? Memang pada sebagian pria faktor psikologis dominan mempengaruhi kejantanannya. Tapi para aktor pria kami yang lain rata-rata cepat menyesuaikan diri atau kalo lo memang impoten, kami ada koq penggantimu. Ngga usah khawatir boss ngga akan mendenda kalian nanti aku yang bilang sama boss.”Taro menjelaskan secara panjang lebar keadaan mereka.

“Ja..jangan..aku rasa aku bisa. Tolong beri waktu sedikit lagi.”Ji sun panik tak bisa dibayangkan kalo kekasihnya bakal digauli pria lain tepat didepan hidungnya.

“Ya udah…sekarang kalian berdua kesana. Hey kalian semua kemari. Nih ada aktor baru untuk pemeran film produksi boss yang baru. Aku butuh bantuan kalian untuk menilai akting mereka. Saito selanjutnya aku titipkan mereka berdua padamu. Tolong ajarin mereka berakting yang baik. Aku mau menghadap boss dulu.”Taro kemudian menitipkan Park ji sun dan Lee eun byong kepada sutradara Saito.

“Aku Saito sutradara di perusahaan JAV milik tuan Ryuji Watanabe. Ayo segera dimulai saja.”Tanpa banyak basa-basi Saito segera meminta mereka berdua untuk segera berlatih.

“Bagaimana kita mulainya pak?”Lee eun byong merasa kebingungan dan kikuk harus bagaimana. ketika tubuh telanjang mereka berdua dikelilingi kru film yang menunggu aksi mereka.

“Kalian ini bagaimana sih..? Bodoh atau pura-pura bodoh..?!…Ya sana cepetan kalian berdua ngentot..!! Memangnya kalian lagi mau main film apaan hah!! Apa musti dikasih contoh detail..?!!”Saito yang berdisiplin tinggi menjadi naik darah melihat kelambanan Park ji sun dan Lee eun byong.

“Maaf…pak…maaf. Baik kami segera mulai.”Dengan disaksikan oleh sekitar 10 orang lebih, Lee eun byong mulai berusaha mencumbu kekasihnya.

Perasaannya keduanya campur aduk tidak karuan. Pagutan lidah Lee eun byong yang biasanya langsung memicu birahi Park ji Sun sampai keubun-ubun, kini sama sekali tidak menimbulkan reaksi apapun. Kemaluan Park Ji sun masih tetap terkulai tak berdaya.

“Waduh celaka Eun byong kontolku samasekali tidak bisa berdiri bagaimana ini?”Coba lo hisap kontolku.”Dengan cemas Park Ji Sun membisiki kekasihnya.

Perlahan Lee eun byong mulai memindahkan serangan lidahnya. Tubuhnya kini berputar 180 derajat sehingga mereka kini membentuk posisi 69. Tanpa kesulitan berarti, kini kemaluan Park Ji sun sudah bersarang di mulut mungil kekasihnya.

Sambil memejamkan mata, Lee eun byong berusaha membuang semua perasaan malunya. Pikirannya menerawang melewati ruang dan waktu. Kembali membayangkan kenikmatan badani yang direguknya ketika berhubungan intim untuk pertama kalinya dengan Park Ji sun

“Shh…hh…”Lee eun byong mulai mengerang nikmat ketika lidah Park Ji Sun juga mulai aktif menggeseki itilnya. Sementara itu berlawanan dengan Lee eun byong, seberapa kuatnya Park Ji Sun berusaha meresapi kenikmatan lidah kekasihnya yang menari-nari di ujung kepala penisnya, ia berusaha keras membuang perasaan malunya, tetapi masih belum berhasil juga.

Walaupun lidah dan mulutnya sibuk menjilat-jilat kemaluan kekasihnya, namun pikiran Park Ji sun melayang-layang tak karuan. Harga dirinya sebagai pria rasanya telah hancur berkeping-keping tanpa sisa

“Ji sun berusahalah sedikit atau mereka akan menggantikanmu dengan pria lain aku tidak mau itu sampai terjadi.”Kembali Lee eun byong membisiki kekasihnya.

“Ia begitu cemas sampai sekarang kemaluan Ji sun masih lemah layu tak bereaksi sama sekali padahal ia sudah berusaha menjilat-jilat dan menghisap dengan kuat ujung kemaluan Ji sun.

“Ji Sun lo Impotent ya?!! kau benar-benar payah. Shiro coba kau gantikan Ji sun”Nampaknya Saito sudah tidak sabar lagi.

“Maaf pak aku akan berusaha lagi apakah ada obat? tadi pak Taro mengatakan boleh pake obat kuat.”Park ji sun berusaha keras mempertahankan posisinya.

“Masa sih? Coba aku tanya pak Taro dulu…”Dengan kesal Saito meraih interkom yang terletak disamping mejanya.

“Ji sun kau boleh pake obat kuat tapi honormu akan kami potong setuju?”Saito menunggu jawaban Park ji sun

“Terimakasih pak aku setuju.”Dengan segera Park ji sun menyetujuinya.

“Shiro berikan obatnya.”Saito segera memerintahkan Shiro asistennya untuk menyiapkan obat kuat.

“Minum pil ini tunggu sekitar 15 menit pasti langsung bereaksi”Segera Shiro memberikan pil obat kuat itu dan memberi petunjuk cara penggunaannya.

Hawa dingin yang menusuk tulang terasa sangat menyiksa Lee eun byong dan Park Ji Sun. Mereka berpelukan erat. Tubuh bugil mereka saling melingkar erat mencoba untuk mengusir serbuan hawa dingin yang makin menggigit.

Degup jantung mereka terasa nyaring berbunyi ditengah kesunyian ruangan. Sambil menunggu reaksi obat, mereka berdua saling mencumbu berusaha membangkitkan nafsu birahi pasangannya masing-masing.

Sebenarnya nafsu birahi Lee eun byong sudah naik dari tadi sejak selangkangannya dijilati oleh anjing penjaga di lantai bawah.

Kemaluannya yang berbulu lebat sudah basah lembab dan berdenyut-denyut kencang. Rasanya sudah tidak sabar lagi untuk segera dimasuki oleh kemaluan pria. Sementara belasan pasang mata dengan sorot penuh ejekan masih mengawasi mereka.

“Kau benar-benar impoten ya?! kenapa tidak bilang dari awal buang-buang waktu saja kalian. Sudahlah Shiro kau saja yang gantikan.”Nampaknya kesabaran Saito mulai semakin menipis

“Tolong pak, jangan aku mohon. Ada obat yang lain tidak. Yang lebih kuat efeknya aku mohon sekali ini saja.”Kali ini Park ji sun benar-benar panik ia sangat mengharapkan terjadi suatu mujizat yang dapat menyelamatkan mereka berdua.

“Bagaimana nih boss?apa mau disuntik saja pake steroid silikon aja?”Usul Shiro kepada Saito sang sutradara.

“Ji sun sebenarnya ada satu obat lagi. Tapi efek sampingnya sangat keras. Setelah 3 jam pemakaian, kepala kontolmu akan terasa ngilu dan panas seperti digigit semut. Lalu selama 3 minggu kontolmu bakalan ngaceng terus. Disamping itu, obatnya 5x lipat lebih mahal dari yang tadi. Sebenarnya obat ini racikan rahasia klan kami tapi sudah tidak dipakai lagi karena tidak ada orang yang tahan terhadap efek sampingnya. Tapi kalo lo berkeras cewek lo ga mau dipake sama shiro ya tiada jalan lain bagaimana?

“Baik berikan saja obatnya aku siap menanggung resikonya.”Tanpa pikir panjang lagi Park Ji Sun segera menyanggupinya.

“Aduu…h”Ji sun meringis menahan sakit ketika jarum suntik yang dingin itu menghunjam pangkal batang kemaluannya yang masih terkulai layu. Ia sama sekali tidak menyangka kalau pemakaiannya ternyata harus disuntikan langsung pada batang penisnya.

Selang beberapa menit, efek obat itu memang langsung nyata. Kemaluan Ji sun terasa hangat seperti ada air hangat yang mengalir. Kepala penisnya terasa membesar dengan cepat kini warnanya berubah menjadi kemerahan dan berdenyut-denyut kencang.

Dalam waktu tidak lebih dari 5 menit kini batang kemaluan Ji sun telah tegang tegak berdiri mengacung laksana tiang bendera. Ukurannya juga lebih besar dari ukuran normalnya.

Akhirnya mereka berdua bisa bernafas lega meskipun kemaluan Ji sun telah tegak berdiri, namun nafsu birahinya entah kenapa tidak ada reaksi sama sekali.

Berbeda dengan Lee eun byong, sejak merasakan kemaluannya dijilati dengan ganas oleh anjing penjaga cabul yang berada di lantai bawah, entah kenapa nafsunya kini menjadi mudah terbakar. Apalagi setelah melihat kemaluan Ji sun yang terasa digenggamannya kini lebih besar dari biasanya kini telah mencapai ukuran maksimalnya.

Tanpa membuang waktu lagi diraihnya kemaluan kekasihnya itu dan segera diselipkan ke belahan kemaluannya sendiri.”Shh…uh..ah….mulut mungil Lee eun byong sudah tidak mampu lagi menahan erangan kenikmatan badani.

Mulutnya meracau tidak keruan tanpa terkendali lagi. Kemaluannya yang sejak tadi ingin segera merasakan hunjaman kelamin pria, terasa berdenyut-denyut geli nikmat meresapi setiap sodokan kemaluan Ji Sun. Pikirannya kini sepenuhnya telah dikuasai nafsu birahi yang sudah berhasil mengalahkan rasa malunya.

“He..h..improsisasi donk dikit..!! Ganti posisi kek… kalian ngentot pake gaya kura-kura begitu mulu penontonnya bukannya terangsang malah akan tertidur. Film ini cuma akan menjadi sampah..!! Hayo keluarin suara kalian jangan cuma diem saja emangnya kita bikin film bisu apa..?!! Saito sibuk mengomel mengkomentari aksi mereka berdua.

“Ah…sayang masukin lebih dalam lagi donk memekku masih gatal nih…sh..h..ah..ah..hs..arghhh.”Kini Lee eun byong memberanikan diri untuk mengekspresikan perasaan dirinya lewat rintihan-rintihannya yang erotis.

“Aduh…duh…tititku rasanya seperti terbakar didalam memekmu sayang argh..ah..ah…”Ji Sun memang merasakan ujung kepala kemaluannya terasa panas menyengat akibat luka lecet akibat tergigit anjing penjaga yang cabul sewaktu dibawah tadi. Tapi rupanya Lee eun byong salah mengerti dan mengira Ji sun juga sedang keenakan.

“Mari..sini sayang aku hisap ya”Tanpa menunggu jawaban lagi, dengan rakus segera diraihnya kemaluan Ji sun yang sudah membesar melebihi ukuran biasanya.

Dengan lahap segera dihisap-hisapnya ujung penis yang sangat menggemaskan itu. Lee eun byong dapat merasakan kepala penis Ji sun bergetar hebat pertanda akan segera memuntahkan isinya.

Dengan segera ia melepaskan hisapannya dan membimbing kemaluan Ji Sun memasuki ke mulut kemaluannya sendiri.

“Ough..srgh..ah….Ji sun Yeah..oh…hamili aku Ji sun…srgh..ah…ah…”Dengan liar Lee eun byong menggoyangkan pinggulnya kencang-kencang.Isi rahimnya serasa diaduk-aduk oleh tongkat kejantanan Ji sun.

Baru kali ini Lee eun byong merasakan keperkasaan Ji Sun sepenuhnya. Segala fantasi liar untuk bersetubuh dengan Ji sun berklebatan didalam kepalanya.

Sementara itu Park Ji Sun meringis-ringis menahan ngilu di kemaluannya. Meskipun air maninya sudah habis tersembur keluar tetap saja kemaluannya tidak bisa mengendur sehingga mengakibatkan rasa ngilu.

Berbeda dengan Lee eun byong yang masih terbakar api birahi yang seakan tiada habis-habis rasa puasnya menikmati goyangan-goyangan erotis kemaluan Ji Sun yang masih tegak kokoh bersarang di Liang kemaluannya.

“Cukup…untuk hari ini lumayan juga akting kalian, besok kita sudah bisa mulai take yang pertama di gerai sex shop milik tuan Ryuji. Jangan terlambat datang. Sekarang kalian boleh pulang.”Pasangan itu hanya mengangguk lemah tubuh bugil mereka berdua masih tergolek lemas kelelahan.

“Kau baik-baik saja Ji Sun?”lee eun byong menatap cemas wajah Ji Sun yang sesekali meringis seperti menahan sakit.

Setelah kemaluannya di suntik Park ji sun memang merasakan kemaluannya panas pegal. Ujung kepala penisnya terasa mekar. Efek samping yang dikatakan Saito memang terbukti sudah 5 jam lewat kemaluannya masih belum menunjukan tanda-tanda akan mengendur.

“Ngga papa koq”Ji sun menjawab singkat sambil menyisir rambutnya setelah habis mandi.

“Lalu kenapa jalanmu aneh? sepertinya kamu tidak sehat?”Lee eun byong kembali berusaha memastikan keadaan diri Ji Sun.

“Ng…anu…Kontolku…,sampe sekarang koq belum bisa letoy.”Mimik muka Ji sun terlihat memelas.

“Oh..bagus dong…hi…hi…hi…aku kirain kenapa. Kau tadi siang benar-benar jantan sekali sayang..”Lee eun byong tersenyum nakal mendengar keluhan kekasihnya.

“Bagus apanya sakit tau…sh..rasanya panas seperti dirayapi semut kalo pake celana jadi sakit tergesek-gesek kainnya.”Sambil meringis Ji sun menarik ujung celananya agar tidak menempel di kemaluannya.

“Ya udah copot saja celana mu sini aku bantu.”Tanpa permisi lagi Lee eun byong langsung memelorotkan celana Ji Sun. Matanya terbelalak menyaksikan kemaluan Ji Sun yang masih tetap mengacung tegak berdiri.

“Sudahlah tidur besok kita masih harus bekerja lebih baik simpan tenaga.”Dengan masih menggunakan kaos tapi tanpa celana, Ji Sun merebahkan dirinya. Tubuh lelahnya sudah menuntut untuk segera direbahkan. Tangannya tak henti-hentinya mengelus-elus kemaluannya sendiri.

“Kamu masih kepingin..? atau Masih terasa sakit?”lee eun byong menatap prihatin kekasihnya

“Iya nih…masih sakit…ngilu bercampur panas.”Ji sun mengangguk lemas sementara itu matanya sudah hampir tidak kuat lagi menahan kantuk.

“Sluuurph…bagaimana sayang? Rada mendingan?”Lee eun byong bersimpuh disamping Ji Sun Dikulumnya kemaluan kekasihnya yang nampak membengkak kemerah-merahan.

“Iya lebih nyaman rasanya terimakasih ya.”Dengan tersenyum manis Ji sun mengelus kepala kekasihnya. Lidah kekasihnya yang menyapu lembut kemaluannya semakin memberikan rasa nyaman dan nikmat sehingga seakan membuai dirinya ke alam mimpi.

“Sluurp..h..h..Sudah tidur saja.”kata Lee eun byong sambil masih menghisap kemaluan Ji Sun. Setelah Ji Sun tertidur, ia meraih tangan kekasihnya dan meletakannya didadanya tak lama kemudian ia pun tertidur.

“Bagaimana Takuya? sudah siap make upnya?”Pagi itu semua anggota kru telah lengkap Lee eun byong dan Park Ji Sun juga telah selesai di make up.

“Ok ini adalah Take pertama. Sengaja kita mulai dari yang paling sederhana dan tidak berisiko. Kita akan syuting sekaligus mempromosikan gerai sex shop milik tuan Ryuji. Kalian siap..? kalian berdua lakukan seperti yang kemarin. Gerai sex shop ini terdiri dari 2 lantai. Kalian harus ngentot dengan gaya doggy style kontolmu harus tetap berada didalam memeknya ngga boleh lepas seolah-olah seperti anjing yang sedang bercinta dimana ketika kemaluannya sudah menyatu tidak akan bisa terlepas lagi paham..?!! Lakukan hal itu sambil berjalan keliling menyapa semua pengunjung yang ada dan kau Ji Sun, kami tahu Lee eun byong adalah cewek lo. Tapi kalian harus profesional mungkin ada beberapa pengunjung yang iseng mencolek-colek atau merabai kalian. Tapi kalian harus tetap tenang aja OK..?! aku jamin pengunjung tidak akan berbuat lebih dari itu mengerti..?! Nah kalo sudah jelas kita mulai sekarang.”Saito menjelaskan secara rinci tentang apa saja yang harus mereka lakukan.

“Shiro tolong simpan baju mereka!…Shimada lampu sudah OK?….baik Hatake siapkan kameramu and…3…2…1…action..!!Saito segera berlari menjauh.

“Se…se..elamat datang tuan, terimakasih atas kunjungan kalian.”Sungguh tak bisa dilukiskan lagi oleh kata-kata perasaan Lee eun byong dan Park Ji Sun saat itu.

Dengan tubuh telanjang bulat dan kemaluan masing masing yang saling melekat, mereka berjalan tertatih-tatih menyeiramakan gerak langkah kaki mereka berusaha menjaga agar kemaluannya tidak terlepas.

Mereka berdua berjalan menyusuri tiap inchi ruangan menyapa para pengunjung. bagian tersulit adalah ketika mereka berusaha menaiki tangga. Beberapa kali, terpaksa kemaluan Ji sun terlepas dari liang kemaluan Eun byong.

“Hey kawan-kawan lihat siapa mereka..!.”Ternyata gerombolan preman yang menagih hutang Park ji sun tempo hari juga berada disitu.

Park ji sun dan Lee eun byong langsung tertunduk malu muka mereka berdua langsung berubah merah padam. Mereka berdua sama sekali tidak menyangka akan menemui gerombolan preman itu disini.

“Aduuh…”Lee eun byong meringis kesakitan ketika salah seorang dari gerombolan itu mencubit pentil susunya dengan kencang.

“Auuuw….”Sekali lagi Lee eun byong terpekik ketika dirasakan ada sebuah tangan yang membetot dengan paksa bulu-bulu kemaluannya yang lebat.

“Bwa..ha..ha…ha…lihat…lihat…aku berhasil dapet jembutnya…!”Dengan kegirangan ditunjukannya beberapa helai bulu kemaluan Lee eun byong yang terselip di jari-jarinya. Kepada kawan-kawannya yang segera disambut gelak tawa yang riuh rendah.

Dengan perasaan hancur berderai, mereka berdua harus menerima perlakuan memalukan gerombolan preman yang sangat menghinakan harga diri mereka.

Muka mereka berdua sudah pucat seputih kertas. Apalagi pagi itu pengunjung sangat ramai, karena pembukaan perdana gerai sex shop itu langsung memasang harga super discount untuk segala bentuk alat bantu sex dan berbagai macam dvd film porno sehingga memancing kedatangan ratusan hidung belang mania di seluruh penjuru Shibuya.

Ternyata bertelanjang bulat didepan umum itu tidak semudah yang mereka pikir sebelumnya. Batin mereka menjerit-jerit tak terperi ketika ratusan pasang mata dengan tatapan cabul semuanya mengarah kepada mereka berdua.

Mereka berdua pun terpaksa juga harus merelakan setiap inci bagian tubuhnya di colek-colek oleh ratusan tangan jahil entah milik siapa.

ketika akhirnya gema sorak sorai dan tepuk tangan riuh rendah ratusan pengunjung yang datang berakhir, menyudahi sesi pertama adegan mereka berdua.

“Bagus.. sekali tepuk dua lalat kena…grand opening toko boss hari ini sukses besar dan proses pengambilan filmpun lancar..jika semua ini telah usai kita semua pasti akan dapat bonus besar kawan-kawan.”Taro kegirangan melihat suksesnya kerja tim mereka hari ini tanpa mempedulikan samasekali perasaan lee eun byong dan Park Ji Sun yang masih shock. Lee eun byong bahkan belum kering air matanya menangis sesenggukan dibahu kekasihnya.

Mereka berdua masih terduduk lemas dalam keadaan telanjang bulat. Tangan mereka berusaha semaksimal mungkin untuk menutupi organ vital aurat masing-masing.

“Boss..kami mau berhenti saja..kami sudah tidak tahan boss.”Akhirnya Park Ji Sun membuka suara.

“Sinting…kalian sudah lupa kontrak kalian?Aku sarankan Jangan main-main ya dengan tuan Ryuji kalian bahkan tidak akan sempat menyesal jika mempermainkan beliau. Hmm…aku tahu perasaan kalian,.. santai saja kalian cuma belum terbiasa..sudah..sudah…ngga usah dipikir lagi nih minum sake ini bersama kami. Kita rayakan kesuksesan hari ini.”Taro akhirnya berusaha meyakinkan Lee eun byong dan Park ji sun untuk melanjutkan menyelesaikan kontrak mereka.

Dengan senyum kecut mereka berduapun menenggak sake itu. Mungkin dengan mabuk dapat melupakan peristiwa memalukan mereka hari ini.

“Taro bagaimana hasilnya?Tuan Ryuji Watanabe menanyakan hasil kerja Tangan kanannya itu.

“Sukses Boss persis seperti rencana Boss. Dua orang dungu itu sudah masuk perangkap kita.”Taro dengan bangga menceritakan kesuksesannya menipu kedua orang malang itu.

“Bagus….sekarang kau tinggal atur untuk besok. apakah figuran polisi dan buruh-buruh bangunan yang orang india itu sudah siap?” Dengan tenang Ryuji Watanabe menanyakan kesiapan taktik selanjutnya sambil menghirup sakenya dengan nikmat.

“Belum Boss kurang truk polisinya saja. Tapi orang-orang india sewaan boss sudah siap mungkin lusa baru beres.”Taro menjelaskan keadaan rencana mereka.

“OK bagus..ga pa pa..kalo begitu take adegan yang lainnya saja dulu. Oh ya..jangan lupa kasi aja bayarannya tapi seperempatnya saja untuk biaya berobat kontol cowok dungu itu ha….ha…..ha…kasihan juga mereka kalo sampai tidak dapat sepeserpun. Selebihnya kau atur sebaik-baiknya OK.” Sambil asyik memainkan rokoknya Ryuji Watanabe memerintahkan Taro tangan kanannya itu untuk segera membereskan rencana busuk mereka.

Keesokan harinya…….

“Baik sudah lengkap semua?…aku jelaskan secara singkat Take kedua kita kali ini. Kali ini kalian harus ngentot sambil mengendarai sepeda motor. Kalian akan menyusur jalan raya di pinggiran shibuya ini. Jarak yang ditempuh lebih kurang cuma 15 kilometer saja. Nanti ada pompa bensin kalian turun sejenak untuk adegan pose isi bensin sehabis itu lanjutkan perjalanan. Sepanjang perjalanan, kalian akan diawasi kami. Hati-hati, sekarang kita benar-benar di area publik jangan sampai terpergok polisi kalian bisa dipulangkan secara paksa ke negara kalian mengerti..?!! Kita ambil Take waktu makan siang dimana kemungkinan patroli polisi sangat kecil. Truk trailer ini akan menunggu kalian pas di tikungan pertama kilometer ke 20 jalan bebas hambatan mengerti? Motornya tetap dinyalakan saja sambil langsung dimasukan nanti kalian turun kalo sudah didalam trailer ini paham..?!! Kalian pake ini dulu. Mantel tipis ini nanti kalo sudah motor berjalan stabil baru dibuang OK..?!! Nah sekarang copot baju kalian.”Dalam sebuah Truk Trailer yang cukup besar Saito kembali menjelaskan apa yang harus dikerjakan.

“Bagaimana Obatnya Ji Sun? Mau di suntik lagi? Saito menanyakan perihal kemampuan kelamin Ji Sun.

“Tidak usah pak, yang ini saja masih belum habis efeknya padahal sudah 3 hari sampai ngilu rasanya kontol saya pak.”Ji Sun menjelaskan keadaan dirinya.

“Bagus kalo begitu. Kontolmu itu memang diwajibkan agar selalu tetap ngaceng. Nah kau naiki dulu motor ini..Lee eun byong kau duduk di depan, dipangku cowokmu…..bagus…nah shiro bantu pakaikan mantel ini.”Sebuah Honda Phantom warna hitam sudah disiapkan.

Lee eun byong sedikit mengejan menahan nafas ketika kemaluan Ji Sun Perlahan lahan amblas di telan bibir kemaluannya setelah mendapat posisi yang enak, Shiro membantu memakaikan sebuah mantel tipis berwarna kuning untuk menutupi tubuh bugil kedua pasangan itu.

Sebuah kamera wireless kecil dipasang dekat tangki bahan bakar untuk menshoting secara close up kemaluan kedua pasangan itu.

“Ya siap…3…2…1..action.”perlahan-lahan honda phantom hitam itu mulai meluncur ke jalanan motor sedikit oleng ketika lee eun byong melepaskan mantel penutup tubuh mereka yang dengan segera mantel tipis berwarna kuning itu sudah terbang disambar angin jalanan.

Motor kembali sedikit oleng ketika lee eun byong mulai mencoba menggoyangkan pinggulnya untuk mengaduk kemaluan Ji Sun yang sudah bersarang di dalamnya.

Untung cuaca saat itu panas sehingga mereka tidak sampai kedinginan motor mereka berguncang-guncang ketika ternyata jalan raya yang mereka lewati bergelombang. Tapi rupanya hal itu justru merupakan berkah karena dengan demikian Lee eun byong tak perlu cape-cape lagi menggoyangkan pinggulnya.

Tak berapa lama kemudian nampak Pompa bensin yang disebutkan Taro. Ada 2 mobil yang sedang mengisi bensin untung pompa bensin masih sepi.

Perasaan malu luar biasa kembali menyerang kedua pasangan itu ketika petugas pompa bensin terbengong-bengong menyaksikan ulah kedua pasangan itu. Mata petugas pengisi bensin itu terfokus pada selangkangan mereka.

“Isi 20 Liter saja pak.”Ucapan Ji Sun menyadarkan kembali petugas Pompa Bensin yang terpesona oleh aksi cabul mereka. Segera petugas itu membuka tutup tangki bahan bakar sementara itu Park ji sun dan Lee eun byong tidak turun untuk menjaga agar posisi kelamin mereka tetap bersatu.

Seorang wanita setengah baya pengemudi mobil yang juga ikut mengisi bensin mengumpat-umpat. Tangannya mencoba menutupi mata putranya yang kira-kira berusia 12 tahun.

Mulutnya mencibir kearah Lee eun byong dan Park Ji Sun yang masih duduk berpangkuan telanjang bulat diatas motor dengan kelamin yang masih menyatu.

Tak berapa lamapun mereka kembali melanjutkan perjalanan. Beberapa mobil yang berpapasan dengan mereka melambatkan laju kendaraannya sambil mengedipkan lampu mobil mereka. Walaupun cuma 15 kilometer perjalanan, tapi rasanya seperti berabad-abad.

Batin mereka berdua sungguh merasa tersiksa. Untungnya keadaan jalan pada umumnya relatif sepi sehingga mereka bisa menikmati sensasi aneh dari ritual cara bersetubuh yang tidak lazim ini.

Kenikmatan alamiah badani persetubuhan mereka yang tidak lazim ini sedikit menghibur persetubuhan mereka diatas motor yang sedang melaju dijalan raya yang padat lalu lintas.

Memicu gairah aneh dan adrenalin yang menyulut bara api birahi menjadi berkobar-kobar pada diri mereka berdua. Darah mereka berdesir hangat mengalir deras melewati setiap pembuluh darah yang ada pada tubuh mereka.

Akhirnya Truk trailer yang dijanjikan telah muncul Ji sun melajukan motornya memasuki truk trailer itu sementara kru yang lain buru-buru segera menutup pintunya dan trukpun mulai berjalan

“Ya sudah cukup kalian boleh turun”Saito bernafas lega semua berjalan mulus seperti rencana.

“Mph…ugh…ah..oh…sebentar..tuan lagi nanggung…mph…”Mulut Park ji sun tak mampu lagi melanjutkan ucapannya karena keburu dipagut oleh bibir Lee eun byong. Pemandangan erotis persetubuhan mereka begitu menggoda

Payudara Lee eun byong bergoyang indah kekanan dan kekiri terguncang-guncang bebas tanpa penyangga. Puting susunya yang berwarna pink kecoklatan sudah sangat tegang yang menandakan bahwa gadis itu sedang dikuasai nafsu birahi yang luar biasa.

Meskipun para kru ini sudah ribuan kali menyaksikan adegan persetubuhan, pemandangan kali ini merupakan yang terpanas. Melihat keasyikan pasangan yang sedang terbakar api birahi, mereka tak urung ikut terpancing Nafsunya.

Beberapa dari mereka mulai gerah dan tidak tahan mulai mengocok kemaluannya masing-masing. Sedangkan Park ji sun dan Lee eun byong, mereka berdua sudah tidak mempedulikan lagi pada keadaan sekitar.

Bara birahi yang berkobar-kobar hebat sudah mencapai ubun-ubun seakan membutakan segalanya. Nafsu birahi yang begitu alami yang hanya bisa timbul dari sepasang insan yang benar-benar saling mencintai.

Ketika akhirnya jerit orgasme Lee eun byong yang terakhir meluncur dari mulutnya, mereka berdua baru menyadari tingkah mereka yang begitu memalukan.

Wajah keduanya hanya bisa tertunduk bersemu merah, semerah kepiting rebus. Mereka berdua kemudian disambut tepuk tangan meriah dan suitan-suitan nakal para anggota kru.

“Nah begitu…baru hebat…bravo tetap semangat besok kita akan Take yang terakhir dan segera dapat uang dari boss bravo….sekali lagi bravo mari kawan-kawan tepuk tangan untuk Lee eun byong dan Park Ji Sun.”Saito begitu puas akan hasil pada hari ini senyum lepasnya tak henti-henti tersungging dari bibirnya.

“OK sekarang kita sudah memasuki babak terakhir bagaimana sudah siap? Setelah semua ini selesai kalian bisa melanjutkan kontrak kalo masih mau. Aku dengar tuan Ryuji Watanabe puas dengan kerja kalian.”Taro memberikan briefing kepada anak buahnya sebelum mulai pengambilan adegan.

“Maaf tuan Taro, kami berdua sama sekali tidak ingin lagi. Batin kami tersiksa sampai kapanpun kami tidak akan terbiasa jika harus bersetubuh di depan umum.”Dengan Halus Park Ji Sun menolak tawaran Taro

‘Ya sudah terserah kamu, uang kalian sudah kami transfer kemarin tapi baru seperempatnya saja nanti setelah selesai ini baru akan ditransfer secara full. OK sekarang aku jelaskan Take terakhir kita. Kalian kini harus ngentot di perempatan jalan raya dekat patung dewa anjing penjaga. Take Kali ini cukup beresiko karena perempatan ini begitu padatnya terutama oleh pejalan kaki tapi jangan khawatir sudah kami siapkan peta rute pelarian kalian kalo sampai terjadi sesuatu. Kalian lihat disana kira-kira 100 meter dari lokasi kalian ngentot ada gedung 60 lantai yang sedang dibangun. Kalian harus lari kearah sana. Jangan naik tapi langsung turun kearah basement. Disana ada saluran air yang mengarah kearah barat disana mobil van kita akan menunggu kalian. Kalian harus berpencar jika sampai terjadi sesuatu. Selama pengambilan gambar kalian akan dikawal 3 orang 2 orang kameramen 1 orang pengawas keadaan. Ini ada earphone silahkan dikenakan. Kalian berdua ingat jangan seperti kemarin tidak ada istilah lagi nanggung disini sekali tertangkap habislah kalian. Segera lari sekencang-kencangnya kearah gedung itu kalo mendapat peringatan paham!l”Lee eun byong dan Park Ji Sun langsung tertunduk muka keduanya langsung memerah teringat peristiwa panas kemarin. Taro kemudian mengakhiri penjelasannya.

“OK seperti biasa ini mantelnya. Kalian pake dulu supaya tidak mencolok begitu sampai lokasi langsung kalian copot mengerti..!! Nah sekarang copot baju kalian dan titipkan pada shiro.”Saito memberi briefing terakhir kepada anak buahnya menggantikan Taro yang telah pergi.

“Siap…3…2…1…Action.”Lee eun byong dan Park Ji Sun agak ragu sebentar mereka tak menyangka perempatan jalan itu begitu padat hari ini.

Ada ribuan orang yang berlalu lalang melewati mereka. Sesaat mereka berdua memandang Hatsume sang kameramen yang menganggukkan kepala tanda mereka harus segera melepaskan mantelnya dengan memejamkan mata akhirnya mereka berdua nekat membuang mantel mereka.

Tubuh bugil mereka langsung bergumul secara membabi buta. Tak begitu lama, kemaluan merekapun telah kembali bersatu dengan irama cepat Ji sun menggenjot tubuh pasangannya. Walaupun terasa ngilu Ji sun tetap memaksakan menggenjot kemaluannya keluar masuk ke bagian yang paling dalam di liang kewanitaan kekasihnya itu.

Sesaat Lee eun byong merasakan sensasi luar biasa dari denyutan batang kemaluan Ji Sun yang bergetar-getar hebat mengaduk-aduk liang rahimnya mata gadis itu merem melek keenakan tak kuasa menahan sensasi nikmat yang menjalari selangkangannya.

“Dasar bejat..!! Tak bermoral…terkutuk kau anjing. apa kau tak kasihan kepada ibumu?! masih ada cara lain untuk cari uang dasar tidak tahu malu kalian!!”Secara tiba-tiba, pantat telanjang Park Ji Sun terasa panas ketika sebuah kaleng minuman ringan dari salah seorang pejalan kaki yang marah menimpuknya.

Keduanya terlonjak kaget kemaluan Ji Sun langsung terlepas bergoyang-goyang naik turun. Nampak cairan precum kenikmatannya meleleh lepas terbawa angin. Menetes ke aspal jalanan.

Keduanya medadak tersadar oleh makian beberapa orang yang lewat dan geram kepada aksi cabul mereka. Entah kenapa, tiba-tiba bayangan wajah kedua orang tua mereka berdua berklebatan didalam kepala mereka masing-masing.

Rasa penyesalan mendalam seakan-akan menghunjam jantung mereka. Tiba-tiba keduanya dilanda rasa malu yang luar biasa dengan ketelanjangan mereka.

Tangan Ji Sun berusaha menutup kemaluannya tetapi kemaluannya yang sudah 4 hari ini tidak mau lemas, kepala penisnya masih menyeruak nongol dari sela-sela telapak tangannya.

Demikian pula dengan Lee eun byong telapak tangan mungilnya tidak cukup lebar untuk menutupi dadanya yang besar dan selangkangannya yang berbulu lebat merimbun. Sehingga tetap saja helai demi helai bulu kemaluannya yang hitam lebat masih menyeruak melewati sela-sela jarinya.

Matanya terasa berkaca-kaca sesaat kemudian Ia sudah tak kuasa lagi membendung derai air matanya lagi. Tangisnya langsung meledak.

Keduanya langsung kikuk berjongkok meringkuk berusaha menutupi ketelanjanganya sambil menangis tersedu-sedu.

“Waduh kacau nih….Apa..?!!…ada dimana?….Lari! ada Polisi….!”Suara Natsume di ear phone seakan memecah gendang telinga Park Ji sun mereka berduapun langsung kaget celingukan.

“Gawat ada polisi Eun byong. Kita harus lari kesana cepat..”Kedua pasangan itu langsung mengambil langkah seribu.

Dalam keadaan telanjang bulat, mereka berdua lari terbirit-birit menuju kearah gedung bangunan 60 lantai yang sedang dikerjakan. Beberapa kali Lee eun byong nyaris terjatuh hampir hilang keseimbangan karena tangannya sibuk berusaha menutupi kelaminnya.

Akhirnya ia tidak lagi mempedulikan ketelanjangannya tangannya kini berayun sempurna untuk mengimbangi tubuhnya.

Tanpa disadari mereka berdua, beberapa kamera yang terpasang di sudut jalanan masih tetap aktif bergerak menyorot pelarian mereka. Salah satu Lensa-lensa beresolusi tinggi yang tersebar di berbagai tempat secara aktif memfokuskan kepada dada besar Lee eun byong yang kini bergoyang bebas mengayun kencang kekanan kekiri dengan liar.

Lensa yang lain menyorot secara detail kelebatan rambut kemaluannya yang tersibak angin nakal. Merekam dengan detil belah tipis clistorisnya yang nampak samar dibalik kerimbunan bulu-bulu kemaluannya.

Dalam kepanikannya, Lee eun byong secara tidak sadar sampai terkencing-kencing. percikan air seni kekuningan itu memancar membuncah tanpa bisa terkontrol lagi membasahi aspal jalanan.

Sementara lensa lain yang juga beresolusi tinggi dengan cermat mengabadikan moment saat cairan-cairan bening kental yang secara tidak sengaja menyembur keluar dari ujung kepala penis Ji sun. Kantung biji pelirnya yang juga bergoyang kencang tak terkontrol dengan sempurna berhasil diabadikan.

“Eun byong kita berpencar kau lari dulu aku akan mencoba mengalihkan perhatian polisi-polisi itu.”Dengan panik Park ji sun menyuruh kekasihnya untuk kabur lebih dulu.

“Tapi….kau bagaimana..?!!”Dengan tak kalah paniknya Lee eun byong tetap masih ingin bersama kekasihnya.

“Jangan pedulikan aku, cepat nanti kita malah tertangkap semua cepat..!!”Dengan setengah berteriak Park ji sun berusaha keras meyakinkan kekasihnya itu.

“Baik lah janji kau harus selamat!”Akhirnya Lee eun byong meneruskan pelariannya. Mulutnya berkomat-kamit memohon keselamatan dari dewa-dewi beruntung akhirnya ia sudah berhasil masuk ke area gedung.

Dengan terburu-buru ia menuruni tangga yang belum sempurna dibangun untuk turun menuju ke lantai basement seperti yang direncanakan.

Beberapa kali tubuhnya terhuyung-huyung nyaris jatuh akibat kehabisan nafas ketika akhirnya langkahnya mendadak terhenti.

“Celaka nampaknya aku tersesat aduh bagaimana ini..?”Lee eun byong menjadi kebingungan ketika dirinya terperangkap di ruangan buntu.

Jantungnya semakin berdegup kencang saat menyadari bahwa dia tidak sendirian. Di ruangan itu ada sekitar 50 orang buruh bangunan. Mereka berbadan tinggi tegap dengan kulit gelap nampaknya mereka adalah buruh kontrak yang berasal dari India.

Para buruh bangunan itu sedang berkumpul nampaknya mereka sedang menikmati santap siang sejenak riuh canda mereka mendadak terhenti ketika mereka menatap tubuh bugil Lee eun byong yang tersaji indah didepan mata mereka.

“Wel…wel…wel…mimpi apa kita semua ada gadis cantik telanjang bulat dan datang kemari apakah pak mandor sengaja mengirimkannya untuk kita? Hoii….Pak Mandor Thanks ya lo tau aja sudah 5 bulan aku tidak menggauli wanita.”Gerombolan buruh bangunan itu bersorak sorai kegirangan.

Seloroh-seloroh kurang ajar terdengar bersahut-sahutan di lain pihak,Lee eun byong merasa lututnya menjadi lemas nasib yang sangat buruk sudah jelas tergambar didepan matanya dengan kebingungan ia berusaha menutupi payudara dan alat kelaminnya dengan tangannya

“Hei…cantik masih kelihatan tuh pentil lo..ha…ha…ha….”Lee eun byong langsung terkaget buru-buru ia berusaha merapikan posisi tangannya tapi untuk menutupi kedua pentil susunya ia malah lupa bahwa tangannya yang satu lagi sedang digunakan untuk menutupi kemaluannya.

“Idih…jembutnya lebat amat kelihatan tuh..!!bwaha..ha..ha…”Lee eun byong menjadi semakin panik kini ia kebingungan bagian mana yang harus ditutupi.

Dengan panik Lee eun byong mencoba berputar kesana kemari mencoba mencari celah untuk meloloskan diri tapi kepanikannya itu justru semakin memancing birahi kuli-kuli bangunan itu yang sudah sangat lapar akan belaian wanita

“Busyet itu susunya nafsuin banget hayo goyang yang kenceng biar lebih ngondoy..brur.”Beberapa dari mereka bahkan sudah telanjang bulat dan bersiap siap menerkam tubuh Lee eun byong.

Tiba-tiba sebuah tangan hitam kekar yang penuh bulu berhasil membekuknya, dalam sekejap mata 5 orang kuli bangunan itu sudah mengerubutinya.

Lee eun byong ketakutan saat salah seorang kuli bangunan tiba-tiba melompat kerahnya, memeluknya dan menindih tubuhnya dari atas..

“AWW…MMMMPH!” Gadis malang itu menjerit, namun kuli bangunan itu menghentikannya dengan memaksa menciumnya, Lee eun byong tak berdaya untuk menghentikan ciuman itu,… ” MMMMMMPH

Kuli bangunan itu menekan lidahnya masuk, memaksa gadis itu membalas permainan lidahnya, dan mengunci tubuh bugil gadis itu agar tetap menciumnya, sementara tangannya mulai meremas salah satu payudaranya.

Air mata Lee eun byong mulai menetes, terpaksa ia harus menerima ciuman dari kuli bangunan yang bau itu. Sementara tangan bajingan itu makin brutal meremasi payudaranya, ia berusaha menghindari ciuman pria hitam yang bau itu namun tak berdaya melepasakan diri dari keinginan hewani kuli bangunan yang sudah birahi itu.

“MMMMPH!” Lee eun byong mendesah hampir pingsan kehabisan nafas.

Kuli bangunan itu begitu menyukai, aroma dari bibir gadis itu, demikian juga dengan payudaranya yang begitu besar. Kuli itu menggunakan kakinya untuk mengangkangkan kaki gadis malang itu, dan mulai menekan penisnya di bibir vagina gadis itu.

Tubuh Lee eun byong menggelinjang saat ia merasakan penis Kuli bangunan itu yang menekan dan mencoba masuk dibibir kemaluannya yang masih kering.

Lee eun byong dapat merasakan bagaimana penis itu mulai mengeras dan menekan tubuhnya. Dia menjerit namun kembali tertahan oleh lidah kuli bangunan itu yang kembali menciumnya dengan liar.

Sementara tangan pria india itu masih meremas-remas sambil memilin puting susunya, payudara Lee eun byong mulai memerah akibat perbuatan kuli bangunan itu.

Pria India itu melepaskan Lee eun byong itu sambil tertawa terbahak-bahak.“Kau cantik sekali!”

“Tolong ….tolong lepaskan saya … !!”Lee eun byong mencoba memohon meskipun ia tahu akan sia-sia belaka.

“Hmmm, mungkin, tapi aku akan membuat kamu “ngecreet” lebih dahulu, bagaimana kalo aku menghisap dadamu yang besar itu ?? “

Kuli itu mencolek-colek memainkan payudara Lee eun byong yang mengayun-ayun indah, bebas tanpa penyangga sebelum membenamkan wajahnya ke payudara Lee eun byong yang besar itu

“AWWW! jangan! AWWW!”Lee eun byong menjerit, saat ia dapat merasakan lidah kasap pria hitam yang besar itu memoles seluruh permukaan payudaranya.

Pria hitam itu dengan lihay menggerakan lidahnya, menghisapi payudara montok itu, sementara tangannya pun ikut meremas-remas sebelah payudara yang lain. Tubuh Lee eun byong bergetar-getar merasakan sensasi nikmat itu.

” Ahhhh… ” Lee eun byong meraung, saat dia merasakan lidah kuli bangunan itu bergerak demikian cepatnya menstimulasi dirinya, Lidahnya menyelusur dengan cepat seperti mengurut-urut pentil susunya yang sudah mengacung tegang.

“MMMM…” Dengan nikmat pria itu tak bosan-bosannya menjilati payudara Lee eun byong , Mmmph..mmmph!”Suara dengus nafasnya terdengar bagaikan lokomotif kereta yang sedang melaju kencang.

Pria itu mencaplok salah satu payudara Lee eun byong, menjilatinya, menghisapinya, sambil meremas-remasnya, jemarinya tangannya memainkan puting kanan gadis malang itu, sementara bagaikan bayi kelaparan pria jelek itu menyusu diputing kirinya.

“AWWWWWW!” Lee eun byong kembali menjerit saat kuli bangunan itu semakin brutal mengigit dan menghisapi payudaranya

Wajah gadis malang itu bergerak kesana-kemari, diserang oleh kuli bangunan yang sudah demikian bernafsunya, menyedot secara bergantian di payudaranya, menghisapinya tanpa henti, sambil memainkan putingnya dengan lidahnya

Kuli bangunan itu terus menjilati gundukan daging kenyal yang membusung menantang. Tanpa bosan-bosannya menghisapinya dengan kuat, sebelum tangannya mulai turun menjelajahi hutan belantara yang tumbuh hitam lebat merimbun di selangkangan Lee eun byong.

“Jangan, jangann ”Lee eun byong memohon saat dia merasakan jari-jari kasar kuli bangunan itu menyibakan bulu-bulu kemaluannya, berusaha menemukan itilnya.

“Dengan nafas memburu kuli bangunan itu, menatap kemaluan Lee eun byong yang ditumbuhi bulu-bulu lebat berwarna hitam mengkilap. Kemaluan wanita terbaik yang pernah dilihatnya, terlihat begitu rapat dan kencang.

Lee eun byong menjerit saat jemari kasar kuli bangunan itu mulai menelisir bibir kemaluannya, bermain dengan itilnya sampai membuat tubuhnya mengelinjang tanpa disadarinya.

Sementara jemari kasar pria itu terus menstimulasi itilnya, tangan pria jelek itu menarik betis Lee eun byong agar mengangkang lebih lebar, dan lalu mengganti jari-jari tangannya yang kasar dengan lidahnya.

“AWWW! OH , jangan hentikan,.. ”Lee eun byong menjerit saat ia merasakan lidah tebal pria berkulit legam itu memoles kemaluannya, menyelusup kedalam liang kemaluannya, sambil menghisapi itilnya, tubuh gadis malang itu tanpa sadar mengejang menikmati sensasi ini.

Pria india kuli bangunan itu terus menerus menghisapi itilnya sambil menjilati permukaan kemaluannya. Tubuh Lee eun byong mengejan beberapa kali ketika secara tidak sengaja beberapa helai bulu kemaluannya tercerabut menyelip diantara gigi-gigi kuning pria kasar itu.

Tubuhnya bergetar, mulutnya mendesah tangannya berusaha menepis kepala yang membenam di tengah selangkangannya, namun desahan itu hanya membuat penis kuli bangunan itu makin mengeras saja.

Lee eun byong mendesah tak karuan saat ia merasakan lidah kuli bangunan itu menyapu kemaluannya, sesekali. Kuli bangunan itu dengan mahir menghisapi kemaluan Lee eun byong, memberikan kenikmatan yang tak diharapkan. Seluruh tubuh gadis itu mulai bergairah, tanpa terasa kemaluannya mulai basah lembab mengeluarkan cairan.

“Ah, ah, ah, ah.”Lee eun byong mendesah ” Ya ampun, oh Tidaaak !! “

Lee eun byong menatap penis hitam pria india itu yang telah menegang, ia terbelalak tak percaya melihat ukuran luar biasa penis itu, dan membayangkan betapa sakitnya bila penis itu sampai menyetubuhinya.

Pria India itu tersenyum mesum saat ia menyadari gadis cantik ini ketakutan melihat ukuran kemaluannya.

“Hey, hey lo suka dengan kontol besarku ya..?!”

“Tidak, bajingan kau..hentikan!”Lee eun byong memohon. Sementara ia terus berjuang mengalahkan nafsu birahi yang makin menguasai dirinya. Sementara vaginanya makin terasa hangat dan menjadi basah kuyup oleh cairan precum kenikmatan bercampur air liur kuli bangunan itu.

Pria itu lalu menurunkan betis Lee eun byong, mencengkram pinggulnya dan langsung menyentakkan penisnya dalam lobang kemaluannya.

Lee eun byong mulai kesakitan, sementara kepala penis kuli bangunan itu makin menekan masuk di mulut kelaminnya, Lee eun byong berusaha keras untuk melepaskan diri. Ia tidak ingin ada kemaluan pria lain selain Park ji sun yang berhak memasukinya, namun perlawanannya tiada artinya dibandingkan dengan ukuran tubuh kuli bangunan yang biasa bekerja kasar Pria itu tetap mencengkramnya kuat-kuat

”Tunggu, jangan aku mohon tidak akan muat.. “Lee eun byong terus menerus merengek mohon dikasihani

”Aku Tahu, dan itu akan membuat ini sempurna”Ia tertawa” Lihat sisi baiknya, penisku yang besar ini akan memuaskanmu.”

“Tidakkk!”Lee eun byong menjerit sejadinya, sementara penis pria itu sedikit demi sedikit mulai menancap masuk dalam liang kemaluannya. Mata gadis malang itu melotot menahan sakit. Sementara penis jumbo itu makin terbenam dalam, seakan merobek dinding kelaminnya.

“Ya kau sekarang milikku…manis ”Kuli bangunan itu menyentak sambil menyodokkan penisnya dalam-dalam.

“AH! AH! YA TUHAN !! YA TUHAN AMPUN..!! ”Gadis malang itu menjerit lagi dan lagi

Kuli Bangunan itu mulai menggoyangkan penisnya maju mundur, keluar masuk dalam liang kemaluan Lee eun byong, membelah kemaluan sempitnya dengan kesetanan.

“AWWWWW..!!”Lee eun byong menjerit-jerit, merasakan bagaimana penis yang demikian besarnya itu menyetubuhinya, perlahan rasa sakit itu memudar, berganti kenikmatan yang sebenarnya tak diinginkannya.

Tubuh pria India yang hitam legam itu mendekap tubuh putih bersih Lee eun byong yang begitu indah, sambil terus menerus meremas-remas payudaranya

Penis raksasa itu terus menerus menggenjot tubuhnya. Menghantamnya dengan deburan-deburan kenikmatan yang demikian hebatnya.

Tubuh bugil gadis itu menggelinjang, setiap kali penis raksasa itu keluar masuk dari lobang kemaluannya. Perlahan ia makin dekat dengan Orgasmenya, Sementara tangan dan mulut kuli bangunan itu terus menerus menstimulasi payudaranya.

“OH, OH, OH NO! AHHH! MMMMM! TTOLONG JANGGANN!”Tubuh bugil gadis malang itu pun mulai kehilangan kontrol dirinya.

“Ayolah cantik, berorgasmelah, ayo, aku ingin mendengar kau menjerit nikmat!!”Kuli bangunan itu terus membisikan bisikan-bisikan cabul.

“Tidak akan…AWWWWWWW..!!”Lee eun byong menjerit sejadinya ketika akhirnya pertahanan dirinya jebol saat sebuah orgasme dahsyat menerpa nya.

Lee eun byong belum pernah merasakan perasaan semacam ini sebelumnya. Seluruh tubuhnya serasa terbakar, nikmat yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

Tanpa sadar dia mulai menggerakan tubuhnya mencari kenikmatan mulai mencari penis kuli bangunan itu, Dalam keadaan terbakar api birahi yang sangat dahsyat sedikitpun dia tak menyesalinya.

“OH Tuhan….shhh…maafkan aku Ji sun..aku tak kuasa menolak rasa nikmat ini arg….egh….ah…ahh…oh..!”Lee eun byong Mendesah.

Lee eun byong menjerit dan mendesah seluruh syaraf tubuhnya mengejan menikmati setiap orgasme yang menghantamnya, lagi dan lagi, bagaikan sebuah ledakan nuklir dalam kepalanya.

Sementara kemaluannya telah basah kuyup tak henti-henti mengeluarkan cairan orgasme, memberikan kenikmatan tak terkira pada dirinya.

“Ahhhhhh!”Lee eun byong kembali terpekik

Kuli bangunan itu menangkap wajah Lee eun byong, mendorong mulutnya pada bibir gadis itu, menciumnya, sambil mendekapnya kuat-kuat.

Lee eun byong kehilangan seluruh kontrol tubuhnya, dan mulai membalas ciuman cabul kuli bangunan itu. Akibat nafsu birahi yang sudah mencapai ubun-ubun, ia secara tak sadar otomatis melakukannya sendiri.

Tubuh telanjang keduanya saling berpelukan dan mulai menjatuhkan tubuh mereka keatas tanah, sebelum akhirnya kuli bangunan itu melepas dekapannya pada tubuh gadis malang itu. Lee eun byong mulai tenang dan tersadar kembali, air matanya mulai menetes.

Kuli bangunan itu menyeringai penuh kemenangan kearah teman-temannya yang riuh rendah menyorakinya. Ia menatap Lee eun byong yang telah dikalahkannya itu.

Pria cabul itu tertawa terkekeh-kekeh melihat korbannya menangis, Tangannya mulai kembali menempel di payudara gadis itu, meremasnya dan memilin putingnya.

“Bajingan!!.” Lee eun byong menangis sambil memaki kuli cabul itu. “Keparat kau..!!,”

“Hey, aku baru saja mulai sayang, masih ada dua lubang lagi kan? dan teman-temanku nampaknya sudah tidak sabar lagi ingin bersenang-senang denganmu”Kuli bangunan itu tersenyum-senyum penuh kemenangan sambil memberi tanda ke pada kawan-kawannya untuk maju mendekat.

Lee eun byong bahkan sudah menyerah saat tangan-tangan kasar milik kuli-kuli bangunan yang lain bermain dengan payudaranya. Ia tahu bila ia melawan hanya akan membuat mereka mengerjainya lebih brutal lagi.

Bahkan kini kedua payudaranya masing masing sudah berhasil dihisap oleh dua mulut dari dua kepala yang berbeda jerit tangis histeris Lee eun byong sama sekali sudah tidak dipedulikan lagi.

Kini ia dapat merasakan sekujur badannya telah dijelajahi oleh gesekan-gesekan puluhan lidah kasap yang menyapu secara membabi buta.

Tubuhnya bahkan sampai melengkung bagaikan busur panah ketika merasakan suatu hisapan yang kuat luar biasa yang berpusat di selangkangannya.

“Aih gurih sekali memeknya..slurp…slurp.hh.h..sret..srett.cret…glek.. lezaat… mak..nyuss..tenan.”Tanpa merasa jijik sedikitpun salah seorang kuli itu menghirup cairan kewanitaan Lee eun byong. Lidah nakalnya dengan buas mengaduk-aduk selangkangannya.

Lee eun Byong mengejan sesaat ketika merasakan itilnya digigit-gigit kecil tanpa bisa dikontrol lagi, reaksi alami tubuhnya memerintahkan liang kewanitaanya untuk memancarkan suatu cairan.

Dengan deras entah air kencing atau cairan precum kenikmatan tiba-tiba meluncur begitu saja dari selangkangannya yang dengan gembira langsung disambut oleh mulut lapar seorang kuli berwajah jelek hitam dan berjenggot tebal.

Akibat organ sensitifnya itu terus-menerus dihujani rangsangan lidah yang begitu dahsyat, akhirnya Lee eun byong pun kembali mulai merintih-rintih keenakan perlahan tapi pasti rasa takut dan malu digantikan oleh nafsu birahi yang kembali meledak-ledak.

“Argh….aduh..duh…”Tiba-tiba Lee eun byong dapat merasakan lobang anusnya ada yang mengorek-ngorek dengan jari dan tak lama kemudian terdengar suara orang meludah. Bersamaan dengan itu dapat dirasakannya kini lobang anusnya terasa basah dan hangat disusul oleh desakan benda tumpul yang lunak tapi kenyal dan keras.

Perlahan penis besar itu menyentuh anusnya .

Lee eun byong merasakan ” ja..jangan ..jangan di situ tolong…”Kuli itu hanya tersenyum.

”AGHHHH …. SAKIT … Oh..tidak…jangan disitu argh….sakit….tolong…ampun Ji sun tolong aku…argh” jeritan Lee eun byong terdengar memilukan, liang anusnya seakan robek.

Penis Kuli bangunan itu dengan kasar mulai, menembus anusnya, dengan sekali tekan. Sakit, perih, itu yang di rasakan gadis itu.

Penis itu seakan mengoyak anusnya. Sakit yang di rasa anus Lee eun byong menjalar hingga ke perutnya. Perutnya menjadi terasa kejang dan mules oleh desakan kemaluan raksasa kuli-kuli bangunan itu.

Tapi sebaliknya kuli bangunan itu merem melek kenakan merasakan jepitan yang nikmat, dan rasa hangat, di seluruh batang kemaluannya yang sedang diremas-remas oleh dinding anus korbannya.

Lima menit berlalu , anusnya terus di sodok sodok penis besar Kuli bangunan itu. Tubuh Lee eun byong sudah tak kuat lagi meronta , suaranya pun hilang. Hanya bunyi nafasnya berdengus-dengus, seperti orang sesak nafas. Kuli bangunan itupun puas dengan tindakkannya , Penis besarnya telah memuncratkan sperma unutk yang ke dua kali .

Entah sudah berapa lama Lee eun byong digilir oleh puluhan kuli bangunan itu ketika akhirnya kilauan cahaya yang menyilaukan menyorot tubuh bugilnya yang sedang digauli oleh puluhan kuli bangunan

“Ini Polisi hey kalian bubar…bubar semuanya…”Terdengar beberapa kali raungan sirene yang disusul perintah membubarkan diri dari corong sebuah megaphones

“Hu….hu….Apa-apaan ini? bukan hadiah dari pak mandor?”Sumpah serapah dan makian-makian kotor riuh rendah bersahut-sahutan meluncur dari puluhan bibir jelek kuli bangunan tersebut.

“Hayo….bubar….atau kalian akan ikut kami tangkap bersama gadis ini.”Tubuh bugil Lee eun byong tersandar lesu di tiang pancang gedung.

Dalam hati dia sedikit bersyukur akhirnya siksaan sexual terhadap dirinya berhenti matanya nanar menatap kosong ke arah rombongan polisi itu.

Dari kejauhan dia dapat mengenali sesosok tubuh bugil kekasihnya Park ji sun yang rupanya sudah lebih dulu dibekuk.

“Kalian berdua kami Tahan dengan tuduhan berbuat cabul di area publik dan mengganggu ketentraman umum dan juga merusak moral anak-anak. Kalian berhak diam dan mendapatkan pengacara? mengerti? sekarang ikut kami kekantor.”Dengan kasar tubuh bugil Park ji sun dan Lee eun byong segera digelandang menuju truk tahanan polisi.

“Maafkan aku Lee eun byong aku tidak bisa melindungimu.”Park Ji sun berbisik lirih didekat kekasihnya. Ia begitu prihatin melihat keadaan tubuh bugil kekasihnya yang penuh berlumuran ceceran sperma. Bau cairan air mani bercampur keringat juga masih menyengat ditubuh telanjang kekasihnya itu.

“Tak apa-apa Ji Sun mungkin sudah takdir kita bernasib buruk”Dengan terbata-bata disela-sela derai air matanya Lee eun byong mencoba menghibur dirinya sendiri dan kekasihnya.

Jarinya mencoba memijit-mijit area sekitar lobang anusnya yang masih terasa perih rasanya masih seperti ada kemaluan pria yang menancap didalamnya sehingga Ia merasa agak sulit untuk berjalan dengan normal.

“Diam kalian jangan ribut dan jalan cepat sedikit kalian hanya merepotkan kami. Kalian memang pantas diberi pelajaran.” Kepala Komandan regu polisi yang telah berumur itu nampak bengis membentak mereka berdua.

Mereka berdua digiring ke sebuah truk tahanan polisi yang cukup besar mirip dengan truk pengangkut tentara yang bisa memuat sekitar 20 orang pada bagian belakangnya. Sekilas mereka berdua merasa sepertinya pernah melihat beberapa wajah para polisi itu tapi entah dimana.

Beberapa orang polisi itu juga mempunyai kamera yang nampaknya hampir sama dengan yang digunakan Hatake. Polisi itu dengan seksama mengarahkan kameranya ke tubuh bugil mereka berdua yang terhuyung-huyung digelandang menuju truk tahanan polisi.

Setibanya di truk mobil polisi, mereka jadi salah tingkah kali ini mereka benar-benar mati kutu dan kembali merasa malu luar biasa. Sepanjang perjalanan menuju kantor polisi, tubuh mereka berdua tetap dibiarkan telanjang bulat bugil tanpa tertutup secuil kain sama sekali.

Dengan muka merah padam menahan malu mereka berdua berusaha menutupi alat kelamin masing-masing dengan cara berpelukan erat memanfaatkan tubuh masing-masing untuk saling menutupi alat kelamin mereka.Tapi usaha mereka itu malah membuat mereka berdua nampak seperti sedang berusaha bersetubuh.

“Bangsat sudah tertangkap pun masih mau ngentot lagi benar-benar bejad kalian. Dan lo cewek sudah gatel ya? masih kurang tadi digilir sama kuli-kuli India yang berkontol besar? masih pengin nambah ?”Tak habis terpikirkan oleh mereka berdua bagaimana mungkin seorang aparat penegak hukum dapat mengucapkan kata-kata kasar dan kotor seperti itu.

“Ampun pak tidak pak..!!”Mereka berdua merasa benar-benar dilecehkan oleh para polisi itu.

“Lalu kenapa lu peluk-peluk cowok lu?”Dengan senyum mengejek kembali sang komandan menanyakan hal konyol yang seharusnya tidak perlu dipertanyakan.

“Saya malu pak telanjang bulat begini”Lee eun byong dengan lirih menjawabnya. Mukanya semakin merah padam mendengar ucapan-ucapan yang semakin menyudutkannya.

“Oh jadi lo masih punya malu?”Kembali sang komandan menghujani pertanyaan-pertanyaan yang meruntuhkan mental mereka berdua.

“Bener pak saya malu sekali sekarang”Deraian air mata Lee eun byong semakin deras mengalir mengiringi ucapannya.

“Kalo malu kenapa kalian berani ngentot di jalan umum?”Kini semakin jelas para polisi ini ingin sedemikian rupa menghancurkan harga diri mereka berdua.

“Kami butuh uang pak makanya kami main film porno”Lee eun byong mengatakan yang sejujurnya tentang motif mereka.

“Bohong kamu…. Bikin film porno di Jepang itu legal dan ada peraturannya. Produser bodoh mana yang mau berurusan dengan hukum dengan bikin jenis film porno yang sudah dilarang oleh pemerintah..?!! Kalian pasti punya kelainan seks ya..?!! udah ngaku saja..!!”Para polisi itu terus menerus menyerang secara psikologis.

“Bener pak kami tidak bohong. Tolong pinjami kami baju pak. Sungguh kami kapok dan malu sekali”Mereka berdua berharap agar dipinjamkan baju untuk sekadar menutupi ketelanjangannya.

“Bohong…pembohong…kampungan… Kalian itu sudah putus urat malunya kalo kalian punya malu tidak mungkin kalian ngentot di jalanan umum yang ramai dasar sinting. Kalian terus membohongi kami ya..??!! Kalian harus di kasi pelajaran.”Dengan bentakan keras komandan polisi itu tetap tidak mau percaya pada penjelasan mereka berdua.

“Ampun pak tidak berani pak”Mereka berdua menjadi sangat panik mereka begitu takut membayangkan akan kembali di deportasikan ke korea utara. Negri yang dengan susah payah sudah berhasil mereka tinggalkan.

“Ya udah jangan bohong cepat ngaku kalo kalian memang suka ngentot di jalanan sambil ditonton orang banyak nafsu kalian akan lebih bergairah dan baru bisa ngecrot.”Para polisi itu sengaja memaksa mereka berdua untuk membuat pengakuan seperti yang di maunya

“Tapi pak…”Mereka berdua mati-matian berusaha melunakan hati para polisi tersebut.

“Mau bantah lagi?Cepat ikuti ucapanku yang tadi dengan suara keras atau biji pelermu akan aku injak sampe pecah biar lo jadi impoten. Mau di kasari dulu atau mau sendiri?”Diluar dugaan ternyata para polisi itu bertindak sangat kasar.

“Baik pak… Sa…saya suka ngentot di jalanan sambil ditonton orang banyak saya akan lebih bergairah dan baru bisa ngecrot.”Menyadari posisinya sebagai imigran gelap yang tidak menguntungkan dengan terpaksa Park ji sun akhirnya menuruti memberikan pengakuan seperi kemauan mereka

“Heh…. lo yang cewek juga ngomong yang kenceng seperti cowokmu itu cepet….”Tak puas hanya dengan pengakuan Park ji sun, kini para polisi itu beralih ke Lee eun byong untuk memberikan pengakuan yang serupa.

Ba…ba..baik pak.. S..ss..saya suka ngentot di jalanan sambil ditonton orang banyak saya akan lebih bergairah dan baru bisa ngecrot.”Tak pernah terpikirkan oleh Lee eun byong ia harus mengucapkan pengakuan cabul seperti itu diluar kehendak dan kenyataan yang sebenarnya.

“Sekarang bersama-sama”Para polisi itu tersenyum-senyum penuh cibiran kepada mereka berdua. Sementara salah seorang polisi yang lain sengaja memfokuskan arah kameranya kearah selangkangan masing-masing silih berganti lalu kearah atas tepat memfokuskan ke wajah mereka berdua. Raut wajah yang penuh rasa malu dan panik berhasil dengan baik diabadikan oleh kamera polisi itu.

Sa….sa…ya suka nge…ngentot di jalanan sambil ditonton orang banyak saya akan lebih bergairah dan baru bisa ngecrot.”Dengan lesu mereka sekali lagi menuruti kemauan para polisi itu dan berharap semuanya agar cepat berakhir.

“Apa-apan nih kalian mau mempermainkan kami lagi ya..?!! Ga kedengeran tau ngomong yang kenceng…!!.”Rupanya tak begitu saja para polisi itu mengerjai mereka

Saya suka ngentot di jalanan sambil ditonton orang banyak saya akan lebih bergairah dan baru bisa ngecrot.”Hati mereka berdua semakin tidak karuan menerima terror mental dari para polisi itu.

“Lebih kenceng..lagi..!!.”Para polisi itu saling mengedipkan matanya satu sama lain sambil tersenyum-senyum mesum. Nampaknya ada sesuatu yang tidak beres pada mereka.

“SAYA SUKA NGENTOT DI JALANAN SAMBIL DITONTON ORANG BANYAK SAYA AKAN LEBIH BERGAIRAH DAN BARU BISA NGECROT..”Setengah berteriak mereka berdua akhirnya kembali menuruti keinginan konyol para polisi itu.

“Sekali lagi…!!”Kata Komandan itu kepada mereka berdua sambil melotot.

“SAYA SUKA NGENTOT DI JALANAN SAMBIL DITONTON ORANG BANYAK SAYA AKAN LEBIH BERGAIRAH DAN BARU BISA NGECROT…!!”Akhirnya dengan berteriak mereka berdua untuk terakhir kalinya menuruti keinginan gila polisi ini.

“Ha….ha…..nah begitu baru bagus..!!”Senyum penuh kemenangan tersungging di bibir para polisi itu

“Pak kami sudah menuruti kemauan bapak sekarang tolong pinjami kami baju pak”Dengan penuh harap mereka berdua ingin segera dipinjami baju.

“Kurang Ajar jadi maksudmu lo mencoba membuat aku ketularan penyakit sinting mu dan gantian aku yang bugil begitu ya?”Dengan suara mengglegar komandan polisi itu kembali membentak mereka.

“Tidak pak bukan begitu maksudnya”Park ji sun menjadi gelagapan di pojokan seperti itu.

“Jadi Maksudmu Apa…?…aku kasi tau kalian ya, hanya anjing yang bisa ngentot di sembarang tempat, dan kalian telah melakukan itu. Kalian tak lebih seekor anjing. Dan anjing tidak perlu memakai pakaian bukan..?”Melihat lawannya kebingungan polisi itu jadi semakin memojokan mereka dan menghinakannya sedemikian rupa.

Lee eun byong dan Park Ji sun hanya menunduk terdiam mereka benar-benar merasa dipermainkan oleh polisi-polisi ini. Akhirnya mereka memilih diam karena dengan banyak bicara malah akan lebih mempersulit keadaan.

“Nah kalian tadi sudah ngaku sendiri kalian punya kelainan seks dan suka mengganggu ketenangan publik. Dan kalian juga bermoral bejad penjahat kelamin maniak sex. Teman-temanku semua tadi mendengar pengakuan kalian. Kami juga punya bukti rekaman video pengakuan kalian.”Dengan nada sinis kembali para polisi itu mengejek keadaan mereka.

“Tapi pak tadi kami mengaku karena disuruh bapak”Kali ini Park ji sun sudah tidak bisa menyembunyikan kekesalannya lagi secara tidak sadar bantahan ketus itu meluncur begitu saja dari mulutnya.

“Kurang ajar…. Lagi lagi kalian menuduhku mengancam kalian. Kalian punya saksi tidak..!!? teman-teman apa aku memaksa demikian…!!?”Mendengar jawaban Park ji sun Polisi itu menjadi semakin emosi.“Aku punya hukuman yang pantas bagi orang yang punya kelainan seks seperti kalian. Nih Balsem gosok lo olesin sampe habis balsem gosok ini ke kontol cowok lo ngarti? habis itu lu kocok kontolnya tapi pake telapak kaki lo dan harus sampe ngecrot paham?kalo belom ngecrot belom boleh berhenti.”

“Ampun pak Kasihanilah kami”Mereka berdua kali ini benar-benar terkejut dengan ancaman hukuman yang sudah benar-benar kelewatan

“Cepaat..!!”Nampaknya komandan polisi itu tidak main-main dengan ancamannya

“Dengan terpaksa akhirnya Lee eun byong mengoleskan seluruh isi botol balsem gosok itu ke kemaluan Park Ji Sun yang sudah mulai meringis-ringis menahan pedih dikemaluannya.

Lee eun byong duduk dihadapan Park ji sun tubuhnya sedikit menengadah keatas kedua tangannya diturunkan sedikit kearah belakang untuk menyangga tubuhnya. Dan dengan perlahan Lee eun byong mulai mengocok kemaluan kekasihnya yang sudah penuh dilumuri balsem gosok dengan menggunakan telapak kakinya

Hawa panas dari balsem gosok itu secara perlahan mulai menggigit kemaluan Park ji sun. Kini mulai dari biji pelir sampai kepala penisnya telah berwarna merah keunguan dan membengkak

“Aduuhh…duh…aduh…argh….”Ji sun mulai merasa kesakitan mulutnya meringis-ringis berusaha menahan sakit yang luar biasa sementara itu Lee eun byong berhenti dan mulai menangis histeris.

“Jangan berhenti..!! Teruskan atau aku injak biji pelirnya dan kupotong pentil susumu untuk makanan anjing!”Dengan kejam komandan polisi itu tetap memerintahkan mereka untuk melanjutkan hukuman yang diberikan.

Ditengah-tengah rasa sakit yang luar biasa Park ji sun masih sempat mengangguk memberi tanda kepada kekasihnya agar menuruti kemauan mereka

“Wadauuwww….auww.auw…auw….arghhh…”Akhirnya rasa sakit yang hebat sudah tidak tertahankan oleh Park ji sun. Tubuhnya berjingkrak-jingkrak berguling-guling tak beraturan didasar bak truk polisi yang tak seberapa luas.Beberapa polisi itu lalu membekuk dan memborgol tangan Park ji sun di kaki kursi.

“Ha…ha….ha….Rasain lo biar mateng tuh kontol jadi kontol panggang bumbu balsem hayo terusin ngocoknya sampe ngecrot itulah upah bajingan kelamin maniak sex amoral seperti kalian..”Derai tawa para polisi itu sama sekali tidak mencerminkan sikap sebagai seorang abdi Negara yang seharusnya patut dicontoh

Setelah Lebih dari 20 menit dikocok kemaluan Park ji sun akhirnya memancar cairan mani lengket bening bercampur darah dan kemudian disusul oleh air kencing yang memancar deras tanpa tertahankan lagi

“Kurang ajar siapa yang suruh lo kencing truk ku jadi kotor tau kalian memang benar-benar menjengkelkan sekarang kalian berdua minum air kencing yang masih tercecer jilat sampai tak ada sisa lagi tau

Dengan tangis yang tiada henti akhirnya mereka berdua menjilati seluruh sisa air kencing yang berceceran dilantai truk. Beruntung sebagian besar air kencing itu sudah habis melewati sela-sela lantai

Park ji sun yang sudah kepayahan hanya dapat terkesiap saat komandan polisi yang sudah berumur itu tiba-tiba meremas-remas payudara montok kanan kekasihnya yang sedang menangis tersedu-sedu di bahunya sambil terkekeh-kekeh.

Melihat komandannya meremas-remas payudara montok kanan Lee eun byong, maka para anak buahnya juga tak kalah berani. Beberapa pasang tangan mereka pun segera ikut beraksi.

Tangan kanan salah seorang anak buah komandan polisi itu meremas-remas pantat
bahenol Lee eun byong. Dan dengan begitu beraninya tangan kirinya merabai selangkangannya. Tampak Lee eun byong menggelinjang sambil berusaha keras menepis tangan itu

Tapi tampaknya polisi muda itu marah karena tepisan Lee eun byong dan tangan polisi muda itu tiba-tiba mendorongnya sehingga Lee eun byong jatuh terduduk di pangkuan komandannya.

Seperti ketiban durian runtuh, Komandan polisi yang sudah tua itupun
dengan serta merta tangan kirinya memelintir keras-keras puting susu pink kecoklatan yang sebesar biji gundu itu. Dan tanpa menunggu waktu komandan polisi tua itupun meremas-remas kasar kedua payudara montok Lee eun byong

Dengan tangan terborgol di kaki kursi Park ji sun tak berdaya melihat kekasihnya meringis merasakan bagaimana komandan polisi tua itu meremas-remas kasar kedua payudara montok kekasihnya.

“Eeeeegggghhhh……ampun pak”didengarnya kekasihnya itu merintih saat sang komandan polisi tua itu memencet, memelintir sambil menarik narik kedua puting susu pink kecoklatan itu

“Aaampuuuun Tuaaaaan…s..saakiiiit Tuaaaan ….”rintih Lee eun byong menghiba. Kini entah mengapa, Park ji sun menjadi terbiasa melihat lelaki memperlakukan tubuh kekasihnya sesuka hatinya.

“Ampuuuuuuuuun paaak …….”Lee eun byong mengerang saat Komandan polisi itu begitu keras menarik kedua puting susunya hingga ia terpaksa tertunduk mengikuti tarikan komandan polisi itu sambil kedua tangannya memegang kedua payudara montok nya

“Kamu memalukan pelacur!!”Bentak komandan polisi itu

“Ampuuun pak …”rintih Lee eun byong dan komandan polisi yang mukanya memerah, melepas tarikan di kedua puting susunya

Park ji sun melihat kekasihnya mengeluarkan air mata, seakan batinnya dapat merasakan betapa sakitnya kedua puting susu kekasihnya karena tarikan jari-jari tangan komandan polisi itu.

Komandan polisi tua itu memangku Lee eun byong kemudian membelai dahinya
dan membersihkan air matanya dengan tissue.

“Hap” tiba-tiba komandan polisi tua itu kembali melahap sebelah kiri payudara montok Lee eun byong dan dengan cepat komandan polisi tua itu melepas kenyotannya dan segera berpindah ke payudara sebelahnya.

“Kamu berdiri..!”Katanya. Menyadari membantah hanya akan membuat para polisi itu akan menjadi semakin brutal, maka Lee eun byong hanya menurut saja ketika komandan polisi tua itu memposisikannya berdiri diantara dirinya dan beberapa anak buahnya.

Mereka lalu menarik bahu Lee eun byong membuat gadis itu berdiri merunduk sehingga kedua tangannya bertumpu pada pinggul pria dihadapannya dan kedua payudara montok gadis itu bergelantung bebas dengan indahnya.

Kemudian, mendekatlah dua kepala polisi muda yang lain itu ke kedua payudara montok Lee eun byong dan hampir bersamaan kedua mulut polisi muda itu dengan rakus seperti bayi kelaparan langsung melahap dan mengenyoti kedua payudara montoknya.

Kini Lee eun byong bagai menyusui kedua bayi raksasa yang kehausan yang membuat dirinya menggelinjang dan kepalanya merunduk kemudian mendongak dengan kedua bola mata yang terbalik berputar-putar.

Mulut gadis itu mendesis-desis merasakan kenyotan kedua mulut polisi muda itu di kedua belah payudaranya.

Park ji sun akhirnya hanya bisa pasrah merelakan tangan polisi muda itu turun dan mengelus-elus paha padat kekasihnya dan akhirnya menyelusup ke selangkangan kekasihnya dan mulai menggosok-gosok itilnya sehingga pantat bahenol kekasihnya itu menungging nunging berusaha menjauh dari usapan-usapan cabul polisi-polisi itu.

Lalu tangan polisi muda yang lain itu berhasil meraih pantat bahenol
Lee eun byong dan menariknya ke depan sehingga gadis itu mau tak mau menekuk lututnya setengah jongkok.

Dan karena kedua lutut Lee eun byong terganjal kaki salah seorang polisi muda yang lain yang masih asyik mengerjai bagian tubuhnya yang lain sehingga terkangkanglah paha sexy Lee eun byong

Rupanya Komandan polisi tua itu melihat posisi Lee eun byong yang setengah jongkok terkangkang maka dimainkannya jari-jemarinya di kerimbunan bulu kemaluan yang hitam lebat milik gadis malang itu.

Tanpa membuang waktu, komandan polisi tua itupun langsung menggosok-gosok selangkangan Lee eun byong menggantikan tangan anak buahnya yang kini kembali berpindah mengerjai puting payudaranya..

Hanya beberapa menit komandan polisi itu menggosok-gosok itil dan bibir kemaluan Lee eun byong, terdengarlah kecipak lendir kemaluan gadis itu dimana pantat bahenolnya bergetar, bergoyang, maju mundur, dan menggelinjang tak karuan.

“Ooouugggghhhhh …shh…”Park ji sun mendengar Lee eun byong mendesis-desis saat dilihatnya jari tengah tangan kanan komandan polisi itu yang sedang mengerjai kekasihnya itu menembus masuk liang kemaluan gadis malang itu yang sudah basah kuyup oleh lendir kemaluannya.

Lalu polisi muda itu mengangkat kaki kanan Lee eun byong dan diletakkan di kursi samping truk sehingga posisinya seperti anjing jantan yang sedang kencing.

Polisi muda itu kemudian memeluk perut Lee eun byong dan sedikit mengangkatnya dari arah belakang sehingga kini pantat bahenol gadis itu menungging dan kedua kakinya terkangkang lebar.

Ia menggosok-gosok kembali selangkangan Lee eun byong yang merunduk sehingga pantat bahenol gadis itu maju mundur tak karuan sedangkan kedua payudara montok gadis itu terus dihisap dan di kenyot-kenyot oleh mulut dua polisi muda itu secara bergantian

Hati Park ji sun semakin hancur berkeping-keping saat melihat kekasihnya menggeleng gelengkan kepalanya. Kedua mata kekasihnya itu nampak meredup kemudian terbelalak lalu kedua matanya terbalik karena serbuan gencar pada kedua payudara montoknya dan sapuan-sapuan lidah kasap di selangkangannya

Nafas Lee eun byong mendengus-dengus dan keringatnya semakin deras membasahi tubuhnya. Sementara rekan-rekan polisi cabul itu hanya terkekeh-kekeh melihat aksi mesum komandan dan rekan sekerjanya yang asyik mengeroyok Lee eun byong sambil mengocok batang kemaluannya masing-masing yang masih di dalam celananya

Polisi muda itu rupanya kurang puas dan kini dia berlutut di bawah tubuh Lee eun byong yang masih menungging. Kedua tangan pria itu langsung mengarah ke selangkangan gadis itu dan dengan kasarnya pria itu menguak lebar bibir kemaluan gadis itu dengan jari-jari tangannya yang hingga Lee eun byong melenguh.

Begitu lebarnya pria itu menguak bibir vagina Lee eun byong hingga nampak liang kemaluannya yang berwarna pink ikut ternganga lebar

“A..a…ampun pak..”Lee eun byong mengerang dan pantat montoknya tersentak menungging.

“Ha ha …. kau apakan dia koq sampe ia berteriak…??? Haa ..haa…ha…”Tanpa daya Park ji sun mendengar komandan polisi mesum itu terkekeh-kekeh

“Ia ga suka main halus boss, mintanya dikasari…he…he…he..”Polisi muda itu menjawab pertanyaan konyol komandannya sambil terkekeh-kekeh kegirangan.

Mata Park ji sun semakin nanar saat dua polisi cabul itu mulai mengeluarkan kemaluannya dari balik seragam celana dinasnya.Batang kemaluan komandan polisi itu tampak setengah menggantung belum berdiri demikian juga dengan anak buahnya

“Hayoo….isep …barang gue cepetan..Komandan itu dengan suara mengglegar membentak Lee eun byong

Tiba-tiba komandan polisi itu memegang kepala Lee eun byong yang masih menunduk berusaha memalingkan mukanya dari kemaluan polisi bejat yang tengah mengerjainya

Mengetahui korbannya berontak, dengan kasar polisi itu menjambak rambut panjang Lee eun byong sehingga kepala gadis malang itu terpaksa menengadah tak dapat bergerak bibirnya meringis menahan sakit.

Belum sempat Lee eun byong mengaduh, komandan polisi itu sudah memencet hidung korbannya hingga Lee eun byong gelagapan dan tak dapat bernafas.

Komandan polisi itu lalu mendekatkan selangkangan nya ke wajah Lee eun byong dan mengusap-usapkan batang kemaluannya ke wajahnya. Polisi itu kemudian memaksa masuk biji pelirnya ke mulutnya yang terbuka.

“Aduuuuggghhhh ….”Park ji sun mendengar polisi itu mengaduh. Rupanya Lee eun byong menggigit biji pelir polisi tua itu

“Kurang ajar kamu….”Rekan-rekan komandan itu langsung menghajar Lee eun byong sehingga biji pelir komandannya dapat terselamatkan. Dalam hati Park ji sun memuji keberanian kekasihnya untuk melakukan perlawanan.

Tetapi akibat dari perbuatannya itu hanya semakin memperparah siksaan gerombolan polisi bejat itu terhadap mereka berdua. Beramai-ramai mereka membalas perbuatan gadis itu dengan mengoleskan balsem gosok ke selangkangan gadis malang itu.

“Nah sekarang terimalah pembalasanku lonte.!!.Anget bukan memek lo…ha…ha…”Komandan polisi itu nampak puas sambil sesekali tangannya mengelusi biji pelirnya yang masih sedikit ngilu.

“Heh lo entotin cewek lo cepet..!! ngga usah pake protest lagi dan lo lonte… lo kan cewek gatel Heh lo ngentot yang kenceng cewek lo ga puas tau..”Setelah melepaskan borgol di tangannya, mereka memaksa Park ji sun untuk menjejalkan kemaluannya yang masih berlumuran balsam gosok ke lobang kemaluan kekasihnya.

Park Ji sun dengan terpaksa menyodok-nyodokan kemaluannya ke lobang kemaluan kekasihnya. Tapi akibat siksaan fisik yang dialaminya, setiap kali kulit penisnya bergesekan dengan dinding kemaluan Lee eun byong, itu berarti siksaan yang luar biasa menyakitkannya.

Sedangkan Lee eun byong pun dapat merasakan bibir kemaluannya lama kelamaan mulai panas mengigit akibat balsem gosok yang teroles secara merata di seluruh alat kelaminnya itu. Senyum licik puas tersungging di rombongan polisi itu.

“Yeah sudah cukup disini karena kami kasihan, kami sepakat untuk melepaskan kalian sudah sana pergi Dengan kasar polisi-polisi itu menendang pantat telanjang pasangan itu. Sehingga terjerembab di jalan

“Ahgh…!!”Dan mereka berduapun tersungkur di rerumputan dekat apartemen mereka

“Dagh….ha..ha..ha..ha..ha..ha selamat ya kalian sudah berhasil kami kerjai…… bwa ha…ha….ha…..”Rupanya seperti dugaan mereka berdua,para polisi itu adalah polisi gadungan bayaran tuan Ryuji Watanabe.

Dengan tubuh masih telanjang bulat dan berbau air mani bercampur kencing Lee eun byong dan Park Ji sun saling berpelukan dan bertangisan mereka meratapi nasib mereka yang sangat buruk.

“Astaga kalian kenapa?apa yang terjadi untung nona Mirai tetangga mereka berhasil menemukan kedua orang itu yang masih tergolek kepayahan dalam telanjang bulat tanpa sehelai benangpun di halaman apartemen mereka.

Kedua orang malang itu sudah tidak mampu berkata-kata lagi dengan beramai-ramai tubuh bugil mereka berdua digotong kembali ke flat apartemen mereka dan akhirnya hari yang menyeramkan inipun berakhir

Sleeping with enemy - part 5

Filed under: PERKOSAAN

Putih. Di mana-mana putih. Apa sekarang aku ada di surga? Eh, apa orang serusak diriku pantas masuk surga?

Kukejap-kejapkan mata dan menoleh ke kiri-kanan. Ternyata aku belum mati karena aku berada dalam kamar yang bernuansa putih minimalis. Sinar mentari yang menyusup dari ventilasi membuatku bisa melihat kamar ini. Ukurannya hampir tiga kali lipat lebih luas dari kamar tempat aku biasa dikurung. Perabotnya juga lengkap, selain ranjang besar dan seperangkat audio-video ada satu set sofa. Ada dua pintu di sisi kiri dan satu kanan. Salah satu dari ketiga pintu itu pasti mengarah ke kamar mandi. Yang satunya mungkin untuk lemari pakaian dan yang lainnya bisa jadi pintu penghubung ke kamar sebelah. Ah, sok tahu sekali aku ini, tapi layout kamar ini mengingatkanku pada kamarku dulu.

Hmm… kasur yang kutiduri ini lembut sekali, rasanya seperti berbaring di atas awan. Selimut tebal yang membungkus tubuh telanjangku juga lembut dan memberiku kehangatan sehingga membuatku ingin terus bergelung dibaliknya.

Kenapa aku bisa telanjang bulat begini? Ah, paling si gila itu menyuruh Aheng membawaku ke kamar ini setelah aku pingsan di kolam renang. Tapi tubuh dan rambutku tidak berbau kaporit, malah wangi lavender. Apa gorila itu memandikanku dulu? Lalu mengapa aku ada di kamar ini? Kamar siapa ini? Begitu banyak pertanyaan muncul di kepalaku, tapi tak semuanya bisa kujawab sendiri dengan memuaskan. Tak ada seorang pun yang bisa kutanyai karena aku hanya sendirian di kamar ini. Eh, jam berapa sekarang? Perutku sudah mulai meraung.

Aku duduk dan menggeliat. Aduh, tubuhku pegal-pegal. Anehnya selangkanganku sedikit basah. Apa karena semalam aku mimpi digumuli BL hingga aku mengerang, menggelinjang sementara dia terus berbisik ‘Kau milikku’? Apa perempuan juga bisa mimpi basah? Rasanya luar biasa, seperti nyata, tapi sepertinya tak mungkin aku tidak terbangun bila dia menindih dan menyetubuhiku seseru itu.

Setengah terhuyung, aku turun dan berjalan mendekati jendela. Kusibak gorden dan mengintip keluar. Aku hampir tak percaya bisa melihat matahari lagi, langit biru, awan putih, pepohonan hijau, taman bunga juga kolam renang tempat aku nyaris meregang nyawa… Segalanya begitu indah dan membuatku haru. Mengapa jahanam itu mendadak berbaik hati memindahkanku kemari? Apa dia menyesal karena sudah kelewatan mengerjaiku tadi malam?

Dengusan hangat di leher bagian belakangku membuatku terlonjak kaget. Jangan-jangan aku terjebak dalam kamar psikopat klemer itu lagi. Namun dengusan napas Bandi dingin lagipula aku mengenali wangi parfum Bvlgari biasa menempel di tubuh BL. Aku langsung berontak. Tapi tak mudah bergerak dalam belitan tangannya apalagi melepaskan diri.

“Apa kau nggak mau bilang terima kasih?” tukas BL sambil menggigit daun telinga kananku.

Kedua tangannya mulai memelintir putingku membuat mem*kku makin basah saja. Aku menggigit bibir untuk menahan desahan nikmat yang sudah hampir terlontar keluar.

“Apa kau nggak pernah diajari berterima kasih?”

Tangan kanannya melepas pentilku. Aku meronta, tapi malah terdiam dan merintih keenakan setelah tangannya mengusap klentitku yang basah. BL menggosok klitorisku sambil mendorongku maju. Tanpa sadar aku melepaskan cengkeraman tanganku pada kedua lengannya dan meremas gorden di hadapanku.

“Oooh…nghh…nghhh…Aaaa?”

Eranganku berhenti karena dia menarik tangannya. Tega sekali dia padahal dua gosok lagi aku akan orgasme. BL malah kembali menyibukkan diri dengan mengelus-elus pinggulku. Aku memutar pinggulku dengan harapan tangannya terpeleset ke kelaminku, tapi sia-sia. Dia lebih cerdik dariku.

“Kalaupun orang-tuamu nggak bisa mendidikmu dengan baik, tapi paling nggak gurumu pasti pernah mengajarimu untuk berterima kasih. Kau pernah sekolah kan?”

Aku menggertakkan gigiku. Sialan betul jahanam brengsek ini.

“Apa aku masih kurang baik? Coba, mana bisa kau makan bebek peking, lobster, kepiting soka, abalone, lidah angsa dan cakar beruang kalau kau masih jadi waitress di Sanctuary. Sekarang kau malah kuberi salah satu kamar terbaik di rumah ini. Belum lagi aku harus terus memuaskan birahimu yang nggak habis-habis. Apa susahnya sih bilang terima kasih?”

Kurang ajar! Bisa-bisanya dia membalikkan fakta seenak kont*lnya!

“Kau ini memang baj… aaah… oooh…”

Makianku terinterupsi oleh eranganku karena tangannya kembali bekerja di tempat yang kuinginkan. Tapi hanya lima detik, setelahnya mogok lagi.

“Kau ini nggak tahu berterima kasih,” keluhnya sambil melumat leherku ala drakula lapar hingga aku tersedak.

Tangan kirinya meremas-remas tetekku dan tangan kanannya sekarang mengusap anusku sembari meremas pantatku. Aku tak tahan lagi dan berbisik serak,

“Terima kasih.”

“Hah? Ngomong yang jelas dong.”

“Terima kasih,” ujarku lagi lebih keras.

“Buat apa?”

Astaga, aku sendiri tidak tahu mengapa aku mau berterima kasih pada pemerkosa sekaligus penculik dan penyiksaku selama ini.

“Kenapa sih kau nggak membiarkanku mati saja?” gerutuku sambil menginjak kakinya dengan gemas.

“Auch! Kau ini keterlaluan,” bisiknya.

Bisikannya diikuti jilatan di telingaku yang membuatku panas dingin.

“Kenapa?” tanyaku lagi sembari menggesek-gesekkan kedua pahaku.

Aku sudah tak bisa lagi menunggu untuk mencapai puncak kenikmatan, tapi dia malah meregangkan kedua kakiku dan menyelipkan kakinya untuk mengganjal pahaku.

“Karena belum waktunya kau mati.”

Aku merinding lagi. Kali ini bukan karena terangsang melainkan ngeri. Tapi ketakutanku cepat sirna oleh usapan sambil lewat pada klentitku yang lapar.

“Ooohh… Terima kasih… karena sudah membiarkanku hidup!” teriakku frustasi.

“Aku lebih suka diberi ucapan terima kasih karena sudah menyelamatkan nyawamu.”

“Menyelamatkanku?? Apa kau sudah gila??” seruku jengkel.

“Hitung-hitung aku sudah tiga kali menyelamatkan nyawamu. Pertama, dari Dibyo. Kau pikir dia akan membiarkanmu hanya jadi simpanannya? Karena kau kasar, dia akan menjualmu pada orang yang kasar juga. Kalau kau dijual ke orang macam Bandi, apa kau masih bisa hidup sampai sekarang?”

Aku bergidik ngeri.

“Kedua, aku menyelamatkanmu dari eksperimen Bandi. Terlambat lima menit saja, mungkin kau sudah jadi mayat kelinci percobaan.”

Tubuhku langsung lemas hingga nyaris menggelosor kalau saja tidak dipegangi olehnya.

“Ketiga, semalam kau pasti mati tenggelam kalau nggak ditolong aku. Jadi pantas kan kalau kau berterima kasih? Aku nggak minta bayaran uang kok soalnya aku tahu kau nggak punya duit. Cuma sekalimat ucapan terima kasih yang diucapkan dengan tulus tanpa nada terpaksa. Nggak susah kan?”

Aku menghela napas panjang. Duh, kenapa aku bisa jatuh ke tangan orang semenyebalkan ini? Aku masih diam sementara dia menarik dan menyandarkan tubuhku ke jendela agar bisa berdiri dengan lebih tegap. Setelahnya ganti dia yang menghela napas panjang. Hembusan napasnya menyibakkan rambut-rambut halus di kudukku.

“Lara, Lara. Kau ini benar-benar keras kepala.”

Tumben dia menyebut namaku. Selama ini kami tidak pernah saling memanggil nama masing-masing. Hanya ‘Kau’ atau ‘Eh’. Kadang dia menyebutku ‘Bitch’. Sedangkan aku biasa memanggilnya ‘Bajingan’, ‘Keparat’, ‘Jahanam’, ‘Orang gila’ dan sejenisnya itu.

Mendadak dia mencolokkan dua jarinya ke liang vaginaku dan mulai mengocoknya.

“Aaah… aaah… Aa?”

Lolonganku terhenti seiring berhentinya kocokan tangannya.

“Terima kasih karena sudah menyelamatkan nyawaku.”

Suaraku gemetar karena menahan amarah dan ledakan libido yang tertunda-tunda.

“Good girl.”

“Ooooh… Iiiiyaaaah…. Aaaaah…. Oaaaaaahhh!”

Aku kembali terkulai lemas sambil bergantung pada kain gorden, tapi dia malah menarik kedua tanganku dan memeganginya di atas kepalaku.

BZZZZ. Mendadak gorden di hadapanku terbuka lebar dengan sendirinya. Aku menoleh dan melihatnya melempar remote ke sofa. Rupanya gorden ini dibuka-tutup dengan remote seperti di kamar presidential suite di hotel-hotel bintang lima.

“Aaah! Tidaaak!! Jangaaaaan

Aku menjerit ngeri dan meronta sebisaku saat dia mendorongku ke jendela. Aku tidak ingin tubuhku yang telanjang menjadi tontonan seperti manekin di etalase toko-toko. Tapi tenagaku habis usai orgasme panjang. Padahal di bawah – kamar ini berada di lantai dua – ada dua tukang kebun yang sedang menyiangi rumput, satu tukang pembersih kolam renang yang sedang mengambili daun kering dari kolam dan lima pengawal yang sedang sarapan sambil bersenda gurau.

BRAK! BRAK! BRAK!

BL sengaja mendorong-dorong tubuhku ke kaca jendela hingga membuat bunyi berisik. Dia sengaja memancing perhatian anak buahnya dan usahanya berhasil. Semua menoleh ke atas dan melihat kami berdua. BL tertawa melihat cengiran di wajah anak buahnya. Tawanya terdengar makin puas setelah mendengar tawa dan applaus dari mereka. Dipepetnya tubuhku ke kaca hingga payudaraku tergencet. Aku terpaksa menoleh dan merelakan pipiku ikut tergencet daripada aku tak punya hidung lagi.

Tak ada yang bisa kulakukan selain diam pasrah. Kedua tanganku hanya bisa menahan di sisi kepalaku agar aku tidak makin gepeng. Tidak hanya mukaku yang merah, sekujur tubuhku pasti merah padam karena malu dan marah. Gilanya lagi, BL mulai menggerayangi tubuhku lagi.

“Nggak…aaaah… No… oooh….”

Aku menggeliat, mencoba mengelak dari sentuhan-sentuhannya, tapi dia malah makin bersemangat merangsangku. Klitorisku kembali diucek bersamaan dengan tusukan-tusukan jarinya ke liang vaginaku.

Clep. Clep. Clep.

“Becek banget. Kau ternyata suka ditonton,” bisiknya sambil menyelomot bibirku yang mencong.

Gocekan tangannya makin liar sampai-sampai aku menggelinjang bak ular kepanasan. Sesekali kulirik para penonton dari sisi kaca yang tak berembun terkena semburan napasku. Jumlah mereka bertambah karena mereka memanggil kawan-kawan mereka untuk ikut menonton. Sebagian dari mereka malah mulai membuka celana dan mengocok senjata masing-masing. Pemandangan itu membuat BL makin panas. Perasaan takut akan diserahkan BL pada serombongan anak buahnya bercampur dengan rasa nikmat menahan orgasme.

Tiba-tiba BL melepas kelaminku dan mengangkat kaki kananku.

HEK! Aaaaugh!!

tongkolnya menghunjam mem*kku dengan kuat, menyodok hingga menumbuk bibir rahimku. Dia terus merogolku dengan mantap dan cepat. Napasku tinggal satu-satu karena dadaku sesak tergencet antara kaca jendela dan tubuh liatnya. Belum lagi leherku yang hampir keplitek karena terus meleng.

“Oaaah!! Aaaaah!!”

Aku berteriak keras sambil memejamkan mata. Tak kupedulikan lagi payudaraku yang penyek dan pipiku yang pedas tergesek genjotan BL apalagi reaksi para pemirsa. Kudengar dengusan berat napasnya saat memkku meremas kontlnya dengan sekuat tenaga. Aku sama sekali tidak protes waktu dia melepaskan kont*lnya dan membalikkan tubuhku. Kali ini punggung dan pantatku yang menempel lekat di kaca jendela. Diangkatnya kedua kakiku.

“Ugghhh!”

Kami berdua melenguh saat kontlnya menembus memkku yang kuyup. Dipagutnya bibirku yang terbuka dengan lapar. Dadanya yang rata menekan dadaku yang kenyal. Kedua tanganku membelit lehernya dengan erat, takut kalau-kalau dia mendadak menjatuhkanku. Tapi tenaganya luar biasa padahal tubuhnya hanya setengah Ade Rai. Aku terus melenguh, mendesah dan mengerang tanpa bisa menggelinjang lepas karena terjepit. Dia menjilati wajah, telinga dan leherku, sesekali menggigitinya. Peluh sudah membasahi tubuh kami, membuat rambutku lepek menempel di leher. Cairan vagina juga mengalir membasahi pelirnya dan paha kami berdua.

“Aaaaaaah…”

Aku mendesah panjang saat mencapai puncak untuk ketiga kalinya. Kedua kakiku mengejang, menapak udara kosong dan kepalaku tengadah dengan mata terpejam. Aku lelah setengah mati. Rasanya ingin terlelap, tapi dia terus menggenjotku. Akhirnya dia menekan pantatnya dalam-dalam dan melenguh keras.

CROT.CROT.CROT.CROT.CROT.

Tembakan-tembakan spermanya yang hangat membangunkanku dari kondisi setengah sadar. Kubuka mataku dan kulihat dia sedang menatap mataku sambil terengah-engah. Dilumatnya bibirku dengan gemas sembari menurunkan kakiku satu persatu. Aku menggelinjang geli saat senjatanya yang menciut terlepas dengan sendirinya.

“Kenapa kau nggak pakai kondom lagi?” tanyaku tersengal.

“Bukannya kau benci kalau aku pakai kondom?”

Sejak kapan dia peduli pada pendapatku?

“Itu kan kalau kau pakai kondom yang aneh-aneh. Bagaimana kalau nanti aku…”

Aku terdiam. Aku tidak ingin hamil darinya, tapi aku takut bila kukatakan nanti dia malah sengaja menghamiliku.

“Kapan masa suburmu?”

“Aku nggak tahu,” jawabku polos.

“Bohong! Bagaimana bisa kau nggak tahu?”

“Periode menstruasiku kacau. Kadang bisa dua-tiga bulan aku nggak mens.”

BL terdiam sejenak.

“Ya sudah. Nanti kuberi kau pil KB.”

Aku mengangguk. Ternyata juragan pabrik kondom malas memakai kondom juga. Tiba-tiba aku tertawa. Lucu sekali. Tadi adalah percakapan normal pertama kami tanpa saling maki, saling tampar dan saling piting.

“Apa yang lucu?” tanya BL sambil menyipitkan matanya.

“Mau tahu saja,” cibirku.

Dia mendengus.

“Kau malu mengaku kalau kau mulai betah tinggal di sini?”

“Betah??” teriakku mendelik. “Amit-amit!”

“Jangan jual mahal. Buktinya kau nggak pernah minta aku membebaskanmu. Kau memang selalu memaki, meludahiku dan mengajakku berkelahi, tapi sebenarnya kau senang kan?”

Aku tercenung. Astaga! Aku ini goblok sekali! Mengapa tak pernah terpikirkan olehku untuk memintanya membebaskanku? Tapi bagaimana denganmisiku? Misi membalas dendam kematian papa yang terus tertunda? Kapan aku akan membunuh jahanam brengsek ini? Lihat, sekarang dia ganti mencibirku dan membalik badan, bersiap berlalu dariku.

“Hey, tunggu! Apa kau mau membebaskanku?”

Aku benci sekali dengan tatapan mengejek bajingan sialan itu.

“Menurutmu bagaimana?” tanyanya sengak.

Belum sempat aku menyahut, dia kembali melanjutkan,

“Kau pikir aku akan membebaskan orang yang berhutang banyak padaku? Bagaimana cara kau membayar seluruh hutang nyawa dan ongkos hidupmu selama ini?”

“Kau pikir memerkosaku pagi-siang-malam itu bukan bayaran atas semuanya?”

“Lho, jadi kau menyamakan dirimu sendiri sebagai pelacur?”

“Enak saja! Kau yang membuatku seperti ini!” bentakku sambil menudingnya.

Sekujur tubuhku bergetar menahan marah. Suaraku juga bergetar dan mataku mulai berair. Aku benci setengah mati dengan kondisiku sekarang dan bisa-bisanya dia malah menyalahkan dan menghinaku.

“Sudah. Sudah. Kau kan nggak perlu nangis,” ejeknya sambil menepuk-nepuk pipiku.

Kucoba menamparnya, tapi tanganku ditangkapnya. Ditariknya tubuhku mendekat dan didekapnya dengan erat. Dijilatnya wajahku dengan sekali sapuan. Kali ini aku tidak meludahinya lagi karena aku tidak mau menerima pembalasannya, semburan air maninya di wajahku. Cukup sudah penghinaan yang kuterima darinya pagi ini.

“Kau mau bilang apa? Aku benci kau?”

“Basi, tahu! Buat apa mengatakan sesuatu yang sudah kau tahu!” bantahku kesal. “Aku lebih senang bilang supaya kau cepat mati saja.”

BL tersenyum.

“Sayangnya nggak gampang membunuhku.”

Lalu dia melumat bibirku, lama sekali. Tak dipedulikannya pukulan dan cakaranku di dada, punggung dan wajahnya.

“Lepas…lepaskan aku!”

Akhirnya BL melepaskan bibirku.

“Bagaimana cara kau membayar hutang?”

Aku terdiam dengan jengkel karena aku tidak tahu harus menjawab apa.

“Apa kau tahu berapa jumlah hutangmu?”

“Lima juta.”

BL tertawa.

“Sepuluh kali lipatnya, neng.”

“Mana bisa begitu! Kau dulu membeliku dari babi tua sialan itu seharga lima juta.”

“Bukannya kau nggak mau dihargai semurah itu? Lima puluh juta juga masih kemurahan kan? Jujur saja, kau ingin bilang harga dirimu beratus-ratus kali lipat dari lima juta. Betul kan?”

Dia memang betul, tapi…

“Tapi kau nggak bisa memerasku begitu!”

BL menyeringai.

“Mana bisa aku jadi orang kaya kalau nggak ambil untung. Coba, ongkos hidupmu itu mahal. Jangan samakan ongkos ngekos di rumah segede ini dengan rumah kosmu yang mirip kandang ayam itu. Belum lagi kau hidup enak di sini. Nggak kerja, tapi bisa makan makanan restoran kelas satu. Hampir tiap malam orgasme lagi. Kalau kau bayar gigolo untuk melayanimu pagi-siang-malam harus keluar uang berapa hah?”

Kekesalanku memuncak hingga ke ubun-ubun. Tanpa pikir panjang kuserang dia hingga terjatuh. Kami berdua berguling-gulingan di lantai. Bergulat tanpa belas kasihan. Beberapa kali kujenggut rambutnya dan kubenturkan kepalanya ke lantai. Begitu pula dirinya. Sikuku linu, dengkulku ngilu. Tapi sekuat-kuatnya diriku, tetap saja kalah darinya. Kurasa orang-orang gila itu memiliki kekuatan lebih dari manusia normal lainnya.

BL tertawa puas setelah berhasil menindihku. Aku mengutuki diriku sendiri. Aku ini memang goblok, luar biasa goblok karena dengan mudah terpancing siasat liciknya. Mengapa aku tak ingat kalau perkelahian adalah foreplay yang paling disukainya. Sekarang kontlnya sudah mengeras dan menempel di bibir memkku.

“Kuberi kau kesempatan menawar,” ujarnya sembari menyodok mem*kku dengan kuat.

“Aaaaargh! Li… ma… ju…ta…”

Kata-kataku terputus seiring genjotannya.

“Kau ini curang atau pura-pura bodoh sih?”

“Aaaw!” jeritku mengaduh saat pentilku dipelintir dengan keras. “Se…pu…luh…ju…ta…”

“Empat… puluh… sembi…lan…juta…”

“Cu…rang…”

Begitulah kami terus tawar-menawar dengan dibumbui makian dan ejekan. Tapi lama-lama aku tak mampu lagi menawar. Aku hanya bisa berteriak-teriak keenakan sementara dia terus mengejekku. Sudah dua kali aku orgasme, tapi dia belum juga ejakulasi. Tubuhku rasanya remuk dan tenagaku habis. Aku hanya bisa pasrah dipompa tanpa melawan. Mendadak dia berhenti bergerak. Ditegakkannya tubuhnya hingga membentuk sudut sembilan puluh derajat dariku.

“Iiiiyaaah! Ooooaaah!!”

Aku kembali berteriak dan menggelinjang saat jari-jarinya meraba dan menggaruk klentitku sementara kont*lnya terus keluar-masuk vaginaku.

“Hhhgghhaaaaaaaah

Kami berdua menggeram keras saat akhirnya mencapai orgasme bersama-sama. Setelah membuat vaginaku yang becek makin becek, tubuh BL ambruk menimpaku. Sebelum tak sadarkan diri aku masih merasakan asinnya keringat yang menetes dari rambutnya dan mendengar napas kami yang memburu bersahutan.

Entah berapa lama aku tertidur, begitu bangun aku sudah kembali berbaring di atas ranjang selembut awan itu. Aheng duduk menungguiku di kursi di samping ranjang. Di atas nakas, sudah tersedia senampan makanan entah sarapan atau makan siang. Yang jelas perutku luar biasa lapar. Tanpa disuruh, aku langsung menyikat makanan yang tersaji hingga licin tandas.

Setelahnya Aheng memintaku ikut dengannya. Dia membuka pintu di samping pintu kamar mandi. Sesuai dugaanku, ruangan di balik pintu ini berisi lemari-lemari pakaian, sepatu dan tas. Semuanya untuk perempuan. Ada yang model lama, tapi banyak juga yang model terbaru.

“Semua ini punya siapa?” tanyaku sambil menyibak-nyibak lemari baju.

“Semua yang ada di rumah ini punya bos. Non boleh pakai yang mana saja.”

Bukannya senang, aku malah sebal. Jahanam sialan itu sengaja ingin membuat hutangku makin berlipat.

“Bos juga titip ini untuk Non.”

Aku melongo melihat kartu kredit platinum atas nama Lara Tan. Seingatku, aku tidak pernah menandatangani formulir aplikasi kartu kredit manapun dengan nama itu. Lagipula KTP-ku masih tertinggal di Sanctuary.

“Malam ini bos mau mengajak Non keluar. Jadi pilih gaun yang bagus. Soal dandan Non nggak usah khawatir. Ada Joy.”

Aku mendengus tak peduli. Aku tidak ingin tahu siapa Joy itu. Siang hingga sore aku menghabiskan waktu denga menonton tv. Aku ketinggalan begitu banyak berita. Aku baru tahu kalau BL sedang diselidiki kejaksaan karena diduga menyuap hakim yang menangani kasus penyuapan dalam tender proyek jalan tol di Surabaya. Aku heran juga mengapa BL tidak menyensor acara tv yang kutonton.

“Eh, apa-apaan ini?”

Mendadak Aheng masuk dan menyeretku turun dari ranjang. Dia tidak sendirian melainkan bersama seorang lelaki gemulai berbulu mata lentik, pasti ini yang bernama Joy. Aku dimandikan paksa oleh keduanya, lalu didandani oleh Joy. Aku meronta, tapi Aheng memegangiku dengan kuat. Sedangkan Joy tak bisa dibilang lemah meski gemulai, tenaganya mantap. Mulutnya juga kuat mengoceh.

“Paha dan pantatmu banyak selulit, pasti dulunya kau gemuk. Buktinya lenganmu lumayan gede dan nggak kencang. Model rambutmu jelek banget. Nggak pantas sama mukamu yang bulat. Kayaknya bos nggak keberatan kalau hidungmu dioperasi biar jadi mancung. Dagumu juga perlu ditambal silikon biar mukamu nggak bulat-bulat amat. Untungnya betismu bagus, langsing. Bentuk bibirmu juga seksi.”

Paling nggak dia masih memujiku sehingga kubatalkan niat untuk menghajar bibirnya yang jontor karena disuntik silikon.

“Belum beres juga?”

Aku makin cemberut mendengar suara BL.

“Gimana bos? Cakep kan?” tanya Joy manja.

“Ya lumayanlah. Jauh lebih mending dari biasanya,” tukas BL sebelum mengeloyor keluar.

Benar-benar menjengkelkan! Apalagi Aheng tiba-tiba membopongku. Dia tahu aku tak ingin berjalan sukarela mengikuti BL jadi harus dipaksa begini.

“Aku mau dibawa ke mana?” bentakku setelah dimasukkan dengan paksa ke dalam mobil Jaguar.

BL yang duduk di sebelahku sama sekali tak mengacuhkanku. Jadi kami duduk berjauhan sambil memandangi keluar jendela. Aku tertegun saat mobil tiba di depan gedung megah berpintu gagah yang dijaga dua patung unicorn. Sanctuary! Apa maksudnya ini?

Aku turun mengikuti BL karena tak ingin masuk dibopong Aheng. Aku diam saja sambil bertanya-tanya apa Pak Dibyo masih bisa mengenaliku. Aku terkesiap ketika baru menyadari Bandi ikut dalam iring-iringan kami. Seperti dulu, dia membawa dua ayam cantik yang masih belia. Namun mata Bandi terus tertuju kepadaku. Sesekali dia menjilati bibirnya sambil memandangiku dengan lapar. Aku jadi merinding ketakutan dan tanpa sadar menempel pada Aheng.

Déjà vu. Ya tidak persis begitu sih. Kalau dulu aku hanya menonton rombongan BL datang lalu terpaksa terlibat, sekarang sejak awal aku menjadi bagian dari mereka. Pak Dibyo mengenaliku dan terpana hingga ternganga-nganga. Apa penampilanku berubah begitu drastis?

Tak seperti dulu, BL langsung berjalan menuju meja bilyar di tengah ruangan. Aku didorong-dorong Aheng supaya mengikuti bosnya. Hasilnya aku menumbuk punggung BL dengan sukses. Jas kremnya terkena lipstick-ku. Aku masih terhuyung saat dia membalik badan dan menangkap tanganku.

“Aaaaah!”

Aku menjerit tertahan setelah tubuhku dilempar ke atas meja bilyar yang kosong. Kepalaku terbentur meja hingga mataku berkunang-kunang. Aku hanya sempat berteriak-teriak ‘Jangan! Tolong!’ saat dia menyibak gaun babydoll warna hijau pupus dan memelorotkan celana dalam yang kupakai. Tapi seperti dulu, tak ada yang berani ikut campur. Semuanya memilih menonton sembari kasak-kusuk.

Aku mencoba bangun namun yang kulihat membuatku terpaku. BL sedang nungging di depan selangkanganku. Wajahnya terbenam di antara kedua belah pahaku.

“Ngghh… Ooooh….Aaaaah…”

Yang kurasakan membuatku kembali berbaring. Baru kali ini aku dioral. Rasanya jauh lebih enak daripada masturbasi. Dia menjilati klentitku dan jarinya mengobok-obok G-spotku membuatku lupa kalau ini tempat umum. Aku mendesah, mengerang dan berteriak keras sembari terus menggelinjang. Bahkan aku ikut merangsang diriku sendiri dengan meremas-remas buah dadaku sendiri dari balik gaun. Kemudian saat jilatan lidaih dan tusukan jari-jari BL makin menggila, kugapai-gapai pinggir meja untuk mencari pegangaan. Tapi yang kudapat rambut BL.

“Iiiiiih…. Ooooh…. Ooooaaah… Aaaaah… Aaaaaaaaaaaaaaah

Kujambak rambutnya sembari berteriak dan melengkungkan punggungku ke atas. Kakiku bergetar keras dan menapak-napak liar ke atas. Tapi lidah BL masih terus bekerja sampai-sampai aku menggeliat-geliat lemah tanpa henti. Air mata mengalir di pipiku. Ketika akhirnya dia berhenti, aku langsung terkulai tanpa daya.

Senyum puas menghiasi wajah angkuh musuhku. Aku tak berdaya melawan saat dia merengkuh kepalaku dan mengulum bibir dan lidahku. Untuk pertama kalinya aku merasakan cairan vaginaku sendiri. Gurih. BL memeluk dan menarik tubuhku hingga terduduk. Kupandangi cairan vaginaku yang menetes ke atas meja.

“Happy birthday.”

Aku tertegun dan menatap BL dengan kosong.

“Apa kau lupa dengan hari ulang-tahunmu sendiri?” tanya BL geli.

Para penonton ikut tertawa malah ada yang bertepuk tangan. Lagu happy birthday mengalun mengiringi kue ulang tahun yang keluar.

Aku masih tertegun. Rasanya ingin tertawa, tapi tak bisa. Keinginan untuk menangis malah jauh lebih besar hingga hampir meluap dari hatiku. Bodoh sekali semua orang itu. Hari ini bukan hari ulang-tahunku. Tanggal lahir Lara Tan hanyalah karanganku. Hari ulang-tahunku sendiri masih enam bulan lagi. Tapi apa aku masih bisa merayakan hari ulang-tahunku?

“Jangan takut. Hadiah dariku nggak perlu kau ganti. Aku tulus kok.”

Aneh, sepasang mata dingin itu menatapku dengan lembut. Aku bergidik. Ini gila!

Lebih gila lagi saat BL menelanjangiku. Aku berusaha melawan, tapi sia-sia. Gaun babydoll yang indah itu malah robek. BL sendiri juga membuka jas dan kemejanya. Dipelorotkan celana dan celana panjangnya lalu dilemparkan ke arah Aheng. Dengan bangga dia memamerkan tubuh liatnya yang memar di mana-mana, hasil perkelahian kami pagi tadi. Dia mendorong tubuhku hingga terlentang di tengah-tengah meja dan mulai menggarapku di sana. Penonton mengerumuni dan menyoraki kami. Beberapa dari mereka mulai mabuk dan ingin menyentuhku. Ada juga yang menyodorkan kont*lnya ke mulutku untuk dioral atau ke tanganku untuk dikocok. Tapi BL mengusir mereka dengan bentakan keras dan Aheng beserta para pengawal menggiring mereka menjauh. Termasuk Bandi yang tangannya mendadak menyelonong membelai pipiku.

Dan tiba-tiba saja muncul pasangan-pasangan lain yang bercinta di tengah keramaian ini. Desahan, erangan dan teriakan erotis terdengar di mana-mana. Gila. Semuanya gila.
Aku sendiri mulai larut dalam gelora birahi yang terus memuncak. Aku mengimbangi permainan BL dengan menggoyang pantat dan pinggulku tanpa henti.

Usai orgasmeku yang pertama, BL membawaku pindah ke sofa. Di sana kami melanjutkan permainan dengan berbagai gaya. Aku baru sadar ada seseorang yang tidak ikut menyoraki kami dengan gembira. Bukan, bukan Pak Dibyo. Babi tua itu tertawa gembira meski aku bisa melihat tawanya hanya pura-pura. Dia pasti ngiri setengah mati apalagi tidak ada seorang anak buahnya yang berdiri di dekatnya. Semuanya kabur menjauh karena tak ingin dimangsa kont*l bunteknya yang bau.

Di sofa seberang, Bandi terus merengut sambil memandangiku. Tak ada rona puas di wajahnya meski sedang dioral dua ayam cantik yang dibawanya.

“Kau milikku,” bisik BL usai ejakulasi.

Pada saat yang sama, Bandi juga membisikkan kata-kata yang sama dari jauh.

cerita lainnya
Sleeping with enemy – part 1
Sleeping with enemy – part2
Sleeping with enemy – part 3
Sleeping with enemy – part 4
Sleeping with enemy – part 5
Sleeping with enemy – part 6
Sleeping with enemy – part 7

Sleeping with the enemy part 4, foreplay maut

Filed under: PERKOSAAN

BL terus melatih mulut dan anusku selama aku mens. Tampon besar yang mengganjal dalam memkku membuatku merasa seperti sedang disandwich bila kontl BL mengebor anusku. Dia menyodomiku dengan berbagai gaya, berdiri, duduk, nungging, tengkurap sampai berbaring miring. Meski tak pernah memakai pelumas, lama-lama aku terbiasa juga dan selalu menimati orgasme. Tapi tetap saja aku lebih suka disetubuhi lewat jalan yang benar. Jadi aku sangat senang saat menstruasiku usai dan kont*l BL kembali menyambangi liang vaginaku.

Tapi hal ini bukan berarti aku rela digaulinya begitu saja. Aku selalu melawan dengan keras bila dia mendekat. Aku benci sekali melihat gayanya yang mengancam dan sok kuasa seakan aku ini barang miliknya yang bisa dipermainkan begitu saja. Aku tahu, seharusnya aku memakai cara lain selain kekerasan karena perlawananku hanya akan membuat birahi BL semakin melonjak tinggi. Dengan penuh semangat dia memiting dan meringkusku sebelum menyetubuhiku dengan kasar. Bisa dibilang perkelahian kami adalah foreplay.

Tak cukup dengan mengajariku lewat praktek, BL juga menjejalkan teori bercinta (ralat: yang kami lakukan sama sekali tidak pantas disebut bercinta karena tak ada setitik pun molekul cinta di sana) lewat majalah, buku dan film. Kamarku yang tadinya kosong, hanya berisi ranjang besar dan lemari mendadak menjadi penuh setelah dua rak buku memenuhi dua sisi tembok hingga ke langit-langit. Ditambah lagi sebuah televisi plasma berukuran 42 inci. Rak itu dipenuhi berbagai buku teori dari kamasutra hingga novel-novel seks dan majalah pornografi dari dalam dan luar negeri. Tapi yang lebih gila, tv besar itu terus menyiarkan film-film porno tanpa henti. Bahkan saat jam tidur pun televisi itu terus menyala hanya suaranya yang mendadak di-mute. Aku tak bisa menyalakan dan mematikan tv itu sesuka hatiku karena dikontrol dari luar.

Aku seperti sedang dicuci otak. Yang ada di kepalaku hanya seks melulu. Sepraiku lembab karena selangkanganku terus-terusan becek. Aku tak peduli lagi dengan kamera-kamera pengintai yang ada. Aku ikut menggelinjang dan mengerang seperti bintang porno yang kutonton. BL sendiri juga senang menggumuliku di depan tv. Dia sering memaksaku menceritakan apa yang sedang ditayangkan di layar datar itu dengan detail. Suaraku yang terputus-putus karena ngos-ngosan membuatnya makin gila menggenjotku. Saat orgasme, kami adu teriak dengan bintang porno yang sedang kami tonton.

Akhirnya aku capek. Mataku pedas karena terus menonton dan membaca. Tenggorokanku kering karena terus mengerang dan berteriak. Badanku pegal-pegal karena terus menggelinjang dan mengejang. Aku jenuh dan mulai putus asa. Apa aku akan menghabiskan sisa hidupku dengan cara seperti ini?

Kuputuskan malam ini aku harus keluar dari kamar mesum ini. Satu-satunya tempat mengungsi ya kamar mandi. Baru lima belas menit nongkrong di atas kloset, mendadak lampu kamar mandi mati. Walau sempat menjerit kaget, tapi aku tetap diam di tempat. Aku tidak tahu apa lampu kamar mandi ini benar-benar mati atau dimatikan dari luar karena lampu kamar tidur masih menyala.

Sinar lampu kamar yang menerobos masuk lewat lubang ventilasi di atas pintu membuat kamar mandi ini tidak gelap gulita. Tapi yang menarik perhatianku ventilasi di dinding atas dekat langit-langit. Kupandangi cahaya bulan yang lembut dengan mata berkaca-kaca. Bisa jadi yang kulihat bukan sinar bulan melainkan sinar lampu teras. Aku menghela napas panjang. Belum pernah aku merasa begitu kesepian. Aku juga baru sadar kalau sudah dua bulan lebih aku tidak melihat matahari dan bulan. Yang kulakukan tak ada bedanya dengan misi bunuh diri yang gagal. Aku tercenung, sampai kapan aku dikurung seperti binatang piaraan? Haruskah aku bunuh diri?

Kudengar pintu kamar terbuka, tapi aku bergeming. Paling yang datang Aheng atau BL. Nah, betul. Aheng muncul didului sinar senter. Aku menggeleng saat dia menarik lenganku kembali ke kamar.

“Please, Heng. Aku mau di sini saja.”

Sinar senter menerangi wajahku. Kurasa dia heran mendengarku bicara sopan padanya tanpa berontak sedikit pun. Apalagi wajahku lesu dan suaraku serak. Dia melepas cekalan tangannya.

“Aku mau sendirian.”

Tapi dia tak juga pergi meninggalkanku meski aku terus memohon dengan suara bergetar.

“Paling nggak, tolong tutup pintu dan matikan senternya,” ujarku menyerah.

Tanpa banyak tanya, dia menuruti permintaanku. Entah berapa lama kami saling diam dalam gelap. Yang jelas aku tersiksa sekali. Sungguh tak enak menangis dalam gelap sambil ditemani orang yang kita benci. Aku sampai harus bernapas lewat mulut agar Aheng tidak mendengar bunyi ingus yang membanjiri hidungku.

“Aku juga pernah menangis sendirian dalam gelap begini,” mendadak dia bicara. “Waktu aku nggak jadi laki-laki lagi.”

Tangisku sontak berhenti. Hatiku miris mendengar cerita Aheng tentang bagaimana dia kehilangan penisnya. Tujuh tahun yang lalu seorang pengusaha mabuk mengamuk di Sanctuary gara-gara ayam incarannya direbut BL. Pengusaha itu nekat menikam perut BL. Tapi Aheng dengan gesit menjadikan dirinya tameng dan karena tubuhnya lebih tinggi dari majikannya maka pisau itu menikam kont*lnya dengan sukses.

“Apa Non tahu, kenapa tidak ada pembantu cewek di rumah ini?”

Aku terbengong mendengar pertanyaan itu. Mengapa tema pembicaraan meloncat jauh? Apa dia merasa tidak enak sendiri karena sudah menceritakan nasib tragisnya? Tapi benar juga. Aku baru sadar kalau yang bertugas membersihkan kamar tidur dan kamar mandiku semuanya lelaki. Setiap dua hari sekali biasanya dua orang dari mereka membersihkan kamar saat aku mandi. Dan saat kamar mandi dibersihkan, Aheng berada dalam kamar untuk menjagaku.

“Karena semua pembantu cewek sudah dihabisi Tuan Bandi,” ujarnya menjawab pertanyaannya sendiri.

“Dihabisi?”

“Ya.”

Aku tidak tahu maksud dihabisi itu diperkosa dan disiksa habis-habisan atau dibunuh dan dimakan sampai habis. Aku tidak berani bertanya lebih lanjut karena bagiku semuanya mengerikan. Aku tidak bergidik lagi, tapi gemetar ketakutan.

“Empat tahun yang lalu, Ai Ling yang mengasuh Tuan Bandi dan bos sejak kecil juga disikat sampai bos marah sekali. Nggak ada yang bisa mengendalikan dia sejak Tuan dan Nyonya besar meninggal dalam kecelakaan pesawat enam tahun lalu. Dia cuma takut sama bos, tapi bos juga nggak bisa mengawasinya terus. Sekarang Non satu-satunya cewek di rumah ini karena dua ayam yang dibawa Tuan Bandi sudah dikembalikan ke club kemarin malam. Yang satu masih pingsan dan yang satunya kayaknya jadi gila. Jadi Non seharusnya bersyukur karena bukan Tuan Bandi yang membeli Non, tapi bos. Kalau nggak, Non mungkin sudah ‘lewat’.”

Ya Tuhan! Si klemer itu ternyata nggak kalah mengerikan dari Hannibal Lecter dan semua psikopat di film-film Hollywood lainnya.

“Kenapa nggak ada yang lapor ke polisi?”

Aheng mendengus sinis.

“Memangnya polisi kurang kerjaan sampai mau ngurusin ayam-ayam? Lagipula bos sudah berjanji di depan peti mati papa-mamanya kalau dia akan menjaga Bandi sampai mati. Nggak mungkin bos menyerahkan saudaranya ke polisi.”

Saat itu juga niatku untuk kabur kembali muncul. Aku tak mau tinggal seatap dengan pembunuh berantai.

“Non nggak usah khawatir,” ujar Aheng seperti bisa membaca pikiranku. “Bos sudah menyuruhku menjaga Non dengan ketat. Pengawal Tuan Bandi nggak ada yang berani cari masalah denganku. Tuan Bandi sendiri juga segan sama aku.”

Mendadak pintu kamar mandi terbuka dan siluet tubuh kurus membayang di lantai kamar mandi. Aku buru-buru mengelap wajahku yang basah. Aku tidak mau BL melihatku menangis.

“Mesra sekali. Mojok gelap-gelapan begini,” tukas BL sinis.

Lalu dia mendekati Aheng dan menggamparnya dengan keras. Aheng diam saja, sepertinya gamparan tadi hanya sengatan nyamuk di pipinya. Aku malah meraung marah.

“Apa-apaan kau ini? Dia kan nggak salah!”

“Oh, jadi kau membelanya? Memangnya dia sudah berbuat apa padamu? Mengoralmu? Soalnya dia nggak mungkin mengent*tmu.”

PLAK! Kutampar BL sekeras mungkin. Dan seperti biasa dia berusaha meringkusku. Tapi karena kondisi gelap, dia sedikit mengalami kesulitan. Kami bergumul dan saling mendorong. GUBRAK! Botol-botol yang ada di atas wastafel terguling setelah tangan kami berdua tanpa sengaja menyamparnya. Aheng tetap diam mematung meski kakinya terinjak dan perutnya tersikut olehku. Telinga gorila itu seakan tuli total, tak mendengar pertengkaran kami berdua soal dirinya.

“Dasar bajingan nggak tahu diri! Kau berhutang nyawa padanya, tahu!” sergahku sembari menonjok dada BL.

“Sok tahu! Dia yang berhutang nyawa padaku! Aku yang mengeluarkan dia dari penjara dan membiayai operasi ibunya!” balas BL sambil memiting lenganku.

“Tapi nggak seharusnya kau menghinanya begitu!”

“Dia sendiri diam saja kenapa kau yang ribut? Eh, mukamu basah. Kau habis menangis ya?” tukasnya mengejek.

Kuludahi wajahnya namun dia malah menciumku dengan paksa hingga aku megap-megap. Aku masih sulit bernapas biarpun dia sudah melepaskan kepalaku. Kedua lengannya yang kurus liat membelit tubuhku dengan kuat bak ular anaconda, seakan ingin meremukkan tulang-tulang rusukku.

“Apa yang kau tangisi hah?”

“Aah… aku… nggak… bi…sa… na…pas…,” sahutku tersengal sambil meronta.

“Apa??” bentaknya sambil mempererat pelukannya.

Kupukuli dada dan punggungnya. Dia membentak lagi. Kali ini persis di depan telingaku.

“A…a…ku… i…ngin… ke…lu…ar…”

“Hah? Kau ingin orgasme? Kau ini benar-benar nymphomaniac!”

Aku hampir mati mendongkol mendengarnya hinaannya.

“Bu…kan…i…tu…bo…doh…”

BL tertawa geli mendengarku masih bisa memaki.

“Oh, kau ingin keluar dari kamar ini? Bilang begitu saja susah. Ayo, kita keluar.”

Aku langsung menggelosor jatuh begitu dia melepaskan pelukannya. Dengkulku pasti memar lagi. Belum sempat berdiri dengan benar, dia sudah menyeretku keluar. Langkahnya yang panjang membuatku pontang-panting mengikutinya. Kaos singletku berkibar memperlihatkan selangkanganku yang telanjang. Tapi seisi rumah yang kebetulan melihat kami tampak cuek. Sepertinya mereka sudah biasa melihat kegilaan majikan mereka. Aheng terus mengikuti kami seperti bayang-bayang.

BL membawaku keluar bangunan rumah induk yang luas dan bergaya minimalis menuju kolam renang di halaman belakang. Aku mulai ciut. Aku tak bisa berenang. Tapi dia malah menyeretku menaiki tangga menara papan loncat setinggi tiga meter. Kakiku berusaha mengerem namun hasilnya pergelangan tanganku sakit karena dia terus menarik paksa dengan kasar. Aheng juga membantu mendorongku maju.

Akhirnya kami sampai juga di puncak menara. Aheng turun meninggalkan kami berdua. BL menatapku sejenak dengan dingin, sedingin angin malam yang membuatku menggigil sebelum mengalihkan pandangannya ke langit. Di langit, bulan purnama sedang berlayar di antara gumpalan-gumpalan awan tipis.

“Aku bisa membunuhmu kalau aku mau.”

Aku meliriknya. Kalimat itu diucapkannya dengan ringan seperti sedang berkata ‘Aku suka makan es krim.’.

“Ya, aku tahu,” sahutku dengan gaya tak acuh.

“Kau nggak takut kalau aku mencekikmu dan melempar mayatmu ke bawah? Aku juga bisa menggantungmu di sini supaya digigiti codot. Atau mengikatmu di sini selama seminggu tanpa diberi makan-minum supaya kau mati dehidrasi.”

Gila. Memang gila dia.

“Eh, biarpun kau makhluk kebal hukum apa kau nggak takut sama dosa? Bagaimana sih cara orang-tuamu mendidikmu? Kenapa anak-anaknya semuanya gila? Jangan-jangan mereka juga gila.”

Seharusnya aku diam atau memohon agar tidak dibunuh, tapi darah panasku bergolak dan lidahku yang liar susah dikendalikan. Padahal aku takut mati.

Wajah BL sontak membeku begitu mendengarku menghina orang-tuanya. Aku tahu, kedua orang-tuanya tewas dalam kecelakaan pesawat di Kanada tujuh tahun yang lalu. Mendadak dia mendorongku dengan kasar. Aku terhuyung mundur ke arah ujung papan yang menjulur ke kolam. Dia mendorongku lagi dan aku terjatuh terduduk. Buru-buru aku memegangi papan kuat-kuat begitu melihat air kolam yang jernih kebiruan.

“Kelihatannya kau takut ketinggian. Hmm… bukan. Kalau kau takut ketinggian, kau pasti sudah merangkak dari tadi. Kau pasti nggak bisa berenang. Betul kan?”

Wajahku memucat. Buku-buku jariku memutih saking kuatnya mencengkeram pinggir papan. Bukannya mendorong atau menendangku hingga tercebur ke bawah, BL malah asyik memandangi kakiku yang mengkangkang memamerkan selangkanganku yang telanjang. Aku bisa melihat bagian depan celana pendeknya mulai menggembung. Astaga! Apa dia ingin main di atas sini?

Dengan santai BL menelanjangi diri sambil mempermainkanku. Sesekali kakinya menendangku. Kulancarkan tendangan balasan sambil menggigit bibir. Aku tak mau dia tertawa senang mendengar jeritan ketakutanku. Karena tidak menerima perlawanan maksimal, dengan mudah dia menindihku. Aku hanya bisa melawan dengan satu tangan, tapi setelah menyadari usahaku hanya membuat tubuhku bergeser makin ke ujung papan, aku menyerah. Setengah kepalaku sudah tergantung bebas, membuat rambutku berkibar menutupi wajahku.

SRET. Dengan giginya, BL merobek kaos singletku. Dengan buas, gigi, lidah dan jari-jarinya menjelajahi lekuk tubuhku, membuatku mengerang dan terlonjak tertahan.

“Aaaah!” erangku keras saat kontlnya menusuk masuk lubang memkku.

Aku mengutuki diriku. Bagaimana bisa aku mendesah nikmat di saat kritis seperti ini?

BL menggenjotku dengan mantap. Setiap genjotan, membuat tubuhku maju dan akhirnya kepalaku terayun bebas dari pinggir papan. Déjà vu. Mengingatkanku saat dia memerawaniku dengan paksa di hadapan puluhan orang di Sanctuary. Tapi tergantung dari atas meja dan papan loncat setinggi tiga meter sangat berbeda. Kalau dulu saja aku sudah pusing, sekarang aku mual.

Kubelitkan kakiku pada pinggang BL erat-erat. Kalau aku harus jatuh paling tidak, aku tidak sendirian. Namun akibatnya, lubang vaginaku mekin terbuka lebar dan sodokan kont*l BL menggesek G-spotku dengan telak.

“Ooooh…Nghhh… Nghhh… Oaaah….Aaah! Aaaah!! Aaaaaaaaah

Gila! Teriakan orgasmeku yang super lantang di malam sepi ini pasti terdengar seisi rumah. Mungkin tetangga sebelah juga ikut mendengar. Astaga! Jangan-jangan mereka semua menonton kami.

BL berhenti bergerak. Disibakkannya rambut yang menutupi wajahku. Aku benci sekali melihat sorot matanya yang mengejek. Sudah telanjur aku menjerit, tapi biarlah mungkin saja tadi orgasmeku yang terakhir dalam hidupku.

“Bagaimana orang-tuamu mendidikmu? Kalau kau bisa delapan kali sehari masturbasi. Apalagi mereka. Jangan-jangan kerja mereka cuma ngent*t tiap hari.”

Aku marah sekali. Kuludahi wajahnya.

“Ya, aku tahu pasti mereka juga sering meludah. Pasti mereka nggak berpendidikan, kampungan,” ujar BL sambil melepas kedua tanganku dari papan lalu merentangkannya di udara sehingga aku merasa gamang.

Biarpun begitu aku melawan dengan sekuat tenaga, tapi cekalan tangannya di pergelangan tanganku kuat sekali. Apalagi dengan perlahan dia kembali menggoyang pantatnya. Tanpa sadar aku meremas kont*lnya yang kembali menggesek G-spotku. Aku baru sadar, kalau dia belum orgasme.

“Hmmph… empotan mem*kmu benar-benar luar biasa. Sayang…”

BL tidak melanjutkan kata-katanya dan memilih mendecak sambil menggeleng dengan tampang sok sedih.

“Seperti apa orang-tuamu? Kalau mereka baik, kenapa kau bisa terdampar di tempat seperti Sanctuary itu? Kau kan bisa memilih pekerjaan di tempat yang lebih baik seperti jadi kasir di swalayan. Dibyo bilang, kau yatim-piatu, tapi masa kau sama sekali nggak punya keluarga sih? Masa sampai sekarang nggak ada yang melaporkan kehilanganmu ke polisi? Hey, jangan diam saja. Jawab!”

BL memberondongkan pertanyaan sembari menggenjot cepat lalu berhenti. Terus begitu. Beberapa kali aku sudah nyaris orgasme untuk kedua kalinya, tapi gagal karena dia mendadak berhenti bergerak.

“Kok kau seperti kepingin menangis lagi. Tumben malam ini kau cengeng. Ada apa sih?”

“Please, jangan begini.”

“Begini apa?”

Aku terdiam. Berusaha mengusir keinginan gila dari otakku. Apa jadinya kalau aku minta dia menggenjotku dengan keras agar aku bisa orgasme? Tapi BL terus mempermainkanku dengan genjotan dan kata-kata menyakitkan.

“Please…”

Aku benci sekali harus memohon pada bajingan jahanam sialan ini, tapi aku lebih benci mendengar sahutannya yang bernada polos.

“Aku nggak ngerti kau minta apa. Dari tadi bilang please please melulu.”

“Aku mau… keluar…”

“Keluar ke mana lagi? Sekarang kan kita sudah di luar.”

Tak sabar dengan jawaban yang menyiksa, aku memilih menggoyang pantatku. Tapi BL menggencet tubuhku sehingga aku tak bisa bergerak.

“Kau ternyata suka main curang. Jawab dulu, seperti apa orang-tuamu. Kalau jawabannya bagus, aku nggak suka. Dan kalau aku nggak suka, akan kutinggalkan kau sendirian di sini bersama Aheng. Kau lebih suka dia daripada aku kan? Tapi aku nggak yakin kont*l buntung itu bisa bikin kau melonjak kegirangan kayak tadi.”

Kugigit bibirku yang bergetar menahan marah dan tangis.

“Papaku orang yang munafik dan mamaku tukang mengeluh!” seruku tanpa pikir panjang.

Gelombang penyesalan langsung menerpaku. Anak macam apa aku ini? Lebih mementingkan kepuasan diri daripada harga diri. Aku benar-benar anak durhaka, durjana…

BL nyengir puas lalu memompaku dengan kuat. Tubuhku makin bergeser maju. Aku menjerit-jerit. Aku sendiri tidak bisa membedakan antara jeritan kepuasan dan ketakutan. Semuanya bercampur jadi satu. Mendadak BL mencabut kont*lnya, melepaskan belitan kakiku dan mendorongku ke bawah.

Tubuhku tergantung terbalik. Yang menahan berat badanku hanyalah cengkeraman tangan BL pada kedua pergelangan kakiku. Kepalaku pusing karena darah mengumpul di kepala.

“Apa permohonanmu yang terakhir?”

Aku berusaha menenangkan diri dan berujar segagah mungkin,

“Terima kasih sudah membebaskanku.”

Lalu dia melepas kakiku. Biarpun kepalaku di bawah, rasanya jantungku tenggelam ke dasar perut. Aku tidak menjerit. Bukan karena gengsi, tapi karena seluruh syarafku mati rasa. Aku hanya bisa memandangi bulan yang semakin menjauh.

BYURRR!!

Kolam ini ternyata dalam juga. Kalau dalamnya cuma satu setengah meter, kepalaku pasti sudah pecah terbentur dasar kolam. Aku langsung panik, menggapai-gapai ke sana-kemari. Tubuhku seperti kapal bocor, dimasuki air dari berbagai lubang. Hidung, mulut, kuping dan mungkin juga mem*kku kebanjiran air.

BYURR!!

Ada orang lain yang ikut terjun ke kolam. Untuk menyelamatkanku atau menenggelamkanku? Mungkin BL melihat kalau aku masih hidup dan menyuruh Aheng atau anak buahnya yang lain untuk menahanku agar tetap di sini. Namun ternyata orang ini menarik pinggangku dan menyeret tubuhku ke atas.

UWAH! Leganya! Akhirnya aku tidak dikelilingi air lagi. Aku megap-megap sekaligus terbatuk-batuk sampai dadaku sakit. Air keluar dari mulut dan hidungku. Aku menurut saja saat dibawa dan disandarkan ke tepi kolam.

Aku tidak tahu berapa lama aku mempertaruhkan nyawaku di dasar kolam, yang jelas aku lelah sekali. Kupejamkan mataku sambil mengatur napas. Ya ampun, aku belum berterima kasih pada penolongku. Siapa…

HEK! UGH! Ada yang menghujam mem*kku!

Aku langsung membuka mata dan …. Astaga! BL sudah menggenjotku lagi! Jadi dia yang menyelamatkan nyawaku? Dia tertawa geli melihatku kaget dan terus menghentak-hentakkan pantatnya.

“Ti…dak… Aku… ng…nggak… ma…u…,” tolakku sambil mendorongnya menjauh.

Tapi perlawananku sia-sia karena tenagaku sudah terkuras di dasar kolam. Akhirnya aku hanya bisa pasrah, dipepet di pinggir kolam sembari disetubuhi dengan paksa. Air kolam beriak di sekitar kami menghasilkan bunyi kecipak.

BL melumat bibirku, mengenyot leherku, meremas payudara dan pantatku dengan gemas. Aku mulai mengerang, awalnya pelan makin lama makin keras. Lama-lama kedua lenganku yang tadinya terkulai kini memeluk dan mencakar punggung BL.

“Ooooh… Ooooh… Iiiiyaaaaahh…. Aaaaaaaaah

Pada saat aku menggelinjang dan menjerit keras, BL menggeram dan menekan pantatnya kuat-kuat. Kont*lnya menumbuk bibir rahimku dan tak seperti biasanya kali ini kurasakan semburan-semburan hangat di dalam. Aku yang kelelahan langsung terkulai lemas. Yang kulihat hanya gelap. Aku tak peduli lagi apakah setelahnya dia benar-benar akan membunuhku atau tidak. Karena aku sudah merasakan orgasme yang luar biasa nikmat.

cerita lainnya
Sleeping with enemy – part 1
Sleeping with enemy – part2
Sleeping with enemy – part 3
Sleeping with enemy – part 4
Sleeping with enemy – part 5
Sleeping with enemy – part 6
Sleeping with enemy – part 7

Sleeping with the enemy part 3, musuhku guruku

Filed under: PERKOSAAN

Meski papaku buaya darat paten alias kucing garong tulen, sejak kecil dia mencekokiku dengan segala aturan dan norma kesusilaan. Aku selalu dijaga dengan ketat dan dilarang bergaul dengan sembarang laki-laki. Bahkan aku tidak boleh pacaran sebelum umur dua puluh. Dan ternyata hingga sekarang aku malah belum pernah punya pacar. Mungkin karena dulu tubuhku yang mirip karung beras dan wajahku yang biasa-biasa saja maka tidak ada yang tertarik padaku.

Memang ironis bila mengingat bagaimana papa mengotbahiku agar menjaga keperawanan baik-baik selama aku bersekolah dan kuliah di Ohio. Papa adalah lelaki yang brengsek, tapi dia papa yang baik. Dia tak ingin putri satu-satunya akan bernasib sama dengan gadis-gadis yang sudah diperdayanya. Aku tak tahu apa karma itu benar-benar ada. Yang jelas aku penasaran, apa yang dipikirkan papa bila dia dapat melihat kondisiku kini.

Nasibku lebih parah dari ayam-ayam yang biasa dilahap papa. Gadis-gadis yang pernah dicicipi papa tak pernah merasakan penyiksaan yang aku alami karena sadomasokis bukanlah aliran seks yang dianut papaku. Mereka lebih beruntung karena menerima bayaran yang tidak sedikit bahkan kalau Papa sedang murah hati, bonus berupa anting atau gelang berlian bisa didapat. Sedangkan aku, sudah tubuhku babak belur, uang sepeser pun tak punya. Pakaian yang menempel di tubuhku saja hanya singlet kedodoran. Ditambah lagi aku seperti tidak punya tujuan hidup dan masa depan lagi.

Rencana balas dendamku terancam gagal total. Niatku untuk menyudahi nyawa BL mulai tergerus oleh hasrat seksku yang sedang tumbuh. Aku begitu terbuai dengan orgasme pertamaku sehingga yang ada dalam pikiranku hanyalah bagaimana bisa menikmatinya lagi dan lagi dan lagi. Aku bahkan sudah tak ingin melarikan diri lagi. Trauma yang seharusnya singgah setelah disiksa Bandi pun tidak kurasakan.

Sialnya, BL malah tak kunjung mengunjungiku. Sudah hampir dua minggu aku tidak melihat batang hidungnya yang mencuat angkuh itu. Aku tahu, konglomerat sekaliber dia memiliki jadwal superpadat. Semasa masih hidup, dalam seminggu papaku hanya berada di rumah dua-tiga hari saja. Makanya aku heran melihat BL sempat meluangkan waktu untuk menyiksaku. Kurasa orang sakit jiwa itu sedang sibuk mencaplok perusahaan milik orang lain atau menyiksa mangsa baru. Lalu bagaimana dengan nasibku?

“Ngh…. Ooooh…. Aaaaah…”

Aku mengerang seiring gelinjang tubuhku lalu terkulai lemas dengan kaki mengkangkang lebar. Tubuhku bermandi keringat, selangkanganku basah kuyup dan dadaku naik-turun. Kupejamkan mata sembari mengatur napasku yang memburu.

Bila sebelumnya aku menghabiskan waktu dengan melamun atau tidur-tiduran, kini kegiatan utamaku adalah bermasturbasi. Di ranjang maupun di kamar mandi. Dalam posisi berbaring, duduk hingga menungging. Tiap kali usai orgasme, aku merasa lega dan lelah sekaligus mengantuk. Aku pun tertidur pulas. Tapi begitu bangun, hal pertama yang kurasakan adalah ingin menikmati orgasme. Akibatnya klitorisku merah membengkak karena terus digosok. Perutku sampai kram dan kakiku pegal-pegal karena terus-terusan mengejang.

“Hmm? Ada apa sih?” gumamku kesal.

Guncangan keras di pundak, membangunkanku. Aku menggeliat sembari membuka mata dengan enggan. Ada seseorang berdiri di samping ranjang, berujar datar.

“Bangun dulu, Non. Sudah waktunya makan siang.”

Aku menggeleng. Tiba-tiba aku tersadar. Itu bukan suara Mbok Ti, pembantu yang biasa membangunkanku. Suara Mbok Ti medok, tidak serak begini. Tunggu dulu, aku kan sudah tidak punya rumah lagi. Aku kan tinggal di kamar kos sempit. Tapi itu juga bukan suara Gina, teman sekamarku. Suara Gina mendesah manja, tidak serak menggeram begini. Ini suara laki-laki. Badannya saja besar. Ya ampun, itu kan Aheng. Kok tumben-tumbennya dia membangunkanku?

“Jangan ganggu aku. Aku masih ngantuk,” ujarku serak sambil memunggunginya.

“Sekarang sudah jam sembilan. Non harus sarapan. Lagipula seprainya harus diganti,” balasnya sambil menepuk punggungku.

Eh, kulit telapak tangannya yang kasar kok terasa? Apa punggungku telanjang? Aku menjerit kaget setelah menyadari tubuhku tidak ditutupi selembar benang pun. Aku lupa kalau tadi aku melepas seragamku dulu sebelum bermasturbasi. Aku ingin merangsang diriku sendiri semaksimal mungkin tanpa diganggu sehelai kaus singlet.

“Pergi! Pergi kau! Jangan sentuh aku!” usirku panik sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhku, tapi Aheng malah membuang selimutku dan mencengkeram lenganku.

Aku yang ketakutan langsung berontak. Kupukuli dan kutendangi gorila bermuka bopeng itu. Namun dengan sekali sentak, Aheng menyeretku turun dari ranjang. Astaga! Apa dia lebih suka main di lantai? Aku langsung ciut membayangkan sakitnya ditindih dan digenjot orang sebesar Aheng. Ukuran kont*l BL yg kurus saja sebesar itu apalagi gorila ini? Belum lagi kalau dia main kasar.

Di luar dugaanku, Aheng melepaskanku dan menyibukkan diri melepas seprai. Ngapain sih, kayak pembantu saja. Ya ampun! Aku ternganga melihat bercak merah besar di tengah seprai putih. Seperti bendera Jepang saja. Aku menunduk dan melihat di lantai juga ada tetesan darah. Sumbernya dari selangkanganku! Aku mens!!

Aku langsung kabur terbirit-birit ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sialan! Aku lupa mengambil tampon dari lemari! Aduh, bagaimana ini? Mendadak pintu kamar mandi terbuka dan Aheng masuk menyodorkan sekotak tampon padaku. Aku hanya bisa duduk terlongong di atas kloset melihatnya mengeluyur keluar begitu saja.

Aku lebih melongo lagi setelah melihat ukuran tampon di tanganku. Tamponnya besar sekali, seukuran kont*l BL! Akhirnya aku memutuskan untuk tetap duduk di tempat daripada memerkosa diriku sendiri dengan tampon yang mungkin khusus untuk para ibu yang sudah melahirkan lebih dari lima kali. Lagipula aku belum pernah memakai tampon karena dilarang keras oleh papa. Papa tidak mau aku diperawani oleh tampon. Dan sepertinya cara memakainya tidak mudah. Jadi aku duduk sambil memandangi darah menetes deras ke lubang kloset.

Setengah jam berlalu, pantatku sudah mati rasa dan perutku bernyanyi sumbang. Aku mulai berpikir untuk menyerah pada tampon raksasa agar bisa kembali ke kamar tidur untuk menyantap makan siang saat Aheng kembali masuk. Dia tertegun sejenak melihatku masih memegangi tampon lalu tertawa geli.

“Nggak bisa atau nggak berani pakai?” tanyanya kurang ajar.

Kutimpuk kepalanya yang gundul dengan tampon sialan itu eh benda itu malah ditangkapnya.

“Kau mau apa?” tanyaku sambil menutupi dadaku ketika dia mendekatiku.

Tanpa ba-bi-bu dia jongkok di hadapanku lalu membenggangkan kakiku lebar-lebar.

“Eh, gila! Kau mau apa?” seruku marah sambil berusaha menendangnya.

Dengan santai ditangkapnya kakiku yang sedang melayang dan disampirkannya di pundaknya. Tangannya yang satu menahan pahaku yang lain. Aku terus memaki sambil menggeliat untuk melepaskan diri sampai pantatku bergeser maju ke mukanya. Aku sudah tidak punya malu lagi. Rasa takutku pun hilang. Aku berharap dia jijik melihat mem*kku yang berdarah, tapi harapanku sia-sia. Aheng seperti tuli. Dia merobek bungkus tampon dengan giginya lalu mengeluarkan tampon beserta longsongannya.

“Awas kalau kau berani!! Akan kubunuh kau!! Pergi! Jangan sentuh aku!” ancamku.

Ancamanku lama-lama berubah menjadi jeritan ketakutan.

“Tidaaak!! Jangaaaan!! Aaaaah!! Uggghhhh!!”

Aku berteriak kesakitan saat Aheng menyodok longsongan tampon ke mem*kku. Kupukuli lengan dan pundaknya dengan keras.

“Hhhgggh!!”

Aku mengejan saat tampon gede itu didorong masuk dengan paksa. Tanpa ragu dan belas kasihan, Aheng terus menekan tampon itu sambil memutarnya agar bisa masuk lebih dalam. Air mataku mengembeng seiring rasa linu dan perih yang timbul. Duk. Ujung tampon menyodok bibir rahimku dengan mantap. Aku hanya bisa meringis kesakitan saat Aheng menarik keluar longsongan tampon. Akhirnya Aheng memerkosaku juga walau dengan tampon. Lalu seperti biasa, dia meninggalkanku tanpa berkata apa-apa.

Aku termangu memandangi selangkanganku. Ada tali tampon menjuntai keluar di sana. Memkku terasa sesak dan mengembang. Aku mencoba berdiri dan berjalan. Tampon itu membuatku tidak bisa berjalan dengan kaki rapat. Tapi lama-lama terasa nyaman juga karena daya resapnya luar biasa apalagi bila memkku berkontraksi, rasanya seperti sedang disetubuhi tanpa henti.

Sore harinya Aheng kembali masuk kamar. Dia tidak juga mau pergi saat kuusir dengan sambitan bantal, guling dan selimut. Dia malah menyeretku ke dalam kamar mandi. Perlawanan yang kulakukan dengan cara menggigit tangannya dan menendang tulang keringnya sia-sia. Gorila ini seperti terbuat dari batu. Nyaliku mulai ciut dan bentakanku melemah. Jangan-jangan kali ini dia benar-benar ingin mencicipi tubuhku.

“Ayo, cepat mandi. Sebentar lagi bos pulang,” ujar Aheng seakan aku ini anak kecil saja.

“Mana bisa aku mandi kalau kau ada di sini. Memangnya aku tontonan?”

“Bos biasa begitu.”

Ah, pantas saja. Kalau memerkosa di depan umum saja tidak malu apalagi mandi ditonton bodyguard-nya. Kurasa BL itu benar-benar gila. Mungkin dia sejenis penganut sadomasokis eksibisionis.

“Apa bosmu yang menyuruhmu menungguiku mandi?” tanyaku jengkel.

“Bos bilang, aku harus memasangkan tampon lagi.”

“Kalau aku nggak mau?”

“Kau harus mau,” ujar Aheng sambil menyalakan shower.

“Aaaargh! Pelan-pelan dong!” seruku sewot saat dia mencabut tamponku dengan kasar.

Aheng tak menyahut dan malah mulai memandikanku. Boleh dibilang dia ikut mandi karena aku tidak bisa diam. Aku terus memaki sambil meronta, tapi juga tertawa karena sentuhan tangannya saat menggosok ketiakku membuatku kegelian. Tapi tubuhku langsung mematung saat jari-jarinya menyentuh klitorisku.

“Sudah. Jangan,” cegahku sambil menepis tangannya. “Jang…an. Oooh…”

Tanpa sadar aku mengerang. Aku menikmati gosokan jari dan telapak tangannya. Aku mendesah kecewa saat tangan Aheng hanya lewat sekejap dan terus turun ke kakiku. Aku menggigit bibir agar jangan sampai meminta gorila itu kembali menyentuh daerah terlarangku. Aku bahkan tidak peduli lagi kalau aku sedang mens. Toh, Aheng sendiri tidak merasa jijik. Aku tak bisa lagi menahan hasratku saat Aheng membilas tubuhku.

“Mmm… Ada yang belum bersih,” gumamku.

“Mana?” tanya Aheng heran.

Aku menunduk malu.

“Di situ,” ujarku pelan sambil menunjuk ke bawah pusarku.

Aheng menyemprotkan shower ke pangkal pahaku yang dibasahi aliran darah segar.

“Bukan, masih ada sisa sabun di atasnya,” ujarku nekat.

“Dia cuma bercanda, Heng. Sudah bersih kok.”

Oh my God Mukaku terasa panas hingga ke kuping. Aku mendongak dan melihat BL berdiri bersandar di pintu kamar mandi yang terbuka. Dia masih memakai kemeja kerja yang kedua lengannya digulung. Kedua tangannya bersedekap dan senyum mengejek meronai wajahnya.

“Pasangkan tamponnya,” perintah BL sambil melepas dasi.

“Kenapa harus tam… Aduh!”

Aheng meregangkan kakiku hingga aku terhuyung. Tak dipedulikannya darah yang menetes ke lantai dan dengan sekali sodok dia memasukkan tampon raksasa itu.

“Aaaaooh! Sakit! Gila!” teriakku. Kujitak kepala Aheng dengan kesal, untung dia tidak melawan. “Apa kau nggak bisa pelan-pelan?”

“Jangan pura-pura nggak suka,” tukas BL datar sembari membuka kancing kemejanya.

“Kau sengaja memberiku tampon ukuran gajah untuk menyiksaku kan?”

“Tapi kau merasa terangsang kan? Perempuan memang selalu begitu. Bilang nggak, tapi maksudnya iya. Bilang sakit, tapi sebenarnya enak. Apa tadi kau mau menggoda Aheng? Pengen mencoba kont*lnya?”

Aku mendelik dengan wajah merah. Belum sempat aku membela diri, dia sudah bicara pada ajudannya.

“Heng, buka celanamu.”

Aku berjaga-jaga saat Aheng yang berdiri di depanku membuka celananya. Aku terkesiap melihat kont*l gorila itu yang … nyaris tidak ada. Hanya ada gundukan daging lembek sepanjang dua sentimeter. Astaga, apa yang sudah dilakukan BL padanya?

“Ke… kenapa begini?”

Aheng diam saja dengan wajah membeku.

Aku berpaling pada BL dan berseru geram, “Kau bukan manusia! Dasar binatang ke…”

“Jangan bilang begitu pada bos!” bantah Aheng dengan suara menggelegar sehingga aku melompat mundur terkaget-kaget.

“Sudah. Sekarang kau berdiri di sana,” perintah BL berikutnya pada Aheng.

Mulut Aheng terkatup dan dengan patuh dia berdiri di dekat bathtub tanpa menaikkan celananya. Aku menatapnya dengan iba, tapi sama sekali tak tampak ekspresi malu atau menderita di wajahnya.

“Dia paling benci dikasihani,” tukas BL sembari mendekatiku.

Aku berlari keluar, tapi dengan gesit gorila itu menghalangi langkahku. BL memelukku dari belakang. Aku meronta, mencoba melepaskan diri, tapi libatan lengannya makin erat. Lidahnya menyapu kuduk dan telingaku. Giginya meninggalkan bekas di leher dan pundakku yang masih basah. Jari-jarinya meremas payudaraku dan memilin putingku dengan keras.

“Ugh… Hhhh…,” desisku sembari meringis menahan sakit.

Gilanya aku mulai terangsang. Tanpa menerima perintah, otot-otot liang vaginaku sudah meremas tampon besar di dalam dengan getol. Aku kembali terhuyung mengikuti tubuh BL yang terus mundur dan jatuh terduduk di atas pangkuannya. Ternyata dia duduk di atas kloset. Aku masih terus berusaha kabur meski jari-jarinya sudah mengusap bagian dalam pahaku. Kucoba mengatupkan pahaku, tapi ditahannya dengan kuat. Perlawananku melemah saat klitorisku disentuhnya.

“Kau menikmatinya kan? Buktinya kau makin basah. Begini nih cara masturbasi yang benar. Ayo, lihat. Nggak usah malu-malu. Mumpung ada yang mau ngajarin.”

BL melepaskan payudaraku dan menundukkan kepalaku sehingga aku terpaksa melihat apa yang sedang dilakukannya. Dia sedang membuat putaran-putaran kecil di klentitku, kadang sesekali mencongkel benjolan kecil yang mulai mengeras itu. Tubuhku menggeletar menahan gelinjang dan bibirku kugigit keras untuk menahan ledakan erangan erotis yang ingin keluar. Napasku mulai memburu lagi setelah kuku jari BL menelusuri lekukan klent*tku sambil sedikit menekannya. Aku baru bisa bernapas lega setelah dia menarik jarinya.

“Ini darah bukan, Heng?” tanya BL sembari melambaikan jari tengah kanannya yang mengkilap.

“Bukan bos, bening.”

BL tertawa mengejek.

Di dalam pasti super becek sampai luber keluar tampon. Horny berat begini kok masih jual mahal. Kau masih harus belajar banyak. Teknik masturbasimu masih payah.”

Melihatku tercenung, BL tertawa lagi.

“Kau pikir aku nggak tahu kalau kau suka sekali masturbasi. Delapan kali sehari rekormu. Seperti olah raga saja ya mandi keringat.”

“Ka… kau… mengintipku?” tanyaku terbata.

“Ada tiga kamera di sini dan empat di sana,” ujar BL seraya mengedikkan kepalanya ke arah kamar tidur.

Rasanya aku ingin menghilang selamanya dari dunia saat ini juga. Ditertawakan BL memang memalukan dan menjengkelkan, tapi bila Aheng juga ikut menertawakanku mau dikemanakan harga diriku? Oh, papa, kenapa nasibku menyedihkan begini?

“Orgasme itu enak kan?”

Aku menggeleng pelan. Tentu saja enak, tapi aku malu mengakuinya.

“Dasar cewek. Munafik. Ayo, turun.”

Aku yang tidak mau bergerak didorongnya dengan kasar hingga nyaris nyungsep ke lantai. Untung saja Aheng berbaik hati menahan pundakku. Namun gorila itu lalu memaksaku berlutut menghadap majikannya yang tengik. Kont*l BL yang setengah tegang mengacung di depan hidungku.

“Jangan berlagak jijik. Apa kau lupa, ini yang membuatmu ketagihan masturbasi?”

Aku ragu. Aku benci kont*l ini, tapi juga rindu padanya. BL yang tak sabar melihatku diam saja, menyuruh Aheng untuk membantuku.

“Oooh… Hhhh…”

Aku mendesah nikmat saat tangan Aheng menyelonong di sela-sela kakiku dari belakang untuk menggosok klentitku. Tangan satunya mengarahkan kepalaku hingga mulutku yang terbuka mencaplok kont*l BL.

“Mmmm…”

“Bagus. Jilati bagian kepalanya. Auch! Jangan pakai gigi dong! Heng!”

“Mmmph!”

Tubuhku terlonjak maju karena Aheng mendadak memencet klentitku kuat-kuat seperti sedang memites kutu saja. Aku megap-megap nyaris tersedak karena kont*l BL melesak masuk menonjok anak tekakku dengan telak.

BL terus memberi instruksi bagaimana cara mengoral dengan baik dan benar. Tak hanya batang penisnya, kedua buah pelirnya juga harus kujilati. Dia mendesah nikmat saat aku mengemut kepala kontlnya dengan getol. Bila gigiku tak sengaja menyentuh kontl atau pelirnya, BL langsung berteriak ‘Heng!’ dan Aheng pun menjepit kacangku dengan keras hingga aku mengernyit kesakitan. Setelah kont*lnya mengeras, Bl memakai kondom. Kali ini polos dan tipis sekali. Aku disuruhnya duduk di atas pangkuannya lagi seperti tadi.

“Aaaaghh!!…. Oooaaaah!!”

Aku menjerit kaget bercampur sakit saat kont*l keras itu mencoblos anusku. Lubang duburku belum terbiasa juga disodomi meski sudah berulangkali mengalaminya. Namun rasa sakitku perlahan berubah menjadi nikmat karena BL kembali mengelus-elus klentitku lagi.

“Kau kepingin mencoba kont*l Aheng kan? Ayo, Heng.”

“Aku ngga…. agh….Agh… mau…”

“Emut kont*lnya. Ayo, Heng.”

Aheng meraih kepalaku ke arah kont*lnya dengan mantap hingga hidungku menumbuk hutan jembutnya. Bibirku terasa geli saat menyentuh gumpalan daging lembek yang berbau pesing. Aku nyaris tak bisa bernapas setelah tubuhku terdorong ke depan. Perlahan tapi pasti aku mulai menjilat dan mengulum penis buntung itu sembari menggelinjang.

BL terus merangsangku dengan ganas. Jari-jari kanannya mencubit, menggaruk dan mencongkel klentitku sedang tangan kirinya memerah payudaraku kiriku. Lidahnya menjilati pungungku sembari sesekali menggigitinya. Sementara itu pantatnya terus menghentak ke atas sehingga kont*lnya bagai pasak yang memaku pantatku.

Aheng sepertinya lupa kalau penisnya sudah tidak utuh. Dengan penuh semangat, dijambaknya rambutku dan dinaik-turunkannya kepalaku. BL mulai membuat cupang di leher dengan getol hingga aku tersedak. Tapi mereka tak juga berhenti sampai tubuhku tergencet. Erangan kami bertiga bersahutan dan menggema di kamar mandi.

Mendadak BL menarik tubuhku dan menurunkanku hingga berlutut di lantai. Dia melakukannya tanpa mencabut kontlnya. Aku sudah lupa berontak. Aku menurut saat dia menyuruhku bergeser. Aku mendesah nikmat begitu kedua tangan BL kembali merambah payudara dan klentitku. Mataku merem-melek menikmati semua ini meski perlakuan mereka makin kasar. Sodokan kontl BL makin dalam dan payudaraku sakit. Hidungku terasa makin pesek karena ditekan kuat-kuat oleh Aheng ke bagian bawah perutnya. Air liur berceceran menetes dari mulutku.

Mendadak Aheng menggeram keras dan kurasakan ada cairan asin mengalir dari lubang kecil di tengah penis buntung itu. Aku sendiri mengerang tanpa henti sambil mengempot tampon raksasa dalam tubuhku sekeras mungkin. Melihat Aheng melepaskan kepalaku, BL menjambak rambutku, menarikku bangun. Kedua tanganku yang mendadak tak punya pegangan mencari-cari pegangan baru. Kujambak rambut BL dari depan.

“Aaargh…”

Dengkulku sudah pedas apalagi anusku, tapi sungguh mati, rasanya nikmat sekali. Kami saling jambak sambil mengerang makin keras.

“Eerggh… Ngggh… Oooh… Aaaaaaahhh…”

Tubuhku bergetar keras dan kurasakan tampon raksasa itu mendadak basah kuyup. Aku terkulai lemas setelah orgasme pertamaku dari sodomi, tapi BL masih terus mengayun tubuhnya. Kemudian dia menarik kontlnya dan membaringkanku di lantai. Aku terhenyak saat dia mendadak menduduki perutku. Setelah melepas kondom, kontlnya di jepit diantara kedua payudaraku.

“Kau belum pernah titf*ck kan? Sekarang pegang yang kuat,” perintahnya sambil menaruh kedua tanganku di pinggir sepasang gunung kembarku.

Sepasang buah dadaku memang besar, mungkin karena dulunya aku gemuk. Kont*l BL seperti sosis besar yang terjepit dua buah roti burger. Aku merasa geli saat jembut BL menggosok dadaku. Tapi melihatnya merem-melek penuh kenikmatan, aku jadi terangsang lagi. Aku ikut-ikutan mendesah dan mengerang.

CROT! CROT!

Air mani BL menyembur ke leher dan wajahku. BL tampak puas dan menertawaiku yang terengah-engah. Aku capek sekali sampai tidak punya tenaga lagi untuk memaki atau meludahi BL yang meratakan spermanya ke seluruh wajahku.

“Apa kau mau dimandikan Aheng lagi?”

cerita lainnya
Sleeping with enemy – part 1
Sleeping with enemy – part2
Sleeping with enemy – part 3
Sleeping with enemy – part 4
Sleeping with enemy – part 5
Sleeping with enemy – part 6
Sleeping with enemy – part 7

Pelecehan di panti Rehabilitasi

Filed under: PERKOSAAN

Untuk kesekian kalinya orang tua nadine memergoki anaknya masih menggunakan obat obat terlarang.karena khawatir akan keselamatan nadine , maka ayahnya menganjurkan agar gadis itu dimasukkan ke panti rehabilitasi.

Pada awalnya ibunya nadine merasa keberatan , namun demi masa depan anakknya ia pun setuju. Dan untuk menjaga nama baik keluarga diputuskan bahwa nadine akan dimasukkan ke pusat rehabilitasi alternatif di luar kota pimpinan ki guntur.

Nadine tentu saja kecewa dengan keputusan ini , namun ia tak bisa berbuat banyak.Selama dua jam perjalanan tak sepatah katapun keluar dari mulut nadine, tanda bahwa ia tak suka dikirim ke panti rehab dimana segalanya diatur.

Nadine agak sedikit terkaget ketika mereka sampai ke tempat rehab, lokasinya sangat terpencil, jauh darimana mana, dan strukturnya malah lebih mirip bangunan penjara.

“ayah…ga salah nih..kita kesini…” tanya nadine

“enggak..pokoknya kamu tinggal disini untuk beberapa lama..ini juga demi masa depan kamu…..” jawab ayahnya.

seorang berpakaian serba putih menyambut mereka dan langsung mengantarkan tamunya ke ruangan ki guntur.

“saya berharap anak saya bisa disembuhkan ki guntur……” kata ayah nadine

“hmmm…tak usah khawatir pak frans…..saya jamin anak anda sekeluar dari sini akan sembuh dan menjauhi narkoba….” kata ki guntur meyakinkan.

dan begitulah mulai hari itu , nadine resmi jadi penghuni panti rehab tersebut, dan harus mengikuti berbagai program dan aturan yang berlaku di tempat itu.

jika ada pelanggaran maka tak ayal lagi hukuman akan menunggu, biasanya hukuman berupa hukuman fisik berupa olahraga atau bekerja, atau hukuman pengasingan alias dikurung di suatu ruangan dengan jangka waktu tertentu.

suatu waktu , nadine dipanggil ki guntur ke ruangannya , nadine menduga ia dipanggil karena ia beberapa kali bolos di waktu pelajaran.

“nadine …duduk…….” kata ki guntur sambil menunjuk sebuah kursi di tengah ruangan.
nadine duduk di kursi itu, entah mengapa jantungnya berdegub kencang, perasaanya ga enak.

“nadine…..saya sudah diberi kewenangan penuh untuk melakukan cara apapun oleh orang tua kamu,agar kamu bisa sembuh…….dan juga ingat jika kamu tidak mengikuti perintah, kamu akan kena sangsi…” kata ki guntur yang membuat perasaan nadine mulai tidak karuan.

nadine berusaha duduk tenang meski hatinya gelisah, gadis ini baru berusia 18 tahun , tapi bodynya sungguh mengaggumkan, buah dadanya cukup menonjol sempurna ,kakinya yg lenjang dan bulatan pantat yang menggiurkan. Ki guntur menatap tubuh gadis itu penuh nafsu, pusat rehabnya sering dititipi gadis cantik anak orang kaya seperti ini , dan ki guntur selalu punya therapy khusus untuk gadis gadis kota seperti ini.

“baik…coba duduk tegak…..lutut rapat dan tangan dilipat….” ki guntur memberi instruksi yang kemudian diikuti patuh oleh nadine.

“ingat nadine..ikuti semua instruksi saya……kalau tidak kamu kena sangsi….paham..?’

“paham, ki….”

“bagus…..kamu memang gadis cantik yang penurut. sekarang angkat tangan kamu ke atas kepala ,dan duduk tetap tegak lurus..”

nadine mengikuti instruksi itu dan mulai merasa tak nyaman, karena dengan posisi seperti itu otomatis buah dadanya membusung ke depan, apalagi ia sempat melihat tatapan mata ki guntur yang tak lepas dari buah dadanya itu.

“hahaha..bagus bagus….dada kamu besar juga ya…….sekarang coba kamu buka lebar kaki kamu sampai ke ujung kursi…”

dengan sedikit risih nadine membuka kakinya lebar, pahanya terlihat menggiurkan.

“ayo..kurang lebar…lebih lebar……” perintah ki guntur

muka nadine memerah saat membuka kakinya makin lebar, ia merasa tak nyaman saat melihat ki guntur terus menatap buah dadanya yang membusung ke depan , dan roknya yg terangkat kian tinggi karena kakinya dibuka lebar.

“hmmm…bagus bagus…….coba sekarang kamu buka blouse kamu….”

nadine dengan perlahan membuka satu persatu kancing blousenya, sehingga menampakkan buah dadanya yang masih tertutup oleh bra.

“hmmm..ok……..coba posisinya seperti tadi…tangan ke atas…dada busungkan..punggung lurus/…..”

saat nadine melakukan itu, ki guntur mengambil kursi dan duduk tepat dihadapan nadine. ki guntur lalu mengelus elus bulatan dada nadine yang menonjol dengan lembut

“diam…jangan bergerak……” kata ki guntur lalu meremas buah dada nadine, tangannya bahkan menelusup masuk mencari puting susu gadis cantik ini. nadine hanya menahan nafas saat buah dadanya diremas remas, ia tak berani melawan karena khawatir nasibnya akan lebih buruk, ia hanya berharap semua ini cepat selesai.

“coba buka branya juga…kamu telanjang dada dihadapan saya…..” perintah ki guntur

nadine berdiri dan meraih bagian belakang branya, melepas dan menjatuhkan branya ke lantai. belum pernah ada laki laki manapun yang pernah melhat nadine telanjang dada, tapi kini ia harus melakukannya di depan seorang lelaki tua yang katanya dihormati.

“ya..duduk lagi…..busungkan dadanya seperti tadi……”

ki guntur kini leluasa meremas dan mencubiti buah dada ranum milik nadine, bulatan indah itu ia remas kuat dan putingnya ia tarik tarik, sehingga kian lama puting nadine kian mengeras, membuat remasan ki guntur makin bersemangat pula, rintihan kesakitan mulai terdengar dari bibir nadine.

“ok…bangun dan buka rok dan celana dalam kamu……”

nadine bangkit dan membuka roknya namun ia ragu ketika harus membuka celananya.

“ayo…ayo…cepat…..tunggu apa lagi…..” ki guntur tak sabar

dengan perlahan ia melepas celana dalamnya memperilhatkan vaginanya yg membangkitkan birahi.

“bagus..duduk..dan buka paha kamu lebar lebar…..”

dan tak membuang waktu sedetikpun , setelah nadine duduk kembali, ki guntur kemudian mengelus elus paha mulus nadine sampai ke vaginanya, membuat nadine merintih rintih.

“kamu pernah telanjang di depan orang lain nadine….?” tanya ki guntur

“belum…ki, …ini pertama kalinya….” kata nadine menahan malu

“nanti juga terbiasa…kamu setiap terapi harus telanjang bulat…biar ilmunya cepat menyerap….”

jari jari ki guntur mulai bergerak naik turun menyusuri bibir vagina nadine,lalu lanjut menuju ke clit nya dan memutar mutarnya, hal ini menyebabkan rintihan nadine kian kentara.
tangan ki guntur yag lain bergerak ke belakang dan meremas pantat indah nadine.

“hmm….pantat kamu juga sempurna…….diam ya….”

kiini kedua tangan ki guntur melakukan rangsangan di vagina dan pantat nadine,membuat gadis ini menggeliat dan menggelinjang tak karuan menahan berbagai rasa, makin lama tubuhnya terasa seoalh akan meledak.

“aaahhhh….” nadine mulai menangis, “ahhhh…awa…..udahhh..ki…cukup…aaahhhhh….”
tangis nadine meledak seiring dengan orgasme yg dialaminya.
setelah beberapa lama terisak, akhirnya gadis itu terdiam juga, perasaan aneh menjalar ke seluruh tubuhnya.

Ki guntur kemudian memposisikan nadine membungkuk memegang meja, dengan kaki dilebarkan.
posisi ini membuat ki guntur leluasa meremas dan memainkan pantat gadis cantik ini,nadine hanya menggigit bibir menahan tangis.
nadine juga mendengar suara retsleting dibuka, dan belum sempat berpikir banyak , tiba tiba ia merasakan benda keras mencoba memasuki pantatnya.

“aaaaaaaaawwwwwwwwwwwwwww………...” nadine berteriak kesakitan saat penis ki guntur mulai memasuki pantatnya. nadine kian menangis kesakitan saat ki guntur bergerak maju mundur, menekan penis itu masuk makin kedalam, seinci demi inci sampai akhirnya penis itu terbenam di pantat mulus nadine.

nadine terengah engah menahan sakit saat pantatnya dipompa sedemikain rupa, ia berusaha berontak agar penis itu dicabut namun sia sia, yang ada malahan gerakan ki guntur makin brutal dan menyakitkan.

sambil terus menekan penisnya di pantat nadine, ia tak lepas meremas buah dada gadis cantik ini dan mencubiti putingnya, sementara tangan lainnya bermain di seputar vagina.

pijatan dan rangsangan di clitnya membuat nadine mengerang nikmat bercampur kesakitan akibat di perkosa di pantat.
saat nadine merasa akan mencapai orgasme , ia bisa merasakan penis ki guntur masuk semakin dalam dan menyemburkan cairannya di dalam pantat nadine.

puas dengan “terapi” , ki guntur mencabut penisnya dari nadine, gadis itu langsung ambruk ke lantai , karena lelah akibat orgasme, juga akibat kesakitan saat pantatnya diperkosa dengan kasar.

“bagus……kamu boleh kembali ke kamar kamu dan beristirahat. besok kamu kembali lagi dan terapi lagi, setelah lewat pantat, besok kamu akan ditherapi lewat mulut dan kemaluan kamu…..sekarang istirahat dan bersiap siap untuk besok.”

nadine kembali ke kamarnya dengan pantat yg panas , dan kepala yg penuh kekhawatiran…..apa lagi yang akan dialaminya besok……

Sleeping with the enemy part 2 : si kembar psikopat

Filed under: PERKOSAAN

Aku tak pernah membayangkan akan menjadi budak seks orang yang ingin kubunuh. Sudah seminggu lebih aku disekap dalam sebuah kamar tanpa diberi pakaian layak. Pakaianku sehari-hari hanyalah kaus singlet berukuran besar yang bila kupakai mirip daster. Tanpa BH dan tanpa celana dalam.

Kamarku cukup luas. Isinya sebuah ranjang besar dan sebuah lemari dua pintu yang hanya berisi kaus singlet, kimono mini, selimut, seprai, handuk mandi dan tampon. Aku belum pernah mens sejak berada di sini, tapi tak terbayangkan olehku bagaimana rasanya memakai tampon apalagi tanpa celana dalam.

Ada pintu kecil yang menghubungkan kamar tidur dengan kamar mandi di sebelahnya. Kamar mandi itu adalah tempat BL memerkosaku saat aku tiba di tempat ini. Aku sendiri tidak tahu pasti apakah tempat ini adalah bagian dari rumahnya atau apartemen karena tak ada jendela dalam kamarku. Hanya ada ventilasi kecil dalam kamar mandi dan letaknya di dinding atas, dekat langit-langit.

Aku seperti binatang piaraan, diberi makan dan minum secara teratur dalam porsi cukup (biasanya Aheng yang mengantar ransum makanku) agar bisa melayani nafsu seks BL yang overdosis. Tiap hari dia mengunjungiku kapan saja dia mau. Kadang sekali, kadang bisa sampai tiga kali. Kadang di kamar mandi saat aku mandi pagi, kadang tengah malam saat dia pulang dalam keadaan mabuk dan kadang pagi-pagi buta di saat aku belum benar-benar sadar seperti yang terjadi sekarang.

Aku terbangun karena mendadak ada yang menekan dan menerobos mem*kku dengan paksa. Aku berteriak kaget tapi teriakanku tertahan karena dia memagut bibirku dengan lapar. Ditindih dan dipeluknya tubuhku dengan erat hingga aku tak bisa bernapas lega.

“Hek… hek… hek…”

Hanya desah tertahan yang keluar dari mulutku seiring genjotannya yang makin cepat. Aku menggeliat mencoba melepaskan diri. Kedua tanganku mendorong tubuhnya menjauh, mencakar wajahnya, tapi kukuku sudah dipotong rapi entah kapan – mungkin saat aku tertidur. Kujambak rambutnya, kutonjok wajahnya, tapi dia bergeming dan malah menggerayangi serta meremas tubuhku yang telanjang dengan gemas sembari menjilati wajah dan menggigiti daun telingaku.

Duk! Duk! Saking serunya menggenjot, tubuhku bergeser sampai-sampai kepalaku menumbuk headboard ranjang, tapi dia tak menghentikan genjotannya. Percuma aku meneriakkan kata ‘Stop! Sudah! Aduh!” karena hal itu akan membuatnya makin bernafsu menggeluti tubuhku. Jadi terpaksa aku menelengkan kepalaku hingga leherku sakit.

Selangkanganku perih karena aku tidak pernah menerima rangsangan yang membuat cairan vaginaku keluar. Dia juga tak pernah melumasi kondomnya. Aku belum pernah merasakan nikmatnya orgasme. Yang kurasakan hanyalah sakit yang makin membuat dendamku membara sekaligus membuatku frustasi. Bagaimana caranya aku bisa membunuh jahanam ini?

Aku sudah pernah menyerangnya dengan garpu, mencoba mengepruk kepalanya dengan gelas melamin dan menusuk penisnya dengan tusuk gigi, tapi semuanya gagal. Reaksinya yang cekatan membuat berbagai seranganku tumpul dan berbalik menjadi senjata makan tuan. Dia membalas semua seranganku dengan menyetubuhiku dengan paksa. Bila aku meludahinya, dia membalasnya dengan menyemburkan air maninya ke wajahku. Tapi tak sekalipun dia memukul atau menamparku. Dia hanya suka memiting, menggencet atau menjambak rambutku, itu pun dilakukannya dengan setengah tenaganya. Dia senang mempermainkanku. Bila aku marah dan berontak, nafsu seksnya akan berlipat ganda.

Yang paling kubenci adalah kondom yang dipakainya. Ada yang bersungut, ada yang berbentuk ulir dan ada yang bervibrasi sehingga membuatku terlonjak-lonjak liar sambil meringis menahan geli tiap kali ujung kontlnya yang bergetar kuat menekan mulut rahimku. Yang sekarang dipakainya berbentuk mirip jamur, ujungnya membulat besar seperti hidung palsu badut yang merah sehingga membuat liang vaginaku mengembang. Tapi saat dia menarik kontlnya, daging liang vaginaku seperti ikut tertarik keluar. Sakit sekali. Untuk mengurangi rasa sakit tanganku mencengkeram seprai hingga robek. Lalu aku mencari-cari benda lain untuk kucengkeram. Yang kudapat lengan dan punggungnya.

“Hhhg! Ssshh! Hhhgh!”

BL mengerang dan mendesis saat kukuku yang pendek menembus kulit lengan dan punggungnya. Aku keliru. Perbuatanku memicu nafsunya makin menggila. Digenjotnya kontlnya lebih kuat dengan kecepatan penuh. Memkku seperti ingin sobek rasanya.

“Aaargh! Aaaaah! Sakit! Sudah! Sudah!” teriakku sambil memukuli badannya.

BL berhenti dan mencabut kontlnya di saat aku tak tahan lagi dengan siksaannya, tapi dia melakukan hal itu hanya untuk merubah posisi dari missionary position ke deep penetration. Kedua kakiku disampirkan ke pundaknya sementara konlnya bersiap menyodok anusku. Agak susah menembus anusku karena ujung kepala jamur itu terlalu besar. Di samping itu aku terus meronta dengan panik dan menendang-nendang.

Ajaib. Kali ini perlawananku berhasil. Dia terpelanting jatuh ke lantai, tak sadarkan diri. Rupanya tendanganku mengenai mukanya dengan telak. Aku buru-buru menymbat mulutnya dan mengikatnya pada kaki ranjang dengan robekan kaus singletku. Ironis karena dia yang merobek kaus singlet itu. Kemudian aku memakai kaus dan celana pendeknya yang agak kebesaran.

Kubuka pintu kamar dengan pelan. Di luar gelap, tapi bunyi dengkuran keras nyaris membuatku memiawik kaget. Aku menutup mulutku saat menyadari ada kursi di samping pintuku. Di sana duduk Aheng. Kepalanya terdongak, mulut lebarnya ternganga dan kakinya menyelonjor.

Sejenak aku terdiam, mencoba berpikir dengan jantung berdebar keras dan kepala berdenyut kencang. Aku tidak tahu tempat seperti apa ini dan di mana letaknya. Aku tidak punya uang dan tak tahu harus ke mana. Ke tempat kosku dulu? Atau kembali ke Sanctuary? Bayangan wajah babi tua mesum itu membuatku ingin muntah. Berarti aku terpaksa meminta bantuan keluarga besarku yang pengecut itu.

Setelah memantapkan diri aku menyelinap keluar dan berjalan berjingkat-jingkat. Baru lima langkah, aku baru sadar kalau aku belum menuntaskan misiku. Aku belum membunuh BL. Di saat aku ragu, terdengar bunyi gaduh dari dalam kamar disusul teriakan BL. Celaka, BL sudah sadarkan diri!

Aku langsung berlari mencari-cari jalan keluar dalam kegelapan. Ada begitu banyak pintu, aku membuka salah satu di antaranya dan segera menguncinya. Dari luar terdengar langkah-langkah kaki. Mereka mengejarku! Aku harus lari ke mana?

Mendadak aku merinding. Ada yang bernapas di belakangku. Dengusan napasnya yang dingin berhembus ke kudukku, menembus rambutku yang tergerai. Tubuhku gemetar. Astaga, apa ada setan di sini?

“Apa kau setan?”

Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, tapi malah aku yang ditanya. Nada suaranya kekanak-kanakan, penuh rasa ingin tahu. Aku menoleh perlahan dan rasanya jantungku berhenti berdetak. Persis di hadapanku berdiri Bandi. Cengiran lebar mendominasi wajahnya.

“Mukamu pucat, tapi kau bukan setan,” ujarnya sambil tertawa mengikik.

Tawanya yang tak wajar membuatku takut. Aku beringsut mundur, tapi punggungku membentur pintu.

“Tadi aku mimpi apa ya sampai didatangi tamu penting sepagi ini. Apa BL lupa kalau hari ini bukan hari ulang-tahunku? Kau tahu, selama ini dia pelit sekali. Dia nggak pernah mau meminjamkan mainannya padaku apalagi memberikannya dengan gratis. Padahal aku mau berbagi dengannya, tapi dia selalu bilang aku ini perusak. Apa kau pernah melihat museum Lego-nya? Dia mengoleksi mainan Lego dari umur empat tahun. Semuanya masih dibungkus rapi, seperti toko saja. Bodoh sekali dia. Ngapain mainan cuma dipandangi saja. Nggak seru kan? Eh, kenapa kau diam saja?”

Aku diam karena tidak tahu harus menyahut apa dan memilih berpikir bagaimana cara meloloskan diri dari si klemer psycho ini. Bandi mulai membelai rambut dan wajahku. Belaiannya halus, seakan aku ini porselen yang mudah pecah. Begitu beda dengan sentuhan BL yang seakan ingin meremukkan tubuhku. Tapi sentuhan Bandi membuatku merinding dan menggigil.

“Mungkin dia sudah bosan padamu. Aku sih nggak keberatan dikasih barang bekas. Toh kau masih lumayan bagus.”

“Maaf, sudah mengganggu tidurmu. Tadi aku salah masuk kamar,” ujarku sesopan mungkin sambil membuka pintu.

“Nggak. Kau nggak salah kok,” bantah Bandi sambil menggenggam tanganku dengan mesra.

Aku mencoba menarik tanganku, tapi tak bisa. Dia malah merangkul sambil mengelus-elus punggungku.

“Aku memang sedang butuh orang baru karena dia payah sekali,” keluhnya sambil melambaikan tangannya dengan santai.

Aku melirik ke arah tangannya melambai. Aku terkesiap. Dalam keremangan aku bisa melihat seorang gadis yang kedua tangan dan kakinya terikat pada keempat ujung ranjang. Tubuhnya yang telanjang penuh bercak mengkilat. Dari selangkangannya mencuat dua dildo. Satu dari lubang vagina dan yang satunya dari lubang anus. Kedua dildo itu masih menyala hingga mengeluarkan suara mendesum. Sedangkan gadis malang itu sepertinya tak sadarkan diri atau jangan-jangan sudah mati.

“BL pasti sudah mencariku,” ujarku gemetar.

Aku mulai berpikir untuk berteriak minta tolong, tapi aku takut Bandi mendadak berbuat nekat. Bandi tertawa.

“Dia bisa mencari mainan baru. Orang macam dia bisa pesan apa saja lewat telepon. Dia bisa pesan lima cewek yang lebih cantik darimu dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Jadi kau nggak usah mikirin dia lagi. Sekarang kau milikku.”

“Tapi aku harus kemba…”

Kata-kataku terhenti karena Bandi tiba-tiba mencekikku. Mataku terbelalak dan aku meronta sekuat tenaga. Kutendang selangkangannya, tapi dia berkelit. Kucakar wajahnya, tapi dia mengelak. Dia terus menatapku sambil tersenyum manis dan sedetik sebelum aku tak sadarkan diri, dia mencium bibirku dengan lembut.

Aku tak tahu berapa lama aku pingsan. Tapi begitu sadar, mimpi buruk sudah menyongsongku. Aku berada dalam ruangan aneh, bukan kamar Bandi. Ruangan ini lebih mirip laboratorium daripada kamar tidur. Ada banyak rak berisi benda-benda aneh. Aku berusaha bangun, tapi tak bisa. Tubuhku terikat pada ranjang. Kedua tanganku terikat jadi satu di atas kepalaku sedang kakiku terikat pada alat aneh. Aku tahu, ranjang ini adalah ranjang khusus untuk melahirkan di mana ada alat untuk menyangga betis pasien di ujung kiri-kanan ranjang bagian kaki. Secara otomatis selangkanganku terbuka dan ya aku kembali telanjang bulat.

Aku berteriak minta tolong, tapi lidahku terganjal dan mulutku tersumbat. Bukan kain, bukan kondom atau plakban. Kurasakan dengan lidah, sepertinya mirip bola golf, tapi berlubang-lubang sehingga udara bisa keluar-masuk dengan leluasa.

“Ah, akhirnya sadar juga,” sapa Bandi dengan ramah.

Tangannya membelai wajahku dengan lembut lalu turun ke payudaraku, perutku yang rata dan terakhir selangkanganku. Tubuhku tersentak-sentak, tiap kali dia menyentuh benjolan kecil di dekat lubang kencingku.

“Enak kan? Buktinya kau makin basah,” bisiknya sambil terus membuat lingkaran-lingkaran kecil di sana.

Aku belum pernah bermasturbasi jadi tidak tahu kalau klitorisku bisa dirangsang seperti ini. Lenguhan kenikmatan mulai keluar dari mulutku yang tersumbat. Vaginaku mulai terasa basah. Tanpa sadar aku memejamkan mataku untuk menikmati rangsangan ini. Rasanya aku sedang terbang ke langit ketujuh.

“Mmmh! Mmmph!”

Aku membuka mata dan berteriak kaget saat kurasakan benda keras dan dingin memaksa masuk memkku yang basah. Bandi tersenyum ramah dan mengeluarkan alat itu dari memkku dan menunjukkannya. Mirip gunting, tapi melengkung dan bercorong.

“Kau belum pernah melihat alat ini?”

Aku menggeleng ketakutan. Sepertinya alat itu mengerikan.

“Kalau begitu kau pasti belum pernah pap smear. Alat ini untuk membantu dokter membuka liang vagina sehingga bisa mengambil cairan dengan gampang.”

Aku makin ciut melihatnya memeragakan gunting aneh itu hingga membuka lebar. Astaga! Apa yang akan dilakukannya pada vaginaku? Aku berontak, mencoba beringsut saat Bandi kembali mencokokkan alat mengerikan itu ke lubang mem*kku.

“Mmmh! Mmmph! Mmmmmhhh!”

Aku berteriak sejadi-jadinya saat alat itu menyodok masuk hingga ke ujung dan membenggangkan lubang vaginaku lebar-lebar. Sakit dan linu sekali. Bandi menyeringai dan memasukkan empat jarinya sekaligus untuk mengobok-ngobok vaginaku hingga basah kuyup.

“Sepertinya deodoran ini muat kalau dimasukkan ke dalam situ.”

Aku menggeleng dan berteriak-teriak. Tapi percuma. Daguku malah berlumuran liurku sendiri yang mengalir keluar lewat lubang sumbatanku. Dan Bandi seperti anak kecil yang kegirangan menemukan mainan baru. Setelah puas dengan memasukkan dan mengeluarkan deodoran, dia beralih pada barang-barang yang lebih besar. Botol minyak angin, thermometer digital lalu berganti botol aftershave dan yang terakhir senter yang berisi dua batere AA.

Separuh batang senter plastik hijau masih menancap di vaginaku saat dia mengeluarkan speculum lain. Rasanya aku ingin mati saja daripada anusku ikut dibenggangkan. Sekujur tubuhku bermandikan keringat dingin. Benar-benar mengerikan. Aku tahu aku sudah berjumpa dengan setan yang sesungguhnya.

BRAK! Mendadak pintu ruangan terbuka dan Aheng menerobos masuk ke dalam. Belum pernah aku merasa begitu gembira melihat Aheng. Apalagi gorila itu langsung melucuti benda-benda penyiksa yang tertancap di tubuhku.

“Eh, kau mau apa? Siapa yang mengijinkanmu mask kemari?” sembur Bandi murka sambil menyerang Aheng.

Dengan sekali tepak, Bandi tersungkur di lantai. Diambilnya pisau dan dihunjamkannya ke punggung Aheng.

“Awas!”

Aku ingin berteriak memperingatkan Aheng, tapi mulutku tersumbat.

“Bandi!!”

Bandi langsung mematung mendengar bentakan BL. Aku juga. Sedangkan Aheng terus berkutat membuka ikatan tanganku.

“Apa-apaan kau ini. Kau kan tahu kalau dia milikku!” sergah BL.

“Aku tidak pernah mengundangnya kemari. Dia sendiri yang datang,” bantah Bandi. “Lagipula kau juga sudah bosan dengannya.”

“Apa aku pernah merebut ayammu yang kabur ke tempatku?”

Kedua saudara itu bertengkar memperebutkanku. Tidak sampai baku hantam, tapi ribut sekali. Namun aku sama sekali tidak bangga diperebutkan dua orang sakit jiwa. Adu mulut akhirnya selesai dan dimenangkan BL. Bandi tampak kesal, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Aku memalingkan wajah dengan jijik saat melihatnya menjilati speculum yang berlumuran cairan vaginaku dengan haus.

Saking lemasnya aku tak bisa berjalan sehingga Aheng harus membopongku. Sedangkan BL berjalan di depan kami. Tiba-tiba aku menangis. Awalnya terisak lalu tersedu. Ini tangisku yang pertama sejak tiba di Sanctuary hingga sekarang. Kejadian horor tadi membuatku begitu terpukul. Aku mulai menyesali kenekatanku membalas dendam yang membuat hidupku hancur berantakan. Kata seandainya terus terulang di kepalaku, tapi percuma, aku tidak bisa memutar balik waktu dan merubah keadaan.

Aheng menurunkanku di ranjang, tapi aku terus memeluk lehernya erat-erat. Bagiku dia adalah pahlawanku. Kalau tidak ada dia, mungkin anusku sudah sobek dan aku mati kehabisan darah. Bodohnya aku, berusaha menutupi kenyataan kalau BL-lah yang berjasa menyelamatkan nyawaku. Kalau tidak disuruh BL, mana mau Aheng bertindak. Tapi aku tak sudi berterimakasih pada BL. Gara-gara dia, aku jadi sial begini.

Aheng dengan perlahan namun pasti melepaskan pelukanku dan menyelimutiku. Setelahnya dia pergi meninggalkanku berdua dengan majikannya. BL langsung menyingkap selimut dan kembali menindihku. Dia memakai kondom kepala jamur baru. Rupanya dia belum puas menggagahiku dengan kondom itu. Kali ini aku tak memberikan perlawanan apa-apa. Aku masih terlalu sibuk sesenggukan, tapi aku terkesiap saat BL meraba mem*kku.

“Becek banget. Jadi kau terangsang juga rupanya.”

Hatiku terluka mendengar hinaannya. Tapi makian tak mampu kuteriakkan lagi karena mulutku malah meneriakkan lenguhan penuh nikmat saat kepala jamur menggesek liang vaginaku yang basah. Belum pernah aku merasa senikmat ini digauli BL. Aku tetap pasrah saat BL mengangkat kedua kakiku dan menyampirkannya pada pundaknya. Untung saja dia tidak jadi menyodomiku. Hentakan demi hentakan membuat tubuhku menggeletar. Ditambah lagi remasan pada pantatku dan lumatan pada payudaraku.

Desahan dan lenguhan kami saling bersahut. BL menekan pantatnya kuat-kuat dan pada saat yang sama aku merasa melayang. Jauh lebih tinggi dari saat Bandi mengelusku tadi. Oh no! Ingatan pada Bandi membuat gairahku yang memuncak terjun bebas, tapi genjotan BL membuatku menggelinjang dan sesuatu seakan ingin membobol keluar dari dalam diriku.

“Ooooh! Ooooh! Oooaaah! Aaaah! Aaaaaaaaah!”

Aku berteriak panjang sambil terus menggelinjang sampai-sampai tidak menyadari BL melepaskanku. Aku baru tersadar setelah tersedak spermanya yang dipompakan ke dalam mulutku. Aku terkulai lemas tak berdaya sementara dia terus mengocok kont*lnya yang sepertinya tak henti-henti memuncratkan cairan.

Aneh, mengapa kami berdua begitu terangsang setelah campur tangan Bandi tadi? Bagaimana bisa aku mengalami orgasme setelah nyaris mati konyol? Apa aku juga mulai ketularan sakit jiwa?

BL berpakaian sambil memandangiku dengan dingin.

“Kau milikku,” begitu yang dikatakannya sebelum keluar dari kamar.

cerita lainnya
Sleeping with enemy – part 1
Sleeping with enemy – part2
Sleeping with enemy – part 3
Sleeping with enemy – part 4
Sleeping with enemy – part 5
Sleeping with enemy – part 6
Sleeping with enemy – part 7

Sleeping with The Enemy part 1, Konglomerat hipersex

Filed under: PERKOSAAN

Seperti malam minggu lainnya, Sanctuary – sebuah club exclusive di daerah Jakarta Utara – sudah dibanjiri tamu. Yang datang bukan orang sembarangan melainkan sekelas konglomerat yang biasa muncul di media massa dan televisi. Mereka pun tidak datang sendirian melainkan disertai beberapa pengawal pribadi. Beberapa di antara mereka membawa cewek sendiri yang penampilannya tak kalah cantik dan keren dari bintang sinetron papan atas.

“Tamu penting sudah datang.”

Bisikan serak di telingaku membuatku terlonjak kaget. Sialan! Kenapa sih Pak Dibyo senang sekali mengagetkanku. Padahal aku juga sudah melihat seorang pria berwajah angkuh yang baru saja memasuki ruang VIP. Budi Lukman namanya. Konglomerat berusia empat puluh satu tahun yang memiliki bisnis segudang, mulai dari pabrik kondom sampai tambang batu bara. BL – begitu ia biasa disebut – dikenal sebagai konglomerat berdarah dingin. Ia melibas pesaing tanpa ampun dan menghajar semua pihak yang dianggap menghalangi geraknya.

Delapan pengawal berambut cepak dan bertubuh kekar selalu mengelilingi BL. Selain itu ada pula seorang lelaki ngintil persis di belakangnya, namanya Bandi Lukman. Wajah keduanya seperti pinang dibelah dua karena keduanya memang kembar, tapi aura yang memancar dari keduanya bertolak belakang. Bila BL tampak dingin dan berkarisma maka Bandi terlihat klemer dan tolol. Cengiran konyol tak lepas dari bibirnya membuatnya terlihat seperti orang terbelakang.

“Kasihan ayam-ayam itu,” desah Pak Dibyo sambil menggeleng prihatin saat melihat Bandi menggandeng dua cewek cantik berkulit kuning pucat dengan rambut lurus berwarna karamel. “Mereka nggak akan bisa pulang ke Cungkuo dengan utuh kalau sudah dipegang orang sadomasokis macam Bandi itu.”

Hah? Orang klemer itu sadomasokis? Aku tak sempat melongo lama-lama karena kulihat empat ayam koleksi premium Sanctuary segera mengerumuni BL. Aksi keempat bidadari itu sedikit terhalang oleh ketatnya pagar betis yang memagari BL, tapi tak lama kemudian tangan BL menunjuk salah satu diantaranya dengan gaya angkuh. Tanpa sadar aku mengernyitkan kening saat memikirkan bagaimana cara aku bisa mendekati bajingan sombong itu. Waktu yang kumiliki tidak banyak. Selama hampir sebulan di sini baru kali ini kulihat BL sedangkan aku tidak tahan berada dalam tempat keparat ini lebih lama lagi.

Tubuhku berjengit saat tangan Pak Dibyo menggerayangi punggungku. Kontan aku beringsut menjauh, tapi jari-jari gemuknya yang dililit cincin bermata berlian dan batu giok mencekal lenganku dengan kuat hingga aku meringis menahan sakit.

“Apa aku menggajimu hanya untuk menonton?”

Desisannya terasa panas di telingaku disusul jilatan menjijikkan di daun telingaku. Aku bergidik sekaligus menggeleng seraya berusaha melepaskan diri, tapi pemilik Sanctuary ini malah menarikku dengan kasar hingga hidung kami hampir beradu.

“Kau sudah sembuh dari mencret dan harusnya hari ini kau sudah nggak mens lagi. Sudah seminggu lebih kan? Aku nggak puas cuma dioral. Aku mau ngerasain mem*kmu malam ini juga.”

Saat itu juga aku ingin muntah, persisnya memuntahi muka si babi mesum ini. Aku benci sekali bila harus diingatkan pada kewajiban mengoral penis bos Sanctuary ini tiap malam. Dia memang selalu mencobai memk semua karyawannya dan selama ini aku menghindar dengan berbagai alasan. Cukup sudah penis buntek itu menjadi kontl pertama yang memasuki mulutku, tapi tidak untuk liang vaginaku.

Untung saja saat itu salah seorang bodyguard BL melambaikan tangan memanggil waitress untuk memesan minuman dan kebetulan aku yang berdiri paling dekat dengan meja mereka. Tanpa banyak kata Pak Dibyo melepaskan lenganku, tapi tangannya masih sempat meremas pantatku dengan gemas. Darahku mendidih. Aku langsung nekat menjalankan rencanaku meski nyawaku menjadi taruhannya. Lebih baik mati daripada harus ditiduri babi mesum brengsek itu. Aku tahu, seharusnya aku berpikir panjang supaya tidak menyesal nantinya. Aku masih muda, baru 24 th. Masih banyak hal yang bisa kunikmati dalam hidup daripada mati konyol, tapi aku sudah mantap berjibaku.

Hatiku bersorak gembira begitu mendengar BL memesan Flaming Ferraris. Sudah kuduga BL pasti akan memesan minuman favoritnya. Minuman beralkohol pekat yang disajikan dalam sloki itu harus dibakar sebelum diminum untuk mengurangi kadar alkohol agar tidak membakar tenggorokan yang meminumnya. Tapi kali ini minuman itu akan membakar sang pemesan. Aku ingin bajingan angkuh itu merasakan bagaimana rasanya mati terbakar seperti yang dia lakukan pada papaku empat bulan yang lalu.

Papaku bersaing ketat dengan BL dalam memperebutkan konsesi batu bara di Kalimantan. Setelah menerima berbagai intimidasi dan tidak juga mau mundur, papaku tewas mengenaskan. Helicopter yang ditumpanginya mendadak meledak sesaat sesudah lepas landas. Seharusnya aku juga ikut mati, tapi di saat terakhir aku membatalkan keberangkatanku karena tak ingin duduk bersama dengan ayam piaraan papa yang selalu mengataiku karung beras. Papaku memang bukan orang suci. Dia buaya tulen sampai mamaku mati karena sakit hati saat aku masih kecil. Tapi papa tak pernah menikah lagi dan berusaha mengasuh anak tunggalnya sebaik mungkin sembari mencicipi berbagai jenis ayam.

Semua orang mengira aku sudah mati. Mereka pikir ayam hangus dalam bangkai helicopter itu mayatku. Aku terpaksa bersembunyi sambil menyusun rencana membalas dendam. Kemarahanku makin menggunung melihat harta warisan papa yang seharusnya menjadi milikku dicaplok BL tanpa ada perlawanan sama sekali dari keluarga besarku yang pengecut.

Namun membalas dendam pada bajingan yang dibeking aparat, memiliki pengacara segudang dan dikawal sepasukan bodyguard tidaklah mudah. Setelah mengikuti gerak-gerik BL selama sebulan penuh, aku tahu penjagaan terlemah adalah saat dia berada di Sanctuary. Maka aku pun nekat menyamar sebagai waitress di sini.

“Mulai sekarang sampai jahanam sialan itu mati tidak ada Pamela Rachel Tanuseja lagi. Yang ada Lara Tan,” tekatku dalam hati sebelum menginjakkan kaki memasuki gedung mewah yang pintu utamanya diapit dua patung unicorn.

Dan sekarang aku sudah menembus barisan kawalan BL yang sudah tidak serapat tadi. Calon korbanku tidak mengenaliku lagi. Aku memang sudah banyak berubah. Tubuhku yang mirip buntelan lemak itu sudah menciut hingga separuhnya. Dendam sudah menggerus rasa laparku.

Aku pura-pura tersandung dan menumpahkan isi sloki ke pangkuan BL. Aku memang mengincar penisnya karena sebagai seorang playboy, penis terbakar rasanya pasti lebih menyakitkan daripada muka terbakar. Tangan kanan siap melemparkan geretan yang menyala, tapi… Astaga! Ternyata ada ayam di kolong meja yang sedang mengoral BJ dengan hotnya. Isi sloki mengguyur kepala ayam itu dengan sukses.

Aku tertegun. Berkali-kali aku berlatih membakar guling dan boneka, semuanya tak pernah gagal, tapi sekarang… Brengsek! Mengapa hal sebodoh ini bisa terjadi? Aku masih terdiam sementara ayam kuyup itu memaki-maki. Seorang pengawal dengan cekatan mencekal lenganku dan menggiringku menjauhi meja BL. Kulihat Pak Dibyo memelototiku. Celaka, malam ini penis buntek itu…

“Her, apa aku sudah menyuruhmu membawa dia pergi?”

Aku kembali digiring ke hadapan BL. Dengan menyipitkan matanya, BL men-scan diriku dari ujung rambut ke ujung kaki.

“Anak baru ya?”

“Ya.”

“Namamu?”

“Lara.”

“Kenapa kau nggak minta maaf?”

“Maaf, aku nggak sengaja. Akan kuganti minuman Tuan dengan yang baru.”

Semua jawabanku tak bernada ramah bahkan boleh dibilang ketus. Aku masih merasa kesal pada diriku sendiri dan pada situasi kacau ini sehingga tidak bisa menutupi kejengkelanku. Pak Dibyo mendadak muncul merunduk-runduk meminta maaf pada BL sambil kembali mencengkeram lenganku dengan kasar untuk memaksaku meminta maaf dengan lebih sopan.

“Aku sudah nggak mau minum lagi,” tukas BL usai aku meminta maaf lagi dengan nada terpaksa. “Kau di sini saja, gantikan dia.”

Kurang ajar! Dia pikir aku sama seperti ayam-ayam itu? Aku pura-pura tidak mendengar dan beranjak pergi, tapi Pak Dibyo dan seorang bodyguard memaksaku berlutut di hadapan BL. Semua ayam menyingkir sambil memelototiku.

“Tunggu apa lagi? Bukannya kau sudah biasa ngemut kont*l?” desak Pak Dibyo.

Aku merasa terhina. Ingin kubakar kontl panjang di hadapanku, tapi geretan di tanganku sudah direbut Pak Dibyo. BL duduk bersandar dengan santai sementara kontlnya yang sudah berdiri tegang menungguku dengan angkuh. Aku terkejut melihat kontlnya lumayan besar dan panjang, soalnya tubuh BL sedang-sedang saja malah boleh dibilang kurus. Aku diam saja sambil memandang ke arah lain, tapi salah satu bodyguard memegangi kepalaku erat-erat sambil menuntun bibirku ke arah kontl majikannya. Aku terus menutup mulutku meski Pak Dibyo menjambak rambutku yang dikuncir ekor kuda, menampar pipiku dan memukul punggung dan lenganku dengan keras.

“Terus! Hajar teruss! Lagi! Lagi!”

Bandi tampak gembira melihatku dihajar. Sampai-sampai ia juga ikut menjambaki dan memukuli kedua ayam yang sedang bergantian mengoralnya. BL sendiri tidak ikut memukulku. Dia hanya menontonku dengan penuh minat.

“Sudah, Dib. Kalau dia nggak mau nggak usah dipaksa,” tukas BL melihat babi mesum tua itu mencoba membuka mulutku dengan paksa. “Kan masih ada mulut lainnya.”

Hajaran Pak Dibyo membuat mataku sedikit berkunang-kunang sehingga reaksiku lamban saat melihat BL memakaikan kondom pada kont*lnya. Kondomnya aneh, berbintil-bintil kecil di sekujur batang sehingga mirip kaktus.

Mendadak BL menarikku bangun. Aku yang masih terhuyung, menjerit kaget saat BL mendorongku ke atas meja. Botol dan gelas minum di atas meja disapu BL hingga jatuh ke lantai, pecah berantakan. Tak sempat kubayangkan seperti apa wajah Pak Dibyo karena aku sudah panik memikirkan diriku sendiri. Aku tergeletak di atas meja dengan seragam berantakan. Rok mini hitamku tersingkap dan kancing-kancing blus putih lengan panjangku sebagian sudah terbuka. Tangan BL bekerja cepat sekali dan sekarang sudah mencengkeram ujung celana dalamku dan menariknya ke bawah. Gila! Dia ingin memperkosaku di depan umum!

“Jangaan! Aku nggak mau! Tolong! Toloong!” teriakku panik sambil meronta.

Tapi tidak ada yang mau atau berani menolongku. Aku mulai memaki, semua perbendaharaan kata kasarku meluncur keluar. Pak Dibyo membentak marah, tapi saat tangan gemuknya menyelonong ingin menampar pipiku, sebuah tangan kekar mencengkeram tangannya hingga kudengar babi tua itu merintih sakit. Rupanya pengawal BL tahu kalau bosnya tidak ingin bantuan dari orang lain lagi. Dia ingin membereskanku sendirian.

Kuayunkan kakiku kuat-kuat saat BL mengangkangkan kakiku lebar-lebar. Aku bertekat akan menendang kont*l yang berdiri itu dengan keras hingga memar. Kuayunkan jari-jariku yang berkuku tajam. Tapi BL yang tubuhnya tidak kekar itu ternyata sangat kuat. Dengan satu tangan dia menahan kedua pergelangan tanganku di atas kepalaku. Dan dengan pecahan botol, disobeknya celana dalamku.

“Tidak! Tidaaak! Tida…aaaargh! Aaaaah!”

Aku melolong kesakitan saat kont*l itu menembus paksa liang vaginaku yang masih perawan. Aku terus meronta, tapi hal itu malah membuat BL makin bernafsu. Sebelah tangannya meremasi payudaraku dan bibirnya melumat bibirku. Kugigit bibirnya keras-keras hingga berdarah. Tapi ia malah tertawa dan menggenjotku makin keras. Dirobeknya blus putih dan memelorotkan BHku. Dilumatnya payudaraku dengan lahap dan digigitnya pentilku dengan keras. Aku menggeleng-geleng, mencoba menghilangkan rasa sakit seraya berharap semua ini hanya mimpi buruk.

Namun sia-sia. Rasa sakit itu tak kunjung hilang, malah makin menjadi. Tubuhku berayun keras seiring genjotan BL yang makin cepat hingga bergeser ke ujung meja. Kepalaku sudah tergantung di tepi meja dan rambutku menyapu lantai. Teriakanku melemah dan pandanganku mengabur. Sempat kulihat wajah Pak Dibyo yang tampak gemas, dia pasti menyesal tidak mencicipi tubuhku lebih dulu. Aku juga melihat pandangan sirik para ayam yang tersingkir. Tatapan dingin para pengawal membuatku menggigil, kejadian ini pasti sudah sering mereka lihat. Yang paling ribut malah Bandi yang terus berteriak sambil menjambaki dan menampari kedua ayamnya.

Tiba-tiba BL berhenti, mencabut kontlnya dan menyorongkannya ke wajahku. Aku berpaling karena tak ingin mengemut kontlnya, tapi teriakan tertahan para penonton membuatku penasaran dan kembali menatap kont*l jahanam yang masih terbungkus kondom kaktus itu. Ada darahku di sana.

“Ternyata dia masih mens,” ucap Pak Dibyo gegetun.

Para ayam melenguh jijik. Bandi tertawa gembira, tapi BL malah mendengus sinis.

“Ajaib. Perawan kok bekerja di tempat seperti ini,” ujarnya mengejek.

“Pe..perawan? Dia masih perawan?” Pak Dibyo terbata dengan nada menyesal.

“Tadinya,” sahut BL sambil mengocok kont*lnya yang belum ejakulasi.

Aku sedang berusaha bangun saat BL menyemprotkan spermanya ke dadaku sehingga menyiprat ke leher dan wajahku. Semua orang menahan napas melihatku menampar dan meludahi wajah BL sebelum turun dari meja dengan tergesa sambil merapatkan blusku yang sobek. Seharusnya aku tidak melakukan hal yang membuatnya marah, tapi kepalaku sudah dikuasai kemarahan dan kebencian. Yang kupikirkan hanyalah pergi dari neraka ini sesegera mungkin. Tapi aku tidak bisa keluar dengan penampilan sekacau ini jadi aku menuju ruang ganti karyawan untuk berganti pakaian. Tak kupedulikan tatapan para tamu dan karyawan lain pada tubuhku yang setengah telanjang.

Tubuhku gemetar, tapi aku tidak menangis. Aku sudah siap dengan segala resiko dari rencana balas dendamku, tapi aku tidak pernah membayangkan akan menerima pelecehan dan penghinaan seperti tadi. Amarahku makin menggelegak dan ingin rasanya mencabik-cabik tubuh BL seperti ia mencabik celana dalamku.

Pintu terbuka dan Pak Dibyo masuk sebelum aku sempat berganti pakaian. Dia menatapku dengan pandangan aneh.

“Kau boleh pergi.”

“Jadi aku dipecat setelah diperkosa di depan umum?” balasku dengan suara bergetar menahan marah.

Babi tua itu seperti ingin mendekatiku, tapi tidak berani.

“Aku nggak tahu, kau ini beruntung atau sial. Bereskan bajumu. Kamu nggak mau membiarkan dia menunggumu lama-lama kan?”

“Dia? Dia siapa?”

“BL. Dia sudah membelimu. Lima juta.”

Astaga! Keperawanan dan harga diriku cuma dihargai lima juta? Aku ternganga sebelum menyemburkan amarahku

“Enak saja! Memangnya sejak kapan kau memilikiku? Dengar ya aku bukan ayam yang bisa diperjualbelikan!”

“Semua itu salahmu sendiri. Kalau kau nggak membohongiku…”

“Memangnya kau berani membelaku di depan bajingan sialan itu?”

Serentetan cacian yang kutujukan pada BL tak juga berhenti meski si angkuh muncul dari balik pintu dengan wajah dingin. Pak Dibyo langsung menyingkir keluar, meninggalkan kami berdua.

“Sepertinya kamu harus diajari sopan-santun,” tukas BL sambil mendekatiku dengan gaya mengancam. “Seumur hidupku belum pernah ada yang meludahiku apalagi di depan umum.”

“Seharusnya sudah sejak dulu kau diludahi!” tukasku marah sambil menghujamkan jepit rambut ke matanya.

Seperti tadi, tangan BL bergerak cepat. Dengan sekali gerakan dia sudah berhasil menepis tanganku hingga jepit rambut terjatuh. Gerakan selanjutnya adalah memitingku. Tapi aku tidak tinggal diam. Aku terus melawan. BRAK! Punggungku menghantam lemari loker setelah didorong dengan keras. Untung tidak ada pegangan loker atau kunci yang menancap di lubang kunci loker, kalau tidak punggungku pasti sudah bolong.

Aku terjepit sementara BL merobek blusku dan menurunkannya sehingga kedua lenganku tertahan oleh lengan panjang blusku sendiri. Aku nyaris tak bisa bernapas karena BL melumat bibirku dengan penuh nafsu. Lalau dia menyumbat mulutku dengan sesuatu yang kenyal dan berbau karet. Astaga! Rupanya kondom kaktus bekas tadi! Aku berusaha memuntahkan kondom bekas yang masih berlumur cairan vagina dan darahku itu tapi tak bisa.

BL mengangkat kaki kananku dan menghujamkan kontlnya ke dalam memkku. Sekarang kontlnya terbungkus kondom yang berornamen aneh. Ada cincin berbulu yang melingkar di tengah-tengah batangnya. Tangan satunya menarik pundakku turun sehingga hujaman kontlnya terasa menumbuk mulut rahimku. Kedua alisku mengernyit menahan sakit.

“Hhhgh hhhgh hhhgh.”

Napas BL menderu di telingaku. Dia menjilati leherku dan membuat belasan cupang di sana, juga di dadaku. Kugertakkan gigiku untuk meredakan rasa perih dan linu di selangkanganku. Rasanya vaginaku berdarah lagi. Cincin berbulu di kondom itu membuat liang vaginaku terasa pedas dan perih. Tiba-tiba dia berhenti untuk melepas sumpal di mulutku. Dan hentakan pantatnya semakin keras.

“Minta maaf… Ayo, minta maaf…,” perintahnya setengah menggeram.

Aku mendelik dan meludahinya mukanya lagi. Bukannya marah, BL malah tertawa dan melepaskanku hingga aku jatuh berlutut di hadapannya. Lalu sebelum aku sadar, BL menjepit hidungku dengan jepit rambut hingga mulutku terbuka untuk menghirup oksigen. Dan hap! Kontl panjang itu masuk menusuk tenggorokanku dengan telak. Entah kapan dia melepas kondom dari kontlnya. Tanpa ampun dia memegangi kepalaku kuat-kuat dan terus menyodok kontlnya dalam-dalam. Aku hampir tak bisa bernapas dan mencoba meronta, tapi tenagaku habis. Hek! Ujung kontlnya melesak masuk ke ujung tenggorokanku dan CROT! CROT CROT! Aku tersedak cairan gurih kental, tapi BL tak juga melepaskan kepalaku.

Baru dua menit kemudian dia mencabut kont*lnya dan melepaskan jepit rambut dari batang hidungku. Dia tampak puas melihatku ambruk tak berdaya di lantai dengan mulut berlumuran spermanya. Dijambaknya rambutku yang sudah awut-awutan dan bertanya lagi,

“Kalau kau minta maaf, hukumanmu akan kuperingan.”

“Go to hell,” bisikku geram sambil berusaha meludahinya lagi.

BL menggeleng-geleng dan mendorong kepalaku menjauh.

“Kayaknya aku harus mengajarimu dengan lebih keras lagi. Aheng!”

Pintu terbuka dan seorang bodyguard bertubuh paling besar masuk. Wajahnya yang dipenuhi bopeng bekas cacar tampak kekanak-kanakan dan tak kalah tololnya dari Bandi. Aku menjerit kaget saat Aheng mengangkat tubuhku yang setengah telanjang dan memanggulnya di pundak seperti aku ini sekarung beras saja.

“Turunkan aku! Lepaskan aku! Bajingan!” seruku sambil menendang-nendang punggung Aheng dan memukuli perutnya.

Namun Aheng bergeming dan tetap berjalan santai sampai keluar Sanctuary. Astaga! Aku pasti menjadi tontonan banyak orang. Aduh, apa yang akan dilakukan BL padaku? Menggilirku bersama para bodyguard-nya di halaman parkir?

“Aaah! Jangan! Tolong! Jangan tinggalkan aku di sini!”

Aku berteriak ketakutan saat Aheng menjatuhkan tubuhku ke dalam bagasi mobil dan menutupnya. Aku takut pada kegelapan total. Membuatku tak bisa membedakan apakah mataku sudah terbuka atau masih tertutup. Tapi mereka tak peduli pada teriakan dan gedoranku. Tubuhku terguncang-guncang saat mobil melaju kencang.

Rasanya berjam-jam aku terkocok dalam kegelapan dan kepengapan sebelum mobil berhenti dan pintu bagasi terbuka. Aku masih sibuk mengerjap-ngerjapkan mataku yang berusaha beradaptasi pada sinar lampu benderang sembari menyedot oksigen bebas sebanyak mungkin saat tubuhku ditarik keluar dari bagasi. Aheng kembali memanggulku di pundaknya. Aku tidak tahu hendak dibawa ke mana karena pandanganku terbatas hanya pada sepatu hitam Aheng yang mengkilat. Aku merasa mual setelah menerima hajaran Pak Dibyo, terbentur pintu loker dan terayun-ayun begini. Tapi makian tak berhenti kulontarkan.

Aku baru diam setelah Aheng menurunkanku di sebuah ruangan yang ternyata kamar mandi. Kamar mandi yang tidak terlalu luas, tapi bersih.

“Eh! Kau mau apa?!” jeritku kaget saat Aheng merobek sisa pakaianku begitu saja seperti mengupas pisang sehingga aku bugil total.

Bukannya menjawab, gorila berwajah bopeng ini malah membopongku dan menceburkanku ke dalam bathtub yang berisi air mandi hangat.

“Bos bilang kau harus mandi.”

Aku tertegun melihatnya pergi meninggalkanku sendirian tanpa memanfaatkan kesempatan untuk mencolek tubuhku. Mungkin dia tidak berani atau aku bukan tipe gadis yang disukainya. Oh my God! Kenapa aku gila begini? Sudah bagus telapak tangannya yang segede piring itu tidak meremas payudaraku sampai penyok kok aku malah merasa terhina. Ya sudah. Sekarang mandi saja. Toh tidak ada ruginya. Lagipula aku memang ingin sekali membersihkan diriku dari sisa-sisa air liur, keringat dan air mani BL juga darahku sendiri. Tulang selangkanganku sedikit linu dan mem*kku memar.

Anehnya aku tidak juga menangis meski merasa terguncang. Tak pernah terbayangkan oleku kalau keperawananku hilang dengan cara tragis seperti itu. Seharusnya aku membunuhnya, tapi dia malah memperkosaku. Sampai dua kali lagi. Aku benci setengah mati padanya juga pada kebodohanku.

Saat aku sedang mengeringkan tubuh, pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka dan orang yang paling kubenci sedunia masuk. BL hanya mengenakan kimono. Darahku kembali mendidih melihat senyum mengejek di wajahnya.

“Bajingan! Bangsat!” makiku sambil menimpukinya dengan semua barang disekelilingku. Dari botol sampo, sabun mandi sampai lilin aromaterapi.

Seperti tadi BL hanya tertawa sambil menepis barang-barang itu dengan santai. Dia terus maju sambil membuka kimono, memperlihatkan tubuh telanjangnya yang kurus liat sementara aku mulai panik karena kehabisan amunisi. Aku terpojok sambil memegangi sikat toilet dengan posisi mengancam.

“Kau mau apa? Menyikatku sampai bersih?” ejeknya.

Aku hanya bisa gelagapan saat dia menyemprotkan air panas dari gagang shower ke mukaku. Sialan! Aku salah pilih senjata! Dengan mudah dia melumpuhkanku. Aku setengah terjerembab di lantai, terpeleset oleh air sabun, tapi dia malah menindihku dari belakang.

“F*cking shit! Lepaskan aku!” seruku sambil meronta dan berusaha mencakar wajahnya.

“Yeah. Let’s f*cking,” sahutnya sambil memiting kedua tanganku di punggungku dan menggencet kepalaku ke lantai.

Lalu BL meregangkan kakiku dan menunggingkan pantatku. Kulihat dia merogoh sesuatu dari saku kimononya. Kondom lagi, kali ini bentuknya beruas-ruas pendek. Aku berusaha melepaskan diri saat dia memasangkan kondom pada kont*lnya, tapi lagi-lagi aku tak mampu melawannya. Genggaman tangannya sangat kuat.

“Aaaaargh! Auch! Pelan-pelan! Sakit! Aaaaooh!” lolongku kesakitan saat kontlnya menembus memkku dengan sekali sodokan mantap.

Tapi BL mana mau mendengar jeritanku. Semakin aku menjerit, semakin bernafsu dia. Pipiku sampai sakit tergesek ubin kamar mandi yang dingin. Dengkulku juga. Tapi yang paling sakit liang vaginaku. Rasanya seperti diparut dari dalam. Aku curiga desain kondomnya yang aneh-aneh itu memang dibuat untuk menyiksa memk. Apa memkku akan berdarah lagi?

“Take that, bitch!” seru BL tiap kali menyodok dalam-dalam.

Mendadak ia mencabut kont*lnya dan …

“Aaaough! Aaaah! Jangan! Stop! Jangan di situ! Aaaaaah!”

Aku mengejang dan lolonganku makin menjadi saat kont*l beruas itu memaksa masuk lubang anusku. Aku meronta sekuat tenagaku, tapi tak bisa juga melepaskan diri meski BL melepas pitingannya. Tangannya mencengkeram pantatku kuat-kuat bahkan jari-jarinya meregangkan lubang anusku.

“Hhhgh… lubangmu sempit sekali. Enak,” desah BL penuh nikmat.

Aku tak mampu memaki lagi. Yang keluar dari mulutku hanyalah teriakan kesakitan. Air mataku sampai menetes membasahi ubin dan gigiku gemeletuk menahan sakit. Gila! Rasanya anusku robek. Perih sekali. Lebih perih daripada saat mem*kku dijebol pertama kalinya.

Kedua tanganku mencoba meraih barang apa saja untuk dikeprukkan ke kepala pemerkosaku, tapi BL malah mendekapku erat dari belakang sambil meremas kedua payudaraku. Kurasakan tubuhnya menggeletar dan dia menggeram panjang. Akhirnya dia orgasme juga.

Dia tetap menindih tubuhku sambil mengatur napasnya sementara aku merintih kesakitan. Dicabutnya kont*lnya dan dituangnya isi kondomnya ke kepalaku.

“Sudah lama aku nggak puas begini. Mandi lagi yang bersih ya,” ujarnya sambil menepuk pantatku yang pasti memerah.

“Kampret. Dasar binatang,” desisku.

Seketika BL membalikkan tubuhku dan menatap mataku dalam-dalam.

“Kau sama sekali nggak takut padaku?”

Kuludahi wajahnya lagi, tapi kali ini dia tidak tertawa.

“You’re one of a kind. I’m glad I bought you,” ujarnya usai mencuci wajahnya.

“Brengsek! Kau pikir dengan duit lima juta kau bisa memilikiku begitu saja?”

BL nyengir sambil mencubit pipiku.

“Dibyo menjualmu terlalu murah, tapi aku malah untung. Kau nggak cantik, tapi servismu luar biasa. Besok kita main lagi. OK?”

Lalu dia meninggalkanku terkapar di lantai kamar mandi. Sekujur tubuhku memar dan sakitnya jangan ditanya lagi. Dengan susah payah aku bangun dan merangkak setengah mengesot sebelum bisa mencemplungkan diri kembali ke dalam bathtub.

cerita lainnya
Sleeping with enemy – part 1
Sleeping with enemy – part2
Sleeping with enemy – part 3
Sleeping with enemy – part 4
Sleeping with enemy – part 5
Sleeping with enemy – part 6
Sleeping with enemy – part 7

July 17, 2008

pemerkosaan novy

Filed under: RAMAI-RAMAI, PERKOSAAN

Novy adalah seorang mahasiswi berusia 22 tahun di sebuah perguruan tinggi swasta ternama di Jakarta. Dia mempunyai tubuh yang sangat sempurna dan terawat. Tingginya 165 cm, dengan berat 55 kg. Rambutnya hitam sebahu dan dia mempunyai payudara yang sangat indah, bulat dan kencang berukuran 34B. Kulitnya putih dan wajahnya pun sangat cantik. Novy termasuk mahasiswi yang berprestasi di kampusnya. Tidak heran banyak sekali teman prianya yang tertarik kepadanya, namun sampai saat ini Novy masih belum punya pacar.

Pada suatu hari Novy terpaksa harus pulang sendiri agak malam dari kampusnya, karena ia harusmenyelesaikan tugasnya di laboratorium. Ketika dia sedang menunggu lift dari lantai 8, tiba-tiba Anto temannya datang.
“Hai, Novy.. mau pulang nih..?”
“Iya..”
“Bareng yuk turunnya..!” ajak Anto.
“Boleh..” tanpa rasa curiga Novy mengiyakan.

Nampaknya malam itu benar-benar sepi di kampusnya, hanya tinggal beberapa orang saja terlihat di tempat parkir di bawah. Ketika pintu lift terbuka, mereka berdua pun masuk. Saat berada di dalam lift, tiba-tiba sebuah benda keras menghantam tengkuk Novy dari belakang, membuatnya langsung tidak sadarkan diri.

“Dukk..,” Novy terbangun ketika kepalanya terantuk meja.
Dengan mata masih berkunang-kunang, dia melihat bahwa dia sedang berada di ruang kuliah di lantai 4 kampusnya. Tidak ada orang di situ. Dan ketika dia melihat jam di dinding, ternyata sudah pukul 10 malam. Ketika Novy mencoba bergerak, dia baru menyadari bahwa tangan dan kakinya terikat. Dia mencoba melepaskan diri namun tidak berhasil. Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, dan muncullah tiga orang dari pintu itu. Dua pria dan satu wanita. Mereka semua temannya, Anto, Angga dan Shanty.

“Shanty.. tolong gue Shan.., lepasin gue.. apa-apaan sih ini..? Kalian kalo bercanda jangan keterlaluan dong..!” dengan sedikit kesal Novy bicara dengan Shanty.
“Elo mau apa sih Nov..? Ini bukan bercanda tau..!” teriak Shanty.
“Apa maksud elo..?” Novy mulai panik.
“Kita mau buat perhitungan sama elo, Nov..! Selama ini elo selalu jadi pusat perhatian, tapi elo terlalu sombong untuk memperhatikan temen elo sendiri. Elo tau nggak kalo temen-temen tuh banyak yang nggak suka sama elo..! Sekarang saatnya elo untuk ngasih sesuatu sama mereka..!” Shanty mendekati dan kemudian menampar pipi kiri Novy.
“Elo mau apa sih..!” jerit Novy.
“Gue mau liat elo menderita malam ini, Nov. Karena selama ini elo selalu mendapat segala yang elo inginkan…” kata Shanty.

Selesai Shanty berbicara, tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka kembali dan masuklah 15 orang lagi, 10 orang laki-laki dan 5 orang perempuan. Mereka semua temannya. Tetapi kelihatannya mereka semua senang melihat Novy terikat tidak berdaya seperti itu.
Tiba-tiba Shanty berteriak, “Teman-teman, inilah saatnya yang kita tunggu-tunggu. Malam ini kita boleh ngerjain si Novy sepuas kita.”
Semua berteriak kegirangan mendengar perkataan Shanty, kecuali Novy. Bulu kuduk Novy merinding mendengar itu, dia tidak dapat membayangkan apa yang akan mereka lakukan terhadap dirinya, ketika Anto mendekati dirinya dan melepaskan ikatannya. Walaupun ikatannya sudah dilepas, namun Novy tidak dapat berdiri, karena kakinya lemas semua. Dia hanya dapat berlutut.
Shanty mendekati dirinya dan kemudian berteriak di telinga Novy, “Sekarang elo harus buka baju elo satu persatu sampai telanjang di depan kita semua..! Awas kalo berani melawan..! Gue tusuk perut elo..!” ancam Shanty sambil memegang gunting di tangannya.

Tidak percaya rasanya Novy mendengar itu, namun dia tidak berani menolak perintah Shanty, apalagi diancam dengan gunting tajam seperti itu. Akhirnya dengan tubuh gemetar, Novy mulai membuka kancing bajunya satu persatu dan melepaskannya ke lantai. Selanjutnya dia mulai membuka kancing celana jeansnya dan menariknya ke bawah hingga sekarang Novy hanya mengenakan BH dan celana dalam yang berwarna hitam. Rupanya hari itu Novy memakai BH dan celana dalam yang sangat seksi. Novy memakai BH tanpa tali yang bagian depannya hanya menutupi setengah dari payudaranya. Dan celana dalam yang dipakai Novy lebih mirip dengan sebuah tali yang hanya menutupi belahan vaginanya, sedangkan pantatnya sama sekali tidak tertutup. Semua laki-laki yang berada di ruangan itu benar-benar terpesona melihat pemandangan indah di depan mereka itu. Novy gadis tercantik di kampus itu hampir telanjang bulat, sehingga penis mereka langsung menegang semua.

Melihat itu Shanty merasa senang dan kembali memerintahkan Novy untuk membuka BH dan celanadalamnya. Dengan tangan gemetar, Novy meraih kait BH di belakang punggungnya dan melepaskannya, sehingga BH Novy dengan sendirinya terjatuh ke lantai. Ketika BH-ya sudah terlepas, payudara Novy yang bulat langsung mengacung tegak, mengundang decak kagum semua pria di ruangan itu. Puting payudara Novy berwarna coklat dengan lingkaran di sekitar putingnya berwarna coklat muda. Dan saat celana dalamnya juga sudah dilepas, terlihatlah bulu-bulu kemaluan tipis yang tumbuh rapih di sekitar vagina Novy. Novy memang selalu mencukur bulu-bulu kemaluannya dan merawat vaginanya sendiri. Baru pertama kali ini Novy telanjang bulat di depan orang lain dan saat ini dia berdiri dengan tubuh yang gemetar.

Shanty mendekatinya sambil mengacungkan gunting ke arahnya, dan mendorong Novy hingga jatuh terduduk.
“Sekarang elo harus buat seneng kita semua. Elo sekarang harus masturbasi disini. Cepat, kalo nolak gue potong nanti pentil susu elo..! Sekalian olesin nih badan elo pake minyak ini..!” kata Shanty sambil memberikan baby oil kepada Novy untuk dioleskan ke seluruh tubuhnya.
Dengan ketakutan Novy menerima botol tersebut dan menuangkannya ke atas payudara, perut dan juga ke atas vaginanya. Kemudian Novy mulai meraba-raba tubuhnya sendiri dan meratakan baby oil tersebut ke seluruh tubuhnya sambil tidur telentang di lantai. Sambil menangis karena takut dan malu, tangan kirinya memijat-mijat payudaranya sendiri dan memilin-milin puting susunya, sedangkan tangan kanannya meraba-raba vaginanya yang ditumbuhi oleh rambut tipis.

Lama kelamaan Novy mulai terangsang dan mengeluarkan suara erangan halus yang tidak dapat diatahan. Sementara itu, semua laki-laki di ruangan itu membuka bajunya hingga bugil dan mulai mengocok penis mereka sendiri sampai tegang. Sedangkan yang perempuan, kecuali Shanty meninggalkan ruangan itu. Shanty malah membawa kamera video untuk merekam kejadian itu dan dia mengancam Novy kalau dia berani melapor, Shanty akan menyebarkan rekaman itu ke seluruh kampus, dan bahkan ke luar kampusnya.

Tubuh Novy kini mengkilat karena minyak yang dioleskan ke tubuhnya tadi, membuat Novy kelihatan sangat seksi, dan ini menjadi pemandangan yang sangat menggairahkan untuk semua laki-laki di ruangan itu. Saat Novy semakin terangsang, Angga mendekatinya. Dengan dibantu empat orang lainnya yang memegang dan menarik kedua tangan dan kaki Novy sehingga tubuh Novy menyerupai huruf X, Angga berlutut di selangkangan Novy, dan mulai mengelus-elus vagina Novy dengan tangannya. Sesekali jari tangan Angga mencoba menusuk masuk ke dalam vagina Novy, membuat Novy merinding karena rasa geli yang timbul.

Kemudian Angga mulai menjilati vagina Novy dengan lidahnya. Aroma khas dari vagina Novy membuat Angga semakin bernafsu menjilati vagina Novy. Sementara itu kedua orang pria yang memegangi tangan Novy juga ikut menikmati sebagian tubuh Novy. Laki-laki yang memegang tangan kanan Novy menjilati dan mengisap puting susu Novy yang sebelah kanan, sementara laki-laki yang memegang tangan Novy yang sebelah kiri melakukan hal yang sama dengan payudara Novy yang satunya. Sambil meremas payudara Novy dengan keras, sesekali mereka juga menggigit dan menarik puting susu Novy dengan giginya, sehingga Novy merasa kesakitan. Kedua orang itu juga bergantian menciumi bibir Novy dengan kasar dan memainkan lidahnya di dalam mulut Novy.

Setelah puas menjilati vagina Novy, Angga kembali berlutut di selangkangan Novy dan mulaimenggosok-gosokkan penisnya di bibir vagina Novy. Sadar bahwa dirinya akan segera kehilangan keperawanannya, Novy berusaha melepaskan diri sekuat tenaga, namun dia tidak dapat melawan tenaga keempat orang yang memeganginya. Melihat Novy yang meronta-ronta, Angga semakin bernafsu dan dia segera menghunjamkan penisnya ke dalam vagina Novy yang masih perawan. Walaupun vagina Novy sudah basah oleh air liur Angga dan cairan vagina Novy yang keluar, namun Angga masih merasakan kesulitan saat memasukkan penisnya, karena vagina Novy yang perawan masih sangat sempit. Novy hanya dapat menangis dan berteriak kesakitan karena keperawanannya yang telah dia jaga selama ini direnggut dengan paksa seperti itu oleh temannya sendiri.

Sementara itu Angga terus memompa vagina Novy dengan cepat sambil satu tangannya meremas-remas payudara Novy yang bulat kenyal dan tidak lama kemudian dia mencapai puncaknya dan mengeluarkan seluruh spermanya di dalam vagina Novy. Novy hanya dapat diam telentang tidak berdaya di lantai, walaupun tangan dan kakinya sudah tidak dipegangi lagi, dan membayangkan dirinya akan hamil karena saat ini adalah masa suburnya. Dia dapat merasakan ada cairan hangat yang masuk ke dalam vaginanya. Darah perawan Novy dan sebagian sperma Angga mengalir keluar dari vaginanya.

Setelah itu Anto maju untuk mengambil giliran. Kali ini Anto mengangkat kedua kaki Novy ke atas pundaknya, dan kemudian dengan tidak sabar dia segera menancapkan penisnya yang sudah tegang ke dalam vagina Novy. Anto tidak mengalami kesulitan lagi saat memasukkan penisnya, karena vagina Novy kini sudah licin oleh sperma Angga dan juga cairan vagina Novy, walaupun vagina Novy masih sangat sempit. Kembali vagina Novy diperkosa secara brutal oleh Anto, dan Novy lagi-lagi hanya dapat berteriak kesakitan. Namun kali ini Novy tidak berontak lagi, karena dia pikir itu hanya akan membuat teman-temannya semakin bernafsu saja.

Tiba-tiba Anto mencabut penisnya dan dia duduk di atas dada Novy. Anto mendempetkan kedua buah payudara Novy dengan kedua tangannya dan menggosok-gosokkan penisnya di antara celah kedua payudara Novy, sampai akhirnya dia memuncratkan spermanya ke arah wajah Novy. Novy gelagapan karena sperma Anto mengenai bibir dan juga matanya. Setelah itu Anto masih sempat membersihkan sisa sperma yang menempel di penisnya dengan mengoleskan penisnya ke payudara Novy. Kemudian Anto menampar payudara Novy yang kiri dan kanan berkali-kali, sehingga payudara Novy berwarna kemerahan dan membuat Novy merasa kesakitan.

Selanjutnya dua orang, Leo dan Reza maju. Mereka kini menyuruh Novy untuk mengambil posisi seperti merangkak. Kemudian Leo berlutut di belakang pantat Novy dan mulai mencoba memasukkan penisnya ke lubang anus Novy yang sangat sempit. Membayangkan kesakitan yang akan dialaminya, Novy mencoba untuk berdiri, tetapi kepalanya dipegang oleh Reza yang segera mendorong wajah Novy ke arah penisnya. Kini Novy dipaksa mengulum dan menjilat penis Reza. Penis Reza yang tidak terlalu besar tertelan semuanya di dalam mulut Novy.

Sementara itu, Leo masih berusaha membesarkan lubang anus Novy dengan cara menusuk-nusukkan jarinya ke dalam lubang anus Novy. Sesekali Leo menampar pantat Novy dengan keras, sehingga Novy merasakan pantatnya panas. Kemudian Leo juga berusaha melicinkan lubang anus Novy dengan cara menjilatinya. Novy merasakan sensasi aneh yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya saat lidah Leo menjilati lubang anusnya. Tidak lama kemudian Novy kembali menjerit kesakitan. Rupanya pertahanan anusnya sudah jebol oleh penis Leo yang berhasil masuk dengan paksa.

Kini Leo memperkosa anus Novy perlahan-lahan, karena lubang anus Novy masih sangat sempit dan kering. Leo merasakan kesakitan sekaligus kenikmatan yang luar biasa saat penisnya dijepit oleh anus Novy. Saat Novy berteriak, kembali Reza mendorong penisnya ke dalam mulut Novy, sehingga kini Novy hanya dapat mengeluarkan suara erangan yang tertahan, karena mulutnya penuh oleh penis Reza. Tubuh Novy terdorong ke depan dan ke belakang mengikuti gerakan penis di anus dan mulutnya.

Kedua payudara Novy yang menggantung dengan indah bergoyang-goyang karena gerakan tubuhnya. Keadaan ini terus berlangsung sampai akhirnya Leo dan Reza mencapai klimaks hampir secara bersamaan. Leo menyemburkan spermanya di dalam anus Novy, dan Reza menyemburkan spermanya di dalam mulut Novy. Novy terpaksa menelan semua sperma Reza agar dia dapat tetap bernafas. Novy hampir muntah merasakan sperma itu masuk ke dalam kerongkongannya, namun tidak dapat karena penis Reza masih berada di dalam mulutnya. Novy membiarkan saja penis Reza berada di dalam mulutnya untuk beberapa saat sampai Reza menarik keluar penisnya dari mulut Novy.

Kemudian Reza memaksa Novy untuk membersihkan penisnya dari sperma dengan cara menjilatinya. Leo juga masih membiarkan penisnya di dalam anus Novy dan sesekali masih menggerak-gerakkan penisnya di dalam anus Novy, mencoba untuk merasakan kenikmatan yang lebih banyak. Novy dapat merasakan kehangatan sperma di dalam lubang anusnya yang secara perlahan mengalir keluar dari lubang anusnya.

Setelah Leo mencabut penisnya dari anus Novy, temannya yang lain, Irvan, mengambil kursi dan duduk di atasnya. Dia menarik Novy mendekat dan menyuruh Novy untuk mengangkangi penisnya menghadap dirinya. Irvan kemudian mengarahkan penisnya ke vagina Novy, dan kemudian memaksa Novy untuk duduk di atas pangkuannya, sehingga seluruh penis Irvan langsung masuk ke dalam vagina Novy. Setelah itu, Novy dipaksa bergerak naik turun, sementara Irvan meremas dan menjilati kedua payudara dan puting susu Novy. Sesekali Irvan menyuruh Novy untuk menghentikan gerakannya untuk menahan orgasmenya. Irvan dapat merasakan vagina Novy berdenyut-denyut seperti memijat penisnya, dan dia juga dapat merasakan kehangatan vagina Novy yang sudah basah. Irvan tidak dapat bertahan lama, karena dia sudah sangat terangsang sebelumnya ketika melihat Novy diperkosa oleh teman-temannya yang lain, sehingga dia langsung memuncratkan spermanya ke dalam vagina Novy. Novy kembali merasakan kehangatan yang mengalir di dalam vaginanya.

Selanjutnya, Iwan yang mengambil giliran untuk memperkosa Novy. Dia menarik Novy dari pangkuan Irvan, kemudian dia sendiri tidur telentang di lantai. Novy disuruh untuk berlutut dengan kaki mengangkang di atas penis Iwan. Kemudian secara kasar Iwan menarik pantat Novy turun, sehingga vagina Novy langsung terhunjam oleh penis Iwan yang sudah berdiri keras. Penis Iwan, yang jauh lebih besar daripada penis-penis sebelumnya yang memasuki vagina Novy, masuk semuanya ke dalamvagina Novy, membuat Novy kembali merasakan kesakitan karena ada benda keras yang masuk jauh ke dalam vaginanya. Novy merasa vaginanya dikoyak-koyak oleh penis Iwan. Iwan memaksa Novy untuk terus menggerakkan pinggulnya naik turun, sehingga penis Iwan dapat bergerak keluar masuk vagina Novy dengan leluasa.
Kemudian Iwan menjepit kedua puting susu Novy dan menariknya ke arah dadanya, sehingga kini payudara Novy berhimpit dengan dada Iwan. Iwan benar-benar terangsang saat merasakan kedua payudara Novy yang kenyal dan hangat menempel rapat ke dadanya. Melihat posisi seperti itu, Shanty melepas ikat pinggangnya dan mulai mencambuk punggung Novy beberapa kali. Walaupun cambukan itu tidak terlalu keras, namun Novy tetap merasakan perih di punggungnya, sehingga dia berhenti menggerakkan pinggulnya. Merasakan bahwa gerakan Novy terhenti, Iwan marah. Kemudian dia mencengkeram kedua belah pantat Novy dengan tangannya, dan memaksanya bergerak naik turun sampai akhirnya Novy menggerakkan sendiri pantatnya naik turun secara refleks.

Ketika Iwan hampir mencapai klimaks, dia memeluk Novy dan berguling, sehingga posisi mereka kini bertukar, Novy tidur di bawah dan Iwan di atasnya. Sambil mencium bibir Novy dengan sangat bernafsu dan meremas payudara Novy, Iwan terus menggenjot vagina Novy. Tidak lama kemudian gerakan Iwan terhenti. Iwan mencabut penisnya keluar dari vagina Novy dan segera menyemprotkan spermanya di sekitar bibir vagina Novy. Kemudian dia menarik tangan kanan Novy dan memaksa Novyuntuk meratakan sperma yang ada di sekitar vaginanya dengan tangannya sendiri.

Setelah itu, seorang temannya yang lain, Eka, kembali maju mengambil giliran memperkosa vagina Novy. Hampir sepuluh menit Eka memompa vagina Novy dengan kasar, membuat vagina Novy semakin terasa licin dan longgar. Sebelum mencapai puncaknya, Eka mencabut penisnya dari vagina Novy dan memaksa Novy untuk menadahkan kedua telapak tangannya untuk menampung spermanya. Setelahitu, Eka memaksa Novy untuk mengusap sperma yang ada di telapak tangannya ke wajahnya dan meratakannya seperti orang mencuci muka. Semua temannya tertawa senang melihat itu, sementara Novy menahan jijik dan rasa malu yang luar biasa karena diperlakukan dengan hina seperti itu. Kini wajah Novy sudah rata oleh sperma milik Eka.

Kemudian lima orang lainnya secara bergantian memperkosa Novy di vagina, anus maupun mulut Novy. Mereka juga meremas-remas payudara Novy dan mencubit serta menggigit puting susu Novy keras-keras. Kini wajah, payudara, perut, punggung, vagina dan pantat Novy sudah penuh oleh sperma. Bahkan kedua buah payudara Novy kini berwarna kemerahan karena digigit dan diremas secara kasar oleh teman-temannya. Di punggung Novy juga tercetak jalur-jalur merah akibat dicambuk Shanty tadi.

Walaupun telah diperkosa berkali-kali, namun rupanya Novy tidak mencapai orgasme sama sekali, karena dia berusaha menahannya. Melihat itu Shanty merasa kesal dan memaksa Novy untuk mencapai orgasme dengan cara bermasturbasi sendiri.
“Gila elo.., lagi diperkosa aja masih sombong nggak mau orgasme. Sekarang elo harus orgasme.., cepat masturbasi lagi sambil nyukur bulu elo tuh sampai bersih..!” perintah Shanty.
Shanty memberikan pisau cukur kepada Novy dan menyuruhnya untuk mencukur bulu kemaluannya sendiri sambil bermasturbasi. Novy tidak berani berbuat apa-apa kecuali menurut. Sambil menutup matanya, tangan kiri Novy mulai meremas-remas payudaranya sendiri sambil meratakan sperma yang ada di payudara dan perutnya. Sementara tangan kanannya mulai mencukur bulu kemaluannya pelan-pelan sampai habis. Novy tidak memerlukan shaving cream lagi, karena vaginanya sudah licin oleh sperma dan juga cairan vaginanya.

Setelah selesai mencukur bulu kemaluannya sampai habis, Novy mulai memasukkan gagang pisau cukur itu ke dalam vaginanya dan menggerak-gerakkannya keluar masuk perlahan-lahan. Vagina Novy terasa panas dan perih saat Novy menyentuhnya. Rupanya dengan bermasturbasi sendiri, Novy lebih terangsang, dan akhirnya lima menit kemudian tubuhnya tiba-tiba mengejang, kakinya menekuk dan dadanya membusung memperlihatkan kedua payudaranya mengacung tegak dengan puting susu yang mencuat keluar, menandakan bahwa Novy sudah sangat terangsang. Novy mengeluarkan erangan yang tertahan sambil tangan kanannya terus menggosok vaginannya, dan tangan kirinya menjepit puting susunya sendiri. Akhirnya Novy mengalami orgasme yang luar biasa. Tubuh Novy kaku merasakan kenikmatan luar biasa yang menjalar di seluruh tubuhnya, dan cairan vagina Novy mengalir keluar dengan derasnya. Novy tidak dapat menutupi kenikmatan yang dirasakannya saat itu, sehingga dia pun mengeluarkan suara mendesah yang keras. Bahkan dia lupa bahwa dia kini sedang diperhatikan oleh banyak orang dan untuk saat itu dia juga lupa akan kesakitan yang diderita tubuhnya.

Belum pernah sebelumnya Novy mengalami orgasme sehebat itu, walaupun dia sering bermasturbasi di rumahnya. Ini karena sebelumnya dia belum pernah berhubungan badan, dan saat ini dia baru diperkosa beramai-ramai. Dan selama diperkosa itu, walaupun sebenarnya Novy merasa terangsang, Novy menahan orgasmenya sekuat tenaga dan akhirnya semua ditumpahkan saat dia bermasturbasi.

Setelah mengalami orgasme, Novy hanya terdiam kecapaian. Kesadarannya perlahan mulai kembali lagi dan rasa sakit kembali terasa di seluruh tubuhnya. Kedua kakinya tertekuk dan mengangkang lebar memperlihatkan vaginanya yang sudah licin mengkilat tanpa ada bulu kemaluannya sehelai pun sehabis dicukur. Di sekitar vagina Novy terlihat bercak-bercak merah darah perawan Novy dan juga sperma. Tangan kanannya menjulur ke samping dan tangan kirinya terlipat menutupi sebagian payudaranya. Tubuhnya licin dan mengkilat karena keringat yang membanjiri dan juga karena sperma yang diratakan ke seluruh tubuhnya. Novy masih menangis pelan karena sakit dan juga karena rasa malu yang menyerang dirinya. Namun Novy juga tidak dapat menutupi kenikmatan luar biasa yang baru saja dirasakannya. Novy tidak mampu bergerak lagi.

Namun melihat itu, nafsu teman-temannya kembali muncul dan mereka kembali maju bersamaan untuk memperkosa Novy lagi. Kali ini Novy tidak mampu berontak sama sekali, karena dia sudah tidak mempunyai tenaga lagi. Dia hanya terdiam dan tubuhnya mengikuti saja gerakan pemerkosanya. Novy seperti boneka yang sedang dipermainkan beramai-ramai. Kedua belas temannya kembali memperkosa vagina dan anus Novy yang sudah terasa lebih longgar setelah dimasuki banyak penis berkali-kali. Mereka juga memaksa Novy untuk mengulum dan menjilati penis mereka, dan menelan semua sperma yang disemburkan ke dalam mulutnya. Bahkan Novy diperkosa oleh tiga orang sekaligus yang memasukkan penisnya ke mulut, vagina dan anus Novy secara bersamaan, sementara dua orang lainnya mempermainkan payudara Novy.

Semua posisi yang mungkin dibayangkan dalam hubungan seks sudah dipraktekkan oleh teman-teman Novy terhadap tubuh Novy. Kali ini Novy tidak kuat lagi menahan orgasmenya, dan dia mengalami orgasme beberapa kali, namun tidak sehebat yang pertama. Setelah kedua belas orang temannya selesai memperkosa dirinya untuk kedua kalinya, Novy akhirnya pingsan karena kecapaian dan karena kesakitan yang menyerang seluruh tubuhnya terutama di vagina, anus dan juga kedua buah payudaranya. Novy telah diperkosa secara habis-habisan selama tiga jam lebih oleh dua belas orang temannya sendiri. Dan semua kejadian itu direkam oleh Shanty.

Ketika Novy terbangun, dia menyadari bahwa dirinya terikat ke tiang listrik dalam keadaan berdiri di tempat parkir kampusnya yang terbuka. Saat itu keadaan masih gelap dan masih belum ada satupun orang maupun mobil yang datang. Kedua tangan Novy terikat ke belakang dan kedua kakinya juga terikat ke tiang listrik. Tubuhnya masih telanjang bulat tanpa selembar benang pun dan dia tidak dapat bergerak sama sekali. Ketika Novy mencoba berteriak, dia baru sadar bahwa mulutnya ditutupi oleh lakban, sehingga dia tidak dapat mengeluarkan suara sama sekali. Vagina dan kedua puting susu Novy juga ditempeli oleh lakban. Di dadanya tergantung kertas yang bertuliskan Silakan Nikmati Tubuh Saya. GRATIS. Ttd : NOVY.

Novy membayangkan bagaimana malunya dirinya kalau nanti orang-orang datang dan melihat keadaan dirinya yang telanjang bulat dan belepotan darah serta sperma kering. Dia bahkan tidak dapat membayangkan bagaimana kalau nanti orang yang datang membaca dan menuruti tulisan di kertas itu, kemudian memperkosa dirinya.

Tidak lama kemudian, dia melihat tujuh orang datang. Rupanya mereka satpam dan tukang parkir kampusnya. Novy berusaha minta tolong dan mereka akhirnya datang menghampirinya. Novy sedikit merasa lega, karena dia berpikir pasti mereka akan menolongnya. Namun ketakutan Novy menjadi kenyataan, karena bukannya bantuan yang diberikan, ketujuh orang itu malah ingin menikmati tubuh Novy di tempat parkir itu. Sebelumnya seorang satpam menarik lepas dengan paksa lakban di vagina, puting susu dan mulut Novy, membuat Novy kembali merasakan kesakitan. Kini vagina dan puting susu Novy kembali terbuka dan dapat dilihat oleh orang.

“Wah, inikan si Novy, cewek paling cantik di kampus. Ngapain dia telanjang-telanjang begini di tempat parkir..?” kata salah satu dari mereka.
Dan orang lainnya menyahut, “Gile.., bodinya seksi banget. Gimana kalo kita cicipin aja bodinya sekalian. Liat tuh.., memeknya bersih nggak ada bulunya.”
“Iya nih, kita perkosa aja yuk sekalian.. lagian dia yang minta diperkosa, liat aja tulisan di kertas itu.”
“Ayo cepet kita perkosa aja… Gue belum pernah ngerasain punyanya cewek kuliahan nih..!”
Novy hanya dapat menangis dan memohon, “Tolong Pak, lepaskan saya… jangan perkosa saya lagi, sudah cukup penderitaan saya…”
Namun mereka tidak peduli dengan rintihan Novy dan tetap melancarkan aksinya.

Mereka tertawa bahagia dan mulai membuka baju dan celananya masing-masing. Melihat itu Novy hanya dapat pasrah dan berharap mereka tidak menyakiti dirinya lagi. Tidak mungkin baginya untuk berteriak minta tolong, karena tidak ada orang sama sekali di sekitar situ. Kemudian mereka mengambil selang air dan menyemprot tubuh Novy dengan air dingin sambil menggosok-gosoknya untuk membersihkan tubuh dan wajah Novy dari darah dan sperma kering yang menempel di tubuhnya. Disemprot air dingin seperti itu, Novy terkejut dan menggigil kedinginan. Namun itu tidak lama, karena kemudian dua orang laki-laki segera melepaskan ikatan Novy, mengangkat tubuh Novy dan mendekapnya dari depan dan belakang. Novy kini terjepit di antara tubuh dua orang laki-laki. Mereka mulai memasukkan penis mereka ke dalam vagina dan anus Novy secara bersamaan. Novy diperkosa di vagina dan anusnya dalam posisi berdiri.

Sementara itu orang yang berada di depan Novy menciumi bibir Novy dengan paksa, dan orang yang berada di belakang Novy meremas-remas kedua payudara Novy dari belakang. Beberapa menit kemudian kedua orang itu mencapai klimaks dan menyemburkan spermanya di dalam vagina dan anus Novy. Orang yang memperkosa vagina Novy menyemburkan spermanya berkali-kali di dalam vagina Novy, sehingga Novy dapat merasakan bahwa kini vaginanya dibanjiri oleh sperma orang itu yang sangat banyak dan tidak dapat tertampung lagi di dalam vaginanya.

Setelah itu, Novy dipaksa berlutut dan harus berkeliling menjilati semua penis laki-laki yang berdiri mengelilinginya secara bergantian. Novy juga terpaksa menelan sperma semua laki-laki itu satu-persatu. Setelah menjilati semua penis laki-laki yang ada di situ, Novy kemudian diperkosa lagi di vagina dan juga anusnya. Salah seorang diantaranya memiliki penis yang sangat besar dan panjang, sehingga ketika dia memperkosa anus Novy, penisnya hanya dapat masuk setengahnya. Namun orang itu terus mendorong penisnya masuk ke dalam lubang anus Novy dengan paksa, membuat Novy meronta-ronta kesakitan.

Selain menyemburkan spermanya di dalam vagina dan anus Novy, mereka juga menyemburkan spermanya di tubuh Novy dan memaksa Novy untuk meratakannya dengan tangannya sendiri. Novy tidak pernah membayangkan bahkan dalam mimpi terburuknya, bahwa dirinya benar-benar dinikmati oleh banyak orang dalam semalam. Dan kali ini Novy tidak dapat lagi menahan orgasmenya. Dia mencapai orgasme sampai berkali-kali, mungkin karena satpam-satpam ini lebih berpengalaman dibandingkan teman-temannya yang memperkosanya sebelumnya.

Setelah ketujuh orang itu kebagian mencicipi vagina, anus dan juga mulut Novy, Novy kembali diikat di tiang listrik dalam posisi semula, dan kembali ditinggalkan seorang diri dalam keadaan telanjang bulat. Tubuh Novy kembali belepotan oleh sperma dan kulit tubuhnya mengkilat oleh keringatnya sendiri. Sperma dan cairan vagina Novy yang tercampur menjadi satu menetes keluar perlahan-lahan dari vagina dan lubang anus Novy. Dari mulut Novy juga mengalir keluar sperma yang tidak dapat ditelan lagi oleh Novy.

Novy hanya dapat menggigil kedinginan. Namun penderitaannya belum berakhir sampai di situ. Novykembali diperkosa secara bergantian oleh orang-orang yang lewat, satpam, tukang parkir, temannya, dan bahkan dua orang dosennya ikut memperkosanya. Vagina, anus dan mulutnya dimasuki oleh penis-penis lain, dan dia dipaksa menelan sperma mereka semua. Sebagian meratakan spermanya di seluruh tubuh Novy. Ada yang iseng mencoret-coret tubuh Novy dengan spidol permanen dengan gambar-gambar dan kata-kata jorok. Bahkan orang terakhir yang memperkosa Novy memasukkan ranting pohon sepanjang 25 cm ke dalam vagina dan anus Novy sampai berdarah-darah dan meninggalkannya di situ.

Novy tergeletak di tanah dengan tubuh dan wajah yang kembali berlumuran oleh darah serta sperma, dan ranting pohon yang menancap di anus dan vaginanya. Payudara dan vagina Novy terlihat memar dan berwarna kemerahan. Bulatan pantatnya juga terlihat memar dan kemerahan. Novy sudah tidak dapat merasakan lagi vagina dan lubang anusnya. Akhirnya Novy kembali pingsan karena kesakitan dan kecapaian.

Total Novy telah diperkosa oleh lebih dari 30 orang dalam semalam, sampai akhirnya dia ditolong pada jam 05:30 pagi oleh seorang dosen wanita yang melihat keadaan Novy yang menyedihkan. Saat ditanya siapa yang memperkosa dirinya, Novy tidak berani menjawab, karena teringat ancaman Shanty yang akan menyebarluaskan rekaman video Novy yang telanjang bulat sedang bermasturbasi dan diperkosa oleh banyak orang. Novy lebih memilih bungkam. Dan setelah kejadian itu, Novy tidak dapat bergerak sama sekali sampai berhari-hari, dan dia merasa bahwa penderitaannya masih akan terulang lagi di kemudian hari.

TAMAT

July 10, 2008

PERPUSTAKAAN

Filed under: PERKOSAAN

dodon tidak sedikitpun berniat untuk belajar atau membaca buku waktu dia ke perpustakaan kampus , kuliah aja dia jarang masuk. dia bermaksud untuk tidur, krn biasanya perpustakaan kampus , jam jam segini sepi , paling satu dua orang yg datang.

dodon kemudian mengambil bebrapa buku yg besar dan tebal dan mengambil tempat di meja paling ujung.
tapi baru saja ia hendak memejamkan mata, pandangannya terganggu oleh sebuah pemandangan. di meja depannya , duduk seorang gadis cantik dengan kaki indah yg terbalut jeans ketat , pantatnya terlihat padat , rambutnya yg panjang terikat ke belakang , kulit putih , bibir sexy, dan sweater pink yg dia pakai membuat dia tampak manis , apalagi buah dadanya terlihat cukup menonjol di balik sweater pink tsb.

kont*l dodon langsung menegang melihat perempuan di depannya, klo tidak salah gadis ini adalah mahsiswi tingkat pertama. gadis ini begitu asyik dengan bacaan dan catatannya, sehingga tak sadar sedari tadi dodon menatapnya penuh nafsu.

kurang lebih setngah jam kemudian gadis itu beranjak menuju kamar mandi , dodon memperhatikan sekitar, lalu kemudian mengikuti gadis itu ke kamr mandi. perlahan dia buka pintu kamar mandi , ia melihat gadis itu sedang di depa cermin , sambil membasuh muka.

tanpa buang waktu lagi , dodon lsg menerkam gadis itu, menutup mulutnya dengan seblah tangan dan menarik gadis itu ke salah satu ruang wc disitu. ia kunci pintunya , mendorong si gadis ke dinding,dan dengan tenaga dan badannya yg besar si gadis tak bisa bergerak tertahan.

si gadis mencoba bicara, namun mulutnya tertutup tangan dodon
“jangan teriak. klo berani kamu bakal menyesal” bisik dodon di telinga si gadis
perlahan dodon melepas bekapannya, si gadis kelihatan takut dan terpaku,
tangan dodon perlahan meremas pantat si gadis yg padat.
si gadis hendak menjerit namun krn takut ancaman dodon ,ia kembali terdiam.

si gadis mulai menangis, tapi tangisan itu membuat kecantikan gadis itu makin terlihat ,ia tidak melawan saat pantatnya diremas remas dodon.
namun saat dodon hendak menarik lepas sweaternya , ia berontak , walaupun akhirnya dodon berhasil melepas sweater pink itu. ternyata si gadis dibalik sweater pink itu hanya memakai kaos putih ketat, buah dadanya terlihat menonjol sempurna, apalagi ternyata ia tidak memakai bra, sehingga putingnya mencuat menggairahkan di balik kaos. pemandangan yg membuat dodon tersenyum, what a sexy body.

si gadis menyilangkan tangannya di dada , sadar jika buah dadanya terlihat.
“tolong..jangan…saya masih perawan…”si gadis memohon
“siapa nama kamu …cantik.?”
“diana…tolong lepasin saya…saya kasih apa aja..asal lepasin saya….”

“nama yang indah” kata dodon sambil meremas buah dada diana, sempat berontak kemudian dodon mengancam diana,
“diam…atau gue harus iket tangan elo, ato gue bakal panggil temen temen gue…
jangan melawan, loe cuman layaninn gue doang.”

perlawanannya perlahan melemah, membuat dodon bebas meremas dan memainkan puting diana yg masih terbalut kaus ketat. sambil tetap meremas buah dada diana , satu tangan dodon membuka kancing jeans diana,menurunkan seletingnya,dan menurunkan perlahan jeans tsb. ia lihat kebawah , ia lihat diana memakai celana dalam putih yg sangat sexy. ia dengan segera melucuti kaos ketat diana, dan menarik lepas celana dalam diana.

ia memandangi tubuh diana yg indah tanpa selembar benangpun, ikat rambutnya dodon buka sehingga rambutnya hitam teruarai menambah kesexyan diana.
dodon lantas menyuruh diana membuka satu persatu pakaian dodon.
begitu celana terakhri dodon terlepas, ia menyuruh diana berlutut dan mengulum kont*lnya yg besar.

diana menolak, meski kontl dodon terus dipaksakan masuk , diana tetap tak mau mebuka mulut , sehingga dodon harus memijit hidung diana dengan keras ,sehingga mulutnya terbuka, sekejap pula ia memasukan kontlnya ke dalam mulut diana.

dengan paksa dodon mengerak gerkan kepala diana maju mundur, awalnya diana tidak melakukan apapun, namun akhirnya ia mulai memainkan lidahnya , kont*l dodon ia jilati , dan kadang ia sedot dng kuat, membuat dodon mendesisi keenakan.
sampai akirnya ketika dodon keluar, diana terpaksa menelen sperma dodon.

ketika giliran dodon menyentuh vagina diana ia merasakan vagina tsb sudah basah.
“oohhmm..kamu suka juga kan ternyata…dasar muna loo..”
muka diana terlihat memerah menahan malu.
kini giliran dodon yang berlutut di depan diana dan menjilati vagina diana.
permainan lidah dodon di vaginanya membuat diana merintih, mendesah , dan mengerang, apalagi buah dadanya kembali di remas dodon.

setelah dirasa cukup basah, dodon mebaringkan diana di lantai wc yg dingin, tanpa basa basi langsung menusukkan kontlnya ke vagina diana, ternyata masih sempit dan memang diana masih virgin.
butuh usaha keras bagi kont
l dodon untuk menembusnya , hingga akhirnya seiring jeritan diana, darah perawan mengalir.
dodon terus mendorong , cepat dan makin cepat , teriakan tangangisan , erangan dan rintihan diana menjadi stimulus untuknya.
hingga akhirnya diana menjerit tanda orgasme, membuat dodon makin semangat, buah dada diana bergoyang seirama dengan gerakan maju mundur dodon.
begitu orgasme , dodon sambil pual meremas keras buah dada ranum diana, sehingga diana menjerit kesakitan.

dodon tertawa puas, siapa bilang ke perpustakaan tak ada gunanya……

RIDA

Filed under: RAMAI-RAMAI, PERKOSAAN

Rida adalah seorang gadis 20 tahunan yang bekerja di sebuah bank negeri di kota Bkl. Ia tinggal di rumah kos bersama seorang rekan wanitanya, Ita, yang juga bekerja di bank yang sama walaupun pada cabang yang berbeda. Ia memiliki tubuh yang kencang. Wajahnya cukup manis dengan bibir yang penuh, yang selalu dipoles dengan lipstik warna terang. Tentu saja sebagai seorang teller di bank penampilannya harus selalu dijaga. Ia selalu tampil manis dan harum.

Suatu hari di sore hari Rida terkejut melihat kantornya telah gelap. Berarti pintu telah dikunci oleh Pak Warto dan Diman, satpam mereka. Dia tadi pergi ke WC terlebih dulu sebelum akan pulang. Mungkin mereka mengira ia sudah pulang. Baru saja ia akan menggedor pintu, biasanya para satpam duduk di pintu luar. Ada kabar para satpam di kantor bank tersebut akan diberhentikan karena pengurangan karyawan, Rida merasa kasihan tapi tak bisa berbuat apa-apa. Seingatnya ada kurang lebih 6 orang satpam disana. Berarti banyak juga korban PHK kali ini.

“Mau kemana Rida?”, tiba-tiba seseorang menegurnya dari kegelapan meja teller.
Rida terkejut, ada Warto dan Diman. Mereka menyeringai.
“Eh Pak, kok sudah dikunci? Aku mau pulang dulu..”, Rida menyapa mereka berdua yang mendekatinya.
“Rida, kami bakal diberhentikan besok..”, Warto berkata.
“Iya Pak, aku juga nggak bisa apa apa..”, Rida menjawab.
Di luar hujan mulai turun.
“Kalau begitu.. kami minta kenang-kenangan saja Mbak”, tiba-tiba Diman yang lebih muda menjawab sambil menatapnya tajam.
“I.., iya.., besok aku belikan kenang-kenangan..”, Rida menjawab.

Tiba-tiba ia merasa gugup dan cemas. Warto mencekal lengan Rida. Sebelum Rida tersadar, kedua tangannya telah dicekal ke belakang oleh mereka.
“Aah! Jangan Pak!”.
Diman menarik blus warna ungu milik Rida. Gadis itu terkejut dan tersentak ketika kancing blusnya berhamburan. “Sekarang aja Rida. Kenang-kenangan untuk seumur hidup!”.
Warto menyeringai melihat Diman merobek kaos dalam katun Rida yang berwarna putih berenda. Rida berusaha meronta. Namun tak berdaya, dadanya yang kencang yang terbungkus bra hitam berendanya mencuat keluar.
“Jangannnn! Lepaskannn!”, Rida berusaha meronta.

Hujan turun dengan derasnya. Diman sekarang berusaha menurunkan celana panjang ungu Rida. Kedua lelaki itu sudah sejak lama memperhatikan Rida. Gadis yang mereka tahu tubuhnya sangat kencang dan sintal. Diam-diam mereka sering mengintipnya ketika ke kamar mandi. Saat ini mereka sudah tak tahan lagi. Rida menyepak Diman dengan keras.
“Eit, melawan juga si Mbak ini..”, Diman hanya menyeringai.
Rida di seret ke meja Head Teller. Dengan sekali kibas semua peralatan di meja itu berhamburan bersih.
“Aahh! Jangan Pak! Jangannn!”, Rida mulai menangis ketika ia ditelungkupkan di atas meja itu.
Sementara kedua tangannya terus dicekal Warto, Diman sekarang lebih leluasa menurunkan celana panjang ungu Rida. Sepatunya terlepas.

Diperlakukan seperti itu, Rida juga mulai merasa terangsang. Ia dapat merasakan angin dingin menerpa kulit pahanya. Menunjukkan celananya telah terlepas jatuh. Rida lemas. Hal ini menguntungkan kedua penyiksanya. Dengan mudah mereka menanggalkan blus dan celana panjang ungu Rida. Rida mengenakan setelan pakaian dalam berenda warna hitam yang mini dan sexy. Mulailah pemerkosaan itu. Pantat Rida yang kencang mulai ditepuk oleh Warto bertubi-tubi, “Plak! Plak!”.

Tubuh Rida memang kencang menggairahkan. Payudaranya besar dan kencang. Seluruh tubuhnya pejal kenyal. Dalam keadaan menungging di meja seperti ini ia tampak sangat menggairahkan. Diman menjambak rambut Rida sehingga dapat melihat wajahnya. Bibirnya yang penuh berlipstik merah menyala membentuk huruf O. Matanya basah, air mata mengalir di pipinya.
“Sret!”, Rida tersentak ketika celana dalamnya telah ditarik robek.
Menyusul branya ditarik dengan kasar. Rida benar-benar merasa terhina. Ia dibiarkan hanya dengan mengenakan stocking sewarna dengan kulitnya. Sementara penis Warto yang besar dan keras mulai melesak di vaginanya.
“Ouuhh! Adduhh..!”, Rida merintih.
Seperti anjing, Warto mulai menyodok nyodok Rida dari belakang. Sementara tangannya meremas-remas dadanya yang kencang. Rida hanya mampu menangis tak berdaya.

Tiba-tiba Diman mengangkat wajahnya, kemudian menyodorkan penisnya yang keras panjang. Memaksa Rida membuka mulutnya. Rida memegang pinggiran meja menahan rasa ngilu di selangkangannya sementara Diman memperkosa mulutnya. Meja itu berderit derit mengikuti sentakan-sentakan tubuh mereka. Warto mendesak dari belakang, Diman menyodok dari depan. Bibir Rida yang penuh itu terbuka lebar-lebar menampung kemaluan Diman yang terus keluar masuk di mulutnya. Tiba-tiba Warto mencabut kemaluannya dan menarik Rida.
“Ampuunnn…, hentikan Pak..”, Rida menangis tersengal-sengal.
Warto duduk di atas sofa tamu. Kemudian dengan dibantu Diman, Rida dinaikkan ke pangkuannya, berhadapan dengan pahanya yang terbuka.

“Slebb!”, kemaluan Warto kembali masuk ke vagina Rida yang sudah basah.
Rida menggelinjang ngilu, melenguh dan merintih. Warto kembali memeluk Rida sambil memaksa melumat bibirnya. Kemudian mulai mengaduk aduk vagina gadis itu. Rida masih tersengal-sengal melayani serangan mulut Warto ketika dirasakannya sesuatu yang keras dan basah memaksa masuk ke lubang anusnya yang sempit. Diman mulai memaksa menyodominya.
“Nghhmmm..! Nghh! Jahannaammm…!”, Rida berusaha meronta, tapi tak berdaya.

Warto terus melumat mulutnya. Sementara Diman memperkosa anusnya. Rida lemas tak berdaya sementara kedua lubang di tubuhnya disodok bergantian. Payudaranya diremas dari depan maupun belakang. Tubuhnya yang basah oleh peluh semakin membuat dirinya tampak erotis dan merangsang. Juga rintihannya. Tiba-tiba gerakan kedua pemerkosanya yang semakin cepat dan dalam mendadak berhenti. Rida ditelentangkan dengan tergesa kemudian Warto menyodokkan kemaluannya ke mulut gadis itu. Rida gelagapan ketika Warto mengocok mulutnya kemudian mendadak kepala Rida dipegang erat dan…
“Crrrt! Crrrt!”, cairan sperma Warto muncrat ke dalam mulutnya, bertubi-tubi.
Rida merasa akan muntah. Tapi Warto terus menekan hidung Rida hingga ia terpaksa menelan cairan kental itu. Warto terus memainkan batang kemaluannya di mulut Rida hingga bersih. Rida tersengal sengal berusaha menelan semua cairan lengket yang masih tersisa di langit-langit mulutnya.

Mendadak Diman ikut memasukkan batang kemaluannya ke mulut Rida. Kembali mulut gadis itu diperkosa. Rida terlalu lemah untuk berontak. Ia pasrah hingga kembali cairan sperma mengisi mulutnya. Masuk ke tenggorokannya. Rida menangis sesengggukan. Diman memakai celana dalam Rida untuk membersihkan sisa spermanya.
“Wah.. bener-bener kenangan indah, Yuk..”, ujar Warto sambil membuka pintu belakang.
Tak lama kemudian 3 orang satpam lain masuk.
“Ayo, sekarang giliran kalian!”, Rida terkejut melihat ke-3 satpam bertubuh kekar itu.
Ia akan diperkosa bergiliran semalaman. Celakanya, ia sudah pamit dengan teman sekamarnya Ita, bahwa ia tak pulang malam ini karena harus ke rumah saudaranya hingga tentu tak akan ada yang mencarinya.

Rida ditarik ke tengah lobby bank itu. Dikelilingi 6 orang lelaki kekar yang sudah membuka pakaiannya masing-masing hingga Rida dapat melihat batang kemaluan mereka yang telah mengeras.
“Ayo Rida, kulum punyaku!”, Rida yang hanya mengenakan stocking itu dipaksa mengoral mereka bergiliran.
Tubuhnya tiba-tiba di buat dalam keadaan seperti merangkak. Dan sesuatu yang keras mulai melesak paksa di lubang anusnya.
“Akhh…, mmmhhh.., mhhh…”, Rida menangis tak berdaya.
Sementara mulutnya dijejali batang kemaluan, anusnya disodok-sodok dengan kasar. Pinggulnya yang kencang dicengkeram.
“Akkkghhh! Isep teruss…!, Ayooo”.
Satpam yang tengah menyetubuhi mulutnya mengerang ketika cairan spermanya muncrat mengisi mulut Rida. Gadis itu gelagapan menelannya hingga habis. Kepalanya dipegangi dengan sangat erat. Dan lelaki lain langsung menyodokkan batang kemaluannya menggantikan rekannya. Rida dipaksa menelan sperma semua satpam itu bergiliran. Mereka juga bergiliran menyodomi dan memperkosa semua lubang di tubuh Rida bergiliran.

Tubuh Rida yang sintal itu basah berbanjir peluh dan sperma. Stockingnya telah penuh noda-noda sperma kering. Akhirnya Rida ditelentangkan di sofa, kemudian para satpam itu bergiliran mengocok kemaluan mereka di wajahnya, sesekali mereka memasukkannya ke mulut Rida dan mengocoknya disana, hingga secara bergiliran sperma mereka muncrat di seluruh wajah Rida.

Ketika telah selesai Rida telentang dan tersengal-sengal lemas. Tubuh dan wajahnya belepotan cairan sperma, keringat dan air matanya sendiri. Rida pingsan. Tapi para satpam itu ternyata belum puas.
“Belum pagi nih”, ujar salah seorang dari satpam itu.
“Iya, aku masih belum puas…”.
Akhirnya muncul ide mereka yang lain.

Tubuh telanjang Rida diikat erat. Kemudian mereka membawanya ke belakang kantornya. Bagian belakang bank itu memang masih sepi dan banyak semak belukar. Rida yang masih dalam keadaan lemas diletakkan begitu saja di sebuah pondok tua tempat para pemuda berkumpul saat malam. Hujan telah berhenti tetapi udara masih begitu dinginnya. Mulut Rida disumpal dengan celana dalamnya. Ketika malam semakin larut baru Rida tersadar. Ia tersentak menyadari tubuhnya masih dalam keadaan telanjang bulat dan terikat tak berdaya. Ia benar-benar merasa dilecehkan karena stockingnya masih terpasang.

Tiba-tiba saja terdengar suara beberapa laki-laki. Dan mereka terkejut ketika masuk.
“Wah! Ada hadiah nih!”, aroma alkohol kental keluar dari mulut mereka.
Rida berusaha meronta ketika mereka mulai menggerayangi tubuh sintal telanjangnya. Tapi ia tak berdaya. Ada 8 orang yang datang. Mereka segera menyalakan lampu listrik yang remang-remang. Tubuh Rida mulai dijadikan bulan-bulanan. Rida hanya bisa menangis pasrah dan merintih tertahan.

Ia ditunggingkan di atas lantai bambu kemudian para lelaki itu bergiliran memperkosanya. Semua lubang di tubuhnya secara bergiliran dan bersamaan disodok-sodok dengan sangat kasar. Kembali Rida bermandi sperma. Mereka menyemprotkannya di punggung, di pantat, dada dan wajahnya. Setiap kali akan pingsan, seseorang akan menampar wajahnya hingga ia kembali tersadar.
“Ini kan teller di bank depan?”

Mereka tertawa-tawa sambil terus memperkosa Rida dengan berbagai posisi. Rida yang masih terikat dan terbungkam hanya dapat pasrah menuruti perlakuan mereka. Cairan berwarna putih dan merah kekuningan mengalir dari lubang pantat dan vaginanya yang telah memerah akibat dipaksa menerima begitu banyak batang penis. Ketika seseorang sedang sibuk menyodominya, Rida tak tahan lagi dan akhirnya pingsan. Entah sudah berapa kali para pemabuk itu menyemprotkan sperma mereka ke seluruh tubuh Rida sebelum akhirnya meninggalkannya begitu saja setelah mereka puas.

TAMAT

Newer Posts