kumpulan cerita dewasa dari berbagai sumber …

<?php wp_title('«', true, 'right'); ?> <?php bloginfo('name'); ?>





February 24, 2009

Andani Citra - Pak rt nakal

Filed under: RAMAI-RAMAI

Pak Vito adalah ketua RT di daerah tempat aku tinggal. Ia sering datang ke rumahku untuk keperluan menagih iuran daerah dan biaya air ledeng. Dia adalah seorang pria berusia sekitar 50 tahunan dan mempunyai dua istri. Benar kata orang bahwa dia ini seorang bandot tua, buktinya ketika di rumahku kalau aku lewat di depannya, seringkali matanya jelalatan menatap padaku seolah-olah matanya tembus pandang ke balik pakaianku. Bagiku sih tidak apa-apa, aku malah senang kalau tubuhku dikagumi laki-laki, terkadang aku memakai baju rumah yang seksi kalau lewat di depannya. Aku yakin di dalam pikirannya pasti penuh hal-hal yang jorok tentangku.

Pada suatu hari aku sedang di rumah sendirian. Aku sedang melakukan fitness untuk menjaga bentuk dan stamina tubuhku di ruang belakang rumahku yang tersedia beberapa peralatan fitness. Aku memakai pakaian yang enak dipakai dan menyerap keringat berupa sebuah kaus hitam tanpa lengan dengan belahan dada rendah sehingga buah dadaku yang montok itu agak tersembul keluar terutama kalau sedang menunduk apalagi aku tidak memakai BH, juga sebuah celana pendek ketat merk ‘Nike’ yang mencetak pantatku yang padat berisi. Waktu aku sedang melatih pahaku dengan sepeda fitness, tiba-tiba terdengar bel berbunyi, segera saja kuambil handuk kecil dan mengelap keringatku sambil berjalan ke arah pintu. Kulihat dari jendela, ternyata Pak Vito yang datang, pasti dia mau menagih biaya ledeng, yang dititipkan ayah padaku tadi pagi.

Kubukakan pagar dan kupersilakan dia masuk.
"Silakan Pak duduk dulu ya, sambil nunggu saya ambil uangnya" senyumku dengan ramah sambil mempersilakannya duduk di ruang tengah.
"Kok sepi sekali Dik, kemana yang lain?"
"Papa hari ini pulangnya malam, tapi uangnya udah dititip ke saya kok, Mama juga lagi arisan sama teman-temannya".
Seperti biasa matanya selalu saja menatapi tubuhku, terutama bagian dadaku yang agak terlihat itu. Aku juga sadar kalau dadaku sempat diintip olehnya waktu menunduk untuk menaruh segelas teh untuknya.

"Minum Pak", tawarku lalu aku duduk di depannya dengan menyilangkan kaki kananku sehingga pahaku yang jenjang dan putih itu makin terlihat.
Nuansa mesum mulai terasa di ruang tamuku yang nyaman itu. Dia menanyaiku sekitar masalah anak muda, seperti kuliah, hoby, keluarga, dan lain-lain, tapi matanya terus menelanjangiku.
"Dik Citra lagi olah raga yah, soalnya badannya keringatan gitu terus mukanya merah lagi" katanya.
"Iya nih Pak, biasa kan cewek kan harus jaga badan lah, cuma sekarang jadi pegel banget nih, pengen dipijat rasanya, Bapak bisa bantu pijitin nggak?" godaku sambil mengurut-ngurut pahaku.
Tanpa diminta lagi dia segera bangkit berdiri dan pindah ke sebelahku, waktu berdiri kuperhatikan ia melihat putingku yang menonjol dari balik kausku, juga kulihat penisnya ngaceng berat membuatku tidak sabar mengenggam benda itu.

"Mari Dik, kesinikan kakinya biar Bapak pijat"
Aku lalu mengubah posisi dudukku menjadi menyamping dan menjulurkan kakiku ke arahnya. Dia mulai mengurut paha hingga betisku. Uuuhh.. pijatannya benar-benar enak, telapak tangannya yang kasar itu membelai pahaku yang putih mulus hingga membangkitkan birahiku. Akupun mendesah-desah sambil menggigit bibir bawahku.
"Pijatan Bapak enak ya Dik?" tanyanya.
"Iya Pak, terus dong.. enak nih.. emmhh!" aku terus mendesah membangkitkan nafsu Pak Vito, desahanku kadang kusertai dengan geliat tubuh.
Dia semakin berani mengelus paha dalamku, bahkan menyentuh pangkal pahaku dan meremasnya.
"Enngghh.. Pak!" desahku lebih kuat lagi ketika kurasakan jari-jarinya mengelusi bagian itu.

Tubuhku makin menggelinjang sehingga nafsu Pak Vito pun semakin naik dan tidak terbendung lagi. Celana sportku diperosotkannya beserta celana dalamku.
"Aawww..!" aku berlagak kaget sambil menutupi kemaluanku dengan telapak tanganku.
Melihat reaksiku yang malu-malu kucing ini dia makin gemas saja, ditariknya celanaku yang sudah tertarik hingga lutut itu lalu dilemparnya ke belakang, tanganku yang menutupi kemaluan juga dibukanya sehingga kemaluanku yang berambut lebat itu tampak olehnya, klitorisku yang merah merekah dan sudah becek siap dimasuki. Pak Vito tertegun beberapa saat memandangiku yang sudah bugil bagian bawahnya itu.
"Kamu memang sempurna Dik Citra, dari dulu Bapak sering membayangkan ngentotin kamu, akhirnya hari ini kesampaian juga", rayunya

Dia mulai melepas kemejanya sehingga aku dapat melihat perutnya yang berlemak dan dadanya yang berbulu itu. Lalu dia membuka sabuk dan celananya sehingga benda dibaliknya kini dapat mengacung dengan gagah dan tegak. Aku menatap takjub pada organ tubuh itu, begitu besar dan berurat aku sudah tidak sabar lagi menggenggam dan mengulumnya. Pak Vito begitu membuka pahaku lalu membenamkan kepalanya di situ sehingga selangkanganku tepat menghadap ke mukanya.
"Hhmm.. wangi, pasti Adik rajin merawat diri yah" godanya waktu menghirup kemaluanku yang kurawat dengan apik dengan sabun pembersih wanita.
Sesaat kemudian kurasakan benda yang lunak dan basah menggelitik vaginaku, oohh.. lidahnya menjilati klitorisku, terkadang menyeruak ke dalam menjilati dinding kemaluanku. Lidah tebal dan kumisnya itu terasa menggelitik bagiku, aku benar-benar merasa geli di sana sehingga mendesah tak tertahan sambil meremasi rambutnya. Kedua tangannya menyusup ke bawah bajuku dan mulai meremas buah dadaku, jari-jarinya yang besar bermain dengan liar disana, memencet putingku dan memelintirnya hingga benda itu terasa makin mengeras.

"Pak.. oohh.. saya juga mau.. Pak!" desahku tak tahan lagi ingin mengulum penis itu.
"Kalau begitu Bapak di bawah saja ya Dik" katanya sambil mengatur posisi kami sedemikian rupa menjadi gaya 69.
Aku naik ke wajahnya dan membungkukkan tubuhku, kuraih benda kesukaanku itu, dalam genggamanku kukocok perlahan sambil menjilatinya. Kugerakkan lidahku menelusuri pelosok batang itu, buah pelirnya kuemut sejenak, lalu jilatanku naik lagi ke ujungnya dimana aku mulai membuka mulut siap menelannya. Oohh.. batang itu begitu gemuk dan berdiameter lebar persis seperti tubuh pemiliknya, sehingga akupun harus membuka mulutku selebar-lebarnya agar bisa mamasukkannya.

Aku mulai mengisapnya dan memijati buah pelirnya dengan tanganku. Pak Vito mendesah-desah enak menikmati permainanku, sementara aku juga merasa geli di bawah sana, kurasakan ada gerakan memutar-mutar di dalam liang vaginaku oleh jarinya, jari-jari lain dari tangan yang sama mengelus-elus klitoris dan bibir vaginaku, bukan itu saja, lidahnya juga turut menjilati baik anus maupun vaginaku. Sungguh suatu sensasi yang hebat sekali sampai pinggulku turut bergoyang menikmatinya, juga semakin bersemangat mengulum penisnya. Selama 10 menitan kami menikmatinya sampai ada sedikit terganggu oleh berbunyinya HP Pak Vito. Aku lepaskan penisnya dari mulutku dan menatap padanya.

Pak Vito menyuruhku mengambil HP-nya di atas meja ruang tamu, lalu dia berkata, "Ayo Dik, terusin dong karaokenya, biar Bapak ngomong dulu di telepon".
Aku pun tanpa ragu-ragu menelan kembali penisnya. Dia bicara di HP sambil penisnya dikulum olehku, tidak tau deh bicara dengan siapa, emang gua pikirin, yang pasti aku harus berusaha tidak mengeluarkan suara-suara aneh. Tangan satunya yang tidak memegang HP terus bekerja di selangkanganku, kadang mencucuk-cucukkannya ke vagina dan anusku, kadang meremas bongkahan pantatku. Tiba-tiba dia menggeram sambil menepuk-nepuk pantatku, sepertinya menyuruhku berhenti, tapi karena sudah tanggung aku malahan makin hebat mengocok dan mengisap penis itu sampai dia susah payah menahan geraman nikmatnya karena masih harus terus melayani pembicaraan. Akhirnya muncratlah cairan putih itu di mulutku yang langsung saya minum seperti kehausan, cairan yang menempel di penisnya juga saya jilati sampai tak bersisa.

"Nggak kok.. tidak apa-apa.. cuma tenggorokkan saya ada masalah dikit" katanya di HP.
Tak lama kemudian dia pun menutup HP nya, lalu bangkit duduk dan menaikkanku ke pangkuannya, tangan kirinya dipakai menopang tubuhku.
"Wah.. Dik Citra ini bandel juga ya, tadi kan Bapak udah suruh stop dulu, ee.. malah dibikin keluar lagi, untung nggak curiga tuh orang" katanya sambil mencubit putingku.
"Hehehe.. sori deh Pak, kan tadi tanggung makannya saya terusin aja, tapi Bapak seneng kan" kataku dengan tersenyum nakal.
"Hmm.. kalo gitu awas ya sekarang Bapak balas bikin kamu keluar nih" seringainya.
Lalu dengan sigap tangannya bergerak menyelinap diantara kedua pangkal pahaku. Jari tengah dan telunjuknya menyeruak dan mengorek-ngorek vaginaku, aku meringis ketika merasakan jari-jari itu bergerak semakin cepat mempermainkan nafsuku.

Pak Vito menurunkan kaos tanpa lenganku dari bahu dan meloloskannya lewat lengan kananku, sehingga kini payudara kananku yang putih montok itu tersembul keluar. Dengan penuh nafsu langsung dia lumat benda itu dengan mulutnya. Aku menjerit kecil waktu dia menggigit putingku dan juga mengisapnya kuat-kuat, bulatan mungil itu serasa makin menegang saja. Dia membuka mulutnya lebar-lebar berusaha memasukkan seluruh payudaraku ke mulutnya, di dalam mulutnya payudaraku disedot, dikulum, dan dijilat, rasanya seperti mau dimakan saja milikku itu. Sementara selangkanganku makin basah oleh permainan jarinya, jari-jari itu menusuk makin cepat dan dalam saja. Hingga suatu saat birahiku terasa sudah di puncak, mengucurlah cairan cintaku dengan deras. Aku mengatupkan pahaku menahan rasa geli di bawahku sehingga tangannya terhimpit diantara kedua paha mulusku.

Setelah dia cabut tangannya dari kemaluanku, nampak jari-jarinya sudah belepotan oleh cairan bening yang kukeluarkan. Dia jilati cairanku dijarinya itu, aku juga ikutan menjilati jarinya merasakan cairan cintaku sendiri. Kemudian dia cucukkan lagi tangannya ke kemaluanku, kali ini dia mengelus-ngelus daerah itu seperti sedang mengelapnya. Telapak tangannya yang penuh sisa-sisa cairan itu dibalurinya pada payudaraku.
"Sayang kalo dibuang, kan mubazir" ucapnya.
Kembali lidahnya menjilati payudaraku yang sudah basah itu, sedangkan aku menjilati cairan pada tangannya yang disodorkan padaku. Tanganku yang satu meraba-raba ke bawah dan meraih penisnya, terasa olehku batang itu kini sudah mengeras lagi, siap memulai aksi berikutnya.

"Enggh.. masukin aja Pak, udah kepingin nih".
Dia membalik tubuhku, tepat berhadapan dengannya, tangan kananya memegangi penisnya untuk diarahkan ke vaginaku. Aku membukakan kedua bibir vaginaku menyambut masuknya benda itu. Setelah kurasakan pas aku mulai menurunkan tubuhku, secara perlahan tapi pasti penis itu mulai terbenam dalam kemaluanku. Goyanganku yang liar membuat Pak Vito mendesah-desah keenakan, untung dia tidak ada penyakit jantung, kalau iya pasti sudah kumat. Kaosku yang masih menyangkut di bahu sebelah kiri diturunkannya sehingga kaos itu menggantung di perutku dan payudara kiriku tersingkap. Nampak sekali bedanya antara yang kiri yang masih bersih dengan bagian kanan yang daritadi menjadi bulan-bulanannya sehingga sudah basah dan memerah bekas cupangan.

Kedua tangannya meremas-remas kedua payudaraku, ketika melumatnya terkadang kumisnya yang kasar itu menggesek putingku menimbulkan sensasi geli yang nikmat. Lidahnya bergerak naik ke leherku dan mencupanginya sementara tangannya tetap memainkan payudaraku. Birahiku sudah benar-benar tinggi, nafasku juga sudah makin tak teratur, dia begitu lihai dalam bercinta, kurasa bukan pertama kalinya dia berselingkuh seperti ini. Aku merasa tidak dapat bertahan lebih lama lagi, frekuensi goyanganku kutambah, lalu aku mencium bibirnya. Tubuh kami terus berpacu sambil bermain lidah dengan liarnya sampai ludah kami menetes-netes di sekitar mulut, eranganku teredam oleh ciumannya. Mengetahui aku sudah mau keluar, dia menekan-nekan bahuku ke bawah sehingga penisnya menghujam makin dalam dan vaginaku makin terasa sesak. Tubuhku bergetar hebat dan jeritanku tak tertahankan lagi terdengar dari mulutku, perasaan itu berlangsung selama beberapa saat sampai akhirnya aku terkulai lemas dalam pelukannya.

Dia menurunkanku dari pangkuannya, penisnya terlihat berkilauan karena basah oleh cairan cinta. Dibaringkannya tubuhku yang sudah lemas itu di sofa, lalu dia sodorkan gelas yang berisi teh itu padaku. Setelah minum beberapa teguk, aku merasa sedikit lebih segar, paling tidak pada tenggorokanku karena sudah kering waktu mendesah dan menjerit. Kaosku yang masih menggantung di perut dia lepaskan, sehingga kini aku bugil total. Sebelum tenagaku benar-benar pulih, Pak Vito sudah menindih tubuhku, aku hanya bisa pasrah saja ditindih tubuh gemuknya. Dengan lembut dia mengecup keningku, dari sana kecupannya turun ke pipi, hingga berhenti di bibir, mulut kami kembali saling berpagutan. Saat berciuman itulah, Pak Vito menempelkan penisnya pada vaginaku, lalu mendorongnya perlahan, dan aahh.. mataku yang terpejam menikmati ciuman tiba-tiba terbelakak waktu dia menghentakkan pinggulnya sehingga penis itu menusuk lebih dalam.

Kenikmatan ini pun berlanjut, aku sangat menikmati gesekan-gesekan pada dinding vaginaku. Buah dadaku saling bergesekan dengan dadanya yang sedikit berbulu, kedua paha rampingku kulingkarkan pada pinggangnya. Aku mendesah tak karuan sambil mengigiti jariku sendiri. Sementara pinggulnya dihentak-hentakkan diatasku, mulutnya tak henti-hentinya melumat atau menjilati bibirku, wajahku jadi basah bukan saja oleh keringat, tapi juga oleh liurnya. Telinga dan leherku pun tak luput dari jilatannya, lalu dia angkat lengan kananku ke atas dan dia selipkan kepalanya di situ. Aahh.. ternyata dia sapukan bibir dan lidahnya di ketiakku yang halus tak berbulu itu, kumis kasar itu menggelitikku sehingga desahanku bercampur dengan ketawa geli.

"Uuuhh.. Pak.. aakkhh..!" aku kembali mencapai orgasme.
Vaginaku terasa semakin banjir, namun tak ada tanda-tanda dia akan segera keluar, dia terlihat sangat menikmati mimik wajahku yang sedang orgasme. Suara kecipak cairan terdengar jelas setiap kali dia menghujamkan penisnya, cairanku sudah meleleh kemana-mana sampai membasahi sofa, untung sofanya dari bahan kulit, jadi mudah untuk membersihkan dan menghilangkan bekasnya. Tanpa melepas penisnya, Pak Vito bangkit berlutut di antara kedua pahaku dan menaikkan kedua betisku ke pundaknya. Tanpa memberiku istirahat dia meneruskan mengocok kemaluanku, aku sudah tidak kuat lagi mengerang karena leherku terasa pegal, aku cuma bisa mengap-mengap seperti ikan di luar air.

"Bapak udah mau.. Dik.. Citra..!" desahnya dengan mempercepat kocokkannya.
"Di luar.. Pak.. aku ahh.. uuhh.. lagi subur" aku berusaha ngomong walau suaraku sudah putus-putus.
Tak lama kemudian dia cabut penisnya dan menurunkan kakiku. Dia naik ke wajahku, lalu dia tempelkan penisnya yang masih tegak dan basah di bibirku. Akupun memulai tugasku, kukulum dan kukocok dengan gencar sampai dia mengerang keras dan menjambak rambutku. Maninya menyemprot deras membasahi wajahku, aku membuka mulutku menerima semprotannya. Setelah semprotannya mereda pun aku masih mengocok dan mengisap penisnya seolah tidak membiarkan setetespun tersisa. Batang itu kujilati hingga bersih, benda itu mulai menyusut pelan-pelan di mulutku. Kami berpelukan dengan tubuh lemas merenungi apa yang baru saja terjadi.

Sofa tempat aku berbaring tadi basah oleh keringat dan cairan cintaku yang menetes disana. Masih dalam keadaan bugil, aku berjalan sempoyongan ke dapur mengambil kain lap dan segelas air putih. Waktu aku kembali ke ruang tamu, Pak Vito sedang mengancingkan lagi bajunya, lalu meneguk air yang tersisa di gelasnya.
"Wah Dik Citra ini benar-benar hebat ya, istri-istri Bapak sekarang udah nggak sekuat Adik lagi padahal mereka sering melayani Bapak berdua sekaligus" pujinya yang hanya kutanggapi dengan senyum manis.

Setelah berpakaian lagi, aku mengantarnya lagi ke pintu depan. Sebelum keluar dari pagar dia melihat kiri kanan dulu, setelah yakin tidak ada siapa-siapa dia menepuk pantatku dan berpamitan.
"Lain kali kalo ada kesempatan kita main lagi yah Dik"
"Dasar bandot, belum cukup punya istri dua, masih ngembat anak orang" kataku dalam hati.
Akhirnya aku pun mandi membersihkan tubuhku dari sperma, keringat, dan liur. Siraman air menyegarkan kembali tubuhku setelah seharian penuh berolahraga dan berolahsyahwat. Beberapa menit sesudah aku selesai mandi, ibuku pun pulang. Beliau bilang wangi ruang tamunya enak sehingga kepenatannya agak berkurang, aku senyum-senyum saja karena ruang itu terutama sekitar ‘medan laga’ kami tadi telah kusemprot pengharum ruangan untuk menutupi aroma bekas persenggamaan tadi.

TAMAT



October 22, 2008

Story of Ira 1

Filed under: RAMAI-RAMAI

Ceritanya dimulai ketika empat bulan yang lalu aku berkenalan dengan seorang ibu rumah tangga muda berumur sekitar 28 tahun dan usia perkawinan mereka baru berumur 2 tahun dan belum dikarunia anak. Namanya adalah Ira (nama samaran), cantik, berkulit putih dengan ukuran badan yang ideal sesuai dengan tingginya.

Dari pertemuan pertama sampai pertemuan yang keempat kalinya, semuanya masih berjalan dalam batas-batas yang wajar, hanya sekali-kali aku memberanikan diri untuk membuka topik pembicaraan yang mengarah kepada hal-hal yang berbau seks. Pada pertemuan yang keenam, aku mengundang Ira apakah Ira bersedia untuk makan siang di tempat yang santai dan hanya kita berdua saja. “Kenapa harus di tempat khusus?” tanya Ira. “Hanya untuk keamanan masing-masing pihak mengingat status diri masing-masing agar tidak membawa masalah pada urusan rumah-tangga masing-masing”, jawabku. Ira mengerti dan mengatkan oke. Pendek cerita akhirnya kita berdua check-in di motel “HS” di kawasan Jakarta Selatan. Sebuah motel yang lux dengan fasilitas “whirpool” di dalam kamar.

Habis menyantap makan siang, kita berdua bercerita kesana-kemari dengan iringan sentuhan-sentuhan kecil yang sengaja kulakukan dimana ternyata Ira kelihatan merasa tidak keberatan dengan apa yang kulakukan. Kemudian kumulai membelai tengkuknya dan menyentuh bagian belakang daun kupingnya dengan sentuhan-sentuhan yang lembut. Ternyata Ira menikmatinya dengan memejamkan mata dan terdengar lirihan kecil dari bibirnya. Kupalingkan wajah Ira menghadap mukaku, dagunya kuangkat sedikit sehingga bibirnya tepat berhadapan dengan bibirku, dengan lembut kukecup bibirnya, sekejap Ira tersentak kaget, tapi aku terus mengulum bibirnya dan mulai memainkan lidahku. Desah nafas Ira mulai meninggi, dan dia mulai membalas ciumanku. Cukup lama kami menikmati adegan ciuman ini, desah nafas Ira semakin tidak teratur ketika tanganku mulai membuka kancing bajunya satu-persatu dan meraba buah dadanya dengan sentuhan halus pada pangkal bukit buah dadanya. Ira mulai menggelinjang, nafasnya berat tak beraturan, tanganku semakin menggila meremas dan memilin puting buah dadanya. Terlepas sudah baju atas Ira, dan dengan mudah kutanggalkan BH-nya. Sepasang bukit indah dengan puting yang berdiri tegak tampak di hadapanku, tak kuasa aku untuk tidak menjilat dan mengisapnya. Oh, ternyata buah dada Ira adalah salah satu bagian daerah sensitifnya. Penisku tegang sekali, tetapi aku berusaha untuk tetap memegang kendali “permainan” ini. Rok mini Ira telah kutanggalkan, hanya tinggal CD warna pink yang tersisa di tubuhnya. Tanganku mulai menyelinap ke balik CD Ira, dan ternyata vaginanya telah membasah, dengan pasti tanganku yang sudah terlatih memainkan clit Ira, kupilin-pilin dan kugosok-gosok dengan ujung jariku. Ira meronta liar, dan erangan luapan rasa nikmatnya keluar tanpa sadarnya dengan keras sekali, namun seketika itu juga Ira mencoba menahannya dengan menutupkan bantal di mukanya.

Dari pengalamanku bercinta dengan wanita aku mengetahui bahwa Ira adalah jenis wanita yang suka dengan lepas bebas mengeluarkan rasa nikmatnya sewaktu melakukan hubungan seks.

“Ira, jangan kamu tutupi mukamu dengan bantal, Mas Herman tahu bahwa kamu menyukai hal ini, keluarkan rasa nikmatmu dengan bebas dan lepas”, kataku.
“Ira malu, malu sekali”, jawabnya.
Aku tidak memberikan komentar, malah dengan agresifnya kujilat puting buah dadanya dan aku melihat Ira menahan rasa gairahnya dengan mencengkram keras alas tempat tidur. Kutelusuri ketelanjangannya dengan lidahku, mulai dari bagian buah dada dan berhenti pada pangkal vaginanya. Ira meronta dan berusaha untuk tidak mengeluarkan erangan kenikmatannya dengan cara mengelinjang dan menggoyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Tapi meskipun tidak sekeras yang pertama, pada akhirnya Ira mengerang juga sambil berkata, “Oooh its so nice, Mas Herman.”

Posisi bibirku masih berada di sekitar pangkal vaginanya, kumainkan lidahku menjilati pangkal vagina Ira, menurun mendekati clit, dan akhirnya kujilat dan kuhisap dengan buasnya clit Ira tanpa henti. “Oh Mas Herman, please fuck me”, Ira memohon, tetapi aku tetap saja melanjutkan mempermainkan clit Ira dengan ujung lidahku. Dengan kematanganku mencumbu wanita, meskipun penisku sudah begitu tegang, aku masih tetap berusaha untuk menguasai diriku agar tidak cepat-cepat terangsang untuk dengan segera menyetubuhi Ira. Aku ingin agar Ira benar-benar merasakan bahwa bermain cinta dengan lelaki yang jauh lebih tua dari dirinya ternyata memberikan kenikmatan yang lebih, khususnya kalau dia membandingkan kemahiranku di dalam soal seks dengan suaminya yang umurnya hanya selisih dua tahun saja dengan dirinya.

“Mas Hermann.., cepat masuki saya, saya sudah tidak kuat lagi”, Ira merintih lagi. Pada kali ini aku dengan sigap memasukkan penisku kedalam vaginanya.
“Ohh..”, Ira melepaskan rintihan rasa nikmatnya ketika penisku mulai memasuki vaginanya. Aku mulai menggoyangnya, dan kulihat Ira terus merintih kecil sambil memejamkan matanya merasakan kenikmatan yang kuberikan. Berbagai macam gaya telah kuberikan untuk memuaskan Ira, tetapi Ira belum juga mencapai orgasme, sehingga aku merasakan bahwa Ira mulai merasa keletihan demikian pula diriku, sehingga aku mengajaknya untuk beristirahat sebentar. Pada kesempatan istirahat tersebut aku bertanya,
“Ir, kamu kok sedemikian lama masih juga belum orgasme, apakah Mas Herman tidak memuaskan kamu?” Ira hanya menjawab,
“Mas Her, kamu hebat sekali.”
“Tetapi, pada kenyataannya kamu belum orgasme, please jangan basa-basi Ir.. what’s wrong?” kataku. Sejenak Ira diam saja,
“What’s wrong Ira, please tell me!” pintaku. Akhirnya Ira bercerita padaku,
“Mas Her, Ira juga tidak tahu mengapa bahwa setiap kali Ira making love dengan suamiku, Ira belum pernah sekalipun mencapai orgasme, padahal dia cukup telaten merangsang Ira. Yang Ira sering lakukan hanyalah melakukan pura-pura orgasme untuk memuaskan suami Ira”, tuturnya.
“Apakah suami kamu termasuk laki yang cepat ‘keluar’”, tanyaku.
“Kalau dibandingkan Mas Herman, dia kalah lama, tapi 10-15 menit dia bisa bertahan”, katanya. Kalau melihat begitu “liar”-nya Ira di tempat tidur kurasa waktu fucking 10-15 menit akan cukup membuat Ira orgasme beberapa kali, tapi pada kenyataannya Ira malah belum pernah orgasme sekalipun selama dia making love sama suaminya. Kupikir musti ada yang salah pada dirinya atau dia menyembunyikan sesuatu yang sangat mempengaruhi pikirannya sehingga setiap kali dia making love pikiran itu mengganggunya.
“Ir, don’t be upset ya, Mas Herman mau Ira menjawab dengan jujur pertanyaan Mas ini. Apakah Ira sewaktu married masih dalam keadaan virgin atau tidak?” tanyaku. Sejenak dia hanya terdiam.
“Oke Mas, I will tell you the whole story of mine.. but please keep it for Mas Herman only”, katanya.
“You can trust me Ira, carry on.. I’m listening”, kataku.
“Mas Herman, Ira sewaktu married memang sudah tidak virgin lagi, dan Ira cerita sama calon suami Ira sekitar 3 bulan sebelum married. Dia tetap mau menikahi Ira, karena dia mengatakan bahwa dia mencintai diri Ira secara keseluruhan, bukan hanya virginitas Ira saja. At that time I was so happy.. even dia sudah tahu bahwa Ira bukan virgin lagi tetap selama pacaran dia hanya melakukan seks sebatas peting and necking saja sama Ira, no more than that. Dia berkata bahwa dia belum pernah sekalipun making love dan hanya mau melakukannya dengan Ira kalau kita berdua sudah married. Ira benar-benar merasa tersanjung dan makin mencintai dia. Tapi setelah kita married, seperti yang pernah Ira katakan, setiap kali making love Ira tidak pernah bisa orgasme. Hanya sampai pada tingkat gairah dan rangsangan yang luar biasa saja, setiap kali rasanya mau orgasme ada sesuatu yang menekan dan menggangu pikiran Ira”, tuturnya.
“Ir, Mas Herman sekarang ingin dengar cerita Ira sewaktu kamu kehilangan keperawananmu”, kataku.
“Mas, Ira diperawanin pada waktu Ira berumur 17 tahun kelas 2 SMU, pada waktu itu Ira punya pacar berumur 22 tahun, anak ekonomi di sebuah perguruan tinggi swasta. Kejadiannya sewaktu Ira telah selesai berenang di rumahnya, Ira berganti pakaian di kamarnya dan setelah itu Ira diajak nonton LD cerita porno. Ira suka filmnya dan tanpa terasa Ira sangat terangsang dengan setiap adegan yang Ira lihat di film tersebut. Mas Dodi (nama samaran) my boy friend, kelihatannya sudah agak biasa dengan film-film seperti itu, sehingga dia kerjanya hanya godain Ira sambil ketawa-ketawa.
“Ir, kamu suka ya adegan film itu?”, katanya. Dan Ira hanya senyum saja karena asyik nonton adegan-adegan yang belum pernah sebelumnya Ira lihat. Tiba-tiba dari belakang Mas Dodi memeluk Ira dan langsung mencium Ira, ganas sekali, tetapi Ira tidak menolaknya. Ciuman Mas Dodi luar biasa sekali, lama dia menciumi Ira dan Ira pun membalas ciumannya dengan tidak kalah ganasnya. Mungkin akibat dari adegan film yang Ira lihat sebelumnya. Tangan Mas Dodi mulai melepaskan kancing atas baju Ira dan dengan sedikit kasar dia melepaskan pula BH Ira.

Kali itulah pertama kali Ira telanjang dada di depan Mas Dodi, tapi rasa malu sudah kalah dengan kenikmatan ciuman Mas Dodi di sekitar buah dada Ira, Mas Dodi memilin dan menjilati puting buah dada Ira, lama sekali, dan Ira berteriak tanpa sadar karena merasa nikmat sekali dengan apa yang dilakukan oleh Mas Dodi tersebut. “Ir, kamu boleh teriak sekuat mungkin kalau kamu merasa nikmat, Mas Dodi sangat terangsang dengan erangan dan jeritan kamu”, katanya. Celana jeans Ira, sudah Mas Dodi lepaskan, dan dengan kasar dia lepaskan CD Ira, dan paha Ira dilebarkannya. Makin keras teriakan Ira, Mas Dodi semakin ganas melalap clit Ira. Ira tidak tahan lagi dan Ira berteriak keras ketika mencapai orgasme yang pertama. “Ir.. lihat ini”, ternyata Dodi memperlihatkan penisnya yang sudah begitu tegang, dan Ira disuruh untuk menyentuhnya. Selama pacaran terus terang Ira baru kali itu memegang langsung penis Mas Dodi, biasanya hanya sebatas dari luar celananya saja. “Sekarang kamu jilat seperti di film yang kamu lihat tadi”, pintanya. Ira sempat tertegun, tapi penis Mas Dodi sudah begitu dekat dengan mulut Ira. Hari itu Ira mulai belajar menghisap penis yang ternyata nikmat dan sangat merangsang sekali buat Ira. Pada posisi 69, Ira benar-benar sudah merasa “terbang” begitu nikmat dan nikmat sekali rasanya vagina kalau dijilati. Ira sampai nggak sadar teriak “Oooh Mas Dodi.. jilatan kamu nikmat sekali.”

Mas Dodi mengubah posisi 69-nya, penisnya berada di atas vagina Ira. Ira takut, takut disetubuhi dan takut kehilangan perawan Ira. “Mas Dod, jangan dimasukin ya, ingat Ira masih perawan”, pinta Ira. Mas Dodi menurunkan penisnya dan ujungnya digesek-gesekan ke clit Ira. Ira mengerang keras sekali akibat sentuhan penis Dodi pada clit Ira. “Ternyata kamu suka Ir, jawab dong kamu suka atau tidak, jawab!” kata Mas Dodi. “Mas Dodi tidak dengar jawaban kamu, yang keras jawab! kamu suka atau tidak?” sekali lagi Mas Dodi bertanya dengan nada yang lebih keras. “Ira sukaa sekali Mas Dodi..” teriak Ira keras tanpa sadar. “Bilang dan teriak terus kamu suka”, pintanya. Dan Ira tanpa sadar terus berteriak kenikmatan mengikuti permintaannya, yang pada akhirnya, Ira berteriak sangat keras karena penis Mas Dodi secara tiba-tiba menusuk vagina Ira, jeritan Ira semakin keras, “aachh sakiitt.. Mas”, tapi dengan jeritan itu penis Mas Dodi malah makin dalam saja masuk ke vagina Ira. Penis Mas Dodi masuk semuanya ke vagina Ira, Ira berontak sambil berteriak. Tapi Mas Dodi malah makin terangsang dengan teriakan dan jeritan Ira. Rasa pedih di vagina masih tetap terasa, tapi ritme keluar masuk penis Mas Dodi di vagina Ira secara perlahan mulai menggantikan kepedihan tersebut dengan rasa nikmat yang luar biasa sekali, sehingga tanpa sadar Ira teriak “Mas Dodi keep fucking me.. don’t stop it, I really like it.” Ira terus mengerang dan menjerit merasakan kenikmatan yang diberikan Mas Dodi, yang sampai akhirnya Ira menjerit keras karena orgasme yang luar biasa nikmatnya. Mas Dodi memperlambat gerakannya, lambat tapi tidak berhenti sampai pada akhirnya dia berteriak, “Ir, aku mau keluar, please hisap penisku karena aku tidak mau membuat kamu hamil”, pintanya. Tanpa ragu Ira menghisap habis penis Mas Dodi sampai penisnya mengeluarkan dengan derasnya air mani Mas Dodi. Ira tidak ada pilihan lain selain menelan seluruh air mani Dodi tersebut. Terlihat bercak noda merah sebagai bukti bahwa pada hari itu Ira diperawanin oleh Mas Dodi dan pada hari itu juga Ira menerima pelajaran pertama menghisap penis dan juga menelan air mani. “Ir, kamu nyesel nggak?” Ira hanya bisa berkata, “Mas Dodi sudah ambil perawan Ira, tapi Ira nggak nyesel asal Mas Dodi jangan ninggalin Ira ya”, Mas Dodi memeluk Ira, tanpa kata-kata, tapi Ira tahu arti pelukannya itu.

Setelah Ira selesai menceritakan bagaimana dia di perawanin oleh Mas Dodi, sang kekasih, Ira terdiam sambil memejamkan matanya. Aku sendiri sengaja mendiamkannya untuk beberapa saat. Dari kaca yang terpasang di atas tempat tidur kulihat, dalam keadaan masih telanjang, begitu putih dan indah bentuk tubuh Ira dengan bentuk buah dada yang masih kencang. Tanpa sadar aku membayangkan diriku sendiri sebagai Mas Dodi, dan terbayang di dalam benakku bagaimana seru dan nikmatnya bersenggama seorang gadis perawan yang masih berumur 17 tahun. Lamunan tersebut membuat penisku mulai bangkit kembali dan tanganku tanpa dapat ditahan lagi sudah mendarat di buah dada Ira.

Bersambung ke bagian 02

Story of Ira 2

Filed under: RAMAI-RAMAI

Dari cerita Ira tersebut aku dapat menangkap bahwa pengalaman pertamanya dalam making love dapat membuat Ira mecapai orgasme berganda (multiple orgasmic), meskipun pada awalnya, dan ini wajar bagi seorang gadis perawan, memiliki rasa was-was dan takut di dalam melakukannya.

Dengan keyakinanku itu tanpa sadar secara halus kuremas-remas buah dadanya, dan Ira membuka matanya sambil tersenyum manis sekali dan sangat menggairahkan. Kujilat putingnya, mulai dari yang sebelah kiri sampai yang kanan, dan mulai dari pangkal sampai ke bukitnya. Berulang kali kulakukan itu, sampai terdengar keluhan rasa nikmat keluar dari mulut Ira. Kutelusuri tubuh putih telanjang ini mulai dari leher sampai pada bibir vagina Ira. Ira mulai meronta kembali. Kakinya dia angkat sendiri membentuk huruf ‘V’, sehingga tonjolan clit-nya sangat jelas menantang untuk dihisap. Aku mengerti keinginannya, lidahku mulai menari-nari menggeluti clit Ira. Ira mengerang sambil berkata “Mass.. I like the way you suck my clit.. keep on sucking.”

Kuhentikan permainan lidahku pada clit Ira, karena aku ingin sekali mencium bibirnya yang sangat sensual itu. Lama kita berdua berciuman. Birahi Ira sudah mulai meninggi, terasa dari gigitan-gigitannya pada bibirku.

Dalam benakku sekilas terlintas bahwa ini adalah saatnya untuk memulai mencoba memainkan ulang ‘rekaman’ tersebut.
“Ira.., Mas mau ngentot Ira lagi tapi Ira harus membayangkan bahwa Mas Herman ini adalah Mas Dodi..”, kataku. Ira menggelengkan kepalanya sambil berkata,
“Mas nanti tersinggung dan merasa cemburu kalau Ira membayangkan Mas Dodi.”
“Ini permintaan Mas.. dan Ira harus lepas bebas berteriak seolah-olah Ira sedang diperawanin seperti waktu itu”, kataku. Ira tetap menolak. Dengan tolakannya yang kedua ini maka aku secara ganas meremas dan menciumi buah dadanya sampai Ira mengerang keras, habis kulumat dan kujilati secara agak kasar buah dada Ira.
“Mass Herman, ini seperti yang pernah Mas Dodi lakukan kepada Ira”, teriak Ira tanpa sadar.
“Ira.. jangan panggil Mas dengan nama Herman, teriakan saja nama Mas Dodi”, pintaku. Makin buas aku melumat buah dadanya dan seiring dengan kebuasanku itu teriakan Ira semakin lepas, “Mass.. buas sekali.. tetapi Ira sukaa..” Sengaja remasanku di buah dadanya aku kencangkan, sambil aku berkata kepada Ira, “Panggil aku Mas Dodi.. ayo Ira, panggil aku Mas Dodi!” Akhirnya Ira mulai berani berteriak “Mas Dodi.. Mas Dodi.. aduh Mas Dodi.. nikmat sekali.. Mass..” Diriku makin terangsang dengan teriakan Ira menyebutkan nama Mas Dodi, serasa aku sedang mencoba untuk mengoyak gadis perawan yang masih berumur 17 tahun. Ira sudah tidak sungkan lagi untuk mengerang, menjerit dan meneriakan nama Mas Dodi, dan aku sendiri semakin brutal saja menghisap dan menjilat clit-nya. Pada saat penisku sudah demikian tegang dan rontaan Ira semakin dahsyat, secara keras kutancapkan penisku ke vagina Ira persis seperti cerita Ira kepadaku. “Mas Dodii.. sakit, vagina Ira sakit..” teriaknya. Tapi aku tidak peduli, kugoyang persis seperti cerita Ira kepadaku bagaimana Mas Dodi menyetubuhi dia untuk pertama kalinya. Luar biasa sekali reaksinya, Ira meronta liar, mengerang dan menjerit serta mencakar punggungku sambil tidak berhenti memanggil nama Mas Dodi. Dengan erangan yang keras sambil berteriak, “Mas Dodi.. Ira keluar.. Ira keluar Mass.. Ira ngecrett.. ahh.. Mas Dodi nikmat sekali entotannya.. Ira nggak kuat.. Ira ngecret puas banget”, rontaan dan erangan Ira hanya bertahan 20 menit saja. Kucabut penisku dari vaginanya dan kumasukkan ke dalam mulutnya, Ira mengulum dan menjilati penisku dengan penuh gairah. “Ini penis Mas Dodi, Ira harus hisap penis Mas Dodi dengan cara yang halus sekali ya”, kataku. Ira mengedipkan matanya sambil terus mengulum penisku. “Mas Dodi sekarang pengen di entot Ira”, kataku. Dengan bersemangat Ira menjawab, “Mas Dodi, ini gaya Ira yang Mas paling suka kan”, sambil badannya membelakangiku, dan sebelah kakinya dia angkat, maka penisku masuk ke vaginanya dari samping. Posisi senggama semacam ini memang nikmat sekali, penis masuk dalam sekali dan tangan kananku dengan leluasa dapat memainkan clit Ira. Bagian kuduk Ira kuciumi, tanpa menghentikan tangan kananku memaikan clit-nya yang sekali-kali kupindahkan untuk meremas buah dadanya. Ira kembali “liar” meronta dalam kenikmatan, sambil tidak berhenti mengucapkan kata ‘Mas Dodi’ berulang-kali. “Mas Dodi sekarang kok kuat sekali, dari tadi Mas Dodi belum keluar”, ucapnya. “Mas Dodi baru akan keluar kalau Ira sudah benar-benar puas”, kataku. Ternyata dengan Ira menghadap ke cermin yang ada di tembok justru semakin merangsang dirinya. “Mas Dodi, lihat tuh di kaca, Ira lagi digoyang sama Mas Dodi”, ucapnya. “Ira kan yang minta digoyang”, kataku. Dan Ira menjawab, “Ira sama sekali tidak merasa menyesal diperawanin oleh Mas Dodi, karena sekarang Ira bisa merasakan bahwa bersenggama itu nikmat sekali.” Gerakanku dalam menyetubuhi Ira semakin kupercepat, dan erangan Ira mulai keras kembali tanpa rasa sungkan. Posisi Ira sekarang berada di atas badanku, goyangannya luar biasa sekali. Sambil sekali-kali melihat ke kaca, Ira memainkan sendiri buah dadanya. “Terus Ir.. mainkan payudara kamu.. Mas Dodi senang melihatnya”, ujarku. Ira semakin liar, “Mas Dodi lihat tuh penis Mas Dodi keluar masuk di vagina Ira”, ucap Ira sambil menundukan kepalanya memperhatikan penisku keluar masuk vaginanya.

Dalam gairah birahi yang begitu tinggi semua ‘rekaman’ di-playback tanpa disadarinya, dan aku benar-benar mengikuti setiap adegan yang diinginkan oleh Ira. “Mas Dodi seneng kan lihat clit Ira?”, sambil tangan kirinya menarik bibir vaginanya sehingga tonjolan clit Ira tampak dengan jelasnya. Tangannya yang sebelah kanan mulai memilin dan memainkan clit-nya sendiri, hasilnya, Ira meronta liar dan gerakan senggamanya semakin bertambah cepat.

Ira benar-benar hebat dalam bersenggama, kuat dan sangat bergairah sekali. Wanita semacam Ira ini tidak mungkin dapat dipuaskan oleh laki-laki yang cepat ‘keluar’.
“Ir, kamu nungging, biar Mas Dodi entot kamu dari belakang”, pintaku. Dalam posisi menungging kugoyang vagina Ira secara ganas, dan dia menjerit-jerit kenikmatan, yang akhirnya,
“Mas Dodii.. Ira keluar lagi.. aacchh.. ucchh.. Ira ngecret lagi mass”, gerakan liarnya berhenti sambil merintih merasakan rasa nikmat yang baru saja diperolehnya.
“Mas Herman luar biasa sekali, dan Ira merasa sangat puas dengan entotannya, tapi Ira kasihan sama Mas Herman, karena Ira selalu teriak-teriak nama Mas Dodi”, Ira berkata sambil memeluk diriku.
“Ir, Mas Herman sama sekali tidak merasa cemburu atau tidak enak dengan sikap Ira tersebut, justru Mas merasa puas sekali dapat memuaskan Ira”, jawabku.
“Ira senang dengan cara Mas Herman menyetubuhi Ira, pokoknya Ira mau sering di entot Mas Herman, Ira juga ingin memuaskan Mas Herman dengan cara apa saja asal Mas Herman puas. Sekarang giliran Mas Herman untuk ‘keluar’, Ira masih tahan ‘kok Mas”, ujar Ira. Aku menjawab,
“Kalau Ira senang dengan entotan Mas Herman, Ira harus selalu mau ya kalau Mas Herman mau ngentot Ira”,
“Tentu Mas, Ira janji”, jawabnya.

Aku memang belum keluar, dan dalam soal bersetubuh, hampir semua perempuan yang sudah kutiduri selalu bilang bahwa aku kuat sekali. Memang, meskipun penisku tidak terlalu besar tetapi daya tahanku kalau lagi bersenggama kuat sekali. Tidak ada wanita yang tidak pernah puas kalau main samaku, termasuk istriku sendiri.
“Ir, pegangin dong penis Mas Herman”, pintaku. “Ira isep lagi ya Mas?” pintanya.
Jilatan dan isapan Ira pada penisku memang halus sekali, dia mampu mengisap penisku tanpa menyentuhkan giginya sama sekali di penisku. Luar biasa nikmatnya. penisku sudah tegang kembali, Ira begitu menikmatinya menghisap dan menjilat penisku.
“Mas, penis Mas ini pasti sudah masuk ke banyak vagina kan?” tanyanya.
“Ira harus tahu bahwa Mas bukan laki-laki yang munafik dan Mas tidak suka dengan orang yang munafik. Memang Mas sering ngentot, tapi satu kalipun Mas belum pernah ngentot dengan perempuan yang dasarnya dia mau di-entot karena uang. Mas senang ngentot dengan dasar rasa suka sama suka dan saling membutuhkan, sehingga kedua belah pihak dapat saling memuaskan sehingga terasa benar bahwa ngentot itu adalah sesuatu yang indah dan nikmat untuk dilakukan”, jawabku. Dengan jilatan dan isapan Ira penisku sudah semakin menegang. Kuraba-raba buah pantat Ira dan perlahan-lahan kujilati. Ira menggelinjang kegelian. Buah pantat Ira putih dan montok, kujilati terus disekitar buah pantatnya dan kadang-kadang lidahku menyusup kebelahan pantatnya. Ira mulai bergairah dan mulai merintih perlahan, “Mas geli.. tapi Ira suka..” Semakin berani lidahku menjilati belahan pantatnya, dan Ira semakin meronta merasakan kenikmatan yang diberikan oleh ujung lidahku. “’Ir, kamu nungging biar Mas Herman jilat pantat kamu dengan lebih leluasa”, pintaku. Dengan posisi seperti itu lidahku bermain semakin leluasa di sekitar anusnya.

Ira sambil menghadap ke kaca mencoba untuk menahan rangsangan yang kuberikan, tapi akhirnya dia tidak tahan dan berteriak kecil, “Mas.. nikmat sekali, Ira baru merasakannya sekarang, dulu Mas Dodi tidak pernah menjilati pantat dan sekitar anus Ira.” Kujilat jariku agar cukup basah, dan secara perlahan-lahan kumasukkan ke anus Ira. Ira mengerang “Mass.. pedih.. pelan-pelan, Mas.. tapi jangan dicabut.” Kumainkan jariku di permukaan anusnya dengan halus sekali dan secara perlahan-lahan kutekan terus jari telunjukku ke dalam anus Ira. “Enak Mas.. tapi masih pedih.. acchh.. rasanya Ira seperti diperawanin lagi.. ucchh.. enaakk”, Ira mengerang nikmat tanpa henti. “Ir, sekarang Mas Herman perawanin anus Ira ya?” pintaku. Ira hanya mengangguk ragu, tapi aku tidak menunggu jawabannya lebih lanjut. Kubasahi penisku dengan air ludahku, dan secara perlahan kucoba memasukkannya ke anus Ira. Baru ujung penisku saja Ira sudah menjerit kesakitan, “Mas saakkiitt banget.. do it slowly, please..”, aku hanya berkata, ” Ira, coba kamu isep dulu penis Mas Herman, biar licin”, pintaku. Kucoba secara perlahan-lahan memasukkan penisku lagi, Ira mengerang, tapi aku tambah bergairah sekali, kutekan lebih dalam lagi dan Ira terus mengerang, semakin Ira mengerang semakin dalam penisku masuk di anusnya. “Ir, penis Mas sudah hampir setengah masuk ke anus Ira, gimana kamu nikmat?” kataku. Ira tidak menjawab, tapi di luar dugaanku justru dia sendiri yang menekankan pantatnya ke penisku sehingga sambil Ira menjerit keras penisku masuk semuanya ke dalam anus Ira. “Mas giillaa ternyata rasanya nikmat setelah penis Mas masuk semuanya”, teriaknya. Aku tancap penisku dianusnya untuk beberapa saat, karena kalau langsung digerak-gerakan pasti Ira masih akan merasa kepedihan. Diluar dugaanku, tiba-tiba Ira mulai menggoyang-goyangkan pantatnya sambil berteriak-teriak, “Mas Herman enakk banget.. aduhh pedih.. aduhh nikmat.. acchh nikmat.” Ira menjadi liar sekali setelah jariku juga masuk di vagina-nya. “Achh rasanya kaya di-entot dua penis sekaligus.. Mas.. Ira baru kali ini merasakan ngentot seperti ini”, Ira tidak berhentinya mengerang dan berteriak merasakan kenikmatan yang kuberikan. Karena gerakan Ira semakin ‘liar’ maka akupun mulai berani memainkan anus Ira, setiap aku menggerakkan penisku Ira menjerit, “Mas saakitt, ennaakk, pedihh.” Aku tidak tahan lagi, dan dengan sekali gerakan kutancapkan dalam-dalam penisku di anus Ira, Ira menjerit keras sambil berteriak “Ira ngecret lagi Mas.. ampun.. enakk banget.. Ira puas banget.. uhh enaakk sekali”, bersamaan dengan teriakan Ira tersebut air mani ku keluar menyembur membasahi bagian dalam anus Ira. Lelah.. tetapi nikmat sekali.

Berdua merebahkan diri sambil saling menatap kaca yang terpasang di atas langit-langit kamar. Ira menggengam tanganku erat sekali. ” Mas Herman terima kasih, Mas begitu baik mau membantu Ira sehingga Ira sekarang menemukan laki-laki yang mengerti kemauan Ira kalau lagi disetubuhi. Sehingga dalam satu hari Ira bisa orgasme sampai tiga kali. Mas Herman benar-benar luar biasa”, ujarnya. “Tapi bagaimana mungkin Ira bisa sebebas dan seliar tadi kalau ngentot sama suami Ira?” tanyanya. “Ira, masalah Ira ini sebenarnya dapat dipecahkan dengan membuka jalur komunikasi dengan suami kamu khususnya mengenai masalah seks kalian berdua, yang dapat kamu mulai lakukan setiap kali kalian selesai making love, karena kalau Ira atau suami Ira tidak memiliki kemampuan atau keberanian untuk memulainya maka masalah kamu ini bisa menjadi kendala keharmonisan hubungan kalian”, kataku. “Memang Mas tahu bahwa tidak banyak pasangan suami istri yang mengetahui bagaimana cara meminta apa yang kita inginkan, memberi kritikan dengan bungkus kasih sayang, mendengarkan pasangan dengan penuh pengertian atau memberi dengan tanpa syarat”, lanjutku. “Kalau Ira memahami apa yang Mas maksud, dan selama ini suami Ira tidak pernah memperlihatkan adanya tanda-tanda bahwa dia mengerti apa sebenarnya yang diinginkan Ira selama making love, maka Ira harus berani untuk membuka jalur komunikasi ini dengan cara seperti yang Mas katakan tadi di atas. Ungkapkan secara bertahap, dan lakukan komunikasi tersebut dengan bungkus kasih sayang. Tentu hasilnya tidak akan tiba-tiba, tetapi setelah jalur komunikasi itu terbuka, Mas yakin, bahwa masalah keberhasilannya hanya soal waktu saja”, lanjutku.

Tampaknya Ira mengerti apa yang kumaksudkan. “Tapi seperti kata Mas sendiri untuk menuju keberhasilannya kan akan memakan waktu, nah selama suami Ira belum dapat membuat Ira orgasme, terus Ira gimana?” tanyanya. “Don’t worry honey, I’ll always ready to make you satisfy.. anytime you need it”, selorohku dijawabnya dengan diciumnya bibirku dengan mesra sekali.

Pada satu waktu Ira bertanya kepadaku, “Mas mungkin Ira dalam soal seks nggak normal ya?” Aku bukannya menjawab pertanyaan Ira tersebut, malah aku balik bertanya kepada Ira, “Ir, kamu tahu nggak batasan yang disebut tidak normal di dalam soal hubungan seks?” Ira menjawab “nggak tahu.” Aku menjelaskan pada Ira bahwa segala cara, gaya dan frekuensi di dalam melakukan hubungan seks akan selalu disebut normal apabila dilakukan dengan persetujuan kedua belah pihak, dengan tujuan untuk saling memuaskan pasangannya. Kalau pasangan kita melakukan cara-cara yang tidak kita sukai tetapi dia terus memaksakan keinginannya untuk mencapai kepuasannya sendiri, maka pasangan kita tersebut dapat dikatakan memiliki penyimpangan seksual (sexual deviation atau abnormal).

Pada akhir-akhir ini, setiap kali aku bersenggama Ira, jari-jari tanganku, khususnya jari telunjuk, sering dijilatinya dan di masukkan ke dalam mulutnya untuk dijilati dan dihisapnya. Semakin liar gerakanku dalam menyetubuhi Ira, semakin bernafsu Ira menjilati dan menghisap jari telunjukku. “Ir, kamu sekarang ini selama ngentot sering sekali menghisap jari telunjuk Mas, dan kelihatannya Ira makin sangat terangsang kalau selama ngentot Ira dapat menghisap jari telunjuk Mas. Pasti kamu sangat menikmatinya kan?” tanyaku. Ira menjawab, “Ira makin terangsang kalau Ira dapat menghisap jari telunjuk Mas karena jari-jari Mas sekali-kali menyentuh langit-langit mulut Ira, rasanya geli dan sangat merangsang sekali.” Dari jawabannya tersebut aku mulai menduga-duga jangan-jangan pikiran Ira selama senggama pada akhir-akhir ini telah diisi dengan fantasi seksualnya yang baru. Aku memiliki keyakinan bahwa jari telujukku itu pasti dibayangkan oleh Ira sebagai penis kedua yang dapat dinikmatinya bersama-sama dengan penisku. Keyakinan itu timbul dari expresi Ira selama menghisap jari telunjukku. Ira begitu menikmatinya.

“Ir, kalau Ira mau bagaimana kalau kita coba untuk melakukan “threesome” dengan menambah satu orang laki-laki lagi dalam acara ngentot kita”, tanyaku. Ira tersentak kaget dengan tawaranku, dan sejenak dia hanya terdiam saja. Aku mencoba untuk menjelaskan pada Ira bahwa tawaran ini tentunya hanya sebuah tawaran yang dapat ia tolak, kalau memang Ira tidak menginginkannya. Tapi sewaktu aku menyinggung kepada kebiasaannya pada akhir-akhir ini Ira senang menjilati dan menghisap jari telunjukku selama senggama, Ira menimpalinya dengan mengatakan “Mas memang benar, karena pada akhir-akhir ini Ira sering berfantasi bagaimana rasanya tubuh Ira ini dijamah dan dicumbu oleh dua orang laki-laki dan Ira dapat bermain dengan dua penis sekaligus dalam satu tempat tidur. Meskipun Ira takut untuk mencobanya, tapi keinginan untuk mencoba hal itu selalu muncul setiap Ira main, baik itu dengan Mas maupun dengan suami Ira, tapi Ira masih ragu-ragu dan takut.”

Aku mencoba lagi untuk meyakinkan Ira, “Memiliki perasaan ragu-ragu dan takut untuk mencoba sesuatu yang baru adalah sangat wajar sekali, tetapi yang paling penting disini adalah keputusan dari Ira sendiri, apakah Ira mau mencobanya atau tidak?” ungkapku. “Ira mau Mas, tapi takut makin bertambah orang yang tahu bahwa Ira sebagai seorang istri ternyata tidak setia pada suaminya sendiri, dimana sekarang ini kan hanya Mas yang tahu”, ujarnya. “Yang penting adalah keputusan Ira bahwa Ira mau mencobanya, soal Ira takut bertambahnya orang yang mengetahui selingkuhnya Ira akan menjadi tanggung jawab Mas. Mas sendiri kan harus dapat menjaga kerahasiahan diri Mas sendiri, jadi Ira tidak usah khawatir”, kataku.

Bagiku sendiri melakukan “threesome” sudah sering kulakukan bersama-sama dengan sahabatku yang bernama Iwan, masih bujangan meskipun sudah berumur 32 tahun. Iwan ini adalah “lady killer” yang berpostur tinggi, tegap serta ganteng dan penisnya untuk ukuran orang Indonesia termasuk gede. Selain postur tubuhnya kelebihan lain dari Iwan ini adalah supel dan mudah akrab dengan orang-orang yang baru dikenalnya serta dapat dipercaya. Aku hubungi dia, dan dia setuju dan menunggu untuk dihubungi olehku kembali.

Bersambung ke bagian 03

Story of Ira 3

Filed under: RAMAI-RAMAI

Pada hari yang telah direncanakan aku menghubungi Ira dan mengatakan pada Ira bahwa hari ini aku akan memperkenalkan temanku kepadanya. “Mas, sungguh-sungguh dengan rencana ‘threesome’ itu?” tanya Ira. Aku menjawab “Itu soal nanti yang penting kita bertiga ketemu dulu dan tentunya Ira sendiri yang harus memutuskan apakah akan dilanjutkan dengan acara ‘threesome ’ atau tidak.” “Oke, Mas, jemput Ira di tempat biasa jam 11 ya”, pinta Ira.

Jam 10.30 aku bersama Iwan meluncur untuk menjemput Ira. Sesampainya ditujuan, begitu Iwan melihat Ira, Iwan berkomentar “Gila tu binor (bini orang) keren banget, mengapa baru sekarang Man gue dikenalin.” Aku kenalkan Iwan pada Ira, dan kita bertiga, Ira duduk di depan di sampingku, meluncur ke arah utara kota Jakarta. Selama diperjalanan Iwan secara aktif membuka pembicaraan dengan Ira untuk membuat suasana lebih akrab lagi antara dia dengan Ira. Tujuanku adalah sebuah motel di daerah Pluit yang bernama PT, di motel ini selain kamarnya bagus juga makanannya nikmat-nikmat.

Makan siang dilakukan di dalam kamar, dan selesai makan siang dilanjutkan dengan nonton laser disc sambil ngobrol-ngobrol. Pada waktu Ira selesai dari kamar mandi, dekat pintu kamar mandi aku sempat bertanya kembali kepada Ira apakah Ira mau lanjut dengan acara ‘threesome’ atau Ira merasa tidak cocok dengan Iwan. Ira menjawab “Iwan ganteng Mas, dan untuk acara..”, Ira diam, dan hanya tersenyum penuh arti kepadaku. Aku dapat menangkap isyaratnya. Ira mau untuk mencoba ‘threesome’ tetapi malu untuk mengatakannya.

Kembali ke kamar tidur, Ira duduk di sofa di samping Iwan, dan aku duduk di sebelah kanan Ira. Posisi duduk di sofa itu menjadi Ira duduk di tengah di apit oleh aku di sebelah kanan dan Iwan di sebelah kirinya. Film yang diputar melalui laser disc cukup seru, sebuah film drama percintaan dengan diselingi adegan-adegan ranjang yang halus tetapi cukup merangsang. Obrolan di antara kita bertiga semakin hidup, dan kelihatan kekakuan Ira dengan kehadiran Iwan sebagai kenalan barunya sudah mulai hilang.

Aku berpikir bahwa kini sudah saatnya untuk aku memulai berinisiatif “menyerang” Ira. Tanganku mulai mengelus paha putih Ira, Ira melirik kepadaku dan tersenyum cantik sekali. Elusan-elusan tanganku di atas paha putih Ira terus kulakukan yang dengan sekali-kali sengaja tanganku menyusup lebih tinggi lagi mendekati pangkal paha Ira. Hal itu kulakukan dengan mataku tetap menatap layar TV, dan sekali-kali aku mencuri pandang melihat kepada Iwan. Sampai tahap ini Iwan masih belum bereaksi, pandangannya tetap mengikuti film yang tertayang di TV.

Rok mini Ira semakin tersingkap, dan tanganku dengan leluasanya merambah dan mengelus naik turun sampai kesekitar pangkal pahanya, Ira mulai sering menggelinjang menahan rangsangan akibat dari apa yang kulakukan ini. Kesempatan ini kupergunakan untuk terus lebih merangsang Ira dengan mulai menyusupkan tangan kananku ke dalam blues Ira, pangkal payudaranya mulai kusentuh dan Ira mendesis sambil tetap berusaha mempertahankan posisi dirinya agar tidak semakin doyong bersandar ke tubuh Iwan. Tanganku masih belum begitu leluasa untuk meremas dan memainkan payudara Ira karena masih terhalang oleh BH yang dipergunakannya. Maka kembali tangan kananku kuturunkan untuk kembali mengelus paha Ira dan kali ini tanganku mulai menyelinap ke balik CD-nya. Ira tersentak menahan rangsangan ketika tanganku menyentuh clit-nya, dan tanpa sadar kepala Ira jatuh di dada Iwan. Dengan sigap tangan kiri Iwan menyangga kepala Ira dan tangan kanannya mulai meraba payudara Ira. Ira mulai merintih lirih menahan nikmat. Dengan tangan kanannya Iwan mulai melepaskan kancing baju atas Ira satu persatu. Sedangkan aku sendiri makin ganas memilin clit Ira dengan tanganku. Erangan Ira semakin keras, ketika tangan Iwan berhasil menyusup kebalik BH Ira dan mulai meremas payudara Ira dengan remasan-remasannya yang mampu membuat Ira sangat terangsang. Goyangan kepala Ira semakin liar, dan dengan tangan kirinya Iwan mengangkat muka Ira ke atas sehingga posisi bibir Ira sangat dekat dengan mulut Iwan. Tanpa menunggu lagi, Iwan melumat bibir Ira dengan bernafsunya dan Ira pun membalasnya dengan tidak kalah buasnya.

Kuangkat kedua kaki Ira ke atas pahaku, kemudian kaki kanannya kusandarkan di sandaran sofa. Dengan posisi seperti ini tanganku semakin bebas memainkan clit Ira yang sudah mulai basah. Aku melihat ke Iwan, ternyata tangan kanannya masih terus meremas-remas payudara Ira, dan bibirnya sibuk mengulum bibir Ira. Begitu Iwan melepaskan lumatannya, Ira berteriak, “Pindah ke tempat tidur.. Ira ingin lebih bebas menikmati kalian berdua.” Iwan dan aku bersama-sama mengangkat Ira ke tempat tidur. Kulepaskan rok mini Ira berikut CD-nya sedangkan Iwan melucuti baju dan BH-nya. Ira sekarang telah telanjang bulat dan badan yang putih serta montok itu seakan menantang untuk dijarah olehku dan Iwan.

Kulebarkan kaki Ira, sehingga tampak jelas menonjol clit Ira yang merah kecoklatan. Kuturunkan kepalaku untuk mulai melumat dan menghisap clit Ira. “Oh.. oh.. Mas, Ira suka banget isepan Mas pada clit Ira”, Ira mengerang menahan rasa gairah yang kuberikan. Iwan mulai turut dalam permainan ini, dia menekukan lututnya di antara kepala Ira sehingga posisi penisnya jatuh tepat di atas mulut Ira. Disodorkan penisnya mendekati mulut Ira dan kulihat Ira sempat melihat ke wajah Iwan sambil tersenyum dan langsung mulai menjilati penis Iwan. Tangan Iwan dengan leluasanya meremas dan memilin payudara Ira. Sedangkan aku sendiri terus melumat clit Ira.

Sekarang tangan kananku yang memilin clit Ira, sedangkan dua jari tangan kiriku kumasukkan ke dalam vaginanya. Ira mengelinjang dan menggerak-gerakan pantatnya naik-turun seolah-olah dia sedang bersetubuh. Aku bertanya kepada Ira “Apakah kamu suka dengan cara kita berdua ini?” Ira hanya mampu menjawab dengan cara menganggukkan kepalanya, karena mulutnya masih berusaha untuk dapat menghisap penis Iwan sampai pada pangkalnya. Penis Iwan memang besar, kelihatan Ira kesulitan untuk menghisap penis tersebut sampai kepangkalnya. Kulihat akhirnya Ira melepaskan hisapan atas penis Iwan dan berkata, “Wan, penis kamu luar biasa gedenya, Ira susah ngisepnya.” Aku menimpalinya dengan berkata, “Tapi kamu suka kan sama penis Iwan?” Ira teriak “Suka banget, Mas.” Aku berkata pada Iwan “Wan, sekarang kamu gituin Ira dulu supaya dia bisa ngerasain gedenya penis kamu.”

Tanpa menunggu lebih lama lagi Iwan langsung menempelkan penisnya di bibir vagina Ira dan mulai menggesek-gesekannya. Ira merintih menahan nikmat dan aku sendiri sangat terangsang melihat adegan itu. Penisku berdiri keras sekali tetapi sementara ini aku tetap ingin menjadi penonton dulu. Penis Iwan agak kesulitan untuk menembus vagina Ira. Baru ujung penisnya masuk Ira sudah menjerit, “Wan.. gila.. sakit.. rasanya kayak lagi waktu Ira dulu diperawanin.” Aku memancing fantasi Ira dengan mengatakan “Itu bukan Iwan tetapi Dodi.” Pancinganku berhasil, Ira mendesis sambil merintih “Mas Dodi, Ira mau diperawanin ya?” Iwan adalah partnerku yang baik dan sudah terbiasa dengan situasi semacam ini dan dia menjawab “Ira sayang Mas Dodi kan? biarkan penis Mas Dodi masuk ke vagina Ira.” Iwan menekan penisnya agar dapat masuk lebih dalam lagi. Ira bereaksi dengan berteriak “Ach.. achh.. sakit Mas.. pelan-pelan.” Aku melihat dengan jelas bagaimana sulitnya vagina Ira untuk menerima penis Iwan, dan adegan ini membuatku semakin terangsang, tetapi aku mencoba untuk menahan diri untuk tidak segera berpartisipasi agar tidak kehilangan adegan yang merangsang ini.

Ira mengerang “Acchh.. pedih.. Mas Dodi.. please fuck me slowly.. I like your cock.. so big.. acchh.. slowly darling”, separuh dari penis Iwan berhasil masuk ke vagina Ira, dan Ira sendiri berontak liar menahan rasa pedih dan nikmat yang dirasakannya. Aku justru mendorong Iwan agar lebih menancapkan penisnya di vagina Ira dengan berkata “Ayo Dod, fuck her, Ira minta dientot sama penis kamu”, dan aku pun bertanya sama Ira, “benar kan Ir, kamu senang kan dientot Dodi, jawab dong.. kalau tidak nanti Dodi cabut lagi penisnya dari vagina Ira”, Ira berteriak, “Yess.. Ira pengen banget penisnya Mas Dodi.” Mendengar teriakan Ira tersebut, Iwan langsung menekan penisnya lebih dalam lagi ke vagina Ira, dan Ira menjerit “Adduuhh.. so big.. painfull but nice.. fuck me deeply Mas Dodi.” Ira meronta-ronta kenikmatan mendapatkan penis yang jauh lebih besar dari punyaku. Jeritan-jeritan Ira semakin keras, dan badannya meronta liar tak terkendali ketika Iwan membalikkan badan Ira pada posisi doggy style. Iwan sendiri kelihatan begitu bernafsu menggoyang Ira dari belakang, dia tidak mengurangi sama sekali genjotan penisnya ke dalam vagina Ira meskipun Ira terus merintih antara sakit dan nikmat.

Aku sudah tidak tahan lagi melihat adegan semacam itu, segera aku berdiri di depan kepala Ira dengan posisi kaki yang kurentangkan sehingga kepala Ira berada di selangkanganku. Aku sodorkan penisku ke mulut Ira untuk dijilati dan dihisapnya. Ira sudah di luar kendali, “Mas Dodi.. ini penis siapa laag..”, belum selesai Ira berkata, penisku sudah masuk di mulut Ira dan Ira dengan bernafsunya menjilati dan menghisap penisku. Hentakan penis Iwan dari belakang membuat Ira lebih tidak terkendali lagi di dalam menghisap penisku sehingga rasa nikmat yang aku rasakan sulit untuk diungkapkan. Ira melepaskan hisapannya atas penisku, dan mengerang serta berteriak keras sekali “Mas Dodi, Ira coming.. Ira nggak tahan lagi, adduhh ohh.. so nice”, badannya sejenak bergetar liar dan kemudian merosot rebah seperti tidak berdaya menahan rasa nikmat yang baru saja diperolehnya.

Iwan menarik penisnya dari vagina Ira secara perlahan-lahan diiringi dengan lirihan Ira “Aaduuhh.. nikmat sekali..” Untuk beberapa saat kita bertiga tidak ada yang bersuara. Keheningan terpecahkan ketika Ira berkata, “Sorry ya Wan, tadi Ira teriak manggil-manggil nama Mas Dodi, habis waktu penis Mas Iwan mau masuk ke vagina Ira, rasa sakit dan pedihnya sama banget sewaktu Ira diperawanin oleh Mas Dodi, jadi Ira inget dia.” “Yang penting buat Mas Iwan, Ira puas dan justru sewaktu Ira mulai menyebut-nyebut nama Mas Dodi, Mas Iwan semakin terangsang karena ngebayangin diri Mas Iwan sebagai Dodi yang lagi merawanin Ira”, jawab Iwan. Ira melirik ke Iwan dan sambil loncat ke kamar mandi Ira berkata, “Giliran kalian berdua ya untuk coming, be back soon.”

Keluar dari kamar mandi, Ira berdiri menghadap ke kaca rias sambil menyisir rambutnya. Aku harus mengakuinya bahwa postur tubuh Ira memang indah, putih dengan bentuk buah dada yang tegak menantang. Dalam posisi Ira masih berdiri menghadap kaca, aku sudah berdiri memeluknya dari belakang, secara perlahan kutelusuri tengkuknya dengan bibirku. Ira menggelinjang geli. Ciuman-ciuman kecil terus kulakukan di sekitar tengkuknya sambil tanganku dengan halusnya mulai mengelus buah dadanya. Tampak di kaca Ira berusaha untuk tidak memejamkan matanya, Ira berusaha untuk dapat melihat buah dadanya dielus dan diremas oleh kedua tanganku. Ira kelihatannya menikmati sekali adegan ini.
“Wan, lets joint with us”, ajakku. Iwan beranjak dari tempat tidur dan langsung berjongkok di antara kaki Ira menghadap ke clit Ira. Iwan mulai memainkan lidahnya menjilati sekitar bibir vagina Ira, dan Ira tetap bertahan untuk terus menatap ke kaca. Tangan Ira memegang rambut Iwan, dan kepala Iwan digoyang-goyangkannya seolah-olah Ira menuntun lidah Iwan agar jilatannya jatuh di tempat yang diinginkannya. Nafas Ira memburu, desahan rasa nikmat yang dialaminya mulai terdengar “Ohh.. acchh shh.. adduhh..” Tanganku masih terus meremas dan memilin puting payudara Ira. “Ir, lihat di kaca, lihat.. clit kamu lagi dihisap dan dijilati Iwan, dan payudara kamu sedang Mas remas-remas, lihat..”, bisikku. Ira menatap kaca dan merintih lirih “Keep on doing, Ira suka baangeet, nikmat..” Kubasahi dengan ludah jari telunjukku, dan secara perlahan-lahan kutusukan ke dalam anus Ira. Ira meronta, dan sambil tetap memegangi rambut Iwan untuk supaya tetap menjilati clit-nya, Ira mulai menggoyangkan pantatnya dengan maksud agar jariku dapat masuk lebih dalam lagi di anusnya.

Ira sudah lepas kendali, berteriak dan meronta menuntut yang lebih dari yang sedang dirasakannya saat ini. Kubasahi sekitar anus Ira dengan ludahku demikian pula penisku. Perlahan tapi pasti, penisku kutekan ke anusnya, Ira menjerit ketika penisku berhasil masuk ke anusnya. Dengan posisi berdiri, Iwan mulai berusaha untuk memasukkan penisnya ke vagina Ira. Tekanan-tekanan penis Iwan yang berusaha untuk masuk ke vagina Ira, secara tidak langsung menekan lebih dalam lagi penisku terbenam di vagina Ira, rasanya luar biasa nikmat. Penis Iwan berhasil masuk ke vagina Ira dan gerakan Ira semakin tidak terkendali karena setiap tekanan yang kulakukan membuat penis Iwan masuk semakin dalam, demikian sebaliknya kalau Iwan yang melakukan tekanan. Rintihan, teriakan dan gerakan Ira luar biasa sekali, Ira benar-benar menikmatinya.

Ira merintih, “Ohh, I’m coming again.. shhehh, aadduuhh, aacchh..” melihat Ira meronta-ronta aku tidak tahan lagi, kutekan dengan dalam penisku di anus Ira, diam tanpa gerakan untuk dapat merasakan sepenuhnya jepitan anus Ira di penisku akibat kontraksinya lubang anus Ira. “Ooohh.. Ira.. Mas mau keluar.. auucchh.. shhiitt.. I’m coming.. Ira”, teriakku sambil meremas kencang payudara Ira. Kudekap Ira dengan kedua lenganku, sedangkan Iwan dengan ritme yang pelan tetap masih menggoyang Ira, Ira sudah tidak mampu lagi untuk membuka matanya, bibirnya terkatup menahan rasa nikmat. Perlahan-lahan kucabut penisku dari anus Ira dan membiarkan Iwan sambil berdiri meneruskan menggoyang Ira

Kududuk di sofa memperhatikan mereka berdua bermain. Iwan mengangkat Ira ke tempat tidur, dengan posisi kaki Ira terjuntai ke lantai, Iwan berusaha untuk memasukkan penisnya lagi ke vagina Ira. Penis Iwan yang begitu gede berhasil masuk separuhnya ke vagina Ira, dan Ira pasrah menerimanya ketika Iwan menekankan penisnya sampai masuk seluruhnya. “Adduhh..”, hanya itu yang dapat diucapkan Ira. Gerakan Iwan dalam menyetubuhi Ira tetap stabil, perlahan, tetapi setiap menekan Iwan selalu menekan penisnya sampai masuk semuanya. Reaksi dari menyetubuhi Iwan ternyata luar biasa sekali, setiap Iwan menekankan penisnya Ira pasti merintih “Mas Iwann.. ampun.. ampun Mas.. Ira puas bangett-bangeett”, tanpa sadar penisku berdiri lagi tetapi aku merasa kasihan kepada Ira kalau harus menangani penisku lagi. Aku mendekat kepada Ira dan dengan halus kuusap dan kuremas-remas buah dadanya. Remasan-remasan yang kulakukan membuat Ira semakin merintih, dan rintihan Ira yang semakin keras tersebut merangsang Iwan untuk lebih mempercepat goyangannya. “Mas Iwan.. Ira ampun.. Ira mau keluar lagi.. aacchh.. Ira keluar.. oocchh”, teriak Ira, dan bersamaan dengan teriakan Ira tersebut kulihat Iwan memperlambat goyangannya dan menanamkan seluruh penisnya dalam-dalam ke vagina Ira sambil berteriak “Irr, Mas.. mau keluar.. acchh adduhh”, badan Iwan meregang tegang menahan nikmat dan beberapa saat kemudian merebahkan badannya memeluk Ira sambil mencium bibir Ira dengan mesranya.

Ira tidak bersuara, demikian pula Iwan dan aku, kita masing-masing jalan dengan pikiran dan lamunannya sendiri-sendiri. Jam 19.00 kita bertiga meninggalkan motel PT, di tengah jalan Ira berkata, “Mas Iwan burungnya kok bisa gede begitu sih, rasanya sampai sekarang masih mengganjal saja di vagina Ira.” Iwan hanya tertawa dan sambil berseloroh menjawab, “Kamu salah Ir, yang gede bukan penis Mas Iwan tapi vagina kamu yang terlalu sempit”, kita bertiga tertawa lepas dan sepakat untuk melakukannya lagi, next time.

TAMAT

Sukabumi Ohhh Sukabumi

Filed under: RAMAI-RAMAI

Waktu itu tahun 1988 saat saya baru saja menjadi mahasiswa semester satu sebuah perguruan tinggi komputer terkenal di Depok (di sebelah sebuah universitas negeri beken). Seluruh mahasiswa baru ketika itu diwajibkan ikut kegiatan Jambore dan Bakti Sosial (Jambaksos) yang diadakan di sebuah areal perkemahan di daerah Sukabumi, Jawa Barat.

Pada hari yang ditentukan, siang hari kami semua bersiap-siap di kampus tercinta, kemudian segera diberangkatkan dengan menggunakan beberapa truk bak terbuka. Setelah menempuh perjalanan lebih kurang tiga sampai empat jam, diakibatkan ada salah satu truk yang salah jalan sehingga semua truk lain harus diam menunggu sejenak di suatu tempat, akhirnya kami tiba di tempat tujuan kami. Hari sudah mulai gelap. Kulihat sekeliling kami. Uh, seram juga. Suasana sunyi dan gelap, maklum di daerah pegunungan yang tidak terlalu banyak penduduknya. Yang terdengar hanya suara mesin diesel truk yang cukup berisik. Akhirnya dengan konvoi truk satu persatu, kamu menuju tempat terbuka sebagai tempat parkir truk-truk yang kami tumpangi tersebut. Sudah sampai?, Belum! Kami masih harus berjalan kaki lagi beberapa jauh melalui jalan setapak untuk mencapai tempat di mana kami akan mendirikan tenda-tenda kami.

Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam saat kami memasuki areal perkemahan. Wah! Ternyata areal perkemahan sudah diterangi oleh beberapa lampu sorot yang cukup besar kekuatannya, yang sudah disiapkan oleh tim panitia yang telah mendahului kami ke sana satu hari sebelumnya. Mereka juga telah mendirikan dua buah MCK darurat. Satu khusus cewek dan satu khusus cowok. Dengan tubuh sedikit letih akibat perjalanan yang cukup jauh, kami pun mendirikan tenda masing-masing dengan bimbingan beberapa orang panitia. Satu tenda diisi oleh satu grup yang terdiri dari empat sampai lima orang. Cewek dan cowok pisah tenda. Katanya sih, takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan! Saya memang sial, grup saya semuanya terdiri dari anak-anak yang belum saya kenal. Saya memang orangnya pemalu dan agak penakut, sehingga kurang cepat dalam bergaul. Setelah makan malam dan sedikit waktu istirahat, diadakan briefing mengenai jadwal kegiatan Jambaksos di hari-hari berikutnya. Briefing inilah satu-satunya acara yang diadakan pada hari pertama itu.

Tengah mengikuti briefing, tiba-tiba saya merasa ingin pipis. Saya ragu-ragu untuk turun ke MCK yang didirikan di tepi sungai yang mengalir dekat perkemahan kami. Saya yang memang dasar penakut, urung ke MCK tersebut. Habis jalan ke sana cukup jauh lagipula gelap sekali. Sementara untuk meminta dampingan salah seorang panitia malu rasanya. Akhirnya saya putuskan pergi ke balik semak yang sekelilingnya sepi dan agak tersembunyi serta agak jauh dari kerumunan orang-orang yang sedang mengikuti briefing.

Ah.., Lega rasanya setelah saya mengeluarkan seluruh isi kandung kemih saya. Mungkin kalau ditampung di botol, setengah liter ada. Saya memang menahan pipis dari waktu masih di daerah Bogor saat perjalanan menuju kemari. Apalagi ditunjang oleh dinginnya udara pegunungan di sini sampai ke sumsum tulang.

“Hi hi hi hi.., Hei, ngapain kamu di situ?!” Tampak dua orang panitia datang ke arah saya sambil cengengesan. Saya mengenal mereka, yang satu namanya Alfa (bukan nama sebenarnya), yang rambutnya sepundaknya sedikit kecoklatan, sedangkan yang rambutnya hitam pekat dipotong pendek adalah Pratiwi (juga bukan nama sebenarnya). Kedua-duanya tinggi tubuhnya hampir sama. Sama-sama cantik dan sama-sama sensual. Payudara merekapun termasuk berukuran besar dan membulat, dengan milik Pratiwi sedikit lebih besar ketimbang milik Alfa. Ini kelihatan dari balik kaus oblong cukup ketat yang mereka kenakan. Mereka berdua adalah anggota seksi P3K.
“Saya.., saya lagi buang air, Kak”, jawab saya dengan takut-takut. Tapi Alfa dan Pratiwi malah mendekati dan melompat turun ke tempat persembunyian saya yang letaknya sedikit di bawah areal perkemahan itu.
“Kenapa kamu pipis di sini, hah?, Bukannya kita sudah punya MCK sendiri di sana?”, tanya Alfa.
“Habis, saya takut, Kak.” Saya masukkan penis saya dan saya naikkan kait retsleting celana saya. Alfa dan Pratiwi tertawa melihat perbuatan saya.
“Eit! Ini garasi jangan ditutup dulu”, kata Pratiwi sambil meremas selangkangan saya. Ouch! Kemudian tangannya membuka kembali retsleting yang sempat saya tutup.
“Wow! Fa, lihat, doi nggak pake celana dalam!”, Saya memang jarang mengenakan celana dalam bila pergi ke mana-mana.
“Mana, Wi? Gue mau lihat”, sahut Alfa mendekati selangkangan saya. Pratiwi memberi tempat kepada Alfa. Alfa memasukkan tangan kanannya ke dalam celah ritsluiting saya. Dia mengelus-ngelus senjata saya dengan tangannya yang hangat, membuat saya mulai menggelinjang menahan nikmat.
“Wi, doi belum disunat! Kamu pernah main sama penis yang belum disunat?”, Alfa mengeluarkan penis saya dari dalam sangkarnya. Pratiwi hanya mengangkat bahunya saja.
“Eh, Oom Senang. Ini hukuman kamu karena sudah buang air sembarangan! Sekarang kamu diam aja yah!”, kata Alfa sedikit melotot.

Alfa mendekatkan penis saya ke mulutnya. Beberapa detik kemudian mulutnya telah asyik melumat penis saya. Ah, penis saya itu semakin mengeras. Ini menambah keasyikan tersendiri bagi Alfa yang terus mengulum penis saya yang meskipun tidak terlalu panjang namun berdiameter cukup besar. Mata saya hampir mencelat keluar sewaktu Alfa menjilat-jilati ujung penis saya yang tegang menjulang. Gelitikkan lidahnya yang nikmat mulai membangkitkan gairah birahi saya yang selama ini terpendam.

“Fa! Bagi dong gue! Jangan kamu habisin sendiri!”, Pratiwi tidak mau kalah. Ia mengarahkan tangannya ke belakang pinggang saya, lalu dipelorotkannya celana panjang saya ke bawah sehingga menampakkan penis saya yang tampak sudah siap tempur. Dinginnya udara malam yang menusuk kulit paha saya yang telanjang tidak terasa, terhapus oleh kenikmatan yang sedang saya alami di selangkangan saya. Kemudian Pratiwi mendekatkan bibirnya yang ranum dengan sapuan lipstik tipis ke penis saya. Lalu dengan lahapnya mereka berdua menguasai penis saya dengan kuluman dan jilatan lidah mereka yang bertubi-tubi, membuat tubuh saya seperti tersentak-sentak merasakan kenikmatan yang aduhai ini.

“aah.., Kak.., saya sudah mau keluar..”, kata saya mendesah-desah. Tapi Alfa dan Pratiwi tidak mempedulikannya. Mereka masih asyik menjelajahi seluruh permukaan selangkangan saya dengan mulut dan lidah mereka yang seperti ular. Akhirnya dengan dua-tiga kali kedutan, saya memuntahkan seluruh cairan kental isi penis saya ke wajah Alfa.
“Ma.. Maaf, Kak. Saya nggak sengaja.” Alfa bukannya marah melainkan malah tersenyum senang. Dijilatinya air mani saya yang ada di wajahnya.
Mengetahui bahwa dirinya tidak kebagian cairan nikmat saya, Pratiwi menjulur-julurkan lidahnya ke arah wajah Alfa. Ia ikut menjilat-jilati wajah Alfa seperti meminta bagian. Alfa tampaknya mengalah. Tiba-tiba bibirnya yang merah merekah mencium bibir Pratiwi. Dan Pratiwi pun membalasnya. Sementara tangannya mulai meremas-remas dua tonjolan bulat yang ada di dada Alfa.
“Ah.. Wi.. Terusin.. Ah..” Persetujuan Alfa ini membuat Pratiwi melanjutkan kegiatannya. Ia melepaskan kaus oblong yang dikenakan Alfa. Kemudian tangan kirinya diselipkan ke balik BH Alfa yang berwarna putih. Diremas-remasnya payudara mulus Alfa yang bulat membusung. Sesudah itu tangannya beralih ke punggung Alfa. Dibukanya pengikat BH Alfa. Dan tak terhalangi lagi payudara Alfa yang indah seperti buah mangga harumanis yang ranum, dengan puting susunya yang tinggi menjulang menggemaskan dikeliling oleh lingkaran kemerahan yang cukup lebar. Tanpa mau melepaskan kesempatan emas ini, mulut Pratiwi langsung melumat puting susu Alfa yang mulai menegang. Dengan lidahnya yang menjulur-julur seperti ular, dijilatinya ujung puting susu yang menggairahkan itu. Sekali-sekali disedotnya puting susu itu, membuat mata Alfa mendelik kenikmatan.
Melihat perbuatan kedua senior saya itu, tak saya sadari, penis saya yang tadi sudah loyo bangkit kembali dan semakin mengeras.

Sekonyong-konyong Alfa melepaskan diri dari jamahan Pratiwi. Ia memandangi temannya dengan wajah seperti memohon. Pratiwi pun memahami apa maksud Alfa. Ia menanggalkan semua pakaian yang dikenakannya, lalu merebahkan tubuh bugilnya yang mulus di rumput dengan beralaskan pakaian yang telah dilepasnya tadi. Mulut Alfa langsung menyergap payudara Pratiwi yang berukuran besar laksana buah pepaya bangkok tapi tampak kenyal dan kencang. Lidahnya menjelajahi setiap inci bagian payudara temannya yang memang indah dan membusung itu, termasuk celah-celah yang membelah kedua bukit kembar dengan ujungnya yang mencuat tinggi itu. Dengan mahir Alfa menggesek-gesekkan ujung lidahnya yang basah ke ujung puting susu Pratiwi yang tinggi dan keras, membuat Pratiwi menggerinjal keras sementara mulutnya mendesis-desis bak ular yang siap menerkam mangsanya. Sementara tangan kirinya menelusuri selangkangan Pratiwi. Ia mempermainkan clitoris memerah yang ada di bibir vagina Pratiwi. Diusap-usapnya daging kecil pembawa nikmat itu dengan halusnya dengan jari tengahnya. Diimbangi dengan gerakan naik-turun pantat Pratiwi yang bahenol itu. Kemudian dengan sekali gerakan, Alfa menyodokkan jari telunjuk, jari tengah, dan jari manisnya sekaligus ke dalam vagina Pratiwi, membuat tubuh temannya ini terhentak keras ke atas. Pratiwi tampak memejamkan matanya merasakan kenikmatan yang tidak bisa ditandingi oleh apapun di dunia ini ketika Alfa memainkan ketiga jarinya itu masuk-keluar vagina Pratiwi, makin lama makin cepat.

Menyaksikan pemandangan yang indah ini, insting kelaki-lakian saya mendorong saya menghampiri kedua cewek yang tengah dilanda nafsu birahi itu. Dengan sedikit rasa takut dan ragu-ragu, saya pegang pinggang Alfa. Setelah menyadari tidak adanya penolakan, membuat rasa keberanian saya timbul, ditambah oleh rasa aneh di selangkangan saya yang sudah minta untuk dilampiaskan. Saya membuka retsleting celana panjang Alfa kemudian saya turunkan celana panjang itu berikut celana dalam yang dipakainya sampai sebatas mata kaki. Seketika itu juga tercium aroma khas nan segar dari selangkangan Alfa yang terpampang bebas. Tanpa menunda-nunda lagi, saya segera menghunjamkan penis saya ke dalam vagina Alfa dengan keras dari belakang, membuat cewek itu menjerit kecil, “Ouuhh..”

“Ah.., terusin.., lebih kencang.., lebih dalam..,. Ouhh..”, Desah-desahan penuh kenikmatan dari Alfa membuat saya tambah bernafsu. Saya semakin mempertinggi intensitas masuk-keluarnya gerakan penis saya di dalam vagina Alfa, mengakibatkan tubuh molek gadis itu berguncang-guncang dengan keras. Kedua payudaranya yang menggantung molek di dadanya dan ikut bergoyang-goyang mengimbangi guncangan tubuhnya sedang dilumat oleh Pratiwi. Puting susunya yang menjulang itu tengah diisap-isap oleh temannya, semakin membuat Alfa mendesah-desah hebat. Sementara di bagian bawah, saya masih mempermainkan penis saya terus-menerus di dalam vaginanya, membuat Alfa kehilangan keseimbangan. Tubuhnya yang putih dan mulus jatuh menindih tubuh Pratiwi yang ada di bawahnya. Namun ini tidak menghentikan permainan kita.
“uuh.., Kak.., Saya sudah mau keluar.., Mau.., di dalam.., atau.., di luar..?”, Saya merasakan sudah tidak mampu lagi menahan gejolak yang ada di burun saya.
“hh.., Di dalam aja.., Ouhh..”, jawab Alfa sambil terus menggerinjal.

Akhirnya permainan kita usai sudah, diakhiri dengan ditembakkannya lagi cairan-cairan kental berwarna putih dari penis saya ke dalam vagina Alfa. Saya dengan penis masih berada di dalam vagina Alfa terkulai lemas di samping tubuh cewek itu yang dengan lemas masih menindih tubuh Pratiwi yang kelihatannya kurang puas.
“Kamu masih punya hutang lho sama gue”, kata Pratiwi mengingatkan saya. Saya tidak menjawab, hanya mengangguk saja.

Lima menit lamanya kami terdiam. Setelah itu kami bangkit dan membereskan pakaian kami kembali, bersamaan dengan selesainya acara briefing malam itu. Dengan mengendap-endap setelah menengok ke sekeliling terlebih dahulu kami bertiga keluar dari tempat persembunyian kami, kemudian dengan perasaan sepertinya tidak pernah terjadi apa-apa, kami kembali ke tenda kami masing-masing untuk bergabung dengan teman-teman lainnya.
“Eh, kamu tadi ngapain bertiga sama Kak Tiwi dan Kak Alfa?”, tanya salah seorang teman saya satu tenda. Saya hanya tersenyum penuh arti.

TAMAT

Indahnya Belajar di liar Negri

Filed under: Vidio Movie, RAMAI-RAMAI

Saat ini, umurku 21 tahun dan aku kuliah di luar negeri, tepatnya di Sydney, aku ambil gelar sarjana di sana. Aku sudah lebih dari 5 tahun di sana sampai saatnya terjadinya cerita ini. Namaku Thomas (nama samaran) dan aku punya teman perempuan yang namanya Rachel (bukan nama asli), dia adalah perempuan yang sering belajar bersama-sama denganku setiap kali aku ada masalah sama pelajaran di kuliah. Suatu malam dia datang ke rumahku, Rachel ini bukan orang Indonesia, dia ini campuran Hongkong dan Jepang, makanya lumayan cakap dan seksi. Tapi aku nggak ada pikiran macam-macam karena aku sadar ujian tengah semester tinggal seminggu lagi. Makanya aku cuekin aja dia, walaupun saat itu sedang belajar, dia lagi pakai baju tembus pandang, sehingga aku bisa lihat dadanya yang lumayan menggiurkan. Saat aku belajar itulah, muncul teman Rachel, namanya Michelle (bukan nama asli juga), dia ini satu kota denganku, aku ini dari Bandung, dia juga satu sekolah samaku cuma aku dulu nggak pernah kenal.

Ok, aku teruskan yach. Saat dia datang itulah insiden ini terjadi, dia membawa Video CD Hongkong yang berbau seks dan mengganggu konsentrasiku belajar, karena aku belum pernah tahu yang namanya seks, makanya aku nonton saja karena nggak ada ruginya. Tetapi, setelah 15 menit menonton, tiba-tiba aku merasakan tangan si Rachel sudah mulai masuk ke celanaku, maklumlah saat itu aku pakai celana pendek ke rumah dia, aku merasakan sesuatu yang aku belum pernah kurasakan sebelumnya. Saat itulah, penisku berdiri dan aku sudah nggak bisa tahan nafsu lagi, makanya saat itu juga kuajak dia masuk ke dalam ruang kamarnya karena saat itu aku belajar di rumahnya dan langsung kukunci dan aku cueki Michelle yang sedang asyik nonton di depan. Di dalam kamar, aku ciuman sama dia lama sekali dan sambil ciuman itu, aku buka semua bajunya termasuk CD-nya dan ternyata aku kaget sekali karena saat aku pegang vaginanya, ternyata sudah basah sekali. Dengan posisiku di bawah dan dia di atas, aku mulai memasukkan penisku ke vaginanya yang merah dan “Bless..”, penisku masuk semua. oohh.. pertama kalinya aku menikmati saat-saat indah itu, ternyata Rachel sudah pengalaman, setelah aku tanya, ternyata dia pernah melakukan hubungan dengan bekas pacarnya di Hongkong. Rachel menaikkan tubuhnya dan menciumi payudaranya yang lumayan besar (sekitar 32-an gitu) dan mulai menjambak rambutku yang pendek. Saat itu aku baru menikmati vagina seorang wanita, setelah 5 menit kemudian, aku mulai ganti posisi, aku mulai menjilati vaginanya dan clitorisnya sampai memerah dan kuhisap cairan yang sudah keluar, tiba tiba dia berteriak saat kuhisap vaginanya keras-keras.

“Thomass.. I lovve itt, babbyy”, dia menjerit dan aku tahu kalau dia lagi klimaks karena vaginanya sedang kujilat dan saat itulah saat pertama aku rasakan cairan wanita yang asam-asam pahit tapi nikmat. Setelah dia klimaks, dia bilang dia capai tapi aku nggak peduli karena aku belum selesai dan aku bilang dalam bahasa Mandarin ke dia kalau aku belum puas, saat itulah permainan dilanjutkan. Dia mulai melakukan gaya anjing dan aku mulai memasukkan penisku ke pantatnya yang besar dan menggiurkan dan aku tarik dorong selama beberapa lama. Beberapa lama kemudian, aku bosan dengan gaya itu, dan kusuruh dia untuk berada di bawahku dan aku mulai memasukkan penisku ke dalam vaginanya yang ternyata sudah basah lagi. Itulah saat-saat kenapa aku sampai sekarang jadi senang sama perempuan Hongkong karena mereka selalu nggak pernah bisa puas sama seperti aku. Saat aku berada di atas Rachel, kujilati payudaranya yang memerah dan dia menjerit perlahan dan mendesah-desah di telingaku dan membuatku tambah bernafsu dan tanpa pikir panjang-panjang lagi, aku mulai menekannya dengan nafsu dan tentunya penisku sudah masuk ke dalam vaginanya yang sangat nikmat itu. “Ooohh nikmat sekali rasanya”, dia juga menjerit “Ssshh”, seperti ular yang sedang mendekati mangsanya.

10 menit kemudian, dia memelukku kuat-kuat dan aku bingung tapi aku juga mengalami perasaan yang aneh karena sepertinya ada yang mau keluar dari kemaluanku, “Thomass.. aku mauu keluaarr” (aku terjemahkan kata-katanya ke dalam bahasa Indonesia karena saat itu dia bicara bahasa Mandarin ke aku) dan aku juga menjawabnya dengan bahasa yang sama “Rachell.. kayaknya guee jugaa maauu..” nggak sampai 2 atau 3 menit, badanku dan Rachel sama-sama bergetar hebat dan aku merasakan ada yang keluar dari penisku ke dalam vaginanya dan aku juga merasa ada yang membasahi penisku dengan amat sangat. Setelah itu, Rachel terdiam karena kelelahan dan aku mulai mencium-ciumi bibirnya yang kecil dan mukanya yang sedikit mirip dengan artis Hongkong Charlie Yeung. Aku mulai membelai-belai rambut panjangnya dan karena dia terlalu kelelahan dia tertidur pulas. Karena aku nggak mau mengganggu dia, aku keluar dari kamarnya dan kulihat di ruang TV, Michelle sedang mengusap-usap clitorisnya sambil menonton Video CD tadi dan aku hampiri dia dan dia jadi kaget, “Ngapain loe..” dia berbicara kepadaku. “Si Rachel loe apain tuch.. teriakannya sampai kemari.” Terus aku berkata ke dia, “Michelle.. kemari dech aku mau bilang sesuatu ke dia!” dia mengikutiku ke sudut ruangan dan dia bersandar di dekat tembok karena dia mau tahu aku mau ngapain.

“Ada apa si Thom?” tanpa banyak omong, aku mulai mendekati vaginanya yang saat itu memang dia nggak pakai CD, cuma celana pendek saja dan aku bilang ke dia, “Loe nggak pakai CD?” Terus dia bilang, “Lagi kucuci semua makanya aku nggak pakai.” Ada-ada saja pikirku tapi ini merupakan suatu kesempatan. Setelah dia berbicara, aku mengelus sekitar vaginanya dengan penuh kelembutan, terang saja dia mendesah hebat “Thomm.. oohh.. kamu benar-benar hebatt.. asal loe tahu aja sebenarnya aku suka sama loe sejak dulu.. cuma loe lengket sama Rachel aja, makanya aku nggak berani dekat dekat.. oohh.” Saat inilah kumulai membuka celanaku dan dia mulai memegang penisku dan mengkocok-kocok dengan hebatnya dan membuat penisku bangun lagi dari tidurnya dan tanpa pikir panjang, di tempat itu juga, aku tabrak vaginanya dengan penisku yang sudah tegang dan kugoyang-goyang vaginanya dengan perlahan-lahan. Dia memang menjerit pertamanya karena menahan rasa sakit dan saat kulihat ke bawah, lantai penuh dengan darah perawannya dan dia langsung ngomong sama aku, “Sebagai rasa cintaku sama kamu, aku persembahkan keperawananku buat kamu.. kamu bisa lihat ke lantai sebagai bukti.” Aku nggak berbicara apa-apa cuma bilang “I love you” saja sebelum kucium mulutnya. Setelah beberapa lama, rupanya dia nggak merasa sakit lagi dan berubah menjadi rasa nikmat “Ahh.. oohh..” kami berteriak bersahut-sahutan karena sedang sama-sama merasakan kenikmatan ini.

5 menit kemudian aku mulai menghisap vaginanya dan clitorisnya sampai dia benar-benar mau klimaks dan setelah dia bilang dia mau klimaks, aku merubah posisi dan kusuruh dia tiduran di lantai dan setelah dia tidur di lantai, kumasukan penisku ke dalam vaginanya dan bless.. dia sekarang nggak merasa sakit rupanya. Setelah beberapa lama, aku sepertinya mau keluar dan karena aku nggak bisa tahan kenikmatan ini makanya aku langsung saja, croott.. crott.. sampai beberapa kali dan setelah aku selesai Michelle gantian memelukku dengan eratnya dan dia berteriak “Mass.. guee keelurr oohh”, dia bergetar hebat dan setelah itu dia mencium bibirku dan melumat habis bibirku dan setelah dia kecapaian dia juga ketiduran. Itulah ceritku pengalaman pertama di Sydney yang membawa malapetaka. Karena setelah peristiwa itu, Rachel dan Michelle hamil karenaku. Orang tuaku sedih sekali sampai nggak mau mengakui aku sebagai anaknya tapi aku juga nggak punya pilihan lain, karena aku juga didesak oleh Michelle dan Rachel untuk bertanggung jawab. Walaupun aku malu dan terpaksa putus sekolah, aku akhirnya menikah dengan Rachel dan Michelle di sebuah gereja di Sydney dan kami bertiga pindah ke kota kecil di dekat Sydney dan aku nggak bisa kasih tahu nama kota itu. Sekarang aku sudah punya 1 anak perempuan dari Rachel yang cantik dan juga anak perempuan dari Michelle yang lumayan cantik juga. Itulah cerita tragediku yang lumayan hitam. Bye.. maafkan aku semuanya.

TAMAT

Bali Bagus 1

Filed under: RAMAI-RAMAI

Di bulan Juli 2004, Saya dan Rudi berangkat ke Bali untuk menghadiri seminar investasi yang diadakan oleh sebuah perusahaan sekuritas ternama di Indonesia. Seminar diadakan di sebuah hotel megah di Nusa Dua. Seminar ini tak hanya mengundang peserta dalam negeri tetapi juga peserta dari luar negeri. Rudi adalah teman baik saya dari SMA, dan kebetulan sekarang kita bekerja di satu perusahaan. Bersama Rudi, dari SMA kita telah banyak mengeksplorasi tentang wanita dan seks. Rudi is the master in seducing women. Nama saya Arthur dan ini kisahku.

Selasa

Saya dan Rudi telah check in di hotel tempat seminar diadakan. Kami diberi satu kamar untuk berdua. Waktu menunjukkan pukul 13 siang, kami memutuskan untuk menyewa mobil dan pergi jalan-jalan ke Kuta. Saya banyak menghabiskan waktu untuk foto-foto obyek yang menarik, sedangkan Rudi lebih senang keluar masuk toko mencari souvenir.

Rabu

Jam 8 pagi seminar telah dimulai. Pesertanya cukup banyak, saya taksir ada sekitar 80 orang. Untuk hari ini akan ada 4 session. Saya melihat makalah seminar cukup banyak dan menarik. Sambil mendengarkan seminar, tak lupa saya mencari-cari yang cantik. Mata saya tertuju pada seorang wanita Chinese yang cantik berambut panjang yang duduk 1 meter dari saya. Rambutnya di beri high light warna merah tua. Ia mengenakan blazer dan rok selutut berwarna biru tua. Sekali-sekali ia menguap lalu minum kopi. Selesai session pertama, ada istirahat 15 menit. Saya memakai kesempatan ini untuk kenalan dengan wanita itu.

“Bagus ya topiknya tadi” kata saya membuka pembicaraan.
“Iya, menarik kok. Pembicaranya juga bagus cara membawakannya”
“Nama saya Arthur” kata saya sambil memberikan kartu namaku
“Oh iya, saya Dewi” katanya sambil mengeluarkan kartu namanya.

Rupanya Dewi bekerja di perusahaan sekuritas saingan perusahaan tempat saya bekerja

“Kamu sendiri saja ke seminar ini?” tanya saya.
“Iya, tadinya teman saya mau datang tapi last minute ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda”

Tak lama Rudi menghampiri saya diikuti oleh 1 pria dan 1 wanita. Dua-duanya Chinese.

“Arthur, kenalin nih teman saya dari Singapore. Dulu saya kuliah bareng dengannya” kata Rudi sambil menunjuk ke pria itu.
“Halo, saya Arthur”
“Saya Henry” kata si pria.
“Saya Carol” kata si wanita.

Kami lalu saling berkenalan dan bertukar kartu bisnis. Henry dan Carol bekerja di perusahaan sekuritas di Singapore. Carol manis sekali. Tingginya sekitar 165 cm dan dadanya yang membusung terlihat jelas dibalik kemeja tanpa lengan yang ia kenakan. Rambutnya yang pendek membuat penampilannya bertambah menarik. Sedangkan Dewi, tingginya sekitar 170 cm. Tatapan mata Dewi agak-agak nakal sehingga saya sempat berpikir ia akan mudah saya ajak tidur.

Session kedua pun kembali dimulai dan berakhir jam 12 siang. Saya, Rudi, Henry, Carol dan Dewi makan siang bersama di coffee shop hotel. Kami memakai kesempatan ini juga untuk berkenalan dengan peserta lainnya. Lumayan untuk memperluas net work. Session ketiga dan keempat berjalan dengan menarik dan banyak menambah ilmu. Seminar hari ini berakhir jam 5 sore.

“Arthur, kamu kan orang Indonesia, kemana kamu bisa membawa kami makan enak? Saya sudah bosan dengan makanan hotel” tanya Henry.
“Kita ke Jimbaran saja atau ke Legian, disana banyak restaurant” sahut saya. Kita berlima pun berangkat ke Jimbaran untuk makan malam.

Kamis

Seminar pun kembali dimulai jam 8 pagi. Topiknya yang menarik membuat waktu berjalan dengan cepat. Tak terasa seharian penuh telah terlewatkan di ruang seminar. Selesai seminar, saya menawarkan untuk ke Kuta untuk melihat matahari terbenam, teman-teman pun setuju. Hari ini Dewi terlihat cukup seksi, ia mengenakan rok mini ketat berwarna biru muda dan kemeja tanpa lengan berwarna putih. Di Kuta ia menyempatkan untuk beli sandal karena dari hotel ia mengenakan sepatu hak. Carol pun terlihat tambah manis. Ia mengenakan celana panjang ketat warna coklat muda dan kemeja tanpa lengan warna putih. Carol ikut membeli sandal di Kuta karena ia lupa membawa sandal dari Singapore. Selesai melihat matahari terbenam, kita bersantai di Hard Rock Café lalu makan malam ke Warung Made.

Jum’at

Hari terakhir seminar banyak diisi oleh tanya jawab dari peserta. Seminar berakhir jam 4 sore karena panitia memberi kesempatan bagi peserta rapat untuk menikmati sunset di Kuta. Sebuah bis telah disiapkan untuk membawa peserta kesana. Kami berlima ikut ke Kuta tetapi lebih memilih naik mobil sendiri daripada naik bis. Selesai melihat sunset, kami berlima menyelusuri toko-toko di sepanjang Kuta. Carol, Henry, Dewi dan Rudi sibuk berbelanja. Dewi rupanya belum pernah ke Bali sehingga ia senang sekali jalan-jalan ke Kuta. Jika sedang jalan ramai-ramai, Carol terlihat kecil mungil karena saya dan Rudi tingginya 185 cm, Henry sekitar 180 cm dan Dewi sekitar 170 cm.

Bali semakin malam, kami memutuskan untuk makan malam di daerah Legian. Restaurant Maccaroni menjadi pilihan kami. Beberapa peserta seminar ikut bergabung makan bersama kami. Tak henti-hentinya kami bercanda dan tertawa-tawa. We had a good time. Selesai makan, kami berlima melanjutkan ke M-Bar-Go yang terletak satu jalan dengan Maccaroni. Peserta rapat yang bergabung dengan kami lebih memilih untuk kembali jalan-jalan di sepanjang Legian.

Musik berdentum-dentum dimainkan oleh DJ. Suasana cukup ramai tetapi tidak terlalu padat. Enak lah pokoknya untuk bersantai. Kami memesan minuman beralkohol dan melanjutkan obrolan sambil menonton film yang diputar di jumbo screen. Jam 23:00, saya terpaksa harus mengajak teman-teman pulang karena si Rudi kelihatannya sudah mabuk berat, Dewi dan Carol mukanya merah dan mereka tertawa-tawa melihat Rudi yang mabuk.

Saya memang sengaja tidak minum terlalu banyak karena tidak ada niat mabuk malam itu. Setelah membayar minuman, saya membopong Rudi keluar, Carol bersandar pada Dewi dan Henri mengikuti dari belakang. Untung mobil diparkir tidak jauh dari club. Di mobil, Rudi tak henti-hentinya nyanyi dan tertawa. Dewi, Carol dan Henri ikut tertawa melihat kelakukan Rudi.

Setiba di hotel, saya menghentikan mobil depan lobby dan menyerahkan mobil ke petugas valet parking. Kembali saya bopong Rudi. Carol berjalan sambil setengah memeluk Henri sambil mengeluh kepalanya yang sakit. Dewi kelihatannya biasa saja padahal saya tau ia juga mabuk. Kami berlima naik lift dan saya menarik nafas lega karena tidak ada anggota peserta di lobby hotel. Lift berhenti di lantai 3, Henri dan Carol keluar karena kamar mereka di lantai 3. Saat pintu lift tertutup, Dewi berseru sambil membuka-buka tasnya

“Shit, kunci kartu gue mana ya?”
“Wah jangan-jangan tadi jatuh waktu tas kamu ditaro di kursi di club” kata saya.
“Argh, harus minta dibukain nih sama resepsionis” ujar Dewi.
“Telepon dari kamar saya saja” saya menawarkan.

Pintu lift terbuka di lantai 4, kembali saya membopong Rudi yang sudah tak sadarkan diri, Dewi membantu saya membuka pintu kamar. Begitu masuk kamar, saya langsung menjatuhkan Rudi di tempat tidur. Dewi membuka pintu balkon dan melihat keluar

“Wah enak sekali kalian dapat kamar menghadap laut”
“Lumayanlah, kecil-kecilan” kata saya sekenanya.

Saya berdiri di belakang Dewi lalu memegang kedua bahunya sedangkan Dewi tetap melihat kearah laut.

“Enak ya mendengar suara ombak” kata Dewi.

Dewi lalu merapatkan punggungnya ke dada saya dan saya merangkul Dewi dari belakang. Dengan perlahan, saya mencium kepala Dewi lalu turun ke kuping kiri. Dewi mendongakkan kepalanya sehingga saya bisa bebas mencium lehernya yang putih. Kemudian Dewi menoleh ke saya lalu mencium bibirku.

“Ummhh Arthur, you are so sexy” kata Dewi.

Sambil tetap merangkul Dewi, tangan saya menggapai ke pinggir pintu balkon dan mematikan lampu balkon supaya tidak ada yang memperhatikan kami. Tangan saya mulai menjelajahi seluruh pantat Dewi yang padat kemudian meraba-raba dadanya yang sekal. Tak henti-hentinya Dewi melenguh. Tangan Dewi pun ikut meremas kontolku dari balik celana. Lalu saya menarik Dewi kembali ke kamar dan mendorongnya ke tempat tidur. Kembali kita berciuman ditempat tidur.

Tangan Dewi dengan cepat membuka kemeja dan celana panjangku sedangkan saya langsung membuka baju, BH, rok mini dan celana dalamnya. Tubuh Dewi yang putih dan telanjang bulat membuat nafsuku membara. Dengan gemas saya meremas payudaranya yang berukuran 32B sambil menghisap putingnya. Nafas Dewi memburu dengan cepat apalagi saat saya mulai beralih ke vaginanya. Dewi bagaikan kuda liar saat klitorisnya saya jilat. Tak henti-hentinya saya menjilat seluruh vagina dan selangkangannya. Saya membalikkan tubuh Dewi untuk bergaya 69.

Di pantat kiri Dewi ada tattoo kupu-kupu kecil berwarna pink, saya tersenyum melihatnya. Dalam posisi 69, dengan rakus Dewi menggenggam kontolku dan mulai menghisapnya. Saya pun membalas dengan menjilat anus dan vaginanya. Goyangan pantat Dewi terasa semakin keras saat dijilat vaginanya sehingga harus saya tahan pantatnya dengan kedua tangan saya. Tiba-tiba Dewi melepaskan genggaman tangannya dari kontol saya dan melenguh dengan keras, rupanya ia mengalami orgasme. Vaginanya yang sudah basah menjadi tambah basah dari cairan orgasmenya.

Kemudian Dewi nungging dan bersandar dipinggir tempat tidur Rudi. Saya mengikuti kemauannya, saya merenggangkan kakinya dan mengarahkan kontolku ke vaginanya. Dengan penuh gairah saya setubuhi Dewi yang seksi. Dewi rupanya tidak diam saja saat disetubuhi. Tangannya menggapai ke celana Rudi dan membuka risletingnya kemudian menurunkan celana Rudi. Dewi mengeluarkan kontol Rudi dari balik celana dalamnya lalu mulai meremas kontol Rudi.

Saya memperhatikan Dewi yang mulai mengulum kontol Rudi yang masih lemas sedangkan Rudi tertidur tanpa menyadari ada wanita cantik yang sedang menghisap kontolnya. Tak henti-hentinya payudara Dewi saya remas dan pencet putingnya. Tak berapa lama kemudian, Dewi kembali mengalami orgasme. Saya mengganti gaya ke gaya missionary. Kaki Dewi saya rentangkan dan kembali kontolku mengisi vaginanya yang sudah becek. Suara clipak-clipuk terdengar dengan keras tiap kali kontol saya keluar masuk vagina Dewi.

Tujuh menit menggenjot Dewi, saya merasakan akan ejakulasi. Saya percepat gerakanku dan tak lama kontolku memuntahkan peju didalam vagina Dewi. Dengan terengah-engah saya mengeluarkan kontolku lalu menindih Dewi dan mencium bibirnya. Kami berciuman beberapa menit dan saya baru menyadari ternyata Rudi sudah berdiri disamping kami

“Wah, ter.. ternya.. ta.. ka.. kalian sudah mm.. mulai duluan” kata Rudi dengan tergagap dan sedikit sempoyongan.
“Tenang Rudi, kamu dapat giliran kok” kata Dewi sambil tertawa lalu menghampiri Rudi.

Sambil berlutut di tempat tidur, Dewi meremas kontol Rudi yang perlahan mulai berdiri. Rudi memejamkan matanya menikmati Dewi yang mulai menghisap kontolnya. Setelah puas menghisap kontol, Dewi berdiri ditempat tidur kemudian mencium Rudi. Dengan kasar Rudi menggendong Dewi sambil menciumnya. Kemudian Dewi dibaringkan ditempat tidur dalam posisi doggy style dan Rudi langsung menyetubuhi Dewi. Kelihatannya pengaruh alkohol membuat Rudi menjadi sedikit kasar. Sambil menggenjot vagina Dewi, tak henti-hentinya Rudi menampar pantat Dewi sambil berkata

“Satisfy me, bitch, suck my dick”

Sekali-sekali rambutnya yang panjang dijambak sehingga kepala Dewi sampai menoleh kebelakang lalu Rudi mencium bibirnya. Dewi kelihatannya justru semakin liar mendapat perlakukan kasar dari Rudi. Saya kemudian berlutut didepan Dewi lalu menyodorkan kontolku. Dewi menyambut kontolku lalu mulai mengulumnya. Setiap kali Rudi menyodokkan kontolnya dalam vagina Dewi dengan keras, kontol saya otomatis ikut tersodok ke mulut Dewi. Tapi beberapa kali kuluman Dewi terlepas karena Rudi suka menarik rambutnya. Tapi karena Dewi tidak protes, maka saya biarkan saja.

Ke Bagian 2

MENEMBUS bATAs 1

Filed under: RAMAI-RAMAI

Pengantar: Bagi pembaca yang telah mengikuti ceritaku, lupakan synopsis ini dan langsung ke cerita, tapi bagi yang baru “menemukan” cerita ini diharap mengikutinya sejak awal seri Lily Panther atau paling tidak membaca seri pertama supaya mengetahui latar belakang cerita ini.

Serial ini menceritakan pengalamanku sejak awal mula menjadi seorang pekerja sex (baca:”Selintas Kisah seorang Call Girl”) hingga menjadi seorang call girl yang freelance, termasuk petualangan dengan berbagai macam dan tipe orang, bermacam permainan dan bermacam macam lainnya.


Sudah lama aku mengenal tamuku yang bernama sebut saja Dibyo, seorang chinese yang bekerja sebagai pemasaran di Maspion, dia merupakan salah satu tamu langgananku yang pada mulanya adalah teman biasa di bisnis jual beli mobil bekas, pekerjaan “sampingan” sekaligus kamuflase. Dia mengetahui profesiku yang lain secara kebetulan tak kala diajak teman temannya untuk “hunting”, dan ternyata salah satu gadis yang dibooking adalah aku, melalui seorang GM, jadi aku tidak menyangka sama sekali kalau “kepergok” seperti ini, begitu juga diapun tak menyangka bertemu aku dalam posisi seperti ini. Tentu saja kami berdua terkejut tapi sama-sama tak mungkin mengelak.

Aku kenal istri dan keluarganya, termasuk adik-adiknya karena kami memang sangat dekat. Sungguh suatu keadaan yang sama sekali lain dan tidak disangka sebelumnya, aku merasa begitu rikuh dan kulihat dia juga mengalami hal yang sama. Ingin rasanya aku lari keluar kembali ke mobilku, tapi tentu saja si GM akan kecewa dan mencoretku dari daftarnya, padahal GM itu banyak memberi orderan dan aku tak ingin hal itu terjadi. Harapan satu satunya adalah aku tidak melayaninya.

Dia ditemani kedua temannya begitu juga aku dengan 2 gadis lain yang dikirim oleh GM yang sama. Saat kami dikenalkan satu persatu, tertangkap sorot mata aneh menatapku tajam, aku tak bisa menerjamahkan sorot mata itu, dengan tersipu malu dan wajah bersemu merah aku memalingkan tatapanku dari sorotnya, tak sanggup melawannya.

Tanpa memberi kesempatan teman temannya, dia langsung memilih aku, membuatku semakin bertambah rikuh, rasanya tak mungkin melakukan dengan orang yang selama ini kukenal sebagai seorang teman dalam batas pertemanan, tak tega rasanya menghianati Wenny, istrinya yang kuanggap sebagai seorang teman.

Berenam kami menuju ke Stasium di Tunjungan Plaza, sepanjang jalan aku dan Dibyo terdiam tanpa bicara, sejuta kecamuk dalam pikiran kami masing masing, tak tahu harus mulai dari mana. Sungguh berbeda dengan kedua temannya yang banyak canda dan tawa dengan kedua gadisnya.

Aku tahu bahwa aku harus bertindak profesional, tapi dalam bisnis ini, emosi dan perasaan tetap memegang peranan yang besar, itu manusiawi.

Keadaan sedikit tertolong karena dia harus nyetir BMW-nya sehingga kekakuan kami tidak terlalu terbaca teman temannya, mereka pasti pikir si Dibyo diam karena konsentrasi pada setirannya, mereka tentu tidak memperhatikan bahwa tak sejengkalpun tubuhku disentuhnya, tidak seperti mereka yang dibelakang yang tangannya sudah menggerayang ke seluruh tubuh pasangannya masing masing.

Detak pekik House musik dan geliat birahi para pengunjung di lantai dance tak mampu mencairkan kekakuan di antara kami, bahkan saat lagu “Lemon Tree” kesukaanku berkumandang nyaring, tetap tak mampu menggerakkan kakiku menuju lantai dansa, begitu kaku, begitu juga Dibyo yang tak berani mengambil inisiatif mengajakku turun, kalau saja dia mengajakku pasti aku tak kuasa untuk menolak tapi hal itu tak terjadi. Padahal sudah sering kali aku turun sama dia saat bersama istrinya ke diskotik.

Butir butir extasi yang mereka bagikan, hanya kugenggam di tanganku. Kami sama sama terpaku membeku dalam panasnya alunan hentakan house music.

Pukul 01.00 kami meninggalkan diskotik menuju Hotel Tunjungan yang hanya bersebelahan dengan komplek pertokoan itu. Tiga jam yang panjang kualami penuh kebekuan, tak seujung rambutpun dia menyentuhku apalagi mencium atau meraba tubuhku, meskipun kesempatan itu sangat luas terbentang.

Ketika kami memasuki kamar masing masing, kekakuan diantara kami masih ada bahkan terasa semakin membeku. Aku tak tahu harus berbuat apa.

“Aku nggak nyangka kalau kita bisa bertemu dalam keadaan seperti ini” katanya setelah menyalakan Marlboronya, inilah kata pertama yang ditujukan padaku sejak ketemu 4 jam yang lalu.

“Aku juga” jawabku singkat sedikit bergetar, keringat dingin mulai membasahi telapak tanganku, kebiasaan kalau aku dalam keadaan gugup.
“Selanjutnya gimana nih” tanyanya, entah pura pura atau memang karena rikuh.
“Terserah kamu saja, aku ikut” jawabku masih bergetar.

Dibyo beranjak dari tempat duduknya menghampiriku, dia duduk disampingku, jantungku berdetak kencang dan semakin kencang saat dia memelukku. Bukan pertama kali dia memelukku seperti ini, bahkan mencium pipiku pun sudah sering dia lakukan meskipun di depan istrinya, tapi semua itu tentu saja dalam konteks yang lain.

Aku hanya diam saja sambil meremas tanganku semakin erat ketika dia mulai mencium pipiku, sungguh terasa lain ciumannya dibandingkan sebelum sebelumnya, ada getaran aneh menyelimuti hatiku, kembali aku tak tahu harus berbuat apa.

Ciuman Dibyo sudah menyusur ke leharku, kurasakan tangannya gemetar saat mulai mengelus elus buah dadaku, jantungku semakin berdetak kencang saat tangan gemetar itu menyusup dibalik kaosku, terasa dingin ketika menyentuh kulit buah dadaku.

Sesaat aku hanya terdiam saat bibirnya mulai menyentuh bibirku, dilumatnya dengan lembut bibir merahku sembari menuntun tanganku ke selangkangannya, terasa menegang. Tanpa kusadari ternyata dia sudah membuka resliting celananya hingga tanganku langsung menyentuh kejantanannya yang masih terbungkus celana dalam.

Aku mulai membalas kulumannya ketika tanganku sudah menyusup dibalik celana dalamnya dan mulai meremas remas kejantanan sobatku ini.

Menit menit selanjutnya terlupakan sudah siapa Dibyo sebelumnya, terlupakan sudah si Wenny istrinya yang cantik, aku kembali berada dalam duniaku, seorang gadis panggilan yang sedang bekerja memuaskan tamunya, meskipun demikian aku masih tak tega memandang wajah gantengnya, setiap kali kulihat wajahnya aku selalu teringat akan istrinya, jadi aku selalu berusaha untuk memalingkan wajahku atau memejamkan mata saat wajah kami berhadapan.

Harus kuakui ternyata Dibyo seorang yang sabar dan romantis, kuluman pada bibir dan putingku serasa begitu nikmat dan penuh perasaan, akupun tanpa malu mulai mendesah nikmat dalam buaian sobatku.

Perlu hampir 1 jam bagi kami untuk saling menelanjangi, tubuh bugil kami sudah beralih ke atas ranjang, Dibyo melanjutkan ciumannya pada sekujur tubuhku tapi tampaknya masih ada keraguan untuk menjilati selangkanganku, begitu juga aku, seakan ada penghalang yang mencegahku mengulum penisnya.

Ketika tubuh telanjangnya hendak menindihku, tiba tiba terdengar bunyi telepon. Dengan agak malas dia mengangkat telepon, rupanya teman temannya telah lama menyelesaikan satu babak, padahal kami baru akan mulai. Mereka menanyakan apakah akan melanjutkan hingga pagi, dia menanyaiku dan kujawab terserah. Akhirnya diputuskan untuk nginap.

Sebelum kembali ke pelukanku, Dibyo mengambil HP dan menghubungi istrinya untuk memberitahu kalau dia pulang pagi dengan alasan menemaniku di diskotik, entah apa dalam benak Wenny karena tidak ada iringan musik pada backgroundnya. Kami memang sering ke diskotik sama sama hingga menjelang pagi jadi bukan sekali ini Dibyo pulang pagi. Dia memberikan HP-nya kepadaku.

“Hai Wen, sorry malam ini aku pinjam suamimu tanpa permisi” kataku.
“Ya udah, tolong jaga dia jangan sampai lupa pulang, yang penting pulang dengan selamat biar dengan botol kosong” katanya ditutup dengan ketawa ciri khasnya, kami memang sudah biasa bergurau bebas, aku jadi semakin merasa bersalah melihat begitu percayanya dia padaku. Tapi ini adalah bisnis bukan aku berselingkuh dengan suaminya tapi dia yang mem-bookingku, hiburku dalam hati.

Dibyo kembali menghampiriku yang masih telentang telanjang di atas ranjang, kami harus mulai lagi dari awal. Kali ini tiada lagi keraguan diantara kami meski aku tetap tak bisa menatap wajahnya. Dengan memejamkan mata, kusambut lumatan bibirnya sembari meremas remas kejantantannya yang sudah lemas. Dia mulai berani mendesah, akupun demikian saat bibirnya mendarat di puncak bukitku.

Kujepit pinggangnya dengan kakiku saat sedotannya semakin kuat sambil menyapukan kepala penisnya ke bibir vaginaku, kubuka sedikit mataku menatapnya, ternyata dia menatapku dengan penuh perasaan, tak sanggup aku menatapnya lebih lama, kututup kembali mataku rapat rapat dan semakin rapat saat penisnya mulai menerobos memasuki liang vaginaku.

Entahlah, tidak seperti pada tamuku lainnya, kali ini kurasakan getaran getaran aneh menyelimuti diriku, semakin dalam penis itu melesak masuk, semakin keras getaran itu seiring kerasnya degup jantungku yang berdetak kencang. Aku telah menodai persahabatan yang selama ini kubangun, aku telah menghianati Wenny yang begitu percaya padaku. Tapi perasaan nikmat dan semakin nikmat perlahan mengusir rasa bersalah dan segala keseganan antara aku dan Dibyo.

Kejantanan Dibyo perlahan penuh perasaan mengocokku diiringi cumbuan dan lumatan pada bibirku yang kubalas dengan tak kalah gairahnya, dan akupun semakin kelojotan dalam dekapan hangat suami sahabatku ini takkala ciumannya menyusuri leherku.

Ke bagian 2

Sky, Snow n Seks

Filed under: RAMAI-RAMAI

Hobby favorite saya adalah main ski. Pertama kali saya tiba di Amerika, saya tidak sabar untuk belajar ski karena pada dasarnya saya suka sekali dengan tantangan. Nama saya Arthur, ini kisahku.

Pada bulan September 1998, teman baik saya bernama Antonio (dari Italia) mengirim saya email. Inti email adalah International Student Organization (ISO) kampus saya tahun ini akan mengadakan ski trip ke Aspen di negara bagian Colorado. Pada tahun-tahun sebelumnya, ski trip biasanya diadakan ke Bear Mountain di California, Mount Hood di Oregon atau ke Utah. Saya langsung menjawab dengan antusias kesediaan ikut. Saya minta si Vita untuk didaftarkan juga karena ia suka main ski.

Vita adalah seks partner saya. Kita adalah teman baik tapi kita tidak mau terikat hubungan ikatan. Cukup hubungan intim. Ski trip diadakan pada hari Thanksgiving di bulan November. Thanksgiving merupakan hari perayaan nasional orang Amerika dimana beratus tahun yang lalu nenek moyang orang Amerika beremigrasi dari Inggris. Setiba di benua Amerika, mereka tidak punya makanan sama sekali. Beruntung orang Indian berbaik hati dan memberi mereka makanan. Kebaikan hati dan sikap bersahabat orang Indian ini dijadikan sebagai perayaan Thanksgiving di Amerika. OK, kita lanjutkan ceritanya.

Thanksgiving Day 1998

Jum’at

Saya dan Vita sudah menunggu di airport untuk berangkat ke Aspen. Saya dan Vita telah membawa sendiri peralatan ski. Ada sekitar 30 orang yang ikut serta. Si Antonio dan pacarnya, Priscilla (orang Venezuela) tampak sibuk mengatur dan mendaftar orang-orang yang telah hadir. Sebagian besar yang ikut adalah anak-anak freshman. Ada 2 orang Indonesia yang ikut. Jam 6 pagi tepat, pesawat United Airline yang kami tumpangi berangkat menuju ke Aspen. Jam 9:30, pesawat mendarat di Denver. Lalu dengan mengendarai bis yang telah disewa, kami melanjutkan perjalanan ke Aspen yang memakan waktu 2 jam.

Setiba di Aspen, para panitia langsung check-in ke hotel dan menunjukkan kamar-kamar para peserta ski trip. Saya dan Vita mendapatkan tempat di lodge bersama dengan Antonio dan Priscilla, tetapi kamarnya dibuat terpisah yaitu Vita dan Priscilla sedangkan saya dengan Antonio. Setelah makan siang, rombongan dibawa ke tempat bermain ski. Bagi yang tidak punya peralatan ski, bisa sewa. Tempat bermain ski dikelilingi pegunungan yang sangat indah dan tertutup salju. Sejauh mata memandang, semuanya putih. Di lereng gunung, terlihat rumah-rumah dari kayu serta hotel-hotel ditengah-tengah pepohonan cemara.

Pemandangan yang sangat cantik. Saya sibuk memotret pemandangan ini dengan peralatan kameraku. Peserta yang belum bisa main ski disediakan guru, sedangkan yang sudah bisa main ski diperbolehkan untuk naik ski lift jalur kuning untuk dibawa ke atas gunung. Perjalanan naik ski lift keatas gunung memakan waktu 3 menit, tapi perjalanan turun kebawah bisa butuh waktu lebih lama karena track skinya dibuat mengitari gunung.

Saya, Vita, Antonio dan Priscilla langsung naik ski lift ke jalur merah. Jalur merah merupakan jalur yang paling curam dan tinggi. Hanya direkomendasikan bagi yang sudah ahli main ski. Ada beberapa teman dari Rusia, Jepang dan Inggris yang ikut dengan kita ke jalur merah. Setiba di puncak gunung, kita semua langsung balapan turun kebawah. Benar-benar menegangkan dan menyenangkan. Sambil meluncur turun, tidak henti-hentinya kita saling memotong depan teman sambil tertawa-tawa. Begitu sampai di ski station di lereng gunung, kembali kita naik ski lift dan berlomba adu cepat menuruni gunung dengan ski.

Pemandangan dari atas gunung benar-benar indah. Cuaca –20 derajat celcius tidak terasa begitu dingin karena badan kami sudah hangat dibungkus jaket ski yang tebal. Tidak terasa, kami sudah main ski selama 5 jam. Kami istirahat ke ski station untuk makan dan minum. Puas istirahat, Saya, Vita, Priscilla dan Antonio kembali melanjutkan main ski. Teman-teman yang lain memutuskan untuk kembali ke hotel untuk istirahat. Ternyata bermain ski di malam hari tidak kalah indah karena lampu-lampu disepanjang ski track membuat suasana lebih romantis dan indah. Jam 7 malam, kami berempat sudah lelah dan diputuskan untuk kembali ke cottage.

Karena Antonio adalah ketua panitia, maka ia bebas memilih sendiri cottage yang diinginkan. Didalam cottage kami ada Jacuzzi. Jacuzzinya terletak di teras lantai dua. Antonio menawarkan untuk berendam di air hangat Jacuzzi setelah makan malam, saya langsung setuju. Acara makan malam untuk peserta diadakan di restoran dekat hotel. Acara makan malam disusul dengan games dan penyalaan api unggun.

Selesai acara itu, kita berempat kembali ke cottage. Jacuzzi telah disiapkan Antonio. Saya dan Antonio langsung membuka membuka semua baju hangat dan nyemplung ke Jacuzzi dengan menggunakan celana pendek. Sedangkan Vita dan Priscilla menggunakan BH dan celana dalam. Saya belum bercerita tentang Priscilla. Priscilla sangat cantik, ia adalah bom seks di ISO. Wajahnya yang khas dari negara latin membuat dirinya sangat cantik dan erotis. Rambunya berwarna pirang, buah dadanya besar dan tubuhnya langsing dan berisi.

Sering sekali saya mendengar komentar dari teman-teman yang horny melihat Priscilla di kampus. Jujur saja, saya sering ereksi melihat cara Priscilla berpakaian di kampus dan sekarang malam ini Priscilla hanya menggunakan BH dan celana dalam di hadapan saya, oh yes! I’m in paradise. Antonio sendiri orangnya ganteng. Tingginya 185 cm, tubuhnya sangat atletis, wajahnya khas orang Italia dengan rambutnya yang selalu terlihat klimis. Sedangkan Vita, seks partner saya, bertubuh langsing padat dan buah dadanya besar. Rambutnya panjang dan kulitnya putih.

Sambil menikmati kehangatan Jacuzzi, saya memeluk Vita dan Antonio memeluk Priscilla. Kita berendam sambil minum wine dan saling bertukar cerita sambil tertawa-tawa. Vita kemudian minta ijin untuk ke toilet. Saya melihat mata Antonio langsung memperhatikan tubuh Vita yang dibalut BH dan celana dalam yang basah sehingga tampak puting dan bulu kemaluannya.

Tidak lama, si Priscilla ikut-ikutan ke toilet, sekarang giliran saya melihat tubuh Priscilla yang molek. Saya dan Antonio kembali ngobrol sambil minum. Vita dan Priscilla kembali ke Jacuzzi sambil tertawa-tawa. Vita menarik tangan saya untuk keluar dari Jacuzzi dan Priscilla juga menarik tangan Antonio. Dengan tanda tanya, kita berdua mengeringkan tubuh dengan handuk dan dibimbing ke ruang tengah. Perapian sudah dinyalakan sehingga ruangan telah hangat.

“Saya dan Vita sepakat, malam ini kita bertukar pasangan” kata Priscilla sambil tersenyum.
“Agree guys?” kata Vita.
“Terserah panitia yang punya acara” kata saya.
“Up to you ladies” kata Antonio sambil tertawa.
“Sekarang kalian berdua duduk disofa” kata Priscilla.

Saya dan Antonio duduk di sofa kemudian Vita membuka BH Priscilla dan menarik celana dalamnya, lalu gantian Priscilla membuka BH dan celana dalam Vita. Saya dan Antonio tak henti-hentinya menelan ludah melihat tubuh-tubuh telanjang itu.

Vita menghampiri Antonio dan mereka langsung berciuman. Priscilla juga menghampiri diriku dan kita berciuman. Tak henti-hentinya tangan saya menggerayangi tubuh Priscilla, saya remas buah dadanya dan mengusap vaginanya. Priscilla sangat agresif. Kontol saya diremas dan ditarik. Saya melirik ke Vita dan mereka sedang sibuk dalam posisi 69.

Priscilla kemudian jongkok dihadapanku, kontol saya langsung dihisap dengan penuh nafsu, sekali-sekali matanya melirik kesaya dengan pandangan menggoda. Kemudian Priscilla mencondongkan dadanya ke kontol saya lalu kontol saya dikepit diantara payudaranya yang besar. Langsung saya mendongakkan kepala merasakan kenikmatan ini. Payudara Priscilla dikepit dengan keras sambil digoyang naik turun sehingga kontol saya terasa seperti dikocok-kocok.

“Oh yes baby, do it again” pinta saya.

Saya lalu bertukar posisi, Priscilla duduk di sofa dan saya mulai menjilat vaginanya. Priscilla menjerit dengan nikmat sambil meremas kepala saya. Saya melihat Vita dalam posisi doggy style dan Antonio sedang menggenjot kontolnya dalam vagina Vita. Vita mendesah-desah sambil meremas payudaranya

“Yes Antonio, fuck me, fuck me like a bitch” seru Vita.

Melihat Vita terlihat tak berdaya disetubuhi Antonio, gairah saya bertambah dan saya langsung mengarahkan kontol saya ke vagina Priscilla. Ini benar-benar saat yang saya pernah mimpikan, menyetubuhi Priscilla. Wajah Priscilla yang sayu terlihat semakin menggairahkan. Priscilla mengangkat kakinya tinggi lalu menahannya dengan merangkul pangkal pahanya, sedangkan saya mencondongkan dada saya ke dada Priscilla sambil menggenjotnya.

Priscilla kelihatannya semakin keras digenjot semakin liar. Priscilla memutar tubuhnya sehingga posisi berganti menjadi doggy style. Payudara Priscilla yang besar tampak menggelantung langsung saya remas-remas. Priscilla dengan lihai memutar-mutar pantatnya sambil mengikuti irama genjotanku. Baru sekali ini saya merasakan goyangan seperti itu.

Tak lama saya mendengar si Antonio melenguh dengan keras, kontolnya ditarik keluar dari vagina Vita dan diarahkan ke mulut Vita. Vita menjilat dan menelan peju Antonio. Setelah bersih, kembali Antonio memasukkan kontolnya ke vagina Vita dalam posisi doggy style. Keringat disekujur tubuh Vita dan Antonio mengalir dengan deras. Saya sendiri terus menggenjot Priscilla, sekitar 2 atau 3 kali Priscilla memekik dengan keras dan tubuhnya sedikit mengejang tapi ia terus menggoyangkan pantatnya, rupanya ia sedang mengalami multiple orgasm. Saya menjadi kagum melihat stamina Priscilla yang kuat, tapi saya tidak ingin kalah kuat dengannya.

Saya mengubah posisi menjadi duduk lalu Priscilla duduk dipangkuan saya tetapi membelakangiku. Kembali ia menggoyang tubuhnya naik turun dengan penuh enerjik, sedangkan saya meremas payudaranya dari belakang. Akhirnya pertahanan saya runtuh, saya mulai klimaks. Saya berseru dengan nikmat saat peju saya keluar sedangkan Priscilla menghujamkan vaginanya dengan keras ke kontolku sambil berteriak penuh nikmat. Setelah peju saya keluar semua, saya dan Priscilla langsung terduduk dengan lemas. Priscilla duduk dipangkuanku dan kita kembali berciuman. Saya meremas dan menghisap putingnya sedangkan tangan kanan saya kembali mengelus vaginanya.

Vita sendiri tak kalah seru. Antonio dan Vita sedang ML dalam posisi berdiri. Vita berdiri menghadap ke dinding dengan kedua tangannya bertumpu pada dinding sedangkan Antonio dari arah belakang menggenjot kontolnya dalam vagina Vita. Tak henti-hentinya payudara Vita diremas-remas Antonio dan Vita berseru-seru dengan nikmat untuk digenjot lebih keras. Tak lama Antonio kembali ejakulasi, ditarik kontolnya dari vagina Vita lalu dikocok sehingga pejunya muncrat ke pantat Vita. Vita menengok kebelakang dan Antonio mencium bibirnya sambil meremas payudaranya.

Priscilla lalu mendorong tubuh saya sampai telentang di sofa. Kembali Priscilla jongkok dihadapanku lalu memasukkan kontolku ke vaginanya. Dengan penuh gairah, ia kembali mengocok-kocok kontolku dalam vaginanya. Ia merebahkan dadanya kedadaku lalu berciuman. Payudaranya saya remas dengan lembut. Saya melirik ke Vita dan mereka sedang berpelukan sambil melihat kita bersetubuh.

Sambil menghisap puting Priscilla, tiba-tiba Vita berdiri mengangkang dimuka saya lalu mendekatkan vaginanya ke mulutku, langsung saya menjilat vaginanya yang basah. Vita yang posisinya jongkok diatas muka saya, tiba-tiba dengan pelan Priscilla mendorong punggung Vita ke depan sehingga Vita menjadi nungging diatas diriku, Priscilla kemudian sambil bersetubuh diatas diriku menjilat anus Vita. Vita mendesah-desah menikmati jilatan lidahku di vaginanya dan lidah Priscilla di anusnya. Saya kemudian melihat Antonio berdiri dibelakang Priscilla.

Wah mau ngapain dia? Saya bertanya dalam hati.

Ternyata Antonio mulai memasukkan kontolnya kedalam anus Priscilla. Priscilla mendongak saat kontol Antonio masuk kedalam anusnya, Priscilla menghentikan goyangannya dan membiarkan kontol Antonio masuk lebih dalam. Kemudian Priscilla pelan-pelan mengayunkan pantatnya dan secara bersamaan kontol saya keluar masuk vaginanya begitu pula kontol Antonio kedalam anus Priscilla. Saya sebenarnya tidak bisa melihat ini dengan jelas, tapi beruntung Vita telah memasang handycam disudut ruangan sebelum pertarungan ini dimulai sehingga kita berempat bisa menontonnya.

Di video itu, terlihat posisi kita berempat yang saling bertumpang tindih. Saya dibagian bawah ditindih oleh Priscilla dan Vita nungging dimuka saya menerima jilatan divagina dan jilatan di anus dari Priscilla. Sedangkan Priscilla vaginanya diisi oleh kontol saya dan Antonio berdiri dibelakang Priscilla menyetubuhi anus Priscilla. Akhirnya peju saya keluar didalam vagina Priscilla dan Antonio pun mengalami ejakulasi. Peju Antonio memenuhi anus Priscilla. Priscilla terkulai lemas dipelukan saya. Vita jongkok disamping saya lalu mencium bibir Priscilla dengan mesra sambil membelai rambutnya. Akhirnya kita berempat tertidur didepan perapian sambil berselimutan tanpa mengenakan baju.

Sabtu

Pagi hari, kami berempat bangun, sebenarnya kami agak malas bangun tapi berhubung Antonio dan Priscilla adalah panitia maka mereka harus segera mengatur acara untuk hari ini. Acara pagi ini adalah sarapan dilanjutkan dengan hiking di pedesaan di Aspen. Suasana hiking berjalan dengan seru. Di sebuah lapangan yang luas, para peserta beristirahat. Ada yang membuat snowman, ada yang timpuk-timpukan salju. Jam 12 siang, kami semua kembali ke hotel untuk makan siang. Peserta bebas memilih mau main ski atau shopping di Aspen. Banyak yang memilih kembali main ski.

Saya, Vita, Antonio dan Priscilla kembali bermain ski sampai makan malam. Makan malam kali ini diadakan di sebuah restoran di Aspen. Restoran terbuat dari kayu dengan hiasan-hiasan ala koboi. Selesai makan malam, peserta ada yang kembali ke hotel, ada yang belanja di Aspen, ada yang foto-foto. Kita berempat memilih untuk jalan-jalan didaerah pedesaan. Suasana sangat romantis. Saya berjalan sambil memeluk Vita dan Antonio memeluk Priscilla. Setelah lelah, kita kembali ke cottage.

Malam itu kembali kita berempat bersetubuh dengan berbagai gaya. Vita kebagian double penetration, saya memasuki kontolku kedalam anusnya sedangkan Antonio memasukkan kontolnya dalam vagina Vita dan Priscilla tak henti-hentinya berciuman dengan Vita. Priscilla mendapat bagian diikat tangan dan kakinya sehingga saya, Vita dan Antonio dengan bebas menikmati tubuhnya. Lalu ganti posisi dimana saya telentang dan Vita jongkok diatas pinggulku sambil mengocok kontol saya dalam vaginanya sedangkan Priscilla jongkok di atas mukaku sehingga saya bisa menjilat vaginanya. Vita dan Priscilla saling meremas payudara dan berciuman kemudian Antonio berdiri ditengah dan menyodorkan kontolnya ke mereka berdua. Secara gantian mereka menghisap kontol Antonio.

Kami berpesta seks sampai jam 4 pagi lalu tertidur. Jam 7 pagi kami terbangun dan langsung membereskan barang-barang karena bis akan segera berangkat mengantar kita semua ke Denver lalu kembali ke San Francisco.

Entah mana yang jauh lebih asyik, naik ke puncak gunung lalu meluncur dengan ski dengan kecepatan tinggi, atau bersetubuh dengan dua bidadari. Yang pasti, semuanya nikmat dan tak terlupakan.

Uuuuhhhh

Filed under: RAMAI-RAMAI

Dalam menjalani kehidupan, khususnya menikmati kehidupan seks kami, tidak berarti selalu dan setiap saat kami melakukan hal hal tersebut, paling juga beberapa bulan sekali, memang pernah cukup sering dalam waktu yang pendek, namun akhirnya terbentuk dengan sendirinya suatu ‘pola’ waktu yang kami sendiri tidak pernah rencanakan.

“Ma..” kataku pada suatu hari dikala kami sedang santai, istriku sedang asyik dengan kegemarannya merajut.
“Hmm.. Ada apa Mas?” jawab istriku yang selalu mendehem kalau menjawab dikala sedang melakukan sesuatu.
“Sudah lama juga ya.. Kita nggak main-main lagi” kataku.
“Main-main apaan..?” tanya istriku entah pura pura atau memang tidak menangkap maksudku.
“Ya itu.. Main.. Main.. Dengan batang-batang dan biji-biji yang lain..” jawabku.
“Ah.. Kupikir apaan..” istriku Fifi menjawab tanpa melepaskan perhatiannya dari rajutan yang sedang dikerjakannya, tangannya sangat lincah bergerak dengan alat dan benang yang terjuntai.

“Gimana.. Mama mau..?” tanyaku lagi dengan nada berharap.
“Emang apa sih.. Yang ada dipikiran Mas..?” tanya istriku namun kali ini dengan perhatian yang agak lebih.
“Mm.. Kalau Mama inginnya apa..?” tanyaku memancing.
“Gimana sih.. Ditanya kok balik nanya..?” istriku menjawab lagi.
“Iya.. Kan sudah macam.. macam yang kita coba.. Kalau Mama sekarang pinginnya gimana.. Gitu..” tanyaku lagi tanpa memperdulikan pertanyaannya.
“Nggak.. Mas dulu yang menjawab..” jawabnya sambil meletakan rajutannya dan memberikan perhatian penuh pada pembicaraan kami.
“Ok.. Deh.. Gini.. Kalau Mas baca dimana mana.. kan katanya wanita akan sangat nikmat kalau lawannya punya kemaluan yang besar.. Semakin besar semakin asyiik.. Nah.. Mama mau coba yang benar benar besar..” aku berkata menjawab pertanyaannya.
“Lho.. kan.. yang lain.. juga cukup besar.. Malah siapa ya.. waktu itu yang kita ajak.. Punyanya lebih besar dari Mas..” kata istriku lagi, dan gerakan matanya serta lidahnya yang mulai menjilat bibir merahnya menunjukan minatnya (aku terlalu kenal sih).

“Iya.. Tapi maksud Mas Mama ingin coba yang super nggak..?” tanyaku lagi mendesak.
“Emangnya siapa sih dan ukurannya kayak apa.., kalau Mas mau.. Siapa takut..?” Fifi menjawab sambil menjebikan bibirnya ke arahku.
“Ok.. Mas atur ya..? Malam.. Minggu besok ya..?” aku senang sekali karena salah satu fantasiku bisa dipenuhi.

Awalnya adalah saat aku fitness, salah satu kenalan yang kukenal di fitness center itu, Joko, kebetulan bersamaan waktunya shower denganku, dan seperti umumnya, cuek saja kami telanjang.. Semua laki-laki kok, karena locker dan kamar mandinya terpisah untuk pria dan wanita, dan milik Joko sungguh membuatku terbelalak, dalam keadaan tidak ereksi saja terlihat sangat.. sangat besar, panjang menjuntai dengan diameter yang juga mengagumkan dan langsung terbayang.. Masuk nggak ya ke vagina istriku..?

Aku mengenal Joko sudah 4 tahun, seminggu 3X kami fitness namun biasanya waktu kami selesai tidak sama, aku yang datang duluan selalu pulang sebelum Joko selesai berolah raga, dan dengan posturnya tinggi sekitar 180, tidak gemuk, atletis dan berkulit putih, wajahnya tidak terlalu ganteng namun terlihat bahwa ia sangat berkelas, penampilannya jauh di bawah umurnya yang sudah 45-an, masih tampak seperti eks mud (eksekutif muda) dan kini.. kemaluannya ternyata juga tampak sangat perkasa.

Sesungguhnya tanpa sepengetahuan istriku aku sudah melobby Joko dan setelah mendengar ceritaku, ia mau untuk berpartisipasi, apalagi setelah ia melihat foto Fifi istriku yang sengaja kubawa, dan sebagai tanda kepercayaan ia juga telah mengenalkanku pada istrinya yang ternyata sangat gemuk dan tidak menarik.. (menurutku).

Lagu instrumental dari Blues yang kujadikan ring tones HP ku berbunyi dan ternyata dari Adri yang menyatakan kesanggupannya untuk datang meramaikan acara yang kususun, Adri adalah salah satu eksekutif bank yang kukenal lama, bahkan keluarganya juga akrab dengan kami, dan kini ia juga kuundang untuk ikutan.

“Joko..” tangan kawan fitnessku itu menggenggam erat tangan halus istriku dan matanya tak menyembunyikan kekaguman atas kecantikan istriku, demikian juga Adri yang walau sudah pernah bertemu sebelumnya namun selalu mengagumi kecantikan Fifi istriku, itulah sebabnya ia saat ini kuundang untuk ‘ikutan’ pesta kami.

Kami lalu duduk santai di sofa di service aparteman yang telah kusiapkan, dan seperti biasa kekakuan lama-lama mulai mencair dan akhirnya setelah minum, ngobrol dan gurauan mulai mengalir lancar kami lalu memutar musik lembut, menemaramkan lampu, dan acara berikut adalah berdansa.

Karena Fifi satu satunya wanita, maka kami ganti berganti berdansa dengannya, dan aku yang mendapat giliran terakhir. Giliran pertama adalah Adri dengan Fifi, mereka berdansa mengikuti alunan musik dan berpelukan, kulihat tangan Adri meremas remas pantat istriku sementara tubuh mereka berpelukan erat, namun aku tahu kalau istriku belum ‘panas’ dia memeluk erat, menepelkan pipinya di pipi Adri, membiarkan tangan Adri meremas bongkahan pantanya yang dibungkus rok pendek ketat itu.

Lagu habis dan Joko maju menggantikan Adri, ketika mereka berpelukan kulihat istriku agak tersentak, pasti kaget ‘terganjal’ sesuatu di perutnya, karena mungkin akibat pengaruh minuman, lampu, suasana serta musik dan dansa sebelumnya, mereka berdansa lebih mesra dan ketika musik mencapai setengahnya, bibir istriku sudah beradu dengan bibir Joko, dan ketika jarak mereka agak merenggang kulihat tangan istriku sudah didalam celana Joko yang retsletingnya entah kapan sudah turun dan dari situ tangan istriku menerobos masuk.

Lagu berganti namun mereka sudah dalam suasana yang ‘tak terkendalikan’, rok pendek yang dipakai Fifi sudah terangkat ke atas, dan tangan Joko berada dibalik celana dalam yang dikenakan, mereka saling berciuman dengan bernafsu dan melihat itu aku lalu mengambil inisiatif, kudekati mereka, kusentuh Fifi yang lalu merenggangkan diri dari Joko dan dengan memberi tanda pada Adri yang masih agak bengong, aku menuntun istriku dan Joko kugamit dan melangkahlah kami kekamar utama.

Aku lalu memeluk istriku, menciumnya dan mulai melepaskan pakaian yang dikenakannya, Fifi juga melakukan hal yang sama padaku, dan kuberi tanda kedua lelaki yang lain untuk juga melepaskan pakaian mereka dan sekejap saja kami berempat sudah telanjang bulat.

Ketika istriku melihat kemaluan Joko yang sudah ereksi, tangannya menutup mulutnya yang hampir terpekik, matanya melihat kearahku sekilas dengan banyak makna dan aku yakin walau tadi sudah sempat meraba saat berdansa tadi namun masih belum menyadari betapa dahsyat ukuran kemaluan laki-laki itu, sementara Adri juga melihat dengan kagum dan (mungkin) sedikit iri, karena kemaluannya masih sedikit dibawahku.

Istriku lau menarik tangan Joko yang tengah didorong rebah di ranjang, lalu dengan posisi menungging mulai menciumi, menjilat dan memainkan kemaluan Joko.

Sangat sibuk ia menjilat batangnya dari bawah ke atas, balik lagi, menjilati biji pelirnya, lidahnya juga terus kebawah dan menjilati bagian bawah bijinya dan kulihat Joko setiap kali tersentak saat lidah istriku entah sengaja atau tidak menyentuh anusnya, Hanya kepala kemaluan yang bisa masuk dalam mulut istriku karena besarnya, butuh dua tangan bagi Fifi istriku untuk memegang seluruh batang kemaluan itu.

Aku yakin panjangnya tak kurang dari 24 cm, dengan lingkar yang sangat besar seperti botol, dan kepala yang juga besar, dilingkari urat-urat yang tampak menonjol.

Posisi Fifi yang menungging membuat Adri tak tahan, dan ia lalu mendekati dari belakang, dan mulai menjilati belahan pantat istriku terus kebawah.. Dan istriku sempat menengok sebentar melemparkan senyum manisnya dan kembali menyelomoti kemaluan Joko.

Tidak lama Adri menjilati vagina istriku, mungkin karena posisinya yang kurang mendukung, maka ia lalu menegakkan badannya dan mengarahkan kemaluannya ke vagina istriku yang tampak mengerti dan ‘menyambut’ kemaluan Adri memasukinya. Adri tampak asyik bergerak maju mundur sementara tangannya memeluk dari belakang meremas payudara istriku yang tampak tak melepaskan konsentrasinya dari ‘mainan’ dimulutnya itu.

“Ss.. Zz.. Aahh..” Dengan satu erangan keras Adri menyentak dan membenamkan kemaluannya sedalam mungkin ketika menumpahkan air maninya dalam vagina istriku, diam sebentar lalu menjatuhkan diri diranjang dengan kemaluan yang mulai mengerut.

Fifi berhenti sebentar dari kesibukannya menjilati kemaluan Joko, membalikkan badannya dan menciumi Adri, menjilati lehernya, dada, perut dan terakhir memasukkan kemaluan yang masih basah namun sudah mengerut itu dalam mulutnya, dan menjilatinya hingga ‘bersih’..

Karena kemaluan Adri masih tetap belum bangun lagi ia lalu menengok ke arahku dan aku yang mengerti keinginannya menganggukkan kepala, ia lalu ‘merayap’ lagi ke arah Joko, untuk kemudian berjongkok diatasnya dan mengarahkan ‘raksasa’ itu ke vaginanya.

Kini Adri terbangun dan dari dekat menyaksikan, demikian juga diriku menyaksikan dengan seksama bagaimana istriku mengarahkan kemaluan Joko yang luar biasa itu ke vaginanya yang masih tampak basah kuyup oleh air mani Adri. Walau sangat basah namun tampak masih sulit bagi istriku memasukkan kemaluan itu menerobos vaginanya, dan cukup lama dengan menekankan pantatnya ke bawah kemaluan itu perlahan masuk diiringi suara istriku yang mendesis keras seperti orang kepedasan.

“Aahh.. Ss.. Uuuhh.. Uhh..” dan bless kepala kemaluan itu sudah masuk!!

Istriku berhenti sebentar melihat ke arahku dengan raut wajah yang tampak sangat bernafsu dan mulai menggerakkan pantatnya perlahan dan perlahan-lahan kemaluan itu masuk semakin dalam.. semakin.. dalam.. Dan akhirnya diiringi jeritan istriku.. Kemaluan itu terbenam sampai kepangkalnya.

Aku sangat terangsang menyaksikan ‘perjuangan’ istriku memasukkan kemaluan yang sangat besar itu hampir ejakulasi sendiri saat seluruh batang kemaluan Joko terbenam masuk.

Kini Fifi mulai bergerak teratur dan tidak lama ia mempercepat gerakannya..

“Aakk.. Kelluuaarr.. Aahh”, ia mencapai orgasmenya yang pertama hari ini, dan ambruk di dada Joko yang tampak berhenti bergerak.

Joko lalu membalikkan posisi tanpa melepaskan kemaluannya dan kini dengan posisi konvensional ia mulai memompa istriku dengan teratur dan makin lama makin cepat.. makin.. cepat sementara istriku yang semula tampak menggigit bibirnya mulai ‘kembali’ dan bergerak mengimbangi.

Terlihat jelas bagaimana vagina istriku ‘terbuka’ dengan batang kemaluan Joko didalamnya dicengkeram oleh bibir vagina itu sesekali batang itu tertarik keluar setengah dengan lendir yang tampak berkilau dan hampir bersamaan mereka berteriak..”Akk.. Aahhsstt..” dan dengan bibir berpagutan keduanya mengejang sementara Joko membenamkan kemaluannya sedalam mungkin sambil menyemprotkan air maninya dalam rahim Fifi istriku.

Cukup lama mereka terdiam sebelum Joko bergolek kesamping dan dengan suara ‘plop’, kemaluan itu terlepas dari vagina istriku yang diikuti lelehan air mani kental. Aku yang tak tahan lagi segera saja menggantikan posisi Joko dan Fifi yang mengerti merangkulku lalu kemaluanku pun tertanam dalam vagina istriku yang barusan telah diisi oleh air mani dua laki-laki.

Siapa bilang kalau vagina baru dipakai itu tidak enak?, dan siapa bilang kalau kemaluan yang lebih besar pernah masuk vagina itu jadi longgar?. Aku merasakan suatu kenikmatan yang tiada taranya ketika kemaluanku memasuki vagina istriku, rasa hangat dari air mani yang sebelumnya telah mengisinya, dan vagina yang menebal karena gesekan dengan kemaluan sebelumnya memberi kenikmatan yang bahkan lebih besar lagi.

Dengan saling memeluk aku menggerakkan pantatku berirama dan sebentar saja aku tahu bahwa aku tak bisa menahan dan dengan melenguh aku melepaskan air mani dalam vagina istriku, air mani laki-laki ketiga yang mengisi vagina istriku yang cantik.

“Mas.. Aduh.. Perih banget..” kata istriku ketika aku mengantarnya kekamar mandi mencuci vaginanya.
“Gimana rasanya..?” tanyaku ingin tahu.
“Uh.. Kegedean..” jawab istriku sambil menyabuni tubuhnya.
“Enak nggak..”tanyaku lagi.
“Kalau kegedean gitu.. Gimana ya.. Waktu masuk perihnya luar biasa terus bukan mentok lagi ke mulut rahim tapi nabrak.. Jadi kayaknya sih.. Aku lebih suka yang besar tapi jangan terlalu over gitu, .. Cuma nggak apa apa sih.. Mas jangan kuatir aku akan membuat mereka puas kok.. Ini kan.. Part of the experience” istriku menjawab dan mengeringkan tubuhnya.

Kami lalu berkumpul di ranjang setelah semua membersihkan diri dan minum membasahi tenggorokan yang kering. Permainan berikut mulai lagi, kali ini istriku yang telentang sementara Joko menjilati dan menghisap payudara kirinya, Adri yang kanan dan aku menjilati kemaluannya.

Posisi ini tidak lama karena kami bergerak bergantian dan kini Adri yang menjilati kemaluan istriku, lalu giliran Joko dan kemudian dengan tanda dari istriku Adri berjongkok diatasnya, mengarahkan kemaluannya ke mulut istriku yang menerimanya dengan lahap, dan dengan tangan bertumpu pada tembok Adri menggerakan kemaluannya maju mundur dengan cepat dalam mulut istriku yang tangannya tidak tinggal diam memainkan biji pelir yang menggantung itu.

Tidak sampai 10 menit Adri mempercepat gerakannya dan “Aahh.. Ss” ia menyemburkan air maninya di dalam mulut istriku yang tanpa berpikir langsung menelan dan tidak berhenti menghisapnya dan kembali dengan lenguhan puas ia tergolek lemas.

Kini giliran Joko yang diminta telentang dan istriku mulai lagi dengan permainan mulutnya di kemaluan besar yang juga sudah bangun tegak lagi itu. Perlu waktu lebih lama bagi Joko untuk mengeluarkan air maninya dan karena besarnya ukuran kemaluan itu maka hanya lubang pada kepala kemaluan itu yang di cucup oleh istriku ketika Joko mengeluarkan air maninya sementara tangannya membantu dengan mengocoknya dan saking banyaknya walau sudah diusahakan untuk ditelan semua namun tetap ada yang menetes di sela-sela bibir istriku.

Permainan masih berlanjut, kembali Joko memasuki vagina istriku, diikuti Adri dan berakhir ketika istriku yang sudah kelelahan menelan air maniku.

Selama 4 hari aku harus ‘puasa’ menunggu rasa perih akibat besarnya kemaluan Joko lenyap dari vagina istriku dan walau kedua kawanku itu tak habisnya memuji istriku namun aku tidak memberi kesempatan lagi khususnya pada Joko, karena istriku tidak mau lagi.. Besar.. boleh.. Tapi.. Jangan terlalu besar itu pesannya..

E N D

Tugas kenikmatan

Filed under: RAMAI-RAMAI

Halo, perkenalkan namaku Dana usia 27 tahun berasal dari Sumatra Utara. Aku sudah berkeluarga dengan 1 anak yang masih berusia 3 tahun. Aku dan R suamiku hidup sangat romantis dan sebenarnya keharmonisan kami sudah terbentuk sejak kami masih berteman (R adalah rekan kerja satu kantor sampai sekarang) yang seiring berjalannya waktu kamipun berpacaran.

Ternyata keasikan pertemanan kami setelah memasuki masa pacaran tidak mengalami perubahan malah semakin kompak karena untuk pulang kerumah aku tidak perlu kuatir jam berapapun karena R dengan setia siap mengantarku pulang atau kalau aku yang lembur maka R akan pulang duluan lalu kembali ke kantor untuk menjemput. Maklumlah sekalipun posisiku dikantor masih tergolong pegawai biasa tetapi kesibukan seolah tidak pernah berhenti dan aku sangat menikmati pekerjaan itu.

Oh ya aku saat ini aku bekerja di bagian keuangan salah satu NGO asing yang menangani perpajakan sehingga banyak sekali tugasku menuntut aku harus banyak menghabiskan waktu untuk berhubungan dengan orang-orang pajak yang sudah menjadi rahasia umum sangat banyak tuntutan. Akupun jadi terbiasa menghadapi mereka dan tak jarang untuk dapat “melunakkan” hati mereka aku harus bersikap seluwes bahkan cenderung berpura-pura genit termasuk tampil agak seronok dengan tujuan supaya tugasku dapat selesai dengan mudah. Untungnya suamiku cukup bijaksana dan dapat memahami keberadaanku dengan memberikan kepercayaan 100% kepadaku. Ternyata keleluasaan ini justru membawa aku kedalam situasi yang sulit hingga akhirnya aku memasuki satu dunia yang belum pernah kukenal tapi gilanya aku jadi sulit untuk keluar dari dunia tersebut yaitu threesome sex.

Awalnya ketika itu kantorku menjelang tutup buku dan seperti biasanya kesibukan kami di keuangan menjadi luar biasa tingginya sampai-sampai ada beberapa rekanku yang harus pulang kantor menjelang pagi. Aku sendiri tetap pada tugas utama yaitu merapihkan laporan-laporan pajak dengan dibantu oleh petugas-petugas pajak. Syukurlah kali ini yang ditugasi untuk konsolidasi ada 2 orang yang sudah tidak asing bagiku yaitu Heru (26) dan Dimas (25) sehingga aku tidak perlu buang-buang waktu untuk beradoptasi dan menjelaskan kondisi kantorku.

Kami janjian ketemu di Hertz Chicken untuk makan siang sekaligus berdiskusi awal menyepakati hal-hal apa yang harus dilakukan dan pembagian tugasnya. Karena sudah akrab kamipun menyelingi diskusi dengan senda gurau dan setelah itu kami lanjutkan pekerjaan inti di kantor mereka yang letaknya cukup jauh yaitu di Tanggerang. 3 hari pertama semua berlangsung normal, ketika memasuki hari ke 4 volume pekerjaan semakin serius sehingga tidak terasa sudah jam 8 malam. Sedangkan target selesai kerjaan kami hari ke 6 sudah harus dilaporkan. Akupun jadi gelisah sendiri dan rupanya Heru menangkap gelagat itu dan mencoba membantuku mencari solusinya.

“Bukan apa-apa Her, rumahku kan jauh sekali di Bogor sedangkan jam segini aku masih di Tanggerang”
“Ya udah begini saja, bagaimana kalau Mbak Muti bermalam saja di cottage dekat kantor lalu besok pagi minta tolong suami Mbak Dana membawakan pakaian ke kantor. Tapi sekarang harus kasih tahu dulu sama suami supaya dia tidak gelisah nungguin,” usul Heru
“Boleh juga, usul diterima” sambutku gembira dan mengangkat tangan untuk TOSH dengan Heru.

Segera kutelpon suamiku R yang sedang berada di luar kota untuk minta ijin dan R menyetujui bahkan menyuruhku supaya mentuntaskan. Setelah makan malam nasi goreng di kantor akupun minta tolong Heru mengantarku ke cottage yang dimaksud. Setiba disana ternyata tempatnya cukup menyenangkan karena tersedia ruang tamu dan 2 kamar ditambah lagi hari itu ada rate khusus berkenaan dengan ulang tahun cottage tersebut. Melihat itu spontan aku langsung setuju bahkan menyesali.

“Tahu begitu kita kerja disini saja lebih enak”
Rupanya reaksiku ini disambut oleh Heru, “kalau begitu bagaimana kalau kita melanjutkan tugas kita disini supaya aku dan Dimas enggak perlu repot-repot karena disini kan bisa sekalian mandi lalu tidur, mumpung kamarnya dua.. gimana Mbak?”
“Boleh saja,” jawabku pendek tapi dalam hati menyesali spontanitasku tadi karena berarti malam ini aku akan berada bersama 2 laki-laki dalam satu atap rumah.

Namun keraguanku pupus karena aku berusaha berpikir positif, toh kita nggak akan macam-macam karena kamar kami terpisah, kalaupun terjadi apa-apa atas diriku aku bisa berteriak. Ah, jahatnya hati ini.. kalau dilihat dari sikap dan penampilan mereka yang intelek mana mungkinlah mereka mau berbuat macam-macam.

Tak lama kemudian Dimaspun datang dengan membawa beberapa tumpuk order dan meletakkan di meja makan yang rencananya akan kami jadikan meja kerja. Untuk menghilangkan rasa lelah aku memutuskan untuk berendam di kamarku yang juga dilengkapi dengan kamar mandi. Tapi baru kusadar aku tidak membawa pakaian, untunglah aku membawa kaos mirip singlet dan kebetulan dibalik celana panjang yang kupakai aku juga mengenakan celana sport stretch hitam sebatas diatas lutut. Masalah lain adalah aku hanya membawa CD yang menempel.. Duh bagaimana ya..

Akhirnya aku dapat ide untuk mencuci CD itu dan menjemur di kamar mandi dengan harapan besok pagi sudah kering. Sebagai pengganti CD aku melapisi kemaluanku dengan panty liner yang kutempelkan langsung di celana. Beress.. Kan?? Lalu mandilah aku dengan air panas yang sudah kuatur sesuai selera. Usai mandi akupun berbusana seperti yang sudah aku pikirkan dan ketika keluar kamar kulihat Heru dan Dimas sudah segar karena mereka juga sudah mandi dan seolah sudah janjian mereka sama-sama mengenakan celana pendek, tapi bagian atasnya hanya Heru yang mengenakan kaos singlet sedangkan Dimas bertelanjang dada saja membiarkan dadanya yang bidang berotot dan berbulu itu terpampang membuat darahku sedikit berdesir.

“Maaf Mbak Dana aku terpaksa tidak pakai apa-apa karena tadi waktu mau mandi bajuku jatuh dari kapstok sehingga basah”

Dimas berusaha menjelaskan dan menutupi rasa saltingnya karena mataku menatap tajam.

“O ya, tapi sudah dijemur kan?” tanyaku basa basi.
“Sudah sih,” jawab Dimas sambil pura-pura sibuk dengan kerjaannya lagi.
“Ah, bilang aja mau pamer bulu sama Mbak Dana.. ck, ck, ck.. Di kampungnya aja segitu banyak apalagi di kotanya.. ha, ha, ha” ganggu Heru sambil melirik ke aku dan kulihat Dimas semakin malu.

Rupanya introduksinya Heru tidak berhenti disitu karena akhirnya kami kembali bersenda gurau yang selanjutnya topikpun beralih serius menjadi diskusi tukar pikiran seputar hal-hal yang sangat pribadi dan kamipun tenggelam asik dalam pembicaraan tentang teknik-teknik ML. Dari situ baru kuketahui dari kisah-kisah mereka ternyata Heru sangat piawai dalam teknik sex. Heru terus bercerita tentang pengalamannya dengan beberapa teman gadisnya yang menurut pengakuannya cewek-cewek itu sangat tergila-tergila dengan permainannya.

Lain halnya dengan Dimas yang lebih banyak mendengarkan tapi tanpa sadar Dimas sudah menutupi bagian auratnya dengan bantal, mungkin malu kalau ketahuan “adik”nya sudah meronta-ronta. Semula aku bertahan untuk tidak menceritakan pengalamanku, tapi karena Heru pandai memanfaatkan suasana akhirnya kuceritakan juga apa saja yang aku dan suamiku pernah lakukan tapi masih dalam batas yang sopan karena itu hal yang tabu untuk disampaikan kepada orang lain apalagi lawan jenis dan bukan suami sendiri.

Lama kelamaan level cerita kamipun meningkat, aku sudah semakin berani menyampaikan hal yang sekecil-kecilnya tentang apa saja yang masing aku dan suamiku sukai. Begitu juga dengan Dimas yang berhasil dibuat mengaku kalau ternyata selama ini mengalami minder akibat bawaan lahir karena memiliki penis yang sangat besar. Dengan tetap berusaha keras mengendalikan hormon wanitaku aku berusaha untuk menghibur Dimas.

“Ah, kenapa harus minder.. Justru seharusnya bangga dong. Seperti aku, maaf kata nih, aku suka minder karena memiliki rambut yang berlebihan. kalau laki-laki seperti kamu sih nggak apa-apa, tapi aku suka kuatir suamiku tidak menyukainya. Buktinya setiap aku memintanya untuk mengoral selalu ditolak halus, tapi jangan salah.. Dia selalu puas dengan coitus kami”

Hari semakin malam dan topik diskusi kami semakin panas dan kamipun sudah berpindah ke sofa. Ketika kami membahas threesome sex dan entah sadar atau tidak sambil bercerita posisi duduk sudah tak karuan.. Aku bersandar di pegangan sofa dengan kaki diatas pangkuan Heru dan kaki sebelah berjuntai ke karpet dimana Dimas duduk dilantai sambil menikmati Heru yang memijat betis indahku dengan bulu-bulu halus yang tumbuh rapih disitu dan Dimas memijit telapak kakiku yang putih bersih dengan kuku dilapisi kutex transparan.

Begitu nikmat sensasi pijatan yang mereka berdua lakukan akhirnya aku merasa melayang apalagi pijitan Heru sudah naik ke arah pahaku dan aku ingat aku hanya mengangguk dengan mata terpejam ketika Heru dan Dimas melepaskan celana sportku dengan alasan untuk memudahkan pemijitan dan lupa kalau itulah pertahananku terakhir. Ketika kubuka mata untuk mencegah upaya mereka tapi ternyata terlambat karena celana itu baru saja terlepas dari ujung kakiku.

“Duh.. Kalian ini.. Aku jadi malu”

Tapi mereka tidak menggubris sebab mereka sudah asik masing-masing dengan kakiku.. Dan aku semakin bergumul dengan diri ini antara menolak dan sebaliknya.. Yang kesimpulannya aku dengan perlahan dan sambil menggoyang-goyangkan pinggul akibat sensasi yang begitu hebat membuka kakiku terbuka lebar-lebar dan melupakan rasa malu karena telah memamerkan bagian dari wanita yang mestinya aku tutupi dan hanya dapat dibuka didepan suamiku. Tapi peraturan itu seolah tidak berlaku karena dibawah selangkanganku sana dua lelaki muda sedang menggeluti pahaku dan.. Oow mereka tiba-tiba berubah seperti hewan lapar sedang rebutan makanan dan begitulah mereka sedang saling dorong untuk bisa melahap kemaluanku..

Dan akhirnya Dimas mengalah membiarkan Heru melahap kemaluanku dengan rakusnya, selanjutnya giliran Dimas yang berbeda dari Heru.. Lebih lembut tapi oougghh seluruh permukaan kemaluanku terasa dikunyah, penasaran mau tahu apa yang sedang Dimas lakukan, kubuka mata dan kulihat mulutnya yang ditumbuhi janggut dan kumis tebal itu telah menutupi kemaluanku membuat aku kegelian hebat serta tiba-tiba kurasakan ada sesuatu yang mendesak dari bagian bawahku yang ternyata cairan kewanitaanku mengalir deras memenuhi rongga kemaluanku..

Setelah puas menggeluti kemaluanku Heru mengambil handuk dan menyeka kemaluanku.. Dan mengambil sesuatu yang ternyata krim cukur jenggot dan shaver.. Aku tahu apa yang akan Heru lakukan tapi akibat kenikmatan oral sex itu aku seperti tidak berdaya dan tetap telentang dengan posisi mengangkang..

“Heru apa yang mau kamu lakukan??”

Tapi pertanyaanku tidak digubris malah Heru memberi kode kepada Dimas yang kemudian Dimas menghampiriku dan didepan mataku dia menurunkan celana pendeknya.. Dan wow.. Batang kemaluan Dimas ternyata sudah memuai sampai sebesar tangan bayi.. Dengan tetap lembut Dimas menyodorkan Super Dicknya ke mulutku sehingga mulutku sekarang penuh sesak dengan penis milik Dimas sementara dibawah sana Heru rupanya asik mencukuri kemaluanku.. Semua proses itu berlangsung kira-kira 15 menit dan ketika “pekerjaan” Heru selesai Dimaspun mencabut penisnya dari mulutku.

Ketika kutengok kemaluanku sudah licin memerah.. Setelah membersihkan sofa dari bulu-buluku Heru memulai tugas lainnya, penisnya yang tidak kalah besarnya dari milik Dimas segera melompat dari celana pendeknya.. Sehingga yang terlihat sekarang 3 insan berlawanan jenis sudah polos tidak mengenakan apa-apa terlebih aku sudah seperti bayi karena kemaluanku sudah tidak ditumbuhi bulu lagi dan sedang digosok-gosok oleh batang kemaluan Heru sampai cairanku keluar seolah menyatakan siap untuk menyambut penis Heru yang besar dan penuh urat..

“Sshh..”

Hanya desisan itu yang keluar dari mulutku ketika kepala cendawan itu menerobos perlahan kewanitaanku yang selama ini hanya digunakan oleh suamiku R. Secara naluri mulutku terbuka lebar ketika kurasakan batang kemaluan Heru sudah tertanam seluruhnya di dalam liang senggamaku.. Setelah beberapa saat didiamkan yang ada dibenakku adalah betapa sesaknya kemaluanku dan gatalnya minta ampun sehingga tanpa sadar pinggulku bergoyang yang disambut dengan genjotan Heru..

Selang beberapa lama Heru tiba-tiba membalikkan tubuh kami dengan penis masih tetap tertanam sehingga sekarang aku berada diatas Heru memberiku kesempatan untuk mencari sensasi sendiri.. Hal ini berlangsung cukup lama entah sudah berapa kali aku orgasme.. Tak lama kurasakan bokongku ada memukul-mukul pelan, ketika kutengok ternyata Dimas sedang dalam posisi tegak dibelakangku dan mengoleskan baby oil ke anusku.. Selanjutnya yang terjadi adalah kenyataan 2 penis besar mereka sudah tertanam dalam tubuhku.. Luar biasa nikmatnya sampai akhirnya merekapun ejakulasi dan menumpahkan di wajahku..

Setelah itu kami bertiga tertidur pulas dan pagi-pagi kami bangun melanjutkan pekerjaan yang tersisa. Bedanya dengan kemarin-kemarin adalah sekarang kami bekerja tanpa sehelai benangpun dan bila sudah mulai bosan kami selingi dengan persetubuhan.. Kadang aku melayani sekaligus berdua, kadang satu-satu dan sementara salah satu dari mereka tetap bekerja.

Lucu memang.. Tapi itulah pengalaman dahsyat yang aku alami dan membuat aku jadi sekarang jadi ketagihan.. Malah aku pernah melayani Heru dan Dimas ditambah 3 orang temannya yang lain.. Luar biasa.. Benar-benar aku sudah punya dunia sendiri diluar ijin suamiku R.

E N D

Bali Bagus 2

Filed under: Vidio Movie, RAMAI-RAMAI

Rudi kemudian menarik punggung Dewi sehingga punggung Dewi tegak. Saya menjilat dan menghisap seluruh payudara Dewi. Tapi itu tidak bertahan lama karena tangan Rudi menjalar keseluruh tubuh Dewi. Akhirnya saya mengambil bir di mini bar lalu duduk dikursi menikmati adegan seksual yang liar itu. Beberapa kali Dewi melenguh pertanda ia mengalami orgasme tapi Rudi tidak berhenti sedikit pun.

Dewi kemudian melepaskan dirinya dan mendorong Rudi untuk duduk ditempat tidur. Dewi duduk dipangkuan Rudi dan mulai menggoyang pinggulnya. Pinggul dan pantat Dewi terlihat merah karena ditampar Rudi. Tak henti-hentinya Dewi berceracau disetubuhi Rudi. Akhirnya tidak lama kemudian Rudi ejakulasi. Rudi memegang pinggul Dewi dan meremasnya dengan keras. Dewi pun kembali orgasme lalu mereka berdua berebahan ditempat tidur dengan lemas.

Tiba-tiba telepon berbunyi..

“Halo, ini Henri, sudah tidur kalian?” tanya Henri.
“Belum, kita lagi bersenang-senang. Ada Dewi disini” jawab saya.
“Wah, habis seks ya?” tanya Henri dengan semangat.
“Hehehe, begitulah. Kamu tidur ya? Atau jangan-jangan habis seks dengan Carol” tanya saya menduga-duga.
“Saya ditempat Carol. Saya ketempat kalian deh” kata Henri.

Waduh, ternyata Henri baru selesai menyetubuhi Carol. Saya menceritakan ke Dewi percakapan tadi. Dewi tertawa lalu pergi ke kamar mandi. Tak lama kemudian, pintu bel kamar berbunyi dan saya bukakan. Tampak Henri mengenakan celana pendek dan kaos sedangkan Carol mengenakan kaos tidur yang panjang hingga ke dengkul. Dari balik bajunya terlihat ia tidak memakai BH.

“Wah, kalian abis pesta pora nih” kata Henri sambil tertawa melihat saya yang telanjang dan Rudi yang juga telanjang tapi tidak sadarkan diri.
“Kamu juga nih abis pesta dengan Carol” kata saya. Carol pun ikut tertawa. Mata Carol terus tertuju pada kontolku yang sudah berdiri.
“Mana Dewi?” tanya Henri.
“Di kamar mandi” jawabku.

Henri mengetuk pintu kamar mandi lalu masuk kedalam. Terdengar suara Dewi dan Henri tertawa-tawa kemudian hening.

“Kelihatannya mereka sudah mulai” kata saya kepada Carol.

Carol menghampiri diriku lalu mencium bibirku. Saya langsung membalasnya dan kita saling berpagutan. Tanganku mulai mengangkat kaos yang dipakai Carol dan membukanya. Kemudian saya melihat tubuh Carol yang telanjang bulat. Payudaranya besar sekali, ukuran 36C. Tubuhnya yang ramping terlihat indah dan bulu kemaluannya hanya disisakan sedikit didaerah vaginanya.

Dengan gemas, saya menghisap payudaranya sambil jongkok didepan Carol. Carol meremas kepalaku menahan gairah. Lalu ciumanku turun ke perut Carol dan ke vaginanya. Carol mengangkat satu kakinya sehingga dengan mudah saya menjilat vaginanya. Tercium bau sabun di daerah vagina Carol. Syukurlah Carol masih sempat membersihkan dirinya setelah bersetubuh dengan Henri. Saya membuka bibir vagina Carol dan menyedot vaginanya. Carol mengerang dengan penuh nikmat.

Puas melahap vaginanya, saya mengangkat tubuh Carol. Kaki Carol melingkar dipinggangku dan saya memasukkan kontolku ke vaginanya. Dalam posisi menggendong, saya menyandarkan punggung Carol ke dinding lalu saya mulai menggenjot Carol. Payudara Carol yang besar meliuk ke kiri dan kanan mengikuti irama goyangan. Tak henti-hentinya saya mencium bibirnya yang merah dan mungil. Benar-benar gemas aku dibuatnya.

Dari dalam kamar mandi, terdengar suara Dewi yang melenguh. Carol pun ikut melenguh tiap kali kontol saya menghunjam ke vaginanya. Posisi ini hanya bertahan beberapa menit karena cukup berat menggendong Carol sambil menyetubuhinya. Saya duduk di kursi dan Carol duduk dipangkuanku menghadap saya. Vagina Carol terasa mendenyut-denyut di ujung kepala kontolku.

Dengan enerjik, Carol menggoyang pinggulnya naik turun sambil merangkul kepalaku. Saya menghisap payudaranya yang besar sambil menggigit putingnya. Tangan kananku meraih ke anusnya dan saya memasukkan jari telunjukku ke anusnya. Tampaknya ini membuat Carol semakin liar. Carol terus menerus menghujamkan kontolku sampai ia mencapai orgasme. Di saat yang sama saya pun ejakulasi. Carol duduk terkulai lemas dipangkuanku. Saya menggendong Carol ketempat tidur lalu kita berdua tertidur sambil berpelukan.

Sabtu

Telepon berbunyi jam 6:30. Saya memang meminta ke operator untuk dibangunkan jam 6:30 karena hari ini akan ada tur. Saya melihat Carol masih tidur telanjang bulat dalam pelukan saya. Dewi dan Henri tidur dikarpet beralaskan comforter tempat tidur. Mereka pun masih telanjang bulat. Rudi masih tidur dalam posisi sama. Saya membangunkan mereka semua untuk siap-siap pergi tur. Berhubung Dewi, Carol dan Henri belum pernah ke Bali, maka mereka dengan semangat langsung kembali ke kamar masing-masing untuk bersiap. Jam 8:00, kami berempat sudah di restaurant untuk sarapan. Rudi tidak ikut karena kepalanya masih sakit.

Tur menggunakan 2 buah bis. Tujuan pertama adalah ke Tanah Lot, lalu ke Ubud, Kintamani lalu menonton pertujukkan Kecak. Saat sedang menonton tari Kecak, saya menerima SMS dari Rudi

“Gue lagi di Kuta nih. Kenalan sama cewek bule. Cuantik banget. Sekarang lagi di kamar hotel si cewek di Kuta. Have fun ya di tur karena gue juga sedang having fun”

Saya tertawa melihatnya. Tur berjalan dengan menyenangkan. Saya memfoto banyak obyek yang menarik. Tak lupa saya memfoto Dewi dan Carol sebagai modelku. Jam 18:00, tur akhirnya tiba kembali di hotel. Semua peserta terlihat senang dan puas.

Di lobby hotel, Henri buru-buru naik taksi karena ia mau ke Legian untuk beli beberapa cinderamata yang tidak sempat dia beli. Dia menawarkan ke kita untuk ikut tapi kita semua capek. Akhirnya Henri pergi sendiri naik taksi ke Legian.

“Mau ngapain nih malam ini? Malam terakhir” tanya saya.
“Saya capek banget, pengen bubble bath” kata Carol.
“Saya juga, enak nih kalau berendam air hangat” kata Dewi.
“Kita bertiga berendam aja yuk” saya menawarkan dengan semangat. Dewi dan Carol tertawa lalu kita menuju ke kamar Carol.

Kamar Carol walaupun single bed tetapi kamarnya sedikit lebih besar karena terletak di ujung gang. Bath tub diisi air hangat oleh Carol dan dituang sabun bubble. Kita bertiga lalu membuka baju dan berendam ke bath tub. Ukuran bath tubnya terlalu pas untuk kita bertiga apalagi tubuh saya yang tinggi. Carol duduk dipangkuan saya sementara saya berselonjor di bath tub sedangkan Dewi duduk diujung bath tub.

Kontol saya yang berdiri sekali-sekali terlihat menyembul dari balik air. Payudara Carol pun terlihat setengah menyembul dari balik air. Dewi terlihat sedang menikmati air hangat. Ia mengikat rambutnya keatas. Kaki kanan saya menyelip ketengah kaki Dewi dan sekali-sekali saya menggelitik selangkangan Dewi dengan jempol kaki. Dewi kegelian lalu meremas biji saya. Carol tertawa-tawa melihat tingkah kita berdua.

Tangan kiri saya pun mulai meremas payudara Carol dengan gemas. Carol mulai memejamkan matanya menikmati remasan tanganku sementara tangan kanannya dengan perlahan mengocok kontolku. Gairah saya kembali bangkit, saya menarik Carol keatas dan medudukkannya diujung bath tub. Saya membuka kakinya dan mulai menjilat vaginanya. Saya dalam posisi nungging didepan Dewi.

Dewi kemudian menyelinapkan tangannya dari antara kakiku dan meremas kontolku. Wah nikmat sekali rasanya merasakan tangan Dewi yang mengocok kontolku sambil menjilat vagina Carol. Tiba-tiba kenikmatan saya semakin bertambah saat Dewi membuka lipatan pantatku danmenjilat anusku, gairahku terasa meningkat dengan pesat dan saya serasa seperti terbang di awang-awang. Masih dalam posisi menungging, saya terus menjilat vagina dan anus Carol, Carol menikmati itu semua sambil meremas payudaranya.

“Balik dong badannya” kata Dewi.

Saya membalikkan tubuhku sehingga saya kembali berselonjoran di bath tub, Dewi membungkukkan tubuhnya dan mulai menghisap kontolku. Carol mengangkang didepan mukaku dan menyodorkan vaginanya ke mulutku. Langsung kembali saya jilat vaginanya. Posisi ini berlangsung sekitar 5 menit. Dewi kemudian mengangkang dipinggulku lalu memasukkan kontolku ke vaginanya.

Air dan buih meluap keluar bath tub saat Dewi mulai mengocok kontolku dalam vaginanya. Carol pun memerosotkan tubuhnya sehingga ia duduk diatas perutku dan saya bisa mencium payudaranya. Tangan Dewi meraih ke punggung Carol lalu memijit punggung Carol. Carol tersenyum saat dipijit Dewi. Kemudian dengan nakalnya tangan Dewi menyusuri punggung dan pantat Carol lalu menyelinapkan tangannya ke vagina Carol. Carol buru-buru mengangkat pantatnya dan berkata

“Aduh maaf Dewi, tapi saya belum pernah bercinta dengan wanita” kata Carol.
“Just go with the flow, jangan dilawan” kata Dewi.

Saya mendudukkan kembali Carol di perutku lalu kembali mencium payudaranya. Mata Carol terpejam dengan erat saat tangan Dewi mulai masuk ke selangkangannya dan memainkan klitorisnya. Carol menggigit bibirnya tiap kali jari Dewi menyentuh vaginanya. Tak lama tangan Dewi tidak lagi berada di vagina Carol karena Dewi sendiri sudah semakin liar menggoyang pinggulnya. Carol rebahan di sampingku lalu memeluk tubuhku sambil menyaksikan Dewi yang bagaikan kuda liar beraksi diatas kontolku. Beberapa menit kemudian saya ejakulasi bersamaan dengan Dewi. Setelah seluruh peju saya keluar dalam vagina Dewi, Dewi keluar dari bath tub lalu membersihkan vaginanya kemudian kembali masuk ke bath tub.

Carol belum mendapat giliran. Saya meminta Carol keluar dari bath tub lalu nungging dengan bersandar pada wastafel. Payudara Carol yang besar terlihat menggelantung dengan indah. Saya berdiri dibelakang Carol lalu mulai menyetubuhinya. Carol mendesah-desah dengan penuh nikmat saat kontoku keluar masuk vaginanya. Dewi ikut keluar dari bath tub lalu jongkok dibawah Carol. Ia meraih payudara Carol dam mulai meremasnya. Mulut Carol terbuka lebar menikmati kocokan dari kontol dan remasan dari Dewi.

Tubuh kami bertiga yang basah dan penuh sabun membuat suasana menjadi tambah erotis. Dengan rakus, Dewi melahap kedua buah dada Carol dan kelihatannya Carol sudah mulai terbuka dengan Dewi. Ia membalas dengan membelai-belai kepala Dewi. Karena pegal dengan posisi ini, saya minta mengubah posisi. Saya menarik Carol dan Dewi keluar dari kamar mandi. Carol saya dudukkan ditepi tempat tidur. Kakinya saya buka lebar dan kembali kontolku menghunjam ke vaginanya. Dewi tak kalah asyik, ia berbaring di sebelah Carol dan perlahan mulai mencium bibir Carol. Carol tidak beraksi dan membiarkan Dewi mencium bibir sambil meremas payudaranya.

Beberapa menit berlalu dan Carol mulai membalas ciuman Dewi. Keduanya saling berpagutan dan french kiss. Dewi lalu berlutut diatas muka Carol dan menyodorkan vaginanya ke Carol. Carol meremas pantat Dewi dan mulai menjilat vagina Dewi. Nafas Dewi terdengar memburu menahan nafsu. Pemandangan indah ini membuat saya semakin bergairah sehingga saya ejakulasi. Carol rupanya telah orgasme berkali-kali saat disetubuhi di kamar mandi dan ketika sedang menjilat vagina Dewi.


Malam itu, saya, Carol dan Dewi kembali bersetubuh. Kami sempat beristirahat sebentar dan kembali bersetubuh ketika Henri dan Rudi sudah kembali. Malam di Bali yang sungguh indah. Hari Minggu, kami semuanya terpaksa berpisah dan kembali ke tempat masing-masing.

E N D

MENEMBUS bATAs 2

Filed under: RAMAI-RAMAI

Berdua kami mengayuh biduk birahi menyeberangi lautan nafsu, lenguh dan desah kenikmatan mengiringi perjalanan kami. Beberapa menit kemudian kamipun telah sampai ke seberang kenikmatan, hanya berselang beberapa detik setelah Dibyo menumpahkan semua cairan birahinya ke rahimku, aku menyusulnya menggapai puncak kenikmatan dari suami sobatku.

Tubuh lemasnya langsung terkulai menindihku, napas kami menyatu mengiringi denyut jantung yang berdetak kencang, hembusan napasnya menerpa telingaku, aku kembali terbuai akan kehangatannya meski perlahan gairah kami mulai menurun.

Beberapa saat suasana hening, entah apa yang berkecamuk dalam pikirannya, apakah menyesal telah meniduri temannya ataukah puas telah menikmati tubuhku, hanya dia yang tahu. Bagiku tugas melayani seorang tamu telah kulaksanakan, kebetulan dia adalah teman dan suami sobatku, itu adalah diluar kehendak kami masing masing.

Mungkin karena sama sama segan, permainan kami biasa biasa saja, bahkan relatif singkat, tak ada pergantian posisi seperti umumnya, baik dari dia maupun dari aku sendiri.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi ketika telepon berbunyi, dengan segan Dibyo menerima, yang pasti dari temannya di kamar sebelah.

“Hei, kamu yang ke sini atau aku yang ke sana, si kampret satu itu sudah pulang soalnya” kata suara dari seberang sayup sayup kudengar, aku tak tahu maksudnya.
“Kali ini nggak bisa Jon, kita sendiri sendiri aja deh” jawabnya.
“Kok kamu gitu sih, mentang mentang dapat yang si cantik Lily terus nggak mau berbagi, kawan macam apa itu” dari seberang terdengar dengan nada tinggi, aku masih nggak tahu maksudnya.

Dibyo diam sejenak, menatapku dalam dalam seakan hendak mengatakan sesuatu.

“Dia mau ke sini” katanya pelan.
“Emang sudah selesai? Mau check out? Malam malam begini? Tanggung amat” tanyaku nggak ngerti.
“Enggak, mau pindah bergabung ke sini sama ceweknya”
“Pindah? Bergabung? Trus?” tanyaku semakin tak mengerti.

Dia diam sejenak.

“Trus.. Trus.. Ya disini.. Ber.. Berempat” jawabnya terpatah patah, kulihat mimik muka bersalah di wajahnya.
“Sorry ya, aku telah membawamu ke situasi seperti ini, sudah kebiasaan untuk bertukar pasangan atau bersamaan pada akhirnya” lanjutnya sambil mengepulkan asap rokok dari mulutnya, sepertinya untuk menutupi rasa bersalahnya.

Sebenarnya aku tidak keberatan melakukan hal itu, toh sudah sering kulakukan, tapi ini di depan Dibyo, ada keengganan tersendiri yang menjadi penghalang, entahlah perasaan jaga image masih kuat kurasakan. Disamping itu, aku agak kaget mendapati kenyataan bahwa Dibyo yang kukenal cukup pendiam, meski aku cukup yakin sebelumnya dia bukan tipe suami yang setia, ternyata menjalani petualangan seperti ini dengan teman temannya, sungguh jauh dari penampilan keseharian yang terkesan pendiam.

“Terserah kamu saja lah, toh kamu boss-nya” jawabku lirih berusaha memberi kesan terpaksa, takut kalau dia tahu kalau aku sudah sering melakukan permainan seperti ini.
“Ly, kamu boleh menolak, bebas kok, paling resikonya aku dijauhi teman teman dan dibilang egois”
“Janganlah kalau sampai ditinggal teman teman hanya masalah beginian, malu kan” aku menghibur.
“Sebenarnya aku nggak rela kalau kamu harus melayani orang lain, apalagi dihadapanku, tapi semua terserah kamu deh”

Aku diam sejenak memikirkan kalimat yang “innocent” untuk menjawab kata IYA, tak tega rasanya mengatakan kalau selama ini akupun selalu melayani orang lain, apa bedanya dengan sekarang.

“Okelah kalau itu maumu” jawabku sembari mengambil rokok yang ada di jarinya, kulihat sorot mata aneh dari matanya.
“Jon, kamu ke sini aja deh” akhirnya dia meminta temannya untuk datang.

Sambil menunggu kedatangan si Josua, aku mandi membersihkan tubuh terutama vaginaku dari sisa sisa keringat maupun sperma Dibyo.

Tak lebih 10 menit kemudian, teman Dibyo sudah berada di kamar, ternyata gadis yang datang bersamanya adalah Lenny, bukan Cindy yang tadi bersamanya, rupanya dia telah melakukan pertukaran dengan sebelumnya.

“Len, bukannya dia tadi sama Cindy, kok sekarang sama kamu, sudah tukeran rupanya ya” bisikku ketika aku dan Lenny berada di kamar mandi berdua.
“Gila tuh si Josua, kuat banget, dan malam ini dia bakal dapat 3 cewek berurutan” bisiknya pelan.

Kamipun tertawa cekikan di kamar mandi.

Dengan berbalut handuk di dada, aku dan Lenny keluar kamar mandi, Dibyo duduk di sofa sementara Josua sudah telentang di ranjang, keduanya sudah dalam keadaan telanjang.

Lenny langsung mengambil posisi di antara kaki Dibyo, aku mau tak mau harus langsung menuju ranjang melayani Josua. Kejantanan Josua yang sudah tegang memang mengagumkan, meski tidak terlalu panjang tapi cukup besar diameternya dengan hiasan otot melingkar terlihat semakin kokoh.

Josua langsung menarik tubuhku dalam pelukannya, dilemparkannya handuk penutup tubuhku dan tubuh telanjang kami saling berangkulan.

Kubalas lumatan bibirnya dengan tak kalah gairah, desahankupun terlepas bebas tatkala bibir dan lidahnya mempermainkan kedua putingku bergantian. Sesaat kulirik Dibyo sudah merem melek menikmati sapuan bibir mungil Lenny pada penisnya sambil meremas remas kedua buah dadanya yang sedikit lebih besar dari punyaku. Sudah sering kudengar kemahiran Lenny dalam ber-oral, kini kulihat sendiri bagaimana bibirnya menyusuri penis Dibyo dengan bergairah.

Perhatianku kembali beralih ke Josua saat dia membalik tubuhku dibawahnya, lidahnya dengan lincah menari nari dikedua putingku, menyusur turun hingga selangkangan dan kembali bergerak liar saat mendapati klitorisku. Kombinasi antara jilatan dan kocokan jari jari tangannya di vagina membuatku menggeliat dan mendesah dalam nikmat sambil meremas remas kepala Josua yang berada di selangkanganku.

Tiba tiba aku dikagetkan teriakan Lenny, rupanya aku terlalu asik melayang layang hingga tak memperhatikan mereka telah berganti posisi, kepala Dibyo sudah berada di antara paha Lenny sedang asik menjilati vaginanya, ternyata itu yang membuat Lenny menjerit nikmat.

Meskipun cumbuan permainan oral Josua begitu nikmat, aku banyak membagi perhatianku pada Dibyo dan Lenny, sekedar ingin tahu bagaimana permainan Dibyo bila dengan gadis lain setelah aku mengalami dengannya biasa biasa saja. Baru sekarang aku tahu ternyata Dibyo juga seorang great fucker, dengan telaten dia menyusuri seluruh lekuk tubuh Lenny dengan lidahnya, bahkan hingga jari jari kaki tak luput dari sapuan lidahnya, terang saja membuat Lenny kelojotan tak karuan. Andai saja dia tadi melakukannya padaku. Beruntunglah Wenny bisa mendapatkan cumbuan seperti itu setiap saat.

Perhatianku terganggu saat tubuh Josua sudah mekangkang di atas dadaku, menyodorkan kejantanannya ke mukaku, segera kuraih, kukocok sejenak dengan tanganku lalu kujilati kepala penisnya, terasa asin akan cairan yang sudah menetes keluar. Beberapa detik kemudian penis Josua sudah lancar mengisi mulutku, keluar masuk mengocoknya.

Puas mengocokkan penisnya ke mulutku, Josua bergeser ke bawah, mengatur posisinya diantara kakiku, aku membuka lebih lebar saat kepala penisnya menyapu bibir vagina dan perlahan menyeruak membelah celah celah sempit liang kenikmatanku. Perlahan tapi pasti penis itu melesak semakin dalam, namun gerakan penetrasi terganggu ketika Dibyo dan Lenny berpindah ke ranjang di samping kami sehingga mengharuskan kami sedikit bergeser memberi tempat pada mereka. Terpaksa Josua menarik keluar penisnya yang sudah setengah jalan menyusuri liang kenikmatanku.

Aku dan Lenny telentang berdampingan dengan kedua laki laki sudah siap diantara selangkangan kami masing masing. Namun sebelum Josua melesakkan kembali penisnya, Dibyo bergeser ke kepalaku, menyodorkan penisnya tepat di atas mulutku. Segera kuraih dan kumasukkan ke mulutku, hal yang tadi tidak kami lakukan, bersamaan dengan penis Josua mulai meluncur masuk liang vaginaku. Sesaat kuhentikan kulumanku ketika Josua sudah melesakkan seluruh batang kejantanannya, terasa penuh dibandingkan dengan Dibyo sebelumnya. Akupun melanjutkan kulumanku pada Dibyo ketika Josua memulai kocokannya. Hanya beberapa menit Dibyo mengocok mulutku kemudian beralih ke mulut Lenny, rupanya dia hendak membandingkan antara kulumanku dengan Lenny.

Tubuh Josua sudah menindihku, sodokan penisnya semakin cepat dan keras penuh nafsu gairah, akupun mengimbangi dengan jeritan dan desahan nikmat sembari menjepitkan kakiku di pinggangnya. Bibir Josua tak pernah lepas dari tubuhku, menyusur leher, pipi, bibir lalu kembali ke leher.

Kulihat Dibyo masih mengocok bibir Lenny sambil memperhatikan expresi kenikmatan yang terpancar di wajahku, expresi yang tidak aku tunjukkan saat bersamanya dan aku yakin dia mengetahui itu, sesekali jari tangannya dimasukkan ke mulutku yang tengah menengadah mendesah, akupun membalas dengan kuluman dan mempermainkan lidahku pada jari jarinya.

Berulangkali tubuhku terhentak terkaget tapi nikmat merasakan hentakan keras dari Josua, kudekap tubuhnya semakin rapat seakan tubuh telanjang kami menyatu dalam nikmatnya birahi.

Josua mengangkat tubuhnya, masih tetap mengocokku dengan tubuh setengah jongkok, justru kurasakan penisnya semakin dalam tertanam. Bersamaan dengan itu, Dibyo sudah berada di antara kaki Lenny bersiap melesakkan penisnya tapi dia tidak langsung memasukkannya, justru lebih suka melihat wajahku yang tengah mendesah sambil mengamati bagaimana penis temannya keluar masuk menyodok vagina sobat istrinya ini.

Ke bagian 3

kekasihku tiga kakak beradik

Filed under: RAMAI-RAMAI

Dua minggu pertama sejak aku meniduri Kak Rina dan Kak Rani tak pernah lewat begitu saja. Kencan biasanya kami lakukan pagi hari antara pukul 09.00–12.00 WIB. Saat itu Yanti dan anak-anak Kak Rani ke sekolah, suami Kak Rani ke kantor. Suami Kak Rina sudah hampir 1 bulan ini kanvas ke luar kota, ke Surabaya, Malang dan beberapa kota besar lainnya di Jawa Timur.

Sementara itu hubunganku dengan Yanti tetap berjalan seperti biasanya, aku bahkan semakin sering meniduri Yanti di rumahnya. Kak Rina benar-benar memberi kesempatan penuh kepada kami untuk bercumbu dan berkencan sepuas hati. Pernah aku sengaja meniduri Yanti di sofa ruang tamu, Kak Rina melihat dengan mata kepala sendiri saat aku menghujani memek Yanti dengan serbuan kontolku yang membuat nikmat Yanti.

Saat aku dan Kak Rina berkencan, maka semua gaya yang aku lakukan dengan Yanti harus aku praktekan. Rupanya Kak Rina punya hobby mengintip, katanya menambah gairahnya saat kami bersama. Pada hari ke-10 sejak aku pertama kali meniduri Kak Rina dan Kak Rani, kami bertiga pergi dan kencan di suatu hotel di Jl. Setiabudi. Hari itu hari Sabtu, sekitar pukul 13.00 WIB, kami bertiga sudah ada di salah satu kamar.
Kami mulai permainan tersebut dengan oral antara Kak Rina dan Kak Rani. Di atas tempat tidur mereka saling menjilati memek dalam posisi 69. Kak Rina di atas sedang Kak Rani di bawah. Mereka berdua benar-benar sudah lupa.., tak lama kemudian aku melibatkan diri. Pertama-tama memek Kak Rina aku jilati, sementara kontolku dikulum dan disedot oleh mulut Kak Rani.

Selang beberapa lama, kumasukkan penisku ke kemaluan Kak Rina. Kugenjot keras-keras pinggulku, sehingga Kak Rina bergoyang hebat maju mundur mengimbangi gerakkanku. Lidah Kak Rani tak henti-hentinya menjilati memek Kak Rina, tak dapat kubayangkan betapa nikmatnya Kak Rina, dia mengerang, menjerit dan memekik kecil saat menikmati hunjaman kontolku di liang vaginanya.

Beberapa kali kontolku kutarik keluar, dan kumasukkan ke mulut Kak Rani yang ada di posisi bawah, wuuah.., nggak bisa kuceritakan seperti apa nikmatnya. Dikulum dan dikocok pelan penisku, setelah agak berkurang dorongan maniku yang sepertinya sudah pengin keluar, kumasukkan lagi penisku ke memek Kak Rina.
Sampai akhirnya Kak Rina mengerang dan mendengus keras, menarik seprei keras-keras seolah hendak merobeknya dan akhirnya terlepaslah puncak gejolak nafsunya dalam genjotanku. Kuganti posisi, memek Kak Rani yang telentang di bawah kugenjot keras-keras dengan penisku, dinding memek Kak Rani sungguh nikmat, dan berbau harum.., Kak Rani tak kalah keras erangan dan jeritannya, pantatnya melonjak-lonjak mendorong memeknya menyambut kehadiran kontolku di dalam vaginannya, sementara lidahnya tetap menghujani memek Kak Rina.
Jika aku merasa hampir keluar, cepat-cepat aku cabut penisku dan segera kusorongkan ke mulut Kak Rina yang segera menhisap dan melumat kontolku di dalam mulutnya, setelah berkurang denyutan di penisku aku masukkan lagi ke memek Kak Rani. Begitu berulang-ulang, hingga akhirnya saat puncak kepuasan aku dapat.

Aku tumpahkan air maniku ke dalam memek Kak Rani. Kak Rani benar-benar menikmati denyutan kontolku di dalam memeknya dan dengan ikhlas menerima kiriman benih spermaku di rahimnya. Keringat mengalir keluar dari dalam tubuh kami dengan deras, bercampur dan membasahi seprei. Tetesan air maniku dan mani Kak Rani juga menetes di atas kasur. Kami berbaring kelelahan, kurangkul tubuh Kak Rani, juga Kak Rina. Mereka berdua benar-benar puass.., dan menikmati betul moment indah nikmat kami tersebut. Setelah beberapa saat kami istirahat, kami ulangi lagi permainan kami. Aku buat mereka berdua mabuk kepayang, hingga akhirnya aku lontarkan spermaku di rahim Kak Rina.

Lima belas menit istirahat, satu babak permainan lagi kami lakukan. Dan setelah itu kami berkemas pulang karena hari sudah menjelang maghrib. Tak terasa kami kencan hampir 4 jam lebih di kamar hotel itu. Sungguh suatu pengalaman yang tak terlupakan. Turun dari angkot kami masih bersama dan di mulut gang kami berpisah. Aku segera pulang ke rumah. Sesampai di rumah aku terkejut, Yanti sudah menungguku di kursi ruang tamu, sejak Yanti menjadi kekasihku dia kuberi satu anak kunci rumah dan kamarku. Jadi di rumah kontrakkanku Yanti merasa seperti di rumah sendiri. Saat itu temen satu kost sedang pulang ke daerah asalnya, biasanya setiap hari Sabtu minggu ke-empat. Yanti duduk sendiri sambil membaca majalah di sofa ruang tamu.

Begitu melihatku segera dia bangkit dari duduknya dan segera menghampiri aku, celaka betul.., aku bakalan nggak bias istirahat rupanya..
Kututup pintu rumah dan segera kukunci, aku tahu bahwa sebentar lagi pertempuran seru bakalan terjadi antara aku dan Yanti. Sebelum dia memberondongku dengan berbagai pertanyaan, segera kugelandang dia masuk ke kamar dan langsung kukunci mulutnya dengan ciuman penuh nafsu. Yanti terbuai dengan ciumanku, dan langsung dia lepas seluruh pakaiannya juga pakainku. Selanjutnya pertempuran dengan musuh dan medan yang baru aku mulai. Aku serbu memeknya dengan genjotan dan hentakkan penisku.

Erangan dan rintihannya keluar dari mulutnya.
Selang 20 menit kemudian kami capai puncak kenikmatan bersama, tubuh kami lemas, keringat bercucuran dan tak henti-hentinya mulut dan bibir kami saling pagut.
Yanti bangkit dan menindihku dengan posisi terbalik 69, memeknya tepat di mukaku dan mulutnya sigap menghisap dan mengocok penisku, memeknya yang berlendir aku jilati, dia menerang-erang, eegghhm..uugh.., eughmm.., sambil terus dikulumnya kontolku.
Akhirnya kontolku kembali tegak berdiri, Yanti mengambil inisiatif, ia jongkok di atas tubuhku, kontolku dipegang dan digesek-geseknya didinding luar memeknya, badannya menghadapku, sehingga dengan mudah kuraih payudaranya dan aku hisap puting susunya. Pelan-pelan dimasukkan penisku ke dalam memeknya, dengan mudah kontolku menyeruak masuk ke dalam memeknya, menggesek dinding dalam vaginannya. Yanti nampak histeris, langsung digoyang-goyangnya badannya naik turun dengan cepat, dari mulutnya terdengar erangan dan terkadang pekikan.

Aku memberi respons setiap gerakkannya, penisku masih cukup kuat rupanya melakukan senggama satu babak lagi dengan Yanti. Tubuh Yanti terlonjak-lonjak di atas tubuhku saat kugenjot pantatku naik-turun, penisku menggesek-ngesek liang kemaluannya.., membuat Yanti merasakan kenikmatan yang luar biasa.., matanya kadang terpejam kadang menedlik saat menikmati hunjaman kontolku di memeknya. Semakin lama gerakannya semakin menggila dan akhirnya.. tubuhnya terdiam kejang di atas tubuhku, pelukannya semakin erat dan semakin keras erangannya.. Kupercepat gerakan pantatku, agar segera dapat kuutumpahkan air maniku ke dalam vaginanya.., akhirnya.. Dengan suatu sentakan yang keras.. aku lontarkan spermaku masuk menyembur keras di dalam memeknya.., ouhh.. nikmat.. Yanti..

Hari sudah malam, sekitar pukul 21.00 WIB permainan babak kedua kami berakhir. Kami berbaring saling memeluk, tutbuh kami basah oleh keringat. Nampak senyum kepuasan terpancar dari bibir Yanti.., dengan penuh mesra kucium bibr Yanti dan sekujur mukanya. Aku bisikkan ke telinganya bahwa aku menyayanginya.., dia cubit perutku dan dicium mulutku dengan lembut.., kami bercumbu.. Saling menumpahkan rasa kasih dan sayang kami masing-masing. Kuminta dia tidur menemaniku malam ini, dengan sepenuh hati diiyakannya ajakanku.
Saat kami bercumbu, terdengar perutku berkeruyuk, tanda minta diisi. Aku bangkit dan segera keluar ke dapur.., Yanti mengikutiku dan membantuku menyiapkan makan malam. Dengan cekatan dan trampil, Yanti menghangatkan sayur dan nasi, khusus untukku dia goreng telor mata sapi, biar tambah kuat katanya sambil ketawa cekikikan..
Aku gemas sekali, kupeluk tubuhnya dan kuciumi lehernya. Tubuh Yanti mengelinjang menahan geli. Sessat kemudian makan malampun siap sudah, kami segera menyantap de-ngan cepat, seolah tak mau kehilangan waktu percuma untuk bermesraan.

Yanti memang pandai merawat tubuhnya, dia makan tidak terlalu banyak, sehingga bentuk tubuhnya tetap nampak indah. Selesai makan dibereskan meja dan dicucinya piring dan gelas yang kotor. Aku menemaninya di dapur, sambil tak hentinya tanganku yang nakal menggodanya, kuremas payudaranya, pantatnya, dan kugesek-gesek memeknya, yang masih tertutup celana panjang hitam ketat. Terasa lipatan celah memeknya ditanganku, rupanya Yanti nggak mengenakan celana dalam. Sambil kuper-erat pelukanku ke tubuhnya, kuperkeras gosokan tanganku dimemeknya, sementara tengkuknya kuciumi, sehingga Yanti semakain terbakar nafsunya. Diputarnya badanya sehingga kami saling berhadapan, dirangkulnya kepalaku dan kami berciuman panjang.

Dielus-elus bagian depan celanaku yang menutupi kontolku, reseleting celanaku dibukanya dan tangannya langsung menyusup masuk ke dalam CD-ku. Dipelorotkan CD-ku sehingga penisku lepas dan tegak berdiri, langsung Yanti jongkok menghisap dan mengulum penisku dengan mulutnya. Kubiarkan sejenak aksinya, sesaat kemudian aku raih tubuhnya untuk bangkit dan langsung kubopong ke kamar.
Aku berjalan ke kamar sambil membopong Yanti, celana dan CD-ku masih melorot, sehingga penisku mencuat tegak menggesek-nggesek pantatnya, persis kayak robot jalanku.

Segera kubaringkan tubuhnya di tempat tidurku, kulepas semua pakaiannya, sehingga tak ada selembar benangpun lagi yang melekat ditubuhnya. Sambil melepas pakaian, akau terus mengamati Yanti yang sudah terlentang di tempat tidur tanpa busana. Dibuka dan ditutupnya pahanya, sehingga nampak celah nikmatnya menutup dan merekah menggo-daku.. Kutindih tubuhnya, dan langsung tanpa ba..bi..bu.. kumasukkan kontolku ke dalam memeknya.., terdengar Yanti mengerang-ngerang.. nikmat.. Ouuh.. ooh.. Maass.. ough.. Mass.. Saat kugenjotkan kontolku menggesek dinding dalam liang vaginanya.
Kembali keringat kami bercucuran.., padahal di luar cuaca dingin. Kami coba berbagai posisi yang sering kami lihat di Blue Film., sampai akhirnya pada posisi Yanti di bawah kugoyang dan kukocok penisku sekuat-kuatnya, erangannya semakin keras dan pantatnya semakin keras menekan ke atas, seolah ingin melahap semua batang penisku. Dan sambil mengerang keras, Yanti mengejan melepaskan rasa nikmat yang dia alami Kuteruskan genjotanku dan.. Akhirnya.. kubuang dan kupancarkan lagi spermaku ke dalam memeknya. Ouugh..enak..Yanti.. oough..puuass..mass.. ooh..

Jam berdentang 11 kali, pertanda waktu saat itu adalah pukul 11 malam. Kami berbaring sambil berpelukan, memeknya menenpel di perutku. Tak lama kemudian kami terlelap tidur.. dalam keadaan tanpa busana.

Saat kubangun pagi, kulihat Yanti masih tertidur pulas. Nampak senyum tersungging di bibirnya. Kucumbu Yanti dalam keadaan masih tidur, penisku tegak berdiri.. siap melahap kembali lubang nikmatnya. Pelan-pelan kurenggangkan pahanya.. Dan kujilati memeknya.., tubuhnya menggelinjang.. dan segera kutindih, penisku kuarahkan ke memeknya.. langsung bless masuk ke dalam memeknya. Dalam keadaan antara tidur dan tidak kugenjot terus memeknya.., tak lama kemudian dia terbangun dan segera mencari mukaku.., diraih dan dipeluknya aku.. Kembali ciuman hangat Yanti menerpa seluruh wajahku, akhirnya berhenti saat bibir kami saling berpagut lama. Rintihan.. eranngannya kembali terdengar.., mengiringi keluarnya air mani memeknya.. saat dicapainya klimaks..

Tak terasa waktu menunjuk pukul 09.00 WIB. Segera kami beranjak bangun dan keluar kamar menuju kamar mandi. Bibik pembantuku terperanjat melihat Yanti keluar dari kamarku.. Yanti tersenyum dan menghampiri bibik, entah apa yang dikatakan Yanti kepadanya.., namun nampak bibik. manggut-manggut..mengiyakan..

Begitulah hari-hari kulewatkan.., kubuang waktu belajarku percuma.. aku habiskan waktuku hanya untuk bersenang-senang dengan mereka bertiga. Hingga akhirnya.. Pada suatu hari saat aku dan Kak Rani kencan di kamarku.., Kak Rani mengatakan padaku bahwa dia sudah 2 bulan ini tak menstruasi Aaduhh.. gawat..kataku.., Kak Rani begitu yakin bahwa aku adalah ayah calon bayi yang dikandungnya. Kak Rani bilang, bahwa saat aku memperkosanya.. dia baru saja memasuki masa subur.., dan dia tidak memakai kontrasepsi.., selama 2 minggu kemudian dia nggak mau melayani suaminya.., Kak Rani merasa dirinya kotor dan sudah nggak berarti lagi.. padahal selama 2 minggu tersebut justru aku hampir tak pernah absen menidurinya.

Kak Rani minta pertanggungan jawabku dan mengajaku kawin lari.. Pada awalnya aku juga sempat bingung, namun dengan penuh kelembutan dan kesabaran kuberi pengertian tentang hakekat hubunganku dengannya, bahwa aku dan dia hanya sekedar melepaskan hasrat berahi.., mencari kepuasan sesaat. Akhirnya aku berjanji bahwa sekiranya bayi tadi lahir dan mengakibatkan hubungan Kak Rani dengan suaminya retak.., maka aku akan menikahinya.., namun jika tidak ada kejadian apa-apa, maka kuminta Kak Rani mau memilih keluarganya.. dan melupakan segala affair yang telah terjadi.

Kak Rina kuberitahu tentang kondisi Kak Rani.., dia mendukung rencanaku. Akhirnya hari yang dinanti tiba.. Kak Rani melahirkan di Barromeus.., seorang bayi laki-laki.. dengan berat sekitar 3,5 kg, dan panjang 58 cm. Kutengok Kak Rani di ruang perawatan, tubuhnya masih lemah dan pucat.., namun dia nampak bahagia.. Ditariknya tanganku, danb dibisikinya aku.., nugie.. bayi ini anakmu nugie.., darah dagingmu. Aku terse-nyum, sambil kugenggam tangannya kuucapkan selamat atas kelahiran putra ke-3. Kata Kak Rani suaminya sangat bahagia mendapatkan seorang bayi laki-laki yang selama ini dia tunggu-tunggu. Artinya amanlah rahasia kami.., affair kami.. dan perselingkuhan kami..

Selama Kak Rani hamil 8 bl hingga 3 bulan usia bayi, affairku dengan Kak Rani terhenti. Waktuku banyak kuhabiskan bersama Yanti atau Kak Rina. Suatu hari aku berkunjung ke rumah Kak Rani sambil menengok sang bayi (anakku). Kak Rani ada di kamar menyusui sang bayi. Kulihat anakku melahap susu Kak Rani, aku duduk di ranjang sebelah Kak Rani. Si bayi sehat, montok dan lucu, kulitnya putih dan bersih persis seperti kulit Kak Rani, alisnya lebat kayak alisku.. Kuamati Kak Rani, sunnguh pintar benar Kak Rani merawat tubuh.., tubuhnya sudah langsing dan nampak kecantikan wajahnya. Pelan-pelan pahanya kuraba dan kuelus pelan, Kak Rani menatapku dan mengatakan jangan.. nugie.. jangan kau siksa lagi batinku dengan hal seperti itu lagi.. Aku hentikan rabaanku.. Dan aku minta ma’af padanya, ma’af Kak Rani.. kau benar.. tak semestinya aku berbuat seperti itu kepadamu.. Kak Rani bangkit dan diletakkannya bayi tadi ke Box Bayi dalam keadaan tidur.

Perlahan didekatinya aku.., dan dipeluk serta diciumnya aku.., nugie.. kau tak tahu.. betapa aku merindukanmu.., aku selalu membayangkanmu.. Aku terkadang iri saat membayangkan kau sedang meniduri Rina, sementara aku menyusui bayiku ini.. ya.. anakmu.. nugie..
Hati kecilku selalu mengatakan: jangan lagi kau berbuat seperti itu, namun suara hatiku yang lain terasa mendorongku untuk mengulangi apa yang telah kita lakukan nugie.. aku benar-benar bingung dan amat rindu padamu nugie..

Pelan-pelan kugeser berdiriku, badanku semakin merapat ke badannya.., dan secara otomatis aku memeluk pinggangnya.., dan mencium lembut bibirnya.. Kami berdua menikmati betul ciuaman itu, bahkan secara perlahan kugeser posisi kami semakin mendekati tempat tidur.. Dengan dorongan pelan kurebahkan tubuh Kak Rani di dipan, kaki kirinya ditekuknya, sehingga tersembul jelas paha Kak Rani yang putih, juga CD putih yang menutupi memeknya terlihat jelas.. Segera tanganku bergerak menyelusup masuk ke dalam CD-nya.., kembali suara erangan Kak Rani terdengar di telingaku.., setelah sekian lama tak terdengar. Dan akhirnya.. Kembali kami bergumul, menumpahkan rasa rindu dan melapiaskan nafsu kami yang sudah sekian lama tertahan.

Pada saat kami asyik bercumbu, tiba-tiba pintu terbuka.., kami kaget dan cepat berpakai-an alal kadarnya.., aku piker habis sudah riwayatku.., karena kami pasti akan diarak keliling kampung.. Hatiku menjadi lega, karena rupanya Kak Rina yang berdiri di depan kami. Dia tersenyum dan tertawa melihat apa yang sedang kami lakukan, segera dia masuk dan menutup pintu kamar dan selanjutnya bergabung dengan kami dalam berasyik-masyuk. Kubagi kesempatan bercumbu dengan kedua wanita kakak-beradik tersebut dengan adil, sampai kami mencapai klimaks kepuasan bersama

MENEMBUS bATAs 3

Filed under: RAMAI-RAMAI

Aku sudah tak memperhatikan lebih jauh lagi karena sodokan Josua semakin liar dan nikmat, namun kemudian kudengar desah dan jerit kenikmatan dari Lenny mengiringi desahanku. Dengan irama goyangan yang berbeda, kedua laki laki itu mengocok kami berdua, simfony desah kenikmatan memenuhi kamar yang penuh aroma birahi. Kutatap wajah ganteng Josua yang penuh expresi nikmat birahi. Berulang kali tatapan mataku beradu pandang dengan Dibyo, rupanya meskipun sedang mengocok Lenny yang cantik, tapi tatapan matanya lebih sering tertuju pada wajahku yang tengah mendesah nikmat merasakan kocokan temannya, apalagi Josua mengocokku dengan gerakan yang liar dan tak beraturan diselingi dengan hentakan keras yang membuatku menjerit jerit nikmat.

Josua membalik tubuhku disusul kocokan dari belakang, posisi dogie, Dibyo mengikutinya. Begitu juga ketika kami berganti lagi posisi, aku di atas, diapun meminta Lenny untuk di atas.

Kami bercinta seolah berlomba ketahanan, entah sudah berapa lama dan berapa kali ganti posisi telah kami lakukan. Diluar dugaanku, ternyata Dibyo bisa bertahan lebih lama, ketika kami di posisi dogie, Josua tak bisa bertahan lebih lama lagi, tanpa bisa dicegah lagi, diapun memuntahkan spermanya di vaginaku diiringi teriakan kenikmatan, kurasakan denyutan denyutan nikmat menerpa dinding dinding vaginaku meski tidak terlalu kuat.

Beberapa saat kemudian Josua menarik keluar penisnya, akupun menggelosor tengkurap dengan napas yang menderu setelah permainan panjang. Belum sempat aku mengatur napasku, Dibyo menarik pantatku, memintaku kembali nungging, meskipun capek tapi aku tak tega menolaknya, sepertinya sedari tadi dia sudah memendam keinginan untuk kembali menikmati tubuhku.

Aku hendak mencegahnya saat penisnya sudah di ambang pintu vaginaku, nggak enak rasanya kalau dia harus menyetubuhiku sementara sperma Josua masin di dalam, aku ingin membersihkan dulu, tapi terlambat, sepertinya dia tak peduli, dengan sekali dorongan keras, penis Dibyo kembali memasuki liang vaginaku, terasa masih ada celah kosong saat penisnya melesak semuanya.

Berbeda dengan sebelumnya, tanpa membuang waktu lagi, kali ini Dibyo mengocokku dengan penuh nafsu, begitu keras dan cepat sambil menghentakkan tubuhnya pada pantatku, diiringi tarikan pada rambutku, sungguh liar permainannya kali ini, sangat berlawanan dengan yang tadi. Akupun tak mau kalah, kuimbangi dengan menggoyangkan pantatnya melawan gerakannya, desahan kami berdua saling bersahutan, kecipuk suara cairan vagina bercampur sperma tak kami hiraukan, terlupakan sudah bahwa Dibyo adalah suami dari sobat karibku, yang ada hanyalah nafsu dan birahi diantara kami.

Aku minta mengubah posisi, kali ini aku di atas, ingin kutunjukkan bagaimana goyangan pinggulku membobol pertahanan terakhirnya. Dengan sisa sisa tenaga karena aku sudah beberapa kali orgasme saat dengan Josua tadi, akupun bergoyang liar di atasnya, ingin kuberikan apa yang kuyakin belum pernah dia alami bersama Wenny, istrinya, entah kenapa aku jadi ingin membuktikan bahwa aku tak kalah dengan si istri yang sobatku itu.

Kami bercinta dengan penuh gairah, jauh melebihi apa yang telah kami lakukan tadi, sepertinya kami sudah mengeluarkan watak asli permainan kami yang cenderung liar.

Keringat sudah membasahi tubuh kami berdua, aku begitu bersemangat, begitu juga dia, tak kuhiraukan ternyata justru aku yang mencapai orgasme lebih dulu, sungguh luar biasa stamina Dibyo, jauh dari perkiraanku, kalau aku tak mengalami sendiri tentu sulit untuk percaya bahwa dia begitu perkasa di ranjang.

Menit demi menit berlalu hingga aku tak kuasa lagi menahan orgasme yang kesekian kali, sementara dia masih belum terlihat tanda tanda ke arah sana, dan akhirnya akupun menyerah dalam dekapannya.

“Sudah.. sudah.. Ah.. Ampun, aku menyerah”, dan akupun terkulai lemas di atasnya, tak mampu lagi menggoyangkan pinggulku.
“Ya sudah, istirahat sana” katanya seraya mendorong tubuhku turun dari atasnya, dan akupun menggelepar di sampingnya.

Permainan Dibyo tidak berhenti sampai disitu, dia menghampiri Lenny yang dari tadi mengamati kami bercinta sambil berbaring di atas ranjang sembari mempermainkan klitorisnya. Begitu Dibyo menghampirinya, Lenny langsung mengambil posisi telentang dengan kaki terbuka lebar, tapi Dibyo justru memintanya nungging. Dengan irama kocokan yang liar dia mengocok Lenny dengan posisi dogie.

Aku meninggalkan mereka, membersihkan sperma lalu menyusul Josua duduk di sofa mengamati permainan Dibyo dan Lenny, terus terang aku terkagum dengan keperkasaan sobatku ini, entah bagaimana Wenny bisa melayani suaminya itu sendirian kalau di rumah.

“Gila itu orang, kuat banget mainnya” komentarku sembari berbagi Marlboro dengan Josua.
“Dia sih paling kuat diantara kelompok kami berlima, hampir tak pernah dia booking cewek sendirian, biasanya langsung 2 orang, kalau nggak gitu kasihan ceweknya” jawab Josua mengagetkanku, sungguh jauh dari penampilan biasanya yang terlihat pendiam.

Cukup lama mereka bercinta di atas ranjang, sudah beberapa kali berganti posisi sebelum akhirnya mereka menggapai orgasme hampir bersamaan ketika posisi Dibyo sedang di atas.

Mereka berpelukan beberapa saat sebelum Dibyo turun dari tubuh Lenny, tampak wajah kepuasan bercampur kelelahan dari mereka.

Beberapa menit mereka sama sama menggelepar di atas ranjang sambil mengatur napas yang menderu. Dibyo berdiri menghampiriku, duduk menjepit aku dan Josua, diambilnya Marlboro yang ada di tanganku dan menghisapnya kuat kuat.

“Sorry Ly, aku harus segera pulang, ntar istriku curiga dan aku nggak boleh ke diskotik lagi” katanya sambil mengepulkan asap rokoknya.
“Kamu tinggal aja disini nemenin Josua dan Lenny besok siang aku telepon lagi, oke?” lanjutnya.

Aku hanya diam saja tak tahu harus ngomong apa, tanpa menunggu jawaban dariku, dia beranjak mengenakan pakaiannya tanpa membersihkan tubuh terlebih dahulu.

Dibyo memanggilku ke kamar mandi.

“Sebenarnya aku tak tega melakukan ini, tapi harus kulakukan, apa yang kita lakukan barusan hanyalah sekedar bisnis, nothing personal, dan tidak ada yang berubah di antara kita termasuk dengan Wenny maupun Reno adikku, kamu ngerti kan” katanya sembari memberikan segebok uang 50 ribuan. Aku hanya mengangguk tanpa kata, 100 persen setuju apa yang dia katakan.
“Boleh aku minta satu hal?” tanyaku.
“Apa itu?” jawabnya, tanpa menunggu lagi reaksinya aku jongkok di depannya, kubuka resliting celananya dan kukeluarkan penisnya yang lemas.
“Sekedar tip, memberi apa yang belum aku berikan” jawabku sambil memasukkan penis itu ke mulutku.

Dibyo diam saja, penisnya kupermainkan dengan lidahku, kususuri sekujur batang hingga pangkalnya, perlahan mulai menegang dalam genggaman dan mulutku, selanjutnya penis tegangnya sudah meluncur cepat keluar masuk mengisi rongga mulut diiringi desah kenikmatan.

Lima menit sudah aku melakukan oral, tanpa kusadari tanganku ikutan mempermainkan klitorisku sendiri seiring dengan kocokan pada mulutku. Aku tak kuasa menolaknya ketika dia menarik tubuhku berdiri dan memutar menghadap cermin di kamar mandi, dengan sedikit membungkuk, dari belakang Dibyo melesakkan penisnya ke vaginaku.

“Kita quickie saja yaa” bisiknya seraya mendorong masuk penisnya, segera kurasakan sodokan demi sodokan yang semakin keras dari belakang menghantamku diiringi dekapan dan remasan dikedua buah dadaku, sesekali ciuman pada tengkukku yang membuatku semakin menggeliat dalam dekapannya.

Pantulan bayangan kami di cermin membuat suasana semakin bergairah, apalagi belaian lembut pada rambutku yang kurasakan begitu penuh perasaan meski kocokannya makin menjadi jadi.

“Aku mau keluar” bisiknya beberapa menit kemudian, segera kudorong tubuhnya mundur hingga penisnya terlepas dan akupun langsung jongkok di depannya.

“Keluarin di mulut” kataku, tanpa menunggu reaksinya, kumasukkan kejantanannya kembali ke mulutku, entah kenapa rasanya aku ingin memberikan apa yang kuyakin belum pernah dia dapatkan dari istrinya. Dan tak lama kemudian diapun menyemprotkan sisa sisa spermanya di mulutku, kujilati batang kejantanannya hingga bersih lalu kumasukkan ke celananya.

“Salam untuk Wenny” kataku saat menutup reslitingnya, dia hanya tersenyum mencubit pipiku.

Aku membersihkan tubuhku dengan air hangat ketika Dibyo pamit pulang, ketika aku kembali ke kamar, ternyata Lenny sedang bergoyang pinggul di pangkuan Josua, mereka melakukannya di sofa. Kuhampiri mereka dan duduk di samping Josua, dia meraih tubuhku dan mencium bibirku, sembari tangannya meremas remas buah dadaku bergantian.

Sisa malam kami habiskan dengan penuh birahi, bergantian Josua menyetubuhi aku dan Lenny, dilayani 2 gadis cantik dan sexy seperti aku dan Lenny, tentu membuat laki laki bertambah gairah dan ada tambahan energi tersendiri untuk menunjukkan ego keperkasaannya. Akhirnya kondisi fisik jualah yang menjadi pembatas antara keinginan dan kenyataan, kamipun istirahat dan terlelap dalam kelelahan tak kala sang mentari sudah menampakkan sedikit berkas sinarnya di ufuk timur, entah jam berapa itu.

Aku terbangun saat kudengar HP-ku berbunyi, Lenny dan Josua masih terlelap disampingku, matahari sudah tinggi, terang menampakkan sinarnya. Ternyata salah seorang tamu langganan lain yang ingin kutemani makan siang nanti, orderan baru.

Ke bagian 4

Newer Posts Older Posts